POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WILAYAH SUNGAI

CIDANAU - CIUJUNG - CIDURIAN CISADANE- CILIWUNG - CITARUM
TAHUN 2012

POLA
PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WILAYAH SUNGAI CIDANAUCIUJUNG-CIDURIAN-CISADANECILIWUNG-CITARUM

TAHUN 2012

2 Tujuan 1.3.3.8 2.2.3 Data Kebutuhan Air 40 40 41 42 42 43 halaman iii .1 Isu Strategis Nasional 1.1.3.3.3 Kebijakan Daerah Pengelolaan Sumber Daya Air 2.1 Kebijakan Nasional Pengelolaan Sumber Daya Air 2.3.2.1 2.5 2.3 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 21 2.3 2.2 2.3.2.2.2.3.1.3.3.3.3.2 Isu Strategis Lokal/Regional 2 BAB II Kondisi pada Wilayah Sungai 8 11 2.1 Maksud 1. Industri.1.2 1.2.3.3 Sasaran 1.2 Provinsi dan Kabupaten/Kota Dalam Angka 21 2.3.6 2.1 1.4 2. Perencanaan Terkait Sumber Daya Air 23 2.3.2.3 2.2 Maksud.2.1.3.5 Iklim Air Permukaan (hujan.2 Data Sumber Daya Air 2.3.3 Inventarisasi Data 2.DAFTAR ISI Halaman 1 BAB I PENDAHULUAN 1 1 4 4 4 4 5 5 5 5 6 6 7 7 1.3.3.1 Data Umum Kebijakan 13 13 14 16 16 16 2.5 Laporan Hasil Studi.2. Perkotaan dan Pariwisata) Irigasi Penggelontoran Ketenagaan Perikanan 24 24 24 31 34 34 35 37 37 2.3.3.4 Visi dan Misi 1.1 Latar Belakang 1.2.4 2.3.3.1. debit. Tujuan dan Sasaran Penyusunan Pola 1. Kajian Teknis.3.2 Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air atau Pembangunan Provinsi atau Kabupaten/Kota 2.3.3.3.1.3.3.3.2 2.3.3 Isu-Isu Strategis 1.1.2.5 Target Penyediaan Air Bersih Ketahanan Pangan Ketersediaan Energi Perubahan Iklim Global Ketahanan Air (Water Security) 1.1 Peraturan Perundang-undangan di Bidang Sumber Daya Air dan Peraturan Lainnya yang Terkait 11 2.1.3.3.2.4 Digital Elevation Model (DEM) 22 2.2 Kebijakan Nasional Penataan Ruang 2.1.2.7 2.3.1.1 Rencana Tata Ruang Wilayah 17 2.3 1. tampungan air) Air Tanah Sedimentasi Sungai Erosi Lahan Muka Air Pasang Surut Kualitas Air Prasarana/Infrastruktur RKI (Air Minum.1 2.2.2.4 1.

2.5.5.5 Analisis Pemberdayaan dan Peningkatan Masyarakat dan Dunia Usaha 3.3 Analisis Pengendalian Daya Rusak Air 3.5.2 2.1.5.1.1 2.5.5.5.5.4.4.5.5.1 2.3.3.5.1. Kriteria.5 2.3.2 Kriteria 3.1 Kemitraan – Desalinasi (PT Jaya Ancol) 74 2.3.5.2 Ditinjau dari 5 Aspek Pengelolaan Sumber Daya Air 2.1.6.2 Penanganan Penanganan Penanganan Penanganan Penanganan Banjir Krisis Air/Kekeringan Kerusakan Pantai Bencana Tsunami Bencana Longsor 70 70 71 71 72 72 2.1.3 Peningkatan Potensi Saluran Pembawa Air 68 2. Cilegon) 74 2.5.4.2 Analisis Pendayagunaan Sumber Daya Air 3.4.2 Peningkatan Potensi Sumber Daya Air 61 2.5.4.3.5.1 Analisis Konservasi Sumber Daya Air 3.3 Pemangku Kepentingan dan Wadah Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air 75 2.5 Rancangan Peraturan Presiden tentang Penetapan Kelas dan Pengendalian Pencemaran Air Sungai Ciliwung 58 2.Ribasim 73 73 73 2.5 Identifikasi Terhadap Potensi yang Bisa Dikembangkan 2.2.1.5.1 Asumsi.3 2.1.4.5.1.4 Program dan Renstra Provinsi tentang Kualitas Air 56 2.5.3 Standar 3.4 Potensi Sistem Informasi Sumber Daya Air Integrasi Sistem Informasi Sistem Pendukung Keputusan .4 Peningkatan Efisiensi Pengunaan Air untuk mengurangi Kebutuhan 69 2.1 Skematisasi Model Alokasi Air 61 2.1.4.1 Ditinjau dari Hasil Rumusan PKM 2.6.2 2.6.4 BLU dan IJL 75 2.2.1 2.4 Analisis Sistem Informasi Sumber Daya Air 3.5. Kawasan Industri Krakatau. Proper dan Superkasih 54 2.5.4 2.5.5.5.1.3 Zonasi Java Spatial Model Perlindungan Lahan Pertanian Berkelanjutan 76 76 77 78 3 BAB III ANALISIS DATA 3.1.2.2.5.1.4 Analisis 3.4.3 Potensi Pengendalian Daya Rusak Air 2.5.1.2 Potensi Pendayagunaan Sumber Daya Air 61 2.5.1.1.5.5.2 Koordinasi dan Sinergi Program 53 2. dan Standar yang digunakan 3.1 Potensi Konservasi Sumber Daya Air 46 46 47 52 52 2.6 Potensi Penataan Ruang 2.4.5.5.6 Pengaturan dan Pembatasan Pengambilan Air Tanah 58 2.4.3 Prokasih.5 Potensi Pemberdayaan dan Peningkatan Peran Masyarakat dan Dunia Usaha 74 2.1 Konservasi Lahan Kritis 52 2.5.6 Analisis Perencanaan dan Penataan Ruang 79 79 79 82 86 87 87 100 114 126 Peran 127 129 halaman iv .2 Air Baku kota Cilegon (PT Krakatau Tirta Industri.4 Identifikasi Kondisi Lingkungan dan Permasalahan 2.1 Asumsi 3.5.5.1.5.

1 Skenario 133 3. Politik dan Perubahan Iklim pada Wilayah Sungai 133 3.2 Skenario Kondisi Ekonomi.3.2.3 Alternatif Pilihan Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air 4 138 BAB IV KEBIJAKAN OPERASIONAL PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR141 halaman v .

8.8. Potensi Waduk 6 Ci 63 2.1. Cakupan WS 6 Ci Berdasarkan Provinsi dan Kabupaten/Kota* 2 2. Tingkatan pengelolaan kultur teknis 84 3. mangan dan seng) di waduk Jatiluhur (2009-2010) 99 3. Waduk Saguling dan Waduk Djuanda (Jatiluhur) 43 2. Perkiraan Pengambilan Air Tanah Dalam di WS 6 Ci 32 2.13.10. Pemangku Kepentingan dan Anggota Wadah Koordinasi TKPSDA WS 6 Ci 75 3.4. Standar dan Kriteria Pencemaran Sungai.4. Kategori Perikanan dan Persyaratan Flushing rate dan Salinitas 87 3.3.20. Persandingan Masalah di masing-masing WS 6 Ci 48 2.2.6.21. Luas Tambak di WS 6 Ci 44 2.7.16.DAFTAR TABEL Halaman Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel 1.inlet waduk Saguling (2000-2010) 96 3. Praktek pengelolaan mekanik 84 3. Standar Perhitungan Kebutuhan Air Domestik 86 3.17.9.18. Kadar logam berat di titik 6 muara Sungai Citarum di waduk Cirata (2007-2010) 98 3. Kualitas Air Sungai Berdasarkan Hasil Pemantauan Rutin 37 2. Kegiatan Konservasi Sumber Daya Air dan Institusi Pengelola 54 2.10.2. Kadar logam berat (besi. Klasifikasi Status Mutu Air Menurut Metode Indeks Pencemaran (IP) 85 3. Skenario Berdasarkan Tatakelola Pemerintahan dan Pertumbuhan Ekonomi 133 3.12.15. Waduk yang Sudah Ada di WS 6 Ci 37 2. Hubungan Skenario.3. Data Waduk Cirata. Kebutuhan Air Irigasi di WS 6 Ci 102 3.19.7.9. Klasifikasi Status Mutu Air Menurut Metode Storet 85 3.6.14. Kualitas logam berat di titik pengamatan Nanjung .11. Kebutuhan Air RKI di WS 6 Ci (termasuk kebutuhan untuk pariwisata) 101 3.11.22. Kekurangan Air Irigasi dan RKI Pada Water District (WD) 123 3. Kebutuhan Air untuk Penggelontoran 102 3. Kadar besi dan mangan di inlet dan outlet waduk Jatiluhur (2002 – 2008) 99 3. Jenis Tanaman dan Periode Pertumbuhan 86 3. Perkiraan Ketersediaan Air Permukaan di WS 6 Ci 27 2. Asumsi dan Strategi 138 halaman vi .12.1.5. Kriteria Keragaan DAS 83 3. Kebutuhan Air Perikanan (Tambak) di WS 6 Ci 102 3. Kebutuhan Air Irigasi di WS 6 Ci 42 2. Lahan Kritis di WS 6 Ci 35 2. Kriteria Kinerja DAS 82 3.5. Perubahan luas dan total erosi untuk tingkat erosi berat-sangat berat 90 3. Ketersediaan Air Permukaan dan Debit Banjir 85 3.1.

Kebijakan Operasional Pengelolaan Sumber Daya Air WS 6 Ci (1 Ci) pada Skenario 1.4 172 halaman vii .1.3.Tabel 4. Kebijakan Operasional Pengelolaan Sumber Daya Air WS 6 Ci (2 Ci) pada Skenario 1.3.2.3.3.2.2.4 156 Tabel 4.2. Kebijakan Operasional Pengelolaan Sumber Daya Air WS 6 Ci (3 Ci) pada Skenario 1.4 142 Tabel 4.

Kebutuhan Air untuk Tambak di WS 6 Ci 44 2.1.10. Perubahan KSR.5.12. Hasil Simulasi Sedimentasi Daerah Tangkapan Air Saguling 94 3.14.12. Fluktuasi kadar dan trend logam berat di titik Nanjung (Inlet waduk Saguling) 97 3.13. Daerah Potensial untuk Pengembangan Waduk 67 3. Kebutuhan Air Irigasi di WS 6 Ci (2010) 42 2.10.9. Peta Potensi Erosi di Wilayah Hulu Waduk Saguling dengan Pengelolaan Jelek 95 3. Peta Lokasi Tambak di WS 6 Ci 45 2. Peta Kualitas Air 39 2.3.4. dan C di DAS Ciliwung Hulu (Katulampa) 88 3.5.11. KR.21. Distribusi Penduduk Usia Produktif Berdasarkan Lapangan Usaha 2008 22 2. dan C di DAS Citarum Hulu 88 3.9. Struktur Pemanfaatan Ruang Wilayah di WS 6 Ci 19 2. Perubahan perentase areal setiap tingkatan erosi pada tiga kondisi pengelolaan di WS 6 Ci 89 3. Perubahan KSR. KR. Peta Water District 66 2. Fluktuasi dan trend kadar logam berat di waduk Cirata (titik 6)98 halaman viii . Pertumbuhan GDP Indonesia 80 3. Curah Hujan Tahunan di WS 6 Ci 26 2. Peta Cekungan Air Tanah di WS 6 Ci 33 2.6.3. Perkiraan Ketersediaan Air Permukaan di WS 6 Ci 27 2.13. Peta Lokasi Lahan Kritis di WS 6 Ci 36 2. Tingkatan erosi berat (ton/ha/thn) pada kondisi pengelolaan baik di WS 6 Ci 92 3.8.2. Peta WS 6 Ci 3 2.2.4. Potensi Air Tanah di WS 6 Ci 31 2. Peta Konservasi Air Tanah untuk CAT Bandung-Soreang 60 2. Peta Topografi WS 6 Ci 25 2.7.14. Pertumbuhan Penduduk Indonesia 81 3.11. Kebutuhan Air untuk Keperluan RKI di WS 6 Ci (m3/detik) 41 2.1. Kondisi Tata Guna Lahan di WS 6 Ci pada tahun 2009 20 2.8. Peta Skematisasi Model Alokasi Air WS 6 Ci 65 2. Tingkatan erosi (ton/ha/thn) pada kondisi pengelolaan jelek di WS 6 Ci 91 3.15.19.1. Perubahan KSR. Peta Situ di WS 6 Ci 29 2.Persentase Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 80 3. dan C di DAS Cidurian-Cikande 89 3. Distribusi Kepadatan Penduduk di WS 6 Ci berdasarkan Podes 2008 dan Sensus 2010 21 2.6.16.7. Peta Situ di Wilayah Cisadane-Ciliwung 30 2.17.20.18. Peta Rencana Teknik Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RTkRHL) di WS 6 Ci 93 3. KR.DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar 1.

35. Strategi Struktural Neraca Air Pemenuhan Air Baku di WS 6 Ci Skenario 2 135 Gambar 3. Kebutuhan Air Irigasi di WS 6 Ci 101 Gambar 3.40.23. Tingkat Kebutuhan Air Irigasi dan RKI di WS 6 Ci (2010-2030)106 Gambar 3.38. Strategi Struktural Neraca Air Pemenuhan Air Baku di WS 6 Ci Skenario 3 136 Gambar 3.Gambar 3. Neraca Air untuk 3 Ci Tahun 2010 104 Gambar 3. Skema Strategi B Pemenuhan Kebutuhan Air pada Skenario 2111 Gambar 3. Perkiraan Ketersediaan dan Kebutuhan Air di WS 6 Ci Tahun 2030 106 Gambar 3.29. Skema Strategi A Pemenuhan Kebutuhan Air pada Skenario 1110 Gambar 3.19.25.22.21. Neraca Air untuk 2 Ci Tahun 2010 104 Gambar 3.33. Peta Kekurangan Air Irigasi tahun 2030 120 Gambar 3.28. Strategi Struktural Neraca Air Pemenuhan Air Baku di WS 6 Ci Skenario 1 134 Gambar 3. Peta Kekurangan Air RKI tahun 2010 121 Gambar 3.36.34.20.26.37.41.30. Peta Kekurangan Air Irigasi tahun 2010 119 Gambar 3. Neraca Air untuk 1 Ci Tahun 2010 105 Gambar 3. Kebutuhan Air 2010 109 Gambar 3. Skema Strategi D Pemenuhan Kebutuhan Air pada Skenario 4113 Gambar 3.31. Skema Strategi C Pemenuhan Kebutuhan Air pada Skenario 3112 Gambar 3.24. Peta Kekurangan Air RKI tahun 2030 122 Gambar 3. Peta Kawasan Rawan Bencana di WS 6 Ci 125 Gambar 3.32. Kebutuhan Air Perikanan (Tambak) di WS 6 Ci 103 Gambar 3.27.16. Peta Kawasan Rawan Banjir 116 Gambar 3.15.17. Skema WS 6 Ci 108 Gambar 3. Alih Fungsi Lahan Sawah di Indonesia (1994 – 2004) 132 Gambar 3. Strategi Struktural Neraca Air Pemenuhan Air Baku di WS 6 Ci Skenario 4 137 halaman ix . Fluktuasi Kadar besi dan mangan di waduk Jatiluhur (20022008) 100 Gambar 3.39.18. Hubungan dan Hierarki Pengelolaan Bencana Banjir 115 Gambar 3. Neraca Air untuk WS 6 Ci Tahun 2010 103 Gambar 3.

Cianjur Balai Pengelola Daerah Aliran Sungai Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Biro Pusat Statistik Balai Pengelola Sumber Daya Air Bujur Timur Bilateral Technical Assistance Badan Usaha Milik Daerah Badan Usaha Milik Negara Basin Water Resources Management Plan Cekungan Air Tanah Cikarang Bekasi Laut Chemical Oxygen Demand Corporate Social Responsibility Daerah Aliran Sungai Digital Elevation Model Daerah Irigasi Daerah Istimewa Yogyakarta Daerah Khusus Ibukota (Jakarta) Diatas Permukaan Laut Daerah Pengembangan Pemukiman Dissolved Oxygen Decision Support System Environmental Pollution Control Manager Energi dan Sumber Daya Mineral x halaman . BBWS Cisadane-Ciliwung (Provinsi DKI Jakarta. Puncak.KOSA KATA WS 6 Ci terdiri dari 3 (tiga) wilayah kerja Balai Besar Wilayah Sungai yaitu BBWS Cidanau-Ciujung-Cidurian (Provinsi Banten dan Provinsi Jawa Barat). dan BBWS Citarum (Provinsi Jawa Barat) 1 Ci 2 Ci 3 Ci ADHB ADHK AK AKNOP APBD APBN ARL AWLL B3 BBWS BKT BLU BNA BOD Bopunjur BPDAS BPLHD BPS BPSDA BT BTA BUMD BUMN BWRMP CAT CBL COD CSR DAS DEM DI DIY DKI DPL DPP DO DSS EPCM ESDM Wilayah Kerja BBWS Citarum Wilayah Kerja BBWS Ciliwung-Cisadane Wilayah Kerja BBWS Cidanau-Ciujung-Cidurian Atas Dasar Harga Berlaku Atas Dasar Harga Konstan Agak Kritis Analisa Kebutuhan Nyata Operasi dan Pemeliharaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Automatic Rainfall Logger Automatic Water Level Logger Bahan Berbahaya dan Beracun Balai Besar Wilayah Sungai Banjir Kanal Timur Badan Layanan Umum (PSO) Basic Need Approach Biological Oxygen Demand Bogor. Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten).

Puncak. Bekasi. Tangerang. Kakus MDG Millennium Development Goal MOU Memorandum of Understanding MRT (1) Mass Rapid Transport MRT (2) Matrik Rencana Teknik MW Mega Watt OP Operasi dan Pemeliharaan P3A Perkumpulan Petani Pemakai Air PAI Pengelolaan Aset Irigasi PAM Perusahaan Air Minum PBB Pajak Bumi dan Bangunan PDA Pos Duga Air PDAM Perusahaan Daerah Air Minum PDRB Pendapatan Domestik Regional Bruto PES Payment for Environmental Services (IJL) xi halaman . Bekasi Jabodetabekpunjur Jakarta. Bogor. Tangerang.FGD Focus Group Discussion FKDC Forum Komunikasi DAS Cidanau GAP Good Agriculture Practice GCM Global Circulation Mode Gerhan Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan GNKPA Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air GP3A Gabungan Persatuaan Petani Pemakai Air Ha Hektar ICWRM Integrated Community Water Resources Management IJL Imbal Jasa Lingkungan IKK Ibu Kota Kecamatan IP Indeks Pencemaran IP Indeks Pertanaman ITB Institut Teknologi Bandung P3A Perkumpulan Petani Pemakai Air IPA Instalasi Pengolahan Air IPAL Instalasi Pengolahan Air Limbah (WWTP) IPCC Intergovernmental Panel on Climate Change IWRM Integrated Water Resource Management Jabodetabek Jakarta. Cianjur JSM Java Spatial Model JWRMS Jabodetabek Water Resource Management Study K Kritis KDB Koefisien Dasar Bangunan Komir Komisi Irigasi KPTS Keputusan KR Koefisien Ragam KRS Koefisien Rejim Sungai KSN Kawasan Strategis Nasional KTI Krakatau Tirta Industri LMV Long Maturing Variety LS Lintang Selatan LSM Lembaga Swadaya Masyarakat MCK Mandi. Cuci. Depok. Bogor. Depok.

Perkotaan dan Industri Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Rencana Pembangunan Jangka Menengah Rancangan Peraturan Pemerintah Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Rencana Tata Ruang Ruang Terbuka Hijau Rencana Teknik Rehabilitasi Hutan dan Lahan Rencana Tahunan RHL Rencana Tata Ruang Wilayah Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional Sediment Delivery Ratio Sistem Informasi Sumber Daya Air Surat Keputusan Satuan Kerja Perangkat Daerah Short Maturing Variety Standard Operation Procedure Sosial Ekonomi Budaya Sekretariat Pelaksana Koordinasi Tata Pengaturan Air Standar Pelayanan Minimal System of Rice Intensification Surat Pernyataan Kali Bersih Satuan Wilayah Pengelolaan DAS Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Upaya Pengelolaan Lingkungan / Upaya Pemantauan Lingkungan Universal Soil Loss Equation Universal Transverse Mercator xii halaman .Perda PERUM PERHUTANI PHBM PJT PKM PLTA PMD PODES ppb Prokasih Proper PRT PSDA PTPN Purwasuka Puslitbang Pusdata Raperpres Renstra RHL Ribasim RKI RLPS RPJM RPP RPRHL RTR RTH RTkRHL RTn RHL RTRW RTRWN SDR SISDA SK SKPD SMV SOP Sosekbud SPKTPA SPM SRI Superkasih SWP-DAS TKPSDA UKL-UPL USLE UTM Peraturan Daerah Perusahaan Umum Perusahaan Hutan Negara Indonesia Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat Perum Jasa Tirta Pertemuan Konsultasi Masyarakat Pembangkit Listrik Tenaga Air Pemberdayaan Masyarakat Desa Potensi Desa (Data) part per billion Program Kali Bersih Program Penilaian Kinerja Perusahaan Peraturan Pengelolaan Sumber Daya Air Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara Purwakarta-Subang-Karawang Pusat Penelitian dan Pengembangan Pusat Data Rancangan Peraturan Presiden Rencana Strategis Rehabilitasi Hutan dan Lahan River Basin Simulation Model Rumahtangga.

WD WGS WHO WRDC WS WTC WTP WWTP Water District (Distrik Air) World Geodetic System World Health Organization Water Resource Data Center (Pusdata) Wilayah Sungai West Tarum Canal (Kanal Tarum Barat) Water Treatment Plant (IPA) Wastewater Treatment Plant (IPAL) halaman xiii .

WS 6 Ci berdasarkan wilayah administrasi meliputi 14 Kabupaten dan 14 Kota terdiri dari 4 Kabupaten dan 4 Kota di Provinsi Banten. WS 6 Ci terdiri dari 3 (tiga) wilayah kerja Balai Besar Wilayah Sungai sesuai Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 23/PRT/M/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar dan Balai di Lingkungan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air dan Direktorat Jenderal Bina Marga. Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten) dan 1 Ci (Provinsi Jawa Barat). 2 Ci (Provinsi DKI Jakarta.718 km2 (3 Ci seluas 412.334 ha). Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung- Cidurian-Cisadane-Ciliwung-Citarum (WS 6 Ci) merupakan Wilayah Sungai Lintas Provinsi yang pengelolaannya ditangani oleh Pusat. mengoptimalkan potensi pengembangan melindungi/melestarikan serta meningkatkan nilai sumber daya air dan lahan. diperlukan suatu kerangka dasar pengelolaan sumber daya air terpadu antar sektor. Untuk memenuhi kebutuhan air yang terus meningkat untuk berbagai keperluan.1. dan 10 Kabupaten dan 5 Kota di Provinsi Jawa Barat dengan luas total 20. dan 1 Ci seluas 1. BBWS Cisadane-Ciliwung. untuk 2 Ci seluas 526. 2 Ci dan 1 Ci) disajikan dalam Tabel 1.935 ha. 5 Kota di Provinsi DKI Jakarta.132. yaitu BBWS Cidanau-Ciujung-Cidurian. yaitu berupa Pola Pengelolaan Sumber Daya Air.1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. dan cakupan kota/kabupaten pada masing-masing wilayah (3 Ci. Pola berbasis wilayah sungai tersebut menentukan langkah dan tindakan yang harus dilakukan agar dapat memenuhi kebutuhan sumber tersebut daya dengan air. antar wilayah dan antar berbagai pihak yang terkait dengan sumber daya air. halaman 1 . dan BBWS Citarum.1 Latar Belakang Mengacu kepada Peraturan ditetapkan Menteri bahwa Pekerjaan Umum Nomor 11 A/PRT/M/2006. Peta lokasi WS 6 Ci dapat dilihat pada Gambar 1.518 ha. Ketiga wilayah tersebut selanjutnya disebut sebagai 3 Ci (Provinsi Banten dan Provinsi Jawa Barat).

Proses penetapan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air didasarkan pada tingkat kewenangannya.1. Cakupan WS 6 Ci Berdasarkan Provinsi dan Kabupaten/Kota* Banten DKI Jakarta Jawa Barat Wilayah Kabupaten Kota Kabupaten Kota Kabupaten Kota 3 Ci Tangerang Pandeglang Serang Lebak Tangerang Serang Cilegon Tangerang Selatan Tangerang Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Selatan Timur Pusat Barat Utara Bogor 2 Ci Bogor Bekasi Bogor Depok Bekasi Bandung Bekasi Cimahi 1 Ci Cianjur Bandung Sumedang Indramayu Subang Purwakarta Karawang Bekasi Bandung Barat * beberapa kota/kabupaten masuk dalam lebih dari satu wilayah sungai Penyusunan Pola ini sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 22 Tahun 2009 tentang Pedoman Teknis & Tatacara Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air. sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008 dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 11A/PRT/M/2006 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai. Sesuai tingkat kewenangannya. halaman 2 . Pola Pengelolaan Sumber Daya Air untuk WS 6 Ci ditetapkan oleh Menteri Pekerjaan Umum.Tabel 1.

1. Peta WS 6 Ci halaman 3 .Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 1.

Pemberdayaan dan peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan sumber daya air di WS 6 Ci.2 Tujuan Tujuan dari Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air WS 6 Ci adalah terwujudnya kelestarian sumber daya air.1 Maksud Maksud dari Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air WS 6 Ci adalah memberikan arah pengelolaan sumber daya air yang ada di WS 6 Ci dengan prinsip keterpaduan antara air permukaan dan air tanah serta keseimbangan antara upaya konservasi sumber daya air dan pendayagunaan sumber daya air.1. 1. 1.3 Sasaran Sasaran Pola adalah sebagai pedoman yang mengikat bagi Pemerintah.2 Maksud. Sasaran untuk masing-masing aspek dijelaskan lebih lanjut dalam pembahasan. Pengendalian daya rusak air di WS 6 Ci. terkoordinasi dan berkesinambungan dalam kurun waktu tertentu (sampai tahun 2030).2. Pemerintah Provinsi. Tujuan dan Sasaran Penyusunan Pola 1. termasuk arahan zonasi dalam penataan ruang. sehingga dapat menjamin terselenggaranya Pengelolaan Sumber Daya Air secara terpadu.2. halaman 4 . Pendayagunaan sumber daya air di WS 6 Ci dengan mempertimbangkan kebijakan daerah. Pemerintah Kabupaten/Kota dan masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan di WS memberikan arahan penyelenggaraan:      Konservasi sumber daya air terpadu di WS 6 Ci.2. Sistem informasi sumber daya air di WS 6 Ci. pemanfaatan dan pendayagunaan sumber daya air yang serasi dan optimal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daya dukung lingkungan dan mengurangi daya rusak air serta sesuai dengan kebijakan pembangunan nasional dan daerah yang berkelanjutan.

PT KTI di Cilegon adalah contoh swasta yang melakukan investasi dalam pelayanan air bersih untuk RKI di kawasan industri dan kota Cilegon. sedang di perdesaan 54%. Menyelenggarakan pengelolaan sistem infomasi sumber daya air secara terpadu.1 Isu Strategis Nasional 1. Tahun 2006 pelayanan air perpipaan di WS 6 Ci adalah antara 16% sampai dengan 35% di masing-masing kota. untuk mewujudkan kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan dengan mendorong peran masyarakat dan dunia usaha. dan pemulihan. dan pengusahaan sumber daya air dengan mengacu pada pola pengelolaan sumber daya air WS 6 Ci yang ditetapkan oleh Menteri Pekerjaan Umum.    Mengendalikan daya rusak air yang dilakukan secara menyeluruh mencakup upaya pencegahan. dan fungsi sumber daya air. terpadu. 1.1.1. yang dapat dialokasikan dari sungai dan waduk yang ada atau yang akan dibangun di WS 6 Ci. Menyelenggarakan pemberdayaan para pemangku kepentingan sumber daya air secara terencana dan berkelanjutan untuk meningkatkan kinerja sumber daya air. pengembangan. Target penyediaan air perpipaan tersebut perlu didukung oleh penyediaan air baku.3. dan berwawasan lingkungan.2.1 Target Penyediaan Air Bersih Sesuai dengan target sasaran MDG untuk penyediaan air minum pada tahun 2015 (tingkat nasional) cakupan pelayanan air perpipaan di perkotaan adalah 69%. penanggulangan. Selain dari PDAM. menyeluruh. berkelanjutan dan mudah diakses oleh masyarakat.4 Visi dan Misi Visi dan Misi dari Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air WS 6 Ci adalah terwujudnya pengelolaan sumber daya air di WS 6 Ci secara adil.  Menyelenggarakan konservasi sumber daya air secara terpadu dan berkelanjutan dalam rangka menjaga kelangsungan keberadaan daya dukung. penyediaan.  Mendayagunakan sumber daya air secara adil dan merata melalui kegiatan penatagunaan.3. daya tampung. penyediaan air bersih masih memerlukan investasi yang lebih besar. halaman 5 . penggunaan.3 Isu-Isu Strategis 1.

646 ton pada tahun 2008. Selain itu.1. berkurangnya debit air untuk irigasi pada musim kemarau telah mengurangi hasil panen padi musim tanam berikutnya. Hal tersebut berdampak terhadap melemahnya ketahanan pangan. Begitu juga halnya dengan masalah banjir yang terjadi di WS 6 Ci yang juga berpengaruh terhadap menurunnya produksi pangan di wilayah ini.325. Selain hal di atas. minimnya modal usaha. lingkungan perbedaan masa dan potensi paceklik.14 % dari produksi total Indonesia (60. di antaranya adalah skala usaha yang relatif kecil.346. 1. rendahnya akses kredit produksi pertanian. raya panen kualitas Selain yang itu.3.3.997 ton) dan 13. Pengurangan luas lahan pertanian terutama di lokasi sawah subur beririgasi teknis yang sulit untuk diimbangi dengan pengembangan lahan sawah baru di luar Jawa. Produksi beras di WS 6 Ci cukup besar dengan 7.1. Masalah yang dihadapi petani tanaman pangan di WS 6 Ci. tingginya biaya input pertanian.50% total produksi Jawa (32. halaman 6 . sementara listrik mikro-hidro belum diusahakan secara intensif.1. tetapi pembangkit listrik tenaga air masih terbatas. ketidaksempurnaan (mekanisme) diikuti mengakibatkan distribusi pangan tidak merata di setiap tempat dan setiap waktu.3 Ketersediaan Energi Kebutuhan energi seperti energi listrik mengalami peningkatan setiap tahunnya.925. Namun demikian produksi ini akan turun kalau tidak ada kebijakan yang khusus untuk mendukung produksi tanaman pangan. karena dalam situasi dunia yang tidak menentu tidak bisa menjamin impor beras dan pangan lain tiap tahun. Hal tersebut menciptakan potensi kerawanan pangan dan jatuhnya harga produk pangan di tingkat petani/produsen. dimana terjadi alih fungsi lahan untuk perluasan perkotaan dan lokasi industri dengan menggunakan areal yang semula merupakan lahan pertanian. atau sebesar 24. pangan serta dan pola menurunnya pasar. tingginya ketidakpastian harga produk. perkembangan industri di Jawa (termasuk di WS 6 Ci) cukup pesat.925 ton). Pembangunan PLTA dengan membangun bendungan memerlukan biaya investasi yang sangat besar.2 Ketahanan Pangan Indonesia perlu memenuhi produksi pangan sesuai RPJM.

Akibat kesenjangan ini halaman 7 . mempengaruhi masa reproduksi hewan dan tanaman. lokasi yang tinggi.5 MW). dan terkait dengan pembangunan berkelanjutan sumber daya air dan menjamin akses terhadap fungsi dan pelayanan air. salinitas air laut. maka perencanaan pembangunan bendungan yang akan datang perlu juga memperhitungkan manfaat tenaga listrik. Belum ada pembuktian ada gejala perubahan iklim di WS 6 Ci. Bendungan Cirata (1. 1. distribusi spesies dan ukuran populasi.3.4 Perubahan Iklim Global Pemanasan global mengakibatkan perubahan iklim dan kenaikan frekwensi. Bendungan Sindang Heula. melainkan hanya untuk air baku RKI dan irigasi.Pada Sungai Citarum terdapat 3 (tiga) bendungan secara kaskade.1.1. serta ekosistem pantai. Selain Sungai Citarum. perlindungan terhadap daya rusak air (banjir dan kekeringan). Pada rencana pembangunan Bendungan Karian. serta mempengaruhi berbagai ekosistem yang terdapat di daerah dengan garis lintang yang tinggi. Contoh isu ketahanan air di WS 6 Ci adalah di Kota Jakarta saat ini hanya memiliki ketahanan air sebesar 2. perubahan pola presipitasi. frekuensi serangan hama dan wabah penyakit. dan Bendungan Jatiluhur (187. 1.4 m3/detik) dari total kebutuhan.5 Ketahanan Air (Water Security) Dalam konsep IWRM ketahanan air mencakup perlindungan terhadap sistem sumber daya air yang rentan. dan rencana bendungan kecil lainnya di Sungai Citarum juga tidak direncanakan untuk pembangkit tenaga listrik. yaitu Bendungan Saguling (750 MW).2% (Kali Krukut = 0. Mengingat peningkatan kebutuhan tenaga listrik yang cukup besar.3.000 MW). sehingga perlu pasokan dari luar sebesar 16 m3/detik dari Saluran Tarum Barat dan 3 m3/detik dari Sungai Cisadane. sungai lainnya sampai saat ini belum dimanfaatkan. masingmasing dimanfaatkan untuk PLTA. Bahkan pada rencana Bendungan Karian masih dapat ditambahkan manfaat pembangkit mini-hidro dengan memanfaatkan air yang keluar dari bendungan ke arah sungai Ciberang sebesar 5. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyatakan bahwa pemanasan global dapat menyebabkan terjadi perubahan yang signifikan dalam sistem fisik dan biologis seperti peningkatan intensitas badai tropis. maupun intensitas kejadian cuaca ekstrem. perubahan pola angin. termasuk pelayanan air.5 m3/det.

halaman 8 . Pertambahan lahan kritis dan kerusakan DAS. 1) Konservasi Sumber Daya Air Beberapa isu utama yang terkait dengan konservasi sumber daya air yang ditemui di WS 6 Ci antara lain: Tata guna lahan yang terus berubah setiap tahun. Pencemaran air akibat pembuangan limbah peternakan. tetapi juga antar Pemerintah daerah Kabupaten/Kota atau Provinsi. (4) Sistem Informasi Sumber Daya Air. domestik dan industri (terutama kandungan logam berat).timbul konflik kepentingan. dan (6) Integrasi Kebutuhan untuk Penataan Sumber Daya Air dengan Penataan Ruang. 1. Cakupan pelayanan PDAM masih rendah (dibandingkan dengan target sasaran MDG).2 Isu Strategis Lokal/Regional Isu-isu strategis di WS 6 Ci yang dibahas dalam bagian ini bersifat umum. 2) Kerusakan hutan bakau dan erosi pantai.3. (5) Pemberdayaan dan Peningkatan Peran Masyarakat dan Dunia Usaha (termasuk peran Institusi yang mengelola sumber daya air).6) dan kebijakan operasional (Bab 4). penjabaran lebih lanjut per wilayah terperinci dalam identifikasi permasalahan (Sub Bab 2. Benturan kepentingan ini bukan hanya antar penduduk (petani dan PDAM. (3) Pengendalian Daya Rusak Air. (2) Pendayagunaan Sumber Daya Air. penduduk hulu-hilir). Pendayagunaan Sumber Daya Air Beberapa isu utama yang terkait dengan pendayagunaan sumber daya air yang ditemui di WS 6 Ci antara lain: Peningkatan kebutuhan air RKI (seiring dengan pertumbuhan penduduk dan perkotaan). Identifikasi isu-isu strategis lokal mengikuti arahan pengelolaan sumber daya air yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dan UndangUndang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yaitu: (1) Konservasi Sumber Daya Air.

Kejadian kekurangan air di beberapa lokasi. Pembuangan sampah ke sungai dan saluran drainase. Penurunan muka tanah. dan ada tumpang tindih serta kekosongan dalam pembagian peran dan tangung jawab. Perambahan daerah bantaran/sempadan sungai. sehingga masih memerlukan dukungan Pemerintah. banyak yang rusak. halaman 9 . Sebagian SOP untuk pemuktahiran SISDA. saluran drainase. Potensi listrik tenaga air belum dimanfaatkan secara optimal. 4) Sistem Informasi Sumber Daya Air (SISDA) Beberapa isu utama yang terkait dengan SISDA yang ditemui di WS 6 Ci antara lain: Basis data pada jaringan informasi SISDA dalam WS belum terintegrasi. pemantauan dan evaluasi sudah disusun. Pendangkalan/sedimentasi alur sungai. Pemangku kepentingan belum aktif berperan. SISDA belum digunakan sebagai alat dalam perencanaan dan anggaran. dan pelaksanaan OP rendah. Bahaya tanah/tebing longsor. Pengelolaan aset (irigasi) belum berjalan baik. Pengendalian Daya Rusak Air Beberapa isu utama yang terkait dengan pengendalian daya rusak air yang ditemui di WS 6 Ci antara lain: Penebangan hutan serta tata guna lahan yang terus berubah setiap tahun. 5) Pemberdayaan dan Peningkatan Peran Masyarakat dan Dunia Usaha Beberapa isu utama yang terkait dengan pemberdayaan dan peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha yang ditemui di WS 6 Ci antara lain: Kinerja institusi yang bertanggungjawab untuk pengelolaan sumber daya air masih kurang. Tanggul laut di pesisir kota. masih perlu dilengkapi.- Keterbatasan penyediaan air baku permukaan untuk Metropolitan Jabodetabek dan Metropolitan Cekungan Bandung. pasang tinggi air laut. Pembangunan perumahan di dataran banjir. Jaringan irigasi teknis terbatas. 3) Alat ukur debit dan pintu air banyak yang rusak. namun pelaksanaan belum optimal.

6) Penataan Ruang Selain kelima aspek pengelolaan sumber daya air di atas. Sepanjang sempadan sungai. Bekasi dan Metropolitan Bandung. Integrasi penataan ruang dalam pengelolaan sumber daya air dapat diwujudkan dengan masuknya zona-zona air ke dalam RTRW Provinsi/Kabupaten. Kawasan yang berfungsi sebagai badan air dan daerah resapan (cekungan. Kawasan pertanian (khususnya persawahan) yang beririgasi teknis terutama pada kawasan metropolitan Bogor. sepanjang bantaran kanan-kiri sungai yang berada dalam kawasan perkotaan.- Potensi peran masyarakat dan peran perempuan dalam pengelolaan sumber daya air perlu diperkuat. rawa. ditemui juga isu terkait dengan penataan ruang di WS 6 Ci antara lain berkembangnya permukiman dan kegiatan usaha non pertanian pada: Alih fungsi lahan pertanian (untuk perkotaan. dan situ). industri). Depok. halaman 10 . Tangerang.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Peraturan Daerah (Perda). Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penaggulangan Bencana. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air 4. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Undang-Undang Dasar 1945. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. dan lainnya yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air WS 6 Ci antara lain sebagai berikut: 1. 12. 11. 9.2 BAB II KONDISI PADA WILAYAH SUNGAI 2. 10.1 Peraturan Perundang-undangan di Bidang Sumber Daya Air dan Peraturan Lainnya yang Terkait Sejumlah Peraturan Perundang – undangan (UU). Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerntah Pusat dan Daerah. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Peraturan Pemerintah (PP). 15. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 13. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan. 3. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Kehutanan. 14. 2. halaman 11 . 8. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta untuk Penataan Ruang Wilayah 17. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1991 tentang Rawa. 6. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. 5. 16. 7. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air 18.

24. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM). 30. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 11 A/PRT/M/2006 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai halaman 12 . serta Pemanfaatan Hutan. 34. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Perbantuan. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional.19. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum. 36. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2006 tentang Irigasi. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang. Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2010 tentang Bendungan. 25. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2008 tentang Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan 32. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2010 tentang Perusahaan Umum Jasa Tirta II. 33. 20. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2011 tentang Penetapan dan Alih Fungsi Lahan Pertanian Berkelanjutan. 31. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU). 27. 35. 29. 23. 28. 21. 22. 37. Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. 26. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2008 tentang Air Tanah.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 23/PRT/M/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar dan Balai di Lingkungan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air dan Direktorat Jenderal Bina Marga. Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 2011 tentang Penetapan Cekungan Air Tanah 42. terdiri dari: 1) Peningkatan upaya perlindungan dan pelestarian sumber air 2) Peningkatan upaya pengawetan air halaman 13 .38. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 22 /PRT/M/2009 tentang Pedoman Teknis dan Tatacara Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air 41. 40. menyebutkan bahwa Jaknas Sumber Daya Air menjadi pedoman dalam penyusunan rancangan pola pengelolaan Sumber Daya Air pada wilayah sungai yang dapat ditinjau kembali oleh dewan sumber daya air nasional setiap 5 tahun sekali. terdiri dari: 1) Peningkatan koordinasi dan keterpaduan pengelolaan sumber daya air 2) Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta budaya terkait air 3) Peningkatan pembiayaan pengelolaan sumber daya air 4) Peningkatan pengawasan dan penegakan hukum 2. 43. Kebijakan Peningkatan Konservasi Sumber Daya Air Secara Terus Menerus. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air.1 Kebijakan Nasional Pengelolaan Sumber Daya Air Kebijakan nasional pengelolaan sumber daya air sesuai dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2011 tentang Kebijakan Nasional Pengelolaan Sumber Daya Air yang selanjutnya disebut Jaknas Sumber Daya Air Pasal 2. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 594/KPTS/M/2010 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian-Cisadane-Ciliwung-Citarum (WS 6 Ci). Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 44/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum Pembinaan Sumber Daya Manusia Dalam Penerapan Prinsi-Prinsip Tata Kelola Pemerintahan yang Baik di Lingkungan Departemen Pekerjaan Umum 39. Kebijakan Umum.2 Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air atau Kebijakan Pembangunan Provinsi atau Kabupaten/Kota 2. Peraturan Daerah dan Peraturan Terkait lainnya 2. 44.2. Jaknas tersebut mencakup: 1.

Kebijakan Pengendalian Daya Rusak Air dan Pengurangan Dampak. terdiri dari: 1) Peningkatan upaya pencegahan 2) Peningkatan upaya penanggulangan 3) Peningkatan upaya pemulihan 5. kebijakan penataan ruang yang harus dipertimbangkan dan terkait dengan pengembangan WS 6 Ci meliputi:  Kebijakan penataan ruang tingkat nasional yang merupakan rencana rinci tingkat nasional berupa Rencana Kawasan Strategis Nasional dan Rencana Kawasan Andalan. meliputi: 1) Peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha dalam perencanaan 2) Peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha dalam pelaksanaan 3) Peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha dalam pengawasan 6. Kebijakan Pengembangan Jaringan Sistem Informasi Sumber Daya Air (SISDA) Dalam Pengelolaan Sumber Daya Air 1) Peningkatan kelembagaan dan sumber daya manusia dalam pengelolaan SISDA 2) Pengembangan jejaring SISDA 3) Pengembangan teknologi Informasi 2. halaman 14 . yang disetujui Menteri Pekerjaan Umum.3) Peningkatan upaya pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air 3.  Kebijakan penataan ruang tingkat provinsi (berupa Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang WS).2 Kebijakan Nasional Penataan Ruang Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008.2. terdiri dari: 1) Peningkatan upaya penatagunaan sumber daya air 2) Peningkatan upaya penyediaan sumber daya air 3) Peningkatan upaya efisiensi penggunaan sumber daya air 4) Peningkatan upaya pengembangan sumber daya air 5) Pengendalian Pengusahaan sumber daya air 4. Kebijakan Peningkatan Peran Masyarakat dan Dunia Usaha Dalam Pengelolaan Sumber Daya Air. Kebijakan Pendayagunaan Sumber Daya Air untuk Keadilan dan Kesejahteraan Masyarakat.

pariwisata. c. di dalam wilayah yang telah ditetapkan sebagai wilayah pengelolaan wilayah sungai lintas provinsi yaitu WS 6 Ci (lihat Peraturan Pemerintah nomor 26 Tahun 2008 lampiran VI dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. pariwisata. Kawasan jasa. DKI Jakarta dan Jawa Barat yang berada dalam WS 6 Ci. dengan sektor unggulannya adalah pertanian. Cekungan (Metropolitan halaman 15 .dengan sektor unggulannya adalah industry.dengan sektor unggulannya adalah industri. Kawasan Bandung).  Kebijakan penataan ruang tingkat kabupaten/kota (berupa Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota). perikanan dan pertambangan. Berdasarkan RTRW Nasional dan RTRW Pulau Jawa Bali. pertanian. ada 2 (dua) Kawasan Strategis Nasional (KSN) yaitu: a. Kawasan b. Kawasan Andalan Bogor-Puncak-Cianjur (Bopunjur). perikanan. Andalan Perkotaan Jakarta (Metropolitan). b. pariwisata. Kawasan Andalan Bojonegara-Merak-Cilegon. Kebijakan penataan ruang skala pulau yang merupakan rencana rinci tingkat nasional (berupa Rancangan Peraturan Presiden tentang Rencana Tata Ruang Pulau Jawa-Bali).11 A/PRT/M/2006 Lampiran 2). perlu disepakati dengan Gubernur dan Menteri Pekerjaan Umum. industri dan perikanan. perdagangan dan Perkotaan Perkotaan Jabodetabekpunjur Bandung (Metropolitan Cekungan Jabodetabekpunjur). Menurut Peraturan Pemerintah 26 Tahun 2008 dan Raperpres RTR Pulau Jawa-Bali telah ditetapkan 5 (lima) kawasan andalan adalah sebagai berikut : a. Implikasi dari kebijakan dan strategi nasional di WS 6 Ci adalah sebagai berikut: Dalam RTRW Nasional dan RTRW Pulau Jawa Bali telah ditetapkan di dalam wilayah Provinsi Banten.

3 Kebijakan Daerah Pengelolaan Sumber Daya Air Kebijakan pengelolaan sumber daya air pada tingkat provinsi menjadi acuan penyusunan kebijakan pengelolaan sumber daya air pada tingkat kabupaten/kota. 5 kota di DKI Jakarta dan 10 Kabupaten dan 5 Kota di Provinsi Jawa Barat.1 Data Umum Secara administrasi WS 6 Ci secara geografis terletak pada posisi 106° 23' BT sampai 107° 40' BT dan 6° 8' LS sampai 6° 12' LS dan berada dalam wilayah Provinsi Banten. pertanian. pariwisata dan perkebunan. BBWS Ciliwung-Cisadane dan BBWS Citarum). 2.3 Inventarisasi Data 2. Sedangkan.3. Tetapi belum ada rencana untuk membentuk Dewan Sumber Daya Air di tingkat Kabupaten/Kota. meliputi DAS Cidanau-CiujungCidurian-Cisadane-Ciliwung-Citarum (terdiri dari 3 BBWS yaitu BBWS Cidanau-Ciujung-Cidurian. Cekungan industri. Tiga wilayah provinsi di WS 6 Ci belum memiliki peraturan daerah terkait kebijakan Sumber Daya Air di Provinsi masing-masing. Pasal 6 ayat 3). Kebijakan pengelolaan sumber daya air pada tingkat Provinsi disusun dan dirumuskan oleh wadah koordinasi pengelolaan sumber daya air provinsi (Dewan Sumber Daya Air Provinsi) dan ditetapkan oleh Gubernur melalui Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008. e.d. pariwisata dan perikanan. dengan sektor unggulannya adalah industri.2. pengelolaan kebijakan sumber pengelolaan daya air sumber daya air pada tingkat oleh Kabupaten/Kota dapat disusun dan dirumuskan oleh wadah koordinasi Kabupaten/Kota dan ditetapkan Bupati/Walikota (Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008. dengan sektor unggulannya Andalan adalah pertanian. Kawasan Bandung (Kawasan perkotaan/Metropolitan). WS 6 Ci berdasarkan wilayah administrasi meliputi 14 wilayah Kabupaten dan 14 Kota yang terdiri dari 4 Kabupaten dan 4 Kota di Provinsi Banten. Kawasan Andalan Purwakarta-Subang-Karawang (Purwasuka). Pasal 6 ayat 2. 2. DKI Jakarta dan Jawa Barat. halaman 16 .

dimana WS 6 Ci telah ditetapkan sebagai wilayah pengelolaan WS lintas provinsi (lihat Peraturan Pemerintah nomor 26 Tahun 2008 lampiran VI dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. serta Pelabuhan Nasional (Merak) di Banten.2.3. Jakarta-CikampekBandung dan Jakarta.11 A/PRT/M/2006 Lampiran 2) terdapat 5 (lima) Kawasan Andalan sebagai berikut: (1) Kawasan Andalan Bojonegara-Merak-Cilegon. c) Sistem Jaringan Prasarana Wilayah Mengacu pada RTRW Nasional.1 Rencana Tata Ruang Wilayah 1). Arahan Struktur Pemanfaatan Ruang /Rencana Struktur Ruang wilayah Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan berdasarkan RTR Pulau. RTRW Pulau Jawa Bali dan RTRW Provinsi diperoleh gambaran bahwa rencana sistem jaringan prasarana wilayah yang terdapat pada WS 6 Ci sebagai berikut: (1) Jaringan Transportasi Darat: Jalan toll: Jakarta-Merak.1.Bogor. Jakarta-Bogor. (2) Jalan Kereta Api: Jakarta-Merak. (5) Kawasan Andalan Cekungan Bandung (Metropolitan Bandung).1. b) Kawasan Andalan Berdasarkan RTRW Nasional dan RTRW Pulau Jawa Bali. a) Kawasan Strategis Nasional Dalam RTRW Nasional dan RTRW Pulau Jawa Bali telah ditetapkan 2 (dua) KSN di mana kedua KSN ini berada di dalam WS 6 Ci yaitu: (1) Kawasan Perkotaan Jabodetabekpunjur (Metropolitan Jabodetabekpunjur) dan (2) Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung (Metropolitan Cekungan Bandung). arahan struktur pemanfaatan ruang/rencana struktur ruang wilayah di WS 6 Ci dapat dilihat pada Gambar 2. (4) Kawasan Andalan Purwakarta-Subang-Karawang (Purwasuka). halaman 17 . (2) Kawasan Andalan Perkotaan Jakarta (Metropolitan Jakarta). Jakarta-CikampekBandung dan Jakarta-Cikampek-Cirebon (3) Pelabuhan laut: Pelabuhan Internasional Tanjung Periuk (Jakarta) dan Bojonegara (Banten). (3) Kawasan Andalan Bogor-Puncak-Cianjur (Bopunjur).

rencana penggunaan ruang di WS 6 Ci akan didominasi oleh kawasan permukiman/perkotaan. industri dan permukiman perdesaan akan mencapai sekitar 32% dari total luas WS 6 Ci (sekitar sepertiga areal WS 6 Ci). 3). Arahan Pola Pemanfaatan Ruang (Pola Ruang) Bedasarkan plotting RTRW Pulau Jawa Bali dan RTRW Provinsi (Banten. Ketiganya berada di sungai Citarum dibawah pengelolaan BBWS Citarum. Arahan Pengembangan Kawasan dan Pusat Kegiatan Bedasarkan kepadatan penduduk yang bermukim di WS 6 Ci terlihat bahwa pengelompokan penduduk terutama berada pada kawasan perkotaan dan pada Jabodetabekpunjur (kawasan metropolitan Jabodetabekpunjur) kawasan perkotaan Cekungan Bandung (Kawasan Metropolitan Cekungan Bandung). irigasi dan sumber air baku untuk PAM Jaya Jakarta). Kawasan perkotaan Merak-Cilegon-Serang juga sedang mengalami perkembangan yang cepat. DKI Jakarta dan Jawa Barat). sedangkan kebutuhan air untuk irigasi kemungkinan akan menurun/berkurang. dan waduk Cipancuh di Kabupaten Indramayu (untuk irigasi). serta 2 (dua) waduk kecil yaitu waduk Krenceng di Kota Cilegon (Banten) sebagai sumber air baku industri kota Cilegon. guna mempertahankan ketahanan pangan nasional maka perlu dihindari pengembangan kawasan permukiman pada kawasan irigasi teknis. Selain itu. dan direncanakan pembangunan kawasan khusus (Bojonegara). 2). Dari Gambar 2. diperoleh gambaran bahwa pada tahun akhir rencana (yakni tahun 2030) dilihat dari Rencana Pola Ruang. halaman 18 . (5) Sistem Jaringan Sumber Daya Air: Prasarana dan sarana sumber daya air yang ada di WS 6 Ci saat ini antara lain terdiri dari 3 (tiga) bendungan/waduk besar yaitu Waduk Saguling (pembangkit tenaga listrik).(4) Bandar Udara: Bandar udara skala pelayanan primer (Bandar udara Cengkareng) dan Bandar udara skala pelayanan sekunder (Bandar udara Husen Sastranegara Bandung). Dengan demikian kebutuhan air baku untuk permukiman perkotaan dan industri akan meningkat. Waduk Cirata (pembangkit tenaga listrik) dan Waduk Jatiluhur (pembangkit tenaga listik.2 terlihat bahwa kawasan permukiman (perkotaan). kawasan pertanian (terutama pertanian lahan basah/irigasi teknis dan kawasan lindung.

1.Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 2. Struktur Pemanfaatan Ruang Wilayah di WS 6 Ci halaman 19 .

Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 2. Kondisi Tata Guna Lahan di WS 6 Ci pada tahun 2009 halaman 20 .2.

3.3 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) PDRB WS 6 Ci memberi kontribusi sebesar 30. 34. ADHK 2000).1%. Secara keseluruhan. Distribusi Kepadatan Penduduk di WS 6 Ci berdasarkan Podes 2008 dan Sensus 2010 2. Dari data statistik 2008. dan halaman 21 . dan non Industri). Pertumbuhan penduduk di WS 6 Ci selama 10 tahun terakhir.3. Jika dilihat prosentase penduduk WS 6 Ci terhadap wilayah yang lebih luas.1. yang diproyeksikan ke tahun 2010. kontribusi total sektor tersier.2 Provinsi dan Kabupaten/Kota Dalam Angka Berdasarkan data Podes tahun 2008. jumlah penduduk di WS 6 Ci sebanyak 43. sektor industri. kegiatan perekonomian juga mengalami perubahan. Pertumbuhan penduduk terbesar terjadi di wilayah kabupaten Bekasi (6%) dan terkecil di wilayah Kota Jakarta Pusat (-3.43% (sektor industri). rata-rata sebesar 2. kegiatan perekonomian di WS 6 Ci saat ini didominasi oleh sektor tersier (non pertanian.1. Sumber: Podes 2008 dan Sensus 2010.043.8%) seperti ditunjukkan dalam Gambar 2. sudah hampir 31% terhadap PDRB Pulau Jawa.317 jiwa dengan jumlah rumah tangga sebanyak 11.52% dari seluruh penduduk Jawa.3. dan sebesar 32.3.71% terhadap PDRB Nasional dan sebesar 56.94% (sektor tersier). dan sektor pertanian terhadap PDRB di WS 6 Ci masing-masing sebesar 61.538. Sejalan dengan pergeseran struktur tenaga kerja di WS 6 Ci. jumlah penduduk di WS 6 Ci sebesar 75. BPS Gambar 2.2. PDRB DKI Jakarta yang paling besar.56% terhadap PDRB Pulau Jawa (PDRB Tahun 2008.856 KK.92% dari seluruh penduduk di 3 (tiga) provinsi tersebut.

735 unit industri tersebut. WS 6 Ci 17.36% 20. walaupun jumlah industri relatif kecil.49% berada di wilayah Banten.3. 72.21% berada di Jawa Barat. 93. Hal ini dapat dipahami karena di WS 6 Ci terdapat 2 kota Metropolitan (salah satunya adalah Jakarta sebagai Ibu Kota Republik Indonesia.3.10% berada di wilayah Jawa Barat.41% di wilayah DKI Jakarta.07% 55.16% 63. Seluruh sungai di WS 6 Ci mengalir dari selatan ke arah utara yang bermuara di pantai utara (Laut Jawa).735 unit dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 3.98% 54.56% 100% Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 2. 2.402.28% 19.56% 1 Ci 25. dimana lebih dari 60% perputaran uang di Indonesia berada di wilayah ini).07% 55. berarti industri yang berada di Banten relatif lebih besar dibandingkan dengan industri yang berada di wilayah DKI Jakarta.06% 2 Ci 6.57% 20% 40% 2 Ci 6.34% 20.87% 60% 1 Ci 25. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa industri di wilayah Banten lebih banyak industri sedang dan besar.4.79% 72.06% 80% WS 6 Ci 17. Jabodetabek di bagian utara yaitu pada halaman 22 .1.196. dan sisanya sebesar 1. Terdapat 2 (dua) kawasan metropolitan: (1). Sedangkan sekitar 40% lainnya berupa dataran tinggi dengan ketinggian berkisar 100-2.57% 0% Pertanian Industri Jasa 3 Ci 24.000 dpl khususnya di bagian selatan WS 6 Ci.28% 19.87% 3 Ci 24. Distribusi Penduduk Usia Produktif Berdasarkan Lapangan Usaha 2008 Jumlah Industri di WS 6 Ci pada tahun 2008 sebanyak 123.79% 72. Dari sejumlah 123. 5. Kawasan Pengembangan (Jabodetabekpunjur). dan 11.36% 20.96% 19. Sementara itu jika dilihat dari persebaran tenaga kerja.34% 20.99% berada di DKI Jakarta.64% (sektor pertanian).4 Digital Elevation Model (DEM) Secara umum sekitar 60% topografi WS 6 Ci bersifat landai dan datar dengan ketinggian 0-100 meter di atas permukaan laut.98% 54.80% berada di Banten. 15.16% 63. Karena jika dibandingkan dengan DKI Jakarta. namun jumlah tenaga kerja relatif besar.96% 19. dan beberapa kota medium lainnya yang sedang berkembang menuju kota besar.

Tujuan dari proyek ini adalah: untuk membuat perencanaan/pengembangan Sumber Daya Air terpadu melalui pendekatan sistem analisis. dari tahun 1996 sampai dengan 2004. Gambar 2. Ditjen Sumber Daya Air). Ditjen Sumber Daya Air. Kajian Teknis.3. Tujuannya halaman 23 .5 Laporan Hasil Studi. Cekungan Bandung berada di bagian selatan (dataran tinggi) pada ketinggian di atas 100 mdpl.1. Ditjen Sumber Daya Air. proyek kerja sama antara pemerintah Belanda dengan pemerintahan Indonesia (dalam hal ini Departemen Pekerjaan Umum. mulai tahun 2008 sampai sekarang masih berlanjut. Februari 1994. 2. dan perencanaan teknis lainnya yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air. Perencanaan Terkait Sumber Daya Air Dalam penyusunan Pola WS 6 Ci ini juga menggunakan laporan dari studi. Tujuannya adalah untuk mengkaji Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu (aspek kuantitas dan kualitas juga air permukaan dan air tanah) di area Jakarta-BogorTangerang-Bekasi (sebagian area dari WS 6 Ci)  ICWRMP (2009) ICWRMP (Integrated Citarum Water Resources Managment Program). Departemen Pekerjaan Umum. Departemen Pekerjaan Umum.dataran rendah dengan ketinggian 0-100 mdpl. mulai Oktober 1985 sampai dengan Desember 1988. Departemen Pekerjaan Umum (dalam hal ini BBWS Citarum). Tujuannya adalah untuk mengkaji Perencanaan Pengembangan/Pengelolaan Sumber Daya Air terpadu dan berkelanjutan di WS Citarum. baik yang sudah maupun sedang dilakukan. WS Ciliwung Cisadane.5 memperlihatkan topografi WS 6 Ci. antara lain:  BTA-155 (1989) Cisadane Cimanuk BTA 155. Ditjen Sumber Daya Air. kajian teknis. meliputi area hampir sama dengan WS 6 Ci  BWRMP (2000-2004) BWR(M)P (Basin Water Resources [Management] Planning). dan (2). WS Ciujung Ciliman (ketiganya sekarang berada dalam WS 6 Ci) dan WS Jratunseluna  JWRMS (1994) JWRMS (Jabotabek Water Resources Management Study).

Musim hujan berlangsung antara bulan Oktober hingga bulan April. hingga 4.6. antara lain meliputi variabel curah hujan dan aliran. sedangkan yang terendah terjadi pada bulan Juli sampai bulan Agustus.6. lama peyinaran matahari dan kecepatan angin.2.000 mm untuk bagian utara yang relatif datar. curah hujan tahunan rata-ratanya antara 2. kelembaban nisbi. WS 6 Ci dimasukkan ke dalam wilayah beriklim tropis dengan curah hujan dan kelembaban udara yang tinggi sepanjang tahun dan sedikit variasi suhu udara antara bulan satu dengan lainnya.3. Hujan Secara umum. debit.3. temperatur udara.1 Iklim Data hidroklimatologi memberikan gambaran mengenai kondisi hidrologi dan meteorologi secara umum. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari hingga bulan Februari.pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu untuk Citarum (sebagian dari WS 6 Ci) 2.2 Data Sumber Daya Air 2.2 Air Permukaan (hujan. 2. sedangkan untuk bulan-bulan lainnya berlangsung musim kemarau.3. Kisaran nilai iklim di WS 6 Ci bisa dilihat pada Gambar 2. Curah hujan tahunan untuk WS 6 Ci ditunjukkan pada Gambar 2. tampungan air) 1). halaman 24 .2.000 mm untuk bagian selatan yang merupakan daerah berpegunungan. Tinggi curah hujan tahunan bervariasi sesuai lokasi dan kondisi topografinya.

Peta Topografi WS 6 Ci halaman 25 .5.Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 2.

6.Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 2. Curah Hujan Tahunan di WS 6 Ci halaman 26 .

halaman 27 .7dibawah ini: Tabel 2. terputus-putus. dan tidak andal. Data dengan kondisi demikian dapat dilengkapi dengan penerapan model hidrologi berdasarkan data hujan dan parameter fisik DAS lainnya.35 5.7. Debit Data aliran sungai terbatas keberadaannya jika dibandingkan dengan data curah hujan. 6.5 2 Ci 205.5 Milyar m3/tahun di 2 Ci dan 14.0 Total 825. tidak lengkap.13 6. Perkiraan Ketersediaan Air Permukaan di WS 6 Ci Dari Tabel dan Gambar tersebut total ketersediaan air di WS 6 Ci diperkirakan kurang lebih sebesar 26 Milyar m3/tahun (5.1 dan Gambar 2.0 Sumber : Hasil Analisis Ribasim.1. 2010 Sumber : Hasil Analisis Ribasim Gambar 2.2).69 14.0 Milyar m3/tahun di 1 Ci).17 26. Pada umumnya data kurang memadai.5 1 Ci 44. Berdasarkan hasil analisis RIBASIM.5 Milyar m3/tahun di 3 Ci. Perkiraan Ketersediaan Air Permukaan di WS 6 Ci Ketersediaan Wilayah m3/det Milyar m3/tahun 3 Ci 175. Banyak data aliran masih berupa data muka air yang belum diproses menjadi data debit. ketersediaan sumber air permukaan di WS 6 Ci dapat dilihat pada Tabel 2.

Ketersediaan air rata-rata tertinggi terjadi pada bulan Januari. yaitu kurang lebih 0. Peta lokasi situ di WS 6 Ci dapat dilihat pada Gambar 2. halaman 28 . Tampungan Air Di WS 6 Ci terdapat 41 situ berada di 3 Ci.9 .8 dan lokasi potensi situ di 2 Ci dapat dilihat pada Gambar 2.9 Milyar m3/tengah bulanan. yaitu kurang lebih 1. sedangkan yang terendah terjadi pada bulan Agustus. sekitar 200 situ berada di 2 Ci dan 365 situ berada di 1 Ci.5 Milyar m3/tengah bulanan. 3).

Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 2. Peta Situ di WS 6 Ci halaman 29 .8.

9.Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 2. Peta Situ di Wilayah Cisadane-Ciliwung halaman 30 .

3 Air Tanah Ketersediaan air tanah di WS 6 Ci diperkirakan sebesar 8. Potensi Air Tanah di WS 6 Ci Data aktual mengenai pengambilan air tanah untuk WS 6 Ci baik pengambilan air tanah dangkal maupun air tanah dalam masih terbatas. yaitu masih 25%.000 5.2 terlihat bahwa saat ini rata-rata abstraksi air tanah di 3 Ci dan 2 Ci sudah melampaui batas ideal pengambilan air tanah.055 juta m3/tahun.000 4. untuk beberapa lokasi misalnya di CAT 1Batas ideal pengambilan air tanah adalah antara 30–40% dari total potensi air tanah.2.2. Namun.000 1.10. Akan tetapi. Data pengambilan air bawah tanah yang terdaftar khususnya pengambilan air tanah dalam tidak dapat dipertimbangkan sebagai indikasi pengambilan yang sebenarnya.286 juta m3/tahun.000 0 3 Ci 2 Ci 1 Ci Total WS 6 Ci Unconfined Flow Confined Flow Total Potensi Air Tanah Wilayah Sumber : Lampiran Daftar CAT di Pulau Jawa dan Madura.000 8. Angka pengambilan air tanah dangkal yang sebenarnya hanya dapat diperoleh melalui survei sosial-ekonomi mengenai konsumsi dan kebutuhan air. di 2 Ci sebesar 1.11 menggambarkan ketersediaan dan sebaran air tanah di ketiga wilayah yang termasuk dalam WS 6 Ci.899 juta m3/tahun dan di 1 Ci sebesar 5. saat ini abstraksi air tanah masih dibawah batas ideal pengambilan air tanah. Departemen ESDM. dan ketentuan tarif yang sesuai.000 2.000 Juta m3/tahun 6. Dari Tabel 2. halaman 31 .3. Peta Cekungan Air Tanah pada Gambar 2. Potensi ini tersebar di 3 Ci sebesar 1.856 juta m3/tahun dan confined flow: 384 juta m3/tahun).000 7. Pengambilan yang sebenarnya diperkirakan paling tidak 3 (tiga) kali lebih banyak dibandingkan dengan pengambilan air bawah tanah yang terdaftar. 2009 (diolah) Gambar 2.240 juta m3/tahun (unconfined flow: 7. Selain untuk keperluan domestik. untuk 1 Ci. diperlukan izin untuk pengambilan air tanah. Potensi Air Bawah Tanah di Wilayah Sungai 6 Ci 9. yaitu masing-masing sudah mencapai 75% dan 87%1.000 3.

750 467 3.078 13 18 31 40 37 77 16 6 3 30 16 1 117 28 13 46 276 2 21 23 19 48 67 3 16 4 2 NA 8 31 5 NA 1 70 11 (3) 8 21 (11) 10 13 (10) (1) 28 NA (7) 86 23 NA 45 206 + + + + + + + 16 118 75 47 130 87 18 270 140 7 771 27 20 1 25 Total WS 6 Ci 384 Catatan : NA: Data tidak tersedia Sumber : 1. Leuwi Gajah dan sebagainya. Ranca Ekek.716 483 151 1. Perkiraan Pengambilan Air Tanah Dalam di WS 6 Ci Potensi Air Tanah Cekungan Air Tanah (CAT) AREA km2 Q2 Confined Flow juta m3/thn Abstraksi Air Tanah Q2 Confined Flow juta m3/thn Neraca Air Tanah Q2 Confined Flow juta m3/thn Persentase Abstraksi Air Tanah Catatan CAT Rawadanau CAT SerangTangerang Total 3 Ci CAT Jakarta CAT Bogor Total 2 Ci CAT Cianjur CAT BekasiKarawang CAT Subang CAT Ciater CAT Lembang CAT Batujajar CAT BandungSoreang CAT Sumedang CAT Sukamantri CAT Indramayu Total 1 Ci 375 2. 2010 3.2.282 10. Tabel 2. 2010 4.822 3. Lampiran Daftar Cekungan Air Tanah di Pulau Jawa dan Pulau Madura. Dinas ESDM Provinsi Banten.Bekasi-Karawang. dimana di daerah ini sudah terjadi penurunan muka air tanah dan juga penurunan tanah yang cukup serius. BPLHD Provinsi DKI Jaya. akan tetapi di beberapa tempat seperti di daerah Majalaya. Dayeuh Kolot.197 1. Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 2011 tentang Penetapan Cekungan Air Tanah halaman 32 .439 1. Departemen ESDM.641 1.311 2. Walaupun saat ini pengembilan air tanah di CAT Bandung-Soreang masih dibawah batas ideal pengambilan air tanah (masih 27%). 2009 2. CAT Subang dan CAT Batujajar pengambilan air tanah sudah melampaui batas ideal pengembilan air tanah. pengambilan air tanah ini sudah melampaui batas ideal pengambilan air tanah.514 566 169 89 1.

11.Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 2. Peta Cekungan Air Tanah di WS 6 Ci halaman 33 .

Sukadiri.1% dari luas 3 Ci.098 ha dan 343.2 halaman 34 . 2. Penggerusan pantai terjadi di beberapa lokasi di 2 Ci.5 Erosi Lahan Jumlah lahan kritis di WS 6 Ci (termasuk kategori lahan sangat kritis. dan Persentase areal di 1 Ci luas dengan tingkat erosi berat dan sangat berat (>180 ton/ha/th) adalah sebesar 31.560 ha.3. Mauk. Erosi Pantai dan Muara Sungai Erosi atau penggerusan pantai di 3 Ci terjadi di Kabupaten Tangerang pada 5 (lima) lokasi yaitu di Kecamatan Naga. Persentase areal di 2 Ci luas dengan tingkat erosi berat dan sangat berat (>180 ton/ha/th) adalah sebesar 15. Kronjo. di Kabupaten Serang terdapat 3 (tiga) lokasi yaitu di Kecamatan Tirtayasa. sedangkan untuk 3 Ci dan 2 Ci masing-masing seluas 340. Erosi dan Pendangkalan Waduk    Persentase areal di 3 Ci dengan kelas erosi berat-sangat berat (> 180 ton/ha/th) sekitar 28. agak kritis dan potensial kritis) berjumlah 1. Kasemen. Cinangka. kurangnya tanaman pelindung terhadap gelombang.568.2% dari luas 2 Ci. abrasi terjadi karena adanya arus laut.2. dan terdapat 1 (satu) lokasi di Kota Cilegon yaitu di daerah pelabuhan Merak. Kecamatan Sukra dan Kecamatan Kandanghaur di Kabupaten Indramayu. 1 Ci mempunyai angka lahan kritis yang paling tinggi.2. yaitu 884. Cibuaya dan Kecamatan Pedes di Kabupaten Karawang.4 Sedimentasi Sungai a.3.4% dari luas 1 Ci.589 ha.2. Kecamatan Pusakanagara (Subang). Penggerusan pantai di Sungai Citarum bagian hilir merupakan fenomena alam. b. Daerah yang mengalami penggerusan pantai pada tingkat yang mengkhawatirkan meliputi antara lain Kecamatan Tirtajaya. misalnya pantai utara Jakarta bagian timur.932 ha. penambangan pasir pantai dan kegiatan manusia yang mengkonversi lahan pesisir dari rawa dan bakau menjadi tambak. Pakuhaji. kritis. Angka-angka tersebut dapat dilihat pada Tabel 3. Dari angka tersebut.

masing-masing seluas 1. Peta lokasi lahan kritis di WS 6 Ci dapat dilihat pada Gambar 2.880 468. Persentase luas lahan yang termasuk SK.3. 4.098 2 Ci 802 17. lebih dari 10 cm/tahun.560 Total 28. halaman 35 .101 219. 2.428 ha). Pada bulan-bulan tersebut terjadi musim angin Barat yang bertiup dari arah Barat Laut dengan kecepatan tinggi.219 81.331 449.407 244.504 343.263 158. Kategori Lahan Sangat Kritis (SK) Kritis (K) Agak Kritis (AK) Potensial Kritis Total Sumber: BP DAS Citarum-Ciliwung 3 Ci 1.3.62 knot.306 ha).01% Lahan “sangat kritis” paling tinggi ada di 1 Ci.849 340. 3.69% 45. K. Januari dan Februari setiap tahunnya.21 s/d 10. Pada sebagian lokasi tersebut telah dibangun tanggul laut.Tabel 2.024 ha dan 802 ha.2. 1. Hampir setiap tahun daerah-daerah di pantai utara Jakarta terkena limpasan rob.6 Muka Air Pasang Surut Umumnya genangan akibat pasang air laut (rob) di pantai utara Jakarta terjadi sekitar Desember. yaitu 8.608 1.64% 21.437 115. dan ketiga di 2 Ci sebesar 19% (99. yaitu seluas 26. AK yang terbesar terjadi di 1 Ci sebesar 39% (416.988 273.249 ha).932 1 Ci 26.124 94. Pada beberapa tempat di pantai utara Jakarta terjadi penurunan tanah yang sangat cepat. kedua terjadi di 3 Ci sebesar 30% (120. Lahan Kritis di WS 6 Ci Wilayah (ha) No. yang diikuti oleh 3 Ci dan 2 Ci.255 884. namun masih memerlukan peningkatan.388 932.12.437 ha. 2.590 % Lahan Kritis 1.024 25. tetapi juga tejadi pada bulan Juni.36% 7.568.

12.Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 2. Peta Lokasi Lahan Kritis di WS 6 Ci halaman 36 .

3 s. halaman 37 . perikanan.4 1.12 6.9 2.13 Tabel 2.d 7. (Sedang dan Berat ) dan Berat ) Sedang dan Berat) (Berat) * = Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 2.4.4 3.d 7.2.3.300 Infrastruktur utama yang telah dibangun di WS 6 Ci.d -111 Metode IP IP IP IP STORET IP STORET STORET Kategori tercemar (Sedang) (Sedang) (Sedang) (Sedang) (Sedang (Ringan. perikanan.2 Panjang Dam (m) 1.361.38 s. Kondisi prasarana bangunan irigasi baik ditingkat jaringan utama.d s.220 453 301.178.2. cadangan air apabila terjadi gangguan terhadap fasilitas Intake Cidanau dan Jaringan pipa air baku.98 . PLTA dan Pengendali banjir 3 CIRATA PLTA dan Pengendali banjir 4 SAGULING PLTA dan Pengendali banjir 5 CIPANCUH Irigasi dan Pengendali banjir Sumber: Hasil analisis 2010 Catchment Area (km2) 104.d 6.85 5.5.08 s.61 s. air baku untuk air minum dan industri.d 59 3.d 6. Kualitas Air Sungai Berdasarkan Hasil Pemantauan Rutin Sungai Sungai Ciujung (2010) Sungai Cidurian (2010) Sungai Cidanau (2010) Sungai Cisadane (2009) (Banten) Sungai Cisadane (2009) (Jawa Barat) Sungai Ciliwung (2009) (DKI) Sungai Ciliwung (2009) (Jawa Barat) Sungai Citarum (2010) Jumlah Titik Lokasi Pemantauan 9 lokasi 9 lokasi 4 lokasi 8 lokasi 8 lokasi 13 lokasi 8 lokasi 10 lokasi Nilai Status Mutu* 5.6 72.8 Prasarana/Infrastruktur Sarana dan prasarana pengairan berupa waduk yang telah beroperasi dan berfungsi pada saat ini sebagai penyuplai kebutuhan air di WS 6 Ci adalah sebagai berikut: Tabel 2.44 -47 s.3. ketenagaan.4.7 Kualitas Air Hasil pengukuran kualitas air (berdasarkan pemantauan dan pengukuran yang telah dilakukan pada masing-masing sungai) ditunjukan dalam Tabel 2.2.29 s. dan Gambar 2.d 24.07 6.9 4. irigasi.654. penggelontoran dan pariwisata.d .25 s.42 s. dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan antara lain untuk irigasi. sumber air baku untuk proses pengolahan air bersih yang akan didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Kota Cilegon 2 JATILUHUR Air minum.6 .000 1 Ci 1 Ci 1 Ci 1 Ci Citarum Citarum Citarum Cipancuh 4. Waduk yang Sudah Ada di WS 6 Ci No 1 Waduk KRENCENG Fungsi Wilayah 3 Ci Sungai Krenceng Cadangan air pada saat musim kemarau.

pemeliharaan.sekunder maupun pada tingkat tersier dan bangunan pengendali banjir memerlukan perhatian lebih pada operasi. halaman 38 . dan rehabilitasi.

Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 2.13. Peta Kualitas Air halaman 39 .

Industri.819 m3/detik. Daerah pariwisata air tesebut memerlukan perhatian serius dari pihak pemerintah daerah terkait. waduk Cirata dan waduk Saguling . hal tersebut dikarenakan kondisi saat ini waduk-waduk tersebut sudah mengalami degradasi khususnya berkurangnya daya tampung waduk akibat terjadinya sedimentasi. Fasilitas perkotaan tersebut antara lain adalah fasilitas umum.3 Data Kebutuhan Air 2. Standar konsumsi pemakaian domestik ditentukan berdasarkan rata-rata pemakaian air perhari yang diperlukan oleh setiap orang.096 m3/detik dan 9. kecuali untuk Kota Cilegon.1. Kegiatan non domestik adalah kegiatan penunjang kota terdiri dari kegiatan komersial berupa industri. Sarana rekreasi air di WS 6 Ci berada di lokasi waduk Jatiluhur. perniagaan dan kegiatan sosial seperti sekolah. industri dan komersil.2 (Kriteria).3. Standar konsumsi pemakaian air domestik dapat dilihat pada sub-bab 3. Dari Gambar tersebut dapat dilihat bahwa kebutuhan air tertinggi untuk keperluan RKI terjadi di 2 Ci. Proyeksi kebutuhan air bersih untuk memenuhi sistem penyediaan air bersih non domestik di WS 6 Ci antara 15% sampai 40% dari total kebutuhan RKI. kebutuhan air untuk sarana rekreasi di daerah perkotaan telah diperhitungkan dalam kebutuhan air RKI.2. yaitu 75% dari total kebutuhan RKI.666 m3/detik). perkantoran. halaman 40 . baik untuk keperluan rumah tangga/domestik (44.153 m3/detik).3. dan non domestik (32.3.508 m3/detik. Sementara untuk 1 Ci dan 3 Ci yaitu masing-masing sekitar 37. Kebutuhan air untuk rumah tangga (domestik) saat ini dihitung berdasarkan jumlah penduduk tahun 2010. Penentuan kebutuhan air non domestik didasarkan pada faktor jumlah penduduk pendukung dan jumlah unit fasilitas yang dimaksud. Kebutuhan air untuk keperluan RKI pada tahun 2010 (base case) untuk WS 6 Ci dapat dilihat pada Gambar 2. Dalam penyusunan pola ini. Perkotaan dan Pariwisata) Kegiatan domestik adalah kegiatan yang dilakukan didalam rumah tangga. yaitu sekitar 76.1 RKI (Air Minum. rumah sakit dan tempat ibadah.14.

819 1 Ci 24. Hasil perhitungan kebutuhan irigasi yang dikelompokkan menjadi 3 wilayah dapat dilihat pada Gambar 2.666 32. tingkat pertumbuhan tanaman.145 37. dan pola tanam.14. Karena sangat banyak variabel yang mempengaruhi kebutuhan air irigasi.2 Irigasi Kebutuhan air jaringan irigasi tergantung pada beberapa parameter.187 3. seperti luas tanam dalam hektar. jadwal irigasi. kondisi klimatologi (curah hujan dan evapotranspiration).153 76. 2010 Gambar 2.508 2 Ci 44.3. maka dalam perhitungan kebutuhan air irigasi menggunakan model analisis Ribasim.140 120 100 m3/detik 80 60 40 20 0 DOMESTIK NON DOMESTIK TOTAL RKI 3 Ci 6. golongan. kondisi tanah dan efisiensi irigasi.620 123. Input data yang digunakan untuk perhitungan kebutuhan air irigasi. luas tanam .3. mencakup: a) karakteristik kondisi rata-rata irigasi (berhubungan dengan jenis tanah.15 dan Tabel 2. dan b) karakteristik berbagai kombinasi pola tanam.322 9. Kebutuhan air irigasi yang diperhitungkan untuk unit dasar. dan curah hujan).423 Sumber : Hasil Analisis Ribasim. evapotranspirasi potensial.6. pelaksanaan sistem irigasi. Kebutuhan Air untuk Keperluan RKI di WS 6 Ci (m3/detik) 2. merupakan kombinasi sistem irigasi. jenis tanaman. dan efisiensi irigasi. halaman 41 . kalender tanam. Time step yang dipakai untuk perhitungan adalah tengah bulanan.951 12.096 RKI 75.803 47.

3. yaitu halaman perhitungan. sumber air bagi penduduk kota besar seperti Bandung dan Jakarta.I Jan-II Feb-I Feb-II Mar-I Mar-II Apr-I Apr-II Mei-I Mei-II Jun-I Jun-II Jul-I 289 183 201 158 147 146 190 222 282 294 305 316 260 27 61 201 20 39 123 29 41 131 33 35 90 29 31 87 25 20 101 18 20 153 11 17 195 8 31 243 8 37 249 12 51 242 14 52 250 19 50 190 Jul-II Ags-I Ags-II Sep-I Sep-II Okt-I Okt-II Nov-I Nov-II Des-I Des-II 221 185 113 60 30 50 147 257 299 405 348 18 46 157 22 47 116 20 35 59 17 20 22 13 8 9 6 2 42 3 0 144 7 20 231 7 22 270 19 64 322 20 61 268 2 Ci 1 Ci Sumber: Hasil Analisis Ribasim Gambar 2. Sungai Citarum (1 Ci) juga sebagai sumber PLTA untuk Pulau Jawa dan Pulau Bali.860.355 348.3 Penggelontoran Sampai saat ini penggelontoran saluran di WS 6 Ci pada umumnya hanya untuk menjaga kualitas air sampai batas tertentu.714 99.773 15. Kebutuhan Air Irigasi di WS 6 Ci Wilayah Luas Sawah (Ha) Kebutuhan Air Irigasi (m3/dtk) (Juta m3/dtk) 3 Ci 2 Ci 1 Ci Total Sumber : Hasil Analisis Ribasim.36 2.51 6.3. dan hanya dilakukan selama persediaan air masih ada serta tidak mengganggu persediaan air untuk kebutuhan sektor lainnya.09 1.54 504.175.76 5. karena nilai air secara ekonomis di masa yang akan datang akan meningkat.180.44 164. belum ada waduk yang dimanfaatkan untuk tenaga listrik (PLTA).3. Kebutuhan Air Irigasi di WS 6 Ci (2010) Tabel 2. Akan tetapi. Sungai ini mengairi 3 (tiga) waduk.15. diperoleh kebutuhan air untuk keperluan penggelontoran (pemeliharaan sungai) setiap tahunnya kurang lebih 78 42 .3.4 Ketenagaan Di provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta. penggelontoran perlu dipertimbangkan sebagai tindakan sementara untuk memperbaiki kualitas air. Selain mengairi ratusan ribu hektar sawah melalui jaringan irigasi Jatiluhur.12 217.6. Berdasarkan m3/det. 2010 45. 2.450 TOTAL WS 6 Ci 400 3 Ci 2 Ci 1 Ci 350 300 m3/detik 250 200 150 100 50 0 TOTAL WS 6 Ci 3 Ci Jan .704 493.99 37.

3.3. Kabupaten Bekasi.5 5 unit Francis Sumber: Perum Jasa Tirta (PJT) II (2010) 2. Kabupaten Karawang. Jakarta Utara. tambak tersebar di Kota. tambak dibagi dalam kategori intensif. Di WS 6 Ci. Kabupaten Serang dan Kabupaten Tangerang.165 juta m3) dan Waduk Djuanda (3. Waduk Cirata (2.5 Perikanan Untuk keperluan penyusunan pola PSDA di WS 6 Ci.20 m 252 28.000 juta m3) dengan menghasilkan daya listrik 1. Berdasarkan luasnya. Kabupaten Indramayu. halaman 43 .5 m 225 m 103 4 Gated spillway 1000 8 unit Francis Waduk Djuanda 1967 Rockfill dam with inclined clay core 105 m 1220 m 114. Luas tambak keseluruhan (berdasarkan Kabupaten yang masuk ke dalam WS 6 Ci) adalah 50. semi intensif dan luas tradisional serta pola tanam/musim tanam. Kabupaten Cianjur. dimana 27% berada di Kabupaten Karawang (Tabel 2. perikanan yang ditinjau hanya terkait dengan air untuk perikanan tambak. Waduk Saguling dan Waduk Djuanda (Jatiluhur) Mulai Operasi Data Dam Jenis Tinggi Crest Level Crest Height Data Pembangkit Listrik tail Level (m) Head loss (m) Spillway Characteristics Kapasitas Terpasang (max power.4 Gated spillway 750 4 unit Francis Waduk Cirata 1988 Rockfill dam with concrete face 125 m 455.7.141 ha. M/W) Jumlah Turbin Jenis Turbin Waduk Saguling 1985 Rock fill dam with clay core 99 m 501 m 650.400 MW. Tabel 2. Kabupaten Subang.5 m 27 1 Ungated (ogee) spillway 187.Waduk Saguling (982 juta m3).8). Data Waduk Cirata. Data ketiga waduk untuk PLTA tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.7.

009 0 13.3 (Standar).8.16) dan Lokasi Tambak dapat dilihat pada Gambar 2.306 494 8.1.920 0 32 220 132 0 0 Luas Total (ha) 337 5 72 57 0 1 32 1.125 400 2 51 594 1.17. Kebutuhan Air untuk Tambak di WS 6 Ci halaman 44 .074 1.920 0 5.601 0 0 50. 2010 Gambar 2.629 7.495 0 0 0 25 0 8.141 Luas Kolam (ha) 3 5 72 57 0 0 32 1.125 10. 25 3 Ci 2 Ci 1 Ci 20 m3/detik 15 10 5 3 Ci 3 2 Ci 3 1 Ci 22 0 Sumber: Hasil Analisis Ribasim.16.304 219 1.961 7.733 0 0 Standar kebutuhan air untuk perikanan (tambak) yang digunakan dalam perhitungan DSS-Ribasim untuk WS 6 Ci dapat dilihat pada sub-bab 3.Tabel 2.281 494 332 760 552 1.642 0 4.895 2 51 594 1. Luas Tambak di WS 6 Ci No Nama Kabupaten Provinsi DKI Jakarta (2008) 1 Kota Jakarta Utara 2 Kota Jakarta Selatan 3 Kota Jakarta Barat 4 Kota Jakarta Timur 5 Kota Jakarta Pusat 6 Kepulauan Seribu Provinsi Jawa Barat (2008) 7 Kota Bogor 8 Kabupaten Bogor 9 Kota Bekasi 10 Kabupaten Bekasi 11 Kota Cimahi 12 Kota Bandung 13 Kabupaten Bandung 14 Kabupaten Cianjur 15 Kabupaten Sumedang 16 Kabupaten Indramayu 17 Kabupaten Subang 18 Kabupaten Purwakarta 19 Kabupaten Karawang 20 Kota Depok 21 Kabupaten Bandung Barat Provinsi Banten (2007) 22 Kota Cilegon 23 Kabupaten Serang 24 Kota Tangerang 25 Kabupaten Tangerang 26 Kota Serang 27 Kota Tangerang Selatan Luas total Sumber: Dinas Perikanan Provinsi Luas Tambak (ha) 334 0 0 0 0 1 0 0 0 0 10.769 552 15.405 0 0 0 0 5. Dengan menggunakan standar kebutuhan untuk pergantian air (flushing) dan salinitas serta luas tambak di WS 6 Ci diperoleh kebutuhan air untuk tambak di WS 6 Ci sebesar 28 m3/det (Gambar 2.074 1.674 220 4.899 219 1.

17. Peta Lokasi Tambak di WS 6 Ci halaman 45 .Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 2.

dan lain-lain. 6. pendampingan yang bersifat koordinatif kepada masyarakat dan pelatihan bagi petugas secara berkelanjutan. ternak lebah. dan lain-lain) mulai dari sumbernya melalui Reuse-ReduceRecycle serta penerapan eko-teknologi (pengolahan limbah cair berdasarkan ekosisitem dengan tanaman air). sanitasi lingkungan. Penyuluhan. pasar. pengolahan hasil.4. Masyarakat berperan dalam mengurangi dampak risiko banjir.4 Identifikasi Kondisi Lingkungan dan Permasalahan 2. pemasaran. dan memperoleh peluang/kesempatan yang sama dalam proses pengambilan keputusan dan manfaat pelaksanaan pengelolaan sumber daya air. pengolahan hasil pertanian) dan upaya penjernihan air sehari-hari skala rumah tangga 10. Bantaran Sungai merupakan dataran untuk menampung banjir. halaman 46 . 7. 8. Kerjasama melalui TKPSDA WS 6 Ci (menjadwalkan pertemuan berkala minimal 4 kali/tahun). 2. Rumusan kondisi lingkungan dan permasalahan yang dirangkum per wilayah dari PKM tersebut sebagai berikut: 1. 4. Penyusunan peraturan dan MoU terkait role sharing “siapa berbuat apa” (pusat. dan sebagainya. Pemda dan Swasta meningkatkan kegiatan bersama dalam program terpadu dengan melibatkan partisipasi masyarakat setempat. baik secara perseorangan maupun kelompok. air bersih rumah tangga. kab/kota. swasta). Peran dalam penyebarluasan informasi: penghijauan. teknologi pertanian. Dalam hal ini BBWS dapat mengambil peran sebagai fasilitator untuk TKPSDA.2. tidak boleh ditempati untuk kepentingan/usaha lainnya. 11. provinsi. 3. Upaya penghematan air (air rumah tangga. Upaya pengelolaan air bersih dan sanitasi berbasis masyarakat dan pengelolaan sampah dan limbah padat dan cair (rumah tangga. Upaya perempuan ikut menanam dan memelihara pohon produktif untuk dimanfaatkan buahnya. Pemerintah.1 Ditinjau dari Hasil Rumusan PKM Dari pembahasan dalam PKM dapat disimpulkan bahwa hal utama yang perlu dilakukan adalah koordinasi antara semua institusi yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air. 5. 9. industri kecil. Tanggungjawab antara laki-laki dan perempuan secara proporsional. resapan air.

9.12. dalam pembahasan dikaitkan pula dengan aspek penataan ruang.2 Ditinjau dari 5 Aspek Pengelolaan Sumber Daya Air Permasalahan pengelolaan sumber daya air pada masing-masing wilayah (3 Ci. Peran perempuan dalam proses pengambilan keputusan. pengumpulan dan pemanfaatan sumbangan dalam P3A. halaman 47 . pelatihan.4. 2. yakni: Konservasi Sumber Daya Air Pendayagunaan Sumber Daya Air Pengendalian Daya Rusak Air Sistem Informasi Sumber Daya Air Pemberdayaan dan Peningkatan Peran Masyarakat dan Dunia Usaha. 2 Ci dan 1 Ci) mencakup 5 (lima) aspek. kesepakatan dalam organisasi masyarakat serta peran perempuan dalam pengelolaan organisasi. Daftar lengkap permasalahan pada masing-masing wilayah disajikan dalam Tabel 2. Selain kelima aspek tersebut.

Tabel 2.101 ha) 3) Terancamnya lahan potensial kritis pada kawasan hutan dan non hutan pada DAS di wilayah CidanauCiujung-Cidurian (219.219 ha) pada di wilayah Ciliwung .880 ha) 3) Terancamnya lahan potensial kritis pada kawasan hutan dan non hutan pada DAS di wilayah Citarum (468. Batujajar. pada CAT Bandung-Soreang. KONSERVASI PERLINDUNGAN DAN PELESTARIAN SUMBER DAYA AIR 3 Ci 1) Berkurangnya fungsi konservasi kawasan hutan dan non hutan pada lahan sangat kritis (1.988 ha) pada DAS di wilayah Citarum 2) Terancamnya lahan agak kritis pada kawasan hutan dan non hutan pada DAS di wilayah Citarum (273. berakibat terjadinya penurunan muka air tanah.9.024 ha) dan kritis (25.407 ha) pada wilayah Ciliwung . Angke dan S.Cisadane 7) Belum teridentifikasinya potensi daerah retensi 3) Masih rendahnya effisiensi pemakaian air oleh berbagai kepentingan 4) Berkurangnya daerah resapan di bagian hulu dan tengah wilayah Citarum 5) Meluasnya perambahan daerah retensi dan bantaran sungai untuk hunian dan usaha selain pertanian 6) Kurang teridentifikasinya potensi daerah retensi 7) Belum memasyarakatnya pembuatan sumur resapan dan biopori oleh seluruh masyarakat 8) Terjadinya kerusakan mata air di wilayah Citarum 6) Masih terjadinya alih fungsi situ menjadi pemukiman atau tempat usaha 7) Kurangnya pemberdayaan masyarakat sekitar mata air dan situ berkaitan dengan pemeliharaan sumber air 8) Terjadinya pengambilan air tanah dalam yang melampaui batas dan pemantauan yang lemah. muka tanah dan/ atau intrusi air laut 9) Masih rendahnya effisiensi pemakaian air oleh berbagai kepentingan 8) Terjadinya kerusakan sumber air (127 mata air) di wilayah Ciliwung . Subang dan Bekasi Karawang sehingga terjadi penurunan muka air tanah. Persandingan Masalah di masing-masing WS 6 Ci Aspek/Sub Aspek 1. selain DAS Cidanau 13) Belum optimalnya kerjasama hulu_hilir dalam pelaksanaan konservasi DAS 14) Kurang terkendalinya penggunaan lahan bekas sudetan sungai 8) Terjadinya abrasi/ erosi muara dan pantai 8) Masih adanya Kawasan pemukiman baru yang belum memenuhi daya dukung lingkungan 9) Masih adanya alih fungsi Situ menjadi pemukiman atau tempat usaha 9) Adanya sedimentasi di sungai.Cisadane 3) Terancamnya kawasan hutan dan non hutan DAS potensial Kritis pada wilayah Ciliwung Cisadane (244.849 ha) 4) Jumlah luas hutan belum memenuhi kebutuhan standar lingkungan Permasalahan Berdasarkan Analisis 2 Ci 1) Berkurangnya fungsi konservasi kawasan hutan dan non hutan pada lahan sangat kritis( 802 ha) dan kritis (17. Pesanggrahan serta anak sungainya yang dimanfaatkan oleh masyarakat 18) Berkurangnya keanekaragaman hayati di wilayah Ciliwung .Cisadane halaman 48 . PTPN dan Masyarakat 17) Adanya lahan bekas sodetan sungai Ciliwung. situ dan muara 10) Terjadinya Longsoran dan erosi tebing di sungai 10) Terjadinya abrasi/ erosi muara dan pantai 11) Terjadinya alih fungsi lahan di JABODETABEK 11) terjadinya kerusakan dasar dan alur sungai karena penambangan pasir dan krikil 12) Kurang jelasnya batas pemilikan lahan di hulu antara milik PERUM PERHUTANI. sehingga terjadi perambahan hutan 8) Budi daya pertanian di kawasan non hutan yang tidak sesuai dengan kaidah konservasi yang menyebabkan banyaknya lahan kritis 9) Masih terbatasnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) perkotaan 10) Masih adanya kawasan pemukiman baru yang belum memenuhi daya dukung lingkungan 11) Belum ada penetapan batas dan pemanfaatan daerah sempadan sungai dan situ/ waduk 12) Belum berkembangnya kerjasama pengelolaan jasa lingkungan.504 ha) 4) Belum optimalnya pelaksanaan Gerhan dan GNKPA di dalam dan di luar kawasan hutan pada DAS hulu dan tengah wilayah Ciliwung Cisadane 5) Belum optimalnya perlindungan alur dan tebing sungai di sungai-sungai utama pada wilayah Ciliwung .S.124 ha) pada DAS di wilayah CidanauCiujung-Cidurian Hulu 2) Terancamnya lahan agak kritis pada kawasan hutan dan non hutan pada DAS di wilayah CidanauCiujung-Cidurian Hulu (94. pada CAT Serang-Tangerang. PTPN dan Masyarakat 13) Kurang terkendalinya penggunaan lahan bekas sudetan sungai 14) Berkurangnya keanekaragaman hayati di wilayah Citarum 12) Masih adanya kawasan pemukiman baru belum mengikuti kaidah konservasi 13) Masih terbatasnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) 14) Belum optimalnya pelaksanaan PERDA tentang adanya penetapan batas dan pemanfaatan daerah sempadan sungai dan situ/waduk 15) terjadinya kerusakan dasar dan alur sungai karena penambangan pasir dan krikil 16) Kurang jelasnya batas pemilikan lahan di hulu antara milik PERUM PERHUTANI.Cisadane 6) Budi daya pertanian di kawasan non hutan yang tidak sesuai dengan kaidah konservasi yang menyebabkan banyaknya lahan kritis 7) Belum adanya insentif dan dis-intensif pada lahan terlantar dan lahan produktif 1 Ci 1) Berkurangnya fungsi konservasi kawasan hutan dan non hutan pada lahan sangat kritis (26.Cisadane 15) Terjadinya kerusakan dasar dan alur sungai karena penambangan pasir dan kerikil 16) Belum optimalnya perlindungan alur dan tebing sungai di sungai-sungai utama pada wilayah Cidanau-Ciujung-Cidurian 17) Terjadinya abrasi/ erosi muara dan pantai PENGAWETAN AIR 1) Belum optimalnya pembangunan dan pemeliharaan tampungan air (masih banyak air terbuang pada musim hujan) 2) Berkurangnya luas daerah resapan di bagian hulu dan tengah wilayah Cidanau-Ciujung-Cidurian 1) Belum optimalnya pembangunan tampungan air (masih banyak air terbuang pada musim hujan) 2) Terjadinya pengambilan air tanah dalam yang melampaui batas dan pemantauan yang lemah 1) Belum optimalnya pembangunan tampungan air (masih banyak air terbuang pada musim hujan) 2) Terjadinya pengambilan air tanah dalam yang melampaui batas dan pemantauan yang lemah.Cisadane Hulu 2) Berkurangnya fungsi kawasan hutan dan non hutan DAS agak kritis (81. BBKsumber daya air. PTPN dan lahan masyarakat di hulu.255 ha) 4) Belum optimalnya pelaksanaan Gerhan dan GNKPA di dalam dan di luar kawasan hutan pada DAS hulu dan tengah wilayah Citarum 5) Belum optimalnya perlindungan alur dan tebing sungai di sungai-sungai utama pada wilayah Citarum 6) Budi daya pertanian yang tidak sesuai dengan kaidah konservasi yang menyebabkan banyaknya lahan kritis 7) Masih terbatasnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) 5) Terancamnyanya keaneka-ragaman hayati 6) Belum optimalnya pelaksanaan Gerhan dan GNKPA di dalam dan di luar kawasan hutan pada DAS hulu dan tengah wilayah Cidanau-Ciujung-Cidurian 7) Kurang jelasnya batas di lapangan kawasan milik Perum Perhutani. penurunan tanah dan/atau instrusi air laut 3) Belum memasyarakatnya pembuatan sumur resapan dan biopori oleh seluruh masyarakat 4) Terjadinya kerusakan mata air di wilayah CidanauCiujung-Cidurian 5) Adanya kerusakan situ dan prasarananya 3) Masih rendahnya effisiensi pemakaian air oleh berbagai kepentingan 4) Masih adanya alih fungsi Situ menjadi pemukiman atau tempat usaha 5) Belum dilaksanakannya pembuatan sumur resapan dan biopori oleh seluruh masyarakat 6) Berkurangnya daerah resapan di bagian hulu dan tengah wilayah Ciliwung .437 ha) dan kritis (115.

12) Belum tersusunya pedoman Operasional penyusunan AKNOP (analisa kebutuhan nyata operasi dan pemeliharaan) Irigasi 10) Kondisi layanan jaringan pengairan perikanan dan tambak rakyat di pantai utara telah menurun. Leuwisadeng. mengakibatkan kesulitan pelaksanaan OP irigasi. berakibat menurunnya fungsi layanan 4) Belum tersedianya SOP waduk/tampungan/situ di WS 6 Ci 5) Belum terlaksananya aset manajemen irigasi (OP.sungai. Citempuandi Ds. berakibat menurunnya fungsi layanan 4) Belum adanya SOP tampungan/ situ di Wilayah Cidanau-Ciujung-Cidurian 5) Belum mutakhirnya SOP waduk Krenceng 6) Belum tersusunnya pedoman Operasional penyusunan AKNOP (analisa kebutuhan nyata operasi dan pemeliharaan) Irigasi 7) Belum terlaksananya aset manajemen irigasi (OP.Aspek/Sub Aspek PENGELOLAAN KUALITAS AIR DAN PENGENDALIAN PENCEMARAN 3 Ci 1) Menurunnya kualitas air dibandingkan dengan standar baku/ kelas peruntukan sungai (tercemar ringan sampai sedang) 2) Belum optimalnya pengelolaan limbah industri 3) Limbah cair domestik dan perkotaan belum diolah sebagaimana mestinya 4) Masih adanya bahaya dari sisa penggunaan pupuk dan obat-obatan pertanian 5) Limbah peternakan belum diolah sebagaimana mestinya 6) Pengelolaan limbah/sampah belum optimal Permasalahan Berdasarkan Analisis 2 Ci 1) Menurunnya kualitas air dibandingkan dengan standar baku/ kelas peruntukan sungai (tercemar ringan sampai sedang) 2) Belum optimalnya pengelolaan limbah industri 3) Limbah cair domestik dan Perkotaan belum diolah sebagaimana mestinya 4) Masih adanya bahaya dari sisa penggunaan pupuk dan obat-obatan pertanian 5) Limbah peternakan belum diolah sebagaimana mestinya 6) Pengolahan limbah sampah belum optimal 1 Ci 1) Menurunnya kualitas air dibandingkan dengan standar baku/ kelas peruntukan sungai (tercemar ringan sampai sedang) 2) Belum optimalnya pengelolaan limbah Industri 3) Limbah cair domestik dan perkotaan belum diolah sebagaimana mestinya 4) Masih adanya bahaya dari sisa penggunaan pupuk dan obat-obatan pertanian 5) Limbah peternakan belum diolah sebagaimana mestinya 6) Pengelolaan limbah sampah belum optimal 2. Saat ini terdapat air bersih 3 m3/det dari S./Kota 1) Belum adanya peraturan peruntukan air pada sumber air tertentu 2) Belum adanya Zona Pemanfaatan sumber air yg memperhatikan berbagai macam pemanfaatan 1) Kekurangan Air untuk kebutuhan irigasi dan/atau RKI 2) Keterbatasan layanan air bersih di Jakarta 1) Belum adanya peraturan peruntukan air pada sumber air tertentu 2) Belum adanya zona pemanfaatan sumber air yg memperhatikan berbagai macam pemanfaatan 1) Adanya kekurangan air untuk kebutuhan irigasi dan/atau RKI 2) Adanya potensi waduk-waduk kecil yang perlu dikaji lebih lanjut 3) Keterbatasan layanan dan jaringan PAM 3) Keterbatasan air permukaan (dari potensi waduk kecil yang ada) untuk penyediaan air bersih di Cekungan Bandung 4) Keterbatasan layanan PDAM di Cekungan Bandung dan Kota/Kabupaten lainnya 5) Adanya kekurangan air baku untuk kebutuhan DKI Jakarta 4) Perimbangan pasokan air baku Jakarta dari arah Timur (Citarum) dan dari Barat (Cisadane) 5) Keterbatasan layanan air bersih di Kota lain (BODETABEK) 6) Keterbatasan layanan PDAM di BODETABEK 7) Menurunnya luas lahan pertanian tanaman pangan (sawah) PENGGUNAAN SUMBER DAYA AIR 1) Terganggunya fungsi irigasi karena adanya pengambilan air baku RKI di saluran induk irigasi Pamarayan Barat & Timur. Kab Bogor 2) Belum optimalnya pemanfaatan potensi tenaga air 3) Belum ada jaringan irigasi di Cimanceuri dan bendung Cimanceuri. Cidurian. berakibat menurunnya fungsi layanan 4) Belum adanya SOP tampungan/situ di Wilayah Citarum 5) Tidak/Belum Optimalnya Kinerja Prasarana Irigasi 6) Belum optimalnya integrasi SOP Kaskade 3 Waduk Citarum (Saguling. 9) Belum terpisahnya fungsi saluran air baku dan air irigasi di Saluran Induk Tarum Barat 10) Belum sadarnya masyarakat petani dalam pelaksanaan hemat air irigasi 11) Masih rendahnya Indeks Pertanaman (IP)/intensitas tanam dgn pemberdayaan petani. serta kegiatan industri dan ekonomi berkaitan dengan rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda penghubung antara P. Sibanteng. situ. PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR PENATAGUNAAN SUMBER 1) Belum adanya peraturan peruntukan air pada DAYA AIR sumber air tertentu 2) Belum adanya zona pemanfaatan sumber air yg memperhatikan berbagai macam pemanfaatan PENYEDIAAN SUMBER DAYA AIR 1) Adanya kekurangan air untuk kebutuhan irigasi dan RKI. 4) Belum ada jaringan irigasi diCikarang hilir 5) Masih terbatasnya pengembangan penerapan teknologi desalinasi 1) Belum optimalnya pemanfaatan potensi tenaga air 2) Masih terbatasnya pengembangan penerapan teknologi desalinasi 2) Masih terbatasnya pengembangan penerapan teknologi desalinasi halaman 49 . dll) belum memadai.sungai. Rehabilitasi) 6) Kondisi layanan jaringan pengairan perikanan dan tambak rakyat telah menurun 7) Belum terpisahnya fungsi saluran air baku dan air irigasi di Saluran Induk Tarum Barat.sungai. dll) belum memadai. sehingga terjadi konflik 2) Kerusakan prasarana jaringan irigasi mengakibatkan tidak efektif dan tidak efisiennya distribusi air irigasi 3) OP prasarana sumber daya air (Irigasi. Rehabilitasi) 1) Konflik penggunaan air irigasi dan air baku di sungai Cisadane 1) Konflik penggunaan air irigasi dan air baku di wilayah Citarum 2) Kerusakan prasarana jaringan irigasi mengakibatkan tidak efektif dan tidak efisiennya distribusi air irigasi 3) OP prasarana sumber daya air (Irigasi. situ. dll) belum memadai. Cirata dan Jatiluhur) 7) Belum terlaksananya aset manajemen irigasi (OP.Cisadane ke Jakarta 4) Keterbatasan layanan PDAM Kab. 8) Belum sadarnya masyarakat dalam pelaksanaan hemat air 9) Masih rendahnya Indeks Pertanaman (IP) dgn pemberdayaan petani. 10) Belum tersusunya pedoman Operasional penyusunan AKNOP (analisa kebutuhan nyata operasi dan pemeliharaan) Irigasi 2) Kerusakan prasarana jaringan irigasi mengakibatkan tidak efektif dan tidak efisiennya distribusi air irigasi 3) OP prasarana sumber daya air (Irigasi. PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR 1) Belum optimalnya pemanfaatan potensi tenaga air 1) Belum di tingkatkan Irigasi sederhana ke irigasi teknis DI. situ. Rehabilitasi) 8) Kurangnya pembinaan masyarakat petani dalam pelaksanaan irigasi partisipatif 9) Masih rendahnya Indeks Pertanaman (IP) 8) Kondisi layanan jaringan pengairan perikanan dan tambak rakyat telah menurun.Sumatera 3) Perlu tambahan penyediaan pasokan air baku ke Jakarta dari arah barat. Kec. Sibanteng pada S.Jawa dan P. karena kurangnya tampungan air/ waduk 2) Antisipasi peningkatan jumlah penduduk.

As pe k/ Sub As pe k PENGUSAHAAN

3 Ci 1 ) Ma s ih ter b a ta s n ya p en gu s a h a a n a ir oleh s wa s ta d i wila ya h 3 Ci

3 . PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR 1 ) Belu m a d a n ya Ma s ter Pla n Sis tem PENCEGAHAN Pen gen d a lia n Ba n jir s eca r a m en yelu r u h p a d a BENCANA Su n ga i Ciu ju n g d a n Cid u r ia n 2 ) Men u r u n n ya fu n gs i ta n ggu l b a n jir d i s u n ga i Ciu ju n g d a n Cid u r ia n 3 ) Ber k u r a n gn ya k a p a s ita s a lir a n s u n ga i d a n ja r in ga n d r a in a s e (p en yem p ita n s u n ga i, p en d a n gk a la n a lu r , s er ta h a m b a ta n oleh b a n gu n a n s u m b er d a ya a ir ) 4 ) Pen ggu n a a n d a er a h r eten s i/ d a ta r a n b a n jir d a n r a wa n b a n jir u n tu k p em u k im a n d a n tem p a t u s a h a s ela in p er ta n ia n 5 ) Ku r a n g ter id en tifik a s in ya p oten s i d a er a h r eten s i 6 ) Pen ggu n a a n b a n ta r a n s u n ga i u n tu k p em u k im a n d a n tem p a t u s a h a 7 ) Pem b u a n ga n s a m p a h k e s a lu r a n d r a in a s i d a n a lu r s u n ga i m en gh a m b a t a lir a n , m en ga k ib a tk a n b a n jir 8 ) Belu m a d a n ya Per d a p em b a ta s a n Koefis ien d a s a r Ba n gu n a n (KDB) d a n p em b u a ta n k ola m d eten s i p a d a k om p lek p er u m a h a n 9 ) Belu m ter s ed ia p eta ja lu r d a n tem p a t eva k u a s i b en ca n a b a n jir 1 0 ) Belu m ter p a s a n gn ya s is tem p er in ga ta n d in i b a n jir p a d a s u n ga i u ta m a 1 1 ) Ku r a n gn ya ter ta ta n ya (s is tem d a n k a p a s ita s d r a in a s e m ik r o) d i p er k ota a n m en yeb a b k a n gen a n ga n d i ja la n 1 2 ) Men in gk a tn ya a n ca m a n lu a p a n a ir p a s a n g la u t 1 3 ) Ad a n ya p em b a n gu n a n s tr u k tu r p a n ta i ya n g tid a k b er ijin , d a n m en yeb a b k a n ter ja d in ya er os i p a n ta i d i lok a s i s ek ita r n ya

Pe rm as alah an Be rdas arkan An alis is 2 Ci 1 ) Ku r a n g ter k on tr oln ya Pen gu s a h a a n a ir is i u la n g d i wila ya h Bogor 2 ) Ma s ih ter b a ta s n ya p en gu s a h a a n a ir m in u m d a r i J a tilu h u r oleh Pem er in ta h a ta u s wa s ta 1 ) Ma s ter Pla n Sis tem Pen gen d a lia n Ba n jir (1 9 9 6 ) s eca r a m en yelu r u h d i wila ya h Ciliwu n g - Cis a d a n e s u d a h tid a k m em a dn ai 2 ) Pen ggu a a n d a er a h r eten s i/ d a ta r a n b a n jir d a n r a wa n b a n jir u n tu k p emggu u k im 3 ) Pen n aa an n b a n ta r a n s u n ga i u n tu k p em u k im a n lia r

1 Ci 1 ) Belu m op tim a ln ya p en gu s a a n a ir m in u m oleh PJ T 2

4 ) Pem b u a n ga n s a m p a h k e s a lu r a n d r a in a s i d a n a lu r s u n ga i m en gh a m b a t a lir a n , m en ga k ib a tk a n b a n jir 5 ) Belu m a d a p eta r a wa n gen a n ga n ya n g Mu ta h ir 6 ) Belu m a d a n ya Per d a p em b u a ta n d eten s i d i ged u n g-ged u n g b er tin gk a t 7 ) Belu m p eta a d a ja lu r d a n tem p a t E va k u a s i b en ca n a 8 ) Belu m s em u a s u n ga i tela h ter p a s a n g s is tem p er in ga ta n d in i b a n jir

1 ) Belu m a d a n ya Ma s ter Pla n Sis tem Pen gen d a lia n Ba n jir s eca r a m en yelu r u h p a d a Su n ga i Cita r u m 2 ) Men u r u n n ya fu n gs i p r a s a r a n a p en gen d a li b a n jir d i s u n ga i Cita r u m 3 ) Ber k u r a n gn ya k a p a s ita s a lir a n s u n ga i d a n ja r in ga n d r a in a s e (p en yem p ita n s u n ga i, p en d a n gk a la n a lu r , s er ta h a m b a ta n oleh b a n gu n a n s u m b er d a ya a ir ) ggu n a a n d a er a h r eten s i/ d a ta r a n 4 ) Pen b a n jir d a n r a wa n b a n jir u n tu k p em u k im a n 5 ) Pen ggu n a a n b a n ta r a n s u n ga i u n tu k p em u k im a n d a n u s a h a 6 ) Pem b u a n ga n s a m p a h k e s a lu r a n d r a in a s i d a n a lu r s u n ga i m en gh a m b a t a lir a n , m en ga k ib a tk a n b a n jir 7 ) Belu m a d a n ya Per d a p em b a ta s a n KDB (Koefis ien Da s a r Ba n gu n a n ) d a n p em b u a ta n k ola m d eten s i p a d a k om p lek p er u m ater h asned ia p eta ja lu r d a n tem p a t 8 ) Belu eva k u a s i b en ca n a b a n jir Belu m ter p a s a n gn ya s is tem p er in ga ta n d in i b a n jir p a d a s u n ga i u ta m a

9 ) k u r a n gn ya p em elih a r a a n ter ja d in ya 9) p en d a n gk a la n , s ed im en ta s i d i a lu r s u n ga i s er ta ja r in ga n d r a in a s i d a n lon gs or a n teb in g gk a tn ya a n ca m a n b a n jir d a r i a ir 1 0 ) Men in 10) p a s a n g la u t 1 1 ) Ku r a n gn ya k a p a s ita s a lir a n s u n ga i (p en yem p ita n s u n ga id a n p en d a n gk a la n s er ta h a m b a ta n oleh b a n gu n a n s ila n g) 1 2 ) Men u r u n n ya fu n gs i ta n ggu l b a n jir d i s u n ga i-s u n ga i J ABODE TABE K 1 3 ) Ku r a n gn ya ter ta ta n ya (s is tem d a n k a p a s ita s d r a in a s e m ik r o) d i J ABODE TABE K m en yeb a b k a n gen a n ga n d i p er m u k im a n d a n d i ja la n 1 4 ) Ter ja d in ya k er u gia n a k ib a t b en ca n a lon gs or d i b eb er a p a tem p a t

Ku r a n gn ya ter ta ta n ya (s is tem d a n k a p a s ita s d r a in a s e m ik r o) d i p er k ota a n m en yeb a b k a n gen a n ga n d i ja la n 1 1 ) Men in gk a tn ya a n ca m a n lu a p a n a ir p a s a n g la u t 1 2 ) Ba n ya k ter ja d in ya b en ca n a lon gs or d i b eb er a p a tem p a t 1 3 ) Ad a n ya k er u s a k a n s itu d a n p r a s a r a n a n ya

1 4 ) Belu m ter s os ia lis a s in ya p eta ja lu r d a n lok a s i 1 4 ) Belu m op tim a ln ya p ela k s a n a a n PE RDA eva k u a s i b en ca n a ts u n a m i a k ib a t a k tivita s ten ta n g a d a p en eta p a n b a ta s d a n G.Kra k a ta u p em a n fa a ta n d a er a h s em p a d a n s u n ga i d a n s itu / wa d u k 1 5 ) Ter ja d in ya k er u gia n a k ib a t b en ca n a lon gs or d i 1 5 ) Pen u r u n a n m u k a ta n a h d i J a k a r ta tela h b eb er a p a tem p a t m en a ik k a n tin gk a t r es ik o b a n jir 1 6 ) Kek u r a n ga n a ir ir iga s i p a d a DI Ciu ju n g d a n 1 6 ) Melu a s n ya p er a m b a h a n d a er a h r eten s i Cid u r ia n d a n b a n ta r a n s u n ga i 1 7 ) Kek u r a n ga n a ir k eb u tu h a n r u m a h ta n gga d i wila ya h J a k a r ta Uta r a , Ta n ger a n g d a n Bek s i ter ja d in ya p em b a n gu n a n 1 8 ) Ma sa ih p em u k im a n d i d a er a h p a r k ir a ir / d a ta r a n b a nsjir 1 9 ) Ma ih a d a n ya h u n ia n d a n u s a h a la in d i b a n ta r a n s u n ga i 1 ) Melu a p n ya a ir s u n ga i Cid u r ia n a ta u Ciu ju n g 1 ) Melu a p n ya a ir s u n ga i d i wila ya h Ciliwu n g- 1 ) Pen a n ggu la n ga n d a r u r a t a k ib a t PENANGGULANGAN m en ggen a n gi d a er a h s ek ita r n ya Cis a d a n e b en ca n a b a n jir 1 ) Belu m op tim a ln ya p em u lih a n k on d is i r u m a h 1 ) Belu m op tim a ln ya p em u lih a n k on d is i 1 ) Belu m op tim a ln ya p em u lih a n k on d is i PEMULIHAN AKIBAT m a s ya r a k a t ya n g m en ja d i k or b a n s etela h r u m a h m a s ya r a k a t s etia p ter ja d in ya r u m a h m a s ya r a k a t ya n g m en ja d i BENCANA ter ja d in ya b en ca n a b a n jir b en ca n a b a n jir k or b a n s etela h ter ja d in ya b en ca n a b a nja jir 2 ) Ter ja d in ya k er u s a k a n p r a s a r a n a s u m b er d a ya 2 ) Ter ja d in ya k er u s a k a n p r a s a r a n a s u m b er 2 ) Ter d in ya k er u s a k a n p r a s a r a n a a ir s etela h ter ja d in ya b en ca n a b a n jir d a ya a ir s etia p ter ja d in ya b en ca n a b a n jir s u m b er d a ya a ir s etela h ter ja d in ya b en ca a a bk as nim jir a ln ya p en yed ia a n d a n a 3 ) Belu m m a k s im a ln ya p en yed ia a n d a n a u n tu k 3 ) Belu m m a k s im a ln ya p en yed ia a n d a n a 3 ) Belu mn m p ela k s a n a a n p em u lih a n k on d is i p r a s a r a n a u n tu k p ela k s a n a a n p em u lih a n k on d is i u n tu k p ela k s a n a a n p em u lih a n k on d is i d a n s a r a n a u m u m s etela h ter ja d in ya b en ca n a p r a s a r a n a d a n s a r a n a u m u m s etia p p r a s a r a n a d a n s a r a n a u m u m s etela h b a n jir ter ja d in ya b en ca n a b a n jir ter ja d in ya b en ca n a b a n jir 4 . SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA AIR 1 ) Ku r a n g h a n d a ln ya d a ta b a s e s u m b er d a ya a ir 1 ) Ku r a n g op tim a ln ya d a ta b a s e s u m b er d a ya 1 ) Ku r a n g h a n d a ln ya d a ta b a s e s u m b er (Hid r ologi, Hid r ogeologi & Hid r om eteor ologi, a ir ya n g r elia b le (Hid r ologi, Hid r ogeologi & d a ya a ir (Hid r ologi, Hid r ogeologi & Keb ija k a n s u m b er d a ya a ir , Pr a s a r a n a s u m b er Hid r om eteor ologi, Keb ija k a n s u m b er d a ya Hid r om eteor ologi, Keb ija k a n s u m b er d a ya a ir , Tek n ologi s u m b er d a ya a ir , a ir , Pr a s a r a n a s u m b er d a ya a ir , Tek n ologi d a ya a ir , Pr a s a r a n a s u m b er d a ya a ir , Lin gk u n ga n p a d a s u m b er d a ya a ir , Kegia ta n s u m b er d a ya a ir , Lin gk u n ga n p a d a Tek n ologi s u m b er d a ya a ir , Lin gk u n ga n SoSek Bu d ) s u m b er d a ya a ir , Kegia ta n SoSek Bu d ) s u m b er d a ya a ir , Kegia ta n SoSek Bu d ) k a r en a d a ta b a s e b elu m len gk a p , SDM d a n a la t b elu m m em a d a i, k oor d in a s i/ ta n ggu n gja wa b u n tu k 2 ) Belu m m em a d a in ya SDM ya n g m en a n ga n i 2 ) Belu m m em a d a in ya SDM ya n g SISDA m en a n ga n i SISDA 3 ) Belu m len gk a p n ya p er a la ta n (p er a n gk a t k er a s 3 ) Belu m len gk a p n ya p er a la ta n (p er a n gk a t d a n lu n a k ) u n tu k ya n g m en u n ja n g SISDA k er a s d a n lu n a k ) u n tu k ya n g m en u n ja n g SISDA 4 ) Belu m ter s ed ia n ya d a n a ya n g m em a d a i u n tu k 4 ) Belu m a d a n ya u n it SISDA ya n g m ela k s a n a k a n SISDA ter p a d u m en gin tegr a s ik a n d a ta s u m b er d a ya a ir ya n g b er a s a l d a r i in s ta n s i-in s ta n s i ter k a it 5 ) Belu m a d a n ya p ed om a n ten ta n g p en gelola a n 5 ) Belu m a d a n ya p ed om a n ten ta n g SISDA ya n g s is tem a tis d a n k om p r eh en s if p en gelola a n SISDA ya n g s is tem a tis d a n k om p r eh en s ifia n ya d a n a ya n g m em a d a i 6 ) Belu m a d a n ya u n it SISDA ya n g 6 ) Belu m ter s ed m en gin tegr a s ik a n d a ta s u m b er d a ya a ir ya n g u n tu k m ela k s a n a k a n SISDA ter p a d u b er a s a l d a r i in s ta n s i-in s ta n s i ter k a it

halaman

50

Permasalahan Berdasarkan Analisis 3 Ci 2 Ci 5. PEMBERDAYAAN & PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT, SWASTA DAN PEMERINTAH LEMBAGA 1) Belum efektifnya pembagian peran yang jelas 1) Belum efektifnya pembagian peran yang PENGELOLAAN antar unit pengelola sumber daya air, antara jelas antar unit pengelola sumber daya SUMBER DAYA AIR lain: kewenangan terhadap situ, anak sungai air, antara lain: kewenangan terhadap situ, anak sungai Aspek/Sub Aspek

1 Ci 1) Belum efektifnya pelaksanaan tugas dan fungsi unit kerja yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air karena belum memadainya SDM (kuantitas dan kualitas), belum optimalnya pembagian tugas, dan belum menggunakan PAI (Pembiayaan

2) Belum efektifnya pelaksanaan tugas dan fungsi unit kerja yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air 3) Belum memadai jumlah dan kapasitas pegawai 4) Belum diterapkannya manajemen aset dalam penyusunan anggaran rehabilitasi dan OP sumber daya air 1) Belum adanya komitmen setiap instansi dalam pembiayaan pengelolaan sumber daya air terpadu

2) Belum efektifnya pelaksanaan tugas dan fungsi unit kerja yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air 3) Belum memadai jumlah dan kapasitas pegawai 4) Belum diterapkannya manajemen aset dalam penyusunan anggaran rehabilitasi dan OP sumber daya air 1) Belum adanya komitmen setiap instansi dalam pembiayaan pengelolaan sumber daya air terpadu

PENDANAAN

PENGATURAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

2) Belum diterapkannya pungutan jasa pengelolaan sumber daya air diluar wilayah PJT 1) layanan Belum maksimalnya pengawasan pengambilan air tanah dalam

2) Belum diterapkannya pungutan jasa pengelolaan sumber daya air diluar layanan PJT pengawasan 1) wilayah Belum maksimalnya pengambilan air tanah dalam

1) Kurangnya pendanaan karena komitmen pembiayaan pengelolaan sumber daya air masih terbatas/belum ada, terbatasnya sumber dana dan belum adanya struktur utk mengatur cost recovery dari pengguna (air)

2) Kurangnya kesadaran masyarakat/swasta tentang bahaya pengambilan air tanah dalam secara berlebihan 3) Belum adanya pendelegasian perijinan penggunaan dan pengusahaan air permukaan dari Menteri Pekerjaan Umum ke Gubernur Prov.Banten 4) Belum adanya kebijakan yang jelas mengenai kesepakatan transfer air antar wilayah (Sungai Ciujung/ Sungai Cidurian ke Jakarta)

2) Kurangnya kesadaran masyarakat/swasta tentang bahaya pengambilan air tanah dalam secara berlebihan 3) Belum adanya pendelegasian perijinan penggunaan dan pengusahaan air permukaan dari Menteri Pekerjaan Umum ke Gubernur Prov.Banten 4) Belum adanya kebijakan yang jelas mengenai kesepakatan transfer air antar wilayah (Sungai Ciujung/ Sungai Cidurian ke Jakarta) 1) Belum optimalnya kinerja Komisi Irigasi Provinsi, Kabupate/Kota 2) Belum aktifnya Dewan Sumber Daya Air Provinsi di 2 Ci 3) Belum terbentuknya Dewan sumber daya air Kabupaten/Kota 4) Belum optimalnya kinerja Sekretariat TKPSDA WS 6 Ci (3 Ci, 2 Ci & 1 Ci) 5) Belum maksimalnya forum komunikasi DAS di 2 Ci 6) Belum Optimalnya Koordinasi antar Instansi terkait pengelolaan Irigasi DI Ciujung, DI Cidurian 7) Belum optimalnya koordinasi penanggulangan bencana 1) Lemahnya pembinaan dan pemberdayaan masyarakat dlm pengelelolaan sumber daya air 2) Lunturnya budaya/ tradisi masyarakat setempat dalam menjaga kelestarian kawasan hutan dan lingkungan 3) Belum maksimalnya pembinaan masyarakat dalam melaksanakan hemat air 4) Kurangnya pemahaman masyarakat tentang manajemen banjir 5) Kurangnya peran masyarakat dlm pengelolaan sampah 6) Masih terbatasnya penggunaan dana Corporate Social Responsibility (CSR), Payment Enviroment Service (PES), untuk konservasi sumber daya air dan lingkungan 7) Belum berkembangnya kerja sama pengelolaan jasa lingkungan

1) Belum maksimalnya upaya pengawasan pemerintah terhadap pengambilan air tanah dalam yang dilakukan oleh pihak swasta/perusahaan/industri 2) Belum adanya pendelegasian perijinan penggunaan dan pengusahaan air permukaan dari Menteri PU ke Gubernur 3) Adanya tumpang tindih pelaksanaan OP di Jargasi Jatiluhur 4) Belum adanya kebijakan yang jelas mengenai kesepakatan transfer air antar wilayah (Sungai Citarum ke Jakarta/antar Propinsi, S. Cibantarua ke S. Cisangkuy/antar Wilayah Sungai 1) dll.) Belum optimalnya kinerja Komisi Irigasi Provinsi, Kabupate/Kota 2) Belum optimalnya Dewan Sumber Daya Air Provinsi 1 Ci 3) Belum terbentuknya Dewan sumber daya air Kabupaten/Kota 4) Belum optimalnya kinerja Sekretariat TKPSDA WS 6 Ci (2 Ci, 3 Ci, 1 Ci) 5) Belum maksimalnya forum komunikasi DAS di WS 6 Ci 6) Belum Optimalnya Koordinasi antar Instansi terkait pengelolaan Irigasi di 1 Ci 7) Belum optimalnya koordinasi penanggulangan bencana 1) Lemahnya pembinaan dan pemberdayaan masyarakat dlm pengelelolaan sumber daya air 2) Lunturnya budaya/tradisi masyarakat setempat dalam menjaga kawasan hutan dan lingkungan 3) Belum maksimalnya masyarakat dalam melaksanakan hemat air 4) Kurangnya pemahaman masyarakat tentang manajemen banjir 5) Kurangnya peran masyarakat dlm pengelolaan sampah 6) Masih terbatasnya penggunaan dana Corporate Social Responsibility (CSR), Payment Enviroment Service (PES), untuk konservasi sumber daya air dan lingkungan 7) Belum optimalnya kerjasama hulu_hilir dalam pelaksanaan konservasi DAS

FORUM KOORDINASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

1) Belum optimalnya kinerja Komisi Irigasi Provinsi, Kabupate/Kota 2) Belum Optimalnya Koordinasi antar Instansi terkait pengelolaan Irigasi DI Ciujung, DI Cidurian 3) Belum aktifnya Dewan Sumber Daya Air Provinsi di 3 Ci 4) Belum terbentuknya Dewan sumber daya air Kabupaten/Kota 5) Belum optimalnya kinerja Sekretariat TKPSDA WS 6 Ci (2 Ci, 3 Ci, 1 Ci) 6) Belum maksimalnya forum komunikasi DAS di 3 Ci 7) Belum optimalnya koordinasi penanggulangan bencana akibat daya rusak air

PEMBERDAYAAN & PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT DAN SWASTA

1) Lemahnya pembinaan dan pemberdayaan masyarakat dlm pengelolaan sumber daya air 2) Lunturnya budaya/ tradisi masyarakat setempat dalam menjaga kelestarian kawasan hutan dan lingkungan 3) Belum maksimalnya pembinaan masyarakat dalam melaksanakan hemat air 4) Kurangnya pemahaman masyarakat tentang manajemen banjir 5) Kurangnya peran masyarakat dlm pengelolaan sampah 6) Masih terbatasnya penggunaan dana Corporate Social Responsibility (CSR), Pembayaran Jasa Lingkungan (PJL), untuk konservasi sumber daya air dan lingkungan 7) Masih terbatasnya peran serta perempuan dalam kegiatan masyarakat di bidang pengelolaan sumber daya air, pertanian dan keterlibatan dalam organisasi kelompok

8) Belum optimalnya kerjasama hulu_hilir dalam pelaksanaan Konservasi DAS 9) Belum optimalnya peran serta perempuan dalam pengelolaan Sumber Daya Air

8) Belum berkembangnya kerjasama pengelolaan jasa lingkungan 9) Belum optimalnya peran serta perempuan dalam pengelolaan Sumber Daya Air 1) Adanya pelanggaran pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana peruntukan 2)

PENATAAN RUANG

1) Adanya pelanggaran pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana peruntukan 2) Terjadinya alih fungsi lahan pertanian tanaman pangan (sawah) 3) Antisipasi rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda

1) Adanya pelanggaran pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana peruntukan 2) Terjadinya alih fungsi lahan pertanian tanaman pangan (sawah)

halaman

51

2.5

Identifikasi Terhadap Potensi yang Bisa Dikembangkan Pada sub-bab ini diuraikan beberapa potensi yang mungkin bisa dikembangkan atau diterapkan pada WS 6 Ci, ditinjau dari hasil rumusan PKM dan 5 (lima) aspek pengelolaan sumber daya air.

2.5.1 Potensi Konservasi Sumber Daya Air 2.5.1.1 Konservasi Lahan Kritis Secara umum potensi yang dapat dikembangkan dalam konservasi sumber daya air di WS 6 Ci, mencakup:     Reboisasi dan penghijauan di lahan kritis (hutan dan non-hutan) Pengembangan wanatani (agro forestry) Pembangunan waduk dan bendung Pengelolaan teknik konservasi tanah dan air terpadu berwawasan lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat serta pendampingan pada DAS Hulu dan lahan miring/pegunungan.  Pengendalian erosi dengan bangunan teknik sipil berbasis lahan dan alur sungai Perencanaan program RHL untuk WS 6 Ci sudah lengkap disusun oleh BP DAS Citarum-Ciliwung melalui RTkRHL-DAS dengan jangka waktu 15 tahun (2010-2024), yang dapat ditinjau setiap 5 tahun apabila diperlukan. Dokumen ini disusun oleh BP DAS Citarum-Ciliwung tahun 2009 yang mencakup wilayah kerja 3 (tiga) provinsi (Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta) terdiri dari 3 (tiga) SWP-DAS. Pembagian batas SWP- DAS mengikuti kriteria dari BP DAS, tidak sepenuhnya segaris dengan garis batas WS 6 Ci. WS 6 Ci meliputi SWP DAS Citarum (21 DAS, luas total 3.166.114 ha), SWP DAS CiliwungCisadane-Cimandiri (23 DAS, luas total 988.237 ha), dan SWP DAS CiujungTeluklada (47 DAS, luas 774.695 ha). Dokumen tersebut telah disahkan pada bulan Desember 2009 oleh Dirjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. Kegiatan yang direncanakan terdiri dari kegiatan Vegetatif dan Sipil Teknik. Kegiatan Vegetatif disusun berupa Matrik Rencana Teknik di setiap DAS disertai luasannya. Lokasinya dicantumkan dalam peta perencanaan skala 1:50.000 dan dapat diidentifikasi sampai tingkat kecamatan. Kegiatan Sipil

halaman

52

Teknik berupa gully plug, dam pengendali, dam penahan, sumur resapan dan biopori, dinyatakan jumlahnya untuk setiap DAS. 2.5.1.2 Koordinasi dan Sinergi Program Lembaga Pemerintah yang berkaitan dengan kegiatan konservasi sumber daya air terdiri dari lima lembaga pemerintah yang memerlukan koordinasi dan sinergi dalam implementasi program. Kelima lembaga pemerintah tersebut adalah: 1). Kementerian Pekerjaan Umum (Direktorat Jenderal Sumber Daya Air), 2). Kementerian Kehutanan (Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan

Perhutanan Sosial),
3). Kementerian Pertanian (Direktorat Jendral Prasarana dan Sarana Produksi Pertanian), 4). Kementerian Lingkungan Hidup (Asisten Deputi Urusan Pengendalian Sungai dan Danau), 5). Kementerian Dalam Negeri (Direktorat Jendral Pembangunan Daerah, Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Desa). Diperlukan suatu koordinasi program supaya kegiatan konservasi pada lima instansi tersebut dapat sinergi dengan mengacu pada peta RTkRHL-DAS yang telah disusun oleh BP DAS. Selanjutnya arahan RTkRHL-DAS (program 15 tahun) ini digunakan oleh Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota untuk penyusunan RPRHL 5 tahunan dan RTn RHL untuk setiap tahun dimulai tahun 2011. Sinergi program antar lima lembaga pemerintah untuk meningkatkan

kesejahteraan masyarakat hulu memerlukan suatu koordinasi oleh TKPSDA tingkat WS. Implementasi program harus dinyatakan dalam bentuk kegiatan, waktu, biaya, pelaksana dan tempat pelaksanaan dengan menggunakan peta yang sama. Pendekatan konservasi tanah dan air berbasis masyarakat akan lebih efektif jika diarahkan ke pemberdayaan masyarakat desa konservasi dalam skala DAS mikro. Kegiatan yang dapat dilakukan oleh lintas kementerian dalam konservasi sumber daya air dapat dilihat pada Tabel 2.10. Kegiatan tersebut didasarkan pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air,

halaman

53

10. BLHD/ Kementerian Lingkungan Hidup. OP). Kementerian Pekerjaan Umum: Perijinan. Pemerintah Daerah. f.1. Mencegah masuknya pencemaran air (bahan pencemar) pada sumber air dan prasarana sumber daya air. Pemerintah Daerah: SRI. Perlindungan sumber air terkait dengan pembangunan dan pemanfaatan lahan pada sumber air. Kementerian Pertanian. Kegiatan Konservasi Sumber Daya Air dan Institusi Pengelola Kegiatan Konservasi Sumber Daya Air (Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004) Perlindungan dan Pelestarian Sumber Air: a. Pengawetan Air: Menyimpan air berlebihan dan dimanfaatkan saat dibutuhkan. Guludan. Pemerintah Daerah. i. waduk/situ. Sumber: Hasil Analisis 2010 Kementerian Pekerjaan Umum. Pencemaran: Kementerian Pekerjaan Umum. Kementerian Pekerjaan Umum: Jaringan sumber daya air. Kementerian Pekerjaan Umum. dan kawasan pelestarian alam. Strip Rumput. Pengaturan daerah sempadan sumber air. Tabel 2. waduk/situ. g. Pemerintah Daerah. 2. e. Pemerintah Daerah. (perencanaan. Kementerian Pekerjaan Umum. Gully Plug. i. Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Memperbaiki kualitas air pada sumber air dan prasarana sumber daya air. g. Pelestarian hutan lindung. pembangunan. Rehabilitasi hutan dan lahan. Kementerian Kehutanan: Ploting garis sempadan sumber air (sungai. Kementerian Kehutanan. b. Vegetatif. Usaha tani Konservasi.: Penerapan IPAL. c. Kementerian Kehutanan.5. embung atau ponds. c. Penggelontoran. Kementerian Kehutanan. Penetapan Kelas Sungai. Pemerintah Daerah. Kementerian ESDM/ Kementerian Pekerjaan UmumSumber Daya Air. e. Kementerian Pertanian.3 Prokasih. Pemerintah Daerah: Waduk. Pemerintah Daerah waduk/situ . Pemda: jaringan Drainase/Limbah. Kementerian Pekerjaan Umum. Institusi Pengelola Kegiatan (Struktural dan Non. Alokasi air/SOP. Kementerian Kehutanan. Kementerian Pekerjaan Umum dan Pemerintah Daerah: Pengaturan/Ijin. Pemeliharaan fungsi resapan air dan daerah tangkapan air. pemerintah telah mencanangkan beberapa halaman 54 . h. Monitoring dan Evaluasi kualitas air yang masuk ke sumber air. Menghemat air dengan pemakaian yang efisien dan efektif. Pengendalian pemanfaatan sumber air. Mengendalikan penggunaan air tanah. mata air. b. Kementerian Kehutanan. alokasi dan distribusi air. kawasan suaka alam. Kompos . Proper dan Superkasih Terkait dengan upaya untuk mengendalikan dampak lingkungan khususnya pencemaran air sungai dan laut. Pemerintah Daerah.Struktural) a. Pertanian di lahan pasangsurut. usahatani konservasi terpadu. Pemerintah Daerah: Terasering. Tanaman Penutup (cover crops). Pengisian air pada sumber air. Kementerian Lingkungan Hidup. f. kegiatan untuk reduksi kehilangan air. Peraturan Pemerintah Nomor 76 tahun 2008 tentang Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan.Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Kehutanan. Kementerian Pertanian. Monitoring dan Evaluasi kualitas air di sumber air dan prasarana sumber daya air. h. Kementerian Pertanian. d. Pengaturan dan sarana sanitasi. d. pantai). Pengendalian pengolahan tanah di bagian hulu. Kementerian Pertanian: Zonasi.

Perguruan Tinggi/PSL. Prokasih dicanangkan pada tahun 1989 di Surabaya dengan sasaran 18 (delapanbelas) sungai utama yang berada di 8 (delapan) provinsi. c. yakni: a. b. Superkasih (Surat Pernyataan Kali Bersih). Untuk semakin meningkatkan efektivitas Prokasih maka pada tahun 2003 Prokasih dikembangkan menjadi Super Kasih (Surat Pernyataan Kali Bersih). Proper (Program Penilaian Kinerja Perusahaan). Prokasih merupakan program pemerintah pusat (Kementerian Lingkungan Hidup) yang dalam pelaksanaannya di daerah didelegasikan kepada pemerintah provinsi. Prokasih (Program Kali Bersih). Proper merupakan pengembangan Prokasih yang diarahkan untuk proses pentaatan industri yang terdiri atas beberapa program yang dikemas dalam Proper. halaman 55 . Super Kasih merupakan program yang bertujuan untuk mendorong percepatan penaatan industri terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup yang berlaku dengan cara membuat surat pernyataan tertulis untuk melakukan penataan dalam batas waktu tertentu dengan memperhatikan faktor teknis dan administrasi yang disaksikan oleh pejabat tingkat pusat. Sebagai tindak lanjut Prokasih pada tahun 1995 dicanangkanlah Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan yang disingkat dengan Proper. Pemkab/kota.program yang potensial digunakan dan dipadukan dalam pengelolaan kualitas air di WS 6 Ci. Dinas terkait dan LSM serta media. Gubernur sebagai penanggung jawab akan membentuk Tim Pelaksana Prokasih yang anggotanya terdiri dari unsur Pemda. provinsi dan kabupaten/kota. Superkasih juga diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan pemerintah daerah dan masyarakat serta pemilik kepentingan lain untuk beperan aktif di dalam pengendalian pencemaran lingkungan khususnya yang terjadi di DAS/perairan sungai maupun pantai/laut. Tiga hal utama yang menjadi dasar pendekatan Proper yang selanjutnya dilaksanakan secara terpadu.

b) Sosialisasi tentang hak dan kewajiban bagi masyarakat di sekitar industri. b.2. Data hasil pemantauan akan merupakan basis data lingkungan untuk kepentingan pengendalian. penegakan hukum maupun bahan penyusunan kebijakan pengelolaan lingkungan hidup. c) Pengurangan limbah domestik sejalan dengan target sasaran MDG dengan cara meningkatkan penggunaan/pembangunan MCK pada masing-masing DAS. maka disusunlah program jangka pendek/tahunan beserta kegiatannya sebagai berikut: a) Peningkatan kerjasama kabupaten dan kota untuk melaksanakan monitoring kualitas air di aliran sungai di wilayah administrasi masing-masing. pengawasan. b) Pengelolaan B3 dan limbah B3: Kegiatan ini terkait dengan upaya pembinaan dan pengawasan pengelolaan B3 dan limbah B3. f) Kegiatan sekretariat penegakan hukum lingkungan terpadu. Provinsi Banten Mengacu pada Renstra Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Banten 20072012 dan terkait dengan konservasi sumber daya air khususnya pengendalian pencemaran air maka disusunlah program sebagai berikut: a) Pemantauan lingkungan hidup: Kegiatan tertuju pada upaya pemantauan kualitas lingkungan hidup (termasuk sumber daya air) yang menerima beban pencemaran. c) Penyusunan kebijakan pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan: Kegiatan ini meliputi penyusunan kebijakan penetapan baku mutu lingkungan hidup. Provinsi Jawa Barat Untuk menunjang kebijakan khususnya terkait bidang pengendalian pencemaran air. d) Penguatan sumber daya manusia industri melalui kegiatan fasilitasi dan pengembangan program EPCM. e) Penegakan hukum bagi para pelanggar/pencemar lingkungan. untuk kegiatan yang berpotensi menimbulkan pencemaran halaman 56 .4 Program dan Renstra Provinsi tentang Kualitas Air a. Pembinaan dapat bersifat teknis maupun administratif.1. Penegakan dapat berupa sanksi administrasi maupun sanksi pidana dan perdata.5. d) Koordinasi penyusunan AMDAL/UKL-UPL: Kegiatan upaya peningkatan koordinasi dalam penyusunan AMDAL (termasuk UKL-UPL) lingkungan. dan baku mutu limbah berdasarkan daya tampung badan lingkungan tertentu.

g) Kegiatan fasilitasi pembinaan pengelolaan limbah B3. Program penataan sungai Ciliwung diharapkan dapat memperkuat Prokasih yang telah dilaksanakan. d) Program kebijakan publik. Roadmap Citarum merupakan sebuah rancangan strategis yang berisi hasil identifikasi program utama untuk meningkatkan sistem pengelolaan sumber daya air terpadu dan memperbaiki kondisi sepanjang sungai Citarum. terpadu dan multi sektor untuk dapat memahami dan memecahkan masalah kompleks seputar pengelolaan air dan lahan sepanjang sungai Citarum. baik secara ekologis. Penyusunan Roadmap dilakukan dengan pendekatan komprehensif. serta mendorong peningkatan kapasitas lembaga. sosial maupun ekonomi. i) j) Kegiatan fasilitasi pengembangan produksi bersih dan tekhnologi ramah lingkungan. Provinsi DKI Jakarta Sejak tahun 2008 BPLHD DKI Jakarta telah melaksanakan program penataan sungai Ciliwung. c) Program penataan ruang. Adapun tujuan dari penataan sungai Ciliwung adalah untuk mengembalikan fungsi sungai Ciliwung. b) Program pengendalian kerusakan lingkungan (banjir dan kekeringan). c. halaman 57 . peningkatan peran masyarakat serta makin tumbuhnya tatakelola lingkungan sungai yang baik atau Good River Environmental Governance. h) Kegiatan pembinaan dan pengembangan laboratorium Lingkungan. f) Program penguatan kelembagaan. Untuk mencapai sasaran tersebut maka diluncurkan 6 (enam) program penataan sungai Ciliwung. e) Program pemberdayaan masyarakat (peningkatan peran masyarakat). Secara khusus program pengendalian kualitas air sungai Citarum dapat merujuk pada Roadmap Citarum yang tertuang dalam Rencana Penanganan Terpadu WS Citarum 2010-2025. terdiri atas: a) Program pengendalian/rehabilitasi pencemaran air. Kegiatan pemantauan pencemaran lingkungan.

1. Rancangan Peraturan Presiden merupakan upaya pemerintah untuk memberikan pedoman dan kekuatan hukum dalam upaya untuk mengatasi dan mengendalian pencemaran air sungai Ciliwung yang sedang berlangsung saat ini.5. hanya pada bagian kondisi air sungai Ciliwung mengalami cemar sedang.5. d) Pembinaan dan pengawasan. e) Pembiayaan. menunjukkan bahwa sebagian besar ruas sungai Ciliwung mengalami cemar berat dari hulu (Attaawun) sampai muara (Pluit). maka perlu segera dilakukan upaya keras untuk mengatasi dan mengendalikan pencemaran air sungai Ciliwung.6 Pengaturan dan Pembatasan Pengambilan Air Tanah Pengaturan pengambilan air tanah baik untuk keperluan RKI maupun irigasi perlu dilaksanakan untuk menghindari terjadinya penurunan muka air yang berlebihan yang dapat berakibat terjadinya penurunan muka tanah seperti saat ini terjadi di daerah Cekungan Bandung (1 Ci) dan Jakarta (2 Ci) atau penyusupan air laut di daerah dataran pantai. 2.2. administratif maupun financial. Tatakelola pemanfaatan air tanah untuk keperluan industri di WS 6 Ci dapat dilakukan dengan cara pengaturan dan pembatasan pengambilan dan pemanfaatan air tanah sesuai dengan tingkat kerusakan air tanahnya yang halaman 58 . Rancangan Peraturan Presiden ini memberikan penetapan pada upaya sebagai berikut: a) Penetapan kelas air sasaran.5 Rancangan Peraturan Presiden tentang Penetapan Kelas dan Pengendalian Pencemaran Air Sungai Ciliwung Kualitas air sungai Ciliwung saat ini telah mengalami pencemaran berat sejak dari hulu sampai muara sebagaimana dilaporkan oleh BPLHD Jawa Barat (2009) dan BPLHD DKI Jakarta (2009) bahwa berdasarkan hasil monitoring tahun 2009. Mengingat bahwa Sungai Ciliwung memiliki peran penting di dalam kehidupan masyarakat khususnya Provinsi DKI Jakarta. yaitu dengan cara melakukan pemulihan kualitas air melalui program nyata yang terkoordinir dengan baik dan terpadu dengan berbagai sektor terkait. baik secara teknis. b) Pengendalian pencemaran. c) Peran masyarakat.1.

3) Pengaturan peruntukan pemanfaatan air tanah.18 Pengaturan dan pembatasan pengambilan dan pemanfaatan air tanah tersebut meliputi: 1) Pengaturan batasan kedalaman penyadapan air tanah. 4) Pengaturan rancang bangun konstruksi sumur. halaman 59 .dituangkan dalam bentuk peta zona konservasi air tanah (contoh untuk CAT Bandung-Soreang dapat dilihat pada Gambar 2. 2) Pengaturan volume pengambilan air tanah.

18.Sumber: Lampiran Daftar CAT di Pulau Jawa dan Madura. Peta Konservasi Air Tanah untuk CAT Bandung-Soreang halaman 60 . 2009 (diolah) Gambar 2. Deptartemen ESDM.

2. ada juga potensi air baku di Bogor Barat dari sungai Cikaniki (anak sungai Cisadane). Pembangunan Waduk Baru Potensi pembangunan waduk besar dan kecil untuk pemenuhan pasokan air baku ke kota dan kabupaten di WS 6 Ci telah dipertimbangkan sesuai dengan kondisi dan potensi yang ada di wilayah tersebut.5.2.2.2 Potensi Pendayagunaan Sumber Daya Air 2.5. disebut Water District2. Air baku ini dapat digunakan sebagai tambahan air minum untuk Kota Bogor. Prasarana yang ada saat ini dan perkiraan/potensi pada masa datang telah digambarkan pada gambar tersebut. Pada skematisasi tersebut terdapat 123 Water District dan 1100 node (simpul perhitungan) yang dapat dilihat pada Gambar 2. Beberapa waduk di WS 6 Ci yang potensial untuk pemenuhan air baku RKI dan untuk keperluan lainnya dapat dilihat pada Tabel 2. Air dalirkan ke Bogor Barat (lokasi Ciburial) melalui saluran yang mengikuti kontur kaki gunung Salak sepanjang 10 km.19.5. Potensi air baku tersebut dinamakan Salak Kontur (karena saluran mengikuti kontur lereng gunung Salak). Air yang dapat dimanfaatkan adalah konstan sebesar 2 m3/det.1 Skematisasi Model Alokasi Air Skematisasi digunakan untuk keperluan analisis neraca air WS 6 Ci. Elemen dasar dari skematisasi adalah jaringan yang ada di WS yang mewakili cara pengaliran dan penggunaan air secara menyeluruh.  Unit yang saling melengkapi dalam pengaturan Sumber Daya Air dan memungkinkan untuk membuat keseimbangan air.20.  Mempunyai persamaan sifat dalam merespon hujan dan aliran. Selain potensi waduk tersebut di atas. yang mencakup satuan luas WS sesuai dengan batas hidrologi dan penggunaan air utama serta beberapa pilihan pengendalian sumber daya air.11. 2. 2 Water district adalah:  Unit hidrologi terkecil yang mencakupi kebutuhan air dan pasokan air.2 Peningkatan Potensi Sumber Daya Air (1). telah dibuat skematisasi seperti terlihat pada Gambar 2. halaman 61 .

Peninggian ini dapat menambah volume waduk + 1 milyar m3.500 jiwa. Dengan adanya peninggian bendungan untuk menambah luas tampungan waduk. jalan inspeksi keliling waduk yang sudah dibuat.Dengan sangat berkurangnya luasan daerah irigasi yang diairi dari Bendung Katulampa (sungai Ciliwung) dan Bendung Empang (sungai Cisadane). Menurut penelitian fondasi dasar bendungan cukup kuat menyangga beban bendungan setelah ditinggikan. air yang dialirkan ke saluran induknya saat ini kurang bermanfaat. halaman 62 . Setelah dilakukan simulasi. Penduduk yang harus dipindahkan sekitar 13. Kelebihan air ini berpotensi untuk penyediaan air baku RKI. diperlukan pembebasan lahan. volume tampungan waduk dapat ditambah dengan meninggikan elevasi puncak bendungan15 m dari elevasi muka air + 220 m menjadi +235 m. posisinya aman di atas genangan air sesudah waduk Cirata ditinggikan 15 m. Peningkatan pemanfaatan waduk lama Sesuai laporan BTA-155 (1989) dan Studi JWRMS (1994). (2). waduk Cirata yang berfungsi sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air.

. TA 2006 Usulan ini sdh diakomodir juga dlm RTRW Prov. TA 2005 Studi Kelayakan Pembangunan Waduk Ciwidey di Kabupaten Bandung. 2.8 m3/det.79 12-15 4. 1.483. 2. Cicalengka Tanjungwangi Tegal manggung Cimanggung Bandung Sumedang Jawa Barat Jawa Barat 1.1989 Review M/P Banjir Jakarta Review M/P Banjir Jakarta Laporan Akhir Pekerjaan Perencanaan Waduk Cikapundung di Kabupaten Bandung. Bandung/ Lembang dan khususnya kota Bandung 2. Sukawana Cimahi Sukawana Karyawangi Parongpong Bandung Jawa Barat 718. Jawa Barat.251 9. Memberikan tambahan debit (maintenance flow) sungai Citarum Pengembangan DAS Ciwidey sbg industri wisata 42 juta 5 juta 5 juta 319. BBWS 3 Ci. 1995 Telah selesai DD 4.00 5. 32.7 m3/det. 2009-2029 Pre FS B. Banjir sungai Ciwidey terkendali 5. Untuk mengatasi kekurangan air irigasi sebelah hilir (untuk tanaman sayuran/palawija) 3. Air bersih: 592 ltr/det.10 12.1989 .148 lt/det.00 115.20 Laporan Akhir Detail Desain Bendungan Sindang Heula .Cisadane river basin.43 juta 24. TA 2004 Usulan ini sdh diakomodir juga dlm RTRW Prop.00 314.70 halaman 63 .000 407.Sukawana Kabupaten Bandung.Tabel 2. Narogong 3. Memberikan tambahan debit (maintenance flow) sungai Citarum Pengembangan DAS Cimahi sbg industri wisata 307.: hasil penelitian Dit.11. 2009-202. 2008 Laporan Akhir Survey Investigasi Air Baku Cidanau.48 juta Luas Genangan (Ha) EIRR (%) Sumber Data Catatan A.74 Design Report: The Karian Dam Project. Cimeta Cimeta Pasirhuni Cimanggu Ngampah Bandung Jawa Barat 1. dan Kota Tangerang: 9.. Hydropower 10 MW 1. Air irigasi Cibanten: 0. Untuk mengurangi banjir di wilayah kota Bandung bagian Selatan. 2.25 juta 9.468 3. Industri: Kawasan Industri Bandung Timur untuk menghindari terjadinya penurunan muka air bawah tanah (4 m/thn. Jabar. TA 2004 15. Jabar. TA 2004 RTRW Prop.BTA 155.328 3. Irigasi setempat: 825 ha 3.1 m3/det. Jawa Barat. Banjir sungai Cimahi terkendali 5.630 MW/thn 4. Listrik: 1. Pasirkopo Cisimeut Ciujung Leuwidamar Banten 1.Supporting.71 juta Volume (M3) Efektif 207. air baku Kab. Air baku dan irigasi Serang dan Cilegon : 5. dan Bandung (TA 2003) Perencanaan Desain waduk . 2006 Telah ganti rugi sebagian lahan 2. Garut 2020. 2.00 . Potensi Waduk 6 Ci Lokasi No. Untuk mengatasi kekurangan air minum (daerah Kab. Irigasi: 1. TA 2004 Identifikasi Identifikasi Usulan ini sdh diakomodir juga dlm RTRW Prop. Genteng Cisadane 87 juta 625. Cimeta di Kabupaten Bandung. Air bersih: Jatinangor & Rancaekek 2. Tanjung Cibeureum Cidurian Cidurian Banten Jawa Barat dan Banten Jawa Barat __ __ 62 juta 280 juta 2. Pondok Benda Cikeas Angke Pondok Benda Cinere Cibinong Pamulang Cinere Langensari/ Cikidang Lembang Bogor Tang-Sel Depok Bandung Jawa Barat Banten Jawa Barat Jawa Barat Air baku ……….658 ha 3. Ciarik 4. Cidurian dan air baku Kab. 3. 2. 2.50 juta 44.Cisadane river basin. 3 . 2009.5 m3/det. Listrik 5 MW 82. 1986 BTA 155.Kajian Teknis Pembangunan Waduk 2020.Perencanaan waduk Ciwidey.30 m3/det.8 m3/det. M3/det.BTA 155. 1995 Ciujung-Cidurian Integrated Water Resources in Indonesia. Ada Manfaat lain dari Wdk. CiujungCidurian Intergrated Water Resources in Indonesia. 2. Air baku Serang dan Cilegon: 0. Ciwidey Hilir pertemuan sungai Ciwidey dan sungai Cicangkorah Cikoneng Pasir Jambu Bandung Jawa Barat 3.1989 .Studi Kelayakan Pembangunan Usulan ini sdh diakomodir juga dlm Waduk Sukawana di Cimahi dan RTRW Prov.00 2.20 juta 150. Air baku 1. Irigasi DI. Wilayah 2 Ci (Cisadane-Ciliwung) 1. Serang dan air irigasi DI Ciujung: 3. Irigasi: 1. Cikapundung Cikukang (anak sungai Cigulung anak sungai Cikapundung) 2. 1. Sept.78 . TA 2005 5. Cilawang 6.767 4.80 <10 (tidak layak) Perencanaan Waduk Citarik 1 (satu) Usulan ini sdh diakomodir juga dlm Paket Kabupaten Bandung. Air baku Kab dan Kota Tangerang: 9.32 289.50 juta 920. 2. Geologi. Air baku Jakarta dan Bogor: …. 2008 Vol. Wilayah 3 Ci (Cidanau-Ciujung-Cidurian) 1. 2009Sudetan Cibatarua di Kab. 2009-202 3.0 m3/det.044. Limo Pesanggarahan C. Pariwisata: 5% nilai total proyek 4.720 16. Air baku Kab. Nama Potensi Waduk Nama Sungai Kampung Desa Kecamatan Kabupaten Propinsi Manfaat Total 1. BBWS Ci. dan Kota Tangerang: 4.35 . Pariwisata: 20% nilai total proyek 731. Cidanau Cidanau Kaduperep Cinangka Kabupaten Serang Kabupaten Lebak Kabupaten Lebak Kabupaten Bogor Genteng Rancamaya Bogor Banten Air baku industri dan kota Cilegon: 5. 1986 . Air bersih kota Padalarang: 450 ltr/det. Karian Ciberang Ciujung Rangkasbitung Kabupaten Lebak Banten 1.Perencanaan Detail Waduk Cimeta di Kabupaten Bandung.261. Air baku setempat Air baku setempat 1. Irigasi setempat 3.00 . 1998) 1.1 m3/det. Jabar. Citarik Citarik Damit.57 juta 265. Sindang Heula Cibanten Gelam Pabuaran Kabupaten Serang Banten 9. Wilayah 1 Ci (Citarum) 1. 1.717 ha 3.

Tanpa Sudetan Cibatarua Cilaki Santosa Kertasari Bandung Jawa Barat Untuk menambah debit sungai Cisangkuy. Kandung Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat 200 juta 9. Subang Desa Sadawarna Cibogo Subang Jawa Barat 17. Jawa Barat Belum terakomodir Dinas PSDA Prov. Bandung Kab. Cibeber Kab. Perikanan darat 5. Jawa Barat. Bandung Kab. pertanian dan irigasi Air baku domestik. Cibintinu 11. Tegal luar 21. Sungai Cikandung Cipunegara DAS CItarum DAS Citarum DAS Citarum DAS Citarum Kab.5 juta 471 juta 71.850 juta 733. Jawa Barat Belum terakomodir 10.375 (Kapasitas sudetan Cibatarua: 2.509.141 895.31 juta 37. Jawa Barat Belum terakomodir Dinas PSDA Prov. Leuwiliang 18. Jawa Barat Belum terakomodir Dinas PSDA Prov.000 610. Cigumentong 19.15 7. - Dengan Sudetan Cilaki Cibatarua Santosa Kertasari Bandung Jawa Barat 21. Jawa Barat Belum terakomodir Sumber: Hasil Analisis 2010 halaman 64 . Garut dan Bandung (TA 2003) Usulan ini sdh diakomodir juga dlm RTRW Prov. Subang Kab. Pariwisata 4. Subang Jawa Barat Jawa Barat 71 juta 53.816 Dinas PSDA Prov. Jawa Barat Belum terakomodir Dinas PSDA Prov.8 juta 13. Cikalimiring 15. Cibodas Sungai Citarum Hulu Sungai Citarum Hulu Sungai Citarum Hulu Desa Cikoneng Ciparay Bandung Jawa Barat Dinas PSDA Prov. pertanian dan domestik. pertanian dan domestik.969 71. Cimulu 20. pertanian dan domestik. C. Jawa Barat Belum terakomodir Dinas PSDA Prov.Jangka Pendek (2005): 8.Jangka Menengah (2015): 27. Jawa Barat Belum terakomodir Dinas PSDA Prov. 2009-2020. pertanian dan domestik. Subang Kab. Jawa Barat Belum terakomodir 25.066.Lokasi No.Jangka Panjang (2025): 69.126 m3 (Agust-Nov) . Jawa Barat Belum terakomodir Dinas PSDA Prov.) Air baku domestik.052 3/det. pertanian dan irigasi 317. pertanian dan domestik.839 Dinas PSDA Prov. Jawa Barat Belum terakomodir Dinas PSDA Prov.90 7. Konservasi 6. Maya 29. Jawa Barat Belum terakomodir 2.539. Jawa Barat Belum terakomodir Dinas PSDA Prov.7 juta Dinas PSDA Prov. Wakap Desa Rancakole dan Desa Patrolsari Desa Arjasari Arjasari Bandung Jawa Barat 94. Bandung Kab. pertanian dan domestik. Pengendalian banjir 22.6 juta 72. pertanian dan domestik.3 juta 97. Jawa Barat Belum terakomodir Dinas PSDA Prov.5 juta Dinas PSDA Prov.000 1. Air baku domestik. Cilame Sungai Cilame . Jawa Barat Belum terakomodir Dinas PSDA Prov. Bandung Kab. Sadawarna Sungai Kampung Cisangkuy Sukarasa Sungai Cidurian Sungai Cidurian Sungai Cidurian Sungai Cikeruh Sungai Cipamokolan Sungai Cipamolokan Sungai Citarik Sungai Citarik Sungai Citarik Sungai Citarum Sungai Cipunegara Arjasari Bandung Bandung Kab. Pembangkit listrik tenaga mikrohidro 3. dimana di DPS Cisangkuy pada musim kering terjadi kekurangan air (Studi Pengelolaan Operasi Sungai. Bandung Kab.54 juta 1.000 593. Santosa . Cikawari 16. Jawa Barat Belum terakomodir 9.644 m3 (Jun-Des) 21.066. Jawa Barat Belum terakomodir Dinas PSDA Prov. pertanian dan domestik.64 Studi Kelayakan Pembangunan Waduk Sukawana di Cimahi dan Sudetan Cibatarua di Kab.65 juta 2. Telaga Herang 30.7 juta Dinas PSDA Prov.000 10. Bandung Kab. Cikuda 12. Bandung Kab. Jawa Barat Belum terakomodir Dinas PSDA Prov. Jawa Barat Belum terakomodir Dinas PSDA Prov. irigasi/pertanian 210. . pertanian dan domestik.375 71.90 8.Cipunegara Sungai Cibodas Anak sungai Cibeber. Subang Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat Jawa Barat Desa Tegal luar Bojongsoan g Air baku irigasi Air baku irigasi Air baku irigasi Air baku irigasi Air baku irigasi Air baku irigasi Air baku irigasi Air baku irigasi Air baku irigasi Air baku irigasi Air baku irigasi 1. Jawa Barat Belum terakomodir Dinas PSDA Prov. Pasiranji 26. Cikitu Desa Cikitu Pacet Bandung Jawa Barat 51. Jawa Barat Belum terakomodir Dinas PSDA Prov. Jawa Barat Belum terakomodir 8. Jawa Barat Belum terakomodir 23. pertanian dan domestik. Cibodas 24.000 288. Nama Potensi Waduk Wilayah 1 Ci (Citarum) Nama Sungai Kampung Desa Kecamatan Kabupaten Propinsi Manfaat Total Volume (M3) Efektif Luas Genangan (Ha) EIRR (%) Sumber Data Catatan 6.759. pertanian dan irigasi Air baku domestik. Jawa Barat Belum terakomodir Dinas PSDA Prov.844.776 m3 (Sep-Nov) .045 Dinas PSDA Prov. Pangkalan 28. Nameng 27. Tareptep 17. pertanian dan RKI. Bandung Kab. Bandung Kab. Sekerende 13 Tugu 14.

Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 2. Peta Skematisasi Model Alokasi Air WS 6 Ci halaman 65 .19.

20. Peta Water District halaman 66 .Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 2.

Daerah Potensial untuk Pengembangan Waduk halaman 67 .Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 2.21.

5. Kapasitas Kanal 2 adalah 19 m3/det. Saluran dapat berupa saluran terbuka atau tertutup dengan pipa. Air baku juga lebih aman dari pencurian air. Saluran irigasi dapat diperkecil cukup untuk mengalirkan kebutuhan air irigasi. (2). Intake Kanal 2 langsung dari waduk Jatiluhur pada Pasir Gombong menyusur ke barat sampai di Babakan Cileungsi. seperti Saluran Tarum Barat dan Saluran Ciujung Barat. meskipun harga pipa mahal. berpotensi memasok air baku tambahan ke Bogor-Depok. sehingga dapat dilakukan pengeringan dan perbaikan rutin tahunan. Jika dengan pipa. Kanal 2 Pembangunan Kanal 2 yang lokasi jalurnya agak jauh di selatan. Keuntungan saluran terbuka. Pemisahan menjadi 2 (dua) saluran yang terpisah. Dengan adanya rencana peningkatan kapasitas Saluran Tarum Barat untuk air baku ke Jakarta. Karawang Selatan dan Bekasi Selatan.  Saluran irigasi dapat tetap menggunakan saluran terbuka.2. kemudian dibagi ke Bogor Utara. tapi aman terhadap pencurian dan kualitas air akan lebih baik. tetapi biaya pembebasan tanah lebih mahal dan harus dilaksanakan sekaligus. Pada masa datang lebih disukai saluran dengan pipa. serta rawan diambil tanpa ijin oleh petani pada saat musim kemarau panjang. dapat dipertimbangkan untuk sekaligus memisahkan fungsi tersebut di atas. biaya pembebasan tanah murah.3 Peningkatan Potensi Saluran Pembawa Air (1). Dengan demikian air baku tidak mengalami pencemaran (sampah maupun limbah cair) sepanjang perjalanan dari sumber sampai ke instalasi penjernihan. Bekasi. Saluran Tarum Barat dapat dibagi menjadi dua sisi. Di Babakan air baku diolah menjadi air minum. merupakan peningkatan terhadap masing-masing fungsinya sebagai berikut:  Saluran air baku RKI lebih baik jika digunakan saluran tertutup (pipa besi ataupun beton).2. Pemisahan Saluran Air Irigasi dan Air Baku Saluran induk irigasi yang berfungsi ganda. halaman 68 . biaya konstruksinya lebih murah. yaitu di Purwakarta Selatan. mengalami kondisi yang terus menurun fungsinya karena kesulitan untuk melaksanakan pengeringan dan perbaikan rutin tahunan. Depok. dan tidak aman terhadap pencemaran air.

halaman 69 . Efisiensi irigasi diharapkan akan meningkat di masa yang akan datang dikarenakan adanya rehabilitasi prasarana irigasi. Dengan membangun saluran tertutup/pipa air baku maka pembangunan siphon pada sungai Cikarang. Upaya ini juga berguna untuk mengurangi penggunaan air. 2.menggunakan sisi kanan pada Saluran Tarum Barat. sebaiknya langsung dipisahkan antara saluran irigasi yang tetap menggunakan Saluran Induk Ciujung Barat.4 Peningkatan Efisiensi Pengunaan Air untuk mengurangi Kebutuhan Beberapa potensi terkait dengan pengembangan irigasi pertanian di WS 6 Ci mencakup: (1).5. sehingga pencemaran dan kehilangan air dapat dikurangi. Dengan pemisahan tersebut maka efisiensi saluran pembawa air baku menjadi tinggi. karena menggunakan saluran pipa. Salah satunya melalui diversifikasi tanaman serta upaya penerapan SRI. Saluran pembawa air baku sebaiknya membangun saluran pipa baru. (2). menjadi tidak perlu dilaksanakan. Pada rencana peningkatan kapasitas air irigasi dan air baku RKI Kota SerangCilegon. Kebijakan pembangunan pertanian saat ini bertujuan meningkatkan nilai tambah.2. sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan luas tanam. yang direncanakan untuk mencegah pencemaran air baku ke Jakarta dari pencampuran dengan air sungai tersebut. SRI dan Peningkatan produksi pertanian Peningkatan produksi pertanian tidak hanya tergantung pada ketersediaan air semata. yang akan dipasok dari Waduk Karian. Jika saluran induk irigasi dapat dikeringkan untuk pelaksanaan perbaikan rutin saluran. dan membangun saluran pipa baru khusus untuk air baku Kota SerangCilegon. ditempatkan pada satu sisi yang lain (sisi kiri) dalam saluran yang ada. maka kondisi saluran irigasi menjadi lebih baik sehingga efisiensi air irigasi juga dapat meningkat. tapi juga tergantung pada sistem bercocok tanam. Peningkatan Efisiensi Irigasi Efisiensi irigasi yang dipakai dalam analisis saat ini adalah untuk irigasi semiteknis 50% dan irigasi teknis 55%.

3. perbaikan kualitas pengelolaan air irigasi dan juga peran masyarakat. Diharapkan pada masa datang efisiensi tersebut dapat ditingkatkan (Jakarta tahun 1990 efisiensi PDAM Jakarta masih 40%. Peningkatan Efisiensi Pelayanan PDAM Efisiensi pelayanan PDAM pada umumnya masih rendah. sehingga pada penyusunan pola pengelolaan sumber daya air untuk WS 6 Ci. Oleh karena itu air untuk keperluan tersebut sudah dialokasikan mengingat potensi keuntungan per hektar dari tambak relatif lebih tinggi dibanding dengan tanaman padi atau palawija. 2. sehingga dapat meningkatkan intensitas tanam dan luas lahan yang terairi.1 Penanganan Banjir Potensi upaya pengelolaan banjir di WS 6 Ci mencakup: halaman 70 .selain adanya perbaikan kualitas pengelolaan air irigasi dan juga peran masyarakat petani.5. perhitungan neraca air dipakai angka 60% untuk irigasi semi-teknis dan 65% untuk irigasi teknis. terjadi peningkatan 13% selama 20 tahun). cepat rusak. Sebagai contoh di Jakarta saat ini adalah 53%. serta alasan manajemen. Untuk memperoleh hasil yang optimal. Dengan meningkatnya efisiensi irigasi tersebut.5. Hal tersebut disebabkan oleh sistem perpipaan yang telah tua. Dengan adanya rencana rehabilitasi/upgrading fasilitas irigasi yang ada. maka yang akan diperhatikan pada pola pengelolaan sumber daya air ini terpusat pada perikanan tambak. maka effisiensi irigasi diperkirakan akan meningkat 10%. (3). (4). maka secara langsung dapat mengurangi kebutuhan puncak air irigasi. tambak memerlukan air segar untuk pencampuran/penggelontoran. Pemanfaatan Untuk Perikanan Oleh karena perikanan air tawar volumenya/arealnya tidak terlalu besar.3 Potensi Pengendalian Daya Rusak Air 2.

yaitu arah dan besarnya gelombang. 2. Jenis yang dipilih sangat dipengaruhi oleh kondisi setempat. pembelian lahan untuk memperluas lahan konservasi dan hutan koloni (Land Banking). Potensi untuk mengurangi kekeringan adalah dengan memperbaiki distribusi air irigasi.3. 2. karakteristik arus. dam penahan. (2) turap. (4).3.2 Penanganan Krisis Air/Kekeringan Kekurangan air irigasi terutama terjadi pada bagian akhir jaringan irigasi. dan biopori. sumur resapan. Potensi Penanganan Filosofi Potensi filosofi yang dimaksud di sini adalah potensi terkait dengan penanganan revitalisasi kawasan perumahan dan relokasi perumahan daerah rawan banjir (2). pembuatan waduk.5. (3). dam pengendali. dan lain-lain. menindak tegas pengambilan air tidak berijin serta meningkatkan kesadaran dan kepatuhan petani terhadap jadwal tanam yang telah ditentukan. penguatan Kelompok dan Kader Masyarakat Peduli Lingkungan. Potensi Penanganan Non-Struktural Potensi penanganan non-struktural meliputi Konservasi dan Rehabilitasi Hutan dan Lahan di DAS.3 Penanganan Kerusakan Pantai Potensi perlindungan secara vegetatif dilakukan dengan mempertahankan hutan bakau dan penanaman kembali tanaman bakau untuk perlindungan pantai. Sedangkan secara struktur dapat dibangun konstruksi perlindungan dan perkuatan pantai antara lain (1) bangunan pemecah gelombang.(1). Potensi Penanganan Struktural Potensi penanganan struktural mencakup kegiatan normalisasi. pendampingan masyarakat dalam berperilaku pro konservasi lingkungan. jenis tanah setempat. (3) bronjong. meningkatkan efisiensi air irigasi.5. Potensi penanganan Sosial Budaya Potensi penanganan sosial budaya terutama adalah penanganganterhadap penguatan Kelompok dan Kader Masyarakat Peduli Lingkungan termasuk di dalamya pendampingan masyarakat dalam berperilaku pro konservasi lingkungan. kelandaian halaman 71 .

kerusakan dan kerugian masyarakat akibat tsunami. perlu dibuat pemetaan daerah rawan tsunami.5. longsor dapat ditanggulangi dengan: a. Untuk meredam kecepatan arus tsunami. dan c. Untuk mendapatkan rencana struktural yang tepat harus dilakukan studi rinci pada masing-masing lokasi. atau penutupan permukaan lereng terbuka dengan rumput.5. Secara teknis sipil perlu dibuat peraturan/pengaturan bangunan yang aman.4 Penanganan Bencana Tsunami Kejadian tsunami tidak dapat dicegah. serta sistem peringatan dini saat kejadian gempa yang dapat memicu tsunami. Sebagai upaya non-fisik adalah memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang lokasi potensi daerah longsor dan pembatasan bangunan di sekitar daerah rawan longsor. lokasi ini masih dapat dibudidayakan untuk pertanian lahan kering. Sebagai upaya teknis sipil. b. Pembuatan teras bangku. 2. secara vegetatif perlu dipertahankan keberadaan hutan bakau sepanjang pantainya. halaman 72 . sehingga masyarakat dapat mengetahui tingkat risiko dan jalur evakuasi pada daerah tersebut.5 Penanganan Bencana Longsor Sebagai upaya vegetatif.3. serta sosialisasi kesiagaan terhadap bahaya tsunami. Penebangan pohon pada lokasi ini harus dihindari. 2.pantai. penghijauan dengan jenis pepohonan yang menghasilkan dengan akarnya yang dapat memperkuat ketahanan terhadap longsoran. dan pembuatan jalur evakuasi ke arah tempat pengungsian di daerah yang aman. Perkuatan lereng dengan penutup permukaan lereng dengan lapisan beton atau pasangan batu kali. Sebagai antisipasi untuk mengurangi korban. dan sulit diperkirakan kapan akan terjadinya.3. serta peruntukan dari pantai tersebut. Pembuatan parit drainase untuk mengurangi resapan air dan penggerusan lereng. maupun seberapa tingkat kedahsyatannya.

Sedangkan informasi sumber daya air melalui sistem yang akan dibangun dapat memberikan peringatan tentang kekeringan maupun banjir dan kecenderungannya.1 Integrasi Sistem Informasi Agar pengelolaan sumber daya air optimal diperlukan integrasi sistem informasi sumber daya air yang menyangkut database hidrologi yang meliputi curah hujan. kandungan sedimen. dimana dalam simulasi tersebut didasarkan pada distribusi air untuk berbagai kebutuhan. tingi muka air dan aliran pada kondisi ekstrem seperi banjir dan kekeringan. penyiapan sumber daya manusia pada ketiga unsur serta pengembangan kelembagaan pengelolaan sistem informasi sumber daya air yang terpadu. Dalam studi ini alat bantu yang digunakan untuk halaman 73 . Kunci dari model DSS tersebut adalah simulasi satuan WS.5. Pengembangan jaringan sistem informasi geohidrologi pada tiap cekungan air tanah agar dapat diintegrasikan dengan informasi hidrologi air permukaan. basis data hidrometeorologi serta basis data dan informasi mengenai potensi air tanah dan kondisi aquifer.5. Basis data hidrologi dan geohidrologi akan memudahkan dalam perencanaan pendayagunaan pada tiap water district.Ribasim Sistem Pendukung Keputusan atau DSS merupakan suatu alat bantu untuk mendukung kerangka kerja analisis sistem dalam menghasilkan informasi kuantitatif situasi keseimbangan air yang terkait dengan aspek ketersediaan dan kebutuhan air yang berada dalam suatu WS. kondisi aliran.5. Sistem analisa DSS yang pendekatannya tediri dari satu perangkat basis data dan Perangkat lunak ini terdiri atas: basis data (database).4. potensi air.4.4 Potensi Sistem Informasi Sumber Daya Air 2. dan skematisasi sistem tata air. 2.2 Sistem Pendukung Keputusan . dan kumpulan model komputer yang konsisten beberapa model. Sistem informasi sumber daya air yang berpotensi dikembangkan meliputi teknologi dan tambahan peralatan. Pengembangan database hidrologi perlu ditingkatkan menjadi real time pada lokasi terpilih yang berpengaruh signifikan dalam pengelolaan sumber daya air dengan menambah jaringan peralatan otomatis seperti AWLL maupun ARL.2.

2 Air Baku kota Cilegon (PT Krakatau Tirta Industri.000/m3. masih lebih murah dari pada tarif air PDAM untuk komersial yakni Rp 125. Cilegon) Peningkatan kebutuhan air bersih yang cukup besar untuk kawasan industri dan Kota Cilegon memerlukan tambahan air baku dari sungai Cidanau. Salah satu potensinya adalah dengan menggunakan air laut yang diolah menjadi air bersih. halaman 74 . Kondisi ini sangat mengkawatirkan. maka harus ada upaya lain.5 Potensi Pemberdayaan dan Peningkatan Peran Masyarakat dan Dunia Usaha 2. Kekurangan air harus diganti dengan penyediaan air bersih yang berasal dari air permukaan.5. 2. pengolahan air laut untuk air minum dapat menjadi model solusi untuk menghentikan pengambilan air tanah dalam di Jakarta. Teknologi desalinasi.000/m3 sehingga proses ini cukup menguntungkan. sehingga laju penurunan tanah di Jakarta ini harus dihentikan atau dikurangi. Kawasan Industri Krakatau.5. 2.melakukan analisis sistem DSS adalah program RIBASIM yang dikembangkan oleh Delft Hydraulic (Deltares). Karena air PDAM tidak cukup sementara kebutuhan tidak bisa dikurangi.000 m3/hari. yaitu apabila ada pengembangan baru air minum diperlukan adanya ijin dari perusahaan air minum asing tersebut. dari hasil pengamatan oleh Tim Geodesi ITB. Instansi yang sudah memproduksinya adalah PT Jaya Ancol yang mengolah air laut dengan teknologi desalinasi. Teknologi desalinasi ini bisa dipakai sebagai model oleh industri lain yang kekurangan air baku yang berlokasi di dekat pantai. dengan cara penghentian atau pengurangan penggunaan air tanah dalam untuk industri.5.5. Ternyata harga produksi sebesar Rp 9. Produksi yang telah dihasilkan 5. Monopoli ini sangat tidak sehat. Pemerintah DKI Jakarta perlu meninjau kembali perjanjian tersebut.1 Kemitraan – Desalinasi (PT Jaya Ancol) Sebagai mana diketahui bahwa penurunan tanah di Jakarta sangat tinggi.5. Upaya pengembangan teknologi ini masih terkendala dengan adanya perjanjian kerjasama internasional antara Pemerintah DKI Jakarta dengan Perusahaan Air Minum yang saat ini dikuasai modal asing. di lokasi Muara Baru penurunan tanah 26 cm/tahun dan di Kawasan Berikat Nusantara 18 cm/tahun.

TKPSDA WS 6 Ci telah terbentuk melalui Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 594/KPTS/M/2010.12 dibawah ini: Tabel 2. Wakil dari Provinsi Banten 5 orang  4. bekerjasama dengan PDAM Kota Cilegon. Pemangku Kepentingan dan Anggota Wadah Koordinasi TKPSDA WS 6 Ci 1. PT KTI mungkin terlalu berat untuk membiayai seluruh investasi baru tersebut secara mandiri. Wakil dari Provinsi DKI Jakarta 5 orang  3. Wakil dari Dit BPSDA/BP 1 orang +  Jumlah anggota dari Pemerintah 48 orang  Jumlah anggota dari Non Pemerintah 48 orang  + Total 96 orang  Sumber: Hasil Analisis 2010 2.5. membangun saluran pipa baru CidanauKrenceng.Potensi penyediaan air baku yang dapat dikembangkan adalah dengan membangun Bendungan Cidanau. serta peningkatan kapasitas tampung Waduk Krenceng.5. Wakil dari Balai Besar dan PJT 2 4 orang  6. Untuk itu perlu adanya kerjasama antara Pemerintah (Kementerian PU/Direktorat Jenderal Sumber Daya Air) dengan PT KTI atau perusahaan swasta lainya untuk pembangunan prasarana tersebut. Wakil dari Provinsi Jawa Barat 5 orang  2. TKPSDA WS 6 Ci mempunyai tugas membantu Menteri Pekerjaan Umum dalam koordinasi pengelolaan sumber daya air pengelolaan sumber daya air Anggota forum koordinasi pengelolaan sumber daya air WS 6 Ci tersebut tercantum dalam Tabel 2. Pembangunan atau peningkatan instalasi penjernihan dan jaringan distribusi air bersihnya dapat dilaksanakan oleh PT KTI atau perusahaan swasta lain. Pembangunan tersebut membutuhkan dana yang sangat besar.4 BLU dan IJL Potensi lain yang dapat dikembangkan adalah dengan membentuk suatu mekanisme IJL yang bertujuan untuk mengelola dana dari masyarakat penerima manfaat jasa lingkungan (masyarakat hilir) sebagai insentif untuk halaman 75 . Wakil dari Kabupaten/Kota 28 orang  5.5.3 Pemangku Kepentingan dan Wadah Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Untuk melaksanakan koordinasi pengelolaan sumber daya air pada WS lintas provinsi dibentuk TKPSDA WS lintas provinsi sesuai dengan intensitas kebutuhan pengelolaan sumber daya air. 2.5.12.

masyakat

hulu

yang

telah

melaksanakan

kegiatan

dan

memelihara

lingkungan. Kemungkinan pengelolaan IJL dapat dilakukan melalui BLU. Suatu contoh kasus yang sudah berjalan adalah kegiatan IJL di DAS Cidanau yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi DAS Cidanau (FKDC)3 sejak tahun 2002. Pembayaran jasa lingkungan merupakan salah satu strategi untuk mengatur ekosistem alami dan sistem pertanian di hulu yang dirancang agar dapat meningkatkan kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat hulu sehingga dapat mengendalikan/mengatasi penebangan hutan. Implementasi jasa lingkungan ini dirancang dalam kurun waktu 5 tahunan, yaitu tahap pertama tahun 2005-2009 dan tahap kedua tahun 2010-2014. PT Krakatau Tirta Industri, sebuah pemanfaat air Cidanau untuk pemenuhan air baku di Cilegon telah berpartisipasi “membayar” sebesar Rp. 250.000.000,per tahun4 sebagai jasa lingkungan kepada kelompok masyarakat hulu agar mereka berpartispasi “menjaga” kelestarian tegakan pohon kawasan hulu Cidanau. Diharapkan dengan adanya insentif dari pihak hilir kepada hulu maka terjalin keseimbangan sosial, ekonomi dan lingkungan yang akan dapat dinikmati bersama-sama. 2.5.6 Potensi Penataan Ruang 2.5.6.1 Zonasi Selain mengacu kepada Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dalam menetapkan zonasi di kawasan WS 6 Ci diserasikan dengan aspek Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air yaitu: Konservasi Sumber Daya Air, Pendayagunaan Sumber Daya Airdan Pengendalian Daya Rusak. Zonasi merupakan salah satu instrumen yang potensial dalam memadukan antara perencanaan tata ruang dan pengelolaan sumber daya air.

3 4

Sumber: Buku Forum Komunikasi DAS Cidanau (FKDC), 2007. Tahun 2005-2006 : 175 juta/tahun Tahun 2007-2009 : 200 juta/tahun Tahun 2010 : 250 Juta/tahun
halaman

76

Dari perwujudan sistem jaringan sumber daya air di Pulau Jawa yang terkait dengan WS 6 Cis (mengacu pada RTR Pulau Jawa-Bali), indikasi arahan peraturan zonasi untuk sistem sumber daya air adalah: a. Pengelolaan WS lintas provinsi yaitu Cidanau-Ciujung-Cidurian-CisadaneCiliwung-Citarum (Prov.Banten-Prov.DKI Jakarta-ProvJawa Barat), meliputi DAS Cidanau, DAS Ciujung, DAS Cidurian, DAS Cisadane, DAS Ciliwung dan DAS Citarum. b. Pengembangan jaringan sumber daya air terdiri atas: 1) Jaringan Irigasi Nasional yaitu: DI Cisadane, DI Ciujung, DI Cipamingkis, DI Cidurian, DI Cipancuh, DI Cihea, DI Jatiluhur dan DI Selatan Jatiluhur. 2) Bendungan dan bendung meliputi: Bendungan Karian, Bendungan Sindangheula, Bendungan Pasirkopo, Bendungan Cilawang, Bendungan Tanjung, Bendungan Krenceng, Bendungan Genteng, Bendungan Ciawi, Bendungan Jatiluhur, Bendungan Cirata, Bendungan Saguling, serta bendung Cisadane, Bendung Pamarayan, Bendung Rancasumur. Sistem jaringan prasarana pada WS lintas Kabupaten/Kota dan WS dalam satu Kabupaten/Kota ditetapkan masing-masing melalui Peraturan Daerah tentang RTRW Provinsi dan RTRW Kabupaten/Kota. 2.5.6.2 Java Spatial Model JSM merupakan model berbasis perubahan pemanfaatan ruang/ penggunaan lahan dengan basis data Pulau Jawa yang potensial dapat digunakan sebagai piranti perkiraan informasi proyeksi masa depan yang konsisten dari:    Distribusi spasial dari populasi dan tenaga kerja pada tingkat desa; Perkembangan kawasan perkotaan/permukiman yang dibutuhkan untuk memperkirakan kebutuhan yang terkait kegiatan manusia; Perubahan penggunaan lahan akibat pertumbuhan kawasan perkotaan yang mengambil/menguasai kawasan utama lainnya seperti kawasan irigasi teknis/sawah dan sebagainya. Dalam aplikasinya, hasil JSM dipergunakan untuk proyeksi perkembangan sebaran penduduk masing-masing Kecamatan yang dipergunakan dalam Ribasim.

halaman

77

2.5.6.3 Perlindungan Lahan Pertanian Berkelanjutan Kebijakan pencegahan dan/atau pengendalian konversi lahan pertanian, terutama sawah beririgasi teknis, menjadi sangat mendesak. Instrumen utama dalam pengendalian pemanfaatan ruang untuk mencegah terjadinya konversi lahan sawah beririgasi teknis adalah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), baik RTRW Provinsi maupun RTRW Kabupaten/Kota melalui mekanisme perijinan lokasi. Penurunan luas lahan sawah ini sangat merugikan investasi yang telah dilakukan Pemerintah untuk pembangunan irigasi. Pada awal tahun 1990-an Pemerintah mengeluarkan peraturan yang melarang konversi dari lahan beririgasi teknis ke penggunaan lainnya, kemudian pada tahun 2009 pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang kerugian Perlindungan terhadap Lahan Pertanian yang telah Pangan Berkelanjutan. pemerintah Hal ini dimaksudkan untuk menjaga stabilitas produksi pangan dan menghindari investasi dilakukan selama bertahun-tahun.

halaman

78

3 BAB III ANALISIS DATA
3.1 Asumsi, Kriteria, dan Standar yang digunakan

3.1.1 Asumsi Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 22 Tahun 2009 dipergunakan sebagai acuan dalam penyusunan Pola memuat sekurang-kurangnya tiga (3) parameter utama, ditambah satu parameter tambahan untuk dipertimbangkan, yakni: (1) Tatakelola Pemerintahan (Perubahan Politik) (2) Pertumbuhan ekonomi (3) Perubahan iklim (4) Pertumbuhan penduduk Uraian dari masing-masing parameter adalah sebagai berikut: (1) Tatakelola Pemerintahan (Perubahan Politik) Arah politik dapat memberi pengaruh signifikan pada pembangunan. Secara prinsip, telah diidentifikasi kebijakan berikut:  Current Trend (CT): Kebijakan yang berorientasi pada masalah yang mendesak dan solusi jangka pendek, mengikuti kecenderungan saat ini dan melanjutkan pembangunan yang sudah berjalan.  Good Governance (GG): Pelaksanaan secara proaktif dari kebijakan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan dengan penegakan hukum dan dukungan pemangku kepentingan yang memadai.
Peraturan Menteri merupakan produk politik, dan Kementerian Pekerjaan Umum telah menerbitkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 44 tahun 2007 tentang Pedoman Umum Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Menerapkan Prinsip-Prinsip Tatakelola Pemerintahan yang Baik dalam lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum. Sebagaimana dikutip dari Koesnadi Hardjasoemantri, tatakelola pemerintahan yang baik hanya bermakna jika didukung oleh lembaga negara yang menciptakan politik, ekonomi dan sosial, dan iklim yang stabil.

(2)

Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi menunjukkan variasi pada masa lalu, digunakan 3 (tiga) tingkat pertumbuhan ekonomi:  Pertumbuhan ekonomi rendah, jika pertumbuhan ekonominya < 4,5%. tapi dengan kecenderungan stabil antara 5% dan 6% per tahun, sehingga dalam skenario ini

halaman

79

worldbank. 1995". BPS 1995-2010 National Income of Indonesia. Pertumbuhan ekonomi tinggi.Persentase Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 8% 7% Pertumbuhan GDP 6% 5% 4% 3% 2% GDP growth % A2 GDP growth % B1 GDP growth % JSM 2. jika pertumbuhan ekonominya > 6. yang diakui oleh IPCC yang didukung PBB. BPS -10 -15 Sumber: http://data.GDP.2. Statistics Indonesia 2010.3 mm/hari (tahun 2030.ZG/countries/latest?display=default 1960-1994 diolah dari "Statistics 50 years Independent of Indonesia.5%. terbatas pada perubahan curah hujan rata-rata 0. 15 10 5 0 1960 1965 1970 1975 1980 1985 1990 1995 2000 2005 2010 -5 World Bank 50 years Merdeka. Pertumbuhan GDP Indonesia (3) Perubahan Iklim Skenario perubahan iklim (berdasarkan analisis dengan menggunakan GCM.org/indicator/NY.5% 6. BPS Gambar 3.MKTP.  Pertumbuhan ekonomi sedang .KD.5%. jika pertumbuhan ekonominya 4. Taksiran dari perubahan rata-rata halaman 80 .1 1% 0% 2010-2015 2015-2020 2020-2025 2025-2030 2030-2035 2035-2040 2040-2045 2045-2050 Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 3.1.

3 mm/hari (pada musim penghujan) atau -0.20% 1. perubahan curah hujan diproyeksikan meningkat (< 0.000 mm/tahun pada dataran pesisir dan 4.3 Rata-rata perubahan curah hujan (persentase dari 3000/tahun): 3% Pengurangan air larian (run-off) sungai (%) 3% Peningkatan aliran banjir (%) 3% Dalam keseimbangan dan eksperimen numerik tanggap transien dengan GCM.40% 1. perubahan curah hujan ditaksir pada kisaran 3% pada tahun 2030. Untuk menyusun Skenario dan Strategi untuk perubahan iklim digunakan asumsi berikut: Tahun 2030 Rata-rata perubahan curah hujan (mm/hari): 0. 1. yaitu dinyatakan sebagai peningkatan atau penurunan.3 mm/hari (pada musim kemarau).60% 1.3.40% 0.60% 0.00% Sensus 2010 Bappenas 2004 BPS (Proyeksi 2005-2015) Usulan dalam JSM SRES A2 SRES B1 Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 3.20% 0. Pertumbuhan Penduduk Indonesia halaman 81 .80% 0. (4) Pertumbuhan Penduduk Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 laju pertumbuhan penduduk di Jawa saat ini (termasuk transmigrasi dan masuknya penduduk dari pulaupulau lain) sekitar 1% per tahun. dan menggunakannya sebagai basis pertumbuhan penduduk dalam skenario.000 mm/tahun pada WS 6 Ci (2.000 mm/tahun pada kawasan pegunungan). Sehingga untuk 2030 angka tersebut mungkin sebagai +0. Dengan menggunakan curah hujan tahunan rata-rata sekitar 3.00% 0.curah hujan tidak pasti.5 mm/hari) pada waktu CO2 menjadi dua kali lipat selama musim basah di seluruh daerah tersebut.

dan pengurangan sawah. Dengan memanipulasi nilai tersebut (seperti zona terbatas untuk pemukiman atau yang didorong menjadi pemukiman pada daerah tertentu) pembangunan dapat berpengaruh positif terhadap pengelolaan sumber daya air. Kriteria Kinerja DAS No. Untuk masingmasing desa di Jawa nilai tertentu daya tarik telah ditaksir. 1) Kinerja DAS Tabel 3.1. pertumbuhan kota.1. dan penggunaan lainnya. Oleh karena itu kuantifikasi dan lokasi pertumbuhan kota merupakan salah satu alat analisis dari intervensi yang diperlukan dalam pengelolaan sumber daya air WS 6 Ci.2 Kriteria Kriteria yang digunakan dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air WS 6 Ci diuraikan sebagai berikut:. 3. 1 2 3 Parameter % Luas Tutupan Lahan Vegetatif Permanen thd Luas DAS Erosi dan Sedimentasi Sedimentasi Sungai Kategori/Kriteria DAS Jelek < 30 % Besar SDR > 75% Besar Jml sedimen > 10 ton/ha/Th Besar KRS>120 Sedang 30 – 75 % Sedang/Normal SDR 50-75% Sedang Jml sedimen 5-10 ton/ha/Th Sedang/Normal KRS 50-120 Baik > 75 % Kecil SDR < 50% Kecil Jml sedimen < 5 ton/ha/Th Kecil KRS<50 4 Qmax/Qmin Catatan: SDR = Sediment Delivery Ratio = Rasio Sedimentasi/Erosi lahan KRS = Koefisien Rejim Sungai = Qmax/Qmin Sumber: Kementerian Pekerjaan Umum . tapi dampaknya lebih terasa pada cara orang memilih tempat tinggal sehingga menyebabkan pertumbuhan perkotaan. Kecenderungan dalam pemukiman penduduk yang tumbuh dapat disimulasikan. hutan.Direktorat Jenderal Sumber Daya Air dan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 52/Kpts-II/2001 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pengelolaan DAS halaman 82 . dan faktor yang terkait dimasukkan dalam JSM. dan didasarkan pada peramalan yang dapat dilakukan (dikalibrasi untuk periode 1990 – 2000 dan diverifikasi untuk 2000 – 2010) terhadap perubahan tata guna lahan.Dampak nyata pertumbuhan penduduk terhadap pengelolaan sumber daya air tidak terlalu banyak.

50 Jelek Pendugaan erosi lahan dilakukan dengan menggunakan Metoda USLE (Universal Soil Loss Equation): A = R K LS CP dimana A: dugaan erosi lahan ton/ha/th. 1978). Kriteria Keragaan DAS Parameter KRS Nilai <50 50-120 >120 Kondisi Baik Sedang Jelek Sumber: Hasil Analisis 2010 KR <0.1% Jelek <0. dan (c) Koefisien limpasan (C). (b) Koefisien ragam aliran sungai (KR). K: Faktor erodibilitas tanah. seperti pada Tabel 3.2. (good management).3 dan Tabel 3.Koefisien Rejim Sungai. LS: Faktor lereng dan panjang lereng (Wood and Dent). R: Indeks erosivitas hujan (Bols. Tingkatan pengelolaan dibuat jadi 3 pilihan yakni (1) pengelolaan jelek (bad management).2 dibawah ini. dan (3) pengelolaan baik Agroforestry di kawasan non-hutan berlereng >40%. parameter hidrologi yang dihitung adalah (a) Koefisien rejim sungai (KRS).1% Baik >0. CP: faktor tingkat pengelolaan tanaman dan usaha tani). Koefisien Ragam. Tingkat pengelolaan akan mempengaruhi nilai CP. Tabel 3. (2) pengelolaan baik. dan Koefisien Limpasan Untuk menentukan kinerja DAS. Data tutupan lahan didapat dari Kementerian Lingkungan Hidup (2009).25 Baik C 0. KRS = Debit max Debit min KR = Standar deviasi Nilai Rerata C= Jumlah runoff (mm/tahun) Jumlah hujan (mm/tahun) Kriteria yang digunakan adalah kriteria dan indikator kinerja DAS menurut Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 52/Kpts-II/2001 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pengelolaan DAS.250.50 Sedang >0.4 halaman 83 . Beberapa tingkatan pengelolaan pada tindakan kultur teknis dan mekanis dinyatakan seperti pada Tabel 3.

Kebun campuran. Sirkulasi dan akumulasi hara intensif. pada periode bera tanah dibiarkan tidak ditanami.0 t/ha/th. miring ke arah dalam. Keragaman jenis tanaman sedang. atau pupuk anorganik. (Baik) galengan stabil dilengkapi dengan Saluran Pembuang Air Sumber: Hamer. atau teras bangku standar rendah atau teras miring untuk tanaman pohon permanen (misalnya karet. (moderate) rancangan sederhana gali-timbun pada graded atau kontur teras dengan fasilitas saluran pembuang minimal. Tak rendah (Jelek) menggunakan pupuk kandang. Menggunakan pupuk kandang dari (moderate) peternakan lokal atau kompos rumah tangga. Rotasi dengan tanaman kacang-kacangan (legume) satu tahun dalam 3 tahun. Sumber: Hamer. kompos. pinus. Produksi biomass per luasan sangat tinggi. Produksi biomass medium. Produksi biomas per satuan luas rendah. Penutupan lahan 40-60%. Tak ada siklus hara.4.5-1. Tanaman semusim mono-cropping. Pupuk anorganik seadanya. Tak ada rotasi tanaman. Lereng >5%: teras gulud sederhana. 1981 Tabel 3. kombinasi dengan kompos dan pupuk kandang untuk memaksimalkan produksi. Pemakaian pupuk anorganik. intensitas tinggi atau poly-cropping. Tingkatan pengelolaan kultur teknis Kode Tingkatan Contoh kultur teknis praktek 1 Sangat Tak menggunakan mulsa.Tabel 3. sisa tanaman dibuang. Sirkulasi hara sedang 5 Sangat tinggi Mulsa 3-6 t/ha/th. keragaman tanaman sedang-tinggi. tak ada keragaman tanaman 3 Sedang Mulsa 0. tanaman sela kerapatan tinggi. Tutupan tanah >80%. Jika menggunakan mesin mekanisasi dilakukan tanam sejajar kontur. Rotasi tanaman semusim. Praktek pengelolaan mekanik Kode Tingkatan Contoh pengelolaaan mekanik praktek 6 Tak ada (Jelek) Hanya ada batas petakan saja 8 Sedang Lereng <5%: strip rumput permanen dengan standar sederhana. dll) 10 Sangat tinggi Teras bangku dengan standar tinggi. Inter-cropping. tanaman tahunan dengan tanaman sela di bawahnya. jika perlu pupuk kandang didatangkan dari (Baik) luar. 1981 halaman 84 .3.

035 0.6. Sumber: Peraturan-peraturan.2 RSERV 0.Floodway : 1:100 tahun . Klasifikasi Status Mutu Air Menurut Metode Storet No 1 2 3 4 Nilai Storet 0 -1 s/d -10 -11 s/d -30 ≥-31 Kategori/Kelas A B C D Status Mutu Air Memenuhi baku mutu Cemar ringan Cemar sedang Cemar berat Sumber: Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air.7. BTA-155 dan Jakarta Flood Control Masterplan 3) Kualitas Air Kriteria pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air (Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001).0 Remainder of parameters: 0 Debit banjir Atas dasar: .Drainase perdesaan: 1:5 tahun .85 Unit hydrograph component: 1.5. Tabel 3. Paramater Pemodelan Rainfall – Runoff untuk wilayah Jawa Barat bagian utara Reservoir parameters UZTW UZFW LZTW LZFSW LZFPW Capacity (mm) 50 150 150 50 300 1 0 Initial Content (mm) 50 50 150 50 250 Depletion coefficient (1/day) 0.2) Pencemaran Sungai. Ketersediaan Air Permukaan dan Debit banjir Tabel 3. Standar dan Kriteria Pencemaran Sungai.Jakarta Flood Control Masterplan 1997: .JICA (Upper Citarum) menggunakan tingkat perlindungan 1:20 tahun. Klasifikasi Status Mutu Air Menurut Metode Indeks Pencemaran (IP) No Nilai IP Kategori/Kelas Status Mutu Air 1 0–1 Memenuhi baku mutu 2 1–5 Cemar ringan 3 5 – 10 Cemar sedang 4 >10 Cemar berat Sumber: Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air.080 0.95 Remaining parameter Crop=factor (non-irrigated areas): 0. halaman 85 . Parameter pemodelan Sacramento yang sudah dikalibrasi Permukaan dalam studi BTA 155 dapat dilihat dibawah ini.Drainase perkotaan lainnya : 1:25 tahun . Tabel 3.Drainase perkotaan setempat : 1:5 tahun .005 Percolation parameters ZPERC REXP Distribution parameters PFREE 0. sedangkan Paket C menggunakan tingkat perlindungan 1:5 tahun. Ketersediaan Air Permukaan dan Debit Banjir Kriteria dan Indikator/Parameter Standar Pencemaran  Baku mutu air: Sungai Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air  Status Mutu Air: Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air Ketersediaan Data seri waktu (time series) debit digunakan untuk mengetahui Air ketersediaan air.

9.8 L/det/ha : 3.0001.000.3.000 <20.3 Standar 1) Standar Perhitungan Kebutuhan Air Domestik dan Non-Domestik Tabel 3. 3) Standar Perhitungan Kebutuhan Air untuk Tambak Standar kebutuhan air tawar rata-rata (sesuai dengan SNI 19-6728.9 L/det/ha : 5.1.000 20.9 L/det/ha Dengan penggunaan air diperhitungkan dalam 1 tahun terdiri atas 2 musim maka.000 100.000 3000 liter/kapita/hari 190 170 150 130 100 30 Sistem Non Standar Non Standar Non Standar Standar BNA Standar IKK Standar DPP Catatan: Sumber: Untuk kebutuhan air non-domestik berkisar antara 15% sampai 40% dari total kebutuhan domestik (kecuali Kota Cilegon = 75% dari kebutuhan domestik).000.8.000-100. 1989 2) Standar Perhitungan Kebutuhan Air Irigasi a) Penetapan Jenis Tanaman dan Periode Pertumbuhan Tabel 3. Kementerian Pekerjaan Umum-Direktorat Jenderal Cipta Karya.000-500. Jenis Tanaman dan Periode Pertumbuhan Tanaman Panjang dari periode pertumbuhan Panjang dari periode tidak termasuk persiapan lahan tanam (# langkah waktu termasuk masa panen (# langkah ½ bulan) waktu ½ bulan) Padi SMV 7 2 Padi LMV 9 2 Palawija 7 1 Tebu 23 1 Catatan : Sumber: SMV = Short Maturing Variety (Varietas berumur pendek/Unggul) LMV = Long Maturing Variety (Varietas berumur panjang/Non-Unggul) BTA-155 (1989) b) Kebutuhan pra-jenuh sama dengan 200 mm untuk tanaman padi pertama (awal musim hujan) dan 150 mm untuk tanaman padi berikutnya. konsumsi air untuk tambak diperhitungkan 7 mm/hari.000 500. halaman 86 . Standar Perhitungan Kebutuhan Air Domestik Kategori Kota Kota metropolitan Kota Besar Kota Kota Kota Kota Desa Sedang Kecil kecamatan Pusat Pertumbuhan/ Jumlah Penduduk > 1.1-2002) adalah:    Tambak sederhana Tambak semi intensif Tambak intensif : 0. Tingkat kehilangan di kisaran 25 – 30% Petunjuk Teknis Perencanaan Rancangan Teknik Sistem Penyediaan Air Minum Perkotaan.

4 Analisis 3. kawasan suaka alam.10. (d) penataan prasarana dan sarana sanitasi. yakni pertama masalah kemiskinan akibat dari ketimpangan pembangunan antara Hulu-Hilir. (c). sebagai berikut: Qf = f. Cs dimana: Qf : f : drainase. (h) rehabilitasi hutan dan lahan.1 Analisis Konservasi Sumber Daya Air 1) Analisis Konservasi DAS Konservasi sumber daya air adalah upaya memelihara keberadaan serta keberlanjutan keadaan. (f) pengendalian pengolahan tanah di daerah hulu. sifat. Kategori Perikanan dan Persyaratan Flushing rate dan Salinitas Jenis Tambak Intensif Semi-Intensif Tradisionil Sumber: Hasil Analisis Ribasim Flushing Rate (mm/hari) 13 7 0 Salinitas (mm/hari) 23 23 35 3. (b) pengendalian pemanfaatan sumber air.D.4) Standar Perhitungan Kebutuhan Air untuk Flushing Kebutuhan flushing di WS 6 Ci dihitung dengan mengacu rumus pendekatan pada laporan studi BTA -155 (tahun 1989). Penyebab utama kerusakan DAS hulu terdiri dari dua faktor utama.A/86.1. faktor koreksi (%) retensi pollutant di fasilitas sanitasi dan saluran keluaran pollutant (gr BOD/capita/hari). (g) penataan daerah sempadan sumber air. E : D : A : Cs : kebutuhan air untuk flushing (m3/detik). Perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan melalui: (a) pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air dan daerah tangkapan air.4. (i) pelestarian hutan lindung. Kerusakan DAS hulu tercermin dari bertambahnya persentase lahan kritis di suatu DAS. Baku mutu BOD (mg/l) 5) Standar Perhitungan Kebutuhan Air untuk Perikanan (tambak) Kebutuhan air untuk perikanan (tambak) yang digunakan dalam perhitungan DSS-Ribasim untuk WS 6 Ci sebagai berikut: Tabel 3.1. pemulihan air pada sumber air.400.E. dan kawasan pelestarian alam. (e) perlindungan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan pembangunan dan pemanfaatan lahan pada sumber air. dan fungsi sumber daya air agar senantiasa tersedia dalam kuantitas dan kualitas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup pada masa sekarang dan akan datang. kepadatan penduduk di catchment area (capita/km2). halaman 87 . catchment area (km2).

5.79-0. a. dan C di DAS Ciliwung Hulu (Katulampa) Sumber: BP DAS (diolah) 2010 halaman 88 . Perubahan KSR.4. Hal ini sejalan dengan naiknya nilai C. Peningkatan nilai KRS mencerminkan bertambahnya debit maksimum dan menurunnya debit minimum.dan kedua masalah okupasi kawasan resapan menjadi kawasan pemukiman dan wisata. Koefisien Ragam (KR) juga naik dari 0. KR.5. dan C dari tahun 2002-2006 dapat dilihat pada Gambar 3.67 (Jelek). Penurunan debit minimum menunjukkan berkurangnya aliran dasar (base flow) karena naiknya C dan berkurangnya fungsi resapan (recharge area) di DAS hulu. Sumber: BP DAS (diolah) 2010 Gambar 3.40-0. Gambar 3. Nilai koefisien ragam (KR) naik tajam dari 0. DAS Ciliwung Hulu Perubahan KRS.2 (Jelek). kondisi DAS Ciliwung hulu adalah: Angka KRS cenderung naik dari tahun 2002-2006 mulai dari 10-206 (Baik-Jelek). KR. dan C di DAS Citarum Hulu b. Perubahan KSR. Sedangkan nilai Koefisien Limpasan (C) relatif konstan pada nilai 0.54 (Sedang-Jelek).0. KR.5-1.66 . Berdasarkan kriteria BP DAS.90 (Jelek). Nilai Koefisien limpasan (C) juga cenderung naik dari 0. DAS Citarum Hulu (di stasion Nanjung) Koefisien Rejim Sungai (KRS) dari tahun 1974-2008 cenderung menaik dari 55105 (Sedang).

maka total erosi akan turun menjadi 16. koefisien ragam dan koefisien limpasan.6. Sumber: BP DAS (diolah) 2010 Gambar 3. KR.75 (sedang-jelek). dan C di DAS Cidurian-Cikande Peningkatan frekuensi banjir pada sungai tersebut di atas terjadi akibat adanya perubahan koefisien rejim sungai. jika pengelolaan baik + wana-tani lereng >40% non-hutan total erosi turun menjadi 10. Gambar 3. Areal dengan erosi berat-sangat berat (>180 ton/ha/thn) akan menurun dengan adanya perbaikan pengelolaan. Perubahan perentase areal setiap tingkatan erosi pada tiga kondisi pengelolaan di WS 6 Ci Sumber: BP DAS (diolah) 2010 halaman 89 . Perubahan KSR.7%.c. Perubahan luas areal dengan tingkat erosi berat-sangat berat (>180 ton/ha/thn) dan total erosinya dinyatakan pada Tabel 3.7 (jelek-jelek).3% dari kondisi pengelolaan jelek. nilai C rerata 0. Perubahan areal setiap tingkatan erosi pada ke 3 (tiga) kondisi pengelolaan tersebut digambarkan seperti pada Gambar 3.7. Jika dilakukan pengelolaan baik. nilai KR rerata 1.7-1.7. DAS Cidurian di stasion Cikande Pada periode tahun 1997-2008.40 bervariasi dari 0.37-0.54 bervariasi dari 0. nilai KRS rerata 282 bervariasi dari 39-601 (baikjelek).11.

216 152.7% halaman 90 .7 16.061 16.11.Tabel 3. Perubahan luas dan total erosi untuk tingkat erosi berat-sangat berat Luas dan Total erosi Areal Erosi Berat – Sangat Berat (ha) Total erosi (juta ton/thn) % erosi dari kondisi jelek Sumber: BP DAS (diolah) 2010 Pengelolaan Jelek 390.3 10.1 100% Pengelolaan Baik 68.646 24.3% Pengelolaan Baik+Wana-tani lereng >40% non-hutan 46.

8.Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 3. Tingkatan erosi (ton/ha/thn) pada kondisi pengelolaan jelek di WS 6 Ci halaman 91 .

Tingkatan erosi berat (ton/ha/thn) pada kondisi pengelolaan baik di WS 6 Ci halaman 92 .Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 3.9.

10. Peta Rencana Teknik Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RTkRHL) di WS 6 Ci halaman 93 .Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 3.

sehingga dugaan umur dead storage akan menjadi 34 tahun (beroperasi 1986-2020).8 juta m3 pada elevasi air +623 m dpl.5 juta m3/tahun. tingkat erosi lahan maksimal sekitar 15 juta m3/tahun (18 juta ton/tahun6). akan menghasilkan sedimentasi yang lebih kecil lagi sekitar 1. Sept 1989 Volume IX: Erosion Berat jenis sedimen 1.1 juta m3/tahun.3 juta m3/tahun). dan 13. Dengan cara pengelolaan baik tanpa harus melaksanakan agro-forestry pada lahan nonhutan lereng >40%. dan baik +agroforestry pada lahan non-hutan lereng >40%. maka dengan asumsi SDR 10%.12) menunjukkan bahwa pada kondisi pengelolaan jelek.0 juta m3/tahun). dicoba simulasi besarnya erosi lahan di daerah tangkapan waduk Saguling pada kondisi 3 tingkatan pengelolaan.4 juta m3/tahun).9 juta ton/tahun (14.2) Simulasi Sedimentasi di Waduk Saguling Waduk Saguling yang beroperasi pada sejak tahun 1986 dirancang dengan volume dead storage 257. memperlihatkan erosi lahan kurang dari18 juta ton/tahun sehingga sedimentasi di Saguling kembali pada kondisi awal (1.2 juta ton/tahun (11.2 ton/m3 halaman 94 . Dengan tambahan pelaksanaan agro-forestry pada lahan non-hutan lereng >40%. dan reservoir half lif e sekitar 294 tahun5. spillage level +643 m dpl. spilling volume 886. Hasil Simulasi Sedimentasi Daerah Tangkapan Air Saguling Sumber: Hasil Analisis 2010 Untuk mengembalikan tingkat sedimentasi 1. baik. Pengukuran volume waduk dari data tahun 1986 dan tahun 2004 dengan metoda bathymetri memperlihatkan angka laju sedimentasi di Saguling terjadi sebesar 8.9 juta m3. total erosi lahan berturutan sekitar 62. 5 6 Sumber: Cisadane-Cimanuk Integrated Water Resources Development (BTA-155).9 juta ton/tahun (52. Hasil simulasi (Gambar 3.11.1 juta m3/tahun. 16. Gambar 3.2 juta m3/tahun.5 juta m3/tahun maka umur dead storage sekitar 183 tahun. Dengan laju sedimentasi dugaan awal sebesar 1.

Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 3. Peta Potensi Erosi di Wilayah Hulu Waduk Saguling dengan Pengelolaan Jelek halaman 95 .12.

005 0.006 0.021 0. Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh masing-masing operator waduk.005 0. kadmium. Kecenderungan kadar logam berat yang meningkat dari tahun ke tahun merupakan indikasi adanya peningkatan buangan limbah industri di hulu waduk dan tanpa adanya pengolahan yang memadahi sehingga berdampak pada tingginya kandungan logam berat di waduk Saguling.733 2. Kualitas logam berat di titik pengamatan Nanjung .98 0.07 0.0009 0 0 0.04 0.01 0.3 0.005 0.002 Krom hexavalen 6 mg/l 0.42 0 0. krom (IV).006 8 Timbal (Pb) mg/l 0 0. Saguling 5.156 0.067 0. arsen.002 0.06 0.098 0.007 0.006 0.06 0.023 0 9 Arsen (As) mg/l 0. Sumber pencemar utama adalah limbah berasal dari industri yang berada di Nanjung dan sekitarnya serta industri yang berada di sekitar kota Bandung. a.021 0. Parameter logam berat yang menjadi pembatas adalah golongan besi.5953 1.02 0.010 0.3 1 0.01 0.42 0.006 0.000 0. yaitu PT Indonesia Power (Saguling).1 Besi (Fe) mg/l 0.0149 0 2009 2010 BM kelas 1* 0.007 0.3) Analisis Konservasi Kualitas Air Evaluasi kadar logam berat pada tiga waduk yang berada di sungai Citarum dimaksudkan untuk mengetahui kelayakan air waduk tersebut bila digunakan sebagai air baku air minum.07 12 Mangan (Mn) mg/l 0.069 0.01 0. dan mangan (Tabel 3.04 10 Selenium (Se) mg/l 0.006 0 0 0 (iV) 7 Kadmium (Cd) mg/l 0.53 0.2 BM: Baku Mutu Kelas I PP Nomor 82 Tahun 2001.84 0.006 0.13.98 2.05 0. boron.092 0. PT Pembangkit Jawa Bali (Cirata) dan PJT II (Jatiluhur) menunjukkan bahwa kadar logam di ke tiga waduk tersebut telah melebihi ambang batas kelas peruntukan air baku air minum (Kelas I /Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001) sehingga air pada ke tiga waduk tersebut tidak layak digunakan sebagai sumber air baku air minum.09 0.010 0.01 1 0.0009 0. nikel.011 0.12).27 0.098 0.055 0.7 2008 2.0047 0 0 0.0059 0.0312 0.12.46 0.6 5.291 0 0. Fluktuasi dan trend kadar logam berat pembatas disajikan pada Gambar 3. seng.19 Nikel (Ni) mg/l 0 0.006 11 Boron (B) mg/l 0.002 0.054 0.05 0. selenium.98 0.002 0.9938 0.inlet waduk Saguling (2000-2010) No 1 2 3 4 5 Parameter Satuan 2000 max Level 2001 2003 2004 2005 2006 3.03 0.06 0.011 0. tembaga.05 0.0012 0.006 0.035 0.5238 0. Data hasil pengamatan kadar logam berat menunjukkan fluktuasi dengan kecenderungan (trend) meningkat dari tahun 2000 sampai tahun 2010.1049 0.4 0. timbal.011 0 0. #: Standar WHO 1993 Sumber: PT Indonesia Power.01 Seng (Zn) mg/l 0.300 0.05 0.000 0 0 0 Tembaga (Cu) mg/l 0. Waduk Saguling Tabel 3.0005 0.814 0 0 0.1 0.01 0.75 Raksa (Hg) ppb 0. Keberadaan logam berat di dalam air baku sangat penting diketahui karena selain berbahaya bagi kesehatan juga pengolahannya sulit dilakukan bila kandungannya melebihi batas ambang yang diperkenankan.24 0.8 5.14 0 0 0.008 0.0027 0.1918 halaman 96 . raksa.

seng. Hasil analisa menunjukkan data fluktuatif dengan trend yang berbeda di antara masingmasing parameter pembatas (Gambar 3.14). nikel. Besi dan tembaga menunjukkan data yang fluktuatif dengan kecenderungan yang meningkat. Fluktuasi kadar dan trend logam berat di titik Nanjung (Inlet waduk Saguling) b. yaitu besi. muara Sungai Citarum di Waduk Cirata (Inlet waduk) dari data 2007-2010 (Tabel 3.13). raksa dan kadmium. seng.Catatan: : memenuhi baku mutu : melebihi baku mutu Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 3.13. tembaga. Berdasarkan data maksimum yang terjadi pada sepanjang waktu pengamatan tiap tahun oleh PT PJB menunjukkan bahwa terdapat 6 parameter logam berat di antara 12 parameter logam berat yang dianalisa telah melebihi baku mutu kelas I. timbal dan kadmium menunjukkan trend yang menurun. nikel. timbal. Sebaliknya. Waduk Cirata Evaluasi kadar logam berat di waduk Cirata dilakukan di titik pengamatan nomor 6. Raksa terindikasi halaman 97 .

0232 0.561 2.01 0. Parameter Satuan mg/l ppb mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l 2007 0.336 BM Kls I 0.001 0.1 1 Besi (Fe) 2 Raksa (Hg) 3 Nikel (Ni) 4 Tembaga (Cu) 5 Seng (Zn) 6 Krom hexavalen (iV) 7 Kadmium (Cd) 8 Timbal (Pb) 9 Arsen (As) 10 Selenium (Se) 11 Boron (B) 12 Mangan (Mn) BM: Baku Mutu Kelas I PP nomor 82 Tahun 2001 Sumber : PT Pembangkit Jawa Bali.005 0.301 2010 1.05 0.534 0.337 0 0.0306 0.079 0.03 0.054 0.013 0.1359 0 0.059 0.0014 0.096 0.0022 0.002 0. Tabel 3.001 0.0163 0.14 0.007 0.14.01 0.075 0.09 0.016 0. Cirata.644 0.02 0.3 1 0.13.melebihi baku mutu kelas I sebesar dua kali lipat (2.02 0.03 0.009 0. Kadar logam berat di titik 6 muara Sungai Citarum di waduk Cirata (20072010) No.09 ppb) hanya pada waktu pengamatan tahun 2007.05 0.0422 0.2649 0. Fluktuasi dan trend kadar logam berat di waduk Cirata (titik 6) halaman 98 . namun pada tahun berikutnya nilainya memenuhi baku mutu kelas I dan menunjukkan trend yang menurun tajam.09 0 0.575 0.064 0.0195 0.377 2008 1.371 2009 0. Catatan: : memenuhi baku mutu : melebihi baku mutu Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 3.01 1 0.264 0 0.057 0.021 0 0 0.24 0.05 0.104 0.

3 Mangan (mg/l) 1 2002 0.15. Sedang kadar mangan di outlet juga menunjukkan indikasi yang sama yaitu lebih tinggi dibanding di inlet dengan kecenderungan meningkat yang lebih tinggi. Jatiluhur.23 1.27 0.41 0.3 7 2008 0.08 0.04 0.89 0. Data tahun 2002-2008 menunjukkan bahwa hanya parameter mangan dan besi di inlet maupun outlet waduk Jatiluhur telah melampaui baku mutu kelas I.15) evaluasi dilakukan berdasarkan data sampling di waduk. Kadar besi dan mangan di inlet dan outlet waduk Jatiluhur (2002 – 2008) No. Kadar besi maupun mangan berfluktuasi dan mengindikasikan kecenderungan yang meningkat dari tahun 2002 hingga 2008 (Gambar 3. Baku Mutu Kelas I PP Nomor 82 Tahun 2001 Tabel 3.05 0. khususnya di waduk sebanyak 11 (sebelas) lokasi sejak tahun 2009. Tahun Inlet Outlet BM Kls I Besi (mg/l) 1 2002 0.05 Sumber: Perum Jasa Tirta II.3 6 2007 0.3 2 Mangan (Mn) mg/l 0.77 0.1 Sumber: Perum Jasa Tirta II.1 4 2005 0.27 0. Tabel 3.3 4 2005 1. Parameter Unit 2009 2010 BM Kls I 1 Besi (Fe) mg/l 0. Evaluasi data 2002-2008 (Tabel 3.1 5 2006 0.3 0.33 0.c. mangan dan seng) di waduk Jatiluhur (2009-2010) No.3 3 2004 0.78 4.1 7 2008 0.1 3 2004 0. Jatiluhur. Kadar logam berat (besi.3 5 2006 1.1 3 Seng (Zn) mg/l 0.1 6 2007 0.08 0.34 0.56 0.13 0.08 0. Mangan (Mn) dan Seng (Zn).3 0.33 0.12 0.15).36 0. Kadar besi di outlet cenderung lebih tinggi dan memiliki kecenderungan meningkat yang lebih tinggi dibanding dengan di inlet.53 0. Sedang tahun 2009-2010 (Tabel 3.92 3.14) merupakan hasil monitoring kualitas air di titik pengambilan sampel inlet dan outlet waduk. Pengelompokan ini dikarenakan adanya perubahan/penambahan lokasi sampling.3 2 2003 0. Baku Mutu Kelas I PP Nomor 82 Tahun 2001 Secara umum.35 0. hasil pengamatan data kadar logam berat di waduk Jatiluhur menunjukkan bahwa telah terjadi pencemaran oleh besi (Fe).49 0.1 2 2003 0.25 0. Hal ini dimungkinkan akibat adanya pembuangan halaman 99 .14 0.22 0. Waduk Jatiluhur Evaluasi kadar logam berat di waduk Jatiluhur dilakukan berdasarkan 2 (dua) kelompok data maksimum terpilih dari hasil monitoring tahun 2002-2008 dan 2009-2010.14.05 0.38 0.52 0.5 1.43 0.23 0.

Dari data monitoring masing-masing waduk. kecuali dilaksanakan pengolahan dengan biaya operasional yang relatif mahal. Cirata dan Jatiluhur menunjukkan bahwa air waduk telah tercemari logam berat dimana kadar logam berat telah melebihi baku mutu kelas I (PP Nomor 82 Tahun 2001) sehingga dapat disimpulkan bahwa air waduk tidak layak untuk memenuhi kebutuhan air baku air minum. Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 3. Pekerjaan Umum .16. Perkotaan. yaitu Saguling. 1998. yaitu beberapa anak sungai Citarum yang masuk ke waduk Jatiluhur.2 Analisis Pendayagunaan Sumber Daya Air 1) Analisis Kebutuhan Air Dengan menggunakan asumsi kebutuhan air bersih per kapita dan peningkatan standar hidup masyarakat. maka diperoleh angka kebutuhan air untuk keperluan RKI di WS 6 Ci sebagaimana disajikan pada Tabel 3. Berdasarkan hasil perhitungan “Ribasim” dengan menggunakan data jumlah penduduk (Podes tahun 2008 dan proyeksi tahun 2030). Kebutuhan Air untuk RKI (Rumah Tangga. perkotaan dan Industri (RKI) berdasarkan standar Petunjuk Teknis Perencanaan Rancangan Teknik Sistem Penyediaan Air Minum Perkotaan. Fluktuasi Kadar besi dan mangan di waduk Jatiluhur (2002-2008) 3. Industri dan Pariwisata) halaman 100 . a. serta mempertimbangkan akan perkembangan sektor jasa dan industri.4. maka diperkirakan pada 20 tahun mendatang kebutuhan air bersih akan meningkat lebih 50%.15.1.limbah industri yang mengandung logam berat dari inlet waduk lain. dan besaran kebutuhan air untuk keperluan rumah tangga.Dirjen Cipta Karya.

883. Berdasarkan hasil perhitungan “Ribasim” dengan menggunakan data luasan sawah yang ada (2010) dan proyeksi untuk tahun 2030.645.39 154. Kebutuhan Air RKI di WS 6 Ci (termasuk kebutuhan untuk pariwisata) Kebutuhan air untuk RKI Wilayah m3/det 3 Ci 2 Ci 1 Ci Total 10.165.794 62.024 20.615.67 3.432 ha per-tahun.67 4. Perkotaan.64 2030 Juta m3/thn 499.12 2.16 dan Tabel 3.21 2.485 73. Dalam kurun 1989-2010 lahan sawah di WS 6 Ci menunjukkan penyusutan luas sebesar 135.07 4.Tabel 3.16. Penyusutan lahan ini terutama terjadi dari lahan sawah beririgasi Teknis.303.502 34.16.83 91. Kebutuhan Air untuk Irigasi Kebutuhan air untuk irigasi dan pertanian di WS 6 Ci saat ini merupakan kebutuhan yang paling dominan jika dibandingkan dengan kebutuhan air untuk keperluan lainnya misalnya untuk Rumah Tangga.970.164.549. Kebutuhan Air Irigasi di WS 6 Ci halaman 101 .93 m3/det 15.909 123. Pada masa akan datang kondisi ini akan terus berlangsung.42 47. yaitu seluas kurang lebih 100 ribu ha. Industri (RKI) dan tambak.866 7.19 1. maka diperoleh angka kebutuhan air untuk irigasi di WS 6 Ci seperti disajikan pada Gambar 3.688 27.294 48.894.423 2010 Juta m3 /thn 333.548.029 39.877. Sumber: Hasil Analisis Ribasim.320 Jumlah Penduduk*) 2010 2030 Sumber: *) Hasil pengolahan data Podes 2008 b.14 1.494.17.258. walaupun terjadi penurunan luas lahan sawah. sedangkan dari lahan sawah beririgasi semi-teknis (termasuk sawah irigasi sederhana) seluas kurang lebih 35 ribu ha.884 15. 2010 Gambar 3.328.066 ha atau sekitar 6.

1.81 33.37 m3/dt 11. Saguling dan Djuanda) melalui PLTA.525 268. Tabel 3.355 348.19 dan Gambar 3.99 37.59 Total WS 6 Ci 78.925 3 105 4 116 1 Ci 39.180. maka diperoleh angka kebutuhan air untuk perikanan (tambak) di WS 6 Ci pada Tabel 3.02 35.09 1.42 Sumber: Hasil Analisis Ribasim.639 m3/dt 15.28 580.714 99.41 124. Tabel 3. Kebutuhan Air untuk Perikanan Berdasarkan hasil perhitungan “Ribasim” dengan menggunakan data luasan tambak yang ada (2010) dan proyeksi untuk tahun 2030. e.17.141 55.311 49. 2010 d.2 (Kriteria) diperoleh kebutuhan air untuk keperluan penggelontoran setiap tahunnya (pemeliharaan sungai di WS 6 Ci) sebesar kurang lebih 78 m3/detik.175.68 juta m3/th 365.44 164.155 28 896 31 986 Sumber: Hasil Analisis Ribasim 2010 halaman 102 .17 4. 2010 c. Kebutuhan Air Perikanan (Tambak) di WS 6 Ci Luas Tambak (Ha) Kebutuhan Air untuk Tambak Wilayah 2010 2030 2010 2030 m3/dt Juta m3/th m3/dt juta m3/th 3Ci 5.76 5.Tabel 3.860.17. Kebutuhan Air untuk Penggelontoran Wilayah Penggelontoran 2010 m3/s 3 Ci 2 Ci 1 Ci 9.292 43.54 Kebutuhan Air untuk Irigasi 2010 2030 juta m3/th 504.386 5. Kebutuhan Air Irigasi di WS 6 Ci Luas sawah Irigasi Wilayah 3 Ci 2 Ci 1 Ci Total 2010 (ha) 45.878.704 493. Untuk menambah ketenagaan dapat dilakukan melalui studi identifikasi pada waduk baik di waduk Karian (3 Ci) yang direncanakan pembangunannya dan beberapa waduk berpotensi di 2 Ci dan 1 Ci dengan pengembangan mikro-hidro.803 351.12 217.932.51 6.221 22 701 24 771 Total 50.773 2030 (ha) 33.009 3 90 3 99 2Ci 5. Kebutuhan Air untuk Pemeliharaan Sungai/Penggelontoran Berdasarkan rumus yang tertera di sub-bab 3.07 Sumber: Hasil Analisis Ribasim.62 3. Kebutuhan Air untuk Ketenagaan Pemanfaatan sumber air untuk mendukung ketenagaan telah memanfaatkan 3 waduk di 1 Ci (Waduk Cirata.19.463 6.18.59 18.69 154.

18. Total kebutuhan untuk RKI dan untuk irigasi dapat dipenuhi sepanjang tahun. Periode tersebut. sedangkan pada bulan-bulan lainnya berlangsung musim kemarau.18).Sumber: Hasil Analisis Ribasim Gambar 3. 2010 Gambar 3. debit sungai sangat tinggi jika dibandingkan dengan debit pada bulan-bulan lainnya. Kebutuhan air di wilayah ini tidak bervariasi mencolok antara musim hujan dengan musim kemarau.19). di WS 6 Ci berlangsung musim hujan.17. Sumber : Hasil Analisis Ribasim. Kebutuhan Air Perikanan (Tambak) di WS 6 Ci 2) Analisis Neraca Air Ketersediaan air di WS 6 Ci bervariasi menurut waktunya (Gambar 3. Debit aliran sungai pada suatu bulan sangat dipengaruhi oleh tingginya curah hujan yang terjadi di DAS. Neraca Air untuk WS 6 Ci Tahun 2010 Untuk 3 Ci. Hal tersebut terkait dengan kondisi musim yang berlangsung di wilayah ini. halaman 103 . ketersedian air berlebih jika dibandingkan dengan kebutuhan (Gambar 3. Dari bulan Oktober hingga bulan Mei.

Sistem ketersediaan air di sini bersifat interkoneksi dengan sistem dari DAS tetangga. Akan tetapi di sini “re-use water” belum dipertimbangkan dalam pemenuhan kebutuhan air. jumlah air tersedia di wilayah ini tidak hanya berasal dari DASnya sendiri tetapi sebagian berasal dari DAS lain. Pada pertengahan tahun kekurangan air terjadi. Pada musim kemarau ketersediaan air relatif masih tinggi.19. Di 2 Ci. Artinya.20. Dengan interkoneksi tersebut menjadikan pola tersedianya air sepanjang tahun akan lebih datar. Neraca Air untuk 3 Ci Tahun 2010 Perbandingan ketersediaan air sebagai runoff total terhadap curah hujan untuk wilayah ini sekitar 60%. Untuk 2 Ci. Sumber : Hasil Analisis Ribasim. kondisi ketersedian airnya bersifat tidak mandiri. Neraca Air untuk 2 Ci Tahun 2010 halaman 104 . kebutuhan air didominasi oleh kebutuhan untuk RKI (Gambar 3. utamanya dari DAS Citarum dengan waduk Jatiluhur melalui WTC. 2010 Gambar 3. 2010 Gambar 3.Sumber : Hasil Analisis Ribasim. bersamaan pula dengan menurunnya ketersediaan air untuk irigasi di wilayah Citarum.20).

Di 1 Ci kebutuhan air untuk irigasi mendominasi sangat signifikan dibandingkan dengan kebutuhan RKI karena di wilayah ini terdapat sistem irigasi teknis dengan sawah seluas lebih dari 200.000 ha (Gambar 3.21). baik untuk irigasi. Akan tetapi pada beberapa lokasi tertentu terjadi kekurangan air irigasi maupun RKI. terlihat masih surplus. Kekurangan air yang terjadi pada akhir musim tersebut. jika ditinjau secara ruang dan waktu (dalam hal ini skala distrik air dan waktu perhitungan timestep dua mingguan selama kurun waktu perhitungan) menunjukkan adanya kekurangan air di tempat-tempat tertentu. perkotaan maupun industri. rumah tangga.21. 2010 Gambar 3.22. ditinjau dari total ketersediaan air (dari curah hujan) dan total kebutuhan air di seluruh WS 6 Ci seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3. dan juga kualitas airnya secara umum sudah tercemar selain tersedia atau tidaknya lokasi untuk menampung sumber air tersebut (potensi waduk).Perbandingan ketersediaan air sebagai runoff total terhadap curah hujan tahunan untuk kedua wilayah (1 Ci dan 2 Ci) sekitar 70%. biasa disiasati petani dengan (1) dengan menggunakan “re-use water” dan (2) pemberian air secara gilir-giring. Namun demikian. dalam praktek di lapangan. Neraca Air untuk 1 Ci Tahun 2010 Berdasarkan neraca air/analisis keseimbangan di WS 6 Ci. halaman 105 . sedangkan untuk musim tanam II dimulai sekitar bulan Maret. Secara umum sumber air permukaan yang ada di WS 6 Ci relatif cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Air irigasi mulai dibutuhkan ketika musim taman padi I dimulai yakni pada pertengahan September. Sumber : Hasil Analisis Ribasim. Ketersedian air menurun menjelang berakhirnya musim tanam terakhir pada musim kemarau.

halaman 106 .22.24 adalah skema distribusi air rata-rata WS 6 Ci.23) menunjukkan penurunan kebutuhan air untuk irigasi.23.68 154.Gambar 3. Perkiraan Ketersediaan dan Kebutuhan Air di WS 6 Ci Tahun 2030 Sumber: Hasil Analisis Ribasim Secara umum kecenderungan tingkat kebutuhan air pada tahun 2010-2030 (Gambar 3. maka pemakaian air tanah dalam akan dibatasi.65 Tahun 2010 217. sedangkan tingkat kebutuhan air untuk RKI meningkat.54 123. kemungkinan adanya peralihan di sekitar Cilegon-Serang. 2030 154. terutama terjadi di wilayah Jakarta dan Cekungan Bandung. Hal ini terjadi fungsi lahan pertanian oleh pesatnya Jabodetabek dan Metropolitan pertumbuhan kota terutama terjadi pada wilayah di sekitar pusat pertumbuhan Metropolitan Cekungan Bandung.5 0 50 100 150 Irigasi 200 RKI 250 300 350 400 Sumber: Hasil Analisis Ribasim Gambar 3. Gambar 3. yang artinya pemenuhan kebutuhan RKI harus diganti dan dipenuhi dari air permukaan. Tingkat Kebutuhan Air Irigasi dan RKI di WS 6 Ci (2010-2030) Kekurangan air untuk memenuhi kebutuhan air RKI akan menjadi isu yang penting di masa mendatang. Karena adanya permasalahan pengambilan air tanah yang melampaui batas.

31.34.Lokasi kekurangan air untuk pemenuhan kebutuhan RKI dan kebutuhan irigasi pada tahun 2010 masing-masing diilustrasikan pada Gambar 3.35. Untuk memenuhi kebutuhan air tersebut diusulkan adanya pembangunan waduk baru maupun peningkatan dan pemanfaatan waduk yang ada saat ini seperti diusulkan pada Gambar 3. halaman 107 .23% dari total kebutuhan air (defisit dibagi kebutuhan) dan diperkirakan akan meningkat menjadi 19.24 sampai dengan Gambar 3.33 dan Gambar 3.49% di tahun 2030 jika tidak dilakukan upaya penanganan.32 dan Gambar 3. sedangkan untuk tahun 2030 kekurangan air untuk pemenuhan kebutuhan irigasi dan kebutuhan RKI masing-masing diilustrasikan pada Gambar 3. Besarnya kekurangan air pada tahun 2010 sebesar 13.

24.Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 3. Skema WS 6 Ci halaman 108 .

Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 3. Kebutuhan Air 2010 halaman 109 .25.

1 19.246 ha) Lebak.600ha) ha) DI Cidurian (10. Skema Strategi A Pemenuhan Kebutuhan Air pada Skenario 1 halaman 110 .26.089 ha) Cengkareng Drain: 1 Banjir Kanal Barat: 2 Bekasi DKI Jakarta DI Jatiluhur Utara (90.280 ha) DI Cisadane (22.5 Krukut: 0.5 2 Santosa Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 3.4 15.564 ha) Tangerang 2 9. Cilegon 2 Krenceng Unregulated: Cidanau 7.6 Depok DI Jatiluhur Timur (83.8 4 Unregulated: -Katulampa -Empang Cirata Keterangan: : Kebutuhan Air : Daerah Irigasi : Reservoir existing : unregulated sumber penyediaan air : Reservoir potensial (RTRW) : Skenario 1 : Skenario 1 (or) Saguling Bandung 22.97 DI Ciujung (21.6 Karian 13.9 5.504 ha) DI Jatiluhur Barat (62.3 Jatiluhur Unregulated: Cisadane Cipancuh Unregulated: Ciujung Bogor (kab.0 41.271 (15.Serang.7 5.2 3 1. Pandeglang 2.7 Karawang Purwakarta Subang 2 14.9 3 5 3.-kota) 18.6 Pesanggrahan : 0.

27. Skema Strategi B Pemenuhan Kebutuhan Air pada Skenario 2 halaman 111 .Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 3.

Skema Strategi C Pemenuhan Kebutuhan Air pada Skenario 3 halaman 112 .Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 3.28.

Skema Strategi D Pemenuhan Kebutuhan Air pada Skenario 4 halaman 113 .29.Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 3.

1. Hal ini disebut sebagai "pengelolaan banjir" dengan menyadari bahwa banjir tidak dapat dicegah sama sekali. Nilai kerusakan adalah hasil dari perkalian tingkat kerawanan dan jumlah peristiwa. atau mengurangi pembangunan yang merugikan di muara sungai. Solusi yang lebih berkelanjutan dan lebih murah adalah konservasi daerah tangkapan air di hulu. Ketika ada penduduk yang tinggal pada tempat tersebut. Siklus tersebut dimulai dengan investasi di suatu daerah rawan banjir sehingga terjadi kerusakan saat banjir terjadi. sementara perhatian kepada penyebab banjir dan alternatif terpadu untuk mencegah kerusakan kurang diperhatikan.3. dan merupakan hasil siklus dari pembangunan-kerusakan-perlindungan. disebabkan karena nilai investasi pada daerah rawan banjir yang terus bertambah sehingga kerugian akan menjadi lebih besar pada daerah genangan yang sama.3 Analisis Pengendalian Daya Rusak Air 1) Bencana Banjir Kerusakan akibat banjir tiap tahun meningkat. meskipun banyak upaya yang telah berhasil mengurangi kerusakan pada daerah-daerah tertentu. Sangat sering strategi pengendalian banjir mengandalkan hampir seluruhnya pada pembangunan infrastruktur. mengakibatkan kerusakan dan memicu perlindungan banjir yang lebih besar lagi. Peristiwa banjir pada daerah yang tidak berpenghuni tidak akan menyebabkan kerusakan. penyediaan alternatif yang memadai bagi penduduk (yang kebanyakan miskin) yang merambah dataran banjir dan bantaran sungai. dengan mempertimbangkan upaya struktural dan nonstruktural. dan seterusnya. Hal ini tentunya berlaku untuk WS 6 Ci. halaman 114 . maka akan terjadi kerugian akibat banjir. dan kebanyakan tidak mengarah ke solusi yang berkelanjutan. Pengendalian banjir biasanya merupakan pendekatan yang paling mahal. hal ini terus berlanjut dengan investasi baru yang lebih besar. Suatu pendekatan yang lebih murah berfokus pada mitigasi kerusakan banjir bukannya perlindungan banjir. Kerawanan terhadap kerugian banjir sebagian besar merupakan akibat dari pilihan dan tindakan manusia sendiri bukan akibat dari bencana alam semata.4. Hal ini sering menyebabkan biaya yang terlalu besar. kemudian memicu pembangunan perlindungan banjir. dan mereka tidak siap (rentan) terhadap banjir.

termasuk permasalahan teknis. halaman 115 . Hubungan dan Hierarki Pengelolaan Bencana Banjir Semua aspek.Fokus seharusnya diarahkan kepada upaya seperti:    Menciptakan kerjasama hulu-hilir dalam pengelolaan DAS. melainkan berusaha untuk mengelola dan menyesuaikan diri dengan banjir.  Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 3. lingkungan. Dengan demikian tidak hanya berusaha untuk mencegah kejadian banjir. dan bahkan untuk mendapatkan manfaatnya bila memungkinkan. kelembagaan. Penguatan kapasitas pemerintah daerah dalam perencanaan dan pengelolaan penggunaan lahan. Pengelolaan banjir merupakan strategi untuk mendukung penduduk agar dapat beradaptasi dengan banjir. sosial dan finansial harus diperhitungkan. serta sekaligus menekankan pembatasan penggunaan lahan.30.   Pengendalian penebangan pohon serta melaksanakan konservasi tanah dan penggunaan lahan berkelanjutan pada daerah tangkapan air di hulu. Meningkatkan kesiapan terhadap banjir serta menciptakan asuransi kerugian banjir dan sistem kompensasi antar-masyarakat sebagai bagian dari perencanaan pengelolaan banjir. Pengembangan lahan marjinal. untuk mengurangi dampak negatifnya. Bantuan kepada penduduk. industri dan perdagangan dalam membuat keputusan yang lebih baik dalam memilih lokasi dan penataan rumah dan bisnis mereka untuk menghindari kerawanan terhadap kerugian banjir.

31. Peta Kawasan Rawan Banjir halaman 116 .Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 3.

yang sumber airnya diambil dari sungai Cisadane. WD 412. kekurangan air untuk memenuhi kebutuhan irigasi di 3 Ci terjadi di distrik air (Water District) 109 yang merupakan distrik air DI Ciujung bagian Barat dan distrik air 112 DI Cicinta. 121 yang merupakan wilayah pusat pertumbuhan Cilegon .2) Kekurangan Air/Kekeringan Berdasarkan analisis Ribasim. Kekurangan air 3 Ci akan terjadi pada distrik air 116.Serang. Karena adanya permasalahan air tanah terutama terjadi di wilayah Jakarta dan Cekungan Bandung.6 %. dengan kondisi prasarana air tetap seperti sekarang ini dan tingkat kebutuhan air pada tahun 2030 menunjukkan adanya kekurangan air di distrik air tertentu yang sebarannya terlihat pada Gambar 3. Beji.33 untuk kekurangan kebutuhan air irigasi tahun 2010 dan tahun 2030. Cibinong) yang merupakan pusat pertumbuhan di wilayah Tangerang. maka pemakaian air tanah dalam akan dibatasi. Hasil simulasi Ribasim. Tigaraksa. Pada wilayah DKI Jakarta (distrk halaman 117 . Kekurangan pada distrik air 112 sebesar 11 % yang bersumber pada sungai Cidurian dan distrik air 202 dengan kekurangannya sebesar 21. WD 424. Kekurangan air di 2 Ci terjadi di distrik air 202 (Tenjo. sedangkan defisit yang terjadi pada distrik air 434 disebabkan oleh terbatasnya kapasitas dari waduk Cipancuh.32 dan Gambar 3. Sukmajaya. Balaraja). WD 406. yang berasal dari Kali Pesanggrahan. WD 407. dengan persentase tingkat kekurangannya terhadap kebutuhannya mencapai 18. Di 2 Ci kekurangan air terjadi di distrik air 213. WD 438 disebabkan oleh aliran sungai yang rendah pada musim kemarau.34 dan Gambar 3. Defisit juga terjadi pada distrik air 330. Kekurangan air untuk memenuhi kebutuhan air RKI menjadi isu yang penting di masa mendatang. Di 1 Ci kekurangan air di distrik 319 terutama terjadi pada saat aliran rendah sungai Cikarang dengan defisit air 1% dari total kebutuhan air irigasi. Saat ini pasokan air untuk wilayah tersebut berasal dari sungai Cidanau dan sebagian berasal dari sungai Cibanten. WD 422.7% yang dipasok dari sungai Cimanceuri.35 menunjukkan kekurangan kebutuhan air RKI. Cikupa. distrik air 230 (Bojong Gede. yang artinya pemenuhan kebutuhan RKI akan dipenuhi dari air permukaan. kekurangan tersebut disebabkan oleh kurangnya kapasitas air baku. Pancoran Mas. dan pada Gambar 3.

WD 422.70 m3/det DKI Jakarta sebesar 41. WD 329.       Kabupaten dan kota Tangerang sebesar 19. WD 232. Perhitungan neraca air dilaksanakan dengan menggunakan piranti lunak Ribasim.00 m3/det Kota Karawang-Purwakarta-Subang sebesar 13.50 m3/det  halaman 118 . Kekurangan air juga akan terjadi di distrik air di Cekungan Bandung (distrik air 306. WD 328. sehingga jumlah seluruhnya adalah sebesar 10. Perhitungan kebutuhan air RKI menghasilkan besaran kebutuhan air pada tahun 2030 untuk berbagai lokasi pusat kegiatan sebagai berikut: Daerah kekurangan air RKI berdasarkan Kelompok kota untuk tahun 2030 dapat diringkas sebagai berikut:  Kabupaten dan kota Serang-Cilegon sebesar 7. 60 m3/det Kota Depok sebesar 5. WD 219. sebagian Kabupaten Pandeglang dan Lebak memerlukan air RKI sebesar 2. WD 228) kekurangan air karena kurangnya kapasitas pembawa WTC untuk pasokan air Jakarta. WD 321. WD 324). WD 220.80 m3/det Kabupaten dan kota Bekasi sebesar 15.60 m3/det.3 m3/det Kota Bandung dan sekitarnya sebesar 22. WD 221.57 m3/det.70 m3/det Kabupaten dan kota Bogor sebesar 18.air 217.97 m3/det. WD 323.

Peta Kekurangan Air Irigasi tahun 2010 halaman 119 .Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 3.32.

Peta Kekurangan Air Irigasi tahun 2030 halaman 120 .33.Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 3.

Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 3. Peta Kekurangan Air RKI tahun 2010 halaman 121 .34.

Peta Kekurangan Air RKI tahun 2030 halaman 122 .Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 3.35.

Namun demikian. Akibatnya pada bagian akhir dari jaringan irigasi sering mengalami kekurangan air.20. karena sebagian besar penduduk masih memanfaatkan air tanah (sumur dangkal). halaman 123 .Kekurangan air untuk kebutuhan irigasi dan RKI pada WS 6 Ci terjadi pada water district seperti terlihat pada Tabel 3. penyebab utama terjadinya kekurangan air irigasi di wilayah tersebut juga karena masih rendahnya efisiensi penggunaan air. Kekurangan Air Irigasi dan RKI Pada Water District (WD) Water District ID Wilayah Kekurangan Air untuk Irigasi Kekurangan Air untuk RKI 2010 2030 2010 2030 319 319 306 306 330 330 324 321 406 406 422 323 407 407 324 412 412 328 1 Ci 421 422 329 422 424 422 424 434 426 438 434 438 213 213 220 217 227 221 219 232 222 220 2 Ci 228 221 230 228 232 230 232 109 109 202 116 3 Ci 112 112 121 202 Sumber: Hasil Analisis 2010 Selain karena belum dimanfatkannya sumber air yang ada secara optimal. maka krisis/kekurangan air pada masa datang akan semakin mengkhawatirkan. antara lain Wilayah Metropolitan Jabodetabek dan Wilayah Metropolitan Bandung. sehingga sering terjadi pemberian air yang tidak terukur dan cenderung berlebihan pada bagian awal jaringan. Hal ini juga disebabkan oleh adanya kerusakan pada bangunan pengatur dan pengukur air. dengan asumsi bahwa penggunaan air untuk RKI seluruh sumber airnya berasal dari air permukaan. Tabel 3. terutama pada pusat-pusat pertumbuhan. terjadi pemborosan air dan pengambilan air yang tidak berijin. Apabila tidak dilakukan tindakan apapun. di lapangan kekurangan air RKI tersebut di atas relatif tidak terlalu signifikan.20.

maka diperlukan upaya pembangunan waduk potensial dan rehabilitasi jaringan distribusi guna menaikan effisiensi pengaliran dan upaya lainnya perlu dipertimbangkan. Hal ini terjadi karena adanya peralihan wilayah di sekitar pusat pertumbuhan Cilegon–Serang. bahaya gunung api dan gerakan tanah. pertanian seiring dengan pesatnya pertumbuhan kota. secara umum kebutuhan air untuk keperluan irigasi fungsi lahan Metropolitan cenderung menurun. Gambar 3.36 memperlihatkan peta kawasan rawan bencana lain di WS 6 Ci seperti longsor. Untuk mengatasi krisis air tersebut di atas. 3) Bencana Lainnya Selain bencana yang disebutkan di atas.Pada tahun 2030. gempa. sedangkan tingkat kebutuhan air untuk keperluan RKI cenderung meningkat. terutama terjadi pada Jabodetabek dan Metropolitan Cekungan Bandung. halaman 124 .

Peta Kawasan Rawan Bencana di WS 6 Ci halaman 125 .36.Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 3.

kebijakan sumber daya air. serta kegiatan sosial. BBWS Cisadane-Ciliwung. dan Jawa Barat.4 Analisis Sistem Informasi Sumber Daya Air Untuk mendukung pengelolaan sumber daya air. hidrometeorologis. DKI Jakarta dan Jawa Barat harus menyelenggarakan pengelolaan sistem informasi sumber daya air yang terintegrasi sesuai dengan kewenanganannya. Dinas yang membidangi sumber daya air di Provinsi Banten. lingkungan pada sumber daya air dan sekitarnya. Dinas yang membidangi sumber daya air di Provinsi Banten. Informasi sumber daya air meliputi informasi mengenai kondisi sumber daya air (hidrologis.1. Mekanisme penyelenggaraan informasi sumber daya air dilakukan sebagai berikut :  BBWS Cidanau-Ciujung-Cidurian. BBWS Citarum. Pemerintah dan pemerintah daerah membentuk unit pelaksana teknis untuk menyelenggarakan kegiatan sistem informasi sumber halaman 126 . BBWS Cidanau-CiujungCidurian. ekonomi. namun perlu dibangun sistem pengelolaan sumber daya air yang terpadu oleh Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Sumber Daya Air dalam hal ini Balai Besar di WS 6 Ci dan Dinas yang membidang sumber daya air di Provinsi Banten. BBWS Cisadane-Ciliwung.3. Jaringan informasi sumber daya air yang tersebar dan dikelola berbagai instansi dapat diteruskan pengelolaannya. prasarana.4. Masingmasing instansi berkaitan dengan data tetap menjalankan tugas dan fungsinya yaitu mengelola data secara berkelanjutan dan menyampaikannya ke Pusat Data yang rencananya dibangun oleh BBWS. hidrogeologis. budaya masyarakat yang terkait dengan sumber daya air) di WS 6 Ci. teknologi. BBWS Citarum. Jaringan informasi sumber daya air harus dapat diakses dengan mudah oleh berbagai pihak yang berkepentingan dalam bidang sumber daya air. Dalam Undang-Undang Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air Pasal 66 ayat 3. DKI Jakarta dan Jawa Barat dengan kewenangannya menyediakan informasi sumber daya air bagi semua pihak yang berkepentingan dalam bidang sumber daya air. mengamanatkan daya air. DKI Jakarta.

BBWS

Cidanau-Ciujung-Cidurian,

BBWS

Cisadane-Ciliwung,

BBWS

Citarum, Dinas yang membidangi sumber daya air di Provinsi Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat, badan hukum, organisasi dan lembaga serta perseorangan yang melaksanakan kegiatan berkaitan dengan sumber daya air menyampaikan informasi hasil kegiatannya kepada unit kerja yang bertanggung jawab di bidang informasi sumber daya air.  BBWS Cidanau-Ciujung-Cidurian, BBWS Cisadane-Ciliwung, BBWS Citarum, Dinas yang membidangi sumber daya air di Provinsi Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat, badan hukum, organisasi dan lembaga serta perseorangan, bertanggung jawab menjamin keakuratan, kebenaran dan ketepatan waktu atas informasi yang disampaikan. Untuk mendukung pengelolaan sistem informasi sumber daya air di WS 6 Ci yang berkaitan dengan data sumber daya air (hidrologis, hidrometeorologis, hidrogeologis, kebijakan sumber daya air, prasarana, teknologi, lingkungan pada sumber daya air dan sekitarnya, serta kegiatan sosial, ekonomi, budaya masyarakat yang terkait dengan sumber daya air) diperlukan pada BBWS Cidanau-Ciujung-Cidurian, BBWS Cisadane-Ciliwung, BBWS Citarum, Dinas yang membidangi sumber daya air di Provinsi Banten, Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Barat harus membentuk Unit Sistem Informasi Sumber Daya Air (SISDA). Selanjutnya yang perlu ditindak lanjuti adalah meningkatkan kerjasama antar instansi dalam pengelolaan sumber daya air. 3.1.4.5 Analisis Pemberdayaan dan Peningkatan Peran Masyarakat dan Dunia Usaha 1) Peraturan dan Kelembagaan Pengelolaan Sumber Daya Air Pengelolaan sumber daya air perlu diarahkan untuk mewujudkan sinergi dan keterpaduan yang harmonis antarwilayah, antar sektor, dan antar generasi; sejalan dengan semangat demokratisasi, desentralisasi, dan keterbukaan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, masyarakat perlu diberi peran dalam pengelolaan sumber daya air. Undang-Undang Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air

mengamanatkan untuk menjamin terselenggaranya pengelolaan sumber daya air yang dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kepentingan masyarakat dalam segala bidang kehidupan perlu disusun pola pengelolaan

halaman

127

sumber daya air. Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air dilakukan dengan melibatkan peran masyarakat dan dunia usaha seluas-luasnya. Sudah banyak peraturan perundangan, maupun peraturan daerah yang disusun dalam rangka pengelolaan sumber daya air. Karena penerapannya menyangkut berbagai pihak terkait, sehingga perlu adanya koordinasi antar institusi. Pengelolaan sumber daya air terpadu mempunyai ciri utama terlibatnya seluruh unsur di dalam WS dengan pendekatan manajemen risiko dengan terus. Pengelolaan sumber daya air terpadu memerlukan koordinasi perencanaan dan pelaksanaan kegiatan semua institusi/pihak terkait, dan perlu didukung peran aktif TKPSDA WS 6 Ci yang telah dibentuk Menteri Pekerjaan Umum pada tanggal 16 Desember 2010. TKPSDA WS 6 Ci ini akan dapat berperan aktif bila mendapat dukungan kuat dari BBWS secara berkelanjutan, melalui perkuatan Sekretariat TKPSDA WS 6 Ci serta dukungan dana dan operasionalnya. 2) Aspirasi Masyarakat dan Pemangku Kepentingan IWRM merupakan suatu proses koordinasi dalam pengembangan dan pengelolaan sumberdaya air dan lahan serta sumberdaya lainnya dalam suatu WS, untuk mendapatkan manfaat ekonomi dan kesejahteraan sosial yang seimbang tanpa mengorbankan keberlanjutan ekosistem. Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air perlu melibatkan seluas– luasnya peran serta masyakat dan dunia usaha. Sejalan dengan prinsip demokratis, masyarakat diberikan peran dalam penyusunan dan pembahasan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air WS. Karena itu, perlu mengidentifikasi isuisu strategis, potensi sumber daya air, dan upaya penanganannya, melalui Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) sebanyak 2 (dua) kali. PKM 1 dan 2 telah dilaksanakan di ke-3 wilayah (3 Ci, 2 Ci, dan 1 Ci). Peserta yang diundang terdiri dari pejabat struktural dari unsur pemerintah dan masyarakat/organisasi/asosiasi yang berperan aktif di bidang sumber daya air, termasuk para calon anggota TKPSDA WS 6 Ci.

halaman

128

3.1.4.6 Analisis Perencanaan dan Penataan Ruang 1) Integrasi Pengelolaan Sumber Daya Air dalam Rencana Tata Ruang Sampai saat ini berdasarkan RTRW yang telah disusun, baik pada RTRW Provinsi maupun pada RTRW Kabupaten/Kota yang telah ada, diperoleh gambaran antara lain sebagai berikut: a. Dalam rencana pola ruang pada RTRW yang telah disusun (RTRW Provinsi, RTRW Kabupaten/Kota) yang seharusnya telah memuat/menampilkan lokasi (zoning) seperti halnya antara lain: kawasan resapan air, kawasan tangkapan air, kawasan retensi airyang termasuk dalam kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya (dapat dilihat pada pedoman penyusunan RTRW), ternyata belum ada/belum tercantum dalam RTRW. Begitu pula halnya dengan dengan kawasan lindung setempat seperti halnya: sempadan sungai, sempadan danau, kawasan sekitar danau, kawasan sekitar mata air serta kawasan yang terhadap air tanah. b. Dalam rencana struktur ruang pada RTRW yang telah disusun (RTRW Provinsi, RTRW Kabupaten/Kota) gambaran yang seharusnya rencana sudah kawasan menampilkan/mengemukakan mengenai memberikan perlindungan

tangkapan air (berupa waduk/reservoir) untuk setiap rencana lokasi waduk, ternyata dalam RTRW yang telah disusun belum tercantum/belum ada. Begitu pula halnya dengan sistem jaringan prasarana sumber daya air dan sistem jaringan saluran primer dari intake (bendung) sampai ke lokasi pasokan (Daerah Irigasi, instalasi pernjernihan air untuk perkotaan), serta sistem jaringan sekundernya. Secara umum dapat dikatakan bahwa aspek sumber daya air belum

tercantum/terintegrasi secara jelas dalam RTRW yang telah disusun, bahkan juga dalam RTRW yang telah ditetapkan sebagai Perda.

halaman

129

2)

Konflik Lintas Wilayah dan Lintas Sektor

a. Lintas Wilayah dan Lintas Sektoral Dalam pemanfaatan lahan tersebut sering ditemui adanya konflik pemanfaatan lahan pada kawasan perbatasan antara wilayah kota (wilayah administrasi kota) dengan wilayah admistrasi kabupaten, terutama pada kawasan yang seharusnya dialokasikan sebagai kawasan konservasi dijadikan sebagai kawasan budidaya. Konflik seperti ini ditemui dalam perkebangan pemanfaatan lahan di Jabodetabek Punjur dan Cekungan Bandung, antara lain dimanfaatkannya kawasan badan air (daerah sumber mata air, resapan air dan bantaran sungai serta situ) sebagai kawasan budidaya. Sebagai contoh pada kawasan Puncrut yang masuk dalam wilayah kabupaten Bandung Barat yang berbatasan langsung dengan Kota Bandung yang direncanakan sebagai kawasan konservasi telah dimanfaatkan sebagai lahan usaha budidaya (permukiman dan pertanian holtikultura/sayuran). Dikaitkan dengan lintas sektor, dari hasil ploting RTRW pada WS 6 Ci ditemui adanya beberapa konflik baik dalam pemanfaatanlahan maupun dalam penyediaan infrastruktur, antara lain lahan (kawasan) yang dalam RTRW dialokasikan sebagai calon lokasi waduk Limo di wilayah Kota Depok, saat ini lokasi tersebut telah berkembang menjadi kawasanbudidaya (pemukiman dan budidaya lainnya). Begitu juga dengan rencana lokasi waduk Sodong di wilayah Kabupaten Bogor, saat ini lokasinya telah berkembang menjadi kawasan perkotaan (Kota Kecamatan Leuwiliang), dan waduk yang direncanakan tersebut juga akan merendam jalur jalan nasional yang menghubungkan Bogor dengan Rangkasbitung. Rencana lokasi waduk Genteng di wilayah kabupaten Bogor yang berbatasan dengan wilayah kota Bogor, saat ini tumpang tindih dengan rencana jalan toll lingkar luar kota Bogor, pengembangan permukiman perkotaan, serta budidaya lainnya. Pada kawasan Cekungan Bandung lokasi yang direncanakan dalam penyusunan Pola dan Rencana sumber daya air sebagai lokasi Waduk Ciwidey dikaitkan dengan penggunaan lahan pada saat ini pada lokasi tersebut telah dimanfaatkan sebagai lokasi permukiman dan kegiatan usaha lainnya. Sedangkan di dalam rencana (RTR Kawasan Cekungan Bandung/Raperpres dan RTRW Kabupaten Bandung/Perda) kawasan yang direncanakan sebagai lokasi Waduk Ciwidey ini telah direncanakan sebagai lokasi pengembangan permukiman. Hal ini perlu dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan lokasi Waduk Ciwidey ini dalam perencanaan dan pelaksanaannya nanti.

halaman

130

kabupaten Tangerang (bagian Utara). ternyata telah berkembang menjadi kawasan permukiman dan kegiatan usaha lainnya.b. penggunaan lahan. maka kawasan pertanian lahan basah tersebut di atas dapat dijadikan sebagai kawasan perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan (yang harus dilindungi). Hal ini ditemui antara lain pada kawasan sawah berigasi teknis di wilayah kabupaten Serang (bagian Utara) . potensi teknis lahan dan luasan kesatuan hamparan lahan. Alih Fungsi Lahan Sawah Terjadinya alih fungsi lahan sawah beririgasi teknis yang dalam rencana pola ruang (RTRW Provinsi Banten dan RTRW Jawa Barat) telah direncanakan dan ditetapkan peruntukannya sebagai lokasi pengembangan pertanian lahan basah (persawahan). kabupaten Karawang (bagian Utara) dan Cekungan Bandung (terutama dibagian selatan Kota Bandung). ketersediaan infrastruktur. halaman 131 . Apabila dikaitkan dengan kebijakan perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan dengan menggunakan dasar pertimbangan: kesesuain lahan.

0% 10.37.Sawah area by DAS as percentage of total DAS area 0.0% 30.0% 60. Alih Fungsi Lahan Sawah di Indonesia (1994 – 2004) halaman 132 .0% 20.0% Cibungur Cidanau Cipaseh Cibanten Ciujung Cimanedu Cisadane Loss of sawah 2000-2025 by DAS 40% is lost! 2000 2025 Ciliwung Bekasi Cikarang Citarum Hilir Citarum Tengah Citarum Hulu Hulu Waduk Jatiluhur Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 3.0% 40.0% 50.

Mengasumsikan bahwa situasi tatakelola pemerintahan saat ini kurang lebih sama atau status quo. seperti disajikan dalam Tabel 3. atau apakah TINGGI Perubahan iklim Pertumbuhan penduduk Bersiap untuk kondisi terburuk (kenaikan dan/atau penurunan curah hujan ± 0. Politik dan Perubahan Iklim pada Wilayah Sungai 3. dengan memperhatikan sensitivitas apakah pertumbuhan tersebut RENDAH. Diasumsikan pertumbuhan penduduk stabil pada kisaran 1% per tahun dan menurun. Skenario Berdasarkan Tatakelola Pemerintahan dan Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi Sedang 1 2 dan 3 Tatakelola pemerintahan CT GG Rendah 1a 2a Tinggi X 4 Catatan : x = dapat diabaikan.3 mm/hari). GG = Good Governance Skenario tersebut mengasumsikan bahwa pada tata kelola pemerintahan sesuai kecenderungan saat ini (Current Trend) untuk kasus pertumbuhan ekonomi rendah dan tinggi tidak realistik. Oleh karena itu. Tabel 3.3. kedua skenario tersebut (1a dan 2a) dapat diabaikan dan hanya digunakan untuk Sensitivity Analysis. Asumsi untuk masing-masing parameter dirangkum dalam tabel berikut Parameter Penjelasan Current Trend (CT). Tatakelola pemerintahan dan pengelola PSDA WS 6 Ci mampu melaksanakan tatakelola pemerintahan yang baik dan mampu meyakinkan semua pemangku kepentingan untuk melaksanakan rencana yang telah diberikan. halaman 133 .2 Skenario Kondisi Ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Paling mungkin sekitar 5% – 6% (Medium). CT = Current Trend.1 Skenario Berdasarkan asumsi di atas telah dibuat skenario yang mungkin.21 di bawah ini.2. Tatakelola Pemerintahan (Perubahan Politik) Good Governance (GG).21.

Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 3. Strategi Struktural Neraca Air Pemenuhan Air Baku di WS 6 Ci Skenario 1 halaman 134 .38.

39.Sumber: Hasil Analisis 2010 Gambar 3. Strategi Struktural Neraca Air Pemenuhan Air Baku di WS 6 Ci Skenario 2 halaman 135 .

Sumbe r: Hasil Analisis 2010

Gambar 3.40. Strategi Struktural Neraca Air Pemenuhan Air Baku di WS 6 Ci Skenario 3

halaman

136

Sumber: Hasil Analisis 2010

Gambar 3.41. Strategi Struktural Neraca Air Pemenuhan Air Baku di WS 6 Ci Skenario 4

halaman

137

3.3

Alternatif Pilihan Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air Terhadap skenario dari kondisi WS 6 Ci telah dibuat beberapa alternatif strategi untuk masing-masing skenario untuk mencapai tujuan dari pengelolaan sumber daya air. Penyusunan konsep tersebut dibuat untuk masing-masing aspek pengelolaan sumber daya air, dan mencakup strategi jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Hubungan antara asumsi, skenario, dan strategi ditunjukkan dalam Tabel 3.22 di bawah ini.

Tabel 3.22. Hubungan Skenario, Asumsi dan Strategi
ASUMSI SKENARIO Tatakelola Perubahan Pertumbuhan Pertumbuhan Pemerintahan Iklim Ekonomi Penduduk Identifier/ Judul STRATEGI Penjelasan

1

CT

Bersiap untuk skenario terburuk (kenaikan dan atau penurunan curah hujan kurang lebih 0,3 mm/hari)

MEDIUM (5%)

Hanya upaya minimum, A. Current Trend termasuk air bersih RKI, Compliance dengan fokus pada kuantitas air.

1a

CT

RENDAH

A.

Current Trend Hanya untuk Sensitivity Compliance Analysis.

Kira-kira 1% dan menurun

2a

GG

RENDAH

B.

Proactive Management

Hanya untuk Sensitivity Analysis.

2 ---3 GG

B.

Proactive Management

Seperti Strategi A, ditambah dengan kelembagaan yang kuat untuk PSDA terpadu.

MEDIUM (5%)

C.

Optimum Management

Proactive Management ditambah dengan perlindungan pertanian dan zonasi sumber daya air (water zoning)

4

GG

TINGGI (7%)

D.

Maximum Management

Upaya maksimum, dimaksudkan untuk meningkatkan semua upaya dari aspek PSDA dan berasumsi adanya cost recovery.

Sumber: Hasil Analisis 2010

Di bawah ini dijelaskan fitur dari masing-masing strategi dan konteksnya dalam perencanaan strategis (Pola) WS 6 Ci.

halaman

138

a. Alternatif Strategi A: Current Trend Compliance
Tujuan dari strategi A adalah untuk memenuhi kebutuhan air pada masa datang dengan biaya serendah mungkin. Upaya yang akan dilakukan pada strategi A ini hanya berupa upaya minimum termasuk upaya pemenuhan air baku untuk keperluan RKI secara terbatas tanpa melakukan upaya optimal terhadap penanganan kualitas air, akibat dari terbatasnya dana. Ini berimplikasi bahwa opsi kebijakan lain tidak akan digabungkan, seperti langkah-langkah yang lebih murah yang dirancang untuk mendorong kesinambungan jangka panjang dari sistem sumber daya air. Strategi A mencakup langkah-langkah JWRMS untuk pengaliran air dari waduk Jatiluhur ke wilayah Jabodetabek, Karawang dan Purwakarta, pengaliran air dari Barat dan Selatan ke Tangerang, Serang/Cilegon dan Jabodetabek. Strategi A berdampak tidak ada pengelolaan air tanah secara aktif, sehingga penurunan tanah akan berlanjut pada tingkat yang membahayakan seperti sekarang ini, tapi ketergantungan pada air permukaan di daerah Jakarta dan Bandung akan terbatas selama periode air tanah masih tersedia. Ketika air tanah telah hampir habis digunakan, keperluan beralih ke air permukaan dengan tingkat biaya yang diperkirakan telah menjadi jauh lebih tinggi. Strategi A berdampak pada rendahnya keterlibatan pemerintah dalam meningkatkan efisiensi operasi sehingga menghalangi pelaksanaaan upaya non-struktural yang pada jangka panjang diperlukan untuk mengoptimalkan secara penuh potensi air bersih WS 6 Ci. Selain itu, strategi A mengasumsikan bahwa tidak ada investasi besar terkait dengan konservasi atau restorasi DAS, dan terkait dengan perbaikan kualitas air. Dilihat dari perspektif jangka panjang, strategi ini tidak diinginkan dan di sini hanya digunakan sebagai pembanding dengan strategi yang lainnya.

b. Alternatif Strategi B: Pro-active Management
Strategi B sama dengan Strategi A, dengan upaya tambahan dalam keseriusan peningkatan kelembagaan untuk mengelola sumberdaya air secara proaktif, dan dengan penegakan hukum yang lebih kuat dalam pengelolaan sumberdaya lahan dan air. Namun, dalam strategi ini dana yang tersedia belum/tidak memadai untuk memenuhi air. kebutuhan pengelolaan yang optimal, termasuk belum ada pembangunan bendungan baru, tapi sudah ada sedikit upaya peningkatan kualitas

halaman

139

Selain kurangnya kesiapan dari upaya struktural seperti segi studi kelayakan dan detail desainnya. Strategi C menuntut otoritas untuk mengambil tindakan tepat untuk menanggulangi dan secara bertahap menghentikan pengambilan air tanah di kawasan pesisir Jakarta dan Cekungan Bandung. Dengan demikian strategi ini hanya akan mungkin dengan sumber dana yang memadai dan peningkatan efisiensi. dimana pasokan air permukaan di Jakarta dan Bandung akan ditingkatkan secara signifikan untuk menggantikan penggunaan air tanah dalam. Oleh karena itu strategi D ini mempunyai target yang sangat tinggi. kurang realistik. serangkaian upaya lebih lanjut dipadukan dengan komponen untuk memenuhi kebutuhan di daerah tersebut (pasokan air ke Kota Bandung). serta konservasi dan restorasi DAS. Strategi D mencakup opsi yang direkomendasikan kajian JWRMS untuk memasok air Jabodetabek dari Timur dan Barat. sistem informasi sumber daya air serta pemberdayaan dan peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan sumber daya air. Alternatif Strategi C: Optimum Management Strategi C bertumpu pada pemenuhan kebutuhan air. termasuk pengelolaan air tanah. dengan konsekuensi semua upaya stuktural harus dilaksanakan segera (lebih awal dibandingkan dengan strategi C) sementara dari segi finansial untuk pelaksanaan upaya struktural ini kelihatannya sangat tinggi. halaman 140 . pengambilan air tanah hanya diizinkan untuk air baku PDAM dan sumur penduduk. Akhirnya. didasarkan pada IWRM yang aktif dan berkelanjutan. pendayagunaan sumber daya air. d. Setelah transisi ini.c. melalui pelaksanaan “sebagian besar” upaya penanganan secara bertahap termasuk penanganan konservasi sumber daya air. Strategi ini menuntut pengelolaan air tanah yang aktif. Strategi D memuat upaya pengembangan sumber daya air. Untuk hulu wilayah Saguling. serta serangkaian upaya dan kebijakan aktif yang dimaksudkan untuk pengendalian pencemaran. Strategi C melakukan upaya optimum dalam pengelolaan sumber daya air. seperti menaikkan bendungan Cirata sebesar 15 m (untuk meningkatkan volume tampungannya) dan pengembangan pembangkit listrik tenaga air antara Saguling dan Cirata (yaitu Rajamandala). Alternatif Strategi D: Maximum Management Strategi D melaksanakan “semua” upaya pengelolaan sumber daya air secara maksimum. pengendalian daya rusak air.

3.2.4 halaman 141 .2. Kebijakan Operasional Pengelolaan Sumber Daya Air WS 6 Ci (BBWS 2 Ci) pada Skenario 1.3.2.4 BAB IV KEBIJAKAN OPERASIONAL PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR Kebijakan operasional pengelolaan sumber daya air pada masing-masing wilayah (3 Ci. Kebijakan Operasional Pengelolaan Sumber Daya Air WS 6 Ci (BBWS 1 Ci) pada Skenario 1. yakni:      Konservasi Sumber Daya Air Pendayagunaan Sumber Daya Air Pengendalian Daya Rusak Air Sistem Informasi Sumber Daya Air Pemberdayaan dan Peningkatan Peran Masyarakat dan Dunia Usaha. Kebijakan Operasional Pengelolaan Sumber Daya Air WS 6 Ci (BBWS 3 Ci) pada Skenario 1. dalam pembahasannya dikaitkan pula dengan aspek penataan ruang dan kelembagaan. 2 Ci dan 1 Ci) mencakup 5 (lima) aspek.4  Tabel 4. Uraian lengkap kebijakan operasional pengelolaan sumber daya air pada masing-masing wilayah disajikan pada:  Tabel 4.4  Tabel 4.1. Selain kelima aspek tersebut.3.2.3.

Perkebunan tk Prov/kab/kota.101 ha) 3) Terancamnya lahan potensial kritis pada kawasan hutan dan non hutan pada DAS di wilayah CidanauCiujung-Cidurian (219.l Rawa Dano P P P P 6) Belum optimalnya pelaksanaan Gerhan dan GNKPA di dalam dan di luar kawasan hutan pada DAS hulu dan tengah wilayah CidanauCiujung-Cidurian 7) Kurang jelasnya batas di lapangan kawasan milik Perum Perhutani. BPN. 47/2006 tahap III (50% area). Melaksanakan bimbingan kepada masyarakat tani di kawasan non hutan yang berlereng untuk menanam tanaman jangka panjang. disertai pemberdayaan pananaman sistem tumpangsari untuk pendapatan sehari-hari.1. DPRD. Menerapkan. Sektor Swasta.024 ha) dan kritis (25. serta melaksanakan Gerhan dan GNKPA pada wilayah di Cidanau-CiujungCidurian (50%). 47/2006 Membimbing masyarakat di kawasan berlereng dengan tanaman jangka panjang bernilai ekonomi tinggi. PT. Prov/Kab/Kota. memantau dan mengevaluasi pelaksanaannya. Kelompok Masyarakat BLHD Dinas Kehutanan. memantau dan mengevaluasi pelaksanaannya. menegakkan dan menindak bagi pelanggar Perda tentang sempadan dan sungai situ/waduk Melaksanakan dan mengembangkan kerjasama (pengelolaan jasa lingkungan) Dinas PU/SDA. BLHD.849 ha) 4) Jumlah luas hutan belum memenuhi kebutuhan standar lingkungan Terlaksananya konservasi lahan agak kritis pada DAS di wilayah Cidurian-Ciujung-Cidurian Hulu Mensosialisasikan upaya konservasi dan perlindungan lahan agak kritis pada seluruh DAS dan melaksanakan RTkRHL 20% area agak kritis Mensosialisasikan upaya konservasi dan perlindungan lahan potensial kritis pada seluruh DAS di wilayah dan melaksanakan RTkRHL 20% area Menambah luas hutan lindung dengan tidak memperpanjang ijin hutan produksi yang sudah habis masa ijin pengelolaannya. dan mengamankannya secara berkelanjutan Dinas Kehutanan Prov/Kab/Kota terkait. disertai penanaman secara tumpang sari secara berkelanjutan. Bappeda. KLH. secara selektif Identifikasi flora-fauna pada habitat kunci. secara berkelanjutan Melakukan evaluasi ulang dan sinkronisasi terhadap pelaksanaan Gerhan dan GNKPA. (10% area) Melaksanakan percontohan dan pendampingan kepada masyarakat tani di kawasan non hutan yang berlereng untuk menanam tanaman jangka panjang. Developer dan Kelompok Masyarakat P P P 11) Belum ada penetapan batas dan pemanfaatan daerah sempadan sungai dan situ/ waduk P 12) Belum berkembangnya kerjasama pengelolaan jasa lingkungan. kumulatif 100% Menerapkan. BBKSDA. target 15% area Menyusun sistem pemberian Insentif bagi yang menambah dan disinsentif bagi pengembang yang mengurangi RTH. target 60%.2. Memasang tanda batas kawasan hutan. disertai insentif bagi kelompok masyarakat yang melaksanakannya Lembaga/Instansi/Kelompok Masyarakat/Dunia Usaha Terkait Dinas Kehutanan. BUMN-HL. Kelompok Masyarakat P P P Melakukan pemetaan detail dan memasang tanda batas yang jelas pada kawasan hutan. secara selektif Melaksanakan perlindungan dan pelestarian keaneka-ragaman hayati pada kawasan lindung. mensosialisasikan. target 25%.Tabel 4. kumulatif menjadi 100% serta memantau dan mempertahankan kondisi yang sudah di rehabilitasi Melaksakan kegiatan RTkRHL pada lahan potensial kritis 30% area. memantau dan mengevaluasi pelaksanaannya (2014-2015) Menyusun Perda tentang pembangunan kawasan pemukiman baru yang mensyaratkan untuk memenuhi daya dukung lingkungan. mulai dari pratanam sampai pasca tanam.3. memantau dan mengevaluasi pelaksanaan sistem pemberian Insentif/disinseftif secara berkelanjutan Menerapkan PerMenTan No. Developer. PU. PT. 47/2006 tentang Pedoman Umum Budidaya Pertanian pada Lahan Pegunungan Terlaksananya penanaman kawasan non hutan yang berlereng dengan tanaman jangka panjang bernilai ekonomi tinggi. Kelompok Masyarakat Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. Kelompok Masyarakat pada kawasan lindung. BPDAS. kumulatif menjadi 40% serta memantau dan mempertahankan kondisi yang sudah di rehabilitasi iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) Melaksakan kegiatan RTkRHL pada lahan kritis 60% area. Pertanian & Perkebunan (di luar Kawasan Hutan). Kelompok Masyarakat hutan lindung. Bappeda. Perkebunan. Mengawasi dan mengendalikan pengunaan lahan sesuai batas yang telah ditetapkan. Perum hutan produksi. Menyusun Perda tentang perlindungan dan fungsi situ serta mensosialisasikannya Menerapkan PerMenTan No. dituangkan dalam Perda (2011-2013). selain DAS Cidanau Terwujudnya Perda tentang sempadan pada sungai dan situ/ waduk Terlaksananya kerjasama pengelolaan jasa lingkungan Menerapkan Perda tentang sempadan sungai dan situ/waduk Menerapkan. Kelompok Masyarakat P P P P P Melaksanakan sosialisasi PerMenTan No. Polri. mensosialisasikan. serta menerapkan sanksi pelanggarannya Memantau secara berkelanjutan pembangunan kawasan pemukiman untuk memenuhi daya dukung lingkungan. a. melaksanakan pelatihan dan melaksanakan gerakan budidaya pertanian di lahan pegunungan melalui pendekatan sekolah lapang. dan memberdayakan agar tetap mendapat penghasilan untuk kehidupan hariannya Dinas Perkebunan. BBKsumber daya air. serta menerapkan sanksinya. serta menerapkan sanksi pelanggarannya Menyusun dan menerapkan Perda tentang pembangunan kawasan pemukiman baru yang mengikuti kaidah konservasi Dinas Perumahan/ Tata Kota. melaksanakan pelestarian keaneka-ragaman hayati Melakukan evaluasi dan sinkronisasi terhadap pelaksanaan Gerhan dan GNKPA. Melaksanakan bimbingan kepada masyarakat tani di kawasan non hutan yang berlereng untuk menanam tanaman jangka panjang. secara berkelanjutan Melakukan evaluasi ulang dan sinkronisasi terhadap pelaksanaan Gerhan dan GNKPA. kumulatif (100%) Mengawasi dan mengendalikan pengunaan lahan sesuai batas yang telah ditetapkan. BBKsumber daya air. merubah status menjadi Perhutani. mengawasi dan menindak bagi pelanggar Perda tentang sempadan sungai dan situ/waduk Melaksanakan dan mengembangkan kerjasama pengelolaan jasa lingkungan serta monitoring dan evaluasi pelaksanaannya P P P Menginvetarisasi dan mengkaji potensi obyek dan subyek kerjasama pengelolan jasa lingkungan dengan referensi DAS Cidanau (2011-2013). serta menegakkan peraturan yang berlaku. mulai dari pratanam sampai pasca tanam. Dinas/Badan PU/SDA. BBWS. Satpol PP. kumulatif menjadi 70% serta memantau dan mempertahankan kondisi yang sudah di rehabilitasi Melaksakan kegiatan RTkRHL pada lahan potensial kritis 50% area. PU. menegakkannya. 47/2006. Kelompok Masyarakat. secara berkelanjutan Melaksakan kegiatan RTkRHL pada lahan potensial kritis 30% area. BB Konservasi SD Alam (Hutan Konservasi). Kebijakan Operasional Pengelolaan Sumber Daya Air WS 6 Ci (3 Ci) pada Skenario 1. 47/2006 tahap II (40% area).menyusun dokumen kerjasama dan melaksanakan uji coba (2014-2015) Melaksanakan dan mengembangkan kerjasama pengelolaan jasa lingkungan serta monitoring dan evaluasi pelaksanaannya Menyusun Perda. kumulatif (100% area). kumulatif (50 %) Mengawasi dan mengendalikan pengunaan lahan sesuai batas yang telah ditetapkan. Aspek/Sub Aspek 1.l Cagar Alam Rawa Danau Terlaksananya Gerhan dan GNKPA di dalam dan di luar kawasan hutan pada DAS hulu dan tengah wilayah CidanauCiujung-Cidurian Terciptanya batas kawasan hutan yang jelas antara Perum Perhutani. DPRD. PTPN. dll yang terkait di tk. Kelompok Masyarakat P 9) Masih terbatasnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) perkotaan Tercapainya standar luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) perkotaan sebesar 30% atau sesuai dengan peraturan Menambah luas RTH sehingga tercapai standar sesuai peraturan (30% luas) Dinas Tata Ruang/ Tata Kota. Pertanian tk Prov/Kab/Kota terkait. kumulatif menjadi 100% serta memantau dan mempertahankan kondisi yang sudah di rehabilitasi Menambah luas hutan lindung dengan tidak memperpanjang ijin hutan produksi yang sudah habis masa ijin pengelolaannya. B. DPRD.4 1 KONSERVASI 1 No. Bakti Usaha Menanam Nusantara Hijau P P P 2) Terancamnya lahan agak kritis pada kawasan hutan dan non hutan pada DAS di wilayah Cidanau-CiujungCidurian Hulu (94. serta menegakkan peraturan yang berlaku. contoh kopi P P P P P P 5) Terancamnyanya keaneka-ragaman hayati Melaksakan kegiatan RTkRHL pada lahan agak kritis 50% area. kumulatif menjadi 100% serta memantau dan mempertahankan kondisi yang sudah di rehabilitasi Kebijakan operasional Melaksanakan RTkRHL di kawasan prioritas pada hulu DAS dan hulu waduk/ rencana waduk. a. BBWS. PTPN dan lahan masyarakat di hulu. BUMN-HL. memantau dan mengevaluasi pelaksanaan sistem pemberian Insentif/disinseftif secara berkelanjutan Menyelenggarakan budidaya pertanian lahan pegunungan yang sesuai dengan kaidah konservasi berpedoman kepada PerMenTan No. Dinas Kehutanan Prov. dan lahan masyarakat hulu Terlaksananya PerMenTan No. kumulatif menjadi 70% serta memantau dan mempertahankan kondisi yang sudah di rehabilitasi Menambah luas hutan lindung dengan tidak memperpanjang ijin hutan produksi yang sudah habis masa ijin pengelolaannya. Perum Perhutani.1 PERLINDUNGAN DAN PELESTARIAN SUMBER DAYA AIR 2 B P 3 C P 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis Sasaran/Target yang diinginkan Terlaksananya konservasi lahan sangat Kritis dan kritis pada DAS di wilayah Cidanau-CiujungCidurian Hulu D P i Jangka Pendek (2011-2015) Mensosialisasikan kepada masyarakat tentang Rencana Teknis Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RTkRHL) = 2011-2013 melaksakan kegiatan RTkRHL pada lahan sangat kritis 100% dan lahan kritis 10% area (2014-2015) A P 1) Berkurangnya fungsi konservasi kawasan hutan dan non hutan pada lahan sangat kritis (1. sampai tercapai jumlah 30% wilayah 3 Ci Melestarikan keaneka-ragaman hayati BLHD Prov. Dinas SDA Prov. BPN. kumulatif 40% Menerapkan. secara selektif Melaksanakan perlindungan dan pelestarian keaneka-ragaman hayati pada kawasan lindung. kumulatif (50% area). PU/SDA Prov/Kab/Kota terkait. serta melaksanakan Gerhan dan GNKPA pada wilayah di Cidanau-CiujungCidurian (25%). BPDAS. BBWS. sehingga terjadi perambahan hutan 8) Budi daya pertanian di kawasan non hutan yang tidak sesuai dengan kaidah konservasi yang menyebabkan banyaknya lahan kritis Melaksanakan sinkronisasi Gerhan dan GNKPA pada wilayah di CidanauCiujung-Cidurian Dinas Kehutanan. Developer dan Kelompok Masyarakat P P P 10) Masih adanya kawasan pemukiman baru yang belum memenuhi daya dukung lingkungan Terwujudnya kawasan pemukiman yang memenuhi daya dukung lingkungan Memantau secara berkelanjutan pembangunan kawasan pemukiman untuk memenuhi daya dukung lingkungan. disertai penanaman secara tumpang sari secara berkelanjutan. serta melaksanakan Gerhan dan GNKPA pada wilayah di Cidanau-Ciujung-Cidurian (25%) P P Terlaksananya konservasi lahan potensial kritis pada DAS di wilayah Cidanau-CiujungCidurian Terwujudnya luas kawasan hutan sebesar 30% di wilayah Cidanau-Ciujung-Cidurian Terlindunginya keanekaragaman hayati pada kawasan lindung. PT. secara berkelanjutan Melaksanakan RTkRHL di kawasan lahan agak kritis pada seluruh DAS disertai insentif bagi kelompok masyarakat yang melaksanakannya Menyadarkan masyarakat untuk melindungi dan memperbaiki lahan potensial kritis Secara selektif tidak memperpanjang ijin Bappeda. C atau D halaman 142 . Pertanian tk Prov/Kab/Kota terkait. Perum Perhutani (Hutan Lindung & Produksi). Bappeda. BBWS.124 ha) pada DAS di wilayah Cidanau-Ciujung-Cidurian Hulu STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Melaksakan kegiatan RTkRHL pada lahan kritis 30% area. Kelompok Masyarakat Dinas Perkebunan.

Menertibkan dan mengembalikan fungsi lahan bekas sudetan sebagai bagian dari daerah milik sungai Melakukan inventarisasi lokasi penambangan. BUMN-HL. Menyiapkan MOU dan melaksanakan uji coba kesepakatan kerjasama hulu-hilir pada DAS Ciujung. Menertibkan dan mengembalikan fungsi lahan bekas sudetan sebagai bagian dari daerah milik sungai Memberikan arahan lokasi yang sesuai untuk penambangan. Perkebunan. tk sudetan sebagai bagian dari daerah milik Prov/Kab/Kota. Menyiapkan MOU dan melaksanakan uji coba kesepakatan kerjasama hulu-hilir untuk DAS Cidurian (antar kab. dengan memperhatikan kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (3 Ci) pada Skenario 1. Dinas Kehutanan. Jabar dan Banten) dan DAS lainnya (antar kab. dengan referensi DAS Cidanau dan STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Melaksanakan dan memantau kesepakatan kerjasama hulu-hilir DAS Ciujung. antar Provinsi. disertai penegakan hukum Merencanakan (2011-2013 = 100%) dan melaksanakan (2014-2015 = 10%) perlindungan alur dan tebing sungai di sungaisungai utama pada wilayah Cidanau-CiujungCidurian Menyusun perencanaan dan melaksanakan pembangunan pengamanan muara dan erosi pantai (10%) Melaksanakan penyadaran masyarakat tentang fungsi lahan bekas sudetan sungai. Aspek/Sub Aspek A B P C P 2 3 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis D P 13) Belum optimalnya kerjasama huluhilir dalam pelaksanaan konservasi DAS Sasaran/Target yang diinginkan Terlaksananya konservasi DAS dg prinsip kerjasama hulu-hilir. antara swasta-masyarakat i Jangka Pendek (2011-2015) Menginvetarisasi potensi kerjasama hulu-hilir pada masing-masing DAS. serta kaji ulang dan pengaturan terhadap ijin penambangan. Prov/Kab/Kota terkait. Kelompok Masyarakat Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. 2. Swasta P P P P 14) Kurang terkendalinya penggunaan lahan bekas sudetan sungai Terlindunginya lahan bekas sudetan sungai Melaksanakan penyadaran masyarakat tentang fungsi lahan bekas sudetan sungai. Kelompok Masyarakat P P P 16) Belum optimalnya perlindungan alur dan tebing sungai di sungai-sungai utama pada wilayah CidanauCiujung-Cidurian P 17) Terjadinya abrasi/ erosi muara dan pantai P P Terwujudnya perlindungan yang optimal pada alur dan tebing sungai di sungai-sungai utama pada wilayah Cidanau-CiujungCidurian Terlindunginya kawasan muara dan pantai khususnya di 30 lokasi erosi pantai Melindungi muara dan pantai dengan struktur Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. PT. 3 dan 4 1 KONSERVASI 1 No. melaksanakan dan memantau kerjasama hulu-hilir setiap DAS dalam pelaksanaan konservasi Lembaga/Instansi/Kelompok Masyarakat/Dunia Usaha Terkait Bappeda.1. BPN. untuk penambangan. antar Kab/Kota. C atau D halaman 143 . masyarakat sungai P P P P 15) Terjadinya kerusakan dasar dan alur sungai karena penambangan pasir dan kerikil Terlindunginya dasar dan alur sungai terhadap kerusakan akibat penambangan pasir dan kerikil Memberikan arahan lokasi yang sesuai Dinas Pertambangan/ ESDM. PU/SDA. dengan memperhatikan kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. Dinas PU/SDA. Perum Perhutani. kumulatif (40%) iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) Melaksanakan dan memantau kesepakatan kerjasama hulu-hilir DAS Cidurian (Prov. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. kumulatif (100%) Mengembalikan fungsi lahan bekas BBWS.Tabel 4. serta kaji ulang dan pengaturan terhadap ijin penambangan. disertai penegakan hukum Melaksanakan (2016-2020 = 25%. Kelompok Masyarakat./kota. Menertibkan dan mengembalikan fungsi lahan bekas sudetan sebagai bagian dari daerah milik sungai Memberikan arahan lokasi yang sesuai untuk penambangan. serta kaji ulang dan Dinas PU/SDA Kab. BPDAS. BBKSDA. kumulatif = 35%) perlindungan alur dan tebing sungai di sungai-sungai utama pada wilayah Cidanau-Ciujung-Cidurian Melaksanakan pembangunan pengamanan muara dan erosi pantai (30%). BLHD. BBWS. kumulatif = 100%) perlindungan alur dan tebing sungai di sungai-sungai utama pada wilayah Cidanau-Ciujung-Cidurian Melaksanakan perencanaan pembangunan muara dan erosi pantai (60%). disertai penegakan hukum Melaksanakan perlindungan alur dan tebing sungai yang optimal BBWS. dengan memperhatikan kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. disertai penegakan hukum Melaksanakan (2021-2030 = 65%. dengan memperhatikan kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. Melaksanakan penyadaran masyarakat tentang fungsi lahan bekas sudetan sungai. B. memberikan arahan lokasi yang sesuai untuk penambangan. serta kaji ulang dan pengaturan terhadap ijin penambangan./Kota/Prov./kota) Kebijakan operasional Mengembangkan. BBWS pengaturan terhadap ijin penambangan. BBWS.

peraturan standar bangunan dan pengendalian IMB STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Membangun waduk. butir 3 lihat (5. disertai penyediaan kebutuhan air permukaan secara berkelanjutan Menyusun Perda. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (3 Ci) pada Skenario 1. serta melaksanakan pemeliharaannya Melindungi dan meningkatkan luas daerah resapan di bagian hulu dan tengah di seluruh DAS secara berkelanjutan melalui kampanye penyadaran masyarakat. pada Wilayah Cidanau-CiujungCidurian (60%). kumulatif 50%) Melaksanakan pengendalian dan pemantauan pengambilan air tanah. BBWS. mensosialisasikan. Kelompok Masyarakat P P P P 3) Belum memasyarakatnya pembuatan sumur resapan dan biopori oleh seluruh masyarakat Terlaksananya pembuatan sumur resapan dan biopori oleh seluruh masyarakat P P P P 4) Terjadinya kerusakan mata air di wilayah Cidanau-Ciujung-Cidurian Terlindunginya mata air di wilayah Cidanau-CiujungCidurian secara berkelanjutan Melaksanakan sosialisasi pembuatan sumur resapan dan biopori kepada masyarakat (2011-2013) dan melaksanakan pembuatan biopori oleh masyarakat (2011-2015) = 20% area Mensosialisasikan peraturan tentang sempadan sumber air. mensosialisasikan. Dinas PU/SDA mata air secara berkelanjutan Prov/Kab/Kota. situ dan kolam retensi sesuai kebutuhan. Balai PSDA. situ dan kolam retensi sesuai kebutuhan. Kelompok Masyarakat P P P Menetapkan dan mematok sempadan sumber air di sekitar mata air (jumlah 50%. berakibat terjadinya penurunan muka air tanah. Badan Regulator. Developer. BLHD Prov/Kab. BPN Prov/Kab/Kota. mensosialisasikan. BBKSDA. melindungi yang sudah ada.5) Pemberdayaan dan Peningkatan Peran Masyarakat dan Swasta. pada CAT Serang-Tangerang. situ dan kolam retensi sesuai kebutuhan. Dinas PU/CK/SDA Kab/Kota. Melaksanakan rehabilitasi situ melalui perencanaan partisipatif masyarakat setempat. peraturan standar bangunan dan pengendalian IMB Melaksanakan pembuatan sumur resapan dan biopori kepada masyarakat (20162020) = 30% area. PDAM. BPDAS. mengawasi dan menindak terhadap pencurian air serta menerapkan hemat air Melaksanakan efisiensi dan hemat air keperluan rumah tangga dan industri PDAM.2 PENGAWETAN AIR B P C P D P 2 3 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis 1) Belum optimalnya pembangunan dan pemeliharaan tampungan air (masih banyak air terbuang pada musim hujan) 2) Berkurangnya luas daerah resapan di bagian hulu dan tengah wilayah Cidanau-Ciujung-Cidurian Sasaran/Target yang diinginkan Bertambah dan terpeliharanya waduk.Tabel 4. Kelompok Masyarakat P P P P P P Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. serta menindak pengambilan yang melampaui ijin atau tidak berijin. butir 3 Mengganti pipa-pipa distribusi air minum yang lama. Badan Regulator. BBWS. BBWS.1. serta menindak pengambilan yang melampaui ijin atau tidak berijin. pada Wilayah Cidanau-CiujungCidurian (15%) Menyusun Perda tentang perlindungan dan fungsi situ serta mensosialisasikannya P P P Melaksanakan rehabilitasi situ melalui perencanaan partisipatif masyarakat setempat. untuk mengembalikan kapasitas dan fungsinya sesuai rencana Mensosialisasikan peraturan tentang sempadan situ. Permukiman. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. kumulatif (100%) BBWS. BUMN-HL. mengawasi dan menindak terhadap pencurian air serta menerapkan hemat air Mengganti pipa-pipa distribusi air minum yang lama. Kelompok Masyarakat Dinas ESDM/Pertambangan. Menetapkan dan mematok sempadan sumber air di sekitar mata air (jumlah 50%) Melaksanakan inventarisasi kerusakan mata air. Polri. muka tanah dan/ atau intrusi air laut 9) Masih rendahnya effisiensi pemakaian air oleh berbagai kepentingan Terlindunginya situ secara berkelanjutan Menerapkan Perda tentang perlindungan dan fungsi situ Menerapkan. aliran permukaan Balai PSDA. melindungi yang sudah ada. mengawasi dan menindak bagi pelanggar Perda tentang perlindungan dan fungsi situ Melaksanakan pemberdayaan masyarakat di sekitar mata air dan situ (jumlah 50%. kumulatif 100%). mengawasi dan menindak terhadap pencurian air serta menerapkan hemat air Mengganti pipa-pipa distribusi air minum yang lama. situ dan kolam retensi i Jangka Pendek (2011-2015) Membangun waduk. disertai penyediaan kebutuhan air permukaan secara berkelanjutan Melaksanakan pengendalian dan pemantauan pengambilan air tanah. kumulatif (40%) Mengawasi dan memelihara sempadan sumber air di sekitar mata air Melindungi keberadaan lingkungan sumber air dengan memasang patok batas sempadan yang jelas BBWS. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. Kelompok Masyarakat P P P P Tercapainya efisiensi pemakaian air irigasi Tercapainya efisiensi pemakaian air rumah tangga dan industri Berkurangnya kebocoran distribusi air minum lihat (5. serta menindak pengambilan yang melampaui ijin atau tidak berijin. PT. Kelompok Masyarakat Melaksanakan rehabilitasi dan OP mata air (50%). disertai penyediaan kebutuhan air permukaan. PU/SDA . DPRD. Menetapkan dan mematok sempadan situ (jumlah 50%) Menginventarisasi kerusakan situ dan prasarananya. kumulatif (100%) Melaksanakan pengendalian dan pemantauan pengambilan air tanah. BLHD. Satpol PP. Aspek/Sub Aspek A 1. kumulatif (100%) Mengawasi dan memelihara sempadan situ Melakukan perbaikan dan pemeliharaan BBWS. kumulatif 50% area iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) Membangun waduk. pada Wilayah Cidanau-CiujungCidurian (25%). secara berkelanjutan Dinas PU/SDA. Dinas PU/SDA Prov. Kelompok Masyarakat Melindungi keberadaan lingkungan situ dengan memasang patok batas sempadan secara jelas Melindungi dan memulihkan kapasitas dan fungsi situ di Wilayah CidanauCiujung-Cidurian BBWS. PU/SDA . menegakkan dan menindak bagi pelanggar Perda tentang perlindungan dan fungsi situ Melakukan pemberdayaan masyarakat di sekitar mata air dan situ untuk ikut berperan melindungi lingkungan sumber air Melaksanakan pemantauan dan penertiban pengambilan air tanah./Kota Terkait. kumulatif (50%) Menetapkan dan mematok sempadan situ (jumlah 50%. C atau D halaman 144 . untuk ikut memelihara sumber air Terlaksananya pengendalian pengambilan air tanah Melaksanakan pemberdayaan masyarakat di sekitar mata air dan situ (jumlah 25%) Melaksanakan pemberdayaan masyarakat di sekitar mata air dan situ (jumlah 25%. Merehabilitasi dan OP mata air (25%) Meningkatkan jumlah air yang meresap dan menurunkan angka pengaliran Dinas Permukiman/Tata Kota. peraturan standar bangunan dan pengendalian IMB Melaksanakan pembuatan sumur resapan dan biopori kepada masyarakat (20212030) = 50 % area.5) Pemberdayaan dan Peningkatan Peran Masyarakat dan Swasta. Balai PSDA./Kab/Kota. Balai PSDA. Kelompok Masyarakat P P P P 5) Adanya kerusakan situ dan prasarananya Terlindunginya situ di wilayah Cidanau-Ciujung-Cidurian secara berkelanjutan Terlaksananya rehabilitasi situ. Kelompok Masyarakat P P P P 6) Masih terjadinya alih fungsi situ menjadi pemukiman atau tempat usaha 7) Kurangnya pemberdayaan masyarakat sekitar mata air dan situ berkaitan dengan pemeliharaan sumber air 8) Terjadinya pengambilan air tanah dalam yang melampaui batas dan pemantauan yang lemah. serta melaksanakan pemeliharaannya Melindungi dan meningkatkan luas daerah resapan di bagian hulu dan tengah di seluruh DAS secara berkelanjutan melalui kampanye penyadaran masyarakat. disertai penyediaan kebutuhan air permukaan secara berkelanjutan P P P P P P Terwujudnya pemberdayaan masyarakat sekitar mata air dan situ. BLHD. B. Perum Perhutani. 3 dan 4 1 KONSERVASI 1 No. Kehutanan Prov/Kab/Kota terkait. Mengawasi dan memelihara sempadan situ Melaksanakan rehabilitasi situ melalui perencanaan partisipatif masyarakat setempat. kumulatif 100%). PU/CK/SDA. melindungi yang sudah ada. serta melaksanakan pemeliharaannya Melindungi dan meningkatkan luas daerah resapan di bagian hulu dan tengah di seluruh DAS secara berkelanjutan melalui kampanye penyadaran masyarakat. Kelompok Masyarakat Dinas PU/SDA. mensosialisasikan. Kehutanan Prov/Kab/Kota Terkait. kumulatif 100% area Kebijakan operasional Lembaga/Instansi/Kelompok Masyarakat/Dunia Usaha Terkait Menampung air hujan untuk mengurangi BBWS. Mengawasi dan memelihara sempadan sumber air di sekitar mata air Melaksanakan rehabilitasi dan OP mata air (25%). Kelompok Masyarakat P P P Terlindunginya dan meningkatnya luas daerah resapan di bagian hulu dan tengah wilatyah CidanauCiujung-Cidurian Menyadarkan masyarakat untuk meningkatkan fungsi daerah resapan dan mengendalikan IMB Dinas Tata Ruang. 2. BBWS. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. BPDAS.

pengawas dan penegak hukum (PPNS) melalui fasilitasi training tentang pengelolaan lingkungan (khususnya kualitas air) Melaksanakan sosialisasi peraturan tentang syarat kualitas air limbah (terutama logam berat). Bappeda. serta menegakkan peraturan. C atau D halaman 145 . Merencanakan dan membangun saluran pembuangan air limbah perkotaan terpisah dari saluran drainasi. Kelompok Masyarakat BLHD. PPNS. Dinas PU/SDA. serta updating peta lokasi dan jenis industri di wilayah 3 Ci Merencanakan dan membangun saluran pembuangan air limbah perkotaan terpisah dari saluran drainasi. Dinas PU/SDA Prov/kab/kota. BBWS. biogas).1. kumulatif 15%). Melaksanakan sosialisasi penggunaan pestisida dan pupuk secara benar dan sesuai anjuran.3 Aspek/Sub Aspek PENGELOLAAN KUALITAS AIR DAN PENGENDALIAN PENCEMARAN A P 2 B P 3 C P 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis D P 1) Menurunnya kualitas air dibandingkan dengan standar baku/ kelas peruntukan sungai (tercemar ringan sampai sedang) Sasaran/Target yang diinginkan Peningkatan kualitas air sungai. bila perlu memperbaharui Perda mengacu pada peraturan pemerintah terbaru. Kelompok Masyarakat P P P BLHD. PU/SDA tk Prov/kab/kota. beserta penyiapan organisasi pengelolanya Melaksanakan evaluasi Perda terkait dengan limbah industri dan lingkungan. BLHD. serta terintegrasi dalam sistim informasi kualitas air BPHD. sungai. Kelompok Masyarakat P P P P Melaksanakan penyadaran masyarakat tani tentang penggunaan pestisida dan pupuk sesuai anjuran Melaksanakan monitoring kualitas air saluran irigasi. Dinas PU. Dinas Perindustrian. terutama terhadap limbah industri secara rutin. situ dan waduk. secara bertahap Dinas PU/CK. Dinas PU/PSDA. Kelompok Masyarakat P P Menyusun perencanaan pembangunan IPAL industri terpadu pada kawasan industri. Dinas Perindustrian. situ dan waduk. situ dan waduk. Bappeda limbah cair rumah tangga Prov/kab/kota. Dinas Pertanian. perdesaan & komunal (terutama daerah berpenduduk padat & sekitar sumber air). 3 dan 4 1 KONSERVASI 1 No. serta monitoring kepatuhan petani di lapangan Melaksanakan monitoring kandungan pestisida dan pupuk di saluran irigasi. Membangun IPAL industri terpadu pada kawasan industri. Kelompok Masyarakat P P P P Melaksanakan pemberdayaan BLHD. potensi pencemar. Kelompok Masyarakat Melaksanakan peningkatan sistim monitoring kualitas air sungai BBWS. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. BBWS. Dinas PU/SDA. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (3 Ci) pada Skenario 1. potensi pencemar. situ dan waduk. terutama pada kawasan pengembangan perumahan atau perkotaan baru Melaksanakan sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat thd penggunaan pengolahan limbah cair individu. BLHD. serta menegakkan peraturan Mengoperasikan sistem monitoring kualitas air real time Meningkatkan SDM petugas monitoring. Bappeda PU/SDA Prov/kab/kota. BBWS. Melaksanakan sosialisasi pemanfaatan limbah peternakan (untuk pupuk organik. IPAL. BLHD. Dinas Perindustrian. PU/SDA Prov/kab/kota. secara bertahap (35% area kota. Dinas Perindustrian. Kelompok Masyarakat P P Merencanakan dan membangun sistem sanitasi perkotaan dengan memisahkan saluran pembuangan air limbah perkotaan dari saluran drainasi kota. Dinas masyarakat thd penggunaan pengolahan Kesehatan. Melaksanakan updating data base lokasi dan jenis industri. Dinas Perindustrian. terutama terhadap limbah industri secara rutin. bila perlu memperbaharui Perda mengacu pada peraturan pemerintah terbaru. terutama terhadap limbah industri secara rutin.Tabel 4. Superkasih) dan program penilaian kinerja perusahaan (Proper). disertai percontohan dan pemberdayaan petani Melaksanakan pembangunan IPAL peternakan dan pemberdayaan peternak P P P P Dinas PU/SDA. serta mendorong pembangunan IPAL Melaksanakan monitoring kualitas air. Melaksanakan pemanfaatan limbah ternak (pupuk organik. BLHD. BLHD. BLHD. BLHD Prov/Kab/Kota. dan mengoperasikannya Mengembangkan IPAL industri terpadu pada kawasan industri. Kelompok Masyarakat P P P P Dinas Peternakan. Membangun dan mengoperasikan sistem monitoring kualitas air real time Meningkatkan SDM petugas monitoring. secara berkelanjutan Melaksanakan pengawasan ketat kualitas limbah industri sesuai baku mutu limbah cair (terutama logam berat) disertai penegakan hukum bagi pelanggar. terhadap sisa/ limbah pestisida dan pupuk Melaksanakan pemanfaatan limbah ternak. potensi pencemar. sungai. terutama pada kawasan pengembangan perumahan atau perkotaan baru Melaksanakan sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat thd penggunaan pengolahan limbah cair individu. Kepolisian. 1. dan kewajiban penggunaan IPAL industri. Melaksanakan sosialisasi penggunaan pestisida dan pupuk secara benar dan sesuai anjuran. BBWS. Kelompok Masyarakat. secara bertahap (10% area kota. TKPSDA. disertai percontohan dan pemberdayaan peternak Melaksanakan sosialisasi penggunaan IPAL peternakan. Kelompok Masyarakat BBWS. dan kewajiban penggunaan IPAL industri. Kelompok Masyarakat Mengalokasikan air untuk penggelontoran sungai P P P P Menegakkan peraturan tentang kelas air sungai dan waduk * Menegakkan peraturan tentang kelas air sungai dan waduk Menetapkan kelas air sungai dan waduk BLHD. B. BBWS. dan mengoperasikannya Melaksanakan evaluasi Perda terkait dengan limbah industri dan lingkungan. dan kewajiban penggunaan IPAL industri. Dinas Kebersihan. Kelompok Masyarakat P P P Melaksanakan evaluasi Perda terkait dengan limbah industri dan lingkungan. sungai. evaluasi melaksanakan penegakan hukum terhadap pelanggar yang melakukan pencemaran Melaksanakan alokasi air penggelontoran sungai iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) Melakukan pemantauan. terutama berkaitan logam berat. disertai pembangunan IPAL percontohan dan pemberdayaan peternak Membangun IPAL industri terpadu pada kawasan industri. swasta P P P Melaksanakan pembangunan IPAL peternakan Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. perdesaan & komunal (terutama daerah berpenduduk padat & sekitar sumber air). Dinas PU/SDA. penyusunan. 2. Bappeda Prov/ Kab/Kota. IPAL. serta menegakkan peraturan. BBWS. TKPSDA. disertai percontohan dan pemberdayaan petani Melaksanakan pembangunan IPAL peternakan dan pemberdayaan peternak Swasta. Menyusun data base industri. Kelompok Masyarakat Meningkatkan SDM petugas terkait BBWS. dan mengoperasikannya Melaksanakan evaluasi Perda terkait dengan limbah industri dan lingkungan. 5) Limbah peternakan belum diolah sebagaimana mestinya Terwujudnya pengendalian limbah peternakan. situ dan waduk (min. BBWS. serta mendorong pembangunan IPAL Memberikan teguran dan penindakan (penegakan hukum) bagi industri yang membuang limbah tidak melalui IPAL Melaksanakan monitoring kualitas air. sungai. perdesaan & komunal (terutama daerah berpenduduk padat & sekitar sumber air). monitoring kualitas air real time Perindustrian Prov/ Kab/Kota. Bappeda. Perindustrian. BLHD. serta updating peta lokasi dan jenis industri di wilayah 3 Ci Merencanakan dan membangun saluran pembuangan air limbah perkotaan terpisah dari saluran drainasi. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. pengawas dan penegak hukum (PPNS) melalui fasilitasi training tentang pengelolaan lingkungan (khususnya kualitas air) 2) Belum opmimalnya pengelolaan limbah industri Terwujudnya pengendalian pencemaran dari limbah industri Melaksanakan sosialisasi peraturan tentang syarat kualitas air limbah (terutama logam berat). pengawas dan penegak hukum (PPNS) melalui fasilitasi training tentang pengelolaan lingkungan (khususnya kualitas air) Melaksanakan sosialisasi peraturan tentang syarat kualitas air limbah (terutama logam berat). Melaksanakan updating data base lokasi dan jenis industri. Melaksanakan identifikasi. BBWS. BBWS. Melaksanakan sosialisasi penggunaan pestisida dan pupuk secara benar dan sesuai anjuran Melaksanakan monitoring kandungan pestisida dan pupuk di saluran irigasi. Kelompok kualitas air) Masyarakat P P P P Memasyarakatkan Perda tentang pengolahan limbah industri dan kualitas limbah yang dapat dibuang ke perairan umum. kumulatif 50%). Merencanakan sistem monitoring kualitas air real time Meningkatkan SDM petugas monitoring. terutama pada kawasan pengembangan perumahan atau perkotaan baru Melaksanakan sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat thd penggunaan pengolahan limbah cair individu. secara bertahap (5% area kota). Dinas PU/SDA. Balai PSDA. bila perlu memperbaharui Perda mengacu pada peraturan pemerintah terbaru. serta pemetaan lokasi dan jenis industri di wilayah 3 Ci 3) Limbah cair domestik dan perkotaan belum diolah sebagaimana mestinya Terwujudnya pengendalian pencemaran dari limbah cair domestik dan perkotaan. BBWS. Dinas Perindustrian. secara rutin Merencanakan dan mengalokasi air penggelontoran melalui kesepakatan dalam TKPsumber daya air. IPAL. Kelompok Masyarakat P P P P Memberikan teguran dan penindakan (penegakan hukum) bagi industri yang membuang limbah tidak melalui IPAL BLHD. Dinas PU Prov/kab/kota. Melaksanakan pemanfaatan limbah ternak (pupuk organik. Kelompok Masyarakat P P P P Melaksanakan monitoring kualitas air. evaluasi melaksanakan penegakan hukum terhadap pelanggar yang melakukan pencemaran Melaksanakan alokasi air penggelontoran sungai Kebijakan operasional Meningkatkan kualitas air sungai sesuai atau lebih baik dari standar baku mutu Lembaga/Instansi/Kelompok Masyarakat/Dunia Usaha Terkait Dinas Kebersihan. biogas). updating data base: lokasi dan jenis industri. PU/SDA Prov/kab/kota. bila perlu memperbaharui Perda mengacu pada peraturan pemerintah terbaru. serta melaksanakan penggelontoran sungai Mendorong terbitnya penetapan kelas air sungai dan waduk oleh Gubernur P P P STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Melakukan pemantauan. 4) Masih adanya bahaya dari sisa penggunaan pupuk dan obat-obatan pertanian Terwujudnya pengendalian limbah pertanian. biogas). Dinas Perindustrian. Kelas II menurut PP no 82/2001) i Jangka Pendek (2011-2015) Melaksanakan program kali bersih secara terpadu (Prokasih. instansi terkait di Prov/Kab/kota. serta monitoring kepatuhan petani di lapangan Melaksanakan monitoring kandungan pestisida dan pupuk di saluran irigasi. BLHD. pengelolaan lingkungan (khususnya Perindustrian Prov/ Kab/Kota. serta mendorong pembangunan IPAL Memberikan teguran dan penindakan (penegakan hukum) bagi industri yang membuang limbah tidak melalui IPAL P P P P P Membangun dan mengoperasikan sistem BBWS.

BBWS. dengan menerapkan insentif pada tahap awal Melarang membuang sampah ke sungai/ badan air lainnya. recycle) Mengembangkan pengelolaan sampah melalui sistem bank sampah oleh swasta dan masyarakat. reuse. recycle). reuse. C atau D halaman 146 . Dinas Kebersihan. Dinas Kebersihan. BLHDkab/kota. P P P P P iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) Meningkatkan layanan pengambilan sampah perkotaan dan perdesaan dan penambahan tempat pembuangan sampah sementara maupun pembuangan akhir. Aspek/Sub Aspek A P 2 B P 3 C P 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis D P 6) Pengelolaan limbah/sampah belum optimal Sasaran/Target yang diinginkan Terwujudnya pengelolaan limbah sampah i Jangka Pendek (2011-2015) Meningkatkan layanan pengambilan sampah perkotaan dan perdesaan dan penambahan tempat pembuangan sampah sementara maupun pembuangan akhir. BLHD. BLHD kab/kota. PU/CK. Dinas PU/CK kab/kota. PU/CK. Kelompok Masyarakat Bappeda. 3 dan 4 1 KONSERVASI 1 No. Lembaga/Instansi/Kelompok Masyarakat/Dunia Usaha Terkait Bappeda. BLHD kab/kota. Kebijakan operasional Merencanakan dan melaksanakan pengelolaan sampah perkotaan dan pedesaan secara terpadu dan berkelanjutan Melaksanakan pengelolaan sampah melalui sistem 3R (reduce. Kelompok Masyarakat. Kelompok Masyarakat P P P P Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci ( 3 Ci) pada Skenario 1. dan berkelanjutan Mengembangkan pengelolaan sampah melalui sistem daur ulang dan bank sampah oleh swasta dan masyarakat.Tabel 4. Dinas Kebersihan. reuse. Kelompok Masyarakat Bappeda. 2. Melaksanakan pengelolaan sampah perkotaan dan pedesaan secara terpadu melalui sistem 3R (reduce. dan berkelanjutan Memperkenalkan.1. reuse. B. sosialisasi dan percontohan pengelolaan sampah melalui sistem daur ulang dan bank sampah oleh Pemda Melaksanakan sosialisasi pelarangan membuang sampah ke sungai/ badan air lainnya disertai tindakan hukum bagi pelanggarnya. STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Meningkatkan layanan pengambilan sampah perkotaan dan perdesaan dan penambahan tempat pembuangan sampah sementara maupun pembuangan akhir. Melaksanakan pengelolaan sampah perkotaan dan pedesaan secara terpadu melalui sistem 3R (reduce. dan berkelanjutan Mengembangkan pengelolaan sampah melalui sistem daur ulang dan bank sampah oleh swasta dan masyarakat Melaksanakan sosialisasi pelarangan membuang sampah ke sungai/ badan air lainnya disertai tindakan hukum bagi pelanggarnya. recycle). dengan menerapkan insentif Melaksanakan sosialisasi pelarangan membuang sampah ke sungai/ badan air lainnya disertai tindakan hukum bagi pelanggarnya. swasta Dinas Kebersihan. recycle). Melaksanakan pengelolaan sampah perkotaan dan pedesaan secara terpadu melalui sistem 3R (reduce. Dinas PU/CK/SDA.

Mengoperasikan Bendungan Karian (2018): air baku ke Tangerang & Jakarta 9. serta Water Treatment Plan. manfaat 7 m3/det air irigasi dan air baku RKI BBWS. kab.2 m3/det Meningkatkan cakupan layanan PAM dengan menambah sambungan rumah tangga menjadi (50% jml penduduk) Mengoperasikan KSCS tahap I setelah bendungan Karian terbangun. P3A. menetapkan. Stasiun Pompa Cidanau dan pipa pembawa. Kelompok Masyarakat Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. B. debit 3. Dinas PU/SDA Prov. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci ( 3 Ci) pada Skenario 1. 2. Melaksanakan pengawasan dan penindakan terhadap pelanggaran pengambilan air Melaksanakan kampanye dan edukasi Hak Guna Air. PU/SDA.KTI. Mengoperasikan (2018) Mengoperasikan Bendungan Krenceng.8 m3/det Melaksanakan konstruksi (2021-2024) dan mengoperasikan Bendungan Pasirkopo (2025)./kota. kegiatan industri dan kegiatan ekonomi yang tinggi berkaitan dengan rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda. melalui Dewan sumber daya air. air baku RKI termasuk suplai air baku ke ibukota Jakarta Mengkaji kembali kebijakan Resettlement (dan ganti rugi. pembebasan lahan untuk Saluran Pembawa Karian Serpong Conveyance System (2013-2014)./Kota sesuai target MDG's Meningkatkan cakupan layanan PAM dengan menambah sambungan rumah tangga menjadi (60% jml penduduk) Meningkatkan cakupan layanan PAM dengan menambah sambungan rumah tangga menjadi (70% jml penduduk) Meningkatkan jumlah sambungan rumah PDAM Prov/Kab/Kota.Cidurian BBWS. termasuk penetapan kelas air sungai Terbitnya penetapan zona pemanfaatan sumber air dan terintegrasinya pada peta RTRW Prov. Ditjen SDA. BBWS. mendukung pemenuhan kebutuhan air sesuai pertumbuhan jumlah penduduk. Kelompok Masyarakat P P P P P P P 3) Perlu tambahan penyediaan pasokan air baku ke Jakarta dari arah barat. dan mengoperasikan Bendungan Cidanau (2022). Stasiun Pompa Cidanau dan pipa pembawa. Menerapkan hasil kajian untuk pembebasan lahan selanjutnya --- --- Mengendalikan pengambilan air pernukaan untuk RKI sesuai SIPA. termasuk untuk pengembangan Pelabuhan Bojonegara dan suplai air baku ke ibukota Jakarta P P P Mengoperasikan Bendungan Sindang Heula (2022): air baku Serang 0. serta saluran pembawa KSCS Menyimpan air pada waduk-waduk dan BBWS.2 PENYEDIAAN SUMBER DAYA AIR P P P P P P P P Melaksanakan kampanye dan edukasi Hak Guna Air. BBWS. BPN Prov. long storage untuk memenuhi penyedian Ditjen SDA. merumuskan Pergub melalui Dewan sumber daya air prov. Melaksanakan pengawasan dan penindakan terhadap pelanggaran pengambilan air P P P P P P P P Terlaksananya penyediaan lahan untuk program pembangunan waduk. Pertanian/ Perkebunan. Melaksanakan pembangunan Bendungan Tanjung atau Cilawang (2026-2030). Dinas Perindustrian. Kelompok Masyarakat penduduk. Dinas PU/SDA Prov Jabar. kab/kota Memanfaatkan panen air hujan/ tampungan lokal untuk kebutuhan setempat Dinas PU/SDA/CK Prov/Kab/Kota. serta air baku dan irigasi ke Serang 5. serta melaksanakan pembangunannya (2015-2017) Menyusun perencanaan detail peningkatan Bendungan Krenceng. merumuskan. Saat ini terdapat air bersih 3 m3/det dari S. Menerapkan Pergub Memantau pelaksanaan zona pemanfaatan air dan melakukan revisi jika diperlukan Membangun kolam-kolam tampungan air setempat sesuai kebutuhan Kebijakan operasional Menyusun. secara berkelanjutan Menyimpan air pada waduk-waduk untuk PT.5) Pemberdayaan dan Peningkatan Peran Masyarakat dan Swasta./kota. Kelompok Masyarakat Menyediakan air irigasi dan air baku RKI BBWS. P P P Menyusun studi kelayakan dan perencanaan detail Long Storage Ciujung Lama (20132015) Menyusun perencanaan detail Bendung Karet Citawing (2013)./Kota Melaksanakan pembangunan Karian Serpong Conveyance System (KSCS) tahap I. Dinas Sosial.Jawa dan P. kab. Dinas PU/SDA Prov.Ciujung dan S. 3 dan 4 2 No. secara adil dan dapat bermanfaat untuk penghidupan selanjutnya BBWS.Sumatera Terlaksananya penyediaan air irigasi dan air baku RKI. C atau D halaman 147 . dan pembebasan lahan (20162018). Kelompok Masyarakat 2. mensosialisasikan dan menerapkan Pergub peruntukan air dari sumber air termasuk klas air sungai Lembaga/Instansi/Kelompok Masyarakat/Dunia Usaha Terkait Dinas PU/SDA. Kemdagri./kota. melaksanakan perencanaan detail. PT. Bappeda. dan prasarana sumber daya air lainnya melalui pembebasan lahan yang adil dan menguntungkan masyarakat yang terkena dampak Terbangunnya waduk dan tampungan air untuk penyediaan air irigasi. BBWS.Tabel 4. serta melaksanakan penegakan hukum bagi pelanggarnya Melaksanakan pembebasan lahan untuk keperluan program pembangunan melalui resttlement dan ganti rugi kepada masyarakat terdampak. Direncanakan tambahan debit 2 m3/det (total menjadi 4 m3/det) ke waduk Krenceng Menyusun perencanaan detail Bendungan Tanjung atau Cilawang. Pergub peruntukan air dari sumber air (termasuk klas air sungai). saluran pembawa. serta air irigasi Cibanten 0. Kelompok Masyarakat P P P P 2) Belum adanya zona pemanfaatan sumber air yg memperhatikan berbagai macam pemanfaatan 1) Adanya kekurangan air untuk kebutuhan irigasi dan RKI.1.2 m3/det ke Jakarta Merencanakan dan membangun KSCS tahap II setelah bendungan Pasirkopo/ Tanjung/ Cilawang terbangun Meningkatnya cakupan layanan PAM Kab. secara berkelanjutan Menetapkan zona pemanfaatan sumber air dan memadukan pada peta RTRW Prov dan Kabupaten /Kota Membangun kolam-kolam tampungan air setempat sesuai kebutuhan lihat (5. Stasiun Pompa Cidanau (2011-2013). kab. dan pembebasan lahan (2021-2025). Melaksanakan konstruksi peningkatan Bendungan Krenceng dan Sta. dan air irigasi sesuia kebutuhan.1 PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR 1 Aspek/Sub Aspek PENATAGUNAAN SUMBER DAYA AIR 2 B P 3 C P 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis Sasaran/Target yang diinginkan Terbitnya Pergub peruntukan air pada sumber air pada ruas/ lokasi tertentu. karena kurangnya tampungan air/ waduk Mengkaji menetapkan zona pemanfaatan Dinas Tata Ruang. Kab/Kota. Banten Tercukupinya kebutuhan air irgasi desa dan air rumahtangga pedesaan Meningkatnya efisiensi penggunaan air RKI utk mengurangi kebutuhan air Mengurangi pencurian air atau pemborosan air RKI dan irigasi D P i Jangka Pendek (2011-2015) Menyusun. kegiatan industri dan kegiatan ekonomi yang tinggi Penyediaan tambahan suplai air baku/ air bersih ke Jakarta --- Melanjutkan pelaksanaan konstruksi. Menerapkan Pergub Mengkaji ulang dan menetapkan kembali zona pemanfaatan air dan memadukan pada peta RTRW Prov dan kab/Kota Membangun kolam-kolam tampungan air setempat sesuai kebutuhan iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) Mengkaji ulang dan merumuskan kembali Pergub peruntukan air dari sumber air (termasuk klas air sungai).Cisadane ke Jakarta 4) Keterbatasan layanan PDAM Kab. Kelompok masyarakat Prov. butir 3 Melaksanakan kampanye dan edukasi Hak Guna Air. Ditjen SDA. membangun KSCS tahap I dan WTP (2015-2017) Melaksanakan pembebasan lahan lokasi genangan waduk Sindang Heula (2015-2016) Melanjutkan pembangunan Bendungan Karian dan KSCS. dalam rangka pembebasan lahan sesuai dengan kondisi masyarakat dan lingkungan setempat. Kelompok Masyarakat memenuhi penyedian air RKI kota dan kawasan industri Cilegon P P Menyusun perencanaan detail Bendungan Cidanau.KTI. serta konstruksi Bendungan Cidanau (2019) Melaksanakan studi kelayakan Bendungan Tanjung dan Cilawang (2018-2020) P 2) Antisipasi peningkatan jumlah penduduk. Tata Kota.KTI.Pompa (2014-2015) Menyusun studi kelayakan Bendungan Cidanau (2013-2014). dan mensosialisasikan peruntukan air dari sumber air (termasuk klas air sungai). saluran pembawa dan WTP (2018-2021) Menyusun perencanaan detail Bendungan Pasirkopo (2016-2017). dan Perencanaan Detail (2015) P P P P Mengoperasikan Bendung Karet Citawing P P P P Mengoperasikan Bendungan Krenceng. Dewan SDA prov. Kelompok Masyarakat Pemda. Banten. BBWS. serta mendukung kebutuhan air baku Jakarta Barat Menyediakan pasokan air ibukota Jakarta dengan membangun wadukwaduk di S.Kepolisian.8 m3/det. Dinas PU/CK tangga mencapai 70% jml penduduk Kab. dan pembebasan lahan (2019-2020) Melaksanakan konstruksi termasuk WTP (2016-2017) dan mengoperasikan Long Storage Ciujung Lama (2018) Melaksanakan pembangunan Bendung Karet Citawing termasuk WTP (20152017). Kelompok Masyarakat Melaksanakan konstruksi bendungan Karian (2014-2017). untuk mengimbangi pertumbuhan jumlah PT.Kota. Bappeda. Ditjen SDA. 2. BBWS. Melaksanakan pengawasan pengambilan air baku RKI dan irigasi A P 1) Belum adanya peraturan peruntukan air pada sumber air pada ruas/ lokasi tertentu STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Mengkaji ulang dan merumuskan kembali. Dinas PU/SDA Prov DKI Jkt. serta kegiatan industri dan ekonomi berkaitan dengan rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda penghubung antara P. PU/SDA air dan memadukan pada peta RTRW Prov. melalui Dewan sumber daya air.5 m3/det melalui S. Kelompok Masyarakat air irigasi dan RKI wilayah 3 Ci. manfaat air irigasi dan air baku 7 m3/det Mengoperasikan Long Storage Ciujung Lama P P Melaksanakan studi kelayakan Bendungan Pasirkopo (2015). Dinas PU/SDA Prov.Ciberang Melaksanakan konstruksi bendungan Sindang Heula.1 m3/det melalui KSCS. secara berkelanjutan Melaksanakan Operasi dan Pemeliharaan Bendungan Karian. debit rencana air bersih ke Jakarta 3.

seiring dengan pelaksanaan rehabilitasi jaringan irigasi. Timur.Ciliman dan DI. Rehabilitasi) Mutakhirnya SOP waduk Krenceng sesuai peraturan. kumulatif 75%) Melaksanakan rehabilitasi jaringan perikanan dan tambak rakyat (25% area. kumulatif 60% Melaksanakan rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi kewenangan Provinsi. kumulatif 100%) dan pembinaan perannya dalam irigasi partisipatif Peningkatan IP dari 265% ke 280% Menyusun prioritas OP dan rehab jaringan dengan berdasarkan PAI. Kumulatif 100% Melaksanakan rehabilitasi dan peningkatan DI kewenangan Pusat (DI. Kumulatif 60% Melaksanakan rehabilitasi dan peningkatan DI kewenangan Pusat (DI. kumulatif (100%) Melaksanakan OP waduk/situ oleh BBWS/Dinas PU/swasta sesuai kewenangannya secara berkelanjutan Penganggaran OP sesuai kebutuhan nyata pengelolaan situ-situ. seluas 30% area.Ciliman dan DI. Cidurian. berakibat menurunnya fungsi layanan Terlaksananya OP prasarana sungai sesuai standar Melaksanakan rehabilitasi dan peningkatan DI kewenangan Pusat (DI. Melegalisasi AKNOP Irigasi (2015) Melaksanakan inventarisasi kondisi jaringan dalam rangka aset manajemen irigasi (25% area) Melaksanakan pemberdayaan petani/ P3A dalam pengelolaan jaringan irigasi tingkat tersier (30% area) dan pembinaan perannya dalam irigasi partisipatif Peningkatan IP dari 210% ke 250% Melaksanakan AKNOP irigasi di seluruh DI wilayah 3 Ci (2016-2020) pada total area 50% Melaksanakan AKNOP irigasi di seluruh DI wilayah 3 Ci (2016-2020) pada total area menjadi 100% Mereview AKNOP Saluran Irigasi dikaitkan dengan areal (Rp/Ha) dan bangunan (rp/ha). untuk jangka panjang melakukan pemisahan fungsi saluran Irigasi dan saluran air baku RKI Melaksanakan rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi mencapai 100% P P P P Melaksanakan rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi (DI Cidurian. sesuai kesepakatan Melaksanakan rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi (DI Cidurian. serta menambah bangunan/ alat pengukur debit.Ciujung). sesuai kesepakatan iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) Melaksanakan pemisahan saluran pembawa air baku dari saluran induk irigasi Pamarayan Barat. DI. kumulatif 100% Kebijakan operasional Melaksanakan alokasi air baku RKI dan air irigasi sesuai kebutuhan. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (3 Ci) pada Skenario 1. baik secara swakelola maupun kontraktual P P P 4) Belum adanya SOP tampungan/ situ di Wilayah Cidanau-CiujungCidurian Tersedianya SOP tampungan/situ di Wilayah Cidanau-Ciujung-Cidurian Melegalisasi dan mendesiminasikan SOP tampungan/situ di Wilayah CidanauCiujung-Cidurian (2016-2020) Melegalisasi dan mendesiminasikan SOP tampungan/situ di Wilayah CidanauCiujung-Cidurian (2021-2030) Menyiapkan SOP tampungan/situ di Wilayah Cidanau-Ciujung-Cidurian P P P P 5) Belum mutakhirnya SOP waduk Krenceng P P P P 6) Belum tersusunnya pedoman Operasional penyusunan AKNOP (analisa kebutuhan nyata operasi dan pemeliharaan) Irigasi 7) Belum terlaksananya aset manajemen irigasi (OP. seluas 30% area. DI.sungai. Cidurian.243 ha Melakukan kajian AKNOP irigasi di Seluruh DI 3 Ci (2011-2013) dan menguji coba pelaksanaan AKNOP irigasi di beberapa DI (2013-2014).3 Aspek/Sub Aspek PENGGUNAAN SUMBER DAYA AIR A P 2 B P 3 C P 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis D P 1) Terganggunya fungsi irigasi karena adanya pengambilan air baku RKI di saluran induk irigasi Pamarayan Barat & Timur. seluas 30% area STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Melaksanakan alokasi air pada Saluran Induk Pamarayan Barat dan Timur.Ciujung).711 ha (DI.Cibaliung). serta menambah bangunan/ alat pengukur debit. kumulatif 60% Melaksanakan rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi kewenangan Provinsi. DI Ciujung). kumulatif 100% Melaksanakan rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi kewenangan Provinsi. peningkatan efisiensi dan peningkatan penyediaan air irigasi P P P P 10) Kondisi layanan jaringan pengairan perikanan dan tambak rakyat di pantai utara telah menurun. seluas 10. situ. Kab/Kota. butir 3 Melaksanakan kajian SOP tampungan/situ di Wilayah Cidanau-Ciujung-Cidurian (20112013) memformulasikan dan mengujicoba (2014-2015) Melaksanakan kaji ulang (2012-2013) SOP waduk Krenceng dan legalisasi (2014) Melaksanakan (50%) OP waduk/situ oleh BBWS/Dinas PU/swasta sesuai kewenangannya. serta menambah bangunan/ alat pengukur debit. seluas 30% area P P P P Melaksanaan OP prasarana sungai (Tingkat Pelayanan 50%) Melaksanaan OP prasarana sungai (Tingkat Pelayanan 75%) Melaksanaan OP prasarana sungai (Tingkat Pelayanan 100%) Melaksanaan OP prasarana sungai untuk mempertahahan tingkat layanan P P P Melaksanakan OP Waduk/Situ sesuai kebutuhan Meningkatnya efisiensi air irigasi P P P Melaksanakan (50%) OP waduk/situ oleh BBWS/Dinas PU/swasta sesuai kewenangannya lihat (5. DI. Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A.Ciliman dan DI. C atau D halaman 148 . terutama irigasi teknis dan semi teknis i Jangka Pendek (2011-2015) Mereview dan menyepakati alokasi air melalui Komisi Irigasi. terutama yang rusak berat Terlaksananya rehabilitasi jaringan irigasi kewenangan Provinsi dan Kab/Kota. dan Cidurian Melaksanakan rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi (DI Cidurian. B. 31. serta melaksanakan alokasi air pada Saluran Induk Pamarayan Barat dan Timur. Kab/Kota. PP 37 tahun 2010 tentang Bendungan Tersedianya pedoman operasional AKNOP irigasi Melaksanakan SOP di waduk Krenceng secara berkelanjutan Melaksanakan SOP di waduk Krenceng secara berkelanjutan Memutakhirkan SOP waduk Krenceng P P P P Terlaksananya penerapan Pengelolaan Aset Irigasi (PAI) secara berkelanjutan Terlaksananya irigasi partisipatif dan peningkatan kemampuan petani/ P3A dalam pengelolaan jaringan irigasi tingkat tersier Meningkatnya IP mencapai 280% pada 2030. 2. kumulatif 100%) Melaksanakan pemberdayaan petani/ P3A dalam pengelolaan jaringan irigasi tingkat tersier (40% area.Cibaliung).5) Pemberdayaan dan Peningkatan Peran Masyarakat dan Swasta. kumulatif 60%) dan pembinaan perannya dalam irigasi partisipatif Peningkatan IP dari 250% ke 265% Melaksanakan inventarisasi kondisi jaringan dalam rangka aset manajemen irigasi (50% area.592 ha (DI. seiring dengan pelaksanaan rehabilitasi jaringan irigasi. dll) belum memadai. 3 dan 4 2 PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR 1 No. seluas 30% area P P P P Mendukung pengembangan irigasi Prov. Kumulatif 100%) Merehabilitasi jaringan pengairan perikanan dan tambak rakyat.Cibaliung) 3) OP prasarana sumber daya air (Irigasi. seluas 40% area. seluas 40% area. 2. kumulatif 50%) Melaksanakan pemberdayaan petani/ P3A dalam pengelolaan jaringan irigasi tingkat tersier (60% area. Melaksanakan rehabilitasi jaringan perikanan dan tambak rakyat (25% area) Melaksanakan rehabilitasi jaringan perikanan dan tambak rakyat (50% area. Cidurian Terlaksananya rehabilitasi jaringan irigasi kewenangan Pusat di wilayah 6 Ci. sehingga terjadi konflik 2) Kerusakan prasarana jaringan irigasi mengakibatkan tidak efektif dan tidak efisiennya distribusi air irigasi Sasaran/Target yang diinginkan Terwujudnya harmonisasi penggunaan air irigasi dan air baku di saluaran Induk Pamarayan Barat dan Timur.Cidurian.Banten bagian selatan. Kab/Kota. seluas 40% area. serta bangunan utama Melaksanakan inventarisasi kondisi jaringan dalam rangka aset manajemen irigasi (25% area. dengan melaksanakan rehabilitasi dan peningkatan DI kewenangan Pusat 9.Cibaliung). Cidurian. seluas 30% area. peningkatan efisiensi dan penambahan penyediaan air irigasi Terlaksananya rehabilitasi jaringan perikanan dan tambak rakyat.Ciliman dan DI. P P P P 8) Kurangnya pembinaan masyarakat petani dalam pelaksanaan irigasi partisipatif Memberdayakan petani/ P3A dalam pengelolan jaringan irigasi tingkat tersier dan perannya dalam irigasi partisipatif P P 9) Masih rendahnya Indeks Pertanaman (IP) Menaikkan IP dg pemberdayaan petani (dari 210% ke 280%).Tabel 4.Ciujung).1.

dari sumber air lainnya. kumulatif = 60% Mendorong pelaksanaan pengembangan penerapan teknologi ultra filtrasi dan desalinasi oleh industri/ swasta. terutama dengan air baku dari Waduk Karian.4 PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR 2 B P 3 C P 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis D P 1) Belum optimalnya pemanfaatan potensi tenaga air Sasaran/Target yang diinginkan Terlaksananya pengembangan potensi tenaga air i Jangka Pendek (2011-2015) Melaksanakan inventarisasi potensi dan perencanaan pemanfaatan tenaga air (20112013).Tabel 4. serta meningkatkan kapasitas layanan PDAM P P P Mendorong pihak swasta untuk investasi dalam pengembangan pembangkit tenaga listrik mini hidro Mendorong pihak swasta untuk investasi dalam pengembangan pembangkit tenaga listrik mini hidro Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. BBWS. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (3 Ci) pada Skenario 1. industri/ swasta. teknologi ultra filtrasi dan desalinasi oleh Cilegon. Aspek/Sub Aspek A 2. terutama dengan air baku dari Waduk Karian. pada bendungan dan pengembangan Kelompok Masyarakat potensi mini dan mikro hydropower P P 2) Masih terbatasnya pengembangan penerapan teknologi ultra filtrasi dan desalinasi Terlaksananya pengembangan penerapan teknologi ultra filtrasi dan desalinasi. PDAM.Banten. B. C atau D halaman 149 . serta meningkatkan kapasitas layanan PDAM Mendorong pihak swasta untuk investasi dalam pelayanan air bersih untuk RKI. dengan pemberian Kelompok Masyarakat insentif bagi yang mengurangi pengambilan air tanah Mendorong pihak swasta untuk mengembangkan pengusahaan air baik untuk air bersih maupun tenaga air Pemda prov. contoh PT.KTI. Dinas Perdagangan. Dinas PU/ SDA prov. 3 dan 4 2 PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR 1 No. Serang. PU/SDA. Kelompok Masyarakat 2. PLN. melaksanakan konstruksi mini-mikro hydro power (2014-2015 = 30%) Melakukan kajian pengembangan penerapan teknologi ultra filtrasi dan desalinasi dan mendorong peran industri/ swasta untuk menerapkannya STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Melaksanakan pembangunan pembangkit tenaga listrik di bendungan Karian dan mini-mikro hydropower 30% . dengan pemberian insentif bagi yang mengurangi pengambilan air tanah Mendorong pihak swasta untuk investasi dalam pelayanan air bersih untuk RKI. industri/swasta. BBWS. Perindustrian. terutama di perkotaan dan pantai utara Mendorong pengembangan penerapan Pemda kab/kota Tanggerang.5 PENGUSAHAAN P P P P 1) Masih terbatasnya pengusahaan air oleh swasta di wilayah 3Ci Mendorong pihak swasta untuk investasi dalam pelayanan air bersih untuk RKI. khususnya untuk air industri di kawasan perkotaan dan pantai utara Terlaksananya pengembangan pengusahaan air oleh swasta. kumulatif = 100% Kebijakan operasional Lembaga/Instansi/Kelompok Masyarakat/Dunia Usaha Terkait Membangun pembangkit listrik tenaga air ESDM. 2.1. air kemasan Melaksanakan pengembangan penerapan teknologi ultra filtrasi dan desalinasi oleh industri/ swasta. serta meningkatkan kapasitas layanan PDAM Mendorong pihak swasta untuk investasi dalam pengembangan pembangkit tenaga listrik mini hidro iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) Membangun pembangkit tenaga listrik pada bendungan-bendungan dan minimikro hydropower 40%. BKPMD.

drainasi mikro perkotaan yang terhubung Kab. Prov. dengan banjir rencana kawasan pertanian Q5. kerikil) dan tanaman keras yang menghambat arus banjir P P P Mengawasi dan menertibkan hunian dan usaha lainnya di bantaran sungai 7) Pembuangan sampah ke saluran drainasi dan alur sungai menghambat aliran. DPRD. serta hambatan oleh bangunan sumber daya air) Terlaksananya perbaikan. Kelompok Masyarakat Melaksanakan perbaikan dan rehabilitasi saluran drainasi secara berkelanjutan Melaksanakan OP Sungai dan saluran drainasi secara berkelanjutan Menerbitkan penetapan daerah retensi dan perda mengenai daerah retensi termasuk larangan membangun P P P P P P P 4) Penggunaan daerah retensi/ dataran banjir dan rawan banjir untuk pemukiman dan tempat usaha selain pertanian Tercapainya penetapan dan pemasangan patok batas kawasan retensi banjir serta melarang pembangunan di daerah retensi Terciptanya solusi dan terlaksananya ketetapan upaya bagi kawasan retensi yang telah terbangun Terwujudnya peta rawan banjir. kab/kota.. perkotaan ditingkatkan Q25 Melaksanakan perbaikan. kab/kota. Dinas PU/SDA prov. secara bertahap (25%). BBWS. Dinas PU/ SDA/CK Provinsi. kelompok masyarakat/swasta Menata dan membangun sistem jaringan BBWS. perkotaan Q25 STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Melaksanakan program-program prioritas pada master plan sistem pengendalian banjir pada S. mengakibatkan banjir 8) Belum adanya Perda pembatasan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dan pembuatan kolam detensi pada komplek perumahan 9) Belum tersedia peta jalur dan tempat evakuasi bencana banjir Terwujudnya sungai dan saluran drainase bersih dari sampah Melaksanakan sosialisasi ke masyarakat secara berkelanjutan untuk tidak membuang sampah ke sungai Menyusun Perda pembatasan KDB dan pembuatan kolam detensi pada komplek perumahan. B. secara bertahap (60%)./Kota Terkait.. Dinas PU/ SDA Provinsi. kelompok masyarakat/swasta P P P 10) Belum terpasangnya sistem peringatan dini banjir pada sungai utama P 11) Kurangnya tertatanya (sistem dan kapasitas drainase mikro) di perkotaan menyebabkan genangan di jalan P 12) Meningkatnya ancaman luapan air pasang laut Melaksanakan operasional sistem peringatan dini di semua sungai Melaksanakan penataan sistem dan menormalisasi drainase mikro di perkotaan secara berkelanjutan BBWS. rehabilitasi dan pemeliharaan tanggul banjir secara berkelanjutan Melaksanakan normalisasi sungai Ciujung dan Cidurian dengan Q25. Dinas TanHutBun Kab. merencanakan Dinas Tata Ruang/Tata Kota. kelompok masyarakat Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A./Kota. banjir dan mengurangi frekuensi kejadian BPSDA. kelompok masyarakat dapat menghambat aliran banjir. rehabilitasi dan pemeliharaan tanggul banjir pada sungai Ciujung dan Cidurian Tercapainya kapasitas aliran sungai dan jaringan drainase mampu menyalurkan banjir dengan debit tertentu Melaksanakan perencanaan detail dan pelaksanaan perbaikan..1 PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR 1 Aspek/Sub Aspek PENCEGAHAN BENCANA A P B P C P D P 2 3 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis 1) Belum adanya Master Plan Sistem Pengendalian Banjir secara menyeluruh pada S. Badan Perijinan. dengan banjir rencana kawasan pertanian Q5. Dinas PU/SDA prov. Kelompok Masyarakat P P P P Melaksanakan sosialisasi jalur evakuasi dan tempat pengungsian Melaksanakan pemasangan dan operasional sistem peringatan dini di semua sungai Melaksanakan penataan sistem dan menormalisasi drainase mikro di perkotaan secara berkelanjutan __ BBWS... melaksanakan penataan sistem dan menormalisasi drainase mikro di perkotaan (2014-2015) Merencanakan dan membangun tanggul laut untuk melindungi water front city / kota Banten Lama Menyusun. BPSDA. dan membuat daerah/kolam retensi BPLHD/BLHD. BPSDA. serta menerapkan sanksi bagi pelanggarnya Melindungi water front city/ kota Banten Lama dari ancaman pasang air laut Dinas PU/SDA provinsi. terlindungi terhadap erosi akibat gangguan oleh bangunan/ struktur di pantai Memasyarakatkan. Satpol PP. kab/kota. BPDAS. BBWS. Dinas PU/SDA prov. BBWS. dengan banjir rencana untuk kawasan: pertanian Q5. BMKG. kumulatif (100%) Melaksanakan OP Sungai dan saluran drainase sepanjang tahun Relokasi penduduk Kebijakan operasional Lembaga/Instansi/Kelompok Masyarakat/Dunia Usaha Terkait Mengurangi korban/ kerugian akibat BBWS. Menyusun Perda yang membatasi pembangunan di daerah rawan banjir Mengidentifikasi potensi daerah retensi di wilayah Cidanau-Ciujung-Cidurian (20112013) dan membuat perencanaan daerah retensi (2014-2015) Menerbitkan perda sempadan sungai dan memasang patok batas. kumulatif (50%) Melaksanakan OP Sungai dan saluran drainase sepanjang tahun Menetapkan peruntukan dan melindungi daerah retensi. C atau D halaman 150 . Dinas/Badan Terkait di Tk. 2.Ciujung dan Cidurian Sasaran/Target yang diinginkan Terlaksananya master plan sistem pengendalian banjir secara menyeluruh pada S. perkotaan Q25 P P P P 2) Menurunnya fungsi tanggul banjir di sungai Ciujung dan Cidurian P P P P P 3) Berkurangnya kapasitas aliran sungai dan jaringan drainase (penyempitan sungai. dan OP pada sistem pengendalian banjir pada S.1. disertai penjelasan tentang risiko yang dihadapi. kawasan perkotaan sementara dengan Q10 Melaksanakan perbaikan. BBWS. BPSDA. menetapkan dan memasyarakatkan Perda tentang aturan pembangunan struktur di pantai dan kewajiban menyusun AMDAL/ KLHS Mengawasi dan menertibkan hunian dan usaha lainnya di bantaran sungai Melaksanakan sosialisasi ke masyarakat secara berkelanjutan untuk tidak membuang sampah ke sungai Menerapkan dan mengawasi pelaksanaan Perda pembatasan KDB dan pembuatan kolam detensi pada komplek perumahan Mengawasi dan menertibkan hunian dan usaha lainnya di bantaran sungai Melaksanakan sosialisasi ke masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai. DPRD. Dinas PU/SDA prov. 3 dan 4 3 No. untuk tampungan air Memelihara fungsi tanggul banjir secara berkelanjutan BBWS. untuk tampungan air iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) Melaksanakan program berikutnya.. kab/kota. serta sosialisasi kepada para pengembang dan masyarakat Merencanakan dan menetapkan jalur evakuasi dan tempat pengungsian Merencanakan pengembangan dan pemasangan sistem peringatan dini di semua sungai Melaksanakan perencanaan sistem drainase dan kapasitasnya di perkotaan (2011-2013). Kelompok Masyarakat Menertibkan sempadan sungai dan BBWS. kumulatif (100%) Melaksanakan perbaikan dan rehabilitasi Jaringan Drainasi 50%. kab/kota. Kab. Kelompok Masyarakat P P P P Mensosialisasikan risiko daerah rawan banjir.Ciujung dan Cidurian. Kelompok Masyarakat P P P Merencanakan solusi dan menerapkan pengaturan bagi kawasan retensi yang telah terbangun Menyusun peta rawan banjir. serta menerapkan sanksi bagi pelanggarnya Mensyaratkan adanya Amdal/ KLHS dalam pembangunan struktur pantai. BPSDA.. Kelompok Masyarakat Meningkatkan kapasitas aliran sungaai dan jaringan drainase untuk aliran Q25 BBWS. PU/SDA . melaksanakan dan mengawasi Perda tentang aturan pembangunan struktur di pantai dan kewajiban menyusun AMDAL/ KLHS. kumulatif menjadi 100% Melaksanakan pengawasan dan penegakan hukum Mengidentifikasi potensi.Ciujung dan Cidurian. pendangkalan alur. Membatasi pembangunan di daerah rawan banjir __ Menetapkan pengaturan kawasan retensi BBWS. kab/kota. untuk mencegah kerusakan pantai BLHD.. Kelompok Masyarakat banjir dengan banjir rencana untuk kawasan: pertanian Q5. kab/kota.Ciujung dan Cidurian i Jangka Pendek (2011-2015) Menyusun master plan sistem pengendalian banjir secara menyeluruh pada S. rehabilitasi dan pemeliharaan tanggul banjir secara berkelanjutan Melaksanakan normalisasi sungai Ciujung dan Cidurian dengan Q25. Kelompok Masyarakat P P P P 5) Kurang teridentifikasinya potensi daerah retensi Melaksanakan konsolidasi kepemilikan lahan dan pembangunan daerah retensi di wilayah Cidanau-Ciujung-Cidurian (30% area) Menerapkan perda sempadan sungai dan melaksanakan pengawasannya Melaksanakan konsolidasi kepemilikan lahan dan pembangunan daerah retensi di wilayah Cidanau-Ciujung-Cidurian (70% area). kab/kota. Membatasi pembangunan di daerah rawan banjir Mensosialisasikan resiko daerah rawan banjir. Dinas PU/SDA prov. BPSDA.Tabel 4. serta melakukan rehabilitasi jika diperlukan Memasyarakatkan. 3. Polri. mensosialisasikannya kepada masyarakat. rehabilitasi dan pemeliharaan tanggul banjir secara bertahap Melaksanakan perencanaan normalisasi sungai Ciujung dan Cidurian dengan Q25. Kelompok Masyarakat BBWS. dan melaksanakannya secara bertahap (15%) Melaksanakan perbaikan dan rehabilitasi Jaringan Drainase 25% Melaksanakan OP Sungai dan saluran drainase sepanjang tahun Menetapkan peruntukan dan melindungi daerah retensi. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (3 Ci) pada Skenario 1.Ciujung dan Cidurian. Dinas PU/ SDA Provinsi. Kelompok Masyarakat P P P P 13) Adanya pembangunan struktur pantai yang tidak berijin. serta sosialisasi Perda Merencanakan solusi dan menerapkan pengaturan bagi kawasan retensi yang telah terbangun Mensosialisasikan risiko daerah rawan banjir. Kelompok Masyarakat P P P P Terbitnya Perda pembatasan KDB dan pembuatan kolam detensi pada komplek perumahan Tersedianya peta jalur evakuasi dan tempat pengungsian Terpasangnya sistem peringatan dini di semua sungai utama Terwujudnya sistem dan kapasitas aliran saluran drainase mikro yang memadai di perkotaan Teratasinya ancaman luapan air pasang laut Dinas PU/SDA. diserati pemasangan patok batas yang jelas P P P P 6) Penggunaan bantaran sungai untuk pemukiman dan tempat usaha Terwujudnya bantaran sungai bersih dari bangunan. melaksanakan dan mengawasi Perda tentang aturan pembangunan struktur di pantai dan kewajiban menyusun AMDAL/ KLHS. Dinas PU/SDA prov. Polri. Dinas PU/SDA prov. timbunan material galian (pasir. Dinas PU-SDA Provinsi. Kelompok Masyarakat dengan sistem drainasi utama/ sungai P Memelihara tanggul laut untuk melindungi water front city/ kota Banten Lama Memelihara tanggul laut untuk melindungi water front city/ kota Banten Lama. BPSDA./Kota. Membatasi pembangunan di daerah rawan banjir BBWS. Satpol PP. BPSDA. kumulatif (40%) Melaksanakan perbaikan dan rehabilitasi Jaringan Drainasi 25%. BBWS. dan menyebabkan terjadinya erosi pantai di lokasi sekitarnya Stabilnya garis pantai. yang telah terbangun BPSDA. serta pemberian sanksi bagi pelanggar Menerapkan dan mengawasi pelaksanaan Perda pembatasan KDB dan pembuatan kolam detensi pada komplek perumahan P P P P Mengawasi dan menertibkan hunian dan usaha lainnya di bantaran sungai secara berkelanjutan Melaksanakan penyadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai Membatasi KDB dan pembuatan kolam detensi pada pembangunan komplek perumahan untuk mengurangi aliran permukaan akibat hujan Menetapkan lokasi pengungsian oleh Pemda Melaksanakan pemasangan sistem peringatan dini Dinas PU/SDA. mencegah terhadap penggunaan yang BPSDA. Dinas PU/SDA prov.. BPN. serta meningkatnya pemahaman masyarakat tentang risiko di daerah rawan banjir Teridentifikasinya potensi daerah retensi di wilayah Cidanau-Ciujung-Cidurian BBWS.

swasta.Krakatau.kab/kota. BPBD. kelompok masyarakat 3. disertai sosialisasi berkala ke masyarakat dan pemeliharaan papan petunjuk Sosialisasi berkala tentang tindak darurat terhadap bahaya tsunami __ Kebijakan operasional Mengantisipasi bencana tsunami akibat aktivitas G. Aspek/Sub Aspek A P B P C P 2 3 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis D P 14) Belum tersosialisasinya peta jalur evakuasi dan lokasi pengungsian bencana tsunami akibat aktivitas G. serta tindak darurat manakala ada ancaman bencana tsunami akibat aktivitas G. C atau D halaman 151 .Krakatau. penyediaan peralatan dan pelatihan SDM dalam rangka tanggap darurat banjir Mengurangi kebutuhan air irigasi dengan Dinas Petanian. MCK.. Krakatau Sasaran/Target yang diinginkan Pemahaman masyarakat tentang peta jalur evakuasi dan lokasi pengungsian. dan himbauan untuk mentaati peraturan tentang pola tanam. Kominfo kab/kota. PJT II. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (3 Ci) pada Skenario 1.3 PEMULIHAN AKIBAT BENCANA P P P P P P P 1) Belum optimalnya pemulihan kondisi rumah masyarakat yang menjadi korban setelah terjadinya bencana banjir dan longsor 2) Terjadinya kerusakan prasarana sumber daya air setelah terjadinya bencana banjir dan longsor 3) Belum maksimalnya penyediaan dana untuk pelaksanaan pemulihan kondisi prasarana dan sarana umum setelah terjadinya bencana banjir dan longsor Tercapainya pemulihan kondisi rumah masyarakat Terwujudnya perbaikan prasarana sumber daya air yang rusak. serta sosialisasi ke masyarakat tentang jalur evakuasi STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Membangun jalur evakuasi dan penyiapan lokasi pengungsian bencana tsunami akibat aktivitas G. BP DAS. Bappeda Prov. Pertanian Prov/Kab. serta TanHutBun. Kelompok Masyarakat BBWS. disertai sosialisasi ke masyarakat dan pemasangan papan petunjuk Sosialisasi berkala tentang tindak darurat terhadap bahaya tsunami Melaksanakan sosialisasi peta rawan longsor Melaksanakan penyadaran publik terhadap bahaya tanah longsor Menerapkan perijinan bangunan (IMB) dan building code di daerah rawan longsor Melaksanakan upaya perkuatan daerah kritis (vegetatif & sipil teknis) Membina petani tentang budidaya padi sistem SRI. MCK. Dinas PU Prov/kab/kota. Kelompok Masyarakat P P P Melaksanakan penyadaran publik terhadap bahaya tanah longsor Menerapkan perijinan bangunan (IMB) dan building code di daerah rawan longsor Melaksanakan upaya perkuatan daerah kritis (vegetatif & sipil teknis) Membina petani tentang budidaya padi sistem SRI. secara berkelanjurtan Menyediakan bahan banjiran setiap tahun dan dana operasional secara berkelanjutan Melaksanakan penyiagaan peralatan dan pelatihan SDM dalam rangka tanggap darurat banjir secara berkelanjutan Menyiapkan rencana tindak evakuasi. tenda. perahu karet. Kelompok Masyarakat Dinas P2B. tenda.Krakatau i Jangka Pendek (2011-2015) Melaksanakan review dan penetapan peta jalur dan tempat evakuasi bencana tsunami akibat aktivitas G.. kelompok masyarakat BBWS. BBWS. mematuhi pola tanam Kelompok Masyarakat Meminimalisasi luapan air banjir yang menggenangi daerah sekitarnya Meningktakan kesiagaan peralatan dan SDM dalam rangka tanggap darurat banjir di daerah rawan banjir BBWS. PU/SDA Kab/Kota. PU/SDA Prov. P3K pada daerah rawan banjir secara berkelanjutan Menyediakan cadangan dana bantuan pemulihan tahunan (APBN/APBD) dan menggalang dana dari swasta Menyediakan dana tahunan untuk cadangan perbaikan prasarana sumber daya air yang rusak akibat banjir dan longsor Menyediakan cadangan dana pemulihan tahunan (APBN/APBD) dengan melibatkan peran masyarakat dan swasta P P P P P P P P P 16) Kekurangan air irigasi pada DI Ciujung dan Cidurian Tercukupinya kebutuhan air irigasi Membina petani tentang budidaya padi sistem SRI.Tabel 4.. Dinas PU/SDA. kelompok masyarakat operasionalnya Memulihkan kondisi rumah korban pasca bencana dengan penyedian cadangan dana dari pemerintah.Krakatau. P3K pada daerah rawan banjir secara berkelanjutan Menyediakan cadangan dana bantuan pemulihan tahunan (APBN/APBD) dan menggalang dana dari swasta Menyediakan dana tahunan untuk cadangan perbaikan prasarana sumber daya air yang rusak akibat banjir dan longsor Menyediakan cadangan dana pemulihan tahunan (APBN/APBD) dengan melibatkan peran masyarakat dan swasta iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) Memelihara jalur evakuasi dan lokasi pengungsian bencana tsunami akibat aktivitas G. Pertambangan Prov/Kab/Kota. MCK. BPBD. Dinas cara budidaya sistem SRI. secara berkelanjurtan Menyediakan bahan banjiran setiap tahun dan dana operasional secara berkelanjutan Melaksanakan pemantapan organisasi. perahu karet.2 PENANGGULANGAN P P P P 1) Meluapnya air sungai Cidurian atau Ciujung menggenangi daerah sekitarnya Teratasinya luapan air sungai P P P P P P P P Terlaksananya evakuasi korban pada saat kejadian banjir Menyiapkan rencana tindak evakuasi. Kelompok Masyarakat P P P P P P P P 15) Terjadinya kerugian akibat bencana longsor di beberapa tempat P Berkurangnya kerugian akibat longsoran Pendidikan kepada masyarakat terkena dampak tentang tindak darurat terhadap bahaya tsunami Melakukan inventarisasi dan pemetaan daerah rawan longsor di tingkat Kab/Kota Melaksanakan penyadaran publik terhadap bahaya tanah longsor Menerapkan perijinan bangunan (IMB) dan building code di daerah rawan longsor Melaksanakan upaya perkuatan daerah kritis (vegetatif & sipil teknis). BBWS.kab/kota. BNPB. kab/kota. dan swasta serta melibatkan masyarakat Memulihkan kondisi dan fungsi prasarana sumber daya air pasca banjir dan longsor Memulihkan kondisi prasarana dan sarana umum pasca bencana dengan penyedian dana dari pemerintah serta melibatkan peran masyarakat dan swasta Dinas PU/Permukiman. dan himbauan untuk mentaati peraturan tentang pola tanam. kelompok masyarakat Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. dan himbauan untuk mentaati peraturan tentang pola tanam. PU/SDA prov. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pendidikan kepada masyarakat dan sosialisasi berkala tettang tindak darurat terhadap bahaya tsunami Melakukan inventarisasi dan pemetaan daerah rawan longsor di tingkat Kab/Kota Melaksanakan penyadaran publik terhadap bahaya tanah longsor Menerapkan perijinan bangunan (IMB) dan building code di daerah rawan longsor Melaksanakan upaya perkuatan daerah kritis (vegetatif & sipil teknis) Dinas Sosial. Dinas PU prov/kab/kota. memulihkan fungsinya Tersedianya dana yang memadai untuk pemulihan kondisi dan fungsi prasarana dan sarana umum P P P Dinas PU/Bina Marga. Dinas Kehutanan. Dinas PU/SDA Prov. 2. PMI. perahu karet. berupa evakuasi korban dan dana BNPB. 3 dan 4 3 PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR 1 No. dapur umum. Kelompok Masyarakat BBWS. dapur umum. PMI. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Swasta. PMI. Dinas PU/SDA. BBWS. dapur umum. Dinas PU/CK kab/kota.Krakatau. P3K pada daerah rawan banjir secara berkelanjutan Menyediakan cadangan dana bantuan pemulihan tahunan (APBN/APBD) dan menggalang dana dari swasta Menyediakan dana tahunan untuk cadangan perbaikan prasarana sumber daya air yang rusak akibat banjir dan longsor Menyediakan cadangan dana pemulihan tahunan (APBN/APBD) dengan melibatkan peran masyarakat dan swasta Mengantisipasi penanggulangan darurat BBWS. B. kelompok masyarakat 3. Pertambangan Prov/Kab/Kota.1. Kelompok Masyarakat BBWS. disertai sosialisasi ke masyarakat tentang jalur evakuasi Lembaga/Instansi/Kelompok Masyarakat/Dunia Usaha Terkait Dinas Sosial. Dinas Taru. secara berkelanjurtan Menyediakan bahan banjiran setiap tahun dan dana operasional secara berkelanjutan Melaksanakan penyiagaan peralatan dan pelatihan SDM dalam rangka tanggap darurat banjir secara berkelanjutan Menyiapkan rencana tindak evakuasi. tenda.

Dinas ESDM prov.. Dinas ESDM prov. Dinas ESDM prov. kab/kota.. Ditjen SDA. BPSDA. terpadu dan berkelanjutan STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Mengumpulkan.. Kebijakan sumber daya air.. Dinas TanHutBun kab/kota. Dinas PU/SDA prov. Dinas PU/SDA prov. Dinas ESDM prov. 2. terpadu dan berkelanjutan iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) Mengumpulkan. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (3 Ci) pada Skenario 1.. BMKG prov. Melaksanakan langkah-langkah perbaikan dalam rangka pengumpulan. perbaikan peralatan dan peningkatan SDM Mengoperasikan dan memelihara peralatan yang menunjang SISDA secara berkelanjutan Mengoperasikan dan memelihara peralatan yang menunjang SISDA secara berkelanjutan Melaksanakan evaluasi. Ditjen SDA.. Kelompok Masyarakat P P P P 5) Belum adanya pedoman tentang pengelolaan SISDA yang sistematis dan komprehensif Tersedianya pedoman tentang pengelolaan SISDA yang sistematis dan komprehensif Menyediakan pedoman tentang pengelolaan SISDA yang sistematis dan komprehensif Mengkaji ulang pedoman tentang pengelolaan SISDA yang sistematis dan komprehensif Mengkaji ulang pedoman tentang pengelolaan SISDA yang sistematis dan komprehensif P P P 6) Belum adanya unit SISDA yang mengintegrasikan data sumber daya air yang berasal dari instansiinstansi terkait Terintegrasinya data SISDA secara berkelanjutan Mengkoordinasikan data sumber daya air yang berasal dari instansi-instansi terkait dan menerbitkan buku data tahunan serta menyediakan data berbasis web yang mudah diakses secara berkelanjutan Menyeragamkan peta dasar dan data spatial... penyediaan. Kelompok Masyarakat Mengintegrasikan data SISDA yang mudah diakses secara berkelanjutan BBWS.. B. kab/kota. Dinas TanHutBun kab/kota. pemeliharaan dan pengadaan peralatan serta pengembangan SDM dan koordinasi secara berkelanjutan Ditjen SDA. dan instansi lain sesuai kebutuhan.. BMKG prov. BPSDA. operasi dan pemeliharaan peralatan yang memadai untuk menunjang SISDA P P P 4) Belum tersedianya dana yang memadai untuk melaksanakan SISDA terpadu Terwujudnya komitmen penyediaan dana untuk SISDA terpadu Menyediakan dana SISDA terpadu untuk operasional. Kegiatan SoSekBud) 2) Belum memadainya SDM yang menangani SISDA Sasaran/Target yang diinginkan Terwujudnya database sumber daya air yang lengkap dan terpercaya i Jangka Pendek (2011-2015) Mengevaluasi tingkat kehandalan data saat ini. BMKG prov. Dinas TanHutBun kab/kota.. Dipertan prov. BMKG prov.. mengolah dan menyajikan data sumber daya air secara handal. BBWS. Dinas PU/SDA prov.. Kelompok Masyarakat P P 3) Belum lengkapnya peralatan (perangkat keras dan lunak) untuk yang menunjang SISDA Tersedianya peralatan yang memadai untuk menunjang SISDA terpadu Menginventarisasi peralatan. Bappeda prov. antar berbagai instansi terkait Mengkoordinasikan data sumber daya air yang berasal dari instansi-instansi terkait dan menerbitkan buku data tahunan serta menyediakan data berbasis web yang mudah diakses secara berkelanjutan Menyeragamkan peta dasar dan data spatial... mengolah dan menyajikan data sumber daya air secara handal.. komprehensif Dipertan prov. Bappeda pengelolaan SISDA yang sistematis dan prov.1. Bappeda memadai prov. Hidrogeologi & Hidrometeorologi. Ditjen SDA. antar berbagai instansi terkait P P P Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. kab/kota. Dipertan prov. Bappeda prov.Tabel 4. Biro Kepeg & Ortala... BBWS. melaksanakan rasionalisasi peralatan dan pengadaan peralatan baru untuk menunjang SISDA terpadu Menyediakan dana SISDA terpadu untuk operasional. rasionalisasi. Kelompok Masyarakat Menyediakan dana SISDA terpadu yang Bappenas. Lingkungan pada sumber daya air. pengolahan dan penyajian data sumber daya air secara handal... Dinas PU/SDA prov.. BMKG prov. Kelompok Masyarakat P P P Tersedianya SDM yang menangani SISDA secara memadai Melaksanakan pengadaan pegawai dan meningkatkan kapasitasnya sesuai kebutuhan Mengembangkan SDM secara berkelanjutan Mengembangkan SDM secara berkelanjutan Menyediakan SDM yang profesional untuk menangani SISDA Ditjen SDA.. Dinas TanHutBun kab/kota. mengevaluasi jaringan. pemeliharaan dan pengadaan peralatan serta pengembangan SDM dan koordinasi secara berkelanjutan Menyediakan dana SISDA terpadu untuk operasional. BPSDA.. antar berbagai instansi terkait Mengkoordinasikan data sumber daya air yang berasal dari instansi-instansi terkait dan menerbitkan buku data tahunan serta menyediakan data berbasis web yang mudah diakses secara berkelanjutan Menyeragamkan peta dasar dan data spatial.. Dinas PU/SDA prov. BPSDA. Aspek/Sub Aspek A P B P C P D P 2 3 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis 1) Kurang handalnya database sumber daya air (Hidrologi. Bappeda prov.. Dipertan prov. C atau D halaman 152 . Dipertan prov. Teknologi sumber daya air.. Prasarana sumber daya air. Dinas PU/SDA prov. Dinas ESDM prov. Dipertan prov. Dinas TanHutBun kab/kota. BMKG prov. Dinas ESDM prov.. kab/kota. BPSDA. BBWS.kab/kota. 3 dan 4 4 SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA AIR 1 No. kab/kota.. Kelompok Masyarakat Menerbitkan pedoman tentang Ditjen SDA. terpadu dan berkelanjutan Kebijakan operasional Meningkatkan kualitas data dan tingkat kehandalan database sumber daya air secara terpadu dan berkelanjutan Lembaga/Instansi/Kelompok Masyarakat/Dunia Usaha Terkait BBWS.. Bappeda prov.

Pemda Banten. kab/kota. Dinas PU/SDA kab/kota. TKPSDA WS 6 Ci. Sek. atau MOU kerjasama pengelolaan antar instansi Meningkatkan kapasitas masing-masing unit kerja Psumber daya air dengan menggunakan pengukuran kinerja (Performance Benchmarking = 14 indikator) secara berkelanjutan Menambah jumlah pegawai sesuai analisis beban kerja (50% kekurangan terpenuhi) STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Memantau dan mengawasi penerapan pedoman atau MOU tentang pembagian peran dan kerjasama dalam pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan Meningkatkan kapasitas masing-masing unit kerja Psumber daya air dengan menggunakan pengukuran kinerja (Performance Benchmarking = 14 indikator) secara berkelanjutan Menambah jumlah pegawai sesuai analisis beban kerja (50% kekurangan terpenuhi) iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) Memantau dan mengawasi penerapan pedoman atau MOU tentang pembagian peran dan kerjasama dalam pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan Meningkatkan kapasitas masing-masing unit kerja Psumber daya air dengan menggunakan pengukuran kinerja (Performance Benchmarking = 14 indikator) secara berkelanjutan Menjaga kesesuaian antara jumlah yang purna tugas dengan pengadaan pegawai baru sesuai analisis beban kerja Menjaga kesesusaian penempatan pegawai sesuai kompetensinya Melaksanakan monitoring dan pengawasan dalam penerapan pedoman menajemen aset pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan Membangun komitmen di antara instansi terkait bidang sumber daya air dalam pengalokasian anggaran pengelolaan sumber daya air melalui TKPsumber daya air WS 6 Ci secara berkelanjutan Menerapkan pungutan jasa pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan Memantau dan mengawasi operasional BLU Pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan Memantau.. sesuai dengan kompetensinya Memenuhi kebutuhan jumlah dan Ditjen SDA. BPPD. pedoman atau MOU antar unit/ instansi tentang pembagian perannya dalam pengelola sumber daya air Efektifnya pelaksanaan tugas dan fungsi unit kerja pengelolaan sumber daya air i Jangka Pendek (2011-2015) Menyusun. BPSDA BBWS. BPSDA P P P P P P P 4) Belum diterapkannya manajemen aset dalam penyusunan anggaran rehabilitasi dan OP sumber daya air Terbitnya pedoman manajemen aset dalam pengelolaan sumber daya air Menempatkan pegawai sesuai dengan kompetensinya (50%) Menyusun dan menetapkan pedoman menajemen aset dalam pengelolaan sumber daya air Menempatkan pegawai sesuai dengan kompetensinya (50%). Ciujung/ S. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (3 Ci) pada Skenario 1. dan membangun sumur pantau pada lokasi yang rawan Melaksanakan sosialisasi dan penyadaran publik tentang bahaya pengambilan air tanah dalam yang melampaui batas aman. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. TKPSDA WS 6 Ci. B. Dinas PU/SDA Prov. membahas dan menyepakati pembagian peran dan wewenang antar institusi terkait bidang sumber daya air dalam bentuk pedoman. Kecamatan. unit kerja Psumber daya air secara BPSDA. mengawasi dan melakukan penindakan terhadap para pelanggar penggunaan air tanah dalam secara berkelanjutan (pengambilan tidak berijin. Dinas ESDM memantau pengambilan air tanah dalam Prov. BBWS.1. Kabupate/Kota 2) Belum Optimalnya Koordinasi antar Instansi terkait pengelolaan Irigasi DI Ciujung. MenKeu. Ditjen SDA. BBWS. kerja Kelompok Masyarakat Memperbaiki pelaksanaan menejemen kepegawaian Menyusun. C atau D halaman 153 . Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota./Kota & BBWS. pembahasan dan penetapan BLU Pengelolaan sumber daya air Meningkatkan komunikasi dan koordinasi Bappeda. Men PU 5. Dinas PU/SDA Prov. DI Cidurian Kebijakan operasional Lembaga/Instansi/Kelompok Masyarakat/Dunia Usaha Terkait Menerbitkan pedoman atau MOU tentang Ditjen SDA. BBWS. secara berkelanjutan Menyusun dan menerbitkan dokumen pendelegasian perijinan penggunaan dan pengusahaan air permukaan Menetapkan kebijakan tentang pasokan air antar wilayah Melaksanakan inventarisasi. menetapkan dan menerapkan pungutan jasa pengelolaan sumber daya air Menetapkan BLU Pengelolaan sumber daya air dan memantau operasionalnya secara berkelanjutan BLU. mengaktifkan dan memfasilitasi Komisi Irigasi Provinsi. MenKeu. BBWS. dan BPLHD prov. Dan Ortala. Dinas/SDA Prov. Kabupate/Kota yang aktif Meningkatnya Koordinasi antar Instansi terkait pengelolaan Irigasi DI Ciujung. BBWS P P P P P P Terbitnya dokumen pendelegasian perijinan penggunaan dan pengusahaan air permukaan Terwujudnya kebijakan yang jelas mengenai suplai air antar wilayah provinsi Optimalnya kinerja Komisi Irigasi Provinsi. Dinas PU/SDA Prov.. Biro Kepeg. Dan Ortala.. Bappeda.3 PENGATURAN PENGELOAAN SUMBER DAYA AIR P P P P 1) Belum maksimalnya pengawasan pengambilan air tanah dalam Melaksanakan inventarisasi seluruh sumur pengambilan air tanah dalam. 3 Ci. Kabupate/Kota yang aktif Meningkatkan Koordinasi antar Instansi terkait pengelolaan Irigasi DI Ciujung. Kabupaten/Kota Melaksanakan koordinasi antar instansi terkait DI Ciujung. 1 Ci) 6) Belum maksimalnya forum komunikasi DAS di wilayah 3Ci 7) Belum optimalnya koordinasi penanggulangan bencana akibat daya rusak air Meningkatnya kesadaran masyarakat/ swasta dalam pengambilan air tanah dalam Melaksanakan sosialisasi dan penyadaran publik tentang pengambilan air tanah dalam BPLHD prov. Bappeda prov. Dinas SDA dan Pertambangan Kab/Kota. Biro Kepeg.. menetapkan dan menerapkan pedoman manajemen asset dalam pengelolaan sumber daya air Ditjen SDA. Satpol PP. Dinas PU/SDA Prov. kab/kota. Dewan SDA Kab. Kelompok Masyarakat instansi dalam pengelolaan sumber daya air Meningkatkan kapasitas masing-masing BBWS. Dinas ESDM Prov.. pembagian peran dan kerjasama antar kab/kota. kab/kota.Tabel 4. BPSDA Menteri PU. Dinas PU DKI. BBWS. Dinas Pertanian Prov. 3 Ci. BBWS. atau melebihi volume ijin) Melaksanakan sosialisasi dan penyadaran publik tentang bahaya pengambilan air tanah dalam yang melampaui batas aman. Men PU Ditjen SDA. kab/kota terpadu melalui TKPsumber daya air WS 6 Ci P P P 2) Belum diterapkannya pungutan jasa pengelolaan sumber daya air diluar wilayah layanan PJT Terwujudnya pungutan jasa pengelolaan sumber daya air Terbentuknya BLU Pengelolaan sumber daya air sebagai pemungut jasa pengelolaan sumber daya air Terkendalinya pengambilan air tanah dalam P P Mengkaji.Cidurian ke Jakarta) 1) Belum optimalnya kinerja Komisi Irigasi Provinsi.4 FORUM KOORDINASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR P P P P Membentuk dan Mengaktifkan Komisi Irigasi Provinsi.Dinas Pertanian Kabupaten 5. PU kapada Gubernur Menetapkan kebijakan tentang suplai air antar wilayah provinsi Menteri PU. BBWS. BBWS Bappeda prov. DI Cidurian 5.. al. Dinas SDA dan Pertambangan sesuai ijin yang telah diberikan Kab/Kota. kab/kota. Ditjen SDA. Dinas PU/SDA Prov. Dit BLU. mengawasi dan melakukan penindakan terhadap para pelanggar penggunaan air tanah dalam secara berkelanjutan (pengambilan tidak berijin. 2. Kabupaten/Kota Melaksanakan koordinasi antar instansi terkait DI Ciujung. Sek.: kewenangan terhadap situ. kelompok masyarakat Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. 3 Ci & 1 Ci) secara berkelanjutan Mengaktifkan forum komunikasi DAS secara berkelanjutan dalam rangka menjaga kelestarian fungsi konservasi Melaksanakan kerja sama dan koordinasi dalam penanggulangan bencana banjir dan bencana akibat daya rusak air lainnya (termasuk tanah longsor) Dinas PU/SDA prov. Bappenas. Kelompok berkelanjutan Masyarakat P P P P P P Terpenuhinya jumlah pegawai dan peningkatan kapasitasnya. Bappeda. DI Cidurian Optimalnya kinerja Dewan Sumber Daya Air Provinsi di wilayah 3Ci Terbentuknya Dewan sumber daya air Kabupaten/Kota sesuai kebutuhan Optimalnya kinerja Sekretariat TKPsumber daya air 6 Ci (2 Ci. Kelurahan. gubernur. DUNIA USAHA DAN PEMERINTAH 1 Aspek/Sub Aspek LEMBAGA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR A P B P C P D P 2 3 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis 1) Belum efektifnya pembagian peran yang jelas antar unit pengelola sumber daya air. Kabupaten/Kota Melaksanakan koordinasi antar instansi terkait DI Ciujung. Dinas TanHutBun Kab/Kota. Dit BLU. Polri P P P 2) Kurangnya kesadaran masyarakat/swasta tentang bahaya pengambilan air tanah dalam secara berlebihan 3) Belum adanya pendelegasian perijinan penggunaan dan pengusahaan air permukaan dari Menteri PU ke Gubernur 4) Belum adanya kebijakan yang jelas mengenai kesepakatan pasokan air antar wilayah (S. BBWS.Balai PSDA./Kab. DKI Jakarta Dinas PU/SDA. 5. Dinas PSDA prov. TKPSDA WS 6 Ci. DI Cidurian P P P Membentuk. 3 Ci & 1 Ci) secara berkelanjutan Mengaktifkan forum komunikasi DAS secara berkelanjutan Melaksanakan kerja sama dan koordinasi dalam penanggulangan bencana banjir dan bencana akibat daya rusak air lainnya (termasuk tanah longsor) P P P Mengoptimalkan Dewan sumber daya air Provinsi di wilayah 3Ci secara berkelanjutan Mengaktifkan Dewan sumber daya air Kabupaten/Kota sesuai kebutuhan secara berkelanjutan Mengaktifkan Sekretariat TKPsumber daya air 6 Ci (2 Ci./Kota BBWS. Ditjen SDA. 3 dan 4 5 No. kumulatif 100% Melaksanakan monitoring dan pengawasan dalam penerapan pedoman menajemen aset pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan Membangun komitmen di antara instansi terkait bidang sumber daya air dalam pengalokasian anggaran pengelolaan sumber daya air melalui TKPsumber daya air WS 6 Ci secara berkelanjutan Menerapkan pungutan jasa pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan Mengoperasikan.. anak sungai 2) Belum efektifnya pelaksanaan tugas dan fungsi unit kerja yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air 3) Belum memadai jumlah dan kapasitas pegawai Sasaran/Target yang diinginkan Terbitnya peraturan. 3 Ci & 1 Ci) Membentuk dan mengaktifkan forum DAS Meningkatkanerja sama dan koordinasi dalam penanggulangan akibat daya rusak air P P P P Mengaktifkan Dewan sumber daya air Provinsi di wilayah 3Ci secara berkelanjutan Membentuk dan Mengaktifkan Dewan sumber daya air Kabupaten/Kota sesuai kebutuhan Mengaktifkan Sekretariat TKPsumber daya air 6 Ci (2 Ci. gubernur. dan pemulihan prasarana yang rusak oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah Melaksanakan pendelegasian perizinan penggunaan dan pengusahaan air permukaan dari Men. dalam pengelolaan sumber daya air BBWS. secara berkelanjutan Melaksanakan pengaturan perijinan penggunaan dan pengusahaan air permukaan Memantau dan mengawasi pelaksanaan kebijakan tentang pasokan air antar wilayah secara berkelanjutan Mengaktifkan Komisi Irigasi Provinsi.2 PENDANAAN P P P 1) Belum adanya komitmen setiap instansi dalam pembiayaan pengelolaan sumber daya air terpadu Terwujudnya keterpaduan dalam penyusunan program dan anggaran pengelolaan sumber daya air Membangun komitmen di antara instansi terkait bidang sumber daya air dalam pengalokasian anggaran pengelolaan sumber daya air melalui TKPsumber daya air WS 6 Ci secara berkelanjutan Melakukan kajian dan penetapan pungutan jasa pengelolaan sumber daya air Melakukan kajian. DI Cidurian Mengoptimalkan kinerja Dewan Sumber Daya Air Provinsi di wilayah 3Ci Membentuk dan Mengaktifkan Dewan sumber daya air Kabupaten/Kota sesuai kebutuhan Mengaktifkan Sekretariat TKPsumber daya air 6 Ci (2 Ci. Dewan SDA Prov. atau melebihi volume ijin) Melaksanakan sosialisasi dan penyadaran publik tentang bahaya pengambilan air tanah dalam yang melampaui batas aman. Sek. 1 Ci) Peningkatan kinerja forum komunikasi DAS Optimalnya koordinasi dalam penanggulangan bencana banjir. Bappeda. secara berkelanjutan Melaksanakan pengaturan perijinan penggunaan dan pengusahaan air permukaan Memantau dan mengawasi pelaksanaan kebijakan tentang pasokan air antar wilayah secara berkelanjutan Mengaktifkan Komisi Irigasi Provinsi. memantau dan mengawasi pelaksanaan BLU Pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan Memantau. Dinas PU DKI BP DAS. Bappeda kab/kota.1 PEMBERDAYAAN & PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT. kapasitas pegawai sesuai analisis beban BBWS. 3 Ci & 1 Ci) secara berkelanjutan Membentuk forum komunikasi DAS dan mengaktifkan forum yang sudah ada Melaksanakan kerja sama dan koordinasi dalam penanggulangan bencana banjir dan bencana akibat daya rusak air lainnya (termasuk tanah longsor) P P P P P P P P P P Mengoptimalkan Dewan sumber daya air Provinsi di wilayah 3Ci secara berkelanjutan Mengaktifkan Dewan sumber daya air Kabupaten/Kota sesuai kebutuhan secara berkelanjutan Mengaktifkan Sekretariat TKPsumber daya air 6 Ci (2 Ci. kab/kota. bencana akibat daya rusak air lainnya. DI Cidurian 3) Belum aktifnya Dewan Sumber Daya Air Provinsi di wilayah 3Ci 4) Belum terbentuknya Dewan sumber daya air Kabupaten/Kota 5) Belum optimalnya kinerja Sekretariat TKPsumber daya air 6 Ci (2 Ci. kab/kota Ditjen SDA..

Dinas Perindustrian kab/kota.SMP. BBWS. Dinas Pertanian Prop/Kab/Kota..SD. Bappeda Prop/Kab/Kota. swasta dan kelompok masyarakat Dinas Sosial Prop/Kab/Kota. Menambahkan pendidikan Pengelolaan sumber daya air dalam muatan lokal tingkat PAUD. waduk. penyadaran masyarakat dalam pengelolan sumber daya air secara berkelanjutan. kab/kota. sehingga aktif berperan ikut menjaga kelestarian hutan dan sumber air secara berkelanjutan Memberikan bantuan pemberdayaan dan percontohan dengan diutamakan kepada kelompok masyarakat yang telah merintis kegiatan pengelolaan sumber daya air secara swadaya Melakukan inventarisasi kelompok masyarakat yang mempunyai budaya/ tradisi menjaga kelestarian kawasan hutan. lingkungan dan sumber daya air. total menjadi 50%) Memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat DAS hulu. dinas PU/SDA kab/kota. total menjadi 100%) Memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat DAS hulu. Forum DAS. petani Dinas TanHutBun kab/kota. sehingga aktif berperan ikut menjaga kelestarian hutan dan sumber air secara berkelanjutan Memberikan bantuan pemberdayaan dan percontohan dengan diutamakan kepada kelompok masyarakat yang telah merintis kegiatan pengelolaan sumber daya air secara swadaya Melakukan inventarisasi kelompok masyarakat yang mempunyai budaya/ tradisi menjaga kelestarian kawasan hutan. BBWS. sekitar hutan dan sekitar sumber air (mata air. secara berkelanjutan Mensosialisasikan dan melaksanakan penyuluhan serta bimbingan tentang hemat air irigasi.. waduk.SD. C atau D halaman 154 . lingkungan dan sumber daya air Terlindungnya/ terjaganya budaya/ tradisi masyarakat setempat dalam menjaga kelestarian kawasan hutan. B. Pertanian. sungai). Prov. Swasta sekitar sumber air. dengan demplot sistem SRI atau metoda lainnya secara berkelanjutan Membina petani melaksanakan sistem SRI (5% area) Melaksanakan sosialisasi dan edukasi hemat air untuk kebutuhan rumah tangga dan perkotaan.SMU Melaksanakan pemberdayaan petani/ P3A dalam irigasi partisipatif. sehingga meningkatkan kesadaran dalam pengelolan sumber daya air Lembaga/Instansi/Kelompok Masyarakat/Dunia Usaha Terkait TKPSDA. pertanian dan keterlibatan dalam organisasi kelompok masyarakat Melaksanakan pembinaan. Kadinda P P P Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kebersihan lingkungan dan penggunaan MCK Dinas CK. Dinas TanHutBun masyarakat DAS hulu.SD. kab/kota. kab/kota. P3A/GP3A/IP3A. Kelompok Masyarakat P P P P 7) Masih terbatasnya peran serta perempuan dalam kegiatan masyarakat di bidang pengelolaan sumber daya air. pengelolaan sampah). sungai). Kehutanan. bimbingan dan peningkatan peran serta perempuan dalam pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan Meningkatkan peran swasta dalam konservasi sumber daya air dan lingkungan melalui dana CSR dan IJL Swasta. BPSDA. situ. Dinas Pu/SDA. kelompok masyarakat. Dinas PU/SDA prov. sungai Terlaksananya peningkatan pengembangan dan penerapan dana CSR dan IJL untuk konservasi sumber daya air dan lingkungan Terlaksananya peningkatan pemberdayaan masyarakat tentang sanitasi lingkungan. pengendalian daya rusak air. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (3 Ci) pada Skenario 1. Dinas PU/SDA prov. lingkungan dan sumber daya air.SMP.SMP. sungai).l penanaman pohon. s Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. Melaksanakan sosialisasi dan pelaksanaan hemat air melalui demplot sistem SRI atau metoda lainnya Dinas Pertanian. dengan memanfaatkan CSR Melaksanakan pembinaan.3) Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran butir 6 Melaksanakan sosialisasi tentang pengurangan resiko akibat banjir secara berkelanjutan Melaksanakan sosialisasi tentang pengurangan resiko akibat banjir secara berkelanjutan Melaksanakan sosialisasi tentang pengurangan resiko akibat banjir BBWS. sehingga aktif berperan ikut menjaga kelestarian hutan dan sumber air secara berkelanjutan Terwujudnya insentif kepada kelompok masyarakat yang telah mulai menyelenggarakan kegiatan secara swadaya 2) Lunturnya budaya/ tradisi masyarakat setempat dalam menjaga kelestarian kawasan hutan.Tabel 4. kab/kota. bimbingan dan peningkatan peran serta perempuan dalam pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan Mendorong terwujudnya komitmen penyediaan dana CSR dan IJL untuk konservasi sumber daya air dan lingkungan secara berkelanjutan Melaksanakan pemberdayaan masyarakat tentang sanitasi lingkungan sumber air secara berkelanjutan. BPLHD/BLHD.. pendaya-g Melaksanakan pemberdayaan dan peningkatan peran serta perempuan dalam pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan. penyadaran masyarakat dalam pengelolan sumber daya air secara berkelanjutan. situ.. BBWS.4) Pengembangan sumber daya air butir 2 STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Melaksanakan sosialisasi. termasuk kegiatan konservasi sumber daya air (a. termasuk kegiatan konservasi sumber daya air. melalui pembinaan dan pendampingan P P P Melaksanakan prinsip insentif dan desinsentif dalam pemberdayaan masyarakat P P P P Melaksanakan bimbingan dan pemberdayaan masyarakat untuk melestarikan budaya/ tradisi setempat dalam menjaga kelestarian hutan.. secara berkelanjutan Melaksanakan sosialisasi hemat air industri melalui 3R Lihat (2. serta memberikan bimbingan dan pemberdayaan dalam melestarikan budaya/ tradisi tersebut. untuk industri 4) Kurangnya pemahaman masyarakat tentang manajemen banjir 5) Kurangnya peran masyarakat dlm pengelolaan sampah Meningkatnya kesiapan masyarakat menghadapi banjir Meningkatnya kesadaran masyarakat dlm pengendalian sampah di saluran. sekitar hutan dan sekitar sumber air (mata air. penyebar-luasan informasi. IP3A/GP3A/P3A. Dinas Sosial. 5. 3 dan 4 5 No. Badan Pemberdayaan Masyarakat Prov/Kab/Kota. situ. Dinas PU/SDA prov. termasuk pemeliharaan dan peningkatan jaringan irigasi tersier (30% area) Memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat DAS hulu. BPDAS. dengan memanfaatkan CSR Melaksanakan pembinaan. kelompok masyarakat perkotaan P P P Kadinda. PU/SDA Kab/Kota. secara berkelanjutan Mensosialisasikan dan melaksanakan penyuluhan serta bimbingan tentang hemat air irigasi. Kelompok Masyarakat P P P 6) Masih terbatasnya penggunaan dana Corporate Social Responsibility (CSR). dan sumber daya air. dengan demplot sistem SRI atau metoda lainnya secara berkelanjutan Membina petani melaksanakan sistem SRI (10% area). efisiensi menjadi 58% Melaksanakan sosialisasi hemat air irigasi. sekitar hutan dan Kab. Asosiasi/masyarakat Industri P P P P P P P P P Melaksanakan sosialisasi tentang pengurangan resiko akibat banjir secara berkelanjutan Lihat (1. bimbingan dan peningkatan peran serta perempuan dalam pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan. BBWS. penyadaran masyarakat dalam pengelolan sumber daya air secara berkelanjutan. pendayagunaan sumber daya air. termasuk pemeliharaan dan peningkatan jaringan irigasi tersier (20% area. MCK. Pembayaran Jasa Lingkungan (IJL). efisiensi menjadi 65% Melaksanakan sosialisasi hemat air irigasi. pertanian dan keterlibatan dalam organisasi kelompok masyarakat Melaksanakan sosialisasi hemat air untuk kebutuhan rumah tangga dan perkotaan Melaksanakan sosialisasi dan menerapkan hemat air industri melalui Reduce-Reuse-Recycle Dinas PU/SDA kab/kota. mencegah pencemaran air. lingkungan.5 PEMBERDAYAAN & PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT. lingkungan dan sumber daya air Dinas Sosial. efisiensi menjadi 61% Melaksanakan sosialisasi hemat air irigasi. BPLHD Kab/Kota. BBWS. termasuk pemeliharaan dan peningkatan jaringan irigasi tersier (50% area. BPSDA. 2. Menambahkan pendidikan Pengelolaan sumber daya air dalam muatan lokal tingkat PAUD.. kelompok tani P P P P P P P Meningkatnya kesadaran masyarakat dalam hemat air untuk kebutuhan rumah tangga dan perkotaan Terlaksananya penerapan hemat air industri melalui Reduce-Reuse-Recycle Terlaksananya pengembangan dan Penerapan Teknologi desalinisasi air laut atau ultra filtrasi./Kota. pemuka agama. dengan memanfaatkan CSR Terlaksananya peningkatan peran serta perempuan dalam bidang pengelolaan sumber daya air. Dinas PU/SDA. waduk.SMU Melaksanakan pemberdayaan petani/ P3A dalam irigasi partisipatif. dengan demplot sistem SRI atau metoda lainnya secara berkelanjutan Membina petani melaksanakan sistem SRI (5% area).SMU Melaksanakan pemberdayaan petani/ P3A dalam irigasi partisipatif. lingkungan dan sumber daya air Memberikan bantuan pemberdayaan dan percontohan dengan diutamakan kepada kelompok masyarakat yang telah merintis kegiatan pengelolaan sumber daya air secara swadaya Melakukan inventarisasi kelompok masyarakat yang mempunyai budaya/ tradisi menjaga kelestarian kawasan hutan. serta memberikan bimbingan dan pemberdayaan dalam melestarikan budaya/ tradisi tersebut. sekitar hutan dan sekitar sumber air (mata air. termasuk MCK. serta memberikan bimbingan dan pemberdayaan dalam melestarikan budaya/ tradisi tersebut. Kelompok Masyarakat P P P 3) Belum maksimalnya pembinaan masyarakat dalam melaksanakan hemat air P P P Meningkatnya kesadaran petani dalam pelaksanaan hemat air irigasi Terlaksananya pembinaan petani berhemat air irigasi dengan sistem SRI atau metoda lainnya Meningkatkan pmbinaan petani utk hemat air irigasi. kumulatif (10%) Melaksanakan sosialisasi dan edukasi hemat air untuk kebutuhan rumah tangga dan perkotaan secara berkelanjutan Menerapkan hemat air industri melalui 3R secara berkelanjutan iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) Melaksanakan sosialisasi.1. BPSDA. DUNIA USAHA DAN PEMERINTAH 1 Aspek/Sub Aspek A PEMBERDAYAAN P & PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT DAN SWASTA P B P C P D P 2 3 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis 1) Lemahnya pembinaan dan pemberdayaan masyarakat dlm pengelolaan sumber daya air Sasaran/Target yang diinginkan Meningkatnya kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air i Jangka Pendek (2011-2015) Melaksanakan sosialisasi. kumulatif (20%) Melaksanakan sosialisasi dan edukasi hemat air untuk kebutuhan rumah tangga dan perkotaan secara berkelanjutan Menerapkan hemat air industri melalui 3R secara berkelanjutan Kebijakan operasional Melaksanakan pembinaan masyarakat. Dinas PU/SDA kab/kota. Menambahkan pendidikan Pengelolaan sumber daya air dalam muatan lokal tingkat PAUD. tokoh masyarakat dan kelompok masyarakat P P P Meningkatkan pembinaan kesadaran dan kemampuan petani/ P3A dalam pengelolaan jaringan irigasi tersier P P P Meningkatkan kondisi sosial-ekonomi Bapedda. untuk konservasi sumber daya air dan lingkungan Mendorong terwujudnya komitmen penyediaan dana CSR dan IJL untuk konservasi sumber daya air dan lingkungan secara berkelanjutan Melaksanakan pemberdayaan masyarakat tentang sanitasi lingkungan sumber air secara berkelanjutan. secara berkelanjutan Mensosialisasikan dan melaksanakan penyuluhan serta bimbingan tentang hemat air irigasi. Kelompok Masyarakat. BP DAS. Dinas PerKim prov. dengan memanfaatkan CSR Mendorong terwujudnya komitmen penyediaan dana CSR dan IJL untuk konservasi sumber daya air dan lingkungan secara berkelanjutan Melaksanakan pemberdayaan masyarakat tentang sanitasi lingkungan sumber air secara berkelanjutan.

Dinas Pertanian Prov/Kab/Kota. secara berkelanjutan Menetapkan kawasan pertanian pangan Dinas Pertanian.Tabel 4. Polisi.1. PU/CK/SDA. perkotaan. BBWS. Kelompok terhadap pelanggaran peraturan Per-UU. 2. Badan Perijinan tk Prov/Kab/Kota. antara lain lokasi calon genangan waduk/ tampungan air. dengan pengendalian perijinan Dinas Tata Ruang . mensosialisasikan dan menerapkan insentif dan disinsentif (tarif PBB yang berbeda untuk tanah terlantar/produktif. Dinas Pertanian. Kelompok Masyarakat P P P P P P P P P P P P P P Menetapkan kawasan pertanian pangan berkelanjutan dalam RTRW untuk mendapatkan perlindungan khusus sesuai peraturan berkelanjutan (2011-2013) Mensosialisasikan kawasan pertanian pangan berkelanjutan (2011-2013) Memonitor dan mengawasi pelaksanaan secara berkelanjutan (2014-2015) melalui ijin lokasi dan IMB Menerapkan sanksi terhadap pelanggaran pelaksanaan alih fungsi lahan secara berkelanjutan (2014-2015) Memonitor dan mengawasi pelaksanaan perlindungan lahan pertanian pangan. Bappeda. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (3 Ci) pada Skenario 1. tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional i Jangka Pendek (2011-2015) Melaksanakan sosialisasi peraturan per undang-undangan terkait dengan penataan ruang Melaksanakan pemantauan dan pengawasan pelaksanaan per undang-undangan terkait dengan penataan ruang secara berkelanjutan (2014-2015) Melaksanakan penindakan terhadap pelanggar penataan ruang secara berkelanjutan (2014-2015) Menetapkan zonasi pemanfaatan sumber air termasuk kawasan resapan. ke dalam RTRW Prov/Kab/Kota Menetapkan kawasan yang harus diproteksi dari pembangunan perumahan/ perkotaan. Kelompok Masyarakat Mendukung pembangunan wilayah Dinas Tata Ruang. dan lahan pertanian tanaman pangan berkelanjutan Mengendalikan ijin lokasi dan ijin bangunan. daerah resapan air. sumber air.Masyarakat an tentang penataan ruang dan RTRW Prov. BBWS. dengan tetap memperhatikan perlindungan zona konservasi sumber daya air. Bappeda Prov/Kab/Kota. melaksanakan yang terkena genagan. dan lahan pertanian tanaman pangan berkelanjutan Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. daerah resapan air. daerah resapan air. Kelompok Masyarakat P P P P P P P P P P P P P P P P P P Terwujudnya insentif dan disinsentif terhadap kondisi pengelolaan lahan yang berbeda (tanah terlantar/produktif. Dinas PU/SDA. Bappeda berkelanjutan dalam RTRW untuk Prov/Kab/Kota. building code. Kelompok Masyarakat Badan Perijinan. Kelompok Masyarakat Dinas Tata Ruang. BBWS. Dinas PU/SDA. Kab/Kota P P P P P P Terlaksananya UU No. kawasan retensi banjir. Dinas Tata Ruang. PPNS. memantau. PU/CK/SDA. dan lahan pertanian tanaman pangan berkelanjutan --- Badan Perijinan. tanah produktif tanpa/dengan konservasi) STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Melaksanakan sosialisasi peraturan per undang-undangan terkait dengan penataan ruang Melaksanakan pemantauan dan pengawasan pelaksanaan per undangundangan terkait dengan penataan ruang secara berkelanjutan Melaksanakan penindakan terhadap pelanggar penataan ruang secara berkelanjutan Membatasi peruntukan kawasan melalui pembatasan ijin lokasi. tanah produktif tanpa/dengan konservasi) 2) Terjadinya alih fungsi lahan pertanian tanaman pangan (sawah) Terlaksananya UU 41/2009 ttg Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan PP 1 tahun 2011 Mensosialisasikan dan menerapkan insentive dan disinsentive (PBB tanah terlantar/produktif. BPN Kab/Kota. BBWS. building code. PU/PSDA. secara berkelanjutan Memonitor dan mengawasi pelaksanaan perlindungan lahan pertanian pangan. dengan tetap melindungi zona konservasi sumber daya air. Bappeda Prov/Kab/Kota . BBWS. Bappeda berkaitan dengan rencana pembangunan Prov/Kab/Kota. melaksanakan pemantauan dan mengawasi pelaksanaan RTRW iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) Melaksanakan sosialisasi peraturan per undang-undangan terkait dengan penataan ruang Melaksanakan pemantauan dan pengawasan pelaksanaan per undangundangan terkait dengan penataan ruang secara berkelanjutan Melaksanakan penindakan terhadap pelanggar penataan ruang secara berkelanjutan Membatasi peruntukan kawasan melalui pembatasan ijin lokasi. Perkebunan. C atau D halaman 155 . tanah produktif tanpa/dengan konservasi) Dispenda. BBWS. Dinas Pertanian. PPNS. rawan banjir. PU/SDA. kawasan industri. tanah produktif tanpa/dengan konservasi) Menerapkan insentive dan disinsentive. melaksanakan konsolidasi kepemilikan lahan yang terkena genangan. serta melaksanakan konsolidasi kepemilikan lahannya Mencantumkan struktur bangunan utama sumber daya air dalam RDTR Kab/Kota Mencantumkan kawasan rehabilitasi hutan dan lahan sesuai RTkRHL dalam RTRW Kab/Kota Menyusun Perda. pembedaan tarif PBB (tanah terlantar/produktif. Polisi. IMB. BBWS. secara berkelanjutan Menerapkan sanksi terhadap pelanggaran pelaksanaan alih fungsi lahan secara berkelanjutan Mereview RTRW Prov. Kelompok Jembatan Selat Sunda dengan tetap Masyarakat melindungi zona konservasi sumber daya air. Tata Kota. Kelompok mendapatkan perlindungan khusus Masyarakat sesuai peraturan Mengendalikan ijin lokasi dan ijin bangunan. Bappeda mengawasi dan melakukan penindakan Prov/Kab/Kota. secara berkelanjutan Menerapkan sanksi terhadap pelanggaran pelaksanaan alih fungsi lahan secara berkelanjutan Melaksanakan pengawasan dan penegakan hukum terhadap penerapan RTRW Mencegah terjadinya alih fungsi lahan pertanian tanaman pangan. Kab/Kota berkaitan dengan rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda. tanah produktif tanpa/dengan konservasi) Mensosialisasikan dan menerapkan insentive dan disinsentive (PBB tanah terlantar/produktif. rawan longsor. 3 dan 4 PENATAAN RUANG 1 No. ke dalam RTRW Prov/Kab/Kota. melalui pengendalian perijinan bangunan Penegakan hulum pelaksanaan UU 41/2009 P 3) Antisipasi rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda Terlaksananya pembangunan permukiman. kepemilikan lahan melaksanakan pemantauan dan mengawasi pelaksanaan RTRW Kebijakan operasional Lembaga/Instansi/Kelompok Masyarakat/Dunia Usaha Terkait P P P Mensosialisasikan. PU/CK/SDA. ke dalam RTRW Prov/Kab/Kota Menetapkan zona daerah rawan bencana tsunami. B. tangkapan air. Aspek/Sub Aspek A P B P C P D P 2 3 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis 1) Adanya pelanggaran pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana peruntukan Sasaran/Target yang diinginkan Terlaksananya UU 26/2007 tentang Penataan Ruang dan PP 26 Thn 2008. IMB. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Mengendalikan pembangunan sesuai RTRW.

BBWS.407 ha) pada wilayah Ciliwung Cisadane Hulu Mensosialisasikan upaya konservasi dan perlindungan lahan agak kritis pada DAS di wilayah wilayah Ciliwung .Cisadane Hulu Terlaksananya konservasi DAS sangat kritis ( 802 ha) dan kritis (17. Dinas Kehutanan Prov. 47/2006 tahap III (50% area). Kab/Kota terkait. Dinas Pertanian Prov. BPLHD. BBWS. kumulatif (50% area). tanah produktif tanpa/dengan konservasi) * Melaksanakan pembangunan pengamanan muara dan erosi pantai (60%).504 ha) Mensosialisasikan upaya konservasi dan perlindungan lahan potensial kritis pada DAS di wilayah Ciliwung . Perum Perhutani (Hutan Lindung dan Produksi). vegetatif kumulatif (100%) Melaksanakan 100% OP waduk/situ oleh Penganggaran OP sesuai kebutuhan nyata Dinas PU DKI (waduk dan situ yang telah pengelolaan situ-situ. BUMN-HL. Kelompok Masyarakat Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. dan melaksanakan RTkRHL 20% area P P 3) Terancamnya kawasan hutan dan non hutan DAS potensial Kritis pada wilayah Ciliwung . 47/2006 tentang Pedoman Umum Budidaya Pertanian pada Lahan Pegunungan Dinas TanHutBun.1 1) Berkurangnya fungsi konservasi kawasan hutan dan non hutan pada lahan sangat kritis( 802 ha) dan kritis (17. Kab/Kota terkait. Dinas/Badan Terkait di Tk. Kab/Kota. BUMN-HL. target 60%. tanah produktif tanpa/dengan konservasi) Dispenda. PT. Kelompok Masyarakat P P Terlaksananya penanaman kawasan non hutan yang berlereng dengan tanaman jangka panjang bernilai ekonomi tinggi. Kelompok Masyarakat P P P 9) Adanya sedimentasi di sungai. tanah produktif tanpa/dengan konservasi) Melaksanakan perlindungan alur dan tebing sungai yang optimal * Membangun laborotarium geologi (geo * Melaksanakan inventarisasi untuk cagar park) di lokasi-lokasi sungai Cisadane dan alam dan budaya melalui pembuatan melakukan operasi dan pemeliharaan perlindungan alam . baik secara kelola oleh pusat) swakelola maupun kontraktual Dinas PU/SDA Prov.504 BPDAS. PU/SDA. membangun laborotarium geologi (geo park) di lokasilokasi sungai Cisadane Melaksanakan sosialisasi PerMenTan No. target 15% area Menyusun Perda. tanah produktif tanpa/dengan konservasi) Menerapkan insentive dan disinsentive (PBB tanah terlantar/produktif. BPDAS. mensosialisasikan dan menerapkan insentive dan disinsentive (PBB tanah terlantar/produktif. (10% area) Melaksanakan percontohan dan pendampingan kepada masyarakat tani di kawasan non hutan yang berlereng untuk menanam tanaman jangka panjang.407 ha) pada wilayah Ciliwung Cisadane Terlaksananya konservasi DAS agak kritis (81. KONSERVASI 1 2 3 4 Aspek/Sub Aspek A B C D PERLINDUNGAN P P P P DAN PELESTARIAN SUMBER DAYA AIR Permasalahan Berdasarkan Analisis Sasaran/Target yang diinginkan STRATEGI i ii + i iii + ii + i Jangka Pendek (2011-2015) Jangka Menengah (2011-2020) Jangka Panjang (2011-2030) Mensosialisasikan kepada masyarakat * Melaksakan kegiatan RTkRHL pada * Melaksakan kegiatan RTkRHL pada lahan tentang Rencana Teknis Rehabilitasi lahan sangat kritis 60% area.Cisadane * Melakukan inventarisasi untuk cagar alam dan budaya melalui pembuatan perlindungan alam . kumulatif menjadi 75%. kumulatif (50%) Melaksanakan 80% OP waduk/situ oleh Dinas PU DKI (waduk/situ yang telah di kelola daerah) Melaksanakan 80% OP waduk/situ oleh BBWS (bagi waduk/situ yang masih di kelola oleh pusat) * Merehabiltasi hutan bakau sepanjang * Melindungi muara dan pantai secara pantai secara berkelanjutan (50%). C atau D halaman 156 . Kelompok Masyarakat. 47/2006 tahap II (40% area). PT. Hutan dan Lahan (RTkRHL) = 2011-2013. BPLHD/BLHD. Kelompok Masyarakat BBWS. Kelompok Masyarakat Melaksanakan rekomendasi RTkRHL di kawasan prioritas DAS sangat Kritis dan kritis di hulu waduk/rencana waduk (18. kumulatif 100% Melaksanakan (2021-2030 = 65%. Serta kondisi hutan yang sudah di rehabilitasi sangat kritis 40% dan lahan kritis 25% memantau dan mempertahankan kondisi area (2014-2015) hutan yang sudah di rehabilitasi Kebijakan operasional Lembaga/Instansi/Kelompok Masyakat/Swasta Terkait 1. kumulatif menjadi 100%. kumulatif (100% area). kumulatif 100% Mensosialisasikan dan menerapkan insentive dan disinsentive (PBB tanah terlantar/produktif. BB sudah di rehabilitasi sudah di rehabilitasi Konservasi SD Alam (Hutan Konservasi). Kehutanan Kab. kumulatif 50% Melaksanakan (2016-2020 = 25%. Bakt * Melaksakan kegiatan RTkRHL pada * Melaksakan kegiatan RTkRHL pada lahan Mengajak masyarakat memperbaiki DAS Dinas TanHutBun. Dinas Kehutanan Prov. PU/SDA. kumulatif kritis 50% area. Perum Perhutani. mulai dari pratanam sampai pasca tanam. BBWS.Cisadane Hulu dan melaksanakan RTkRHL 25% area Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan (TanHutBun) di luar Kawasan Hutan. Kelompok Masyarakat P P P 6) Budi daya pertanian di kawasan non hutan yang tidak sesuai dengan kaidah konservasi yang menyebabkan banyaknya lahan kritis Terlaksananya PerMenTan No. dan memberdayakan agar tetap mendapat penghasilan untuk kehidupan hariannya P P 7) Belum adanya insentif dan disintensif pada lahan terlantar dan lahan produktif Terwujudnya insentive dan disinsentive (PBB tanah terlantar/produktif. membangun laboratorium yang terbangun secara laborotarium geologi (geo park) di lokasiberkelanjutan lokasi sungai Cisadane Menerapkan PerMenTan No. BBKSDA. Bakt * Melaksakan kegiatan RTkRHL pada * Melaksakan kegiatan RTkRHL pada lahan * Melaksanakan RTkRHL di kawasan lahan Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan lahan agak kritis 50% area.Cisadane Melaksanakan Gerhan dan GNKPA di dalam dan di luar kawasan hutan pada DAS hulu dan tengah wilayah Ciliwung Cisadane (25%) Merencanakan (2011-2013 = 100%) dan melaksanakan (2014-2015 = 10%) perlindungan alur dan tebing sungai di sungai-sungai utama pada wilayah Ciliwung .504 ha) Terlaksananya konservasi DAS potensial Kritis pada wilayah Ciliwung . Dinas TanHutBun kab/kota . Kebijakan Operasional Pengelolaan Sumber Daya Air WS 6 Ci (2 Ci) pada Skenario 1. PU/SDA. serta memantau dan ha) Prov. kumulatif menjadi agak kritis pada DAS di wilayah wilayah (TanHutBun) di luar Kawasan Hutan. dan melaksanakan pembangunan pengamanan muara dan erosi pantai (100%) * Terlindungnya kawasan pantai secara * Merehabiltasi hutan bakau sepanjang alami dengan hutan bakau pantai secara berkelanjutan (25%) Melaksanakan OP Situ sesuai kebutuhan Melaksanakan 60% OP waduk/situ oleh Dinas PU DKI (waduk/situ yang telah di kelola daerah) Melaksanakan 60% OP waduk/situ oleh BBWS (bagi waduk/situ yang masih di kelola oleh pusat) * Melindungi muara dan pantai dengan struktur Dinas PU/SDA Kab/Kota dan Prov. BBWS.. kumulatif (100%) Membimbing masyarakat di kawasan Dinas TanHutBun. BBWS. kumulatif 40% Melaksanakan bimbingan kepada masyarakat tani di kawasan non hutan yang berlereng untuk menanam tanaman jangka panjang. Kab/Kota terkait. Balai PSDA. lahan potensial kritis 40% area. kumulatif = 100%) perlindungan alur dan tebing sungai di sungai-sungai utama pada wilayah Ciliwung . PU/SDA. mulai dari pratanam sampai pasca tanam. memantau dan mengevaluasi pelaksanaannya Menyelenggarakan budidaya pertanian lahan pegunungan yang sesuai dengan kaidah konservasi berpedoman kepada PerMenTan No. Dinas berlereng dengan tanaman jangka panjang Pertanian Prov. PT. Kab/Kota terkait. Kelompok Masyarakat bernilai ekonomi tinggi. Kelompok Masyarakat Dinas PU DKI. BBWS. menjadi 70%.Cisadane Kab/Kota terkait. Kelompok Masyarakat BBWS...021 ha) P P P P P P P 4) Belum optimalnya pelaksanaan Gerhan dan GNKPA di dalam dan di luar kawasan hutan pada DAS hulu dan tengah wilayah Ciliwung Cisadane 5) Belum optimalnya perlindungan alur dan tebing sungai di sungai-sungai utama pada wilayah Ciliwung Cisadane Terlaksananya Gerhan dan GNKPA di dalam dan di luar kawasan hutan pada DAS hulu dan tengah wilayah Ciliwung Cisadane Terwujudnya perlindungan yang optimal alur dan tebing sungai di sungai-sungai utama pada wilayah Ciliwung . Dinas TanHutBun Kab/Kota. Bappeda. Serta memantau 100%.Cisadane Hulu P P P 2) Berkurangnya fungsi kawasan hutan dan non hutan DAS agak kritis (81. contoh kopi Melaksanakan bimbingan kepada masyarakat tani di kawasan non hutan yang berlereng untuk menanam tanaman jangka panjang.4 1 No. 47/2006 Dinas ESDM. Melaksanakan Gerhan dan GNKPA di dalam dan di luar kawasan hutan pada DAS hulu dan tengah wilayah Ciliwung Cisadane (50%).Cisadane (244. Dinas Kehutanan menjadi 65%. dan lahan kritis 50% serta memantau dan mempertahankan melaksakan kegiatan RTkRHL pada lahan area. BPN Kab/Kota.219 ha) pada wilayah Ciliwung . menjadi 100%.Tabel 4.Cisadane Melaksanakan Gerhan dan GNKPA di dalam dan di luar kawasan hutan Dinas Tata Ruang/Tata Kota.2. mempertahankan kondisi hutan yang mempertahankan kondisi hutan yang Kelompok Masyarakat sudah di rehabilitasi sudah di rehabilitasi Melaksanakan Gerhan dan GNKPA di dalam dan di luar kawasan hutan pada DAS hulu dan tengah wilayah Ciliwung Cisadane (25%).3. Perum Perhutani (Hutan Lindung dan Produksi). BBWS. BB Konservasi SD Alam (Hutan Konservasi).2. B. kumulatif potensial kritis 35% area. BPDAS. serta memantau dan Ciliwung ./Kota Terkait. kumulatif agak kritis 30% area. disertai penanaman secara tumpang sari secara berkelanjutan. 47/2006. kumulatif = 35%) perlindungan alur dan tebing sungai di sungai-sungai utama pada wilayah Ciliwung . melaksanakan pelatihan dan melaksanakan gerakan budidaya pertanian di lahan pegunungan melalui pendekatan sekolah lapang. PT. disertai penanaman secara tumpang sari secara berkelanjutan. tanah produktif tanpa/dengan konservasi) * Melaksanakan pembangunan pengamanan muara dan erosi pantai (30%). BPDAS. situ dan muara P P P * Merehabiltasi hutan bakau sepanjang pantai secara berkelanjutan (25%). kumulatif 40% Mensosialisasikan dan menerapkan insentive dan disinsentive (PBB tanah terlantar/produktif.. Kelompok danmempertahankan kondisi hutan yang mempertahankan kondisi hutan yang Masyarakat. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. target 25%. baik secara di kelola daerah) swakelola maupun kontraktual Melaksanakan 100% OP waduk/situ oleh Penganggaran OP sesuai kebutuhan nyata BBWS (bagi waduk dan situ yang masih di pengelolaan situ-situ. Prov.219 ha) pada di wilayah Ciliwung . BBWS. Dinas Kehutanan Prov. kumulatif potensial kritis menjadi tidak kritis (244. BBWS dan Dinas PU/PSDA. Dinas PU DKI. memantau dan mengevaluasi pelaksanaannya.Cisadane.serta memantau dan menjadi 100%. disertai pemberdayaan pananaman sistem tumpangsari untuk pendapatan sehari-hari.Cisadane * Membangun laborotarium geologi (geo park) di lokasi-lokasi sungai Cisadane dan melakukan operasi dan pemeliharaan laboratorium yang terbangun secara berkelanjutan Menerapkan PerMenTan No. PU/SDA .Cisadane Hulu (244. Kelompok Masyarakat P P P 8) Terjadinya abrasi/ erosi muara dan pantai P P P * Terlindunginya kawasan muara dan pantai * Menyusun perencanaan bangunan pengamanan muara dan erosi pantai.

memantau dan mengevaluasi pelaksanaan sistem pemberian Insentif/disinseftif secara berkelanjutan Menerapkan. Developer dan Kelompok Masyarakat Dinas Perumahan. Pesanggrahan dan anak-anak Pesanggrahandan anak-anak sungainya Pesanggrahan dan anak-anak sungainya sungainya sebagai bagian dari daerah sebagai bagian dari daerah milik sungai sebagai bagian dari daerah milik sungai milik sungai melalui kegiatan sosialisasi. PTPN dan masyarakat * Mengembalikan fungsi lahan bekas sudetan sungai Ciliwung. DPRD. Dinas menegakkan dan menindak bagi pelanggar PU Prov. BPN. mengkaji ulang terhadap ijin yang sudah dikeluarkan serta pengaturan ijin dengan memperhatikan kelestarian lingkungan secara berkelanjutan disertai penegakan hukum. S. Developer dan Kelompok Masyarakat Dinas PU DKI. mengkaji ulang terhadap ijin yang sudah dikeluarkan serta pengaturan ijin dengan memperhatikan kelestarian lingkungan secara berkelanjutan disertai penegakan hukum. Bappeda. penertiban dan pemantauan secara berkelanjutan * Mengidentifikasi flora dan fauna penting pada habitat kunci di kawasan lindung. Angke dan S.2. Developer dan kelompok masyarakat situ/waduk Terlaksananya pelaksanaan PERDA tentang penetapan batas dan pemanfaatan daerah sempadan sungai dan situ/waduk * Menyusun Pergub tentang penetapan * Memantau serta menerapkan sanksi batas dan pemanfaatan daerah sempadan terhadap pelanggaran pelaksanaan sungai dan situ/waduk sebagai turunan Pergub tentang penetapan batas dan dari Perda. dan melaksanakan. Pesanggrahan serta anak Pesanggrahan dan anak-anak sungainya sungainya yang dimanfaatkan oleh masyarakat P 18) Berkurangnya keanekaragaman hayati di wilayah Ciliwung Cisadane * Terlindunginya keanekaragaman hayati pada kawasan lindung * Mengembalikan fungsi lahan bekas * Mengembalikan fungsi lahan bekas * Mengembalikan fungsi lahan bekas sudetan sungai Ciliwung. Dinas Tata Ruang dan Tata Kota. sudetan sungai Ciliwung. BPN. Bappeda. DPRD. menegakkan dan menindak bagi pelanggar Polri. S. PTPN dan masyarakat serta pengawasan terhadap penggunaan lahan sesuai dengan batas yang telah ditetapkan secara berkelanjutan BBWS. memberikan arahan lokasi yang sesuai. KONSERVASI 1 2 3 4 Aspek/Sub Aspek Permasalahan Berdasarkan Analisis A B C D P P 11) Terjadinya alih fungsi lahan di JABODETABEK Sasaran/Target yang diinginkan i Jangka Pendek (2011-2015) Menyusun PERDA dan menerapkan pengendalian alih fungsi lahan secara berkelanjutan di Jabodetabek Menyusun Perda pemberian Insentif bagi Pengembang yang menambah RTH STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Mengendalikan dan mengawasi alih fungsi lahan secara berkelanjutan di Jabodetabek Menerapkan dan memantau pelaksanaan pemberian Insentif bagi Pengembang yang menambah RTH Menerapkan dan memantau pembangunan kawasan pemukiman baru yang mengikuti kaidah konservasi iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) Mengendalikan dan mengawasi alih fungsi lahan secara berkelanjutan di Jabodetabek Menerapkan dan memantau pelaksanaan pemberian Insentif bagi Pengembang yang menambah RTH Menerapkan dan memantau pembangunan kawasan pemukiman baru yang mengikuti kaidah konservasi Kebijakan operasional Lembaga/Instansi/Kelompok Masyakat/Swasta Terkait P P Perubahan tata guna lahan di JABODETABEK mengikuti ketentuan yang berlaku Penerapan aturan Insentif bagi Pengembang yang menambah RTH Terwujudnya kawasan pemukiman baru yang mengikuti kaidah konservasi P P P 12) Masih adanya kawasan pemukiman baru belum mengikuti kaidah konservasi P 13) Masih terbatasnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) Menyusun Perda tentang pembangunan kawasan pemukiman baru yang mengikuti kaidah konservasi Menyusun sistem pemberian Insentif bagi yang mengembangkan dan disinsentif bagi pengembang yang mengurangi RTH. lahan sesuai dengan batas yang telah melakukan pemetaan detail dan ditetapkan secara berkelanjutan pemasangan tanda batas yang jelas antara lahan milik Perum Perhutani.S. B. S./Kab/kota. Dinas PU DKI. KLH. PTPN dan Masyarakat * Menginvenatrisasi pemilikan lahan Perum * Pengawasan terhadap penggunaan Perhutani. Satpol PP. Kelompok Masyarakat P P 16) Kurang jelasnya batas pemilikan lahan di hulu antara milik PERUM PERHUTANI. Kelompok Masyarakat Dinas PU DKI. Dinas ESDM/Pertambangan. BBWS. 2. C atau D halaman 157 . Dinas PU/PSDA Prov. Dinas PU/PSDA Prop. BPN. BPLHD. penertiban penertiban dan pemantauan secara dan pemantauan secara berkelanjutan berkelanjutan * Memantau serta menerapkan sanksi * Memantau serta menerapkan sanksi Melakukan perlindungan terhadap terhadap pelanggaran terhadap terhadap pelanggaran terhadap kekelestarian keanekaragaman hayati di kelestarian keanekaragaman hayati kelestarian keanekaragaman hayati wilayah Ciliwung . DPRD. dituangkan dalam Perda (2011-2013). DPRD. Pesanggrahan dan anak-anak sungainya sebagai bagian dari daerah milik sungai melalui kegiatan sosialisasi. Dinas PU DKI. Angke dan S. BPN. mengembangkan flora dan fauna sesuai kebutuhan * Pengawasan terhadap penggunaan lahan * Melakukan pemetaan detail dan Dinas Kehutanan. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (2 Ci) pada Skenario 1. Bappeda. mengidentifikasi kebutuhan restorasi habitat untuk mengoptimalkan fungsi ekologis zona riparian wilayah Ciliwung Cisadane. Menerapkan. PTPN dan Masyarakat * Terciptanya batas pemilikan lahan yang jelas di hulu antara milik PERUM PERHUTANI. melalui kegiatan sosialisasi. Pergub tentang sempadan dan sungai Polri. Angke dan sudetan sungai Ciliwung. mengawasi dan menindak bagi pelanggar Perda tentang sempadan sungai dan situ/waduk Menyusun Perda. Dinas Tata Ruang dan Tata Kota. memantau dan mengevaluasi pelaksanaan sistem pemberian Insentif/disinseftif secara berkelanjutan P P P 14) Belum optimalnya pelaksanaan PERDA tentang adanya penetapan batas dan pemanfaatan daerah sempadan sungai dan situ/waduk Terwujudnya Perda tentang sempadan sungai dan situ/waduk Menerapkan Perda tentang sempadan sungai dan situ/waduk Menerapkan. Developer dan kelompok masyarakat Perda tentang sempadan dan sungai situ/waduk * Menyusun Pergub. Gubernur Prov. pemanfaatan daerah sempadan sungai memantau serta menerapkan sanksi dan situ/waduk secara berkelanjutan terhadap pelanggaran pelaksanaan Pergub tentang penetapan batas dan pemanfaata * Meninventarisasi lokasi penambangan. sesuai dengan batas yang telah ditetapkan pemasangan tanda batas yang jelas antara Perum Perhutani. PTPN dan Nasyarakat. Developer dan Kelompok Masyarakat Tercapainya standar luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) sesuai dengan peraturan Menerapkan. Dinas Tata Ruang dan Tata Kota.Tabel 4. Dinas PU DKI. Dinas Tata Ruang dan Tata Kota. dan Kelompok masyarakat Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. Angke dan S. mensosialisasikan. Satpol PP. PTPN dan Masyarakat secara berkelanjutan lahan milik Perum Perhutani. Jabar dan DKI Jakarta. DPRD. BBWS. S. Angke dan S. sungai Ciliwung. * Monitoring dan sangsi * Memantau serta menerapkan sanksi terhadap pelanggaran pelaksanaan Pergub tentang penetapan batas dan pemanfaatan daerah sempadan sungai dan situ/waduk secara berkelanjutan P P P 15) terjadinya kerusakan dasar dan alur * Terlindungnya dasar dan alur sungai sungai karena penambangan pasir terhadap kerusakan akibat penambangan dan krikil pasir dan krikil * Monitoring dan sangsi * Memberikan arahan lokasi yang sesuai untuk penambangan pasir dan krikil. memantau dan mengevaluasi pelaksanaannya (20142015) Menyusun Perda tentang perlindungan dan fungsi situ serta mensosialisasikannya Menyusun dan menerapkan Perda tentang pengendalian alih fungsi lahan di Jabodetabek Menyusun dan menerapkan Perda pemberian Insentif bagi Pengembang yang menambah RTH Menyusun dan menerapkan Perda tentang pembangunan kawasan pemukiman baru yang mengikuti kaidah konservasi Menambah luas RTH sehingga tercapai standar sesuai peraturan (30% luas) Bappeda. S. Angke dan S. 3 dan 4 1 No.Cisadane secara berkelanjutan secara berkelanjutan Dinas Kehutanan. S../Kab/Kota dan Masyarakat P P 17) Adanya lahan bekas sodetan sungai * Terlindunginya lahan bekas sudetan Ciliwung. mensosialisasikan. BBWS. Badan Pertanahan Nasional.

BBWS. Balai PSDA. DAM Parit dan Penghijauan di bagian tengah dan hulu DAS Ciliwung Melaksanakan pengendalian dan pemantauan pengambilan air tanah (menyediakan kebutuhan air permukaan secara berkelanjutan) Melaksanakan effisiensi pemakaian air di setiap DI dan melaksanakan metode SRI berkelanjutan Melaksanakan effisiensi pemakaian air rumah tangga dan industri secara berkelanjutan Mengganti pipa-pipa distribusi air minum yang lama. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. mensosialisasikan. sumur resapan. Kelompok Masyarakat Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. dan biopori BPLHD/BLHD. sumur resapan. Kelompok Masyarakat P P P P Terlaksananya pengendalian pengambilan air tanah P P P Tercapainya effisiensi pemakaian air irigasi P P Tercapainya efisiensi pemakaian air rumah tangga dan industri Berkurangnya kebocoran distribusi air minum P P P P Melaksanakan perencanaan / DED untuk Revitalisasi situ. Dinas/Badan Terkait di Tk. kumulatif 127 mata air Melaksanakan pemberdayaan masyarakat di 127mata air pada wilayah CiliwungCisadane Melakukan sosialisasi peraturan perUndang-Undangan tentang sempadan sumber air bersama masyarakat menetapkan dan mematok sempadan sumber air Melakukan rehabilitasi dan OP secara berkelanjutan Melakukan pemberdayaan masyarakat di 127 mata air pada wilayah CiliwungCisadane BBWS.Cisadane Melaksanakan sosialisasi pembuatan sumur resapan dan biopori kepada masyarakat (2011-2013) dan melaksanakan pembuatan biopori oleh masyarakat (2011-2015) = 20% area Melindungi dan mempertahankan daerah resapan di bagian hulu dan tengah wilayah Ciliwung . kumulatif 70 mata air Melaksanakan pemberdayaan masyarakat di 43 mata air pada wilayah Ciliwung-Cisadane Melaksanakan rehabilitasi dan OP 57 mata air. Kelompok Masyarakat BBWS. mensosialisasikan. 3 dan 4 1 No. Kehutanan Kab. Balai PSDA. Perum Perhutani. Kelompok Masyarakat Dinas Tata Ruang/Tata Kota. PT. Melaksanakan pengendalian dan pemantauan pengambilan air tanah (menyediakan kebutuhan air permukaan secara berkelanjutan) Melaksanakan effisiensi pemakaian air di setiap DI dan melaksanakan metode SRI berkelanjutan Melaksanakan sosialisasi dan menerapkan effisiensi pemakaian air rumah tangga dan industri Melaksanakan efisiensi dan hemat air keperluan rumah tangga dan industri BBWS Ciliwung . Kab/Kota terkait./Kota Terkait. PDAM. Dinas/Badan Terkait di Tk. kumulatif 100% area Menetapkan dan mematok sempadan sumber air di sekitar 57 mata air. Kelompok Masyarakat P P P 5) Masih adanya alih fungsi Situ menjadi pemukiman atau tempat usaha 6) Belum dilaksanakannya pembuatan sumur resapan dan biopori oleh seluruh masyarakat Terlindunginya situ secara berkelanjutan Menyusun Perda. mensosialisasikan. BBWS.situ dan lain-lain) di JABODETABEK 3) Terjadinya pengambilan air tanah dalam yang melampaui batas dan pemantauan yang lemah 4) Masih rendahnya effisiensi pemakaian air oleh berbagai kepentingan Bertambahnya waduk. kumulatif 70 mata air Melindungi dan mempertahankan daerah resapan di bagian hulu dan tengah wilayah Ciliwung . Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. menegakkan dan menindak bagi pelanggar Polri. situ dan kolam retensi Terlaksananya Rehabilitasi Situ. situ dan kolam retensi sesuai kebutuhan Kebijakan operasional Lembaga/Instansi/Kelompok Masyakat/Swasta Terkait 1. Kelompok sesuai kebutuhan jangka panjang Masyarakat Melaksanakan revitalisasi situ. Badan Regulator. Bappeda. Kelompok Masyarakat Dinas Perindustrian. BPLHD/BLHD. PU/SDA. BBWS. PU/SDA . BBWS. BPN. BPLHD/BLHD. DPRD.Cisadane Melaksanakan konsolidasi kepemilikan lahan daerah retensi dan pembangunan daerah retensi di wilayah Ciliwung Cisadane (30% area) Menetapkan dan mematok sempadan sumber air di sekitar 43 mata air. BPDAS.Cisadane Mengidentifikasi potensi daerah retensi di wilayah Ciliwung . situ dan kolam retensi BBWS. Dinas PU DKI. situ dan kolam retensi sesuai kebutuhan STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Membangun waduk. PDAM. BBWS. Satpol PP. BBWS. Prov. mensosialisasikan. Kehutanan Kab.. Balai PSDA. Dinas PU DKI. Melaksanakan pengendalian dan pemantauan pengambilan air tanah (menyediakan kebutuhan air permukaan secara berkelanjutan) Mensosialisasikan dan menerapkan effisiensi pemakaian air di setiap DI dan melaksanakan metode SRI Mensosialisasikan dan menerapkan effisiensi pemakaian air rumah tangga dan industri Mengganti pipa-pipa distribusi air minum yang lama. mengawasi dan menindak bagi pelanggar Perda tentang perlindungan dan fungsi situ Melaksanakan pembuatan sumur resapan dan biopori kepada masyarakat (20212030) = 50 % area. PU/SDA kab/kota. Dinas Kehutanan Prov.biopori Membangun waduk. Badan Regulator. DAM Parit dan Penghijauan di bagian tengah dan hulu DAS Ciliwung. Dinas/Badan Terkait di Tk. Melaksanakan pengendalian dan pemantauan pengambilan air tanah (menyediakan kebutuhan air permukaan secara berkelanjutan) Melaksanakan effisiensi pemakaian air di setiap DI dan melaksanakan metode SRI berkelanjutan Melaksanakan effisiensi pemakaian air rumah tangga dan industri secara berkelanjutan Mengganti pipa-pipa distribusi air minum yang lama. Dinas PU/SDA prov.Cisadane Melaksanakan konsolidasi kepemilikan lahan daerah retensi dan pembangunan daerah retensi di wilayah Ciliwung Cisadane (70% area). Kelompok Masyarakat PDAM. BBKSDA. BBWS. Dinas PU/SDA Prov./Kota Terkait. BBWS. mengawasi dan menindak terhadap pencurian air serta menerapkan hemat air Menerapkan Perda tentang perlindungan dan fungsi situ Melaksanakan revitalisasi situ. Kelompok Masyarakat Dinas TanHutBun. kumulatif 50% area Melindungi dan mempertahankan daerah resapan di bagian hulu dan tengah wilayah Ciliwung . mengawasi dan menindak terhadap pencurian air serta menerapkan hemat air Menerapkan. Developer. Balai PSDA. Dinas PU DKI.sumur resapan . Kelompok Masyarakat Melindungi dan meningkatkan daerah resapan Dinas Tata Ruang/Tata Kota. Kelompok Masyarakat P P P P Terlaksananya pembuatan sumur resapan dan biopori oleh seluruh masyarakat P P P 7) Berkurangnya daerah resapan di bagian hulu dan tengah wilayah Ciliwung .Cisadane secara berkelanjutan Menetapkan dan mematok sempadan sumber air di sekitar 27 mata air Melaksanakan rehabilitasi dan OP 27 mata air Melaksanakan pemberdayaan masyarakat di 27 mata air pada wilayah CiliwungCisadane Melaksanakan rehabilitasi dan OP 43 mata air./Kota Terkait. DAM Parit dan Penghijauan di bagian tengah dan hulu DAS Ciliwung. 2.. PU/SDA .Cisadane 8) Belum teridentifikasinya potensi daerah retensi Terlindunginya daerah resapan di bagian hulu dan tengah wilayah Ciliwung Cisadane Teridentifikasinya potensi daerah retensi di wilayah Ciliwung . DAM Parit dan Penghijauan di bagian tengah dan hulu DAS Ciliwung. Kelompok Masyarakat Dinas TanHutBun. DKI Jakarta. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (2 Ci) pada Skenario 1. Dinas PSDA kab/kota. kab/kota. kumulatif 100% area BPLHD. situ dan kolam retensi sesuai kebutuhan iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) Membangun waduk. mengawasi dan menindak terhadap pencurian air serta menerapkan hemat air Menyusun Perda tentang perlindungan dan fungsi situ serta mensosialisasikannya Melaksanakan revitalisasi situ.Cisadane. Prov.Cisadane (2011-2013) dan merencanakan (2014-2015) Melaksanakan pembuatan sumur resapan dan biopori kepada masyarakat (2016-2020) = 30% area. sumur resapan.Tabel 4. KONSERVASI 1 2 3 4 Aspek/Sub Aspek Permasalahan Berdasarkan Analisis A B C D P P Sasaran/Target yang diinginkan i Jangka Pendek (2011-2015) Membangun waduk. C atau D halaman 158 .2 PENGAWETAN AIR P P P 1) Belum optimalnya pembangunan tampungan air (masih banyak air terbuang pada musim hujan) 2) Masih kurangnya badan air(wd retensi. BUMN-HL.. B. kumulatif 127 mata air P P P P Mengidentifikasi potensi daerah/kolam retensi dan konsolidasi kepemilikan lahan daerah retensi P P P P 9) Terjadinya kerusakan sumber air (127 mata air) di wilayah Ciliwung Cisadane Terlindunginya sumber air (127 mata air) di wilayah Ciliwung . Balai PSDA. PU/SDA . sumur resapan. Prov.2. Dinas TanHutBun Kab. Dinas PU DKI. Kelompok Masyarakat Perda tentang perlindungan dan fungsi situ Melaksanakan pembuatan sumur resapan Dinas Tata Ruang/Tata Kota.

terintegrasi dalam sistim informasi kualitas Perindustrian. rutin. Dinas PU Prov. Bappeda. bila perlu memperbaharui Perda mengacu bila perlu memperbaharui Perda pada peraturan pemerintah terbaru. Kelompok Masyarakat * Menegakkan peraturan tentang kelas sungai * Menegakkan peraturan tentang kelas sungai * Menetapkan kelas air sungai * Melaksanakan monitoring kualitas air. penindakan bagi industri yang tidak Kepolisian. * Melaksanakan monitoring kandungan pestisida dan pupuk di saluran irigasi. dan tentang syarat kualitas air limbah. Dinas Kebersihan. secara bertahap pengembangan perumahan atau 15%). Dinas Kesehatan. Kelompok Masyarakat P P Mendorong pembangunan IPAL Industri P P P P P P P P P P P P P P 3) Limbah cair domestik dan Perkotaan * Terwujudnya pengendalian pencemaran belum diolah sebagaimana mestinya dari limbah domestik dan perkotaan. dan industri. Dinas Perindustrian Prov/ Kab/Kota. IPAL. Dinas PU. terutama pada kawasan bertahap (10% area kota. * Merencanakan sistem monitoring kualitas air real time * Meningkatkan SDM petugas monitoring. B. Kelompok Masyarakat BPLHD. Dinas Perindustrian. Dinas kawasan industri. Dinas PU/PSDA Prov. Dinas Pertanian. secara bertahap (5% terpisah dari saluran drainasi. situ dan waduk. Dinas PU/SDA kab/kota. Kelompok Masyarakat P P P Melaksanakan monitoring kualitas air BPLHD/BLHD. Dinas PU/SDA. BBWS. BBWS. Kelompok Masyarakat * Melaksanakan pengawasan dan BPLHD. BBWS. Dinas Perindustrian. serta pemetaan lokasi IPAL./kab/kota. BPLHD. mengoperasikan IPAL miliknya Kelompok Masyarakat * Membangun IPAL industri terpadu pada Swasta. TKPSDA. Dinas Kebersihan. PPNS. Dinas Perindustrian Prov/ Kab/Kota. serta updating peta lokasi dan dan jenis industri di wilayah Ciliwung jenis industri di wilayah 2 Ci Cisadane * Peningkatan kapasitas IPAL Setiabudi dan * Pembangunan sistim sanitasi perkotaan Perencanaan IPAL dilokasi lain di Jakarta dan perdesaan dan pembangunan IPAL dilokasi lain di Jakarta BPLHD. terutama serta mendorong pembangunan IPAL mendorong pembangunan IPAL dan logam berat. Dinas Perindustrian Prov/kab/kota. * Meningkatkan SDM petugas monitoring. Kepolisian. Kelompok Masyarakat * Melaksanakan evaluasi Perda terkait * Melaksanakan pengawasan ketat kualitas dengan limbah industri dan lingkungan. Kelompok Masyarakat * Membangun dan mengoperasikan sistem monitoring kualitas air real time * Meningkatkan SDM petugas monitoring. penegakan hukum bagi pelanggar. secara dari saluran drainasi. Kelompok Masyarakat terhadap sisa/ limbah pestisida dan pupuk Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. instansi terkait serta updating peta lokasi dan jenis air diKab/kota.. BBWS. kumulatif (35% area kota. Kepolisian. terutama terhadap limbah industri secara rutin. Kelompok Masyarakat BBWS. sungai. Bappeda. Dinas PU. TKPSDA. KONSERVASI 1 2 3 4 Aspek/Sub Aspek Permasalahan Berdasarkan Analisis A B C D P P P P Sasaran/Target yang diinginkan i Jangka Pendek (2011-2015) * Melaksanakan gerakan Sungai bersih secara terpadu (Prokasih). dan mengoperasikannya Mendorong pembangunan IPAL Industri BPLHD. Dewan SDA Prov. sungai. situ dan waduk. Dinas PU.. PPNS. PU/SDA Prov. Dinas PU. BBWS. pengawas dan penegak hukum (PPNS) melalui fasilitasi training tentang pengelolaan lingkungan (khususnya * kualitas air) * Melaksanakan sosialisasi peraturan tentang syarat kualitas air limbah.. evaluasi melaksanakan penegakan hukum terhadap pelanggar yang melakukan pencemaran Kebijakan operasional Lembaga/Instansi/Kelompok Masyakat/Swasta Terkait 1. BPLHD. Dinas PU/SDA kab/kota. perdesaan dan komunal (terutama daerah dan komunal (terutama daerah dan komunal (terutama daerah berpenduduk padat dan sekitar sumber berpenduduk padat dan sekitar sumber berpenduduk padat dan sekitar sumber air) air) air) Melaksanakan sosialisasi penggunaan * Melaksanakan sosialisasi penggunaan * Melaksanakan sosialisasi penggunaan Melaksanakan sosialisasi penggunaan pestisida dan pupuk sesuai dosis pestisida dan pupuk sesuai dosis. situ dan waduk BPLHD. * Melaksanakan monitoring kualitas air. sungai.3 PENGELOLAAN KUALITAS AIR DAN PENGENDALIAN PENCEMARAN 1) Menurunnya kualitas air * Peningkatan kualitas air sungai. BBWS. BBWS. situ dan waduk. * Memberikan teguran dan penindakan bagi * Melaksanakan pengawasan dan industri yang tidak mengoperasikan IPAL penindakan bagi industri yang tidak miliknya mengoperasikan IPAL miliknya * Menyusun perencanaan pembangunan * Membangun IPAL industri terpadu pada IPAL industri terpadu pada kawasan kawasan industri. terutama terhadap limbah industri secara terutama terhadap limbah industri secara rutin. kewajiban penggunaan IPAL industri. * Melaksanakan updating data base lokasi * Menyusun data base industri. Bappeda. BPLHD. secara bertahap saluran pembuangan air limbah perkotaan area kota). limbah industri sesuai baku mutu limbah bila perlu memperbaharui Perda mengacu cair (terutama logam berat) disertai pada peraturan pemerintah terbaru.2. Dinas Perindustrian Prov/kab/kota. Kepolisian. mengacu pada peraturan pemerintah terbaru. Dinas Kesehatan. potensi dan jenis industri. serta Dinas PU/SDA. Dinas PU/SDA. Dinas Pertanian. Dinas PU. serta menegakkan peraturan. Kelompok Masyarakat BPLHD. terutama dari saluran drainasi kota. Dinas PU/PSDA Prov. BPLHD. kumulatif 50%). BPLHD. serta * melaksanakan penggelontoran sungai Mendorong terbitnya penetapan kelas sungai oleh Gubernur * Melaksanakan monitoring kualitas air. dan mengoperasikannya PU Prov/kab/kota. evaluasi melaksanakan penegakan hukum terhadap pelanggar yang melakukan pencemaran iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) * Melakukan pemantauan. Dinas Perindustrian. Bappeda. PPNS. PPNS. Bappeda Prov/ Kab/Kota. perdesaan penggunaan sanitasi individu. potensi pencemar. secara rutin STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) * Melakukan pemantauan. * Melaksanakan monitoring kandungan pestisida dan pupuk di saluran irigasi. Dewan SDA Prov. IPAL. dan pestisida dan pupuk sesuai dosis monitoring kepatuhan petani di lapangan monitoring di lapangan Melaksanakan monitoring kandungan pestisida dan pupuk di saluran irigasi. serta menegakkan peraturan. 2. Dinas dan jenis industri. secara berkelanjutan dan penegakan hukum bagi pelanggar penegakan hukum bagi pelanggar Mendorong pembangunan IPAL dan penegakan hukum bagi pelanggar Mendorong pembangunan IPAL dan penegakan hukum bagi pelanggar * Melaksanakan pengawasan dan penindakan bagi industri yang tidak mengoperasikan IPAL miliknya * Mengembangkan IPAL industri terpadu pada kawasan industri. Dinas saluran irigasi. dan limbah industri dan melaksanakan kewajiban penggunaan IPAL industri. * Meningkatkan SDM petugas terkait pengawas dan penegak hukum (PPNS) pengawas dan penegak hukum (PPNS) pengelolaan lingkungan (khususnya melalui fasilitasi training tentang melalui fasilitasi training tentang kualitas air) pengelolaan lingkungan (khususnya pengelolaan lingkungan (khususnya kualitas air) kualitas air) * Melaksanakan sosialisasi peraturan * Melaksanakan sosialisasi peraturan * Menegakkan Perda tentang pengolahan tentang syarat kualitas air limbah. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (2 Ci) pada Skenario 1. dan pestisida dan pupuk sesuai dosis. potensi pencemar. Kelompok Masyarakat BBWS.. Kelas II PP no 82/2001) kelas peruntukan sungai (tercemar ringan sampai sedang) * Meningkatkan kualitas air sungai sesuai atau lebih baik dari standar baku mutu Dinas Kebersihan. serta pengawasan kualitas limbah. BBWS. Kelompok Masyarakat P P P P P P P P P P P P P P P P P P 2) Belum Optimalnya pengelolaan limbah industri * Terwujudnya pengendalian pencemaran dari limbah industri Merencanakan dan mengalokasi air penggelontoran melalui kesepakatan dalam TKPsumber daya air. Dinas Perindustrian Prov/kab/kota. serta menegakkan peraturan * Membangun dan mengoperasikan sistem monitoring kualitas air real time * Mengoperasikan sistem monitoring kualitas air real time * Melaksanakan peningkatan sistim monitoring kualitas air sungai BPLHD. sungai. C atau D halaman 159 . BPLHD. Dinas PU. 3 dan 4 1 No. Dinas Perindustrian Prov/kab/kota.. terutama pada kawasan pada kawasan pengembangan perumahan perkotaan baru pengembangan perumahan atau atau perkotaan baru perkotaan baru Melaksanakan sosialisasi dan * Melaksanakan sosialisasi dan * Melaksanakan sosialisasi dan Melaksanakan pemberdayaan masyarakat pemberdayaan masyarakat terhadap pemberdayaan masyarakat terhadap pemberdayaan masyarakat terhadap terhadap penggunaan sanitasi lingkungan penggunaan sanitasi individu. Dinas PU/SDA.. Kelompok Masyarakat industri di wilayah 2 Ci * Pembangunan sistim sanitasi perkotaan dan perdesaan dan pembangunan IPAL dilokasi lain di Jakarta BPLHD. Dinas Perindustrian Prov/kab/kota. Dinas PU/SDA. Kelompok Masyarakat BBWS. dan kewajiban penggunaan IPAL industri * Melaksanakan alokasi air penggelontoran sungai * Melaksanakan alokasi air penggelontoran sungai * Mengalokasikan air untuk penggelontoran sungai BBWS. dengan limbah industri dan lingkungan. * Melaksanakan identifikasi/updating data * Melaksanakan updating data base lokasi base lokasi dan jenis industri. Balai PSDA.Tabel 4. beserta penyiapan organisasi mengoperasikannya pengelolanya * Melaksanakan evaluasi Perda terkait * Melaksanakan evaluasi Perda terkait dengan limbah industri dan lingkungan. BPLHD. perdesaan penggunaan sanitasi individu. Kelompok Masyarakat Dinas CK. BBWS. situ dan dibandingkan dengan standar baku/ waduk (min. Kelompok Masyarakat P P P P P P P P P 4) Masih adanya bahaya dari sisa * Terwujudnya pengendalian limbah penggunaan pupuk dan obat-obatan pertanian pertanian * Peningkatan kapasitas IPAL Setiabudi dan pembangunan IPAL dilokasi lain di Jakarta dan pembangunan sistim sanitasi perkotaan dan perdesaan Merencanakan dan membangun saluran * Merencanakan dan membangun saluran * Merencanakan dan membangun saluran Merencanakan dan membangun sistem pembuangan air limbah perkotaan terpisah pembuangan air limbah perkotaan pembuangan air limbah perkotaan terpisah sanitasi perkotaan dengan memisahkan dari saluran drainasi. BBWS. pencemar.

sosialisasi dan * Mengembangkan pengelolaan sampah * Mengembangkan pengelolaan sampah percontohan pengelolaan sampah melalui melalui sistem daur ulang dan bank melalui sistem daur ulang dan bank sistem daur ulang dan bank sampah oleh sampah oleh swasta dan masyarakat. Dinas PU melalui sistem 3R (reduce. BPLHD. Dinas PU kab/kota. BPLHD. dan berkelanjutan dan berkelanjutan Melaksanakan sosialisasi pelarangan * Melaksanakan sosialisasi pelarangan * Melaksanakan sosialisasi pelarangan membuang sampah ke sungai/badan air membuang sampah ke sungai/badan air membuang sampah ke sungai/badan air lainnya disertai tindakan hukum bagi lainnya disertai tindakan hukum bagi lainnya disertai tindakan hukum bagi pelanggarnya pelanggarnya pelanggarnya Memperkenalkan. Dinas PU kab/kota. 2. kompos dsb. reuse. Kelompok Masyarakat Melarang membuang sampah ke sungai/badan air lainnya Bappeda. recycle). BPLHD. reuse. BBWS. swasta Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. dan berkelanjutan recycle). recycle). Kelompok Masyarakat. reuse. Kelompok Masyarakat. melalui sistem 3R (reduce. kompos dsb. 3 dan 4 1 No. biogas. BBWS. biogas. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (2 Ci) pada Skenario 1.) iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) * Melaksanakan pembangunan IPAL peternakan dan pemanfaatan limbah ternak (mis. BBWS. Kelompok Masyarakat Mengembangkan pengelolaan sampah melalui sistem bank sampah oleh swasta dan masyarakat.. dengan menerapkan insentif pada tahap awal Bappeda.2. Dinas Peternakan. Dinas Kebersihan. C atau D halaman 160 . B. melalui sistem 3R (reduce. swasta P P P 6) Pongolahan limbah sampah belum potimal * Terwujudnya pengelolaan limbah sampah P P P P P P P Melaksanakan pengelolaan sampah * Melaksanakan pengelolaan sampah * Melaksanakan pengelolaan sampah perkotaan dan pedesaan secara terpadu perkotaan dan pedesaan secara terpadu perkotaan dan pedesaan secara terpadu melalui sistem 3R (reduce. Dinas Kebersihan.Tabel 4. reuse. sampah oleh swasta dan masyarakat Pemda dengan menerapkan insentif Melaksanakan pengelolaan sampah Bappeda. disertai pembangunan IPAL percontohan dan pemberdayaan peternak STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) * Melaksanakan pembangunan IPAL peternakan dan pemanfaatan limbah ternak (mis.) Kebijakan operasional Lembaga/Instansi/Kelompok Masyakat/Swasta Terkait 5) Limbah peternakan belum diolah sebagaimana mestinya * Terwujudnya pengendalian limbah peternakan Melaksanakan pembangunan IPAL peternakan dan pemanfaatan limbah ternak BPLHD. Dinas Kebersihan. recycle) kab/kota. KONSERVASI 1 2 3 4 Aspek/Sub Aspek A B C D P P P Permasalahan Berdasarkan Analisis Sasaran/Target yang diinginkan i Jangka Pendek (2011-2015) Melaksanakan sosialisasi pemanfaatan limbah ternak dan kewajiban menggunakan IPAL peternakan. Dinas PU Prov.

. Bappeda. Dinas PU/SDA Prov. Kelompok penindakan terhadap pelanggaran sesuia kebutuhan. BBWS Cil-Cis. Dinas PU/SDA Prov Jabar.2 PENYEDIAAN SUMBER DAYA AIR P P 1) Kekurangan Air untuk kebutuhan irigasi dan/atau RKI Meningkatnya ketersediaan air irgasi dan RKI * Mengurangi pencurian air atau pemborosan air RKI dan irigasi Membangun kolam-kolam tampungan air setempat sesuai kebutuhan Melaksanakan kampanye dan edukasi Hak Guna Air. Kelompok Masyarakat 2. Dinas PU DKI. PJB. mensosialisasikan dan menerapkan Pergub peruntukan air dari sumber air Mengkaji ulang dan menetapkan kembali Zona pemanfaatan sumber daya air pada peta TARU wilayah kab/kota di WS setiap 5 tahun Dinas PU DKI. B. PJT II. Kelompok Masyarakat __ Melaksanakan studi kelayakan perencanaan jalur pipa Kanal 2 dari Jatiluhur ke Jakarta dan diameter pipa Melaksanakan studi kelayakan dan detail desain Peninggian Bendungan Cirata (15 m) di Sungai Citarum Melaksanakan pembangunan jalur pipa Kanal 2 dari Jatiluhur ke Jakarta dan diameter pipa Melaksanakan peninggian Bendungan Cirata (15 m) di Sungai Citarum __ Melaksanakan studi kelayakan perencanaan dan pelaksanaan jalur pipa Kanal 2 dari Jatiluhur ke Jakarta dan diameter pipa Melaksanakan studi kelayakan. C atau D halaman 161 . Dinas PU Prov DKI Jakarta. Kelompok Masyarakat BBWS 3C. BBWS. Dinas Perindustrian.di 17 titik lokasi yang rawan bocor dan longsor.Kepolisian. PJT II. BBWS Cil-Cis. PDAM. P3A.2.dangan rehabilitasi di 17 lokasi Membangun pipa Kanal 2-Jakarta paralel waduk Cirata dinaikkan. Meningkatkan jumlah sambungan rumah tangga 50% (MDGS) Menyusun Perencanaan pasokan dan perbaikan kualitas air dari long storage BKB+BKT dan Cengkareng Drain Melaksanakan penggantian Pemakaian Kebutuhan Industri dari air tanah ke air permukaan (10%) Merencanakan Karian Serpong Conveyance System (KSCS) tahap I Merencanakan alokasi pasokan air dari long storage BKB+BKT+Cascade Depok Melaksanakan Long Storage BKB dan BKT dan Cengkareng drain (DKI Jakarta). Kelompok Masyarakat P P P Meningkatkan tkt layanan PAM mjd 75% standar metropolitan Melaksanakan perbaikan kualitas air dari long storage BKB+BKT dan Cengkareng Drain Melaksanakan penggantian Pemakaian Kebutuhan Industri dari air tanah ke air permukaan (25%) Merencanakan dan Membangun KSCS tahap I setelah bendungan Karian terbangun Merencanakan alokasi pasokan air dari long storage BKB+BKT+Cascade Depok Meningkatkan tkt layanan PAM menjadi 100% standar metropolitan Memanfaatkan pasokan air dari long storage BKB+BKT dan Cengkareng Drain Melaksanakan penggantian Pemakaian Kebutuhan Industri dari air tanah ke air permukaan (65%) Merencanakan dan Membangun KSCS tahap II Merencanakan alokasi pasokan air dari long storage BKB+BKT+Cascade Depok Terlaksananya kepastian pengiriman air baku 16 m3/det di ruas saluran Tarum barat dari Bekasi sampai Jakarta. BBWS. Melaksanakan pengawasan pengambilan air baku RKI dan irigasi Membangun kolam-kolam tampungan air setempat sesuai kebutuhan Melaksanakan kampanye dan edukasi Hak Guna Air..yang dialirkan melalui Tarum barat dengan kapasitas semula 16m3/det menjadi 31 m3/det Tersedianya saluran/pipa air baku Kanal 2 dari waduk Jatiluhur ke Jakarta setelah peninggian waduk Cirata (bagian dari kaskade waduk) Tersedianya tambahan air baku melalui kanal 2 sebesar 19 m3/detik dari bendungan Jatiluhur/Cirata untuk Depok dan Bogor.Dinas PU/SDA Prov DKI Jkt. PJT II. kab/kota. Dewan SDA prov. Dinas PU/SDA Prov Jabar. paralel waduk Cirata dinaikkan. merumuskan. PU/SDA prov. Kelompok Masyarakat BBWS. Banten. Dinas PU DKI. BBWS. 3 dan 4 2 No. dan air irigasi Prov Jabar. 2.Sosialisasi ke masyarakat untuk tidak memguang sampah dan limbah ke sungai Melaksanakan Rehabilitasi Saluran Tarum barat di ruas Bekasi sampai Jakarta. Kelompok Masyarakat PJT II. Dinas PU/SDA Prov.total volume air minum 9 m3/det. Dinas PU/SDA Prov DKI Jkt. merumuskan Pergub melalui Dewan sumber daya air prov. Menambah pasokan dari long storage BKB+BKT dan Cengkareng Drain Membangun pipa Kanal 2 ke Jakarta. Jabar dan BBWS. PDAM. BBWS Citarum. pelaksanaan konstruksi Peninggian Bendungan Cirata (15 m) di Sungai Citarum Merencanakan. Investor. menetapkan. Bappeda. BPLHD/BLHD P P 4) Perimbangan pasokan air baku Jakarta dari arah Timur (Citarum) dan dari Barat (Cisadane) Terlaksananya penggantian Pemakaian Kebutuhan Industri dari air tanah ke air permukaan (100%) Meningkatnya perimbangan suplai air di wilayah Ciliwung-Cisadane dari barat (Banten) PLN. detail desain.1 1) Belum adanya peraturan peruntukan air pada sumber air pada ruas/ lokasi tertentu 2) Belum adanya Zona Pemanfaatan sumber air yg memperhatikan berbagai macam pemanfaatan Terbitnya Pergub peruntukan air pada sumber air pada ruas/ lokasi tertentu Menyusun. PJB. Dinas PU/SDA Prov DKI Jkt. BBWS. serta melaksanakan Masyarakat pengambilan air penegakan hukum bagi pelanggarnya Melaksanakan kampanye dan edukasi hemat air RKI dan efisiensi air irigasi (3R) Melaksanakan hemat air/ efisiensi air RKI (190l/or/hr ---> 150l/or/hr) dan irigasi (3R) Pengguna Air di Prov Banten. Investor. Kelompok Masyarakat Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. dan mensosialisasikan peruntukan air dari sumber air secara berkelanjutan Menetapkan Zona pemanfaatan sumber daya air pada peta TARU wilayah Kabupaten/Kota di WS tertentu secara berkelanjutan STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Mengkaji ulang dan merumuskan kembali melalui Dewan sumber daya air peruntukan air dari sumber air secara berkelanjutan Mengkaji ulang dan menetapkan kembali Zona pemanfaatan sumber daya air pada peta TARU wilayah kab/kota di WS tertentu secara berkelanjutan iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) Mengkaji ulang dan merumuskan kembali melalui Dewan sumber daya air peruntukan air dari sumber air secara berkelanjutan Mengkaji ulang dan menetapkan kembali Zona pemanfaatan sumber daya air pada peta TARU wilayah kab/kota di WS tertentu secara berkelanjutan Kebijakan operasional Lembaga/Instansi/Kelompok Masyakat/Swasta Terkait 2. melaksanakan dan OP Long Storage BKB dan BKT dan Cengkareng Drain(DKI Jakarta) BBWS. Dinas PU/SDA Prov.. Bappeda.OP instalasi air air minum dan pipa OP instalasi air air minum dan pipa kapasitas 9 m3/det Merencanakan instalasi Penjernihan kapasitas 9 m3/det di Curug dan perencanaan trase jalur pipa dari Curug ke Jakarta serta pelaksanaannya PJT II.Sosialisasi ke masyarakat untuk tidak memguang sampah dan limbah ke sungai __ BBWS. Kelompok Masyarakat BBWS Cil-Cis. Bappeda. Menambah pasokan dari long storage BKB+BKT+Cascade Depok. BBWS. PJB. Kelompok Masyarakat P P P P P P P Terlaksananya kepastian pengiriman air baku 16 m3/det di ruas saluran Tarum barat dari Bekasi sampai Jakarta 3) Keterbatasan layanan dan jaringan PAM Meningkatnya layanan jaringan PAM Merencanakan Long Storage BKB dan BKT dan Cengkareng drain (DKI Jakarta). Kelompok Masyarakat P P P Terbitnya Penetapan Zona Pemanfaatan Sumber air pada peta TARU Prov DKI Jakarta dan BODETABEK Dinas Tata Ruang dan Tata Kota. Melaksanakan pengawasan dan penindakan terhadap pelanggaran pengambilan air Melaksanakan kampanye dan edukasi hemat air RKI dan efisiensi air irigasi (3R) Membangun kolam-kolam tampungan air setempat sesuai kebutuhan Melaksanakan panen air hujan/ tampungan Dinas PU/SDA/CK Prov/Kab/Kota. PDAM.PDAM. DKI Jkt.Tabel 4. PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR 1 2 3 4 Aspek/Sub Aspek A B C D P P P PENATAGUNAAN SUMBER DAYA AIR Permasalahan Berdasarkan Analisis Sasaran/Target yang diinginkan i Jangka Pendek (2011-2015) Menyusun. Perencanaan dan pelaksanaan Rehabilitasi Tarum Barat dari kapasitas semula 16m3/det menjadi 31 m3/det Produksi air minum tambahan 5 m3/det dikirim ke Jakarta. lokal Kelompok Masyarakat Melaksanakan kampanye dan edukasi Hak * Mengendalikan pengambilan air pernukaan BBWS. PDAM. Kelompok Masyarakat P P P P Tersedianya tambahan air Baku 15 m3/detik dari Jatiluhur ke Jakarta. BBWS. Kelompok Masyarakat P P P Tercapainya efisiensi penggunaan air Melaksanakan kampanye dan edukasi hemat air RKI dan efisiensi air irigasi (3R) P P P P P P P 2) Keterbatasan layanan air bersih di Jakarta Meningkatnya ketersediaan air baku di Jakarta : Tersedianya tambahan air minum 9 m3/detik dari Jatiluhur yang dialirkan dengan pipa melalui tanggul kanan Tarum barat ke Jakarta Merencanakan instalasi Penjernihan kapasitas 9 m3/det di Curug dan perencanaan trase jalur pipa dari Curug ke Jakarta serta pelaksanaan produksi air minum 4 m3/det dikirim ke Jakarta. BBWS. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (2 Ci) pada Skenario 1. Dinas PU/SDA Guna Air. DKI Jkt.dan Industri Cikarang Tersedianya air baku 5 m3/detik dari bendungan Long Storage untuk Jakarta Pelaksanaan Rehabilitasi Tarum Barat dari kapasitas semula 16m3/det menjadi 31 m3/det Operasi dan Pemeliharaan Tarum Barat kapasitas 31 m3/det Merencanaan dan Melaksanaan Rehabilitasi Tarum Barat dari kapasitas semula 16m3/det menjadi 31 m3/det PJT II. PDAM. DKI Jkt.Sosialisasi ke masyarakat untuk tidak memguang sampah dan limbah ke sungai __ Melaksanakan OP Long Storage BKB dan BKT dan Cengkareng drain (DKI Jakarta). Melaksanakan pengawasan dan untuk RKI sesuai SIPA. Bappeda. BBWS Cil-Cis. Kelompok Masyarakat PLN. BBWS Citarum. Menambah pasokan dari Cisadane dan Banten.. PJT II.

5 m3/detik dari waduk Pondok Benda untuk daerah Pamulang Tersedianya air baku 0. Kab/kota. Bappeda. Sungai Pesanggrahan di Cinere Depok Melaksanakan studi kelayakan dan detail desain Waduk Genteng di Sungai Cisadane.. PDAM. Dinas Tata Ruang (Citeureup) dan Tata Kota. PU/SDA Kab/Kota di seluruh Wil 6 Ci. Kelompok Masyarakat P P Tersedianya air baku 2 m3/detik dari Salak Contour Canal untuk daerah Kota Bogor Mengkaji ulang perencanaan Salak Contour Canal (2011-2012) dan membangun Tahap I (2013-2015) = 50% Melaksanakan studi kelayakan dan detail desain Waduk Pondok Benda. operasi dan BBWS.. Kab/kota. detail desain. Pondok Benda (Angke). Rancamaya Bogor Melaksanakan studi kelayakan. Sungai Angke di Pamulang Melaksanakan studi kelayakan dan detail desain Waduk Limo. Dinas PU/SDA Prov.5 m3/detik dari waduk Limo untuk Kota Depok Melaksanakan pembangunan Waduk Waduk Pondok Benda dan membangun jaringan distribusi air baku Melaksanakan pembangunan Waduk Limo dan membangun jaringan distribusi air baku Melaksanakan pembangunan Waduk Genteng dan membangun jaringan distribusi air baku Melaksanakan pembangunan Waduk Narogong dan membangun jaringan distribusi air baku PDAM membangun kolam penjernihan dan saluran distribusi Menyusun SOP dan melaksanakan OP Waduk Waduk Pondok Benda dan jaringan distribusinya Menyusun SOP dan melaksanakan OP Waduk Limo dan jaringan distribusinya Bendungan lain di Limo-C (Pesanggrahan). C atau D halaman 162 . Dinas PU/SDA Prov. BBWS. Dinas Tata Ruang (Citeureup) dan Tata Kota. Bappeda. Kelompok Masyarakat Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. Kab/kota. melaksanakan. Kab/kota. Bogor Tersedianya air baku 1 m3/detik dari waduk Narogong untuk Bekasi dan Jakarta Menyusun SOP dan melaksanakan OP Waduk Genteng dan jaringan distribusinya P Menyusun SOP dan melaksanakan OP Waduk Narogong dan jaringan distribusinya PDAM mengoperasikan dan menjaga kualitas penyaluran air minum ke konsumen P P Tersedianya air baku 4 m3/detik untuk daerah Depok dan Bogor P P Tersedianya air baku 1 m3/detik untuk daerah Depok 6) Keterbatasan layanan PDAM di BODETABEK 7) Menurunnya luas lahan pertanian tanaman pangan (sawah) Tercapainya cakupan layanan PAM BODETABEK Terkendalinya alih fungsi lahan pertanian tanaman pangan Melaksanakan Kaskade Sungai Ciliwung di Depok Meningkatkan cakupan layanan PAM BODETABEK (75%) Mengawasi Lahan pertanian tanaman pangan berkelanjutan Melaksanakan dan mengoperasikan Kaskade Sungai Ciliwung di Depok Meningkatkan cakupan layanan PAM BODETABEK (100%) Mengawasi Lahan pertanian tanaman pangan berkelanjutan P P P Merencanakan. 2. pemeliharaan Salak Contour Canal Kelompok Masyarakat P Tersedianya air baku 0. Narogong Bappeda prov. detail desain. kab/kota. Bappeda prov. pelaksanaan konstruksi dan OP Waduk Genteng di Sungai Cisadane. Dinas PU/SDA Prov Jabar. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (2 Ci) pada Skenario 1. kab/kota. Dinas PU/SDA prov. Dinas Tata Ruang dan Tata Kota. Kelompok Masyarakat Melaksanakan studi kelayakan. 3 dan 4 2 No. BBWS. Kelompok Masyarakat PDAM Prov/Kab/Kota. Dinas Tata Ruang dan Tata Kota. B. kab/kota.Tabel 4. Bappeda prov. Dinas PU/SDA Prov. mengoperasikan dan memelihara Kaskade Sungai Ciliwung di Depok Meningkatkan cakupan layanan PAM BODETABEK Melindungi Lahan pertanian tanaman pangan berkelanjutan BBWS.. BPSDA. kumulatif 100% iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) Melaksanakan penggunaan pasokan air dari long storage Cascade Depok dan review alokasi air irigasi bendung katulampa dan bendung empang yang areanya berkurang Melaksanakan operasional dan pemeliharaan di Salak Contour Canal Kebijakan operasional Lembaga/Instansi/Kelompok Masyakat/Swasta Terkait 5) Keterbatasan layanan air bersih di Kota lain (BODETABEK) Meningkatnya penyediaan air baku Kotakota lainnya (BODETABEK) Menyediakan air baku Kota-kota lainnya (BODETABEK) BBWS. Pondok Benda (Angke). Dinas PU/SDA Prov. Kelompok Masyarakat Bendungan lain di Limo-C (Pesanggrahan). BPLHD/BLHD. PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR 1 2 3 4 Aspek/Sub Aspek A B C D P P Permasalahan Berdasarkan Analisis Sasaran/Target yang diinginkan i Jangka Pendek (2011-2015) Menyusun Perencanaan pasokan dari long storage Cascade Depok dan review alokasi air irigasi bendung katulampa dan bendung empang yang areanya berkurang STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Melaksanakan penggunaan pasokan air dari long storage Cascade Depok dan review alokasi air irigasi bendung katulampa dan bendung empang yang areanya berkurang Membangun Salak Contour Canal Tahap II = 50%. Dinas PU/SDA Prov Jabar. BBWS... Kelompok Masyarakat Dinas Pertanian. Narogong Bappeda prov. Kelompok Masyarakat BBWS. kab/kota. Balai PSDA. Kelompok Masyarakat P P Tersedianya air baku 2 m3/detik dari waduk Genteng untuk Kota dan Kab. Rancamaya Bogor Melaksanakan studi kelayakan dan detail desain Waduk Narogong di Sungai Citeureup/Cileungsi-Cibinong Melaksanakan studi pemanfaatan sisa air irigasi bendung Katulampa dan bendung Empang (2011-2013) dan mengalokasikan air ke saluran PDAM untuk kepentingan air baku Depok dan Bogor (2014) Merencanakan Kaskade Sungai Ciliwung di Depok Meningkatkan cakupan layanan PAM BODETABEK (50%) Menetapkan Lahan pertanian tanaman pangan berkelanjutan Melaksanakan pembangunan. Dinas PU/SDA Prov./ kab/kota. Kelompok Masyarakat BBWS. BBWS. kab/kota.2. pelaksanaan konstruksi dan OP Waduk Narogong di Sungai Citeureup/Cileungsi-Cibinong Memanfaatkan sisa air irigasi bendung Katulampa dan bendung Empang BBWS.

Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (2 Ci) pada Skenario 1. Kelompok Masyarakat P P P 9) Masih rendahnya Indeks Pertanaman (IP) dgn pemberdayaan petani. Leuwisadeng. melaksanakan (2014-2015 = 40%) Melakukan studi dan detail desain irigasi Cimanceuri dan bendung Cimanceuri Melakukan studi dan detail desain irigasi Cikarang hilir Melakukan kajian pengembangan penerapan teknologi desalinasi dan ultra filtrasi. BBWS Cil-Cis. BPSDA. Kelompok Masyarakat. Sibanteng. Kelompok Masyarakat P P P Tersedianya SOP waduk/tampungan/situ di WS 6 Ci P P P 5) Belum terlaksananya aset manajemen irigasi (OP. Citempuandi Ds. Merencanakan (2011-2013 = 100%) pemanfaatan tenaga air.air baku dan irigasi PJT II. Sibanteng. PU/SDA Kab/Kota di seluruh Wil 6 Ci. jaringan irigasi mencapai 100% Kelompok Masyarakat P P Merehabilitasi jaringan dan peningkatan irigasi mencapai 50% Merehabilitasi jaringan dan peningkatan irigasi mencapai 100% Melaksanakan OP jaringan irigasi P P P Terlaksananya OP prasarana sumber daya air sesuai standar Melaksanaan OP prasarana sumber daya air (Tingkat Pelayanan 50%) Melaksanaan OP prasarana sumber daya air (Tingkat Pelayanan 75%) Melaksanaan OP prasarana sumber daya air (Tingkat Pelayanan 100%) Melaksanaan OP prasarana sumber daya air untuk mempertahahan tingkat layanan BBWS. Kab Bogor 2) Belum optimalnya pemanfaatan potensi tenaga air Terlaksananya peningkatan Klasifikasi Irigasi sederhana ke irigasi teknis DI. Dinas Pertanian.sungai. Sibanteng. Citempuandi Ds.4 PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR P P 1) Belum di tingkatkan Irigasi sederhana ke irigasi teknis DI. WS 6 Ci Kelompok Masyarakat Meningkatkan dan mempertahankan keandalan irigasi maksimal Menyusun prioritas OP. Rehabilitasi) 6) Kondisi layanan jaringan pengairan perikanan dan tambak rakyat telah menurun 7) Belum terpisahnya fungsi saluran air baku dan air irigasi di Saluran Induk Tarum Barat.Bogor. BBWS. Pemda Jabar. Merehabilitasi jaringan pengairan perikanan dan tambak rakyat. Citempuandi Ds.Jabar. Kelompok Masyarakat Dinas PU/SDA Prov/Kab. Kelompok Masyarakat P P P Meningkatnya kesadaran masyarakat dalam pelaksanaan hemat air Membina petani utk hemat air irigasi. Ditjen SDA. Kelompok Masyarakat Dinas Pertanian. Kec.Kab Bogor. Kelompok Masyarakat BBWS 2 C.Kab Bogor. PJT II. BBWS. Kelompok Masyarakat Tersedianya pedoman operasional AKNOP irigasi Melakukan kajian AKNOP irigasi di Seluruh DI Cilicis (2011-2013) dan menguji coba pelaksanaan AKNOP irigasi di beberapa DI (2013-2014) Memformulasi dan melegalisasi AKNOP Irigasi (2015) Merencanakan (2011-2013 = 100%) dan Melaksanakan (2014-2015 = 50%) Irigasi sederhana ke irigasi teknis DI. Sibanteng pada S. 2.Dinas PU Pengairan Kab. BBWS. Kelompok Masyarakat _ Melaksanakan pengembangan penerapan teknologi desalinasi dan ultra filtrasi oleh industri/swasta Mengawasi dan melakukan penegakkan hukum berdasarkan azas keadilan dan keseimbangan 2. 8) Belum sadarnya masyarakat dalam pelaksanaan hemat air Meningkatnya kinerja irigasi dlm rangka ketahanan pangan Terlaksananya penerapan Pengelolaan Aset Irigasi (PAI) secara berkelanjutan Terlaksananya rehabilitasi jaringan perikanan dan tambak rakyat Terwujudnya pemisahaan fungsi saluran air baku dan air irigasi di Saluran Induk Tarum Barat Melaksanakan kajian SOP waduk/ tampungan/situ di WS 6 Ci (2011-2013) memformulasikan dan mengujicoba (20142015) Melaksanakan Peningkatan Kinerja Irigasi (keandalan 50%) Melaksanakan aset manajemen irigasi (50% area) Melaksanakan rehabilitasi jaringan perikanan dan tambak rakyat (50% area) Merencanakan dan melaksanakan pemisahaan fungsi saluran air baku dan air irigasi di Saluran Induk Tarum Barat (Cantek 100% dalam 2 thn. Kelompok Masyarakat P P P P Memisahkan fungsi sal. kumulatif pelaksanaan 80%) Mensosialisasikan dan melaksanakan penyuluhan serta penyadaran publik tentang hemat air (75% area) Peningkatan IP dari 250% ke 265% Melegalisasi dan mendesiminasikan SOP waduk/tampungan/situ di WS 6 Ci (20212030) Melaksanakan Peningkatan Kinerja Irigasi (keandalan 100%) Melaksanakan aset manajemen irigasi (100% area) Melaksanakan rehabilitasi jaringan perikanan dan tambak rakyat (100% area) Melaksanakan pemisahaan fungsi saluran air baku dan air irigasi di Saluran Induk Tarum Barat (Pelaksanaan 20% dalam 2 thn. Citempuandi Ds. Kec. serta mendorong peran industri/swasta untuk menerapkannya Menginventarisasi potensi dan mengkaji permasalahan pengambilan air tanah dalam oleh pengusaha air isi ulang (20112012) serta menata ulang pengambilan air tanah Melakukan studi dan pelaksanaan pengusahaan air minum 4 m3/detik berdasarkan kerjasama Pemda DKI Jakarta. Pelaksanaan 30% dalam 3 thn) Mensosialisasikan dan melaksanakan penyuluhan serta penyadaran publik tentang hemat air (50% area) Peningkatan IP dari 214% ke 250% Melegalisasi dan mendesiminasikan SOP waduk/tampungan/situ di WS 6 Ci (2016-2020) Melaksanakan Peningkatan Kinerja Irigasi (keandalan 75%) Melaksanakan aset manajemen irigasi (75% area) Melaksanakan rehabilitasi jaringan perikanan dan tambak rakyat (75% area) Melaksanakan pemisahaan fungsi saluran air baku dan air irigasi di Saluran Induk Tarum Barat (Pelaksanaan 50% dalam 5 thn.Tabel 4. BBWS. rehab jaringan dg berdasarkan PAI. Sibanteng. Kelompok Masyarakat 2. PDAM. PDAM. Leuwisadeng. Pemda kab/kota Tanggerang. Melaksanakan (2016-2020 = 60%) pemanfaatan tenaga air . PLN. PJT II. kumulatif pelaksanaan 100%) Mensosialisasikan dan melaksanakan penyuluhan serta penyadaran publik tentang hemat air (100% area) Peningkatan IP dari 265% ke 280% Menyiapkan SOP waduk/tampungan/situ di BBWS. Pemda Kab/kota Bekasi. Pemda Jabar. PJT II dan investor/swasta Melaksanakan AKNOP irigasi di seluruh DI wilayah Cilicis (2016-2020) pada area 50% Melaksanakan AKNOP irigasi di seluruh DI wilayah Cilicis (2016-2020) pada area 100% __ Melaksanakan (2016-2020 = 100%) Irigasi sederhana ke irigasi teknis DI. kumulatif = 100% Melaksanakan pembangunan jaringan irigasi Cimanceuri dan bendung Cimanceuri Melaksanakan pembangunan jaringan irigasi Ckarang hilir Melaksanakan pengembangan penerapan teknologi desalinasi dan ultra filtrasi oleh industri/swasta Mengawasi dan melakukan penegakkan hukum berdasarkan azas keadilan dan keseimbangan __ Melaksanakan OP irigasi DI Sibanteng secara berkelanjutan Meningkatkan Irigasi sederhana ke irigasi teknis DI. mengakibatkan kesulitan pelaksanaan OP irigasi.detail desain dan pembangunan irigasi Cikarang hilir Melakukan kajian pengembangan dan mendorong peran industri/swasta dalam penerapan desalinasi Menata ulang dan menertibkan pengambilan air tanah dalam oleh pengusaha air minum isi ulang ESDM. Kelompok Masyarakat daya air Melaksanakan rehabilitasi dan peningkatan BBWS. Dinas Pertanian Kab. . Pemda Jabar. BBWS.2. PU/SDA Kab/Kota di seluruh Wil 6 Ci. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. BBWS Citarum. Pemda kab Tanggerang. Dinas SDA dan Pertambangan Kab/kota. PJT II dan investor/swasta Melakukan studi dan pelaksanaan pengusahaan air minum 5 m3/detik berdasarkan kerjasama Pemda DKI Jakarta. B. Bogor. Melaksanakan studi/detail desain pembangunan jaringan irigasi Cimanceuri dan bendung Cimanceuri Melaksanakan stud. 4) Belum ada jaringan irigasi diCikarang hilir 5) Masih terbatasnya pengembangan penerapan teknologi desalinasi dan ultra filtrasi 1) Kurang terkontrolnya Pengusahaan air isi ulang di wilayah Bogor Terlaksananya pengembangan Potensi tenaga air di Katulampa/Sungai Baru Timur dan Bendung Masyono/Sungai Angke Terlaksananya pengembangan Potensi irigasi Cimanceuri dan terbangunnya bendung Cimanceuri Terlaksananya pengembangan Potensi irigasi Cikarang hilir Terbatasnya pengembangan penerapan teknologi desalinasi dan ultra filtrasi Mengoperasikan tenaga air di Katulampa dan Bendung Masyono Membangun Microhydro di Sungai Baru Timur dan Sungai Angke (Bendung Masyono). Kec. Kec. Sibanteng. Kelompok Masyarakat Dinas PU/SDA Prov/Kab. Sibanteng pada S. Dinas Pertanian. BBWS. industri/swasta BPLHD. berakibat menurunnya fungsi layanan 4) Belum tersedianya SOP waduk/tampungan/situ di WS 6 Ci Terwujudnya harmonisasi penggunaan air irigasi dan air baku di sungai Cisadane Terlaksananya rehabilitasi jaringan irigasi terutama yang rusak berat Melaksanakan alokasi air sungai Cisadane TKPSDA.5 PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR P P P Terkontrolnya Pengusahaan air isi ulang P P P 2) Masih terbatasnya pengusahaan air minum dari Jatiluhur oleh Pemerintah atau swasta Terjadinya pengembangan usaha air minum berdasarkan kerjasama Pemda DKI Jakarta. Citempuandi Ds. PDAM prov/Kota Jakarta. Kec. Investor/swasta Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A.3 PENGGUNAAN SUMBER DAYA AIR 1) Konflik penggunaan air irigasi dan air baku di sungai Cisadane 2) Kerusakan prasarana jaringan irigasi mengakibatkan tidak efektif dan tidak efisiennya distribusi air irigasi 3) OP prasarana sumber daya air (Irigasi. Balai PSDA.Balai PSDA Prov. PJT II dan investor/swasta Pemda DKI. Pemda Jabar. Pemda Kab Bekasi. P P P 3) Belum ada jaringan irigasi di Cimanceuri dan bendung Cimanceuri. Kelompok Masyarakat _ BBWS 2 C . PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR 1 2 3 4 Aspek/Sub Aspek Permasalahan Berdasarkan Analisis A B C D P P P Sasaran/Target yang diinginkan i Jangka Pendek (2011-2015) Mereview dan melaksanakan alokasi air sungai Cisadane sesuai kesepakatan STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Melaksanakan alokasi air sungai Cisadane sesuai kesepakatan secara berkelanjutan iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) Melaksanakan alokasi air sungai Cisadane sesuai kesepakatan secara berkelanjutan Kebijakan operasional Lembaga/Instansi/Kelompok Masyakat/Swasta Terkait 2. Sibanteng pada S. BBWS Citarum. 3 dan 4 2 No. Sibanteng pada S. BBWS. Kelompok Masyarakat. BBWS. C atau D halaman 163 . BBWS./kab/kota. Leuwisadeng. Leuwisadeng. P P 10) Belum tersusunya pedoman Operasional penyusunan AKNOP (analisa kebutuhan nyata operasi dan pemeliharaan) Irigasi Meningkatnya IP secara maksimal Menaikkan IP dg pemberdayaan petani (dari 214% ke 280%) Mereview AKNOP (analisa kebutuhan nyata operasi dan pemeliharaan) Irigasi dikaitkan dengan areal (Rp/Ha) dan bangunandikaitkan dengan areal(rp/ha) dan bangunan utama (bh) utama (Bh). Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota.Kab Bogor. PJT II dan investor/swasta PDAM melaksanakan menejemen distribusi air minum dengan menjaga kualitas dan keberlanjutannya sebesar 9 m3/detik Melakukan studi dan pelaksanaan pengusahaan air minum 9 m3/detik berdasarkan kerjasama Pemda DKI Jakarta. dan lain-lain) belum memadai. Sibanteng pada S. Leuwisadeng. PU/SDA Kab/Kota di seluruh Wil 6 Ci. Kelompok Masyarakat Pemda DKI.Kab Bogor. Dinas PU/SDA sesuai prinsip-prinsip penggunaan sumber Prov. Pemda Jabar.. Dinas PU/SDA Prov. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. BBWS. situ.

Kelompok Masyarakat termasuk larangan membangun __ Menetapkan pengaturan kawasan retensi yang telah terbangun Menetapkan perda sempadan sungai dan memasang patok batas dan pengawasannya Melaksanakan sosialisasi ke masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai BBWS. 3 dan 4 3 No. Dinas P2B. Dinas PU/SDA dari Kalibata sampai dengan Manggarai Prov. Sunter (PAS) Melaksanakan untuk penataan Sungai Ciliwung : . DKI Jakarta. dengan menggantikan pemakaian Air Tanah dengan Air Permukaan Merencanakan dan Meningkatkan tanggul laut di pantai Tangerang dan Bekasi Membangun tanggul laut di Cilincing. B. BMKG. BPSDA.Tabel 4. Kelompok Masyarakat P P P Tersusunnya Pergub pengaturan pembuatan detensi di gedung-gedung bertingkat dan komplek Perumahan Tersedianya jalur evakuasi dan tempat pengungsian Terpasangnya sistem peringatan dini di semua sungai Terwujudnya alur sungai dan jaringan drainasi aman dan terpelihara P P P P P P BBWS. Kelompok Masyarakat Menghentikan penurunan tanah Jakarta Utara dengan menggantikan penggunaan Air Tanah dengan Air Permukaan BPLHD/BLHD. Pengendalian Banjir secara menyeluruh di Kelompok Masyarakat wilayah Ciliwung . 1:50 sungai dalam kota 1:25. Kelompok Masyarakat BBWS Ciliwung . Kelompok Masyarakat P P P Menetapkan pengaturan kawasan retensi yang telah terbangun Menetapkan perda sempadan sungai dan memasang patok batas dan pengawasannya Melaksanakan sosialisasi ke masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai dan membuat TPS untuk di olah Melaksanakan review peta rawan genangan dan sosialisasi ke masyarakat Menyusun Pergub dan mensosialisasikan pengaturan pembuatan detensi di gedunggedung bertingkat dan komplek Perumahan Merencanakan dan menetapkan jalur evakuasi dan tempat pengungsian Merencanakan pengembangan dan pemasangan sistem peringatan dini di semua sungai Merencanakan dan melaksanakan OP Sungai dan saluran Drainasi Menetapkan pengaturan kawasan retensi yang telah terbangun Menetapkan perda sempadan sungai dan memasang patok batas dan pengawasannya Melaksanakan sosialisasi ke masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai Melaksanakan review peta rawan genangan dan sosialisasi ke masyarakat Menerapkan dan mengawasi Pergub pengaturan pembuatan detensi di gedung-gedung bertingkat dan komplek Perumahan Melaksanakan sosialisasi jalur evakuasi dan tempat pengungsian Melaksanakan pemasangan dan operasional sistem peringatan dini di semua sungai Melaksanakan OP Sungai dan saluran Drainasi sepanjang tahun P P 3) Penggunaan bantaran sungai untuk pemukiman liar 4) Pembuangan sampah ke saluran drainasi dan alur sungai menghambat aliran. untuk tampungan air Menetapkan peruntukan dan melindungi daerah retensi. saluran Drainasi 1:5 STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Melaksanakan studi kelayakan dan detail desain sistem pengendalian bajir di wilayah Ciliwung . Kelompok Masyarakat __ __ Melakukan sodetan di Sungai Ciliwung BKT. PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR 1 2 3 4 Aspek/Sub Aspek Permasalahan Berdasarkan Analisis A B C D P P P P Sasaran/Target yang diinginkan i Jangka Pendek (2011-2015) Menyusun Master Plan Sistem Pengendalian Banjir secara menyeluruh di wilayah Ciliwung . Simatupang sampai dengan Manggarai . Angke. Pluit. Dinas PU/SDA Prov. Pluit. Perwa/Perbup mengenai daerah retensi BPDAS. Kelompok Masyarakat P P P P P P __ __ Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A.Melaksanakan normalisasi Sungai Ciliwung dari TB. swasta P P P P P P P 10) Meningkatnya ancaman banjir dari air pasang laut Teratasinya ancaman bencana dari laut Merencanakan dan Membangun tanggul laut di Cilincing. kelompok masyarakat. BPSDA.Melaksanakan penambahan 1 Pintu Air Manggarai dan penambahan 1 Pintu Air Karet Melaksanakan DED JCDS/Jakarta Coastal Defence Strategy Penanaman mangrove di pantai wilayah Bekasi (Pantura Jawa Barat) dan Tangerang (Pantura Banten) __ Melaksanakan JCDS/Jakarta Coastal Defence Strategy Membangun hutan tanaman pesisir. Melaksanakan penambahan 1 Pintu Air Manggarai dan1 Pintu Air Karet BBWS Ciliwung . Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (2 Ci) pada Skenario 1. debit banjir rencana Sungai utama 1:100. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. Kelompok Masyarakat. DPRD. untuk tampungan air Relokasi Penduduk Menerbitkan penetapan daerah retensi dan BBWS. Kelompok Masyarakat P P P P P P P P Melaksanakan normalisasi Sungai Ciliwung BBWS Ciliwung . mengakibatkan banjir 5) Belum ada peta rawan genangan yang Mutahir 6) Belum adanya Pergub pembuatan detensi di gedung-gedung bertingkat dan komplek Perumahan 7) Belum ada peta jalur dan tempat Evakuasi bencana 8) Belum semua sungai telah dipasang sistem peringatan dini banjir 9) kurangnya pemeliharaan. sedimentasi di alur sungai serta jaringan drainasi dan longsoran tebing Melaksanakan pengawasan dan penegakan hukum Melaksanakan sosialisasi ke masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai P P P P P P P P Tersedianya review peta rawan genangan Melaksanakan review peta rawan genangan dan sosialisasi ke masyarakat Menerapkan dan mengawasi Pergub pengaturan pembuatan detensi di gedunggedung bertingkat dan komplek Perumahan Merview dan mensosialisasikan peta jalur evakuasi bencanca banjir Melaksanakan operasional sistem peringatan dini di semua sungai Melaksanakan OP Sungai dan saluran Drainasi sepanjang tahun Melaksanakan review peta rawan genangan dan sosialisasi ke masyarakat Menerbitkan dan menerapkan Pergub pengaturan pembuatan detensi di gedunggedung bertingkat dan komplek Perumahan Menetapkan lokasi pengungsian oleh Pemda DKI Jakarta Melaksanakan pemasangan sistem peringatan dini Melaksanakan OP Sungai dan saluran Drainasi sepanjang tahun BBWS.Cisadane. khususnya di lokasi Jakarta Utara. DKI Jakarta.2. BPSDA. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. Dinas PU/SDA Prov. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. swasta BBWS. Angke. Pluit dan pasar ikan Dinas PU/SDA. Pasar Ikan. Kamal muara dan Marunda Menghentikan pengambilan air tanah yang menyebabkan penurunan tanah. Satpol PP. Kelompok Masyarakat Dinas PU DKI. Kamal muara dan Marunda Menghentikan pengambilan air tanah dalam yang menyebabkan penurunan tanah. 2. Pasar Ikan. BBWS CilCis. Sunter (PAS) BBWS Ciliwung . Pasar Ikan.Cisadane.Jakarta Utara dengan menggantikan pemakaian Air Tanah dengan Air Permukaan Meningkatkan tanggul laut di pantai Tangerang dan Bekasi P P Melakukan pengamanan terhadap kerusakan pantai dan memelihara tanggul laut di Cilincing. BPSDA. Dinas PU/SDA Prov. 1:50 sungai dalam kota 1:25. Kelompok Masyarakat.Cisadane Kebijakan operasional Lembaga/Instansi/Kelompok Masyakat/Swasta Terkait 3. Kelompok Masyarakat Konstruksi untuk normalisasi Sungai Pesanggrahan.Cisadane selesai tahun 2015. Kamal muara dan Marunda Menghentikan pengambilan air tanah dalam yang menyebabkan penurunan tanah. Kelompok Masyarakat BBWS.debit banjir rencana Sungai utama 1:100. DKI Jakarta. saluran Drainasi 1:5 P P P 2) Penggunaan daerah retensi/dataran banjir dan rawan banjir untuk pemukiman Tercapainya penetapan dan pemasangan patok batas kawasan retensi banjir serta melarang pembangunan didaerah retensi Terlaksananya ketetapan kawasan retensi yang telah terbangun termasuk upaya dan solusinya Terwujudnya bantaran sungai bersih dari bangunan permanen dan tanaman keras yang menghambat arus banjir Terwujudnya sungai dan saluran drainase bersih dari sampah Menetapkan peruntukan dan melindungi daerah retensi.Cisadane. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. BBWS Cil-Cis.Cisadane iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) Melaksanakan sistem pengendalian banjir di wilayah Ciliwung . BPSDA. terjadinya pendangkalan. Kelompok Masyarakat P P Melaksanakan FS dan Perencanaan JCDS/Jakarta Coastal Defence Strategy Penanaman mangrove di pantai wilayah Bekasi (Pantura Jawa Barat) dan Tangerang (Pantura Banten) Melaksanakan penyelesaian pembangunan Banjir Kanal Timur (23. BPSDA.Cisadane. Pertambangan Prov DKI Jakarta.5 km) Melaksanakan normalisasi Sungai Pesanggrahan. BBWS CilCis. BPSDA. DKI Jakarta.1 PENCEGAHAN BENCANA 1) Master Plan Sistem Pengendalian Banjir (1996) secara menyeluruh di wilayah Ciliwung . Kelompok Masyarakat BBWS. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. BBWS. C atau D halaman 164 . Kelompok Masyarakat P P P P 11) Kurangnya kapasitas aliran sungai (penyempitan sungaidan pendangkalan serta hambatan oleh bangunan silang) P P P P Tercapainya kapasitas aliran sungai mampu menyalurkan banjir/genangan dengan debit tertentu BBWS Ciliwung . kelompok masyarakat.Cisadane sudah tidak memadai Tersusunnya review master plan sistem pengendalian banjir secara menyeluruh di wilayah Ciliwung . Melindungi water front city dari ancaman pasang air laut Menyelesaikan pembangunan BKT Dinas PU/SDA Prov DKI Jakarta. Pluit. Polri. BBWS. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. khususnya di lokasi Jakarta Utara dengan menggantikan pemakaian Air Tanah dengan Air Permukaan Melakukan pengamanan terhadap kerusakan pantai dan memelihara tanggul laut di pantai Tangerang dan Bekasi Melaksanakan JCDS/Jakarta Coastal Defence Strategy Pelaksanaan OP mangrove di pantai wilayah Bekasi (Pantura Jawa Barat) dan Tangerang (Pantura Banten) __ Membangun tanggul laut di cilincing.Cisadane. DKI Jakarta. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota.Cisadane Menyusun Master Plan Sistem BBWS. Badan Regulator.. BPSDA. Dinas PU/SDA Prov. Kelompok Masyarakat P P Meningkatkan tanggul laut di pantai Tangerang dan Bekasi Dinas PU/SDA Prov DKI Jakarta.Cisadane.Melaksanakan pelaksanaan sodetan Sungai Ciliwung di llokasi Kalibata dan Kebun Baru . Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota.

Kelompok Masyarakat Mengawasi dan menertibkan hunian dan usaha lainnya di bantaran sungai secara berkelanjutan Dinas PU DKI. C atau D halaman 165 . Prov. Masyarakat Cirarap. Bandung) Mengurangi perambahan daerah retensi. Cipinang. Kelompok Masyarakat Memenuhi kebutuhan air rumah tangga di Dinas PU/SDA Prov. Mengawasi dan menertibkan hunian dan usaha lainnya di bantaran sungai Menerapkan dan memantau pelaksanaan daerah parkir air/dataran banjir bebas dari pemukiman dan usaha lain. BBWS. BBWS. Grogol. Tangerang dan Bekasi BBWS. Cipinang. Dinas PSDA Prov menerapkan sistem biaya pemulihan kota Jabar.Masyarakat domestik). Krukut. Jatikramat dan Cakung. Cengkareng Drain. Marunda. Cengkareng Drain.Cisadane. Kelompok Masyarakat P P P P P P . BPN. Cirarap. Cengkareng Drain. BPSDA. C Melaksanakan Perencanaan Cengkareng Flood way II Melaksanakan Perencanaan dan Pelaksanaan 30 polder-polder antara lain Sunter timur 2. Dinas PU/SDA Prov. Kelompok Masyarakat P P P P 15) Terjadinya kerugian akibat bencana longsor di beberapa tempat Berkurangnya kerugian akibat longsoran Melaksanakan sosialisasi peta rawan longsor Melaksanakan penyadaran publik terhadap bahaya tanah longsor Menerapkan perijinan bangunan (IMB) dan building code di daerah rawan longsor Melaksanakan upaya perkuatan daerah kritis (vegetatif dan sipil teknis) Penerbitan Perda pengurangan pengambilanair tanah dalam dan penerapan rumah panggung Melaksanakan uji coba sistem pengelolaan polder dengan biaya pemulihan Mengurangi luas perambahan daerah retensi dan bantaran sungai (30%). BP DAS. Kelompok Masyarakat P P P P 12) Masih kurangnya polder di Jakarta P P P P 13) Menurunnya fungsi tanggul banjir di sungai-sungai JABODETABEK P P P P 14) Kurangnya tertatanya (sistem dan kapasitas drainase mikro) di JABODETABEK menyebabkan genangan di permukiman dan di jalan Terlaksananya rehabilitasi dan pembangunan tanggul banjir pada sungaisungai di JABODETABEK Tercapainya sistem dan kapasitas aliran saluran drainase mikro yang memadai di JABODETABEK BBWS. Bekasi. Cirarap. Kelompok Masyarakat P P P 16) Penurunan muka tanah di Jakarta telah menaikkan tingkat resiko banjir P Pengaturan bangunan (rumah panggung).Melaksanakan Revitalisasi Pintu Air Ciliwung Lama STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) __ iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) __ Kebijakan operasional Lembaga/Instansi/Kelompok Masyakat/Swasta Terkait Melaksanakan Revitalisasi Pintu Air Ciliwung Lama Melaksanakan normalisasi Sungai Ciliwung Lama Melaksanakan pengerukan sungai dan Waduk di Jakarta BBWS Ciliwung . Grogol. Cideng. Buaran. Developer dan pemukiman dan usaha lain. Dinas TanHutBun Kab. dan lain-lain.Cisadane. Dinas Tarung. Dinas PU/ SDA Provinsi. Banjir Kanal Barat. Kali Sabi dan Kali Dadap. Pertambangan Prov/Kab/Kota. Kali Sabi dan Kali Dadap. Melaksanakan rehabilitasi tanggul banjir secara berkelanjutan Melaksanakan penataan sistem dan menormalisasi drainase mikro di JABODETABEK secara berkelanjutan Melaksanakan normalisasi sungai diperkotaan (sungai Cimanceuri. BPN. Mengawasi dan menertibkan hunian dan usaha lainnya di bantaran sungai __ BBWS. Kali Blencong. PDAM. bantaran sungai BPLHD/BLHD. Banjir Kanal Barat. Kelompok Masyarakat BBWS. PU/SDA . kumulatif menjadi 100% Menambah supply kebutuhan air rumah tangga untuk wilayah Jakarta Utara. Tangerang dan Bekasi P P 19) Masih terjadinya pembangunan pemukiman di daerah parkir air/dataran banjir P P P 20) Masih adanya hunian dan usaha lain di bantaran sungai Terwujudnya daerah parkir air/dataran banjir bebas dari pemukiman dan usaha lain.2. Banjir Kanal Barat. Kelompok Masyarakat Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. Bekasi. Melaksanakan rehabilitasi tanggul banjir secara berkelanjutan Melaksanakan penataan sistem dan menormalisasi drainase mikro di JABODETABEK secara berkelanjutan Melaksanakan Perencanaan normalisasi BBWS. Mampang. DKI Jakarta BBWS Ciliwung . BPSDA. kumulatif menjadi 60% Menyediakan kebutuhan air rumah tangga menggunakan mobil tangki untuk Tangerang dan Bekasi dan menambah supply kebutuhan air rumah tangga untuk wilayah Jakarta Utara dari PDAM Menerapkan dan memantau pelaksanaan daerah parkir air/dataran banjir bebas dari pemukiman dan usaha lain. Kali Blencong. Cipinang. Cengkareng Drain. Polri. __ __ __ __ P P P P Melaksanakan normalisasi sungai diperkotaan (sungai Cimanceuri.Tabel 4. Grogol. 3 dan 4 3 No. Mampang. C Melaksanakan Konstrusi Cengkareng Flood way II Melaksanakan pembangunan 30 polderpolder antara lain Sunter timur 2. Cirarap. Cikeas. Dinas Tata Ruang daerah parkir air/dataran banjir bebas dari dan Tata Kota. Kelompok mengendalikan pengambilan air tanah (non. Cisadane. dan lain-lain. Mengawasi dan menertibkan hunian dan usaha lainnya di bantaran sungai Menyusun dan menerapkan Perda tentang Dinas PU DKI. Cikeas. Krukut. Cisadane. Dinas PU/ SDA Provinsi. Tangerang dan Bekasi Menyediakan kebutuhan air rumah tangga menggunakan mobil tangki untuk Jakarta Utara. Merencanakan dan melaksanakan rehabilitasi tanggul banjir secara berkelanjutan Melaksanakan perencanaan sistem drainase dan kapasitasnya di JABODETABEK (2011-2013). melaksanakan penataan sistem dan menormalisasi drainase mikro di JABODETABEK (2014-2015) dan berkelanjutan Melakukan inventarisasi dan pemetaan daerah rawan longsor di tingkat Kab/Kota Melaksanakan penyadaran publik terhadap bahaya tanah longsor Menerapkan perijinan bangunan (IMB) dan building code di daerah rawan longsor Melaksanakan upaya perkuatan daerah kritis (vegetatif dan sipil teknis). Kelompok sungai diperkotaan (sungai Cimanceuri. Dinas/Badan Terkait di Tk. pembangunan polder dan tanggul P P P P 17) Meluasnya perambahan daerah retensi dan bantaran sungai Terlindunginya daerah retensi dan bantaran sungai terhadap perambahan masyarakar Terpenuhinya kebutuhan air rumah tangga di wilayah Jakarta Utara. Melaksanakan pengelolaan polder dengan Dinas PU DKI Jakarta. Dinas Kehutanan. Dinas Tata Ruang/Tata Kota. Marunda.Cisadane. Banjir Kanal Barat. Bekas Perencanaan dan pelaksanaan penambahan Flood way Cengkareng Flood way II di Jakarta barat Melaksanakan pembangunan 30 polderpolder antara lain Sunter timur 2. Kelompok Masyarakat Jakarta. PJT II. Kali Blencong. C Melaksanakan perencanaan Cengkareng Flood way II Terbangunnya Polder-polder di Jakrta Melaksanakan Perencanaan dan Pelaksanaan 30 polder-polder antara lain Sunter timur 2. Marunda. Kelompok Masyarakat Melaksanakan penyadaran publik terhadap bahaya tanah longsor Menerapkan perijinan bangunan (IMB) dan building code di daerah rawan longsor Melaksanakan upaya perkuatan daerah kritis (vegetatif dan sipil teknis) Penerbitan Perda pengurangan air tanah dalam dan penerapan rumah panggung Mengembangkan sistem pengelolaan polder dengan biaya pemulihan untuk polder lainnya Mengurangi luas perambahan daerah retensi dan bantaran sungai (40%). Kelompok Masyarakat BBWS Ciliwung . Tangerang dan Bekasi dari PDAM Mengurangi kerugian akibat longsor dan memperkuat daerah rawan longsor dengan Dinas P2B. Melaksanakan Pengerukan 13 Sungai dan 5 Waduk di Jakarta. Dinas PU/SDA Prov. Dinas PU/ SDA Provinsi. Cisadane. Mampang. Cikeas. dan lain-lain. Kelompok Masyarakat BBWS. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (2 Ci) pada Skenario 1. Mampang. Cideng. Jatikramat dan Cakung. Krukut. Jatikramat dan Cakung. Melaksanakan perencanaan dan pelaksanaan rehabilitasi tanggul banjir secara berkelanjutan Melaksanakan perencanaan normalisasi saluran drainase di perkotaan JABODETABEK dan pelaksanaannya untuk mengurangi genangan utamanya di jalan jalan Jakarta BBWS. Tangerang dan Bekasi Menerbitkan Perda pengurangan pengambilan air tanah dalam dan penerapan rumah panggung Melaksanakan perencanaan pengelolaan sistem polder dengan sistem biaya pemulihan Mengurangi luas perambahan daerah retensi dan bantaran sungai (30%) P P 18) Kekurangan air kebutuhan rumah tangga di wilayah Jakarta Utara. 2. Satpol PP. Bappeda. Marunda. Buaran. DPRD. Buaran. Jatikramat dan Cakung.. Cipinang. Cideng. B. Cisadane. Kali Sabi dan Kali Dadap. Dinas PU/SDA. Terlindunginya Bantaran sungai dari hunian dan usaha lainnya Menyusun Perda tentang daerah parkir air/dataran banjir bebas dari pemukiman dan usaha lain. DKI Jakarta. Bekasi. Dinas PU/SDA Kab/Kota. PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR 1 2 3 4 Aspek/Sub Aspek A B C D P P Permasalahan Berdasarkan Analisis Sasaran/Target yang diinginkan i Jangka Pendek (2011-2015) . Dinas PU/SDA Prov. Kali Sabi dan Kali Dadap. Kelompok Masyarakat Mengurangi penurunan muka tanah dg Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. Cideng. dan lain-lain. Dinas PU/ SDA Provinsi. DKI Jakarta. Kelompok vegetatif dan sipil teknis Masyarakat BBWS. Grogol. DPRD.Program JEDI (Jakarta Emergency Dredging Initiative) Melaksanakan normalisasi sungai diperkotaan (sungai Cimanceuri. Pertanian Prov/Kab.Melaksanakan perencanaan dan normalisasi Sungai Ciliwung Lama./Kota Terkait. Buaran. Dinas PU/ SDA Provinsi. Krukut. Jakarta Utara. Kali Blencong.

tenda. Dinas PU/CK kab/kota. BNPB. BNPB. PMI. BNPB. BBWS.2 PENANGGULANGAN 1) Meluapnya air sungai di wilayah Ciliwung-Cisadane Berkurangnya luapan air sungai Meminimalisasi kerugian akibat banjir Dinas PU DKI. BPBD. Swasta BBWS. C atau D halaman 166 . Kelompok Masyarakat Dinas PU/Permukiman DKI. PMI.3 PEMULIHAN AKIBAT BENCANA P P P P P P P P P P P Terjadinya kerusakan prasarana sumber daya air setelah terjadinya bencana banjir dan longsor Belum maksimalnya penyediaan dana untuk pelaksanaan pemulihan kondisi prasarana dan sarana umum setelah terjadinya bencana banjir dan longsor Menyediakan dana tahunan untuk perbaikan prasarana sumber daya air yang rusak Menyediakan dana pemulihan tahunan (APBN/APBD) dengan melibatkan masyarakat dan swasta Menyediakan dana tahunan untuk perbaikan prasarana sumber daya air yang rusak Menyediakan dana pemulihan tahunan (APBN/APBD) dengan melibatkan masyarakat dan swasta Menyediakan dana tahunan untuk perbaikan prasarana sumber daya air yang rusak Menyediakan dana pemulihan tahunan (APBN/APBD) dengan melibatkan masyarakat dan swasta Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. MCK.2. Kelompok Masyarakat Dinas PU DKI. dapur umum. BBWS. P3K secara berkelanjutan Menyediakan dana bantuan pemulihan tahunan (APBN/APBD) dan menggalang dana dari swasta iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) Menyediakan bahan banjiran setiap tahun dan dana operasional secara berkelanjutan Menyiapkan rencana evakuasi.Tabel 4. Dinas PU/SDA Prov/kab/kota. tenda. perahu karet. PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR 1 2 3 4 Aspek/Sub Aspek Permasalahan Berdasarkan Analisis A B C D P P P P Sasaran/Target yang diinginkan i Jangka Pendek (2011-2015) Menyediakan bahan banjiran setiap tahun dan dana operasional secara berkelanjutan Menyiapkan rencana evakuasi. MCK. dapur umum. perahu karet. PMI. BPBD. P3K secara berkelanjutan Menyediakan dana bantuan pemulihan tahunan (APBN/APBD) dan menggalang dana dari swasta Kebijakan operasional Lembaga/Instansi/Kelompok Masyakat/Swasta Terkait 3. MCK. Kelompok Masyarakat. Dinas PU kab/kota. 2. dapur umum. 3 dan 4 3 No. Kelompok Masyarakat. perahu karet. BBWS. BBWS. tenda. Kelompok Masyarakat Dinas PU DKI. P3K secara berkelanjutan Menyediakan dana bantuan pemulihan tahunan (APBN/APBD) dan menggalang dana dari swasta STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Menyediakan bahan banjiran setiap tahun dan dana operasional secara berkelanjutan Menyiapkan rencana evakuasi. BNPB. B. Dinas PU kab/kota. Dinas PU kab/kota. BPBD. swasta P P P P Pelaksanaan evakuasi korban pada saat kejadian banjir 1) Belum optimalnya pemulihan kondisi rumah masyarakat setiap terjadinya bencana banjir 2) Terjadinya kerusakan prasarana sumber daya air setiap terjadinya bencana banjir 3) Belum maksimalnya penyediaan dana untuk pelaksanaan pemulihan kondisi prasarana dan sarana umum setiap terjadinya bencana banjir Tercapainya pemulihan kondisi rumah masyarakat Menyiapkan rencana evakuasi dan dana operasionalnya Memulihkan kondisi rumah masrakat pasca bencana dengan penyedian dana dari pemerintah dan swasta serta melibatkan masyarakat Memulihkan kondisi prasarana sumber daya air Menyediakan dana pemulihan kondisi prasarana dan sarana umum pasca bencana dengan penyedian dana dari pemerintah serta melibatkan masyarakat dan swasta 3. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (2 Ci) pada Skenario 1. PMI. BPBD.

BMKG prov. BPSDA. Bappeda prov. Ditjen SDA. mengolah dan menyajikan data sumber daya air secara terpadu dan berkelanjutan STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Mengumpulkan.. Dipertan prov. Dinas TanHutBun kab/kota. diakses secara berkelanjutan BPSDA. B. Dipertan prov. Kegiatan SoSekBud) 2) Belum memadainya SDM yang menangani SISDA Terwujudnya database sumber daya air yang lengkap dan akurat Menyediakan database sumber daya air yang lengkap dan akurat secara berkelanjutan BBWS.. BBWS. Dinas TanHutBun kab/kota. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (2 Ci) pada Skenario 1. PJT II.. memadai Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. BMKG prov. pemeliharaan dan pengadaan peralatan serta pengembangan SDM dan koordinasi secara berkelanjutan Menyediakan dana SISDA terpadu untuk operasional. BMKG Prov.. Dipertan prov. Dinas menunjang SISDA ESDM prov.2. Dinas ESDM prov.Tabel 4. BPSDA.. BMKG prov. Dipertan Prov. mengolah dan menyajikan data sumber daya air secara terpadu dan berkelanjutan iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) Mengumpulkan. Dinas TanHutBun kab/kota..... Teknologi sumber daya air. Dipertan prov. PJT II Menyediakan.. Dinas ESDM prov. Bappeda prov.. 3 dan 4 4 No. PJT II. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. BPSDA. Dipertan prov.. BBWS.. Kelompok Masyarakat P P P Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A.. Dinas ESDM prov. BBWS.. dan instansi lain sesuai kebutuhan. PJT II. mengolah dan menyajikan data sumber daya air secara terpadu dan berkelanjutan Kebijakan operasional Lembaga/Instansi/Kelompok Masyakat/Swasta Terkait 1) Kurang optimalnya database sumber daya air yang reliable (Hidrologi. C atau D halaman 167 . SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA AIR 1 2 3 4 Aspek/Sub Aspek A B C D P P P P Permasalahan Berdasarkan Analisis Sasaran/Target yang diinginkan i Jangka Pendek (2011-2015) Mengumpulkan.. Dinas ESDM prov. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. Dinas ESDM prov. BMKG prov. Ditjen SDA. Dinas PU/SDA memelihara peralatan yang memadai untuk Prov/Kab/Kota.. menangani SISDA Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. Bappeda prov. pemeliharaan dan pengadaan peralatan serta pengembangan SDM dan koordinasi secara berkelanjutan Menyediakan SDM yang profesional untuk Ditjen SDA. Lingkungan pada sumber daya air.. Kelompok Masyarakat Mengintegrasikan data SISDA yang mudah BBWS. Ditjen SDA. BPSDA. Bappeda SISDA yang sistematis dan komprehensif Prov. Prasarana sumber daya air. 2. Dinas TanHutBun kab/kota.. Kelompok Masyarakat P P P P Tersedianya SDM yang menangani SISDA secara memadai Melaksanakan pengadaan pegawai dan meningkatkan kapasitasnya sesuai kebutuhan Mengembangkan SDM secara berkelanjutan Mengembangkan SDM secara berkelanjutan P P P 3) Belum lengkapnya peralatan (perangkat keras dan lunak) untuk yang menunjang SISDA Tersedianya peralatan yang memadai untuk menunjang SISDA terpadu Menginventarisasi kebutuhan dan melaksanakan pengadaan peralatan untuk menunjang SISDA terpadu Mengoperasikan dan memelihara peralatan yang menunjang SISDA secara berkelanjutan Mengoperasikan dan memelihara peralatan yang menunjang SISDA secara berkelanjutan P P P 4) Belum adanya unit SISDA yang mengintegrasikan data sumber daya air yang berasal dari instansiinstansi terkait Terintegrasinya data SISDA secara berkelanjutan * Mengkoordinasikan data sumber daya air yang berasal dari instansi-instansi terkait dan menerbitkan buku data tahunan serta menyediakan data berbasis web yang mudah diakses secara berkelanjutan Menyediakan pedoman tentang pengelolaan SISDA yang sistematis dan komprehensif Menyediakan dana SISDA terpadu untuk operasional. BMKG prov. Kelompok Masyarakat Menerbitkan pedoman tentang pengelolaan Ditjen SDA.. mengoperasikan dan Ditjen SDA. Dinas TanHutBun kab/kota. Bappeda prov.. perbaikan peralatan dan peningkatan SDM P P P P 5) Belum adanya pedoman tentang pengelolaan SISDA yang sistematis dan komprehensif 6) Belum tersedianya dana yang memadai untuk melaksanakan SISDA terpadu Tersedianya pedoman tentang pengelolaan SISDA yang sistematis dan komprehensif Terwujudnya komitmen penyediaan dana untuk SISDA terpadu * Mengkoordinasikan data sumber daya air * Mengkoordinasikan data sumber daya air yang berasal dari instansi-instansi terkait yang berasal dari instansi-instansi terkait dan menerbitkan buku data tahunan dan menerbitkan buku data tahunan serta serta menyediakan data berbasis web menyediakan data berbasis web yang yang mudah diakses secara mudah diakses secara berkelanjutan berkelanjutan Mengkaji ulang pedoman tentang Mengkaji ulang pedoman tentang pengelolaan SISDA yang sistematis dan pengelolaan SISDA yang sistematis dan komprehensif komprehensif Menyediakan dana SISDA terpadu untuk operasional. Biro Kepeg dan Ortala. PJT II. Kelompok Masyarakat Menyediakan dana SISDA terpadu yang Bappenas. Dinas PU/SDA prov. Kebijakan sumber daya air... Bappeda prov... Hidrogeologi dan Hidrometeorologi.

Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (2 Ci) pada Skenario 1. Dinas TanHutBun Kab/Kota. menetapkan dan menerapkan pedoman manajemen asset dalam pengelolaan sumber daya air Ditjen SDA. gubernur. Ditjen SDA. pedoman atau MOU antar unit/ instansi tentang pembagian perannya dalam pengelola sumber daya air Menerbitkan pedoman atau MOU tentang pembagian peran dan kerjasama antar instansi dalam pengelolaan sumber daya air Ditjen SDA. Dinas PU/SDA Prov. 2 Ci dan 1 Ci) secara berkelanjutan Membentuk forum komunikasi DAS dan mengaktifkan forum Melaksanakan koordinasi antar instansi terkait DI Ciujung. 2. Pemda Banten. Men PU. Kelompok Masyarakat P P P Menempatkan pegawai sesuai dengan kompetensinya (50%) 4) Belum diterapkannya manajemen aset dalam penyusunan anggaran rehabilitasi dan OP sumber daya air Terbitnya pedoman manajemen aset dalam pengelolaan sumber daya air Menyusun dan menetapkan pedoman menejemen aset dalam pengelolaan sumber daya air Menempatkan pegawai sesuai dengan kompetensinya (50%). Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. Banten 4) Belum adanya kebijakan yang jelas mengenai kesepakatan transfer air antar wilayah (S. Bappeda. DI Cidurian Melaksanakan kerja sama dan koordinasi dalam penanggulangan banjir Memantau dan mengawasi pelaksanaan kebijakan tentang transfer air antar wilayah secara berkelanjutan Mengaktifkan Komisi Irigasi Provinsi. BPSDA. Dinas/SDA Prov. 3 dan 4 5 No. mengawasi dan melakukan penindakan terhadap para pelanggar penggunaan air tanah dalam secara berkelanjutan (pengambilan tidak berijin. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. Kelompok Masyarakat 5. Kelompok Masyarakat P P P Terwujudnya kebijakan yang jelas mengenai transfer air antar wilayah provinsi Optimalnya kinerja Komisi Irigasi Provinsi. pegawai sesuai analisis beban kerja Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. anak sungai Terbitnya peraturan.. 2 Ci dan 1 Ci) Peningkatan kinerja forum komunikasi DAS Meningkatnya Koordinasi antar Instansi terkait pengelolaan Irigasi DI Ciujung.4 FORUM KOORDINASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR P P P P Membentuk dan Mengaktifkan Komisi Irigasi Provinsi. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. Kelompok Masyarakat Membentuk. atau melebihi volume ijin) Melaksanakan sosialisasi dan penyadaran publik tentang bahaya pengambilan air tanah dalam yang melampaui batas aman. memantau dan mengawasi pelaksanaan BLU Pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan Memantau. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. kab/kota. Keluraha. Sek. Kelompok Masyarakat Memenuhi kebutuhan jumlah dan kapasitas Ditjen SDA. Bappeda kab/kota. Dinas Pertanian Prov./Kota dan BBWS. 2 Ci dan 1 Ci) secara berkelanjutan Mengaktifkan forum komunikasi DAS secara berkelanjutan dalam rangka menjaga kelestarian fungsi konservasi Melaksanakan koordinasi antar instansi terkait DI Ciujung. Kelompok Masyarakat Memperbaiki pelaksanaan menejemen kepegawaian Menyusun.Dinas Pertanian Kabupaten. Dinas SDA dan Pertambangan Kab/Kota. kab/kota. Kelompok Masyarakat Dinas PU/SDA prov. DKI Jakarta. Kelompok Masyarakat BBWS. Ditjen SDA. 2 Ci dan 1 Ci) secara berkelanjutan Mengaktifkan forum komunikasi DAS secara berkelanjutan Melaksanakan koordinasi antar instansi terkait DI Ciujung. B.3 PENGATURAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR P P P P 1) Belum maksimalnya pengawasan pengambilan air tanah dalam Terkendalinya pengambilan air tanah dalam P P P P 2) Kurangnya kesadaran masyarakat/swasta tentang bahaya pengambilan air tanah dalam secara berlebihan 3) Belum adanya pendelegasian perijinan penggunaan dan pengusahaan air permukaan dari Menteri PU ke Gubernur Prov. BBWS. Dit BLU. Dinas ESDM Prov. C atau D halaman 168 . Bappeda prov.2. dalam BBWS. Polri. Biro Kepeg. BBWS. Ciujung/ S./Kab. atau MOU kerjasama pengelolaan antar instansi STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Memantau dan mengawasi penerapan pedoman atau MOU tentang pembagian peran dan kerjasama dalam pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) Memantau dan mengawasi penerapan pedoman atau MOU tentang pembagian peran dan kerjasama dalam pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan Kebijakan operasional Lembaga/Instansi/Kelompok Masyakat/Swasta Terkait 5. BBWS. Ditjen SDA. TKPSDA WS 6 Ci. sesuai dengan kompetensinya Meningkatkan kapasitas masing-masing unit kerja Psumber daya air dengan menggunakan pengukuran kinerja (Performance Benchmarking = 14 indikator) secara berkelanjutan Menambah jumlah pegawai sesuai analis beban kerja (50% kekurangan terpenuhi) Meningkatkan kapasitas masing-masing unit kerja Psumber daya air dengan menggunakan pengukuran kinerja (Performance Benchmarking = 14 indikator) secara berkelanjutan Menambah jumlah pegawai sesuai analis beban kerja (50% kekurangan terpenuhi) Meningkatkan kapasitas masing-masing unit kerja Psumber daya air dengan menggunakan pengukuran kinerja (Performance Benchmarking = 14 indikator) secara berkelanjutan Menjaga kesesuaian antara jumlah yang purna tugas dengan pengadaan pegawai baru sesuai analisis beban kerja Menjaga kesesusaian penempatan pegawai sesuai kompetensinya Melaksanakan monitoring dan pengawasan dalam penerapan pedoman menejemen aset pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan Membangun komitmen diantara instansi terkait bidang sumber daya air dalam pengalokasian anggaran pengelolaan sumber daya air melalui TKPsumber daya air WS 6 Ci secara berkelanjutan Menerapkan pungutan jasa pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan Memantau dan mengawasi operasional BLU Pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan Memantau. mengaktifkan dan memfasilitasi Komisi Irigasi Provinsi. Dinas ESDM Prov. Dewan SDA Prov. DI Cidurian 7) Belum optimalnya koordinasi penanggulangan bencana Meningkatnya kesadaran masyarakat/ swasta dalam pengambilan air tanah dalam Melaksanakan sosialisasi dan penyadaran publik tentang bahaya pengambilan air tanah dalam yang melampaui batas aman. PU kapada Gub. Kelompok Masyarakat P P P 2) Belum efektifnya pelaksanaan tugas dan fungsi unit kerja yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air 3) Belum memadai jumlah dan kapasitas pegawai Efektifnya pelaksanaan tugas dan fungsi unit kerja pengelolaan sumber daya air P P P Terpenuhinya jumlah pegawai dan peningkatan kapasitasnya. Kabupate/Kota yang aktif Mengoptimalkan kinerja Dewan Sumber Daya Air Provinsi di wilayah 2Ci Membentuk dan Mengaktifkan Dewan sumber daya air Kabupaten/Kota sesuai kebutuhan Mengaktifkan Sekretariat TKPsumber daya air 6 Ci (3 Ci./Kota. BBWS. PEMBERDAYAAN dan PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT.. Dinas PU DKI. BBWS.2 PENDANAAN P P P 1) Belum adanya komitmen setiap instansi dalam pembiayaan pengelolaan sumber daya air terpadu Terwujudnya keterpaduan dalam penyusunan program dan anggaran pengelolaan sumber daya air Membangun komitmen diantara instansi terkait bidang sumber daya air dalam pengalokasian anggaran pengelolaan sumber daya air melalui TKPsumber daya air WS 6 Ci secara berkelanjutan Melakukan kajian dan penetapan pungutan jasa pengelolaan sumber daya air Melakukan kajian. Bappeda. atau melebihi volume ijin) Melaksanakan sosialisasi dan penyadaran publik tentang bahaya pengambilan air tanah dalam yang melampaui batas aman. Kelompok Masyarakat BBWS. gubernur. Kelompok Masyarakat BP DAS. Dinas PU/SDA Prov.: kewenangan terhadap situ. Kecamatan. Kelompok Masyarakat 5. Kelompok terpadu melalui TKPsumber daya air WS 6 Masyarakat Ci P P P 2) Belum diterapkannya pungutan jasa pengelolaan sumber daya air diluar wilayah layanan PJT Terwujudnya pungutan jasa pengelolaan sumber daya air Terbentuknya BLU Pengelolaan sumber daya air sebagai pemungut jasa pengelolaan sumber daya air P P P Mengkaji. BPPD. Kabupate/Kota yang aktif Optimalnya kinerja Dewan Sumber Daya Air Provinsi di wilayah 2Ci Terbentuknya Dewan sumber daya air Kabupaten/Kota sesuai kebutuhan Optimalnya kinerja Sekretariat TKPsumber daya air 6 Ci (3 Ci. Kelompok Masyarakat Ditjen SDA. publik tentang pengambilan air tanah Dinas SDA dan Pertambangan Kab/Kota.Balai PSDA. mengawasi dan melakukan penindakan terhadap para pelanggar penggunaan air tanah dalam secara berkelanjutan (pengambilan tidak berijin. Kelompok Masyarakat P P P Terbitnya dokumen pendelegasian perijinan penggunaan dan pengusahaan air permukaan Melaksanakan pendelegasian perizinan penggunaan dan pengusahaan air permukaan dari Men. DI Cidurian Meningkatkanerja sama dan koordinasi dalam penanggulangan banjir Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. BPSDA. DI Cidurian Melaksanakan kerja sama dan koordinasi dalam penanggulangan banjir Menetapkan kebijakan tentang transfer air Menteri PU. kab/kota. BBWS. Kabupate/Kota 2) Belum aktifnya Dewan Sumber Daya Air Provinsi di wilayah 2Ci 3) Belum terbentuknya Dewan sumber daya air Kabupaten/Kota 4) Belum optimalnya kinerja Sekretariat TKPsumber daya air 6 Ci (3 Ci. Kelompok Masyarakat Bappeda prov. MenKeu. Men PU. SWASTA DAN PEMERINTAH 1 Aspek/Sub Aspek 2 3 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis A B C D P P P P Sasaran/Target yang diinginkan i Jangka Pendek (2011-2015) Menyusun. Dan Ortala. BBWS. dan membangun sumur pantau pada lokasi yang rawan Meningkatkan komunikasi dan koordinasi Bappeda. Dan Ortala. Kabupaten/Kota Mengoptimalkan Dewan sumber daya air Provinsi di wilayah 2Ci secara berkelanjutan Mengaktifkan Dewan sumber daya air Kabupaten/Kota sesuai kebutuhan secara berkelanjutan Mengaktifkan Sekretariat TKPsumber daya air 6 Ci (3 Ci. DI Cidurian Optimalnya koordinasi dalam penanggulangan bencana banjir penanggulangan bencana. BBWS. Bappenas. Bappeda. Kabupaten/Kota Mengaktifkan Dewan sumber daya air Provinsi di wilayah 2Ci secara berkelanjutan Membentuk dan Mengaktifkan Dewan sumber daya air Kabupaten/Kota sesuai kebutuhan Mengaktifkan Sekretariat TKPsumber daya air 6 Ci (3 Ci. 2 Ci dan 1 Ci) 5) Belum maksimalnya forum komunikasi DAS di wilayah 2Ci 6) Belum Optimalnya Koordinasi antar Instansi terkait pengelolaan Irigasi DI Ciujung. Dewan SDA Kab. Biro Kepeg. BPSDA. Banten Menteri PU. Sek. Kelompok Masyarakat BPLHD Prov/Kab/Kota.. BBWS. Sek. secara berkelanjutan Menyusun dan menerbitkan dokumen pendelegasian perijinan penggunaan dan pengusahaan air permukaan Melaksanakan sosialisasi dan penyadaran BPLHD Prov/Kab/Kota. dan memantau pengambilan air tanah dalam sesuai ijin yang telah diberikan BLU. membahas dan menyepakati pembagian peran dan wewenang antar institusi terkait bidang sumber daya air dalam bentuk pedoman. Dinas PU DKI. Dinas PSDA prov.. Kelompok Masyarakat Dinas PU/SDA kab/kota. al. Satpol PP. TKPSDA WS 6 Ci. secara berkelanjutan Melaksanakan pengaturan perijinan penggunaan dan pengusahaan air permukaan Meningkatkan kapasitas masing-masing unit kerja Psumber daya air secara berkelanjutan BBWS.Cidurian ke Jakarta) 1) Belum optimalnya kinerja Komisi Irigasi Provinsi. DI Cidurian Melaksanakan kerja sama dan koordinasi dalam penanggulangan banjir P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P Meningkatkan Koordinasi antar Instansi terkait pengelolaan Irigasi DI Ciujung. kumulatif 100% Melaksanakan monitoring dan pengawasan dalam penerapan pedoman menejemen aset pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan Membangun komitmen diantara instansi terkait bidang sumber daya air dalam pengalokasian anggaran pengelolaan sumber daya air melalui TKPsumber daya air WS 6 Ci secara berkelanjutan Menerapkan pungutan jasa pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan Mengoperasikan. Kabupaten/Kota Mengoptimalkan Dewan sumber daya air Provinsi di wilayah 2Ci secara berkelanjutan Mengaktifkan Dewan sumber daya air Kabupaten/Kota sesuai kebutuhan secara berkelanjutan Mengaktifkan Sekretariat TKPsumber daya air 6 Ci (3 Ci. Kelompok Masyarakat Ditjen SDA. 2 Ci dan 1 Ci) Membentuk dan mengaktifkan forum DAS Dinas PU/SDA. Kelompok Masyarakat. BBWS. BPSDA. TKPSDA antar wilayah provinsi WS 6 Ci. secara berkelanjutan Melaksanakan pengaturan perijinan penggunaan dan pengusahaan air permukaan P P P P 5. Dit BLU. dan pemulihan prasarana yang rusak oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah Menetapkan kebijakan tentang transfer air antar wilayah Memantau dan mengawasi pelaksanaan kebijakan tentang transfer air antar wilayah secara berkelanjutan Mengaktifkan Komisi Irigasi Provinsi. menetapkan dan menerapkan pungutan jasa pengelolaan sumber daya air Menetapkan BLU Pengelolaan sumber daya air dan memantau operasionalnya secara berkelanjutan Melaksanakan inventarisasi.1 LEMBAGA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR 1) Belum efektifnya pembagian peran yang jelas antar unit pengelola sumber daya air.Tabel 4. pembahasan dan penetapan BLU Pengelolaan sumber daya air Melaksanakan inventarisasi seluruh sumur pengambilan air tanah dalam. MenKeu. dalam pengelolaan sumber daya air BBWS.

SD.5 1) Lemahnya pembinaan dan pemberdayaan masyarakat dlm pengelelolaan sumber daya air Melaksanakan pembinaan masyarakat. dan sumber daya air. C atau D halaman 169 . Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. Kehutanan. Dinas PU/SDA hemat air melalui demplot kab/kota. kelompok tani. Kelompok Masyarakat P P P P Dinas Pertanian. kawasan hutan.. Kelompok laut menjadi air bersih/tawar untuk industri Masyarakat Melaksanakan sosialisasi tentang pengurangan resiko akibat banjir BBWS. lingkungan dan sumber daya air daya air dan sumber daya air. BBWS.SMU Kebijakan operasional Lembaga/Instansi/Kelompok Masyakat/Swasta Terkait 5. dengan demplot sistem SRI secara berkelanjutan Membina petani melaksanakan sistem SRI (10% area). total menjadi irigasi tersier (50% area. Pertanian. Dinas Sosial. dengan memanfaatkan CSR Melaksanakan sosialisasi tentang pengurangan resiko akibat banjir secara berkelanjutan Melaksanakan pemberdayaan masyarakat dlm pengelolaan sampah (di saluran.SMP. Forum DAS. Kelompok Masyarakat Bapedda. sehingga meningkatkan kesadaran dalam pengelolan sumber daya air TKPSDA. BBWS.2. kelompok masyarakat. Menambahkan berkelanjutan. serta memberikan dan sumber daya air. Dinas TanHutBun kab/kota. Kelompok Masyarakat P P P Terlaksananya pembinaan petani berhemat air irigasi dengan sistem SRI Melaksanakan sosialisasi dan pelaksanaan Dinas TanHutBun kab/kota. termasuk dalam irigasi partisipatif. BBWS. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. BPLHD/BLHD. termasuk kemampuan petani/ P3A dalam pemeliharaan dan peningkatan jaringan pemeliharaan dan peningkatan jaringan pengelolaan jaringan irigasi tersier irigasi tersier (20% area. Asosiasi/masyarakat Recycle Industri. sungai) secara berkelanjutan Mendorong terwujudnya komitmen penyediaan dana CSR untuk konservasi sumber daya air dan lingkungan secara berkelanjutan Melaksanakan pemberdayaan masyarakat tentang sanitasi lingkungan sumber air secara berkelanjutan. BP DAS.Tabel 4. sekitar hutan dan sekitar sumber air. pemuka agama. BPLHD/BLHD. Dinas Perindustrian kab/kota. penyadaran masyarakat dalam pengelolaan sumber masyarakat dalam Pengelolan sumber daya air daya air secara berkelanjutan. Dinas teknologi ultra filtrasi dan desalinisasi air PU/SDA prov. Dinas TanHutBun Kab. arahan dan pemberdayaan bimbingan. untuk konservasi sumber daya air dan lingkungan Terlaksananya peningkatan pengembangan dan penerapan Dana CSR untuk konservasi sumber daya air dan lingkungan Terlaksananya peningkatan pemberdayaan masyarakat tentang kebersihan lingkungan. BPDAS. Menambahkan pendidikan pendidikan Pengelolaan sumber daya air Pengelolaan sumber daya air dalam dalam muatan lokal tingkat muatan lokal tingkat PAUD.PU/SDA kab/kota. Kelompok Masyarakat * Mengembangkan dan menerapkan Dinas Perindustrian prov. Kadinda Dinas CK. dinas hemat air industri melalui Reduce-Reuse. kelestarian kawasan hutan. serta memberikan bimbingan. sungai) * Mendorong kelompok industri mengolah air kotor dan air laut menjadi air bersih/tawar secara berkelanjutan Melaksanakan sosialisasi tentang pengurangan resiko akibat banjir secara berkelanjutan Melaksanakan pemberdayaan masyarakat dlm pengelolaan sampah (di saluran. termasuk pemeliharaan dan peningkatan jaringan irigasi tersier (30% area) Memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat DAS hulu.SMU PAUD. dengan demplot sistem SRI secara berkelanjutan Membina petani melaksanakan sistem SRI (5% area). dengan demplot sistem SRI secara berkelanjutan Membina petani melaksanakan sistem SRI (5% area) Melaksanakan sosialisasi hemat air untuk kebutuhan perkotaan dan rumah tangga secara berkelanjutan Melaksanakan sosialisasi hemat air industri melalui 3R P P P P P P P P P Melaksanakan pemberdayaan petani/ Melaksanakan pemberdayaan petani/ P3A Meningkatkan pembinaan kesadaran dan P3A dalam irigasi partisipatif. Dinas dlm pengelolaan sampah (di saluran. dengan memanfaatkan CSR * Mendorong kelompok industri mengolah * Mendorong kelompok industri mengolah air kotor dan air laut menjadi air air kotor dan air laut menjadi air bersih/tawar secara berkelanjutan bersih/tawar secara berkelanjutan Melaksanakan sosialisasi tentang pengurangan resiko akibat banjir secara berkelanjutan Melaksanakan pemberdayaan masyarakat dlm pengelolaan sampah (di saluran. kesejahteraan masyarakat DAS hulu. dengan memanfaatkan CSR P P P P P P Melaksanakan pemberdayaan masyarakat Dinas Kebersihan Prov. sehingga aktif berperan ikut menjaga kelestarian hutan dan sumber air secara berkelanjutan Terwujudnya insentif kepada kelompok Memberikan bantuan pemberdayaan dan masyarakat telah mulai menyelenggarakan percontohan dengan diutamakan kepada kegiatan secara swadaya kelompok masyarakat yang telah merintis kegiatan pengelolaab sumber daya air secara swadaya 2) Lunturnya budaya/tradisi * Terlindungnya/terjaganya budaya/tradisi * Menginvenatrisasi kelompok masyarakat masyarakat setempat dalam masyarakat dalam menjaga kelestarian yang mempunyai budaya dalam menjaga menjaga kelestarian kawasan hutan. B. swasta P P P P P P 6) Masih terbatasnya penggunaan dana Corporate Social Responsibility (CSR). sekitar hutan dan sekitar sumber air. Dinas PU/SDA kab/kota. PU/SDA Kab/Kota. 3 dan 4 5 No. total menjadi 50%) 100%) Memberdayakan dan meningkatkan Memberdayakan dan meningkatkan Meningkatkan kondisi sosial-ekonomi kesejahteraan masyarakat DAS hulu. BBWS. sungai) secara berkelanjutan Mendorong terwujudnya komitmen penyediaan dana CSR untuk konservasi sumber daya air dan lingkungan secara berkelanjutan Melaksanakan pemberdayaan masyarakat tentang sanitasi lingkungan sumber air secara berkelanjutan. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. sekitar hutan dan sekitar hutan dan sekitar sumber air. lingkungan. Kelompok Masyarakat P P P P Melaksanakan pemberdayaan petani/ P3A dalam irigasi partisipatif. 2. BBWS. Payment Enviroment Service (PES).SMP. lingkungan.. arahan dan pemberdayaan untuk menjaga kelestariannya secara berkelanjutan 3) Belum maksimalnya pembinaan masyarakat dalam melaksanakan hemat air Meningkatnya kesadaran petani dalam pelaksanaan hemat air irigasi Mensosialisasikan dan melaksanakan penyuluhan serta penyadaran publik tentang hemat air irigasi (50% area) Melaksanakan sosialisasi hemat air irigasi. termasuk MCK Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. BPLHD Kab/Kota. kelestarian kawasan hutan. Kelompok Masyarakat. arahan dan pemberdayaan bimbingan. PDAM. serta memberikan bimbingan. sekitar sumber air. Menambahkan pendidikan Pengelolaan sumber daya air dalam muatan lokal tingkat PAUD. lingkungan.SD. BBWS. Dinas Pu/SDA. kelompok tani. Dinas PerKim Prov/Kab/Kota. lingkungan dan sumber kelestarian kawasan hutan. serta memberikan dan sumber daya air. DUNIA USAHA DAN PEMERINTAH 1 2 3 4 Aspek/Sub Aspek A B C D PEMBERDAYAAN P P P P DAN PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT DAN SWASTA Permasalahan Berdasarkan Analisis i Jangka Pendek (2011-2015) Meningkatnya kesadaran dan kemampuan * Melaksanakan sosialisasi. Prov. arahan dan pemberdayaan untuk menjaga kelestariannya secara untuk menjaga kelestariannya secara untuk menjaga kelestariannya secara berkelanjutan berkelanjutan berkelanjutan Mensosialisasikan dan melaksanakan penyuluhan serta penyadaran publik tentang hemat air irigasi (75% area) Melaksanakan sosialisasi hemat air irigasi. PU/SDA Prov. BPSDA. Kelompok sungai) Masyarakat Meningkatkan peran swasta dalam konservasi sumber daya air dan lingkungan melalui dana CSR Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kebersihan lingkungan dan penggunaan MCK Swasta./Kota.SMU Sasaran/Target yang diinginkan STRATEGI ii + i iii + ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Jangka Panjang (2011-2030) * Melaksanakan penyadaran masyarakat * Melaksanakan penyadaran masyarakat dalam Pengelolan sumber daya air dalam Pengelolan sumber daya air secara secara berkelanjutan./Kab/ Kota. P3A/GP3A/IP3A.SMP. tokoh masyarakat . petani./Kab/Kota. P3A/GP3A/IP3A. BPSDA. kelompok masyarakat perkotaan Melaksanakan sosialisasi dan menerapkan Kadinda. Dinas PU/SDA.. Kelompok Masyarakat. masyarakat DAS hulu. sungai) secara berkelanjutan Mendorong terwujudnya komitmen penyediaan dana CSR untuk konservasi sumber daya air dan lingkungan secara berkelanjutan Melaksanakan pemberdayaan masyarakat tentang sanitasi lingkungan sumber air secara berkelanjutan. Kelompok Masyarakat P P P P P P P P P Meningkatnya kesadaran masyarakat dalam hemat air untuk kebutuhan perkotaan Terlaksananya penerapan hemat air industri melalui Reduce-Reuse-Recycle Melaksanakan sosialisasi hemat air untuk kebutuhan perkotaan dan rumah tangga Dinas PU/SDA kab/kota. kumulatif (10%) Melaksanakan sosialisasi hemat air untuk kebutuhan perkotaan dan rumah tangga secara berkelanjutan Menerapkan hemat air industri melalui 3R secara berkelanjutan Mensosialisasikan dan melaksanakan penyuluhan serta penyadaran publik tentang hemat air irigasi (100% area) Melaksanakan sosialisasi hemat air irigasi.. PEMBERDAYAAN & PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT. lingkungan. BBWS. Kelompok Masyarakat. Kelompok Masyarakat P P Terlaksananya pengembangan dan Penerapan Teknologi ultra filtrasi dan desalinisasi air laut untuk industri 4) Kurangnya pemahaman masyarakat tentang manajemen banjir 5) Kurangnya peran masyarakat dlm pengelolaan sampah Meningkatnya kesiapan masyarakat menghadapi banjir Meningkatnya kesadaran masyarakat dlm pengelolaan sampah (di saluran. kumulatif (20%) Melaksanakan sosialisasi hemat air untuk kebutuhan perkotaan dan rumah tangga secara berkelanjutan Menerapkan hemat air industri melalui 3R secara berkelanjutan Meningkatkan pmbinaan petani utk hemat air irigasi. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (2 Ci) pada Skenario 1. Swasta Dinas Sosial. IP3A/GP3A/P3A.SD. melalui pembinaan dan sehingga aktif berperan ikut menjaga sehingga aktif berperan ikut menjaga pendampingan kelestarian hutan dan sumber air secara kelestarian hutan dan sumber air secara berkelanjutan berkelanjutan Memberikan bantuan pemberdayaan dan Memberikan bantuan pemberdayaan dan percontohan dengan diutamakan kepada percontohan dengan diutamakan kepada kelompok masyarakat yang telah kelompok masyarakat yang telah merintis merintis kegiatan pengelolaab sumber kegiatan pengelolaab sumber daya air daya air secara swadaya secara swadaya * Menginvenatrisasi kelompok masyarakat * Menginvenatrisasi kelompok masyarakat * Menginvenatrisasi kelompok masyarakat yang mempunyai budaya dalam menjaga yang mempunyai budaya dalam menjaga yang mempunyai budaya dalam menjaga kelestarian kawasan hutan. BPSDA.

B. dalam kegiatan konservasi. Kelompok Masyarakat penyebarluasan informasi dan keterlibatan daya air secara berkelanjutan pengelolaan sumber daya air secara daya air secara berkelanjutan dalam organisasi kemasyarakatan. Dinas Kehutanan Prov. Dinas Pertanian pendayagunaan dan daya rusak air.menyusun dokumen kerjasama dan melaksanakan uji coba (2013-2015) iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) Melaksanakan kerjasama Jasa lingkungan Kebijakan operasional Lembaga/Instansi/Kelompok Masyakat/Swasta Terkait 7) Belum berkembangnya kerja sama pengelolaan jasa lingkungan Terlaksananya kerjasama pengelolaan jasa lingkungan Melaksanakan dan mengembangkan kerjasama (pengelolaan jasa lingkungan) BBWS. Melaksanakan pembinaan. bimbingan dan Dinas Sosial Prop/Kab/Kota. Melaksanakan peduli sampah. Kab/Kota terkait. Satpol PP. Kelompok Masyarakat. Sektor Swasta. bimbingan dan peningkatan peran serta pembinaan.BPLHD Prov/kab/kota.menyusun dokumen kerjasama dan melaksanakan uji coba (2013-2015) STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Melaksanakan kajian (20112012). BPDAS. BBKSDA. perempuan dalam pengelolaan sumber peran serta perempuan dalam perempuan dalam pengelolaan sumber berkelanjutan Prop/Kab/Kota. Badan pengelolaan Sumber Daya Air termasuk peduli sampah. * Melaksanakan pembinaan. PPNS. BUMN-HL. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (2 Ci) pada Skenario 1. peduli sampah. * Membentuk kelompok gerakan peduli air * Membentuk kelompok gerakan peduli air . PU/SDA. berkelanjutan Terlaksananya konservasi DAS dengan prinsip hubungan hulu-hilir Menyiapkan MOU and melaksanakan uji coba kesepakatan kerjasama hulu-hilir pada DAS Ciliwung Melaksanakan dan memantau kesepakatan kerjasama hulu-hilir DAS Ciliwung Melaksanakan dan memantau kesepakatan kerjasama hulu-hilir DAS Ciliwung dan mengembangkan ke DAS lain Melaksanakan dan memantau kesepakatan kerjasama hulu-hilir DAS Ciliwung dan DAS lainnya (dalam bentuk bantuan dana dan lain-lain) Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. 3 dan 4 5 No.Tabel 4. . peningkatan peran serta perempuan dalam Pemberdayaan Masyarakat Prov/Kab/Kota. BBWS. Kelompok Masyarakat P P P 8) Belum optimalnya kerjasama hulu_hilir dalam pelaksanaan Konservasi DAS 9) Belum optimalnya peran serta perempuan dalam pengelolaan Sumber Daya Air Dinas TanHutBun. Polri. bimbingan dan peningkatan bimbingan dan peningkatan peran serta pengelolaan sumber daya air secara Bappeda Prop/Kab/Kota. PEMBERDAYAAN & PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT. Melaksanakan pembinaan. C atau D halaman 170 . Kelompok Masyarakat * Optmalnya peran serta perempuan dalam * Membentuk kelompok gerakan peduli air .2. Perum Perhutani. PT. DUNIA USAHA DAN PEMERINTAH 1 2 3 4 Aspek/Sub Aspek A B C D P P Permasalahan Berdasarkan Analisis Sasaran/Target yang diinginkan i Jangka Pendek (2011-2015) Melaksanakan kajian (20112012). 2.

Bappeda berkelanjutan dalam RTRW untuk Prov/Kab/Kota. BBWS. BBWS. Dinas PU/PSDA Prov. 2.Tabel 4. Bappeda Prov/Kab/Kota.Tentang Penataan Ruang JABODETABEKPUNJUR Menetapkan zonasi sumber air termasuk kawasan resapan. mengawasi dan melakukan penindakan terhadap pelanggaran peraturan Per-UU-an tentang penataan ruang Menetapkan zonasi sumber air termasuk kawasan resapan. kab/kota. Bappeda dan melakukan penindakan terhadap Prov/Kab/Kota. Bappeda Prov/Kab/Kota. Bappeda Prov/Kab/Kota. BBWS. Bappeda Prov/Kab/Kota. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (2 Ci) pada Skenario 1. BBWS. Dinas Tata Ruang. Jawa Barat UU No. Kelompok Masyarakat Dinas Tarung Prov/ Kab/Kota. BBWS. B. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup 2) Terjadinya alih fungsi lahan pertanian tanaman pangan (sawah) Terlaksananya UU 41/2009 ttg Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan PP 1 tahun 2011 Menetapkan kawasan pertanian pangan berkelanjutan dalam RTRW untuk mendapatkan perlindungan khusus sesuai peraturan berkelanjutan (2011-2013) Mensosialisasikan kawasan pertanian pangan berkelanjutan (2011-2013) Memonitor dan mengawasi pelaksanaan secara berkelanjutan Memonitor dan mengawasi pelaksanaan secara berkelanjutan P P P P P P Menetapkan kawasan pertanian pangan Dinas Pertanian Prov/Kab/Kota. BBWS. Kelompok Masyarakat P P P PERPRES 54/08.. Kelompok Masyarakat Dinas Pertanian Prov/Kab/Kota. BBWS. tangkapan air. Dinas PU/SDA prov.2. Polda/Polres./Kab/Kota. 22/2010 tentang RTRW Prov. Bappeda prov . tangkapan air. Kelompok Masyarakat Dinas Tarung Prov/ Kab/Kota. 3 dan 4 PENATAAN RUANG 1 2 3 4 No. sumber air kedalam RTRW Prov/Kab/Kota Dinas Tarung Prov/ Kab/Kota. BBWS. Kelompok Masyarakat pelanggaran alih fungsi lahan pertanian tanaman pangan Dinas Pertanian Prov/Kab/Kota./Kab/Kota. Kelompok Masyarakat P P P Perda Jabar No. memonitor. Bappeda Prov/Kab/Kota. Aspek/Sub Aspek A B C D P P P Permasalahan Berdasarkan Analisis Sasaran/Target yang diinginkan i Jangka Pendek (2011-2015) Melaksanakan sosialisasi peraturan per undang-undangan terkait dengan penataan ruang (2011-2013) STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) ___ iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) ___ Kebijakan operasional Lembaga/Instansi/Kelompok Masyakat/Swasta Terkait 1) Adanya pelanggaran pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana peruntukan Terlaksananya : UU 26/2007 tentang Penataan Ruang dan PP 26 Thn 2008. Kelompok Masyarakat P P Menerapkan sanksi terhadap pelanggaran pelaksanaan alih fungsi lahan secara berkelanjutan Menerapkan sanksi terhadap pelanggaran pelaksanaan alih fungsi lahan secara berkelanjutan P P P P Memonitor dan mengawasi pelaksanaan secara berkelanjutan (2014-2015) melalui ijin lokasi dan IMB Menerapkan sanksi terhadap pelanggaran pelaksanaan alih fungsi lahan secara berkelanjutan (2014-2015) Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. sumber air kedalam RTRW Prov/Kab/Kota Memonitor dan mengawasi pelaksanaan RTRW Menerapkan sanksi pelanggaran Dinas Tata Ruang dan Tata Kota prov. C atau D halaman 171 . memantau. BBWS. Dinas PU/PSDA Prov. Bappeda Prov/Kab/Kota. mengawasi Dinas Pertanian Prov/Kab/Kota. Kelompok Masyarakat Dinas Tarung Prov/ Kab/Kota. Kelompok Masyarakat mendapatkan perlindungan khusus sesuai peraturan Mensosialisasikan. tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional P P P Melaksanakan pemantauan dan pengawasan pelaksanaan per undangundangan terkait dengan penataan ruang secara berkelanjutan (2014-2015) Melaksanakan penindakan terhadap pelanggar penataan ruang secara berkelanjutan (2014-2015) Melaksanakan pemantauan dan pengawasan pelaksanaan per undangundangan terkait dengan penataan ruang secara berkelanjutan Melaksanakan penindakan terhadap pelanggar penataan ruang secara berkelanjutan Melaksanakan pemantauan dan pengawasan pelaksanaan per undangundangan terkait dengan penataan ruang secara berkelanjutan Melaksanakan penindakan terhadap pelanggar penataan ruang secara berkelanjutan Mensosialisasikan.

/Kota Terkait.4 1 No. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota.437 ha) dan kritis (115. PT. kumulatif menjadi 100%. DPRD. 48/PerMenTan/OT. BPDAS. 48/Per * Menerapkan PerMenTan No. Kelompok Masyarakat P P P 6) Budi daya pertanian yang tidak sesuai dengan kaidah konservasi yang menyebabkan banyaknya lahan kritis * Terlaksananya PerMenTan No. memantau dan mengevaluasi pelaksanaannya. mengawasi dan menindak bagi * Menyusun Perda. BBWS. melaksanakan gerakan budidaya sayuran/buah berbasis GAP melalui pendekatan sekolah lapang. Dinas Kimrum. BPDAS. memantau dan mengevaluasi pengembang yang menambah dan pelaksanaan sistem pemberian pelaksanaan sistem pemberian disinsentif bagi pengembang yang Insentif/disinseftif secara berkelanjutan Insentif/disinseftif secara berkelanjutan mengurangi RTH. kumulatif menjadi 100%. disertai pemberdayaan tumpang sari secara berkelanjutan (target berkelanjutan (target 25% area. kumulatif 100%) melalui penanaman sistim tumpang sari 15% area) 40%) secara berkelanjutan Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan (TanHutBun) serta kelompok masyarakat P 7) Masih terbatasnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) * Tercapainya standar luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) sesuai dengan peraturan * Menyusun sistem pemberian insentif bagi * Menerapkan. Kab/Kota terkait. mensosialisasikan. Satpol pelanggar Perda tentang perlindungan dan menegakkan dan menindak bagi PP.Tabel 4. 47/PerMenTan/OT.255 ha) * Terlaksananya konservasi lahan potensial kritis pada DAS di wilayah Citarum * Mensosialisasikan upaya konservasi dan perlindungan lahan potensial kritis pada DAS di wilayah Citarum dan melaksanakan RTkRHL 25% area * Melaksakan kegiatan RTkRHL pada lahan * Melaksakan kegiatan RTkRHL pada lahan * Menyadarkan masyarakat untuk potensial kritis 40% area. BPLHD. 48/PerMenTan/OT. dan menerapkan PerMenTan No.140/10/2006.2. * Menyelenggarakan budidaya pertanian yang sesuai dengan kaidah konservasi berpedoman kepada PerMenTan No. Kelompok Masyarakat fungsi situ pelanggar Perda tentang perlindungan dan fungsi situ * Melindungi muara dan pantai dengan struktur Dinas PU/SDA Kab/Kota dan Prov. kumulatif (50 %) wilayah Citarum (50%). B. * Menerapkan PerMenTan No. membangun laborotarium geologi (geo park) di lokasilokasi sungai Citarum BBWS. Bappeda. serta memantau dan mempertahankan kondisi hutan yang sudah di rehabilitasi Kebijakan operasional * Melaksanakan RTkRHL di kawasan prioritas pada hulu DAS dan hulu waduk/ rencana waduk Lembaga/Instansi Terkait Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan (TanHutBun) di luar Kawasan Hutan. kumulatif * Melaksanakan (2021-2030 = 65%. PT. BBWS. Kelompok yang mengikuti kaidah konservasi Masyarakat P P P * Menerapkan. C atau D halaman 172 . Kebijakan Operasional Pengelolaan Sumber Daya Air WS 6 Ci (1 Ci) pada Skenario 1. Kelompok Masyarakat P P P 10) Terjadinya abrasi/ erosi muara dan pantai * Terlindunginya kawasan muara dan pantai * Menyusun perencanaan bangunan pengamanan muara dan erosi pantai.140/10/2009 tahap II (40% area). PU/SDA. PT. dan melaksanakan RTkRHL 20% area * Melaksakan kegiatan RTkRHL pada lahan agak kritis 50% area. Perum Perhutani (Hutan Lindung dan Produksi). BBWS. dan melaksanakan pembangunan pengamanan muara dan erosi pantai (100%) * Melaksanakan pembangunan pengamanan * Melaksanakan pembangunan pengamanan muara dan erosi pantai (30%). BPDAS. Dinas PU Pov. Kelompok Masyarakat. terhadap pelaksanaan Gerhan dan GNKPA. Polri. Dinas PU Prov. Kelompok Masyarakat P P P 2) Terancamnya lahan agak kritis pada kawasan hutan dan non hutan pada DAS di wilayah Citarum (273.140/10/2006 tentang Pedoman Umum Budi daya Pertanian pada lahan Pegunungan * Melaksanakan sosialisasi PerMenTan No. terhadap pelaksanaan Gerhan dan GNKPA. non hutan yang berlereng dengan dan bimbingan kepada masyarakat tani di masyarakat tani di kawasan non hutan yang tani di kawasan non hutan yang berlereng pendampingan dan bimbingan kepada tanaman jangka panjang bernilai kawasan non hutan yang berlereng untuk berlereng untuk menanam tananam jangka untuk menanam tananam jangka panjang. hutan pada DAS hulu dan tengah wilayah DAS hulu dan tengah wilayah Citarum serta melaksanakan Gerhan dan GNKPA di serta melaksanakan Gerhan dan GNKPA serta melaksanakan Gerhan dan GNKPA di Citarum wilayah Citarum (25%) di wilayah Citarum (25%). kumulatif menjadi potensial kritis 35% area. Kelompok Masyarakat P P P 5) Belum optimalnya perlindungan alur dan * Terwujudnya perlindungan yang * Merencanakan (2011-2013 = 100%) dan tebing sungai di sungai-sungai utama pada optimal pada alur dan tebing sungai di melaksanakan (2014-2015 = 10%) wilayah Citarum sungai-sungai utama pada wilayah perlindungan alur dan tebing sungai di Citarum sungai-sungai utama pada wilayah Citarum * Melakukan inventarisasi untuk cagar alam dan budaya melalui pembuatan perlindungan alam . melaksakan kegiatan RTkRHL pada lahan sangat kritis 40% dan lahan kritis 15% area (2014-2015) STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) * Melaksakan kegiatan RTkRHL pada lahan sangat kritis 60% area. BPDAS. iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) * Melaksakan kegiatan RTkRHL pada lahan kritis 50% area. kumulatif (100% area). Perum Perhutani. 1. memantau dan mengevaluasi pelaksanaannya (2014-2015) * Menambah luas RTH sehingga tercapai standar sesuai peraturan (30% luas) Dinas PU Prov.140/10/2009 Dinas TanHutBun.3. BBWS. kumulatif menjadi 50%. masyarakat tani di kawasan non hutan ekonomi tinggi (contoh tanaman kopi) menanam tananam jangka panjang. Bakt Dinas TanHutBun. PT. BB Konservasi SD Alam (Hutan Konservasi). Developer dan Kelompok Masyarakat P P P 8) Masih adanya Kawasan pemukiman baru yang belum memenuhi daya dukung lingkungan 9) Masih adanya alih fungsi Situ menjadi pemukiman atau tempat usaha * Terwujudnya kawasan pemukiman baru yang memenuhi daya dukung lingkungan * Terlindunginya situ secara berkelanjutan * Menyusun Perda tentang pembangunan kawasan pemukiman baru yang mengikuti kaidah konservasi * Menyusun Perda tentang perlindungan dan fungsi situ serta mensosialisasikannya * Menerapkan dan memantau pembangunan * Menerapkan dan memantau pembangunan kawasan pemukiman baru yang mengikuti kawasan pemukiman baru yang mengikuti kaidah konservasi kaidah konservasi * Menerapkan Perda tentang perlindungan dan fungsi situ * Menyusun dan menerapkan Perda tentang Dinas Kimrum. DPRD.880 ha) * Terlaksananya konservasi lahan agak kritis pada DAS di wilayah Citarum * Mensosialisasikan upaya konservasi dan perlindungan lahan agak kritis pada DAS di wilayah Citarum. Dinas Kehutanan Prov. PU/SDA. BUMN-HL. kumulatif (target 60% area. serta memantau dan mempertahankan potensial kritis kondisi hutan yang sudah di rehabilitasi P P P P 4) Belum optimalnya pelaksanaan Gerhan * Terlaksananya Gerhan dan GNKPA di * Melakukan evaluasi dan sinkronisasi * Melakukan evaluasi ulang dan sinkronisasi * Melakukan evaluasi ulang dan sinkronisasi dan GNKPA di dalam dan di luar kawasan dalam dan di luar kawasan hutan pada terhadap pelaksanaan Gerhan dan GNKPA. Bappeda. Kab/Kota terkait. Kelompok Masyarakat. PU/SDA. Kelompok Masyarakat Dinas ESDM. BBWS. disertai panjang. PU/SDA . Dinas Pertanian Prov. kumulatif (50% area).. PU/SDA. dituangkan dalam Perda (2011-2013). BBKSDA. kumulatif muara dan erosi pantai (60%). BPLHD/BLHD. BB Konservasi SD Alam (Hutan Konservasi).3. kumulatif menjadi melindungi dan memperbaiki lahan 65% 100%.988 ha) pada DAS di wilayah Citarum Sasaran/Target yang diinginkan * Terlaksananya konservasi lahan sangat Kritis dan kritis pada DAS di wilayah Citarum i Jangka Pendek (2011-2015) * Mensosialisasikan kepada masyarakat tentang Rencana Teknis Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RTkRHL) = 2011-2013. Developer. Kab/Kota terkait. 47/PerMenTan/OT. serta memantau dan mempertahankan kondisi hutan yang sudah di rehabilitasi P P 3) Terancamnya lahan potensial kritis pada kawasan hutan dan non hutan pada DAS di wilayah Citarum (468. Kelompok Masyarakat P P * Terlaksananaya penanaman kawasan * Melaksanakan percontohan. BBWS. kumulatif (100%) * Melaksanakan sinkronisasi Gerhan dan GNKPA di wilayah Citarum Dinas Kimrum/Tata Kota. Bappeda. Perum Perhutani (Hutan Lindung dan Produksi). BPN. BUMN-HL.. Dinas/Badan Terkait di Tk. Kehutanan Kab. BBWS. melaksanakan pelatihan bagi Good Agriculture Practice (GAP). kumulatif = * Melaksanakan perlindungan alur dan = 35%) perlindungan alur dan tebing sungai 100%) perlindungan alur dan tebing sungai di tebing sungai yang optimal di sungai-sungai utama pada wilayah sungai-sungai utama pada wilayah Citarum Citarum * Membangun laborotarium geologi (geo park) di lokasi-lokasi sungai Citarum dan melakukan operasi dan pemeliharaan laboratorium yang terbangun secara berkelanjutan * Membangun laborotarium geologi (geo park) di lokasi-lokasi sungai Citarum dan melakukan operasi dan pemeliharaan laboratorium yang terbangun secara berkelanjutan * Melaksanakan inventarisasi untuk cagar alam dan budaya melalui pembuatan perlindungan alam . disertai pemberdayaan melalui disertai pemberdayaan melalui penanaman yang berlereng untuk menanam tananam pemberdayaan melalui penanaman sistim penanaman sistim tumpang sari secara sistim tumpang sari secara berkelanjutan jangka panjang. kumulatif 40% (100%) Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. pembangunan kawasan pemukiman baru DPRD. Developer. pendampingan * Melaksanakan bimbingan kepada * Melaksanakan bimbingan kepada masyarakat * Melaksanakan percontohan.140/10/2009 tahap III (50% area). Dinas Kehutanan Prov.. memantau dan mengevaluasi pelaksanaannya. Dinas Kehutanan Prov.1 KONSERVASI 1 Aspek/Sub Aspek PERLINDUNGAN DAN PELESTARIAN SUMBER DAYA AIR A B C D P P P P 2 3 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis 1) Berkurangnya fungsi konservasi kawasan hutan dan non hutan pada lahan sangat kritis (26. kumulatif menjadi 70% * Melaksakan kegiatan RTkRHL pada lahan * Melaksanakan RTkRHL di kawasan lahan agak kritis 30% area. dan lahan kritis 35% area. 48/PerMenTan/OT. Menerapkan. kumulatif menjadi agak kritis pada DAS di wilayah Citarum 100%. BBWS dan Dinas PU/PSDA. membangun laborotarium geologi (geo park) di lokasilokasi sungai Citarum * Melaksanakan (2016-2020 = 25%. Prov. memantau dan mengevaluasi * Menerapkan. Kab/Kota terkait. BPN. Bakt Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan (TanHutBun) di luar Kawasan Hutan..

penertiban dan melalui kegiatan sosialisasi. Kelompok Masyarakat Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. BBWS. menerapkan dan melaksanakan penegakan hukum terhadap pelanggaran penegakan hukum terhadap pelanggaran penambangan pasir dan krikil secara penambangan pasir dan krikil secara berkelanjutan berkelanjutan Kebijakan operasional Lembaga/Instansi Terkait A B C D P P P P 11) terjadinya kerusakan dasar dan alur sungai * Terlindungnya dasar dan alur sungai karena penambangan pasir dan kerikil terhadap kerusakan akibat penambangan pasir dan krikil * Memberikan arahan lokasi yang sesuai Dinas ESDM/Pertambangan.3. PTPN dan Masyarakat * Terciptanya batas pemilikan lahan * Menginventarisir pemilikan lahan Perum yang jelas di hulu antara milik PERUM Perhutani. Kelompok mengkaji ulang terhadap ijin yang sudah Masyarakat dikeluarkan serta pengaturan ijin dengan memperhatikan kelestarian lingkungan secara berkelanjutan disertai pemantauan dan penegakan hukum. PERHUTANI. memberikan arahan lokasi yang sesuai. B. 2. 3 dan 4 1 No./Kab/kota. PTPN dan masyarakat. C atau D halaman 173 ./Kab/Kota. BPLHD. PTPN dan masyarakat serta pengawasan terhadap penggunaan lahan sesuai dengan batas yang telah ditetapkan secara berkelanjutan * Mengembalikan fungsi lahan bekas sudetan sungai Citarum dan anak-anak sungainya sebagai bagian dari daerah milik sungai Dinas Kehutanan. Dinas PU/PSDA Prop.Tabel 4. KONSERVASI 1 Aspek/Sub Aspek 2 3 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis Sasaran/Target yang diinginkan i Jangka Pendek (2011-2015) * Meninventarisasi lokasi penambangan. P P P 12) Kurang jelasnya batas pemilikan lahan di hulu antara milik PERUM PERHUTANI. Badan Pertanahan Nasional. Perum Perhutani. PTPN dan Masyarakat melakukan pemetaan detail dan pemasangan tanda batas yang jelas antara lahan milik Perum Perhutani. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (1 Ci) pada Skenario 1. PTPN dan masyarakat * Terlindunginya lahan bekas sudetan sungai Citarum dan anak-anak sungainya * Pengawasan terhadap penggunaan lahan sesuai dengan batas yang telah ditetapkan secara berkelanjutan * Pengawasan terhadap penggunaan lahan sesuai dengan batas yang telah ditetapkan secara berkelanjutan P P P P 13) Kurang terkendalinya penggunaan lahan bekas sudetan sungai * Mengembalikan fungsi lahan bekas sudetan * Mengembalikan fungsi lahan bekas sudetan * Mengembalikan fungsi lahan bekas sudetan sungai Citarum dan anak-anak sungainya sungai Citarum dan anak-anak sungainya sungai Citarum dan anak-anak sungainya sebagai bagian dari daerah milik sungai sebagai bagian dari daerah milik sungai sebagai bagian dari daerah milik sungai melalui kegiatan sosialisasi. mengkaji ulang terhadap ijin yang sudah dikeluarkan serta pengaturan ijin dengan memperhatikan kelestarian lingkungan secara berkelanjutan disertai penegakan hukum. menerapkan dan melaksanakan * Memantau. Kelompok Masyarakat BBWS. penertiban dan pemantauan secara berkelanjutan pemantauan secara berkelanjutan pemantauan secara berkelanjutan * Melakukan pemetaan detail dan pemasangan tanda batas yang jelas antara lahan milik Perum Perhutani. Dinas untuk penambangan pasir dan krikil. PU/PSDA Prov. penertiban dan melalui kegiatan sosialisasi. PTPN. STRATEGI ii + i iii + ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Jangka Panjang (2011-2030) * Memantau.

BPLHD/BLHD. Prov. mengawasi dan menindak terhadap pencurian air serta menerapkan hemat air * Melaksanakan effisiensi pemakaian air di setiap DI dan melaksanakan metode SRI secara berkelanjutan * Melaksanakan effisiensi pemakaian air rumah tangga dan industri secara berkelanjutan * Mengganti pipa-pipa distribusi air minum yang lama. penurunan tanah dan/atau instrusi air laut 3) Masih rendahnya effisiensi pemakaian air oleh berbagai kepentingan * Tercapainya effisiensi pemakaian air irigasi * Tercapainya efisiensi pemakaian air rumah tangga dan industri * Berkurangnya kebocoran distribusi air minum * Melaksanakan pengendalian dan * Melaksanakan pengendalian dan pemantauan pengambilan air tanah baik yang pemantauan pengambilan air tanah mempunyai ijin maupun yang tidak (menyediakan kebutuhan air permukaan mempunyai ijin. Dinas TanHutBun Kab. PDAM. disertai penyediaan secara berkelanjutan) kebutuhan air permukaan secara berkelanjutan BPLHD. kumulatif (50%) (50%). Subang dan Bekasi Karawang sehingga terjadi penurunan muka air tanah. mengawasi dan keperluan rumah tangga dan industri menindak terhadap pencurian air serta menerapkan hemat air * Melindungi dan meningkatkan luas daerah resapan di bagian hulu dan tengah wilayah Citarum secara berkelanjutan melalui pengendalian IMB * Mengurangi laju perambahan daerah retensi dan bantaran sungai kumulatif menjadi 0% * Melindungi dan meningkatkan daerah resapan Dinas TanHutBun. kumulatif 50% area = 50 % area. PDAM. Dinas PU/PSDA Prov. BBWS. BBWS. sumber air di sekitar mata air mematok sempadan sumber air di sekitar kumulatif (100%) mata air (jumlah 50%) * Melaksanakan inventarisasi kerusakan * Melaksanakan rehabilitasi dan OP mata air * Melaksanakan rehabilitasi dan OP mata air mata air. kumulatif menjadi 100% lahannya. BBWS. Dinas PSDA kab/kota. PU/SDA . Dinas/Badan Terkait di Tk..Tabel 4./Kota Terkait. BPN. situ dan kolam retensi sesuai kebutuhan * Melaksanakan pengendalian dan pemantauan pengambilan air tanah baik yang mempunyai ijin maupun yang tidak mempunyai ijin. Menetapkan dan sumber air di sekitar mata air (jumlah 50%). Kehutanan Kab. kumulatif (100%) Merehabilitasi dan OP mata air (25%) * Melindungi keberadaan lingkungan sumber air dengan memasang patok batas sempadan yang jelas * Melakukan perbaikan dan pemeliharaan mata air secara berkelanjutan BBWS. Dinas/Badan Terkait di Tk.2 KONSERVASI 1 Aspek/Sub Aspek PENGAWETAN AIR A B C D P P 2 3 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis Sasaran/Target yang diinginkan i Jangka Pendek (2011-2015) * Membangun waduk. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. (25%). B. Kelompok Masyarakat Dinas Perindustrian. Dinas/Badan Terkait di Tk. kumulatif 100% area biopori oleh masyarakat (2011-2015) = 20% area * Mensosialisasikan peraturan tentang * Menetapkan dan mematok sempadan * Mengawasi dan memelihara sempadan sempadan sumber air. Kelompok Masyarakat Dinas Kimrum/Tata Kota. PU/SDA . Kelompok Masyarakat PDAM. dan pembangunan daerah retensi di wilayah melaksanakan konsolidasi kepemilikan Citarum (70% area). mensosialisasikan. Kelompok Masyarakat P P P 5) Meluasnya perambahan daerah retensi dan bantaran sungai untuk hunian dan usaha selain pertanian * Terlindunginya daerah retensi dan * Mengurangi laju perambahan daerah retensi * Mengurangi laju perambahan daerah bantaran sungai terhadap perambahan dan bantaran sungai (menjadi 70% nya) retensi dan bantaran sungai kumulatif oleh masyarakat menjadi 40% * Mengendalikan perambahan daerah retensi dan bantaran sungai P P P P 6) Kurang teridentifikasinya potensi daerah retensi * Teridentifikasinya potensi daerah retensi di wilayah Citarum * Mengidentifikasi potensi daerah retensi di wilayah Citarum (2011-2013) dan membuat perencanaan daerah retensi (2014-2015) * Melaksanakan konsolidasi kepemilikan lahan daerah retensi dan pembangunan daerah retensi di wilayah Citarum (30% area) * Melaksanakan konsolidasi kepemilikan lahan * Mengidentifikasi potensi. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota dan kelompok masyarakat Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. Dinas PU/PSDA Prov. 2. disertai penyediaan kebutuhan air permukaan secara berkelanjutan iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) * Membangun waduk. Batujajar./Kota Terkait. situ dan kolam tampungan air (masih banyak air terbuang retensi pada musim hujan) 2) Terjadinya pengambilan air tanah dalam * Terlaksananya pengendalian yang melampaui batas dan pemantauan pengambilan air tanah yang lemah.. merencanakan. kab/kota. Dinas PU/PSDA Prov.. disertai penyediaan kebutuhan air permukaan secara berkelanjutan STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) * Membangun waduk. BBWS./Kota Terkait. Kelompok Masyarakat BBWS. PU/PSDA kab/kota. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (1 Ci) pada Skenario 1. mensosialisasikan. mengawasi dan menindak terhadap pencurian air serta menerapkan hemat air * Melindungi dan mempertahankan luas daerah resapan di bagian hulu dan tengah wilayah Citarum secara berkelanjutan melalui pengendalian IMB * Melaksanakan effisiensi pemakaian air di * Melaksanakan effisiensi pemakaian air di setiap DI dan melaksanakan metode SRI setiap DI dan melaksanakan metode SRI secara berkelanjutan secara berkelanjutan * Melaksanakan effisiensi pemakaian air * Melaksanakan sosialisasi dan rumah tangga dan industri secara menerapkan effisiensi pemakaian air berkelanjutan rumah tangga dan industri * Mengganti pipa-pipa distribusi air minum yang * Melaksanakan efisiensi dan hemat air lama. C atau D halaman 174 . dan membuat daerah/kolam retensi * Meningkatkan jumlah air yang meresap dan menurunkan angka pengaliran P P P P 7) Belum memasyarakatnya pembuatan sumur resapan dan biopori oleh seluruh masyarakat * Terlaksananya pembuatan sumur resapan dan biopori oleh seluruh masyarakat P P P P 8) Terjadinya kerusakan mata air di wilayah Citarum * Terlindunginya mata air di wilayah Citarum secara berkelanjutan P P P * Melaksanakan sosialisasi pembuatan sumur * Melaksanakan pembuatan sumur resapan * Melaksanakan pembuatan sumur resapan resapan dan biopori kepada masyarakat dan biopori kepada masyarakat (2016dan biopori kepada masyarakat (2021-2030) (2011-2013) dan melaksanakan pembuatan 2020) = 30% area. PU/SDA .. BBWS.. situ dan kolam retensi sesuai kebutuhan jangka panjang Lembaga/Instansi Terkait BBWS. Bappeda. Kelompok Masyarakat P P P P P P P P P * Mensosialisasikan dan menerapkan effisiensi pemakaian air di setiap DI dan melaksanakan metode SRI * Mensosialisasikan dan menerapkan effisiensi pemakaian air rumah tangga dan industri * Mengganti pipa-pipa distribusi air minum yang lama. Dinas PU/PSDA prov. Dinas/Badan Terkait di Tk./Kota Terkait. mensosialisasikan. Balai PSDA. situ dan kolam retensi sesuai kebutuhan Kebijakan operasional * Membangun waduk. Badan Regulator. situ dan kolam retensi sesuai kebutuhan * Melaksanakan pengendalian dan pemantauan pengambilan air tanah baik yang mempunyai ijin maupun yang tidak mempunyai ijin. 1. BPLHD/BLHD. 3 dan 4 1 No. Kehutanan Kab. Balai PSDA. BPLHD/BLHD.. Prov. BBWS. PU/SDA . Balai PSDA. Balai PSDA. Kelompok Masyarakat Dinas Kimrum/Tata Kota. Balai PSDA P P P 1) Belum optimalnya pembangunan * Bertambahnya waduk.3. Prov.. BBWS. Badan Regulator. Dinas TanHutBun Kab. Kelompok Masyarakat P P P 4) Berkurangnya daerah resapan di bagian hulu dan tengah wilayah Citarum * Terlindunginya dan meningkatnya luas * Melindungi dan mempertahankan luas daerah resapan di bagian hulu dan daerah resapan di bagian hulu dan tengah tengah wilatyah Citarum wilayah Citarum secara berkelanjutan melalui pengendalian IMB Dinas Kimrum/Tata Kota. BPLHD/BLHD. pada CAT Bandung-Soreang. Prov. Kelompok Masyarakat Dinas Kimrum/Tata Kota.

serta mendorong pengawasan kualitas limbah. jenis industri. Dinas PU/SDA. Bappeda.. BBWS. Melaksanakan sosialisasi penggunaan pestisida dan pupuk sesuai dosis * Melaksanakan sosialisasi penggunaan pestisida dan pupuk sesuai dosis. Kelompok Masyarakat Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. dan kewajiban penggunaan IPAL industri. serta mendorong pembangunan IPAL dan penegakan hukum bagi pelanggar * Mendorong pembangunan IPAL * Mendorong pembangunan IPAL dan penegakan hukum bagi pelanggar * Memberikan teguran dan penindakan bagi * Melaksanakan pengawasan dan industri yang tidak mengoperasikan IPAL penindakan bagi industri yang tidak miliknya mengoperasikan IPAL miliknya * Menyusun perencanaan pembangunan * Membangun IPAL industri terpadu pada IPAL industri terpadu pada kawasan kawasan industri. Dinas PU. bila dengan limbah industri dan lingkungan. BPLHD. Dewan SDA Prov. potensi pencemar. Dinas PU/SDA. Dinas Perindustrian Prov/kab/kota. BPLHD. perkotaan. Dewan SDA Prov. serta melaksanakan penggelontoran sungai * Menegakkan peraturan tentang kelas air * Mendorong terbitnya penetapan kelas air sungai dan waduk oleh Gubernur sungai dan waduk * Melaksanakan monitoring kualitas air. Dinas PU/SDA. Kepolisian. * Melanjutkan pembangunan sistim sanitasi perkotaan dan perdesaan. sanitasi individu. Dinas Perindustrian Prov/kab/kota. IPAL. BBWS. Dinas PU. Balai PSDA. * Melaksanakan rehabilitasi/optimalisasi. Dinas PU/SDA kab/kota. terutama pembangunan IPAL dan penegakan hukum logam berat. Dinas Perindustrian Prov/kab/kota. instansi terkait pencemar. B. bila perlu memperbaharui Perda mengacu pada perlu memperbaharui Perda mengacu peraturan pemerintah terbaru. Dinas Perindustrian. BPLHD. situ dan waduk (min. Dinas Kesehatan. sungai TKPSDA. * Peningkatan kapasitas /penyelesaian pembangunan IPAL Bojongsoang dan perencanaan dan pembangunan sistem sanitasi perkotaan dan perdesaan. Program Penilaian Kinerja Perusahaan (Proper) dan Surat Pernyataan Kali Bersih (Super Kasih) STRATEGI ii + i iii + ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Jangka Panjang (2011-2030) * Melakukan pemantauan. IPAL.3. Kelompok Masyarakat P P P P 3) Limbah cair domestik dan perkotaan belum * Terwujudnya pengendalian * Peningkatan kapasitas /penyelesaian diolah sebagaimana mestinya pencemaran dari limbah domestik dan pembangunan IPAL Bojongsoang. Dinas Kebersihan. pada peraturan pemerintah terbaru. BPLHD. terutama terhadap limbah industri secara rutin. secara bertahap (5% area kota).3 KONSERVASI 1 Aspek/Sub Aspek PENGELOLAAN KUALITAS AIR DAN PENGENDALIAN PENCEMARAN A B C D P P P P 2 3 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis 1) Menurunnya kualitas air dibandingkan dengan standar baku/ kelas peruntukan sungai (tercemar ringan sampai sedang) Sasaran/Target yang diinginkan * Peningkatan kualitas air sungai. Dinas PU/SDA kab/kota. dan mengoperasikannya kawasan industri. Kepolisian. dan monitoring di lapangan Melaksanakan pemberdayaan masyarakat BPLHD. pengawas dan penegak hukum (PPNS) pengawas dan penegak hukum (PPNS) melalui fasilitasi training tentang melalui fasilitasi training tentang pengelolaan lingkungan (khususnya kualitas pengelolaan lingkungan (khususnya air) kualitas air) * Melaksanakan sosialisasi peraturan tentang * Melaksanakan sosialisasi peraturan tentang syarat kualitas air limbah. Dinas Perindustrian. PPNS. BBWS. BBWS. serta menegakkan peraturan * Mengoperasikan sistem monitoring kualitas air real time * Menetapkan kelas air sungai dan waduk * Melaksanakan peningkatan sistim monitoring kualitas air sungai BPLHD. serta Dinas PU/SDA. Bappeda. serta menegakkan peraturan. BBWS. bila perlu limbah industri sesuai baku mutu limbah Kepolisian. serta terintegrasi dalam sistim informasi kualitas Perindustrian. Dinas PU Prov. terutama terhadap limbah industri secara rutin. limbah industri dan lingkungan. potensi pencemar. secara bertahap (35% area kota. Dinas PU. dan mengoperasikannya BPLHD. potensi dan jenis industri. sekitar sumber air). sekitar sumber air). * Merencanakan sistem monitoring kualitas air real time * Melaksanakan monitoring kualitas air. dan monitoring kepatuhan petani di lapangan * Melaksanakan sosialisasi penggunaan pestisida dan pupuk sesuai dosis. Kelompok Masyarakat P P P P P * Membangun dan mengoperasikan sistem monitoring kualitas air real time P P P 2) Belum optimalnya pengelolaan limbah Industri * Terwujudnya pengendalian pencemaran dari limbah industri P P P P P P P P P P * Meningkatkan SDM petugas monitoring. terutama terhadap limbah industri secara rutin. instansi terkait diKab/kota. BBWS. beserta penyiapan organisasi pengelolanya * Melaksanakan evaluasi Perda terkait * Melaksanakan evaluasi Perda terkait dengan limbah industri dan lingkungan.. PPNS. * Membangun dan mengoperasikan sistem monitoring kualitas air real time * Melaksanakan alokasi air penggelontoran sungai * Mengalokasikan air untuk penggelontoran BBWS. penegakan hukum bagi pelanggar. Kelompok Masyarakat jenis industri di wilayah Citarum di wilayah Wilayah Citarum wilayah Wilayah Citarum * Melaksanakan perencanaan dan pelaksanaan rehabilitasi/optimalisasi IPAL terpadu Cisirung * Melaksanakan rehabilitasi/optimalisasi. evaluasi melaksanakan penegakan hukum terhadap melaksanakan penegakan hukum terhadap pelanggar yang melakukan pencemaran pelanggar yang melakukan pencemaran Kebijakan operasional * Meningkatkan kualitas air sungai sesuai atau lebih baik dari standar baku mutu Lembaga/Instansi Terkait Dinas Kebersihan. secara bertahap P P P Melaksanakan sosialisasi dan * Melaksanakan sosialisasi dan * Melaksanakan sosialisasi dan pemberdayaan pemberdayaan masyarakat thd penggunaan pemberdayaan masyarakat thd penggunaan masyarakat thd penggunaan sanitasi individu. Dinas base lokasi dan jenis industri. Kelompok Masyarakat BBWS. BPLHD. * Melaksanakan pengoperasian dan pengoperasian dan pemeliharaan IPAL pemeliharaan IPAL terpadu Cisirung serta terpadu Cisirung serta melakukan melakukan pengawasan operasional IPAL pengawasan operasional IPAL dan kualitas dan kualitas limbah (khususnya logam berat) limbah (khususnya logam berat) secara secara ketat sesuai baku mutu limbah ketat sesuai baku mutu limbah * Pembangunan sistim sanitasi perkotaan dan perdesaan. TKPSDA. Kelompok sanitase perkotaan dengan memisahkan Masyarakat saluran pembuangan air limbah perkotaan dari saluran drainase kota. penggunaan IPAL industri. dan kewajiban syarat kualitas air limbah. Dinas PU Prov/kab/kota. Dinas PU/SDA. Kelompok Masyarakat Swasta. Kelompok Masyarakat BBWS. Dinas Perindustrian Prov/ Kab/Kota. perdesaan dan komunal sanitasi individu. Kelompok Masyarakat BPLHD.. BPLHD. serta pemetaan lokasi dan serta updating peta lokasi dan jenis industri updating peta lokasi dan jenis industri di air diKab/kota. perdesaan dan komunal perdesaan dan komunal (terutama daerah (terutama daerah berpenduduk padat dan (terutama daerah berpenduduk padat dan berpenduduk padat dan sekitar sumber air). Kelompok Masyarakat P P Merencanakan dan membangun saluran pembuangan air limbah perkotaan terpisah dari saluran drainase. * Meningkatkan SDM petugas monitoring. 1. BPLHD. Dinas Perindustrian. 2. Bappeda.. Dinas PU/SDA. Kelompok Masyarakat * Melaksanakan evaluasi Perda terkait dengan * Melaksanakan pengawasan ketat kualitas BPLHD. 3 dan 4 1 No. BBWS. Bappeda. PPNS. Kelompok Masyarakat P P P P P P P P P P * Melaksanakan alokasi air penggelontoran * Merencanakan dan mengalokasi air penggelontoran melalui kesepakatan dalam sungai TKPsumber daya air. dan mengoperasikannya industri. terutama pada kawasan pengembangan perumahan atau perkotaan baru Merencanakan dan membangun sistem Dinas CK. Kelompok Masyarakat P P P Melaksanakan sosialisasi penggunaan pestisida dan pupuk sesuai dosis BPLHD. Dinas PU. Bappeda. Kelompok Masyarakat BBWS. * Meningkatkan SDM petugas monitoring. dan kewajiban limbah industri dan melaksanakan penggunaan IPAL industri. kumulatif 50%). BBWS. 4) Masih adanya bahaya dari sisa penggunaan pupuk dan obat-obatan pertanian * Terwujudnya pengendalian limbah pertanian. IPAL. Dinas Perindustrian. Dinas Kebersihan. terutama pada kawasan pengembangan perumahan atau perkotaan baru * Merencanakan dan membangun saluran pembuangan air limbah perkotaan terpisah dari saluran drainase. evaluasi * Melakukan pemantauan. terutama pada kawasan pengembangan perumahan atau perkotaan baru * Merencanakan dan membangun saluran pembuangan air limbah perkotaan terpisah dari saluran drainase. Kelas II PP no 82/2001) i Jangka Pendek (2011-2015) * Melaksanakan program kali bersih (Prokasih) secara terpadu .. kumulatif 15%). Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (1 Ci) pada Skenario 1. C atau D halaman 175 . serta menegakkan peraturan. Kelompok Masyarakat * Menegakkan peraturan tentang kelas air sungai dan waduk * Melaksanakan monitoring kualitas air. pengoperasian dan pemeliharaan IPAL terpadu Cisirung serta melakukan pengawasan operasional IPAL dan kualitas limbah BPLHD. BBWS. Dinas Kesehatan. Dinas PU/PSDA Prov. P P P P * Melaksanakan identifikasi/ updating data * Melaksanakan updating data base lokasi * Melaksanakan updating data base lokasi dan * Menyusun data base industri.Tabel 4. secara bertahap (10% area kota. Dinas PU. Dinas Pertanian. memperbaharui Perda mengacu pada cair (terutama logam berat) disertai Kelompok Masyarakat peraturan pemerintah terbaru. secara berkelanjutan bagi pelanggar * Mendorong pembangunan IPAL dan penegakan hukum bagi pelanggar * Melaksanakan pengawasan dan penindakan * Melaksanakan pengawasan dan bagi industri yang tidak mengoperasikan IPAL penindakan bagi industri yang tidak miliknya mengoperasikan IPAL miliknya * Mengembangkan IPAL industri terpadu pada * Membangun IPAL industri terpadu pada kawasan industri. Bappeda Prov/ Kab/Kota. * Meningkatkan SDM petugas terkait pengawas dan penegak hukum (PPNS) pengelolaan lingkungan (khususnya melalui fasilitasi training tentang pengelolaan kualitas air) lingkungan (khususnya kualitas air) * Melaksanakan sosialisasi peraturan tentang * Menegakkan Perda tentang pengolahan syarat kualitas air limbah. thd penggunaan sanitasi lingkungan Dinas PU/PSDA Prov. Dinas Perindustrian Prov/kab/kota. Dinas Perindustrian Prov/ Kab/Kota. BPLHD.

kompos dsb. 3 dan 4 1 No. kompos dsb. recycle). B.3. C atau D halaman 176 . 2. * Melaksanakan pengelolaan sampah perkotaan dan pedesaan secara terpadu melalui sistem 3R (reduce. STRATEGI ii + i iii + ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Jangka Panjang (2011-2030) * Melaksanakan pembangunan IPAL * Melaksanakan pembangunan IPAL peternakan dan pemanfaatan limbah ternak peternakan dan pemanfaatan limbah ternak (mis. reuse. biogas. BBWS. Dinas PU kab/kota. recycle). recycle). disertai pembangunan IPAL percontohan dan pemberdayaan peternak Melaksanakan pengelolaan sampah perkotaan dan pedesaan secara terpadu melalui sistem 3R (reduce. biogas.). Dinas Kebersihan. dan berkelanjutan Melaksanakan sosialisasi pelarangan membuang sampah ke sungai/ badan air lainnya disertai tindakan hukum bagi pelanggarnya. reuse. Kebijakan operasional Melaksanakan pembangunan IPAL peternakan dan pemanfaatan limbah ternak. i Jangka Pendek (2011-2015) Melaksanakan sosialisasi pemanfaatan limbah ternak dan kewajiban menggunakan IPAL peternakan.Tabel 4.). Kelompok Masyarakat Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. (mis. KONSERVASI 1 Aspek/Sub Aspek A B C D P P P 2 3 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis 5) Limbah peternakan belum diolah sebagaimana mestinya Sasaran/Target yang diinginkan * Terwujudnya pengendalian limbah peternakan. swasta P P P 6) Pengelolaan limbah sampah belum optimal * Terwujudnya pengelolaan limbah sampah P P P P * Melaksanakan pengelolaan sampah perkotaan dan pedesaan secara terpadu melalui sistem 3R (reduce. Lembaga/Instansi Terkait BPLHD.. dan berkelanjutan * Melaksanakan sosialisasi pelarangan membuang sampah ke sungai/ badan air lainnya disertai tindakan hukum bagi pelanggarnya. Dinas Kebersihan. Bappeda. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (1 Ci) pada Skenario 1. Dinas melalui sistem 3R (reduce. recycle) PU kab/kota. BPLHD. Kelompok Masyarakat Melarang membuang sampah ke sungai/ badan air lainnya. Kelompok Masyarakat. reuse. Melaksanakan pengelolaan sampah Bappeda. Dinas PU Prov. dan berkelanjutan * Melaksanakan sosialisasi pelarangan membuang sampah ke sungai/ badan air lainnya disertai tindakan hukum bagi pelanggarnya. BBWS. BPLHD. reuse. Dinas Peternakan. BBWS.

BBWS. Kota Bandung dan Cimahi) 1. C atau D halaman 177 .1 PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR 1 Aspek/Sub Aspek PENATAGUNAAN SUMBER DAYA AIR A B C D P P P 2 3 4 i Jangka Pendek (2011-2015) 1) Belum adanya peraturan peruntukan air * Terbitnya Pergub peruntukan air pada * Menyusun. Pengguna Air di Prov Jabar dan DKI Jakarta. Dinas PU/SDA Prov Jabar. Garut dan Bandung (2011-2013). Depok dan Bogor) dan meningkatnya produksi listrik Diperolehnya tingkat kelayakan (layak atau tidaknya) potensi waduk-waduk Citarum Hulu : * Tersedianya air bersih/minum (Kab.3 m3/detik) dan tahap II (1. pembangunan. dan melaksanakan operasi serta pemeliharaan waduk Ciwidey (apabila layak untuk dibangun) BBWS. B. pembangunan. dan melaksanakan mengairi lahan irigasi seluas 825 ha di persiapan pembangunan waduknya (20142015) sekitar lokasi) dari waduk Cimeta Citarum Tengah/Hilir : * Meningkatnya ketersediaan air dari peninggian waduk Cirata (15 m) untuk keperluan air minum (Jakarta. Kelompok irigasi sesuia kebutuhan. Bappeda. Kelompok Masyarakat * Mengurangi pencurian air atau pemborosan air RKI dan irigasi Melaksanakan kampanye dan edukasi Hak Guna Air. dan Kabupaten /Kota Jawa Barat 1) Adanya kekurangan air untuk kebutuhan * Meningkatnya efisiensi penggunaan air * Melaksanakan kampanye dan edukasi irigasi dan/atau RKI hemat air RKI dan efisiensi air irigasi (3R) Permasalahan Berdasarkan Analisis Sasaran/Target yang diinginkan STRATEGI ii + i iii + ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Jangka Panjang (2011-2030) * Mengkaji ulang dan merumuskan kembali * Mengkaji ulang dan merumuskan kembali melalui Dewan sumber daya air peruntukan melalui Dewan sumber daya air peruntukan air dari sumber air secara berkelanjutan air dari sumber air secara berkelanjutan * Mengkaji ulang dan menetapkan kembali zona pemanfaatan air dan memadukan pada peta RTRW Prov dan kab/Kota * Melaksanakan kampanye dan edukasi hemat air RKI dan efisiensi air irigasi (3R) * Memantau pelaksanaan zona pemanfaatan air dan melakukan revisi jika diperlukan Kebijakan operasional * Menyusun. Dinas Kimrum. dan melaksanakan operasi serta persiapan pembangunan.Bandung. dan melaksanakan pembangunan waduk Ciwidey tahap I persiapan pembangunan waduknya apabila (apabila layak untuk dibangun) layak untuk dibangun (2014-2015) * Melaksanakan kaji ulang Perencanaan. dan melaksanakan operasi dan jaringan air minum dan operasi serta pemeliharaan sistem jaringan air minum dari pemeliharaan sistem jaringan air minum waduk Saguling waduk Saguling P P P * Tersedianya air bersih/minum untuk * Mengkaji ulang Perencanaan waduk * Melaksanakan persiapan dan Kota Bandung (dan juga mengairi Cikapundung di Kab.45 m3/detik (dan Cimeta (2011-2013). * Melaksanakan kaji ulang Perencanaan. dan melaksanakan operasi serta pemeliharaan waduk Santosa * Melaksanakan operasi serta pemeliharaan waduk Santosa * Melaksanakan kaji ulang Studi Kelayakan. 3 dan 4 2 No. dan melaksanakan operasi serta persiapan pembangunan. Bandung (2011-2013).4 perencanaan detail. merumuskan. menetapkan. Dinas PU/PSDA Prov. * Melaksanakan kaji ulang Perencanaan. Kelompok Masyarakat P P ___ * Melaksanakan studi kelayakan dan detail desain Peninggian Bendungan Cirata (15 m) di Kali Citarum * Melaksanakan peninggian Bendungan Cirata * Melaksanakan studi kelayakan. pemeliharaan waduk Cikapundung dan melaksanakan operasi serta pemeliharaan waduk Cikapundung BBWS. persiapan Masyarakat pembangunan. Dinas PU/SDA Prov Jabar. Dinas PU/SDA Prov Jabar. Melaksanakan pengawasan pengambilan air baku RKI dan irigasi Melaksanakan kampanye dan edukasi Hak Guna Air. P3A. dan melaksanakan perencanaan detail pembangunan waduk Santosa (2014-2015) * Tersedianya air untuk keperluan air * Melaksanakan studi kelayakan bersih/minum kota Bandung dari pembangunan sistem jaringan air minum dari waduk Saguling (2012-2013) dan Waduk Saguling sekitar 4 m3/detik (/) melaksanakan perencanaan detail pembangunan sistem jaringan air minum dari waduk saguling (2014-2015) * Melaksanakan pembangunan waduk Santosa. * Melaksanakan kaji ulang Perencanaan. pembangunan.Tabel 4.15 m3/detik dari waduk Ciwidey * Melaksanakan persiapan dan melaksanakan pembangunan waduk Cimeta tahap I * Melaksanakan pembangunan waduk tahap II. Kelompok perencanaan detail. Dinas PU/SDA/Kimrum Prov/Kab/Kota.Kepolisian. pembangunan sistem BBWS.. Cipanegah 2 dan Cipanegah 3) * Tersedianya air bersih/minum utk Jatinangor dan Rancaekek 0. Dinas PU/SDA Prov Jabar. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (1 Ci) pada Skenario 1. Kelompok Masyarakat 2) Adanya potensi waduk-waduk kecil yang perlu dikaji lebih lanjut : P P ___ * Mengkaji ulang Perencanaan waduk * Melaksanakan persiapan dan melaksanakan Ciwidey (2011-2013). Melaksanakan pengawasan dan penindakan terhadap pelanggaran pengambilan air * Mengendalikan pengambilan air BBWS. Kelompok Masyarakat P P * Melaksanakan persiapan dan * Melaksanakan pembangunan waduk tahap II. Kelompok Masyarakat P P P * Tersedianya air bersih/minum untuk Kota Cimahi 0. dan melaksanakan operasi serta pemeliharaan waduk Santosa P P P * Melaksanakan pembangunan sistem jaringan air minum dari waduk Saguling tahap I (1.717 ha di sekitar lokasi) serta produksi listrik 1. pemeliharaan waduk Sukawana dan melaksanakan operasi serta pemeliharaan waduk Sukawana BBWS.. Dinas PU/SDA Prov Jabar.3. Kelompok Masyarakat P P P Bappeda.5 m3/detik dari waduk Citarik * Mengkaji ulang Perencanaan waduk Citarik (2011-2013). BBWS. Melaksanakan pengawasan dan penindakan terhadap pelanggaran pengambilan air Dinas PU/PSDA dan Kimrum Prov/Kota/Kab. pemeliharaan waduk Cimeta dan melaksanakan operasi serta pemeliharaan waduk Cimeta BBWS. merumuskan Pergub melalui pada sumber air pada ruas/ lokasi tertentu sumber air pada ruas/ lokasi tertentu. 2. Dinas PU/SDA pernukaan untuk RKI sesuai SIPA. dan air Prov Jabar. Dewan SDA Prov. persiapan pembangunan. tahap I pemeliharaan waduk Citarik dan melaksanakan operasi serta pemeliharaan waduk Citarik * Melaksanakan persiapan dan melaksanakan pembangunan waduk Sukawana tahap I * Melaksanakan pembangunan waduk tahap II. dan melaksanakan persiapan pembangunan waduknya (2014-2015) * Melaksanakan pembangunan waduk tahap II. Dinas Perindustrian. kab/kota Lembaga/Instansi Terkait Dinas PU/PSDA Prov. mensosialisasikan dan menerapkan Pergub peruntukan air dari sumber air * Mengkaji menetapkan zona pemanfaatan air dan memadukan pada peta RTRW Prov. Dinas PU/SDA Prov Jabar. Kelompok Masyarakat 2. pembangunan. pembangunan.23 m3/detik dari Waduk pembangunan waduknya (2014-2015) Cikapundung (termasuk wadukCikukang Ciawiruka. melaksanakan pembangunan waduk lahan irigasi di bagian hilir waduk) dan melaksanakan persiapan Cikapundung tahap I sebesar 1. 2. BBWS. detail (15 m) di Kali Citarum desain. Dinas PU/SDA Prov.3 m3/detik) * Melaksanakan pembangunan sistem jaringan * Melaksanakan studi kelayakan. * Melaksanakan kaji ulang Perencanaan. dan melaksanakan persiapan pembangunan waduknya (20142015) BBWS. Cipanegah 1. pembangunan.630 MWh dari waduk Sukawana * Mengkaji ulang Perencanaan desain waduk Sukawana (2011-2013). serta Masyarakat melaksanakan penegakan hukum bagi pelanggarnya P P P Terbangunnya waduk dan tampungan air Citarum Hulu : * Bertambahnya debit sungai Cisangkuy * Mengkaji ulang Studi Kelayakan Pembangunan waduk Sukawana di Cimahi 2 m3/detik dari waduk Santosa dan Sudetan Cibantarua di Kab. Dewan sumber daya air prov. Kelompok Masyarakat m3/detik). Kelompok Masyarakat Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A.. dan melaksanakan operasi serta persiapan pembangunan.60 m3/detik (dan juga mengairi lahan irigasi seluas 1. Kelompok Masyarakat P P * Tersedianya air bersih/minum untuk * Mengkaji ulang Perencanaan detail waduk Kota Padalarang 0. air minum dari waduk Saguling tahap III (1. melaksanakan pembangunan waduk Citarik dan melaksanakan operasi serta persiapan pembangunan. dan termasuk penetapan klas air sungai mensosialisasikan peruntukan air dari sumber air secara berkelanjutan 2) Belum adanya zona pemanfaatan sumber * Terbitnya penetapan zona * Menetapkan zona pemanfaatan sumber air air yg memperhatikan berbagai macam pemanfaatan sumber air dan dan memadukan pada peta RTRW Prov pemanfaatan terintegrasinya pada peta RTRW Prov.2 P P P P PENYEDIAAN SUMBER DAYA AIR * Melaksanakan kampanye dan edukasi hemat * Mengurangi kebutuhan air melalui air RKI dan efisiensi air irigasi (3R) penghematan air RKI dan efisiensi air irigasi Melaksanakan kampanye dan edukasi Hak Guna Air. pelaksanaan konstruksi Peninggian Bendungan Cirata (15 m) di Kali Citarum BBWS. BBWS.

3. Cibeber. Maya. PDAM. Pasiranji. Cibeber. Pangkalan. pelaksanaan BBWS.. Nameng. Pangkalan. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (1 Ci) pada Skenario 1. Cilame. Telagaherang. Cilame. Nameng. Investor. C atau D halaman 178 . Cilame. dan waduk Kandung Telagaherang. PDAM. Maya. Dinas PU/SDA/Kimrum air tanah di Cekungan Bandung. Telagaherang. PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR 1 Aspek/Sub Aspek A B C D 2 3 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis Sasaran/Target yang diinginkan Citarum Tengah/Hilir : * Tersedianya air untuk keperluan air bersih/minum dan irigasi dari potensi waduk yang ada di Citarum Hilir (waduk Sadawarna. Dinas PU/SDA Prov Jabar. Pasiranji. Maya./Kota lainnya sesuai target MDG's 5) Adanya kekurangan air baku untuk kebutuhan DKI Jakarta * Meningkatkan cakupan layanan PAM dengan menambah sambungan rumah tangga menjadi 60% Melaksanaan kegiatan normalisasi Saluran Tarum Barat dan pemeliharaan secara berkelanjutan Pelaksanaan produksi air minum tambahan 5 m3/det dikirim ke Jakarta (total volume air minum 9 m3/det). Cibeber. dan melakukan pemantauan serta evaluasi penggunaan (sesuai perencanaan) * Melaksanakan pengembangan air tanah untuk kebutuhan air bersih rumah tangga sesuai kebutuhan. Cibeber. PJB. BBWS. dan waduk Kandung) 3) Keterbatasan air permukaan (dari potensi waduk kecil yang ada) untuk penyediaan air bersih di Cekungan Bandung i Jangka Pendek (2011-2015) STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) * Melaksanakan persiapan dan pembangunan waduk Sadawarna.Tabel 4. persiapan pembangunan dan pembangunan waduk Sadawarna. B. Telagaherang. 3 dan 4 2 No. Telagaherang. Kelompok secara berkelanjutan Masyarakat Merencanakan instalasi Penjernihan kapasitas 9 m3/det di Curug dan perencanaan trase jalur pipa dari Curug ke Jakarta serta pelaksanaannya PJT II. dan waduk Kandung Kebijakan operasional Lembaga/Instansi Terkait P P * Melaksanakan studi kelayakan untuk waduk * Melaksanakan perencanaan detail untuk Sadawarna. memperhatikan keseimbangan antara merencanakan dan melaksanakan potensi dan kebutuhan pengembangan air tanah untuk kebutuhan air bersih rumah tangga sesuai kebutuhan dan potensi yang ada. Pangkalan. Cilame. dan waduk Kandung * Melaksanakan Studi Kelayakan. BBWS. dan melakukan pemantauan serta evaluasi penggunaan (sesuai perencanaan) * Melaksanakan kajian terhadap pemakaian Dinas ESDM. Dinas PU/SDA Prov. Kelompok Masyarakat P P P P * Tersedianya air tanah khususnya * Melaksanakan kajian terhadap pemakaian untuk air bersih rumah tangga dengan air tanah di Cekungan Bandung saat ini. 2. PDAM. Pangkalan. Melaksanakan perencanaan. Dinas PU/SDA Prov Jabar. Kelompok Masyarakat OP instalasi air air minum dan pipa kapasitas 9 m3/det Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. BBWS. Pasiranji. Dinas Kimrum. Cilame. Prov/Kab/Kota. PJT 2. Nameng. * Meningkatkan cakupan layanan PAM dengan menambah sambungan rumah tangga menjadi 50% * Melaksanakan pengembangan air tanah untuk kebutuhan air bersih rumah tangga sesuai kebutuhan. Pangkalan. Pasiranji. Kelompok Masyarakat P P P 4) Keterbatasan layanan PDAM di Cekungan * Meningkatnya cakupan layanan PAM Bandung dan Kota/Kabupaten lainnya Cekungan Bandung dan Kab. Pasiranji. PDAM Prov/Kab/Kota. Nameng. Kelompok merencanakan dan melaksanakan Masyarakat pengembangan air tanah untuk kebutuhan air bersih rumah tangga sesuai kebutuhan dan potensi yang ada. Bappeda. waduk Sadawarna. Maya. dan waduk Kandung BBWS. OP instalasi air air minum dan pipa * Meningkatkan cakupan layanan PAM dengan * Meningkatkan jumlah sambungan rumah menambah sambungan rumah tangga tangga mencapai 70% penduduk menjadi 70% Melaksanaan pemeliharaan Saluran Tarum Barat secara berkelanjutan P P P P P P P * Meningkatnya penyediaan air dari * Melaksanakan perencanaan dan Citarum ke Jakarta dari 16 m3/dtk pelaksanaan kegiatan normalisasi Saluran menjadi 31 m3/dtk (melalui normalisasi Tarum Barat Saluran Tarum Barat) Tersedianya tambahan air minum 9 Merencanakan instalasi Penjernihan m3/detik dari Jatiluhur yang dialirkan kapasitas 9 m3/det di Curug dan dengan pipa melalui tanggul kanan perencanaan trase jalur pipa dari Curug ke Tarum barat ke Jakarta Jakarta serta pelaksanaan produksi air minum 4 m3/det dikirim ke Jakarta. Nameng. Maya. dan pemeliharaan Saluran Tarum Barat Pemda DKI Jakarta. Cibeber. perencanaan detail.

Kelompok Masyarakat BBWS. BBWS. Ditjen SDA. Dinas PU/PSDA prov. dengan pemberian insentif bagi yang mengurangi pengambilan air tanah * Melaksanakan AKNOP irigasi di seluruh DI di * Mereview AKNOP (analisa kebutuhan wilayah Citarum (2016-2020) pada area 100% nyata operasi dan pemeliharaan) Irigasi dikaitkan dengan areal (Rp/Ha) dan bangunan dikaitkan dengan areal (rp/ha) dan bangunan utama __ * Membangun pembangkit tenaga listrik pada bendungan dan mini-mikro hydropower 40%. P P P P P P P 7) Belum terlaksananya aset manajemen irigasi (OP. Kelompok Masyarakat bagi yang mengurangi pengambilan air tanah Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. memonitor dan mengevaluasi secara berkelanjutan Melakukan kaji ulang. BBWS. Kelompok area) berdasarkan PAI.. kumulatif pelaksanaan 80%). kab/kota. Kelompok Masyarakat 1) Konflik penggunaan air irigasi dan air baku * Harmonisasi penggunaan air irigasi di wilayah Citarum dan air baku di wilayah Citarum 2) Kerusakan prasarana jaringan irigasi mengakibatkan tidak efektif dan tidak efisiennya distribusi air irigasi 3) OP prasarana sumber daya air (Irigasi. 12) Belum tersusunya pedoman Operasional * Tersedianya pedoman operasional * Melakukan kajian AKNOP irigasi di Seluruh penyusunan AKNOP (analisa kebutuhan AKNOP irigasi DI di wilayah Citarum (2011-2013) dan nyata operasi dan pemeliharaan) Irigasi menguji coba pelaksanaan AKNOP irigasi di beberapa DI (2013-2014) 8) Kondisi layanan jaringan pengairan perikanan dan tambak rakyat telah menurun. Kelompok Masyarakat Dinas Pertanian. Dinas PSDA Propinsi. kab/kota. Kelompok Masyarakat. * Mensosialisasikan dan melaksanakan penyuluhan serta penyadaran publik tentang hemat air irigasi (100% area) * Peningkatan IP dari 265% ke 280% * Membina petani utk hemat air irigasi. Dinas PU/ PSDA prov. Dinas PU/SDA Prov. Balai PSDA. industri/swasta.air baku dan baku dan air irigasi di Saluran Induk Tarum irigasi. Kelompok Masyarakat.3 PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR 1 Aspek/Sub Aspek PENGGUNAAN SUMBER DAYA AIR A B C D P P P P 2 3 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis Sasaran/Target yang diinginkan i Jangka Pendek (2011-2015) * Mereview dan melaksanakan alokasi air sesuai kesepakatan * Merehabilitasi jaringan irigasi mencapai 50% * Melaksanaan OP prasarana sumber daya air (Tingkat Pelayanan 50%) STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) * Melaksanakan alokasi air sesuai kesepakatan secara berkelanjutan * Merehabilitasi jaringan irigasi mencapai 100% * Melaksanaan OP prasarana sumber daya air (Tingkat Pelayanan 75%) Kebijakan operasional iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) * Melaksanakan alokasi air sesuai kesepakatan * Melaksanakan alokasi air sesuai prinsipsecara berkelanjutan prinsip penggunaan sumber daya air * Melaksanakan OP jaringan irigasi * Merehabilitasi jaringan irigasi mencapai 100% Lembaga/Instansi Terkait TKPSDA. melaksanakan konstruksi mini-mikro 30% . PDAM. berakibat menurunnya fungsi layanan * Pelaksanaan rehabilitasi jaringan irigasi terutama yang rusak berat * Terlaksananya OP prasarana sumber daya air sesuai standar P P P P P * Melaksanaan OP prasarana sumber daya air (Tingkat Pelayanan 100%) * Melaksanaan OP prasarana sumber daya BBWS. Dinas PU/SDA Prov/Kab. BBWS. BBWS. 2. BBWS.4 PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR P P P 1) Belum optimalnya pemanfaatan potensi tenaga air * Memformulasi dan melegalisasi AKNOP __ Irigasi (2015) * Terlaksananya pengembangan potensi * Melaksanakan inventarisasi potensi dan * Melaksanakan pembangunan pembangkit tenaga air perencanaan pemanfaatan tenaga air (2011tenaga listrik dan mini-mikro hydropower 2013). BBWS. Pelaksanaan 30% dalam 3 thn). PU/PSDA Kab/Kota. C atau D halaman 179 . PJT II. kumulatif = 60% hydro power (2014-2015 = 20%) * Terlaksananya pengembangan penerapan teknologi desalinasi dan ultra filtrasi. PU/SDA Kab/Kota.sungai. BBWS. Barat (Pelaksanaan 20% dalam 2 thn. 10) Belum sadarnya masyarakat petani dalam * Meningkatnya kesadaran petani dalam * Mensosialisasikan dan melaksanakan pelaksanaan hemat air irigasi pelaksanaan hemat air irigasi penyuluhan serta penyadaran publik tentang hemat air irigasi (50% area) 11) Masih rendahnya Indeks Pertanaman * Meningkatnya IP secara maksimal * Peningkatan IP dari 215% ke 250% (IP)/intensitas tanam dgn pemberdayaan petani. teknologi desalinasi dan ultra filtrasi oleh Karawang. Kelompok Masyarakat Melaksanakan SOP Kaskade 3 waduk. kab/kota. BBWS Citarum... kab/kota. Pembangkit Jawa menetapkan. 2. BBWS. situ. PDAM prov/Kota Jakarta.. Cirata dan Jatiluhur) * Melaksanakan kajian SOP tampungan/situ * Melegalisasi dan mendesiminasikan SOP di Wilayah Citarum (2011-2013) tampungan/situ di Wilayah Citarum (2016memformulasikan dan mengujicoba (20142020) 2015) * Melaksanakan kajian terhadap kinerja dan * Melaksanakan Peningkatan Irigasi fungsi daerah irigasi yang ada di wilayah (keandalan 75%) Citarum . Dinas PU/SDA prov. kab/kota. Kelompok Masyarakat PJT II. BBWS Cil-Cis. Dinas PU/SDA prov. Kelompok Masyarakat Dinas Pertanian. 3 dan 4 2 No.. Cirata dan Jatiluhur) Optimalnya integrasi SOP Kaskade 3 Waduk Citarum (Saguling. mengintegrasikan dan memonitor dan mengevaluasi secara menetapkan SOP waduk termasuk untuk berkelanjutan kondisi ekstrim * Melaksanakan aset manajemen irigasi (50% * Melaksanakan aset manajemen irigasi area) (75% area) * Melaksanakan rehabilitasi jaringan perikanan dan tambak rakyat (50% area) * Melaksanakan rehabilitasi jaringan perikanan dan tambak rakyat (75% area) * Melaksanakan pemisahaan fungsi saluran air baku dan air irigasi di Saluran Induk Tarum Barat (Pelaksanaan 50% dalam 5 thn. Kelompok Masyarakat Dinas Pertanian. Kelompok Masyarakat BBWS. PLN. memonitor Bali. Bappeda Prop dan mengevaluasi SOP Kaskade 3 waduk dan Gubernur. Waduk di Citarum. PJT II P P 2) Masih terbatasnya pengembangan penerapan teknologi desalinasi dan ultra filtrasi * Melaksanakan pengembangan penerapan teknologi desalinasi dan ultra filtrasi oleh industri/ swasta * Mendorong pengembangan penerapan Pemda Prov. B. air untuk mempertahahan tingkat layanan Kelompok Masyarakat * Melaksanakan OP Waduk/Situ sesuai kebutuhan * Meningkatnya efisiensi air irigasi Melaksanakan (50%) OP waduk/situ oleh BBWS/Dinas PU/swasta sesuai kewenangannya * Melaksanakan peningkatan efisiensi air Irigasi menjadi 60% Melaksanakan (50%) OP waduk/situ oleh BBWS/Dinas PU/swasta sesuai kewenangannya (kumulatif 100%) * Melaksanakan peningkatan efisiensi air Irigasi menjadi 63% P P P 4) Belum adanya SOP tampungan/situ di Wilayah Citarum * Tersedianya SOP tampungan/situ di Wilayah Citarum P P P 5) Tidak/Belum Optimalnya Kinerja Prasarana Irigasi * Peningkatan irigasi dlm rangka ketahanan pangan P P P P 6) Belum optimalnya integrasi SOP Kaskade 3 Waduk Citarum (Saguling. PU/PSDA Kab/Kota. Pemda kab/kota Bekasi. Swasta BBWS. * Melaksanakan pemisahaan fungsi saluran air * Memisahkan fungsi sal. PJT II. mengintegrasikan... 9) Belum terpisahnya fungsi saluran air baku * Terwujudnya pemisahaan fungsi dan air irigasi di Saluran Induk Tarum saluran air baku dan air irigasi di Barat Saluran Induk Tarum Barat * Terlaksananya penerapan Pengelolaan Aset Irigasi (PAI) secara berkelanjutan * Terlaksananya rehabilitasi jaringan perikanan dan tambak rakyat * Melaksanakan aset manajemen irigasi (100% * Menyusun prioritas OP. Masyarakat * Melaksanakan rehabilitasi jaringan perikanan * Merehabilitasi jaringan pengairan dan tambak rakyat (100% area) perikanan dan tambak rakyat. Dinas PU/SDA prov./Kota. Melaksanakan Peningkatan Irigasi (keandalan 50%) Melakukan kaji ulang SOP Kaskade 3 Melaksanakan SOP Kaskade 3 waduk. Dinas PU/PSDA prov. * Mensosialisasikan dan melaksanakan penyuluhan serta penyadaran publik tentang hemat air irigasi (75% area) * Peningkatan IP dari 250% ke 265% Melaksanakan OP waduk/situ oleh Penganggaran OP sesuai kebutuhan BBWS/Dinas PU/swasta sesuai nyata pengelolaan situ-situ. baik secara kewenangannya secara berkelanjutan swakelola maupun kontraktual * Melaksanakan peningkatan efisiensi air Irigasi * Meningkatkan efisiensi penggunaan air menjadi 65% irigasi dalam rangka mengurangi debit puncak kebutuhan irigasi * Melegalisasi dan mendesiminasikan SOP * Menyiapkan SOP tampungan/situ di tampungan/situ di Wilayah Citarum (2021Wilayah Citarum 2030) * Melaksanakan Peningkatan Irigasi (keandalan 100%) * Mempertahanakan keandalan irigasi maksimal Dinas PU/PSDA. Dinas TanHutBun Kab. khususnya untuk air industri di kawasan pantai utara dan Bandung * Melakukan kajian pengembangan penerapan teknologi desalinasi dan ultra filtrasi. Kelompok Masyarakat BBWS. Subang dan Indramayu. serta mendorong peran industri/ swasta untuk menerapkannya * Mendorong pelaksanaan pengembangan penerapan teknologi desalinasi dan ultra filtrasi oleh industri/ swasta. kumulatif = 100% * Membangun pembangkit listrik tenaga air pada bendungan dan pengembangan potensi mini dan mikro hydropower ESDM. dengan pemberian insentif Industri/Swasta. Kelompok Masyarakat * Menaikkan IP dg pemberdayaan petani (dari 215% ke 280%) * Melaksanakan AKNOP irigasi di seluruh DI di wilayah Citarum (2016-2020) pada area 50% 2. melaksanakan. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (1 Ci) pada Skenario 1. Indo Power.3. rehab jaringan dg Dinas PU/PSDA Prov/Kab. BBWS. kumulatif pelaksanaan 100%). dll) belum memadai. Kelompok Masyarakat di Sungai Citarum.Tabel 4. Rehabilitasi) P P P P P P P P P P * Merencanakan dan melaksanakan pemisahaan fungsi saluran air baku dan air irigasi di Saluran Induk Tarum Barat (Cantek 100% dalam 2 thn. BPSDA. PJT II.

.. dan melaksanakan pemeliharaan secara berkelanjutan Relokasi pendududk * Menerbitkan penetapan daerah retensi dan perda mengenai daerah retensi termasuk larangan membangun * Memelihara fungsi prasarana pengendali banjir secara berkelanjutan BBWS. serta pemberian sanksi bagi pelanggar * Melaksanakan penyadaran masyarakat BBWS. diserati pemasangan patok batas yang jelas BBWS. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (1 Ci) pada Skenario 1. kumulatif (100%) 13) Adanya kerusakan situ dan prasarananya * Terlaksananya rehabilitasi situ. serta melaksanakan dan melaksanakan pemeliharaan secara pemeliharaan secara berkelanjutan berkelanjutan 4) Penggunaan daerah retensi/ dataran banjir * Tercapainya penetapan dan * Menetapkan peruntukan dan melindungi dan rawan banjir untuk pemukiman pemasangan patok batas kawasan daerah retensi. Melaksanakan rehabilitasi situ pada Wilayah Citarum (15%) * Melaksanakan (50%) OP waduk/situ oleh BBWS/Dinas PU/swasta sesuai kewenangannya * Melindungi dan memulihkan kapasitas dan BBWS. Kelompok building code di daerah rawan longsor Masyarakat BBWS. serta hambatan oleh menyalurkan banjir dengan debit * Melaksanakan perbaikan dan rehabilitasi * Melaksanakan perbaikan dan rehabilitasi bangunan sumber daya air) tertentu Jaringan drainase 25% Jaringan drainase 25%. timbunan material sungai dan memasang patok batas galian (pasir. dan melaksanakannya secara secara bertahap (40%)./Kota. Dinas PU/PSDA prov. BBWS. Dinas PU/PSDA prov. Dinas PU/SDA Prov. Pertanian Prov/Kab. pengendalian banjir menyeluruh pada Sungai dan mengurangi frekuensi kejadian banjir BPSDA. kumulatif (50%) * Melaksanakan perencanaan normalisasi * Melaksanakan normalisasi sungai Citarum sungai Citarum beserta anak sungainya bersama anak sungainya dengan Q25. BPSDA. Pertambangan Prov/Kab/Kota. Dinas PU/PSDA prov. swasta BBWS. bertahap (35%). BPDAS. BPSDA. BBWS. untuk tampungan air 2) Menurunnya fungsi prasarana pengendali banjir di sungai Citarum * Melaksanakan OP Sungai dan saluran drainase secara berkelanjutan BBWS. kab/kota.Citarum Kebijakan operasional Lembaga/Instansi Terkait iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) * Melaksanakan program dan OP pada sistem * Mengurangi korban/ kerugian akibat banjir BBWS. Kelompok Masyarakat * Melaksanakan pengawasan dan penegakan hukum P P P P * Melaksanakan sosialisasi ke masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai secara berkelanjutan Melaksanakan sosialisasi ke masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai. kumulatif (100%) * Melaksanakan OP waduk/situ oleh BBWS/Dinas PU/swasta sesuai kewenangannya secara berkelanjutan * Penganggaran OP sesuai kebutuhan nyata pengelolaan situ-situ. BP DAS.600 m di Citarum hilir (penanganan darurat).. Polri. Kelompok Masyarakat P P P BBWS.Citarum STRATEGI i ii + i Jangka Pendek (2011-2015) Jangka Menengah (2011-2020) * Menyusun master plan sistem pengendalian * Melaksanakan program-program pada banjir secara menyeluruh pada S. * Melaksanakan sosialisasi peta rawan longsor __ * Membangun hutan tanaman pesisir. Kelompok Masyarakat P P P P P P P P P P P P P * Terlaksananya perbaikan. Kelompok Masyarakat * Melaksanakan penyadaran publik BBWS. kab/kota. drainase bersih dari sampah mengakibatkan banjir * Melaksanakan sosialisasi ke masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai secara berkelanjutan dan membuat TPS untuk di olah * Menetapkan peruntukan dan melindungi daerah retensi.Citarum master plan sistem pengendalian banjir secara menyeluruh pada S. dan jaringan drainase mampu drainase sepanjang tahun drainase sepanjang tahun pendangkalan alur. rehabilitasi dan pemeliharaan prasarana pengendali banjir secara berkelanjutan * Melaksanakan OP Sungai dan saluran drainase sepanjang tahun * Melaksanakan perbaikan dan rehabilitasi Jaringan drainase 50%. Dinas P2B. 3 dan 4 3 No. Pertambangan terhadap bahaya tanah longsor Prov/Kab/Kota. untuk tidak membuang sampah ke sungai BPSDA. Dinas PU/PSDA prov. Kelompok Masyarakat. BPSDA. melaksanakan penataan secara berkelanjutan secara berkelanjutan sistem dan menormalisasi drainase mikro di perkotaan (2014-2015) * Tanggul tanah dan penanaman mangrove * Penanaman mangrove dan merawat * Penanaman mangrove dan merawat BBWS. untuk mengembalikan kapasitas dan fungsinya sesuai rencana * Melaksanakan OP Waduk/Situ sesuai kebutuhan * Menginventarisasi kerusakan situ dan prasarananya.Tabel 4. kumulatif (100%) * Melaksanakan normalisasi sungai Citarum * Meningkatkan kapasitas aliran sungaai beserta anak sungainya dengan Q25. secara dan jaringan drainase untuk aliran Q25 bertahap (25%). Kelompok Masyarakat P P P P P P * Menetapkan pengaturan kawasan retensi yang telah terbangun * Menerapkan perda sempadan sungai dan melaksanakan pengawasannya __ * Menetapkan pengaturan kawasan retensi yang telah terbangun * Menertibkan sempadan sungai dan mencegah terhadap penggunaan yang dapat menghambat aliran banjir. Dinas PU/ PSDA/Kimrum Provinsi. rehabilitasi Merencanakan dan melaksanakan perbaikan * Melaksanakan pemeliharaan prasarana dan pemeliharaan prasarana tanggul bobol sepanjang 965 m dan tanggul pengendali banjir secara berkelanjutan pengendali banjir pada sungai Citarum kritis sepanjang 16. Dinas PU/PSDA prov. Dinas PU/ SDA Provinsi. Kelompok Masyarakat P P P P 7) Belum adanya Perda pembatasan KDB (Koefisien Dasar Bangunan) dan pembuatan kolam detensi pada komplek perumahan 8) Belum tersedia peta jalur dan tempat evakuasi bencana banjir 9) Belum terpasangnya sistem peringatan dini banjir dan kearifan lokal pada sungai utama 10) Kurangnya tertatanya (sistem dan kapasitas drainase mikro) di perkotaan menyebabkan genangan di jalan * Terbitnya Perda pembatasan KDB dan * Menyusun Perda pembatasan KDB dan pembuatan kolam detensi pada pembuatan kolam detensi pada komplek komplek perumahan perumahan. 2. BPSDA. Dinas PU/ PSDA Provinsi. Kelompok Masyarakat BBWS. 3. kab/kota. Dinas PU/PSDA. swasta * Menata dan membangun sistem jaringan BBWS. Dinas PU/PSDA.3. kumulatif (100%). Dinas Kehutanan. Kelompok Masyarakat. Kelompok Masyarakat BBWS. C atau D halaman 180 .. Satpol PP. BMKG. Kelompok Masyarakat * Melaksanakan upaya perkuatan daerah kritis * Melaksanakan upaya perkuatan daerah (vegetatif dan sipil teknis) kritis (vegetatif dan sipil teknis) * Melaksanakan rehabilitasi situ pada Wilayah Citarum (60%). baik secara swakelola maupun kontraktual Dinas PU ProvI. kab/kota. Dinas PU/PSDA prov. dengan Q25. kumulatif 40% BBWS. Kelompok Masyarakat Citarum dengan banjir rencana untuk kawasan pertanian Q5./Kab/Kota. Kelompok Masyarakat P P P P P P P P P P P * Tersedianya jalur evakuasi dan tempat * Merencanakan dan menetapkan jalur * Melaksanakan sosialisasi jalur evakuasi * Merview dan mensosialisasikan peta jalur pengungsian evakuasi dan tempat pengungsian dan tempat pengungsian evakuasi bencanca banjir * Terpasangnya sistem peringatan dini * Merencanakan pengembangan dan * Melaksanakan pemasangan dan * __ di semua sungai utama pemasangan sistem peringatan dini di operasional sistem peringatan dini di semua semua sungai sungai * Terwujudnya sistem dan kapasitas * Melaksanakan perencanaan sistem * Melaksanakan penataan sistem dan * Melaksanakan penataan sistem dan aliran saluran drainase mikro yang drainase dan kapasitasnya di perkotaan menormalisasi drainase mikro di perkotaan menormalisasi drainase mikro di perkotaan memadai di perkotaan (2011-2013). Balai PSDA. BPSDA. kab/kota. perkotaan Q25 * Melaksanakan perbaikan. kab/kota. PJT II. Melindungi water front city dari ancaman pasang air laut * Melakukan inventarisasi dan pemetaan daerah rawan longsor di tingkat Kab/Kota Dinas PU/PSDA provinsi. kab/kota. Kelompok Masyarakat dengan sistem drainase utama/ sungai P P P P P P P P P P P P P P P P P P P 11) Meningkatnya ancaman luapan air pasang * Teratasinya ancaman luapan air laut pasang laut 12) Banyak terjadinya bencana longsor di beberapa tempat * Berkurangnya kerugian akibat longsoran * Melakukan inventarisasi dan pemetaan daerah rawan longsor di tingkat Kab/Kota * Melaksanakan penyadaran publik terhadap bahaya tanah longsor * Menerapkan perijinan bangunan (IMB) dan building code di daerah rawan longsor * Melaksanakan upaya perkuatan daerah kritis (vegetatif dan sipil teknis). DPRD.1 PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR 1 Aspek/Sub Aspek PENCEGAHAN BENCANA A B C D P P P P 2 3 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis 1) Belum adanya Master Plan Sistem Pengendalian Banjir secara menyeluruh pada S. Dinas Kimrum. kerikil) dan tanaman keras yang menghambat arus banjir 6) Pembuangan sampah ke saluran drainase * Terwujudnya sungai dan saluran dan alur sungai menghambat aliran. fungsi situ di Wilayah Citarum Kelompok Masyarakat * Melaksanakan (50%) OP waduk/situ oleh BBWS/Dinas PU/swasta sesuai kewenangannya. Dinas PU/PSDA prov. serta sosialisasi kepada para pengembang dan masyarakat * Menerapkan dan mengawasi pelaksanaan Perda pembatasan KDB dan pembuatan kolam detensi pada komplek perumahan * Menerapkan dan mengawasi pelaksanaan Perda pembatasan KDB dan pembuatan kolam detensi pada komplek perumahan * Membatasi KDB dan pembuatan kolam detensi pada pembangunan komplek perumahan untuk mengurangi aliran permukaan akibat hujan * Menetapkan lokasi pengungsian oleh Pemda Jabar * Melaksanakan pemasangan sistem peringatan dini Dinas PU/PSDA Prov. B. kumulatif (75%). BPSDA. Kelompok Masyarakat * Menerapkan perijinan bangunan (IMB) dan Dinas P2B. Swasta.Citarum Sasaran/Target yang diinginkan * Tersusunnya master plan sistem pengendalian banjir secara menyeluruh pada S. BBWS.. Kelompok Masyarakat Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. untuk tampungan air retensi banjir serta melarang pembangunan di daerah retensi (Cieunteng dan Cikapundung) * Terlaksananya ketetapan kawasan * Menetapkan pengaturan kawasan retensi retensi yang telah terbangun termasuk yang telah terbangun upaya dan solusinya 5) Penggunaan bantaran sungai untuk * Terwujudnya bantaran sungai bersih * Sosialisasi perda No 8 thn 2005 sempadan pemukiman dan usaha dari bangunan. Dinas PU/ PSDA Provinsi. dan rehabilitasi tanggul 3) Berkurangnya kapasitas aliran sungai dan * Tercapainya kapasitas aliran sungai * Melaksanakan OP Sungai dan saluran * Melaksanakan OP Sungai dan saluran jaringan drainase (penyempitan sungai.. drainase mikro perkotaan yang terhubung Kab. BPSDA.. Kelompok Masyarakat * Melaksanakan penyadaran publik terhadap * Melaksanakan penyadaran publik terhadap bahaya tanah longsor bahaya tanah longsor * Menerapkan perijinan bangunan (IMB) dan * Menerapkan perijinan bangunan (IMB) dan building code di daerah rawan longsor building code di daerah rawan longsor * Melaksanakan upaya perkuatan daerah kritis (vegetatif dan sipil teknis) * Melaksanakan rehabilitasi situ pada Wilayah Citarum (25%)..

3 dan 4 3 No. Kelompok Masyarakat P P P P * Terlaksananya evakuasi korban pada saat kejadian banjir 3. Dinas PU/PSDA Prov. Kelompok Masyarakat BBWS.2 PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR 1 Aspek/Sub Aspek PENANGGULANGAN A B C D P P P P 2 3 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis 1) Penanggulangan darurat akibat bencana banjir Sasaran/Target yang diinginkan * Kerugian akibat banjir dapat diminimalisasikan i Jangka Pendek (2011-2015) * Menyediakan bahan banjiran setiap tahun dan dana operasional secara berkelanjutan STRATEGI ii + i iii + ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Jangka Panjang (2011-2030) * Menyediakan bahan banjiran setiap tahun * Menyediakan bahan banjiran setiap tahun dan dana operasional secara berkelanjutan dan dana operasional secara berkelanjutan Kebijakan operasional * Meminimalisasi kerugian akibat banjir Lembaga/Instansi Terkait BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) . C atau D halaman 181 .Tabel 4. B. Dinas PU/Kimrum kab/kota..3. dapur * Menyiapkan rencana tindak evakuasi. memulihkan fungsinya * Menyediakan dana tahunan untuk cadangan perbaikan prasarana sumber daya air yang rusak akibat banjir dan longsor * Menyediakan dana tahunan untuk cadangan perbaikan prasarana sumber daya air yang rusak akibat banjir dan longsor * Menyediakan dana tahunan untuk cadangan perbaikan prasarana sumber daya air yang rusak akibat banjir dan longsor * Mengantisipasi penanggulangan darurat berupa evakuasi korban dan dana operasionalnya * Memulihkan kondisi rumah korban pasca bencana dengan penyedian cadangan dana dari pemerintah.kab/kota. perahu karet. Dinas PU/PSDA kab/kota. BNPB. BPBD. 2. Kelompok Masyarakat BPBD. perahu karet.Dinas PU/PSDA Prov... Swasta. BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). P3K umum. tenda. MCK. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (1 Ci) pada Skenario 1. P3K pada pada daerah rawan banjir secara pada daerah rawan banjir secara daerah rawan banjir secara berkelanjutan berkelanjutan berkelanjutan * Tercapainya pemulihan kondisi rumah * Menyediakan cadangan dana bantuan * Menyediakan cadangan dana bantuan * Menyediakan cadangan dana bantuan masyarakat pemulihan tahunan (APBN/APBD) dan pemulihan tahunan (APBN/APBD) dan pemulihan tahunan (APBN/APBD) dan menggalang dana dari swasta menggalang dana dari swasta menggalang dana dari swasta * Terwujudnya perbaikan prasarana sumber daya air yang rusak. tenda. dan swasta serta melibatkan masyarakat * Memulihkan kondisi dan fungsi prasarana sumber daya air pasca bencana Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. MCK. MCK. BNPB. PMI. dapur * Menyiapkan rencana tindak evakuasi. BBWS. P3K umum. 3. PMI..3 P P P P PEMULIHAN AKIBAT BENCANA P P P 1) Belum optimalnya pemulihan kondisi rumah masyarakat yang menjadi korban setelah terjadinya bencana banjir dan longsor 2) Terjadinya kerusakan prasarana sumber daya air setelah terjadinya bencana banjir dan longsor * Menyiapkan rencana tindak evakuasi. BBWS. dapur umum. Kelompok Masyarakat Dinas PU/Kimrum Prov. perahu karet. Dinas PU/PSDA Prov. tenda. Dinas PU/PSDA kab/kota. BBWS. PMI.

2. jaringan. SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA AIR 1 Aspek/Sub Aspek A B C D P P P P 2 3 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis Sasaran/Target yang diinginkan i Jangka Pendek (2011-2015) * Mengevaluasi tingkat kehandalan data saat ini. Dinas TanHutBun kab/kota. kab/kota. Bappeda prov.. 3 dan 4 4 No. mengevaluasi * Mengoperasikan dan memelihara peralatan * Mengoperasikan dan memelihara peralatan * Melaksanakan evaluasi. SDM dan SISDA secara memadai * Mengembangkan SDM secara berkelanjutan * Mengembangkan SDM secara berkelanjutan * Menyediakan SDM yang profesional untuk Ditjen SDA. Dinas PU/SDA prov. Dinas ESDM prov. BMKG prov.. Kelompok Masyarakat Ditjen SDA. PJT II. Dinas PU/SDA prov. BMKG prov. rasionalisasi. BPSDA. Prasarana sumber daya air. kab/kota. Lingkungan sumber daya air. melaksanakan rasionalisasi yang menunjang SISDA secara yang menunjang SISDA secara berkelanjutan penyediaan.. Dinas ESDM prov. operasi dan pemeliharaan peralatan dan pengadaan peralatan baru berkelanjutan peralatan yang memadai untuk menunjang untuk menunjang SISDA terpadu SISDA * Mengkoordinasikan data sumber daya air yang berasal dari instansi-instansi terkait dan menerbitkan buku data tahunan serta menyediakan data berbasis web yang mudah diakses secara berkelanjutan * Menyediakan pedoman tentang pengelolaan SISDA yang sistematis dan komprehensif * Mengkoordinasikan data sumber daya air yang berasal dari instansi-instansi terkait dan menerbitkan buku data tahunan serta menyediakan data berbasis web yang mudah diakses secara berkelanjutan * Mengkaji ulang pedoman tentang pengelolaan SISDA yang sistematis dan komprehensif * Mengkoordinasikan data sumber daya air * Mengintegrasikan data SISDA yang yang berasal dari instansi-instansi terkait dan mudah diakses secara berkelanjutan menerbitkan buku data tahunan serta menyediakan data berbasis web yang mudah diakses secara berkelanjutan * Mengkaji ulang pedoman tentang pengelolaan SISDA yang sistematis dan komprehensif * Menerbitkan pedoman tentang pengelolaan SISDA yang sistematis dan komprehensif P P P P * Terintegrasinya data SISDA secara berkelanjutan P P P P * Tersedianya pedoman tentang pengelolaan SISDA yang sistematis dan komprehensif Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. BBWS.. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (1 Ci) pada Skenario 1. Biro Kepeg dan Ortala. mengolah dan menyajikan data sumber daya air secara handal.. Kelompok Masyarakat P P P * Tersedianya peralatan yang memadai untuk menunjang SISDA terpadu * Menginventarisasi peralatan... menangani SISDA Dinas PU/SDA prov.. Dinas ESDM prov. C atau D halaman 182 .kab/kota. Dinas PU/SDA prov. B.. Hidrogeologi dan air yang lengkap dan terpercaya Hidrometeorologi... Dinas TanHutBun kab/kota. Dipertan prov.. Dinas ESDM prov. terpadu dan berkelanjutan iii + ii + i Jangka Panjang (2011-2030) * Mengumpulkan. terpadu dan berkelanjutan * Melaksanakan pengadaan pegawai dan meningkatkan kapasitasnya sesuai kebutuhan STRATEGI ii + i Jangka Menengah (2011-2020) * Mengumpulkan. Kegiatan SoSekBud) karena database * Tersedianya SDM yang menangani belum lengkap. BMKG prov... Dipertan prov. Bappeda prov. Kelompok Masyarakat P P P P 1) Kurang handalnya database sumber daya * Terwujudnya database sumber daya air (Hidrologi. Kelompok Masyarakat BBWS. BPSDA. Dinas TanHutBun kab/kota. terpadu dan berkelanjutan Kebijakan operasional * Meningkatkan kualitas data dan tingkat kehandalan database sumber daya air secara terpadu dan berkelanjutan Lembaga/Instansi Terkait BBWS.. pengolahan dan penyajian data sumber daya air secara handal. Bappeda prov... BPSDA.. BMKG prov.. BMKG prov... Dinas ESDM prov.. Teknologi sumber daya air.. Ditjen SDA. Kelompok Masyarakat Ditjen SDA. kab/kota. Dinas TanHutBun kab/kota. Ditjen SDA. BPSDA.. BBWS. Dipertan prov. kab/kota. PJT II. Dipertan prov. Dinas PU/SDA prov. Bappeda prov. Bappeda prov. Melaksanakan langkah-langkah perbaikan dalam rangka pengumpulan.3. mengolah dan menyajikan data sumber daya air secara handal.kab/kota.Tabel 4. Kebijakan sumber daya air. Dipertan prov.

3 Ci dan 1 Ci) secara Ci) berkelanjutan * Peningkatan kinerja forum komunikasi * Membentuk forum komunikasi DAS dan DAS mengaktifkan forum * Meningkatnya Koordinasi antar Instansi terkait pengelolaan Irigasi di wilayah Citarum * Melaksanakan koordinasi antar instansi terkait secara berkelanjutan * Membentuk. dan belum menggunakan PAI (Pembiayaan Aset Irigasi) secara o Sasaran/Target yang diinginkan * Efektifnya pelaksanaan tugas dan fungsi unit kerja pengelolaan sumber daya air STRATEGI Kebijakan operasional i ii + i iii + ii + i Jangka Pendek (2011-2015) Jangka Menengah (2011-2020) Jangka Panjang (2011-2030) * Meningkatkan kapasitas masing-masing * Meningkatkan kapasitas masing-masing * Meningkatkan kapasitas masing-masing unit * Meningkatkan kapasitas masing-masing unit kerja Psumber daya air dengan unit kerja Psumber daya air dengan kerja Psumber daya air dengan unit kerja Psumber daya air secara menggunakan pengukuran kinerja menggunakan pengukuran kinerja menggunakan pengukuran kinerja berkelanjutan (Performance Benchmarking = 14 indikator) (Performance Benchmarking = 14 indikator) (Performance Benchmarking = 14 indikator) secara berkelanjutan secara berkelanjutan secara berkelanjutan * Meningkatkan kerjasama antar unit kerja * Meningkatkan kerjasama antar unit kerja * Meningkatkan kerjasama antar unit kerja * Meningkatkan kerjasama antar unit kerja Psumber daya air melalui MoU secara Psumber daya air melalui MoU secara Psumber daya air melalui MoU secara Psumber daya air melalui MoU secara berkelanjutan berkelanjutan berkelanjutan berkelanjutan * Menambah jumlah pegawai sesuai analis * Menambah jumlah pegawai sesuai analis * Menjaga kesesuaian antara jumlah yang * Memenuhi kebutuhan jumlah dan beban kerja (50% kekurangan terpenuhi) beban kerja (50% kekurangan terpenuhi) purna tugas dengan pengadaan pegawai baru kapasitas pegawai sesuai analisis beban sesuai analisis beban kerja kerja * Menempatkan pegawai sesuai dengan kompetensinya (50%) * Terbitnya pedoman atau MoU tentang pembagian peran antar unit pengelola sumber daya air antara lain kewenangan terhadap situ dan anak sungai * Terbitnya pedoman manajemen aset dalam pengelolaan sumber daya air * Menyusun. BBWS. Dan Ortala. kab/kota. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (1 Ci) pada Skenario 1. Dinas PU/SDA Prov. Kelompok Masyarakat Bappeda.. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. BBWS. Cisangkuy/antar Wilayah Sungai dll. Kelompok Masyarakat 5. 3 Ci. Kabupaten/Kota Kabupaten/Kota * Mengaktifkan/mengoptimalkan Dewan sumber daya air Provinsi di wilayah 6 Ci secara berkelanjutan * - * Mengaktifkan Komisi Irigasi Provinsi. Kelompok Masyarakat * Meningkatkan Koordinasi antar Instansi terkait pengelolaan Irigasi BBWS. BPSDA. kab/kota. Dinas ESDM Prov. kab/kota. MenKeu. Ditjen SDA. berkelanjutan (pengambilan tidak berijin. Kelompok Masyarakat P P P P 4) Belum adanya kebijakan yang jelas mengenai kesepakatan transfer air antar wilayah (Sungai Citarum ke Jakarta/antar Propinsi. Kabupate/Kota yang aktif * Mengoptimalkan kinerja Dewan Sumber Daya Air Provinsi di wilayah 6 Ci * Membentuk dan Mengaktifkan Dewan sumber daya air Kabupaten/Kota sesuai kebutuhan * Mengaktifkan Sekretariat TKPsumber daya air 6 Ci (2 Ci. menetapkan. Dinas SDA dan Pertambangan Kab/Kota. Kelompok Masyarakat Dinas PU/SDA kab/kota. BBWS. Kelompok Masyarakat * Mengaktifkan Sekretariat TKPsumber daya air 6 Ci (2 Ci. Kelompok Masyarakat BLU. Dinas PU/SDA Prov. Kelompok Masyarakat Ditjen SDA.3. Sek./Kab. BPSDA. Dinas PU/SDA Prov. diatur kembali/diperjelas melalui peraturan tingkat Menteri) * Mengatur pendelegasian kegiatan OP jaringan Jatiluhur kepada Provinsi * Menetapkan kebijakan tentang transfer air antar wilayah 5. mengoperasikan mengawasi pelaksanaan BLU Pengelolaan pelaksanaan BLU Pengelolaan sumber daya dan memantau penetapan BLU sumber daya air secara berkelanjutan air secara berkelanjutan Pengelolaan sumber daya air * Memantau. memantau dan * Mengoperasikan. BBWS. Dewan SDA Prov. dan membangun sumur pantau pada lokasi yang rawan * Melaksanakan sosialisasi dan penyadaran publik tentang bahaya pengambilan air tanah dalam yang melampaui batas aman. kab/kota. Biro Kepeg.Balai PSDA. Cibantarua ke S./Kota. gubernur. Dit BLU.1 PEMBERDAYAAN dan PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT. Dinas ESDM Prov.3 * Meningkatnya kesadaran swasta/perusahaan/industri dalam pengambilan air tanah dalam * Melaksanakan monitoring dan pengawasan * Melaksanakan monitoring dan pengawasan * Menyusun. pembahasan dan penetapan BLU Pengelolaan sumber daya air * Melaksanakan inventarisasi seluruh sumur pengambilan air tanah dalam. PJT. 3 Ci. atau atau melebihi volume ijin) melebihi volume ijin) * Melaksanakan sosialisasi dan penyadaran * Melaksanakan sosialisasi dan penyadaran * Melaksanakan sosialisasi dan penyadaran publik tentang bahaya pengambilan air publik tentang bahaya pengambilan air tanah publik tentang pengambilan air tanah tanah dalam yang melampaui batas aman. Sek. 2.. secara berkelanjutan * Menyusun dan menerbitkan dokumen pendelegasian perijinan penggunaan dan pengusahaan air permukaan * Menerbitkan aturan pelaksanaan PP 7 tahun 2010 secara jelas (yang belum jelas di PP 7. Dinas PSDA prov. kumulatif 100% * Memantau dan mengawasi penerapan pedoman pembagian peran dalam pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan * Menjaga kesesusaian penempatan pegawai sesuai kompetensinya * Memantau dan mengawasi penerapan pedoman pembagian peran dalam pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan * Memperbaiki pelaksanaan menejemen kepegawaian * Menerbitkan pedoman pembagian peran dalam pengelolaan sumber daya air Lembaga/Instansi Terkait BBWS. TKPSDA WS 6 Ci. Ditjen SDA. Kelompok Masyarakat Ditjen SDA. Polri. Dewan SDA Kab. membahas dan menyepakati pembagian peran dan wewenang antar institusi terkait bidang sumber daya air dalam bentuk pedoman atau MoU pengelolaan antara lain kewenangan terhadap situ dan anak sungai * Menyusun dan menetapkan pedoman menejemen aset dalam pengelolaan sumber daya air * Menempatkan pegawai sesuai dengan kompetensinya (50%).Dinas Pertanian Kabupaten. B. Kelompok Masyarakat BBWS. 3 Ci dan 1 Ci) secara berkelanjutan * Mengaktifkan forum komunikasi DAS secara berkelanjutan dalam rangka menjaga kelestarian fungsi konservasi * Melaksanakan koordinasi antar instansi terkait secara berkelanjutan * Mengaktifkan/mengoptimalkan Dewan sumber daya air Provinsi di wilayah 6 Ci secara berkelanjutan * Terbentuknya Dewan sumber daya air * Kabupaten/Kota sesuai kebutuhan * Optimalnya kinerja Sekretariat * Mengaktifkan Sekretariat TKPsumber daya TKPsumber daya air 6 Ci (2 Ci.) 1) Belum optimalnya kinerja Komisi Irigasi Provinsi. S. BBWS.. PU kapada Gubernur * Terbitnya dokumen pembagian peran kegiatan OP di Jargasi Jatiluhur Ditjen SDA. Ditjen SDA. BBWS. dalam yang melampaui batas aman. Kelompok Masyarakat Dinas PU/SDA prov. Satpol PP. BBWS.. kab/kota. Provinsi. gubernur. Pemda Banten. Bappeda. C atau D halaman 183 . 1 Ci) 5) Belum maksimalnya forum komunikasi DAS di WS 6 Ci 6) Belum Optimalnya Koordinasi antar Instansi terkait pengelolaan Irigasi di wilayah Citarum * Terwujudnya kebijakan yang jelas mengenai transfer air antar wilayah provinsi * Memantau dan mengawasi pelaksanaan kebijakan tentang transfer air antar wilayah secara berkelanjutan * Memantau dan mengawasi pelaksanaan kebijakan tentang transfer air antar wilayah secara berkelanjutan * Menetapkan kebijakan tentang transfer air Menteri PU../Kota dan BBWS.4 FORUM KOORDINASI PENGELOLAAN P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P * Optimalnya kinerja Komisi Irigasi Provinsi. 1 air 6 Ci (2 Ci. Dinas SDA dan Pertambangan Kab/Kota. 3 Ci dan 1 Ci) Dinas PU/SDA. Dinas TanHutBun Kab/Kota. Dinas PU/SDA Prov. Kelompok Masyarakat Ditjen SDA. menetapkan dan menerapkan dalam penerapan pedoman menejemen dalam penerapan pedoman menejemen aset pedoman manajemen asset dalam aset pengelolaan sumber daya air secara pengelolaan sumber daya air secara pengelolaan sumber daya air berkelanjutan berkelanjutan * Membangun komitmen diantara instansi * Membangun komitmen diantara instansi * Meningkatkan komunikasi dan koordinasi terkait bidang sumber daya air dalam terkait bidang sumber daya air dalam dalam pengelolaan sumber daya air pengalokasian anggaran pengelolaan pengalokasian anggaran pengelolaan sumber terpadu melalui TKPsumber daya air WS 6 sumber daya air melalui TKPsumber daya daya air melalui TKPsumber daya air WS 6 Ci Ci air WS 6 Ci secara berkelanjutan secara berkelanjutan * Menerapkan pungutan jasa pengelolaan * Menerapkan pungutan jasa pengelolaan * Mengkaji. Dit BLU. BBWS. BBWS. Men PU. Bappeda kab/kota. Kelompok Masyarakat Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. Sek. mengawasi dan melakukan * Memantau. TKPSDA WS 6 Ci. TKPSDA antar wilayah provinsi WS 6 Ci. Kelompok Masyarakat Ditjen SDA. Men PU. Dinas/SDA Prov. terbatasnya sumber * Terwujudnya dana dan belum keterpaduan adanya struktur dalam utk mengatur * Membangun cost recovery komitmen daridiantara pengguna instansi (air) 5. memantau dan mengawasi * Mengkaji. BBWS. Dan Ortala. dan penindakan terhadap para pelanggar penindakan terhadap para pelanggar memantau pengambilan air tanah dalam penggunaan air tanah dalam secara penggunaan air tanah dalam secara sesuai ijin yang telah diberikan berkelanjutan (pengambilan tidak berijin. Bappeda.. Dinas PU/SDA Prov. Kabupaten/Kota * Mengaktifkan/mengoptimalkan Dewan sumber daya air Provinsi di wilayah 6 Ci secara berkelanjutan * Mengaktifkan Dewan sumber daya air Kabupaten/Kota sesuai kebutuhan secara berkelanjutan * Mengaktifkan Sekretariat TKPsumber daya air 6 Ci (2 Ci. BPSDA. 3 Ci dan 1 Ci) secara berkelanjutan * Mengaktifkan forum komunikasi DAS secara berkelanjutan * Melaksanakan koordinasi antar instansi terkait secara berkelanjutan * Membentuk dan mengaktifkan forum DAS BP DAS. Kabupate/Kota 2) Belum optimalnya Dewan Sumber Daya Air Provinsi di wilayah 6 Ci 3) Belum terbentuknya Dewan sumber daya air Kabupaten/Kota 4) Belum optimalnya kinerja Sekretariat TKPsumber daya air 6 Ci (2 Ci. Kabupate/Kota yang aktif * Optimalnya kinerja Dewan Sumber Daya Air Provinsi di wilayah 6 Ci * Membentuk dan Mengaktifkan Komisi Irigasi * Mengaktifkan Komisi Irigasi Provinsi. Kelompok Masyarakat BPLHD prov.2 pembiayaan PENDANAAN penyusunan program dan anggaran terkait bidang sumber daya air dalam pengelolaan sumber daya air pengalokasian anggaran pengelolaan sumber daya air melalui TKPsumber daya air WS 6 Ci secara berkelanjutan P P P * Terwujudnya pungutan jasa * Melakukan kajian dan penetapan pungutan pengelolaan sumber daya air jasa pengelolaan sumber daya air P P P P P P PENGATURAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR P P P * Terbentuknya BLU Pengelolaan sumber daya air 1) Belum maksimalnya upaya pengawasan pemerintah terhadap pengambilan air tanah dalam yang dilakukan oleh pihak swasta/perusahaan/industri * Terkendalinya pengambilan air tanah dalam * Melakukan kajian. belum optimalnya pembagian tugas. Bappeda prov. MenKeu. SWASTA DAN PEMERINTAH 1 Aspek/Sub Aspek LEMBAGA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR A B C D P P P 2 3 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis 1) Belum efektifnya pelaksanaan tugas dan fungsi unit kerja yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air karena belum memadainya SDM (kuantitas dan kualitas). BPSDA. mengawasi dan melakukan * Melaksanakan inventarisasi. BPSDA. gubernur. BBWS. Dinas Pertanian Prov. BBWS. Dinas PSDA prov.. menetapkan dan menerapkan sumber daya air secara berkelanjutan sumber daya air secara berkelanjutan pungutan jasa pengelolaan sumber daya air * Mengoperasikan. Kelompok Masyarakat * Terpenuhinya jumlah pegawai dan peningkatan kapasitasnya P P P P P P P P P P P P sumber P P daya P air a pendanaan karena komitmen pengelolaan 1) masih terbatas/belum ada. kab/kota. kab/kota. kab/kota. Biro Kepeg. Kelompok Masyarakat P P P 2) Belum adanya pendelegasian perijinan penggunaan dan pengusahaan air permukaan dari Menteri PU ke Gubernur * Terbitnya dokumen pendelegasian perijinan penggunaan dan pengusahaan air permukaan Menteri PU. Kelompok Masyarakat P P P P P P BBWS. Bappenas. Kelompok Masyarakat BPLHD prov..Tabel 4. 3 dan 4 5 No.. Bappeda. 5. Dinas PU DKI. BPSDA. Dinas PU/SDA Prov/Kab/Kota. DKI Jakarta. Ditjen SDA. mengaktifkan dan memfasilitasi Komisi Irigasi Provinsi.. secara dalam secara berkelanjutan berkelanjutan * Melaksanakan pengaturan perijinan penggunaan dan pengusahaan air permukaan * Melaksanakan pengaturan perijinan penggunaan dan pengusahaan air permukaan * Melaksanakan pendelegasian perizinan penggunaan dan pengusahaan air permukaan dari Men. Kelompok Masyarakat P P P P 3) Adanya tumpang tindih pelaksanaan OP di * Terbitnya dokumen pembagian peran Jargasi Jatiluhur kegiatan OP di Jargasi Jatiluhur * Melaksanakan pendelegasian kegiatan OP * Melaksanakan pendelegasian kegiatan OP jargasi Jatiluhur kepada Provinsi jargasi Jatiluhur kepada Provinsi Menteri PU.

GP3A. lingkungan. IP3A dan Kelompok Tani. Dinas PU/PSDA.. PT. P3A/GP3A/IP3A. dinas PU/SDA kab/kota.Diknas 1) Lemahnya pembinaan dan pemberdayaan * Meningkatnya kesadaran dan masyarakat dlm pengelelolaan sumber kemampuan masyarakat dalam daya air Psumber daya air P P P P Dinas Pertanian. P3A. kumulatif 50% jaringan tersier (50% area. Kab/Kota terkait.SMP. BBKSDA.. Dinas TanHutBun kab/kota Catatan: P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. Dinas PerKim prov./kota) * Mengembangkan.. BUMN-HL. Asosiasi/masyarakat Industri. kelompok kebutuhan perkotaan dan rumah tangga masyarakat perkotaan * Melaksanakan sosialisasi dan pelaksanaan hemat air melalui demplot Dinas TanHutBun kab/kota. petani/P3A/GP3A dalam irigasi partisipatif. kelompok masyarakat. BPLHD/BLHD . BBWS. berhemat air irigasi dengan sistem SRI dengan demplot sistem SRI secara berkelanjutan * Membina petani melaksanakan sistem SRI (5% area) * Terlaksananya penerapan hemat air * Melaksanakan sosialisasi hemat air industri industri melalui Reduce-Reusemelalui 3R Recycle * Terlaksananya pengembangan dan Penerapan Teknologi ultra filtrasi dan desalinisasi air laut untuk industri * Mendorong kelompok industri mengolah air kotor dan air laut menjadi air bersih/tawar secara berkelanjutan * Melaksanakan sosialisasi tentang pengurangan resiko akibat banjir secara berkelanjutan * Melaksanakan pemberdayaan masyarakat dlm pengelolaan sampah (di saluran. Dinas Pertanian. Menambahkan pendidikan daya air pendidikan Pengelolaan sumber daya air Pengelolaan sumber daya air dalam Pengelolaan sumber daya air dalam muatan dalam muatan lokal tingkat muatan lokal tingkat PAUD.. PU/SDA. dengan demplot sistem SRI secara berkelanjutan * Membina petani melaksanakan sistem SRI (10% area). BPSDA. BBWS. Kelompok Masyarakat P P P Bappeda. Kelompok Masyarakat P P P P 2) Lunturnya budaya/tradisi masyarakat setempat dalam menjaga kelestarian kawasan hutan. Jabar dan DKI Jakarta) untuk DAS lainnya (antar kab. Kelompok Masyarakat Swasta.SD. serta memberikan bimbingan. 3 dan 4 5 No. Kadinda P P P P P P P 4) Kurangnya pemahaman masyarakat tentang manajemen banjir 5) Kurangnya peran masyarakat dlm pengelolaan sampah * Meningkatnya kesiapan masyarakat menghadapi banjir * Meningkatnya kesadaran masyarakat dlm pengelolaan sampah (di saluran. BBWS. Kelompok laut menjadi air bersih/tawar untuk industri Masyarakat BBWS.Sektor Swasta. Kelompok Masyarakat. 2. Dinas PU/SDA Prov.SMU lokal tingkat PAUD. Dinas PU/PSDA.5 PEMBERDAYAAN & PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT. BPLHD. PDAM. BPLHD/BLHD. BBWS. arahan dan pemberdayaan bimbingan. BBWS. secara berkelanjutan sungai) * Mendorong terwujudnya komitmen penyediaan dana CSR untuk konservasi sumber daya air dan lingkungan secara berkelanjutan * Meningkatkan peran swasta dalam konservasi sumber daya air dan lingkungan melalui dana CSR P P P P P P 6) Masih terbatasnya penggunaan dana * Terlaksananya peningkatan * Mendorong terwujudnya komitmen Corporate Social Responsibility (CSR). BBWS. Dinas Sosial. kumulatif (20%) * Menerapkan hemat air industri melalui 3R secara berkelanjutan Lembaga/Instansi Terkait TKPSDA. kab/kota. serta memberikan dan sumber daya air. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam.SMP. Dinas teknologi ultra filtrasi dan desalinisasi air PU/SDA prov. Menyiapkan kerjasama hulu-hilir DAS Citarum. kumulatif 100% area) area) * Memberdayakan dan meningkatkan * Memberdayakan dan meningkatkan Memberdayakan dan meningkatkan Meningkatkan kondisi sosial ekonomi kesejahteraan masyarakat DAS hulu sekitar kesejahteraan masyarakat DAS hulu sekitar kesejahteraan masyarakat DAS hulu sekitar masyarakat DAS hulu sekitar hutan dan hutan dan sekitar sumber air. BBWS. lingkungan. untuk CSR untuk konservasi sumber daya air sumber daya air dan lingkungan secara konservasi sumber daya air dan dan lingkungan berkelanjutan lingkungan * Terlaksananya peningkatan * Melaksanakan pemberdayaan masyarakat pemberdayaan masyarakat tentang tentang sanitasi lingkungan sumber air kebersihan lingkungan. melaksanakan dan Dinas TanHutBun. lingkungan. dengan jamban keluarga memanfaatkan CSR 7) Belum optimalnya kerjasama hulu_hilir dalam pelaksanaan konservasi DAS * Terlaksananya konservasi DAS dg prinsip kerjasama hulu-hilir * Melaksanakan pemberdayaan masyarakat * Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang sanitasi lingkungan sumber air secara tentang kebersihan lingkungan dan berkelanjutan. MOU dan melaksanakan uji coba Menyiapkan MOU dan melaksanakan uji Jabar dan DKI Jakarta) dan DAS lainnya kesepakatan kerjasama hulu-hilir pada coba kesepakatan kerjasama hulu-hilir (antar kab. Kelompok Masyarakat dan swasta. Kelompok Masyarakat P P * Mendorong kelompok industri mengolah air * Mendorong kelompok industri mengolah air kotor dan air laut menjadi air bersih/tawar kotor dan air laut menjadi air bersih/tawar secara berkelanjutan secara berkelanjutan * Melaksanakan sosialisasi tentang pengurangan resiko akibat banjir secara berkelanjutan * Melaksanakan pemberdayaan masyarakat dlm pengelolaan sampah (di saluran. Kelompok Masyarakat * Melaksanakan sosialisasi dan menerapkan hemat air industri melalui Reduce-Reuse-Recycle Kadinda. lingkungan dan sumber daya air * Terlindungnya/terjaganya budaya/tradisi masyarakat dalam menjaga kelestarian kawasan hutan. sumber daya air. penyadaran * Melaksanakan penyadaran masyarakat * Melaksanakan penyadaran masyarakat * Melaksanakan sosialisasi. Dinas Perindustrian kab/kota. 5. Menambahkan berkelanjutan. C atau D halaman 184 ./Kab/Kota. B.SD. Dinas PU/SDA prov. Dinas PU/SDA dan Pemuka agama/tokoh masyarakat.Tabel 4. Kelompok Masyarakat. BPDAS. sungai) secara berkelanjutan * Melaksanakan sosialisasi hemat air untuk Dinas PU/SDA kab/kota. Menambahkan pendidikan berkelanjutan. sungai) dlm pengelolaan sampah (di saluran. kumulatif (10%) * Menerapkan hemat air industri melalui 3R secara berkelanjutan * Melaksanakan sosialisasi hemat air untuk kebutuhan perkotaan dan rumah tangga secara berkelanjutan * Melaksanakan sosialisasi hemat air irigasi. sungai) * Melaksanakan sosialisasi tentang * Melaksanakan sosialisasi tentang pengurangan resiko akibat banjir secara pengurangan resiko akibat banjir berkelanjutan * Melaksanakan pemberdayaan masyarakat * Melaksanakan pemberdayaan masyarakat dlm pengelolaan sampah (di saluran. kerjasama hulu-hilir DAS Citarum (Prov. Dinas PU/SDA kab/kota. lingkungan. petani/P3A/GP3A dalam irigasi partisipatif. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (1 Ci) pada Skenario 1.SMU * Melaksanakan pemberdayaan * Melaksanakan pemberdayaan * Melaksanakan pemberdayaan Meningkatkan pembinaan kesadaran dan petani/P3A/GP3A dalam irigasi partisipatif. dan kelestarian kawasan hutan. swasta dan kelompok masyarakat P P P * Menginvetarisasi potensi kerjasama hulu* Melaksanakan dan memantau kesepakatan * Melaksanakan dan memantau kesepakatan hilir pada masing-masing DAS.. memantau kerjasama hulu-hilir setiap DAS BPDAS. serta memberikan sumber daya air. Kelompok Masyarakat Dinas Kebersihan Prov. sehingga aktif hutan dan sekitar sumber air. DUNIA USAHA DAN PEMERINTAH 1 Aspek/Sub Aspek PEMBERDAYAAN dan PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT DAN SWASTA A B C D P P P P 2 3 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis Sasaran/Target yang diinginkan STRATEGI Kebijakan operasional i ii + i iii + ii + i Jangka Pendek (2011-2015) Jangka Menengah (2011-2020) Jangka Panjang (2011-2030) * Melaksanakan sosialisasi. Dinas Pertanian. arahan dan pemberdayaan untuk menjaga kelestariannya secara untuk menjaga kelestariannya secara menjaga kelestariannya secara berkelanjutan untuk menjaga kelestariannya secara berkelanjutan berkelanjutan berkelanjutan * Melaksanakan sosialisasi hemat air untuk kebutuhan perkotaan dan rumah tangga secara berkelanjutan * Melaksanakan sosialisasi hemat air irigasi. dan kelestarian kawasan hutan. Dinas Kehutanan.3./Kab/ Kota. arahan dan pemberdayaan bimbingan.SD. serta memberikan sumber daya air.SMP. Dinas Kehutanan dalam pelaksanaan konservasi Prov./kota) DAS Citarum (Prov. kab/kota. dengan memanfaatkan CSR penggunaan jamban keluarga Dinas CK. sungai) secara berkelanjutan * Mendorong terwujudnya komitmen penyediaan dana CSR untuk konservasi sumber daya air dan lingkungan secara berkelanjutan * Melaksanakan pemberdayaan masyarakat tentang sanitasi lingkungan sumber air secara berkelanjutan. kab/kota. Dinas PU/SDA prov..SMU PAUD. Forum DAS. dengan memanfaatkan CSR * Mengembangkan dan menerapkan Dinas Perindustrian prov. kab/kota. kelompok tani. BPSDA. BP DAS. kemampuan petani/P3A dalam termasuk pemeliharaan dan peningkatan termasuk pemeliharaan dan peningkatan termasuk pemeliharaan dan peningkatan pengelolaan jaringan irigasi tersier jaringan tersier (30% area) jaringan tersier (20% area. pengembangan dan penerapan Dana penyediaan dana CSR untuk konservasi Payment Enviroment Service (PES). BPSDA. penyadaran masyarakat dalam Pengelolan sumber daya dalam Pengelolan sumber daya air secara dalam Pengelolan sumber daya air secara masyarakat dalam Pengelolan sumber air secara berkelanjutan. dengan demplot sistem SRI secara berkelanjutan * Membina petani melaksanakan sistem SRI (5% area). Kelompok Masyarakat P P P P 8) Belum berkembangnya kerjasama pengelolaan jasa lingkungan * Terlaksananya kerjasama pengelolaan jasa lingkungan * Menginvetarisasi dan mengkaji potensi * Melaksanakan dan mengembangkan obyek dan subyek kerjasama pengelolan kerjasama pengelolaan jasa lingkungan jasa lingkungan dengan referensi DAS serta monitoring dan evaluasi Cikapundung (Desa Cikole dan Suntenjaya pelaksanaannya (2011-2013). sehingga aktif hutan dan sekitar sumber air. lingkungan dan sumber daya air Dinas Sosial. Perum Perhutani. termasuk secara berkelanjutan. Dinas PU/SDA prov. BBWS. Dinas PSDA Prov.menyusun dokumen kerjasama dan melaksanakan uji coba (2014-2015) * Melaksanakan dan mengembangkan * Melaksanakan dan mengembangkan kerjasama pengelolaan jasa lingkungan serta kerjasama (pengelolaan jasa lingkungan) monitoring dan evaluasi pelaksanaannya BPLHD Prov/kab/kota. Kelompok Masyarakat P P P P 3) P P P P P P P P Belum maksimalnya masyarakat dalam melaksanakan hemat air * Terlaksananya pemasyarakatan hemat * Melaksanakan sosialisasi hemat air untuk air untuk kebutuhan perkotaan kebutuhan perkotaan dan rumah tangga secara berkelanjutan * Terlaksananya pembinaan petani * Melaksanakan sosialisasi hemat air irigasi. sehingga aktif sekitar sumber air melalui pembinaan dan berpperan ikut menjaga kelestarian hutan berpperan ikut menjaga kelestarian hutan berpperan ikut menjaga kelestarian hutan dan pendampingan dan sumber air secara berkelanjutan dan sumber air secara berkelanjutan sumber air secara berkelanjutan * Menginvenatrisasi kelompok masyarakat * Menginvenatrisasi kelompok masyarakat * Menginvenatrisasi kelompok masyarakat * Menginvenatrisasi kelompok masyarakat yang mempunyai budaya dalam menjaga yang mempunyai budaya dalam menjaga yang mempunyai budaya dalam menjaga yang mempunyai budaya dalam menjaga kelestarian kawasan hutan. arahan dan pemberdayaan untuk bimbingan. dan kelestarian kawasan hutan.

BBWS. 3 dan 4 PENATAAN RUANG 1 No. ke dalam RTRW Prov/Kab/Kota * Menetapkan kawasan yang harus diproteksi dari pembangunan perumahan/ perkotaan. membatasi pelaksanaan RTRW. ke dalam RTRW Prov/Kab/Kota Sasaran/Target yang diinginkan STRATEGI ii + i iii + ii + i Jangka Menengah (2011-2020) Jangka Panjang (2011-2030) * Melaksanakan sosialisasi peraturan per * Melaksanakan sosialisasi peraturan per undang-undangan terkait dengan penataan undang-undangan terkait dengan penataan ruang ruang Kebijakan operasional Lembaga/Instansi Terkait * Mensosialisasikan. Bappeda Prov/Kab/Kota. serta building code./Kab/Kota. Polres/Polda./Kab/Kota. Kelompok Masyarakat berkelanjutan mendapatkan perlindungan khusus sesuai peraturan * Mencegah terjadinya alih fungsi lahan pertanian tanaman pangan Dinas Pertanian Prov/Kab/Kota. ke dalam RTRW Prov/Kab/Kota * Mencantumkan struktur bangunan utama sumber daya air dalam RDTR Kab/Kota * Mencantumkan kawasan rehabilitasi hutan dan lahan sesuai RTkRHL dalam RTRW Kab/Kota * Menyusun Perda. Dinas Tata Ruang Prov/ Kab/Kota. Dinas PU/PSDA Prov. IMB./Kab/Kota. tanah produktif tanpa/dengan konservasi) 2) Terjadinya alih fungsi lahan pertanian tanaman pangan (sawah) * Mensosialisasikan dan menerapkan insentive dan disinsentive (PBB tanah terlantar/produktif. rawan banjir. Strategi C = 30 m3/dtk {(kondisi saat ini = 16 m3/dtk + 5 m3/dtk (normalisasi Tarum Barat/BBWSC) + 9 m3/dtk(studi Mot Mac Donal. Dinas PU/SDA prov. tanah produktif tanpa/dengan konservasi) P P P P P P P P P P P P P P P * Terwujudnya insentive dan disinsentive (tanah terlantar/produktif. tentang ruang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional * Melaksanakan pemantauan dan pengawasan pelaksanaan per undangundangan terkait dengan penataan ruang secara berkelanjutan (2014-2015) Melaksanakan penindakan terhadap pelanggar penataan ruang secara berkelanjutan (2014-2015) * Menetapkan zonasi pemanfaatan sumber air termasuk kawasan resapan. Bappeda terhadap pelanggaran peraturan Per-UU. sumber air.3. Kebijakan Operasional Pengelolaan Pengelolaan Sumber Daya Air di WS 6 Ci (1 Ci) pada Skenario 1. secara berkelanjutan * Mensosialisasikan dan menerapkan insentive * Menerapkan insentive dan disinsentive dan disinsentive (PBB tanah (PBB tanah terlantar/produktif. PPNS. Dinas Tata Ruang.Tabel 4. tanah produktif produktif tanpa/dengan konservasi) tanpa/dengan konservasi) Dispenda. BBWS. IMB. 2010. Bappeda prov . Kelompok Masyarakat P P P P * Menetapkan zona daerah rawan bencana tsunami. 2). B. Kelompok Masyarakat Dinas Kimrum Prov/ Kab/Kota. Dinas TanHutBun Kab/Kota. Dinas PU/SDA. * Mengendalikan ijin lokasi dan ijin bangunan. tangkapan air. Bappeda Prov/Kab/Kota. serta konsolidasi kepemilikan konsolidasi kepemilikan lahan retensi banjir lahan retensi banjir Dinas Kimrum prov. P = Menandakan Upaya tersebut telah termasuk kedalam strategi A. kab/kota. BBWS.. membatasi peruntukan peruntukan kawasan melalui pembatasan kawasan melalui pembatasan ijin lokasi. C atau D halaman 185 . ijin lokasi.Prov/Kab/Kota. 2. Dinas PU/PSDA Prov. Kab/Kota Dinas Kimrum Prov/ Kab/Kota. Strategi A dan B = 16 m3/dtk (sama seperti kondisi saat ini). Dinas mengawasi dan melakukan penindakan PU/PSDA Prov. Bappeda perlindungan lahan pertanian pangan. Kelompok Masyarakat P P P P * Melaksanakan pemantauan dan pengawasan pelaksanaan per undangundangan terkait dengan penataan ruang secara berkelanjutan * Melaksanakan pemantauan dan pengawasan pelaksanaan per undang-undangan terkait dengan penataan ruang secara berkelanjutan P P P P P P P * Terlaksananya UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup * Melaksanakan penindakan terhadap * Melaksanakan penindakan terhadap pelanggar penataan ruang secara pelanggar penataan ruang secara berkelanjutan berkelanjutan * Melaksanakan pemantauan dan mengawasi * Melaksanakan pemantauan dan mengawasi pelaksanaan RTRW. secara berkelanjutan dalam RTRW untuk Prov/Kab/Kota. building code. rawan longsor. Kelompok Masyarakat an tentang penataan ruang dan RTRW Prov. serta menerapkan sanksi terhadap serta menerapkan sanksi terhadap pelanggaran pelaksanaan alih fungsi lahan pelanggaran pelaksanaan alih fungsi lahan secara berkelanjutan secara berkelanjutan Catatan : 1). Bappeda Prov/Kab/Kota. BBWS. tanah produktif tanpa/dengan konservasi) * Memonitor dan mengawasi pelaksanaan perlindungan lahan pertanian pangan. antara lain lokasi calon genangan waduk/ tampungan air. Kelompok Masyarakat P P P P * Terlaksananya UU Nomor 41 Tahun * Menetapkan kawasan pertanian pangan 2009 tentang Lahan Pertanian Pangan berkelanjutan dalam RTRW untuk Berkelanjutan PP Nomor 1 Ttahun mendapatkan perlindungan khusus sesuai 2011 peraturan berkelanjutan (2011-2013) * Mensosialisasikan kawasan pertanian pangan berkelanjutan (2011-2013) * Memonitor dan mengawasi pelaksanaan secara berkelanjutan (2014-2015) melalui ijin lokasi dan IMB * Menerapkan sanksi terhadap pelanggaran pelaksanaan alih fungsi lahan secara berkelanjutan (2014-2015) * Memonitor dan mengawasi pelaksanaan * Menetapkan kawasan pertanian pangan Dinas Pertanian Prov/Kab/Kota. BPN. BBWS. BBWS. tanah terlantar/produktif. Aspek/Sub Aspek A B C D P P P P 2 3 4 Permasalahan Berdasarkan Analisis 1) Adanya pelanggaran pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana peruntukan i Jangka Pendek (2011-2015) * Terlaksananya UU Nomor 26 Tahun * Melaksanakan sosialisasi peraturan per 2007 tentang Penataan Ruang dan PP undang-undangan terkait dengan penataan Nomor 26 Tahun 2008. BBWS. BPN Kab/Kota. kawasan retensi banjir. memantau. Kelompok Masyarakat P P P P P P P P P P P * Mengendalikan ijin lokasi dan ijin bangunan. mensosialisasikan dan menerapkan insentive dan disinsentive (PBB tanah terlantar/produktif.

Peta Tematik Pengelolaan Sumber Daya Air WS 6 Ci .

PETA TEMATIK PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WS 6 CI PADA SKENARIO 4 ASPEK KONSERVASI SUMBER DAYA AIR (SUB ASPEK PERLINDUNGAN DAN PELESTARIAN SUMBER DAYA AIR) halaman 186 .

PETA TEMATIK PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WS 6 CI PADA SKENARIO 4 ASPEK KONSERVASI SUMBER DAYA AIR (SUB ASPEK PENGAWETAN AIR) halaman 187 .

PETA TEMATIK PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WS 6 CI PADA SKENARIO 4 ASPEK KONSERVASI SUMBER DAYA AIR (SUB ASPEK PENGELOLAAN KUALITAS AIR DAN PENGENDALIAN PENCEMARAN) halaman 188 .

PETA TEMATIK PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WS 6 CI PADA SKENARIO 4 ASPEK PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR (SUB ASPEK PENATAGUNAAN SUMBER DAYA AIR & PENYEDIAAN SUMBER DAYA AIR) halaman 189 .

PETA TEMATIK PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WS 6 CI PADA SKENARIO 4 ASPEK PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR (SUB ASPEK PEYEDIAAN SUMBER DAYA AIR) halaman 190 .

PETA TEMATIK PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WS 6 CI PADA SKENARIO 4 ASPEK PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR (SUB ASPEK PENGUNAAN SUMBER DAYA AIR) halaman 191 .

PETA TEMATIK PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WS 6 CI PADA SKENARIO 4 ASPEK PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR (SUB ASPEK PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR) halaman 192 .

PETA TEMATIK PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WS 6 CI PADA SKENARIO 4 ASPEK PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR (SUB ASPEK PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR) halaman 193 .

PETA TEMATIK PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WS 6 CI PADA SKENARIO 4 ASPEK PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR (SUB ASPEK PENCEGAHAN BENCANA) halaman 194 .

PETA TEMATIK PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WS 6 CI PADA SKENARIO 4 ASPEK PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR (SUB ASPEK PENCEGAHAN BENCANA DI BBWS 2 CI) halaman 195 .

PETA TEMATIK PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WS 6 CI PADA SKENARIO 4 ASPEK PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR (SUB ASPEK PENANGGULANGAN DAN PEMULIHAN AKIBAT BENCANA) halaman 196 .

PETA TEMATIK PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WS 6 CI PADA SKENARIO 4 ASPEK SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA AIR halaman 197 .

SWASTA & PEMERINTAH (SUB ASPEK LEMBAGA PSUMBER DAYA AIR DAN PENDANAAN) halaman 198 .PETA TEMATIK PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WS 6 CI PADA SKENARIO 4 ASPEK PEMBERDAYAAN/PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT.

SWASTA & PEMERINTAH (SUB ASPEK PENGATURAN) halaman 199 .PETA TEMATIK PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WS 6 CI PADA SKENARIO 4 ASPEK PEMBERDAYAAN/PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT.

PETA TEMATIK PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WS 6 CI PADA SKENARIO 4 ASPEK PEMBERDAYAAN/PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT. SWASTA & PEMERINTAH (SUB ASPEK FORUM KOORDINASI PSUMBER DAYA AIR) halaman 200 .

SWASTA & PEMERINTAH (SUB ASPEK PEMBERDAYAAN DAN PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT DAN SWASTA) halaman 201 .PETA TEMATIK PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WS 6 CI PADA SKENARIO 4 ASPEK PEMBERDAYAAN/PENINGKATAN PERAN MASYARAKAT.