You are on page 1of 136

Pustaka Ebook Gratis 78 - Mirror Download Google Books - www.pustaka78.com
Sumber Download Ebook Pratinjau Terbatas Google Books Khusus Buku-buku Berbahasa Indonesia atau Berbahasa Asing Tentang Indonesia Ebook pratinjau terbatas yang sedang Anda baca ini berasal dari:
Lisensi Dokumen: @ Hak Cipta ada pada Penulis/Pengarang, Penerbit atau Sumber Online.

http://www.pustaka78.com

http://www.pustaka78.com
Sumber Do wnload Ebook Pr atinjau Terba tas Goo gle Books Download Pra erbatas Goog Khusus Buku-b uku Berbahasa Indonesia a tau Buku-b uku Buku-buku atau Buku-buku Berbahasa Asing Tentang Indonesia
Online Sejak 1 Januari 2009 website: http://www.pustaka78.com email: pustaka78@gmail.com fan facebook: http://facebook.pustaka78.com

Buku pratinjau terbatas ini pertama kali dipublikasikan untuk publik oleh Google Books atas persetujuan penerbit yang bersangkutan. Dikompilasi dalam bentuk file ebook berformat PDF oleh Pustaka Ebook Gratis 78 (PG78) untuk memudahkan para pembeli atau pustakawan dalam hal membaca sebelum memutuskan untuk membelinya. Seluruh material yang terkandung dalam ebook ini dilindungi undang-undang sebagaimana yang tercantum dalam dokumen negara UU RI No.12 Tahun 1997 tentang Hak Cipta. Ebook pratinjau terbatas ini boleh disebarkan luaskan tanpa menghilangkan identitas pemilik hak cipta. Hak cipta ada pada penerbit atau penulis. PG78 semata-mata hanya sebagai penyedia informasi buku-buku khusus berbahasa Indonesia atau buku-buku berbahasa asing tentang Indonesia yang memiliki koleksi buku pratinjau terbatas dalam database publikasi online gratis dari Google Books. Buku digital pratinjau terbatas ini tidak akan pernah menggantikan buku versi cetaknya yang lebih lengkap, malah mendukung promosinya. Semoga semua bahan bacaan koleksi PG78 ini bermanfaat bagi masyarakat luas di Indonesia maupun di luar negeri, sehingga dunia perbukuan nasional dapat maju dan berkembang dengan pesat.

Kunjungi www.pustaka78.com sekarang juga! Dapatkan ribuan ebook pratinjau terbatas, dijamin 100% GRATIS untuk didownload.

SERIAL: "BOMA GENDENK"

JUDUL: ABG - Anak Baru.... Gendenk

Oleh: BASTIAN TITO

HAK CIPTA DAN COPY RIGHT PADA BASTIAN TITO DIBAWAH LINDUNCAN UNDANG-UNDANG Diterbitkan pertama kali Tahun 1997 oleh Penerbit Duta Media, Jakarta P.O. BOX. NO. A226/JKTJ/13342 Foto cover Depan: Orly Velli Valentine Vino Giovanni

Dilarang keras memfotokopi atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

Ada di atas. Sebelum membuka pintu pagar lelaki ini menatap wajah anaknya yang tampak keletihan.keluar dari rumah.1 TABLOID PUNYA BERITA BRAM DWI SUMITRO mendorong pintu pagar." jawab Bram. "Belum tau 'Yah. Setengah . "Boma pulang?" Wajah dan suara Bram menunjukkan rasa gembira. "Hasil Bram?" "Jum'at depan Bu. dia juga ingin tahu hasil tes lamaran kerja puteranya itu. Baru ketauan. Sumitro Danurejo -ayah Bram.. Di ruang depan. Mungkin hari Jum'at baru ketauan hasilnya. "Bagaimana tes lamaran kerjamu?" Sumitro bertanya. Seperti suaminya yang penuh harap. Hesti Sumitro -ibu Bramyang sedang menyeterika memalingkan kepala. Nyonya Hesti meletakkan seterika listrik." Perempuan itu memberi tahu. Tergulung di tangan kanannya sebuah tabloid terbitan hari itu. Sumitro membuka pintu pagar. "Adikmu sudah pulang.. Sehabis tes masih ada wawancara." jawab Bram sambil menyeka keningnya yang basah oleh keringat.

Namun lubuk hatinya tersentuh dalam. Baca dulu . "Sorry aku nggak bisa ngejemputmu di rumah sakit. Bram memukul paha adiknya dengan gulungan tabloid. Pintu kamar tidur Boma tidak tertutup. "Bom. menelentang. termasuk biaya sekolah Boma. Hanya pakai singlet dan celana jins. "Udah. Lusa ada wawancara." Bram Dwi Sumitro tersenyum mendengar kata-kata adiknya itu. Matanya terbuka. Bram langsung masuk ke dalam kamar. pandangannya kosong seperti melamun." "Aku doa-in supaya kau yang diterima." "Gimana tesmu Bram?" "Bisa semua. Dari hasil wawancara nanti baru ketauan siapa yang bakal diterima. yang lulus tes cuma empat. Sejak ayahnya pensiun memang terasa sekali akan adanya seseorang yang dapat menunjang biaya kehidupan rumah tangga mereka. termasuk aku. Dari sembilan pelamar yang disaring." "Nggak apa-apa." jawab Boma. Boma terbaring di ranjang. kita jangan bicara soal lamaranku." Bram mengangguk. "Kata Ibu hari ini kau ngikutin tes lamaran kerja. kapan kau pulang?" "Siang tadi.berlari pemuda berusia 24 tahun S1 Teknik Elektro yang sudah satu tahun menganggur itu menaiki tangga.

"Tenang Bom. Bram mengambil tabloid yang tercampak di lantai. Di sebelah foto. kau paling males baca surat kabar. pacar Boma." Bram melemparkan gulungan tabloid yang sejak tadi dipegangnya. Lalu dengan huruf-huruf lebih kecil dibawah judul menyusul sub-judul berbunyi Ada Misteri Dalam Penyelamatan Korban Musibah Gunung Gede. duduk ke dinding." kata Bram Dwi Sumitro memotong ucapan adiknya. Boma membuka gulungan tabloid." "Aku tau. "Sialan! Apa-apaan 'nih!" kata Boma setengah berteriak. Pacar Boma Mengakui. "Kau liat! Foto siapa 'tuh! Kenal nggak? Liat judul beritanya!" Di halaman dua tabloid sebelah kiri atas terpampang foto besar Trini Damayanti. jangan emosi. Liat halaman dua." "Kesohor? Ada apa? Kok nyuruh aku. Tapi yang satu ini lain Bom. langsung membalik halaman dua.ini. Matanya membesar menatap ke arah kakaknya.." . dengan huruf-huruf besar tertera judul berita. Di bawah foto ada caption : Trini Damayanti. Baca dulu beritanya sampai habis. Cantik dan tersenyum. "Kau jadi orang kesohor sekarang. di letakkan di pangkuan Boma.. Tabloid dibantingkannya ke lantai lalu dia beringsut.

" kata Bram sambil senyum-senyum. Keanehan pertama dialami oleh Bapak Tatang Suryadilaga. baru pertama kali terjadi. itu sih bukan soal. terjadi beberapa peristiwa aneh. Biasanya wartawan nulis apa adanya."Tapi ini jelas nggak bener! Siapa bilang aku pacaran sama dia. Kepala Pos Pengawasan Gunung Gede. Wartawan geblek!" "Pacaran apa nggak. Dalam berita dikatakan selamatnya tujuh pelajar tersebut merupakan satu peristiwa luar biasa. pelajar SMA Nusantara III yang sejak lama sudah menjadi pacar Boma Tri Sumitro. Sang wartawan mengutip keterangan dari beberapa sumber dipercaya yang juga diakui oleh Trini Damayanti bahwa selama penyelamatan dilakukan. Lalu mengambil tabloid di pangkuannya dan mulai membaca. Lagian mungkin bukan wartawannya yang geblek. Menurut sang wartawan yang berinisial "TB" tulisan itu merupakan sambungan dari berita Minggu sebelumnya dan adalah hasil wawancaranya dengan Trini Damayanti. Beritanya cukup panjang. sampai menghabiskan empat kolom lebih. Jadi kau harus baca dulu. Satu hari sebelum terjadinya musibah atas rombongan para pelajar SMA . Boma menowel hidungnya beberapa kali. puteri Letkol (Pol) Kusumo Atmojo.

Tidak seorangpun dari tujuh pelajar itu tewas. menurut perhitungan pelaksanaan evakuasi yaitu membawa dan menyelamatkan anak-anak itu dari lokasi ditemukan sampai ke kaki gunung paling cepat akan memakan waktu lima jam. Takut kalau musibah yang dialami oleh mahasiswa dari Bandung dan pelajar STM dari Bogor akan menimpa pula rombongan para pelajar SMA Nusantara III dari Jakarta. Keanehan kedua. Menurut Letda . Padahal saat itu malam hari. Ternyata regu penolong dan tim medis mampu melakukan dalam waktu hanya tiga jam. Tiga tahun lalu Pak Tatang pernah mimpi seperti itu. lelaki ini bermimpi melihat api di puncak Gunung Gede. Lalu setahun setelah itu kembali Pak Tatang mimpi melihat api di puncak Gunung Gede. Pertanda mimpi yang sama mau tak mau membuat Pak Tatang jadi khawatir. Ternyata hal itu memang kejadian. Lima dari enam mahasiswa itu ditemukan tewas. Tetapi kali ini semuanya selamat.Nusantara III. Beberapa hari kemudian rombongan mahasiswa dari Bandung yang mendaki Gunung Gede mengalami kecelakaan. Besoknya empat pelajar STM Bogor ditemukan dalam keadaan kaku tak bernyawa di salah satu lereng Gunung Gede. udara dingin dan jalan licin.

dan yang lebih jadi pertanyaan. Bukan pekerjaan mudah menandu seseorang menuruni gunung dalam gelapnya malam dan buruknya cuaca. Tapi anak-anak yang mereka tandu. Siapa yang mengatur begitu rupa. Mereka ditemukan berjejer rapi di dalam kantongkantong plastik yang mereka bawa. Padahal jangankan masuk dan menggunakan kantong plastik.Sofyan. Polisi dari Sukabumi yang memimpin regu penolong. Binatang yang tubuhnya mengeluarkan cahaya ini bukan saja terbang menerangi jalan yang ditempuh tapi sekaligus seolah menjadi penunjuk jalan. termasuk Gita Parwati yang gemuk lebih seratus kilogram. Keanehan berikutnya yang diungkapkan oleh wartawan tabloid berinisial "TB" itu ialah pengakuan regu penolong yang menggotong anak-anak yang celaka. Seolah-olah ada tangan-tangan tak kelihatan dari mahluk-mahluk gaib ikut menggotong tandu! Keanehan yang paling luar biasa dan sampai saat itu masih menjadi teka teki inilah ketika tujuh anak pertama kali ditemukan di lokasi kecelakaan. bergerak . terasa ringan. bagaimana mereka bisa berada dalam kantong-kantong plastik tebal itu. sepanjang jalan menuju kaki Gunung Gede malam itu secara aneh di depan mereka ada puluhan kunangkunang.

seandainya anak-anak itu tidak berada dalam kantong plastik tersebut. Dia turun dari tempat tidur. Menurut tim medis dan dokter yang menolong di Rumah Sakit Sukabumi. "Brengsek!" "Apa? Siapa yang brengsek Bom?" "Cerita tentang keanehan ini memang betul. kemungkinan besar nyawa mereka tidak akan tertolong akibat dinginnya udara dan lemahnya daya tahan tubuh. "Gimana?" tanya Bram. Menurut wartawan yang menulis. Boma tak menjawab. Enam anak anggota rombongan telah dihubungi dan pernah diwawancara.saja anak-anak itu sudah tak sanggup karena kondisi tubuh yang sangat lemah. Terutama menyangkut semua keanehan itu. "Kau mau kemana?" Kakak Boma . mengambil kemeja yang tergantung di sangkutan dan mengenakannya. Tapi soal aku pacaran sama Trini! Itu yang brengsek!" "Kau merasa pacaran sama 'tu cewek nggak?" tanya Bram. Boma melipat tabloid yang barusan dibacanya. semua teka-teki ini akan terungkap setelah Boma. namun tidak bisa memberikan keterangan banyak. pimpinan rombongan pendaki dapat ditemui dan dimintakan keterangannya.

. Jangan kemana-mana dulu. Boros listrik!" "Huss. Bram gelengkan kepala. Brengsek! Seharusnya di rumah ini ada tilpon!" Boma duduk di tepi tempat tidur setengah membantingkan diri. "Kau punya koin cepean nggak?" "Kau masih sakit Bom. "Boro-boro tilpon Bom. "Hemmm.bertanya.. Sablon. Doa-in lamaranku diterima. "Nilpon.." . Nanti kedengaran Ayah. Bisa membantu Ayah sama Ibu.... tidur saja. Bisa kerja." Dua kakak beradik itu sama-sama terdiam cukup lama. "Aku musti cari tau. Sebaiknya istirahat." "Kau tau cerita ada yang bayarin biaya perawatanku di Rumah Sakit.." "Nilpon? Nilpon siapa?" Bram bertanya lagi.. aku dengar dari Ibu.." Boma akhirnya memecah kesunyian. Pelan-pelan. Kau tau siapa orangnya?" Boma menggeleng.. Buat bayar rekening listrik aja setiap bulan Ayah sudah susah..." "Itu karena usaha ayah sendiri. "Bram." "Tapi aku musti nilpon Trini." "Ya..

Lagian pakai Askes rasanya tidak seluruhnya bisa ditanggung. "Satu setengah juta Bram?" Bram mengangguk." . Kau musti mengetahui siapa orang yang berbuat baik itu. Masih termasuk kecil. Paling tidak buat ngucapin terima kasih. Mungkin.." Boma kaget.." Boma mengangguk. "Gila!" "Itu masih nggak seberapa Bom.."Menurut Ayah biaya perawatanmu hampir satu setengah juta. pegawai Rumah Sakit bilang sudah ada yang melunasi. masih mungkin Bram.. Untuk pertama kali dia melihat vas kuning karangan bunga mawar merah di atas meja kecil di sudut kamar. Jaman sekarang makin sedikit orang berhati baik dan berbudi ikhlas Bom." "Betul... Kau tau kira-kira siapa orangnya yang baik sama kamu?" "Dugaanku cuma satu.." "Dwita apa Trini?" ujar Bram sambil senyum dan memandang seputar kamar. tapi waktu ayah baru nanyain berapa biaya perawatanmu di kantor Rumah Sakit. "Kembang dari siapa Bom?" "Dwita. "Aaahhh... Kayaknya dia baik amat sama kamu. Mungkin Dwita. "Setahuku Ayah kan bisa bayar pakai Askes." jawab Boma.

" Boma menowel hidungnya. Wartawan tabloid itu pasti bakal ngewawancarain kamu. Cuma Trini mungkin mulutnya nggak ketulungan. . hanya menowel hidungnya beberapa kali.. "Brengsek!" katanya perlahan.. Pasti dia yang bicara banyak dan nggak-nggak pada wartawan tabloid itu." "Aku rasa dugaanmu benar Bom. banyak duit. Entah mengapa saat itu rasanya dia ingin sekali bertemu dengan Dwita. Paling tidak mendengar suara anak itu.. Mungkin Dwita yang bayar biaya perawatanmu di Rumah Sakit. Anak pejabat." Boma tak menjawab. Juga Trini. Apa?" "Kau siap-siap aja. "Bom. Teman satu sekolah.. Kalau saja di rumahnya ada tilpon. Keliatannya dia serius sama kamu." "Hemmm."Kami cuma teman biasa.

banyak banget! Kau mau bikin aku mencret apa!" "Tadinya mau beli anggur.menaiki tangga kayu. Selagi Boma memencetmencet jerawat di dagu kiri tiba-tiba dia mendengar suara langkah-langkah kaki -banyak sekali. Lalu Vino. temantemannya ikut tertawa. Setelah berpakaian dia memperhatikan wajahnya di depan kaca persegi yang tergantung di dinding kamar. Boma melangkah ke pintu. Bom. Beker kecil di atas meja belajar menunjukkan pukul 9. "Hallo my friend!" Ronny Celepuk menyapa. Lalu meletakkan ke lantai satu tandan pisang emas yang dibawanya.05 pagi. "Mulai deh pada konyol!" kata Boma . "Pisang kesukaan lu.2 DWITA DATANG PAGI itu Boma baru selesai mandi. Di belakangnya si gemuk Gita dan terakhir sekali Dwita. Wajah Boma bersinar segar ketika melihat anak perempuan ini. Lalu Andi. Menyusul Firman dan Rio. "Tapi takut perutmu nggak bisa nerima buah import" Vino tertawa." kata Ronny. Pucat. "Gila." kata Vino. Begitu pintu dibuka pertama sekali dilihatnya kepala Ronny Celepuk.

Wajah merengut kemerahan. berteriak agar pintu dibuka." Yang bicara menggoda si gemuk Gita. Mau tak mau Dwita melangkah masuk ke dalam kamar. Begitu Dwita berada di dalam Ronny cepat-cepat menutup pintu. Gita mendorong punggung Dwita.sambil menowel hidungnya. Boma berusaha membuka pintu. tapi kemudian tersenyum juga." "Apaan sin kamu! Masuk aja samasama!" kata Dwita sambil mundur menjauh. Siapa yang bilang?" kata Dwita. "Enak aja. Ronny Celepuk dan teman-temannya sama tertawa cekikikan. "Lho. "Silahkan. Menyusul suara Dwita. Sekarang udah ketemu kok malumalu. Ronny membuka pintu kamar lebih lebar. Rupanya hal ini memang sudah mereka rencanakan sebelumnya. tadi di mobil bilang kangen sama Boma. memandang ke arah Dwita dan berkata. yang kangen masuk duluan. . Tapi handel bulat pintu sebelah luar ditahan kuat-kuat oleh Ronny. Lalu ada suara pintu dipukul-pukul dari dalam. Ronny menarik lengan anak perempuan itu. "Ron! Apa-apaan sih lu! Buka!" teriak Boma dari dalam.

"Ala. Di ruangan bawah ayah Boma berkalikali menurunkan kacamata plus enamnya."Udah belon?!" teriak Ronny Celepuk. "Brengsek! Kalian sinting semua!" Tangan kanannya diacungkan hendak menjotos. "Udah Bom?! Puas nggak?!" seru Ronny. "Brengsek kau Ron! Buka buruan!" "Kesempatan Bom! Kesempatan!" teriak Rio. memandang ke langit-langit di atasnya lalu menoleh pada istrinya. Ronny akhirnya melepaskan handel pintu. "Apa yang udah?!" teriak Boma dari dalam. Begitu pintu terbuka Boma mendamprat. Orang kangen musti dikasihani Bom!" Gita ikut berteriak.. "Ngapain sih anak-anak itu di atas? . Enam anak di depan pintu tertawa riuh. belagak bodo kau!" teriak Andi.. "Kalau udah puas gua buka nih!" "Brengsek lu! Kalian brengsek semua!" teriak Boma. Ronny Celepuk cepat menghindar mundur. "Kangen. Di sebelah Boma berdiri Dwita dengan wajah merah keringatan.

" jawab Gita.Brisik amat. anak-anak kalau sudah ketemu pasti riuh.. Orangnya sih baek. gua lagi yang kena sasaran!" ." "Sorry Bom." Ibu Boma hanya bisa gelenggelengkan kepala..?" Suara tawa anak-anak diputus oleh jeritan Vino yang kesakitan karena disengat cubitan Gita Parwati. "Di sini saja Bom. Ini kira-kira mahluk apa ya. Tadi aku diliatin sambil kaca mata tebelnya diturunin ke hidung. "Aku takut nih kamar jebol!" kata Boma." "Nggak heran kalau kau diliatin kayak gitu Git. Lebih kurangnya terserah kalian berdua yang lagi saling kangen!" kata Ronny Celepuk lalu masuk ke dalam kamar sambil membawa pisang setandan. kita ke bawah aja. Kami teman-teman cuma mau kasih kesempatan.. Tanya-tanya dalam hati. "Soalnya di bawah sana ada bokap lu... Lima temannya mengikuti hingga kamar berlantai papan yang tak seberapa besar di tingkat atas itu jadi penuh." kata Vino. "Kawan-kawan. tapi tampangnya angker banget. "Wan." kata Boma. "Biasa Pak. "Soalnya ayahnya Boma mungkin heran. Sorry Dwita.

awas lu ngerokok di sini! Apa mau bikin kita mati pengap semua!" kata Gita memotong ucapan Ronny. "Say it with flower! Ca illa!" Vino menyengir. "Ron. "Kalau orang intelek mengatakan rasa suka sama kembang." Kata Vino. Kalau kita-kita bangsa krocoan sama siomay!" Kamar di tingkat atas itu kembali gemuruh oleh suara tawa. "Nggak usah diumpetin Bom. terima kasih kembangnya. Anak perempuan itu kelihatan tenang-tenang saja. Boma udah nyindir gua!" kata Gita Parwati yang gemuk dan berbobot lebih seratus kilo.. Boma memandang ke arah Dwita. Tak tahu mau berkata apa akhirnya Boma ingat. Di dalam kamar Boma hendak menyembunyikan tabloid yang ada di atas tempat tidur ke bawah bantal. "Belon apa-apa..kata Gita. "Dwita. Berdiri di samping meja belajar sambil bersandar ke dinding." Ronny berkata sambil memasukkan tangan ke saku blujins. Rupanya dia sudah tahu kalau Ronny hendak . "Bom. Kami udah tau semua. Tapi Vino lebih cepat menyambar tabloid itu. baru juga baek.." Dwita mengangguk." memberitahu Ronny. "Dwita juga udah baca.

"Bukan.mengeluarkan rokok." jawab Ronny yang mulutnya sudah terasa asam. Anak ini memang sudah benci lama sama Trini dan menyebut Trini kucing garong sejak peristiwa di warung bakso Mang Asep. apa sih yang mau kalian tanyakan?" ujar Boma. "Soal ucapan Trini?" Boma melirik ke arah Dwita. Setelah menyedot dan menghembuskan asap rokoknya beberapa kali Ronny meneruskan katakatanya yang tadi terpotong ucapan Gita. (Baca serial Boma Gendenk Episode Pertama berjudul "Suka Suka Cinta.") "Kalau bukan soal Trini lalu soal . yang ada sangkut pautnya dengan berita dalam tabloid. membukanya lebar-lebar lalu menyalakan sebatang rokok. Tapi Ronny bandel." kata Gita Parwati. juga ada yang mau ditanyain. "Ala. bukan soal kucing garong itu. memandang keluar jendela. "Itu." kata Andi. kalau jendelanya dibuka kan nggak apa-apa. pura-pura tidak memperhatikan apa yang dibicarakan temantemannya. Dia melangkah ke dekat jendela." "Tanya aja. Padahal diam-diam dia memasang telinga. "Aku sama teman-teman datang selain mau ngeliat kamu. Anak perempuan itu masih tegak bersandar ke dinding.

" kata Ronny Celepuk pula. kau cerita duluan sama kita-kita ini." Boma tak segera menjawab.. "Towel terus sampe tua!" kata Vino "Yang nolong kita. Manggilmanggil nenek-nenek. ngacokmu hilang...." "Tau Bom. Sehabis dikasih air putih sama orang pinter itu kau baru sembuh.. bersyukur padaNya.. "Kami yakin kau tau semua menyangkut keanehan itu." "Betul Bom. "Kok diem?" ujar Gita. Apa anehnya... Lalu Dwita cerita. Sebelon kau cerita sama dia.." "Aku nggak tau 'tuh kalau aku ngigau. kau musti cerita sama aku dan teman-teman.. . sakitmu aneh. yang nyelamatkan kita Tuhan.apa?" tanya Boma. Soalnya waktu di Rumah Sakit PMI Bogor. Kami pernah didatengin wartawan tabloid. Suaramu juga berubah seperti suara nenek tua. Boma menowel hidungnya. kami tau." kata Gita. Tuhan Maha Kuasa. Tapi terus terang kami bilang nggak ada yang tau soal aneh-aneh itu.. yang nyangkut semua keanehan itu.. Kau sering ngigau. dia pernah nganterin bokapmu ketemu satu orang pinter di Bogor. Wartawan itu pasti nyari kau. Panasmu turun. "Itu Bom. maunya kami. Kita harus berterima kasih.

Jangan ngomong sama wartawan. Kalian semua musti bersumpah!" "Oke bos! Kami semua swear!" kata . Jangan bilang sama siapapun. Fisika? Teman-teman. mendingan kita ngobrol soal lain aja!" "Bom.. "Menurut orang pinter itu. Kenapa sih nggak mau cerita pada kita-kita ini?" ujar Ronny. Siapa yang mau ngewarisin ilmu sama aku? Ilmu apa? Matematika." jawab Dwita. terutama wartawan tabloid yang muat berita aku sama Trini itu." Gita diam sebentar.. Boma menowel hidungnya. ada seseorang mau ngewarisin ilmu kepandaian padamu. Memandang keluar jendela. "Ajie busyet. gua cerita.. Menghela nafas beberapa kali. nama orang pinter itu?" "Haji Sobirin.. Cuma sama kalian aku beri tau. "Siapa Dwit." Boma pandangi wajah temannya satu persatu lalu tertawa membahana. aku dan teman-teman tau kalau kau ngerasain sesuatu. ajie gombal! Kalian percaya aja sama omongan orang."Tapi menurut Dwita. "Haji Sobirin." mengulang Gita. "Iyya deh. "Apa perlu Dwita yang maksa kamu?" Ronny menyengir. Tapi awas. berpaling pada Dwita. waktu nganterin bokapmu ke rumah orang pinter di Bogor itu. Lalu melirik ke arah Dwita. Tapi kau menolak..

Duduk. Gila." Boma mulai. Boma duduk sambil bersandar ke pinggiran tempat tidur. . Tapi jari-jari tangan kiri dikempitkan ke ketiak kanan. membuat teman-temannya yang menunggu jadi tak sabaran. Di luar tenda suara tiupan angin bikin serem. Tujuh pasang mata memandang padanya. "Badanku rasanya letih banget tapi heran kenapa nggak bisa tidur.Vino sambil mengangkat tangan kanan. 3 CERITA BOMA BOMA menowel hidungnya. Teman-teman Boma kecuali Dwita ikut-ikutan melakukan hal yang sama sambil tertawa cekikikan. Apa lagi sesekali ada suara kepak sayap terbang melintas di atas tenda. Kuperhatikan arloji di lengan Vino menunjukkan hampir pukul dua. "Malam pertama di Gunung Gede. Aku keluar dari dalam kantong tidur plastik. Semua anak-anak itu kemudian duduk di lantai. mengacungkan jari dalam bentuk huruf V. waktu kalian udah pada tidur. aku masih belum bisa mejemin mata. Tujuh pasang telinga siap mendengar dan tujuh hati berdebar dalam keheningan.

. biasanya bau menyan atau bau kembang. Waktu itu aku merasa ada hembusan angin di belakangku. Sementara itu nyala api unggun mulai mengecil." "Aku masuk kembali ke dalam kantong. Di luar aku liat api unggun masih nyala. Mendadak hidungku nyium bau aneh. Aku bangun lagi. Udara dingin kayak sayatan silet nembus jaket yang aku pakai. Coba lagi berdiri. Aku masih sadar. Bau pesing. Kalau memang ada bau-bau aneh. Malam itu malam Jum'at. Bukannya berdiri. Pokoknya serem. Nggak ada orang. Tetap kagak bisa. Tadinya mau bangunin kamu Ron. Aku coba berdiri. mungkin kelelawar. Lalu di depanku. Berdiri. Aku nengok ke belakang. kaki-ku terasa berat. di bawah kegelapan bayangan pohon aku liat ada sesuatu bergerak. Aku rasa ada yang ngawasin diriku. Tapi yang aku cium bau pesing. Seperti ada yang ngedorong aku keluar dari dalam tenda. Nggak ada siapasiapa. jongkok sebentar sambil manasin tangan. Aku memperhatikan. Masih bisa mikir. buru-buru mau masuk ke dalam tenda lagi. Seperti ada orang lewat cepat sekali. Tapi aneh. malah terduduk di tanah. tapi nggak jadi. Karena dingin aku melangkah mendekati api. Aku tambah takut. Tengkuk gue mendadak jadi dingin. Tetap aja nggak bisa.Mungkin burung. coba-coba tidur. Takut.

Mahluk penghuni gunung. ..Kupikir mungkin aku salah liat. gembung ke kanan. "Setan... Gembung ke kiri. Rasa takut tambah numpuk. Ternyata dalam mulut itu ada susur. Sosok itu ternyata sosok seorang nenek berkulit hitam berwajah angker. Matanya merupakan dua rongga dalam. Pipinya cekung keriput. Sosok dalam gelap tiba-tiba bergerak... Aku seperti mau kencing.. Mulutnya tidak henti berkomat-kamit. Kepalanya nyaris sulah karena hanya ditutupi oleh sekian lembar rambut-rambut putih. Satu langkah. Bau pesing tambah santer. Bayangan nyala api unggun menerangi tubuh dan sebagian kepalanya. Di atas kulit kepala yang botak itu menancap lima buah tusuk konde perak putih. atau cuma liat bayangan. Nenek-nenek. *** SOSOK bungkuk di dalam gelap bayangan pohon tegak tak bergerak. Dalam takutnya anak ini segera saja komat-kamit membaca semua ayat-ayat suci yang dihafalnya. Lalu yang aku sangka bayangan itu makin jelas. Di tangan kirinya ada sebatang tongkat kayu." pikir Boma. Pakaiannya kebaya rombeng dan kain panjang butut.. Tubuh dan pakaian itu menebar bau pesing. dua langkah..

Tongkat kayu yang ditancapkan tapi Boma yang merasakan tubuhnya seperti dipantek ke tanah hingga dia tak bisa bergerak.Wajah nenek itu mengingatkan Boma pada seorang nenek tetangga. Nek Kiyem.. Tapi nenek tetangga itu tidak angker begini. . Empat langkah di hadapan Boma." Dalam takutnya Boma masih bisa membatin. "Anak setan! Enak saja kau menyebut aku Nek Kiyem! Kau kira aku ini siapa?!" Tiba-tiba mahluk berwajah angker membentak. Kata orang setan beneran nggak bisa bicara. tepat di kiri api unggun." Tampang angker si nenek bertusuk konde lima kelihatan berubah berkerut. Si nenek bergerak maju. "Bu.. dua rumah dari rumahnya. bukan setan. Dengan tangan kanan si nenek keluarkan susur dari dalam mulut. Yang meninggal sekitar dua bulan lalu. mundur ke arah tenda... Mungkin rohnya yang menampakkan diri. Dari mulutnya dia semburkan ludah susur berwarna kemerahan. Anak ini coba beringsut. membuat Boma terhenyak dalam ketakutan. dia berhenti lalu tiba-tiba sekali tancapkan tongkat di tangan kirinya ke tanah.. Tapi kenapa bisa sampai kesasar sejauh ini? "Nek. Tidak pakai tusuk konde juga tidak bau pesing.

"Anu Nek.. "Nek. "Jadi kau anggap aku ini setan jejadian penjelmaan roh Kiyem si nenek bengek itu! Hah?!" "Saya. Saya. Tetangga. Kalau saya ngomong salah saya minta maaf.. Tangannya berkali-kali menowel hidung." Nenek bertampang angker cabut tongkat yang tadi ditancapkannya di tanah..."Katakan! Siapa Nek Kiyem yang barusan kau sebut?!" Tiba-tiba nenek angker hardikkan pertanyaan.. Yang kiri!" Boma tak berani melakukan apa yang diperintah si nenek.. saya nggak tau kau ini siapa Nek.. saya nggak bilang begitu. Dua bulan lalu... Tongkat diacungkan di atas kepala Boma. Kata orang meninggal karena bengek.. "Anak setan! Ulurkan telapak tanganmu. "Kau tuli apa budek?!" Si nenek sumpalkan kembali susurnya ke dalam mulut. Meskipun dengan suara dan badan gemetaran.. ." Luar biasa! Walau takut setengah mati Boma masih sanggup menjawab hardikan si nenek... Tiba-tiba kembali dia membentak. Tapi sudah meninggal." Nenek angker pencongkan mulutnya.

segitu gede hancur jadi bubuk. Seringai ini membuat tampangnya tambah menyeramkan. Mata Boma sampai mendelik besar. Si nenek menyeringai. "Anak setan! Jangan membuat aku marah! Ulurkan tangan kirimu! Cepat!" Bukannya mengulurkan tangan. tangan kiri masih melindungi kepala. gimana kepala gua?!" Dalam takutnya Boma akhirnya ulurkan tangan kiri. Boma cepat lindungi kepalanya dengan dua tangan. Telapak dibuka dikembangkan. Dalam takutnya Boma hendak menarik ."Kau mau ulurkan tangan kirimu atau minta digebuk!" Si nenek membuat gerakan hendak ayunkan tongkat ke kepala Boma. Bersamaan dengan itu si nenek letakkan ujung tongkat di atas telapak tangan Boma. Aneh. ujung tongkat itu tiba-tiba memancarkan cahaya hingga telapak tangan Boma terlihat jelas sampai ke garis-garis tangan yang terhalus sekalipun. "Batu segitu keras. Tiba-tiba tongkat dipukulkan ke bawah. Boma malah menowel hidung dengan tangan kanan. "Tobat cing!" Boma membatin. "Braakk!" Sebuah batu hitam besar yang sejak tadi ada di samping Boma hancur berantakan.

Tapi si nenek segera membentak... Si nenek maju dua langkah. Kau juga orang tolol! Kalau tidak memiliki ilmu.. mana mungkin memukul orang bisa mati! Tangan kirimu itu palingpaling hanya mampu dipakai cebok! Hik. Ujung tongkat digerak-gerakkan di atas garisgaris tangan anak lelaki itu. Si nenek sebaliknya balas memperhatikan . apa kau tahu kalau di telapak tangan kirimu ada dua garis bersilang membentuk tanda kali?" "Tau Nek. "Kau tahu apa artinya?" "Ka...." jawab Boma. hik!" Boma pandangi si nenek sambil menowel hidungnya dengan tangan kiri. "Jangan berani bergerak!" Boma terpaksa tidak jadi menarik tangan kirinya.. Si nenek tertawa panjang. Kepala diangguk-anggukkan. hik. Sepasang matanya memperhatikan telapak tangan Boma tanpa berkedip.. kata orang kalau saya mukul orang bisa mati. "Orang yang berkata begitu adalah orang tolol. Rasa takut masih menjalari anak ini. Mulutnya yang perot berulang kali mengeluarkan suara bergumam." "Begitu?" Boma mengiyakan sambil mengangguk. "Anak setan.tangan kirinya..

.. "Yang satu itu suka menggaruk kepala. Rupanya ada bau yang tidak enak menyambar dari kaki yang selama ini lembab terbungkus sepatu karet itu! "Anak setan! Kakimu bau comberan!" Si nenek keluarkan ucapan lalu semburkan ludah susur ke tanah. Matanya yang cekung membesar. Begitu sepatu dan kaos kaki lepas perempuan tua itu kerenyitkan muka. hik. Dengan tangan kanannya si nenek kemudian menarik lepas sepatu basket hitam yang dikenakan Boma." Nenek berwajah seram tiba-tiba susupkan tongkatnya ke bawah betis kanan Boma. Hik. Boma mau ketawa tapi tak berani. Boma tidak mengerti apa . Juga kaos tebal yang membungkus kaki anak itu. Apakah aku memang menemukan anak yang selama ini aku caricari dari alam roh? Aku harus memastikan. Yang ini suka menowel hidung. tekap hidungnya. Petunjuk mengatakan dia memiliki tanda kedua.. Mulut si nenek bergerak pencong. tepat di depan wajah seram si nenek. Masih menekap mulut si nenek jauhkan kepalanya sedikit. Dua matanya memandang tak berkedip memperhatikan kaki kanan Boma yang kini telanjang. Dalam hati dia berkata. lalu diangkat ke atas. Gerakan ini membuat Boma terlentang di tanah dengan kaki naik di udara.kelakuan anak lelaki itu. hik..

"Nek. Saya... Satu tahi lalat besar.?" Boma beranikan diri bertanya.. hik...... "Boma. bukan Bemo." "Anak bau kencur.!" "Aneh. hik... ya." kata Boma kemudian.. "Menurutmu aku ini siapa?!" si nenek balik menukas... Dalam hati anak ini berkata. kau ini siapa. kok dia tau segala bemo digusur?" kata Boma dalam hati... ya aku ingat.." "Apa?" Si nenek miringkan kepalanya sambil tangan kanannya didorongkan ke daun telinga kanan.. "Kok jauh banget budeknya ini orang tua!" "Boma. Aku yang akan menanyai dirimu. "Namamu siapa?!" si nenek tiba-tiba ajukan pertanyaan.?" . "Anak setan. "Nggak tau Nek. Boma.. "Bemo?!" "Bemo!" Tampang Boma jadi berkerut. Bemo 'kan sudah digusur! Hik..yang tengah dilakukan perempuan tua aneh bau pesing ini. "Ooo...." Perlahan-lahan si nenek turunkan tongkatnya hingga kaki kanan Boma menyentuh tanah. Tanda kedua ada di tumit kaki kanannya... Benar dia. kau tak layak bertanya.

aku lihat mulutmu komat-kamit mengucap sesuatu. eh betul Nek.. Apa yang kau ucapkan? Apa yang kau baca?!" "Anu Nek."Nek.... Takut si nenek marah. saya takut Nek. . Muka angkernya mengerenyit.." Boma menowel hidungnya. Saya mengira Nenek ini setan. Atau mahluk halus penghuni gunung. "Kenapa kau baca ayat-ayat suci?" Si nenek bertanya. "Takut sama aku hah?!" "Betil.. Sesaat Boma melihat keseraman sirna dari wajah tua hitam keriput itu. "Anu apa?!" "Yang saya baca ayat-ayat suci Nek.." Si nenek terdiam." "Takut? Takut apa? Takut sama siapa?" Boma tak menjawab.." "Diam!" Si nenek membentak.. Justru si nenek yang berucap. Tadi waktu aku muncul mendekatimu. jangan marah ya Nek. Si nenek mendongak lalu tertawa panjang cekikikan. Ayat-ayat Qur'an. saya." Akhirnya Boma keluarkan juga ucapannya.. "Aku mau tanya. Matanya melotot...." "Kenapa takut?!" "Saya ngira Nenek ini.. "Sa..

berbuat kejahatan dan kemaksiatan!" Mendengar ucapan si nenek yang menyebut "kalian bangsa manusia" tengkuk Boma mendadak sontak jadi dingin... Lagian setau saya setan nggak pernah punya anak. Apa kau berani menampik?" "Saya bukan Anak setan Nek.. Mending kalau diurus."Itulah sifat kalian bangsa manusia.. Buktinya masih banyak orang-orang yang mau berbuat dosa. Aku suka memanggilmu Anak setan. nama saya Boma.. Sama setan takut. Tapi.. pekerjaannya bikin anak di mana-mana. Tapi manusia setan yang banyak gentayangan di duniamu. tapi lalu tertawa mengekeh... Mereka itu bapak setan yang punya Anak setan!" Boma terdiam. berarti nenek ini memang bukan manusia. "Setan memang tidak punya anak." "Terserah aku mau memanggilmu apa. Tapi sama dosa tidak pernah takut.. kawin sana kawin sini. "Anak setan..." Hati-hati Boma tarik kaki kanannya yang sejak tadi terjulur lalu bangkit dan duduk di tanah. "Berarti." Si nenek delikkan matanya." . Bukan Anak setan..... Apa kau keberatan. Banyak yang ditelantarkan.." "Nek. "Boma!" "Saya Nek..

." "Nipam?"...... Ini setan apa neneknya Polwan." "Ecstasy?" "Apa lagi itu Nek... "Suka ikut tawuran?" "Nggak pernah. Ilmu apa Nek?" . Gue diinterogasi.." "Ilmu." "Suka main cewek?" "Ajie gile. Si nenek kembali tertawa cekikikan.. dengar baik-baik.... Mana kebeli.." "Barangkali ada yang ngasih!" Boma menggeleng.." membatin Boma lalu gelengkan kepala..." "Ganja?" "Ngerokok aja nggak Nek. Gue jadi bingung. Tantangan kadang-kadang membuat manusia tidak selamat."Kau suka menenggak miras?" "Heran. "Anak setan. Suka minum apa tidak?!" "Tidak Nek. Hidup di dunia ini makin lama makin banyak tantangan." "Suka minum obat terlarang?" "Nggak Nek.. Aku mau mewariskan ilmu kepandaian padamu. Kok nenek tau-tauan minuman keras segala?" "Jawab saja pertanyaanku... "Nggak pernah Nek. Kau harus terima. Untuk menghadapi tantangan seseorang harus punya ilmu..

. Tapi lebih banyak lagi yang tidak menjalankan perintah Tuhan.. malah seperti berlomba melanggar perintah Gusti Allah. menjauhkan larangan Tuhan..." Si nenek menyeringai lalu gelenggeleng kepala. Di situlah munculnya tantangan.." "Kata orang tua saya kalau mau hidup selamat kita harus hidup dengan menjalankan perintah Allah..? Kalau Matematika sama Fisika . tidak sulit bagaimana? Aku mau tahu... Agar seseorang tidak sampai terseret ke dalam kesesatan maka harus memiliki ilmu. saya musti tau dulu ilmu kepandaian apa Nek? Matematika? Fisika. Tak mau mengeluarkan tangan kirinya.. "Kau tidak mau aku wariskan ilmu kepandaian?" "Saya. Pokoknya terima saja. Sudah! Sekarang ulurkan tangan kirimu! Sebelum kuturunkan ilmu yang kumaksudkan itu padamu. dirimu perlu dibersihkan dan diisi dengan hawa murni" Boma diam saja.. menjauhkan laranganNya."Tidak usah tanya-tanya dulu. "Banyak memang orang yang begitu.." "Nek. kata orang tua saya. kalau mau hidup selamat di dunia dan akhirat tidak sulit." "Apa. Menjalankan perintah Tuhan.. Takut..

Telapak mengembang. Ujung tongkat diarahkan ke tangan kiri Boma." "Anak setan! Aku mana tahu segala ilmu begituan! Kalau kau tak mau mengulurkan tangan aku terpaksa memaksa.. "Bom? Boma? Kau di mana?" "Sialan! Ada orang!" si nenek yang tengah memegang telapak tangan Boma memaki. Aku terpaksa pergi. Lalu ada cahaya terang. Bagaimanapun anak ini mengerahkan tenaga tetap saja dia tak kuasa menahan. Lalu telapak tangannya ditempelkan ke telapak tangan Boma. Tangan Boma yang terulur ikut berputar. Perlahan-lahan tangan kiri Boma terangkat ke atas. Si nenek putar ujung tongkatnya sedikit. Tapi aku akan kembali . dengar baik-baik. "Anak setan. Sesaat kemudian bagian depan tenda terbuka. Si nenek ulurkan tangan kanannya yang kurus keriput. Tiba-tiba si nenek angkat tongkat di tangan kirinya.. Terasa ada hawa panas menjalari tubuh anak lelaki itu. Aneh. menghadap ke atas.. Lalu menyeruak muncul sosok Ronny Celepuk.di sekolah saya memang jeblok. Pada saat itulah di dalam tenda besar terdengar suara orang menyalakan geretan gas. Mau kupelintir tanganmu sampai medel?!" Boma masih diam.

. Boma cepat-cepat mengenakan kaos dan sepatu basket. ayo masuk lagi. gua kira lu diculik hantu gunung. *** BOMA tersentak ketika Ronny Celepuk mendatangi dari samping. . Jongkok sebentar di sini buat manasin diri." "Habis." kata Boma. "Kau lagi tapa di depan api unggun? Mukamu kuliat pucat amat!" "Aku nggak bisa tidur. Aku kirain ke mana." Jawab Boma. Kalau kejadian beneran. "Bom.lagi menemuimu....." Si nenek lepaskan pegangannya pada tangan kiri Boma." "Dingin Ron." "Huss! Kau jangan ngomong sembarangan Ron.. "Aku tadi kebangun. kau lagi ngapain di sini?" tanya Ronny Celepuk. Sebatang rokok terselip di sela jari tangan kanannya. berpaling ke arah Ronny. Bersamaan dengan itu tubuhnya berkelebat ke arah pohon besar lalu lenyap ditelan gelap dan dinginnya malam. Liat kok kamu nggak ada dalam tenda.

"Bom. "Setan dalam rangka globalisasi. Akibat globalisasi nggak ada lagi batas antara alam gaib dan alam nyata. Nipam. Kalau manusia biasa mana bisa menghilang.. "Yang masih belon jelas mahluk itu setan. persis nenek-nenek yang aku liat dalam kamar tempat kau dirawat di Rumah Sakit PMI Bogor." "Keren amat omonganmu.. Kayak yang ngarti globalisasi aja. ganja" Rio ikut bicara. Suaranya agak gemetaran ketika berkata. "Mungkin yang satu ini setan moderen." kata Vino." kata Gita Parwati sambil pencongkan mulut dan hidungnya yang pesek. "Tapi setan kok tau-tauan segala Miras." menyahuti Gita." "Siapa yang ngibul!" jawab Boma.4 MISTERI MULAI TERSINGKAP GITA Parwati beringsut mendekati Boma. nenek-nenek yang kau ceritakan itu. Ecstasy." Firman ikutan bicara "Setan kok bisa tau kalau bemo mau digusur" .." kata Andi. hantu apa manusia. "Jelas hantu alias setan. "Memang aneh. Berarti kau nggak cerita ngibul.

. Boma terdiam." kata Andi. ngeri juga!" kata Vino sambil mengusap tengkuknya. Berpikir. "Dwita." "Mending jadi orang hebat. Aku menolak." Kamar di tingkat atas itu jadi riuh. Yang dicari temen kita! Uh. Begitu?" Dwita mengangguk. Lalu gentayangan jadi setan penasaran. Perlahan dia berkata sendiri. Andi cuma cengar-cengir. "Apa yang diliat orang pinter itu cocok dengan kejadian yang aku alami. "Tapi ilmunya kan belon ketauan ilmu apa. Boma menowel hidungnya. Anak ini berpaling pada Ronny Celepuk. Kalau tidak saat ini Boma pasti sudah jadi orang hebat."Jangan-jangan 'tu nenek matinya ketabrak bemo. "Kenapa dia terus-terusan manggil kamu Anak setan. Bom. "Yang aku heran. kawin sama bapak setan.. orang pinter di Bogor memberi tau ada mahluk yang mau mewariskan ilmu. "Kamu sih Ron." kata Vino. Jangan-jangan dia ibunya setan. menurut ayahmu. pakai keluar tenda segala.. "Sialan lu!" maki Boma. Lalu aku jadi sakit. Lalu berpaling pada Dwita. kalau . kau jadi Anak setannya." Boma memandang pada Vino.

kamu sih nggak lain makanmolor. "Siapa yang traktir?" Semua anak terdiam. kau harus cerita semuanya. Kalau untuk traktir segitu banyak orang mana cukup. "Tapi perutku rada honger nih. "Bom. Gimana kalau kita dengerin ceritanya Boma sambil ngebakso di warung di ujung gang sono. makan en molor. Dari tadi cuman makanin pisang melulu. "Eh. pasti lu yang paling banyak makannya! Nambah ampe dua mangkok!" Vino menyengir lalu berdiri diikuti yang lain-lain. . ring. "Ah. "Liat aja nanti. Tapi pas-pasan." kata Ronny. aku rasa ceritamu baru sebagian. lu tau kagak. Gimana soal kejadian yang aneh-aneh lainnya?" "Betul Bom." "Uh!" Gita mendorong kepala Vino dengan tangannya. Masing-masing mereka memang punya uang. Saudaranya Bapak gue ada yang jadi gendeng akibat keberatan ilmu.jadi bego-bego?!" kata Gita Parwati. "Tapi terus terang." kata Gita Parwati pula. Dalam diam anak-anak itu akhirnya sama memandang ke arah Dwita." Gita berpaling pada Boma. Lamalama gua bisa mules." kata Rio. Itu aja yang dipikirin!" kata Vino. "Tunggu. Mereka sama-sama melangkah ke pintu. ane sih setuju-setuju aja.

"Inget nggak." kata Ronny Celepuk. "Asyik!" celetuk Andi. Gantinya pergi ke MacDonal aja. Sisa duit kita simpen." kata Boma. kalau gitu musti diliat dulu. Biar aku saja.." kata Ronny. Kita bisa diketok tukang bakso!" kata Gita gendut. "Wah. Banyak duit ya?" tanya Vino. Boma tertawa. ya inget!" teman-teman Boma menjawab berbarengan. "Teman-teman. keren banget kau Bom. menowel hidungnya lalu berkata. aku yang traktir.. "Bakso aja." Boma memandang ke arah Dwita. waktu kita ngobrol di warung Mang Asep?" "Ya. "mumpung duit lagi ada. "Langsung enak dieh kalau gini!" kata Vino meniru iklan di televisi. "Oke. "Wah. Begitu habis dibayar berubah jadi daon." Beberapa anak siap mengatakan setuju tapi Boma menggeleng. "Dwita ngasih uang dua ratus ribu. Pasti ada gunanya .Anak perempuan ini tersenyum. "Jangan-jangan dikasih sama nenek setan itu. Anak perempuan ini balas menatap. gimana kalau kita tunda ngebaksonya. Uangnya masih utuh." "Jangan Dwita. Jangan-jangan duitnya palsu.

" kata Ronny Celepuk.nanti. Delapan anak SMA Nusantara III itu memilih duduk di pojokan yang cukup luas. *** WARUNG bakso di ujung jalan sedang sepi. "Oke. "Ee. kami nggak bakal bilang sama siapapun. Jangan ceritain sama orang lain." Gita tak sabaran. Super rahasia. Sementara menunggu bakso dibuatkan Gita meminta Boma menyambung ceritanya. Dia pandangi wajah Dwita yang duduk tepat di depannya lalu berkata. enak aja lu Vin." "Oke." kata Ronny. setuju aja Bos. "Iyya Bom. Asal jangan dipakai buat beli Jisamsunya si Ronny aja!" kata Vino. Bukan malakkin temen. Gue ngerokok beli sendiri. Tapi aku minta kalian janji. Boma mengusap hidungnya. Ini bener-bener rahasia." "Oke. aku akan cerita." Jawab Ronny sambil ngacungkan tinju. Soalnya orangorang kaya-nya masih nggak bisa percaya kalau kita semua bisa selamat. Gua kepengen tau apa sih yang kejadian sebenarnya. *** . "Terus. mulai aja Bom.

Bom. disusul gelegar guntur menggetarkan tanah yang mereka jalani. hari Sabtu siang. kayaknya mau hujan gede. Boma di depan sekali memegang handy talky. Udara terasa tambah dingin." Vino kemudian memberi tahu. "Teman-teman. Vino yang berada di bagian tengah rombongan melihat ke arloji di pergelangan tangannya." kata Gita Parwati yang berada di belakang Boma.." Dari kantong perbekalannya Ronny Celepuk mengeluarkan seutas tali plastik besar berwarna kuning. jam berapa sekarang?" tanya Boma.LERENG Gunung Gede. "Bentar lagi pasti turun hujan. Mendung tebal menggantung di mana-mana menutupi langit. Matahari tak kelihatan. "Vin. Ucapan anak perempuan ini terputus oleh sambaran kilat di langit.. Boma pimpinan rombongan anak-anak SMA Nusantara III memandang ke langit.. siapkan tali. bagusnya cari tempat berlindung . Mereka bergerak beriringan sambil berpegangan pada tali kuning." kata Boma. "Jam satu kurang lima. Tujuh anak itu meneruskan perjalanan menuruni lereng Gunung Gede. "Baru jam satu. Tapi udah kayak malem. "Ron. Angin bertiup kencang.

jangan berhenti di sini!" Gita yang punya pengalaman mendaki gunung beberapa kali berseru. "Janganjangan kita nyasar. Pohon sekitar sini kecil-kecil. Bahaya!" Vino berteriak. Nggak bisa nahan tanah kalau terjadi longsor!" Hujan turun menggemuruh. Bergabung dengan suara angin. Besar luar biasa. bergerak kembali ke arah atas. Di langit kilat sambung menyambung dan guntur menggelegar hampir tak berkeputusan." kata Boma. "Kita berhenti dulu di sini. Boma memandang ke depan. Nusantara Tiga . "Teman-teman. Tujuh anak itu dengan berpegangan pada tali kuning segera berbalik. Kita musti menjauhi lereng terjal ini. Cepat!" teriak Boma. kita musti naik lagi ke atas. "Jangan. Saat itu keadaan tambah gelap dan lereng yang hendak mereka tempuh kelihatan curam. "Bom.dulu!" Ronny Celepuk yang berada paling belakang rombongan berseru. "Pos Satu di sini. Nusantara Tiga calling! Pos Satu." Hujan mulai turun. Boma menghidupkan handy talky. deru hujan terdengar mengerikan. Jangan terus. "Semua balik ke atas. Kayaknya ini bukan jalanan yang kita tempuh waktu mendaki. Cari tempat yang datar.

Jerit pekik tenggelam ditelan suara menggemuruh yang seolah keluar dari perut gunung. "Pak Tatang. Ada tumpukan manusia di . Halangan hujan besar. Harap beri tahu posisi" Boma mengambil kompas yang ada di kantong jaketnya. Setelah itu tubuh tujuh anak itu terseret ke bawah digulung oleh tanah yang longsor. Nusantara Tiga silahkan masuk. Pohon-pohon di kiri kanannya seolah terbang. Kami terpaksa naik lagi ke atas. Cepat sekali. Bukan cuma bergetar tapi bergerak ke lereng gunung sebelah bawah." "Pos Satu di sini. Tanah yang dipijaknya bergetar. Pohon-pohon di sekitar mereka tumbang berserabutan. Dalam keadaan seperti itu Boma melihat satu bayangan hitam berkelebat. meluncur ke bawah. Ganti." Boma mengenali itu adalah suaranya Pak Tatang.calling!. Halangan hujan besar. "Longsor!" Boma sempat mendengar Gita berteriak. Nusantara Tiga dalam perjalanan turun. Tapi tiba-tiba di belakangnya terdengar suara menggemuruh keras. ditambah gelegar guntur dan sabungan kilat. Kepala Pos Pengawas Gunung Gede." "Nusantara Tiga harap beri tahu posisi.

Dalam keadaan tak berdaya. binatang atau setan. Tubuhnya terasa dingin. Sekali lagi dia perhatikan keadaan di sekitarnya. *** SABTU malam menjelang pagi. Lalu ada rasa sakit di punggungnya. Boma tidak dapat memastikan apakah itu manusia. Handy talky terlepas dari tangannya. Pekat menghitam. Udara sedingin es. Ternyata tubuhnya tenggelam dalam longsoran tanah sampai sebatas dada. Perlahan-lahan dua mata Boma Tri Sumitro terbuka sedikit. Pemandangannya gelap. Boma menjerit keras. Anak ini tak bisa berpikir lebih jauh. Apakah dia masih hidup atau sudah mati? Dia coba menggerakkan tangan dan kaki. tak mampu bergerak apa lagi mengeluarkan diri . Hembusan angin laksana sayatan pisau di permukaan kulit.bahu kirinya. setengah tenggelam dalam longsoran tanah. Boma tidak tahu berada di mana saat itu. Dia hanya melihat kegelapan. Mulutnya kering dan bibirnya pecah-pecah. Lalu ketika batangan pohon membentur punggungnya. Dia tak ingat apaapa lagi. Selain ada rasa nyeri juga ada sesuatu yang menahan. Tubuhnya meluncur ke bawah. Anak ini menggigil keras. Tidak bisa.

." Boma masih mampu menyebut nama teman-temannya satu persatu. Rio.. Firman. "Gita. memperhatikan sosok dalam kegelapan.. Untuk mengeluarkan ucapan itu dia harus mengeluarkan tenaga luar biasa.. Rio.." Tiba-tiba ada sesuatu berkelebat di depan Boma." Sunyi. "Vino... tak ada sahutan.. Rasa ngeri serta merta menjalari sekujur badan anak ini." pikir Boma. Membawa mayat temantemanku.. ...... "Jangan-jangan. Pemandangan anak ini masih berkunang dan tempat sekitar situ masih diselimuti kegelapan..... Namun tetap saja tak ada jawaban. Tuhan. Boma ingat temantemannya..!" Dia hampir tidak mendengar suaranya sendiri. "Ron.. Andi.. Ronny. yang aku liat itu Malaikat Maut.. membuat kepalanya pusing dan pemandangannya berkunang. dia melihat satu bayangan hitam berkelebat memanggul sosok-sosok manusia di bahunya. "Malaikat Maut. di mana teman-teman saya.. Vino.." Tak ada jawaban... tolong kami. Gita... Ya Tuhan..dari timbunan tanah.. Sesaat sebelum dia jatuh pingsan. "Ron. Lalu anak ini ingat.

"Kalau memang nyawaku mau dicabut aku pasrah... saya. Kukira kau sudah amblas ditelan tanah!" Boma menggerakkan mulut.. Lidahnya terasa kelu." Si nenek hendak membentak namun tak jadi.. Sepasang mata Boma tiba-tiba membesar. Di atas kepalanya ada lima buah tusuk konde perak putih. Sosok yang mendatangi itu adalah sosok nenek-nenek berwajah angker. Dia mengenali... Saya.. "Nek. jangan banyak bicara. saya tidak apa-apa.. Teman-teman saya Nek. berkulit hitam." Boma pejamkan matanya... Tubuh bungkuk mengenakan kebaya rombeng dan kain panjang butut.. Aku akan mengeluarkanmu dari timbunan tanah.... tolong mereka duluan... Bibirnya berat.Kalau tadi ada rasa takut menyungkupi dirinya kini dalam takut muncul ketabahan. Boma mencium bau pesing. Dia ingat. "Anak Setan! Syukur aku masih bisa menemuimu... Tak salah lagi. Sepasang matanya yang berada dalam rongga cekung kelihatan mencorong menatap . Kalau kau mau menolong. Sosok bungkuk bergerak mendekat." "Sudah.. Mahluk angker ini adalah nenek-nenek aneh yang mendatanginya pada malam pertama dia dan rombongan berada di Gunung Gede." "Nek..

. tiba-tiba tubuh Boma bergerak keluar dari dalam timbunan tanah untuk kemudian melesat ke udara. menyambar tubuh Boma.. baksonya udah dingin 'nih!" Rio yang pertama sekali bersuara.... "Anak satu ini benar-benar luar biasa. . Rio.wajah Boma. Di mana mereka. Ketika sekali lagi tangan si nenek yang memegang tongkat bergerak.. Dia tidak perdulikan keadaannya sendiri. Aku tidak salah memilih orang.." "Nek.. "Wah. Dalam hati si nenek membatin. Tongkat kayu menyusup ke bawah ketiak kanan Boma.. "Tak perlu memikirkan teman-temanmu! Gusti Allah sudah menolong mereka!" Tangan kiri si nenek bergerak. Gita.. tolong teman-teman saya." "Diam!" si nenek membentak.. *** DELAPAN mangkok bakso di atas meja tak satupun yang disentuh. Aku bersyukur pada Yang Maha Kuasa. Ronny.. Sosok si nenek ikut melesat ke udara. Kini mereka terdiam dalam alam pikiran masingmasing. Semua anak begitu asyik mendengar cerita Boma. Malah meminta aku menolong teman-temannya. lalu membawa tubuh anak lelaki itu melayang turun ke tanah dan lenyap dalam kegelapan.

"Ceritamu luar biasa Bom..." Rio menjawabi ucapan Firman. di lereng timur Gunung Gede. "Bom. kita semua ditemuin di satu tempat datar. punya pasukan yang diperintahkannya buat ngebantu tim .. Aku yang ceking ini sih oke-oke aja. kita semua pasti udah pada mati kaku.. Gita cemberut." "Ya. lebih dua hari dua malam. "Kalau tidak di dalam kantong. Ayahku juga bilang begitu." kata Gita. Tapi si Gita? Mana mungkin bobot seratus kilo lebih dibilang enteng." "Nenek angker itu." kata Vino. Kayak filem horror aja. cuma minum air hujan. Teman-temannya menyengir. Semua kita berada dalam kantong plastik milik kita masing-masing.. "Pasti dia yang nolong kita." kata Firman." "Mungkin nenek angker itu punya anak buah. nggak makan apa-apa. "Siapa yang memasukkan kita ke dalam kantong tidur itu?" Ujar Andi." kata Vino. "Ada petugas yang bilang. "Malam itu.. katanya badan kita enteng sekali. kayaknya seperti ada tangan-tangan gaib ikut bantu menggotong tandu. "Menurut tim penolong yang pertama kali nemuin kita." kata Boma." "Lalu waktu kita digotong turun.

"Nenek-nenek itu nggak ngedatengin kamu lagi Bom?" tanya Ronny. "Kalau memang dia yang nolong kita. "Mungkin peliaraannya si nenek. "Gila! Jangan Bom!" kata Ronny. Lalu pada teman-temannya Boma berkata." "Emangnya. "Mumpung lagi ditraktir. "Gua bisa kojor duluan." jawab Ronny. apa kata gua tadi! Kamu 'kan yang paling banyak makannya!" Vino senyum." kata Boma.." Selesai makan bakso. baksonya semangkok lagi!" Tiba-tiba Vino berseru. "Kalian . Git. "Lalu kunang-kunang yang jadi penunjuk jalan?" ujar Gita. kita pantas bilang terima kasih. Boma menggeleng.penolong." Boma dan kawan-kawannya tertawa.. waktu temantemannya sudah berdiri Boma memberi isyarat pada Dwita agar tetap duduk." kata Vino sambil usap-usap tengkuknya. "Bang. "Bom. kenapa kau nanyain nenek-nenek itu Ron?" tanya Gita. "Minta-minta sih jangan deh." kata Gita. kalau si nenek memang dateng lagi bilang Ronny Celepuk mau ketemu.. Gita langsung membuka mulut "Nah..

Nanyain berapa biaya perawatan yang harus dibayar kalau aku pulang besoknya. kalau mau beduaan jangan di warung bakso dong." "Siapa?" "Justru aku mau nanya sama kamu. "Soal apa?" "Satu hari sebelum aku keluar Rumah Sakit PMI. Setelah teman-temannya pergi Dwita bertanya. menatap dalam ke mata anak perempuan yang bening bagus itu.duluan aja balik ke rumahku. Aku mau ngomong sebentaran sama Dwita. "Ah." . ada rahasia yang kita nggak boleh denger 'nih bo. Coba melihat reaksi Dwita." kata Ronny. "Bom. Tapi dia tidak melihat perubahan pada wajah dan sepasang mata itu." "Wah. "Ada apa Bom?" "Aku mau tanya. ayahku ke kantor Rumah Sakit. "Menurut pegawai Rumah Sakit. semua biaya perawatanku sudah ada yang bayar. Mungkinkah anak ini pandai menyimpan rahasia hatinya? "Terus?" malah Dwita kini yang bertanya." Boma meluruskan badannya. sok tau lu!" kata Gita sambil menarik tangan Vino." Boma sengaja tidak meneruskan kata-katanya. Cari tempat yang lebih representatip!" kata Vino.

Kata pegawai Rumah Sakit itu yang bayar perempuan. "Jangan bohong. Dwita menggeleng.kata Boma." Boma terdiam. "Kok nanya sama aku?" "Jujur aja Dwita." "Maksudmu?" "Kau yang membayar?" Dwita menatap wajah Boma sesaat." "Aku nggak bohong. Jadi betul bukan kamu?" "Buat apa sih aku bohong Bom. "Aneh." "Perempuan 'kan banyak Bom." "Sayang ayahku tidak nanyain ciriciri orangnya. "Benar kamu yang bayar?" tanya Boma. Dwita unjukkan wajah heran." Boma menowel hidungnya lalu berdiri. Lalu tersenyum. ." "Lalu siapa?" "Mana Dwita tau Bom.

" Dari dalam saku kemejanya Boma keluarkan sebuah foto." "Sebenarnya gua mau liat anak-anak latihan ben di sekolahan. Habis siapa lagi?" "Dwita bilang nggak. Ada Trini. Tiga Minggu . Pasti dia bisa ingat orangnya kalau aku perlihatkan foto ini. aku masih sebel sama dia. Aku musti nemuin dia.5 MISTERI SANG PEMBAYAR RONNY CELEPUK mengusap-usap hidungnya yang tinggi bengkok. Mau nyari tau siapa yang bayarin perawatan waktu aku dirawat" "Aku curiga pasti Dwita. Kau udah tanya cewek itu?" "Ketemu lagi juga belum. Aku yakin dia nggak bohong." Boma diam sebentar lalu meneruskan. ada Dwita. "Ini foto waktu kita piknik ke Ciater dulu. Gara-gara berita di tabloid itu. "Ngapain kau minta diantar ke Rumah Sakit PMI di Bogor. Lagian." "Kalau gitu Trini. pegawai yang melayani pembayaran itu namanya Ibu Mardi. Tanya. Bom?" "Aku masih penasaran Ron. "Menurut bokap gue. Aku mau kasih liat sama Ibu Mardi.

tangan panjang. belon apa-apa kau udah ngambek. aku naik bis juga bisa. Cantik. berkaca mata besar berusia hampir setengah abad." . "Ada kabar apa 'nak Boma?" Boma lalu menerangkan maksud kedatangannya. Bajunya kalau tidak salah blus biru tua. "Oo.lagi 'kan pesta perpisahan anak-anak kelas tiga. Kalau ketemu orangnya lagi saya pasti ingat." "Mungkin Ibu ingat ciri-cirinya?" tanya Boma.. "Wah." Boma dan Ronny saling pandang. Yang dulu dirawat di sini?" "Betul Bu. "Orangnya masih muda.." Kata Boma. Dia juga sama-sama dirawat." "Wah. "Tuh. Digulung.. Ini teman saya Ronny... *** IBU MARDI pegawai Rumah Sakit PMI Bogor orangnya tinggi kurus. anak ini yang namanya Boma." "Kalau kau nggak mau nganterin. kejadiannya sudah lama juga." Kata Ronny sambil tersenyum. Cerita adanya nenek-nenek misterius di kamar adik tempo hari sudah tersebar ke mana-mana. saya baca beritanya di tabloid.

. Ibu Mardi tertawa lebar. Boma menunjuk wajah Trini dalam foto. Bicaranya lembut. menatap lama. Pasti dia... Dari dalam amplop dikeluarkannya sehelai foto." Boma memandang pada Ronny. Orang yang datang membayar memang masih muda. "Seingat Ibu. orangnya berkulit kuning langsat. Lalu menggeleng. Tapi tidak semuda anak-anak dalam foto ini.. "Kau bisa ngeduga siapa orangnya Ron?" "Sulit. "Bukan. Ada anggunnya.. "Kalau yang ini?" Ibu Mardi betulkan letak kacamatanya.. hitam." Dari balik baju jaketnya Boma mengambil sebuah amplop." "Kulitnya putih. Akhirnya kembali menggeleng. memperhatikan wajah Trini. Raut wajahnya mulus. Kayaknya kita nemuin jalan ... Banyak orang cantik tapi yang satu itu cantiknya nggak bosan dipandang. "Bom.Ronny berbisik. Lebih dewasa dari anak-anak ini. Boma menunjuk pada wajah Dwita. "Mungkin yang ini orangnya Bu?" tanya Boma. nggak ada flek nggak ada jerawat.. Ibu Mardi memakai kacamatanya. atau mungkin belang-belang?" Ronny bertanya konyol. yang suka pakai baju biru tangan panjang digulung si Dwita. Wajahnya cantik gimana ya.

"Gimana Bom?" tanya Ronny lalu menghembuskan asap rokoknya. Mungkin ada salah satu saudara ayah atau ibunya 'Nak Boma yang berbaik hati.buntu Bom. Nggak bisa bilang terima kasih. "Aneh.. Semua keluarga ayah atau ibunya hidup pas-pasan. Di halaman parkir sambil duduk di jok Honda Tiger merah Ronny menyalakan sebatang rokok. Setelah mengucapkan terima kasih Boma dan Ronny keluar dari kantor Rumah Sakit. Lalu siapa? Sekarang kita mau nyelidik ke mana lagi?" "Mungkin nggak nenek-nenek aneh .. untuk membayar uang sekolah dan uang kuliah anak-anak sendiri saja mereka sering-sering mengalami kesulitan. Ada orang baik." "Mungkin Bu." jawab Boma lalu menowel hidungnya sampai tiga kali." jawab Boma. Jangankan untuk membayar uang perawatan rumah sakit. Tapi dalam hati dia tahu betul bahwa hal itu tidak mungkin. Gua nggak habis pikir.. memangnya ada apa?" Ibu Mardi bertanya." "Nak Boma. Dwita juga bukan. "Trini bukan. tapi kita nggak tahu siapa orangnya." "Ya. 'Nak Boma betul juga. "Rasanya nggak enak aja Bu.

" Tiba-tiba seorang kakek bertongkat tahu-tahu sudah berdiri di depan Ronny." kata Boma.. Menyaru jadi perempuan muda.dari Gunung Gede yang nyelametin kita itu?" "Bego amat kamu Ron. "Ayo balik Ron. Cabut. Lupa ya sama Ronny. . "Aduh somsenya.. "Mungkin aja nenek itu muncul dengan bersalin rupa. Bukan nenek-nenek!" Boma berkata dengan wajah setengah bersungut dan sambil mengambil helm yang tergantung di stang motor. Anak ini terdiam sejurus. mau besuk siapa?" Anak perempuan itu melirik sebentar pada Ronny lalu buru-buru melanjutkan langkahnya. Orang tua ini menyeringai lebar.." kata Ronny Celepuk sambil mencampakkan rokok yang baru setengah dihisapnya. "Gua sih nggak bego-bego amat Bom." jawab Ronny. "Anak cakep. Saat itu seorang anak perempuan manis lewat di depan Ronny bersama adiknya. Jelas Ibu Mardi tadi bilang yang datang perempuan muda cantik ayu." "Cabut." "Gue nggak mikir sampai ke situ Ron. memperlihatkan barisan giginya yang sudah banyak ompong.

"Suka ya sama cucu Abah?" si kakek menegur. Ronny jadi salah tingkah. "Kalau suka sama cucu Abah, musti belajar tata tertib dulu. Itu tong sampah segede gajah dekat di sebelah sana. Tapi tadi Abah liat situ buang rokok di jalanan seenaknya." Ronny tersenyum pahit, cepat-cepat naik ke atas motor. "Kena batunya kau Ron," kata Boma sambil duduk di belakang Ronny. "Apes gua," jawab Ronny. "Gua kira 'tu cewek cuman sama adeknya." "Mustinya tadi si Abah kau bujukin. Tawarin rokok." "Gila 'lu! Kalau diterima, kalau kepala gue yang diketok sama tongkat!" Boma tertawa mengakak. Dia berpaling ke arah orang tua yang masih berdiri di pelataran parkir lalu melambaikan tangannya. Si kakek membalas dengan mengacungkan tongkat. "Anak sekarang, selalu tidak ada sopannya." Si kakek menggerendeng sendiri lalu membalikkan badan. Ketika mau melangkah dia tidak melihat ada seekor kucing di dekatnya. Salah satu kaki kucing terinjak. Binatang ini mengeong keras kesakitan, hampir mencakar. Si kakek melompat kalang kabut, tongkatnya mental. Dia sendiri nyaris jatuh kalau tidak

cepat berpegang minuman.

pada

gerobak

penjual

6
PENDEKAR TAHUN 2000 OMBAK pantai selatan bergulung ganas, memecah menghantam jajaran gugusan bukit karang yang membujur dari barat ke timur. Suara menggemuruh tiada henti sepanjang siang sampai malam. Saat itu tepat tengah hari. Sang surya bersinar terik. Langit bersih tak berawan. Hembusan angin sesekali terdengar seperti suara tiupan seruling. Di salah satu puncak bukit karang, paling tinggi di antara semua bukit-bukit karang yang ada di kawasan pantai selatan, seorang tua berpakaian putih rombeng, lusuh dan dekil tampak duduk bersila di atas batu. Tetapi jika diperhatikan, sosok orang tua ini ternyata tidak menempel ke batu, melainkan mengambang setinggi satu jengkal di atas batu. Siapapun adanya, orang tua ini jelas memiliki ilmu kesaktian tinggi. Angin laut meniup rambutnya yang putih panjang sepunggung, menyibakkan wajahnya yang sangat cekung di kedua pipi

dan rongga mata kiri kanan. Walau panas menyengat, bisa membuat gosong kulit manusia, apa lagi kulit lapuk si orang tua, namun aneh dan luar biasa, kulit muka orang tua ini kelihatan pucat pasi seperti muka mayat. Dua matanya yang terpuruk ke dalam rongga dalam membuat tampangnya mengerikan luar biasa. Matanya yang terbuka sedikit membersitkan sinar dingin angker. Sudah enam hari enam malam orang tua ini bersamadi dengan mata nyalang di tempat itu. Dua tangan di lipat di depan dada. Hari demi hari sosoknya naik semakin tinggi dari atas batu karang. Sesekali ada asap putih kelabu mengepul dari ubun-ubun di batok kepalanya. Di penghujung sore sang surya menggelincir ke barat. Udara berubah temaram, dan mulai gelap ketika sang surya lenyap seolah ditelan samudera raya. Malam itu adalah malam ke tujuh dari tapa aneh yang dilakukannya. Deru angin menyambar dingin. Di langit muncul bulan sabit. Sepasang mata si orang tua membuka lebih besar. Dalam gelapnya malam tiba-tiba ada cahaya putih kebiru-biruan. Lalu seperti keluar dari dasar laut terdengar suara. "Muka Bangkai! Hentikan tapamu! Aku datang!"

Rahangnya menggembung. Ketika sosoknya berdiri ternyata si Muka . injakkan kaki di atas batu. pertanda orang tua ini sebenarnya tidak suka tapanya diganggu. ternyata dia memiliki sepasang mata angker yang juga berwarna merah. Di lain kejap satu sosok mengerikan tahu-tahu telah berdiri di hadapan orang tua yang dipanggil dengan nama Muka Bangkai.Suara itu ternyata suara perempuan. si Muka Bangkai cepat-cepat rundukkan tubuh hingga keningnya menyentuh batu. jangan membuat aku menunggu dalam marah! Hentikan tapamu. Jari-jari tangan dan kaki ditumbuhi kuku-kuku panjang berwarna merah. Mulutnya yang pencong ke kiri menyeringai. Sosok yang muncul adalah sosok seorang nenek berjubah biru. Lalu mulut itu membentak. Lalu sekali menyentakkan diri tubuhnya melesat satu tombak ke atas. Tapi sadar siapa yang datang. Melengking merobek langit. Ketika dia memandang ke arah si orang tua yang duduk mengapung di atas batu karang. perlahan-lahan turun ke bawah. "Muka Bangkai. lekas berdiri!" Sepasang mata orang tua Muka Bangkai membesar. pelipisnya bergerak mendenyut. berambut merah panjang sekali. riap-riapan sampai menjejak batu karang. Dia sudah melihat kedatangan sosok di hadapannya.

"Murid kufur! Apakah tapamu lebih penting dari kedatanganku?! Apakah kau berani menolak pertemuan ini?! Jawab?!" Sepuluh kuku tangan dan kaki Kunti Api pancarkan sinar menyeramkan. Pertanda amarah telah menyelubungi dirinya. Asap putih kelabu di atas ubun-ubun Si Muka Bangkai membubung ke atas pertanda kakek ini juga mulai dirasuk kemarahan..Bangkai bertubuh bungkuk.. Guru! Aku muridmu Si Muka Bangkai alias Si Muka Mayat mengucapkan selamat datang. Namun mohon maaf. "Murid sombong! Aku mau lihat sampai dimana kehebatan ilmu kepandaianmu hari ini!" ." Kunti Api pelototkan mata lalu meludah. Tengah merampungkan satu ilmu baru. Kedatangan Guru membuyarkan dan membatalkan tapa murid. Berarti murid harus mengulang dari semula. "Murid sedang bertapa. menyesal sekali kalau murid mengatakan kemunculanmu tidak tepat waktu. "Eyang Kunti Api. Kunti Api tiba-tiba keluarkan tawa mengekeh." "Tidak tepat waktu?! Apa maksudmu?!" bentak nenek bernama Kunti Api.

"Wusss!" Puncak bukit karang yang gelap itu jadi terang benderang. Antara kita memang selalu terjadi saling salah mengerti. "Kalau memang kau perlu kuhabisi apa salahnya?!" jawab si nenek. Matanya membujur keluar." Merinding juga Si Muka Bangkai mendengar jawaban sang guru. Tubuhnya melesat ke udara. Di udara dia membuat gerakan jungkir balik. "Eyang! Kau mau membunuh murid sendiri?!" teriak Si Muka Bangkai. Ketika dia berhasil selamatkan diri dan tegak kembali di atas batu karang. Secepat kilat dia hentakkan kaki kanannya ke batu karang. mukanya tambah pucat seolah darahnya baru saja disedot habis. menatap ke arah nenek berambut merah panjang riap-riapan yang berdiri di hadapannya sambil umbar tawa bergelak. aku mohon maaf. Si kakek menjerit kaget." "Itu karena kau selalu menghadirkan ..Habis berkata begitu si nenek gerakkan tangan kanannya. "Kau berhasil selamatkan diri dari seranganku tadi. "Guru. Lima larik sinar merah berkiblat menghantam ke arah lima sasaran di kepala dan tubuh Si Muka Bangkai... Aku merasa lega walau cuma sedikit.

tidak maksud murid berlaku kurang ajar terhadapmu.. kau masih mau menjawab?!" bentak Eyang Kunti Api." kata Si Muka Bangkai sambil merunduk. Eyang Guru.. Dia selalu datang memberikan laporan pada waktu-waktu tertentu.sikap sombong congkak. Tidak memandang sebelah mata pada orang lain. "Karena mengejar ilmu kau tidak mengetahui apa yang tengah terjadi di dunia sana. Eyang Kunti Api. Kau memang kurang ajar! Ayo." "Sudah. Mohon kau mau memberi tahu maksud kedatanganmu. "Guru." "Eyang Guru.. Sampaisampai aku gurumupun kau perlakukan acuh tak acuh! Dan sifat burukmu itu sudah kau turunkan pula pada muridmu Pangeran Matahari!" (Mengenai Si Muka Bangkai dan Pangeran Matahari harap baca buku-buku serial "Wiro Sableng" Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212). maaf kan saya. Hanya saja. "Eyang. aku sudah lama tahu sifatmu. belakangan ini dia sudah lama tidak muncul. matamu jadi buta. aku selalu memerintahkan muridku Pangeran Matahari untuk memantau keadaan di delapan penjuru angin. Telingamu jadi tuli. mohon murid diberi tahu apa yang tengah terjadi di dunia . Belum murid ketahui dimana dia berada.

ini merupakan satu malapetaka besar bagi kita semua dari golongan hitam. "Apa yang tengah dilakukannya." "Kalau begitu kita harus melakukan sesuatu Eyang Guru. "Tepat. mohon diberi tau siapa adanya seseorang itu dan apa rencana besar yang Eyang maksudkan itu. Muka Bangkai?" "Menghancurkan rencana Sinto Gendeng. Pendekar Tahun 2000." "Eyang.!" "Ah." "Apa yang ada dalam benakmu. nenek jahanam dari Gunung Gede. "Jika hal itu sampai kejadian." "Pendekar Tahun 2000?" mengulang Si Muka Bangkai." Jawab Si Muka Bangkai alias Si Muka Mayat.." ujar Si Muka Bangkai. guru Pangeran Matahari dari puncak Gunung Merapi. Rencana besar yang sangat berbahaya bagi kita dan kawan-kawan dari dunia hitam. Katakan bagaimana .sana?" "Seseorang tengah menyusun satu rencana besar." "Sinto Gendeng. Eyang?" "Tua bangka itu tengah merencanakan kehadiran seorang pendekar baru. Lebih celaka kita tak akan mampu menguasai dunia sana.. dia rupanya yang punya peranan.

Itu sebabnya aku sengaja menyempatkan diri .caranya?!" tanya Kunti Api. "Yang kita hadapi satu urusan besar. "Dua cara. bukan main-main. Karena semua ini akan menentukan masa depan orang-orang golongan hitam di dunia sana. katakan padaku. membuat sosok bungkuk Si Muka Bangkai terhuyung-huyung. aku mohon petunjukmu." kata Si Muka Mayat pula. "Aku akan perintahkan muridku Pangeran Matahari melakukan dua tugas itu. "Muridku Muka Bangkai. sangat berbahaya." "Tolol sekali!" tiba-tiba si nenek rambut merah membentak sambil hunjamkan kaki kiri ke batu karang hingga bukit batu itu bergetar hebat. Siapa yang akan menghabisi Sinto Gendeng dan Pendekar Tahun 2000?!" Kakek bermuka sepucat mayat berpikir sejenak lalu menjawab. Maha penting. Siapa yang bakal melakukan semua itu. Dari sepasang matanya keluar memancar sinar merah menembus kegelapan malam. "Apa menurut otak tololmu Pangeran Matahari muridmu itu akan mampu menghadapi si jahanam Sinto Gendeng?" "Maafkan murid jika berpikir terlalu picik. Eyang. Pertama habisi Sinto Gendeng." Eyang Kunti Api dongakkan kepala. Kedua habisi sang calon pendekar.

Bukan maksudku tidak mementingkan kehidupan dan kekuasaan golongan kita di dunia sana.. Ada satu ilmu Sinto Gendeng yang mungkin sulit kau tembus." "Bagus. murid mana berani menolak. kau seperti tidak suka mendengar ucapanku.. "Muka Bangkai. Apa lagi menjalankan perintah!" Si Muka Bangkai menahan diri.menemuimu. Kau sendiri.. Kau sendiri yang harus turun tangan menghabisi Sinto Gendeng. Tapi aku tidak gentar. Jika kau yang memberi perintah. Bukan muridmu!" Pandangan dua mata Si Muka Bangkai sampai tak berkesip saking terkejut mendengar ucapan gurunya itu. bukan maksudku mengecilkan arti kedatanganmu. "Eyang Kunti Api." "Hemm.. apakah kau merasa sanggup menghabisi Sinto Gendeng?" "Ilmu kesaktian nenek itu memang banyak meningkat beberapa tahun belakangan ini. Karena aku datang untuk memberi perintah. Tugas Guru akan kulaksanakan dengan sebaik-baiknya." .." "Takabur bagaimana Eyang?" "Walaupun kepandaianmu tidak dibawah tingkat kepandaian Sinto Gendeng namun kau perlu berjaga diri. tapi jangan takabur Muka Bangkai.

Untuk itu aku akan meminjamkan sepuluh kuku jariku padamu. Dia ulurkan ke dua tangannya. Dan ingat satu hal! Sebelum kau membunuh nenek jahanam itu. Dari matanya bisa memancar dua larik sinar pekat biru. Congkel dua mata Sinto Gendeng dengan ilmu Sepuluh Cakar Iblis. "Ulurkan dua tanganmu. Tapi murid tidak memiliki ilmu Sepuluh Cakar Iblis karena selama ini Eyang belum pernah mengajarkannya padaku. "Aku tak tahu apa nama ilmu kesaktiannya itu. Begitu dua . Kembangkan telapak tanganmu!" Si Muka Bangkai menurut."Katakan ilmunya yang mana dan mungkin Eyang Guru tahu bagaimana cara aku menghadapinya?" tanya Si Muka Bangkai.. Siapa adanya bocah yang hendak dijadikannya sebagai Pendekar Tahun 2000 itu!" "Terima kasih atas petunjukmu Eyang Kunti. Karena kesaktiannya itu berpusat pada sepasang matanya. daya kekuatannya akan sirna.. kau harus mengorek keterangan." "Jangan kau menyindirku Muka Bangkai!" tukas Kunti Api. Ilmunya yang lain tak usah kau kawatirkan. Selama ini tidak satu kekuatanpun sanggup menghadapinya. maka untuk mengalahkannya kau harus sanggup mencongkel ke dua matanya itu. Kalau dua matanya sudah dicongkel.

Berarti kini dia memiliki satu ilmu baru yang selama ini memang . Kunti Api segera tempelkan dua tangannya lalu kerahkan hawa sakti yang ada dalam tubuhnya. Tubuhnya mengepul kelojotan disertai suara erangan tak berkeputusan seperti orang mau sekarat. Tapi tidak melihat gurunya. Dua sinar merah membungkus tangan kiri kanan Si Muka Bangkai. punggung terbanting di atas batu karang. Begitu suara tawanya sirna sosoknya ikut lenyap. Sepuluh jari tangannya kini ditumbuhi kuku-kuku panjang berwarna hitam. Tidak sanggup menahan Si Muka Bangkai keluarkan jeritan keras. memandang berkeliling. Ketika dia memperhatikan dua tangannya kagetlah kakek ini. Matanya mendelik. Hawa panas ikut menjalar membuat si muka pucat ini bergetar sekujur tubuhnya. Tubuhnya terpental jatuh. Perlahan-lahan Si Muka Bangkai bangkit berdiri. Tapi diam-diam juga merasa gembira. Dia merasa seperti leleh. Hawa panas yang membungkus tubuhnya perlahan-lahan berkurang lalu lenyap sama sekali. Eyang Kunti Api keluarkan suara tertawa panjang. Mulutnya kucurkan darah kental berwarna merah kehitaman. Mukanya yang seperti mayat sesaat tampak merah padam.telapak tangan dikembangkan.

Kita sudah lama berseteru. Kali ini jangan berani berlaku congkak. "Sinto Gendeng. Bukan mustahil pondok kayu itu dipasangi segala macam senjata rahasia yang bisa membantainya sebelum tugas terlaksana. Menggempur seorang sakti setingkat Sinto Gendeng pada malam hari terlalu berbahaya. Perlahan dia berucap. pertanda penghuninya ada di tempat itu." Si Muka Bangkai menyeringai. Pagi hari. "Congkel dua mata Sinto Gendeng dengan ilmu Sepuluh Cakar Iblis. Ajalmu sudah di depan mata!" 7 SINTO GENDENG DISERBU WALAU malam itu Si Muka Bangkai telah sampai di puncak Gunung Gede. namun dia tidak segera mendatangi pondok kayu kediaman Sinto Gendeng.diinginkannya. Kalau dua matanya sudah dicongkel. daya kekuatannya akan sirna.. tunggu bagianmu. baru saja sang surya muncul menampakkan diri dan puncak Gunung . Terngiang kembali ucapan gurunya. Ada lampu menyala di dalam pondok... Dari tempat tersembunyi Si Muka Bangkai mengawasi bangunan itu.

Gede disapu cahaya terang benderang. "Kurang ajar! Aku kena ditipu. "Aku harus bertindak!" Si Muka Bangkai mengambil keputusan. Nenek jahanam itu pasti ada dalam pondok. berkelebat mengelilingi pondok dua kali lalu berdiri bungkuk dan berkacak pinggang di depan pintu pondok. Sekali kakinya menghantam atap pondok jebol berantakan. Memandang berkeliling pondok dia dapatkan bangunan itu dalam keadaan kosong. lalu melesat ke atas wuwungan pondok kayu. Lewat atap yang jebol kakek ini melesat masuk ke dalam pondok. Menunggu. Si Muka Mayat segera keluar dari persembunyiannya. Kini diteriaki mengapa dia diam saja? Jangan-jangan sudah merat dinihari tadi?" Dari atas atap kembali Si Muka Bangkai berteriak. aku Si Muka Bangkai datang untuk minta kau punya nyawa!" Si Muka Bangkai berteriak sampai tiga kali. Tetap saja tak ada gerakan tak ada yang keluar dari dalam pondok. Nenek jahanam itu pasti sudah kabur . "Malam tadi ada lampu menyala. tak terdengar suara gerakan di dalam rumah. Tak ada yang keluar. Si Muka Bangkai merutuk sendiri dalam hati. Sekian lama dia berada di atas atap pondok. "Sinto Gendeng. Lampu minyak yang menempel di dinding tidak menyala.

Masih kurang puas dia .menjelang pagi tadi. "Jangan-jangan bangsat itu sembunyi di dalam gentong! Tolol! Kau kira bisa memperdayai diriku!" Si Muka Bangkai umbar tawa bergelak. Bersamaan dengan itu dia hantamkan dua tangannya. Gentong itu kosong! Si Muka Bangkai terbungkukbungkuk memaki panjang pendek. Kakek ini lalu melesat keluar pondok. Yakni sebuah balai-balai kayu. Tapi Sinto Gendeng ternyata tidak sembunyi di dalam gentong. Pintu depan dihajarnya dengan tendangan. Ketika dia melihat gentong besar yang terletak di sudut ruangan. "Aku tak mencium bau pesing. sesaat dia menaruh curiga. "Braaakkk!" "Byaaarr!" Gentong tanah hancur berantakan. Sepuluh larik sinar merah melesat ke arah gentong besar terbuat dari tanah. Nenek jahanam itu jelas-jelas memang sudah kabur!" Kakek muka pucat itu mendumal seorang diri. satu meja dan satu kursi reyot. Saking marahnya Si Muka Bangkai hancurkan perabotan yang ada di dalam pondok. Dia mendongak dan menghirup udara dalamdalam. Matanya menyorot merah. Pengecut!" Si Muka Bangkai ingat sesuatu.

mungkin juga karena sudah lama tidak meneguk air. ulurkan kepala dekat-dekat agar bisa melihat ke dalam gentong lebih jelas. Kepala gayung dari batok kelapa tak ada lagi di ujung gagang gayung! Di saat bersamaan Si Muka Bangkai mencium bau pesing. Di sudut luar pondok sebelah kiri belakang dia melihat sebuah gentong besar. Dengan mata mendelik besar dia memperhatikan bagaimana gayung yang hendak diangkat dan didekatkan ke mulutnya kini telah buntung. Tetapi apa yang terjadi kemudian membuat guru Pangeran Matahari ini menjadi kaget setengah mati. Penuh curiga kakek bungkuk ini berjingkat. Air gentong kelihatan jernih. Sehabis minum sekalian dia hendak mencuci muka dan membasahi rambut. Bau itu datang menyambar dari dalam gentong besar. Mungkin karena marah. Lebih besar dari yang tadi dihancurkannya di dalam pondok.menyelidik seputar pondok. Pada saat itulah tiba-tiba satu tangan kurus kering berkulit hitam . Si Muka Bangkai merasa haus. mengambil gayung dan membuka penutup gentong. Si Muka Bangkai celupkan gayung batok kelapa ke dalam gentong. penuh sampai ke leher gentong. Dia dekati gentong besar. Di atas tutupan gentong ada sebuah gayung terbuat dari batok kelapa.

tangan kiri menuding ke arah Si Muka Bangkai. Perlahan-lahan gentong ini naik ke atas setinggi kepala manusia lalu melayang ke arah Si Muka Bangkai.. Gentong besar penuh air bergerak. hik. Mau cuci muka.. dari dalam gentong besar melesat keluar sosok basah kuyup seorang nenek-nenek mengenakan kebaya dan kain panjang butut. Dia berusaha jauhkan kepalanya dari mulut gentong tapi terlambat. Luar biasa sekali. Kakek itu menjerit keras. "Kasihan! Tamu datang dari jauh ingin minum. Di kepalanya menancap lima tusuk konde terbuat dari perak putih. Di atas sosok si . Dari mulutnya mengumbar suara tawa bergelak. Tubuhnya mencelat sampai dua tombak...melesat dari dalam gentong. Dagunya serasa hancur. Hik.. hik!" Habis berkata begitu Sinto Gendeng angkat tangan kanannya. Satu jotosan keras melanda dagu Si Muka Bangkai. hik! Biar aku tolong. Tidak kepalang tanggung. Biar mandi dan cebok sekalian! Hik. Tapi gayungnya amblas... Kepalanya laksana tangga. Berdiri di tanah tangan kanan berkacak pinggang.. Mukanya jadi pencong tak karuan. hik. Selagi Si Muka Bangkai pegangi dagu dan kepala sambil meraung kesakitan. Si Muka Bangkai tersentak kaget.

menghantam ke arah si nenek. Sepuluh jari tangan keluarkan kilatan cahaya merah. Seluruh air tumpah membasahi Si Muka Bangkai. sungguh dia tidak menduga. Kalau hari itu dia bisa menyerang dengan sepuluh larik sinar merah yang luar biasa hebat dan panasnya. Guru Pendekar Wiro Sableng ini segera berkelebat selamatkan diri tapi tak urung bahunya masih sempat terserempet salah satu larikan sinar merah hingga si nenek . Dia sudah lama berseteru dengan kakek satu itu dan tahu betul setiap ilmu yang dimiliki Si Muka Bangkai. Serentak dengan itu dia kirimkan serangan ganas. mengucur tumpah membasahi sekujur kepala dan tubuh Si Muka Bangkai. "Sinto Gendeng keparat! Amblas nyawamu!" Si Muka Bangkai berteriak.kakek gentong bergerak membalik. Sinto Gendeng kembali tertawa cekikikan. Kaget Sinto Gendeng bukan kepalang. Dalam menahan sakit dan ledakan amarah yang tidak tertahan Si Muka Bangkai hantamkan tangan kanannya ke atas. "Braaakkk! Byaaar!" "Buuurrr!" Gentong besar pecah berantakan. Air bau pesing dalam gentong yang sudah bercampur air kencing si nenek mencurah deras.

Pondok itu hancur berantakan dan musnah dilalap kobaran api. Sinto Gendeng keluarkan suara menggeram ketika melihat bagaimana kekuatan tenaga dalam lawan sanggup . dua telapak tangan terpentang ke arah Sinto Gendeng. Tempat itu laksana dilanda topan. "Jahanam kurang ajar! Kau memang sengaja datang mengantar nyawa!" Sinto Gendeng membentak marah. cabang dan rerantingan serta semak belukar patah beterbangan. Dua kakinya goyah. kepalanya seperti hendak tanggal. Tanah. Dia keluarkan jurus bernama "Kilat Menyambar Puncak Gunung" tapi yang sebenarnya dilepaskan adalah pukulan sakti bernama "Benteng Topan Melanda Samudera". Deru angin bukan olah-olah dahsyatnya. Di belakang sana larikan sinar merah yang dilepaskan Si Muka Bangkai melabrak pondok kayu. Dada terangkat. Pohon-pohon bergoyang hebat. Mulutnya yang tadi kena dihajar pencong berkomat-kamit. "Kau hancurkan pondokku. Sosok bungkuk Si Muka Bangkai bergetar hebat. batu dan pasir berhamburan ke udara. Dia kerahkan seluruh tenaga dalam. Mata melotot ke depan. Kini kuhancurkan tubuhmu!" Si nenek pukulkan tangan kanannya. Perlahanlahan mulai terangkat.menjerit kesakitan. Bahunya yang luka kepulkan asap kelabu.

membendung serangannya. Selangkah demi selangkah dia maju mendekati Si Muka Bangkai. Kakek bungkuk muka pucat tak tinggal diam. Dia segera pula bergerak ke depan menyongsong lawan. Tinggal tiga langkah lagi tiba-tiba keduanya sama-sama membentak hebat dan hantamkan seluruh tenaga dalam yang mereka miliki. Dua jeritan dahsyat menggeledek keluar dari mulut Sinto Gendeng dan Si Muka Bangkai. Bedanya kalau si nenek terpental sampai tiga tombak maka sang kakek mencelat empat tombak dan masih terguling lagi di tanah dengan tubuh dan wajah berkelukuran. Bedanya lagi kalau Sinto Gendeng menjerit murni keluarkan suara maka Si Muka Bangkai menjerit sambil semburkan darah segar! Jelas dalam hal tenaga dalam dan hawa sakti guru Pangeran Matahari itu masih berada di bawah guru Pendekar 212 Wiro Sableng. Terbungkuk-bungkuk, sambil menyeka darah yang berselomotan di mulutnya Si Muka Bangkai bangkit berdiri. Tampangnya semakin pucat angker. Memandang ke depan dilihatnya Sinto Gendeng telah lebih dulu berdiri sambil berkacak pinggang, menyeringai komat-kamit permainkan susur di dalam mulutnya yang perot. "Sinto Gendeng, jangan mengira kau telah mengalahkan diriku!" tiba-tiba Si Muka Bangkai keluarkan ucapan.

"Ketahuilah hari ini adalah hari kematianmu! Tapi aku Si Muka Bangkai berjanji akan membiarkan utuh jazadmu, jika kau mau menjawab satu pertanyaanku!" Sinto Gendeng semburkan ludah susurnya lalu tertawa mengikik. "Ada orang mau membunuh pakai perjanjian segala! Hik... hik.... hik! Apa kau tidak sadar kalau nyawa dalam tubuhmu saat ini sebenarnya hanya tinggal setengah?! Hik... hik... hik!" "Keparat jahanam!"" Si Muka Bangkai memaki sambil pukulkan tangan kanan. Lima larik sinar api merah serta-merta menyambar ke arah si nenek. Sinto Gendeng cepat melompat. Dari atas dia lepaskan pukulan sakti yang selama ini telah menggetarkan delapan penjuru rimba persilatan. Pukulan "Sinar Matahari." Tangan si nenek mulai dari jari sampai ke siku berubah menjadi putih perak menyilaukan. Ketika tangan itu dipukulkan maka berkiblatlah cahaya panas mengerikan, menyambar ke arah Si Muka Bangkai. Hebatnya Si Muka Bangkai seperti tidak perduli dengan datangnya serangan maut itu. Dia angkat dua tangannya ke atas. Jari-jari berkuku panjang menekuk demikian rupa, memancarkan sinar merah. Ketika cahaya putih panas pukulan "Sinar Matahari" sampai di hadapannya, Si Muka

Bangkai putar dua tangan, membuat gerakan seperti menangkap! Sungguh luar biasa! Sinto Gendeng sampai melotot besar menyaksikan bagaimana cahaya putih pukulan sakti yang dilepaskannya berhasil ditangkap lawan. Dan belum habis kagetnya tiba-tiba Si Muka Bangkai lemparkan cahaya putih panas itu ke arahnya, disertai dengan serangan sepuluh sinar merah! Selagi Sinto Gendeng jungkir balik selamatkan diri sambil membentengi tubuh dengan dua pukulan sakti yakni "Tameng Sakti Menerpa Hujan" dan "Dinding Angin Berhembus Tindih Menindih" tiba-tiba Si Muka Bangkai melesat ke depan. Sepuluh jari tangan kanannya yang berkuku panjang menyambar ke arah dua mata si nenek. Sepuluh Cakar Iblis! "Crass!" Walau Sinto Gendeng mampu bergerak cepat selamatkan matanya namun salah satu cakaran lawan masih sempat menyerempet pelipis kirinya hingga kulit mukanya yang tipis hitam tergores dalam dan kucurkan darah! Sinto Gendeng keluarkan suara menggembor dahsyat. Dia hendak menghantam dengan dua pukulan sekaligus, mengerahkan tenaga dalam penuh. Namun selintas pertanyaan muncul dalam benaknya. Mengapa lawan sengaja menyerang dua matanya?

Dia ingin mencungkil dua mataku. Keningnya yang hitam mengerenyit. Sepuluh jari tangannya tidak berkuku panjang. Melihat Sinto Gendeng tegak seperti tertegun.Pasti ada maksud tertentu. Si Muka Bangkai mengira lawan telah leleh nyalinya. Maka dia pun membentak. "Kau mau menjawab atau mampus percuma?!" "Tua bangka muka pucat! Kau berdusta! Sekarang biar aku memilih mampus percuma! Aku mau lihat bagaimana kau melakukannya!" jawab Sinto Gendeng .. Si nenek kemudian ingat pada ilmu kesaktian yang bersumber pada sepasang matanya. Lalu menyeringai.. Tua bangka keparat ini menyerang dengan ilmu Sepuluh Jari Iblis. Dia tahan gejolak hatinya. Setahuku dia dulu tidak memiliki ilmu itu. "Hemmm. Dia hendak melumpuhkan ilmu yang bersumber pada kekuatan yang tersimpan dalam mataku!" Si nenek meludah ke tanah. "Tua bangka muka mayat! Siapa yang menyuruhmu menanyakan hal itu?!" "Aku datang sendiri dan ajukan pertanyaan sendiri! Tak ada yang menyuruh!" jawab Si Muka Bangkai. "Sinto Gendeng! Katakan siapa nama pemuda yang hendak kau jadikan Pendekar Tahun 2000!" Sinto Gendeng terkesiap mendengar pertanyaan itu.

lalu tertawa cekikikan. Dua larik sinar biru menyambar bersilang laksana dua belah pedang. Dia belum sempat mendekati lawan tapi Sinto Gendeng sudah mendahului dengan serangan yang paling ditakutinya. laksana terbang dia melesat ke arah Sinto Gendeng. Dua mata yang mendelik besar dikedipkan. Tapi Sinto Gendeng dua jengkal dari atas tanah. membabat dan menusuk ke arah Si Muka Bangkai. Untuk dapat mencungkil dua mata lawan dia harus bertempur dalam jarak pendek. Si Muka Bangkai berjibaku membentengi tubuh dengan pukulan sepuluh larik sinar api. Asap putih kelabu mengepul dari batok kepala Si Muka Bangkai. Untuk selamatkan diri dengan mengelak sudah tidak mungkin. namun untuk itu dia terpaksa merelakan tangan kirinya. "Wusss! Wussss!" "Bummmm!" Ledakan keras menenggelamkan jeritan yang keluar dari mulut Si Muka Bangkai. Kakek ini berseru kaget. Dia berhasil selamatkan diri dari dua larik sinar biru yang mematikan. Tangan itu hancur putus . Sebelum berkelebat mendekati si nenek. kakek ini lepaskan pukulan sakti larikan sepuluh api merah. Ketika lawan berkelit untuk selamatkan diri. Bersamaan dengan itu terdengar suara berdesir.

wajah berkerut kelam.. Si Muka Bangkai sendiri terpental ke udara.. "Kunti Api. Sinto Gendeng tegak tergontai-gontai. Dedengkot golongan . Sinto Gendeng ikuti sosok lawan dengan gerakan dua matanya. Memandang ke depan Si Muka Bangkai dan orang yang menolongnya telah lenyap. Sesaat lagi tubuhnya akan hancur ditembus dua larik sinar maut itu tiba-tiba satu bayangan biru disertai rambut merah riap-riapan berkelebat di udara. Untuk kedua kalinya puncak Gunung Gede dilanda dentuman dahsyat akibat bentrokan dua ilmu kesaktian hebat. Mata dikedipkan. Dua larik sinar biru kembali menggebu. Sebelum berkelebat lenyap si jubah biru berambut merah hantamkan tangan kanannya ke arah Sinto Gendeng. Segulung kobaran api melabrak dahsyat. Walau cuma sekilas namun dia sudah bisa menduga siapa adanya orang yang menolong dan melarikan Si Muka Bangkai. Kali ini Si Muka Bangkai tidak punya kesempatan untuk mengelak atau menangkis.. Sinto Gendeng menggeram. Dengan cepat bayangan ini menarik tubuh Si Muka Bangkai lalu memanggulnya.sebatas siku. Sinto Gendeng cepat bentengi tubuh dengan pukulan "Benteng Topan Melanda Samudera" lalu dari matanya dia semburkan dua larik sinar biru.

berusaha menyelinap di antara kepadatan lalu lintas. Pengemudi bajaj tampak kesal. Siang itu udara agak mendung. Sebuah bajaj bergerak tersendatsendat. Anak setan itu.. Boma berdiri di sebuah halte.. Anak itu dalam bahaya. Dirinya harus segera diisi ilmu kepandaian.hitam itu masih gentayangan rupanya. menunggu bus..." Si nenek geleng-gelengkan kepala. Semua orang termasuk para pengemudi kendaraan berusaha secepat mungkin untuk sampai ke tujuan masingmasing sebelum hujan turun.. "Orang-orang dari dunia hitam agaknya telah bergerak. kendaraan lain hanya mampu bergerak seperti merangkak. Aku harus segera menemuinya. Penum- . Pasti dia yang menyuruh Si Muka Bangkai untuk mencelakai diriku. Di depan halte kendaraan ini tak bisa lagi maju.. Akibatnya kemacetan mulai terjadi di beberapa persimpangan. Orang-orang golongan hitam sudah tahu rencana besarku." 8 MUSIBAH DATANG LAGI LALU LINTAS di Jalan Kramat Raya padat sekali. Kecuali motor.

Pada lengan kirinya ada gelang keroncong berjumlah tiga buah. seorang perempuan separuh baya. Tapi karena gugup gelang tak mau keluar dari pergelangan tangannya. tangan kiri dengan cepat menjambret kalung di leher. Di lehernya tergantung seuntai kalung emas. Dari gulungan koran yang dibawanya mencuat sebilah belati. Tapi juga ada rasa geram. Namun tidak seorangpun . "Gelang. Di halte banyak orang lakilaki yang ikut menyaksikan peristiwa penodongan itu. Ujungnya langsung ditempelkan ke perut perempuan di atas bajaj. Dua gelang lolos. ada rasa kasihan. Semua itu terjadi di depan mata Boma. buka! Cepat!" Ketakutan setengah mati perempuan di atas bajaj lakukan perintah penodong. Tangan kanan siap menusukkan belati. tinggal satu. Tiba-tiba seorang lelaki berbadan tegap yang sejak tadi berada di halte di antara kerumunan orang yang menunggu bus. bertubuh gemuk menyeka peluh yang membasahi wajah. "Tereak gua tikem!" gertak si tubuh besar. mengenakan blujins dekil dan kaos oblong hitam. melangkah cepat mendekati bajaj. Dengan kasar. Ada rasa takut. Tengkuknya merinding.pangnya. penodong pergunakan tangan kiri menanggalkan gelang.

Tapi Boma salah perhitungan. seorang lelaki tinggi kurus dengan cacat bekas luka di pipi kiri mencekal kerah kemeja Boma. "Segini banyak orang. Penodong berusaha membetot gelang ke tiga. Lalu sebuah benda menempel di perut anak ini. Boma menjerit. Bersamaan dengan itu sikutnya bergerak ke belakang untuk menghantam dada orang. Nggak ada yang mau nolong!" Jari-jari tangan Boma bergerak tak bisa diam. mendorong si penodong hingga terjajar ke samping bajaj. Anak yang pernah ikut latihan karate ini menepiskan tangan yang memegang badik. Ketika Boma melihat ke bawah ternyata benda itu adalah sebilah celurit berkilat. kalah kecepatan. terhuyung-huyung bersandar ke bajaj. "Anak ingusan jangan sok jadi jago! Mau mampus lu!" Boma menggigil. tapi menggigil nekad. Saat itulah Boma berteriak lalu menerjang.berani atau tergerak hatinya untuk menolong. Perempuan di atas bajaj menjerit lebih keras dari jeritan Boma lalu terguling . Tiba-tiba dari samping. Lalu ada darah menyembur dari perutnya. Boma memaki dalam hati. Boma merasa perutnya dingin. Bukan menggigil takut. Dadanya berdebar keras. Tangan yang memegang badik bergerak.

Muka babak belur tubuh lebam. Lari ke seberang jalan di mana telah menunggu dua temannya di atas sepeda motor yang mesinnya sudah dihidupkan.pingsan. Sebentar saja si penodong terkapar kembali di aspal. Beberapa orang dilihatnya mendatangi hendak menolong. Clurit dibuang di tengah jalan. Menggebuk dan menendang. Penodong yang tadi didorong Boma berusaha kabur menyusul temannya. Matanya sesaat menatap langit-langit kamar. Boma pegangi perutnya. Sewaktu kendaraan itu mulai bergerak Boma tak ingat apa-apa lagi. Orang yang menclurit Boma berkelebat di antara kendaraan macet. Mulut Boma tidak henti mengucap menyebut nama Tuhan. Dia sadar itu bukan kamar . Kaki goyah. Tangannya terasa panas oleh darahnya sendiri. Dia masih sadar ketika tubuhnya digotong ke dalam sebuah taksi. Saat itulah orang banyak di halte yang tadi diam saja mulai bergerak. Namun Boma masih punya daya dan kesempatan menjegal kakinya hingga penodong ini terjerembab ke aspal. Dia mencoba bangun. *** KETIKA Boma sadar dia dapatkan dirinya terbaring di atas tempat tidur. mau lari lagi.

Nanti biar aku cerita." "Ajie gile. Biar mereka senang. "Tanya aja sama teman-teman yang ada di sini. "Ingatanmu belum pulih Bom. Siapa yang becanda. Memangnya aku di mana?" "Kau di RSCM!" jawab Ronny..." "Sekarang ini siang apa malem Ron?" tanya Boma." Boma Tri Sumitro gerakkan kepala ke samping.. Andi dan Firman.. Firman." Boma memandang pada Andi. Aku suruh masuk mereka. Kok kamu ada di sini?" Boma melihat Ronny." "Tunggu." Ronny pegang tangan Boma..tidurnya. Gita pulang duluan diantar Rio. Ayah sama ibumu ada di luar. "Tadi Gita sama Rio juga ada di sini. Lalu di sebelahnya terdengar ada suara berkata perlahan... "Ron. Sekarang aku panggilin ibu sama ayahmu dulu. Lalu di situ juga ada Vino. Boma udah sadar. . "Kok aku bisa di sini? Kok aku bisa di rumah sakit lagi? Kan aku udah sembuh.... "Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo?" tanya Boma. Ke tiga anak ini sama-sama anggukkan kepala.. Vino.. Ada rasa perih di bagian perutnya. "Teman-teman. "Jangan becanda Ron.

Nyonya Hesti memeluk dan menciumi Boma dengan air mata berlinang. "Baru saja keluar rumah sakit." jawab Ronny Celepuk. Bram memijit-mijit kaki adiknya... Mengapa musibah datangnya berturut-turut. Sumitro Danurejo berdiri menunduk di samping tempat tidur sambil memegangi tangan anaknya. Namun pikiran jernih belum datang. "Ibu dan ayahmu juga belum tahu jelas ceritanya." . Coba mengingat-ingat.. Ada yang bilang kau diclurit rampok di Kramat Raya." "Tahan dulu Bom.. Lalu anak ini keluar dari kamar. Heran kau ini Boma. aku haus."Udah malam. Bram kakak Boma juga ada. sekarang masuk rumah sakit lagi. Tak lama kemudian masuk kembali bersama ayah dan ibu Boma.. Menurut dokter tidak boleh minum sebelum keluar kentut." Ibu Boma keluarkan ucapan lirih. "Boma nggak apa-apa Bu. "Ron. Anak ini hanya menelentang memandangi langit-langit kamar. ikut masuk. Ingatannya masih samar.. sesekali menoleh pada temantemannya. Cuma heran kok bisa ada di sini?" Ibu Boma mengusap kening dan rambut anaknya. Katanya kau coba menolong orang yang dirampok di atas bajaj Boma terdiam.

" Menerangkan Ronny. Saat itu ke dalam kamar masuk dua orang berseragam Polisi disertai seorang Reserse berpakaian preman. Boma menjawab semua pertanyaan Polisi sesuai apa yang bisa diingatnya. Perutmu robek satu jengkal lebih. "Kau habis dioperasi Bom. Menurut salah seorang anggota Polisi mereka telah mendapat izin dari Dokter dan dari pihak rumah sakit untuk menanyai Boma begitu anak tersebut sadar. Memberi tahu bagaimana terjadinya peristiwa perampokan itu. istirahat aja dulu.. Anggota Polisi itu minta izin kepada ke dua orang tua Boma untuk mendapatkan beberapa keterangan dari Boma. Mereka memberi tahu bahwa mereka adalah aparat Kepolisian Wilayah Jakarta Pusat yang ditugaskan mengusut peristiwa perampokan yang terjadi di Jalan Kramat Raya siang tadi. Kepada Polisi yang menanyai . Kami teman-teman nungguin kamu.kata Ibu Boma." kata Andi. apa yang kemudian terjadi atas dirinya. ingatanmu mulai pulih Bom." Ada rasa haru dalam nada ucapan dan suara anak ini. "Nungguin?" Boma tersenyum. Apa yang dilakukannya.. "Kayak dulu di Rumah Sakit PMI aja. Udah. "Nah. "Kok begitu?" Boma heran..

"Kau tahu. seorang jururawat masuk untuk memeriksa infus di tangan kanan Boma. Agak jauh dari ayah Boma ke tiga anak ini lalu bicara setengah berbisik. .Boma memberi tahu ciri-ciri kawan perampok yang berhasil melarikan diri. kenapa Gita minta diantar pulang? Padahal benerannya sih dia mau nungguin Boma." Rio membuka pembicaraan. Rio memberi isyarat agar Ronny dan Vino mendekat. Ayah Boma mengobrol dengan anak-anak SMA Nusantara III yang malam itu sengaja begadang menjaga Boma. "Pasti ada janji sama si Allan. mengecek suhu badan anak itu serta tekanan darahnya. 9 NENEK ANGKER MUNCUL LAGI JAM 10 malam Rio yang mengantarkan Gita muncul kembali di rumah sakit. tiga anggota Polisi itu mengucapkan terima kasih lalu tinggalkan kamar tempat Boma dirawat Tak lama setelah tiga orang Polisi pergi. Saat itu ibu Boma sudah pulang di antar Bram yang besok akan ada wawancara di kantor tempat dia melamar kerja. Setelah merasa cukup dan selesai mencatat alamat rumah serta alamat sekolah Boma.

anak baru di kelas dua. Di . Sekarang nggak. "Yang penting kita berjaga-jaga saja." kata Vino." *** MALAM terasa semakin dingin. yang ketemu Gita waktu daftar. "Gita nggak ada janji sama siapa-siapa. "Mudah-mudahan begitu." Kata Ronny Celepuk. Pasiennya banyak. lu jangan bicara yang nggaknggak. Bikin gua jadi nggak enak aja!" kata Ronny. Boma badannya panas. Jadi nggak mungkin dia ngacok lagi." Kata Rio. Mungkin cuma ayah Boma yang dikasih ijin. "Siapa bicara yang nggak-nggak? Ingat cerita Boma soal nenek aneh itu? Kalau dia memang beneran mau nurunin ilmu sama Boma jangan-jangan dia akan pergunakan kesempatan saat ini untuk datangin teman kita itu. Tengkuknya mendadak dingin. Kita nggak bisa jaga di dalam. "Ingat peristiwa di Rumah Sakit PMI Bogor? Waktu Boma kedatangan nenek aneh yang mukanya angker?" "Ah. Sayang kamarnya sempit. Dia bilang. Rio menggeleng. takut bakal kejadian lagi" "Kejadian apa?" tanya Vino sambil memandang pada Ronny." "Saat di Rumah Sakit Bogor itu.

Di kejauhan terdengar suara sirine. mengeluarkan suara mendengkur halus. Ayahnya beberapa kali memegang kening Boma. Temantemannya tidak ada. Boma memandang berkeliling. duduk tertidur di kursi. Tubuhnya keringatan. lapar serta rasa kering di tenggorokan. Pintu itu terbuka cukup lama tapi tak ada orang masuk. tiba-tiba sudut matanya melihat pintu kamar terbuka. Lalu sunyi lagi. Namun sebelum dia sempat pulas. Satu-satunya orang yang menunggui Boma di dalam kamar adalah ayah anak itu. Dalam keletihan yang amat sangat Boma akhirnya hanya bisa memejamkan mata kembali. Udara dalam kamar itu terasa agak panas. Malam merayap menuju ambang pagi.luar kamar Ronny dan teman-temannya duduk berjelepokan di tikar. Di atas ranjang Boma terbangun oleh rasa sakit yang mencucuk pada bagian perutnya. Dalam kelegaannya Sumitro Danurejo duduk sandarkan punggung ke kursi di samping tempat tidur. Kepalanya disandarkan ke tembok kamar. Mata di pejamkan. Tak mungkin pintu terbuka oleh dorongan angin . Hatinya lega bila merasakan kening anak itu dingin dan ada sedikit keringat. Lalu ada rasa haus. Boma kelihatan tertidur nyenyak. Kamar tempat Boma dirawat diselimuti kesunyian. Yang ada hanya ayahnya.

"Kau liat pintu itu terbuka?" "Aku liat. kenapa?" tanya Ronny lalu menguap. "Coba kau intip ke dalam. Tekapkan wajahnya ke atas .. tapi nggak kelihatan ada orang yang buka.karena daun pintu itu selain besar juga terbuat dari jenis kayu tebal dan berat.. Lalu terbuka. Lalu beringsut ke sudut tembok.. Juga nggak kelihatan ada orang masuk atau keluar." "Lu mau nakut-nakutin aku Vin?" "Aku memang udah takut dari tadi Ron.." Vino goyangkan kepalanya ke arah pintu kamar. Vino menggeleng. "Pintu. Bangun. Vino yang setengah tertidur memandang ke arah pintu kamar yang putih besar." Ronny buka dua matanya malasmalasan. Memangnya aku buta?" "Tadi pintu itu tertutup Ron..." jawab Vino. "Ada apa?" "Pintu." jawab Ronny." "Kau saja yang ngintip.. pintu itu. Ron. Dia menyentuh rusuk Ronny dengan sikutnya. "Ron. *** Di luar kamar. Ada rasa heran tapi juga ada rasa takut. Siapa yang barusan masuk.

" Boma memohon. Di pinggangnya tersisip sebatang tongkat kayu butut. Tapi sosok yang melangkah masuk bergerak cepat sekali. Satu sosok melangkah masuk terbungkuk-bungkuk.. Nenek berkulit hitam.. *** Kembali ke dalam kamar. "Nek. Dia palingkan kepalanya ke samping. Di kepalanya yang nyaris sulah menancap lima buah tusuk konde dari perak. "Ah. Saya lagi sakit. Hendak membangunkan ayahnya..paha." hati Boma berucap.." membatin Boma. bertampang angker. Dua anak ini saling berdempetan di sudut tembok.. Kau tahu sakitmu ini karena ulah tololmu sendiri?!" .. Pakaian dan tubuhnya menebar bau pesing. segala pintu ngapain gua pikiran... jangan ganggu saya. mengenakan baju dan kain panjang butut. Bau pesing merasuk jalan nafas dan penciuman Boma. tahu-tahu sudah berdiri di samping tempat tidur. Keduanya dijalari rasa takut.. "Nenek itu.. menutupi wajah dengan paha masing-masing. "Anak setan! Aku tahu kau lagi sakit.. Dia pejamkan matanya tapi mendadak nyalang lebar. Ronny melakukan hal yang sama..

"Aneh.. bukan melalui mulut.. Mungkin udah takdir.. Saya mau tidur."Ulah tolol saya?" "Kau tidak punya ilmu kepandaian apa-apa." Si nenek perhatikan tangan kanan Boma yang diberi infus. Matanya memandang berkeliling. "Tak perlu kau tanyakan itu.. Mengapa berlaku nekad menghadapi lawan yang memegang clurit? Menolong orang lain tanpa perhitungan! Apa itu bukan tolol namanya?!" "Ba." jawab Boma.. bagaimana kau bisa tau Nek?" tanya Boma heran.." "Kukorek matamu jika berani tidur!" si nenek mengancam. "Sok tahu! Dasar tolol! Jangan menutupi kesalahan sendiri dengan mangatakan takdir!" "Nek.. nasibmu tidak akan seperti ini." "Nasib saya memang jelek Nek.. "Sekarang saatnya aku memasukkan hawa murni. saya capek." "Apa? Ingus?" "Infus." kata Boma sambil senyum lalu mengerenyit dan pegangi perutnya.. Kalau saja dulu waktu di rumah sakit kau bersedia menerima ilmu yang aku berikan. . Kepalanya diputar seantero kamar.." "Itu namanya infus Nek. diberi minum mengapa lewat urat.. memberi kekuatan pada tubuhmu.

telapak dikembangkan menghadap ke atas. "Jika kau merasakan sesuatu. Terpaksa anak ini diam saja." si nenek memberi ingat. Seperti hawa hangat tadi. Perlahan-lahan berganti hawa sejuk. Dengan cepat si nenek letakkan telapak tangan kanannya di atas telapak kiri Boma. jangan keluarkan suara apa lagi menjerit. mengalir ke dada melalui tangan. membuat Boma merasa mengantuk dan hendak pejamkan matanya." kata si nenek muka angker. Hawa hangat lenyap. "Ah. Boma hendak menarik tangannya tapi entah mengapa tangan itu terasa sangat berat. hawa sejuk ini juga menjalar ke sekujur tubuh Boma. . Boma merasakan ada hawa hangat memasuki tubuhnya. naik ke atas kepala sampai ke ubun-ubun. tak berkedip. Lalu dia kerahkan tenaga dalam sambil menatap Boma lekatlekat. Lalu dia tarik tangan kiri Boma. lalu turun ke bawah. letakkan luruslurus di atas tempat tidur. Yang membuatnya ngeri ialah karena tidak tahu apa sebenarnya yang dilakukan nenek itu. Hawa panas itu tidak membuat dia takut.Jahitan bekas operasi mendadak mendenyut sakit. mendekam beberapa lama di perut sebelum turun sampai ke ujung kaki. tak tahulah aku apa namanya itu. Tubuh anak itu keringatan.

Lalu menjawab dengan anggukkan kepala. Wajahnya yang angker dan keringatan tampak lega. apa lagi takabur. "Anak setan! Kau mau cepat sembuh?" Boma diam saja. mulai sekarang kau jangan sombong. sebut nama Tuhanmu. Si nenek tarik selimut putih yang menutupi tubuh Boma. Entah benar entah tidak tapi waktu kecil dia pernah mendengar cerita tentang hantu aneh yang . Mulai saat ini kau jangan pergunakan tangan kirimu secara sembarangan." Boma perhatikan tangan kirinya. Cahaya itu seperti menjalar. Dia tarik tangan kanannya. masuk ke dalam telapak tangannya. Lalu cepat sekali ia menyingkapkan pakaian yang dikenakan anak itu. kau dengar baik-baik.Tapi mendadak matanya terbuka kembali lebar-lebar ketika melihat tangan si nenek memancarkan cahaya putih menyilaukan. Tangan itu tidak ada apa-apanya. tidak berbeda dengan tangannya sebelum dipegangi si nenek. "Anak setan. Jika kau berada dalam bahaya. jika kau terpaksa mempergunakan tangan itu untuk membela diri. ucapkan Basmallah sebelum kau mempergunakannya. Kau musti banyak sabar. Si nenek tarik nafas panjang. Boma jadi ketakutan. Selain itu.

..suka gentayangan mengambil "burung" anakanak kecil "Nek. hik. "Sakit sedikit saja mau teriak setinggi langit! Cengeng!" Dengan tangan kiri masih menekap mulut Boma... "Kau pasti tidak percaya. hik.. saya.?" tanya Boma gemetar. Si nenek cepat tekap mulut Boma dengan tangan kirinya. Masih banyak ilmu yang akan aku . Hik. Apa kau kira aku mau melihat anumu yang jelek itu? Hik. hik... "Masih kecil sudah punya otak kotor. Si nenek menyeringai.. hik!" "Nek. Mana dia bisa percaya ucapan si nenek. Lalu enak saja perban tebal yang menutupi perut Boma ditariknya hingga anak ini hampir berteriak kesakitan." Boma diam saja... kau mau berbuat apa.. Lihat saja besok. sekarang aku pergi.." "Diam! Kalau mau sembuh jangan banyak omong!" jawab si nenek.. Nanti aku datang lagi. Anak setan. Tiga kali mengusap si nenek tempelkan kembali perban tebal ke perut Boma lalu tutupkan selimut ke tubuh anak itu. si nenek pergunakan tangan kanan untuk mengusap jahitan bekas luka operasi di perut Boma. "Kau sudah sembuh! Besok kau boleh meninggalkan rumah sakit ini.

Tapi ingat.. "Begitu?" katanya. "Nek. Ujung tongkat diletakkan di atas kening Boma... hik. Pacar-pacarmu." "Saya nggak punya pacar Nek." Si nenek tertawa lebar. Satu ketika kau akan melihat bagaimana kebenaran bisa disalahkan.berikan padamu. Jangan pernah khianat terhadap siapapun. Satu hal harus kau ingat baik-baik. Hik. Anak setan macammu ini. Tolong sesamamu sesuai kemampuan-mu. Kau ini siapa .. "Mulai hari ini kau harus lebih banyak mendekatkan diri pada Tuhan." Nenek muka angker sisipkan tongkatnya kembali ke pinggang lalu memutar tubuh. Hanya karena pertolongan dan kuasaNya Gusti Allah sampai saat ini dan di masa mendatang kau bisa selamat. Jangan jadi manusia sombong. hik!" Si nenek cabut tongkat yang tersisip di pinggangnya. kebenaran tidak pernah bisa dikalahkan. hik. Karena di atas kebenaran masih ada apa yang disebut kebijaksanaan. Kebenaran bukan segala-galanya.. tunggu.... "Hik. Jangan kejadian ini kau ceritakan pada siapapun. terutama terhadap kedua orang tuamu! Ingat lagi satu hal. dari jidatmu saja aku sudah tahu kau bakal jadi calon buaya perempuan. bakal digandrungi cewek-cewek. Termasuk temantemanmu.

Terbungkukbungkuk dia berjalan keluar dari kamar. . berkomat-kamit tapi tidak menjawab pertanyaan Boma. Anak dan Ayah sama-sama pulas.. Suara ayahnya." katanya perlahan. "Bau pesing." kata Boma dalam hati. "Hemmm.. "Boma. Boma menowel hidung berulang kali. "Mahluk aneh. Mungkin Ayah salah dengar." kata Boma. "Tadi ada pispot pasien yang terbalik.. melainkan tempelkan jarijari tangan kanannya di atas bibir lalu dilambaikan ke arah Boma. Boma diam saja. "Aku ini... Pakai kasih sun jauh segala. kau tidak tidur?" Tiba-tiba ada suara menegur di samping tempat tidur. Lalu pejamkan mata "Tadi Ayah dengar kau seperti bicara..sebenarnya?" Si nenek menoleh sebentar. mimpi atau gimana?" Boma memandang seputar kamar. Bicara dengan siapa?" "Nggak ada yang bicara Yah." jawab Boma dengan mata tetap dipicingkan. Sumitro Danurejo menghirup udara dalam kamar dalam-dalam." Sang Ayah bergumam lalu pejamkan pula matanya.

10 PEMBALASAN GANG PENODONG BOMA dan Ronny berboncengan sepeda motor Honda Tiger merah meninggalkan halaman Universitas. Seperti biasanya sebelum terus pulang mereka mampir dulu di Pondok Siomay 99 di pinggir jalan selewat tikungan. Salah seorang diantaranya tinggi kurus dengan cacat bekas luka di pipi kiri. Lelaki tegap di sebelahnya keluarkan suara mendengus lalu mencekal leher kaos oblong yang dikenakan Boma dengan tangan kiri dan membentak. Baru saja Ronny memarkir motor dan Boma menyisir-nyisir rambut dengan jarijari tangan. "Jagoan tengik! Lu ingat kejadian dua taon lalu! Di Kramat Raya!" Boma tak menjawab tapi berpikir. yang berbadan tegap tegak di sebelahnya. Yang empat lagi mengambil posisi mengurung. tiba-tiba dari dalam warung keluar enam orang lelaki. tak jauh dari kampus. Rasa-rasanya dia pernah melihat orang ini sebelumnya. "Bener bos. rata-rata bertampang sangar. Boma mengingatingat. Si muka cacat langsung menghadang Boma. Kawannya. . Ini bangsat yang dulu ngerjain kita!" si muka cacat keluarkan ucapan.

"Hei. Ronny mengelak. dada dan perut Boma dengan jotosanjotosan keras. apa-apaan nih!" Ronny Celepuk mendatangi.Dia ingat Orang ini adalah orang yang menodong penumpang bajaj. Orang yang dipukul rupanya punya daya tahan boleh juga. "Lepasin!" Lelaki yang mencekal Boma marah besar. Tapi luar biasanya sama sekali tidak terdengar keluh kesakitan dari mulut Boma. Sementara itu dua orang lagi memegangi Boma dari belakang. "Habisin bangsat satu ini!" Tiga orang bertampang garang bertubuh kekar segera menyerang Ronny. Malah berteriak pada temantemannya. Darah mengucur dari hidung dan mulut anak itu. Bukan saja dia tidak melepaskan cekalannya tapi tangan kanannya langsung dijotoskan ke muka Ronny. Walau mengerenyit tanda sakit namun dia masih mampu terus mencekal baju kaos Boma. Perkelahian tiga lawan satu yang tak seimbang segera terjadi. Lalu si muka cacat itu orang yang menclurit perutnya. Boma berusaha melepaskan diri dari . merampas kalung dan gelang. mendorong orang itu lalu menyarangkan satu pukulan ke perutnya. Yang di sebelah depan lepaskan cekalannya lalu mulai menghujani muka. memegang tangan orang yang mencekal Boma.

Mendidih amarah Boma. Ada yang berkata. Tendangannya tepat mengenai tulang kering hingga orang yang ditendang menjerit kesakitan. Boma kembali terhuyung. Anak ini pergunakan kakinya untuk menendang. Bersamaan dengan itu Boma berbalik ke kanan. "Habisin cepet Jon!" Tikaman belati pertama ke arah perut berhasil dielakkan Boma. Boma tak mampu menangkis. Boma pergunakan kesempatan. bersimbah darah. Kini enam orang mengelilinginya. tak sanggup mengelak. Dari depan jotosan masih terus mendera. Sesaat lagi senjata maut itu akan menancap di tenggorokan Boma tiba-tiba satu bayangan putih berkelebat. Tapi dari belakang ada yang memukul tengkuknya.pegangan dua orang. menusuk ke arah lehernya. Boma merasa lehernya seolah patah. Maksudnya hendak memukul pencekal yang satu lagi. Dalam keadaan terhuyung-huyung dia melihat Ronny terkapar di tanah. Saat itulah belati kembali datang berkelebat. Tak berhasil. ayunkan badannya demikian rupa hingga orang di sebelah kiri tersungkur ke tanah. Salah seorang diantaranya memegang sebilah belati. Dari samping dan dari belakang menghantam dua pukulan hampir berbarengan. Satu .

tendangan menggeledek di udara. hampir roboh kalau tidak bersitekan ke tanah dengan salah satu tangannya.. "Bukkk!" Jeritan keras menyentakkan telinga disusul mencelatnya orang yang barusan hendak menghabisi Boma dengan tikaman belati. Satu . menghadapi lima orang yang saat itu secara serentak telah menyerbunya. Sambil pegangi dada yang kena tendangan dia coba bangun tapi roboh lagi. Dua orang di antara mereka memegang clurit besar. Kening diikat kain putih. Di pinggangnya melilit sebuah ikat pinggang besar. bibir yang pecah dan pelipis. Pemuda ini melirik sebentar pada Boma lalu sambil tertawa cengengesan memutar tubuh. Memandang ke depan Boma melihat berdiri seorang pemuda berpenampilan aneh. Darah mengucur dari hidung. Pisaunya mental entah ke mana. Rambut gondrong sebahu. jatuh berlutut. "Kambing-kambing buduk! Bau belum mandi! Ayo maju! Serang.. Mengenakan baju dan celana putih. serang!" Dua clurit berkiblat di udara. Kaki memakai kasut dari kulit. Dari mulutnya keluar suara mengerang lalu menyusul kucuran darah! Boma sendiri saat itu yang berada dalam keadaan babak belur. Orang ini bergelindingan di tanah.

"Bukkk... "Dengar. Tubuhnya melesat ke udara lalu berputar seratus delapan puluh derajat.. Dua muntah darah.. Sekali tangannya bergerak sosok orang yang dicekal melayang ke udara. ampun!" Si gondrong tertawa lebar. "Ampun.. "Kraakk. . Si gondrong menyeringai. ampun!" belum apa-apa orang itu sudah berteriak ketakutan. kraakkk!" Dua tangan yang memegang clurit patah..tendangan mencari sasaran di selangkangan si gondrong. kalau kau berani lagi mengganggu anak itu. buukkk!" Tiga penyerang bertangan kosong terpental.. Sementara Boma terkesiap ternganga menyaksikan apa yang terjadi. menjerit bergelimpangan di tanah. Pemuda berambut gondrong keluarkan suara bersiul. pantat ke kepala!" "Ampun. jatuh di atas atap warung Siomay 99. satu pegangi mata kirinya yang pecah mengucurkan darah.. si gondrong melangkah mendekati lelaki yang tadi hendak menusuk leher Boma dengan belati.. kulipat kepalamu ke pantat. Dua jotosan menyambar ke muka dan ke dada. Dia cekal leher orang. buukkk...

. Menowel hidung. Terbungkuk-bungkuk dia berkata. Aku senang juga dipanggil Abang! Ha. "Abang seperguruan?" Boma heran. malang melintang di delapan penjuru angin. baru hari ini aku dipanggil Abang! Ha.. "Belasan tahun hidup.. "Aku Abang seperguruanmu..." Si gondrong seperti terkesima. ha!" "Bang. menggaruk kepala lalu tertawa bergelak.. "Bang... aku mana kenal sekolahan. Kau menowel hidung! Lucu!" "Abang seperguruan bagaimana? Abang 'kan nggak satu sekolah sama saya.. "Aku menggaruk kepala.. ha! Tapi dak apa. Kelihatan seperti berpikir sebelum menjawab. Si gondrong menggaruk kepala.. ha.Selagi semua orang termasuk Boma melengak kaget melihat kejadian itu. ha." Si gondrong akhirnya menjawab. waktuku ..... terima kasih Abang sudah nolong saya. Sadar kalau dirinya sudah diselamatkan orang Boma berusaha berdiri. Boma. ha! Abang! Memangnya aku orang Betawi! Ha.. Seperti tidak ada apa-apa si gondrong melangkah mendekati Boma.." Si gondrong mengangguk. "Kau benar. ha.. Abang ini siapa?" tanya Boma lalu mengusap darah di sudut mulutnya.

Sebelumnya ada teriakanteriakan. "Bang. Aku pergi sekarang." Dari balik pakaiannya si gondrong keluarkan dua buah benda bulat sebesar ujung jari berwarna hitam. Lalu sekali berkelebat dia sudah berada di ujung jalan untuk kemudian lenyap dari pemandangan. "Ini obat mujarab.. Tiang besi tempat menggantungkan infus tergeletak . Yang ditanya tak menjawab. Mereka menuju ke sini. ditolong oleh seorang perawat. hanya tersenyum. Orang-orang mulai berkerubung. kalau nyari Abang di mana?" tanya Boma lagi. nama Abang siapa?" tanya Boma.tidak lama. Si gondrong tidak menjawab. Anak lelaki yang dirawat di kamar itu mendadak mengamuk. satu lagi untuk kawanmu yang pingsan itu. Kau telan satu. *** PAGI itu para jururawat yang bertugas di kamar pasien bedah RSCM tampak berlarian ke kamar di mana Boma dirawat. Ayahnya yang menjaga berusaha menenangkan anaknya tapi terkena gebukan. "Bang. Memukul dan menendang.." Si gondrong genggamkan dua butir obat ke dalam tangan kanan Boma.. jatuh tersandar di kaki tempat tidur.

Vino. Boma memandang pada Ronny Celepuk dan teman-temannya. Tak tahu mau menjawab atau berbuat apa. Bukain ikatan gua. "Tenang saja Dik. "Ron.... "Tadi kau katanya ngamuk. aku cuma mimpi kok Ron. Infus yang tercabut dipasangkan kembali. "Zuster. ikatan Adik dibuka lagi... Empat orang perawat segera mengikat kaki dan tangan Boma ke besi tempat tidur.. Nanti kalau dokter datang.bengkok di lantai. dia masih kesakitan.." Boma melirik. miring ke tembok sambil pegangi dada. Aku." . kok saya diikat?" Boma bertanya." "Bokap lu sendiri kau gebuk. kenapa aku diikat?" Boma bertanya lagi.. "Masa' sih aku ngamuk." jawab jururawat lalu keluar bersama seorang temannya." Ronny menjawab setengah berbisik. Ayahnya dilihatnya duduk di sudut kamar. Liat 'tuh.. "Ngamuk? Ajie busyet! Yang bener aja Ron.. tolong. "Ron." Ronny dan Vino diam saja. Dua jururawat lelaki tetap di kamar itu berjaga-jaga. Boma tak mengerti mengapa dia diperlakukan seperti itu..

ini dia jagoan kita. Juga dia ingat pada Haji Sobirin yang pernah menolong Boma. "Ah. "Heran. bokap lu datang ke sini. besi saja bisa bengkok. Liat. Dokter Simanjuntak perhatikan besi tiang tempat menggantungkan infus. Mengapa dia tadi mengamuk tak karuan?" Lelaki itu membatin.. dokter spesialis bedah yang menolong Boma. berkaca mata. Saat itu jururawat yang tadi keluar. Memegang kening dan tangan Boma. "Jangan-jangan anak ini kemasukan orang halus.. masuk kembali ke dalam kamar mengiringi seorang lelaki gemuk pendek."Udah Bom. tenang aja dulu." Ayah Boma ingat waktu anaknya sakit di Rumah Sakit PMI Bogor. Badannya tidak panas. Sambil tertawa lebar dan menepuknepuk tangan Boma Dokter Simanjuntak berkata. Dia Dokter Simanjuntak. kepalanya dingin. "Hebat. Boma. Dia berdiri di samping tempat tidur anaknya. Tadi saya dengar katanya latihan karate apa latihan kungfu?" Boma tertawa. .." Sumitro Danurejo melangkah perlahan. Apakah dia perlu lagi menemui orang pintar itu? Kalau penyakit Boma memang aneh agaknya tak ada jalan lain.

Dokter bedah itu ulurkan tangannya. tak ada bekas sambungan luka. "Sakit?" tanya Dokter Simanjuntak." "Bagus. Perut itu licin. Tak ada bekas.kamu ada keluhan apa?" "Nggak ada keluhan apa-apa Dokter. Menekan perut Boma. "Aneh. Ketika perban terbuka dan Dokter Simanjuntak memperhatikan perut Boma terkejutlah Sang Dokter." "Perutnya sakit?" "Nggak Dokter. Sang Dokter berpaling pada ayah . Anak ini. coba saya periksa dulu jahitannya. aku ini bukan malaikat! Tidak mungkin aku mampu menjahit luka tanpa bekas sama sekali. Baru sekali ini terjadi seperti ini." Dokter ahli bedah itu menyingkapkan selimut Boma. tak ada bekas jahitan. Luka belum satu hari. "Sakit?" Boma menggeleng. memandang pada Boma lalu pada jururawat yang berdiri di sekeliling tempat tidur. Sang Dokter kemudian perlahanlahan membuka perban di perut Boma. siapa dia sebenarnya?" Perlahan-lahan Dokter Simajuntak mengangkat kepala. Boma menggeleng. Sekalian ganti perban dan plester. Seorang jururawat membuka bajunya.

. Dokter Simanjuntak mengikuti." Dokter Simanjuntak tidak meneruskan ucapannya. bagaimana anak saya?" Ayah Boma bertanya... Lalu apa yang membuatnya tadi mengamuk? Dokter Permana membawa ayah Boma ke luar kamar.. Tak lama kemudian dia masuk lagi bersama Dokter Permana... "Perbannya dipasang lagi Dok?" "Tidak perlu. Lukanya cepat sembuh.. Dia seperti hendak mengatakan sesuatu tapi tak jadi. "Memangnya anak saya gila Dok?!" ." "Dokter. Biar Boma diperiksa lagi... Saya merasa gembira.. Kalau memang tak ada apa-apa. saya mau konsultasi dulu dengan Dokter Ahli Penyakit Dalam. Normal. Dia memegang kening Boma sebentar lalu tinggalkan tempat itu. Di luar Dokter Permana berkata. Semua normal.Boma. "Hemm. saya rasa. Ahli Penyakit Dalam." "Berarti Boma bisa pulang siang ini?" "Tunggu. termasuk suhu badannya. "Anak Bapak dalam keadaan baik. Namun saya menyarankan agar diperiksakan pada Dokter Ahli jiwa. Dokter Permana memeriksa dengan teliti tekanan darah.. Salah seorang jururawat bertanya." Ayah Boma kaget. jantung serta paru-paru Boma..

" Dokter Simanjuntak mengangkat dan memperhatikan sepuluh jari tangannya. normal. Pasien yang baru dioperasi dan dijahit sore kemarin. "Ini memang satu kejadian aneh." Ayah Boma mengangguk dan mengucapkan terima kasih lalu masuk ke dalam kamar. Saya rasa tidak ada salahnya. Benar-benar ajaib.. Lalu dia mendekati rekannya.. Dokter Permana kembali berkata. Pemeriksaan pasien pada Dokter Ahli Jiwa tidak berarti pasiennya menderita gangguan jiwa. Dokter Simanjuntak. "Kalau wartawan memuat kejadian aneh ini di berbagai media. anak Bapak boleh pulang." "Kalau anak saya baik. Saya akan buatkan resep obat penenang." Dokter Permana berunding dengan Dokter Simanjuntak.. memberi tahu agar ikatan pada tangan dan kaki Boma dilepas. saya minta dia diperbolehkan pulang saja siang ini. "Kita lihat perkembangan satu dua jam mendatang. Kalau tidak ada apa-apa." . Tidak berbekas. pagi ini lukanya mengalami kesembuhan. Dokter Permana memanggil seorang jururawat. Pasien anda bakal membludak. nama anda akan jadi terkenal. Dokter Ahli Penyakit Dalam itu akhirnya berkata."Maaf Pak Sumitro.

" kata Dokter Simanjuntak pula. Mungkin karena Trini ada di situ? Padahal . Akhirnya Dokter ini berkata. Dia tidak terlalu banyak bicara dan tidak tanggap terhadap canda teman-temannya. Dokter Dukun. hari itu kamar Boma di tingkat atas dipenuhi oleh anak-anak SMA Nusantara III." "Ah. Selain Ronny. Kembali dia memperhatikan jari-jari tangannya. Firman. Ilmu kedokteran digabung dengan kekuatan ilmu gaib. saya belum berpikir untuk jadi Terkun. Hanya menggelengkan kepala berulang kali." kata Dokter Permana pula. Vino. "Sulit saya percaya. Dua teman sejawat itu lalu sama-sama tertawa. Saya hampir yakin. Anak itu pasti punya ilmu. Kalau tidak mustahil dia bisa mengalami kesembuhan begitu rupa." "Jika dia memang punya ilmu. Gita dan Rio hadir juga Dwita dan Trini. Saya rasa itu tidak akan menyalahi Kode Etik Kedokteran. Demi kebaikan pasien. "Tidak ada salahnya anda belajar. Andi. Tapi sekali ini Boma agak lain. *** SEPERTI kejadian sewaktu Boma pulang dari Rumah Sakit PMI Bogor dulu.Untuk beberapa lama Dokter Simanjuntak tidak bisa berkata apa-apa.

Aku ngimpi tau.. Anak-anak itu juga membicarakan berbagai cerita di media cetak yang memberitakan peristiwa penodongan itu di mana Boma disebut-sebut sebagai salah seorang yang berjasa hingga seorang penodong berhasil diringkus." sambung Gita." ucap Rio." kata Boma. Nanti aja aku cerita. Kalian pulang aja. yang tinggal siapa?" tanya Vino menggoda sambil melirik pada Trini dan Dwita." ." Menyambung Vino. kok nggak mau cerita mimpinya apa?" ujar Ronny Celepuk. "Apa lagi kalau wartawan tau kejadian aneh di RSCM. "Besok kita balik lagi. Mulai dari kau ngamuk sampai kesembuhanmu yang dokter sendiri terheran-heran. tiga orang kawanan penodong yang buron telah berhasil ditangkap dan dalam interogasi ketat. "Nah. "Ya. ngantuk. "Iyya. "Kalau kita-kita pada pergi. "Wah. namamu bakal berkibar lagi Bom. udah deh. Kita ngalah.. pakai dirahasiain segala. sudah.. "Kalian masih saja bilang aku ngamuk. Bos mau istirahat. kalau kau mimpi." "Ngusir nih?" tanya Gita. "Ala.menurut Trini yang ayahnya Polisi." kata Andi. Aku capek. Nanti datang lagi.

" "Inget cerita Boma ada nenek-nenek aneh yang mau memberinya ilmu kepandaian?" ujar Gita pula. "Janganjangan anak itu udah dikasih ilmu." "Aku liat anak itu lebih banyak diemnya. nggak sari-sarinya Boma kayak gitu. "Aku rasa Boma memang sudah punya ilmu. "Dia nggak ngaku kalau ngamuk." "Amit-amit. Bilangnya mimpi. Waktu aku bilang pintu kamar terbuka. Dokter sendiri nggak habis heran. Jangan deh sampai begitu. kau ingat nggak kejadian di rumah sakit." (kesambet = kemasukan mahluk halus). Bisa-bisa dia jadi begobego kaya saudaranya Bapak gua. "Buktinya..Sambil menjalankan motornya mengikuti teman-temannya Ronny Celepuk berkata." Ronny diam saja. "Heran. "Kalian perhatiin nggak? ketawa sama nyengirnya juga lain. perut diclurit begitu nggak ada bekasnya. Ron." Vino ikut bicara. Sekarang nggak sanggup nerimanya alias keberatan ilmu.." ujar Vino. Kayaknya dia segen-segenan ngobrol sama kita. "Musti ada yang terus-terusan . Jangan-jangan kesambet. Tapi mimpinya nggak mau diceritain. Yang lain-lain juga tidak bersuara." kata Ronny.

"Liat 'tuh kucing garong." Trini akhirnya yang membuka mulut.." Gita pencongkan mulutnya. "Boma nggak boleh dibiarin sendirian. Trini sudah menyambar helm dan naik ke atas motor. nanti kau bilang sama Boma. Terutama kalau dia berada di luar rumah." kata Vino. "Jangan ngeledek ah!" jawab Trini sambil melirik ke arah Dwita.." kata Gita Parwati. "Aku ikut sama kamu ya?" Ronny belum menjawab. Di ujung gang anak-anak itu berpisah setelah janji akan kumpul lagi di rumah Boma besok pagi jam 10. Tangan kanannya dilingkarkan ke pinggang Ronny.. "Ron." . Tangan kiri dilambaikan sambil berteriak "Daa. daah. Supaya hati-hati.. "Kita harus beri tau orang tuanya. Menurut Bapakku. kamu aja Rin yang ngawasin. Lagaknya." Trini mengangguk. "Iyya. berbisik pada Vino yang ada di sebelahnya. Sebelum berpisah Trini mendekati Ronny." kata Ronny.ngawasin Boma.. bisa saja kawanan penodong yang masih ada di luaran ngerjain dia." "Wah. gawat juga kalau gitu.

"Masih tidur. Di situ agak . di kamarnya. Tapi anak kita yang satu. Coba. Boma.. Saya keluar. Sedikit. Tentang anak itu.11 BOMA BERPRILAKU ANEH SORE itu ayah dan ibu Boma duduk di ruang tengah rumah. Boma. Dalam kamar rasanya panas sekali.." "Memang Bu.. Tak tahu apa yang dilakukan. saya gembira dan bersyukur Bram sudah dapat pekerjaan. Saya tak bisa memejamkan mata. Bapak mau cerita apa?" "Malam tadi. pensiunan Pegawai Sipil Departemen Penerangan meletakkan surat kabar yang dibacanya lalu meneguk kopi di atas meja. Dia sering mengurung diri dalam kamar. Tingkah lakunya belakangan ini banyak kelainan. Dia berubah jadi pendiam." "Ya. sudah sore begini masih tidur." Mendengar kata-kata istrinya itu Sumitro Danurejo. ada sesuatu yang ingin saya ceritakan sama Ibu. di mana dia sekarang?" tanya Sumitro pada istrinya. "Pak. Tidur ya pasti nggak. Di atas. Makanpun seperti capung mencicipi air saja. Duduk di kursi panjang di bawah tangga. membuat saya jadi prihatin. "Anak itu.

Terheran-heran Sumitro memperhatikan. ternyata Boma berjalan dengan mata terpejam.. Lelaki ini merasa . Aneh. menekan handel lalu membuka daun pintu. mengencangkan ikatan kain sarung. berjalan tidur..... Dia cepat memakai sandal. Sekilas dilihatnya jam bulat di dinding ruangan menunjukkan pukul setengah tiga malam. Namun lagi-lagi aneh. Tiba-tiba saya mendengar ada langkah-langkah kaki menuruni tangga. Tapi aneh. Boma. Setengah berlari Sumitro mengejar." Sumitro memanggil. Dengan mata masih terpejam dia memutar anak kunci. "Anak ini.adem. Dia terus memperhatikan apa yang dilakukan anaknya. "Bom.. Mau ke mana dia?" kata Sumitro dalam hati.. suaranya tak keluar dari tenggorokan. Ternyata Boma melangkah ke pintu. Saya hampir pulas. Gerak langkahnya kelihatan aneh. Lelaki ini hendak menegur tapi tak jadi." *** SUMITRO Danurejo melihat Boma berjalan ke pintu. Ketika dia sampai di pintu pagar rumah dilihatnya Boma sudah berada di ujung jalan.. Sumitro serta-merta bangkit dari kursi di bawah tangga.

Cabang dan . masuk ke dalam kabut. lenyap dari pemandangan. Sumitro ragu-ragu sesaat. Dia sampai di ujung gang. Hanya ada satu hal yang dilihat Sumitro dan membuat lelaki ini jadi tersirap darahnya. Binatang terbang yang mengeluarkan cahaya ini seolah-olah membimbing Boma dalam melangkah. tetapi sang anak tak kunjung terkejar." membatin Sumitro. Boma berjalan terus. Sumitro Danurejo bukan saja terheran-heran karena lenyapnya Boma.. tapi juga karena saat itu mendapatkan dirinya entah bagaimana kejadiannya tahutahu sudah berada di sisi satu pedataran.. Tapi kemudian meneruskan langkah menembus kabut. "Apakah sama dengan kunang-kunang di Gunung Gede. yang membimbing regu penyelamat?" Di depan sana tiba-tiba muncul kabut putih. Di depan Boma yang berjalan dengan mata terpejam kelihatan beberapa ekor kunang-kunang.sudah berlari sekencang yang bisa dilakukannya. Sesaat langkahnya tertahan.. Memandang ke samping kiri Sumitro melihat sebuah pohon tinggi besar tanpa daun. Di kejauhan sana ada sebuah bukit kecil. "Kunang-kunang itu. Di depan sana anaknya tak kelihatan lagi. diterangi sinar merah kekuningan seolah sang surya berada di baliknya.

(Baca Episode pertama Boma Gendenk berjudul "Suka Suka Cinta"). seolah anak itu . Dia tengah memainkan ilmu silat aneh. anak itu. burung ini adalah burung yang pernah dilihatnya di atas atap rumah Haji Sobirin. bergerak kian ke mari. Di salah satu cabang pohon tiba-tiba dia melihat seekor burung besar berwarna putih polos.ranting-ranting pohon berjulaian laksana tumbuh di pedataran tandus. Apa yang tengah dilakukannya? Dia memang pernah berlatih karate. memukul dan menendang... Sumitro kemudian ingat. Burung ini mendongakkan kepala. orang pintar di Bogor. Mata nyalang besar. Setiap pukulan dan tendangan yang dilancarkan Boma mengeluarkan suara sambaran angin keras. sewaktu dimintai pertolongannya untuk mengobati Boma tempo hari. mengembangkan sayap lalu terbang dan lenyap dalam kegelapan. Siapa yang mengajarnya?" Sumitro tegak tak bergerak. Dia terpana ketika melihat sosok Boma tahu-tahu telah berada di puncak bukit. Tapi gerakan-gerakannya itu bukan gerakan karate. Burung itu memandang ke arahnya dengan sikap yang menggetarkan hati. Sesekali dari tangan kiri anaknya memancar cahaya putih berkilauan. "Boma. Sumitro mengalihkan pandangannya kembali ke arah bukit kecil di ujung pedataran.

Ronny. "Boma!" Lelaki ini berteriak. apa sebenarnya yang tengah terjadi?" *** PAGI itu Ronny dan Vino datang hendak menjemput Boma. "Aneh. Kenapa dia bisa sampai lebih dulu? Dan tidur pulas. Lalu bukit kecil di ujung pedataran perlahan-lahan sirna. Andi dan Firman akan menyumbangkan dua buah lagu sementara . Mereka hendak latihan ben di sekolah. Rio. Ketika pintu kamar dibuka dilihatnya anak itu tertidur pulas sambil menggelung bantal guling. Ya Allah. Sumitro memutar tubuhnya. Di timur muncul cahaya terang tanda fajar mulai menyingsing.. Sosok Boma ikut lenyap. Ayah Boma tak sadar entah sudah berapa lama dia berada di tempat itu.. Seperti tadi tak ada suara yang keluar dari mulutnya. "Astagfirullahal 'aziim. Dia melangkah cepat kembali ke rumah. Di kejauhan terdengar kokok ayam. Sampai di rumah dia naik ke atas.. Dalam susunan acara anak-anak kelas dua yakni Boma. langsung menuju kamar Boma." Sumitro mengucapkan istigfar. Vino.hanya beberapa langkah saja di hadapannya. anak ini.

"Heran..Gita Parwati akan bertindak sebagai MC. Kalau ikutan tertawa. "Kami boleh naik ke atas. "Assalammu'alaikum. Kalau Boma bangun suruh nyusul ke sekolah.. udah siang begini kok Si Bos masih tidur sih." kata Ronny. katanya jangan diganggu. Bu. Nyonya Hesti Sumitro anggukkan kepala. tertawanya juga kayak dibikin-bikin." Di atas motor dalam perjalanan ke sekolah. "Boleh aja. Bu?" tanya Vino. Nggak banyak ngomong kayak dulu-dulu." "Terakhir kita datang bawa tabloid." kata Ibu Boma ketika ditemui Ronny dan Vino." "Wa'alaikum sallam. Padahal di situ ada berita besar mengenai . Boma membaca tabloid itu kayak acuh aja." jawab Vino. "Gua liat 'tu anak banyak bengongnya. "Anak-anak nggak mau minum dulu?" "Terima kasih Bu." Vino dan Ronny saling pandang sesaat. Kalau lagi ngumpul sama kitakita dia keliatan kayak ngelamun.. "Wah. "Bomanya masih tidur 'tuh. si Boma kok belakangan ini banyak tidurnya?" berkata Vino." kata Ronny Celepuk. Cuma Boma pesan. "Gini aja.

peristiwa penodongan yang buntutnya dia kena diclurit. Lalu juga ada wawancara wartawan dengan dokter Simanjuntak yang mengoperasi Boma. Dokter ahli bedah ini mengakui, ngerasa aneh kok jahitan operasi bisa sembuh kurang sehari, nggak ada bekasnya lagi. Habis baca tabloid, Boma kayak ngelamun. Nggak tau apa yang ada di otaknya." Ronny hentikan motor di persimpangan lampu merah. "Ron, lu suka meratiin Boma nggak?" Vino bersuara. "Meratiin apa?" "Kalau lagi diem, si Boma suka ngurut-ngurut tangan kirinya pakai tangan kanan." "Iyya. Memang gua liat begitu. Kayaknya ada sesuatu di tangan kirinya itu." "Jangan-jangan apa yang dibilangin Gita bener Ron. Teman kita itu sudah punya ilmu. Saking keberatan ilmu jadi kayak orang gendenk." "Latihan kita bisa jadi berantakan. Yang nyanyi 'kan dia." Ronny membelokkan motor Honda Tiger merah itu memasuki halaman sekolah. Gita Parwati, Rio, Andi dan Firman segera mendatangi Ronny dan Vino. "Mana Boma?" tanya Gita. "Masih tidur!" jawab Ronny sambil

menanggalkan helm. "Tidur? Gini ari masih tidur? Ajie gile!" kata Firman. "Kenapa nggak lu bangunin Ron?" tanya Andi. "Nggak boleh sama Ibunya. Katanya Boma pesan begitu." "Wah, apa gua bilang. Tu anak pasti kumat lagi gendenknya." kata Gita. "Gimana latihannya?" "Ya udah, kita-kita aja," jawab Rio. "Nanti seabis anak kelas tiga latihan, giliran kita." Enam anak itu berjalan menuju bagian belakang panggung di mana anakanak kelas tiga SMU Nusantara III sedang asyik berlatih band. Tiba-tiba Gita memegang tangan Ronny. "Ronny, Vino. Sialan kalian!" "Eh, kamu kesambet setan apa Git? Kok nggak hujan nggak angin maki kayak gitu?" Gita menunjuk ke sudut sekolah, ke arah warung bakso Mang Asep. "Lu ngibul aja! Tuh kalian liat siapa yang lagi duduk di depan warung Mang Asep." Semua anak palingkan kepala ke arah yang ditunjuk Gita Parwati. Mereka semua jadi heran. Di depan warung Mang Asep ada sebuah bangku kayu panjang. Di bangku itu kelihatan Boma duduk enak-enakan. Ketika

kawan-kawannya memandang ke arahnya Boma senyum dan lambaikan tangan. Ronny, dan Vino, diikuti yang lainlainnya segera mendatangi Boma. "Bom, kok kamu udah duluan sampe di sini?" tanya Ronny. "Kamu naik apa Bom?" tanya Vino. "BMW," jawab Boma sambil menowel hidungnya. "BMW?!" ujar Gita dan Ronny berbarengan. "Iyya BMW. Bajaj Merah Warnanya," jawab Boma lalu tertawa. "Sialan!" gerutu Andi. "Dasar gendenk!" kata Gita. "Eh Git, jangan suka maki. Nanti kempes lu!" kata Boma sambil menusukkan jari telunjuk tangan kanannya ke perut gendut Gita Parwati.

12
ABG DILEMPAR TELUR BUSUK ACARA perpisahan anak-anak kelas tiga SMU Nusantara III Sabtu malam itu ramai sekali. Panggung besar dibangun di lapangan olahraga. Jejeran kursi mulai dari depan panggung sampai ke aula. Para orang tua dan guru duduk di barisan kursi terdepan. Di sebelah belakang bercampur

Sarah. Nggak ceria kayak dulu. cewek kelas dua yang nempel terus bersama Ronny Celepuk.anak-anak dari semua kelas." "Ah gila! Siapa yang bilang gitu sama kamu?" "Pokoknya banyak. berbisik." "Memangnya orang-orang ngomongin apa?" tanya Ronny. "Ron. 'tu anak jadi banyak bengongnya. Dwita Tiffani duduk tenang bersama anak-anak perempuan teman sekelas. aku peratiin Boma dari tadi. terkadang tampak seperti melamun." "Namanya juga orang baru sakit. "Kata taman-teman Boma udah jadi gendenk gara-gara punya ilmu hitam. Namun seperti kebiasaan anehnya belakangan ini. Senyum dan tawa lebar sesekali merebak di wajahnya. Terpisah satu baris di belakangnya duduk Trini Damayanti. Boma tak banyak bicara. berbaur dengan teman-teman. Lalu sekali-sekali menowel hidungnya. Kayaknya apa yang teman-teman omongin memang benar." jawab Sarah. Boma malu-malu kelihatan duduk santai. Sambil duduk jari-jari tangan kanannya mengusap tangan kiri. becanda brisik dengan teman-temannya." kata Ronny membela temannya. "Liat aja. Yang jadi MC atau pembawa acara dalam pesta perpisahan itu adalah Gita .

Saat ketika anak-anak kelas tiga mengisi acara dengan permainan ben. kamu istirahat aja dulu. gayanya yang kocak serta kata-katanya yang diselingi humor membuat suasana menjadi hangat. "Git. di belakang panggung seorang anak laki-laki bertubuh tegap. "Udah. Menurut susunan acara selesai permainan ben anak-anak kelas tiga. Penampilannya yang gendut. "Ton.Parwati. Seorang anak lelaki berambut coklat. Anton sudah lama naksir Trini Damayanti dan bukan rahasia lagi Anton tidak suka pada Boma yang dianggapnya sebagai saingan. Boma dan kawan-kawannya akan tampil ke panggung menyumbangkan dua buah lagu. anak kelas I-A yang naik ke kelas dua. Anton sudah mengambil microphone dari tangan anak perempuan itu secara kasar. duduk aja. Namanya Anton. rambut gondrong diikat di sebelah belakang mendekati Gita Parwati yang berdiri sambil memegang wireless microphone. Nanti juga kembaliin." kata anak lelaki itu yang mendekati Gita. Gita belum sempat menjawab. tapi tak berhasil. coba mengambil microphone kembali. Segala mikropon!" kata Anton. . Biar aku yang gantiin jadi MC. muka penuh jerawat mendatangi. kamu apa-apaan sih?!" kata Gita.

"Udah Lan. Namanya Allan. Mohon tepuk tangan untuk mereka. "Para hadirin yang terhormat. Dia letakkan microphone di depan hidung Allan dan berucap. Anton kembali bicara. Memberi isyarat pada teman-temannya. lu anak baru jangan ikut campur!" Allan hendak merampas microphone dari tangan Anton tapi Gita Parwati cepat memegang tangan anak itu. Kalau mau jadi MC kenapa nggak minta terus terang waktu rapat panitia." .. biarin aja anak konyol itu begitu. "Lho kok MC-nya ganti?" seorang anak berucap. Begitu Boma dan teman-temannya berada di panggung.. Bersamaan dengan itu Anton muncul di panggung. Kini tiba giliran teman-teman dari kelas duasembilan menyumbangkan dua buah lagu.. Apa sih maunya. Kepada teman-teman kelas dua-sembilan dipersilahkan naik ke panggung." Tepuk tangan menggemuruh. Anton langsung berpaling."Kok kasar amat sih sama cewek?!" anak ini menegur. inilah teman-teman kita dari kelas dua-sembilan. "Jerawat batu. "Para hadirin. Vino. Andi dan Firman segera berdiri pula. Rio." Lagu yang dimainkan anak kelas tiga berakhir. Boma. langsung bicara. Ronny paling dulu berdiri. Anak baru di kelas dua.

namanya Boma!" Tepuk tangan terutama anak-anak kelas II-9 riuh menggema. Tapi banyak yang terdiam heran. Tapi Anak Baru Gendenk! Gendenk karena keberatan ilmu!" Ada yang tertawa mendengar katakata Anton itu. rambut ABCD Abri Bukan Cepak Doang.Tepuk tangan kembali menggemuruh. Ayah dan Ibu Boma yang duduk di barisan ke dua sebelah depan saling berpandangan. lalu pada drum Vino. "Para hadirin. perlu diberitahukan bahwa singkatan ABG buat Boma bukan berarti Anak Baru Gede. Sumitro geleng-gelengkan . adalah teman kita seorang ABG. sebelumnya kami perkenalkan dulu teman-teman kita ini. Di atas panggung Boma tenang saja. Pada melody Ronny Kaunang. "Pada keyboard teman kita yang bernama Firman. ada yang bertepuk. yang sudah siap di depan mikropon. Terakhir. juga ada yang bersuit. malah mengulum senyum lalu menowel hidungnya. "Para hadirin sekalian. "Pada bas gitar Andi. Pada gitar pengiring Rio." Anton melanjutkan. memandang ke panggung. ada yang bertepuk. lebih dikenal dengan panggilan Ronny Celepuk karena hidungnya yang bengkok dan alisnya yang item tebal kayak burung hantu!" Orang banyak tertawa.

"Para hadirin sekalian ABG Boma akan membawakan dua buah lagu. Boma sendiri cuma ketawa. Cocok. Dia tidak menyerahkan wireless microphone ke tangan Gita. "Sialan si Anton. "Ton!" teriak Gita. Ngapain dia nyebutnyebut Boma Gendenk segala? Sentimen 'tu anak!" "Dia cuma becanda Git." Di belakang panggung Gita mengomel. "Lu belon tau kucing garong ya? Siapa lagi. Ini maksudnya! Pasti ini gara-gara kucing garong itu. "Becanda sih nggak gitu! Brengsek! Pantes dia ngerampas mikropon. Mikropon itu diletakkannya di atas sebuah kursi.kepala. Gita cepat mendatangi." kata seorang anak di sebelah Gita. "Seloroh anak-anak Pak. Si Trini!" Di atas panggung Anton mendekatkan mikropon ke mulutnya. . jangan diambil hati." "Kucing garong?" teman di sebelah Gita Parwati bertanya heran. karena dia memang masih bujangan. "Brengsek lu! Ngejatoin temen sendiri!" Anton cuma menyengir lalu ngacir. Lagu pertama Bujangan. Lagu kedua bersama teman-temannya Boma akan membawakan lagu terkenal dari Koes Plus yaitu Pelangi" Anton turun dari panggung.

." Sambil meneruskan memetik melody Boma memperhatikan pecahan telur busuk yang mengotori kemejanya.. "Tenang Ron. Baru sepertiga nyanyian dilantunkan Boma. Vino menghentakkan drum. Suara nyanyian Boma hampir terputus kalau Boma tidak cepat menguasai diri. tiba-tiba entah dari mana datangnya sebuah benda bulat putih melayang ke arah panggung dan pluk! Jatuh pecah di atas dada kiri Ronny Celepuk. . terus. Ketika dia sadar. Petikan gitar melodynya sesaat tersendat. Ketika Boma mulai menyanyi sambutan menggemuruh. Tepuk tangan ramai. Suara melody gitar merobek panggung. Boma terlambat mengelak. Telur ayam busuk jatuh dan pecah tepat di pipi kirinya. Bau busuk membuat dia tak tahan mau muntah. Boma cepat berkata. tiba-tiba sebuah telur lagi melesat ke atas panggung. Boma yang sedang konsentrasi menyanyi tidak sadar kalau sasaran benda itu adalah dirinya. Jangan kacau. Boma terus menyanyikan lagu Bujangan.berkumpul dengan teman-temannya. Ternyata benda yang dilemparkan itu adalah sebutir telur ayam busuk! Ronny sampai tersurut dua langkah.. Menjelang akan sampai ke akhir lagu.

Mudahmudahan masih ada persediaan telur busuk buat kami. Sambutan hadirin luar biasa. teman-teman. Boma terus menyanyi sampai akhir. Sambutan meriah luar biasa mengikuti Boma dan . Dari wajahnya yang masih dikotori telur busuk dan dari sosoknya yang jangkung seolah muncul satu kharisma. Lagu Pelangi ciptaan Koes Plus segera menghentak suasana. "Para hadirin. Di antara keriuhan itu ada yang berteriak histeris.Sambil menyeka pipinya yang berselomotan telur busuk. "Gebukin si pelempar telur!" Boma mengangkat tangan. Terutama melihat sikap tenang Boma dan teman-teman walau barusan dilempar telur busuk." Riuhnya sambutan penonton bukan main. "Terus! Terus!" "Ulang! Ulang!" Mau tak mau Boma dan kawan-kawannya menyanyikan Pelangi sekali lagi. Boma mendekatkan mikropon ke mulutnya. Para hadirin berangsur tenang. kami akan membawakan lagu Pelangi. Ketika lagu itu hampir sampai pada akhirnya beberapa anak yang kemudian diikuti oleh para hadirin lainnya berteriak sambil berdiri. Boma memberi isyarat pada Ronny.

"Bom. Kurang ajar! Yang begini nggak bisa didiemin. Sambil mengeringkan mukanya yang baru dibasuh dia berkata. Boma dan Ronny kemudian pergi ke kamar mandi di belakang sekolah. Banyak tangan memberikan kertas tisu pada Boma dan Ronny untuk membersihkan sisa-sisa telur busuk. "Gua nggak sewot. aku sempat ngeliat siapa yang ngelempar telor busuk.." Ronny menggoyangkan tangan. Sampai di kamar mandi Vino berkata. Enggak usah sewot. Rio." kata Boma. Apa maksudnya bilang kamu Anak Baru Gendenk! Gua dibilang kayak burung hantu! Tu anak musti dikasih pelajaran!" Boma tersenyum. Di belakang panggung anak-anak mengerubung." Ronny langsung bertanya. Firman dan Andi mengikuti. bilang cepetan! Siapa yang ngelempar telor?" . Vino. udah Ron. "Ala.. Si Anton juga mau gue datengin. "Siapa?" Vino tak segera menjawab. "Vin.. melihat dulu pada Boma. Tapi marah besar Bom! Keterlaluan. "Buat apa sih nyari ribut! nanti juga pada ketulah sendiri.teman-temannya ketika turun dari panggung. Sambil melotot dia bertanya pada Vino.

"Liat. "Biar gua gasak sekarang juga 'tu anak!" kata Ronny sambil menggulung lengan kemejanya. Tapi nanti. Boma cepat memegang bahu Ronny." kata Vino. "Sabar Ron.." Pelipis Ronny Celepuk bergerakgerak. sabar. "Oke."Si Bodong. oke!" kata Ronny sambil memukulkan tinju kanannya berulang kali ke telapak tangan kiri. gua pasti bikin perhitungan sama anak itu! Gua tau dia sohibnya Si Anton. Lalu dari jurusan sebelah kanan berjalan Dwita Tifani." Ronny dan teman-temannya termasuk Boma yang baru keluar dari bangunan kamar mandi melihat ke arah lapangan.. Bom. Siapa lagi kalau bukan Jamhudi!" kata Rio. Gua bilang nggak usah bikin ribut." jawab Vino. Ronny yang tadi sewot kini . "Si Bodong? Maksud lu Jamhudi sohibnya Si Anton?" "Di SMA Nusantara Tiga cuma ada satu anak yang pusernya bodonk. Si Anton bakal gua sikat sekalian!" "Sabar Ron. Ada dua cewek. Apa lagi sekarang kita lagi pada pesta girang-girang. siapa yang lagi mau datang ke sini. Dari samping kiri deretan kursi melangkah Trini Damayanti. "Gua ikutin omongan lu.

"Dibungkus sama beha. "Asyik nih. TAMAT Ikuti Buku Berikutnya Berjudul : TRIPPING Boma pegang tangan dan menatap wajah anak perempuan itu. tungguin gua!" kata Boma ketika dilihatnya Ronny dan yang lainlain meninggalkan tempat itu. Rio dan Vino tertawa gelak-gelak sambil ngacir meninggalkan Boma sendirian. Dwita sama Trini nggak bawa telor busuk. jujur aja nih... Kamu tau si Allan itu ngeprit!" .. Andi. Kalaupun bawa. "Git. Dia merasakan denyutan cepat sekali pada urat nadi di lengan temannya ini. Teman-teman. bakalan terjadi perang dingin sebentar lagi. pasti telor mereka dibungkus rapi sama. "Dibungkus sama apa Vin? Jawab dong." "Eh. baiknya kita cabut dulu." Ronny." Vino cekikikan lebih dulu baru menjawab. "Nggak usah takut Bom. melainkan berpaling pada Vino dan bertanya." Ronny tidak meneruskan ucapannya. Firman.menyengir.

"Habis. Tapi aku tau perasaan kami sama. Ditowelnya hidungnya." Boma jadi terharu. Biar aja jelas semuanya.blogspot. Ketika akhirnya anak perempuan ini menjawab suaranya terdengar perlahan.com . nanti kita ngomong lagi. siapa sih yang suka sama aku Bom? Jelek begini? Allan selalu meratiin aku." Gita menjawab tapi melengos. Memang sih dia nggak pernah bilang sayang sama aku." "Biar aja. Memangnya kamu cintrong banget sama dia?" Gita diam." "Kamu ngebelain dia. tak berani memandang mata Boma. "Tadi aku liat orang tua Allan masuk ruangan Kepala Sekolah." Scan/E-Book: Abu Keisel Juru Edit: Fujidenkikagawa http://duniaabukeisel."Dia nggak bangsa cowok gituan Bom. "Udah Git.