You are on page 1of 10

Teori Psikososial Erik Erikson Teori Psikososial Erik Erikson dan Aplikasinya Bagi Pembinaan Orang Dewasa Tengah

Baya di Gereja (Pdt. Junihot M. Simanjuntak, M.Pd.K) Pendahuluan Salah satu aspek penting dalam pendidikan Kriten saat ini yang perlu mendapat perhatian adalah mengenai pembinaan orang dewasa dalam konteks gereja. Kepentingan hal ini dinilai berdasarkan pergumulan yang sering dihadapi oleh para pendidik Kristen di gereja dalam beberapa dekade ini, dimana didapati kecilnya peran aktif dari warga jemaat dewasa untuk ikut terlibat dalam program pembinaan orang dewasa. Berdasarkan hasil penelitian Michael Harton, hal itu terjadi karena orang dewasa itu sendiri merasa tidak menemukan kebutuhan mereka dalam pembinaan tersebut.[1] Ferris Jordan mengatakan bahwa hal ini terjadi karena adanya salah pengertiaan tentang gambaran orang dewasa itu sendiri.[2] Les Steele menyatakan bahwa teori Erikson dapat membantu kita memberi pertimbangan pendekatan bagi pendidikan Kristen. Alasannya karena Erikson sendiri memberi apresiasi atas peran gereja sebagai institusi di dalam budaya yang dapat membantu kita menyampaikan iman dan harapan. Untuk itu teori Erikson dapat membantu kita memahami potensi orang dewasa untuk bertumbuh ke arah iman dan pengharapan yang benar di dalam Tuhan. [3] Melihat peluang yang terbuka lebar dan kaya atas pemanfaatan teori psikososial Erik Erikson dalam kepentingan pendidikan orang dewasa di gereja maka saya mencoba membahas makalah yang berjudul ”Teori Psikososial Erik Erikson dan Aplikasinya bagi Pembinaan Orang Dewasa Tengah Baya di Gereja”. Tujuannya supaya melalui pegembangan teori Erikson ini, tugas pembinaan orang dewasa,secara khusus dalam lingkup pembinaan orang dewasa usia tengah baya di gereja dapat berjalan lebih optimal, efisien dan relevan, sehingga dapat memberi daya tarik dan minat yang besar bagi orang dewasa itu sendiri untuk hadir dalam pertemuan-pertemuan yang telah di programkan oleh gereja. Setidaknya juga dapat memberi gambaran awal bagi gereja dalam penyusunan program dan pengelolaan pembelajaran bagi orang dewasa, sebagai warga jemaat yang merupakan bagian sentral dalam gereja itu sendiri.

Untuk memenuhi maksud pembahasan tersebut.[4] Pertama kalinya Erikson belajar sebagai “child analyst” melalui sebuah tawaran dari Anna Freud di Vienna Psycholoanalytic Institute selama kurun waktu kurang lebih tahun 19271933. yaitu: Bagaimanakah sketsa biografi Erikson? Bagaimanakah gambaran teori Erikson dalam pengembangan psikososial manusia? Apa yang dimaksud dengan generatifitas dalam teori psikososial Erikson? Bagaimana mengaplikasi teori generatifitas Erikson dalam pembinaan orang dewasa tengah baya di gereja? Sketsa Biografi Erikson Pencarian identitas merupakan fokus perhatian terbesar Erikson dalam kehidupan dan teorinya. yang biasa dikenal dengan istilah “delapan tahap perkembangan manusia”. sangat berkaitan erat dengan kehidupan pribadinya dalam hal ini mengenai pertumbuhan egonya. Jerman pada tanggal 15 juni 1902. Pada tahun1939 Erikson pindah ke Amerika Serikat dan menjadi warga Negara tersebut. kemudian mereka pindah kedaerah Karlsruhe di Jerman Selatan. Sebab Erikson dalam membentuk teorinya. Ibunya bernama Karla Abrahamsen yang berkebangsaan Yahudi. Nama Erik Erikson dipakai pada tahun 1939 sebagai ganti Erik Homburger. Saat Erikson berusia tiga tahun ibunya menikah lagi dengan seorang dokter bernama Theodore Homburger. Ayahnya adalah seorang laki-laki berkebangsaan Denmark yang tidak dikenal namanya dan tidak mau mengaku Erikson sebagai anaknya sewaktu masih dalam kandungan dan langsung meninggalkan ibunya.[5] Teori Erik Erikson Dalam Pengembangan Psikososial Manusia Dalam bukunya “Childhood and Society” (1963). Erikson membuat sebuah bagan untuk mengurutkan delapan tahap secara terpisah mengenai perkembangan ego dalam psikososial. seorang sosiologi Amerika yang sedang penelitian di Eropa. maka pertanyaan-pertanyaan berikut akan dijadikan sebagai alat bantu penelitian literatur. Pada tahun 1933 Erikson pindah ke Denmark dan di sana ia mendirikan pusat pelatihan psikoanalisa. Erik Homburger Erikson dilahirkan di Frankurt. Kemudian pada tanggal 1 April 1930 Erikson menikah dengan Joan Serson. Kedelapan tahap perkembangan manusia dalam teori psikososial Erikson tersebut adalah .

maka di. karena tanpa adanya perasaan ini. dan dia akan selalu curiga kepada orang lain. Apabila tidak dilakukan dengan sempurna maka mereka tidak dapat menghindari suatu kesalahan yang dapat menimbulkan adanya rasa malu dan raguragu. maka bayi akan mengembangkan rasa tidak percaya. Inisiatif vs Kesalahan. Dengan kata lain. Otonomi vs Perasaan Malu dan Ragu-ragu.sebagai berikut: I. pada umur 0-1 tahun atau 1 ½ tahun (infancy)P Sebaliknya. Sifat inilah yang akan membawa anak selalu menganggap bahwa keberadaan mereka selalu bergantung pada apa yang mereka lakukan. I. sehingga anak akan mudah menyerah karena menganggap dirinya tidak mampu atau tidak seharusnya bertindak sendirian. sangat diperlukan bahkan memiliki fungsi atau kegunaan tersendiri bagi anak. Teguran yang harus diberikan orangtua kepada anaknya harus “tegas namun toleran”. jika seorang ibu tidak dapat memberikan kepuasan kepada bayinya. Orang tua dalam mengasuh anak pada usia ini tidak perlu mengobarkan keberanian anak dan tidak pula harus mematikannya. Trust vs Mistrust (Kepercayaan vs Kecurigaan). Sedikit rasa malu dan ragu-ragu. . Tahap inidialami saat anak menginjak usia 4-5 tahun (preschool age). sebaliknya apabila seorang anak selalu memiliki perasaan malu dan ragu-ragu juga tidak baik. Tahap kedua ini adalah tahap anusotot (anal-mascular stages). Tahap ini berlangsung pada masa oral. dan tidak dapat memberikan rasa hangat dan nyaman atau jika ada hal-hal lain yang membuat ibunya berpaling dari kebutuhan-kebutuhannya demi memenuhi keinginan mereka sendiri. I.3 tahun (Early Childhood) Jikalau orang tua terlalu membatasi ruang gerak lingkungan dan kemandirian. T. karena itu segala sesuatunya harus dilakukan secara sempurna. anak akan berkembang ke arah sikap maladaptif yang disebut Erikson sebagai impulsiveness (terlalu menuruti kata hati). karena akan membawa anak pada sikap malignansi yang disebut Erikson compulsiveness. Anak dalam perkembangannya pun dapat menjadi pemalu dan ragu-ragu. karena dengan cara ini anak akan bisa mengembangkan sikap kontrol diri dan harga diri. keseimbanganlah yang diperlukan di sini. masa ini biasanya disebut masa balita yang berlangsung mulai dari usia 1.

yaitu apabila mereka mempunyai suatu rencana baik itu mengenai sekolah. misalnya orang tua harus selalu mendorong. I. Sebab itu. anak dapat mengembangkan sikap rendah diri. cinta. Berdiam diri merupakan suatu sifat yang tidak memperlihatkan suatu usaha untuk mencoba melakukan apa-apa. sehingga dengan berbuat seperti itu mereka akan merasa terhindar dari suatu kesalahan. Di sisi lain jika anak kurang memiliki rasa giat dan rajin maka akan tercermin malignansi yang disebut dengan kelembaman.Ketidakpedulian (ruthlessness) merupakan hasil dari maladaptif yang keliru. guru harus memberi perhatian. Akan tetapi bila anak saat berada pada periode mengalami pola asuh yang salah yang menyebabkan anak selalu merasa bersalah akan mengalami malignansi yaitu akan sering berdiam diri (inhibition). peranan orang tua maupun guru sangat penting untuk memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan anak pada usia ini. Melalui tuntutan tersebut anak dapat mengembangkan sikap rajin. Usaha yang sangat baik dalam tahap ini adalah dengan menyeimbangkan kedua karateristik yang ada. namun berkembang seiring bertambahnya usia bahwa rencana yang ada harus dapat diwujudkan yaitu untuk dapat berhasil dalam belajar. Tahap ini menunjukkan adanya pengembangan anak terhadap rencana yang pada awalnya hanya sebuah fantasi semata. Kerajinan vs Inferioritas. Kegagalan di bangku sekolah yang dialami oleh anak-anak pada umumnya menimpa anakanak yang cenderung lebih banyak bermain bersama teman-teman dari pada belajar. Kecenderungan maladaptif akan tercermin apabila anak memiliki rasa giat dan rajin terlalu besar yang mana peristiwa ini menurut Erikson disebut sebagai keahlian sempit. . Anak pada usia ini dituntut untuk dapat merasakan bagaimana rasanya berhasil. dan hal ini tidak terlepas dari peranan orang tua maupun guru dalam mengontrol mereka. hal ini terjadi saat anak memiliki sikap inisiatif yang berlebihan namun juga terlalu minim. sehingga semua aspek memiliki peran. Jika anak tidak dapat meraih sukses karena mereka merasa tidak mampu (inferioritas). Orang yang memiliki sikap inisiatif sangat pandai mengelolanya. atau karir mereka tidak peduli terhadap pendapat orang lain dan jika ada yang menghalangi rencananya apa dan siapa pun yang harus dilewati dan disingkirkan demi mencapai tujuannya itu. dengan begitu ada nilai positif yang dapat dipetik dan dikembangkan dalam diri setiap pribadi yakni kompetensi. teman harus menerima kehadirannya. apakah itu di sekolah atau ditempat bermain. Tahap ini adalah tahap laten yang terjadi pada usia 6-12 tahun (school age)di tingkat ini area sosialnya bertambah luas dari lingkungan keluarga merambah sampai ke sekolah.

PmampuDari segi Oleh sebab itu. usia sekitar 18/20-30 tahun. dimulai saat masa puber dan berakhir pada usia 12-18/anak harus mencapai tingkat identitas ego. Tahap ini merupakan tahap adolesen (remaja). Erikson menyebut maladaptif ini dengan sebutan fanatisisme. yang mana kesetiaan memiliki makna tersendiri yaitu kemampuan hidup berdasarkan standar yang berlaku di tengah masyarakat terlepas dari segala kekurangan. sekolah. kelemahan.55 tahun (middle adult). I.I. Masa dewasa (dewasa tengah) berada pada posisi ke tujuh. Generativitas vs Stagnasi. tidak hanya berada dalam area keluarga. jika kecenderungan identitas ego lebih kuat dibandingkan dengan kekacauan identitas. I. Dalam konteks teorinya. dan lain-lain. dan ditempati oleh orang-orang yang berusia sekitar 20-an . Apabila pada tahap pertama sampai dengan tahap ke enam terdapat tugas untuk dicapai. kecenderungan antara keintiman dan isoalasi harus berjalan dengan seimbang guna memperoleh nilai yang positif yaitu cinta. jika kekacauan identitas lebih kuat dibandingkan dengan identitas ego maka Erikson menyebut malignansi ini dengan sebutan pengingkaran. Tahap ini terjadi pada masa dewasa awal(young adult). Kesetiaan akan diperoleh sebagi nilai positif yang dapat dipetik dalam tahap ini. DDalam tahap ini lingkungan semakin luas. cara maupun jalannyalah yang terbaik. Identitas vs Kekacauan Identitas. dan ketidak konsistennya. Keintiman vs Isolasi. jikalau antara identitas ego dan kekacauan identitas dapat berlangsung secara seimbang. Orang yang berada dalam sifat fanatisisme ini menganggap bahwa pemikiran. Sebaliknya. Mereka akan mencari identitas di tempat lain dari kelompok yang menyingkir dari tuntutan sosial yang mengikat serta mau menerima dan mengakui mereka sebagai bagian dalam kelompoknya. maka mereka tidak menyisakan ruang toleransi terhadap masyarakat yang bersama hidup dalam lingkungannya.HalArtinya pencarian identitas ego telah dijalani sejak berada dalam tahap pertama/bayi sampai iaApabila tahap-tahap sebelumnya tidak berjalan secara baik karena Di sisi lain. cinta berarti kemampuan untuk mengesampingkan segala bentuk perbedaan dan keangkuhan lewat rasa saling membutuhkan. Wilayah cinta yang dimaksudkan di sini tidak hanya mencakup hubungan dengan kekasih namun juga hubungan dengan orang tua. Orang yang memiliki sifat ini mengingkari keanggotaannya di dunia orang dewasa atau masyarakat. sahabat. demikian pula pada masa ini dan salah satu tugas untuk dicapai ialah . tetangga.

DIni merupakan tahap yang sulit dilewati menurut pemandangan sebagian orang dikarenakan mereka sudah merasa terasing dari lingkungan kehidupannya. dimana. Ritualisasi dalam tahap ini meliputi generasional dan otoritisme.[6] Dewasa tengah baya ditandai sikap mantap memilih teman hidup dan membangun keluarga. Jika dewasa tengah gagal mencapai generatifitas akan terjadi stagnasi. Sedangkan otoritisme yaitu apabila orang dewasa merasa memiliki kemampuan yang lebih berdasarkan pengalaman yang mereka alami serta memberikan segala peraturan yang ada untuk dilaksanakan secara memaksa. Generativitas dicerminkan dengan . sehingga hubungan diantara orang dewasa dan penerusnya tidak akan berlangsung dengan baik dan menyenangkan. Sikap yang Harapan yang ingin dicapai pada masa ini yaitu terjadinya keseimbangan antara generativitas dan stagnansi guna mendapatkan nilai positif yang dapat dipetik yaitu kepedulian. Generasional ialah suatu interaksi/hubungan yang terjalin secara baik dan menyenangkan antara orangorang yang berada pada usia dewasa dengan para penerusnya. kontribusinya yang . Generatifitas mencakup kesadaran bahwa "tak seorang pun di sini kecuali kita. Pengertian Generatifitas Teori Erikson Generativitas adalah istilah yang diberikan Erikson untuk usia dewasa tengah baya yang sedang fokus memberikan perhatian untuk membangun dan membimbing generasi berikutnya. Dewasa tengah dapat mencapai generatifitas dengan anak-anaknya melalui bimbingan dalam interaksi sosial dengan generasi berikutnya. Generatifitas adalah keinginan untuk merawat dan membimbing orang lain. Integritas vs Keputusasaan. I. Dewasa tengah menggunakan energy sesuai kemampuannya untuk menyesuaikan konsep diri dan citra tubuh terhadap realita fisiologis dan perubahan pada penampilan fisik. Mereka menyadari akan dampak pribadinya di dunia dalam lingkup: pertama. Hal ini ditunjukkan dengan perhatian yang berlebihan pada dirinya atau perilaku merusak anak-anaknya dan masyarakat." Dewasa tengah merasakan bahwa dia sekarang bertanggung jawab atas dunia. Tahap ini disebut tahap usia senja (usia lanjut) .dapat mengabdikan diri guna keseimbangan antara sifat melahirkan sesuatu (generativitas) dengan tidak berbuat apa-apa (stagnasi).

keluar dari cinta akan diri sendiri.menuntut rasa tanggungjawabnya. Hal ini terjadi bukan karena masalah monopause. Jika perempuan hanya mampu memberi kontribusinya dalam hal keluarga. yaitu: Pertama. Ekspresi kreatif didominasi oleh apa yang diharapkan orang lain dan keinginan untuk membuktikan kemampuan. Generatifitas melibatkan pengasuhan orang lain. gereja dapat menciptakan program-program pembinaan berdasarkan kebutuhan-kebutuhan jemaat dewasa tengah baya seperti berikut: a. ia lebih cenderung untuk kecewa oleh perubahan hidup. melainkan karena masalah generatifitas. Tugasnya memiliki banyak bentuk. Dengan kata lain. dua hal berikut dapat diaplikasikan dalam pembinaan orang dewasa tengah baya di gereja. Lowenthal dalam penelitiannya. Baginya tantangannya adalah untuk menemukan daerah baru dan menyatkan energinya. Kedua akuntabilitasnya. Dari para pemimpin gereja . Seperti menjawab krisis yang sedang dialami dewasa usia tengah baya. sehingga melalui pembinaan yang dirancang gereja. Generatifitas adalah hal yang sangat penting bagi laki-laki dan perempuan dewasa tengah. Kreativitas dewasa awal berbeda dengan generatifitas dewasa tengah baya. Generatifitas menyerap dorongan untuk membuktikan diri sendiri dan mengekspresikan diri dalam kapasitas untuk menyatakan kemampuan diri sendiri. dan lainnya. menemukan kebanyakan perempuan mengalami peningkatan ketidakpuasan perkawinan. mereka dapat terbebas dari segala bentuk kemunafikan. dan p "Aku punya tanggung jawab atas apa yang telah saya ciptakan". menerima keberhasilan orang lain sebagai motivasi. Generatifitas tidak hanya sekedar produktif atau kreatif. kepalsuan diri. produktivitas dan kreativitas ditujukan ke arah perkembangan orang lain.[7] Aplikasi Teori Generativitas Erikson Dalam Pembinaan Orang Dewasa Tengah Baya Di Gereja Setelah mendalami generatifitas dalam teori psikososial Erikson. seperti contoh: "Saya bertanggung jawab atas apa yang telah saya lakukan". Menyajikan pembinaan yang otentik.

sebagai kesempatan yang diberikan kepada mereka untuk mendapatkan penjelasan.kebutuhan yang terlalu sering kebutuhannya . energi. dan dari gereja yang memahami perbedaan individu. Gereja-gereja telah melakukan ini dengan pengakuan yang akurat tentang berapa banyak orang-orang ini harus memberi. saya telah berdebat untuk kepekaan dan dukungan dari kebutuhan hidup di tengah-tengah orang. Gereja harus menyadari betul bahwa pelayanan yang sejati tidak hanya datang dari hal-hal yang menyenangkan. Program diciptakan untuk tujuan menguji kesabaran. c. sehingga melalui hal tersebut mereka menyadari bahwa orang lain juga memiliki masalah dan perjuangan. Untuk mencapai itu. Kebebasan pilihan topik diskusi yang diciptakan dalam kelas pembinaan orang dewasa dapat menjadi peluang motivasi. Gereja yang otentik adalah gereja yang memiliki alasan alkitabiah yang baik untuk segala apa yang dilakukannya. Tapi orang ini juga memiliki kebutuhan . Doktrin-doktrin yang diajarkan dan khotbahkhotbah tidak boleh disampaikan tanpa memberi ruang tanya-jawab. pembaharuan orang dewasa tengah baya dapat dibangun pula dengan mengajukan kembali pertanyaan-pertanyaan lama yang tersimpan dalam diri mereka. dan mendengar bagaimana mereka telah menghadapinya. Materi diberikan melalui acara mendengarkan pengalaman masing-masing anggota. dan uang di tengah-tengah kehidupan orang. supaya mereka tumbuh menjadi lebih kuat dalam iman. Richard Olson dalam artikelnya “The Mid-Life Dropout” mengatakan: "Pada dasarnya. Menciptakan iklim kebebasan dalam kelas pembinaan. Gereja perlu membina kelompok-kelompok diskusi di jemaat dewasa awal dengangkat topik masalah dan perasaan. dari gereja yang memberi kebebasan untuk bertanya. gereja perlu mempromosikan keterbukaan dalam hubungan kejemaatan. waktu. Selama bertahun-tahun gereja telah menelan bakat. tetapi juga datang dari semua momen. mereka membutuhkan ruang untuk mengeksplorasinya dari gereja yang menawarkan pilihan dengan penuh rasa hormat. Terkait dengan hal ini. Terkait dengan hal ini. Sasaran yang dicapai melalui hal ini adalah. b. termasuk yang menyakitkan. Hal ini sangat perlu bagi orang dewasa tengah yang sedang berkembang.dituntut kesetiaan sekalipun itu dinilai sangat membosankan. Memberi penekanan program pada penuangan empati daripada memberi tekanan pada orang dewasa itu sendiri.

Tuhan akan menjadi cahaya bagi jalan untuk membimbing mereka melalui semuanya itu . Mereka mungkin akan terkejut dan malu serta mengecam kehidupan masa usia tengah baya mereka dan mereka mempunyai pertanyaan tentang hal itu. Teologi masyarakat. Doktrin kasih karunia. perlu disampaikan sebagai ruang yang membuka pengetahuan mereka tentang kedaulatan Allah. Kematian dan eskatologi adalah tipu daya bagi orang dewasa tengah. Doktrin kedewasaan dalam Kristus. perang. Kebenaran Alkitab akan dibawa untuk mendukung rasa tanggung jawab mereka dalam menghadapi kemelaratan dunia.) Kedua. 3. hal. mengusung tema-tema teologi yang mengakomodasi bidang-bidang kebutuhan (rohani. Knox dalam artikelnya “Issues of Mid-life”. emosional. Jika orang dewasa tengah mampu menemukan dirinya “di dunia gelap”. Studi tentang hal-hal eskatologis. Mereka biasanya meraba-raba beberapa kinerja sebagai standar yang digunakan untuk mengukur diri mereka sendiri. Orang dewasa tengah meskipun banyak yang akrab dengan Alkitab dan memahami peran Roh Kudus dalam menghasilkan kedewasaan. 125-26. Kesadaran yang lebih luas tentang masyarakat dan dunia akan membuat banyak orang dewasa tengah beralih ke isu-isu sosial. Teologi gereja. Menurut Alan B. no. (dalam Programming for Adults Menghadapi Mid-Life Change. seperti berikut ini: a. Juni 1981. namun mereka memiliki ketertarikan dalam beberapa aspek yang lebih kompleks. Sehingga melalui doktin yang diajarkan ini mampu menyadarkan mereka dan kembali terlibat dalam kepeduliaan terhadap masyarakat Kristen secara khusus d. Mereka tidak menemukan diri mereka dewasa karena mereka memiliki banyak pertanyaan tentang bagaimana bertumbuh dalam iman Kristen. dan mental) dalam program pembinaan orang dewasa tengah baya. Kehadiran wahyu menjadi kebutuhan yang besar bagi orang dewasa tengah baya dan bukan keingin tahuan yang bersifat sambilan atau keisengan belaka. fisik. aborsi. sekalipun di dalamnya berisi tentang berita akhir zaman yang destruktif. Perasaan gagal dan rasa bersalah dapat membuat orang dewasa tengah terjun kedalam kolam penyegaran kasih karunia.) b. h. Hal ini perlukan untuk memecahkan banyak konflik batin yang muncul dari perasaan kegagalan yang mereka hadapi. permukaan dunia yang kacau balau dan penuh dosa. 32. Melalui ajaran kasih karunia mereka perlu untuk mendengarkan firman Tuhan yang berbunyi: "Cukuplah kasih karuniaKu bagimu" (2 Korintus 12:9) c. Teologi pengharapan. dan sejumlah masalah sosial lainnya e. 1979.diabaikan…" (Baptist Leader 43.

. kurang memberi diri.com/social-sciences/education/2102731-teori-perkembangan-psikososial-eri. di mana orang dewasa punya tanggung jawab besar untuk menyampaikan kepada anak-anak prasekolah. kemanusiaan-Nya berbicara. Sementara disisi lain..com http//www. untuk memenangkan sebanyak mungkin" (1 Korintus 9:19). tetapi menjadikan dirinya sebagai "budak untuk semua orang. . tetapi partisipasi kehadiran mereka dalam ibadah lebih sedikit. untuk partisipasi dan kebergunaan diri dalam Kerajaan Allah. seperti: Tuhan Yesus dan rasul Paulus. Yesus memiliki integritas pada akhir hidup-Nya. bergerak ke arah stagnasi dan akhirnya putus asa.Penutup Banyak anggota gereja dewasa. Generatifitas adalah inti dari pelayanan pengajaran gereja. Dan peran aktif mereka.theory of psychosocial.theory of psychosocial development. gereja berlimpah kesempatan untuk memberikan pelayanan kepada orang dewasa. http//www. dan orang dewasa muda tentang prinsip-prinsip hidup dalam Kristus. anak-anak. Paulus menghabiskan kehidupannya di kemudian hari tidak hanya sebagai "hamba Kristus" (Roma 1:1).shvoong. melalui pembinaan dan pelatihan gereja-gereja dan pendeta.com sumber: http://id. pemuda. Mereka duduk di bangku dan kemudian pergi. Dia menghabiskan pelayanan-Nya dalam generatifitas aktif: memberikan diri-Nya pada orang lain.[8] Beberapa contoh generatifitas dapat kita lihat melalui kesaksian hidup tokoh-tokoh Alkitab. untuk menerapkan karunia rohani untuk kebutuhan duniawi. Dia menyerahkan dirinya kepada orang lain melalui pengajaran dan pemberitaan. Inilah yang disebut generatifitas Kristen.