You are on page 1of 3

KASUS POSISI Suami (terdakwa) pada hari Minggu, 13 Februari 2011 melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup

rumah tangga terhadap istrinya (saksi) sebagaimana didefinisikan pada Pasal 1UU no 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga (UU PKDRT), adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Terdakwa disinyalir melakukan pemukulan ke arah wajah saksi sambil memegang leher saksi. Setelah itu terdakwa langsung pergi meninggalkan saksi. Terdapat beberapa luka yang dialami saksi akibat dari perbuatan terdakwa diantaranya; memar di wajah, luka lecet dileher dan memar di daerah payudara.

KDRT merupakan suatu tindak kejahatan dan pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusian dalam perspektif hak asasi manusia (HAM). Sesuai UU No.23 tahun 2004 KDRT merupakan tindak KEJAHATAN dengan ancaman hukuman pidana setelah perkara KDRT ditetapkan sebagai pelanggaran pidana. Hal ini sejalan dengan Pasal 1 KUHP menyatakan, “tiada satu perbuatan kejahatan yang boleh dihukum melainkan atas kekuatan aturan pidana dan undang-undang yang terdahulu dari perbuatan itu”. (Nullum Crimen, Nulla Poena Sine Praevia Lege Poenalis). Tindak kekerasan dalam rumah tangga berbeda dengan tindak kekerasan yang hanya berdimensi. KDRT sangat berdimensi luas, tidak terbatas hanya pada tindakan secara fisik, tindak kekerasan dalam rumah tangga juga memiliki dimensi non-fisik, yang melingkupi seluruh perbuatan yang dapat menyebabkan komitmen untuk saling percaya, berbagi, toleran, dan mencintai antar seluruh angggota dalam rumah tangga sebagaimana

penganiayaan. Kekerasan verbal dalam bentuk caci maki. 4. pengurungan. Kekerasan ekonomi melalui tindakan pembatasn penggunaan keuangan yang berlebihan dan pemaksaan kehendak untuk untuk kepentingan-kepentingan ekonomi. Kekerasan seksual dalam bentuk pelecehan seksual yang paling ringan hingga perkosaan. Pasal 53 : Tindak pidana kekerasan seksual sebagaiman dimaksud dalam pasal 46 yang dilakukan oleh suami atau istri atau sebaliknya merupaka delik aduan. pemberian beban kerja yang berlebihan. 3. KDRT dapat dikelompokan ke dalam bentuk. meludahi. tercederai.bentuk sebagaiberikut: 1. Dilihat dari UU PKDRT seperti pasal-pasal berikut: 1. Pasal 51 : Tindak pidana kekerasan dimaksud dalam pasal 44 ayat (4) merupakan delik aduan. 3. Kekerasan psikologi atau emosional yang meliputi pembatasan hak-hak individu dan berbagai macam bentuk tindakan teror. Kekerasan fisik dalam bentuk pemukulan dengan tangan maupun benda. 2. dan bentuk penghinaan lain secara verbal. Dalam UU PKDRT ini delik aduan adalah delik . dan pemberian ancaman kekerasan.dimaksudkan dalam tujuan suci perkawinan dan kehidupan rumah tangga harmoni. Dalam ketiga pasal ini merujuk kepada pasal 44 ayat (4) . Pasal 52 : Tindak pidana kekerasan dimaksud dalam pasal 45 ayat (2) merupakan delik aduan. seperti memaksa untuk bekerja dan sebagainya. pasal 45 ayat (2) dan pasal 46 UU PKDRT ini adalah delik aduan. 2. 5.

maka sifatnya berubah menjadi delik aduan atau hanya dapat dituntut jika diadukan oleh pihak korban.aduan absolut yaitu korban sendiri yang melaporkan kepada pihak kepolisian ( Pasal 26 UU PKDRT). Sebaiknya menurut pendapat saya delik aduan dalam UU PKDRT ini yang tadinya delik aduan absolut menjadi delik aduan relatif karena Delik aduan relative (relatieve klacht delict)Yakni merupakan suatu delik yang awalnya adalah delik biasa. yang diadukan hanya orangnya saja sehingga yang dilakukan penuntutan sebatas orang yang diadukan saja meskipun dalam perkara tersebut terlibat beberapa orang lain.Dalam delik ini. Hal ini kurat tepat dimana seorang korban mendapat ancaman dari pelaku dan korban tidak bisa memberi kuasa oleh keluarga atau orang lain untuk melaporkan kepada polisi. namun karena ada hubungan istimewa/keluarga yang dekat sekali antara si korban dan si pelaku atau si pembantu kejahatan itu. . Dari sini. Dan agar orang lain itu dapat dituntut maka harus ada pengaduan kembali. maka delik aduan relative dapat dipisahpisahkan/splitsbaar.