BAB II

TINJAUAN PUSTAKA




3.1. Gigi Tiruan Penuh (GTP)
Gigi Tiruan Penuh (GTP) adalah gigi tiruan yang menggantikan seluruh
gigi asli dan struktur di sekitarnya yang hilang pada rahang atas atau rahang
bawah.
7

Tujuan pemakaian atau perawatan dengan GTP antara lain:
8

1. Untuk mengembalikan fungsi mastikasi.
2. Untuk memperbaiki dimensi wajah dan kontur yang terganggu dengan
memperhatikan segi estetik.
3. Untuk memulihkan fungsi bicara (fonetik) yang diakibatkan oleh
kehilangan sebagian atau seluruh gigi.
Gigi tiruan penuh (GTP) dapat diaplikasikan pada kedua rahang, baik
pada rahang atas maupun rahang bawah, atau hanya pada salah satu rahang
saja. Menurut Glosssary of Prosthodontics Terms, single denture
construction atau gigi tiruan penuh tunggal merupakan pembuatan gigi tiruan
penuh pada salah satu rahang, yakni rahang atas atau rahang bawah saja.
Gigi tiruan penuh tunggal (GTP tunggal) dapat digunakan pada beberapa
kondisi rahang antagonis sebagai berikut:
3,9,10

1. Gigi asli yang jumlahnya cukup dan tidak memerlukan gigi tiruan lepas
maupun cekat (hanya terdapat gigi asli).
2. Kehilangan gigi sebagian yang akan atau telah digantikan dengan gigi
tiruan cekat (kombinasi gigi asli dan gigi tiruan cekat).
3. Kehilangan gigi sebagian yang akan atau telah digantikan dengan gigi
tiruan sebagian lepas (kombinasi gigi asli dan gigi tiruan sebagian lepas).
4. Gigi tiruan penuh lama yang telah ada.
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

Dari keempat kondisi di atas, kondisi yang paling sering ditemui pada
kasus GTP tunggal adalah GTP tunggal rahang atas, yaitu kehilangan seluruh
gigi pada rahang atas dengan beberapa sisa gigi pada rahang bawah yang
telah atau akan digantikan dengan Gigi Tiruan Sebagian Lepas (GTSL).
9-13
Sedangkan kehilangan seluruh gigi pada rahang bawah dengan beberapa gigi
pada rahang atas merupakan kondisi yang jarang terjadi. Namun kondisi
tersebut dapat terjadi, hal ini biasanya disebabkan oleh trauma bedah atau
kecelakaan.
9


3.2. Retensi dan Stabilisasi
3.2.1. Definisi
Menurut Zarb George A. et al, retensi adalah daya tahan gigi tiruan
terhadap gaya yang menyebabkan pergerakan ke arah yang berlawanan
dengan arah pemasangannya. Retensi merupakan kemampuan gigi tiruan
untuk tahan terhadap gaya gravitasi, sifat adhesi makanan, dan gaya-gaya
yang berhubungan dengan pembukaan rahang, sehingga menghasilkan gigi
tiruan yang akan tetap pada posisinya di dalam rongga mulut.
1

Stabilisasi adalah kemampuan gigi tiruan untuk tetap stabil atau konstan
pada posisinya saat digunakan.
1
Stabilisasi mengacu pada suatu tahanan
untuk melawan pergerakan horizontal dan gaya-gaya yang cenderung akan
mengubah kedudukan basis gigi tiruan dan pondasi pendukungnya pada arah
horizontal atau rotasi.
1


2.2.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Retensi dan Stabilisasi Gigi Tiruan
Penuh
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap retensi gigi tiruan penuh di
dalam rongga mulut adalah:
1,2

1. Adhesi.
Adhesi adalah daya tarik fisik satu sama lain antara molekul-molekul
yang berbeda. Pada GTP terjadi pada saliva terhadap permukaan basis
gigi tiruan dan mukosa.
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

2. Kohesi.
Kohesi adalah daya tarik fisik satu sama lain antara molekul-molekul
yang sama. Hal ini terjadi pada lapisan tipis saliva di antara basis gigi
tiruan dan mukosa.
3. Tegangan permukaan interfasial.
Tegangan permukaan interfasial adalah daya tahan terhadap pemisahan
yang dihasilkan oleh lapisan cairan di antara dua permukaan yang
beradaptasi dengan baik.
4. Kapilaritas (daya tarik kapiler).
Kapilaritas (daya tarik kapiler) adalah gaya yang dihasilkan dari tekanan
permukaan yang dapat menyebabkan naik turunnya permukaan cairan
saat berkontak dengan benda padat.
5. Tekanan atmosfer.
Untuk memanfaatkan tekanan atmosfer secara efektif, gigi tiruan harus
memiliki peripheral seal yang baik di seluruh tepinya. Untuk memastikan
peripheral seal ini, batas gigi tiruan diperluas sampai batas antara
jaringan bergerak dan tidak bergerak, namun tidak boleh sampai melukai.
6. Mechanical locks.
Mechanical locks berupa undercut merupakan salah satu pendukung
retensi.
7. Otot-otot fasial dan rongga mulut.
Gigi tiruan di dalam rongga mulut dapat memperoleh retensi dari otot-
otot bibir, lidah, dan pipi yang beradaptasi dengan baik dengan gigi
tiruan.

Faktor-faktor yang berperan dalam menghasilkan stabilitas gigi tiruan
adalah:
1

1. Ukuran dan bentuk basal seat.
2. Kualitas cetakan akhir.
3. Kontur permukaan yang halus.
4. Penyusunan gigi tiruan yang baik dan tepat.
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

3.3. Posisi Lidah
Lidah adalah organ muskular yang terletak di dasar mulut yang
membantu fungsi mengunyah, menelan, dan berbicara.
14
Lidah bersandar di
dasar mulut, dibatasi oleh lengkung rahang bawah. Lidah dapat merubah
bentuknya mengikuti pergerakan fungsional. Pada bagian
2
/
3
anterior
dinamakan badan dan bagian
1
/
3
posterior adalah dasar atau pangkal lidah.
15

Ada empat pasang otot ekstrinsik di bagian kiri dan kanan lidah yang
mengontrol pergerakannya, yaitu hyoglossus, styloglossus, palatoglossus, dan
genioglossus.
16
Posisi lidah menurut klasifikasi Wright dapat dibagi menjadi 3 kelas,
yaitu:
3

1. Kelas I → lidah berada pada posisi normal. Ujung lidah bersandar rileks
di area permukaan lingual gigi-gigi anterior rahang bawah. Tepi lateral
lidah berkontak dengan permukaan lingual gigi-gigi posterior rahang
bawah dan basis gigi tiruan.
2. Kelas II → tepi lateral lidah pada posisi yang normal, namun ujung
lidahnya menggulung ke atas atau ke bawah.
3. Kelas III → lidah pada posisi tertarik (retracted position). Ujung lidah
tidak menyentuh gigi-gigi atau ridge rahang bawah. Sebagian besar dasar
mulut dapat terlihat. Karena posisinya yang tertarik, lidah terlihat seperti
membentuk sudut.



(a) (b)
Gambar 2.1. Posisi lidah normal pada rahang tak bergigi (a); posisi lidah normal pada
rahang bergigi (b). (Gambar diambil dari: Wright Corwin R. Evaluation of The Factors
Necessary to Develop Stability in Mandibular Dentures.J Prosthet Dent 2004;92:509-18)

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia



(a) (b)
Gambar 2.2. Posisi lidah retracted pada rahang tak bergigi (a); posisi lidah retracted
pada rahang bergigi (b). (Gambar diambil dari: Wright Corwin R. Evaluation of The
Factors Necessary to Develop Stability in Mandibular Dentures.J Prosthet Dent
2004;92:509-18)

Posisi lidah kelas I merupakan posisi lidah yang ideal karena pada
kondisi ini terdapat ketinggian dasar mulut yang adekuat sehingga sayap
lingual basis gigi tiruan dapat berkontak dengan lidah dan menjaga
peripheral seal gigi tiruan.
5
Sedangkan pada kondisi posisi lidah kelas II dan
terutama kelas III, dasar mulut pada umumnya terlalu rendah sehingga lidah
tidak dapat berkontak dengan sayap lingual basis gigi tiruan dan
menyebabkan kurangnya retensi pada gigi tiruan.
5
Menurut Wright, hampir
30% orang memiliki posisi lidah abnormal (retracted tongue).
8
Posisi lidah
abnormal (retracted tongue) ini juga muncul pada sekitar 35% dari pasien tak
bergigi, sehingga menimbulkan masalah serius pada retensi dan stabilitas gigi
tiruan penuh rahang bawah.
3
Keadaan posisi lidah ini dapat dikaitkan dengan ketinggian dasar mulut.
Hasil studi Wright Corwin menunjukkan bahwa jika lidah berada pada posisi
normal, maka dasar mulut juga berada pada ketinggian normal. Jika dasar
mulut rendah, maka posisi lidah juga rendah dan berada di bawah permukaan
oklusal gigi-gigi rahang bawah.
6

2.4. Resorpsi Tulang Alveolar
Menurut Glosssary of Prosthodontics Terms, resorpsi adalah suatu proses
pengurangan (reduksi) volume dan ukuran substansi tulang alveolar pada
maksila dan mandibula yang disebabkan oleh faktor fisiologis atau patologis.
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

Sedangkan menurut Kamus Kedokteran Dorland, resorpsi tulang adalah salah
satu bentuk hilangnya tulang yang disebabkan oleh aktifitas osteoklas.
Resorpsi merupakan proses yang tidak dapat dihindari dan berpengaruh
terhadap tulang alveolar rahang atas maupun rahang bawah karena tulang
adalah jaringan yang dinamis, bukan jaringan statis.
4
Resorpsi pada tulang
alveolar merupakan hal yang biasa terjadi setelah ekstraksi gigi dilakukan.
3

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses resorpsi tulang alveolar antara
lain:

1. Faktor anatomis, meliputi: ukuran, bentuk, dan densitas ridge; ketebalan
dan karakter jaringan mukosa; hubungan ridge; serta jumlah dan
kedalaman soket.
18
Pada rahang bawah, tingkat reduksi pertahun kira-kira
0,1-0,2 mm dan secara umum pada rahang atas adalah empat kali lebih
kecil dari angka tersebut.
19

2. Faktor metabolik, meliputi: nutrisi seperti metabolisme kalsium, fosfor,
protein; hormonal; dan faktor biokimia yang mempengaruhi pembentukan
dan penghancuran sel tulang. Faktor ini juga berkaitan dengan
pertambahan usia dan jenis kelamin.
18
Salah satu fenomena metabolisme
yang menarik yaitu efek berlawanan dari hormon hormon anabolik
(estrogen dan testosteron) dan hormon antianabolik (adrenal
glucocorticoid hormones, termasuk kosrtison dan hidrokortison). Pada
usia dewasa muda yang normal, hormon anabolik dan antianabolik dalam
keadaan seimbang sehingga pembentukan tulang dan resorpsi tulang juga
dalam keadaan seimbang dan terjadi massa tulang yang konstan.
18

Reifenstein menyatakan bahwa semakin bertambah tua seseorang,
terutama pada perempuan setelah menopause, hormon anabolik akan
menurun dan hormon antianabolik meningkat sehingga terjadi resorpsi
tulang yang lebih cepat daripada pembentukan tulang dan massa tulang
juga berkurang.
cit 18

3. Faktor fungsional, meliputi frekuensi, intensitas, durasi, dan arah tekanan
yang ditranslasikan pada tulang saat berfungsi.
18

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

4. Faktor prostetik, meliputi teknik, material, prinsip, dan pemakaian gigi
tiruan penuh.
18
Menurut penelitian, kehilangan jaringan tulang akan terus
berlanjut setelah pemakaian gigi tiruan penuh.
19

5. Usia, hilangnya massa tulang sebagai proses menua yang fisiologis kira-
kira 1% pertahun.
3,cit 20
Menurut Esteves (1994), seiring pertambahan usia
seseorang, kualitas tulang di seluruh tubuhnya akan mengalami
penurunan. Penurunan kualitas tulang ini disebabkan oleh penurunan
efisiensi kerja osteoblas, penurunan produksi estrogen, dan terjadinya
reduksi dari penyerapan kalsium pada saluran pencernaan.
19

6. Jenis kelamin, secara umum perempuan mengalami proses resorpsi yang
lebih besar daripada laki-laki.
3,19
Dalam penelitian kesehatan terhadap
hasil pemeriksaan pada perempuan U.S. berusia 50 tahun ke atas, 40%-
nya memiliki massa tulang yang rendah. Proses kehilangan tulang ini
terjadi lebih awal pada perempuan daripada laki-laki karena pada
perempuan terjadi penurunan estrogen pada fase menopause dan memiliki
ukuran tulang yang lebih kecil. Pada perempuan kehilangan tulang mulai
terjadi pada dekade keempat kehidupan.
19

7. Kesehatan umum, misalnya osteoporosis yang bermanifestasi terhadap
kehilangan tulang yang progresif.
3,19
Osteoporosis biasanya terjadi pada
perempuan setelah menopause.
19

Semua faktor yang telah disebutkan di atas saling berhubungan satu sama
lain dan dapat dievaluasi dengan melihat hubungan-hubungan tersebut dari
perspektif yang tepat.
3
Lammie berpendapat bahwa tekanan gigi tiruan penuh
pada mukosa mulut hanya berperan sebagian terhadap proses reduksi tulang
alveolar. Jadi, fenomena resorpsi tersebut dipercaya terjadi akibat kontribusi
multifaktor dari yang telah disebutkan sebelumnya dan bersifat individual.
3


2.5. Prognosis Perawatan
Prognosis adalah suatu prediksi terhadap kemungkinan keberhasilan
dalam suatu perawatan yang dibuat berdasarkan pengetahuan tentang
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

patogenesis penyakit dan faktor-faktor resikonya. Prognosis ditentukan
sesudah diagnosis ditetapkan dan sebelum perawatan dilakukan.
7,21

Dalam menentukan prognosis, ada beberapa faktor yang perlu
dipertimbangkan, antara lain:
21

1. Faktor klinis, seperti usia pasien, keparahan penyakit, dan kerja sama
pasien.
2. Faktor sistemik, seperti penyakit sistemik dan faktor genetik.
3. Faktor lokal, seperti oral hygiene, faktor anatomis, dan faktor
prostetik/restoratif.

2.6. Kerangka Teori
























Posisi Lidah menurut
Klasifikasi Wright
Retensi dan Stabilitas
GTP Rahang Bawah
Prognosis Perawatan
Kelas I
Kelas II
Kelas III
Resorpsi
Tulang Alveolar
Usia
Jenis kelamin
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful