You are on page 1of 6

BAB III HASIL KEGIATAN

Kegiatan Multistage fitness test (MFT) dilakukan pada hari Sabtu, tanggal 16 November 2013 pukul 06.00-07.00 WIB, bertempat di lapangan basket FK UNS. Kegiatan MFT diikuti oleh 20 peserta yang berasal dari mahasiswa FK UNS semester 3, 5, dan 7, terdiri dari 1 orang laki-laki dan 19 orang perempuan. Sebelum pelaksanaan kegiatan, terlebih dahulu disiapkan lapangan untuk lari. Lintasan diukur sepanjang 20 meter dan ditandai dengan penanda. Juga disiapkan alat elektronik untuk memutar panduan MFT. Kegiatan diawali dengan penjelasan pada peserta terlebih dahulu tentang teknis pelaksanaan dan aturanaturan dalam MFT, yaitu:

Setelah panduan mulai dimaninkan akan terdengar suara dengan interval yang teratur TUT-TUT-TUT-TULULUT

Peserta tes diharapkan untuk lari sampai pada batas. Selanjutnya setiap satu kali sinyal TUT berbunyi perserta tes harus dapat mencapai disalah satu lintasan yang ditempuhnya

setiap kali peserta tes menyelsaikan jarak 20m sosisis salahsatu kaki harus menginjak atau melewati batas atau garis 20 m.

setiap peserta harus berusaha untuk berlari selama mungkin sesuai dengan irama yang telah diatur oleh kaset atau CD.

Jika peserta gagal mencapai garis pembatas 20 m sebanyak 3 kali maka akan dihentikan atau telah dinyatakan selesai dalam melaksananakan tes MFT Selanjutnya dilakukan pemanasan pada peserta tes terlebih dahulu

dengan senam aerobik selama kurang lebih 10 menit. Baru setelah itu dilaksanakan MFT pada peserta. Seluruh peserta dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok 5 orang. Hasil penilaian MFT seluruh peserta dapat

dilihat pada tabel 1. Setelah selesai melakukan tes, peserta diminta untuk beristirahat dengan cara berjalan-jalan mencari udara segar.

Tabel 1. Hasil Penilaian MFT

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

NAMA Justinus Shelly Selvi Rizky Isna Noor Anisa Pertiwi Resti Nindy Rosma Ratna Prabawati Maulidina Syifa N. Asma Dini Rizka Hana Deyang Tyas Siska Diena Hanifa Febriana

Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan

UMUR 21 20 20 20 21 21 22 22 23 22 22 21 23 19 23 22 22 22 22 21

SKOR MFT 3.8 4.2 5.5 4.2 5.6 3.2 4.8 3.6 3.6 4.2 4.6 4.8 3.6 5.6 5.1 2.8 3.3 5.3 4.3 3.1

Hasil penilaian tes MFT yang telah dilakukan, dapat dikonversi menjadi ukuran VO2max dan tingkat kebugaran berdasarkan norma kebugaran yang ditentukan oleh Kenneth H. Cooper ( tabel konversi terlampir). Hasil konversi ukuran VO2 max peserta disajikan dalam tabel berikut ini:

Tabel 2. Nilai VO2 Max dan kategori kebugaran peserta No Nama Skor MFT Nilai VO2max Kategori kebugaran 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Justinus Shelly Selvi Rizky Isna Noor Anisa Pertiwi Resti Nindy Rosma Ratna Prabawati Maulidina Syifa N. Asma Dini Rizka Hana Deyang Tyas Siska Diena Hanifa Febriana 3.8 4.2 5.5 4.2 5.6 3.2 4.8 3.6 3.6 4.2 4.6 4.8 3.6 5.6 5.1 2.8 3.3 5.3 4.3 3.1 25,7 26,8 31,4 26,8 31,8 23,6 29,5 25,0 25,0 26,8 28,3 29,5 25,0 31,8 29,9 22,5 23,9 30,6 27,2 23,0 Kurang sekali Kurang sekali Kurang Kurang sekali Kurang Kurang sekali Kurang Kurang sekali Kurang sekali Kurang sekali Kurang Kurang Kurang sekali Kurang Kurang Kurang sekali Kurang sekali Kurang Kurang sekali Kurang sekali

BAB IV PEMBAHASAN

Multi Stage Fitness Test (MFT) merupakan salah satu cara untuk mengukur kebugaran jasmani baik pada individu maupun atlet. Tingkat Kebugaran dapat diukur dari volume dalam mengkonsumsi oksigen saat latihan pada volume dan kapasitas maksimum (VO2Max). VO2 max adalah volume maksimal O2 yang diproses oleh tubuh manusia pada saat melakukan kegiatan yang intensif. Volume O2 max ini adalah suatu tingkatan kemampuan tubuh yang dinyatakan dalam liter per menit atau milliliter/menit/kg berat badan. Tes ini dipilih karena pelaksanaan tes ini relatif lebih mudah dibandingkan dengan testes kebugaran lainnya. Pelaksanaan tes dapat dilakukan dengan beberapa orang sekaligus dan menggunakan lapagan yang tidak terlalu luas. Tes MFT sangatlah mudah dilakukan karena tes ini tidak rumit dalam pelaksanaannya.

Dari hasil penilaian MFT pada peserta tes, didapatkan hasil sebagian besar peserta memiliki tingkat kebugaran jasmani yang sangat kurang. Jika dilihat dari latar belakang peserta yang merupakan mahasiswa, sangat dimungkinkan peserta memiliki kebugaran jasmani yang kurang akibat terbatasnya aktifitas fisik yang dilakukan. Selain itu, tingkat kebugaran jasmani juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: Keturunan (genetik) Dari penelitian yang telah dilakukan dijelaskan bahwa tingkat Vo2max ditentukan oleh faktor keturunan yang hanya dapat diubah dengan latihan. Faktor keturunan yang berperan dapat membedakan kapasitas jantung, paru, sel darah merah, dan hemoglobin juga persentase slow twich

fiber(Depdiknas, 2000). Umur Mulai anak sampai umur 20 tahun daya tahan jantung (kardiovaskuler) meningkat, mencapai umur maksimal 20-30 tahun dan kemudian berbanding

terbalik dengan umur, sehingga pada organ yang berumur 70 tahun diperoleh daya tahan 50% dari yang dimilikinya pada umur 17 tahun (Depdiknas, 2000). Jenis Kelamin Sampai dengan umur pubertas tidak terdapat perbedaan daya tahan jantung (kardiovaskuler) laki-laki dan wanita, setelah umur tersebut nilai wanita lebih rendah 15-25% dari pada pria. (Depdiknas, 2000). Aktivitas fisik Istirahat ditempat tidur selama 3 minggu akan menurunkan daya tahan jantung paru. Efek latihan aerobik selama 8 minggu setelah istirahat

memperlihatkan peningkatan daya tahan jantung. Seseorang yang melakukan lari jarak jauh memiliki daya tahan jantung yang melakukan aktivitas lain (Depdiknas, 2000) Latihan Latihan mampu meningkatkan fungsi dan kapasitas sistem respiratori dan kardiovaskuler serta volume darah. Untuk meningkatkan kebugaran jasmani, seseorang harus melakukan kebiasaannya. Hal ini dapat kerjanya atau tugas kerja yang lebih berat dari bagus dibandingkan

dilakukan baik dengan menambah beban

mempersingkat waktu pelaksanaannya. Penanganan beban

yang selalu meningkat, melebihi beban yang telah diatasi disebut prinsip beban lebih ( over load). Latihan yang tidak teratur akan mengurangi kesinambungan latihan yang akan menurunkan tingkat kebugaran (Rusli, 2001). Kebugaran jasmani sangat penting untuk menunjang aktifitas fisik seorang mahasiswa. Untuk itu sangat dibutuhkan latihan yang teratur dan efektif bagi seorang mahasiswa untuk meningkatkan kebugarannya disamping menuntut ilmu yang sesuai dengan bidang yang ditekuninya.

Rusli Lutan, J.Hartanto, Tomolius.(2001). Pendidikan Kebugaran Jasmani Orientasi di Sepanjang Hayat. Jakarta: Direktorat Jenderal Olahraga

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebugaran Jasmani. 2012. Diakses dari http/www.afand.cybermq.com. Pada 17 Januari 2012 Depdiknas. 2000. Tes Kesegaran Jasmani Untuk Anak Umur 10-12 Tahun. Jakarta