You are on page 1of 59

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Proses perancangan telah ada sejak manusia diciptakan, karena sifat manusia yang ingin mudah dalam menjalani hidupnya dan pada dasarnya proses perancangan memang di tujukan untuk memudahkan manusia memenuhi kebutuhannya. Sebagai mahasiswa teknik mesin sudah pasti harus bisa merancang sesuatu yang bisa memudahkan untuk memenuhi kebutuhan yang tentu yang berkaitan dengan bidangnya. Analisis merupakan salah satu dari tahapan rancangan. Proses ini bertujuan untuk memperkirakan kondisi suatu elemen mesin dengan menggunakan pemikiran yang terstruktur dan perhitungan tertentu. Dengan menganalisis kita dapat memperkirakan suatu mesin akan berjalan dengan baik atau tidak. Analisis yang dapat digunakan dalam proses perancangan yang bermacam-macam, tetapi pada perencanaan kali ini akan dibahas mengenai analisis kegagalan pada proses transmisi rantai, roda gigi. Bagaimana suatu poros akan gagal atau tidak apabila mengalami pembebanan maksimum yang mungkin terjadi pada perancanaan transmisi tersebut dengan menggunakan teori tegangan maksimum. System transmisi dengan menggunakan rantai dan roda gigi dipilh karena penggunaannya yang luas di dunia industri maupun dikehidupan sehari-hari. Siitem transmisi ini digunakan karena memiliki efisensi yang tinggi selain itu system transmisi berkaitan dengan reduksi daya sehingga dengan proses rancangan yang dilakukan diharapkan dapat memperoleh daya keluaran yang sesuai dengan keinginan dan dapat menentukan elemenelemen mesin dengan tepat. 1.2 Rumusan Masalah Kami merencanakan sistem transmisi rantai, roda gigi, poros, pasak, dan bantalan. Perencanaan tersebut antara lain :
TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

1

A. Perencanaan roda gigi B. Perencanaan rantai C. Perencanaan poros D. Perencanaan pasak E. Perencanaan bantalan 1.3 Batasan Masalah Kami membatasi perencanaan hanya sampai memperhitungkan geometri dan aspek mekanika serta terbatas pada komponen-komponen mesin yang telah dibahas di dasar teori dan dari yang sudah di pelajari pada mata kuliah elemen mesin I dan II 1.4 Tujuan Penulisan Perencanaan system transmisi rantai, roda gigi, pasak, poros dan bantalan memiliki beberapa tujuan, antara lain : A. Mengetahui bahan, dimensi serta gaya-gaya yang bekerja pada transmisi. B. Memberikan gambaran secara umum mengenai sistem transmisi roda gigi, rantai, pasak, poros , dan bantalan C. Memenuhi tugas besar elemen mesin II

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Poros 2.1.1 Definisi Poros Poros adalah suatu bagian stasioner yang berputar, biasanya berpenampang dimana terpasang elemen-elemen mesin seperti gear, pulley, flywheel elemen pemindah lainnya. Poros bisa menerima beban lenturan, beban tarikan, beban tekan atau beban puntiran yang bekerja sendiri-sendiri atau gabungan satu sama lain. (Joseph Edward Sighley, 1983) 2.1.2 Macam-macam Poros 1. Berdasarkan Pembebanannya : a. Poros Transmisi Poros yang mentransmisikan daya antara sumber tenaga dan mesin yang digerakkan. Mengalami beban puntir yang berulang, beban lentur ataupun keduanya. Contohnya yaitu pada transmisi mobil.

Gambar 2.1 Poros Transmisi Sumber : http : techricmechanical.blogspot.com/2009/05/perencanaan.poros.macam.poros.html

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

3

b. Poros Spindle Poros transmisi yang relatif pendek, misalnya pada poros utama mesin bubut. Beban utamanya berupa beban puntir juga menerima beban lentur.

Gambar 2.2 Poros Spindle Sumber : www.gorilla.comproductBGorilla.Axles.com.Am.BRP.html

c. Poros Gandar Poros gandar mengalami beban lentur saja dan tidak menerima beban puntir. Contoh pengaplikasiannya yaitu dipasang diantara rodaroda kendaraan muatan barang.

Gambar 2.3 Poros Gandar Sumber : http : nmprcision.grinding.com.duexperience.html

2. Berdasarkan Bentuk : a. Poros Lurus

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

4

Gambar 2.4 Poros Lurus Sumber : http : www.weiku.comproducts10353286axle.shafts.html b. Poros Engkol

Gambar 2.5 Poros Engkol Sumber : http://subandriyoSB.blogspot.com201102komponen.mesin.mobil.html

2.1.4 Perencanaan poros Dalam perencanaan poros terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu : 1. Kekuatan Poros Poros transmisi akan menerima beban puntir, beban lentur maupun keduanya. Oleh karena itu dalam perancangan poros, poros yang akan digunakan harus cukup aman untuk menahan beban-bean tersebut. 2. Kekakuan Poros Meskipun poros cukup kuat menahan pembebanannya tetapi adanya lenturan atau defleksi yang terlalu besar dapat menyababkan

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

5

ketidaktelitian pada mesin, gerakan mesin atau suara. Kekakuan poros juga disesuaikan dengan jenis mesin. 3. Putaran Kritis Bila putaran mesin terlalu tinggi, maka akan menimbulkan getaran pada mesin tersebut. Batas antara putaran mesin yang mempunyai jumlah normal dengan putaran mesin yang menimbulkan getaran yang tinggi disebut putaran kritis. Jadi dalam perencanaan perlu

mempertimbangkan putaran kerja dari poros tersebut agar lebih rendah dari putaran kritis. 4. Korosi Apabila poros berkontak langsung dengan fluida korosif maka dapat mengakibatkan korosi pada poros tersebut. Oleh karena itu pemilihan bahan tahan korosi menjadi prioritas. 5. Material Poros yang digunakan untuk putaran tinggi dan beban yang besar biasanya dibuat dari baja paduan seperti baja krom nikel sehingga tahan terhadap keausan. Sekalipun demikian perlu dipertimbangkan dalam pemilihan jenis materialnya karena baja paduan tidak selalu dianjurkan jika hanya untuk putaran tinggi dan beban yang berat saja.

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

6

Diagram alir untuk merencanakan poros dengan beban puntir
START

a
13. Diameter poros, ds (mm) Bahan poros, Perlakuan panas Jari-jari filet dari poros bertangga, Ukuran pasak dan alur pasak

1. Daya yang ditranmisikan, P (kW), putaran poros, n1 (rpm).

2. Faktor koreksi, fc

3.Daya rencana, Pd (kW)

STOP

4. Momen puntir rencana, T (kg mm)

START

5. Bahan poros, perlakukan panas, kekuatan tarik s B (kg/mm2) Apakah poros bertangga atau beralur pasak Faktor keamanan Sf1, dan Sf2

6. Tegangan geser yang diijinkan

t

B

7. Faktor koreksi untuk momen puntir, Kt faktor lenturan poros, Cb

8. Diameter poros, ds (mm)

9. Jari-jari filet dari poros bertangga, r (mm) Ukuran pasak dan alur pasak

10. Faktor konsentrasi tegangan pada poros bertangga ß, pada pasak a

11. Tegangan geser t , (kg/mm2)

<

12

: Cb Kt τ

= a

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

7

2.2 Pasak 2.2.1 Definisi Pasak Pasak adalah suatu elemen mesin yang dipakai untuk menetapkan bagian-bagian mesin, seperti roda gigi, pulley, kopling, dll pada poros. Pasak adalah bagian dari mesin yang berfungsi sebagai berikut : 1. Menyambung poros dengan bagian mesin 2. Menjaga hubungan putaran relatif antara poros dan mesin dengan peralatan mesin lainnya Pasak menurut letaknya pada poros dapat dibedakan menjadi beberapa macam seperti pasak pelana, pasak rata, pasak benam, dan pasak singgung yang umumnya berpenampilan segi empat. Dalam arah memanjang dapat berbentuk prismatis atau berbentuk tirus. Yang umum digunakan dalam permesinan adalah pasak benam yang dapat meneruskan momen yang besar. 2.2.2 Macam Pasak
a. Menurut letaknya - Pasak pelana - Pasak rata - Pasak benam - Pasak singgung b. Menurut bentuknya - Pasak tembereng - Pasak jarum

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

8

Gambar 2.6 : Macam-macam pasak Sumber : Sularso. Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin. hal 24

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

9

Diagram alir untuk merencanakan pasak

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

10

2.3 Bantalan 2.3.1 Definisi Bantalan Bantalan adalah elemen mesin yang mampu menahan poros terbeban, sehingga putaran atau gerak bolak baliknya dapat berlangsung secara halus, aman dan panjang umur. 2.3.2 Macam-macam batalan Pada Umumnya bantalan diklasifikasikan menjadi 2 bagian, 1. Berdasarkan gerakan bantalan terhadap poros a. Bantalan luncur Pada Bantalan ini terjadi gesekan luncur antara poros dan bantalan karena permukaan poros ditumpu oleh permukaan bantalan dengan perantaraan lapisan pelumas

Gambar 2.7 : Bantalan Luncur Sumber : http://htmlimg4.scribdassets.com/ images/1-7e885899fb.Jpg

b. Bantalan Gelinding Pada Bantalan ini terjadi gesekan gelinding antara bagian yang berputar dengan yang diam melalui elemen gelinding seperti bola, rol, dan rol bulat

Gambar 2.8 : Bantalan Gelinding Sumber : http://htmlimg4.scribdassets.com/ images/1-7e885899fb.Jpg

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

11

2. Berdasarkan arah beban terhadap poros a. Bantalan Radial Arah beban yang ditumpu bantalan ini tegak lurus terhadap poros. b. Bantalan aksial Arah beban yang ditumpu bantalan ini sejajar terhadap sumbu poros

Gambar 2.9 Bantalan aksial dan radial sumber : Text book of machine design, R.S Khurmi dan J.K. Gupta

2.3.3 Pelumasan Pada Bantalan a. Pelumasan untuk bantalan luncur 1. Pelumasan tangan Cara ini sesuai untuk beban ringan, kecepatan rendah atau kerja yang tidak terus menerus 2. Pelumasan tetes Dari sebuah wadah, minyak diteteskan dalam jumlah yang tetap dan teratur melalui sebuah katup jarum. Cara ini adalah untuk beban ringan dan sedang 3. Pelumasan sumbu Cara ini menggunakan sebuah sumbu yang dicelupkan dalam mangkok minyak sehingga minya terisap oleh sumbu tersebut 4. Pelumasan cincin Pelumasan ini menggunakan cincin yang digantungkan pada poros sehingga akan berputar bersama poros sambil mengangkat minyak dari bawah. Cara ini dipakai untuk beban sedang
TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

12

5. Pelumasan percik Cara ini dipergunakan untuk melumasi torak dan silinder motor bakar torak yang berputaran tinggi 6. Pelumasan pompa Cara ini dipakai untuk melumasibantalan yang sulit letaknya seperti bantalan utama motor yang mempunyai putaran tinggi. Pelumasan pompa ini sesuai untuk keadaan kerja dengan kecepatan tinggi dan beban besar b. Pelumasan pada bantalan gelinding 1. Pelumasan gemuk Cara yang umum untuk penggemukan adalah dengan mengisi bagian dalam bantalan dengan gemuk sebanyak mungkin 2. Pelumasan minyak/ cair Pelumasan minyak merupakan cara yang bergunan untuk kecepatan tinggi atau temperature tinggi.

2.3.4 Perencanaan Bantalan Rumus Dasar Bantalan 1. Panjang Bantalan

d = diameter dalam bantalan (m) 2. tekanan pada bantalan

P=
w = beban pada bantalan (N) 3. Koefisien Gesekan

Z = viskositas absolute pelumas (Kg/m.s)
TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

13

P = Tekanan pada bantalan (N/mm2) N = kecepatan rotasi bantalan bagian dalam (rpm) c = Kerenggangan bantalan (m) k = factor koreksi (0.002 untuk rasio l/d 0,75-2,8) 4. Umur Bantalan

L10h =
P = Tekanan pada bantalan (N/mm2) n = kecepatan rotasi bantalan bagian dalam (rpm) c = Kerenggangan bantalan (m) 5. Critical Pessure of Journal Bearing ( )( 6. Panas yang Timbul )

*
W = beban pada bantalan dalam (N) V = Kecepatan Linear (m/s) 7. Panas yang dihilangkan oleh bearing

+

Hd = C. A (tb-ta) [kcal/min]
C = Koefisien disipasi panas (W/m2 /oC) A = Luas permukaan proyeksi pada permukaan bantalan (m2) tb = Temperatur permukaan bantalan (oC) ta = temperature lingkungan (oC)

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

14

2.3.5 Cara Pengkodean bearing a. Kode pertama Kode pertama bearing menyatakan jenis bearing. Tabel 2.1 kode dan jenis bearing

b. Kode kedua Kode kedua bearing menyatakan seri bearing untuk menyatakan ketahanan dari bearing tersebut. Seri penomoran adalah mulai dari ketahanan yang paling ringan sampai paling berat 8 = Extra thin section 9 = Very thin section 0 = Extra thin section 1 = Extra Light Thrust 2 = Light 3 = Medium 4 = Heavy c. Kode ketiga dan keempat Kode ketiga dan keempat menyatakan diameter dalam bearing. untuk kode 0 sampai 3, maka diameter bore bearing adalah sebagai berikut,
TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

15

00 = diameter dalam 10 mm 01 = diameter dalam 12 mm 02 = diameter dalam 15 mm 03 = diameter dalam 17 mm Selain kode nomer 0 sampai 3, misalnya 4, 5 dan seterusnya maka diameter bearing dikalikan dengan 5 mm. missal 04 maka diameter bore bearing = 20 mm. d. Kode yang terakhir Kode yang terakhir biasanya berupa huruf, menyatakan jenis penutup bearing ataupun bahan bearing. Seperti berikut 1. Z single shielded 2. ZZ Double shielded 3. RS single shielded 4. 2RS double shielded 5. V single non-contact seal 6. VV double non-contact seal 7. DDV Double contact seals 8. NR Snap ring and groove 9. M Brass Cage

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

16

Diagram alir untuk merencanakan bantalan luncur secara sederhana
START 1. Beban Bantalan W0 Putaran Poros N (rpm)

2. Faktor koreksi, fc

3.Beban rencana,W (kg)

4.

Bahan Bantalan Tekanan permukaan yang diizinkan pa (kg/mm2) (pv)a (kgm/mm2s)

5. Panjang bantalan l (mm)

6. Bahan Poros Kekuatan tarik σA (kg/mm2) Tegangn lentur yang diizinkan σB (kg/mm2)

7. Diameter poros d (mm)

8. l/d

T

9 l/d : daerah standar

Y
10.Tekanan permukaan p (kg/mm2) Kecepatan keliling v (m/s) Harga pv, (kgm/mm2s)

<

11

p : pa pv : (pv)a


12 Kerja gesekan H (kg m/s) Daya yang diserap pH (kW)

13. Panjang Bantalan l (mm) Diameter poros d (mm) Daya yang diserap pH (kW)

STOP

END

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

17

2.4 Roda Gigi 2.4.1 Definisi Roda Gigi Roda gigi adalah roda yang berguna untuk mentransmisikan daya yang besar atau putaran yang cepat.Rodanya dibuat bergerigi dan berbentuk silinder atau kerucut yang saling bersinggungan pada kelilingnya agar jika salah satu berputar maka yang lain ikut berputar.

2.4.2 Macam-Macam Roda Gigi 1. Roda Gigi Lurus Roda gigi paling dasar dengan jalur gerigi yang sejajar poros Gaya pada spur gear: Gaya tengensial Ft Gaya radial Fr = Ft tan 𝞪

Gambar 2.10 Roda Gigi Lurus Sumber Sularso Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin hal 213

2. Roda Gigi Miring Mempunyai jalur gigi yang membentuk ulir pada silinder jarak bagi. Gaya pada roda gigi miring Gaya tengensial Ft
TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

18

-

Gaya aksial Fx = Ft tan 𝞫

-

Gaya radial Fr = Ft

Gambar 2.11 Roda Gigi Miring Sumber Sularso Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin hal 213

3. Roda Gigi Miring Ganda Gaya aksial yang timbul pada gigi yang mempunyai alur berbentuk V tersebut akan saling meniadakan.

Gambar 2.12 Roda Gigi Miring Ganda Sumber Sularso Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin hal 213

4. Roda Gigi Dalam Dipakai jika diingini alat transmisi dengan ukuran kecil dengan perbandingan induksi besar karena pinion terletak dalam roda gigi.

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

19

Gambar 2.13 Roda Gigi Dalam Sumber Sularso Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin hal 213

5. Pinion dan Batang Gigi

Gambar 2.14 Pinion dan Batang Gigi Sumber Sularso Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin hal 213

6. Roda Gigi Kerucut Lurus Roda gigi yang paling mudah dibuat dan paling sering dipakai. Gaya pada roda gigi kerucut lurus: Gaya tangensial Ft Dm = d.b sin 𝛅 Dm = pusat diameter

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

20

Gambar 2.15 Roda Gigi Kerucut Lurus Sumber Sularso Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin hal 213

7. Roda Gigi Kerucut Spiral Karena mempunyai perbandingan kontak yang besar dapat meneruskan putaran tinggi dan beban besar.

Gambar 2.16 Roda Gigi Kerucut Spiral Sumber Sularso Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin hal 213

8. Roda Gigi Permukaan

Gambar 2.17 Roda Gigi Permukaan Sumber Sularso Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin hal 213

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

21

9. Roda Gigi Miring Silang

Gambar 2.18 Roda Gigi Miring Silang Sumber Sularso Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin hal 213

10. Roda Gigi Cacing Silindris Mempunyai silinder yang berbentuk cacing dan lbih umum dipakai. Gaya pada roda gigi cacing silindris Gaya tangensial a.Worm (driver) Ft b. Worm wheel (driven) Ft = Gaya aksial a.Worm (driver) Fx = Ft b. Worm wheel (driven) Fx = Ft Gaya radial Fr = Ft

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

22

Gambar 2.19 Roda Gigi Cacing Silindris Sumber Sularso Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin hal 213

11. Roda Gigi Cacing Hipoid Mempunyai jalur gigi yang berbentuk spiral pada bidang kerucut yang sumbernya berdaya dan pemindahan gaya pada permukaan gigi berlangsung meluncur dan menggelinding. Gaya pada roda gigi cacing hypoid: Gaya radial a. Permukaan convex

Ft

tan 𝞪. Sin 𝛅- sin 𝞫 cos 𝛅

b. Permukaan concave

Fr
Gaya tangensial Ft Gaya aksial

tan 𝞪. Sin 𝛅- sin 𝞫 cos 𝛅

a. Permukaan convex Fx = tan 𝞪. Sin 𝛅- sin 𝞫 cos 𝛅

b. Permukaan concave Fx = tan 𝞪. Sin 𝛅 + sin 𝞫 cos 𝛅

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

23

Gambar 2.20 Roda Gigi Cacing Hipoid Sumber Sularso Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin hal 213

12. Roda Gigi Globoid Mempunyai perbandinga kontak yang lebih besar dan dipakai untuk beban yang lebih besar pula.

Gambar 2.21 Roda Gigi Cacing Globoid Sumber Sularso Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin hal 213

2.4.3 Bagian-bagian roda gigi Roda gigi mempunyai bagian-bagian antara lain 1. Lebar gigi Kedalam gigi diukur sejajar sumbunya 2. Puncak kepala Permukaan di puncak gigi 3. Tinggi kepala Jarak antara lingkaran kepada dengan lingkaran kaki yang diukur dalam arah radial 4. Tinggi kaki Jarak antara lingkaran Pitch dengan lingkaran kaki yang diukur dalam arah radial.
TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

24

5. Lingkaran kepala Lingkaran kepala gigi yaitu lingkaran yang membatasi kepala gigi 6. Jarak bagi lingkaran 7. Tebal gigi Lebar gigi diukur sepanjang lingkaran pitch 8. Lebar ruang Tebal menggambar roda gigi diukur sepanjang lingkaran pitch 9. Lingkaran jarak bagi 10. Sisi kepala Permukaan gigi diatas lingkaran pitch 11. Sisi Kaki Permukaan gigi dibawah lingkaran pitch 12. Dasar kaki

Gambar 2.22 Bagian-bagian Roda Gigi Sumber: Sularso Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin hal 213

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

25

2.4.4 Profil Roda gigi Profil roda gigi ada 4 yaitu: 1. Sikloida Garis lengkung yang menggambarkan titik pada keliling lingkaran jika bergulungan pada suatu garis lurus lingkaran yang berguling tersebut disebut lingkaran gulung (Dr) Dr = 0,4 D Dimana : D = Diameter lingkaran jarak Dr = Diameter lingkaran gulung 2. Evolven Sebuah garis lengkung yang digunakan oleh sebuah benang yang dilepas gulungannya dari sebuah silinder dan pada ujungnya dipasang sebuah pensil.Titik-titik pada benang yang dilepaskan gulungannya dari lingkaran dasar merupakan evolven lingkaran. 3. Profil Equidistanta Kurva equidistant adalah kurva dari jarak yang sama terhadap sikloida yang dibentuk oleh roda gelinding dan terhadap jalur gelinding pasangannya. Profil ini dipakai konstruksi pasangan antara roda gigi profil dengan roda pasangannya berupa gigi tetap yang bergerak melingkar pada suatu roda.Dan lebih umum lagi pada hubungan gigi dan rantai. 4. Profil Roda Gigi Novikov Profil roda gigi ini merupakan geometri baru yang dapat diaplikasikan pada transmisi kecepatan tinggi yang terdiri dari piringan double. Keuntungannya yaitu: - Suara tidak bising - Reduksi getaran yang menyebabkan kerusakan - Memungkinkan untuk material yang digerinda atau dikeraskan - Mengurangi tegangan

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

26

Gambar 2.23 Profil Roda Gigi Novikov Sumber Sularso Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin hal 213 .

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

27

Diagram alir untuk merencanakan roda gigi lurus standar
START 1. Daya yang ditranmisikan, P (kW), putaran poros, n1 (rpm). Perbandingan reduksi i Jarak sumbu poros a (mm)

b

a
14. Tegangan lentur yang diizinkan σa1 σa2 Faktor tegangan kontak kH (kg/mm2)

2. Faktor koreksi, fc

3.Daya rencana, Pd (kW)

15. Beban lentur yang diizinkan per satuan lebar F’b1, F’b2 (kg/mm) Beban permukaan yang diizinkan per satuan lebar F’H (kg/mm) Harga minimum F’b1, F’b2, F’H, F’min (kg/mm)

4. Diameter sementara lingkaran jarak bagi d'1, d’2 (mm) 16. Lebar sisi b (mm) 5. modul pahat m Sudut tekanan pahat α0 (o)

17. Bahan poros dan perlakuan panasnya Bahan pasak dan perlakuan panasnya

6. Jumlah gigi z1, z2 Perbandingan gigi i 18. Perhitungan diameter poros ds1, ds2 (mm) Penentuan pasak dan alur pasak (mm) Tebal antara dasar alur pasak dan dasar kaki gigi Sk1, Sk2

7. Diameter lingkaran jarak bagi (roda gigi standar) d01, d02 (mm) Jarak sumbu poros a0 (mm)

8. kelonggaran sisi C0 (mm) Kelonggaran puncak ck (mm)

T

b/m : (6-10) d/b : 1.5

Sk1/m : 2.2

9. Diameter kepala dk1, dk2 (mm) Diameter kaki df1, df2 (mm) Kedalaman pemotongan H (mm)

Y

20. modul pahat m Sudut tekanan pahat α0 (o)

10. Faktor bentuk gigi Y1, Y2

Jumlah gigi z1, z2
Jarak sumbu poros a (mm) Diameter luar dk1, dk2 (mm) Lebar gigi b (mm) Bahan roda gigi, dan perlakuan panasnya Bahan poros dan perlakuan panasnnya Diameter poros ds1, ds2

11. kecepatan keliling v (m/s) Gaya tangensial F1 (kg)

12. Faktor dinamis fs STOP 13. Bahan masing-masing gigi, perlakuan panas Kekuatan tarik σB1 σB2 (kg/mm2) Kekerasan permukaan gigi HB1, HB2

END

b

a

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

28

2.5 Sabuk dan Puli 2.5.1 Definisi Sabuk dan Puli Di dalam bentuk sebuah transmisi dari jenis ini terdiri dari sebuah sabuk yang tak memiliki ujung dipasang secara ketat/rapat pada 2 pulley penggerak yang mentransmisikan/menyalurkan gerak dari pulley penggerak menuju pulley penerima/pendorong dengan tahanan gesek antara sabuk dan pulley. Fleksibilitas dari sabuk memungkinkan untuk mengatur poros penggerak dan poros penerima dengan cara apapun dan digunakan beberapa pulley bila diperlukan. 2.5.2 Macam-Macam Sabuk a. Open Belt Drive Digunakan dengan susunan poros secara parallel dan berputar dengan arah yang berlawanan.Biasanya komponen antar belt juga dapat terjadi gesekan. Untuk menghindari keausan yang berlebihan, posisi poros harus ditempatkan jarak maksimum satu sama lain.

Gambar 2.24 Open Belt Drive Sumber : http://chestofbooks.com/crafts/machinery/Shop-PracticeV2/Belting.html

b. Twist-belt Drive Menggunakan poros yang disusun secara paralel dan berputar ke arah yang sama. Ketika jarak antar poros yang dihubungkan sabuk

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

29

terpisah ckup jauh, salah satu kedudukan dari ke-2 poros tersebut harus lebih rendah dari poros lainnya.

Gambar 2.25 Twist-belt Drive Sumber : http://www.scribd.com/doc/37330018/Paper-Bantalan

c. Quarter-twist belt drive Menggunakan poros tegak lurus dengan putaran satu arah. Untuk mencegah sabuk bergerak keluar dari jalur pulley, maka lebar pulley harus cukup besar untuk mengatasi hal ini dan hanya dapat dipastikan setelah dilakukan proses uji coba.

Gambar 2.26 Quarter-twist belt drive Sumber : http://chestofbooks.com/crafts/machinery/Shop-PracticeV2/Quarter-Twist-Belt.html

d. Quarter-twist Belt Drive with Guide Pulleys Menggunakan poros tegak lurus ketika posisi pulley tidak dapat diatur sedemikian rupa.

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

30

Gambar 2.27 Quarter-twist Belt Drive with Guide Pulleys Sumber : http://www.old-engine.com/belts2.htm

e. Belt Drive with an Idler pulley Digunakan saat transmisi sabuk dengan jenis open belt drive tidak dapat digunakan karena panjang busur belt dan luasan kontak pada pulley ckup rendah (rasio kecepatan cukup tinggi dengan jarak antar pulley cukup dekat) atau ketika diperlukan regangan pada sabuk dimana dengan cara lain tidak dapat diperoleh hanya dengan cara penambahan Idler Pulley.

Gambar 2.28 Belt Drive with an Idler pulley Sumber : http://www.codecogs.com/reference/engineering/machines/belt_ and_rope_drives_brakes.php

f. Belt Drive with many Pulleys and Guide Pulleys Digunakan untuk mentransmisikan gerak/daya gerak dari satu poros yang disusun parallel.

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

31

Gambar 2.29 Belt Drive with many Pulleys and Guide Pulleys Sumber : http://www.molpir.sk/DIAVIA/bulletin/bulletin028.htm

2. Flat belts Jenis transmisi dengan menggunakan flat belt telah ditemukan aplikasinya dibeberapa meisn-mesin. Jenis transmisi ini dibedakan atas 3 jenis. Menurut USSR, jenis yang telah distandarisasi dan berdasarkan sistem produksi suatu belt dibedakan menjadi 4 tipe. Berikut ini bahanbahan pembuatan belt : a. Belt dengan bahan kulit (Leather belt) Jenis belt dengan bahan dasar kulit memiliki kapasitas daya tarik terbaik. Bagaimanapun pembuatan jenis belt ini memerlukan biaya produksi yang tinggi. Penggunaan jenis belt ini jarang digunakan dan hanya digunakan pada studi kasus tertentu saja. b. Belt dengan bahan karet (Rubber Belt) Jenis belt ini terdiri dari beberapa lapisan serat-serat yang kuat dan disatukan dengan karet serta melalui tahap vulkanisasi. Untuk mendapatkan fleksibiltas yang bagus, pelapis karet diletakkan diatara lapisan serat. Belt berbahan material karet dapat dioperasikan pada berbagai variasi macam pembebanan jika terdapat garpu sabuk (belt fork). c. Belt dengan bahan tenunan benang kapas (Wooven Cotton Belts) Belt ini terbuat dari kain tenunan/rajutan yang dimana benang yang akan ditenun berasal dari kapas. Biasanya didalamnya ditambahkan senyawa Ozocerite dan bitumen yang dapat berfungsi sebagai pelindung belt dari efek atmosfer, menigkatkan kekuatan
TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

32

dan mengurangi kerugian penyusutan dimensi disaat kondisi belt tanpa pembebanan. d. Belt dengan bahan tenunan wool (wooven woolen belt) Jenis belt ini terbuat dari wool yang dipintal menjadi benang yang kemudian ditenun/dirajut. Jenis belt ini dapat dikombinasikan dengan drying oil, crushed chalk, dan red ochre. e. Sebagai tambahan untuk 4 jenis standar tipe belt yang berbentuk/ memiliki profil datar yakni jenis Inter-stitched rubber, semi-linen dan sabuk sutra (silk belts) diproduksi untuk tujuan tertentu /khusus misalkan sebagai transmisi belt berkecepatan tinggi , mesin gerinda internal (internal grinding machines), dll. 3. V Belts

Gambar 2.30 V-Belt Sumber : Dobrovolsky (1979:224)

Berikut ini penjelasan secara terperinci tentang jenis-jenis belt di atas sebagai berikut : I. Belt dengan Inti Serat kain (Cord Fabric Belt) Belt jenis ini terdiri dari beberapa lapisan inti serat kain (a) pada bagian yang menerima tegangan tinggi, karet (b) pada bagian yang mengalami tekanan tinggi. Dan untuk bagian (c) terbuat dari serat karet. II. Belt dengan inti serat kabel/kawat (Cord wire Belt) Terdiri dari beberapa inti kawat yang sangat kuat (a) terletak pada bagian netral. Oleh karena itu tidak dibutuhkan sifat fleksibilitas belt, sebuah pengisi celah terbuat dari karet (rubber filler) dimana bersifat sangat elastic pada tekanan yang tinggi dan

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

33

tetap bersifat kaku ketika dalam kondisi tekanan tinggi , dan bagian (c) merupakan selubung luar. III. Belt dengan Inti kawat dan dilengkapi dengan gigi-gigi Berbeda dari jenis Simple-Cord wire belt bahwa di setiap gigi-gigi memiliki bagian yang bertekanan tinggi (dan kadangkala berupa tegangan tinggi). Untuk mencapai fleksibilitas terbesar yang secara khusus sangatlah penting aplikasinya pada pulley berdiameter kecil dan kecepatan operasinya cukup tinggi.

2.5.3 Dasar Pemilihan material untuk Belt Tabel 2.2 massa jenis dan material belt

Material yang digunakan untuk belt dan puli harus kuat, fleksibel dan tahan lama, harus juga mempunyai koefisien gesek yang tinggi. Belt menurut material yang digunakan dapat diklasifikasikan sesuai dengan yang terlihat pada tabel.

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

34

Diagram alir untuk memilih sabuk gilir

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

35

2.6 Rantai 2.6.1 Pengertian Rantai Suatu elemen mesin yang berfungsi untuk mentransmisikan gaya dari satu poros ke poros yang lain yang jaraknya sangat jauh dengan bantuan sprocket 2.6.2 Macam-macam rantai
a. Rantai Rol (Roller Chain)

Gambar 2.31 Rantai Rol Sumber : www.scribd.com/doc/47730081/Elemen-mesin-rantai Rantai rol sangat luas pemakaiannya Karena harganya yang relatif murah dan perawatan sertapemasangannya mudah. Contoh : pemakaian pada sprocket sepeda motor dan sepeda dan menggerakkan sprocket pada industri b. Rantai gigi (Silent chain)

Gambar 2.32 Rantai gigi Sumber : www.scribd.com/doc/47730081/Elemen-mesin-rantai
TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

36

Rantai jenis ini mempunyai keunggulan pada tingkat kecepatan dan kapasitas daya ditransmisikan lebih besar, serta tingkat kebisingan rendah, akan tetapi harganya lebih mahal. Pemakaian rantai ini masih terbatas karena harganya yang mahal dan orang lebih suka menggunakan transmisi roda gigi. 2.6.3 Keuntungan dan kerugian transmisi rantai dibanding sabuk Keuntungan 1. Selama beroperasi tidak terjadi slip sehingga diperoleh rasio kecepatan yang sempurna. 2. Karena rantai terbuat dari logam, maka ruang yang dibutuhkan lebih kecil daripada sabuk, dan dapat menghasilkan transmisi yang besar. 3. Memberikan efisiensi transmisi tinggi (sampai 98%) 4. Dapat dioperasikan pada suhu cukup tinggi maupun pada kondisi atmosfer Kerugian 1. Biaya produksi rantai lebih tinggi 2. Dibutuhkan pemeliharaan rantai dengan cermat dan akurat terutama pelumasan dan penyesuaian pada saat kendur 3. Rantai memiliki kecepatan fluktuasi terutama pada saat terlalu meregang

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

37

Diagram alir untuk memilih rantai rol
START 1. Daya yang ditranmisikan, P (kW), putaran poros, n1 (rpm). Perbandingan reduksi putaran i Jarak sumbu poros C (mm)

b

a
14. Faktor keamanan Sf


2. Faktor koreksi, fc

15

6 : Sf F :Fu

3.Daya rencana, Pd (kW)

<
16. penentuan nomor rantai

4. Momen rencana, T1, T2 (kg mm) 17. Panjang rantai (dalam jarak bagi) L, (mata rantai) L 18. Jarak sumbu poros 1 dalam jarak bagi Cp Jarak sumbu poros C (mm)

5. Bahan poros, perlakukan panas,

6. Diameter poros ds1, ds2 (mm)

7. Pemilihan sementara jumlah rangkaian, jarak bagi p (mm), dan nomor rantai Batas Kekuatan rata-rata FB (kg) Beban maksimum yang diizinkan Fu (kg) Jumlah gigi sproket kecil z1 8. Jumlah gigi sproket besar z2 Diameter jarak bagi sproket kecil dp (mm) Diameter jarak bagi sproket besar Dp (mm) Diameter luar sprocket kecil dk Diameter luar sproket besar Dk (mm) Diameter naf maksimum sproket kecil dBmax (mm), dan sproket besar DBmax

19. Cara pelumasan

20. Nomor Rantai. Jumlah rangkaian Panjang dalam mata rantai L Jumlah gigi sproket z1, z2 Diameter poros ds1, ds2 (mm) Jarak sumbu poros C (mm) Cara pelumasan pelumas

9. Pemeriksaan diameter naf, diameter poros dan bahan poros

STOP

10.Kecepatan Rantai v (m/s)

END

11. Daerah kecepatan rantai Ukuran luar maksimum Lmax (mm)

13. Beban rencana F (kg)

b

a

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

38

BAB III PEMBAHASAN

3.1. Data yang dikethui P = 5 kW = 5000/746 = 6,702 Hp

n1 = 1500 rpm n2 = 1000 rpm
3.2. Perhitungan a. Transmisi rantai 2 1. Daya Rancangan

n3 = 500 rpm n4 = 250 rpm

SF = 1,5 (transmisi beban berat, penggerak motor listrik) Pdes = 1,5 (6,702) = 10,053 Hp 2. Rasio Rasio = 1500 rpm / 1000 rpm = 1,5 3. Jarak Bagi Rantai (Dari table 7-5. Buku Robert L Mott) Rantai rol baris tunggal no. 40 dengan jarak bagi 0, 5 in Np = 17 dengan kapasitas daya 10,365 Hp pada 1500 rpm Pelumasan tipe B (celup minyak)

4. Jumlah gigi Sproket Besar N2 = N1 x Rasio = 17 x 1,5 = 25,5 = 25 gigi 5. Putaran output actual n2 = n1 (N1/N2) = 1500 (17/25) = 1020 rpm 6. Diameter Jarak Bagi

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

39

7. Jarak Sumbu Poros nominal = 40 x Jarak Bagi

8. Panjang rantai yang diperlukan berdasarkan kelipatan jarak bagi

9. Jumlah Utuh jarak bagi berdasarkan panjang utuh rantai dan jarak sumbu poros rantai sebenarnya [ √( ) ]

[

√(

)

]

10. Sudut Kontak rantai pada setiap sprocket Pada Sproket Kecil

-

Pada Sproket besar

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

40

b. Transmisi Roda Gigi Lurus Diketahui : Putaran sprocket 1 (n2) = 1020 rpm Daya Nominal dari Sproket besar = 10,365 x 98% = 10,157 Hp (rugi daya dari transmisi rantai sebesar 2 %, sumber : Machine elements. Dobrovolsky) Pd = 10 [sumber : Gambar 9.27. Robert L Mott] 20o full depth involute 1. Faktor beban lebih Ko) = 1,00 (penggerak seragam, mesin yang digerakkan seragam ; Tabel 9-5) Pdes = 1,00 x 10,157 = 10,157 Hp 2. Jumlah Gigi Pinion Np = 18 3. Velocity Ratio

4. Jumlah gigi gear pendekatan roda gigi besar Ng = Np . Vr = 18 . 2,04 = 36,72 gigi = 37 Gigi 5. Rasio kecepatan sebenarnya m = VR = Ng/Np = 37/18 = 2,056

6. Kecepatan Output Aktual

ng = np (Np/Ng) = 1020 (18/37) = 496,216 rpm
7. Diameter jarak bagi Dp = Np/Pd = 18/10 = 1,8 in
TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

41

Dg = Ng/Pd = 37/10 = 3.7 in - Jarak antar pusat C = (Np + Ng) / 2 Pd = (18 + 37) / 2.10 = 2,75 in - Kecepatan garis bagi

vt = π Dp np /12 = (3,14 . 1,8 . 18 ) /12 = 480,42 ft/menit
- Beban yang ditransmisikan

Wt = 33000.(P/ vt) = 33000.(10,157/ 480,42) = 697,68 lb
8. Lebar muka pinyon dan roda giginya Batas bawah Batas atas Nilai nominal = 8/Pd = 8/10 = 0,8 in = 16/Pd = 16/10 = 1,6 in = 12/Pd = 12/10 = 1,2 in

9. Angka Kualitas (Qv) dan faktor dinamis (Kv) Qv = 6 Kv = 1,246 [Tabel 9-2 . Robert L Mott]

10. Jenis Beban roda roda gigi Cp = 2300 (BAJA) 11. - Bentuk Gigi
Gigi –gigi 20o kedalaman penuh, involute

[Tabel 9-2 . Robert L Mott]

- Faktor-faktor geometri pelengkungan untuk pinion dan roda gigi
Jp = 0,330 Jg = 0,420

[Gambar 9-17 . Robert L Mott]

- Faktor geometri untuk ketahanan terhadap cacat muka
I = 0,092

[Gambar 9-23 . Robert L Mott]

12. Faktor ukuran distribusi beban (Km) F = 1,2 in Cpf = Cma =

-

Km = 1,0 + Cpf + Cma = 1,0 + 0,0417 + 0,267 = 1,308

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

42

13. Faktor Ukuran (Ks) Ks = 1,00 Pd = 10 14. Faktor Ketebalan Bingkai (KB) KB = 1,00 15. Faktor Layanan (SF) SF = 1,00 16. Faktor Rasio Kekerasan (CH) CH = 1,00 17. Faktor Keandalan (KR) KR = 1,00 18. Tetapkan Umur Rancangan Umur Rancangan = 3000 jam Ncp = (60) (3000 jam) (1020) (1) = 1,836 x 108 siklus Ncg = (60) (3000 jam) (500) (1) = 9 x 107 siklus Faktor Siklus tegangan untuk kelengkungan (YN) YNP = 0,92 YNG = 1,00 Ketahanan terhadap cacat muka (ZN) ZNP = 0,84 ZNG = 0,86 19. Tegangan Lengkung perkiraan dalam pinyon dan roda gigi [Gambar 9-24 . Robert L Mott] [Gambar 9-22 . Robert L Mott] [Tabel 9-8 . Robert L Mott] [Gambar 9-25 . Robert L Mott] [Hal.373 . Robert L Mott] [Gambar 9-20 . Robert L Mott] [Tabel 9-6 . Robert L Mott]

( ) 20. Tegangan Lengkung - Pinion

(

)

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

43

Stp >

- Roda Gigi Stg >

21. Tegangan Kontak Perkiraan dalam pinyon dan Roda gigi Pinion dan roda gigi √

√ = 173979 Psi

22. Tegangan Kontak - Pinion Sacp > - Roda Gigi Sacg > 23. Bahan untuk pinion dan roda gigi pasangannya yaitu baja karbon dan paduan AISI 1340 OQT 400 dengan kekerasan 578 HB Profil Roda Gigi 1. Diameter Lingkaran Jarak Bagi Pinion dan Roda Gigi Dp = Np/Pd = 18/10 = 1,8 in Dg = Ng/Pd = 37/10 = 3.7 in 2. Jarak Bagi Lingkaran Pinion dan Roda Gigi P = π . Dp / Np = π . 1,8 / 18 = 0,1 in P = π . Dg / Ng = π . 3,7 / 37 = 0,1 in
TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

44

3. Tinggi Kepala a = 1 / Pd = 1 / 10 = 0,1 in 4. Tinggi Kaki b = 1,25 / Pd = 1,25 / 10 = 0,125 in 5. Kelonggaran Kepala c = 0,25 / Pd = 0,25 / 10 = 0,025 in 6. Diameter Lingkaran Kepala Pinion dan Roda Gigi Dop = (Np+2) / (Pd) = (18+2)/10 = 2 in Dop = (Np+2) / (Pd) = (37+2)/10 = 3,9 in 7. Diameter Lingkaran Kaki Pinyon dan Roda gigi Drp = Dp – 2b = 1,8 – 2 (0,125) = 1,55 in Drg = Dg – 2b = 3,7 – 2 (0,125) = 3,45 in 8. Kedalaman Total ht = a + b = 0,1 + 0,125 = 0,225 in 9. Kedalaman Kerja hk = 2a = 2 (0,1) =0,2 10. Tebal Gigi t = π / 2 Pd = π / 2 (10) = 0,157 in 11. Jarak Pusat C = (Ng + Np) / 2 Pd = (18 + 37) / 2 . 10 = 2,75 in 12. Diameter lingkaran dasar Dbp = Dp cos θ = 1,8 cos 20o = 1,691 in Dbg = Dg cos θ = 3,7 cos 20o = 3,477 in c. Transmisi rantai 2 1. Daya Rancangan SF = 1,3 (transmisi sedang, penggerak motor listrik) Pdes = 1,3 (10,055) = 13,07 Hp 2. Rasio Rasio = 496,216 rpm / 250 rpm = 1,98

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

45

3. Jarak Bagi Rantai Rantai rol baris tunggal no. 60 dengan jarak bagi 0,75 in Np = 18 dengan kapasitas daya 13,23 Hp pada n3 =500 rpm Pelumasan tipe B

4. Jumlah gigi Sproket Besar N2 = N1 x Rasio = 18 x 1,98 = 35,64 = 36 gigi 5. Putaran output actual n2 = n1 (N1/N2) = 500 (18/36) = 250 rpm 6. Diameter Jarak Bagi

7. Jarak Sumbu Poros nominal = 40 x Jarak Bagi

8. Panjang rantai yang diperlukan berdasarkan kelipatan jarak bagi

9. Jumlah Utuh jarak bagi berdasarkan panjang utuh rantai dan jarak sumbu poros rantai sebenarnya [ √( ) ]

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

46

[

√(

)

]

10. Sudut Kontak rantai pada setiap sprocket Pada Sproket Kecil

-

Pada Sproket besar

d. Poros I Menghitung Torsi ( ) ( )

-

Gaya – gaya pada sprocket besar A ( ⁄ ) ( ⁄ )

-

Gaya- gaya pada Pinyon B ( ⁄ ) ( ⁄ )

-

Diagram bebas gaya geser dan momen lengkung pada poros I

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

47

ΣMDX = 0 0 = FAX . 15 – RCX . 10 + WrB . 5 0 = 211,6 . 15 – RCX . 10 + 170,75 . 5

ΣMCX = 0 0 = FAX . 5 - WrB . 5 + RCX . 10 0 = 211,6 . 5 - 170,75 . 5 + RDX . 10

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

48

ΣMDY = 0 0 = FAY . 15 – RCY . 10 + WtB . 5 0 = 0 . 15 – RCY . 10 + 469,14 . 5

ΣMCY = 0 0 = FAY . 5 – WtB . 5 + RDY . 10 0 = 0 . 5 – 469,14 . 5 + RDY . 10

-

Bahan poros I adalah Baja AISI 8740 OQT 700 dengan Su = 228 ksi dan Sy = 212 ksi. Sn = 65 ksi N=2

Cs = 0,85 (misal D = 1,2 ) Cr = 0,75 Sn’ = Sn . Cs . Cr = 65 . 0,85 . 0,75 = 41,437 ksi = 41437 Psi
TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

49

Diameter-Diameter Pada poros I Titik A

[

√ ( ⁄

) ]

[

√ (

) ]

-

Titik C T = 422,226 lb in √ Kt = 2,5 (fillet tajam) Sebelah kiri titik C = sebelah kanan titik C

[

√(

)

( ⁄

) ]

[

√(

)

(

) ]

-

Titik B (sebelah kiri titik B) √ Kt = 3,0

[

√(

)

(

) ]

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

50

sebelah kanan titik B = sebelah kiri titik B  Titik D √ √

[

√ ( ⁄

) ]

[

√ (

) ]

Sehingga Diameter pada poros I yaitu

e. Perhitungan poros II Menghitung Torsi ( ) ( )

-

Gaya – gaya pada sprocket kecil F ( ⁄ ) ( ⁄ )

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

51

-

Diagram bebas gaya geser dan momen lengkung pada poros II

ΣMGX = 0 0 = -WrE . 5 – RHX . 10 - FFx . 15 0 = -822,37 – RHX . 10 + 5805,55

ΣMHX = 0 0 = RGX . 10 + WrE . 5 - FFX . 5 0 = 10 . RDX + 822,37 – 1935,185

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

52

ΣMGY = 0 0 = -WrE . 5 – RHY . 10 – FFY . 5 0 = -2259,45 – RHY . 10 - 0

ΣMHY = 0 0 = RGY . 10 + WtE . 5 - FFY . 5 0 = RGY . 10 + 2259,45 - 0

-

Bahan poros II adalah Baja AISI 8740 OQT 700 dengan Su = 228 ksi dan Sy = 212 ksi. Sn = 65 ksi N=2

Cs = 0,85 (misal D = 3 )
TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

53

Cr = 0,75 Sn’ = Sn . Cs . Cr = 65 . 0,65 . 0,75 = 41,437 ksi = 41437 Psi Diameter-Diameter Pada poros II Titik G

[

√ ( ⁄

) ]

[

√ (

) ]

-

Titik E dan sebelah kanannya √ Kt = 2,5 (fillet tajam)

[

√(

)

( ⁄

) ]

[

√(

)

(

) ]

-

Titik H dan sebelah kanannya √ Kt = 2,5

[

√(

)

(

) ]

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

54

Titik F

[

√ ( ⁄

) ]

[

√ (

) ]

Sehingga Diameter pada poros II yaitu

f. Pasak Poros I Bahan Poros adalah AISI 8650 OQT 700 ; Sy = 222 ksi pasak yang digunakan pasak bujur sangkar DI = 1,2 in W = ¼ in H = ¼ in N =3

-

Poros II Bahan Poros adalah AISI 8650 OQT 700 ; Sy = 222 ksi pasak yang digunakan pasak bujur sangkar

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

55

DI = 3 in W = 3/4 in H = 3/4 in N =3

g. Bantalan (Bearing) Didesain hanya mengatasi beban radial Bearing C Beban radial = 403 lb factor putaran, V = 1 (cincin dalam yang berputar) n Poros = 1000 rpm ; k=3 (bantalan bola) dc = 1,09 in Umur rancangan bearing 30000 jam Perhitungan Pd = V.R = 1 .450= 450 lb Ld = 30000 Jam. 1000 rpm/menit . 60 menit/jam = 1,8 x 109 Putaran c = Pd (Ld/106)1/3 = 403 (1,8 x 109/106)1/3 = 4902 lb digunakan bearing : 6307 [Tabel 114.3 Robert L Mott] Bearing D Beban radial = 22 lb n Poros = 1000 rpm
TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

56

dD = 1,09 in Pd = V.R = 1 .22 = 22 lb Ld = 1,8 x 109 Putaran c = Pd (Ld/106)1/3 = 22 (1,8 x 109/106)1/3 = 267 lb digunakan bearing : 6200 [Tabel 114.3 Robert L Mott] - Bearing G Beban radial = 120 lb n Poros = 500 rpm dG = 0,411 in Pd = V.R = 1 .120 = 120 lb Ld = 1,8 x 109 Putaran c = Pd (Ld/106)1/3 = 120 (1,8 x 109/106)1/3 = 1459 lb digunakan bearing : 6301 [Tabel 114.3 Robert L Mott] Bearing H Beban radial = 665 lb n Poros = 250 rpm dH = 1,335 in Pd = V.R = 1 .665 = 665 lb Ld = 1,8 x 109 Putaran c = Pd (Ld/106)1/3 = 665 (1,8 x 109/106)1/3 = 8089 lb digunakan bearing : 6309 [Tabel 114.3 Robert L Mott]
TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

57

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Dari hasil perhitungan dan perencanaan transmisi pada bab sebelumnya, dapat diambil kesimpulan . 1. Motor Listrik Motor listrik yang digunakan dengan daya 6,702 Hr Putaran 1500 Rpm

2. Poros Bahan poros I : Baja AISI 8740 OQT 700 Bahan poros II : Baja AISI 8740 OQT 700

3. Pasak Jenis pasak I dan II pasak Bujur sangkar Panjang pasak I : 0,076 in Panjang pasak II : 0,02 in

4. Rantai I Diameter sprocket kecil =2,72 in Diameter sprocket besar = 3,99 in Panjang rantai : 101,04 x 0,5 = 50,52 in

5. Rantai II Diameter sprocket kecil : 4, 32 in Diameter sprocket besar : 8,60 in Panajng rantai = 107,2 x 0,75 in = 80,4 in

6. Roda Gigi Lurus Dp = 1,8 in : Dg = 3,7 in : Np = 18 Ng = 37

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

58

VR = 2,06 Bahan pinion dan roda gigi yaitu baja karbon dan paduan AISI 1340 OQT 400 dengan kekerasan 578 HB

7. Bantalan Bearing C menggunakan bearing nomer 6307 Bearing D menggunakan bearing nomer 6200 Bearing G menggunakan bearing nomer 6301 Bearing H menggunakan bearing nomer 6309

4.2 Saran 1. Sebaiknya asisten lebih meenerangkan tentang dasar-dasar perencanaan Elemen Mesin 2. Sebaiknya para Asisten elemen mesin memiliki ruang sendiri sehingga mudah dalam melakukan janjian ataupun konsultasi

TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II TEKNIK MESIN UNIVERSITAS BRAWIJAYA SEMESTER GANJIL 2012/2013

59