You are on page 1of 24

TUBERKULOSIS

RADIOLOGI
Rathi Vathani K. Mohammad Nafis S.M Muhammad Herdiono Hafizhan

27 Agustus 2013 RSUD Banyumas

DEFINISI

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang berkembang dari infeksi sistemik disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis complex. Proses terjadinya infeksi M.tuberculosis biasanya secara inhalasi, sehingga paru merupakan organ yang paling sering terkena dibanding organ lain, maka TB paru merupakan manifestasi klinis paling sering ditemukan.

ETIOLOGI

M.tuberculosis adalah sejenis bakteri tahan asam Berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4 /um dan tebal 0,3 – 0,6/um. Dalam jaringan, kuman hidup sebagai parasit interselluler yaitu di dalam sitoplasma makrofag. Bersifat dormant, pada kondisi ini kuman dapat bertahan hidup pada udara kering maupun dingin, suatu saat dapat aktif kembali. Bersifat aerob sehingga bagian paru dengan tekanan o2 tinggi (apikal) merupakan tempat predileksi.

PATOGENESIS

Inhalasi dan deposisi tuberkel basilus akan mendorong terjadinya salah satu dari empat berikut :
 Pembersihan

organisme dengan segera oleh

penjamu  Infeksi kronik atau laten  Perkembangan penyakit dengan cepat (infeksi primer)  Penyakit aktif beberapa tahun setelah infeksi (reaktivasi penyakit)

Infeksi primer :

Invasi M.tuberculosis ke alveoli reaksi infeksi Eksudasi fokus primer penyebaran ke limfonodi

Kompleks primer TB
◦ Kompleks Gohn ◦ Limfangitis ◦ Limfadenitis

TB sekunder terjadi karena imunitas menurun seperti malnutrisi, alkohol, penyakit maligna, diabetes, AIDS, gagal ginjal.
 Dimulai

dengan sarang dini di regio apikalposterior  Invasi ke daerah parenkim paru dan tidak ke nodus hiler paru  Dalam 3-10mgg sarang menjadi tuberkel (granuloma yang terdiri dari sel histiosit dan sel Datia-Langhans dikelilingi sel limfosit dan jaringan ikat)

GEJALA KLINIS
 Batuk-batuk

selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).  Low grade fever  Keringat malam  Serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.  Penurunan nafsu makan dan berat badan.  Perasaan tidak enak (malaise), lemah.

DIAGNOSIS TB

Beberapa metode diagnostik yang digunakan dalam penegakan diagnosis TB:
 Pemeriksaan  Darah

bakteriologi : BTA, Kultur

rutin  Uji tuberkulin  Pemeriksaan radiologis  Pemeriksaan khusus: BACTEC, PCR, Serologi

KLASIFIKASI TB

Klassifikasi TBC menurut American Thoracic Society Minimal lessions ( tingkat I )
  

Luas lesi tidak melebihi apex/costa 2 anterior Soliter dimana saja Tidak ada caverna Lesi inhomogen tidak melebihi 1 paru Bila ada caverna tidak melebihi 4 cm Lesi homogen tidak melebihi 1 lobus Luas daerah lebih dari tingkat II Caverna lebih dari 4 cm

Moderately advanced lessions ( tingkat II )
  

Far advanced lessions ( tingkat III )
 

RADIOLOGI

Pemeriksaan standar ialah foto toraks PA. Pemeriksaan lain atas indikasi: foto lateral, toplordotik, oblik, CT-Scan. Pada pemeriksaan foto toraks, tuberkulosis dapat memberi gambaran bermacammacam bentuk (multiform) Gambaran radiologi yang di curigai lesi TBC aktif - Bayangan berawan atau nodular di segmen apical dan posterior lobus atas paru dan segmen superior lobus bawah - Kavitas, terutama lebih dari satu di kelilingi bayangan berawan atau noduler - Bayangan bercak miler - Efusi pleura unilateral

Gambaran radiologik yang dicurigai lesi TB inaktif - Fibrotik - Kalsifikasi - Schwarte atau penebalan pleura

Destroyed Lung - Gambaran radiologi yang menunjukkan kerusakan jaringan paru yang berat, biasanya secara klinis disebut destroyed lung . - Gambaran radiologi luluh paru terdiri dari atelektasis, ektasis/ multikaviti dan fibrosis parenkim paru. - Sulit untuk menilai aktiviti lesi atau penyakit hanya berdasarkan gambaran radiologi tersebut.

Luas lesi yang tampak pada foto toraks untuk kepentingan pengobatan dapat dinyatakan sebagai berikut (terutama pada kasus BTA negatif) :

Lesi minimal , bila proses mengenai sebagian dari satu atau dua paru dengan luas tidak lebih dari sela iga 2 depan (volume paru yang terletak di atas chondrostemal junction dari iga kedua depan dan prosesus spinosus dari vertebra torakalis 4 atau korpus vertebra torakalis 5), serta tidak dijumpai kaviti Lesi luas bila proses lebih luas dari lesi minimal.

GAMBARAN RADIOLOGI

TB primer

Konsolidasi pneumonik perifer (focus ghon) dengan pembesaran lnn hillus,biasa sembuh dg gambaran kalsifikasi Konsolidasi biasanya berukuran kecil

TB Post Primer Tenang :  bintik kalsifikasi ( densitas radioopaque )  garis fibrosis, dapat sebabkan retraksi  hilus / trachea

Aktif :  bercak infiltrat halus / kasar, berawan  tipis / padat, perselubungan : homogen, inhomogen  cavitas

-prominent paratracheal area lymphadenopathy on the right -cavitary opacity on right upper lobe -focal consolidation middle lung zone on right

Pulmonary Tuberculosis with Air fluid Level

TB PRIMER 1. Opacitas lob sup dextra, pembesaran lnn hilar dan paratracheal dextra 2. Kalsifikasi granuloma perifer, kalsifikasi limfonodi hilus

TB POST PRIMER

- Konsolidasi lobus kanan atas

TB MILIER 1. Opacitas lob sup dextra, pembesaran lnn hilar dan paratracheal dextra 2. Kalsifikasi granuloma perifer, kalsifikasi limfonodi hilus

CASE PRESENTATION

Identitas Pasien
 Nama
 Umur  Agama

 Alamat
 HMRS

: Tn. S : 43 tahun : Islam : Banjar Negara : 17/08/2013

Anamnesis:  Pasien datang ke IGD dengan keluhan sesak nafas dan panas. Pasien mengeluh sesak (+), dada sebelah kiri terasa berat dan nyeri (+) dan keluhan sudah dirasakan 1miggu SMRS.  Pasien merupakan penderita HIV-AIDS Std IV

Pemeriksaan Fisik:
 Kep
 Leher  Dada
 Paru

: CA(-/-) SI(-/-) : Lnn ttb, JVP Normal : Sim (+), KG (-)
: S1-2 reguler, bising(-), HR:74 : Vesikuler (+/+), Rh/Wh (-/-)

 Jantung

 Abd

: supel, distensi (-), BU (+)N, timpani  Ekstrimitas: edema (-)

Hasil Pemeriksaan Radiologi: 1. TB Paru 2. Cor normal

Ass: - B20 Std IV - TB Paru Tx: - Inf RL 40-50 tpm - Nystatin drop 4x4cc - Inj Zibac 1gr/12jam - PCT (k/p) - Cotrimoxazole 1x480mg