You are on page 1of 7

Laporan Awal Praktikum Metalografi

Pengujian Metalografi

Nama : Reza kurnia

NPM : 060607305

Teknik Mesin

Kelompok : 13

Departemen Teknik Metalurgi & Material

Fakultas Teknik Universitas Indonesia

Depok 2007
Modul II

Pengujian Metalografi

Tujuan Pengujian

Untuk mempelajari struktur logam maupun material lainnya dengan bantuan


mikroskop optik

Teori Dasar

Metalografi merupakan disiplin ilmu yang mempelajari karakteristik


mikrostruktur suatu logam, paduan logam dan material lainnya serta hubungannya
dengan sifat-sifat material tersebut. Ada beberapa metode yang dipakai, yaitu :
,ikroskopik (optik maupun elektron), difraksi (sinar-X, elektron dan neutron),
analisis(X-ray fluorense, electron microprobe) dan juga metalografi stereometri.
Pada praktikum metalografi ini digunakan metode mikroskop. Pengamatan
metalografi dengan mikroskop umumnya dibagi menjadi dua, yaitu :

1. Metalografi makro

Yaitu pengamatan struktur dengan perbesaran 10 – 100 kali

2. Metalografi mikro

Yaitu pengamatan struktur dengan perbesaran di atas 100 kali

Sebelum dilakukan pengamatan mikrostruktur dengan mikroskop maka diperlukan


preparasi sampel

Tahapan kerja preparasi sampel :

1) Penentuan Wilayah Kerja Sampel


Dalam pemotongan dan pengambilan sampel, perlu diperhatikan wilayah
daerah kerja sampel yang akan diamati yang biasanya disebut sebagai bidang
orientasi dasar, yaitu :

a. bidang transversal : tegak lurus terhadap arah sumbu deformasi panas

b. bidang planar : sejajar dengan sumbu pengerjaan dan memiliki luas


permukaan yang paling besar dan yang paling sering bersinggungan
dengan rol

c. bidang longitudinal : tegak lurus terhadap bidaqng planar dan sejajar


dengan arah pengerjaan

2) Pemotongan sample

Teknik pemotobgan sampel dapat dilakukan dengan :

a. pematahan : untuk bahan getas dank eras

b. pengguntingan : untuk baja karbon rendah yang tipis dan lunak

c. penggergajian : untuk bahan yang lebih lunak dari 350 HB

d. pemotongan abrasi

e. electric discharge machining : untuk bahan dengan konduktivitas baik di


mana sampel direndam dalam fluida dielektrik lebih dahulu sebelum
dipotong dengan memasang catu listrik antara elektroda dan sampel

3) Pemasangan sampel (monting)

Prosedur mounting dilakukan apabila sampel terlalu kecil, bentuk tak


beraturan, sangat lunak, mudah pecah dan berongga. Caranya adalah
dengan meletakkan sampel ke dalam cetakan mounting, lalu memasukkan
resin yang telah dicampur denga hardener. Larutan mounting harus
memiliki sifat :

a. tak bereaksi dengan sampel


b. kekentalannnya sedang dalam bentuk cair dan bebas udara pada bentuk
padatnya

c. adhesi yang baik dengan sampel

d. kekuatan dan tahanan yang sama besar dengan sampel

e. kemampuan susut yang rendah

Permukaansampel yang akan diuji harus ada di bagian bawah. Setelah


dibiarkan selama 25 menit maka bahan mounting telah siap dan sampel telah
siap dipreparasi dengan langkah berikutnya.

4) Pengamplasan

Pengamplasan bertujuan untuk meratakan dan menghjluskan permukaan


sampel yang akan diamati. Pengamplasan ini dilakukan secara berurutan
yaitu denga memakai amplas kasar hingga amplas halus (no # tinggi).
Pengamplasan kasar dilakukan dengan menggunakan amplas dengan nomor
di bawah 180 #, sedangkan pengamplasan halus menggunakan amplas
dengan nomor lebih tinggi dari 180 #. Pengamplasan dimulai dengan
meletakkan sampel pada kertas amplas dengan permukaan yang akan
diamati bersentuhan langsung dengan bagian kertas amplas yang kasar,
kemudian sampel ditekan dengan gerakan searah. Selama pengamplasan
terjadi gesekan antara permukaan sampel dan kertas amplas yang
memungkinkan terjadinya kenaikan suhu yang dapat mempengaruhi
mikrostruktur sampel sehingga diperlukan pendinginan dengan cara
mengaliri air. Apabila ingin mengganti arah pengamplasan, sampel
diusahakan berada pada kedudukan tegak lurus terhadap arah mula-mula.
Pengamplasan selesai apabila tidak teramati lagi adanya goresan-goresan
pada permukaan sampel, selanjutnya sampel siap dipoles.

5) Pemolesan

Pemolesan bertujuan untuk lebih menghaluskan dan melicinkan permukaan


sampel yang akan diamati setelah pengamplasan. Seperti halnya
pengamplasan, pemolesan dibagi dua yaitu pemolesan kasar dan halus.
Pemolesan kasar menggunakan abrasive dalam range sekitar 30 - 3µm,
sedangkan pemolesan halus menggunakan abrasive sekitar 1µm atau di
bawahnya. Sebelum pemolesan dilakukan, sampel terlebih dulu dibersihkan
dengan air. Pemolesan dimulai dengan menyalakan mesin poles pada
kecepatan sedang. Bagian permukaan sampel yang akan diuji ditekan ke
mesin poles sambil dialiri air. Sampel digerakkan secara radial dengan
bagian permukaan sampel yang telah dipoles harus dilihatb secara berkala.
Berikutnya dilakukan pemolesan halus denga cara yang sama seperti di atas
tetapi dengan mengganti air dengan autosol.

6) Etsa / Ecthing

Dilakukan dengan mengkikis daerah batas butir sehingga struktur bahan


dapat diamati dengan jelas dengan bantuan mikroskop optik. Zat etsa
bereaksi dengan sampel secara kimia pada laju reaksi yang berbeda
tergantung pada batas butir, kedalaman butir dan komposisi dari sampel.
Sampel yang akan dietsa haruslah bersih dan kering. Slema etsa, permukaan
sampel diusahakan harus selalu terendam dalam etsa. Waktu etsa harus
diperkirakan sedemikian sehingga permukaan sampel yang dietsa tidak
menjadi gosong karena pengikisan yang terlalu lama. Oleh karena itu
sebelum dietsa, sampel sebaiknya diolesi alkohol untuk memperlambat
reaksi. Pada pengetsaan masing-masing zat etsa yang digunakan memiliki
karakteristik tersendiri sehingga pemilihannya disesuaikan dengan sampel
yang akan diamati. Zat etsa yang umum digunakan untuk baja ialah nital
dan picral. Setelah reaksi etsa selesai, zat etsa dihilangkan dengan cara
mencelupkan sampel ke dalam aliran air panas. Seandainya tidak
memungkinkan dapat digunakan air bersuhu ruang dan dilanjutkan dengan
pengeringan dengan alat pengering. Permukaan sampel yang telah dietsa
tidak boleh disentuh untuk mencegah permukaan menjadi kusam. Stelah
dietsa, sampel siap untuk diperiksa di bawah mikroskop.
Metodologi Penelitian

1. Alat dan bahan :

 sampel  zat etsa

 amplas  autosol

 mikroskop optik  abrasive

 zat etsa  resin

 alkohol

2. Prosedur Percobaan :

a. penentuan wilayah kerja sampel

b. pemotongan sampel

c. mounting

d. pengamplasan

e. pemolesan

f. ecthing

g. pengamatan dengan mikroskopoptik

h. selesai

Flow Chart

Penentuan wilayah kerja sampel


Pemotongan sampel

mounting

pengamplasan

pemolesan

ecthing

Pengamatan dengan mikroskop

selesai