1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pop culture atau budaya populer memang selalu menarik untuk dikaji. Bagaimana tidak, jika ditelaah dengan pengamatan yang mendalam, keberadaan budaya populer bisa jadi merupakan refleksi dari keberadaan peradaban manusia itu sendiri, pada waktu itu. Dalam artian, jika ingin melihat fenomena yang sedang terjadi cukup amati melalui budaya yang tengah berkembang. Namun di lain pihak, keberadaan budaya populer sering dianggap sebagai sebuah kewajaran. Maksudnya, apapun fenomena yang tengah berlaku dalam masyarakat cenderung dianggap hanya sebagai dampak dari perkembangan masa. Jika diamati lebih dalam, segala bentuk perkembangan dapat saja dikategorikan sebagai budaya populer. Perkembangan dalam hal berbelanja, misalnya, merupakan salah satu contoh yang paling dekat. Yang menarik dari kasus ini adalah bahwa ternyata shopping dinilai sebagai hal yang dianggap dekat dengan remaja, dan disisi lain, remaja merupakan suatu bahasan yang selalu mengundang ransangan untuk selalu ditelaah. Shopping dengan sistem online merupakan salah satu gaya hidup atau populer culture yang mulai digandrungi sekarang. Sejak perkembangan internet meningkat, sebagian besar aktivitas dilakukan dengan lebih instan. Belanja pun lebih praktis. Konsumen tinggal pesan, transfer dan barang pun sampai di rumah. Tak jarang, harga barang di toko online lebih murah daripada

Seiring dengan terjadinya perubahan perekonomian dan globalisasi. Konsumsi merupakan cerminan aksi yang tampak. dan juga mengingkari tantangan intelektual. sehingga orang yang konsumtif dapat dikatakan tidak lagi mempertimbangkan fungsi atau kegunaan ketika membeli barang akan tetapi menimbangkan prestise yang melekat pada barang tersebut. sehingga menyebabkan seseorang menjadi boros yang dikenal dengan istilah prilaku konsumtif. 2008:28) mengatakan bila konsumsi merupakan sebuah tindakan (an act). sehingga cenderung membungkam suara yang bertentangan karena ini merupakan sebuah kebudayaan yang melemahkan semangat dan membuat pasif. Murahnya harga inilah yang juga menjadi alasan membeludaknya belanja online. Pembeli tidak perlu lagi bermacet-macet di jalan dan antre di mall.2 toko offline. Prilaku membeli yang tidak sesuai dengan kebutuhan dilakukan semata-mata demi kesenangan. Baudrillard (dalam Soedjatmiko. Hal ini dikarenakan toko online tidak memerlukan biaya operasional yang besar. Budaya populer atau budaya massa juga mendukung komersialisme dan mengagungkan konsumerisme. konsumerisme merupakan sebuah cara hidup (a way of life). dibarengi dengan kelebihan keuntungan dan pasar. terjadi perubahan dalam prilaku membeli pada masyarakat. dimana terkadang seseorang membeli sesuatu bukan didasarkan pada kebutuhan sebenarnya. Dengan demikian. sedangkan konsumerisme . Konsumtivisme merupakan paham untuk hidup secara konsumtif. Shopping online akan menjadi gaya hidup dan cara belanja modern karena menghemat uang dan waktu.

dan manusia lebih mementingkan faktor keinginan daripada kebutuhan. Selain itu. kepercayaan atau kelompok sosial. politik dan teknologi global dengan mencari ruang gerak tekstual di antaranya. Definisi dari popular atau populer adalah diterima oleh banyak orang. Dalam era konsumerisme perlombaan untuk memperebutkan citra (konsumsi dan simbol-simbol) menjadi sebuah parade dan menu sehari-hari masyarakat modern. Kajian budaya mengatasi rasa ketidakberdayaan dalam menghadapi kekuatan-kekuatan pasar. Membicarakan tentang hal ini. . merupakan produk industrialisasi. sebab ada sebuah keyakinan bahwa dengan memiliki dan memakai atau mengkonsumsi suatu benda merupakan suatu proses untuk mengidentifikasikan diri sendiri sebagai bentuk pembeda dengan orang lain. kepercayaan serta kebiasaan yang tergantung kepada kemampuan manusia untuk belajar dan menyebarkannya ke generasi selanjutnya. tak terlepas dari campur tangan industri yang membesarkan pengaruh musikalitas dan yang menjadi gaya hidup saat ini. budaya juga dapat diartikan sebagai kebiasaan dari kepercayaan. Secara umum batasan konsumtivisme yaitu kecenderungan manusia untuk menggunakan konsumsi tanpa batas. disukai atau disetujui oleh masyarakat banyak. yakni budaya yang terbentuk. kajian budaya merangkulnya dan melihatnya sebagai ekspresi positif “orang kebanyakan” untuk bertahan.3 lebih terkait dengan motivasi yang terkandung di dalamnya. Budaya Populer. tatanan sosial dan kebiasaan dari kelompok ras. Sedangkan definisi budaya adalah satu pola yang merupakan kesatuan dari pengetahuan.

sebab ia menggunakan sejumlah tanda atau simbol sebagai mediumnya. bagaimanapun juga gaya hidup seseorang merupakan usaha untuk menghadirkan makna identitas diri yang dihadirkan lewat simbol-simbol tertentu seperti barang yang dikenakan. Akan tetapi. Apakah itu pakaian. Pada mulanya belanja hanya merupakan suatu konsep yang menunjukkan suatu sikap untuk mendapatkan barang-barang sebagai keperluan sehari-hari dengan jalan menukarkan sejumlah uang sebagai pengganti barang tersebut.4 Secara sederhana. pemanfaatan waktu luang dan hal lainnya. makna hanya disimpulkan dalam simbol. musik. yang ingin selalu tampil berbeda di kampus mereka masing-masing. Banyak mahasiswa yang menggunakan kampus sebagai ajang untuk tampil beda bukan hanya untuk mencari ilmu. 2006: 177) bahwa semua makna budaya diciptakan dengan menggunakan simbol-simbol. Belanja merupakan suatu gaya hidup tersendiri. konsep belanja itu sendiri telah berkembang sebagai sebuah cerminan gaya hidup dan rekreasi di kalangan masyarakat. juga merupakan proses komunikasi. film. . makanan. yang bahkan menjadi suatu kegemaran bagi sejumlah orang. Hal ini lagi ditegaskan lagi oleh Spradley dan Geertz (dalam Sobur. Hal ini dapat terlihat dari gaya hidup mahasiswa sekarang. semuanya termasuk dalam bagian dari kebudayaan populer. Oleh karenanya gaya hidup haruslah dilihat sebagai suatu proses komunikasi dalam interaksi sosial masyarakat. budaya populer-lebih sering disebut dengan budaya popadalah apapun yang terjadi di sekeliling kita setiap harinya. Definisi gaya hidup di atas secara tidak langsung mengungkapkan bahwa gaya hidup sebagai sub kultur.

terkadang harus meminta uang tambahan lagi. internet. cetak bahkan yang sekarang lebih populer yaitu media online. majalah. Ketertarikan dalam hal berbelanja oleh mahasiwa tak jarang dipicu karena mudahnya mereka mendapatkan uang. dan sebagainya. seseorang dapat memiliki gaya tersendiri karena memiliki kiblat atau patokan style dari seseorang lainnya dalam hal ini terkait dengan media. Karena tanpa disadari setiap harinya seseorang dapat dikuasai oleh media. Hal ini juga didukung dengan kemasan produk yang menarik. Kebiasaan ini dapat terlihat tidak hanya dari kalangan mahasiswa sebetulnya tetapi kebiasaan ini banyak dilakukan oleh kaum wanita pada umumnya baik dari golongan remaja maupun golongan dewasa. baik itu media elektronik. Mereka tertarik oleh diskon yang ditawarkan oleh para produsen.5 Pada saat ini kita sering melihat para mahasiswa kerap kali berbelanja secara berlebihan tanpa memikirkan masalah financial sedikit pun. saat mereka berbelanja banyak pengeluaran yang tidak masuk akal akibat korban dari media seperti : televisi. Keadaan ekonomi orang tua mereka masing-masing yang terbilang tajir atau dalam arti tercukupi dalam segala hal membuat para anak mereka mendapatkan uang dengan mudah. terlihat dari gaya hidup dari Informan yang rata-rata menggunakan kendaraan priadi ketika berada di kampus. Ini dapat terlihat oleh para informan-informan peneliti yang rata-rata sebulan dapat menerima uang paling sedikit dua juta rupiah untuk keperluan pribadi mereka. Selain itu. Gaya hidup yang semacam ini terbentuk oleh adanya media. Sering kita lihat. hal itu pun belum tentu cukup untuk mereka. .

baju. Kedua jejaring sosial ini selain bermanfaat sebagai akun pertemanan. Selain itu internet memang memiliki keunggulan sebagai alat dan tujuan bisnis yang sekaligus memiliki daya jangkau pasar hingga ke seluruh dunia. celana. asesoris. make-up. serta barang-barang elektronik seperti handphone. Melihat gaya hidup mahasiswa sekarang.6 Zaman sekarang internet sudah menjadi gaya hidup. parfum. kaum wanita sering berbelanja di luar kebutuhannya dan hanya mementingkan kepuasan semata. juga dimanfaatkan sebagai media pemasaran. dilihat dari tampilan dan dandanan mahasiswa sekarang yang selalu memperhatikan gaya busananya ketika bepergian di kampus. mereka selalu up-to-date mengenai barang-barang teknologi. sepatu. Hampir semua jenis kebutuhan tersedia di toko online shop. dan masih banyak lagi. Internet merupakan kebutuhan banyak orang karena dengan internet kita bisa mengakses dan menemukan segala macam informasi sampai ke seluruh dunia. Salah satu layanan di internet yang sekarang diperbincangkan masyarakat umum adalah facebook dan twitter. Menurut mereka barangbarang berteknologi sudah mendarah daging dengan mereka. Selain itu. Internet tidak dapat dipisahkan dari kehidupan karena internet sekarang bukan hanya sebagai trend tetapi merupakan kebutuhan. seperti yang berhubungan dengan fashion. Contohnya saja mahasiswa tidak bisa lepas dari yang namanya gadget (alat-alat elekronik yang modern). Belum lagi keseharian. dengan mengeluarkan uang secara tidak logis. Tak jarang mahasiswa menyiapkan budget khusus untuk keperluan dalam hal berbelanja. laptop. . kemudian buku.

berdandan. tetapi bagi mereka fashion juga tidak kalah pentingnya. apa yang dikenakan. Mereka tidak mau kalah dengan teman-temannya. Ketika di kemudian hari diri sudah tidak memenuhi kriteria populer. Setiap ada model baru. Selain mereka menuntut ilmu di kampus. Terbukti sekarang mahasiswa memiliki salah satu gaya hidup modern yaitu konsumerisme yang mengacu pada apa yang dimakan. Namun hanya untuk memenuhi hasrat yang timbul akibat propaganda media. perasaan butuh untuk kembali memenuhi kriteria populer bisa muncul. apa yang dilakukan untuk menghabiskan waktu. Maka kebudayaan populer bisa jadi sangat dangkal.7 Mereka ingin selalu kelihatan beda dengan teman-teman lainnya dari cara mereka berpakaian. bahkan bisa dibilang gaya hidup kelas atas. menjadi populer saat itu. dipertontonkan. kebanyakan mahasiswa selalu cepat-cepat ingin membeli pakaian tersebut. Orang menerapkannya tidak lagi berdasarkan kesadaran penuh hasil dari proses berpikir yang panjang. Mereka tidak lagi memperdulikan berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk berbelanja. Gaya hidup mahasiswa adalah gaya hidup kelas menegah. . yang dicirikan dengan kemampuan mengkonsumsi produk dan gaya hidup modern. dan lain-lainnya. Di antara mahasiswa satu dengan yang lainya saling berlomba-lomba untuk berpenampilan semenarik mungkin. Pakaian yang mereka gunakan di kampus biasanya merupakan pakaian modern keluaran baru. Konsumerisme terjadi hanya untuk kesenangan sesaat.

ekonomi dan hukum yang cenderung lebih terlihat mewah dan trendy ketika berada di kampus. selain itu peneliti dapat lebih mudah menemukan informan berdasarkan informasi dari teman keteman dan tidak lebih canggung melakaukan wawancara karena berada dalam satu lingkunagan kampus. Akhirnya berbelanja juga dianggap sebagai sebuah pekerjaan. dikarenakan. dan intensitas ketemu dengan informan lebih banyak. karena menurut mitos orang kebanyakan. penempilan atau gaya hidup mahasiswa kedokteran. penulis berada dilingkungan kampus tersebut. Penulis melakukan penelitian di Universitas Hasanuddin Makassar. dan image manusia modern dan tidak ketinggalan zaman). Shopping secara tidak sadar membentuk impian dan kesadaran semu para konsumer dan akhirnya melahirkan pola-pola konsumerisme yang tidak akan ada habisnya. Dari sinilah keunikan seorang mahasiswa.8 Konsumerisme demikian menunjukan identitas diri yang dicirikan atau disimbolkan oleh atribut-atribut tertentu. mahasiswa yang sejogyanya berbelanja buku-buku demi menunjang pelajarannya berbalik lebih memusatkan berbelanja yang berkaitan dengan penampilan mereka semata atau dengan kata lain lebih fashionable dan meninggalkan citranya sebagai kaum terpelajar. Selain itu penelitian berpusat pada empat fakultas di Universitas Hasanuddin Makassar. . sebuah aktivitas sosial dan suatu saat menjadi kompetisi untuk diri sendiri (memutuskan membeli atau tidak) juga terlebih untuk kompetisi pada teman dan anggota masyarakat yang lain (sebagai simbol status. sospol. gengsi.

Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. peneliti memfokuskan penelitian pada mahasiswa Universitas Hasanuddin Makassar mengenai : Budaya Shopping Online (Analisis Gaya Hidup Mahasiswa Universitas Hasanuddin Makassar) B. Kegunaan Penelitian . Apa makna dari “budaya shopping online” terhadap mahasiswa Unhas sehingga mempengaruhi gaya hidup? 2. Faktor-faktor apa yang melatarbelakangi Mahasiswa Unhas sehingga melakukan shopping online sebagai suatu gaya hidup? C. b.9 Berdasarkan uraian diatas. Tujuan Penelitian Pada dasarnya penelitian ini bertujuan untuk menemukan jawaban atas masalah-masalah yang telah dikemukakan diatas. Untuk mengetahui interpretasi makna shopping online dalam pandangan mahasiswa sebagai suatu gaya hidup yang sedang populer di kalangan mereka. maka secara spesifik masalah dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: a. 2. Rumusan Masalah Dari latar belakang diatas. Untuk mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi mahasiswa Unhas sehingga memilih berbelanja secara online.

Budaya ini sangat subjektif yang sangat didominasi oleh creator dan imajinater yang setiap saat mencurahkan pemikiran mereka dalam tiga hal secara terpisah. Kerangka Konseptual Salah satu ciri masyarakat adalah menciptakan kebudayaan. Kedua.10 Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai berikut: a. kelompok yang senangtiasa bekerja untuk menciptakan mesin-mesin teknologi informasi yang lebih canggih dan realitas. Kegunaan Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam memahami kebudayaan masyarakat kontenporer lewat pola interaksi sosialnya. . kelompok yang setiap saat menggunakan mesin-mesin imajinasi yang menakjubkan dalam dunia hiper-realitas. Kegunaan Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribudi bagi perkembangan teori dalam ilmu komunikasi khususnya studi mengenai kebudayaan masyarakat kontenporer dan penerapan analisis semiotika komunikasi. Pertama. kebudayaan yang dikembangkan adalah budaya-budaya pencitraan dan makna yang setiap saat dipertukarkan dalam ruang interaksi simbolis. b. dan ketiga. D. Dalam masyarakat maya. masyarakat yang setiap hari menggunakan mesin-mesin dan karya-karya imajinasi itu sebagai dari bagian dari kehidupan.

menjadi gaya. Katakanlah sekarang merk-merk global semacam Gianni Versace. Sementara. 2011) menunjukkkan gaya hidup ini tidak lagi masuk pada wilayah kelompok tertentu saja. Di dalamnya terkandung sifat. bahwa pencinta gaya ini ada serta menandai identitas kelompok pecinta gaya yang muncul sebagai akibat dukungan media dan berbebtuk atas dasar dibuat-buat ada. dan lain-lain. Sementara Giddens (dalam. ketika orang mengingat merk-merk tersebut asosiasi orang langsung tertuju pada simbol kecantikan dan kemewahan.11 Gaya hidup sering dihubungkan dengan kelas sosial ekonomi dan menunjukkan citra seseorang. kenso. makna. merk bukanlah sekedar nama. sebab logika signifikasi itulah yang terpenting. menurut Baudrillard dalam Sobur (2006:172) saat ini kita hidup dalam masyarakat yang tidak lagi mendewakan logika produksi. yang tadinya hanya untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Gaya hidup yang ditunjukkan dalam variasi keputusan citra rasanya. kata Baudrillard telah bergeser dari fase perkembangan kapitalisme dimana bentuk-bentuk komoditas . Masyarakat seolah-olah dibuat butuh oleh kapitalisme untuk mengikuti pola konsumsi suatu benda atau jasa. Gucci. menjadi bagian dari keseharian yang menjadi tanda. Faham idiologis gaya hidup telah menggantikan nilainilai cultural. Dalam hal merk. arti dan isi dari produk bersangkutan. Bahkan dalam perkembangan lebih lanjut merk akan menandai simbol dan status dari produk tersebut. tetapi hampir pada semua lini kehidupan. Para pemakai merk tersebut juga jelas statusnya: kaum berduit yang berselera tinggi. Jusmani. Individu.

sebagai kegunaan materi. Tetapi dalam tulisan ini. yaitu sebuah pesan. sebuah bentuk. Berbicara mengenai mitos.12 bersifat dominan ke fase kelaziman-kelaziman bentuk tanda. Kerangka Konseptual . Dari penjelasan diatas maka berikut ini adalah bagan mengenai kerangka konseptual: Shopping Online Makna Shopping berdasarkan Informan Faktor-faktor yang melatarbelakangi shopping Mitos Prilaku Konsumtif Gambar 1. sebagai signifikasi. salah satu jenis tuturan. Selalu ada kaitannya dengan hal-hal yang mistis menurut orang tua dulu. yang dlakukan melalui wacana. Dengan demikian konsumsi harus dipahami tidak dalam hubungannya dengan nilai guna. berarti berbicara mengenai sesuatu yang unik. mitos merupakan sebuah sistem komunikasi.2010:179) menulis . namun terutama kaitannya dengan nilai tanda. Mitos tidak dapat didefinisikan oleh objek pesannya. tapi oleh cara pengungkapan pesan itu. suatu cara penandaan. Barthes (dalam Strinati.

Fakultas Hukum. Tempat dan Waktu Tempat penelitian dilakukan di Universitas Hasanuddin Makassar.13 E.  Shopping online adalah kegiatan pembelian suatu barang dengan memanfaatkan teknologi dengan medium internet. F. Metode Penelitian 1. maka penulis akan menguraikan pengertian kedalam definisi operasional sebagai berikut:  Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan di wariskan dari generasi ke generasi berikutnya.  Konsumerisme adalah suatu sikap atau pola pikir atau tindakan seseorang dalam membeli barang bukan karena ia membutuhkan barang itu. dengan pemilihan fakultas: Fakultas Sospol. Fakultas Ekonomi. Definisi Operasional Untuk mengetahui dan memberi pemahaman yang lebih jelas. dan Fakultas Kedokteran .  Gaya hidup adalah pola-pola tindakan yang membedakan seseorang dengan orang lain dalam aspek kehidupan sehari-hari.  Mitos adalah Anggapan-anggapan atas pemikiran informan terhadap makna shopping yang dipaparkannya. melainkan karena tindakan membeli itu sendiri memberikan kepuasan kepadanya.

Tipe Penelitian Penelitian ini menggunakan tipe kualitatif deskriptif. Bentuk penelitian ini pada dasarnya menggali aspek-aspek kualitatif dari data yang ditemukan. Selain itu juga menggunakan teknik sampel bola salju (snowball sampling) yaitu teknik penentuan sampel yang mula-mula . selain itu ke empat fakultas tersebut mahasiswinya lebih menonjol dalam hal berbusana ketimbang fakultas-fakultas lainnya. mahasiswa ke empat fakultas tersebut kebanyakan memiliki penampilan fashion yang modis ketika berada di kampus. Teknik Menentukan Informan Penentuan informan dilakukan dengan cara mengamati bahwa: Frekuensi pembelian barang-barang secara online. 3. Dan juga penulis mengamati bahwa rata-rata di fakultas ini mahasiswanya memiliki gaya hidup yang tercukupi artinya bahwa kebutuhan mereka dapat terpenuhi dengan mudah oleh orang tuanya. 2. Oleh karena itu hasil penelitian ini akan membentuk uraian-uraian kualitatif sebagai upaya untuk mencari jawaban dari objek permasalahan (budaya shopping online). untuk selanjutnya dianalisis.14 Penentuan lokasi ini dilakukan karena menurut pengamatan penulis. yang berkisar 1-3 kali dalam sebulan. seperti mahasiswanya rata-rata memiliki kendaraan pribadi ketika ke kampus dan barang-barang yang sedang laku. Sedangkan waktu penelitian dilakukan selama periode Maret 2011 sampai Mei 2011.

Koran. sehingga diharapkan mampu untuk mengungkap apa makna aktivitas yang mereka lakukan. 4. Interview atau wawancara yaitu mengajukan pertanyaan kepada pelaku-pelaku yang sering melakukan belanja online. . Teknik Analisis Data Data yang didapatkan dari keterangan para informan selanjutnya akan dianalisis secara kualitatif untuk menguraikan makna budaya shopping online. dan lainnya yang relevan dengan masalah yang diteliti. Teknik Pengumpulan Data Data Primer adalah pengumpulan data yang dilakukan secara langsung dilapangan dengan menggunakan teknik pengumpulan data yaitu: 1. kemudian sampel yang dipilih disuruh memilih temantemannya untuk dijadikan sampel. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai literature. Field Research atau observasi yaitu dengan mengamati secara langsung lokasi yang menjadi tempat penelitian dan bentuk-bentuk aktifitas apa saja yang dilakukan seseorang dalam berbelanja online. 2.15 jumlahnya kecil. media on-line. 5.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful