You are on page 1of 16

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari, ibadah merupakan suatu hal yang wajib dilakukan oleh kita sebagai umat muslim. Ibadah merupakan suatu tindakan yang dilakukan demi mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Ibadah dalam islam tidak dilakukan dengan sembarangan, ibadah dalam islam memiliki syarat-syarat, rukun-rukun, sifat-sifat dan ciri-ciri tertentu yang sudah tercantum dalam ayat suci Al-Qur‟an. Dengan meningkatkan ibadah kepada Allah SWT kita dapat meningkatkan akhlak, moral, maupun etika kita menjadi lebih baik. Akhlak juga memiliki karakteristik maupun proses terbentuknya. Dalam kesempatan kali ini, kami akan menjelaskan tentang tugas klompok yang diberikan dosen kepada penulis yang berjudul “Ibadah dalam islam” dan “akhlak dalam islam” dimana disini akan dijelaskan secara singkat dan ringkas tentang ayat-ayat ibadah maupun akhlak dalam islam yang berada pada Al-Qur‟an maupun hadits.

1.2

Rumusan Masalah 1. Bagaimana pengertian dan pembagian ibadah dalam islam ? 2. Apa sajakah syarat-syarat dan rukun-rukun ibadah dalam islam ? 3. Apa sajakah sifat-sifat dan ciri-ciri ibadah dalam islam ? 4. Apakah pengertan akhlak, moral dan etika dan perbedaannya ? 5. Apa sajakah karakteristik akhlak islam ? 6. Bagaimana proses terbentuknya akhlak dalam islam ?

1.3

Tujuan 1. Agar mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pengertian dan pembagian ibadah dalam islam.

1

5. 1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pengertan akhlak. 3. 5. 2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan karakteristik akhlak islam. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan sifat-sifat dan ciri-ciri ibadah dalam islam. 3. 4. Agar mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan proses terbentuknya akhlak dalam islam. Agar mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan syarat-syarat dan rukun-rukun ibadah dalam islam. Agar mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan karakteristik akhlak islam. Agar mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan sifat-sifat dan ciri-ciri ibadah dalam islam. 6. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan syarat-syarat dan rukunrukun ibadah dalam islam. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pengertian dan pembagian ibadah dalam islam. moral dan etika dan perbedaannya. 4. 6. Agar mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pengertan akhlak. 2 .2.4 Manfaat 1. moral dan etika dan perbedaannya. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan proses terbentuknya akhlak dalam islam.

ibadah adalah ketaatan dengan puncak ketundukan kepada Allah SWT. Menurut Syaikh Muhammad Abduh.:Az-Zariyat.S.1 Pengertian dan Pembagian Ibadah Dalam Islam Pengertian Ibadah Dalam Islam Ibadah dari segi bahasa berarti taat. 3 . sedangkan menurut Ibnu Taimiyah ibadah adalah suatu perilaku ketaatan kepada Allah SWT yang disertai dengan kecintaan kepada-Nya. Bagi siapapun yang melaksanakan tanggung jawab ini sudah tentu akan mendapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sedangkan dari segi istilah syara‟ (terminology).” (Q.(51):56) Berdasarkan ayat tersebut.1 2. Allah SWT telah menerangkan tujuan penciptaan manusia melalui firman-Nya dalam Al-Qur‟an sebagai berikut “aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. tunduk dan patuh. jelaslah bagi kita bahwa kehidupan yang kita lalui di dunia ini hendaklah untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah.1. Allah SWT tidak menciptakan manusia secara sia-sia. ibadah adalah segala tindakan dan perbuatan yang disyariatkan oleh Allah baik berbentuk perintah ataupun larangan.BAB II PEMBAHASAN 2. Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk. Ibadah dapat juga diartikan sebagai peraturan-peraturan yang mengatur hubungan langsung (ritual) antara manusia dengan Allah Swt. melainkan manusia diciptakan untuk menunaikan amanah dan tanggung jawab yang diberikan kepada mereka di dunia.

atau di samping hubungan ke atas. tawakkal (ketergantungan). Ada juga yang membagi ibadah menjadi1 1) Ibadah Mahdlah.Ibadah yang terkait dengan anggota fisik dan hati seperti shalat. juga ada hubungan sesama makhluk.wordpress.2 Pembagian ibadah Dalam Islam Pembagian ibadah berdasarkan pengamalannya dalam islam terdiri dari 3 bagian. salat harus mengikuti petunjuk Rasulullah saw dan tidak dibenarkan untuk menambah atau menguranginya. Ibadah badaniyah Qalbiyah . tahmid. begitu juga puasa. dan bertujuan untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah Swt.1. karenanya disebut „ibadah badaniyah ruhiyah. raghbah (senang) dan rahbah (cemas). zakat. 2) Ibadah Ghairu Mahdlah. mahabbah (cinta). puasa. antara lain : 1. 3. raja '(mengharap). Ibadah mahdlah ini dilakukan hanya berhubungan dengan Allah saja (hubungan ke atas/ Hablum Minallah). 2. Ibadah Lisaniyah Qalbiyah . Ibadah Qalbiyah . Contoh. tetapi juga menyangkut hubungan sesama makhluk (Hablum Minallah Wa Hablum Minannas). Semua perbuatan ibadah yang pelaksanaannya diatur dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam Al-Quran dan sunnah. dan syukur.Ibadah yang terkait dengan lisan dan hati seperti tasbih. yaitu ibadah yang tidak hanya sekedar menyangkut hubungan dengan Allah. haji dan jihad.2. Hubungan sesama makhluk ini tidak hanya sebatas pada hubungan sesama 1 http://dedykusnaedi. tahlil.Ibadah yang terkait dengan hati seperti rasa khauf (takut). Ibadah ini hanya dilaksanakan dengan jasmani dan rohani saja. haji dan yang lainnya.com/2009/12/05/ibadah/ 4 . takbir.

2. Rasulullah merupakan utusan-Nya yang menyampaikan ajaran-Nya. Melakukan ibadah dengan ikhlas dan menjalankannya dengan sepenuh hati. Dan ibadah itu tidak bisa dikatakan benar kecuali dengan adanya dua syarat: (1) Ikhlas karena Allah semata Syarat yang pertama merupakan konsekuensi dari syahadat laa ilaaha illallaah. tetapi juga hubungan manusia dengan lingkungan alamnya (hewan dan tumbuhan). karena ia mengharuskan ikhlas beribadah hanya kepada Allah dan jauh dari syirik kepada-Nya. Maka kita wajib membenarkan dan mempercayai beritanya serta mentaati perintahnya. mengikuti syari‟atnya dan meninggal-kan bid‟ah atau ibadah-ibadah yang diada-adakan.2 2. bukan karena / untuk dilihat orang atau dipuji orang (2) Ittiba‟. Tidaklah suatu amalan yang diperintahkan menjadi sebuah ibadah bila ia tidak dibangun di atas rukun-rukunnya. 2.manusia. ibadah disyaratkan harus benar. Berdasarkan dalil-dalil yang ada baik dari al-Qur‟an maupun asSunnah. 3) Ibadah Dzil-Wajhain. Agar dapat diterima. Syarat kedua adalah konsekuensi dari syahadat Muhammad Rasulullah. karena ia menuntut wajib-nya taat kepada Rasul. 2. 5 .1 Syarat-Syarat dan Rukun-Rukun Ibadah Dalam Islam Syarat Ibadah Dalam Islam Dalam melakukan ibadah tidak ada suatu bentuk ibadah yang disyari‟atkan kecuali berdasarkan Al-Qur-an dan As-Sunnah. sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw. yaitu ibadah mahdlah dan ibadah ghairu mahdlah.2. ibadah memiliki rukun-rukun yang terbangun diatasnya.2 Rukun Ibadah Dalam Islam Sebagai seorang muslim dan muslimah tentu kita sudah mengerti perintah untuk beribadah. seperti nikah. yaitu ibadah yang memiliki dua sifat sekaligus.

Seandainya seseorang mencintai sesuatu. Hal ini sama seperti seseorang yang mencintai anak atau temannya. Oleh sebab itu tidaklah mencukupi bila hanya salah satunya saja 2 Syarah Tsalatsatul Ushul. Sehingga tidak akan terbangun penghambaan diri kepada Allah azza wajalla kecuali dengan terkumpulnya keduanya sekaligus. seorang hamba akan sampai pada penghambaan diri kepada-Nya. Al-Hubb (cinta) Ibadah dari asal maknanya bisa berarti menghinakan diri. Ibadah selain mengandung makna penghinaan diri di hadapan Allah juga mengandung Al-Hubb (cinta) yang tinggi kepada-Nya. sedangkan pada penghinaan dan perendahan diri terdapat rasa takut dan al-Harob (lari menjauhi hal yang ditakuti).Penghinaan diri disini lebih dimaksutkan sebagai perendahaan diri dihadapan-Nya dimana kita sebagai manusia yang setiap hari melakukan dosa tentu hina dihadapan Allah yang maha suci. yaitu : 1. tetapi disertai kebencian kepadanya maka ia tidak dikatakan telah menghambakan diri kepada orang tersebut. yaitu cinta dan penghinaan atau perendahan diri.” 2 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta‟ala mengatakan: “Dan siapa saja yang tunduk dan merendahkan diri kepada seseorang. tetapi tidak ada ketundukan dan penghinaan diri kepadanya ia juga tidak disebut menghambakan diri kepada sesuatu tersebut. puncak kecintaan dan puncak perendahan diri. sebab puncak dari al-Hubb (cinta) adalah at-Tatayyum (penghambaan). Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullahu ta‟ala mengatakan: “Dan peribadahan kepada Allah subhanahu wata‟ala itu terbangun atas dua hal. Dengan kecintaan yang tinggi disertai perendahan diri yang sempurna kepada Allah SWT. Pada kecintaan terdapat tuntutan dan pencarian. hlm 120 6 .Rukun-rukun ibadah menurut manhaj (jalan) Ahlus Sunnah wal Jama‟ah ada tiga.

Ar-Roja‟ ialah harapan yang kuat atas rahmat dan balasan berupa pahala dari Allah SWT. Maka. namun yang seharusnya lebih dicintai oleh hamba ialah Allah subhanahu wata‟ala dibanding kecintaan kepada selain-Nya. Pengertian khouf sendiri ialah kegundahan hati akan terjadinya sesuatu yang tidak disuka berupa hukuman dan adzab Allah yang menimbulkan sikap ketundukan seorang hamba kepada Allah azza wajalla. Sebagaimana yang Allah perintahkan kepada hamba-Nyaibadah tidak akan sempuran tanpa ketiga rukun ini. dan Allah azza wajalla harus lebih ia agungkan dari selain-Nya. dan tidak ada yang berhak atas kecintaan yang tinggi serta penghinaan dan ketundukannya yang sempurna selain Allah azza wajalla…. Ar-Roja‟ (berharap) Ar-roja‟ juga termasuk peribadahan hati dan rukun ibadah yang sangat agung. ibadah yang telah Allah azza wajalla fardhukan kepada hamba-Nya harus terdapat tiga rukun tersebut padanya dengan sempurna.”.4 3. Bila ketiganya terdapat dalam sebuah amalan maka ia benar-benar bermakna ibadah.yang ada dalam sebuah peribadahan. Al-Khouf (takut) Al-khouf merupakan peribadahan hati dan rukun ibadah yang agung dimana keikhlasan seseorang dalam beragama kepada Allah SWT.3 2. Peribadahan kepada Allah SWT harus disertai ketundukan dan kecintaan yang sempurna serta rasa takut dan harapan yang tinggi. 3 al-Ubudiyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu ta’ala hlm 8 dan syarahnya hlm 18 4 Hasyiyatul Ushulits Tsalatsah oleh Syaikh Abdurrohman bin Muhammad bin Qosim rahimahullahu ta’ala hlm 50 dan Syarah Tsalatsatil Ushul hlm 56-57 7 .

Tiga rukun ibadah ini merupakan kesatuan. Sholih al-Fauzan alaihimus salam mengatakan: “Sesungguhnya ibadah itu tegak di atas tiga rukun. dan siapa saja yang beribadah kepada-Nya hanya dengan harapan semata maka ia seorang murji‟ah.” (QS. al-Anbiya‟ [21]: 90) Syaikh DR. takut serta harapan.. sedangkan takut harus ada bersama harapan. 5 Kitabut Tauhid hlm 56 8 . dan siapa saja yang beribadah kepada-Nya hanya dengan takut semata maka ia seorang haruri yaitu khowarij (.Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harap (atas rahmat Allah) dan cemas (akan adzab-Nya). Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu‟ kepada kami. sedangkan seorang yang beribadah kepada Allah azza wajalla dengan kecintaan. Kecintaan harus ada bersama penghinaan diri dan ketundukan.”5 Sebagian ulama salaf (ulama terdahulu) mengatakan: “Siapa saja yang beribadah kepada Allah subhanahu wata‟ala hanya dengan cinta maka ia seorang zindiq. Di dalam al-Qur‟an SWT menyebutkan rukun-rukun ibadah itu ketika menyifati peribadahan para anbiya‟ (nabi-nabi) dengan firman-Nya (yang artinya): “…. Dimana setiap rukun sanggat diperlukan untuk terciptanya ibadah yang sempurna kepada Allah SWT. yaitu cinta. Dan dalam sebuah ibadah harus terdapat tiga perkara tersebut (sekaligus).

akan tetapi harus langsung kepada Allah. Moral. Secara umum ajaran Islam tidak mengharuskan penganutnya untuk melakukan „ibadah pada tempattempat khusus. seorang ahli ilmu fikih menyebutkan beberapa sifat yang menjadi ciri-ciri „ibadah yang benar adalah: 1.4 Pengertan Akhlak. Bebas dari perantara.1 Sifat-Sifat dan Ciri-Ciri Ibadah Dalam Islam Sifat Ibadah Dalam Islam Mustafa Ahmad al-Zarqa. 2. Peribadatan tidak terkongkong di tempat-tempat tertentu.tidak memerlukan perantaraan sebagaimana ajaran Kristian. 2.rasa takut serta harapannya maka ia seorang mu‟min muwahhid (yang mengEsa-kan Allah) . yakni ajaran tentang baik dan buruk perilaku manusia dalam hubungannya dengan Allah. Tidak terikat kepada tempat-tempat khusus. moral dan akhlak adalah sama.”6 2. dan Etika Serta Perbedaannya Secara substansi etika. Setiap apa yang dilakukan adalah ibadah sekiranya cukup syarat. tempat mengadu dan meminta ampun. Tidak memberatkan dan tidak menyulitkan. 3. Perhubungan manusia dengan Tuhan adalah secara terus . 3.3.meliputi setiap aktiviti kehidupan manusia. Dalam beribadah kepada Allah Swt.3 2. Islam memandang setiap tempat cukup suci sebagai tempat „ibadah.3. seorang muslim tidak memerlukan perantara. sebab Allah Subhanahu wa ta‟ala senantiasa menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya dan tidak menghendaki kesulitan. Allah sahaja hukum.2 Ciri Ibadah Dalam Islam 1. hubungannya 6 Kitabut Tauhid hlm 56 9 . 2. Ruang ibadah di dalam Islam sangat luas . kecuali „ibadah haji. 2.

dengan sesama manusia dan hubungannya dengan alam. 2. Etika merupakan bagian dari filsafat.  Menurut buku “Karakteristik Umat Terbaik”. sehingga yang menjadi dasar untuk memnentukan baik buruknya perilaku manusia adalah akal. akhlak adalah sejumlah prinsip dan nilai yang mengatur perilaku seorang muslim. Yang membedakan ketiganya adalah dasar atau ukuran baik dan buruk itu sendiri. yang dibatasi oleh wahyu untuk mengatur kehidupan manusia dan menetapkan pedoman baginya demi merealisasikan tujuan keberadaannya dimuka bumi. Pengertian akhlak menurut beberapa pendapat. antara lain :  Menurut Ibnu Miskawaih.5 Karakteristik Akhlak Islam Ciri-ciri manusia yang berakhlak mulia dalam al-qur‟an  Istiqomah dan konsekwen dalam pendirian 10 . yaitu beribadah kepada Allah SWT. untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang timbul akibat perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan pikiran. sehingga yang menjadi dasar baik buruknya perilaku manusia adalah tradisi yang berlaku di suatu masyarakat. Sedangkan moral adalah tingkah laku manusia yang mencangkup sifat baik dan buruk dari tingkah laku manusia itu sendiri. Dan yang dimaksud dengan akhlak adalah ajaran tentang baik buruknya perilaku manusia dan yang menjadi dasarnya adalah wahyu Allah SWT yang universal. Menurut Al-Ghozali. akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya  untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran terlebih dahulu.

Al‟Araf : 31) 11 .” kemudian mereka tetap istikomah. (QS. Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. (QS. 2. tetapi jangan berlebihan. tetapi jika Allah membiarkanmu (tidak memberi pertolongan). makan dan minumlah. tidak ada rasa khawatir pada mereka. “Tuhan kami adalah Allah. Al Ashr : 1-3)  Melakukan sesuatu secara proporsional dan harmonis Wahai anak cucu adam ! pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid. Maha Melihat. dan mereka tidak pula bersedih hati. manusia berada dalam kerugian.Sesungguhnya orang-orang yang berkata. hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (QS. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati demi kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. Sungguh. (QS. Allah Maha Mendengar. maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu. hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal. Al Ahqof : 13)  Suka berbuat kebaikan Tidak ! barang siapa yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Ali Imron : 160)  Disiplin waktu dan produktif 1. (QS. 3. An Nisa‟ : 58)  Kreatif dan tawakkal Jika Allah menolong kamu. dan dia berbuat baik. dia mendapat pahala disisi tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. Sungguh. Sungguh. (QS. Demi masa. dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia. Al Baqarah : 112)  Memenuhi amanah dan berbuat adil Sungguh. Sungguh. maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu ? karena itu.

Tetapi saat ia berperilaku manja dengan tidak mencuci piring setelah makan.2. Ketika dalam berperilaku manusia mendapatkan reinforcement positif. Sebaliknya. orang tua membiarkan anaknya berperilaku seperti itu bahkan semakin disayang. yang membuat orang tidak akan mengulangi perilaku buruknya. pahala. hukuman atau dosa. Ia akan menjadi jera dan tidak akan mengulangi perbuatannya tersebut. Peran hereditas. sehingga membentuk kepribadian yang baik. Hal ini merupakan reinforcement positif. dan akan menjadi sebuah akhlak. masuk surga yang membuat orang akan ketagihan untuk berperilaku baik. kenyamanan dalam perilakunya. maka ia akan merasakan kenikmatan. sehingga tidak terbentuk akhlak negative. b. yaitu reinforcement positif dan reinforcement negative. sehingga ia akan memiliki kepribadian anak yang manja. makan diambilkan. fitrah manusia dan lingkungan dalam terbentuknya akhlak Pengaruh hereditas 12 . dan orang tuanya memarahi dia bahkan memukul. anak yang hidup di keluarga yang sangat sayang kepada anaknya. hinaan. masuk neraka. Sehingga perilaku tersebut akan selalu diulang – ulang. sehingga ia akan sering melakukan perilaku tersebut. Proses Terbentuknya Akhlak Dalam Islam Reinforcement Reinforcement merupakan penguatan yang diberikan terhadap perilaku manusia. Reinforcement dibedakan menjadi 2. ia menjadi terkondisikan untuk dimanja. piringnya dicucikan pembantu. merupakan reinforcement negative. hal inilah yang disebut reinforcement negative. anak tersebut ketika habis makan. Dalam Islam. Misalkan. yang membuat ia merasakan kenyamanan dan kenikmatan.6 a. reinforcement positif ini bisa berbentuk penghargaan atau pujian.

‟ Rasulullah bertanya lagi.( Ar Rum 30 ). tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui “. Apakah kehitam-hitaman?‟ Lelaki itu berkata. Karena materi memiliki sifat keduniawian yang cenderung ke hawa nafsu. “ Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah.Rasulullah saw. „ Istriku telah melahirkan seorang anak berkulit hitam. Fitrah manusia Hakikat manusia adalah terdiri dari materi dan ruh. Pengaruh lingkungan Kepribadian anak sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sosial dan budaya setempat. sedangkan ruh atau jiwa merupakan sifat akhirat. dan sebaliknya. tradisi. berbagai macam media.‟ Rasulullah bertanya Apa warnanya?‟ Lelaki itu menjawab. Menurut Rasulullah. Allah Ta‟ala telah menciptakan Adam as. perilaku kedua orang tuanya. juga dipengaruhi oleh 13 . „Lantas dari mana datangnya waran hitam pada unta itu?‟ Rasulullah bersabda.dari segumpal tanah yang berasal dari semua unsur tanah yang ada di permukaan bumi. “Ada seorang laki-laki dari Bani Fazarah datang kepada Nabi saw. nilai-nilai. (Itulah) agama yang lurus. dimana cenderung menuju pada kebenaran ( suara kebenaran ). seraya berkata. bersabda. „Ya. Abu Hurairah berkata. „Sebenarnya memang kehitam-hitaman. (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. cara orang tua mendidik dan memperlakukannya. maka ia akan memiliki akhlak yang baik. Sehingga ketika manusia dalam memutuskan sebuah perilaku.‟ Nabi saw. Tidak ada peubahan pada firah Allah. „Merah. ia akan dipengaruhi oleh firah tersebut. Apakah kamu memiliki unta ? „ Lelaki itu menjawab.‟ Lelaki itu kembali berkata. „Mungkin karena faktor keturunan. Ketika perilaku cenderung ke suara kebenaran. Sehingga secara fitrah manusia memiliki sifat yang menuju pada kebenaran dan menuju pada keburukan. sehingga manusia memiliki sifat hewan dan malaikat. menjelaskan bahwa faktor hereditas memiliki pengaruh pada perbedaan individu.

Sebagaimana binatang yang melahirkan seekor annk dengan sempurna. Maka. atau kamu akan membeli minyak. Penjual minyak wangi bisa jadi akan memberimu minyak. telah mengisyaratkan peran penting keluarga dalam pertumbuhan kepribadian anak. Rasulullah saw. Beliau bersabda. atau kamu akan mendapat aroma wangi darinya. apakah kalian rasa ada cacat pada anak binatang itu ? ” Abu Musi meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. Anak akan mempelajari bahasa yang dipergunakan sebagai alat komunikasi kedua orang tuanya. ” Seseorang berpijak pada agama temannya. “Sesungguhnya perumpamaan teman yang salih dan teman yang buruki tu ibarat penjual minyak wangi dan pandai besi. Sementara pandai besi.beragam peristiwa yang dialami dalam kehidupannya. bias jadi ia akan membakar busanamu atau kamu akan menjumpai aroma tidak sedap darinya.” Rasulullah saw. Juga bersabda. kecenderungn. bersabda. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi. lihatlah siapa yang menjadi temannya ! 14 . mempelajari agama yang diyakini kedua orang tuanya. atau Majusi. ” Tidak ada yang lahir melainkan terlahir dalam keadaan fitrah. serta pemikiran kedua orang tuanya. Nashrani. dan mempelajari akhlak.

PENUTUP Sekian makalah ini kami buat kurang lebihnya kami mohon maaf. Dapat dikatakan pula bahwa baik atau buruknya akhlak seseorang dapat dilihat dari seberapa besar ibadahnya kepada Allah SWT. SARAN Sebagai umat muslim hendaknya kita melakukan ibadah kepada Allah SWT. Sesungguhnya kebenaran datangnya hanya dari Allah SWT semata.BAB III PENUTUP KESIMPULAN Ibadah merupakan segala tindakan dan perbuatan yang disyariatkan oleh Allah SWT baik berbentuk perintah ataupun larangan-Nya. sifat. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatu 15 . moral. maupun ciri-ciri yang sudah tercantum dalam Al-Qur‟an. dan etika kita sebagai umat muslim. rukun. sedangkan kesalahan datangnya dari kita sendiri. yaitu dengan melaksanakan perintahnya dan menjauhi segala larangannya yang nantinya berguna bagi kita hidup di dunia maupun di akhirat nanti. maupun sabda rasulullah SAW. hadits. Seseorang dikatakan beribadah apabila dalam ibadahnya dia telah memenuhi syarat. Seberapa besar ibadah kita dapat memmpengaruhi baik itu akhlak.

16 .