You are on page 1of 13

// you're reading...

Uncategorized

Perubahan Paradigma Politik
Posted by Nur Ali SH ⋅ Juli 22, 2013 ⋅ Tinggalkan Sebuah Komentar Filed Under partai politik, partisipasi politik Perubahan Paradigma Politik Saat ini telah terjadi pergeseran paradigma politik dari politik pengabdian dan perjuangan menjadi politik dagang / politik uang. Cita-cita reformasi yang ingin memperkuat sistim demokrasi dan mengembalikan kekuasaan politik kepada rakyat,guna memperkuat partisipasi politik masyarakat, tapi ternyata dalam perjalannya mengalami pergeseran, dan cenderung lebih mengarah kepada Liberalisasi politik. Hal ini tampak jelas dalam beberapa kali pemilu di Negara kita, ternyata ideologi politik tidak lagi menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan politik, Partai Politik dan para politisi ikut bermain dan menikmati pergeseran ini. Sejatinya Politik tanpa ideologi akan menjadi liar dan kehilangan substansi dan nilai luhur politik itu sendiri, bahkan bisa melahirkan politisi petualang, hal ini sudah kita rasakan dan terjadi saat ini, para petualang atau “politisi petualang” secara perlahan tapi pasti menghancurkan moral dan karakter masyarakat, yakni dengan melakukan uang. Cepat atau lambat gejala ini akan menggerogoti system demokrasi, tidak ada lagi berpolitik yang luhur, tidak ada lagi politisi yang berpegang pada idiologi politik tertentu, tidak ada lagi politik pengabdian yang luhur, semua mengarah dan menganut pragmatisme politik, Hampir semua partai politik, semua politisi menggunakan cara-cara pragmatis dan politik uang, yang pada ahirnya akan merusak esensi demokrasi, serta melakukan pendidikan politik yang buruk kepada masyarakat, dan jangan heran kalau oou put nya akan melahirkan politisi yang buruk, tidak berkualitas, tidak peka terhadap aspirasi masyarakat dan koruptif. (ali)

untuk menghindari disorientasi dalam perubahan-perubahan yang akan dilakukan. tidak mengubah pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. kalau kita kembali melihat sejak awal pemerintahan Presiden Habibie ide perubahan UUD 1945 telah dimulai dan bahkan pernah dibentuk sebuah panitia yang diketuai oleh Prof. Karena waktu yang tidak memungkinkan.DR. Karena itu. menghasilkan perubahan penting terhadap 9 pasal penting yang terkait dengan penyeimbangan kedudukan Presiden dengan DPR. mempertegas sistem pemerintahan Presidensial. penjelasan UUD 1945 ditiadakan serta hal-hal normatif dalam penjelasan dimasukkan kedalam pasalpasal. sebenarnya terjadi demikian cepat tanpa dimulai oleh sebuah perencanaan panjang. Hal ini terjadi karena didorong oleh tuntutan perubahan-perubahan yang sangat kuat pada awal reformasi antara lain tuntutan atas kehidupan negara dan penyelenggaraan pemerintahan yang lebih demokratis. seluruh fraksi di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada saat itu menyepakati lima prinsip yaitu: a. penghromatan atas hak-hak asasi manusia dan berbagai tuntutan perubahan-perubahan lainnya. e. b. perubahan dilakukan dengan cara adendum. . Pengaturan mengenai hak asasi manusia yang minim. Perubahan undang-undang dasar ini. membawa perubahan-perubahan yang mendasar dalam sisitem pemerintahan dan ketatanegaraan kita sebagaimana nampak pada perubahan yang hampir menyeluruh atas Undang-Undang Dasar 1945. Tidak adanya prinsip check and balances dalam UUD 1945 antara lain menyerahkan kekuasaan tertinggi di tangan MPR yang sepenuhnya melaksanakan kedaulatan rakyat. maka perubahan pertama itu hanya terjadi terhadap beberapa pasal yang terkait dengan pembatasan kekuasaan Presiden dan penguatan DPR. penegakkan hukum yang lebih baik. Karena begitu luasnya perdebatan awal ketika memulai perubahan ini. ketika perdebatan pada MPR mengenai perubahan undang-undang dasar ini sebagian besar fraksi telah menyiapkan rancangan perubahan yang menyeluruh atas undang-undang dasar 1945 itu. c. terlalu fleksibel menyerahkan penyelenggaraan negara yang diserahkan pada semangat para penyelenggara negara yang dalam pelaksanaannya banyak disalahgunakan. UUD 1945. Oleh karena itu. terjadi dalam waktu yang sangat singkat yaitu hanya sekitar satu minggu perdebatan pada tingkat Panitia Ad Hoc. Walaupun demikian. d. tetap mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bagir Manan untuk mengkaji perubahan UUD ini dan telah melakukan serial diskusi yang cukup panjang serta telah menghasilkan berbagai pemikiran terhadap perubahan undang-undang dasar ini dalam sebuah buku. Terhadap berbagai tuntutan tersebut para anggota MPR meresponsnya dengan memulai perubahan-perubahan itu dengan perubahan terhadap sesuatu yang mendasar yaitu perubahan Undang-Undang Dasar 1945 yang didasarkan pada pemikiran antara lain bahwa salah satu sumber permaslahan yang menimbulkan problem politik dalam penyelenggaraan pemerintahan negara selama ini adalah pada kelemahan Undang-Undang Dasar 1945 antara lain: UUD 1945 menyerahkan kekuasaan yang sangat besar kepada Presiden. dan perubahan lainnya dicadangkan pada sidang tahunan berikutnya.Paradigma Politik Paradigma Baru Politik Pasca Perubahan UUD 1945 Era reformasi yang dimulai pada tahun 1999. perubahan UUD 1945 yang pertama pada sidang umum tahun 1999. serta Kurangnya pengaturan mengenai pemilu dan mekanisme demokrasi.

Lebih lanjut kewenangan MPR adalah menetapkan Undang-Undang Dasar dan garis-garis besar daripada haluan negara (diatur dalam pasal 3). sehingga lebih demokratis dan lebih menunjukan representasi rakyat yang lebih jelas dalam lembaga perwakilan. anggota MPR hanya terdiri dari anggota DPR (seluruhnya dipilih melalui pemilu) dan anggota DPD yang merupakan wakil dari daerah-daerah yang dipilih secara langsung dalam pemilu oleh rakyat di daerah yang bersangkutan. mengangkat Presiden dan Wakil Presiden (pasal 6 ayat 2). yaitu sama dengan pengangkatan anggota Utusan Daerah yang dipilih oleh DPRD Provindi dan Anggota DPR yang dipilih dalam Pemilu). Kalau kita membaca dengan cermat perubahan tersebut. Konfigurasi keanggotaan ini menunjukkan dominasi Presiden yang sangat kuat terhadap MPR. Keanggotaan MPR Sebelum perubahan. yang telah dilakukan selama 4 kali -Perubahan Pertama tahun 1999. dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat”. untuk menjalankan pemerintahan Negara. 37 pasal dan 47 ayat ditambah 4 pasal Aturan Peralihan dan 2 ayat Aturan Tambahan. Dalam kerangka inilah berbagai perundang-undangan baru bidang politik disusun. yaitu UU Partai Politik. UU Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden serta UU Susunan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). yang berimplikasi pada perubahan dalam tata hubungannya dengan lembaga-lemabaga Negara yang lainnya. maka akan nampak bahwa empat kali perubahan tersebut merupakan satu rangkaian perubahan yang dilakukan secara sistematis dalam rangka menjawab tantangan baru kehidupan politik Indonesia yang lebih demokratis sesuai dengan perkembangan dan perubahan masyarakat. Keanggotaan . yang mendistribusikan kekuasaannya pada lembaga-lembaga Negara itu. (dalam pengangkatan ini Presiden hanya menyesahkan secara administratif sebagai Kepala Negara. Hal ini berimplikasi pada hubungan yang tidak seimbang antara lembaga-lembaga negara (tidak ada check and balances). UUD 1945 menjadi 20 bab. keanggotaan MPR. adalah pesan yang sangat jelas disampaikan oleh gerakan reformasi yang dimulai sejak tahun 1998. sebagaimana tercermin dalam perubahan pasal 1 ayat 2. 5 orang utusan daerah dari setiap propinsi (yaitu 160 untuk 27 Provinsi). yang berbunyi : ” Kedaulatan adalah ditangan rakyat. Perubahan Ketiga tahun 2001 dan Perubahan Keempat tahun 2002telah membawa implikasi politik yang sangat luas dalam system ketatanegaraan Indoneisa. 73 pasal. Siapa yang dapat mempengaruhi dan mendominasi MPR maka dialah yang paling berkuasa. Keempat perubahan ini. Perubahan ini memperbaiki susunan anggota MPR. yaitu oleh lembaga-lembaga Negara yang diatur secara jelas kewenangannya dalam UUD. karena dia dipilih langsung . Dari susunan keanggotaan tersebut nampak sekali bahwa terdapat 440 orang anggota MPR yang diangkat Presiden. Kewenangan MPR Filosofi kewenangan dan status MPR dalam UUD 1945 sebelum perubahan tercermin dalam pasal 1 ayat 2. yaitu : “Kedaulatan ditangan rakyat dan dijalankan menurut Undang-Undang Dasar”. Presiden menjalankan kedaulatan rakyat.Kewenangan MPR dan Hubungan MPR dengan lembaga Lain Terdapat dua perubahan mendasar pada MPR. Setelah Perubahan UUD. Tuntutan perubahan system politik dan ketatanegaraan dalam bentuk perubahan Undang Dasar 1945. dan sisanya adalah utusan golongan. mencakup aspek yang sangat luas dan mendalam baik dari jumlah pasal yang diubah dan ditambah maupun dari substansi perubahan yang terjadi.a seluruh lembaga-lembaga Negara yang lain harus melapor kepada MPR. Ketentuan ini menunjukkan dengan jelas bahwa posisi MPR sangat dominan dalam struktur ketatanegaraan Indonesia. maka dia akan menjadi sangat lemah (seperti kasus Presiden Habibie dan Abdurrahman Wahid). Ketika MPR terbentuk seakan-akan kedaulatan rakyat itu diambil alih sepenuhnya oleh MPR dan MPR memegang supreme power dalam ketatanegaraan Indonesia. 171 ayat ditambah 3 pasal Aturan Peralihan dan 2 pasal Aturan Tambahan. kemudian diperkuat oleh Penjelasan UUD 1945. Jika Presiden dapat menguasai atau mempengaruhi MPR maka pasti dia sangat berkuasa (seperti yang terjadi pada masa Orde Baru) dan siapa yang tidak mampu mendominasi dan menguasai MPR. Implikasi perubahan ini adalah direduksinya kewenangan MPR sebagai pelaksana kedaulatan rakyat sepenuhnya. diubah lagi yaitu hanya terdiri dari 700 orang dimana jumlah yang diangkat oleh Presiden hanya 69 orang anggota Utusan Golongan yang dipilih oleh KOmisi Pemilihan Umum (KPU). Perubahan Kedua tahun 2000. karena MPR adalah sumber kekuasaan Negara. Substansi perubahan menytentuh hal-hal yang sangat mendasar dalam system politik dan ketatanegaraan yang berimplikasi pada perubahan berbagai peraturan perundangan dan kehidupan politk Indonesia di masa depan. sejak kejatuhan Soeharto.yang berjumlah 340 orang.Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). telah merubah filosofi dasar sumber kewenangan MPR. Merujuk pada masa Orde Baru anggota MPR berjumlah 1000 orang yang terdari dari 500 anggota DPR (400 orang yang dipilih melalui pemilu dan 100 dari ABRI yang diangkat). Perubahan ini membawa implikasi pada betapa minimnya pengaruh Presiden terhadap MPR. Perubahan UUD 1945. Tidak ada lagi anggota MPR yang diangkat. setelah perubahan yaitu perubahan susunan keanggoataan serta perubahan kewenangan MPR. Setelah 4 kali perubahan. UUD 1945 sebelum perubahan hanya terdiri dari 16 bab. 160 yang dipilih oleh DPRD dari 27 Provinsi (pada periode ini Utusan Daerah bergabung dalam satu fraksi tersendiri sedangkan utusan Golongan melebur dalam fraksi Partai Politik yang ada) dan 400 orang yang dipilih dalam pemilu. b. yaitu sebagai pelaksana sepenuhnya kedaulatan rakyat. Pada masa reformasi sekarang ini. menjadi kedaulatan rakyat dilaksanakan menurut UUD ini. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). a. Dalam kerangka pemikiran ini pul. keanggoatan MPR terdiri dari Anggota DPR ditambah dengan Utusan Daerah dan Utusan Golongan.

maka kedudukannya menjadi sebuah lembaga Negara tersendiri. mengubah dan menetapkan UUD. Penegasan ini dimaksudkan untuk memberikan kedudukan hukum yang lebih kuat bagi kewenangan DPR yang diatur dalam konstitusi. Walaupun demikian. Bagaimana system pemilu untuk memilih anggota DPR.juga oleh rakyat. yaitu ketika melantik Presiden dan atau Wakil Presiden. Dewan Perwakilan Daerah. Hal mengakibatkan pada tidak seimbangnya kekuasaan Presiden dengan DPR. Pembentukan DPD sebagai salah satu institusi negara yang baru. Hubungan MPR dengan lembaga Negara lainnya Dengan perubahan ini tidak lagi dikenal lembaga tertinggi dan lembaga tinggi negara dalam hubungan antar lembaga negara. DPR dan DPD menjalankan kedaulatan rakyat dalam membentuk undang-undang dan mengawasi Presiden. Dengan demikian tidak ada lagi anggota DPR yang diangkat seperti pada masa yang lalu yaitu dari ABRI/TNI-POLRI. yaitu melantik Presiden dan Wakil Presiden. dimana Presiden disamping memegang kekuasaan pemerintahan negara juga memegang kekuasaan membentuk undang-undang. adalah dalam rangka memberikan kesempatan kepada orang-orang daerah untuk ikut mengambil kebijakan dalam tingkat nasional. Perubahan UUD juga mempertegas fungsi pengawasan dari DPR. Sebuah Institusi Negara yang Baru a. dan rancangan undang-undang itu tidak disahkan. Demikian pula terhadap lembaga-lembaga Negara lainnya yang diatur dalam UUD ini. dilakukan dengan maksud agar menempatkan DPR dalam posisi yang tepat sebagai lembaga Negara yang memiliki kewenangan dibidang legislative. MPR hanya bersidang pada saat-saat dibutuhkan. akan tetapi kedudukannya dilihat pada fungi dan kewenangannya yang diberikan oleh UUD. Kerangka hubungan antar lembaga negara yang dibangun dalam perubahan UUD ini adalah prinsip check and balances. serta memilih Wakil Presiden dalam hal kekosongan jabatan Wakil Presiden. Persoalan yang paling mendasar bagi sebuah pemilu yang baik adalah sejauhmana output pemilu itu menghasilkan wakil-wakil yang benar-benar mewakili rakyat. memberhentikan Presiden dan atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya menurut UUD serta memilih Wakil Presiden dalam hal kekosongan jabatan Wakil Presiden. dipertegas yaitu hanya: mengubah dan menetapkan UUD. melantik Presiden dan Wakil Presiden. menetapkan garis-garis besar daripada haluan serta memberhentikan Presiden karena pelanggaran garis-garis besar haluan negara. Akibatnya dapat dilihat selama masa pemerintahan Orde Baru Presiden dapat mengabaikan rancangan undang-undang yang sudah disetujui oleh DPR bersama pemerintah di DPR. diberikan kekuasaan untuk membentuk undang-undang [Pasal 20 (1)]. Dengan demikian MPR kehilangan kewenangannya untuk mengangkat Presiden dan Wakil Presiden. karena MPR tidak lagi menetapkan garis-garis besar haluan negara untuk dilaksanakan oleh seluruh lembaga negara yang lainnnya. agar memberikan keleluasaan kepada DPR dan Presiden untuk memilih system pemilu yang tepat sesui keadaan dan kondisi masyarakat. Setiap anggota DPD selalu berpikir tentang kepentingan daerahnya tanpa terhambat oleh garis dan kepentingan partai politik. Kedudukan ini berakibat pada hubungan yang tidak seimbang antara Presiden dengan DPR. Dengan perubahan ini memberikan jaminan dan legitimasi yang kuat kepada DPR sebagai lembaga perwakilan rakyat. Kewenangan dan Posisi DPD Dalam Struktur Ketatanegaraan DPD merupakan lembaga negara yang memiliki kedudukan yang sama dengan DPR sebagai lembaga perwakilan rakyat. c. karena anggota DPD adalah dari perseorangan bukan wakil partai politik. Semua lembaga negara tidak ada yang tinggi dan tidak ada yang rendah. Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi menjalan kedaulatan rakyat dalam bidang yudikatif dan peradilan. Ketiga hak ini. adalah diperjelasnya mekanisme rekruitmen seluruh anggota DPR yang dipilih melalui pemilihan umum. . lembaga-lembaga negara lainnya tidak lagi melapor kepada MPR. Jadi. Artinya hubungan yang seimbang antara lembaga Negara yang masing-masing terkontrol oleh yang lainnya berdasarkan ketentuan UUD. tidak ada lagi istilah Sidang Umum serta Sidang Tahunan MPR. yaitu berupa hak interpelasi. Setelah perubahan UUD hubungan antara MPR dengan lembaga negara lainnya hanya terlihat jelas dalam hubungannya dengan Presiden dan Wakil Presiden. khsususnya yang terkait dengan kepentingan daerah. Padahal DPR sebenarnya adalah representara rakyat yang terpilih melalui pemilu. karena MPR memiliki kewenangan-kewenangan yang mandiri. memberhentikan Presiden. memberhentikan Presiden dan atau Wakil Presiden dalam masa jabtannya menurut UUD (pasal 3 UUD) serta memilih Wakil Presiden dalam hal terjadi kekosongan jabatan Wakili Presiden dalam masa jabatannya (pasal 8 ayat (2)). Posisi MPR sebenarnya adalah “forum” sidang gabungan antara an ggota DPR dengan anggota DPD. Perbedaannya pada penekanan posisi anggota DPD sebagai wakil dan representasi dari daerah (provinsi). tetapi akan diatur dalam undang-undang. tidak diatur dalam UUD. Kewenangan MPR. Pembentukan ini diharpkan akan lebih memperkuat integrasi nasional serta semakin menguatnya perasaan kebersamaan sebagai sebuah bangsa yang terdiri dari daerah-daerah. sebelumnya hanya diatur dalam undang-undang. hak angket dan hak menyatakan pendapat [Pasal 20A ayat (2)]. Setiap anggota DPR juga diberikan jaminan hak yang kuat dalam konstitusi yaitu hak mengajukan pertanyaan. Perubahan penting lain mengenai DPR. memahami kepentingan dan hati nurani rakyat. Karena itu. Karena itu DPR. Sebelum perubahan. yang ada adalah Sidang MPR. Sedangkan DPR diposisikan sebagai lembaga negara yang memberikan persetujuan atas rancangan undang-undang itu. usul dan pendapat serta hak imunitas [Pasal 20A ayat (3)]. kekuasaan membentuk undang-undang ini dimiliki oleh Presiden [Pasal 5 ayat (1) sebelum perubahan]. Reposisi Dewan Perwakilan Rakrat Reposisi DPR.

tetapi kewenangannya. Kedua. Atas dasar usulan DPR itu MPR melaksanakan Sidang Istimewa untuk meminta pertanggunganjawaban Presiden. Dalam bidang pengawasan DPD. DPR harus terlebih dahulu meminta putusan kepada Mahkamah Konstitusi apakah secara yuridis pendapat DPR ini dibenarkan atau tidak. Dengan menetapkan jumlah wakil daerah yang sama dari setiap provinsi pada keanggotaan DPD. Jika secara yuridis tidak berdasar. Presiden mendapat legitimasi langsung dari rakyat dan kedudukannya menjadi lebih kuat dihadapan lembaga negara yang lainnya. walaupun dihadapan MPR. menunjukkan dua hal yang berlawannan dalam mengatur lembaga Presiden. Demikian juga mekanisme pemberhentian Presiden harus menempuh mekanisme yang sulit dan panjang. Undang-undang No.12 Tahun 2003. penyuapan.Walaupun kedudukan DPD adalah sejajar dengan kedudukan DPR dalam struktur ketatanegaraan kita. pendidikan dan agama. Meknaisme pemberhentian Presiden dalam system yang lalu cukup dengan usulan Sidang Istimewa dari DPR. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. Mekanisme Pemberhentian Presiden Dipersulit Berbeda dengan system presidensil yang dianut sebelum perubahan. yaitu melalui pengkajian dan penyelidikan yang dilakukan oleh DPR yang menhasilkan pendapat berupa keputusan DPR yang mengusulkan pemberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden kepada MPR. Jika Presiden tidak datang memberikan pertanggungjawaban atau pertanggungjawabannya ditolak oleh MPR. menunjukkan kesamaan status dari provinsi-provinsi itu sebagai bagian integral dari negara Inddonesia. pemberhentian Presiden maupun pemilihan Wakil Preside. Sebelum Proses pengajuan ke MPR. ketika bersidang dalam kedudukannya sebagai anggota MPR. MPR juga yang dapat memberhentikan Presiden walaupun dengan alasan alasan politis karena Presiden membuat kebijakan yang melanggar haluan Negara. Karena dipilih langsung oleh rakyat. Presiden hanya dapat diberhentikan dalam hal Presiden atau Wakil Presiden melakukan pelanggaran hukum yang berupa. Penentuan jumlah anggota DPD yang tidak lebih dari sepertiga jumlah anggota DPR. melakukan pengawasan atas pelaksanaan berbagai undang-undang yang ikut dibahas dan diberikan pertimbangan oleh DPD. Tidak ditegaskan dalam UUD ini. b. Dalam proses ini tidak pembuktian perlu yuridis oleh institusi peradilan (Yudikatif) untuk memberikan penilaian secara hokum atas kesalahan Presiden itu. Kenggotaan DPD UUD 1945 (setelah perubahan). Dengan jumlah 30 provinsi pada saat ini maka jumlah anggota DPD seluruhnya hanya 120 orang sehingga tidak mencapai sepertiga anggota DPD. Karena MPR yang mengangkat. Akan tetapi pada sisi lain anggota DPD ini memiliki. Penguatan Sistem Presidensial Penguatan system Presidensial terlihat pada mekanisme pemilihan Presiden dan proses pemberhentian Presiden. adalah adanya jaminan bahwa Presiden dan Wakil Presiden akan menduduki masa jabatannya dalam waktu tertentu (5 tahun) dan tidak mudah diberhentikan hanya karena dinggap melakukan kebijakan politik yang salah. maka akibatnya Presiden bisa diberhentikan oleh MPR. baik dalam perubahan UUD. berjumlah 4 orang dari setiap provinsi. kedudukan dan kewenagann yang sama dengan anggota DPR. korupsi. maka setelah perubahan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dilakukan secara langsung oleh rakyat melalui pemilu. karena hasil pengawasan itu hanya untuk disampaikan kepada DPR untuk bahan pertimbangan dan ditindaklanjuti. Anggota DPD dipilih secara langsung oleh rakyat dari setiap provinsi melalui pemilihan umum. hanya menentukan bahwa jumlah anggota DPD dari setiap provinsi adalah sama dan jumlah seluruh anggotanya tidak lebih dari sepertiga jumlah anggota DPR (pasal 22C ayat (2)). setalah DPR menyampaikan Memorandum Pertama dan Kedua kepada Presiden. Penguatan Sisytem Presidensil dan Reduksi Kewenangan Presiden Perubahan UUD ini juga. telah mengatur dengan jelas bahwa anggota DPD. memperkuat posisi Presiden dalam Struktur ketatanegaraan Indonesia. pengkhianatan terhadap negara. RUU yang berkaitan dengan pajak. memberikan pertimbangan kepada DPR atas RUU APBN. hubungan pusat dan daerah.Apakah DPD memiliki voting right atas RUU yang ikut dibahasnya itu?. baik kewenangan bidang legislasi maupun bidang pengawasan adalah sangat terbatas. mereduksi beberapa kewenangan Presiden sebagaimana diatur dalam UUD 1945 sebelum perubahan.Jadi system ini sebenarnya hampir sama dengan system Parlementer yang menganut supremasi parlemen atas eksekutif. Kewenangan legislasi yang dimiliki oleh DPD adalah dapat mengajukan kepada DPR dan ikut membahas rancangan undang-undang yang terkait dengan otonomi daerah. a. Namun kewenangan pengawasan ini menjadi sangat terbatas. Disamping itu DPD. Presiden tidak dapat diberhentikan hanya karena alasanalasan politis. tindak pidana berat lainnya serta perbuatan tercela dan tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan atau Wakil Presiden (pasal 7A). Dalam system baru pasca perubahan UUD. Pertama. maka voting right yang penuh hanya dimiliki oleh DPR. b. Jika pemilihan dan pengangkatan Presiden dan Wakil Presiden sebelum perubahan UUD dilakukan oleh MPR. Tidak membedakan provinsi yang banyak atau sedikit penduduknya maupun yang besar atau kecil wilayahnya. Konsekwensinya. Akan tetapi jika memperhatikan ketentuan pasal 20 UUD. mengandung makna bahwa DPD ini – walaupun kedudukan sama dengan DPR dalam steruktur ketatanegaraan – merupakan lembaga perwakilan yang bersifat komplementer yang mengakomodasi perwakilan daerah-daerah dalam tingkat nasional. maka usulan pemberhentian itu tidak dapat dilanjutkan. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. menempatkan Presiden dibawah MPR. Sebaliknya .

Demikian juga dengan kebijakan-kebijakan menyangkut daerah yang sangat sentralistis. Jaminan Hak Asasi Manusia dan Penegakan Hukum Untuk menjamin tegaknya Hak Asasi Manusia (HAM). membatasi kewenangan Presiden menggunakan haknya untuk memberikan Grasi dan Rehabilitasi yang mengharuskan adanya pertimbangan Mahkamah Agung (pasal 14 ayat (1)). Hak ini sebelum perubahan UUD. sebagai sebuah pilar Negara hukum. Komisi Yudisial adalah sebuah komisi yang dibentuk dengan undang-undang yang memiliki kewenangan untuk mengawasi dan menegakan harkat dan kehormatan hakim serta melakukan rekruitmen awal calon hakim agung yang akan diajukan kepada DPR untuk dipilih. pengakuan atas satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus dan istimewa (pasal 18B ayat (1)) serta pengakuan atas masyarakat hukum ada t beserta hak-hak adatnya yang masih hidup (pasal 18B ayat (2)). pemanfaatan sumber adaya alam dan sumber daya ekonomi lainnya antara pemerintah pusat dengan pemerintahan daerah (pasal 18A ayat (2)). Memperkuat Kedudukan Kekuasaan Kehakiman (Yudikatif) Perubahan UUD ini mengintrodusi lembaga Negara yang baru dibidang yudikatif yaitu Mahkamah Konstitusi yang kedudukannya berada disamping Mahkamah Agung. maka DPR melanjutkan usulan itu kepada MPR untuk memutuskannya. Hal ini nampak pada perubahan pasal 18 UUD 1945. terutama pada masa Orde Baru tidak menunjukkan arti semboyan itu. dapat menjukan usulan promosi. Jaminan pengaturan yang adil atas hubungan keuangan. Daerah tidak berdaya dan hanya menjalankan kebijakan-kebijakan yang terpusat. Hal ini nampak pada kebijakan pemerintah yang selalu menunjukan kebijakan yang unitarian yaitu penyeragaman untuk seluruh wilayah Indonesia dan kebijakan yang sangat sentralistis. membatasi kewenangan Presiden dalam menggunakan haknya untuk memberikan Amnesti dan abolisi yang mengharuskan adanya pertimbangan DPR serta mengharuskan Presiden untuk meminta persetujuan DPR dalam menyatakan perang atau melakukan perjanjian internasional (pasal 11). kewenangan Presiden dikurangi dan dibatasi oleh UUD agar tidak disalahgunakan. c. Reduksi dan Pembatasan Kewenangan Presiden Untuk menjaga prinsip check and balances antar lembaga Negara. Dengan perubahan ini mengantarkan negara ini kepada negara yang menganut prinsip konstitusinalisme. sehingga tidak mungkin dapat dibatalkan kecuali dicabut sendiri oleh DPR bersama Presiden. Pembatasan kekuasaan Presiden untuk mengangkat duta dan menerima duta Negara sahabat dengan mengahruskan adanya pertimbangan DPR (pasal 13). yang akibatnya segala produk undang-undang tidak mungkin dilakukan pengujian oleh lembaga peradilan. dalam perubahan UUD ini mengintrodusir lembaga Negara yang baru yaitu Komisisi Yudisial yang merupakan bagian dari pelakasanaan kekuasaan kehakiman. Pembentukan lembaga ini dirasakan pentingnya karena selama ini hakim tidak terjangkau oleh pengawasan yang bersifat eksternal. Demikian pula dalam hal pembentukan dan pembubaran departemen pemerintah harus dengan persetujuan DPR (pasal 17 ayat (4)). Hal ini nampak pada diberikannya kewenangan untuk melakukan hak uji (materil dan atau formil) atas undang-undang yang merupakan produk bersama DPR dengan Presiden. demosi atau sanksi kepada para hakim. Walaupun komisi ini merupakan bagian dari kekuasaan kehakiman. Undangundang yang telah dikeluarkan oleh DPR dan Presiden dapat dinyatakan tidak belaku baik sebahagian maupun keseluruhannya oleh lembaga Yudikatif yaitu Mahkamah Konstitusi. karena lebih dari duapertiga anggota MPR adalah anggota DPR. penghapusan kekuasan Presiden membentuk undang-undang (pasal 5). nampak jelas pada pemberian asas otonomi dan asas tugas pembantuan kepada daerah untuk mengurus pemerintahannya sendiri. menggeser model kebijakan yang unitarisme dan sentralistis menjadi kebijakan desentralistis dan lebih menghormati pluralisme. Akibatnya. Artinya segala tindakan dan produk lembaga-lembaga dan istitusi Negara harus dapat diuji apakah sesuai atau tidak sesuai dengan konstitusi berdasarkan keputusan Mahkamah Konstitusi. Sentralisasi dan Unitarisme Menjadi Desentralisasi dan Pluralisme Walaupun semboyan Negara Republik Indonesia adalah “Bhinneka Tunggal Ika”. maka dapat dipastikan akan mendapat dukungan kuat dari MPR. Reduksi dan pembatasan kewenangan ini nampak pada. Logikanya jika usulan pemberhentian tersebut telah mendapat dukungan kuat dari anggota DPR. Dalam perubahan ini dihormati dan diperhatikan adanya kekhususan dan keragaman dari berbagai daerah di Indonesia.kalau secara yuridis benar. b. serta membatasi kewenangan Presiden yang telah diperkuat kedudukannya. Prinsip Akuntabilitas pada Peradilan Dalam rangka menegakkan prinsip akuntabilitas lembaga peradilan. akan tetapi praktek selama ini. akan tetapi merupakan sebuah lembaga pengawasan eksternal terhadap para hakim pengadilan. adalah terhapusnya masyarakat hukum adat berikut hak-hak adatnya di seluruh Indonesia serta penyeragaman system pemerintahan sampai pada tingkat yang paling bawah. Pada saat yang sama. Atas pertimbangannya sendiri MPR dapat memberhentikan atau tidak memberhentikan Presiden berdasar jumlah dukungan suara anggota MPR. Prinsip desentralisasi yang dianut dalam UUD ini. dengan 10 pasal serta 24 ayat. . Prinsip Konstitusionalisme Kekuasaan kehakiman sebagai pilar negara hukum Indonesia mendapat jaminan yang lebih kuat dalam perubahan UUD ini. tidak diserahkan kepada kekuasaan yudikatif. Keanggotan komisi ini akan dipilih oleh DPR dan diangkat oleh Presiden. Perubahan UUD ini. Komisi ini yang akan menilai kinerja para hakim. a. UUD mengatur mengenai HAM ini dalam satu bab tersendiri yaitu bab XA. daerah juga diberikan kewenangan untuk menetapkan peraturan-peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan asas otonomi dan asas tugas pembantuan itu.

g) Jaminan atas pluralisme. . berkelanjutan. prinsip berwawasan lingkungan. Kesimpulan Banyak sekali paradigma politik baru setelah perubahan UUD ini. Pembatasan atas pelaksanaan HAM hanya dapat ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan dan penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral. c) Mengukuhkan prinsip kedaulatan rakyat. diakomodir enan asas penting dalam pembangunan ekonomi yaitu: demokrasi ekonomi. mengayomi. prinsip kebersamaan. dimana TNI sebagai alat negara yang bertugas mempertahankan. Mengakomodir Demokrasi Eknomi dan Pembangunan Berkelanjutan Perubahan ini juga menyempurnakan arah pembangunan dan sistem ekonomi nasional yang semula hanya menekankan pada sistem perekonomian sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. sebagai kekuatan utama. serta j) Asas demokrasi ekonomi dan pembangunan berkelanjutan. Paling tidak ada delapan paradigma yang dapat dikemukakan dari perubahan UUD ini. ilmu pengetahuan dan kebuadayaan nasional. negara kesatuan. keadilan social serta permusyawaratan yang tertuang dalam pembuakaan tetap dipertahankan. d) Menganut prinsip Negara konstitusionalisme e) Penguatan prinsip negara hukum dan penghormatan atas Hak Asasi Manusia. melayani masyarakat serta menegakkan hukum. berwawasan lingkungan. Dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa Pemerintah bertanggung jawab untuk mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia. kemandirian serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional (pasal 31 ayat 4) Dengan perubahan ini. perubahan kultur dari seluruh aparat negara serta perubahan berbagai peraturan perundang-undangan yang tidak lagi sesuai dengan berbagai paradigma baru ini. h) Desentralisasi pemerintahan. seperti pembuabaran Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Ketentuan ini menegaskan bahwa uasaha pertahanan dan keamanan negara dilasanakan melalui sistem pertahanan keamanan rakyat semesta oleh Tenatara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia. i) Peranan negara dalam memajukan pendidikan. Perubahan paradigma UUD ini harus membawa perubahan pola pikir. Disamping itu. nilai-nilai agama. melindungi dan memelihara keutuhan dan kedaulatan negara dan POLRI sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban masayarakat bertugas melindungi.Rumusan mengenai HAM dalam UUD ini sangat lengkap yang mencakup seluruh aspek HAM yang diakui secara universal. ilmu pengetahuan dan kebudayaan nasional. f) Pendekatan fungsional dan efisiensi dalam penataan lembaga-lembaga negara. dan rakyat. Mengakomodir Sistem Hankamrata Perubahan ini ini juga mencakup penyempurnaan dalam pengaturan mengenai pertahanan dan keamanan negara dengan mengokomodir sistem pertahanan dan kemanan rakyat semesta yang selama ini dianut dalam sistem pertahanan dan keamanan kita sebagaimana tertuang dalam pasal 39 ayat 2. maka UUD menetapkan anggaran minimal yang harus disediakan untuk anggaran pendidikan yaitu 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara dan anggaran pendapatan dan belanja daerah. b) Penguatan system pemerintahan demokratis. Sementara itu prinsip Ketuhanan yang Maha Esa sebagai dasar Negara tetap dipertahankan di samping prinsip kemanusiaan. memajukan kebudayaan nasional dengan menjamin kebebasan masyarakat untuk memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya. prinsip efisiensi berkeadilan. Untuk menjamin percepatan bagi kemajuan pendidikan dan pencerdasan kehidupan bangsa. prinsip kemandirian serta prinsip menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.. prinsip berkelanjutan. Mempertegas Arah Pembangunan Pendidikan dan Kebudayaan Nasional Perubahan ini juga menegaskan tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam bidang pendidikan. menjadi sistem ekonomi yang diselenggarakan berdasarkan demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan. yaitu : a) Prinsip check and balances dalam hubungan antar lembaga Negara. serta menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional. keamanan dan ketertiban umum dalam masyarakat demokratis. sebagai kekuatan pendukung. pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan perastuan bangsa untuk kemajuan peradaban dan kesejahteraan ummat manusia. efisiensi berkeadilan. Pemerintah wajib membiayai pendidikan dasar bagi setiap warga negara.

dan berlangsung hingga dewasa ini. misalnya Syarikat Islam yang kemudian berganti PSII. . Eksistensi Islam politik pada masa kemerdekaan dan sampai pada pasca revolusi pernah dianggap sebagai pesaing yang dapat mengusik basis kebangsaan negara. Umat Islam cenderung menetapkan pilihan perjuanganya melalui saluran konstitusional dengan harapan bisa menang saat konstituante. Dari sudut pandang ini maka pada dasarnya dalam Islam tidak ada pemisahan antara agama dan politik. Tetapi mereka juga sering disebut sebagai kelompok yang secara politik “minoris” atau “outsider”. Sebagai hasil dari kebijakan semacam ini. Oleh sebab itu. Berbagai eksperimen dilakukan dalam menyelaraskan antara agama dengan konsep dan kultur politik masyarakat muslim. Partai Nahdlatul Ulama’. Di madinah. rosulullah berperan sebagai kepala pemerintahan sekaligus sebagai kepala agama. Hal ini ditandai dengan semakin besarnya peluang umat Islam dalam mengembangkan wacana politiknya serta munculnya kebijakan-kebijakan tersebut berspektrum luas. Perkembangan Politik dalam Perspektif Sejarah 1. 05 Mei 2010 . PEMBAHASAN A. hubungan agama dengan Negara dan sistem politik menunjukkan fakta yang sangat beragam. bahkan politik Islam sering dicurigai sebagai anti ideologi Negara Pancasila. hubungan agama dengan Negara menjadi perdebatan yang cukup panjang di antara para Pakar Islam hingga kini. dan eksperimen tersebut dalam banyak hal sangat beragam. Politik Islam Di Indonesia agama mayoritas adalah Islam. Dalam lintasan historis Islam. itu hanyalah sebuah alat untuk menyampaikan agama dan kekuasaan bukanlah agama. Banyak para ulama’ tradisional yang berargumentasi bahwa Islam merupakan sistem kepercayaan di mana agama memiliki hubungan erat dengan politik. Persepsi tersebut membawa implikasi terhadap keinginan negara untuk berusaha menghalangi dan melakukan domestikasi terhadap gerak ideologis politik Islam. Masyumi. Perdebatan tentang hubungan agama dan Negara ini diilhami oleh hubungan yang agak canggung antara Islam sebagai agama dan Negara. Bahkan. Gejala menurunya ketegangan hubungan antara Islam dan Negara mulai terlihat pada pertengahan tahun 1980-an. perdebatan itu telah berlangsung sejak hampir satu abad. PENDAHULUAN Dalam Islam. Posted by hmj syariah STAIN SL3 at 18. bukan saja para pemimpin dan aktifis politik Islam gagal untuk menjadikan Islam sebagai ideologi dan atau agama negara. Argumentasi ini sering dikaitkan dengan posisi Nabi Muhammad ketika berada di madinah yang membangun system pemerintahan dalam sebuah Negara kota. pada tahun 1940-an. Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa posisi Nabi saat itu adalah sebagai Rosul yang bertugas menyampaikan ajaran (Alkitab) bukan sebagai penguasa. Lebih dari itu. Tetapi hubungan harmonis yang terjadi sebelumnya.TEMPAT BEREKSPRESI TEMAN MAHASISWA SYARIAH STAIN SALATIGA DINAMIKA PARADIGMA POLITIK INDONESIA (Studi Kritis atas Perubahan Orientasi Politik Terhadap Agama) Rabu. Kalaupun ada pemerintahan. tidak terlalu mengherankan apabila pada awal kemerdekaan banyak bermunculan partai-partai yang membawa Islam. Dengan kata lain. Perti dan yang lainya. II. politik atau Negara hanyalah sebagai alat bagi agama bukan suatu ekstensi dari agama.23 I. Menyikapi realitas empiric tersebut. Diantara partai-partai tersebut.

Kemudian lagi. Faktor-faktor Penyebab Kegagalan Politik Faktor-faktor penyebab kegagalan politik dalam Islam : . Masyumi semakin dikuasai oleh komunitas pembaharu yang diwakili oleh Mohammad Natsir yang berasal dari Sumatra. suara partai yang berasaskan Islam terpecah-pecah. dan PMB. 4. gonjang-ganjing politik bergejolak di seluruh negeri. Masyumi dan NU memainkan lakon politik yang berbeda. Organisasi Islam dan Partai Islam lainya juga keluar dari Masyumi. Partai Demokrasi Indonesia (PDI) untuk menghimpun lima partai politik sekaligus seperti Partai Nasionalis Indonesia. 3. dan Partai Syarikat Islam indonesia (PSII). Setelah keduanya memisahkan diri itulah. PAN. Dinamika pemikiran politik kepartaian yang bertemakan Islam. Puncaknya. Akibatnya padda pemilu umum 1955. Santri tradisional hidup secara paguyuban yang dipimpin oleh kiai dan masih menerapkan kiai sebagai panutan dalam segala hal. adalah salah satu tokoh pembaharu yang pemikiran-pemikiranya kerap mendominasi alur politik Islam pada saat itu. termasuk dalam sebuah pemilu. para kiai dan santri berkumpul di pesantren Ciganjur. suara santri tradisional jauh lebih melimpah daripada santri modernis yang hanya berdiri di pojok-pojok kota. Soekarno menganggap Masyumi terlibat usaha pemberontakan di daerah pada tahun 1958 dan dua tahun setelah itu Masyumi dinyatakan sebagai partai terlarang alias dibubarkan. Pergerakan Tarbiyah Islam (Perti). diakui atau tidak. PKB. pada tahun 1953 juga terjadi di Aceh. 2. murba. Tergulingnya dua kekuatan tersebut berdampak pada perubahan struktur politik yang ada. Pada 1949. dengan suara bergemuruh. bersikeras dalam mendulang suara kaum santri modernis. PKS. Partai Muslimin Indonesia (Parmusi). Politik Masa Orde Baru Setelah peristiwa pemberontakan PKI 1965 berimbas sekurang-kurangnya pada dua simbol kekuatan politik orde sebelumnya. Di sana ada partai yang bermunculan diantaranya PAN. Jaksel. Kedua.tidak dapat bertahan lama. Pertama. Mohammad Natsir. PPP dan sekarang ada PKNU dan PMB. partai katholik dan partai Kristen Indonesia. PBB. seperti berakhirnya masa demokrasi terpimpin. PPP sendiri secara sah berdiri semenjak 5 Januari 1973. NU lebih banyak bekerjasama dengan unsur-unsur nasionalis radikal. Terlepas dari fragmen tersebut. salah satu strategi politik yang dipakai Orde Baru adalah mewujudkan stabilitas politik. Demikian juga seperti Partai NU. Namun sejatinya. mendeklarasikan PKB dengan sangat khidmat. Politik Masa Reformasi Tatkala terompet reformasi bergema tahun 1998. PPP. Sementara Masyumi cenderung berusaha menepis langkah-langkah yang diambil Soekarno. Soeharto sendiri sebagai lambang Orde Baru diangkat sebagai presiden ke dua Indonesia dalam sidang umum MPRS V pada tanggal 27 Maret 1968. Secara umum sebagai sebuah tawaran ideologi yang memantapkan diri pada masalah politik di eranya. Bertolak dari peristiwa itulah era kejayaan Orde Baru dimulai. Nahdlatul Ulama’ memisahkan diri dari Masyumi dan menjadi partai sendiri. dan PKNU berselancar dalam merebutkan suara kaum santri tradisional. ternyata Islam tetap banyak diwarnai oleh golongan reformis. yaitu ditumpasnya PKI dan tamatnya kekuasaan Soekarno. Yang paling nyata adalah PKB pada 23 Juli 1998. Era reformasi juga menandai jalan fragmentasi politik Islam. Partai Persatuan Pembangunan dengan lambing Ka’bah untuk menampung Nahdlatul Ulama’. Daud Beureuh yang mengaku perwakilan umat Islam Aceh memproklamasikan Aceh sebagai wailayah Negara Islam Indonesia di bawah pimpinan Kartosuwiryo. Jagat politik Islam juga geger dengan suara politik yang terus memperebutkan massa santri yang melimpah. Orde Baru mengukuhkan manuvernya dengan cara menyederhanakan pluralisme ideologi partai-partai menjadi dua partai paketan. Ikatan Pendukung kemerdekaan Indonesia. dominasi Masyumi tidak berlangsung lama terlebih pasca NU menyatakan keluar. PKS. Tepat pada 21 September 1958.

III. bisa jadi orientasi politik terhadap agama pun bisa berubah. tentunya ada naik turun perkembangan yang melingkupinya. Munculnya pengelompokan dalam partai-partai yang berbasis Islam sehingga perpecahanpun tidak dapat terhindari. Perubahan yang tejadi sampai sekarang justru membawa kita kepada pesoalan kebangsaan yang semakin rumit dan pelik. PENUTUP Kondisi bangsa Indonesia harusnya menjadi lebih baik setelah bangsa ini memproklamasikan kemerdekaanya semenjak 17 Agustus 1945 lalu. tentunya masih banyak hal yang perlu dibahas dan menjadi bahan renungan kedepan. ternyata tidak banyak yang bisa dilakukan. imbas yang paling nyata adalah partai-partai difusikan menjadi 3 partai saja. f. Adanya tujuan ideologi yang menjadikan perpecahan agama Islam dalam partai Masyumi yang dianggap oleh Soekarno sebagai pemberontakan di daerah pada tahun 1958 b. e. Tapi selama puluhan tahun Indonesia merdeka. mengangkat senjata. dan berpolitik. d. c. Titik tekan masa Orde lama adalah. imbasnya adalah munculnya partai-partrai islam. Sedangkan dimasa Orde Baru. paradigma yang dipakai dalam memandang agama adanya penyatuan antara politik dan agama. h. namun dari kalangan yang mengaku dirinya Islam juga tidak luput dengan budaya ini. Adanya konflik internal dalam partai politik Islam pada masa reformasi. Pada masa pergerakan nasionala dimana tantangan yang ada adalah merebut kemerdekaan. . justru lebih banyak didera pesoalan dalam negeri yang tidak kunjung ditemukan solusi terbaiknya. Berbeda degna masa reformasi. Politik Islam semakin jauh dari nilai ideologis yang diperjuangkan. dan ketidakjujuran masih hidup di Negara Indonesia. selama berpuluh-puluh tahun itu pula. Budaya KKN. Kritik dan saran sangat penyusun harapkan. Elit agama yang ikut terjun di dunia politik secara otomatis melalaikan tugasnya dalam mengemban amanat umatnya. Saling memperlihatkan egoisme masing-masing partai politik Islam yang menjadikan pergolakan di antara mereka. Dari Islam sendiri selalu ada pertikaian yang menjadikan keretakan bagi jamaahnya yang saling menjatuhkan satu dengan yang lainya. g. Kalau sekarang? Berbincang soal politik. Senada dengan perkembangan politik di masa itu. imbas yang paling nyata adalah munculnya partai-pratai yang multi haluan. dimana titik tekanya adalah dibukanya ruang yang luas terhadap kebebasan berkehendak.a. Demikian sedikit uraian yang bias penulis samapiakan. Selamat membaca dan semoga bermanfaat. ketidakadilan. Kalkulasi kekuasaan telah mengaburkan nilai-nilai luhur yang harus diperjuangkan lewat jalan politik. adanya pertentangan antara politik dan agama. sehingga ada istilah nasional dan religius. Bahkan karena tekanan yang begitu pelik. solusisnya sangat jelas. tidak hanya dari kalangan non muslim saja.

Kembali pada perubahan politik. Tuhan menciptakan duniapun tidak serta merta ‘kun fayakun’ jadi maka jadilah secara utuh. atau dari hewan dan alam.PARADIGMA POLITIK Mata Kuliah Teori Politik Ilmu politik tidak bisa lepas dari ilmu sosial yang telah lahir terlebih dahulu teori-teorinya. prinsip dasar yang diusung adalah bahwa politik itu perubahan yang alamiah. 1. Jadi dalam suatu tatanan politik negara. dan makmur itu tidak bisa serta merta. ekonomi. bulat. Meskipun Tuhan bisa. Evolusi Evolusi adalah perubahan yang membutuhkan waktu yang sangat lama. Tidak ada batas pasti. dlsb. namun Tuhan tidak melakukannya krena Tuhan menginginkan manusia berfikir tentang penciptaan alam semesta –yang kini mulai tercerahkan. Dalam paradigma politik evolusi. maka kita akan menemui subsistem-subsistem yang lain yaitu sosial. Bahwa dengan dipimpin oleh. dan setelah itu akan kembali bobrok hingga suatu saat puncak kejayaan (kulminasi) akan diraih kembali. sejahtera. Meskipun kita tahu bahwa politik sudah ada sejak manusia pertama kali ada dan membentuk sebuah kelompok untuk bertahan hidup dari serangan kelompok lain. budaya. Semua proses kehidupan terjadi tidak secara tiba-tiba. namun melalui proses dialekta sewajarnya. manajemen organisasi sudah ada. teknik. total dan dunia menjadi ada. 2.agar bertambah keimanan mereka terhadap pencipta. bahwa terjadinya negara yang baik. misalkan Soekarno. Dimana masing-masing subsistem tersebut haruslah berjalan sesuai dengan fungsinya agar tercipta sistem politik yang baik. indonesia semata-mata akan jaya. Sehingga dalam cara pandang ini. Karena sebuah paradigma akan melahirkan cara. Semua bidang sosial politik akan melalui proses-proses tertentu sehingga mencapai titik kulminasi suatu peradapan politik. aman. seorang pemimpin tidak bisa dibentuk tapi dilahirkan. Disini kepemimpinan juga telah muncul. tidak. Dalam kepemerintahan sendiri terdiri dari subsistem-subsistem yaitu Eksekutif. Paradigma politik ini adalah suatu kerangka berfikir untuk mendapatkan pengertian tentang politik dan kemudian akan menyeluruh pada bagian-bagian lainnya dalam ilmu politik. Yudikatif dan Legislatif. Konflik . melalui tahapan-tahapan yang seharusnya. strategi hingga teori pada suatu jenis ilmu. namun sampai ribuahn tahun. pendidikan. dan perpolitikan mulain berjalan. Sedangkan suatu sistem itu terdiri dari subsistem-subsistem yang harus berkolaborasi menjalankan fungsi masing-masing dan berkordinasi secara struktural yang baik. 3. metode. Fungsionalisme – Struktural Prinsip dasar dari paradigma ini adalah bahwa politik dipandang sebagai sebuah sistem.

Begitu pula cara berkomunikasi yang baik. Dimana-mana orang menciptakan realitas buatan. Dan interaksi sosial yang telah dijalani akan membantu dalam meraih kemenangan karena akan mendapat simpati masyarakat luas. Disinilah nantinya konflik kepentingan akan terjadi dan kemudian akan terbentuk kekuasaan. Interaksional – Simbolik Prinsip dasar dalam paradigma ini adalah bahwa politik merupakan pertukaran simbol. Karena politik adalah percaturan kepentingan. selebaran. Jika dibiarkan berlarut-larut. 4. Untuk memenangkan percaturan politik seseorang atau kelompok harus mempunyai modal . Maka dari itulah perlu dibentuknya rule of the game. di pamflet. aturan main dalam menjalankan pola perpolitikan suatu negara. Setiap elite akan berusaha mengunggulkan kepentingannya diatas kepentingan orang lain. personality dsb. Dengan modal finansial yang cukup kita mampu mengiklankan diri. dan kini merambah dunia maya orang-orang ramai memasang bermacam simbol untuk kepentingan politik. bahkan bisa saja dalam satu pesan politik mengandung ribuan makna tersirat (polisemi). sosial. Prinsip dasar dari paradigma ini adalah kepentingan. komunikasi. radio. dan keribadian yang perfect akan lebih banyak menarik dukungan. tentunya politik akan semakin keruh dan tidak ada bedanya dengan hewan. Karena tanpa peraturan ataupun perundang-undangan. sebuah negara kesatuan tidak akan terbentuk. finansial. Berbeda dengan tiga paradigma diatas yang mementingkan substansi nyata dalam berpolitik. bahkan kadang sesuatu yang tidak kita sadari merupakan iklan politik. kekuasaan lebih lanjut akan menciptakan kepemimpinan. alat komunikasi. televisi. membentuk kepribadian seperti apa yang kita inginkan dihadapan masyarakat. Di paradigma ini regulasi perpolitikan menjadi semakin tersamar.Dalam pergulatan dunia poitik rentan terjadinya konflik. baleho. sehingga yang paling penting dalam politik adalah bagaimana memenangkan pertempuran. koran. Sehingga di dunia politik tidak ada sesuatu yang monosemi (bermakna satu). . Semuanya bermakna ganda (ambiguitas).