You are on page 1of 43

BUKU MATERI PELATIHAN KETERAMPILAN MEDIS

PEMERIKSAAN FISIK UMUM
TAHUN 3




PEMERIKSAAN FISIK ABDOMEN
(PATOLOGIS)
BLOK 3.3
























Laboratorium Keterampilan Medis
Fakultas Kedokteran
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta
2010

PEMERIKSAAN FISIK ABDOMEN
(PATOLOGIS)

Koordinator:
Bambang Djarwoto
Spesialis Penyakit Dalam – Konsultan Ginjal-Hipertensi,
Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

KONTRIBUTOR:
Rizka Humardewayanti Asdie
Spesialis Penyakit Dalam – Konsultan
Penyakit Tropik-Infeksi
Staf Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran UGM

Neneng Ratnasari
Spesialis Penyakit Dalam - Konsultan
Gastroentero-hepatologi
Staf Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran UGM

Fahmi Indrarti
Spesialis Penyakit Dalam
Staf Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran UGM


KO-KONTRIBUTOR:
Arum Tri Wahyuningsih
Asisten Tim Materi Skills Lab
Fakultas Kedokteran UGM
Suharyanto
Karyawan Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran UGM


ACKNOWLEDGEMENT:

Wasilah Rohmah
Guru besar Emeritus Ilmu Penyakit Dalam
Spesialis Penyakit Dalam – Konsultan Geriatri
Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada


Desain program pendidikan ditinjau oleh

Mora Claramita
Koordinator Tahun III untuk Pelatihan Keterampilan Medik
Fakultas Kedokteran UGM

KATA PENGANTAR
Tahun ke 3 pendidikan di FK UGM Prodi Pendidikan Dokter sudah memasuki “disease
perspective” yang merupakan kelanjutan dari spiral Pendidikan Dokter tahun-tahun sebelumnya;
oleh karenanya tahun ini merupakan “inti” dari baik buruknya seorang Klinisi. Tugas utama
dokter adalah membuat diagnosis, sehingga ketrampilan dalam Prosedur Diagnosis merupakan
syarat mutlak untuk menjadi Klinisi yang ideal. Untuk itu Klinisi harus mempunyai “hard skill”
meliputi: Biological science, Attitude, Skills dan Knowledge - sedangkan “soft skill” yang harus
dimiliki meliputi: Humane, Sympathetic, Systematic, Observant, Use reason & logic, Respect
information, His/her approach is confident-gentle and competent dan alumni FKUGM juga harus
mempunyai Roh Nasionalisme Ke-Gadjah Mada-an..
Topik dalam buku materi ini adalah salah satu topik yang berada di bawah topik utama:
Pemeriksaan Fisik Umum yang akan dipelajari secara berkelanjutan di setiap blok selama masa
pendidikan di S1. Ketrampilan yang ada dalam buku materi ini didasarkan pada Kurikulum
Berbasis Kompetensi 2007. Topik-topik yang termasuk dalam Pemeriksaan Fisik Umum tahun
ke-3 adalah sebagai berikut:
No. Topik Blok
1. Pengumpulan Data Antropometri 3.1
(Research)

2. Pemeriksaan Fisik Dada; Paru dan Jantung
(Patologis)

3.2
(Chest Complaint)

3. Pemeriksaan Abdomen
(Patologis)

3.3
(Abdominal Complaint)
4. Encounter to Simulated Patient 1 3.5
(Neuro-sensory Complaint)
5. Encounter to Simulated Patient 2 3.6
(Life-style related Complaint)

Sangat penting bagi mahasiwa, untuk menyadari bahwa topik-topik ketrampilan yang
harus dikuasai sudah ada di Standar Kompetensi Dokter Indonesia. Kompetensi hanya akan
tercapai jika tingkat penguasaan Kognitif sampai C6 (evaluasi) A5 (karakterisasi) dan Psikomotor
P5 (naturalisasi). Hanya dengan latihan yang benar, diulang, diulang, dan diulang berkali-kali
akan membawa mahasiswa ke tingkat: Kompeten.
Selamat berlatih!

Yogyakarta, November 2010
Kontributor

Tingkat Kompetensi
Tingkat kemampuan yang diharapkan dicapai pada akhir pendidikan dokter
• Tingkat Kemampuan 1
Dapat mengenali dan menempatkan gambaran-gambaran klinik sesuai penyakit ini
ketika membaca literatur. Dalam korespondensi, ia dapat mengenal gambaran klinik
ini, dan tahubagaimana mendapatkan informasi lebih lanjut. Level ini
mengindikasikan overview level. Bila menghadapi pasien dengan gambaran klinik
ini dan menduga penyakitnya, Dokter segera merujuk.
• Tingkat Kemampuan 2
Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan
pemeriksaanpemeriksaantambahan yang diminta oleh dokter (misalnya :
pemeriksaan laboratoriumsederhana atau X-ray). Dokter mampu merujuk pasien
secepatnya ke spesialis yang relevan dan mampu menindaklanjuti sesudahnya
• Tingkat Kemampuan 3
3a. Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan-pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya
:pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter dapat memutuskan
dan memberi terapi pendahuluan, serta merujuk ke spesialis yang relevan
(bukan kasus gawat darurat).
3b. Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan
pemeriksaanpemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya :
pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter dapat memutuskan
dan memberi terapi pendahuluan, serta merujuk ke spesialis yang relevan (kasus
gawat darurat).
• Tingkat Kemampuan 4
Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan
pemeriksaanpemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya :
pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter dapat memutuskan dan
mampu menangani problem itu secara mandiri hingga tuntas

Physical Examination Level of expected ability

General Survey
assessment of mental status
assessment of apparent state of health
assessment of nutritional condition
assessment of habitus and posture
assessment of respiration

1
1
1
1
1

2
2
2
2
2

3
3
3
3
3

4
4
4
4
4
palpation of pulse
measurement of blood pressure
measurement of jugular venous pressure
measurement of height and weight
inspection and palpation of skin
inspection of mucous membranes
palpation of lymph nodes
1
1
1
1
1
1
1
2
2
2
2
2
2
2
3
3
3
3
3
3
3
4
4
4
4
4
4
4
Head/neck
inspection of eyes, nose, mouth and throat
chvostek’s sign
palpation of salivary glands
throat swab
palpation of thyroid gland
palpation of trachea
palpation of carotic arteria

1
1
1
1
1
1
1

2
2
2
2
2
2
2

3
3
3
3
3
3
3

4
4
4
4
4
4
4
The spine
inspection at rest
inspection in motion
percussion for tenderness
palpation for tenderness
palpation for pain on vertical pressure
(eg pressing down on shoulders)
assessment of lumbar flexion

1
1
1
1
1

1

2
2
2
2
2

2

3
3
3
3
3

3

4
4
4
4
4

4
Thorax
inspection at rest
inspection during respiration
palpation of respiratory expansion
palpation of tactile fremitus
palpation of apex beat
percussion of lungs, lung bases, cardiac size
auscultation of lungs
auscultation of heart
inspection of breasts
palpation of breasts

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

2
2
2
2
2
2
2
2
2
2

3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
Abdomen
Inspection
auscultation (bowel, sounds, bruits)
percussion (especially liver, Traube’s area bladder
dullness)
palpation (abdominal wall, colon, liver,
spleen, aorta, rigidity)
eliciting abdominal tenderness and rebound tenderness
eliciting shifting dullness
eliciting a fluid thrill

1
1
1

1

1
1
1

2
2
2

2

2
2
2

3
3
3

3

3
3
3

4
4
4

4

4
4
4
eliciting renal tenderness 1 2 3 4
Extremities
inspection of skin, nails, muscle tone
inspection of joints
assessments of capillary pulse
assessments of capillary refill
palpation of arterial pulses
detection of bruits
palpation of skin, tendons, joints
assessments of range of motion of joints
examination of sensory system
examination of monitor system
eliciting reflexes: knee reflex, ankle reflex, triceps reflex,
biceps reflex, plantar response

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2


3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
Therapeutic skills
to advice a patient about life-style
to prescribe a diet
subcutaneous and intramuscular injection
administration of insulin
intravenous cannulation
mouth to mouth resuscitation
cardiac massage
initiate resuscitation
nasogastric tube
Contraventil needle (needle decompression)
WSD
Endoscopy
bladder catheter
renal dialysis
sclerotherapy for varicose veins

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2

3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4

NB: Level of Expected Ability yang harus tercapai pada akhir pendidikan.
CONTENTS
!"#"$%&'(() +%'%& (,-.#") /!(0.1.2%'3

!"#"$% "'"' ()!)*$'+,-$% ').,/ !$0"% 1
1. Mahaslswa mampu memblna komunlkasl dan lnLeraksl dokLer-paslen
2. Mahaslwa mampu menenLukan dlagnosls bandlng darl permasalahan paslen
3. Mahaslswa mampu merencanakan pengobaLan yang raslonal
4. Mahaslswa mampu menegoslaslkan rencana mana[emen (CA8L ÞLAn) dengan paslen
dengan memperLlmbangkan blososlokulLural (keLerllbaLan keluarga, penggunaan
pengobaLan Lradlslonal, Langgapan dan perllaku non verbal paslen)

Ilustrasi kasus

















Pertanyaan
1. Apa saja kemungkinan diagnosis pada pasien tersebut?
2. Sebagai dokter umum, apa saja yang harus disiapkan pada pasien ini?
3. Edukasi apa yang dapat diberikan untuk pasien tersebut?

Tujuan Pembelajaran
1. Nengulang kembali langkah-langkah uasai Komunikasi Boktei-Pasien, anamnesis, vital
sign, pemeiiksaan fisik abuomen, seita oigan lain yang ielevan.
2. Nengulang kembali memahami metoue uan pioseuui ualam menggunakan peialatan
yang uipeilukan untuk pemeiiksaan abuomen, seita oigan lain yang ielevan.
S. Nampu memahami uan melaksanakan Pioseuui Biagnostik (anamnesis, pemeiiksaan
fisik uan pemeiiksaan penunjang).
4. Nampu membeiikan Teiapi uan Euukasi sesuai uengan kewenangannya.
S. Nampu menulis Resep

Hasil Pembelajaran yang Diharapkan
Seorang wanita berusia 24 tahun datang ke ruang unit darurat ditemani
suaminya dengan keluhan nyeri kram pada perut. Karena rasa nyeri ini
muncul bersamaan dengan menstruasi, dia beranggapan bahwa nyeri kram
tersebut menunjukkan awal dysmenorrheal yang biasa dia alami. Rasa nyeri
ini awalnya menyebar dan sulit untuk dilokalisir. Rasa nyeri bermula di
daerah tengah (periumbilical) dan berpindah dari wilayah periumbilical ke
wilayah kuadran kanan bawah. Dia menderita demam, kehilangan nafsu
makan yang berkembang menjadi mual-mual dan bahkan muntah-muntah.
Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan pasien memiliki temperatur yang
tinggi dan detak nadi yang semakin cepat. Sewaktu dilakukan palpasi pada
abdominal, dokter mendeteksi adanya rigiditas terlokalisisr dan nyeri pada
abdomen kanan bawah. Dokter meminta dilakukan penghitungan darah dan
merujuk pasien ke ahli bedah tanpa memberikan medikasi analgesik.

Mahasiswa diharapkan menjadi kompeten dalam Prosedur diagnostik kelainan
abdomen.
1. Mahasiswa mampu mengelola paripurna penyakit abdomen sesuai etiologi
penyakit:
- Kelainan congenital
- Kelainan Aquisita (Trauma, Infeksi, Kelainan degenerasi, malignansi dan
autoimun).
2. Mahasiswa mampu berkomunikasi Dokter-Pasien yang optimal sejak awal
pertemuan hingga akhir.
S. Mahasiswa mampu menemukan Keluhan utama.
4. Mahasiswa mampu membuat konsep diagnosis banding.
S. Mahasiswa mampu anamnesis
6. Mahasiswa mampu cuci tangan secara lege artis sebelum dan sesudah
pemeriksaan.
7. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan fisik patognomonis, relevan, skrining.
8. Mahasiswa mampu merencanakan pemeriksaan penunjang.
9. Mahasiswa mampu menemukan masalah aktif & pasif dari Anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
1u. Mahasiswa mampu membuat diagnosis klinis – causative/definitive
11. Mahasiswa mampu memberikan terapi non medika mentosa – medikamentosa.
12. Mahasiswa mampu menulis Resep.
1S. Mahasiswa mampu memberikan edukasi untuk promotif, preventif dan
rehabilitative.

Hubungan dengan Ketrampilan Lain
0ntuk melakukan ketiampilan pemeiiksaan fisik ualam Blok S.S, mahasiswa haius
mampu melakukan pemeiiksaan fisik uasai sepeiti paua Blok 1.1; 1.2 uan 1.S; memahami
anatomi seita fisiologi abuomen.
Ketiampilan ualam Blok S.S uipeilukan untuk mempelajaii ketiampilan klinis lanjut
paua Blok 4.1 (Keauaan Baiuiat).

Penilaian
Pioseuui keija uigunakan sebagai metoue pengajaian. Skoi minimal paua akhii blok
aualah 7u.

Latihan Mandiri
Tujuan uaii latihan manuiii aualah untuk meningkatkan skoi ¡ nilai pioseuui pemeiiksaan
sampai uengan > 7u.

Nempeitimbangkan bahwa sesi latihan teibimbing uengan instiuktui ui tahun ketiga ini
amat teibatas (untuk masing-masing topik hanya 1 kali latihan), maka latihan manuiii
sangat uipeilukan.

Salah satu kesempatan latihan manuiii aualah latihan ui seting pelayanan piimei
(Puskesmas uan LSN) yang telah uifasilitasi oleh Skills Lab. Nahasiswa tahun ketiga silakan
memanfaatkan kesempatan teisebut untuk mengoptimalkan latihan keteiampilan meuik
secaia teiintegiasi ui komunitas (uengan tetap menuapatkan umpan balik uaii instiuktui
skills lab secaia peiiouik).

Program Belajar
Tabel 1. Aktifitas Pembelajaran

%23 ,45 6789 !:;<5=7> (:>:;78978
1. !4567899::
- Beiuoa.
- Penjelasan uan peisiapan bahan
- Skenaiio uan pietest.
- Tujuan pembelajaian.
- Simulasi yang uilakukan oleh bebeiapa
mahasiswa (uilakukan oleh mahasiswa
yang telah mempeisiapkan uiii meieka
senuiii atau uipilih oleh instiuktui)
- Komentai uaii instiuktui uan mahasiswa

Instruktur
Mahasiswa

15 menit

Bahan:
-Alkohol
-Stetoskop (stetoskop
latihan uan stetoskop
tunggal)
?3 &4;<9=9: >=959:
- '4?< !@98=48. Tiap kelompok teiuiii uaii ±
S-4 mahasiswa, yang beipeian sebagai
pasien, uoktei, penilai (setiap mahasiswa
haius beigabung ualam simulasi). Peian
sebagai uoktei, pasien uan penilai
uilakukan secaia beigantian.
- 19=<A9: B4:;9: CDE &9?7? F9:; ?7B9A
B<?<9G89: ?469;9< HI@8GJ9: 7:=78 =<9G
84JI5GI8K
- Pemeiiksaan peifoima abuomen
- Tanggapan langsung uaii paia mahasiswa.
- Biskusi: Seluiuh peitanyaan paua iencana
keija uitujukan langsung paua instiuktui.

Mahasiswa terbimbing

80 menit

Checklist/feedback
form
13 !4:7=7G9::
- Refleksi, hasil latihan uibanuingkan
uengan checklist ¡ feeuback foim.
- Penjelasan semua peitanyaan !"#$ &'()*
- Penjelasan tugas untuk meningkatkan
keahlian uengan ,4J9L9@ #9:B<@<K
- Nengingatkan paia mahasiswa mengenai
pentingnya keahlian sebagai uasai uaii
pemeiiksaan fisik yang akan uiajaikan
paua blok selanjutnya.
- !""# %&'( uaii mahasiswa mengenai sesi
piaktek untuk Skill Lab.
- Boa penutup.

Instruktur

25 menit

Alat dan Bahan
Alat uan bahan yang uipeilukan untuk pemeiiksaan abuomen aua paua tabel 2.

Tabel 2. Instrumen dan alat bantu dalam pemeriksaan tanda vital dan abdomen

- Teimometei aii iaksa 0ial, axilla, iectal
- Teimometei Elektiik Bigital
- Teimometei Infiameiah
- Sphygmomanometei



- Neicuiy
- }aium
- Bigital
- Bed Side Monitor
- Benyut

- Nanual (jam tangan uengan M($>#
-"0%&3
- Elektiik¡uigital
• Alkohol Cuci tangan
- Tempat pemeiiksaan Neja peiiksa, meja peialatan, uan tempat
tiuui
- Stetoskop
- Lampu Sentei Pena
- Pensil uan keitas
- Pengukui beiat¡tinggi bauan
- }ubah Pemeiiksaan
- Kain penutup
- Saiung tangan +,-&"-(.'/

Struktur dan Fisiologi Abdomen
Untuk tujuan deskriptif abdomen dapat dibagi menjadi empat kuadran. Dua garis
khayal bersilangan di pusar dan membagi abdomen menjadi kuadran kanan atas dan
kanan bawah, serta kuadran kiri atas dan kiri bawah. Satu garis ditarik dari sternum ke
tulang pubis melalui pusar. Dengan demikian terbentuklah empat kuadran dan organ
perut di dalam tiap kuadran diperlihatkan dalam Gambar 1.

@7A=7; B3 Empat kuadran abdomen
Sumber : Swartz M.H. Textbook of Physical Diagnosis,
History and Examination. 5
th
edition. Philadelphia.
WB Saunders Company. 2007

@7A=7; ?3 /:A=5<78 CD7E;78 7=E2A:8
Sumber : Swartz M.H. Textbook of Physical
Diagnosis, History and Examination. 5
th
edition.
Philadelphia. WB Saunders Company. 2007

Cara deskripsi lainnya membagi abdomen menjadi sembilan daerah (Gambar 2):
epigastrium, umbilikus, suprapubis, hipokondrium kanan dan kiri, lumbal kanan dan kiri,
inguinal kanan dan kiri. Dua garis khayal ditarik dengan memperpanjang garis
midklavikular sampai ke pertengahan ligamen inguinal. Garis-garis ini membentuk batas
lateral muskulus rektus abdominus. Dua garis sejajar dibuat tegak lurus dengan garis-
garis ini, yaitu satu pada margo kosta dan lainnya pada spina iliaka anterior superior.
Yang lazim dipakai hanya nama tiga daerah di bagian tengah (epigastrium, umbilikus,
dan suprapubis).
Pemeriksa harus menguasai struktur abdomen yang terletak pada tiap daerah.
Tabel 3. memuat daftar organ-organ yang ada pada masing-masing dari empat kuadran.
Karena ginjal, duodenum, dan pankreas merupakan organ posterior, kelainan pada organ-
organ ini tidak mungkin teraba pada orang dewasa. Pada anak-anak, di mana otot
perutnya belum berkembang, massa ginjal dapat diraba.
Tabel 3. Struktur abdomen menurut empat kuadran
Kanan Kiri
Atas
Hati
Kandung empedu
Pilorus
Duodenum
Pankreas: kaput
Adrenal kanan
Ginjal kanan: kutub atas
Fleksura hepatika
Kolon asendens: sebagian
Kolon transversum: sebagian

Hati: lobus kiri
Limpa
Lambung
Pankreas: korpus
Adrenal kiri
Ginjal kiri: kutub atas
Fleksura lienika
Kolon desendens: sebagian
Kolon transversum: sebagian

Bawah
Ginjal kanan : kutub bawah
Sekum
Apendiks
Kolon asendens: sebagian
Ovarium kanan
Tuba falopii kanan
Ureter kanan
Korda spermatika kanan
Uterus (jika membesar)
Kandung kemih (jika membesar)

Ginjal kiri: kutub bawah
Kolon sigmoid
Kolon desendens: sebagian
Ovarium kiri
Tuba falopii kiri
Ureter kiri
Korda spermatika kiri
Uterus (jika membesar)
Kandung kemih (jika membesar)


PEMERIKSAAN ABDOMEN
Pada pemeriksaan abdomen pasien harus berbaring lurus di tempat tidur,
memakai bantal di kepala dan perutnya harus terlihat penuh dari sternum sampai lutut.
Lengannya diletakkan di sisi tubuh dan tungkainya lurus. Sehelai handuk atau kain
diletakkan di atas genetalia pasien seperti yang terlihat pada gambar 3.
Pada pemeriksaan selanjutnya, untuk membantu merelaksasi otot-otot perut dapat
diletakkan bantal di bawah lutut pasien atau dengan mengintruksikan pasien menekuk
lututnya (gambar 4). Pemeriksa harus berdiri di sisi kanan penderita. Jika pasien
mempunyai keluhan nyeri perut, adalah penting bahwa daerah yang nyeri diperiksa
terakhir. Jika pemeriksa menyentuh area yang nyerinya maksimal, otot perutnya akan
teregang.



@7A=7; 13 +24545 477> F:A:;5C4778 7=E2A:8G +745:8
=:;=7;589H 7=E2A:8 >:;F7F7; F:8DI E7;5 4>:;8DA
47AF75 589D587<
Sumber : Swartz M.H. Textbook of Physical Diagnosis,
History and Examination. 5th edition. Philadelphia. WB
Saunders Company. 2007


@7A=7; J3 ':;:<7C4745C78 2>2> 7=E2A:8K F745:8
=:;=7;589 E:8978 <D>D> E5>:CDC
Sumber : Swartz M.H. Textbook of Physical Diagnosis,
History and Examination. 5th edition. Philadelphia. WB
Saunders Company. 2007

Pemeriksaan fisik abdomen meliputi:
o Inspeksi
o Auskultasi
o Perkusi
o Palpasi
o Pemeriksaan dubur
o Teknik khusus

A. INSPEKSI ABDOMEN
Inspeksi abdomen adalah memeriksa abdomen dengan cara mengamati/
memandang/melihat dan membandingkan secara cermat keadaan abdomen. Pemeriksa
harus melatih dirinya untuk melihat tubuh dengan menggunakan suatu pendekatan
sistematik. Ketika melakukan anamnesis, pemeriksa sudah harus memperhatikan hal-hal
tertentu mengenai pasien yang mungkin dapat membantu menegakkan diagnosis. Coba
buka kembali buku materi skills lab blok 1.3 mengenai pemeriksaan umum yang
berkaitan dengan kelainan di abdomen.


@7A=7; L3 0:A2M;2A7>2454 NO;28P: .57=:>:4Q

@7A=7; R3 !78978 +:8E:;5>7 E:8978
0:A2M;2A7>2454




@7A=7; S3 +7<A7; :;5>:A7


@7A=7; T3 #7D8E5M:



@7A=7; U3 +:D>P #:9I:; /V8E;2A:

@7A=7; BW3 +:D>P #:9I:; /V8E;2A:



@7A=7; BB3 @7;E8:;X4 /V8E;2A: NC54>7
:F5E:;A25E AD<>5F<:Q


@7A=7; B?3 Y<D==589 Z589:; F7E7 /5;2454 O5<5:;
+;5A:;




@7A=7; B13 );DF45 [78>I2A7 F7E7 /5;2454 O5<5:;
+;5A:;

@7A=7; BJ3 );DF45 [78>I2A7 F7E7 /5;2454 O5<5:;



@7A=7; BL3 \<D4I589 F7E7 Y7;M5825E


Inspeksi abdomen meliputi kontur dinding abdomen yang ditentukan oleh volume
jaringan subkutan, perkembangan otot-ototnya, dan adanya distorsi jaringan parut.
Diperhatikan pula bentuk abdomennya apakah rounded, protuberan, datar atau scaphoid.
Abdomen yang scaphoid mungkin berkaitan dengan kakeksia, sedang abdomen
protuberan dapat disebabkan oleh distensi usus oleh gas, asites, pembesaran organ atau
obesitas. Jaringan parut dari bekas operasi sebelumnya dapat menyebabkan distorsi dari
kontur.
Umbilikus dinilai untuk menilai apakah ada penonjolan atau indentasi. Umumnya
umbilicus normal biasanya mengadakan indentasi tetapi sama rata dengan dinding
abdomen atau agak menonjol. Umbilikus yang tereversi sering menjadi tanda
peningkatan tekanan abdominal, biasanya karena asites atau massa yang besar.
Suatu hernia umbilical juga dapat menyebabkan eversi umbilicus. Adakah nodul-nodul
seperti nodul Sister Mary Joseph’s yang merupakan nodul metastatik adenocarcinoma
lambung.


@7A=7; BR3 +:8D;D878 !D;92; (D<5> F7E7
.:I5E;745 O:;7>


@7A=7; BS3 %2ED< !"#$%& ()&* +,#%-./#



@7A=7; BT3 $45>:4 E:8978 0:;857 "A=5<5C7<54


Selain itu kulit abdomen harus dilihat apakah ada jaringan parut bekas
pembedahan atau trauma serta dicatat dimana lokasi jaringan parut tersebut berada.
Tanda-tanda kulit seperti perubahan warna, lesi local, dan pola vena, seperti stria perak
atau putih atau “tanda garukan” yang merupakan tanda peregangan kulit yang terjadi
pada orang-orang dengan pertambahan berat badan yang cepat, stria berwarna agak
kebiruan atau kehitaman dapat dilihat pada orang hamil, stria ungu-merah muda
merupakan tanda klasik akibat kelebihan adrenokortikal. Apakah ada tanda Gray yaitu
perdarahan / ekimosis yang masif dapat terjadi pada daerah abdomen atau pinggul yang
dapat terjadi pada pankreatitis atau strangulasi usus, atau apakah ada tanda Cullen yaitu
kebiru-biruan yang disebabkan oleh hemoperitoneum.
Pola vena abdomen biasanya hampir tidak dapat dilihat atau samar, tidak jelas dan
retikuler, jika dapat dilihat drainase dua pertiga bawah abdomen terjadi ke arah bawah.
Jika ada sumbatan pada vena cava, vena superficial mungkin berdilatasi dan drainase
vena terjadi ke arah cephal. Pada pasien dengan hipertensi portal dilatasi vena kelihatan
menyebar dari umbilicus, ini disebabkan oleh aliran membalik melalui vena kolateral di
dalam ligamentum falsiformis, dan pola aliran ini disebut dengan caput medusae. Jika
vena superfisialis mengalami distensi periksalah arah drainasenya. Inspeksi adanya
hernia dilakukan pada pasien dengan posisi berbaring ditempat tidur, dan pasien
diminta untuk batuk, sementara pemeriksa memeriksa daerah inguinal, umbilical
dan femoral.


@7A=7; BU3 +:;5DA=5<5M7< +D;FD;7 N!78E7 YD<<:8Q


@7A=7; ?W3 !78E7 @;:V !D;8:;




@7A=7; ?B3 .5<7>745 ]:87 .58E589 $=E2A:8


@7A=7; ??3 *24: /F2>



@7A=7; ?13 +2<7 ]:87 $=E2A:8


@7A=7; ?J3 $45>:4

Pada orang kurus dapat dilihat hantaran pulsasi aorta pada epigastrium atau
periumbilikalis. Amati pula pergerakan peristaltik dan naik turunnya dinding abdomen
pada waktu pergerakan pernafasan. Pergerakan abdomen sewaktu istirahat pada posisi
terlentang adalah minimal.

B. AUSKULTASI ABDOMEN
Lakukan auskultasi abdomen sebelum melakukan perkusi atau palpasi,
karena manuver-manuver ini dapat mengganggu frekuensi suara usus. Auskultasi
bunyi usus dapat didengarkan dengan diafragma stetoskop dengan menekan secara
lembut terhadap kulit dan dapat dinilai pada setiap kuadran. Bunyi usus normal terdiri
dari clicks and gurgles, timbul kira-kira tiap 5-10 detik dan bernada tinggi atau sekitar 5-
34 kali permenit. Hitunglah berapa kali terdengar bunyi usus dalam 1 menitnya dengan
cara meletakkan diafragma stetoskop diatas mid-abdomen. Pada keadaan normal, suara
peristaltik usus kadang-kadang dapat didengar walaupun tidak menggunakan stetoskop,
terutama pada keadaan lapar. Dengan bertambahnya isi usus, peristaltik menjadi lebih
aktif, aktivitas usus bertambah saat post-prandial dan bunyi usus menjadi lebih sering.
Pada waktu istirahat bunyi usus menjadi lebih jarang.
Jika ada obstruksi usus, suara peristaltik dapat meningkat, lebih lagi pada saat
timbul rasa sakit yang bersifat kolik dan mungkin akan timbul arus “denting” bernada
tinggi yang disebut dengan borborigmi (atau stomach growling). Suara gurgle yang
diperpanjang yang berkaitan dengan hiperperistaltik, sering dijumpai pada obstruksi usus
akut dini. Jika setelah 2 menit tidak terdengar bunyi usus, dapat dibuat pernyataan tidak
ada bunyi usus. Tidak adanya bunyi usus mengarah pada ileus paralitik yang disebabkan
iritasi peritoneum difus. Keadaan ini juga dapat terjadi pada tahap lanjut dari obstruksi
usus dimana usus menjadi sangat melambat dan atoni. Pada ileus obstruksi kadang
terdengar suara peristaltik dengan nada yang tinggi dan suara logam (metallic sound).
Suatu succussion splash mungkin ditemukan pada abdomen yang distensi sebagai
akibat adanya gas dan cairan didalam suatu organ yang mengalami obstruksi, dengan cara
meletakkan stetoskop diatas abdomen pasien sambil mengguncang pasien dari sisi ke sisi.
Adanya bunyi percikan biasanya menunjukkan adanya distensi lambung atau kolon.


@7A=7; ?L3 !0110#",2 #-3)#.

Auskultasi juga berguna untuk menentukan adanya bruit. Tiap kuadran harus
diperiksa untuk mengetahui adanya bruit ini terutama pada aorta, arteri iliaca, dan arteri
renalis. Suara murmur sistolik atau diastolic mungkin dapat didengar pada auskultasi
abdomen. Bruit sistolik dapat didengar pada aneurisma aorta atau pada pembesaran
hepar karena hepatoma. Bruit dengan komponen sistolik dan diastolic menunjukkan
adanya turbulensi aliran darah akibat oklusi parsial arteri atau insufisiensi arteri. Jika
pasien memiliki tekanan darah tinggi, cari apakah ada bruit di epigastrium dan masing-
masing di kuadran atas, dan lanjutkan pada daerah sudut costovertebralis pada posisi
pasien duduk. Bising vena (venous hum) yang kadang-kadang disertai dengan terabanya
getaran (thrill) dapat didengar diantara umbilicus dan epigastrium. Pada keadaan fistula
arteriovenosa intra-abdominal kadang-kadang dapat didengar suara murmur.
Selain itu dapat pula digunakan untuk menilai ada tidaknya gesekan friksi
peritoneal yang menunjukkan adanya peradangan. Selama gerakan pernafasan, suatu
gesekan friksi mungkin terdengar di kuadran atas kanan atau kiri jika ada kelainan hepar
atau limpa, seperti tumor hepar, infeksi gonococcal disekitar hepar dan infark limpa.

C. PERKUSI ABDOMEN
Perkusi dipakai untuk memperlihatkan adanya distensi gas, cairan atau massa
padat. Pada pemeriksaan normal biasanya hanya ukuran dan lokasi hepar dan limpa yang
dapat ditentukan. Sebagian pemeriksa lebih suka melakukan palpasi sebelum perkusi,
terutama jika pasien mengeluh nyeri perut. Perkusi abdomen, dilakukan dengan posisi
pasien berbaring terlentang, dilakukan perkusi 13 titik, seperti yang telah dipelajari pada
blok 1.3 sebelumnya. Perkusi abdomen sangat membantu dalam menentukan apakah
rongga abdomen berisi lebih banyak cairan atau udara serta distribusinya udara di dalam
abdomen. Selain itu perkusi berguna untuk menentukan ukuran hepar dan limpa.
Timpani merupakan bunyi perkusi yang paling sering ditemukan pada abdomen.
Ini disebabkan oleh adanya gas didalam lambung, usus kecil dan kolon, kecuali di daerah
hepar suara perkusinya adalah pekak. Hilangnya sama sekali daerah pekak hepar dan
bertambahnya bunyi timpani di seluruh abdomen harus dipikirkan akan kemungkinan
adanya udara bebas dalam rongga perut, misal pada perforasi usus. Daerah suprapubis
mungkin redup pada perkusi jika kandung kemih distensi atau pada wanita jika uterusnya
membesar. Terdapat suatu keadaan yang disebut dengan fenomena papan catur
(chessboard phenomenon) dimana pada perkusi dinding perut ditemukan bunyi timpani
dan redup yang berpindah-pindah, sering ditemukan pada peritonitis tuberkulosa.

Perkusi hepar
Lakukan perkusi hepar seperti yang telah dipelajari pada blok 1.3. Distensi kolon
pada kuadran kanan dapat mengaburkan redup hepar bagian bawah, oleh karena itu
pemeriksa dapat menaksir terlalu rendah ukuran hepar. Jika pada perkusi ditemukan
redup hepar lebih dari 12 cm pada garis midclavicula kanan, atau jika tepinya teraba lebih
dari 2 cm di bawah margo kosta kanan tanpa pengembangan paru yang berlebihan maka
dicurigai hepar ini membesar. Redup hepar ini berkurang bila hepar ini mengecil (misal
pada sirosis hepar) atau terdapat udara bebas di atas diafragma sebagai akibat perforated
hollow viscus. Batas atas redup hepar mungkin dapat turun ke bawah akibat rendahnya
diafragma pada penderita penyakit paru obstrusi menahun (PPOK).
Jika pemeriksa mendapat kesulitan dalam menentukan batas bawah hati, scratch
test merupakan pemeriksaan tambahan yang bermanfaat. Difragma stetoskop
ditempatkan pada hepar tepat di atas tepi iga pada garis mid clavicula. Satu jari tangan
mengadakan garukan dengan lembut pada kulit secara zigzag berlanjut ke cephal di
sepanjang garis mid-clavicula menuju kuadran kanan atas. Bila jari tangan penggaruk
menyilang tepi hepar, maka bunyi dihantarkan lebih jelas melalui organ padat.

@7A=7; ?R3 !1&)$1. $%#$

Perkusi Limpa
Meskipun daerah limpa sulit untuk diperkusi, penentuan ukuran limpa harus
diusahakan. Ruang Traube adalah daerah gelembung udara lambung pada kuadran atas
kiri. Tepat disebelah lateral ruang Traube ada daerah redup yang berkaitan dengan
adanya limpa. Daerah ini kira-kira terletak pada iga ke sepuluh disebelah posterior garis
mid-aksila. Ingat dan kalau perlu buka kembali buku petunjuk skills lab blok 1.3
bagaimana cara memperkusi limpa.

Perkusi kandung kemih dan atau uterus
Apabila pada perkusi menunjukkan bunyi redup pada daerah suprapubik maka
menunjukkan kandung kemih penuh atau suatu pembesaran uterus pada pasien wanita.
Lakukan pula perkusi untuk menentukan tingginya kandung kemih atau uterus di atas
simfisis osis pubis.

Pemeriksaan Ascites
Dalam keadaan adanya cairan bebas didalam rongga abdomen, perkusi di atas
dinding perut mungkin timpani dan disampingnya redup. Lakukanlah perkusi mulai dari
umbilikus ke lateral hingga ditemukan batas timpani dan redup pada posisi pasien
berbaring telentang. Batas timpani ada di atas batas redup, ini disebabkan gas dalam usus
yang terapung di atas puncak asites. Dengan memiringkan pasien ke satu sisi suara redup
ini akan berpindah (shifting dullness), pada posisi yang lebih rendah, daerah disekitar
umbilikus yang mula-mula timpani sekadang akan menjadi redup. Pemeriksaan ini sangat
patognomonis dan lebih dapat dipercaya dari pada memeriksa adanya gelombang cairan,
memiliki sensitivitas 83% dan spesifisitas 56%. Adanya redup bilateral pada perkusi
pinggang merupakan tanda yang paling sensitif untuk adanya asites dengan
sensitivitasnya 94% sedang spesifisitasnya hanya 29%.
Selain ini ada beberapa teknik lain untuk memeriksa adanya cairan bebas
didalam rongga abdomen (asites), yaitu:
Cara pemeriksaan gelombang cairan (fluid wave). Cara ini dilakukan pada
pasien dengan asites yang cukup banyak dan perut yang agak tegang. Pasien dalam
keadaan berbaring telentang dengan tangan asisten atau tangan pasien sendiri diletakkan
di bagian tengah abdomen dengan sedikit penekanan. Penekanan dinding abdomen ini
akan menghentikan transmisi impuls oleh jaringan adiposa subkutan dan mencegah
gerakan yang diteruskan melalui dinding abdomen. Tangan pemeriksa diletakkan pada
satu sisi sedang tangan lainnya mengetuk-ngetuk dinding perut atau pinggang pada sisi
yang lain. Adanya gelombang cairan mempunyai sensitivitas hanya 50% dan
spesifitasnya 82%. Hasil positif palsu dapat terjadi pada pasien yang terlalu gemuk dan
hasil negatif palsu dapat terjadi jika asitesnya sedikit sampai sedang.

@7A=7; ?S3 +:A:;5C4778 $45>:4 E:8978 430"5 6)7% 8%1.2"90%

Untuk cairan yang lebih sedikit dan meragukan dapat dilakukan pemeriksaan
dengan posisi pasien terkurap dan menungging (knee-chest position). Setelah
beberapa saat, perkusi daerah perut yang terendah, jika terdapat cairan akan didengar
bunyi redup. Pada posisi tegak maka perkusi redup akan didengarkan pada bagian bawah.
Pemeriksaan yang lain adalah puddle sign yaitu posisi pasien tetap pada knee-
chest position dan dengan menggunakan stetoskop yang diletakkan pada bagian perut
terbawah didengarkan perbedaan suara yang ditimbulkan karena ketukan jari-jari pada
sisi perut sedangkan stetoskop digeserkan melalui perut tersebut ke sisi yang lainnya.
Ketukan diteruskan pada posisi yang terfiksir. Pengurangan intensitas bunyi secara
mendadak yang dihasilkan dari ketukan jari tangan ketika stetoskop bergerak di atas
cairan yang tergenang dianggap tanda positif. Jika dirasakan perubahan ini, proses ini
diulang pada tempat seberangnya untuk menentukan margo/batasnya.

D. PALPASI ABDOMEN
Untuk mempermudah palpasi hepar abdomen diperlukan dinding usus yang lemas
dengan cara posisi pasien berbaring telentang, kaki ditekuk sehingga membuat sudut 45
o
-
60
o
. Palpasi abdomen dilakukan 2 kali yaitu palpasi ringan atau superficialis palpation
dan palpasi dalam atau deep palpation.
Palpasi ringan dipakai untuk menemukan nyeri tekan dan daerah spasme otot
atau rigiditas dan beberapa organ dan massa superfisial. Seluruh abdomen harus dipalpasi
secara sistematis, dengan menggunakan bagian rata tangan atau bantalan jari tangan,
bukan dengan ujung jari. Jari-jari tangan harus disatukan dan hindari gerakan menusuk
secara tiba-tiba. Tangan harus diangkat dari satu daerah ke daerah yang lain, bukannya
digeserkan diatas dinding perut. Palpasi ini dengan menekan ke arah dalam tidak lebih
dari 1 cm sambil mencari dan menilai adanya nyeri tekan, massa kutan atau subkutan.
Setiap kuadran harus dilakukan palpasi ringan.
Untuk memonitor respon palpasi abdomen, pemeriksa harus mengamati wajah
pasien secara terus menerus selama pemeriksaan, karena banyak pasien tidak
memperlihatkan ekspresi nyeri secara verbal tetapi menunjukkan rasa tidak enak/nyaman
dengan perubahan wajah. Teknik ini sudah dipelajari pada blok 1.3. Coba ingat kembali.
Selama ekspirasi, muskulus rektus biasanya rileks dan lunak. Jika ada sedikit perubahan
dikatakan bahwa ada rigiditas (rigiditas adalah spasme involunter otot-otot perut dan
menunjukkan iritasi peritoneum). Rigiditas mungkin difus seperti pada peritonitis atau
setempat, seperti diatas apendiks atau kandung empedu yang meradang. Pada pasien yang
mengeluh nyeri perut, palpasi harus dilakukan dengan hati-hati dan palpasi dilakukan dari
tempat yang jauh dari keluhan, meninggalkan palpasi dalam pada tempat yang
bersangkutan untuk pemeriksaan yang terakhir.
Palpasi dalam diperlukan untuk menentukan ukuran organ dan adanya massa
abdomen, lokasinya, ukurannya, bentuknya, konsistensinya, ada nyeri tidak dan
mobilitasnya terhadap respirasi atau jaringan sekitarnya. Pada palpasi dalam bagian datar
tangan kanan diletakkan di atas abdomen dan tangan kiri diletakkan di atas tangan kanan.
Ujung jari tangan kiri memberi tekanan, sedang tangan kanan mengindera setiap
rangsang taktil. Tekanan kepada abdomen harus diberikan dengan ringan tetapi terus
menerus. Selama palpasi dalam, pasien harus disuruh untuk bernafas perlahan-lahan
melalui mulutnya dan meletakkan kedua lengannya pada sisi tubuhnya. Meminta pasien
untuk membuka mulutnya selama bernafas dapat membantu relaksasi otot secara umum.
Tangan yang melalukan palpasi harus hangat, sebab tangan yang dingin dapat
menimbulkan spasme otot volunter yang disebut dengan guarding. Mengajak pasien
bercakap-cakap sering membantu merelaksasi otot-otot perutnya.
Sebelum melakukan palpasi pada pasien dengan nyeri perut atau nyeri tekan,
suruh pasiennya batuk, ini untuk menilai apakah batuk mencetuskan nyeri. Kemudian
lakukan palpasi secara gentle dengan menggunakan satu jari untuk mendapatkan daerah
yang nyeri. Pasien dengan nyeri perut harus ditentukan apakah ada nyeri lepas (rebound
tenderness).
Nyeri lepas adalah tanda iritasi peritoneum dan dapat dibangkitkan dengan
mempalpasi dalam-dalam dan perlahan-lahan di daerah perut menjauhi daerah yang
diduga mengalami peradangan setempat. Tangan yang melakukan palpasi kemudian
diangkat dengan cepat. Tanyailah pasien dan lihat ekspresi wajah pasien mana yang
lebih sakit, saat saya tekan (sambil melakukan penekanan) atau saat saya lepas (sambil
melepaskan tekanan). Sensasi nyeri pada sisi peradangan yang terjadi ketika tekanan
dilepaskan disebut nyeri lepas.

Palpasi Hepar
Untuk mempermudah palpasi hepar diperlukan dinding usus yang lemas dengan
cara posisi pasien berbaring telentang, kaki ditekuk sehingga membuat sudut 45
o
-60
o
.
Palpasi dikerjakan dengan menggunakan sisi palmar radial jari tangan (bukan ujung jari)
dengan posisi ibu jari terlipat di bawah palmar manus. Lebih tegas lagi bila arah jari
membentuk sudut 45
o
dengan garis median. Ujung jari terletak pada bagian lateral
musculus rectus abdominalis dan kemudian pada garis median untuk memeriksa hepar
lobus sinistra, sementara tangan kiri pemeriksa diletakkan dibawah tubuh pasien paralel
dan menyokong iga ke-11 dan 12 kanan, disebelah lateral muskulus paraspinosus.
Pasien diminta relaks dan menarik nafas panjang, pada saat ekspirasi maksimal
jari ditekan ke bawah kemudian pada awal inspirasi jari bergerak ke kranial dalam arah
parabolik, sehingga diharapkan bila hepar membesar akan terjadi sentuhan antara jari
pemeriksa dengan hepar pada saat inspirasi maksimal.
Palpasi dimulai dari regio iliaka kanan menuju ke tepi lengkung iga kanan.
Dinding abdomen ditekan ke bawah dengan arah dorsal dan kranial sehingga akan dapat
menyentuh tepi anterior hepar. Gerakan ini dilakukan berulang-ulang dan posisinya
digeser 1-2 jari ke arah lengkung iga. Penekanan dilakukan pada saat pasien sedang
inspirasi. Pada inspirasi, hepar terpalpasi sekitar 3 cm di atas lengkung iga kosta kanan
pada garis midclavicula. Beberapa orang bernafas lebih dengan menggunakan dadanya
(pernafasan dada), dibandingkan dengan abdomennya. Akan sangat membantu bila
melatih pasien terlebih dahulu untuk bernafas dengan abdomennya, pada saat melakukan
palpasi hepar, limpa dan ginjal.
Bila pada palpasi dapat meraba adanya pembesaran hepar, maka harus didiskripsikan
sebagai berikut:
Berapa cm lebar redup hepar di bawah lengkung iga kanan atau di bawah
processus xyphoideus?
Bagaimana keadaan tepi hati? Misalnya tajam pada hepatitis akut atau tumpul
pada tumor hepar.
Bagaimanakah konsistensinya? Apakah kenyal (konsistensi normal) atau keras
(pada tumor hepar)?
Bagaimanakan permukaannya? Pada tumor hepar permukaan teraba berbenjol,
dan
Apakah ada nyeri tekan? Hal ini dapat terjadi pada kelainan seperti abses hepar
atau tumor hepar. Pada abses hepar dapat pula dirasakan adanya fluktuasi.
Pada keadaan normal hati tidak akan terpalpasi kecuali pada beberapa kasus misal dengan
tubuh yang kurus. Terabanya hepar 1-2 jari di bawah lengkung iga harus dikonfirmasi
apakah hal tersebut memang suatu pembesaran hepar atau karena adanya perubahan letak
diafragma misal pada emfisema paru.
Teknik lain untuk palpasi hepar dikenal dengan metode ”kaitan”/ hooking
technique, terutama jika pasien obese. Pemeriksa berdiri didekat kepala pasien dan
meletakkan kedua tangan bersama-sama di bawah margo/lengkung kosta kanan dan
daerah redup. Pemeriksa menekan ke dalam dan keatas dan mengait di sekitar tepi hepar
ketika pasien disuruh menarik nafas dalam-dalam.
Untuk menilai adanya pembesaran lobus kiri hepar dapat dilakukan palpasi pada
garis tengah abdomen ke arah epigastrium. Batas atas sesuai dengan pemeriksaan perkusi
batas paru hepar (normal sela iga 6). Pada beberapa keadaan patologis misal emfisema
paru, batas ini akan lebih rendah sehingga besar hepar yang normal dapat teraba tepinya
pada waktu palpasi.
Nyeri tekan hepar diperiksa dengan meletakkan telapak tangan kiri diatas kuadran
akan atas dan dengan lembut mengetuknya dengan permukaan ulnar kepalan tinju tangan
kanan. Proses peradangan yang menyerang hepar atau kandung empedu akan
menyebabkan nyeri tekanan pada palpasi dengan tinju ini.
Kadang-kadang selama palpasi nyeri timbul selama inspirasi dan pasien secara
tiba-tiba menghentikan usaha inspirasi ini. Hal ini disebut dengan tanda Murphy, dan
mengarah kepada kolesistitis akut. Pada waktu inspirasi kandung empedu yang meradang
turun menyentuh tangan yang melakukan palpasi, timbul nyeri, sehingga pernafasan
berhenti.

Palpasi Limpa
Teknik palpasi limpa tidak berbeda dengan palpasi hepar dan telah dipelajari pada
blok 1.3. Pada keadaan normal limpa tidak teraba. Limpa membesar mulai dari bawah
lengkung iga kiri, melewati umbilikus sampai regio iliaka kanan. Seperti halnya hepar,
limpa juga bergerak sesuai inspirasi. Palpasi dimulai dari regio iliaka kanan melewati
umbilikus di garis tengah abdomen, menuju ke lengkung iga.
Pembesaran limpa diukur dengan menggunakan garis Schuffner yaitu garis
yang dimulai dari titik dilengkung iga kiri menuju ke umbilicus dan diteruskan sampai
spina iliaka anterior superior (SIAS) kanan. Garis tersebut dibagi menjadi 8 bagian yang
sama. Untuk meyakinkan bahwa yang teraba itu adalah limpa, harus diusahakan meraba
incisura lienalisnya. Palpasi limpa juga dipermudah dengan memiringkan pasien 45
o
ke
arah kanan (ke arah pemeriksa). Pembesaran limpa dapat disebabkan oleh hiperplasia,
kongesti, infeksi atau infiltrasi oleh tumor atau unsur leukemoid. Setelah tepi bawah
limpa teraba maka didiskripsikan sebagai berikut:
Berapa jauh dari lengkung iga kiri pada garis Schuffner? (SI sampai SVIII)
Bagaimana konsistensinya? Apakah kenyal (splenomegali karena hipertensi
portal) atau keras (seperti pada malaria).

Palpasi Ginjal
Ginjal terletak pada daerah retroperitoneal sehingga pemeriksaan harus dengan
cara bimanual. Tangan kiri diletakkan pada pinggang bagian belakang dan tangan kanan
pada dinding abdomen di ventralnya. Teknik ini sudah dipelajari di blok 1.3. Pembesaran
ginjal (akibat adanya tumor atau hidronefrosis) akan teraba diantara kedua tangan
tersebut. Fenomena ini dinamakan ballotement positif. Pada keadaan normal ballotement
negatif.
Untuk menyingkirkan kemungkinan nyeri tekan ginjal, maka untuk pemeriksaan
ini pasien harus dalam posisi duduk. Pemeriksa mengepalkan tinjunya menggunakan
tangan kanan dengan lembut memukul tangan pemeriksa yang satunya yang diletakkan
daerah di atas sudut kostovertebral dikedua sisi. Pasien dengan pielonefritis biasanya
merasakan nyeri hebat bahkan pada perkusi ringan di daerah ini. Jika mencurigai adanya
pielonefritis, pakailah tekanan dengan jari-jari saja.

Palpasi Kandung Kemih
Apabila pada perkusi menunjukkan bunyi redup pada daerah suprapubik maka
palpasilah pada daerah itu akan menunjukkan kandung kemih penuh atau suatu
pembesaran uterus pada pasien wanita. Secara normal kandung kemih tidak dapat
dipalpasi kecuali mengalami distensi di atas simphisis osis pubis. Pada palpasi kubah
kandung kemih yang terdistensi akan teraba halus dan bundar dan kadang-kadang lunak.
Nilailah apakah ada nyeri tekan. Lakukan pula perkusi untuk mengecek area redupnya
dan menentukan tingginya kandung kemih diatas simfisis osis pubis.

Palpasi aorta
Palpasi dalam pada garis tengah dekat umbilikus memungkinkan kejelasan margo
aorta pada orang yang kurus atau orang dengan dinding abdomen yang sangat kendur.
Dengan menggunakan kedua tangan, lakukan penekanan yang dalam pada salah satu sisi
aorta dan dapat diperkirakan dimensi lateral. Pada orang berusia > 50 tahun ke atas lebar
aorta tidak lebih dari 3 cm (sekitar 2,5 cm). Pengukuran ini tidak termasuk ketebalan
dinding abdomen. Kemudahan merasakan pulsasi aorta bervariasi sesuai dengan
ketebalan dinding abdomen dan diameter anteroposterior abdomen.

@7A=7; ?T3 +7<F745 $2;>7 $=E2A587<54

Pemeriksaan Untuk Menilai Kemungkinan Cholecystitis akut
Jika didapatkan nyeri atau nyeri tekanan pada kuadran kanan atas, salah satu yang
diagnosis bandingnya adalah cholecystitis akut, lakukanlah pemeriksaan Murphy’s sign.
Tempatkanlah ujung jari di bawah lengkung kosta kanan di sebelah lateral batas
muskulus rectus abdominis menyeberang dengan lengkung kosta. Suruhlah pasien untuk
menarik nafas dalam. Kadang-kadang selama palpasi nyeri timbul selama inspirasi dan
pasien secara tiba-tiba menghentikan usaha inspirasi ini. Hal ini disebut dengan tanda
Murphy positive, dan mengarah kepada kolesistitis akut. Pada waktu inspirasi, kandung
empedu yang meradang turun menyentuh tangan yang melakukan palapasi, timbul nyeri,
sehingga pernafasan berhenti (Gambar 28).


@7A=7; ?U3 +7<F745 (78ED89 (:A5I


Pemeriksaan untuk kemungkinan Appendicitis
1. Pertama, tanyailah pasien dan minta menunjukkan dimana rasa sakit awalnya
muncul dan sekarang ini nyeri dirasakan dimana. Setelah itu mintalah pasien
untuk batuk, untuk menilai apakah nyeri tersebut dicetuskan oleh batuk dan
dimanakah nyeri tersebut muncul. Nyeri appendicitis secara klasik dimulai dari
sekitar umbilicus dan kemudian menetap di kuadran kanan bawah, dan nyeri
tersebut bertambah bila batuk.
2. Carilah secara cermat daerah nyeri tekan. Nyeri tekan di lobus kanan bawah dapat
mengindikasikan appendicitis, meskipun dapat pula disebabkan yang lain.
3. Rasakan apakah ada rigiditas otot.
4. Lakukanlah pemeriksaan atau test “rebound tenderness” pada daerah nyeri tekan
tadi. (Gambar ). Rebound tenderness menunjukkan adanya inflamasi peritoneum
yang salah satunya disebabkan oleh appendicitis.


@7A=7; 1W3 :%;,025 $%25%&2%## N7FF:8E5M5>54Q

5. Lakukan pemeriksaan test Rovsing sign dan radiasi / penjalaran nyeri dari test
”rebound tenderness’. Tekanlah secara “gentle” pada kuadran kiri bawah
kemudian lepas dengan cepat dan mendadak. Nyeri yang dirasakan pada kuadran
kanan bawah ketika daerah kiri bawah ditekan disebut dengan Rovsing sign
positive. Nyeri yang dirasakan pada kuadran kanan bawah ketika tekanan
dilepaskan disebut dengan rebound tenderness radiation positive.

6. Lakukan pemeriksaan Psoas sign (Gambar 30). Tempatkan tangan pada lutut
kanan pasien dan mintalah pasien mengangkat kakinya melawan tangan anda.
Atau mintalah pasien untuk miring ke sisi kiri, suruhlah pasien untuk mengangkat
kaki kanannya lurus ke atas dengan bertumpu pada pangkal paha. Fleksi kaki
pada pangkal paha akan menyebabkan kontraksi dari muskulus psoas. Adanya
nyeri abdomen akibat manuver ini disebut dengan psoas sign positive,
menunjukkan adanya iritasi muskulus psoas yang diakibatkan oleh radang
appendix.

@7A=7; 1B3 <33",-#,)# #"=2

7. Lakukan juga maneuver obturator sign (Gambar 31). Fleksikan kaki kanan
pasien 90
o
pada pangkal paha dengan lutut ditekuk. Pegang kaki pasien di atas
lutut dan di atas pergelangan kaki. Rotasikan kaki ke dalam dan medial. Nyeri
pada daerah hipogastrik kanan disebut dengan obturator sign positive,
menunjukkan adanya iritasi muskulus obturator.


@7A=7; 1?3 >;$0&)$,& #"=2

8. Carilah daerah hiperestesi kulit dengan mencubit kulit secara gentle menggunakan
ibu jari dan jari telunjuk. Secara normal perasat ini tidak menyebabkan nyeri.
9. Lakukan pemeriksaan rectal. Perasat ini tidak hanya dapat membantu
membedakan antara appendix yang normal dan appendiks yang meradang, tetapi
juga membantu apakah yang meradang betul-betul appendix di dalam rongga.
Adanya nyeri pada daerah kanan pada pemeriksaan rectal mungkin dapat pula
disebabkan inflamasi dari jaringan adnexa atau vesicular seminalis.

Pemeriksaan Inguinal
Daerah inguinal ditempati oleh spermatic cord, kelenjar getah bening inguinal dan
arteri femoralis. Pembengkakan pada daerah inguinal dapat disebabkan oleh hernia
inguinalis atau hernia femoralis atau limfadenopati. Pada fase embrional seorang laki-
laki, testis dan spermatic cord turun dari ronga abdomen ke dalam skrotum melalui
kanalis inguinalis. Proses penurunan ini meninggalkan saluran yang bila tidak tertutup
akan dapat menyebabkan hernia dikemudian hari. Kanalis inguinalis berjalan ke bawah
dari lateral ke medial melalui anulus inguinalis interna ke anulus inguinalis eksterna di
atas dan sejajar dengan ligamentum inguinalis sehingga ligamentum tersebut menjadi
dasar kanalis inguinalis. Anulus inguinalis interna terletak pada titik percabangan antara
ligamentum inguinalis dan arteri femoralis. Arteri femoralis berjalan dari kranial ke
kaudal pada titik tengah antara spina iliaka anterior superior dan simfisis osis pubis
masuk ke dalam femoral sheath, selain arteri femoralis didalam femoral sheath juga
terdapat vena femoralis dan kanalis femoralis. Kanalis femoralis ditutup oleh jaringan
lemak dan kelenjar getah bening dan merupakan jalan terbentuknya hernia femoralis.
Hernia inguinalis akan tampak sebagai benjolan di daerah inguinal atau didalam
skrotum bila tekanan intraabdominal meninggi. Massa itu akan hilang spontan bila pasien
berbaring, oleh sebab itu pemeriksaan untuk mencari hernia sebaiknya dilakukan dalam
posisi pasien berdiri. Untuk melakukan palpasi kanalis inguinalis, terutama bila ada
keluhan hernia inguinalis, letakkan ujung jari pemeriksa di bawah skrotum lalu mengikuti
spermatic cord naik keatas dan menembus anulus inguinalis eksterna. Lima sentimeter di
atas anulus ini terletak anulus inguinalis interna. Bila ujung jari telah mencapai anulus
inguinalis interna, pasien di suruh mengejan atau batuk. Bila ada masa yang mendorong
maka berarti terdapat hernia.


@7A=7; 113 0:;857 ,89D587<54 E5;:M>K 0:;857 ,89D587<54 58E5;:M> 78 0:;857 Z:A2;7<54

Untuk membedakan hernia inguinalis dengan hernia femoralis dilihat dari letak
hernia tersebut dengan pubic tubercle, bila hernia terletak di atas dan medial dari pubic
tubercle merupakan hernia inginalis sedang jika terletak di bawah dan lateral terhadap
pubic tubercle merupakan hernia femoralis.

@7A=7; 1J3 0:;857 ,89D587<54

Pemeriksaan Perineum
Pemeriksaan abdomen akan lengkap dengan pemeriksaan perineum dan colok
dubur. Untuk pemeriksaan ini penting dijelaskan terlebih dahulu pada pasien tentang
tujuan dan manfaatnya. Pasien pada berbaring pada posisi lateral dekubitus kiri atau
posisi Sims dengan kedua lutut terlipat ke arah dada. Pemeriksaan menggunakan
sarung tangan. Dengan penerangan cahaya yang adekuat, pantat kanan pasien ditarik
keatas dengan menggunakan tangan kiri pemeriksa sehingga kita dapat melakukan
inspeksi perineum dengan baik. Adanya hemoroid eksterna atau interna yang prolaps,
fisura ani, jaringan parut, perianal tags, dermatitis, keganasan, ulkus ataupun tumor dapat
dinilai dengan baik.


@7A=7; 1L3 +;2<7F4 0:A2;25E ,8>:;87


@7A=7; 1R3 \544D;7 785 78>:;52;



@7A=7; 1S3 +2<5F Z5=;2^74CD<:; 787<


@7A=7; 1T3 +:;5787< 7=4:4

Pemeriksaan Urogenital Eksterna
Pemeriksaan ini merupakan hal yang penting meski agak sensitif karena itu harus
mendapat ijin dari pasien apalagi bila dokter dan pasien berbeda jenis kelaminnya dan
harus ada indikasi pemeriksaannya. Bila ditemukan adanya kelainan genital pada
perempuan dapat dikonsulkan ke dokter kulit kelamin atau dokter kandungan. Yang perlu
diperhatikan tentu semua kelainan bawaan, penyakit seksual dan lainnya dari genetalia
eksterna.

Genetalia Laki-laki
Lakukan inspeksi secara seksama, perhatikan pertumbuhan rambut pubes yang
kadang-kadang dapat mencapai umbilikus. Perhatikan lubang penis, terutama bila ada
keluhan retentio urin. Bila pasien mengeluh nyeri waktu ereksi, perhatikan kemungkinan
ada hipospadia. Tanda-tanda peradangan pada glans penis juga harus diperhatikan. Kalau
perlu lakukan pengurutan penis untuk melihat adanya urethral discharge. Pada pasien
yang tidak sirkumsisi, preputium harus dibuka untuk melihat adanya smegma atau
peradangan. Skrotum dan testis juga harus diperiksa dengan seksama, apakah ada
pembesaran atau tidak. Dalam keadaan normal terstis kiri dapat lebih besar dibandingkan
dengan testis kanan. Perhatikan terhadap kemungkinan adanya varikokel, hidrokel dan
hernia. Varikokel merupakan pelebaran vena-vena pleksus pampiniformis biasanya pada
bagian kiri tanpa adanya keluhan yang berarti.
Pada Hidrokel -penimbunan cairan pada tunika vaginalis testis - biasanya kulit
teraba agak tegang, mengkilat, tidak nyeri dan teraba fluktuasi. Bila diberi sinar dengan
cara meletakkan senter pada skrotum maka akan nampak sinar tersebut menembus
lapisan cairan tersebut (diafonoskopi/transluminasi positif). Pada hernia, karena di dalam
skrotum didapatkan massa padat yang berasal dari rongga abdomen, maka bila diberi
sinar, sinar tidak akan menembus massa skrotum (diafonoskopi negatif). Testis yang
membesar lunak serta nyeri merupakan tanda adanya orchitis virus, bila konsistensinya
keras dan tidak nyeri hati-hati kemungkinan sifilis atau tumor. Pada tumor permukaan
testis biasanya tidak rata. Pada palpasi juga harus dicari epididimitis. Pada epididimitis
tuberkulosis akan teraba epididimis seperti manik-manik. Pada palpasi daerah inguinal,
dicari benjolan yang mungkin merupakan kelenjar getah bening, hernia dan testis yang
tidak turun, atau limfogranuloma inguinal. Denyut arteri femoralis juga harus dipalpasi
dan dinilai apakah normal atau tidak. Demikian juga daerah suprapubik harus dipalpasi,
terutama pada retensio urin untuk melihat adakah pembesaran kandung kemih.

Genetalia Perempuan
Bila dianggap perlu, pemeriksaan genitalis perempuan harus disertai dokter atau
perawat atau dokter muda perempuan. Perhatikan pertumbuhan rambut pada mons
veneris, klitoris, labia mayora dan labia minora. Pisahkan labia mayora dengan ibu jari
dan jari telunjuk tangan kanan. Usakan mencari kelenjar bartolini, dalam keadaan normal
kelenjar ini tidak teraba. Pembesaran kelenjar bartolini akan teraba di posterolateral labia
mayora, biasanya disebabkan infeksi atau abses. Pisahkan kedua labia minora sehingga
introitus vagina dan uretra akan tampak. Perhatikan vulva dengan seksama, apakah ada
ulkus atau lekoplakia. Perhatikan juga cairan vagina, apakah normal atau berlebih, berbau
busuk atau tidak. Kemudian dengan kedua labia masih dipisahkan oleh jari telunjuk dan
jari tengah, pasien diminta untuk meluruskan kedua tungkainya, perhatikan adanya
penonjolan (bulging) pada dinding vagina yang mungkin disebabkan oleh sistokel atau
rektokel.

Pemeriksaan Anorektal
Pada inspeksi diperhatikan kelainan anus, misalnya adanya hemoroid eksterna, keganasan
dan lain-lain. Bila perlu dan ada indikasinya lakukan pemeriksaan colok dubur (rectal
toucher).
Adapun cara pemeriksaan rectal adalah sebagai berikut:
Posisi pasien dapat dilakukan dengan pasien berbaring terlentang; berbaring pada sisi
kiri tubuh atau berdiri, membungkuk pada meja pemeriksaan. Posisi litotomi (pasien
terlentang dengan kedua lutut difleksikan) yang dimodifikasikan dipakai kalau pasien
sulit berdiri atau kalau pemeriksaan anus secara rinci tidak diperlukan. Pemeriksa
menjulurkan tangan kanannya di bawah paha kanan pasien. Jari telunjuk di dalam rektum
dipakai bersama dengan tangan kiri pemeriksa yang diletakkan di abdomen.
Posisi miring ke lateral kiri / posisi sims dipakai pada wanita atau pada pasien yang
sangat lemah dan harus terpaku pada tempat tidur. Dalam posisi ini tungkai kanan atas
harus difleksikan sedangkan tungkai kiri bawah setengah diekstensikan.
Posisi berdiri merupakan posisi yang paling banyak dipakai dan dengan posisi ini
dapat dilakukan inspeksi menyeluruh pada anus dan palpasi pada rektum. Pasien disuruh
berdiri membungkuk dengan bahu dan siku disokong di atas tempat tidur atau meja
pemeriksa. Tangan kanan pemeriksa dengan memakai sarung tangan memeriksa anus dan
jaringan sekitarnya sementara tangan kiri dengan hati-hati merentangkan pantat. Jika
mencurigai adanya infeksi, kedua tangan pemeriksa harus memakai sarung tangan.
Pasien diberi tahu bahwa pemeriksan rektum akan segera dilakukan. Pemeriksa harus
memberitahukan pasien bahwa lubrikan yang memberikan sensasi dingin akan dipakai
dan ini akan diikuti dengan sensasi akan buang air besar, pasien harus diberikan jaminan
bawha sebenarnya ia tidak akan buang air besar. Pasien diminta mengejan untuk
menginspeksi anus untuk melihat adanya hemoroid atau fisura.
Oleskan jari telunjuk tangan kanan yang telah memakai sarung tangan dengan jeli
atau vaselin dan juga dioleskan pada anus pasien, sementara tangan kiri diletakkan pada
pantat pasien untuk merentangkan pantat pasien. Pasien disuruh tarik nafas dalam, dan
pada saat ini letakkan bagian palmar ujung jari telunjuk kanan pada tepi anus dan secara
perlahan tekan agak memutar sehingga jari tangan masuk ke dalam lumen anus, saat
sfingter ani mengendur. Sfingter ani harus menutup dengan sempurna disekitar jari
pemeriksa. Masukkan lebih dalam secara perlahan–lahan sambil menilai apakah ada
spasme anus (misal pada fisura ani) dan tonus sfingter ani harus dinilai. Jari harus
dimasukkan sejauh mungkin ke dalam rektum meskipun 10 cm merupakan batas
eksplorasi jari yang mungkin dilakukan. Tangan kiri pemeriksa dapat dipindahkan ke
pantat kiri pasien sementara jari telunjuk kanan memeriksa rektum. Dinding rektum
dipalpasi untuk melihat adanya polip, massa tumor dan ada tidaknya rak blumer,
hemoroid interna beserta derajatnya, rasa nyeri, mukosa yang teraba ireguler, pembesaran
prostat pada laki-laki atau penekanan dinding anterior oleh vagina/rahim pada
perempuan. Pada waktu jari telunjuk sudah dikeluarkan dari anus, perhatikan pada sarung
tangan apakah terdapat perdarahan baik darah merah atau hitam (melena), lendir ataupun
bentuk feses yang menempel pada sarung tangan
REFERENSI
Bickley L.S., Szilagyi P.G. Chapter 10; The Abdomen. In: Bickley L.S., Szilagyi P.G.
Bates’ Guide to Physical Examination and History Taking. 9th edition. USA: Lippincott
Williams & Wilkins. 2007

Ferry, F. Ferry’s Color Atlas and Text of Clinical Medicine. 1
st
edition. Saunders
Elsevier, Philadelphia. 2009.

Marcellus Simadibrata K. Pemeriksaan Abdomen, Urogenital dan Anorektal. dalam:
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Editor: Aru W. Sudoyo; Bambang
Setyohadi; Idrus Alwi; Marcellus Simadibrata K dan Siti Setiati. Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit dalam FKUI. Jakarta. 2006.

Swartz M.H. Chapter 16, The Abdomen. In: Swartz M.H. Textbook of Physical Diagnosis,
History and Examination. 5
th
edition. USA: W.B.Saunders Company. 2007

SELF-ASSESSMENT
1. Apa yang dimaksud asterixis?
2. Apa yang dimaksud dengan fetor hepaticus?
3. Temuan fisik lain apakah yang dapat ditemukan pada pasien dengan hipertensi
porta?
4. Apa yang dimaksud dengan tanda Murphy?
5. Seberapa akurat tanda Murphy dapat memprediksi cholecystitis?
6. Apakah peran terkini dari tanda Murphy pada evaluasi cholecystitis akut?
7. Seberapa efektif pemeriksaan abdomen dalam penilaian limpa?
8. Apakah terdapat kontraindikasi pada palpasi limpa?
9. Apa yang dapat dipelajari/didapatkan dari palpasi limpa?
10. Bagaimana cara terbaik untuk mempalpasi limpa?


FEEDBACK FORM
PEMERIKSAAN FISIK ABDOMEN
No Aspek yang dinilai Feedback
Abdomen
1 Mengucapkan salam pembuka (selamat pagi/siang/sore) dan
memperkenalkan diri

2 Mempersilahkan penderita telentang dan menjelaskan apa
yang akan dilakukan

3 Meminta penderita untuk membuka baju daerah dada dan
perut. Berusaha membuat penderita siap diperiksa (santai)
dengan menekuk lutut dan mengajak berbicara

4 Berdiri di sebelah kanan penderita
5 Meminta penderita untuk memberikan respons terhadap
pemeriksaan


6
INSPEKSI:
Melakukan inspeksi seluruh lapangan Perut penderita
dengan teknik yang benar


7
AUSKULTASI:
Melakukan auskultasi sebelum perkusi dan palpasi.

8 Melakukan auskultasi peristaltik usus (satu tempat)
9 Melakukan auskultasi kelainan vaskular pada Perut (7
tempat)


10
PERKUSI :
Melakukan perkusi sebagai orientasi pada ke empat kuadran
Perut (13 tempat)

11 Perkusi harus menghasilkan suara timpani
12 Melakukan perkusi untuk menentukan batas hepar pada
garis midklavikula dari arah kaudal

13 Mengukur daerah redup hepar pada daerah midklavikula
kanan

14 Melakukan perkusi lien pada daerah perkusi

15
PALPASI :
Menghangatkan tangan terlebih dahulu kemudian
melakukan palpasi superfisial seluruh lapangan Perut

16 Melakukan pemeriksaan untuk nyeri tekan dan nyeri lepas
tekan

17 Melakukan pemeriksaan untuk mengetahui adanya asites
(undulasi dan pekak beralih)

18 Melakukan pemeriksaan palpasi hepar dengan menilai
permukaan, tepi dan perabaan hepar

19 Melakukan palpasi lien
20 Melakukan palpasi ginjal kanan dan kiri.
21 Memberitahu pasien bahwa pemeriksaan PERUT sudah
selesai, memberikan informasi resume hasil pemeriksaan

dan mengucapkan terima kasih.

Skala Rating Global untuk Perilaku Profesional
No. Keterampilan Landasan ilmiah dan keterangan
Skala
1
Tidak
sesuai
harapan
2
Di
bawah
harapan
3
Sesuai
harapan
4
Melebihi
harapan
5
Sempurna
1. Menunjukkan kepercayaan
diri dalam melakukan
keterampilan di depan
pasien
Berhadapan dengan diri sendiri (ketika mahasiswa mampu
bersikap secara profesional tanpa menunjukkan keadaan
dirinya sendiri saat itu, misal sedang cemas, sedih,
memikirkan sesuatu yang lain)

2. Etika (Menghormati
pasien, nilai-nilai lokal
dan norma)
Berhadapan dengan pasien (ketika mahasiswa mampu
bersikap secara profesional tanpa menunjukkan asumsi-
asumsinya terhadap pasien)

3. Kesalahan minimal Berhadapan dengan diri sendiri, pasien dan tugas-tugasnya
(ketika mahasiswa mampu bersikap secara profesional
berhubungan dengan orang dihadapannya dan mengerjakan
tugasnya tanpa kesalahan)



Skala Rating Global untuk Interaksi Dokter-Pasien
No. Keterampilan Landasan ilmiah dan keterangan
Skala
1
Tidak
sesuai
harapan
2
Di
bawah
harapan
3
Sesuai
harapan
4
Melebihi
harapan
5
Sempurna
1. SALAM
Membina dan mepertahankan
hubungan yang baik dengan
pasien selama seluruh konsultasi
Kemampuan membina hubungan baik (melalui
kemampuan mendengarkan, kemampuan merespon
dengan baik, empati, komunikasi interpersonal dan
membuat pasien nyaman)

2. AJAK BICARA
Eksplorasi problem pasien dan
menyimpulkan masalah

Kemampuan membina hubungan baik dan
mengekplorasi masalah pasien kemudian
menyimpulkannya (melalui kemampuan eksplorasi,
pengumpulan data, pengambilan riwayat, alloanamnesis,
penilaian dan penyimpulan)

3. DISKUSIKAN
Edukasi dan konseling pasien
Kemampuan membina hubungan baik, mengekplorasi
masalah pasien, menyimpulkan masalah dan menyusun
langkah kerja/ rencana serta menegosiasikannya dengan
pasien dan atau keluarganya (melalui edukasi dan
konseling dalam kemitraan sejajar)

Penjelasan:
Skala 1: Tidak menunjukkan rasa hormat dan norma + lebih dari 80 % kesalahan
Skala 2: Menunjukkan rasa hormat dan norma minimal + 60%-80% kesalahan
Skala 3: Menunjukkan rasa hormat dan norma minimal + 40%-60% kesalahan
Skala 4: Menunjukkan rasa hormat dan norma minimal + 20%-40% kesalahan
Skala 5: Menunjukkan rasa hormat dan norma minimal + kurang dari 20% kesalahan

Yogyakarta, ............................................
Observer


...................................................................