You are on page 1of 26

REFARAT ANASTESI ICU

Penguji: dr.Erica Gilda,Sp,An

Nama : Tiur Lasma Juwita Sitorus Nim : 0561050104
KEPANITERAAN KLINIK ANASTESI PERIODE 21 OKTOBER 2013 -16 NOVEMBER 2013 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA JAKARTA 2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkatNya saya dapat menyelesaikan referat yang berjudul “MONITORING ICU “. Tugas referat ini saya buat dengan tujuan sebagai salah satu tugas kepaniteraan klinik bagian Ilmu ANASTESI serta bertujuan agar para dokter muda mengetahui dan memahami tentang materi ini lebih mendalam.

Saya ucapkan banyak terimakasih kepada kedua orangtua saya, yang selalu mendukung saya dalam segala kondisi yang saya alami dalam menjalankan kepaniteraan ini, juga kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan referat ini, khususnya dr. Erika Gilda,Sp,An yang telah berkenan membimbing dan menguji referat ini.

Akhir kata saya mohon kritik dan saran yang membangun untuk Penulis pada khusunya dan kemajuan dunia kedokteran pada umumnya.

Jakarta, 3 November 2013

Penulis

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………………………………………………………………......PENDAHULUAN…………………………………………..TUJUAN ICU….....……………………………………………………………………………………………………………………………11 F........2 BAB I.......FUNGSI ICU…………………………………………………………………………………………………………………………………………11 E...........……………………………………………………………………………………………………………………...PRASARANA …………………………………………………………………………………………………………………………………….7 B.1 DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………………………………………………………...........PROSEDUR MASUK ICU…………………………………………………………………………………………………………………….TUJUAN AKHIR PENGOBATAN ICU……………………………………………………………………………………………………16 N.....MONITORING PERALATAN……………….LEVEL ICU……………...5 1....... KONTRA INDIKASI MASUK ICU……………………………………………………………………………………………………………14 K..ETIK DI ICU………………...8 C....18 2.14 L.PENGOLOLAAN PASIEN ICU………………………………………………………………………………………………………………16 P..........14 J.DEFINISI ICU ………….5 BAB 2.........……..PENGKAJIAN ULANG KINERJA……………………………………………………………………………………………………………18 1....12 H...PEMBAHASAN…………………………………………………………………………………………………………………………......7 A.1 LATAR BELAKANG… ……………………………………………………………………………………………………………………...20 3...INDIKASI MASUK ICU……………………………....8 D...KRITERIA KELUAR DARI ICU……………………………………………………………………………………………………………….. REAKSI PASIEN DAN KELUARGA PASIEN ICU…………………………………………………………………………………….SEJARAH ICU………………………………………………………………………………………………………………………………………..……….………………………………………………………………………………………….11 G.………………………………………………………………………………………………………………………....16 M..……………………………………………………………………………………………………………………………....16 O.......PELAKSANAAN TERHADAP PASIEN ICU……………………………………………………………………………………………......21 .12 I...........……………………………………………………………………………………………..... ALUR MASUK PASIEN DI ICU………………………………………………………………………………………………………………............ PERALATAN ………………………………………………………………………………………………………...

26 . SARAN…………………………………………………………………………………………………………………………………………….KESIMPULAN…………………………………………………………………………………………………………………………………….BAB 3..25 B.…..25 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………………………………………………………….. A.

1 Critical Care Medicine menjadi bagian yang penting dalam sistem kesehatan yang modern. Kamar Operasi. Ruang Perawatan. Saat ini pelayanan di ICU tidak terbatas hanya untuk menangani pasien pasca-bedah saja tetapi juga meliputi berbagai jenis pasien dewasa. Meskipun pada umumnya ICU hanya terdiri dari beberapa tempat tidur. anak. Ilmu yang diaplikasikan dalam pelayanan ICU. yang kedua adalah untuk mendukung organ vital pada pasien-pasien yang akan . yang mengalami lebih dari satu disfungsi/gagal organ. yaitu yang pertama untuk melakukan perawatan pada pasien-pasien gawat darurat dengan potensi “reversible life thretening organ dysfunction”. tetapi sumber daya tenaga (dokter dan perawat terlatih) yang dibutuhkan sangat spesifik dan jumlahnya pada saat ini di Indonesia sangat terbatas.BAB I PENDAHULUAN A. pada dekade terakhir ini telah berkembang sedemikian rupa sehingga telah menjadi cabang ilmu kedokteran tersendiri yaitu ”Intensive Care Medicine”. Latar Belakang Dari waktu ke waktu keberadaan institusi rumah sakit semakin dituntut untuk memberikan pelayanan prima dalam bidang kesehatan kepada masyarakat. Kebutuhan ini sejalan dengan dua hal penting. Kelompok pasien ini dapat berasal dari Unit Gawat Darurat. yaitu semakin ketatnya kompetisi sector rumah sakit dan seiring dengan peningkatan kesadaran serta tuntutan pasien terhadap kualitas pelayanan rumah sakit1. Salah satu pelayanan yang sentral di rumah sakit adalah pelayanan Intensive Care Unit (ICU). ataupun kiriman dari Rumah Sakit lain. Intensive care mempunyai 2 fungsi utama.

anestesi. Profesional ini mempunyai kemampuan manajemen ventilator.2 Untuk dapat memberikan pelayanan prima dan manajemen yang efektif dan efisien. penggunaan obat-obatan inhalasi. dan neurosurgery termasuk subspesialis. . fisioterapis. Di Amerika Utara. nutrisionis.1. Tinjau ulang standar ini disesuaikan dengan perkembangan ilmu dan teknologi serta konsep ICU di masa datang. perawat ICU harus diberikan pelatihan khusus. maka ICU harus dikelola sesuai suatu standar yang bukan saja dapat digunakan secara nasional tetapi juga dapat mengikuti perkembangan terakhir dari ”Intensive Care Medicine”. pekerja sosial. pengeluaran sekret respirasi. Ilmu-ilmu yang berkompetensi termasuk bedah.menjalani operasi yang kompleks elektif atau prosedur intervensi dan risiko tinggi untuk fungsi vital. interna. profesi seperti terapis respirasi memberikan evolusi terhadap critical care.1.1.2 Critical care medicine adalah multidisiplin ilmu. Departemen Kesehatan bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Reanimasi Indonesia (IDSAI) dan Perhimpunan Dokter Intensive Care Indonesia (PERDICI) memandang perlu untuk meninjau ulang standar pelayanan ICU yang telah dibuat pada tahun 1992 yang kemudian dicetak ulang tahun 1995. Spesialis lainnya termasuk farmasi. Peranan perawat juga penting.2. neurologi.

2.2. dengan staf khusus dan perlengkapan yang khusus.3 .1. perawatan dan terapi pasien-pasien yang menderita penyakit. diperlukan dokter ICU yang memahami teknologi kedokteran.1.BAB II PEMBAHASAN A.3 ICU adalah ruang rawat di Rumah Sakit yang dilengkapi dengan staf dan peralatan khusus untuk merawat dan mengobati pasien yang terancam jiwa oleh kegagalan / disfungsi satu organ atau ganda akibat penyakit. cedera atau penyulit-penyulit yang mengancam jiwa atau potensial mengancam jiwa dengan prognosis dubia. Definisi ICU Intensive Care Unit (ICU) adalah suatu bagian dari rumah sakit yang terpisah. Adalah unit perawatan yang dikelola bertujuan untuk merawat pasien sakit berat dan kritis yang mengancam nyawa dengan melibatkan tenaga terlatih serta didukung oleh kelengkapan peralatan khusus. bencana atau komplikasi yang memiliki harapan hidup. bencana atau komplikasi yang masih ada harapan hidupnya (reversible). farmakologi dan kedokteran konvensional dengan kolaborasi erat bersama perawat terdidik dan terlatih untuk critical care. fisiologi. ICU menyediakan kemampuan dan sarana. Dalam mengelola pasien ICU. Pasien yang semula dirawat karena masalah bedah/trauma dapat berubah menjadi problem medik dan sebaliknya.3 Jadi ICU atau Intenssive Care Unit adalah ruang rawat inap di Rumah Sakit yang dilengkapai dengan staf dan peralatan khusus untuk merawat pasien yang yang mengancam nyawa seperti pasien dengan sakit berat dan kritis oleh karena kegagalan fungsi organ.2. perawat dan staf lain yang berpengalaman dalam pengelolaan keadaankeadaan tersebut 1. yang ditujukan untuk observasi. prasarana serta peralatan khusus untuk menunjang fungsifungsi vital dengan menggunakan keterampilan staf medik.

letaknya dekat dengan kamar bedah. baik untuk dokter maupun perawatnya.Gambar 1 : Ruang ICU B. ICU modern berkembang dengan mencakup penanganan respirasi dan jantung menunjang ffal organ dan penanganan jantung koroner mulai tahun 1960. 1. Sejarah ICU ICU mulai muncul dari ruang pulih sadar paska bedah pada tahun 1950.2. tunjangan kardiorespirasi jangka pendek. ICU lebih tepat disebut sebagai unit ketergantungan tinggi (High Dependency).  Memiliki kebijaksanaan / kriteria penderita yang masuk. Level ICU Level I / Primer Pada Rumah Sakit di daerah yang kecil (di Rumah Sakit Daerah dengan tipe C dan D). hasil pengobatan pasien kritis dan program pelatihan ICU. Dalam beberapa tahun terakhir.3 Ciri – ciri ICU level I :  Ruang tersendiri. perhatian terhadap ICU di Indonesia semakin besar (ICU pertama kali adalah RSCM Jakarta). Pada tahun 1970. ICU mulai menjadi spesialis tersendiri. Di ICU level I ini dilakukan observasi perawatan ketat dengan monitor EKG. keluar serta rujukan.2. terutama dengan adanya penelitian tentang proses patofisiologi. Pelayanan ICU primer mampu memberikan pengelolaan resusitatif segera untuk pasien sakit gawat. Dalam ICU dilakukan ventilasi mekanik dan pemantauan kardiovaskuler sederhana selama beberapa jam. dan mempunyai peran penting dalam pemantauan dan pencegahan penyulit pada pasien medik dan bedah yang berisiko. ruang gawat darurat dan ruang perawatan lainnya. ..3 C.

ruang darurat dan ruang keperawatan lain  Memiliki kebijaksanaan. bedah saraf. misalnya kedokteran umum. kemudahan diagnostik dan fisioterapi. F).E.  Mampu dengan cepat melayani pemeriksaan lab. Elektrolit. Bentuk fasilitas lengkap untuk menunjang kehidupan (misalnya dialisis). seorang dokter konsultan Intensive Care atau bila tidak tersedia. Gula darah dan Trombosit ) .  Memiliki perawat bersertifikat terlatih perawatan / terapi intensif atau minimal berpengalaman kerja 3 tahun di ICU.B. Ht. Pelayanan ICU sekunder memberikan standar ICU umum yang tinggi.C. pengelolaan trauma. dokter spesialis anestesiologi yang bertanggungjawab secara keseluruhan dan dokter jaga yang minimal mampu melakukan RJP (A. monitor invasif (monitor tekanan intrakranial) dan pemeriksaan canggih (CT Scan) tidak perlu harus selalu ada.1 2. bedah.  Mampu memberikan tunjangan ventilasi mekanik beberapa lama dan dalam batas tertentu melakukan pemantauan intensif dan usaha-usaha penunjang hidup. E.  Ada dokter jaga 24 jam dengan kemampuan melakukan resusitasi jantung paru A.  Mampu menyediakan tenaga perawat dengan perbandingan pasien : perawat = 1 : 1 untuk pasien ventilator. punya dokter residen yang selalu siap di tempat dan mempunyai hubungan dengan fasilitas fisioterapi. Memiliki seorang dokter spesialis anestesiologi sebagai kepala. C. B. ICU hendaknya mampu memberikan tunjangan ventilasi mekanis lebih lama dan melakukan dukungan/bantuan hidup lain tetapi tidak terlalu kompleks.  Memiliki jumlah perawat yang cukup dengan sebagian besar terlatih. letaknya dekat dengan kamar bedah.3. kriteria yang masuk.F ). patologi dan radiologi.2. tertentu ( Hb. Rontgen. D. yang mendukung peran rumah sakit yang lain yang telah digariskan. keluar serta rujukan. Level II / Sekunder ICU level II mampu melakukan ventilasi jangka lama.  Memiliki konsultan yang dapat dihubungi dan datang setiap saat bila diperlukan  Memiliki seorang kepala ICU. renal replacement therapy dan 2 : 1 untuk kasus-kasus lainnya.D.4 Ciri – ciri ICU level II :  Ruang tersendiri. bedah vaskular dan lain-lainnya.  Konsulen yang membantu harus selalu dapat dihubungi dan dipanggil setiap saat. ( .

rontgen.4. Mampu melayani pemeriksaan laboratorium. kemudahan diagnostik. profesional kesehatan lain. Level III / Tertier ICU Level III biasanya pada Ruamh Sakit tipe A yang memiliki semua aspek yang dibutuhkan ICU agar dapat memenuhi peran sebagai Rumah Sakit rujukan.5 Ciri – ciri ICU level III :     Memiliki ruang khusus. memberikan pelayanan yang tertinggi termasuk dukungan/bantuan hidup multi-sistem yang kompleks dalam jangka waktu yang tak terbatas.    Memiliki perawat bersertifikat terlatih perawatan/terapi intensif atau minimal berpengalaman kerja 3 tahun di ICU Mampu melakukan semua bentuk pemantauan dan perawatan / therapi intensif baik invasif maupun non invasif.  Mampu menyediakan tenaga perawat dengan perbandingan pasien : perawat = 1 : 1 untuk pasien dgn ventilator. . dan fisioterapi selama 24 jam. D.4 3. perawat spesialis. Personil di ICU level III meliputi intensivist dengan trainee. dan fisioterapi selama 24 jam. Pelayanan ICU tersier merupakan rujukan tertinggi untuk ICU.3. C. pelayanan dukungan/bantuan renal ekstrakorporal dan pemantauan kardiovaskular invasif dalam jangka waktu yang terbatas dan mempunyai dukungan pelayanan penunjang medik. Memiliki dokter spesialis yang dapat dihubungi dan datang setiap saat bila diperlukan. ICU ini melakukan ventilasi mekanis. renal replacement therapy dan 2 : 1 untuk kasus-kasus lainnya. F ). keluar serta rujukan. Mampu melayani pemeriksaan laboratorium. rontgen.  Memiliki ruangan isolasi dan mampu melakukan prosedur isolasi. tersendiri di dalam rumah sakit Memiliki kriteria penderita masuk.3. E. Dikelola oleh seorang ahli anestesiologi/konsultan Intensive Care atau dokter ahli konsultan intensive care yang lain yang bertanggungjawab secara keseluruhan dan dokter jaga yang minimal mampu melakukan RJP ( A. kemudahan diagnostik. B. staf ilmiah dan sekretariat yang baik. Semua pasien yang masuk ke dalam unit harus dirujuk untuk dikelola oleh spesialis intensive care. Pemeriksaan canggih tersedia dengan dukungan spesialis dari semua disiplin ilmu.

4. 4.5 D. tenaga rekam medis . ICU trauma/bedah 3.   Memiliki paling sedikit seorang yang mampu dalam mendidik tenaga medik dan paramedik agar dapat memberikan pelayanan yang optimal pada pasien. ICU di Indonesia umumnya berbentuk ICU umum. yaitu mengelola pasien yang sakit kritis sampai yang terancam jiwanya.6 F. ICU umum 4. 3. Mengoptimalkan kemampuan fungsi organ tubuh pasien. tenaga untuk kepentingan ilmiah dan penelitian. ICU Medik 2. dengan pemisahan untuk CCU (Jantung). 5. ICU dapat dibagi menjadi : 1. Mencegah terjadinya kondisi memburuk dan komplikasi melalui observasi dan monitaring evaluasi yang ketat disertai kemampuan menginterpretasikan setiap data yang didapat dan melakukan tindak lanjut. Etik Di ICU .5. Alasan utama untuk hal ini adalah segi ekonomis dan operasional dengan menghindari duplikasi peralatan dan pelayanan dibandingkan pemisahan antara ICU Medik dan Bedah4.Unit dialisis dan neonatal ICU. Memiliki staf tambahan yang lain : misalnya tenaga administrasi.4. Menyelamatkan kehidupan 2. Mengurangi angka kematian pasien kritis dan mempercepat proses penyembuhan pasien. Fungsi ICU Dari segi fungsinya. Meningkatkan kualitas pasien dan mempertahankan kehidupan.5. ICU neonatus 6.3. Memiliki prosedur untuk pelaporan resmi dan pengkajian.6 E. Tujuan ICU 1. ICU pediatrik 5. ICU respiratorik Semua jenis ICU tersebut mempunyai tujuan yang sama.

Terkadang muncul kontroversi etik dalam legalitas moral di ICU. reaksi obat dan intoksikasi : depresi nafas  Infeksi berat : sepsis Dalam menentukan tindakan kepada pasien harus memperhatikan tingkat prioritas pasien sehingga penanganan yang diberikan sesuai dan tepat. Beberapa contoh kondisi pasien yang dapat dipakai sebagai indikasi masuk ke ICU antara lain :  Ancaman / kegagalan sistem pernafasan : gagal nafas. pemantauan dan pengobatan intensif. Indikasi Masuk ICU Pasien yang masuk ICU adalah pasien yang dalam keadaan terancam jiwanya sewaktu waktu karena kegagalan atau disfungsi satu atau multple organ atau sistem dan masih ada kemungkinan dapat disembuhkan kembali melalui perawatan. tetapi harus segera diikuti dengan konsultasi tertulis. Terhadap pasien atau keluarga pasien wajib diberikan penjelasan tentang perlunya masuk ICU dengan segala konsekuensinya dengan menandatangani informed concern.7 H. masih ada indikasi sosial yang memungkinkan seorang pasien dengan kekritisan dapat dirawat di ICU.5. penurunan kesadaran.  Overdosis obat.  Ancaman / kegagalan sistem hemodinamik : shock  Ancaman / kegagalan sistem syaraf pusat : stroke. Keadaan yang mengancam jiwa akan menjadi tanggung jawab dokter pengirim. Konsultasi sifatnya tertulis. Transportasi ke ICU masih menjadi tanggungjawab dokter pengirim. Etik di ICU perlu pertimbangan berbeda dengan etik di pelayanan kesehatan atau bangsal lain. terutama dalam keadaan mendesak.6. impending gagal nafas. kecuali transportasi pasien masih perlu bantuan khusus dapat dibantu oleh pihak ICU. Selain adanya indikasi medik tersebut. Prosedur Masuk ICU Pasien yang masuk ICU dikirim oleh dokter di luar ICU setelah berkonsultasi dengan doketr ICU.Etik dalam penanganan pasien riset. maka dimungkinkan untuk konsultasi dengan berbagai spesialis di luar dokter pengirim atau dokter ICU bertindak sebagai koordinatornya. Selama pengobatan di ICU. misalnya tentang euthanasia5.6 G. tetapi dapat juga didahului secara lisan (misalnya lewat telepon). dan hubungan dengan kolega harus dilaksanakan secara cermat.1 Prioritas pasien antara lain : .

hipotensi di bawah tekanan darah tertentu. dua. Mungkin ada baiknya beberapa institusi membuat kriteria spesifik untuk masuk ICU. 2. tiga): . paru. 3 (satu. karenanya pemantaun intensif menggunakan metode seperti pulmonary arterial catheter sangat menolong. Pasien prioritas 2 umumnya tidak terbatas macam terapi yang diterimanya mengingat kondisi mediknya senantiasa berubah5. Jenis pasien berikut umumnya tidak mempunyai kriteria yang sesuai untuk masuk ICU. atau penyakit akutnya. dan tidak stabil di mana status kesehatan sebelumnya. atau pasien menderita penyakit jantung atau paru terminal disertai komplikasi penyakit akut berat. Lagi pula pasien-asien tersebut bila perlu harus dikeluarkan dari ICU agar fasilitas yang terbatas tersebut dapat digunakan untuk pasien prioritas 1. pericardial tamponade. Prioritas 3 Pasien jenis ini sakit kritis. atau sumbatan jalan napas. Jenis pasien ini berisiko sehingga memerlukan terapi intensif segera. infus obat-obat vasoaktif kontinu. tidak stabil yang memerlukan terapi intensif seperti dukungan/bantuan ventilasi. Contoh pasien ini antara lain pasien dengan keganasan metastase disertai penyulit infeksi.7.a. baik masing-masing atau kombinasinya. c. tetapi usaha terapi mungkin tidak sampai melakukan intubasi atau resusitasi kardiopulmoner 6. Contoh jenis pasien ini antara lain mereka yang menderita penyakit dasar jantung. sangat mengurangi kemungkinan kesembuhan dan atau mendapat manfaat dari terapi di ICU. Pasien prioritas 1 (satu) umumnya tidak mempunyai batas ditinjau dari macam terapi yang diterimanya5.. dan hanya dapat masuk dengan pertimbangan seperti pada keadaan luar biasa. Prioritas 2 Pasien ini memerlukan pelayanan pemantauan canggih dari ICU. Pasien-pasien prioritas 3 (tiga) mungkin mendapat terapi intensif untuk mengatasi penyakit akut. atau pasien shock septic. penyakit yang mendasarinya. dan lainlainnya.6.6. b. atas persetujuan kepala ICU. Contoh pasien kelompok ini antara lain pascabedah kardiotoraksik. seperti derajat hipoksemia. atau ginjal akut dan berat atau yang telah mengalami pembedahan major. Prioritas 1 Kelompok ini merupakan pasien sakit kritis.

Alur Masuk Pasien Di ICU Poliklinik / RS lain Rawat Inap IBS UGD ICU J.1. K.7. Pasien dalam keadaan vegetatif permanen. Kriteria Keluar Dari ICU Adapun indikasi keluar ICU antara lain sebagai berikut : . Pasien-pasien yang kompeten tetapi menolak terapi tunjangan hidup yang agresif dan hanya demi ”perawatan yang nyaman” saja. Pasien-pasien seperti itu dapat dimasukkan ke ICU bila mereka potensial donor organ. pasien diabetic ketoacidosis tanpa komplikasi. Pada prinsipnya pasien yang masuk ICU tidak boleh ada yang mempunyai riwayat penyakit menular6. Pasien yang telah dipastikan mengalami brain death. pasien pascabedah vaskuler yang stabil. atau payah jantung kongestif ringan. 2.7. keracunan obat tetapi sadar. 3. Sesungguhnya. misalnya gas gangren. concussion. I. Pasien-pasien semacam ini lebih disukai dimasukkan ke suatu unit intermediet untuk terapi definitif dan atau observasi6. pasien-pasien ini mungkin mendapat manfaat dari tunjangan canggih yang tersedia di ICU untuk meningkatkan kemungkinan survivalnya1. Ini tidak menyingkirkan pasien dengan perintah ”DNR”. Kontraindikasi Masuk ICU Yang mutlak tidak boleh masuk ICU adalah pasien dengan penyakit yang sangat menular. Contoh pasien kelompok ini antara lain. Pasien yang secara fisiologis stasbil yang secara statistik risikonya rendah untuk memerlukan terapi ICU. tetapi hanya untuk tujuan menunjang fungsi-fungsi organ sementara menunggu donasi organ 1. 4.

Dan pada saat itu pasien tidak menggunakan ventilator. karsinoma yang telah menyebar luas dan lainlainnya yang telah tidak berespons terhadap terapi ICU untuk penyakit akutnya. Pasien/keluarga memerlukan terapi yang lebih gawat mau masuk ICU dan tempat penuh Pasien tidak perlu lagi berada di ICU apabila : 1. Berdasarkan Prioritasnya. d. penyakit jantung atau liver terminal. Contoh hal terakhir adalah pasien dengan tiga atau lebih gagal sistem organ yang tidak berespons terhadap pengelolaan agresif. c. indikasi pasien keluar antara lain :  Prioritas I : Pasien prioritas 1 (satu) dikeluarkan dari ICU bila kebutuhan untuk terapi intensif telah tidak ada lagi.a. f. b. Pasien mengalami mati batang otak. Tidak ada kegawatan yang menganca jiwa sehingga dirawat di ruang biasa atau dapat pulang 3. Contoh dari hal terakhir antara lain adalah pasien dengan penyakit lanjut (penyakit paru kronis. Atas permintaan keluarga atau pasien. Prioritas III : Pasien prioritas 3 (tiga) dikeluarkan dari ICU bila kebutuhan untuk terapi intensif telah tidak ada lagi. atau bila terapi telah gagal dan prognosis jangka pendek jelek dengan kemungkinan kesembuhan atau manfaat dari terapi intensif kontinu kecil. Pasien mengalami stadium akhir (ARDS stadium akhir) Pasien/keluarga menolak dirawat lebih lanjut di ICU (pulangpaksa) g. Terapi dan perawatan intensif tidak memberi hasil pada pasien. dan yang tidak ada terapi yang . e. yang prognosis jangka pendeknya secara statistik rendah.   Prioritas II : Pasien prioritas 2 (dua) dikeluarkan bila kemungkinan untuk mendadak memerlukan terapi intensif telah berkurang. Penyakit atau keadaan pasien telah membaik dan cukup stabil. Meninggal dunia 2. tetapi mereka mungkin dikeluarkan lebih dini bila kemungkinan kesembuhannya atau manfaat dari terapi intensif kontinu kecil. Untuk kasus seperti ini keluarga atau pasien harus menandatangani surat keluar ICU atas permintaan sendiri.

Perlakuan Terhadap Pasien ICU Pasien di ruang ICU berbeda dengan pasien di ruang rawat inap biasa. L. pasien kritis atau kehilangan kesadaran atau mengalami kelumpuhan sehingga segala sesuatu yang terjadi dalam diri pasien hanya dapat diketahui melalui monitoring yang baik dan teratur. pengaturan untuk perawatan non-ICU yang sesuai harus dilakukan sebelum pengeluaran dari ICU 1. Keluarga pasien juga dapat mengalami hal serupa dengan pasien. Perubahan yang terjadi harus dianalisa secara cermat untuk mendapat tindakan yang cepat dan tepat 6. Dapat dibuatkan selebaran / pamflet tentang ICU 2. Penjelasan tentang kondisi terkini pasien 3. Tujuan Akhir Pengobatan ICU Hasil yang paling baik dari pengobatan di ICU adalah keberhasilan dalam mengembalikan pasien pada aktifitas kehidupan sehari-hari seperti keadaan sebelum pasien sakit. antara lain : 1. M. Dengan mempertimbangkan perawatannya tetap berlanjut dan sering merupakan perawatan khusus setara pasien ICU. tanpa defek atau cacat 6. N. Reaksi Pasien Dan Keluarga Pasien ICU Reaksi pasien di ICU antara lain kecemasan. Memberikan sedasi atau analgesi bila perlu 3.7.potensial untuk memperbaiki prognosisnya). antara lain : 1. Untuk meminimalkan reaksi negatif keluarga pasien dapat dilakukan beberapa hal. ketidakberdayaan. karena pasien ICU mempunyai ketergantungan yang sangat tinggi terhadap perawat dan dokter. antara lain cemas sampai dengan insomnia. Di ICU. disorientasi dan kesulitan komunikasi. Keluarga dapat diijinkan bertemu pasien untuk memberikan dukungan moral 4. Memberikan penjelasan setiap akan melakukan tindakan 2. Untuk meminimalkan reaksi negatif dari pasien ICU dapat dilakukan beberapa hal. Diberikan alat bantu semaksimal mungkin. Keluarga pasien dapat diikutkan pada konferensi klinik bersama semua staf dan perawat .7.

3. Anamnesis Seringkali pasien sebelum masuk ICU sudah mendapat tindakan pengobatan sebelum diagnosis definitif ditegakkan. obat-obatan. gastro intestinal. Pemeriksaan Fisik Meliputi pemeriksaan fisik secara umum. Perdarahan Gastrointestinal Stress ulcer dapat merupakan kompensasi dari penyakit akut. pasien tetap harus dilakukan pemeriksaan fisik : a. Sistem pernafasan d. Serah Terima Pasien Untuk mengetahui riwayat tindakan pengobatan sebelumnya dan sebagai bentuk aspek legal. ginjal dan cairan. Jalan nafas dan kepala c. Cairan : Dehidrasi j. Monitoring rutin h. Pengelolaan Pasien ICU Pendekatan Pasien ICU : 1. Anggota gerak g.O. Sistem sirkulasi e. anggota gerak. Nutrisi Utamakan pemberian nutrisi enteral :  Usia Lanjut  Cadangan fisiologis terbatas  Peningkatan penyakit penyerta  Riwayat pemakaian obat  Riwayat perokok. ABC b. haematologi dan posisi pasien. kardiovaskuler. Intubasi dan Pengelolaan Trakhea i. alkoholisme. Sistem gastrointestinal f. 2. k. penilaian neurologis. Walaupun keadaan stabil. sistem pernafasan.  Interaksi obat pada usia lanjut .

Exhausts fan e. perawat dan administrator rumah sakit. efek pengobatan. PRASARANA a. Lokasi Dianjurkan satu kompleks dengan kamar bedah dan kamar pulih sadar.Mempunyai standar tertentu terhadap: a. monitoring TTV. Kajian hasil pemeriksaan Meliputi biokimia. Bahaya api b. dan kriteria outcome yang spesifik. gas darah. Kabel monitor . Komunikasi g. Bakteriologis h. CT scan. Identifikasi masalah dan strategi penanggulangannya 6. Pengkajian Ulang Kinerja Setiap ICU hendaknya membuat peraturan dan prosedur masuk dan keluar.Terisolasi . Pipa air f. 1. Kepatuhan terhadap ketentuan masuk dan keluar harus dipantau oleh tim multidisipliner. foto thorax. berdekatan atau mempunyai akses yang mudah ke Unit Gawat Darurat. dan radiologi 2. Desain Standar ICU yang memadai ditentukan desain yang baik dan pengaturan ruang yang adekuat2 Bangunan ICU: . dan bila ada penyimpanganpenyimpangan maka dilaporkan pada badan perbaikan kualitas rumah sakit untuk ditindak lanjuti 7. standar perawatan pasien. hematologi. 5. b. dan hendaknya dikaji ulang dan diperbaiki seperlunya berdasarkan keluaran pasien (outcome) dan pengukuran kinerja yang lain. Ventilasi c. AC d. laboratorium. Kelengkapan ini hendaknya dibuat oleh tim multidisipliner yang diwakili oleh dokter. Informasi kepada keluarga 7 P.4.

Suhu 22o–25o kelembaban 50–70% . Pencahayaan yang cukup dan adekuat untuk observasi klinis dengan lampu TL day light 10 watt/m2. . 4) Ruang Isolasi Dilengkapi dengan tempat cuci tangan dan tempat ganti pakaian sendiri . penghangat darah.Unit tertutup 1 ruangan 1 tempat tidur dan 1 cuci tangan Harus ada sejumlah outlet yang cukup sesuai dengan level ICU. keras dan rata 1) Area Pasien: . Desain dari unit juga memperhatikan privasi pasien 7.Ruang yang cukup untuk mesin X-Ray mobile dan mempunyai negatif skop. meliputi: .Jarak antara tempat tidur: 2 m . 3) Lingkungan Mempunyai pendingin ruangan/AC yang dapat mengontrol suhu dan kelembaban sesuai dengan luas ruangan. ventilator. cairan. dan 3 pompa hisap dan minimum 16 stop kontak untuk tiap tempat tidur. ICU tersier paling sedikit 3 outlet udara–tekan. pompa infus dan pompa syringe. troli. 5) Ruang Penyimpanan Peralatan dan Barang Bersih Untuk menyimpan monitor.Unit terbuka mempunyai 1 tempat cuci tangan setiap 2 tempat tidur . linen dan tempat penyimpanan barang dan alat bersih . peralatan resusitasi dan penyimpanan obat dan alat (termasuk lemari pendingin). penggantung infus. Jendela dan akses tempat tidur menjamin kenyamanan pasien dan personil. . alat hisap. peralatan dialisis.Ruang yang cukup untuk memonitor pasien. .Ruang yang cukup untuk staf dan dapat menjaga kontak visual perawat dengan pasien.. Alat-alat sekali pakai.Unit tertutup 16–20 m2/tempat tidur .Unit terbuka 12–16 m2/tempat tidur .Lantai mudah dibersihkan. juga tempat untuk penyimpanan alat tulis dan terdapat ruang yang cukup untuk resepsionis dan petugas admistrasi 7. 2) Area Kerja. .Ruang untuk telpon dan sistem komunikasi lain. komputer dan koleksi data.

Alat ventilasi manual dan alat penunjang jalan nafas . 8) Ruang Staf Dokter Tempat kegiatan organisasi dan administrasi termasuk kantor kepala bagian dan staf. PERALATAN a) Jumlah dan macam peralatan bervariasi tergantung tipe. 2.Lampu untuk tindakan .Peralatan akses vaskular . 9) Ruang Tunggu Keluarga Pasien 10) Laboratorium Harus dipertimbangkan pada unit yang tidak mengandalkan pelayanan terpusat 7. ukuran dan fungsi ICU dan harus sesuai dengan beban kerja ICU.Peralatan drain thorax . pengosongan dan pembersihan pispot dan botol urine. c) Peralatan dasar meliputi: .Peralatan portable untuk transportasi . b) Terdapat prosedur pemeriksaan berkala untuk keamanan alat.Ventilator . pemeriksaan urine.Defibrilitor dan alat pacu jantung .Alat hisap . 7) Ruang Perawat Terdapat ruang terpisah yang dapat digunakan oleh perawat yang bertugas dan pimpinannya.6) Ruang Tempat Pembuangan Alat/Bahan Kotor Ruang untuk membersihkan alat-alat.Peralatan monitor invasif dan non-invasif .Pompa infus dan pompa syringe . dan kepustakaan.Continuous Renal Replacement Therapy . Desain unit menjamin tidak ada kontaminasi .Alat pengatur suhu pasien . disesuaikan dengan standar yang berlaku.Tempat tidur khusus .

atau alat perfusi. Ada tanda bahaya bila terjadi peningkatan suhu udara inspirasi. Alat yang secara otomatis teraktifasi untuk memonitor penurunan tekanan pasokan oksigen. Volume yang keluar dari ventilator harus dipantau. Diperlukan untuk mengukur konsentrasi oksigen yang dikeluarkan oleh ventilator atau sistem pernafasan. 3. Apabila pasien sedang menjalani hemodialisis. i) Emboli udara. Pada penggunaan ventilator otomatis. Protokol dan pelatihan kerja untuk staf medik dan paramedik perlu tersedia untuk penggunaan alat-alat termasuk langkah-langkah untuk mengatasi apabila terjadi malfungsi 7. Terpasang pada setiap pasien dan dipantau terus menerus. b) Tanda bahaya kegagalan pasokan oksigen. harus ada pemantauan untuk emboli udara. yang selalu terpasang di ventilator. d) Tanda bahaya kegagalan ventilator atau diskonsentrasi sistem pernafasan. MONITORING PERALATAN (Termasuk peralatan portable yang digunakan untuk transportasi pasien).Peralatan lain (seperti peralatan hemodialisis dan lain-lain) untuk prosedur diagnostik dan atau terapi khusus hendaknya tersedia bila secara klinis ada indikasi dan untuk mendukung fungsi ICU. a) Tanda bahaya kegagalan pasokan gas. plasmapheresis. g) Elektrokardiograf. e) Volume dan tekanan ventilator. c) Pemantauan konsentrasi oksigen. f) Suhu alat pelembab (humidifier). h) Pulse oximetry. harus ada alat yang dapat segera mendeteksi kegagalan sistem pernafasan atau ventilator secara terus menerus. Harus tersedia untuk setiap pasien di ICU. Tekanan jalan nafas dan tekanan sirkuit pernafasan harus terpantau terus menerus dan dapat mendeteksi tekanan yang berlebihan. .

curah jantung.Tensi / NIBP (Non Invasive Blood Pressure) / Pemeriksaan tekanan darah. suhu. tekanan inspirasi dan aliran jalan nafas. oksigen 4.j) Bila ada indikasi klinis harus tersedia peralatan untuk mengukur variabel fisiologis lain seperti tekanan intra-arterial dan tekanan arteri pulmonalis.Saturasi adalah darah / pemeriksaan SpO2. 1. kadar CO2 ekspirasi 7 .Temperature. 5. tekanan intrakranial. adalah irama kadar nafas pasien yang dalam ada satu dalam menit darah.Respirasi 3.ECG adalah pemeriksaan aktivitas kelistrikan jantung. dalam pemeriksaan ECG ini juga termasuk pemeriksaan “Heart Rate” atau detak jantung pasien dalam satu menit. suhu tubuh pasien yang diperiksa8 ECG NIBP Manset NIBP Dewasa . transmisi neuromuskular. 2.

Manset NIBP Anak Manset NIBP Bayi SpO2 SpO2 Sensor Dewasa SpO2 Sensor Anak .

SpO2 SensorBayi Temperatur Probe Temperatur Skin Probe Temperatur Recta .

Pasien yang masuk ICU adalah pasien yang dalam keadaan terancam jiwanya sewaktu waktu karena kegagalan atau disfungsi satu atau multple organ atau sistem dan masih ada kemungkinan dapat disembuhkan kembali melalui perawatan. bencana atau komplikasi yang memiliki harapan hidup. Saran Diharapkan kepada para perawat agar mampu melaksanakan manajemen ICU dalam penanganan pasien kegawatdaruratan dan dalam menangani pasien yang dirawat di ICU agar sesuai dengan standar yang ditetapkan. punya dokter residen yang selalu siap di tempat dan mempunyai hubungan dengan fasilitas fisioterapi.7 B. Level III / Tertier ICU Level III biasanya pada Ruamh Sakit tipe A yang memiliki semua aspek yang dibutuhkan ICU agar dapat memenuhi peran sebagai Rumah Sakit rujukan7. Kesimpulan ICU atau Intenssive Care Unit adalah ruang rawat inap di Rumah Sakit yang dilengkapai dengan staf dan peralatan khusus untuk merawat pasien yang yang mengancam nyawa seperti pasien dengan sakit berat dan kritis oleh karena kegagalan fungsi organ. pemantauan dan pengobatan intensif. Level II / Sekunder ICU level II mampu melakukan ventilasi jangka lama.7 . Tujuan dari ICU yaitu Menyelamatkan kehidupan dan mencegah terjadinya kondisi memburuk dan komplikasi melalui observasi dan monitaring evaluasi yang ketat disertai kemampuan menginterpretasikan setiap data yang didapat dan melakukan tindak lanjut. patologi dan radiologi. ICU memiliki beberapa level yaitu. Level I / Primer pada Rumah Sakit di daerah yang kecil (di Rumah Sakit Daerah dengan tipe C dan D).BAB III PENUTUP A.

com/2009/08/20/konsep-dasar-intensive-care-unit-icu/ 8. J. Ryan CJ.Mustafa iqbal.com/2009/05/pasien-monitor.http://infoalkes. Rockville. Eds. 160:906-909. Am J Crit Care. Funk M.DAFTAR PUSTAKA 1. Departemen kesehatan RI direktorat jendral pelayanan medik. http://blogicumanajemen. O'Connor MF.blogspot. Advances in Patient Safety: New Directions and Alternative Approaches. Survey of use of ST-segment monitoring in patients with acute coronary Syndrome. Pohlman AS. Keyes. N Engl J Med 2000.com/ 9. Jakarta.Kress JP.Patton J. B. Gallagher J: Intensive care unit syndrome: a dangerous misnomer .blogspot.http://perawattegal. Grady. Basten CJ. USA . 342:1471-1477 3. (Vol 4: Technology and Medication Safety). 2003 6.html ..K.. 4.. Standar pelayanan ICU.http://www. Battles.109(1):23-24. A. L. Md. 5.McGuire BE. M.org/pdf/28179 7. 2001. and M. Henriksen. Hall JB: Daily interruption of sedative infusions in critically ill patients undergoing mechanical ventilation.dokumen. 2008 2.wordpress.dkk. Arch Intern Med 2000.