Orang Tua, Sumber Kekuatan Anak

Ditulis oleh admin Kamis, 11 Desember 2008 08:41 - Terakhir Diperbaharui Kamis, 11 Desember 2008 08:42

Banyak anak yang bermasalah dalam prestasinya salah satunya disebabkan ada masalah di rumah. Di antaranya banyak yang dipicu oleh masalah dengan orang tua. Ada anak yang tidak terbuka dengan orang tuanya karena mereka jarang memberi perhatian kepadanya.

Bagi Anda yang sering berada di lingkungan Yayasan Nur Hidayah (YNH), pada saat jam sekolah  07.00 dan 15.30 WIB  pasti menjumpai banyak orang tua yang mengantar dan menjemput anak-anaknya. Mereka adalah orang tua siswa SDIT Nur Hidayah yang memiliki waktu luang untuk antar-jemput anaknya. Tetapi bagi yang tidak sempat karena kesibukan kerja dan sebagainya, para orang tua itu menitipkan anaknya kepada armada antar-jemput sekolah.

Para orang tua itu dengan setia menunggu wajah ceria anaknya waktu menghampirinya. Melihat seulas senyum bahagia anak tatkala menemukan sosok ayah atau ibunya. Dan kembali mendengar celoteh anaknya tentang kejadian di sekolah atau tugas dari guru, agaknya itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi para orang tua.

Menjadi orang tua adalah kebahagiaan bagi pasangan suami istri. Bahkan itu menjadi tujuan dari pernikahan itu sendiri. Selain untuk menyempurnakan agamanya, pernikahan berfungsi untuk menjaga kelangsungan hidup umat manusia. Melahirkan generasi manusia berikutnya yang akan melanjutkan risalah peradaban sebagai khalifah di dunia. Demikian paparan Ustadz Drs. Kasori Mujahid, Direktur Samara Care sekaligus Ketua Bidang Sosial dan Dakwah YNH.

“Orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keselamatan anak, di dunia dan akhirat. Seperti  disebutkan dalam Surah At-tahrim Ayat 6, 'Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…'. Dalam upayanya untuk itu, maka orang tua membekali anak dengan pendidikan agama dan keterampilan hidup, sehingga dalam kehidupannya nanti tidak salah arah atau malah terjerumus dalam dosa dan kesesatan,” terang Ustadz Kasori.

Akidah yang Utama

Orang tua yang baik atau ideal adalah mereka yang mampu melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik. Memberi rasa aman, menjadi pelindung, memberi nafkah, memberikan pendidikan yang baik, dan yang terpenting adalah menjaga kelurusan akidah anaknya. Dan inilah yang

1/4

Orang Tua, Sumber Kekuatan Anak
Ditulis oleh admin Kamis, 11 Desember 2008 08:41 - Terakhir Diperbaharui Kamis, 11 Desember 2008 08:42

terpenting dari semuanya. Pendidikan anak yang utama adalah memberikan pondasi agama atau akidah yang lurus bagi anak. Seperti dalam Surah Luqman Ayat 13, Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar".

Banyak orang tua yang kini sadar dengan pentingnya tanggung jawab terhadap anak. Kesadaran ini yang kemudian melandasi mereka untuk memilihkan  salah satunya  sekolah yang baik sebagai tempat menuntut ilmu. Bagi mereka, pendidikan anak adalah hal yang harus diutamakan. Mereka mengaku tidak berani ambil risiko dengan mendaftarkan anaknya ke sekolah biasa atau umum karena takut dengan dampak bagi perilaku sang anak.

Ibu Rohmah, misalnya, mengaku tidak bisa memberi toleransi kepada anak untuk memilih sekolah yang diinginkannya. Ibu dua anak ini tegas memberi pilihan kepada anak, sekolah di SMPIT Nur Hidayah atau tidak sekolah sama sekali. Dan akhirnya si anak menurut apa perintah sang ibu. Namun, ternyata walaupun dipilihkan sekolah yang bagus tidak memberi jaminan akan mudah mendidiknya semulus jalan tol  tanpa hambatan. Tetapi, tetap saja ada kendala atau tantangan dalam mendidik anak.

“Susahnya, anak saya itu suka ‘ngeyelan’ kalau dinasihati. Saya rasa orang tua lainnya juga seperti itu. Ada-ada saja jawaban anak saat kita menasihati. Makanya dari kecil saya selalu tanamkan ke anak-anak saya, supaya mereka hanya merasa takut kepada Allah saja, bukan yang lain, bukan orang tua, bukan guru. Jadi sampai sekarang anak-anak saya kalu sudah angel (Jawa: susah) dinasehati langsung saya bilangi: 'Sak karepmu le…sok mben ki urusanmu karo Gusti Allah, ora karo Mama' (terserah kamu nak, urusanmu nanti sama Allah, bukan sama Mama). Kalau sudah begitu biasanya dia langsung berangkat shalat misalnya,” terangnya.

Demikian juga dengan Ibu Nana, sebut saja begitu. Dia mengaku resah dan khawatir dengan masa depan anaknya nanti. Dia berharap anaknya mau sekolah di sekolah yang berbasis Islam. Bu Nana beranggapan bahwa di masa yang akan datang keadaannya akan jauh berbeda dengan sekarang, begitu juga dengan tantangannya. Jika anak tidak dibekali dengan basic pendidikan yang kuat, dia takut sang buah hati terseret arus globalisasi dan modernisasi yang tidak terbayangkan dampak buruknya. Sejak kecil, anaknya dicarikan guru ngaji khusus yang datang ke rumah untuk menanamkan pendidikan agama sejak dini.

Sementara beberapa siswa di YNH yang ditemui MNH menyatakan puas dengan orang tuanya,

2/4

Orang Tua, Sumber Kekuatan Anak
Ditulis oleh admin Kamis, 11 Desember 2008 08:41 - Terakhir Diperbaharui Kamis, 11 Desember 2008 08:42

artinya tidak banyak komplain atau protes dengan perlakuan atau pendidikan yang diberikan selama ini. Bagi mereka, orang tuanya adalah yang terbaik. Meskipun kadang-kadang diakui tidak adil terhadap anak-anaknya, Nita, Icha, dan Ardelia, siswi SMPIT Nur Hidayah, orang tua mereka tetap yang terbaik. “Memang sebel kalau mereka pas nggak adil sama kita. Misal ada masalah dengan saudara, kita yang disalahkan. Tapi dalam kondisi biasa, orang tua kita tuh baik banget,” ujar mereka sepakat.

Orang tua ideal di mata mereka adalah orang tua yang memiliki hati selembut kapas, baik, perhatian, adil, bijaksana, sabar, dan bisa jadi tempat curhat. Mungkin sebagian besar anak tidak suka dengan orang tua yang tegas atau disiplin. Tetapi bagi mereka bertiga, orang tua yang ideal justru harus memiliki sikap tegas kepada anak.

Pemicu Prestasi Anak

Menurut Ustadzah Paryanti, Guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMPIT Nur Hidayah, banyak anak yang bermasalah dalam prestasinya salah satunya disebabkan ada masalah di rumah. Di antaranya banyak yang dipicu oleh masalah dengan orang tua. Ada anak yang tidak terbuka dengan orang tuanya karena mereka jarang memberi perhatian kepadanya. Ada juga yang orang tuanya tinggal berjauhan dan dia tinggal bersama neneknya, si anak menjadi kurang greget (antusias) dalam segala hal. “Peran orang tua sangat penting dalam memberikan motivasi bagi anak. Semangat belajar maupun semangat untuk berprestasi lebih banyak dipicu peran orang tua.”

Ada sebuah contoh, seorang siswa tadinya cukup berprestasi kemudian turun drastis. Setelah ditelusuri ternyata dia punya masalah di rumah. Lain lagi anak yang kedua orang tuanya tidak akur bahkan mau cerai. Selama dua hari dia menangis di sekolah gara-gara masalah itu. Jadi, bagaimana kondisi hubungan antara kedua orang tua sangat berpengaruh bagi kejiwaan anak. Dia seperti kehilangan rasa aman, tidak lagi memiliki keluarga yang sempurna, merasa malu, dan sebagainya. Banyak sekali contoh masalah keluarga yang berdampak langsung bagi anak secara kepribadian, prestasi akademis, maupun interaksi sosial dengan teman-temannya.

Salah satu masalah yang kadang menjadi kendala bagi anak untuk melejitkan potensi anak adalah masalah ekonomi. Orang tua yang tidak dapat membayar SPP tepat pada waktunya berpengaruh pada motivasi belajar anak. Anak jadi malas, rendah diri, malu kepada teman atau guru. Bahkan orang tuanya sampai tidak mengambil raport gara-gara belum lunas SPP. Dijelaskan Ustadzah Paryanti, SMPIT Nur Hidayah sebenarnya memiliki kebijakan yang tidak

3/4

Orang Tua, Sumber Kekuatan Anak
Ditulis oleh admin Kamis, 11 Desember 2008 08:41 - Terakhir Diperbaharui Kamis, 11 Desember 2008 08:42

melarang mereka yang belum lunas SPP untuk mengambil raport. Bahkan mereka yang memang tidak mampu atau kesulitan melunasi SPP dapat mengajukan permohonan keringanan kepada kepala sekolah, dan sekolah sangat terbuka dengan masalah tersebut.

“Karena raport ini kan penting sekali. Ini adalah kesempatan guru memberikan laporan belajar dan perkembangan anak di sekolah. Misalnya ada masalah di sekolah, belajar atau masalah dengan temannya, bisa disampaikan kepada orang tua. Sehingga mereka tahu masalah anaknya dan bisa membantu menyelesaikan. Karena kadang anak tidak terbuka dengan orang tua. Tahunya di rumah baik-baik saja, ternyata di sekolah ada masalah.”

Lain lagi dengan anak-anak yatim piatu yang diasuh di Panti Asuhan Nur Hidayah. Mereka adalah anak-anak istimewa, karena orang tuanya sudah tidak lengkap bahkan ada yang tidak punya orang tua sama sekali. Bagi mereka, perhatian orang lain kepadanya lebih dari cukup untuk mengobati celah hati yang haus akan kehadiran orang tua kandungnya.

Bapak Slamet Jayadi, Pengasuh Panti Asuhan Banyuanyar mengungkapkan, memang anak-anak yatim piatu cenderung lebih susah diatur dari anak lainnya. Namun dirinya berhasil membuktikan bahwa dengan pendekatan dan cara komunikasi yang tepat, anak-anak yatim itu bahkan bisa lebih santun dari mereka yang berayah dan ibu lengkap.

“Kuncinya dengan hati. Saya selalu mengingatkan mereka pada niat awal mereka masuk ke panti asuhan ini. Pencerahan melalui kajian merupakan kegiatan utama, pembiasaan ibadah secara tertib dan ajeg, dan penanaman disiplin dalam segala hal menjadi menu wajib di panti asuhan ini,” jelas pria yang akrab disapa Pak Jay ini. Ketika anak sudah merasa nyaman, mereka akan mudah diarahkan dan nurut kepada pengasuhnya, bahkan lebih kerasan tinggal di panti asuhan daripada di rumah sendiri. Baik fisik maupun potensi kecerdasan anak lebih mudah berkembang tatkala mereka menemukan kenyamanan, rasa aman, dan yang terpenting merasa disayangi. (If)

4/4