You are on page 1of 26

BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG Bencana merupakan gangguan atau kekacauan fungsi sosial yang serius yang menyebabkan meluasnya kerugian jiwa, materi atau lingkungan. Bencana terjadi ketika sumber daya atau kapasitas yang tersedia sangat tidak memadai dalam mengatasi ancaman (hazard). Bencana juga berarti proses dimana ada jarak antara kejadian alam seperti tsunami, gempa bumi, badai dan sebagainya dengan kejadian bencana seperti kehilangan, kematian dan sebagainya. Jarak antara kejadian alam dan kejadian bencana sangat bergantung pada tingkat distribusi kerentanan yang terjadi (UU Penanganan Bencana o. !"#!$$%). &tatistik bencana dunia tahun '(() * !$$+ menyebutkan bahwa trend bencana terus menerus terjadi setiap tahun dengan jumlah korban dan kerugian ekonomis semakin meningkat yang menunjukan bahwa bencana terjadi secara berkelanjutan. Bencana alam yang terjadi di ,ndonesia antara lain -sunami di .ceh pada tanggal !+ /esember !$$" yang menelan korban kurang lebih '%$.$$$ orang meninggal, )$$.$$$ orang kehilangan tempat tinggal dan belasan ribu anak jadi yatim piatu, bencana meluapnya 0umpur 0apindo dan gempa bumi di Jogjakarta pada tahun !$$% yang menyebabkan banyak korban menderita kerugian baik berupa kehilangan tempat tinggal, kerugian ekonomi dan lain lain. /ampak bencana terhadap masyarakat antara lain kehilangan orang yang dicintai, kehilangan rumah dan kepemilikan lain, kerusakan lingkungan, kerusakan struktur dan fungsi sosial, trauma psikologis yang berkepanjangan# respon pasca trauma akibat keterpaparan terhadap korban cedera dan kematian, respon histeris saat bencana, tidak adekuatnya koping strategis, kurangnya dukungan#support dan lain lain. 1aktor yang mempengaruhi respon indi2idu terhadap bencana yang dialami adalah derajat atau tingkat keterpaparan terhadap bencana, dan pandangan atau penerimaan indi2idu terhadap bencana yang dialami.

'

3anagemen penanganan bencana telah memiliki dasar hukum atau peraturan yang jelas secara asional dan ,nternasional. 4engelolaan bencana ,nternational antara lain telah terbentuknya badan atau organisasi penanggulangan bencana antara lain International Decade for Natural Disaster Reduction (IDNDR) tahun '(($5!$$$, World Conference on Natural Disater Reduction di 6okohama tahun '((", World Conference for Disaster Reduction (WCDR) di 7obe tahun !$$). 8rganisasi tersebut melakukan koordinasi dengan organisasi penanggulangan bencana lokal di daerah bencana dan memberikan bantuan berupa materi, fasilitas dan personil dalam penanggulangan bencana kepada negara negara di dunia. 3anagemen penanggulangan bencana di ,ndonesia telah memiliki dasar hukum yang jelas seperti yang tertuang dalam UU Penanggulangan Bencana 7oordinasi asional (Bakornas) sesuai 7eppres o. !" tahun !$$% bahwa kordinasi penanggulangan bencana yang sebelumnya dilaksanakan oleh Badan o. ''#!$$' digantikan oleh Badan o. !"#!$$% telah asional Penanggulangan Bencana (B PB). /alam pasal pasal UU

mengatur tanggung jawab dan wewenang organisasi atau lembaga nasional, daerah dan internasional dalam penanggulangan bencana9 mengatur hak dan kewajiban masyarakat9 managemen penanggulangan bencana yang terdiri dari pra bencana (Predisaster), selama bencana (during diaster) dan setelah bencana (after disaster), serta mengatur proses pendanaan, pengelolaan bantuan, pengawasan dan penyelesaian sengketa akibat bencana. 3eskipun setelah dilakukan e2aluasi, kinerja Badan 0apindo (./P: !$$; dalam www.ntt5academia.org) Usaha penanggulangan bencana yang bersifat mengandalkan peran aktif Badan asional Penanggulangan Bencana (Bakornas) memiliki banyak kelemahan antara lain sangat tergantung pada stabilitas ekonomi negara, krisis keuangan negara dan utang luar negeri sehingga mengalami masalah dalam pembiayaan persiapan dan pengadaan personil, fasilitas, penyelesaian sengketa dengan korban bencana sehingga penekanan bantuan yang diberikan hanya pada respon emergency (selama bencana) dan respon pemulihan9 hanya fokus pada bantuan fisik, material dan teknis semata serta hanya fokus pada penyelesaian sengketa pada satuan keluarga (./P: !$$; dalam www.ntt5 academia.org) asional Penanggulangan Bencana secara umum berjalan baik namun tidak efektif dalam menanggulangi masalah 0umpur

Berdasarkan hal tersebut maka muncul paradigma baru dalam penanggulangan bencana yaitu Penanggulangan Bencana Berbasis 7omunitas ( Community Based Disaster Risk Management#:B/43). :B/43 adalah pemberdayaan komunitas agar dapat mengelola bencana dimana masyarakat terlibat atau difasilitasi untuk terlibat aktif dalam pengelolaan resiko bencana (perencanaan, implementasi, pengawasan, e2aluasi) dengan input sumber daya lokal maksimum dan input eksternal minimun. :B/43 memiliki kelebihan dibanding penanggulangan bencana mengandalkan peran aktif Bakornas antara lain melibatkan peran serta aktif masyarakat dalam pengelolaan bencana dengan cara mereduksi risiko bencana# kerentanan dan meningkatkan kapasitas indi2idu#keluarga#komunitas dalam menghadapi dampak bencana sedangkan pihak luar (0&3, donor, pemerintah#Bakornas) berperan mendukung dan menfasilitasi misalnya membantu analisis situasi, mengukur tingkat perencanaan dan implementasi :B/43. 1okus :B/43 bukan hanya pada saat terjadi bencana tetapi meliputi seluruh elemen perencanaan# siklus penanganan bencana yaitu sebelum bencana, selama bencana dan setelah bencana. Peran perawat komunitas sangat penting dalam meningkatkan kemandirian masyarakat dalam penanggulangan bencana karena perawat komunitas dengan ilmu dan keterampilan keperawatan yang dimiliki serta kemampuan pengelolaan masyarakat dalam peningkatan status kesehatannya. Peran perawat komunitas antara lain pada saat sebelum bencana berperan sebagai pendidik dan moti2ator bagi masyarakat untuk berperan aktif dalam penanggulangan bencana, sebagai fasilitator dalam membantu masyarakat mengidentifikasi faktor resiko bencana yang ada di masyarakat, mengidentifikasi kapasitas#kemampuan atau sumber daya yang ada di masyarakat yang dapat digunakan dalam penanggulangan bencana, membantu menyusun perencanaan penanggulangan bencana dan pedoman implementasi dan e2aluasi, serta menjadi fasilitator dalam mengawasi dan menge2aluasi program penanggulangan bencana di masyarakat. &elain berperan sebagai fasilitator bagi masyarakat, seorang perawat komunitas juga harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam penanganan korban bencana pada kondisi emergency saat bencana terjadi serta berperan aktif dalam rehabilitasi korban bencana baik rehabilitasi fisik maupun rehabilitasi psikologis akibat bencana.

/alam menjalankan peran dan tugasnya membantu masyarakat dalam penanggulangan bencana maka seorang perawat komunitas harus memiliki kompetensi tertentu yang terdiri dari (') &ikap# perilaku yang mendasar sebagai perawat bencana , (!) Pengkajian sistematik terhadap kebutuhan pelayanan keperawatan, (;) Pemberian Perawatan kepada indi2idu yang rentan dan keluarganya, (") 3anagemen perawatan dalam kondisi bencana, ()) 3embuat laporan praktek keperawatan pada saat terjadi bencana dan terus menerus mengembangkan pengetahuan dan kemampuan diri tentang perawat bencana. 3akalah ini akan menguraikan secara lebih jelas tentang managemen penanggulangan bencana yang terdiri dari managemen sebelum bencana, selama bencana dan setelah bencana, 3odel penanggulangan bencana berbasis komunitas (:B/43), peran perawat dalam penanggulangan bencana serta indikator keberlanjutan penanggulangan bencana berbasis komunitas.

B.

TUJUAN

-ujuan penulisan makalah ini adalah < '. 3emberikan gambaran tentang managemen penanggulangan bencana terdiri dari sebelum bencana, selama bencana dan seteleh bencana !. 3emberikan gambaran tentang Penanggulangan Bencana Berbasis 7omunitas ;. 3emberikan gambaran tentang peran perawat dalam Penanggulangan Bencana Berbasis 7omunitas ". 3emberikan gambaran ,ndikator keberlanjutan Penanggulangan Bencana Berbasis 7omunitas

"

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A.

PENGERTIAN BENCANA Bencana merupakan gangguan atau kekacauan fungsi sosial yang serius yang

menyebabkan meluasnya kerugian jiwa, materi atau lingkungan. Bencana terjadi ketika sumber daya atau kapasitas yang tersedia sangat tidak memadai dalam mengatasi ancaman (hazard). Beberapa tipe ancaman (ha=ards) yang menyebabkan bencana adalah ancaman geofisik ( eo!hazard) seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus9 ancaman hidroklimatis (hydro!climatic hazard) seperti banjir, kebakaran hutan, kekeringan9 ancaman biologis ("iological hazards) seperti penyebaran >,?, flu burung, epidemik9 ancaman tekhnologi (technological hazard) seperti kebakaran, polusi udara, kecelakaan nuklir, industrial e#$losions% &aste e#$osure, lumpur lapindo9 dan ancaman sosial (social hazard) seperti kriminalitas#kekerasan, perang, konflik, kemiskinan absolut dan terorisme. Bencana juga berarti proses dimana ada jarak antara kejadian alam seperti tsunami, gempa bumi, badai dan sebagainya dengan kejadian bencana seperti kehilangan, kematian dan sebagainya. Jarak antara kejadian alam dan kejadian bencana sangat bergantung pada tingkat distribusi kondisi kerentanan atau rawan bencana. 7ondisi rawan bencana atau kerentanan adalah kondisi atau karakteristik biologis, hidrologis, klimatologis, geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi dan tekhnologi pada suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah, meredam, mencapai kesiapan dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu. Berdasarkan kecepatan terjadinya, bencana terbagi atas bencana yang terjadi perlahan lahan (slo& onset hazard) seperti kekeringan#kelaparan, letusan gunung api, dan banjir serta bencana yang terjadi secara tiba tiba ( sudden onset hazard) yaitu ancaman akibat fenomena fenomena alam seperti gempa bumi, badai, banjir, tanah longsor,

tsunami, angin putting beliung yang terjadi tanpa peringatan dini yang menyebabkan ketidaksiapan dalam menghadapi bencana. Berikut ini akan diuraikan definisi terminologi tentang bencana yang terdapat dalam UU Penanggulangan Bencana o. !" tahun !$$% < Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebbakan baik oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, namjir, kekeringan, angin topan dan tanah longsor. Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa non alam antara lain berupa gagal tekhnologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat dan teror

B. MANAGEMEN PENANGGULANGAN BENCANA /alam penanganan bencana perlu ada suatu organisasi atau sistem komando kejadian bencana yang dibentuk oleh negara untuk menyusun panduan penanganan bencana dan melakukan koordinasi terhadap personil, fasilitas, sistem komunikasi dan transportasi dalam penanganan bencana. 8rganisasi ini sebelum menyusun Panduan Penanganan Bencana ('mergency ($erations Plan)'(P) terlebih dahulu melakukan pengkajian terhadap lingkungan dan komunitas untuk mengetahui daerah yang beresiko tinggi terkena bencana, tipe bencana yang mungkin terjadi baik bencana alam seperti banjir, sunami, gunung meletus, maupun bencana akibat perbuatan manusia misalnya kebakaran, kecelakaan dan lain lain. Pengkajian juga dilakukan terhadap fasilitas +

penanganan bencana di tempat kejadian seperti tenaga#personil bantuan, transportasi, farmakologi, alat dan bahan pertolongan kegawat daruratan (lokal facility), organisasi penangan bencana lokal (*afety committee), kantor atau posko penanganan bencana (*afety (fficer or emergency de$artment). &etelah dilakukan pengkajian secara lengkap kemudian disusun Panduan Penanganan Bencana baik panduan antisipasi atau pencegahan bencana (Pre$aredness), panduan penanganan saat bencana (during disaster) serta panduan penanganan setelah bencana (Postdisaster). 7omponen komponen penting yang terdapat dalam Panduan Penanganan Bencana ('(P) adalah sebagai berikut < ,nformasi secara cepat dan mudah. 1asilitas penanganan bencana ( health care facility) harus dapat diakses dengan cepat dan mudah kapanpun dan dimanapun bencana terjadi misalnya perlu ada jalur telepon emergency yang gratis, cepat dan mudah ke kantor atau fasilitas penanganan bencana. Jalur komunikasi secara internal dan eksternal. Jalur komunikasi untuk koordinasi personil, fasilitas dan transportasi dalam penanggulangan bencana harus jelas dan siaga termasuk informasi dari tempat kejadian bencana ke posko atau rumah sakit rujukan korban bencana. Perencanaan terhadap penanganan korban bencana (coordinated $atient care), termasuk didalamnya triage korbaan bencana, sistem rujukan dan transportasi ke posko atau rumah sakit rujukan korban bencana. Perencanaan keamanan terhadap korban, fasilitas dan personil terhadap kondisi yang sangat parah dan mengancam ,dentifikasi sumber atau fasilitas penanganan bencana baik lokal, regional dan negara serta bagaimana menghubunginya Pedoman penanganan korban bencana, masyarakat, media dan strategi pembagian tugas dalam tim &trategi managemen data korban dan kejadian bencana Penanganan respon pasca bencana Pedoman penyelamatan diri bagi masyarakat dan melakukan latihan sebelum bencana terjadi

.ntisipasi kebutuhan masyarakat setelah bencana seperti air bersih dan makanan untuk jangka waktu yang lama Perkiraan insiden kejadian bencana serta strategi identifikasi bencana seperti alarm bencana Personil dalam penanganan bencana harus memiliki pengetahuan dan

keterampilan yang baik dan ahli terhadap setiap kondisi bencana sehingga memiliki kesiapan dan kesigapan dalam melakukan tindakan sesuai tugas dan perannya masing masing berdasarkan pedoman penanganan bencana yang telah ada. Pedoman Penanganan bencana juga termasuk struktur atau alur penanganan bencana beserta tugas dan peran masing masing mulai dari penanganan di daerah bencana sampai transportasi dan persiapan posko atau rumah sakit rujukan korban bencana. Petugas penanganan bencana juga harus memiliki pengetahuan tentang bahasa, latar belakang budaya dan aspek spiritual yang ada pada berbagai komunitas. >al ini dilatar bekangi oleh karena kesulitan bahasa dapat meningkatkan ketakutan dan frustasi para korban, terdapat kepercayaan dan praktek spiritual yang berbeda terhadap terapi pengobatan, hygiene atau diet, waktu dan tempat khusus untuk berdoa, ritual khusus menangani korban yang meninggal dan lain lain. 3anagemen penanggulangan bencana di ,ndonesia telah memiliki dasar hukum yang jelas seperti yang tertuang dalam UU Penanggulangan Bencana 7oordinasi asional (Bakornas) sesuai 7eppres o. !" tahun !$$% bahwa kordinasi penanggulangan bencana yang sebelumnya dilaksanakan oleh Badan o. '''#!$$' digantikan oleh Badan o. !"#!$$% telah asional Penanggulangan Bencana (B PB). /alam pasal pasal UU

mengatur tanggung jawab dan wewenang organisasi atau lembaga nasional, daerah dan internasional dalam penanggulangan bencana, mengatur hak dan kewajiban masyarakat, managemen penanggulangan bencana yang terdiri dari pra bencana (Predisaster), selama bencana (during diaster) dan setelah bencana (after disaster), serta mengatur proses pendanaan, pengelolaan bantuan, pengawasan dan penyelesaian sengketa akibat bencana. 3anagemen penanggulangan bencana terdiri dari penanganan sebelum bencana (predisaster), penanganan saat bencana (during disaster) dan penangana setelah bencana (afterdisaster) selanjutnya akan diuraikan sebagai berikut <

a.

Penanganan Sebelum Bencana (Predisaster) Penanganan sebelum terjadinya bencana disebut juga tindakan pencegahan atau

pre2ention terdiri dari pengkajian faktor resiko bencana (risk assessment), 7egiatan pencegahan bencana, mitigasi (disaster mitigation), peringatan dini, dan kesiapsiagaan# tanggap darurat bencana ($re$aredness). Pengkajian terhadap faktor resiko bencana terdiri dari pengkajian terhadap lingkungan atau keterpaparan terhadap ancaman (hazard), analisis kerentanan dan kelompok yang rentan di masyarakat serta analisis sumber atau kapasitas yang dapat digunakan dalam menghadapi bencana. &etelah faktor resiko bencana teridentifikasi maka selanjutnya dilakukan pencegahan atau mitigasi dalam rangka menghilangkan dan atau mengurangi faktor resiko atau ancaman bencana. -indakan pencegahan dan mitigasi terdiri dari manajemen lingkungan, upaya fisik dan teknis dalam mengatasi faktor resiko bencana, regulasi# legislasi#kebijakan pembangunan yang mendukung pencegahan bencana, upaya penyadaran dan peningkatan kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana, serta membangun kemitraan dan jaringan (net&orking) dalam persiapan bencana. &elain melakukan tindakan pencegahan dan mitigasi, perlu juga dipersiapkan alat peringatan dini dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang. 7egiatan peringatan dini dapat berupa pemantauan yang terus menerus terhadap faktor resiko bencana disertai tanda alarm peringatan akan terjadinya bencana. Peringatan dini ini akan memberikan tanda kepada masyarakat agar siap siaga untuk menyelamatkan diri dan keluarga, serta sebagai tanda kepada para petugas penanggulangan bencana untuk mempersiapkan diri dalam membantu masyarakat dalam menghadapi bencana. Pemantuan secara terus menerus terhadap faktor resiko bencana adalah dengan menggunakan tekhnologi untuk mendeteksi dan memprediksi resiko timbulnya dan terjadinya bencana seperti tsunami dan gunung meletus. ,nformasi atau peringatan tentang resiko terjadinya bencana berupa alarm bencana disebarkan kepada masyarakat melalui media tele2isi dan radio. -ekhnologi terbaru adalah dengan memberikan

informasi tentang resiko bencana atau alarm bahaya melalui hand$hone (>P) sehingga indi2idu yang tidak bisa atau tidak sempat menonton tele2isi tetap mendapatkan informasi sehingga dapat mempersiapkan diri terhadap kemungkinan terjadinya bencana. b. Penanganan Saa Bencana (During disaster) Penanganan saat bencana terdiri dari e2akuasi atau penyelamatan korban bencana dan transportasi korban ke posko atau rumah sakit rujukan korban bencana. 3anagemen penyelamatan korban bencana pada jumlah korban yang sangat banyak maka perlu dilakukan tindakan triage. -riage adalah proses penentuan atau penyeleksian pasien atau korban berdasarkan prioritas kebutuhan terhadap perawatan dan pengobatan. /alam penanganan bencana dengan korban yang banyak maka perlu dilakukan penyeleksian pasien untuk menentukan korban yang perlu penanganan prioritas atau segera dan korban yang bisa ditunda penanganannya. 3eskipun tindakan ini dapat dinilai tidak ethis karena cenderung mengabaikan pasien atau korban lain yang juga membutuhkan pertolongan namun tindakan triage perlu dilakukan untuk memprioritaskan penanganan emergency kepada korban dengan kondisi yang lebih serius#parah dan perlu penanganan segera. Petugas triage melakukan pemeriksaan atau pengkajian terhadap korban secara cepat dan memberikan penanganan emergency atau resusitasi sebelum diberikan penanganan tindakan penyelamatan lanjutan atau dibawa ke posko atau rumah sakit rujukan penanganan bencana. &eorang petugas triage memberikan tanda kepada pasien berdasarkan derajat keseriusan kondisi dan prioritas kebutuhan terhadap tindakan emergency sehingga petugas yang lain dapat langsung memberikan bantuan atau langsung membawa pasien ke lokasi penanganan lanjutan. Perlu disiapkan alat alat dan pengobatan terhadap kondisi emergency dan transportasi terhadap pasien ke posko perawatan atau rumah sakit rujukan bencana. 7ategori tanda triage yang diberikan adalah berdasarkan derajat keparahan dari cedera yang dialami oleh korban. -erdapat berbagai tanda triage yang dapat digunakan di beberapa negara dan perawat bencana harus memahami sistem yang ada di masyarakat atau negara tersebut. &alah satu contoh sistem triage oleh North +tlantic ,reaty

'$

(rganization (N+,() adalah dengan menggunakan kode warna yang terdiri dari warna merah, kuning, hijau dan hitam. 3asing masing warna memiliki perbedaan tingkatan prioritas yang secara jelas diuraikan sebagai berikut < KATEG!RI TRIASE Immediate / Segera : :edera yang dapat mengancam kehidupan PRI!RITAS "ARNA K!NDISI PASIEN , 3erah 8bstruksi hemotAraB, jalan nafas akibat tension

trauma, -rauma dada, show, pneumothoraks, asfiBia, trauma luka pada dada atau abdomen yang tulang tidak stabil, amputasi bakar inkomplit, fraktur terbuka pada panjang, luka derajat ! atau ; dengan luas permukaan tubuh terbakar ') * "$ C. -rauma

dan dapat bertahan hidup jika cepat segera diatasi. Pasien dalam kondisi ini dapat berkembang kearah kematian jika ditunda penanganannya.

Delayed/Dapat ditunda < :edera serius dan membutuhkan pengobatan tapi dapat ditunda atau menunggu akan dalam menerima beberapa jam. Pasien ini pengobatan atau treatment setelah korban yang perlu penanganan segera

7uning

luka

abdomen

yang

stabil tanpa perdarahan yang hebat, cedera jaringan lunak, trauma wajah tanpa komplikasi pada jalan nafas, trauma pembuluh darah dengan fungsi kolateral yang adekuat, gangguan pada saluran genitourinaria, fraktur yang membutuhkan open reduktion, debridement, eksternal >ijau fiksasion 1raktur ekstremitas atas, luka bakar minor, luka yang kecil tanpa perdarahan yang signifikan, perubahan perilaku

ditangani lebih dulu. Minimal < cedera minimal ; dan selama treatment beberapa atau jam penanganan dapat ditunda

''

sampai harus

beberapa dipisahkan

hari. dari >itam

atau gangguan psikologis.

Pasien dalam kategori ini lokasi triage utama. Expectant < :edera yang " sangat parah dan tidak dapat bertahan hidup meski dengan perawatan emergency. 7orban harus dipisahkan yang lain dari tapi pasien tidak adalah korban jika

0uka dengan

penetrasi pasien

pada yang

kepala tidak

berespon, cedera tulang belakang yang parah, luka pada multi sisi dan organ tubuh, luka bakar derajat ! dan ; dengan luas permukaan tubuh terbakar +$ C atau lebih, kejang atau muntah setelah terkena radiasi lebih dari !" jam, shock dengan multiple injury, nadi tidak teraba, -ekanan darah tidak teraba, Pupil dilatasi atau pin point.

diabaikan. -indakan yang diberikan bagi menyediakan kenyamanan memungkinkan

c.

Penanganan Se ela# Bencana (Post disaster) Penanganan setelah bencana meliputi pengkajian terhadap kerugian atau

kerusakan yang terjadi akibat bencana (damage assessment), rehabilitasi dan rekonstruksi. 4ehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi#berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pasca bencana. 4ekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pasca bencana baik pada tingkat pemerintah maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pasca bencana. '!

&elain rehabilitasi dan rekonstruksi fisik sarana dan prasarana serta lingkungan, juga perlu dilakukan rehabilitasi terhadap mental dan psikologis korban bencana karena meskipun mengalami bencana yang sama, beberapa indi2idu dapat mengalami trauma psikologis yang berkepanjangan. Beberapa respon yang biasanya terjadi adalah depresi, ansietas, gangguan psikosomatis (fatigue, malaise, sakit kepala, gangguan saluran gastrointestinal, kemerahan pada kulit), $osttraumatic disorder, keracunan =at, konflik interpersonal, dan gangguan penampilan (Brunner D &uddarth). 1aktor yang mempengaruhi respon indi2idu terhadap bencana yang dialami adalah derajat atau tingkat keterpaparan terhadap bencana, kehilangan teman atau orang yang dicintai, kehilangan rumah dan harta kepemilikan yang lain, tidak adekuatnya koping strategis, hilang atau kurang sumber dukungan atau support, serta pandangan atau penerimaan indi2idu terhadap bencana yang dialami. 7ondisi keterpaparan terhadap korban kematian, cedera, dan kekuatan bencana, respon histeris saat bencana, akti2itas petugas penananganan bencana dalam membantu korban dapat menjadi keadaan yang menimbulkan gangguan emosional pada indi2idu.

C.

COMMUNIT !"SED DIS"STE# #IS$ M"N"%EMENT &C!D#M'$ PENANGGULANGAN BENCANA BERBASIS MAS%ARAKAT

() PEN%E#TI"N /asar dari Penanggulangan bencana berbasis masyarakat adalah reduksi resiko bencana. 3asyarakat berperan serta dalam kegiatan pengelolaan bencana yang meliputi kegiatan tanggap darurat dasar yang dapat dilakukan oleh masyarakat, dan kegiatan * kegiatan yang dapat mengurangi resiko bencana (6odmani, &. !$$+). .dapun definisi dari Community "ased disaster risk management (:B/43) adalah pemberdayaan komunitas agar dapat mengelola bencana dengan tingkat keterlibatan pihak#kelompok masyarakat dalam perencanaan dan pemanfaatan sumber daya lokal dalam kegiatan implementasi oleh masyarakat sendiri (./P: !$$; dalam www.ntt5academia.org). Community "ased disaster risk management (:B/43) adalah kerangka kerja pengelolaan bencana yang inklusif dimana masyarakat terlibat atau difasilitasi untuk ';

terlibat aktif dalam pengelolaan risiko bencana (perencanaan, implementasi, pengawasan, e2aluasi) dengan input sumber daya lokal maksimum dan input eksternal minimum (,ndosasters !$$+ dalam www.ntt5academia. org ).

*) TU+U"N C!D#M Penanggulangan bencana berbasis masyarakat#:B/43 merupakan suatu proses yang sistematik untuk mengidentifikasi, membuat perkiraan dan membuatt prioritas dari resiko bencana. 7ondisi ini membuat masyarakat menjadi lebih sadar terhadap resiko bencana yang ada di daerahnya. Penganggulangan bencana berbasis masyarakat merupakan suatu pengambilan keputusan yang bersifat "ottom u$ untuk menentukan strategi, perencanaan dan program dalam redusksi resiko bencana. -ujuan dari :B/43 adalah membantu masyarakat untuk membuat prioritas resiko bencana yang ada di daerahnya, membuat perencanaan program reduksi bencana yang adekuat, membuat perencanaan program yang membutuhkan daya yang efisien dan berkelanjutan, mengidentifikasi sumber daya eksternal yang dapat dimanfaatkan untuk pelaksanaan program dan membuat indikator untuk menilai keberhasilan program (6odmani, &. !$$+).

,)

-"N%$". D"N P#OSES C!D#M 0angkah D proses :B/43 adalah (./P: !$$; dalam www.ntt5academia.org) <

a. 1aktor eksternal -ahap ' < In-ol-ement i. ii. iii. i2. ada 2. Pengetahuan tentang situasi lokal, proses dan sistem Pengkajian wilayah * wilayah yang berresiko terhadap bencana 3engidentifikasi bahaya dan kerentanan yang ada Bencana yang mungkin terjadi di wilayah tersebut Pengetahuan tentang manajemen bencana dan sumber daya yang

'"

b.

1aktor masyarakat Community $rofilling merupakan gambaran perkembangan posisi dan isi dimana

-ahap ! < Community $rofilling bencana akan terjadi, hal yang diidentifikasi adalah < 7elompok sosial yang ada dimasyarakat, 7ebudayaan, 7egiatan ekonomi, dan 7arakteristik masyarakat -ahap ; < Pengkajian resiko di masyarakat -ujuannya adalah menyeimbangkan pengetahuan tentang resiko dan sumber daya yang ada. ,dentifikasi meliputi < a. b. c. Pengkajian bahaya Pengkajian kerentanan Pengkajian sumber daya

>al ini dapat dijadikan dasar untuk mengetahui besarnya masalah dan kesempatan untuk melakukan penanggulangan. -ahap " < Perencanaan penganggulangan bencana 3eliputi < a. b. dan input) -ahap ) < ,mplementasi dan monitoring -ahap + E2aluasi dan Umpan balik Penilaian terhadap persiapan Penilaian terhadap reduksi resiko ( peran, tanggung jawab, jadwal

')

/)

$OMPONEN 0 $OMPONEN D"-"M PEN%$"+I"N C!D#M

7omponen * komponen yang harus dikaji dalam melakukan :B/43 adalah (./P: !$$; dalam www.ntt5academia.org) <

A. Peng&a'(an )e*+e)+( ma+,a*a&a e*#a-a) *e+(&. ,dentifikasi persepsi masyarakat terhadap resiko bencana yang ada didaerahnya sehingga dapat mengidentifikasi penilaian masyarakat terhadap bencana yang akan terjadi B. Peng&a'(an e*#a-a) ancaman ,y$e of .azards (-ipe .ncaman) a/ *ocial .azards (.ncaman &osial) meliputi 7riminalitas#kekerasan, perang, konflik, kemiskinan absolut, terorisme. "/ ,echnological .azard (.ncaman -eknologi) meliputi Industrial e#$losions, kebakaran, polusi udara, &aste e#$osure, kecelakaan nuklir, lumpur 0apindo c/ Biological .azards (.ncaman Biologis) meliputi >,?#.,/&, Ebola, dan epidemic, etc. d/ .ydro!Climatic .azard (.ncaman hirdoklimatis) meliputi Banjir, kebakaran hutan, kekeringan e/ eo!.azard (.nacaman Feofisik) meliputi Fempa, tsunami, gunung api. pemicu tanda5tanda ilmiah maupun tradisional jarak antara peringatan dan kejadian lamanya kejadian kekerapan waktu#pola waktu ancaman ikutan yang timbul 7arakter ha=ard#ancaman

'+

kemungkinan jangkauan dampak

C . Peng&a'(an &e*en anan '. Pemetaan kerentanan &uatu proses yang menghasilkan pengertian akan jenis dan tingkat kerentanan dari manusia, harta benda dan lingkungan terhadap efek dari ancaman tertentu pada waktu tertentu. Proses ini lebih pada mengidentifikasi kondisi fisik, sosial dan ekonomi yang rawan terhadap dampak suatu ancaman. &uatu proses partisipasi untuk mengidentifikasi unsur5unsur risiko pada setiap ancaman, dan untuk menganalisa akar masalah adanya unsur5unsur risiko tersebut. Penilaian kerentanan adalah proses perkiraan kerentanan pada ancaman5ancaman yang potensial dengan cara ('.) 3engidentifikasi unsur5unsur risiko pada setiap type ancaman (!). 3enganalisa akar masalah adanya unsur5unsur risiko tersebut. !. Pengkajian kerentanan meliputi < a. 7erentanan 1isik#3aterial meliputi < 7epemilikkan aset yang tidak mencukupi untuk bertahan dari kemungkinan yang merugikan9 kurangnya alternatif ekonomi, tidak cukupnya keanekaragaman alam yang menyebabkan suatu ekosistem tidak mampu bertahan#pulih dari suatu ancaman, masyarakat yang tinggal di daerah rawan ancaman (di tempat rawan banjir, rawan gempa, dll), sarana dan prasarana (rumah, jalan, jembatan, saluran irigasi, dll) yang menyebabkan mereka tidak mampu untuk menghadapi dan bertahan dari suatu ancaman.

'%

0okasi rumah5rumah masyarakat pada daerah yang rawan, lahan pertanian, infrastruktur dan pelayanan dasar 3odel dan konstruksi bahan5bahan rumah dan bangunan &umber penghidupan yang tidak aman dan berbahaya 7urangnya akses dan kontrol terhadap prasyarat !G produksi (tanah, input pertanian, hewan dan modal) 7etergantungan pada lintah darat (kontro2ersi) Peristiwa kekurangan pangan yang gawat atau kronis 0atar belakang pendidikan dan ketrampilan yang tidak memadai -ingkat kematian yang tinggi, malnutrisi, peristiwa penyakit,

kemampuan perawatan yang tidak memadai Eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan 7ekurangan pelayanan mendasar < pendidikan, kesehatan, air bersih, perumahan, sanitasi, jalan, listrik, komunikasi. 7ekerasan yang terselubung (rumah tangga, konflik masyarakat atau perang) b. 7erentanan Perilaku#moti2asi &ikap negatif#reaktif terhadap perubahan 7etidakpedulian, fatalisme, tidak punya harapan, bergantung pada orang lain -ergantung pada bantuan dari pihak luar#mental bantuan, sikap yang negatif terhadap perubahan 7etidakpedulian, fatalisme, tidak punya harapan, bergantung pada orang lain 7urangnya inisiatif, tidak memiliki semangat jiwa 7urang bersatu, kerja sama dan solidaritas -idak menyadari ancaman dan konsekuensinya

c. 7erentanan &osial#7elembagaan 7urangnya informasi yang menyangkut bencana

'@

7urangnya pelayanan publik, perencanaan, kesiapan dan respon terhadap keadaan darurat 3inimnya peran D ketiadaan informasi tentang keberadaan organisasi5 organisasi kemasyarakatan, mekanisme dukungan sosial 3asalah gender, diskriminasi ras, etnik, agama &truktur kekeluargaan#persaudaraan yang lemah -erisolasi secara sosial 7urangnya kepemimpinan, leadership, struktur organisasi untuk memecahkan masalah atau konflik Pengambilan keputusan yang tidak efektif, masyarakat#kelompok5 kelompok dihapuskan 7ondisi partisipasi masyarakat yang tidak merata 7ekurangan atau lemahnya organisasi5organisasi masyarakat (formal, pemerintahan dan lokal#penduduk asli) /esas5desus, pembagian, konflik, etnis, kelas, kepercayaan, kasta, ideologi Praktek5praktek yang tidak adil, kurangnya akses pada proses politik

;. Pengkajian sumber daya /ikelompokkannya ke dalam ) kelompok aset yang sering disebut sebagai Pentagon +set atau Pentagon Ca$ital yaitu< .uman Ca$ital (&umber /aya 3anusia) 3eliputi < tenaga kerja, ketrampilan, pendidikan, pengetahuan, dll Natural Ca$ital (&umber /aya .lam) 3eliputi < -anah dan produksinya, air dan sumber daya air didalamnya, pohon dan hasil hutan, kehidupan liar, serat dan pangan yang tidak dibudidayakan, keanekaragaman hayati, dan sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan terkait lingkungan 0inancial Ca$ital (&umber /aya 7euangan) '(

3eliputi tabungan atau simpanan, kredit#hutang baik fomal maupun informal maupun yang diberikan 0&3, kiriman dari keluarga yang bekerja di luar daerah, dana pensiun, dan upah#gaji *ocial Ca$ital (&umber /aya &osial) 3eliputi jaringan dan koneksi (patron yang terbangun, kerukunan antar tetangga dan hubungan baik ), hubungan yang berbasis rasa saling percaya dan saling mendukung, kelompok formal dan informal, peraturan umum dan sanksi, keterwakilan, mekanisme berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan, dan kepemimpinan Physical Ca$ital (&umber /aya ,nfrastruktur) 3eliputi ,nfrastruktur ( jaringan transportasi, jalan, kendaraan, gedung gedung dan tempat tinggal yang aman, sarana kebersihan dan air bersih, energi, jaringan komunikasi), serta teknologi dan alat5alat (alat alat dan peralatan untuk produksi, bibit, pupuk, pestisida,teknologi tradisional)

D.

INDIKAT!R KEBERLANJUTAN PENANGGULANGAN BENCANA BERBASIS K!MUNITAS

Prasyarat 7eberlanjutan :B/43 (./P: !$$; dalam www.ntt5academia.org)< .dalah rakyat#manusia#komunitas yang membuat proses :B/43 berkelanjutan 7eberlanjutan partisipasi rakyat#komunitas bergantung pada 1link and match2 antara kegiatan reduksi risiko bencana dan proyek#program dengan kebutuhan seketika (strategis#praktis) -erlibatnya masyarakat secara aktif dalam proses studi dan pengambilan keputusan dalam identifikasi solusi realistis, kesiapan yang mampu dilakukan, dan solusi solusi mitigasi 4ele2ansi keterlibatan menciptakan kepemilikan bahkan ketika capaian yang dihasilkan tidak besar, maka keberlanjutan kegiatan :B/43 bisa dipastikan.

!$

7esatuan#kohesifitas

rakyat#komunitas#orang#masyarakat

dalam

komitmen

reduksi bencana dilanggengkan oleh praktek :B/43 1aktor kelembagaan tetap#menetap yang ada dikomunitas mampu melanggengkan proses5proses :B/43 yang bertujuan memproteksi penghidupan dan kehidupan rakyat secara berkelanjutan. E. PERAN PERA"AT DALAM PENANGGULANGAN BENCANA Peran perawat komunitas dalam penanggulangan bencana ber2ariasi berdasarkan tahapan disaster managemen (3. 7andasamy, jurnal of india, !$$%). Peran perawat kesehatan komunitas pada tahap $re$aredness adalah < a. 3emfasilitasi dalam mempersiapan komunitas dalam menghadapi bencana dan menyiapkan tempat penampungan korban b. ,nisiatif daan memperbaharui rencana penanggulangan bencana c. 3enyediakan program pendidikan menghadapi bencana pada berbagai area d. 3enyediakan dan memperbaharui laporan atau catatan populasi rentan yang ada di komunitas e. 3emberikan pendidikan kesehatan pada populasi rentan tentang tindakan penyelamatan yang dapat dilakukan pada saat bencana f. &ebagai ad2okat masayarakat dalam menciptakan dan menjaga lingkungan yang aman g. 3elakukan pengkajian dan laporan tentang bahaya lingkungan h. 3engetahui sumber sumber yang dapat digunakan dalam penanganan bencana serta menggerakan kerja sama dengan komunitas#masyarakat. Peran perawat kesehatan komunitas pada saat bencana terjadi tergantung dari pengalaman dalam penanggulangan bencana, peran perawat dalam institusi dan persiapan komunitas ($re$aredness), pelatihan atau training yang pernah diikuti dan ketertarikan dalam penanggulangan bencana. Peran perawat pada saat bencana adalah a. Bertanggung jawab memberikan informasi yang akurat kepada badan atau organisasi penanganan bencana yang ada agar dapat memfasilitasi tindakan penyelamatan segera.

!'

b. 3elakukan e2akuasi dan triage terhadap korban bencana berdasarkan tingkat keparahan cedera yang dialami korban. c. 3emberikan pertolongan dan perawatan emergency pada korban bencana sesuai triage yang dilakukan d. -erus menerus membuat laporan perkembangan kejadian bencana Peran perawat kesehatan komunitas pada tahap setelah bencana (reco-ery) adalah < a. 3embantu dalam pemenuhan kebutuhan korban bencana seperti air bersih, makanan, minuman dan lain lain b. 3embantu kesehatan mental korban yang mengalami trauma dan merujuk kepada terapis mental untuk penanganan lebih lanjut. c. 3emperhatikan bahaya lingkungan yang dapat terjadi setelah bencana d. 3elakukan home -isit untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan korban bencana akan rumah sehat, air bersih dan listrik. e. 3emperhatikan kemungkinan adanya binatang yang hidup atau mati yang dapat membahayakan kesehatan korban bencana f. Case finding dan memberikan asuhan keperawatan pada korban bencana berdasarkan masalah yang ditemukan g. 3embantu korban agar dapat berakti2itas secara normal sesuai perannya dimasyarakat. Peran perawat kesehatan komunitas juga sangat penting dalam :B/43 yaitu meningkatkan kemandirian masyarakat dalam penanggulangan bencana. Perawat komunitas dengan ilmu dan keterampilan keperawatan yang dimiliki dan kemampuan pengelolaan masyarakat dalam peningkatan status kesehatannya dapat berperan sebagai pendidik dan moti2ator bagi masyarakat untuk berperan aktif dalam penanggulangan bencana Perawat juga dapat berperan sebagai fasilitator dalam membantu masyarakat mengidentifikasi faktor resiko bencana yang ada di masyarakat, mengidentifikasi kapasitas#kemampuan atau sumber daya yang ada di masyarakat yang dapat digunakan dalam penanggulangan bencana, membantu menyusun perencanaan penanggulangan bencana dan pedoman implementasi dan e2aluasi, serta menjadi

!!

fasilitator dalam mengawasi dan menge2aluasi program penanggulangan bencana di masyarakat.

BAB III PEMBAHASAN ANALISIS BERDASARKAN MET!DE S"!T Berikut ini adalah analisis kesenjangan antara :B/43 dengan kondisi yang ada di lapangan dengan menggunakan analisis &H8-< ST#EN%T.$KEKUATAN / '. berbasis masyarakat !. :B/43 mengidentifikasi kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat untuk mengurangi faktor resiko terhadap bencana sehingga dapat meminimalkan dampak dari bencana ;. :B/43 melibatkan peran serta aktif dari masyarakat dalam meminimalkan dampak bencana 1E"$NESS$KELEMAHAN / '. :B/43 belum diterapkan di seluruh ,ndonesia !. :B/43 tidak disosialsasikan secara luas keseluruh daerah di ,ndonesia yang merupakan daerah rawan bencana ;. :B/43 lebih banyak dikelola oleh agen non pemerintah ( F8) yang dalam hal ini keberlanjutan dari program tergantung dari pendanaan yang ada ". 7oordinasi pelaksanaan :B/43 belum jelas keberlanjutanya :B/43 banyak digunakan untuk memberikan panduan yang sistematik sebagai panduan dalam merencanakan program penanggulangan bencana

!;

). :B/43 belum banyak dipahami oleh masyarakat di ,ndonesia, karena :B/43 cenderung diberikan pada daerah yang sudah terkena bencana sedangkan daerah yang rawan bencana belum tersosialisasikan OPPO#TUNIT $KESEMPATAN '. :B/43 bersifat fleksibel dan dapat diaplikasikan pada semua wilayah dengan karateristik warga yang berbeda !. -erdapatnya kerjasama lintas sektoral yang sangat luas dalam aplikasi :B/43 T#E"T.$ANCAMAN '. 3asalah bencana sangat komplek dan :B/43 memerlukan monitoring untuk keberlanjutan program dimana saat ini proses monitoring belum ada indikator yang jelas !. /ukungan pemerintah yang lemah terhadap program :B/43 dapat menghambat proses keberlanjutan dari :B/43

!"

BAB I0 KESIMPULAN DAN SARAN


A. KESIMPULAN '. :B/43 memiliki kelebihan dibanding penanggulangan bencana mengandalkan peran aktif B PB (Badan asional Penanggulangan Bencana) antara lain peran serta aktif masyarakat dalam pengelolaan bencana dengan cara mereduksi risiko bencana# kerentanan dan meningkatkan kapasitas indi2idu#keluarga#komunitas dalam menghadapi dampak bencana . !. Peran perawat komunitas sangat penting dalam meningkatkan kemandirian masyarakat dalam penanggulangan bencana karena perawat komunitas dengan ilmu dan keterampilan keperawatan yang dimiliki dan kemampuan pengelolaan masyarakat dalam peningkatan status kesehatannya ;. :B/43 dapat diaplikasikan dan sangat signifikan dalam mereduksi resiko bencana oleh masyarakat B. '. rawan bencana menyeluruh !. ;. :B/43 perlu dijadikan sebagai program didaerah * daerah yang rawan bencana /iperlukan monitoring untuk keberlanjutan program dan indikator yang jelas dalam pelaksanaan :B/43 !) SARAN &ebagian besar wilayah di ,ndonesia merupakan daerah yang sehingga perlu disosialisasikan sistem :B/43 secara

DA1TAR PUSTAKA ./P: (!$$;). 4isk /isaster 3anagement. /iambil dari dalam www.ntt5 academia.org. /iakses tanggal @ .pril !$$@. Brunner D &uddarthIs. (!$$$). 3edical &urgical ursing < teBtbook of medical surgical nursing. '$th edition. JB. 0ippincott < Philadelphia. 7andasamy, 3. (!$$%) :ommunity >ealth urse in /isaster 3anagement. /iambil dari www.proJuest.pJdauto. /iakses tanggal @ .pril !$$@.

!+