You are on page 1of 40

Laporan Tutorial Skenario B

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Blok Etika, Hukum dan Komunikasi Medik adalah blok kedua pada semester I dari Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang. Pembelajaran blok ini sangat penting untuk dipelajari dalam komponen pendidikan blok di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang. Pada kesempatan ini dilaksanakan tutorial studi kasus skenario B yang memaparkan kasus yang berhubungan dengan etika, hukum dan komunikasi medik yaitu sikap seorang dokter terhadap pasien dan keluarga pasien sesuai dengan hukum kedokteran.

1.2 Maksud dan tujuan Adapun maksud dan tujuan dari laporan tutorial studi kasus ini, yaitu : 1. Sebagai laporan tugas kelompok tutorial yang merupakan dari sistem pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di Fakultas Kedokteran Muhammadiyah. 2. Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario dengan metode analisis dan pembelajaran kelompok. 3. Tercapainya tujuan dari metode pembelajaran tutorial.

Blok II

Laporan Tutorial Skenario B

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Data Tutorial Tutor Moderator Sekertaris Meja Sekertaris Papan Hari/Tanggal : dr.R.A Tanzila : Eko Pratama : Surmila Apri Yulisa : M. Rizki Pratama : Senin,18 11 2013 Rabu, 20 11 2013 Peraturan : 1. Semua anggota tutorial harus mengeluarkan pendapat 2. Mengacungkan tangan jika ingin memberi pendapat 3. Berbicara dengan sopan dan penuh tata karma 4. Izin bila ingin keluar ruangan 2.2 Skenario Ny. A, berusia 30 tahun, tidak bekerja, setelah menikah selama 5 tahun belum dikarunia anak. Ny. A datang ke dokter kandungan dengan keluhan menstruasi yang tidak teratur dan datang ke dokter bertujuan agar segera memiliki anak. Dari hasil pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa Ny. A menderita kanker Ovarium dan sebaiknya segera di operasi untuk pengankatan ovarium kiri tersebut. Untuk hal ini dokter menyarankan agar pasien datang bersama suami untuk berkonsultasi. Ny. A meminta dokter untuk tidak menceritakan hal tersebut kepada suaminya. Ny. A khawatir suaminya akan menikah lagi karena mengetahui kemungkinan Ny. A memiliki anak akan sangat kecil sekali setelah operasi pengangkatan ovarium. Ny. A tidak memberikan penjelasan kepada suami mengenai penyakit yang diderita sehingga suami Ny. A terus datang dan mendesak dokter menjelaskan keadaan yang dialami Ny. A.

Blok II

Laporan Tutorial Skenario B

2.3 Klarifikasi istilah 1. Menstruasi : Pendarahan dari rahim yang berlangsung secara otomatis dan bersiklus. 2. Dokter kandungan : Ahli dalam pengobatan penyakit mengenai rahim. 3. Kanker ovarium : Penyakit yang disebabkan ketidakteraturan perjalanan hormon sehingga mengakibatkan tumbuhnya daging pada jaringan tubuh yang normal diindung telur. 4. Berkonsultasi : Pertukaran pikiran untuk mendapatkan kesimpulan (nasehat, saran) yang sebaikbaiknya 5. Penyakit : Sesuatu yang menyebabkan terjadinya gangguan pada makhluk hidup. 6. Operasi pengangkatan ovarium : Proses pengankatan tumor pada ovarium.

2.4 Identifikasi Masalah 1. Ny. A, berusia 30 tahun, tidak bekerja, setelah menikah selama 5 tahun belum dikarunia anak. Ny. A datang ke dokter kandungan dengan keluhan menstruasi yang tidak teratur dan datang ke dokter bertujuan agar segera memiliki anak. 2. Dokter menyatakan bahwa Ny. A menderita kanker Ovarium dan sebaiknya segera di operasi untuk pengangkatan ovarium kiri tersebut. Untuk hal ini dokter menyarankan agar pasien datang bersama suami untuk berkonsultasi. 3. Ny. A meminta dokter untuk tidak menceritakan hal tersebut kepada suaminya. Ny. A khawatir suaminya akan menikah lagi karena mengetahui kemungkinan Ny. A memiliki anak akan sangat kecil sekali setelah operasi pengangkatan ovarium. 4. Ny. A tidak memberikan penjelasan kepada suami mengenai penyakit yang diderita sehingga suami Ny. A terus datang dan mendesak dokter menjelaskan keadaan yang dialami Ny. A.

2.5 Prioritas Masalah Identifikasi masalah no. 4 : Ny. A tidak memberikan penjelasan kepada suami

mengenai penyakit yang diderita sehingga suami Ny. A terus datang dan mendesak dokter menjelaskan keadaan yang dialami Ny. A.
Blok II 3

Laporan Tutorial Skenario B

2.6 Analisis Masalah

1. Ny. A, berusia 30 tahun, tidak bekerja, setelah menikah selama 5 tahun belum dikarunia anak. Ny. A datang ke dokter kandungan dengan keluhan menstruasi yang tidak teratur dan datang ke dokter bertujuan agar segera memiliki anak. a. Bagaimana cara Ny. A menyampaikan keluhan kepada dokter kandungan? Jawab : Pasien harus dapat menceritakan dengan hati yang terbuka segala keluhan yang menganggunya, baik yang bersifat jasmaniah maupun rohaniah, dengan keyakinan bahwa hak itu berguna untuk menyembuhkan dirinya. Ia tidak boleh merasa khawatir bahwa segala sesuatu mengenai keadaannya akan disampaikan kepada oran lain, baik oleh dokter maupun oleh petuga kedokteran yang bekerja sama dengan dokter tersebut. ( PP. No.10 Tahun 1966 Tentang Wajib Simpan Rahasia)

b. Bagaimana cara komunikasi dokter pasien yang efektif? Jawab : SAJI Salam Ajak bicara Jelaskan Ingatkan (KODEKI, 2012)

c. Apa saja hambatan komunikasi dokter pasien? Jawab : Faktor pengirim pesan Faktor penerima pesan Faktor lingkungan Faktor media Faktor pesan ( FK.UNS.ac.id)

Blok II

Laporan Tutorial Skenario B

d. Pandangan islam tentang komunikasi ? Jawab : Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedqah yang diiringi dengan sesuau ang menyakitkan (penerimaan sipenerima). Allah maha kaya lagi maha penyantun. (Q.S Al-baqarah : 263)

2. Dokter menyatakan bahwa Ny. A menderita kanker Ovarium dan sebaiknya segera di operasi untuk pengangkatan ovarium kiri tersebut. Untuk hal ini dokter menyarankan agar pasien datang bersama suami untuk berkonsultasi. a. Apa yang harus dilakukan dokter setelah melakukan pemeriksaan terhadap pasien? Jawab : Memberitahukan hasil pemeriksaan Melakukan persetujuan medis Tindakan lanjutan (KKI, 2006)

b. Materi apa saja yang di sampaikan dalam menyapaikan berita ke pasien ? Jawab : Tujuan anamnesis dan pemeriksaan fisik (kemungkinan rasa tidak nyaman/sakit saat pemeriksaan) Kondisi saat ini dan berbagai kemungkinan diagnosis. Bebagai tindakan medis yang akan dilakukan. Hasil dan interpetasi dari tindakan medis. Diagnosis, jenis atau tipe. Pilihan tindakan medis untuk tujuan terapi. Prognosis. Dukungan. (KODEKI 2012)

c. Bagaimana cara dokter menyampaikan berita buruk kepada pasien?


Blok II 5

Laporan Tutorial Skenario B

Jawab : 1. Mempersiapkan data pendukung 2. Mengundang pihak keluarga/pasien ke tempat yang nyaman 3. Menunjukkan sikap empati 4. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti 5. Tidak tergesa-gesa 6. Tidak mengancam 7. Diawali dengan pendahuluan Salam Perkenalkan diri Kompetensi sebaga penyampai Menggunakan kata-kata awal

8. Memberi kesempatan keluarga pasien untuk bertanya (KKI, 2006)

d. Mengapa dokter meminta Ny A datang bersama suaminya ? Jawab : Untuk persetujuan tindakan medis harus adanya persetujuan dari pasien atau keluarga pasien. (PERMENKES Nomor 290/MENKES/PER/III/2008)

e. Apa yang di maksud dengan persetujuan medis (informed concent) ? Jawab : Persetujuan medis adalah persetujuan yang diberikan pasien atau keluaga terdekat setelah mendapat penjelasan secara lengkap mengenai tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap pasien. (PERMENKES Nomor 290/MENKES/PER/III/2008)

3. Ny. A meminta dokter untuk tidak menceritakan hal tersebut kepada suaminya. Ny. A khawatir suaminya akan menikah lagi karena mengetahui kemungkinan Ny. A memiliki anak akan sangat kecil sekali setelah operasi pengangkatan ovarium.

Blok II

Laporan Tutorial Skenario B

a. Bagaimana cara dokter menyikapi permintaan pasien yang meminta untuk tidak menceritakan hasil pemeriksaannya ? Jawab : Dokter harus tetap menjaga kerahasiaan hasil pemeriksaan pasien, sesuai dengan kewajiban dokter. (UU No 29 Tentang Praktik Kedokteran, 2009)

b. Apa saja hak dan kewajiban pasien ? Jawab : Hak pasien 1. Mendapat penjelasan lengkap tentang tindakan medis 2. Meminta pendapat dokter 3. Mendapat pelayanan sesuai tindakan medis 4. Menolak tindakan medis 5. Mendapatkan isi rekam medis

Kewajiban pasien 1. Memberikan informasi yang lengkap dan jelas mengenai masalah 2. Memeatuhi nasihat dan peraturan dokter 3. Mematuhi ketentuan 4. Memberikan imbalan jasa (UU No 29 tentang praktik kedokteran,2009)

c. Apa saja hak dan kewajiban dokter ? Jawab : Hak dokter : 1.Memperoleh lindungan hukum 2.Memberikan pelayanan masyarakat 3.memeperoleh informasi lengakp dari pasien 4.menerima imbalan jasa

Kewajiban dokter : 1.Memberi pelayanan medis


Blok II 7

Laporan Tutorial Skenario B

2.Merujuk kedokter lain 3.merahasiakan segala sesuatu yang diketahui pasien 4.melakukan pertolongan gawat darurat 5.menambah pengetahuan (UU No 29 Tentang praktik kedokteran,2004) ilmu pengetahuan ,mengikuti perkembangan ilmu

d. Adakah kaitan sumpah dokter indonesia dengan hak pasien untuk di rahasiakan hasil pemeriksaannya ? Jawab : Salah satu isi sumpah dokter yaitu saya akan menjalankan tugas saya dengan mengutamakan kepentingan masyarakat. (Sumpah dokter)

e. Apa saja batasan dokter dalam menjaga kerahasiaan pasien ? Jawab : Rahasia dokter dapat dibuka hanya untuk kepentingan kesehatan pasien, memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukum, permintaan pasien sendiri, atau berdasarkan ketentuan perundangundangan. (UU No 29 Tentang praktik kedokteran,2004)

f. Bagaimana pandangan islam dalam menjaga rahasia? Jawab : dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti akan dimintai pertanggung jawabannya. (Q.S Al-Isra : 34)

4. Ny. A tidak memberikan penjelasan kepada suami mengenai penyakit yang diderita sehingga suami Ny. A terus datang dan mendesak dokter menjelaskan keadaan yang dialami Ny. A a. Bagaimana cara dokter menyikapi permintaan keluarga pasien tentang kejelasan penyakit pasien? Jawab :
Blok II 8

Laporan Tutorial Skenario B

Sembunyikanlah beberapa hal dari pasien saat menjumpainya, berikan saja perintah-perintah seperlunya, dengan tetap tenang dan ramah, jangan ungkapkan kondisi pasien atau masa yang akan datang, sebab bagi sebagian pasien kondisi mereka akan semakin bertambah buruk bila mereka mengetahui kondisi tidak baik yang akan menimpa mereka. (Hippocrates, dalam mengabarkan berita buruk)

b. Mengapa keluarga pasien berhak tahu tentang kejelasan penyakit pasien? Jawab : Ringkasan rekam medis dapat diberikan, dicatat, atau dicopy oleh pasien atau orang yang dieri kuasa atau atas persetujuan tertulis pasien atau keluarga pasien yang berhak untuk itu. (PERMENKES 269/2008 Pasal 12 ayat (4))

c. Bagaimana cara dokter menjelaskan kepada keluarga pasien tentang hasil pemeriksaan pasien ? Jawab : 1. Disampaikan secara langsung 2. Persiapan sebelum memberi informasi : Materi Ruangan yang nyaman Waktu Orang yang akan hadir

3. Jajaki sejauh mana hal apa yang akan dibicarakan 4. Memberi kesempatan keluarga pasien untuk bertanya 5. Kesiapan keluarga dalam menerima informasi (KKI, 2006)

Blok II

Laporan Tutorial Skenario B

2.7 Kerangka Konsep Didiagnosa menderita kanker ovarium KODEKI Meminta dokter merahasiakan hasil pemeriksaan Sumpah dokter Hak otonomi pasien

Keluarga mendesak ingin tahu

Dokter bingung

2.8 Kesimpulan Keluarga terus mendesak dokter untuk menceritakan hasil pemeriksaan dan pasien meminta untuk dirahasiakan hasil pemeriksaan yang merupakan hak otonomi pasien dan terdapat di KODEKI dan sumpah dokter sehingga dokter mengalami kebingungan

Blok II

10

Laporan Tutorial Skenario B

2.9 Sintesis masalah 2.9.1 Hak dan Kewajiban Dokter-Pasien Berdasarkan UU NO 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran HAK DAN KEWAJIBAN DOKTER

Pasal 50 Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai hak: 1. Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dengan standar profesi dan standar prosedur operasional; 2. Memberika pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur operasional; 3. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya; dan 4. Menerima imbalan jasa.

Pasal 51 Dokter atau dookter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban: 1. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan stanadr profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien; 2. Merujuk pasien kedokter atau kedokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau kamampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan; 3. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia; 4. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya; dan 5. Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau kedokteran gigi.

Blok II

11

Laporan Tutorial Skenario B

HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN

Pasal 52 Pasien, dalam menerima pelayanan para praktik kedokteran, mempunyai hak: 1. Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis

sebagaimana dimaksud dalam pasal 45; 2. Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain; 3. Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis; 4. Menolak tindakan medis; dan 5. Mendapat isi rekam medis. 6. Persetujuan Tindakan Kedokteran atau Kedokteran Gigi

Pasal 45 Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapatkan persetujuan. Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien mendapatkan penjelasan secara lengkap. Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya mencakup : 1. Diagnosis dan tata cara tindakan medis; 2. Tujuan tindakan medis yang dilakukan; 3. Alternatif tindakan lain dan resikonya; 4. Risiko dan komplikasi yang mukin terjadi; dan 5. Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan. 6. Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan baik secara tertulis maupun lisan. 7. Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang mengandung risiko tinggi harus diberikan dengan persetuajuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan. 8. Ketentuan mengenai tata cara persetujuan tindakan kedokteran atau kedokteran gigi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri.

Blok II

12

Laporan Tutorial Skenario B

REKAM MEDIS

Pasal 46 Setiap dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran wajib membuat rekam medis. Rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus segera dilengkapi setelah pasien selesai menerima pelayanan kesehatan. Setiap catatan rekam medis harus dibubuhi nama, waktu, dan tanda tangan petugas yang memberikan pelayanan atau tindakan.

Pasal 47 Dokumen rekam medis sebagai mana dimaksud dalam Pasal 46 merupakan milik dokter, dokter gigi, atau sarana pelayanan kesehatan, sedangkan isi rekam medis merupakan milik pasien. Rekam medis sebagaimana simaksudkan pada ayat (1) harus disimpan dan dijaga kerahasiaannya oleh dokter atau dokter gigi dan pimpinan sarana pelayanan kesehatan. Ketentuan mengenai rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.

2.9.2

Rahasia Kedokteran

2.9.2.1 Ketentuan rahasia kedokteran Tugas dokter untuk menjaga kerahasiaan informasi pasien merupakan dasar pokok dalam Etika kedokteran sejak jaman Hippocrates. Sumpah Hippocrates menyebutkan: Apa yang mungkin aku lihat atau dengar dalam perawatan atau bahkan di luar perawatan yang saya lakukan yang berhubungan dengan kehidupan manusia, yang tidak boleh disampaikan ke luar, saya akan menyimpannya sebagai sesuatu yang memalukan untuk dibicarakan. Sumpah ini, dan versi yang lebih baru, tidak menempatkan perkecualian dalam tugas menjaga kerahasiaan. Kode Etik Kedokteran Internasional dari WMA menyatakan Seorang dokter harus menjaga kerahasiaan secara absolut mengenai yang dia ketahui tentang pasien-pasien mereka bahkan setelah
Blok II 13

Laporan Tutorial Skenario B

pasien tersebut mati. Namun kode etik yang lain menolak adanya absolutisme kerahasiaan. Kemungkinan mengapa rahasia dapat tembus/dibuka, kadang karena panggilan hukum terhadap klarifikasi kerahasiaan itu sendiri. Nilai yang tinggi yang ditempatkan pada kerahasiaan mempunyai tiga sumber: otonomi, penghargaan terhadap orang lain, dan kepercayaan. Otonomi berhubungan dengan kerahasiaan karena informasi pribadi tentang seseorang adalah miliknya sendiri dan tidak boleh diketahui orang lain tanpa ijinnya. Jika seseorang membuka informasi pribadi kepada orang lain seperti dokter atau suster, atau jika informasi muncul pada saat pemeriksaan medis, haruslah tetap dijaga kerahasiaannya kecuali diijinkan untuk dibuka dengan sepengetahuan pribadi. Kerahasiaan juga penting karena manusia berhak dihargai. Salah satu cara penting dalam menunjukkan penghormatan adalah dengan menjaga privasi mereka. Dalam seting medis, privasi kadang betul-betul

dikompromikan, namun lebih karena untuk menjaga kehidupan pribadi pasien supaya tidak terlalu terganggu, yang hal ini memang tidak diperlukan. Karena setiap orang berbeda dalam keinginannya untuk terhadap privasi, kita tidak dapat mengasumsikan bahwa setiap orang ingin diperlakukan seperti kita ingin diperlakukan. Perhatian harus diberikan untuk menentukan informasi pribadi mana yang ingin tetap dijaga kerahasiaannya oleh pasien dan mana yang boleh dibeberkan kepada orang lain. Seorang dokter harus menjaga kerahasiaan secara absolut mengenai yang dia ketahui tentang pasien-pasien mereka bahkan setelah pasien tersebut mati. Kepercayaan merupakan bagian penting dalam hubungan dokter-pasien. Untuk dapat menerima perawatan medis, pasien harus membuka rahasia pribadi kepada dokter atau orang yang mungkin benar-benar asing bagi mereka mengenai informasi yang mungkin tidak ingin diketahui orang lain. Mereka pasti memiliki alasan yang kuat untuk mempercayai orang yang memberikan perawatan bahwa mereka tidak akan membocorkan informasi tersebut. Kepercayaan merupakan standar legal dan etis dari kerahasiaan dimana profesi kesehatan harus menjaganya. Tanpa pemahaman bahwa pembeberan tersebut akan selalu dijaga kerahasiaannya, pasien mungkin akan menahan informasi pribadi yang dapat mempersulit dokter dalam usahanya

Blok II

14

Laporan Tutorial Skenario B

memberikan intervensi efektif atau dalam mencapai tujuan kesehatan publik tertentu. Declaration on the Rights of the Patients yang dikeluarkan oleh WMA memuat hak pasien terhadap kerahasiaan sebagai berikut: Semua informasi yang teridentifikasi mengenai status kesehatan pasien, kondisi medis, diagnosis, prognosis, dan tindakan medis serta semua informasi lain yang sifatnya pribadi, harus dijaga kerahasiaannya, bahkan setelah kematian. Perkecualian untuk kerabat pasien mungkin mempunyai hak untuk mendapatkan informasi yang dapat

memberitahukan mengenai resiko kesehatan mereka. Informasi rahasia hanya boleh dibeberkan jika pasien memberikan ijin secara eksplisit atau memang bisa dapat diberikan secara hukum kepada penyedia layanan kesehatan lain hanya sebatas apa yang harus diketahui kecuali pasien telah mengijinkan secara eksplisit. Semua data pasien harus dilindungi. Perlindungan terhadap data harus sesuai selama penyimpanan. Substansi manusia dimana data dapat diturunkan juga harus dilindungi. Deklarasi ini juga menyatakan adanya perkecualian terhadap kewajiban menjaga kerahasiaan, beberapa hal relatif tidak masalah, tetapi yang lain dapat memunculkan masalah etik yang sulit bagi dokter. Pembeberan (keterangan/membuka rahasia) adalah hal yang rutin dalam kerahasiaan, sering muncul di sebagian besar institusi kesehatan. Banyak orang seperti dokter, perawat, teknisi lab, mahasiswa, dll memerlukan akses terhadap rekam medis pasien untuk memberikan perawatan yang baik terhadap orang tersebut dan bagi mahasiswa untuk mempelajari bagaimana praktek pengobatan. Jika pasien berbicara dengan bahasa yang berbeda dengan perawatnya, diperlukan penterjemah untuk menjembatani komunikasi. Dalam kasus dimana pasien tidak kompeten dalam membuat keputusan medis, orang lain harus diberi informasi mengenai pasien tersebut agar dapat mewakili pasien tersebut dalam membuat keputusan. Dokter secara rutin

menginformasikan kepada anggota keluarga pasien yang sudah meninggal tentang penyebab kematian. Pembeberan terhadap kerahasiaan ini dibenarkan namun harus tetap dijaga seminimal mungkin, dan bagi siapa yang mendapatkan informasi rahasia tersebut harus dipastikan sadar untuk tidak
Blok II 15

Laporan Tutorial Skenario B

mengatakannya lebih jauh lagi dari pada yang diperlukan untuk kebaikan pasien. Jika mungkin pasien harus diberitahu bahwa telah terjadi pembeberan. Alasan lain yang dapat diterima terhadap pembeberan kerahasiaan adalah untuk memenuhi tuntutan hukum. Contohnya, hakim mempunyai hukum yang mewajibkan pelaporan pasien-pasien yang menderita penyakit tertentu, yang dianggap tidak layak untuk menyetir kendaraan, dan yang dicurigai merupakan kasus penyiksaan anak. Dokter harus sadar terhadap kewajiban pelaporan tersebut. Namun tututan hukum tersebut kadang bertentangan dengan hak asasi manusia yang mendasari etika kedokteran sehingga dokter harus melihat secara hati-hati dan kritis terhadap semua permintaan hukum untuk pembeberan kerahasiaan dan memastikan bahwa hal tersebut benar sebelum melakukannya. Jika dokter dibujuk untuk memenuhi tuntutan hukum untuk membuka informasi medis pasiennya, dokter harus terlebih dahulu membicarakannya dengan pasien perlunya pembeberan tersebut sebelumnya dan memastikan kerjasama dari pasien. Contohnya bagi pasien yang dicurigai merupakan korban penyiksaan anak, maka lebih baik memanggil badan perlindungan anak dan dengan kehadiran dokter pasien melaporkjan sendiri, atau dokter terlebih dahulu meminta ijin pasien sebelum yang berwenang dipanggil. Hal ini akan lebih baik jika memang akan ada intervensi lebih jauh. Jika tidak ada kerjasama dan dokter punya alasan dan percaya bahwa penundaan pemberitahuan dapat membahayakan anak tersebut, maka dokter harus segera memberitahu lembaga perlindungan anak dan selanjutnya memberitahukan kepada pasien bahwa hal tersebut telah dilakukan. Terhadap kerahasiaan yang diminta oleh hukum, dokter mempunyai tugas etik untuk membagi informasi dengan orang yang mungkin berada dalam bahaya karena pasien tersebut. Dua keadaan dimana hal ini dapat terjadi adalah saat pasien mengatakan kepada psikiater bahwa dia berniat menyakiti orang lain dan saat dokter yakin bahwa pasien yang dihadapinya HIV Positif namun tetap meneruskan hubungan seks yang tidak aman dengan pasangannya atau dengan orang lain. Tuntutan terhadap pembeberan kerahasiaan yang tidak diminta oleh hukum namun harus tetap dilakukan adalah saat dimana akan ada bahaya yang diyakini mengancam, serius dan tidak terbalikkan, tidak terhindarkan, kecuali
Blok II 16

Laporan Tutorial Skenario B

dengan membeberkan informasi yang sebenarnya tidak boleh dibeberkan. Dalam menentukan proporsionalitas bahaya yang mungkin timbul, dokter harus menilai dan membandingkan keseriusan bahaya dan kemungkinan terjadinya. Jika masih diragukan, akan lebih baik bagi dokter untuk mencari masukan dalam hal ini dari orang yang lebih ahli. Jika dokter telah memastikan bahwa tugas untuk mengingatkan ahli hukum akan hal (pembeberan) yang bertentangan dengan aturan sudah dilakukan, maka dua keputusan lebih lanjut harus dibuat. Siapa yang diberi tahu? Dan berapa banyak? Secara umum pembeberan hanya sebatas informasi yang memang diperlukan untuk mencegah bahaya yang ingin diantisipasi dan hanya diberikan kepada orang yang memang dapat mencegah bahaya tersebut. Langkah-langkah yang logis harus diambil untuk meminimalkan bahaya dan serangan atas pasien yang mungkin terjadi karena pembeberan informasi tersebut. Disarankan untuk memberitahukan pasien bahwa telah terjadi pembeberan informasi namun hanya untuk melindungi pasien tersebut dan korban yang mungkin akan timbul. Kerjasama pasien harus diperoleh jika mungkin. Dalam kasus pasien HIV positif pembeberan informai kepada pasangan atau partner seksnya saat itu bukanlah sesuatu yang tidak etis, dan bahkan dibenarkan jika pasien tidak bersedia menginformasikannya kepada orang (orang-orang) tersebut bahwa dia (mereka) dalam resiko. Pembenaran dari pembeberan informasi haruslah berdasar: partner beresiko terinfeksi HIV namun tidak mengetahui kemungkinan terinfeksi; pasien menolak memberi tahu pasangan seksnya; pasien menolak bantuan dokter untuk melakukannya; dan dokter telah mengatakan kepada pasien untuk memberitahu pasangannya. Perawatan medis terhadap orang yang diduga atau terlibat tindak kriminal menjadi masalah yang sulit jika dihubungakan dengan kerahasiaan yang harus dijaga. Walaupun dokter mempunyai keterbatasan dalam melakukan perawatan terhadap orang yang sedang menjalani hukuman, dokter tetap harus melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan seperti terhadap pasien yang lain. Khususnya dokter tidak boleh memberitahukan kepada pejabat penjara secara detail kondisi medis pasien tanpa terlebih dahulu meminta ijin kepada pasien.

Blok II

17

Laporan Tutorial Skenario B

UU No 29 Tahun 2009 Tentang Praktik Kedokteran Pasal 48 Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran wajib menyimpan rahasia kedokteran. Rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan kesehatan pasien, memenuhi paraturan penegak hukum dalam rangka penegakan hukum, permintaan pasien sendiri, atau berdasarkan ketentuan perundangundangan.

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 269/MENKES/PER/III/2008 BAB IV Pasal 10 (1) Informasi idenitas, diagnosis, riwayat penyakit, riwayat pemeriksaan dan riwayat pengobatan pasien harus dijaga kerahasiaannya oleh dokter, dokter gigi, tenaga kesehatan tertentu, petugas pengelola dan pimpinan sarana pelayanan kesehatan. (2) Informasi tentang identitas, diagnosis, riwayat penyakit, riwayat pemeriksaan dan riwayat pengobatan dapat dibuka dalam hal : a. Untuk kepentingan kesehatan pasien b. Memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukum atas perintah pengadilan c. Permintaan dan/atau persetujuan pasien sendiri d. Permintaan institusi/lembaga berdasarkan ketentuan perundangundangan e. Untuk kepentingan penelitian, pendidikan, dan audit medis, sepanjang tidak menyebutkan identitas pasien.

Blok II

18

Laporan Tutorial Skenario B

(3) Permntaan rekam medis untuk tujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus dilakukan secara tertulis kepada pimpinan sarana pelayanan kesehatan. Pasal 11 (1) Penjelasan tentang isi rekam medis hanya boleh dilakukan oleh dokter atau dokter gigi ang merawat pasien dengan izin tertulis pasien atau berdasarkan peraturan perundang-undangan. (2) Pimpinan sarana pelayanan kesehatan dapat menjelaskan isi rekam medis secara tertulis atau langsung kepada pemohon tanpa izin pasien berdasarkan peraturan perunang-undangan.

2.9.2.2 Sanksi membuka rahasia kedokteran 1. KUHP Pasal 112 Barangsiapa dengan sengaja mengumumkan surat-surat, berita-berita atau keteranganketerangan yang diketahuinya bahwa harus dirahasiakan untuk kepentingan negara atau dengan sengaja memberitahukan atau memberikannya kepada negara asing, kepada seorang seorang raja atau suku bangsa, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

2. KUHP Pasal 322 (1) Barangsiapa dengan sengaja membuka suatu rahasia yang wajib disimpannya karena jabatan atau pekerjaannya yang sekarangmaupun yang dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah (2) Jika kejahatan dilakukan pada seorang tertentu maka perbuatannya itu hanya dapat dituntut atas pengaduan orang tersebut

Blok II

19

Laporan Tutorial Skenario B

3. KUH Perdata Pasal 1365 Setiap perbuatan yang melanggar hukum yang berakibat kerugian bagi orang lain, mewajibkan orang yang karena kesalahannya mengakibatkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.

4. KUH Perdata Pasal 1366 Setiap orang bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan karena kelalaian atau kurang hati-hatinya

5. KUH Perdata Pasal 1367 Seseorang tidak saja bertanggung jawab untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya, tetapi juga untuk kerugain yang disebabkan karena perbuatan orang-orang yang menjadi

tanggungannya atau disebabkan karena perbuatan orang-orang yang berada dibawah pengawasannya 2.9.2.3 Pandangan islam Demi Allah, andaikan saya boleh beritahu rahasia itu kepada seseorang, pasti aku akan memberitahumu hai Tsabit. (HR Muslim)

2.9.3

Persetujuan Tindakan Medis Informed Consent adalah istilah yang telah diterjemahkan dan lebih sering disebut dengan Persetujuan Tindakan Medik. Secara harfiah, Informed Consent terdiri dari dua kata, yaitu : Informed dan Consent. Informed berarti telah mendapat informasi/penjelasan/keterangan. Consent berarti memberi persetujuan atau mengizinkan. Dengan demikian Informed Consent itu merupakan suatu persetujuan yang diberikan pasien/keluarga setelah mendapatkan informasi (Kerbala, 1993). Menurut Komalawati (1989) pengertian Informed Consent sebagai suatu kesepakatan/persetujuan pasien atas upaya medis yang akan dilakukan

Blok II

20

Laporan Tutorial Skenario B

dokter terhadap dirinya setelah mendapat informasi dari dokter mengenai upaya medis yang dapat dilakukan untuk menolong dirinya disertai informasi mengenai segala resiko yang mungkin terjadi. Informed Consent dalam Permenkes No. 585 tahun 1989 ditafsirkan sebagai Persetujuan Tindakan Medik adalah persetujuan yang diberikan pasien atau keluarganya atas dasar informasi dan penjelasan mengenai tindakan medik yang dilakukan terhadap pasien tersebut (pasal 1). Dalam pengertian demikian, Persetujuan Tindakan Medik dapat dilihat dari dua sudut, yaitu pertama membicarakan Persetujuan Tindakan Medik dari pengertian umum, disebabkan, Rumah Sakit atau Klinik tempat dilakukannya tindakan medik tersebut, selain harus memenuhi standar pelayanan rumah sakit juga harus memenuhi standar pelayanan medik sesuai dengan yang ditentukan dalam keputusan Menteri Kesehatan No. 436/MENKES/SK/VI/1993 Tentang Berlakunya Standar Pelayanan di Rumah Sakit. Dengan demikian, Rumah Sakit turut bertanggung jawab apabila tidak dipenuhinya persyaratan Informed Consent. Apabila tindakan medik yang dilakukan tanpa adanya Informed Consent, maka dokter yang bersangkutan dapat dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan surat izin praktik, sebagaimana ditentukan dalam pasal 13 Peraturan Menteri Kesehatan No.585/MENKES/PER/IX/1989. Berarti,

keharusan adanya Informed Consent secara tertulis dimaksudkan guna kelengkapan administrasi Rumah Sakit yang bersangkutan. Dengan demikian, penandatanganan Informed Consent secara tertulis yang dilakukan oleh pasien sebenarnya dimaksudkan sebagai penegasan atau pengukuhan dari persetujuan yang sudah diberikan setelah dokter memberikan penjelasan mengenai tindakan medik yang akan dilakukannya. PERMENKES No.585/MENKES/PER/IX/1989 Pasal 3 dan 4 menyatakan bahwa

penandatangan Informed Consent secara tertulis dilakukan oleh yang berhak memberikan persetujuan yaitu baik pasien maupun keluarganya, setelah pasien atau keluarganya mendapat informasi yang lengkap. Oleh karena itu, dengan ditandatanganinya Informed Consent secara tertulis tersebut, maka dapat diartikan bahwa pemberi tanda tangan bertanggung jawab dalam menyerahkan sebagian tanggung jawab pasien atas
Blok II 21

Laporan Tutorial Skenario B

dirinya sendiri kepada dokter yang bersangkutan, beserta resiko yang mungkin akan dihadapinya. Untuk itu, tindakan medik yang ditentukan oleh dokter harus dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan standar

profesinya.(Guwandi, 2004) Bagian yang terpenting dalam Informed Consent adalah mengenai informasi atau penjelasan yang perlu disampaikan kepada pasien atau keluarga. Yaitu informasi mengenai apa (what) yang harus disampaikan, tentulah segala sesuatu yang berkaitan dengan penyakit pasien. Tindakan apa yang akan dilakukan tentunya prosedur tindakan yang akan dijalani baik diagnostik maupun terapi dan lain lain sehingga pasien/keluarga dapat memahaminya. Ini mencakup bentuk, tujuan, resiko, manfaat dari terapi yang akan dilaksanakan dan alternatif terapi. Mengenai kapan (when) disampaikan, tergantung pada waktu yang tersedia setelah dokter akan memutuskan akan melakukan tindakan invasif dimaksudkan. Pasien/keluarganya harus diberi waktu yang cukup untuk menentukan keputusannya. Siapa (who) yang menyampaikan, tergantung dari jenis tindakan yang akan dilakukan. Dalam Permenkes dijelaskan dalam tindakan bedah dan tindakan invasif lainnya harus diberikan oleh dokter yang akan melakukan tindakan. Dalam keadaan tertentu dapat pula oleh dokter lain atas sepengetahuan dan petunjuk dokter yang bertanggung jawab. Bila bukan tindakan bedah atau invasif sifatnya, dapat disampaikan oleh dokter atau perawat. Mengenai informasi yang mana (which) yang harus disampaikan, dalam Permenkes dijelaskan haruslah yang selengkaplengkapnya, kecuali dokter menilai informasi tersebut dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien atau pasien menolak memberikan informasi. Bila perlu informasi dapat diberikan kepada keluarga pasien (Amri, 1999). Dalam Permenkes No.585/MENKES/PER/IX/1989 menyatakan bahwa dokter harus menyampaikan informasi atau penjelasan kepada pasien/keluarga diminta atau tidak diminta, jadi informasi harus disampaikan. Informasi harus
Blok II 22

Laporan Tutorial Skenario B

diberikan sebelum dilakukannya suatu tindakan operasi atau yang bersifat invasif, baik yang berupa diagnostik maupun terapeutik. Menurut Kerbala (1993), fungsi informasi dokter kepada pasien sebelum pasien memberikan consent-nya, dapat dibedakan atas : a. Fungsi Informasi bagi pasien Berfungsi sebagai perlindungan atas hak pasien untuk menentukan diri sendiri. Dalam arti bahwa pasien berhak penuh untuk diterapkannya suatu tindakan medis atau tidak. b. Fungsi Informasi bagi dokter Dilihat dari pihak dokter maka informasi dalam proses Informed consent pun mempunyai fungsi yang tidak kecil. Azwar (1991) mengemukan ada 5 hal pentingnya fungsi informasi bagi dokter : 1. Dapat membantu lancarnya tindakan kedokteran Dengan penyampaian informasi kepada pasien mengenai penyakit, terapi, keuntungan, risiko, dan lain-lain. Dari tindakan medis yang akan dilakukan maka terjalin hubungan yang baik antara dokter dan pasien. Sementara pasien pun akan menentukan hal yang terbaik dengan landasan informasi dokter tadi, sehingga tindakan-tindakan medis pun akan lancar dijalani oleh kedua pihak karena keduanya telah memahami kegunaan semua tindakan medis itu. 2. Dapat mengurangi timbulnya akibat sampingan dan komplikasi Dengan penyampaian informasi yang baik akan memberi dampak yang baik dalam komunikasi dokter pasien terutama dalam menerapkan terapi. Misal dokter sebelum menyuntik pasien dengan penisilin bertanya, apakah pasien alergi terhadap penisilin? Bila pasien memang alergi maka akibat/risiko yang besar jika terjadi anafilaktik shock dapat dihindari. Betapa risiko besar itu akan menimpa pasien bila dokter tidak bertanya kepada pasien. 3. Dapat mempercepat proses pemulihan dan penyembuhan penyakit

Blok II

23

Laporan Tutorial Skenario B

Sama halnya dengan kelancaran tindakan, maka sebagai akibat adanya pengetahuan dan pemahaman yang cukup dari pasien terhadap tindakan kedokteran yang akan dilakukan, maka proses pemulihan dan penyembuhan penyakit akan lebih cepat. Keadaan yang demikian juga jelas akan menguntungkan dokter, karena dapat mengurangi beban kerja. 4. Dapat meningkatkan mutu pelayanan Keberhasilan meningkatkan mutu pelayanan disini adalah sebagai akibat dari lancarnya tindakan kedokteran, berkurangnya akibat sampingan dan

komplikasi serta cepatnya proses pemulihan dan penyembuhan penyakit. 5. Dapat melindungi dokter dari kemungkinan tuntutan hukum Perlindungan yang dimaksudkan disini adalah apabila disuatu pihak, tindakan dokter yang dilakukan memang tidak menimbulkan masalah apapun, dan dilain pihak, kalaupun kebetulan sampai menimbulkan masalah, misalnya akibat sampingan dan atau komplikasi, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kelalaian dan ataupun kesalahan tindakan (malpractice). Timbulnya masalah tersebut sematamata hanya karena berlakunya prinsip ketidakpastian hasil dari setiap tindakan kedokteran/medis. Dengan perkataan lain, semua tindakan kedokteran yang dilakukan memang telah sesuai dengan standar pelayanan profesi (standar profesi medis) yang telah ditetapkan. Menurut Guwandi (2004), informasi yang harus diberikan sebelum dilakukan tindakan operasi oleh dokter kepada pasien atau keluarga adalah yang berkenaan dengan : a. Tindakan operasi apa yang hendak dilakukan. b. Manfaat dilakukan operasi tersebut. c. Resiko yang terjadi pada operasi tersebut. d. Alternatif lain apa yang ada (ini kalau memang ada dan juga kalau mungkin dilakukan). e. Apa akibatnya jika operasi tidak dilakukan.

Blok II

24

Laporan Tutorial Skenario B

Persetujuan Inti dari persetujuan adalah persetujuan harus didapat sesudah pasien mendapat informasi yang adekuat. Berpedoman pada PERMENKES no. 585 tahun 1989 tentang persetujuan tindakan medik maka yang menandatangani perjanjian adalah pasien sendiri yang sudah dewasa (diatas 21 tahun atau sudah menikah) dan dalam keadaan sehat mental. Dalam banyak perjanjian tindakan medik yang ada selama ini, penandatanganan persetujuan ini sering tidak dilakukan oleh pasien sendiri, tetapi lebih sering dilakukan oleh keluarga pasien. Hal ini mungkin berkaitan dengan kesangsian terhadap kesiapan mental pasien untuk menerima penjelasan tindakan operasi dan tindakan medis yang invasif tadi serta keberanian untuk menandatangani surat tersebut, sehingga beban demikian diambil alih oleh keluarga pasien. Tindakan medis yang diambil oleh dokter tanpa persetujuan pasien terlebih dahulu, meski untuk kepentingan pasien tetap tidak dapat dibenarkan secara etika kedokteran dan hukum, sebagaimana telah ditegaskan oleh fatwa IDI tentang Informed Consent (dokter tidak berhak melakukan tindakan medis yang bertentangan dengan kemauan pasien, walaupun untuk kepentingan pasien itu sendiri). Namun terhadap ketentuan tersebut terdapat pengecualian, yaitu dalam keadaan gawat darurat dan terjadinya perluasan operasi yang tidak dapat diduga sebelumnya serta dilakukan dalam rangka life saving. Dalam keadaankeadaan seperti ini dokter dapat melakukan tindakan medis tanpa mendapat persetujuan terlebih dahulu. Persetujuan dalam tindakan medik terdiri dari dua bentuk, yaitu : 1. Persetujuan Tertulis Bentuk persetujuan tertulis ini harus dimintakan dari pasien/keluarganya jika dokter akan melakukan suatu tindakan medik invasif yang mempunyai resiko besar. Hal ini dinyatakan dengan jelas dalam pasal 3 (1) Permenkes No.585 tahun 1989.
Blok II 25

Laporan Tutorial Skenario B

Persetujuanpersetujuan tertulis itu dalam bentuk formulirformulir persetujuan bedah, operasi dan lain-lain yang harus diisi (umumnya) dengan tulisan tangan. Dan dari sudut hukum positif, formulir persetujuan ini sangat penting sebagai bukti tertulis yang dapat dikemukan oleh para pihak kepada hakim bila terjadi kasus malpraktek. Oleh karena itu, pengisian data pada formulir itu haruslah tepat dan benar sehingga tidak akan menimbulkan masalah dikemudian hari bagi para pihak. 2. Persetujuan Lisan Terhadap tindakan medik yang tidak invasif dan tidak mengandung resiko besar maka persetujuan dari pasien dapat disampaikan secara lisan kepada dokter. Segi praktis dan kelancaran pelayanan medis yang dilakukan oleh dokter merupakan alasan dari penyampaian persetujuan itu secara tertulis. Meski persetujuan lisan itu diperbolehkan untuk tindakan, dokter membiasakan diri untuk menulis/mencatat persetujuan lisan pasien itu pada rekam medis/rekam kesehatan, karena segala kegiatan yang dilakukan oleh dokter harus dicatat dalam rekam medis termasuk persetujuan pasien secara lisan. 2.9.4 Komunikasi efektif dokter pasien

2.9.4.1 Komunikasi dokter pasien Komunikasi efektif diharapkan dapat mengatasi kendala yang

ditimbulkan olehkedua pihak, pasien dan dokter. Opini yang menyatakan bahwa mengembangkan komunikasi dengan pasien hanya akan menyita waktu dokter, tampaknya harus diluruskan. Sebenarnya bila dokter dapat membangun hubungan komunikasi yang efektif dengan pasiennya, banyak hal-hal negative dapat dihindari.Dokter dapat mengetahui dengan baik kondisi pasien dan keluarganya dan pasien pun percaya sepenuhnya kepada dokter. Kondisi ini amat berpengaruh pada proses penyembuhan pasien selanjutnya. Pasien merasa tenang dan aman ditangani oleh dokter sehingga akan patuh menjalankan petunjuk dan nasihat dokter karena yakin bahwa semua yang

Blok II

26

Laporan Tutorial Skenario B

dilakukan adalah untuk kepentingan dirinya. Pasien percaya bahwa dokter tersebut dapat membantu menyelesaikan masalah kesehatannya. Kurtz (1998) menyatakan bahwa komunikasi efektif justru tidak memerlukan waktu lama.Komunikasi efektif terbukti memerlukan lebih sedikit waktu karena dokter terampil mengenali kebutuhan pasien (tidak hanya ingin sembuh).Dalam pemberian pelayanan medis, adanya komunikasi yang efektif antara dokter dan pasien merupakan kondisi yang diharapkan sehingga dokter dapat melakukan manajemen pengelolaan masalah kesehatan bersama pasien, berdasarkan kebutuhan pasien. Namun disadari bahwa dokter dan dokter gigi di Indonesia belum disiapkanuntuk melakukannya.Dalam kurikulum kedokteran dan kedokteran gigi, membangun komunikasi efektif dokter-pasien belum menjadi

prioritas.Untuk itu dirasakan perlunya memberikan pedoman (guidance) untuk dokter guna memudahkan berkomunikasi tentang dengan hal-hal pasien dan atau dalam

keluarganya.Melalui

pemahaman

penting

pengembangan komunikasi dokterpasien diharapkan terjadi perubahan sikap dalam hubungan dokter-pasien. Tujuan dari komunikasi efektif antara dokter dan pasiennya adalah untuk mengarahkan proses penggalian riwayat penyakit lebih akurat untuk dokter, lebih memberikan dukungan pada pasien, dengan demikian lebih efektif dan efisien bagi keduanya (Kurtz, 1998). Menurut Kurzt (1998), dalam dunia kedokteran ada dua pendekatan komunikasi yang digunakan:

- Disease

centered

communication

style

atau

doctor

centered

communicationstyle. Komunikasi berdasarkan kepentingan dokter dalam usaha menegakkan diagnosis, termasuk penyelidikan dan penalaran klinik mengenai tanda dangejala-gejala.

- Illness

centered

communication

style

atau

patient

centered

communicationstyle Komunikasi berdasarkan apa yang dirasakan pasien tentangpenyakitnya yang secara individu merupakan pengalaman unik. Di sinitermasuk pendapat pasien,
Blok II 27

Laporan Tutorial Skenario B

kekhawatirannya, harapannya, apa yang menjadikepentingannya serta apa yang dipikirkannya. Dengan kemampuan dokter memahami harapan, kepentingan,

kecemasan, serta kebutuhan pasien, patient centered communication style sebenarnya tidakmemerlukan waktu lebih lama dari pada doctor centered communication style. Keberhasilan komunikasi antara dokter dan pasien pada umumnya akanmelahirkan kenyamanan dan kepuasan bagi kedua belah pihak, khususnya menciptakan satu kata tambahan bagi pasien yaitu empati. Empati itu sendiri dapat dikembangkan apabila dokter memiliki ketrampilan mendengar danberbicara yang keduanya dapat dipelajari dan dilatih. Carma L. Bylund & Gregory Makoul dalam tulisannya tentang Emphatic Communication in Physician-Patient Encounter (2002), menyatakan betapa pentingnya empati ini dikomunikasikan. Dalam konteks ini empati disusun dalam batasan definisi berikut: (1) kemampuan kognitif seorang dokter dalam mengerti kebutuhan pasien (aphysician cognitive capacity to understand patients needs), (2) menunjukkan afektifitas/sensitifitas dokter terhadap perasaan pasien (anaffective sensitivity to patients feelings), (3) kemampuan perilaku dokter dalam memperlihatkan/ menyampaikan empatinya kepada pasien (a behavioral ability to convey empathy topatient). Sementara, Bylund & Makoul (2002) mengembangkan 6 tingkat empati yang dikodekan dalam suatu sistem (The Empathy Communication Coding System (ECCS) Levels). Berikut adalah contoh aplikasi empati tersebut:

1. Level 0: Dokter menolak sudut pandang pasien a. Mengacuhkan pendapat pasien Membuat pernyataan yang tidak menyetujui pendapat pasien seperti b. Kalau stress ya, mengapa datang ke sini? Atau Ya, lebih baik operasi saja sekarang.

Blok II

28

Laporan Tutorial Skenario B

2. Level 1: Dokter mengenali sudut pandang pasien secara sambil lalu a. A ha, tapi dokter mengerjakan hal lain: menulis, membalikkan badan, menyiapkan alat, dan lain-lain

3. Level 2: Dokter mengenali sudut pandang pasien secara implisit a. Pasien, Pusing saya ini membuat saya sulit bekerja b. Dokter, Ya...? Bagaimana bisnis Anda akhir-akhir ini?

4. Level 3: Dokter menghargai pendapat pasien a. Anda bilang Anda sangat stres datang ke sini? Apa Anda maumenceritakan lebih jauh apa yang membuat Anda stres?

5. Level 4: Dokter mengkonfirmasi kepada pasien a. Anda sepertinya sangat sibuk, saya mengerti seberapa besar usahaAnda untuk menyempatkan berolah raga

6. Level 5: Dokter berbagi perasaan dan pengalaman (sharing feelings and experience) dengan pasien. a. Ya, saya mengerti hal ini dapat mengkhawatirkan Anda berdua.Beberapa pasien pernah mengalami aborsi spontan, kemudian setelah kehamilan berikutnya mereka sangat, sangat, khawatir

Empati pada level 3 sampai 5 merupakan pengenalan dokter terhadap sudut pandang pasien tentang penyakitnya, secara eksplisit.

SAJI, Langkah-langkah Komunikasi Dokter - Pasien Ada empat langkah yang terangkum dalam satu kata untuk melakukan komunikasi, yaitu SAJI (Poernomo, Ieda SS, Program Family Health Nutrition, Depkes RI, 1999). S = Salam A = Ajak Bicara J = Jelaskan I = Ingatkan

Blok II

29

Laporan Tutorial Skenario B

Secara rinci penjelasan mengenai SAJI adalah sebagai berikut.

Salam: Beri salam, sapa dia, tunjukkan bahwa Anda bersedia meluangkan waktu untukberbicara dengannya.

Ajak Bicara: Usahakan berkomunikasi secara dua arah.Jangan bicara sendiri.Dorong agar pasien mau dan dapat mengemukakan pikiran dan perasaannya.Tunjukkan bahwa dokter menghargai pendapatnya, dapat memahami kecemasannya, serta mengerti perasaannya.Dokter dapat menggunakan pertanyaan terbuka maupun tertutup dalam usaha menggali informasi.

Jelaskan: Beri penjelasan mengenai hal-hal yang menjadi perhatiannya, yang ingin diketahuinya, dan yang akan dijalani/dihadapinya agar ia tidak terjebak oleh pikirannya sendiri. Luruskan persepsi yang keliru. Berikan penjelasan mengenai penyakit, terapi, atau apapun secara jelas dan detil.

Ingatkan: Percakapan yang dokter lakukan bersama pasien mungkin

memasukkanberbagai materi secara luas, yang tidak mudah diingatnya kembali.Di bagian akhir percakapan, ingatkan dia untuk hal-hal yang penting dan koreksi untuk persepsi yang keliru. Selalu melakukan klarifikasi apakah pasien telah mengerti benar, maupun klarifikasi terhadap hal-hal yang masih belum jelas bagi kedua belah pihak serta mengulang kembali akan pesan-pesan kesehatan yang penting.

Keterampilan berkomunikasi berlandaskan empat unsur yang merupakan intikomunikasi: 1. Sumber (yang menyampaikan informasi). Siapa dia? Seberapa luas/ dalam pengetahuannya tentang informasi yang disampaikannya?

Blok II

30

Laporan Tutorial Skenario B

2. Isi pesan (apa yang disampaikan). Panjang pendeknya, kelengkapannya perlu disesuaikan dengan tujuan komunikasi, media penyampaian, penerimanya. 3. Media yang digunakan. Apakah hanya berbicara?Apakah percakapan dilakukan secara tatap muka atau melalui telepon, menggunakan lembar lipat, buklet, vcd, peraga). 4. Penerima (yang diberi informasi). Bagaimana karakternya? Apa

kepentingannya? (langsung, tidak langsung).

Keempat unsur ini masih perlu dilengkapi dengan umpan balik. Dokter sebagaisumber atau pengirim pesan harus mencari tahu hasil komunikasinya (apa yang dimengerti pasien?). Sejalan dengan keterampilan yang termuat dalam empat unsur ditambah umpanbalik tersebut, diperlukan kemampuan dalam hal-hal berikut:

1. Cara berbicara, termasuk cara bertanya (kapan menggunakan pertanyaan tertutup dan kapan memakai pertanyaan terbuka), menjelaskan, klarifikasi, parafrase, intonasi. 2. Mendengar, termasuk memotong kalimat. 3. Cara mengamati (observasi) agar dapat memahami yang tersirat di balik yang tersurat (bahasa non verbal di balik ungkapan kata/kalimatnya, gerak tubuh). 4. Menjaga sikap selama berkomunikasi dengan pasien (bahasa tubuh) agar tidak mengganggu komunikasi, misalnya karena pasien keliru mengartikan gerak tubuh, raut muka dan sikap dokter.

Komunikasi yang tidak efektif dapat menimbulkan masalah dalam hubungan dokter-pasien, di antaranya adalah tuduhan melakukan

malapraktik.Paparanbuku ini mengemukakan bahwa komunikasi dokter-pasien bukanlah hal sederhana. Komunikasi yang berlangsung dalam pertemuan tatap muka bukanlah sekadar percakapan dalam bentuk tanya jawab yang diperlukan untuk mengisi data pasien, sebagaimana yang lazim dilakukan dalam pengambilan anamnesis.

Blok II

31

Laporan Tutorial Skenario B

Efektif atau tidaknya komunikasi yang berlangsung akan menentukan sikappasien dalam menerima diagnosis yang ditetapkan dokter, menjalani pengobatan, melakukan perawatan diri dan memerhatikan atau mematuhi anjuran/nasihat dokter. Komunikasi tersebut juga mempengaruhi

kelangsungan terapi, apakah akan berlanjut atau terjadi pemutusan hubungan secara sepihak. Reaksi pasien ketika masih berada dalam ruang praktik, sikap pasien pada kunjungan ulang, cara pasien melaksanakan pengobatan adalah umpan balik bagi dokter, untuk mengetahui hasil komunikasinya.

Proses komunikasi Peristiwa terjadinya suatu komunikasi amat komplek. Berbagai teori pernah di kemukakan namun secara umum dapat di kelompokkan dalam dua macam : Model linier Pada model linier proses komunikasi terjadi menurut urutan tertentu, sebagai berikut : 1. 2. Tersedianya pesan dan orang yang akan menyampaikan pesan Adanya upaya menterjemahkan pesan ke dalam bentuk yang dapat

disampaikan (encoded) 3. 4. 5. 6. adanya alat penyampai pesan Adanya media yang akan dipergunakan untuk menyampaikan pesan adanya alat penerima pesan Adanya upaya untuk menterjemahkan pesan yang diterima ke dalam bentuk yang mudah di mengerti (decoded) 7. Saran serta timbulnya pengertian terhadap pesan yang disampaikan.

Jika diperhatikan pada model linier terlihat bahwa ada perbedaan antara sumber informasi dengan sasaran, padahal dalam kedaan sehari hari tidak selalu demikian sebab dalam kedaan sehari hari banyak juga komunikasi antar dua pihak yang sama setara kedudukan dan perannya. Karena itu model linier sekarang di tinggalkan orang diganti dengan model system

Blok II

32

Laporan Tutorial Skenario B

Prinsip model sistem ini adalah : 1. Menempatkan kedudukan dan peran sumber sama dengan kedudukan dan peran sasaran. 2. Fungsi setiap unsur komunikasi terutama unsur dan sasaran tidak hanay tunggal, tetapi bersifat ganda.

Empati 1. Kemampuan seseorang untuk mengerti perasaan, fikiran, dan keinginan orang lain, tanpa mempengaruhi objektivitas dalam menilai orang tersebut. 2. Kemampuan menempatkan diri ke dalam diri orang lain untuk memahami pandangan dan perasaan orang tersebut, sesuai dengan latar belakang pendidikan, sosial, budaya, agama, ekonomi, etnik, dan lain lain.

Simpati 1. Kecendrungan untuk merasakan perasaan, fikiran, dan keinginan orang lain, namun karena melibatkan perasaan, seringkali penilaiannya menjadi subjektif. 2. Antipati 3. Penolakan atau perasaan tidak suka yang kuat 4. Perasaan menentang objek tertentu yang bersifat personal dan abstrak

Etika 1. Kumpulan asas/nilai/moralitas universal yang berkenaan dengan ahlak atau yang serba baik 2. Norma kebaikan yang berasal dari pembenaran nilai nilai yang di anut suatu golongan atau masyarakat.

Etika profesi Etika terapan dan kesejawatan yang berlaku untuk masing masing profesi yang mengandung keutamaan dan keluhuran profesi.
Blok II 33

Laporan Tutorial Skenario B

Etika kedokteran Etika khususnya kewajiban moral yang mendasari profesi dan praktek kedokteran, serta melandasi segenap keputusan medik menjadi keputusan yang benar dan serba baik. Humaniora Ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk membantu manusia untuk bersifat lebih manusiawi dan lebih berbudaya, misalnya teology, filsafat, Ilmu hukum, ilmu sejarah, filology, Ilmu bahasa, kesusastraan, ilmu kesenian, dan ilmu praktek kedokteran. Human Right Hak-hak alamiah manusiawi yang tidak dapat di cabut dan merupakan karunia Tuhan, karena semata mata dimiliki manusia meliputi antara lain ; kebebasan berbicara dan berpendapat, beragama dan berkeyakinan, berserikat dan berkumpul, serta hak untuk mendapat perlindungan yang sama di depan hukum. Empati dokter kepada pasiennya Perasaan dokter yg dapat merasa dan meraba apa yg diderita atau problem pasien. Merupakan faktor yg penting yg bila dituruti/tindak lanjuti dapat menimbulkan kesabaran dokter dan mendorongnya untuk mempertimbangkan matang matang apa yg akan di kerjakannya. Berbagai fokus/objek empati adalah : 1. Empati terhadap penderitaan pasien, dokter membayangkan betapa nyerinya/ sakit tulang yg patah pada seorang pemuda. Meskipun patahnya karena ngebut dijalan. Dokter tidak perlu mencemooh dan mengejeknya karena ngebut. 2. Empati terhadap emosi/psikis pasien, misal pasien tbc paru, kemudian

dokter memberi semangat, bhw sakitnya dapat sembuh dengan berobat teratur, contoh lain empati negatif adalah dokter yg mencemooh seorang

Blok II

34

Laporan Tutorial Skenario B

pasien penyakit kelamin, pasien sendiri sudah sedih dan merasa berdosa tidak perlu lagi ditambah oleh hinaan dari dokternya. 3. Empati dari segi sosial ekonomi, misalnya seorang tukang becakyg sakit gagal ginjal terminal tidak perlu diceritakan bahwa hidupnya dapat dipertahankan dengan hemodialisa. 4. Empati dari segi budaya dan agama, ada sekte agama tertentu yg melarang umatnya untuk melakukan tranfusi darah. Dokter tidak boleh melepas tangan tidak mau mengobati pasien tersebut. Budaya masyarakat yg menganggap menderita kanker suatu aib bagi keluarga sehingga dokter harus hati hati menjelaskan kepada pasien. 2.9.4.2 Menyampaikan berita buruk Berita buruk adalah suatu situasi dimana tidak ada harapan lagi, adanya ancaman terhadap kesejahteraan fisik dan mental seseorang, sesuatu yang menuntut perubahan gaya hidup yang sudah menjadi kebiasaan, sesuatu yang membuat seseorang memiliki sedikit pilihan dalam hisupnya. Atau dapat pula dikatakan bahwa berita buruk adalah setiap informasi negatif tentang masa depan seseorang. Ada beberapa situasi yang juga dikategorikan sebagai berita buruk : 1) Diagnosis penyakit kronis 2) Cacat atau hilangnya suatu fungsi 3) Adanya ebutuhan perawatan atau pengobatan yang memberatkan/ menyakitkan/ mahal Pentingnya mengungkapkan informasi/ berita buruk pada pasien 1) Pasien ingin mengetahui apa yang sedang terjadi pada dirinya. 2) Pasien ingin mengetahui kemungkinan yang bisa terjadi pada dirinya, termasuk terapi apa saja yang bisa diperoleh, prognosis, dan efek samping terapi. 3) Ketika dokter menahan informasi pasien, berarti dokter tersebut sudah mengurangi otonomi seorang pasien.

Blok II

35

Laporan Tutorial Skenario B

Hal yang sering dikeluhkan oleh dokter saat menyampaikan berita buruk: 1) Bagaimana cara yang tepat untuk bisa jujur pada pasien tanpa mengurangi harapan mereka. 2) Bagaimana cara menghadapi dan menangani emosi pasien saat mereka mendengar berita buruk mengenai dirinya. Apakah saya sanggup? 3) Kapankah waktu yan tepat untuk menyapaikan berita buruk kepada pasien? Dari Robert Buckman yang bisa di gunakan sebagai pedoman dalam menyampaikan berita buruk pada pasien : a) Informasi penting sebaiknya dikomunikasikan secara langsung, tidak melalui telpon, juga tidak diberikan dalam bentuk tulisan yang dikirim melalui pos, faksimile, sms, internet.

b) Persiapan meliputi: Materi yang akan disampaikan (bila diagnosis, tindakan medis, prognosis sudah disepakati oleh tim); Ruangan yang nyaman, memperhatikan privasi, tidak terganggu orang lalu lalang, suara gaduh dari tv/radio, telepon; Waktu yang cukup; Mengetahui orang yang akan hadir (sebaiknya pasien ditemani oleh keluarga/orang yang ditunjuk; bila hanya keluarga yang hadir sebaiknya lebih dari satu orang). c) Jajaki sejauh mana pengertian pasien/keluarga tentang hal yang akan dibicarakan. d) Tanyakan kepada pasien/keluarga, sejauh mana informasi yang diinginkan dan amati kesiapan pasien/keluarga menerima

informasi yang akan diberikan. e) Berbagi informasi mengenai diagnosis, penanganan, prognosis, dukungan.
Blok II 36

Laporan Tutorial Skenario B

f) Menanggapi perasaan pasien, jika anda tidak memberikan tanggapan terhadap emosi yang muncul pada pasien, anda sama saja seperti meninggalkan urusan sebelum urusan tersebut selesai g) Perencanaan dan tindak lanjut Mensistensis rasa kekhawatiran pasien dan isu-isu edis ke dalam rencana konkret yang dapat dilakukan dalam rencana perawatan pasien.

2.9.4.3 Pandangan Islam dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari bani israil (yaitu) : janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatm, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling (Q.S Albaqarah : 83) Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menakitkan (perasaan sipenerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. (Q.S Al-baqarah : 263)

2.9.5

Sumpah dokter Demi Allah saya bersumpah,/berjanji, bahwa: 1. 2. Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan; Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabalan kedokteran; 3. Saya akan menjalankan tugas saya dengan caruyangterhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya sebagai dokter;

Blok II

37

Laporan Tutorial Skenario B

4.

Saya akan menjalankan tugas saya dengan mengutamakan kepentingan masyarakat;

5.

Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan keilmuan saya sebagai dokter;

6.

Saya tidak akan mempergrnakan pengetahuan kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan perikemanusiaan, sekalipun diancam;

7. 8. 9.

Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan; Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan pasien; Saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kesukuan, perbedaan kelamin, politik kepartaian, atau kedudukan sosial dalam menunaikan kewajiban terhadap pasien;

10. Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya; 11. Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagaimana saya sendiri ingin diperlakukan; 12. Saya akan menaati dan mengamalkan Kode Etik Kedokteran Indonesia; 13. Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya.

Blok II

38

Laporan Tutorial Skenario B

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad M., 2006. Manual Komunikasi Efektif. Jakarta: Konsil Kedokteran Indonesia Azrul, A., 1997. Pengantar Dokter Keluarga. Yayasan Penerbit IDI. Djauzi, S. and Supartondo. 2004. Komunikasi dan Empati Dalam Hubungan DokterPasien Jakarta: Balai Penerbit FK-UI FK.UNS.ac.id. [ Diakses pada tanggal 19 November 2013] Hardjosastro, D., 2006. Bagaimana Dokter berpikir dan Bekerja. Jakarta: Gramedia Pustaka Media Utama. Hanafiah, M. J., 2012. Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan. Jakarta: EGC Kurtz, S., Silverman, J. & Drapper, J. (1998).Teaching and Learning Communication Skills in Medicine. Oxon: Radcliffe Medical Press. Notoatmodjo, S. 2010. Buku Etika & Hukum Kesehatan.Jakarta: Rineka Cipta. PERMENKES 269/2008 Pasal 12 ayat (4) PERMENKES Nomor 290/MENKES/PER/III/2008 Purwadianto, A., Soetedjo. & Sintak G. dkk., 2012. Kode Etik Kedokteran Indonesia.Jakarta: Ikatan Dokter Indonesia. Poernomo, Ieda SS. 2005. Komunikasi Metode Kanguru. Jakarta: Makalah Perinasia. Peraturan Pemerintahan No.10 Tahun 1966 Tentang Wajib Simpan Rahasia Silverman, J., Kurtz, S. & Drapper, J. 1998.Skills for Communicating with Patients. Oxon: Radcliffe Medical Press. Standar Kopetensi Dokter Indonesia. 2012. UU No 29 Tentang Praktik Kedokteran. 2009.
Blok II 39

Laporan Tutorial Skenario B

Wasisto, B. & Grita S. dkk., 2006. Komunikasi Efektif Dokter-Pasien. Jakarta: Konsil Kedokteran Indonesia.

Blok II

40