Hubungan Antara Panjang Bayi Lahir dengan Panjang Badan Anak usia 6-23 Bulan di Posyandu X

Stunting saat ini masih menjadi masalah di Indonesia, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 , menunjukkan bahwa prevalensi anak balita Indonesia yang menderita stunting masih relatif tinggi yaitu sebesar 35,6%. Dari hasil tersebut sebesar 31,5%

disumbangkan dari anak usia 12-23 bulan. Kejadian pendek dan sangat pendek atau stunting faktor penyebab terpenting adalah lingkungan hidup sejak konsepsi sampai anak usia 2 tahun. (WHO, 1997) (Barker, 1995). Didalam kandungan, janin akan tumbuh dan berkembang melalui pertambahan berat dan panjang badan, perkembangan otak serta organ-organ lainnya seperti jantung, hati, dan ginjal. Janin mempunyai plastisitas yang tinggi, artinya janin akan dengan mudah

menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungannya baik yang menguntungkan maupun yang merugikan pada saat itu . Perubahan tersebut merupakan interaksi antara gen yang sudah dibawa sejak awal kehidupan, dengan lingkungan barunya. Hasil reaksi penyesuaian akibat kekurangan gizi di ekspresikan pada usia dewasa dalam bentuk tubuh yang pendek, rendahnya kemampuan kognitif atau kecerdasan sebagai akibat tidak optimalnya pertumbuhan dan perkembangan otak. Di negara berkembang seperti di Indonesia kurang gizi pada pra-hamil dan ibu hamil berdampak pada lahirnya anak yang IUGR (Intra Uterine Growth Retardation) dan BBLR. Kondisi IUGR hampir separonya terkait dengan status gizi ibu, yaitu berat badan (BB) ibu pra-hamil yang tidak sesuai dengan tinggi badan ibu atau bertubuh pendek , dan

pertambahan berat badan selama kehamilannya (PBBH)

kurang dari seharusnya. Ibu yang

pendek waktu usia 2 tahun cenderung bertubuh pendek pada saat meninjak dewasa. Apabila hamil ibu pendek akan cenderung melahirkan bayi yang BBLR (Victoria CG dkk, 2008) selain itu ditambah dengan adanya anemi pada ibu juga akan memepengaruhi panjang bayi yang dilahirkan.(Fitri Ruchayati,2002) Menurut Sudiman (2008), proses menjadi pendek atau stunting pada anak di suatu wilayah atau daerah miskin dimulai sejak usia sekitar 6 bulan dan muncul utamanya pada dua sampai tiga tahun awal kehidupan serta berlangsung terus sampai usia 18. Stunting yang terjadi dalam usia 36 bulan pertama biasanya disertai dengan efek jangka panjang (Henningham & McGregor, 2009). Selain faktor status gizi ibu sebelum dan masa

kehamilan, kejadian stunting juga dapat dipengaruhi oleh pemberian ASI Eksklusif,

2003) yang juga bisa dipengaruhi oleh jumlah anggota keluarga. Kerangka Konsep Pendidikan Ibu Pola asuh:  ASI Eksklusif  MP-ASI PBL BBL Jumlah Orang dalam satu rumah Akses dan ketersediaan pangan Asupan (energi dan protein) Tinggi Badan Ibu Antenatal care Pertambahan BB hamil Status Anemia Tinggi Badan Balita Status Gizi ibu  LILA Pelayanan Kesehatan dan higien sanitasi Status sosial ekonomi keluarga Infeksi dan Penyakit :  Diare  ISPA . Dan masalah ini dapat diatasi dengan perbaikan gizi pada 1000 HPK. daya beli yang rendah dari para keluarga yang kurang mampu merupakan salah satu penyebab kekurangan gizi di Indonesia (Winarno 1995) yang dapat dilihat dari pekerjaan dan pendapatan orang tua. dan dikatakan pendek jika berada antara -3 SD sampai dengan < -2 SD. Selain itu tingkat pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pola asuh anak (Rahmawati 2006).pemberian MP-ASI yang tepat. adanya infeksi atau penyakit pada anak. Menurut Depkes (2011). pendek dan sangat pendek adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) yang merupakan padanan istilah sunting (pendek) dan severely stunting (sangat pendek). zat gizi makro atau zat gizi mikro dalam jangka panjang atau hasil dari infeksi kronis atau infeksi yang terjadi berulang kali (Umeta et al. Stunting mengindikasikan pertumbuhan yang rendah dan efek kumulatif dari kurangnya atau ketidakcukupan asupan energi. Seorang anak dikatagorikan sangat pendek jika panjang badan menurut umur atau tinggi badan menurut umur < -3 SD.

Program Pasca Sarjana Fakultas Kedokteran.Daftar Pustaka : Kerangka Kebijakan Gerakan Sadar Gizi Dalam Rangka Seribu Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK). Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 2012 . versi 5 September 2012 SITI WAHDAH . Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Anak Umur 6-36 Bulan Di Wilayah Pedalaman Kecamatan Silat Hulu Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful