PROSIDING

SEMINAR NASIONAL
FISIKA TERAPAN III
ISBN: 978-979-17494-2-8

PeranFisikaDanTerapannya
SebagaiModalPengembanganKemandirianBangsa
DiBidangPendidikan,Industri,danKedokteran

Surabaya, 15 September 2012












Editor:
Samian
Y.G. Y. Yhuwana

PRODI S1 FISIKA, DEPARTEMEN FISIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SAMBUTAN KETUA DEPARTEMEN/PRODI FISIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI, UNIVERSITAS AIRLANGGA


Assalamualaikum Wr. Wb

Puji syukur saya panjatkan kehadlirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayahNya sehingga pada hari ini “ Seminar Nasional Fisika Terapan III “ dapat terlaksana dengan
baik dan lancar.
Seminar Nasional Fisika ini merupakan salah satu kegiatan rutin dua tahunan yang
dilaksanakan oleh prodi S1 Fisika Unair. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan ilmu
fisika dan terapannya di berbagai universitas dan instansi di Indonesia melalui publikasi yang
dipresentasikan oleh peserta seminar. Selain itu diharapkan dapat melakukan sinergi antar instansi
untuk proses pembelajaran, penelitian dan penerapan fisika, sehingga fisika dapat memberikan
sumbangan bagi perkembangan teknologi di Indonesia. Oleh sebab itu Prodi S1 Fisika Unair
berkomitmen untuk dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan fisika tersebut melalui
penyelenggaraan seminar yang sumber pendanaannya diperoleh dari RKAT pengembangan prodi
fisika tahun 2012.
Ilmu Fisika yang merupakan salah satu pilar dasar bagi perkembangan teknologi di Indonesia
masih dianggap belum memiliki banyak sumbangan bagi pembangunan nasional. Oleh sebab itu
kegiatan seminar dengan tema “ Peran Fisika dan Terapannya Sebagai Modal Pengembangan
Kemandirian Bangsa di Bidang Pendidikan, Industri dan Kedokteran “ ini diharapkan dapat membuka
pengetahuan berbagai kalangan atas peran besar fisika dalam peningkatan teknologi masa kini dan
kesejahteraan serta kualitas hidup manusia. Hal ini selaras dengan sejarah perkembangan teknologi di
dunia, dimana kebergantungan yang sangat kuat terhadap perkembangan ilmu dasar , salah satunya
adalah fisika.
Saya ucapkan terima kasih kepada bapak Rektor Unair dan Dekan Fakultas Sains dan
Teknologi atas disetujuinya RKAT Pengembangan Prodi Fisika ini. Terima kasih juga saya
sampaikan kepada ketua panitia seminar Dr. Moh.Yasin, M.Si dan anggotanya atas kerja kerasnya,
sehingga kegiatan ini bisa terlaksana. Semoga kegiatan ini dapat memberi kontribusi bagi
perkembangan fisika di Indonesia. Selamat melaksanakan seminar ini.


Wassalam,



Surabaya, 15 September 2012
Ketua Departemen/ Prodi Fisika,


Drs. Siswanto,M.Si
NIP. 196403051989031003


i
 
KATA PENGANTAR
(KETUA PANITIA SEMINAR NASIONAL FISIKA TERAPAN III-2012)
Assalaamu’alaikum wrt wbt.,
Peserta seminar yang saya hormati,
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Alloh S.W.T akhirnya kami dapat menyelesaikan
seluruh kegiatan Seminar Nasional Fisika III dengan tema “Peran Fisika Dan Terapannya Sebagai
Modal Pengembangan Kemandirian Bangsa Di Bidang Pendidikan, Industri Dan Kedokteran” yang
telah diselenggarakan pada Tanggal 15 September 2012 di Ruang Kahuripan Lantai 3 Gedung
Perpustakaan, Kampus C Universitas Airlangga Surabaya. Kegiatan seminar ini dilaksanakan oleh
Program Studi S1 Fisika, Departemen Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga
bertujuan untuk membuka wawasan akan peranan ilmu fisika bagi pengembangan kemandirian
bangsa di bidang pendidikan, industri, dan kedokteran. Kegiatan seminar ini akan mengkaji beberapa
topik dasar dan kontemporer yang terkait dengan bidang Pendidikan Fisika, Biofisika dan Medis,
Fisika Material, Biomaterial dan Nanoteknologi, Optika dan Laser, Fisika Teori dan Komputasi, serta
Fisika Instrumentasi dan Kontrol.
Berdasarkan pengalaman dalam melaksanakan Seminar Nasional Fisika Terapan I pada tahun
2007 dan Seminar Nasional Fisika Terapan II pada tahun 2010, maka melalui kegiatan Seminar
Nasional Fisika Terapan III ini diharapkan terjadi peningkatan jumlah publikasi nasional pada tahun
2012. Melalui kegiatan ini, penelitian-penelitian yang dilakukan oleh staf, dosen maupun mahasiswa
Program Studi S1, S2 dan S3 Fisika & Aplikasinya dapat diketahui secara luas oleh berbagai
kalangan, mulai dari pendidik, industri dan medis baik dari institusi negeri maupun swasta.
Terima kasih kami ucapkan kepada keynote speaker bapak Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, M.Sc.
selaku Dirjen Dikti Kemendikbud dan para invited speaker antara lain Prof. Dr. Khairurrijal (ITB),
Prof. Dr. Darminto (ITS) dan Dr. Retna Apsari, M.Si. (UNAIR) yang telah meluangkan waktunya
untuk memberikan pencerahan dan berbagi pengalaman kepada kami. Terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada seluruh anggota panitia dan pimpinan Fakultas Sains dan Teknologi Unair, karyawan
dan mahasiswa atas kerjasama dan perjuangannya demi kelancaran acara ini. Semoga kerjasama dan
kebersamaan ini senantiasa terjaga demi kemajuan Prodi S1 Fisika FST Unair.
Terima kasih juga kami sampaikan kepada para sponsor yang telah berkenan memberikan
kontribusi kepada kegiatan seminar ini dan semoga kerjasama ini dapat terus terbina di masa yang
akan datang. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada para undangan baik sebagai pemakalah
maupun sebagai peserta seminar ini, atas partisipasi bapak dan ibu seminar ini dapat berjalan dengan
baik. Atas nama panitia, kami mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan
dan kekurangan pelaksanaan seminar ini.
Akhirnya kami ucapkan selamat ber-seminar, semoga Seminar Nasional Fisika Terapan III
tahun 2012 bermanfaat bagi kita semua dan sampai jumpa pada kegiatan seminar yang akan datang.
Semoga Alloh S.W.T senantiasa memberikan Rahmat & Hidayah kepada kita untuk membangun
bangsa yang mandiri. Sukses selalu.

Wassalam,
Surabaya, 15 Septmber 2012
Ketua Panitia SNAFT-III-2012

Dr. Moh. Yasin, M.Si.
NIP. 196703121991021001
ii
 

 
iii
SUSUNAN PANITIA
SEMINAR NASIONAL FISIKA TERAPAN III 2012

Steering Committee:
Dekan Fakultas Sains dan Teknologi : Prof. Win Darmanto, M. Si., Ph.D.
Wakil Dekan I Fakultas Sains dan Teknologi : Dr. Nanik Siti Aminah, M.Si.
Wakil Dekan II Fakultas Sains dan Teknologi : Drs. Pujiyanto, M.S.
Wakil Dekan III Fakultas Sains dan Teknologi : Drs. Hery Purnobasuki, M.Si., Ph.D.
Ketua Departemen Fisika : Drs. Siswanto, M.Si.

Organizing Committee:
Ketua : Dr. Moh. Yasin, M.Si.
Sekretaris : Herlik Wibowo, S.Si., M.Si.
Bendahara : Dr. Suryani Dyah Astuti, M.Si.

Sie Tim Naskah : Drs. Siswanto, M.Si.
Prof. Dr. Suhariningsih
Dr. Retna Apsari, M.Si.
Dr. Soegianto S, M.Si.
Drs. R. Arif Wibowo, M.Si.
Drs. Bambang S., M.Si.

Sie Prosiding (ISBN) : Samian, S.Si., M.Si.
Yoseph Ghita Y., S.Si.

Sie Dana : Drs. Pujiyanto, MS
Dr. Prihartini W., drg., M.Kes.
Mahniza, SH.

Sie Acara : Dyah Hikmawati, S.Si., M.Si.
Franky Candra S. A., ST, MT
Ir. Aminatun, M.Si.

Sie Promosi, Akomodasi, dan Gedung : Drs. Adri Supardi, M.S.
Supadi, S.Si., M.Si.
Winarno, S.Si
M. Farid
Muhammad Taufik
Imam Soegiarto


 
iv
Sie Website : Farid Andriansyah, S.Kom
M. Fajar Shodiq, ST

Sie Konsumsi : Lies Wismaningtias, S.Sos.
Endang S, S.Sos.

Sie Kesekretariatan : Delima Ayu Saraswati, ST, MT
Nuril Ukhrowiyah, S.Si., M.Si.
Prima Sari Wijayani, S.Si.
Dwi Hastuti, ST
Erlina
Mufid K.

Sie Dokumentasi : Drs. Djoni Izak R., M.Si.
Mashuri

Sie Perlengkapan : Imam Sapuan, S.Si., M.Si.
J an Ady, S.Si., M.Si.
Deni Arifianto, S.Si.
Denny Fikasa
Siman


DAFTAR ISI
Halaman
Sambutan Ketua Program Studi S1 Fisika …………………………………………………… i
Kata Pengantar Ketua Panitia ………………………………………………………………… ii
Susunan Panitia ………………………………………………………………………………. iii
Daftar Isi ……………………………………………………………………………………… v
A. BIDANG KAJIAN FISIKA TEORI DAN FISIKA KOMPUTASI
Studi Numerik Reduksi Separasi Aliran 3D Melalui Penambahan Bluff Rectangular
Turbulator (BRT) (Studi Kasus Di Daerah J unction Asymmetry Airfoil 9C7/32.5C50)
Heru Mirmanto, Sutrisno, Herman Sasongko ……………………………………………... A 1
Karakteristik Aliran 3 Dimensi Di Sekitar Bodi Modifikasi Sapuangin Urban Concept
(Studi Numerik Pengaruh Ground Clearance)
Heru Mirmanto, Wawan Aries Widodo, Ahmad Haidar Nashruddin ……………………... A 7
Decomposing Knowledge System as High End of Universe Evolution The benefit for
Theoretical Physics and Future Science
Md Santo ……………………………………………………………………………………... A 13
Hydrothermal Non-Linear Waves (Hnlw) Using Bekki-Nozaki Amplitude Holes Equation As
A Clinical Non-Invasive Predictor For Interventricular Septum Wall Dysfunction Related
To Cardiac Excitation
Ricardo Adrian Nugraha …………………………………………………………………..... A 23
Perbandingan Metode Segmentasi Warna untuk Ekstrasi Citra Mycobacterium Tuberculosis
Hasil Pewarnaan Ziehl – Neelsen
Riries Rulaningtyas, Andriyan B. Suksmono, Tati L.R. Mengko, Putri Saptawati, Franky
Chandra, Winarno …………………………………………………………………………… A 29
Uji Karakteristik Modul Surya Dengan Menggunakan Sun Simulator Sederhana Serta
Pendekatan Komputasi
Satwiko S.. ……………………………………………………………………………………. A 36
Metode Gradien Vertikal Gayaberat Mikro Antar Waktu Dan Aplikasinya
Supriyadi, Sarkowi …………………………………………………………………………... A 39
Eksplorasi Metode Deteksi Tepi Pada Pemrosesan Citra Digital Untuk Menemukan Metode
Deteksi Tepi Alternatif Yang Lain
Aslan Alwi, Munirah Muslim ……………………………………………………………….. A 45
Investigasi Analitik Persamaan Osilator Harmonik Dengan Gaya Luar Bergantung Waktu
Eko Juarlin ………………………………………………………………………………….. A 49
Simulasi Efek Terobosan Struktur Penghalang Ganda Semikonduktor Menggunakan
Algoritma Numerov
Eko Juarlin …………………………………………………………………………………... A 51
Mesin Carnot Kuantum Dengan Dua Partikel Boson
Herlik Wibowo, Agus Purwanto, Eny Latifah …………………………………………….... A 55
Solusi Persamaan Schrodinger Untuk Potensial Non Sentral Kombinasi Potensial Coloumb
Plus Pöschl -Teller I Menggunakan Metode Nikiforov-Uvarov
Jeffry Handhika, Suparmi, Cari …………………………………………………………….. A 63
v
Selaras Nada Internasional A440 Untuk Nada Gamelan Saron Pelog Menggunakan
Pendekatan Frekuensi
Joko Catur Condro Cahyono ………………………………………………………………... A 68
Peningkatan Kualitas Citra Rekonstruksi melalui Kombinasi Citra Tomografi Listrik dan
Akustik
K. Ain, D. Kurniadi, Supriyanto, O. Santoso, A.P. Wibowo ……………………………….. A 71
Rekonstruksi Sinyal Suara Melalui J aringan Nirkabel Menggunakan Sparse Sampling
Vivien Fathuroya, Sekartedjo, Dhany Arifianto ……………………………………………. A 78
Metode Rekonstruksi Summation Convolution Filtered Back Projection (SCFBP) dan
Algebraic Reconstruction Technique (ART) dalam Sistem Tomografi Ultrasound Ring
Array Berbasis Time of Flight
Nuril Ukhrowiyah, Khusnul Ain, Retna Apsari …………………………………………….. A 82
B. BIDANG KAJIAN FISIKA MATERIAL DAN BIOMATERIAL
Studi Infiltrasi Tubulus Dentin Berbasis Hidroksiapatit yang Berpotensi untuk Terapi
Dentin Hipersensitif
Aditya Iman Rizqy, Aminatun, Prihartini Widiyanti ……………………………………….. B 1
Pengaruh Variasi Temperatur Terhadap Suseptibilitas Barium M-Heksaferit Tersubstitusi
Ion Zn (BaFe11,4Zn0,6O19)
Aghesti W Sudati, M Zainuri, Ariza N Kosasih …………………………………………….. B 5
Pengaruh Penambahan Hidroksiapatit terhadap Karakteristik Amalgam High Copper tipe
Blended Alloy
Aminatun, Siswanto, Ertika Auliana Dainti ………………………………………………... B 9
Absorbent Dressing Sponge Berbasis Alginat-Kitosan Berkurkumin Untuk Luka Derajat
Eksudat Sedang-Besar
Arindha Reni Pramesti, Dyah Hikmawati, Nanik Siti Aminah ……………………………. B 13
Pengaruh Variasi Waktu Milling Terhadap Sifat Fisis Seng Fosfat Dan Nano Zinc Oxide
Dessy Mayasari ………………………………………………………………………………. B 23
Analisis Struktur dan Sifat Magnetik Paduan Magnet Nanokristalin Barium Heksaferit
BaFe12O19 dengan Metode Mechanical Milling
Eva Hasanah, Agus Setyo Budi, Wisnu Ari Adi, dan Iwan Suguhartono …………………. B 28
Pengaruh Variasi pH Pelarut HCl Pada Sintesis Barium M-Heksaferrit dengan Doping Zn
(BaFe11,4Zn0,6O19) Menggunakan Metode Kopresipitasi
Irwan Ramli, Inayati N. Saidah, Findah R. S dan M. Zainuri …………………………….. B 32
Sintesis dan Karakterisasi Komposit Hidroksiapatit dari Tulang Sotong (Sepia sp.)-Kitosan
untuk Kandidat Aplikasi Bone Filler
Istifarah, Aminatun, Prihartini Widiyanti ………………………………………………….. B 37
Sintesis Makroporus Komposit Kolagen Hidroksiapatit Sebagai Kandidat Bone Graft
Miranda Zawazi Ichsan, Siswanto, Dyah Hikmawati ……………………………………… B 44
Pengaruh Molaritas NaOH pada Sintesis Nanosilika Berbabis Pasir Bancar Tuban dengan
Metode Kopresipitasi
Munasir, Surahmat Hadi, Triwikantoro, Moch.Zainuri, Darminto ………………………. B 52


vi
Sintesis dan Karakterisasi nano-Komposit Hidroksiapatit/Kitosan Fosfat untuk Aplikasi
J aringan Tulang
Nanang Nurul Hidayat, Ra Irindah F.S, Siswanto, Dyah H. ……………………………… B 56
Pembuatan Hidrogel Kitosan – Glutaraldejid Untuk Aplikasi Penutup Luka Secara In Vivo
Nurul Istiqomah, Djony Izak R. …………………………………………………………….. B 62
Paduan Gel Getah Batang Pisang dengan PVA (Poly Vinyl Alcohol) sebagai Bahan Baku
Benang J ahit Operasi yang Absorbable
Satrio A., Perwitasari F.L.R., Agung B.A., D. Resti N., Ayu W., Aminatun ………………. B 65
Sintesis Dan Karakterisasi Semen Gigi Komposit Kalsium Fosfat-Kitosan
Siswanto, Jan Ady, Pipit Dewi Nugrahini …………………………………………………... B 69
Karakterisasi Pendeposisian Film Tipis Alumunium (Al) Pada Substrat Silikon Dengan
Sistem Sputtering ARC-12M
Slamet Widodo ……………………………………………………………………………….. B 74
Evaluasi Nilai Tahanan Internal Modul Panel Fotovoltaik (PV) Berdasarkan Pemodelan
Kurva I(V) Normal Light dan Dark Current
Yanuar, Lazuardi Umar, Rahmondia N. Setiadi …………………………………………… B 79
Studi Tentang Struktur Mikro Keramik-Geopolimer Berbahan Dasar Kaolin dan Abu Sekam
Padi Dengan Scanning Electron Microscopy (SEM) dan X-Ray Diffraction (XRD)
Abdul Haris, Indra Wulan Ramadhani, dan Subaer ……………………………………….. B 84
Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos Sondaicus) sebagai Bahan Bone
Filler Komposit Kolagen – Hidroksiapatit
Agnes Krisanti Widyaning …………………………………………………………………... B 87
Potensi Kolagen Kulit Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus) Sebagai Scaffold
Kolagen-Hidroksiapatit pada Bone Tissue Engineering
Ary Andini, DyahHikmawati, Sri Sumarsih ………………………………………………… B 92
Karakterisasi Genteng Berbahan Pasir Merapi Dengan Aditif Abu Kayu Albasia Untuk
Optimalisasi Daya Serap Air Dan Konduktifitas Panas
Chotibul Umam, Suparmi, Harjana ………………………………………………………… B 99
Upaya Perbaikan Kualitas Pada Proses Pembuatan Bioselulosa–Kitosan Dengan Gliserol
Sebagai Plasticizer Serta Pemanfaatannya Dalam Bidang Medis Sebagai Penutup Luka
Djony Izak Rudyardjo dan Riesca Ayu Kusuma Wardhani ……………………………….. B 105
Sintesis Dan Studi Karakteristik Mekanik Keramik Refraktori Dengan Variasi Komposisi
Unsur Dan Suhu Sintering
Jan Ady, Indra Suci Rahayu ………………………………………………………………… B 111
Karakterisasi In Vitro Dan In Vivo Komposit Alginat - Poli Vinil Alkohol – ZnO Nano
Sebagai Wound Dressing Antibakteri
Perwitasari F. L. R, Aminatun, S. Sumarsih ……………………………………………….. B 115
Sintesis dan Karakterisasi Bioselulosa–Kitosan Dengan Penambahan Gliserol Sebagai
Plasticizer
Riesca Ayu Kusuma Wardhani dan Djony Izak Rudyardjo ………………………………... B 119
Molecular Dynamics Study of Temperature Effect on Layered Graphene
Rizal Arifin, Angga Prasetyo, S.K. Lai ……………………………………………………… B 125
Sifat Optik Kaca Telurium Oxide Yang Terdadah Ion Erbium
Rudi Susanto, Ahmad Marzuki, Cari, Adi Pramuda, Wahyudi ……………………………. B 129
vii
Proses Sintesis Indium Tin Oksida (ITO) Nano Partikel Dengan Metode Sol Gel Sebagai
Lapisan Aktif Pada Sensor Gas CO
Slamet Widodo ……………………………………………………………………………….. B 132
Sintesis Dan Karakterisasi Hidroksiapatit Makropori Untuk Aplikasi Bone Filler
Wida Dinar Tri Meylani, Djoni Izak R., Siswanto ………………………………………….. B 137
Upaya Perbaikan Sifat Mekanik Plastik Edibel Berbasis Pati Melalui Penambahan Selulosa
Diasetat dari Serat Nanas
Siswanto, Jan Ady, Pradita Denia Abrista ………………………………………………….. B 144
Sintesis Bahan Cetak Gigi Natrium Alginat dari Alga Coklat Sargassum sp. yang
Berpotensi Untuk Aplikasi Klinis
Windi Aprilyanti Putri, Siswanto, Prihartini Widiyanti ............................................. B 148
C. BIDANG KAJIAN FISIKA OPTIK

Chalcogenide Ge-Te-In for photonics applications
A. Zaidan, Vl. Ivanova, Y. Trifonova, P. Petkov ……………………………………………. C 1
Serat Optik Sebagai Sensor Kadar Ion Timbal Dalam Air
Samian ……………………………………………………………………………………….. C 5
Pengaruh Suhu Pada Pengukuran Pergeseran Dengan Menggunakan Serat Optik Berstruktur
SMS (Singlemode-Multimode-Singlemode) Dan Otdr (Optical Time Domain
Reflectometer)
Aslam Chitami Priawan Siregar, Agus Muhamad Hatta …………………………………... C 8
Pergeseran Mikro Fiber Optik Pada Variasi Gandengan
Badrul Wajdi …………………………………………………………………………………. C 14
Pengukuran Kadar Glukosa dalam Air Destilasi Menggunakan Fiber Coupler
Fina Nurul Aini, Samian, dan Moh. Yasin …………………………………………………. C 18
Design And Operation Of Fiber Optic Vibration Sensor Using Fiber Coupler Probe
M. Yasin ……………………………………………………………………………………… C 21
Sensor Ketinggian Zat Cair Menggunakan Serat Optik Yang Dikupas
Supadi ………………………………………………………………………………………... C 25
Optimasi Interferometer Michelson Real Time Untuk Deteksi Koefisien Muai
Termal Composite Nanofiller
Ersti Ulfa A, Retna Apsari, Y. G. Y. Yhuwana ………………………………………….. C 27
Sistem Deteksi Fitur Wajah Manusia Menggunakan Sumber Pustaka Terbuka dan Kamera
Web Pada Rentang Cahaya Tampak
Y. G. Y. Yhuwana ..................................................................................................................... C 32
D. BIDANG KAJIAN FISIKA INSTRUMENTASI DAN PENGUKURAN

Aplikasi Metode Kontrol Optimal Pada Sistem Konversi Energi Tenaga Angin
Ahmad Nadhir, Agus Naba, Takashi Hiyama ……………………………………………… D 1
Pengembangan Sistem Instrumen Portabel Berbasis PC & µC Untuk Alat Bantu Eksperimen
dan Pengajaran Fisika
Didik R. Santoso ……………………………………………………………………………... D 6

viii
Sistem Instrumentasi Sinyal Electrocardiography untuk Analisa Dinamika J antung
Eko Agus Suprayitno, Achmad Arifin ………………………………………………………. D 12
Rancang Bangun MISO (Multi Input Single Output) Converter Pada Sistem Hybrid 48 Volt
Untuk Proyek Rumah DC (Direct Curent)
Erna Istiqamah, Satwiko S, Taufik …………………………………………………………. D 18
Penggunaan Enclosed Spring Mounting Sebagai Peredam Getaran Pada Nail Maker
Machine Dengan Metode Transmisibilitas
Galih Anindita, Edy S. ………………………………………………………………………. D 22
Pengembangan Potensi Saluran Irigasi Untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro di
Pedesaan (Studi Kasus Desa Andungbiru Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo)
Hari Siswoyo, Teguh Utomo, Sugiarto, Maftuch, Mohammad Bisri, Sholeh Hadi ……….. D 28
Deteksi Sinyal ECG Irama Myocardial Ischemia dengan J aringan Saraf Tiruan
Muchammad Taufiq Bachrowi, Welina Ratnayanti Kawitana, Endah Purwanti …………. D 33
Perancangan Perangkat Lunak Audiometer Nada Murni dan Tutur untuk Diagnosis
Pendengaran
Sabrina Ifahdini S, Adri Supardi, Franky Chandra ………………………………………... D 39
Pencacah frekuensi resolusi 0.1ppm menggunakan IC tunggal mikrokontroller
Setyawan P. Sakti ……………………………………………………………………………. D 47
Optimasi Kontrol Multi-Objective Pada Sistem Kendali Iklim Greenhouse Menggunakan
Particle Swarm Optimization (PSO)
Son Haji, Katjuk Astrowulan, Rusdihanto E.AK. …………………………………………... D 51
Audiometer Berbasis Mikrokontroller AVR ATmega 8535
Syevana Dita M, Triwiyanto, Bambang Guruh I. ……………………………………….….. D 54
Rancang Bangun Sun Simulator Menggunakan Light Emitting Diode Untuk Uji
Karakteristik Single Solar Cell
Ari W., Hanjoko P., Hadi N. ………………………………………………………………… D 63
Rancang Bangun Mesin Pemerah Susu Sapi dengan Sistem Elektro Pneumatik untuk
Meningkatkan Produktivitas Sapi Perah dan Kualitas Susu Sapi
Arief Abdurrakhman, Bambang Sampurno ………………………………………………… D 68
Studi Eksperimental Pengaruh Variasi Tegangan Listrik, Konsentrasi Katalis, dan
Temperatur terhadap Optimalisasi Sistem Elektrolisis Brown’s Gas
Arief Abdurrakhman, Harus Laksana Guntur ……………………………………………... D 74
Rancang Bangun Sisteem Monitoring dan Pengendalian Suhu Pada Inkubator Bayi Berbasis
Fuzzy logic
Fadillah Nufinda Rachman, Supadi, Tri Anggono Prijo …………………………………... D 80
Heater Of 2450 Mhz Microwave To Test Hyperthermia Invivo
Fadli Ama ……………………………………………………………………………………. D 85
Alat Kendali Drop Rate Infus Otomatis
Franky Chandra Satria Arisgraha, Kristio Mordhoko, Pujiyanto …………………………. D 88
Rancang Bangun Oksimeter Digital Berbasis Mikrokontroler ATMega16
Guruh Hariyanto, Welina Ratnayana K., Franky Chandra S.A. …………………………... D 92
Studi Uji Coba Wind Turbine Dengan Menggunakan Wind Tunnel Sederhana
Kristin Natalia, Satwiko S, Hadi N. …………………………………………………………. D 95
ix
Perancangan Kontroler Menggunakan Metode ANFIS Sebagai Pengendalian Lonjakan
Temperature Uap J enuh Untuk Menjaga Kestabilan Temperature pada Boiler Heat
exchanger WS-6
M. Fajar Shodiq J, Rusdianto Effendi AK, Ali Fathoni ……………………………….…… D 100
Rancang Bangun Syringe Pump Berbasis Mikrokontroler ATmega8535 Dilengkapi Detektor
Oklusi
Nada Fitrieyatul Hikmah, Imam Sapuan dan Triwiyanto …………………………………. D 105
Pengaruh J umlah Sudu Terhadap Daya Output Turbin Angin Bersumbu Horizontal
Diameter 1,6 Meter Sebagai Sumber Penyedia Listrik Pada DC House
Puji Suharmanto, Satwiko Sidopekso, Taufik ……………………………………………… D 114
Penerapan Model switch T Pada Rangkaian Kolektor Data Electrical Capacitance
Tomography
Saikhul Imam, Muhammad Rivai …………………………………………………………... D 121
Desain Lampu DC pada Sistem 48 Volt sebagai Sumber Penerangan pada Proyek Rumah
DC
Setiadi N, Satwiko S, Taufik ………………………………………………………………… D 124
Perencanaan Sistem Pendaratan Otomatis Pada Pesawat Trikopter Berbasis Ardupilot
Sigit Wasista, Setiawardhana ………………………………………………………………... D 131
Pengembangan Elektrokardiografi (EKG) Portable Sebagai Wujud Teknologi Tepat Guna
Tyas Istiqomah, Welina Ratnayanti K, Franky Candra SA. ……………………………….. D 136
Rancang Bangun Unit Enkripsi Suara Berbasis Mikrokontroler Atmega 8535
Bambang Suprijanto ………………………………………………………………………… D 142
Rancang Bangun Heart Rate Monitoring Device (Hrmd) Sebagai Pemantau Bradikardi Dan
Takikardi Berbasis Mikrokontroler
Thieara Ramadanika, Retna Apsari

, Delima Ayu S. ............................................................. D 146
E. BIDANG KAJIAN BIOFISIKA, FISIKA KEDOKTERAN, DAN FISIKA
NUKLIR

Kajian Biofisika Terapi Akupunktur Dengan Elektrostimulator
Welina RK dan Trianggono Priyo ………………………………………………….. E 1
Perubahan Bioenergi Pada Mencit (Mus Musculus) Akibat Rangsangan Laser Di
Titik Akupunktur
Andriyana, Suhariningsih, Puspa Erawati …………………………………………. E 5
Implementasi Learning Vector Quantization (LVQ) sebagai Alat Bantu Identifikasi
Kelainan J antung Melalui Citra Elektrokardiogram
Fatimatul Karimah, Endah Purwanti ………………………………………………. E 10
Optimasi Dosis Energi Penyinaran LED Biru (430 nm) Untuk Fotoinaktivasi Bakteri
Staphylococcus epidermidis
Suryani Dyah Astuti, Endah Robiyati, Agus Supriyanto …………………………... E 13
Deteksi Dua Belas Sadapan Sinyal Elektrokardiogram Untuk Mengenali Kelainan
J antung Menggunakan J aringan Saraf Tiruan Dengan Metode Backpropagation
Talitha Asmaria, Endah Purwanti ………………………………………………….. E 18

x
Deteksi Kanker Paru-Paru Dari Citra Foto Rontgen Menggunakan J aringan Saraf
Tiruan Backpropagation
Tri Deviasari Wulan, Endah Purwanti ……………………………………………... E 21
Penentuan Respon Optimal Fungsi Penglihatan Ikan Terhadap Panjang Gelombang
Dan Intensitas Cahaya Tampak
Welina Ratnayanti Kawitana dan Fita Fitria ………………………………………. E 24
Superior Variety Characterization Of Nila Fish (Oreochromis Sp.) In Broodstock
Center Pbiat J anti, Klaten Based On Morphological Characteristic, Protein Banding
Pattern And Total Protein Content
Joko Aribowo, Sutarno, Sunarto ……………………………………………………. E 28
Potensi Induksi Medan Magnet Eksternal untuk Efektivitas Fotoinaktivasi Bakteri
Patogen
Nike Dwi G. D., Suryani Dyah Astuti, Moh. Yasin ………………………………… E 37
Rancang Bangun Alat Pengukur Kadar Gula Darah Menggunakan Metode Optik
Untuk Penderita Diabetes
Ninik Irawati, Delima Ayu Saraswati dan Moh. Yasin …………………………..... E 40
Analisis Efek Akupuntur Pada Sinyal EEG Berbasis Spectrogram
Robinsar Parlindungan ……………………………………………………………... E 44
Analisis Spektrum Frekuensi Sinyal Surface EMG untuk Mengukur Tingkat
Keletihan Otot
Triwiyanto ……………………………………………………………………………. E 51
Klasifikasi Normal, Abnormal, dan Non-Spermatozoa Manusia Menggunakan
Backpropagation Neural Network
Winarno, K.E. Purnama, S. Hardiristanto, M.H. Purnomo ……………………….. E 58
F. BIDANG KAJIAN PENDIDIKAN FISIKA, FISIKA LINGKUNGAN, DAN
LAIN-LAIN

Pembuatan Program Simulasi Eksperimen Boyle-Gay Lussac Berbasis Komputer Sebagai
Media Pembelajaran Fisika di SMA
Ambrosius Advent Wiyono, Herwinarso, Tjondro Indrasutanto …………………………... F 1
Pengembangan Video Eksperimen Pembelajaran Inquiry Pada Bahasan Kapilaritas
Farita Saragih, J.V. Djoko Wirjawan, G. Budijanto Untung ……………………………… F 6
Penerapan Model Pembelajaran Langsung Berbantuan Media Berbasis Komputer untuk
Meningkatkan Prestasi Belajar Alat-Alat Optik bagi Siswa di Smak Diponegoro Blitar
Feby Restiana Dewi, I Nyoman Arcana, dan G. Budijanto Untung ………………………. F 13
Pemanfaatan Pembelajaran Fisika Berbasis Web dalam Meningkatkan Interaksi Belajar
Mahasiswa
Heni Safitri, Herawati, Widiasih ……………………………………………………………. F 17
Pengembangan Program Dry lab dalam Pembelajaran Fisika sebagai Media Pembelajaran
J arak J auh
Herawati, Heni Safitri, Widiasih ……………………………………………………………. F 21
Pemanfaatan Laboratorium Fisika Sma Rsbi Di Kabupaten Sleman Yogyakarta Tahun 2012
Heru Wahyudi ……………………………………………………………………………….. F 25
xi
Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Berbasis Komputer Tentang Kinematika
Gerak Lurus
Jane Koswojo, Nyoman Arcana, J.V. Djoko Wirjawan …………………………………….. F 32
Pengembangan Media Pembelajaran Fisika Berbasis Video Tentang Usaha Dan Energi
Martha Kustiani, Sugimin W. Winata, Herwinarso ………………………………………... F 40
Penentuan J enis Dan Kadar Radionuklida Pada Air Di Sepanjang Daerah Aliran Sungai
Brantas Dengan Metode Analisis Pengaktivan Neutron(Apn)
Nur Aini Maftukhah, Suryani Dyah Astuti, Arif Wibowo ………………………………….. F 45
Penelitian Rekayasa Kompor Wajan Listrik Batik Cap
Suharyanto …………………………………………………………………………………… F 49
Analisis Pengetahuan Masyarakat Terhadap Pentingnya Sikap Tanggap Bencana Di
Wilayah Rawan Bencana Pesisir J awa Timur
Eko Hariyono ………………………………………………………………………………... F 54
Pemisahan Banyak Sumber Suara Mesin Berputar Dengan Metode Li-Tifrom Blind Source
Separation
Galih A, Dhany Arifianto ……………………………………………………………………. F 58
Pengembangan Bahan Ajar Fisika Sma Kelas X Pada Materi Gelombang Elektromagnetik
Dengan Aplikasi Spreadsheet Excel
Heru Edi Kurniawan ………………………………………………………………………… F 62
Perancangan Strategi Program Perkuliahan Fisika Untuk Meningkatkan Kemampuan
Menganalisis Dan Mengevaluasi Mahasiswa J urusan Teknik Kimia Politeknik Negeri
Bandung
I Gede Rasagama, Kunlestiowati Hadiningrum, Mukhtar Ghozali ………………………... F 67
Berpikir Tingkat Rendah Menuju Berpikir Tingkat Tinggi
Kus Andini Purbaningrum ………………………………………………………………….. F 75
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Fisika Smp Pada Materi Hukum-Hukum Newton
Yang Mengintegrasikan Perilaku Berkarakter
Laily Maghfirotunnisa ………………………………………………………………………. F 82
Pembuatan Media Pembelajaran Fisika SMA Berbasis Komputer untuk Subpokok Bahasan
Tegangan Permukaan Zat Cair
Laurensius Prasanna Eko Murti Widodo, Herwinarso, Tjondro Indrasutanto …………… F 91
Meningkatkan Respons dan Prestasi Belajar Siswa Melalui Pengajaran Langsung dan
Interaktif pada Bahasan Gerak
Nanik Fuji Lestari, I Nyoman Arcana, dan J.V. Djoko Wirjawan ………………………… F 97
Penggunaan Media Pembelajaran Im3 Ditinjau Dari Kemampuan Berfikir Siswa
Nasrul Rofiah H, Jeffry Handhika ………………………………………………………….. F 101
Mendeley for Scientific Research Support: a Review
Rahma Martiana, Rizal Arifin, and Irawati ………………………………………………… F 105
Penerapan Game Puzzle untuk Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa Kelas
VIII A SMP Katolik Santo Stanislaus I Surabaya pada Materi Hukum Newton
Ria Tekat Puspitaningrum, I Nyoman Arcana, J.V. Djoko Wirjawan …………………….. F 108
Pengembangan Media Pembelajaran Fisika SMA Bilingual READ PRO pada Bahasan
Radiasi Benda Hitam
Theresia Anata, I Nyoman Arcana, J.V. Djoko Wirjawan …………………………………. F 115
xii
xiii
Penerapan Pembelajaran Berbasis Kegiatan Laboratorium dengan Pendekatan Tutor Sebaya
untuk Meningkatkan Kompetensi Mahasiswa dalam Kuliah Fisika Terapan
Usmeldi ………………………………………………………………………………………. F 120
Penerapan Model Pembelajaran STAD dengan Metode Demonstrasi untuk Meningkatkan
Keaktifan dan Prestasi Belajar Fisika
Vironika, Herwinarso, I Nyoman Arcana …………………………………………………... F 124
Proses Terintegrasi Dalam Pembelajaran Pendidikan Tinggi: Kajian Kasus Pembelajaran
Mata Kuliah Fisika Komputasi Di J urusan Fisika ITS
Widya Utama, Melania Suweni, Dwa D Warnana, Bagus J Santosa, Syamsul Arifin ……. F 128



FISIKA TEORI  
FISIKA KOMPUTASI 
SEMINAR NASIONAL FISIKA TERAPAN III (2012) 
STUDI NUMERIK REDUKSI SEPARASI ALIRAN 3D
MELALUI PENAMBAHAN BLUFF RECTANGULAR TURBULATOR (BRT)
(STUDI KASUS DI DAERAH JUNCTION ASYMMETRY AIRFOIL 9C7/32.5C50)
Heru Mirmanto
1
, Sutrisno
2
, Herman Sasongko3
1,2,3Jurusan Teknik Mesin FTI, ITS, Surabaya
2Jurusan Teknik Mesin FTI, UK.Petra, Surabaya
Email : samir@ms.its.ac.id
Abstrak
Separasi aliran 3-D merupakan suatu bentuk kerugian energi aliran di daerah junction yang tidak dapat
dihindarkan. Kondisi ini dapat dijumpai pada interaksi wing dengan fuselage pada pesawat terbang atau
interaksi blade dengan hub pada famili mesin-mesin turbo, dll. Separasi aliran ini menyebabkan terjadinya
penyumbatan aliran (kerugian energi). Oleh karena itu perlu upaya mereduksi kerugian akibat separasi aliran
3D di daerah endwall junction. Penelitian ini dilakukan secara numerik untuk mengkaji perbandingan
karakteristik aliran di daerah interaksi endwall junction asimetri airfoil Bristish 9C7/32.5C50 akibat
penggunaan Bluff Rectangular Turbulator (BRT) dan tanpa BRT. Simulasi numerik menggunakan perangkat
lunak Fluent 6.3.26, model viscous Sk dengan kondisi Re = 10
5
. Dimensi BRT (d/C=4/10), Jarak Turbulator
dengan Bodi (L
d
/C = 2/3), Jarak turbulator dengan inlet flow (d/L
u
=0.075). Variasi angle of attack α = 4° dan
8°. Kaji kualitatif dilakukan terhadap visualisasi kontur kecepatan, streamline di sekeliling bodi, serta Isototal
pressure loss coefficient didaerah downstream. Sedangkan kaji kuantitatif dilakukan terhadap nilai surface
integral di daerah outflow. Penggunaan Bluff Rectangular Turbulator membuat aliran lebih turbulent, dimana
energi yang dimiliki lebih besar. Sehingga aliran ini lebih mampu mengatasi adverse pressure gradient.
Akibatnya posisi forward saddle point lebih mendekati leading edge bila dibanding tanpa turbulator. Hal ini
akan mempersempit luasan corner wake yang terjadi di blade upper surface, dengan demikian blockage aliran
dapat direduksi. Kondisi ini dibuktikan pada angle of attack 4°,8° penggunaan BRT dapat mereduksi Isototal
pressure loss coefficient sebesar 56%, 41%.
Kata Kunci: secondary flow, separation, vortex, bubble separation, airfoils, turbulent.

PENDAHULUAN
Kerugian energi yang terjadi di daerah junction
disebabkan oleh separasi aliran 3D. Kondisi ini dapat
dijumpai pada interaksi wing dengan fuselage pada
pesawat terbang atau interaksi blade dengan hub pada
famili mesin-mesin turbo, dll. Secara fundamental
fenomena terjadinya separasi aliran 3D diawali
dengan kajian terhadap bodi tunggal. Sebab separasi
aliran pada bodi tunggal hanya akibat interaksi aliran
viscous dua lapisan batas, yaitu bodi dan endwall.
Separasi aliran 3D selalu diawali terjadi saddle point
di depan leading edge. Saddle point adalah
bertemunya dua attachment line, yaitu attachment line
dari free-stream dan attachment line dari leading
edge selanjutnya aliran terseparasi secara 3D. ketika
bertemu dengan free-stream disampingnya akan
menimbulkan skewed boundary layer. Skewed
boundary layer inilah yang menyebabkan terjadi
adverse pressure gradient di depan leading edge.
Separation 3D bergerak secara roll-up dan bergerak
menyelimuti bodi. Formasi aliran tersebut membentuk
tapak kuda sehingga disebut dengan horse-shoe
vortex. Hal ini sesuai dengan penelitian yang
dipaparkan pertama kali oleh Tobak dan Peak, (1982).
Penelitian tersebut dilanjutkan oleh Surana dkk(2006)
dengan mengkaji fenomena separasi aliran 3D
diselesaikan secara exact theory dengan menggunakan
nonlinear dynamical system methods pada persamaan
Navier Stokes.
Separasi aliran 3D merupakan penyebab terbesar
terjadi kerugian hidrolis yang paling besar yaitu 50%.
Sedangkan kerugian hidrolis aliran yang lainnya
disebabkan oleh gesekan pada dinding sebesar 30%
dan bentuk atau profil sebesar 20%. Hal ini
dikemukan oleh Horlock dan
Lakshminnarayana(1987) yang terjadi pada axial
compressor. Separasi aliran 3D sering terjadi pada
kompressor dikarenakan aliran akan menghadapi
kenaikan tekanan. Oleh karena itu perlu upaya
mereduksi kerugian akibat separasi aliran 3D di
daerah endwall junction agar dapat meningkatkan
kinerja kerja suatu sistem.
Devenport melakukan penelitian dengan
memfokuskan pada penggunaan fillet radius konstan
di sambungan dasar antara wing dan endwall. Namun
pembahasan tersebut belum mampu merubah struktur
aliran. Kemudian Devenport dkk(1992) melanjutkan
penelitiannya dengan meletakan fairing didepan
leading edge, hasil yang didapatkan terjadi penurunan
nonuniformity, unsteadiness wake dan intensitas
turbulensi. Selain itu peneliti yang lain, yaitu
Steenaert dkk(2002) memaparkan hal yang serupa
yaitu pada sambungan fairing wing dan plat datar

A 1
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
ditemukan laminerisasi separasi vortex. Selain itu
modifikasi pada bodi tunggal pernah dilakukan oleh
Rosi(2009), dengan digunakannya fairing pada daerah
leading edge. Hasil eksperimental penggunaan fairing
berdampak terhadap berkurangnya adverse pressure
gradient, forward saddle point menjauh dari leading
edge dan intesitas vortex lebih mengecil. Hal ini yang
mengindikasikan bahwa terbentuknya blockage dan
aliran low momentum lebih menguasai pada bodi
tanpa fairing. Dampaknya aliran tersebut mengalami
penyumbatan lebih besar. Indikator tersebut
menginformasikan bahwa dengan menggunakan
fairing dapat berperan penting untuk mengurangi
terjadi separasi aliran 3D. Oleh karena itu diperlukan
upaya lain untuk mereduksi terjadi separasi aliran 3D.
Upaya lain mereduksi terjadinya separation 3D
dengan memperbesar energi momentum pada aliran
free stream. Penggunaan turbulator menghasilkan
aliran memiliki momentum dan intensitas turbulensi
besar yang lebih besar sehingga digunakan dalam
masalah ini. Beberapa peneliti seperti Yaghoubi dan
Mahmoodi(2004) melakukan eksperimental terhadap
karakteristik aliran di sekitar bluff rectangular
turbulator (BRT), hasilnya terjadi bubble separation
tepat setelah melintasi BRT. Titik reattachment aliran
atau berkembangnya kembali aliran pada kondisi
semula sangat ditentukan oleh dimensi BRT itu
sendiri. Hal ini didukung hasil simulasi yang telah
dilakukan oleh Suksangpanomrung dkk(2002)
dengan pengamatan kondisi unsteady. Pada penelitian
sebelumnya Djijali(1991) telah membandingkan hasil
numerik dan eksperimen pada kondisi steady.
Hasilnya pada aliran yang mendatar didekat endwall
mengalami hambatan, akibatnya aliran tersebut
bergerak ke atas dan streamline terbuka, kemudian
aliran tersebut bertemu dengan aliran free stream
diatasnya. Interaksi kedua aliran tersebut
menyebabkan streamtube menyempit sehingga
terjadi akselerasi aliran. Ketika aliran yang
terseparasi memiliki energi momentum yang cukup
untuk kembali ke posisi semula, peristiwa itu disebut
sebagai reattachment flow atau bubble separation.
Hal ini menyebabkan terjadi peningkatan intensitas
turbulensi dan momentum di dekat endwall.
Kemudian Velayati dan Yaghoubi(2005) melanjutkan
penelitian BRT yang diletakan secara pararel. Hasil
penelitian tersebut menyatakan untuk daerah endwall
dan tip, bubble separation size semakin kecil. Oleh
karena itu diperlukan pengkajian penggunaan BRT
untuk diaplikasikan mengurangi terjadinya separasi
3D di dekat endwall.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini akan menggunakan analisa simulasi
numerik Computation Fluid Mechanic(CFD) untuk
mengamati karakteristik aliran bodi tunggal British
9C7/32.5C50 dengan BRT dan tanpa BRT. Domain
simulasi ditunjukkan pada gambar 1. Dimensi BRT
(d/C=4/10), Jarak Turbulator dengan Bodi
(Ld/C=2/3), Jarak turbulator dengan inlet flow
(d/Lu=0.075). Variasi angle of attack(AoA)  = 4°
dan 8°. Karakteristik aliran free stream dengan Red
=10
5
, Intensitas turbulensi (Tu) 5%. Bidang depan
dinyatakan dengan initial condition velocity inlet,
bidang belakang dinyatakan dengan outflow,
sedangkan endwall dan bodi dinyatakan sebagai wall.
Sedangkan Bidang sisi kanan, kiri dan atas dinyatakan
sebagai symmetry.


Gambar 1 Domain Penelitian
Model viscous yang digunakan adalah Standard
K-Epsilon (SKE) dan kriteria konvergensi 10
-5
.
Selain itu hubungan antara perhitungan tekanan dan
kecepatan menggunakan SIMPLEC. Jumlah mesh
yang digunakan 2 juta, dengan bentuk mesh
Hexagonal dan kualiatas dibawah 0.6. Nearwall
treament menggunakan standart wall function,

A 2
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
sedangkan disretization equation menggunakan first
order.
Penelitian ini akan mengamati terjadi separasi
aliran 3D dengan menampilkan streamline aliran di
endwall. Efek penyumbatan aliran dipaparkan secara
kualitatif dan kuantitatif. Pemaparan secara kualitatif
dilakukan dengan cara menampilkan terjadi corner-
wake di suction side body khususnya disekitar
trailing edge. sedangakan terjadinya penyumbatan
aliran dipaparkan dengan kontur iso total pressure
loss di daerah downstream. Pada kajian kuantitatif
akan menampilkan persentasi reduksi iso total
pressure loss di daerah downstream.
HASIL DAN DISKUSI
Separasi aliran 3D diawali terjadi foward
saddle point(FSP) di depan leading edge, sama
seperti yang diungkapkan oleh Tobak dan
Peake(1982). Kemudian separasi aliran 3D bergerak
menelusuri bodi di kedua sisi, yaitu upper side dan
lower side. Pada sisi lower side aliran separasi 3D
terus bergerak menelusuri bodi menuju downstream.
Sedangkan aliran separasi 3D di sisi upper side
bergerak mendekati bodi dan bertemu dengan
backflow dari curlflow. Pertemuan ini menyebabkan
separasi aliran semakin hebat, kemudian berhadap
dengan adverse pressure gradient. Pada daerah
tersebut adverse pressure gradient disebabkan oleh
bentuk profile body. Separasi aliran 3D tersebut
tidak mampu menghadapi adverse pressure gradient
sehingga aliran berpusar yang disebut dengan vortex.
Pusaran aliran tersebut sering disebut sebagai corner
wake. Pada aliran terjadi corner wake merupakan
penyebab terjadi penyumbatan aliran.
Gambar 2 Topologi Aliran Melintasi Single Body Pada AoA 8°.

Pada AoA 8º terjadi corner wake lebih kuat. Hal
ini disebabkan oleh interaksi bertemunya attacment
line dari free stream upperside dan attachment line
dari lower side, yang disebut sebagai backward
saddle point(BSP)semakin menjauhi trailing edge.
Dampaknya vortex area akan semakin besar dan
menyebabkan corner wake semakin hebat. Selain itu
attachment line free stream upper side diantara
attachment line terbentuk backward saddle point dan
cross flow menyebabkan terjadi focus. Focus
merupakan jenis vortex baru yang bergerak ke arah
span bertemu dengan corner wake. Hal ini
menyebabkan terjadi corner wake semakin besar.
Pada gambar 2 dipaparkan topologi terjadi corner
wake pada AoA 8º.
Corner wake yang terbentuk akibat peningkatan
AoA akan semakin membesar, hal ini terjadi untuk
kedua jenis endwall. Penelitian ini tidak
memfocuskan pengamatan perbedaan AoA, namun
titik beratkan pada manfaat penggunaan BRT untuk
setiap AoA. Efektivitas penggunaan dengan BRT
dan tanpa BRT dibukti pada gambar 3, bahwa terjadi
corner wake di upper side dekat dengan trailing
edge mengalami pengecilan, baik pada AoA 4° dan
8°. Besar kecilnya formasi horseshoe vortex sangat
menentukan terjadi corner wake, sehingga
diperlukan ekplorasi lebih detail terhadap
berkembang horseshoe vortex di dekat trailing edge.
Formasi horseshoe vortex bermula pada terbentuk
FSP, namun perbedaan letak FSP tidak terlalu
signifikan perbedaannya antara tanpa BRT dan
dengan BRT.
Pada gambar 4 menjelaskan penelusuran
streamline aliran melintasi endwall. Pada setiap
AOA attachment line free stream penggunaan BRT
lebih berimpit dengan upper side body
dibandingkan tanpa BRT. Akibatnya BSP selalu
bergerak mendekati trailing edge akan menyebabkan
daerah vortex mengecil. Peningkatan AoA selalu
memicu terjadi curlflow semakin besar, hal ini
disebabkan perbedaan tekanan antara upperside
dengan lower side akan semakin besar. Selain itu
pada bodi di upperside defleksi skin friction line
lebih tajam menuju midspan dengan luasan
pengikisan vortex semakin lebar. Hal ini yang
menyebabkan intesitas vortex semakin lebar seiring
dengan peningkatan AoA.




A 3
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8

Tanpa BRT (α=4°) Dengan BRT (α=4°)


Tanpa BRT (α=8°) Dengan BRT (α=8°)

Gambar 3. Streamline Aliran Di Bodi Upper side .

Pada AOA 8º tanpa BRT tampak terjadinya
focus vortex. Vortex ini terjadi berawal dari ketidak
mampuan free stream melawan backflow dari BSP,
diperkuat oleh backflow dari curl flow yang
menyebabkan vortex yang baru. Semua vortex akan
bermuara pada corner-wake. Ini mengindikasikan
bahwa corner wake lebih menguasai sehingga
penyumbatan aliran(blockage) akan semakin besar.
Namun pada aliran dengan penggunaan BRT tidak
terjadi focus. Hal ini menunjukkan efektifitas BRT
dapat menghilangkan salah satu vortex yaitu focus di
daerah upperside. Selain itu penggunaan BRT sama
dengan sudut sebelumnya yaitu BSP semakin dekat
dengan leading edge.
Efek terjadi corner wake akan berdampak pada
penyumbatan aliran (blokage) di daerah
downstream. Pada gambar 5 menunjukkan kontur
koefisien axial total pressure loss di disepanjang
trailling edge. Informasi penyumbatan aliran akibat
aliran separasi 3D akan dipaparkan oleh nilai
koefisien axial total iso pressure losses yang
semakin besar. Pada kontur tersebut menggunakan
nilai 0-0.6. Pada Axial iso total pressure losses
dengan 0.6 menyatakan 60% kecepatan ke arah axial
akan tereduksi sebesar 60%. Kerugian hidrolis aliran
yang diinfomasikan berupa kontur koefisien axial
iso total pressure loss akan semakin seiring dengan
penambahan AOA. Hal ini sama yang terjadi pada
pemaparan vortex melalui streamline aliran.
Penggunaan BRT dapat mengurangi terjadi blockage
di dekat endwall dan trailing edge, dipaparkan pada
gambar 5 dengan AoA 4°. Area dengan nilai axial
iso pressure losses coefficient 0.6 dengan BRT
mengecil dibandingkan tanpa BRT. Pada pemaparan
tersebut kerugian akibat separasi 3D berkurang
sangat besar sehingga mendekati kerugian akibat
2D. Namun pada daerah upperside dekat endwall
terjadi kenaikan blockage yang diindikasi
peningkatan daerah 0.6. Selain itu daerah agak jauh
daritersebut dengan BRT dapat memperkuat aliran
sehingga kontur memperkuat 10% aliran.
Penggunaan BRT dapat memperkuat aliran pada
lower side di dekat trailing edge dan sedikit
menghambat aliran di dekat endwall ke arah lower
side. Pada AoA 8° yang terjadi hampir sama dengan
AoA sebelumnya.

A 4
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8

Tanpa BRT (α=4°) Dengan BRT (α=4°)


Tanpa BRT (α=8°) Dengan BRT (α=8°)
Gambar 4. Streamline Aliran Di Bodi Upper side .

Tanpa BRT (α=4°) Dengan BRT (α=4°)

Tanpa BRT (α=8°) Dengan BRT (α=8°)
Gambar 5. Kontur Koefisien Axial Iso Total Pressure Loss Pada Trailing Edge.


A 5
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
Pengamatan kerugian hidrolis dilakukan secara
kualitatif tidak dapat menginformasikan secara nilai
perbandingan secara tetap, sehingga diperlukan
pengkajian secara kuantitatif. Kajian ini dilakukan
dengan pemaparan nilai dari surface intergral
koefisien axial iso total pressure loss di outflow.
Pada tabel 1 memaparkan bahwa pada AOA 4º dan
8º, penggunaan BRT dapat mereduksi kerugian
hidrolis sebesar 56.64% dan 41.73%. Hal ini
menunjukkan bahwa efektifitas penggunaan BRT
pada kedua sudut adalah agak berbeda berbeda.
Semakin besar AoA maka efektifitasnya penggunaan
BRT menurun, namun pada kajian kualitatif efek
penggunaaan BRT pada AoA lebih besar dapat
mengurangi terjadi vortex yang besar. Hal ini
dibuktikan pada AoA 8° penggunaan BRT dapat
menghindari terjadi focus di upperside. Pada kajian
ini menyatakan bahwa penggunaan lebih baik
digunakan pada AoA yang kecil. Perbedaan antara
kedua AoA tersebut sebesar 15% lebih efektif
apabila digunakan pada AoA 4°.
Tabel 1.1 Axial Iso Pressure Losses Di Outflow.
Axial Iso Pressure Losses Coefficient
Endwall Angle of Attack
%
Tanpa BRT 4° 0.04135 0.00%
Dengan BRT 4° 0.01793 -56.64%
Tanpa BRT 8° 0.05073 0.00%
Dengan BRT 8° 0.02956 -41.73%

KESIMPULAN
Hasil penelitian ini memperihatkan bahwa
penggunaan BRT dapat memperkuat momentum
aliran sehingga aliran lebih tangguh menghadapi
hambatan aliran. Sedangkan dari kajian numerik
didapatkan bahwa penggunaan BRT dapat
menghasilkan beberapa karakteristik aliran, yaitu:
 Terbentuknya Foward Saddle Point (FSP)
lebih maju mendekati leading edge, walaupun
tidak signifikan.
 Backward Saddle Point (BSP) semakin
mundur mendekati Trailing edge.
 Formasi separasi aliran 3D semakin berimpit
dengan bodi, sehingga horseshoe vortex size
semakin kecil.
 Corner wake yang terbentuk upper side lebih
kecil dibandingkan tanpa BRT sehingga
blockage flow mengecil.
 Pada AoA 8° dapat menghilangkan terjadi
focus vortex.
 Efektifitasnya BRT pada AoA 4° dapat
mereduksi penyumbatan sebesar 56.64%,
sedangkan pada AoA 8° dapat mereduksi
penyumbatan sebesar 41.73%. Hal ini
menyatakan bahwa semakin besar AoA
efektifitas penggunaan BRT semakin kecil.
DAFTAR PUSTAKA
Devenport,W. J., dan Simpson, R. L.,(1990), Time
Dependent and Time Averaged Turbulent
Structure Near the Nose of a Wing-Body
Junction, Journal of Fluid Mechanic,
vol.210,pp.23-55.
Devenport, W.J., Simpson, R. L, dan Devenport, W.
J.,(1992), An Experimental Study of a Wing-
Body Junction and Wake Flow, AIAA
Journal-92-0434 99. 1-12.
Djilali.N, Gratshore.I.S,(1991), Turbulent flow
around a bluff rectangular plate, Part1:
Experimental investigation, ASME Trans.
Fluid Eng. 11(1991)51-59.
Horlock,J.H., Lakshminarayana, B.,(1987),
Leakage and Secondary Flows in
Compressor Cascades, Ministry of
Tecnology Aeronautical Research Council
Report and Memoranda No.3483.
Suksangpanomrung. A, Djilali.N, Moinat, P, (2002),
Large-eddy simulation of separated flow
over a bluff rectangular plate, Internasional
Journal of heat transfer fluid flow 21-655-
663.
Surana,A., Jacobs. G., Grunberg. O., Haller.
G.,(2006),Exact Theory of Three
Dimensional Flow Separation, Part II:Fixed
Unsteady separation, under consideration
for publication in Jurnal of Fluid Mechanics.
Rosi. Khoiril.,(2009), Studi Eksperimental dan
Numerik Efek Fairing Leading Edge
Terhadap Separasi Aliran 3D Pada Wing-
Body Junction. Thesis Program Magister,
ITS, Surabaya.
Velayati, E., Yaghoubi, M.,(2005),Numerical Study
of Convective Heat Tranfer From an Array
of Parallel Bluff Plate, International Journal
Elsevier of Heat and Fluid Flow 26-80-91.
Yaghoubi. M, Mahmoodi. S, (2004), Experiment
study of turbulent separated and reattached
flow over a finite blunt plate, Ekperimental
Thermal and Fluid Science 29- 105-112.



A 6
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
KARAKTERISTIK ALIRAN 3 DIMENSI DI SEKITAR BODI MODIFIKASI
SAPUANGIN URBAN CONCEPT
(STUDI NUMERIK PENGARUH GROUND CLEARANCE)
Heru Mirmanto
1
, Wawan Aries Widodo
2
, Ahmad Haidar Nashruddin
3

Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
Email : hmirmanto@gmail.com
Abstrak
Kebutuhan transportasi yang semakin meningkat menuntut adanya kendaraan yang berbasis hemat bahan
bakar. Kendaraan sapuangin adalah salah satu kendaraan yang dirancang khusus dengan tujuan berbahan
bakar hemat. Dengan bentuk bodi sapuangin yang sekarang dirasa masih bisa dimaksimalkan lagi bentuk
aerodinamika bodi yang menunjang kendaraan berbahan bakar. Fokus modifikasi yang dilakukan adalah di
bagian leading edge, rear end dan penambahan diffuser bawah belakang bodi. Dikarenakan kompleksnya aliran
3D, keterbatasan alat ukur dan tuntutan observasi dan visualisasi yang detail dari karakteristik aliran, maka
penelitihan ini dilakukan dengan metode numerik (CFD) menggunakan software Fluent 6.3.26. Pengambilan
data terdiri dari aliran melewati bodi 2D dan aliran melewati midspan bodi 3D. Pemilihan kondisi simulasi
digunakan model turbulensi k-ε realizible dan skema interpolasi second-order upwind. Re
L
=1,918x10
6
,
boundery condition untuk inlet adalah velocity inlet sebesar 11,11 m/s dan untuk outlet adalah pressure outlet.
Dari penelitihan dapat diketahui karakteristik aliran 3D di sekitar bodi sapuangin urban concept, baik bodi
standar ataupun modifikasi. Dari hasil postprocessing menunjukan bahwa bodi modifikasi terbukti lebih
aerodinamis dengan memiliki nilai C
D
sebesar 2,6 , yang lebih rendah 4,7% dibandingkan C
D
bodi standar
sebesar 2,73.
Kata kunci : Sapuangin, standar, modifikasi, pemodelan 2D, pemodelan 3D.

PENDAHULUAN
Perkembangan zaman dan teknologi menuntut
manusia untuk selalu dinamis. Penggunaan
transportasi menjadi solusi kongkrit untuk
mendukung peningkatan mobilitas manusia. Tercatat
bahwa penggunaan alat transportasi darat meningkat
seiring dengan peningkatan mobilitas manusia. Hal
ini diikuti pula dengan isu global mengenai krisis
energi yang semakin melanda dunia. Kebutuhan
akan transportasi yang semakin meningkat,
mengakibatkan meningkat pula energi yang
dibutuhkan. Transportasi merupakan sektor
pengkonsumsi minyak terbesar dengan 40,1% dari
total. Hal ini menuntut para produsen kendaraan
untuk dapat menghasilkan suatu kendaraan yang
memiliki tingkat efisiensi bahan bakar yang tinggi.
Empat parameter penting yang mendukung
kendaraan berbahan bakar hemat adalah berat
kendaraan, efisiensi mesin, cara mengemudi dan
gaya hambat aerodinamikanya. Dengan
berkembangnya ilmu aerodinamika yang begitu
pesat, maka sangat dimungkinkan mendesain bentuk
bodi kendaraan, khususnya mobil, yang memiliki
gaya hambat aerodinamika sekecil mungkin. Untuk
mengarah ke konsep optimalisasi dari bentuk
kendaraan tersebut, para peneliti biasa menggunakan
konsep aliran 2D maupun aliran 3D yang melintasi
suatu bodi. Analisa 2D mengenai fenomena aliran
sejak dahulu telah memunculkan berbagai macam
karakteristik aliran. Salah satunya adalah analisa
aliran melewati bodi tunggal yang sederhana
maupun dengan menyertakan pengaruh dinding (side
wall).
Bertitik tolak dari beberapa penelitian yang
sudah dilakukan dan fenomena diatas, perancangan
modifikasi kendaraan Sapuangin Urban Concept
merupakan suatu langkah strategis untuk
meningkatkan efisiensi pemakaian bahan bakar
dengan mengurangi gaya hambat aerodinamika pada
bodi kendaraan tanpa menyalahi regulasi shell eco-
marathon 2012.
Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk
mengetahui karakteristik aliran 3D beserta efek gaya
aerodinamika yang ditimbulkan pada saat melewati
bodi kendaraan Sapuangin Urban Concept dan bodi
modifikasi kendaraan Sapuangin Urban Concept.
METODOLOGI PENELITIAN
Dikarenanakan keterbatasan alat ukur dan
tuntutan visualisasi yang detail mengenai
karakteristik aliran melintasi bodi Sapuangin Urban
Concept maka penelitian ini menggunakan metode
numerik dengan software Fluent 6.3.26. berikut ini
adalah gambar geometri bagian bodi yang
dimodifikasi.


A 7
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8

Gambar 1. Geometri 2D bodi standar dan modifikasi

Gambar 2. Geometri 3D bodi standar (a) dan modifikasi (b)
Penentuan domain pemodelan merujuk pada
penelitihan berbasis vehicle aerodynamics yang
dilakukan oleh Damjanovic. Berikut ini adalah
domain pemodelan 2D dan 3D pada penelitihan ini.

Gambar 3. Domain pemodelan 3D-flow
Bentuk mesh yang dipilih untuk pemodelan 2D
adalah quadrilateral-map dan quadrilateral-pave.
Sedangkan untuk pemodelan 3D digunakan meshing
polyhedral dengan S-function. Berikut adalah
gambar meshing untuk pemodelan 2D dan
pemodelan 3D.


Gambar 4. Meshing 2D-flow

Gambar 5. Meshing 3D-flow
Model yang digunakan adalah model turbulen k-
ε realizable (RKE) dengan dipilih udara sebagai
fluida kerja dengan densitas (ρ) : 1,225 kg/m
3
dan
viskositas (μ) : 1,7894 x 10
-5
kg/m.s. kecepatan ke
arah sumbu x sebesar 11.11 m/s dan temperatur
sebesar 300 K (≈26,85
o
C). Boundary condition pada
outlet digunakan pressure outlet. Boundary
Condition pada kontur bodi kendaraan, bagian atas,
bawah dan samping (3D-flow) berupa wall. Agar
daya komputasi tidak terlalu besar juga digunakan
boundary condition berupa symmetry pada kasus
permodelan 3D-flow. Solusi pada penelitian ini
adalah menggunakan second order untuk pressure,
second order upwind untuk momentum turbulent
kinetic energy dan turbulent dissipation rate dengan
convergence criterion ditetapkan sebesar 10
-5
.
ANALISA DAN DISKUSI
A. Analisa Aliran 2 Dimensi
Segmentasi pemodelan 2D dilakukan untuk
mengetahui detail karakteristik aliran melewati bodi
standar maupun modifikasi pemotongan midspan.
Analisa pemodelan 2D ini digunakan untuk
menunjang analisa aliran 3D. Berikut ini adalah
penjelasan perbandingan grafik Cp untuk upperside
dan lowerside pada bodi standar dan bodi
modifikasi.

Gambar 6. Grafik distribusi Cp bodi standar dan modifikasi (2D-
flow)

A 8
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
Bentuk leading edge bodi standar yang
memiliki kontur tumpul membuat aliran yang akan
melintasi leading edge terdefleksi sangat kuat
sehingga membuat streamtube pada leading edge
konvergen dengan sangat cepat. Sedangkan dengan
adanya modifikasi pada leading edge di daerah dekat
hood yang lebih streamline mengakibatkan
konvergensi dari streamtube mulai melemah. Hal ini
terlihat dari perbedaan slope penurunan Cp yang
lebih rendah dibandingkan bodi standar. Artinya,
dengan adanya modifikasi ini sangat berkontribusi
terhadap penurunan tekanan di leading edge. Hal ini
pun terjadi pada aliran berikutnya (downstream)
yang memperlihatkan efek perubahan kontur leading
edge pada bodi modifikasi, sehingga membuat nilai
Cp yang lebih rendah bila dibandingkan dengan bodi
standar. Nilai Cp minimum pada bodi standar berada
pada x/l=0,637 dengan nilai Cp=-2,466. Sedangkan
untuk modifikasi nilai Cp minimum berada pada
x/l=0,663 dengan nilai Cp=-2,7.
Distribusi Cp yang diperlihatkan pada gambar
tampak dengan adanya modifikasi pada leading edge
membuat tekanan minimum di leading edge pada
bodi modifikasi lebih tinggi dan dengan kondisi
lebih tertunda dengan nilai Cp minimum=-1.11 pada
x/l=0,04, dibandingkan dengan tekanan minimum
bodi standar dengan nilai Cp minimum=-1.58 pada
x/l=0,038. Begitu pula pada aliran berikutnya
(downstream) di mana efek perubahan kontur
leading edge pada bodi modifikasi membuat nilai Cp
bodi modifikasi lebih tinggi bila dibandingkan
dengan Cp bodi standar. Selain itu juga, pengaruh
bentuk diffusor pada bagian belakang membuat
aliran pada bodi modifikasi memiliki tekanan lebih
rendah dan terseparasi lebih cepat yaitu pada
x/l=0,94.
Tabel 1. Informasi posisi medan aliran 2 dimensi untuk bodi
standar dan modifikasi
Parameter Segmen Standar Modif
Upperside x/l=0.637 x/l=0,663
Lokasi
minimum
pressure
Lowerside x/l=0,037 x/l=0,038
Lokasi titik
stagnasi
Upperside x/l=0 x/l=0
Upperside x/l=0.81 x/l=0.98
Lokasi titik
separasi
Lowerside x/l=0,986 x/l=0,97
Lokasi hilang-
nya Backflow
Down
stream
133% L 120% L

B. Analisa Aliran 3 Dimensi
Segmentasi pada pemodelan 2D yang
menunjang analisa medan aliran 3D diberikan
sebagai bentuk dasar evaluasi terhadap pengaruh
modifikasi leading edge dan rear end terhadap
karakteristik aliran 3D yang melintasi bodi.
Deskripsi tentang terbentuknya separasi 3D
diakibatkan oleh interaksi lapis batas pada sidebody
surface yang berkontraksi ke arah midspan dan
mempengaruhi karakteristik aliran disekitar
midspan. Kronologi separasi 3D pada daerah
interaksi ini bermula saat lapis batas pada sidebody
surface berlaku sebagai disturbance dan
menyebabkan terbentuknya vortisitas sekunder yang
memunculkan aliran sekunder pada daerah sidebody
surface. Hal ini membuat nilai Cp pada pemodelan
3D sedikit berbeda dibandingkan dengan nilai Cp
pada pemodelan 2D di mana terjadinya kenaikan
kecepatan di leading edge bagian upperside pada
pemodelan 3D berada pada tekanan yang lebih
rendah dibandingkan pemodelan 2D. Hal ini
mengindikasikan bahwa sebagian aliran yang
terbentuk pada pemodelan 3D terdistribusi ke arah
sidebody surface.
Untuk mendukung penjelasan di atas,
karakteristik aliran disekitar midspan yang mendapat
pengaruh dari efek sidebodymdapat dijelaskan secara
kualitatif melalui visualisi pathline dan kontur
tekanan pada bodi standar. Visualisi pathline dan
kontur tekanan pada bodi standar adalah sebagai
berikut.

Gambar 7. Visualisasi kontur tekanan statis dan velocity pathline
bodi standar
Melalui gambar di atas mengenai distribusi
tekanan pada kontur bodi secara keseluruhan tampak
bahwa tekanan pada leading edge sangat tinggi
ditandai dengan luasan kontur berwarna merah pada
daerah leading edge. Dari gambar juga terlihat
bahwa tekanan rendah terletak pada daerah roof
body mobil baik diatasnya maupun di sampingnya.
Hal ini menandakan aliran akan terdistribusi
dominan ke arah orthogonal pada saat mengenai
leading edge. Kemudian akan mengalami akselerasi
tajam menuju ke arah sidebody. Dari visualisai
pathline pada gambar 11, aliran yang akan melintasi
bodi bagian windshield terlihat sebagian aliran dari
daerah hood lebih memilih mengalir ke sidebody

A 9
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
surface yang memiliki favorable pressure gradient
lebih rendah dibandingkan pada windshield.
Untuk mendukung penjelasan karakteristik
aliran 3D pada daerah interaksi antar lapis batas
sidebody surface dengan lapis batas disekitar
midspan, dapat ditegaskan melalui visualisasi vektor
kecepatan dengan metode pemotongan searah axis
sebagai berikut.

(a)

(b)

(c)
Gambar 8. Distribusi vektor kecepatan (a) x=40%l, (b) x=60%l,
dan (c) x=80%l pada bodi standar
Dari gambar di atas terlihat sangat jelas adanya
vortex separasi 3D saat aliran melewati bodi.
Kronologi terjadinya vortex separasi 3D bermula
saat aliran di bawah kendaraan mengalir ke sidebody
kemudian berinteraksi dengan aliran di sidebody
yang memiliki perubahan bentuk kontur yang cukup
kompleks, yang akhirnya terjadi vortex separasi 3D.
Daerah itu bermula pada 40%L sampai 60%L
(gambar 10). Dari gambar 12 didapat bahwa
akumulasi distribusi aliran setelah leading edge pada
lowerside akan mengalir ke sidebody surface
dikarenakan hambatan aerodinamika terendah terjadi
pada daerah itu sehingga antar lapis batas cenderung
bertemu pada daerah tersebut.
Penjelasan mengenai fenomena aliran saat
melewati bodi modifikasi sama hal nya dengan
penjelasan di atas. Namun ada beberapa perbedaan
yang membuat bodi modifikasi dianggap lebih bagus
secara aerodinamika. Berikut ini adalah
perbandingan aliran 3 dimensi antar kedua bodi.

Gambar 9. Grafik distribusi Cp di upperside midspan bodi standar
dan modifikasi (3D-flow)
Dari grafik di atas terlihat bahwa bentuk leading
edge di upperside yang lebih streamline di daerah
hood pada bodi modifikasi tidak terlalu berpengaruh
pada perubahan tekanan di daerah tersebut. Hal ini
ditunjukan pada grafik Cp yang berhimpit pada
daerah tersebut. Walaupun terlihat nilai Cp yang
berhimpit antara nilai Cp standar dan modifikasi,
bentuk modifikasi ini cukup berpengaruh terhadap
aliran setelah melewati leading edge di mana terlihat
penurunan tekanan yang sedikit lebih landai saat
aliran dipaksa melewati streamtube menyempit dan
akhirnya mengalami separasi bubble. Setelah aliran
melewati daerah roof body, terlihat tren grafik yang
sangat mencolok antara bodi standar dan modifikasi,
di mana perubahan rear end pada bodi modifikasi
membuat separasi dapat lebih tertunda,
dibandingkan bodi standar. Pada bodi standar
terlihat separasi terjadi pada x/l=0.869 sedangkan
pada bodi modifikasi terjadi pada x/l=0.975.
Sedangkan untuk lowerside dapat dilihat,
dengan adanya modifikasi pada leading edge
membuat tekanan di leading edge pada bodi
modifikasi lebih rendah dibandingkan dengan bodi
standar dengan nilai Cp minimum = -1,22 pada
x/l=0.02 untuk bodi standar dan Cp minimum=-1,4
pada x/l=0,014 untuk bodi modifikasi. Setelah
melewati leading edge adanya modifikasi di sisi
leading edge menyebabkan pengaruh yang cukup
signifikan yang terlihat dari grafik di atas. Pada
grafik bodi modifikasi terlihat tren yang stabil
setelah aliran melewati leading edge, yaitu pada
x/l=0,2 sampai x/l=0,7. Sedangkan pada bodi
standar grafik cendrung naik setelah melewati
leading edge. Setelah itu terlihat adanya perbedaan
nilai Cp antara bodi standar dan modifikasi dengan
perbedaan yang cukup signifikan terlihat pada
penurunan nilai Cp sesaat sebelum aliran terseparasi.
Hal ini dikarenakan bentuk dari modifikasi bodi
bagian bawah belakang yang dibentuk diffuser.
Bentuk modifikasi tersebut membuat aliran
cendrung melewati bagian bawah sesuai dengan

A 10
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
kontur bodi dan secara bersamaan aliran akan
mengalami kenaikan tekanan lebih cepat dari bodi
standar.
C. Perhitungan Gaya Aerodinamika
Analisa mengenai data kuantitatif berupa gaya-
gaya aerodinamika diperlukan untuk penunjang
sekaligus menyimpulkan dari beberapa fenomena
yang disajikan pada data kualitatif di atas.
Perhitungan gaya drag pada bodi Sapuangin Urban
Concept baik pemodelan 2D maupun 3D didasarkan
penentuan control volume pada daerah midspan.
Metode kalkulasi untuk mendapatkan gaya drag
menggunakan persamaan momentum aliran yang
dipadu dengan pengintegralan secara numerik
dengan metode simpson 1/3. Sedangkan perhitungan
gaya lift pada bodi Sapuangin Urban Concept baik
pemodelan 2D maupun 3D didasarkan penentuan
control volume pada daerah midspan. Metode
kalkulasi untuk mendapatkan gaya lift menggunakan
persamaan selisih distribusi tekanan kontur
lowerside-upperside dan akumulasi distribusi gaya
geser kontur yang dipadu dengan pengintegralan
secara numerik dengan metode simpson 1/3.

Gambar 10. Perbandingan koefisien drag untuk masing-masing
pemodelan

Gambar 11. Perbandingan koefisien lift untuk masing-masing
pemodelan
Dari gambar di atas terlihat bahwa bodi
modifikasi yang sudah dilakukan terbukti cukup
efektif untuk mengurangi nilai C
D
sampai pada nilai
2,6 dibandingkan dengan bodi standar yang sudah
ada yaitu 2,73. Begitu pula gaya lift yang terjadi
pada bodi modifikasi cukup baik untuk ukuran
kendaraan di mana memiliki nilai C
L
negatif (-
0,0016). Adanya perbedaan antara nilai CD-CL pada
analisa 2D dan 3D diakibatkan adanya efek sidebody
saat aliran melewati bodi sapuangin.
D. Diskusi
Pembahasan lebih lanjut mengenai pengurangan
nilai coefficient of drag pada bodi modifikasi
sapuangin urban concept adalah kolerasi terhadap
pengurangan penggunaan bahan bakar pada
kendaraan tersebut. Sesuai dengan latar belakang
penelitian ini bahwa peningkatan penggunaan
transportasi yang signifikan menyebabkan
peningkatan kebutuhan kita akan energi. Salah satu
faktor yang mendukung kendaraan berbahan bakar
hemat adalah dengan memaksimalkan desain
aerodinamika bodi. Dengan bentuk bodi modifikasi
yang sudah dilakukan menghasilkan nilai C
D

berkurang sekitar 4,7% dari nilai sebelumnya.
Berikut ini adalah free body diagram yang
menggambarkan hubungan pengurangan gaya
drag dengan gaya yang dibutuhkan untuk
menggerakan kendaraan.

F
F
f
1

Gambar 12. Free body diagram gaya-gaya ke arah x
Dari free body diagram di atas menunjukkan
bahwa gaya drag adalah salah satu gaya yang
melawan gaya traksi (gaya yang dibutuhkan untuk
menggerakan kendaraan). Maka bila diasumsikan
besarnya gaya gesek yang terjadi pada roda bodi
standar dan modifikasi sama, fenomena penurunan
gaya drag akan diikuti pula dengan penurunan gaya
traksi.


Di mana terjadi penurunan nilai C
D
antara bodi
standard an modifikasi sebesar 4,7%. Sehingga
besarnya gaya drag (Fd) juga akan turun sebesar
4,7%. Maka besarnya daya yang dibutuhkan untuk
menggerakan kendaraan adalah
P = F v
P = Fd U

,
dengan U

konstan 11,11 m/s
Maka penurunan gaya drag sebesar 4,7% pada
bodi modifikasi sapuangin urban concept
menyebabkan daya yang dibutuhkan untuk
menggerakan kendaraan akan berkurang juga

A 11
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
sebesar 4,7%. Dari penganalisaan data di atas terkait
penurunan daya maka dapat disimpulkan bahwa
desain bodi modifikasi sapuangin urban concept
merupakan langkah strategis untuk menciptakan
kendaraan yang berbahan bakar hemat.
KESIMPULAN
Hasil analisa yang didapat dari studi numerik
menunjukan bahwa efek sidebody sangat
memberikan pengaruh terhadap karakteristik aliran
di sekitar midspan. Sebagian aliran yg mengalir ke
arah upperside surface memilih ke arah sidebody
dari pada ke arah midspan.
Bentuk modifikasi yang telah dilakukan di
bagian leading edge, rear end dan diffusor bodi,
berkontribusi terhadap penurunan tekanan di daerah
leading edge dan penundaan separasi point di
daerah rear end. Hal ini terlihat sangat jelas pada
performance aerodinamika di mana bodi modifikasi
memiliki aerodinamika yang lebih baik
dibandingkan dengan bodi standar.
Drag force yang ditimbulkan pada bodi standar
3D flow lebih besar 6,3% dibandingkan dengan drag
force pada bodi standar 2D flow. Sedangkan pada
bodi modifikasi 3D flow lebih besar 1,73%
dibandingkan dengan drag force pada bodi
modifikasi 2D flow. Perubahan geometri pada bodi
modifikasi terbukti lebih aerodinamis dibandingkan
dengan bodi standar dilihat dari penurunan drag
force sebesar 4,76% dan merubah positif lift force
menjadi down force.
DAFTAR PUSTAKA
Bao, F. and Dallmann, U.Ch. Some phisycal aspects
of separation bubble on a rounded backward
facing step, Science Direct.2003.
Barnard, R.H. Road Vehicle Aerodynamic Design:
An Introduction. 1996. UK.
Buchheim, R, Deutenbach, K.R., Luckoff, H.J., and
Leile, B. The Control of Aerodynamic
Parameters Infuencing Vehicle Dynamics,
SAE Journal, 850279.1986. Germany.
Choi & Lee. Ground Effect of Flow Around An
Elliptic Cylinder In A Turbulent Boundary
Layer, Journal of Fluid and Structures 14,
697-709. 2000. Korea.
Damjanović, Darko, Kozak, Dražan, Ivandić, Željko,
and Kokanović, Mato. Car Design As A New
Conceptual And CFD Analysis In Purpose Of
Improving Aerodynamics. 2010. Croatia.
Dharmadi Budi. BPS Kementrian Perindustrian.
2010. Jakarta, Indonesia.
Dyke, van. An Album of Fluid Motion, 4th edition.
1988. California
ESDM. BP Statistical Review of World Energy.
2011. Jakarta, Indonesia.
Fox Robert W, McDonald Alan T and Pritchard
Philip J. Introduction to Fluid Mechanics 7th
edition. 2008. USA.
Fukuda, Hitoshi, Yanagimoto, Kazuo, China,
Hiroshi, and Nakagawa, Kunio. Improvement
of Vehicle Aerodynamics by Wake Control,
JSAE Review 1,p.p. 151-155.1994. Japan.
Hucho, W.H., Janssen, L.J., and Emmelmann, H.J.
The Optimization of Body Details-A method
for Reducting the Aerodynamic Drag of Road
Vehicle, SAE Journal, 760185.
1975.Germany.
Hu Xingjun, Zhang Rui, Ye Jian, Yan Xu and Zhao
Zhiming, Influence of Different Diffuser
Angle on Sedan’s Aerodynamic
Characteristics. 2011. Chongqing 401120,
China
Katz, Joseph. Rece Car Aerodynamics : Designing
For Speed. 1995. Massachusetts.
Miliken, W. K. and Miliken, D. L. Forces on Bodies
in The Presence of The Ground. 1995.
Nicholas J, Mulvany, Chen, Li, Tu, Jiyuan, and
Anderson, Brendon.. Steady State Evaluation
of ’Two-Equation’ RANS Turbulence
Models Simulation for High-Reynolds
Number Hydrodynamic Flow. 2004. DSTO
Platform Division, Australia.
Prakoso, Anindito Bagus. Studi Numerik
Karakteristik Aliran 3 Dimensi Disekitar
Model Sapuangin Dengan Rasio Ground
Clearance Terhadap Panjang Model (C/L =
0.027). 2011. ITS Surabaya, Indonesia.
Purwanto, Widodo Wahyu Nugroho, Yulianto
Sulistyo, Dalimi, Rinaldy, Soepardjo,
Harsono, Wahid, Abdul, Dijan, Supramono,
Herminna, Dinna, Adilina, dan Teguh Ahmad.
Indonesia Energy Outlook & Statistics. 2000.
Jakarta, Indonesia.


A 12
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
DECOMPOSING KNOWLEDGE SYSTEM AS HIGH END OF UNIVERSE
EVOLUTION
THE BENEFIT FOR THEORETICAL PHYSICS AND FUTURE SCIENCE
Md Santo
Mobee Knowledge Services, Jakarta - Indonesia
Email : moesdar@gmail.com
Abstrak
Based on our previous study titling “Impact of Human System Biology – based Knowledge Management
(HSBKM) on Theoretical Physics” (presented at the “The International Conference on Mathematics and
Science “ – Surabaya Institute of Technology (ITS) 12-13 October 2011), further we took special emphasize to
get more comprehended on our Inverted Paradigm Method (IMP) which had been applied to our solid and
robust HSBKM model framework we had been developing since 2009.
The Inverted Paradigm Method (IPM) we used within context of Nature Knowledge Theory (NKT) actually not
exercised in isolation considering that the use of IPM require a Knowledge-intensive body of Science as target
in which we should do a kind of “reverse engineering” or top-down mechanism based on “of-proof” to an
accumulated Knowledge-base and/or Knowledge-repository. The Knowledge – base should already organized
systematically in term of their Taxonomy – Metadata management as well as their model framework The
candidate of intended target of IPM treated as applied Science are our 3 years of matured Human System
Biology-based Knowledge Management (HSBKM) model framework and Mobee Knowledge Competency
Capability Maturity (MKCCM) model as KM metrics. Both of them could be considered as solid and robust
Knowledge - intensive “Lab and Experimental Workplace 2.0” for further possibility advanced study. (
http://bit.ly/sZnFFn - “Guide to Inverted Paradigm method (IPM) : KM applied to discovering new Theoretical
Physics findings”). We succeeded to discover some theoretical constructs derived from KM applied to Physics
namely in Theoretical and/or Astro Physics - http://bit.ly/zVS7mF
Considering of the above mentioned, we claimed that the result of our study not anymore theoretically but
evidence-based empirically. The Knowledge-based metrics we developed and used are Knowldge – Value (KV)
measurement and k-constant applied to our HSBKM model framework
Within further study through reversing engineered upon the body of Knowledge model framework, we got at
least five interesting outcomes related with Theoretical Physics including the issue of Higgs Boson force
particle :
1. Emphasizing Graviton as the fourth fundamental force for the first time could be quantitatively assessed
through Knowledge Value (KV) measurement along with Knowon as our proposed fifth fundamental force
counterparting each other as “Duo-entity-force”.superposed boson particle
2. Complementing the work of CERN (The European Organization for Nuclear Research) – LHC ( Large
Hadron Collider) among other is Knowledge Management (KM) – based predictive searching on the hunt
for Higgs Boson (God Particle) compared with their non KM – based.
3. Knowon featuring as non-hypothetical massless particle, should be the strong candidate of the “hidden
variable of the Universe” thanks to its quantum consciousness as “psycho (consciousness) mediating
particle” counterparting Graviton factor as “somato mediating particle” becoming “Duo-entity-force” to
bridging the gap between quantum and classical mechanic.
4. Launching the “New (2012) Copernican Principle” campaign to mentioning the paramount importance of
Nature Knowledge Theory to addressing the coming of future Science (see http://bit.ly/KAIs2U ).
5. Within Nature Knowledge Theory, Knowledge which is Consciousness attributed, for the first time clarified
as one of the fundamental structure or fabric of Universe beside Matter and Energy as well as having traits
to be Independent to SpaceTime (IST) contrary with Matter and Energy which are Dependent to SpaceTime
(DST)
Key Words : Knowledge, Universe, Natureknowledgetheory, Knowledgemanagement, Theoreticalphysics,
Knowon, Knowledgevaluemeasurement, Invertedparadigmmethod, Ipm, Newcopernicanprinciple,
Humansystembiologybasedknowledgemanagement


A 13
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
INTRODUCTION
What is Inverted Paradigm Method (IPM) ? – (or
“Basic Science derived from Applied Science”), a
kind of “reverse engineering” through Knowledge
intensive organized systematically in term of their
Taxonomy – Metadata management as well as their
model framework . The essence of conventional or
classical scientific mindset shown by probability-
based step-by-step “deducto – hypothetico –
verificative” way of thinking. But, within “Inverted
Paradigm Method (IPM)” totally change in opposite
direction. It is called as possibility-based “reverse
engineering”, “evidence-based” or even “gnosis”.
The trend using IPM with its variations is
prominently exposed since the early 21th century, by
the fact that the scientific world occasionally
suffering from the “syndrome of the End of
Science”, a syndrome where Science get difficulties
in finding answer to many human complex
problems. IPM in essence using “Top – down
approach”, the approach in which we traces the
histories from the “top down”, that is, backward
from the present time. Other than that also, because
within Data-Information-Knowledge-Wisdom
(DIKW) continuum, Knowledge (in broad meaning)
epistemologically behaving higher level than the
behavior of D-I level
Background Information of Reverse Engineering
Reverse engineering is the process of
discovering the technological principles of a device,
object, or system through analysis of its
structure, function, and operation -
http://en.wikipedia.org/wiki/Reverse_engineering
"Reverse engineering is the process of
analyzing a subject system to create representations
of the system at a higher level of abstraction."
[6]
It
can also be seen as "going backwards through the
development cycle".
[7
255–268. doi:10.1016/S0010-
4485(96)00054-1. - (6) ^ Chikofsky, E.J.; J.H.
Cross II (January 1990). "Reverse Engineering and
Design Recovery: A Taxonomy in IEEE
Software". IEEE Computer Society: 13–17. (7)
^ Warden, R. (1992). Software Reuse and Reverse
Engineering in Practice. London, England:
Chapman & Hall. pp. 283–305.
Although UML (Unified Modelling Language)
is one approach to providing "reverse engineering"
more recent advances in international standards
activities have resulted in the development of the
Knowledge Discovery Metamodel (KDM). This
standard delivers an ontology for the intermediate
(or abstracted) representation of programming
language constructs and their interrelationships.
Knowledge Discovery Metamodel (KDM) is
publicly available specification from the Object
Management Group (OMG). KDM is a
common intermediate representation for existing
software systems and their operating environments,
that defines common metadata required for
deep semantic integration of Application Lifecycle
Management tools -
http://en.wikipedia.org/wiki/Knowledge_Discovery_
Metamodel
Object Management Group (OMG) is
a consortium, originally aimed at
setting standards for distributed object-
oriented systems, and is now focused on modeling
(programs, systems and business processes) and
model-based standards -
http://en.wikipedia.org/wiki/Object_Management_G
roup
Knowledge Discovery Metamodel – based
Inverted Paradigm Method (IPM)
KDM – based Inverted Paradigm Method (IPM)
aiming as the standard delivers an ontology for the
abstracted representation of the outcome of our
Knowledge Management model framework as
applied science for the benefit of Theoretical Physics
as basic science. Our models are Human System
Biology-based Knowledge Management (HSBKM)
model framework and Mobee Knowledge
Competency Capability Maturity (MKCCM) model
as KM metrics.

The step-by-step comprehension map of KDM –
based Inverted Paradigm Method (IPM) applied
to HSBKM model framework as applied science for
the benefit of Theoretical Physics as basic science
had been demonstrated as follow :
1) Infrastructure Layer : involving the solid and
robust infrastructure of our Knowledge system
to be reverse engineered through Inverted
Paradigm Method (IPM) :
 Human System Biology-based Knowledge
Management (HSBKM) model framework -
http://bit.ly/lx3GbA and http://bit.ly/pKAO8U
 Mobee Knowledge Competency Capability
Maturity (MKCCM) model as KM metrics -
http://bit.ly/lx3GbA http://bit.ly/e7HCoM (pp
5-7 and pp 61-64)
 MOBEE KNOWLEDGE TAXONOMY OF
KNOWLEDGE ASSESSMENT :
 Dynamic Formative Assessment of Nurture
Knowledge Management
1. Mobee Knowledge Enterprise Taxonomy
Metadata Management :
 Simplified form - http://bit.ly/hU7fjM -
“MobeeKnowledge Site Map & Taxonomy
Metadata Management” (pp 4 – 5)
 Full type form - http://bit.ly/ypTDLL -
“MOBEE SITE MAP (FILE PLAN) AND
TAXONOMY – METADATA MANAGEMENT
FOR EFFECTIVE CONTENT
MANAGEMENT SYSTEM” ( Source :
http://mobeeknowledge.ning.com/forum/topi

A 14
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
cs/deriving-organizational - “Deriving
Organizational Learning Map from
Corporate Taxonomy Metadata
Management” )
2. Mobee Knowledge KM Measurement –
Evaluation – Metrics - http://bit.ly/e7HCoM
3. Summary of Mobee Knowledge KM Metrics -
http://bit.ly/f3hf1K
4. “Emerging KM”comprising Sub-Folders “KM
Metrics-Maps Diagrams” - http://bit.ly/bROikS
5. “Business Norms KM Link” (Guide to
MobeeKnowledge KM business policy) -
http://bit.ly/gFg5wY

 Dynamic Formative Assessment of Nature
Knowledge Management
 http://bit.ly/rvDQMO - “Knowledge Value (KV)
Measurement” and/or http://bit.ly/s9ZNqR -
“Basic structure of Human System Biology-
based Knowledge Management (HSBKM) model
framework”
 Pasive Normative Assessment of Knowledge :
Knowledge Audit
 Knowledge Analysis –(see this Document :
“Component of Knowledge Audit”- pp 15 – 16 )
or http://bit.ly/e7HCoM (see pp 2 – 4) : K –
Needs Analysis, K – Inventory Analysis and K –
Flows Analysis
 Knowledge Mapping –(see this Document :
“Component of Knowledge Audit”- pp 15 –
16 ) or http://bit.ly/e7HCoM (see pp 2 – 4) :
K - Mapping
 KM 2.0 BASIC VISUAL MAP -
http://bit.ly/s4USV0
2) Resource Layer : represents the operational
environment of the existing system
 (Non) DIKW continuum model - DIKW
stands for Data – Information – Knowledge –
Wisdom continuum representing the evolution of
scientific mindset methodology since 17th
century as well as representing the evolution of
Knowledge Management (KM) in three
generations which is adopted by many KMers
until the end of 20th century / beginning era of
21th century
 “Knowledge is the edge of Science “ -
Knowledge within Science continuum located
in grey area and there should be shifting
paradigm of Knowledge that will open
towards new era in which Scientific
Knowledge, a term where Knowledge treated
as object, could becoming “Knowledgeable
Science”, a term where Knowledge treated as
subject
 “MOBEE KNOWLEDGE CoP” –
http://mobeeknowledge.ning.com - as our
Knowledge – repository comprised of various
Knowledge – base that could be learned as
learning resources site through the site map
including via social and/or tags bookmarking -
http://www.delicious.com/mobeeknowledge on
our emphasized issues. Other sources could be
reached via our public and global profile :
http://gravatar.com/mdsanto
 Knowledge - by eclectic definition (choosing
what is best or preferred from a variety of
sources or styles, within Nature Knoweledge
Theory
TM
context), human Knowledge is the
output of human knowing tools, evolved as
emergent property, having consciousness
inside human being as complexsystem, alive
and behaving as subject with
freewill, contrary with Data and Information
exist outside human being, non-alive and
behaving as object only. By giving broad
meaning or apart from DIKW continuum model,
human Knowledge is the integral part of broad
Nature Knowledge (Knowledge of Nature). As
consciousness attributed, Knowledge considered
having potential as independent to SpaceTime
(IST) contrary with the other fabrics, Matter and
Energy which are Dependent to SpaceTime
(DST)
 Nature Knowledge Continuum model –
Knowledge generated from Nature / Universe
spanning from “duo-entity-force” (DEF) boson
particle containing consciousness element factor
(CEF) with Knowledge Value (KV)
Measurement = 10
-38
(Planck Number) within
quantum level through higher level of Nature
Knowledge within Classical Physic-Biological
world to human being with Max Possible KV =
9.00) en route toward beyond human through
infinity. Nature Knowledge Continuum rooted
on paradigm that “The Universe or the Nature
Knowledge is the source and center of
Consciousness” rather than “Mind Brain or
Human Being is the source and center of
Consciousness” as derived from DIKW
continuum model
 Nature Knowledge Theory (NKT) - is a
theory developed and based on adoption to
paradigm of “The Universe or the Nature
Knowledge is the source and center of
Consciousness” rather than “Mind Brain or
Human Being is the source and center of
Consciousness”. Nature Knowledge Theory
(NKT) considering the Universe as an animate
and psycho-somatic being. We believed the
development of NKT model framework and its
derivatives will facilitate the processes on how
we will be able to unify general relativity and
quantum mechanics toward Theory of
Everything (TOE). The basic consideration in
using NKT based on simple rational of human
living reality, ...” The Universe knows

A 15
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
something we don't. And it acts on cosmic
scales”.....
Program Elements Layer : consists of the code
and action packages :
 Consciousness Element Factor (CEF) – factor
inside”duo-entity-factor” (DEF) Knowon –
Graviton boson particles considered as
obtaining consciousness element with
Knowledge Value (KV) Measurement = 10
-38
(Planck Number) within animate and/or psycho
– somatic Universe
 Fabric of Universe – within Nature Knowledge
Theory, Knowledge which is Consciousness
attributed, for the first time clarified as one of
the fundamental structure or fabric of Universe
beside Matter and Energy as well as having
traits to be Independent to SpaceTime (IST)
contrary with Matter and Energy which are
Dependent to SpaceTime (DST)
 Inverted Paradigm Method (IPM) – (or
“Basic Science derived from Applied Science”),
a kind of “reverse engineering” through
Knowledge intensive organized systematically
in term of their Taxonomy – Metadata
management as well as their model framework .
The essence of conventional or classical
scientific mindset shown by probability-based
step-by-step “deducto – hypothetico –
verificative” way of thinking. But, within
“Inverted Paradigm Method (IPM)” totally
change in opposite direction. It is called as
possibility-based “reverse engineering”,
“evidence-based” or even “gnosis”. The trend
using IPM with its variations is prominently
exposed since the early 21th century, by the fact
that the scientific world occasionally suffering
from the “syndrome of the End of Science”, a
syndrome where Science get difficulties in
finding answer to many human complex
problems. IPM in essence using “Top – down
approach”, the approach in which we traces the
histories from the “top down”, that is, backward
from the present time. Other than that also,
because within Data-Information-Knowledge-
Wisdom (DIKW) continuum, Knowledge (in
broad meaning) epistemologically behaving
higher level than the behavior of D-I level
 Knowledge Interface (KI) - is a terminology
of Human and/or Nature Knowledge variable
derived from Human System Biology
Knowledge Management (HSBKM) model
framework acting as the function of Knowing
Tools producing Nature or
Human consciousness founded either in Human
Knowledge (Individual KM), Organizational
Knowledge (Nurture / KM) and Nature
Knowledge respectively. Totally there are 9
(nine) KIs, 1
st
KI through 9
th
KI. Both of the Kis
involved in contributing Knowledge sharing
process through consciousness transfer towards
(new) Knowledge evolvement in psychological
phenomenon
 Language of Knowledge - the language used in
“Consciousness Transferring Phenomenon”
(CTP) with speed of entanglement by using
Knowledge Interfaces (KI) as basic of the
language
3) Abstractions Layer : represents resulting
domain and application abstractions :
 “duo-entity-force” (DEF) boson particle -
Knowon – Graviton entity as boson force we
believed as the real Higgs Boson. Knowon,
independent to SpaceTime (IST) as our
proposed 5th fundamental force representing
“psychic / consciousness mediating particle”
counterparting with Graviton, dependent to
spacetime (DST) as 4th fundamental force
representing “somato mediating particle”. DEF
is IST-DST superposed boson force representing
as psycho – somatic elementary particle of
animate Universe
 k - Constant - a constant factor generated by
Knowon containing consciousness element
factor (CEF) representing (Nature) Knowledge
as fabric of the Universe to orchestrate the other
two fabrics, Matter and Energy. k - constant
ranging from 0.0 – 1.0 applied to Mass – Energy
Equivalence or the equation E = mc
2
to be
written as E = k mc
2
where k actually
proportionate with c or the speed of light. K
achieved as 1.0 at age of the Universe was
about 370,000 years after Big Bang where
Matter domination or photon era fully achieved
and reached up to time before the evolution of
living – biological system taken place, and then
after that “k” positively stable and exist
gradually less and less than 1.0 The “k” = 1.0
representing the highest entropy of certain loci
in the Universe
 Knowon - our newly proposed fifth
fundamental force of Nature, discovered
through top-down (reverse engineering)
mechanism or Inverted Paradigm Method (IPM)
applied to Human System Biology-based
Knowledge Management (HSBKM) model
framework within Nature Knowledge
continuum in the framework of quantum level
through classical mechanism level. By such
evidence-based as Knowledge-generated
outcome, Knowon is really exist as non
hypothetically massless particle, because
Knowledge force has unlimited range and seems
do not related with or at least don’t have spin
quantum number as the other mediating particles
considering that Knowon is independent to
SpaceTime (IST) particle containing

A 16
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
consciousness element factor (CEF) with
Knowledge Value (KV) measurement = 10
-38
(Planck Number)

and functioning as “psychic /
consciousness mediating particle” with speed of
entanglement to counterparting Graviton, the
fourth fundamental force, dependent to
SpaceTime (DST) particle, as “somatic
mediating particle” becoming “duo-entity-force
(DEF)” boson particle (we believed as the real
Higgs Boson) to give shape of SpaceTime and
giving mass feeling to particles within psycho-
somatic entity paradigm of our Universe. The
phenomenon of emergent property in
complexity of Nature believed as the
manifestation of the work by consciousness
element factor of Knowon as “Psychic
(Consciousness) Mediating Particle” within
their target loci counterparting the work of
Graviton as “Somatic Mediating Particle” in
shaping SpaceTime, manifested as an entity
particle supposing as Higgs Boson, instead of
collaboration with other three fundamental
forces of nature, strong-weak-electromagnetic
forces or Gluon, Photon, and W-Z respectively
 Knowledge Value (KV) Measurement
tm
- is
an absolute scaling ratio measuring
hypothetically from “duo-entity-force (DEF)”
boson particle ( Graviton + Knowon) we
believed as the real Higgs Boson with KV = 10
-38
(Planck Number) within quantum level
through higher level of Nature Knowledge
within Classical Physic-Biological world
(Human Max Possible KV = 9.00) en route
toward beyond human through infinity
 Decomposing Nature Knowledge with
Inverted Paradigm Method : Overview
Results

IMPACT OF HUMAN SYSTEM BIOLOGY –
BASED KNOWLEDGE MANAGEMENT
(HSBKM) MODEL FRAMEWORK ON
THEORETICAL PHYSICS
Md Santo , Mobee Knowledge Services - Jakarta,
Indonesia – moesdar@gmail.com
M Arsali , Fac. of Math and Science, Univ. of
Sriwijaya - Palembang, Indonesia –
arsali_99@yahoo.com

ABSTRACT Driven by experience in practising
Human System Biology – based Knowledge
Management (HSBKM) model framework and
Mobee Knowledge Competency and Capability
Maturity (MKCCM) model as our KM metrics
since 2009, we succeded in developing theoretical
constructs that giving Knowledge a widened
meaning as the integral part of broad Nature
Knowledge continuum in consequence of Data,
Information – Knowledge, Wisdom as DI-KW
separated model continuum. Nature Knowledge is
dynamically living entity continuum having
potential consciousness element factor. Both within
quantum physics level or classical mechanic physics
level, are differentiated into infinite levels of
consciousness. As KM metrics applied to Nature
Knowledge continuum, we have developed concept
of Knowledge Value (KV) as absolute scaling value
ratio ranging from 10
-38
(Planck Number) to infinity.
The second KM metrics is Mobee Knowledge or “k”
constant factor ranging from 0.0 – 1.0 applied to
Mass – Energy Equivalence or the equation E = mc
2

to be written as E = k mc
2
under consideration that
Knowon, our newly proposed fundamental force of
Nature, a hypothetical massless and independent to
SpaceTime (IST) particle, achieving maximum
effect of k = 1.0 only after the end of Photon epoch
or at age of the Universe was about 370,000 years
after Big Bang where Matter domination reached up
to time before the evolution of living – biological
system taken place, and then after that “k” positively
exist gradually less and less than 1.0 again. We are
very confident that Emergent property in complexity
resulting from the functional entity of Knowon as
“Psychic (Consciousness) Mediating Particle” in
collaboration and/or counterparting with Graviton as
“Somatic Mediating Particle”
Based from our postulates we’ve mentioned,
together by using Knowledge Management (KM)-
driven environment Psycho – Somatic thinking
paradigm phenomenon applied to Nature, and after
considering the issues of Entanglement
phenomenon, Quantum Superpositioning,
Redefining Knowledge and Knowledge Management,
Emergent Property of Complex System, Hidden
Variables, Knowon and its definition, Graviton and
Space-Time factor in Knowon environment factor
respectively as keywords to comprehending, we
come up to Theoretical Physics construct declaring
toward Knowledge as fabric of Universe beside
Energy and Matter with Knowon as newly proposed
fifth fundamental force of Nature, a hypothetical
massless and independent to SpaceTime (IST)
particle to counterparting Graviton instead of
Gluon, Photon, and W-Z respectively

(Presented at the “The International Conference on
Mathematics and Science “ – Surabaya Institute of
Technology (ITS) 12-13 October 2011 at Majapahit
Hotel, Surabaya – Indonesia).

4) Applications in practice : Some of our selected
statements ( within time period Oct, 2011
through April, 2012 ) regarding the post results
of our study above mentioned :
1. .....“We are Knowledge Management (KM) -
regulated by Nature (“natural world”) , and,
by nature (“character or kind”) we are
Knowledge Management (KM) model”....

A 17
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
2. ......We believed, the big mistake in Physics
including to finding out Theory of Everything
(TOE) as the ultimate symbol of Science,
rooted from the reality that we only considered
Universe as an inanimate. We should consider
Universe as an animate as well as psycho –
somatic being.....
3. .....Our Knowledge Management (KM) –
generated Physics constructs discovery,
covering the attributes of Knowon, the fifth
Fundamental Force, “k” constant ranging 0.0 –
1.0 for E = k mc
2
and Knowledge Value (KV)
measurement for Nature Knowledge continuum
of the Universe...... http://bit.ly/wOIXq6
4. ......k – constant approaches 0.0 such as the
ecosystem of Higgs Boson, will make all
scientific efforts practically a “mission
impossible” . We dare to say, almost impossible
to any scientific effort goes beyond “our illusion
dream land” with “k” = 1.0 to leap into
“absolute dream land” with “k” less than 1.0 or
practically = 0.0 considering that “…... space-
time is only the notion of human being in the
universe to accommodate the existence of
Matter and Energy.....
5. .... The intensity of interaction among 1
st
Knowledge Interface to 6
th
Knowledge Interface
along with the dynamics of consciousness
element factor (CEF) of “duo entity Graviton –
Knowon” as Universe DNA across the Universe
making Nature's Laws may vary across the
Universe and finely-tuned for the existence of
life....
6. ..... If space were not continous
( http://www.scientificamerican.com/article.cfm
?id=is-space-digital : Scientific American -
By Michael Moyer | January 17, 2012 ) ,
change your paradigm by thinking that our
(smart) Universe is really a living reality of
Psycho – Somatic entity body the same as the
way we look at human body comprising of Body
– Mind – Soul . In this circumstance, our smart
Universe is an ultimate huge creature among
other creatures or other Universes
(MultiUniverse).....
7. .... Black Hole (BH) is the model miniature of
“Oneness Universe”, the Universe before the
Big Bang (BB). It is called “Oneness” not either
“Unity” or “Entity” Universe considering BH
is Independent to SpaceTime (IST). Inside BH, is
the state of “Absolute Singularity” where the
fifth fundamental force, we proposed the term
“Knowon” for it, dominating the other 4
fundamental forces before BB or inside the BH.
At the BB when SpaceTime was born, the IST
Knowon functioning as “psychic / consciousness
mediating” massless particle counterparting
each other with Dependent to SpaceTime (DST)
Graviton, the fourth fundamental force
functioning as “somato mediating” particle,
both becoming “duo-entity-force” particle
which we believed as superposed Higgs Boson
giving “the feeling” mass to the particles in the
Universe....
8. .... reality that assumming K is consciousness, it
means interaction with the environment is not
the matter of electromagnetism phenomenon
such in sending information through telco
devices or people speaking face-to-face. K as
consciousness requires that we should treat K as
in quantum state able to behaving
“entanglement” action and “superposition
traits” (eg Scientific Knowledge vs
Knowledgeable Science). The “entanglement”
ability making the phenomenon is not “spooky
action at a distance” any more as Einstein
mentioned, but for us it is “endowment action at
a distance”. It is very possible if we assumming
that K is independent to SpaceTime.....
9. …... space-time is only the notion of human
being in the universe to accommodate the
existence of Matter and Energy. (Md Santo –
http://bit.ly/umS2Xi - Knowledge Value (KV) –
“k” Constant relationship diagram generated
from Human System Biology-based Knowledge
Management (HSBKM) model framework )....
10. ...... The features of Dependent to SpaceTime
(DST) in Graviton and Independent to Space
Time (IST) in Knowon within Higgs Boson
particle representing the prominent quantum
superposition behavior of Higgs Boson
particle.....
11. ........ Nature Knowledge representing quantum
and classical Nature Consciousness as the
fabric of Universe beside Energy and Matter
with Nature Knowledge Value (KV) as scaling
absolute ratio ranging from 10
-38
(Planck
Number) through infinity.....
12. ... HSBKM – generated method (through KV
and “k” constant factor as the metrics) already
revealed the behavior as well as some features
of Higgs Boson instead of their function in
giving mass to particles
13. ..... considering the Universe is an ocean of
Energy DST altered by ocean of Knowledge IST
selecting different target loci throughout
Universe as well as Graviton factor considered
as gravitational energy in shaping space and
time, therefore “it is necessary to invoke the
consciousness element factor (CEF) of Knowon
at various level of consciousness in many
Nature loci to light the blue touch paper and set
the Universe going” regardless it is IST by
nature to reach the target loci in the Universe.
This statement seems contradictory with
Stephen Hawking and Leonard Mlodinov
statement in their book “The Grand Design,
Bantam Books – New York, 2010 page 180”......
14. ..... We strongly suggest Knowon as the fifth
fundamental forces of nature which is

A 18
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
independent to Space-Time and featuring as
massless particle, should be the strong
candidate of the “hidden variable” thanks to its
quantum consciousness as psycho
(consciousness) mediating particle
counterparting Graviton factor as somato
mediating particle to bridging the gap between
quantum and classical mechanics.....
15. .... The mechanism by which Knowon acting as
“Psychic / Consciousness Mediating Particle”
is through Entanglement interaction mechanism
with consciousness as the media independent to
Space-Time. It is genuinely phenomenon
evidence for Indonesian people quoting “Far
sight but near at hearts” (“Jauh dimata dekat
dihati”) thanks to independent Space-Time
Entanglement mechanism. It’s not “spooky
action at a distance” any more as Einstein
mentioned, but it is really “endowment (for
human being) action at a distance”....
16. .... Let me clarify the meaning of
“unconsciousness” (adjective) and/or
“unconscious”(noun). Within narrow meaning
or derived from DIKW model, for example in
clinical symptomatology, it means no response
to senses and unawareness of mind brain
response to environment. But in broader
meaning within context of Nature Knowledge
model, including human knowledge, where
consciousness is the attribute of knowledge, the
word of “unconsciousness” is not
recognized .......
17. .......Knowledge Interface – based
Communication Platform needed to
communicate with alien intelligence
: http://t.co/lZqPEXmn (Demystifying Human
Conversations : Knowledge Interfaces as
Knowledge Language within Knowledge
Ecosystem). On the assumption
that http://linkd.in/yD1qZx - Nature Knowledge
Theory could be applied in cosmic scale under
the paradigm : “The Universe or the Nature
Knowledge is the source and center of
Consciousness” rather than “Mind Brain or
Human Being is the source and center of
Consciousness” paradigm, therefore 3 x 3
matrix diagram of 1st to 9th Knowledge
Interfaces (KI) could be developed in the (near)
future by means of Technology, Communication
Theory, Psychology, Psychiatry, Sociology and
others field of sciences needed as language
communication platform with the alien
intelligence community.......
18. .......One of our “primitive” effort to build such
platform in practice is NASA’s Voyager
interstellar spacecraft launched in 1977
bringing small metal plaques known as Golden
Record containing messages needed to alien
intelligence. I said “primitive” considering the
package not yet meet the possibly requirements
necessary needed from 3 x 3 matrix of KI above
mentioned................
19. ........if the experiment of sending message
through neutrino succeed, therefore the
involvement of electromagnetic (Photon
mediating force) will be substituted with DST
Gravitational superposed with IST
Entanglement (DEF Graviton + Knowon
mediating force) which has far more range of
interaction : Long vs Very Long (Infinity)
The very promising in the future with Neutrino
driven communication is the phenomenon of
what I called as “Consciousness Transfering
Phenomenon or CTP” or transfer of Knowledge
by means of entanglement speed (non local
phenomenon) (see http://bit.ly/zbdp28 )
Only KM as applied science could describe the
phenomenon above mentioned for the benefit of
basic science (Theoretical Physics)!.......
20. ..... Music as well as Language are by means the
product of (human) Knowledge Language :
Based on our study, Nature Knowledge Theory
(NKT) , a theory developed and based on
adoption to the paradigm of “The Universe or
the Nature Knowledge is the source and center
of Consciousness” rather than “Mind Brain or
Human Being is the source and center of
Consciousness”, only human being as creature
in the Universe equipped with 3th Knowledge
Interface (KI) and 9th KI. Our 3th KI
responsible for human social behavior
capability. While 9th KI responsible for Human
Organizational Cummulative (Collective and
Social Learning) Culture . With noted that 9th
KI in reality functioning as organizational
Standard and Culture Value of human nurtured
Knowledge Management (KM). Driven by 3rd
and 9th KI, Music as well as Language are by
means the product of (human) Knowledge
Language..........
21. ......Knowledge attributed with Consciousness
behaving as subject and alive. Translator
machine, albeit very smart, behaving as object
and no consciousness.
Language shaping Consciousness in the form of
new Knowledge evolvement, vice – versa
Consciousness shaping Language in the form of
Language dynamic....
22. Instead of using tractor beam, a device with the
ability to attract one object to another from a
distance, we use our own Human System
Biology-based Knowledge Management
(HSBKMtm) model framework to prove the
existence of Knowon, proposed as the 5th
Fundamental Force representing Knowledge as
the third fabric of Universe next to Matter and
Energy. We coined a term of the method we
used as “Inverted Paradigm” phenomenon by
treating Applied Science (Knowledge
Management) as “Knowledgeable Science” for

A 19
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
the sake of the development of Basic Science
(Theoretical Physics). The “Duo entity Graviton
– Knowon” as Universe DNA across the
Universe making Nature’s Laws may vary
across the Universe and finely-tuned for the
existence of life
23. ......I have been working since 2009 to studying
“The animate Universe through Nature
Knowledge Theory - generated Human System
Biology-based Knowledge
Management (HSBKM) model framework”.
From my recent article intended to exploring
Knowledge at URL http://bit.ly/zJig9Z (“Guide
to Taxonomy of Future Knowledge” ) we will
understand that “Knowledge domain is the edge
of Science”. And
further through http://bit.ly/GARHO2 (“Import
ant considerations why the limit of Science
should shifted to the right”) we could expected
to get comprehended regarding our curiousity
about the “limit of (scientific) nature laws....”
.......Human Individual Knowledge (1st, 2nd
and 3rd Knowledge Interface) also
interconnected and/or interaction with
Organizational Knowledge or Knowledge
Management (KM) (7th, 8th and 9th Knowledge
Interface) as well as Nature Knowledge (4th,
5th and 6th Knowledge Interface) but more
comprehensive with higher complexity......
24. ........Tacit Knowledge representing 1st – 2nd –
3rd Knowledge Interface of Individual / Human
Knowledge. Explicit Knowledge representing
7th – 8th – 9th Knowledge Interface of
Organizational Knowledge (KM). Nature
Knowledge (non human) of animate Universe
representing 4th – 5th – 6th Knowledge
Interface respectively. The different role of Tacit
and Explicit around the issue of human –
computer interaction depend on how intense
each of their (Tacit and Explicit) Knowledge
Interface shifted to the right.....
25. ..........conversation is just superficial
interactions involving qualitatively (extensely)
as well as quantitatively (intensely) involving
those 9 Knowledge Interfaces namely or directly
the interaction among 1st, 2nd, 3rd, 7th, 8th and
9th Knowledge Interfaces and indirectly
representing 4th, 5th and 6th Knowledge
Interfaces before stepping into deeper process
of Knowledge evolvement (captured or created)
which we could learn the mechanism through
Bloom’s Taxonomy of learning covering
cognitive, affective and psychomotoric
aspect........
26. ........http://bit.ly/pOSGBt - “Knowledge is the
Edge of Science” and later abstracted within
Knowledgeable Era vs Scientific Knowledge Era
on page 2 of URL http://bit.ly/rjJzgb -
“Addressing the dawn of Knowledgeable
Science era” will explain as follow :

SCIENTIFIC KNOWLEDGE
DOMAIN ..............KNOWLEDGEABLE SCIENCE
DOMAIN
Until end of 20th
century........................................Begining early 21th
century
D-I is the
hub ..........................................................K-W is the
hub
Scientific mind
set..................................................Beyond Scientific
mind set
Deducto-Hypothetico-
Verificative.........................Evidence-based and
Reverse Engineering
Probability-
driven...................................................Possibility-
driven
Relying on human senses and mind
brain.........Consciousness DNA is Human limit
Data-
base...............................................................Knowled
ge-base
Seeking Good and True......................................
Seeking Right as Human Wisdom
Multi Media tools.................................................
Social Media 2.0 – 3.0
Learning by Doing...............................................
Doing by Learning
etc (Data / Information-driven)............................ etc
(Knowledge-driven )
27. ......Cumulative Culture, Collaborative Learning,
Social and Cognitive capabilities,
Sociocognitive processes, Organizational
Culture (Learning Organization),
Organizational Learning, Collective / Social
Learning etc whatever the terms called, all
adopted specially in the interactions of 7th, 8th
and 9th Knowledge Interface (KI) within
HSBKM model framework (see the diagram
matrix map above). It means by nature only
human being have the ability to develop nurture
Knowledge Management system with cumulative
cultural development result or output ......
28. .........Not intended to negate the current method
of CERN (The European Organization for
Nuclear Research) used, but we would seeking
another approach as well as entirely new
another paradigm to complementing the work of
CERN – LHC (Large Hadron Collider)......
29. .... What currently on going process in science
(scientific Knowledge) evolution marked with
shifting paradigm from Data – Information –
Knowledge – Wisdom or DIKW continuum -
generated representing “Mind Brain or Human
Being is the source and center of
Consciousness” paradigm toward Nature
Knowledge continuum - generated representing
“The Universe or the Nature Knowledge is the

A 20
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
source and center of Consciousness”
paradigm..............
30. ..... It seems from my point of view, most of us
still have mindset derived from DIKW
continuum which is unfortunately, sorry,
considered as human artefact in science since
17th century. On the other hand, if the human
Knowledge derived from Nature Knowledge,
even in reality marked with unique and
somewhat “strange behavior” that so far there
is no acceptable and workable Knowledge
and/or Knowledge Management (KM) definition,
just because it is rooted from the important
behavior of Knowledge that most of us not
aware that Knowledge actually behaving as
subject, having consciousness and evolved as
emergent property in human complexity.
Contrary with D-I continuum which is only as
object with no consciousness and passive....
31. ......Human System Biology-based Knowledge
Management (HSBKM) – generated method
(through KV and “k” constant factor as the
metrics) already revealed the behavior as well
as some features of Higgs Boson, we believed as
duo-entity-force (DEF) Knowon-Graviton boson
instead of their function in giving mass to
particles vs LHC – generated method (through
GeV as the metrics) that would be revealed
further (2012?) the existence of Higgs Boson
physically......
32. .......G r a v i t o n, the 4th fundamental force,
for the first time could be quantified indirectly
as “duo-entity-force”(DEF) through Knowledge
Value (KV) measurement of Knowon.......
33. ....DIKW is just human artefact. The real
Knowledge generated not from DIKW
continuum but from Nature Knowledge
continuum representing our smart, psycho-
somatic, complex (adaptive) system and animate
Universe. The paradigm needed, assuming
Consciousness is the attribute of
Knowledge, …“The Universe or the Nature
Knowledge is the source and center of
Consciousness” rather than “Mind Brain or
Human Being is the source and center of
Consciousness”.....
34. ..... “After Singularity between Human Mind
and Technology reaching its peak (in 2012 ?), it
will be the “Jump Time” for us to make “Great
Turning” from the BRAIN as locus of Mind to
the DNA as locus of Higher Consciousness and
Human Value”....
35. ..........We strongly suggest Knowon as the fifth
fundamental forces of nature which is
independent to Space-Time (IST) and featuring
as non-hypothetical massless particle, should be
the strong candidate of the “hidden variable”
thanks to its quantum consciousness as “psycho
(consciousness) mediating particle”
counterparting Graviton factor as “somato
mediating particle” becoming “duo-entity-
force”to bridging the gap between quantum
and classical mechanic.......
36. ..... In quantum world, Knowon is the
“playmaker” through acting as “Psychic /
Consciousness Mediating Particle” of the
Universe, counterparting Graviton as
““Somatic Mediating Particle” of the Universe.
In classical mechanics macroworld, Knowledge
(K) maintaining the harmonious interaction
between Matter (M) and Energy (E) through
empowering Knowon consciousness.......
37. ..... Knowon, the Psychic / Consciousness
Mediating Perticle as the fifth Fundamental
Forces albeit independent to Space-Time (IST)
but in counterparting Graviton platform as
Somatic Mediating Particle becoming duo-
entity-forces (DEF) will acting as Nature
Knowledge Management (KM) to do
orchestrating the other 3 (three) Fundamental
Force, Gluon – Photon – W,Z under Knowon –
Graviton domain towards unification of
Particles and Forces.....
38. The Road to Nature Knowledge through
Knowledge – Value (KV) measurement :
“We are not human beings on a spiritual
journey. We are spiritual beings on a
human journey.”- Stephen Covey
"Reality is merely an illusion, albeit a very
persistent one." - Albert Einstein
....“I think the next century will be the
century of Complexity.” - Stephen
Hawking
..... Dear Hawking, it seems the next
century will be the century of Knowledge.”
- Md Santo -
http://bit.ly/tzBu2u
References
Md Santo, M.Arsali (2011), Impact of Human
System Biology based Knowledge
Management (HSBKM) model framework on
Theoretical Physics (presented at “The
International Conference on Mathematics and
Sciences” – Surabaya Institute of
Technology (ITS), Indonesia, October 12 –
13, 2011)
Luisa dall‘Acqua (Germany), Md Santo (Indonesia)
(2012), New interpretative paradigms to
understand and manage the unpredictability
of the dynamics of learning in a complex
multi-user knowledge environment (presented
at CIBL 2012 , Kuching, Sarawak, Malaysia)
Md Santo (2012), “The Ecosystem of Knowledge
Assessment - K Audit and Mapping"
(presented at join meeting Knowledge
Management Society Indonesia (KMSI) –
School of Business and Management
Bandung Institute of Technology (ITB) – PT

A 21
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
Telkom Indonesia Inc (Bandung, Indonesia –
Feb. 16, 2012)
Stephen Hawking, Leonard Mlodinov (2010), “The
Grand Design”, Bantam Books – New York
Md Santo (2012), “Comprehensive Guide to Future
Science Environment : Decomposing
Knowledge with Inverted Paradigm Method”
- , http://bit.ly/LOoYho
Md Santo (2012), “Mapping the Secrets of the
Universe : complementing bottom-up (CERN
– LHC) with top-down (Mobee Knowledge
Services) mechanism” - http://t.co/bIHLTalC
Md Santo (2010), “Knowledge – driven New
Copernican Principle” - http://bit.ly/JGnZ0h
Md Santo (2012), “Not to finding Higgs Boson
everlastingly but through it Science reform is
our goal!” -
http://mobeeknowledge.ning.com/forum/topi
cs/not-to-finding-higgs-boson-everlastingly-
but-through-it-science-r
Md Santo (2011 - 2012), “Knowledge base on
Nature Knowledge Theory” -
http://www.delicious.com/mobeeknowledge/
natureknowledgetheory
Md Santo (2012), “Knowledge base on Higgs
boson” -
http://www.delicious.com/mobeeknowledge/
higgsboson


A 22
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
HYDROTHERMAL NON-LINEAR WAVES (HNLW) USING BEKKI-NOZAKI
AMPLITUDE HOLES EQUATION AS A CLINICAL NON-INVASIVE PREDICTOR
FOR INTERVENTRICULAR SEPTUM WALL DYSFUNCTION RELATED TO
CARDIAC EXCITATION

Ricardo Adrian Nugraha
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya - INDONESIA
Email : ric_zzzzz@yahoo.com
Abstrak
Pendahuluan. Kelainan jantung pada septum interventrikularis (pada dinding medial) sering dijumpai pada
pasien dengan penyakit jantung iskemik. Akan tetapi, standar diagnostic dengan MRI dan Ekokardiografi masih
tetap invasif dan mahal. Pada masa depan, kami mengusulkan penggunaan propagasi non-linear dari modulasi
gelombang termal (kalor) yang dihasilkan oleh eksitasi melintas miokardium. Tujuan. Untuk mengevaluasi
efektivitas amplitudo gelombang hidrotermal yang dihasilkan oleh HNLW sebagai alat diagnostik terkini untuk
memprediksi risiko disfungsi septum interventrikularis. Hasil. Dalam analisis multivarian disebutkan, jaringan
fibrosis dan hipertrofi dinding septum dikaitkan dengan kelainan jantung. Peluang pasien dengan penyakit
jantung iskemik (IHD) untuk bertahan hidup dan disembuhkan tergantung dari prosedur diagnostik sebelumnya.
Pasien yang memiliki penebalan dinding septum yang menunjukkan PJK dapat didiagnosis dengan cepat dan
akurat terlebih dahulu oleh Hydrothermal Non-Linear Wave (HNLW). Dibandingkan dengan pencitraan teknik
Doppler & Ekokardiografi 3D, metode ini mempunyai odd ratio (OR) sebesar 1,28 (95% CI, 1,21-1,35) dalam
deteksi tahap awal disfungsi dinding septum interventrikularis. Demikian juga, kepekaan HNLW dalam
mendeteksi malformasi jantung mempunyai akurasi dan detektabilitas yang lebih besar, bahkan dibandingkan
dengan Ekokardiografi 3D dengan kontras, masing-masing 86% berbanding 78% (p = 0,05, 95% CI).
Sayangnya, spesifisitas HNLW secara signifikan masih lebih rendah dibandingkan Ekokardiografi dengan 90%
berbanding 98%. Secara menyeluruh, spesifisitas dan sensitivitas HNLW dalam pendeteksian penyakit jantung
iskemik pada daerah bukan septum (bukan medial) adalah 94% dan 78% pada dinding anterior dan
anteroseptal, dan 99% dan 47% pada dinding lateral. Diskusi. Perubahan kecepatan pada modulasi gelombang
Bekki-Nozaki yang berbentuk non-linear dengan amplitudo menyerupai lubang, telah berhasil mengamati
struktur yang tidak stabil dengan menghubungkan dua fase gelombang yang dinamis dan tak terbatas.
Ketepatan tinggi dari alat ini dapat memahami karena sensitivitas kecepatan gelombang dalam suhu tinggi.
Kecepatan gelombang dapat dengan mudah menurun jika mereka melintas jaringan fibrosa di sekitar serat otot
jantung. Kesimpulan. HNLW terbukti lebih akurat daripada ekokardiografi dalam mendeteksi kerusakan otot
jantung yang menimbulkan abnormalitas eksitasi jantung, khususnya pada dinding medial. Aplikasi klinis dan
efek samping jangka panjang dari HNLW masih didasarkan pada bukti dan pengalaman dokter, dengan
penekanan khusus pada peran HNLW dalam memprediksi penebalan otot jantung, khsususnya pada septum
interventrikularis.
Kata kunci: HNLW, Persamaan Bekki-Nozaki, Abnormalitas Septum Interventrikularis
Abstract
Introduction. Interventricular septal wall motion abnormalities are frequently observed in patients with ischemic
heart disease. Nevertheless, standard diagnostic, such as MRI and Echocardiography still remains invasive and
expensive. For future, we are proposing using propagating non-linear mechanical waves produced by cardiac
excitation. Objectives. To evaluate the effectiveness of Bekki-Nozaki Hydrothermal Amplitude Holes as new
diagnostic tool for predicting the risk of interventricular septal wall dysfunction. Results. In a multivariate
analysis, fibrous tissue and thickening of septal wall were associated with cardiac malformation. The
opportunities of patient with ischemic heart disease (IHD) to survive and be healed are dependent to the early
diagnostic procedure. Patient having a thickening of septal wall that indicates IHD can be diagnosed earlier by
Hydrothermal Non-Linear Wave (HNLW). Compare to Doppler Techniques & 3D-Echocardiography, this
methods had an odds ratio 1.28 (95%CI, 1.21-1.35) in detection early stage of interventricular septal wall
dysfunction. Likewise, the sensitivity of HNLW in detection cardiac malformation is greater than contrast
enhanced 3D-Eco, respectively 86% to 78% (p=0.05; 95%CI). Unfortunately, the specificity of HNLW is
significantly lower than 3D-Eco with 90%:98%. Completely, the specificity and sensitivity of HNLW in detection
ischemic heart disease in non-septal wall is 94% and 78% in anterior and anteroseptal walls, and 99% and 47%
in lateral wall. Discussion. Bekki-Nozaki holes that we have already observed aren’t stable structures
connecting two infinite phase winding solutions. The high accuracy of this tool can be understanding due to the

A 23
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
sensitivity of the wave’s velocity in the high temperature. The wave’s velocity can easily decrease if they go
through the fibrous tissue around the muscle-wall. Conclusion. Hydrothermal non-linear wave is more accurate
than echocardiography in detecting abnormal cardiac excitation. Clinical utility and long-term side-effect of
hydrothermal non-linear wave is discussed based on evidence-based and clinician’s experience, with particular
emphasis on their role in predicting the thickening of septal muscle.
Keywords: HNLW, Bekki-Nozaki Equation, Intervenricular Septal Wall Abnormality

PENDAHULUAN
Penyakit jantung koroner merupakan penyebab
mortalitas tertinggi di negara maju maupun negara
berkembang. Berbagai spektrum klinik dari penyakit
jantung koroner yang menggambarkan manifestrasi
progresivitas kerusakan miokard, memberikan tingkat
kematian yang berbeda-beda, namun semuanya perlu
memperoleh perhatian khusus.
Pada umumnya, nyeri dada (angina pectoris)
merupakan salah satu manifestasi klinik yang khas
pada pasien dengan PJK mulai stadium dini. Nyeri
dada yang khas dengan radiasi sepanjang segmen T1
sehingga penjalaran menuju sebelah medial lengan
kiri, punggung, epigastrium, dan rahang bawah
merupakan salah satu tanda klinis PJK yang patut
diperhitungkan, terutama ketika kejadian muncul
setelah aktivitas fisik dan emosi yang berlebihan.
Namun, gejala klinik yang berbeda pada tiap
profil pasien dengan PJK menyebabkan prosedur
diagnostik tidak semudah yang dibayangkan.
Kelainan seperti Diabetes Mellitus dan neuropati
perifer diduga menyebabkan ketidakmampuan pasien
PJK untuk merasakan nyeri yang dialami. Tentu hal
ini menuntut klinisi untuk mengembangkan protokol
diagnostik yang terbaik dalam mendeteksi PJK, sejak
stadium dini.
Perkembangan alat-alat diagnsotik yang saangat
maju turut memberikan harapan bagi dunia medis
dalam mendeteksi PJK pada stadium awal,
melokalisir daerah infark, serta menentukan terapi
yang paling sesuai berdasarkan gambaran pada alat
diagnostik tersebut. Akan tetapi, ternyata,
perkembangan alat-alat diagnostik radiologis mulai
dari Chest X–Ray, CT-SCAN, MRI, Angiografi, PET-
SPECT, USG Doppler, hingga Ekokardiografi 3D
masih memiliki keterbatasan untuk diaplikasikan
menjadi golden standard dalam diagnosis PJK.
Sensitifitas dan spesifisitas yang rendah, serta biaya
yang mahal turut menjadi keterbatasan aplikasi alat-
alat tersebut. Oleh karena itu, prosedur diagnostik
standard masih membutuhkan hasil pemeriksaan
penunjang dalam bidang laboratorium klinik dan ECG
yang tentunya sangat memberatkan pasien. Untuk itu,
kini pengembangan prosedur diagnostik dituntut
untuk semakin peka terhadap kebutuhan pasien dan
perkembangan dunia medis.
Salah satu prosedur diagnostik yang telah banyak
berkembang hingga saat ini adalah Hydrothermal
Non-Linear Wave (HNLW). HNLW merupakan alat
diagnostik terkini dalam dunia kedokteran, khususnya
kardiologi, yang memanfaatkan persamaan fisika
dalam aplikasinya.
Hydrothermal Non-Linear Wave (HNLW)
HNLW merupakan alat diagnostik yang saat ini
telah banyak digunakan, khususnya dalam bidang
kedokteran jantung dan pembuluh darah, untuk
mendeteksi dan melokalisir daerah infark, sehingga
dapat ditentukan dengan jelas langkah selanjutnya.
HNLW telah banyak digunakan dalam dunia
medis. Beberapa pusat layanan kesehatan, seperti RS
Cipto Mangunkusumo dan RS Jantung Harapan Kita
telah banyak menggunakan HNLW dalam mendeteksi
kelainan septum interventrikularis. Akurasi dan
sensitifitas yang tinggi menjadikan alat ini sebagai
primadona dalam deteksi kelainan jantung. Namun,
sebagaimana prosedur diagnostik invasif lainnya,
HNLW tak luput dari kekurangan. Salah satu
kekurangan HNLW adalah tidak dapat diberlakukan
pada semua layanan kesehatan, mengingat HNLW
harus dilakukan di ICU / ROI dengan pengawasan
yang ketat dan intensif.
Dengan memanfaatkan kateter yang berisi udara
panas, maka gelombang kalor yang dipancarkan oleh
kateter tersebut akan dimodulasi untuk menembus
densitas otot jantung. Pada otot jantung sehat, tampak
4 lapisan yang sehat pula, yakni perikardium,
epikardium, miokardium, dan endokardium. Dengan
densitas yang berbeda-beda, maka kecepatan
gelombang yang terukur saat melewati medium
tersebut akan berbeda-beda, dan hal inilah yang akan
dimanfaatkan dalam aplikasi kliniknya untuk
mendeteksi kelainan dinding jantung, yang lebih
banyak digunakan untuk deteksi dinding medial
(septum interventrikularis).
Persamaan Bekki-Nozaki
Stabilitas linear dari lubang yang ditimbulkan
oleh fase singularitas, cepat-rambat propagasi
gelombang, dan amplitudo gelombang yang
ditumbulkan oleh eksitasi miokardium orang
sehat/normal ternyata sesuai dengan sebuah
persamaan fisika satu dimensi yang terdapat dalam
kompleks Ginzburg-Landau, yang ditemukan
ditemukan oleh Bekki dan Nozaki ketika mempelajari
masalah linierisasi refernsial yang dapat secara
sempurna beradaptasi. Subruang netral yang
ditemukan oleh Bekki dan Nozaki memiliki struktur
yang cukup kompleks dan penting untuk diperhatikan.
Hilangnya stabilitas dalam persamaan gelombang
sebesar dapat dua kali lipat amplitudo gelombang
memodulasi fase ketidakstabilan yang terkait dengan

A 24
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
bagian terus-menerus dari spektrum, dimana
instabilitas inti sangat berhubungan dengan mode
deskrit serta fase kontinu dan singular dari propagasi
gelombang hidrotermal. Lubang yang timbul dalam
HNLW diyakini merepresentasikan kecepatan yang
secara simetris mendekati nol atau bahkan nol
absolut, ditemukan ketika propagasi gelombang
menembus miokardium orang normal/sehat yang
memiliki densitas tinggi. Hal ini mampu menjelaskan
perbedaan miokard orang sehat dan orang dengan
infark, dimana pada pasien infark, densitas miokard
menurun sehingga menjadikan lubang yang
ditimbulkan dari penurunan gelombang Bekki-Nozaki
ini lebih renadah daripada dua kali amplitudo
gelombang kalor. Batas inilah yang akan menjadi
cutting plate sebagai dasar klasifikasi derajat
detektabilitas pasien dengan kelainan miokardium.
Hal ini menjadi solusi yang paling stabil dimana
batas-batas inti ketidakstabilan tersebut telah
ditetapkan pada bidang parameter untuk kecepatan
dua lubang yang berbeda.
METODOLOGI
Penelitian ini dilakukan dengan observasi
beberapa fase singularitas dalam perjalanan
gelombang hidrotermal yang dihasilkan oleh HNLW.
Fase singularitas, amplitudo, dan cepat-rambat
gelombang diukur dengan suatu metode ultrasonik
terkini, dimana obeservasi dilakukan pada septum
interventrikularis probandus, dengan dua macam
subjek, yaitu subjek yang sehat/normal, dan subjek
yang telah mengalami abnormalitas septum
interventrikularis, baik berupa penebalan, penipisan,
maupun kalsifikasi derajat lanjut. Subjek pada
kelompok sakit memiliki riwayat medis yang
bervariasi, dengan spektrum klinik yang berbeda-
beda. Kebanyakan pasien (56%) berada pada kondisi
penyakit jantung iskemik (IHD) stadium awal,
sementara disusul oleh pasien dengan NSTEMI (21%)
dan STEMI (14%). Sisanya adalah pasien yang
mengalami Cardiac Remodelling dan berada pada
kondisi Gagal Jantung Kongestif. Dari observasi,
tidak ditemukan pasien dengan ruptur septum
interventrikularis.
HNLW dilakukan dengan menggunakan air panas
pada suhu 70-80
o
C, dimana pada suhu tersebut,
hantaran kalor dari uap air menuju miokard secara
konduksi dan radiasi paling mudah untuk diamati. Air
panas dimasukkan melalui kateter dengan akses vena
sentral (melalui v.jugularis externa). Kemudian
kateter diarahkan melintas menuju v.kava superior
masuk ke atrium kanan jantung. Kateter kemudian
diarahkan menuju ventrikel kanan jantung, untuk
kemudian didorong mengitari a.pulmonalis dan
v.pulmonalis melalui sinus transversius pericardii.
Memutari v.pulmonalis, kateter akhirnya kembali ke
jantung melalui atrium kiri, kemudian dipompa oleh
ventrikel kiri menuju aorta. Kemudian, kateter
diarahkan untuk keluar dari pembuluh darah agar
tidak menimbulkan emboli pembuluh darah. Dari sini
dapat diketahui bahwa selama kateter beredar di
sekitar jantung, telah banyak kalor yang dilepaskan
oleh panas dari air dan uap air yang berasal dari
kateter, sehingga propagasi gelombang kalor yang
dihantarkan melalui konduksi dan radiasi ke dalam
otot jantung dapat diobservasi dan dikuantifikasi
berdasarkan persamaan Bekki-Nozaki.
Dalam observasi pasien yang menjalani HNLW,
septum interventrikularis telah berhasil diamati secara
jelas. Gambaran komputer yang telah terautomatisasi
untuk melakukan kuantifikasi cepat-rambat
gelombang diyakini mampu menunjukkan bahwa
setidaknya salah satu fase singularitas dan aplitudo
yang diamati dalam eksitasi gelombang oleh jantung
berdasarkan septum interventrikularis dapat
dijelaskan oleh melalui persamaan non-linear yang
berasal dari postulat Bekki-Nozaki dalam persamaan
kompleks Ginzburg-Landau, meskipun muncul dan
hilangnya dari fase singularitas pada septum
interventrikularis telah melahirkan berbagai pola yang
kompleks. Setidaknya, gambaran grafik yang akan
dianalisis mampu untuk mempermudah klinisi
mengetahui dan mendeteksi dengan cepat lokasi
infark pada daerah septum interventrikularis.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Komparasi detektabilitas dan akurasi diantara
prosedur-prosedur daignostik di bidang radiologi telah
banyak dilakukan. Khusus dalam bidang kardiologi
dan kedokteran vaskular, klinisi mempunyai banyak
pertimbangan alat diagnostik yang diharapkan mampu
membantu ditegakkannya diagnosis pasti penyakit
pasien.
Secara umum, kita mengenal beberapa alat bantu
diagnostik yang sering digunakan untuk pemeriksaan
penunjang / konfirmasi dari diagnosis diferensial
pasien. Dengan kemajuan teknologi, klinisi
diharapkan mampu menentukan pilihat alat diagnostik
secara efektif dan efisien dengan mempertimbangkan
indikasi dan kontraindikasi pasien, kelebihan dan
kekurangan tiap alat, serta kondisi perekonomian
pasien. Pengkajian masalah alat diagnostik yang
digunakan harus dikaji secara holistik dengan
mempertimbangkan setiap aspek yang ada, tidak
terbatas pada spesifisitas dan sensitifitas alat
diagnostik semata.
Melalui Tabel I, kita dapat melakukan komparasi
pada setiap alat diagnostik yang ada. Dari gambaran
yang kita peroleh dalam tabel di atas, pilihan alat
diagnostik apabila seseorang mengalami infark
miokard akut adalah Real-Rime MRI dan 3D
Ekokardiografi atau Ekokardiografi Trans-
Oesophagus. Akan tetapi, jika kita amati tiap-tiap
alatnya, kita masih akan menemukan keterbatasan,
khususnya dalam hal sensitifitas dan spesifisitas yang
masih sangat rendah. Bahkan, sensitifitas Chest X-
Ray dalam mendeteksi penyakit jantung iskemik tidak
sampai 50%, sementara CT-SCAN hanya berkisar
antara 60-70%. Di sini, HNLW yang ditemukan
dengan memanfaatkan prinsip-prinsip fisika dituntut

A 25
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
untuk memiliki nilai diagnostik yang lebih unggul
dibanding pendahulunya.
TABEL I. Komparasi alat-alat diagnostik dalam deteksi infark
miokard akut
Prosedur Diagnostik No
Alat
Diagnostik
Kelebihan Kekurangan
1 Chest X-Ray
Sederhana,
mudah, cepat, dan
murah
Sensitifitas
rendah
2 CT-SCAN
Umum dilakukan,
mampu
mengetahui
hipertrofi jantung
dari CTR
Bahan
radioaktif yang
digunakan
karsinogenik
3
Real-time
MRI
Mampu
memonitor secara
berkala pada
resolusi tinggi
Waktu
pelaksanaan
lama, tidak
nyaman (bising)
4 Angiography
Sensitif dan
spesifik untuk
melokalisasi
oklusi arteri/vena,
trombus, emboli
Zat warna yang
digunakan
berpotensi
menimbulkan
reaksi alergi
5
IVUS
(Intravascular
Ultrasound)
Mampu
mengetahui plak
ateroma dan ring
(PCI) lebih akurat
Sukar untuk
dikerjakan,
sangat invasif
dan
membutuhkan
administrasi
nitrogliserin
6
Echocardio-
graphy 3D
Mampu
mendeteksi infark,
oklusi, stenosis,
ruptur plak,
sampai kerusakan
katup jantung
Biaya yang
sangat mahal,
kurang sensitif
untuk penyakit
jantung iskemik

Head-to-head HNLW vs Echocardiography
Dalam mendeteksi infark miokard akut,
ekokardiografi transoespohagus masih menjadi
standar emas dalam praktik sehari-hari. Namun
demikian, beberapa studi telah melakukan komparasi
antara tingkat sensitifitas dan spesifisitas
ekokardiografi transoesophagus dibandingkan dengan
beberapa alat diagnostik terkini, seperti PET, SPECT,
dan terakhir HNLW.
Dalam analisis multivarian dengan ANOVA,
beberapa penelitian menyebutkan malformasi jantung
yang terjadi karena progresivitas infark tingkat lanjut
dan membentuk jaringan fibrosis serta hipertrofi
dinding septum interventrikularis sangat berkaitan
dengan perubahan pola modulasi dan propagasi
gelombang hidrotermal yang dirambatkan oleh serat
otot tereksitasi.
Peluang pasien dengan penyakit jantung iskemik
(IHD) untuk bertahan hidup dan disembuhkan
tergantung dari prosedur diagnostik sebelumnya.
Pasien yang memiliki penebalan dinding septum yang
menunjukkan PJK dapat didiagnosis dengan cepat dan
akurat terlebih dahulu oleh Hydrothermal Non-Linear
Wave (HNLW).
Dibandingkan dengan pencitraan teknik USG
Doppler & Ekokardiografi Transoesophagus, metode
ini mempunyai odd ratio (OR) sebesar 1,28 (95% CI,
1,21-1,35) dalam deteksi tahap awal disfungsi dinding
septum interventrikularis. Demikian juga, kepekaan
HNLW dalam mendeteksi malformasi jantung
mempunyai akurasi dan detektabilitas yang lebih
besar, bahkan dibandingkan dengan Ekokardiografi
3D dengan kontras, masing-masing 86% berbanding
78% (p = 0,05, 95% CI).
Sayangnya, spesifisitas HNLW secara signifikan
masih lebih rendah dibandingkan Ekokardiografi
dengan 90% berbanding 98%. Secara menyeluruh,
spesifisitas dan sensitivitas HNLW dalam
pendeteksian penyakit jantung iskemik pada daerah
bukan septum (bukan medial) adalah 94% dan 78%
pada dinding anterior dan anteroseptal, dan 99% dan
47% pada dinding lateral. Hal ini wajar dikarenakan
pelepasan gelombang hidrotermal terjadi ketika
kateter melintas septum interventrikularis dan
mengitari vasa pulmonalis.
Perubahan kecepatan pada modulasi gelombang
Bekki-Nozaki yang berbentuk non-linear dengan
amplitudo menyerupai lubang, telah berhasil
mengamati struktur yang tidak stabil dengan
menghubungkan dua fase gelombang yang dinamis
dan tak terbatas. Ketepatan tinggi dari alat ini dapat
memahami karena sensitivitas kecepatan gelombang
dalam suhu tinggi. Kecepatan gelombang dapat
dengan mudah menurun jika mereka melintas jaringan
fibrosa di sekitar serat otot jantung.

Gambar 1. Perubahan pola propagasi dan cepat rambat gelombang
membentuk persamaan Bekki-Nozaki ketika gelombang
hidrotermal melintas miokard sehat
Dalam propagasi gelombang hidrotermal, respon
seluler otot jantung sangat bergantung pada koefisien
restitusi yang berbeda-beda pada tiap lapisan jantung.
Kecepatan konduksi ini merupakan jarak yang
ditempuh oleh gelombang hidrotermal ketika melintas
lapisan jantung per satuan waktu. Koefisien restitusi
pada tiap-tiap lapisan jantung inilah yang
menimbulkan hubungan non-linear dari grafik
propagasi gelombang hidrotermal yang diamati.
Persamaan Bekki-Nozaki sebagai landasan teoritis
propagasi gelombang ini diketemukan pada percobaan
dengan subjek sehat.
Perbedaan koefisien restitusi ini melibatkan
diskordansi alternas otot jantung dan heterogenitas
lapisan jantung. Diskordansi alternans dapat terjadi

A 26
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
karena adanya perbedaan intrinsik tingkat seluler pada
miokardium sehat. Adanya gelombang spiral dan
transisi dari periode konkordansi menjadi diskordansi
masih memiliki misteri yang belum dapat dijelaskan.
Sementara heterogenitas lapisan jantung ini tampak
dari sudut pandang anatomis dimana banyak terdapat
struktur yang berbeda-beda pada tiap regio dan tiap
lapisan, seperti musculus papilaris dan korda
tendinea, fossa ovalis, sulkus koroner, dan berbagai
lokasi anisotropik jaringan otot jantung. Hal inilah
yang menyebabkan terbentuknya pola perubahan
cepat rambat gelombang ketika gelombang
hidrotermal melintas secara trans-mural,
menimbulkan perbedaan spasial.

Gambar 2. Profil amplitudo dari solusi yang ditampilkan pada fase
singularitas gelombang dengan waktu yang berbeda. Bagian solid
dari grafik menyoroti inti dari pergerakan lubang. Panel kiri
menunjukkan penciptaan lubang dan panel sebelah kanan
kehilangannya.
Dari dua gambar diatas, kita menemukan pola
kesamaan yang berulang pada propagasi gelombang
melintas otot jantung subjek yang sehat. Ketika
melintas miokardium subjek sehat, dimana
miokardium memiliki densitas tinggi, dikarenakan
struktur tight junction dari serabut otot, butir glikogen
dan anyaman miofibril yang tebal, dan beberapa jalur
internodal penghambat, maka cepat rambat
gelombang hidrotermal akan menurun lebih besar dari
dua kali amplitudo gelombang. Hal inilah yang
menimbulkan kekosongan spasial seperti yang
diamati pada gambar 2.
Namun ketika gelombang melintas pada
miokardium pasien dengan infark, baik stadium dini
penyakit jantung iskemik, maupun stadium lanjut
yang telah terjadi Dekompensasi Kordis, maka
perubahan cepat-rambat gelombang tidak akan
menurun drastis, mempertahankan kecepatan rambat
gelombang tidak kurang dari dua kali Amplitudo
gelombang. Hal ini dikarenakan terjadinya nekrosis
serabut miofibril dan degenerasi parenkim jantung,
mengubah jaringan otot berdensitas tinggi menjadi
jaringan adiposa dan jaringan fibrotik dengan
komposisi yang didominasi oleh bahan amorf dengan
densitas rendah dan memiliki struktur gap junction.
Oleh karena itu, hantaran gelombang masih
mempertahankan kecepatan di atas kecepatan
gelombang seharusnya, dan hal inilah yang akan
direkan oleh komputer yang telah diautomatisasi.
KESIMPULAN
HNLW dengan mempergunakan komputer digital
yang telah diautomatiasasi melalui persamaan Bekki-
Nozaki telah menjadi alat pencitraan terkini dalam
bidang kedokteran klinis yang memiliki sensitifitas
dan spesifisitas yang tinggi. Berbagai penelitian meta-
analisis turut mendukung postulat ini melalui
percobaan-percobaan yang membandingkan HNLW
dengan Ekokardiografi Trans-Thorakal dan Trans-
Oesophagus. Secara detektabilitas, HNLW terbukti
lebih akurat dengan sensitifitas dan spesifisitas yang
tinggi untuk mendeteksi penyakit jantung iskemik
maupun infark miokardium. Untuk deteksi kerusakan
miokardium, HNLW semakin superior dibandingkan
Ekokardiografi maupun CT-SCAN dan MRI,
khususnya untuk deteksi kerusakan yang ada di
medial ventrikel jantung (septum interventrikularis).
Hal ini dikarenakan modulasi dan propagasi
gelombang dimulai ketika kateter melingkari septum
interventrikularis, sehingga bagian otot jantung yang
tereksitasi lebih dahulu adalah daerah medial.
Keterbatasan HNLW saat ini adalah rendahnya
akurasi detektabilitas pada bagian lateral ventrikel
jantung, dimana sensitifitas dan spesifisitasnya tidak
berbeda bermakna dibandingkan CT-SCAN.
Kekurangan HNLW lainnya adalah prosedur yang
tergolong invasif, membutuhkan observasi secara
intensif sehingga tidak dapat dilakukan tanpa
persiapan yang matang. Hal ini dikarenakan kateter
yang dipasang melalui akses vena sentral berpotensi
menimbulkan komplikasi seperti sepsis, ruptur
pembuluh darah, oklusi aorta, emboli udara, dan
beberapa komplikasi perdarahan minor. Dibutuhkan
ruangan khusus dan tenaga medis khusus yang
terlatih, yang menjadikan HNLW masih terbatas
untuk dapat diaplikasikan di negara berkembang
seperti Indonesia. Oleh karena itu, penelitian lebih
lanjut dan komprehensif masih perlu dikaji secara
holistik untuk menjadikan HNLW sebagai alat
diagnostik standar dalam mendeteksi kerusakan
septum interventrikularis.

Ucapan Terima Kasih
Terima kasih sebesar-besarnya kepada Yogi
Agung dan Lukman Raya selaku kolektor data yang
telah mendukung penelitian ini. Penelitian ini
dilaksanakan tanpa bantuan dana pihak manapun.
Penulis menjamin tidak terdapat konflik kepentingan
apa pun di dalam penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Burguete J, Chate H, Daviaud F, Mukolobwiez N.
(1999), Bekki-Nozaki Amplitude Holes in
Hydrothermal Nonlinear Waves, Phys. Rev.
Lett. 82 (1999) p. 3252-3255

A 27
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
Chaté H, Manneville P. (2002), Stability of the Bekki-
Nozaki hole solutions to the one-dimensional
complex Ginzburg-Landau equation, Physics
Letters A Vol 171, Issues 3–4, 7 December
2002, pp.183–188
Garnier N, Chiffaudel A, Daviaud F, Prigent A.
(2003), Nonlinear dynamics of waves and
modulated waves in 1D thermocapillary flows,
General presentation and periodic solutions,
Physica D: Nonlinear Phenomena Volume 174,
Issues 1–4, 1 January 2003, Pages 1–29
Halilović E, Merić M, Terzić I, Halilović E. (2004),
Clinical aspects and haemodynamic
parameters for monitoring patients with acute
myocardial infarct (AIM), Med Arh.
2004;58(4):223-6
Natale G. (1998), Subsurface Propagation of Thermo-
Mechanical Fracture Shock Waves in
Hydrothermal Regimes, 23
rd
Workshop on
Geothermal Reservoir Engineering, Stanford
University. Stanford California. January 26-28,
1998
Park N, Lee M, Lee A, et al (2012), Comparative
Study of Cardiac Anatomic Measurements
Obtained by Echocardiography and Dual-
Source Computed Tomograph, J Vet Med Sci.
2012 Jul 27
Zaragosa-Macias, Chen MA, Gill EA. (2012), Real
time three-dimensional echocardiography
evaluation of intracardiac masses.
Echocardiography 2012;29(2):207-19


A 28
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
PERBANDINGAN METODE SEGMENTASI WARNA
UNTUK EKSTRASI CITRA MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS
HASIL PEWARNAAN ZIEHL – NEELSEN
Riries Rulaningtyas
1
, Andriyan B. Suksmono
2
, Tati L.R. Mengko
3
,
Putri Saptawati
4
, Franky Chandra
5
, Winarno
6
1,5,6
Program Studi Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga
1,2,3,4
Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung
Email : riries-r@fst.unai.ac.id
Abstrak
Tuberkulosis paru adalah penyakit tropis menular yang dapat menyebabkan kematian. Tuberkulosis paru
disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis (bakteri TB) dengan penyebaran penyakit melalui udara ketika
penderita batuk, bersin, maupun berbicara. Diagnosa penyakit tuberkulosis paru dilakukan melalui pemeriksaan
sputum (dahak) pasien. Sputum yang diperoleh dari pasien dilakukan pewarnaan dengan metode pewarnaan
Ziehl – Neelsen. Metode pewarnaan ini umum digunakan di puskesmas, karena di puskesmas pada umumnya
menggunakan mikroskop cahaya untuk memeriksa slide sputum. Hasil pewarnaan memberikan efek warna
merah untuk bakteri TB dan background berwarna biru. Hasil pewarnaan ini memberikan citra slide yang
komplek, sehingga petugas klinis mengalami kesulitan ketika melakukan pemeriksaan slide secara manual.
Untuk membantu petugas klinis dalam melakukan pembacaan slide, maka pada penelitian ini melakukan
segmentasi warna citra slide untuk mengekstrasi citra bakteri TB dan menghilangkan citra background. Pada
penelitian ini, mencoba beberapa metode segmentasi warna dan melakukan perbandingan hasilnya yaitu pada
ruang warna RGB, HSV, dan CIE L*a*b. Pada ketiga metode warna yang diujicobakan masih memerlukan
bentuk pemodelan warna yang tepat untuk warna citra bakteri TB dan bentuk pemodelan matematika yang
tepat, sehingga akan diperoleh citra bakteri TB utuh dan bersih dari citra background.
Kata kunci : segmentasi warna, mycobacterium tuberculosis, RGB, HSV, CIE L*a*b, pemodelan matematika.

PENDAHULUAN
Penyakit tuberkulosis paru (TB paru) adalah
salah satu jenis penyakit tropis yang sangat berbahaya
karena penyebab kematian peringkat dua setelah
stroke dan mudah sekali penularannya yaitu melalui
perantaraan udara. Penyakit tuberculosis paru ini
disebabkan oleh bakteri yang dinamakan
mycobacterium tuberculosis. Indonesia menduduki
peringkat empat untuk jumlah penderita penyakit
TBC setelah India, Cina, dan Afrika Selatan
(Harahap, 2012), untuk itulah pemberantasan penyakit
TBC ini masih mendapat perhatian yang utama dari
Pemerintah.
Pemeriksaan penderita TB paru diawali dengan
pemeriksaan sputum (dahak). Pemeriksaan dahak
secara mikroskopis adalah pemeriksaan yang utama,
karena dapat mengidentifikasi keberadaan bakteri TB
pada dahak sehingga penyakit TB paru dapat
didiagnosa. Di puskesmas maupun balai kesehatan
paru yang ada di Indonesia menggunakan teknik
pemeriksaan dahak secara mikroskopik dengan
menggunakan teknik pewarnaan Ziehl – Neelsen
untuk preparat dahak. Akibat dari pewarnaan ini
menimbulkan efek warna merah untuk bakteri TB dan
warna biru untuk latar pada sample dahak. Mikroskop
yang biasa digunakan di Puskesmas adalah mikroskop
cahaya (optik). Adapun pemeriksaan bakteri TB
masih dilakukan secara manual oleh petugas klinis
dengan melakukan perhitungan jumlah bakteri secara
manual setiap lapang pandang mikroskop. Untuk
penyakit TB paru dengan stadium (grade) tinggi
mudah dan cepat diagnosanya yaitu dengan
ditemukannya bakteri TB dalam jumlah yang sangat
banyak, sedangkan untuk penyakit TB dengan grade
rendah atau yang diduga negative membutuhkan
diagnosa yang lebih teliti dengan melakukan
pengamatan sebanyak 300 lapang pandang
mikroskop. Hal ini tentunya sangat melelahkan bagi
mata petugas klinis dan membutuhkan waktu yang
tidak sedikit, sedangkan jumlah pasien penyakit TB
paru sangat banyak.
Untuk membantu petugas klinis mengidentifikasi
bakteri TB melalui pemeriksaan dahak secara
mikroskopis, maka pada penelitian ini mencoba
membuat sistem diagnosa preparat TB paru secara
otomatis. Sistem yang dibangun akan mengolah citra
digital dari preparat dahak. Hal pertama yang
dilakukan adalah melakukan perbaikan citra digital
dahak, kemudian melakukan segmentasi citra bakteri
TB berdasarkan warna dan menghilangkan citra
lainnya yang bukan bakteri TB. Segmentasi warna
merupakan hal yang utama, pada kasus identifikasi
citra bakteri TB ini, sehingga akan tersisa hanya
gambar bakteri TB yang teramati. Hal ini diharapkan
akan membantu petugas klinis meningkatkan

A 29
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
keakurasian dalam mendiagnosa preparat dahak TB
paru. Penelitian yang telah dihasilkan berkaitan
dengan segmentasi warna untuk citra bakteri TB hasil
pewarnaan Ziehl – Neelsen antara lain (Forero et al.,
2006) melakukan segmentasi warna dengan metode
adaptive color thresholding pada ruang warna RGB.
(Khutlang et al., 2009) melakukan segmentasi citra
bakteri TB dengan menggunakan metode pixel
classifier. (Makkapati et al., 2009) menggunakan
adaptive color thresholding pada ruang warna HSV.
Namun hasil identifikasi bakteri TB dari hasil
penelitian tersebut belum memenuhi kriteria WHO
untuk standard identifikasi bakteri TB dikatakan
berhasil yaitu kesalahan diagnosa <5% (Departemen
Kesehatan RI, 2007). Oleh karena itu sebagai langkah
awal memperoleh citra bakteri TB, sangat dibutuhkan
teknik segmentasi warna yang tepat sehingga dapat
membantu keakurasian identifikasi bakteri TB.
MATERI DAN METODE PENELITIAN
Pada penelitian ini, mencoba segmentasi warna
citra bakteri TB (Gambar 1), pada tiga ruang warna
yang berbeda yaitu RGB, HSV, dan CIE Lab,
kemudian membandingkan hasil segmentasi untuk
ketiga ruang warna tersebut.

Gambar 1. Citra Dahak Tuberkulosis Paru
Ruang Warna RGB
Ruang warna RGB (Red, Green, Blue) adalah
kombinasi warna primer yaitu merah, hijau, dan biru,
yang biasa digunakan oleh monitor computer atau
televisi. Warna yang dihasilkan berasal dari
kombinasi tiga warna dan masing – masing memiliki
nilai 8 bit merah, 8 bit hijau, dan 8 bit biru. Campuran
ketiga warna primer tersebut dengan porposi
seimbang akan menghasilkan nuansa warna kelabu.
J ika ketiga warna ini disaturasikan penuh, maka akan
menghasilkan warna putih (Pratt,2007).
Ruang Warna HSV
Model HSV (Hue, Saturation, Value)
menunjukkan ruang warna dalam bentuk tiga
komponen utama yaitu hue, saturation, dan value
(atau disebut juga brightness). Hue adalah sudut dari 0
sampai 360 derajat. Biasanya 0 adalah merah, 60
derajat adalah kuning, 120 derajat adalah hijau, 180
derajat adalah cyan, 240 derajat adalah biru dan 300
derajat adalah magenta seperti pada Gambar 2. Hue
menunjukkan jenis warna (seperti merah, biru,
kuning), yaitu tempat warna tersebut ditemukan
dalam spectrum warna. Saturasi (saturation) suatu
warna adalah ukuran seberapa besar kemurnian dari
warna tersebut akibat pengaruh dari warna putih.
Seperti warna merah, dengan pengaruh warna putih,
warna merh menjadi bervariasi dari warna merah
menuju merah muda, yang artinya hue masih tetap
bernilai merah tetapi nilai saturasinya berkurang.
Komponen HSV berikutnya adalah nilai value atau
disebut juga intensitas, yaitu ukuran seberapa besar
kecerahan suatu warna atau seberapa besar cahaya
datang dari suatu warna. Value memiliki nilai dengan
jangkauan 0% sampai 100% (Pratt, 2007).

Gambar 2. Nilai Hue, Saturation, dan Value (Pratt,2007 )
Konversi warna RGB ke HSV seperti pada Persamaan
1 sampai dengan 5 (Gonzales, 2008 ).
(1)

V =max (r, g, b) (2)
(3)
(4)

H =H +360 jika H <0 (5)
Ruang Warna XYZ
Nilai RGB yang terdapat pada suatu piksel dapat
ditransformasikan kedalam ruang warna CIE XYZ
melaui proses transformasi matriks 3x3. Transformasi
ini melibatkan nilai – nilai tristimulus, yakni suatu
pengaturan dari tiga komponen cahaya – linear yang
memenuhi fungsi pencocokan warna CIE. Pada ruang

A 30
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
warna XYZ, beberapa warna direpresentasikan
sebagai nilai yang selalu positif.
Perhitungan untuk transformasi dari ruang warna
RGB ke XYZ (dengan nilai referensi putih), adalah
melalui perhitungan matriks transformasi seperti pada
persamaan berikut ( Pratt, 2007 ) :

(6)

Ruang Warna L
*
a
*
b
*

Ruang Warna L
*
a
*
b
*
atau yang dikenal dengan
CIELAB adalah ruang warna yang paling lengkap
yang ditetapkan oleh Komisi Internasional tentang
iluminasi warna (French Commision Internationale
de l’eclairage, dikenal sebagai CIE). Ruang warna ini
mampu menggambarkan semua warna yang dapat
dilihat dengan mata manusia dan seringkali digunakan
sebagai referensi ruang warna.
Perhitungan konversi ruang warna dari XYZ ke
L
*
a
*
b
*
berdasarkan pada persamaan berikut ini
(Pratt, 2007 ):

L
*
=116(Y/Yn)
1/3
– 16, untuk Y/Yn >0.008856

L
*
=903.3 Y/Yn selainnya

a
*
=500(f(X/Xn) – f(Y/Yn))
b
*
=200(f(Y/Yn) – f(Z/Zn))

dimana f(t) =t
1/3

untu
k t >0.008856
f(t) =7.787t +16/166 selainnya (7)

Terdapat harga delta yang dapat digunakan dalan
skala warna CIELAB. L*, a*, b*
mengindikasikan seberapa jauh perbedaan standard
dan sample antara yang satu dengan lain. Harga delta
dapat digunakan sebagai control kualitas atau
pengaturan persamaan. Nilai toleransi dapat
dintentukan dari harga delta. J ika nilai delta lebih dari
nilai toleransi yang diberikan, maka terdapat
perbedaan yang jauh antara citra dari objek standard
dengan citra sample, sehingga beberapa tipe koreksi
dibutuhkan jika nilai delta keluar dari toleransi yang
ditetapkan. Sebagai contoh, jika harga a* keluar dari
toleransi, maka intensitas warna merah atau hijau
memerlukan pengaturan kembali. Ketika warna
sampel lebih merah atu lebih hijau daripada warna
objek standard, hal ini dapat diketahui dari nilai delta.
Sebagai contoh, jika a* adalah positif, maka warna
sampel lebih merah dibandingkan dengan warna
objek standard.
Perbedaan warna total E* dapat pula ditentukan.
E* adalah nilai single yang diambil dari perhitungan
perbedaan antara nilai L*, a*, b* dari objek sampel
dan objek standard. Akan tetapi jika E* keluar dari
nilai toleransi, maka bukan berarti parameter L*, a*,
b* keluar pula dari toleransi. Dua harga delta lain
yang berhubungan dengan skala CIELAB adalah C*
dan H*. C* adalah perbedaan dalam warna
kromatik antara objek sampel dengan objek standard
yang dinyatakan dalam sistem koordinat polar. H*
adalah perbedaan dalam sudut Hue antara objek
sampel dengan objek standard yang dinyatakan pula
dalam sistem koordinat polar. CIELAB banyak
digunakan pada industri dimana objek memerlukan
pengukuran warna, dengan cara membandingkan
skala warna standard dengan nilai warna objek
sampel. (Hunter Lab, 2008)
Euclidean Distance
Untuk mengklasifikasikan warna pada suatu
kelompok warna tertentu, maka pada hasil penelitian
kali ini menggunakan teknik Euclidean Distance,
dengan mencari jarak minimum antara dua titik
tetangga yang paling berdekatan (nearest neighbor).

Gambar 3. Teorema Phytagoras untuk dua dimensi (Michael, 2008)
Panjang kuadrat dari vector x =[x1 x2] adalah
penjumlahan dari kuadrat kooordinat (Seperti pada
Gambar 3, segitiga OPA atau segitiga OPB, |OP|
2

adalah kuadrat dari panjang x, adalah panjang titik O
dan P) dan jarak kuadrat diantara dua vector x =[x1
x2] dan y = [y1 y2] adalah jumlah kuadrat dari
perbedaan koordinatnya (seperti segitiga PQD
(Gambar 2.2), |PQ|
2
adalah kuadrat jarak antara titik P
dan Q). Untuk menentukan jarak vector x dan y dapat
digunakan notasi d
x,y
, sehingga menjadi persamaan (
Michael, 2008 ):

(8)
Sedangkan jarak d
x,y
diperoleh dari persamaan (
Michael, 2008 ):
(9)

J arak antara vector x =[x1 x2] dan vector nol O =[0
0] adalah ( Michael, 2008 )
(10)


A 31
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8

Gambar 4. Teorema Phytagoras untuk tiga dimensi ( Michael, 2008 )

Koordinat x dalam tiga dimensi dinyatakan dengan
titik x =[x1 x2 x3] seperti pada Gambar 4. Tiga
koordinat adalah titik A, B, dan C sepanjang sumbu,
dan sudut AOB, AOC, COB adalah 90 seperti sudut
OSP pada titik S, dimana titik P diproyeksikan ke
lantai (Gambar 4) dengan menggunakan teorema
Phytagoras maka diperoleh :
|OP|
2
=|OS|
2
+|PS|
2
(karena sudut kanan pada titik S)
|OS|
2
=|OA|
2
+|AS|
2
(karena sudut kanan pada titik
A) . Dan juga |OP|
2
=|OA|
2
+|AS|
2
+|PS|
2

Sehinga panjang kuadrat dari x dapat dinyatakan
( Michael, 2008 ) :

(11)

Untuk menghitung jarak antara x dan y adalah
( Michael, 2008 ):


(12)

Bila jumlah dimensi j, dengan jumlah variable j, maka
jarak antara vector x dan y menjadi ( Michael, 2008 ) :

(13)

Persamaan 13 disebut persamaan Euclidean distance
yang diperoleh berdasarkan teorema Phytagoras.
Penelitian ini dilakukan melalui langkah –
langkah seperti pada diagram alir Gambar 5.

Gambar 5. DiagramAlir Penelitian
HASIL
Segmentasi warna pada ruang warna RGB yang
telah dilakukan pada penelitian ini yaitu dari kanal
warna yang dipilih dengan suatu nilai segmentasi
tertentu yang biasanya disebut thresholding. Analisis
yang dilakukan adalah analisis ruang warna yang
digunakan. Pertama yang dilakukan adalah
menganalisis ruang warna RGB, dengan hasil
pemisahan kanal Red, Green, dan Blue, ternyata citra
bakteri TB terlihat jelas pada kanal Green. Kemudian
dilakukan segmentasi dengan nilai threshold yang
diperoleh dari histogram citra. Dari colormap kanal
green dan histogram (Gambar 6) kanal green dapat
diambil nilai threshold untuk intensitas warnanya
sebesar 120.

Gambar 6. HistogramKanal Green RGB


A 32
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
Hasil segmentasi citra dahak pada ruang warna RGB
terlihat pada Gambar7.

Gambar 7. Citra Dahak Sebelumdan Sesudah Segmentasi pada
Ruang Warna RGB
Dari hasil color thresholding pada ruang warna
RGB, terlihat hasil segmentasi yang kurang bagus,
citra background masih terlihat. Disamping itu juga
sulit menentukan nilai threshold yang tepat dari profil
histogram di kanal green, karena histogram
terdistribusi merata sehingga sulit membedakan
histogram objek dengan background.
Untuk mengatasi kekurangan pada ruang warna RGB,
maka dalam penelitian ini mencoba ruang warna HSV
(hue, saturation, value).

Gambar 8. HistogramKanal Hue HSV
Dari color map kanal hue dan histogramnya (Gambar
8) yang dihasilkan dapat ditentukan nilai threshold
untuk segmentasi background yaitu sebesar 0,55.

Gambar 9. Citra Dahak Sebelumdan Sesudah Segmentasi pada
Ruang Warna HSV
Perbandingan dua kanal yaitu kanal green pada ruang
warna RGB dan kanal hue pada ruang warna HSV,
menunjukkan bahwa kanal hue dapat melakukan
segmentasi warna lebih baik dari kanal green.
Hasil segmentasi warna pada ruang warna CIE
L*a*b* dengan metode Euclidean Distance, seperti
pada Gambar (10) dan Gambar (11).
Dari hasil segmentasi warna pada ruang warna
CIE L*a*b* menunjukkan bahwa hasil segmentasi
masih kurang baik, karena masih tertinggal citra
background, sehingga memerlukan teknik segmentasi
lagi untuk menghilangkan citra background.
Dari ketiga ruang warna yang telah diuji coba,
segmentasi warna pada ruang warna HSV
memberikan hasil yang paling baik. Namun ketika
nilai threshold pada ruang warna HSV ini
diaplikasikan pada citra dahak secara utuh, masih
memberikan hasil segmentasi yang kurang bersih dari
citra background (seperti pada Gambar 12).
Dari ketiga ruang warna tersebut, masih perlu
dikaji lagi dari sisi pemodelan matematik yang
digunakan. Dengan mengembangkan model
matematik dasar yang ada pada ketiga ruang warna
tersebut, akan dapat memperbaiki performansi hasil
segmentasi, karena ketiga ruang warna tersebut adalah
yang paling dekat dengan persepsi visual mata
manusia.


A 33
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8

Gambar 10. Hasil Segmentasi CIE L*a*b*
(a). Citra Bakteri TB tunggal
(b). Hasil Segmentasi Kanal Red
(c). Hasil Segmentasi Kanal Magenta
(d). Hasil Segmentasi Kanal Blue

Gambar 11. Hasil Segmentasi CIE L*a*b*
(a). Citra Bakteri TB dengan Noise
(b). Hasil Segmentasi Kanal Red
(c). Hasil Segmentasi Kanal Magenta
(d). Hasil Segmentasi Kanal Blue

A 34
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8

UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih untuk Laboratorium Teknik
Biomedik Institut Teknologi Bandung, atas segala
fasilitas yang telah diberikan kepada Penulis utama
selama menempuh pendidikan S3 di ITB dan
dukungannya pada panelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007,
Pedoman Nasional Penanggulangan
Tuberkulosis.
Hunter Lab, 2008“Measure Color”,
www.hunterlab.com.
M. Forero, F. Sroubek, and M.Desco, august 2006 ,
“Automatic identification of nycobacterium
tuberculosis by Gaussian mixture models”,
J ournal of microscopy, vol.223 no.2, pp.120-
132.
Michael, 2008, “Measures of distance between
samples:Euclidean”,http://www.econ.upf.edu/
~michael/stanford/maeb4.pdf
R. Khutlang, S.Krishnan, R. Dendere, A. Whitelaw, K.
Veropoulos, G. Learmonth, T.S. douglNIas,
2009, “Classification of Mycobacterium
Tuberculosis in Images of ZN-Stained Sputum
Smears”, IEEE Xplore.
R.C. Gonzales, Richard E.Wood,Steven L.Eddins,
2008, Digital Image Processing Third Edition,
Pearsonson Prentice Hall
S.W. Harahap, 22 Mei 2012, Jumlah Penderita TBC
di Indonesia Peringkat 4 di Dunia,
Kompasiana, www.kompas.com.
Gambar 12. (a). Citra Dahak Utuh, (b). Hasil Segmentasi
KESIMPULAN
Segmentasi warna citra bakteri TB pada
penelitian ini memberikan hasil segmentasi sementara
yang baik pada ruang warna HSV. Namun pada ruang
warna ini masih belum dapat memberikan hasil
segmentasi yang baik untuk kasus citra dahak utuh
yang masih banyak terdapat noise citra yang non TB.
Dari hasil penelitian ini, dengan menggunakan
algoritma dasar segmentasi yaitu metode thresholding
belum dapat menyelesaikan persoalan segmentasi
utuh citra dahak yang komplek, sehingga masih
memerlukan pengembangan metode dan algoritma
yang dapat membantu memperbaiki performansi
segmentasi yang memegang peran penting untuk
mengidentifikasi citra bakteri TB.
V. Makkapati, R. Agrawal, R. Acharya (2009,
August), “Segmentation and Classification of
Tuberculosis Bacilli from ZN-stained sputum
/smear Images”, in IEEE Conference on
Automation Science and Engineering,
Bangalore – India.
W.K. Pratt, 2007, “Digital Image Processing”, Wiley-
Interscience, A J ohn Wiley & Sons, Inc.


A 35
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
UJI KARAKTERISTIK MODUL SURYA DENGAN MENGGUNAKAN SUN
SIMULATOR SEDERHANA SERTA PENDEKATAN KOMPUTASI
Satwiko S

Jurusan Fisika, FMIPA UNJ
Kampus B, Jl Pemuda no 10 Rawamangun
Jakarta Timur 13220
email: sidopekso61@yahoo.com.au
Abstrak-
Dengan menggunakan sun simulator sederhana besaran besaran pada hasil pengukuran kurva fungsi
karakteristik sel surya I-V dapat diperoleh, dilakukan beberapan pengukuran dengan jenis solar cell yang
berbeda baik tipe maupun ukurannya. Pendekatan simulasi digunakan untuk membandingkan antara keduannya.
Diperoleh hasil yang berkesesuaian simulasi serta hasil keluaran dengan sun simulator.
Kata Kunci: sun simulator, Kurva Karakteristik, pendekatan simulasi

PENDAHULUAN
Sel surya merupakan perangkat semikonduktor
yang mengkonvesi cahaya matahari menjadi energi
listrik. Pemanfaatan sel surya di Indonesia
merupakan hal menarik karena Indonesia terletak
pada daerah khatulistiwa. Permasalahan yang ada
yaitu harga sel surya masih mahal dibandingkan
dengan pembangkit energi dari sumber energi lain.
Usaha untuk menurunkan harga panel surya dapat
dilakukan dengan menaikkan efisiensi sel tersebut.
Sel surya dapat dimodelkan sebagai sumber
arus yang diparalelkan dengan dioda. Ketika sel
surya disoroti cahaya, akan menghasilkan arus I
L
.
Ketika sel surya dalam kondisi gelap, sel surya
hanya berfungsi sebagai dioda sambungan P-N dan
tidak dapat memproduksi energi listrik. Ketika
dihubungkan dengan tegangan dari luar, sel akan
memproduksi arus I
D
yang disebut arus dioda
dalam kondisi gelap [1].

Gambar 1. Diagram arus sel surya [2].
Sel surya bekerja maksimum pada tingkat
iradiasi tertentu dari suatu sumber cahaya untuk
bisa diubah menjadi keluaran berupa arus listrik
dan tegangan. Bentuk kurva karakteristik I-V
berbeda-beda pada intensitas, dan temperatur
tertentu. Karakteristik I-V sel surya ketika disinari
pada sembarang iradiasi dan temperatur T
ditunjukkan pada gambar 2.

Gambar 2. Kurva karakteristik model sel surya.
Arus keseluruhan yang didapat merupakan selisih
antara arus fotolistrik I
L
dan arus dioda I
D,

dirumuskan dengan:

(1)
dengan I
L
adalah arus saat sel surya disinari
(Ampere), I
0
adalah arus saturasi diode (Ampere), q
adalah muatan elektron sebesar 1,602 x 10
-19
C, V
adalah tegangan keluaran (Volt), I adalah arus
keluaran (Ampere), Rs adalah hambatan seri sel
(Ω), Rsh adalah hambatan paralel sel (Ω), n adalah
faktor ideal dioda (antara 1 sampai 2), k adalah
konstanta Boltzman sebesar 1.38 x 10
-23
J/K, dan T
adalah temperature sel (Kelvin) [3].
Karakteristik I-V sel surya berubah sepanjang
perubahan besar iradiasi cahaya yang mengenai
permukaan modul surya. Semakin besar iradiasi
yang terkena modul, semakin besar pula daya dan
efisiensinya. Hal tersebut ditunjukkan pada gambar
3.


A 36
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8

Gambar 3. Kurva karakteristik I-V terhadap perubahan iradiasi
[4].
Suhu sel surya mempengaruhi fill factor
dikarenakan ketika suhu di sekitar sel surya
meningkat di atas suhu normal 25
0
C, tegangan
akan berkurang. Selain fill factor, efisiensinya juga
turun beberapa persen. Sebaliknya ketika suhu
meningkat, besarnya arus juga akan meningkat.

Gambar 4. Kurva karakteristik I-V terhadap perubahan
temperature [4]
Untuk mensimulasikan cahaya yang akan
mengenai permukaan modul sehingga diketahui
efisiensi maksimal suatu modul, maka dapat
digunakan sebuah simulasi matahari buatan (sun
simulator) dengan menggunakan lampu halogen
untuk mendapatkan karakteristik sel surya
khususnya I-V. Lampu halogen tersebut disusun
didalam box reflektor dimana di setiap sisi box
tersebut merupakan cermin. Ruang reflektor ini
berfungsi mengurangi cahaya untuk keluar sehingga
tidak ada cahaya loss, dan tepat mengenai modul
surya. Modul surya ditempatkan dibagian atas box
reflektor tepat mengarah langsung kepada lampu
halogen.

Gambar 5. Sisi dalam sun simulator
Keuntungan penggunaan sun simulator yaitu
untuk bisa memodelkan iradiasi matahari kepada
sel surya tanpa dipengaruhi cuaca dan temperatur
sekitar. Selain itu karakteristik sel surya lebih
akurat mendekati model jika menggunakan sun
simulator dibanding dengan iradiasi langsung ke
matahari dikarenakan menghindari panas yang
berlebihan akibat iradiasi secara terus menerus [5]
BAHAN DAN METODE
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian
ini adalah Modul surya polycrystalline Si tipe SX
50 U, serta 3 buah modul monocrystalline , Lampu
halogen 500 dan 1.000 Watt, Cermin datar, Resistor
box, Sensor arus DCS-01, Sensor suhu LM-35,
Rangkaian pembagi tegangan, Mikrokontroler
ATmega 8535, dan Laptop.
Pengambilan data dilakukan dengan
menembakkan cahaya dari lampu halogen langsung
terhadap modul surya dan dilakukan di dalam box
reflektor. Intensitas cahaya yang masuk diserap
modul surya dan dikonversi menjadi keluaran
berupa arus dan tegangan. Arus dihasilkan melewati
sensor arus dan rangkaian pembagi tegangan akan
masuk ke dalam mikrokontroller. Mikrokontroller
dibuat pemrograman agar data dapat langsung
interface ke laptop. Dengan mengubah-ubah nilai
resistansinya, makan didapat kurva karakteristik I-
V sel surya tersebut.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengukuran karakteristik I-V pada
iradiasi dan jarak yang berbeda menunjukkan
perubahan efisiensi yang saling berhubungan.
Ketika iradiasi oleh lampu halogen sebesar 4000
Watt dengan jarak yang diubah-ubah antara 80 cm,
70 cm dan 60 cm, menunjukkan bahwa semakin
besar jarak penyinarannya, Isc dan daya yang
dihasilkan akan semakin kecil. Hal ini dikarenakan
ketika sel surya didekatkan dengan lampu halogen,
intensitas iradiasi yang diterima oleh sel surya
menjadi lebih besar.

A 37
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8

Gambar 6. Hasil penelitian pengukuran karakteristik sel surya
menggunakan sun simulator.
Sel surya SX50U yang dilakukan pengukuran
memiliki spesifikasi Voc sebesar 21 Volt, Isc
sebesar 3.23 Ampere, dan Pmax sebesar 50 Watt
pada sumber iradiasi 1 sun (1000 Watt/m
2
). Hasil
penelitian pengukuran karakteristik sel surya
SX50U menggunakan Sun simulator pada sumber
iradiasi 4000 Watt, ditunjukkan pada tabel 1.
Tabel 1. Karakteristik sel surya hasil penelitian
Modul surya
Voc
(V)
Isc
(A)
Vmax
(V)
Imax
(A)
Pmax
(Watt
)
Monocrystalli
ne (modul 1)
20,7 0,95 16,39 0,89 14,58
Monocrystalli
ne (modul 2)
21,1 0,96 16,63 0,91 15,13
Monocrystalli
ne (modul 3)
17,75 1,53 12,15 1,43 17,37
Polycrystallin
e (modul 4)
19,99 3,48 16,09 3,03 48,75

Dapat disimpulkan bahwa hasil pengukuran
karakteristik sel surya ketika sumber iradiasi 4000
Watt pada jarak 80 cm mendekati spesifikasi pabrik
ketika sumber iradiasi sebesar 1 sun (1000
Watt/m
2
). Sehingga sun simulator sederhana telah
teruji dan dapat digunakan untuk mengetahui
karakteristik sel surya unknown dengan
menggunakan sumber irdiasi 4000 Watt pada jarak
80 cm.
KESIMPULAN
Sun simulator sederhana menunjukkan semakin
besar jarak penyinarannya, Isc dan daya yang
dihasilkan akan semakin kecil. Hal ini dikarenakan
ketika sel surya didekatkan dengan lampu halogen,
intensitas iradiasi yang diterima oleh sel surya
menjadi lebih besar. Pengukuran karakteristik sel
surya SX50U ketika sumber iradiasi 4000 Watt
pada jarak 80 cm mendekati spesifikasi pabrik
ketika sumber iradiasi sebesar 1 sun (1000
Watt/m
2
).

Gambar 7. Daya hasil pengukuran vs experimen.
Hubungan daya dengan tegangan secara teori
dengan secara experimen di berikan pada gambar 7
menunjukan secara umum output modul surya pada
hasil simulator memberikan nilai yang sama dengan
spesifikasi diberikan oleh pabrikan.

DAFTAR PUSTAKA
 
1. Hansen, Anca D dkk. 2000. Model for a Stand-
Alone PV System. Roskilde: Riso National
Laboratory.
2. National Instruments. Part II: Photovoltaic I-V
Cell characterization theory and Labview
analysis code. National_Instruments.com
(Sabtu 15 Mei 2010, 18.59).
3. F. M. Gonzales, Longatt. 2005. Model of
Photovoltaic Module in Matlab
TM
. 2do
Congreso Iberoamericano de Estudiantes de
Ingenieria Electrica, Electronica Y
Computacion.
4. S. Nema, R. K. Nema, G. Agnihotri. 2010.
Matlab/Simulink Based Study of Photovoltaic
Cells/ Modules/ Array and Their Experimental
Verification. International Journal of Energy
and Environment. Volume 1, Issue 3, 2010
pp.487-500.
5. W. Arymukti, S. Satwiko, N. Hadi. 2011.
Karakteistik sel surya dengan menggunakan
sun simulator sederhana. Makalah pada
Seminar SEMIRATA 2011, 10 mei 2011.


A 38
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
METODE GRADIEN VERTIKAL GAYABERAT MIKRO
ANTAR WAKTU DAN APLIKASINYA
Supriyadi
1
, Sarkowi
2

1
Program Studi Fisika FMIPA Universitas Negeri Semarang
2
Program Studi Teknik Geofisika FT Universitas Lampung
Email : pryfis@yahoo.com
Abstrak
Telah dilakukan pengukuran gradien vertikal gayaberat mikro antar waktu di Semarang sebanyak dua kali,
yaitu periode Juli 2007 dan Juli 2008 dengan menggunakan gravimeter Scintrex Autograv CG-3. Pada setiap
pengukuran dilakukan dengan meletakkan gravimeter di atas pemukaan tanah dan pada keringgian 70 cm.
Berdasarkan pemodelan awal yang menggunakan data sintetik menunjukkan bahwa terdapat tiga kemungkinan
nilai anomali gradien vertikal gayaberat mikro antar waktu yaitu nol, positip, dan negatip yang berturut-turut
berkaitan dengan tidak ada perubahan, kenaikan, dan penurunan muka air tanah. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa nilai negatip anomali gradien verikal gayaberat mikro antar waktu ditemukan di daerah Simpang Lima
sekitarnya, Tugu Muda, Karangayu, Pusponjolo, Puspowarno, Puspogiwang, Kalibanteng, Sampangan,
Manyaran, perumahan Telogosari. Di bagian selatan, yaitu kawasan Meteseh dan sekitarnya ditemukan nilai
anomali gradien vertikal gayaberat mikro positip yang mengindikasikan dikawasan terbut terjadi kenaikan
muka air tanah akibat curah hujan.
Kata kunci : anomali, gradien vertikal gayaberat, air tanah

1. PENDAHULUAN
Metoda gaya berat merupakan metoda geofisika
yang mengukur variasi gaya berat di bumi. cukup
baik digunakan untuk mendefinisikan daerah target
spesifik untuk selanjutnya disurvei dengan metoda-
metoda geofisika lain yang lebih detil.
Seiiring dengan perjalanan waktu, metode ini
telah mengalami perkembangan, diantaranya adalah
perkembangan peralatan utama, yaitu gravimeter
dan metode pengukuran di lapangan.
Adanya peningkatan akurasi gravimeter dan
pengembangan sistem digital, penerapan metode
gayaberat untuk sumber anomali dekat permukaan
dan yang berhubungan dengan lingkungan serta
untuk tujuan pemantauan semakin banyak
digunakan, diantaranya: untuk pemantauan
reservoir panas bumi, minyak dan gas. Proses
produksi uap dan injeksi air pada reservoir panas
bumi harus dimonitor secara baik dengan tujuan
agar reservoir panas bumi tetap stabil, produksi
uap stabil sehingga reservoir panas bumi dapat
bertahan lama (Allis dan Hunt, 1986; Andres dan
Pedersen, 1993; Kamah dkk., 2001; Galderen dkk.,
1999; Eiken dkk., 2000; Akasaka dan Nakanishi,
2000; Mariita, 2000; Nishijima, dkk., 2005), untuk
pemantauan reservoir minyak dan gas akibat
aktivitas produksi minyak dan injeksi gas atau air
telah dilakukan sejak tahun 1983 dan terus
berkembang sampai sekarang (Hare, dkk., 1999;
Kadir, dkk., 2004; Santoso dkk., 2004). Aktivitas
gunung api yang berupa pergerakan magma dan
deformasi permukaan juga telah diamati dengan
metode gayaberat mikro untuk mengetahui
karakterisitik aktivitas gunung api (Rundle, 1982;
J ohnsen dkk., 1980; Rymer dkk., 1988; J ousset
dkk., 2000),
Pengembangan metode pengukuran gayaberat
yang telah dilakukan di berbagai tempat adalah
gradient vertikal gayaberat. Metode ini telah dipakai
untuk berbagai keperluan survei, misalnya:
penelusuran situs arkeologi (Stefanelli et al, 2008),
untuk survei geologi terutama yang terkait dengan
penentuan bidang batas (Tatchum et al, 2008),
penelusuran gua bawah permukaan ( Butler , 1984).
Berdasarkan hasil penelitian terdahulu tentang
pemanfaatan metode gradient vertikal gayaberat
mikro antar waktu yang menunjukkan hasil yang
makasimal, maka pada penelitian ini diaplikasikan
metode tersebut untuk pemantauan perubahan
kedalaman muka air tanah di kota Semarang.
2. DASAR TEORI
2.1 Respon Gayaberat mikro Akibat Penurunan
Muka Air Tanah
Perubahan kedalaman muka air tanah di suatu
tempat dipengaruhi oleh : musim, banyaknya curah
hujan, pengambilan air tanah oleh manusia untuk
keperluan rumah tangga dan industri. Allis dan
Hunt (1986) menyatakan bahwa respon anomali
gayaberat akibat perubahan muka air tanah dapat
dihitung menggunakan pendekatan koreksi slab
Bouguer tak hingga dengan memasukkan faktor
porositas. Persamaannya sebagai berikut :

d G g
w w
A = A | µ t 2

1
d g
w w
A = A | µ 93 , 41
µGal 2


A 39
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
dengan Ag
w
, G, µ
w
, |, Ad masing - masing adalah
perubahan nilai gayaberat akibat adanya perubahan
kedalaman muka air tanah, konstanta gayaberat
umum, rapat massa air (gr/cm
3
), porositas (%), dan
perubahan kedalaman muka air tanah (meter).
Sarkowi (2007) memodelkan hubungan penurunan
muka air tanah dengan anomali gayaberat mikro
antar waktu dengan mengasumsikan porositas
batuan (reservoir air tanah) sebesar 30% maka setiap
perubahan muka air tanah 1 meter menyebabkan
perubahan gayaberat 12,579 µGal seperti
ditunjukkan pada Gambar 1

Gambar 1. Hubungan antara respon gayaberat
mikro dengan penurunan muka air tanah
2.2 Gradien vertikal gayaberat mikro antar
waktu
Untuk mengetahui hubungan antara gradien
vertikal gayaberat dengan perubahan rapat massa
dilakukan dengan menghitung gradien vertikal
gayaberat dari benda berbentuk bola. Respon
vertikal gayaberat dari model benda berbentuk bola
adalah (Telford dkk., 1990) :

( )
2
3
2 2 3
4
z x
z
a G g
+
= µ t

3
Gradien vertikal gayaberat dihitung dari turunan
persamaan 3 terhadap z
( ) ( )
|
|
.
|

\
|
+
÷
+
=
c
c
2
5
2 2
2
2
3
2 2
3 1
3
4
z x
z
z x
a G
z
g
µ t

4
dengan : g (gayaberat terukur), (gradien
vertikal gayaberat), G (konstanta gayaberat umum),
z (kedalaman pusat bola), ( (rapat massa), a (jari-jari
bola), x (titik ukur).
dz g / c
Persamaan 4 menunjukkan bahwa apabila jari-
jari dan kedalaman bola tetap, maka gradien vertikal
gayaberat hanya dipengaruhi oleh rapat massa..
Penurunan rapat massa menyebabkan penurunan
gradien vertikal gayaberat dan sebaliknya. Gradien
vertikal gayaberat-mikro time lapse merupakan
selisih nilai gradien vertikal periode sekarang
dengan sebelumnya seperti ditunjukkan persamaan 5
dan 6.

( )
( ) ( )
( ) µ t A
|
|
.
|

\
|
+
÷
+
=
c
A c
2
5
2 2
2
2
3
2 2
3 1
3
4 , ,
z x
z
z x
Ga
z
t z x g

5
( ) ( ) ( )
z
t z x g
z
t z x g
z
t z x g
c
c
÷
c
c
=
c
A c
1 2
, , , , , ,

6
dengan
( )
z
t z x g
c
A c , ,
: gradien vertikal gayaberat-mikro
Antar waktu
( )
z
t z x g
c
c
1
, ,

: gradien vertikal gayaberat-mikro
pada t
1
( )
z
t z x g
c
c
2
, ,

: gradien vertikal gayaberat-mikro
pada t
2

t
1
t
2
: ngukuran kedua
3. ME DE
digunakan adalah
mberg G1158 dan
Scin
ngan dibuat dari dua buah kotak
dan
: waktu pengukuran pertama
waktu pe
TO PENELITIAN
Peralatan utama yang
gravimeter La Coste & Ro
trex Autograv CG-3. Lokasi penelitian di kota
Semarang. Pengukuran gayaberat menggunakan
metode gradien vertikal gayaberatmikro antar waktu.
(Gambar 2). Pengukuran dilakukan 2 kali, yaitu pada
bulan J uli 2007 dan J uli 2008 di titik ukur yang
sama. Untuk penentuan posisi titik ukur gayaberat
digunakan GPS.
Skema struktur pengukuran gradien vertikal
gayaberat di lapa
kaki tiga yang dirancang khusus dengan
ketinggian yang dapat diatur (Gambar 2).



Gambar 2. Skema model pengukuran gayaberat untuk
menentukan gradien vertikal
4. HASIL DA
ayaberat
urangan air
k
me arakteristik gradien vertikal gayaberat-
mik

a
penurunan kedalaman muka air tanah adalah: t
1
=0
N PEMBAHASAN
4.1 Karakteristik gradien vertikal g
mikro antar waktu akibat peng
tanah
Simulasi data sintetik ini bertujuan untu
ngetahui k
ro antar waktu akibat pengurangan atau
penurunan kedalaman muka air tanah. Parameter
model fisis yang digunakan berupa model bumi tiga
lapis memanjang ke arah horisontal dengan sifat-
sifat fisik sebagai berikut (Marsudi, 2000; Arifin dan
Wahyudin, 2000) sebagai beriku: lapisan 1 berupa
lempung memiliki ketebalan 10 m dan µ =1,9
gr/cm
3
, lapisan 2 berupa pasir (akifer) dengan
ketebalan 40 m dan µ=2,0 gr/cm
3
. Porositas akifer
adalah 30% , perubahan rapat masa akibat
pengambilan air tanah adalah Aµ = -0.3 gr/cm
3
,
lapisan 3 berupa lempung dengan µ =2,1 gr/cm
3
.
Diasumsikan punurunan muka air tanah terjadi pada
koordinat 4000 – 6000 meter dengan besarny

A 40
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
m, t
2
=5 m, t
3
=10 m, dan t
4
=15 m. Pengukuran
gayaberat dilakukan pada ketinggian 0 dan 1 m di
atas permukaan tanah, sehingga nilai gradien
vertikal gayaberat merupakan selisih nilai gayaberat
tersebut. Model benda, respon gayaberat, gradien
vertikal dan gradien vertikal gayaberat mikro antar
waktu ditunjukkan pada Gambar 3. Hasil simulasi
menunjukkan bahwa pengurangan air tanah akan
mengurangi nilai gradien vertikal gayaberat.
Pengurangan air tanah akan memberikan nilai
gradien vertikal gayaberat mikro antar waktu
negatif ( - )

Gambar 3. Karakteristik gradien vertikal gayaberat mikro antar
waktu akibat pengurangan air tanah
4.2 Karakteristik gradien vertikal gayaberat
air tana

me
bes antung pada porositas dan saturasi
akif
ali air tanah (imbuhan air
tana
mikro antar waktu akibat pengisian kembali
h
Pengisian kembali air tanah pada akifer
nyebabkan kenaikan rapat masa akifer yang
arnya terg
er air tanah tersebut. Model fisis yang digunakan
sama dengan model fisis pengurangan air tanah,
tetapi pada pada kondisi awal (t
1
) akibat
pengambilan air tanah yang berlebihan terjadi
penurunan air tanah membentuk kerucut dengan
kedalaman 20 meter pada koordinat 4000 – 6000
meter. Pada saat t
2
(pemompaan dihentikan) terjadi
pengisian kembali air tanah pada akifer sampai 5
dan 10 meter pada t
3
.
Model fisis, respon gayaberat, gradien vertikal
dan gradien vertikal gayaberat-mikro time lapse
akibat pengisian kemb
h) ditunjukan pada Gambar 4. Hasil simulasi
menunjukkan bahwa pengisian kembali air tanah
menyebabkan kenaikan nilai gradien vertikal
gayaberat. Imbuhan air tanah akan memberikan nilai
gradien vertikal gayaberat waktu positif.


Gambar 4. Karakteristik gradien vertikal gayaberat-mikro antar
waktu akibat adanya pengisian kembali air tanah
Berdasarkan karakteristik gradien vertikal
akibat penurunan muka air tanah di atas maka
metode ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi
daerah imbuhan air tanah (recharge) dan daerah
pengurangan air tanah (discharge). Daerah yang
memiliki gradien vertikal gayaberat mikro antar
waktu positif mengindikasikan daerah imbuhan air
tanah (recharge) dan sebaliknya daerah dengan
gradien vertikal gayaberat-mikro time lapse negatif
mengindikasikan daerah pengurangan air tanah .
Hasil simulasi karakteristik anomali gayaberat-
mikro antar waktu dan anomali gradien vertikal
gayaberat-mikro antar waktu menunjukkan bahwa
untuk proses identifikasi dinamika air tanah yang
berupa : imbuhan air tanah, pengurangan air tanah,
aliran air tanah dapat ditentukan dengan bantuan
tabel seperti ditunjukkan pada Tabel I.
Tabel I. Karakteristik gradien vertikal gayaberat mikro antar
waktu

No
Gradien
Vertikal
Air tanah Keterangan
1 0 Air tetap Tidak ada perubahan
2 + Air tambah Tanah turun =air
tambah
3 - Air kurang Tanah naik =air turun
4 0 Air tetap
5 + Air tambah
6 + Air tambah
7 + Air tambah Grav tanah naik <Grav
air tambah
8 - Air turun Grav tanah turun >Grav
air turun
9 0 Air tetap
10 + Air naik Grav tanah naik >Grav
air naik
11 - Air turun
12 - Air turun Grav Tanah turun <Grav
air turun
13 - Air turun
4.3 Gradien gayaberat mikro antar waktu
periode Juli 2007
Gradien vertikal gayaberat mikro merupakan
selisih nilai bacaan gravimeter pada ketinggian yang
berbeda. Pada penelitian ini beda tinggi pengukuran
adalah 70 cm. Peta gradien vertikal gayaberat mikro
daerah Semarang untuk periode Juli 2007
ditunjukkan pada Gambar 5.

A 41
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8


Gambar 5. Peta gradien vertikal gayaberat mikro periode J uli
2007
Berdasarkan hasil pengukuran periode J uli 2007
menunjukkan bahwa nilai gradien vertikal gayaberat
mikro 0.22 s/d 0.38 mGal/m. Nilai gradien vertikal
gayaberat mikro >0.34 mGal/m berada di beberapa
daerah, misalnya J atingaleh, Gombel, Kesatrian
Kaliwiru, Gadjahmungkur, Tanah putih (bagian
selatan), Manyaran, Sampangan, Kalibanteng,
Pindrikan (bagian barat), kelurahan Bandarharjo
(bagian utara), dan kelurahan Muktiharjo (bagian
timur). Di bagian tengah tidak ditemukan daerah
dengan nilai rentang nilai gradien vertikal gayaberat
mikro yang dimaksud. Nilai gradien vertikal
gayaberat mikro 0.22 s ditemukan di daerah
Krapyak dan sekitarnya.
4.4 Gradien gayaberat mikro antar waktu
periode Juli 2008
Hasil pengukuran gradien vertikal gayaberat
mikro pada periode J uli 2008 dilakukan pada titik
yang sama dengan periode sebelumnya (Juli 2007).
Mengingat topogragi lokasi penelitian relatif datar,
maka koreksi yang dilakukan pada data gayaberat
hanya koreksi pasang surut (tide correction), dan
koreksi apungan (drif correction). Peta gradien
vertikal gayaberat mikro antar waktu periode Juli
2008 seperti pada Gambar 6.

Gambar 6. Peta gradien vertikal gayaberat mikro periode J uli
2008

Berdasarkan hasil pengukuran periode J uli 2007
menunjukkan bahwa nilai gradien vertikal gayaberat
mikro 0.22 s/d 0.38 mGal/m. Nilai terbesar >0.38
berada di kelurahan Bandarharjo (bagian utara) dan
Gombel dan sekitarnya (bagian selatan). Nilai
terendah 0.22 s ditemukan di beberapa tempat
Tugu Muda dan sekitarnya, kelurahan Kaligawe,
Karangayu dan sekitarnya, pantai Marina dan
sekitarnya.
4.5 Anomali gradien vertikal gayaberat mikro
antar waktu periode Juli 2007 – Juli 2008
Anomali gradien vertikal gayaberat mikro antar
waktu merupakan selisih gradien vertikal gayaberat
mikro periode J uli 2008 dengan periode Juli 2007.
Peta anomalinya seperti pada Gambar 7 berikut.

Gambar 7. Peta anomali gradien vertikal gayaberat mikro antar
waktu periode J uli 2007 – J uli 2008
Berdasarkan Gambar 7, terlihat bahwa nilai
gradien vertikal gayaberat mikro antar waktu antara
-0.07 samapai dengan 0.05 mGal/meter. Nilai
negatip ditemukan di daerah Simpang Lima
sekitarnya, Tugu Muda, Karangayu, Pusponjolo,
Puspowarno, Puspogiwang, Kalibanteng,
Sampangan, Manyaran, perumahan Telogosari. Nilai
anomali negatip ini berkaitan dengan penurunan
muka air tanah akibat pemanfaatan air tanah untuk
keperluan rumah tangga dan industri. Fenomena
penurunan muka air tanah selama rentang
pengukuran gayaberat ditunjukkan oleh penurunan
muka air sumur pantau milik Dinas Pertambangan
dan Energi propinsi J awa Tengah yang tersebar di
kota Semarang sebagaimana ditunjukkan Gambar 8.


A 42
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8

Gambar 8. Penurunan muka air sumur pantau di kota Semarang
selama rentang waktu pengukuran gayaberat
Nilai positip anomali gayaberat mikro antar
waktu terbesar 0.05 mGal/meter ditemukan di
daerah Metesah bagian selatan kota Semarang.
Sesuai dengan Rencana Induk Tata Kota sebelah
selatan Semarang yang membentang dari timur -
barat diperuntukan sebagai recharge area.
Pemerintah kota melarang pengembangan wilayah
ini sebagai daerah pemukiman dengan tujuan agar
fungsinya sebagai recharge area tetap terjaga.
5. KESIMPULAN
Metode gradien vertikal gayaberat mikro antar
waktu dapat digunakan untuk mengetahui gejala
perubahan kedalaman muka air tanah di kota
Semarang. Gejala perubahan kedalaman muka air
tanah berkaitan dengan dengan nilai anomali gradien
vertikal gayaberat mikro antar waktu negatip yang
menunjukkan terjadinya penurunan muka air tanah
akibat pemanfaatan untuk keperluan rumah tangga
dan industri, dan sebaliknya positip menujukkan
adanya kenaikan muka air tanah akibat pengisian
kembali air tanah oleh curah hujan.
Hasil pengukuran gradien vertikal gayaberat
mikro antar waktu ini jika dibandingkan dengan data
perubahan kedalaman muka air sumur pantau untuk
rentang waktu yang sama menunjukkan korelasi,
dimana jika terjadi penurunan muka air sumur
pantau maka nilai gradien vertikal gayaberat mikro
antar waktu adalah negatip, dan sebaliknya.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih disampaikan kepada
DP2M-DIKTI yang telah mendanai penelitian ini
melalui Hibah Bersaing dengan nomer kontrak
034/SP2H/PP/DP2M/III/2007, tanggal 29 Maret
2007 dan 016/SP2H/PP/DP2M/III/2008, tanggal 6
Maret 2008
DAFTAR PUSTAKA
Akasaka, C., dan Nakanishi, S. (2000), An
Evaluation of The Background Noise for
Microgravity Monitoring in The Oguni Field,
Japan, Proceedings of 25
th
Stanford
Geothermal Workshop, 24 - 26 J anuary 2000.
Allis, R.G., and Hunt, T.M. (1986), Analysis of
Exploration Induced Gravity Changes at
Wairakei Geothermal Field, Geophysics, 51,
1647-1660.
Andres, R.B.S., dan Pedersen, J .R. (1993),
Monitoring the Bulalo Geothermal Reservoir,
Philippines, using Precision Gravity Data,
Geothermics, 22, 5/6, 395 - 402.
Arifin, B.M., dan Wahyudin (2000), Penyelidikan
Potensi Cekungan Air tanah Semarang dan
Cekungan Air tanah Ungaran, Jawa Tengah,
Laporan Akhir Penelitian, Direktorat Geologi
dan Tata Lingkungan Bandung.
Butler, K.D. (1984), Microgravimetric and Gravity
Gradient Technique for Detection of
Subsurface Cavities, Geophysics, 49, 1084 –
1096.
Eiken, O., Zumberge, M., dan Sasagawa, G. (2000),
Gravity Monitoring of Offshore Gas
Reservoir, SEG Expanded Abstract, 19, 431.
Galderen, V.M., Haagmans, R., dan Bilker, M.
(1999), Gravity Changes and Natural Gas
Extraction in Groningen, Geophysical
Prospecting, 47, 979-993.
Hare, J.L., Ferguson, J .F., Aiken, C.L.V., dan Bradly,
J.L. (1999), The 4D Microgravity Method for
Waterflood Surveillance a Model Study for
The Prudhoe Bay reservoir – Alaska,
Geophysics, 64, 78 – 87.
J ohnsen, G.V., Bjornsson, A., dan Sigurdsson, S.
(1980), Gravity and Elevation Changes
Caused by Magma Movement beneath The
Krafla Caldera, Northeast Iceland, Journal
Geophysics, 47, 32 - 140.
J ousset, P., Dwipa, S., Beauducel, F., Duquesnoy, T.,
dan Diament, M.(2000), Temporal Gravity at
Merapi during The 1993 – 1995 Crisis : An
Insight into The Dynamical Behaviors of
Volcanoes, J urnal of Volcanology and
Geothermal Research, 100, 289 - 320.
Kadir, W.G.A., Santoso, D., dan Sarkowi, M. (2004),
Time Lapse Vertical Gradient Microgravity
Measurement for Subsurface Mass Change
and Vertical Ground Movement (Subsidence)
Identification, Case Study : Semarang
alluvial plain, central Java, Indonesia,
Proceedings of the 7
th
SEGJ International
Symposium, Sendai – J apan 24 – 26
November 2004, 421-426.
Kamah, M.Y., Negara, C., Pulungan, I., dan
Budiardjo (2001), Application of
Microgravity Method on Monitoring
Geothermal Reservoir Changes during
Production of Steam in The Kamojang
Geothermal Field, West Java Indonesia, 5
th
SEGJ International Symposium – Imaging
Technology, Tokyo, J apan, 24-26 J anuary
2001.

A 43
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
Mariita, N.O. (2000), Application of Precision
Gravity Measueremnt to Reservoir
Monitoring of Olkaria Geothermal Field,
Kenya, Proceedings World Geothermal
Congress 2000, Kyushu – Tohoku, J apan,
May 28 – J un 10, 2000.
Marsudi (2000), Prediksi Laju Amblesan Tanah di
Dataran Alluvial Semarang – Jawa Tengah,
Disertasi Program Doktor, Institut Teknologi
Bandung.
Nishijima, J ., Fujimitsu, Y., Ehara, S., dan
Yamauchi, M. (2005), Microgravity
monitoring and repeated GPS survey at
Hatchobaru geothermal field, Central
Kyushu, Japan., Proceeding World
Geothermal Congress 2005.
Rundle, J .B. (1982), Deformation, Gravity and
Potential Change due to Volcanic Loading of
The Crust, J ournal Geophysics Research, 87,
10729 - 10744.
Rymer, H., Van Wyk de Vries, B., dan William-
J ones, J .S.G. (1998), Pit Creater Structure
and Processes Governing Persistent Activity
at Masaya Volcano, Nicaragua, Bulletin
Volcano, 59, 345 - 355.
Santoso, D., Kadir, W.G.A., Sarkowi, M.,
Ardiansyah, dan Waluyo (2004), Time Lapse
Microgravity Study for Rejection Water
Monitoring of Talang Jimar field,
Proceedings of the 7
th
SEGJ International
Symposium, Sendai-J apan 24-26 November
2004, 497-502.
Sarkowi, M. (2007), Gayaberat mikro Antar Waktu
untuk Analisa Perubahan Kedalaman Muka
Air Tanah (Studi Kasus Dataran Aluvial
Semarang), Disertasi Program Doktor,
Institut Teknologi Bandung.
Stefanelli P., Carmisciano C., Tontini F.C., Cochi L.,
Beverini N., Fidcaro T., and Embriaco D.
(2008), Microgravity vertical gradient
measurement in the site of Virgo
interferometric antenne (Pisa plain, Italy),
Annals Geophysics, Vol.51, No. 5/6, pp. 877-
886.
Tatchum C.N., Tabod T.C., Koumeto F., Dicom E.,
(2011), A gravity model study for
differentiating vertical and dipping geological
contact with application to a Bouguer gravity
anomaly over the Foumban shear zone
Cameroon, Geophysics, 47 (1-2), pp. 43-55.



A 44
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
Eksplorasi Metode Deteksi Tepi Pada Pemrosesan Citra Digital Untuk Menemukan
Metode Deteksi Tepi Alternatif Yang Lain
Aslan Alwi
1
, Munirah Muslim
2

1,3
Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Ponorogo
2
Institusi non Fisika Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Ponorogo
Email : aslan.alwi@yahoo.co.id
Abstrak
Pada metode deteksi tepi, citra terlebih dulu dibayangkan sebagai sebuah bidang datar yang terdiri dari piksel
penyusun. Kemudian dengan mendefinisikan fungsi grayscale di atasnya, diperoleh bahwa setiap titik memiliki
nilai. Ini serupa dengan membayangkan bahwa citra adalah sebuah medan scalar. Kemudian dengan gagasan
selisih nilai derajat keabuan pada setiap piksel berbagai orang mengemukakan metode deteksi tepi yang
berbeda. Makalah ini merekonstruksi ulang bagaimana sejumlah gagasan itu diturunkan orang dan mencoba
untuk memberikan sisi pandang filosofis bagi asal mula semua gagasan itu, dimana ini memberi kemungkinan
kreatif untuk menemukan metode-metode alternatif yang lain berdasar sisi pandang tesebut. Sisi pandang itu
dirumuskan sebagai “kombinasi cara menentukan arah selisih piksel” dimana berdasarkan sisi pandang ini
barangkali terdapat tak berhingga metode alternatif yang dapat dikemukakan. Kemudian filosofi ini dibawa
kepada gagasan yang lebih luas sampai kepada kemungkinan merumuskan operator lain selain operator
Laplacian, pada jenis operator turunan kedua. Pada dasarnya cara pandang yang dikemukakan oleh makalah
ini adalah melihat bahwa sekumpulan piksel yang ada pada citra memiliki tak berhingga arah untuk
memperoleh himpunan gradient dari piksel-piksel tersebut, dan itu berarti ada banyak kemungkinan untuk
menciptakan filter-filter deteksi tepi. Juga dalam makalah ini mengeksplorasi kemungkinan untuk membawa ide
dasar deteksi tepi pada citra abu-abu ke citra berwarna dengan memandang bawah sebuah citra berwarna
adalah sebuah medan vector.
Kata kunci : piksel, voksel, polysel-n,m, deteksi tepi.

PENDAHULUAN
Latar belakang
Makalah ini mencoba menyajikan sebuah
pendekatan formal bagi metode deteksi tepi secara
khusus, dan pengolahan citra digital secara umum.
Dimulai dengan redefinisi beberapa istilah dasar
dalam pengolahan citra digital menurut sisi pandang
peneliti. Disamping itu peneliti juga berusaha
mengemukakan gagasan awal bagaimana
mengeneralisir gagasan piksel dan voksel kepada
dimensi yang lebih tinggi, dan pada gilirannya
berusaha memperkenalkan gagasan berikut bagaimana
mengeneralisir konsep deteksi tepi kepada dimensi
citra yang lebih tinggi.
Setelah pendekatan formal, disajikan bagaimana
berdasarkan pendekatan formal itu, operator-operator
deteksi tepi diturunkan secara umum dari definisi
formal, dan memperlihatkan sisi-sisi kreatif yang
mungkin bagi siapa saja untuk menciptakan operator-
operator baru secara tak terbatas.
Langkah selanjutnya adalah bagaimana
memperluas gagasan formal itu menjangkau hingga
kepada operator laplace dan bagaimana
mengeneralisir operator deteksi tepi turunan kedua.
J ika memungkinkan, diperkenalkan konsep lain
tentang bagaimana melakukan deteksi tepi terhadap
piksel-piksel dengan tidak terlebih dulu
mentransformasikan citra ke himpunan piksel abu-
abu.
Rumusan Masalah
Secara sederhana penelitian ini merumuskan
masalah sebagai berikut:
Bagaimana mengeneralisir gagasan piksel, voksel
kepada dimensi dan resolusi yang lebih tinggi?
Bagaimana merumuskan secara umum operator-
operator deteksi tepi sehingga padanya dapat
diciptakan berbagai variasi operator yang berbeda dari
yang telah ada?
Apakah operator laplace dapat digeneralisir
kepada definisi yang lebih umum?
Batasan masalah
Segala gagasan yang dikemukakan pada makalah
ini hanya tebatas pada tataran konseptual dan
kalkulasi matematika, dan belum diimplementasikan
kepada sejumlah algoritma untuk diterapkan pada
pengolahan citra digital.
Tinjauan Pustaka
Ada beberapa buku referensi yang menjadi
sumber inspirasi dalam penelitian ini, dalam tinjauan
pustaka ini dijelaskan bagaimana referensi-referensi
ini memicu gagasan-gagasan pada penelitian.
1. Fadlisyah dan Rizal (2011) dalam bukunya
Pemrograman Computer Vision pada Video
menggunakan Delphi +Vision Lab VCL 4.0.1.
buku ini bersifat implementasi dari teori-teori
dasar dalam pengolahan citra digital, tetapi pada
bab 3 buku ini halaman 18 tentang deteksi tepi
terdapat tinjauan singkat beberapa operator

A 45
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
deteksi tepi. Walaupun sederhana dan singkat ini
memberi inspirasi bagi peneliti untuk memahami
lebih jauh bagaimana semua operator-operator
yang dijelaskan pada bagian ini diturunkan secara
matematika. Dari berbagai operator-operator ini
dilakukan konstruksi ulang untuk melihat
gagasan sederhana yang membangun operator-
operator tersebut.
2. Ahmad, U (2005) dalam bukunya Pengolahan
Citra Digital & Teknik Pemrogramannya. Secara
keseluruhan buku ini mempertegas pemahaman
bahwa citra tak lebih dari sekedar himpunan nilai
fungsi, dan menambah inspirasi untuk memahami
bagaimana sebenarnya operator laplace dapat
diturunkan secara sederhana, dan kemungkinan
untuk memperluas cara sederhana itu untuk
menemukan sejumlah operator turunan kedua
yang berbeda.
3. Putra, D (2010) dalam bukunya Pengolahan Citra
Digital. Secara keseluruhan walaupun buku ini
tampak sangat teknis menjelaskan berbagai
konsep dasar pengolahan citra digital, tetapi
memberikan inspirasi bagi penelitian ini untuk
mengenaralisir gagasan piksel dan voksel ke
dimensi dan resolusi yang lebih tinggi, dan
memahami cara yang mungkin masuk akal untuk
deteksi tepi pada dimensi yang lebih dari dua.
LANDASAN TEORI
Fadlisyah dan Rizal (2011), memberi penjelasan
yang singkat tentang deteksi tepi, yaitu bahwa tepi
(edge) didefinisikan sebagai perubahan intensitas
grey-level secara mendadak, dalam jarak yang
singkat. Ada tiga macam tepi (edge) yang sering
muncul di dalam citra digital: tepi curap, tepi landai,
dan tepi yang mengandung noise.

Gambar 1. Tepi curam

Gambar 2. Tepi landai

Gambar 1. Tepi mengandung noise
Selanjutnya Fadlisyah dan Rizal (2011),
membagi teknik deteksi tepi-tepi citra sebagai berikut:
- Operator gradient differensial
- Operator turunan kedua (Laplace)
- Operator Kompas
Ahmad, U (2005), memberikan tiga langkah
sederhana untuk melakukan pelacakan tepi, yaitu:
1. Pengaburan
Karena perhitungan gradient yang hanya
didasarkan
2. Penguatan
3. Pelacakan

Metode Penelitian
Penelitian dilakukan dengan studi literatur untuk
memperoleh informasi sebanyak mungkin perihal
perkembangan teknologi pengolahan citra digital dan
melakukan penalaran deduktif, secara matematika
untuk menghasilkan gagasan-gagasan alternatif dalam
pengolahan citra digital, dan melakukan generalisasi
terhadap berbagai konsep sebelumnya, menyusun
ulang konsep pengolahan citra digital dalam bentuk
formal matematika untuk memudahkan deduksi-
deduksi lebih lanjut.
HASIL PENELITIAN
Penelitian ini dimulai dengan melakukan
redefinisi beberapa terminologi dasar pada
pengolahan citra digital, redefinisi ini adalah sebagai
berikut:

Definisi Formal Terminologi
Definisi 1:
Piksel adalah sebuah pemetaan 1-1 dari sebuah titik
berdimensi 2 ke sebuah vektor berdimensi 3 dimana
setiap entri vektornya adalah bulat positif atau nol.
Definisi 2 (generalisasi ke set titik):
Piksel adalah sebuah pemetaan 1-1 dari sebuah set
titik konveks berdimensi 2 ke sebuah vektor
berdimensi 3 dimana setiap entri vektornya adalah
bulat positif atau nol.
Definisi 3:
Voksel adalah sebuah pemetaan 1-1 dari sebuah set
titik konveks berdimensi 3 ke sebuah vektor
berdimensi 3 dimana setiap entri vektornya adalah
bulat positif atau nol.
Penjelasan (FAQ):
Mengapa vector berdimensi 3?
Karena untuk merujuk kepada vector (R, G, B) tiga
kanal warna.
Mengapa set titik konveks? Agar jika kita menarik
sebuah garis lurus di dalam set tersebut, garis itu tidak
terputus, ini untuk menggambarkan konsep titik yang
lebih besar, misal spot, atau noktah, atau sebuah kotak
terarsir, dimana jika kita menarik garis lurus di
dalamnya, garisnya tidak terputus.
Mengapa bulat positif dan nol, bukan 255 dan nol? Ini
karena boleh jadi sebuah kanal warna bisa jadi

A 46
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
didefinisikan lebih dari satu byte atau kurang dari satu
byte.
Dengan merujuk kepada istilah piksel dalam
bahasa indonesia dan tanpa memperdulikan bahwa
sebenarnya dia adalah berasal dari istilah berbahasa
inggris (pixel) dan merupakan akronim dari Picture
Element, di dalam makalah ini diperkenalkan istilah
baru (yaitu polysel) yang mendefinisikan generalisasi
dari piksel dan voksel.
Definisi 4 (generalisasi piksel dan voksel):
Polysel-n,m adalah sebuah pemetaan 1-1 dari sebuah
set titik konveks berdimensi n ke sebuah vektor
berdimensi m.
J ika kita merumuskan set titik konveks itu adalah
sebuah polytope-n (misal n-simplex), maka definisi 4
dapat ditulis ulang sebagai berikut:
Definisi 5 (generalisasi piksel dan voksel):
Polysel-n,m adalah sebuah pemetaan 1-1 dari sebuah
polytope-n ke sebuah vektor berdimensi m.
Contoh Implmentasi:
Sebuah titik (x,y) yang dipetakan ke kombinasi 4 byte
adalah sebuah polysel-2,4 misal (RGBA).
tetapi sebuah daerah persegi empat (set titik konveks)
juga dapat dianggap sebagai piksel atau polysel-2,4.
dalam kasus ini dinamakan perbesaran piksel atau
perbesaran polysel-2,4.
Selanjutnyan sebuah polysel-n,m dapat ditulis
sebagai:
Polysel-n,m ≡ f(S)=X
dimana S adalah sebuah set titik konveks berdimensi
n dan X adalah sebuah vektor berdimensi m.
Contoh:
Polysel-2,4 ≡ f(S)=(R,G,B,A) dimana R,G,B,A adalah
kanal-kanal warna dalam bulat positif atau nol.
J ika S={(x,y)} ditulis:
Polysel-2,4 ≡ f(x,y)=(R,G,B,A) dimana R,G,B,A
adalah kanal-kanal warna dalam bulat positif atau nol.
Selanjutnya didefinisikan konsep warna, abu-abu, dan
hitam putih sebagai berikut:
Definisi 6 (warna):
Polysel-n,m warna adalah polysel-n,m dimana setiap
entry vektornya adalah bulat positif atau nol.
Definisi 7 (abu-abu):
Polysel-n,m abu-abu adalah polysel-n,m warna
dimana setiap entri vektornya bernilai sama.
Definisi 8 (hitam-putih):
Polysel-n,m hitam-putih adalah polysel-n,m abu-abu
dimana entri-entri vektornya seluruhnya bernilai
minimum atau seluruhnya bernilai maksimum.
Definisi 9 (generalisasi citra digital):
Citra-n,m digital adalah himpunan polysel-n,m
Contoh:
Citra-2,4 digital = himpunan polysel-2,4 yaitu
(R,G,B,A)
Deteksi Tepi
Berikut ini hendak dikemukakan beberapa gagasan
deteksi tepi dengan terlebih dulu menyatakan
beberapa redefinisi terminology dalam pengolahan
citra digital.

Definisi 10 (Piksel gradient):
Piksel gradient adalah selisih dua piksel berdempetan
dibagi jarak keduanya.
Contoh:
Misal g(x,y) adalah piksel gradient, maka terdapat
titik (a,b) dan (c,d) berdempetan dimana mungkin saja
(x,y) sama dengan salah satunya, maka g(x,y) dapat
ditulis sebagai:
g(x,y) =(f(c,d)-f(a,b))/jarak((a,b)-(c,d))
akan tetapi jarak antara dua piksel yang berdempet
selalu sama dengan satu, baik secara horizontal,
vertical atau diagonal.
Misal:
J arak((x+1,y)-(x,y)) =1
J arak ((x+1,y+1)-(x,y)) =1
Dan seterusnya.
Maka definisi 10 dapat ditulis ulang sebagai berikut:
Definisi 10.a (piksel gradient)
Piksel gradient adalah selisih dua piksel berdempetan.
Selanjutnya kita mendfinisikan piksel tepi sebagai
berikut:
Definisi 11 (Piksel tepi):
Piksel tepi adalah jumlah piksel gradient dari
sebarang n buah titik bertetangga.

Yaitu:
Misal g(x,y) adalah piksel tepi, maka dapat ditulis
sebagai berikut:




Dimana |i – k| =1 atau |i – k| =0
|j – t| =1 atau |j – t| =0
Berdasarkan jumlah tetangga dari (x,y), dengan
mengassumsikan bahwa N2, N3, N4 adalah masuk
dalam N8 (tetangga dengan 8 titik), yaitu sebagai
berikut:
Contoh N2 =
Contoh N3 =
Contoh N4 =
N8 =
Secara umum dengan hanya memperhatikan N8,
N12, N16, dan seterusnya, dapat dinyatakan dalam
bentuk N(4+p4) dengan p =1, 2, 3,…
Rumus untuk piksel tepi dapat dapat dinyatakan
secara umum sebagai berikut:
Definisi 12 (generalisasi piksel tepi )

A 47
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
Misal g
N(4+p4)
(x,y) adalah piksel tepi yang diambil
dari himpunan titik tetangga N(4+p4), maka piksel
tepi dinyatakan sebagai:



Dimana:
p =1, 2, 3, …
|i
k
– i
2+k
| =1 atau |i
k
– i
2+k
| =0
i
j
=-p, -(p-1), -(p-2),…,-1, 0, 1, 2, …,p-2, p-1, p
k =1, 2.
j =1, 2, 3, 4.
Berdasarkan rumus yang didefinisikan pada definisi
12, semua operator-operator turunan pertama,
operator gradien differensial, operator-operator
kompas dapat diturunkan dari definisi tersebut.
Bahkan dapat diperoleh berbagai kombinasi operator
yang tak berhingga banyaknya untuk digunakan
sebagai operator deteksi tepi, yang mungkin belum
pernah ada sebelumnya, dibawah ini beberapa contoh
bagaimana operator-operator deteksi tepi diturunkan
dengan menggunakan definisi 12.
Contoh penggunaan definisi 12:
Penurunan operator prewitt:
Nyatakan :
g
N8
(x,y) =(f(x+1,y-1)-f(x,y)) +(f(x,y)-f(x-1,y-1)) +
(f(x+1,y)-f(x,y)) +(f(x,y)-f(x-1,y)) +
(f(x+1,y+1)-f(x,y)) +(f(x,y)-f(x-1,y+1))
=(f(x+1,y-1)-f(x-1,y-1)) +
(f(x+1,y)-f(x-1,y)) +
(f(x+1,y+1)-f(x-1,y+1))

Dengan membentuknya menjadi operator diperoleh
operator prewitt S
x
sebagai berikut:





Dengan kombinasi yang berbeda dapat diperoleh juga
S
y
.
Dengan kombinasi yang berbeda-beda, diperoleh
juga operator Robert, operator kompas untuk semua
arah, operator sobel, operator selisih pusat.
Dengan tidak membatasi penurunan rumus pada
definisi 12 hanya pada N8, tetapi meliputi N(4+p4)
dengan p=1,2,3,… maka dapat diperoleh kombinasi
operator yang tak berhingga banyaknya yang dapat
diciptakan dengan mudah.
Sampai pada bahasan ini, penelitian telah
memberikan solusi bagaimana menciptakan variasi
operator deteksi tepi secara tak berhingga banyaknya
hanya dengan menggunakan definisi 12.
Selanjutnya hendak dibahas bagaimana
mengeneralisir operator laplace hingga kepada tak
berhingga variasi operator turunan kedua yang dapat
diciptakan. Dimulai sebagai berikut:

Definisi 13 (definisi turunan sebuah piksel):
Misalkan f(x,y) adalah piksel, maka turunan dari
piksel tersebut dinyatakan sebagai:

dalam arah-x


dalam arah-y


akan tetapi ∆x =∆y =1 (jarak terdekat piksel adalah
satu) maka rumus dalam definisi 13 dapat ditulis
sebagai berikut:






Dengan definisi ini, operator laplace dapat
diturunkan. (Penurunan operator laplace berdasar
definisi 13 dapat dilakukan pada presentasi makalah
ini).
Definisi 14 (Generalisasi Operator Laplace)
Generalisasi operator laplace adalah jumlah turunan
piksel tepi dalam arah-x dengan turunan piksel tepi
dalam arah-y.



Dengan definisi 14 ini, dapat diciptakan berbagai
operator sebagai variasi dari operator laplace, dengan
tak berhingga kombinasi yang mungkin.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih kepada Allah SWT, yang telah
memberi pengetahuan, dan menambah pengetahuan
kami, Dan kepada Rasulullah Nabi Muhammad SAW
yang telah menjadi cahaya dan panutan kami.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, U., (2005), Pengolahan Citra Digital &
Teknik Pemrogramannya. ISBN 979-756-072-6.
Hal 111-224
Fadlisyah dan Rizal, (2011), Pemrograman Computer
Vision pada Video menggunakan Delphi +
Vision Lab VCL 4.0.1, ISBN 978-979-756-737-
8, Hal 18-21.
Putra, D., (2010). Pengolahan Citra Digital. ISBN
978-979-29-1443-6, Hal 248-249


-1 0 1
-1 0 1
-1 0 1


A 48
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
INVESTIGASI ANALITIK PERSAMAAN OSILATOR HARMONIK DENGAN
GAYA LUAR BERGANTUNG WAKTU
Eko J uarlin
FMIPA Univ. Hasanuddin
Makassar, Indonesia
eko_juarlin@yahoo.co.id
Abstrak
Dalam makalah ini dijelaskan solusi masalah osilator harmonik dengan gaya luar bergantung waktu.
Pemakalah menerapkan metode yang mudah dan bermanfaat bagi mahasiswa strata satu dan dosen mekanika.
Kata Kunci: Osilator Harmonik; Gaya Bergantung Waktu.
INTRODUCTION
One of the most important, and investigated,
problems in physics is the harmonic oscillator. This
fact is due to the relevance of this problem in the
classical and in the quantum contexts. It is one of the
few problems we know how to solve exactly. The
solution to this problem is given in many textbooks of
classical mechanics, both at introductory and
advanced levels, and is given with two arbitrary
constants determined according to the initial
conditions. The treatment of the damped harmonic
oscillator with the presence of external forces can also
be found in the literature and its formal treatment. For
time dependent external force, requires the formalism
of Green’s functions. Generally, undergraduate
students at introductory levels do not acquire Green’s
functions formalism well.
In this case it is interesting to call attention to the
treatmentis harmonic oscillator as in Ref. [1] where
the problem is solved without resorting to the
standard theory of
second order differential equation, a similar
treatment as in [2] for the single harmonic
oscillator.There are also elaborated treatments for this
problem, particularly interesting is the Feynman
diagrams technique as in [3] and the Poisson bracket
formalism presented as in [4].
In this work, that is intended for undergraduate
students and lecturers, we give a general solution to
the problem of the damped harmonic oscillator under
the influence time-dependent external force. The main
advantages of the procedure proposed in this paper
are: the constants are fixed from the beginning, there
are two initial conditions: starting position and
starting velocity in the problem, the mathematical
methods employed are accessible for graduate
students, we can consider an external force with any
time dependence and the method resembles the
factorization employed for solving the quantum
harmonic oscillator.



THEORY
Harmonic oscillator diferential equation time
dependent external force is:
( ) ( )
( ) ( )
2
2
d x t dx t
m b kx t F t
dt dt
+ + =
(1)
with b is damped coefficient, k is restorng force, m is
oscillator mass and F(t) is external force. Harmonic
oscillator is calculated by solving eq. 1 with two intial
condition
( )
0 0
x t x =
and ( )
0
0
t t
dx t
v
dt
=
=
.
We define two constants:
2
b
m
γ =
,
2
0
k
m
ω =
and
differential operator
d
D
dt
=
. Substituting two
constants and differential operator, eq. 1 becomes:
( ) ( ) ( )
2 2
0
2 D D x t F t γ ω + + =
(2)
Or
( ) ( ) ( ) ( ) D D x t F t α β − − =
(3)
with
i α γ ω = − +
,
i β γ ω = − −
and
2 2
0
ω ω γ = −
.
ANALITICAL INVESTIGATION
Mathematical property is:
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )
exp exp D a f t at D at f t − = − ⋅
(4)
that is valid for and complex constants a and function
f(t) differentiable to t. In harmonic oscillator
problems, we can write eq. 3:
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) exp exp D t D t x t F t α β β   − − ⋅ =
 
(5).Now we use mathematical property by
substituting
( ) ( ) ( ) ( ) ( )
exp exp f t t D t x t β β = − ⋅
, so
eq. 5 becomes:
( ) ( ) ( )
( )
( ) ( ) ( )
t t t t
t t t
e D e e D e x t F t
D e D e x t e F t
α α β β
α β β α
− −
− − − −
 
⋅ = ⇒
 
 
⋅ =
 

(6).
Integrating to time and input initial
conditions, eq. 6 should be written:

A 49
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8

( )
( ) ( )
( )
( )
( )
0 0 0
0
0 0
'
' '
t t t t t
t
t
t
De D e x t e e x e v
e F t dt
α β α β β β β
α
β
− − − − − − −

⋅ − − ⋅ + ⋅
=

(7).
where there are some simple manipulations on the
second term on the left hand side of eq. 7. From eq. 7
we have eq. 8:
( ) ( )
( )
( ) ( )
0
0
'
0 0
' '
t
t
t t t
t
D e x t
e e x v e F t dt
β
α β α α
β

− − − −
⋅ =
 
− ⋅ + +  
 
 

(8).
We apply integration to eq. 8 and we have:
( )
( ) ( ) ( )
( )
( )
( )
0 0 0
0
0
0 0
0
''
'' '
' ' ''
t t t t t t t
t t
t t
t t
v x
x t x e e e e
e F t dt e dt
β α β β
α β α
β
α β
− − −
− −

= + −

∫ ∫
(9).
In eq. 9 time integration is a double integration. We
want time integration is not double integration but
single integration so we manipulate right side eq. 9.
Partial integration formula is:
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )
0 0
0 0
'' '' '' ''
t t
t t
U t dV t U t V t U t V t V t dU t = − −
∫ ∫

(10)
with
( ) ( ) ( ) ( )
0
''
' ''
'' ' ' '' '' ''
t
t t
t
U t e F t dt dU t e F t dt
α α − −
= ⇒ =


( )
( )
( )
( )
( ) '' ''
1
'' ''
t t
dV t e V t e
α β α β
α β
− −
= ⇒ =


We can write:

( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
0 0
0 0
''
'' '
'' ''
' '
' ' ''
1
' ' ' '
t t
t t
t t
t t t
t t
t t
e F t dt e dt
e
e F t dt e F t dt
α β α
α β
α β
α β α β
− −

− −
=

− −
∫ ∫
∫ ∫

(11).
Substituting eq. 11 to eq. 9, finally we get:
( )
( )
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )
( )
( ) ( ) ( )
0
0
0 0 0 0 0
'
cos sin sin
1
sin ' ' '
t t
t
t t
t
e
x t
x t t t t v t t
e t t F t dt
γ
γ
ω
ω ω γ ω ω
ω
ω
− −
− −
=
    − + − + −
   
+ −

(12).
The result in eq. 12 is complete agreement with
encountered textbooks like as in [5].
REFERENCES
R. Weinstock. An Unusual Method for Solving the
Harmonic-Oscillator Equation. Am. J . Phys.
29. 830-831 (1961).
R. T. Bush. The Simple Harmonic Oscillator: An
Alternative Solution of the Equation for
Damped Oscillation. Am. J . Phys. 41. 738-739
(1973).
A. Thorndike. Using Feynman Diagrams to Solve the
Classical Harmonic Oscillator. Am J . Phys. 6
155-159 (2000).
C. F. Farina, M. M. Gandelman. An Algebraic
Approach for Solving Mechanical Problems.
Am. J . Phys 58 491-495 (1990).
K. R. Symon. Mechanics. (Addison-Wesley Reading.
MA. 1972) 3rd ed.


A 50
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
Simulasi Efek Terobosan Struktur Penghalang Ganda Semikonduktor Menggunakan
Algoritma Numerov
Eko J uarlin
J urusan Fisika FMIPA Univ. Hasanuddin
Abstrak
Studi teoritis efek terobosan resonansi di penghalang heterostruktur dua lapis GaAs/AlxGa1-xAs dikaji
berdasarkan solusi eksak persamaan Schrodinger di bawah aplikasi medan listrik konstan. Dengan
menggunakan algoritma Numerov, transmisi elektron yang melewati struktur dapat dihitung sebagai fungsi
energi elektron datang untuk beda potensial yang berbeda-beda. Hasil menunjukkan kesesuaian dengan model
yang sudah ada.
Kata Kunci: Terobosan; Persamaan Schrodinger; Algoritma Numerov.
PENDAHULUAN
Teknik penumbuhan kristal seperti epitaksi fase
uap metalorganik, dan molecular beam epitaxy
mungkin dapat memproduksi sumur kuantum dan
superlattices dengan sifat produktivitas pada skala
atom [1]. Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut
banyak devais telah didesain dan dihasilkan seperti
resonant interband tunneling diode (RITD), resonant-
tunneling diode (RTD) dan resonant tunneling
transistor (RTT) dapat memiliki banyak keadaan
yang berkaitan dengan banyak tingkat energi dalam
sumur kuantum dengan potensial penghalang yang
sangat sempit. [2, 3].
RTD dan variasinya telah menjadi fokus
penelitian di bidang nanoelektronika karena
kemungkinannya menjadi devais nanoelektronik
primer untuk aplikasi analog dan digital. [4]. Diantara
sejumlah devais nanoelektronik yang diusulkan, RTD
mungkin kandidat terkuat sebagai aplikasi digital
berkaitan dengan sifat resistansi diferensial negatif,
kesederhanaan struktur, kemudahan pembuatan,
kecepatan sirkuit fungsi sirkuit yang bertahan lama
[4]. Beberapa aplikasinya adalah logika tri-state [2],
logika digital [5], sel memori dan konverter ultra
cepat analog-digital [6], aplikasi memori dan logika
[7], IC flip-flop [8].
Metode matriks propagasi, metode beda hingga,
metode elemen hingga dan algoritma Numerov adalah
beberapa cara untuk mensimulasikan RTD. Ada
beberapa tahapan dalam algoritma Numerov.Pertama,
kita memanipulasi persamaan Schrodinger
menggunakan deret Taylor. Kedua kita
mendiskritisasi struktur. Ketiga kita memasukkan
nilai energi elektron datang dan menghitung fungsi
gelombangnya. Keempat, kita menghitung
transmitansi.
Berikutnya, di bagian dua kita mempresentasikan
model devais. Di bagian ketiga, metode simulasi
dihadirkan berdasarkan model di bagian kedua dan
hasil didapatkan. Di bagian keempat kita
menyimpulkan hasil penelitian ini.
PEMODELAN DEVAIS
Di bagian ini kita mendeskripsikan geometri devais dan
formulasi devais.
A. Geometri dan Komposisi Devais
Diagram pita energi untuk struktur terobosan
resonansi penghalang ganda digambarkan dalam
gambar 1. Struktur terbuat dari tiga lapisan n
+
GaAs,
penghalang Al
x
Ga
1-x
As tidak terdoping.
Massa efektif GaAs =0.067 m
0
dan celah energinya =
1,424 eV. Massa efektif Al
x
Ga
1-x
As =0,1168m
0
dan
celah energinya = 1,424+1.247x. Struktur ini
mempunyai ΔEc=0,4655eV. Satuan sumbu X adalah
nanometer dan satuan sumbu Y adalah eV.

Gambar 1 DiagramPita Konduksi RTD Penghalang Ganda
B. Algoritma Numerov
Persamaan Schrodinger dituliskan dalam persamaan
2.1:

2

2
+
2

2
� −
()
� = 0 (2.1)
Kita dapat menurunkan algoritma Numerov dengan
menggunakan ekspansi Taylor sampai suku pangkat
empat untuk y
n
:

±1
=

± ∆


+
(∆)
2
2

2′
±
(∆)
3
6

3′
+
(∆)
4
24

4′


(2.2)
menjumlahkan
+1
dan
−1
kita mendapatkan:

+1
+
−1
=

+ (∆)
2

2′
+
(∆)
4
12

4′

(2.3)
Menggantikan turunan keempat dengan turunan kedua
beda hingga:

4′
=

+1
′′
+
−1
′′
−2

′′
(∆)
2
(2.4)
dan substitusi −()() ke dalam ′′() kita
mendapatkan algoritma Numerov
-10 -8 -6 -4 -2 0 2 4 6 8 10
-0.1
0
0.1
0.2
0.3
0.4
Distance
E
n
e
r
g
y
ConductionBand
Double Barrier Structure
GaAs
GaAs GaAs
Al(0,373)Ga(0.627)As Al(0,373)Ga(0.627)As

A 51
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
�1 +
(∆)
2
12

+1

+1
=
2 �1 −
5(∆)
2
12

−�1 −
(∆)
2
12

−1

−1

(2.5).
HASIL SIMULASI
C. Hasil Simulasi dengan Vbias = 0 eV
Kita melakukan simulasi transmitansi struktur
penghalang seperti di gambar 1. Kita memberikan
V
bias
= 0. Grafik hubungan transmitansi terhadap
energi elektron datang dijelaskan di gambar 2.

Gambar 2. Grafik Struktur Pita Energi Material dan Transmitansi
(Vbias =0 eV)
Gambar 2 menunjukkan ada fenomena terobosan
untuk energi elektron datang antara 0 sampai 0,4655
eV. Dalam peristiwa terobosan ada puncak lokal yang
terjadi ketika energi elektron datang 0,36 eV dengan
transmitansi 0,225 tetapi transmitansi tidak pernah
mencapai satu. Ketika elektron tidak mengalami
terobosan, ada nilai transmitansi sama dengan satu
untuk energi elektron datang antara 0,51 eV sampai
0,64 eV. Tidak ada satupun energi datang elektron
yang menghasilkan transmitansi lebih dari satu.
Transmitansi berfluktuasi terhadap energi elektron
datang. Transmitansi ketika energi elektron datang
sama dengan nol. Transmitansi terus naik hingga
mencapai puncak lokal di energi elektron datang 0,36
eV dan transmitansi 0,225. Transmitansi turun lalu
naik kembali dan mencapai resonansi atau
transmitansi tepat satu di energi elektron datang mulai
0,51 eV sampai 0,64 eV. Ketika energi elektron
datang lebih besar dari 0,64 eV, transmitansi turun
lalu naik lagi sampai energi elektron datang sama
dengan satu.
Peristiwa resonansi hanya menghasilkan
transmitansi puncak lokal yang tidak pernah sama
dengan satu. Itu terjadi karena ada sebagian arus
elektron yang dipantulkan dari dinding potensial
penghalang kanan.

D. Hasil Simulasi dengan Vbias Negatif

Gambar 3a. Grafik Struktur Pita Energi Material dan
Transmitansi (V
bias
=-0,2 eV)



Gambar 3b. Grafik Struktur Pita Energi Material dan
Transmitansi (V
bias
=-0,5 eV)


Gambar 3c. Grafik Struktur Pita Energi Material dan Transmitansi
(Vbias =-1 eV)
Kita mensimulasikan struktur pita energi
semikonduktor untuk V bias negatif dan koefisien
trnasmitansi untuk energi elektron datang mulai dari
nol sampai satu. Khusus untuk V bias =-0,5 eV ada
resonansi dengan transmitansi sama dengan satu
untuk energi elektron datang sama dengan 0,19 eV.
Gambar 3a sampai gambar 3c menunujukkan
bahwa semakin kecil V bias diberikan, semakin
sedikit transmitansi yang dihasilkan dan selalu ada
puncak lokal. Di semua V bias yang diberikan selalu
ada puncak lokal. Puncak lokal selalu terjadi ketika
elektron menerobos potensial penghalang. Semakin
kecil V bias, puncak lokal semakin kecil, interval
energi elektron datang yang mencapai transmitansi
sama dengan satu semakin pendek. Posisi puncak
lokal tidak bisa dihubungkan dengan energi elektron
datang.

-10 -5 0 5 10
0
0.05
0.1
0.15
0.2
0.25
0.3
0.35
0.4
0.45
0.5
0 0.5 1
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1
Transmission Coefficient (Vbias =0V)
Energy
T
r
a
n
s
m
i
s
s
i
o
n

C
o
e
f
f
i
c
i
e
n
t
-10 -5 0 5 10
-0.2
-0.1
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0 0.5 1
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1
Transmission Coefficient (Vbias =-0.2 eV)
Energy
T
r
a
n
s
m
i
s
s
i
o
n

C
o
e
f
f
i
c
i
e
n
t
-10 -5 0 5 10
-0.6
-0.4
-0.2
0
0.2
0.4
0.6
0.8
0 0.5 1
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1
Transmission Coefficient (Vbias =-0.5 eV)
Energy
T
r
a
n
s
m
i
s
s
i
o
n

C
o
e
f
f
i
c
i
e
n
t
-10 -5 0 5 10
-1
-0.5
0
0.5
1
1.5
0 0.5 1
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
Transmission Coefficient (Vbias =-1 eV)
Energy
T
r
a
n
s
m
i
s
s
i
o
n

C
o
e
f
f
i
c
i
e
n
t

A 52
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
E. Hasil Simulasi dengan Vbias Positif

Gambar 4a. Grafik Struktur Pita Energi Material dan
Transmitansi (V
bias
=0,2 eV)


Gambar 4b. Grafik Struktur Pita Energi Material dan
Transmitansi (V
bias
=0,5 eV)


Gambar 4c. Grafik Struktur Pita Energi Material dan
Transmitansi (V
bias
=1 eV)

Hasil simulasi struktur pita energi semikonduktor
untuk V bias positif dan transmitansi untuk energi
elektron datang mulai dari nol sampai satu dijelaskan
dalam gambar 4a sampai gambar 4c. Hasil simulasi
menunjukkan bahwa semakin besar V bias yang
diberikan, itu berarti semakin luas grafik potensial
penghalang terhadap posisi, mengakibatkan semakin
sedikit transmitansi yang dihasilkan yang ditunjukkan
dengan luas di bawah kurva transmisi yang semakin
kecil. Di semua V bias yang diberikan tidak ada
puncak-puncak lokal.
Semakin besar V bias, transmitansi sama dengan satu
terjadi semakin lambat. Semakin besar transmitansi,
semakin besar energi datang elektron. Transmitansi
sama dengan satu terjadi ketika energi elektron datang
lebih besar dari energi potensial tertinggi struktur
penghalang ganda. Tidak tampak fluktuasi
transmitansi setelah transmitansi sama dengan satu.
Tidak ada transmitansi lebih besar dari satu untuk
semua energi datang elektron.
KESIMPULAN
Dalam makalah ini kita telah menentukan secara
numerik transmitansi struktur penghalang ganda
GaAs/ AlxGa1-xAs. Kita menetapkan fraksi mol dan
tebal potensial penghalang. Kita memberikan
potensial bias yang berbeda-beda. Untuk V bias =0
dan V bias negatif ada puncak lokal ketika elektron
menerobos potensial halang.
Semakin kecil atau semakin besar V bias, transmitansi
sama dengan satu semakin lambat dicapai. Khusus
untuk V bias -0,5 eV ada resonansi ketika energi
elektron datang sama dengan 1,9 eV atau elektron
menerobos penghalang.
REFERENSI
The template will number citations consecutively
within brackets [1]. The sentence punctuation follows
the bracket [2]. Refer simply to the reference number,
as in [3]—do not use “Ref. [3]” or “reference [3]”
except at the beginning of a sentence: “Reference [3]
was the first . . .”
Number footnotes separately in superscripts.
Place the actual footnote at the bottom of the column
in which it was cited. Do not put footnotes in the
reference list. Use letters for table footnotes.
Unless there are six authors or more give all
authors' names; do not use “et al.”. Papers that have
not been published, even if they have been submitted
for publication, should be cited as “unpublished” [4].
Papers that have been accepted for publication should
be cited as “in press” [5]. Capitalize only the first
word in a paper title, except for proper nouns and
element symbols.
For papers published in translation journals,
please give the English citation first, followed by the
original foreign-language citation [6].
C. E. Simion, and C. I. Ciucu “Triple barrier resonant
tunneling : A transfer matrix approach”
Romanian Reports in Physics, vol. 59, Number
3, pp. 803-814, Sept. 2007.
Niu J in, , S.Y. Chung, , R.M. Heyns, P. R. Berger, ,
R. Yu P. E. Thompson , and S. L.
Rommel, ”Tri-State Logic Using Vertically
Integrated Si–SiGe Resonant Interband
Tunneling Diodes With Double NDR”, IEEE
Electron Device Lett., vol. 25, pp. 646-648,
2004.
D. G. Gordon, M. S. Montemerlo, J . C. Love, G. J .
Opiteck, and J .C Ellenborgen “Overview of
nanoelectronic devices”, Proc. of the IEEE vol.
85, pp. 521–540, 1997.
J . P. Sun, G. I. Haddad, P. Mazumder, and J . N.
Schulman, “Resonant Tunneling Diodes:
Models and Properties”, Proceedings of IEEE,
vol. 86, No.4, pp.641-661, 1998.
P. Mazumder, S. Kulkarni, M. Bhattacharya, J . P.
Sun, and G. I. Haddad, “Digital circuit
applications of resonant tunneling
devices,” Proc. IEEE, vol. 86, pp. 664–686,
Apr. 1998.
-10 -5 0 5 10
-0.2
-0.1
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0 0.5 1
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1
Transmission Coefficient (Vbias =0.2 eV)
Energy
T
r
a
n
s
m
i
s
s
i
o
n

C
o
e
f
f
i
c
i
e
n
t
-10 -5 0 5 10
-0.6
-0.4
-0.2
0
0.2
0.4
0.6
0.8
0 0.5 1
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1
Transmission Coefficient (Vbias =0.5 eV)
Energy
T
r
a
n
s
m
i
s
s
i
o
n

C
o
e
f
f
i
c
i
e
n
t
-10 -5 0 5 10
-1
-0.5
0
0.5
1
1.5
0 0.5 1
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
Transmission Coefficient (Vbias =1eV)
Energy
T
r
a
n
s
m
i
s
s
i
o
n

C
o
e
f
f
i
c
i
e
n
t

A 53
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
T. Sandu, G. Klimeck, and W. P. Kirk, “Off-center
electron transport in resonant tunneling diodes
due to incoherent scattering”, Phys. Rev. B,
vol. 68, pp.(115320-1) -( 115320-9), 2003.
S.-Y. Chung, N. J in, R. E. Pavlovicz, R. Yu, Paul R.
Berger, and P. E. Thompson, “Analysis of the
Voltage Swing for Logic and Memory
Applications in Si/SiGe Resonant Interband
Tunnel Diodes Grown by Molecular Beam
Epitaxy”, IEEE Trans. on Nanotechnology,
vol. 6, No. 2, March 2007.
T. KIM, B. LEE, S. CHOI, and K. YANG, “Resonant
Tunneling Diode/HBT D-Flip Flop ICs Using
Current Mode Logic-Type Monostable-
Bistable Transition Logic Element with
Complementary Outputs”, J apanese J ournal of
Applied Physics, vol. 44, No. 4B, pp. 2743–
2746, 2005.
A. F. J . Levi, Applied Quantum Mechanics,
Cambridge University Press, Edition 2, 2006.
C. E. Simion, and C. I. Ciucu “Triple barrier resonant
tunneling : A transfer matrix approach”
Romanian Reports in Physics, vol. 59, Number
3, pp. 803-814, Sept. 2007.
Niu J in, , S.Y. Chung, , R.M. Heyns, P. R. Berger, ,
R. Yu P. E. Thompson , and S. L.
Rommel, ”Tri-State Logic Using Vertically
Integrated Si–SiGe Resonant Interband
Tunneling Diodes With Double NDR”, IEEE
Electron Device Lett., vol. 25, pp. 646-648,
2004.
D. G. Gordon, M. S. Montemerlo, J . C. Love, G. J .
Opiteck, and J .C Ellenborgen “Overview of
nanoelectronic devices”, Proc. of the IEEE vol.
85, pp. 521–540, 1997.
P. Sun, G. I. Haddad, P. Mazumder, and J . N.
Schulman, “Resonant Tunneling Diodes:
Models and Properties”Proceedings of IEEE,
vol. 86, No.4, pp.641-661, 1998.
P. Mazumder, S. Kulkarni, M. Bhattacharya, J . P.
Sun, and G. I. Haddad, “Digital circuit
applications of resonant tunneling devices,”
Proc. IEEE, vol. 86, pp. 664–686, Apr1998.
T. Sandu, G. Klimeck, and W. P. Kirk, “Off-center
electron transport in resonant tunneling
diodes due to incoherent scattering”, Phys.
Rev. B, vol. 68, pp.(115320-1) -( 115320-9),
2003.
S.-Y. Chung, N. J in, R. E. Pavlovicz, R. Yu, Paul R.
Berger, and P. E. Thompson, “Analysis of the
Voltage Swing for Logic and Memory
Applications in Si/SiGe Resonant Interband
Tunnel Diodes Grown by Molecular Beam
Epitaxy”, IEEE Trans. on Nanotechnology,
vol. 6, No. 2, March 2007.
T. KIM, B. LEE, S. CHOI, and K. YANG, “Resonant
Tunneling Diode/HBT D-Flip Flop ICs Using
Current Mode Logic-Type Monostable-
Bistable Transition Logic Element with
Complementary Outputs”, J apanese J ournal of
Applied Physics, vol. 44, No. 4B, pp. 2743–
2746, 2005.
A. F. J . Levi, Applied Quantum Mechanics,
Cambridge University Press, Edition 2, 2006.

A 54
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
Mesin Carnot Kuantum Dengan Dua Partikel Boson
Herlik Wibowo
1
, Agus Purwanto
2
, Eny Latifah
3

1
Laboratorium Fisika Teori
Departemen Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga
2,3
Laboratorium Fisika Teori dan Filsafat Alam
Departemen Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Email : herlik82@yahoo.com, purwanto@physics.its.ac.id, eny09@mhs.physics.its.ac.id
Abstrak
Mesin Carnot kuantum berbasis sistem dua partikel boson dalam kotak potensial takhingga satu dimensi dengan
dua tingkat energi dikaji dalam paper ini. Dalam sistem sederhana ini, hanya tiga keadaan eigen yang
berkontribusi pada fungsi gelombang sistem. Rumusan gaya dan kerja pada proses adiabatik dan proses
isotermal didefinisikan secara klasik. Siklus Carnot kuantum dimulai dari keadaan dasar dengan ekspansi
isotermal. Pada ekspansi isotermal, lebar kotak maksimum dicapai ketika kedua partikel boson menempati
keadaan tereksitasi. Selanjutnya ekspansi dilangsungkan secara adiabatik dengan keadaan sistem adalah
keadaan terakhir pada proses isotermal sampai mencapai volume tertentu yang diinginkan. Proses dilanjutkan
dengan kompresi isotermal sampai volume sedemikian rupa sehingga sistem berada dalam keadaan awal yakni
keadaan dasar. Ketika keadaan ini dicapai kompresi dilanjutkan secara adiabatik sampai mencapai volume
awal. Efisiensi mesin Carnot kuantum sistem dua boson dua tingkat energi ini sama dengan efisiensi mesin
Carnot kuantum yang sama tetapi dengan partikel tunggal.
Kata Kunci : dua boson, kotak potensial, mesin Carnot kuantum, efisiensi

PENDAHULUAN
Mesin panas merupakan suatu alat yang didesain
sedemikian hingga sebanyak mungkin energi panas
dapat dikonversi menjadi kerja mekanis. Pada mesin
panas terdapat zat kerja (working substance) yang
menyerap panas
H
Q dari tandon panas bertemperatur
tinggi
H
T , melakukan kerja mekanis W , dan
membuang panas
C
Q pada tandon dingin
bertemperatur rendah
C
T dimana
H C
T T > . Rasio
kerja mekanis W yang dihasilkan oleh zat kerja
terhadap panas
H
Q yang diserap oleh zat kerja
didefinisikan sebagai efisiensi η mesin panas :

H
W
Q
η = .
Pada tahun 1824, Sadi Carnot memperkenalkan
suatu mesin panas teoritis dan reversibel yang bekerja
berdasarkan pada siklus termodinamika yang dikenal
sebagai siklus Carnot. Mesin panas yang bekerja
berdasarkan siklus Carnot dikenal sebagai mesin
Carnot. Suatu mesin Carnot dimodelkan terdiri atas
zat kerja berupa gas ideal yang berada di dalam suatu
silinder dengan piston yang dapat bergerak bebas.
Dinding silinder dan piston tersusun dari bahan
insulator panas. Silinder yang berisi gas ideal tersebut
kemudian melakukan kontak termal dengan dua jenis
tandon, yakni tandon panas yang bertemperatur tinggi
dan tandon dingin yang bertemperatur rendah.
Siklus Carnot terdiri dari empat proses
termodinamika yang terbagi menjadi dua proses
isotermal dan dua proses adiabatik. Siklus Carnot
dimulai dengan gas ideal yang mengalami proses
ekspansi isotermal pada temperatur
H
T ketika bagian
bawah silinder dikontakkan secara termal dengan
tandon panas. Selama proses ekspansi isotermal
berlangsung, gas menyerap panas sebesar
H
Q dan
melakukan kerja mekanis yang menyebabkan piston
terangkat. Setelah mengalami proses ekspansi
isotermal, gas kemudian mengalami proses ekspansi
adiabatik ketika bagian bawah silinder, yang semula
dihubungkan dengan tandon panas, sekarang
dihubungkan dengan suatu insulator panas. Selama
ekspansi adiabatik berlangsung, tidak ada panas yang
masuk ke sistem sehingga temperatur gas berkurang
dari
H
T menjadi
C
T . Pada saat gas mengalami
ekspansi adiabatik, gas juga melakukan kerja mekanis
yang menyebabkan piston terangkat. Setelah gas
mengalami proses ekspansi adiabatik, bagian bawah
silinder sekarang dikontakkan dengan tandon dingin
yang bertemperatur rendah dan gas ditekan sehingga
gas mengalami proses kompresi isotermal pada
temperatur
C
T . Selama proses kompresi isotermal
berlangsung, panas sebesar
C
Q keluar dari sistem dan
piston melakukan kerja mekanis pada gas. Pada
proses terakhir dari siklus Carnot, bagian bawah
silinder sekarang dihubungkan dengan suatu insulator
panas. Gas ditekan sedemikian hingga mengalami
proses kompresi adiabatik sampai temperatur gas naik
menjadi
H
T . Selama proses kompresi adiabatik
berlangsung, piston melakukan kerja mekanis pada
gas tersebut. Sadi Carnot memperlihatkan bahwa
efisiensi mesin Carnot hanya bergantung pada

A 55
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
temperatur
H
T dan temperatur
C
T . Sadi Carnot juga
memperlihatkan bahwa efisiensi mesin Carnot
merupakan efisien tertinggi yang dapat dihasilkan
oleh suatu mesin panas yang beroperasi secara siklik
menggunakan dua tandon dengan temperatur yang
berbeda.
Salah satu usaha untuk meningkatkan efisiensi
mesin panas adalah dengan mengaplikasikan prinsip-
prinsip dasar teori kuantum ke dalam mesin panas.
Mesin panas kuantum pertama kali dipelajari oleh
Scovil dan Schul-DuBois pada tahun 1950an. Dalam
paper berjudul Three-Level Masers as Heat Engines
yang terbit pada tahun 1959, mereka memperlihatkan
bahwa maser dapat dipandang sebagai mesin panas
yang mengekstraksikan energi dari sumber
pemompaan panas (hot pumping sources),
mengkonversikan sebagian energi tersebut menjadi
osilasi koheren atau kerja dan membuang sebagian
energi tersebut pada tandon dingin. Mereka juga
memperlihatkan bahwa efisiensi mesin panas
kuantum tersebut ternyata sesuai dengan efisiensi
mesin Carnot (Siegman, 1986). Pada tahun 2002, M.
O. Scully melalui papernya yang berjudul The
Quantum Afterburner: Improving the Efficiency of an
Ideal Heat Engine melaporkan bahwa efisiensi mesin
panas berbasis siklus Otto dapat ditingkatkan melebihi
efisiensi mesin panas Otto ideal (Scully, 2002). Pada
tahun 2008, Raoul Dillenschneider dan Eric Lutz,
melalui paper yang berjudul Improving Carnot
Efficiency with Quantum Correlations, mengkaji
mesin Carnot kuantum yang terdiri dari medan radiasi
ragam tunggal yang berada di dalam resonator optik
(Dillenschneider dan Lutz, 2008). Dalam paper
tersebut, mereka melaporkan bahwa efisiensi mesin
Carnot dapat ditingkatkan melalui korelasi kuantum.
Selain kajian mengenai mesin panas kuantum, kajian
mengenai proses termodinamika kuantum yang terkait
dengan proses isotermal dan proses isokhorik
diberikan secara rinci oleh H. T. Quan, Yu-Xi Liu, C.
P. Sun, dan Franco Nori dalam paper yang berjudul
Quantum Thermodynamic Cycles and Quantum Heat
Engines (Quan et al., 2007). Melalui paper terpisah,
yang berjudul Quantum Thermodynamic Cycles and
Quantum Heat Engines (II), H. T. Quan mengkaji
proses termodinamika kuantum terkait dengan proses
isobarik (Quan, 2009).
Pada tahun 2000, C.M. Bender, D. C. Broody dan
B. K. Meister mengkaji mesin Carnot kuantum
berbasis sistem satu partikel dalam kotak potensial tak
hingga satu dimensi dengan dua tingkat energi
(Bender et al., 2000). Dalam paper yang berjudul
Quantum-Mechanical Carnot Engine, Bender, Broody
dan Meister memperkenalkan proses isotermal
kuantum dan proses adiabatik kuantum. Dalam
memperkenalkan proses isotermal kuantum dan
proses adiabatik kuantum, Bender, Broody dan
Meister menggantikan peranan variabel temperatur,
yang digunakan dalam termodinamika klasik, dengan
nilai harap Hamiltonian sistem. Selain
memperkenalkan proses isotermal kuantum dan
proses adiabatik kuantum, Bender, Broody dan
Meister juga menghitung efisiensi mesin Carnot
kuantum berbasis sistem satu partikel dalam kotak
potensial tak hingga satu dimensi dengan dua tingkat
energi. Dari perhitungan tersebut, mereka
memperoleh hasil bahwa efisiensi mesin Carnot
kuantum ternyata hanya bergantung pada nilai harap
Hamiltonian sistem pada keadaan dasar dan nilai
harap Hamiltonian sistem pada keadaan tereksitasi
pertama. Ide mesin Carnot kuantum yang
dikemukakan oleh Bender, Broody dan Meister
kemudian diperluas untuk kasus sistem satu partikel
dalam kotak potensial tak hingga satu dimensi dengan
n tingkat energi oleh Eny Latifah dan Agus Purwanto
pada tahun 2011. Mereka memperoleh kesimpulan
bahwa efisiensi mesin Carnot kuantum berbasis
sistem satu partikel dalam kotak potensial tak hingga
satu dimensi dengan n tingkat energi dapat
diperbesar dengan mereduksi volume ekspansi
isotermal, yang berarti proses ekspansi isotermal tidak
terhenti pada keadaan dengan tingkat energi tertinggi
tetapi pada keadaan dengan tingkat energi di bawah
tingkat energi tertinggi (Latifah dan Purwanto, 2011).
Pada paper ini, ide mesin Carnot kuantum yang
dikemukakan oleh Bender, Broody dan Meister
tersebut akan diaplikasikan untuk kasus dua partikel
boson. Nilai efisiensi mesin Carnot kuantum untuk
dua partikel boson akan dihitung dan dibandingkan
dengan hasil perhitungan nilai efisiensi mesin Carnot
kuantum yang diperoleh Bender, Broody dan Meister.
Paper ini disusun sebagai berikut. Kajian ulang
mengenai mesin Carnot kuantum berbasis sistem satu
partikel dalam kotak potensial tak hingga satu dimensi
dengan dua tingkat energi disajikan dalam bab yang
berjudul Mesin Carnot Kuantum Dengan Satu
Partikel. Kajian mengenai mesin Carnot kuantum
berbasis sistem dua partikel boson dalam kotak
potensial tak hingga satu dimensi dengan dua tingkat
energi disajikan dalam bab yang berjudul Mesin
Carnot Kuantum Dengan Dua Partikel Boson. Bab
yang berjudul Kesimpulan menyajikan secara ringkas
hasil-hasil penting yang didapatkan dari bab
sebelumnya.
MESIN CARNOT KUANTUM DENGAN SATU
PARTIKEL
Kotak potensial Tak Hingga Satu Dimensi
Tinjau suatu partikel bermassa m yang berada
dalam suatu kotak potensial tak hingga satu dimensi
dengan lebar L . Persamaan Schrödinger tak
bergantung waktu dari sistem ini dinyatakan sebagai

( )
( )
2
2
2
2
φ
− = φ

d x
E x
m dx
. (1)
Dengan mengaplikasikan syarat batas ( ) 0 0 φ = dan
( ) 0 L φ = pada pers. (1), maka didapatkan keadaan
eigen ortonormal bagi sistem yang diberikan oleh

A 56
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
( )
2
sin
π | |
φ =
|
\ .
n
n
x x
L L
, (2)
dengan 1,2,3,... n = , dan nilai eigen energi sistem
yang dinyatakan sebagai

2 2 2
2
2
π
=

n
n
E
mL
. (3)
Keadaan sistem ( ) x ψ secara umum merupakan
kombinasi linier keadaan eigen ( )
n
x φ yang dapat
dinyatakan sebagai
( ) ( )
1

=
ψ = φ
∑ n n
n
x a x , (4)
dimana koefisien
n
a memenuhi syarat normalisasi

2
1
1

=
=
∑ n
n
a . (5)
Menggunakan pers. (3), nilai harap Hamiltonian untuk
keadaan sistem ( ) x ψ dinyatakan sebagai

2 2 2
2
2
1
2

=
π
=


n
n
n
E a
mL
. (6)
Proses Adiabatik
Secara klasik, proses adiabatik adalah suatu proses
dimana sistem terisolasi secara termal. Suatu gas ideal
yang berada di dalam tabung silinder dengan piston
yang dapat bergerak dikatakan mengalami proses
adiabatik ketika tidak ada panas yang mengalir ke luar
maupun ke dalam gas tersebut. Ketika piston bergerak,
gas dikatakan telah melakukan kerja mekanis dan
sebagian energi dalam gas tersebut dimanfaatkan
untuk melakukan kerja mekanis.
Secara kuantum, proses adiabatik didefinisikan
melalui teorema adiabatik. Teorema adiabatik
menyatakan bahwa jika Hamiltonian sistem berubah
secara sangat lambat dari
0
H menjadi H

maka, suatu
sistem yang mula-mula berada pada keadaan eigen ke-
n untuk Hamiltonian
0
H , akan berada pada keadaan
eigen ke- n untuk Hamiltonian H setelah proses
adiabatik berakhir (Griffiths, 2005). Teorema adibatik
secara tidak langsung menyatakan bahwa selama
proses adiabatik berlangsung, sistem tidak mengalami
transisi dari satu keadaan ke keadaan lainnya.
Tinjau suatu partikel pada kotak potensial tak
hingga satu dimensi dengan lebar L . Misalkan mula-
mula partikel berada dalam keadaan kuantum ( ) x ψ
seperti yang dinyatakan oleh pers. (4). Ketika proses
adiabatik berlangsung, lebar kotak berubah akibat
pergerakan salah satu dinding kotak yang terjadi pada
x L = . Mengingat pada proses adibatik, tidak ada
transisi yang terjadi maka nilai mutlak koefisien
n
a ,
yakni
n
a , harus tetap konstan. Dari pers. (2) dan pers.
(3) jelas terlihat bahwa fungsi eigen ( )
n
x φ dan nilai
eigen
n
E berubah ketika lebar kotak L berubah. Dari
pers. (6) terlihat bahwa jika
n
E merupakan fungsi L
dan
n
a harus tetap konstan maka nilai harap
Hamiltonian E merupakan fungsi L saja. Ketika
lebar kotak L semakin besar maka nilai harap
Hamiltonian E semakin berkurang. Pengurangan nilai
harap Hamiltonian E tersebut sama dengan besar
kerja mekanis yang dilakukan oleh gaya F pada salah
satu dinding kotak. Gaya F tersebut didefinisikan
sebagai secara klasik sebagai
( )
( )
= −
dE L
F L
dL
. (7)
Substitusi pers. (6) ke pers. (7) memberikan

2 2 2
2
3
1

=
π
=


n
n
n
F a
mL
. (8)
Proses Isotermal
Secara klasik, proses isotermal adalah suatu
proses dimana temperatur sistem dijaga tetap konstan.
Suatu gas ideal yang berada dalam suatu tabung
silinder dengan piston yang dapat bergerak dikatakan
mengalami proses isotermal ketika gas tersebut
kontak dengan suatu tandon panas sedemikian hingga
temperatur gas dapat dijaga tetap konstan. Mengingat
energi dalam gas ideal sebanding dengan temperatur
gas tersebut maka energi dalam gas tetap konstan
selama proses isotermal berlangsung. Dengan
demikian, sesuai dengan hukum termodinamika
pertama, gas melakukan usaha yang besarnya sama
dengan besar kalor yang diserap gas ketika kontak
dengan tandon panas.
Secara kuantum, proses isotermal dideskripsikan
sebagai berikut. Tinjau suatu partikel pada kotak
potensial tak hingga satu dimensi dengan lebar L .
Misalkan keadaan awal ( ) ψ x partikel merupakan
kombinasi linier fungsi eigen seperti pada pers. (4).
Pada saat proses isotermal berlangsung, salah satu
dinding kotak potensial bergerak sehingga
menyebabkan terjadinya perubahan lebar kotak
potensial. Walaupun lebar kotak potensial berubah,
nilai harap Hamiltonian sistem tetap konstan selama
proses isotermal berlangsung. Untuk menjaga agar
nilai
( )
2
1

=
=
∑ n n
n
E L a E (9)
tetap konstan maka koefisien
n
a tidak lagi konstan
tetapi berubah sebagai fungsi L . Koefisien ( )
n
a L
tetap harus memenuhi syarat normalisasi
( )
2
1
1

=
=
∑ n
n
a L (10)
Mesin Carnot Kuantum Dua Tingkat Energi dengan
Satu Partikel
Dalam termodinamika klasik, mesin Carnot
bekerja berdasarkan siklus Carnot yang terdiri dari
ekspansi isotermal, ekspansi adiabatik, kompresi
isotermal dan kompresi adiabatik. Diagram P – V

A 57
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
yang menggambarkan siklus Carnot ditunjukkan pada
Gbr. 1 berikut ini.
Gbr. 1. DiagramP – V siklus Carnot.
Analog dengan siklus Carnot dalam
termodinamika klasik, siklus Carnot kuantum juga
terdiri dari ekspansi isotermal, ekspansi adiabatik,
kompresi isotermal, dan kompresi adiabatik. Misalkan
partikel mula-mula berada pada keadaan dasar dan
lebar kotak potensial mula-mula adalah
1
L . Pada saat
partikel berada pada keadaan dasar,
2
0 = a sehingga,
dengan menggunakan pers. (5), didapatkan
1
1 = a .
Menggunakan pers. (6), nilai harap Hamiltonian pada
keadaan dasar dinyatakan sebagai

2 2
dasar 2
1
2
π
=

E
mL
(11)
Pada proses ekspansi isotermal, partikel
tereksitasi ke tingkat energi tereksitasi pertama
dengan nilai harap Hamiltonian yang konstan. Selama
proses ekspansi isotermal, keadaan partikel
merupakan kombinasi linier dari dua keadaan eigen
terendah :
( ) ( ) ( )
1 2
2 2
sin sin
π π | | | |
ψ = +
| |
\ . \ .
x a L x a L x
L L L
,(12)
dimana hubungan antara ( )
1
a L dan ( )
2
a L
dinyatakan menggunakan pers. (10) sebagai
( ) ( )
2 2
1 2
1 + = a L a L . (13)
Nilai harap Hamiltonian untuk proses ekspansi
isotermal dinyatakan sebagai
( ) ( ) ( )
2 2
2 2
I 1 2 2
4
2
E L a L a L
mL
π
(
= +
¸ ¸

(14)
atau dengan menggunakan pers. (13), dapat
dinyatakan sebagai
( ) ( )
2 2
2
I 1 2
4 3
2
E L a L
mL
π
(
= −
¸ ¸

. (15)
Mengingat pada proses isotermal berlaku
( )
I dasar
E L E = maka dari pers. (11) dan (14)
didapatkan
( )
( )
2
2 2
1 1
4 3 = − L a L L . (16)
Persamaan (16) mengindikasikan bahwa L bernilai
maksimum ketika ( )
1
0 = a L yang berarti proses
ekspansi isotermal berlangsung sampai semua partikel
telah tereksitasi ke keadaan tereksitasi pertama.
Menggunakan pers. (16), lebar maksimum
2
L kotak
potensial ketika semua partikel telah tereksitasi ke
keadaan tereksitasi pertama diberikan oleh
2 1
2 = L L .
Selama proses ekspansi isotermal berlangsung, gaya
yang diberikan partikel pada dinding kotak potensial
diberikan oleh
( )
2 2
I 2
1
F L
mL L
π
=

(17)
Setelah mengalami proses ekspansi isotermal,
sistem mengalami proses ekspansi adiabatik dimana
lebar kotak potensial berubah dari
2
L L = menjadi
3
L L = . Selama proses ekspansi adiabatik
berlangsung, sistem tetap pada tingkat energi
tereksitasi pertama dan nilai harap Hamiltonian sistem
tersebut diberikan oleh
( )
2 2
II 2
2
E L
mL
π
=

. (18)
Dengan menggunakan pers. (8), gaya yang bekerja
pada dinding kotak potensial dapat dinyatakan sebagai
( )
2 2
II 3
4
F L
mL
π
=

. (19)
Setelah mengalami ekspansi adiabatik, sistem
mengalami kompresi isotermal dimana lebar kotak
potensial berubah dari
3
L L = menjadi
4
L L = .
Selama proses kompresi isotermal berlangsung, nilai
harap Hamiltonian sistem konstan. Pada awal proses
kompresi isotermal, sistem mula-mula berada pada
keadaan tereksitasi pertama. Ketika lebar kotak
potensial
3
L L = , nilai harap Hamiltonian sistem
diberikan oleh

2 2
tereksitasi 2
pertama
3
2
E
mL
π
=

. (20)
Selama proses kompresi isotermal berlangsung,
keadaan sistem merupakan kombinasi linier dari dua
keadaan eigen terendah :

( ) ( ) ( )
1 2
2 2 2
sin sin x a L x a L x
L L L L
π π | | | |
ψ = +
| |
\ . \ .

(21)
dimana hubungan antara ( )
1
a L dan ( )
2
a L diberikan
oleh pers. (13). Nilai harap Hamiltonian sistem pada
proses kompresi isotermal diberikan oleh
( ) ( )
2 2
2
III 1 2
4 3
2
E L a L
mL
π
(
= −
¸ ¸

(22)

A 58
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
atau, dengan menggunakan ( ) ( )
2 2
1 2
1 a L a L + = ,
diberikan oleh
( ) ( )
2 2
2
III 2 2
1 3
2
E L a L
mL
π
(
= +
¸ ¸

. (23)
Selama proses kompresi isotermal berlangsung,
( )
III tereksitasi pertama
E L E = sehingga dari pers. (20) dan
pers. (23), didapatkan
( )
( )
2
2 2
2 3
1
1 3 .
4
L a L L = + (24)
Persamaan (24) mengindikasikan bahwa L bernilai
minimum ketika ( )
2
0 a L = yang berarti proses
kompresi isotermal berlangsung sampai semua
partikel telah berada pada keadaan dasar.
Menggunakan pers. (24), lebar minimum
4
L kotak
potensial ketika semua partikel telah berada pada
keadaan dasar diberikan oleh
1
4 3 2
L L = . Gaya yang
bekerja pada dinding kotak potensial diberikan oleh
( )
2 2
III 2
3
4
F L
mL L
π
=

. (25)
Pada proses terakhir dari siklus Carnot kuantum,
yakni proses kompresi adiabatik, sistem tetap berada
pada keadaan dasar dan lebar kotak potensial berubah
dari
4
L L = menjadi
1
L L = . Selama proses kompresi
adiabatik berlangsung, nilai harap Hamiltonian sistem
diberikan oleh
( )
2 2
IV 2
2
E L
mL
π
=

(26)
dan gaya yang bekerja pada dinding kotak potensial
diberikan oleh
( )
2 2
IV 3
F L
mL
π
=

. (27)
Menggunakan pers. (17), (19), (25), dan (27), kerja
mekanis W untuk satu siklus diberikan oleh
( )
2 2
2 2
1 3
1 4
ln2 W F L dL
m L L
( π
= = −
(
¸ ¸



(28)
dan besar energi yang diserap selama ekspansi
isotermal dinyatakan sebagai
( )
1
1
2
2 2
I 2
1
ln2
L
H
L
Q F L dL
mL
π
= =


(29)
Efisiensi η mesin Carnot kuantum diberikan oleh

2
1
3
1 4
H
L W
Q L
| |
η = = −
|
\ .
(30)
atau, dengan menggunakan pers. (11) dan (20),
diberikan oleh

dasar
tereksitasi pertama
1
E
E
η = − (31)
Diagram F – L yang menggambarkan siklus Carnot
kuantum untuk sistem partikel tunggal yang berada di
dalam kotak potensial tak hingga satu dimensi dengan
dua tingkat energi diberikan oleh Gbr. 2 berikut ini.
Gbr. 2. DiagramF – L siklus Carnot kuantumuntuk sistempartikel
tunggal yang berada di dalamkotak potensial tak hingga satu
dimensi dengan dua tingkat energi.
MESIN CARNOT KUANTUM DENGAN DUA
PARTIKEL BOSON
Konsep siklus Carnot kuantum yang telah
dibangun untuk sistem satu partikel dalam kotak
potensial tak hingga satu dimensi dengan dua tingkat
energi akan diaplikasikan pada sistem dua partikel
identik dalam kotak potensial tak hingga satu dimensi
dengan dua tingkat energi. Pada paper ini, jenis
partikel identik yang digunakan adalah partikel boson.

Partikel boson merupakan partikel identik tak
terbedakan yang tidak mematuhi prinsip larangan
Pauli. Konfigurasi dua partikel boson pada dua tingkat
energi ditunjukkan pada Gbr. 3 berikut ini.

Gbr. 3. Konfigurasi yang paling mungkin bagi dua partikel boson
untuk dua tingkat energi.
Fungsi gelombang sistem untuk keadaan dasar,
tereksitasi pertama, dan tereksitasi kedua, secara
berurutan, diberikan oleh
( )
dasar 1 2 1 2 1
2
, sin sin x x x x
L L L
π π | | | |
ψ = ≡ ψ
| |
\ . \ .
(32)

A 59
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8

( )
tereksitasi 1 2 1 2
pertama
1 2 2
1 2 2
, sin sin
2
2 2
sin sin
x x x x
L L L
x x
L L L
¦ π π | | | |
ψ =
´
| |
\ . \ . ¹
π π ¹ | | | |
+ ≡ ψ
`
| |
\ . \ .)

(33)
( )
tereksitasi 1 2 1 2 3
kedua
2 2 2
, sin sin x x x x
L L L
π π | | | |
ψ = ≡ ψ
| |
\ . \ .

(34)
Misalkan keadaan sistem ( )
1 2
, x x Ψ mula-mula
dinyatakan sebagai kombinasi linier dari
1 2 3
, , dan ψ ψ ψ :
( )
1 2 1 1 2 2 3 3
, x x a a a Ψ = ψ + ψ + ψ . (35)
dimana
1 2 3
, , dan a a a memenuhi hubungan yang
diberikan oleh

2 2 2
1 2 3
1. a a a + + = (36)
Nilai harap Hamiltonian sistem sebagai fungsi L
dapat dinyatakan sebagai
( )
2 2 2
1 1 2 2 3 3
E L a E a E a E = + + (37)
dengan

2 2 2 2 2 2
1 2 3 2 2 2
5 4
; ; .
2
E E E
mL mL mL
π π π
= = =
  
(38)
Selama proses adiabatik berlangsung, nilai harap
Hamiltonian sistem diberikan oleh pers. (37), dimana
nilai
1
E ,
2
E , dan
3
E diberikan oleh pers. (38), dan
gaya yang bekerja pada dinding diberikan oleh
( )
( )
2 2
2 2 2
1 2 3 3
2 5 8
dE L
F L a a a
dL mL
π
(
= − = + +
¸ ¸


(39)
Berbeda dengan proses adiabatik, selama proses
isotermal berlangsung, nilai harap Hamiltonian sistem
dinyatakan sebagai
( ) ( ) ( ) ( )
2 2 2
1 1 2 2 3 3
E L a L E a L E a L E = + + (40)
dimana koefisien
1 2 3
, , dan a a a tidak lagi konstan
tetapi berubah terhadap L . Koefisien ( )
1
a L , ( )
2
a L ,
dan ( )
3
a L memenuhi syarat normalisasi :
( ) ( ) ( )
2 2 2
1 2 3
1 a L a L a L + + = (41)
Gaya yang bekerja pada dinding kotak potensial,
selama proses isotermal berlangsung, diberikan oleh
( ) ( ) ( ) ( )
2 2
2 2 2
1 2 3 3
2 5 8 F L a L a L a L
mL
π
(
= + +
¸ ¸


(42)
Serupa dengan siklus Carnot kuantum pada
sistem satu partikel, siklus Carnot kuantum pada
sistem dua partikel boson juga terdiri atas ekspansi
isotermal, ekspansi adiabatik, kompresi isotermal, dan
kompresi adiabatik. Misalkan dua partikel boson
mula-mula berada pada keadaan dasar dan lebar L
kotak potensial mula-mula adalah
1
L . Pada saat kedua
partikel boson berada pada keadaan dasar,
2
0 a = dan
3
0 a = . Dengan menggunakan pers. (37), didapatkan

2 2
dasar 1 2
1
E E
mL
π
= =

. (43)
Pada saat proses ekspansi isotermal berlangsung,
keadaan sistem ( )
1 2
, x x Ψ diberikan oleh
( ) ( ) ( ) ( )
1 2 1 1 2 2 3 3
, x x a L a L a L Ψ = ψ + ψ + ψ (44)
dimana hubungan antara ( ) ( ) ( )
1 2 3
, , dan a L a L a L
diberikan oleh pers. (41). Dengan menggunakan pers.
(40) dan pers. (41), nilai harap Hamiltonian sistem,
selama proses ekspansi isotermal berlangsung,
diberikan oleh
( ) ( ) ( ) ( ) ( )
2 2
I 1 2 1 2 3 1 3
E L E E E a L E E a L = + − + −
(44)
Mengingat ( )
dasar I
E E L = , selama proses ekspansi
isotermal berlangsung, maka didapatkan
( ) ( )
2
2 2
2 1
2 3
2 3 6
2
L
L a L a L
(
= + +
¸ ¸
(45)
Persamaan (45) mengindikasikan bahwa L akan
bernilai maksimum jika ( ) ( )
2 3
1 a L a L = = . Akan
tetapi, nilai koefisien ( )
2
a L dan ( )
3
a L dibatasi oleh
pers. (41) sehingga L akan bernilai maksimum hanya
jika ( ) ( )
1 2
0 a L a L = = dan ( )
3
1 a L = , yang berarti
proses ekspansi isotermal berlangsung sampai kedua
partikel boson berada pada keadaan tereksitasi kedua.
Menggunakan pers. (45), lebar maksimum
2
L kotak
potensial, setelah kedua partikel boson berada pada
keadaaan tereksitasi kedua, diberikan oleh
2 1
2 L L = .
Pada saat ekspansi isotermal berlangsung, gaya yang
bekerja pada dinding kotak potensial dinyatakan
sebagai
( )
2 2
I 2
1
2
F L
mL L
π
=

(46)
Setelah mengalami proses ekspansi isotermal,
sistem mengalami proses ekspansi adiabatik dimana
lebar kotak potensial berubah dari
2
L L = menjadi
3
L L = . Pada saat ekspansi adiabatik berlangsung,
kedua boson tetap berada pada keadaan tereksitasi
kedua dan nilai harap Hamiltonian sistem tersebut
diberikan oleh
( )
2 2
II 2
4
E L
mL
π
=

. (47)
Gaya yang bekerja pada dinding kotak potensial, saat
proses ekspansi adiabatik berlangsung, diberikan oleh

A 60
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
( )
2 2
II 3
8
F L
mL
π
=

. (48)
Setelah mengalami proses ekspansi adiabatik,
sistem kemudian mengalami proses kompresi
isotermal dimana lebar kotak potensial berubah dari
3
L L = menjadi
4
L L = . Pada awal proses kompresi
isotermal, sistem berada pada keadaan tereksitasi
kedua saat lebar kotak potensial adalah
3
L . Nilai
harap Hamiltonian sistem pada saat lebar kotak
potensial adalah
3
L dinyatakan sebagai

2 2
tereksitasi 2
kedua
3
4
E
mL
π
=

(49)
Selama proses kompresi isotermal berlangsung, nilai
harap Hamiltonian sistem dinyatakan sebagai
( ) ( ) ( ) ( ) ( )
2 2
III 3 1 3 1 2 3 2
E L E E E a L E E a L = + − + −
(50)
Mengingat, selama proses kompresi isotermal,
berlaku ( )
tereksitasi kedua III
E E L = maka didapatkan
( ) ( )
2 2
2 2
3 1 2
1
8 6 3
8
L L a L a L
(
= − −
¸ ¸
(51)
Persamaan (51) mengindikasikan bahwa L akan
bernilai minimum hanya jika ( )
1
1 a L = dan
( )
2
0 a L = , yang berarti proses kompresi isotermal
berlangsung sampai kedua partikel boson menempati
keadaan dasar. Menggunakan pers. (51), lebar
minimum
4
L ketika kedua partikel boson menempati
keadaan dasar adalah
1
4 3 2
L L = . Gaya yang bekerja
pada dinding kotak potensial diberikan oleh
( )
2 2
III 2
3
8
F L
mL L
π
=

. (52)
Proses terakhir dari siklus Carnot kuantum, yakni
proses kompresi adiabatik, sistem tetap berada pada
keadaan dasar dan lebar kotak potensial berubah dari
4
L L = menjadi
1
L L = . Selama proses kompresi
adiabatik berlangsung, nilai harap Hamiltonian sistem
dinyatakan sebagai
( )
2 2
IV 2
E L
mL
π
=

(53)
dan gaya yang bekerja pada dinding kotak potensial
diberikan oleh
( )
2 2
IV 3
2
F L
mL
π
=

(54)
Menggunakan pers. (46), (48), (52), dan (54), kerja
mekanis W untuk satu siklus diberikan oleh
( )
2 2
2 2
1 3
2 1 4
ln2 W F L dL
m L L
( π
= = −
(
¸ ¸



(55)
dan besar energi yang diserap selama ekspansi
isotermal dinyatakan sebagai
( )
1
1
2
2 2
I 2
1
ln2
L
H
L
Q F L dL
mL
π
= =


(56)
Efisiensi η mesin Carnot kuantum untuk sistem dua
partikel boson diberikan oleh

2
tereksitasi kedua 1
3 dasar
1 4 1
H
E L W
Q L E
| |
η = = − = −
|
\ .
(57)
Diagram F – L yang menggambarkan siklus Carnot
kuantum untuk sistem dua partikel boson yang berada
di dalam kotak potensial tak hingga satu dimensi
dengan dua tingkat energi juga diberikan oleh Gbr. 2.
KESIMPULAN
Mesin Carnot kuantum berbasis sistem dua
partikel boson dalam kotak potensial tak hingga satu
dimensi dengan dua tingkat energi telah dikaji di
dalam artikel ini. Dalam proses siklus Carnot ini
proses isotermal harus terbatas sedangkan proses
adiabatik tidak. Pada proses ekspansi isotermal lebar
kotak potensial bernilai maksimum ketika kedua
partikel boson telah menempati tingkat energi
tertinggi. Lebar maksimum kotak potensial tersebut
adalah dua kali lebar awal kotak,
2 1
2 L L = dimana
1
L
menyatakan lebar kotak potensial awal.
Pada proses kompresi isotermal yang berangkat
dari volume tertentu setelah ekspansi adiabatik, lebar
kotak potensial bernilai minimum ketika kedua
partikel boson telah menempai tingkat energi
terendah. Lebar minimum kotak potensial yang dapat
dicapai proses kompresi isotermal adalah
1
4 3 2
L L = .
Nilai efisiensi mesin Carnot kuantum berbasis
sistem dua partikel boson dalam kotak potensial tak
hingga satu dimensi dengan dua tingkat energi
ternyata sama dengan nilai efisiensi mesin Carnot
kuantum berbasis sistem satu partikel dalam kotak
potensial tak hingga satu dimensi dengan dua tingkat
energi. Hasil perhitungan ini menunjukkan bahwa
penambahan jumlah partikel boson tidak akan
mempengaruhi nilai efisiensi mesin Carnot kuantum
sepanjang model mesin Carnot kuantum yang ditinjau
tetap sama, yakni kotak potensial tak hingga satu
dimensi dengan dua tingkat energi.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis berterima kasih kepada panitia
penyelenggara Seminar Nasional Fisika Terapan III
2012 atas kesempatan yang diberikan untuk dapat
mempresentasikan paper ini.
DAFTAR PUSTAKA
A. E. Siegman, Lasers, University Science Books,
Amerika Serikat.
E. Latifah dan A. Purwanto (2011), Multiple-State
Quantum Carnot Engine, J ournal of Modern
Physics, 2011, 2, 1366-1372.

A 61
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
C. M. Bender, D. C. Broody dan B. K. Meister
(2000), Quantum-Mechanical Carnot Engine,
J ournal of Physics, Vol. 33, No. 24, 4427.
D. J . Griffiths (2005), Introduction to Quantum
Mechanics, Edisi Kedua, Pearson Education,
Inc., Amerika Serikat.
H. T. Quan, Y.-X. Liu, C. P. Sun, dan F. Nori (2007),
Quantum Thermodynamic Cycles and
Quantum Heat Engines, Physical Review E,
Vol. 76, No. 3, 031105 atau arXiv: quant-
ph/0611275v2.
H. T. Quan (2009), Quantum Thermodynamic Cycles
and Quantum Heat Engines (II), Physical
Review E, Vol. 79, No. 4, 041129 atau arXiv:
0811.2756v2.
M. O. Scully (2002), The Quantum Afterburner:
Improving the Efficiency of an Ideal Heat
Engine, Physical Review Letters, Vol. 88, No.
5, 050602 atau arXiv: quant-ph/0105135v1.
R. Dillenschneider dan E. Lutz, Improving Carnot
Efficiency with Quantum Correlations, arXiv:
0803.4067v1.



A 62
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
SOLUSI PERSAMAAN SCHRODINGER UNTUK POTENSIAL NON SENTRAL
KOMBINASI POTENSIAL COLOUMB PLUS PÖSCHL -TELLER I
MENGGUNAKAN METODE NIKIFOROV-UVAROV
J effry Handhika
1
, Suparmi
2
, Cari
3

1
Mahasiswa S2 Ilmu Fisika Pascasarjana UNS Surakarta
2,3
Dosen Pascasarjana S2 Ilmu Fisika UNS Surakarta
Email : jeffry.handhika@yahoo.com
Abstrak
Persamaan Schrodinger untuk potensial non sentral kombinasi potensial Coloumb plus Pochl-Teller I
dipecahkan secara analitik menggunakan metode Nikiforov-Uvarov. Spektrum energi diperoleh secara eksak
dan fungsi gelombang bagian radial serta polar dinyatakan dalam bentuk polynomial Jacobi. Potensial Pochl-
Teller I ditinjau sebagai pengganggu terhadap potensial Coulomb yang menyebabkan amplitudo fungsi
gelombang polar dan azimuth naik dan energi elekron juga membesar.
Kata Kunci: Persamaan Schrodinger, Potensial Coulomb, Pochl-Teller I, Metode Nikiforov-Uvarov

PENDAHULUAN
Pengkajian yang lebih komplek dan spesifik
dari mekanika kuantum adalah potensial non central.
Potensial non-central secara teoritik sangat berguna
dalam menjelaskan tingkat energi dan bentuk
gelombang dari interaksi antara molekul ring-shaped
dan interkasi antara inti berpasangan yang terganggu
(terdistorsi). Secara umum potensial non sentral
diperoleh dengan mengkombinasikan antara potensial
yang merupakan fungsi radial dan dan sudut yang
dapat dipisahkan. Spektrum energi dan fungsi
gelombang dari potensial yang sudah banyak diteliti
ditentukan dengan berbagai cara, seperti metode
faktorisasi (J . Sadeghi et al., 2008), Operator
(Ikhdair, S. M., 2011), supersimetri mekanika
kuantum (Suparmi., 1994), dan path integral
(Grosche, C., 2005) yang masih terus dikembangkan
sampai saat ini. Terdapat beberapa potensial yang
sudah diselesaikan dengan Metode Nikivorof Uvarof
(NU), PS untuk potensial Pöschl–Teller II (Hiperbolik)
dan Modifikasi Kratzer non-sentral. Berdasarkan hasil
penelitian analitik (S. Bakkeshizadeh et al., 2012),
disimpulkan bahwa Metode NU sangat cocok untuk
digunakan menentukan solusi dalam menyelesaikan
PS untuk potensial non sentral. Metode NU
mereduksi PS bergantung waktu menjadi persamaan
umum hipergeometri. Energi Nilai Eigen dan fungsi
eigen dihitung secara eksak. Pada penelitian ini kami
menggunakan potensial Coloumb dan Eckart dengan
faktor sentrifugal yang diganggu dengan potensial
kuadrat Pöschl–Teller I. Kombinasi potensial
Coloumb, Eckart dengan potensial Pöschl–Teller I
menghasilkan potensial non-sentral.
Potensial non-sentral dapat diperoleh dengan
mengkombinasikan antara potensial yang merupakan
fungsi radial dengan potensial yang merupakan fungsi
radial dan sudut yang dapat dipisahkan. Secara umum
potensial non-sentral dapat dituliskan sebagai
(, , ) = () +
(,)

2
(1)
Hasil fungsi gelombang dan probabilitas
potensial Non Central yang dijabarkan dengan metode
NU dan digambarkan dalam bentuk simulasi
komputasi. Aplikasi fisika kuantum dalam potensial
non-sentral dapat digunakan sebagai dasar penelitian
fisika material dalam mengkombinasikan jenis
komposisi bahan. Setiap bahan pasti mengandung
potensial tertentu, ketika dua bahan dikombinasikan,
maka akan memberikan karakeristik bahan baru dan
juga potensial baru. Dengan mengetahui karakteristik
potensial masing-masing bahan dan karakteristik
potensial setelah dikombinasikan secara teoritik,
tingkat energi dari bahan tersebut dapat dihitung,
sehingga proses pengkombinasian bahan tidak
terkesan “try and error”.
Berdasarkan uraian diatas, kami mengambil
judul penelitian Solusi Persamaan Schrödinger untuk
Potensial Coloumb non sentral kombinasi potensial
Coloumb plus Pöschl -Teller I dengan Menggunakan
Metode Nikivorof-Uvarov.

METODE NIKIFOROV-UVAROV
“Persamaan diferensial tipe hipergeometri yang
diselesaikan dengan metode NU”(Nikiforov, A. V
Uvarov V. B:1998) dinyatakan sebagai

2
()

2
+
�()
()
()

+
�()

2
() = 0 (2)
dengan () and �() adalah polynomial yang
biasanya berderajat dua, dan ̅ adalah polynomial
berderajat satu. Pers. (2) diselesaikan dengan
menggunakan metode pemisahan variabel dengan
memisalkan
() = ()() (3)
Dengan memasukkan pers. (3) ke dalam pers. (2)
diperoleh pers. tipe hipergeometri

2

2
+

+ = 0 (4)
dan () adalah derivative logaritmik yang dapat
diperoleh dari kondisi

A 63
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8

=

(5)
Sedangkan () dan parameter didefinisikan
sebagai
= �
′−⃐�
2
� ±�(


−⃐�
2
)
2
− ⃐ + (6)
= + ′ (7)
Nilai k dalam pers. (6) diperoleh dari kondisi bahwa
pernyataan dibawah akar pada pers. (6) merupakan
kuadrat sempurna dari polynomial berderajat satu
sehingga diskriminant pernyataan kuadrat di bawah
akar harus nol. Eigen nilai baru dari persamaan (4)
adalah
=

= −


(−1)
2
′′ , n =0, 1, 2 (8)
dengan = ⃐ + 2 , (9)
Energi eigen nilai dan eigen fungsi diperoleh dari
kondisi bahwa

< 0 . Penyelesaian fungsi
gelombang bagian kedua, y
n
(s), yang terkait dengan
relasi Rodrigues,
[10]
adalah

() =

()

(

()()) (10)
dengan C
n
adalah konstanta normalisasi, dan fungsi
bobot () harus memenuhi kondisi

()

= ()() (11)
Dari persamaan-persamaan di atas dapat diperoleh
energi eigen nilai dan fungsi gelombang untuk
potensial tertentu.

KAJIAN ANALITIK
Dalam koordinat bola PS persamaan (1) dapat ditulis:


2
2

1

2


2

� +
1

2


� +
1

2

2


2

2
� (, , ) + �

2

+

2
2
2
(−1)

2

+
(−1)

2

� (, , ) = (, , ) (12)
PS tiga dimensi dari persamaan (12) diselesaikan
menggunakan pemisahan variabel dengan
menggunakan (, , ) = ()()() sehingga
diperoleh:
1


2

� +
2
2

2

2

+
2
2

2

1


� −
1

2


2

2
+ �
(−1)

2

+
(−1)

2

� =
= ( + 1) (13)
Pada persamaan 13, terlihat bahwa terdapat tiga
persamaan yang memiliki mewakili koordinat radial,
polar dan azimuth. Suku pertama, kedua dan ketiga
merupakan koordinat radial, suku keempat dan
keenam merupakan koordinat polar, dan suku kelima
merupakan koordinat azimuth. Penyelesaian masing-
masing persamaan dipaparkan dalam tiga solusi
penyelesaian berikut:
1. Solusi Persamaan Azimuth.
Dari persamaan (13) Solusi persamaan untuk bagian
azimuth adalah
1


2

2
= −
2

(14a)
Persamaan 14a merupakan persamaan deferensial
orde dua dan menghasilkan solusi:
=

(14b)
2. Solusi persamaan Radial
1


2

� +
2
2

2

2

+
2
2

2
= ( +1) (15a)
Dikalikan dengan R dan menyederhanakan persamaan
deferensial diperoleh:

2

2
+
2

+ �
2

2

2

+
2

2
� −
(+1)

2
= 0 (15b)
Dengan memisalkan
2

2
= −
2

2
2

2
=
2
(15c)
Persamaan (15b) dapat disederhanakan menjadi

2

2
+
2

+ �

2


2

(+1)

2
� = 0 (15d)
Solusi persamaan radial dapat diselesaikan dengan
metode NU. Dengan membandingkan persamaan (5e)
dengan persamaan (2) diperoleh:
= , ⃗ = 2 ⃗ = −{( + 1) −
2
+
2

2
}
(16)
Nilai dapat dicari dengan:
= �
′−⃐�
2
� ± �(


−⃐�
2
)
2
− ⃐ + = −
1
2
±

1
4
+ ( +1) −
2
+
2

2
+
= −
1
2
± � +

2
2
2
� = − −

2
2

1
2

(17)
dan ( −
2
)
2
− 4(
2
) � +
1
2

2
= 0 memberikan
=

± � +


=
2
+2 � +
1
2
� dan =

− � +


Dengan memasukkan nilai k ke persamaan (17) kita
dapatkan
= −
1
2
− −

2
2
= − − −1 ; atau =

− +
�+

= − +
= +

=
2
± 2 � +
1
2
� − =
2
+ 2
atau =

− ( + )
= ⃐ + 2 = 2 + 2 �−
1
2
− −

2
2
� = −2 +
2 � +
1
2
� + 1 = − + ( + ) atau = ⃐ + 2 =
2 +2 �−
1
2
− −

2
2
� = −2 − 2 � +
1
2
� + 1 =
−2 − 2
=

= −

(−2) = 2


2
+ 2 = 2


2
= 2(

− ) ; atau

− ( + ) =

= (

+ + )
=

(

++)

Dengan menggunakan:
2

2
= −
2

2
2

2
=
2
;
2
=

2
4(

++1)
2


2

2

= (
2
2

2
)
2
1
4(

++1)
2

Diperoleh:

= −

4
2ℏ
2
(

++1)
2
(18)
Dari persamaan (18) kita peroleh

A 64
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8

= −

4
2ℏ
2
(

+′+1)
2
, =

adalah bilangan
kuantum radial,

=

+ ′ + 1

= 1,2,3, ….
(18b)

adalah bilangan kuantum utama, ′ adalah bilangan
kuantum orbital baru.. Persamaan gelombang radial
diperoleh dari:

=
=−+

= − +

= − +

=
()



()

= ()()

+

= (−2 +2( +
1))

=
−2+2+

= −2 +
+

= −2 +
()
(+)
= ()
(+)

−2

() =

()

(

()() =

(+)

−2

(()
(+)+

−2
)

() =

(+)

−2

(()
(+)+

−2
)
(19a)
Persamaan (19a) dapat ditulis sebagai:

() =

−(+)

2

(()
(+)+

−2
)
(19b)
Dimana persamaan (19) mempresentasikan relasi
Rodrigues untuk polinomial Laguerre terasosiasi.
J ika 2 = maka =

2
and

= (2)

(20a)
Dengan mensubtitusikan persamaan (20a) pada
persamaan (19b) diperoleh

() =

−(+)

!

(()
(+)+


) (20b)
dimana

() is polinomial Laguerre terasosiasi
yang dapat ditulis sebagai:

() =

(+)
() =

−−1
(+)
() (21)
Dengan mengatur

=
1

!
dan

= + ′ +1
Persamaan gelombang radial lengkap dapat ditulis
() =

() =

−/2

() (22a)
atau
() = () =



2

+′+1
(′+)
() (22b)
dimana

merupakan konstanta ternormalisasi.

3. Solusi Persamaan Polar
PS bagian polar untuk potensial Coloumb
dikombinasikan dengan potensial Poschl-Teller I non-
sentral adalah

1

� −

2

2

− �
(−1)

2

+
(−1)

2

� +
( + 1) = 0 (23a)
dimana l(l+1) konstanta pemisah. Dengan
menggunakan transformasi variabel 2 = pada
persamaan 23 kita peroleh
(1 −
2
)

2

2
− �
1
2
+
3
2

−��
2�(−1)+
2
�(1+)
4(1−
2
)
+
2(−1)(1−)
4(1−
2
)

(+1)(1−
2
)
4(1−
2
)
�� = 0 (23b)
Dengan mengkomparasikan persamaan (23b) dan
persamaan (2)
= (1 −
2
) , ⃗ = −�
1
2
+
3
2
� (24a)
⃗ =

�{2�(−1)+
2
�+2(−1)−(+1)�
4
+
�2�(−1)+
2
�−2(−1)�
4
+
(+1)
4

2
} (24b)
Menggunakan persamaan (6) dan (24b) kita dapatkan
= �
1−
4

±












2((−1)+
2
)+2(−1)−(+1)
4
+ +
1
16
� +

2((−1)+
2
)−2(−1)
4

1
8
� +

(+1)
4
− +
1
16

2
(25)
Harga k pada persamaan (25) dapat diperoleh dari
kondisi bahwa pernyataan kuadrat dibawah akar
merupakan kuadrat sempurna dari polynomial derajat
satu, sehingga dapat ditulis
=

1−
4
� ±
��
(+1)
4
− +
1
16
� � +
2�(−1)+
2
�−2(−1)
4

1
8
2�
(+1)
4
−+
1
16


(26)
Dan diskriminan dibawah akar harus nol.

2�(−1)+
2
�−2(−1)
4

1
8

2
− 4 �
(+1)
4
− +
1
16
� �
2�(−1)+
2
�+2(−1)
4
+
1
8

(+1)
4
+ −
1
16
� = 0

(27)
Nilai dari k diperoleh dari persamaan (27) adalah

1
=
�+
1
2

2
4

�√−√�
2
2
(28a)

2
=
�+
1
2

2
4

�√+√�
2
2
(28b)
dengan =
2�(−1)+
2

4
dan =
2(−1)
4
+
1
8
=
�−
1
2

2
2
(29)
dengan memasukkan persamaan (28) dan (29) ke
persamaan (27) dan kondisi bahwa

< 0 maka
persamaan (27) menjadi

1
= − �
√−√
√2
+
1
4
� −
√+√
√2
+
1
4
untuk
1

(18a)

2
= − �
√+√
√2
+
1
4
� −
√−√
√2
+
1
4
untuk
2

(27b)
Dengan menggunakan persamaan (9), (13) dan
dengan menggunakan nilai ⃐ pada persamaan (24a)
kita peroleh

1
= −2 �
√−√
√2
+ 1� − 2
√+√
√2

untuk
1
(29a)

A 65
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
dan
2
= −2 �
√+√
√2
+ 1� − 2
√−√
√2

untuk
2
(29b)
dengan menggunakan persamaan (8), (2.44), (15a),
(18a), (18b), (19a), dan (19b) diperoleh

1
=
�+
1
2

2
4

�√−√�
2
2
−�
√−√
√2
+
1
4

(30a)

2
= +

=
�+
1
2

2
4

�√+√�
2
2
−�
√+√
√2
+
1
4

(30b)

1
=
1
= 2 �
√−√
√2
� + ( +1) (31a)

2
=
2
= 2 �
√+√
√2
� + ( +1) (31b)
Untuk memiliki arti fisis lebih, pilihan terbaik untuk
nilai diperoleh dari persamaan (30b) dengan (31b),
dimana
′ = �( − 1) +
2
+ + 2 (32)
Bagian pertama fungsi gelombang diperoleh dari
persamaan (5), (14b) dan (19b).
= (1 −)

√2
(1 + )

√2
+
1
4
= (1 −)
�(−1)+
2
2
(1 +
)

1
2
2
+
1
4
= (1 − )
�(−1)+
2
2
(1 + )

2
(33)
dan
= (1 − )
2�
√2
(1 + )
2√
√2
= (1 − )
�(−1)+
2
(1 +
)

1
2
(44)
Dengan memasukkan persamaan (34) dan (14b) pada
persamaan (10) persamaan gelombang polar bagian
kedua

() =

(1−)
�(−1)+
2
(1+)

1
2

�(1 −
)
+�(−1)+
2
(1 + )
+−
1
2
� (35)
Sehingga, persamaan lengkap bagian polar adalah
() =

(1 − )

�(−1)+
2
2
(1 + )

2
+
1
2

�(1 −
)
+�(−1)+
2
(1 + )
+−
1
2
� (36)
Dengan = �( −1) +
2
dan = −1
(37)
diperoleh
() =

(1 − )

2
(1 + )

2

�(1 − )
+
(1 +
)
++
1
2
� (38)

HASIL PEMBAHASAN
Persamaan Gelombang bagian azimuthal, bagian
radial dan polar dinyatakan pada persamaan (22b),
(38). Energi elektron yang terganggu dinyatakan pada
persamaan (18b) dengan nilai parameter, l’, sebagai
bilangan kuantum orbital baru) pada persamaan (32).
Bila dibandingkan dengan energi elektron yang tak
terganggu, maka energi ikat elektron yang terganggu
mengecil dengan semakin besarnya parameter
pengganggu. Dengan mengambil nilai parameter
=4 dan =2 diperoleh grafik tingkat energi seperti
ditunjukkan pada gambar 1.

Fungsi gelombang radial juga mengalami
perubahan. Penambahan parameter menyebabkan
amplitude gelombang radial mengecil. Perubahan
fungsi gelombang radial dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. Fungsi Gelombang Radial
Fungsi gelombang polar dan azimuth juga
mengalami perubahan. perubahan fungsi gelombang
pada Potensial Coloumb yang diganggu potensial
Pochl Teller I dapat dilihat pada gambar 4 dan 5.

Gambar 3. Fungsi gelombang 2D dan 3D

Gambar 4. Fungsi gelombang 2D dan 3D

Gambar 5. Fungsi gelombang 2D dan 3D

Pada gambar 4 dan 5 tampak bahwa gangguan
parameter κ dan η mempengaruhi fungsi gelombang.
Parameter κ memecah fungsi sudut θ dengan fungsi
-15
-10
-5
0
E
n

TanpaParameter
DenganParameter
Gambar 1. Tingkat Energi
n

A 66
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
sudut φ kecil, parameter η memecah fungsi sudut θ
dengan fungsi sudut φ besar. Panjang gelombang
sebelum terganggu (Gambar 3) sebesar berubah
menjadi 2.5 (Gambar 4) dan (Gambar 5) dengan
nilai z yang mengalami perubahan. Nilai z yang tidak
konstan menunjukkan bahwa vibrasi yang terjadi
berubah-ubah, tetapi tetap periodik. Gangguan
parameter dan dapat menaikkan fungsi
gelombang. z dalam hal ini amplitude gelombang juga
mengalami kenaikan seiring dengan perbesaran
parameter. J ika parameter dan tidak nol,
parameter menghasilkan nilai z lebih besar pada
periode tertentu dibandingkan dengan parameter ,
sehingga kenaikkan tingkat energi juga lebih besar,
tetapi, kerapatan parameter lebih besar daripada
parameter .
KESIMPULAN
Penyelesaian persamaan energi dan fungsi
gelombang potensial non sentral hasil kombinasi
Coloumb plus Pöschl–Teller I dapat diselesaikan
dengan menggunkan metode NU. Spektrum energi
diperoleh secara eksak dan fungsi gelombang bagian
radial serta polar dinyatakan dalam bentuk
polynomial J acobi. Potensial Pochl-Teller I ditinjau
sebagai pengganggu terhadap potensial Coulomb
yang menyebabkan amplitudi fungsi gelombang polar
naik dan energi elekron juga membesar.
Persamaan gelombang radial terganggu
mengalami penurunan z (koordinat simetri yang
berperan sebagai amplitude gelombang). Fungsi
gelombang pada koordinat polar dan azimuth juga
mengalami gangguan. Berbeda dengan koordinat
polar, gangguan pada kordinat polar dan azimuth
mengalami Gangguan parameter dan dapat
menaikkan fungsi gelombang. z dalam hal ini
amplitude gelombang juga mengalami kenaikan
seiring dengan perbesaran parameter. J ika parameter
dan tidak nol, parameter menghasilkan nilai z
lebih besar pada periode tertentu dibandingkan
dengan parameter , sehingga kenaikkan tingkat
energi (momentum) juga lebih besar, tetapi, kerapatan
parameter lebih besar daripada parameter .
UCAPAN TERIMA KASIH
Penelitian ini didukung oleh dana Hibah
Pascasarjana Universitas Sebelas Maret tahun
anggaran 2012.
DAFTAR PUSTAKA
Bakkeshizadeh S., V. Vahidi (2012), Exact Solution
of the Dirac Equation for The Coloumb
Potential Plus NAD Potential by Using the
Nikiforov-Uvarov Method, Adv. Studies Theor.
Phys., Vol. 6, No. 15, 733-742
Grosche, C. (2005), Path Integral Solution for
deformed Posch-Teller –like and conditionally
solvable Potentials, J . Phys A: Math. Gen.
2947-2958 : 38
Ikhdair, S. M. (2011), Bound State of Klein-Gordon
for Exponential-Type Potential in D-
Dimensions”. Journal of Quantum Information
Sciences, (Sept 2011) 73-38.
J . Sadeghi, B. Pourhassan. (2008), Exact Solution of
The Non Central Modified Kratzer Potential
Plus a Ring-Shaped Like Potential By The
Factorization Method, EJ TP 5. No. 17 193-
202.
Nikiforov, A. V Uvarov V. B (1998), Special
Functions of Mathematical Physics. Basel:
Birkhauser
Suparmi (1992) Semiclassical Quantization rule in
Supersymetric Quantum Mechanics,
Dissertations, Suny, Unniversity at Albany




A 67
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
SELARAS NADA INTERNASIONAL A440 UNTUK NADA GAMELAN SARON
PELOG MENGGUNAKAN PENDEKATAN FREKUENSI
J oko Catur Condro Cahyono *)
*J urusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya
Kampus Unesa Ketintang Surabaya 60231
Email : caturcondro@elektrounesa.org
Abstrak
Musik gamelan sebagai salah satu warisan luhur bangsa terasa tidak matching dengan alat musik internasional
disebabkan frekuensi pitch yang berbeda pada masing masing alat music. Penelitian pendekatan nada
internasional dengan bunyi nada gamelan selama ini mengacu pada penelitian sebelumnya. Kelemahan dari
penelitian sebelumnya adalah kurangnya alat pendukung sehingga penyelarasan suara menggunakan manual
yaitu melalui indra pendengaran. Karena banyaknya jenis alat music gamelan dari masing masing pengrajin
maka pada penelitian ini dibatasi pada jenis gamelan saron dengan jenis pelog. Pengrajin yang dipilih adalah
pengerajin gamelan di daerah Sukodono Sidoarjo Jawa Timur. Metode kuantitatif yang digunakan dalam
penelitian ini adalah membandingkan langsung suara gamelan dengan suara nada internasional menggunakan
alat ukur yang sama. Selisih antara frekuensi standart yang telah ditetapkan pada nada internasional dengan
frekuensi hasil rekam merupakan nilai error pengukuran suara nada gamelan hasil terukur. FFT dan Bartlett
Window pada logaritmik Cepstrum grafik bunyi gamelan digunakan untuk menghitung nada terukur suara
gamelan tersebut. Hasil dari penelitian ini adalah pendekatan frekuensi bunyi gamelan saron pelog dari
pengerajin gamelan daerah Sukodono Sidoarjo Jawa Timur tidak mendekati kunci nada internasional manapun,
atau nada gamelan tidak dapat disamakan dengan kunci nada internasional. Beberapa pengrajin gamelan dari
daerah yang berbeda mempunyai karakteristik bunyi yang berbeda. Penelitian frekuensi bunyi gamelan dari
masing masing daerah tersebut diperlukan untuk mengetahui lebih jauh kemiripan dengan nada internasional.
Keyword : Saron Pelog, Kunci Nada A440, FFT
PENDAHULUAN
Penyelarasan nada gamelan pada tiap daerah di
Indonesia ternyata sangat bergantung pada
kemampuan pendengaran pengrajin gamelan. Hal ini
menyebabkan perbedaan yang signifikan terhadap
nada gamelan yang dihasilkan. Beberapa orang
berpendapat bahwa perbedaan tersebut merupakan ciri
khas yang dimiliki oleh daerah yang bersangkutan.
Secara global memang merupakan ciri khas daerah
masing-masing tetapi secara spesifik ternyata hal
tersebut merupakan kekurangan dari proses
penyelarasan.
Perbedaan nada pada tiap tiap daerah penghasil
gamelan tersebut menyebabkan sulitnya sebuah alat
gamelan bila digabung dengan alat gamelan dari
daerah lain. Untuk pengerajin yang masih hidup hal
ini tidak menjadi kendala, karena bisa diproduksi alat
gamelan yang serupa, tetapi jika pengerajin tersebut
meninggal dunia sedangkan penerusnya tidak ada
maka lambat laun gamelan akan musnah seiring
dengan meninggalnya pengerajin gamelan tersebut.
Alat music tradisional akan mampu beradaptasi
dengan perkembangan zaman jika mampu beradaptasi
dengan perubahan lingkungan. Penelitian kesamaan
nada gamelan dengan alat music internasional ini
bertujuan untuk mengetahui apakah alat music
tradisional bisa dimainkan dengan alat music modern
dengan nada yang telah disepakati bersama secara
internasional.

METODOLOGI PENELITIAN
Untuk mengukur frekuensi pitch masing masing
suara gamelan, maka dilakukan langkah langkah
sebagai berikut :
1. Merekam tiap tiap suara gamelan yang akan
dideteksi, disini suara saron pelog.
2. Suara hasil rekaman ini digunakan untuk
mengukur frekuensi yang dicari
3. Merekam suara tuts piano yang sudah diketahui
frekuensinya dengan kondisi, waktu dan suhu
yang sama dengan saat merekam suara gamelan
pada lankah no 1.
4. Suara hasil rekam salah satu nada tuts piano ini
digunakan sebagai suara referensi untuk
mengetahui spectra haromonisa frekuensi
gamelan.
5. Hasil rekam nada tuts piano dikurangi dengan
frekuensi nada tuts piano yang sudah menjadi
patokan sehingga mendapatkan spectra
harmonisa saat proses perekaman.
6. Semua nada gamelan hasil rekam dikuragi
dengan spectra harmonisa yang telah didapatkan
sehingga memperoleh nada pitch gamelan
sesungguhnya.
DATA HASIL DAN PEMBAHASAN
Saron pelog mempunyai nada sebanyak 7 nada,
setelah melalui proses perekaman, maka selanjutnya
melalui proses analisa data. Salah satu nada C untuk
tuts piano adalah seperti gambar dibawah ini :


A 68
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8

Gambar 1. Grafik sinyal suara nada C3 pada A4440
Plot grafik FFT pada frekuensi dibawah 300 Hz untuk sinyal tersebut adalah

Tabel nilai FFT untuk grafik tersebut adalah
Tabel 1. Daftar frekuensi sinyal nada C3 A440
No Frekuensi (Hz) Level (dB) No Frekuensi (Hz) Level (dB)
1 10.766602 -66.638229 26 279.931641 -21.39184
2 21.533203 -66.694 27 290.698242 -38.399052
3 32.299805 -63.887531 28 301.464844 -41.355541
4 43.066406 -58.768837 29 312.231445 -42.236073
5 53.833008 -50.439156 30 322.998047 -45.696095
6 64.599609 -40.319553 31 333.764648 -47.969593
7 75.366211 -40.461765 32 344.53125 -48.772415
8 86.132813 -49.496017 33 355.297852 -52.742111
9 96.899414 -41.033493 34 366.064453 -48.626602
10 107.666016 -37.024235 35 376.831055 -45.608917
11 118.432617 -37.702812 36 387.597656 -48.372707
12 129.199219 -37.596653 37 398.364258 -52.233562
13 139.96582 -42.978569 38 409.130859 -50.716084
14 150.732422 -50.953793 39 419.897461 -46.016071
15 161.499023 -55.407398 40 430.664063 -47.249374
16 172.265625 -54.282803 41 441.430664 -51.810703
-80
-70
-60
-50
-40
-30
-20
-10
0
0 50 100 150 200 250 300 350 400
L
e
v
e
l

(
d
B
)

Frekuensi (Hz)

A 69
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
17 183.032227 -53.606762 42 452.197266 -49.068241
18 193.798828 -50.9799 43 462.963867 -48.373562
19 204.56543 -45.689034 44 473.730469 -46.713367
20 215.332031 -47.002529 45 484.49707 -44.633072
21 226.098633 -50.215782 46 495.263672 -45.175926
22 236.865234 -45.669685 47 506.030273 -42.714069
23 247.631836 -35.639194 48 516.796875 -34.418694
24 258.398438 -17.065504 49 527.563477 -20.583122
25 269.165039 -13.459553

Terlihat dari gambar, puncak grafik terjadi pada
frekuensi 267 Hz dengan level -13,2dB. Dari daftar
frekuensi internasional menyatakan bahwa tuts piano
yang dibunyikan seharusnya mempunyai frekuensi
268 Hz, sehingga mempunyai selisih sebesar 267 –
268 =-1 Hz, atau terjadi penurunan frekuensi sebsesar
1 Hz. Hal ini karena pengaruh alat perekam dan
kondisi ruangan berupa variable suhu kamar 25
o
C
dan luas ruangan sebesar 10x7 meter yang
mempengaruhi proses perekaman.
Pada proses selanjutnya maka frekuensi alat
gamelan yang terukur mempunyai penurunan sebesar
1 Hz dari frekuensi suara yang sesungguhnya,
sehingga frekuensi gamelan hasil perekaman harus
ditambah dengan frekuensi 1 Hz.
Tabel Hasil Penelitian Saron Pelog,
No Nama Nada
Frekuensi Terukur *
(Hz)
Frekuensi
Nada (Hz) **
Rentang Frekuensi
Internasional (Hz) ***
Kunci Nada
Internasional ****
1 J i 577 578 554; 587 D
5
(554 Hz)
2 Ro 621 622 622 D#(622 Hz)
3 Lu 673 674 659; 698 E
5
(659 Hz)
4 Pat 824 825 784 ; 831 G#
5
(831 Hz)
5 Mo 858 859 831 ; 880 A
5
(880 Hz)
6 Nem 900 901 880 ; 932 A
5
(880 Hz)
7 Tu (Pi) 1004 1005 988 ; 1047 B
5
(988 Hz)
* Adalah frekuensi hasil perekaman menggunakan
alat perekam SONY ICD-PX312M
** Adalah frekuensi sesungguhnya dari sumber bunyi
*** Adalah frekuensi pendekatan dari nada
internasional, ada 2 frekuensi menunjukkan bahwa
frekuensi suara gamelan saron berada di rentang
tersebut.
**** Adalah kunci nada mengacu pada penulisan A4
440 atau nada A4 =440 Hz, A4 pada alat music
sesungguhnya adalah nada A pada nada tengah, D5
mempunyai arti nada D diatas nada D4, dalam
penulisan lainnya D5 ditulis dengan D satu titik
diatasnya D’ atau dengan D satu tanda pentik.
Pada data nomor 5 ternyata mempunyai kunci
nada internasional sama dengan data nomor 6.
Frekuensi bunyi nada gamelan saron pelog ternyata
pada nada mo dan nem mempunyai frekuensi
pendekatan yang sama yaitu sebesar 880 Hz atau
sama dengan kunci A
5
. Bukti ini menunjukkan bahwa
nada gamelan mempunyai suara khas sendiri dan
tidak bisa disamakan dengan nada internasional.
Suara gamelan tidak mungkin bisa dipadukan dengan
suara nada internasional.
KESIMPULAN
Dari penelitian dan data hasil perhitungan
menggunakan metode pendekatan frekuensi bunyi
nada gamelan, maka dapat dapat disimpulkan :
1. Nada gamelan tidak ada kecocokan melalui
pendekatan frekuensi dengan nada music
internasional A440
2. Nada gamelan tidak bisa disamakan dengan
kunci nada music internasional A440
3. Nada gamelan mempunyai cirri khas
sendiri.
Penelitian ini didasarkan pada music gamelan
yang diproduksi di daerah Sukodono Sidoarjo J awa
Timur. Penelitian lanjutan diperlukan untuk
mengetahui kesamaan kunci nada internasional
dengan nada gamelan pada daerah yang berbeda.
PUSTAKA
Fast Algorithms for Signal Processing, Richard E.
Blahut, Cambridge University Press, 2010
Wired For Sound: Engineering And
Technologies In Sonic Cultures, Paul
D. Greene, Thomas Porcello,
Wesleyan University Press, 2005

A 70
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
Peningkatan Kualitas Citra Rekonstruksi melalui Kombinasi Citra Tomografi Listrik
dan Akustik
K. Ain
1,3
, D. Kurniadi
1
, Supriyanto
1
, O. Santoso
2
, A.P. Wibowo
1

1
Program Studi Fisika Teknik,
2
Program Studi Informatika, ITB, Bandung - Indonesia
3
Departemen Fisika – Universitas Airlangga, Surabaya – Indonesia
khusnulainunair@yahoo.com
Abstrak.
Tomografi adalah teknik untuk memperoleh citra penampang objek tanpa harus merusak melalui pengambilan
data eksternal. Beberapa teknik tomografi telah dikembangkan berdasarkan luminisens yang digunakan,
misalnya listrik, akustik, optik, sinar-X, dan lain-lain. Tomografi listrik dapat menghasilkan citra dengan
kontras yang baik, namun resolusi spasialnya rendah. Sebaliknya, tomografi akustik dapat menghasilkan citra
resolusi spasial tinggi, namun kontrasnya rendah. Citra rekonstruksi dari tomografi listrik atau akustik dapat
ditingkatkan dengan menggabungkan masing-masing kelebihan sehingga dihasilkan citra dengan resolusi
spasial dan kontras tinggi. Metode yang digunakan adalah penggabungan citra rekonstruksi dengan metode
rata-rata penjumlahan aljabar linier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa citra gabungan yang diperoleh
memiliki kontras dan resolusi spasial yang lebih baik dari citra pembangunnya.
Kata kunci : tomografi, listrik, akustik, kombinasi citra

PENDAHULUAN
Beberapa peralatan pencitraan yang telah
digunakan untuk mendiagnosis penyakit adalah
Tomografi Komputer (CT) sinar-X, Positron
Emission Tomography (PET), Angiografi Digital dan
Magnetic Resonance Imaging (MRI) (Decramer and
Roussos, 2002). Beberapa instrumen tersebut
memiliki keterbatasan, Tomografi Komputer (CT)
sinar-X dan PET terjadi akumulasi radiasi pengion
yang dapat membahayakan tubuh manusia (Su, et. al.,
2005), MRI membutuhkan medan magnetik yang
cukup kuat sehingga seluruh peralatan dan instrumen
yang digunakan dalam area tersebut harus kompatibel
dengan resonansi magnetik (Blanco, et. al., 2005).
Oleh karena itu, alternatif teknologi pencitraan medis
yang akurat, aman dan sederhana masih menjadi
masalah yang perlu ditemukan solusinya.
Sifat konduktivitas dan permisivitas objek
adalah sifat fisis yang menarik bagi dunia medis,
karena masing-masing jaringan organ memiliki
konduktivitas dan permisivitas yang berbeda
(Margaret Cheney, et al.). Tomografi listrik atau
Electrical Impedance Tomography (EIT) merupakan
teknik pencitraan distribusi resistivitas berdasarkan
hasil pengukuran arus listrik dan beda potensial pada
bidang batas objek (D., Kurniadi, 2006). Beberapa
penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa
tomografi listrik telah berhasil diaplikasikan pada
beberapa kasus, diantaranya adalah untuk
mendiagnosis massa pulmonary (S. Kimura, et. al.,
1994), mengamati fungsi diastolic ventrikuler kanan
pada pasien yang menderita COPD (chronic
obstructive pulmonary disease) (Anton Vonk
Noordegraaf, et. al., 1997), dan mendeteksi fisiologis
anatomi paru-paru beserta distribusi ventilasi
regionalnya (J ose´ Hinz, et. al., 2003).
Kekurangan tomografi listrik adalah masih
rendahnya resolusi citra yang dihasilkan (Noor,
J .A.F., 2007). Hal ini dikarenakan keterbatasan
jumlah data yang didapatkan dari hasil pengukuran.
Untuk mendapatkan jumlah data yang lebih banyak
diperlukan penambahan pemasangan elektroda,
namun semakin banyak elektroda yang digunakan
maka akan mengakibatkan berkurangnya sensitivitas
akibat dari luas penampang yang semakin kecil.
Alternatif sumber luminisens yang dapat
digunakan untuk pencitraan medis adalah ultrasound.
Ultrasound adalah salah satu gelombang mekanik
yang dalam penjalarannya membutuhkan media.
Dengan memanfaatkan interaksinya dengan media
yang dilaluinya, sifat karakteristik objek media yang
dilewati dapat dianalisis. Salah satu karakteristik fisis
yang dimiliki objek adalah kecepatan penjalaran
gelombang akustik jika melalui objek. Sistem
tomografi akustik aman bagi manusia dan
menghasilkan resolusi citra yang lebih baik, namun
kontras citra hasil rekonstruksinya lebih rendah jika
dibandingkan dengan tomografi listrik. Tomografi
akustik telah dilakukan untuk deteksi kanker
payudara dengan metode pantulan yang berdasarkan
pada distribusi kecepatan suara dan koefisien atenuasi
dengan menggunakan detektor linier dengan hasil
yang cukup baik.
Penggabungan dua citra rekonstruksi yang
dihasilkan dari tomografi listrik dan ultrasound
diharapkan dapat menghasilkan citra rekonstruksi
yang lebih baik jika dibandingkan dengan citra
rekonstruksi dari masing-masingnya.

Tomografi Impedansi Listrik
Tomografi impedansi listrik adalah teknik untuk
memperoleh distribusi besaran listrik pada suatu
objek. Teknik ini bekerja dengan cara

A 71
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
menginjeksikan arus listrik bolak-balik melalui
elektroda yang terpasang pada permukaan objek dan
mengukur potensial listrik antar elektrodanya, seperti
ditunjukkan pada gambar 1. Berdasarkan data arus
listrik yang diketahui dan potensial listrik yang
diukur, rekonstruksi dilakukan sehingga diperoleh
distribusi resistivitas internal objek.

Gambar 1. Injeksi arus listrik dan pengukuran tegangan pada objek
Terdapat beberapa metoda koleksi data pada sistem
tomografi impedansi listrik, diantaranya adalah
metoda berpasangan (adjacent method), metoda
bersilangan (cross method), metoda berlawanan
(opposite method), metoda multireferensi
(multireference method), dan metoda adaptif
(adaptive method) (Noor J .A.F., 2007).

Forward Problem
Forward problem atau problema maju di dalam
EIT adalah proses melakukan prakiraan potensial
pada saat diinjeksikan rapat arus listrik pada
permukaan objek dengan distribusi konduktivitas
objek diketahui. J ika di dalam objek tidak terdapat
sumber listrik dan distribusi konduktivitas diketahui,
maka distribusi potensial di dalam objek akan
memenuhi persamaan Laplace,
∇ ∙ ∇Φ = 0 di dalam Ω (1)
dengan kondisi batas potensial dan rapat arus listrik
di permukaan.
Φ = Φ
0
pada Ω (2)

Φ

=
0
pada Ω (3)
Dengan masing-masing σ adalah konduktivitas
objek, Φ adalah distribusi potensial di dalam objek,
Φ
0
adalah potensial dan J
0
adalah rapat arus di
permukaan objek serta n adalah vektor satuan normal
yang arahnya tegak lurus terhadap permukaan.
Persamaan (1),(2) dan (3) dapat diselesaikan dengan
metode FEM, yaitu dengan cara membagi objek
menjadi elemen-elelemen kecil berbentuk segitiga
dan mengasumsikan bahwa sifat-sifat listrik adalah
homogen dan isotropik. FEM akan memberikan hasil
sistem persamaan linier,
Φ = (4)
dengan Y adalah matriks admitansi yang merupakan
fungsi geometri dan distribusi konduktivitas dan I
adalah vektor arus. Potensial di setiap titik dapat
diperoleh dengan mengubah persamaan (4) menjadi,
Φ =
−1
(5)
sedang data potensial pada batas model objek dapat
diperoleh dengan,
(σ) =

vec(Φ) (6)
dengan T
r
merupakan matriks transformasi. Pada
persamaan (6) nampak bahwa potensial batas
merupakan fungsi non linier terhadap konduktivitas.

Invers Problem
Invers problem adalah proses memperoleh
distribusi konduktivitas objek dari data pengukuran
potensial batas. Beberapa metode dengan pendekatan
yang berbeda telah diusulkan oleh beberapa peneliti
yang umumnya dapat dikelompokkan menjadi dua,
yaitu non linier atau optimisasi dan linierisasi.
Metode rekonstruksi berbasis optimisasi akan
menghasilkan citra statik yang memberikan informasi
tentang distribusi konduktivitas absolut. Keberhasilan
metode non linier sangat ditentukan oleh kesesuaian
antara model geometri dan problema maju yang
digunakan terhadap geometri dan data potensial batas
hasil pengukuran. Rekonstruksi berbasis optimisasi
memerlukan waktu komputasi yang lebih lama karena
membutuhkan proses iterasi, namun akan
menghasilkan citra rekonstruksi yang lebih akurat.
Salah satu contoh metode rekonstruksi berbasis
optimisasi adalah Newton Raphson yang bekerja
dengan cara melakukan iterasi hubungan non linier
antara konduktivitas dan potensial hasil pengukuran.
Sebelum rekonstruksi dilakukan, maka solusi
model maju harus didapatkan terlebih dahulu. Solusi
ini tidak dapat diperoleh secara analitik, sehingga
diperlukan metode elemen hingga untuk
mendapatkan data distribusi potensial melalui
penyelesaian persamaan medan listrik Laplace.
Metode Newton Raphson adalah sebuah
algoritma rekonstruksi citra berdasarkan iterasi yang
dikembangkan untuk menyelesaikan persoalan non-
linear. Proses iterasi dilakukan berbasis fungsi
objektif yang merupakan nilai beda antara potensial
pengukuran dan potensial perhitungan dari model.
Fungsi objektif tersebut didefinisikan sebagai,
∏(

) =
1
2
(

(

) −
0
)

(

(

) −
0
) (4)
dengan

(

) merupakan vektor potensial batas dari
perhitungan dan T merupakan simbol transpos vektor
atau matriks. Distribusi resistivitas objek dapat
diperoleh dengan cara meminimumkan fungsi
objektif ∏(

). Sehingga diperoleh,

+1
=

+ ∆

(5)
dengan

= −[

]
−1
()

(6)
=

(7)
=

(

) −
0
(8)
J dikenal sebagai matriks J acobian.
Rekonstruksi distribusi resistivitas merupakan
persoalan inversi (inverse problem). Umumnya

A 72
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
persoalan inversi akan memunculkan persoalan ill-
posed. Hal ini disebabkan adanya kesalahan antara
pengukuran dan kesalahan pemodelan. Untuk
mengatasi persoalan ill-posed dapat digunakan
metoda regularisasi Tikhonov (D., Kurniadi, 2010).
Penerapan metoda Tikonov dilakukan dengan
mensubstitusikan suatu fungsi penstabil pada fungsi
objektif sebelumnya, sehingga diperoleh :
∏(

) =
1
2
(

(

) −
0
)

(

(

) −
0
) + Λ(

)
(9)
dengan α adalah parameter regulasi yang berupa
bilangan positif yang mengontrol fungsi penstabil,
dan ( )
k
ρ Λ merupakan fungsi penstabil yang
memberikan informasi distribusi resistivitas ke fungsi
objektif sebagai informasi pendahulu. Fungsi ini
didefinisikan sebagai :
Λ(

) = (∆

)

Σ(∆

) (10)
dengan Σ merupakan matriks positif definit yang
umumnya adalah matrik identitas. Dengan cara yang
sama, yaitu meminimumkan fungsi objektif pada
persamaan (9), akan diperoleh perubahan distribusi
resistivitas baru sebagai berikut :

= −[

+ 2Σ]
−1
()

(11)
Persamaan (11) akan memiliki kondisi yang
lebih baik dibandingkan dengan Persamaan (8),
karena matriks yang diinversi pada Persamaan (11)
tidak dalam kondisi ill. Persamaan (11) yang telah
teregularisasi ternyata memunculkan persoalan pada
saat menentukan parameter regularisasi. Parameter
regularisasi dipilih secara trial and error, kemudian
dikecilkan pada iterasi berikutnya sehingga akan
memperkecil nilai fungsi objektif. Sebaliknya
parameter akan dibesarkan jika nilai fungsi objektif
membesar. Sehingga pada suatu saat fungsi objektif
akan memperoleh solusi yang konvergen dan
parameter regularisasi akan menuju nol, dengan
demikian persamaan (11) akan menjadi persamaan
(8).

Tomografi Ultrasound
Time of Flight (TOF)
Dalam perjalanannya sinyal akustik akan
mengalami berbagai interaksi dengan material yang
akan dilaluinya, interaksi tersebut akan menyebabkan
peristiwa transmisi, refleksi, dan refraksi. Beberapa
interaksi tersebut akan menyebabkan sinyal akustik
yang diterima sensor sangatlah kompleks, sehingga
tidak mudah untuk memperoleh informasi medan
potensialnya.
Waktu tempuh sinyal akustik dikenal dengan
time of flight (TOF), yaitu waktu yang diperlukan
oleh muka gelombang bergerak dari transmiter ke
receiver. Pengukuran TOF lebih sederhana dan lebih
mudah, yaitu sama dengan waktu sinyal akustik
pertama yang diterima oleh sensor (Rahiman, et.al.,
2006). Secara umum TOF akan menempuh lintasan
terpendek antara transmiter dan receiver, seperti
nampak pada gambar 2. Dengan demikian perjalanan
muka gelombang bisa diidentikkan seperti penjalaran
sinar-X dan sinar-γ yang memiliki lintasan garis
lurus.

(a) (b)
Gambar 2. (a) Beberapa kemungkinan lintasan yang ditempuh oleh
sinyal akustik (b) data TOF yang diterima oleh sensor
Waktu tempuh gelombang ultrasonik dapat
dijelaskan dengan persamaan Eikonal. Penjalaran
gelombang tekanan dalam media heterogen dapat
dinyatakan dengan persamaan,

2
Φ =
1

2

2
Φ

2
(12)
dengan Φ adalah potensial skalar gelombang, ∇
adalah operator laplacian, dengan mengasumsikan
penyelesaian harmonik dalam bentuk,
Φ = ()
−(()+)
(13)
dengan A(x) adalah amplitudo gelombang pada posisi
x, T(x) adalah beda fase, dengan mensubstitusi
persamaan (2) ke dalam persamaan (1) maka akan
diperoleh,
|∇|
2

1

2
=

2

2
(14)
J ika frekuensi yang digunakan cukup tinggi, maka
persamaan (14) dapat disederhanakan menjadi,
|∇| =
1

= (15)
dengan u disebut slowness yang merupakan
reciprocal dari kecepatan gelombang, v. T(x) adalah
waktu yang diperlukan oleh muka gelombang untuk
mencapai posisi x. Waktu tersebut dikenal dengan
istilah time of flight (TOF) (Shengying Li et.al.,
2010). Dengan demikian hubungan antara TOF dan
slowness dapat dinyatakan berikut,
= ∫ (16)
dengan l adalah panjang lintasan yang ditempuh oleh
muka gelombang

Sistem tomografi ring array
Sistem tomografi ring array dibangun dari
beberapa tranduser yang disusun secara melingkar
dengan jarak yang sama, ditunjukkan pada gambar 3.
Sistem tersebut bekerja dengan cara mengatur
pergantian tranduser yang bertindak sebagai
transmitter dan receiver. Susunan data yang diperoleh
sangat berbeda dengan susunan data dari sistem
tomografi berkas parallel. Data ring array disusun
dalam ruang sumbu rotasi β dan rotasi γ. Dengan
sistem tersebut dapat dihasilkan sejumlah ½L (L-1)
data, dengan L adalah jumlah tranduser yang
digunakan.

A 73
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8

(a) (b)
Gambar 3. Tomografi ring array ultrasound (a) berkas ring array
dari transmitter ke receiver (b) hubungan antara berkas ring array
dan parallel
Sistem berkas parallel dibangun dari sebuah
transmiter dan receiver, untuk memperoleh data
lengkap sistem tersebut harus bergerak rotasi dan
translasi. Data berkas parallel disusun dalam ruang
Radon atau sumbu rotasi φ dan translasi x
r
. Sistem
tersebut dapat menghasilkan sejumlah M x N data,
dengan N adalah jumlah piksel citra rekonstruksi
yang ingin diperoleh dan =

2
.
Persamaan yang menghubungkan antara
sistem ring array dan berkas parallel adalah sebagai
berikut,
φ =β +γ (17)
x
r
=R sin(γ) (18)

(φ ) =
β
(γ) (19)
dengan

(φ ) dan
β
(γ) masing-masing adalah data
lengkap pada sistem tomografi berkas parallel dan
sistem tomografi ring array. Sebagai ilustrasi
perbandingan antara data proyeksi parallel dan
proyeksi ring array hasil pemayaran lengkap pada
objek sebuah titik ditampilkan pada gambar 4. Baik
berkas parallel maupun ring array tidak perlu
melakukan proses pemayaran satu lingkaran penuh
dikarenakan ada pengulangan data.

(a) (b) (c)
Gambar 4. (a) Objek titik dalamruang obyek (b) Representasi
proyeksi obyek dan sinogramobjek titik pada sistemtomografi
berkas parallel (c) Representasi proyeksi objek dan sinogramobjek
titik dalamsistemtomografi ring array
Pada dasarnya berkas ring array juga terdiri
dari berkas parallel, namun posisi penempatan
datanya tidak sama. Sebagai ilustrasi, untuk
memperoleh citra rekonstruksi 31x31 piksel
diperlukan data lengkap pada ruang Radon sebanyak
48x31 data, yang ditunjukkan pada gambar 5(a). J ika
pada sistem ring array dengan 16 posisi tranduser,
akan diperoleh sejumlah 8x15 data. Data ring array
tersebut jika direposisi pada ruang radon ditampilkan
pada gambar 5(b). J umlah data tersebut sangat kurang
karena hanya memiliki 1/12 dari data berkas parallel,
oleh karena itu untuk melengkapinya diperlukan
proses interpolasi.

(a) (b)
Gambar 5. Pola susunan data dalamruang Radon (a) data berkas
parallel 48x31 (b) reposisi data ring array 16 posisi tranduser
Data yang sudah dikonversi menjadi data berkas
parallel baru dapat direkonstruksi. Salah satu metode
populer, cepat dan sederhana yang digunakana pada
sistem tomografi berkas parallel adalah metode
Summation Convolved Filtered Back Projection
(SCFBP). Proses SCFBP secara analitik dapat
dituliskan sebagai,
(, ) = ∫ ′(

, φ)φ

0
(20)
Dengan


(

, φ) = ∫ (

, φ)ℎ(


)


= (

, φ) ∗

−∞
ℎ(


) (21)
dengan

(

, φ) adalah proyeksi terkonvolusi dan
h(x
r
) adalah fungsi konvolusi.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan secara simulasi
melalui pemodelan tomografi listrik dan akustik
dengan objek numerik sebagai media uji. Pemodelan
meliputi penyelesaian forward problem dan invers
problem. Penyelesaian forward problem pada
tomografi listrik akan menghasilkan data potensial
sedang pada tomografi akustik akan menghasilkan
data time of flight (TOF). Invers problem pada
tomografi listrik akan menghasilkan resistivitas
sedang pada tomografi akustik akan menghasilkan
slowness.
Langkah awal pemodelan adalah memilih dan
menentukan persamaan matematis yang terkait dan
sesuai dengan kondisi fisis sebenarnya. Persamaan
utama yang akan digunakan adalah persamaan (6)
dan (16). Persamaan tersebut digunakan untuk
menyelesaikan forward problem sehingga dapat
diperoleh data sintetik potensial batas dan TOF.
Metode rekonstruksi yang digunakan dalam
tomografi listrik adalah Newton-Raphson pada
persamaan (5) dan (12) dengan metode koleksi data
multireferensi. Sedang sistem yang digunakan dalam
tomografi ultrasound adalah ring array, sehingga
diperlukan langkah interpolasi dan penataan ulang
posisi data TOF dari forward problem menjadi data

A 74
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
tomografi translasi rotasi yang disyaratkan pada
penyelesaian metode rekonstruksi SCFBP yang
terdapat pada persamaan (20) dan (21).
Langkah selanjutnya adalah melakukan
penggabungan citra rekonstruksi yang telah diperoleh
dari masing-masing sistem tomografi. Namun terlebih
dahulu dilakukan proses konversi citra rekonstruksi
dari elemen segitiga menjadi square pada tomografi
listrik. Kedua citra hasil rekonstruksi yang berukuran
sama kemudian dinormalisasi dan digabungkan
dengan merata-ratakan kedua nilai pada posisi sel
yang sama. Hasil penggabungan dari kedua citra
rekonstruksi dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif
terhadap objek referensi. Secara kualitatif dilakukan
dengan cara membandingkan kedua citra sedang
secara kuantitatif, dilakukan dengan membandingkan
nilai RMSE-nya. Diagram alir proses simulasi
tersebut dapat dilihat pada gambar 6.


Gambar 6. Diagramalir langkah-langkah penelitianVariasi model
objek numerik dibuat untuk melihat seberapa baik hasil
rekonstruksi yang dapat dihasilkan. Objek pertama disebut model
A berbentuk segienam, objek kedua disebut model B adalah dua
buah objek yang sama namun di daerah yang berbeda. Variasi ini
dilakukan untuk melihat kemampuan programmerekontruksi objek
pada daerah yang berbeda. Objek ketiga disebut objek C dibuat
menyerupai paru-paru dengan parameter yang merepresentasikan
kondisi sebenarnya. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah
algoritma programyang dibuat nantinya dapat diaplikasikan
sebagai instrumen medis. Variasi model dapat dilihat pada gambar
7.
Model A dan B pada tomografi listrik
diberikan nilai resistivitas sebesar 100 Ω.cm sebagai
media dan 200 Ω.cm sebagai anomalinya. Sedangkan
untuk model C nilai resistivitas nya dibuat
menyerupai nilai resistivitas paru-paru, yaitu 300
Ω.cm sebagai jaringan lunak dan 1000 Ω.cm sebagai
paru-parunya.
Model A dan B pada tomografi akustik
diberikan nilai slowness sebesar 1 µs/cm sebagai
media dan 2 µs/cm sebagai anomalinya. Sedangkan
untuk model C nilai slownessnya dibuat menyerupai
nilai slowness paru-paru, yaitu 6,09 µs/cm sebagai
jaringan lunak dan 15,385 µs/cm sebagai paru-
parunya.

(a) (b) (c)


(d) (e) (f)
Gambar 7. Data numerik tomografi listrik (a) model A (b) model B
(c) model C dan data numerik tomografi ultrasound (d) model A
(e) model B (f) model C
Konversi elemen segitiga menjadi persegi
dimulai dengan mencari titik berat elemen segitiga
tersebut. Titik berat dapat diperoleh dengan mencari
titik potong dari dua buah garis berat. Setelah titik
berat elemen segitiga ditemukan, maka dapat
diperoleh 4 posisi diskrit. Nilai keempat titik baru ini
dianggap sama dengan nilai elemen segitiga.
Keempat koordinat diskrit kemudian dijadikan
sebagai referensi posisi sel dalam matriks baru yang
dibuat sehingga diperoleh citra rekonstruksi
tomografi listrik yang telah dikonversi menjadi
square.
Penggabungan citra rekonstruksi dapat dilakukan
dengan metode rata-rata. Dua buah matriks dengan
ukuran yang sama, nilai setiap sel dari kedua matriks
dapat dirata-ratakan untuk mengambil nilai tengah

A 75
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
yang merupakan gabungan dari kedua matriks
tersebut.
Rentang nilai maksimum dan minimum dari
kedua citra rekonstruksi yang dijadikan referensi
berbeda, maka kedua matriks citra rekonstruksi
tersebut perlu dinormalisasi terlebih dahulu, setelah
itu matriks tersebut baru dapat dilakukan
penggabungan.
Untuk memvalidasi hasil simulasi yang
dilakukan, dapat digunakan pendekatan Root Mean
Square Error (RMSE). RMSE digunakan untuk
membandingkan perbedaan antara dua data yang
berbeda [8]. Misalkan terdapat dua data, data hasil
perhitungan dan data model sebagai referensi, yaitu :

1
=




1,1

1,2

1,3

1,





dan
2
=




2,1

2,2

2,3

2,





(21)
Maka nilai RMSE-nya adalah :
(
1
,
2
) =

∑ �
1,

2,

2

=1

(22)
Semakin kecil nilai RMSE yang dihasilkan, maka
perbedaan antara dua data akan semakin kecil,
dengan kata lain bahwa kedua data akan semakin
mirip.

HASIL DAN DISKUSI
Tomografi Listrik
Metode rekonstruksi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Newton raphson yang terdapat
pada persamaan (5) dan (11). Kestabilan hasil
rekonstruksi sangat ditentukan oleh nilai parameter
regularisasi α. Dalam penelitian ini telah diperoleh
bahwa citra rekonstruksi model A optimal pada
iterasi ke-25, dengan α=0,01, yang menghasilkan
fungsi objektif sebesar 0,0005. Sedang citra
rekonstruksi model B optimal pada iterasi ke-15,
dengan α=0,01 yang menghasilkan fungsi objektif
sebesar 0,0313. Sedang citra rekonstruksi model C
optimal pada iterasi ke-25, dengan α=10, yang
menghasilkan fungsi objektif sebesar 14,9682. Ketiga
citra rekonstruksi optimal tersebut ditampilkan pada
gambar 8.


(a) (b) (c)
Gambar 8. Citra rekonstruksi dari tomografi listrik (a) model A (b)
model B (c) model C.
Citra rekonstruksi tomografi listrik yang telah
diperoleh harus dikonversi ke dalam elemen persegi
sehingga dapat digabungkan dengan citra tomografi
akustik. Hasil konversi elemen segitiga tomografi
listrik menjadi elemen persegi ditunjukkan oleh
Gambar 9.

(a) (b) (c)
Gambar 9. Konversi elemen segitiga menjadi elemen persegi dari
citra rekonstruksi tomografi listrik (a) model A (b) model B (c)
model C
Konversi yang dihasilkan sudah cukup baik
ditandai dengan posisi dan kontras objek yang cukup
baik. Namun bentuk objek yang dihasilkan masih
nampak kurang baik dan permukaan objek kurang
homogen. Hal ini dapat dimaklumi mengingat
resolusi yang dimiliki tomografi listrik sangat kecil,
yaitu 248 data elemen segitiga, kemudian dikonversi
menjadi 31x31 data square.

Tomografi ultrasound
Pada simulasi tomografi ultrasound, data Time
of Flight (TOF) objek numerik yang berukuran 31x31
disampling menggunakan metode ring array dengan
16 posisi tranduser, sehingga dihasilkan 15x16 data
TOF. Data TOF ini kemudian direposisi menjadi
sampling parallel-beam. Data baru tersebut masih
memiliki kekosongan dan terlalu sedikit sehingga
perlu diinterpolasi untuk membentuk data sinogram
berukuran 50x31. Setelah diinterpolasi dengan
interpolasi spline, maka data sinogram TOF tersebut
direkonstruksi menjadi citra rekonstruksi ultrasound
dengan menggunakan algoritma SCFBP dengan hasil
yang ditunjukkan pada gambar 10.

(a) (b) (c)
Gambar 10. Citra rekonstruksi dari tomografi ultrasound (a) model
A (b) model B (c) model C
Citra rekonstruksi yang diperoleh telah
menunjukkan resolusi yang cukup baik namun
kontrasnya masih rendah. Untuk model A, nilai
RMSE yang didapatkan adalah 0,3530. Untuk model
B, nilai RMSE yang didapatkan adalah 0,3511. Dan

A 76
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
untuk model C, nilai RMSE yang didapatkan adalah
2,6561.

Rekonstruksi Hibrid
Citra rekonstruksi tomografi listrik yang telah
dikonversi kemudian digabungkan dengan hasil
rekonstruksi tomografi akustik dengan metode rata-
rata, setelah sebelumnya dinormalisasi terlebih
dahulu. Citra rekonstruksi hibrid dari tomografi listrik
dan akustik ditampilkan pada Gambar 11.

(a) (b) (c)
Gambar 11. Citra rekonstruksi gabungan tomografi listrik dan
ultrasound (a) model A (b) model B (c) model C
Citra rekonstruksi hibrid yang diperoleh
memiliki resolusi dan kontras yang lebih tinggi jika
dibandingkan dengan kedua citra rekonstruksi
pembangunnya, secara kualitatif hal ini ditunjukkan
dengan diperolehnya citra rekonstruksi dengan nois
yang lebih rendah. Secara kuantatif ditunjukkan oleh
nilai RMSE ketiga objek yang cukup kecil, yaitu
0,1770 untuk model A, 0,1885 untuk model B dan
0,2341 untuk model C.
KESIMPULAN
Penggabungan citra rekonstruksi tomografi listrik dan
akustik dengan metode rata-rata penjumlahan aljabar
linier dapat meningkatkan kontras dan resolusi
spasialnya, hal ini ditandai dengan lebih kecilnya
RMSE yang dihasilkan jika dibandingkan dengan
RMSE masing-masing dari citra pembangunnya.
PUSTAKA
Anton Vonk Noordegraaf; Theo J . C. Faes; Andre
J anse;J ohan T. Marcus; J ean G. F.
Bronzwaer;Pieter E. Postmus; and Peter M. J .
M. de Vries, CHEST, the official journal of
the American College of Chest Physicians,
1997, Noninvasive Assessment of Right
Ventricular Diastolic Function by Electrical
Impedance Tomography.
D., Kurniadi, 2006, Electrical Impedance
Tomography and Its Application in Medical
Imaging, Proc. International Conference on
Biomedical Engineering BME 2006, 53/58.
D., Kurniadi, 2010, Reconstruction of Multislice
Image in Electrical Impedance Tomography,
International J ournal of Tomography and
Statistics, vol. 15 No. F10.
J ose´ Hinz, Peter Neumann; Taras Dudykevych, Lars
Goran Anderson, Hermann Wrigge, Hilmar
Burchardi, and Goran Hedenstierna, 2003,
American College of Chest Physicians,
Regional Ventilation by Electrical Impedance
Tomography A Comparison With Ventilation
Scintigraphy in Pigs.
Margaret Cheney, David Isaacson, and J onathan
Newell, electrical impedance tomography.
M. Decramer and D. Roussos, 2002, Imaging and
Lung Dieses, European Respiratory J ournal.
M. H. F., Rahiman, R.A., Rahim, and M., Tajjudin,
2006, “Non-invasive imaging of liquid/gas
flow using ultrasonic transmission-mode
tomography,” IEEE Sensor J ournal, Vol. 6(6).
Noor J .A.F., 2007, Electrical Impedance Tomography
at Low Frequencies, Thesis of Philoshopy
Doctor, University New South Wales.
Roberto T. Blanco, Risto Ojala, J uho Kariniemi,
J ukka Perala, J aakko Niinimaki, Osmo
Tervonen, 2005, European J ournal of
Radiology 56(2005) 130-142, Interventional
and Intraoperative MRI at low field scanner- a
review.
Shengying Li, Marcel J ackowski, Donald P. Dione,
Trond Varslot, Lawrence H. Staib, Klaus
Mueller, 2010, Refraction corrected
transmission ultrasound computed tomography
for application in breast imaging, Medical
Physics, Vol. 37, No. 5.
S. Kimura, T Morimoto, T Uyama, Y Monden, Y
Kinouchi and T Iritani, 1994, American
College of Chest Physicians, Application of
electrical impedance analysis for diagnosis of
a pulmonary mass.
Yixiong Su, Fan Zhang, Kexin Xu, J ianquan Yao and
Ruikang K Wang, J . Phys. D: Appl. Phys. 38
(2005) 2640–2644, A photoacoustic
tomography system for imaging of biological
tissues.

A 77
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
Rekonstruksi Sinyal Suara Melalui Jaringan Nirkabel Menggunakan Sparse Sampling
Vivien Fathuroya, Sekartedjo, Dhany Arifianto
Jurusan Teknik Fisika Fakultas Teknologi Industri ITS
Email : vivien_fathuroya@yahoo.com, sekar@ep.its.ac.id, dhany@ep.its.ac.id
Abstrak
Keterbatasan peralatan komputasi dalam melakukan proses pencuplikan sinyal, menjadikan metode sparse
sampling sebagai metode pencuplikan sinyal selain Kaidah Nyquist. Saat ini, sparse sampling sering menjadi
perhatian pada bidang pemrosesan sinyal dikarenakan kemampuannya dalam melakukan pencuplikan dengan
jumlah sampling jauh dibawah Kaidah Nyquist. Pada jurnal ini, dilakukan penelitian untuk mengetahui hasil
rekonstruksi sinyal suara penyakit tenggorok sesudah proses transmisi melalui jaringan nirkabel. Pada langkah
akuisisi data, sinyal suara penyakit tenggorok disampling dengan frekuensi sampling sebesar 44,1 Khz, dan
hanya diambil sejumlah kecil data untuk proses rekonstruksinya. Hasil percobaan menunjukkan bahwa dengan
melakukan variasi nilai K, kemiripan sinyal hasil rekonstruksi dengan sinyal asli semakin besar. Hal ini
ditunjukkan dengan semakin kecilnya tingkat kesalahan antara sinyal rekonstruksi dengan sinyal asli
menggunakan perhitungan MSE, yaitu sebesar 0.0028 dengan nilai K sebesar 5000 pada penyakit granuloma,
dibandingkan dengan 0,9988 pada variasi nilai K sebesar 1000 pada penyakit yang sama.
Kata kunci : Sinyal suara, kelainan pita suara, jaringan nirkabel, sparse sampling.

PENDAHULUAN
Suara serak merupakan gejala umum yang
ditunjukkan oleh penyakit tenggorok. Pada penyakit
tenggorok, organ penghasil suara, yaitu pita suara,
mengalami perubahan baik anatomi maupun fisiologi.
Perubahan anatomi biasanya ditunjukkan dengan
adanya benjolan pada pita suara, sedangkan perubahan
fisiologi biasanya ditunjukkan dengan menurunnya
elastisitas pita suara.



Gambar 1. Jenis Penyakit Tenggorok. (atas dari kiri ke
kanan) ,Laringitis, Granuloma; (bawah dari kiri ke kanan) Paralysis,
Kanker Pita Suara (www.voicemedicine.com)
Pemeriksaan penyakit tenggrorok biasanya
dilakukan secara langsung dengan menggunakan alat
bantu berupa Laringoskopi, dengan cara dimasukkan
ke dalam mulut, sehingga dapat diperoleh gambaran
anatomi dan fisiologi pita suara. Pemeriksaan dengan
menggunakan alat memiliki kelemahan yaitu rasa
tidak nyaman, mahal, dan hanya tersedia di beberapa
rumah sakit tertentu. Padahal, dengan melakukan
pemeriksaan secara dini pada penyakit tenggorok,
kerusakan pita suara yang lebih parah dapat dicegah.
Dengan alasan inilah perlu dikembangkan
pemeriksaan penyakit tenggorok secara tidak
langsung namun murah, nyaman, dan mudah (Soedjak,
1994).
Pemeriksaan penyakit tenggorok secara tidak
langsung adalah dengan cara melakukan analisa suara
serak penderita penyakit tenggorok secara jarak jauh.
Penelitian terdahulu menganalisa suara penderita
penyakit tenggorok melalui telepon landline untuk
mendapatkan parameter akustik. Beberapa penelitian
mendapatkan hasil bahwa parameter sinyal suara
seperti frekuensi dan amplitudo, mampu membedakan
beberapa jenis penyakit tenggorok (Moran, 2006;
Nicol´as, 2008). Begitu juga yang terjadi apabila
analisa penyakit tenggorok dilakukan dengan
menggunakan ponsel, ciri suara tiap jenis penyakit
dapat dibedakan (Hertiana, 2010). Namun, lamanya
proses transmisi, mahalnya proses komputasi, dan
hasil rekonstruksi sinyal suara yang belum mampu
menghasilkan sinyal suara sejernih aslinya, merupakan
berbagai kekurangan dari penelitian terdahulu yang
akan coba dipecahkan pada penelitian ini.
Sparse sampling merupakan metode analisa
sinyal suara yang menggunakan prinsip pencuplikan
dengan jumlah sampling dibawah Kaidah Nyquist
(Donoho, 2006). Dengan metode ini, proses transmisi
dan rekonstruksi sinyal suara dapat dilakukan dengan
waktu yang lebih cepat. Sehingga proses analisa suara
penderita penyakit tenggorok dapat dilakukan secara
lebih efisien, murah, dan cepat.

TINJAUAN PUSTAKA
A. Discrete Cosine Transform
Discrete Cosine Transform (DCT) merupakan
salah satu proses analisa sinyal suara yang mampu
meluruhkan semua energi yang terkandung dalam
sinyal suara sesuai dengan formant frekuensinya, yaitu
f0, f1,f2,f3, dst. Secara umum, Discrete Cosinus
Transform dimodelkan melalui persamaan matematis
sebagai berikut :

A 78
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8

y(k)=ω(k) ∑ x(n)cos
N
N-1
(
π�2n-1��k-1�
2N
) (2)

dengan :

ω(k)= �


=

≤ ≤

(3)

dimana N adalah panjang sinyal suara x(n),
dengan ukuran matriks sinyal x dan y sama.

B. Thresholding
Thresholding merupakan suatu metode untuk
memisahkan sinyal dari noise-nya. Metode ini terdiri
dari dua macam, yaitu hard thresholding dan soft
thresholding. Pada kasus analisa sinyal suara
menggunakan sparse sampling, penggunaan soft
thresholding lebih tepat digunakan, karena akan
menghasilkan sinyal yang bersifat sparse (Donoho,
1995). Apabila sebuah sinyal x terdiri dari x
k
=f(k∆T),
0≤k≤N-1 untuk fungsi yang sama, f didefinisikan
sebagai on[0,1], dimana ∆T=1/N. Persamaan umum
thresholding dapat dimodelkan sebagai berikut :

= �

, |

| ≥
, |

| <
(4)

Dimana

merupakan vektor dari sinyal x yang
dilakukan proses pemodelan menggunakan Discrete
Cosine Transform.

C. Sparse Sampling
Proses pencuplikan konvensional yang
dikemukakan oleh Shannon-Whittaker menyatakan
bahwa tidak akan ada informasi dalam sinyal suara
yang hilang, apabila jumlah minimum sampel yang
dicuplik untuk proses rekonstruksi sinyal adalah 2 kali
frekuensi samplingnya. Namun, sparse sampling
memiliki cara lain dalam melakukan proses
pencuplikan yang lebih mudah dan efisien
dibandingkan dengan pencuplikan konvensional.
Prinsip kerja sparse sampling adalah melakukan
pencuplikan dengan jumlah minimum yang jauh lebih
sedikit dibandingkan pencuplikan konvensional tanpa
menimbulkan cacat aliasing.
Apabila terdapat sebuah sinyal yang merupakan
sebuah vektor dalam dimensi ruang dari R
N,
sinyal
x=[x[1],...,x[N]], merupakan matriks jarang (sparse)
yang nilainya sebanding dengan nol apabila memenuhi
persamaan (x)={1≤i≤N|x[i] ≠0} dengan nilai k≪N .
Sinyal K-sparse merupakan sebuah sinyal yang
mempunyai jumlah k sampel yang memiliki nilai
nonzero.
Suatu sinyal K-sparse sepanjang N-cuplikan dapat
direkonstruksi secara eksak dari M-buah cuplikan acak,
dengan M.c.K. log(N), dimana c suatu konstanta
bernilai kecil dan K<M<<N (Donoho, 2006). Selain itu,
pencuplikan pada sparse sampling, kandungan
informasi dari sinyal tidak lagi ditentukan oleh jumlah
komponen frekuensi sinyal, melainkan dari tingkat
sparsity atau derajat kebebasan K. Efek kompresi
terjadi secara dramatis karena sinyal yang semula
terdiri dari N cuplikan dapat direkonstruksi dengan
cuplikan dengan jumlah sebanding log(N)
(Suksomono, 2006).

C. Teknik Optimasi l
1
-minimization
Solusi untuk melakukan proses rekonstruksi
sinyal dengan jumlah sampling yang terbatas, misalnya
pada kasus sparse sampling adalah dengan teknik
optimasi l
1
-minimization (Donoho, 2004). Teknik
optimasi ini bekerja dengan cara melakukan
pengukuran terhadap data point satu dengan yang lain.
Hasil pengukuran kemudian dibandingkan dengan
jarak terdekat antara data point dengan sinyal asli,
sehingga akan menghasilkan sinyal suara yang
mendekati sinyal aslinya. Secara umum, teknik
optimasi dirumuskan sebagai berikut :

min




1



= Ψ
−1


(5)

dengan :
x = sinyal asli
X = Sinyal rekonstruksi
Φ, Ψ = matriks hasil perhitungan
pada sparse sampling
Ψ
-1
= inverse Ψ

METODE EKSPERIMEN
Prosedur Pengambilan Data

Data suara penyakit tenggorok yang digunakan
pada penelitian ini merupakan data sekunder.
Pengambilan data asli dilakukan atas kerjasama
Laboratorium Akustik dan Fisika Bangunan ITS
dengan RSUD dr. Soetomo bagian SMF THT-KL.
Prosedur pengambilan data adalah dengan meminta
penderita penyakit tenggorok melafalkan fonem /a/
selama ± 10 detik dalam satu kali tarikan nafas, dan
ditransmisikan menggunakan ponsel.
Prosedur Pengolahan Data
Analisa sinyal suara penderita penyakit tenggorok
menggunakan metode sparse sampling, dilakukan
berdasarkan diagram alir berikut ini.


A 79
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
Start
Pre-processing sinyal :
Transformasi DCT
(Mendapatkan nilai panjang sinyal N)
Menentukan jumlah cuplikan sinyal :
Variasi nilai K (1000,2000,5000)
Melakukan pengukuran terhadap :
Nilai K dengan panjang sinyal N
K << N
Thresholding sinyal
Membuat matriks pengukuran M :
M<K<<N
Transmisikan Sinyal
A

Gambar 2. Diagram Alir Proses Transmisi Sinyal

Setelah proses transmisi dilakukan, pada receiver
dilakukan proses rekonstruksi untuk mendapatkan
sinyal suara penderita tenggorok yang diharapkan
sejernih suara aslinya.
A
Rekonstruksi sinyal :
Teknik optimasi
l1-minimization
Membandingkan matriks pengukuran M
dengan nilai variasi K terhadap N
tidak
Ya
Sinyal suara dalam
domain frekuensi
Sinyal suara dalam domain waktu :
Inverse DCT
Hitung kesalahan hasil rekonstruksi
dengan sinyal asli (MSE)
End

Gambar 3. Diagram Alir Proses Rekonstruksi Sinyal
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada proses transmisi, sinyal suara penyakit
tenggorok mengalami beberapa perlakuan seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2. Hasil perlakuan sinyal
ditunjukkan dengan adanya perubahan bentuk grafik
sinyal pada tiap-tiap tahap, seperti yang ditunjukkan
pada gambar berikut ini.


Gambar 4. Grafik Hasil Transformasi DCT Penyakit Granuloma

Gambar 5. Grafik Hasil Thresholding Sinyal Suara
Penyakit Granuloma


Pada Gambar 4, terlihat bahwa dengan melakukan
pre-processing sinyal menggunakan transformasi DCT,
seluruh energi yang terkandung dalam sinyal suara
akan meluruh sesuai dengan lokasi energi tertinggi-nya.
Sedangkan pada proses thresholding pada Gambar 5,
koefisien frekuensi sinyal yang tidak diperlukan
dieliminasi, sehingga hanya akan tersisa koefisien yang
akan menjadi sinyal sparse saja.



Gambar 6. Plot Matriks M Penyakit Granuloma

Pada Gambar 6, terlihat bahwa salah satu hal
terpenting dalam proses pencuplikan sinyal
menggunakan metode sparse sampling adalah adanya
matriks pengukuran M. Matriks ini merupakan matriks
acak yang terbentuk dari gabungan variasi nilai K dan
panjang sinyal N. Matriks inilah yang akan
ditransmisikan melalui jaringan nirkabel.
Pada proses rekontruksi, sinyal acak yang
ditunjukkan pada Gambar 6, disusun kembali menjadi
sinyal asli menggunakan teknik optimasi l
1
-
minimization. Hasil rekonstruksi didapatkan sinyal
yang memiliki kemiripan dengan aslinya. Untuk
membuktikan tingkat kesalahan hasil rekonstruksi

A 80
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
sinyal yang ditransmisikan dengan sinyal aslinya,
digunakan perhitungan MSE.
Tabel 1. Perbandingan Variasi Nilai K Terhadap Hasil
Rekonstruksi Sinyal
Jenis Penyakit
Tenggorok
Length of
Signal
(N)
Variasi Nilai
K
MSE
Laring 10000
1000 0,0775
2000 0,0785
5000 0,1018
Vocal Nodul 10000
1000 0,0749
2000 0,0119
5000 0,0143
Granuloma 10000
1000 0,9988
2000 0,0028
5000 0.0028
Paresis 10000
1000 0.0012
2000 0,9930
5000 0,99304

Tabel 1 diatas, variabel N merupakan panjang
sinyal suara penyakit tenggorok. Penentuan nilai
variabel N didasarkan pada batas maksimum
kemampuan peralatan komputasi yang digunakan pada
penelitian. Selain itu, Tabel 1 juga menunjukkan bahwa
dengan melakukan variasi nilai K, maka sinyal yang
dihasilkan pada proses rekonstruksi akan semakin
mendekati sinyal aslinya. Keadaan ini ditunjukkan
kecilnya nilai MSE pada variasi nilai K yang besar. Hal
ini dikarenakan, semakin besar variasi nilai K yang
diberikan, maka nilainya akan mendekati jumlah
frekuensi samplingnya. Namun, belum adanya
keteraturan hasil perhitungan MSE pada beberapa
penyakit tenggorok, ada kemungkinan disebabkan oleh
peralatan komputasi yang masih belum memadai.
KESIMPULAN
Metode sparse sampling merupakan suatu
metode analisa sinyal yang mampu melakukan proses
pencuplikan dengan jumlah sampling dibawah Kaidah
Nyquist. Dengan menggunakan metode ini, proses
transmisi sinyal suara penyakit tenggorok melalui
jaringan nirkabel dapat dilakukan lebih cepat, murah,
dan tidak membutuhkan ruang penyimpanan yang
besar. Sedangkan pada proses rekonstruksi sinyal,
didapatkan sinyal suara penyakit tenggorok yang
memiliki kemiripan dengan sinyal aslinya dan tanpa
ada cacat aliasing. Hal ini ditunjukkan dengan
semakin kecilnya nilai MSE pada penyakit granuloma
sebesar 0.0028 pada variasi nilai K sebesar 5000.
DAFTAR PUSTAKA
Donoho D.L (1995), Denoising by Soft Thresholding,
IEEE Transactions on Information Theory, Vol
41, hal 613-627
Donoho D.L (2004), For Most Large
Underdetermined Systems of Linear Equations
the Minimal l1-norm Solution is alaso the
Sparsest Solution, CiteeSeerX Journal, Vol 59,
hal 797-829
Donoho D. L (2006), Compressed Sensing, IEEE
Transactions on Information Theory, Vol 52,
hal 1289-1306
Hertiana, B. D. K (2010), Analisa Sinyal Suara
Melalui Jaringan Nirkabel dengan Metode
Wavelet Transform Untuk Deteksi Gejala
Kelainan Pita Suara, IEEE Transactions on
Information Theory, Tesis, ITS, Surabaya
Moran, R.J. Reilly, R.B. Chanzal P, dan Lacy P.D
(2006), Telephony – Based Voice Pathology
Assessment Using Automated Speech Analysis,
IEEE Transaction on Biomedical Engineering,
Vol. 53, hal. 468 - 477
Nicol´as S´aenz-Lech´on, V´ıctor Osma-Ruiz, dkk
(2008), Effects of Audio Compression in
Automatic Detection of Voice Pathologies,
IEEE Transactions On Biomedical Engineering,
Vol. 55, No. 12, hal. 2381-2385
Soedjak S. (1994), Analisa Suara Penyakit Pada Pita
Suara, Disertasi, Fakultas Kedokteran,
Universitas Airlangga
Suksmono, A.D (2010), Pengolahan Sinyal Kompleks
dan Penginderaan Kompresif, Balai Pertemuan
Ilmiah ITB
www.voicemedicine.com


A 81
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
METODE REKONSTRUKSI SUMMATION CONVOLUTION FILTERED BACK
PROJECTION (SCFBP) DAN ALGEBRAIC RECONSTRUCTION TECHNIQUE
(ART) DALAM SISTEM TOMOGRAFI ULTRASOUND RING ARRAY BERBASIS
TIME OF FLIGHT
Nuril Ukhrowiyah
1
, Khusnul Ain
2
, Retna Apsari
3

1,2,3
Program Studi Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga
Email : nurilukhrowiyah@yahoo.co.id
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kemungkinan diterapkannya metode rekonstruksi SCFBP dan ART pada
data sistem tomografi ultrasound ring array berbasis time of flight. Penelitian ini dilakukan pada objek numerik
maupun eksperimen dengan menggunakan 16 titik posisi ultrasound, untuk menghasilkan citra rekonstruksi
dengan resolusi 31x31 piksel. Penelitian ini dilakukan dengan menata ulang dan interpolasi data time of flight
dari ring array menjadi parallel beam ultrasound tomography, yang kemudian direkonstruksi dengan metode
rekonstruksi SCFBP dan ART. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa interpolasi data dapat
memungkinkan digunakannya metode rekonstruksi SCFBP, meningkatkan kecepatan iterasi dan kualitas citra
rekonstruksi pada metode rekonstruksi ART.
Kata kunci : ring array, tomografi, ultrasound, time of flight, SCFBP, ART.
PENDAHULUAN
Beberapa peralatan pencitraan yang telah umum
digunakan dalam mendiagnosis beberapa penyakit
adalah Tomografi Komputer Spiral (CT) sinar-X,
Positron Emission Tomography (PET), Angiografi
Digital dan Magnetic Resonance Imaging (MRI)
(Decramer and Roussos, 2002). Beberapa instrumen
yang telah digunakan tersebut bukan tidak punya
keterbatasan. Tomografi Komputer spiral (CT) sinar-
X dan PET memiliki keterbatasan akumulasi radiasi
pengion yang dapat membahayakan tubuh manusia
(Su, et. al., 2005), MRI dalam bekerjanya
menggunakan prinsip resonansi magnetik dan
membutuhkan medan magnet yang cukup kuat,
sehingga seluruh peralatan dan instrumen yang
digunakan dalam area tersebut harus kompatibel
dengan resonansi magnetik (Blanco, et. al., 2005).
Dengan demikian hingga saat ini alternatif teknologi
pencitraan medis yang akurat, aman dan sederhana
masih menjadi masalah yang perlu ditemukan
solusinya.
Salah satu alternatif sumber luminisens yang
dapat digunakan untuk pencitraan medis yang akurat,
aman dan sederhana adalah ultrasound. Ultrasound
adalah salah satu gelombang mekanik yang dalam
penjalarannya membutuhkan media. Dengan
memanfaatkan aktivitas interaksinya dengan media
yang dilewatinya, sifat karakteristik objek media yang
dilewati dapat dianalisis. Salah satu karakteristik fisis
yang dimiliki objek adalah kecepatan penjalaran
gelombang ultrasound jika melalui objek. Tomografi
ultrasound telah dilakukan untuk deteksi kanker
payudara dengan metode pantulan yang berdasarkan
pada distribusi kecepatan suara dan koefisien atenuasi
dengan menggunakan detektor linier dengan hasil
yang cukup baik (Krueger, 1998; Li and Huang,
2005).
Untuk itu pada penelitian ini akan dikembangkan
teknik tomografi ultrasound dengan metode transmisi.
Dengan metode ini informasi sinyal yang akan
diperoleh adalah informasi waktu sinyal dari pertama
kali memasuki objek sampai ke luar objek, sehingga
diperoleh informasi bagian dalam objek yang lengkap
dan dimungkinkan untuk memetakan bagian dalam
obyek dengan baik.
DASAR TEORI
Sinyal akustik ketika mengenai bahan, akan
mengalami berbagai interaksi yang menyebabkan
peristiwa transmisi, refleksi, dan refraksi, sehingga
sinyal akustik yang diterima sensor sangat kompleks.
Namun, dapat dipastikan bahwa sinyal pertama yang
diterima oleh reseiver adalah sinyal transmisi yang
melewati lintasan terpendek dan merupakan lintasan
yang paling lurus, sebagaimana ditunjukkan pada
gambar 1. Dengan demikian, waktu tempuh sinyal
transmisi pertama yang diterima oleh reseiver adalah
kasus linier seperti lintasan sinar-X atau sinar-γ.

(a) (b)
Gambar 1 (a) beberapa kemungkinan lintasan sinyal akustik (b)
data TOF yang akan diterima oleh sensor akibat lintasan sinyal
akustik
Waktu tempuh sinyal akustik dikenal dengan time
of flight (TOF). Dengan demikian time of flight (TOF)
transmisi dari berkas yang lurus dapat dengan mudah
diperoleh, yaitu sama dengan waktu sinyal akustik
pertama yang diterima oleh sensor (Rahiman, et.al.,
2006). Secara analitis, data TOF adalah integral dari

A 82
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
waktu tempuh gelombang akustik sepanjang lintasan
gelombang ultrasound pada objek, yang dapat
dituliskan dalam bentuk persamaan (1),

= ∫ (1)
Dengan x adalah panjang lintasan dan adalah waktu
transmisi masing-masing objek yang merupakan
keterbalikan dari kecepatan akustik pada objek
tersebut. Secara numerik persamaan (1) dapat ditulis
menjadi,

= �

(2)
Dengan

adalah luasan sel citra ke-i yang terlewati
berkas sinyal akustik ke-j, dengan 0 ≤

≤ 1.
Tomografi akustik dapat dibangun dengan cara
memperoleh data TOF lengkap dari berbagai arah.
Sekumpulan data TOF tersebut kemudian
direkonstruksi sehingga diperoleh distribusi nilai
kecepatan akustik pada masing-masing organ.
Beberapa organ rongga dada manusia memiliki nilai
fisis kecepatan akustik yang ditampilkan pada Table I.
Tabel I. Nilai kecepatan akustik dan waktu tempuh gelombang
akustik pada beberapa organ tubuh dalamrongga dada
No Organ Kecepatan
Suara
(m/s)
Waktu
Transmisi
(µs/cm)
1 Paru-paru 650 15,385
2 Kulit 1642 6,090
3 J antung 1585 6,309
4 Lemak 1450 6,897
5 Tulang 4080 2,451

Dalam sistem tomografi ring array akan didapat
data sebanyak
1
2
( − 1) data, dengan N adalah
posisi titik sensor seperti ditunjukkan pada Gambar 2.
J ika seluruh data lengkap dihimpun, maka posisi data-
data tersebut dapat ditampilkan pada Gambar 3.
Berkas lintasan pada Gambar 2 tersusun dari
beberapa berkas lintasan parallel yang memiliki jarak
terhadap pusat (0,0) tidak seragam, seperti nampak
pada gambar 4. J ika data dari ring array dikumpulkan
berdasarkan data parallelnya, maka akan diperoleh
posisi data sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 5.
Dengan demikian data ring array dapat dikonversi
menjadi data parallel beam (pola square) dengan cara
menata ulang dan melakukan interpolasi data untuk
mendapatkan pola dan jumlah data sebagaimana yang
disyaratkan pada Tomografi parallel beam.

Gambar 2. Tomografi ultrasound ring array

Gambar 3. Posisi penempatan data pada tomografi ring array

Gambar 4. Dua posisi sudut yang berulang 7 dan 8 data

Gambar 5. Penataan data ke pola square
Dengan menggunakan 16 posisi lokasi
pengambilan data pada permukaan lingkaran objek,
maka posisi Xro adalah posisi x
r
=0, sedang x
r
-1, x
r
-
2, x
r
-3, x
r
-4, x
r
-5, x
r
-6, x
r
-7 dan x
r
1, x
r
2, x
r
3, x
r
4, x
r
5,
x
r
6, x
r
7 berturut-turut adalah posisi

= Rcos θ
dengan −
π
16

< ≤ +
π
16

. J ika diinginkan citra
rekonstruksi dengan ukuran resolusi 31x31, maka
diameter objek adalah 31 satuan sel, yang berarti jari-
jari objek adalah 15 piksel. Demikian juga untuk
posisi data y
r
, yang mensyaratkan bahwa ∆x
r
=∆y
r
,
atau ∆θ =π/50. Sedangkan pada tomografi ring array
pengambilan data ∆θ yang memungkinkan adalah
sebesar π/16. Oleh karena itu, untuk mendapatkan
data posisi diskrit mulai dari -15 hingga +15, dan ∆θ
=π/50 diperlukan proses interpolasi.
Data yang sudah dikonversi menjadi data parallel
beam tersebut kemudian direkonstruksi untuk
mendapatkan citra. Salah satu metode rekonstruksi
yang populer, cepat dan sederhana yang digunakan
pada sistem tomografi parallel beam adalah metode
summation convolved back-projection (SCBP).
Proses SCBP secara analitik dapat dituliskan sebagai,

A 83
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
(, ) = ∫ ′(

, )

0
(3)
dengan


(

, ) = � (

, )ℎ(


)



−∞

= (

, ) ∗ ℎ(


) (4)
dengan

(

, ) adalah proyeksi terkonvolusi dan
h(x
r
) adalah fungsi konvolusi.
Metode rekonstruksi lain yang bekerja secara
iterasi yang pertama kali diusulkan oleh Kaczmarz.
Pada tahun 1973 Herman, Lent dan Rowland
menurunkan persamaan tersebut yang dikenal sebagai
metode Algebraic Reconstruction Technique (ART),
dengan persamaan sebagai berikut,

+1
=

+ ∆

(5)

=

2

� (6)

=

(7)

= ∑

(8)

dengan :

+1
=nilai objek ke-i setelah iterasi ke- k+1

=nilai objek ke-i sebelumnya (iterasi ke- k)

=bobot yang menunjukkan luasan sel citra
ke-i yang terlewati berkas sinyal akustik
ke-j, dengan 0 ≤

≤ 1

=ray-sum TOF terukur yang diperoleh
dari simulasi atau eksperimen

=ray-sum TOF perhitungan

Proses iterasi akan dihentikan jika nilai error ∆
telah mencapai batas limit yang diinginkan. Semakin
kecil nilainya, hasil yang diperoleh akan semakin
valid, namun akan menambah waktu komputasi. Oleh
sebab itu, biasanya dipilih pada nilai tertentu yang
sudah menghasilkan nilai yang cukup valid dengan
waktu komputasi yang optimal.
Konvergensi iterasi ditandai oleh nilai
discrepancy. Discrepancy menunjukkan besarnya
beda bilangan antara raysum terukur dan raysum
terhitung (Raparia et. al, 1998). Persamaan tersebut
dapat ditulis sebagai berikut,
=
1

�� �


2

=1
(9)
METODE PENELITIAN
Dua aktivitas yang dilakukan dalam penelitian
ini, yaitu pemodelan dan eksperimen. Pemodelan
dilakukan untuk menyelesaikan forward problem data
time of flight (TOF) gelombang ultrasonik secara
simulasi. Sedang eksperimen dilakukan untuk
menguji perangkat lunak rekonstruksi dengan data
eksperimen.
Langkah awal pemodelan adalah memilih dan
menentukan persamaan-persamaan matematis yang
terkait dan sesuai dengan kondisi fisis sebenarnya.
Persamaan utama yang akan digunakan adalah
persamaan (2). Persamaan tersebut digunakan untuk
menyelesaikan forward problem sehingga diperoleh
data sintetik TOF secara simulasi. Untuk menguji
penyelesaian forward problem diperlukan data
sintetik berupa data numerik yang disusun
menyerupai citra objek. Data numerik tersebut
dibangun dengan mengacu pada data waktu tempuh
gelombang akustik pada table 1.
Model sistem yang digunakan adalah tomografi
ring array. Untuk itu, posisi data TOF dari forward
problem ditata ulang dan diinterpolasi menuju posisi
data tomografi translasi rotasi (pararel beam)
sebagaimana disyaratkan pada penyelesaian metode
rekonstruksi SCFBP yang terdapat pada persamaan
(3) dan (4). Data dari sistem tomografi ring array
yang telah ditata dan diinterpolasi tersebut kemudian
direkonstruksi. Hasil rekonstruksi berupa nilai
numerik TOF dari objek yang dapat ditampilkan
sebagai citra.
Analisis pemodelan dilakukan dengan cara
membandingkan antara data numerik dengan citra
rekonstruksi, baik secara visual maupun numerik.
Analisis visual dilakukan dengan cara melihat profil
garis horizontal antara data numerik dengan citra hasil
rekonstruksi. Hasilnya akan semakin baik jika citra
rekonstruksi semakin mirip dengan data numerik.
Analisis numerik dilakukan dengan menghitung root
mean square difference (rmsd) yang mengukur
kesamaan distribusi TOF antar citra. Perumusan rmsd
secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut
(Suparta, 1999),
=
1
max (

)


� �()−

()�
2
i

� (10)
Langkah awal eksperimen adalah menyiapkan
peralatan dan bahan yang dibutuhkan. Peralatan
tersebut meliputi sensor ultrasound 1 MHz, pulsa
generator, osiloskop digital, dan Komputer. Seluruh
peralatan dan bahan tersebut dirangkai seperti pada
Gambar 6.
Gambar 6. Set up eksperimen tomografi ultrasonik
Bahan yang dibutuhkan adalah phantom rongga dada
sebagai objek tiruan dan meja objek. Phantom rongga
dada mengandung objek yang memiliki nilai fisis
kecepatan akustik menyerupai organ tulang, paru-paru

A 84
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
jantung, lemak dan kanker paru-paru. Sedang meja
objek adalah wadah dimana phantom ditempatkan,
wadah diisi dengan larutan air sebagai larutan
kopling. Di dalam meja objek transmitter dan
receiver dirangkai dalam kerangka sehingga
memungkinkan bergerak rotasi pada saat pengambilan
data TOF. Meja objek dan phantom rongga dada
ditunjukkan pada Gambar 7.
Data TOF kemudian direkonstruksi dengan
metode SCFBP, yang tentunya sebelum dilakukan
rekonstruksi dilakukan penataan posisi dan interpolasi
data terlebih dahulu. Analisis eksperimen dilakukan
dengan cara membandingkan secara visual citra
rekonstruksi terhadap objek phantom.
Selain menggunakan metode rekonstruksi
SCFBP, pada penelitian ini juga digunakan metode
rekonstruksi ART. Citra rekonstruksi dari metode
SCFBP dan ART tersebut saling dibandingkan.
Perbandingan dilakukan secara visual dan numerik.
Secara visual, perbandingan dilakukan dengan cara
mengamati secara langsung citra-citra rekonstruksi
dan profil garis citra-citra rekonstruksi yang
dihasilkan dari kedua metode tersebut.
Kualitas citra rekonstruksi akibat pengaruh nois
dapat dilihat dari nilai SNR (signal-to-noise ratio).
Nilai SNR merupakan perbandingan antara sinyal dan
variannya, lebih jelasnya ditampilkan pada gambar 8
dan persamaan (12) (Hammersberg, P., and M.
Mangard, 1999).

=


=
|
2

1
|

1
2

2
2
(11)
Semakin besar nilai SNR, maka semakin baik kualitas
citra rekonstruksi yang dihasilkan, yang berarti
semakin kecil nois dari citra tersebut.

Gambar 7. meja objek dan phantomrongga

Gambar 8. Metode menghitung nilai SNR (P. Hammersberg and M.
Mangard, 1999)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Obyek sintetik dibuat secara numerik dengan
menggunakan data pada tabel 1, dengan ukuran 31x31
piksel sehingga membentuk objek berbentuk rongga
dada separti pada Gambar 9 (a). Dengan sistem
tomografi paralel beam, diperoleh data time of flight
dengan pola parallel beam. Data tersebut
direkonstruksi dengan metode rekonstruksi SCFBP
dan ART, sehingga dihasilkan citra rekonstruksi pada
Gambar 9 (b) dan (c).


(a) (b) (c)
Gambar 9. (a) objek numerik (b) citra rekonstruksi metode SCFBP
dari data pola square (c) citra rekonstruksi metode ART dari data
pola square
Dengan sistem tomografi ring array, data
numerik pada gambar 9 (a) disimulasikan sehingga
diperoleh data time of flight pola ring array. Sebelum
direkonstruksi data pola ring array tersebut ditata
ulang dan diinterpolasi cubik-spline, sehingga
membentuk data pola parallel beam. Data pola
parallel beam tersebut direkonstruksi dengan metode
SCFBP dan ART, sehingga diperoleh gambar 10 (a)
dan (b). Sebagai pembanding juga dilakukan
rekonstruksi dengan metode ART secara langsung
dari data pola ring array, sehingga dihasilkan citra
rekonstruksi pada gambar 10 (c).


(a) (b) (c)
Gambar 10. Citra rekonstruksi dari (a) metode SCFBP dari data
ring array yang telah diinterpolasi (b) metode ART dari data ring
array yang telah diinterpolasi (c) metode ART secara langsung dari
data pola ring array
Secara visual nampak bahwa citra rekonstruksi
yang dihasilkan dari data tomografi ring array baik
yang diinterpolasi terlebih dahulu maupun langsung
pada gambar 10 (a), (b) dan (c), telah menghasilkan
citra rekonstruksi menyerupai dengan objek uji. Dari
gambar 10 (a) dan 10 (b), nampak bahwa konversi
data dari ring array menjadi parallel beam
menghasilkan citra rekonstruksi yang lebih baik. Hal
ini ditunjukkan juga oleh profil garis horizontal antara
obyek sintetik dan citra-citra hasil rekonstruksi pada
Gambar 11.


A 85
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8

Gambar 11.Profil garis dari objek numerik dan beberapa citra
rekonstruksi
Pada gambar 10a nampak bahwa di tengah-
tengah paru-paru terdapat warna yang jauh lebih
merah, jika dibandingkan pada gambar 10b yang lebih
rata warna merahnya. Pada Gambar 11 juga dapat
dilihat bahwa profil garis horizontal yang dihasilkan
oleh gambar 10 (b) lebih banyak mengandung riple
dibandingkan profil garis horizontal yang dihasilkan
oleh gambar 10 (a). Banyaknya riple dari profil garis
horizontal berkaitan dengan SNR. Semakin besar nois
berati profilnya semakin banyak mengandung riple.
Berdasarkan kedua hal tersebut dapat diakatakan
bahwa citra hasil rekonstruksi dengan metode SCFBP
pada data ring array yang dikonversi dan diinterpolasi
menghasilkan citra yang kabur dan kecenderungan
salah pada pusat objek, sedangkan dengan metode
ART memberikan hasil lebih baik daripada SCFBP,
namun metode ART menghasilkan nois yang lebih
tinggi.
Secara numerik juga nampak bahwa citra
rekonstruksi dengan metode ART data ring array
yang telah dikonversi menjadi data parallel beam
lebih memiliki SNR lebih besar jika dibandingkan
dengan tanpa diinterpolasi, yang ditunjukkan pada
tabel 2. Hal ini menunjukkan bahwa interpolasi data
dapat menurunkan nois citra rekonstruksi.
Interpolasi data juga dapat meningkatkan
kecepatan proses iterasi dan nilai konvergenitas. Hal
ini terlihat pada Gambar 12. Pada gambar tersebut
terlihat bahwa nilai fungsi objektif sebagai kriteria
pemberhenti cepat mengecil pada data yang sudah
diinterpolasi, sedang data yang tidak diinterpolasi
konvergensi susah untuk diperoleh.
Table II. Nilai numerik dari beberapa metode rekonstruksi
SCFBP
Square
ART
Square
SCFBP
Square
Circular
ART
Square
Circular
ART
Circular
rmsd 12,268 13,636 20,114 24,898 20,771
SNR 15,2 3.8 - 3.8 1,9


Gambar 12. Proses iterasi metode rekonstruksi ART pada objek
numerik
Penelitian ini juga dilakukan secara eksperimen,
dengan menggunakan tranduser ultrasound
berfrekuensi 1 MHz pada objek eksperimen yang di
dalamnya terdapat objek tulang, jantung dan paru-
paru kambing seperti nampak pada gambar 13 (a).
Dengan sistem tomografi ring array diperoleh data
eksperimen ring array. Data ring array dikonversi
menjadi paralel beam dan direkonstruksi dengan
meode SCFBP, diperoleh citra rekonstruksi pada
gambar 13 (b).


(a) (b)
Gambar 13. (a) objek eksperimen (b) citra rekonstruksi metode
SCFBP dari data ring array yang telah diinterpolasi
Data ring array yang sudah dikonversi menjadi
data parallel beam dan data ring array direkonstruksi
dengan metode rekonstruksi ART sehingga dihasilkan
citra rekonstruksi yang nampak pada gambar 14 (a)
dan (b). Dari gambar tersebut nampak sekali lagi
bahwa konversi data ring array menjadi parallel beam
melalui interpolasi data dapat menghasilkan citra
rekonstruksi yang lebih baik jika dibandingkan
dengan data ring array tanpa diinterpolasi.

(a) (b)
Gambar 14. Citra rekonstruksi metode ART dari data (a) hasil
interpolasi (b) ring array langsung


A 86
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
Dari gambar 15 nampak bahwa interpolasi data
dapat mempercepat konvergensi dan meningkatkan
nilai konverginitas yang dihasilkan selam proses
iterasi.

Gambar 15. Proses iterasi metode rekonstruksi ART pada objek
eksperimen
KESIMPULAN
Melalui penataan ulang dan interpolasi data
sistem tomografi ring array, akan diperoleh data
sistem tomografi parallel. Interpolasi data
meningkatkan kecepatan proses iterasi pada metode
rekonstruksi ART dan kualitas citra rekonstruksi pada
sistem tomografi ring array.
Citra rekonstruksi dengan metode SCFBP pada
data ring array yang dikonversi dan diinterpolasi
menghasilkan citra yang kabur dan kecenderungan
salah pada pusat objek, sedangkan dengan metode
ART memberikan hasil lebih baik daripada SCFBP,
namun metode ART menghasilkan nois yang lebih
tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Blanco, R.T., Ojala, R., Kariniemi, J ., Perala, J .,
Ninimaki, J ., and Tervonen, O., 2005,
Interventional and Intraoperative MRI at low
field scanner- a review, European J ournal of
Radiology ,Vol 56, 130-142,.
Decramer, M., and Roussos, D., 2002, Imaging and
Lung Dieses, European Respiratory J ournal.
Hammersberg, P., and M. Mangard, 1999, optimal
computerized tomography performance,
proceeding of computerized tomography for
industrial application and imaginf processing
in radiology, 31-43
Krueger, M., Burow, V., Hiltawsky, V., and Ermert,
H., 1998, Limited Angle Ultrasonic
Transmission Tomography of The Compressed
Female Breast, ultrasonics symposium
proceedings, 1345-1348.
Li, P.C., and Huang, S.W., 2005, Ultrasound
Tomography of The Breast Using Linier
Arrays, IEEE.
Mohd Hafiz Fazalul Rahiman, Ruzairi Abdul Rahim,
Mohd Hezri Fazalul Rahiman, and Mazidah
Tajjudin, 2006, IEEE SENSORS J OURNAL,
VOL. 6, NO. 6
Rahiman, M.H.F., Rahim, R.A., and Tajjudin, M.,
2006, Ultrasonic Transmission-Mode
Tomography Imaging for Liquid / Gas Two-
Phase Flow, IEEE Sensors J ournal, Vol.6,No.6.
Raparia D., J . Alessi and A. Kponou, 1998, Algebraic
Reconstruction Technique, IEEE.
Su, Y., Zhang, F., Xu, K., Yao, J ., and Wang, R.K.,
2005, A Photoacoustic Tomography System for
Imaging of Biological Tissues, J . Phys. D:
Appl. Phys., 38, 2640–2644.
Suparta, G.B., 1999, Focusing Computed
Tomography Scanner, Thesis Ph.D., Monash
University, Victoria, Australia.


A 87
Prosiding Seminar Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8


FISIKA MATERIAL  
BIOMATERIAL 
SEMINAR NASIONAL FISIKA TERAPAN III (2012) 
STUDI INFILTRASI TUBULUS DENTIN BERBASIS HIDROKSIAPATIT YANG
BERPOTENSI UNTUK TERAPI DENTIN HIPERSENSITIF
Aditya Iman Rizqy
1
, Aminatun
2
, Prihartini Widiyanti
3

1,2,3
Program Studi Teknobiomedik Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga
Email : adityaimanrizqy@yahoo.com
Abstrak
Hipersensitivitas dentin adalah rasa sakit yang berlangsung singkat dan tajam akibat rangsangan terhadap
dentin yang terbuka karena gusi yang menurun. Ketika dentin yang terbuka terpapar rangsangan dari luar,
cairan dalam tubulus dentin mengalami pergerakan mekanis ke dalam dan ke luar yang memicu timbulnya rasa
nyeri. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan infiltrasi tubulus dentin sehingga tubulus dentin yang terbuka
dapat tertutup kembali. Hidroksiapatit (HA) dipilih menjadi bahan dasar infiltrasi karena merupakan komponen
terbesar (70%) penyusun dentin gigi serta sifatnya yang biokompatibel. Metode presipitasi kalsium fosfat
digunakan dalam penelitian ini. Dilakukan variasi konsentrasi HA (0,133 M ; 0,113 M ; 0,093 M ; 0,073 M ;
0,053 M) untuk diamati perbedaan struktur mikro dan biokompatibilitas tumpatan yang terbentuk. Hasil Uji
SEM menunjukkan bahwa seiring penambahan konsentrasi HA, presipitat yang dihasilkan semakin padat dan
tebal, dimana konsentrasi 0,133 M menghasilkan tumpatan terbaik. Hasil MTT Assay menunjukkan bahwa
seiring penambahan konsentrasi HA, jumlah sel yang hidup semakin meningkat, namun masih dibawah batas
ambang toksisitas.. Berdasarkan hasil SEM, hidroksiapatit berpotensi sebagai bahan terapi dentin hipersensitif,
namun perlu dilakukan optimasi konsentrasi larutan untuk memperoleh larutan yang biokompatibel.
Kata kunci : hidroksiapatit, hipersensitivitas dentin, infiltrasi tubulus dentin, presipitasi, kalsium fosfat.

PENDAHULUAN
Salah satu masalah gigi sehubungan dengan rasa
sakit yang banyak terjadi dan sulit diatasi oleh dokter
gigi adalah dentin hipersensitif (Orchardson et al.,
2006) atau yang lebih dikenal oleh masyarakat luas
dengan istilah gigi sensitif saja. Pada tahun 2007,
sekitar 30 % penduduk dunia mengalami
hipersensitivitas dentin (Carini dkk., 2007) dengan
tidak menutup kemungkinan terjadinya peningkatan
prevalensi hingga saat ini.
Hipersensitivitas dentin didefinisikan sebagai
rasa sakit yang berlangsung singkat dan tajam akibat
adanya rangsangan terhadap dentin yang terbuka
(terpapar lingkungan oral) (Kielbassa et al., 2002).


Walaupun rasa sakit yang timbul hanya berlangsung
singkat, namun hal ini dapat mengakibatkan proses
makan menjadi sulit (Aldo et al., 2002). Rasa sakit
tersebut akan mempengaruhi kenyamanan dan
kesehatan rongga mulut dan bila tidak diatasi akan
menimbulkan defisiensi nutrisi pada penderitanya
(Camila dkk., 2006).


Salah satu cara perawatan dentin
hipersensitif adalah dengan menutup tubulus dentin
(saluran penghubung permukaan dentin dengan saraf
pada pangkal dentin) untuk mencegah rangsangan
dari luar memicu rasa nyeri (Chu et al., 2010).
Calcium oxalate, contohnya, telah direkomendasikan
sebagai perawatan efektif untuk dentin hipersensitif
berdasarkan presipitasi (penggumpalan) calcium
oxalate dalam tubulus dentin. Perawatan ini secara
efektif menghilangkan hipersensitivitas pada tahap
awal, namun ternyata hanya bertahan sebentar saja
dikarenakan larut/terkikisnya calcium oxalate itu
sendiri (Kerns et al., 1991).
Fazrina (2011) telah melakukan penelitian
infiltrasi tubulus dentin dengan pasta desensitasi pro-
Argin yang mengandung arginin, asam amino, dan
kalsium karbonat sebagai sumber kalsium dalam pasta
ini, dan diperoleh kedalaman tumpatan sedalam 2 µm
saja. Tumpatan yang hanya 2 µm ini rentan terkikis
oleh berbagai gerakan mekanis cairan dalam mulut
seperti halnya kocokan air ketika berkumur, sehingga
banyak dokter gigi menghimbau pada pasien untuk
tidak berkumur terlalu lama setelah penyikatan gigi
dengan pasta desensitasi.
Penelitian oleh Bedi (2011) juga mendukung
fenomena ini, dimana percobaannya yang
menggunakan bahan potassium nitrate juga
menunjukkan pengikisan total pada tumpatan setelah
pembilasan langsung dengan aquades. Saat ini, telah
ada pasta desensitasi komersial yang mengandung
kristal hidroksiapatit, namun bagaimanapun
penggunaan tumpatan dari pasta desensitasi masih
memberikan kekhawatiran akan hilangnya tumpatan
setelah berkumur sehingga tumpatan dari pasta
desensitasi tidak bisa bertahan terlalu lama dalam
dentin.
Ishikawa et al. (1995) melakukan antisipasi
terhadap kasus serupa sebelumnya dengan
menginfiltrasi (menutup) tubulus dentin dengan
metode presipitasi (penggumpalan) kalsium fosfat
dalam tubulus dentin yang menghasilkan tumpatan
(presipitat) sedalam ± 10-15 µm sehingga semua
kekhawatiran di atas dikatakan dapat teratasi.
Berdasarkan konsep di atas, perlu dilakukan
upaya infiltrasi tubulus dentin dengan kalsium fosfat

B 1
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

seperti yang dilakukan Ishikawa et al. (1995).
Kalsium fosfat berjenis hidroksiapatit (HA) dipilih
karena hidroksiapatit merupakan komponen terbesar
dari dentin (70 %) (Ismiawati, 2009) dan memiliki
sifat biokompatibel, yakni tidak menimbulkan reaksi
inflamasi atau efek kerusakan hingga kematian sel
jaringan sekitar (Dainti, 2010). Presipitat HA yang
dihasilkan akan dibandingkan dengan tumpatan yang
dihasilkan dari pasta desensitasi HA komersial
terhadap pengaruh pengocokan dengan aquades
(simulasi proses kumur) untuk melihat perbedaan
struktur mikro yang terjadi.
Upaya infiltrasi tubulus dentin berbasis
hidroksiapatit dalam penelitian ini diprediksikan akan
menghasilkan tumpatan yang cukup dalam (lebih dari
kedalaman yang dihasilkan dari pasta desensitasi
komersial) dan bisa menjawab kebutuhan akan
tumpatan yang lebih tahan pengaruh kumur yang
berakibat pada kembalinya rasa nyeri tajam karena
hilangnya tumpatan.
BAHAN DAN METODE
1. Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini
antara lain bubuk hidroksiapatit (Ca
10
(PO
4
)
6
(OH)
2
),
aquades, H
3
PO
4
2 M, NaOH 1 M ; 1,5 M ; 2 M ; 2,5
M dan 3 M, HCl 0,6 M, serta 7 buah gigi molar
manusia berusia 16-35 tahun (kondisi sehat/normal)
yang diperoleh dari Unit Bedah Mulut FKG
Universitas Airlangga.

2. Metode
Metode dalam penelitian ini adalah presipitasi
kalsium fosfat yang digunakan Ishikawa et al. (1994)
untuk menginfiltrasi tubulus dentin dengan bahan
kalsium fosfat. Ada 2 macam larutan yang digunakan
dalam metode ini, yakni larutan HA dan NaOH
sebagai netralisator. Larutan HA disiapkan dengan
melarutkan bubuk hidroksiapatit dalam larutan H
3
PO
4
2 M. Setelah larutan HA diaplikasikan pada sampel,
larutan NaOH diaplikasikan pada sampel yang sama.
Larutan HA yang bersifat asam akan mengalami
kenaikan nilai pH setelah bercampur dengan larutan
NaOH yang bersifat basa. Campuran kedua larutan
akan menghasilkan larutan dengan suasana netral
sehingga hidroksiapatit yang sebelumnya terlarut
dalam H
3
PO
4
akan terpresipitasi kembali membentuk
gumpalan yang dapat menyumbat saluran tubulus
dentin pada sampel.
Perolehan nilai konsentrasi larutan HA jenuh
yang dijadikan angka patokan variasi dilakukan
dengan menghitung jumlah bubuk HA maksimal yang
dapat larut dalam H
3
PO
4
2 M. Eksperimen dilakukan
dengan membuat larutan HA keruh terlebih dahulu.
Untuk memperoleh HA yang tak larut, digunakan alat
centrifuge (Beckman tipe TJ-R Refrigeration Unit)
dengan memisahkan bubuk HA tak larut (endapan)
dari larutan jenuhnya (supernatan). Pemusingan
dengan centrifuge dilakukan terhadap larutan HA
awal yang masih keruh selama 15 menit dengan
kecepatan 2200 rpm sampai diperoleh endapan pada
dasar tabung centrifuge. Endapan yang diperoleh
dicuci berulang kali dengan aquades hingga kondisi
netral kemudian dipisahkan dari aquades yang tersisa.
Endapan lembab dikeringkan menggunakan oven
pada suhu 100° C selama 1 jam untuk menguapkan
semua aquades yang masih tercampur. J umlah
endapan HA ini digunakan untuk menentukan jumlah
HA maksimal yang larut.
Tabung Durham sebanyak 5 buah disiapkan
mensimulasikan presipitasi yang terjadi pada 5 variasi
larutan HA yang ditentukan. Larutan HA diteteskan
pada kelima tabung masing-masing 1 tetes sesuai
urutan variasinya. Kemudian NaOH 1 M diteteskan
masing-masing juga 1 tetes pada kelima tabung yang
sebelumnya sudah berisi larutan HA untuk
menetralisasi larutan. Kondisi presipitat yang
terbentuk diamati satu per satu selama minimal 6 jam.

3. Karakterisasi
Beberapa uji dilakukan, antara lain uji
karakterisasi SEM dan uji sitotoksisitas MTT Assay.
Hasil dari masing-masing uji kemudian dianalisis.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Penentuan variasi konsentrasi HA
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa nilai
konsentrasi larutan HA jenuh yakni sebesar 0,133 M.
Eksperimen ini dilakukan hanya dengan sekali
percobaan, sehingga peneliti menyatakan bahwa
konsentrasi larutan HA sebesar 0,133 M ini
menggambarkan kondisi larutan yang mendekati tepat
jenuh. Angka 0,133 M inilah yang kemudian menjadi
patokan dalam penentuan angka konsentrasi yang
lain, sehingga diperoleh deretan variasi konsentrasi
0,133 M ; 0,113 M ; 0,093 M ; 0,073 M dan 0,053 M
untuk 5 larutan HA yang digunakan dalam penelitian
ini.
2. Simulasi presipitasi dengan tabung Durham
Simulasi ini dilakukan untuk sedikit memberikan
gambaran proses presipitasi yang terjadi di dalam
tubulus dentin secara kasat mata sebelum
diaplikasikan langsung pada sampel dentin serta
untuk memastikan keberhasilan proses karakterisasi
SEM. Hasil simulasi ini ditunjukkan oleh Tabel 1.
Tabel. 1. Kondisi presipitat dalamtabung Durham



Berdasarkan Tabel 1, NaOH 3 M pada akhirnya
dipilih untuk digunakan sebagai netralisator dalam

B 2
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

penelitian ini karena menghasilkan presipitat yang
mampu bertahan (kuat) dan tidak rontok kembali ke
dasar tabung hingga jam ke-6 bahkan pada seluruh
variasi larutan HA.
3. Hasil SEM
Karakterisasi SEM terhadap tumpatan juga
dilakukan untuk menunjukkan bahwa HA dapat
digunakan untuk menginfiltrasi tubulus dentin, serta
memberikan gambaran pengaruh penambahan
konsentrasi HA dalam metode presipitasi kalsium
fosfat terhadap mikrostruktur tumpatan yang
dihasilkan. Struktur mikro dari presipitat (tumpatan)
sebelum dan sesudah pengocokan dengan aquades
dapat dilihat pada Gambar 1 dan 2.





Gambar 1. Dentin sebelumperlakuan (A) ; tumpatan pasta HAP
komersial (B) ; dan tumpatan HAP 0,133 M (C) ; 0,113 M (D) ;
0,093 M (E) ; 0,073 M (F) dan 0,053 M (G) (Magnifikasi 2500X
untuk semua sampel)
Gambar 1 menunjukkan bahwa larutan HA
dengan konsentrasi 0,133 M (C) menghasilkan
tumpatan yang paling padat (kompak) dan menutup
seluruh permukaan dentin secara merata dibandingkan
dengan keempat konsentrasi lainnya (D-G). Pasta HA
komersial (B) pun terlihat tidak menutup permukaan
dentin secara merata dan masih menyisakan tubulus
dentin yang terbuka.



A B

C D

Gambar 2. Tumpatan HA setelah pengocokan dengan aquades :
pasta HA komersial (A) ; 0,133M (B) ; 0,113M (C) ; 0,093M (D) ;
0,073M (E) dan 0,053M (F) (Magnifikasi 2500X)
Gambar 2 menunjukkan bahwa bahkan setelah
pengocokan dengan aquades, tumpatan dengan
konsentrasi HA 0,133 M (B) masih meninggalkan
tumpatan hingga ke dalam tubulus dentin, tidak hanya
di permukaan saja seperti yang dihasilkan dari larutan
HA konsentrasi 0,073 M (E) yang berupa lapisan
presipitat tipis sehingga banyak bagian yang retak
akibat pengocokan. Pada bagian bawah lapisan yang
hilang pun (tanda panah), tidak terlihat presipitat yang
masih mengisi bagian dalam tubulus dentin.
Sedangkan tumpatan yang dihasilkan pasta HA
komersial menunjukkan tubulus dentin yang makin
terbuka lebar setelah pengocokan dengan aquades
(A). Hal ini relevan dengan pernyataan Strassler
(2008) bahwa efektivitas penggunaan pasta
desensitasi memang baru bisa ditunjukkan setelah
penggunaan rutin selama ±2 minggu.
3. Hasil Uji MTT Assay

Gambar 3. Grafik hubungan antara konsentrasi HA terhadap sel
hidup
A
E F
B
C D
E F
G

B 3
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Gambar 3 menunjukkan bahwa larutan HA 0,093
M ; 0,113 M dan 0,133 M secara berurutan
menyisakan sel hidup sebanyak 34,49 % ; 34,75 %
dan 36,48 %. Hal ini relevan dengan hasil penelitian
Dainti (2010) yang menyatakan bahwa seiring dengan
penambahan konsentrasi HA, maka semakin banyak
pula jumlah sel yang hidup.
Berdasarkan prosentase sel yang hidup, baik
larutan HA 0,093 M ; 0,113 M maupun 0,133 M,
semuanya masih bersifat toksik dikarenakan
menyisakan sel hidup kurang dari 60 %. Hal ini
diduga karena sifat asam larutan HA 0,093 M ; 0,113
M dan 0,133 M yang masih terlalu kuat dengan nilai
pH masing-masing 1,40 ; 1,43 dan 1,49 (hasil
pengukuran dengan pH meter).
KESIMPULAN
1. Karakterisasi SEM (Scanning Electron
Microscopy) menunjukkan bahwa HA dapat
digunakan untuk infiltrasi tubulus dentin.
2. Penambahan konsentrasi HA pada larutan,
menghasilkan presipitat yang lebih padat dan
tebal, dimana konsentrasi 0,133 M menghasilkan
tumpatan terbaik.
3. Peningkatan konsentrasi HA pada larutan,
menunjukkan jumlah sel hidup yang lebih besar,
namun masih dibawah batas ambang toksisitas.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih disampaikan kepada Ibu Ami, Ibu
Yanti, Retno drg., Donny Hernawan, Shindy
Purnamasari, Istifarah, dan semua pihak yang telah
membantu terselesaikannya fullpaper ini.
DAFTAR PUSTAKA
Addy, M., 2002. Dentine hypersensitivity: new
perspectives on an old problem. Int Dent J
Aldo, B., 2002. J r. Laser therapy in the treatment of
Dental hypersensitivity. http://www.walt.nu
Bedi, G., 2011. Clinical and Scanning Electron
Microscopic Evaluation of Various
Concentrations of Potassium Nitrate as a
Desensitizing Agent. Volume 6, Smile Dental
J ournal
Camila, 2006. Efficacy of Gluma Desensitizer®on
dentin hypersensitivity in periodontally treated
patients. Braz Oral Res 2006
Carini, F., 2007. Effects of a ferric oxalate dentin
desensitizier: SEM analysis. Research J ournal
of Biological Sciences
Chu, C., 2010. Management of dentine
hypersensitivity. Dental Bulletin Maret
Dainti, E.A., 2010. Pengaruh Penambahan
Hydroxyapatite Terhadap Karakteristik
Amalgam High Copper Tipe Blended Alloy.
Skripsi Program Sarjana. Surabaya : UNAIR.
Fazrina, N., 2011. Perawatan Non-Invasif
Hipersensitivitas Dentin dengan Pro-Argin.
Skripsi Program Sarjana. Medan : USU.
Imai, Y., 1990. A New Method of Treatment for
Dentin Hypersensitivity by Precipitation of
Calcium Phosphate in situ. J apan : Tokyo
Medical and Dental University.
Ishikawa, K., 1994. Occlusion of Dentinal Tubules
with Calcium Phosphate Solution Followed by
Neutralization. J apan : Tokushima University.
Ismiawati, I.D., 2009. Analisis Sifat Mekanik dan
Struktur Kristal Hidroksiapatit pada Enamel
Gigi Akibat Paparan Laser Nd-YAG. Skripsi
Program Sarjana. Surabaya : UNAIR.
Kerns, D.G., 1991. Dentinal Tubule Occlusion and
Root Hypersensitivity. J ournal Periodontal.
Kielbassa, A.M., 2002. Dentine hypersensitivity:
Simple steps for everyday diagnosis and
management. International Dental J ournal
Muchtaridi, 2006. Kimia 2. Indonesia : Yudhistira.

Orchardson, R., 2006. Managing dentin
hypersensitivity. J Am Dent Assoc
Strassler, H. dan Serio, F., 2008. Dentinal
Hypersensitivity : Etiology, Diagnosis, and
Management. USA : The Academy of Dental
Therapeutics and Stomatology.


B 4
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

PENGARUH VARIASI TEMPERATUR TERHADAP SUSEPTIBILITAS BARIUM
M-HEKSAFERIT TERSUBSTITUSI ION ZN (BAFE
11,4
ZN
0,6
O
19
)
Aghesti W Sudati, M Zainuri, Ariza N Kosasih
Program Studi Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Email : aghesti_07@physics.its.ac.id
Abstrak
Barium M-heksaferrit tersubstitusi, BaFe
11,4
Zn
0,6
O
19
telah berhasil disintesis dengan metode kopresipitasi.
Barium M-heksaferrit tersubstitusi dikarakterisasi dengan cara analisis termal, DSC-TGA, XRD dan
suseptibilitas magnetik. Variasi temperatur adalah 90 ° C, 180 ° C, 270 ° C, dan 300 ° C. Berdasarkan pola
XRD, untuk suhu sintering yang berbeda menghasilkan komposisi fasa yang berbeda. Variasi tersebut juga
menyebabkan suseptibilitas berbagai nilai. Fasa barium M-heksaferrit yang maksimum sebanyak 41,4% dicapai
pada suhu 180 ° C, yang menunjukkan nilai suseptibilitas magnetiknya 7,3 x 10
13
. Hasil ini konsisten dengan
DSC-TGA data yang menunjukkan proses endoterm pada sekitar 180 º C.
Kata kunci : suseptibilitas, ion dopan, barium m- heksaferit

PENDAHULUAN
Barium M-heksaferit oksida adalah senyawa
keramik dengan rumus kimia BaFe12O19. Barium M-
heksaferit memiliki stabilitas kimia yang baik dan
suseptibilitas tinggi. Nilai anisotropi magnetokristallin
dan magnetisasi saturasi yang tinggi mengindikasikan
memiliki aplikasi yang luas ini sehingga BaFe12O19
yang disebut fase ferrit M ini sebagai magnet
permanen (Dwipangga, 2011). Barium M-Heksaferrit
(BaFe12O19) dikenal sebagai magnet permanen
dengan struktur heksagonal yang sesuai dengan space
group P 63/mmc (Smith,1959). Struktur BaFe12O19
memanjang ke arah sumbu z karena berisi 64 atom
dengan a=b=5,89   dan c=23,2  . Ion-ion Ba+2 dan
O-2 memiliki ukuran atom yang hampir sama yaitu
Ba+2 = 0,135 dan O-2 = 0,138, keduanya bersifat non
magnetik. Sedangkan ion Fe+3 bersifat magnet
dengan jari-jari ionik 0,064 dan ion Fe+2 memiliki
jari-jari ionik 0,074 yang menempati posisi intertisi
(Lawrence. 2004). Jadi bahan ini berguna dalam
teknologi peralatan pada kisaran yang cukup lebar.
Namun, gaya koersivitas Hc terlalu tinggi untuk
beberapa aplikasi baru. Untuk mengatasi masalah ini,
ion besi dalam fase- M dapat digantikan oleh kation
lain non logam magnetik hampir ukuran yang sama
(misalnya Zn2+, Al3+, Co2+, Ti4+).
Berbagai upaya telah dilakukan untuk
pengembangan prosedur sintesis yang mengarah ke
kontrol yang lebih baik dari partikel, morfologi
(hexagonal plates) dan homogenitas, karena metode
konvensional keramik keramik tidak lagi maksimal.
Akhir – akhir ini, BaFe
12
O
19
dihasilkan melalui
proses kristalisasi dengan menggunakan metode
matrik kaca, metode hidrotermal, metode salt melting
, metode sol - gel, dan kopresipitasi. Metode
kopresipitasi pada penelitian ini adalah metode yang
mudah untuk menghasilkan prekursor heksaferit. Pada
tulisan ini kami menyajikan hasil sintesis
konvensional heksaferit tersubstitusi dan sehingga
diperoleh sifat magnet yang diharapkan (Dian,2011).
METODELOGI PENELITIAN
Serbuk BaFe
11,4
Zn
0,6
O
19
dihasilkan dengan
metode kopresipitasi. Material yang akan digunakan
dalam penelitian ini adalah Barium Carbonat
(BaCO
3
), Iron (III) Cloride Hexahidrate (FeCl
3
.
6H
2
O) sebagai material dasar, Serbuk Zn
proanalisi(PA) sebagai material dopan, larutan HCl
37% 12,063 M, NH
4
OH 25% 6,5 M, dan Aquades.
Proses sintesis BaFe
11,4
Zn
0,6
O
19
dengan konsentrasi
x= 0. 6 yaitu dengan melarutkan BaCO
3
, Zn dan
FeCl
3
. 6H
2
O dalam HCl. Larutan di aduk dengan
magnetic stirrer hingga homogen dan berwarna
orange merah bata kemudian larutan diendapkan
dengan NH
4
OH hingga berbentuk seperti pasta.
Larutan dibiarkan mengendap dan disaring hingga
pH=7. Proses sintesis Barium M-Heksaferrit doping
Zn dengan metode kopresipitasi yang ditunjukkan
pada gambar 1.









Gambar 1. Proses sintesis prekursor serbuk Barium M-Heksaferrit
(a) larutan HCl; (b) serbuk Zn dan BaCO
3
dalam larutan HCl; (c)
serbuk Zn dan BaCO
3
yang tercampur homogen; (d) serbuk Zn,
BaCO
3
dan larutan FeCl
3
.H
2
O dalam larutan HCl; (e) pembilasan
dengan aquades; (f) penyaringan dengan kertas saring; (g) serbuk
prekursor Barium M-Heksaferrit.


B 5
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Material hasil pengendapan tersebut didrying
pada temperatur 80
o
C selama 4 jam dan didapatkan
serbuk barium M-heksaferrit doping Zn. Sampel yang
didapat dikarakterisasi dengan DSC-TGA untuk
mengetahui temperatur terjadinya perubahan fasa
kemudian sampel dikalsinasi pada temperatur 180
o
C,
270
o
C, dan 300
o
C selama 4 jam. Selanjutnya untuk
mengidentifikasi fasa yang terbentuk pada sampel
dilakukan uji XRD (X-Ray Diffractomter) dan
Magnetic Susceptibility Balance Sherwood Scientific.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Karakterisasi Transformasi Fasa
Berdasarkan pengujian DSC/TGA diperoleh
grafik seperti pada Gambar 2. Dari grafik DSC –
TGA dapat dilihat pengurangan massa seiring
perubahan temperatur. Pada temperatur antara 0°C –
70°C, tidak terjadi perbedaan temperatur antara
sampel referensi dan sampel itu sendiri. Hal ini
mengindikasikan bahwa pada range ini terjadi
penguapan dari air, ion klorida, dll, tetapi pada
temperature 80°C terdapat gejala endotermik. Hal ini
menunjukkan pada temperature ini terjadi
pembentukan fasa baru. Pembentukan fasa baru ini
dapat diketahui melalui pengujian lebih lanjut
menggunakan XRD.








Gambar 2. Kurva DSC/TGA prekursor Barium M-Heksaferrit
B. Identifikasi Fasa BaFe
11,6
Zn
0,6
O
19

Metode yang digunakan untuk mengkarakterisasi
bahan uji hasil percobaan menggunakan difraksi
sinar-x dengan Tipe Philips X’Pert MPD (Multi
Purpose Diffractometer) system terdapat di
Laboratorium Difraksi Sinar-X RC (Research Center)
LPPM ITS Surabaya, dengan menggunakan panjang
gelombang CuK_ 1,54 Ao, 40 kV, 30 mA.
Berdasarkan data DSA/TGA diatas tejadi gejala
endotermik pada suhu-suhu tertentu yang
memungkinkan adanya reaksi kimia yang terjadi pada
rentang suhu tersebut maka dilakukan pemanasan
pada suhu 100
o
C, 180
o
C, 270
o
C, dan 300
o
C untuk
mengetahui pada temperatur terbentuknya fasa barium
M-hexaferrit yang didopan Zn. Sampel hasil
pemanasan dikarakterisasi dengan menggunakan
difraksi sinar x dengan pola difraksi (sudut 2θ) dan
mengikuti persamaan Bragg 2dhklsinqB=nl.
Identifikasi fasa hasil XRD dianalisis menggunakan
metode Rietveld dengan software High Score Plus.

0
0
0
0
Gambar 3 Pola Difraksi BaFe
11,6
Zn
0,6
O
19

Pola difraksi sinar-x dengan variasi temperatur
ditunjukkan pada gambar 3. Tampak bahwa pada
pemanasan suhu 90
o
C, 180
o
C, 270
o
C dan 300
0
C
terdapat kesamaan pola difraksi. Pada suhu
pemanasan 90
0
C diskitar sudut 29 terdapat puncak
tetapi semakin tinggi temperatur maka puncak
tersebut hilang. Hasil Refinement dengan
menggunakan software X'Pert HighScore Plus
ditunjukkan pada tabel 1.
Tabel 1. Hasil Komposisi Fasa BaFe
11,6
Zn
0,6
O
19
Phasa No Temperatur
Kalsinasi (
0
C) I (%) II (%)
1 90
0
C 18,93 81,07
2 180
0
C 41,36 39,68
3 270
0
C 28,49 71,51
4 300
0
C 56,43 43,57

Keterangan: Phase I: barium M-hekaferrit dopan Zn
Phase II: hematit (α-Fe2O3)
C. Analisis Mikrostruktur
Analisa mikrostruktur serbuk Barium M-
Heksaferrit menggunakan pengujian SEM (Scanning
Electron Microscopy) adalah suatu alat yang
digunakan untuk mengetahui morfologi atau struktur
mikro permukaan dari zat padat. Alat ini dilengkapi
dengan detektor dispersi energi (EDX) sehingga dapat
digunakan untuk mengetahui komposisi elemen-
elemen pada sampel yang dianalisis. Adapun tujuan
SEM-EDX dalam penelitian ini adalah untuk
mengetahui kegradulaan struktur mikro dan
komposisi unsur dalam serbuk Barium M-Heksaferrit
doping ion
Hasil SEM pada gambar di atas terlihat bahwa
ukuran partikel dalam serbuk Barium M-Heksaferrit
berukuran mikrometer, yaitu sebesar 0,5 μm.


B 6
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012


Gambar 4. Morfologi serbuk Barium M-Heksaferrit pada
pemanasan 150
o
C
D. Analisis Sifat Kemagnetan
Pengujian sifat kemagnetan dengan menentukan
suseptibilitas barium M-heksaferit dilakukan di
laboratorium fisika zat padat Fisika ITS. Alat yang
digunakan adalah Magnetic Susceptibility Balance
Sherwood Scientific. Hasil pengujian suseptibilitas
terlihat pada tabel 2. Pada temperatur 90
0
C dan 270
0
C
nilai suseptibilitasnya berkisar 5 x 101
3
. Sedangakn
pada temperatur 180
0
C dan 300
0
C suseptibilitasnya
berkisar 7 x 10
13
. Hal ini dikarenakan phase – phase
yang terbentuk disetiap temperatur menghasilkan
jumlah phase yang berbeda – beda sesuai dengan
tabel 1. Barium M-heksaferit memiliki sifat
kemagnetan yang lebih tinggi dibandingkan dengan
hematite sehingga semakin banyak phase barium M-
heksaferit yang terbentuk makan akan semakin tinggi
pula sifat kemagnetannya. Kehadiran Ion Zn
2+
ini
sebagai pengganggu dalam kemagnetan ferit
oksida.Dalam struktur barium M-heksaferrit terdapat
ion Fe
3+
dengan jari-jari ioniknya 0.065 nm, sehingga
dimungkinnya kehadiran Ion Zn
2+
akan menggantikan
Fe
3+
, hal ini dikarenakan kemiripan dimensi ionik
antara ion Fe
3+
dengan Zn
2+,
namun penambahan Zn
Pada Barium M-Heksaferrit juga berpengaruh pada
parameter kisi dan temperatur curie dari material
tersebut. Menyusupnya ion Zn
2+
pada struktur M-
heksagonal menggantikan ion Fe
3+
, namun tidak
merubah stuktur Kristal yang sudah ada, kehadiran
Zn
2+
ini untuk menurunkan sifat kemagnetan barium
M-hexaferrit sehingga sifatnya menjadi lebih lunak.
Penambahan Zn
2+
dengan momen magnet yang lebih
rendah akan mereduksi sifat magnetik ferrit (Rosler,
2003). Ketika dilakukan substitusi ion Zn pada ion Fe,
maka konsentrasi ion doping sangat menentukan
momen magnet total material yang terbentuk. Zn
2+

dengan konfigurasi elektron [Ar]3d10 yang memiliki
momen magnet 0μB. Ini berarti bahwa adanya doping
Zn pada ion Fe
3+
(momen magnet totalnya 5μB)
berpotensi menurunkan magnetisasai saturasi yang
berakibat pada menurunnya medan koercivitas
magnetokristalinnya (Ozgur, 2009).

Tabel 2. Hasil Suseptibilitas Fasa BaFe
11,4
Zn
0,6
O
19

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di
atas, dapat diambil kesimpulan sebagi berikut:
1. Variasi temperatur sangat berpengaruh
terhadap pembentukan struktur
BaFe
11,4
Zn
0,6
O
19

2. Tersubstitusinya fasa BaFe
12
O
19
dengan ion
dopan Zn tidak merubah struktur dasar dari
barium hexaferrit yaitu hexagonal.
3. Variasi temperatur sangat berpengaruh
terhadap suseptibilitas BaFe
11,4
Zn
0,6
O
19

UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Jurusan Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember
(ITS) untuk dukungan dana yang telah diberikan.
DAFTAR PUSTAKA
Aghesti. 2011. Sintesis dan karakterisasi Komposit
Isotropik resin Epoksi-Polianilin /Barium M-
Heksaferrit BaFe
12-2x
Co
x
Zn
x
O
19
sebagai
Material Antiradar. Institut Teknologi Sepuluh
Nopember : Surabaya
Dian Yuliana. 2011. Pengaruh Variasi Temperatur
Terhadap Pembentukan Struktur Kristal
Barium M-Heksaferrit Tersubstitusi Ion Dopan
Zn. Institut Teknologi Sepuluh Nopember :
Surabaya
Dwi Pangga. 2011. Pengaruh substitusi Ion Dopan
Co/Zn Terhadap Struktur Kristal Barium M-
Heksaferrit (BaFe
12
O
19
). Institut Teknologi
Sepuluh Nopember : Surabaya
Efendi, dkk. 2003. Struktur Mikro dan Sifat Magnetik
Barium Heksaferit Hasil Pemanduan Mekanik
Oksida CRM. Jurnal Elektronika dan
Telekomunikasi. ISSN 1411-8289.
El Indahnia. 2011. Sintesis Serbuk Barium Heksaferrit
Dengan Metode Kopresipitasi Pada
Temperatur Rendah. Institut Teknologi
Sepuluh Nopember : Surabaya.
Geiler, dkk. 2007. BaFe
12
O
19
Thin Films Grown at
the Atomic Scale from BaFe
2
O
4
and α-Fe
2
O
3

Target. Applied Physics Letter 91, 162510.
Lawrence. 2004. Elemen-elemen Ilmu dan Rekayasa
Material. Erlangga : Jakarta.
Linda. 2011. Pengaruh Ion Doping Co/Zn Terhadap
Sifat Kemagnetan Barium M-Heksaferrit
BaFe
12-2x
Co
x
Zn
x
O
19
. Institut Teknologi
Sepuluh Nopember : Surabaya.

B 7
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Mallick, dkk. 2007. Magnetic Properties Cobalt
Substituted M-type Barium Hexaferritte
Preparedby Co-Precipitation. Journal of
Magnetism Material 312 (2007) 418-429.
Ozgur et al. 2009. Microwave Ferrites, Part 1 :
Fundamental Properties. Journal of Material
Science : Material in Electronics.
Rosler, dkk. 2003. Synthesis and Characterization of
Hexagonal ferrites BaFe
12-2x
Zn
x
Ti
x
O
19
(0≤ x
≤2) by Thermal Decomposition of Freeze-dried
Precursors. Crystal research and Technology.
Vol. 38, No. 11, hal. 927 – 934.
Smith & Wijn. 1959. Physical Properties of
Ferrimagnetic Oxides in Relation to Their
Technical Application. Netherland : Phillips
Researc.
Snoek, J.L. 1947. New Development in
Ferromagnetics Material. New York
Tang, Xin. 2005. Influence of synthesis Variables on
The Phase Component and Magnetic
Propertiesof M-Ba-ferrite Powders Prepared
Via Sugar-Nitrates Process. Journal of
Material Science. ISSN 0022-2461.
Wang, F. Y, (1976), Franklin.Treatise on Materials
Science and Technology Ceramic Fabrication
Processes, Academic Press, INC. New York.



B 8
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

PENGARUH PENAMBAHAN HIDROKSIAPATIT TERHADAP
KARAKTERISTIK AMALGAM HIGH COPPER TIPE BLENDED ALLOY
Aminatun, Siswanto, Ertika Auliana Dainti
Program Studi Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga
Email : ami_sofijan@yahoo.co.id
Abstrak
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan hidroksiapatit (HA) terhadap karakteristik
amalgam high cooper tipe blended alloy. Karakteristik yang dimaksud meliputi sifat mikro (uji XRD), sifat
mekanik (kekerasan dan kuat tekan) dan sifat fisis (densitas). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
persentase HA pada amalgam high cooper tipe blended alloy yang berpotensi untuk diaplikasikan sebagai
bahan restorasi gigi. Sampel penelitian berupa paduan dari serbuk amalgam dan merkuri dengan perbandingan
1:1 dan dilakukan penambahan HA berturut-turut 2.5%, 5%, 7.5% dan 10%. Serbuk ini dicampur menggunakan
amalgamator selama 20 detik, kemudian dicetak dan didinginkan pada suhu kamar selama 24 jam. Berdasarkan
hasil uji XRD diperoleh senyawa penyusun amalgam terdiri dari Ag
2
Hg
3
, Cu
6
Sn
5
, Ag
3
Sn, Cu
5
Zn
8
dan
Ca
10
(PO4)
6
(OH)
2
/HA. Kekerasan, densitas dan kuat tekan amalgam meningkat seiring dengan penambahan
persentase HA. Amalgam ditambah HA sebesar 10% memiliki karakteristik yang lebih baik untuk diaplikasikan
sebagai bahan restorasi gigi.
Kata kunci : amalgam high cooper type blended alloy, hidroksiapatit, sifat mikro, sifat mekanik dan sifat fisis
PENDAHULUAN
Gigi adalah bagian keras yang terdapat di dalam
mulut dari sebagian besar vertebrata. Fungsi umum
gigi adalah sebagai penghancur makanan secara
mekanis. Gigi pada manusia juga berfungsi untuk
membantu seseorang agar dapat berbicara dengan
jelas (fungsi fonetik). Seiring bertambahnya usia,
semakin besar kerentanan gigi seseorang untuk rusak.
Hal ini berdampak pada meningkatnya kebutuhan
akan restorasi gigi. Oleh karena itu, penelitian tentang
bahan untuk restorasi gigi merupakan kajian yang
menarik.
Salah satu bahan yang digunakan untuk restorasi
gigi adalah amalgam. Amalgam jenis high copper
tipe blended alloy merupakan salah satu dari berbagai
jenis amalgam yang mempunyai kandungan tembaga
tinggi (12 % atau lebih) dengan Zn 1% (Pittford,
1993). Penulisan amalgam high copper tipe blended
alloy selanjutnya disebut amalgam HCB.
Amalgam HCB yang digunakan saat ini masih
mempunyai kelemahan yaitu tidak mempunyai sifat
adhesi terhadap lapisan gigi sehingga berpotensi
memunculkan celah antara tambalan dengan gigi.
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan
teknologi, maka perlu dilakukan penelitian untuk
memperbaiki kelemahan amalgam tersebut. Salah satu
upaya untuk memperbaikinya adalah dengan
menambahkan Hidroksiapatit.
Keramik hidroksiapatit merupakan salah satu
bahan yang paling efektif sebagai bahan bio keramik
yang digunakan dalam bidang ortopedi atau dental
sebagai bahan implantasi untuk memperbaiki bagian
yang rusak akibat dari kecelakaan atau karena
penyakit. Bahan ini mempunyai kelebihan terutama
karena tahan korosi dan bersifat bioaktif yang dapat
membentuk pertautan pada antar bahan tersebut
dengan jaringan tubuh. Disamping itu, hidroksiapatit
juga merupakan material yang biokompatibel, tidak
bereaksi dengan bagian-bagian tubuh yang lain serta
dapat menyatu dengan tulang. Oleh sebab itu material
ini banyak ditemukan dalam struktur tulang atau gigi,
baik manusia maupun hewan (Park, 2003)
Hidroksiapatit akhir-akhir ini juga digunakan
sebagai bahan tambahan pada amalgam.
Hidroksiapatit merupakan salah satu material
biokompatibel yang memiliki kemiripan dengan
komponen gigi sehingga dapat digunakan sebagai
pengisi (filler) yang dapat memperbaiki sifat dari
paduan amalgam. (Park, 2007).
Berdasarkan potensi yang dimiliki
Hidroksiapatit, maka perlu dilakukan penelitian
untuk mengetahui pengaruh Hidroksiapatit terhadap
karakteristik amalgam HCB.
BAHAN DAN METODE
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah amalgam high copper tanpa seng (Ag 55%, Sn
28.7% dan Cu 16.3%), bubuk Zn, bubuk HA, Hg,
kertas tebal, kertas gosok paling halus, lilin malam
dan alkohol
Alat-alat yang digunakan untuk membuat sampel
antara lain amalgamator, matriks band, gunting,
neraca, petridisk, gelas beker dan pipet plastik. Alat
yang digunakan untuk karakterisasi sampel antara lain
alat uji XRD (untuk mengetahui sifat mikro), alat
Vickers Hardness Test untuk uji kekerasan dan uji
kekuatan tekan dengan Autograph
Pembuatan sampel
Dua gram bubuk amalgam dari pabrik ditambah
1% Zn dan HA masing-masing 2.5%, 5%, 7.5% dan
10% berat bubuk amalgam. Bubuk tersebut dicampur
merkuri dengan perbandingan 1:1. Campuran antara

B 9
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

amalgam dan merkuri tersebut selanjutnya
dimasukkan ke dalam kapsul amalgam. Kemudian
kapsul amalgam diletakkan pada amalgamator dan
dijalankan selama 20 detik dengan kecepatan
amalgamator saat mengaduk adalah sebesar 4400rpm.
Kelima sampel hasil proses diatas dimasukkan ke
dalam matriks band dan dicetak bentuk silinder
dengan tebal 0,4cm dan diameter 1cm. Sampel
amalgam yang sudah berupa silinder dibiarkan
mengeras pada suhu kamar (27
0
C) selama 24 jam.
Sampel siap untuk dikarakterisasi.
Karakterisasi meliputi uji sifat mikro dengan
XRD, uji kekerasan, kekuatan tekan dan densitas.
Untuk mendapatkan informasi senyawa penyusun
amalgam dan fase impuritas pada sampel digunakan
alat x- Ray Diffractometer (XRD). Fraksi volume
yang terbentuk dihitung menurut persamaan berikut.

x100%
I
) I(f
) Fv(f
total
n
n

(1)
dimana, I(f
n
) adalah intensitas fase-n yang ditinjau
dan I
total
adalah intensitas keseluruhan dari data XRD
yang dihasilkan.
Pengamatan struktur mikro dilakukan untuk
melihat morfologi permukaan sampel. Alat yang
digunakan adalah mikroskop metalurgi dengan
pembesaran 100x. Permukaan sebelum direkam harus
dalam keadaaan bersih dan halus. Pengamatan yang
dilakukan meliputi pengamatan keadaan pori-pori,
distribusi butir dan keteraturannya. Pengambilan foto
dilakukan dengan meletakkan sampel di bawah lensa
objektif mikroskop kamera. Fokus diatur dengan cara
menaik-turunkan lensa dan mengamati mikrostruktur
sampel pada layar komputer yang dilengkapi dengan
program Scope Image Advanced User Manual.
Setelah menemukan posisi fokus sampel dilakukan
pengambilan gambar.
Densitas sampel dihitung menggunakan persamaan:
V
m
 
(2)
Pengukuran tingkat kekerasan dilakukan dengan
menggunakan alat uji MicroVickers Hardness Test
dengan prosedur sebagai berikut. Sampel amalgam
berbentuk silinder dengan ukuran tebal 0,4 cm dan
diameter 1cm ditekan dengan menggunakan intan
berbentuk piramid dengan sudut kemiringan 136
0
.
Akibat penetrasi pada permukaan sampel tersebut
akan diperoleh berkas-berkas diagonal yang dapat
diamati pada alat sebagai nilai d
1
(panjang diagonal
piramid 1), d
2
(panjang diagonal piramid 2) dan P
(Beban). VHN (Vickers Hardness Number/ tingkat
kekerasan Vickers ) dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan :
2
854 . 1
d
P
VHN 
(3)
Pengukuran kuat tekan dilakukan dengan
langkah-langkah sebagai berikut. Mula-mula
permukaan bagian atas dan bawah dari sampel yang
berbentuk silinder dihaluskan dengan amplas.
Kemudian sisi sampel yang meliputi tebal (t) dan
diameter (d) di ukur dengan menggunakan jangka
sorong. Sampel ditempatkan pada bagian penekan
mesin uji tekan, kemudian mesin dinyalakan sehingga
bagian penekan akan menekan permukaan sampel
sampai hancur. Besarnya beban (P) yang digunakan
untuk menekan sampel sampai hancur dapat dilihat
pada alat. Dari data yang telah diperoleh kemudian
dihitung kuat tekan dengan menggunakan persamaan:

(4)
A
F
 

HASIL DAN DISKUSI
Sifat Mikro (uji XRD) Amalgam HCB
Dari hasil search match yang telah diperoleh
dapat diketahui bahwa senyawa penyusun amalgam
ditambah HA adalah Ag
2
Hg
3
, Cu
6
Sn
5
, Ag
3
Sn,
Cu
5
Zn
8
dan Ca
10
(PO
4
)
6
(OH)
2.
Hasil Search Match
menunjukkan bahwa dengan penambahan HA tidak
menghasilkan senyawa baru selain senyawa pada
reaksi amalgamasi. Hasil search match sampel
dengan HA yang bervariasi secara berturut-turut 0%,
2,5%, 5%, 7,5% dan 10% ditunjukkan pada Gambar
1.
Perhitungan Fraksi volume
Gambar 2. Fraksi volume senyawa penyusun amalgamHCB
Dari grafik perhitungan fraksi volume di atas
menunjukkan bahwa seiring dengan penambahan
konsentrasi HA maka fraksi volume senyawa HA
semakin meningkat. Hal ini diduga karena HA dengan
ukuran parikel yang sangat kecil (20nm) menyusup di
sela-sela Ag, Sn, Cu dan Zn dengan ukuran partikel
15-35µm, sehingga semakin banyak HA yang
ditambahkan maka semakin banyak pula ruang
kosong yang dapat diisi oleh HA. Menyusupnya HA
ini didukung oleh Zn dimana saat Zn memecah
lapisan oksida yang melingkupi AgSn, maka HA akan
mengisi sela-sela antar butir.








B 10
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012



Gambar 1 : Hasil uji XRD
Morfologi Permukaan Amalgam HCB
Hasil pengamatan morfologi permukaan pada HA
0%(A) dan 10%(B) ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Morfologi permukaan amalgamHCB
A
B
Berdasarkan pengamatan morfologi permukaan
di atas diperoleh bahwa semakin meningkat
konsentrasi HA maka semakin sedikit jumlah pori-
pori yang muncul.
Pada sampel dengan konsentrasi HA 10%
menghasilkan pori yang paling sedikit. Sedangkan
pada amalgam dengan HA 0% diperoleh profil
permukaan sampel yang memiliki jumlah pori yang
banyak. Hasil pengamatan morfologi ini seiirng
dengan hasil pengukuran densitas yaitu semakin
tinggi HA semakin besar densitasnya.
Densitas amalgam HCB
Grafik HubunganAntaraDensitas TerhadapKonsentrasi
HAP
10.3
10.5
10.7
10.9
11.1
11.3
-2.5 0 2.5 5 7.5 10
Konsentrasi HAP (%)
Densitas(g/cm3)

Gambar 3. Grafik densitas amalgamHCB dengan variasi HA
Grafik hasil pengukuran densitas (Gambar 3)
menunjukkan bahwa nilai densitas semakin besar
seiring dengan penambahan HA. Hasil pengukuran
densitas ini sejalan dengan hasil dari mikroskop
metalurgi dan porositas. J umlah pori yang semakin
kecil sejalan dengan nilai densitas yang semakin
besar. Hal ini dapat terjadi dikarenakan HA mengisi
sela-sela kosong sehingga pori yang tersisa juga
semakin sedikit.
Semakin besar nilai densitas amalgam maka
semakin rapat ikatan antar senyawa dalam amalgam.
Besarnya nilai densitas ini juga dipengaruhi oleh
proses kompaksi (pencetakan) karena besarnya
tekanan saat kompaksi sangat mempengaruhi
distribusi butir penyusun amalgam.

B 11
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Tingkat Kekerasan Amalgam HCB
Grafik HubunganAntaraKekerasanTerhadapKonsentrasi
HAP
140
155
170
185
200
215
-2.5 0 2.5 5 7.5 10
Konsentrasi HAP (%)
Kekerasan
(VHN)

Gambar 4. Tingkat Kekerasan amalgamHCB dengan variasi HA
Gambar 4 menunjukkan bahwa semakin besar
konsentrasi HA maka semakin besar pula nilai
kekerasannya. HA memiliki tingkat kekerasan yang
sangat tinggi, sehingga semakin besar kandungan HA
pada amalgam maka semakin meningkatkan nilai
kekerasan amalgam.
Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
amalgam HCB ditambah HA berpotensi untuk
restorasi gigi dengan nilai kekerasan antara 155,2
sampai 209,6 kgf/mm
2
, sedangkan nilai kekerasan
amalgam secara umum adalah sebesar 71-360
kgf/mm
2
.
Kuat tekan Amalgam HCB
Grafik HubunganAntaraKuat TekanTerhadap
Konsentrasi HAP
200
225
250
275
300
-2.5 0 2.5 5 7.5 10
Konsentrasi HAP (%)
Kuat Tekan
(MPa)

Gambar 5. Nilai Kuat Tekan AmalgamHCB dengan Variasi HA
Gambar 5 menunjukkan bahwa terjadi
peningkatan kuat tekan seiring dengan penambahan
konsentrasi HA. Hasil dari kuat tekan ini sangat
dipengaruhi oleh besarnya kekuatan ikat antar
senyawa dalam paduan dan kekuatan dari keseluruhan
bahan dalam paduan yang saling mengikat dan
menata diri. Nilai kuat tekan ini mewakili kekuatan
seluruh bagian dari sampel. Dari hasil kekuatan tekan
pada penelitian ini, semua sampel telah memenuhi
syarat untuk digunakan sebagai bahan implan pada
tulang gigi (90-300)MPa. Kekuatan bahan yang tinggi
terhadap tekanan sangat diperlukan dalam aplikasi
implan gigi. Kekuatan implan yang tinggi dapat
menguragi resiko patah pada saat terjadi benturan,
karena jika terjadi perpatahan di dalam jaringan
tentunya akan menimbulkan masalah.
Berdasarkan hasil uji sifat mekanik berupa
kekerasan dan kuat tekan maka dapat dinyatakan
bahwa HA mempengaruhi kedua sifat tersebut pada
amalgam khususnya amalgam high cooper tipe
blended alloy. Semakin tinggi konsentrasi HA pada
amalgam semakin tinggi pula sifat mekanik yang
dihasilkan. Dengan demikian kehadiran HA pada
amalgam dapat meningkatkan kualitas amalgam
sebagai material restorasi gigi. Di sisi lain HA
mempunyai kelebihan terutama karena tahan korosi
dan bersifat bioaktif yang dapat membentuk pertautan
antar bahan tersebut dengan jaringan tubuh. HA juga
merupakan material yang biokompatibel, tidak
bereaksi dengan bagian-bagian tubuh yang lain.
Dengan demikian penambahan HA pada amalgam
high cooper tipe blended alloy sangat berpotensi
untuk dimanfaatkan sebagai restorasi gigi.
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan
maka dapat ditarik kesimpulan penelitian sebagai
berikut.
1. Semakin besar konsentrasi Hidroksiapatit /HA
maka semakin meningkatkan sifat mekanik
(kekerasan dan kuat tekan) dan densitas amalgam
HCB.
2. Persentase Hidroksiapatit (HA) sebesar 10%
memberikan sifat amalgam terbaik.
3. Amalgam HCB pada penelitian ini memiliki
potensi untuk digunakan sebagai bahan restorasi
gigi.
DAFTAR PUSTAKA
Combe E. C., 1992, Notes and Dental Materials, 6 th
edition Churchill Livingstone, Edinburgh,
London.
Craig R. G. & Peyton, F. A., 1994, Restorative Dental
Material, 6 th edition, The C. V. Mosboy
Company, St. Louis.
Craig R. G., O’Breig, W. J. & Power, J. M., 1994,
Material Properties and Manipulation, 4 th
edition, The C. V. Mosboy Company, St.
Louis, Toronto, London.
Park, John and Lakes, R.S., 2007. Biomaterials in
Introduction. Third editions. Spinger. Science
and Busines Media LLC.
Park, J oon B. Bronzino, J oseph D. 2003. Biomaterial
Prinsiples and Applications.Vol 1.USA :CRC
Press
Pittford, T. R., 1993, Restorasi Gigi, Edisi Kedua,
EGC,J akarta.
Ratner D.Buddy, Allan S. Hoffman. 1996.
Biomaterial science : An introduction to
materials in medicine. Academic Press : USA.
Smallman.R.J , Bishop.R.J .2000. Metalurgi Fisik
Modern dan Rekayasa material. Edisi
keenam.Penerbit Erlangga, J akarta

B 12
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ABSORBENT DRESSING SPONGE BERBASIS ALGINAT-KITOSAN
BERKURKUMIN UNTUK LUKA DERAJAT EKSUDAT SEDANG-BESAR
Arindha Reni Pramesti
1
, Dyah Hikmawati
2
, Nanik Siti Aminah
3

1
Program Studi Teknobiomedik Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga
2
Staf Pengajar Departemen Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga
3
Staf Pengajar Departemen Kimia Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga
Email : semnasfisika@unair.ac.id
Abstrak
Telah dilakukan sintesis absorbent dressing sponge berbahan alginat, kitosan, dan kurkumin. Metode yang
dilakukan adalah dengan teknik freeze dry selama 24 jam pada suhu -80
0
C dan dilanjutkan pengeringan dalam
lyophilizer selama 24 jam. Hasilnya dikarakterisasi dengan menggunakan FTIR, uji absorb dengan larutan PBS
(Phospate Buffer Saline) pH 7,4, uji kadar air dengan electronic moisture balance, dan uji sitotoksisitas dengan
MTT assay. Uji in vivo dilakukan pada mencit selama 3 hari dan dibuat preparat histologinya. Hasil FTIR
membuktikan serapan alginat, kitosan, kurkumin tergabung secara kimia ditunjukkan dengan munculnya pita
serapan khas yaitu adanya gugus hidroksi (-OH) dan amina primer (-NH
2
) dari kitosan, O-Na dari alginat, dan
C=C aromatik dari kurkumin. Sponge yang memiliki daya absorb baik dan tidak hancur ketika menyerap cairan
PBS adalah sponge dengan perbandingan alginat:kitosan 1:2 , 0:4, dan 1:4 dengan persentase absorb masing-
masing 2547%, 2066%, dan 1749%. Ketiganya juga menunjukkan hasil tidak toksik pada uji MTT dengan
persentase sel hidup lebih dari 100%. Hasil uji kadar air dan pengamatan histopatologi anatomi pada sponge
alginat:kitosan 0:4, 1:4, dan 1:2 bersesuaian dimana semakin banyak persentase kadar airnya maka re-
epitelisasi dan kepadatan kolagen yang terbentuk makin bagus karena kadar air yang tinggi menciptakan
lingkungan luka menjadi lembab (moist) sehingga mempercepat proses penyembuhan luka. Sponge
alginat:kitosan 0:4, 1:4, dan 1:2 memiliki persentase kadar air 42,9% , 32,7%, dan 20,4%. Sedangkan
persentase re-epitelisasinya 100%, 100%, dan 88% dengan tingkat kepadatan kolagen sangat rapat, rapat, dan
kerapatannya sedang.
Kata kunci : absorbent dressing sponge, alginat, kitosan, kurkumin

PENDAHULUAN
Dressing (balutan) luka merupakan suatu material
yang digunakan untuk menutupi luka. Tujuan dari
penutupan luka ini adalah untuk melindungi luka dari
infeksi eksternal sampai penyembuhan alami terjadi
dan dari gesekan dengan pakaian (Johnson, 2004).
Pemilihan dressing (balutan) yang tepat merupakan
hal yang penting dalam perawatan luka. Prinsip dasar
dalam memilih dressing (balutan luka) yang optimal
antara lain jika luka kering maka harus dilembabkan,
jika luka memiliki eksudat yang luas maka cairan
harus diserap, jika luka memiliki jaringan nekrotik
atau debris asing maka jaringan tersebut harus
dibuang, dan jika luka mengalami infeksi maka harus
diterapi dengan antibiotik (Medika J urnal Kedokteran
Indonesia, 2010).
Absorbent dressing merupakan balutan untuk
menyerap eksudat luka karena prinsip perawatan luka
adalah menciptakan kondisi lembab bukan basah
(Pangayoman, 2009). Absorbent dressing
konvensional yang masih dipakai hingga sekarang
adalah kasa sedangkan Absorbent dressing modern
antara lain yang berjenis hidrokoloid dan natrium
alginat (Medika J urnal Kedokteran Indonesia, 2010).
Kasa memiliki beberapa kelemahan di antaranya
mengkondisikan lingkungan luka dari basah menjadi
kering. Hal ini menyebabkan epitel yang terbentuk
menempel pada kasa sehingga saat kasa diambil
menimbulkan rasa sakit. Penggunaan Absorbent
dressing modern seperti natrium alginat diharapkan
dapat mengurangi ketidaknyamanan tersebut karena
natrium alginat berubah menjadi gel ketika menyerap
eksudat sehingga tidak menempel pada epitel kulit.
Selain itu, penggantian balutan natrium alginat dapat
dilakukan selama 3-4 hari sekali karena alginat
bersifat antimikroba sedangkan jika menggunakan
kasa perlu penggantian setiap hari untuk menghindari
timbulnya infeksi (Ovington, 2002). Balutan luka dari
natrium alginat saat ini masih diimpor dari luar
negeri. Harga alginat cukup tinggi sehingga
menyebabkan harga balutan luka natrium alginat
mahal. Bahan baku alginat berasal dari rumput laut
coklat (Sargasum sp.) yang melimpah di Indonesia
(Mutia, 2009).
Kitosan merupakan senyawa kimia yang
merupakan derivate atau turunan dari senyawa kitin.
Kitin umumnya diisolasi dari kerangka hewan
invertebrata misalnya cangkang Crustaceae sp, yaitu
udang, lobster, kepiting, dan hewan laut yang
bercangkang lainnya. Kitosan bersifat non toksik,
biokompatibel, biodegradabel, dan polikationik dalam
suasana asam dan dapat membentuk gel apabila
kontak dengan air karena adanya ikatan silang yang
terjadi dalam struktur (Sembiring, 2011).

B 13
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Respon tubuh setelah mengalami luka adalah
terjadi proses inflamasi atau peradangan. Saat
peradangan terjadi rangkaian reaksi yang
memusnahkan agen yang membahayakan jaringan
dan mencegah agen menyebar lebih luas. Agen yang
membahayakan ini misalnya kuman, bakteri, mikroba,
dan lain-lain yang dapat menghambat proses
penyembuhan luka. Optimalisasi proses penyembuhan
luka dapat dibantu dengan penambahan agen terapi.
Agen terapi ini berupa zat atau bahan yang berfungsi
menghambat pertumbuhan kuman, mikroba, jamur,
bakteri, dan lain-lain. Salah satu agen terapi yang
dapat digunakan adalah kurkumin. Kurkumin
merupakan salah satu senyawa yang terkandung
dalam temulawak atau kunyit. Kurkumin bersifat anti
imflamatori, anti imunodefisiensi, anti virus, anti
bakteri, anti jamur, anti oksidan, anti karsinogenik
dan anti infeksi (Kristina, 2009).
Struktur kitosan maupun alginat memiliki
kecenderungan untuk membentuk muatan ionik.
Alginat yang bersifat polianion (bermuatan negatif)
dan kitosan yang bersifat polikation (bermuatan
positif) akan membentuk polielektrolit komplek
ketika dicampur. Polielektrolit komplek ini dapat
mempercepat penyerapan cairan karena sisi ionik dari
alginat maupun kitosan memiliki potensi besar untuk
menarik molekul air dengan pembentukan ikatan
hidrogen (Meng et.al., 2010).
Hasil penelitian Dai, et al. (2009) yang membuat
sponge alginat-kitosan berkurkumin didapatkan hasil
apabila komposisi alginat lebih besar daripada kitosan
menghasilkan sponge yang kurang bagus daya
absorbsinya dibandingkan dengan yang komposisi
kitosannya lebih banyak. Pada penelitian tersebut Dai
menggunakan dua jenis polimer untuk membentuk
ikatan kimia yang komplek. Pada penelitian ini akan
dibuat lebih banyak variasi komposisi antara alginat-
kitosan serta dibuat yang hanya berkomposisi alginat
dan kitosan saja. Hal ini dimaksudkan untuk
mengetahui variasi penyerapan yang terjadi serta
memilih sponge mana yang bagus antara campuran
atau tidak berupa campuran alginat-kitosan.
METODE
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah natrium alginat dari LIPI, kurkumin PureBulk,
kitosan yang di beli dari IPB (Institut Pertanian
Bogor), sel fibroblas BHK-21 untuk uji MTT,
Phospate buffer saline (PBS) untuk uji kemampuan
absorb, aquades untuk melarutkan natrium alginat,
asam asetat untuk melarutkan kitosan, etanol untuk
melarutkan kurkumin.
Alat-alat yang digunakan yaitu Lyophilizer,
freezer, loyang, magnetic stirrer, sentrifuse, neraca
digital, beker glass, spatula, aluminium foil, pisau,
penggaris / pengukur.
Pembuatan Sponge
Sponge dibuat dari percampuran bubuk natrium
alginat, kitosan, dan kurkumin yang telah dilarutkan
dengan pelarut masing-masing yaitu natrium alginat
dilarutkan dalam aquades, kitosan dilarutkan dengan
asam asetat, dan kurkumin dilarutkan dengan etanol.
Masing-masing larutan dicampur dan di aduk dengan
magnetic stirrer agar homogen kemudian disentrifus
untuk memisahkan residu dan supernatan. Residunya
diambil untuk dijadikan sponge. Residu ini kemudian
dituang ke dalam loyang persegi panjang dengan
tinggi sekitar 0,5 cm. Loyang di simpan dalam freezer
dengan kisaran suhu -80
0
C sampai -100
0
C selama ±
24 jam dan setelah 24 jam dalam freezer, sampel
dikeluarkan dan langsung di lyophilizer selama 24
jam dengan suhu sekitar -105
0
C dan tekanan dalam
miliTorr (Dai, et. al, 2009).
Komposisi percampuran alginat-kitosan-
kurkumin dapat dilihat pada Tabel I.
Tabel I. Variasi Sponge
Sponge Alginat: Kitosan Kurkumin
A0C4 0 : 4 Tetap
A1C2 1 : 2 Tetap
A1C3 1 : 3 Tetap
A1C4 1 : 4 Tetap
A2C2 2 : 2 Tetap
A4C1 4 : 1 Tetap
A3C1 3 : 1 Tetap
A2C1 2 : 1 Tetap
A4C0 4 : 0 Tetap

Penelitian Scharstuhl et.al., 2009 menunjukkan
bahwa pada konsentrasi kurkumin 5µM fibroblast
banyak yang hidup sehingga pada penelitian ini juga
menggunakan konsentrasi kurkumin sebesar 5µM.
Konsentrasi tersebut dibuat dengan cara melarutkan
1,84 mg kurkumin dalam 1 liter etanol. Kemudian
dalam masing – masing sampel digunakan 1 ml
kurkumin yang mempunyai konsentrasi 5µM.
Karakterisasi
Uji FTIR dengan FT-IR J asco 4200 type A, uji
kemampuan absorb sponge dengan larutan phosphate
buffer saline (PBS) pH 7,4, uji kadar air dengan
electronic moisture balance Shimadzu Libror EB-280
MOC, pengamatan preparat uji histopatologi anatomi
dengan mikroskop Olympus Optical J apan,
pembacaan uji sitotoksisitas MTT assay dengan Elisa
Reader.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pembuatan absorbent dressing sponge
tampak pada gambar 1. Bubuk natrium alginat,
kitosan, dan kurkumin yang menjadi bahan utama
pembuatan absorbent dressing sponge sebelumnya di
uji FT-IR pada daerah serapan 4000-400. Hasilnya
ditunjukkan pada Gambar 2, Gambar 3, dan Gambar 4

B 14
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012


Gambar 1. Absorbent Dressing Sponge
Pada Sponge A1C2 dengan perbandingan
alginat:kitosan 1:2 gugus C=C aromatik yang
merupakan bagian dari kurkumin muncul pada pita
daerah serapan 1548,56 cm
-1
. Pita serapan gugus
karbonil yang merupakan gugus dari alginat dan
kurkumin terlihat pada bilangan gelombang 1644,02
cm
-1
. Gugus hidroksi (O-H) terdapat dalam ketiga
bahan yaitu alginat, kitosan, dan kurkumin. Pita
serapan gugus tersebut ditemukan pada nilai bilangan
gelombang 3442,31 cm
-1
. Pita serapan gugus C-O dan
O-Na berada pada bilangan gelombang 1035,59 cm
-1

dan 1421,28 cm
-1
. Sedangkan gugus amida primer
(NH
2
) tertutupi oleh pita gugus hidroksi yang melebar
karena adanya ikatan hidrogen antar molekul.
Data spektra FTIR sponge A0C4, pita serapan
gugus karbonil nampak pada bilangan gelombang
1650,77 cm
-1
. Gugus karbonil merupakan gugus dari
kurkumin. Pita serapan gugus C-C alifatik nampak
pada bilangan gelombang 2919,17 cm
-1
. Gugus
hidroksi (O-H) yang merupakan gugus dari kitosan
muncul pada nilai bilangan gelombang 3427,85cm
-1
.
Sedangkan pita serapan gugus NH
2
tertutupi oleh pita
serapan gugus hidroksi yang melebar karena adanya
ikatan hidrogen antar molekul.
Data spektra FTIR sponge A1C4, pita serapan
gugus karbonil yang merupakan gugus dari kurkumin
dan alginat muncul pada daerah serapan 1627,63 cm
-1
.
Pita serapan gugus C-O dan O-Na nampak pada
bilangan gelombang 1028,84 cm
-1
dan 1404,89 cm
-1
.
Gugus hidroksi (O-H) muncul pada pita daerah
serapan 3442,31 cm
-1
. Gugus hidroksi merupakan
gugus yang terdapat dalam alginat, kitosan, dan
kurkumin. Sedangkan pita serapan gugus NH
2

tertutupi oleh pita serapan gugus hidroksi yang
melebar karena adanya ikatan hidrogen antar molekul.
Berdasarkan hasil uji FT-IR menunjukkan bahwa
ketiga bahan (alginat, kitosan, kurkumin) sudah
tercampur dalam sponge. Hal ini dapat dilihat dari
munculnya gugus fungsi alginat, kitosan, dan
kurkumin dalam sponge. Gugus fungsi alginat yaitu
karbonil muncul pada rentang bilangan gelombang
1765-1645 cm
-1
, O-H pada rentang 3650-3200 cm
-1
,
C-O pada rentang 1260-970 cm
-1
, dan O-Na pada
sekitar 1431 cm
-1
. Sedangkan gugus serapan khas dari
kitosan adalah hidroksi (O-H) dan amina primer
(NH
2
). O-H muncul pada rentang bilangan gelombang
3650-3200 cm
-1
, pita serapan gugus NH
2
tertutup
oleh pita serapan gugus hidroksi yang melebar karena
karena adanya ikatan hidrogen antar molekul.
Kurkumin memiliki gugus khas yang tidak terdapat
dalam alginat dan kitosan yaitu C-H aromatik dan
C=C aromatik. Namun kedua gugus ini kadang
muncul dan kadang tidak. Hal ini karena kadar
kurkumin yang diberikan terlalu kecil yaitu sebesar
5µM.
Kemampuan Absorb
Kemampuan absorb sponge menunjukkan
banyaknya cairan yang dapat terserap didalam sponge
dihitung dengan rumus

E = x 100% , We menunjukkan berat
sponge yang telah menyerap PBS dan Wo adalah
berat mula-mula. Dilakukan pengulangan sebanyak
3X dan rata-ratanya yang digunakan. Hasilnya dapat
dilihat berupa grafik pada Gambar 5 dan teksturnya
terlihat pada Gambar 6.

Gambar 5. Grafik Kemampuan Absorb Sponge
Sponge yang baik adalah yang dapat berubah
menjadi gel dan tidak hancur ketika menyerap cairan
PBS pH 7,4.

B 15
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012


Gambar 2. SpektrumFTIR sponge A1C2 (Perbandingan alginat:kitosan 1:2)

Gambar 3. SpektrumFTIR sponge A0C4 (Perbandingan alginat:kitosan 0:4)

Gambar 4. SpektrumFTIR sponge A1C4 (Perbandingan alginat:kitosan 1:4)


B 16
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012



Gambar 6. Tekstur sponge setelah diuji dengan larutan PBS pH 7,4

Gambar 7. Re-epitelisasi kulit mencit hari ke 3. Garis putus-putus menunjukkan daerah luka. Kontrol (Alkohol), sponge
A1C2(alginat:kitosan 1:2), A0C4(alginat:kitosan 0:4), dan A1C4 (alginat:kitosan 1:4)

Gambar 8. Kepadatan kolagen (tanda panah) kulit mencit hari ke 3 pada perbesaran 400X. Kontrol (Alkohol), sponge A1C2(alginat:kitosan

Gambar 9. Kepadatan kolagen (tanda panah) kulit mencit hari ke 3 pada perbesaran 1000X. Kontrol (Alkohol), sponge A1C2(alginat:kitosan
1:2), A0C4(alginat:kitosan 0:4), dan A1C4 (alginat:kitosan 1:4)

Hasil uji kemampuan absorb diperoleh 3 sponge
yang memiliki kemampuan absorb dan tekstur yang
bagus setelah di uji dengan larutan PBS pH 7,4. Ketiga
sponge tersebut yaitu A1C2, A0C4, dan A1C4 dengan
perbandingan alginate:kitosan 1:2; 0:4; 1:4 yang
masing-masing nilai persentase absorb sebesar 2546%,
2066%, dan 1749%. Ketiga sampel tersebut memiliki
perbandingan komposisi kitosan yang lebih besar

B 17
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

daripada alginat. Sponge A2C2 yang memiliki
perbandingan alginat kitosan seimbang menghasilkan
sponge yang hancur. Sedangkan sponge A3C1, A4C0,
dan A4C1 yang memiliki perbandingan komposisi
alginat lebih besar daripada kitosan menghasilkan
sponge yang lembek dan tidak berubah menjadi gel
setelah dimasukkan dalam PBS pH 7,4.
Cepatnya proses absorb sponge (30 detik) ketika
menyerap cairan PBS (phosphate buffer saline)
disebabkan karena sponge membentuk polielektrolit
komplek karena alginat yang bersifat polianion
(bermuatan negatif) dan kitosan yang bersifat
polikation (bermuatan positif) mempercepat
penyerapan cairan karena sisi ionik dari alginat
maupun kitosan memiliki potensi besar untuk menarik
molekul air dengan pembentukan ikatan hidrogen
(Meng, et.al., 2010). Namun, rapuhnya sponge yang
memiliki komposisi alginat lebih besar daripada
kitosan disebabkan karena berdasarkan foto SEM
(Scanning Electron Microscopy) pori-pori alginat lebih
besar dari pada kitosan dan ketika dicampur akan
timbul serabut-serabut (Dai, et al., 2009). Pori-pori
alginat yang besar menyebab dinding-dinding
pembatas pada alginat lebih sedikit sehingga ketika
terbentuk sponge, serabut-serabut pada sponge yang
komposisi alginatnya lebih besar tidak dapat menahan
cairan dengan baik karena sedikitnya dinding
pembatas yang dapat menopang serabut untuk
menyimpan cairan. Hal tersebut menyebabkan sponge
yang memiliki komposisi alginat lebih besar
menghasilkan struktur yang lembek dan hancur.
Kadar Air
Untuk mengetahui berapa persentase kandungan
air yang terdapat dalam sponge maka dilakukan uji
kadar air. Untuk menghitung persentase kadar air
digunakan rumus :
% kadar air = x 100%
Wo menunjukkan berat awal sponge dan W
menunjukkan berat akhir setelah pemanasan.
Persentase kadar air dapat dilihat pada Tabel II
Tabel II. Persentase Kadar Air.
J enis Sponge % Kadar Air
Sponge A0C4 42,9
Sponge A1C2 20,4
Sponge A1C4 32,7
Sponge A0C4 yang memiliki perbandingan
alginat:kitosan 0:4 memiliki kadar air paling tinggi
dengan persentase 42,9%. Tingginya kadar air pada
sponge yang memiliki perbandingan kitosan lebih
besar daripada alginat disebabkan karena adanya
ikatan hidrogen yang terjadi antara kitosan dengan air
yang digunakan sebagai media untuk pengenceran
asam asetat. Kitosan memiliki sifat mampu mengikat
air, hal ini didukung oleh adanya gugus polar (C-O)
dan non polar (C-H dan C-C) pada kitosan. Sesuai
dengan rumus kimianya, kitosan lebih banyak
memiliki gugus O-H daripada alginat sehingga
kemampuan membentuk ikatan hidrogen dengan
molekul air lebih besar. Ikatan hidrogen ini
menyebabkan kandungan air dalam sponge masih
tinggi walaupun sudah di uapkan dengan proses
lyophilizer.
Histopatologi Anatomi (HPA)
Uji histopatologi anatomi dilakukan dengan
sebelumnya melakukan perlakuan pada mencit. Mencit
diberi perlakuan dengan luka insisi selama 3 hari.
Setelah 3 hari kulit mencit disayat dan dibuat preparat
agar dapat dilihat strukturnya di mikroskop.
Parameter yang diamati adalah % re-epitelisasi
dan kepadatan kolagen. Kedua parameter ini
memegang peran penting dalam penyembuhan luka.
Re-epitelisasi merupakan proses perbaikan sel-sel
epitel kulit sehingga luka akan tertutup. Semakin cepat
terjadi re-epitelisasi akan membuat sktruktur epidermis
dan kulit mencapai keadaan normal. Sedangkan
kolagen merupakan protein utama yang menyusun
komponen matriks ekstra seluler dan merupakan
protein terbanyak yang ditemukan dalam tubuh
manusia. Persentase re-epitelisasi dapat dihitung
dengan menggunakan rumus:
Re-epitel= X 100%
Tabel III. Persentase Re-epitelisasi.
Panjang Luka (mm)
Sponge
Total TertutupEpitel
Reepitelisasi
Kontrol 1,38 0,67 49%
A1C2 0,82 0,72 88%
A0C4 0,82 0,82 100%
A1C4 0,51 0,51 100%

Dapat dilihat pada Tabel 3 bahwa persentase re-
epitelisasi pada kulit mencit yang diberi sponge lebih
besar daripada yang hanya diberi alkohol. Tingginya
persentase re-epitelisasi pada luka yang ditutupi
sponge dibandingkan dengan kontrol diduga karena
adanya kandungan kurkumin pada sponge. Kurkumin
merupakan senyawa metabolit sekunder golongan
fenolik yang berfungsi sebagai antibakteri sehingga
mempercepat penutupan luka.
Kepadatan kolagen dihitung dengan
menggunakan parameter skoring. Parameter skoring
histopatologi untuk kepadatan kolagen (berdasarkan
perhitungan 1 lapang pandang, pada objek perbesaran
1000x) (Novriansyah, 2008)
+0 =Tidak ditemukan adanya serabut kolagen pada
daerah luka.
+1 = Kepadatan serabut kolagen pada daerah luka
rendah.
+2 = Kepadatan serabut kolagen pada daerah luka
sedang.
+3 = Kepadatan serabut kolagen pada daerah luka
rapat.
+4 = Kepadatan serabut kolagen pada daerah luka
sangat rapat.

B 18
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Hasil skoring kepadatan kolagen antara kontrol
dan sponge dapat dilihat pada Tabel IV.
Tabel IV. Skor Penilaian Kepadatan Kolagen
Sampel Skor Kepadatan Kolagen
Kontrol +1
A1C2 +2
A0C4 +4
A1C4 +3

Kepadatan kolagen yang berbeda antara luka yang
ditutupi sponge dengan kontrol diduga karena adanya
kurkumin dalam sponge. Interaksi antara kurkumin
dan kolagen akan membentuk ikatan hidrogen yang
dapat meningkatkan kerapatan kolagen (Fathima,
2009). Sintesis kolagen umumnya dimulai pada hari ke
3 setelah luka dan berlangsung cepat sekitar minggu
ke 2-4. Pada penelitian ini perlakuan hanya sampai 3
hari dan kolagen yang terbentuk sudah baik
Sitotoksisitas (MTT Assay)
Uji sitotoksisitas dilakukan pada sponge A1C2,
A0C4, dan A1C4 dengan menggunakan sel fibroblas
BHK-21. Untuk menghitung persentase sel hidup
dapat digunakan rumus :
sel hidup= X 100%
J ika persentase sel hidup lebih kecil dari 100% maka
material dikatakan bersifat toksik (Harsas, 2008). Data
persentase sel hidup disajikan dalam Tabel V.
Tabel V. Persentase Sel Hidup
Pengulangan Sel Hidup (%)
Sponge A1C2 104
Sponge A0C4 103
Sponge A1C4 106

Berdasarkan Tabel 5 dapat dilihat bahwa
persentase sel hidup dari ketiga sponge besarnya diatas
100%. Hal ini menunjukkan bahwa alginat, kitosan,
dan kurkumin yang digunakan sebagai bahan baku
pembuatan absorbent dressing sponge aman
digunakan pada kulit karena biokompatibel dengan sel
fibroblas.
Berdasarkan dari lima uji dapat dinyatakan bahwa
di antara tiga sponge yang memiliki daya absorb baik
(sponge A1C2, sponge A0C4, sponge A1C4) sponge
A0C4 dengan perbandingan alginat:kitosan 0:4
memiliki persentase re-epitelisasi dan kepadatan
kolagen yang besar. Sebagai absorbent dressing selain
dari sisi daya serap juga harus memperhatikan proses
penyembuhan karena tujuan sebagai wound dressing
adalah untuk mempercepat penyembuhan luka. Sponge
A0C4 juga menunjukkan sifat tidak toksik dan kadar
airnya tinggi. Hal ini menciptakan lingkungan luka
lembab (moist wound healing) sehingga proses
oksigenasi berjalain baik. Permeabilitas gas dalam
balutan merupakan faktor yang penting dalam
penutupan luka dimana pertukaran oksigen dan
karbondioksida mempunyai efek terhadap konsentrasi
oksigen di jaringan luka yang akhirnya mempengaruhi
proses penyembuhan luka secara seluler.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan data hasil pengamatan maka dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Absorbent Dressing Sponge berhasil dibuat dan
yang memiliki persentase daya absorb baik adalah
sponge dengan perbandingan alginat:kitosan 1:2,
0:4, 1:4 dengan nilai absorb 2546%, 2066%, dan
1749%.
2. Hasil FTIR menunjukkan bahan baku sudah sesuai
dengan gugus fungsinya dan ketiga bahan sudah
tercampur dalam sponge dengan munculnya pita
serapan karbonil, C-O dan O-Na yang merupakan
pita serapan dari alginat. Gugus hidroksil (O-H)
dan amina primer (NH
2
) dari kitosan. Gugus C-H
aromatik dan C=C aromatik dari kurkumin. Hasil
uji sitotoksisitas MTT assay menunjukkan sponge
bersifat tidak toksik dengan persentase sel hidup
sebesar 104%, 103%, dan 106%. Hasil uji kadar air
menunjukkan besarnya persentase kadar air untuk
sponge dengan perbandingan alginat:kitosan 0:4,
1:4, dan 1:2 adalah 42,9%, 32,7%, dan 20,4% dan
persentase re-epitelisasinya adalah 100%, 100%,
dan 88% dengan nilai kepadatan kolagen untuk
tiap-tiap sponge tersebut adalah sangat rapat, rapat,
dan kepadatan sedang.
3. Hasil pembacaan preparat histologi dari kulit
mencit yang diberi perlukaan selama 3 hari
menunjukkan proses re-epitelisasi dan kepadatan
kolagen pada mencit yang diberi absorbent
dressing sponge lebih baik dari pada mencit
kontrol yang hanya diberi alkohol.
Saran
Sebagai saran untuk menyempurnakan hasil dari
penelitian ini, maka :
1. Perlu dilakukan penelitian apabila alginatnya
menggunakan alginat komersial. Dalam penelitian
ini menggunakan alginat dari LIPI (Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia).
2. Perlu penelitian lebih lanjut tentang variasi dosis
kurkumin yang tepat untuk penyembuhan luka dan
proses drug loadingnya.
DAFTAR PUSTAKA
A World Union of Wound Healing Societies. 2007.
Wound Exudate and The Role of Dressings.
London: Medical Education Partnership Ltd.
Anggrianti, Padmi. 2008. Uji Sitotoksik Ekstrak Etanol
70% Buah Kemukus (Piper cubeba L.)
Terhadap Sel HeLa. Skripsi. Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah. Surakarta.
Anonim. Universitas Sumatra Utara.
http://repository.usu.ac.id/. Diakses tanggal 17
Desember 2011

B 19
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Anonim. Bab 6 Ikatan Atom dan susunan Atom.
http://www.biomed.ee.itb.ac.id/. Diakses
tanggal 28 Desember 2011
Brooker, Chris. 2008. Ensiklopedia Keperawatan.
Alih bahasa : andry hartono, Brahmn U. Pendit,
Dwi Widiarti. J akarta : EGC.
Cahyono, J B Suharjo B. 2007. Manajemen Ulkus Kaki
Diabetik. Dalam Dexa Media Jurnal
Kedokteran dan Farmasi No. 3 Vol. 20, J uli-
September. http://www.dexa-medica.com/.
Diakses tanggal 26 Desember 2011.
Dai, Mei, Xiu Ling Zheng, Xu Xu, XiangYe Kong,
XingYi LI, Gang Guo, Feng Luo, Xia Zhao, Yu
Quan Wei, and Zhiyong Qian. 2009. Research
Article : Chitosan-Alginate Sponge :
Preparation and Application in Curcumin
Delivery for Dermal Wound healing in Rat.
J ournal of Biomedicine and Biotechnology
Volume 2009, Article ID 595126, 8 pages.
Donati, I, Sergio Paoletti. 2009. Material Properties of
Alginates. Department of Life Sciences,
University of Trieste. Italy.
Febram, Bayu P., Ietje Wientarsih, dan Bambang
Pontjo P. 2010. Aktivitas Sediaan Salep
Ekstrak Batang Pohon Pisang Ambon (Musa
paradisiaca var sapientum) Dalam Proses
Persembuhan Luka Pada Mencit (Mus
musculus albinus). Majalah Obat Tradisional
Edisi 15 Hal. 121-137.
Ferrell, Betty R., Nessa Coyle. 2010. Oxford Textbook
of Palliative Nursing. New York:Oxford
University Press. Inc.
GEMA. 2011. Industri Hilir Rumput laut. Edisi
XXXII-Maret. http://www.kemenperin.go.id/.
Diakses tanggal 27 Desember 2011
Gibson, John. 2002. Fisiologi dan Anatomi Modern
Untuk Perawat Edisi 2. alih bahasa : Bertha
Sugiarto. J akarta : ECG.
Gruendemann, Barbara J ., Fernsebner, Billie. 2005.
Buku Ajar Keperawatan Perioperatif, Vol. 1.
Alih bahasa : Brahm U. Pendit ..[et al.]. J akarta :
EGC.
Hargono, Abdullah, Sumantri, Indro. 2008.
Pembuatan Kitosan Dari Limbah Cangkang
Udang Serta aplikasinya Dalam Mereduksi
Kolesterol Lemak kambing. Reaktor, Vol. 12
No. 1, Juni, Hal. 53-57.
http://jreaktor.undip.ac.id/. Diakses tanggal 17
Desember 2011.
Harsas, Nadhia Anindhita, 2008, Efek
Pemberian Graft Tulang Berbentuk
Pasta dengan Berbagai Komposisi dan
Konsentrasi terhadap Viabilitas
Sel Osteoblas, In Vitro, J akarta : Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.
Indraswary, Recita. 2011. Efek Konsentrasi Ekstrak
Buah Adas (Foeniculum vulgare Mill.) Topikal
Pada Epitelisasi Penyembuhan Luka Gingiva
Labial Tikus Sprague Dawley In Vivo. J urnal
Majalah Ilmiah Sultan Agung Vol. XLIX, J uli
20011 (Edisi Khusus FKG).
J ohnson, Ruth, and Wendy Taylor. 2004. Buku Ajar
Praktik Kebidanan. Alih bahasa : Sari
Kurnianingsih, Monica Ester. J akarta : ECG.
J uniantito, Vetnizah, Prasetyo, Bayu F. 2006. Aktivitas
Sediaan Gel Dari Ekstrak Lidah Buaya (Aloe
barbadensis Mill.) Pada Proses Persembuhan
Luka Mencit (Mus musculus albinus). J .II
Pert.Indon. Vol. 11(1).
http://repository.ipb.ac.id/. Diakses tanggal 21
Desember 2011
J unianto. Rendemen dan Kualitas Algin Hasil
Ekstraksi Alga (Sargassum sp.) dari Pantai
Selatan Daerah Cidaun Barat. Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas
Padjajaran. Bandung. http://isjd.pdii.lipi.go.id/.
Diakses tanggal 26 Desember 2011.
Knoor, D. 1984. Use of Chitinous Polymer In Food –
A Challenge For Food Research &
Development. Food Tech, 38 : 85-97.
Kozier, B., Erb, Glenora, Berman, A., Snyder, S. 2009.
Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis Edisi 5.
Alih bahasa : Eny Meiliya, esti Wahyuningsih,
Devi Yulianti. J akarta : EGC.
Kristina, Natalini Nova, Noveriza R., Syahid, S.F.,
Rizal, M. 2009. Peluang Peningkatan kadar
Kurkumin Pada Tanaman Kunyit dan
Temulawak. Balai Penelitian Tanaman Obat
dan Aromatik.
http://balittro.litbang.deptan.go.id/. Diakses
tanggal 25 desember 2011
Lai, Hui L., Asad Abu’Khalil, Duncan Q.M. Craig.
2002. The Preparation and Characterisation of
Drug-Loaded Alginate and Chitosan Sponges.
International J ournal of Pharmaceutics.
www.sciencedirect.com.
Lee, Kuen Yong, David J . Mooney. 2011. Alginate:
Properties and biomedical applications.
Elsevier. www.elsevier.com/locate/ppolysci
Matsjeh, 2004. Sintesis Flavonoid: Potensi Metabolit
Sekunder Aromatik Dari Sumber Daya Alam
nabati Indonesia. Pidato Pengukuhan J abatan
guru Besar dalam Ilmu Kimia. Universitas
Gajah Mada.
Medika J urnal Kedokteran Indonesia. 2010.
Penatalaksanaan Berbagai Jenis Luka
menggunakan Dressing. Edisi No. 09 Vol.
XXXVI. http://www.jurnalmedika.com/.
Diakses tanggal 26 Desember 2011
Medika J urnal Kedokteran Indonesia. 2010. Pemilihan
Dressing yang Tepat Selamatkan Kaki Diabetes.
Edisi No 12 Vol XXXVI.
http://www.jurnalmedika.com/. Diakses tanggal
30 Desember 2011.
Meizarini, Asti. 2005. Sitotoksisitas bahan Restorasi
Cyanoacrylate Pada Variasi Perbandingan
Powder dan Liquid Menggunakan MTT Assay.
Majalah Kedokteran Gigi (Dental J ournal). Vol.
38. No. 1 J anuari 2005:20-24

B 20
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Meng, X., Feng Tian, J ian Yang, Chun-Nian He, Nan
Xing, Fang Li. 2010. Chitosan and Alginate
Polyelectrolyte Complex Membranes and Their
Properties for Wound Dressing Application.
Springer Science+Business Media.
Merck. Curcumin untuk sintesis | Merck Chemicals
Indonesia. http://www.merck-chemicals.com/ .
Diakses tanggal 17 Desember 2011.
Morison, Moya J ., 2003. Manajemen Luka. Alih
bahasa : Tyasmono A.F. J akarta : EGC.
Mutia, Theresia. 2009. Peranan Serat Alam Untuk
Bahan Baku Tekstil Medis Pembalut Luka
(Wound Dressing). Bandung : Balai Besar
Tekstil.
Novriansyah, Robin. 2008. Perbedaan Kepadatan
Kolagen Di Sekitar Luka Insisi Tikus Wistar
Yang Dibalut Kasa Konvensional dan Penutup
Oklusif Hidrokoloid Selama 2 dan 14 Hari.
Tesis. Program Pasca Sarjana Magister Ilmu
Biomedik dan Program Pendidikan Dokter
Spesialis I Ilmu Bedah Universitas Diponegoro
Semarang.
http://eprints.undip.ac.id/28847/1/Robin_Novri
ansyah_Tesis.pdf. Diakses tanggal 3 J uli 2012.
Nunamaker, Elizabeth A., Erin K. Purcell, Daryl R.
Kipke. 2006. In Vivo Stability and
Biocompatibility of Implanted Calcium
Alginate Disks. Wiley InterScience.
www.interscience.wiley.com.
Nurdayani, titik. 2011. Makalah Revisi Teknologi
Kosmetik. Departemen Farmasi Program
Ekstensi FMIPA Universitas Indonesia. Depok.
http://www.scribd.com/. Diakses tanggal 26
Desember 2011
Ovington, Liza G. 2002. Hanging Wet-to-Dry
Dressings Out to Dry Advances in Skin &
Wound Care : The Journal for Prevention and
Healing.
Pangayoman, Roys A. 2009. Perawatan Luka. RS.
Immanuel; RS Santosa International. Bandung.
http://www.docstoc.com. Diakses tanggal 30
Desember 2011.
Parirokh, M., Sara Askarifard, Shahla Mansouri, Ali A.
Haghdoost, Maryam Raoof, Mahmoud
Torabinejad. 2009. Effect of Phosphate Buffer
Saline On Coronal Leakage of Mineral
Trioxide Aggregate. Journal of Oral Science.
Protocols Online. 2010. Phosphate Buffered Saline.
http://protocolsonline.com. Diakses tanggal 19
J anuari 2012.
Putri, Kartika Hastarina. 2011. Pemanfaatan Rumput
Laut Coklat (Sargassum sp.) Sebagai Serbuk
Minuman Pelangsing Tubuh. Skripsi.
Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Rachadini, Novianita. 2007. Uji sitotoksisitas Ekstrak
Serbuk Kayu Siwak (Salvadora persica) Pada
Kultur Sel Dengan Menggunakan Esei MTT.
Proposal. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Airlangga. Surabaya.
Romanelli, M., K. Vowden, D. Weir. 2010. Exudate
Management Made Easy.
www.woundsinternational.com.
Scharstuhl, A., H.A.M. Mutsaers, S.W.C Pennings,
W.A. Szarek, F.G.M Russel, F.A.D.T.G
Wagener. 2009. Curcumin-Induced Fibroblast
Apoptosis and In Vitro Wound Contraction Are
Regulated By Antioxidants and Heme
Oxygenase : Implications for Scar Formation.
J ournal Cellular and Molecular Medicine Vol.
13, No.4. Blackwell Publishing.
Sembiring, Bagem Br., Ma’mun, Ginting, Edi Imanuel.
Pengaruh Kehalusan Bahan dan Lama
Ekstraksi Terhadap Mutu Ekstrak Temulawak
(Curcuma xanthorriza Robx). Balai Penelitian
tanaman Obat dan Aromatik.
http://balittro.litbang.deptan.go.id/. Diakses
tanggal 25 Desember 2011.
Sembiring, F. 2011. Gliserolisis Antara Minyak
Kelapa. Universitas Sumatra Utara.
repository.usu.ac.id/. diakses tanggal 30
Desember 2011.
Sharma, Chandra P., Paul, Willi. 2004. Chitosan and
Alginate Wound Dressings : A Short Review.
Division of Biosurface Technology, Biomedical
Technology Wing Institute for Medical Sciences
& Technology. Poojappura,
Thiruvananthapuram. http://medind.nic.in/.
Diakses tanggal 26 Desember 2011.
Situngkir, J anner. 2008. Pembuatan dan Karakterisasi
Fisikokimia Bahan Cetak Gigi Palsu Kalsium
Alginat. Tesis. Program Studi Kimia Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
http://repository.usu.ac.id/. Diakses tanggal 27
Desember 2011.
Stevens, P.J .M., Bordui, F., Van der Weyde, J .A.G.
1999. Ilmu Keperawatan. J ilid 2. J akarta : EGC.
Staff UB Modul Praktikum Lab. Pemuliaan Tanaman
Universitas Brawijaya. 2012. Modul 5 Uji Mutu
Fisik dan Kadar Air.
http://labpemuliaantanaman.staff.ub.ac.id/files/
2012/03/modul-5.-uji-mutu-fisik-dan-kadar-
air.pdf. Diakses tanggal 16 J uli 2012.
Sunaryo. 2004. Psikologi Untuk Keperawatan. J akarta :
EGC.
Sussman, Geoff. 2009.Wound Care Module. Wound
Research Wound Foundation of Australia.
Takeuchi, Yoshito. 2009. Metoda Spektroskopik.
http://www.chem-is-try.org/. Diakses tanggal
17 Desember 2011.
Tarigan, Rosina, Pemila, Uke. 2007. Perawatan Luka
Moist Wound Healing. Program Magister Ilmu
keperawatan FMIPA Universitas Indonesia.
Depok.
Tranggono, Retno Iswari, Latifah, Fatma. 2007. Buku
Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. J akarta :
Gramedia Pustaka Utama.

B 21
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Triyono, Bambang. 2005. Perbedaan Tampilan
Kolagen Di Sekitar Luka insisi Pada Tikus
Wistar Yang Diberi Infiltrasi Penghilang Nyeri
Levobupivakain dan Yang Tidak Diberi
Levobupivakain. Tesis. Program Magister
Biomedik dan PPDS I Universitas Diponegoro
Semarang.
University of Leeds. 2010. The Histology Guide.
Faculty of Biological Sciences.
http://histology.leeds.ac.uk. Diakses tanggal 25
November 2011.
White R., Keith F. Cutting. 2006. Modern Exudate
Management : A Review of Wounds Treatments.
World Wide Wounds.
www.worldwidewounds.com
Wound Essentials. 2008. Wound Exudate : What It Is
And How To Manage It. www.wounds-uk.com.
Diakses tanggal 17 J anuari 2012.
Yulianto, Kresno. 2007. Pengaruh Konsentrasi
Natrium Hidroksida Terhadap Viskositas
Natrium Alginat Yang Diekstrak dari
Sargassum duplicatum J.G. Agardh
(Phaeophyta). UPT Loka Pengembangan
Kompetensi SDM Oseanografi Pulau Pari. LIPI.
http://elib.pdii.lipi.go.id/. Diakses tanggal 27
Desember 2011
Yuliati, Anita. 2005. Viabilitas Sel Fibroblas BHK-21
Pada Permukaan Resin Akrilik Rapid Heat
Cured. Majalah Kedokteran Gigi (Dental
J ournal). Vol. 38. No. 2 April-J uni 2005:68-72
Zulfikar. 2010. Ikatan Hidrogen. http://www.chem-is-
try.org/. Diakses tanggal 28 Desember 2011

B 22
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

PENGARUH VARIASI WAKTU MILLING TERHADAP SIFAT FISIS SENG
FOSFAT DAN NANO ZINC OXIDE
Dessy Mayasari
Departemen Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga
ABSTRACT
Has done research on the variation of milling time for dental zinc phosphate cement and ZnO nanoparticles, the
variation of milling time of 0, 5, 10, 15 and 25 minutes. All samples tested using XRD (X-ray Diffraction),
hardness (Vickers) and compressive strength (Autograph). XRD test results indicate the volume fraction hopiete
(Zn3 (PO4) 2 + 4 H 2 O) increases with increasing milling time with the highest value of 56,45% on a 25-minute
milling time and the volume fraction of ZnO decreases with increasing milling time with the lowest score of
43,54% of the milling time of 25 minutes. This happens because the nano ZnO reacts with zinc phosphate cement
to form hopiete. Hardness test results obtained the highest value of 148,0 MPa and the highest test of 401.8 MPa
compressive strength increases with increasing milling time of 25 minutes. This shows the value added content
hopiete increase hardness and compressive strength. This value is quite good as fillings, because the value of
compressive strength of dental enamel around 250-550 MPa.
Key words: time of milling, zinc phosphate cement, zinc oxide nanoparticles.

PENDAHULUAN
Semen gigi merupakan bahan penambal gigi pada
mahkota gigi yang hilang. Bahan tersebut berisi
partikel dari keramik berbahan dasar seng oksida dan
magnesium oksida. Bubuk semen gigi dicampur
dengan cairan yang berisi asam fosfat dan air. Semen
gigi yang digunakan sebagai bahan tambal
mempunyai kekuatan yang rendah dibandingkan resin
komposit dan amalgam, tetapi dapat digunakan untuk
daerah yang mendapat sedikit tekanan. Terlepas dari
kekuatannya yang rendah, semen ini memiliki sifat
khusus yang diinginkan yaitu sebagai alas penahan
panas dibawah tambalan logam serta pelindung saraf
dan pembuluh darah pada ruang pulpa sehingga
digunakan pada hampir 60% restorasi. (Anusavice,
2003).
Semen gigi yang digunakan pada penelitian ini
adalah semen seng fosfat (zinc phosphate cement)
yang merupakan bahan semen tertua sehingga
mempunyai catatan terpanjang dan tolok ukur bagi
sistem-sistem yang baru (Anusavice, 2003). Seng
fosfat memiliki sifat daya larut yang relatif rendah di
dalam air dan keasamanan semen yang cukup tinggi,
sehingga diperlukan tambahan partikel yang dalam
penelitian ini berupa nanopartikel ZnO. Penambahan
nanopartikel ZnO memungkinkan terbentuknya
hopeite Zn
3
(PO
4
)
2
+4H
2
O yang lebih banyak sehingga
sifat mekaniknya meningkat dan menambah kekuatan
semen sesuai dengan teori Holepack, sehingga
diharapkan dapat meningkatkan kekuatan tekan yang
lebih baik. Nilai kekuatan tekan yang diperoleh dari
penelitian tersebut 9,917 MPa, ini jauh dari penelitian
yang telah ada (Erick, 2011). Oleh karena itu
diperlukan proses pencampuran dengan menggunakan
HEM, sehingga diharapkan memiliki nilai yang sama.
HEM membantu homogenisasi karena ukuran partikel
yang semakin kecil dengan waktu pencampuran dan
perubahan suhu yang diakibatkan tumbukan antar
partikel.
Ukuran partikel dari semen seng fosfat maupun
ZnO yang dibuat berukuran kecil (nano) akan
mempermudah proses pencampuran. Kedua partikel
tersebut jika dicampurkan akan menghasilkan
campuran yang lebih keras dan memiliki daya tekan
yang lebih besar. Semakin kecil ukuran suatu partikel
maka semakin cepat proses pencampuran. Hasil
sintesis dikarakterisasi dengan melakukan uji XRD
(X-Ray Diffraction) untuk mengetahui fasa yang
terbentuk, uji kekerasan dan uji kekuatan tekan.
METODE PENELITIAN
Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah pipette, cetakan sampel dari teflon, kaca,
stainless steel spatula, neraca analitik, Vickers
Hardness, Compressive Strength, High Energy
Milling dan X-ray Diffraction.
Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian
ini adalah Semen seng fosfat dalam bentuk serbuk,
Nanopartikel Zinc Oxide serbuk (ZnO powder) dan
Cairan semen seng fosfat.
Cara Kerja
Persiapan bahan yang harus dilakukan sebelum
melakukan penelitian adalah menyediakan serbuk
semen seng fosfat murni dan cairan semen seng fosfat
serta zinc oxide serbuk yang berukuran nano.
Komposisi bahan yang dipilih berupa semen seng
fosfat dan nano ZnO dalam bentuk serbuk dengan
perbandingan kadar semen seng fosfat (8,5) dan nano
ZnO (1,5) serta cairan semen seng fosfat (Erick,
2011). Sebelum di beri cairan seng fosfat, terlebih
dahulu semen seng fosfat di campur dengan ZnO yang

B 23
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

berukuran nano dengan berat total kedua sampel 15
gram. Perbandingan kedua sampel tersebut sebesar
85% semen seng fosfat dan 15% ZnO yang akan
menghasilkan nilai massa masing-masing sampel
sebesar 12,75 gram semen seng fosfat dan 2,25 gram
ZnO. Selanjutnya dilakukan pencampuran dengan
menggunakan HEM dengan variasi waktu milling 0,
5, 10, 15 dan 25 menit.
Hasil dari pencampuran semen seng fosfat dan
nano ZnO, akan dicampur dengan cairan semen seng
fosfat beberapa mililiter dan diaduk secara merata
dengan menggunakan spatula semen yang diletakkan
di atas kaca slab. Setelah adonan tercampur secara
merata (homogen) lalu diletakkan ke dalam cetakan
dan di cetak sehingga terbentuk pellet dengan
spesifikasi cetakan terbuat dari bahan teflon yang
memiliki panjang 6 cm, lebar 4 cm, tebal 5 mm dan
diameter 0,8 cm. Sampel yang telah di buat kemudian
dilakukan uji kekerasan dan kekuatan tekan serta
karakterisasi XRD.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Uji XRD
Grafik pola hasil XRD ditentukan fasa-fasanya
dengan melakukan search match

Gambar 1 (a) Grafik hasil search match XRD sampel dengan waktu
milling 0 menit

Gambar 1 (b) Grafik hasil search match XRD sampel dengan waktu
milling 5 menit

Gambar 1 (c) Grafik hasil search match XRD sampel dengan waktu
milling 10 menit

Gambar 1 (d) Grafik hasil search match XRD sampel dengan waktu
milling 15 menit
G
ambar 1 (e) Grafik hasil search match XRD sampel dengan waktu
milling 25 menit
Hasil search match dapat di identifikasi fasa
puncak XRD yang digunakan untuk menghitung nilai
fraksi volume sehingga dapat diketahui presentase
fasa dari masing-masing fasa yang ada. Hasil
perhitungan ditampilkan pada Tabel 1 dan
digambarkan dengan grafik yang ditunjukkan pada
Gambar 2 dan Gambar 3.
Tabel 1. Fraksi Volume
Fraksi Volume
Sampel
Waktu
Milling
(Menit)
Hopiete
(Zn
3
(PO
4
)
2
4H
2
O)
ZnO
A 0 28,78 % 67,83 %
B 5 44,72 % 55,27 %
C 10 47,14 % 51,96 %
D 15 53,64 % 46,35 %
E 25 56,45 % 43,54 %



B 24
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012


Gambar 2. Kurva Nilai Fraksi Volume Hopiete

Gambar 3. Kurva Nilai Fraksi Volume ZnO
Gambar 2 dan Gambar 3 menunjukkan nilai
fraksi volume antara ZnO dan Zn
3
(PO
4
)
2
4H
2
O
(hopiete). Nilai fraksi volume yang dihasilkan untuk
Zn
3
(PO
4
)
2
4H
2
O (hopiete) terjadi peningkatan seiring
dengan lamanya waktu milling, sedangkan pada ZnO
semakin lama waktu milling nilai fraksi volume yang
dihasilkan semakin menurun.
Hasil Uji Kekerasan
Nilai kekerasan masing-masing sampel diperoleh
dari rata-rata nilai HVN tersebut. Hasilnya
ditunjukkan pada Tabel 2 dan di grafikkan pada
Gambar 4.
Tabel 2. Hasil Uji Kekerasan


Gambar 4. Kurva Hasil Uji Kekerasan
Tampak hasil uji kekerasan diperoleh nilai yang
ditunjukkan pada Gambar 4, yang nilai dari hasil uji
kekerasan yang dinyatakan dalam satuan MPa
(Megapascal). Sampel A merupakan sampel semen
gigi seng fosfat tanpa proses milling, nilai kekerasan
sebesar 44,76 MPa. Sampel B sampai dengan Sampel
E merupakan sampel semen gigi seng fosfat dengan
proses milling masing-masing 5 menit, 10 menit, 15
menit dan 25 menit. Besarnya kekerasan sampel B, C,
D dan E masing-masing adalah sebesar 108,54 MPa,
104,67 MPa, 112,35 MPa dan 148,03 MPa.
Berdasarkan nilai kekerasan dari masing-masing
sampel menunjukkan peningkatan nilai kekerasan
seiring dengan lamanya waktu milling yang
dilakukan, sedangkan pada sampel C nilai kekerasan
yang dihasilkan mengalami penurunan, hal ini terjadi
karena ukuran pellet yang dihasilkan berubah pada
saat pengambilan dari cetakan, sehingga
mempengaruhi kekerasan bahan semen gigi.
Hasil Uji Kekuatan Tekan
Pengukuran kekuatan tekan pada sampel, yang
dibuat dengan massa 0,6 gram dan 8 tetes cairan seng
fosfat. Proses pengujian dilakukan dengan menekan
sampel hingga patah dengan beban yang diberikan
sebesar 100 kN.
Hasil dari pengujian kekuatan tekan dapat dilihat
pada Tabel 3 dan kemudian hasilnya akan di
grafikkan pada Gambar 5. antara nilai kekuatan
tekan bahan terhadap variasi waktu milling.
Tabel 3. Hasil Uji Kekuatan Tekan
No. Sampel Waktu
Milling
(Menit)
F(N) Luas
Permukaan
(m
2
)
Kuat
Tekan
(MPa)
1. A 0 5390 42,98 x 10
-
6
125,407
2. B 5 16856 47,75 x 10
-
6

353,005
3. C 10 10976 45,34 x 10
-
6

242,082
4. D 15 17836 48,99 x 10
-
6

364,074
5. E 25 20188 50,24 x 10
-
6

401,831
No Sampel Waktu
Milling
(Menit)
Test
Load
(kgf)
Dwell
Time
(detik)
D1
(mikro)
D2
(mikro)
HVN
(MPa)
1. A 0 204 10 92,00 89,98 44,76
2. B 5 201 10 56,70 59,31 108,5
3. C 10 202 10 63,52 54,91 104,6
4. D 15 203 10 59,27 55,32 112,3
5. E 25 200 10 46,34 52,75 148,0

B 25
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012


Gambar 5. Kurva Hasil Uji Kekuatan Tekan
Gambar 5. menunjukkan nilai hasil uji kekuatan
tekan yang dinyatakan dalam satuan MPa
(Megapascal). Sampel A merupakan sampel semen
gigi seng fosfat tanpa proses milling, nilai kekuatan
tekan sebesar 125,407 MPa. Sampel B sampai dengan
Sampel E merupakan sampel semen gigi seng fosfat
dengan proses milling masing-masing 5 menit, 10
menit, 15 menit dan 25 menit. Besarnya kekuatan
tekan Sampel B, C, D dan E masing-masing adalah
sebesar 353,005 MPa, 242,082 MPa, 364,074 MPa
dan 401,831 MPa. Berdasarkan nilai kekuatan tekan
dari masing-masing sampel menunjukkan peningkatan
kekuatan tekan seiring dengan lama waktu milling
yang dilakukan, sedangkan pada sampel C nilai
kekuatan tekan yang dihasilkan mengalami
penurunan, hal ini terjadi karena ukuran pellet yang
dihasilkan berubah pada saat pengambilan dari
cetakan, sehingga mempengaruhi kekuatan tekan
bahan semen gigi.
Nilai hasil kekuatan tekan yang diperoleh dengan
proses milling menunjukkan bahwa lama waktu
milling mempengaruhi kekuatan tekan bahan semen
gigi, sehingga membantu proses homogenisasi dari
campuran semen seng fosfat dan nano ZnO.
Selain sampel dengan massa 0,6 gram dan 8 tetes
cairan seng fosfat, dilakukan pula pengujian sampel
dengan massa dan jumlah tetes yang berbeda. Tabel 4.
menunjukkan nilai hasil uji kekuatan tekan tanpa
proses milling dengan variasi massa semen seng
fosfat dengan nano ZnO dan cairan semen seng fosfat.
Nilai kekuatan tekan semakin meningkat seiring
dengan penambahan massa semen seng fosfat dengan
nano ZnO dari 0,5 gram menjadi 0,6 gram dan
penambahan jumlah cairan seng fosfat yang diberikan
sama banyaknya, Penambahan massa meningkatkan
nilai kekuatan tekan dari 66,322 MPa dan 107,285
MPa. Sedangkan untuk massa 0,5 gram dan 0,7 gram
dengan penambahan jumlah cairan seng fosfat yang
diberikan dari 8 tetes menjadi 12 tetes meningkatkan
nilai kekuatan tekan dari 66,322 MPa menjadi
403,782 MPa.
Nilai hasil kekuatan tekan yang diperoleh tanpa
proses milling dengan variasi massa dan cairan semen
seng fosfat menunjukkan bahwa selain massa, cairan
semen seng fosfat mempengaruhi kekuatan tekan
bahan semen gigi, semakin banyak cairan seng fosfat
semakin besar nilai kekuatan tekan yang dihasilkan,
sehingga membantu proses homogenisasi dari
campuran semen seng fosfat dan nano ZnO.
Tabel 4. Hasil Uji Kekuatan Tekan Sampel Tanpa Milling
Sampel No.
J umlah
Gram
J umlah
Tetes
F (N) Luas
Permukaan
(m
2
)
Kuat
Tekan
(MPa)
1. 0,5 8 3332 50,24 x 10
-6
66,322
2. 0,6 8 5390 50,24 x 10
-6
107,285
3. 0,7 12 20286 50,24 x 10
-6
403,782
PEMBAHASAN
Pada penelitian ini sampel yang digunakan adalah
campuran semen seng fosfat, nano ZnO dan cairan
seng fosfat dengan perbandingan 85% semen seng
fosfat dan 15% nano ZnO dari massa total 15 gram,
sehingga didapatkan nilai massa masing-masing
bahan sebesar 12,75 gram semen seng fosfat dan 2,25
gram nano ZnO. Sebelum dicampur dan dicetak,
dilakukan proses milling pada semen seng fosfat dan
nano ZnO dengan variasi waktu 0, 5, 10, 15 dan 25
menit. Kemudian kedua bahan campuran tersebut
masing-masing diambil 0,6 gram dengan penambahan
8 tetes cairan seng fosfat, setelah itu bahan dicampur
dengan menggunakan pengaduk hingga bahan
tercampur rata, pada saat proses pencampuran
menggunakan pengaduk, waktu yang diperlukan
masing-masing sampel berbeda, semakin lama waktu
milling yang diberikan, maka semakin cepat kedua
campuran mengeras. Hal ini dikarenakan proses
milling mempengaruhi sifat homogen campuran
bahan tersebut. Setelah bahan tercampur rata,
kemudian bahan dicetak dan dibentuk sehingga
membentuk pellet dengan diameter 8 mm dengan
spesimen waktu 12 menit setiap sampel.
Pellet yang sudah jadi, kemudian dilakukan
beberapa pengujian untuk mengetahui nilai fraksi
volume hopiete pada uji XRD, kekerasan dan
kekuatan tekan. Hasil Uji XRD yang dilakukan,
digunakan untuk mengidentifikasi fasa-fasa yang
terkandung dalam campuran, dari uji tersebut
ditemukan nilai kandungan hopiete dan ZnO,
kemudian dilakukan perhitungan fraksi volume untuk
mendapatkan persentase nilai kedua campuran
tersebut. Dari perhitungan fraksi volume didapatkan
persentase nilai tertinggi untuk hopiete sebesar
56,45% pada variasi waktu milling 25 menit dan
persentase nilai terendah sebesar 28,78% pada variasi
waktu milling 0 menit (tanpa proses milling),
sedangkan pada nano ZnO persentase nilai tertinggi
sebesar 67,83% pada variasi waktu milling 0 menit
(tanpa proses milling) dan persentase nilai terendah
sebesar 43,54% pada variasi waktu milling 25 menit.
Hasil uji kekerasan menunjukkan nilai kekerasan
yang cenderung meningkat dengan bertambahnya
waktu milling. Nilai tertinggi yang didapatkan pada
uji kekerasan sebesar 148,03 MPa dengan waktu
milling 25 menit, sedangkan nilai terendah yang
didapatkan sebesar 44,76 MPa dengan waktu milling
0 menit (tanpa proses milling). Hal ini dikarenakan

B 26
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

proses milling mempengaruhi sifat homogen
campuran bahan.
Hasil uji kekuatan tekan menunjukkan nilai
kekuatan tekan yang cenderung meningkat dengan
bertambahnya waktu milling. Nilai tertinggi yang
didapatkan pada uji kekuatan tekan sebesar 401,831
MPa dengan waktu milling 25 menit, sedangkan nilai
terendah yang didapatkan sebesar 125,407 MPa
dengan waktu milling 0 menit (tanpa proses milling),
sedangkan nilai lapisan email (enamel) sekitar 250-
550 MPa. Hal ini dikarenakan proses milling
mempengaruhi sifat homogen campuran bahan.
Hasil dari beberapa pengujian tersebut dapat
dilihat bahwa proses milling mempengaruhi nilai
kekerasan, kekuatan tekan dan fraksi volume pada uji
XRD. Nilai yang diperoleh menyatakan bahwa
semakin lama waktu milling, maka nilai yang
dihasilkan semakin besar. Hal ini dikarenakan pada
saat proses milling, kedua campuran bahan tersebut
tercampur secara merata (homogen).
KESIMPULAN
Dari serangkaian penelitian dan analisis tentang
pemberian nanopartikel ZnO ke dalam semen gigi
seng fosfat (zinc phosphate cement) tanpa dan dengan
variasi waktu milling diperoleh kesimpulan sebagai
berikut :
Hasil Uji XRD (X-Ray Diffraction) menunjukkan
fraksi volume hopiete meningkat seiring dengan
bertambahnya waktu milling, dengan nilai tertinggi
dicapai pada waktu milling yaitu sebesar 25 menit
dengan nilai yang dihasilkan sebesar 56,45 %, diikuti
dengan menurunnya nilai fraksi volume nano ZnO
dengan nilai terendah dicapai pada waktu milling 25
menit sebesar 43,54 %. Hal ini terjadi karena nano
ZnO bereaksi dengan semen seng fosfat membentuk
hopiete.
Nilai kekerasan dan kekuatan tekan dari semen
gigi seng fosfat (zinc phosphate cement) meningkat
seiring dengan lamanya waktu milling 25 menit
dengan nilai uji kekerasan tertinggi sebesar 148,03
MPa dan nilai uji kekuatan tekan tertinggi sebesar
401,831 MPa. Hal ini menunjukkan pertambahan
kandungan hopiete meningkatkan nilai kekerasan dan
kekuatan tekan.
DAFTAR PUSTAKA
Afif,K.M., 2011, Pengaruh Penambahan Nanopartikel
Seng Oksida Terhadap Struktur Kristal Semen
Seng Fosfat, Skripsi Fsaintek UNAIR,
Surabaya
Anusavice,J .K., 2003, Philips : Buku Ajar Ilmu Bahan
Kedokteran Gigi, alih bahasa : J ohan Arif
Budiman dan Susi Purwoko, E.GC, J akarta
Combe,E.C,, 1992, Sari Dental Material, alih bahasa :
drg. Slamet Terigan, MS, PhD, Balai Pustaka,
J akarta
Greenwood, Norman N. And A. Earnshaw., 1997,
Chemistry of the Elements 2
nd
Edition. Oxford
: Butterworth - Heinemann
Hera, 2009, Konsep Laju Reaksi
Noort,R.V., 1994, Introduction to Dental Material,
Mosley, London
Nikisami, 2011, Sintesis Nanopartikel dengan High
Energy Milling
Park C.K., Silsbee M.R., Roy D.M., 1998, Setting
Reaction and Resultant Structure of Zinc
Phosphate Cement in Various
Orthophosphoric Acid Cement-Forming
Liquids. Cement and Concrete Research 28
(1): 141-150. doi: 10.1016/S0008-
8846(97)00223-8
Rohman.N.T., 2009, HKI Media/Vol.IV/No.3.
Tangerang : PUSPIPTEK, Serpong, Tangerang
Servais.G.E. And L.Cartz., 1971, Structure of Zinc
Phosphate Dental Cement. Wisconsin :
College of Engineering, Marquette University,
Milwaukee, Wisconsin, USA
Van Vlack.L.H., 1985, Ilmu dan Teknologi Bahan (
Ilmu Logam dan Bukan Logam ) Edisi Kelima.
J akarta : Erlangga
Widodo,R.W.E., 2011, Pengaruh Pemberian
Nanopartikel ZnO Terhadap Mikrostruktur
Semen Gigi Seng Fosfat, Skripsi Fsaintek
UNAIR, Surabaya

B 27
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ANALISIS STRUKTUR DAN SIFAT MAGNETIK PADUAN MAGNET
NANOKRISTALIN BARIUM HEKSAFERIT BAFE
12
O
19
DENGAN METODE
MECHANICAL MILLING
Eva Hasanah
1*)
, Agus Setyo Budi
1*)
, Wisnu Ari Adi
2*)
dan Iwan Suguhartono
1*)

1
Universitas Negeri Jakarta, Jln.Pemuda No.10 Rawamangun, Jakarta Timur 13220
2
Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir-BATAN, Kawasan Puspiptek, Serpong, Tanggerang Selatan
15314
Email: evahasanah68@yahoo.com
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis paduan magnet nanokristalin BaFe
12
O
19
dan menganalisis struktur
kristal, mikro srtuktur dan sifat magnetiknya. Pencampuran bahan baku dilakukan dengan metode Mechanical
Milling menggunakan High Energy Milling (HEM), kemudian dicetak tekan berbentuk pelet dan disintering
pada suhu 1200
o
C. Proses milling dilakukan dengan variasi waktu 10, 20, dan 30 jam. Hasil pengukuran
difraksi menunjukkan pola difraksi yang menurun dan melebar dengan meningkatnya waktu milling, namun
tidak terbentuk fasa amorf. Selanjutnya sampel dianalisis sifat kemagnetan dengan alat VSM. Hasil pengukuran
VSM, menunjukkan sifat magnetik yang lebih optimum setelah milling 30-jam dengan nilai remanensi dan
koersifitas berturut-turut sebesar 33.2 emu/gram dan 163 mT. Kenaikan sifat magnet BaFe
12
O
19
tersebut
terkait dengan ukuran butir yang semakin kecil (skala nano) setelah proses milling 30-jam, yaitu 37.72 nm.
Pemanfaatan magnet permanen nanokristalin BaFe
12
O
19
dilakukan dengan mengaplikasikannya kedalam
sistem generator listrik sederhana.
Keywords: Sifat magnetik, BaFe
12
O
19 ,
nanokristalin, Mechanical Milling Method

PENDAHULUAN
Energi alternatif telah banyak dikembangkan
guna mengatasi kelangkaan akan bahan bakar fosil
serta untuk mengurangi efek pencemaran. Salah satu
dari energi alternatif yang dapat dimanfaatkan secara
gratis tanpa efek pencemaran, yaitu pemanfaatan
tenaga magnet permenen. Tenaga magnet permanen
mampu bertahan 400 tahun hingga sifat
kemagnetannya hilang. Magnet permanen yang dalam
hal ini digunakan sebagai aplikasi pengubah energi,
dari energi gerak (kinetik) ke energi listrik adalah
generator listrik.
Ferit adalah salah satu jenis magnet permanen
yang penggunaannya masih menduduki 50% pangsa
pasar dunia. Barium heksaferit atau BaFe
12
O
19

merupakan golongan magnet ferit keras dengan
struktur kristal heksagonal yang proses sintesisnya
sangat ekonomis karena bahan bakunya yang mudah
didapat dan memiliki sifat fisis menguntungkan,
seperti kestabilan kimia yang baik, tahan terhadap
korosi, temperatur curie cukup tinggi 450
o
C (Irasari,
P et al, 2007). Namun, BaFe
12
O
19
yang ada saat ini
belum memiliki sifat magnetik (Hc,Ms dan Mr)
optimal dibandingkan dengan bahan magnet berbasis
logam tanah jarang. Berikut ini adalah gambar
perkembangan magnet dengan nilai energi produk
masing masing bahan.



Gambar 1. Perkembangan Magnet Keras (Constantinides, S 1995)
Sesuai dengan kajian pustaka mengenai teori
magnetik bahwa :

(1)

M merupakan nilai magnetisasi sebanding dengan
jumlah momen magnetik total m per satuan volum,
dengan d terkait dengan diameter kristal suatu bahan
magnet (Qiang,Li, et al ,2008). Kemudian, penelitian
oleh A.Attie dan A.Mali tahun 2008 menyatakan
bahwa, sifat kemagnetan bahan (Hc,Ms,Mr dan
BH
max
) dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu jenis
bahan, ukuran kristalit, dan orientasi magnetiknya.
Metode mechanical milling adalah salah satu
teknik modifikasi partikel paling sederhana, lowcost,
dan menghasilkan produk lebih banyak dibandingkan
dengan metode kimia (kopresipitasi, sol-sel,dll).
Metode mechanical milling merupakan teknik
pencampuran bahan yang berfungsi untuk



B 28
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

memperkecil ukuran partikel/kristalit baik logam,
nonlogam maupun mineral. Pada saat proses milling
berlangsung, partikel terjebak dan saling
bertumbukan dengan bola-bola milling sehingga
mengakibatkan patahan, retakkan dan menghancurkan
partikel serta mampu mengubah bentuk, ukuran,
kerapatan serbuk, dan tingkat kemurnian dari material
serbuk.
Gambar 2. Tumbukkan bola-material-bola selama proses
Mechanical Milling (C.Suryanarayana, 2001)

Pada penelitian ini akan dilakukan kajian sintesis
nanokristalin BaFe
12
O
19
dengan reaksi zat padat
(solid state reaction) kemudian dilakukan
penggilingan menggunakan High Energy Milling
(HEM) dengan variasi waktu milling 10,20 dan 30-
jam.Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis dan
memahami bagaimana pengaruh variasi waktu milling
terhadap struktur kristal, mikro struktur, dan sifat
magnetik dari BaFe
12
O
19
.


mpurkan dapat
bereaksi membentuk fasa BaFe
12
O
19
.
METODE PENELITIAN
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah BaCO
3
(kemurnian 99.9%) dan Fe
2
O
3

(kemurnian 99.9%). Kemudian masing-masing bahan
dihitung massanya sehingga didapatkan perbandingan
stoikoimetri Sr : Fe = 1 : 12 yang ditunjukkan dalam
persamaan reaksi sebagai berikut:

BaCO
3(s)
+ 6Fe
2
O
3(s)
 BaFe
12
O
19(s)
+ CO
2(g)

(2)
Kedua bahan dasar BaCO
3
dan Fe
2
O
3
dicampur
menggunakan metode wet mixing. Tujuan milling ini
agar diperoleh campuran sempurna dan menghasilkan
pertikel yang relatif kecil sehingga pada saat sintering
akan memudahkan proses difusi. Setelah itu, sampel
dicetak dalam bentuk pelet menggunakan alat cetak
dengan dies berdiameter 2 cm dan tebal 2 mm.
Sampel yang telah berbentuk pelet, kemudian
disintering pada suhu 1200
o
C selama 4jam yang
merujuk pada diagram fasa seperti yang ditunjukkan
pada gambar 3. Maksud dari proses perlakuan panas
adalah agar material yang telah dica

Gambar 3. Diagram Fasa sistem Fe
2
O3 – BaO
(Nowosielski, et al ,2007)
Selanjutnya masing-masing sampel dihaluskan
kembali dengan menggunakan High Energy Milling
dengan variasi waktu 10 jam, 20 jam, dan 30 jam.
Dimensi vial HEM, panjang 7,6 cm dan diameter 5,1
cm sedangkan diameter ball mill yang digunakan 10
mm, terbuat dari bahan stainless steel. Penelitian ini
menggunakan rasio 2, dilihat dari perbandingan
massa kedua sampel sebesar 20 : 40 dari massa ball
mill. (1 ball mill = 4 gram). Proses penghalusan
bertujuan untuk menghasilkan butiran yang relatif
kecil dalam hal ini diharapkan terbentuk sistem
magnet nanokristalin. Kemudian, sampel dikeringkan
menggunakan oven pada temperatur 85
0
C selama 6
jam. Tujuannya adalah untuk menguapkan ethanol
yang digunakan dalam proses milling.
Analisis kualitas dan kuantitas fasa-fasa yangada
didalam sampel diukur menggunakan X-Ray
Diffractometer (XRD). Pola difraksi sinar-X
dianalisis mengunakan perangkat lunak RIETAN
(Rietveld Analysis) 1994 dan GSAS. Analisis ukuran
kristalit dihitung menggunakan persamaan
Williamson-Hull Method. Struktur mikro dan analisis
elementer pada masing-masing sampel dapat
diketahui dengan menggunakan alat SEM-EDS. Sifat
kemagnetan bahan diuji menggunakan alat VSM.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakterisasi XRD menunjukkan telah terbentuk
single phase BaFe
12
O
19
. Hal ini sesuai dengan hasil
pencocokkan data pengukuran yang telah bersesuaian
dengan data referensi JCPDS Nomer 07-0267, bidang
hkl yang muncul adalah (110),(114),(2011),
(205),(203),dan lainnya. Kemudian, Proses
refinement menggunakan GSAS-EXPGUI
menunjukkan bahwa sampel memiliki selisih antara
observasi dan kalkulasi sangat kecil, yaitu faktor χ
2

(chi-squared) = 1.237 wRp = 0.358, dan Rp = 0.274
(syarat < 1.3,wRp <10% dan Rp <10%).



B 29
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012


Gambar 4. Identifikasi Fasa Pola XRD BaFe
12
O
19

Hasil pengukuran pola XRD gabungan sampel
BaFe
12
O
19
sebelum dan sesudah milling 10, 20 dan
30-jam ditunjukkan pada gambar 5
.Gambar 5. Pola Difraksi Sinar-x BaFe
12
O
19
sebelum dan sesudah
milling 10-20 dan 30-jam
Pada gambar terlihat intensitas puncak difraksi
semakin menurun dan melebar dengan meningkatnya
waktu milling, namun tidak terbentuk fasa amorf. Hal
ini mengindikasikan terjadinya kerusakan struktur
yang diakibatkan oleh tumbukkan bola-bola milling.
Hasil konfirmasi analisis elementer juga
menunjukkan bahwa tidak ada unsur lain kecuali
unsur utama penyusun senyawa BaFe
12
O
19
. Unsur Au
dan Cu adalah unsur yang digunakan saat preparasi
EDS. Berikut adalah tabel untuk presentase massa
dan atomik sebelum dan sesudah milling 30-jam

TABEL I .Hasil Analisis Kuantitatif Unsur BaFe
12
O
19
Sebelum
dan sesudah milling
Sebelum Milling Milling 30-jam
Unsur
Massa
%
Atomik
%
Massa
%
Atomik
%
O 10.56 38.50 14.71 45.96
Fe 42.2 44.09 44.20 39.57
Cu 2.85 2.62 4.64 3.65
Ba 4.41 2.94 4.94 2.82
Au 39.98 11.85 31.43 7.98

Berdasarkan hasil pengamatan morfologi sampel
menggunakan SEM (perbesaran 20000x) tampak
bahwa partikel BaFe
12
O
19
terdistribusi merata
diseluruh permukaan sampel, berbentuk poligonal
yang merupakan ciri-ciri bentuk partikel dari
BaFe
12
O
19
dengan ukuran partikel 100 – 1000 nm.
Bertambahnya waktu milling membuat partikel
semakin halus dan cenderung teraglomerasi. Hal ini
disebabkan sampel mempunyai sifat magnet yang
kuat dan didukung oleh sifat ingin menstabilkan diri
dengan cara bergabung dengan partikel yang
ukuranya lebih kecil.

a.
b.
c.
d.
Gambar 6.Foto SEM BaFe
12
O
19
: a) original, b)10-jam
g,c)20-jam milling, dan d)30-jam m millin illing
Karakterisasi VSM dilakukan untuk mengetahui
sifat kemagnetan dari nanokristalin BaFe
12
O
19

sebelum dan sesudah milling 10,20 dan 30-jam. Data
hasil karakterisasi VSM berupa kurva histerisis
magnetisasi (M) dengan medan magnet (H). Sifat
kemagnetan dari hasil sintesis diketahui berbeda-beda
untuk setiap variasi waktu milling, seperti yang
ditunjukkan pada gambar 7. Nilai magnetisasi



B 30
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

remanensi (Mr), Magnetisasi Saturasi (Ms) dan
Medan koersifitas (Hc) pada masing-masing variasi
ditunjukkan pada tabel 2.
0 5 10 15 20 25 30
30
40
50
60
70
80
90
37.72
45.02
55.95
82.93
U
k
u
r
a
n

k
r
i
s
t
a
l
i
t

(
n
m
)





waktu milling (jam)

60
40
20
0
-20
-40
-60
M
o
m
e
n

(
e
m
u
/
g
r
a
m
)
-0.5 0.0 0.5
Field (Tesla)
Original
Milling 10-jam
Milling 20-jam
Milling 30-jam

Gambar 8. Grafik hubungan waktu milling terhadap ukuran kristalit
BaFe
12
O
19
KESIMPULAN
Dari beberapa hasil analisis data disimpulkan
bahwa telah terjadi kerusakan struktur kristal akibat
proses milling, hal ini dapat dilihat dari semakin
menurun dan melebarnya intensitas difraksi namun,
tidat terbentuk fasa amorf, karena masih munculnya
bidang kristal BaFe
12
O
19
. Analisis ukuran kristalit
bahan magnet permanen BaFe
12
O
19
hasil milling
selama 30-jam dengan persamaan Williamson hull
method adalah 37.72 nm dan karakterisasi SEM
menunjukkan partikel mengalami aglomerasi dengan
ukuran partikel terkecil sebesar 100 nm. Hasil
karakterisasi VSM paduan magnet permanen
nanokristalin BaFe
12
O
19
memberikan nilai
magnetisasi remanen (Ms) sebesar 33.2, medan
saturasi (Ms) sebesar setelah 49.9 emu/gram dan
medan koersivitas (Hc) sebesar 163 mT. Sifat
magnetik paduan magnet permanen BaFe
12
O
19

optimal setelah proses milling 30-jam.
Gambar 7. Kurva Histerisis BaFe
12
O
19
sebelum dan sesudah
milling 10,20, dan 30-jam

TABEL II
Nilai Mr, Ms dan Hc BaFe
12
O
19
Sebelum dan sesudah milling

Sifat Kemagnetan BaFe
12
O
19

Sampel Remanen
(Mr)
emu/gram
Saturasi
(Ms)
emu/gram
Koersivitas
(Hc)
mT
Original 9.5 24.7 40.3
10-jam 19.6 31.3 47.3
20-jam 20.2 34.4 79.0
30-jam 33.2 49.9 163.0
Sifat kemagnetan partikel terkait erat dengan
ukuran partikel. Keterkaitan dalam hal ini dipengaruhi
oleh domain magnetik yang dimiliki oleh tiap-tiap
sampel, apakan domain tunggal atau jamak (Cullity
B.D, 1972). Dalam tabel diatas terlihat sifat magnetik
semakin meningkat dengan meningkatnya waktu
milling. Semakin kecil ukuran kristalit suatu bahan,
maka semakin menuju kekeadaan domain tunggal
sehingga nilai medan koersivitasnya akan semakin
meningkat, konsekuensinya semakin besar pula
magnetisasi remanensi yang dihasilkan. Dalam
penelitian ini digunakan persamaan williamson Hull-
method untuk menghitung besarnya ukuran kristalit
bahan.
DAFTAR PUSTAKA
Irasari, P, Idayanti, Novrita (2007), Aplikasi Magnet
Permanen BaFe
12
O
19
dan NdFeB pada
Generator Magnet Permanen Kecepatan
Rendah Skala Kecil, Jurnal Sains Material
Indonesia, Vol. 11 no.1
Constantinides, S (1995), Novel Permanent Magnets
and Their Uses, San Francisco. USA
Qiang,Li., Jian, Li., Chen, Xianmin (2008), Study of
coercive force for yZnFe
2
O
4
-(1-y)Co Fe
2
O
4

magnetik nanoparticles system, journal of
experimental Nanoscience, vol.3, 245-257
Perhitungan ukuran kristalit diambil pada tiga
bidang kristal yang terlihat jelas pelebaran
puncaknya, antara lain bidang kristal (110), (205),
dan (220). Berikut adalah grafik penurunan ukuran
kristalit akibat peningkatan waktu milling.
C.Suryanarayana (2001), Progress in Materials
Science, Pergamon Elsevier hal. 32
Nowosielski, R., Babilas, R., Wrona.J (2007),
Structure and Properties of Barium ferrite
powders prepared by milling and annealing,
Journal of Achivements in Material and
Manufacturing Engineering, vol.28 issues 12,
735-742
Cullity B.D (1972), Intoduction to Magnetic Material,
USA. Addison Wesley



B 31
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

PENGARUH VARIASI PH PELARUT HCL PADA SINTESIS BARIUM M-
HEKSAFERRIT DENGAN DOPING ZN (BAFE
11,4
ZN
0,6
O
19
) MENGGUNAKAN
METODE KOPRESIPITASI
Irwan Ramli, Inayati N. Saidah, Findah R. S dan M. Zainuri
Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
Email : irwan11@mhs.physics.its.ac.id
Abstrak
Telah dilakukan penelitian mengenai pengaruh variasi pH pelarut HCl pada sintesis barium M-heksaferrit
dengan doping Zn (BaFe11,4Zn0,6O19) menggunakan metode kopresipitasi. Metode kopresipitasi sederhana
dilakukan untuk mensintesis serbuk barium M-heksaferrit BaFe11,4Zn0,6O19. Eksperimen dilakukan dengan
mengontrol pH HCl dengan variasi nilai pH= 1; 2; 3; 4 dan dilakukan drying dengan T=80⁰C dan dikalsinasi
pada T=150⁰C. Proses heat treatmant tersebut di holding time selama 4 jam. Serbuk barium M-heksaferrit
BaFe11,4Zn0,6O19 dikarakterisasi dengan DSC/TGA, XRD, SEM, dan VSM. Fasa barium M-hexaferrite
BaFe11,4Zn0,6O19 terbesar terdapat pada nilai pH=1 pada temperatur kalsinasi 150 ⁰C selama 4 jam sebesar
83,98% mempunyai nilai koersivitas (Hc) sebesar 0,0178T, magnetisasi remanensi sebesar 3,113 emu/gram dan
magnetisasi saturasi (Ms) maksimum sebesar 25,50 emu/gram. Gambaran foto SEM –EDX dari prekursor
BaFe11,4Zn0,6O19 pada temperatur kalsinasi 1500C memperlihatkan bahwa elemen dari barium M-heksaferrit
adalah Ba, Fe, Zn, O dan ukuran partikelnya adalah 1 µm serta ukuran kristal adalah 38,202nm.
Kata kunci : Barium MHeksaferrite, kopresipitasi, pH

PENDAHULUAN
Barium heksaferrit dengan stuktur heksagonal
(BaFe12O19) telah dikenal sebagai material magnetik
permanen yang memiliki high - performance, secara
teoritis mempunyai anisotropi kristalin magnet yang
cukup besar, koersivitas tinggi (6700 Oe), temperatur
Curie (450 ⁰C), magnetisasi saturasi yang relatif
besar (78 emu/g), kestabilan kimiawi yg baik, dan
tahan korosi (X. Tang et.al., 2006). Barium hexaferrit
memiliki saturasi magnetisasi (tingkat kejenuhan sifat
magnetik) dan koersivitas intrinsiknya (kekuatan
medan magnetik) juga sangat tinggi, menyebabkan
sifat anisotropik material semakin meningkat
menyebabkan sifat absorbsinya menjadi semakin
lemah sehingga sulit digunakan sebagai media
perekam magnetik. Untuk mengatasi masalah
tersebut, ion besi dalam fasa-M bisa disubstitusi
dengan kation logam lain yang ukurannya hampir
sama (Al3+, Ga3+, Co2+, Ti4+, Zn2+) (S. Rosler
et.al, 2003).
Penambahan ion dopan Zn diharapkan dapat
mereduksi sifat anisotropik magnetik dari barium M-
hexaferrit BaFe12-xZnxO19, sebagai akibat dari
dikacaukannya arah momen magnet oleh munculnya
ion substitusional hingga domainnya menjadi random.
Selain itu, tingginya nilai medan koersivitas bisa
diturunkan dengan membuat ukuran serbuk (butir)
mencapai orde nano. Interaksi antar butir efektif
untuk ukuran butir < 380 nm memberikan implikasi
terhadap ketiga sifat kemagnetan dasar yaitu
magnetisasi remanen, medan koersivitas, dan produk
energi maksimum.. Berdasarkan uraian di atas,
maka pada penelitian ini material barium heksaferrit
disintesis dengan metode kopresipitasi untuk
membentuk struktur barium M-heksaferrit dengan
cara mensubstitusi ion dopan Zn2+ sehingga
diperoleh komposisi struktur kristalnya. Zn2+
merupakan ion diamagnetik yang akan disubstitusikan
dalam struktur M- heksaferrit untuk menggantikan
ion Fe3+. Substitusi ini memungkinkan karena
dimensi ion Zn
2+
(jari-jari ionik = 0,074 nm) mirip
dengan dimensi Fe
3+
(jari-jari ionik = 0,065 nm).
Dengan demikian pensubstitusian ion doping Zn
2+

terhadap Fe
3+
diharapkan tidak merubah struktur
kristalnya dan untuk menurunkan sifat
kemagnetannya.
Mengacu dari hasil penelitian sebelumnya
komposisi fasa terbaik BaFe
12-x
Zn
x
O
19
diperoleh
pada substitusi ion dopan Zn dengan konsentrasi
(x=0,6) pada pemanasan T=100
o
C dengan persentase
terbentuknya barium M-haxaferrit sebesar 91,99%
(D. Yuliana, 2011), sehingga pada penelitian ini
menggunakan konsentrasi ion dopan (x=0,6) yang
selanjutnya disebut (BaFe
11,4
Zn
0,6
O
19
). Homogenitas
ion dari Ba
2+
dan Fe
3+
dalam suatu campuran adalah
faktor kunci adanya transformasi fasa dari barium
hexaferrite yang mana bentuk komplek dari ion metal
dengan pelarut asam. Konsentrasi relatif dari Ba
2+
dan
Fe
3+
pada proses kelarutan tergantung dari rata-rata
variasi pH yang digunakan (L. Junliang et.al., 2009).
Seperti kita ketahui, banyak faktor yang
mempengaruhi karakteristik dari BAM, seperti
metode sintesis, perbandingan dari ion Fe
3+
dan Ba
2+
,
perbandingan molar dari larutan asam terhadap ion
logam, pH pada awal pelarutan, temperatur anneal,

B 32
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

dan lain-lain (W. Zhengming et.al, 2008). Oleh karena
itu, sintesis dilakukan dengan memvariasikan pH
pelarutnya yaitu asam klorida. Sampel yang sudah
disintesis tersebut akan dikarakterisasi sehingga
diketahui perubahan fasa, identifikasi fasa,
mikrostruktur, dan sifat magnetiknya.
METODOLOGI PERCOBAAN
Bahan
Bahan utama yang digunakan dalam sintesis
barium M-heksaferrit BaFe
11,4
Zn
0,6
O
19
adalah
barium karbonat (BaCO
3
), Iron (III) Cloride
Hexahidrate (FeCl3 .6H
2
O), Zn, larutan HCl,
NH
4
OH dipakai dalam sintesis dengan metode
kopresipitasi, dan aquades digunakan sebagai bahan
pencuci dalam proses kopresipitasi.
Sintesis BaFe
11,4
Zn
0,6
O
19

Sintesis BaFe
11,4
Zn
0,6
O
19
dibuat dengan metode
kopresipitasi. Zn (powder) dilarutkan dalam HCl
disirring dalam magnetic stirrer. Untuk pH 1,2,3, dan
4 dilakukan proses pengenceran HCl dengan merubah
molaritasnya sesuai dengan pH yang akan
divariasikan. Setelah larutan homogen ditambahkan
barium karbonat (BaCO
3
) sampai terlarut sempurna.
Kemudian ditambahkan Iron (III) Cloride
Hexahidrate (FeCl
3
.6H
2
O) dan distirring hingga
terlarut sempurna. Kemudian ditambahkan larutan
pengendap NH
4
OH dengan burret sehingga endapan
diperoleh dengan homogenitas yang tinggi. Kemudian
sampel didinginkan dan dicuci dengan aquades
hingga pH 7 dan larutan disaring untuk memisahkan
sebuk prekursor. Prekursor ini dikeringkan pada suhu
80
0
C.
Serbuk prekursor ini disintering pada suhu 150
°C selama 4 jam untuk mendapatkan serbuk
kristalin BaFe
11,4
Zn
0,6
O
19

Karakterisasi
Karakterisasi awal dilakukan Thermal Analysis
(TA) untuk mengetahui adanya perubahan fasa pada
sampel. X-Ray Diffractometer (XRD) untuk
mengetahui perubahan fasanya kristal/fasa, Scanning
Electron Microscope (SEM) untuk mengetahui
mikrostuktur, dan Vibrating Sample Magnetometer
(VSM) untuk mengetahui sifat kemagnetannya.

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
Analisa Transformasi Fasa pada kurva DSC/TGA
pH 1
Pada grafik DSC/TGA Penurunan massa ini bisa
juga menunjukkan adanya reaksi kimia yaitu
hilangnya senyawa-senyawa oksalat yang terlarut
pada saat proses kopresipitasi untuk membentuk fasa
yang lebih stabil. Selain itu terjadi proses kristalisasi
yang menyebabkan sejumlah ikatan terlepas dan
hilang sehingga terjadi reduksi massa. Pada rentang
460
0
C T 660
0
C terjadi penurunan massa
kembali pada kurva TGA sebesar 2,359% yang diikuti
dengan gejala endotermis pada kurva DSC. Fenomena
penurunan massa yang pertama disertai dengan
proses endotermik yang disebabkan oleh hilangnya
semua kandungan gas pada material serta
terserapnya energi untuk memutuskan ikatan pada
BaFe
11,4
Zn
0,6
O
19

(BaO.6Fe
2
O
3
) menjadi BaO dan
6Fe
2
O
3
. Sedangkan fasa BaO tidak terdeteksi oleh
XRD, karena persentasenya jauh lebih rendah
dibandingkan dengan Fe
2
O
3
.

80 275
Gambar 1. Grafik DSC/TGA BaFe
11,4
Zn
0,6
O
19

pada pH =1 dengan
T=80
0
C selama 4 jam.
Pada T 660
0
C sudah tidak terjadi penurunan
massa atau kenaikan massa pada kurva TGA. Hal ini
dikarenakan tidak ada perbedaan panas yang mengalir
ke sampel dan referen (pembanding). Artinya pada
suhu ini sudah tercapai fasa yang stabil, sehingga
pada kondisi ini tidak terjadi reduksi massa atau
kenaikan massa. Berdasarkan analisa di atas,
pemilihan suhu drying adalah 80
0
C karena pada suhu
ini terjadi penurunan massa yang sangat tajam pada
kurva TGA dan gejala endotermik pada DSC. Suhu
kalsinasi sampel berada pada range 120
0
C – 660
0
C
tujuannya untuk menghilangkan senyawa-senyawa
yang tidak dikehendaki seperti kandungan air, garam,
atau oksida (BaCl
2
dan BaO) pada proses
kopresipitasi dan ukuran partikel yang homogen.
Sehingga yang terbentuk fasa BaM
(BaFe
11.4
Zn
0.6
O
19
) terbanyak
Analisis Mikrostruktur Fasa Barium M-Heksaferit
(BaFe11,4Zn0,6O19) dengan SEM
Tabel 1. Hasil Elemen- Elemen EDX dari BaM












Untuk mengetahui secara kualitatif dan
kuantitatif elemen-elemen sebaran yang terkandung
pada material Barium M-Heksaferit

B 33
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

(BaFe
11,4
Zn
0,6
O
19
) dapat dilakukan dengan analisa
SEM-EDX. Tabel 1 menunjukkan kandungan dari
elemen- elemen penyusun utama BAM mengandung
elemen utama Fe, Ba, dan O. Berdasarkan
pengamatan backscatter (warna) oranye (O), merah
(Ba), biru (Fe), dan hijau (Zn) dimana material
tersebut menyebar merata, yang merupakan elemen
utama pembentuk BAM.

Gambar 2 Hasil backscatter dari BAM




Gambar 3. H=1 pada
Gamba suhu
150 ⁰C yang diambil dari partikel yang bergerombol

s maupun kimiawi yang
berga
BaFe
11,4
Zn
0,6
O
19
(BaM) pad 4 dengan Suhu Kalsinasi T=
150
0
C.
nm)



Foto SEM barium M-heksaferrit dengan p
suhu 150 ⁰C yang diambil dari 1 partikel

r 4. Foto SEM barium M-heksaferit dengan pH=1 pada
Berdasarkan Gambar (2) dan (3) terlihat bahwa
dengan perbesaran yang sama (10.000 kali) ukuran
serbuk dari hasil foto SEM masih sulit ditentukan
karena dimensi partikel serbuk barium M-hexaferrit
dalam penelitian ini telah mencapai orde nano.
Gambaran foto SEM prekursor BaFe
11,4
Zn
0,6
O
19

menunjukkan distribusi ukuran partikel yang serupa
dengan ukuran kristal hasil XRD dengan ukuran yang
mencapai orde nm. Dari distribusi ukuran partikel
pada Gambar 3 dan 4 terlihat bahwa material ini
termasuk nanomaterial. Hal ini sangat menarik
karena ketika dimensi material menuju nilai beberapa
nanometer, banyak sifat fisi
ntung pada ukuran.
Tabel 2. Hasil Perhitungan Ukuran Kristal Prekursor
a pH =1-
D (
pH
Fe
2
O
3
(Hematit)
BaM
1
27,493 38,202
2
24,771229 32,65525
3
16,69068 42,69068
4
10,07425 43,05006
Dari data FWHM dapat diperoleh informasi
bahwa ukuran kristal BaM (BaFe
11,4
Zn
0,6
O
19
)
mengalami peningkatan ukuran kristal seiring dengan
bertambahnya temperatur. Peningkatan dimensi
partikel tersebut disebabkan oleh terbentuknya liquid
bridge antar partikel sebagai akibat dari
meningkatnya difusi atomik antar permukaan partikel
karena pertambahan daya dorong (driving force)
a
Barium M-Hexaferrit (BaFe
11,4
Zn
0,6
O
19
)
sehingga partikel akan menjadi lebih besar.
Identifikasi Kuantitatif dan Kualitatif Fas

si XRD pada T=150 Gambar 5 Pola difrak ntuk variasi pH=1; 2;
terjadi subtitusi ion
menggantikan posisi Fe.
o
C u
3; dan 4 selama 4 jam.
Dari penggabungan pola difraksi yang terbentuk
di T=80
0
dan T=150
0
C bentuk pola difraksinya masih
kasar dengan bentuk puncak yang cenderung melebar
mengidentifikasikan ukuran butir sudah dalam orde
nano yang ditunjukkan pada Gambar (5) pada pola
XRD diatas pada T=150
0
mengalami pergeseran
puncak yang semakin ke kanan meskipun selisihnya
sangat kecil. Hal tersebut disebabkan substitusi ion
doping Zn sangat kecil, sehingga keberadaanya tidak
terdeteksi oleh XRD. Selain itu, kehadiran ion dopan
Zn tidak akan menyebabkan munculnya fasa baru
karena ion Zn menggantikan posisi Fe. Jadi
pergeseran puncak yang ke kanan tersebut
menunjukkan bahwa

B 34
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Prekursor BaM yang di drying pada temperatur
80
0
C masih terdapat fasa garam dan fasa oksida
seperti BaO dan BaCl. Pada pH yang semakin
asam, terbentuk banyak BaM sebesar 83,98%. Hal ini
bisa disebabkan fasa garam (BaO) bertransformasi
menjadi fasa BaM. Selain itu juga pada pH yang
semakin asam kepolaran pelarut HCl juga semakin
kuat karena kandungan ion Hidrogen (H
+
) semakin
banyak. Ion H
+
akan berikatan dengan CO
3
2-
dan ion
Cl
-
dari zat terlarut yang bermuatan ion positif.
Sedangkan ion Cl
-
akan berikatan dengan ion Ba
2+
,
Zn
2+
, Fe
3+
. Dari reaksi antar ion tersebut fasa BaM
sudah bisa dihasilkan. Karena ion H
+
pada pH=1 jauh
lebih banyak bila dibandingkan dengan ion pada
pH=4. Karena molaritas pada pH=1 jauh lebih besar
bila dibandingkan pada pH=4. Sehingga pada pH=1
bisa menghasilkan fasa BaM jauh lebih banyak bila
dibandingkan dengan pH=1.
Prosentase fasa barium M-heksaferrit yang
dipanaskan pada suhu 80
0
C pada pH 1; 2; 3 dan 4
secara berturut turut adalah 48,15%; 50,76%; 63,18%;
dan 78,76%. Prosentase fasa barium M-heksaferrit
yang dipanaskan pada suhu 150
0
C pada pH 1; 2; 3 dan
4 secara berturut turut adalah 83,98%; 79,89%;
53,52%, dan 26,59%. Prosentase tersebut dapat dilihat
pada (Tabel 2).
Tabel 2 . Hasil Prosentase Barium M-Hexaferrite pada Konsentrasi
0,6 pada Variasi pH 1, 2, 3, dan 4 dengan X’pert High Score Plus
pada T=150
o
C Selama 4 Jam
T=150
o
C
pH
% BaM % Fe
2
O
3

1
83.98 16.01
2 79.89 20.10
3 53.52 46.47
4 26.59 73.41
Pemilihan suhu 150
0
C didasarkan pada hasil uji
DSC/TGA. Pemanasan pada suhu T=150
0
C ini
bertujuan agar senyawa-senyawa yang tidak
dikehendaki/ pengotor seperti kandungan air, garam,
atau oksida (BaCl
2
dan BaO) pada proses
kopresipitasi hilang dan mendapatkan ukuran partikel
yang homogen. Selain itu, peningkatan temperatur
pemansan menyebabkan terputusnya ikatan pada
heksaferrit (BaFe
12
O
19
atau BaO.6Fe
2
O
3
) menjadi
BaO dan Fe
2
O
3
.
Identifikasi Kurva Histeresis dengan VSM
Untuk mengetahui sifat kemagnetan barium M-
heksaferrit, maka akan dilakukan pengukuran kurva
histeresis dengan peralatan Vibrating Sample
Magnetometer (VSM). Besarnya sifat magnet suatu
bahan
dapat diketahui melalui kurva histeresis di bawah ini,
dari kurva tersebut dapat diketahui besarnya
magnetisasi remanen (Mr), dan koersivitas (Hc).
Gambar 6 kurva histeresis untuk sampel uji dengan pH=1 pada
suhu T=150 ⁰C.
Berdasarkan Gambar 6 diatas dapat dilihat bahwa
kurva histeresis sampel tersebut memiliki lebar kurva
yang sempit. Adanya penyempitan lebar kurva
disebabkan pada sampel tersebut struktur kristalnya
tidak hanya BaM saja tetapi terdapat Fe
2
O
3
. Berdasar
Gambar 1 tampak bahwa kurva yang dibentuk adalah
soft magnetic dengan nilai -Hc yang diperoleh yaitu
sekitar 0,0178 T. Sedangkan nilai remanensi yang
diperoleh yaitu 2,182 emu/gram. Begitu juga untuk
pengujian sifat magnet untuk pH 2,3 dan 4.
Remanensi magnetik terbesar dari keempat variasi
pH, terdapat pada pH 1, dimana pada pH 1 cenderung
mempunyai sifat kemagnetan paling besar karena
mempunyai nilai magnetisasi remanensi sebesar 3,113
emu/g sehingga ketika medan luar dihilangkan, masih
terdapat magnetisasi remanensi yang cukup besar,
sedangkan untuk medan koersivitas terbesar terdapat
pada pH=4 yaitu 0,0018 T.
Faktor struktur kristal memberikan pengaruh
yang sangat signifikan terhadap sifat-sifat magnet
permanen. Nilai Hc juga dipengaruhi oleh kemurnian
bahan baku, dan ukuran kristal yang berperan dalam
menghambat pergerakan dinding domain. Semakin
kecil ukuran kristal berarti semakin banyak batas
antar kristal dan semakin banyak penghalang
pergerakan dinding domain sehingga ketahanan
terhadap medan demagnetisasi semakin besar yang
berarti harga Hc semakin tinggi. Sebaliknya semakin
besar ukuran kristal, dinding domain makin mudah
bergerak sehingga ketahanan terhadap medan magnet
demagnetisasi semakin kecil yang berarti harga Hc
semakin kecil.
Tabel 3 Hasil Pengujian Sifat Magnet pada Suhu 150⁰C

Nilai koersivitas yang dihasilkan dari keempat
sampel tersebut masih kecil. Hal ini dikarenakan
pembuatan sampel tersebut dilakukan dengan cara
isotrop dimana pada proses pembentukan arah domain
magnet partikel-partikelnya masih acak.

B 35
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

KESIMPULAN
Telah berhasil disintesis serbuk Barium M-
heksaferrit dengan doping Zn (BaFe11,4Zn0,6O19)
menggunakan metode kopresipitasi dengan pH pelarut
yang berbeda-beda. Persentasi Serbuk barium M-
heksaferrit BaFe11,4Zn0,6O19 terbesar terdapat pada
nilai pH=1, temperatur kalsinasi 150 °C selama 4 jam
yaitu 83,98% dengan nilai koersivitas (Hc) sebesar
0,0178T, magnetisasi remanensi sebesar 3,113
emu/gram dan magnetisasi saturasi (Ms) maksimum
sebesar 25,50 emu/gram.
DAFTAR PUSTAKA
Dian Yuliana, (2011), Sintesis dan Karakterisasi
Struktur Barium M-Heksaferrit Yang Didoping
Zn (BFZO) Dengan Variasi Temperatur Dan
Konsentrasi Ion Dopan (0,2 ≤ x ≤ 1), Tugas
Akhir Program Magister Jurusan Fisika ITS
Surabaya
Liu Junliang, Zhang Wei, Guo Cuijing, Zeng Yanwei,
(2009), Synthesis and magnetic properties of
quasi-single domain M-type barium hexaferrite
powders via sol–gel auto-combustion: Effects
of pH and the ratio of citric acid to metal ions
(CA/M), Journal of Alloys and Compounds
479 (2009) 863–869
S. Rosler, P. Wartewig, dan H. Langbein, (2003),
Synthesis and Characterization of Hexagonal
Ferrites BaFe12-2xZnxTixO19 (0 ≤ x ≤ 2) by
Thermal Decomposition of Freeze-dried
Precursors, Cryst. Res. Technol, Vol.38, No.
11, hal.927-934.
Xin Tang, Bin Yuan Zhao dan Ke Ao Hu, (2006),
Preparation of M-Ba-Ferrite Fine Powder by
Sugar-Nitrates Process, Journal of Material
Science, Vol. 41, hal 3867-3871.
Wang Zhengming, Zhang Zhenhui, Qin Shiming,
Wang Lihui, Wang Xiaoxiao, (2008),
Theoretical Study on Wave-absorption
Properties of a Structure With Left and Right-
Handed Materials, Materials and Design, Vol.
29, hal.1777–1779.

B 36
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

SINTESIS DAN KARAKTERISASI KOMPOSIT HIDROKSIAPATIT DARI TULANG
SOTONG (SEPIA SP.)-KITOSAN UNTUK KANDIDAT APLIKASI BONE FILLER
Istifarah, Aminatun, Prihartini Widiyanti.
Program Studi Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga
Email : istifarah.unair@gmail.com
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik hidroksiapatit (HA) yang disintesis dari tulang sotong
(Sepia sp.) dan komposit HA-kitosan untuk aplikasi bone filler. HA diperoleh dengan reaksi hidrotermal antara
1M aragonit (CaCO
3
) dari lamellae tulang sotong dan 0,6M NH
4
H
2
PO
4
dengan suhu 200
o
C dan variasi durasi
12, 24 dan 36 jam. Kemudian dilakukan sintering dengan suhu 1000°C selama 1 jam. Sampel dengan
kandungan HA tertinggi dijadikan matriks untuk mensintesis komposit, dengan kitosan sebagai serat/filler.
Sintesis komposit HA-kitosan dilakukan dengan metode pencampuran sederhana dengan variasi kitosan dari 20
hingga 35%. Uji XRD, kekuatan tekan, dan MTT assay dilakukan untuk menentukan sampel terbaik. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa diperoleh 100% CaCO
3
dari tulang sotong dan berhasil diproses menjadi 100%
HA amorf. Proses sintering mengakibatkan perubahan prosentase HA dengan derajat kristalinitas yang jauh
lebih baik. Kandungan HA tertinggi diperoleh pada durasi hidrotermal 36 jam setelah disintering, yaitu 94%.
Sampel terbaik diperoleh pada komposit dengan kitosan 20% yang mengindikasikan terjadinya penyatuan
secara sempurna antara HA dan kitosan, dengan kekuatan tekan sebesar (5,241 ± 0,063) MPa. Penambahan
kitosan meningkatkan viabilitas sel dari 87,00% menjadi 97,11%. Komposit HA dari tulang sotong-kitosan
berpotensi untuk aplikasi bone filler pada tulang cancellous.
Kata kunci : Hidroksiapatit, Tulang sotong, Sepia sp., Hidrotermal, Komposit HA-kitosan, XRD, Kekuatan
tekan, MTT assay, Bone filler.
PENDAHULUAN
Berdasarkan data di Asia, Indonesia adalah
negara dengan jumlah penderita patah tulang
tertinggi. Diantaranya, ada sebanyak 300-400 kasus
operasi bedah tulang per bulan di RS. Dr. Soetomo
Surabaya (Gunawarman dkk, 2010). Setiap tahun
kebutuhan substitusi tulang terus bertambah. Hal
tersebut disebabkan meningkatnya kecelakaan yang
mengakibatkan patah tulang, penyakit bawaan dan
non-bawaan (Ficai et al., 2011).
Klasifikasi material substitusi tulang meliputi
autograft, allograft, dan xenograft. Setiap material
tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan sebagai
material untuk memperbaiki tulang. Kelemahan
autograft adalah sering menyebabkan komplikasi
dalam penyembuhan luka, operasi tambahan, nyeri
pada donor dan pasokan tulang tidak memadai untuk
mengisi gap. Sedangkan allograft dan xenograft
terkait dengan reaksi infeksi, inflamasi, dan
penolakan. Teknik allograft yang menggunakan
tulang mayat, memiliki masalah dalam reaksi
imunogenik dan resiko penyakit menular (AIDS dan
hepatitis). Xenograft juga membawa resiko penyakit
menular antar spesies (Wahl dan Czernuszka, 2006
dan Venkatesan et al., 2010). Keterbatasan tersebut
memicu perkembangan riset di bidang biomaterial,
yaitu dengan melakukan berbagai modifikasi
pembuatan biomaterial sintetik. Dengan biomaterial
sintetik diharapkan karakter bahan diketahui secara
pasti dan terkontrol.
Hidroksiapatit (HA) telah dipelajari selama
bertahun-tahun dan digunakan secara luas untuk
pembuatan implan karena kesamaannya dengan fase
mineral tulang dan terbukti biokompatibel dengan
tulang dan gigi manusia (Ivankovic, 2010 dan Earl,
2006). HA dengan rumus kimia Ca
10
(PO
4
)
6
(OH)
2

adalah komponen anorganik utama dari jaringan keras
tulang dan menyumbang 60-70% dari fase mineral
dalam tulang manusia. HA mampu menjalani ikatan
osteogenesis dan relatif tidak larut in vivo. Banyak
penelitian telah menunjukkan bahwa HA tidak
menunjukkan toksisitas, respon peradangan, respon
pirogenetik (menimbulkan demam). Selain itu,
pembentukan jaringan fibrosa antara implan dan
tulang sangat baik, dan memiliki kemampuan
menjalin ikatan langsung dengan tulang host. HA
menunjukkan sifat bioaktif dan osteokonduktif (Hui,
2010) yang sangat bermanfaat dalam proses
mineralisasi tulang (Dewi, 2009).
HA yang disintesis dari bahan alam memiliki
osteokonduktivitas yang lebih baik dibandingkan
dengan dari bahan sintetik (Saraswathy, dalam Dewi,
2008). Bahan alam yang dapat digunakan untuk
sintesis HA adalah tulang sotong. Tulang sotong
(Sepia sp.) merupakan residu budidaya perikanan
yang biasanya dimanfaatkan sebagai pakan burung
dan kura-kura sebagai asupan kalsium. Dengan
harganya yang terjangkau, 85% kalsium karbonat
(CaCO
3
) yang terkandung dalam tulang sotong dapat
dimanfaatkan sebagai sumber kalsium dalam sintesis
HA yang ekonomis dan dapat dijangkau oleh
masyarakat luas.
Scaffolds HA dari tulang sotong pertama kali
disintesis pada tahun 2005 oleh Rocha et al. dengan
metode hidrotermal pada suhu 200ºC. Hasil uji

B 37
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

scaffolds tersebut menunjukkan stabilitas termal yang
tinggi. Selain itu, hasil uji in vitro bioaktivitas pada
SBF dan biokompatibilitas dengan osteoblas,
menunjukkan scaffolds HA dari tulang sotong cocok
untuk aplikasi implan atau rekayasa jaringan.
Dalam pengaplikasiannya, biokeramik seperti HA
dan trikalsium fosfat (TKF) bersifat rapuh. Untuk
menyempurnakan sifat mekanik HA dapat dilakukan
modifikasi dengan menambahkan polimer sebagai
serat/filler.
Kitosan adalah salah satu polimer alami yang
berpotensi untuk digunakan sebagai serat/filler dalam
pembuatan komposit. Kitosan memiliki karakter
bioresorbabel, biokompatibel, non-toksik, non-
antigenik, biofungsional dan osteokonduktif. Karakter
osteokonduktif yang dimiliki kitosan dapat
mempercepat pertumbuhan osteoblas pada komposit
HA-kitosan sehingga dapat mempercepat
pembentukan mineral tulang.
8
Pramanik et al. (2009) mensintesis nano-
komposit HA-kitosan dengan cara pelarutan
sederhana berdasarkan metode kimia. Variasi HA
yang dilakukan dari 10% hingga 60%. Hasil
penelitian menunjukkan nano-komposit yang
dihasilkan dapat digunakan untuk aplikasi bone tissue
engineering. Namun, sekitar 70% penyusun tulang
manusia merupakan senyawa kalsium fosfat, sehingga
pada penelitian ini akan dilakukan sintesis komposit
HA dari tulang sotong (Sepia sp.)-kitosan dengan
variasi HA : kitosan =(80 : 20), (75 : 25), (70 : 30),
(65 : 35). Komposit diharapkan memiliki sifat
mekanik yang baik untuk tujuan aplikasi bone filler.
Selain itu, diharapkan penambahan kitosan dapat
meningkatkan osteokonduktifitas HA, sehingga dapat
mempercepat pembentukan mineral tulang.
METODE
Ekstraksi CaCO
3
dari Tulang Sotong (Sepia sp.)
Untuk mendapatkan CaCO
3
, bagian lamellae
tulang sotong (Sepia sp.) dijadikan bubuk dengan
HEM-E3D, kemudian dipanaskan pada suhu 350°C
selama 3 jam untuk menghilangkan komponen
organik. Kemudian dilakukan karakterisasi XRD
untuk memastikan kandungan CaCO
3
.
Persiapan Bahan
CaCO
3
(Mr = 100) 1M diperoleh dengan
menambahkan 100 gram CaCO
3
ke dalam 1 liter
aquades. Sedangkan larutan NH
4
H
2
PO
4
(Mr =115)
0,6 M dibuat dengan melarutkan 69 gram ke dalam 1
liter aquades.
Sintesis Hidroksiapatit dengan Metode
Hidrotermal
Berikut langkah-langkah sintesis HA.
1. CaCO
3
1M dan larutan NH
4
H
2
PO
4
0,6M
dicampur dengan magnetic stirrer selama 30

mpel berurutan yaitu sampel A, B, dan C.
ali menjadi 7. Hal
rakhir dilakukan dengan
an C dikarakterisasi XRD untuk
ikan terbentuknya HA pada masing-
sampel.
D, E,
erisasi XRD untuk
asing sampel.
ahap sebelumnya.
Sehi
sfat 85%, kemudian
bereaksi. Gel
tanol berlebih.
3. G
bih dari semalam. Komposit yang dihasilkan
kemudian dihaluskan dengan cara digerus dengan
mortar.
menit.
2. Campuran larutan dipindahkan ke reaktor.
3. Reaktor dimasukkan ke dalam oven elektrik untuk
dipanaskan hingga suhu 200
o
C dengan variasi
durasi, yaitu 12 jam, 24 jam, dan 36 jam, dengan
nama sa
4. Hasil yang diperoleh, didinginkan pada suhu
kamar.
5. Sampel dicuci dengan aquades menggunakan
magnetic stirrer. Pencucian dilakukan berulang
kali hingga hasil reaksi terpisah dengan aquades,
ditunjukkan oleh pH yang kemb
tersebut dilakukan untuk menghilangkan hasil
sampingan yang bersifat asam.
6. Pencucian yang te
metanol untuk membatasi aglomerasi partikel HA
selama pengeringan.
7. Sampel dikeringkan dalam oven elektrik pada
suhu 50
o
C selama 4 jam.
. Sampel A, B, d
memast
masing
Sintering
Sintering sampel dengan suhu 1000 °C selama 1
jam untuk menghilangkan pengotor dan
meningkatkan kristalinitas sampel. Nama sampel A,
B, dan C yang telah disintering berurutan adalah
dan F yang kemudian dikarakt
mengetahui kandungan masing-m
Sintesis Komposit HA-Kitosan
Hasil uji XRD menunjukkan sampel F
merupakan sampel terbaik dari t
ngga, sampel F yang digunakan untuk
mensintesis komposit HA-kitosan.
Terlebih dahulu dilakukan preparasi terhadap
kitosan dengan langkah sebagai berikut.
1. Dicampurkan 2 gram kitosan dengan 100 ml asam
asetat 3% dan 6 gram asam fo
dipanaskan dengan suhu 70°C selama 1 jam
dengan pengadukan konstan.
2. Larutan didinginkan, kemudian diendapkan dalam
metanol berlebih untuk menghilangkan asam
asetat dan asam fosfat yang tidak
yang diperoleh, dilarutkan dalam aquades,
kemudian dalam me
el yang terbentuk dikumpulkan dan dikeringkan
dengan suhu 70
o
C.
Sintesis komposit HA-kitosan dilakukan dengan
metode pencampuran sederhana. Kitosan dilarutkan
dalam 10 ml aquades bersuhu 70
o
C, kemudian
ditambahkan bubuk HA secara perlahan. Massa
kitosan dan HA disesuaikan dengan komposisi pada
Tabel I. Campuran tersebut diaduk dengan magnetic
stirrer selama 1 jam. Setelah semua bahan tercampur
sempurna, bubur didiamkan selama semalam untuk
gelembung udara. Bubur yang dihasilkan dari proses
tersebut kemudian dikeringkan dengan suhu 70
o
C
selama le

B 38
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

6. Pelarut DMSO ditambahkan ke setiap well
sebanyak 50 µL lalu disentrifuse 30 rpm selama 5
menit.

Tabel I. Va omposisi Kom
K
riasi K posit
HA itosan
7. Nilai densitas optik (OD) formazan dihitung
dengan Elisa reader pada panjang gelombang 630
nm. Penghitungan persentase viabilitas sel dapat
dihitung dengan membandingkan OD perlakuan
dengan OD kontrol sel.
Sa el
Massa (g) Massa (g)
mp
% %
F 100 2,5 0 0
F1 80 2 20 0,5
F2 75 1,875 25 0,625
F3 70 1,75 30 0,75
HASIL DAN PEMBAHASAN
F4 65 1,625 35 0,825
Uji
nalisis
gan metode rietvield.
Uji
ametral compression test menggunakan
udian diinkubasi selama
4 jam dalam suhu 37° C.
XRD
Difraktometer sinar-X PANalytical X'Pert PRO
digunakan untuk uji XRD. Hasil tersaji dalam bentuk
grafik spektrum dan tabel. Analisis kualitatif
dilakukan dengan mencocokkan dengan ICDD
(International Centre for Diffraction Data). A
Uji XRD
kualitatif dilakukan den
Kekuatan Tekan
Sampel dicetak menjadi menjadi pellet dengan
cara dikompaksi dengan beban 2 ton. Cetakan yang
digunakan berdiameter 13 mm. Pengukuran dilakukan
dengan cara di
Autograph.
Uji MTT Assay
1. Kultur sel fibroblas BHK-21 dalam bentuk
monolayer dengan media Eagle’s dan FBS 5%
ditanam dalam botol kultur roux kem
Hasil uji XRD terhadap bubuk lamellae tulang
sotong yang telah diberi perlakuan panas 350°C
selama 3 jam menunjukkan kandungan 100% kalsium
karbonat (aragonit, CaCO
3
) (Gambar 1). Spektrum
XRD sampel menunjukkan kesesuaian dengan ICDD
01-71-4891. Hal tersebut seiring dengan hasil
penelitian Paljar et al. (2009) yang menunjukkan
bahwa perlakuan panas pada bagian lamellae tulang
sotong tidak mengubah kandungan aragonit menjadi
kalsit, tidak seperti bagian dorsal. Aragonit lebih
mudah bertransformasi menjadi HA dibandingkan
kalsit, sehingga pada penelitian ini digunakan aragonit
dari bagian lamellae tulang sotong untuk mensintesis
HA.
udian
diinkubasi pada suhu 37° C selama 48 jam.
2. Kultur sel dicuci dengan PBS 5 kali yang untuk
membuang sisa serum yang tersisa. Kemudian
ditambahkan tripsin versene untuk melepaskan sel
dari dinding botol dan memisahkan ikatan antar
sel agar tidak menggerombol.
3. Sel dengan kepadatan 2 x 10
5
dimasukkan dalam
100 µL media (media eagle’s 86%, penicillin
streptomycin 1%, fungizone 100 unit/mL),
kemudian dipindahkan ke dalam 96-microwel

Gambar 1 SpektrumXRD bubuk lamellaetulang sotong
l
plate sesuai dengan jumlah sampel dan control.
4. Sampel yang telah disterilisasi sebanyak 0,05
gram dilarutkan dalam 1 ml etanol. Larutan
sampel kemudian dalam 96-microwell plate
sebanyak 50 µL. Lalu diinkubasi 24 jam pada
suhu 37°C.
5. Pereaksi MTT 5 mg/mL yang telah dilarutkan
dalam PBS ditambahkan ke media sebanyak 10
µL untuk setiap well kem
Hasil uji XRD terhadap Sampel A, B, dan C
dengan durasi hidrotermal berturut-turut 12, 24, dan
36 jam menunjukkan bahwa kandungan dari ketiga
sampel tersebut adalah 100% hidroksiapatit [HA,
Ca
10
(PO
4
)
6
(OH)
2
]. Seluruh spektrum XRD yang
terbentuk pada ketiga sampel tersebut bersesuaian
dengan ICDD 01-72-1243. Intensitas puncak tertinggi
Sampel A sebesar 110 (Gambar 2(a)), Sampel B
sebesar 104 (Gambar 2(b)), dan Sampel C sebesar 115
(Gambar 2(c)).

B 39
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012


(a) (b)

(c)
Gambar 2 SpektrumXRD (a) Sampel A, (b) Sampel B, (c) Sampel C


Rendahnya intensitas difraksi puncak tertinggi
pada Sampel A, B dan C menunjukkan bahwa
derajat kristalinitas HA yang dihasilkan masih
rendah (amorf). Selain itu, dimungkinkan Sampel A,
B dan C masih mengandung pengotor. Hal tersebut
didukung oleh warna bubuk dari ketiga sampel yang
kecoklatan (Gambar 3). Diperkirakan pengotor
merupakan ion karbonat (CO
3
2-
). Ion karbonat dapat
hilang pada pemanasan dengan suhu di atas 600°C
(Septiarini, 2009). Dengan demikian, perlu
ditambahkan proses sintering untuk menghilangkan
pengotor dan meningkatkan derajat kristalinitas HA
yang telah diperoleh dari proses hidrotermal.

Gambar 3 Hidroksiapatit sebelumsintering
Sampel A, B, dan C yang telah disintering
dengan suhu 1000°C selama 1 jam berturut-turut
disebut sebagai Sampel D, E, dan F. Hasil uji XRD
menunjukkan bahwa ketiga sampel tersebut
mengandung hidroksiapatit [HA, Ca
10
(PO
4
)
6
(OH)
2
]
dan trikalsium fosfat [TKF, Ca
3
(PO
4
)
2
] sesuai
dengan ICDD berturut-turut 01-72-1243 dan 01-073-
4869. Selain itu, terdapat pula puncak yang tidak
teridentifikasi pada sampel D dan E.
Hasil uji XRD menunjukkan peningkatan
intensitas yang sangat drastis dibandingkan sampel
sebelum disintering yang berkisar dari 104 – 115
saja. Intensitas puncak tertinggi Sampel D sebesar
1658,43 (Gambar 4(a)), Sampel E sebesar 1472,35
(Gambar 4(b)), dan Sampel F sebesar 1938,59
(Gambar 4(c)).
Sintering juga menyebabkan perubahan warna
dari yang semula kecoklatan menjadi putih (Gambar
5). Hal tersebut menunjukkan bahwa pengotor dalam
sampel telah hilang.
Berdasarkan analisis kuantitatif dengan metode
rietveld terhadap hasil uji XRD, diperoleh
kandungan masing-masing sampel.

Tabel II. Kandungan Sampel Setelah Disintering

Nama Sampel HA (%) TKF (%)
D 94 6
E 89 11
F 94 6



B 40
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012


(a) (b)


(c)
Gambar 4. SpektrumXRD (a) Sampel D, (b) Sampel E, (c) Sampel F


Gambar 5 Sampel setelah disintering
Terbentuknya senyawa TKF pada sampel
diakibatkan hilangnya OH akibat perlakuan
temperatur tinggi. Namun, kehadiran TKF dalam
sampel sebenarnya bukanlah hal yang fatal. Hal
tersebut dikarenakan TKF juga digunakan sebagai
material implan tulang. TKF memiliki sifat
biodegradabel, bioaktif dan memiliki kelarutan yang
tinggi (Dewi, 2009).
Berdasarkan Tabel II diketahui bahwa sampel D
dan F yang kandungan HA tertinggi dengan jumah
yang sama, yaitu 94%. Namun, dengan
mempertimbangkan adanya 2 puncak yang tidak
terindentifikasi sebagai HA atau TKF pada spektrum
XRD Sampel D, yaitu pada posisi 2Ɵ 38,4365 dan
44,6553, maka sampel F yang digunakan sebagai
matriks dalam sintesis komposit dengan kitosan.
Telah dilakukan sintesis komposit antara sampel
F dengan kandungan HA 94% sebagai matriks dan
kitosan sebagai serat/filler. Berdasarkan hasil uji
kekuatan tekan yang akan dibahas pada sub bab
selanjutnya, dipilih Sampel F1 sebagai sampel
komposit yang terbaik.
Hasil uji XRD terhadap Sampel F1 ditunjukkan
oleh Gambar 6. Apabila dibandingkan dengan hasil
uji XRD Sampel F, dapat diketahui bahwa terjadi
penurunan intensitas dan pergeseran posisi puncak
pada komposit. Di antaranya pada puncak difraksi
bidang (002), (211), dan (300). Pada bidang (002)
terjadi penurunan intensitas dari 737,25 menjadi
702,44 dan pergeseran posisi puncak dari 25,8674
menjadi 25,8648. Pada bidang (211) terjadi
penurunan intensitas dari 1938,59 menjadi 1830,03
dan pergeseran posisi puncak dari 31,7576 menjadi
31,7554. Pada bidang (300) terjadi penurunan
intensitas dari 1248,14 menjadi 1082,17 dan
pergeseran posisi puncak dari 32,8924 menjadi
32,8873. Penurunan intensitas dan pergeseran
puncak mengindikasikan terjadinya ikatan antara
matriks dan filler, yaitu HA dan kitosan dari proses
pembentukan komposit.
Analisis kuantitafif terhadap hasil uji XRD
menunjukkan bahwa Sampel F1 mengandung 95%
HA dan 5% brushite [CaHPO
4
(H
2
O)
2
]. Hal tersebut
seiring dengan penelitian Sari (2012) yang
menyatakan terbentuknya CaHPO
4
pada komposit
kemungkinan diakibatkan ketidakstabilan
stoikiometri pada HA sehingga rasio molar Ca/P >
1,67 yang membentuk CaO. Dimana, kandungan
CaO diatas 55 % akan membetuk CaHPO
4
.
Ketidakstabilan stoikiometri tersebut juga

B 41
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

dimungkinkan karena Sampel F yang digunakan
untuk mensintesis komposit F1 mengandung TKF
sebesar 6%. Selain itu, afinitas yang tinggi akibat
penambahan asam fosfat pada kitosan juga dapat
menyebabkan ketidakstabilan stoikiometri, karena
ion fosfat pada kitosan dapat bertukar dengan ion
fosfat pada HA (Pramanik et al., 2009).

Gambar 6 SpektrumXRD komposit (Sampel F1)
Uji Kekuatan Tekan
Hasil uji kekuatan tekan menunjukkan
penambahan kitosan sebagai filler dalam komposit
HA-kitosan meningkatkan kekuatan tekan HA. Hal
tersebut menegaskan bahwa elastisitas kitosan
mampu memperbaiki sifat HA yang rapuh (brittle).
Kekuatan tekan tertinggi diperoleh pada sampel F1,
dengan perbandingan HA : kitosan sebesar 80 : 20,
yaitu (5,241 ±0,063) MPa.


Gambar 7 Grafik kekuatan tekan sampel
Hasil uji kuat tekan menunjukkan pertambahan
jumlah kitosan justru mengakibatkan penurunan
kekuatan tekan pada sampel F
2
, F
3
, dan F
4
. Hal
tersebut bisa saja terjadi karena sifat mekanik
dipengaruhi banyak faktor. Di antaranya adalah
bentuk partikel, ukuran partikel, serta distribusi
ukuran partikel (Cai et al., 2009). Mengingat sampel
komposit F1-F4 digerus secara manual sebelum
dicetak, sehingga besar kemungkinan bentuk dan
ukuran partikel tidak sama antara sampel yang satu
dengan yang lainnya. Distribusi ukuran partikel
komposit pun kemungkinan besar tidak homogen.
Kekuatan tekan juga dipengaruhi oleh interaksi
antarmuka antara matriks dan filler, yaitu HA dan
kitosan (Cai et al., 2009). Penurunan kekuatan tekan
akibat peningkatan jumlah kitosan, kemungkinan
diakibatkan adanya kitosan yang tidak berinteraksi
dengan HA. Hal tersebut seiring dengan penelitian
Dewi (2009) dimana komposit kalsium fosfat-
kitosan terbaik diperoleh pada komposisi 80 : 20,
dan komposisi 70 : 30 mengindikasikan adanya
kitosan yang tidak berinteraksi dengan kristal apatit.
Berdasarkan analisis hasil uji kekuatan, Sampel
F1 dengan perbandingan HA : kitosan sebesar 80 :
20 dipilih sebagai sampel terbaik. Kekuatan tekan
Sampel F1 sebesar (5,241 ±0,063) MPa termasuk
dalam range nilai kekuatan tekan tulang cancellous
dari literatur, yaitu 2-12 MPa (Ficai et al., 2011).
Sehingga, Sampel F1 berpotensi sebagai implan
pada tulang cancellous.
Uji MTT Assay
Hasil uji MTT assay menunjukkan bahwa
Sampel F, yaitu HA yang disintesis dari tulang
sotong (Sepia sp.) tidak bersifat toksik. Hal tersebut
dikarenakan nilai viabilitas sel yang diperoleh
sebesar 87,00%. Material tidak bersifat toksik pada
sel fibroblast (cell lines) apabila prosentase viabilitas
sel masih di atas 60%, yaitu OD dari perlakuan
masih mendekati OD dari kontrol (Wijayanti, 2010).
Hasil uji MTT assay pada Sampel F1, yaitu
komposit dengan HA : kitosan sebesar 80 : 20
menunjukkan jumlah viabilitas sel sebesar 97,11%.
Hal tersebut menunjukkan bahwa penambahan
kitosan mampu meningkatkan viabilitas sel
dibandingkan dengan Sampel F.
SIMPULAN
1. Uji X-Ray Diffraction (XRD) menunjukkan dari
reaksi hidrotermal antara CaCO
3
dari tulang
sotong (Sepia sp.) dan NH
4
H
2
PO
4
dengan
variasi waktu 12, 24, dan 36 jam menghasilkan
100% HA pada ketiga sampel dengan derajat
kristalinitas yang rendah (amorf). Proses
sintering mengakibatkan perubahan prosentase
HA dengan derajat kristalinitas yang jauh lebih
baik. Komposit HA-kitosan disintesis dengan
memanfaatkan sampel dengan kandungan HA
tertinggi, yaitu sampel dengan durasi hidrotermal
36 jam setelah disintering. Hasil uji XRD
komposit dengan HA : kitosan sebesar 80 : 20
menunjukkan adanya penurunan intensitas dan
pergeseran posisi puncak difraksi karena
pengaruh kitosan yang bersifat amorf.
2. Komposit dengan kitosan 20% dengan kekuatan
tekan sebesar (5,241 ±0,063) MPa berpotensi
untuk aplikasi bone filler pada tulang cancellous.
3. Penambahan kitosan 20% pada komposit,
meningkatkan viabilitas sel sebesar 97,11%
dibandingkan dengan viabilitas sel pada HA
sebesar 87,00%.

B 42
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

DAFTAR PUSTAKA
Dewi, Setia Utami, 2009, Pembuatan Komposit
Kalsium Fosfat – Kitosan dengan Metode
Sonikasi, Tesis Sekolah Pascasarjana Institut
Pertanian Bogor.
Cai, X., Tong, H., Shen, X., Chen, W., Yan, J ., Hu,
J ., 2009, Preparation and Characterization of
Homogeneous Chitosan–Polylactic
Acid/Hydroxyapatite Nanocomposite for
Bone Tissue Engineering and Evaluation of
Its Mechanical Properties, Acta
Biomaterialia 5 (2009) 2693-2703, China.
Earl, J S., Wood, DJ ., Milne, SJ ., 2006,
Hydrothermal Synthesis of Hydroxyapatite,
J ournal of Physics: Conference Series 26
(2006) 268–271.
Ficai, A., Andronescu, E., Voicu, G., Ficai, D., 2011,
Advances in Collagen/Hidroxyapatite
Composite Materials. Politehnica University
of Bucharest, Faculty of Applied
Chemistry and Materials Science, Romania.
Gunawarman, M.A., Mulyadi S., Riana, H.A., 2010,
Karakteristik Fisik dan Mekanik Tulang Sapi
Variasi Berat Hidup sebagai Referensi Desain
Material Implan. Seminar Nasional Tahunan
Teknik Mesin (SNMTTM) ke-9.
Hui, P., Meena, S.L., Singh, G., Agarawal, R.D.,
Prakash, S., 2010, Synthesis of
Hydroxyapatite Bio-Ceramic Powder by
Hydrothermal Method, J ournal of
Minerals & Materials Characterization &
Engineering, Vol. 9, No.8, pp.683-692, India.
Ivankovic, H., Orlic, S., Kranzelic, D., Tkalcec, E.,
2010, Highly Porous Hydroxyapatite
Ceramics for Engineering Applications,
Advances in Science and Technology Vol.
63 (2010) pp 408-413, Switzerland.
Paljar, K., Orlic, S., Tkalcec, E., Ivankovic, H., 2009,
Preparation of Silicon Doped Hydroxyapatite.
Croatia : Faculty of Chemical Engineering
and Technology, University of Zagreb.
Pramanik, N., Mishra, D., Banerjee, I., Maiti, T.K.,
Bhargava, P., Pramanik, P., 2009, Chemical
Synthesis, Characterization, and
Biocompatibility Study of
Hydroxyapatite/Chitosan Phosphate
Nanocomposite for Bone Tissue Engineering
Applications, International J ournal of
Biomaterials, doi : 10.1155/2009/512417,
India.
Rocha, J .H.G., Lemos, A.F., Agathopoulos, S.,
Valério, P., Kannan, S., Oktar, F.N., Ferreira,
J .M.F., 2005, Scaffolds for Bone Restoration
from Cuttlefish, Elsevier : Bone 37 (2005)
850–857.
Sari, RA Irindah F, 2012, Sintesis dan Karakterisasi
Mikroskopik Nano-Komposit
Hidroksiapatit/Kitosan (n-HA/Cs) untuk
Aplikasi J aringan Tulang, Skripsi
Fsaintek Unair Surabaya.
Septiarini, Savitri, 2009, Pelapisan Apatit pada Baja
Tahan Karat Lokal dan Ternitridasi dengan
Metode Sol-Gel, Skripsi FMIPA Institut
Pertanian Bogor.
Venkatesan, J ., Kim, S., 2010, Chitosan Composites
for Bone Tissue Engineering—An Overview,
Mar. Drugs 2010, 8, 2252-2266, Korea.
Wahl, D.A. dan Czernuszka, J .T., 2006, Collagen-
Hydroxyapatite Composites for Hard Tissue
Repair, European Cells and Materials Vol. 11.
(pages 43-56), University of Oxford, UK.
Wijayanti, Fitria, 2010, Variasi Komposisi Cobalt -
Chromium Pada Komposit Co-Cr-HAP
Sebagai Bahan Implan, Skripsi FSAINTEK
Unair.


B 43
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

SINTESIS MAKROPORUS KOMPOSIT KOLAGEN HIDROKSIAPATIT
SEBAGAI KANDIDAT BONE GRAFT
Miranda Zawazi Ichsan
1
, Siswanto
2
, Dyah Hikmawati
3

1
Program Studi Teknobiomedik Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga
2,3
Staf Pengajar Departemen Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga
Email : semnasfisika@unair.ac.id
Abstrak
Telah dilakukan sintesis makroporus komposit kolagen-hidroksiapatit sebagai kandidat bone graft. Kolagen
disintesis dari cakar ayam. Metode yang dilakukan adalah dengan teknik freeze dry dengan variasi lama
pembekuan 2, 4, dan 6 jam pada suhu -80°C. Proses selanjutnya dengan pengeringan dalam liyophilizer.
Hasilnya dikarakterisasi dengan menggunakan FTIR, SEM, dan diuji kekuatan tekan dengan Autograf serta uji
sitotoksisitas dengan MTT assay. Hasil FTIR membuktikan serapan kolagen dan hidroksiapatit tergabung
secara kimia ditunjukkan dengan serapan gugus fungsi yang tidak berhimpit antara gugus fungsi kolagen dan
hidroksiapatit dengan komposit. Ukuran pori terbesar diperoleh pada waktu pembekuan selama 2 jam yaitu
sebesar 774 µm dan yang terkecil pada pembekuan selama 6 jam yaitu sebesar 640 µm Hasil uji kekuatan tekan
komposit untuk pembekuan selama 2, 4, dan 6 jam masing-masing 737 KPa, 842 KPa dan 707.7 KPa. Hasil uji
sitotoksisitas dengan MTT assay menunjukkan komposit tidak toksik dengan persentase sel hidup di atas 100%.
Kata kunci : Komposit Kolagen-Hidroksiapatit, Makroporus, Bone Graft

PENDAHULUAN
Setiap tahun kebutuhan bone graft terus
bertambah. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya
jumlah kecelakaan yang mengakibatkan patah tulang,
penyakit bawaan, dan non bawaan. Berdasarkan data
di Asia Indonesia adalah Negara dengan jumlah
penderita patah tulang tertinggi. Diantaranya, ada
sebanyak 300-400 kasus operasi bedah tulang per
bulan di RS. Dr. Soetomo Surabaya (Gunawarman
dkk, 2010).
Bagian tubuh yang paling sering terjadi patah
tulang adalah bagian panggul, pergelangan kaki, tibia,
dan fibula (Ficai et al., 2011). Bone graft yang
biasanya digunakan adalah autograft dan allograft.
Namun, autograft dan allograft tidak dapat memenuhi
keseluruhan kebutuhan bone graft yang terus
meningkat. Upaya untuk mengatasi masalah ini
adalah penggunaan bone graft sintetis.
Syarat yang harus dipenuhi oleh bone graft
sintetis adalah dapat diterima tubuh atau
biokompatibel dan menguntungkan bagi proses
osteokonduksi, osteoinduksi, dan osteogenesis tulang.
Osteokonduktif dan osteoinduktif adalah hal
terpenting untuk biomaterial resorbable guna
mengarahkan dan mendorong formasi pertumbuhan
jaringan (Wahl dan Czernuszka, 2006).
Osteokonduktif dan osteointegrasi dari bone graft
berhubungan dengan tingkat porositas dan ukuran
pori (Develioglu et al. 2005).
Berdasarkan penelitian sebelumnya, persyaratan
minimum untuk ukuran pori dianggap ~100µm karena
ukuran sel, persyaratan migrasi dan transport sel.
Namun, dianjurkan ukuran pori >300 µm karena
meningkatkan pembentukan tulang baru dan
pembentukan kapiler (Karageorgiou, 2005).
Makroporositas yang tinggi dapat meningkatkan
pembentukan tulang, akan tetapi nilai yang lebih
tinggi dari 50% dapat mengakibatkan hilangnya sifat
mekanik biomaterial (Lu JX et al., 1999).
Bone graft sintetis yang baik adalah bone graft
yang secara struktur dan komposisi mirip dengan
tulang alami. Komposit kolagen-hidroksiapatit adalah
bone graft sintetis yang sangat mirip dengan tulang
dari banyak sudut pandang. Tulang terdiri dari
kolagen dan hidroksiapatit sebagai komponen utama
dan beberapa persen dari komponen lainnya (Vaccaro,
2002). Komposit kolagen-hidroksiapatit saat
ditanamkan dalam tubuh manusia menunjukkan sifat
osteokonduktif yang lebih baik dibandingkan dengan
hidroksiapatit monolitik dan menghasilkan kalsifikasi
matriks tulang yang persis sama (Serre et al., 1993;
Wang et al., 1995). Selain itu, komposit kolagen-
hidroksiapatit terbukti biokompatibel baik pada
manusia maupun hewan (Serre et al., 1993; Scabbia
dan Trombelli., 2004).
Upaya untuk mendapatkan komposit dengan
struktur dan komposisi yang sama dengan tulang
alami adalah mengolaborasikan beberapa metode
sintesis. Kunci dalam sintesis makroporus salah
satunya adalah dengan variasi laju pembekuan (Wahl
dan Czernuszka, 2006). Metode sintesis yang paling
berguna untuk fabrikasi material porous adalah
metode freeze-drying. Pada metode freeze-drying,
pengendalian pertumbuhan kristal es sangat penting
untuk mendapatkan diameter dan bentuk pori yang
sesuai, karena struktur pori adalah replikasi dari
jeratan dendrite kristal es. Pada prinsipnya metode
freeze-drying terdiri atas dua urutan proses, yaitu
pembekuan yang dilanjutkan dengan pengeringan.
Diameter pori dapat dikontrol pada tahap pembekuan.
Pada penelitian ini, kontrol ukuran makroporus

B 44
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

komposit dilakukan dengan beberapa variasi waktu
pembekuan.
METODE
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan untuk membuat komposit
kolagen-hidroksiapatit berporus dengan teknik freeze-
drying adalah hidroksiapatit bubuk dengan ukuran
butir 150-355 µm, HCL, NaOH, Na
2
HPO
4
,
CH
3
COOH, NH
3
, asam fosfat dan aquades.
Hidroksiapatit yang digunakan berasal dari tulang
sapi dan kolagen diekstraksi dari cakar ayam.
Alat-alat yang digunakan yaitu alat sintesa dan
alat mekanik. Alat sintesa yang digunakan adalah :
freezer, lyophilizer, gelas beaker, spatula, kaca
timbangan, gelas ukur, cetakan, aluminium foil,
plastik pembungkus, kertas saring kertas lakmus dan
kain saring. Alat mekanik yaitu neraca digital, dan
magnetic stirrer.
Ekstraksi Kolagen dari Cakar Ayam
Kolagen diekstraksi dari cakar ayam broiler.
Ekstraksi kolagen dari cakar ayam digunakan metode
Prayitno (2007) dimodifikasi. Cakar ayam yang
digunakan berasal dari penjual daging ayam di pasar
Manukan Kulon Surabaya.
Cakar ayam yang telah terkumpul dicuci bersih
dan disimpan dalam freezer. Penyimpanan dalam
freezer dimaksudkan supaya cakar ayam tidak
membusuk. Cakar ayam dikeluarkan dari freezer
kemudian dipisahkan dari tulangnya dengan dipotong-
potong menggunakan pisau untuk memudahkan
proses penghancuran. Potongan cakar selanjutnya
dihancurkan dengan blender. Reduksi ukuran ini
untuk mempermudah proses peregangan kolagen oleh
larutan asam. Cakar yang telah hancur ditimbang
sebanyak 100 gram kemudian direndam selama 24
jam dengan larutan HCL 5% dengan volume 8 kali
berat sampel. Selama perendaman, sampel disimpan
dalam kulkas.
Setelah mencapai waktu perendaman, cairan
dipisahkan melalui penyaringan dengan kain mori.
Filtrat (cairan hasil penyaringan) ditambah larutan
NaOH 1 N sampai mencapai pH netral dan didiamkan
sampai kolagen menggumpal. Saat mendekati pH
netral, terlihat gumpalan sedikit demi sedikit mulai
teramati. Begitu mencapai pH netral, serabut-serabut
kolagen mulai terbentuk dan menyatu sehingga
terlihat gumpalan yang nyata. Gumpalan kolagen
terbentuk sempurna pada pH netral (pH 7).
Selanjutnya gumpalan kolagen disaring dengan kertas
saring. Kolagen yang dihasilkan dikeringkan dengan
metode freeze- dry.
Sintesis Komposit Kolagen-Hidroksiapatit
Sintesis komposit kolagen-hidroksiapatit dengan
metode freeze-drying dimulai dengan pencampuran
kolagen dan hidroksiapatit dengan rasio 20:80.
Sebelum dua bahan dicampur, kolagen dan
hidroksiapatit dilarutkan terlebih dahulu untuk
mendapatkan campuran yang homogen.
Kolagen dilarutkan dengan asam asetat dengan
perbandingan 1:1. Selanjutnya ditambahkan dengan
Na
2
HPO
4 .
H
2
O dengan rasio 1:1. Campuran
dinetralkan dengan NaOH 1M. Adapun hidroksiapatit
dilarutkan dengan asam fosfat. Perbandingan
hidroksiapatit asam fosfat yaitu 1:4. Larutan
hidroksiapatit selanjutnya dinetralkan dengan NH
3

tetes demi tetes dengan pipet gelas. pH netral diukur
dengan menggunakan kertas lakmus asam basa.
Larutan hidroksiapatit dan larutan kolagen yang telah
netral dicampur sambil diaduk perlahan-lahan.
Campuran kolagen hidroksiapatit dimasukkan ke
dalam wadah tabung silinder setinggi 2 cm dan
dilabeli. Selanjutnya dibekukan dengan suhu -80 °C
dengan waktu pembekuan 2 jam, 4 jam, dan 6 jam.
Komposit kolagen-hidroksiapatit yang telah kering
dikeluarkan dari cetakan untuk dikarakterisasi.
Karakterisasi
Uji FTIR dengan Tensor
TM
FT-IR Spectrometer
(Perkin Elmer Frontier), Uji tekan dengan Autograph
AG-10TE Shimadzu, Uji topografi dengan SEM
(Inspect S50, FEI Corp., Jepang).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil sintesis kolagen berbentuk serbuk berwarna
putih kekuningan yang tampak pada Gambar 1.
Kolagen hasil sintesis diuji dengan FTIR diperoleh
grafik transmisi (%) terhadap bilangan gelombang
(cm
-1
) pada Gambar 2.

Gambar 1 Kolagen hasil sintesis

B 45
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012


Gambar 2 Hasil Uji FTIR Serbuk Kolagen Cakar ayam

Grafik hasil uji FTIR pada Gambar 2 dianalisis
dengan membandingkan pita absorbs yang terbentuk
pada spektrum inframerah menggunakan tabel
korelasi dan menggunakan spektrum senyawa
pembanding yang sudah diketahui.. Hasil
perbandingan spektrum inframerah kolagen dengan
tabel korelasi disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1 Karakteristik absorbsi kolagen hasil ekstraksi dari cakar
ayam
No
Rentang frekuensi
(cm
-1
)
Peak (cm
-
1
)
Ikatan
1 3500-3300 3409 N-H
2 3000-2500 2927 O-H
3 3000-2500 2857 O-H
4 1760-1670 1746 C=O
5 1640-1660 1651 N-H
6 1500-1600 1546 N-H
7 1470-1350 1458 C-H
8 1340-1020 1160 C-N
9 1340-1020 1100 C-N
10 1000-675 917 C-H
11 870-675 723 C-H
12 870-675 686 C-H
13 700-610 647 C-H

Spektrum utama dari kolagen adalah adanya
amida I banding yang muncul dari stretching
vibration C=O (karbonil) grup amida dari protein.
Amida I ditemukan pada 1651 cm
-1
, amida II
ditemukan pada 1546 cm
-1
dan amina C-N
ditemukan pada 1100cm
-1
dan 1159 cm
-1
. Amina N-
H ditemukan pada 3409 cm
-1
. Hasil perbandingan
grafik FTIR kolagen dari cakar ayam dengan
kolagen murni pada Kirubanandan, 2010
menunjukkan pita serapan yang mirip dan gugus
yang sama. Hasil perbandingan pita absorbs dengan
tabel korelasi ataupun dengan senyawa pembanding
yang telah diketahui menunjukkan bahwa kolagen
cocok sebagai bahan untuk sintesis komposit.
Komposit kolagen-hidroksiapatit hasil sintesis
menggunakan metode freeze-dry dengan variasi
pembekuan 2, 4 dan 6 jam tampak pada Gambar.3.
Komposit dengan 2 jam pembekuan diuji dengan
FTIR. diperoleh grafik pada Gambar 4.
Grafik hasil uji FTIR dianalisis dengan
membandingkan pita absorbs yang terbentuk pada
spektrum inframerah menggunakan tabel korelasi.
Hasil perbandingan pita absorbs disajikan pada
Tabel 2.
Tabel 2 Karakteristik absorbsi komposit kolagen-hidroksiapatit
No
Rentang
frekuensi (cm
-
1
)
Peak
(cm
-1
)
Ikatan
1 3640-3160 3232 O-H
2 3000-2500 3081 O-H
3 2960-2850 2873 C-H
4 2260-2100 2202 C≡C
5 1760-1670 1716 C=O
6 1600-1700 1672 N-H
7 1500-1600 1519 N-H
8 1470-1350 1460 C-H
9 1470-1350 1405 C-H
10 1340-1020 1200 C-N
11 1340-1020 1074 C-N
12 900-1200 1018 PO
4
3-

13 900-1200 966 PO
4
3-

14 500-600 553 C-X

Puncak karakteristik HA adalah pada panjang
gelombang 500 cm
-1
-600 cm
-1
. Pada hasil FTIR
komposit kolagen-hidroksiapatit, ditemukan pada
panjang gelombang 553 cm
-1
. Puncak karakteristik
kolagen ditemukan pada 2873 untuk CH stretching,
1716 cm
-1
untuk C=O grup, dan di atas 3000 cm
-1

untuk N-H. Amida I banding antara panjang
gelombang 1600 cm
-1
-1700 cm
-1
dan PO
4
3-
banding
antara 900 cm
-1
-1200 cm
-1
.
Data serapan gugus fungsi pada spektrum FTIR
digunakan untuk mengetahui jenis reaksi yang

B 46
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

terjadi. Jika data berimpit dengan data spektrum
FTIR bahan yang digunakan, maka proses yang
terjadi merupakan proses fisika. Sedangkan jika data
tidak berimpit maka proses yang terjadi adalah
rekasi kimia. Berdasarkan perbandingan hasil FTIR
kolagen, hidroksiapatit, dan komposit diperoleh
reaksi yang terjadi pada proses sintesis komposit
kolagen-hidroksiapatati adalah reaksi kimia.



(a)

(b)

(c)
Gambar 3 Komposit Kolagen-Hidroksiapatit dengan:2 jam pembekuan, (b) 4 jam pembekuan dan (c) 6 jam pembekuan

Gambar 4 Hasil FTIR komposit kolagen-hidroksiapatit
Bentuk Makroporus
Makroporus yang terbentuk dengan metode
freeze-drying pada penelitian ini menghasilkan
ukuran pori yang tidak merata. Pada metode freeze-
drying, pengendalian pertumbuhan kristal es sangat
penting untuk mendapatkan diameter dan bentuk
pori yang sesuai. Diameter pori dikontrol pada tahap
pembekuan. Pembekuan dilakukan pada temperatur
-80°C dengan tiga variasi waktu pembekuan yaitu
2,4, dan 6 jam. Hasil citra SEM dengan perbesaran
1000x menunjukkan perbedaan yang signifikan.
Perbedaan yang dapat diamati adalah bentuk
makroporus, kekasaran permukaan, dan pola
penggabungan kolagen dengan hidroksiapatit pada
komposit.
Pada Gambar 5 terlihat bentuk makroporus
komposit tidak merata. Pembekuan pada suhu -80°C
selama dua jam membentuk dendrite kristal es yang
tidak teratur sehingga ukuran makroporus tidak
seragam dan tidak ada cross link. Kolagen tampak
berbentuk jarum panjang yang menjulang. Serabut
kolagen bergabung dalam ikatan lapisan
hidroksiapatit yang tipis. Serabut kolagen berperan
sebagai serat komposit dan hidroksiapatit berperan
sebagai matriks komposit. Secara makro, permukaan
komposit terlihat kasar.
Komposit yang dibekukan selama empat jam
pada gambar 6 tampak lebih padat dibandingkan
komposit yang dibekukan selama dua jam. Serabut
kolagen tidak dapat dibedakan dengan jelas seperti
pada Gambar 4.5. Gabungan kolagen dan
hidroksiapatit pada komposit menyatu dengan baik
sehingga tidak terlihat batas antara keduanya.
Secara makro, komposit terlihat lebih halus
dibandingkan dengan komposit yang dibekukan
selama dua jam.

B 47
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012


Gambar 5. Permukaan mikroskopis komposit dengan 2 jam
pembekuan

Gambar 6. Permukaan mikroskopis komposit dengan 4 jam
pembekuan

Gambar 4.7 Permukaan mikroskopis komposit dengan 6 jam
pembekuan
Komposit kolagen-hidroksiapatit dengan
pembekuan selama enam jam tidak sepadat
komposit dengan pembekuan selam empat jam.
Secara makro, permukaan komposit terlihat kasar.
Serabut kolagen tampak lebih pendek jika
dibandingkan dengan kolagen pada komposit yang
dibekukan selama dua jam. Kolagen bergabung
dengan hidroksiapatit dan masih terlihat batas antara
kolagen dengan hidroksiapatit.
Komposit yang diberi waktu pembekuan
berbeda menghasilkan kekasaran yang berbeda dan
pola gabungan yang berbeda. Ditinjau dari batas
antara kolagen dengan hidroksiapatit dalam
komposit, komposit yang dibekukan selama dua jam
bergabung dengan baik sehingga membentuk
kerapatan yang besar. Kontrol lama waktu
pembekuan dengan variasi waktu pembekuan pada
suhu -80°C dapat membentuk makroporus dengan
topografi permukaan yang berbeda-beda. Namun,
metode ini tidak dapat membentuk makroporus
dengan bentuk dan ukuran yang seragam dan teratur
sehingga tidak ada cross link antar pori. Hal ini
terjadi karena struktur pori adalah replikasi dari
jeratan dendrit kristal es. Kristal es yang terbentuk
selain bergantung pada suhu pembekuan dan lama
pembekuan, juga bergantung pada konsentrasi zat
terlarut dalam komposit.
Ukuran Makroporus
Hasil analisis topografi komposit menunjukkan
perbedaan dalam bentuk dan pola persenyawaan
kolagen dengan hidroksiapatit. Selain bentuk dan
model persenyawaan, ukuran makroporus yang
dihasilkan juga berbeda-beda dan tidak merata.
Gambar 8 menunjukkan rata-rata ukuran pori yang
terbentuk pada komposit kolagen-hidroksiapatit
dengan beberapa variasi pembekuan.

Gambar 8 Rata-rata Ukuran makroporus yang terukur
Rata-rata ukuran pori terbesar yang terbentuk
pada komposit kolagen-hidroksiapatit adalah pada
pembekuan selama dua jam yaitu sebesar 774 µm.
Sedangkan rata-rata ukuran pori yang terkecil yaitu
640 terbentuk pada waktu pembekuan selama enam
jam. Berdasarkan penelitian sebelumnya,
persyaratan minimum untuk ukuran pori dianggap
~100µm karena ukuran sel, persyaratan migrasi dan
transport sel. Namun, dianjurkan ukuran pori lebih
besar dari 300 µm karena meningkatkan
pembentukan tulang baru dan pembentukan kapiler
(Karageorgiou, 2005). Komposit kolagen-
hidroksiapatit yang disintesis dengan ketiga variasi
waktu pembekuan dapat memenuhi standar ukuran
pori yang dianjurkan.

B 48
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

O’Brien et al. tahun 2004 telah melakukan
sintesis scaffold kolagen-GAG dengan variasi laju
pembekuan 0.6°C , 0.7°C, 0,9°C, dan 4.1°C per
menit. Hasilnya menunjukkan bahwa ukuran pori
scaffold kolagen-GAG terbesar yaitu ± 130 µm
didapatkan pada laju pembekuan 0.6°C per menit.
Hal ini membuktikan bahwa laju pembekuan yang
semakin rendah menghasilkan ukuran pori yang
semakin besar. Dalam penelitian ini, diperoleh hasil
bahwa dengan waktu pembekuan yang paling cepat
yaitu 2 jam menghasilkan ukuran pori yang paling
besar.
Yunoki et al. tahun 2006 yang telah melakukan
sintesis komposit kolagen-hidroksiapatit dengan
suhu pembekuan -20°C dengan metode freeze-
drying, menghasilkan komposit dengan ukuran pori
sebesar 200-500 µm. Jika dibandingkan dengan hasil
penelitian ini, maka pembekuan dengan suhu -80°C
dapat menghasilkan ukuran pori yang lebih besar.
Hal ini terjadi karena semakin rendah suhu
pembekuan, semakin cepat komposit membeku,
sehingga semakin cepat pula terbentuknya dendrite
kristal es.
Hasil Uji Kekuatan Tekan
Pengujian sifat mekanik kekuatan tekan pada
Gambar 9 menunjukkan bahwa komposit yang
dibekukan selama 2 jam dengan porositas sebesar
52% memiliki kekuatan tekan yang lebih rendah
dibandingkan komposit yang dibekukan selama 4
jam. Komposit dengan 4 jam pembekuan memiliki
densitas yang paling tinggi sehingga mempengaruhi
sifat biomekanik.

Gambar 9Diagram pengaruh waktu pembekuan terhadap kekuatan
tekan
Komposit yang dibekukan selama 4 jam
memiliki kekuatan tekan yang paling tinggi yaitu
sebesar 842 KPa dibandingkan dengan sampel yang
lain. Sedangkan yang paling rendah adalah yang
dibekukan selama 6 jam yaitu 708 KPa.
Dibandingkan dengan sifat biomekanik tulang sehat,
nilai kekuatan tekan komposit yang dihasilkan masih
belum memenuhi standar yaitu 2-12 MPa,
Hasil Uji Sitotoksisitas
Selain bentuk pori yang terbentuk dan struktur
jalinan kolagen dengan hidroksiapatit,
biokompatibilitas adalah salah satu hal terpenting
dalam aplikasi. Sitotoksisitas suatu material adalah
tahap awal dalam penentuan biokompatibilitas
material implant. Uji MTT adalah salah satu metode
yang digunakan dalam uji sitotoksik. Hasil
Pengamatan sel hidup dengan mikroskop
ditunjukkan pada Gambar 10.

Sel hidup
Gambar 10 Sel Hidup Hasil Uji MTT

Gambar 11. Hasil Uji Sitotoksisitas dengan Metode MTT
Persentase sel hidup yang di dapatkan dari uji
MTT pada Gambar 11 membuktikan ketoksikan
senyawa bahan dan komposit. Grafik hasil uji MTT
menunjukkan kolagen dan hidroksiapatit tidak toksik
karena persentase sel hidup di atas 100%. Komposit
kolagen–hidroksiapatit meningkatkan persentase sel
hidup. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan
kolagen dan hidroksiapatit secara bersama-sama
menguntungkan dalam hal pertumbuhan sel.
Kolagen dan hidroksiapatit dibuktikan dapat
meningkatkan diferensiasi osteoblas (Xie et al.,
2004), tapi dikombinasikan bersama-sama terbukti
mempercepat osteogenesis. Komposit kolagen-
hidroksiapatit saat ditanamkan dalam tubuh manusia
menunjukkan sifat osteokonduktif yang lebih baik
dibandingkan dengan hidroksiapatit monolitik dan
menghasilkan kalsifikasi matriks tulang yang persis
sama (Serre et al., 1993; Wang et al., 1995).
Potensi sebagai Kandidat Bone Graft
Bentuk pori yang terbentuk dan struktur jalinan
kolagen dengan hidroksiapatit dalam komposit
adalah dua hal penting yang berpengaruh pada
proses regenerasi tulang. Persenyawaan antara
kolagen dan kristal hidroksiapatit bertanggung jawab

B 49
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

atas daya tekan dan daya regang tulang yang besar.
Cara penyusunan tulang serupa dengan pembuatan
palang beton. Serat-serat kolagen seperti batang-
batang baja pada beton dan hidroksiapatit serta
garam-garam tulang yang lain sama seperti semen,
pasir dan batu pada beton tersebut. Analisis
topografi komposit dengan SEM menunjukkan pola
gabungan kolagen dengan hidroksiapatit yang sesuai
dengan analogi beton di atas.
Selain bentuk pori yang terbentuk dan struktur
jalinan kolagen dengan hidroksiapatit,
biokompatibilitas adalah salah satu hal terpenting
dalam aplikasi. Syarat yang harus dipenuhi oleh
bone graft sintetis adalah dapat diterima tubuh atau
biokompatibel dan menguntungkan bagi proses
osteokonduksi, osteoinduksi, dan osteogenesis
tulang. Berdasarkan tinjauan sitotoksik, komposit
kolagen-hidroksiapatit terbukti tidak toksik bahkan
meningkatkan persentase sel hidup dibandingkan
dengan kolagen atau hidroksiapatit monolitik.
Secara fisik, bentuk permukaan komposit cocok
sebagai media perlekatan sel. Ukuran makroporus
komposit yang besar dengan rata-rata berukuran
antara 640-774 µm mendorong proses
osteokonduksi tulang. Ditinjau dari pola
persenyawaan kolagen dengan hidroksiapatit,
kerapatan, ukuran makroporus, dan kekuatan tekan,
komposit yang dibekukan selama 4 jam lebih cocok
sebagai kandidat bone graft dibandingkan dengan
komposit 2 dan 6 jam pembekuan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Hasil uji dan analisis membuktikan beberapa
point kesimpulan sebagai berikut:
1. Kontrol waktu pembekuan mempengaruhi
ukuran makroporus dan sifat mekaniknya.
Komposit dengan ukuran pori terbesar
diperoleh dengan 2 jam pembekuan yaitu 774
µm dan yang terkecil pada pembekuan selama 6
jam yaitu 640 µm. Komposit dengan
pembekuan 4 jam memiliki rata-rata ukuran
makroporus 675 µm dengan kekuatan tekan
paling besar yaitu 842 KPa.
2. Komposit kolagen-hidroksiapatit terbukti non-
toksik dengan persentase sel hidup di atas 100%.
Saran
Diharapkan hasil penelitian ini dikembangkan
dengan beberapa saran sebagai berikut:
1. Variasi lama waktu pembekuan diharapkan
lebih bervariasi dan berjarak lebih pendek.
2. Variasi konsentrasi diperlukan untuk analisis
yang lebih mendalam.
3. Uji MTT sebaiknya dilakukan terhadap variasi
beberapa konsentrasi. Selanjutnya uji
biokompatibilitas didukung dengan uji in vitro
dan in vivo.

Ucapan Terimakasih
Terimakasih kepada Dr. Prihartini Widiyanti,
drg., M.Kes dan Dr. Ferdiansyah, dr., SPOT atas
saran dan kritik dalam penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Anselme, K. 2000. Osteoblast adhesion on
biomaterials. Biomaterials 21, 667.
Attaf, Brahim .2011..Advances in Composite
Materials for Medicine and
Nanotechnology. Tech Janeza Trdine 9,
51000 Rijeka, Croatia
Chang, M. C. and Tanaka, J. 2002. FT-IR study for
hydroxyapatite/collagen nanocomposite
cross-linked by glutaraldehyde. Biomaterials
23:4811–818.
Develioglu, H., Koptagel, E., Gedik, R. and
Dupoirieux, L. 2005. The effect of a biphasic
ceramic on calvarial bone regeneration in rats.
Journal of Oral Implantology 31(6):309-312.
Ficai, A., Andronescu, E., Voicu, G., Ficai, D. 2011.
Advances in Collagen/Hidroxyapatite
Composite Material. InTech
Gunawarman, Malik, A., Mulyadi S., Riana, Hayani,
A. 2010. Karakteristik Fisik dan Mekanik
Tulang Sapi Variasi Berat Hidup sebagai
Referensi Desain Material Implan. Seminar
Nasional Tahunan Teknik Mesin (SNMTTM)
ke-9
Karageorgiou V, Kaplan D .2005. Porosity of 3D
biornaterial scaffolds and osteogenesis.
Biomaterials 26:5474-5491.
Kirubanandan, S dan Sehgal, P.K, 2010.
Regeneration of Soft Tissue Using Porous
Bovine Collagen Scaffold. Journal of
Optoelectronics and Biomedical Materials.
Vol. 2.
Laurencin C, Khan Y, El-Amin SF (2006) Bone
graft substitutes. Expert Rev Med Dev 3: 49-
57.
Lu JX, Flautre B et al. 1999. Role of
interconnections in porous bioceramics on
bone recolonization in vitro and vivo. J Mater
Sci Mater Med 10:111–120.
Meiyanto, E., Sugiyanto, Murwanti, R., 2003, Efek
Antikarsinogenesis Ekstrak Etanolik Daun
Gynura procumbens (Lourr) Merr pada
Kanker Payudara Tikus yang Diinduksi
dengan DMBA, Laporan Penelitian Hibah
Bersaing XI/1 Perguruan Tinggi, Fakultas
Farmasi Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta.
Melannisa, R., 2004, Pengaruh PGV-1 Pada Sel
Kanker Payudara T47D Yang Diinduksi 17β-
estradiol: Kajian Antiproliferasi, Pemacuan
Apoptosis, dan Antiangiogenesis, Tesis,
Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah
Mada.
Moran, Michael J. dan Shapiro, Howard N. 2004.
Termodinamika Teknik. Jakarta: Erlangga.

B 50
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

O’Brien FJ, Harley BA, Yannas IV, Gibson L. 2004.
Influence of freezing rate on pore structure in
freeze-dried collagen-GAG scaffolds.
Biomaterials 25: 1077-1086.
Prayitno, 2007. Ekastraksi Kolagen Cakar Ayam
dengan Berbagai Jenis Larutan Asam dan
Lama Perendamannya. Jurnal Animal
Production Vol. 9. No. 2.
Ratner, Buddy D., dkk. 1996. Biomaterial Science,
An Introduction to Materials in Medicine.
Academic Press.:1-8.
Scabbia A, Trombelli L (2004) A comparative study
on the use of a HA/collagen/chondroitin
sulphate biomaterial (Biostite&reg;) and a
bovine-derived HA xenograft (Bio-Oss&reg;)
in the treatment of deep intra-osseous defects.
J Clin Periodontol 31: 348-355.
Schoof H, Bruns L, Fischer A, Heschel I, Rau G.
2000. Dendritic ice morphology in
unidirectionally solidified collagen
suspensions. J Crystal Growth 209: 122-129.
Serre CM, Papillard M, Chavassieux P, Boivin G.
1993. In vitro induction of a calcifying
matrix by biomaterials constituted of collagen
and/or hydroxyapatite: an ultrastructural
comparison of three types of biomaterials.
Biomaterials 14: 97-106.
Sloane, Ethel. 1995. Anatomi dan Fisiologi untuk
Pemula. EGC: Jakarta.
Vaccaro, Alexander R. 2002. The Role of the
Osteoconductive Scaffold in Synthetic Bone
Graft. Orthobluejournal vol 22 no 5/
Supplement
Wahl, DA dan Czernuszka .2006. Collagen-
Hydroxiapatite Composites for Hard Tissue
Repair. Eropean Cells and Material Vol.11
pages 43-56
Wang RZ, Cui FZ, Lu HB, Wen HB, Ma CL, Li HD.
1995. Synthesis of Nanophase
Hydroxyapatite Collagen Composite. J Mater
Sci Lett 14: 490-492.
Wang, X., Nyman, J.S., Dong X., Leng,H., and
Reyes, M. 2010. Fundamental Biomechanics
in Bone Tissue Engineering. Morgan and
Claypool.
Yunoki, Shunji et al. 2006. Fabrication and
Mechanical and Tissue Ingrowth Properties
of Unidirectionally Porous
Hydroxyapatite/Collagen Composite. Journal
of Biomedical Materials Part B:166-173




B 51
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

PENGARUH MOLARITAS NAOH PADA SINTESIS NANOSILIKA
BERBABIS PASIR BANCAR TUBAN DENGAN METODE KOPRESIPITASI
Munasir
1
, Surahmat Hadi
2
, Triwikantoro
3
, Moch.Zainuri
4
, Darminto
5
1,2,3,4,5
Program Studi Fisika ITS Surabaya, Indonesia

1
Program Studi Fisika UNESA Surabaya, Indonesia

Email: munasir09@mhs.physics.its.ac.id

Abstrak
Pada penelitian ini dilakukan ekstrak pasir kuarsa alam yang diambil di daerah Bancar Tuban (utara Pulau
Jawa), secara fisik pasir Bancar Tuban mempunyai ukuran butiran agak kasar dan berwarna kuning gading.
Hasil uji XRF menunjukan unsur atom pengotor dominan adalah Ca (7,5%wt) dan K (4,8%wt). Hasil XRD
menunjukan intesistas dominan terjadi pada sudut (2) ~26
o
, dan dominan struktur kristal yang terdapat pada
sampel adalah quartz (SiO
2
). Sebelum proses sintesis lebih lanjut, pasir di milling hingga ukurannya homogen,
kemudian dilakukan uji SEM . Hasil uji SEM serbuk pasir menunjukan bahwa ukuran butiran serbuk sekitar 5-
50 µm, selanjutnya serbuk pasir diproses dengan metode copresipitasi dengan menggunakan senyawa alkali
(NaOH) dengan molaritas bervariasi (5-7M). Diperoleh kristalit sodium silikat yang kemudian dilarutkan
dengan aquades dan disaring. Larutan sodium silikat (Na
2
O.xSiO
2
) kemudian dititrasi dengan HCl 2 M dengan
pH akhir bervariasi (4-5 dan 7-8). Produk akhir berbentuk buburan silika, selanjutnya dikeringkan dengan
temperatur sekitar 80 selama 24 jam, hingga diperoleh serbuk silika. Pada sampel dengan molaritas NaOH 7
M mulai terbentuk struktur amorf dan kristal (quartz); kandungan unsur Si rata-rata 95,7% diperoleh serbuk
SiO
2
dari bahan pasir seberat 4 gram. Hasil SEM diperoleh informasi bahwa terjadi pembentukan aglomerasi
partikel, partikel kecil yang tidak beraglomerasi teramati berukuran < 100 nm.
Kata kunci: Molaritas NaOH, silika kristal, silika amorf, pasir alam
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara dengan potensi
sumber daya alam yang melimpah. Potensi tersebut
meliputi minyak, gas, dan bahan-bahan mineral.
Diantara bahan-bahan mineral, terdapat bahan yang
tergolong bahan oksida yang mempunyai potensi
untuk pemanfaatan aplikasi teknologi tinggi seperti:
ZnO, SiO
2
, MgO, Al
2
O
3
, TiO
2
. Akan tetapi, untuk
dapat memaksimalkan penggunaan bahan tersebut,
membutuhkan dukungan teknologi baru yakni
nanoteknologi.
Bahan oksida khususnya silika (SiO
2
) telah
dimanfaatkan dalam berbagai aplikasi. Pemanfaatan
silika yang paling familiar dan komersial adalah
selain sebagai bahan utama industri gelas, dan kaca
juga untuk bahan baku pembuatan sel surya. Baru-
baru ini, pemanfaatan silika dan kalsium yang dibuat
nanokomposit menjadi kandidat bahan bioaktif yang
menjanjikan untuk aplikasi perbaikan jaringan tulang
(Zhongkui,at al.,2009). Pemanfaatan lain silika orde
nano untuk aplikasi di industri yang berkaitan dengan
produksi pigmen, pharmaceutical, keramik, dan
katalis (Nozawa,at al., 2005).
Bahan silika yang berasal dari alam telah berhasil
dimurnikan dan kemudian disintesis hingga menjadi
nanosilika. Baru-baru ini telah berhasil diperoleh
silika dengan kadar kemurnian tinggi (> 99 %) dari
abu/limbah sampingan industri gula (Samsudin,
2009). Dan telah berhasil disintesis nanosilika dari
bahan abu sekam padi dengan kemurnian 98 %
dengan menggunakan metode kopresipitasi (Nittaya,at
al.,2008) dan dari lumpur sidoarjo (lusi) dengan
metode kopresipitasi, kemurnian 95,7% (Munasir,
dkk.,2010). Trabelsi berhasil mensintesis silika amorf
dari pasir deuriet dengan mereaksikan dengan sodium
karbonat (Na
2
CO
3
) dengan temperatur pembakaran
1030
o
C (Trabelsi,et al.,2009). Dan Hidetsugu Mori
menawarkan metode sintesis dengan menggunakan
prinsip kerja membongkar ikatan kimia dalam bahan
dengan menggunakan senyawa alkali seperti KOH
dan NaOH dan kemudian mengikat silikon dioksida
(SiO
2
) dari waste colore glasses (Mori, 2003)
diperoleh serbuk SiO2 dengan kemurnian tinggi
99,9%, metode ini dinamakan metode alkalifusion.
Pada penelitian ini, akan dilakukan sintesis
dengan menggunakan metode kopresipitasi, secara
prinsip proses ektraksi silika dari bahan dasar pasir
kuarsa ada tiga tahapan. Pertama, preparasi sodium
silikat (Na
2
SiO
3
) dari pasir kuarsa dengan
menggunakan NaOH. Kedua, preparasi silicic acid,
Si(OH)
4
, pada tahapan ini, larutan sodium silikat di
reaksikan dengan asam kuat (HCl) hingga terbentuk
endapan (silika gel) yang masih tercampur dengan
NaCl. Karena Si(OH)
4
tidak bisa larut dalam asam
kuat seperti HCl, HNO
3
, dan H
2
SO
4
. Maka endapan
Si(OH)
4
dapat dipisahkan dari larutannya (NaCl) .
Ketiga, adalah preparasi SiO
2
dengan proses
pengeringan gel silika Si(OH)
4
. Metode kopresipitasi
ditengarahi mempunyai kelebihan dibanding metode
lain dalm mengekstraksi SiO
2
orde nano dari bahan
anorgonaik, karena pemakaian energi yang cukup
rendah (<100
o
C) dan berbiaya murah.

B 52
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

BAHAN DAN METODE
Bahan
Bahan utama yang digunakan dalam penelitian
ini adalah pasir kuarsa yang diambil di daerah Bancar-
Tuban Jawa Timur. Dengan kandungan 76,80 wt%
SiO
2
(hasil awal uji XRF), larutan HCl 37 %, NaOH
99%, dan Aquades. Peralatan yang digunakan dalam
penelitian ini antara lain adalah gelas beker ukuran
100, 250, 400, dan 800 ml; gelas ukur, pipet, spatula
logam dan kaca, corong kaca, cawan keramik, mortar,
aluminium foil, thermometer, kertas saring, lampu
untuk pengeringan, timbangan analitik, furnace dan
magnetik stirrer
Metode
Pasir Tuban di haluskan dan disaring (ukuran
homogen) dengan ukuran sekitar 250 mikron,
kemudian dicampur dengan larutan NaOH (5-7 M)
dan distirer selama 2 jam, sehingga terbentuk larutan
sodium silikat. Larutan sodium silikat tersebut lalu
didiamkan sekitar 24 jam, kemudian diputar distirer
sambil dititrasi dengan HCl (2M) sehingga PH larutan
mendekati netral (PH 6-7) , sehingga terbentuk
larutan menjadi keruh dan terbentuk gel berwarna
putih, endapan gel disaring dengan kertas saring dan
dilakukan pencucian dengan air yang terionisasi (DI
water) beberapa kali untuk membersihkan sisa-sisa
NaCl yang mungkin masih ada di gel. Endapan
Si(OH)
2
(silica gel) didiamkan kemudian di keringkan
dengan menggunakan cahaya lampu 100 W selama 2
hari. Silika gel (SiO
2
) selanjutnya diuji XRD dan
XRF
.

HASIL DAN DISKUSI
Hasil
Analisis XRF
Hasil uji XRF yang dilakukan pada sampel pasir
silika yang diambil di lokasi penambangan pasir
Bancar Tuban Jawa Timur Indonesia, diperoleh hasil
seperti pada tabel 1, unsur atom dan senyawa oksida
dalam persentase massa (%).
Tabel 1. Hasil analisis Data XRF Sampel Pasir dan
nanosilika NS-1, NS-2, dan NS-3 hasil sintesis denganNaOH
bervariasi berturut-turut: 5M, 6M dan 7M
Unsur atom (%wt)
Sampel
Si Ca K lainya
Pasir-BT 69,30 7,50 4,80 <1,00
NS-1 90,20 1,10 0,33 <1,00
NS-2 92,10 1,20 0,33 <1,00
NS-3 95,00 1,00 0,16 <1,00

Tampak dari tebel 1, bahwa unsur kimia yang terdapat
pada sampel pasir silika dilokasi Bancar-Tuban
mempunyai unsur kimia mayoritas (Si,Ca dan K) dan
senyawa oksida mayoritas (SiO
2
, CaO dan Fe
2
O
3
)
yang terkandung didalamnya. Tampak pula bahwa
hasil sintesis nanosilika (NS-1, NS-2, NS-3) dengam
variasi molaritas NaOH sebagai medium pereaksi 5M,
6M dan 7M dan PH titrasi 7-8, diperoleh prosentase
Si yang meningkat dari 69,30 wt% menjadi 90,20;
92,10; dan 95,0 %wt berturut-turt.
Analisis XRD
Hasil uji Difraksi Sinar-X terhadap sampel pasir
Tuban, Jawa Timur, Indonesia , menunjukan bahwa
bidang kristal (peak) didominasi oleh quartz dan
calsite . Hasil search-match data difraksi sinar-x
(pasir Bancar-Tuban) yang belum dilakukan treatmnt,
menunjukan bahwa peak yang muncul dominan
quartz, pada sudut (2) : 5-90
o
. Fasa yang
teridentifikasi ada dua, yaitu quartz, dan calcite.
Quartz merupakan salah satu fasa kristal dari SiO
2

selain trydymite dan crystobalite. Intensitas 100%
berada pada posisi 2 = 26,61 dan teridentifikasi
sebagai fasa quartz. (Munasir, 2010).

Hasil XRD Sintesis Nanosilika
0
200
400
600
800
10,0 20,0 30,0 40,0 50,0 60,0 70,0
2 theta
R
e
l
a
t
i
v
e

I
n
t
e
n
s
i
t
y
5_M
6_M
7_M
Q
Q
Gambar 2. Pola difraksi sinar-X Nanosilika yang disintesis dengan
variasi molaritas (5-7M) dari pasir Bancar Tuban.
Adapun pola difraksi sinar-X hasil sintesis
nanosilika dengan metode copresipitasi, molaritas
NaOH bervariasi (5-7M) dengan titrasi pH 7-8,
diperlihatkan pada gambar 2. Pada molaritas 7 M
terbentuk puncak kristalin fase quartz didalam fase
amorf. Dan tampak pola difraksi yang menunjukkan
pergeseran posisi puncak. Hal ini dimungkinkan
terjadi karena SiO
2
mulai terbentuk pada pH netral
7-8 kemudian proses titrasi dihentikan, sehingga
dimungkinkan masih banyaknya impuritas yang
belum tereduksi sempurna.
Molaritas NaOH juga berperan besar dalam
proses pembentukan sodium silikat (Na
2
SiO
3
) untuk
menghasilkan SiO
2.
. Pada molaritas 5 M terlihat
perbedaan puncak dengan molaritas NaOH 6 M dan 7
M. Hal ini disebabkan tidak seluruhnya SiO
2
bereaksi
dengan NaOH untuk membentuk Na
2
SiO
3
secara
menyeluruh. Sehingga menyebabkan karakter puncak
dari molaritas 5 M bergeser seperti terlihat pada
Gambar 2.
Produksi SiO
2

Ada kecenderungan produk silika orde nano yang
diperoleh pada pada pH 7-8 mengalami mengalami
peningkatan untuk molaritas NaOH semakin besar.

B 53
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Pada tabel 2 tampak massa serbuk nanosilika yang
dihasilkan dengan metode kopresipitasi dengan
variasi molaritas NaOH (5-7M) saat proses ekstraksi
SiO
2
melalui pembentukan senyawa Na
2
SiO
3
fase
padat dan larutannya . Pada NaOH 5-7M dengan pH
titrasi 7-8 diperoleh prosentasi nanosillika masing-
masing 15,336%; 17,870% dan 41,355% dari sekitar
4 gram serbuk pasir; sedangkan untuk pH 4-5,
dihasilkan serbuk nanosilika dengan persentase dari
serbuk pasir, 45,969%; 65,441% dan 90,6972%.
Tabel 2. Produksi Serbuk Nanosilika
Molaritas
NaOH
Ph
Pasir-BT
(gr)
Massa NS
(gr)
Persent
ase (%)
7-8 4,0062 0,6144 15,3362  5M
(NS-1) ~4-5 4,0122 1,8444 45,9697 
7-8 4,0223 0,7188 17,8703  6M
(NS-2) ~4-5 4,0175 2,6291 65,4411 
7-8 4,0532 1,6762 41,3549  7M
(NS-3) ~4-5 4,0203 3,6463 90,6972 
Analisis SEM
Hasil analisis SEM untuk Nanosilika hasil
sintesis ditunjukan pada gambar 3. Berdasar hasil
pengamatan SEM dapat dilihat partikel SiO
2
ukuran
~ 100 nm dapat teramati walaupun sebagian besar
tampak kumpulan partikel-partikel kecil yang
menyatu membentuk partikel besar (beraglomerasi).
Hal ini sebenarnya sudah dapat diprediksikan
sebelumnya dengan melihat hasil XRD dimana
sampel tersebut adalah salah satu sampel yang
terbentuk kristal quartz dari hasil XRD serta search
match yang dilakukan. Sampel ini mempunyai
puncak-puncak yang intensitasnya tidak terlalu tinggi
tetapi melebar, dimana hal itu merupakan salah satu
karakteristik dari material yang berukuran nano.

Gambar 3. Profil struktur mikro (SEM) serbuk nanosilika yang
dipreparasi dengan NaOH 7M
Diskusi
Pencampuran serbuk pasir kuarsa dengan larutan
NaOH yang diaduk sambil dipanaskan dengan
temperatur 80
o
C, senyawa NaOH terdisosiasi
sempurna membentuk ion Na
+
dan ion hidroksida OH
-

. Sedangkan SiO
2
dalam serbuk pasir akan mengalami
pembentukan ion intermediet (SiO
2
OH)
-
yang tidak
stabil. Dalam SiO
2
elektronegatifitas O lebih tinggi
sehingga menyebab-kan Si lebih elektropositif.
Selanjutnya akan terjadi proses hidrogenasi dan ion
hidroksil yang berikatan dengan hidrogen membentuk
molekul air dan dua ion Na
+
yang akan menetralkan
muatan negatif yang terbentuk, berinteraksi dengan
ion SiO
3
2-
hingga terbentuk sodium silikat (Na
2
SiO
3
).
Pada proses ini sodium silikat yang diperoleh
berbentuk padat, selanjutnya dengan penambahan
aquades (H
2
O) akan diperoleh larutan sodium silikat,
yang selanjutnya berfungsi sebagai precursor pada
pembentukan silika gel (SiO
2
). Larutan sodium silikat
diputar dengan hotplate stirer dengan temperatur 70
o
C
sambil diteteskan 2M HCl hingga pH 7. Pada proses
ini terjadi peristiwa pembentukan gugus siloksi (Si-O
-
) dan gugus silanol (Si-OH), selanjutnya gugus silanol
berinteraksi dengan gugus siloksi hingga terbentuk
gugus siloksan (Si-O-Si) proses ini terjadi sangat
cepat hingga terbentuk silika gel dengan produk
sampingan NaCl. Selanjutnya proses anging dan
proses penetralan atau membuang NaCl dengan
aquades (H
2
O).
Penggunaan variasi molaritas dan pH akhir saat
titrasi ternyata menghasilkan sampel yang berbeda.
Sampel yang dihasilkan ternyata sebagian kecil mulai
terbentuk kristal dimana fase yang teridentifikasi
yaitu quartz. Molaritas NaOH dan pH pada penelitian
ini berfungsi sebagai driving force dalam
pembentukan kristal. Pembentukan fasa biasanya
menggunakan perlakuan suhu tinggi, sehingga cukup
banyak membutuhkan konsumsi energi srta
membutuhkan waktu yang lama. Melalui metode
kopresipitasi hanya membutuhkan waktu sampai
terbentuknya sampel kurang dari 4 jam. Dengan
demikian jika dibandingkan dengan metode lain yang
biasa digunakan untuk mengekstrak pasir atau limbah
gelas menjadi nanosilika, metode ini jauh lebih hemat,
demikian halnya dengan mulai terbentuknya fase
kristal (fase quartz) ini tidak dijumpai dalam metode
alkali fusion (Mori, 2003) Jika dilihat dari morfologi
SEM teramati ukuran partikel dalam skala kurang dari
100 nm untuk sampel dengan pH 7-8 dengan
molaritas 7 M, sehingga dapat disimpulkan bahwa
sampel ini merupakan SiO
2
kristal dalam lautan
amorf.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah:
1. Variasi molaritas NaOH pada proses ekstraksi
SiO
2
berpengaruh terhadap pembentukan fase
yang terbentuk, nanosilika amorf dan nanosilika
kristal (fase quartz) yang terbentuk, hal ini tampak
pada pola difraksi sinar-X pada sampel yang
dipreparasi dengan 7M NaOH .
2. Variasi molaritas NaOH pada proses ekstraksi dan
pH henti saat titrasi berpengaruh terhadap
produksi dan struktur mikro (particles size)
nanosilika yang dihasilkan.


B 54
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Ucapan Terima Kasih
Disampaikan terimakasih kepada Kementrian
Pendidikan Nasional melalui Dikti, yang telah
memberikan suport finansial bagi penulis melalui
Program Beasiswa Pascasarjana (BPPS)
DAFTAR PUSTAKA
W. Trabelsi, M. Benzina , S. Bouaziz, 2009. Physico-
chemical characterisation of the Douiret sand
(Southern Tunisia): Valorisation for the
production of Silica Gel, Physics ysics
Procedia 2 (2008) 1461-1467.
Sang-Wook Ui, Seung-Jae Lim, Sang-Hoon Lee and
Sung-Churl Choi ,2009. Control of the size and
morphology of nano-size silica particles using
a sodium silicate solution. Journal of Ceramic
Processing Research. Vol. 10, No. 4, pp.
553~558 .
Jerzy Chruściel, L. Ś. (2003). "Synthesis Of
Nanosilica By The Sol-Gel Method And Its
Activity Toward Polymers." Materials Science
21 (4)(Nano Silica): 7.
Nuntiya, N. T. A. A. (2008). "Preparation Of
Nanosilica Powder From Rice Husk Ash By
Precipitation Method." Chiang Mai J. Sci.
2008; 35(1) : 206-211 35 (1)(Nano Silica): 6..
Morri, Heditsugu. Extraction of Silicon Dioxide from
Waste Colored Glasses by Alkali Fusion Using
Sodium Hydroxide. Journal of The Ceramic
Society of Japan.111 (6).(2003): 376-381.
Morri, Heditsugu. Extraction of Silicon Dioxide from
Waste Colored Glasses by Alkali Fusion Using
Potasium Hydroxide. Journal of The Ceramic
Society of Japan.38 2003): 3461-3468.
M. Waseem, S. Mustafa, A. Naeem, K. H. Shah, Irfan
Shah And Ihsan-Ul-Haque: Synthesis And
Characterization Of Silica By Sol-Gel Method.
J Pak Mater Soc 2009 3 (1)
Munasir, Ahmad Mirwan Abdullah, Triwikantoro,
2010. Sintesis Silika Amorf Dari Bahan Alam
Lumpur Sidoarjo dengan Metode Kopresipitasi,
Prosiding Seminar Nasional UNNES
Semarang.
P.K. Jal , M. Sudarshan, A. Saha, Sabita Patel, B.K.
Mishra ,. (2004). "Synthesis and
characterization of nanosilica prepared by
precipitation method." Colloids and Surfaces A:
Physicochem. Eng. Aspects 240: 6.
Samsudin Affandi, Heru Setyawan , Sugeng Winardi,
Agus Purwanto , Ratna Balgis . A Facile
Method For Production Of High-Purity Silica
Xerogels From Bagasse Ash. Advanced
Powder Technology 20 (2009) 468–472
Van, Hoek., Winter, R., 2002. “Amorphous silica and
the intergranular structure of nanocrystalline
silica ”. Phys Chem Glass 43C 80.
Yasuhiko Arai, Hiroyo Segawa ,Kazuaki Yoshida.
Synthesis Of Nano Silica Particles For
Polishing Prepared By Sol–Gel Method.
Journal Of Sol-Gel Science And Technology
32, (2004) 79–83.




B 55
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANO-KOMPOSIT
HIDROKSIAPATIT/KITOSAN FOSFAT UNTUK APLIKASI JARINGAN TULANG
Nanang Nurul Hidayat
1
, Ra Irindah F.S
2
, Siswanto
2
, Dyah H
2
1
MA NU TBS Kudus
2
Program Studi S-1 Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga
Email : nanangnurulhidayat@physicist.net
Abstrak
Telah dilakukan sintesis Nano-komposit hidroksiapatit/kitosan fosfat (nHA/CSP) dengan menggunakan metode
kimia. Hal ini menandakan bahwasanya fase inorganik dalam komposit merupakan biokeramik nHA dengan
ukuran kristal kecil dan dilakukan variasi prosentasi antara 10 sampai 60% (w/w). Interaksi ikatan antar muka
antara nanopartikel hidroksiapatit (nHA) dan kitosan (CSP) telah diteliti melalui absorpsi spektrum
transformasi Fourier (FTIR) dan difraksi sinar-x (XRD). Permukaan morfologi dari nanokomposit dan dispersi
nanopartikel hidroksiapatit (nHA) homogen dalam matriks polimer kitosan fosfat (CSP) telah diselidiki melalui
pemindaian mikroskop elektron (SEM), dan juga dilakukan karakterisasi densitas, porositas, kekuatan tekan
serta juga kekerasannya untuk mengetahui sifat makroskopik sampel. Hasil XRD menunjukkan fasa CaHPO4
hadir pada sampel nanokomposit. Pada FTIR, gugus fosfat (PO4), hidroksil (OH) dan karbonat (CO3) yang
merupakan milik hidroksiapatit muncul bersama dengan gugus fungsi milik kitosan yaitu N-H, C-H dan amida.
Pada karakterisasi SEM, terbentuknya nanokomposit hidroksiapatit/kitosan (nHA/CSP) ditandai dengan
morfologi sampel yang berbentuk bongkahan yang menunjukkan bahwa kitosan telah berikatan dengan
nanopartikel hidroksiapatit (nHA). Karakteristik densitas dan kekerasan menunjukkan semakin meningkat
seiring meningkatnya konsentrasi nanopartikel nHA. Kekuatan tekan dan porositasnya menurun seiring
meningkatnya konsentrasi nanopartikel nHA.
Kata kunci : nano-material, Hidroksiapatit,Kitosan

PEDAHULUAN
Manusia dalam aktivitasnya banyak menghadapi
permasalahan serius yang disebabkan oleh kecelakaan
dan penyakit. Tercatat kecelakaan lalu lintas
(lakalantas) di Indonesia mengalami peningkatan
sepanjang tahun. Kasus kecelakaan kerap
mengakibatkan korbannya menderita luka berat, yaitu
cacat tubuh seperti patah tulang. Sejumlah 3.232
korban kecelakaan mengalami luka berat (patah
tulang) pada 2010 (Republika, 2010). Kerusakan
tulang selain fraktur yang disebabkan oleh penyakit
ialah ostereoporosis. Studi di dunia menyatakan
bahwa satu diantara tiga wanita dan satu diantara lima
pria di atas usia 50 tahun menderita ostereoporosis
(Harapan. S, 2006).
Teknologi implantasi untuk mengatasi
permasalahan tulang berkembang cukup pesat. Hal ini
membuat dokter mempunyai banyak pilihan dalam
menggunakan biomaterial sebagai bahan untuk
memperbaiki atau menganti jaringan tulang yang
mengalami kerusakan. Terdapat empat macam
biomaterial sebagai bahan rehabilitasi jaringan tulang.
Empat biomaterial tersebut adalah biomaterial logam,
keramik, polimer dan komposit.
Biomaterial implan masing-masing memiliki
kelebihan dan kekurangan. Polimer mempunyai
kekuatan mekanik yang sangat rendah dibandingkan
tulang. Logam mempunyai keunggulan pada sifat
mekanik yaitu ketahanan dan kekuatan, tetapi mereka
sangat korosif. Keramik mudah rapuh dan
ketangguhan rendah. Ketika semua biomaterial dari
polimer, keramik dan logam dianggap kurang mampu
mengatasi permasalahan, memproduksi material dari
bahan komposit untuk aplikasi implan tulang adalah
pendekatan yang baik (Yildirim, 2004).
Biomaterial komposit memberikan kemudahan
dalam hal mengatur sifat dan karakteristik.
Pengembangan biomaterial komposit yang banyak
digunakan dalam bidang rehabilitasi jaringan adalah
biokeramik berbasis hidroksiapatit [HA,
Ca
10
(PO
4
)
6
(OH)
2
]. Hidroksiapatit merupakan jenis
biomaterial keramik yang mampu menggantikan
mineral jaringan tulang. Hal ini karena hidroksiapatit
memiliki komposisi yang hampir mirip dengan tulang
manusia yaitu tersusun dari mineral kalsium (Ca) dan
fosfat (P). Sebagai bahan rehabilitasi jaringan tulang
hidroksiapatit dapat meningkatkan pertumbuhan sel-
sel yang akan memperbaiki fungsi daur kehidupan
jaringan yang digantikan (Noshi et al, 2000).
Biokeramik berbasis hidroksiapatit tidak hanya
bersifat biokompatibel atau bekerja sesuai dengan
respon jaringan tubuh manusia tetapi juga bersifat
resorbable atau terserap tulang (Is Sopyan, 2003).
Penelitian sebelumnya tentang biomaterial
komposit berbasis hidroksiapatit pernah dilakukan
oleh Smallman pada tahun 2000. Pada penelitian
Smallman terdapat adanya keterbatasan hidroksiapatit
murni sebagai material implan, yakni memiliki
kerapuhan (bersifat getas dan mudah patah).
Permasalahan ini dapat diatasi dengan penggabungan
hidroksiapatit ke dalam matriks polimer dari tulang.

B 56
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Kitosan merupakan polimer alam yang ditemukan
dalam jumlah besar, mempunyai sifat yang sangat
baik seperti biokompatibilitas, bioresorbability dan
tidak beracun. Sebagai komposit polimer dalam
tulang, kitosan yang umumnya diperoleh dari proses
deasetilasi kitin telah banyak digunakan dalam
biomedis implantasi untuk memperbaiki jaringan
kolagen tulang (Park et al, 2000; Suh & Matius,
2000). Dengan demikian kitosan merupakan polimer
kolagen organik yang memenuhi persyaratan dalam
sintesis nanokomposit hidroksiapatit/kitosan fosfat
(nHA/CSP).
Sintesis nanokomposit hidroksiapatit/kitosan
fosfat (nHA/CSP) merupakan penelitian yang
menarik. Tujuan dilakukan sintesis adalah
meningkatkan osteoconductivity dan biodegradabilty
dengan peningkatan kekuatan mekanis dan karakter
bioaktif dari implan dalam nano-komposit. Kitosan
dipilih sebagai matriks polimer karena struktur yang
sangat berpori dari kitosan bertindak sebagai
penyerap kation yang baik dan memiliki afinitas yang
lebih tinggi terhadap partikel nHA (Pramanik, dkk.
2008). Kitosan mampu memberikan lebih banyak
ruang pada sel untuk berkembang sehingga memiliki
sifat biologis yang lebih baik (Lazzeri et al, 2006).
Nanokomposit hidroksiapatit/kitosan fosfat
(nHA/CSP) dibuat dengan mengontrol ikatan antar
muka antara hidroksiapatit dengan kitosan fosfat
untuk memperkuat interfacial ikatan antara pengisi
(filler) dan matriks polimer. Hasil sintesis nano-
komposit hidroksiapatit/kitosan fosfat (nHA/CS)P ini
diketahui dalam berbagai karakterisasi. Penentuan
aspek mikroskopik material diperlukan guna
memprediksi kinerja material tersebut ke depannya
setelah mengalami proses tertentu (Guy, 1980).
Informasi penting atas penentuan aspek karakterisasi
yang meliputi sifat mikroskopik dan makroskopik
pada sampel dianalisa yang kemudian diaplikasikan
dalam pencocokan data pada karakterisasi selanjutnya
METODOLOGI PENELITIAN
1. Bahan-Bahan yang digunakan yaitu serbuk
nano-hidroksiapatit yang diperoleh dari
Laboratorium Fisika Material FST Unair, serbuk
kitosan dapat diperoleh dari toko online Sigma-
Aldrich Chemical, Asam ortofosforik diperoleh
dari Merck Chemical, asam asetat 2 %, etanol
absolut dan metanol diperoleh dari toko
Rachmadjaya Surabaya.
2. Sintesis Kitosan Fosfat yaitu dengan melarutkan
2 gram serbuk kitosan (Chitosan from Shrimp
Shells) dalam 100 ml asam asetat 2% dan 6 gram
asam ortofosforik 85%. Campuran yang
diperoleh dipanaskan dengan proses reflux
menggunakan botol tiga leher pada suhu 80
o
C
selama 2 jam dan dibawah pengadukan konstan.
Proses reflux merupakan gabungan antara proses
pemanasan cairan dan pendinginan uap, tetapi
kondensat yang terbentuk dikembalikan ke
dalam labu didih. Hasil dari sintesis kemudian
didinginkan dan diendapkan dalam larutan
methanol berlebih. Proses pengendapan dalam
methanol merupakan proses pengendapan
berulang untuk menghapus semua H
3
PO
4
dan
asam asetat yang tidak bereaksi (pada proses
pengendapan kedua endapan gel dilarutkan
dalam aquades kemudian dalam larutan
methanol berlebih). Gel yang terbentuk
dikumpulkan dan dikeringkan dalam vakum
oven pada suhu 80
0
C selama semalam.
3. Proses Sintesis Nano-Komposit
Hidroksiapatit/Kitosan Fosfat (nHA/CSP) yaitu
dilakukan dengan metode pencampuran
sederhana (berat perberat). Pertama, kitosan
dilarutkan dalam 100 ml air panas 80
o
C dan
kemudian secara perlahan-lahan serbuk
nanopartikel hidroksiapatit (nHA) ditambahkan.
Enam sampel uji nanokomposit
hidroksiapatit/kitosan fosfat (nHA/CSP) dibuat
dengan menambahkan serbuk nHA masing-
masing (wt)% yaitu 10%, 20%, 30%, 40%, 50%
dan 60% pada enam sampel uji larutan kitosan.
Campuran tersebut diaduk dengan bantuan
mechanical stirrer dengan kecepatan 3000 rpm
selama 1 jam. Setelah semua serbuk nanopartikel
hidroksiapatit ditambahkan ke dalam larutan
polimer (kitosan), solusi yang dihasilkan
disimpan dalam vaccum desiccator untuk
menghilangkan gelembung-gelembung udara.
Bubur yang dihasilkan dari proses tersebut
kemudian dituangkan ke dalam cawan petri dan
dikeringkan dalam vaccum oven pada suhu 90
o
C
selama lebih dari semalam. Hasil akhir dari
sintesis ini berupa komposit yang masing-
masing sebagian sampel diuji karakterisktik
mikroskopiknya dan sebagian yang lain
dilakukan pencetakan tablet serta selanjutnya
dilakukan uji sifat makroskopiknya.
4. Karakterisasi Mikroskopik meliputi uji X-Ray
Diffraction (XRD) untuk menganalisa fase dari
sampel , Uji FTIR untuk mengetahui gugus
fungsi yang terbentuk pada sampel dan Uji SEM
untuk mengetahui permukaan sampel.
5. Karakterisasi Sifat Makroskopik meliputi uji
densitas, porositas, uji tekan dan uji kekerasan.
Uji densitas dilakukan dengan membandingkan
massa sampel dengan volume sampel. Uji
porositas dilakukan metode Liquid Displacement
(Zhang & Zhang, 2001). Uji tekan menggunakan
alat autograph Dan uji kekerasan menggunakan
alat Vickers Hardnes.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakterisasi mikroskopik yang pertama
dilakukan adalah analisis FTIR. Analisis serapan
FTIR dilakukan untuk mengetahui gugus fungsi yang
terkandung dalam tiga sampel kontrol dan enam
sampel uji nanokomposit hidroksiapatit/kitosan
(nHA/CSP). Spektrum transmitansi IR sampel
diperlihatkan pada Gambar 1- 7dibawah ini.

B 57
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012


Gambar 1. Pola FTIR Sampel Uji B
1
nHA (10%) + CSP (90%)

Gambar 2 Pola FTIR Sampel Uji B
2
nHA (20%) + CS
(80%)

Gambar 3 Pola FTIR Sampel Uji B
3
nHA (30%) + CS (70%)

Gambar 4 Pola FTIR Sampel Uji B
4
nHA (40%) + CS (60%)

Gambar 5 Pola FTIR Sampel Uji B
5
nHA (50%) + CS (50%)

Gambar 6 Pola FTIR Sampel Uji B
5
nHA (60%) + CS (40%)

Gambar 7. Pola FTIR dari (a) nHA, (b) Chitosan from Shrimp
Shells, (c) CSP, (d) nHA/CSP(paling bawah
Peta absorbsi dari keseluruhan sampel uji B
1

sampai B
6
menunjukkan adanya tumpang tindih
(overlapping) dibeberapa bilangan gelombang.
Spektrum IR pada keenam sampel uji tersebut
menunjukkan adanya pita absorbsi fosfat, pita
absorbsi karbonat v
2
dan v
3
, serta pita absorbsi
hidroksil dari nanopartikel hidroksiapatit (nHA)
bertumpuk dengan gugus N-H, C-H, amida I dan
amida II milik kitosan. Tumpang tindih (overlapping)
pada beberapa bilangan gelombang ini mengakibatkan
spektra FTIR terlihat lebih lebar pada daerah bilangan
gelombang 3472 cm
-1
(Gambar 7).
Analisis hasil FTIR pada sampel uji B
1
sampai
B
3
memperlihatkan teridentifikasinya

gugus fungsi
N-H, amida I dan amida II yang merupakan
karakteristik dari kitosan mampu bertumpukan
dengan gugus fungsi OH milik nanopartikel
hidroksiapatit (nHA) tetapi tidak terlihat perubahan
yang lebih lebar pada spektra FTIR. Sampel uji B
1

terindentifikasi memiliki gugus fungsi N-H yang
bertumpukkan dengan gugus fungsi OH milik
nanopartikel hidroksiapatit (nHA) pada bilangan
gelombang 3435 cm
-1
tetapi spektra FTIR masih
identik dengan spekta FTIR pada sampel kontrol A
3


B 58
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

(kitosan fosfat/CSP). Sampel uji B
2
memilki gugus
fungsi OH pada bilangan gelombang 3444 cm
-1
yang
bertumpukan dengan gugus fungsi N-H milik kitosan.
Spektra FTIR sampel uji B
2
tidak terlihat lebih ebar,
gugus PO
l
mida I dan amida II milik
kito
itosan (nHA/CSP) telah berhasil
terb
alah pola
hasil analisa XRD masing-masing sampel :
4
stretching pada bilangan gelombang 1063
cm
-1
dan PO
4
bending pada 563 cm
-1
, gugus C-H
muncul pada bilangan gelombang 2923 cm
-1
dan
gugus fungsi C=C yang bertumpukkan dengan gugus
fungsi amida II milik kitosan pada bilangan
gelombang 1544 cm
-1
. Selain itu teridentifikasi gugus
fungsi OH dari nanopartikel hidroksiapatit (nHA)
yang bertumpukkan dengan gugus fungsi amida I
milik kitosan pada bilangan gelombang 1651 cm
-1
.
Sampel uji B
3
memilki gugus fungsi OH pada
bilangan gelombang 3462 cm
-1
yang bertumpukan
dengan gugus fungsi N-H milik kitosan dan pada
bilangan gelombang 1638 cm-1 yang bertumpukkan
dengan gugus fungsi amida I milik kitosan. Gugus
PO
4
stretching pada bilangan gelombang 1031 cm
-1

dan PO
4
bending pada 602-563 cm
-1
. Gugus C=C
pada bilangan gelombang 1638 cm-1 bertumpukkan
dengan gugus fungsi a
san.
Gugus fungsi yang teridentifikasi pada sampel uji
B
4
sampai B
6
memperlihatkan tumpang tindih
(overlapping) dibeberapa panjang gelombang seperti
gugus fungsi N-H milik kitosan yang tumpang tindih
dengan gugus fungsi OH milik nHA. Spektra FTIR
pada sampel uji B
4
sampai B
6
berbeda dengan spektra
FTIR pada sampel uji B
1
sampai B
3.
Spektra FTIR
pada sampel uji B
4
sampai B
6
terlihat lebih lebar.
Terjadinya overlapping yang menyebabkan pelebaran
spektra FTIR pada beberapa bilangan panjang
gelombang disertai teridentifikasinya gugus fungsi
dari kitosan dan nHA menunjukkan nanokomposit
hidroksiapatit/k
entuk.
Karakterisasi mikroskopik yang kedua adalah
Analisa XRD yaitu mengacu pada hasil dan
pembahasan analisis FTIR, hasil pengujian instrumen
X-Ray Diffraction (XRD) memberikan informasi
spesifik eksitensi mengenai fasa apa saja yang
terkandung di dalam sampel. Pola XRD digambarkan
dalam bentuk profil difragtogram (kurva dengan
puncak-puncak), sebagai absis adalah sudut difraksi
2θ dan ordinat adalah kalkulasi intensitas difraksi
“count” yang dilengkapi dengan data jarak antar
bidang atom (d=jarak kisi kristal) (Winarti, 2008).
Analisa XRD dilakukan dengan mencocokan data
ICSD (Inorganic Crystal Structure Database). Data
tersebut kemudian dianalisis sehingga diperoleh
parameter kisi kristal, ukuran kristal sampel dan
derajat kristalinitas sampel nanokomposit
hidroksiapatit/kitosan (nHA/CS). Berikut ad

Gambar 8 Kurva Search Match Terhadap Puncak-puncak Sampel
Uji B
1
- B
6
Identifikasi Gambar 8 sampel uji B
1
memperlihatkan pola XRD nanokomposit
hidroksiapatit/kitosan (nHA/CS) dimana puncak
tertinggi dimiliki oleh CaHPO
4
(Kalsium Hidro-
fosfat) yakni pada sudut 2θ = 30.120 . Mayoritas
puncak yang teridentifikasi dari sampel uji B
1
adalah
milik CaHPO
4
, meskipun mineral apatit (nanopartikel
hidroksiapatit) masih muncul pada puncak-puncak
tertentu. Calculated pattern pada sampel uji B
1
,
CaHPO
4
sebesar 69,6% dan hydroxyapatite sebesar
30,4%. Kemungkinan terbentuknya senyawa CaHPO
4
disebabkan ketidaksetabilan stoikiometri dalam
senyawa nanopartikel hidroksiapatit [nHA,
Ca
10
(PO
4
)
6
(OH)
2
] menyebabkan rasio molar
Ca/P>1,67 yang membentuk CaO. Kandungan CaO
diatas 55% akan membentuk kalsium hidro-fosfat
(CaHPO
4
).
Identifikasi Sampel B
2
puncak tertinggi pada
sudut 2θ = 31.840, B
3
pada sudut 2θ = 31.760 , B
4

pada sudut 2θ = 31.820, B
5
pada sudut 2θ = 31.800
dan sampel uji B
6
puncak tertinggi pada sudut 2θ =
31.760 (. Puncak-puncak tertinggi yang diperlihatkan
pola XRD pada sampel uji B
2
sampai B
5

nanokomposit hidroksiapatit/kitosan fosfat
(nHA/CSP) dimiliki oleh nanopartikel hidroksiapatit
(nHA). Pola XRD sampel uji B
2
sampai B
5

memperlihatkan masih muncul puncak milik CaHPO
4

di beberapa sudut, namun intensitasnya lebih rendah
dibandingkan puncak yang dimiliki nHA dan terjadi
penurunan nilai calculated pattern CaHPO
4
pada
setiap kenaikan variasi komposit. Pada sampel uji B
6
fasa CaHPO
4
tidak teridentifikasi, puncak-puncak
hanya dimiliki oleh nHA. Munculnya fasa CaHPO
4
diprediksi menyebabkan

ketidaksetabilan [nHA,
Ca10(PO
4
)
6
(OH)
2
]. Ketidaksetabilan ini
kemungkinan berpengaruh pada nilai parameter kisi,

B 59
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ukuran kristal dan derajat kristalinitas. Hasil
perhitungan data XRD yang menunjukkan nilai
parameter kisi dan ukuran kristal nanopartikel
hidroksiapatit (nHA) dalam nanokomposit
hidroksiapatit/kitosan fosfat (nHA/CSP).
Analisa mikroskopik yang ketiga yaitu SEM dimana
gambar nya diberikan oleh

Gambar 9 Struktur Morfologi SEM Sampel Uji B
2
; (a) Perbesaran
5.000x; (b) 10.000x dan (c) 30.000x.

Gambar 10 Struktur Morfologi SEM Sampel Uji B
6
; (a)
Perbesaran 5.000x; (b) 10.000x dan (c) 30.000x.
Analisis morfologi perrmukaan SEM pada
sampel B
2
dan B
6
memperlihatkan nanopartikel
hidroksiapatit (nHA) menyebar seragam dalam
nanokomposit hidroksiapatit/kitosan fosfat
(nHA/CSP). Penyebaran seragam dapat terlihat
melalui matriks kitosan yang telah saling
berhubungan antar sel. Permukaan halus pada kitosan
berangsur-angsur mulai terganggu dengan
bergabungnya nanopartikel hidroksiapatit (nHA)
sehingga menghasilkan permukaan yang lebih kasar
dari sebelumnya. Analisis morfologi ini memberikan
gambaran bahwa nanopartikel hidroksiapatit (nHA)
telah tumbuh dengan baik dalam matriks kitosan
(Yildirim, 2004). Morfologi dalam sampel
nanopartikel hidroksiapatit (nHA) komposit terlihat
membentuk bongkahan atau granula- granula,
permukaan terlihat kasar dan diameter bongkahan
yang terbentuk berukuran 3 µm.
Observasi SEM dilakukan bersamaan dengan
pengukuran EDAX. Rasio molaritas Ca/P dapat
dilihat pada Tabel 4.5. Rasio Ca/P pada nHA murni
adalah 1.67. Rasio pada sampel uji relatif lebih kecil
daripada rasio nHA murni. Hal ini dikarenakan
kemungkinan hadirnya fasa CaHPO
4
pada
karakterisasi XRD
.
Fasa CaHPO4 kemungkinan hadir
dan menyebabkan perubahan rasio Ca/P dari [nHA,
Ca
10
(PO
4
)
6
(OH)
2
]. Fasa CaHPO
4
terbentuk dari
starting material CaO>55%. Selain itu hasil dari
analisis FTIR, memperlihatkan munculnya gugus-
gugus fungsi yang mengalami tumpang tindih
(overlapping) juga dimungkinkan mempengaruhi nilai
rasio Ca/P.
Selanjutnya dilakukan uji sifat makroskopik
sampel yang nilainya ditunjukkan oleh tabel dibawah
ini
Tabel 1 Data Hasil Karakterisasi Makroskopik nHA/CSP

Tabel 1 Data literatur sifat makroskopik tulang (Michael et.al, 2002)

Hasil karakterisasi makroskopik yang telah
dilakukan memperlihatkan nilai densitas semakin
besar seiring dengan pertambahan konsentrasi
hidroksiapatit (nHA). Hal ini dapat terjadi di
karenakan hidroksiapatit (nHA) mengisi sela-sela
kosong pada kitosan dan mengakibatkan poros yang
ada di dalamnya semakin mengecil. Kekuatan tekan
mengalami penurunan seiring dengan adanya
penambahan konsentrasi nHA dan berbanding tebalik
dengan sifat kekerasannya.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwasanya
sampel yang mampu potensial sebagai implan tulang
yaitu nHA/CSP dengan konsentrasi 20%-30% (1.877
– 2.131 gram/cm
3
) berdasarkan sifat densitasnya, dan
50%-60% (55.26 – 79.71 VHN) berdasarkan sifat
kekerasannya. Hasil ini mendekati dengan literatur
implan tulang gigi yang menunjukkan densitasnya
sebesar 1.9 gram/cm
3
dan kekerasannya sebesar 71
VHN (Michael et.al, 2002)).
KESIMPULAN DAN SARAN
Karakterisasi yang potensial dalam penelitian ini
yaitu di sekitar konsentrasi nHA 20% - 30% dimana
mampu digunakan sebagai implan tulang gigi
berdasarkan sifat densitasnya dan konsentrasi nHA
50%-60% berdasarkan sifat kekerasannya. Dan
penelitian ini diharapkan bisa dikaji dan dilakukan
observasi secara lanjut agar bisa didapatkan hasil
yang lebih optimal untuk aplikasi jaringan tulang.

B 60
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

DAFTAR PUSTAKA
Bhat SV. 2002. Biomaterials. Alpha Science
International Ltd : Pangboune England
Guy, A G., (1980), Elements of Material Science,
John Wiley, New York.
Harapan S. Sampai dengan Tahun 2010 Dekade
Penyakit Tulang, [terhubung berkala]; 2006.
http://www.sinar harapan.co.id [16 Mei 2006].
Lazzeri, L., Cascone, M. G., Serena, D., Serino, L. P.,
Moscato, S., & Bernardini, N. G. (2006).
Gelatine/PLLA sponge-like
scaffold:Morphologi caland biological
characterization. Journal of Materials
Science : Materialsin Medicine, 17, 1211–1217.
Michael, Debra. Kai-Uwe. Hasirci, Vasif. David
E.Altobelli.Donald, 2002, Materials in
Orthopedic. New York : Marcell Dekker.INC..
Nabakumar Pramanik, Mishra, Indranil, Tapas Kumar,
Parag Bhargava. 2009. Chemical Synthesis,
Characterization, and Biocompatibility
Study of Hydroxyapatite/Chitosan
Phosphate Nanocomposite for Bone Tissue
Engineering Applications, International
Journal of Biomaterials, Volume Article ID
512417, 8 pagesdoi:10.1155/2009/512417.
Noshi, T., Yoshikawa, T., Ikeuchi, M., Dohi, Y.,
Ohgushi, H., & Horiuchi, K., etal. (2000).
Enhancementofthe invivo
osteogenicpotential of marrow/
hydroxyapatite composites by bovine bone
morphogenetic protein. Journal of
BiomedicalMaterialsResearch,52,621–630.
Park, Y. J., Lee, Y. M., Park, S. N., Sheen, S.Y.,
Chung, C.D., &Lee, S. J. (2000). Platelet
derived growth factor releasing chitosan
sponge for periodontal bone regeneration.
Biomaterials,21,153–159.
Smallman. & A.H.W.Ngan, 2007. Physical
Metallurgy and Advanced Materials,
Seventh Edition. Elsivier Science and Sabre
Foundation Book.

Suh, J. K., & Matthew, H. W. (2000). Application of
chitosan based polysaccharide Biomaterial
sincartilage tissue engineering : A review.
Biomaterials, 21, 2589–2598.
Republika Harian Berita, (akhir 2010). Indonesia.
Winarti, Ike Yuniarsari Putri, 2008. Komparasi
korosi antara material amorf gelas metalik
Zr
67,6
Cu
11,8
Ni
10,8
Al
7,8
Si
2.
Skripsi S1, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Universitas Airlangga.
Yildirim, Oktay. 2004. Preparation and
Characterization of Chitosan/Calsium
Phosphate Based Composite Biomaterials.
[disertasi]. Turki : Departement Materials
Science and Engineering, Mayor Materials
Science and Engineering. Izmir Institute of
Technology.

Zhang, Y., & Zhang, M, 2001. Synthesis and
characterization of macroporous
chitosan/calcium phosphate composite
scaffolds for tissue engineering. Journal of
Biomedical Materials Research.


B 61
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

PEMBUATAN HIDROGEL KITOSAN – GLUTARALDEJID UNTUK APLIKASI
PENUTUP LUKA SECARA IN VIVO
Nurul Istiqomah, Drs. Djony Izak R., M.Si.
Program Studi Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga
Email : nurulistiqomahwaluyo@yahoo.co.id
Abstrak
Pembuatan kitosan – glutaraldehid telah diteliti untuk aplikasi penutup luka secara in vivo. Pembuatan hidrogel
dilakukan dengan cara mencampurkan kitosan yang dilarutkan dalam 1% asam asetat dengan 1% larutan
glutaraldehid. Penambahan glutaraldehid berfungsi untuk memperbaiki sifat mekanik dari kitosan. Hidrogel
kitosan – glutaraldehid dikarakterisasi menggunakan uji FTIR, uji kemampuan absorbsi, dan uji in vivo. Hasil
uji FTIR menunjukkan terbentuknya ikatan silang antara kitosan dan glutaraldehid, yang dapat ditunjukkan
pada bilangan gelombang 1638,23 cm
-1
dan 1550,49 cm
-1
, hasil uji kemampuan absorbsi menunjukkan bahwa
swelling ratio menurun dengan meningkatnya derajat ikat silang, hasil uji in vivo menunjukkan bahwa semakin
besar volume glutaraldehid semakin lama proses penyembuhan. Hidrogel terbaik ditunjukkan dengan
penambahan glutaraldehid 3 ml yang memiliki nilai kemampuan absorbsi rata-rata 560,7 % dan uji in vivo
yang mana hewan coba sembuh pada hari ke 5. Pada penelitian ini tidak dapat dilakukan uji sifat mekanik
dikarenakan hidrogel terlalu rapuh sehingga mudah robek.
Kata kunci : Hidrogel, kitosan, glutaraldehid, penutup luka, in vivo, kemampuan absorbsi, FTIR.

PENDAHULUAN
Kulit adalah salah satu organ terbesar dalam
tubuh. Kulit mempunyai beberapa fungsi utama yang
penting untuk tubuh, yaitu : sebagai pelindung,
sensasi, komunikasi, termoregulasi, sintesis metabolik
dan kosmetik (Carville, 2007). Kulit memainkan
peran penting dalam homeostasis dan pencegahan
invasi dari mikroorganisme oleh sebab itu kulit pada
umumnya perlu ditutup segera setelah terjadi
kerusakan (jayakumar et al., 2011).
Penutup luka yang ideal harus dapat memelihara
lingkungan yang lembab di permukaan luka,
memungkinkan pertukaran gas, bertindak sebagai
penghalang bagi mikroorganisme dan menghilangkan
kelebihan eksudat.
Saat ini, penelitian difokuskan pada percepatan
perbaikan luka dengan perancangan secara sistematis
pada bahan penutup. Misalnya penggunaan bahan
yang berasal dari bahan biologis seperti kitin dan
turunannya, yang mampu mempercepat proses
penyembuhan pada tingkat molekul, seluler, dan
tingkat sistemik.
Kitin dan turunannya kitosan, mempunyai sifat
yang biokompatibel, biodegradabel, tidak beracun,
antimikroba dan hydrating agent. Penelitian yang
telah dilakukan oleh David R. Rohindra dkk pada
tahun 2004 menunjukkan bahwa pencampuran kitosan
dengan glutaraldehid dapat diaplikasikan sebagai
hidrogel. Jumlah air bebas dalam hidrogel menurun
dengan meningkatnya ikatan silang dalam hidrogel.
Peenelitian ini bertujuan untuk mengetahui
kemampuan hidrogel kitosan – glutaraldehid untuk
penyembuhan luka dan mengetahui karakteristik
hidrogel yang terbaik.
DASAR TEORI
Kulit mempunyai beberapa fungsi utama yang
penting untuk tubuh, yaitu : sebagai pelindung,
sensasi, komunikasi, termoregulasi, sintesis metabolik
dan kosmetik (Carville, 2007). Kulit memainkan
peran penting dalam homeostasis dan pencegahan
invasi dari mikroorganisme oleh sebab itu kulit pada
umumnya perlu ditutup segera setelah terjadi
kerusakan (jayakumar et al., 2011).
Penutup luka yang baik memiliki beberapa
karakteristik seperti biokompatibilitas yang baik,
rendah toksisitas, aktivitas antibakteri dan kestabilan
kimia sehingga akan mempercepat penyembuhan,
tidak menyebabkan alergi, mudah dihilangkan tanpa
trauma, dan harus terbuat dari bahan biomaterial yang
sudah tersedia sehingga memerlukan pengolahan yang
minimal, memiliki sifat antimikroba dan dapat
menyembuhkan luka (J ayakumar et al., 2011).
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah besar
kelompok penelitian yang bertujuan untuk
menghasilkan, baik yang baru maupun memperbaiki
sifat-sifat penutup luka (Shitaba et al., 1997; Draye et
al., 1998; Ulubayram et al., 2001). Saat ini, penelitian
difokuskan pada percepatan perbaikan luka dengan
perancangan secara sistematis pada bahan penutup.
Misalnya penggunaan bahan yang berasal dari bahan
biologis seperti kitin dan turunannya, yang mampu
mempercepat proses penyembuhan pada tingkat
molekul, seluler, dan tingkat sistemik. Kitin telah
tersedia dan dapat diperoleh dari bahan biologis yang
murah dari kerangka invertebrate serta dinding sel
jamur. Kitin adalah ikatan polimer linier 1,4 yang
terdiri dari residu N-acetyl-D-Glucosamine. Kitin dan
turunannya kitosan, mempunyai sifat yang
biokompatibel, biodegradabel, tidak beracun,

B 62
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

antimikroba dan hydrating agent. Karena sifat ini,
baik kitin maupun kitosan menunjukkan
biokompatibilitas yang baik dan efek positif pada
penyembuhan luka. Penelitian sebelumnya
menunjukkan bahwa kitin yang digunakan berbasis
penutup dapat mempercepat perbaikan kontraksi
jaringan luka dan mengatur sekresi dari mediator
inflamasi seperti interleukin 8, prostaglandin E,
interleukin 1, dan lain-lainya (Bottomley et al,
1999.; Willoughby dan Tomlinson, 1999). Kitosan
merupakan hemostat, yang membantu dalam
pembekuan darah secara alami. Kitosan secara
bertahap terdepolimerisasi untuk melepaskan N-
acetyl--D-glukosamin, yang memulai poliferasi
fibroblast, membantu dalam memberikan perintah
deposisi kolagen dan merangsang peningkatan sintesis
tingkat asam hyaluronic alami pada lokasi luka. Ini
membantu percepatan penyembuhan luka dan
pencegahan bekas luka (Paul dan Sharma, 2004).
Kitin dan kitosan tampaknya akan menjadi bahan
penutup luka yang dapat diunggulkan. Hasil
penelitian yang telah dilakukan oleh J ayakumar dkk
pada tahun 2011, menunjukkan bahwa bahan berserat
yang berasal dari kitin dan turunannya memiliki sifat-
sifat ketahanan yang tinggi, biokompatibilitas yang
baik, rendah toksisitas, dapat menyerap cairan dan
aktivitas antibakteri sehingga akan mempercepat
penyembuhan. Untuk meningkatkan sifat
penyembuhan luka, kitin dan kitosan berbasis
membran telah dikembangkan dengan mencampurkan
ke dalam beberapa polimer.
Penelitian yang telah dilakukan oleh David R.
Rohindra dkk pada tahun 2004 menunjukkan bahwa
pencampuran kitosan dengan glutaraldehid dapat
diaplikasikan sebagai hidrogel. J umlah air bebas
dalam hidrogel menurun dengan meningkatnya ikatan
silang dalam hidrogel. Hidrogel berbasis kitosan
menunjukkan biokompatibel yang baik, degradasi
rendah dan cara pengolahannya mudah. Kemampuan
dari hidrogel untuk mengembang dan dehidrasi
tergantung pada komposisi dan lingkungan yang telah
dimanfaatkan untuk memfasilitasi berbagai aplikasi
seperti pelepasan obat, biodergradibilitas dan
kemampuan untuk membentuk hidrogel (Li Q et al.
1997). Pencampuran kitosan dengan polimer lain
(Park dan Nho, 2001; Shin et al. 2002; Zhu et
al.2002) dan ikatan silang mereka berdua adalah
metode yang tepat dan efektif untuk memperbaiki
sifat fisik dan mekanik kitosan untuk aplikasi praktis.
Studi dilakukan pada tikus menggunakan ikatan
silang antara kitosan dan glutaraldehid (J ameela et al.
1994) menunjukkan toleransi yang menjanjikan pada
jaringan hidup dari otot tikus.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan uji FTIR,
kemampuan absorbsi, dan uji in vivo untuk
mendapatkan karakteristik hidrogel yang terbaik.
Diagram penelitian ini ditunjukkan pada gambar
berikut.

Gambar 1 DiagramAlir Pelaksanaan Penelitian
Pada uji in vivo merupakan penelitian
eksperimen murni (True Experimental). Kriteria
penelitian true experimental terdiri dari adanya
perlakuan, kontrol, replikasi, dan juga terdapat
randomisasi. Desain penelitian ini menggunakan
desain penelitian Post-Test Control Group Design.
Skema desain penelitian yang dipakai sebagai berikut:

Gambar 2 Desain Penelitian Karakterisasi In Vivo Komposit
Kitosan - Glutaraldehid Sebagai Wound Dressing.
Populasi penelitian pada uji in vivo ini adalah
mencit (Mus musculus) jantan dari koloni yang sama,
umur 2-3 bulan, berat 20-30 gram. Pembagian
kelompok dilakukan dengan cara sampling. Teknik
sampling merupakan cara-cara yang ditempuh dalam
pengambilan sampel, agar memperoleh sampel yang
benar-benar sesuai dengan keseluruhan obyek
penelitian. Pemilihan sampel pada penelitian ini
menggunakan cara simple random sampling. Simple
random sampling merupakan pemilihan sampel
dengan cara menyeleksi setiap elemen secara acak
(Nursalam, 2008). Penjabaran rumus besar sampel
(Soedigdo dan Sofyan, 1995):
p (n-1) 15
5 (n-1) 15
5n – 5 15

B 63
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

5n 20
N 4
Untuk mengetahui apakah kitosan dan
gluteraldehid telah bercampur (dengan harapan kedua
bahan telah berikatan silang) dilakukan pengujian
dengan FT-IR untuk mengetahui ada tidaknya gugus
fungsi senyawa gluteraldehid dan kitosan. Sebelum
dilakukan uji, terlebih dahulu sampel dibentuk pelet
dengan ketebalan 1 cm. Setelah itu sampel
dimasukkan tabung dalam perangkat FT-IR dan
disinari.
Kemampuan absorbsi dari hidrogel ditentukan
dengan menginkubasi hidrogel pada pH 7,4 di
phosphate buffer saline (PBS) pada suhu ruang. Berat
basah hidrogel dihitung selama beberapa kali dengan
memberi sponge filter paper untuk menghilangankan
air yang diserap pada permukaan kemudian segera
ditimbang dengan timbangan digital.
Banyaknya air yang terserap pada hidrogel dapat
dihitung menggunakan persamaan
E = X 100 %
Dimana E adalah persentase absorb air pada
hidrogel. We menunjukkan berat hidrogel yang telah
menyerap PBS dan Wo adalah berat mula-mula.
Dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali dan rata-
ratanya yang digunakan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil uji kimia fisik menggunakan
spektrofotometer FT-IR diketahui bahwa untuk
bahan kitosan dan glutaraldehid 2ml, sudah terjadi
reaksi ikatan silang. Ikatan silang ditunjukkan pada
bilangan gelombang 1638,23 dan 1550,49 cm
-1
yang
mana merupakan gugus C=O dan NH
2
.
Dari hasil uji kemampuan absorbsi semakin
banyak jumlah glutaraldehid yang ditambahkan,
semakin menurun kemampuan absorbsinya. Hal
tersebut dikarenakan, rantai yang digunakan kitosan
untuk mengikat H
2
O telah habis dipakai untuk
mengikat glutaraldehid.
Dari hasil uji in vivo hewan coba yang diberi
kasa hidrogel kitosan sembuh pada hari ke 3, hewan
coba yang diberi kasa hidrogel kitosan 2 ml sembuh
pada hari ke-4, hewan coba yang diberi kasa hidrogel
kitosan 3 ml sembuh pada hari ke-5, hewan coba yang
diberi kasa hidrogel kitosan 4 ml sembuh pada hari
ke-5.
Hasil yang diinginkan dalam penelitian ini adalah
mencari komposisi kitosan dan glutaraldehid yang
memenuhi uji kemampuan absorbsi tetapi juga
memiliki sifat mekanik yang baik. Maka dari itu,
perbandingan kitosan 50 ml dan glutaraldehid 3 ml
yang diperoleh hidrogel dengan karakteristik yang
terbaik. Selain itu pada uji in vivo, kasa hidrogel
paduan kitosan + glutaraldehid 3 ml, hewan coba
sembuh pada hari ke 5. Menurut referensi, hewan
coba yang hanya diberi obat komersial sembuh pada
hari ke-6. J adi dapat disimpulkan bahwa kitosan +
glutaraldehid 3 ml merupakan hidrogel dengan
karakteristik yang terbaik, dibuktikan dengan uji
kemampuan absorbsi yang mempunyai nilai E rata-
rata 560,7 % dan uji invivo yang mana hewan coba
sembuh pada hari ke-5.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada penelitian
ini, dapat disimpulkan bahwa Kasa hidrogel paduan
kitosan dan glutaraldehid dapat diaplikasikan sebagai
penutup luka, dimana sesuai dengan hasil uji invivo
yang menunjukkan bahwa pada hewan coba yang
diberi kasa hidrogel campuran kitosan dan
glutaraldehid sembuh pada hari ke-4 (kitosan dan
glutaraldehid 2 ml), ke-5 (kitosan dan glutaraldehid 3
ml) dan ke-6 (kitosan dan gltaraldehid 4 ml).
Karakteristik kasa hidrogel campuran kitosan dan
glutaraldehid yang terbaik yaitu pada penambahan
glutaraldehid sebanyak 3 ml, dimana rata-rata nilai
kemampuan absorbsinya adalah 560,77 % dan pada
uji invivo, hewan coba sembuh pada hari ke-5.
DAFTAR PUSTAKA
Djamaludin, Andre Mahesa. 2009. Pemanfaatan
Khitosan dari Limbah Krustacea Untuk
Penyembuhan Luka Pada Mencit. Fakultas
Ilmu Pengetahuan dan Matematika Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
J ayakumar, R., Prabaharan, M., Sudheesh Kumar,
P.T., Nair, S.V., Tamura, H. 2011.
Biomaterials based on chitin and chitosan in
wound dressing applications. Doi:
10.1016/j.biotechadv.2011.01.005
Rohindra, D.R., Ashveen V. Nand., J agjit R. Khurma.
2004. Swelling Properties of Chitosan
Hydrogel. The South Pacific Journal of Natural
Science 22(1) 32.35
Wakidah, Nur. 2009. Pengaruh Ekstrak Cacing Tanah
(Lumbricus Rubellus)Terhadap Proses
Penyembuhan Luka Terinfeksi Bakteri
Staphylococcus Aureus Pada Hewan Coba
Tikus Putih (Rattus Norvegicus). Fakultas
Ilmu Keperawatan Universitas Airlangga
Surabaya.
.

B 64
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

PADUAN GEL GETAH BATANG PISANG DENGAN PVA (POLY VINYL
ALCOHOL) SEBAGAI BAHAN BAKU BENANG JAHIT OPERASI YANG
ABSORBABLE
Satrio A. 1), Perwitasari F.L.R. 1), Agung B.A. 2), D. Resti N. 3), Ayu W.4), Ir. Aminatun. 5)
1) Program Studi Teknobiomedik, Universitas Airlangga
2) Program Studi Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga
3) Program Studi Kimia, Universitas Airlangga
4) Program Studi Farmasi, Universitas Airlangga
5) Dosen, Fisika Material, Universitas Airlangga
Email : presarioque@gmail.com
Abstrak
Pada saat teknologi belum berkembang dan masih minimnya obat-obat pabrik yang beredar, zaman dulu orang
memilih menggunakan benda atau bahan disekitarnya untuk menolong hidupnya, tak terkecuali pada pohon
pisang. Konon para orang tua menggunakan getah pohon pisang untuk menyembuhkan luka. Ada anggapan
getah pohon pisang terasa dingin dan dengan cepat dapat menghilangkan rasa nyeri akibat luka, bahkan luka
pun juga bisa tertutup. Pada saat ini, penjahitan luka adalah cara yang umum dilakukan untuk menutup luka.
Penelitian ini dilakukan dalam rangka mencoba mengembangkan pembuatan benang jahit operasi yang dapat
diserap tubuh (absorbable). Beberapa bahan antara lain gel getah batang pisang didapatkan dengan cara
memeras batang pisang dicampurkan dengan glycolic acid, polyvinyl alcohol, dan ZnO nano secara homogen
dan dicetak pada silicon rubber hingga menyerupai benang. Beberapa uji dilakukan, antara lain uji FT-IR, uji
kualitatif, uji tarik, uji kelarutan, dan uji alergen. Hasil perhitungan dari uji tarik menunjukkan nilai Modulus
Young sebesar 2,386 GPa. Uji kelarutan pada larutan PBS membuktikan bahwa sampel yang terbentuk dapat
larut secara perlahan sampai larut sempurna dalam waktu 10 hari. Uji alergen menunjukkan hasil negatif yang
berarti sampel tidak menimbulkan alergi dan aman digunakan. Hasil dari penelitian ini memungkinkan nantinya
dapat dilanjutkan untuk mengoptimalkan sifat mekanik dan sifat fisis bahan sehingga dapat dihasilkan benang
jahit operasi yang absorbable dengan karakteristik yang lebih baik dan memenuhi persyaratan.
Kata kunci : benang jahit operasi, absorbable, getah batang pisang, glycolic acid, ZnO nano

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Penjahitan luka adalah cara yang umum
dilakukan untuk menutup luka. Benang jahit
konvensional yang biasa digunakan merupakan
benang jahit operasi yang tidak dapat diserap (non
absorbable) oleh tubuh manusia. Padahal, benang
jahit operasi tersebut sejatinya adalah benda asing
yang ditanamkan ke dalam jaringan tubuh manusia
yang tidak dapat ditanam secara permanen dan harus
diangkat setelah beberapa minggu atau beberapa
bulan operasi. Para ilmuwan mencoba
mengembangkan pembuatan benang jahit operasi
yang dapat diserap tubuh (absorbable). Namun
sayang, bahan yang mahal, pemrosesan yang rumit,
serta masih sedikitnya pihak yang memproduksi
benang jahit operasi yang absorbable ini membuat
Indonesia masih harus mengimport benang jahit
tersebut dari luar negeri.
Pada saat teknologi belum berkembang dan
masih minimnya obat-obat pabrik yang beredar,
zaman dulu orang memilih menggunakan benda atau
bahan disekitarnya untuk menolong hidupnya, tak
terkecuali pada pohon pisang. Konon para orang tua
menggunakan getah pohon pisang untuk
menyembuhkan luka. Ada anggapan getah pohon
pisang terasa dingin dan dengan cepat dapat
menghilangkan rasa nyeri akibat luka, bahkan luka
pun juga bisa tertutup. Untuk membuat suatu benang
jahit, tentu dibutuhkan bahan polimer sebagai bahan
penyusunnya. Asam poliglikolik disebut juga
polyglycolide adalah serat berbasis polimer sederhana
namun tahan lama. Poly glycolic acid merupakan
polimer yang dapat terserap atau absobable polymer.
Salah satu karakteristik yang dibutuhkan dalam
pembuatan benang jahit operasi adalah antimikroba,
diantara material di alam yang memiliki sifat tersebut
salah satunya adalah seng oksida. Partikel ZnO
berukuran nano memiliki aktivitas antimikroba lebih
baik dari partikel besar, karena ukuran kecil (kurang
dari 100 nm) dan luas permukaan nanopartikel
memungkinkan interaksi yang lebih baik dengan
bakteri. Studi terbaru menunjukkan bahwa ZnO
nanopartikel memiliki toksisitas pada bakteri, dapat
mengobati luka ringan, pengurangan inflamasi, dan
anti mikroba (Walton dan Torabinejad, 1998).
Pada proses penelitian terdapat kendala dan
keterbatasan waktu dalam pengadaan bahan poly
glycolic acid, maka sebagai alternatif pengganti
digunakan poly vinyl alcohol karena sifatnya yang
menyamai poly glycolic acid, antara lain larut dalam

B 65
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

air, memiliki kemampuan membentuk serat yang
baik, biokompatibel, memiliki ketahanan kimia, dan
biodegradable. Dengan tidak mengurangi tujuan dari
penelitian ini, maka glycolic acid tetap digunakan
karena memiliki sifat regenerasi sel kulit mati dan
membantu percepatan penyembuhan luka.
Bermula dari permasalahan dan data yang
diperoleh di atas, maka dari itu penulis ingin
menggabungkan sifat dari getah batang pisang yang
memiliki khasiat penyembuhan luka dengan sifat
kekuatan dari glycolic acid dan poly vinyl alcohol
sebagai bahan penyusun benang jahit operasi yang
absorbable.
Tujuan
Memberikan pemaparan tentang potensi gel getah
batang pisang yang dicampur dengan glycolic acid
dan poly vinyl alcohol sebagai bahan baku benang
jahit operasi yang absorbable.
METODE
A. Jenis Penelitian
Observasional deskriptif (non-eksperimental)
B.. Analisis Data
Sampel dibagi menjadi 4, kemudian diuji. Uji
tarik digunakan untuk mendapatkan Modulus Young
dari sampel, uji kelarutan untuk mengetahui dapat
tidaknya bahan terdegradasi, dan uji FT-IR digunakan
untuk mengetahui gugus fungsi yang terbentuk dari
pencampuran bahan.
PELAKSANAAN
Pelaksanaan
Batang (pelepah) pisang dipotong dan
dibersihkan lalu dimasukkan pada alat pemeras agar
getah batangnya terperas keluar. Bahan-bahan antara
lain: getah batang pisang, glycolic acid, poly vinyl
alcohol, ZnO nano, asam sitrat, dan aquadest
disiapkan dan ditimbang sesuai resep. Poly vinyl
alcohol 4 gram dilarutkan dalam aquadest 25 ml. ZnO
nano dilarutkan dalam larutan asam sitrat sehingga
terbentuk larutan ZnO nano 0,25%. Larutan glycolic
acid 70 % diencerkan hingga 6%. Semua bahan
dilarutkan, kemudian dicampurkan dalam gelas
beaker dan diaduk secara homogen diatas magnettic
stirrer. Larutan yang telah homogen dicetak pada
silicon rubber dan didiamkan hingga kering pada
ruangan yang bersih dan steril. Beberapa uji
dilakukan, antara lain uji FT-IR, uji kualitatif, uji
tarik, uji kelarutan, dan uji alergen. Hasil dari
masing-masing uji kemudian dianalisa.
Instrumen
1. Bahan yang digunakan di penelitian ini adalah :
getah batang pisang, aquadest, glycolic acid, poly
vinyl alcohol, ZnO nano, asam sitrat, dan larutan
PBS.
2. Alat yang digunakan untuk pembuatan sampel
adalah : pisau, alat pemeras, pipet, gelas beaker,
oven, plastik kedap udara, gloves, pinset,
magnetic stirrer, timbangan milligram, dan
lempeng kaca. Sedangkan untuk memperoleh
data, digunakan autograph dan spektrofotometer
infra merah.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Hasil pengujian sampel menunjukkan bahwa
sampel yang didapat dari komposit (penggabungan)
beberapa bahan antara lain: getah batang pisang,
glycolic acid, poly vinyl alcohol, dan ZnO nano
menunjukkan sifat mekanik yang cukup bagus, dapat
dilihat dari uji tarik yang dilakukan pada sampel
didapatkan nilai Modulus Young sebesar 2,386 GPa.


Gambar 1. Grafik (a) Hubungan Stress – Strain (b) Regresi
untuk Mendapatkan Modulus Young
Jika dilihat dari hasil uji FT-IR, maka nampak
beberapa gugus fungsi dari pencampuran bahan pada
bilangan gelombang tertentu. Gugus karbonil (C=O)
terbentuk pada rentang bilangan gelombang 1700-
1730 cm-1 dan gugus hidroksil (O-H) terbentuk pada
rentang bilangan gelombang 3200-3600 cm-
1
.

Gambar 2. Hasil Uji FT-IR
Hasil FT-IR yang didapat, dilengkapi dengan uji
kualitatif untuk memastikan senyawa aktif dari getah
batang pisang yang didapat, masih terdapat dalam
paduan. Hasil dari uji kelarutan menunjukkan sampel
yang terbentuk mampu larut sempurna pada larutan
PBS dalam waktu 10 hari. Uji alergen menunjukkan
hasil negatif, yang berarti sampel aman digunakan
dan tidak membuat alergi.


B 66
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Pembahasan
Bahan baku benang operasi yang absorbable
didapat dalam empat bulan penelitian yang telah kami
lakukan, dengan komposisi dan proses pembuatan
yang telah disebutkan di atas. Beberapa macam
pengujian dilakukan untuk mengetahui sifat mekanik
dari sampel yang kami hasilkan serta dibandingkan
dengan referensi yang ada.
Benang jahit operasi yang ideal memiliki
karakteristik antara lain: steril, meminimalisir reaksi
negatif dari jaringan (non capillary, non allergenic,
dan non carcinogenic), terbukti aman, dan memiliki
kekuatan tarik sesuai kebutuhan. Uji tarik dilakukan
menggunakan autograph untuk memenuhi
persyaratan benang jahit yang wajib memiliki
kekuatan tarik tinggi. Sampel yang digunakan dalam
uji ini adalah lapisan tipis hasil penelitian kami yang
berukuran 3x7 cm. Sampel yang semula berukuran
3x7 cm ditarik semaksimal mungkin sehingga sampel
tersebut tidak dapat mulur lagi (melewati batas
elastis), sampai akhirnya sampel terputus. Data yang
diperoleh dari uji tarik tersebut berupa nilai gaya yang
diberikan (force) dan pemuluran (ΔL). Perhitungan
dilakukan untuk mendapatkan nilai Modulus Young,
dan didapatkan nilai sebesar 2,386 GPa, nilai tersebut
telah menyamai Modulus Young dari bahan benang
yang ada pada penelitian terdahulu sebesar 2,3 GPa
(Schelekers, 1991).
Getah batang pisang mengandung asam askorbat
yang berperan sebagai ko-faktor dan antioksidan
sehingga dapat mempercepat epitelisasi. Pemberian
getah pisang secara topikal menyebabkan asam
askorbat berdifusi melalui lapisan keratin dan
menstimulasi proliferasi fibroblas pada jaringan di
bawahnya (Phillips dkk., sit. Lima dkk., 2009). Untuk
membuktikan adanya asam askorbat dalam campuran
maka digunakan uji FT-IR dan uji kualitatif.
Uji FT-IR bertujuan juga untuk mengetahui
kandungan senyawa dan tingkat intensitas ikatan dari
sampel yang terbentuk, karena ikatan yang terbentuk
nantinya juga akan mempengaruhi sifat mekanik
bahan. Hasil dari uji FT-IR (Gambar 2) menunjukkan
bahwa komposit telah terbentuk dan bahan yang
digunakan murni terlihat dari puncak serapan yang
relatif tajam dan mudah diamati.
Flavonoid seperti kaemferol, quercetin,
isoquercetin, dan rutin memiliki afinitas yang tinggi
terhadap sel mast dan basofil sehingga menjaga
stabilitas membran sel, sekaligus mampu
menghancurkan radikal bebas oksigen dan melindungi
molekul-molekul dalam gugus amin, asam amino, dan
nukleotida dari oksidasi untuk melepaskan mediator
radang (Andajani dan Mahardika, 2003). Adanya
kandungan saponin dalam getah pisang mampu
menaikkan sintesis TGF-β, sehingga menstimulasi
terbentuknya biosintesis kolagen (Kanzaki dkk.,
1998).
Adanya kandungan flavonoid dan saponin dalam
paduan telah dapat kami buktikan pada penelitian ini
melalui uji kualitatif.
Benang jahit operasi yang absorbable
memberikan kontribusi sementara sampai luka dapat
sembuh dengan cukup baik dan mampu untuk
menahan tegangan normal. Penyerapan terjadi melalui
degradasi enzimatik bahan alami dan oleh hidrolisis
dalam bahan sintetis. Hidrolisis menyebabkan reaksi
jaringan kurang dari degradasi enzimatik. Uji
kelarutan dilakukan dengan tujuan mengetahui waktu
yang dibutuhkan sampel untuk larut sempurna pada
larutan PBS. Penggunaan larutan PBS sebagai pelarut
didasari oleh alasan komposisi dari larutan PBS yang
mirip dengan komposisi cairan tubuh.
Menurut pedoman, pada wajah, jahitan harus
diremove setelah 5-7 hari; pada leher setelah 7 hari;
pada kulit kepala setelah 10 hari, pada tubuh dan
ektremitas atas setelah 10-14 hari; dan pada luka yang
lebih besar membutuhkan waktu remove yang lebih
panjang. Jahitan yang dilakukan dengan benang
absorbable tidak diremove oleh karena larut dalam
jaringan. Hasil dari uji kelarutan menunjukkan waktu
yang diperlukan sampel untuk larut dalam larutan
PBS diasumsikan sama dengan waktu yang
dibutuhkan benang jahit operasi yang absorbable
untuk larut dalam jaringan tubuh kita. Berdasarkan uji
kelarutan yang kami lakukan, dapat terlihat bahwa
sampel larut sempurna dalam waktu 10 hari. Proses
pelarutan sampel tidak terjadi seketika, akan tetapi
larut secara perlahan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Paduan gel getah batang pisang dengan glycolic
acid dan poly vinyl alcohol dapat digunakan sebagai
bahan baku benang jahit operasi yang absorbable,
berdasarkan nilai Modulus Young sebesar 2,386 GPa
dan mampu larut sempurna pada larutan PBS dalam
waktu 10 hari serta tidak menimbulkan alergi.
Saran
Perlu adanya optimalisasi dan diferensiasi karena
kebutuhan benang jahit dari satu daerah ke daerah lain
pada tubuh memiliki karakterisasi yang berbeda.
Peran pemerintah sebagai pembuat regulasi dalam
negeri untuk memaksimalkan potensi alam dalam
negeri dan diarahkan pada hal yang tepat serta mampu
meminimalisir kegiatan import. Hubungan antara
pemerintah, peneliti, dan pengusaha juga perlu
disinkronkan agar dapat bekerjasama secara efektif
memproduksi dalam hal ini adalah benang jahit
operasi yang absorbable yang berbahan baku dari
getah batang pisang alam Indonesia sendiri mengingat
kebutuhan medis yang kian meningkat sedangkan di
sisi lain tingginya harga pembelian dikarenakan bea
cukai yang tinggi pada barang import.
DAFTAR PUSTAKA
Andajani TW, Mahardika, D. 2003. Perbandingan
Efek Aplikasi Adas Manis Segar Tumbuk
dannAdas Manis Segar Destilasi Pada Mukosa
Mulut Tikus Wistar Strain LMR yang

B 67
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Mengalami Peradangan (Penelitian
Laboratorik). JKGUI. 10(Edisi Khusus):478-
480.
Cutright, Duane E. dan Beasley, Joe D.
1971. Histologic Comparison of Polylactic and
Polyglycolic Acid Sutures. Science Direct :
Volume 32, Issue 1, July 1971, Pages 165-173.
Gore, Maduri. 2003. Evaluation of banana leaf
dressing for partial thickness burn wounds.
International Society for Burn Injuries (2003)
Volume: 29, Issue: 5, Pages: 487-492
Hananta, Dharma. 2006. Efek Getah Pelepah Pisang
(Musa Spp) Terhadap Pertumbuhan
Pseudomonas Aeruginosa Secara In Vitro.
John B. Herrmann, MD; Richard J. Kelly, MD;
George A. Higgins, MD. Polyglycolic Acid
Sutures. AMA Arch Surg. 1970;100(4):486-
490.
Kanzaki T, Morisaki N, Shiina R, Saito Y. 1998. Role
of Transforming Growth Factor-β Pathway in
the Mechanism of Wound Healing by Saponin
from Gingseng Radix rubra. British Journal of
Pharmacology. 125:255-262.
Lima CC, Pereira APC, Silva JRF, Oliveira LS, Resck
MCC, Grechi CO, Bernardes MTCP, Olímpio
FMP, Santos AMM, Incerpi EK, Garcia JAD.
2009. Ascorbic acid for the healing of skin
wounds in rats. Braz. J. Biol.; 69(4): 1195-
1201.
Online, Surya. 2009. Khasiat Bonggol Pisang.
http://www.surya.co.id/2009/06/22/khasiat-
bonggol-pisang. Diakses pada tanggal 22 April
2012 pukul 20.15 WIB.
Somantri, 2007, Perawatan Luka,
http://irmanthea.blogspot.com/2007/07/definisi
-luka.html. Diakses pada tanggal 10 Mei 2012
pukul 12.05 WIB.
Surahman, Agus. 2009. Pemanfaatan Getah Bonggol
Pisang Sebagai Obat Oles Alternatif
Penyembuh Luka Lecet.
http://www.scribd.com/doc/40555476/Mulai-
Dari-Bab-1-Sampai-Kesimpulan. Diakses
pada tanggal 25 Mei 2012 pukul 13.45 WIB.
Walton, R.E. dan Torabinejad M. 1998. Prinsip dan
Praktik Ilmu Endodonsi Ed:2. Alih Bahasa :
Narlan Sumawinata dkk. “Principle and
Practice of Endodontics”. Jakarata : EGC.



B 68
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

SINTESIS DAN KARAKTERISASI
SEMEN GIGI KOMPOSIT KALSIUM FOSFAT-KITOSAN
Siswanto
1
, Jan Ady
2
, Pipit Dewi Nugrahini
3

1,2,3
Program Studi Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga
Email : phi_2thz@yahoo.co.id
Abstrak
Semen gigi kalsium fosfat-kitosan telah disintesis dengan variasi persentase berat (w/w) larutan kitosan yang
berbeda-beda, yaitu 0,5%, 1%, 1,5%, 2% dan 2,5%. Semen gigi kalsium fosfat memiliki kekuatan mekanik yang
relatif rendah atau bersifat rapuh, sehingga perlu diberi penambahan larutan kitosan yang berfungsi sebagai
reinforce. Berdasarkan hasil uji mekanik (kekuatan tekan dan kekerasan) serta uji fisis (kerapatan), diperoleh
nilai kekuatan tekan dan kerapatan yang semakin meningkat walaupun nilai kekerasannya menurun seiring
dengan bertambahnya presentase berat (w/w) dari larutan kitosan. Kekuatan tekan yang meningkat menandakan
bahwasannya kitosan berfungsi sebagai reinforce, yaitu memperbaiki sifat rapuh dari komposit biokeramik
semen gigi kalsium fosfat. Uji mekanik dan fisis didukung dengan karakterisasi mikroskopik menggunakan XRD
(X-Ray Diffraction) yang menunjukkan penurunan fraksi volume dari senyawa yang terbentuk hasil sintesis
semen gigi kalsium fosfat-kitosan.
Kata kunci : Semen gigi kalsium fosfat, kitosan, uji mekanik, uji fisis, XRD.

PENDAHULUAN
Kurangnya pemeliharan kesehatan gigi dan mulut
sejak usia dini mengakibatkan timbulnya
permasalahan gigi. Salah satu permasalahan gigi yang
banyak dijumpai di masyarakat adalah gigi berlubang
atau karies gigi. Menurut Laporan Riset Kesehatan
Dasar 2007, ditemukan bahwa gigi berlubang diderita
oleh kurang lebih 72,1 persen penduduk Indonesia
(Republika, 2010). Hal ini berdampak pada
meningkatnya kebutuhan teknologi dan biomaterial di
bidang kedokteran gigi. Oleh karena itu, penelitian
tentang teknologi dan bahan biomaterial khususnya
dalam hal restorasi gigi merupakan kajian yang
menarik.
Dari waktu ke waktu inovasi semen gigi semakin
berkembang. Saat ini banyak penelitian yang
difokuskan pada semen Kalsium fosfat (CPCs) karena
memiliki keunggulan pada proses pembuatan dan
pembentukan karena tidak membutuhkan metode
khusus, namun semen ini juga memiliki beberapa
kelemahan, diantaranya adalah kekuatan mekanik
yang relatif rendah karena bersifat rapuh. Kelemahan
ini diharapkan dapat dikurangi dengan menambahkan
reinforce ke dalam campuran komposisi bubuk
sehingga memenuhi persyaratan untuk aplikasi gigi.
Salah satu biomaterial yang banyak digunakan
sebagai reinforce adalah polimer.
Penambahan polimer sebagai matriks reinforce
pada biomaterial memiliki prospek yang menjanjikan,
namun keterbatasan kesediaan di alam serta
kandungan sifat toksik yang dimiliki oleh beberapa
jenis polimer menyebabkan aplikasinya terbatas di
bidang medis sehingga perlu dicari alternatif untuk
mengatasi masalah tersebut. Dalam penelitian ini,
kitosan dipilih sebagai bahan reinforce karena
merupakan polimer alam yang ditemukan dalam
jumlah besar dan mempunyai sifat non-toxic. Selain
itu, kitosan memiliki sifat elastisitas yang tinggi
sehingga diharapkan mampu menutupi sifat rapuh
dari semen Kalsium fosfat.
METODOLOGI PENELITIAN
Metode penelitian mencakup tahap persiapan alat
dan bahan, proses sintesis semen kalsium fosfat
(CPCs), proses sintesis larutan kitosan, proses
pembuatan sampel dan proses karakterisasi sampel.
Proses sintesis semen kalsium fosfat terdiri dari
pencampuran Monokalsium phosphate monohydrate
(MCPM) dan Kalsium oksida (CaO) dengan Ca : P
1,67. Kemudian hasil tersebut dicampur dengan
Hidroksiapatit dengan perbandingan 60 % : 40 %.
Sedangkan proses sintesis larutan kitosan dilakukan
dengan mencampurkan kitosan dalam bentuk powder
dengan asam asetat 2 % dengan persentase berat
(w/w) 0,5 % hingga 2,5 % dalam rentang 0,5 %.
Sampel diperoleh dengan mencampurkan powder
semen Kalsium fosfat dan larutan polimer dengan
perbandingan 2 : 1 kemudian dikeringkan pada suhu
ruang selama 72 jam. Alur kegiatan penelitian ini
disajikan pada bagan alir Gambar 1.

B 69
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012


Gambar 1. Bagan alir rangkaian kegiatan pembuatan semen
Kalsium fosfat-Kitosan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian terhadap karakteristik sifat
makroskopik yang meliputi kuat tekan, kekerasan,
dan kerapatan disajikan pada tabel 1.
Tabel 1. Data hasil uji makroskopik semen Kalsium fosfat-Kitosan


Gambar 2. Grafik hubungan antara kuat tekan semen Kalsium
fosat-Kitosan terhadap persentase berat (w/w) larutan kitosan.

Dari data yang diperoleh pada Tabel 1. dapat
disajikan grafik hubungan antara persentase berat
(w/w) larutan kitosan terhadap karakterisasi sifat
makroskopik sampel yang meliputi kekuatan tekan,
kekerasan, dan kerapatan.
Pada hasil uji kuat tekan, nilai kuat tekan
tertinggi terjadi pada sampel dengan presentase
berat larutan kitosan 2,5% dengan nilai (35,270 ±
0,067) MPa, sedangkan nilai kuat tekan terendah
terjadi pada sampel dengan persentase berat larutan
kitosan 0,5% dengan nilai (14,540 ± 0,032) Mpa.
Nilai kuat tekan semakin meningkat seiring dengan
bertambahnya persentase berat (w/w) larutan kitosan.
Hal ini terjadi dikarenakan kitosan memiliki sifat
elastisitas yang tinggi sehingga mampu menutupi sifat
rapuh yang dimiliki oleh semen gigi kalsium fosfat.
Semakin besar presentase berat (w/w) larutan kitosan
yang ditambahkan pada semen gigi kalsium fosfat,
maka akan semakin berkurang sifat kerapuhannya,
berarti sifat elastisitasnya semakin bertambah, hal ini
terbukti pada nilai kuat tekan yang semakin
meningkat seiring dengan bertambahnya presentase
berat (w/w) larutan kitosan.

Gambar 3. Grafik hubungan antara kekerasan semen Kalsium fosat-
Kitosan terhadap persentase berat (w/w) larutan kitosan.
Pada hasil uji kekerasan, nilai kekerasan tertinggi
terjadi pada sampel dengan presentase berat larutan
kitosan 1% dengan nilai (13,875 ± 0,142) VHN,
sedangkan nilai kekerasan terendah terjadi pada
sampel dengan presentase berat larutan kitosan 2,5%
dengan nilai (6,775 ± 0,080) VHN. Dari grafik
tersebut menunjukkan bahwa semakin besar
persentase berat (w/w) larutan kitosan yang
ditambahkan pada semen gigi kalsium fosfat, maka
kekerasannya semakin menurun. Hal ini dikerenakan
semakin besar persentase berat (w/w/) larutan kitosan
yang ditambahkan pada semen kalsium fosfat
menyebabkan sifat elastisitasnya semakin bertambah,
sehingga menurunkan kekerasannya. Hasil kekerasan
ini terkait dengan hasil kuat tekan yang menunjukkan
bahwa semakin besar kuat tekan dari suatu material
maka kekerasannya akan semakin menurun.


B 70
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012


Gambar 4. Grafik hubungan antara Kerapatan semen Kalsium
fosat-Kitosan terhadap persentase berat (w/w) larutan kitosan.
Hasil uji densitas pada penelitian ini
menunjukkan bahwa nilai densitas akan semakin
besar seiring dengan bertambahnya persentase berat
(w/w) larutan kitosan yaitu dari 0,5% hingga 1,5%,
kemudian mengalami penurunan setelah penambahan
larutan kitosan melebihi 1,5%. Nilai densitas tertinggi
terjadi pada penambahan persentase berat (w/w)
larutan kitosan sebesar 1,5 %. Meningkatnya densitas
sampel pada batas tertentu dapat dipahami karena
semakin besar persentase berat (w/w) larutan kitosan,
maka rantai polimer akan semakin memanjang
dengan rongga yang semakin menyempit sehingga
akan memperpendek jarak antar butir pada semen gigi
kalsium fosfat yang menyebabkan densitasnya
semakin meningkat.
Uji makroskopik di dukung dengan uji
mikroskopik menggunakan XRD. Hasil karakterisasi
XRD ditunjukkan berupa spektrum kontinu yang
meliputi sudut-sudut difraksi pada atom bahan (2θ)
dan besar intensitas senyawa yang terkandung dalam
bahan. Grafik spektrum hasil karakterisasi sampel
disajikan pada gambar 5 hingga gambar 10.

Gambar 5. Pola spectrum XRD (Semen Kalsium fosfat + 0,5 %
larutan kitosan)


Gambar 6. Pola spectrum XRD (Semen Kalsium fosfat + 1 %
larutan kitosan)

Gambar 7. Pola spectrum XRD (Semen Kalsium fosfat + 1,5 %
larutan kitosan)

Gambar 8. Pola spectrum XRD (Semen Kalsium fosfat + 2 %
larutan kitosan)

B 71
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012


Gambar 8. Pola spectrum XRD (Semen Kalsium fosfat + 2,5 %
larutan kitosan)
Kuantitas senyawa terbanyak yang terdeteksi oleh
XRD adalah berupa mineral keramik, yaitu brushite
dengan rumus molekul CaPO
3
(OH).2H
2
O, monetite
dengan rumus molekul CaHPO
4
, dan Apatite-(CaOH)
dengan rumus molekul Ca
5
(PO
4
)
3
(OH). Brushite
memiliki fase syn dengan bentuk struktur kristal
Monoclinic, sedangkan Monetite memiliki fase syn
dengan bentuk struktur kristal Anorthic. Kuantitas
senyawa keramik dalam tiap-tiap sampel disajikan
pada tabel 2.
Tabel 2. Kuantitas senyawa dalam sampel semen Kalsium fosfat-
Kitosan

Penambahan larutan kitosan dengan persentase
berat yang berbeda-beda berpengaruh terhadap
kuantitas senyawa keramik yang dihasilkan. Kuantitas
ini memberikan kontribusi yang besar terhadap sifat
makroskopis sampel. Hal ini dapat dijelaskan melalui
grafik hubungan antara kuantitas menyeluruh
senyawa keramik yang dihasilkan dari sintesis semen
gigi kalsium fosfat-kitosan dengan persentase berat
(w/w) larutan kitosan. Grafik tersebut disajikan pada
gambar 9.

Gambar 9. Grafik hubungan antara kuantitas total senyawa keramik
(%) terhadap persentase berat (w/w) larutan kitosan.
Gambar 9 menunjukkan penurunan jumlah
senyawa keramik seiring dengan pertambahan
persentase berat (w/w) larutan kitosan. Penurunan
kuantitas senyawa Kalsium fosfat tampak pada grafik
dalam rentang penambahan persentase berat larutan
kitosan 1%-2%. Hal tersebut berpengaruh terhadap
sifat makroskopik sampel, dalam hal ini adalah
kekerasan. Berdasarkan penelitian ini, Semakin
berkurang kuantitas senyawa keramik yang dihasilkan
menyebabkan kekerasannya semakin menurun.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh
kesimpulan bahwa seiring meningkatnya persentase
berat (w/w) larutan kitosan yang ditambahkan pada
semen kalsium fosfat, maka kuat tekan dan
densitasnya akan semakin meningkat, akan tetapi
kekerasannya semakin menurun. Karakterisasi yang
potensial dalam penelitian ini yaitu di sekitar
penambahan persentase berat (w/w) larutan kitosan
sebesar 1% - 1,5 % yang dapat diaplikasikan sebagai
bahan restorasi gigi.
UCAPAN TERIMAKASIH
Terima kasih disampaikan kepada segenap dosen
Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas
Airlangga yang telah membantu sehingga penelitian
ini dapat terlaksana.
DAFTAR PUSTAKA
Bigi A, Bracci B and Panzavolta S. (2004). Effect of
added gelatin on the properties of calcium phosphate
cement. Biomaterials ; 25(14): 2893–2899
Dewi, Setia Utami (2009), Pembuatan Komposit
Kalsium Fosfat-Kitosan Dengan Metoe Sonikasi.
Tesis IPB, Bogor
Khashaba, R M, Mervet Moussa, Christopher Koch,

B 72
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Arthur R. Jurgensen, David M.Missimer, Ronny L.
Rutherford, Norman B. Chutkan, and James L.
Borke (2011), Preparation, Physical-Chemical
Characterization, and Cytocompatibility of
Polymeric Calcium Phosphate Cements,
International Journal of Biomaterials, Volume
Article ID 467641, 13
pagesdoi :10.1155/2011/467641
Lian, Q., Li, D-C., He, J-K and Wang Z.,
(2007),Mechanical properties and in-vivo
performance of calcium phosphate cement–
chitosan fibre composite, Proc. IMechE Vol.
222 Part H: J. Engineering in Medicine, DOI:
10.1243/09544119JEIM340
Perez, R A., Kim Hae-Won, and Ginebra Maria-Pau,
(2012), Polymeric additives to enhance the
functional properties of calcium phosphate
cements, Journal of Tissue Engineering, DOI:
10.1177/2041731412439555
Sun, Liming, Hockin H. K. Xu, Shozo Takagi, and
Laurence C. Chow (2007), Fast Setting
Calcium Phosphate Cement–Chitosan
Composite:Mechanical Properties and
Dissolution Rates, Journal of Biomaterials
Applications,16pageDOI:10.1177/0885328206
063687
Wang, X., Ma, J., Wang, Y., He, B (2001), Structural
characterization of phosphorylated chitosan
and their applications as effective additives of
calcium phosphate cements Biomaterials
pp.2247-2255. Vol22
Yildirim, Oktay (2004), reparation and
Characterization of Chitoan/Calsium
Phosphate Based Composite Biomaterials.
[disertasi]. IIT. Turki

B 73
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

KARAKTERISASI PENDEPOSISIAN FILM TIPIS ALUMUNIUM (AL) PADA
SUBSTRAT SILIKON DENGAN SISTEM SPUTTERING ARC-12M
Slamet Widodo

Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi (PPET) - LIPI
Jl. Cisitu No. 21/154 D
Bandung 40135, Indonesia
Telp. (022) 2504661 Fax. (022) 2504659
E-mail: widodo@ppet.lipi.go.id
Abstrak
Sistem Sputtering adalah metoda deposisi material pada substrat yang dilakukan pada ruangan hampa udara.
Proses ini, banyak diaplikasikan pada sistim interkoneksi sirkit mikroelektronika atau pembuatan metalisasi
(konduktor), lapisan dielektrik (insulator), pada devais semikonduktor, atau untuk pembuatan sistim kontak,
konduktor, resistor maupun kapasitor. Pada proses sputtering ini beberapa parameter yang berpengaruh pada
kecepatan pendeposisian antara lain pengaruh waktu, tekanan gas Argon, dan daya. Sistem sputtering ini
digunakan untuk pelapisan (pendeposisian) metal dan non metal. Pelapisan metal disebut proses metalisasi
dioperasikan dengan DC Sputtering, sedangkan pelapisan non metal dengan RF Sputtering. Penelitian
pelapisan metal dan non metal ini dengan alat sputtering ARC-12M. Dalam tulisan ini diamati beberapa
parameter yang berpengaruh pada kecepatan pendeposisian dalam proses sputtering antara lain pengaruh
waktu, tekanan gas Argon, dan daya. Juga dilakukan pengamatan kecepatan pendeposisian Aluminium (Al)
sebagai proses metalisasi untuk sistem kontak.
Kata kunci: aluminium, devais semikonduktor, lapisan tipis (thin film), sistem sputtering.
Abstract
The sputtering is a method of material deposition on substrate in vacuum condition. This process is widely
applicated in interconnection of microelectronics circuits such as contact system, conductor, resistor and
capacitor. This sputtering system is used for metal (metallization process) and non metal deposition (insulator
deposition process). The metal deposition or metallization is operated by DC Sputtering, and non metal ARC-
12M Sputtering system. This paper is to describe some variables which affect the rate of deposition in sputtering
process i.e time, pressure of Argon gas, and power. Also in this work were carried out the rate of deposition of
Aluminum (Al) as metallization processes for contact system.
Keywords: aluminum, semiconductor devices, sputtering system, thin film

PENDAHULUAN
Di dalam proses pembuatan divais semikonduktor
ada beberapa tahapan proses, salah satu tahapan
proses tersebut adalah pelapisan metal atau proses
metalisasi yang berfungsi sebagai kontak Ohmik.
Didalam proses metalisasi ini terdapat persyaratan
interkoneksi metal yaitu lapisan konduktif atau
metalisasi digunakan sebagai jalur interkoneksi pada
divais dan VLSI, dan sebagai penghubung antara
divais dengan dunia luar. Salah satu metal yang
digunakan didalam kontak Ohmik ini adalah metal
(logam) aluminium (Al) dengan proses deposisi metal
atau lebih dikenal dengan proses metalisasi. Didalam
penelitian ini, proses deposisi atau pelapisan metal
dengan menggunakan metode Sputtering. Dalam
aplikasinya dibidang elektronika, proses sputtering ini
lebih unggul dari segi kualitas dibanding dengan
metode deposisi lainnya seperti Electroplating,
deposisi uap kimia/CVD (Chemical Vapour
Deposition), maupun Evaporasi.
Sistem Sputtering adalah proses dimana suatu
bahan dalam bentuk atom-atom terlepas dan terlempar
dari permukaan suatu benda padat atau cair, karena
adanya perpindahan momentum akibat penembakan
suatu permukaan tersebut dengan partikel-partikel
berkecepatan tinggi. Sedang sumber bahan pelapis
yang disebut target ditempatkan dalam ruang hampa
berhadapan dengan substrat, dan ruang tersebut diberi
tahanan yang besarnya berkisar antara 5x10
-4
sampai
5x10
-7
Torr. Partikel penembak biasanya adalah ion-
ion gas inert (gas-gas yang sulit bereaksi dengan
unsur lain, terletak pada golongan VIII pada tabel
periodik unsur kimia). Gas Argon (Ar) paling banyak
digunakan pada sistem sputtering. Substrat diletakkan
di depan target, sehingga atom-atom yang terhambur
akibat penembakan dapat mengendap pada
permukaan substrat (Mc Guise, 1980 : 364).

B 74
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Metode untuk menghasilkan partikel-partikel
penembak adalah dengan cara mengalirkan gas
kedalam ruang yang telah divakumkan tersebut.
Dengan adanya tegangan di antara kedua elektroda
yaitu target sebagai katoda dan meja substrat (stage)
sebagai anoda, tekanan gas dan jarak elektroda
tertentu, maka terjadi loncatan elektron karena
ionisasi gas Argon. Ion-ion tersebut bergerak dengan
cepat dan menumbuk permukaan target/katoda yang
bermuatan negatif. Ion-ion penumbuk, dengan prinsip
perpindahan momentum, kemudian melemparkan
atom-atom target. Akhirnya atom-atom target
mengendap dan membentuk lapisan tipis pada
permukaan substrat. Metode ini dikenal dengan
sebutan DC Sputtering/DC Diode.
METODOLOGI
Proses deposisi metal atau metalisasi dilakukan
dengan metode Sputtering. Alat yang digunakan ialah
Sputtering Machine. Plasma Science Pipe ARC-12 M.
Alat ini dapat dioperasikan secara DC Sputtering
(untuk proses deposisi material yang bersifat
konduktor) dan RF Sputtering (untuk konduktor
maupun non konduktor). Didalam penelitian ini
dilakukan pendeposisian logam aluminium (Al)
dengan variabel waktu (menit), daya (watt), dan
tekanan gas pembawa argon (Ar) (mTorr).
Sistem sputtering memiliki beberapa keunggulan
dibandingkan dengan evaporasi :
- Dapat melapisi film dari jenis logam, paduan
logam isolator, semikonduktor maupun logam
magnetik.
- Kecepatan pendeposisian untuk setiap jenis bahan
tidak jauh berbeda.
- Dapat digunakan untuk pendeposisian banyak
lapisan (multilayer).
- Ketebalan film lebih mudah diamati dan
dikendalikan.
- Daya adhesi antara film dan permukaan substrat
lebih kuat.
Sputtering adalah proses terlemparnya materi dari
suatu permukaan zat padat atau cair akibat ditumbuk
oleh partikel berenergi tinggi hingga terjadi
pertukaran momentum (momentum exchange). Target
yang berupa bahan pelapis (coating material)
diletakkan searah dengan substrat (gambar 1) dalam
suatu ruang vakum dengan tekanan awal sekitar 5x10
-
4
- 5x10
-7
Torr. Kondisi vakum tinggi disini
dimaksudkan untuk menekan kontaminasi dari gas-
gas yang potensial mengotori pada tingkat yang
serendah-rendahnya. Selama proses berlangsung,
dimasukkan gas inert seperti gas Argon yang
dipertahankan pada tekanan sekitar 10
-3
m Torr.
Substrat dipasang pada anoda sedangkan material
yang akan dideposisikan atau biasa disebut "material
target" akan membentuk katoda. Antara katoda
dengan anoda diberi tegangan tinggi (500 V - 5000
V). Perbedaan tegangan searah yang tinggi ini, akan
mengakibatkan terionisasinya gas argon (Ar)
menghasilkan Glow Discharge ,yaitu pembentukan
plasma secara terus menerus.

Gambar 1: Skema proses sputtering
Sumber elektron akan mensuport ionisasi dari gas
inert sehingga pembentukan muatan positif dari argon
disekitar katoda akan semakin cepat. Ion ini akan
membombardir material katoda (target) dengan energi
tinggi yang mengakibatkan atom serta molekul target
terpental (tercungkil) dari permukaannya. Sebagian
dari partikel ini akan mengendap pada substrat. Sudut
jatuhnya atom pada permukaan substrat berbeda-beda,
hal ini akan menghasilkan suatu film tipis yang rata
dibandingkan dengan proses evaporasi.
Metoda Sputtering seperti ini disebut DC
Sputtering atau cathode sputtering. DC Sputtering
hanya dapat digunakan untuk proses deposisi material
yang bersifat konduktor,. Adapun untuk material non
konduktor (isolator, dielektrik) proses deposisi harus
dilakukan dengan RF Sputtering, karena potensial
aselerasi dari sumber DC tidak bisa digunakan
langsung pada permukaan isolator. Disini, ion gas
yang mencapai permukaan target tidak dapat
dinetralisasi karena tidak tersedianya elektron bebas.
Ion akan membentuk lapisan bermuatan positif pada
permukaan target yang mengakibatkan terhentinya
proses sputtering karena tidak adanya Glow
Discharge. Masalah ini bisa diatasi dengan
menggunakan tegangan bolak balik pada frekuensi
radio 13,56 MHz. Dengan RF Sputtering, proses
deposisi bisa dilakukan menggunakan target yang
bersifat isolator, konduktor, resistor maupun
dielektrik.
Kecepatan Pendeposisian pada Sputtering
Dalam sistem sputtering, kecepatan
pendeposisian dipengaruhi oleh Hasil Sputtering
(Sputtering yield), Kecepatan Sputtering (Sputtering
rate) dan Pengotoran (Impurity trapping).
Nilai Hasil Sputtering (Sputtering Yield)
Nilai hasil sputtering merupakan jumlah atom
target yang terpental per satu ion penumbuk. Untuk
menganalisis perubahan-perubahan yang terjadi pada

B 75
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

proses sputtering, telah dikenal dengan analisis
Sigmund's linear Cascade yang membuat korelasi
antara energi ion (eV) dengan Sputtering Yield
(atom/ion).
Analisis tentang hasil Sputtering ditentukan oleh
persamaan sebagai berikut:

( )
| |o U E
M M
M M
K S
t i
t i
+
= (1)
dimana:
α = fungsi dari Mt / M
E = energi yang dimiliki ion penumbuk (eV)
K =konstanta dari 0,1 sampai 0,3
U = energi sublimasi (eV/molekul) α
S = nilai hasil sputtering (atom per ion)
Energi Ambang (Threshold Energy)
Energi ambang (Threshold energy) adalah energi
minimum yang dimiliki ion penumbuk agar ion-ion
dari target terpental, sehingga proses sputtering dapat
terjadi. Dalam proses sputtering, hubungan antara
hasil sputtering dengan energi ambang adalah sebagai
berikut:

|
.
|

\
|
÷ =
2
1
2
1
th
E E S o (2)
| |
67 . 0
3
2
3
2
x t
x
x t
t
Z Z
Z
Z Z
Z
U
k
+
+
= o (3)
dimana :
E = energi yang dimiliki ion (keV)
E
th
= energi ambang (KeV)
k = konstanta (5,2)
U = energi sublimasi (eV per partikel)
Z
1
= nomor atom target
Z
x
= nomor atom gas (ion penumbuk)
Jika sebuah molekul gas terdiri dari m jumlah atom,
maka persam an menjadi a
( ) | |
2
1
2
1
th
mE m S ÷ =
(4)
Kecepatan Sputtering (Rate of Sputtering)
Kecepatan sputtering didefinisikan sebagai
jumlah atom yang terpental persatuan waktu dan luas.
Menurut Harper dkk (1984), pada saat kerapatan arus
ion atau fluksi arus (J
i
) sama dengan fluksi ion
dikalikan muatan elektron q, maka kecepatan
sputtering adalah

q
Sj
r
i
s
= (5)
dimana :
r
s
= kecepatan sputtering
J
i
= karapatan arus ion (A cm
-2
)
Pengotoran (Impurity Trapping)
Gas argon (Ar) yang digunakan sebagai ion
penumbuk, bisa mengandung pengotor yang pada
proses deposisi ikut mengendap pada substrat.
Oksigen yang ikut masuk bersama-sama dengan gas
argon (Ar) juga dapat bereaksi dengan atom-atom
pada target sehingga dapat mempengaruhi resistansi
lapisan film dan adhesivitasnya pada substrat.
Tahapan Proses
Tahapan proses adalah sebagai berikut:
Pembersihan Substrat
Tahap ini sangat penting, karena akan menentukan
kualitas dari lapisan film tipis yang terbentuk.
Pengotor yang ada pada substrat dilarutkan dengan
bahan-bahan pelarut kimia. Agar proses pembersihan
lebih sempurna, proses pembersihan dilakukan dalam
Ultrasonic cleaner. Bahan kimia yang biasanya
digunakan antara lain ialah Trichloro ethylen (TCE),
Trichloro ethan (TCA), etanol, atau aceton.
Tahap Sputtering
Proses sputtering dilakukan pada mode operasi
RF (radio frequency), dengan tekanan awal (base
pressure) berkisar antara 10
-5
-10
-6
Torr. Setelah
tercapai kondisi tersebut dimasukkan gas argon (Ar),
sampai mencapai tekanan konstan sekitar 4 mTorr.
Daya yang diberikan ialah 100 watt. Deposisi material
konduktor dapat dilakukan dengan DC Sputtering,
atau RF Sputtering.
Sebelum dilakukan proses deposisi, terlebih dulu
dilakukan proses etsa dari substrat yang akan dilapisi.
Caranya ialah dengan membalik arah ion penumbuk
menuju substrat dengan energi rendah, sehingga
hanya cukup untuk membersihkan partikel-partikel
pengotor tanpa harus merusak permukaan substrat.
Cara ini dapat menaikkan daya adhesif film pada
permukaan substrat. Proses deposisi dilakukan
menggunakan target yang diinginkan. Pada alat
sputtering yang digunakan disini, dapat dipasang 3
macam target, yang digunakan secara bergantian.
Dalam eksperimen ini diamati karakteristik
pendeposisian dari target alumunium (Al).
Metoda Pengukuran dan Pengujian
Alat Sputtering yang digunakan disini sudah
dilengkapi dengan monitor pengukur ketebalan
(Thickness monitor), Prinsip kerja dari alat pengukur
ketebalan ini ialah adanya kristal osilator yang
frekuensi getarnya akan berubah sesuai dengan
ketebalan film yang dihasilkan. Semakin banyak
partikel hasil proses deposisi yang menempel pada
kristal, getaran kristal osilator akan semakin rendah.
Perbedaan frekuensi ini dikonversikan sebagai
perbedaan ketebalan, yang langsung tampil pada layar
monitor. Adapun alat Sputtering ARC-12M dapat
dilihat pada Gambar- 2 berikut ini.


B 76
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012


Gambar-2. Peralatan Sistem Sputtering ARC-12M
HASIL EKSPERIMEN DAN PEMBAHASAN
Hubungan Antara Ketebalan Film Dengan Waktu

Gambar 3: Hubungan antara ketebalan dengan waktu deposisi A1
pada tekanan gas argon (Ar) 10 mTorr.
Pengaruh Tekanan Gas Argon Terhadap
Kecepatan Deposisi

Gambar 4: Hubungan antara ketebalan dengan waktu deposisi A1
pada tekanan gas Ar 4 mTorr dan 10 mTorr.
Kondisi Proses :
Tekanan Base : 3 - 4 x 10
-5
Torr
Daya (Power) : 100 Watt
TekananGas : 10 mTorr
Rotasi : 5Rpm
Gun/Shutter : 2/2

Dari gambar 2 dan gambar 3 diatas dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut:
1. Ketebalan lapisan film sebagai produk dari
proses deposisi aluminium (Al), menunjukkan
kenaikan secara linier dengan bertambahnya
waktu.
2. Dari aluminium (Al) yang dideposisikan, pada
tekanan gas Argon 10 mTorr, dalam kurun
waktu 10 menit, lambat proses deposisinya
3. Proses deposisi dengan tekanan gas Argon 4
mTorr lebih cepat dibandingkan dengan 10
mTorr. Contohnya pada tekanan Argon 4 mTorr,
dalam waktu 10 menit, ketebalan yang dapat
dicapai sekitar 2000 Angstrom, sedangkan
dengan tekanan gas Argon 10 mTorr
ketebalannya kurang dari 1300 Angstrom.
Pada tekanan gas Argon yang semakin besar
(diatas 130 mTorr) sebagian material akan kembali
lagi ke katoda karena adanya diffusi, namun dibawah
20 mTorr terjadinya diffusi dapat diabaikan. Adanya
pengotor (impurities) yang terbawa oleh gas Argon
akan menurunkan sputtering.
Pengaruh Besarnya Daya Terhadap Kecepatan
Pendeposisian

Gambar 5: Hubungan antara kecepatan pendeposisi Al terhadap
daya pada tekanan gas Ar 4 mTorr
Dari gambar 4 dapat dilihat bahwa kecepatan
pendeposisian akan bertambah dengan naiknya daya,
khususnya pada 100-300 watt, tetapi untuk
penambahan daya dari 350-450 watt, kecepatan
pendeposisian menunjukkan nilai mendekati konstan.
Hasil sputtering akan naik perlahan-lahan dengan
naiknya energi, dilain pihak, material yang
menumbuk katoda sebanding dengan kerapatan arus.
Penambahan daya akan mengakibatkan peningkatan
kerapatan arus dan peningkatan tegangan, karena daya
merupakan perkalian arus dengan tegangan.
Bertambahnya tegangan akan meningkatkan energi
yang dimiliki oleh ion-ion penumbuk sehingga jumlah
atom-atom target yang terpental dari permukaan
semakin bertambah. Hal ini secara empiris akan
meningkatkan hasil Sputtering.
Peningkatan kerapatan arus akan meningkatkan
muatan pada permukaan target sehingga akan
mempercepat ion-ion penumbuk menuju target. Selain
itu, betambahnya arus akan menaikkan jumlah
elektron yang teremisi dari target, sehingga
meningkatkan jumlah tumbukan ionisasi. Peningkatan
jumlah tumbukan ionisasi akan meningkatkan
kerapatan arus ion-ion nya, sehingga secara empiris
meningkatkan kecepatan. sputtering. Konstannya
kecepatan pendeposisian dengan naiknya daya dari

B 77
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

350-450 watt disebabkan karena jumlah atom yang
terpental dibatasi juga oleh luas permukaan target.
4. Kecepatan pendeposisian akan bertambah
dengan naiknya daya, khususnya pada 100-300
watt, tetapi untuk penambahan daya dari 350-
450 watt, kenaikan kecepatan pendeposisian
menunjukkan nilai mendekati konstan.

DAFTAR PUSTAKA
Class, Walter and Murray, (1969), Sputtering
Materials for Electronic Application, Solid
state Technology, Edisi December
Harper, Charles A & Ronald M Sampson, (1984),
Electronic Materials and Process Handbook,
edisi ke II, Mc Graw Hill Inc, Singapore.
Jones, Roydn D, (1982), Hybrid Circuit Design and
Manufacture, Marcel Dekker Inc, New York.
Lee, Hong H, (1990), Fundamentals of Solid State
and Electron Device, Mc Graw Hill Publishing
Company, Singapore.
Gambar 6: Pengaruh tekanan gas terhadap kecepatan deposisi
KESIMPULAN
1. Pada proses deposisi aluminium (Al) dengan
metode sputtering ini, ketebalan akan naik secara
linier dengan bertambahnya waktu.
Maissel, Leon I dan Reinhard Glang, (1970),
Handbook of Thin Film Technology,
McGraw-Hill Inc, New York.
2. Dari alumunium yang dideposisikan ini, pada
tekanan gas Argon 4 mTorr menghasilkan
deposisi Al relatif lebih tinggi, dibandingkan
pada tekanan 10 mTorr.
Sequeda, F.O, (1986), Film Deposition Techniques in
Microelectronics, Journal of Metal, Edisi
Februari, California.
3. Makin tinggi tekanan gas Argon, kecepatan
pendeposisian semakin lambat, bahkan pada
tekanan gas Argon diatas 130 mTorr proses
deposisi akan berjalan sangat lambat, karena
adanya sebagian material yang mengendap
kembali di katoda karena adanya proses diffusi.
Kujotaka Wasa, Makoto Kitobataka and Hideaki
Adachi, “Thin Film Materials Technology,
Sputtering of Compound Materials”, William
Andrew publications, NY, USA, 2004, hal. 17-
173.
Milton Ohring, “The materials Science of Thin
Films”,AcademicPress,USA, 2002, hal. 277-
349.



B 78
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

EVALUASI NILAI TAHANAN INTERNAL MODUL PANEL FOTOVOLTAIK (PV)
BERDASARKAN PEMODELAN KURVA I(V)
NORMAL LIGHT DAN DARK CURRENT
Yanuar, Lazuardi Umar, Rahmondia N. Setiadi
J urusan Fisika FMIPA Universitas Riau
Kampus Bina Widya, J l. Prof. Dr. Muchtar Lutfi
Simpang Baru Pekanbaru 28293
Abstrak.
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi nilai tahanan internal seri dari modul fotovoltaik (PV) polikristal silikon
Hooray MCP-2 berdasarkan pemodelan kurva arus dan tegangan I(V). Penentuan tahanan internal modul
fotovoltaik (solar sel) dilakukan untuk mengetahui kualitas dan unjuk kerjanya, yang diukur pada dua kondisi
yaitu pada kondisi normal light dan kondisi dark current. Arus dan tegangan diperoleh dengan memvariasikan
tahanan beban pada penyinaran dan suhu konstan, yang menghasilkan kurva I(V) pada normal light dan dark
current. Berdasarkan pemodelan kurva I(V) diperoleh parameter – parameter modul fotovoltaik yaitu I
sc
, V
oc
,
I
pmax
dan V
pmax
dimana nilai gradiennya ditentukan berdasarkan persamaan Wagner yaitu sebesar -7.084 V/A
(normal light) dan sebesar -21.618 V/A (dark current). Sementara arus dan tegangan maksimum diperoleh dari
penentuan titik daya maksimum dari modul (Maximum Power Point). Hasil perhitungan tahanan internal seri
pada modul fotovoltaik silikon polikristal Hooray MCP-2 diperoleh nilai sebesar 1.41 Ohm. Nilai ini menjadi
nilai parameter unjuk kerja fotovoltaik dan akan mengalami perubahan selama pengoperasian.
Kata kunci: Modul fotovoltaik, tahanan internal, normal light, dark current, gradien
1. LATAR BELAKANG
Penggunaan energi listrik memberikan peranan
yang sangat penting dalam kehidupan manusia
dewasa ini. Hampir seluruh peralatan rumah tangga,
industri, komunikasi dan sebagainya memanfaatkan
energi listrik sehingga pekerjaan terasa lebih mudah
dilakukan. Saat ini sumber energi yang bersumber
dari minyak bumi kian hari persediaannya semakin
menipis dan sulit diperoleh karena terbatas di dalam
perut bumi. Sedangkan energi matahari adalah sumber
energi yang sangat besar yang dapat dimanfaatkan
dan dikembangkan. Proses untuk mengubah energi
cahaya matahari menjadi energi listrik dilakukan
dengan menggunakan alat yang dinamakan sel surya
(modul photovoltaik, PV) yang tersusun secara seri
dan paralel dilapisi oleh bahan kedap air dan tahan
terhadap perubahan cuaca.
Modul PV telah banyak dijual dipasaran dengan
berbagai macam tipe, akan tetapi, modul ini umumnya
belum diketahui kualitas dan unjuk kerjanya
(performance) sesuai dengan nilai yang dibutuhkan.
Upaya untuk mengidentifikasi kualitas dari PV adalah
dengan cara mengukur arus dan tegangannya, dan
menganalisa perubahan parameter penting yang
mengakibatkan terjadinya depresiasi daya modul.
Salah satu parameter penting dari modul PV adalah
tahanan seri internal yang menggambarkan rugi-rugi
internal (internal losses) dan rugi-rugi yang
diakibatkan oleh kontak listrik antar sel surya [1-3].
Perubahan tahanan seri internal ini akan terjadi seiring
dengan waktu sehingga perlu diamati dalam periode
operasi tertentu.
Berbagai ekseperimen telah dilakukan yang
berkaitan dengan penentuan tahanan dalam pada
modul PV telah dilakukan oleh [4]. Eksperimen yang
dilakukan dengan mengukur tahanan internal dan
daya maksimum pada Standar Test Conditions (STC).
Kemudian, beberapa metode mempergunakan
algoritma matematika dalam mengekstraksi tahanan
seri internal dari solar sel seperti dijelaskan pada [5–
9]. Beberapa dari penelitian ini mengenalkan
penggunaan metode pengukuran dinamis [7] atau
prosedur integrasi [9] berdasarkan perhitungan
komputasi pada daerah di dalam kurva arus dan
tegangan I(V).
Pada penelitian ini, modul PV yang digunakan
juga merupakan salah satu modul yang beredar di
pasaran. Modul ini belum diketahui kualitas dan
ketahanannya sehingga perlu dilakukan penelitian
untuk mengetahui berapa besar tahanan internal dari
modul PV Silikon Polikristal Hooray MCP-2, karena
tahanan internal dapat membatasi daya atau arus yang
dihasilkan oleh modul PV. Untuk mengetahui tahanan
seri internal dari modul telah dilakukan pengukuran
kurva arus dan tegangan I(V) pada dua kondisi yaitu
kondisi cahaya normal (normal light) dan kondisi
tertutup screen (dark current). Dari pemodelan kedua
kurva tersebut dan ekstraksi parameter maka akan
diperoleh besarnya tahanan internal dari modul PV
yang diuji.
Berdasarkan penentuan tahanan internal ini maka
dapat diketahui karakteristik dari semua komponen
dari sistem fotovoltaik, untuk mendeteksi berbagai
masalah yang ditimbulkan dari modul dan untuk
meningkatkan pemeliharaan serta perbaikan jika
terjadinya cacat akibat kehilangan energi yang
dihasilkan, yang dapat diamati dari perubahan tahanan
seri internal Rs.

B 79
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

II. PEMODELAN KURVA I(V) SOLAR SEL
Prinsip kerja pada fotovoltaik sama dengan dioda
pn-junction yang merupakan gabungan antara lapisan
semikonduktor jenis p dan semikonduktor jenis n.
Sifat listrik dari modul fotovoltaik biasanya diwakili
dengan karakteristik arus dan tegangan yang
digambarkan dalam bentuk kurva, dikenal dengan
kurva I-V, lihat gambar 1 berikut ini [10].

Gambar 1. Kurva I-V yang menunjukkan hubungan antara arus
dan tegangan
Kurva I(V) terdiri dari tiga parameter yaitu
tegangan dan arus maksimum (V
mp
dan I
mp
), tegangan
open circuit (V
oc
), arus short circuit (I
sc
). J ika
rangkaian PV diberi beban, maka akan menghasilkan
beda potensial di antara terminal dari sel PV tersebut.
Perbedaan potensial menghasilkan arus yang
berlawanan arah dengan arus foto (fotocurrent) dan
arus yang tersisa berkurang dari nilai rangkaian
terbuka. Arus kebalikan ini biasanya disebut arus
gelap (dark current), yang dianalogikan dengan arus
I
dark
.
Untuk mempermudah menentukan tahanan
internal pada modul fotovoltaik dapat diwakili dengan
diagram rangkaian ekuivalen sebagai berikut dimana
sel dibentuk dari pembangkit energi dan beberapa
beban:

Gambar 2. Rangkaian ekuivalen sel fotovoltaik efektif [11,12]
Rangkaian ekuivalen ini berisikan komponen
fotoelektrik pengganti yang menyatakan tahanan
positif dan negatif. Tahanan modul dinyatakan dalam
R
Pv
dan berbeda dengan tahanan seri internal dari
modul, Rs. Besar nilai karakteristik arus efektif dari
sel PV adalah:
1
0
÷ · ÷ =
|
|
.
|

\
| · +
T
Pv
V
R I
ph
e I I I
v
(1)
dengan besar tegangan sel dinyatakan sebagai berikut,
Pv
ph
T
R I
I
I I I
V V · ÷
|
|
.
|

\
| + ÷
=
0
0
ln
(2)
Parameter-parameter R
pv
, V
T
, I
o
, I
ph
ditentukan dari
hasil penentuan empat parameter lainnya, yang
diperoleh dari pengukuran kurva I(V) yaitu I
sc
, V
oc
, I

pmax,
V
pmax
. Disamping empat parameter tersebut,
ditentukan juga perubahan arus modul PV terhadap
tegangan keluaran yang dinyatakan sebagai nilai
kemiringan (slope) pada tegangan open circuit seperti
berikut:
( ) 0 = = I
dI
dV
M
(3)
Dengan menggunakan sistem persamaan nonlinear
simultan maka dapat ditentukan parameter R
pv
, V
T
, I
o

dan I
ph
dari persamaan berikut:
|
|
.
|

\
|
÷ + ÷ =
max max
max
max
1
p
sc
p
p
p
sc
Pv
I
I
I
V
I
I
M R
(4)
( )
sc pv T
I R M V · + ÷ =
(5)
|
|
.
|

\
| ÷
· =
T
oc
sc
V
V
I I exp
0
(6)
dan
sc ph
I I =
(7)
Besarnya perbedaan arus yang diperlukan untuk
menentukan tahanan seri internal ditentukan sesuai
persamaan:
2
5 . 0
sc
I I · = A
(8)
Sehingga diperoleh tahanan internal modul
fotovoltaik,
2 1
1 2
sc sc
s
I I
V V
R
÷
÷
=
(9)
dimana
( )
1 01 1 1 1 1
, , , ,
ph T pv sc
I I V R I I V V A ÷ =

( )
2 02 2 2 2 2
, , , ,
ph T pv sc
I I V R I I V V A ÷ =

Berdasarkan persamaan (1) sampai dengan (9)
dan pemodelan kurva I(V) dari modul PV pada
kondisi normal light dan dark current maka nilai
tahanan internal dari modul fotovoltaik dapat
ditentukan.
III. EKSPERIMEN
Pengukuran modul PV untuk mendapatkan
tahanan internal dilakukan pada dua kondisi yang
berbeda yaitu penyinaran secara normal (normal light)
dan dalam kondisi ditutup (dark current). Pengukuran
ini dilakukan untuk memperoleh dua kurva I(V) dari
penyinaran modul sesuai dengan IEC60891. Pada
aturan ini dinyatakan bahwa untuk menentukan
tahanan seri internal Rs pada pencahayaan buatan
harus dipenuhi beberapa persyaratan yaitu (1) kedua
kurva I(V) diukur pada suhu kamar dengan kuat
pencahayaan yang berbeda dimana besarnya tidak
harus diketahui namun memiliki spektrum frekuensi
yang sama, (2) selama pengukuran, suhu harus dijaga

B 80
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

tetap konstan untuk menghindari drift tegangan
modul.
Pengukuran pada kondisi dark current
dilaksanakan dengan menutup modul menggunakan
layar (screen) dari bahan kawat nyamuk dengan
tujuan untuk mengurangi intensitas radiasi yang jatuh
pada modul PV. Kemudian modul dikarakterisasi
dengan mengukur arus dan tegangan keluaran pada
variasi tahanan beban untuk setiap kondisi
pencahayaan, seperti digambarkan pada gambar 3
berikut.


Gambar 3. Rangkaian sederhana untuk mengukur kurva I(V) modul
fotovoltaik [13]

Besar nilai R
t
ditentukan dari resistor variabel, R
i
merupakan resistansi internal dari modul, A
merupakan amperemeter dan V adalah voltmeter.
Adapun set up pengambilan data diperlihatkan pada
gambar 4 berikut.


Gambar 4. Set up percobaan untuk mengukur kurva I(V) modul
fotovoltaik silikon polikristal Hooray MCP-2 dengan pemasangan
screen pada permukaan modul

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengukuran arus dan tegangan yang
diperoleh dengan memvariasikan tahanan beban
modul fotovoltaik pada kondisi normal light dan dark
current ditampilkan dalam bentuk kurva I(V). Untuk
mempermudah menentukan nilai I
sc
dan V
oc
maka data
pengukuran dimodelkan, seperti pada gambar 5.
Hasil pemodelan kurva I(V) memberikan nilai
tegangan open circuit (V
oc1
), arus short circuit pada
kondisi normal light (I
sc1
), serta tegangan open circuit
(V
oc2
), dan arus short circuit pada kondisi dark
current (I
sc2
).


Gambar 5. Hubungan arus dan tegangan modul fotovoltaik pada
kondisi normal Light dan dark Current
Parameter lainnya yang dapat diturunkan dari
kurva I(V) adalah nilai maksimum modul fotovoltaik
atau Maximum Power Point (MPP, yang menyatakan
hubungan antara tegangan dan arus untuk
menghasilkan daya maksimum. Besarnya MPP juga
dapat dinyatakan sebagai daerah terluas dalam kurva
I(V) [14]. Pada titik maksimum, modul fotovoltaik
menghasilkan daya keluaran terbesar. Setelah
melewati titik daya maksimum, maka daya keluaran
akan mengalami penurunan, lihat pada gambar 6
berikut ini.
(a)
(b)
Gambar 6. Kurva MPP modul fotovoltaik pada kondisi (a) Normal
Light dan (b) Dark Current
Dari pemodelan kurva pada gambar (5) dan (6)
diperoleh parameter - parameter I
sc
, V
oc
, I
pmax
, dan V
-
pmax
yang akan menentukan perhitungan nilai tahanan
seri internal modul. Parameter-parameter tersebut
disusun seperti pada tabel 1.

B 81
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Sementara nilai kemiringan (gradien) M kurva pada
kondisi normal light dan dark current ditentukan
berdasarkan persamaan (3). Untuk mempermudah
perhitungan maka pada penelitian ini dipergunakan
persamaan empiris berdasarkan Wagner [4] yang
dinyatakan sebagai berikut:
M
2
=-21.618 V/A untuk kondisi dark current.
Sementara besarnya interval arus ditentukan dari
persamaan (8) dan nilai I
sc2
dari tabel 1,
A I I
sc
06 . 0 5 . 0
2
= · = A

(
|
|
.
|
+ +
+
·
·
=
4
max
3
max
2
max max
1
k
I
I
k
V
V
k
V I
V I
k
I
V
M
sc
p
oc
p
oc sc
p p
sc
oc
(10)
Nilai V
1
dan V
2
untuk masing-masing kurva I(V)
diberikan dari persamaan (2) dan dari parameter pada
tabel 2,

( ) V I I V R I I V V
ph T pv sc
207 . 16 , , , ,
1 01 1 1 1 1
= A ÷ =

( ) V I I V R I I V V
ph T pv sc
532 . 16 , , , ,
2 02 2 2 2 2
= A ÷ =


dengan nilai konstanta k
1
=-5.411, k
2
=6.45,
k
3
=3.417 dan k
4
=-4.422 yang berlaku untuk
semua jenis modul fotovoltaik. Nilai gradient M untuk
masing-masing kondisi dihitung dari persamaan (10)
sebagai berikut:
Sehingga diperoleh nilai tahanan internal modul
fotovoltaik sebesar:
O =
÷
÷
= 41 . 1
2 1
1 2
sc sc
s
I I
V V
R
M
1
=-7.084 V/A untuk normal light dan

Tabel 1. Hasil ekstraksi pemodelan kurva I(V) modul PV
Parameter Kurva I(V)
No
Kondisi
Pencahayaan
I
sc

(A)
V
oc

(V)
I
pmax

(A)
V
pmax

(V)
R
pv

(Ohm)
V
T1

(V)
I
o1

(A)
I
ph1

(A)
1. Normal Light 0.350 19 0.33 15.1 4.837 0.787 1.15E
-11
0.35
2. Dark Current 0.12 17 0.11 14 14.23 0.886 1.81E
-10
0.12

Nilai tahanan seri internal Rs ini menggambarkan
rugi-rugi internal yang disebabkan oleh rugi-rugi
kontak antar sel modul yang merupakan karakteristik
dari modul. Perubahan nilai resistansi seri internal
akan terjadi pada waktu yang lama yang akan
menyebabkan depresiasi mutu keluaran dari modul
seiring dengan waktu pemakaian sehingga akan
mengurangi arus atau daya yang dihasilkan.
V. KESIMPULAN
Pada penelitian ini telah dilakukan pengukuran
arus dan tegangan modul silikon polikristal Hooray
MCP-2 untuk menentukan tahanan seri internal Rs
dari modul. Tahanan seri internal merupakan faktor
yang menentukan unjuk kerja panel PV dan
ditentukan berdasarkan pemodelan kurva arus dan
tegangan I(V) pada dua kondisi berbeda yaitu normal
light dan dark current. Untuk memperoleh efek
penurunan intensitas penyinaran pada kondisi dark
current maka permukaan modul fotovoltaik ditutup
dengan screen yang menyebabkan penurunan
intensitas daya iradiasi sebesar 30% dibandingkan
kondisi normal. Modul kemudian dikarakterisasi
dengan mengukur arus dan tegangan pada kedua
kondisi tersebut.
Berdasarkan pemodelan kurva I(V) diperoleh
nilai parameter pemodelan yaitu arus short circuit
(I
sc1
) dan tegangan open circuit (V
oc1
), dimana kondisi
normal light nilainya adalah sebesar 350mA dan 19V,
sedangkan pada kondisi dark current arus short
circuit (I
sc2
) dan tegangan open circuit (V
oc2
) diperoleh
masing-masing adalah 120mA dan 17V. Nilai arus
dan tegangan maksimum pada kondisi MPP adalah
331 mA dan 15.1V, sedangkan pada kondisi dark
current diperoleh sebesar 112 mA dan 14 V.
Berdasarkan data diatas diperoleh nilai tahanan seri
internal Rs modul fotovoltaik silikon polikristal
Hooray MCP-2 sebesar 1.41 Ohm. Tahanan ini timbul
akibat kontak ohmik dan pengkabelan antara tiap sel
surya penyusun modul dan merupakan faktor rugi-
rugi daya modul PV. Perubahan nilai tahanan kontak
antar sel dalam waktu yang lama selama
pengoperasian akan menyebabkan perubahan nilai
tahanan seri internal modul sehingga terjadi depresiasi
daya keluaran.
DAFTAR PUSTAKA
M. Benghanem and S.N. Alamri, “Modeling of
photovoltaic module and experimental
determination of serial resistance”, Journal of
Taibah University for Science, 2008.
Z. Ouennoughi and M. Chegaar, “A simple method
for extracting solar cell parameters using the
conductance method”, Solid-State Electron,
vol. 43, pp. 1985–1988, 1999.
M. Chegaar, Z. Ouennoughi, F. Guechi, “Extracting
DC parameters of solar cells under
illumination”, Vacuum, vol. 75, pp. 367–372,
2004.
A. Wagner, ”Peak – power and internal series
resistance measurement under natural ambient
conditions”. EuroSun Copenhagen, 2000.

B 82
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

M. Wolf and H. Rauschenbach, “Series resistance
effects on solar cells measurements”, Adv.
Energy Conversion, vol. 3, pp. 455–479, 1963.
K. Rajkanan and J . Shewchun, “A better approach to
the evaluation of the series resistance of solar
cells”, Solid-State Electron, vol. 22, pp. 193–
197, 1979.
J . Boucher, M. Lescure and J. Vialas, “Determination
of series resistance of a solar cell by dynamic
methods”, In: Proc. 1st European community
photovoltaic solar energy conference, p. 1044,
1978.
E. Radziemska. Dark I–U–T measurements of single
crystalline silicon solar cells. Energy
Conversion Manage, vol. 46, pp. 1485–1494,
2005.
G. L. Araujo and E. Sanchez. A new method for
experimental determination of the series
resistance of a solar cell. IEEE Trans Electron
Dev 1982;29:1511–3.
CSI California Scientific, Inc, “Solar cell voltage –
current characterization”, 2010.
K. Gerald and A. Wagner, “Internal series resistance
deternminated of only one IV – curve under
illumination”, European Photovoltaic Solar
Energy Conference, Paris, France, 2004.
A. Kaminski, J .J . Marchand and A. Laugier, “Non
ideal dark I–V curves behaviour of silicon
solar cells”, Solar Energy Mater Solar Cells,
vol. 51, pp. 221–231, 1998.
F. Gabor, “Measuring the difference in output power
between fixed and rotatable PV arrays”.
Knowbridge Conference on Renewables, 2010.
M. Haouari-Merbah, M. Belhamel, I. Tobias, J .M.
Ruiz, “Extraction and analysis of solar cell
parameters from the illuminated current
voltage curve”, Solar Energy Mater Solar Cells,
vol. 87, pp. 225–233, 2005.

B 83
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012



Studi Tentang Struktur Mikro Keramik-Geopolimer Berbahan Dasar Kaolin dan Abu
Sekam Padi Dengan Scanning Electron Microscopy (SEM) dan X-Ray Diffraction (XRD)
Abdul Haris, Indra Wulan Ramadhani, dan Subaer
1)
,
Pusat Penelitian Geopolimer – Lab Fisika Material
J urusan Fisika, FMIPA Universitas Negeri Makassar
J alan Daeng Tata Raya, Makassar, 90224
1)
contact person, e-mail: jzubayir@yahoo.com
Abstrak
Telah dilakukan penelitian tentang sintesis dan karakterisasi struktur mikro keramik-geopolimer berbahan dasar
mineral kaolin dan abu sekam padi dengan bahan adisi α-SiO
2
. Keramik-geopolimer disintesis melalui metode
aktivasi alkali mineral aluminasilikat (kaolin dan abu sekam padi) dan di curing pada suhu 150
o
C selama 10
menit. Hasil karakterisasi dengan Scanning Electron Microscope memperlihatkan peran geopolimer sebagai
pengikat (binder) yang baik dan kuat terhadap mineral α-SiO
2
. Hasil analisis dengan X-ray Diffraction (XRD)
memperlihatkan bahwa penambahan konsentrasi α-SiO
2
hingga 10 wt% relatif terhadap massa bahan dasar
kaolin dan abu sekam padi meningkatkan derajat kekristalan keramik-geopolimer. Material yang disentesis
memiliki kekuatan lentur maksimum sebesar 12 MPa yang diukur dengan metode three bending points flexural
measurement.
Keywords: keramik-geopolimer, kaolin, struktur mikro, scanning electron microscope, x-ray diffraction.
PENDAHULUAN
Inorganic polymers atau geopolymers merupakan
material baru yang memiliki potensi aplikasi yang
luas. Geopolimer disintesis melalui metode aktivasi
alkali mineral aluminasilikat pada suhu kurang dari
100
o
C. [1,2,6]. Mineral aluminasilikat yang
digunakan dapat bersifat murni seperti kaolin dan
lempung (clay) atau buangan industri seperti abu
terbang (fly ash) dan abu sekam padi (rice husk ash)
[4].
Sifat fisis dan mekanik geopolimer serta aplikasi
yang mungkin bergantung pada perbadingan molar
atom Si:Al di dalam strukturnya [3,5]. Salah satu
potensi aplikasi geopolimer adalah keramik rekayasa
yang disintesis pada suhu yang relatif rendah.
Keramik rekayasa diproduksi karena sifat-
sifatnya yang khas dan berbeda dengan keramik
tradisional seperti; resistansi suhu yang tinggi,
ketahanan terhadap zat kimia tertentu, serta sifat fisis
dan mekanik yang kuat.
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari
struktur mikro keramik-geopolimer yang disentesis
dari bahan dasar kaolin. Karakterisasi dilakukan
dengan menggunakan X-Ray Diffraction (XRD) untuk
mempelajari derajat kekristalan material yang
diproduksi dan Scanning Electron Microscope dan
Energy Dispersive Scpectroscopy (SEM-EDS) untuk
menyelidiki morfologi permukaan bahan.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini diarahkan pada pengembangan
sintesis keramik-geopolimer (KG) berbahan dasar
kaolin, abu sekam padi dan pasir kuarsa. Mineral
kaolin didehidroksilasi pada suhu 750
0
C selama 6 jam
dan menghasilkan fase metakaolin yang bersifat
amorf. Abu sekam padi diperoleh dari pabrik
penggilangan padi Kabupaten Sidrap. Pasir kuarsa
digerus selama 30 menit untuk mendapatkan butiran
halus.
Kaolin, abu sekam padi, dan pasir dicampur
kemudian diaduk sampai rata. Campuran kemudian
diaktivasi dengan larutan alkali pada komposisi yang
tepat sehingga diperoleh material gel yang homogen.
Peletisasi dilakukan dengan tekanan sebesar 2 MPa
selama 15 menit kemudian sampel dicuring pada suhu
150
o
C selama 10 menit. Gambar 1 memperlihatkan
produk geopolimer yang diproduksi dalam penelitian
ini.

Gambar 1. Sampel keramik geopolimer
HASIL DAN PEMBAHASAN
Produk keramik-geopolimer dirawat pada suhu
75
O
C selama 1 jam sebelum pengukuran dilakukan.
Tabel 1 memperlihatkan hasil pengukuran massa jenis
material yang diproduksi.
Tabel 1 Massa jenis keramik geopolimer
Sampel ρ (gram/cm
3
)
KG01 1.97
KG02 1.96
KG02 1.82

B 84
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012



Tabel 1 menunjukkan bahwa massa jenis dipengaruhi
oleh prosentaseα-SiO
2
, dimana massa jenis menurun
dengan bertambahnya prosentase pasir kuarsa.
Gambar 2 memperlihatkan difraktogram sampel
KG01. Tampak bahwa keramik yang dihasilkan
mengandung fase calcium magnesium aluminium
silicate (CaMgAlSiO). Fase ini terbentuk dari mineral
CaO dan MgO yang dikandung mineral kaolin dan
ikut bereaksi pada saat sintesis berlangsung.

Gambar 2. Difraktrogramsampel KG01.
Gambar 3 memperlihatkan difraktogram sampel
KG02 yang didominasi fase trona
(Na
3
(CO
3
)
2
.2H
2
O). Fase ini terbentuk akibat
penambahan massa NaOH di dalam sampel.

Gambar 3. Difraktrogramsampel KG02
Selanjutnya Gambar 4 memperlihatkan keramik-
geopolimer sample KG02 yang menghasilkan
Cytosine (C
4
H
5
N
3
O).

Gambar 4. Difraktrogramsampel KG03
Hasil karakterisasi morfologi permukaan sampel
dengan Scanning Electron Microscope (SEM)
diperlihatkan pada gambar 5, 6, dan 7 secara berturut-
turut. Hasil karakterisai memperlihatkan morfologi
kristal SiO
2
yang berbentuk batang dan diikat oleh
pasta geopolimer. Sampel tersebut tidak dipoles
sehingga permukaan sampel tampak tidak rata
sehingga kehadiran fase lain seperti pori dan retakan
tidak dapat disimpulkan dengan mudah.

Gambar 5. Mikrograf sampel KG01
J umlah massa α-SiO
2
yang digunakan relatif
terhadap massa kaolin sangat berpengaruh pada
morfologi permukaan keramik-geopolimer. Kondisi
ini juga secara signifikan akan menurunkan massa
jenis sampel serta berpengaruh langsung pada
kekuatan fisik dan mekanik bahan. Hal ini dapat
dimengerti oleh karena pasta geopolimer yang
tersedia tidak lagi cukup untuk mengikat partikel α-
SiO
2
secara efektif. Ikatan antara partikel α-SiO
2

dengan matriks geopolimer menjadi sangat lemah.

Gambar 6. Mikrograf sampel KG02

Gambar 7. Mikrograf samplel KG03

B 85
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012



Komposisi oksida keramik geopolimer yang
diproduksi diteliti dengan Energy Dispersive
Spectroscopy (EDS) seperti yang diperlihatkan pada
tabel 2.
Tabel 2. Komposisi wt% molar oksida sampel
Sampel
Wt % molar oksida
Na
2
O Al
2
O
3
SiO
2
K
2
O FeO
KG01 18.63 21.16 45.97 2.62 2.84
KG02 11.06 20.05 44.61 2.17 0.99
KG03 10.96 22.54 53.62 1.74 0.16

Berdasarkan tabel 2 tampak jelas peningkatan
komposisi Al
2
O
3
dan SiO
2
pada permukaan sampel
KG03. Sampel ini menunjukkan dominasi partikel α-
SiO
2
pada permukaan sampel dan memiliki massa
jenis paling kecil.
Hasil pengukuran kuat lentur setiap sampel yang
dilakukan dengan teknik three bending points flexural
measurement diperlihatkan pada tabel 3.
Tabel 3. Kuat Lentur produk keramik-geopolimer
Sampel Kuat Lentur (MPa)
KG01 11,82 ±0,20
KG02 9,73 ±0,13
KG03 7,66 ±0,93

Hasil pengukuran memperlihatkan bahwa kuat lentur
produk keramik geopolimer mengalami penuruan
dengan bertambahnya massa α-SiO
2
. Hasil penelitian
sebelumnya [5,6] melaporkan bahwa penambahan
10% massa α-SiO
2
relatif terhadap massa kaolin
ditemukan menurunkan kekuatan mekanik produk
geopolimer yang diaktivasi dengan larutan alkali pada
suhu 70
o
C.
KESIMPULAN
Telah disintesis keramik-geopolimer suhu rendah
dari bahan dasar kaolin, abu sekam padi, dan pasir
kuarsa. Keramik yang dihasilkan menghasilkan massa
jenis dan kekuatan mekanik yang cukup baik. Hasil
karakterisasi dengan XRD dan SEM-EDS
memperlihatkan struktur mikro keramik geopolimer
dengan fase yang berbeda sesuai dengan perubahan
komposisi bahan dasar.
REFERENSI
[1] Davidovits, J ., Inorganic polymeric New
Materials., J ournal of Thermal Analysis. Vol.
37. pp. 1633-1656, 1991.
[2] Davidovits, J . The Making Etruscian Ceramics
(Bucceero Nero) In VII – VIII Century B.C.,
Geopolimer’99 Proceedings, 1999.
[3] Davidovits, J . The Dependence of Geopolymer on
Si:Al. http://www.geopolimer.org/ Diakses 12
J uni 2009.
[4] Subaer dan Abdul Haris., Fisika Material I.
Makassar, Badan Penerbit Universitas Negeri
Makassar, 2007.
[5] Subaer., Pengantar Fisika Geopolimer. DP2M
Dikti J akarta.,2007.
[6] Subaer and Arie van Riessen., Thermo-mechanical
and microstructural characterisation of sodium-
poly(sialate-siloxo) (Na-PSS) geopolymers, J
Mater Sci., Vol. 42:3117–3123, 2007.


B 86
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Sintesis dan Karakterisasi Kolagendari Tendon Sapi (Bos Sondaicus ) sebagai Bahan
Bone Filler Komposit Kolagen – Hidroksiapatit
Agnes Krisanti Widyaning
Program Studi Teknobiomedik Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga
Email : fresh_nez08@yahoo.com
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis komposit kolagen – hidroksiapatit dengan memanfaatkan tendon sapi,
mengetahui karakteristik mikro dan biologis komposit kolagen – hidroksiapatit, serta mengetahui variasi
komposisi komposit kolagen – hidroksiapatit yang terbaik untuk dapat diaplikasikan sebagai bahan implant.
Prosedur penelitian yang dilakukan adalah mensintesis kolagen dari tendon sapi dengan cara merendam 70
gram tendon dalam 5% HCl selama 24 jam pada suhu 4ºC. Perendaman dilakukan dengan perbandingan wv
1:20. Setelah masa perendaman, filtrat hasil perendaman ditambahkan 1N NaOH. Akan terbentuk gumpalan
putih, yang kemudian disaring menggunaka kertas saring. Kolagen basah yang terbentuk kemudian
dikompositkan dengan hidroksiapatit dengan 7 variasi komposit kolagen - hidroksiapatit yaitu 100:0; 0:100;
30:70; 40:60; 50:50; 60:40 dan 70:30. Produk hidroksiapatit yang digunakan berasal dari Instalasi Pusat
Bioamterial dan Bank Jaringan Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo Surabaya. Hasil FTIR kolagen terdeteksi
adanya gugus N-H, gugus O-H, gugus C≡N- dan gugus karboksil C=O yang merupakan gugus penyusun
protein. Hasil FTIR hidroksiapatit terdeteksi adanya serapan vibrasi asimetri streching (υ
3
) gugus fosfat (PO
4
3-
), pita serapan υ
3
karbonat (CO
3
-2
), daerah serapan gugus hidroksil (OH), dan terdeteksi kristal hidroksiapatit .
Hasil FTIR komposit terdeteksi adanya pita serapan vibrasi asimetri streching (υ
3
) fosfat (PO
4
3-
), pita serapan
υ
3
karbonat (CO
3
-2
), pita serapan NH dan pita serapan OH. Untuk hasil uji toksisitas menunjukkan sel dapat
hidup semua lingkungan sampel. Hasil karakteristik biologi sampel menunjukkan bahwa sampel pada
perbandingan kolagen : hidroksiapatit 40 : 60 memiliki potensi besar untuk dijadikan bone filler dengan nilai uji
MTT Assay108,1%.
Kata kunci : Kolagen Tendon, Hidroksiapatit, Komposit kolagen – hidroksiapatit.

PENDAHULUAN
Kualitas hidup manusia bergantung pada
kesehatan organ dan jaringan. Terganggunya fungsi
organ atau jaringan dapat disebabkan oleh beberapa
penyakit. Bila suatu organ telah mengalami kerusakan
yang cukup fatal, maka perlu dilakukan tindakan
untuk mengganti organ atau jaringan yang rusak
tersebut. Penggantian organ atau jaringan inilah yang
disebut sebagai implant. Ketika autograft dan
allograft sudah tidak memungkinkan untuk
digunakan, maka solusi yang tepat adalah penggunaan
biomaterial sebagai implant.
Tendon sapi banyak ditemukan dipasaran, mudah
didapat dan harga cukup terjangkau. Tendon sapi juga
memiliki kandungan kolagen yang cukup tinggi.
Serat kolagen memiliki daya tahan yang kuat terhadap
tekanan.
Hidroksiapatit ( Ca
10
(PO
4
)
6
(OH)
2
) adalah salah
satu biomineral paling penting yang ditemukan alami
pada jaringan keras. Hidroksiapatit memiliki
biokompatibilitas yang sangat baik dengan jaringan
keras (Suchanek dan Wozney dalam Rodrigues et al,
2003), osteokondutivitas tinggi dan bioaktivitas
meskipun laju degradasi rendah (Ducheyne dalam
Rodrigues et al, 2003 ), serta kekuatan mekanik dan
potensi osteoinduktif yang baik (Burg et al dalam
Rodrigues et al, 2003). Hidroksiapatit digunakan
dalam rekonstruksi tulang karena struktur kimia yang
mirip dengan komposisi anorganik tulang
manusia.Tulang adalah bahan kompleks yang terdiri
dari protein, terutama kolagen, dan hidroksiapatit.
Oleh karena itu, penelitian sekarang banyak
difokuskan pada biomaterial hidroksiapatit dengan
protein dan polimer sintetis lainnya yaitu kolagen .
Menurut pendapat ahli dalam bidang ortopedi,
untuk aplikasi bone filler banyak digunakan untuk
keperluan bedah mulut, perbaikan struktur wajah dan
perbaikan jaringan tulang rawan. Untuk tulang
panjang (long bone), sangat jarang bone filler
diaplikasikan karena kurang memberikan sifat
mekanik yang diharapkan.
MATERIAL DAN METODE
Preparasi Tendon Sapi
Tendon sapi yang digunakan dalam penelitian ini
diperoleh dari rumah potong hewan (RPH) Pegirikan
Surabaya. Langkah pertama proses sintesis kolagen
adalah mencuci bersih tendon sapi dengan air
mengalir. Kemudian tendon dipotong kecil dan
dihancurkan. Pemotongan dan penghancuran tendon
berguna untuk memperluas permukaan tendon
sehingga mengoptimalkan interaksi molekul –
molekul kolagen dengan larutan pada saat
perendaman maupun ekstraksi. Tendon yang sudah
hancur ditimbang sebanyak 70 gram.


B 87
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Ekstraksi Kolagen
Tendon yang sudah dipotong, dihancurkan dan
ditimbang seberat 70 gram, kemudian direndam
dalam 5% HCl dengan perbandingan berat tendon dan
volume HCl adalah 1 : 20 agar tendon terendam
sempurna pada suhu 4ºC. Setelah mencapai 24 jam
waktu perendaman, cairan dipisah melalui
penyaringan dengan kain. Filtrat (cairan hasil
penyaringan) ditambahkan dengan larutan NaOH 1 N
sampai pH mencapai 7 ( netral ). Ketika pH netral,
terbentuk gumpalan putih yang berkumpul ditengah
filtrat, kemudian didiamkan selama 30 menit hingga
gumpalan putih tersebut mengendap dan selanjutnya
disaring.
Komposit Kolagen Hidroksiapatit.
Hidroksiapatit yang digunakan berasal dari tulang
sapi produk Instalasi Pusat Bioamterial dan Bank
J aringan Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo Surabaya.
Dilakukan 7 variasi komposit kolagen –
hidroksiapatit yaitu 100:0; 0:100; 30:70; 40:60; 50:50;
60;40 dan 70:30. Metode pembuatan komposit
mengacu pada metode Wenpo et al (2009) dengan
modifikasi.
Kolagen dilarutkan dalam 1M asam asetat
kemudian ditambahkan Na2HPO4.2H2O dengan
perbandingan 1:1:1. Larutan yang masih bersifat asam
ini dinetralkan dengan menambahkan 1M NaOH.
Hidroksiapatit dilarutkan dalam asam fosfat dengan
perbandingan 1:4. Dinetralkan dengan NH4OH.
Larutan kolagen dan larutan hidroksiapatit
kemudian dicampurkan dan diaduk selama 15 menit.
Larutan diendapkan ±6 jam. Cairan diatas endapan
dibuang, dan endapan dituang dalam cetakan untuk
selanjutnya di- freeze drying. Komposit yang didapat
berbentuk bubuk.
Fourier Transform Infra Red (FTIR)
Karakterisasi sampel kolagen dan sampel
komposit kolagen – hidroksiapatit menggunakan
FTIR J asco – 4200. Sedagkan sampel bubuk
hidroksiapatit menggunakan FTIR Perkin Elmer
Frontier .
MTT Assay
Kultur sel fibroblast dilakukan dengan
mengambil sel BHK-21 (baby hamster kidney). Uji
menggunakan wadah microwell plate 96. Satu baris
plate diisi oleh kontrol media, satu baris lainya untuk
kontrol sel, dan sisanya untuk pengujian sampel.
Sebagai kontrol sel dibuat dengan cara menambahkan
bovine serume da eagle kedalam satu baris plate.
Kemudian kontrol media dibuat dengan
menambahkan eagle dan sel fibroblast kedalam satu
baris plate lainya.
Sampel yang akan diuji berbentuk serbuk.
Sampel dilarutkan kedalam medium eagle dan
bovinne serume sampai mencapai 50cc. Sebanyak
50µl larutan sampel diambil, untuk kemudian
dilakukan uji.
Setelah sampel diteteskan kedalam plete dengan
8 kali perulangan, semua sampel termasuk kontrol sel
dan kontrol media diberi pewarna MTT stock solution
((3-(4,5-Dimethylthiazol-2-yl)-2,5-
diphenyltetrazolium bromide). J umlah sel hidup
kemudian dihitung dengan menggunakan Elisa
Reader.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Rendemen Kolagen
Perendaman 70 gram kolagen dengan HCl 5%
menghasilkan kolagen basah sebesar 9,7 gram dengan
prosentase :
R =
Bobot basah kolagen yang dihasilkan
bobot sampel tendon yang digunakan
x 100 %



Menurut Li (2003), ikatan antar molekul kolagen
dalam otot bagian kulit dan atau tulang akan
meregang ( melunak ) pada kondisi pH dibawah 4
atau diatas 10. Sintesis kolagen dari tendon sapi ( boss
sondaicus ) dengan larutan HCl 5% menghasilakan
kolagen sebanyak 13,86%. Wang (1994) menyatakan
bahwa rantai protein kolagen apabila dipotong
(dipecah) dengan HCl akan dihasilkan asam amino
dan rantai polipeptida.
FTIR Kolagen
Hasil spekstroskopi kolagen menunjukkan
adanya daerah serapan amida A pada 3438,46 cm
-1

(titik no.7). Daerah serapan amida A merupakan
daerah dimana terdapat ikatan NH streching yang
berasosiasi dengan ikatan hidrogen dan OH dari
hidroksiprolin ( Puspawati et al, 2012 ). Pada daerah
serapan 1421,28 cm
-1
dan 1449,24 cm
-1
(titik no.12
dan no.13)

menunjukkan adanya bending OH yang
terdapat pada daerah sekitar 1300 – 1500 cm
-1
.
Daerah ini teridentifikasi sebagai serapan amida II.
Adanya gugus OH dimungkinkan karena masih ada
senyawa OH dari air yang digunakan untuk
mengekstraksi kolagen.
Terlihat pula daerah serapan amida I pada
bilangan gelombang 1638,23 cm
-1
(titik no. 11) .Pada
daerah ini terjadi ikatan gugus karbonil, C=O
streching dengan kontribusi dari NH bending
(Puspawati et al, 2012) dan O-H yang berpasangan
dengan gugus karboksil ( Suwardi et al, 2010) .
Serapan amida III teridentifikasi didaerah 1125,26
cm
-1
(titik no. 14 ) yang merupakan gugus dari NH
bending.selain itu terlihat pula regangan -C≡N-
difrekuensi sekitar 2100 – 2400 cm
-1
tepat pada
daerah 2336,4 cm
-1

2360,44 cm
-1
( titik no. 8 dan no.
9).
=
9, 7 gram

70 gram
= 13,86 %


B 88
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012


Gambar 1. SpektrumFTIR kolagen tendon sapi
Dari hasil FTIR kolagen, gugus khas kolagen
yang teridentifikasi adalah gugus N-H, gugus O-H,
gugus C≡N- dan gugus karboksil C=O. Gugus -
gugus tersebut membuktikan bahwa kolagen yang
disintesis menghasilkan kemurnian kolagen yang
cukup tinggi.
FTIR Hidroksiapatit
Hasil FTIR hidroksiapatit menunjukkan adanya
pita serapan vibrasi asimetri streching (υ
3
) fosfat
(PO
4
3-
) pada bilangan gelombang 1049,31 cm
-1

dengan puncak yang sangat tajam. Terlihat juga
adanya pita serapan υ
3
karbonat (CO
3
-2
) pada
bilangan gelombang 1461,05 cm
-1
dan 1416,31 cm
-
1
dengan intensitas sangat lemah. Secara teori,
sintering atau pemanasan pada proses pembuatan
hidroksiapatit dengan suhu diatas 750ºC akan
meleburkan adanya gugus karbonat. Hilangnya gugus
karbonat menunjukkan bahwa derajat kristalinitas
sampel yang disintering menjadi meningkat
(Mulyaningsih, 2007). Namun disini sampel
hidroksiapatit masih mengadung sedikit gugus
karbonat yang menandakan berkurangnya tingkat
kristalinitas hidroksiapatit ini.

Gambar 2. SpektrumFTIR hidroksiapatit tulang sapi
Pada daerah panjang gelombang 3571,42 cm
-
1
dan 632,19 cm
-1
terdeteksi daerah serapan gugus
hidroksil (OH) dengan intensitas yang lemah. Kristal
hidroksiapatit ditandai oleh pita vibrasi asimetri
bending (υ
4
) dalam bentuk pita belah dengan
maksimum pada 570,52 cm
-1
dan 602,43 cm
-1
.
Sedangkan daerah serapan maksimum kristal
hidroksiapatit yang tampak menyatu dengan pita υ
4

pada daerah 632,19 cm
-1
bukan berasal dari PO
4
3-
,
melainkan dari gugus OH. Selain menunjukkan
kehadiran kristal apatit, kadar belah pita serapan υ
4

menunjukkan kandungan fase kristal apatit dalam
sampel (Djawarni dan Wahyuni, 2002).
FTIR Komposit
Speksroskopi inframerah komposit kolagen –
hidroksiapatit digunakan untuk melihat gugus fungsi
yang terbentuk dalam sampel. Grafik serapan FTIR
dapat dilihat pada gambar 3.
Hasil FTIR sampel menunjukkan adanya serapan
pada daerah sekitar 3000 – 3750 cm
-1
. Pada kisaran
daerah ini menunjukkan adanya serapan OH streching
dan NH streching. Gugus OH terlihat pada puncak
serapan tepat di daerah 3112,55 cm
-1
(titik no. 3)
dengan kenampakan pita melebar khas OH. Pada
daerah ini juga terdeteksi adanya gugus NH, namun
puncak serapanya tidak terlihat karena tertutup pita
melebar OH. Daerah ini merupakan daerah serapan
khas kolagen yang disebut daerah serapan amida A.

Gambar 3. SpektrumFTIR komposit kolagen - hidroksiapatit
Daerah amida I terdeteksi pada 2 titik, yaitu
1675,84 cm
-1
(titik no. 9) dan 1716,34 cm
-1
(titik
no.8). Daerah 1675,84 cm
-1
terdeteksi gugus fungsi
C=O streching dengan kontribusi dari NH bending.
Daerah 1716,34 cm
-1
merupakan daerah gugus fungsi
C=O streching yang bergandengan dengan COO-.
Daerah amida II teridentifikasi di daerah 1461,78 cm
-1

(titik 11), yang merupakan gugus deformasi NH dan
di daerah 1402 cm
-1
(titik 12), yang merupakan gugus
CH
2
dari prolin. Sedangkan untuk amida III,
terdeteksi pada daerah 1240,97 cm
-1
(titik no. 13)
yang merupakan gugus fungsi NH bending, dan pada
daerah 1198,54 cm
-1
(titik no. 14) yang merupakan
gugus dari C=O streching.
Terlihat serapan vibrasi asimetri streching (υ
3
)
fosfat (PO
4
3-
) dari hidroksiapatit di 1072,23 cm
-1
(titik
no. 15). Terlihat pula adanya serapan dari gugus
karbonat (CO
3
-2
) dengan intensitas yang sangat
lemah. Gugus hidroksil OH dari hidroksiapatit
teridentifikasai di daerah panjang gelombang 607,467
cm
-1
(titik no.22) dengan intensitas yang sangat
lemah. Sedangkan kristal hidroksiapatit terdeteksi di
daerah serapan 552,506 cm
-1
(titk no.23)

dan 536,114
cm
-1
(titik no.24).

B 89
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Hasil FTIR komposit diambil dari variasi
komposisi kolagen : hidroksiapatit 50 : 50. Intensitas
amida A yang merupakan ciri dari kolagen terlihat
sama dengan intensitas fosfat (PO
4
3-
). Hal ini karena
perbandingan komposisi kolagen : hidroksiapatit sama
banyak.
Uji Toksisitas Fibroblas MTT Assay
Prosentase jumlah sel hidup untuk uji MTT dapat
dihitung dengan persamaan :

. Hasil uji MTT Assay dapat dilihat dalam
lampiran. Hasil analisis perhitungan uji MTT Assay
dapat dilihat pada tabel 1.
Pada uji MTT Assay, suatu bahan dikatakan tidak
toksik apabila prosentase sel hidup masih diatas 60%
(Wijayanti,2010). Dibawah 60% menunjukkan bahwa
sampel tersebut bersifat toksik dan berbahaya bila
diaplikasikan dalam tubuh.
Sampel A dan sampel B merupakan sampel
kontrol. Sampel A adalah sampel kolagen tanpa
perlakuan, sedangkan sampel B adalah sampel
hidroksiapatit tanpa perlakuan. Pada sampel A, hasil
uji MTT Assay mencapai lebih dari 100%, yaitu
119,4%. Hal ini menunjukkan bahwa sampel kolagen
tidak toksik dan mampu menumbuhkan sel fibroblast.
Kolagen merupakan suatu protein bioresorbable
alami, yang umum digunakan sebagai perancah atau
filler untuk regenerasi jaringan. Kolagen tipe 1
digunakan sebagai perancah atau filler jaringan
tulang. Dalam aplikasi perbaikan jaringan tulang,
umumnya kolagen dipakai dalam bentuk komposit,
karena jaringan tulang bukan merupakan jaringan
lunak, melainkan jaringan keras. Sedangkan sifat
kolagen adalah lentur dan lunak, sehingga perlu
penambahan bahan lain. Dalam penelitian ini, kolagen
dijadikan sebagai matriks dari komposit kolagen –
hidroksiapatit yang bisa dijadikan sebagai bone filler.
TABEL 1 Hasil Uji MTT Assay
Nama
Sampel
Rata rata
sel hidup
Kontrol
Sel
Kontrol
Media
% Sel
Hidup
Sampel A 0,127 0,091 0,093 119,4
Sampel B 0,080 0,091 0,093 94,3
Sampel C 0,084 0,091 0,093 96,1
Sampel D 0,106 0,091 0,093 108,1
Sampel E 0,079 0,091 0,093 93,9
Sampel F 0,073 0,091 0,093 90.2
Sampel G 0,861 0,091 0,093 97,4

Sampel B merupakan hidroksiapatit menujukkan
hasil uji 94,3% yang menunjukkan sampel ini tidak
toksik. Hidroksiapatit memiliki biokompatibilitas
yang baik terhadap kontak langsung dengan tulang.
Untuk sampel C, sampel D, sampel E, sampel F
dan sampel G berturut – turut memiliki prosentase
hasil uji sebesar 96,1% ; 108,1% ; 93,9% ; 90,2% dan
97,4%. Kelima variasi sampel ini juga menunjukkan
bahwa sampel tidak toksik. Namun pada sampel D,
hasil MTT Assay mencapai 108,1%. Hal ini
menunjukkan bahwa ada sel yang tumbuh pada
sampel (proliferasi). Sampel D merupakan sampel
dengan variasi kolagen : hidroksiapatit 40 : 60. Hasil
uji MTT 5 variasi sampel dapat disajikan dalam
bentuk grafik.
Secara keseluruhan hasil uji MTT Assay pada
semua variasi sampel menunjukkan hasil yang baik
dan tidak toksik. Variasi sampel yang terbaik adalah
pada sampel D, yaitu variasi kolagen : hidroksiapatit
40 : 60, karena mampu menunjukkan adanya aktivitas
pertumbuhan sel.
Aplikasi Kolagen – Hidroksiapatit sebagai Bone
Filler.
Material bone filler seperti komposit kolagen –
hidroksiapatit umumnya digunakan pada tulang yang
tidak terlalu panjang dan luas permukaanya. Sangat
jarang kasus kerusakan pada long bone yang
menggunakan bone filler sebagai tindakan
penyembuhan. Misalnya saja, bila terdapat tumor
pada long bone, tulang yang sudah direseksi dari
tumor biasanya ditambal dengan menggunakan tulang
dari bagian tubuh pasien lain ( autograft ) . Hal ini
dilakukan untuk menghindari infeksi yang dapat
terjadi dan diharapkan bisa menumbuhkan tulang
baru. Namun autograft ini menimbulkan defek pada
tulang yang ditinggalkan. Bila tidak memungkinkan
melakukan autograft, maka tindakan alternatif pilihan
adalah menggunakan donor tulang dari tubuh orang
lain (allograft) Kelemahan dari allograft ini adalah
tulang yang menjadi donor tidak bisa berkembang,
karena sel sel tulangnya sudah mati. Alternatif
terakhir adalah menggunakan bahan pengganti tulang
(bone subtitute) atau bone repair. Namun untuk long
bone, biasanya digunakan material dalam bentuk
scaffold atau bone cemens bukan filler.
Namun untuk kasus tulang kecil seperti pada
kasus bedah mulut, bone filler bisa digunakan,
biasanya dalam bentuk pasta untuk ditumpatkan. Bone
filler banyak digunakan untuk implant mandibula
pada kasus bedah mulut, impalan cartilage tissue dan
maxillofacial.
Selain itu bone filler dapat diaplikasikan untuk
regenerasi cartilage tissue (Yasuda et al, 2010).
Dalam perawatan jaringan tulang rawan yang rusak,
masalah utama yang dihadapi para ahli adalah
kesulitan untuk meregenerasi tulang rawan secara
alami tanpa melalui drug delivery. Sebagai contoh,
metode microfracture yang banyak menghasilkan
microholes di tulang subchondral membentuk
fibrocartilage, tapi tidak ada tulang rawan hialin
artikular sebagai penanda pertumbuhan tulang
normal. Akibatnya, jaringan tulang rawan yang rusak
biasanya diobati dengan pencangkokan suatu jaringan
tulang rawan lain yang diperoleh dari tubuh pasien itu
sendiri. (Yasuda et al, 2010). Masalah yang tibul dari
pencangkokan tulang rawan lain dalam satu tubuh
pasien adalah kerusakan pada jaringan tulang rawan

B 90
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

yang ditinggalkan dan jumlah tulang rawan yang
belum tentu mencukupi untuk pencangkokan. Oleh
karena itu penambahan bone fiiler pada kasus ini
diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut (Yasuda
et al, 2010).
Buser et al (1998) melakukan filling kolagen
pada tulang mandibula babi yang telah diberi defek
sebelumnya. Hasil menunjukkan bahwa dalam 4
minggu tidak terlihat adanya kolagen yang tersisa dan
terjadi perbaikan jaringan tulang ini membuktikan
bahwa kolagen mempunyai biokompatibilitas yang
tinggi. Buser et al (1998) juga melakukan filling pada
tulang mandibula babi menggunakan mineral
hidroksiapatit. Hasil yang diperoleh menunjukkan
pada 4 minggu awal penyembuhan terlihat laju
pertumbuhan sel yang sangat rendah dibandingkan
kolagen. Baru terlihat pertumbuhan yang cukup pesat
pada 6 bulan kemudian. Dari hasil penelitian yang
dilakukan Buser et al ini, ada kemungkinan bila
kolagen dan hidroksiapatit jikan dikompositkan akan
memiliki sifat yang baik yaitu cepat meregeberasi
jaringan tulang dan memberikan sifat mekanik yang
tidak terlalu rendah (Buser et al, 1998).
Hasil uji MTT Assay dalam skripsi ini juga
menunjukkan angka 119,4%. Hal ini menunjukkan
bahwa kolagen adalah bahan yang tidak toksik dan
mampu merangsang pertumbuhan sel – sel baru.
Sedangkan hasil MTT Assay hidroksiapatit
menunjukkan angka 94,3%, yang berarti bahwa
hidroksiapatit tidak toksik, namun belum bisa untuk
menumbuhkan sel – sel baru. Komposit kolagen –
hidroksiapatit filler, diharapkan mampu menghasilkan
implant yang baik. Hdroksiapatit mampu memberikan
sifat mekanik yang baik, dan kolagen mampu
membantu merangsang pertumbuhan sel baru.
Kesimpulan.
Hasil spekstroskopi FTIR komposit kolagen -
hidroksiapatit terdeteksi adanya gugus N-H dari
amida A di serapan 3112,55 cm
-1
, gugus N-H dari
amida I terdeteksi didaerah 1675,84 cm
-1
dan 1675,84
cm
-1
, gugus N-H dari gugus 1240,97 cm
-1
, gugus N-H
dari amida III pada serapan 1461,78 cm
-1
gugus O-H
pada daerah serapan 607,467 cm
-1
, gugus PO
4
3-
pada
1072,23 cm
-1
dan gugus karboksil C=O streching
pada titik 1716,34 cm
-1
.
Uji sitotoksisitas menunjukkan bahwa kultur sel
dapat hidup dalam lingkungan seluruh sampel
komposit kolagen - hidroksiapatit dengan prosentase
hasil uji sampel A komposisi 100:0 sebesar 119,4%;
sampel B komposisi 0 : 100 sebesar 94,3%; sampel C
komposisi 30 : 70 sebesar 96,1%; sampel D
komposisi 40 : 60 sebesar 108,1%; sampel E
komposisi 50 : 50 sebesar 93.9%; sampel F
komposisi 60 :40 sebesar 90,2% serta sampel G
komposisi 70 : 30 sebesar 97,4%.
Hasil karakteristik biologi sampel menunjukkan
bahwa sampel pada perbandingan kolagen :
hidroksiapatit 40 : 60 memiliki potensi besar untuk
dijadikan bone filler dengan nilai uji MTT Assay
108,1%.


Ucapan Terima Kasih
Terima kasih disampaikan kepada Bapak Drs.
Adri Supardi, M.Sc, Ibu Dr. Prihartini Widiyanti,
drg., M.kes, Ibu Dyah Hikmawati S.Si M.Si serta
pihak pihak yang terlibat dalam penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Rodrigues ,C.V.M., Serricella, P., Linhares, ABR.,
Guerdes, RM., Duarte, MEL., Farina, M. 2003.
Characterization of a Bovine Collagen–
Hydroxyapatite Composite Scaffold for Bone
Tissue Engineering. Brazil.
Wenpo Feng, Keyong Tang, Xuejing Zheng,
Yuanming Qi, J ie Liu. 2009. Preparation and
Characterization of Porous Collagen /
Hydroxyapatite / Gum arabic Composite.
China.
Li, Shu-Thung. 1993. Collagen Biotechnology and
it’s Medical Application. Biomed. Eng.
ppl.Baia Comm. 5 : 646-657
Suwardi, Yuniarto., Atmaja, Lukman., Martak,
Fahimah. 2010. Pengaruh Variasi Larutan
Asam pada Isolasi Gelatin Kulit Ikan Patin
(Pangasius hypothalmus) terhadap Sifat – Sifat
Kimia dan Fisik. J urusan Kimia. Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Institut Teknologi Sepuluh November.
Surabaya.
Puspawati ,N.M., Simpen, I.N., Sumerta Miwada, I.N..
2012. Isolasi Gelatin dari Kulit Kaki Ayam
Broiler dan Karakterisasi Gugus Fungsinya
dengan Spektrofotometri FTIR. Universitas
Udayana. Bali.
Mulyaningsih, Neng Nenden. 2007. Karakterisasi
Hidroksiapatit Sintetik dan Alami pada Suhu
1400ºC. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Djawarni, Soejoko S., Wahyuni,Sri, 2002.
Spekstroskopi Inframerah Senyawa Kalsium
Fosfat hasil Presipitasi. Departemen Fisika.
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam. Universitas Indonesia. Bogor.
Wijayanti, Fitria. 2010. Variasi Komposisi
Cobalt Chromium pada Komposit Co-
Cr-HAP sebagai Bahan implan.
Departemen Fisika. Fakultas Sains dan
Teknologi. Universitas. Surabaya
Yasuda, Kazunori., Osada, Yoshihito., Gong,
J ian Ping., Kitamura, Nabuto. 2010.
Bone Filler for Cartilage Tissue
Regeneration Treatment. Matrices
synthetic polymer acrylic acid and
derivatives. Patent application number:
20100003328.

B 91
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Potensi Kolagen Kulit Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus) Sebagai Scaffold
Kolagen-Hidroksiapatit pada Bone Tissue Engineering
Ary Andini
1)
DyahHikmawati
2)
Sri Sumarsih
3)
1)
Mahasiswa Program Studi S1 Teknobiomedik angkatan 2008, Departemen Fisika, Fakultas Sains
dan Teknologi, Universitas Airlangga.
2)
Staf Pengajar Program Studi Fisika, Departemen Fisika,
Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga.
3)
Staf Pengajar Program Studi Kimia,
Departemen Kimia Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga.
Email: semnasfisika@unair.ac.id
ABSTRAK
Telah dilakukan sintesis scaffold kolagen-hidroksiapatit berbasis kolagen kulit ikan Lele Sangkuriang untuk
aplikasi bone tissue engineering. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosentase kolagen dari kulit ikan
Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus var) dan karakterisasi scaffold kolagen-hidroksiapatit berbahan dasar
kolagen kulit Ikan Lele Sangkuriang. Proses isolasi kolagen dari kulit ikan Lele Sangkuriang dilakukan dengan
ekstraksi kulit ikan dalam asam asetat 0,5 M selama 24 jam, hasil isolasi kolagen kemudian dibagi menjadi
beberapa konsentrasi kolagen, yaitu 0%, 5%, 15%, 20%, dan 25% terhadap hidroksiapatit. Proses pembuatan
scaffold kolagen-hidroksiapatit dilakukan dengan mencampurkan larutan kolagen netral dan larutan
hidroksiapatit secara in situ. Analisis karakterisasi scaffold kolagen-hidroksiapatit dilakukan dengan
menggunakan uji densitas, porositas, kekuatan tekan, FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy), SEM
(Scanning Electrone Microscope), dan uji toksisitas dilakukan dengan Uji MTT. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa prosentase kolagen yang terkandung pada kulit ikan Lele Sangkuriang adalah 25,18%, dan
hasil analisis karakterisasi scaffold kolagen-hidroksiapatit yang didapatkan menunjukkan bahwa scaffold
kolagen 10%-hidroksiapatit memiliki nilai densitas dan kekuatan tekan tertinggi, yaitu 0,1867 gr/cm
3
dan
14,950 KPa. Nilai porositas tertinggi dimiliki oleh 25% kolagen-HA dengan 70,38%. Berdasarkan hasil
spektrum FTIR membuktikan bahwa scaffold yang dihasilkan tersusun atas kolagen dan hidroksiapatit, hasil
SEM menunjukkan permukaan scaffold yang berpori, dan hasil Uji MTT mengindikasikan bahwa scaffold
kolagen-hidroksiapatit tidak bersifat toksik. Hal ini menunjukkan bahwa scaffold kolagen-hidroksiapatit
berbahan dasar kolagen kulit ikan Lele Sangkuriang dapat digunakan sebagai impan bone tissue engineering.
Key Word: Scaffold, Kolagen-Hidroksiapatit, Tissue Engineering, Clarias gariepinus var, Bone Tissue
Engineering

PENDAHULUAN
Tissue Engineering adalah suatu interdisipliner
ilmu biomedis yang menggabungkan berbagai ilmu
pengetahuan seperti material, teknik, kimia, biologi
sel dan molekuler. Tujuan dari aplikasi Tissue
Engineering adalah untuk mengembangkan
biological substitute yang berfungsi untuk
menyusun, memelihara, memperbaiki atau
mengembalikan kembali fungsi jaringan yang rusak
(Laurencin and Nair, 2008). Scaffold merupakan
salah satu komponen Tissue Engineering yang
dapat digunakan pada aplikasi bone tissue
engginering untuk memperbaiki jaringan tulang
yang rusak (bone tissue repair).
Berdasarkan informasi dari Medtech@Insight
dalam Laurencin and Nair, 2008, pada tahun 2003,
potensial pasar Amerika Serikat untuk produk TE
terutama untuk aplikasi tulang dan otot mencapai
$23.8 Miliar dan diperkirakan pada tahun 2013
akan mencapai $39.0 Miliar. J umlah ini akan terus
bertambah pada tahun selanjutnya, karena jumlah
penderita kelainan tulang dan otot seperti penyakit
dan fraktur tulang meningkat setiap tahunnya.
Pada pembuatan scaffold diperlukan material
yang mirip dengan komposisi tulang seperti
komposit kolagen-hidroksiapatit. Hidroksiapatit
digunakan dalam tissue engginering karena
biokompatibel dan osteokon-duksi Namun,
hidroksiapatit juga memiliki sifat rapuh dan getas.
Oleh karena itu, agar hidroksiapatit dapat dijadikan
scaffold bone tissue ediperlukan campuran
biomaterial lain seperti kolagen untuk
meningkatkan kualitas scaffold.
Kolagen merupakan suatu protein jaringan ikat
yang banyak ditemukan pada protein mamalia.
Sekitar 25%-35% protein tubuh disusun oleh
kolagen. Menurut Lee et al (2001), kolagen sebagai
biomaterial banyak digunakan dalam aplikasi medis
karena biokompatibel, biodegradabel dan memiliki
dampak antigenisitas yang rendah (Song Eun et al,
2006).
Sumber kolagen pada mamalia biasanya
terdapat pada kulit babi, kulit sapi dan tulang
hewan ternak. Namun, akhir-akhir ini ditemukan
bahwa hewan ternak rawan terinfeksi penyakit TSE
(Transmissible Spongioform Encepha-lopaty), BSE
(Bovine Spongioform Encephelophaty) dan FMD
(Foot and Mouth Disease). Oleh karena itu,

B 92
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

menurut Nagai et al (2002) diperlukan sumber
alternatif kolagen baru yaitu kulit atau sisik ikan
(HaiYing et al, 2006) yang salah satunya adalah
kolagen dari kulit ikan Lele Sangkuriang (Clarias
gariepinus var). Kolagen dari kulit atau sisik ikan
halal untuk dikonsumsi (Shen et al, 2007), dan baik
untuk kulit dibandingkan dengan kolagen dari
ternak dan unggas.
Pada penelitian ini, diharapkan hasil scaffold
kolagen-hidroksiapatit ini memiliki kualitas,
struktur dan fungsi yang optimal sebagai
pengembangan terapi modern berbasis bone tissue
engineering.
METODE
Bahan dan Alat
Kulit ikan Lele Sangkuriang diperoleh dari
industri petani tambak di desa Kedung Banteng,
Tanggulangin, Sidoarjo. Kulit ikan Lele
Sangkuriang segera dimasukkan ke dalam peti
pendingin setelah dibersihkan dari sisa daging
kemudian disimpan di lemari pendingin dengan
suhu -20
o
C. Bahan-bahan lain yang digunakan
adalah asam asetat, kristal NaOH, kristal NaCl,
aquades, kristal Na
2
HPO
4
.
2
H
2
O, H
3
PO
4
, NH
4
OH.
Alat-alat yang digunakan meliputi: peti pendingin,
penyaring, corong, peralatan gelas, pengaduk
magnetik, tabung selofan, timbangan analitik,
freeze dryer, dan sentrifugator.
Persiapan Sampel
Kulit ikan lele (Clarias gariepinus var var),
dipotong 2-5 mm tipis pada suhu 0
o
C. Potongan
kulit ikan dicuci dengan air dingin (4
o
C) selama 20
menit. Kulit ikan yang telah dicuci lalu dicampur
dengan 0,1 M NaOH pada suhu 4
o
C sebanyak
delapan kali, lalu kulit ikan dicuci dengan aquades
(4
o
C) sampai mencapai pH dasar aquades. Lalu
dikeringkan dengan menggunakan freezer dryer.
Ekstraksi Kolagen
Lemak pada kulit ikan dimasrasi selama 2 hari
dengan Heksane (4
o
C). Kemudian dicuci dengan
aquades (4
o
C). Residu yang terbentuk diekstrak
dengan 0,5 M asam asetat (1 gr kulit per 20 ml dari
0,5 M asam asetat) selama 24 jam, lalu sampel
disaring. Larutan kental yang terbentuk disentrifuse
pada 8000 rpm selama 30 menit. Residu dari
filtrasi, dicampur dan diekstrak kembali dalam 0.5
M asam asetat (1 gr dari residu per 20 ml asam
asetat) selama 24 jam dan disentrifuse kembali
pada 8000 rpm selama 30 menit. Supernatan yang
terbentuk dicampur dan digaramkan dengan
menambahkan NaCl hingga konsentrasi akhirnya
mencapai 0,9 M. Endapan kolagen dipisahkan
dengan mensentrifugasi pada 8000 rpm. Supernatan
hasil sentrifuse dipresipitasi kembali dengan NaCl
lagi kemudian disentrifuse pada 8000 rpm selama
30 menit setelah terjadi endapan kolagen. Kolagen
basah yang terbentuk, kemudian didialisis dengan
akuades selama 4 hari dengan. Kolagen yang
terbentuk disimpan pada suhu 4
o
C.
Pembuatan Scaffold Kolagen-Hidroksiapatit
Larutan kolagen netral 5%, 10%, 15%, 20%
dan 25% dibuat dengan melarutkan kolagen dalam
0,5 M asam asetat, kemudian ditambahkan
Na
2
HPO
4
. 2H
2
O 0.02 M yang pH larutan dikontrol
hingga netral dengan menggunakan NaOH. Larutan
hidroksiapatit dibuat dengan melarutkan
hidroksiapatit dalam H
3
PO
4
kemudian ditambahkan
NH
4
OH sampai mencapai pH netral. Proses
pembuatan scaffold dilakukan dengan
mencampurkan larutan kolagen netral dengan
larutan hidroksiapatit. Dalam prosesnya, dilakukan
pengadukan selama 1,5 jam, dan
diinkubasi pada suhu suhu ruang (21-
22
o
C) selama 20 jam kemudian dilakukan
pencucian dengan aquades dan sentrifugasi. Teknik
pemisahan fasa padat-cair yang digunakan untuk
menghasilkan scaffold dengan pori yang baik
pada komposit kolagen-hidroksiapatit adalah
dengan melakukan pendinginan komposit hingga -
20
o
C selama sehari, kemudian pelarut dapat
dihilangkan dengan freeze-drying.
Kadar Kolagen
Perhitungan kadar kolagen dihitung dengan
menggunakan persamaan berikut.

Kolagen(%)=
Berat Kolagen Basah
Berat Kulit Ikan Basah
x100%
FTIR (Fourier Transform Infrared
Spectroscopy)
Spektrum FTIR scaffold kolagen-hidroksiapatit
didapatkan dengan menggunakan Tensor
TM
FT-IR
spektrometer (Bruker Optics Inc.).
Densitas dan Porositas
Scaffold Kolagen-HA diukur berat keringnya
(Wk). Lalu sampel direndam dalam air kemudian
air dikeluarkan. Volume benda diperoleh dari
selisih volume akhir (V
2
) dikurangi volume awal
(V
1
). Setelah itu, sampel ditimbang untuk
mendapatkan nilai berat basah (Wb). Untuk
menghitung densitas (D) dan porositas (P)
menggunakan persamaan =

2

1
dan =

2

1
100%..
Kekuatan Tekan
Uji kekuatan Tekan scaffold kolagen-
hidroksiapatit ditentukan diletakkan pada benda uji
pada mesin Erweka TBH 220. Mesin tekan
dijalankan dengan penambahan beban konstan.
Pembebanan dilakukan sampai sampel uji menjadi
retak atau hancur.
SEM (Scanning Electron Microscopy)
Struktur penampang melintang dari scaffold
dapat dilihat dengan mengunakan Scanning
Electron Microscopy, SEM (Inspect S50, FEI
Corp., J epang).

B 93
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Uji MTT
Scaffold kolagen-hidroksiapatit disterilisasi
dengan menggunakan sinar UV selama 24 jam,
kemudian dilarutkan dalam 0,5 cc eagel dan bovine
serum untuk pertumbuhan selnya. Larutan sampel
kemudian dialirkan pada permukaan sel fibroblast
BHK-21 dan ditunggu selama sehari untuk
mengetahui perkembangan sel-nya. Masing-masing
sampel diulang dengan delapan kali dan diisi
larutan sampel 50µm per well-nya. Pada awal
perlakuan warnanya ungu kemudian ditambahkan
pereaksi MTT {3-(4,5-Dimetil-2-thiazolil)-2,5-
diphenil-2H-tetrazolium bromida}, dan untuk
pembacaan sel BHK-21 yang hidup menggunakan
Elisa reader .
Akhir dari uji sitotoksisitas melalui uji MTT
memberikan informasi % sel yang mampu bertahan
hidup, sedangkan pada organ target memberikan
informasi langsung tentang perubahan yang terjadi
pada fungsi sel secara spesifik. Berikut adalah
persamaan yang digunakan untuk menghitung
prosentase sel yang hidup.

%Sel Hidup =
Perlakuan+ Kontrol Media
Kontrol Sel+ Kontrol Media
x 100%

HASIL DAN PEMBAHASAN
Kolagen
Pada proses isolasi kolagen dilakukan dengan
menggunakan kulit ikan Lele Sangkuriang dengan
berat basah 55 gr melalui ekstraksi dalam asam
asetat 0,5 M selama 24 jam. Kolagen yang
didapatkan dari hasil isolasi adalah 13,85 gr
sehingga diperoleh kadar kolagen yang terkandung
dalam kulit ikan Lele Sangkuriang sebesar 25, 18%.
J umlah prosentase kolagen ini mendekati jumlah
prosentase kolagen dari channel catfish (Ictlaurus
punctaus) yaitu 25,8% (Liu et al., 2007). Hal ini
menunjukkan bahwa kulit ikan Lele Sangkuriang
dapat digunakan sebagai sumber kolagen.
Scaffold Kolagen-Hidroksiapatit
Pembuatan scaffold kolagen-hidroksiapatit
dilakukan secara in situ dengan mencampurkan
kolagen kulit ikan Lele Sangkuriang dengan variasi
5%, 10%, 15%, 20% dan 25% dengan larutan
hidroksiapatit. Scaffold yang dihasilkan tampak
seperti pada gambar berikut ini.

Gambar 1. Scaffold Kolagen-Hidroksiapatit

Gambar 2. Hasil FTIR Scaffold Kolagen-Hidroksiapatit
FTIR (Fourier Transform Infrared
Spectroscopy)
Analisis spektrum FTIR scaffold kolagen-
hidroksiapatit pada Gambar 2 membuktikan bahwa
scaffold kolagen-hidroksiapatit terdiri dari dua
komponen utama, yaitu kolagen dan hidroksiapatit.
Hal ini dibuktikan dengan susunan utama scaffold
yang berupa spektrum FTIR kolagen dan
hidroksiapatit dengan sedikit pergeseran absorbansi
bilangan gelombang. Pada kolagen kulit ikan Lele
terjadi pergeseran ikatan amida yang mengabsorbsi
N-H stretching dari 3267,89 cm
-1
, C=O stretching
dari 650,1 cm
-1
, C-N Stretching vibration 1508,75
cm
-1
, C-H stretching pada 1212.11 cm
-1
(Liu et al.,
2006). Pada hasil FTIR hidroksiapatit
menghasilkan pergeseran pita absorpsi gugus
hidrogen (–OH) pada 3546,62 cm
-1
dan 632,09
cm
-1
, dan gugus fosfat pada 1067,73 cm
-1
, 1063,93
cm
-1


(Ramli dkk., 2011), dan 574,74 cm
-1
(J ie and
Yubao, 2004).
Densitas, Porositas, Kekuatan Tekan
Hasil analisis nilai densitas dan porositas
scaffold kolagen-hidroksiapatit menunjukkan
bahwa prosentase kolagen berpengaruh terhadap
nilai densitas dan porositas scaffold. Nilai
maksimum densitas dimiliki scaffold kolagen 10% -
HA, yaitu 0,187 gr/cm
3
dengan porositas terendah
yaitu 55,53%, dan porositas tertinggi dimiliki oleh
scaffold kolagen 25%-hidroksiapatit, yaitu 70,38%
dengan densitas terendah 0,156 gr/cm
3
. Hal ini
membuktikan bahwa nilai densitas berbanding
terbalik nilai porositas. Nilai densitas dan porositas
scaffold kolagen-hidroksiapatit secara keseluruhan
telah sesuai dengan standar tulang cancellous, yaitu
densitas 0,1-1 gr/cm
3
(Ficai et al., 2011) dan
porositas 50-90% (Liu and Webster,2007).
Sehingga scaffold kolagen-hidroksiapatit berbasis
kolagen kulit ikan Lele Sangkuriang dapat
diaplikasikan sebagai bone tissue engineering untuk
proses penyembuhan jaringan tulang yang rusak.
Nilai kekuatan tekan berhubungan erat dengan
densitas dan porositas karena nilai kekuatan tekan
berbanding lurus dengan densitas, dan berbanding
terbalik dengan nilai porositas. Hal ini telah sesuai
dengan penelitian bahwa nilai kekuatan tekan
tertinggi dimiliki oleh scaffold kolagen 10%-
hidroksiapatit, yaitu 14,95%. Meskipun nilai
scaffold kolagen-HA yang dihasilkan tidak sesuai
dengan referensi tulang cancellous, yaitu 2-12 MPa

3
4
8
7
.5
9
3
1
6
8
.1
8
2
3
6
5
.4
2
1
6
5
0
.3
1
1
4
4
9
.6
1
1
4
0
1
.2
4
1
0
6
3
.9
3
9
8
9
.9
0
8
7
9
.7
8
6
3
2
.0
9
5
7
4
.7
4
5
2
8
.2
4
4
0
6
.1
9
500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000
Wavenumber cm-1
0
2
0
4
0
6
0
8
0
1
0
0
1
2
0
1
4
0
T
ra
n
s
m
itta
n
c
e
[%
]


B 94
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

(Ficai et al., 2011), namun fungsi kekuatan tekan
pada scaffold untuk aplikasi bone tissue
engineering sebagai penahan bone crash telah
digantikan oleh penyanggah (bandage) tulang.

Tabel 1. Hasil Data Uji Densitas
No. Prosentase Kolagen Densitas (gr/cm
3
) Porositas (%)
σ (KPa)
1. 0 % 0, 1621 69,93
5,690
2. 5% 0,1640 68,89
6,097
3. 10% 0,1867 57,88
14,950
4. 15% 0,1675 68,82
11,760
5. 20% 0,1583 69,97
3,190
6. 25% 0,1565 70,38
2,670



Gambar 3. DiagramBatang Pengaruh Prosentase Kolagen pada Densitas Scaffold Kolagen-Hidroksipatit


Gambar 4.DiagramBatang Pengaruh Prosentase Kolagen pada Porositas Scaffold Kolagen-Hidroksipatit

0,14
0,16
0,18
0,2
0
%
5
%
1
0
%
1
5
%
2
0
%
2
5
%
D
e
n
s
i
t
a
s

(
g
r
/
c
m
3
)

Prosentase Kolagen (%)
Densitas
Densitas
0,00%
50,00%
100,00%
0
%
5
%
1
0
%
1
5
%
2
0
%
2
5
%
P
o
r
o
s
i
t
a
s

(
%
)

Prosentase Kolagen(%)
Porositas
Porositas

B 95
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012


Gambar 5. DiagramBatang Pengaruh Prosentase Kolagen pada Nilai Kekuatan Tekan Scaffold Kolagen-Hidroksipatit

Scanning Electron Microscope (SEM)

(a)

(b)

(c)
Gambar 6. (a), (b), (c) dan (d) menunjukkan penampang melintang scaffold kolagen-hidroksiapatit dengan perbesaran yang berbeda-beda.
Gambar 6. (a). menunjukkan struktur penampang
melintang serat-serat kolagen pada perbesaran 2.500
kali. Gambar 6. (b). menunjukkan struktur
penampang melintang hidroksiapatit pada perbesaran
50000 kali yang berupa butiran-butiran kristal sesuai
dengan hasil SEM hidroksispatit pada penelitian
Widiyastuti dkk., 2009. Dan Gambar 6 (c) scaffold
kolagen-hidroksiapatit dengan perbesaran 15.000 kali.
Berdasarkan hasil SEM pada Gambar 6 (c)
menunjukkan bahwa scaffold kolagen-hidroksiapatit
yang dihasilkan memiliki pori-pori ±3,316 µm dan
memiliki permukaan yang bergranul akibat
hidroksiapatit yang menempel pada serat-serat
kolagen sehingga memudahkan sel osteoblast
menempel pada scaffold. Hal ini memberikan
keuntungan tersendiri bagi scaffold sebagai implan
tulang karena memicu percepatan reaksi antara
scaffold dan jaringan tulang disekitarnya sehingga
proses penyembuhan tulang lebih cepat terjadi
(Laurencin and Nair, 2008). Meskipun nilai
makroporous tidak sesuai dengan yang diharapkan
yaitu 50-400 µm, tapi tidak ada tetapan ukuran pori
yang pasti untuk tiap-tiap jaringan tulang di tubuh,
karena tiap-tiap bagian-bagian tulang memiliki
karakteristik berbeda yang cocok untuk melakukan
migrasi, proliferasi, adhesi, dan diferensiasi. Oleh
karena itu, untuk mengetahui lebih detail tentang
peran scaffold kolagen-hidroksiapatit dengan
makroporous ±3,316 µm dalam migrasi, proliferasi,
adhesi, dan diferensiasi untuk perbaikan jaringan
tulang diperlukan uji secara in vivo pada hewan coba.
Uji MTT
Pada uji MTT menggunakan sel fibroblast BHK-
21 (Baby Hamster Kidney), dengan hasil tampak pada
Tabel 4.
Tabel 4. Hasil Uji MTT
No. Kontrol Sel Kontrol Media
Kontrol Perlakuan
Hidroksiapatit Scaffold Kolagen-Hidroksiapatit
1. 0,0900 0,0870 0,0930 0,0810
2. 0,0810 0,0830 0,0850 0,0700
3. 0,1070 0,1090 0,1080 0,1010
0
10
20
0% 5% 10% 15% 20% 25%
K
e
k
u
a
t
a
n

T
e
k
a
n

(
K
P
a
)

Prosentase Kolagen
Kekuatan Tekan
Kekuatan Tekan

B 96
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

4. 0,1060 0,1120 0,1110 0,0970
5. 0,0680 0,0700 0,0680 0,0540
6. 0,1060 0,1080 0,1090 0,0920
7. 0,0820 0,0860 0,0850 0,0700
8. 0,0870 0,0880 0,1200 0,0780
Rata-rata 0,090875 0,092875 0,097375 0,080375

Sel Hidup (%) =
0,097375 +0,092875
0,0900875 +0,092875
x 100%
= 103,5374%

Hasil prosentase sel BHK-21 yang hidup pada
scaffold kolagen-hidroksiapatit adalah sebagai
berikut.

Sel Hidup (%) =
0,080375 +0,092875
0,090875 +0,092875
x 100%= 94,2857%

Berdasarkan hasil uji MTT dapat diketahui
bahwa hidroksiapatit dan scaffold kolagen-
hidroksiaptit dengan sel hidup 103,5374% dan
94,285% tidak bersifat toksik karena prosentase sel
hidup ≥ 60%. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian
Rubianto yang menyatakan suatu sampel tidak
bersifat toksik jika prosentase sel hidup mencapai
92,3%-100% (Meizarni, 2005).
KESIMPULAN
Prosentase kolagen basah yang dihasilkan dari
ekstraksi kolagen kulit ikan Lele Sangkuriang dalam
pelarut asam asetat adalah ±25,18%. Prosentase
kolagen terhadap hidroksiapatit dalam scaffold
memiliki pengaruh terhadap nilai densitas, porositas
dan kekuatan tekan. Nilai densitas dan kekuatan
tekan tertinggi dimiliki oleh 10% kolagen-
hidroksiapatit dengan nilai 0,1867 gr/cm
3
dan 14,950
KPa. Nilai porositas tertinggi dimiliki oleh 25%
kolagen-hidroksiapatit dengan 70,38%, dan hasil
SEM (Scanning Electron Microsope) menunjukkan
penampang melintang scaffold memiliki makroporous
±3, 316 µm, serta hasil uji MTT yang menunjukkan
bahwa scaffold kolagen-hidroksiapatit tidak bersifat
toksik.
SARAN
Dalam rangka mengetahui kualitas kolagen dari
kulit ikan Lele Sangkuriang dapat dilakukan uji SDS-
Polyacrylamade Gel Electrophoresis (SDS-PAGE),
analisis asam amino, swelling test, dan viskositas.
Dan untuk mengetahui fungsi dan peran scaffold
kolagen- hidroksiapatit sebagai bone repair
diperlukan uji secara in vivo pada hewan coba
sehingga dapat diketahui secara jelas terjadinya
proliferasi, migrasi dan attachment cell.


UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih kami ucapkan pula kepada
Dr. Prihartini Widiyanti, drg., M.Kes dan Dr.
Ferdiansyah, dr., SPOT atas saran, kritik dan
bimbingan dalam penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Bareil, Remi Parenteau. Gauvin, Robert. Berthod,
François. 2010. Collagen-Based Biomaterials
for Tissue Engineering Applications. Material,
2010: 3:1863-1887
Carrico, Ana Claudia. Farracho, Marta. Nunes,
Cecília. Ruela, Ana Margarida. Semedo, J oão.
2007. Bone Tissue Engineering: Production of
Scaffold. Faculdade de Medicina, Universidade
de Lisboa
Feng, Wenpo. Tang, Keyong. Zheng, Xuejing. Qr,
Yuanming. Liu, J ie. 2009. Preparation and
Characterization of Porous
Collagen/Hydroxyapatite/Gum Arabic
Composit. Zhengzou University: Cina
Ficai, Anton. Andronescu, Ecaterina. Voicu, Georgeta.
Ficai, Denisa. 2011. Advances in Composite
Materials for Medicine and Nanotechnology.
Politehnica University of Bucharest, Faculty of
Applied Chemistry and Materials Science:
Romania
Friess W. Collagen - Biomaterial for Drug Delivery.
Eur J Pharm Biopharm, 1998;45:113-136
Gelse, K. Poschl, E. Aigner, T. 2003. Collagens-
Structure, Function, and Synthesis. Advanced
Drug Delivery, 2003;55:1531-1546
J ie, Wei. Yubao, Li. 2003. Tissue Engineering
Scaffold Material of nano-Apatite Crystals and
Polyamide Composite. European Polymer
J ournal 2004;40:509–515
Kordi H, M. K., Ghufron. 2010. Budi Daya Ikan Lele
di Kolam Terpal. Lily Publisher: Yogyakarta
Kutz, Myer. 2003. Standard Handbook of Biomedical
Engineering and Design. McGraw-Hill: New
York
Laurencin, Cato T. Nair, Lakshmi S. 2008.
Nanotechnology and Tissue Engineering .
CRC Press Taylor & Francis Group. Boca
Raton. Hlm. 329-347
Lawson, AC. Czernuszka, J T. 1998. Collagen–
Calcium Phosphate Composites. Proc Instr
Mech Eng, 1998;212(11):413–438

B 97
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Liu, HaiYing. Li, Ding. Guo, ShiDong. 2006. Studies
on Collagen from The Skin of Channel Catfish
(Ictalurus punctaus). Food Chemistry,
2007;101: 621–625
Peranginangin, Rosmawaty. Kusumawati, Rinta.
Apriantoro, Eko Wahyudi. 2008. Isolasi dan
Karakteriasasi Kolagen yang Diekstraksi dari
Kulit Ikan Lele Kerapu (Epinephelus tauvina).
Seminar Nasional Tahunan V Hasil Penelitian
Perikanan dan Kelautan, 26 J uli 2008, PP-23.
Rodrigues, C.V.M. Serricellab, P. Linhares, A.B.R.
Guerdes, R.M. Borojevic, R. Rossi, M.A.
Duarte, M.E.L. Farinac, M. Characterization
of Bovine Collagen-Hydroxyapatite Composite
Scaffold for Bone Tissue Engginering.
Biomaterials, 2003; 24:4987-4997
Tierney, Claire M. Haugh, Matthew G. Liedl, J akob.
Mulcahy, Fergal. Hayes, Brian. O’brien, Fergal
J . 2009. The effect of Collagen Concentration
and Crosslink Density on Biological,
Structural and Mechanical Properties of
Collagen-GAG Scaffolds for Bone Tissue
Engineering. J ournal of the Mechanical
Behaviour of Biomedica Materials,
2009;2(2):202-9
Wahl, DA. Czernuska, J T. 2006. Collagen-
Hydroxyapatite Composites for Hard Tissue
Repair. European Cells and Materials,
2006;11:43-56



B 98
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Karakterisasi Genteng Berbahan Pasir Merapi Dengan Aditif Abu Kayu Albasia Untuk
Optimalisasi Daya Serap Air Dan Konduktifitas Panas
Chotibul Umam
(1)
, Suparmi
(2)
,Harjana
(2)

1. Mahasiswa Ilmu Fisika, Pasca Sarjana, UNS.
2. Dosen Ilmu Fisika, Pasca Sarjana, UNS
Email: umambkc@gmail.com
ABSTRAK
Genteng merupakan kebutuhan masayarakat sebagai atap rumah termasuk kelompok keramik kasar. Selama ini
masyarakat pengrajin memilih bahan dasar berdasar pengalaman yang diperoleh secara turun temurun,
penggunaan bahan dasar alternatif belum banyak dilakukan. Untuk meningkatkan kualitas produksi dengan
beya yang murah diharapkan produksi genteng menggunakan bahan dasar atau adisi dari lingkungan sekitar
yang melimpah seperti pasir merapi dan abu kayu albasia. Karakterisasi dilakukan untuk memperbaiki mutu
genteng terdiri dua jenis yaitu karakterisasi bahan dasar dan karakterisasi prototype sampel yang meliputi
parameter kuat tekan, kuat patah, daya serap air serta konduktifitas panas. Penelitian ini bertujuan untuk
menentukan: pengaruh bahan adisi terhadap kuat tekan , kuat patah, daya serap air dan konduktifitas panas,
perbandingan komposisi bahan dasar (tanah liat, pasir merapi dan abu kayu albasia).Penelitian ini
menggunakan metode aksperimen dengan melakukan observasi lapangan di sentra pengrajin genteng.
Pelaksanaan pembuatan dan pengukuran prototype sampel dengan berbagai komposisi dilakukan di
laboratorium MIPA UNS. Analisis bahan dasar menggunakan XRF Ranger dengan kelembutan 120 mesh.
Tahap pembuatan prototype sampel meliputi proses pencampuran, mollding dua kali, pencetakan dengan beban
10 ton, pengeringan dan pembakaran bersuhu 800°C kecepatan 20 °C/mnt ditahan selama 3 jam. Hasil
penelitian menunjukkan adanya pengaruh bahan adisi terhadap kuat tekan,kuat patah, daya serap air dan
konduktifitas panas, adanya hubungan daya serap air dengan konduktifitas panas. Hasil uji prototype sampel
pada tingkat optimal memiliki massa jenis(1,60 ± 0,07) gram/cm
3
, kuat tekan (66 ± 4) Kg/cm²(mutu III), kuat
patah (136 ± 7) Kg/cm²(mutu II), daya serap (19,0 ± 0,9)% mutu III dan konduktifitas panas (0,21 ± 0,02)

°
pada perbandingan komposisi bahan tanah liat, pasir merapi dan abu kayu albasia adalah 80:19:1
Kata kunci : Karakterisasi, Genteng, bahan, optimalisasi, komposisi
PENDAHULUAN
Pembangunan perumahan mengalami
perkembangan yang cukup pesat, sehingga
permintaan akan bahan dasar bangunan maupun
kebutuhan bahan bangunan meningkat, berakibat
lahan tanah yang digunakan untuk bangunan atau
untuk pembuatan bahan bangunan seperti batu bata
dan genteng. PUBI (1986). Genteng keramik adalah
suatu unsur bangunan yang berfungsi sebagai penutup
atap yang terbuat dari tanah liat dengan atau tanpa
dicampur bahan tambahan, dibakar pada suhu tinggi
sehingga tidak dapat hancur apabila direndam dalam
air (I Putu, 2009). Desa Tegowanuh terdapat 754 KK,
jumlah pengrajin genteng 427 KK merupakan
warisan turun temurun, bahan dasar genteng tanah
liat, pasir halus dari sungai progo dengan takaran
tanpa ukuran yang pasti. Kwalitas bahan dasar dilihat
dari warna tanpa mengetahui kandungan material
tanah sebenarnya, pengambilan tanahpun kurang
memperhatikan kesuburan lahan. maka diperlukan
informasi analisis kandungan bahan baku dan bahan
alternatif.
Industri pengolahan kayu albasia di kabupaten
temanggung banyak bermunculan hal ini sangat
menguntungkan pengrajin dikarenakan banyaknya
limbah kayu yang berupa sedetan atau serbuk gergaji
kayu albasia sebagai bahan bakar genteng yang
melimpah. Kayu-kayu yang dipergunakan sebagai
bahan bakar akan menghasilkan abu kayu `hasil
pembakaran setiap selesai pembakaran genteng.
Menurut Haygreen,J .G.(1987) dalam penelitian
Sorintan (edisi 2,juli 2009) bahwa abu hasil
pembakaran kayu adalah 0,1% dari berat kayu kering.
sedangkan Yulianingsih (2007) manyatakan Abu
bekas pembakaran dapat ditambahkan sebagai
capuran genteng seperti abu daun bambu atau sekam
padi. Berpengaruh terhadap parameter genteng.
Peristiwa erupsi Merapi 2010 masih berbekas di
dalam benak kita. Dibalik itu semua pasti ada hikmah
yang dapat kita ambil salah satunya adalah material
vulkanik hasil erupsi. Kondisi pasca erupsi hal patut
dicermati adalah melimpahnya material vulkanik
(berupa pasir dan batu) yang tersebar di radius Merapi
dan akan tertransportasi ke arah hilir dalam bentuk
ancaman banjir lahar dingin. Material vulkanik erupsi
Merapi terdiri dari tiga macam yaitu pasir, batu dan
debu. Badan Tehnik Kesehatan Lingkungan (BTKL
1994) menyatakan bahwa kandungan SiO2 mencapai
54,56% dan memiliki potensi yang dapat
dimanfaatkan sebagai material keramik. Abu volkanik
merapi dimungkinkan hanya ada setelah peristiwa
letusan terjadi jadi hal ini bersifat temporer tetapi
material yang lain seperti pasir dan batu sangatlah
banyak, pasir merapi sangat dikenal masyarakat
merupakan bahan bangunan yang bagus dan berjuta-
juta meter kubik material merapi masih berada pada

B 99
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
bagian atas gunung merapi. Pasir merapi
mengandung Silika mencapai 58% (Amin, 2007 )
sehingga tingggal bagaimana kita akan dapat
memanfaatkan kekaaan alam ini tanpa merusak alam.
Beberapa mesin telah dimiliki pengrajin genteng
di desa Tegowanuh, antara lain mesin penggilingan
(molen) dengan dua kali proses penggilingan.
Penggilingan bertujuan untuk menekan porositas
genteng pada saat pembakaran ( J oelianingsih, 2007),
dan mesin press manual. Proses pengeringan
mengandalkan sinar matahari sehinggga jika cuaca
panas pengeringan cukup tiga hari tetapi jika musim
penghujan pengeringan mencapai lima sampai tujuh
hari. Proses produksi sangat menentukan kualitas
genteng, dikalangan masyarakat genteng yang
berkualitas adalah yang nyaring bunyinya jika
dipukul, ringan, tidak bocor, tidak mudah pecah saat
terkena air hujan dan tidak mudah ditumbuhi lumut.
Untuk meningkatkan kualitas dan efesiensi
produksi pada industri genteng perlu adanya
perhitungan secara cermat ukuran penggunaan tanah
liat (clay), pasir (feildspar), abu kayu albasia, kayu
bakar dan tenaga kerja yang selama ini kurang sesuai
dengan perhitungan baik secara ilmiah maupun
ekonomi.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: 1)
Mengetahui pengaruh abu kayu albasia sebagai
beradisi bahan genteng pasir merapi terhadap kuat
tekan, kuat lentur sebagai acuan standar kualitas
genteng, 2)Pengaruh abu kayu albasia sebagai
beradisi bahan genteng pasir merapi terhadap daya
serap air dan konduktivitas panas genteng, ,3)
Perbandingan komposisi bahan dasar genteng pasir
merapi berberadisi abu albasia untuk optimalisasi
daya serap air dan konduktifitas panas. Diharapkan
dari penelitian ini prospek industri genteng
Tegowanuh dapat meningkatkan perekonomian
masyarakat setempat dan menjadi tolok ukur kualitas
genteng secara umum sesuai SNI, dengan kelebihan
kualitas genteng yang mempunyai daya serap air kecil
dan konduktifitas panas yang rendah.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian dilakukan dua tahap yaitu tahap
observasi dan tahap experimen. Observasi lapangan
dilakukan utnuk mengetahui secara langsung proses
pembuatan genteng, observasi dilaksanakan di tiga
daerah industri pengrajin genteng yaitu : Desa
Tegowanuh Kecamatan Kaloran Kabupaten
Temanggung, J awa Tengah, Tahap eksperimen
menggunakan prototype sample, terlebih dahulu
dilaksanakan pengamatan kandungan bahan dasar
(tanah liat, pasir merapi dan abu kayu albasia)
menggunakan XRF pada kelembutan 120 mesh,
proses pembuatan prototype sample dimulai dari
pencampuran bahan dasar tanah liat dan pasir merapi
dengan perbandingan 80 : 20 ditambah abu kayu
albasia (0 2,5 5 7,5 10)% dari pasir merapi,
penggilingan dilakukan dua kali, pencetakan dengan
mesin press berkekutan 10 ton prototype sampel
berdimensi 3:2:2, pengeringan tahap pertama
didiamkan dalam ruangan selama 3 hari kemudian
dijemur selama 6 jam, dilanjutkan proses furnace
800°C, ditahan 3 jam, cepat rambat panas 20°C/menit,
pendinginan dilakukan prototype sampel masih tetap
berada dalam furnace selama 16 jam, furnace dalam
keadaan tidak aktif. Uji prototype sampel untuk
mengetahui parameter genteng dilihat dari kuat tekan,
kuat patah, daya serap air dan konduktifitas panas.
Alat-alat penelitian terdiri Alat-alat penelitian
terdiri dari : XRF Ranger, Ball mill, Panas
conductivity measuring APP OSK 4565-A Ogawa
Seiki CO,LTD , Kuat patah (IZOD Type Impact
Tester, Toyo Seiki,Ogawa.Co.LTD), Kuat tekan
(Iizima Scale 16 kg – 160 Kg, No.74-Tokyo), Neraca
Analitik (Meganexus MN 200), Ayakan ukuran 120
mesh, Ovenelektric (Nabertherm 1200°C), Mollding,
Gelas Ukur, J angka Sorong.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Analisa Bahan
Kualitas genteng ditentukan oleh bahan dasar
yang dipergunakan (tanah liat, pasir dan bahan
pencampur/beradisi). Hasil analisis XRF tanah liat
daerah Tegowanuh sebagai bahan dasar genteng
mengandung komposisi SiO
2
55,05%, Al
2
O
3
20,61%
dan Fe
2
O
3
17,03% , hasil tersebut sesuai dengan hasil
analisis tanah liat J atiwangi (Siswandi,dkk. 2004) dan
hasil analisis tanah liat lumpur Lapindo (Edhi
Wahyuni, 1998). Pasir ditambahkan berfungsi agar
tanah liat tidak terlalu lembek dan mudah dicetak,
pasir yang digunakan merupakan pasir merapi yang
diambil secara acak dari empat tempat yang berbeda
yaitu : a) pasir talun adalah pasir yang diambil dari
daerah kecamatan Talun kurang lebih berjarak 7 km
dari puncak merapi, b) pasir J umoyo adalah pasir
yang diambil dari desa J umoyo kecamatan Muntilan,
sampai saat ini merupakan daerah aliran lahar dingin
berupa pasir dan batu, c) pasir Merapi adalah pasir
merapi yang diperjual belikan didaerah-daerah dan
tampung di depo-depo penampungan pedagang pasir,
d) pasir Progo adalah pasir yang terdapat disepanjang
aliran sungai progo, pasir ini termasuk pasir sedimen.
Dari hasil analisi XRF seperti ditunjukkan pada
tabel 1, dari ke empat sampel pasir tersebut komposisi
senyawa kandungannya berbeda, secara kuantitas
SiO
2
(48,53 - 51,93)%, Al
2
O
3
(17,77 - 21,39) % dan
Fe
2
O
3
(8,53 – 16,01)%. Semakin tinggi konsentrasi
silika(SiO
2
) semakin berkurang konsentrasi Fe
2
O
3

Perbedaan komposisi ini dipengaruhi pada jarak
pengambilan sampel terhadap gungung Merapi dan
bagus sebagai bahan industri keramik/genteng,sedang
Andreastuti (1999)berpendapat bahwa fluktuasi SiO
2

dalam jangka panjang terjadi adanya kecenderungan
kenaikan komposisi yang jelas, hal ini terlihat baik
dari letusan yang sekarang maupun letusan masa lalu.




B 100
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
Tabel 1:Hasil analisa XRF komposisi pasir
No
Formula
Pasir
Talun
Pasir
J umoyo
Pasir
Merp
Pasir
Progo
Senyawa
% % % %
1 Na2O 4,97 6,21 5,8 3,42
2 MgO 1,69 2,02 3,16 3,22
3 Al2O3 18,1 17,77 17,23 21,39
4 SiO2 51,93 49,81 48,53 45,67
5 P2O5 0,91 0,87 0,76 0,75
6 SO3 0,43 0,41 0,24 0,37
7 K2O 3,35 3,07 2,46 1,51
8 CaO 8,32 8,06 9,59 5,19
9 TiO2 0,89 1,01 0,94 1,48
10 Fe2O3 8,53 9,83 10,47 16,01

Menurut penelitian Badan Tehnik Kesehatan
Lingkungan (BTKL. 1994) kandungan SiO
2
mencapai
54,56% dan uji komposisi kimia abu volkanik gunung
berapi memiliki potensi yang dapat dimanfaatkan
sebagai material keramik. Sesuai dengan pendapat
Asmuni FMIPA USU bahwa Kuarsa (SiO2) banyak
dipakai sebagai bahan industri seperti keramik,
sebagai bahan anorganik yang bukan logam. Bahan
dasar keramik berasal dari tambang (alam) yaitu :
SiO2, Al2O3, CaO, MgO, K2O, Na2O dan lainnya.
Alumina (Al2O3) dapat bersenyawa dengan air, alkali
K2O dan Na2O kedua bahan ini dapat menurunkan
titik lebur tabah liat. Besi berada dalam bentuk
hematite (Fe2O3) memberikan warna merah atau
coklat pada bahan ataupun hasil pembakaran produk
genteng. Bahan pengisi genteng antara lain pasir
silika, grog, abu batu bara dan abu kayu, sifat bahan
pengisi relatif keras, titik lebur tinggi, stabil (tidak
mengalami susut lagi). Abu kayu albasia banyak
mengandung kapur (CaO) 73,46% dengan massa
molar 56,077 g / mol, Putih keabu-abuan,memiliki
massa jenis 3,35 g/cm3, titik lebur 2572 ° C (2845 K),
titik didih 2850°C(3123K). Dalam proses pengeringan
alam memberikan indikasi bahwa prototype sampel
dengan komposisi (7,5-10)% timbul retak-retak kecil
dan lebih rapuh (mudah pecah) jadi keplastisan
sampel kecil. Hal ini sesuai dengan pendapat yang
menyatakan bahwa fungsi bahan pengisi sebagai
kerangka, mempercepat pengeringan dan mengurangi
keplastisan (Soepomo, 2010).








Tabel 2 : komposisi bahan dasar materialprototype genteng
No
Formula P.J umoyo Clay
Abu
Alba
Senyawa (%) (%) (%)
1
Na2O 6,21 0 0
2 MgO 2,02 0,68 2,83
3 Al2O3 17,77 20,61 0,74
4 SiO2 49,81 55,05 2
5 P2O5 0,87 0,81 3,59
6 SO3 0,41 0,4 3,31
7 K2O 3,07 1,2 11,57
8 CaO 8,06 1,19 73,46
9 TiO2 1,01 1,63 0
10 Fe2O3 9,83 17,03 0,62

Menurut Arini dalam Chotibul (2012) menyatakan
Silika (SiO2) memiliki 3 bentuk oksida yaitu kuarsa
tridimit dan kristobalit. Kuarsa mempunyai bentuk
heksagonal, massa jenis 2,65 grm/cm
3
, titik lebur
1600 °C. α-kuarsa jika dibakar diatas temperatur
573°C berubah menjadi β-kuarsa yang stabil pada
temperatur 870°C. J ika β-kuarsa diatas 870°C akan
berubah menjadi tridimit yang juga mempunyai
bentuk heksagonal, massa jenis 2,26 grm/cm
3
,titik
lebur 1670 °C. Α-tridimit stabil pada suhu bakar
117°C. Alumina (Al2O3) dapat bersenyawa dengan
air, alcali K2O dan Na2O kedua bahan ini dapat
menurunkan titik lebur lempung. Besi berada dalam
bentuk hematite (Fe2O3) memberikan warna merah
atau coklat pada bahan ataupun hasil pembakaran
produk genteng. Bahan pengisi genteng antara lain
pasir silika, grog, abu batu bara dan abu kayu, sifat
bahan pengisi relatif keras, titik lebur tinggi, stabil
(tidak mengalami susut lagi). Abu kayu albasia
banyak mengandung kapur (CaO) 73,46% dengan
massa molar 56,077 g/mol, Putih keabu-
abuan,memiliki massa jenis 3,35 g/cm3, titik lebur
2572 ° C (2845 K), titik didih 2850 ° C (3123 K) dan
dalam proses pembakaran terjadi reaksi dehidrasi,
kalsinasi dan oksidasi.
Massa Jenis
Massa jenis (ρ) merupakan salah satu identitas
suatu material didefinisikan sebagai perbandingan
antar massa (m) dalam gram, volume (V) dalam

3
.Pengukuran massa jenis, prototype direndam
dalam air selama 24 jam, hasil analisis penelitian
menunjukkan pada komposisi adisi 0% massa jenis
(1,80 ±0,06) gram/cm
3
, komposisi adisi 2,5% massa
jenis (1,70±0,08)gram/cm
3
, komposisi adisi 5% massa
jenis (1,60±0,07)gram/cm
3
, komposisi adisi 7,5%
massa jenis (1,50±0,04)gram/cm
3
dan menurun sesuai
dengan peningkatan penambahan bahan adisi 10%
massa jenis (1,4 0±0,08) gram/cm
3
. Berikut gambar
grafik komposisi adisi terhadap massa jenis.

B 101
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
10 7,5 5 2,5 0
1,8
1,7
1,6
1,5
1,4
Komp.Adisi (%)
M
a
s
s
a

J
e
n
i
s

(
g
r
a
m
/
c
m
3
)
95%CI for theMean
Interval Plot Of Massa Jenis

Gambar 1: grafik massa jenis terhadap komposisi adisi prototype
sampel genteng
gambar (1) menunjukkan semakin besar penambahan
bahan adisi massa jenis genteng semakin menurun
Hasil kuantitatif massa jenis ini sesuai dengan Syarif
(1991) dalam fisika bangunan UMB yang
menyatakan massa jenis genteng keramik 1,922
gram/cm
3
juga Hesmatri (2004) dalam penelitiannya
yang dilakukan pada pemanasan 1890 °C
mendapatkan massa jenis keramik 1,750
gram/cm
3
,sehingga pada komposisi adisi 5% lebih
kecil dari peneliti sebelumnya.
Kuat Tekan.
Kekuatan genteng merupakan parameter fisik
sedangkan aplikasi genteng sebagai atap rumah sangat
kecil penekanan benda lain terhadap genteng yang
terpasang. Kuat tekan diperoleh dengan menghitung
rasio beban maksimal yang diterima oleh prototype
sampel berupa balok dan luas permukaan yang diberi
beban. Rata-rata kuat tekan (89±6) Kg/cm²
komposisi0%,(71±3) Kg/cm² komposisi 2,5% (66±4)
Kg/cm² komposisi 5%, (60±5) Kg/cm² komposisi
7,5% dan (50,0±3,3)Kg/cm² komposisi 10%. Gambar
2 dibawah ini menunjukkan komposisi adisi terhadap
kuat tekan.
10 7,5 5 2,5 0
94
84
74
64
54
44
Komposisi Adisi (%)
K
u
a
t

T
e
k
a
n

(
K
g
/
c
m
²
)
95%CI for theMean
Interval Plot of Kuat Tekan

Gambar 2: grafik kuat tekan terhadap komposisi adisi prototype
sampel genteng
Berdasarkan grafik hubungan antara komposisi
bahan beradisi dengan kuat tekan prototype sampel
genteng menunjukkan penambahan bahan adisi(abu
kayu albasia) berpengaruh pada menurunnya nilai
kuat tekan pada prototype sample.
Kuat Patah.
Pengujian Kuat patah mengidentikan besar
kekuatan bahan terhadap beban maksimal yang dapat
mematahkan sampel.Menurut Susanti dan
Harjana(2011) semakin besar bahan beradisi
mengakibatkan partikel-pertikel benda uji menjadi
tidak rapat, hal ini disebabkan berkurangnya
keplastisan benda uji. Hasil uji didapatkan rata-rata
kuat patah (162 ±7)Kg/cm² pada komposisi 0%,(158
±5) pada komposisi 2,5%, (136 ±7) pada komposisi
5%, (117 ± 8) pada komposisi 7,5% dan (101 ±
8)Kg/cm² pada komposisi 0%. Berikut gambar grafik
komposisi adisi terhadap kuat patah.
10 7,5 5 2,5 0
170
160
150
140
130
120
110
100
90
Komposisi Adisi
K
u
a
t

P
a
t
a
h

(
K
g
/
c
m
²
)
95%CI for theMean
Interval Plot of Kuat Patah

Gambar 3: grafik kuat patah terhadap komposisi adisi prototype
sampel genteng
Gambar 3 menunjukkan makin besar bahan adisi (abu
kayu albasia) yang ditambahkan kuat patah semakin
menurun.
Daya Serap Air.
Daya serap air /Absorbsi adalah terserapnya atau
terikatnya suatu subtansi (absorbet) pada permukaan
yang menyerap (absorbent). Peristiwa absorbsi terjadi
karena molekul-molekul pada permukaan zat
memiliki gaya tarik dalam keadaan tak seimbang yang
cenderung tertarik kearah dalam (gaya kohesi
absorben lebih besar dari gaya adesi) .ketidak
simbangan gaya tarik tersebut mengakibatkan zat
yang digunakan sebagai fungsi penyerap cenderung
menarik zat lain yang bersentuhan dengan permukaan.
Hasil uji prototype sampel sebagai berikut : komposisi
0% Absorbsi air (16,8 ± 1,1)%, komposisi 2,5%
Absorbsi air (18,7 ±1,0)%, komposisi 5% Absorbsi
air (19,0 ±0,9)%, komposisi 7,5% Absorbsi air (19,8
±1,1)%,dan (20,3 ± 1,3)% pada komposisi 10%.
Berdasar SNI termasuk mutu III (Absorbsi air 20%).
Sebagai pembanding dari 50 prototype sampel
genteng jatiwangi (Bintang baru) dengan perlakuan

B 102
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
yang sama memiliki Absorbsi air (13,7 ±0,4)%. Abu
kayu albasia mengandung komposisi tertinggi CaO
dan miskin akan SiO2, ini sangat menjadikan
penurunan titik leleh yang akan berpengaruh pada
sifat fisika material, seperti penilaian absorbsi air,
densitas dan porositas. dengan kandungan CaO yang
tinggi maka sampel dapat lebih banyak menyerap air,
sehingga semakin banyak bahan beradisi pada
prototype sampel daya serap air semakin besar.
Gambar 4 menunjukkan bahwa semakin besar
prosentase komposisi adisi daya serap semakin besar.
Berikut ini adalah gambar grafik komposisi adisi
terhadap daya serap air.
10 7,5 5 2,5 0
0,22
0,21
0,20
0,19
0,18
0,17
0,16
0,15
Komposisi Adisi (%)
D
a
y
a

S
e
r
a
p

A
i
r
95%CI for theMean
Interval Plot of Daya SerapAir

Gambar 4: grafik Daya serap air terhadap komposisi adisi
prototype sampel genteng
Maka dapat disimpulkan bahwa abu kayu albasia
sebagai bahan beradisi genteng pasir merapi
berpengaruh terhadap daya serap air.
Konduktifitas Panas.
Konduktifitas panas adalah kemampuan
menghantarkan panas suatu material. Pada pengujian
konduktifitas termal digunakan dua pasang silinder,
silinder tersebut berdiameter 4 cm dengan ketebalan
rata-rata (3,84±0,09)mm dan (2,25±0,04)mm diuji
dengan alat pengukur konduktifitas APP OSK 4565-A
Ogawa Seiki, diperoleh hasil uji rata-rata pada
komposisi adisi 0% konduktifitas panas
(0,264±0,005)(
K Kal
m.jam.°C
), ), pada komposisi adisi 2,5%
konduktifitas panas (0,249 ±0,008)(
K Kal
m.jam.°C
), ), pada
komposisi adisi 5% konduktifitas panas (0,209 ±
0,016)(
K Kal
m.jam.°C
), pada komposisi adisi 7,5%
konduktifitas panas (0,136 ±0,005)(
K Kal
m.jam.°C
), pada
komposisi adisi 10% konduktifitas panas (0,124 ±
0,011)
K Kal
m.jam.°C
, Dari hasil uji konduktifitas panas
prototype sesuai dengan konduktifitas panas genteng
0,22
K Kal
m.jam.°C
, (Syarif Hidayat,UMB) dan juga
konduktifitas panas beton-batu bata 0,720
K Kal
m.jam.°C

(Giancolli, 2001). Gambar 3 menunjukkan semakin
besar prosentase komposisi bahan adisi nilai
konduktifitas panas semakin kecil. Hal ini sesuai
Wachid Suherman, (1987) Semakin baik suatu bahan
menghantarkan panas maka nilai konduktifitas panas
bahan semakin besar. Sifat termal bahan keramik
adalah kapasitas panas, koefisien ekspansi termal, dan
konduktivitas termal. Menurut Wijang (2006) bahwa
nilai konduktifitas komposit dipengaruhi oleh nilai
konduktifitas panas dari unsur-unsur penyusun
komposit. Semakin banyak pori-pori yang terjadi
rapat massa ρ(x) semakin kecil. Didasarkan
persamaan: cρ
∂T
∂t
= Ko

2
T
∂x
2
+ Q(x, t) Dawkins(2007)
secara fisis menyatakan bahwa konduktifitas panas
() sebanding dengan rapat massa ρ(x) artinya jika
rapat massa semakin kecil maka konduktifitas panas
semakin kecil dan sebaliknya. Dari hasil penelitian
dan berpedoman referensi maka kualitas prototype
sampel merupakan penghantar panas yang tidak baik.
jadi semakin banyak kandungan abu kayu albasia
sebagai bahan adisi berpengaruh menurunkan
konduktifitas panas genteng pasir merapi. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa abu kayu albasia sebagai
adisi bahan genteng pasir merapi berpengaruh
terhadap konduktifitas panas sampel. Berikut ini
gambar grafik komposisi adisi terhadap konduktifitas
panas prototype sampel.
10 7,5 5 2,5 0
0,275
0,250
0,225
0,200
0,175
0,150
0,125
0,100
Komposisi Adisi (%)
K
o
n
d
u
k
t
i
f
i
t
a
s

t
e
r
m
a
l

(
K

K
a
l
/
m
.
j
a
m
.
°
C
)
95% CI for the Mean
Interval Plot of Konduktifitas termal

Gambar 5: grafik konduktifitas panas terhadap komposisi adisi
prototype sampel genteng
KESIMPULAN
Berdasarkan kajian teori dan didukung adanya
hasil analisis serta mengacu pada perumusan masalah
yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, dapat
disimpulkan sebagai berikut: 1) Abu kayu albasia
sebagai beradisi bahan genteng pasir merapi
berpengaruh terhadap kuat tekan, kuat patah sebagai
acuan standar kualitas genteng.2) Abu kayu albasia
sebagai beradisi bahan genteng pasir merapi
berpengaruh terhadap daya serap air dan konduktifitas
termal. 3) sampel pada tingkat optimal memiliki
massa jenis(1,60 ± 0,07) gram/cm
3
, kuat tekan (66 ±
4) Kg/cm²(mutu III), kuat patah (136 ± 7)
Kg/cm²(mutu II), daya serap (19,0±0,9)% mutu III
dan konduktifitas panas (0,21 ±0,02)
KKal
m jam °C
pada

B 103
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
perbandingan komposisi bahan tanah liat, pasir
merapi dan abu kayu albasia adalah 80:19:1
DAFTAR PUSTAKA
Arini, R. Aprianti,S. Dan Subari. 2011. Identifikasi
Kualitas Produk Genteng Keramik Produksi
Industri Kecil Di Wilayah Aceh, J awa Tengah
Dan Nusa Tenggara Barat Berbasis Standar
Nasional Indonesia (SNI). J urnal
Standarisasi.Vol.13 No 2 Tahun 2011: 98-111
Ashcroft,Mermin,Neil W. 1976. Solid State Physics.
Sounders College Publishing (Copyright)
Chotibul Umam.2012. Optimalisasi Absorbsi Dan
Konduktifitas Panas Genteng Berbahan Pasir
Merapi Beradisi Abu Kayu Albasia.Prosiding
Seminar Fisika LIPI
Christman J .Richard.1988.Fundamentals Of Solid
State Physics.The Permissions Department.
Canada.
Departemen Pekerjaan Umum. 1978. "Peraturan
Genteng Keramik Indonesia",Lembaga
Penyelidikan Masalah Bangunan, Direktorat
J enderal Cipta Karya,Bandung.
Edhi Wahjuni dan Setyowati. 1998. Penggunaan
campuran lumpur lapindo terhadap
peningkatan kualitas genteng keramik.
Fakultas Teknik Unibraw Malang.
Giancolli. 2001. Fisika I ed 5. Erlangga. J akarta
(terjemahan)
J oelianingsih. 2004. Peningkatan Kualitas Genteng
Keramik Dengan Penambahan Sekam Padi
Dan Daun Bambu. Sekolah Pasca Sarjana. IPB.
Bogor
Kasmo& Maman Sulaeman. 1978. "Keramik sebagai
Bahan Bangunan", Lembaga Penyelidikan
Masalah Bangunan, Direktorat J enderal Cipta
Karya,Bandung.
Kohl H. Walter. 1964. Materials and Techniques For
Vacuum Devices. Reinhold Publishing
Corporation. New York
Martin J hon. 2006. Material For Enginering. Wodead
Publising United. Canbrige.England
Mulligan, J .A. 1942. "Handbook of Brick Masonry
Construction", McGraw-Hill Book Company,
New York & London.
Silaban Pantur. 1978. “Fisika”, Penerbit Erlangga,
J akarta
Siswandi,Sukandarrumidi dan Djoko Wintolo. 2004.
Pemanfaatan Batuan alterasi Studi kasus
batuan di G.Kuda, kec.Dukupuntang, Kab.
Cirebon .Tehnik Geologi,Pascasarjana. UGM.
J ogjakarta
Soedjono dan Yogi Prapnomo. 1996. "Ketrampilan
Keramik", Penerbit Angkasa,Bandung

B 104
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
Upaya Perbaikan Kualitas Pada Proses Pembuatan Bioselulosa–Kitosan Dengan
Gliserol Sebagai Plasticizer Serta Pemanfaatannya Dalam Bidang Medis Sebagai
Penutup Luka
Djony Izak Rudyardjo dan Riesca Ayu Kusuma Wardhani
Program Studi Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga
Emai l : dj oni _unai r @yahoo. com
Abstrak
Telah dilakukan penelitian sintesis dan karakterisasi bioselulosa-kitosan dengan penambahan gliserol sebagai
plasticizer. Penambahan gliserol sebagai plasticizer berfungsi untuk memperlemah kekakuan supaya bioselulosa
kitosan terhindar dari keretakan dan bersifat lebih fleksibel. Sukrosa yang ditambahkan merupakan sumber
glukosa, sedangkan urea yang ditambahkan merupakan sumber karbon. Penambahan kitosan berfungsi untuk
memperaktif dari kinerja bioselulosa serta memperbaiki struktur permukaan. Hasil uji sifat mekanik (Tensile
strength dan Elongation at break) pada bioselulosa-kitosan yang berbahan dasar bioselulosa dan kitosan
dengan variasi penambahan gliserol 1 ml – 4 ml menunjukkan bahwa bioselulosa-kitosan-gliserol memiliki
karakteristik yang memenuhi standar sifat mekanik kulit manusia. Bioselulosa-kitosan-gliserol terbaik
ditunjukkan dengan penambahan komposisi gliserol sebesar 2 ml yang memiliki nilai ketebalan sebesar 126,6 ±
6,7 µm, kuat tarik sebesar 27,62 ± 11 MPa, elongasi sebesar 37,08 ± 0,99 %, struktur permukaannya yang rata,
tidak terdapat gelembung, bersifat non toksik serta memiliki nilai ketahanan terhadap air sebesar 55,3 ± 0,6 %.
Penelitian tersebut menunjukkan penambahan komposisi gliserol yang paling efektif adalah 2 ml gliserol dalam
100 ml media nira siwalan.
Kata kunci : bioselulosa, kitosan, gliserol, plasticizer.

PENDAHULUAN
Setiap makhluk hidup secara biologis memiliki
fungsi perlindungan tubuh terhadap infeksi penyakit
luka, apabila terdapat luka salah satu metode untuk
mengobatinya dapat ditutupi atau dirawat dengan
menggunakan penutup luka yang telah dilapisi dengan
bahan antimikroba. Penutup luka yang baik adalah
kulit dari pasien tersebut yang bersifat permeabel
terhadap uap dan melindungi jaringan tubuh bagian
dalam terhadap cedera mekanis dan infeksi.
Bioselulosa merupakan polimer alam yang bersifat
sama seperti hidrogel yang tidak dijumpai pada
selulosa alam. Sifat hidrogel dari bioselulosa
memberikan daya serap yang lebih baik dan
memberikan karakteristik yang mirip seperti kulit
manusia. Kemiripan sifat dengan kulit manusia dari
bioselulosa penggunaannya dimanfaatkan serta terus
dikembangkan dalam medis antara lain digunakan
sebagai pengganti kulit sementara untuk merawat luka
bakar serius (Ciechanska,D,2004). Pemanfaatan
lainnya juga digunakan untuk menutup luka yang baik
untuk pasien yang cedera mekanis maupun akibat
infeksi. Pembentukan bioselulosa adalah dari hasil
perubahan monosakarida pada media fermentasi
menjadi bioselulosa oleh Acetobacter-xylinum
dengan menggunakan media nira kelapa atau nira
siwalan (Bergenia, 1982).
Dalam aplikasinya untuk keperluan medis
penggunaan bioselulosa hanya dalam waktu
sementara, disebabkan kekuatan serta sifat bioaktif
yang masih rendah. Untuk memperbaiki serta
meningkatkan sifat bioaktif dari bioselulosa perlu
dilakukan perlakuan dengan menggabungkan bersama
polisakarida aktif seperti kitosan, yang mana kitosan
sendiri memiliki kegunaan yang cukup luas dalam
medis (Goosen,M.F.A, 1997). Serat kitosan
digunakan sebagai benang jahit dalam pembedahan
yang dapat diserap oleh tubuh manusia, sebagai
perban penutup luka dan sebagai carrier obat-obatan.
Kitosan juga mempengaruhi proses pembekuan darah
sehingga dapat digunakan sebagai haemostatik.
Kitosan juga bersifat dapat didegradasi secara
biologis, tidak beracun, nonimmunogenik dan cocok
secara biologis dengan jaringan tubuh hewan
(Phillips,and Williams, 2000).
Untuk menghasilkan kualitas material bioselulosa
kitosan yang baik tidak terlepas dari penggunaan zat
pemlastis yang ditambahkan. Zat pemlastis adalah
bahan organik yang ditambahkan ke dalam material
bioselulosa kitosan dengan maksud untuk
memperlemah kekakuan dari polimer, sekaligus
meningkatkan fleksibilitas polimer. Di mana salah
satu bahan yang dapat digunakan sebagai zat
pemlastis adalah gliserol. Baik bioselulosa bakteri
maupun kitosan memiliki gugus hidroksil sehingga
bahan pemlastis yang mempunyai gugus hidroksil
seperti gliserol yang diharapkan dapat berinteraksi
dengan kedua bahan tersebut dapat menghasilkan
suatu material yang lunak, ulet dan fleksibel.
Berdasarkan hal tersebut maka penelitian yang
akan dilakukan adalah membuat material bioselulosa
kitosan dengan bahan dasar bioselulosa dan kitosan
dengan plasticizer gliserol. Bioselulosa dalam
penelitian ini dapat dihasilkan dalam medium nira
siwalan dengan penambahan sukrosa menggunakan
Acetobacter Xylinum dengan penambahan urea.
Kitosan yang digunakan berasal dari kepiting karena

B 105
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
prosentase kitinnya yang tinggi daripada organisme
yang lain. Sedangkan plasticizer yang digunakan
adalah gliserol karena gliserol merupakan bahan yang
murah, sumbernya mudah diperoleh, dapat
diperbaharui, ramah lingkungan karena mudah
terdegradasi dalam alam dan juga pada konsentrasi
25% gliserol bekerja sebagai antiseptik. Sedangkan
aplikasi sebagai material bioselulosa-kitosan-gliserol
sangat ditentukan oleh karakterisasi yang meliputi
ketebalan, kekuatan tarik (Tensile strength dan
Elongation at break), struktur permukaan,
spektroskopi IR dan ketahanan terhadap air.
METODE PENELITIAN
Tahap Isolasi Kitin dari Cangkang Kepiting
a. Tahap Deproteinasi
Cangkang kepiting yang sudah dihaluskan
dimasukkan ke dalam gelas beker dengan
ditambahkan natrium hidroksida 3,5% dengan
perbandingan 1:10 (w/v). Proses deproteinasi
dilakukan selama ±2 jam pada suhu 75
o
C dengan
pengadukan magnetik stirer. Kulit udang dicuci
dengan menggunakan aquades hingga pH air cucian
netral. Setelah itu dikeringkan dalam oven pada suhu
80
o
C sampai kering. Dalam proses ini didapatkan
crude kitin.
b. Tahap Demineralisasi
Crude kitin dimasukkan ke dalam gelas beker
kemudian ditambahkan larutan HCl 2N dengan
perbandingan antara crude kitin dengan larutan HCl
1:15% (w/v). Pada proses ini dilakukan dengan
pengadukan menggunakan magnetik stirer selama 30
menit pada suhu kamar. Setelah itu crude kitin dicuci
dengan aquades hingga pH air cucia netral, kemudian
dikeringkan dalam oven pada suhu 80
o
C sampai
kering. Dalam proses ini akan menghasilkan kitin.
Tahap Tranformasi Kitin menjadi Kitosan
Proses ini dilakukan dengan cara memasukkan
kitin ke dalam gelas beker, kemudian ditambahkan
larutan NaOH 60% dengan perbandingan kitin dan
larutan NaOH 1 : 10 (w/v). Campuran direbus dengan
suhu 110°C selama 2 jam dengan pengadukan dengan
magnetik stirer. Setelah itu menyaring campuran,
kemudian mencucinya dengan aquades hingga
didapatkan pH air cucian netral. Langkah selanjutnya
adalah dengan mengeringkan di dalam oven dengan
pada suhu 80°C sampai kering, sehingga diperoleh
kitosan. Kitosan yang diperoleh, kemudian ditimbang
dan dicatat.
Pembuatan Bioselulosa
Sebanyak 100 ml air nira siwalan hasil
penyaringan dituangkan ke dalam gelas beaker yang
telah dilengkapi dengan pengaduk magnet, ditambah
10 gram gula pasir dan 0,5 gram urea, selanjutnya
diaduk hingga larut. Campuran diasamkan dengan
penambahan CH
3
COOH 25% hingga pH = 4 dan
ditambahkan 3 gram kitosan diaduk hingga larut
kemudian ditambahkan 1 ml gliserol 25 % diaduk
sambil dipanaskan hingga mendidih selama 15 menit.
Selanjutnya dituangkan dalam keadaan panas ke
dalam wadah fermentasi yang telah disterilkan dan
ditutup. Dibiarkan hingga suhu kamar, lalu
ditambahkan 20 ml media starter Acetobacter xylium.
Difermentasi selama 8-14 hari pada suhu kamar
sambil dilakukan pengamatan pembentukan pelikel,
selanjutnya lapisan yang terbentuk dicuci dengan
aquades kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu
70 – 80 °C. Selanjutnya diulangi perlakuan yang sama
dengan penambahan gliserol 25 %, masing-masing
sebanyak 2 ml, 3 ml, dan 4 ml. Produk yang diperoleh
dikarakterisasi secara spektroskopi FT-IR, uji
ketebalan, uji morfologi, uji ketahanan terhadap air,
lalu dilakukan uji tarik.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembuatan Kitosan
Dalam penelitian ini produk yang diperoleh dari
74,6753 gram cangkang kepiting didapatkan 19,6393
gram kitosan. Untuk mengetahui bahwa produk yang
dihasilkan dari proses deasetilasi kitin tersebut adalah
kitosan, maka dilakukan Uji Spektrokopi IR. Hasil IR
diperoleh dalam bentuk spektrum yang
menggambarkan besarnya nilai % transmitan dan
bilangan gelombang untuk kitosan, seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 1. di bawah ini.

Gambar 1. Spektrumkitosan
Dari spektrum IR di atas terlihat tajam yang khas
pada gugus karboksil amida pada daerah 1653,48 cm
-
1
. Selain itu juga terdapat puncak pita serapan gugus
hidroksil (-O-H) pada daerah 3445,98 cm
-1
.
Perhitungan derajat deasetilasi menggunakan spektra
IR ditentukan dengan absorbansi dari gugus amida
dan OH.
Dari hasil penelitian berdasarkan analisis spektra
IR dengan menggunakan metoda base-line, maka
didapatkan nilai perhitungan untuk derajar deasetilasi
dari kitosan dari cangkang sebesar 82,272%. Standar
nilai untuk derajat deasetilasi kitosan adalah
DD>70%. Derajat deasetilasi menentukan banyaknya
gugus asetil yang telah dihilangkan selama proses
transformasi dari kitin menjadi kitosan. Semakin
besar derajat deasetilasi, maka kitosan akan semakin
aktif karena semakin banyak gugus amina yang
D:\SAMPEL\Fisika Unair\Riesca\Kitosan Matang.0 Kitosan Matang Pellet 22/03/2012
3
8
5
2
.5
7
3
4
4
5
.9
8
2
8
8
1
.9
0
2
3
5
9
.7
4
2
1
3
7
.0
8
1
6
5
3
.4
8
1
4
2
1
.2
1
1
3
8
0
.5
6
1
3
2
3
.4
7
1
2
5
6
.4
3
1
1
5
4
.4
9
1
0
8
2
.3
2
8
9
4
.9
8
6
6
6
.5
6
6
0
3
.9
7
500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000
Wavenumber cm-1
0
2
0
4
0
6
0
8
0
1
0
0
1
2
0
1
4
0
T
r
a
n
s
m
it
t
a
n
c
e

[
%
]
Page 1/1

B 106
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
menggantikan gugus asetil, dimana gugus amina lebih
reaktif bila dibandingkan dengan gugus asetil karena
adanya pasangan elektron bebas pada atom nitrogen
dalam struktur kitosan.
Pembuatan Bioselulosa
Selama fermentasi, kitosan yang ditambahkan ke
dalam media akan membentuk bioselulosa-kitosan
dimana terjadi interaksi antara bioselulosa dengan
kitosan. Gugus NH
2
dari kitosan melalui ikatan
hidrogen dan dipol-dipol berinteraksi dengan gugus –
OH pada molekul bioselulosa-kitosan. Pada proses
pembuatan bioselulosa-kitosan dilakukan variasi
komposisi 1 ml, 2 ml, 3 ml, 4 ml gliserol 25%.
Selama fermentasi, penambahan gliserol ini juga
mengakibatkan terjadi interaksi antara gliserol dengan
bioselulosa-kitosan melalui ikatan hidrogen dan
ikatan dipol-dipol. Interaksi ini secara hipotesis
digambarkan pada gambar di bawah ini.

Gambar 2. Interaksi bioselulosa-kitosan dengan gliserol

Karakterisitik Bioselulosa-Kitosan-Gliserol
Hasil Pengukuran Tebal Bioselulosa-Kitosan-
Gliserol
Tabel 1. Data pengukuran tebal bioselulosa-kitosan-gliserol
Komposisi
gliserol (ml)
Ketebalan Bioselulosa-
Kitosan Gliserol ( m µ )
1 127,7± 5,4
2 126,6± 6,7
3 127,2± 5,8
4 121,3± 1,3


Gambar 3. Pengaruh variasi komposisi gliserol terhadap ketebalan
rata-rata bioselulosa-kitosan-gliserol
Pada bioselulosa-kitosan gliserol dengan variasi
penambahan gliserol 1 ml, 2 ml, 3 ml, dan 4 ml
memberikan nilai ketebalan 127,7; 126,6; 127,2; dan
121,3 m µ .
Hal diatas dapat dijelaskan bahwa nata pada
dasarnya dapat dihasilkan dari cairan fermentasi yang
mengandung gula sebagai sumber karbon, dimana
gula ini disintesis oleh bakteri Acetobacter Xylinum
menjadi nata. Dengan penambahan gliserol maka
semakin banyak komposisi gliserol yang ditambahkan
larutan akan semakin kental atau pekat. Media yang
pekat akan menyebabkan terjadinya gangguan
metabolisme bakteri, akibatnya kerja bakteri tidak
optimal dan kegiatan dari bakteri Acetobacter
Xylinum dalam proses pembentukan bioselulosa-
kitosan akan terhambat (Arviyanti & Yulimartani,
2008). Massa kitosan juga menyebabkan
penghambatan kegiatan dari bakteri Acetobacter
Xylinum dalam proses isomerisasi dari bioselulosa
karena adanya reaksi pengikatan dari kitosan yang
bereaksi dengan bioselulosa (Setiawan, 2011).
Gliserol memiliki sifat hidrofilik yaitu mampu
mengikat air, sehingga kandungan air dalam bahan
meningkat dan kadar air yang dihasilkan menjadi
tinggi. Menurut Dewi (2009) nilai kadar air yang
tinggi disebabkan oleh kepekatan medium fermentasi
yang ada sehingga pembentukan selulosa oleh bakteri
terjadi secara lambat yang pada akhirnya
menghasilkan nata dengan susunan selulosa yang
lebih longgar karena banyak air yang terperangkap di
dalamnya.
Berdasarkan penelitian ini ketebalan bioselulosa-
kitosan gliserol menurun seiring dengan peningkatan
penambahan komposisi gliserol. Pengukuran
ketebalan bioselulosa-kitosan gliserol dapat
digunakan sebagai indikator keseragaman dan kontrol
kualitas bioselulosa-kitosan gliserol yaitu yang
mempunyai ketebalan yang tipis tetapi tidak mudah
sobek.
Hasil Uji Tarik dan Elongasi Bioselulosa-Kitosan-
Gliserol
Tabel 2. Data pengukuran kuat tarik dan elongasi bioselulosa-
kitosan-gliserol
Komposisi
gliserol (ml)
σ (Mpa) ε (%)
1 31,05 ±12 34,58 ± 0,98
2 27,62 ±11 37,08 ± 0,99
3 30,94 ±12 35,25 ± 0,96
4 29,92 ± 12 35,80 ± 0,97


B 107
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8

Gambar 4. Pengaruh variasi komposisi gliserol terhadap elongasi
bioselulosa-kitosan

Gambar 5. Pengaruh variasi komposisi gliserol terhadap kuat tarik
bioselulosa-kitosan-gliserol
Peningkatan elongasi bioselulosa-kitosan gliserol
terjadi karena molekul pemlastis yaitu gliserol
mempunyai gaya interaksi yang cukup kuat dengan
polimer dalam bioselulosa-kitosan gliserol sehingga
molekul pemlastis berdifusi kedalam rantai polimer.
Dalam hal ini molekul pemlastis akan berada diantara
rantai polimer (antara polimer bioselulosa dan
kitosan) dan mempengaruhi mobilitas rantai yang
dapat meningkatkan plastisasi sampai batas
kompatibilitas (sifat yang menguntungan ketika
terjadi pencampuran polimer) rantai. Plastisasi adalah
proses penambahan suatu zat cair atau padat agar
meningkatkan sifat plastisitas suatu bahan, sedangkan
zat yang ditambahkan disebut plasticizer atau
pemlastis. J ika jumlah pemlastis melebihi batas ini,
maka akan terjadi plastisasi berlebihan sehingga
plastisasi tidak efisien lagi (Kurnia, 2010).
Penambahan plasticizer gliserol lebih dari 2 ml
menunjukkan hasil elongasi cenderung menurun. Hal
ini terjadi karena penambahan gliserol telah melewati
batas sehingga molekul pemlastis yang berlebih
berada pada fase tersendiri di luar fase bioselulosa dan
kitosan. Keadaan tersebut menyebabkan penurunan
gaya intermolekul antar rantai menurun. Dari analisa
tersebut dapat diketahui bahwa penambahan gliserol
yang paling efektif untuk meningkatkan elongasi
adalah tidak lebih dari 2 ml.
Pada penambahan gliserol 2 ml terlihat bahwa
nilai kuat tariknya sebesar 27,62 MPa lebih kecil
dibandingkan dengan penambahan gliserol 1 ml, 3 ml,
dan 4 ml. Hal ini disebabkan karena pada
penambahan gliserol 2 ml sampel berada pada batas
kompatibilitas. Selain itu hal tersebut terjadi karena
sifat gliserol sebagai plasticizer adalah menurunkan
kekakuan supaya lebih fleksibel sehingga kekuatan
bioselulosa-kitosan gliserol juga menurun.

Tabel 3. Perbandingan standar karakteristik sifat mekanik kulit
manusia

Bioselulosa-kitosan gliserol dapat digunakan
sebagai material medis jika memenuhi standar sifat
mekanik tertentu. Berdasarkan pada tabel 3 pada
penelitian Vogel (1987) material medis yang
dihasilkan yaitu dengan nilai kuat tarik antara 5 MPa
– 32 MPa, sedangkan elongasi antara 30 % - 115 %.
Hasil uji sifat mebataskanik (Tensile strength dan
Elongation at break) pada bioselulosa-kitosan yang
berbahan dasar bioselulosa dan kitosan dengan variasi
penambahan gliserol 1 ml – 4 ml pada tabel II
menunjukkan sifat mekanik yang baik. Hal tersebut
terbukti karena bioselulosa-kitosan gliserol yang
dihasilkan memenuhi standar sifat mekanik yang ada
pada kulit manusia.
Hasil Uji Morfologi Bioselulosa-Kitosan-Gliserol
(a) (b)






(c) (d)

(c) (d)
Gambar 6. Hasil uji mikroskop optik permukaan atas bioselulosa-
kitosan dengan variasi komposisi gliserol (a) 1 ml, (b) 2 ml, (c) 3
ml, (d) 4 ml.
Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui
bahwa pada penampang atas bioselulosa-kitosan
gliserol yang terdiri dari campuran bioselulosa dan
kitosan dengan penambahan variasi komposisi
gliserol 1 ml sampai 4 ml menunjukkan struktur
permukaan yang tidak terlihat adanya sedikit
gelembung dan tidak berongga. Bioselulosa-kitosan
gliserol dengan penambahan gliserol 2 ml
menunjukkan struktur permukaan yang halus, rata,

B 108
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
dan tidak adanya kerutan bila dibandingkan dengan
penambahan gliserol 1 ml, 3 ml, dan 4 ml.
Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan
bahwa plasticizer bekerja dengan cara melekatkan
dirinya sendiri di antara rantai-rantai polimer. Terjadi
hal lain ketika penambahan gliserol 1 ml, 3 ml, dan 4
ml yang menunjukkan pada penampang atas
bioselulosa-kitosan gliserol terdapat gliserol yang
kurang merata yang ditunjukkan dengan adanya
kerutan-kerutan, padahal seharusnya gliserol berada di
antara bioselulosa dan kitosan. Hal ini terjadi karena
penambahan gliserol telah melewati batas sehingga
molekul pemlastis yang berlebih berada pada fase
tersendiri di luar fase pati dan kitosan sehingga
mengakibatkan gliserol pada bioselulosa-kitosan
gliserol semakin terlihat kurang merata.
Hasil Uji Ketahanan Terhadap Air Bioselulosa-
Kitosan-Gliserol
Tabel 4. Data pengukuran ketahanan terhadap air bioselulosa-
kitosan-gliserol
Variasi
gliserol
(ml)
Massa
awal
(gram)
Massa
akhir
(gram)
Penyerapan
(%)
1 0,0427 0,0654 53,2 ±0,6
2 0,0438 0,0680 55,3 ±0,6
3 0,0437 0,0720 64,8 ±0,6
4 0,0348 0,0594 70,7 ±0,8


Gambar 7. Pengaruh variasi komposisi gliserol terhadap % air yang
diserap bioselulosa-kitosan-gliserol
Dari data gambar di atas dapat dilihat bahwa
semakin banyak penambahan komposisi gliserol
semakin besar penyerapan yang terjadi. Hal ini
disebabkan karena gliserol merupakan plasticizer
yang bersifat hidrofilik sehingga mempunyai
kemampuan mengikat air. Peningkatan konsentrasi
gliserol mengakibatkan air yang tertahan dalam
matriks bioselulosa-kitosan gliserol semakin
meningkat.
Menurut Ciechanska (2004) bioselulosa
menunjukkan kandungan air yang tinggi (98 – 99%)
dan daya serap cairan yang baik. Karena sifat
bioselulosa memiliki daya serap yang baik terhadap
cairan dan keberadaan gugus-gugus hidrofilik dalam
matriks bioselulosa-kitosan gliserol menyebabkan air
terikat, film jadi mudah mengembang dan banyak
menyerap air sehingga penyerapan air pada
bioselulosa-kitosan gliserol akan cenderung tinggi.
Hal ini sesuai sifat yang dimiliki gliserol sebagai
hidrofilik sehingga gliserol dapat bekerja efisien dan
kompatibel. Hal tersebut didukung dengan hasil uji
morfologi yang menunjukkan bahwa semakin banyak
penambahan gliserol pada komposisi lebih dari 2 ml
maka semakin banyak gliserol yang tidak merata
berada di atas bioselulosa dan kitosan karena tidak
berada diantara bioselulosa dan kitosan sehingga
memudahkan bioselulosa-kitosan gliserol untuk
menyerap air.
KESIMPULAN
Dari hasil pengujian, pengamatan, serta hasil dan
pembahasan yang telah dilakukan dalam penelitian
ini, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Penambahan gliserol mempengaruhi karakteritik
sifat mekanik dan sifat fisis bioselulosa-kitosan-
gliserol, dimana struktur penampangnya semakin
halus, tipis, dan fleksibel. Selain itu penambahan
gliserol membuat kekuatan bioselulosa-kitosan-
gliserol cenderung menurun, elongasinya
cenderung naik dan ketahanan terhadap air
semakin menurun.
2. Komposit bioselulosa-kitosan-gliserol dapat
dimanfaatkan sebagai salah satu keperluan
pengobatan dalam bidang medis karena memenuhi
standar sifat mekanik tertentu. Karakteristik
bioselulosa-kitosan-gliserol yang terbaik diberikan
pada penambahan gliserol 2 ml, dimana nilai
ketebalannya adalah 126,6 ±6,7 µm, kuat tarik
sebesar 28 ±11 MPa, elongasinya sebesar 37,08 ±
0,99 %, air yang diserap 55,3 ±0,6 %, struktur
permukaannya halus, rata, tidak adanya kerutan
dan tidak terdapat gelembung.
DAFTAR PUSTAKA
Annaidh, A.N, et al, 2011, Characterization of The
Anisotropic Mechanichal Properties of
Excised Human Skin, J ournal of The
Mechanical Behavior of Biomedical Materials,
University College Dublind, Ireland: Elsevier
Science Ltd.
Arviyanti, E., & Yulimartani, N., 2008, Pengaruh
Penambahan Air Limbah Tapioka Pada Proses
Pembuatan Nata, Program Studi Teknik Kimia
FT, UNDIP, Semarang.
Bergenia H.A., 1982, Reserve osmosis of coconut
water through cellulose acetat membrane,
Proceedings of the second ASEAN workshop
Membrane Technology.
Ciechanska, D., 2004, Multifunctional Bacterial
Cellulose/Chitosan Composite Materials for
Medical Application, Fiber & Textiles in
Eastern Europe volume 12 No.4(48):p. 69-72,
Institute of Chemical Fiber, Poland.
Dewi, Saraswati, 2009, Pengaruh Jenis Gula dan
Lama Inkubasi Terhadap Kualitas Nata De
Milko Ditinjau dari Serat Kasar, Rendemen

B 109
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
dan Kadar air, Skripsi, Program Studi
Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan,
UNIBRAW, Malang.
Goosen, M.FA, 1997, application of Chitin and
Chitosan, Technology Publishing Co. Inc,
Lancaster.
Kurnia, W.A., 2010, Sintesis dan Karakterisasi Edible
Film Komposit dari Bahan Dasar Kitosan,
Pati dan Asam Laurat, Skripsi, Program Studi
Fisika Fakultas Sains dan Teknologi, UNAIR,
Surabaya.
Phillips, G.O. and Williams, P.A., 2000, Handbook of
Hydrocolloid, Woodhead Publishing Limited,
Cambridge.
Setiawan, Agus, 2011, Sintesis dan Karakterisasi
Bioselulosa-Kitosan Serta Pemanfaatannya
Dalam Bidang Medis, Skripsi, Program Studi
Fisika Fakultas Sains dan Teknologi, UNAIR,
Surabaya.

B 110
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

ISBN : 978-979-17494-2-8
SINTESIS DAN STUDI KARAKTERISTIK MEKANIK KERAMIK REFRAKTORI
DENGAN VARIASI KOMPOSISI UNSUR DAN SUHU SINTERING
J an Ady
1
, Indra Suci Rahayu
2

1,2
Program Studi Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga
Email: isuci_rahayu@yahoo.co.id
ABSTRAK
Telah dilakukan pembuatan keramik refraktori dengan bahan baku alumina, silika dan megnesit. Pembuatan
keramik refraktori yang dihasilkan dibuat dengan prosentase 35%Al
2
O
3
-55%SiO
2
-10%MgCO
3
, 45%Al
2
O
3
-
45%SiO
2
-10%MgCO
3
, dan 55%Al
2
O
3
-35%SiO
2
-10%MgCO
3
dengan variasi suhu sintering 1100
o
C, 1150
o
C
dan 1200
o
C. Bahan yang digunakan berukuran 0,074mm. Dari hasil pembuatan keramik refraktori maka
dilakukan karakterisasi meliputi kekuatan patah, ketangguhan dan kekuatan tekan. Hasil karakterisasi sampel
keramik refraktori yang telah disintering menunjukkan bahwa suhu sintering optimal adalah 1200Oc untuk
semua komposisi yang telah dibuat. Untuk sampel keramik 35%Al
2
O
3
-55%SiO
2
-10%MgCO
3
diperoleh
kekuatan patah 27,497304 MPa, kekuatan tekan 243,086173MPa dan ketangguhan 0,097316Mpam
1/2
. Untuk
sampel keramik 45%Al
2
O
3
-45%SiO
2
-10%MgCO
3
diperoleh kekuatan patah 39,975114 MPa, kekuatan tekan
198,850574MPa dan ketangguhan 0,074371 MPa m
1/2
. Sedangkan untuk sampel keramik 55%Al
2
O
3
-35%SiO
2
-
10%MgCO
3
diperoleh kekuatan patah 42,763444 MPa, kekuatan tekan 264,412575 Mpa dan ketangguhan
0,105169MPa m
1/2
.
Kata Kunci : Keramik Refraktori, Alumina, Silika, Magnesit, Sintering
ABSTRACT
Have been carried out with the manufacture of refractory ceramic material alumina, silica and megnesit.
Manufacture of refractory ceramic that is produced is made with the percentage of 35% Al
2
O
3
-55% SiO
2
-10%
MgCO
3
, 45% Al
2
O
3
-45% SiO
2
-10% MgCO
3
, and 55% Al
2
O
3
-35% SiO
2
-10% MgCO
3
with sintering
temperature variations 1100
o
C, 1150
o
C and 1200
o
C. The materials used measuring 0,074 mm. From the
manufacture of refractory ceramic characterization is carried out covering a broken force, toughness and
compressive strength. The results of sample characterization of refractory ceramics which have disintering
shown that the optimal sintering temperature for all compositions 1200
o
C that have been made. To ceramic
sample 35% Al
2
O
3
-55% SiO
2
-10% MgCO
3
obtained 27,497304 MPa fracture strength, compressive strength
and toughness 243,08617 MPa ; 0,097316 MPa m
1/2
. To ceramic sample 45% Al
2
O
3
-45% SiO
2
-10% MgCO
3

obtained 39,975114 MPa fracture strength, compressive strength and toughness 198,850574 MPa ; 0,074371
MPa m
1/2
. Whereas for ceramic sample 55% Al
2
O
3
-35% SiO
2
-10% MgCO
3
obtained 42,763444 MPa fracture
strength, compressive strength and toughness 264,412575 Mpa; 0,105169 MPa m
1/2.
.
Key word : Refractory Ceramic, Alumina, Silika, Magnesit, sintering
PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
saat ini berkembang sangat pesat. Salah satunya yaitu
perkembangan teknologi dibidang industri logam.
Perkembangan teknologi di bidang industri logam
yang berlangsung demikian cepat dan diiringi oleh
tuntutan kebutuhan akan bahan logam yang semakin
meningkat menyebabkan ketersediaan bahan tahan api
(refraktori) menjadi suatu hal yang penting.
Pembuatan keramik refraktori merupakan suatu
pilihan yang bijak terlebih lagi didasarkan pada
kemampuan sumber daya alam sendiri.
Strategi pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi pada masing-masing negara umumnya
mengacu pada kompetisi negaranya. Dalam
kenyataannya, Indonesia memiliki keunggulan yang
berupa kekayaan sumber daya alam baik berupa
mineral pasir besi, kuarsa, alumina, tembaga, emas
dan lain-lain (www.indonetwork.co.id). Di J awa
Timur pada wilayah utara dan selatan dikelilingi oleh
pegunungan kapur yang memproduksi sumber daya
alam baik berupa mineral pasir besi, kuarsa, alumina,
tembaga, emas dan lain-lain. Alumina (Al
2
O
3
)
termasuk meneralogi batuan yang prosentase
kandungannya nomor dua (15,01%) setelah pasir
silika (SiO
2
) (69,39%) (BPPS, 2008). Namun, sumber
daya tersebut masih belum banyak nilai tambah
sehingga belum dapat dijadikan sebagai penentu daya
saing bangsa.
Alumina mempunyai keunggulan yaitu
mempunyai titik leleh yang tinggi (2050
o
C). Dengan
kelebihan tersebut alumina dapat digunakan sebagai
bahan keramik refraktori. Akan tetapi untuk membuat
keramik refraktori dengan bahan alumina yang
mempunyai titik leleh yang tinggi dibutuhkan
sintering dengan suhu yang tinggi juga. Oleh sebab itu
perlu adanya zat aditif yang berguna menurunkan
suhu sintering. Dalam penelitian ini, silika dan
magnesit dipilih sebagai bahan aditif dan akan

B 111
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

dipadukan dengan alumina untuk menghasilkan
keramik refraktori.
METODOLOGI PENELITIAN
Metode penelitian mencakup tahap persiapan dan proses pembuatan
keramik refraktori. Proses selanjutnya adalah pengujian sifat
mekanik keramik refraktori. Alur kegiatan disajikan pada bagan alir
di bawah ini (Gambar 1).
Gambar 1. Bagan alir rangkaian kegiatan pembuatan keramik
refraktori
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian terhadap karakteristik sifat
mekanik yang meliputi kekuatan patah, kekuatan
patah dan ketangguhan disajikan pada tabel 1, 2 dan
3.
Tabel 1. Data pengujian kekuatan patah untuk setiap variasi
komposisi dan suhu sintering

Dari data yang diperoleh pada Tabel 1. dapat
disajikan grafik hubungan antara kekuatan patah
terhadap suhu sinteringnya pada masing-masing
komposisi.

Gambar 2. Grafik hubungan antara Suhu Sintering terhadap
Bending Strength untuk sampel 35% Al2O3 - 55% SiO2 - 10%
MgCO3

.Gambar 3. Grafik hubungan antara Suhu Sintering terhadap
Bending Strength untuk sampel 45% Al2O3 - 45% SiO2 - 10%
MgCO3

Gambar 4. Grafik hubungan antara Suhu Sintering terhadap
Bending Strength untuk sampel 55% Al2O3 - 35% SiO2 - 10%
MgCO3
Dari data yang diperoleh pada Tabel 1. untuk
pengujian kekuatan patah menunjukkan bahawa Rata-
rata kekuatan patah (bending strength) untuk semua
sampel terhadap kenaikan suhu sintering
menunjukkan pola yang sama, yaitu semakin besar
suhu sinteringnya maka nilai kekuatan patahnya
cenderung meningkat. Hal ini berarti ikatan antara
butiran yang satu dengan yang lainnya semakin kuat
dengan naiknya suhu sintering. Dan gaya untuk
melepaskan atau merusak ikatan tersebut semakin
besar dengan naiknya suhu sintering, oleh karena itu
nilai kekuatan patahnya juga cenderung meningkat
0
20
40
1100
1150
1200
k
u
e
k
u
a
t
a
n

p
a
t
a
h

(
M
P
a
)

suhu sintering (
o
C)
Grafik hubungan antara suhu
sinteringterhadap kekuatan patah
0
20
40
1100
1150
1200
k
u
e
k
u
a
t
a
n

p
a
t
a
h

(
M
P
a
)

suhu sintering (
o
C)
Grafik hubungan antara suhu
sinteringterhadap kekuatan patah
0
20
40
60
1100
1150
1200
k
u
e
k
u
a
t
a
n

p
a
t
a
h

(
M
P
a
)

suhu sintering (
o
C)
Grafik hubungan antara suhu
sinteringterhadap kekuatan patah

B 112
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

dengan kenaikan suhu sinteringnya. Dari ketiga
variasi komposisi yang dibuat, yang menghasilkan
nilai kekuatan yang paling besar adalah keramik
refraktori dengan komposisi 55% Al
2
O
3
- 35% SiO
2
-
10% MgCO
3
. Komposisi tersebut dapat menghasilkan
keramik refraktori yang mempunyai kekuatan patah
yang besar dikarenakan karena prosentase Alumina
yang paling besar jika dibandingkan dengan variasi
komposisi lainnya, Alumina mempunyai sifat
mekanik yang baik yaitu kekuatan patah 350 Mpa
oleh karena itu komposisi keramik yang mengandung
banyak Alumina mempunyai kekuatan patah yang
besar.
Tabel 2. Data pengujian ketangguhan untuk setiap variasi
komposisi dan suhu sintering

Dari data yang diperoleh pada Tabel 2. dapat
disajikan grafik hubungan antara kekuatan patah
terhadap suhu sinteringnya pada masing-masing
komposisi.

Gambar 5. Grafik hubungan antara suhu sintering tarhadap
ketangguhan untuk sampel 35% Al2O3 - 55% SiO2 - 10% MgCO3

Gambar 6. Grafik hubungan antara suhu sintering terhadap
ketangguhan untuk sampel 45% Al2O3 - 45% SiO2 - 10% MgCO3

Gambar 7. Grafik hubungan antara suhu sintering terhadap
ketangguhan untuk sampel 55% Al2O3 - 35% SiO2 - 10% MgCO3
Dari data yang diperoleh pada Tabel 2. Untuk
pengujian ketangguhan menunjukkan bahwa Hasil
pengujian ketangguhan pada sampel keramik
refraktori yang telah dihasilkan dari variasi komposisi
dan suhu sintering rata-rata diperoleh nilai
ketangguhan yang kecil. Memang pada dasarnya
keramik mempunyai sifat getas dan mudah patah
(Surdia,2000). Keramik tersebut tidak tahan terhadap
benturan atau tumbukan, itu artinya jumlah energi
yang diserap sampai keramik tersebut patah itu sangat
sedikit.
Tabel 3. Data pengujian kekuatan tekan untuk setiap variasi
komposisi dan suhu sintering

Dari data yang diperoleh pada Tabel 3. dapat
disajikan grafik hubungan antara kekuatan patah
terhadap suhu sinteringnya pada masing-masing
komposisi.

0
0,05
0,1
1100
1150
1200
K
e
t
a
n
g
g
u
h
a
n

(
M
P
a

m
1
/
2
)

Suhu sintering (
o
C)
Grafik hubungan antara ketangguhan
terhadap suhu sintering
0
0,05
0,1
1100
1150
1200
K
e
t
a
n
g
g
u
h
a
n

(
M
P
a

m
1
/
2
)


Suhu sintering (
o
C)
Grafik hubungan antara ketangguhan
terhadap suhu sintering
0
0,05
0,1
0,15
1100
1150
1200
K
e
t
a
n
g
g
u
h
a
n

(
M
P
a

m
1
/
2
)


Suhu sintering (
o
C)
Grafik hubungan antara ketangguhan
terhadap suhu sintering
0
100
200
300
1100
1150
1200 K
e
k
u
a
t
a
n

t
e
k
a
n

(
M
P
a
)

Suhu sintering (
o
C)
Grafik hubungan antara kekuatan tekan
terhadap suhu sintering

B 113
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Gambar 8. Grafik hubungan antara suhu sintering terhadap
kekuatan tekan untuk sampel 35% Al2O3 - 55% SiO2 - 10%
MgCO3

Gambar 9. Grafik hubungan antara suhu sintering terhadap
kekuatan tekan untuk sampel 45% Al2O3 - 45% SiO2 - 10%
MgCO3

Gambar 10. Grafik hubungan antara suhu sintering terhadap
kekuatan tekan untuk sampel 55% Al2O3 - 35% SiO2 - 10%
MgCO3
Dari data yang diperoleh pada Tabel 3. Untuk
pengujian kekuatan tekan menunjukkan bahawa nilai
kekuatan tekan cenderung meningkat seiring dengan
meningkatnya suhu sintering, sama halnya pada hasil
kekuatan patah. Hal itu menunjukkan bahwa, dalam
penelitian ini suhu sintering optimal untuk
memperoleh nilai kekuatan patah yang besar adalah
suhu 1200
o
C. Semakin tinggi suhu sinteringnya maka
semakin padat sampel yang dibuat, artinya ikatan
antara butiran yang satu dengan yang lainnya semakin
kuat. Hal itu menyebabkan gaya untuk merusak ikatan
tersebut semakin besar dengan naiknya suhu sintering.
Oleh karena itu nilai kekuatan tekannya juga
cenderung meningkat dengan naiknya suhu sintering.
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian, diperoleh kesimpulan
bahwa nilai kekuatan patah dan kekuatan tekan
cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya
suhu sintering. Nilai kekuatan patah dan kekuatan
tekan yang paling besar dihasilkan pada keramik
refraktori dengan suhu sintering 1200
o
C. Komposisi
yang menghasilkan nilai kekuatan patah dan kekuatan
tekan yang besar yaitu 55%Al
2
O
3
-35%SiO
2
-
10%MgCO
3
. Akan tetapi keramik refraktori yang
dihasilkan pada masing-masing komposisi yang telah
dibuat dengan variasi suhu mempuyai nilai
ketangguhan yang sangat kecil.
UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan terima kasih disampaikan kepada
Universitas Airlangga Surabaya dan Unit Keramik
Malang yang telah memfasilitasi penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Bartuli, C., dkk., 2007, Thermal Spraying to Coat
Traditional Ceramic Substrates: Case Studies,
J ournal of the European Ceramic Society
1615-1622
Djangang, C.N., dkk., 2008, Refractory ceramics from
clays of Mayouom and Mvan in Cameroon,
Applied Clay Science 39 10-18
http://www.indonetwork.co.id/sell/kimia/0.html
Maghfirah, Awan, 2007, Pembuatan Keramik Paduan
Zirkonia (ZrO
2
) dengan Alumina (Al
2
O
3
) dan
Karakterisasinya, Sekolah Pasca Sarjana
Universitas Sumatera Utara Medan
Mucahit, Sutcu, 2010, Utilization of recycled paper
processing residues and clay of different
sources for the production of porous anorthite
ceramics, J ournal of the European Society 30,
1785-1793
Ribeiro, M.J ., dkk., 2002, Recycling of Al-rich
industrial sludge in refractory ceramic pressed
bodies, Ceramics International 28 319-326
Sihole, Marlon, 2008, Analisis Pengaruh
Penambahan Mullite 3Al
2
O
3
.2SiO
2
dan
Variasi Suhu Sintering Terhadap Karakteristik
Keramik Al2O3 dengan Simulasi Program
Matlab, Sekolah Pasca Sarjana Universitas
Sumatera Utara Medan
Surdia, 2000, Pengetahuan Bahan Teknik, PT.
Prodnya Paramita, J akarta


0
100
200
1100
1150
1200
K
e
k
u
a
t
a
n

t
e
k
a
n

(
M
P
a
)

Suhu sintering (
o
C)
Grafik hubungan antara kekuatan tekan
terhadap suhu sintering
0
100
200
300
1100
1150
1200
K
e
k
u
a
t
a
n

t
e
k
a
n

(
M
P
a
)

Suhu sintering (
o
C)
Grafik hubungan antara kekuatan tekan
terhadap suhu sintering

B 114
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

KARAKTERISASI IN VITRO DAN IN VIVO KOMPOSIT
ALGINAT - POLI VINIL ALKOHOL – ZnO NANO SEBAGAI WOUND DRESSING
ANTIBAKTERI
Perwitasari F. L. R
1
, Aminatun
2
, S. Sumarsih
3

1
Program Studi Teknobiomedik Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga
2
Program Studi Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga
3
Program Studi Kimia Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga
Email : perwitasariflr@gmail.com
Abstrak
Kecenderungan penyembuhan luka pada saat ini adalah moist wound healing yang berarti kelembaban
lingkungan di sekitar luka dijaga sehingga dapat mempercepat penyembuhan. Pada penelitian ini telah dibuat
hidrogel alginat-poli vinil alkohol-ZnO nano sebagai wound dressing dan dikarakterisasi secara in vitro dan in
vivo. Pembuatan hidrogel dilakukan dengan cara konvensional mencampurkan semua bahan dalam bentuk
larutan dan dicetak pada plat kaca. Hidrogel alginat dan poli vinil alkohol dibuat dengan menambahkan
konsentrasi ZnO nano yang berbeda (0,25; 0,5; dan 0,75%). Hidrogel alginat-poli vinil alkohol-ZnO nano yang
terbentuk dikarakterisasi menggunakan uji FT-IR, uji antibakteri, dan uji in vivo. Hasil uji FTIR menunjukkan
terbentuknya ikatan antara alginat dan poli vinil alkohol yang dapat ditunjukkan oleh terbentuknya gugus
karbonil dan hidroksil pada bilangan gelombang 1639 cm
-1
dan 3423 cm
-1
. Hasil uji antibakteri menunjukkan
semakin tinggi konsentrasi ZnO nano yang digunakan, semakin luas zona inhibisi pada kultur mikroba uji
Staphylococcus aureus. Nilai MIC didapatkan pada hidrogel dengan konsentrasi ZnO nano 0,25 dan 0,5%,
sedangkan nilai MBC didapatkan pada hidrogel dengan konsentrasi ZnO nano 0,75%. Hidrogel alginat-poli
vinil alkohol-ZnO nano dapat mempercepat penyembuhan luka yang ditunjukkan dari hasil uji in vivo pada
mencit yaitu luka sembuh pada kisaran hari ke-3 hingga hari ke-5 dibandingkan dengan kontrol yang masih
belum sembuh hingga hari ke-7.
Kata kunci : hidrogel, alginat, poli vinil alkohol, ZnO nano, wound dressing, antibakteri

PENDAHULUAN
Terjadinya peradangan pada luka adalah hal
alami yang sering kali memproduksi eksudat.
Mengatasi eksudat adalah bagian penting dari
penanganan luka. Selanjutnya, mengontrol eksudat
juga sangat penting untuk menangani kondisi dasar
luka, yang mana selama ini masih kurang
diperhatikan dan kurang diannggap sebagai suatu hal
yang penting bagi perawat, akibatnya bila produksi
eksudat tidak dikontrol dapat meningkatkan jumlah
bakteri pada luka, kerusakan kulit, bau pada luka dan
pasti akan meningkatkan biaya perawatan setiap kali
mengganti balutan.
Keseimbangan kelembaban pada permukaan
balutan luka adalah faktor kunci dalam
mengoptimalkan perbaikan jaringan, mengeliminasi
eksudat dari luka yang berlebihan pada luka kronik
yang merupakan bagian penting untuk permukaan
luka. Untuk itu dikembangkan suatu metode
perawatan luka dengan cara mempertahankan isolasi
lingkungan luka agar tetap lembab dengan
menggunakan balutan penahan kelembaban, yang
dikenal dengan moist wound healing. Metode ini
secara klinis memiliki keuntungan akan meningkatkan
proliferasi dan migrasi dari sel-sel epitel disekitar
lapisan air yang tipis, mengurangi resiko timbulnya
jaringan parut dan lain-lain, disamping itu beberapa
keunggulan metode ini dibandingkan dengan kondisi
luka yang kering adalah meningkatkan epitelisasi 30-
50%, meningkatkan sintesa kolagen sebanyak 50 %,
rata-rata re-epitelisasi dengan kelembaban 2-5 kali
lebih cepat serta dapat mengurangi kehilangan cairan
dari atas permukaan luka (Tarigan dan Pemila, 2007).
Alginat sampai saat ini banyak diteliti
manfaatnya untuk tekstil medis, terutama sebagai
produk alternatif pembalut luka. Dari penelitian
terdahulu diperoleh membran alginat berdaya serap
tinggi, bersifat antibakteri dan dapat mempercepat
penyembuhan luka. Keuntungan dari balutan alginat
adalah mengaktifkan ion-ion pada permukaan luka
sehingga memberikan suasana lembab, mengurangi
nyeri, rendah alergi, absorbent, dan meningkatkan
homeostasis pada perdarahan. Keuntungan lain dari
penggunaan alginat, biaya lebih efektif karena
penggantian balutan akan berkurang, balutan dapat
diangkat dengan menggunakan larutan normal salin.
Di bandingkan dengan kasa parafin, kualitas
penyembuhan dengan alginat lebih baik (Haryanto
dan Sumarsih, 2008).
Sifat kaku dan rapuh merupakan kelemahan dari
alginat dan untuk memperbaiki sifat tersebut, alginat
dapat dicampurkan dengan polimer vinil yang
kompatibel dan fleksibel. Sebagian besar polimer
alam, meskipun telah memiliki biokompatibilitas dan
biodegradasi, tetapi memiliki sifat mekanik yang
lemah dan sulit diproses bila dibandingkan dengan
polimer sintetis. Telah ada beberapa laporan yang
meneliti paduan alginat dengan polimer sintetis

B 115
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

seperti poli vinil alkohol (PVA) dan poli etilen oksida
(PEO) (Shalumon et al., 2010).
PVA merupakan salah satu polimer yang larut
dalam air dan memiliki kemampuan membentuk serat
yang baik, biokompatibel, memiliki ketahanan kimia,
dan biodegradable. Pada penelitian Shalumon et al.
(2010), PVA dapat berinteraksi dengan natrium
alginat melalui melalui metode electrospinning
membentuk komposit. Selain itu juga diketahui bahwa
PVA dapat membentuk gel dengan berbagai pelarut.
Salah satu karakteristik yang dibutuhkan dalam
pembuatan penutup luka adalah antimikroba, diantara
material di alam yang memiliki sifat tersebut salah
satunya adalah seng oksida. Partikel ZnO berukuran
nano memiliki aktivitas antimikroba lebih baik dari
partikel besar, karena ukuran kecil (kurang dari 100
nm) dan luas permukaan nanopartikel
memungkinkan interaksi yang lebih baik dengan
bakteri. ZnO dapat mengobati luka ringan,
pengurangan inflamasi, dan anti mikroba (Walton dan
Torabinejad, 1998).
Pada penelitian ini penulis hendak memadukan
alginat–poli vinil alkohol–ZnO nano dengan metode
pencampuran yang lebih sederhana yaitu
menggunakan metode hidrogel. Komposisi ZnO nano
yang digunakan adalah 0,25%; 0,5%; dan 0,75%.
Pengamatan pada hewan coba untuk mengetahui efek
pada proses penyembuhan luka juga dilakukan.
Harapan dari penelitian ini adalah penulis dapat
mensintesis penutup luka yang memiliki karakteristik
antara lain : sifat-sifat biokompatibilitas, memiliki
aktivitas antibakteri dibuktikan melalui uji antibakteri
pada mikroba uji Staphylococcus aureus, dapat
menyerap eksudat berlebih yang diamati melalui
kondisi hewan coba secara makroskopis, dan dapat
mempercepat penyembuhan luka yang diamati dari
hari penyembuhan.
BAHAN DAN METODE
1. Bahan
Alginat, poli vinil alkohol (PVA), ZnO nano,
aquades, asam sitrat, bakteri Staphylococcus aureus,
MSA (Manitol Salt Agar), MHA (Mueller-Hinton
Agar), MHB (Mueller-Hinton Broth), mencit.

2. Metode
Paduan 16 gram PVA dan 2 gram alginat dibuat
dalam 200 ml larutan, lalu dibagi menjadi sampel K,
A, B, dan C dengan ditambahkan variasi komposisi
ZnO nano 0%, 0,25%, 0,5%, dan 0,75%. Masing-
masing sampel diaduk secara homogen menggunakan
magnettic stirrer pada suhu 70
o
C selama 1 jam.
Hidrogel yang terbentuk, dituang lalu diratakan pada
plat kaca yang sudah dilapisi kasa steril sebelumnya.
Hasil yang didapat dibiarkan pada suhu kamar sampai
mengering.

3. Karakterisasi
Beberapa uji dilakukan, antara lain uji FT-IR, uji
antibakteri, dan uji in vivo. Hasil dari masing-masing
uji kemudian dianalisa.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Uji FT-IR
Interaksi antara alginat dan PVA dalam paduan
dapat ditunjukkan dari ikatan hidrogen yang terdapat
pada hasil FT-IR pada Gambar 1. Gugus karbonil
(C=O) alginat ditunjukkan pada bilangan gelombang
1635 cm
-1
dan gugus hidroksil (-OH) pada bilangan
gelombang 3457 cm
-1
. Gugus karbonil (C=O) PVA
ditunjukkan pada bilangan gelombang 1635 cm
-1
dan
gugus hidroksil (-OH) pada bilangan gelombang 3444
cm
-1
(Shalumon et al., 2011). Spektrum FT-IR pada
Gambar 1 merupakan spektrum paduan alginat dan
PVA. Gugus karbonil (C=O) alginat-PVA
ditunjukkan pada bilangan gelombang 1640 cm
-1
dan
gugus hidroksil (-OH) pada bilangan gelombang 3426
cm
-1
. Gugus hidroksil yang dihasilkan relatif luas
dimungkinkan akibat beberapa ikatan antarmolekul
hidrogen alginat dan PVA. Sedangkan spektrum FT-
IR hidrogel alginat-PVA-ZnO nano ditunjukkan pada
Gambar 2.


Gambar 1 SpektrumFT-IR alginat-PVA Gambar 2 SpektrumFT-IR alginat-PVA-ZnO 0,75%

Gambar 2 merupakan spektrum FT-IR hidrogel
alginat-PVA-ZnO nano 0,75% yang dipilih untuk
mewakili uji FT-IR hidrogel dengan berbagai variasi
komposisi ZnO nano yang dibuat. Gugus karbonil
(C=O) alginat-PVA ditunjukkan pada bilangan
gelombang 1639 cm
-1
dan gugus hidroksil (-OH) pada
bilangan gelombang 3423 cm
-1
. Sedangkan ZnO
ditunjukkan pada bilangan gelombang 560 cm
-1

(Shalumon et al., 2010), pada Gambar 2 ditunjukkan
keberadaan ZnO pada bilangan gelombang 613 cm
-1
.

B 116
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Terdapat sedikit pergeseran bilangan gelombang yang
menunjukkan bahwa ZnO telah berikatan dengan
senyawa lain dalam hidrogel.

2. Hasil Uji Antibakteri
Metode Cakram Kertas
Hasil uji cakram kertas menunjukkan bahwa
hidrogel alginat-PVA tanpa ZnO nano sebagai kontrol
tidak menunjukkan sifat antibakteri karena tidak
terbentuk halo atau zona inhibisi. Sedangkan uji
antibakteri hidrogel alginat-PVA-ZnO nano pada
mikroba uji Staphylococcus aureus menggunakan
metode cakram kertas menunjukkan hasil positif yang
berarti terdapat aktivitas penghambatan pada
pertumbuhan mikroba uji. Aktivitas penghambatan
ditunjukkan dengan terbentuknya zona inhibisi di
sekitar cakram kertas (paper disc) yang telah diinjeksi
hidrogel dan diinkubasi pada suhu ruang selama 24
jam.
Rata-rata diameter zona inhibisi hidrogel alginat-
PVA-ZnO nano 0,25% sebesar (7,95 ± 1,95) mm,
rata-rata diameter zona inhibisi hidrogel alginat-PVA-
ZnO nano 0,5% sebesar (9,93 ± 4,26) mm, rata-rata
diameter zona inhibisi hidrogel alginat-PVA-ZnO
nano 0,75% sebesar (11,87 ± 2,89) mm. Pada hasil
uji cakram kertas, terlihat bahwa variasi konsentrasi
ZnO nano yang diberikan berpengaruh pada luasan
zona inhibisi yang terbentuk di sekitar cakram kertas.
Semakin tinggi konsentrasi ZnO nano yang diberikan,
semakin luas pula zona inhibisi yang terbentuk.

Metode Pengenceran dalam Tabung
Beberapa variasi konsentrasi ZnO nano yang
digunakan dalam penelitian menunjukkan hasil yang
berbeda pada jumlah koloni yang terbentuk pada
kultur uji S. aureus. Penurunan jumlah koloni
dibandingkan dengan kontrol menunjukkan adanya
penghambatan pertumbuhan oleh hidrogel alginat-
PVA yang mengandung ZnO nano terhadap mikroba
uji. Peningkatan konsentrasi ZnO nano menyebabkan
penurunan jumlah koloni yang terbentuk.
J umlah koloni mulai menurun dari keadaan
menyebar (tidak dapat dihitung) menjadi 10 koloni
pada sampel alginat-PVA-ZnO nano 0,25% dan
menurun dari 10 koloni menjadi 1 koloni pada sampel
alginat-PVA-ZnO nano 0,5%. Sehingga pada
konsentrasi tersebut dinyatakan sebagai nilai MIC
hidrogel alginat-PVA-ZnO nano terhadap S. aureus.
Koloni bakteri mulai tidak nampak pada sampel
alginat-PVA-ZnO nano 0,75%. Sehingga pada
konsentrasi tersebut dinyatakan sebagai nilai MBC
hidrogel alginat-PVA-ZnO nano terhadap S. aureus.
Hidrogel alginat-PVA-ZnO nano mampu
menghambat pertumbuhan mikroba uji pada nilai
MIC 0,25% dan 0,5%, artinya S. aureus merupakan
bakteri Gram-positif yang rentan terhadap hidrogel
alginat-PVA-ZnO nano. Hal tersebut didukung oleh
Shalumon, et al. (2010), yang menyatakan bahwa
ZnO nano menunjukkan sifat toksisitas untuk
beberapa bakteri Gram-positif dan Gram-negatif.
Mekanisme antibakteri dapat dilihat dari interaksi
ZnO nano dengan gugus fosfor dalam DNA,
mengakibatkan inaktivasi DNA replikasi, bereaksi
dengan sulfur yang mengandung protein, sehingga
menyebabkan penghambatan fungsi enzim pada
bakteri (Fanny dan Silvia, 2012).


Gambar 3 Koloni Bakteri pada Cawan Petri Hasil Kultur Uji Dilusi Staphylococcus aureus dengan Penambahan Hidrogel Berbagai Variasi
Konsentrasi dan Inkubasi Selama 24 jam














B 117
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

3. Hasil Uji In Vivo


Gambar 4 Kondisi luka mencit kelompok P3 (luka diberi kasa alginat-PVA-ZnO nano 0,75%). (a) hari ke-1, (b) hari ke-2, (c) hari ke-3, (d)
hari ke-4, (e) hari ke-5, (f) hari ke-6, dan (g) hari ke-7
Pada penelitian ini terdapat perbedaan
kecenderungan dari hasil aktivitas antibakteri dan
percepatan penyembuhan luka yang diakibatkan oleh
adanya penambahan ZnO dalam hidrogel alginat-
PVA. Semakin tinggi konsentrasi ZnO nano, semakin
tinggi aktivitas antibateri yang ditunjukkan dengan
semakin luasnya halo (zona inhibisi) dan pada
hidrogel alginat-PVA dengan penambahan ZnO nano
0,75% menunjukkan nilai MBC yang berarti pada
dosis tersebut sudah dapat mematikan bakteri. Hasil
yang didapat dari uji antibakteri berkebalikan dengan
percepatan penyembuhan luka, semakin tinggi
konsentrasi ZnO nano justru menyebabkan proses
penyembuhan luka pada mencit menjadi semakin
lama.
Hal ini dimungkinkan karena semakin tinggi
konsentrasi ZnO nano yang diberikan, semakin
menurun biokompatibilitasnya yang ditunjukkan dari
penurunan nilai OD (optical density) sel yang hidup
pada uji toksisitas (Shalumon et al., 2010). Meskipun
hidrogel alginat-PVA-ZnO nano 0,75% memberikan
respon penyembuhan yang paling lama dibandingkan
dengan variasi konsentrasi dibawahnya (luka sembuh
pada hari ke-5), akan tetapi relatif lebih cepat
daripada kelompok kontrol yang sampai hari ke-7
pengamatan, luka masih belum sembuh. J ika
dibandingkan dengan pemakaian obat komersial
povidine iodine yang memberikan respon
penyembuhan luka pada hari ke-13 (Zulaehah, 2010),
maka hidrogel alginat-PVA-ZnO nano 0,75% masih
lebih unggul dalam mempercepat penyembuhan luka.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih disampaikan kepada Ibu Ami, Ibu
Marsih, Nurul Istiqomah, Tri Deviasari, Dewi Ary
Nirmawati, Ima Kurniastuti, Riant Adzandy, dan
semua pihak yang telah membantu terselesaikannya
fullpaper ini.

DAFTAR PUSTAKA
Fanny dan Silvia. 2012. Zeolit Nano Partikel untuk
Pencegahan Penyebaran Virus Flu
Burung. http://www.scribd.com/doc/89968408
/K3. Diakses tanggal 20 J uli 2012 pukul 14.35
WIB.
Haryanto dan Sumarsih. 2008. Penggunaan Topikal
Alternatif: Adrenalin atau Calsium
Alginat. http://gibyantowoundostomicontinent.
blogspot.com. Diakses tanggal 10 Desember
2011 pukul 08.17 WIB.
Shalumon, K.T. et al. 2010. Sodium Alginate / Poly
(Vinyl Alcohol) / Nano ZnO Composite
Nanofibers for Antibacterial Wound Dressings.
Elsevier: International J ournal of Biological
Macromolecules 49 (2011) 247–254.
Tarigan dan Pemila. 2007. Perawatan Luka Moist
Wound Healing. J akarta : Universitas
Indonesia.
Walton, R.E. dan Torabinejad M. 1998. Prinsip dan
Praktik Ilmu Endodonsi, Ed:2. Alih Bahasa :
Narlan Sumawinata dkk. “Principle and
Practice of Endodontics”. J akarata : EGC.
Zulaehah. 2010. Perbedaan Kecepatan Penyembuhan
Luka Sayat antara Penggunaan Lendir Bekicot
(Achatina fulica) dengan Povidone Iodine 10%
dalam Perawatan Luka Sayat Pada Mencit
(Mus
musculus). http://publikasi.umy.ac.id/index.ph
p/psik/article/view/2495. Diakses tanggal 11
J uli 2012 pukul 08.20 WIB.


B 118
ISBN : 978-979-17494-2-8
Prosiding Seminar Nasional Fisika Terapan III
Departemen Fisika, FST, Universitas Airlangga
Surabaya,15 September 2012

Sintesis dan Karakterisasi Bioselulosa–Kitosan Dengan Penambahan Gliserol Sebagai
Plasticizer
Riesca Ayu Kusuma Wardhani dan Djony Izak Rudyardjo
Program Studi Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga
Emai l : r i esca. war dhani @gmai l . com
Abstrak
Telah dilakukan penelitian sintesis dan karakterisasi bioselulosa-kitosan dengan penambahan gliserol sebagai
plasticizer. Penambahan gliserol sebagai plasticizer berfungsi untuk memperlemah kekakuan supaya bioselulosa
kitosan terhindar dari keretakan dan bersifat lebih fleksibel. Sukrosa yang ditambahkan merupakan sumber
glukosa, sedangkan urea yang ditambahkan merupakan sumber karbon. Penambahan kitosan berfungsi untuk
memperaktif dari kinerja bioselulosa serta memperbaiki struktur permukaan. Hasil uji sifat mekanik (Tensile
strength dan Elongation at break) pada bioselulosa-kitosan yang berbahan dasar bioselulosa dan kitosan
dengan variasi penambahan gliserol 1 ml – 4 ml menunjukkan bahwa bioselulosa-kitosan-gliserol memiliki
karakteristik yang memenuhi standar sifat mekanik kulit manusia. Bioselulosa-kitosan-gliserol terbaik
ditunjukkan dengan penambahan komposisi gliserol sebesar 2 ml yang memiliki nilai ketebalan sebesar 126,6 ±
6,7 µm, kuat tarik sebesar 27,62 ± 11 MPa, elongasi sebesar 37,08 ± 0,99 %, struktur permukaannya yang rata,
tidak terdapat gelembung, bersifat non toksik serta memiliki nilai ketahanan terhadap air sebesar 55,3 ± 0,6 %.
Penelitian tersebut menunjukkan penambahan komposisi gliserol yang paling efektif ad