You are on page 1of 4

Sindrom Somatoform konversi Kata somatoform ini di ambil dari bahasa Yunani soma, yang berarti “tubuh”.

Dalam gangguan somatoform, orang memiliki simtom fisik yang mengingatkan pada gangguan fisik, namun tidak ada abnormalitas organik yang dapat ditemukan penyebabnya. Gangguan somatoform berbeda dengan malingering, atau kepura-puraan simtom yang bertujuan untuk mendapatkan hasil yang jelas. Gangguan ini juga berbeda dengan gangguan factitious yaitu suatu gangguan yang ditandai oleh pemalsuan simtom psikologis atau fisik yang disengaja tanpa keuntungan yang jelas. Selain itu gangguan ini juga berbeda pula dengan sindrom Muchausen yaitu suatu tipe gangguan factitious yang ditandai oleh kepura-puraan mengenai simtom medis. Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan durasi gejala. Gangguan somatoform adalah tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau gangguan buatan.

Gejala
Conversion disorder Pada conversion disorder, gejala sensorik dan motorik, seperti hilangnya penglihatan atau kelumpuhan secara tiba-tiba, menimbulkan penyakit yang berkaitan dengan rusaknya sistem saraf, padahal organ tubuh dan sistem saraf individu tersebut baik-baik saja. Aspek psikologis dari gejala conversion ini ditunjukkan dengan fakta bahwa biasanya gangguan ini muncul secara tiba-tiba dalam situasi yang tidak menyenangkan. Biasanya hal ini memungkinkan individu untuk menghindari beberapa aktivitas atau tanggung jawab atau individu sangat ingin mendapatkan perhatian. Istilah conversion, pada dasarnya berasal dari Freud, dimana disebutkan bahwa energi dari instink yang di repress dialihkan pada aspek sensori-motor dan mengganggu fungsi normal. Untuk itu, kecemasan dan konflik psikologis diyakini dialihkan pada gejala fisik. Gejala conversion biasanya berkembang pada masa remaja atau awal masa dewasa, dimana biasanya muncul setelah adanya kejadian yang tidak menyenangkan dalam hidup. Prevalensi dari conversion disorder kurang dari 1 %, dan biasanya banyak dialami oleh wanita (Faravelli et al.,1997;Singh&Lee, 1997 dalam Davidson, Neale, Kring, 2004). Conversion disorder biasanya berkaitan dengan diagnosis Axis I lainnya seperti depresi dan penyalahgunaan zat-zat terlarang, dan dengan gangguan kepribadian, yaitu borderline dan histrionic personality disorder (Binzer, Anderson&Kullgren, 1996;Rechlin, Loew&Jorashky, 1997 dalam Davidson, Neale, Kring, 2004). Teori Psikoanalisis dari Conversion Disorder Pada Studies in Hysteria (1895/1982), Breuer dan freud menyebutkan bahwa conversion disorder disebabkan ketika seseorang mengalami peristiwa yang menimbulkan peningkatan emosi yang besar, namun afeknya tidak dapat diekspresikan dan ingatan tentang peristiwa

dapat pula dimunculkan pada orang yang sedang dalam pengaruh hipnotis. Freud juga berhipotesis bahwa conversion disorder pada wanita terjadi pada awal kehidupan. yang lebih toleran terhadap kecemasan akibat disfungsi yang tidak berkaitan dengan hal fisiologis daripada sebelumnya. Neale. Mereka mengalami hal ini dikarenakan oleh kurangnya pengetahuan mengenai konsep medis dan psikologis.Hysterically blind person dapat berkata bahwa ia tidak dapat melihat dan secara bersamaan dapat dipengaruhi oleh stimulus visual.1996. seperti Inggris. Misalnya kelumpuhan. Teori Behavioral dari Conversion Disorder Pandangan behavioral yang dikemukakan Ullman&Krasner (dalam Davidson. seperti yang kita ketahui. dalam Davidson. maka jawaban untuk pertanyaan (1) adalah ya. seperti Libya (Pu et al. Namun pandangan behavioral ini tidak sepenuhnya didukung oleh bukti-bukti literatur. Individu tersebut dapat memiliki masalah fisik yang serupa atau mengobservasi gejala tersebut pada orang lain. Berkurangnya gangguan ini dapat disebabkan oleh semakin luwesnya norma seksual dan semakin berkembangnya ilmu psikologi dan kedokteran pada abad ke 20. 2004). diagnosis mengenai hysteria berkurang pada masyarakat industrialis. 2004). permainan dari peran tersebut harus diberikan reward. Selain itu peran faktor sosial dan budaya juga menunjukkan bahwa conversion disorder lebih sering dialami oleh mereka yang berada di daerah pedesaan atau berada pada tingkat sosioekonomi yang rendah (Binzer et al. ketika tingkat kemunculan conversion disorder tinggi di Perancis dan Austria. Pertama. Sementara itu. Kedua. dan lebih umum pada negara yang belum berkembang. dan kebutaan. Menurut pandangan mereka. Beberapa hipotesis yang menjelaskan bahwa gangguan ini mulai berkurang adalah misalnya terapis yang ahli dalam bidang psikoanalisis menyebutkan bahwa dalam paruh kedua abad 19.tersebut dihilangkan dari kesadaran.. verbal reports dan tingkah laku dapat terpisah satu sama lain secara tidak sadar. Gejala khusus conversion disebutkan dapat berhubungan seba-akibat dengan peristiwa traumatis yang memunculkan gejala tersebut. perilaku seksual yang di repress dapat berkontribusi pada meningktnya prevalensi gangguan ini.. Ford&Regan. Individu akan menampilkan ketidakampuan hanya jika perilaku itu diharapkan dapat mengurangi stress atau untuk memperoleh konsekuensi positif yang lain. Berdasarkan pandangan psikodinamik dari Sackheim dan koleganya. Sedangkan untuk pertanyaan (2) Ullman dan Krasner mengspesifikasikan dua kondisi yang dapat meningkatkan kecenderungan ketidakmampuan motorik dan sensorik dapat ditiru. Seseorang dapat mengadopsi pola perilaku yang sesuai dengan gejala klasik conversion. Hal ini menimbulkan dua pertanyaan : (1) Apakah seseorang mampu berbuat demikian? (2) Dalam kondisi seperti apa perilaku tersebut sering muncul ? Berdasarkan bukti-bukti yang ada. diakibatkan oleh Electra complex yang tidak terselesaikan.Folks. Kring. Cara mereka menunjukkan bahwa mereka dapat melihat tergantung pada sejauh mana tingkat kebutaannya. 1984 dalam Davidson. 2004 ). analgesias. Neale. menyebutkan bahwa gangguan konversi mirip dengan malingering. Kring. dimana individu mengadopsi simtom untuk mencapai suatu tujuan. akan bereaksi. Faktor Sosial dan Budaya pada Conversion Disorder Salah satu bukti bahwa faktor social dan budaya berperan dalam conversion disorder ditunjukkan dari semakin berkurangnya gangguan ini dalam beberapa abad terakhir. Kring. Neale. individu dengan conversion disorder berusaha untuk berperilaku sesuai dengan pandangan mereka mengenai bagaimana seseorang dengan penyakit yang mempengaruhi kemampuan motorik atau sensorik. individu harus memiliki pengalaman dengan peran yang akan diadopsi. .

Gangguan Konversi a. Hal ini merupakan penemuan menarik karena fungsi bagian kiri tubuh dikontrol oleh hemisfer kanan otak.Faktor Biologis pada Conversion Disorder Meskipun faktor genetic diperkirakan menjadi faktor penting dalam perkembangan conversion disorder. Kring. gejala conversion lebih sering muncul pada bagian kiri tubuh dibandingkan dengan bagian kanan (Binzer et al.. gangguan somatisasi dan gangguan nyeri. Gangguan konversi sebelumnya disebut neurosis histerikal atau histeria. Kring. Pada analisa kasus. 2004). Simtom-simtom tersebut tidaklah dibuat secara sengaja. TERAPI Case report dan spekulasi klinis saat ini menjadi sumber informasi penting dalam membantu orang-orang yang mengalami gangguan ini. penelitian tidak mendukung hal ini. 2004). Akan tetapi. Neale. Simtom fisik itu biasanya timbul tiba-tiba dalam situasi yang penuh tekanan. dari energi seksual atau agresif yang direpresikan ke simtom fisik. Para terapis behaviorist lebih menyarankan pada mereka yang mengalami gangguan somatoform. Gangguan konversi dinamakan demikian karena adanya keyakinan psikodinamika bahwa gangguan tersebut mencerminkan penyaluran. yaitu : gangguan konversi. atau konversi. Namun disini hanya akan membahas beberapa tipe utama dari gangguan somatoform. dalam Davidson. beragam teknik yang dimaksudkan agar mereka menghilangkan gejala-gejala dari gangguan tersebut. bukanlah ide yang baik untuk meyakinkan mereka yang mengalami gangguan ini bahwa gejala conversion yang mereka alami berhubungan dengan faktor psikologis. Kring. Neale. Definisi Gangguan konversi dicirikan oleh suatu perubahan besar dalam fungsi fisik atau hilangnya fungsi fisik. berdasarkan penelitian yang lebih besar diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang dapat diobservasi dari frekuensi gejala pada bagian kanan versus bagian kiri otak (Roelofs et al.. simtom konversi menyerupai kondisi neurologis atau medis umum yang melibatkan masalah dengan fungsi motorik (gerakan) yang volunter atau . meski tidak ada temuan medis yang dapat ditemukan sebagai penyebab simtom atau kemunduran fisik tersebut. Sementara itu. 1. Orang tersebut tidak melakukan malingering. Pengetahuan klinis lebih menyajikan pendekatan yang lembut dan suportif dengan memberikan reward bagi kemajuan dalam proses pengobatan meeka (Simon dalam Davidson. Neale. gangguan dismorfik tubuh. dalam beberapa penelitian. 2004). Menurut DSM.dalam Davidson. hipokondriasis. Hemisfer kanan otak juga diperkirakan lebih berperan dibandingkan hemisfer kiri berkaitan dengan emosi negatif.

Gangguan konversi yang kronis lebih sulit untuk ditangani. Beberapa orang dengan gangguan konversi menunjukkan ketidakpedulian yang mengejutan terhadap simtom-simtom yang muncul. Misalnya. atau kehilangan rasa pada anggota badan (anestesi). Terapi behavioral bisa dilakukan dengan metode systematic desensitization dan vivo exposure therapy. 2006. kehilangan indera pendengaran dan penciuman. b. masalah dalam koordinasi. Simtom-simtom tubuh yang ditemukan dalam gangguan konversi seringkali tidak sesuai dengan kondisi medis yang mengacu. epilepsi. Gerald. kebutaan dan tunnel vision (hanya bisa melihat apa yang berada tepat di depan mata). dkk.fungsi sensoris. orang yang menjadi ‘tidak mampu’ berdiri atau berjalan dilain pihak dapat melakukan gerakan kaki lainnya secara normal. Psikologi Abnormal. Beberapa pola simtom yang ‘klasik’ melibatkan kelumpuhan. RajaGrafindo Persada Press . Jakarta: PT. 1995). Treatment Pemberian treatmen dengan menggunakan pendekatan psikoanalisa untuk pasien konversi adalah berfokus pada pengekspresian emosi dan ingatan yang menyakitkan dan insight bahwa gangguan berkaitan dengan simtom konversi (Gavin. suatu fenomena yang diistilahkan sebagai la belle indifference (ketidakpedulian yang indah). Sementara treatmen dengan pendekatan behavioral berfokus pada mengurangi kecemasan pasien yang berasal dari trauma yang menyebabkan simtom konversi. Sumber : Davidson. Ketika simtom muncul lebih dari satu bulan. riwayat pasien sering mirip gangguan somatisasi dan diperlakukan seperti itu.