You are on page 1of 98

BAB I PENDAHULUAN A. SATUAN DAN STANDARD Ilmu pengukuran listrik merupakan bagian integral dari ilmu fisika.

Kebanyakan alat-alat ukur yang sekarang yang digunakan pada prinsipnya sama dengan alat-alat ukur konvensional, tetapi dengan banyak mengalami perbaikanperbaikan tentang ketelitiannya. Untuk menetapkan nilai dari beberapa besaran yang bisa diukur, haruslah diketahui dulu nilai, jumlah dan satuannya. Jumlah biasanya lalu ditulis dalam bentuk angka-angka, sedangkan satuan menunjukkan besarannya. Pengertian tentang hal ini adalah penting dan haruslah diketahui dan disetujui bersama oleh para teknisi-teknisi antara bangsa-bangsa, karena dengan melihat macam satuannya, maka dapat diketahui besarana pada yang diukur. Untuk menetapkan system satuan ini dibentuklah suatu komisi standard internasional. Sistem satuan yang pertama adalah : C. G. S. entimeter, Gram, Second (detik) sebagai dasar. Ada dua system C.G.S. yang digunakan : yaitu system C. G. S. electrostatic dan system elektromagnetis. Sistem CGS elektrostatis itu media mempunyai permittivity (ε) disamping C.G.S. dalam satuan besaran listrik. Sedang pada system C.G.S. elektromagnetis media mempunyai permeability (μ). Dalam pengukuran listrik yang banyak digunakan adalah yang kedua. Tetapi antara kedua satuan tersebut terdapat hubungan sehingga antara satuan yang satu dan yang lainnya dapat diganti. Dasar daripada hubungan berbagai besaran listrik didefinisikan dalam bentuk gaya dan kecepatan atau percepatan. 1) Sistem Satuan C.G.S. dan Satuan Praktis Sistem C.G.S. elektromgnetis dalam praktek jarang digunakan. Telah ditetapkan bahwa dalam satuan praktis kuat arus = 1/10 satuan kuat arus dalam system elektromagnetis dan tahanan = 109 satuan tahanan dalam system CGS elektromagnetis. Untuk besaran-besaran listrik yang lain dapat dicari misalnya sebagai contoh : Emf = I x R = 109. 10-1 = 108 emf satuan elektromagnetis. Satuan-satuan praktis yang sering digunakan dalam pengukuranpengukuran besaran listrik ialah : Arus listrik (I) = Ampere (A) Tegangan (V) = Volt (V) Tahanan (R) = Ohm (Ώ) Daya semu (S) = Voltampere (VA) Daya nyata (P) = Watt (W) Daya reaktif (Q) = Voltampere reaktif (VAR) Induktansi (L) = Henry (H) Kapasitansi (C) = Farad (F) Muatan Listrik (Q) = Coulomb (C) Dan sebagainya

Halaman 1 dari 98

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Penurunan satuan-satuan yang lebih kecil adalah : Picco (p) = 10-12 8. Hecto (H) Nano (n) = 10-9 9. Kilo (K) Micro (μ) = 10-6 10. Mega (M) Milli (m) = 10-3 11. Giga (G) Centi (C) = 10-2 12. Tera (T) Deci (d) = 10-1 Deca (da) = 10

= 102 = 103 = 106 = 109 = 1012

2) Sistem Satuan M K S Oleh Prof. G. Giorgi dalam tahun 1901 diusulkan system satuan Meter, Kilogram, Second (M K S). Sistem ini merupakan pengembangan system CGS, dimana panjang dalam meter, berat dalam kilogram dan waktu dalam detik. Sehingga dalam system MKS ini adalah sebagai berikut : Luas = m2 Volume = m3 Kecepatan = m/det Gaya = Newton (105 dyne) Kerja, energi = Joule (Newton-meter) Daya = Watt (Newton meter/ second) Kuat arus = ampere Tegangan = Volt

B. Alat Ukur Secara umum alat ukur ada 2 type yaitu : • Absolute Instruments. Merupakan alat ukur standard yng sering digunakan di laboratorium-laboratorium dan jarang dijumpai dalam pemakaian di pasaran, lagi pula alat ini tidak memerlukan pengkalibrasian dan digunakan sebagai standard. • Secondary Instruments Merupakan alat ukur dimana harga yang ditunjukkan karena adanya penyimpangan dari alat ukur penunjuknya (jarum penunjuk) dan ternyata dalam penunjukkan ada penyimpangan maka alat ini harus terlebih dahulu disesuaikan/ dikalibrasikan dengan membandingkan dengan absolute instrument atau alat ukur lain yang telah lebih dahulu disesuaikan.

Halaman 2 dari 98

Persamaan Gerak dari Penyimpangan Jarum Penunjuk Bila jarum penunjuk dari meter menyimpang maka persamaan gerak umumnya adalah : d 2θ dθ P + 2 + k. + Tθ = Tw dt dt Dimana : P = moment inersia k = koefisien redaman Tw = Torsi Dari persamaan diatas, bila meter dalam keadaan diam. ⎛ d 2θ dθ ⎞ ⎜ ⎜ dt 2 = dt = 0 ⎟ ⎟ ; Tθ = Tw ⎝ ⎠
Dengan memisalkan θ (t ) = e st , maka penyelesaian dari persamaan diatas bagian homogennya adalah : d 2θ dθ + + Tθ = 0 P dt dt P S2 ept + k S ept + T ept = 0 P S2 + k S + T = 0 − k ± k 2 − 4 PT S12 = 2P

Jadi penyelesaian persamaan homogennya θ (t) = C1 eS1t + C2 eS2t Dimana : S1 =
− k + k 2 − 4 PT 2P

− k − k 2 − 4 PT 2P Kemungkinan-kemungkinannya : i. k2 < 4 P T Under damped (redaman kurang) ii. k2 = 4 P T Critical damped (redaman kritis) iii. k2 > 4 P T Over damped (redaman lebih)

S2 =

Penyelesaian umumnya : θ (t) = C1 eS1t + C2 eS2t + Tw/S i. Under damped (redaman kurang) θ (t) = C e-α sin (βt +φ) + Tw/S dengan : α = K/2P β=
PT − k 2 2P

ii. Critical damped (redaman kritis)

Halaman 3 dari 98

Over damped (redaman lebih) θ (t) = C1 e(-α +β’)t + C2 e(-α +β1)t + Tw/S = e-αt (C1 eβ’t + C1 e-β1t ) + Tw/S atau θ (t) = e-αt (C3 cosh β’t + C4 sin β’t ) + Tw/S dengan : a = k/2P β’ = D 2 − 4 PT 2P Redaman kurang A θo B Redaman kritis C Redaman lebih Waktu Gambar 1. Over damped (redaman lebih) c. Critical damped (redaman kritis) Halaman 4 dari 98 . Under damped (redaman kurang) b.θ (t) = C1 eS1t + C2 eS2t + Tw/S dengan : α = K/2P S1 = S2 = -α iii.1 Bentuk gelombang penyimpangan jarum penunjuk Keterangan : a.

Bila amperemeter tersebut skala yang digunakan adalah 300 V. bila alat ukur tersebut digunakan untuk mengukur tegangan dan penunjukkannya 220 volt.1) A 2. • Presisi : Ialah kemampuan dari alat ukur dalam pengukurannya. maka kesalahan dalam pengukurannya adalah 1% x 10 A = 0. atau penyimpangan jarum penunjuk yang besar. Contoh : 1. Bila dalam pengukurannya kesalahannya kecil. Contoh : 1.BAB II KESALAHAN-KESALAHAN DALAM PENGUKURAN Didalam pengukuran listrik selalu dijumpai kesalahan-kesalahan hasil pengamatan.1 A sehingga harga sebenarnya dari hasil pengukuran adalah (10±0.9 atau 10. Kesalahan-kesalahan tersebut dapat terjadi karaena si pengamat maupun oleh keadaan sekitarnya (suhu) atau dari alat ukur sendiri yang membuat kesalahan.1) A atau (9. sedang jarum penunjuk pada 150 V. maka perlu diketahui lebih dulu tentang istilah-istilah dalam pengukuran listrik adalah sbagai berikut : • Ketelitian (accuracy) Ialah angka yang menunjukkan pendekatan dengan harga yang ditunjukkan sebenarnya daripada besaran yang diukur. Sebuah voltmeter mempunyai batas ukur 0-300 volt. sehingga kesalahan yang mungkin terjadi didalam pengukurannnya besarnya adalah accuracy x skala penuh sehingga dari contoh 2 tersebut kesalahan pengukurannya adalah 2% x 300 = 6 V. Kesalahan dari konstruksi alat ukur sendiri besarnya ditentukan oleh pabrik Sebelum dibahas tentang kesalahan (error) ini. sedang accuracy 1 %. sedang voltmeter tersebut mempunyai sensitivitas 1 Kohm/volt maka tahanan dalam dari voltmeter tersebut adalah 1 x 300 = 300 Kohm. presisi ini hubungannya juga dengan accuracy • Sensitivitas Kemampuan dari alat ukur dengan input yang kecil sudah didapat perubahan output yang besar. dimana tahanan dalam dari voltmeter tersebut besarnya adalah sensitivitas x batas ukur voltmeter. Jadi disini jelas bahwa tahanan dalam dari Halaman 5 dari 98 . maka penu8njukkan sebenarnya adalah (150±6) Volt. Satuan sensitivitas : Ohm/Volt Secara umum sensitivitas ini hanya terdapat pada alat ukur voltmeter. maka presisinya tinggi. maka accuracynya : 300 x2%=4% 150 Didalam alat ukur accuracy secara umum adalah terhadap skala penuh (range). Sebuah amperemeter mempunyai accuracy 2 % untuk penunjukkan skala penuh. Sebuah amperemeter menunjukkan arus sebesar 10 A.

2.5%. 1. Klas tersebut adalah kelas : 0. skala yang hampir rata seperti yang terdapat pada alat ukur elektrodinamis. hal ini dapat disebabkan karena jarum kurang runcing dan kurang tipis sehingga bias meragukan pembacaan skala.1. sebagai contoh bila alat ukur mempunyai bentuk rata.5. 0. 0. 0. adalah bagian dari skala penunjukkan daripada alat ukur. • Kesalahan karena temperatur • Kesalahan karenan ketidakpastian dari rangkaian • Dan lain-lain kesalahan C. Menurut klasifikasi seperti diberikan di dalam batas-batas ukur penting seharusnya ada dalam batas-batas masing-masing sebagai : 0.5%. Batas ukur penting ini tergantung dari bentuk skala. Batas kesalahan dari alat ukur Standard IEC no. seperti pada alat ukur kumparan putar. 1.• voltmeter tidak tergantung dari besar penunjukkan dalam pengukuran tetapi sangat tergantung dari batas ukur/range dari voltmeter.2. 0.1%. Dengan batas ukur penting dimaksudkan. 1. dan 5. maka kesalahan (error) adalah : ε=M–T Keslahan relative = = ε x 100% T Besar kecilnya error menentukan presisi dari alat ukur. A..05. sedangkan harga sebenarnya adalah T. 2.5%. Relatif Error Kesalahan relatif (relative error) merupakan perbandingan antara besarnya kesalahan terhadap harga yang sebenarnya.2%. maka seluruh skala dianggap sebagai batas ukur penting. 13B – 23 menspesifikasikan bahwa ketelitian dari alat ukur harus diberikan dalam menurut dalam “8 kelas”. B. Dengan ini dimaksudkan bahwa kesalahan dari alat ukur. 0.5. dimana ketelitian dari penunjukkan digaransikan. • Karena bayangan dari jarum yang akan dapat menyebabkan kesalahan parallax • Kesalahan karena alat ukur • Kesalahan karena metoda pengukuran 0. Kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi didalam pengukuran • Error karena konstruksi. Bila harga pembacaan adalah M. Akan tetapi bila alat ε T dan dinyatakan dalam persen : Halaman 6 dari 98 . 0.05% . Error (kesalahan) Ialah penyimpangan-penyimpangan dari pada harga sebenarnya dari pengukuran. • Error (kesalahan) karena pembacaan jarum penunjuk. 5% secara relatif kepada harga nmaksimumnya untuk masing-masing kelas diatas. 1%.5. besarnya ditentukan oleh pabriknya yang biasa diberikan dalam accuracy dari alat ukur atau kelas alat ukur.

Akan tetapi dalam pemakaiannya ada banyak hal yang perlu diperhatikan seperti hal-hal dibawah ini : 1. • Alat-alat ukur dari kelas 0.ukur mempunyai skala yang tidak rata. akan tetapi bila keadaan temperature keliling tersebut adalah jauh berbeda dengan temperature 20 derajat celcius. 2. sehingga di daerah dekat pada nol tidak lagi dapat diadakan pembacaan-pembacaan yang pasti.5 : Alat ukur ini mempunyai ketelitian dan presisi pada tingkat berikutnya dari kelas 0. Didalam pemilihan alat ukur untuk kepentingan pengukuran atau peralatan atau perencanaan dalam penggunaaan peralatan. Sebab-sebab Kesalahan dari alat ukur Setiap alat ukur dari type apapun yang dipergunakan untuk alat ukur ampere maupun volt yang terdapat di pasaran telah direncanakan sehingga batas kesalahan terdapat pada batas-batas yang diperkenankan. D. maka akan memudahkan sekali bila klasifikasi-klasifikasi tersebut digolongkan dalam 4 golongan sesuai dengan daerah pemakaiannya yang lazim diperuntukkannya.1.5 atau 2.5 atau 5 : Alat-alat ukur ini dipergunakan pada panel-panel dimana presisi serta ketelitian dari alat ukur ini tidak begitu. Dan daerah penting ini dinyatakan dengan adanya sustu sebagai pernyataan permulaan daerah penting. maka kesalahankesalahannya mungkin tidak dapat diabaikan. Seperti telah dinyatakan. Bila suatu alat ukur dipergunakan di sekitar suatu penghantar yang dialiri arus besar atau di sekitar suatu magnet yang sangat kuat maka medan magnetv yang terdapat dalam celah udara pada sirkuit magnet dari pada alat ukur bisa terpengaruh.2 dan dipergunakan untuk pengukuran-pengukuran presisi pada umumnya alat ukur yang portable termasuk dalam kelas ini. misalnya skala yang di daerah penunjukkan nolnya sangat ditekan. • Alat ukur 1 : Alat ukur ini mmepunyai presisi dan ketelitian pada tingkat yang lebih rendah dari alat ukur kelas 0. Temperatur keliling. Halaman 7 dari 98 . 0. Alat ukur tersebut biasanya ditempatkan secara stasioner di dalam laboratorium atau ruangan standard dan dipergunakan dalam pengukuran substandard pada pada experiment-experiment yang memerlukan presisi yang tinggi atau pada pengujian alat ukur lainnya. suatu alat ukur telah dibuat untuk tidak terpengaruh oleh keadaan temperature keliling.5 dan dipergunakan pada alat-alat ukur portable yang kecil atau alat ukur yang ditempatkan pada panel yang besar • Alat-alat ukur kelas 1. sesuai dengan kelas dari pada kelas alat ukur tersebut. maka daerah penting tersebut adalah bagian dari skala tanpa memperhitungkan daerah yang ditekan pada nol tersebut.05 : 0.2 : Alat ukur tersebut termasuk golongan alat ukur dengan ketelitian atau presisi yang tertinggi dari pada alat ukur penunjuk lainnya. Medan magnet luar. • Alat ukur dari kelas 0.

Setelah jangka waktu dari mulai alat ukur ini dibuat berlalu. Ini dapat dikoreksi dengan pergeseran-pergeseran secara mekanis. maka pengukuran yang berulangkali munglin menyebabkan harga-harga yang berbeda. disebut titik nol. Karena titik berat dari bagian yang bergerak dari suatu alat ukur. Hal ini mungkin terjadi bila gesekan antara sumbu dan bantalan besar. Jadi penunjukannya berubah. Gesekan-gesekan. maka pada permukaan temperature dari pada komponen alat ukur tersebut akan menaik dan menyebabkan penunjukannya berubah. kemungkinan titik nol tersebut berubah dan bergerak. Jadi penunjukkan tidak akan menjadi stabil sebelum temperature dari alat ukur tersebut jadi konstan. Halaman 8 dari 98 . Umur. 4. 7. Stetelah digunakan beberapa lamanya. Letak penggunaan dari pada alat ukur dinyatakan pada papan skala suatu alat ukur dengan mempergunakan symbol-simbol tertentu seperti ditunjukkan dalam table 1. Letak alat ukur. 6. Pergeseran dari titik nol. maka sebaiknya dilakukan kalibrasi secara berkala dalam intervalwaktu antara setengah tahun sampai dengan setahun. sehingga memungkinkan pengaturanpengaturan yang terbatas dan dengan demikian. bila alat ukur tersebut dipakai dengan letak yang tidak ditentukan maka posisi dari pada bagian yang bergerak dan dengan demikian alat penunjuknya. dengan cara-cara pengaturan titik nol dari luar. PAda alat ukur yang dibuat dengan konstruksi sumbu dan bantalan. dan akan menghasilkan kesalahan penunjukan dari alat ukur. Pergeseran dari titik nol. maka berbagai komponen dan elemen dari pada alat ukur ini mungkin berubah di dalam kebaikan kerjanya. Agar alat ukur ini tetap siap untuk pengukuran-pengukuran yang teliti. Bagian-bagian yang bergak dari alat ukur telah dibuat sedemikian rupa.1 dibawah. meskipun arus yang diukurnya adalah tetap.3. Akan tetapi adalah penting untuk mempergunakan alat ukur ini di dalam letak yang diperuntukkan sedapat mungkin. Pemanasan sendiri. Posisi daripada alat penunjuk dari alat ukur tanpa kebesaran listrik yang masuk. Jadi setelah beberapa lama. yang disebabkan oleh fatik dari pada pegaspegas pengontrol. mungkin berbeda dan menghasilkan kesalahan. Bila suatu arus mengalir ke dalam alat ukur. maka tidak akan terjadi kesalahan berarti meskipun alat ukur tersebut dipakai pada letak yang berbeda dari pada yang diperuntukkan. diatur dengan mempergunakan berat-berat pengatur. 5.

menjumlahkan/ mengurangi dua hasil pengukuran Y = U±V Dimana : U = Hasil pengukuran dengan hasil kesalahan ±dU V = Hasil pengukuran dengan hasil kesalahan ±dV Apabila kesalahan pada Y adalah dY. dV dapat diabaikan (kecil sekali atau dapat dianggap sama dengan nol). Untuk itu diperlukan kemungkinan-kemungkinan menentukan maksimum systematic error dalam hasil terakhir.1 Letak alat ukur waktu pemakaian Letak Tegak Datar Miring (contohnya sudut 60o) dengan Tanda 60o E.Tabel I. Contoh : 1.dU = Y Y Halaman 9 dari 98 .V Y + dY = (U + dU) (V+dV) = U V + U dV + V dU + dU dV Karena dU. maka diperoleh : Y + dY = U V + U dV + V dU Sehingga : dY = U dV + V dU Kesalahan relatifnya : dY U . Perhitungan maksimum systematic error Di dalam pengukuran listrik sering harus ditentukan dua atau lebih besaran-besaran yang masing-masing mempunyai kesalahan dan hasil terakhir dihitung dari besaran-besaran yang diukur.dV + V . Perkalian dua hasil pengukuran Y = U. maka : Maksimum : Y + dY = U + dU + V + dV = U + V + dU + dV Minimum : Y – dY = U + V – dU – dV _ 2 dY = 2 (dU + dV) dY = dU + dV Kesalahan relative : dY dU + dV dU + dV = = Y Y U ±V 2.

dV terhadap suku-suku yang lain yang terdapat pada pembilang.dV + V .dV dU + dY = V2 V Kesalahan relatifnya : U .V + U .dV = V 2 − dV 2 Dengan demikian mengabaikan suku dU.dV + V . I V = 100 ±1 dV Relative error = x100% V 1 = x100% = 1% 100 = Halaman 10 dari 98 .dU + dU .dV + V . diperoleh : U .dV dU + 2 dY V = V U Y V dU dV = + U V Contoh : 1) Dari suatu pengukuran diketahui bahwa tegangan antara ujung-ujung dari suatu tahanan adalah (100±1) Volt. Jawab : V R= .U . maka berapakah besarnya tahanan tersebut.V + U .dU Y + dY = V2 U U .V dV dU = + V U 3. maka : U . dan juga dengan mengabaikan dV2 terhadap V2.dU U .dV + V . Bila besarnya arus melalui tahanan tersebut sebesar (90±1) mA.dU = + V V2 Dengan demikian. Hasil Bagi Dari Dua pengukuran U Y= V Maksimum : U + dU Y + dY = V − dU U + dU V + dU = x V − dU V + dU U .

9 = x100% = 1% 100 + 90 Jadi Y = (100 + 90) ± (1% x 190) ==== Y = 190 ± 1.9 • Y = U . (100.V === dY dU + dV = Y U −V 1 + 0.9 Relative error = dI x100% I 0.022 Halaman 11 dari 98 .9 2) Diketahui : Bila : Y=U+V Y=U–V Y=U.90) ± (0.02 x = 1.9 = x100% = 1% 90 Jadi R = 100 100 ± 0.9 = x100% = 19% 100 − 90 ==== Y = (100 .I = 90 ± 0.19 x 10) Jadi Y = 10 ± 1.V Y = U/V Tentukan : Y Penyelesaian : Kesalahan relative U === 1 dU = = 1% 100 U dV 0. 100/90 = 0.90) = 180 Y = 9000 ± 180 U dY dU dV ==== = + Y V U V = 1% + 1% = 2% dY = 2%.1 ± 0. V === Jadi • Y= dY dU dV = + Y U V = 1% + 1% = 2% === dY = 2%.0221 Kohm 90 90 U = 100 ± 1 & V = 90 ± 0.9 Kesalahan relative V === = = 1% 90 V dY dU + dV • Y = U + V === = Y U +V 1 + 0.9 • Y = U .

022 Jadi Y= 3) Suatu penghantar tahanan dengan metoda seperti gambar dibawah ini : Rx A V φ φ Penunjukan volt meter 100 V pada range 0-150 V sensitivitasnya 1000 ohm/V.150 = (150 − 20) = 23.05 Kohm Kesalahannya = (23.100 ± 0.022 90 ==== Y = 1.05 Kohm 3. 1000 = 150 Kohm Rt = Rx Maka : Rvm 1 1 1 = + Rt Rx Rvm Rt.05 = 13.20) = 3. Penunjukan amperemeter 5 mA Tentukan kesalahan relatifnya Penyelesaian : VM 100 = = 20 Kohm Rt = AM 5.10− 3 Tahanan dalam voltmeter = 150.Rvm Rx = ==== Rvm − Rt 20.05 .1 ± 0.2 % 4) Seperti soal no.05 x100% Jadi kesalahan relative = 23. 3 bila : Ketelitian (accuracy) voltmeter = 2 % Dan ketelitian dari pada amperemeter = 1% Sedang pembacaan amperemeter pada range : 0 – 10 mA Hitung : Rx Halaman 12 dari 98 .

05 = 1.7 % 150 − 20 dRx = 5.Penyelesaian : VM dRt dVM dAM Rx = ===== = + AM Rt VM AM dVM = 2% x 150 = 3 V dAM = 1% x 10 MA = 0.1 3 + 2 dRt maka : = + = = 5% Rt 100 5 100 ====Rt = (20 ± 5 % .05 + 1.Rvm Rx = Rvm − Rt dRx dRx dRvm dRvm + dRt = + + Rx Rx Rvm Rvm − Rt 1 = 5% + 0 + = 5.7 % . 20) Kohm = (20 ± 1 ) Kohm Rt.1 MA 3 0.3 K ohm Jadi Rx = (23. 23.3) Kohm Halaman 13 dari 98 .

Bila hasil pengukurannya pada skala yang continue. Jarun penunjuk ini diletakkan pada kumparan putarnya. 1. dapat diklasifikasikan sebagai berikut : • Alat ukur kumparan putar magnet permanent (PMMC) • Alat ukur besi putar • Alat ukur elektrodinamis • Alat ukur elektro statis • Alat ukur induksi • Alat ukur berdasarkan efek panas Di dalam penggunaannya di dalam pengukuran maka dibedakan metode-metode pengukuran sebagai berikut : • Metode penyimpangan : Pembacaannya langsung menunjukkan hasil pengukuran. Dan bila hasil pengukurannya didisplaykan dalam suatu skala tertentu maka dinamakan alat ukur digital. Metode pembanding Hasil pengukuran metode ini tidak secara langsung diketahui tetapi cara penggunaannya dengan mengusahakan peralatannya menunjukkan nol yang berarti tidak ada arus yang melaluinya misalnya pada potensiometer dan jembatan. Gambar konstruksi seperti pada gambar 3. maka alat ukur ini dinamakan analog instrument yang pada umumnya pakai jarum penunjuk.BAB III KLASIFIKASI ALAT-ALAT UKUR Menurut prinsip kerja dan konstruksi dari pada alat ukur lisrik. Alat Ukur Kumparan Putar Magnet Permanen Alat ukur kumparan ini konstruksinya terdiri dari sebuah kumparan (coil) yang dapat bergerak atau berputar bebas yang ditempatkan dalam medan magnet permanent.1 • Halaman 14 dari 98 .

i Kopel : TD = F.Gambar 3.2 Prinsip kerja alat ukur kumparan putar Kedua gaya ini akan memberikan momen (kopel) sehingga kumparan akan berputar pada sumbunya dan berhenti pada kedudukan kumparan sejajar dengan bidang netral magnetic. b =NabBi dimana : N = jumlah lilitan I = kuat arus B = Kecepatan fluks magnet Untuk memperoleh simpangan jarum penunjuk yang sesuai dengan harga dari besaran yang diukur/ arus yang mengalir dalam kumparan. maka diperlukan momen lawan yang menentang momen penggerak TD. Momen lawan Tc didapat dari pegas spiral dan besarnya adalah : Tc = T. dimana bidang netral magnetic adalah sebuah bidang yang tegak lurus terhadap arah medan magnet. Momen lawan Tc ini akan menghentikan jarum penunjuk dalam kesetimbangan sehingga menunjukkan harga tertentu. b B U F a S i i Gambar 3. Dari gambar 3. a. B.1 Konstruksi alat ukur kumparan putar Cara Kerja : Bila kumparan dilalui arus searah I.θ Dimana : T = Konstanta pegas θ = Sudut simpangan Halaman 15 dari 98 . maka pada kedua sisi kumparan yang berada dalam medan magnet akan timbul gaya lorentz sebesar F dengan arah sesuai dengan kaidah tangan kiri Flemming.2 diatas : Gaya : F = N.

a.i = Konstanta alat ukur T Dari sini nampak bahwa θ merupakan fungsi linier dari arus.3 Rem udara Apabila jarum bergerak ke kanan / ke kiri dalam penyimpangannya maka gerakan ini diteruskan oleh pengisap dalam tabung karena adanya hubungan (lihat gambar 3. Diperlukan momen lawan Tc untuk memperoleh hasil penunjukan yang sesuai dengan arus yang mengalir dalam kumparan Diperlukan peredaman dari gerak osilasi yang terjadi pada kumparan putar. Hal ini dapat menimbulkan kesalahan pada pembacaan skala hasil pengukuran.b.a. TD = Tc NabBI =Tθ N . Timbulnya momen peredam ini karena adanya tekanan udara dalam Halaman 16 dari 98 . Cara peredaman : Peredaman dari gerakan osilasi ini dapat dilakukan antara lain dengan : Rem udara Gambar 3.B.3) Gerakan pengisap dalam tabung akan menimbulkan momen peredam pada sumbu kumparan putar. maka skala dari alat ukur ini adalah linier. Proses interaksi antara momen putar dan momen lawan akan mengakibatkan terjadinya gerakan osilasi dari jarum penunjuk di sekitar keseimbangannnya sebelum berhenti. yang arahnya selalu melawan arah gerakan jarum penunjuk.b. Oleh karena itu perlu diberikan peredaman gerakan osilasi tersebut. Dari cara kerja alat ukur diatas dapat disimpulkan sebagai berikut : Berputarnya kumparan putar akibat momen putar TD.i θ = T N .B.Dalam keadaan keseimbangan.

maka akan timbul perubahan flux pada keeping logam dan berakibat timbulnya arus putar pada keeping logam tersebut.5 (a) dan (b)Rangka Kumparan Putar Gerakan dari jarum penunjuk diteruskan oleh rangka kumparan. Rem arus putar Ganbar 3. Akibat timbulnya arus putar dalam keeping logam.tabung yang dapat keluar/ masuk lewat celah yang sempit diantara dinding tabung dan pengisap. Pada rangka akan timbul arus induksi dengan arah sesuai dengan aturan tangan kiri. Arah dari momen peredam ini selalu melawan arah dari gerakan dari jarum penunjuk Memasang rangka pada kumparan putar Gambar 3. KArena pemotongan medan magnet ini. maka interaksi gaya yang mengakibatkan momen peredam pada sumbu kumparan putar. sehingga medan magnet dipotong oleh rangka kumparan. Interaksi antara arus induksi Halaman 17 dari 98 .4 Rem arus putar Gerakan jarum penunjuk ke kiri / kekanan diteruskan oleh keeping liogam yang akan memotong medan magnet permanent.

6) 1 = Kumparan 2 = Sumbu jarum penunjuk 3 = Sepasang besi lunak 4 = Jarum penunjuk Halaman 18 dari 98 . Ketelitian pada alat ukur ini cukup tinggi tergantung dari pada magnet permanent yang digunakan. Simbol untuk alat ukur ini : Dengan Rectifier 2. Alat Ukur Besi Putar (Moving Iron Instrument ) Alat ukur kelas ini ada dua type. Dengan demikian timbul momen peredaman yang berlawanan dengan momen gerakan jarum.dan medan magnet akan menimbulkan gaya pada masing-masing sisi rangka kumparan yang sama besar dan berlawanan arah. yaitu : • Repulsion type • Attraction type Konstruksi dari alat ukur ini terdiri dari kumparan tetap dan sepasang besi lunak yang mudah demagnetisasi. Pemakaian : Penggunaan alat ukur ini banya dipakai dalam pengukuran-pengukuran arus searah sebagai : • Amperemeter • Ohmeter • Voltmeter • Galvanometer • Multimeter Dalam penggunaan dengan arus bolak-balik. maka diperlukan rectifier (penyearah) sebelum besaran bolak-balik tersebut. Besi lunak tersebut ditempatkan dalam ruang di antara kumparan tetap dimana besi lunak yang satu ditempatkan menempel pada kumparan tetap dan yang satu lagi berhubungan dengan sumbu/ as dari pada jarum penunjuk sehingga dapat bergerak/ berputar bebas (lihat gambar 3. dimasukkan dalam alat ukur.

6). Pasangan besi lunak tersebut akan mempunyai sepasang kutub yang berhadapan yang sama (lihat gambar 3.Gambar 3. Simbol daripada alat ukur ini : Halaman 19 dari 98 . Akibatnya menurut hukum fisika kutub-kutub yang sejenis (sama) akan mengalami gaya tolak-menolak.6 Alat ukur besi putar Cara kerja : Bila ada arus mengalir melalui kumparan. maka dalam ruangan akan timbul medan elektromagnetis yang akan mengakibatkan kedua besi lunaka tersebut termagnetisasi dan bersifat sebagai magnet permanent. maka alat ukur ini dapat digunakan untuk mengukur besaran arus searah (DC) maupun arus bolak-balik (AC) Pemakaian : Alat ukur ini banyak digunakan sebagai voltmeter dan ampere meter arus bolak-balik. Karena kutub-kutub magnet daripada besi lunak selalu mempunyai arah yang sama baik arus yang lewat kumparan tersebut berubah arah. Dengan demikian jarum penunjuk pun ikut berputar melalui satu penyimpangan tertentu yang besarnya sama tergantung kepada besar kecilnya arus yang lewat kumparan. maka besi lunak yang berhubungan dengan sumbu jarum penunjuk ditolak oleh besi lunak yang tetap menempel pada kumparan tetap.

Alat ukur Elektrodinamis Bentuk konstruksi dari alat ukur ini terdiri dari kumparan putar dan kumparan tetap atau diam. Jarum penunjuk Cara kerja : Prinsip kerja dari pada alat ukur ini sama dengan prinsip kerja tipe alat ukur kumparan putar magnet permanent.3. sedang rangkaian elektrisnya dari kedua kumparan tersebut terhubung serie atau paralel Gambar 3.7 Medan magnet dibangkitkan oleh kumparan tetap yang mempunyai Dua bagian gulungan atau coil yang sama dipasang paralel satu sama lain.7 Konstruksi alat ukur elektrodinamis i. Kumparan tetap ii. GAmbar konstruksi dapat dilihat pada gambar 3. Sumbu kumparan putar iv. Halaman 20 dari 98 . Hanya saja medan magnet yang terjadi dibangkitkan oleh kumparan tetap. Kumparan putar iii.

Simbol untuk alat ukur ini adalah : 4.9 Halaman 21 dari 98 . Untuk mencapai kesetimbangan dari momen putar ini diperlukan sustu momen lawan sehingga dapat diperoleh penunjukan yang sesuai dengan besarnya arus yang mengalir dipergunakan pegas dari spiral. Pada kumparan putar mengalir arus I2. Disamping itu diperlukan pula peredaman untuk mengurangi osilasi yang terjadi seperti pada alat ukur kumparan putar. maka interaksi antar medan magnet dan arus I2 menyebabkan momen putar pada kumparan putar yang besarnya T sebanding dengan I1 I2 dan bila sebagai voltmeter dimana I1 = I1 = I maka T sebanding dengan I2. juga untuk mengukur daya sebagai wattmeter. Pemakaiannya dapt digunakan untuk mengukur tegangan dan arus sebagai voltmeter/ amperemeter arus bolakbalik dan arus searah (AC/ DC). akibat momen putar ini jarum akan bergerak memberikan simpangan pada skala. Gambar konstruksi dapat dilihat dari gambar 3.Scale Pointer Movable Coil i i Fixed Coil Gambar 3.8 Prinsip alat ukur elektrodinamis Misalkan arus yang mengalir dalam kumparan tetap I1 akan menimbulkan medan magnet dengan kerapatan flux magnet B dalam ruang dimana kumparan putar berada. Alat ukur elektrostatis Pada alat ukur type ini bekerjanya atas dasar gaya elektrostatis sebagai akibat interaksi antara dua elektroda yang mempunyai beda potensial.

Pemakaian Alat ukur ini dapat digunakan untuk mengukur tegangan yang tinggi sebagai voltmeter AC/ DC.Gambar 3.9 Alat ukur elektrostatis Cara kerja : Bila suatu tegangan V yang akan diukur ditempatkan diantara elektroda tetap dan elektroda berputar.10 5. Halaman 22 dari 98 . Simbol untuk alat ukur ini : Alat ukur induksi Alat ukur ini terdiri dari piringan logam yang dapat berputar pada porosnya dan dua biah kumparan tetap. Konstruksi alat ini seperti terlihat pada gambar 3. Elektroda ini dibuat sedemikian sehingga didapatkan skala rata. Momen yang menyebabkan elektroda putar bergerak didapat dari medan elektrostatis yang terjadi diantara kedua keeping elektroda yang bertindak sebagai kondensator. maka pada elektroda putar akan mendapatkan momen putar yang sebanding dengan V2.

Alat ukur berdasarkan efek panas/ thermokopel Dalam gambar 3. Simbol untuk alat ukur ini ialah : 6. Dan arus pusar pada logam ini akan membangkitkan pula medan magnet sehingga interaksi dengan medan magnet dari kumparan iniduksi menimbulkan momen putar/ momen gerak pada piringan logam. Medan magnet ini akan menimbulkan arus putar pada piringan logam.1. amperemeter dan wattmeter AC.10 Alat ukur Induksi Cara kerja : Bila kumparan induksi dilalui arus.Gambar 3. Elemen yang demikian disebut thermocouple dan gaya gerak listrik yang dibangkitkan disebut daya gerak gaya listrik thermis (GGL thermis). dua logam yang berlainan dihubungkan pada ujungujungnya J1 dan J2 sehingga membentuk suatu circuit. maka akan timbul medan magnet bolak-balik. Pemakaian Penggunaan alat ukur ini sebagai voltmeter. M1 (temperature T2) M2 M1 (T1 ≠ T2) Alat thermocouple mempergunakan thermocouple ukur seperti M1 (temperature T1) Halaman 23 dari 98 . Bila suatu perbedaan temperatur T2 –T1 terdapat antara kedua titik hubung tersebut maka suatu gaya gerak listrik dibangkitkan dalam circuit tersebut yang memungkinkan arus mengalir didalamnya.

yang akan diukur. Alat ukur penyearah Alat ukur kumparan putar magnet tetap (PMMC) hanya dapat digunakan untuk mengukur arus dan tegangan arus searah. menjadi tegangan searah dan diukur melalui suatu alat ukur kumparan putar Pemakaian Alat ukur ini digunakan untuk voltmeter. Didalam pembentukan gelombang besaran arus searah ada 2 macam yaitu : a) Half wafe Rectifier Tegangan O (b) Waktu Arus Io (c) Waktu O Halaman 24 dari 98 .dimaksud diatas. Simbol untuk alat ukur ini adalah 7. maka bila digunakan untuk mengukur besaran arus bolak-balik (AC) harus diberi rectifier arus penyearah. mengkonversikan arus bolakbalik atau arus searah atau pula tegangan. amperemeter dan wattmeter AC dan DC.

b) Full wave Rectifier Tegangan O (b) Waktu Arus O (c) Waktu Halaman 25 dari 98 .

akan diperoleh gelombang separuh (halfwave) untuk tegangan Vg(lihat gambar 3.V max Maka untuk gelombang separuh : V max 2 fb = V max ====fb = π 2 π = 2.1 dibawah = π Halaman 26 dari 98 .∫ { f (t )} dt T 0 T Vrata-rata = 1 . diperoleh gelombang penuh (fullwave) untuk tegangan Vg (lihat gambar 3.Dengan satu rectifier.22 Sedang untuk gelombang penuh : V max 2 fb = 2.∫ { f (t )} dt T 0 T Veff untuk gelombang sinus (besaran arus bolak-balik) adalah: V max Veff = 2 Sedang harga rata-rata dari masing-masing : V max • • Untuk gelombang separuh : Vrata-rata = Untuk gelombang penuh : Vrata-rata = π π 2.V max π 2 2 Alat-alat ukur yang biasa digunakan untuk pengukuran-pengukuran adalah seperti ditunjukkan dalam table 3.12) • Dengan hubungan jembatan. Veff _ input fb = Vrata − rata _ output 2 Veff = 1 .13) Karenanya akan dikenal istilah form factor (factor bentuk) yang didefinisikan : fb = • Harga efektif dari gelombang input Harga rata-rata setelah melalui rectifier maka bila untuk besaran tegangan.

1 φ A RL AM = ampere meter RL = tahanan beban φ Gambar 4. Rsh i . dimana arus tersebut mengalir harus dihubungkan seri seperti terlihat pada gambar 4. Besarnya arus yang mengalir dalam ampere meter tertentu menurut kemampuan atau batas ukur dari suatu ampere.1 pemasangan amperemeter Disini ampere meter mempunyai tahanan dalam Ri dan kumparan L. Bila arus yang diukur melebihi dari besarnya arus batas ukur maka hal ini akan mengakibatkan rusaknya meter tersebut. jadi lewat kumparan dari amperemeter sehingga akan menyimpang jarum penunjukkan yang akan menunjukkan besarnya harga arus yang tertera.2. Ri = Ish. VAB = i.Ri ( I − i) Halaman 27 dari 98 . Cara pemasangan amperemeter dengan beban. Arus I mengalir akan lewat amperemeter. akan digunakan untuk mengukur arus yang lebih besar dari I mA maka harus dipasang tahanan paralel Rshunt dengan amperemeter. karena besaran arus searah maka kumpraran L dari amperemeter akan terhubung singkat. Amperemeter Untuk mengukur arus dari sustu rangkaian dapat digunakan amperemeter. Misalnya batas ukur yang dikehendaki I mA. 1) Memperbesar batas ukur/ range amperemeter a) Besaran arus searah Bila batas ukur dari suatu amperemeter misalnya 1 mA.Ri Sehingga i. VOLTMETER DAN OHMMETER A. Ri VAB = Ish.BAB IV PENGGUNAAN-PENGGUNAAN AMPERE METER. maka besar arus yang lewat tahanan shunt adalah : Ish = (I-i) mA Besar tahanan shunt dapat dicari dari gambar 4. Rsh Rsh = Ish Atau dapat juga Rsh diperoleh dari persamaan berikut : i Rsh = .

ω. sh Rsh = Ri (1 + j.ω.L L ) Rsh .Z i Halaman 28 dari 98 .Sehingga Dimana n= I i Rsh = 1 .Lsh = sh Ri + j. maka secara sama dengan untuk besaran arus searah akan diperoleh persamaan sebagai berikut tetapi tahanan Rsh diganti dengan impedansi Zsh dan tahanan dalam Ri dengan impedansi dalam Zi. maka harus dipasang impedansi paralel dengan amperemeter disini karena besaran arus bolak-balik maka besar induktansi kumparan amperemeter L ada harganya. L ) Ri Dimana : n = i I sh . Zsh = Dimana : Zi = Ri + j ωL (impedansi dari ampere meter) Zsh = Rsh + j ωLsh 1 Zsh = . akan digunakan untuk mengukur arus yang lebih besar dari I mA.Ri (n − 1) Rs Ish φ i RL A φ Gambar 4.ω.2 Memperbesar batas ukur amperemeter DC b) Besaran arus bolak-balik Bila batas ukur dari suatu amperemeter misalnya i mA.Z i n −1 I i Supaya alat ukur tersebut tidak tergantung dengan frekuensi maka : Z 1 = sh n −1 Zi R + j. Misalnya batas ukur yang dikehendaki I mA.(1 + j.ω.

induktansi L tidak ikut diperhitungkan . tahanan shunt/ impedansi shunt besarnya harus selalu lebih kecil dari tahanan/ impedansi dalam dari amperemeter. Jawab : Dari gambar 4.061 Rsh = 999 B.Sehingga supaya alat ukur tersebut tidak tergantung frekuensi maka : Lsh L = Rsh Ri Rs φ Ish A i RL φ Gambar 4. L = 0.75 H.3 Memperbesar batas ukur amperemeter AC Dari rumus-rumus yang didapat.4 pemasangan voltmeter Halaman 29 dari 98 . Batas ukur dikehendaki menjadi 1 ampere.4 φ R E φ V RL E = tegangan sumber R = tahanan rangkaian RL = tahanan beban VM = volt meter Gambar 4.Ri Rsh = I sh 1 . Voltmeter Untuk mengukur tegangan dari pada terminal atau ujung dari suatu rangkaian dapat digunakan voltmeter yang ditempatkan paralel terhadap beban/ rangkaian yang hendak diketahui tegangannya lihat gambar 4. Contoh : Suatu amperemeter dari kumparan putar magnet permanent (PMMC) untuk mengukur arus dc mempunyai batas ukur 1 mA. maka : i .2 diatas.60 = 0. Ish = I – I = 1000 – 1 = 999 mA Dalam pengukuran arus searah maka yang diperhitungkan adalah besarnya tahanan dalam dari ampere meter dan tahanan shunt. Tahanan dalam amperemeter : Ri = 60 ohm. Tentukan besarnya tahanan shunt.

1. Besarnya arus yang mengalir melalui volt meter ini sudah tertentu. Memperbesar batas ukur dari voltmeter a. Besarnya arus yang lewat VM ialah i A. Rs = VAB . bila tegangan yang diukur melebihi tegangan batas ukur dari voltmeter. Besaran arus searah Untuk memperbesar batas ukur dari voltmeter dapat dengan memberikan tahanan seri dengan voltmeter lihat gambar 4. Pada voltmeter tahanan dalam tersebut adalah besar. Rd b.Rd Rs = i V AB Rs = − Rd i Disini Rd = tahanan dalam dari meter i = arus yang lewat meter Jadi tahanan seri Rs dapat dihitung Perbesaran batas ukur tegangan dapat dituliskan sebagai berikut : V n = AB kali v Rs = (n-1). A φ R i Rs E V φ B RL Gambar 4. Besaran arus bolak-balik Halaman 30 dari 98 .v V −v Rs = AB i V AB − i. meter akan rusak. Jadi : VAB = i. Rs + v i. Dikehendaki batas ukur tersebut menjadi V volt. Karena besaran arus searah maka induktansi L dari kumparan voltmeter hubung singkat.5 Memperbesar batas ukur voltmeter DC Misalkan batas ukur voltmeter v volt.Sebagai telah diketahui bahwa dalam voltmeter mempunyai tahanan dalam/ impedansi dalam yang terdiri dari tahanan Ri dan kumparan L.5.

1 A DC. L = 1 H. bila frekwensi berubah impedansi total ini juga berubah. φ R C E V Rs RL Φ Gambar 4.6 Memperbesar batas ukur voltmeter AC Sehingga tahanan Rs akan bersifat mengkompensasi induktansi L dari meter. maka tentukan Rs dan C yang diperlukan. dengan Rs = 2 Kohm. maka : Halaman 31 dari 98 . tahanan dalam Ri = 500 ohm. tanpa kapasitor C. missal f = 50 Hz.Untuk pengukuran tegangan Ac.1 . 500 = 50 volt DC Dikehendaki : V = 250 volt DC 250 Dari rumus : Rs = − 500 0.41. Bila diinginkan agar batas ukur voltmeter tersebut 250 volt DC dan 250 volt AC. Hal ini akan menyebabkan kesalahan pengukuran karena frekwensi. Jawab : Batas ukur voltmeter v = i.Rs 2 L C = 0. Untuk memperkecil kesalahan ini dapat diberikan suatu kapasitor C paralel dengan Rs seperti gambar 4.1 = 2500 – 500 = 2000 Rs = 2 Kohm Untuk voltmeter AC.6. harga impedansi total antara tahanan Rs dan impedansi dalam dari voltmeter tergantung pada frekwensi. 2 Rs Contoh : Suatu voltmeter dari moving iron (besi putar) mempunyai simpangan maximum untuk arus 0. non induktif untuk Harga Rs>>Ri dan besarnya kapasitor adalah sebagai berikut : L C= (1 + 2 ). Ri = 0.

Zt = ( Ri + Rs) 2 + (2.41 = 10-8 F = 0.1. Jadi penunjukan voltmeter : 250 Iac .1 A.7 Rangkaian dari ohmmeter Rp = tahanan pengatur nol ohm Rs = tahanan serie Ri = tahanan dalam meter L = induktansi kumparan Rx = tahanan yang diukur E = sumber tegangan DC (baterai) Halaman 32 dari 98 .250 = x 250 = 248.28. 2 Rs 1 = 0.41 .2520 Jadi lebih rendah dari batas ukur yang dikehendaki. sedang Iac < 0. f .1) 2 Zt = 2520 ohm Arus yang lewat kumparan : VAB Iac = Zt 250 Iac = A 2520 Simpangan maksimum dari meter membutuhkan arus yang lewat kumparan 0.Volt 0.π . Maka untuk memperbaiki ini dipasang C paralel sebesar : L C = 0.7 Rp Ω Rs A φ Rx S E ( Ri + Rs) p B φ Gambar 4.L) 2 = (500 + 2000) 2 + (6.1 0.1 A. Ohmmeter Untuk mengukur tahanan dengan pembacaan langsung dapat digunakan ohmmeter yang rangkaiannya seperti pada gambar 4. maka simpangan tidak akan mencapai maximum.50.01 μF 2 (2000) C.

maka Rx dapat dibaca langsung besarnya.` Bila arus I = 1 Io. Untuk Rx = 0. I E Jadi KI = Rs + Rpr + Rx Sehingga E k . Dalam keadaan ini arus yang lewat Rs ialah : Ri Is = Io + . a dan b dihubungkan singkat. arus yang lewat meter Io. tetapi terhadap tahanan langsung. jadi arus maksimum misalnya Io.(Rs + Rpr) maka : Rx = (Rs + Rpr) I Io .( ) Rp Ri + Rp ) = k dan tahanan paralel Rp dengan Ri adalah Rpr maka : Bila ( Rp E ) Is = ( Rpr + Rs Dari persamaan Is = k.1) Rx = (Rs + Rpr) ( I Dalam prakteknya Rp >> Ri sehingga Rpr = Ri Maka Io Rx = (Rs + Ri) ( .Io Rs + Rpr = E k . arus yang lewat Rs menurut persamaan tersebut Is = k. Io Kemudian bila sekarang Rx dihubungkan. maka : 2 Rx = Rs + Ri Dengan demikian skala dapat dibuat tidak terhadap arus. (mengukur nol ohm).I Rs + Rpr + Rx Io .Switch S dalam keadaan dibuka. dan arus yang lewat meter I. Halaman 33 dari 98 . Rp diatur sehingga didapat simpangan meter yang maksimum.1) I Jadi dari persamaan diatas harga Rx diataur besarnya oleh harga I.Io Rp Ri + Rp Is = Io.

Dengan memasang tahanan sebesar Rs + Ri maka range pengukuran dapat p diperluas dengan perkalian sebagai berikut R x 1 . R diatur sehingga berkedudukan r. R x 1K dst Karena pada waktu S ditutup. mengukur arus ataupun untuk mengukur daya. hanya saja alat ukur ini sebenarnya hanya untuk mengukur tegangan sehingga bila dikehendaki besaran lain harus lebih dahulu dirubah menjadi besaran tegangan dan secara umum biasanya digunakan untuk kalibrasi voltmeter dan amperemeter A.r = Est dan I = R R Ex = . dimana ketelitiannya bisa mencapai 0. sehingga harga sebenarnya hasil pengukuran dipengaruhi tahanan dalam dari Ex.1 Prinsip dari potensiometer Ex = Tegangan yang diukur R = Tahanan potensiometer Est = Tegangan standard yang diketahui Misalnya waktu K ditutup. Prinsip Potensiometer Dalam gambar 5. arus tersebut mengalir melalui meter ukur Rx dengan tahanan luar p BAB V POTENSIOMETER Potensiometer penting untuk pengukuran dengan metode perbandingan yaitu keadaan setimbang dari suatu rangkaian pengukuran-pengukuran dengan metode perbandingan ini mempunyai ketelitian yang tinggi.Est r Pada prinsip diatas harga hasil pengukuran EX bukan merupakan tegangan terminal beban nol karena besarnya sangat tergantung dari besar arus yang mengalir I dimana arus I tersebut berasal dari Ex. Halaman 34 dari 98 . dan galvanometer dalam keadaan setimbang. I Ex R r K G Est Gambar 5. Pengukuran dari potensiometer antara lain untuk mengukur tahanan.0001 %. karena tidak tergantung dari pembacaan atau defleksi dari jarum penunjuk. R x 10 . maka : Ex I. mengukur tegangan.1 menunjukkan prinsip suatu potensiometer yang sederhana.

018 V I. demikian seterusnya sehingga akhirnya tahanan pengaman Rg pada kedudukan nol maka bila terjadi keseimbangan dimana besar arus pada galvanometer sama dengan nol atau galvanometer tidak menyimpang : Est = EAC = 1.018 V = 1. Tahanan potensiometer diatur dengan sehingga G menunjuk nol. tahanan potensiometer pada kedudukan C. misal pada titik D.2 yang kemudian dikembangkan lagi seperti dalam gambar 5. sehingga I tetap = 10 mA.018 = 10 mA I= 1. Contoh penggunaan potensiometer seperti ditunjukkan dalam gambar 5. baterai Ew dan standard Cell Est. dan secara umum pemakaian potensiometer dengan menggunakan beberapa bagian tahanan geser sehingga ketelitian potensiometer akan lebih tinggi.Untuk mengeliminir hal diatas digunakan seperti gambar 5. didalam mengatur tahanan tersebut digunakan prosedur seperti diatas.018 Kemudian S pada kedudukan 2 Rh tetap.8 cm sehingga tahanan geser/ potensiometer A-C = 101.018 Volt Rg = tahanan pengaman G = Galvanometer Mencapai keseimbangan kedudukan tahanan pengaman Rg mula-mula pada harga yang paling besar kemudian setelah terjadi keseimbangan Rg diperkecil bila ternyata galvanometer menyimpang maka tahanan diatur kembali.2 Potensiometer Ew = baterai I = arus kerja Rh = tahanan pengatur A-B = tahanan potensiometer = 200 ohm Ex = tegangan yang diukur Est = tegangan standard 1.3. kontak K ditutup. maka : Halaman 35 dari 98 .2 adalah sebagai berikut: Arus kerja diatur oleh Rh.8 ohm.018 V 1. dimana tahanan gesernya terdiri dari dua bagian yaitu yang satu berupa tahapan-tahapan dan lainnya kontinu. Didalam mengatur tahanan tersebut untuk Rh Ew A C Est 1 S G Ex 2 Rg Gambar 5. 1. misalnya pada 101. Mula-mula S pada kedudukan 1.

0005 volt 10000 Ohms K Unknown EMF G Std. Bila arus yang diambil dari sumber tegangan tersebut dapat digambarkan seperti dalam gambar 5. 147 = 1.10-3.3 potensiometer dengan dua tahanan geser B.1 volt. each divisions 0. Tegangan terminal terbuka ini harus diukur tanpa mengambil arus dari sumber tegangan. Pada umumnya bila arus diambil dari sumber tegangan. 10 ohms Circular slide-wire 0.1 Volt. maka Ex = 10.10-3 x A-D volt Bila tahanan potensiometer/ geser A-D = 147 Cm atau sama dengan 147 ohm. each 0. Pengukuran dengan potensiometer dapat dibuat tanpa menarik arus dari sumber tegangan Est atau Ex.ðV Ri = ðV/ I I φ I Halaman 36 dari 98 .E = 10. dimana Vo adalah tegangan terminal terbuka Ri adalah tahanan dalamnya.4. φ Ri Vo Vo . Cell Gambar 5.ciri dari potensiometer Potensiometer mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 1.47 volt Working Battery Rheostat 15 Steps. maka tegangan terminal dari sumber tersebut akan turun. 200 scale Division. Ciri.

adalah penting untuk mempergunakan sumber tegangan yang mempunyai kapasitas cukup besar seperti misalnya suatu baterai penyimpan energi listrik. Akan tetapi dalam pengukuran dengan potensiometer.4 tegangan dan tahanan dalam suatu sumber tegangan Tahanan dalam dari sumber tegangan tidak dapat diukur secara terpisah dari sumber tegangan tersebut. sehingga suatu baterai kering akan dapat mempertahankan arus yang cukup stabil. bahwa arusnya harus tidak berubah antara kedua langkah keseimbangan. 2.Gambar 5. arus tidak mengalir dalam penghantar-penghantar kepada sumber tegangan maupun melalui sikat-sikat. maka tegangan terminal terbuka dapat diukur. Arus potensiometer adalah kira-kira 20-30 mA. dan dengan demikian maka tegangan yang sebenarnya dapat diukur . Galvanometer yang dipakai sebagai alat deteksi pengukuran keseimbangan. arus yang diambil dari sumber tegangan Ew adalah cukup kecil. Adalah syarat mutlak bahwa untuk pengukuran dengan potensiometer.0 V.6 sampai dengan 2. Potensiometer biasanya diklasifikasikan sebagai yang mempunyai tahanan rendah dan yang mempunyai tahanan tinggi. untuk yang bertahanan rendah sedangkan 0. dan demikian pula penurunan tegangannnya bila arus yang ditarik dari sumber tegangan tersebut tidak pula dapat diketahui. dan akan memungkinkan terjadinya kesalahan-kesalahan yang cukup berarti. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan potensiometer 1. Akan tetapi dalam penggunaan suatu potensiometer yang mempunyai tahanan rendah. Memperbesar batas-batas pengukuran Halaman 37 dari 98 . Untuk potensiometer yang mempunyai tahanan tinggi.000 Ohm.1 mA untuk yang bertahanan tinggi. Jadi dapat dimengerti. Potensiometer biasanya mempunyai skala dengan batas daerah pengukuran antara 1. bahwa dengan mempergunakan suatu potensiometer. Antara sikat dari potensiometer terdapat pula tahanan-tahanan kontak. C. dengan tidak dipengaruhi oleh harga tahanan penghantar maupun tahanan kontak. akan terdapat arus kecil sebesar 1 mA sampai dengan 10 μA yang mengalir melalui alat pengukur volt dalam penggunaannya untuk pengukuran tegangan. tergantung dari pada cara pengukuran yang dipakai 3. Penghantar-penghantar yang dipergunakan untuk menghubungkan sumber tegangan mempunyai tahanan. dan tidak memerlukan skala pembacaan. Jadi galvanometer yang mempunyai kepekaan yang tinggi dapat dipergunakan. Potensiometer yang mempunyai tahanan rendah adalah dari 100 Ohm ke bawah sedangkan yang mempunyai tahanan tinggi adalah kira-kira 1000 Ohm sampai dengan 10. hanya diperlukan untuk melihat ada atau tidak adanya arus.Sebaliknya dengan alat pengukur volt.

Bila tegangan-tegangan yang lebih besar harus diukur. Gambar 5. Akan tetapi tahanan-tahanan yang diperlukan dengan harga-harga yang tinggi. Tegangan ini diukur dengan potensiometer. Dengan demikian maka tegangan yang masuk dalam terminal dari potensiometer melalui pembagi tegangan tersebut adalah 1/100 lebih kecil. pada umumnya sukar didapat. dan kerusakan dapat berakibat karena hal ini. Bila suatu pembagi tegangan dipergunakan. Bila misalnya tegangan yang diukur adalah antara 75-150 V. maka dalam praktek pembagi tegangan tersebut sebesar 1 KOhm untuk setiap 3 V maksimum seperti diperlihatkan dalam gambar. maka menjadi suatu keharusan agar sumber tegangan yang sedang diukur dihubungkan pertama-tama kepada posisi yang mempunyai factor perkalian yang tinggi. lagi pula yang mempunyai karakteristik yang baik. maka perkalian harus dipergunakan bersama dengan potensiometer seperti halnya pada alat-alat pengukuran listrik. Effek Panas Didalam pengukuran dengan methoda potensiometer umumnya kesalahan yang terjadi disebabkan oleh temperatur.5. Hal ini diperlukan untuk menghindarkan kesalahan bila suatu pemilihan factor terlalu rendah. 2. dan pembacaan potensiometer dikalikan dengan factor perkalian (dalam hal ini 100) akan memberikan harga tegangan yang akan diukur. bahwa ada arus yang diambil dari sumber tegangan yang akan diukur. Jadi harga daripada tahanan pembagi ini sebaiknya harus tinggi.Pada umumnya potensiometer dipergunakan untuk mengukur tegangantegangan dibawah 2 V. maka tegangan harus dihubungkan secara terminal untuk tegangan yang maksimum 150 V. Sumber-sumber kesalahannya adalah : • Berubahnya harga tahanan karena berubahnya temperature • Thermo couple Emf’s/ gaya gerak listrik thermis Halaman 38 dari 98 . Multiplier atau perkalian yang dipakai dengan potensiometer adalah pembagi tegangan yang diperlihatkan dalam gambar 5. maka seperti diperlihatkan pada gambar. potensiometer mungkin dibebani tegangan yang terlalu tinggi.5 Pembagi tegangan untuk potensiometer Penggunaan dari pembagi tegangan ini berarti.

dan sirkit galvanometer. dan dengan menganggap gaya gerak listrik tidak terdapat dalam caracara pengukuran yang diadakan.6 Methoda mengurangi kesalahan potensiometer Mula-mula dilakukan seperti gambar diatas. Iw. maka prosedur dengan mengambil harga rata-rata dari dua pembacaan yang diambil dengan polaritas yang berlainan. R1 – Et = Ex Kemudian polaritas Ex dibalik demikian juga polaritas Ew maka dalam keadaan seimbang.Gaya gerak listrik thermis dari berbagai material terhadap tembaga. Cara diatas itu yang menyebabkan bahwa gaya gerak listrik thermis seakan-akan tidak berpengaruh terhadap hasil pengukuran. adalah suatu keharusan. Untuk pengukuran dengan potensiometer. yang diambil dengan polaritas yang berlainan. dalam keadaan seimbang maka : Iw. Lagi pula sangat ditekankan.Dengan demikian bila distribusi temperature didalam sirkit pengukuran tidak rata. adalah di sekitar 10μV/ derajat celcius. maka menjadi suatu persyaratan untuk mengusahakan agar persyaratan keadaan temperature keliling serta distribusinya Halaman 39 dari 98 . maka gaya gerak listrik thermis akan mungkin terjadi di dalam potensiometer. dengan demikian agar hasil pengukuran tersebut adalah teliti. bahwa perbedaan antara kedua hasil pengukuran tersebut haruslah kecil. Methoda untuk mengurangi kesalahan tersebut adalah sebagai berikut : Iw Rh R1 Ew G Et φ Gambar 5.R2 + Et = Ex Dari kedua persamaan diatas akan diperoleh : Iw( R1 + R 2) Ex = 2 Hal tersebut menyatakan bahwa harga Ex didapat sebagai harga rata-rata dari dua pembacaan dari potensiometer. terhadap hasilhasil pembacaan.

adalah Io sesuai dengan persamaan diatas. Tegangan terminal dari sumber tegangan pada (b) adalah Eo dan arus hubung pendek dengan hubungan pendek pada terminal a-b.7 Tahanan dalam potensiometer Marilah kita coba untuk membuat hubungan pendek antara antar terminal a-b. tidak dapat dibedakan dengan sumber tegangan yang diperlihatkan dalam (b). untukl meminimalkan kesalahankesalahan pengukuran. 3. Rx Eo = . Sensitivitas Potensiometer Seperti diperlihatkan dalam gambar 5. Dengan demikian potensiometer yang dianggap sebagai sumber tegangan yang membangkitkan tegangan yang diketahui a-b. maka suatu potensiometer dapat dianggap sebagai sumber tegangan. Ini berarti bahwa bila Halaman 40 dari 98 . Arus hubung pendek io yang mengalir-mengalir antara terminal-terminal a-b pada saat ini diberikan sebagai: E Io = Rh + ( Rm − Rx) Dan tahanan yang didefinisikan sebagai : Eo Rh + Rm − Rx Ro = = Ex Io Rm + Rh disebut sebagai tahanan dalam dari potensiometer Kemudian perhatikanlah gambar 5. yang membangkitkan tegangan yang diketahui Eo berbanding lurus terhadap Rx pada Vs melalui terminal a-b yang sesuai dengan posisi-posisi dari sikat.E Rm + Rh Io Eo Io Eo Rs Rm Ro Rh E Eo Gambar 5. Suatu potensiometer telah direncanakan. Dengan demikian maka sumber tegangan pada (b) disebut sirkit ekivalen dari (a) dilihat dari terminal a-b.7 (a).didalam keseluruhan pengukuran tersebut diadakan.7 (b) Eo dan Ro mempunyai harga yang diberikan oleh persamaan-persamaan diatas. yang disebabkan oleh adanya gaya gerak listrik thermis didalam potensial itu sendiri. Untuk mencapai hal ini maka : 1) Sejauh mungkin pergunakanlah tembaga untuk penghantar-penghantar maupun terminal-terminal penghubungnya 2) Berikanlah cukup isolasi thermis untuk menjamin pembagian temperature yang tetap. dibuat tetap dan tidak berubah sejauh mungkin.

Pada umumnya galvanometer dipergunakan dengan redaman kritis. pada pertengahan dari daerah pengukuran. Dari sini dapat dilihat bahwa untuk pengukuran tegangan-tegangan yang kecil maka potensiometer yang mempunyai tahanan yang rendah adalah yang terbaik. Seperti terlihat bahwa dengan penggunaan galvanometer yang mempunyai kepekaan tegangan yang baik. Dari penjelasan diatas maka akan dapat dimengerti bahwa galvanometer yang akan dipakai dengan potensiometer. maka perhitungan-perhitungan dapat dibuat dengan mempergunakan sirkit pengganti seperti dinyatakan dalam (b).8. mempunyai tahanan kumparan yang rendah. hendaklah dipilih tidak hanya berdasarkan kepekaan tegangan saja. sehingga dapat dianggap bahwa (Rx + Rc) adalah sama dengan tahanan luar untuk mencapai redaman kritis. Jadi sebaiknya pilihlah suatu galvanometer yang akan mendapatkan redaman kritisnya dan kepekaannya. G r1 Vx rq b Ro Eo Gambar 5. Halaman 41 dari 98 .8 Pemilihan galvanometer untuk potensiometer Misalkan bahwa sumber tegangan yang sedang diukur Vx mempunyai tahanan pada kumparannya sebesar rg dan dihubungkan kepada terminal a-b seperti dalam gambar 5.suatu beban dihubungkan antara a-b. Karena tahanan dalam Ro dari potensiometer akan berubah dengan Rx maka tidak akan mungkin untuk memenuhi kondisi-kondisi untuk peredaman kritis dalam semua keadaan.

Halaman 42 dari 98 .

φ φ V=I. 10c ± D % Misalnya : A = warna coklat B = warna merah C = warna merah dan D = warna emas φ Halaman 43 dari 98 . NILAI TAHANAN DAN PENGARUH SUHU Nilai suatu tahanan biasanya diterangkan-diterangkan dalam tahanan itu sendiri baik dengan tanda-tanda maupun dengan angka. Kode-kode warnanya adalah sebagai berikut : Hitam =0 AB C D Coklat =1 φ Merah =2 Jingga/ Oranye =3 Kuning =4 Hijau =5 Biru =6 Ungu/ violet =7 Abu-abu =8 Putih =9 Khusus untuk C warna emas = -1.BAB VI Tahanan Dan Pengukurannya Tahanan adalah suatu elemen listrik yang mengambil (dissipasi) energi berupa panas. Nilai tahanan yang memakai kode warna yang menyatakan besarnya nilai suatu tahanan tersebut seperti pada gambar. Secara umum tahanan-tahanan yang dijumpai dalam praktek adalah tahanan ideal. dan warna perak = -2 Kode-kode tersebut mencakup hurf-huruf A B C seperti gambar diatas. warna pada huruf D menyatakan toleransi dengan kode warna sebagai berikut : Tanpa warna = 20% Warna perak = 10% Warna emas = 5 % Besar nilai tahanan R dapat dirumuskan sebagai berikut : R = A B .R V A. sedang tahanan ideal bila diberi tegangan di antara kedua ujungujungnya. maka tegangan tersebut akan sebanding dengan arus yang mengalir pada tahanan tersebut.

1 di bawah.R Dan Imax = P / R Dimana P = power rating dari tahanan B. penghantar-penghantar dan tahanan-tahanan kontak akan mempengaruhi pengukuran. Tahanan-tahanan empat kutub Agar pengaruh daripada cara-cara menghubungkan pada pengukuran pengukuran tahanan rendah dapat dieliminasi.25)) Dimana : Rt = nilai tahanan pada to C R25 = nilai tahanan pada temperature kamar 25o C t = temperature to C 25 = temperature kamar 25o C α = koefisien temperature Pada temperature kamar 25o C tegangan dan arus maksimum pada tahanan diberikan : Vmax = P. Pada pengukuran tahanan-tahanan rendah kerugian tegangan yang terdapat di antara tahanan-tahanan adalah rendah pula. 10C ± D % = 12 . dan yang membatasi adalah terutama pemanasan yang ditimbulkan karenanya. Bila arus I yang mengalir melalui terminal-terminal. 102 ± 5% = 1200 ohm dengan toleransi 5% secara umum ditulis R = 1 K 2 ohm dengan toeransi 5 % Besar nilai tahanan dipengaruhi oleh temperature dengan rumus Rt = R25 (1+ α . maka tahanan-tahanan dibuat sebagai tahanan empat kutub. lagi pula bagaimana pelaksanaan hubungan-hubungan itu dilakukan. tahanan lilitan kumparan mesin-mesin listrik. b) Tahanan menengah 1 sampai 10 M ohm Misalnya tahanan untuk keperluan peralatan elektronik c) Tahanan tinggi lebih besar dari 10 M ohm Misalnya tahanan isolasi. seperti gambar 6. dan ini akan berada di sekitar 10μV. Hal ini disebabkan karena arus yang dapat dialirkan melaluinya terbatas. Jadi makin rendah tahanannya makin besar pengaruh gaya gesek listrik thermis. B. arus akan menyebabkan kerugian tegangan V melalui terminal-terminal tegangannya. Jumlah dari kedua tahanan tersebt akan mungkin ada disekitar 1 mohm. Halaman 44 dari 98 . PENGUKURAN TAHANAN Pada umumnya pengukuran tahanan dapat diklasifikasikan : a) Tahanan rendah lebih kecil atau sama dengan 1 ohm misalnya tahanan kontak. (t .1 PENGUKURAN TAHANAN RENDAH Dalam pengukuran tahanan rendah yaitu di bawah 1 ohm. maka tahanan dari pada kutub empat ini adalah R = V/I. jadi hasil dari pengukuran akan tergantung kepada bagaimana cara tahanan tersebut dihubungkan.Maka besar R = A B .

2 Rx Rx φ φ A A V (a) V (b) I φ φ Gambar 6.2 Pengukuran tahanan rendah dengan metode volt-amperemeter Gambar 6.Metoda Penunjukan Langsung Di dalam metoda ini digunakan ohmmeter.Metoda Voltmeter-Amperemeter Di dalam metode ini ada dua macam cara merangkaikannya seperti ditunjukkan dalam gambar 6. Kutub-kutub Tegangan V I R Kutub-kutub arus Gambar 6.1 Tahanan empat kutub i. ohmmeter umumnya mempunyai batas pengukuran dari 1 ohm sampai 1 Mohm. Bilamana digunakan untuk mengukur tahanan rendah alat ukur tersebut tidak dapat menyimpang atau simpangannya kecil sekali sehingga tidak akan kelihatan dengan demikian alat ukur tersebut tidak dapat digunakan.Bila pengukuran dilakukan untuk mengukur tegangan V maka harus diusahakan agar tidak ada arus yang mengalir melalui terminalterminal tegangannya. ii.2 a) Rt = VM/ AM Dimana : Rt = tahanan parallel antara Rx yang diukur dengan tahanan dalam VM = penunjukan dari voltmeter AM = penunjukan dari amperemeter Halaman 45 dari 98 .

Rx.Rivm Rx + Rivm Rx. Rt = ( Rx / Rivm) + 1 bila Rx jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan tahnan dalam voltmeter Rivm, maka Rx/ Rivm boleh diabaikan, sehingga Rt = Rx Dengan demikian untuk gambar 6.2 a) bauk untuk pengukuran tahanan yang relative kecil. Rt = Gambar 6.2 b) = VM/ AM Dimana = tahanan ekivalen dari tahanan Rx yang seri dengan tahanan dalam amperemeter. Rt = Rx + Riam Secara umum tahanan dalam dari amperemeter adalah kecil aehingga bila tahanan Rx jauh lebih besar dari Riam maka Riam boleh diabaikan terhadap Rx. Sehingga Rt = Rx Dengan demikian untuk gambar 6.2 b) baik untuk pengukuran tahanan yang relative besar. Metode Potensiometer Dengan menggunakan metode ini akan diperoleh ketelitian yang tinggi, lagi pula untuk ini diperlukan suatu tahanan standard yang besarnya mendekati sama dengan tahanan yang diukur hal inilah yang merupakan kelemahan dari metode potensiometer. Cara pengukurannya seperti ditunjukkan dalam gambar 6.3 Rp Rx Potensiometer Rt Rt

Rst

Potensiometer

Gambar 6.3 Pengukuran tahanan rendah dengan metode potensiometer Ew merupakan sumber tegangan untuk mendapatkan besaran tegangan pada tahanan-tahanan yang diukur dengan potensiometer, Rp merupakan tahanan pengatur dari rangkaian pengukuran sehingga tegangan yang diukur dengan potensiometer dapat dikontrol. Mula-mula potensiometer yang digunakan dikalibrasi lebih dahulu dengan tegangan standard, kemudian baru tegangan pada tahanan standard diukur dengan potensiometer misalnya diperoleh harga sebesar ERST = dimana ERST = I Rst.

Halaman 46 dari 98

Setelah itu tegangan pada tahanan yang diukur Rx diukur dengan potensiometer misalnya diperoleh harga sebesar ERX dimana ERX = I. Rx. Dengan demikian : ERx I .Rx = ERst I .Rst maka : Rx = Rst . ERX/ ERST dimana ERX dan ERST didapatkan dari hasil pengukuran dengan potensiometer. Dalam pengukuran tersebut pada umumnya perlu diperhatikan kedua hal dibawah ini : a) Dalam metode potensiometer persamaan daru dua tahanan untuk pengukuran-pengukuran tahanan adalah mutlak diperlukan, bahwa arus I dan arus ini harus diusahakan tetap untuk pengukuran-pengukuran berurutan dari ERST dan ERX.Pada umumnya adalah sukar untuk mengusahakan agar arus tetap, lebih–lebih lagi dalam keadaan tahanantahanan rendah dimana arus yang mengalir adalah besar. Akan tetapi bila arus berubah secara merat dengan waktu, dan tingkat dari perubahan arus adalah rendah maka ERST dan ERX dapatb diukur secara berurutan pada jangka-jangka waktu yang sama. b) Dalam metode potensiometer, semakin besar arus I yang mengalir makin baik kepekaannya, akan tetapi pada saat yang bersamaan pemanasanpemanasan yang terjadi didalam tahanan-tahanan akan berubah, mungkin akan menyebabkan perubahan-perubahan pada harga-harga tahanan. iii. Metode Jembatan Wheatstone Untuk mengukur tahahan rendah dengan memakai jembatan wheatstone yang biasa, maka cara pengukuran tersebut dilaksanakan dan diperlihatkan dalam gambar 6.4 Dalam gambar tersebut 6.4 Rx adalah tahanan yang akan diukur, an S adalah standard, kedua-duanya adalah tahanan kutub empat. Tahanan-tahanan P dan Q harus cukup sehingga penghantar-penghantar penghubung (p dan p’) tidak akan terlalu mempengaruh, dalam gambar adalah jumlah dari tahanan-tahanan pada terminal-terminal arus dan tahanan-tahanan penghantar.

Gambar 6.4 Pengukuran tahanan rendah dengan jembata wheatstone

Halaman 47 dari 98

Pertama-tama tempatkan K2 pada posisi 1 dan atur Q bila jembatan seimbang pada Q1 maka : = VA1 VAB VBC = V1C Maka : P S = Q1 Rx + r Rx + r = SQ1/ P Putarlah K2 ke posisi 2, bila jembatan seimbang pada posisi Q2 maka : VAB = VA2 VBC = V2C Maka : Q2 Rx = P S+r S + r = P. Rx/ Q2 Dengan eliminasi r kedua persamaan tersebut di atas maka Rx akan didapatkan : P + Q1 Q 2 Rx = . .S P + Q2 P Alat pengukur amper pada rangkaian sumber dari jembatan, digunakan untuk memonitor pemanasan sendiri dari jembatan, dan penghubung pemindah pada rangkaian tersebut, adalah untuk mengeliminasi gaya gerak listrik thermis. Pada umumnya cara-cara untuk menyeimbangkan adalah sebagai berikut. Pertama-tama rangkaian dari sumber ditutup. Kemudian rangkaian galvanometer ditutup sesaat, untuk melihat arah ketidakseimbangan dan Q diatur untuk mengkompensasikannya. Setelah itu K2 ditutup pula sesaat. Dengan cara itu maka keseimbangan akhir akan dapat dicapai, Bila prosedur tersebut tidak diikuti, maka tedapat kemungkinan galvanometer akan terbakar bila keadaan ketidakseimbangan terlalu besar. Dengan demikian maka sangat disarankan untuk mempergunakan kunci pemutus yang khusu untuk K2. PEngukuran-pengukuran dengan jembatan wheatstone hendaknya dipakai dalam keadaan lingkungan dimana temperaturenya stabil. Hal ini adalah untuk mengelakkan perubahan-perubahan pada harga-harga dan tahanan dan kemudian untuk pula menghindarkan perubahan-perubahan pada gaya gerak listrik thermis. Untuk yang akhir ini maka penghantar-penghantar serta terminal-terminalnya sebaiknya dibuat semuanya dari tembaga. iv. Metoda jembatan berganda dari Kelvin Rangkaian jembatan berganda dari Kelvin ditunjukkan dalam gambar 6.5. Jembatan ini dipergunakan secara khusus untuk pengukuran-pengukuran tahanan rendah. Agar persamaan dibawah ini : P/Q = p/q selalu berlaku, maka P dan p dan Q dan q dirubah-rubah secara bersamaan, p dan q disebut cabang ratio pembantu.

Halaman 48 dari 98

I2 + p . Dalam prakteknya adalah tidak mungkin untuk mempertahankan persamaan :p/q = P/ Q secara teliti dengan mekanisme yang saling kait mengkait. I3 = 0 dengan p. I3 Dengan mengalikan persamaan pertama dengan Q dan persamaan kedua dengan P. I1 = S . c I1 G P p I2 a d q I2 I3 b K1 Rh E Gambar 6.S + p. 3 P p I2 P K2 Q S A r Rx Halaman 49 dari 98 .P=0 maka : S . I3 Q . I1= Rx .5 Pengukuran tahanan rendah dengan jembatan berganda dari Kelvin Maka dalam keadaan seimbang akan berlaku : P . I2 + (p . (SQ – Rx P) .Q -q. Sehingga Rx dapat dipecahkan sebagai berikut : Q I Rx = . P).(Q − q ). I2 + q .Misalkan arus-arus yang mengalir seperti yang diperlihatkan dalam gambar. kemudian kurangilah pada masing-masing sisinya maka akan didapatkan. P = 0 sehingga : Q Rx = . Q + q . Q dan p. q untuk mencapai ini maka biasanya P dan Q kira-kira 10 ohm sedangkan p dam q kira-kira 100 ohm. Q – Rx .S P Tahanan-tahanan daripada terminal-terminal tegangan untuk S dan Rx didapt pada P.

…………. diusahakan jembatan dalam keadaan seimbang. PAda jembatan-jembatan beranda ini. sedangkan p dan q adalah kira-kira 100ohm. kemudian kedudukan kontak S pada posisi 2 tahanan R yang variable diatur sehingga amperemeter AM tetap menunjukkan A ampere.7 tersebut Rx adalah tahanan yang diukur P.6 Pengukuran tahanan dengan metode substitusi Mula-mula posisi kontak S pada kedudukan 1.Sedangkan I3 adalah suatu pembagi dari arus I2 dengan ratio r terhadap (p+q) sehingga terdapat Q I3 = . Jadi Rx = R dan harganya dapat dibaca • Metoda jembatan Mengukur tahanan dengan metode jembatan. Rangkaiannnya terdiri dari empat tahanan. bila persyaratan P/ Q = p/q kira-kira dipenuhi.1 ohm atau lebih kecil. maka suku kedua pada bagian yang kanan dari persamaan diatas akan dapat diabaikan.100 ohm dan sebagainya. seperti akan dibuat dengan perubahan-perubahan dari tahanan-tahanan standard untuk merubah daerah pengukuran B.. 1 ohm ……. amperemeter AM menunjukkan A ampere. Q dan R adalah tahanan-tahanan yang besarnya diketahui.2 PENGUKURAN TAHANAN MEDIUM/ MENENGAH Untuk pengukuran tahanan menegah dapt dilakukan antara lain dengan : • Ohm meter • Metoda volt-amperemeter • Metoda potensiometer • Metoda substitusi Rangkaian pengukuran untuk metoda ini seperti ditunjukkan pada gambar 6. S adalah 1 Mohm. sehingga akan sukar untuk membuat tahanan tersebut sebagai tahanan variable. Pada umumnya bila r adalah kira-kira 10 Ohm. dan sumber tegangan yang dihubungkan melalui dua titik diagonal dan pada kedua titik diagonal yang lain ditempatkan galvanometer.6 Rx 1 S A 2 R E Rp Gambar 6. dan 10 Mohm. Ratio pembantu p dan q dibuat sebagai susunan digit variable berganda.7 dan disebut jembatan wheatstone Dari gambar 6.S + (Q − q ). Untuk Halaman 50 dari 98 . tahanan standar S pada umumnya 0.. pr /( p + q + r ) P p I2 P Adalah syarat keseimbangan yang eksak. seperti yang diperlihatkan pada gambar 6.

R/ P Ketelitian dengan penggunaan metoda ini cukup tinggi.8 Tahanan Isolasi Halaman 51 dari 98 .03% + 0. Bila dalam keadaan keseimbangan R = 1000 ohm dan dengan perubahan R dari 999. sehingga mengakibatkan kesalahan. jadi arus yang lewat galvanometer adalah nol.04% B.01 % maka kesalahan pada pengukuan Rx ialah sebesar 0. Q.Sensitivitas dari galvanometer Misal tahanan-tahanan cabang P. yaitu memparalelkan tahanan bocor tersebut. dimana ketelitian ini tergantung dari : .1 / 1000 x 100% = 0. perubahan arus pada galvanometer tidak dapat ditunjukkan.01% Jadi kesalahan seluruhnya : 0.03 % (lihat pada teori kesalahan pada bab II) Dalam keadaan seimbang ditentukan oleh sensitivitas galvanometer G.9 ohm ke 1000. P E1 R G Rx Q Gambar 6. A φ Ix Ib Rx B φ Gambar 6.1 ohm.mencapai keseimbangan tahanan R diatur sehingga galvanometer tidak ada penyimpangan. Untuk mengurangi kesalahan pada pengukuran tahanan isolasi ini dapat digunakan rangkaian Guard.3 Pengukuran Tahanan Isolasi Tahanan tinggi atau tahanan isolasi dapat diukur dengan jembatan Megaohm.7 Pengukuran tahanan dengan jembatan wheatstone Dalam keadaan seimbang.1 ohm yaitu ada perubahan ±0. didapatkan hubungan : VAD = VAB VCD = VCB Maka : I1 P = I2 Q dan I1 R = I2 Rx Sehingga : P/ R = Q/ Rx Rx = Q. dan R mempunyai kesalahan relative sebesar 0.Kesalahan dari tahanan cabang jembatan . Pada tahanan isolasi ada kebocoran yang mengakibatkan pada pengukuran tahanan ini timbul arua bocor.01% = 0. maka sensitivitas galvanometer : 0.

Disini Rx adalah tahanan yang akan diukur. penunjuk dari alat penunjuk rasio akan bergeser.10.9 Jembatan Megaohm Dimana : R1 dan R2 tahanan bocor R1 diparalel dengan Rp R2 diparalel RG (tahanan Galvanometer) R1 >> RG sama seperti diatas = RG Sehingga dalam kesetimbangan didapat : Rq . JAdi hasilnya tidak ditentukan oleh tegangan dari sumber tegangan arus searah. arus sari E/Rx mengalir. Penunjukan langsung Alat ukur yng digunakan disebut Megger (tester tahanan isolasi) seperti yang ditunjukkan dalam gambar 6. E2 Rp’ Rq R1 Rs G Rs R2 Gambar 6. dan pergeseran ini ditentukan oleh rasio dari kedua arus. Rx = Rp .9 yang jembatan Wheatstone dilengkapi dengan Guard Circuit dan biasa disebut sebagai jembatan Megaohm. Dengan demikian maka variasi yang tidak terlalu besar dari tegangannya tidak akan memberikan pengaruh kepada harga pembacaannya. Halaman 52 dari 98 . Untuk mengurangi efek ini dapat digunakan rangkaian Guard seperti pada gambar 6.10 terdapat dua kumparan V dan C ditempatkan secara menyilang.Rs Rp. yaitu sebanding dengan Rp/ Rx. Hal ini akan menimbulkan kesalahan pengukuran.Rs Rx = Rq Untuk tahanan tinggi ketelitian pengukuran tidak begitu diharapkan tinggi boleh antara 10 – 15% 1. atua dengan kata lain berbanding secara terbalik terhadap besar tahanan yang akan diukur. maka dari badannya (frame metal) akan mengalir arus bocor yang besarnya kira-kira samadengan besarnya arus yang mengalir lewat tahanan Rx.Bila antara A dan B diberi tegangan. dimana pada gambar 6. arus sebesar E/Rp mengalir pada kumparan C. Pada kumparan V.

untuk 100 V dan 2000 V sebagai sumber tegangan tinggi arus searahnya. telah dikembangkan. Halaman 53 dari 98 . bila tahanan yang lebih tinggi digunakannya. Daerah pengukuran yang efektif adalah dari 0. untuk tegangan-tegangan rendah.02 sampai 20 Mohm dan 5 sampai 5. maka suatu pengatur kecepatan diperlengkapi didalam system pembangkitnya. dari tegangan-tegangan tetap sebesar 100 sampai dengan 2000 V yang didapatkannya dari baterai sebesar 8-12 V. akan tetapi juga terhadap tegangan kerja dari peralatan ukur yang sedang diuji isolainya. Alat ini pembangkit tegangan-tegangan tinggi yang jauh lebih stabil. Untuk membangkitkan tegangan yang tetap. sumber tegangan arus searah adalah sumber teganagn tinggi. Dengan demikian. atau 2000 V. 500. Pada umumnya isolasi yang dianggap cukup. akan tidak dapat bertahan. dari alat yang didapt dengan generator yang diputar dengan tangan.10 Tester tahanan isolasi (Megger) Pada umumnya.000 Mom.Gambar 6. yang dibuat oleh pembangkit yang diputar dengan tangan. 250. Alat penguji tahanan isolasi digunakan untuk mengukur tahanan isolasi dari alat-alat listrik maupun instalsi-instalasi. Alat penguji isolasi ini disebut alat penguji isolasi dengan baterai. 1000. maka sumber tegangan harus dipilih tidak hanya tergantung dari batas pengukuran. Akhir-akhir ini alat penguji tahanan isolasi yang mempergunakan sumber tegangan tinggi. Besar tegangan tersebut pada umumnya adalah 100.

11 b) hasil pengukurannya adalah tahanan Rx dimana besar. untuk mengelakkan pengaruh dari polarisasi elektrokimia.11 b) Rx B.11 a) tanpa guard circuit b)dengan guard circuit Gambar 6. VM AM Dimana : VM = penunjukan voltmeter AM = penunjukan amperemeter Sebenarnya hasil pengukuran gambar 6. Untuk mengukur tahanan ini dengan metode tegangan jatuh (voltage drop) yaitu merupakan metode mpengukuran secara konvensionil. seperti ditunjukkan dalam gambar 6.11 a) hasil pengukuran adalah tahanan parallel antara tahanan bocor Rb dengan tahanan yang seharusnya diukur Rx. Didalam pengukuran tahanan pentanahan ini digunakan tegangan bolakbalik. sedang didalam gambar 6.4 Mengukur tahanan pentanahan Kadang-kadang perlu diketahui tahanan pentanahan yaitu tahanan antara pelat yang dibumikan dan sekitarnya. Metoda Volt-Amperemeter Di dalam metode ini terapat dua macam rangkaian dimana salah satunya menggunakan Guard Circuit. Tetapi bila diinginkan harga sebenarnya dari tahanan isolasi maka harus digunakan gambar 6.2.11 Pengukuran tahanan isolasi dengan metoda voltamperemeter Didalam pengukuran diatas untuk gambar 6. sehingga gambar 6.11 a) boleh digunakan.11 a) lebih kecil dari tahanan isolasi sebenarnya yang diukur sehingga bila hal ini telah memenuhi syarat yang ditentukan untuk suatu isolasi sebenarnya akan pasti memenuhi syarat. Halaman 54 dari 98 . Misalkan tegangan bolak-balik Vo ditempatkan antara dua electrode P1 dan P2 yang mepunyai jarak lebih dari 10 m.

Apabila dikehendaki pengukuran secara langsung maka digunakan ground resistance meter. Halaman 55 dari 98 . maka diperoleh bahwa potensial pada titik –titik dekat P1 dan P2 naiknya sangat cepat seperti ditunjukka dalam gambar 6.12 ` V Vo V V2 V1 Vo A P1 (a) P3 P2 (b) Gambar 6. Dimana prinsip dasarnya adalah sama dengan yang konvensionil.12 Pengukuran tahanan pentanahan Bila P3 ditempatkan pada jarak yang potensialnya terhadap P1 dan P2 adalah konstan kemudian dicatat : dan VP3P2 = V2 VP1P3 =V1 Maka tahanan pentanahana yang diberikan adalah : V1 V2 R1 = dan R2 = I I I adalah arus yang ditunjukkan oleh amperemeter.Elektroda pembantu P3 ditempatkan dekat-dekat dengan P1 atau P2.

Kode-kode warna dari kapasitor sama seperti untuk tahanan hanya saja satuannya dalam pico Farad Misalnya setelah dibaca warna-warnanya diperoleh harga 1500. Sedang arus yang mengalir pada elemen tersebut sebanding dengan perubahan tegangan terminal yang diberikan terhadap perubahan waktu. 1) Nilai Kapasitor Umumnya nilai kapasitansi dari kapasitor dinyatakan dengan warna-warna atau angka. Pada kapasitor ideal bahan dielektrik yang memisahkan kedua keeping kapasitor tersebut adalah isolator sempurna.BAB VII PENGUKURAN KAPASITOR DAN INDUKTOR A. Untuk pengukuran-pengukuran rangkaian jembatan digunakan diagram ekivalent dari kapasitor tidak ideal seperti terlihat pada gambar di bawah ini. maka besar nilai kapasitansi dari kapasitor tersebut adalah 1500 pico Farad 2) Diagram dari Kapasitor Diagram dari kapasitor yang tidak ideal : Rp φ φ Cp Tahanan Rp menunjukkan kerugian dielectric dari kapasitor Cp. φ φ I C i=C V dV dt Untuk menaikkan besar kapasitansi dari suatu kapasitor digunakan bahan dielektrik. KAPASITOR Kapasitor adalah suatu elemen listrik yang menyimpan energi bila diberi tegangan. φ φ Rs Cs Halaman 56 dari 98 .

Metoda Jembatan Arus bolak-balik Jembatan arus bolak-balik seperti ditunjukkan dalam gambar 7.C = bila ω. polyethylene. Cp. mylar dan teflon.Rs. maka impedansi antara kedua terminalnya harus sama.Dari kedua rangkaian tersebut sebenarnya adalah dari kapasitor yang sama. sehingga dapat diperoleh hubungan antara Rp. Halaman 57 dari 98 . Electrolytic kapasitor dapat mempunyai nilai sampai dengan 0.C << 1 3) Type-type Kapasitor Sifat-sifat kapasitor sangat ditentukan oleh bahan dielektrik yang digunakan. dan Cs.1 Vektor diagram dari kapasitor tidak ideal Kualitas dari kapasitor ditentukan oleh load angle tg ð = ω. murah dan banyak dipakai dimana toleransi dan dielectric lossnya tidak penting • Plastic film Capacitors Digunakan bahan dielectric yang mempunyai kerugian dielectric yang rendah seperti polystyrene. Rs.2 tersebut bila dalam keadaan setimbang maka detector tidak menyimpang yang berarti bahwa pada detector tersebut tidak ada aliran arus. 4) Pengukuran Kapasitor i.1 F.Rs.Rs riel − V Gambar 7. 1 1 Dengan syarat batas Rs<< & Rp >> ω ⋅ CS ω ⋅ CP Akan diperoleh hubungan bahwa : Cs = Cp = C ω2 C2 Rs Rp = 1 imaginer ð 1 ω ⋅ CS i. • Paper Capasitors Digunakan secara umum. • Electrolytic Capacitor Keuntungannya adalah type ini diperoleh nilai kapasitansi yang tiggi sedangakan kapasitor-kapasitor yang lain hanya mempunyai nilai sampai 50μF.

|Z4| = |Z2| . Z3 eJ(φ2+φ3) Jadi jembatan tersebut dalam keadaan setimbang harus dipenuhi 2 syarat : • |Z1| .2 Jembatan arus bolak-balik Bila jembatan dalam keadaan setimbang maka : Tegangan ab = tegangan ad Tgangan bc = tegangan dc Sehingga didapatkan: Z1 . . Z3 Z1 . Z4 eJ(φ1+φ4) = Z2 . maka harus dipenuhi dua persyaratan : Z1 Z 4 = Z 2 Z 3 ∠θ1 + ∠θ 4 = ∠θ 2 + ∠θ 3 Dengan kata lain penjumlahan sudut-sudut fasa dari lengan-lengan yang saling berhadapan harus sama. Z4 = Z2 . .|Z3| • φ1 + φ4 = φ2 + φ3 Dan jembatan tersebut harus mempunyai 2 elemen variable Variabel φ menunjukkan sudut fasa impedansi kompleks dan dapat dituliskan kembali dalam bentuk kompleks adalah sebagai berikut : D I1 Z1 b I3 Z3 ( Z1∠θ1 )( Z 4 ∠θ 4 ) = ( Z 2 ∠θ 2 )( Z 3 ∠θ 3 ) Z1 Z 4 ∠(θ1 + θ 4 ) = Z 2 Z 3∠(θ 2 + θ 3 ) Untuk membuat jembatan arus bolak-balik setimbang. Contoh soal : Impedansi –impedansi jembatan arus bolak-balik dinyatakan sebagai berikut : Z1 = 100 Ω ∠ 80o (impedansi induktif) Z2 = 250 Ω (tahanan murni) Z3 = 400 Ω ∠ 30o (impedansi induktif) Z4 = tidak diketahui Halaman 58 dari 98 .a I2 Z2 d I4 Z4 c Gambar 7.

adalah sebagai berikut : Z1 = R = 450 Ω Z2 = R − j = (300 − j 600) Ω ωC Z 3 = R + jωL = (200 + j100) Ω Z 4 = tidak diketahui Dengan memasukkan harga-harga ini ke dalam persamaan dan penyelesaian Z4 dapat diketahui : Z 2 Z 3 (300 − j 600)(200 + j100) = = 266. lengan BC.6 − j 200 Z1 450 Hasil ini menunjukkan. tidak diketahui. bahwa Z4 merupakan gabungan dari sebuah tahanan dan kapasitor. lengan CD.000∠ − 50 0 Contoh soal : Jembatan arus bolak-balik seimbang dengan konstanta-konstanta yang dinyatakan sebagai berikut : lengan AB. Tentukan konstantakonstanta lengan CD.9 mH.265 μF. R = 300 Ω.8 μF 2π (200)(1000) Halaman 59 dari 98 . sehingga C : Z4 = C= 1 = 0. R = 200 Ω. Penyelesaian : Syarat pertama bagi kesetimbangan jembatan menunjukkan bahwa : Z1 Z 4 = Z 2 Z 3 Z Z 250 × 400 = 1000 Ω Z4 = 2 3 = Z1 100 Syarat kedua untuk kesetimbangan dinyatakan : ∠θ1 + ∠θ 4 = ∠θ 2 + ∠θ 3 0 + 30 – 80 – 50o Maka impedansi Z4 yang tidak diketahui dapat ditulis sebagai berikut : Z 4 = 1. Penyelesaian : Impedansi lengan-lengan jembatan yang dinyatakan dalam bentuk kompleks. seri dengan L = 15. R = 450 Ω. Frekuensi osilator adalah 1 kHz.Tentukan konstanta lengan yang tidak diketahui. seri dengan C = 0. lengan DA. Sehingga Xc = 1/ωC= 200 Ω.

S 2 .Jembatan Schering Jembatan ini seperti diperlihatkan dalam gambar 7.S 2 . R.C1 S C= C2 2 P(1 + w2 .3 untuk menyeimbangkan jembatan jembatan dengan mengatur Cs atau Q & C1 maka dengan menggunakan persamaan umum keseimbangan dapat dibuktikan bahwa dalam keseimbangan akan diperoleh : Cx Sx D P Q C1 Cs S X = Q. C1. Dalam keadaan seimbang diperoleh R C1 Q. C1 CS P Q C X = CS . C.4 Jembatan Wien Halaman 60 dari 98 .C1 ) 2 Q P Gambar 7.C1 ) D P(1 + w2 .Q. Bila hargaharga dari R dan C dimasukkan akan diperoleh ð = ω. Jembatan Wien Jembatan lain sering digunakan ialah jembatan wien.3 Jembatan Schering Z x = Z 2 Z 3Y1 SX − ⎛ −j j = Q⎜ ⎜ ωC ωC X S ⎝ ⎞⎛ 1 ⎞ ⎟ + jωC1 ⎟ ⎟⎜ ⎠ ⎠⎝ P Kualitas dari kapasitor ditentukan oleh loss angle ð = ω.S 2 .C1 ) R= 2 w2 . R. Gambar 7.

5 bila nilai kapasitansi dari kapasitor C Farad mendapat tegangan sinus murni. dan amperemeternya harus mempunyai tahanan dalam yang rendah. dari gambar 7. Maka besar kapasitansi C dapat dihitung. φ A V C φ Voltmeter yang digunakan harus mempunyai sensitivitas yang tinggi (R1>>). Bila semua kerugian-kerugian yang mungkin terdapat. Metoda Volt dan Amperemeter Didalam metoda ini kapasitor dianggap ideal. V = tegangan efektif dari tegangan ω = 2. Kerugian-kerugian pada inti adalah hysterisis dan kerugian Eddy Current. INDUKTOR Induktor adalah suatu elemen listrik yang menyimpan energi bila dilalui arus. akan mengalir arus : I = ω. B.ii. Kerugian Pada Induktor Tahanan dari kumparan dapat mempunyai nilai yang besar bila digunakan kawat dengan penampang kecil dan akan mengakibatkan kerugian yang sebanding dengan I2. F. Suatu inductor yang tidak ideal dapat digambarkan sebagai berikut : Halaman 61 dari 98 . kumparan dililit pada inti dari bahan magnetis yang mempunyai permeabilitas yang tinggi. 1. Untuk membatasi jumlah lilitan yang diperlukan untuk satu nilai induktansi tertentu. V. C. di dt φ I V Konstanta dari persamaan diatas (l) disebut induktansi dari elemen tersebut yang mempunyai satuan Henry. Sedang tegangan pada terminalnya sebanding dengan perubahan arus terhadap waktu dari arus yang mengalir melalui elemen tersebut. biasanya VTVM. diperhitungkan. π. L φ V = L.

L1. C b d Halaman 62 dari 98 .L. (1 − ω .b Jembatan Maxwell P Dalam keadaan seimbang : P.∂ Rs riel i.C 2 Dengan syarat mula : w.φ R1 L1 φ C Sedang pada pengukuran-pengukuran dengan menggunakan jembatan biasa digunakan skema equivalent yang terdiri dari tahanan dan inductor ideal yang dihubungkan seri.S R= L Q L = P. S.S ð i.C ) 2 2 Ls = L1 1− ω . Pengukuran Induktor a) Metode Jembatan Jembatan Maxwell a R S D Q C c Gambar 7.Ls = Q= tg .Rs 2.L1. seperti schema dibawah φ φ Rs Ls Dari kedua rangkaian tersebut adalah identik sehingga akan terdapat hubungan : Rs = R1 .ω.L1 >> R1 w.Ls >> Rs Vektor diagram dari suatu inductor tidak ideal imaginer V Kwalitas kumparan dinyatakan dengan : 1 ω.

P.L V = harga efektif dari tegangan Sedang ω = 2 πf.C 2 . V ampere I= ω. akan mengalir arus. bila induktansi dari inductor dengan nilai L Henry mendapat tegangan sinus murni.Q.Q d Q P C c Gambar 7.Q L= C.S 1 + w2 .P.8 Pengukuran induktor dengan metoda volt amperemeter A Halaman 63 dari 98 .7 Jembatan Hay b) Metode Volt Amperemeter Didalam metode ini inductor dianggap ideal.Jembatan Hay a R S D L b Dalam keadaan setimbsng w2 . maka L dapat dihitung φ V φ Gambar 7.C 2 .C 2 .S R= 1 + w2 .

Dimana : V= tegangan jala-jala I = arus jala-jala Cos φ = power factor Lagging/ terbelakang bila bebannya induktif Leading/ mendahului bila bebannnya kapasitif Sedang bila bebannya tidak seimbang : P = V1.V.BAB VIII PENGUKURAN DAYA DAN DAYA REAKTIF A.I1 Cos φ1 + V2.1 b) daya dari beban P = V. I Dimana : V = penunjukan voltmeter I = penunjukan amperemeter A A E V Rv Ra V Ra Beban R E Rv V V Beban R (a) (b) Gambar 8.1 a) Penunjukan amperemeter sesuai dengan arus beban tetapi penunjukan voltmeter tidak tepat menunjukkan tegangan beban Dengan adanya hal tersebut maka bila penunjukkan amperemeter (arusnya) kecil. PENGUKURAN DAYA Seperti diketahui bahwa : • Daya untuk arus searah P = V . Metoda Volt Amperemeter Rangkaiannya pengukurannya seperti ditunjukkan dalam gambar 8.1 Pengukuran daya dengan volt amperemeter Didalam metode ini sebenarnya ada 2 macam cara didalam menghubungkan voltmeter dan amperemeter terhadap beban yaitu a. I Dimana : V = tegangan I = arus beban • Daya untuk arus bolak-balik Untuk system 1 phasa (1φ) : P = V. maka kerugian tegangan pada amperemeter kecil (ðV << V).1 Pengukuran Daya Arus Searah 1.I3 Cos φ3 = Σ daya masing-masing phasanya A.1 a) dan gambar 8.I2 Cos φ2 + V3.I Cos φ Bila bebannya seimbang. Seperti gambar 8.I Cos φ Untuk system 3 phasa (3φ) : P = 3 . Halaman 64 dari 98 .

1 b) Penunjukkan voltmeter sesuai dengan tegangan beban tetapi penunjukan amperemeter tidak tepat menunjukkan arus beban. Untuk system 1 Phasa i. Karenanya cara (b) ini sangat baik untuk beban yang relative besar (dengan arus beban besar) 2. Seperti gambar 8. Bilamana arus bebannnya besar. dan ternyata. Metode 3 Voltmeter Didalam metode ini diperlakukan tahanan pembantu R yang telah diketahui besarnya : V2 W RL R Supply V3 V1 I LOAD V1 φ V3 V2 Gambar 8.3 Pengukuran daya satu phasa dengan 3 voltmeter dan vector diagramnya Halaman 65 dari 98 .2 Pengukuran daya satu phasa dengan wattmeter Biar beban sesuai dengan penunjukkan dari pada wattmeter. ðI << I beban. Metoda Wattmeter Rangkain pengukurannya ditunjukkan dalam gambar 8. Secara umum alat ukur wattmeter yang digunakan adalah type elektrodynamis A. prinsip wattmeter arus searah adalah merupakan kombinasi antara amperemeter dan voltmeter arus searah.2 Pengukuran daya Arus bolak-balik 1.Maka untuk cara (a) ini sangat baik bila beban relative kecil (dengan arus yang kecil). maka arus yang mengalir pada voltmeter kecil (ðI). b.2 φ == φ Gambar 8.

4 Pengukuran daya satu fasa dengan 3 amperemeter dan vector diagramnya.R Faktor daya (Cos φ) juga dapat diperoleh : V 2 3 − V 21 − V 2 2 p. . V1 .Cos φ = 2 2 2 (I 3 .V1.3 V23 = V21 + V22 + 2. I1.V1 = tegangan beban V2 = kerugian tegangan pada R V3 = tegangan sumber I = arus beban Dari vector diagram dalam gambar 8. V2 . Cos φ V I23 = I21+I22+2.I1.I 2 2 . A3 I3 SUPPLY A2 Gambar 8. I2 . I1. Didalam metoda ini diperlukan tahanan pembantu R yang telah diketahui besarnya. Cos φ V 23 − V 21 − V 2 2 Maka V1.R V.I 2 .I 21 ).I 21 ) Dan Cos φ = 2.V2 ii. I Cos φ = 2.R 2 V 3 − V 21 − V 2 2 Daya dari beban P = 2.f = 2.R φ I1 I2 Halaman 66 dari 98 .4.4 I23 = I21+I22+2. I1. Cos φ V23 = V21 + V22 + 2. Metoda 3 Amperemeter Rangkaian pengukurannya ditunjukkan dalam gambar 8. Cos φ R Sehingga : (I 23 . Dari vector diagram gambar 8.I 2 I2 LOAD A1 I1 V I3 = I2. I.R . V1 .

iii. P = V .5 Pengukuran daya satu fasa dengan wattmeter Besar beban sesuai dengan penunjuan daripada wattmeter. I Cos Ώ V = tegangan beban I = Arus beban Cos φ = power factor beban 2.6 R IR Q V S VRS Y IY VYS VBS B IB Gambar 8.5 φ AC φ == W Z Gambar 8. Metoda Wattmeter Rangkainnya pengukurannya ditunjukkan dalam gambar 8.6 Pengukuran daya tiga phasa untuk teorema Blondel’s Halaman 67 dari 98 . Untuk system 3 phasa Teorema Blondel’s Untuk menguraikan teorema blondel’s tersebut digunakan gambar 8. dimana penunjukan wattmeter.

7 b untuk tegangan dan arus yang besar. iR + VYS . (a) (b) Gambar 8. iR PYS = rata-rata dari VYS . iy + VBS . iy PBS = rata-rata dari VBS .7 Pengukuran daya 3 phasa dengan kombinasi transformator tegangan Halaman 68 dari 98 . iR PY = (VYS + V). iY PB = (VBS + V). Pengukuran Daya Sistem 3 phasa Beban seimbang 1. iR + VYS . Metode 1 Wattmeter Dalam rangkaian pengukuran gambar 8. Dimana didalam gambar tersebut untuk pengukuran daya dengan kombinasi transformator tegangan.7 a digunakan untuk tegangan dan arus yang rendah. iB Maka : PR = (VRS + V). iB + V. iy + VBS . maka iR + iY + iB = 0 Maka Ptotal = VRS .7 b karena tegangan dan arusnya besar maka selain transformator tegangan diperlukan juga transformator arus dengan perbandingan Vp untuk transformator tegangan dan Vs Ip untuk transfornator arus. Is Dari kedua rangkaian tersebut analisa dan diagram vektornya adalah sama.Daya masing-masing beban merupakan daya rata-rata : PRS = rata-rata dari VRS .(iR + iY + iB) Sesuai dengan hukumnya kirchoff I. iB Sehingga daya total = VRS . sedang yang ditunjukkan dalam gambar 8.7 a digunakan transformator tegangan dengan perbandingan 1:1. iB = Σ daya masing-masing phasa a. sedang dalam gambar 8. Yang mana didalam gambar 8.

VY V = 3 . Metoda 2 wattmeter Rangkaian pengukurannya ditunjukkan dalam gambar 8. Cos φ P = 3 .8 VRY VR R I I IR Y B VB IY VY Gambar 8.8 Pengukuran daya 3 phasa dengan kombinasi transformator arus 2. VYB Maka : V = 3.T = Transformator tegangan dengan angka transformasi 1 (1:1 ) T1 & T2 = Transformator tegangan T3 = transformator arus Dari vector diagram gambar 8.9 Pengukuran daya 3 phasa dengan metoda 2 wattmeter Halaman 69 dari 98 . maka rangkaian pengukurannya seperti ditunjukkan dalam gambar 8. Bila menggunakan transformator arus.9 φ φ R VRY VR φ φ Y VBY IB φ φ B VB φ IR VY Gambar 8. Cos φ Jadi wattmeter menunjukkan daya total dari beban 3φ.7 VYB = 3 .VY . IY . IY . VY Daya yang ditunjukkan oleh wattmeter W adalah : P = V . VY VYR = 3 .

IB. I. Metode 3 wattmeter Rangkaian pengukurannya seperti ditunjukkan dalam gambar 8. Pengukuran Daya Sistem 3 φ Beban tidak seimbang Didalam pengukuran ini. Cos φ P2 = VY. Penunjukan masing-masing wattmeter adalah: P1 = VR. I. rangkaian pengukurannya seperti ditunjukkan dalam gambar 8. Cos φ P3 = VB.10 Pengukuran daya tiga phase dengan metode tiga wattmeter b. Iph Cos φ = 3 .Penunjukkan w1 = P1 = VRY . Vph . IY. IR. Cos φ φ φ φ R φ N φ Y φ φ φ B Gambar 8. IB. P = VR. IR . I .10. I. 2 . V. IY. merupakan jumlah masing-masing daya per phasanya. {Cos (30+φ) + Cos (30+φ) = V . 1 3 Cos φ 2 Maka = 3 V. IR. Cos φ P = Σ masing-masing daya Halaman 70 dari 98 . I. 2 Cos 30o Cos φ = V. IR . Cos (30 + φ) Maka daya total P1 + P2 = VRY . Cos φ + VY. Cos φ + VB. Cos (30 + φ) + VRY . Dengan demikian daya total untuk system tiga phasa. IR . Cos (30 + φ) Penunjukkan w2 = P2 = VRY . Cos φ 3. maka di dalam pengukurannya harus masing-masing bebannnya (per phasa). Cos (30 + φ) Keadaan beban setimbang maka : P = V . IR . Cos φ Karena beban seimbang maka IR = IY = IB Dengan demikian daya total P = 3.10 hanya saja bebannya tak seimbang.

Prinsip Pergeseran Phasa 90 derajat adalah sebagai berikut : a) Dengan menggunakan extra elemen. Cos φ Dimana V = Penunjukan voltmeter I = Penunjukan amperemeter Dengan demikian power factor Cos φ bisa diketahui.11 Pengukuran daya reaktif dengan watt volt dan ampermeter Penunjukan wattmeter P = V. Atau hanya salah satu system yaitu rangkaian tegangan atau rangkaian arus. dimana pergeseran phasa totalnya terbuat dalam 2 tingkat : • Tahanan dihubungkan serie dengan kumparan tegangan yang menghasilkan pergeseran phasa leading • Suatu tahanan yang non induktif dihubungkan paralel dengan kumparam seri yang menghasilkan pergeseran phasa lagging Dari kedua tingkat tersebut didapat pergeseran phasa total 90 derajat.B. I. b) Dengan menggunakan elemen watt yang umum tetapi tegangan yang dipasang mempunyai pergeseran phasa 90 derajat terhadap tegangan yang digunakan pada pengukuran daya. Pada rangkaian tegangan dan rangkaian arus yaitu pada kedua system tegangan dan arus yang diubah. 1. Sistem Satu Phasa Menggunakan prinsip. Sin φ Apabila dikehendaki pengukuran secara langsung dapat dilaksanakan dengan menggunakan VARmeter. Tetapi hal ini tidak dapat diketahui secara langsung. I. maka sin φ bisa diketahui pula. Cara ini sesuai untuk pengukuran daya system poly phasa misalnya system 3 phasa. Prinsip VARmeter adalah sama dengan energi meter dengan tambahan pergeseran phasa sebesar 90 derajat. Daya reaktif VAR = V. yang mengakibatkan pergeseran phasa 90 derajat. volt dan ampernya. PENGUKURAN DAYA REAKTIF Secara sederhana daya reaktif dapat dilakukan dengan pembacaan watt. seperti yang ditunjukkan dalam gambar 8.11 φ W A V φ Z Gambar 8. Halaman 71 dari 98 .

IY Sin φ φ φ R VR φ φ φ Y IY φ B VB IY VY VBR Gambar 8. dengan 3 sehingga daya reaktif total = VBR. Metode satu wattmeter Rangkain pengukurannya seperti ditunjukkan dalam gambar 8. Sistem 3 Phasa a. IR Cos (30 + φ) + VYB.12 Penunjukan wattmeter = VBR. Sin φ Maka kopel dari pada instrument sebanding dengan V. Sin φ Halaman 72 dari 98 .13 IR R Y VRY 1 IB VR IR 2 B VYB IB VB VY Gambar 8.12 Pengukurannya daya reaktif 3 phasa dengan satu wattmeter b. I Sin φ Bila digunakan wattmeter 1 phasa yang umum maka kedudukan skalanya perlu dikalibrasi. Metode dua wattmeter Rangkaian pengukurannya seperti ditunjukkan dalam gambar 8. IB Cos (150 + φ) Penunjukan total = VRY. IY. I. {Cos (30 + φ) + Cos (150 + φ)} = V.2. Cos (90-φ) = VBR.13 Pengukuran daya reaktif dengan dua wattmeter Penunjukan wattmeter W1 = VRY. IB Cos (150 + φ) = V. I. IR Cos (30 + φ) Penunjukan wattmeter W2 = VYB. IY.

Sin φ. Sehingga daya reaktif total = 3 . Kedudukan skala dari pada meter-meter perlu dikalibrasi dengan factor 3 . Halaman 73 dari 98 .Jadi kopelnya sebanding dengan V I Sin φ yang merupakan daya reaktif. V. I.

bila sinyal input telah mencapai harga tertentu sebagaimana dari sinyal input ini dipakai sebagai input untuk circuit pulsa trigger. TOMBOL VOLT/DIV : dipakai untuk memilih attenuation yang dibutuhkan. Tempat-tempat dimana electron tersebut mengenai layer akan memberikan sinar karena sifat-sifat phosphor yang menyelubungi layer. jadi untuk mengamati besarnya amplitude dari sinyal yang terlihat dari layer. 1. Pada pemakaian CRO yang umum. sumbu X (horizontal input) akan memberikan sinar yang bergerak dari kiri ke kanan. Jumlah electron yang dipancarkan diatur oleh potensial grid. sedangkan tegangan yang diselidiki/ dipasang pada vertical input (sumbu Y). sedang anodanya (positif changed plate) mempercepat gerak electron tersebut yang akhirnya mencapai layer. Oscilloscope dapat digambarkan rangkaian blok diagram dan bagian-bagian penting yang berhubungan dengan tombol-tombolnya seperti gambar 9. CRO juga sering digunakan untuk mempelajari keadaan-keadaan transient. Oscilloscope ini hanya dapat digunakan untuk mengukur besaran tegangan secara sederhana.magnitude 1x dan 10x. TOMBOL TRIGGER LEVEL : digunakan untuk memilih amplitude darielekton beam pada waktu mulai bergerak. Di sebelah kiri tombol volt/div terdapat tombol Y. TRIGGER CIRCUIT Untuk memulai dari gerakan electron beam. berdasarkan X-Y plother yang sangat cepat dengan frekwensi yang tinggi dan impedansi input yang tinggi. yang artinya bila digunakan 10x berarti sinyal yang terlihat pada layer magnitude amplitudenya telah diperbesar 10 kali dari asalnya.1 dibawah. VERTICAL ATTENUATOR Sinyal Y-input setelah diatur sedemikian rupa hingga setelah diperkuat dalam vertical amplifier (Y-amplifier) diperoleh sinyal yang dibutuhkan untuk deflection plate. yaitu dengan mengalikan skala cm (atau div) dari tinggi amplitude sinyal yang terlihat pada layer dengan penunjukan diri tombol volt/div yang dipakai di samping memperhatikan posisi dari tombol Y magnitude 2. dan dapat diubah-ubah pada step-step yang telah dikalibrasi. Bagian yang penting dari rangkaian dalam oscilloscope dan tomboltombol yang berhubungan dengan bagian tersebut. yang terdiri dari electron gun (katoda) yang memancarkan electron. pembacaannya dapat dilakukan apabila switch volt/div pada posisi kalibrasi. atau bila tombol trigger level pada posisi otomatis berarti pemilihan dapat dilakukan secara otomatis oleh oscilloscope sendiri.BAB IX OSCILLOSCOPE Cathode Ray Osilloscope (CRO) sangat berguna untuk mempelajari atau mengukur signal-signal periodic. Cathoda Ray Tube (CRT) merupakan bagian terpenting dari Oscilloscope. Untuk pembacaan amplitude sinyal. Halaman 74 dari 98 . sehingga sinar-sinar pada layer akan menunjukkan variasi tegangan sebagai fungsi waktu.

3) TOMBOL X-SHIFT : tombol ini berhubungan dengan horizon amplifier. karena dapat merusakkan oscilloscope. berarti bahwa tegangan untuk defleksi horizontal disupply dari sweep generator. sedang untuk posisi Xext. Bila beam telah mencapai pada bagian yang paling kanan dari layer. Satu gerakan dari kiri ke kanan ini dan kembali lagi disebut “satu sweep” Tombol-tombol yang lainnya adalah : 1) TOMBOL-TOMBOL POWER ON/ OFF : PAda tombol ini disamping untuk menghidupkan Oscilloscope juga untuk mengatur intensitas. 3. Sedang untuk amplification/ attenuation dapat dipilih dengan swtch Xmagnitude . Jadi misalnya diinginkan membaca waktu satu periode dari suatu sinyal. dapat digunakan untuk mengatur posisi dari gambar dengan bergeser ke arah horizontal. Dalam hal ini trigger selector harus pada kedudukan internal (INT) X-INPUT SELECTOR : Posisi dari X-input selector pada X-int. sweep generator akan menghasilkan tegangan yang setelah diperkuat dalam horizontal amplifier (X-amplifier) digunakan untuk deflection horizontal dari pada electron beam. dan untuk pembacaan diatas switch time/ div harus pada kedudukan yang telah dikalibrasi. 2) TOMBOL FOCUS : digunakan untuk memperoleh gambar yang tajam dan jelas.SWITCH “SLOPE SELECT” : dapat digunakan untuk memilih suatu bagian dari sinyal input positif atau pada bagian negative. hal ini dapat dilakukan dengan mengalikan skala pada layar untuk suatu periode sinyal dengan penunjukan dari tombol time/div yang dipakai. Elektron beam ini bergerak dengan arah horizontal dan kecepatannya konstan dari sisi kiri ke kanan dari pada layer serta displaynya berupa garis. SWEEP GENERATOR Setelah menerima pulsa trigger. sweep generator diputuskan hubungannya dengan X-amplifier sehingga kedudukan dari tombol time/div tidak mempengaruhi display. 4) TOMBOL Y-SHIFT : digunakan untuk mengatur posisi Y dengan bergeser ke arah vertical 5) Kalibrasi output oscilloscope memberikan tegangan squarewave 5 volt peak to peak (puncak-puncak) 6) TOMBOL STABILATOR : digunakan untuk mengatur kestabilan gambar pada layer ascilloscope. Perhatikan dalam mengatur intensitas jangan terlampau besar. TOMBOL TIME/DIV : digunakan untuk memilih waktu yang dibutuhkan untuk suatu sweep. maka dia akan hilang untuk sementara kemudian bergerak kembali ke arah kiri dan gerakan kembali ini tidak terlihat pada layar karena ter cut off (terpotong). 7) Socket-socket yang ada adalah : • Y-input • X-ext • Ground • Trigger Socket Halaman 75 dari 98 .

+ INTENSITY FOCUS Gambar 9. CATHODE RAY TUBE Cathode Ray Tube merupakan bagian terpenting dari oscilloscope. yang terdiri dari suatu electron gun (katoda) yang memancarkan electron.3 Cathode Ray Tube ASTIGMATISM Halaman 76 dari 98 . Katoda yang dipanasi secara tak langsung akan memancarkan electronelektron yang bergerak mengalir melalui celah sempit pada control grid.2 Bagian depan dari Oscilloscope a. Power on : Intensitas focus Xshif Magn Illumination dc bal ac dc x1 x10 Yshif V/div t/div Cal 5V + - X input selector Y input Level Xext Trigg Gambar 9. Potensial yang berubah-ubah dari control grid dapat mengatur jumlah electron yang dipancarkan.Trigger socket ini digunakan untuk external triggering dari pada oscilloscope dengan X – ext dan Y – input kita dapat mempelajari hubungan dua buah sinyal yang tak tergantung. Jumlah electron yang dipancarkan diatur oleh potensial grid sedangkan anodanya mempercepat gerak gerak electron tersebut yang akhirnya mencapai layar. Biasanya control grid berbentuk silinder dengan celah di tengah-tengah koaksial sumbu tabung (tube).

Catatan : Bila intensitas sinar terlalu tinggi akan dapat merusakkan light emission properties screen internal Terutama untuk sinar-sinar yang tidak bergerak atau bergerak perlahan-lahan pada permukaan layer harus digunakan intensitas yang rendah. c. Menurut teori medan elektrostatis. Pada gambar diatas menunjukkan beberapa bidang ekipotensial didalam ruangan antar elektroda-elektroda silinder. Pada CRO hanya digunakan electrostatic focusing dan metode ini akan dijelaskan sebagai berikut : A1 + + + A2 Bila dua elektroda dengan potensial yang berbeda dipisahkan pada jarak yang dekat. Dengan knop ini dapat diatur terangnya (intensitasnya) dari sinar-sinar electron pada layer. medan listrik dari elektroda yang satu akan dipenuhi oleh yang lain. maka harus digunakan metoda untuk memfokuskan electron-elektron tersebut sehingga diperoleh sinar yang sempit dan tajam. Intensitas sinar yang tinggi menghasilkan sinar-sinar yang lemah.Karena jumlah electron-elektron bersama-sama dengan kecepatan electron besar (sinar electron) maka dengan mengubah-ubah potensial grid berarti mengubah-ubah intensitas sinar (beam intensity). maka : + V Fy Ey Halaman 77 dari 98 . semua CRO pada bagian depannya terdapat sebuah knop yang bertuliskan INTENSITY.1 FOCUSING DARI ELEKTRON BEAM Karena electron-elektron meninggalkan katoda dalam segala arah dan karena sifat-sifat saling tolak-menolak dari electron-elektron yang bermuatan sama. Terlihat bahwa potensial gradien dV/ dx dan dV/dy tidak konstan pada suatu bidang ekipotensial.

berarti tergantung pada axial speed dari electron-elektron selama gaya tersebut bekerja pada electron. +V α d B L Gambar 9.3 terlihat bahwa untuk memperoleh focusing yang bagus digunakan dua buah lensa elektroda. berarti juga mengubah bentuk lensa elektron) c. Pada gambar 9.2 DEFLECTION PLATES Dua pasang deflection plates mengatur sinar electron (electron beam) yang dihasilkan oleh suatu CRO. Potensial dari focusing elketroda diatur dengan menggunakan potensiometer (yang juga berarti mengatur bentuk lensa electron) dan menghasilkan focus yagn dapat diatur.4 Vertikal deflection plate D Halaman 78 dari 98 . Semua CRO pada bagian depannya terdapat KNOB yang tertuliskan FOCUS dan beberapa CRO yang mempunyai KNOB yang tertuliskan ASTIGMATISM dan potensiometer ini mengatur accelerating dan focusing dari electron beam (dengan mengubah potensial dari accelerating elektroda. Kedua efek ini menagkibatkan percepatan total yang serah dengan sumbu lebih besar dari percepatan yang tegak lurus padanya dan focusing efek yang dihasilkan tidak sama dengan nol. Disamping itu penyimpangannya tergantung pada waktu. Prinsip penyimpangan dari kedua pasang deflection plate tersebut sama dan berikut ini akan dijelaskan vertical deflection plate saja. kenaikan kecepatan axial tersebut mengakibatkan electron tersebut berada di dalam medan dari elektroda A2 dalam waktu yang lebih singkat. Sepasang plate untuk penyimpanagan horizontal dan sepasang lagi untuk penyimpangan vertical dipasang mengelilingi electron beam sedemikian rupa sehingga electron-elektro yang memasuki medan antar plate-plate tersebut dengan sudut tertentu setelah penyimpangan electron beam tidak menyentuh plat-plat tersebut. Disamping itu karena penyimpangannya yang mempunyai arah tegak lurus dengan bidang ekipotensial.Maka gaya yang bekerja pada suatu muatan electron yang memasuki medan antara electron-elektron tergantung pada jarak plat-plat elektroda terhadap sumbu elektroda tersebut. Bila suatu electron telah memasuki medan elektroda-elektroda kecepatan axialnya Vz bertambah. maka electron didalam medan magnet A2 akan mempunyai kedudukan yang lebih mendakti sumbu dari pada didalam medan A1.

Ey a = m Penyimpangan kearah sumbu Y adalah : Y = 1 . 0.Vz Persamaan ini menunjukkan bahwa lintasan electron adalah berbentuk parabola.m.Z 2 Y== K.ay.Z2 ===>Parabola 2. 0) = 0 • Bila electron memasuki medan E.Ey. Diluar plate atau bidang-bidang elektroda tersebut medan listrik E dianggap nol. Ey Karena Ex = Ez = 0 maka tidak terdapat gaya-gaya lain yang bekerja (gravitasi diabaikan). Fy = m . timbul non distorted electrical field antara kedua plat tersebut.Vo. • Diluar plate medan listrik E = (0.d .t 2 2 q. ay q.m Dimana : t = waktu selama gaya Fy bekerja pada electron t= Z . kecepatannya adalah : V = (0. Ey.V . vertical deflection plate. Ey = . Vz). Y = K . Walaupun dipasang horizontal plate-plate tersebut mengakibatkan penyimpangan electron beam kearah vertical.Dalam hal ini dianggap : • Dengan dipasangnya teganngan V. Bila electron dengan kecepatan Vz. V.t 2 Y= 2.Ey = −V Vz d Jadi : q.4 diatas menunjukkan pandangan depan dari vertical deflection plate. sehingga lintasan electron tersebut mempunyai garis lurus dengan tg φ = Vy Vz Ketika meninggalkan daerah medan listrik E. Z2 Jadi : Tg α = dy dz = 2. Dengan catatan bahwa dalam ini berlaku pemisalanpemisalan diatas dan electron berada didalam medan listrik. Gambar 9. sehingga disebut. memasuki medan listrik E pada electron tersebut akan bekerja gaya sebesar : Fy = q . K V Z = K’ V Z Dimana : Z = I dan I = panjang plate electrode Sehingga Tg α = K’ V I Sedangkan : Tg α = Vy = D Vz L Halaman 79 dari 98 .

V Dari persamaan diatas terlihat bahwa posisi Y dari gambar/ sinar pada layer (screen) sebanding dengan tegangan yang dipasang pada vertical deflection plate. V. Dengan cara yang sama dapat dibuktikan bahwa penyimpangan pada sumbu arah x sebanding dengan tegangan yang dipasang pada horizontal deflection plate. Setelah penumbukan energi electron-elektron segera kembali kepada energi dalam bentuk cahaya. harus dipasang tegangan tertentu (V) untuk memperoleh simpangan pada arah X dan Y. exitation Light output Persistence characteristic time Untuk membaca sinyal yang timbul pada layar biasanya dilengkapi dengan system koordinat X. karena energi ini electron-elektron tersebut dapat menambah energi electron dari phosphor dan menaikkan energi levelnya. Elektron-elektron ketika menumbuk layar mempunyai sejumlah energi kinetis. karena banyak electron yang dapat bertahan pada energi levelnya yang lebih tinggi selama waktu tertentu. akan dihasilkan cahaya. Y tersebut digambar/ diletakkan pada layar itu sendiri atau pada kaca tipis yang diletakkan sedekat mungkin dengan layar.3 LAYAR (SCREEN) OSCILLOSCOPE Ketika aliran electron menumbuk layar CRO. Sumbu X.Kalau kedua persamaan tersebut adalah sama maka : K’. V D = K’’. b. dimana material ini mempunyai sifat-sifat phospor. c. effek ini disebut FLUORENCE. I. Y dengan bagian-bagian dalam Cm. Efek tersebut disebut PHOSPORRENCE. I = D/ L D = L. dimana material ini mempunyai sifatsifat phosphorescence dan fluorence. INPUT CONNECTOR DARI OSCILLOSCOPE Seperti telah dijelaskan pada deflection . Penyimpangan yang serentak/ bersama-sama pada arah X dan Y memberikan gambar atau bentuk sinyal input pada layar. Cahaya tersebut tetap ada walaupun penambahan energi telah berakhir. K’. Bagian dalam dari layar dilapisi dengan phosphor. Karena amplitudo dari sinyal input dapat mempunyai harga yang bermacam-macam maka Halaman 80 dari 98 .

Sehingga akan terjadi hubungan Vi dan screen display yang tergantung pada frekwensi. Vi Dan perbandingan Vi / V ampl tidak lagi tegantung pada frekwensi dari Vi. R1 V1 C1 ground R2 C2 C1 a ground C2 b R2 Vamp1 R1 Coaxial cable Gambar 9. Untuk menghindari hal tersebut di atas sinyal input Vi dimasukkan melalui COMPENSATING CIRCUIT (rangkaian kompensasi) yang terdiri dari impedansi input dan impedansi tahanan R1 paralel dengan capasitor C1 (C1 variable).CRO harus mempunyai sistem yang dapat memperkecil (attenuation) atau memperbesar (amplification).5 Input Connector dan Probe Tanpa pengaturan yang tepat pada input impedansi ini akan mengakibatkan amplification tergantung pada frekwensi ini. Amplifiernya mempunyai impedansi input yang terdiri dari tahanan R2 dan kapasitor C2.5 terlihat bagaimana sinyal input Vi dimasukkan pada deflection plates. Dari gambar di atas terlihat bahwa bila tidak ada arus yang mengalir pada cabang a-b maka : V ampl = R2 / (R1 + R2) . Pada gambar 9. Sinyal input sebelum dimasukkan/ diberikan pada deflection plates attenuation/ amplification ini harus sedemikian rupa sehingga gambar yang dihasilkan pada layar dapat dibac dengan baik dan hubungan antara gambar tersebut (screen display) dan sinyal input dapat diketahui (bandingkan dengan batas ukur pada voltmeter dan amperemeter). Halaman 81 dari 98 . R1 dan C1 dipasang pada probe yang digunakan untuk memasukkan sinyal input CRO.

Faktor tersebut dikalikan dengan sinyal yang dihasilkan pada layar CRO. b.6 Sinyal kalibrasi input dan sinyal di layar Sinyal input test (square wave) dapat diperoleh dari CRO itu sendiri (pada front panel). Gambar/ display yang terjadi pada layar tergantung dari harga C1. 1 M ohm dan 40 pF. C1 harus diatur sehingga gambar yang dihasilkan seperti gambar c (square wave). square wave ini juga dapat digunakan untuk kalibrasi amplifier dari horizontal dan vertical deflection. Nilai R1. Halaman 82 dari 98 .6 a. C1 Sehingga : R C1 = 2 . Bagian atau Cm tersebut dapat digunakan pada posisi CALIBARATED dan UNCALIBRATED.V1 R1 + R2 Biasanya harga R1. R2 dan C2 masing-masing adalah 9 M Ohm. dimana gambar yang dihasilkan tersebut akan berbentuk seperti gambar 9. sehingga : R1 / (R1 + R2) = 1 : 10 dan harga ini tertulis pada probe. Pada bagian depan dari panel CRO selalu terdapat switch yang bertuliskan Volt/div atau volt/cm. C2 = R1 . Agar C1 dapat diatur pada harga tersebut maka sinyal SQUARE WAVE dimasukkan pada probe tersebut.C2 R1 Yang berarti bahwa C1 harus diatur pada harga tersebut diatas untuk memperoleh keadaan yang tidak tergantung pada frekwensi.Vab = 0 bila dipenuhi : R2 .. B A C Calibration input signal D Gambar 9. dan c dibawah. CATATAN: Setelah diperoleh kompensasi yang sempurna maka : R2 V ampl = . Bila digunakan pada posisi calibrated dapat digunakan faktor-faktor pengali yang tertulis pada switch tersebut. R2 adalah sedemikian rupa. Pada output connector dari square wave ini teruliskan CAL.

Untuk memenuhi hal tersebut diatas diperlukan bentuk tegangan seperti terlihat pada gambar 9. Pada CRO-CRO yang modern umumnya elektron selama geraknya kembali tersebut di cut off atau dipotong sehingga tidak terlihat lintasan yang bercahaya. Input dari vertical dan horisontal amplifier dapat dihubungkan pada posisi AC atau DC dengan menggunakan switch yang bertuliskan : AC DC GND (ground) Posisi GND digunakan untuk mengetahui zero level dari amplifier dengan tepat. 5 dan 10 sinyal input Vi dapat ditentukan dengan mengalikan pembacaan pada arah vertikal misalnya untuk probe 1:10. dx/ dt = k. TIME BASE CIRCUIT Umumnya CRO digunakan untuk pengukuran-pengukuran bentuk gelombang yang berubah sebagai fungsi waktu. Telah dibuktikan bahwa penyimpangan elektron pada arah horisontal sebanding dengan tegangan pada horisontal plate.7 Halaman 83 dari 98 . tergantung pada type dari CRO. Bila kecepatan untuk memulai geraknya kembali tersebut sangat tinggi lintasan yang tak memberikan cahaya tersebut tidak dapat diamati. Bila telah mencapai tepi kanan dari layar cahaya tersebut harus kembali secepat mungkin ke tepi sebelah kiri dari layar untuk memulai geraknya kembali dan pada waktu kembali tersebut lintasannya tidak memberikan cahaya. sehingga penyimpangan pada sumbu X diperlukan suatu signal yang bergerak pada kecepatan tetap pada layar. c. sehingga seolah-olah cahayanya/ sinyal yang terdapat pada layar tetap tidak bergerak. maka harga sebenarnya dari arah vertikal adalah 10 x A x (Amplitudo dalam Cm atau div) dimana : • Faktor 10 diperoleh dari attenuation probe. dv/ dt V = tegangan pada deflection plate Cahaya tersebut merupakan lintasan yang selalu bergerak dari kiri ke kanan. Bila diberikan suatu tegangan yang naik dengan secara linier terhadap waktu maka cahaya pada layar akan bergerak dengan kecepatan tetap (kecepatan pada arah sumbu X = dx/dt).Bila digunakan PROBE 1. • A angka volt yang tertulis pada switch volt/ Cm atau volt/ div Untuk vertical amplifier selalu terdapat switch volt/div atau volt/ Cm sedang untuk horisontal tidak selalu terdapat. Dengan bantuan potensiometer yang bertuliskan POSITION dapat ditambahkan suatu DC voltage/ dikurangi DC voltage pada sinyal input yang memungkinkan untuk memilih zero position dan sinyal zero position tersebut tidak perlu selalu terletak pada sumbu Y = 0 atau dalam hal horisontal amplifier tidak selalu pada sumbu X = 0.

sedangkan attenuation probenya 1: 10. seperti ditunjukkan pada gambar 9. Suatu gerakan atau lintasan pada layar tersebut satu sweep dan generator yang menghasilkan gelombang dengan bentuk gigi gergaji tersebut disebut : TIME BASE GENERATOR atau SWEEP GENERATOR.Ts Tr Tr Time Gambar 9. Jadi sweep terjadi selama effect terhadap display dari suatu bentuk sinus bila menggunakan sweep time yang berbeda-beda. Pada bagian depan dari CRO terdapat suatu switch yang bertuliskan time/ div atau time/ Cm yang memungkinkan kita untuk memilih sweep time yang sesuai.8 gambar dilayar untuk dua pengukuran Kedudukan time/ div adalah 2 msec/ cm dan 4 msec/ cm. Halaman 84 dari 98 . Untuk 2 pengukuran bentuk gelombang Vi tersebut : Volt/ div berada pada kedudukan 10 V/ Cm.7 tegangan gigi gergaji Selama 0 < t < Ts cahaya pada layar bergerak dengan kecepatan konstan dari kiri ke kanan. Sedangkan pada waktu Ts < t < Tr cahaya tersebut bergerak kembali ke posisinya semula pada tepi sebelah kiri layar-layar atau lintasan cahaya tersebut di cut off dan tegangan plate kembali pada levelnya semula yang tidak harus sama dengan nol.8 Voltage 2 msec/ cm 10 Volt/ cm 4 msec/ cm 10 Volt/ cm T 2T Gambar 9.

Dengan perkataan lain periode dari signal input dan sweep time dan retacing time harus memenuhi syarat sebagai berikut : Ts + Tr = nT T = periode sinyal input.1 TRIGGERING DARI PADA ”TIME BASE GENERATOR” Dari gambar 9. 2 mSec/ Cm = 10 mSec.8 terlihat bahwa gambar yang terang diperoleh bila mulainya (timbulnya) kembali sweep tersebut ditunda hingga t = nT.5 Cm . 10 . 10 V = 300 Volt Frekuensi = 1/T = 1/ 0. 4 mSec/ Cm = 10 mSec Amplitudo dari gelombang sinus = 3.8 b) Satu periode dari gelombang sinus = 2. mSec-1 = 100 Hz W = 2 π f = 2 π 100 = 200 π Jadi Vi = 300 sin 200 πt Display yang ditunjukkan gambar 9. 10 .8 a) Satu periode dari gelombang sinus = 5 Cm . Dalam hal ini berlaku bahwa : Sweep generator harus bekerja bila mendapat suatu sinyal trigger yang berimpit dengan bagian tertentu dengan bentuk gelombang input. mSec-1 = 100 Hz W = 2 π f = 2 π 100 = 200 π Jadi Vi = 300 sin 200 πt Gambar 9. Halaman 85 dari 98 .10 V = 300 V Frekuensi = 1/T = 1/ 0.01 . Amplitudo dari gelombang sinus = 3 . Kerugian dari methode ini adalah : Frekuensi dari sinyal tak dapat ditentukan karena pengamatan time control tersebut tidak terkalibrasi dan harga yang tepat dari sweep time tidak dapat ditentukan dengan teliti. c.8 hanya dapat diperoleh bila pada setiap saat mulainya atau signal input sama dengan pada saat sweep sebelumnya mulai timbul. Bila tidak dapat diketemukan dengan time/ div pada posisi kalibrasi maka switch harus diubah pada posisi uncalibrasi dan dengan bantuan ”Time Control Knop” sweep time diatur sehingga diperoleh gambar yang terang.Pembacaan sinyal pada layar adalah sebagai berikut : Gambar 9.01 .

Amplifier + Slope Sweep Generator INT EXT LINE TS TRIG LEVEL X-ext Gambar 9. dipilih INT (internal) triggering mode sebagian dari sinyal input dimasukkan ke differensial amplifier. switch ACDC diletakkan pada posisi AC atau DC tergantung pada signal input. Output dari differensial amplifier dimasukkan ke PULSE SHAPING CIRCUIT yang outputnya dapat menstart sweep generator. Kerja dari pada bagian-bagian blok diagram diatas dapat dijelaskan dengan bantuan gambar 9.9 Blok diagram rangkaian triggering Pada gambar 9.9 diberikan suatu blok diagram daripada rangkaian triggering untuk sweep generator.10 dibawah : To X-ampli Halaman 86 dari 98 . Dengan switch TRIGGER SELECT pada bagian depan dari CRO. Sinyal input yang kedua untuk differensial amplifier adalah tegangan DC yang levelnya dapat dipilih dengan knop yang bertuliskan LEVEL atau TRIG LEVEL.To Y amplifier INPUT Pulse Shaper Slope ac + dc Diff.

Jelas bahwa dengan metode triggering ini diperoleh gambar yang stabil pada layar.R Input Waveform B A’ Input Waveform A’ B Sweep Voltage display Gambar 9. sweep generator menunggu hingga memperoleh pulsa trigger yang baru. Switch slope diletakkan pada posisi ”+slope” ini berarti bahwa titik dari sinyal yang didisplaykan (diberikan) akan terletak pada bagian dari gelombang input yang mempunyai slope positif. input sinyal dianggap sama. Pulsa trigger yang diberikan pada sweep generator tidak akan mempengaruhinya bila sweep generator tersebut sedang menghasilkan tegangan sweep atau tegangan retrace. Pada gambar 9.10 a).10 Proses Triggering dan terjadinya gambar di layar Untuk kedua display diatas. yang mengakibatkan bekerjanya kembali sweep tersebut. dan elektron beam di cut off. tegangan yang diperoleh dari transformator utama digunakan untuk membentuk pulsa trigger yang diberikan pada sweep generator Halaman 87 dari 98 . Dengan mengatur kedudukan knop level amplitudo dari titik tersebut dapat ditentukan. Sweep generator memberikan signal output segera setelah trigger pulse diberikan kepadanya. Juga selama waktu menunggu tersebut elektron beam di cut off.10 b) switch slope diletakkan pada posisi ”-” dan juga posisi knop levelnya. Triggering selector mempunyai kedudukan-kedudukan lain yaitu : LINE : Pada posisi ini. Pada akhir dari sweep (rangkaian tambahan memberikan tegangan negatif pada grid CRT). Pada gambar 9. Setelah retracing time. tak tergantung pada aweep time sehingga time/ div dapat digunakan pada posisi kalibrasi dan frekwensi sinyal input dapat ditentukan.

display dari dua channel tersebut juga dapatterlihat/ terjadi dengan sweep time yang berbeda. Trigger select Gambar 9. Bila satu channel dapat ditrigger dengan suatu sinyal dari luar dan pada saat yang sama. sepasang deflection plate dan sebuah vertikal amplifier. kadang-kadang untuk amplifier pada sumbu X ditambahkan switch volt/ div sehingga sinyal x input luar dapat diperkecil/ diperbesar. Untuk yang terpisah memungkinkan untuk memberikan display serentak dari dua sinyal input pada amplitudo sweep dan sweep time yang berbeda. X-ampl. sistem bisa sama untuk kedua beam atau terpisah untuk 2 buah beam. DUAL BEAM DAN DUAL TRACE OSCILLOSCOPE d. sinyal trigger dari pulsa shaping circuit. Bila switch tesrebut diletakkan pada kedudukan ini sweep generator tidak mensupplay tegangan pada horizontal harus diberikan tegangan luar. Dual trace hanya mempunyai satu katode dan satu elektron beam. channel yang lain pulsa trigger dari dalam.1 DUAL BEAM CRO CRO dengan tipe ini mempunyai electron gun yang memberikan electron beam (aliran elektron) yaitu dengan menggunakan satu katode dan elektron beamnya dibagi menjadi dua bagian yang sama atau dengan menggunakan dua katoda yang terpisah Pada CRO ini selalu terdapat 2Y amplifier yang tidak tergantung dan 2 set X-Y deflection plate Sistem penyimpangan pada arah sumbu X. Deflection plat S Y-ampl Sweep Gen.2 DUAL TRACE CRO Perbedaan dasar dari dual beam dan dual trace oscilloscope terletak pada konstruksi. Halaman 88 dari 98 . bila tak terdapat switch ini horisontal deflection harus dikontrol oleh sumber tegangan luar itu sendiri. Bila digunakan X-deflection sistem yang umum maka sweep rate untuk kedua channel tersebut sama.EXT : Pada posisi ini tak tergantung pada Y amplifier input voltage. d. Umumnya switch time/ div mempunyai satu kedudukan yang bertuliskan ”OFF” atau ”X-ext”.11 Dual Trace CRO X-ext. d. Frekwensi dari pulsa trigger ini tergantung pada frekwensi sinyala dari luar.

Frekuensi penghubung dari pada switch S. CH1. CHOP : Pada posisi ini Y amplifier dihubungkan bergantian pada CH1 dan CH2 selama berlangsungnya tiap-tiap sweep. Pulsa-pulsa trigger untuk sweep generator dapat diperoleh dari sinyal campuran/ sinyal dari sumber luar 4. 2.. segmen-segmen dari masing-masing sinyal terlihat dan dalam hal ini lebih baik digunakan posisi ALTER.. Pada vertical deflection plate. tersebut berada dalam range 100 KHz – 1 MHz. sweep generator mendapat trigger dari sinyal input pada CH1. perbedaannya yang terlihat adalah sinyal input pada channel 2. Triggering pada posisi CHOP dapat dipilih dengan cara yang sama seperti pada posisi ALTER. Juga dapat digunakan sinyal trigger dari luar. Karena pada posisi ini sinyal tersebut diperlihatkan bergantian dan didisplaykan selalu kontinu. Penghubung (switching) tersebut dikontrol oleh sweep-sweep generator yang memberikan suatu sinyal pada switch S (elektronik) pada akhir dari pada tiap-tiap sweep. CH2. Bila digunakan trigger dari dalam.. CHOP dan ADDED. ALTER : Denagn switch pada posisi ini input dari Y amplifier dihubungkan bergantian pada CH1 dan CH2 dengan perbedaan waktu 1 sweep (setelah berakhirnya tiap-tiap sweep) sehingga urutannya adalah : CH1. signal input dari cahannel 1 diberikan/ dimasukkan. sebagian dari CH2. Karena tiap-tiap channel mempunyai attenuation dan potensiometer ”zero position” sendiri-sendiri maka kedua sinyal tersebut dapat diatur juga tidak tergantung satu terhadap yang lain.. dimana batas atasnya ditentukan oleh frekuensi range dari pada Y amplifier. 1. CH2.. sehingga menunjukkan daari kedua channel tersebut (yang terlihat pada layar) adalah sebagai berikut: sebagian dari CH1. segmen dari masing-masing sinyal (CH1 dan CH2) terlihat dari pada layer sehingga seolah-olah terdapat display yang kontinyu.. CH2 : Sama dengan kedudukan S pada CH1. Pada sweep rate (time/ div) yang rendah. Halaman 89 dari 98 . Pada sweep rate (time/div) yang tinggi...dan seterusnya.Prinsip kerja dari dual trace CRO adalah sebagai berikut : Switch S mempunyai 5 kedudukan yaitu : CH1. CH1 : Setelah attenuation/ amplification. dan seterusnya. CH2. Dalam hal ini CRO bekerja sebagai single trace CRO yang umum. ALTER. sebagian CH1 . 3.

ADDED : Pada posisi ini display yang terjadi merupakan jumlah dari dua signal input.5. dapat diperoleh display lebih dari satu sinyal pada layar (dapat diperoleh CRO dengan 4 channel yang didisplaykan oleh suatu single beam) .12 Gambar dilayar pada posisi CHOP d. Low sweep rate a High sweep rate b Gambar 9. CHOP dan alter.3 ELEKTRONIC SWITCH YANG DIGUNAKAN BERSAMA-SAMA DENGAN SINGLE BEAM-SINGLE TRACE CRO Dengan bantuan electronic switch yang dipasang di dalam single beam CRO. Pada suatu elektronic switch juga terdapat attenuation/ amplification pengatur posisi dari sinyal input yang berdiri sendiri (tak tergantung pada CRO) triggering pada tiap sinyal input. suatu single trace CRO dapat diubah menjadi CRO dengan empat channel. Halaman 90 dari 98 . Output dari pada elektronic switch dihubungkan dengan Y input dari CRO bila perlu triggering output dari elektronic switch digunakan dan dihubungkan dengan trigger input luar dari CRO dan pengaturan sinyal dapat dilakukan dengan knop/ switch yang terdapat pada elektronic switch Dengan menggunakan dua elektronic switch. Elektronic switch luar juga dapat digunakan dan dengan elektronik switch tersebut setiap single beam –single trace CRO dapat diubah menjadi dual trace CRO Cara kerja dari elektronik switch ini sama dengan yang dipasang didalam dual trace CRO.

Mengukur magnitude dari amplitudo dan frekuensi dari suatu tegangan bolak-balik (gelombang sinus) Y Pada layar terlihat gelombang sinus seperti gambar disamping : Y = V sin wt V = amplitudo W=2πf=2π/T Frekuensi f = 1/ T X t 2. Mengukur beda phasa antara dua sinyal ialah dengan memperhatikan gambar lissayous yang terjadi pada layar oscilloscope Misalkan ada 2 buah sinyal dengan amplitudo sama Y1 = V sin wt Dan Y2 = V sin wt Apabila Y1 kita pasang pada vertikal amplifier dari CRO dan Y2 pada horisontal amplifier maka kita selalu mempunyai situasi-situasi dimana deflection dari pada beam ke arah X dan Y adalah sama dengan perkataan lain garis lurus Y = X akan terlihat pada layar.e. PENGGUNAAN CRO 1. Titik Y = 0 dan X = 0 dapat diperoleh dengan membumikan kedua input Y dan X ext Apabila kedua sinyal berbeda phase 1800 Y1 = V sin wt Y2 = V sin (wt + 180o) Maka akan terdisplaykan garis lurus Y = -X Untuk beda phase 0 sampai dengan 180o maka gambar lissayous yang terjadi pada layar Oscilloscope akan bervariasi sebagai berikut : Garis – ellips – lingkaran – ellips – garis Sekarang perhatikan 2 buah sinyal : Y1 = V sin wt pada Y input Y2 = V sin (wt +φ) pada X ext Maka pada layar akan terdisplay ellips seperti gambar Y Dengan demikian akan dapat Ymax dicari beda phase antara kedua sinyal tersebut adalah Yo sebagai berikut : φ = arc sin (Yo/ Ymax) X Halaman 91 dari 98 . Mengukur sinyal arus searah 3.

dimana sebagai sumber tegangannya digunakian square wave/ step function. Pengukuran Induktansi dari suatu kumparan Rangkaian pengukurannya seperti ditunjukkan dalam gambar 9.4. Untuk mengetahui karakteristik diode. Mencari harga kapasitansi dari suatu kapasitor . tegangan pada kapasitor akan naik dengan rumus : e-t/RC maka : Vt = Vt=0 + V e-t/RC Bila V(t=0) = 0 maka Vt = V e-t/RC dengan demikian bila R diketahui dan t diperoleh dari gambar di oscilloscope. L R CRO φ φ Gambar 9.1.(1 − e − R / Lt ) R sehingga V = E. maka C dapat dihitung 5.14 Pengukuran induktor dengan menggunakan CRO Jika tegangan step function diberikan pada rangkaian R-L dan tegangan pada tahanan R dimasukkan dalam Y input CRO maka V = i. dimana sebagai sumber tegangannnya digunakan square wave/ step function φ C CRO φ R Gambar 9. maka L dapat dihitung 6. R Dimana arus yang mengalir pada rangkaian R-L tersebut E i = .(1 − e − R / Lt ) Jika harga R diketahui dan t diperoleh dari gambar di oscilloscope. lengkung B-H dan lain-lainnya Halaman 92 dari 98 .14. Rangkaian pengukurannya seperti ditunjukkan dalam gambar 9.13 Pengukuran kapasitor dengan menggunakan CRO Apabila rangkaian R-C diatas diberi tegangan step function.

Pada suatu system peralatan transformator selalu diperlukan. Pentanahan pada sisi sekunder tersebut juga untuk mencegah kesalahan-kesalahan akibat adanya timbunana muatan elektrostatis pada peralatan yang dipasang pada transformator tersebut. sebab besaran-besaran yang diukur tersebut sangat besar. b) Transformator Tegangan Transformator tegangan sebagai alat Bantu untuk mengukur tegangan bolak-balik yang besar. Hal-hal yang perlu diketahui dalam transformator peralatan yaitu : • Angka Transformasi • Rating dari arus-arusnya • Rating tegangan • Rating daya (VA) • Rating frekuensi Angka transformator biasanya tetap harganya tetapi pada suatu beban yang berubah-ubah maka transformator juga harus bekerja mengikuti perubahan beban tersebut. Fungsinya mengisolir instrument (meter-meter ukur rele dan sebagainya) dari arus yang besar. Fungsinya mengisolir instrument dari tegangan yang tinggi. begitu juga untuk bekerja peralatan-peralatan lainnya misalnya rele-rele dan sebagainya. dengan demikian pada peralatan transformator umumnya mempunyai kapasitas yang relative rendah. karena didalam pengukuran-pengukuan tak mungkin di ukur secara langsung. merubah besaran tegangan ke suatu harga yang sesuai dengan volt meter . gunanya adalah untuk melindungi meter dan peralatan lainnya yang menggunakan transformator tersebut bilamana terjadi breakdown antara sisi primer dan sekunder taransformator peralatan tersebut. merubah besaran arus ke suatau harga yang sesuai dengan amperemeter dimana normal rating sisi sekundernya adalah 5 A dan atau 1 A. dimana normal rating sisi sekunder transformator adalah 100 volt atau 110 volt. Peralatan transformator (transformator ukur) dibedakan : a) Transformator arus Transformator arus sebagai alat Bantu untuk mengukur arus bolak-balik yang besar. Untuk transformator arus : Arus yang diukur = I = aA = x arus pembacaan Untuk transformator tegangan : Tegangan yang diukur = V = aT x tegangan pembacaan Halaman 93 dari 98 . Biasanya sisi sekunder dari peralatan transformator ditanahkan.BAB X PERALATAN TRANSFORMATOR Pada dasarnya peralatan transformator adalah sama dengan transformator tenaga hanya saja pada peralatan transformator yang diutamakan adalah tegangannya atau arusnya sedang pada transformator tenaga adalah dayanya. Dan didalam percobaan-percobaan ternyata angka transformasi tidak konstan tergantung dari arus pengukuran dan karakter/ sifat dari alat sirkuit sekunder.

Maka untuk pengukuran daya yang memakai gabungan dari daya yang diukur = P = aA . aT. daya pembacaan Tetapi didalam praktek pemakaian alat ukur telah dikalibrasikan dengan pemakaian peralatan transformator sehingga penunjukkan di alat ukur langsung menunjukkan hasil pengukuran yang sebenarnya. Jadi dari hal-hal diatas maka bila angka transformasinya tidak konstan akan diperoleh pengukuran-pengukuran yang tidak teliti. Sebab lain yang menyebabkan hasil pembacaan yang tidak teliti yaitu pada pengukuran yang menggunakan transformator peralatan selalu timbul beda fasa. Transformator arus biasanya mempunyai kesalahan fasa sudut yang lebih kecil dibandingkan dengan transformator teganga. Kesalahan sudut fasa ini akan terlihat jelas pada pengukuran daya dimana arus dan tegangan pada kumparan tetap dan kumparan gerak yang mempunyai hubungan fasa antara arus dan tegangannnya yang diukur menjadi tidak teliti dan berubah harganya. A. Pengaruh-pengaruh pada peralatan Transformator A.1Pengaruh-pengaruh yang ada pada Transformator Arus a) Pengaruh impedansi beban Kenaikan impedansi sekunder menyebabkan kenaikan di beban dan menyebabkan kenaikan pada perbandingan kesalahan dan perbedaan fasa b) Pengaruh Frekuensi Untuk sebuah arus dan impedansi beban, kepadatan aliran menurun sesuai meningkatnya frekuensi. BErarti pengurangan IL (arus yang menyebabkan rugi-rugi inti) dan IM (arus magnetisasi) berakibat pengurangan kesalahan total. Keharmonisan bentuk gelombang arus primer memberikan hasil yang sama seperti pada peningkatan frekuensi c) Pengaruh Sudut fasa Sekunder Bila sudut fasa sekunder total = 0, kesalahan perbandingan I menanggung nilai = − L yang hanya tergantung pada arus yang a A .I 2 I hilang dan perbedaan fasa menjadi M , hanya tergantung pada a A .I 2 arus magnetisasi. Bila power factor total penunjuk pada sisi sekunder membuat sin φ negative sehingga, I .Sinφ − I L .Cosφ Kesalahan perbandingan = M a A .I 2

I M .Cosφ − I L .Sinφ a A .I 2 Jadi meningkatnya arus beban mengakibatkan mengurangi kesalahan perbandingan dan meningkatnya perbedaan fasa
Perbedaan fasa =

Halaman 94 dari 98

A.2 Pengaruh-pengaruh yang ada apada Transformator Tegangan a) Pengaruh Perubahan Tegangan Variasi pada aliran ini disebabkan perubahan Io dan φo. Pengurangan tegangan menyebabkan bertambahnya kesalahan perbandingan dan perbedaan fasa b) Pengaruh Frekuensi Untuk tegangan constant, aliran berbanding terbalik dengan frekuensi. Pengurangan frekuensi penambahan Io dan menyebabkan perbandingan bertambah sedikit. Kenaikan Io yang sama sebanding kenaikan φo, menyebabkan perbedaan fasa positif. Perubahan frekuensi mempengaruhi frekuensi c) Pengaruh Arus Sekunder atau VA Kesalahan-kesalahan kecil, perubahan perbandingan arus sekunder sebanding dengan I1 (R1 Cos φ + X1 Sin φ) dan perubahan perbedaan fasa sebanding dengan I1 (R1 Sin φ - X1 Cos φ) Kesalahan tersebut berubah-ubah dalam garis lurus dengan arus sekunder atau VA Perbedaan fasa mempunyai nilai positif rendah pada beban nol, tetap bertambah negative ketika beban bertambah. Kesalahan perbandingannegatip diatas keseluruhan dan bertambah dengan beban d) Pengaruh power factor sekunder Perubahan power factor sekunder untuk merotasikan vector-vektor I1. R1 dan I1. X1 B. Pengetesan polaritas peralatan Transformator 1. Transformator Tegangan Penulisan standard British untuk sambungan peralatan transformator terdiri dari huruf-huruf besar untuk primer dan huruf-huruf yang dilingkari untuk sekunder. Jadi transformator tegangan fasa tunggal ditandai dengan V1 dan V2 pada sisi primer, V1 dan V2 pada sisi sekunder.Penulisan polaritas ketika V1 positif dibandingkan V2 kemudian V1 juga positif dibandingkan V2 V1 φ V1 Beban V2

φ

V2

Gambar 10.1 Polaritas Transformator Tegangan Subtractive Polaritas suatu transformator ada 2 macam : a. Substractive : Polaritas seperti pada belitan transformator dengan arah yang sama b. Adaptive : Polaritas seperti pada belitan transformator dengan arah yang berlainan.

Halaman 95 dari 98

Test polaritas yang sederhana dapat dilakukan dengan voltmeter DC di sambungan sekunder transformator tegangan dan tegangan rendah DC untuk mensupply primer. Dengan sambungan positip sumber dihubungkan ke V1. Penunjukan voltmeter akan meyimpang positip bila benar V1 V1 T φ φ

E

V

φ
V2

φ
V2

Gambar 10.2 Rangkaian untuk menentukan polaritas Transformator Tegangan 2. Transformator Arus Pada transformator arus ditandai dengan M dan L pada posisi primer dan M dan L pada posisi sekunder L M

M

L

BURDEN Gambar 10.3 Polaritas Transformator Substractive Pada umumnya pengukuran mempunyai polaritas substractive. Arus primer masuk dari M (M positip) sehingga arus sekunder mengalir dari M (M positip). Test polaritas yang sederhana dapat dilakukan dengan amperemeter DC di sambungan sekunder transformator dan tegangan rendah DC sebagai supply primer. Sambungan positip instrument dihubungkan M dan sambungan positip sumber ke M, penunjukkan amperemeter akan menyimpang positip bila benar Kesulitan dari methoda ini adalah magnetisasi yang tinggal

Halaman 96 dari 98

Contoh-contoh rangkaian penggunaan peralatan transformator 1. Penggunaan peralatan transformator untuk pengukuran Line E1 PT E2 I2 I1 Load CT A W V 2. Penggunaan pada rele pengaman Halaman 97 dari 98 .

Pengukuran Listrik. The English Universities Press Ltd. Halaman 98 dari 98 . Pradnya Paramita. d. Chand & Company Ltd. New Delhi 1978. London • Melville . • Theraja. • Soedjana Sapiie. Pengukuran dan Alat-alat ukur Listrik PT. S. Brink.DAFTAR PUSTAKA • Buckinham and Price. A Text Book Of Ellectrical Technology. Principles of Electrical Measurements. Stout. New Delhi 1973 • Mauricce and V. FAkultas Teknik Elektro ITS Surabaya 1974. Basic Electrical Measurements Prentice-Hall of India Private Limited. Jakarta 1976.