You are on page 1of 5

CRITICAL PUBLIC RELATIONS Public relations dalam riset dan praktiknya memiliki sebuah pendekatan kritis atau critical

Public relations. Pendekatan ini merupakan perspektif baru dalam bidang Public relations dan di Indonesa sendiri masih jarang mengunakan pendekatan ini dalam riset maupun praktik Public relations. Dalam tulisan ini saya mencoba menjawab beberapa pertanyaan terkait dengan pendekatan kritis dalam Public relations atau yang biasa juga disebut dengan critical Public relations. Apa itu critical Public relations? Critical Public relations merupakan perspektif baru dalam kajian Public relations. Perspektif baru ini mencoba menggali lebih dalam lagi mengenai realitas yang sebenarnya tentang Public relations dengan menggunakan pendekatan kritis. Pendekatan kritis dalam organisasi fokus pada aspek aspek politis dalam organisasi seperti yang dipaparkan Rachmat (2012: 43) bahwa pendekatan kritis memandang organisasi sebagai arena pertarungan ideologi dan ekonomi seperti kekuasaan, pengaruh, dan kontrol serta memandang publik sebagai koalisi dan konstituen yang memiliki kebutuhan, nilai, dan persepsi yang berbeda-beda. Pendekatan kritis dalam riset Public relations menonjolkan metode diskursus, argumentatif, dan hermeneutik. Mengapa critical Pubic relations penting bagi kajian teoritis dan praktis PR? Riset Public relations dengan menggunakan pendekatan ini penting bagi Public relations diantaranya untuk menciptakan kondisi yang harmonis dalam perusahaan (publiknya baik internal maupun eksternal) sehingga dapat memudahkan terjalinnya kerjasama yang baik dan penyampaian pesan yang efektif dalam melakukan komunikasi dengan publiknya (Rachmat, 2012: 84). Pendekatan kritis dalam kajian Public relations memiliki beberapa kontribusi yang berguna, dimana hal ini menunjukan bahwa pendekatan kritis penting bagi kajian Public relations. Kontribusi riset critical Public relations dijelaskan dalam Rachmat (2012: 85-88) sebagai berikut: Mengungkap realitasrealitas dalam praktik public relations yang selama ini terpendam, misalnya ideologi dan kepentingan apa yang terdapat dalam program

Public relations, dan bagaimana keadaan sosial, ekonomi, politik, dan budaya dapat mempengaruhi praktik-praktik Public relations. Mengkritik dan menantang asumsi asumsi yang sedang berlangsung di area Public relations, seperti asumsi mengenai Public relations sebagai media penghubung antara publik internal dan eksternal agar terjalin komunikasi dan kerjasama yang harmonis, apakah asumsi tersebut faktual ataukah hanya sebagai jargon pencitraan dan simbol hegemoni. Mengubah paradigma atau cara pandang yang sudah menjadi kebenaran umum. Pendekatan kritis dalam hal ini berperan dalam mengkaji teori-teori dan konsepkonsep yang telah ada, dimana teori-teori dan konsep-konsep tersebut tidak relevan dengan realitas yang sebenarnya terjadi dilapangan. Mengkritik kebijakan-kebijakan atau praktik-praktik dalam area Public relations termasuk bagaimana peran dan tanggung jawab Public relations dalam masyarakat demokrasi. Sebuah kebutuhan untuk para teoretis dan periset kritis agar lebih jelas membangun kontribusi pendekatan kritis sehingga dapat mengembangkan bukan hanya teori Public relations, tetapi juga riset dan praktik (Grunig, dalam Motion & Weaver, 2005: 49). Dikutip dari tulisan Thomas (1993) tentang mengapa sifat kritis penting dalam riset, karena pendekatan kritis memungkinkan: Munculnya kepuasan personal pada periset maupun praktisi sehingga mendorong kinerja lebih baik dalam menjalankan tuntutan profesinya. Tanggungjawab intelektual untuk bersikap kritis terhadap praktik-praktik yang merendahkan nilai-nilai kemanusiaan. Potensi emansipator, dimana pendekatan kritis membebaskan diri dari bentukbentuk dominasi budaya. Kewajiban etis, yaitu praktisi Public relations mempunyai tanggungjawab etis untuk berperan serta mewujudkan kesejahteraan bersama dengan

melaksanakan profesinya dengan baik, seperti tercantum dalam kode etik profesi.

Contoh cara menerapkan critical Public relations dalam riset dan praktik Contoh cara menerapkan critical Public relations dalam riset dan praktik salah satunya adalah dengan cara menerapkan teori-teori dari paradigma kritis seperti feminisme, cultural studies, modernisme, dan postmodernisme dalam melakukan riset Public relations, dimana nanti hasil dari riset tersebut dapat diaplikasikan dalam praktik Public relations. Contoh riset public relations dengan pendekatan kritis seperti riset yang dilakukan oleh Judy Motion & C. Kay Weaver (2005: 49-67), Rachmat (2012: 33) memaparkan riset oleh Motion dan Weaver sebagai berikut : Riset yang dilakukan oleh Judy Motion & C. Kay Weaver (2005: 49-67) tentang pengintegrasian analisis political economy dan analysis discourse untuk mengkaji kampanye Life Science Network di Selandia Baru. Riset ini mengkaji pentingnya konteks-konteks sosio-politik di mana Public relations beroperasi dan diskursusdiskursus yang diproduksinya untuk mempengaruhi pihak lain. Riset ini membantu memahami peran Public relations dalam memengaruhi perubahan sosial dalam masyarakat demokratis. Contoh lain adalah dengan menerapkan etnografi kritis dalam riset Public relation dimana kajian ini dapat digunakan oleh Public relations untuk meriset iklim komunikasi dalam proses pengambilan keputusan di sebuah organisasi. Beberapa contoh riset critical Public relations adalah sebagai berikut : Fringe Public Relations : How Activism Moves Critical Pr Toward the Mainstream. Penelitian ini dilakukan oleh W. Timothy Coombs dan Sherry J. Holladay pada Desember 2012. Public (Relations) Disturbances and Civil Disobedience: Why I Use The Yes Men Fix the World to Teach Public Relations Ethics. Penelitian ini dilakukan oleh Jessalynn R. Strauss pada Desember 2011. Critical Theoretical Considerations of Public Relations Messaging Around the Globe: Tools for Creating and Evaluating Campaign Messages. Penelitian ini dilakukan oleh Marry Anne Moffitt pada Januari-Maret 2011. Crisis Communication Strategy to Maintain the Corporate Reputation. Penelitian ini dilakukan oleh Rachmat Kriyantono.

Metode riset dalam pendekatan ini untuk riset Public relations Terdapat tiga metode riset pada pendekatan kitis dalam riset Public relations, ketiga metode tersebut adalah metode diskursus, argumentatif, dan hermeneutik. Berikut ini akan dipaparkan mengenai ketiga metode pendekatan tersebut : Hermeneutik Hermeneutik berarti penafsiran atau interpretasi sebuah teks (lisan maupun tulisan). Hermeneutik terkait dengan proses pemahaman, penafsiran, dan penerjemahan serta berkaitan dengan bahasa. Menurut Schleiermacher (1768-1834) yang merupakan tokoh hermeneuitka romantisis, dalam memahami wacana ada unsur penafsir, teks, maksud pengarang, konteks historis, dan konteks kultural (Lutfi, 2009). Dalam praktik Public relations metode ini penting karea kegiatan Public relations sebagian besar adalah menulis dan berhubungan dengan penggunaan bahasa. Ketika produk tulisan Public relations dibaca oleh seseorang, secara sadar ataupun tidak tulisan tersebut akan menimbulkan interpretasi dari pembaca. Public relations dituntut untuk cerdas dan pandai dalam penggunaan bahasa yang digunakan dalam produk tulisannya sehingga menimbulkan interpretasi baik bagi pembaca dan berdampak pada peningkatan citra positif perusahaan. Diskursus Metode diskursus atau analisis wacana merupakan metode riset yang menggunakan bahasa sehari-hari, baik teks lisan maupun tertulis sebagai objek kajian atau penelitiannya. Analisis wacana dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, diantaranya filsafat analitis, post-strukturalis, semiotik, cultural studies, dan teoriteori sosial (Purbani, 2009). Argumentatif Metode argumentatif merupakan metode yang mempunyai kegemaran meyakinkan orang lain tentang pandangan atau anutan. Metode ini menganalisis argumen baik lisan maupun tulisan.

Referensi: Ijayanto, Dhenny Wahyu. 2010. Metode Sokratik dan Metode Argumentasi. Online from http://wdeenny.blogspot.com/2010/12/metode-sokratik-dan-metode-argumentasi.html. Kriyantono, Rachmat. 2012. Public Relations & Crisis Management (Pendekatan Public Relations Etnografi Kritis & Kualitatif). Jakarta: Kencana Lutfi, Mochtar. 2009. Hermeneutika: Pemahaman Konseptual dan Metodologis. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Airlangga, Surabaya (Online) Muhamad, Zubair Hasan. 2012. Hermeneutik, Sebuah Alternatif Metode Penafsiran. Online from http://filsafat.kompasiana.com/2012/10/20/hermeneutik-sebuah-alternatif-metodepenafsiran-497029.html Purbani, Widyastuti. 2005. Analisis Wacana/ Discourse Analysis. Lokakarya PenelitianUniversutas Surabaya, Universitas Surabaya Contoh jurnal dari www.ebscohost.com