You are on page 1of 12

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Sejak dulu setiap orang yang sakit akan berusaha mencari obatnya, maupun cara pengobatannya. Dalam pengobatan suatu penyakit tidak selalu menggunakan obat, misalnya dipijat, dikerokk dengan menggunakan mata uang logam, dioperasi, dan sebagainya. Tetapi sebagian besar menggunakan obat. Dulu ilmu obat-obatan dan ilmu pengobatan masih dipegang oleh seseorang dan dipraktekan oleh orang-orang yang dianggap dekat dan ada hubungannya dengan dewa dan makluk halus. Dalam praktik tidak berdasarkan pengetahuan tentang anatomi, faal, patologi, farmakologi, farmasi. Ilmu pengobatan masih dijalankam secara spekulatif dan dipengaruhi oleh takhyul dan perdukunan (okultisme). Di Yunani dulu pendeta memelihara kesehateraan rohani dan jasmani rakyat. Lambat laun sebagai dwifungsi oleh pendeta diambil alih oleh tabib yang memperoleh pengetahuan dan ilmu pengobatan secara intuitif dan empiris. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan kebutuhan penulis, penulis ingin membahas materi mengenai Bentukbentuk Obat. 1.3 Tujuan Penulisan 1.3.1 Tujuan Umum Setelah mempelajari makalah ini diharapkan mahasiswa dapat memahami dan dapat mengerti tentang Bentuk-bentuk Obat. 1.3.2 Tujuan Khusus Adapun tujuan khusus dari pembuatan makalah ini yaitu: 1. Pembaca dapat mengerti Definisi Obat 2. Pembaca dapat memahami dan mengetahui apa-apa saja Bentuk-bentuk Obat

1|Page

1.4 Manfaat Penulisan 1.4.1 Teori Manfaat makalah ini secara teori adalah untuk menambah pengetahuan dan wawasan para mahasiswa Keperawatan, khususnya keluarga besar STIKES Eka Harap agar dapat lebih mengetahui dan mengerti tentang Bentuk-bentuk Obat. 1.4.2 Praktis Manfaat yang kami harapkan dari pembahasan makalah ini adalah bagi penulis dan pembaca dapat mengetahui dan memahami tentang Bentuk-bentuk Obat.

2|Page

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1

Definisi Obat Definisi obat adalah suatu zat yang digunakan untuk diagnose, pengobatan, melunakan, penyembuhan atau pencegahan penyakit pada manusia atau pada hewan . (Anief. Moh. 2004). Meskipun obat dapat menyembuhkan tetapi banyak kejadian bahwa seseorang telah menderita akibat keracunan obat. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa obat dapat bersifat sebagai obat dan juga dapat bersifat sebagai racun. Obat itu akan bersifat sebagai obat apabila tepat digunakan dalam pengobatan suatu penyakit dengan dosis dan waktu yang tepat. Jadi bila digunakan salah dalam pengobatan atau dengan keliwat dosis akan menimbulkan keracunan. Bila dosisnya lebih kecil kita tidak memperoleh penyembuhan. Obat-obatan modern adalah begitu efektif dalam penyembuhan dan dapat disamakan dengan pisau bedah yang apabila digunakan oleh ahli bedah akan dapat menghilangkan bagian tubuh yang sakit tapi bila bukan ahli yang menggunakan akan membunuh si sakit. Begitu pula obat, bila digunakan tidak menurut aturan yang telah ditentukan oleh ahli dalam (apoteker atau dokter) justru akan dapat membunuhnya. Oleh karena itu, dalam menggunakan obat perlu diketahui efek obat tersebut, penyakit apa yang diderita, berapa dosisnya serta kapan dan dimana obat itu digunakan.

2.2

Tablet Tablet adalah sedian farmasi yang padat, berbentuk bundar dan pipih atau cembung rangkap. Bentuk ini paling banyak beredar di Indonesia disebabkan karena bentuk tablet adalah bentuk obat yang praktis dan ekonomis dalam produksi, penyimpanan dan pemakaiannya. Pembuatan tablet ini selain diperlukan bahan obat juga diperlukan zat tambahan, yaitu : a. Zat pengisi untuk memperbesar volume tablet. Misalnya : saccharum Lactis, Amylum Manihot, Calcii Phoshas, Calcii Carbonas dan zat lain yang cocok.

3|Page

b. Zat pengikat ; dimaksudkan agar tablet tidak pecah atau retak, dapat merekat. Biasanya digunakan mucilage Gummi Arabici 10-20 % (panas), Solution Methylcelloeum 5 %. c. Zat penghancur, dimaksudkan agar tablet dapat hancur dalam perut. Biasanya digunakan : Amylum Manihot kering, Gelatinum, Agar- agar, Natrium Alginat. d. Zat pelicin, Dimaksudkan agar tablet tidak lekat pada cetakan. Biasanya digunakan Talcum 5 %, Magnesii Streras, Acidum Strearicum Pengertian lainnya yaitu merupakan sediaan padat kompak dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler kedua permukaan rata atau cembung mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa bahan tambahan. Macam-macam tablet: a. Tablet Biasa Yaitu tablet yang dicetak, tidak disalut diabsorpsi disaluran cerna dan pelepasan obatnya cepat untuk segera memberikan efek terapi. Contoh : tablet paracetamol. b. Tablet Kompresi Adalah tablet yang dibuat dengan sekali tekanan menjadi berbagai bentuk tablet dan ukuran, biasanya kedalam bahan obatnya diberi tambahan sejumlah bahan pembantu. Contohnya : Bodrexin. c. Tablet Kompresi Ganda Adalah tablet kompresi berlapis, dalam pembuatannya memerlukan lebih dari satu kali tekanan. Contohnya : Decolgen . d. Tablet Trikurat Tablet kempa atau cetak bentuk kecil umumnya silindris dan biasanya mengandung sejumlah kecil obat keras . Sudah jarang ditemukan. e. Tablet Hipodermik Tablet yang dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam air. Dulu untuk membuat sediaan injeksi hipodermik, sekarang diberikan secara oral. Contoh: Atropin Sulfat. f. Tablet Sublingual Dikehendaki efek cepat (tidak lewat hati). Digunakan dengan meletakkan tablet di bawah lidah. Contoh: Tablet Isosorbit dinitrat, Nitroglicerin. 4|Page

g. Tablet Bukal Tablet yang digunakan dengan meletakkan di antara pipi dan gusi. Contoh : Progesteron h. Tablet Efervescen Yaitu tablet berbuih dilakukan dengan cara kompresi granulasi yang mengandung garam-garam effer adalah bahan bahan lain yang mampu melepaskan gas ketika bercampur dengan air. Harus dikemas dalam wadah tertutup rapat atau kemasan tahan lembab. Pada etiket tertulis tidak untuk langsung ditelan. Contohnya: CDR. i. Tablet Diwarnai Coklat Tablet ini menggunakan coklat untuk menyalut dan mewarnai tablet, misalnya dengan menggunakan oksida besi yang dipakai sebagai warna tiruan coklat. j. Tablet Kunyah Tablet yamg cara penggunaannya dikunyah. Meninggalkan sisa rasa enak di rongga mulut, mudah ditelan, tidak meninggalkan rasa pahit, atau tidak enak. biasa digunakan untuk tablet anak atau pada beberapa multivitamin. Contohnya: Fitkom, Antasida. k. Tablet Salut Gula Ini merupakan tablet tablet kempa yang terdiri dari penyalut gula. Tujuan penyalutan ini adalah untuk melindungi obat dari udara dan kelembapan serta member rasa atau untuk menghindarkan gangguan dalam pemakaiannya akibat rasa atau bau bahan obat. Contohnya : Pahezon, Arcalion . l. Tablet Salut Selaput Tablet ini disalut dengan selaput yang tipis yang akan larut atau hancur di daerah lambung usus. Contohnya : Fitogen. m. Tablet Hisap Digunakan untuk pengobatan local disekitar mulut. Contohnya : Ester C, Biovision Kids n. Tablet Salut Enteric Tablet yang disalut dengan lapisan yang tidak atau hancur dilambung tapi di usus. contoh : Voltaren 50 mg, Enzymfort

5|Page

Kelebihan dan kekurangan obat bentuk tablet a. Kelebihan i. ii. Lebih mudah disimpan Memiliki usia pakai yang lebih panjang dibanding obat bentuk lainnya

iii. Bentuk obatnya lebih praktis iv. Konsentrasi yang bervariasi. v. Dapat dibuat tablet kunyah dengan bahan mentol dan gliserin yang dapat larut dan rasa yang enak, dimana dapat diminum, atau memisah dimulut. vi. Untuk anak-anak dan orang-orang secara kejiwaan, tidak mungkin menelan tablet, maka tablet tersebut dapat ditambahkan penghancur, dan pembasah dengan air lebih dahulu untuk pengolahannya. vii. Tablet oral mungkin mudah digunakan untuk pengobatan tersendiri dengan bantuan segelas air. viii. Tablet paling mudah ditelan serta paling kecil kemungkinan tertinggal ditenggorokan, terutama bila tersalut yang memungkinkan pecah/hancurnya tablet tidak segera terjadi. ix. Tablet merupakan bentuk sediaan yang ongkos pembuatannya paling rendah. x. Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh dan menawarkan kemampuan yang terbaik dari semua bentuk sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas kandungan yang paling lemah. xi. Secara umum, bentuk pengobatan dangan menggunakan tablet lebih disukai karena bersih, praktis dan efisien. xii. Sifat alamiah dari tablet yaitu tidak dapat dipisahkan, kualitas bagus dan dapat dibawa kemana-mana, bentuknya kompak, fleksibel dan mudah pemberiannya. xiii. Tablet tidak mengandung alcohol xiv. Tablet dapat dibuat dalam berbagai dosis. b. Kekurangan : i. ii. Warnanya cenderung memberikan bahaya. Tablet dan semua obat harus disimpan diluar jangkauan anak-anak untuk menjaga kesalahan karena menurut mereka tablet tersebut adalah permen. iii. Orang yang sukar menelan atau meminum obat. iv. Keinginan konsumen beda dengan yang kita buat/produk. v. Beberapa obat tidak dapat dikepek menjadi padat dan kompak. 6|Page

2.3

Kaplet Kaplet (kapsul tablet) adalah bentuk tablet yang dibungkus dengan lapisan gula dan biasanya diberi zat warna yang menarik. Bentuk dragee ini selain supaya bentuk tablet lebih menarik juga untuk melindungi obat dari pengaruh kelembapan udara atau untuk melindungi obat dari keasaman lambung. Kaplet pun merupakan sedian padat kompak dibuat secara kempa cetak, bentuknya oval seperti kapsul. Kelebihan dan Kekurangan Kaplet a. Kelebihan : i. ii. Bentuk tablet lebih menarik. Kaplet mungkin mudah digunakan untuk pengobatan tersendiri dengan bantuan segelas air. b. Kekurangan : i. Kaplet dan semua obat harus disimpan diluar jangkauan anak-anak untuk menjaga kesalahan karena menurut mereka kaplet tersebut adalah permen. ii. Orang yang sukar menelan atau meminum obat.

2.4

Kapsul Kapsul menjadi salah satu sediaan farmasi yang diproduksi oleh industri maupun apotek. Kapsul didefinisikan sebagai sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Cangkang dapat dibuat dari pati, gelatin, atau bahan lainnya yang sesuai. Kapsul telah digunakan sejak abad 19. Salah satu masalah farmasis yang muncul pada abad 19 adalah rasa dan bau yang tidak enak dari obat herbal, sediaan dan pelayanan yang kurang baik bagi pasien. Banyak sediaan baru diciptakan agar obat lebih enak dikonsumsi. Sediaan yang paling diminati adalah kapsul gelatin. Kapsul gelatin pertama kali di patenkan oleh F.A.B .Mothes , mahasiswa dan Dublanc, seorang farmasis . Paten mereka diperoleh pada tahun 1834, meliputi metode untuk memproduksi kapsul gelatin yang terdiri dari satu bagian , berbentuk lonjong, ditutup dengan setetes larutan pekat gelatin panas sesudah diisi. Penggunaan kapsul gelatin ini menyebar bahkan diproduksi oleh banyak Negara di eropa dan amerika.

7|Page

Kapsul gelatin memiliki banyak keunggulan dibanding sediaan obat lainnya. Kapsul gelatin tidak berbau, tidak berasa dan mudah digunakan karena saat terbasahinya oleh air liur akan segera diikuti daya bengkak dan daya larut airnya. Pengisian ke dalam kapsul disarankan untuk obat yang memiliki rasa yang tidak enak atau bau yang tidak enak. Kapsul yang dimpan dalam lingkungan yang kering menunjukkan dayha tahan dan kemantapan penyimpanan yang baik dan dengan teknologi modern, pembuatannya lebih mudah dan cepat serta ketepatan dosis lebih tinggi daripada tablet. Cara pengisian kapsul juga tidak perlu memperhitungkan adanya perubahan sifat material asalnya dan pelepasan zat aktifnya.

Selain gelatin, cangkang kapsul juga dapat dibuat dari pati dan tepung gandum dan digunakan untuk mewadahi bahan obat berbentuk serbuk. Kapsul pati ini, memiliki silinder tertutup satu muka atau mangkuk kecil (garis tengah 15-25 mm dan tinggi 10 mm). Walaupun tercantum dalam farmakope, tapi peranannya sampai saat ini tidak ada. Macam-macam kapsul: a. Kapsul gelatin keras, terdiri dasar sebagai wadah obat dan tutupnya. Bentuknya keras, sehingga banyak orang menyangka kaca yang tidak dapat hancur. Tetapi bila kapsul ini kena air akan mudah lunak dan hancur. b. Kapsul gelatin lunak, tertutup dari pabrik dan obatnya sudah dari dulu diisi dipabrik. Agar menarik kapsul ini diberi warna warni. Kelebihan dan Kekurangan Kapsul a. Kelebihan kapsul i. ii. Cukup stabil dalam penyimpanan dan transportasi. Dapat menutupi rasa dan bau yang tidak enak

iii. Tepat untuk obat yang teroksidasi dan mempunyai bau dan rasa yang tidak enak. iv. Bentuk kapsul mudah ditelan dibanding bentuk tablet. v. Bentuknya lebih praktis dan menarik.

vi. Bahan obat dapat cepat hancur dan larut di dalam perut sehingga dapat segera diabsorpsi. vii. Menghindari kontak langsung dengan udara dan sinar matahari. viii. Dokter dapat mengkombinasikan beberapa macam obat dan dosis yang berbeda-beda sesuai kebutuhan pasien.

8|Page

ix. Kapsul dapat diisi dengan cepat karena tidak memerlukan bahan tambahan/pembantu seperti pada pembuatan pil dan tablet. b. Kekurangan : i. Tidak dapat digunakan untuk zat-zat yang mudah menguap karena pori-pori kapsul tidak dapat menahan penguapan. ii. Tidak dapat digunakan untuk zat-zat yang higroskopis (menyerap lembab).

iii. Tidak dapat digunakan untuk zat-zat yang dapat bereaksi dengan cangkang kapsul. iv. Tidak dapat diberikan untuk balita. v. 2.5 Cair Merupakan sedian cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan dalam air, yang karena bahan-bahannya,cara peracikan, atau penggunaannya,tidak dimasukan dalam golongan produk lainnya. Cara Tidak bisa dibagi-bagi.

penggunaannya yaitu larutan oral (diminum) dan larutan topical. Formula obat berbentuk cair tidak hanya mudah ditelan tapi juga bisa diberi tambahan rasa. Kebanyakan formula obat untuk anak dibuat dalam bentuk ini. Beberapa jenis suplemen (seperti vitamin E) juga dibuat dalam bentuk cair agar lebih mudah dipakai di kulit. Tetes mata atau obat batuk merupakan jenis lain dari obat bentuk cair. a. Emulsi Merupakan sediaan berupa campuran dari dua fase cairan dalam sistem dispersi, fase cairan yang satu terdispersi sangat halus dan merata dalam fase cairan lainnya, umumnya distabilkan oleh zat pengemulsi. b. Guttae (Obat Tetes) Merupakan sediaan cairan berupa larutan, emulsi, atau suspensi, dimaksudkan untuk obat dalam atau obat luar, digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes beku yang disebutkan Farmacope Indonesia. Sediaan obat tetes dapat berupa antara lain: Guttae (obat dalam), Guttae Oris (tets mulut), Guttae Auriculares (tetes telinga), Guttae Nasales (tetes hidung), Guttae Ophtalmicae (tetes mata). c. Suspensi Merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut terdispersi dalam fase cair. Macam suspensi antara lain: suspensi oral (juga termasuk 9|Page

susu/magma), suspensi topikal (penggunaan pada kulit), suspensi tetes telinga (telinga bagian luar), suspensi optalmik, suspensi sirup kering. d. Injectiones (Injeksi) Merupakan sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Tujuannya yaitu kerja obat cepat serta dapat diberikan pada pasien yang tidak dapat menerima pengobatan melalui mulut. Kelebihan dan Kekurangan Obat Cair Kelebihan a. Bentuk obat ini juga lebih mudah diserap di dalam saluran pencernaan b. Mudah ditelan c. Kerja obat lebih cepat d. Penyerapan obat hampir sempurna e. Bioavailabilitas tinggi f. Mudah bercampur dengan cairan biologis (getah lambung saluran cerna) g. Merupakan campuran homogen. h. Dosis dapat diubah-ubah dalam pembuatan. i. Kerja awal obat lebih cepat karena obat cepat diabsorpsi. j. Mudah diberi pemanis, bau-bauan dan warna dan hal ini cocok untuk pemberian obat pada anak-anak. k. Untuk pemakaian luar, bentuk larutan mudah digunakan. Kekurangan: a. Stabilitas larutan kurang dibanding sediaan padat, contoh vitamin C b. Kurang dapat menutupi rasa obat tidak enak, contoh garam ferro c. Merepotkan penderita, karena harus menyiapkan sendok d. Relatif lebih mahal daripada sediaan padat. 2.6 Suppositoria Merupakan sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra, umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh. Tujuan pengobatan yaitu: a. Penggunaan lokal, memudahkan defekasi serta mengobati gatal, iritasi, dan inflamasi karena hemoroid.

10 | P a g e

b. Penggunaan sistemik, aminofilin dan teofilin untuk asma, chlorprozamin untuk anti muntah, chloral hydrat untuk sedatif dan hipnotif, aspirin untuk analgenik antipiretik. 2.7 Spray Obat inhalasi dan spray yaitu obat yang penggunaannya dengan cara dihirup atau disemprot seperti pada pengobatan asma. Contoh obatnya adalah chlorethyl (ethylchloride). 2.8 Ekstrak Ekstrak adalah sediaan yang dapat berupa kering, kental dan cair, dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang sesuai, yaitu maserasi, perkolasi atau penyeduhan dengan air mendidih. Sebagai cairan penyari digunakan air, eter atau campuran etanol dan air. Penyari dilakukan diluar pengaruh cahaya matahari langsung. Penyari dengan campuran etanol dan air dilakukan dengan cara maserasi atau perkolasi. Penyarian dengan eter dilakukan dengan cara perkolasi. Penyarian dengan air dilakukan dengan cara maserasi, perkolasi atau disiram dengan air mendidih. 2.9 Salep Merupakan sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. Dapat juga dikatakan sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok.

11 | P a g e

BAB 3 PENUTUP

3.1

Kesimpulan Anak dipandang memiliki kedudukan khusus di mata hukum. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa anak adalah manusia dengan segala keterbatasan biologis dan psikisnya belum mampu memperjuangkan segala sesuatu yang menjadi hak-haknya. Selain itu, juga disebabkan karena masa depan bangsa tergantung dari masa depan dari anak-anak sebagai generasi penerus. Oleh karena itu, anak sebagai subjek dari hukum negara harus dilindungi, dipelihara dan dibina demi kesejahteraan anak itu sendiri; (2) Pada dasarnya, Pengadilan anak yang senantiasa mengedepankan kesejahteraan anak sebagai guiding factor dan disertai prinsip proporsionalitas merupakan bentuk perlindungan hukum bagi anak sebagi pelaku tindak pidana. Dalam hal ini, secara yuridis-formil Undang-undang Pengadilan anak tidak cukup memberikan jaminan perlindungan hukum bagi anak sebagai pelaku kejahatan. Terdapat beberapa peraturan dalam undang-undang tersebut yang inkonsistensi dengan KUHP dan The Beijing Rules, sehingga yang terjadi adalah secara tidak langsung terjadi pengabaian prinsip kepentingan terbaik anak seperti yang telah ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

3.2

Saran Hendaknya setiap anak mendapatkan perlindungan yang sama. Tidak memandang status atau latar belakang sosial jadi semua orang mendapatkan perlindungan hukum yang sama termasuk anak-anak. Diharapkan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya agar setiap anak mendapatkan kebebasan dengan dunianya.

12 | P a g e