You are on page 1of 5

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Seiring dengan perkembangan teknologi industri yang semakin pesat maka

kebutuhan akan sumber energi yang terbarukan (renewable energy) menjadi pertimbangan yang sangat penting. Hal ini disebabkan semakin langkanya sumber energi minyak bumi dan semakin tingginya harga minyak mentah dunia, sehingga penelitian-penelitian inovatif terus dikembangkan untuk menemukan sumber energi yang terbarukan. Penelitian-penelitian tersebut tidak hanya untuk menemukan sumber energi baru saja, akan tetapi mampu menemukan sumber energi yang bersifat ramah lingkungan. Salah satu energi alternatif yang sekarang sedang dikembangkan adalah energi yang berasal dari bahan-bahan organik, hal ini dikarenakan senyawa organik tersebut tergolong energi yang dapat diperbarui. Keberadaaan bahanbahan organik tersebut mudah didapat dan terjamin kontinuitasnya, selain itu yang terpenting bahan-bahan organik tersebut ramah lingkungan. Hal ini yang menjadi faktor utama keberadaan bahan-bahan organik dipertimbangkan sebagai energi masa depan dalam rangka mewujudkan teknologi hijau (green technology). Biogas merupakan sumber energi terbarukan yang dihasilkan secara anaerobic digestion atau fermentasi anaerob dari bahan organik seperti sampah, sisa-sisa makanan, kotoran ternak, dan limbah industri makanan. Pemanfaatan limbah organik sebagai bahan baku biogas tentu akan memberikan efek ganda dalam menyediakan energi yang dapat diperbaharui, ramah lingkungan, dan dapat menciptakan lingkungan perternakan yang lebih bersih dan sehat (Sugiarto et al, 2013a:1). Adapaun unsur-unsur yang terkandung dalam biogas yaitu 55-75% gas metana (CH4), 25-45% Gas karbon dioksida (CO2), 0-3 ppm gas hidrogen sulfida (H2S), 0-0,3% gas nitrogen (N2), 1-5 gas hidrogen (H2), dan 0,1-0,5 gas oksigen (O2) (Arifin et al, 2008:3). Sugiarto et al (2013b:1) mengemukakan pendapat bahwa dalam proses pembakaran, gas-gas selain metana (CH4) tersebut akan menurunkan nilai kalor biogas dan efisiensi pembakarannya. Sehingga untuk mendapatkan nilai kalor 1

CaO. 1989). Zeolit alam mempunyai struktur rangka. Penelitian-penelitian terdahulu mengenai permunian biogas menggunakan zeolit telah banyak digunakan. Adsorbsi adalah peristiwa di mana terjadi kontak antara padatan dengan suatu campuran fluida. . Gas CO2 akan merugikan pada proses pembakaran. (2010:2) meneliti proses permunian biogas dengan menggunakan zeolit yang telah diaktivasi dengan larutan NaOH dan zeolit tersebut dimodifikasi dengan mencampurkan beberapa material seperti bentonit. gamping. kaolin lokal semin-gunung kidul. Selain itu keberadaan oksida bebas seperti Al2O3. 2013c:5). 2005).2 yang lebih besar dari biogas harus memaksimalkan prosentase gas selain metana (CH4) dengan jalan menurunkan gas lain utamanya CO2 karena kandungannya paling besar setelah CH4. tapioka/kanji. Inilah sistem mengapa zeolit alam perlu diaktivasi terlebih dahulu sebelum digunakan (Sugiarto. MgO. K2O dapat menutupi pori-pori atau situs aktif dari zeolit sehingga dapat menurunkan kapasitas adsorbsi maupun sifat katalis dari zeolit tersebut. Wahono et al. Hamidi et al (2011:2) meneliti proses pemurnian bahan bakar biogas dengan penyerapan menggunakan zeolit alam dengan melakukan proses aktivasi terlebih dahulu secara kimiawi menggunakan KOH (potassium hidroxide) kemudian secara fisik dengan proses heat treatment dengan temperatur sebesar 300oC selama 2 jam. sehingga sebagai zat terlarut dalam fluida tersebut atau teradsorbsi yang menyebabkan terjadinya komposisi fluida tersebut Brown (dalam Wahono et al. karena dalam reaksi pembakaran CO2 merupakan gas hasil reaksi pembakaran yang tidak bisa terbakar lagi. Na2O. mengandung ruang kosong yang ditempati oleh kation dan molekul air yang bebas sehingga memungkinkan pertukaran ion dan penyerapan senyawa kimia (Anggoro. SiO2. Salah satu adsorben padat yang berpotensi untuk memurnikan metana (CH4) tersebut adalah zeolit. 2010:2). Salah satu metode dalam meningkatkan performa biogas dapat dilakukan melalui proses adsorbsi. dan kitosan cair. Material yang digunakan sebagai adsorben umumnya material yang berpori terutama pada letak tertentu dalam partikel (Hardjono.

Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini antara lain variabel bebas berupa jumlah lapisan adsorben zeolit pada purifer 1. Hal ini dikarenakan karena zeolit yang sudah benar-benar jenuh karena seluruh poriporinya sudah terisi penuh atau sisi aktifnya telah tertutupi CO2. Untuk alasan tersebut perlu dilakukan suatu proses regenerasi zeolit bekas yang bertujuan untuk membersihkan permukaan zeolit sehingga membuka ruang sisi aktif yang tertutup dan memperbesar luas permukaan pori dan volume spesifiknya. 5 lapis dan pemurnian divariasikan `15. 30. 45. No. Berangkat dari pemikiran di atas. Oleh karea itu. Dengan harapan dapat dijadikan dasar dalam upaya meningkatkan nilai kalor bahan bakar biogas dan efisiensi pembakaran yang tinggi. 1990:45) yang sangat berpengaruh yaitu luas . 2. yang ditunjukkan pada berkurangnya atau bahkan tidak mampu lagi mengadsorbsi CO2. 1 Tahun 2013 1-10 ISSN 0216-468X. 4. Zeolit yang telah digunakan sebagai adsorben dalam pemurnian biogas lama-kelamaan akan terdeaktivasi. Sedangkan variabel terkontrol antara lain tekan masuk biogas pada purifer sebesar 15 cmH2O dan massa zeolit tiap lapis 150 gram.2 Rumusan Masalah Penggunaan zeolit alam sebagai adsorben telah banyak dilakukan dalam pemurnian biogas.3 Selain itu dalam Jurnal Rekayasa Mesin Vol. Sugiarto et al (2013:2) juga meneliti tentang purifikasi biogas sistem kontinyu menggunakan zeolit yang bertujuan untuk mengetahui tingkat efektifitas zeolit dalam mengikat CO2 yang dapat dijadikan dasar dalam upaya meningkatkan nilai kalor dalam bahan bakar biogas dengan menggunakan sistem kontiyu. dalam penelitian ini penulis ingin mengetahui pengaruh variasi ukuran mesh dan waktu kontak zeolit regenerasi terhadap biogas utuk memberikan gambaran secara real tentang efektifitas pemurnian kadar CO2 dalam biogas. dan 60 menit. 1. Mengingat faktorfaktor adsorpsi menurut (Suzuki. 4. 3. maka timbul ide untuk mengaplikasikan zeolit alam yang telah diregenerasi sebagai adsorben untuk proses pemurnian biogas dengan mengembangkan pemurnian biogas sistem kontinyu melalui adsorbsi teknologi sederhana.

2. Menghemat penggunaan zeolit alam dengan cara meregenerasi zeolit bekas. mesh 16. Mengetahui perbandingan penurunan gas karbondioksida (CO2) dan kenaikan CH4 dalam proses pemurnian biogas dengan zeolit regenerasi dengan variasi ukuran mesh zeolit : mesh 4. 80 menit.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan penguraian pada latar belakang. Mengetahui perbandingan distribusi temperatur nyala api berupa profil nyala api sebelum dan sesudah dilakukan proses pemurnian dengan menggunakan variasi ukuran mesh zeolit dan waktu kontak yang menunjukkan penurunan kandungan karbon dioksida CO2 paling tinggi. 2. 60 menit. . zeolit alam regenerasi dan zeolit alam regenerasi dalam keadaan jenuh (saturated zeolite). dan 120 menit. dan mesh 50 dan waktu kontak zeolit : 20 menit. 40 menit.mesh 6. Mengetahui gambaran permukaan dan profil kristallografi zeolit alam komersial/sebelum digunakan. Memberikan dampak positif yang signifikan dalam hal berkurangnya ketergantungan masyarakat terhadap energi fosil.mesh 8. 3. 1.4 permukaan dan lama kontak adsorben terhadap biogas. serta memberdayakan energi alternatif biogas sebagai teknologi ramah lingkungan dan ekonomis.4 Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah: 1. tujuan pengujian ini adalah: 1. Pada penelitian ini zeolit yang digunakan adalah zeolit yang telah diregenerasi tetapi juga digunakan variasi ukuran mesh terhadap zeolit dan waktu kontak dalam proses pemurnian biogas sehingga dapat diketahui perbandingan efektifitas zeolit alam dan zeolit yang telah diregenerasi dalam menyerap kandungan gas CO2 dalam pemurnian biogas. 1. 100 menit.

6. Mengetahui potensi yang dihasilkan oleh masing-masing variasi ukuran mesh dan waktu kontak pada pemurnian biogas. 4. Mengembangkan penelitian tentang penggunaan bahan bakar alternatif sebagai salah satu solusi mengatasi krisis energi pada masa yang akan datang dengan pengaplikasikan energi yang terbarukan (renewable energy). . Panjang dan diameter alat pemurnian biogas tetap.5 3. 5. Ukuran pipa instalasi digester biogas serta panjang pipa instalasi tetap. 3. Kondisi suhu dan kelembaban ruangan dianggap tetap dan pengaruh angin diabaikan. 1. maka ditentukan batasan-batasan penelitian. 2. Jenis kompor yang digunakan adalah kompor biogas. Menggunakan alat pemurnian sistem kontinyu. Agar penelitian yang dilaksanakan tidak melebar dari tujuan yang hendak dicapai.5 Batasan Masalah Dalam penelitian ini akan dibahas mengenai kapasitas daya serap dan pengaruh ukuran mesh serta waktu kontak terhadap pemurnian biogas dengan zeolit regenerasi. sebagai tolak ukur penggunaannya dimasyarakat. 4. Adapun batasan-batasan penelitian tersebut antara lain: 1.