You are on page 1of 55

Kelompok 4

1. Aulia Paramita N 2. Diah Puspitasari 3. Dwi Mursita 4. Linda Eka A 5. Mita Dewi Astuti 6. Musthika Dhea A 7. Nursiyam Hidayanti 8. Puput Aryani 9. Rina Yuliastuti Asmanto 10. Risczy Alfrida D 11. Vina Irhamna

Kompetensi yang akan dicapai

• Mampu menjelaskan peran dan kompetensi ahli gizi bidang gizi klinik • Mampu memahami kode etik profesi gizi • Mampu memahami pekembangan profesi gizi • Mampu melaksanakan pelayanan gizi sesuai prinsip etika

Skenario

Seorang ahli gizi yang bekerja di Rumah Sakit Swasta bertugas diruang perawatan intensif (ICU) merawat seorang pasien kritis yang mendapat makanan lewat sonde (NGT) sebanyak 6 kali pemberian dalam sehari. Setelah 3 hari dirawat pasien meninggal dunia, kebetulan pada saat pasien meninggal ahli gizi sedang tidak bertugas. Dokter menyatakan pasien meninggal karena “overfeeding”. Maka dilakukan penelitian secara mendalam dan ternyata penyebabnya adalah karena makanan sonde diberikan lebih dari 7 kali, sehingga terjadi keadaan yang fatal tersebut. Akibat dari kejadian ini maka ahli gizi RS Swasta tersebut harus berulang kali diperiksa dan ini sangat mengganggu pekerjaan dan kehidupan pribadinya. Hasil penyelidikan menyimpulkan kesalahan ahli gizi RS karena tidak melakukan monitoring dan koordinasi dengan cermat.

Makanan Lewat Sonde (NGT) 3. Dimintai Kesaksian 6. Fatal 5.Unclear Term 1. Overfeeding 4. Ruang Perawatan Intensif (ICU) 2. Monitoring dan Koordinasi .

1. saran dan prasarana serta peralatan khusus untuk menunjang fungsifungsi vital dengan menggunakan keterampilan staf medis. dan mengalami serangan penyakit akut. perawat dan staf lain yang berpengalaman dalam pengelolaan keadaankeadaaan tersebut. ICU menyediakan kemampuan. . gangguan pernafasan. Ruang Perawatan Intensif (ICU) ICU adalah unit pelayanan rawat inap dirumah sakit yang memberikan perawatan khusus pada penderita yang memerlukan perawatan yang lebih intensif yang mengalami gangguan kesadaran.

Selain itu juga bisa memberi makanan lewat lambung atau ketika pemberian makanan lewat lambung menyebabkan aspirasi.2. Makanan lewat sonde (NGT) Memberikan makanan melalui sonde adalah memasukan formula cairan makanan dalam perut dengan cara memasukan selang makanan lewat hidung atau mulut kedalam perut. Prosedur ini juga diperbolehkan untuk menyediakan makanan pada pasien yang membutuhkan makanan dengan syarat bernutrisi tinggi atau seseorang dengan luka bakar yang luas. pola pasien yang tidak bisa menelan dan tidak sadar. .

Overfeeding Overfeeding merupakan keadaan dimana seseorang mendapatkan terlalu banyak mendapat asupan makanan sehingga terjadi gangguan metabolisme dalam pencernaan orang tersebut. . Gangguan metabolisme ini akan merusak sistem pencernaan dan mengakibatkan masalah kesehatan akibat sulitnya menyerap kelebihan asupan energi dan zat gizi.3.

yang yang atau yang . Fatal Fatal adalah suatu keadaan disebabkan oleh prilaku manusia memiliki kontribusi terhadap kerusakan kesalahan dan mengakibatkan kondisi sulit bahkan tidak dapat diperbaiki lagi.4.

Dimintai Kesaksian Dimintai kesaksian adalah keadaan dimana dilakukannya crosscheck atas hal yang sudah dilakukan seseorang oleh pengawas atau orang yang bersaksi karena adanya kemungkinan sesuatu hal yang tidak seharusnya. .5. Pemeriksaan dilakukan untuk mengklarifikasi suatu masalah.

pemantauan berkadar tingkat tinggi dilakukan agar dapat membuat pengukuran melalui waktu yang menunjukkan pergerakan ke arah tujuan atau menjauh dari itu.6. supaya tujuan secara keseluruhan dapat tercapai. . Koordinasi adalah proses untuk memadukan tujuan dan aktivitas dari unit-unit yang ada. Monitoring dan Koordinasi Monitoring adalah pemantauan yang dapat dijelaskan sebagai kesadaran (awareness) tentang apa yang ingin diketahui.

Cues .

mendahulukan kepentingan klien diatas kepentingan pribadinya dan mejunjung tinggi korps gizi sebaik-baiknya sesuai dengan etika profesi gizi. .Tenaga gizi harus menjalankan tugas secara sungguh-sungguh dan profesional serta mampu berkomunikasi dengan baik sesama ahli gizi maupun profesi lain (hubungan antar manusia).

Apa yang saudara ketahui tentang perkembangan profesi? . Bagaimana dengan kode etik profesi gizi? 5.Problem Identification 1. Apakah yang dimaksud dengan profesional? 2. Apa yang dimaksud dengan tenaga gizi bekerja secara profesional dalam memberikan pelayanan gizi? 4. Apa yang dimaksud dengan memberikan pelayanan gizi sesuai dengan prinsip etika profesi? 6. Bagaimana hak azazi klien yang harus dilindungi dan diperhatikan? 7. Apa perbedaan antara profesional dan profesionalisme? 3.

Apakah yang dimaksud dengan profesional? JAWAB : Profesional adalah seseorang yang dipercaya memiliki kemampuan khusus untuk melakukan satu bidang kerja dengan hasil kualitas yang tinggi berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya tentang obyek pekerjaannya tersebut. .1.

.2. Apa perbedaan antara profesional dan profesionalisme? JAWAB : Profesional ditujukan kepada orang yang melakukan sebuah profesi. sedangkan profesionalisme adalah sikap yang dimiliki seseorang yang profesional dalam profesinya.

Apa yang dimaksud dengan tenaga gizi bekerja secara profesional dalam memberikan pelayanan gizi? JAWAB : Seorang ahli gizi memberikan pelayanan gizi kepada masyarakat umum khususnya tentang informasi yang salah dan praktek yang tidak etis berkaitan dengan gizi. termasuk makanan dan terapi diet. pangan.3. .

eksklusif dan berat. .Seorang tenaga gizi bekerja secara profesional dalam memberikan pelayanan gizi harus memenuhi watak profesionalisme. yaitu: • Beritikat untuk merealisasikan kebajikan demi tegaknya kehormatan profesi gizi. dan oleh karenanya tidak mementingkan imbalan upah materil. • Dilandasi oleh kemahiran teknis yang berkualitas tinggi yang dicapai melalui proses penddidikan dan/atau pelatihan yang panjang.

• Memberikan contoh hidup sehat dengan pola makan dan aktifitas fisik yang seimbang sesuai nilai praktek gizi individu yang baik.• Kerja diukur dengan kualitas teknis dan kualitas moral. dan dapat dipertanggung jawabkan. • Melakukan kegiatan pengawasan pangan dan gizi sehingga dapat mencegah masalah gizi di masyarakat. akurat. harus menundukan diri pada sebuah mekanisme kontrol berupa kode etik yang dikembangkan dan disepakati bersama didalam sebuah organisasi profesi. • Memberikan pelayanannya sesuai dengan informasi aktual. .

perilaku. 1. dan budi luhur serta tidak mementingkan diri sendiri. Menjunjung tinggi nama baik profesi gizi deng menunjukan sikap. . Menjalankan profesinya dengan bersikap jujur.4. 2. Bagaimana dengan kode etik profesi gizi? JAWAB : Kode etik ahli gizi menurut Ahmad Saifudin Ali: Meningkatkan keadaan gizi dan kesehatan serta berperan dalam meningkatkan kecerdasan dan kesejahteraan rakyat. Menjalankan profesinya berdasarkan prinsip keilmuan dan informasi terkini. 3. Menjalankan profesinya menurut standart profesi yang telah ditetapkan. 5. 4. tulus dan adil.

Mengenal dan memahami keterbatasannya sehingga dapat bekerjasama dengan pihak lain atau membuat rujukan bila diperlukan. berkewajiban senantiasa memelihara pengertian yang sebaik-baiknya. Melakukan profesinya dengan mengutamakan kepentingan masyarakat dan berkewajiban senantiasa berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenarnya.6. Membantu pemerintah dalam melaksanakan upaya-upaya perbaikan gizi masyarakat. 10. 9.Penyuluh kesehatan masyarakat. 8. Bekerjasama dengan para profesional lain dibidang kesehatan maupun lainnya. . 7.

6. Apa yang dimaksud dengan memberikan pelayanan gizi sesuai dengan prinsip etika profesi? JAWAB : Pelayanan gizi sesuai dengan prinsip etika profesi adalah memberikan pelayanan di bidang gizi yang sesuai dengan tuntutan dan etika profesionalisme. 2. 3. seperti: 1. 7. 5. 4.5. Tidak merugikan dalam pelayanan gizi Membawa kebaikan dalam pelayanan gizi Menjaga kerahasiaan paisien Otonomi pasien Berkata benar Berlaku adil Menghormati privasi .

Memperoleh pelayanan yang manusiawi. . 5. 4. Memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi.6. jujur. 2. adil. Memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standart profesi dan standart prosedur operasional. 3. Bagaimana hak azazi klien yang harus dilindungi dan diperhatikan? JAWAB : Hak azazi pasien dilindungi dalam pasal 32 UU No 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit meliputi: 1. Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit. dan tanpa diskriminasi. Memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien.

Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya. 7. Didampingi keluarganya dalam keadaan kritis. Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan oleh tenaga kesehatan terhada penyakit yang dideritanya. . 12. 11. Mengajukan pengajuan atas kualitas pelayanan yang didapatkan. tujuan tindakan medis. Meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain yang mempunyai Surat Izin Praktek (SIP) baik di dalam maupun di luar Rumah Sakit. 8. alternativ tindakan.6. risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi dan prognosis terhadapa tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan. Memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit. 10. 9. Mendapatkan informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis.

16. saran. perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit atas dirinya. Menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya. 14. Mengajukan usul. 18. 17. Mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai dengan standart pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. . Menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standart baik secara perdata atau pidana.13. Menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya. 15. Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di Rumah Sakit.

Agar hak azazi klien dapat terlindungi maka kita sebagai tenaga profesi gizi harus melakukan: 1. inovatif. Pengembangan pendidikan dan penerapan IPTEK yang mutakhir. perilaku terbuka. memadai. 4. tepat guna. realistis sesuai situasi dan kondisi. 2. . jujur dan supel. mau mendengarkan. mau menerima kritik dan masukan. Mengembangkan sikap. pemikiran. Mengembangkan upaya kreatif. Memberikan pelayanan berdedikasi / semangat pengabdian / niat ibadah yang tinggi. dan dinamis terhadap perubahan / kemajuan. 3.

5. 8. Mengembangkan kondisi/iklim berusaha yang baik. Mengembangkan/mengadakan dan memantau terus-menerus berbagai program/proyek pemberdayaan terpadu dan berkelanjutan (problem solving cycle) . ulet. Mendorong keberanian. Mengembangkan budaya kerja keras. mau bekerja sama. tidak cepat putus asa. konsep bersama kita bisa. 7. tahan banting. semangat kebersamaan. percaya diri dan konsisten. 6. tidak cepat puas. dalam menyampaikan ide-ide baru dan pelaksanaan berbagai tugas.

. Poorwo Soedarmo yang melahirkan slogan “4 sehat 5 sempurna”. Apa yang saudara ketahui tentang perkembangan profesi? JAWAB : Ahli gizi Indonesia dalam mendarmabaktikan keahliannya tergabung dalam organisasi profesi Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI). tenaga gizi dididik pada akademi gizi dan bergelar Bachelor of Science. seiring dengan kebutuhan program pembangunan kesehatan dan perkembangan ilmu gizi. Ahli gizi di Indonesia mulai berkiprah sejak tahun 1957 dengan dipelopori oleh dr.7.

.S dari luar negeri sehingga dapat melanjutkan pendidikan untuk jenjang yang lebih tinggi seperti mengikuti pendidikan Master di luar negeri. akibatnya lulusan akademi gizi tidak mendapatkan kesetaraan pendidikan lagi untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri.Pada saat itu lulusan akademi gizi disetarakan dengan B. namun pada tahun 1986 akademi gizi diubah programnya menjadi diploma 3. Untuk menghindari hal itu maka PERSAGI berusaha keras untuk dapat berdiri sejajar dengan profesi gizi di luar negeri agar para ahli gizi yag tergabung dalam organisasi profesi gizi dapat ikut berperan aktif dalam era globalisasi dunia.

DEVELOP LEANING PLAN .COMMISSION ON DIETETIC REGISTERED.REFLECT 4. EVALUATE LEARNING PLAN OUTCOME 1. 2002 5. CONDUCT LEARNING NEEDS ASSESMENT 3. IMPLEMENT LEARNING PLAN 2.

Hipotesis .

Hak azazi klien 7. AD/ART PERSAGI 6.Learning Issues 1. Perkembangan profesi gizi . Kode etik profesi gizi 5. Pelayanan gizi sedsuai dengan prinsip etika profesi 8. Perbrdaan antara profesional dan profesionalisme 3. Profesionalisme tenaga gizi dalam memberikan pelayanan gizi’ 4. Ciri profesional dan peran tenaga gizi klinik 2.

Ciri profesional dan peran tenaga gizi bidang gizi klinik Ahli Gizi yang profesional seharusnya memiliki ciri yaitu bertanggung jawab. Dimana hal tersebut merupakan salah satu peran ahli gizi bidang gizi klinik. Bentuk tanggung jawab tersebut dapat berupa koordinasi dengan petugas kesehatan lainnya untuk melakukan monitoring terhadap klien. Sehingga hal yang tidak diinginkan seperti overfiding tidak terjadi. Peran ahli gizi dalam bidang gizi klinik diantaranya adalah : .1.

Riwayat gizi pasien didapatkan secara kualitatif dan kuantitatif. panjang lengan. 2003). dan skin fold thickness. berat badan. Sedangkan untuk data kuantitatif didapatkan dengan cara recall 24 jam dan diukur dengan menggunakan food model (Depkes. tinggi lutut.a) Pengkajian gizi • Dimulai dengan pemeriksaan antropometri untuk mengetahui status gizi pasien dan disesuaikan dengan kondisi pasien melalui pengukuran tinggi badan. • Data riwayat gizi untuk menegakkan masalah gizi pasien. . • Data penunjang lain yang berasal dari hasil pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosa penyakit dan diagnosa gizi pasien. lingkar lengan atas. Data kualitatif berfungsi untuk mendapatkan gambaran kebiasaan makan/pola makan sehari berdasarkan frekuensi penggunaan bahan makanan.

masalah gizi pasien dapat dikelompokkan menjadi tiga domain yaitu domain intake. . Dalam prakteknya.b) Diagnosa masalah gizi Diagnosa masalah gizi ditegakkan berdasarkan data yang didapatkan saat pengkajian gizi. 2011). dan behaviour (perilaku) (Susilo. klinik.

2011). baik dari domain intake.c) Intervensi gizi (rencana dan implementasi) Intervensi gizi disusun berdasarkan etiologi (penyebab) masalah gizi yang ada. . klinik maupun perilaku (Susilo.

d) Monitoring dan evaluasi (monev) • Monev dilakukan oleh ahli gizi untuk mengetahui perkembangan kondisi pasien setelah dilakukan terapi (intervensi) gizi. . • Monev dilakukan berdasarkan sign/symptom (tanda dan gejala) dari diagnosa masalah gizi (Susilo. 2011).

• Seorang ahli gizi harus mampu melibatkan diri secara aktif dan tidak sekedar bertahan pada peran yang telah ditetapkan. pada kasus ini ahli gizi tersebut kurang aktif untuk dapat berkoordinasi dengan ahligizi lain maupun tenaga kesehatan lainnya. namun ahli gizi tersebut tidak melakukan pekerjaan yang seharusnya menjadi tugasnya yaitu tidak melakukan monitoring terhadap pasien yang dirawatnya. • Seorang ahli gizi harus mampu mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan untuk menyelesaikan tugasnya. namun pada kasus ini ahli gizi tersebut tidak menjalani kewajiban tersebut karena makanan sonde yang seharusnya diberikan sebanyak 6x dalam sehari justru diberikan lebih dari pada itu sehingga menyebabkan sesuatu yang tidak diinginkan bagi pasien maupun ahli gizi itu sendiri. Perbedaan antara profesional dan profesionalisme Profesional : • Sebagai ahli gizi sudah menjadi kewajiban untuk dapat bertanggung jawab atas profesinya. .2. padahal monitoring merupakan salah satu bagian dari PAGT.

hal ini disebabkan karena kurang terampilnya ahli gizi tersebut dalam menjalankan tugasnya yang ditandai dengan ahli gizi tersebut menyebabkan pasien mengalami overfeeding karena pemberian makan kepada pasien melebihi dari kebutuhannya. tidak melakukan monitoring gizi dan tidak berkoordinasi dengan cermat. sehingga ahli gizi tersebut tidak memenuhi standarsebagai ahli gizi yang kompeten. .Profesionalisme : • Kualitas yang dihasilkan dari ahli gizi tersebut kurang memuaskan.

3. Seorang yang menjalankan pekerjaannya dengan baik dan profesional kemungkinan kecil melakukan kesalahan yang berujung fatal sepeti pasiennya meninggal dunia. Profesionalisme tenaga gizi dalam memberikan pelayanan gizi Dalam kasus tersebut seorang ahli gizi tidak memberikan pelayanan gizi kepada masyarakat dengan baik. Pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh ahli gizi pada kasus 2 tersebut kurang profesional. Memonitoring dan koordinasi atau bekerja sama dengan pihak Dokter. perawat bahkan keluarga pasien merupakan salah satu tindakan yang harus dilakukan oleh seorang ahli gizi yang profesional. Tidak terlihat bahwa dia memberikan informasi yang aktual dan akurat dan kemudian mampu dipertanggungjawabkan. Ahli gizi tersebut tidak melakukan pengawasan pangan dan gizi yang akan mencegah terjadinya pasien yang meninggal dunia di karena pemberian makanan melalui sonde .

Menjunjung tinggi nama baik profesi gizi deng menunjukan sikap. Menjalankan profesinya dengan bersikap jujur. 2.4. Kode etik profesi gizi 1. dan budi luhur serta tidak mementingkan diri sendiri. 4. tulus dan adil. 5. perilaku. . Kode etik ahli gizi menurut Ahmad Saifudin Ali: Meningkatkan keadaan gizi dan kesehatan serta berperan dalam meningkatkan kecerdasan dan kesejahteraan rakyat. 3. Menjalankan profesinya menurut standart profesi yang telah ditetapkan. Menjalankan profesinya berdasarkan prinsip keilmuan dan informasi terkini.

Melakukan profesinya dengan mengutamakan kepentingan masyarakat dan berkewajiban senantiasa berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenarnya. Mengenal dan memahami keterbatasannya sehingga dapat bekerjasama dengan pihak lain atau membuat rujukan bila diperlukan.Penyuluh kesehatan masyarakat. 10. Membantu pemerintah dalam melaksanakan upaya-upaya perbaikan gizi masyarakat. berkewajiban senantiasa memelihara pengertian yang sebaik-baiknya. 9.6. Bekerjasama dengan para profesional lain dibidang kesehatan maupun lainnya. 8. 7. .

Sebagai ahli gizi yang terdaftar sebagai anggota PERSAGI. AD/ART PERSAGI Ahli gizi pada kasus tersebut tidak sesuai dengan pasal 3 ayat 1 yang terdapat di dalam AD/ART PERSAGI mengenai Kewajiban Anggota yang berbunyi : “Anggota PERSAGI mempunyai kewajiban : Mematuhi “AD/ART dan kode etik ahli gizi serta keputusankeputusan yang dikeluarkan oleh PERSAGI”.5. . maka ahli gizi seharusnya melaksanakan kewajiban tersebut.

Seharusnya. . ahli gizi pada kasus tersebut dapat meningkatkan keadaan gizi kliennya di Rumah Sakit. ahli gizi pada kasus tersebut melanggar peran dari PERSAGI yang disebutkan pada AD PERSAGI Pasal 10 Ayat 2 yaitu “Peningkatan keadaan gizi perorangan dan masyarakat” serta melanggar Kode Etik Ahli Gizi yang secara otomatis juga melanggar ART PERSAGI Pasal 3 Ayat 1 yang telah disebutkan diatas.Namun pada kenyataannya. bukan menghilangkan nyawa kliennya tersebut.

serta berpedoman teguh pada Kode Etik Ahli Gizi seperti contoh pada Bab II mengenai Kewajibab Terhadap Klien ayat 1 yaitu “Ahli Gizi berkewajiban sepanjang waktu senantiasa berusaha memelihara dan meningkatkan status gizi klien baik dalam lingkup institusi pelayanan gizi atau di masyarakat umum” serta ayat 4 yaitu “Ahli Gizi berkewajiban senantiasa memberikan pelayanan gizi prima.Apabila ahli gizi pada kasus tersebut mematuhi. apabila mengalami keraguan dalam memberikan pelayanan berkewajiban senantiasa berkonsultasi dan merujuk kepada ahli gizi lain yang mempunyai keahlian”. melaksanakan. maka kecil kemungkinan untuk terjadinya keteledoran sehingga dapat merugikan bahkan menghilangkan nyawa dari kliennya tersebut. . cepat dan akurat” dan ayat 6 yang berbunyi “Ahli Gizi dalam melakukan tugasnya.

2. 3. Paling lama 6 bulan sesudah pemberhentian sementara Dewan Pimpinan Cabang dapat merehabilitasi atau mengusulkan pemberhentian kepada Dewan Pimpinan Pusat untuk dikukuhkan melalui DPD. dan memberitahukannya kepada Dewan Pimpinan Daerah. Seseorang anggota dapat dikenakan pemberhentian sementara oleh Dewan Pimpinan Cabang apabila melanggar ketentuan organisasi. ahli gizi tersebut dapat diberhentikan dari keanggotaan PERSAGI seperti yang disebutkan pada ART PERSAGI Pasal 5 mengenai Pemberhentian Anggota yang berbunyi sebagai berikut : 1. 4. Pemberhentian anggota atas permintaan sendiri hanya dapat dilakukan dengan pemberitahuan secara tertulis kepada Dewan Pimpinan Cabang.Selain itu. Dalam hal-hal luar biasa. Dewan Pimpinan Pusat dapat melakukan pemberhentian langsung. .

sehingga dalam 3 hari pasien tersebut meninggal dunia karena overfeeding. Namun pada kenyataannya dalam kasus ini. Dan saat itu ahli gizi sedang tidak bertugas seolah-olah lepas tanggungjawab. hak azazi klien belum terpenuhi dikarenakan pelayanan yang diberikan oleh ahli gizi belum memenuhi standart hak azazi menurut pasal 32 UU No 44 Tahun 2009. Seharusnya klien memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standart profesi dan standart prosedur operasional.6. klien yang seharusnya mendapat makanan NGT sebanyak 6 kali dalam sehari malah diberikan lebih dari 7 kali dalam sehari. Hak azazi klien Berdasarkan kasus. Hal ini terjadi karena ahli gizi tersebut tidak menjalankan profesinya secara professional. .

Terkait hal diatas keluarga klien memiliki hak untuk menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standart baik secara perdata atau pidana. . Gugatan tersebut dikarenakan klien tidak memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di Rumah Sakit.

Ahli gizi di RS swasta tidak melakukan monitoring dan koordinasi dengan cermat sehingga merugikan pasien yang mengakibatkan pasien meninggal karena makanan sonde diberikan lebih dari 7 kali (seharusnya 6 kali pemberian sehari). Pelayanan gizi sesuai dengan prinsip etika profesi Berdasarkan kasus. Selanjutnya. yaitu bertanggung jawab. . ahli gizi di RS swasta ini harus bertanggung jawab terhadap hasil dari pelayanan gizi yang diberikannya yang telah menyebabkan pasien meninggal. berdasarkan prinsip-prinsip etika profesi.7. ahli gizi di RS swasta tersebut tidak mengikuti prinsip etika.

Bisa dikatakan bahwa ahli gizi di RS tersebut tidak profesionalisme dalam menjalankan tugasnya. handal. Bisa saja dengan adanya persaingan bebas ahli gizi RS tersebut dapat tersingkir dari dunia kerja yang selama ini dilakoninya. . Disamping itu tantangan dan tuntutan profesi gizi di era globalisasi menjadi lebih luas dan berat. dan tangguh. Perkembangan profesi gizi Perkembangan profesi gizi di Indonesia berjalan baik seimbang dengan kemampuan –kemampuan para Ahli gizi dalam memecahkan persoalan –persoalan gizi . Adanya persaingan bebas yang tidak dapat terbendung menuntut profesionalisme yang kuat.8.

Dalam hal ini ahli gizi RS tersebut kurang berkompetensi dalam menjalankan tugasnya yang bisa dilihat karena tidak melakukan monitoring dan koordinasi dengan cermat .Selain itu persatuan Ahli Gizi Indonesia bersama dengan universitas terkemuka bekerjasama dalam menata pendidikan dan pengembangan kurikulum profesi gizi dimana para sarjana gizi yang akan memulai praktek diharapkan menempuh program pendidikan profesi gizi terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kompetensi tenaga gizi dan mengantisipasi era globalisasi yang sudah dipelupuk mata serta merupakan keadaan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. .Mungkin karena ahli gizi RS tersebut belum bisa memahami dan mengembangkan pelajaran – pelajaran yang didapat waktu menempuh pendidikan gizi.

Kesimpulan Diskusi Kesalahan pemberian makan Ahli gizi yang tidak profesional sehingga nyawa pasien hilang Tidak berkomunikasi dengan profesi lain .

Rekomendasi Tidak teledor Menguasai kode etik Sesuai AD/ART Interaksi dengan profesi lain Ahli Gizi Profesional .