You are on page 1of 6

SEHAT JASMANI DAN ROHANI DENGAN PUASA

،‫ وَنَعُوْذُ بلله ِمنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا‬،ُ‫إِنّ الْحَمْدَ ل نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُه‬
َ‫ أَشْهَدُ أَنْ ل إله إل ال وَحْدَ ُه لَا شَرِْيك‬،ُ‫مَنْ َيهْدِهِ ال فَلَا مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَه‬
.ُ‫ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه‬،ُ‫لَه‬
َ‫يَاأَيّهاَ الّذِينَ ءَامَنُوا اتّقُوا ال حَقّ تُقَاتِهِ وَلَ تَمُوتُنّ إِلّ وَأَنتُم مّسْلِمُون‬
‫يَاأَيّهَا النّاسُ اتّقُوا رَبّكُمُ الّذِي َخلَقَكُم مّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَ َخلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا‬
‫رِجَالً كَثِيًا وَنِسَآءً وَاتّقُوا الَ الّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلَرْحَامَ إِنّ ال كَانَ َعلَيْكُمْ رَقِيبًا‬
ْ‫ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُم‬. ‫يَاأَيّهَا الّذِينَ ءَامَنُوا اتّقُوا ال وَقُولُوا قَوْلً سَدِيدًا‬
:ُ‫ أَمّا بَعْد‬،‫وَمَن ُيطِعِ الَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا‬
ِ‫فَإِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ ال وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمّدٍ صلى ال عليه و سلم وَشَرّ الْأُمُوْر‬
‫ اللهم صَل عَلَى‬.ِ‫ وَكُلّ ضَلَالَةٍ فِي النّار‬،ٌ‫ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلَالَة‬،ٌ‫ وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَة‬،‫مُحْدَثَاتُهَا‬
ْ‫ وَعَلَى أله وَصَحْبِهِ وَسَلم‬،ٍ‫مُحَمد‬
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Kita semua sudah memaklumi bahwa tujuan Allah menciptakan kita semua, manusia adalah demi
beribadah kepadaNya, bukan karena Allah diuntungkan dengan ibadah tersebut. Dia Mahakaya,
tidak memerlukan apa pun dari kita meskipun itu ibadah dan ketaatan, akan tetapi kewajiban
ibadah tersebut adalah demi kemaslahatan dan kebaikan diri kita sendiri. Kitalah sebenarnya yang
memerlukannya, karena jika tidak, maka apa yang membedakan kita dengan hewan? Ini harus
diyakini oleh setiap Muslim, karena dengan keyakinan yang demikian, dia akan terlecut untuk
taat dan beribadah, karena dia sendirilah yang akan menikmati buahnya hari ini atau esok.

Ini juga berarti bahwa tidak ada ibadah apa pun yang diperin-tahkan atau dianjurkan oleh Allah
kecuali ia menyimpan kebaikan-kebaikan dan kemaslahatan-kemaslahatan. Ini pasti, baik
kemasla-hatan tersebut bersifat murni maupun bersifat dominan. Hal ini kita ketahui karena
peletak syariat tidak hanya sekali atau dua kali menjelaskannya, baik secara global ataupun detail
ditambah daya pikir dan nalar yang merupakan kemampuan kita sebagai manusia, kalaupun
misalnya peletak syariat tidak menjelaskan sementara daya pikir dan nalar kita tidak mampu
menangkap, tidak berarti bahwa ia kosong dari kemaslahatan sama sekali, ia tetap mengandung
kemaslahatan, hanya saja daya pikir dan nalar kita terbatas untuk dapat menangkapnya, karena
dasar kita sebagai manusia memang penuh dengan keterbatasan.

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Salah satu ibadah yang sarat dengan kebaikan dan kemasla-hatan adalah shaum (puasa).
Kemaslahatan puasa ini tidak terbatas pada tempat dan waktu, ia menembus segala masa.
Karenanya, hikmah Allah menuntut diberlakukannya puasa kepada semua umat, umat ini dan
umat-umat sebelumnya. Firman Allah Ta’ala:
ْ ‫ياأيا ا ّ َلين ءامنوا كتب عل‬
ِ َ ّ ‫كَما كُِتب َعَل ا‬
‫لين ِمن‬ ‫يام‬ ‫ص‬
ِ ‫ال‬
َ ُ َ ّ ُ ُ ‫م‬‫ك‬ ‫ي‬ َ َ َ ِ ُ ُ َ َ َ ِ َ ُّ َ َ
َ َ
‫كْم َتَّتقُون‬ َ ‫ل‬ ‫ع‬ ‫ل‬ ْ ‫قْبِلك‬
‫م‬
َ ُ ّ ََ ُ َ
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Al-Baqarah: 183)

Ya, ketakwaan yang merupakan target dari puasa adalah induk dari segala bentuk kebaikan.
Pertanyaannya, kebaikan-kebaikan apakah yang mungkin diraih dengan puasa di mana targetnya
adalah takwa?

Pertama: Keikhlasan
Puasa mendidik keikhlasan, kebersihan, dan ketulusan niat beribadah. Ini sangat penting, karena
ia meru-pakan salah satu syarat diterimanya ibadah oleh Allah Ta'ala . Karena puasa adalah
menahan, meninggalkan, dan tidak melakukan sesuatu, maka salah satu cirinya adalah
kerahasiaan. Kita tidak mengetahui, si ini puasa atau tidak, kalau yang bersangkutan tidak
berbicara. Ibadah rahasia lebih dekat kepada keikhlasan, oleh karena itu dalam hadits qudsi Allah
berfirman:
ِ‫ اَلصّيَامُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِي بِه‬.ْ‫يَتْرُ ُك طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَ ْجلِي‬
"Dia meninggalkan makannya, minumnya, dan nafsunya demi Aku. Puasa itu untukKu dan Aku
yang akan membalasnya." (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah)

Kedua: Muraqabah
Puasa mendidik sikap merasa diawasi dan dilihat oleh Allah. Karena puasa bersifat rahasia, maka
mungkin saja seseorang menyendiri di tempat sepi lalu dia makan atau minum tanpa seorang pun
mengawasi dan mengetahui, akan tetapi hal itu tidak dilakukannya, karena puasa mendidiknya
bahwa Allah mengawasi dan melihatnya. Dari sinilah, maka satu hadits Nabi  berkata:
ٌ‫اَلصّوْمُ جُنّة‬
"Puasa itu adalah perisai." (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah)

Perisai dari dosa-dosa, karena apabila terbetik suatu dosa di benak pelaku puasa, maka dia
menyadari bahwa dia berpuasa dan ada yang mengawasi. Inilah derajat ihsan seperti yang
dijelaskan oleh Rasulullah  ketika menjawab pertanyaan Jibril :
َ‫أَنْ تَعْبُدَ ال كَأَنّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنّهُ يَرَاك‬
"Kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihatNya, kalau-pun kamu tidak
melihatNya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kenyataan membuktikan bahwa kuantitas dosa dan kemaksiatan menurun tajam di masa puasa,
hal ini tidak lain karena dampak positif dari puasa.

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Ketiga : Kesabaran
Puasa mendidik kesabaran dan menahan diri. Sesuatu yang disukai oleh jiwa untuk dihindari,
maka hal itu cukup memberatkan, walaupun untuk sementara waktu, akan tetapi demi tujuannya
yang mulia, hal itu kita lakukan. Dengan meninggalkan perkara-perkara yang pada dasarnya
dibolehkan, kita dididik meninggalkan perkara-perkara yang tidak dibolehkan, maka
beruntunglah pelaku puasa yang memahami hal ini dan merealisasikannya dalam hidupnya,
sehingga puasanya tidak seperti yang dikatakan oleh Rasulullah :
ُ‫مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَْيسَ ل حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه‬
"Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan
puasanya dari makan dan minum." (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah)

Puasa memiliki pengaruh besar dalam mengontrol emosi seseorang, seperti yang sudah kita
sadari bersama, bahwa emosi yang tidak terkontrol, sering menjadi biang persoalan yang
menyulitkan, maka dari itu Nabi menganjurkan pelaku puasa agar tidak meladeni orang yang
mencela dan mencacinya. Sabda Nabi :
‫ إِنّي‬:ْ‫ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَ ُقل‬،ٌ‫ فَإِنْ سَابّهُ أَحَد‬،ْ‫ فَلَ َيرْفُثْ وَلَ يَصْخَب‬،ْ‫وَِإذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُم‬
ٌ‫امْرُؤٌ صَائِم‬
"Apabila di hari salah seorang kalian berpuasa, maka janganlah dia berkata kotor dan gaduh,
jika ada orang yang mencacinya atau me-nyerangnya, maka hendaknya dia berkata, 'Aku sedang
berpuasa." (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Puasa juga memiliki pengaruh yang luar biasa dalam mengontrol nafsu seseorang, oleh karena itu
Nabi  menyarankan para pemuda yang belum mampu menikah untuk berpuasa, supaya tidak
diperbudak oleh nafsu yang menjerumuskannya ke dalam perkara haram. Dari Abdullah bin
Mas'ud  ia berkata:
َ‫ يَا مَعْشَر‬: ‫كُنّا مَعَ النّبِيّ صلى ال عليه و سلم فَقَالَ رَسُوْلُ ال صلى ال عليه و سلم‬
ْ‫ وَمَنْ لَم‬،ِ‫ َوأَحْصَنُ لِلْفَرْج‬،ِ‫ فَإِنّهُ أَغَضّ لِلْبَصَر‬،ْ‫ مَنِ اسَْتطَاعَ مِنْكُمُ الْبَا َءةَ فَلْيَتَزَوّج‬،ِ‫الشّبَاب‬
ٌ‫ فَإِنّهُ لَهُ وِجَاء‬،ِ‫ فَعَلَْيهِ بِالصّوْم‬،ْ‫يَسْتَطِع‬
Suatu ketika kami bersama Nabi  lalu beliau bersabda : “Wahai para pemuda, barangsiapa di
antara kalian telah mampu, maka hendaknya dia menikah, karena sesungguhnya menikah itu
lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang-siapa belum mampu,
maka hendaknya dia berpuasa, karena puasa merupakan perisai baginya”. (HR. al-Bukhari dan
Muslim)

Keempat: Kedermawanan
Puasa mengajarkan kedermawanan. Rasa lapar dan haus mengingatkan pelaku puasa terhadap
saudara-saudaranya yang selalu lapar, karena memang tidak mempunyai apa yang cukup untuk
dimakan. Dalam kondisi tersebut, apabila dia mempunyai kelebihan rizki, niscaya dia akan
menyalurkannya kepada yang membutuhkan. Di sinilah muncul empati sosial terhadap
penderitaan lapar yang dirasakan sebagian orang lalu diikuti dengan tindakan nyata. Inilah salah
satu bentuk keteladanan yang ditunjukkan oleh Rasulullah . Dari Ibnu Abbas , ia berkata:
َ‫ وَكَانَ َأجْوَدَ مَا يَكُوْنُ فِي رَ َمضَانَ حِْين‬،ِ‫كَانَ رَسُوْلُ ال صلى ال عليه و سلم أَجْوَدَ النّاس‬
‫ فَلَرَسُوْلُ ال‬،َ‫ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآن‬،َ‫ وَكَانَ جِْبرِيْلُ َيلْقَاهُ فِي كُلّ لَيْلَةٍ ِمنْ رَمَضَان‬،ُ‫َيلْقَاهُ جِْبرِيْل‬
ِ‫صلى ال عليه و سلم حِْينَ يَلْقَاهُ جِبْرِْيلُ َأجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرّيْحِ الْمُرْسََلة‬
"Rasulullah  adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan di Bulan
Ramadhan pada saat Jibril menemui beliau, Jibril menemui Nabi setiap malam pada Bulan
Ramadhan lalu mem-bacakan al-Qur`an kepada beliau. Ketika ditemui Jibril, Rasulullah 
benar-benar lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus." (HR. Al-
Bukhari)
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Selain puasa mendidik empat perkara di atas kepada pelakunya, ia juga memberikan kebahagiaan
kepadanya, tidak tanggung-tanggung kebahagiaan ini diraih pada saat di mana ia benar-benar
dibutuhkan.

Pertama: Kebahagiaan terhadap puasa sebagai kaffarat (pelebur) dosa-dosa. Hal ini seperti dalam
kaffarat zhihar, membunuh karena salah, melanggar sumpah, begitu pula dalam haji; haji tamattu'
atau qiran yang tidak mampu menyembelih hadyu, dia berpuasa, muhrim (orang yang sedang
berihram) yang membunuh binatang buruan atau mencukur rambut sebelum waktunya, salah satu
kaffaratnya adalah puasa.

Dosa menyebabkan kecemasan dan ketakutan karena akibatnya yang buruk, manakala disediakan
peleburnya, berarti kecemasan tersebut akan teratasi, pelakunya pun tenang dan berbahagia, sama
halnya dengan peminum racun yang membahayakan, ketika penawarnya ditemukan, dia akan
senang sekali. Nabi  bersabda :
.ُ‫فِتْنَةُ الرّجُلِ فِي أَهِْلهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ تُكَفّرُهَا الصّلَاةُ وَالصّوْمُ وَالصّدَقَة‬
"Fitnah (pelanggaran) seseorang kepada keluarga, harta, anak, dan tetangganya dilebur dengan
shalat, puasa dan sedekah." (HR. al-Bukhari dari Hudzaifah bin al-Yaman)

Kedua: Kebahagiaan terhadap puasa sebagai pemberi syafa'at. Ini terjadi di Hari Kiamat di mana
segala hubungan di antara manusia terputus, tidak ada bantuan dan pertolongan, padahal ia sangat
dibutuhkan. Dalam kondisi tersebut, puasa hadir sebagai pemberi syafa'at. Nabi  bersabda:
ِ‫ مَنَعْتُهُ الطّعَامَ وَالشّهَوَات‬،ّ‫ أَيْ رَب‬:ُ‫ يَقُوْلُ الصّيَام‬.ِ‫اَلصّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَة‬
.ِ‫ مَنَعْتُهُ النّوْمَ بِاللّيْلِ فَشَفّعْنِيْ فِيْه‬:ُ‫ وَيَقُوْلُ الْقُرْآن‬.ِ‫بِالنّهَارِ فَشَفّعْنِيْ فِيْه‬
"Puasa dan al-Qur`an akan memberi syafa'at kepada seorang hamba pada Hari Kiamat. Puasa
berkata, 'Ya Rabbi, aku telah menghala-nginya dari makan dan syahwatnya di siang hari, maka
izinkan aku memberi syafa'at kepadanya.' Al-Qur`an berkata, 'Aku telah menghalanginya dari
tidur di malam hari, maka izinkan aku mem-beri syafa'at kepadanya'.” (HR. Ahmad dari Ibnu
Umar)

Ketiga: Kebahagiaan di saat berbuka, lebih dari itu adalah kebahagiaan terhadap puasa yang
dengannya seorang Muslim bertemu Allah. Nabi  bersabda :
.ِ‫ إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبّهُ فَرِحَ بِصَوْمِه‬،‫لِلصّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْـرحُهُمَا‬
"Orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan yang dinikmati-nya. Apabila dia berbuka
puasa dia berbahagia dan apabila dia ber-temu Rabb-nya, dia berbahagia dengan puasanya.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Keempat: Kebahagiaan terhadap puasa sebagai pengantar ke Surga dan pelindung dari Neraka.
Lebih dari itu disediakan pintu khusus di Surga yang bernama Rayyan, hanya orang-orang yang
berpuasalah yang dipanggil darinya.
‫ إِنّ فِي الْجَنّةِ بَابًا يُقَالُ لَ ُه‬:َ‫َعنْ سَهْلٍ رضي ال عنه َعنِ النّبِيّ صلى ال عليه و سلم قَال‬
َ‫ لَ يَدْخُلُ مِْنهُ َأحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَْينَ الصّائِمُوْن‬،ِ‫ يَدْ ُخلُ مِنْهُ الصّائِمُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَة‬،ُ‫الرّيّان‬
.ٌ‫ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ َأحَد‬،َ‫ فَإِذَا َدخَلُوْا أُغِْلق‬،ْ‫ لَ يَدْ ُخلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُم‬،َ‫فَيَقُ ْومُوْن‬
Dari Sahal  dari Nabi , beliau bersabda: “Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pintu yang
dikenal dengan ar-Rayyan, dari-nya orang-orang yang berpuasa masuk Surga pada Hari
Kiamat, selain mereka tidak masuk darinya. Dikatakan, 'Di mana orang-orang yang berpuasa?'
Lalu mereka berdiri, tidak seorang pun masuk bersama mereka, jika mereka masuk, maka ia
ditutup, maka tidak seorang pun masuk darinya.” (HR. al-Bukhari)

.ُ‫بَارَ َك ال لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَجَعَلَنَا ال مِنَ الّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتّبِعُوْنَ أَحْسَنَه‬
َ‫أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ ال لِيْ وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْن‬

KHUTBAH KEDUA

َ‫اَلْحَمْدُ ل الّذِيْ أَرْ َسلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقّ لِيُظْهِرَهُ َعلَى الدّيْنِ كُلّهِ وَلَوْ كَرِه‬
َ‫الْمُشْرِكُوْن‬
‫أَشْهَدُ أَنْ ل إله إِلّ ال وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا رَسُوْلُ ال‬
(( َ‫)) يَاأَيّهاَ الّذِينَ ءَامَنُوا اتّقُوا ال حَقّ تُقَاِتهِ وَلَ تَمُوتُنّ إِلّ َوأَنتُم مّسْلِمُون‬: ‫قَالَ ال تعال‬
:ُ‫ أَمّا بَعْد‬،َ‫اللهم صَلّ عَلَى مُحَمّدٍ وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ َأجْمَعِيْن‬
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Di khutbah pertama telah kita ketahui bersama bahwa puasa mendidik ketakwaan dan memberi
kebahagiaan kepada pelakunya. Adakah keterkaitan antara ketakwaan dengan kebahagiaan? Erat
sekali. Ketakwaan adalah modal utama kebahagiaan, karena ketak-waan berarti berbuat baik
dengan dilandasi iman, sementara kebahagiaan adalah hilangnya ketakutan dan kesedihan. Ini
hanya diraih oleh orang yang bertakwa. Firman Allah Ta'ala:
َ‫لخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَهُمْ يَحْزَنُون‬
َ َ‫فَمَنِ اتّقَى وَأَصْلَحَ ف‬
"Maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidak-lah ada kekhawatiran
terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al-A'raf: 35)

Dari ayat ini seorang penyair berkata :
ُ‫وَلَسْتُ أَرَى السّعَادَةَ جَمْعَ مَالٍ ولكن التّقِيّ هُوَ السّعِيْد‬
Menurutku kebahagiaan bukan dengan harta yang banyak
Akan tetapi orang yang bertakwalah orang yang berbahagia

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Di samping kebaikan-kebaikan puasa di atas, di mana semua itu kembali kepada sisi rohani,
puasa juga mempunyai kebaikan-kebaikan dari sisi jasmani, makanan di satu sisi dibutuhkan oleh
tubuh, karena ia bermanfaat baginya, akan tetapi di sisi lain ia bisa menjadi sumber penyakit bagi
tubuh, lebih-lebih apabila ia tidak terkontrol dengan baik. Berapa banyak penyakit berbahaya
diakibat-kan oleh makanan: darah tinggi yang dipicu oleh lemak dan kolesterol yang terkandung
di dalam makanan, penyakit gula yang dipicu oleh asupan gula yang terlalu tinggi ke dalam
tubuh, dan masih banyak lagi penyakit-penyakit lainnya yang dipicu oleh makanan. Nabi telah
memperingatkan hal tersebut, beliau  bersabda :
.ٍ‫مَا مََلأَ أدمي وِعَاءً شَرّا مِنْ َبطْن‬
"Manusia tidak mengisi bejana yang lebih buruk daripada perutnya."(HR. at-Tirmidzi)
Di sinilah peran puasa sebagai kontrol dan penyeimbang makanan, sehingga ia bisa
meminimalkan sisi buruknya dan mengoptimalkan sisi baiknya. Dengan puasa, aliran darah di
dalam tubuh menurun, karena pemicunya yaitu makanan, untuk sementara di-hentikan dan ini
sangat membantu penderita penyakit darah tinggi.

Tubuh manusia tidak ubahnya seperti mesin, khususnya perut, yaitu usus-usus dan jaringan
pencernaan, kalau mesin memerlukan waktu rehat demi kebaikannya, maka tubuh juga demikian,
dengan puasa, kita telah memberikan hak istirahat kepadanya, ia pun membersihkan dirinya dari
endapan sisa-sisa makanan, lemak, dan lain-lainnya yang mungkin tertinggal di dalam usus, dan
pada saat ia dibutuhkan untuk bekerja, maka ia pun bekerja dalam kondisi fresh.

Puasa juga bermanfaat membantu perokok menghentikan rokok. Kita semua mengetahui bahwa
rokok sangat membahayakan penghisapnya dan orang-orang di sekitarnya, bahkan produsennya
pun telah menulis bahayanya di bungkusnya, ia memicu berbagai penyakit berat. Hal ini sudah
tidak menjadi perdebatan lagi, di samping ia sama dengan membuang-buang harta. Selama puasa,
kurang lebih empat belas jam perokok bisa tidak merokok. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya
mereka mampu tidak merokok, hanya saja nafsulah yang telah mengalahkan mereka.

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Melihat kebaikan-kebaikan puasa di atas, khatib teringat Fir-man Allah Ta'ala :
َ‫وَأَن تَصُومُوا خَيْرُ لّكُمْ إِن كُنتُمْ تَ ْعلَمُون‬
"Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (Al-Baqarah: 184)

Juga sabda Nabi , "Puasa adalah perisai."

Perisai dari apa? Nabi tidak menjelaskannya secara langsung. Ucapan seperti ini menunjukkan
keumuman. Jadi ia adalah perisai dari dosa, maksiat, neraka, penyakit, dan hal-hal yang tidak
diinginkan lainnya.
‫إِنّ الَ وَمَلَئِكََتهُ يُصَلّونَ عَلَى النّبِيّ يَآأَيّهَا الّذِينَ ءَامَنُوا صَلّوا َعلَيْهِ وَسَلّمُوا تَسْلِيمًا‬
،َ‫ وَعَلَى آلِ ِإبْرَاهِيْم‬،َ‫ كَمَا صَلّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْم‬،ٍ‫ وَ َعلَى آلِ مُحَمّد‬،ٍ‫اللهم صَلّ عَلَى مُحَمّد‬
،َ‫ كَمَا بَارَكْتَ َعلَى إِْبرَاهِيْم‬،ٍ‫ وَ َعلَى آلِ مُحَمّد‬،ٍ‫ اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمّد‬.ٌ‫إِنّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد‬
.ٌ‫ إِنّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد‬،َ‫وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْم‬
‫ رَبّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا‬،ِ‫اللهم اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَات‬
‫ اللهم‬.ِ‫ رَبّنَا آتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِ َرةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّار‬،َ‫لَنَكُونَنّ مِنَ الْخَاسِرِيْن‬
ِ‫ اللهم إِنّا نَعُوْذُ ِبكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوّل‬.‫إِنّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى‬
‫ وَصَلى‬.َ‫ وَآخِرُ َدعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ ل رَبّ الْعَالَمِيْن‬.َ‫عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَ ِطك‬
.َ‫ال عَلَى نَبِيّنَا مُحَمّدٍ وَ َعلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلّم‬
Dikutip dengan beberapa penyesuaian dari buku : kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun
Edisi Kedua, Darul Haq, Jakarta.