You are on page 1of 20

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PRIMARY BONE TUMOR

OLEH: NI KETUT RAHAJENG INTAN HANDAYANI 1002105016

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 2012

A. Konsep Dasar Penyakit

1.

Definisi Pengertian Tumor adalah pertumbuhan sel baru, abnormal, progresif dimana sel-selnya tidak pernah menjadi dewasa. Tumor tulang primer merupakan tumor tulang dimana sel tumornya berasal dari sel-sel yang membentuk jaringan tulang, sedangkan tumor tulang sekunder adalah anak sebar tumor ganas organ non tulang yang bermetastasis ke tulang. Tumor tulang adalah pertumbuhan sel baru, abnormal, progresif, dimana sel-sel tersebut tidak pernah menjadi dewasa. Dengan istilah lain yang sering digunakan Tumor Tulang!, yaitu pertumbuhan abnormal pada tulang yang bisa jinak atau ganas. Tumor tulang merupakan kelainan pada system mus"uloskeletal yang bersifat neoplastik. Tumor dalam arti yang sempit berarti benjolan. #edangkan setiap pertumbuhan yang barudan abnormal disebut neoplasma. Tumor tulang primer adalah neoplasma yang berasal dari sel yang membentuk jaringan tulang sendiri, dikatakan sekunder apabila merupakan anak sebar dari organ lain.

#arkoma osteogenik $ %steosarkoma & merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut. $ Pri"e. 1''() 1*1+ &

%steosarkoma $ sarkoma osteogenik & merupakan tulang primer maligna yang paling seringdan paling fatal. Ditandai dengan metastasis hematogen awal ke paru. Tumor inimenyebabkan mortalitas tinggi karena sarkoma sering sudah menyebar ke paru ketika pasien pertama kali berobat.$ #melt,er. *--1) *+./ &

Kondrosarkoma ialah tumor ganas dengan "iri khas pembentukan jaringan tulang rawan oleh sel-sel tumor dan merupakan tumor ganas tulang primer terbanyak kedua setelah osteosarkoma. Kondrosarkoma merupakan tumor tulang yang terdiri dari sel-sel kartilago $tulang rawan& anaplastik yang berkembang menjadi ganas. Kondrosarkoma biasanya ditemukan pada daerah tulang femur, humerus, kosta dan bagian permukaan pel0is. Tumor ini memiliki banyak "iri dan bentuk perkembangan. Dari pertumbuhan yang lambat hingga pertumbuhan metastasis yang agresif. Kondrosarkoma dapat dibagi menjadi kondrosarkoma primer dan sekunder. 1ntuk keganasan yang berasal dari kartilago itu sendiri disebut kondrosarkoma primer. #edangkan apabila merupakan bentuk degenerasi keganasan dari penyakit lain seperti enkondroma, osteokondroma sekunder dan kondroblastoma ganas disebut kondrosarkoma sekunder. Kondrosarkoma kurang dibandingkan

kondrosarkoma primer. Kondrosarkoma dapat diklasifikasi menjadi tumor sentral atau perifer berdasarkan lokasinya di tulang.

*.

2pidemiologi3insiden kasus 4enurut 2rrol untung hutagalung, seorang guru besar dalam 5lmu 6edah %rthopedy 1ni0ersitas 5ndonesia, dalam kurun waktu 1- tahun $1''7-*--.& ter"atat .77 kasus tumor tulang yang terdiri dari +*/ kasus tumor tulang ganas $/*8& dan 1*( kasus tumor tulang jinak $*(8&. Di 9#:4 jenis tumor tulang osteosarkoma merupakan tumor ganas yang sering didapati yakni **8 dari seluruh jenis tumor tulang dan +1 8 dari seluruh tumor tulang ganas. Dari jumlah seluruh kasus tumor tulang '-8 kasus datang dalam stadium lanjut. Angka harapan hidup penderita kanker tulang men"apai ;-8 jika belum terjadi penyebaran ke paru-paru. #ekitar /78 penderita bertahan hidup sampai 7 tahun setelah penyakitnya terdiagnosis. #ayangnya penderita kanker tulang kerap datang dalam keadaan sudah lanjut sehingga penanganannya menjadi lebih sulit. <ika tidak segera ditangani maka tumor dapat menyebar ke organ lain, sementara penyembuhannya sangat menyakitkan karena terkadang memerlukan pembedahan radikal diikuti kemotherapy. 4enurut #pjut dkk. serta =i"htenstein, kondrosarkoma lebih sering ditemukan pada pria daripada wanita, sedangkan <affe mengatakan, tidak ada perbedaan insidens. Dari segi ras penyakit ini tidak ada perbedaan. 4eskipun tumor ini dapat terjadi pada seluruh lapisan usia, namun terbanyak pada orang dewasa $*--.- tahun&. Tujuh puluh enam persen, kondrosarkoma primer berasal dari dalam tulang $sentral& sedangkan kondrosarkoma sekunder banyak ditemukan berasal dari tumor jinak seperti osteokondroma atau enkondroma yang mengalami transformasi. Pasien dengan ollier>s disease $enkondromatosis multipel& atau maffu""i>s syndrome $enkondroma multipel ? hemangioma& memiliki resiko lebih tinggi untuk menjadi kondrosarkoma daripada orang-orang normal dan sering sekali mun"ul pada dekade ketiga dan keempat. Di Amerika #erikat, kondrosarkoma merupakan tumor terbanyak kedua dari .-- jenis tulang ganas primer dengan jumlah kasus *78 dari seluruh keganasan tulang primer dan sekitar 118 dari seluruh keganasan tulang. #etiap tahun, terdapat '- kasus baru kondrosarkoma.

+.

Penyebab3faktor predisposisi 2tiologi tumor tulang primer belum diketahui se"ara pasti, tetapi ada berbagai ma"am faktor predisposisi sebagai penyebab tumor tulang primer. Adapun faktor predisposisi yang dapat menyebabkan antara lain )

a.

Trauma %steosar"oma dapat terjadi beberapa bulan atau beberapa tahun setelah terjadinya injuri. @alaupun demikian trauma ini tidak dapat dianggap sebagai penyebab utama karena tulang yang fraktur akibat trauma ringan maupun parah jarang menyebabkan tumor tulang primer.

b.

2kstrinsik karsinogenik Penggunaan substansi radioaktif dalam jangka waktu lama dan melebihi dosis juga diduga merupakan penyebab terjadinya tumor tulang primer ini. #alah satu "ontoh adalah radium. 9adiasi yang diberikan untuk penyakit tulang seperti kista tulang aneurismal, fibrous displasia, setelah +-.- tahun dapat mengakibatkan tumor tulang primer.

".

Karsinogenik kimia Ada dugaan bahwa penggunaan thorium untuk penderita tuber"ulosis mengakibatkan 1. dari 7+ pasien berkembang menjadi tumor tulang primer.

d.

Airus Penelitian tentang 0irus yang dapat menyebabkan tumor tulang primer baru dilakukan pada hewan, sedangkan sejumlah usaha untuk menemukan on"ogenik 0irus pada tumor tulang primer manusia tidak berhasil. @alaupun beberapa laporan menyatakan adanya partikel seperti 0irus pada sel tumor tulang primer dalam kultur jaringan. 6ahan kimia, 0irus, radiasi, dan faktor trauma. Pertumbuhan yang "epat dan besarnya ukuran tubuh dapat juga menyebabkan terjadinya tumor tulang primer selama masa pubertas. Bal ini menunjukkan bahwa hormon seC penting walaupun belum jelas bagaimana hormon dapat mempengaruhi perkembanagan tumor tulang primer.

e. *.

Keturunan $ geneti"& Patofisiologi terjadinya penyakit Patofisiologi kondrosarkoma primer maupun sekunder adalah terbentuknya kartilago oleh

sel-sel tumor tanpa disertai osteogenesis. #el tumor hanya memproduksi kartilago hialin yang mengakibatkan abnormalitas pertumbuhan tulang dan kartilago. #e"ara fisiologis, kondrosit yang mati dibersihkan oleh osteoklas kemudian dareah yang kosong itu, diin0asi oleh osteoblasosteoblas yang melakukan proses osifikasi. Proses osifikasi ini menyebabkan diafisis bertambah panjang dan lempeng epifisis kembali ke ketebalan semula. #eharusnya kartilago yang diganti oleh tulang di ujung diafisis lempeng memiliki ketebalan yang setara dengan pertumbuhan kartilago baru di ujung epifisis lempeng. Damun pada kondrosarkoma proses osteogenesis tidak terjadi, sel-sel kartilago menjadi ganas dan menyebabkan abnormalitas penonjolan tulang, dengan berbagai 0ariasi ukuran dan lokasi. Proses keganasan kondrosit dapat berasal dari perifer atau sentral. Apabila lesi awal dari kanalis intramedular, di dalam tulang itu sendiri dinamakan kondrosarkoma sentral sedangkan kondrosarkoma perifer apabila lesi dari permukaan tulang seperti kortikal dan periosteal. Tumor kemudian tumbuh membesar dan mengikis korteks sehingga menimbulkan reaksi periosteal pada formasi tulang baru dan soft tissue.

+.

Klasifikasi Klasifikasi keganasan didasarkan

1. =uas penyebaran menurut TD4 yaitu penyebaran setempat dan metastasis *. Derajat keganasan se"ara histologik berdasar derajat deferensiasi sel, akti0itas mitosis +. Ke"epatan perkembangan gambaran klinik .. <aringan tulang berasal dari mesoderm yang dapat berdeferensiasi menjadi ) %steoblast,
%steo"last, :hondroblast, Eibroblast 3 kolagenoblast, 4eiloblast Klasifikasi tu !" #$#%&%"'%( %t%& %&%) &*), sehingga dibagi menjadi kelompok ) 1. Kelainan tulang reaktif %steogenik Kolagenik %steogenik Kondrogenik Kolagenik ) %steoma osteoid, %steoblastoma benigna ) Defek kortikal subperiosteal ) %steoma, %steokondroma ) 2ndokondroma ) Angioma, Kista tulang aneurisma.

*. Bamartoma

+. Deoplasma tulang sejati a. Tumor yang membentuk tulang $%steogenik& <inak ) - %steoid %steoma Fanas)-%steosarkoma - %steoblastoma - Parosteal %steosarkoma - %steoma b. Tumor yang membentuk tulang rawan $Kondrogenik& <inak )- Kondroblastoma Fanas)-Kondrosarkoma - Kondromiksoid Eibroma - 2nkondroma ". O&t*!'!(#"! % Tumor jaringan ikat $Eibrogenik& <inak ) - Don %ssifying Eibroma Fanas ) - Eibrosarkoma d. Tumor sumsum tulang $4yelogenik& 4yeloma sel plasma, Tumor 2wing, #arkoma sel reti"ulum, Penyakit Bodkin

..

Fejala Klinis

Dyeri dan3 atau pembengkakan ekstremitas yang terkena $biasanya menjadi semakin parah pada malam hari dan meningkat sesuai dengan progresi0itas penyakit&. Fejala yang paling sering mun"ul berupa rasa sakit, yang pada awalnya ringan dan hilang timbul, tetapi se"ara "epat menjadi lebih berat dan menetap Eraktur patologik. Penyakit ini diawali gejala-gejala seperti pembengkakan progresif disertai rasa nyeri dan demam. Kadang disertai trauma, misalnya jatuh, yang berakibat pada patah tulang yang terjadi di daerah tumbuhnya kanker. Patah tulang atau fraktur patologis itu seringkali terjadi karena adanya gerakan rutin. Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang terbatas. Pasien dapat mengeluhkan adanya pembengkakan, tergantung dari ukuran massa dan lokasinya . Karena keganasan ini sering mun"ul di metafise dekat dengan persendian, maka hal ini dapat mempengaruhi fungsi persendian. Teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya pelebaran 0ena. Deoplasma yang agresif ini menimbulkan kemerahan dan rasa hangat di kulit. Fejala-gejala penyakit metastatik meliputi nyeri dada, batuk, demam, berat badan menurun dan malaise. Pasien dengan dugaan tumor akan ditemukan penurunan berat badan dan gejala anemia. Anemia dapat terjadi akibat adanya penempatan sel-sel neoplasma pada sum-sum tulang, hal ini mengakibatkan terjadinya hiperkalsemia, hiperkalsiuria dan hiperurisemia selama adanya kerusakan tulang. #el-sel plasma ganas akan membentuk sejumlah immunoglobulin3ben"e jone protein abnormal. Bal ini dapat dideteksi melalui serum urin dengan teknik immunoelektrophoresis.

7.

Pemeriksaan Eisik Pemeriksaan fisik biasanya terbatas pada tumor primer. Teraba massa yang lunak dan hangat. 4eningkatnya 0askularisasi kulit di daerah tumor, pulsasi atau bruit dapat ditemukan. 4enurunnya pergerakan sendi atau range of motion menunjukkan persendian ikut terkena. Fangguan pernafasan dapat ditemukan apabila telah terjadi penyebaran luas ke paru-paru.

Fambaran klinis pasien dengan osteosarkoma

;.

Pemeriksaan diagnostik3Penunjang

a. Pemeriksaan =aboratorium
Pemeriksan laboratorium merupakan pemeriksaan tambahan3 penunjang dalam membantumenegakkan diagnosis tumor. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan meliputi)

Darah. Pemeriksaan darah meliputi pemeriksaan laju endap darah, haemoglobin,fosfatase alkali serum, elektroforesis protein serum, fosfatase asam serum yangmemberikan nilai diagnostik pada tumor ganas tulang.

1+

1rine . Pemeriksaan urine yang penting adalah pemeriksaan protein 6en"e-<ones.

b. 9adiologi
R%#$!,"%-$ Pemeriksaan G-ray merupakan modalitas utama yang digunakan untuk in0estigasi. Pemeriksaan radiologik merupakan pemeriksaan yang penting dalam usaha menegakan diagnosis tumor tulang. Diagnosis pasti dapat juga ditegakan dengan pemeriksaan radiologis. Ketika di"urigai adanya osteosarkoma, 495 digunakan untuk menentukan distribusi tumor pada tulang dan penyebaran pada jaringan lunak sekitarnya. :T kurang sensitif apabila dibandingkan dengan 495 untuk e0aluasi lokal dari tumor namun dapat digunakan untuk mendeteksi metastase pada tulang atau tumor syn"horonous, tetapi 495 seluruh tubuh dapat menggantikan bone s"an. 6eberapa hal yang perlu diingat kembali dalam rangka menganalisis tumor tulang pada foto rontgen adalah ) pada anak-anak tulang panjang dibagi dalam epifisis, metafisis, dan diafisis. Antara metafisis dan epifisis terdapat lempeng epifisis.neonatus banyak epifisis tulang belum mengalami osifikasi sehingga belum dapat dilihat pada foto rontgen. Tulang terdiri atas + komponen yaitu korteks, spongiosa, dan periost. Korteks dan spongiosa dapat dilihat pada foto rontgen, tetapi periost tidak. 6ila karena suatu proses dalam tulang, misalnya radang atau neoplasma, periost mengalami iritasi atau terangkat, maka periost akan membentuk tulang dibawahnya yang dikenal sebagai periosteal. Fambaran reaksi periosteal berma"am-ma"an 6erupa garis-garis yang sejajar dengan korteks disebut lamelar 6erupa garis-garis yang tegal lurus pada korteks disebut sunray appearan"e 6erupa seperti renda, dan sebagainya

Pada osteosarkoma terdapat + gambaran radiologi, yaitu Fambaran osteolitik, dimana proses destruksi merupakan proses utama. tumor tumbuh dari ujung metaphisis kearah diaphisis dan sedikit reaksi periosteal dan terjadi destruksi korteks. 6entuk ini mempunyai batas tak tegas dengan gambaran spikula dan segitiga "odmann $"odmann triangle&. Pada "odmann>s triangle ini biasanya terjadi kalsifikasi dan pembengkakan Fambaran osteoblastik, yang diakibatkan oleh banyak pembentukan tumor tulang. Fambaran tumor tampak lebih putih dengan batas irreguler. Pada bentuk ini terjadi kalsifikasi jaringan lunak sehingga densitas meningkat, terdapat pula reaksi periosteal berupa sunray atau sun burst. #unray terjadi sebelum metastase tumor, berupa garis- garis tipis $seperti sinar& yang tegak lurus dengan aksis tulang. Kortek menuju ke jaringan lunak dan menyebabkan jaringan lunak bengkak. #unburst merupakan gambaran seprti ledakan matahari. 2+ Fambaran "ampuran antara proses destruksi dan proses pembentukan tumor tulang ./R%0 Tampak tanda-tanda destruksi tulang yang berawal pada medula dan terlihat sebagai daerah yang radiolusen dengan batas yang tidak tegas. Pada stadium yang masih dini terlihat reaksi periosteal yang gambarannya dapat lamelar atau seperti garis-garis tegak lurus pada tulang $ sunray appearance &. Dengan membesarnya tumor, selain korteks juga tulang subperiosteal akan dirusak oleh tumor yang meluas keluar tulang. Dari reaksi periosteal itu hanya sisanya yaitu pada tepi yang masih dapat dilihat, berbentuk segitiga dan dikenal sebagai segitiga :odman. Pada kebanyakan tumor ini terjadi penulangan $ ossifikasi & dalam jaringan tumor sehingga gambaran radiologiknya 0ariable bergantung pada banyak sedikitnya penulangan yang terjadi. Pada stadium dini gambaran tumor ini sukar dibedakan dengan osteomielitis. Pemeriksaan G-ray didapat berma"am-ma"am gambaran, yaitu daerah berawan osteolitik yang disertai dengan daerah osteoblastik. 6atas endosteal kurang jelas.

Terkadang korteks terbuka dan tumor melebar ke jaringan sekitarnya, saat itulah terbentuk suatu garis tulang baru, melebar keluar dari korteks yang disebut efek sunrays. Ketika tumor keluar dari korteksnya terjadi reakti0asi pembentukan tulang baru yang menyebabkan peningkatan periosteum $segitiga :odman&. Kedua gambaran itu merupakan tanda khas untuk osteosar"oma.

* mineralisasi osteoid diantara jaringan lunak.

1. Eoto polos dari osteosarkoma dengan gambaran :odman triangle $arrow& dan difus, *. Perubahan periosteal berupa :odman triangles $white arrow& dan masa jaringan lunak yang luas $bla"k arrow&. +. 9eaksi periosteal ketika tumor telah menembus kortek, sunburst appearan"e

1+

2T S3%( :T dapat berguna se"ara lokal ketika gambaran foto polos membingungkan, terutama pada area dengan anatomi yang kompleks $"ontohnya pada perubahan di mandibula dan maksila pada osteosarkoma gnathi" dan pada pel0is yang berhubungan dengan osteosarkoma sekunder&. Fambaran "ross-se"tional memberikan gambaran yang lebih jelas dari destruksi tulang dan penyebaran pada jaringan lunak sekitarnya daripada foto polos. :T dapat memperlihatkan matriks mineralisasi dalam jumlah ke"il yang tidak terlihat pada gambaran foto polos. :T terutama sangat membantu ketika perubahan periosteal pada tulang pipih sulit untuk diinterpretasikan. :T jarang digunakan untuk e0aluasi tumor pada tulang panjang, namun merupakan modalitas yang sangat berguna untuk menentukan metastasis pada paru. :T sangat berguna dalam e0aluasi berbagai osteosarkoma 0arian. Pada osteosarkoma telangie"tati" dapat memperlihatkan fluid level, dan jika digunakan bersama kontras dapat membedakan dengan lesi pada aneurysmal bone "yst dimana setelah kontras diberikan maka akan terlihat peningkatan gambaran nodular disekitar ruang kistik.

1 1. :T s"an, aCial 0iewH osteosar"oma of proCimal tibia

*. :T #"an) Telangie"tati" %steosar"oma of ProCimal Tibia

+. Gray) Telangie"tati" %steosar"oma of ProCimal Tibia .. 495) Telangie"tati" %steosar"oma of ProCimal Tibia 4ultiple Eluid-Eluid =e0els
are Demonstrated

4+

MRI 495 merupakan modalitas untuk menge0aluasi penyebaran lokal dari tumor karena kemampuan yang baik dalam interpretasi sumsum tulang dan jaringan lunak. 495 merupakan tehnik pen"itraan yang paling akurat untuk menentuan stadium dari osteosarkoma dan membantu dalam menentukan manajemen pembedahan yang tepat. 1ntuk tujuan stadium dari tumor, penilaian hubungan antara tumor dan kompartemen pada tempat asalnya merupakan hal yang penting. Tulang, sendi dan jaringan lunak yang tertutupi fas"ia merupakan bagian dari kompartemen. Penyebaran tumor intraoseus dan ekstraoseus harus dinilai. Eitur yang penting dari penyakit intraoseus adalah jarak longitudinal tulang yang mengandung tumor, keterlibatan epifisis, dan adanya skip metastase. Keterlibatan epifisis oleh tumor telah diketahui sering terjadi daripada yang diperkirakan, dan sulit terlihat dengan gambaran foto polos. Keterlibatan epifisis dapat didiagnosa ketika terlihat intensitas sinyal yang sama dengan tumor yang terlihat di metafisis yang berhubungan dengan destruksi fokal dari lempeng pertumbuhan. Skip metastase merupakan fokus synchronous dari tumor yang se"ara anatomis terpisah dari tumor primer namun masih berada pada tulang yang sama. Deposit sekunder pada sisi lain dari tulang dinamakan transarticular skip metastase. Pasien dengan skip metasase lebih sering mempunyai ke"enderungan adanya metastase jauh dan inter0al sur0i0al bebas tumor yang rendah. Penilaian dari penyebaran tumor ekstraoseus melibatkan penentuan otot manakah yang terlibat dan hubungan tumor dengan struktur neuro0as"ular dan sendi sekitarnya. Bal ini penting untuk menghindari pasien mendapat reseksi yang melebihi dari kompartemen yang terlibat. Keterlibatan sendi dapat didiagnosa ketika jaringan tumor terlihat menyebar menuju tulang subartikular dan kartilago.

5+

U)t"%&!u(#

1ltrasonography tidak se"ara rutin digunakan untuk menentukan stadium dari lesi. 1ltrasonography berguna sebagai panduan dalam melakukan per"utaneous biopsi. Pada pasien dengan implant prostetik, 1ltrasonography mungkin merupakan modalitas pen"itraan satu satunya yang dapat menemukan rekurensi dini se"ara lokal, karena penggunaan :T atau 495 dapat menimbulkan artefak pada bahan metal. 4eskipun ultrasonography dapat memperlihatkan penyebaran tumor pada jaringan lunak, tetapi tidak bisa digunnakan untuk menge0aluasi komponen intermedula dari lesi.

/.

Diagnosis3kriteria diagnosis 1ntuk menetapkan diagnosis tumor tulang diperlukan beberapa hal, yaitu) A(% (*&$& Anamnesis penting artinya untuk mengetahui riwayat kelainan atau trauma sebelumnya. Perlu pula ditanyakan riwayat keluarga apakah ada yang menderita penyakit yang sejenis misalnya diafisial aklasia yang bersifat herediter. 6eberapa hal yang perlu diperhatikan dalam anamnesis adalah) 1. 1mur 1mur penderita sangat penting untuk diketahui karena banyak tumor tulang yang mempunyai kekhasan dalam umur terjadinya, misalnya osteogenik sarkoma ditemukan pada anak sampai sebelum dewasa muda, kondrosarkoma pada umur .- tahun, giant "ell tumor jarang ditemukan di bawah umur *- tahun. *. =ama dan perkembangan $progresifitas& tumor Tumor jinak biasanya berkembang se"ara perlahan dan bila terjadi perkembangan yang "epat dalam waktu singkat atau suatu tumor yang jinak tiba-tiba menjadi besar maka perlu di"urigai adanya keganasan. +. Dyeri Dyeri merupakan keluhan utama pada tumor ganas. Adanya nyeri menunjukkan tanda ekspansi tumor yang "epat dan penekanan ke jaringan sekitarnya, perdarahan atau degenerasi. .. Pembengkakan Kadang-kadang penderita mengeluhkan adanya suatu pembengkakan, yang timbul se"ara perlahan-lahan dalam jangka waktu yang lama atau se"ara tiba-tiba. P* *"$'&%%( K)$($' Bal-hal yang penting pada pemeriksaan klinik adalah) 1. =okasi 6eberapa jenis tumor mempunyai lokasi yang klasik dan tempat-tempat predileksi tertentu seperti di daerah epifisis, metafisis tulang, atau menyerang tulang-tulang tertentu

misalnya osteoma pada daerah tengkorak, osteogenik sarkoma pada daerah metafisis, osteoblastoma di daerah 0ertebra. *. 6esar, bentuk, batas dan sifat tumor Tumor yang ke"il kemungkinan suatu tumor jinak, sedangkan tumor yang besar kemungkinan adalah tumor ganas. Penting pula diperhatikan bentuk tumor apakah disertai pelebaran pembuluh darah atau ulkus yang merupakan karakteristik suatu tumor ganas. Tanda-tanda efusi sendi mungkin dapat ditemukan pada tumor yang berdekatan dengan sendi. +. Fangguan pergerakan sendi Pada tumor yang besar di sekitar sendi akan memberikan gangguan pada pergerakan sendi. .. #pasme otot dan kekakuan tulang belakang Apabila tumor terdapat pada daerah tulang belakang, baik jinak atau ganas, dapat memberikan spasme3kekakuan otot tulang belakang. 7. Eraktur patologis 6eberapa tumor ganas dapat memberikan komplikasi fraktur patologis oleh karena terjadi kerapuhan pada tulang sehingga penderita akan datang dengan gejala fraktur.

(.

Theraphy3tindakan penanganan Preoperatif kemoterapi diikuti dengan pembedahan limb sparing dan diikuti dengan postoperatif kemoterapi merupakan standar manajemen. %steosarkoma merupakan tumor yang radioresisten, sehingga radioterapi tidak mempunyai peranan penting dalam manajemen rutin. %5 M*#$'% *(t!&% #ebelum penggunaan kemoterapi osteosarkoma ditangani se"ara primer hanya dengan pembedahan $amputasi&. 4eskipun dapat mengontrol tumor se"ara lokal dengan baik, lebih dari (-8 pasien menderita rekurensi tumor yang biasanya berada pada paru-paru. Tingginya tingkat rekurensi mengindikasikan bahwa saat diagnosis pasien mempunyai mikrometastase. %leh karena hal tersebut maka penggunaan adju0ant terapi sangat penting pada penanganan pasien dengan osteosarkoma. Pada penelitian terlihat bahwa adju0ant kemoterapi efektif dalam men"egah rekurensi pada pasien dengan tumor primer lokal yang dapat diredeksi. Penggunaan neoadju0ant kemoterapi terlihat tidak hanya mempermudah pengangkatan tumor karena ukuran tumor telah menge"il, namun juga dapat memberikan parameter faktor prognosa. %bat yang efektif adalah DeCorubi"in, 5fosfamide, :isplatin, dan 4ethroteCate tinggi dosis tinggi dengan =eu"o0orin. 65 P* 6*#%7%( Tujuan utama dari reseksi adalah keselamatan pasien. 9eseksi harus sampai batas bebas tumor. #emua pasien dengan osteosarkoma harus menjalani pembedahan jika memungkinan

reseksi dari tumor primer. Tipe dari pembedahan yang diperlukan tergantung dari beberapa faktor yang harus di e0aluasi dari pasien se"ara indi0idual. 6atas radikal didefinisikan sebagai pengangkatan seluruh kompartemen yang terlihat $tulang, sendi, otot& biasanya tidak diperlukan. Basil dari kombinasi kemoterapi dengan reseksi terlihat lebih baik jika dibandingkan dengan amputasi radikal tanpa terapi adju0ant, degan tingkat 7 year sur0i0al rate sebesar 7--/-8 dan sebesar *-8 pada penanganan sengan hanya radikal amputasi. Eraktur patologis dengan kontaminasi semua kompartemen dapat mengekslusikan penggunaan terapi pembedahan limb sal0age, namun jika dapat dilakukan pembedahan dengan reseksi batas bebas tumor maka pembedahan limb sal0age dapat dilakukan. Pada beberapa keadaan amputasi mungkin merupakan pilihan terapi, namun lebih dari (-8 pasien dengan osteosarkoma pada ekstremitas dapat ditangani dengan pembedahan limb sal0age dan tidak membutuhkan amputasi. <ika memungkinkan maka dapat dilakukan rekonstruksi limb sal0age yang harus dipilih berdasarkan konsiderasi indi0idual sebagai berikut ) Autologus bone graft ) hal ini dengan atau tanpa 0askularisasi. Penolakan tidak mun"ul pada tipe graft ini dan tingkat infeksi rendah. Pada pasien yang mempunyai lempeng pertumbuhan yang imatur mempunyai pilihan yang terbatas untuk fiksasi tulang yang syabil $osteosynthesis&. Allograft ) penyembuhan graft dan infeksi dapat menjadi permasalahan terutama selama kemoterapi. Dapat pula mun"ul penolakan graft. Prothesis) rekonstruksi sendi dengan menggunakan protesis dapat soliter atau eCpandable, namun hal ini membutuhkan biaya yang besar. Durabilitas merupakan permasalahan tersendiri pada pemasangan implant untuk pasien remaja. 9otationplasty ) teknik ini biasanya sesuai untuk pasien dengan tumor yang berada pada distal femur dan proCimal tibia, terutama bila ukuran tumor yang besar sehingga alternatif pembedahan hanya amputasi. #elama reseksi tumor pembuluh darah diperbaiki dengan "ara end to end anastomosis untuk mempertahankan patensi dari pembuluh darah. Kemudian bagian distal dari kaki dirotasi 1(- derajat dan disatukan dengan bagian proksimal dari reseksi. 9otasi ini dapat membuat sendi ankle menjadi sendi knee yang fungsional. 9ese"tion of pulmonary nodul ) nodul metastase pada paru-paru dapat disembuhkan se"ara total dengan reseksi pembedahan. 9eseksi lobar atau pneumone"tomy biasanya siperlukan untuk mendapatkan batas bebas tumor. Prosedur ini dilakukan pada saat yang sama dengan pembedahan tumor primer. 4eskipun nodul yang bilateral dapat di reseksi melalui media sternotomy, namun lapangan pembedahan lebih baik jika menggunakan

lateral thora"otomy. %leh karena itu direkomendasikan untuk melakukan bilateral thora"otomy untuk metastase yang bilateral $masing masing dilakukan terpisah selama beberapa minggu&.

'.

Komplikasi 9isiko-risiko utama yang berhubungan dengan operasi termasuk infeksi, kekambuhan dari kanker, dan luka pada jaringan-jaringan yang mengelilinginya. Dalam rangka untuk mengangkat seluruh kanker dan mengurangi risiko kekambuhan, beberapa jaringan normal yang mengelilinginya harus juga diangkat. Tergantung pada lokasi dari kanker, ini mungkin memerlukan pengangkatan dari porsi-porsi dari tulang, otot, syaraf-syaraf, atau pembuluhpembuluh darah. 5ni dapat menyebabkan kelemahan, kehilangan sensasi, dan risiko dari patah tulang atau patah tulang dari tulang yang tersisa. 1. 2fek proses kemoterapi Kemoterapi menggunakan obat-obat yang sangat kuat untuk men"oba membunuh sel-sel kanker. Tetapi sebagai akibatnya beberapa sel-sel normal juga terbunuh dalam prosesnya. %bat-obat diran"ang untuk membunuh sel-sel yang membelah atau tumbuh se"ara "epat. #el-sel normal yang terpengaruh seringkali termasuk rambut, sel-sel pembentuk darah, dan sel-sel pelapis sistim pen"ernaan. 2fek-efek sampingan termasuk mual dan muntah, kehilangan rambut, infeksi, dan kelelahan. 1ntungnya, efek-efek sampingan ini biasanya hilang setelah kemoterapi selesai. Dutrisi yang baik adalah penting untuk tubuh jika mengalami mual dan kehilangan nafsu makan. 2fek-efek sampingan utama dari terapi radiasi termasuk kelelahan, kehilangan nafsu makan, dan kerusakan pada kulit dan jaringan-jaringan lunak sekelilingnya. Terapi radiasi sebelumnya dapat juga meningkatkan risiko persoalan-persoalan luka dari operasi pada area yang sama. *. Ke"a"atan Apabila dilakukan proses pengangkatan kanker melalui penghilangan organ, maka ke"a"atan pasien tidak akan bisa dihindari.kanker tulang bisanya juga dapat menimbulkan patah tulang yang disebut fraktur patologis. +. Kematian Eakta penyebab kematian akibat kanker) Kesulitan diagnosis oleh dokter patologi tulang. 4inimnya peralatan diagnosis yang tersedia dan sulitnya mendeteksi sel-sel kanker yang diderita pasien apakah tergolong jinak atau ganas. untuk melawan kanker. mungkin dirujuk pada ahli nutrisi untuk membantu dengan ini, terutama

1mumnya pasien datang ketika penyakit sudah berada pada stadium akhir. Pengobatannya akan menjadi sulit, dan angka harapan hidup semakin ke"il. 4asalah sosial ekonomi. Penyakit kanker memang tergolong masih sulit diobati, belum lagi biaya pengobatan sangat mahal. 4asalah biaya sering menjadi alasan pasien untuk tidak berobat. 6ahkan, banyak pasien yang menolak dioperasi karena tidak memiliki biaya. Pengobatan dengan kemoterapi memiliki efek samping yang menyakitkan, sehingga membuat pasien menyerah dan menghentikan terapi. Kurangnya pengetahuan tentang kanker dan pengobatannya, membuat banyak orang memutuskan untuk memilih pengobatan alternatif yang biayanya relatif lebih murah, meskipun kenyataannya itu malah membahayakan kehidupan pasien.

6. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1.

Pengkajian $data #ubjektif dan %bjektif& D# ) Klien melaporkan adanya penurunan berat badan Klien mengeluh tidak bisa melakukan akti0itas sendiri karena tumor pada ekstremitas Klien mengeluh nyeri pada area tumor3pembengkakan Klien melaporkan kesulitan tidur Klien merasa malu dengan kakinya karena terdapat benjolan3tumor Klien melaporkan adanya demam

D% ) pembengkakan pada atau di atas tulang atau sendi kulit di sekitar area sarkoma berwarna kemerahan terjadi pergerakan yang terbatas $berjalan pin"ang, keterbatasan dalam melakukan akti0itas, dan tidak mampu menahan objek berat& Teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya pelebaran 0ena Dyeri tekan atau nyeri lokal pada sisi yang sakit Klien mengalami penuruan 66 Diagnosa keperawatan yang mungkin mun"ul

*.

Bambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kemampuan pergerakan ditandai dengan klien tidak mampu untuk mobilisasi

Dyeri akut berhubungan dengan agen "edera mekanik ditandai dengan melaporkan nyeri se"ara 0erbal Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan menyerap nutrisi ditandai dengan kehilangan berat badan dengan asupan makanan yang tidak memadai

Bipertermia berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme ditandai dengan peningkatan suhu tubuh di atas kisaran normal. Fangguan "itra tubuh berhubungan dengan penyakit ditandai dengan 0erbalisasi perasaan yang men"erminkan perubahan pandangan tentang tubuh klien dan perubahan a"tual pada tubuh Fangguan pola tidur berhubungan dengan perubahan dalam pri0asi tidur ditandai dengan perubahan dari tidur yang biasanya 9esiko jatuh berhubungan dengan penurunan kekuatan ekstremitas bawah, gangguan mobilitas fisik dan neoplasma

+. ..

9en"ana Asuhan Keperawatan Terlampir 20aluasi Terlampir

DAFTAR PUSTAKA 6runner and #uddart. *--1. Keperawatan Medikal Bedah. Vol 3. Ed 8. <akarta) 2F:. Pri"e, #yl0ia Anderson. 1''7. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit Edisi !. <akarta) 2F:. #mith, Kelly. *-1-. "anda #iagnosa Keperawatan. Iogyakarta) Digna Pustaka. Do"hterman, <oanne 4""loskey. *---. "ursing $ntervention %lassification. Ameri"a) 4osby. #wanson, 2li,abeth. *--.. "ursing &utco'e %lassification. Ameri"a) 4osby 6erikan informasi faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis