You are on page 1of 3

Nama : Nurul Rohmawati W NPM : 10 186 Smt/Kelas : 7/C Hak Atas Kekayaan Intelektual Copyleft

A. Sejarah Copyleft Kata Copyleft diperkenalkan oleh Richard Stallman, yaitu seorang programmer komputer yang bekerja untuk Massachusets Institute of Technology (MIT) pada akhir tahun 1970-an. Pada saat itu, pekerjaan programming sangat bernuansa kerjasama. Saling tukar source code dari suatu program tidak hanya menjadi suatu hal yang biasa, bahkan telah menjadi budaya dan seolah-olah menjadi suatu kewajiban, tentunya menurut kode etik dan hukum tidak tertulis dari komunitas programmer tersebut. Pada awal tahun 1980-an, lanskap industri software berubah drastis karena beberapa perusahaan pengembang software mulai mendistribusikan program komputer tanpa disertai source code nya. Akibatnya, para programmer tidak bisa lagi mempelajari substansi dari program komputer tersebut. Hal ini secara langsung mengubah budaya kerja para programmer, karena mereka tidak lagi bisa saling membantu dalam memperbaiki atau meningkatkan kemampuan suatu program komputer. Hanya programmer di perusahaan yang menyimpan source code-nya saja yang bisa memperbaiki, memodifikasi, atau mengembangkan program komputer tersebut. Budaya kerjasama dan kebersamaan pun hilang, digantikan oleh budaya korporat kapitalis yang hanya melihat program komputer sebagai mesin uang. Dalam perkembangannya, program komputer tanpa source code yang sudah menjadi mesin uang tersebut mereka jaga untuk senantiasa beroperasi dengan memanfaatkan rezim hukum Copyright. Caranya ialah dengan membuat berbagai tipe lisensi untuk produk yang secara esensial sebenarnya sama. Misalnya, untuk kalangan individu-non komersial mereka sebut End-User License, untuk kalangan komersial mereka sebut Corporate License, dan untuk kalangan pelajar dan mahasiswa mereka sebut Academic License. Lalu jika produknya sama, apa perbedaan yang dirasakan oleh pembeli dari masing-masing lisensi tersebut? Jawabannya adalah: Harga. Dan dengan berlindung di balik rezim hukum Hak Cipta, para borjuis produsen closed source/propietary program komputer menjual produknya dengan harga yang sangat tinggi kepada masyarakat dan turut serta melatih, mendukung, dan menjadi saksi ahli bagi pihak kepolisian untuk memenjarakan para pelaku pembajakan. Padahal, jika mereka memang berniat baik untuk mencerdaskan bangsa dan menghapus pembajakan caranya sangatlah mudah: distribusikanlah program komputer tersebut dengan source code-nya dan murahkan-lah harganya.

Stallman mencoba melawan budaya korporat tersebut dan mempertahankan budaya kerjasama antara para programmer. Caranya adalah dengan membuat program komputer yang didistribusikan dengan bersama source code-nya, yang dia sebut sebagai Free Software. Karena setelah keluar dari MIT, Stallman tidak memiliki pekerjaan, Ia mencoba menawarkan Free Software ciptaannya dengan harga tertentu untuk memperoleh penghasilan. Ternyata, jualannya Stallman cukup sukses. Banyak programmer yang membelinya. Stallman pun membentuk lembaga untuk mengelola pendistribusian itu yang disebutnya Free Software Foundation. Kemudian Stallman memanfaatkan haknya sebagai pencipta dan pemegang hak cipta atas software tersebut untuk mendesain tipe lisensi yang diniatkannya untuk memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada setiap orang untuk dapat mempelajari program komputer ciptaannya. Suatu lisensi yang diharapkannya akan mendorong kembalinya kerjasama antar para programmer komputer. Lisensi tersebut kemudian dia populerkan dengan istilah: Copyleft. Jadi, Copyleft, sebagaimana yang Stallman sendiri katakan, adalah suatu distribution term atau istilah pemasaran. Kalau mau dicari padanannya, kata itu setara dengan kata, misalnya, MLM (Multi Level Marketing) yang merupakan suatu kata dalam konteks pemasaran dan bukan suatu istilah hukum yang tercantum dalam suatu peraturan. Produk yang dipasarkan dengan sistem Copyleft adalah Free Software yang disebutnya sebagai GNU Software. Sebagai suatu tipe lisensi, Copyleft merefleksikan 4 macam izin yang diberikan oleh pencipta/pemegang hak ciptanya kepada siapa saja, yaitu: (1) Izin untuk menjalankan program (free to run the program); (2) Izin untuk memperbanyak program (free to copy the program); (3) Izin untuk memodifikasi program (free to modify the program); dan (4) Izin untuk mendistribusikan program hasil modifikasi (free to distribute modified copy). Dan karena pendistribusian program ini dapat dilakukan dengan cara jual-beli, maka kata free disini tidak berarti gratis atau zero price. Kata free disini berarti: FREEDOM atau kebebasan. Dalam perkembangannya, software yang didistribusikan dengan source code ada yang disebut sebagai Open Source Software. Lalu kata free dalam Copyleft license kemudian populer dalam bahasa perancis, yaitu Libre. Dan saat ini, gabungan antara kata Free Software, Open Source Software, dan Libre Software kemudian berujung pada akronim yang disebut FLOSS atau Free/Libre/Open Source Software. Tetapi jangan sampai anda terkecoh dengan istilah FREEWARE. Karena software yang disebut Freeware sudah pasti gratis, tetapi belum tentu open source.

B. Pengertian Copyleft Copyleft adalah permainan kata dari copyright (hak cipta) dan seperti halnya makna berlawanan yang dikandung masing-masing (right vs left), begitu pula arti dari kedua istilah tersebut berlawanan. Copyleft merupakan praktik penggunaan undang-undang hak cipta untuk meniadakan larangan dalam pendistribusian salinan dan versi yang telah dimodifikasi dari suatu karya kepada orang lain dan mengharuskan kebebasan yang sama diterapkan dalam versi-versi selanjutnya kemudian. Copyleft diterapkan pada hasil karya seperti perangkat lunak, dokumen, musik, dan seni. Jika hak cipta dianggap sebagai suatu cara untuk membatasi hak untuk membuat dan mendistribusikan kembali salinan suatu karya, maka lisensi copyleft digunakan untuk memastikan bahwa semua orang yang menerima salinan atau versi turunan dari suatu karya dapat menggunakan, memodifikasi, dan juga mendistribusikan ulang baik karya, maupun versi turunannya. Dalam pengertian awam, copyleft adalah lawan dari hak cipta. Pengarang dan pengembang yang menggunakan copyleft untuk karya mereka dapat melibatkan orang lain untuk mengembangkan karyanya sebagai suatu bagian dari proses yang berkelanjutan. Salah satu contoh lisensi copyleft adalah GNU General Public License.