HUBUNGAN ANTARA DEPRESI DAN INSOMNIA PADA LANSIA DI PANTI WREDHA DHARMA BHAKTI SURAKARTA

SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana Kedokteran

Diajukan Oleh : HERMAYUDI J 50009 0105

FAKULTAS KEDOKTERAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2012

SEKALIPUN TERKENA DURI SEKALIPUN. BERTEMU DAN BERJUMPA DENGANNYA (ALLAH). GANGGUAN DAN KERISAUAN.MOTTO MINTALAH FATWA KEPADA HATIMU. AHMAD) DIDALAM HATI MANUSIA ADA KESEDIHAN DAN TIDAK AKAN TENANG DAMAI KECUALI BERLINDUNG. KEBAIKAN ADALAH APA SAJA YANG MENENANGKAN HATI DAN JIWAMU. BERTEMU DAN BERJUMPA DENGANNYA (ALLAH) (IBNU QAYYUM) SEORANG MUSLIM YANG DITIMPA PENDERITAAN. KESAKITAN. KESEDIHAN. SEMUA ITU MERUPAKAN KAFARAT (PENEBUS)DARI DOSA-DOSANYA (H. SEDANGKAN DOSA ADALAH APA YANG MENYEBABKAN HATI BIMBANG DAN CEMAS MESKI BANYAK ORANG MENGATAKAN BAHWA HAL TERSEBUT MERUPAKAN KEBAIKAN (HR. BUKHARI DAN MUSLIM) ALLAH MENCINTAI ORANG YANG CERMAT DALAM MENELITI SOAL-SOAL YANG MERAGUKAN DAN TIDAK MEMBIARKAN AKALNYA DIKUASAI OLEH NAFSUNYA. KEGUNDAHAN. DIDALAM HATI MANUSIA ADA KEGELISAHAN DAN TIDAK AKAN TENANG DAMAI KECUALI BERLINDUNG. (NABI MUHAMMAD SAW) .R.

PERSEMBAHAN Hasil penulisan ini dikerjakan sebagai tanggung jawab studi yang penulis jalani. 2. maka hasil penelitian ini penulis persembahkan untuk: 1. Tante Sumilah terimakasih atas doa dan semangat yang diberikan. dukungan. dan senantiasa mendoakan yang semuanya itu tidak pernah akan terbalaskan. Almamaterku sebagai rasa terimakasihku atas jasa-jasamu dalam membentukku dan memberikan jalan dalam meneliti ilmu dan masa depan yang lebih cerah tidak akan pernah saya lupakan. Nenekku tercinta Almarhum Tumirah semoga mendapatkan tempat yang terbaik disisi Allah SWT. Asisten Patologi Klinik dan Farmakologi terimakasih atas dukungan yang diberikan. Tante Sutriah. petujuk dan rasa kasih sayang yang selalu diberikan. Allah SWT sebagai ungkapan rasa syukur atas semua rahmat. 8. Ayahanda dan ibunda tercinta Rofi’udin dan Suyati yang selalu memberikan semangat. kemudahan. dorongan. 5. Kakak dan keponakan tersayang Elis Sus Miyati dan M. kesehatan. kritik dan sarannya. Tanpa disadari mereka telah menambahkan pengetahuan dan pengalaman saya yang sangat berharga. Azzar’udin yang selalu memberikan semangat dan menjadikan semangat dalam belajar. semoga selalu menjadi sahabat sampai kapanpun. 3. 6. 4. 10. Semua lansia dan pengasuh Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta. Teman-teman Kos Ijo yang selalu bersama-sama suka maupun duka. Teman-teman angkatan 2009 yang telah memberikan masukan. 9. . Dengan secara tidak langsung mereka telah berperan sebagai guru yang saya hormati. 7.

Bapak dan Ibu Akp.teman Skripsi Jiwa Agus Tina. Gilang. Tami. Widya. Fransiska Mayang Ayu. Widodo. 13. H. Regis. Nana. Putri. Dian. Teman. Handini. 14. Yus. Terimakasih atas dukungan dan semangatnya 12. Ayu. Kakak Dodi Yudha. Terimakasih atas dukungannya.11. Hima. Nida Faradisa. Terimakasih atas dukungannya. Sh. . Nadira.Sh. Pradita. Adik Intan Mega Pratidiana. Dinarlin. Terimakasih atas dukungannya. Teman-teman Skill Lab Eki Anggariksa.

................................................................................................................................................................................................................. vii DAFTAR TABEL ................................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............. Hipotesis ................................................. Perumusan Masalah ......................... C................. Insomia ...................................... D.................................. 22 B............................................................. 2......... Tujuan Penelitian ......................................................................................................................... HALAMAN MOTTO ........ 5 5 12 19 20 21 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A.................... B...................................... Depresi dan Insomia pada Usia Lanjut ................................................................... B.................................................................................................... HALAMAN PERSEMBAHAN ................ Manfaat Penelitian ................................................ Tempat dan Waktu Penelitian . DAFTAR GRAFIK ........................................ 3............................................................. xiv BAB I PENDAHULUAN A....................................................................................... Tinjauan Tentang Depresi .................. Desain Penelitian ............ xii ABSTRAK ........ 1.................................................... Landasan Teori ............. HALAMAN PENGESAHAN ...................... Kerangka Konsep ...................................................... C.............................................................................. 22 .................................................................................................................................................................................................................... i ii iii iv v DAFTAR ISI .............. 1 4 4 4 TINJAUAN PUSTAKA A........ ix x xi KATA PENGANTAR .......... HALAMAN PERNYATAAN .......... DAFTAR LAMPIRAN . BAB II Latar Belakang Masalah..............

........................................................ Pelaksanaan Penelitian ................................... Instrumen Penelitian ........... 41 B................................ Pembahasan .................................................................................. Alur Penelitian ....................... L............................. 29 29 34 36 BAB V PENUTUP A.......... F............................................................ Analisis Data ............................................... BAB IV Populasi Penelitian ... Saran ...... 22 22 23 24 24 25 26 26 27 28 HASIL DAN PEMBAHASAN A...... 1............... 42 LAMPIRAN ................................................................ Kesimpulan...............................................................C................................... Hasil Penelitian ... G....................... K........................... Kriteria Restriksi .......................... Tahap Penelitian ............ Variabel Penelitian ................................................................................ I... B.................. D............................... J....................................... Analisis Data............................................................. E........................... 41 DAFTAR PUSTAKA ................. Definisi Operasional .................... Teknik Pengambilan Data ....................................................................... Deskripsi Data .......................................... H......................................... 2........................................

Karakteristik Subyek Penelitian Jenis Umur .......... Karakteristik Subyek Penelitian Jenis Kelamin ..........DAFTAR TABEL Tabel 2..........4...................5... 33 Tabel 2.... 31 Tabel 2....... 35 Table 2...............2..... Karakteristik Subyek Penelitian Insomnia .. Hasil Analisis DenganUji Korelasi Koefisien Kontingensi ........ 32 Tabel 2.............................7..... 34 Tabel 2.........6............. 29 Tabel 2...3........1......................8............... Karakteristik Subyek Penelitian Depresi .... 30 Tabel 2. Cross Tabel Hubungan Depresi dan Insomnia .......................................................... Pola Tidur Pasien Depresi .................... Interval Koefisien Kontingensi ......... 40 ...............

......... 31 Grafik 3............................................................................. 33 ................ Depresi .. Presentasi Usia ............................... Hubungan Depresi dan Insomnia ...................................................... 32 Grafik 4.................................................DAFTAR GRAFIK Grafik 1......... 30 Grafik 2............. Insomnia ..................................................

Informed Consent Responden. Lampiran 5. Lampiran 7. Surat Penelitian Lampiran 9. Lampiran 4. Kuisioner Insomnia Rating Scale. Hasil Analisis Korelasi Koefesien Kontingensi Dengan Menggunakan Program SPSS 17 For Windows Lampiran 8. Permohonan Rekomendasi Penelitian FK UMS .DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Kuisioner Geriatric Depression Scale (GDS). Tabel Hasil Penelitian Hubungan Antara Depresi Dan Insomnia Pada Lansia Di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta. Lampiran 6. lie-score Minnesota Multiphasic Personality Inventory( L. Lampiran 3. Kuisioner Identitas Responden. Lampiran 2.MMPI).

Rh. Budhi Muljanto. penulis mengucapkan terimakasih kepada: 1. selaku ketua biro skripsi 3. Prof. . selaku dosen pembimbing I yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan. Dr. saran dan masukan dalam penyusunan skripsi ini.Kes. yang telah meluangkan waktu sebagai penguji dan memberikan saran serta kritik skripsi ini. kritik dan dukungan dalam penyusunan skripsi ini 5. dr. M. selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan saran. Dr. Dengan selesainya penyusunan skripsi ini. 6. Wb. dr. Prof. Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah Yang Maha Pengasih atas karunia dan kasih sayangnya sehingga penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan. Endang Widhiyastuti. Seluruh dosen dan staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta yang telah memberi perhatian. keramahan. 4. Sp.Bambang Subagyo. dr. Muh. M. selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2.KJ. 7. dr. SpKJ (K). Segenap staf dan lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta yang telah member ijin sebagai tempat penelitian dan kepada lansia yang telah bersedia menjadi responden dalam penelitian skripsi ini. kesabaran.KATA PENGANTAR Bismillahirrohmanirrohem Assalamu’Alaikum Wr. dan bimbingan kepada penulis dan seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta. Fanani dr. Shoim Dasuki. Sp.A (K). Skripsi dengan judul “ Hubungan Antara Depresi dan Insomnia Pada Lansia Di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta” ini diajukan dalam rangka memenuhi syarat untuk meraih gelar sarjana kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta.

ibunda. 01 Desember 2012 Hermayudi . Ayah. yang berguna bagi kesempurnaan skripsi ini di masa mendatang. keponakan dan keluarga besarku yang selalu memberikan semangat hingga terselesaikannya penyusunan skripsi ini. penulis berharap semoga penulisan skripsi ini bermanfaat bagi semua. kakak. Semua pihak lain yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini. Akhir kata. 10.8. dan masukan yang membangun. saran. Surakarta. Segenap staf dan lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta yang telah member ijin sebagai tempat penelitian dan kepada lansia yang telah bersedia menjadi responden dalam penelitian skripsi ini. 9. Penulis menyadari bahwa skripsi ini memiliki banyak kekurangan sehingga penulis mengharapkan kritik.

. semakin meningkat pula risiko penyakit yang terjadi pada lanjut usia.002 dan r 0.Budhi M. Lansia. dengan teknik penelitian menggunakan Total Sampling. Endang W. Rh.HUBUNGAN ANTARA DEPRESI DAN INSOMNIA PADA LANSIA DI PANTI WREDHA DHARMA BHAKTI SURAKARTA Hermayudi.05 yaitu sebesar 0. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara depresi dan insomnia pada lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta. Kejadian depresi dapat menyebabkan seseorang menjadi sedih dan susah tidur. Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta/ Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta Abstrak Latar Belakang: Semakin meningkatnya jumlah lanjut usia di Indonesia setiap tahun. Salah satunya adalah gangguan mental seperti depresi. Insomnia. Tujuan: untuk mengetahui hubungan antara depresi dan insomnia pada lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta. Metode pengumpulan data dengan lembar kuisioner dan analisis data dengan uji Korelasi Koefesien Kontingensi.445 yang mempunyai nilai signifikan yang berarti ada hubungan antara depresi dengan insomnia pada lanjut usia. Metode: penelitian ini adalah penelitian korelasi dan menggunakan pendekatan Cross Sectional dengan 37 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Depresi merupakan salah satu penyebab terjadinya insomnia pada lanjut usia. hubungan keduanya memiliki kekuatan sedang Kata kunci: Depresi. Hasil: dari analisa data menunjukkan nilai p value < 0.

Depression cause a person to become upset and insomnia.445 which has a significant value. Methods of data collection are questionnaires and data analysis with Korelasi Koefesien Kontingensi. Muhammadiyah University of Surakarta/ Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta Abstract Background: The increasing number of elderly in Indonesia every year. Depression is one of the causes of insomnia in elderly patients. Rh. Endang W. which means there is a relationship between depression and insomnia in elderly patients. increasing the risk of disease that occurs in elderly patients.Budhi M.05 is equal to 0. Objektive: To know the between depression and the incidence of insomnia for elderly in Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta. Key words: Depression. the research uses Total Sampling technique. Methods: of this study is the correlation study and use cross sectional approach with 37 respondents who will the inclusion criteria. Results: showed the value of p value <0. Faculty of Medicine. .002 and r 0. Conclusion: there is relationship between depression and insomnia in elderly patients in Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta. both have the same medium strength. Elderly.THE RELATIONSHIP BETWEEN DEPRESSION AND INSOMNIA IN THE ELDERLY IN PANTI WREDHA DHARMA BHAKTI SURAKARTA Hermayudi. One of them is a mental disorder like depression. Insomnia.

kelompok berusia 65-69 tahun sebesar 2.4%.7 tahun. kelompok berusia 70-74 tahun 1. 2002). proporsi penduduk berusia 60-64 tahun besarnya 2. Jawa tengah 72 tahun. meningkat . Indonesia adalah termasuk negara yang memasuki era penduduk berstruktur lanjut usia. Sejumlah 30% penderita yang menderita penyakit fisik tersebut menderita kondisi komorbid psikiatrik. dan dia menjadikan siang untuk bangun berusaha (QS: 25 ayat 47).2009). dan penduduk berusia 75 tahun lebih besar 1. Menjelang tahun 1980 mempunyai usia harapan hidup lebih panjang yakni 52. Sumatera selatan 71 tahun. Usia lanjut (elderly) 60-74 tahun Usia tua (old) 75-90 tahun Usia sangat lanjut (very old) diatas 90 tahun (WHO. 2.4%.3%. terutama depresi dan cemas. LATAR BELAKANG MASALAH ALLAH berfirman dalam Al’Quran ayat 47 yang artinya. Sumatera utara 70 tahun (Prayitno. yang diatas 70 tahun adalah Jakarta. dan tidur untuk istirahatmu.BAB I PENDAHULUAN A.23 tahun. Umur harapan hidup penduduk Indonesia pada tahun 2000 adalah 68.9%. Lanjut usia adalah usia 60 tahun ke atas sesuai dengan definisi World Health Organization (WHO) yang terdiri dari: 1. 3. Berdasarkan hasil sensus penduduk usia harapan hidup Indonesia tahun 1971 adalah 47.” Dialah yang menjadikan untuk kamu malam (sebagai) pakaian.2 tahun. 2002). Di Indonesia pada tahun 1999. Sebagian besar lanjut usia yang menderita penyakit fisik dan gangguan mental tersebut menderita gangguan tidur atau insomnia (Prayitno. Lebih dari 80% penduduk lanjut usia menderita penyakit fisik yang mengganggu fungsi mandirinya.

8 tahun untuk bayi yang dilahirkan menjelang tahun 1990. dan tahun 2006 mencapai 2.65 juta jiwa dengan angka harapan mencapai 69 tahun (Bappenas. Depresi merupakan salah satu penyebab terjadinya insomnia pada lansia.200 jiwa. maupun sosial ( Prayitno.016. penggunaaan obat yang meningkat dan kondisi sakit fisik yang menimbulkan gangguan aktifitas sehari-hari. 2002). Depresi menyebabkan orang menjadi sedih. 2011). maka harus menggubah faktor tersebut dan memberikan perawatan yang responsif terhadap insomnia. tahun 2004 sebesar 2. Tahun 2010 usia harapan hidup Indonesia 69 tahun. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik penduduk Jawa Tengah menyebutkan bahwa jumlah penduduk lansia diatas 65 tahun di Jawa Tengah pada tahun 2002 sebesar 2. baik aktifitas jasmani.5 tahun (Data Statistik Indonesia. dan lingkungan yang mengubah irama hidup. Apabila insomnia diduga disebabkan oleh faktor lingkungan. faktor yang dapat mempengaruhi pada lansia adalah stres atau kecemasan.118. tetapi biasanya juga sebagai kombinasi dari perubahan karena faktor resiko pada usia lanjut. Keluhan ini biasanya dikarenakan persoalan medik . 2006). Penyebab insomnia bervariasi dan mencakup masalah medis kronis atau akut. di Kota Surakarta dengan usia 65 tahun ke atas berjumlah 27. Sedangkan. rohani. Apabila insomnia diduga disebabkan oleh masalah mental atau fisik. kebiasaan jam tidur atau rutinitas tidur yang buruk. susah tidur dan merasa lelah saat bangun dari tidur.898 jiwa (Biro Pusat Statistik Jawa Tengah.594 jiwa dari total penduduk Kota Surakarta 512. kematian pasangan hidup. dan bagi bayi yang dilahirkan tahun 2000 usia harapan hidupnya mencapai usia 65.338 jiwa.281. maka harus diperlakukan sebagai gangguan mental atau fisik. Selain depresi. Keluhan-keluhan seputar masalah tidur menduduki peringkat tinggi diantara masalah-masalah yang berhubungan dengan lansia. stres.lagi menjadi 59. Walaupun beberapa keluhan mengenai kualitas tidur dapat berhubungan dengan proses penuaan alami.003 jiwa. 2011). dan pada tahun 2025 jumlah penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 273.

misalnya akibat stres dan depresi. sakit fisik. Panti Wredha Dharma Bhakti merupakan tempat tinggal para lansia. oleh karena itu penulis ingin mengetahui seberapa besar lansia pada panti tersebut yang mengalami depresi sehingga mengakibatkan insomnia. tremor. Insomnia pada pagi-pagi sekali (penderita tertidur biasa.atau kondisi psikologis. Gangguan tidur tersebut disebabkan oleh beban pikiran yaitu adanya kekhawatiran yang dirasakan oleh lansia terhadap keluarganya. seperti kecemasan dan depresi atau gangguan emosi lain yang terjadi dalam hidup manusia. berkurangnya kosentrasi) atau faktor pencetus karena stres yang ditimbulkannya (seperti gejala-gejala skizofrenia) mungkin timbul lagi atau kecemasan.R. atau pengaruh gaya hidup seperti seringkali minum kopi. tetapi terbangun pukul 02 atau 03 lalu tidak dapat tidur lagi. Sebagian besar lansia yang menderita penyakit dan gangguan mental tersebut mengalami gangguan tidur (Marchira. Kesukaran untuk memulai tidur biasanya terdapat pada nerosa (depresi atau cemas). 2004 ). Insomnia yang berat biasanya merupakan gejala gangguan yang lain atau dapat merupakan faktor penyebab ( misalnya kelemahan badan. Sebagian besar lansia berisiko tinggi mengalami gangguan tidur akibat berbagai faktor proses patologis terkait usia dapat menyebabkan perubahan pola tidur. terutama depresi dan kecemasan. C. 2003 ). S. . Terdapat juga pasien yang takut tertidur karena takut mimpi buruk (Maramis. alkohol dan merokok ( Suryo. 2005). tetapi cukup dengan penjaminan kembali. Lansia yang mengalami keluhan beban pikiran disebabkan memikirkan keluarga yang ditinggalkan karena keadaan ekonomi keluarga yang masih kurang mencukupi. Insomnia yang ringan tidak perlu diberi obat. Selain itu terdapat 35% lansia yang menderita sakit fisik tersebut menderita kondisi psikiatrik. Biasanya merupakan gejala depresi endogenik. Insomnia biasanya timbul sebagai gejala suatu gangguan lain yang mendasarinya.

Manfaat bagi pendidikan Dapat menjadi acuan untuk melakukan penelitian lanjutan khususnya hubungan antara depresi dengan insomnia pada lansia. Manfaat teoritis Menambah pengetahuan khususnya tentang hubungan depresi dengan insomnia pada lansia. b. sehingga dapat mencegah depresi yang menyebabkan insomnia pada lansia. 2. c. PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian diatas. B. C. Manfaat praktis a. . TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara depresi dan insomnia pada lansia. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat bagi peneliti Menambah pengetahuan tentang hubungan antara depresi dengan insomnia pada lansia. Manfaat bagi Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta Diharapkan dapat melakukan penanganan terpadu pada penderita depresi yang menyebabkan insomnia pada lansia. perumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Apakah terdapat hubungan antara depresi dan insomnia pada lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta?” C.Sehingga penulis tertarik ingin meneliti tentang hubungan depresi dan insomnia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta.

kecemasan. 2007). Afek dan emosi dengan aspek-aspek yang lain pada manusia (seperti proses berpikir. Kadang-kadang istilah afek dan emosi itu dipakai secara bergantian. Depresi adalah perasaan sedih tertekan. pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. Landasan Teori 1. tekanan nadi turun. lagi pula biasanya berlangsung relatif tidak lama (misalnya ketakutan. 2005).’’ .BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. depresi dan kegembiraan). tekanan darah turun. niscaya dia akan berkata “Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku” sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga. Dan jika kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya. Sedangkan gangguan gejala somatik contohnya: kulit lembam. menyenangkan atau tidak (seperti kebanggaan. Emosi ialah manifestai afek keluar dan disertai oleh banyak komponen fisiologik. tidak semangat ( Baihaqi. Al Hud ayat 9-11. anoreksia. ingatan) saling mempengaruhi dan menentukan tingkat fungsi manusia itu pada suatu waktu (Maramis. putus asa. Afek ialah “nada” perasaan. kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana). mereka itu memperoleh ampunan dan pahala yang besar. Tinjauan Tentang Depresi a) Pengertian Depresi Depresi merupakan salah satu dari gangguan afek dan emosi. kekecewaan.’’ Dan jika kami rasakan kepada manusia sutau rahmat (nikmat) dari kami. yang menyertai suatu pikiran dan biasanya berlangsung lama serta kurang disertai oleh komponen fisiologik. kemudian rahmat itu kami cabut daripadanya. sedih. psikomotor. itu merupakan gangguan gejala psikis.S. kasih sayang). Hal mengenai depresi juga tercantum dalam Al Quran Q. tak berguna. sulit tidur. persepsi. dan mengerjakan amal-amal saleh.

. Berdasarkan penelitian 1-4% populasi orang usia lanjut secara umum mengalami gangguan depresi mayor.b) Epidemiologi Organisasi kesehatan sedunia WHO. memberikan semangat dan kesempatan pada lansia untuk mengutarakan pendapat serta melibatkan lansia dalam kegiatan sehari-hari sesuai dengan kemampuan lansia tersebut. Saat ini pada umumnya pendapat yang mengatakan bahwa beban depresi pada usia lanjut cukup tinggi. Angka ini akan bertambah untuk masa-masa akan datang yang disebabkan beberapa hal. baik yang datang dari dalam tubuh sendiri maupun yang datang dari luar sehingga dapat menimbulkan gangguan kesehatan mental. Usia adalah salah satu faktor depresi pada lansia. yaitu terjadi depresi pada seseorang. antara lain. menyebutkan angka 17% pasien-pasien berobat ke dokter adalah pasien depresi. dan selanjutnya diperkirakan prevalensi depresi pada populasi masyarakat dunia adalah 3%. Seseorang dengan usia tua akan mengalami penurunan faal tubuh dan terjadi penurunan respon tubuh terhadap perubahan atau stres. 2009). 1) 2) 3) 4) Usia harapan hidup semakin bertambah Stresor psikososial semakin berat Berbagai penyakit kronik semakin bertambah Kehidupan beragama semakin ditinggalkan (WHO. oleh karena itu anggota keluarga lansia diharapkan dapat menjaga dan merawat kondisi fisik pada lansia. 2007). perubahan mental tersebut antara lain tidak bisa mencari nafkah lagi dan tidak bisa bekerja. merasa tidak berharga di lingkungan keluarga karena tidak dapat membantu dan melakukan aktivitas untuk meringankan beban keluarga dan merasa hidupnya menyebabkan depresi pada lansia. Sering aktif dalam berkomunikasi. Perhatian dari keluarga tersebut mudahmudahan dapat mencegah resiko terjadinya depresi pada lansia ( Syamsir. sedangkan depresi minor 3-4% ( Syamsir. 2007).

korpus pineal. walaupun tipe-tipe . perubahan endokrin. beberapa data menyatakan bahwa faktor yang signifikan dalam perkembangan gangguan mood adalah genetik. psikodinamik dan kognitif ( Syamsir. Serotonin bisa memacu pelepasan substansi di pembuluh darah otak yang pada saatnya akan menyebabkan migren. dan sistem saraf pusat (William. gangguan pada otak terutama sistem cerebrovaskuler. 2010). gangguan neurotransmiter terutama serotonin activity. Faktor psikologis Ini biasanya berupa penyimpangan perilaku. Faktor biologis Hal ini bisa berupa faktor genetik. 2007). 2) Faktor kepribadian premorbid Tidak ada satu kepribadian atau bentuk kepribadian yang khusus sebagai predisposisi terhadap degresi. Semua orang dengan ciri kepribadian manapun dapat mengalami depresi. Serotonin merupakan hormon dan neurotransmiter yang terlibat dalam tranmisi implus saraf. Satu teori menjelaskan bahwa stres yang menyertai episode pertama akan menyebabkan perubahan fungsional neurotransmiter dan sistem pemberi tanda intra neurola yang akhirnya perubahan tersebut menyebabkan seorang mempunyai resiko yang tinggi untuk menderita gangguan mood selanjutnya (Kaplan. Faktor resiko terjadinya depresi meningkat ketika ada riwayat keluarga yang pernah mengalami depresi ( Syamsir. dapat ditemukan di jaringan. b. 2007). mukosa usus. 1) Peristiwa Kehidupan dan Stres Lingkungan Suatu pengamatan klinik menyatakan bahwa peristiwa atau kejadian dalam kehidupan yang penuh ketegangan sering menstimuli episode gangguan mood. 2010).c) Etiologi Faktor penyebab timbulnya gangguan depresi pada orang usia lanjut bisa berupa: a. meliputi trombosit darah.

kepriadian seperti oral dependen, obsesi kompulsif, histerik mempunyai resiko yang besar mengalami depresi dibandingkan dengan lainnya (Kaplan, 2010). 3) Faktor psikoanalitik dan psikodinamik Kemarahan pasien depresi diarahkan kepada diri sendiri karena mengidentifikasi terhadap objek yang hilang ditukerkan pada kehilangan harga diri. Depresi sebagai suatu efek yang dapat melakukan sesuatu terhadap agresi yang diarahkan ke dalam dirinya. Apabila pasien depresi menyadari bahwa mereka tidak hidup sesuai dengan yang dicita-citakannya akan mengakibatkan mereka putus asa (Kaplan, 2010). c. Faktor sosial Hal ini bisa berupa hilangnya status peranan sosialnya, atau hilangnya sokongan sosial yang selama ini dimilikinya ( Syamsir, 2007).

d) Tanda dan Gejala Berdasarkan pedoman penggolongan dan diagnostik gangguan

jiwa di Indonesia Edisi III (PPDGJ III), gejala depresi terdiri dari : 1) Gejala utama a. Afek disforik b. Kehilangan minat dan kegembiraan c. Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah ( rasa lelah yang nyata setelah bekerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas 2) Gejala lainya a. Konsentrasi dan perhatian berkurang b. Harga diri dan kepercayaan diri berkurang c. Gagasan tentang bersalah dan merasa tidak berguna d. Pandangan masa depan yang suram dan pesimis e. Gagasan yang membahayakan diri dan bunuh diri f. Tidur terganggu ( Insomnia)

e) Episode Depresi Berdasarkan PPDGJ III episode depresi memiliki tiga variasi Pedoman Diagnostik sebagai berikut : 1. Depresi ringan a. Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala depresi b. Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lain c. Tidak boleh ada gejala berat diantaranya d. Lamanya episode sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu e. Hanya sedikit kesulitan dalam perkerjaan dan kegiatan sosial yang bisa dilakukan 2. Depresi sedang a. Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala depresi b. Ditambah sekurang-kurangnya 3 ( dan sebaiknya 4) dari gejala lain c. Lamanya seluruh episode berlangsung sekitar 2 minggu d. Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan rumah tangga 3. Depresi berat tanpa gejala psikotik a. Semua 3 gejala utama depresi harus ada b. Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan beberapa diantaranya harus berorientasi berat c. Bila ada gejala penting ( misalnya agitasi atau retardasi) yang mencolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak gejala secara terinci. 4. Depresi berat dengan gejala psikotik a. Episode depresi berat tanpa gejala psikotik yang memenuhi kriteria

f) Gambaran Klinik Seseorang yang sehat jiwanya bisa saja jatuh dalam depresif apabila yang bersangkutan tidak dapat menanggulangi stres psikososial yang dialaminya, dan ada juga seseorang yang rentan jatuh dalam depresif ciri-cirinya antara lain: a. Pemurung, sukar untuk bisa senang b. Pesimis menghadapi masa depan c. Memandang diri rendah d. Enggan berbicara e. Mudah merasa haru, sedih dan menangis f. Gerakan lamban, lemah, lesu, kurang energik g. Sering mengeluh rasa sakit ini dan itu (psikosomatik) h. Mudah tegang, agitatif, gelisah i. j. Mudah tersinggung Tidak ada kepercayaan diri

k. Merasa tidak mampu, merasa tidak berguna l. Suka menarik diri malu dan pendiam (Hawari, 2011 ).

Gambaran klinik dari gangguan depresi pada lansia bisa dijumpai sebagai berikut: a. Depresi dan disporia Walaupun demikian kadang-kadang mood depresi tidak dijumpai oleh karena pasien menyangkal (denial) b. Menangis tapi pada pasien pria jarang c. Ansietas dan agitasi Pada pasien ini bisa dijumpai: gugup, iritabilitas atau tingkah laku yang mengganggu bersama-sama dengan simtom, bisa terlihat pada sekitar 80% dari pasien usia lanjut yang depresi

penyakit. Bukhari dan Muslim) (Hawari. dan hadist berikut ini dapat diamalkan sebagai doa bagi mereka yang sedang menderita stress ataupun depresi atau penyakit fisik lainnya. yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka tentram dengan mengingat Allah. Defisit kognitif Hal ini sering terlihat pada orang usia lanjutyang depresif kadangkadang bisa menjadi level yang parah sehingga diduga sedang mengalami psedodemensia. b. kesusahan.R. hanya dengan mengingat allah hati menjadi tentram “ (Q. Gangguan tidur. bertengkar dengan pasien lain f. tindakan merusak.S.d. terjemahanya dalam bahasa Indonesia sebagai berikut: a. Ingatlah. 2007) Sebagai contoh misalnya dalam agama Islam beberapa ayat. menggigit. e. 2011 ). Gangguan prilaku Hal ini bisa dalam bentuk: penolakan untuk makan. gangguan menumpuk pada dirinya (karna banyaknya) kecuali Allah hapuskan akan dosa-dosanya” (H. menjerit. kesedihan. 13: 28). (Syamsir.a Nabi Muhammad Saw bersabda: Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah. . terutama late insomnia. “Dari Abu Hurairah r. buang air besar dan buang air kecil yang tidak terkontrol.

Insomnia dapat disebabkan oleh beragam faktor atau kelainan. hal ini adalah kunci pengobatan yang adekuat. Orang yang mengalami insomnia intermiten lebih banyak daripada orang yang mengeluh ke dokter umumnya. kurang energi.50% orang dewasa melaporkan . Diagnosis banding penyebab insomnia mencakup gangguan neuropsikiatrik (depresi. Insomnia merupakan gangguan tidur yang paling sering ditemukan. dan gangguan medis lainnya. ansietas. psikologi mudah marah dan mudah mengantuk di siang hari dan mata merah. demensia). INSOMNIA a) Pengertian Insomnia 1. meskipun hal tersebut telah menjadi keluhan pembedahan yang umum terjadi (Puri. Perkiraan prevalensinya pada orang dewasa bervariasi dari 15% sampai 40%. mudah tersinggung. kehilangan. sulit berkosentrasi. Menurut Puri (2011) Insomnia adalah suatu gangguan dengan kuantitas atau kualitas tidur yang tidak cukup. 2011). penyalahgunaan zat. Keadaan ini bisa berlangsung sepanjang malam dan dalam tempo berhari-hari. merasa lelah saat bangun dan tidak merasa kesegaran. Menurut Lumbantobing (2008) Insomnia adalah suatu keadaan seseorang dengan kualitas dan kuantitas tidur yang kurang. kesulitan berkosentrasi. dan meningkat pada lansia. Seorang yang mengalami insomnia seperti kesulitan untuk tidur atau tidak tercapainya tidur nyenyak. Diagnosis ini dapat digunakan untuk semua usia. berminggu-minggu atau lebih. sakit kepala dipagi hari. b) Epidemiologi Keluhan berupa ketidakmampuan tidur jauh lebih sering daripada keluhan lain yang berhubungan dengan tidur.2. 2. gangguan Ritme sikardian. Insomnia juga mencakup akibat di siang hari seperti rasa capek. Setiap tahun diperkirakan sekitar 20%. karena harus di identifikasi penyebabnya.

dan seringkali timbul bersamaan dengan gangguan emosional. depresi atau ketakutan. Lansia dengan depresi. Pola terbangun pada dini hari lebih sering ditemukan pada usia lanjut. Gangguan pusat pernafasan (40-50%) c. Kram kaki malam hari (16%) d. Kadang mereka tidur dalam keadaan gelisah dan merasa belum puas tidur.Terbangun pada dini hari. Sulit tidur sering terjadi. merupakan pertanda dari depresi (Lumbantobing. kegelisahan. Ketergantungan alkohol (10%) e. seperti kecemasan. Beberapa orang tertidur secara normal tetapi terbangun beberapa jam kemudian dan sulit untuk tertidur kembali. Prevalensi gangguan tidur pada lansia cukup tinggi yaitu sekitar 67% lansia. sering melaporkan bahwa kualitas tidurnya buruk dan durasi tidurnya kurang bila dibandingkan dengan lansia yang sehat (Amir. Demensia (5%) f. seperti kelainan emosional. tetapi merupakan suatu gejala yang memiliki berbagai penyebab. Penyakit asma (61-74%) b. 2008). 2002). c) Etiologi Menurut data International Of Sleep Disorder prevalensi penyebab-penyebab gangguan tidur adalah sebagai berikut: a. kelainan fisik dan pemakaian obat-obatan. Depresi (65%) (Japardi. Kadang seseorang sulit tidur hanya karena badan dan otaknya tidak lelah. baik pada usia muda maupun usia lanjut. Insomnia bukan suatu penyakit. . pada usia berapapun. 2007).bahwa adanya gangguan tidur dan sekitar 17% mengalami gangguan tidur yang serius.

pengobatan. Adapun sebagaian penderita lain merupakan pencandu alkohol atau obat-obatan terlarang (narkotika). efek samping pengobatan h. khususnya depresi ringan sampai menengah berat. Kelompok yang terakhir ini memerlukan penangan yang khusus cukup terpadu mencakup berbaikan kondisi tidur ( sleep environments). yang justru dapat menyebabkan semakin parahnya gangguan sulit tidur tersebut. pensiun (Lumbantobing. depresi f. yang secara praktis diklasifikasikan menjadi dua kelompok. perubahan pola sosial b. Sehingga dengan demikian. 2008). stres atau kecemasan g. Insomnia primer Merupakan gangguan sulit tidur yang penyebabnya belum diketahui secara pasti. Insomnia primer ini sering menyebabkan terjadinya komplikasi kecemasan dan depresi. kondisi fisik e. . Sebagai penderita golongan ini mempunyai dasar gangguan psikiatris.d) Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi insomnia Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi insomnia adalah a. kematian pasangan dan teman dekat c. yaitu insomnia primer dan insomnia sekunder. pola makan yang buruk dan kurang berolahraga i. pengobatan masih relatif sukar dilakukan dan biasannya berlangsung lama atau kronis ( long term insomnia). dan terapi kejiwaan (psikoterapi) (Lumbantobing. 1. insomnia dimasukan dalam golongan DIMS (Disorder Of Iniating and Maintaining Sleep). e) Klasifikasi Insomnia Menurut klasifikasi diagnostik dari WHO (2009). 2008). penggunaan obat yang meningkat d.

. b. idiopatik. Gangguan tersebut dapat berupa gangguan sakit fisik. kondisi medik umum. hipoventilasi. terutama dengan menghilangkan penyebabnya utama terlebih dahulu (Lumbantobing. Gangguan tidur intrinsik Narkolepsi. tidur berlebihan (hipersomnia). Masa tidur REM sangat kurang. lingkungan. Insomia primer ini tidak berhubungan dengan kondisi kejiwaan. Gangguan tidur yang bukan disebabkan oleh gangguan mental lain. obat hipnotik atau stimulan c. kualitas dan gangguan tidur. Gangguan tidur ini dibagi menjadi dua yaitu disomnia dan parasomnia. Insomnia sekunder merupakan gangguan sulit tidur yang penyebabnya diketahui secara pasti. Gangguan tidur sikardian Jet-lag sindrom. post traumatic kepala. atau zat. masalah medis lainnya. 2008). bangun tidur tidak teratur. ataupun penggunaan obat-obatan tertentu (Japardi. 2. 2007). 2002). Parasomnia dikaitkan dengan perilaku tidur atau pristiwa fisiologi yang dikaitkan dengan tidur tertentu atau perpindahan tidur-bangun (Amir. sindrom fase terlambat tidur. Disomnia ditandai dengan gangguan pada jumlah. ketergantungan alkohol. Pengobatan insomnia tipe sekunder ini relative lebih mudah dilakukan. Gangguan tidur menurut Japardi (2002). Gangguan tidur ekstrinsik Tidur yang tidak sehat. toksik. gerakan anggota gerak periodik. sindrom fase belum waktunya. obstruksi saluran nafas. sindrom kaki gelisah. periode tidur berkurang dan terbangun lebih sering. perubahan jadwal kerja. Terbagi menjadi 3 bagian: 1) Dissomnia a. masalah neurologi. perubahan posisi tidur.Pasien bisa tidur tapi tidak merasa tidur. maupun gangguan kejiwaan (psikis). tidak tidur selama 24 jam. sedangkan masa tidur NREM cukup.

stroke. b. Gangguan antara bangun-tidur Gerak tiba-tiba. gangguan afektif. Gangguan aerosol e. gangguan gerak berirama. hipertensi.2) Parasomnia d. a. dan sebagainya. gangguan tingkah laku. Parasomnia lainnya Bruxism (otot rahang mengeram). setatus epilepsi. kram pada kaki. post traumatik kepala. insomnia dapat memberi efek pada kehidupan seseorang. panik (nyeri hebat). nyeri kepala. Gangguan mental Psikosis. mengompol. Efek fisik/somatik Dapat berupa kelelahan. Efek sosial . depresi dan sebagainya. alkohol d. f) Akibat Insomnia Menurut Carcio (2006). 3. Efek psikologis Dapat berupa gangguan memori. antara lain: 1. Gangguan tidur berjalan f. multiple sklerosis). Parkinson. gangguan berkonsentrasi irritable. distonia parosismal 3) Gangguan tidur berhubungan dengan gangguan kesehatan/ psikiatri c. nyeri otot. 2. kehilangan motivasi. ansietas. Berhubungan dengan kondisi kesehatan Penyakit generative (demensia. tidur berbicara. Berhubungan dengan fase REM Gangguan mimpi buruk. epilepsi. sukar menelan.

Ciri-ciri tidur a.Dapat berupa kualitas hidup yang terganggu. 4. Waktu yang diperlukan untuk masuk tidur b. orang yang menderita insomnia memiliki kemungkinan 2 kali lebih besar untuk mengalami kecelakaan lalu lintas jika dibandingkan dengan orang normal. sering terbangun pada malam hari c. Cenderung bangun terlalu pagi. seperti sulit mendapat promosi pada lingkungan kerjanya. terbangun di tengah lelapnya tidur dan sulit tidur kembali. Selain itu. Kematian Pada umumnya orang yang tidur kurang dari 5 jam semalam memiliki angka harapan lebih sedikit dari orang yang tidur 7-8 jam semalam. Jumlah jam tidur . 1. g) Evaluasi gangguan pola tidur (Insomnia) Insomia adalah gangguan tidur yang biasa dialami bila mengalami satu atau lebih masalah dibawah ini: a. Berusaha mempertahankan tidur. kurang bisa menikmati hubungan sosial dan keluarga. terbangun beberapa kali. Waktu tidur dan bangun c. Insomnia bisa berupa mata tak terpejam sepanjang malam. atau tidak merasa bugar setelah bangun tidur (Amercan Academy of Sleep Medicine. 2008). Hal ini mungkin disebabkan karena penyakit yang menginduksi insomnia yang memperpendek angka harapan hidup atau karena high arousa state yang terdapat pada insomia mempertinggi angka moralitas atau mengurangi kemungkinan sembuh dari penyakit. Tidur yang tidak menyegarkan atau jelek kualitasnya. susah untuk tertidur kembali d. bangun terlalu dini. Sulit mengawali tidur b.

Lamanya gangguan tidur b. nyaman. j. . h) Penatalaksanan Insomnia 1. Riwayat. sepi. Perubahan baru terjadi pada pola tidur i. Hindari tidur pada siang hari c. dan enak 2. kafein b. Kualitas tidur f.d. Jangan mengkonsumsi kafein pada malam hari d. Derajat hendaya fungsional oleh gejala-gejala (Japardi. Jumlah dan lamanya bangun malam e. Bukti adanya stres situasional 3. pola latihan d. Buat ruang tidur sejuk. Singkirkan faktor-faktor potensial eksternal a. 2002). Penggunaan obat. Tidur dan bangunlah secara regular b. Sleep hygiene a. masalah dan pengalaman tidur masa lalu Riwayat mengorok. Jangan menggunakan obat-obat stimulan seperti dekongestan e. Konseling dan Psikoterapi (Japardi. Hindari rasa cemas dan depresi h. napas periodik 2. Segera bangun dari tempat jika tidak dapat tidur (15-30 menit) g. Pola tidur sekejap h. Hindari makanan saat mau tidur. Taraf kewaspadaan pada siang hari (Hipersomnolensia) g. Evaluasi dampak masalah a. Adanya gejala disfungsi sistem organ e. Diet c. tapi jangan tidur dengan perut kosong f. Taraf kegiatan. 2002). alkhohol.

2007). tampilan dan gejalanya tidak khas. Pada pasien usia lanjut tampilan yang paling umum adalah keluhan somatis. dan abnormalitasnya bisa menghasilkan satu ketidaksanggupan untuk mendorong antisipasi yang mana akan mempredisposisikan keadan depresi (Syamsir. serta peningkatan aktivitas REM (Amir. hilang selera makan dan gangguan pola tidur (Heriawan. Lansia dengan keluhan insomnia harus diperkirakan adanya depresi atau ansietas. tidak merasa segar dipagi hari. daya cadangan faali gangguan menurun. Depresi terjadi gangguan setiap stadium siklus tidur. episode tidur REM nya lebih awal daripada orang normal. dan mengantuk disiang hari (Amir. 2007). lesu. lemah. DEPRESI DAN INSOMNIA PADA USIA LANJUT Depresi adalah masalah yang sering terdapat pada lanjut usia. Secara umum depresi ditandai oleh suasana perasaan yang murung. 2007). dan juga struktur neokortikal dorsal mengalami hypometabolik dan struktur limbik ventral mengalami hipermetabolik. pola tidur pasien depresi berbeda dengan pola tidur pasien tidak depresi. 2007). Selain itu jalur frontostriatal pada otak memediasi antisipasi yang mengarah ke efek yang positif. lansia dapat terbangun lebih awal. Karena lansia mengalami penurunan faal tubuh dan mempengaruhi kerja dari neurotransmiter. dan rasa tidak berdaya. Pasien geriatri merupakan pasien usia lanjut berusia lebih dari 60 tahun yang mempunyai ciri khas multipatologi. Efesien tidurnya buruk. tidur gelombak pendek menurun. hilang minat terhadap kegiatan. . Depresi merupakan salah satu gangguan mental yang sering ditemukan pada pasien geriatri. Sebaliknya depresi dapat pula mengalami gangguan kontinuitas tidur. Akibatnya. hilang semangat. dan biasanya disertai gangguan fungsional. Insomnia dan mengantuk disiang hari adalah faktor resiko depresi. latensi REM menurun.3.

g. c. KERANGKA KONSEP LANSIA FUNGSI FAAL TUBUH PERUBAHAN NEUROTRANSMITTER OTAK FAKTOR RESIKO LAIN DEPRESI FAKTOR PSIKOSOSIAL a. Penurunan kapasitas sensorik Penurunan Penghasilan Penurunan Daya Ingat Kehilangan Pekerjaan Pengalaman hidup yang buruk Transmisi sosial Faktor lingkungan INSOMNIA Keterangan: Yang diteliti Yang tidak diteliti . b.B. d. e. f.

HIPOTESIS Ada hubungan antara depresi dan insomnia pada lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta. .C.

Sampel Dan Teknik Sampling Sampel pada penelitian ini adalah semua lansia laki-laki dan perempuan yang berumur > 60 tahun yang dirawat di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta. Sampel yang hendak diteliti adalah yang memenuhi kriteria inklusi. Kriteria inklusi a. Kriteria restriksi 1. Sampel yang diambil menggunakan tahnik total sampling dimana peneliti melakukan pendekatan terhadap masalah pengambilan sampel dengan rencana spesifik tertentu dalam dirinya sesuai dengan masalah dan hipotesis yang diteliti. Usia lebih dari 60 tahun (lansia menurut WHO) . 2010). Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta. D. Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti yang dan dianggap mewakili seluruh populasi ini (Arikunto. Sampel yang diteliti harus memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk dalam kriteria eksklusi. Waktu Penelitian ini dilakukan pada Tanggal 18 Juli sampai dengan 25 Juli 2012. B. 2007). Laki laki dan Perempuan c.BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Penghuni Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta b. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional (Sugiyono. C.

tuna rungu. variable penelitian pada dasarnya adalah sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi (Sugiono. Kriteria Eksklusi a. Lansia yang sakit (Seperti tuna netra. Variabel tergantung Variabel tergantung (dependent) adalah variable yang dihipotesiskan dipengaruhi (dependen) oleh variable lain (Murti. faktor lingkungan. sakit kronis) d. Sementara itu menurut sugiyono.2. 1. transmisi sosial (Murti. 2007). 2010). 2003). Hasil skor LMMPI > 10 c. Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah insomnia yang dialami lansia. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah depresi yang diukur dengan skala depresi geriatri . Variabel Bebas Variabel bebas (independen) adalah variable yang dihipotesiskan mempengaruhi (independen) variable lainya (Murti. Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota anggota suatu kelompok yang berbeda dan yang dimiliki oleh kelompok yang lain (Notoatmojo. 2003). yang pengaruhnya terhadap variable dependen ingin dikontrol variable perancu dalam penelitian ini adalah pengalaman hidup yang buruk. Gangguan jiwa berat (Seperti Demensia) E. . 2. Tidak bersedia menjadi responden b. 2003). 3. Variabel perancu Variabel perancu merupakan variable independen di luar paparan atau faktor penelitian.

Depresi merupakan satu kesatuan diagnosis gangguan jiwa yang berdasarkan Geriatric Depression Scale (GDS) dibagi menjadi 2 kelompok. masih baik).F. bila skor GDS berjumlah > 5 dan kelompok non depresi jika skor GDS berjumlah ≤ 5 (Surya . bila skor insomnia rating scale berjumlah ≥ 8 dan kelompok non insomnia skor insomnia rating scale berjumlah < 8 (Amir. 2011). Depresi Depresi adalah gangguan alam perasaan (mood) yang ditandai dengan kemurungan dari kesedihan yang mendalam dan berkelanjutan sehingga hilangnya kegairahan hidup. 2009). tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas (reality tasting ability. Skala : Nominal . 2008). Alat ukur insomnia adalah insomnia rating scale yang telah dibakukan oleh KSPBJ yang terdiri dari 8 butir pertanyaan seputar keluhan gangguan tidur yang dianggap cukup untuk melengkapi semua keluhan tidur dan derajat insomnia dan tidak insomnia dibagi menjadi 2 kelompok. Seorang yang mengalami insomnia akan mengalami seperti kesulitan untuk tidur atau tidak tercapainya tidur nyenyak (Lumbantobing. Disebut kelompok depresi. 2007). Insomnia Insomnia adalah suatu keadaan seseorang dengan kualitas dan kuantitas tidur yang kurang. kepribadian tetap utuh ( tidak mengalami keretakan kepribadian) prilaku dapat terganggu tapi dalam batas-batas normal (Hawari. Skala: Nominal b. Definisi Operasional a. Disebut kelompok insomnia.

Data yang diperoleh nantinya diseleksi berdasarkan LMMPI. 2. Insomnia rating scale Sebagai alat ukur insomnia yang terdiri dari 8 butir pertanyaan seputar keluhan gangguan tidur yang dianggap cukup untuk melengkapi semua keluhan tidur skor insomnia rating scale berjumlah ≥ 8 menunjukan adanya insomnia (Amir. Kuisioner data diri Kuisioner ini bertujuan untuk mengetahui status responden secara lengkap dan terjaga kerahasiaanya. Instrumen Penelitian Penelitian ini menggunakan instrumen kuisioner yang berisi pertanyaan yang harus diisi responden. . Dan bersedia menjawab pertanyaan. Berisi 15 butir pertanyaan. Bila jawaban “tidak” lebih dari 10 pernyataan maka responden dinyatakan invalid dan dikeluarkan dari sampel penelitian (Iskandar. 2009). 1985). 1. Lie Minnesota Multiphasic Personality Inventory ( LMMPI) Skala LMMPI merupakan skala untuk menilai kejujuran dalam menjawab instrument yang diberikan. 4. Tehnik Pengambilan Data Pengambilan data dilakukan dengan cara menemui langsung para responden yang sudah berada disatu tempat. H. Instrument ini memiliki 15 item pertanyaan. kuisioner LMMPI. skor > 5 menunjukan adanya depresi (Surya . bahwa kesediaan menjadi subjek dalam penelitian tanpa suatu paksaan dari pihak manapun. Kuisioner ini berisikan pernyataan lengkap dan terjaga kerahasiaanya. 2007). Geriatric Depression Scale (GDS) Untuk mengukur depresi pada usia lanjut.G. yaitu bila responden menjawab tidak dalam skala LMMPI lebih dari 10 dianggap gugur. Lalu membagikan kuisioner data diri. 3. GDS. Insomnia Rating Scale.

Selanjutnya subjek diberikan pertanyaan sesuai dengan skala depresi geriatri. Seluruh hasil data yang diperoleh diolah dengan menggunakan SPSS 17. Penentuan subjek penelitian. Analisis data dilakukan untuk tujuan menjawab hipotesis penelitian. d. Analisis Data Analisis data adalah kegiatan pengolahan data setelah data terkumpul yang selanjutnya disajikan dalam bentuk laporan. Tahap Penelitian a. J. I. 4. Pengurusan izin dan pendekatan terhadap populasi usia lanjut di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta. untuk menentukan ada tidaknya depresi. Subjek bersedia ikut berpartisipasi dalam penelitian dinyatakan dengan kesediaan mengisi informed consent yang telah disediakan selanjutnya mengisi identitas. Analisis data. Selanjutnya yang depresi dan tidak depresi tetap diberikan pertanyaan sesuai dengan skala insomnia. Untuk mengetahui angka kejujuran sampel diberi pertanyaan sesuai dengan L-MMPI 3. c. Sedangkan untuk menganalisis hubungan antara depresi dan insomnia pada lansia digunakan uji Korelasi Koefesien Kontingensi.sehingga tidak diikutkan dalam analisa data lebih lanjut . dapat diteliti tingkat depresi lansia. b. Pelaksanaan penelitian. Kemudian dengan kuisioner GDS. Maka digunakan uji statistik yang sesuai dengan variable penelitian yaitu analitik observasi. . sebelumnya ada persiapan dari subjek yang diteliti antara lain: 1. yaitu populasi usia lanjut di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta yang memenuhi kriteria inklusi. 2. yaitu dengan mengumpulkan data melalui penyebaran kuisioner.

Alur Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan menggunakan rancangan cross sectional. Alur penelitian dalam penelitian ini adalah : POPULASI Kriteria eksklusi Kriteria restriksi Kriteria inklusi Mengisi informed consent Kuesioner L-MMPI GDS Depresi Tidak Depresi Insomnia Rating Scale Insomnia Tidak Insomnia Insomnia Tidak Insomnia Analisis Data .K.

Kegiatan Persiapan studi pustaka Penyusunan proposal Pelaksanaan Penelitian Bulan Juni Juli Agustus September Oktober 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 November Desember Ujian proposal Perbaikan proposal Pengambilan dan pengolahan data Penyusunan skripsi Ujian skripsi Perbaikan skripsi .L.

yaitu mewawancarai secara langsung menggunakan kuesioner. dan gangguan kognitif berat. bahwa dari segi jenis kelamin responden. Berikut ini adalah gambaran karakteristik subyek penelitian. tuna rungu.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Subyek penelitian ini adalah populasi lansia yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta. persentase laki-laki maupun perempuan memiliki jumlah yang sama yaitu . Tabel 2. Subyek penelitian ini adalah populasi lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta. Karakteristik Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan 18 19 100 100 Frekuensi Persentase (%) Jumlah 37 100 Dari tabel 2. Deskripsi data Berdasarkan pengambilan data yang telah dilakukan dimulai dari Tanggal 18 Juli sampai dengan 25 Juli 2012. HASIL 1. 8 orang sudah sulit untuk berkomunikasi dengan baik dan juga ada yang mengalami gangguan tuna wicara. Karakteristik Subyek Penelitian No 1.1. sehingga yang memenuhi syarat untuk menjadi subyek penelitian berjumlah 37 orang. Data penelitian diambil secara primer.1 terlihat. Populasi penelitian berjumlah 45 orang.

bahwa dari segi usia responden.1 Grafik.5 % dan yang mengalami insomnia sebesar 54.0 %. Karakteristik Subyek Penelitian No 1.100%.2.9 19. Umur <70 tahun 70-80 tahun >80 tahun Jumlah 13 17 7 37 35. Dari segi gangguan depresi responden sebesar 59. 1 Presentase Usia . artinya pada penelitian ini tidak membeda-bedakan antara jenis kelamin. dan yang terkecil pada usia >80 tahun yaitu sebesar 19.2 terlihat.1 % data ini dapat dilihat pada grafik.0 100 Karakteristik Frekuensi Persentase (%) Dari tabel 2.9 %. persentase tertinggi berada pada umur 70-80 tahun yaitu sebesar 45. Tabel 2.1 45.

Salah satu yang paling mempengaruhi adalah sebagian besar lansia yang tinggal di panti sudah tidak memiliki keluarga dan yang memiliki keluargapun sudah jarang ditemui lagi. Grafik. 2 Depresi .2%).Tabel 2.8 Jumlah 37 100 Responden sebagian besar mengalami depresi sebanyak 23 (62. Depresi Tidak Depresi Depresi Frekuensi 23 14 Persentase (%) 62.2 37. Terjadinya depresi pada lanjut usia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta disebabkan karena lansia tidak memiliki keluarga maupun tempat tinggal.3. Karakteristik Subyek Penelitian Depresi No 1.

Insomnia Tidak Insomnia Jumlah 20 17 37 54.9 100 Berdasarkan hasil penelitian tentang gambaran karakteristik responden didapatkan bahwa lansia mengalami insomnia sebanyak 20 (54.4. Insomnia bisa terjadi pada lanjut usia karena insomnia termasuk salah satu yang sering terjadi pada lanjut usia seiring dengan usia yang semakin tua menyebabkan lanjut usia mengalami perubahan dalam pola tidurnya. Karakteristik Subyek Penelitian Insomnia No Insomnia Frekuensi Persentase (%) 4.1 45. 3 Insomni . Grafik.Tabel 2.1%).

Grafik. 4 Hubungan Depresi Dan Insomnia . dan responden depresi yang tidak mengalami insomnia berjumlah 6 orang. Sedangkan responden yang tidak mengalami depresi tetapi mengalami insomnia berjumlah 3 orang dan responden yang tidak mengalami depresi dan tidak mengalami insomnia berjumlah 11 orang.9% 37 100% Dari tabel 2.4% 11 78.3% 23 100% Total Tidak depresi Total 3 21.1% 17 45.Tabel 2.5 Cross Tabel Hubungan Depresi Dan Insomnia Insomnia Ya Depresi 17 73.6% 14 100% 20 54. terlihat jelas bahwa responden yang mengalami depresi dan juga mengalami insomnia berjumlah 17 orang.5.9% 6 Tidak 27.

799 0.455 .60 – 0.20 – 0.2. Tabel 2.6. maka digunakan uji Korelasi Koefesien Kontingensi menggunakan program SPSS 17 For Windows hasilnya dapat dilihat pada Tabel 2.80 – 1. Analisis data Untuk mengetahui signifikasi hubungan antara depresi dan insomnia pada lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta.002 37 Dengan uji korelasi koefesien kontingensi dapat terlihat adanya hubungan yang bermakna antara depresi dan insomnia pada lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta dapat dilihat pada tabel 2.399 0.40 – 0.7. Interval Koefesiensi Kontingensi Interval Koefesiensi Kontingensi 0.6 Tabel 2. Sig. .199 0.00 – 0.599 0.6 Hasil analisis dengan Uji Korelasi Koefesien Kontingensi Symmetric Measures Nominal by Nominal N of Valid Cases Contingency Coefficient Value Approx.000 Tingkat Hubungan Sangat Lemah Lemah Sedang Kuat Sangat Kuat .

Dari tabel 2.7.455 dan interpretasi hubungan korelasi antara kedua variabel memiliki kekuatan sedang. . koefesien kontingensi diatas didapat hasil hubungan antara depresi dan insomnia pada lansia (r) yaitu 0.

Hal ini ditandai adanya pemikiran tidak ada yang memperhatikan. Lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta sebagian besar mengalami depresi sebanyak 22 (59. 620. dia akan memperlihatkan warna kepribadian tertentu yang akan menentukan seberapa berhasil dan tidak berhasil dalam memasuki dan menjalani lansia (Harimurti.Rajiman No. merasa hidupnya tidak beruntung. Faktor itulah yang menyebabkan lansia memiliki pandangan yang negatif terhadap dirinya. Dr.B. merasa kesepian. Jumlah penghuni panti sebanyak 94 laki-laki dan perempuan dan semuanya lansia. reaksi terhadap lingkungan. daya inisiatif dan daya kreatif ini pada lansia dapat menimbulkan masalah psikologis. dan merasa sedih ditinggal keluarganya. . Salah satu yang paling mempengaruhi adalah sebagian besar lansia yang tinggal di panti sudah tidak memiliki keluarga dan yang memiliki keluarga sudah jarang ditemui lagi. Apabila itu terjadi terus-menerus akan menyebabkan lansia tidak dapat mengendalikan dirinya. yang terletak di Jl. sehingga didapatkan gejala depresi pada lansia yang tinggal di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta. Apa yang terjadi dan akan dialami oleh lansia tidak dapat dilepaskan dari pembentukan pengalaman masa lalu. dan kejadian depresi ringan-sedang merupakan tahapan awal yang terjadi sebelum memasuki tahapan yang lebih kronis lagi. Kekuatan tubuh yang mulai berkurang daya penyesuaian diri. Tahap memasuki usia tua akan dialami oleh semua orang (tak bisa dihindarkan). tetapi kondisi fisik dan psikologis lansia sangat berbeda dari satu lansia dengan lansia lainnya. PEMBAHASAN Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta merupakan panti yang didirikan oleh Pemerintah Kota Surakarta.5%). 2009).

Tetapi tingkat depresi lansia lebih dominan dalam tingkat depresi sedang sebanyak 15 (34%) orang (Sumirta I.Penelitian ini didukung oleh Soejono bahwa depresi menjadi salah satu problem gangguan mental yang sering ditemukan pada lanjut usia. Mudah terbangun mendatangkan depresi individual. tegang. sehingga gejala depresi yang muncul seringkali dianggap sebagai bagian dari proses menua Angka kejadian depresi pada lansia usia diatas 65tahun diperkirakan sekitar 10-30% (Soejono. Semua ini bisa meningkat seiring bertambahnya usia (Rafknowledge. 2000). kemarahan yang tak terkendali. 2008). Prevalensinya diperkirakan 10%-15% dari populasi lanjut usia dan diduga sekitar 60% dari pasien di unit Geriatri menderita depresi. kehilangan harga diri. 2002). Depresi pada lansia memiliki tiga kriteria yaitu depresi ringan ditandai dengan kehilangan minat. Depresi juga menyebabkan lansia mengalami gangguan tidur. insomnia termasuk salah satu gangguan tidur yang sering dijumpai pada lansia (Muslichah. Kegelisahan yang mendalam. kesenangan dan mudah menjadi lelah. didapatkan 72 % lansia menderita depresi yang bervariasi dari tingkat ringan sampai berat. situasi sosial yang tidak berpihak termasuk diantaranya yang memicu sulitnya tidur. 2010). . Menurut Sumirta menjelaskan dari hasil penelitiannya di salah satu panti di Denpasar tahun 2008. 2004). dan keinginan untuk bunuh diri. Gangguan psikiatri berat terutama depresi sering kali menimbulkan bangun terlalu pagi dan dapat bermanifestasi sebagai insomnia dan hipersomnia (Prayitno. Selain itu menurut Rafknowledge depresi berkaitan erat dengan insomnia pada sebagian besar insomnia inti permasalahannya adalah emosional. sedangkan depresi berat ditandai dengan gelisah. Depresi sedang ditandai dengan mengalami kesulitan untuk meneruskan kegiatan sosial dan pekerjaan.

1%). dengan perkiraan lebih dari setengah jumlah lansia yang berusia di atas 60 tahun mengalami kesulitan tidur dan terjadi perubahan pola tidur seiring bertambahnya usia seperti perubahan arsitektur tidur. Italia pada lansia yang bertempat tinggal disebuah komunitas menyebutkan. Mereka juga mengeluhkan sulit untuk memulai tidur. lansia cenderung mempunyai keinginan untuk tidur siang yang lebih besar dibandingkan orang muda (Rafknowledge. kondisi yang menyakitkan dan tidak menyenangkan (Kaplan. Sebagian besar lanjut usia mengatakan bahwa setiap hari sulit untuk tertidur kembali setelah terbangun ditengah malam. Insomnia bisa terjadi pada lansia karena insomnia termasuk salah satu yang sering terjadi pada lansia seiring dengan usia yang semakin tua menyebabkan lansia mengalami perubahan dalam pola tidurnya. tempat tidur dan suasana kamar kurang nyaman. dan pada wanita presentasenya lebih besar dibandingkan . kondisi mutu dan durasinya juga terganggu. Selain itu menurut Marchira dalam studi penelitian yang dilakukan oleh Manggi at al di Florence. perubahan lingkungan. 2004). dan sering terbangun lebih awal. Insomnia adalah kesukaran dalam memulai dan mempertahankan tidurnya keadaan ini adalah keluhan tidur yang paling sering bisa disebabkan karena gangguan depresi dan cemas. 2010).Hasil penelitian tentang gambaran karakteristik responden yang mengalami insomnia dilihat pada tabel 2. tidur malam lebih mudah terganggu. Penelitian ini di dukung oleh Rafknowledge . meskipun tingkat kesulitan tidur berbeda pada masing-masing individu. tidur tidak tenang. yang mengatakan bahwa gangguan tidur merupakan keluhan utama yang sering dialami lansia. jika prevalensi insomnia pada lansia cukup tinggi. Lansia yang tinggal di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta mengalami insomnia karena mereka mengatakan mengalami kesulitan tidur. akibat penuaan.4 sebanyak 20 (54.

86%). 2007) 37 responden baik laki-laki maupun perempuan yang mengalami depresi dan juga mengalami insomnia sebanyak 17 orang atau 73.2009).dengan pria yaitu (54% berbanding 36%). yang dilakukan di salah satu panti di Bali yang menunjukan dari 35 jumlah populasi yang ada. Selain itu penelitian yang dilakukan Lumbantobing mendapatkan prevalensi penyakit psikiatri 2-3 kali lebih tinggi pada penderita insomnia. Besarnya presentase jumlah lansia yang menderita insomnia tersebut karena pengaruh dari faktor usia yaitu semakin tua usia seseorang semakin rentan terkena insomnia (Widastra .9%. ternyata 15 orang (42. lebih banyak dialami oleh pria dibandingkan wanita yaitu (37% berbanding 30%) (Marchira. Penelitian yang dilakukan oleh Prayitno bagian Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Trisakti menunjukan bahwa pasien depresi selalu mengeluhkan tidurnya kurang pulas dan mudah sekali terbangun. tidur REM lebih cepat datangnya sehingga biasanya mengalami mimpi-mimpi yang tidak menyenangkan (Prayitno. Pada penelitian sebelumnya juga menunjukan hasil yang sama. Hasil ini sesuai seperti yang dilakukan pada Penelitian Widastra . Dan resiko depresi sebagai penyakit pendamping lebih tinggi lagi. dari semua jumlah populasi termasuk dalam kategori insomnia. kekurangan tidur akibat insomnia memberi kontribusi pada timbulnya suatu penyakit. 2008) Orang dengan insomnia lebih mudah menderita depresi dibandingkan mereka yang tidak insomnia. yaitu empat kali pada pasien dengan insomnia (Lumbantobing. dimana depresi selalu berhubungan dengan insomnia. termasuk penyakit jantung dan selain itu juga orang dengan insomnia dapat . Sedangkan Gislason et al menyebutkan jika gangguan tidur pada lansia di Islandia. 2002).

8 Pola tidur pasien depresi No Pola Tidur Depresi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah tidur Kualitas tidur Mimpi Masuk tidur Sering bangun malam Bangun pagi Pagi hari Latensi tidur Tidur REM Regularitas Berkurang Dangkal – sedang Menakutkan 15-60 menit Sering Dini hari Lesu Normal/ memanjang Memendek Ireguler dan terputus-putus (Prayitno. 2002). .menurunkan kemampuan dalam memenuhi tugas harian serta kurang menikmati aktivitas hidup (Rafknowledge. 2004). Tabel 2. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa depresi dan insomnia pada lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta memiliki hubungan. Hasil ini sesuai dengan sumber pustaka dimana dijelaskan bahwa lansia dengan keluhan insomnia harus diperkirakan adanya kemungkinan besar diakibatkan karena depresi atau ansietas (Amir. 2007).

agar tidak terjadi depresi berat sehingga terjadi insomnia. Diharapkan lansia mengikuti setiap kegiatan keagamaan. B. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis statistik dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara depresi dan insomnia. \perlu adanya penelitian mengenai faktor-faktor lain yang diduga dapat mempengaruhi terjadinya depresi. 4. Diperlukan pencegahan dini pada lansia yang tidak mengalami depresi ataupun yang depresi ringan. . Tingkat hubungan keduanya memiliki kekuatan sedang. Perlu adanya upaya peningkatan pengetahuan tentang bahayanya depresi dan insomnia.BAB V PENUTUP A. SARAN Untuk mempertimbangkan hasil penelitian yang menunjukan bahwa depresi dapat mengakibatkan lansia dipanti Wredha Dharma Bhakti Surakarta menjadi insomnia untuk itu penulis menyarankan 1. 3. 5. 2. olahraga.dan lain sebagainya agar lansia lebih memaknai hidup agar tidak larut dalam pikiran yang menimbulkan efek dari depresi yang berakibat insomnia karena dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Pengasuh panti melakukan pendekatan dan memberi penanganan terpadu kepada lansia yang mengalami depresi dan insomnia.

Diakses 17 mei 2012 Iskandar.go. Diakses 26 Mei 2012 Harimurti. Diakses 22 Maret 2012 American Academy of Sleep Medicine. Sleep Medicine. Hawari. psikiatri konsep dasar dan gangguangangguan. 2008. K.pdf. Jakarta: FKUI. Dalam : Psikiatri Biologi. http://jateng. Diakses 26 Mei 2012.pp:323-337. 5). Integrasi Agama dalam Pelayanan Medik. 2008.pdf.R. Diakses 26 maret 2012. L. Jakarta http://www. USU digital Library.id.bps. No 156. Semarang American Academy of Sleep Medicine.id/files/cdk/files/157_09 Diakses 22 Maret 2012.Y. 2011.kalbe. Sunardi. 2006. Jakarta: Yayasan Dharma Graha. Faktor Resiko Depresi Pada Pasien Geriatri. S. 2007. Ganggan Tidur Pada Lanjut Usia.files. http://gudangarsipadibahmadi.com/gangguan-tidur. 1985. wordpress. Proses Menua Dan Implikasi Kliniknya. Arikunto. Ppc 1-3. Cipto Mangukusumo. Insomnia Anxietas Dan Depresi. Buku Ajar Penyakit Dalam Jilid I (ed.diakses 22 Maret 2012. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.com/2011/03/sleep-loss-learning-capacity-and-academicperformance1. Sleep Loss. FKUI. PP : 37-41. C. . Westchester.files. Biro Pusat Statistik. Gangguan Tidur. 2011. Insomnia. Vol II. Heriawan. Diagnosis Dan Penatalaksanaannya. 2010. 2007. A. 2007. N. Bagian Psikiatri RS. G.co. http://teensneedsleep. Diakses 22 Maret 2012.go. Ferara. “Angka Harapan Hidup”. MIF. Jakarta: Rineka Cipta Baihaqi.wordpress.DAFTAR PUSTAKA Al Qur’an Al’karim. “Penduduk Jateng Menurut Kabupaten/Kota Dan Kelompok Usia Tahun 2006”. Genaro. dr. I. Fakultas Kedokteran UI. Bandung :PT Refika aditama.Learning Capacity and Academic Performance. Carcio. Amir. 2002.PP 113 Bappenas. http://bappenas. Japardi. “Cermin Dunia Kedokteran”. Insomnia Significangtly Affects The School Performance of College Students.. 2009. Dadang.id. pp: 1-4. Jakarta.

Lumbantobing.Depression Scale Departemen Psikiatri RS H.lipi. Metodologi Penelitian Kesehatan. 2010. 2. Maryam. C. Marto.pdii. 2010.php?page=Episode+Depresi+Berat +dengan+Insomnia/ Diakses 01 Oktober 2012. Kuesioner Geriatric.S.fkumyecase. Depresi Pada Lansia. Hal: 268. 2007. 2004. Muslichah. http://. Sugiyono. Murti.M. A. Surabaya: Airlangga University Press. Ed. Mengenal usia lanjut. Hadi.univmed. 2009. Jakarta FKUI. Sumirta. dkk.org/wp-content/uploads/2011/02/Prayitno. 2008. Jakarta: Rineka Cipta. http://repository.usu. SardjitoYogyakarta.id/admin/jurnal/6208160166_1693-4903/ Diakses 01 Oktober 2012 Surya. I Nengah. 2008. W. Jakarta Maramis.ac.F. http://www. Adam Malik Medan : FK USU Medan. B. Gangguan Pola Tidur Pada Kelompok Usia Lanjut Dan Penatalaksanaannya. Prayitno. Rafknowledge. .net/wikiindex. Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa. 2007 Insomnia Pada Lansia Dan Penatalaksanaanya Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa /SMF Jiwa FK UGM/ RS Dr. Bandung: CV Alfa Beta. M. Hubungan antara aktivitas fisik dengandepresi pada lansia di pelayanan lanjut usia “Wana Seraya” Denpasar. H. Marchira. Jakarta.pdf Diakses 26 Mei 2012 .Kaplan. Gangguan Tidur. Yogyakarta: FK UGM Yogyakarta. 2000.go. 2008.R. GERIATRI (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). R. . Jakarta: Salemba medika. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. 2004. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2010 Episode depresi berat dengan insomnia http://www. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Puri. Jakarta: EGC. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi Edisi 2. Stastika Untuk penelitian. FK USU Medan. FKUT. Sinopsis Psikiatrik Klinis Edisi 2. SardjitoYogyakarta. Jakarta: Gramedia Soejono. Jakarta : EGC.pdf Diakses 01 Oktober 2012. 2011. B. Kontribusi Dukungan Sosial Terhadap Insomnia pada Lansia di Poli Geriatri RS Dr. Buku Ajar Psikiatri. 2005.id/bitstream/123456789/21410/5/Chapter%20I. Insomnia Dan Gangguan Tidur Lainya. 2003. Soekidjo. 2002. M. Notoatmodjo.K.

3. Suryo. H. Departeman psikiatri RS. I Made. Syamsir. Depresi sebagai Faktor Resiko Insomnia pada Lansia di RS dr Sardjito Yogyakarta. B. Hal: 488 Jakarta: Indeks. Hal: 47-65 Jakarta : EGC. Gangguan Depresif Pada Usia Lanjut. Mental Helath: Depression http: www. go. Gangguan Mood. 6. Tomb.ac. S. Terapi relaksasi progresif sangat efektif mengatasi keluhan insomnia pada lanjut usia. pdii. 2009.en Diakses 30 Maret 2012. Yogyakarta: FK UGM Yogyakarta. Medan : FK UNSU Medan.ac. 2003.pdf Diakses 2 Juli 2012. 2004.pdf Diakses 26 Mei 2012.id/bitstream/123456789/18790/1/mkn-jun200740%20(13).who. 2005.healt immagement depression depresionph.id/bitstream/123456789/17632/1/Appendix. http://pisjd.id admin jurnal 21098489. 2010 Webster’s New World Kamus Kedokteran Ed.http://repository. Widastra.S.usu.intimedial. Ed.lipi. Buku Saku Psikiatri. WHO. Malik.usu.A. D. William C. . http://repository. pdf/ Diakses 26 Mei 2012.

LAMPIRAN .

Lampiran 1 INFORMRD CONSENT HUBUNGAN ANTARA DEPRESI DAN INSOMNIA PADA LANSIA DI PANTI WREDHA DHARMA BHAKTI SURAKARTA Yang bertanda tangan dibawah ini. Surakarta . Peneliti 2012 Responden ( Hermayudi ) ( ) . Nama Jenis Kelamin Umur Agama Alamat : : : : : Dengan ini menyatakan bahwa bersedia menjadi responden dalam penelitian yang dilakukan oleh Hermayudi dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Hobi : 9. Jenis Kelamin : 4. Nama : 3. Pendidikan Terakhir : 7. Nomor Responden : 2. Pekerjaan : 8. Umur : 5. Riwayat Penyakit Sebelumnya : . Alamat : 6.Lampiran 2 DATA RESPONDEN HUBUNGAN ANTARA DEPRESI DAN INSOMNIA PADA LANSIA DI PANTI WREDHA DHARMA BHAKTI SURAKARTA Identitas Responden 1.

MMPI) Berilah tanda (x) pada kolom “Ya” bila pertanyaan dibawah ini sesuai dengan prasaan anda. Ya 2. karna dengan demikian saya merasa jadi orang penting 12 13 14 Saya tidak selalu menyukai orang yang saya kenal Kadang-kadang saya sering menggunjingkan orang lain Kadang-kadang saya memilih orang yang tidak saya kenal dalam suatu pemilihan 15 Sesekali saya ketawa ketika mendengar lelucon porno Ya Tidak Pertanyaan : 1. No 1 2 3 4 5 6 Pertanyaan Sekali-kali saya berfikir tentang hal-hal yang buruk untuk diutarakan Kadang-kadang saya ingin mengumpat/ mencaci maki Saya tidak selalu mengutarakan hal yang benar Saya tidak tajuk rencana setiap surat kabar Saya kadang-kadang marah Apa yang dapat saya kerjakan hari ini. kadang-kadang saya tunda sampai besok 7 8 9 Bila saya tidak enak badan saya mudah tersinggung Sopan santun saya dirumah tidak sebaik jika bersama orang lain Bila saya sakit tidak seorang pun melihat saya.sesekali saya akan menyelundup nonton tanpa karcis 10 11 Saya lebih sering menang dari pada kalah dalam bermainan Saya ingin mengenal orang-orang penting. berilah tanda (x) pada kolom “Tidak” bila pernyataan tidak sesuai dengan yang anda rasakan.Lampiran 3 Kuesioner lie-score Minnesota Multiphasic Personality Inventory ( L. Tidak Skor jika “ tidak” > 10 Invalid .

daripada keluar untuk mengerjakan hal yang baru? 10 Apakah anda memiliki masalah dengan daya ingat/kosentrasi anda? 11 12 Apakah anda merasa bahwa hidupini sangat menyenangkan? Apakah anda merasa tidak berharga dengan keadaan anda saat ini? 13 14 15 Apakah anda merasa penuh dengan energi? Apakah anda sering sekali ingin menangis? Apakah anda senang bangun pagi hari? Total Skor Depresi :>5 Ya Tidak Tidak depresi : ≤ 5 .Lampiran 4 Geriatric Depression Scale (Skala Depresi Usia Lanjut) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanyaan Apakah anda merasa puas dengan hidup anda? Apakah anda dapat melakukan sebagian besar kegiatan anda? Apakah anda merasa hidup anda tidak berguna? Apakah anda sering merasa bosan? Apakah anda hampir selalu bersemangat tinggi? Apakah anda takut sesuatu yang buruk akan menimpa anda? Apakah anda merasa bahagia sepanjang waktu? Apakah anda sering merasa tidak berdaya? Apakah anda lebih senang tinggal dirumah.

Lebih lama dari 1 jam MIDDLE INSOMNIA 5. Berapa lama anda tidur dalam sehari ? a. > 6 jam 30 menit b. 1 – 2 kali terbangun c. Dalam dan sukar dibangunkan b. Sealama anda tertidur apakah ? a. Bagaimana rasa tidur anda ? a. Tidak pernah terbangun b. Dangkal dan mudah dibangunkan 4. 6 – 15 menit c. 16 – 29 menit d. berapa kali anda terbangun malam hari ? a. Sering sekali bermimpi d. Antara 5 jam 30 menit – 6 jam 29 menit c. Sedang dan mudah dibangunkan d. Antara 4 jam 30 menit – 5jam 29 menit d. berapa lama diperlukan untuk jatuh tidur? a. Selama anda tidur.Lampiran 5 Kuesioner Insomnia Reting Scale – KSPBJ INITIAL INSOMNIA 1. < 5 menit b. Kadang – kadang ada mimpi yang tidak jelas c. Sedang tapi sukar dibangunkan c. 3 – 4 kali terbangun . Selalu bermimpi yang menakutkan 3. Bila anda sampai ditempat tidur. Rasanya tidak penah bermimpi b. < 4 jam 30 menit 2.

Bila anda terbangun malam hari.d. maka untuk tidur lagi dibutuhkan waktu? a. Pada pagi hari anda dapat bangun? a. Bila anda bangun pada pagi hari apakah anda merasa ? a. Rasanya lesu d. < 5 menit b. 1 jam sebelum waktu yang dikehendaki sudah bangun dan tidak dapat tidur lagi d. Bangun pada waktu yang dikehendaki b. Antara 16 – 60 menit d. Lesu sekali SKOR ≤ 8 > 8 : Tidak Insomia : Insomia . 30 menit sebelum waktu dikehendaki sudah bangun dan tidak dapat tidur lagi c. > 1 jam sebelum waktu yang dikehendaki sudah bangun dan tidak dapat tidur lagi 8. Kurang segar c. Antara 6 – 16 menit c. > 60 menit LATE INSOMNIA 7. > dari 4 kali terbangun 6. Segar b.

Lampiran 6. Hasil Data No Nama Umur (Tahun) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Prt Pj Sgt Rk Sr Sw Sm Sd Br Jm Rm Sn Ys Sr Ss Si Th Pt Kt Sk Sw Sp Hd St mg An 75 73 82 65 70 69 69 66 69 62 76 77 70 83 65 78 80 70 65 61 73 70 78 80 80 80 Jenis Kelamin P L P L P L L L P P P L L P L P P P P L L P L L P P Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Ya Ya Tidak Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Ya Depresi Insomnia Klasifikasi Umur 70-80 70-80 >80 <70 70-80 <70 <70 <70 <70 <70 70-80 70-80 70-80 >80 <70 70-80 70-80 70-80 <70 <70 70-80 70-80 70-80 70-80 70-80 70-80 .

27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 Dd Tg Sa Sn Tr Kj Tk Sl Ht Se Kk 82 60 63 60 99 78 82 80 67 70 81 P L L P L P L P L P L Ya Tidak Tidak Tidak Ya Ya Ya Tidak Tidak Tidak Ya Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Ya Ya >80 <70 <70 <70 >80 70-80 >80 70-80 <70 70-80 >80 .

2 100.1 83.6 16.0 Valid Percent 35.2 100.8 100.Lampiran 7. Analisis Data Statistics klasifikasi_umur N Valid Missing 37 0 klasifikasi_umur Cumulative Frequency Valid <70 70-80 >80 Total 13 18 6 37 Percent 35.1 48.1 48.0 .0 Percent 35.6 16.

0% depresi * insomnia Crosstabulation Count insomnia ya depresi ya tidak Total 17 3 20 tidak 6 11 17 Total 23 14 37 .0% N 37 Total Percent 100.Case Processing Summary Cases Valid N depresi * insomnia 37 Percent 100.0% N 0 Missing Percent .

2 100.2 37.Statistics depresi N Valid Missing 37 0 depresi Cumulative Frequency Valid ya tidak Total 23 14 37 Percent 62.8 100.2 37.0 .0 Valid Percent 62.8 100.0 Percent 62.

1 45.0 .0 Percent 54.Statistics insomnia N Valid Missing 37 0 insomnia Cumulative Frequency Valid ya tidak Total 20 17 37 Percent 54.1 45.1 100.9 100.0 Valid Percent 54.9 100.

0% Symmetric Measures Value Nominal by Nominal N of Valid Cases Contingency Coefficient .0% Total 23 100. Sig.6% 64.0% 20 54.7% 17 45.3% 11 78.0% 62. .0% 37.8% 37 100.1% 100.9% 100.depresi * insomnia Crosstabulation insomnia ya depresi ya Count % within depresi % within insomnia tidak Count % within depresi % within insomnia Total Count % within depresi % within insomnia 17 73.2% 14 100.0% tidak 6 26.002 .455 37 Approx.0% 100.0% 3 21.4% 15.1% 35.9% 85.

Surat Izin Penelitian .Lampiran 8.

Lampiran 9. Surat rekomendasi Penelitian dari FK UMS .