You are on page 1of 16

Ekologi Administrasi merupakan lingkungan yang dipengaruhi dan mempengaruhi administrasi, yakni: Politik, ekonomi, budaya, tekhnologi, security

dan natural resource. Inti dari administrasi publik adalah pelayanan publik. Administrasi publik dalam melayani publik bertujuan untuk menyejahterakan dan memenuhi kebutuhan publik dengan cara menyediakan barang dan jasa namun tidak berorientasi pada profit. Adapun fungsi negara terdapat dalam UUD45 alinea ke 4 yakni: sebagai Security (keamanan); Wealth (Kesejahteraan); Education (Pendidikan); Peace (Perdamaian) dan Relation.

Berdasarkan perkembangannya, Negara di seluruh belahan dunia mempunyai identitas masing-masing. Identitas itu dikategorikan menjadi dua yakni:

Developed Country

Center Country (dominan daerah kutub. Ex: Eropa)

Developed Country adalah istilah untuk kategori Negara maju yang merupakan Negara pusat. Negara ini dikatakan sebagai Negara maju karena dalam segala aspek kehidupannya baik itu dari segi Politik, ekonomi, budaya, tekhnologi, security dan natural resource mereka telah mandiri. Mandiri di sini artinya bahwa mereka telah mampu menyediakan sendiri kebutuhan Negara. Negara maju memiliki Sumber Daya Manusia dengan skill yang tinggi sehingga mampu menciptakan tenaga ahli di berbagai bidang. Mereka para tenaga ahli juga dapat menciptakan tekhnologi maju dan innovasi terbaru bagi perkembangan yang berkelanjutan dengan lebih baik dan lebih baik lagi. Selain itu, Negara maju bisa mengolah sumber daya alamnya sendiri. Walaupun beberapa Negara maju di belahan dunia ada yang masih mengimpor bahan mentah dari Negara berkembang seperti Indonesia. Akan tetapi, bagi mereka Negara maju tidak ada masalah karena bahan jadi akan lebih memberikan keuntungan yang besar.

Developing Country

Satellite Country (Biasanya berada di daerah Tropis

Developing Country adalah istilah yang digunakan untuk Negara satellite (Negara pinggiran) yang memproduksi hasil-hasil pertanian. Pada umumnya, Negara pinggiran ini adalah Negara yang tergolong dalam kategori Negara berkembang, contohnya adalah Negara Indonesia. Adapun ciri dari Negara berkembang adalah sebagai berikut:

Jumlah penduduknya banyak dan padat perkilo meter perseginya dan tingkat pendidikan rakyatnya rendah dengan tingkat buta aksara tinggi. Sebagian rakyatnya bekerja disektor pertanian pangan secara tak produktif,sementara hanya sebagian kecil rakyatnya bekerja disektor industry sehingga produktifitas kerjanya rendah. Kuantitas sumber-sumber alamnya sedikit serta kualitasnya rendah. Kalau mempunyai sumber-sumber alam yang memadai namun belum diolah atau belum dimanfaatkan. Mesin-mesin produksi serta barang-barang kapital yang dimiliki dan digunakan hanya kecil atau sedikit jumlahnya. Sebagian besar dari mereka merupakan negara-negara baru diproklamasikan kemerdekaannya dari penjajahan kira-kira satu atau dua dekade.

Faktor-faktor Negara menjadi kaya dan miskin

Sumber Daya Manusia Pertmbuhan Ekonomi (Pendapatan nasional, cadangan devisa, dll) Distribusi (pertimpangan) Kualitas kehidupan, Human Development di Indonesia sebesar 0,7. Cadangan devisa Negara Indonesia sebesar $110. Lingkungan Mengukur tingkat kemiskinan di suatu Negara:

Faktor Internal (Teori Modernisasi) Faktor Eksternal (Dependent Theory)

Teori Teori Pembangunan

Teori Modernisasi Harrod Doman (Teori tabungan dan Investasi) Bahwa masalah pembangunan pada dasarnya merupakan masalah menambahkan investasi modal. Prinsip dasar : kekurangan modal, tabungan dan investasi menjadi masalah utama pembangunan.

David Mc Cllaland (Need for Achievement) Keinginan/kebutuhan berprestasi bukan sekedar u/ mendapatkan imbalan tetapi juga kepuasan. Pertumbuhan ekonomi yg tinggi didahului oleh n-Ach yg tinggi.

F.W. Rostow

Pembangunan dikaitkan dengan perubahan dari masyarakat agraris dengan budaya tradisional ke masyarakat yang rasional, industrial dan berfokus pada ekonomi pelayanan.

Tahapan pembangunan:

Masyarakat Tradisional: Pemikiran jangka pendek; hanya mengandalkan alam; percaya akan hal mistis Masyarakat Pra-Tinggal Landas: sudah ada bantuan dari Negara maju untuk Negara berkembang dalam membangun negaranya Masyarakat Lepas Landas: masyarakat industry-industri strategis Masyarakat kearah kedewasaan: memiliki industry yang mampu bersaing secara globalisasi Masyarakat Konsumsi tinggi Karena kenaikan pendapatan masyarakat, konsumsi tidak lagi terbatas pada kebutuhan pokok untuk hidup, tetapi meningkat ke kebutuhan lebih tinggi. Produksi industry juga berubah, dari kebutuhan dasar menjadi kebutuhan barang konsumsi yang tahan lama.

Max Weber Weberian mengakui bahwa keyakinan yang mereka anut akan membawa kemajuan bagi mereka. Kejayaan manusia di bumi disebabkan oleh faktor ketaatan mereka pada Tuhan Yang Maha Esa. Sebaliknya, kemelaratan yang mereka alami disebabkan oleh faktor penghianatan mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Teori Struktural Teori struktural atau biasa disebut dengan teori ketergantungan merupakan bagian dari teori pembangunan dunia ketiga yang menjelaskan bahwa Negara-negara miskin tersebut disebabkan oleh faktor-faktor eksternal. Kemiskinan dilihat terutama sebagai akibat dari bekerjanya kekuatankekuatan luar yang menyebabkan Negara yang bersangkutan gagal melakukan pembangunannya.

Industri Subtitusi Impor

Industri Subtitusi Impor: mampu meminimalisir barang impor; tidak bergantung pada asing. Menurut Prebisch Negara-negara di dunia dibagi menjadi dua yaitu negara pusat (core countries) dan pinggiran (periphery). Menurut Prebisch Industrialis makin kaya sedangkan agraris makin miskin karena:

a. Permintaan u/ barang-barang pertanian tidak elastis

b. Negara-negara industri melakukan proteksi terhadap hasil pertanian mereka sendiri

c. Kebutuhan bahan mentah dikurangi karena adanya penemuan-penemuan teknologi baru.

Kondisi itu mengakibatkan banyaknya barang impor negara pinggiran dari negara pusat.

Imperialisme dan kolonialisme Imperialisme dan kolonialisme mengacu pada tiga kelompok teori, yakni:

Kelompok teori God yang menekankan idealism manusia dan keinginannya untuk menyebarkan ajaran Tuhan, untuk menciptakan dunia yang lebih baik; Kelompok teori Glory yang menekankan kehausan manusia terhadap kekuasaan, untuk kebesaran pribadi maupun kebesaran masyarakat dan negaranya; Kelompok teori Gold yang menekankan pada keserakahan manusia, yang selalu berusaha mencari tambahan kekayaan, yang dikuasai oleh kepentingan ekonomi. Kretinisme Bila Marx mengatakan bahwa sentuhan Negara-negara kapitalis maju kepada Negara-negara prakapitalis yang terbelakang akan membangun Negara-negara yang terakhir ini untuk berkembang seperti Negara-negara kapitalis di Eropa, Baran berpendapat lagi. Baginya, sentuhan ini akan mengakibatkan Negara-negara pra-kapitalis terhambat kemajuannya dan akan terus hidup dalam keterbelakangan. Baran menyatakan bahwa perkembangan kapitalisme di Negara-negara pinggiran berbeda dengan perkembangan kapitalisme di Negara pinggiran., sistem kapitalisme menyebabkan Negara pinggiran terkena kretinisme.

Menurut Baran, perkembangan kapitalisme di Negara-negara pusat bisa berkembang karena adanya tiga pra-syarat:

Meningkatnya produksi diikuti dengan tercabutnya masyarakat petani dari pedesaan; Meningkatnya produksi komoditi dan terjadinya pembagian kerja mengakibatkan sebagian orang menjadi buruh yang menjual tenaga kerjanya sehingga sulit menjadi kaya, dan sebagian lagi menjadi majikan yang bisa megumpulkan harta; Mengumpulnya harta di tangan para pedagang dan tuan tanah.

Contoh Kasus:

Kemitraan antara Pemerintah Indonesia dengan Amerika Serikat dalam Pengelolaan Industri Pertambangan PT. Freeport di Papua

Hubungan kemitraan antara pemerintah Indonesia dengan Amerika Serikat dalam pengelolaan industri pertambangn PT. Freeport di Papua ini lebih bersifat merugikan dari pada menguntungkan. Amerika Serikat lebih berkuasa atas pengelolaan Industri Pertambangan PT. Freeport di Papua. Amerika Serikat banyak berkontribusi bukan hanya dari segi investasi, akan tetapi juga dalam sumber daya manusia seperti tenaga ahli dan juga berbagai teknologi canggih untuk optimalisasi Industri Pertambangan tersebut. Berikut ini beberapa fakta kerugian akibat penjajahan secara tidak langsung oleh Amerika Serikat dengan mengeksploitasi secara besar-besaran hasil bumi bidang pertambangan di Indonesia:

1. PT Freeport McMoran Indonesia (Freeport) melakukan aktivitas penambangan di Papua yang dimulai sejak tahun 1967 atau selama 42 tahun. Keuntungan dari kegiatan penambangan mineral freeport telah menghasilkan keuntungan luar biasa besar terhadap perusahaan milik bule tersebut, tetapi lihat apakah keuntungan itu juga dinikmati bangsa Indonesia terutama rakyat papua, kenapa pula di Yohukimo masih terjadi kelaparan.

2. Hasil tambang Freeport berupa tambang emas, perak, dan tembaga terbesar di dunia. Fasilitas dan tunjangan serta keuntungan yang dinikmati para petinggi freeport besarnya 1 juta kali lipat pendapatan tahunan penduduk Timika, Papua yang hanya sekitar $132/tahun. Keuntungan yang

diperoleh Freeport tidak melahirkan kesejahteraan bagi Indonesia terutama warga sekitar. Kesenjangan ala kolonial ini menjadi bibit konfik di papua

3. Keberadaan sang freeport sangat didukung pemerintah. Dilihat dari Penandatanganan Kontrak Karya (KK) I pertambangan antara pemerintah Indonesia dengan Freeport pada 1967, yang kemudian menjadi landasan aktivitas pertambangan freeport. Bahkan kemudian UU Pertambangan Nomor 11/1967, yang disahkan pada Desember 1967 yang disahkan delapan bulan setelah penandatanganan KK menjadikan KK tersebut menjadi dasar penyusunanya.

4. Penambangan Ertsberg dimulai pada Maret 1973 dan habis pada tahun 1980-an sisanya lubang sedalam 360 meter.

5. Pada tahun 1988, Freeport mulai menambang Grasberg sebuah cadangan raksasa lainnya, hingga saat ini.

6. Hasil dari eksploitasi kedua wilayah tersebut diatas,Freeport memperolah sekitar 7,3 juta ton tembaga dan 724, 7 juta ton emas.

7. Sampai Bulan Juli 2005, lubang yang diakibatkan penambangan Grasberg mencapai diameter 2,4 kilometer yang meliputi luas 499 ha, dalamnya 800m, sama dengan ketinggian gedung tertinggi di dunia Burj Dubai

8. Diperkirakan terdapat 18 juta ton cadangan tembaga, dan 1.430 ton cadangan emas yang tersisa hingga rencana penutupan tambang pada 2041.

9. Masalah yang timbul dari aktivitas Freeport yang berlangsung dalam kurun waktu lama ini diantaranya penerimaan negara yang tidak optimal dan peran negara/BUMN untuk ikut mengelola tambang yang sangat minim serta dampak lingkungan yang luarbiasa. Kerusakan bentang alam seluas 166 km persegi di DAS sungai Ajkwa yang meliputi pengunungan Grasberg dan Ersberg. berupa rusaknya bentang alam pegunungan Grasberg dan Erstberg.

10. Cadangan emas yang dikelola freeport termasuk di dalam 50% cadangan emas dikepulauan Indonesia. Dari hasil luar biasabanyak tersebut yang masuk APBN sangat sedikit.

11. Freeport baru mengakui bahwa mereka menambang emas pada tahun 2005, sebelumnya yang diakui hanya penambangan tembaga. banyaknya emas yng ditambang selama 21 tahun tidak diketahui publik.

12. Volume emas dicurigai lebih diperkirakan sebesar 2,16 hingga 2,5 miliar ton emas.

13. Coba anda simak, Pendapatan utama Freeport adalah dari operasi tambangnya di Indonesia (sekitar 60%, Investor Daily, 10 Agustus 2009).

14. Hampir 700 ribu ton material dikeruk dan mengahsilkan225 ribu ton bijih emas Setiap hari . Jumlah ini setara dengan 70 ribu truk kapasitas angkut 10 ton berjejer sepanjang 700 km sejauh jarak Jakarta Surabaya

15. Freport hampir tidak berkontribusi terhadap Indonesia bahkan penduduk mimika sendiri. Kompisisi Penduduk Kabupaten Mimika, tempat Freeport berada, terdiri dari 35% penduduk asli dan 65% pendatang. Menurut BPS 41 % penduduk mimika miskin, 60% penduduk miskin tersebut adalah penduduk asli. Di Provinsi Papua sendiri kemiskinan mencapai 80,07% atau 1,5 juta penduduk.

16.Lebih dari 66 % pnduduk miskin papua adalah penduduk asli tinggal wilayah operasi freeport di pegunungan tengah. Kantong-kantong kemiskinan justru ada diwilayah freeport.

Analisis Contoh Kasus

Indonesia termasuk dalam kategori Negara dunia ketiga (Negara Berkembang), sedangkan Amerika termasuk dalam kategori negara maju. Dalam kasus Kemitraan antara Pemerintah Indonesia dengan Amerika Serikat dalam Pengelolaan Industri Pertambangan PT. Freeport di Papua ini akan dianalisis dengan menggunakan Teori Ketergantungan (Struktural).

Kretinisme di Negara berkembang merupakan suatu akibat dari adanya kerjasama yang dilakukan oleh Negara berkembang dengan Negara maju. Kemitraan antara Pemerintah Indonesia dengan Amerika Serikat dalam Pengelolaan Industri Pertambangan PT. Freeport di Papua lebih

banyak menguntungkan pihak Amerika serikat. Sistem kapitalisme dan kolonialisme secara tidak langsung dilakukan oleh Amerika Serikat. Amerika berjaya di negeri orang, sedangkan Negara kita malah sebaliknya. Salah satu buktinya adalah Hasil tambang Freeport berupa tambang emas, perak, dan tembaga terbesar di dunia. Fasilitas dan tunjangan serta keuntungan yang dinikmati para petinggi freeport besarnya 1 juta kali lipat pendapatan tahunan penduduk Timika, Papua yang hanya sekitar $132/tahun. Keuntungan yang diperoleh Freeport tidak melahirkan kesejahteraan bagi Indonesia terutama warga sekitar. Kesenjangan ala kolonial ini menjadi bibit konfik di papua.

Indonesia masih sangat tergantung pada Amerika Serikat karena Negara kita Indonesia tidak mampu mengelola sendiri industri tersebut. Indonesia tidak memiliki tenaga ahli yang professional dan tekhnologi canggih seperti Amerika Serikat untuk optimalisasi Industri pertambangan PT. Freeport di Papua. Amerika Serikat mengetahui bahwa Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang sangat istimewa. Akibat iming-iming dan rayuan gombal dari Amerika Serikat yang seakan-akan kemitraan tersebut akan membuat kesejahteraan dan kemakmuran bagi Indonesia. Akhirnya, Indonesia membuat kemitraan dengan Amerika Serikat.

Indonesia seharusnya memutus kontrak kemitraan dengan Amerika Serikat karena sudah jelas bahwa kerjasama tersebut sangat merugikan bangsa kita. Eksploitasi terhadap hasil bumi dengan bukan hanya membuat kerusakan terhadap lingkungan tetapi juga timbal balik dalam pemasukan kas Negara sangat minim. Apalagi kemitraan tersebut juga tidak menguntungkan bagi masyarakat sekitar. Terbukti bahwa masyarakat yang berada di sekitar pertambangan rata-rata penduduknya masih tegolong miskin. Padahal hasil dari pertambangan tersebut sangatlah mencengangkan. Sejak tahun 1967 sampai pada saat ini Indonesia secara tak langsung Indonesia telah terjajah oleh Amerika. Dan ini bukti bahwa Indonesia telah mengalami kretinisme karena 66 tahun lamanya Indonesia merdeka dan sampai pada saat ini Indonesia masih juga dalam status sebagai Negara berkembang.

Daftar Pustaka

Budiman, Arief. 1995. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Anonymous. Minggu, 10 April 2011. Artikel: Fakta Freeport yang merugikan Indonesia Tercinta, melalui http://google.com diakses pada tanggal 23 April 2011

Prodi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa 2012 Ekologi Administrasi Pembangunan Bidang Sosial Budaya Apapun yang menjadi tujuan pembangunan, sesungguhnya pembangunan masyarakatlah yang harus diperhatikan. Posisi masyarakat bukan menjadi objek pembangunan tetapi harus dilibatkan secara aktif dalam proses pembangunan, sehingga masyarakat juga menjadi subjek pembangunan. Tidak hanya pemerintah saja selaku penyelenggara Negara, namun pada kenyataannya pertama dinegara miskin dan berkembang karakteristik masyarakatnya masih berada pada fase tradisional. Kondisi inilah yang harus menjadi perhatian yang serius bagi pembangunan. Bagaimana merubah masyarakat tradisional menjadi masyarakat yang modern adalah salah satu tantangan dalam pembangunan. Proses pembangunan sebenarnya harus merupakan perubahan sosial budaya, menjadi suatu proses yang dapat bergerak maju sendiri (self sustaining process). Hal ini bisa terjadi apabila manusia dan struktur sosialnya mempunyai mental yang dewasa, sehingga berpartisipasi secara kreatif, ada innerwill dan proses emantisipasi diri (soedjatmiko). Aspek-aspek sosial budaya yang perlu mendapat perhatian dalam administrasi pembangunan adalah: a. Hambatan-hambatan kultur apa saja bagi proses pembangunan/pembaharuan, penting bagi administrator untuk mengadakan perubahan-perubahan kearah modernitas b. Motivasi apa saja yang dibutuhkan untuk pembaharuan yang perlu mendapat perhatian administrasi pembangunan c. Bagaiamanakah sikap-sikap masyarakat (setiap lapisan) terhadap usaha pembaharuan

d. Bagaimana masalah sosial budaya yang besar dan mendasar/menonjol dan memerlukan perhatian administrasi pembangunan

Setiap usaha untuk merubah karakteristik masyarakat tradisional menuju masyarakat yang modern, pemerintah tidak bisa lepas dari kelompok elit masyarakat. Artinya pemerintah harus mengarahkan kelompok elit untuk mendukung proses perubahan tersebut. Siagian (2003:48) menguraikan bahwa golongan elit masyarakat yang dapat memberikan pengaruh terhadap usaha pembaharuan adalah: a. Elit politik

Elit politik adalah kelompok yang memperoleh pengesahan mengenai kehendak politik bangsa serta politik pembangunan dimana ditentukan arah yang akan dijalankan dalam pembangunan bangsa oleh pemerintah. Dalam kegiatan ini tergantung pula pada hubungan antara proses politik dan proses administrasi. Dengan demikian terdapat peranan birokrasi dan teknokrasi dalam perumusan kehendak politik

b.

Elit administrasi

Elit administrasi terlibat pula dalam perumusan kehendak politik. Sering pula terjadi kompetisi antara elit politik dan elit administrasi. Jika proses administrasi lebih kuat mempengaruhi didalam proses politik, maka kebijakan dan program-program sebagai hasil konsolidasi proses politik akan lebih banyak memberikan kemungkinan pelaksanaannya dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan. Sedangkan apabila elit politik lebih kuat, maka derajat representatifnya lebih besar tetapi mengandung kelemahan dan kemungkinan-kemungkinan pelaksanaan serta konsistensinya. Tugas elit administrasi adalah menterjemahkan keinginan-keinginan politik menjadi kebijakan, rencana dan program-program pembangunan

c.

Elit cendikiawan

Elit cendikiawan akan berpengaruh dalam masyarakat tergantung pada pikiran-pikiran yang berorientasi kepada kebijakan serta program-program pembaharuan atau pembangunan atau hubungannya dengan elit-elit lainnya

d.

Elit dunia usaha

Elit dunia usaha merupakan elit yang menguasai sumber-sumber ekonomi. Elit ini sangat berorientasi kepada kepentingannya sendiri

e.

Elit militer

Elit militer merupakan elit yang semakin mempunyai peranan yang sangat besar dengan otoritas pelaksanaan kebijakan atau program serta stabilitas dan kontinuitas pembangunan. Kelompok ini telah mendapat legitimasi diri masyarakat

f.

Elit pembinaan pendapat

Kelompok ini merupakan suatu kelompok yang tugas sehari-harinya menjadi penyalur informasiinformasi dan pembentuk pendapat rakyat (public opinion) Pembangunan di bidang sosial budaya mutlak perlu mendapat perhatian serius yang tercermin pada pengarahan kemampuan, keahlian, waktu, dan biaya untuk menyelenggarakannya. Beberapa aspek utama sosial budaya Dari sekian banyak aspek sosial budaya yang relevan untuk mendapat perhatian dalam upaya memilih stategi pembangunan ada tujuh aspek yang sangat menonjol ialah: a. b. c. d. e. f. g. Bahasa Adat istiadat dan tradisi Persepsi tentang kekuasaan Hubungan dengan alam Locus of control Pandangan tentang peranan wanita Sistem keluarga besar (extended family system)

Bahasa sebagai identitas bangsa Dapat dinyatakan secara aksiomatik bahwa bahasa merupakan aspek sosial budaya yang mutlak perlu untuk dikembangkan dan dilestarikan. Dikatakan demikian karena peranannya yang sangat penting sebagai salah satu alat pemersatu bangsa, disamping peranannya dalam proses komunikasi dan sekaligus sebagai identitas bangsa yang bersangkutan. Adat istiadat dan tradisi Dapat dikatakan bahwa keseluruhan ada istiadat dan tradisi suatu masyarakat merupakan bagian penting dari budaya masyarakat yang bersangkutan. Pada dasarnya budaya suatu bangsa merupakan persepsi bersama tentang tata cara berperilaku dalam masyarakat tersebut. Budaya berfungsi sebagai: 1. Menentukan batas-batas keperilakuan dalam kehidupan bermasyarakat karena budaya mengatur apa yang baik dan tidak baik, benar atau salah, pantas dan tidak pantas, boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan. 2. Pemelihara stabilitas sosial. Dapat dicegah timbulnya konflik antara seorang anggota masyarakat dengan anggota masyarakat lain. Penyelesaian konflik harus dilakukan dengan cara-cara yang disepakati bersama oleh para anggota masyarakat yang bersangkutan.

3. Pendorong interaksi positif dan harmonis. Sebagai makhluk sosial, manusia pasti berinteraksi dengan orang-orang lain disekitarnya. Bentuk-bentuk interaksi pun beraneka ragam, tergantung pada manfaat dan kepentingannya, seperti untuk kepentingan politik, ekonomi, bisnis, seremonial, penyampaian informasi, atau untuk kepentingan nonformal lainnya. 4. Mekanisme pengendalian perilaku warga masyarakat. Adat istiadat dan tradisi yang berlaku dalam suatu masyarakat juga berperan sebagai mekanisme dalam mengendalikan perilaku para anggotanya, baik dalam lingkungan masyarakat yang bersangkutan sendiri maupun dengan pihak lain. Persepsi tentang kekuasaan Biasanya berbagai masyarakat mempunyai persepsi yang berbeda-beda tentang kekuasaan yang dalam bentuk yang ekstremnya tercermin pada dua kutub. Pada satu kutub, masyarakat memandang jarak kekuasaan antara penguasa dan yang dikuasai sebagai hal yang wajar dan normal. Dalam praktek hal itu berarti bahwa semakin tinggi kedudukan dan jabatan seseorang, semakin jauh pula jaraknya dari orang-orang yang dikuasainya. Dalam bentuknya yang ekstrem, persepsi demikian terlihat dalam struktur organisasi yang primidal. Dengan perkataan lain, dalam masyarakat diakui adanya stratifikasi kekuasaan. Hubungan dengan alam Sebagai unsur sosial budaya, pandangan suatu masyarakat tentang hubungannya dengan alam perlu pemahaman yang tepat karena mempunyai kaitan dengan gaya hidup. Para pakar mengatakan terdapat tiga jenis pandangan mengenai hal ini, yaitu : a. b. c. Manusia menguasai alam Manusia dikuasai oleh alam Manusia harus memelihara hubungan yang serasi dengan alam

Jika suatu masyarakat menganut pandangan bahwa manusia menguasai alam, yang sering terjadi ialah bahwa alam dengan segala kekayaan yang terkandung di dalamnya dieksploitasi dan dimanfaatkan demi kenikmatan hidup manusia. Masyarakat yang menganut paham demikian sering dihinggapi oleh penyakit materialism dan hedonism karena antara lain mempertahankan perolehan dan penguasaan makin banyak kekayaan sebagai ukuran keberhasilan seseorang. Masyarakat yang menganut pandangan bahwa manusia dikuasai oleh alam pada dasarnya berpendapat bahwa bumi ini hanyalah suatu mikrokosmos dan merupakan bagian dari makrokosmos yaitu semesta alam dengan segala isinya. Dalam masyarakat seperti itu biasanya meluas filsafat predeterminisme yang berangkat dari pandangan adanya kekuatan maha dahsyat yang menguasai alam semesta. Pandangan ketiga yaitu manusia harus memelihara hubungan yang serasi dengan alam mungkin dapat dikatakan sebagai penggabungan ide pokok yang terdapat pada pandangan pertama dan kedua yang telah disinggung diatas. Artinya, meskipun manusia boleh memanfaatkam alam dan berbagai kekayaan yang terkandung didalamnya demi kesejahteraan umat manusia, akan tetapi jangan hendaknya dalam pemanfaatan tersebut alam dirusak bahkan terdapat pandangan yang

mengatakan bahwa jika manusia tidak mampu memelihara hubungan yang serasi dengan alam dan merusaknya. Misalnya, alam mempunyai cara sendiri untuk balas dendam. Locus of control Pada dasarnya, yang dimaksud dengan Locus of control ialah pandangan seseorang atau suatu masyarakat tentang siapa yang mengendalikan hidup. Apakah yang bersangkutan sendiri atau kekuatan diluar dirinya. Jika pandangan yang dianut mengatkan bahwa yang bersangkutan sendirilah yang menjadi tuan penentu nasibnya sendiri berarti bahwa Locus of control seseorang bersifat internal. Sebaliknya, apabila pendangan yang dianut mengatakan bahwa nasib seseoarang ditentukan oleh kekuatan di luar dirinya, apapun yang dilakukan oleh tidak dilakukannya, tergantung pada kemuan kekuatan tersebut dan oleh karena itu Locus of controlnya bersifat eksternal. Pandangan manapun yang dianut mempunyai implikasi yang sangat luas dalam kehidupan seseorang atau suatu masyarakat. Misalnya dalam hal visi tentang masa depan, kesediaan mengambil risiko, anggapan tentang penting tidaknya perencanaan, sikap optimism atau pesimisme, dan lain sebagainya. Pandangan tentang peranan wanita Pengakuan atas persamaan kaum pria dan wanita dalam kehidupan bermasyarakat merupakan fenomena sosial yang relatif baru. Pandangan tradisional yang sangat prelevan menempatkan kaum wanita pada posisi warga Negara kelas dua dengan peranan yang sudah jelas, yaitu tinggal dirumah, mengurus rumah tangga, melayani suami, dan membesarkan anak-anak. Dilingkungan masyarakat modern pandangan tersebut telah banyak berubah, antara lain karena sekitar 50% umat manusia terdiri dari wanita, gerakan emansipasi yang dipelopori oleh kaum sendiri dan karena terbukanya akses bagi kaum wanita untuk menikmati pendidikan formal sampai strata yang paling tinggi sekalipun. Akibatnya, dalam semua segi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, makin banyak wanita yang memainkan peranan yang semakin penting hingga yang semakin penting dan menduduki semua eselon jabatan pimpinan hingga tertinggi. Sistem keluarga besar Seperti yang kita ketahui, dalam berbagai masyarakat dikenal dua tipe keluarga yaitu nucless system dan extended family system. Dalam sistem keluarga inti (nucleus family system) suatu keluarga hanya terdiri dari suami, istri, dan anak-anaknya, termasuk anak biologis dan anak angkat. Dalam siste demikian, ikatan kekeluargaan sangat ketat dalam arti bahwa seorang kepala keluarga hanya merasa bertanggung jawab atass kesejahteraan para anggota keluarga langsung saja. Sebaliknya, dalam sistem keluarga besar (extended family system) tanggung jawab seseorang pencari nafkah utama tidak hanya memikirkan kesejahteraan istri dan anak-anaknya, melainkan juga sanak saudara dekat lainnya. Sistem keluarga ini perlu dikenali karena dapat menimbulkan berbagai implikasi negatif dalam kehidupan bermasyarakat seperti primodialisme, nepotisme, dan kroniisme. Ketiga hal tersebut menjadi masalah karena orang-orang yang berkuasa cenderung mengesampingkan kriteria-kriteria objektif dalam memperlakukan orang-orang yang dekat padanya dan memberikan berbagai kemudahan yang memungkinkan mereka mendapat perlakuan khusus berbeda dengan para warga masyarakat lainnya yang tidak dekat pada kekuasaan.

Pemahaman yang tepat terhadap berbagai implikasi faktor-faktor diatas penting untuk menentukan strategi pembangunan bidang sosial budaya dengan tepat. Selain itu, pemahaman tersebut menjadi penting bila dikaitkan dengan kategorisasi anggota warga masyarakat. Anggotaanggota masyarakat disini,yaitu: 1. Golongan tradisionalis

Ciri pertama mereka cenderung menolak proses modernisasi karena adanya persepsi bahwa modernisasi identik dengan westernisasi. Mungkin karena pengamatan mereka tentang cara bertindak dan berperilaku orang-orang barat yang dipandang tidak sesuai dengan norma-norma sosial budaya yang mereka anut turun-menurun serta pengalaman mereka berinteraksi dengan kaum penjajah yang memang berasal dari dunia barat, modernisasi cenderung ditolaknya. Kecenderungan menolak modernisasi juga diperkuat oleh sikap, gaya hidup, dan perilaku kaum elite dimasyarakat sendiri di lembaga-lembaga pendidikan formal yang tenaga akademisnya terdiri dari orang-orang barat. Seiring terlempar tuduhan bahwa kelompok elite masyarakat ini hidup kebaratbaratan. Cirri kedua dari golongan tradisionalis menyangkut orientasi waktu, yaitu berorientasi ke masa lalu. Bangsa-bangsa yang berdiam di Negara-negara terbelakang dan sedang membangun adalah bangsa-bangsa yang tertua dimuka bumi ini. Dengan latar belakang sejarah itulah para anggota masyarakat tradisionalis senang membanggakan masa lalunya, sering dengan pembuktian peninggalan sejarah yang kini dikagumi oleh masyarakat dan bahkan sering menjadi objek wisata yang dinikmati oleh wisatawan mancanegara. Tidak ada yang salah dengan sikap membanggakan kejayaan nenek moyang dimasa lalu. Ciri ketiga tingkat pendidikan yang pada umumnya masih rendah karena pengalaman dimasa penjajahan, kelompok ini sering menampilkan sikap rendah diri terutama orang-orang barat. Istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan sikap ini ialah mentalitas colonial (colonial mentality). Ciri keempat golongan tradisionalis ialah adanya stratifikasi sosial diterima sebagai suatu hal yang wajar. Yang dimaksud ialah bahwa di lingkungan masyarakat tradisional, terdapat pandangan bahwa adanya lapisan-lapisan tingkatan di masyarakat tidak perlu dipersoalkan. Berbagai kriteria yang biasa digunakan untuk mengidentifikasi stratifikasi itu antara lain status keturunanseperti kaum bangsawan berdarah biru dan keturunan rakyat biasasymbol-simbol status sosial seperti gelar, jenis bahasa yang digunakan yang berbeda dari satu tingkat ke tingkat yang lain, kekayaanterutama pemilikan tanahdan bahkan juga daerah pemukiman. Ciri kelima kecenderungan kuat menolak perubahan. Meskipun kecenderungan menolak perubahan sesungguhnya merupakan gejala universal, akan tetapi kecenderungan tersebut sangat kuat dalam lingkungan golongan tradisionalis. Kecenderungan menolak perubahan timbul antara lain karena: a. b. c. keharusan berubah kebiasaan tergatungnya rasa aman takut pada sesuatu yang baru atau asing

Ciri keenam ikatan kekeluargaan yang masih sangat kuat. Dalam dunia dimana egoisme dan individualism semakin menonjol, cirri ini sungguh merupakan ciri yang sangat positif sifatnya. Salah satu segi ciri yang sangat positif ini ialah respek yang besar kepada orang tua atau yang dituakan. Bahwa kemungkinan timbulnya ciri ini tidak perlu diingkari dan memang harus diwaspadai. Akan tetapi harus diakui pula bahwa ikatan kekeluargaan yang kuat lebih banyak segi positifnya ketimbang bahaya yang mungkin ditimbulkannya.

2.

Golongan modernis

Ciri pertama memiliki wawasan luas yang menyangkut tata kehidupan modern. Luasnya wawasan mereka merupakan akibat berbagai hal, seperti pendidikan yang tinggi, interaksinya dengan berbagai pihak diluar kelompoknya. Kunjungan yang dilakukannya ke mancanegara, baik untuk kepentingan dinas, dinas atau wisata, akses yang dimilikinya terhadap bebagai jenis sumber informasi, seperti buku, majalah professional, surat kabar, media elektronik seperti televise dan internet. Hanya saja harus ditekankan bahwa tidak semua orang berpendidikan tinggi yang dapat dikategorikan sebagai modernis. Ciri kedua dari golongan ini ialah orientasi waktunya, yaitu masa depan. Antara lain karena orientasi demikianlah mereka adakalanya disebut futurists. Dikaitkan dengan tuntutan pembangunan sosial budaya, ciri ini sangat penting. Paling sedikit terdapat tiga alasan kuat untuk mengatakan demikian, yaitu: a. mendorong timbulnya keberanian untuk mengambil serat dengan ketidakpastian

b. membiasakan diri membuat rencana jangka panjang, jangka sedang dan jangka pendek sehingga jelas apa yang akan dilakukan c. kerelaan membuat pengorbanan sekarang demi masa depan yang lebih baik dan lebih cerah

ciri ketiga kesediaan memainkan peranan selaku pelopor dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kepeloporan tersebut sangat diperlukan dan menyangkut berbagai segi kehidupan. Misalnya : kepeloporan dalam penegakan disiplin nasional, kepeloporan dalam menumbuhkan, mengembangkan dan memelihara etos kerja, kepeloporan dalam mengubah normanorma sosial yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman, kepeloporan dalam cara bekerja, kepeloporan dalam penguasaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ciri keempat pengamatan menunjukkan bahwa kelompok modernis sering diliputi oleh perasaan ketidaksabaran, bukan hanya menilai situasi dalam masyarakat akan tetapi juga dalam menjalankan kepeloporannya. Ketidaksabaran itu berangkat dari keinginan yang kuat untuk segera membawa bangsanya ke panggung kehidupan yang modern dapat dimengerti. Akan tetapi harus pula disadari bahwa berbagai kendala yang bersifat fisik, infrastruktur, dana, daya, sosial, mental, dan psikologis memang harus dihadapi. Kaum modernis harus mampu menemukan jalan keluar yang efektif untuk mengatasi kendala tersebut. 3. Golongan ambivalen

Ciri pertama orientasi waktu kelompok ini adalah masa sekarang. Pada umumnya mereka tidak mau belajar dari sejarah bangsanya dimasa lalu, terutama untuk mengatasi berbagai kelemahan yang terdapat dalam tubuh masyarakat. Sebagai kensekuensi dari orientasi waktu tersebut, para anggota kelompok inilah yang tidak merasa bersalah apabila karena kedudukan dan jabatannya menyalahgunakan kekuasaan demi kepentingan diri sendiri, keluarga, teman sedaerah, dan orangorang lain yang dekat dengannya. Dalam bahasa popular, para anggota kelompok inilah yang sering menampilkan perilaku mumpung. Ciri kedua bagi kelompok ini tampaknya berlaku rumus bahwa suatu perubahan yang dipelopori oleh pihak lain, seperti kaum modernis misalnya, hanya akan diterima apabila dipersepsikan bahwa perubahan tersebut akan gemerincing dikantongnya. Artinya, suatu perubahan akan diterima jika akan menguntungkan baginya dan akan ditentang apabila diduga tidak akan menguntungkan, apabila jika akan merugikan kepentingannya. Ciri ketiga yaitu cirri negatif seperti dikemukakan diatas masih dilengkapi lagi dengan ciri lain, yaitu cepatnya mereka bergantian warna dari warna lama yang tidak menguntungkan menjadi warna yang lebih menjamin kenikmatan sekarang. Maksudnya ialah bahwa jika terjadi konflik antara satu kelompok di masyarakat. Misalnya kelompok tradisionalis dengan kelompok lain seperti kelompok developmentalist kelompok ambivalen cepat mengamati dan menilai kelompok mana yang kiranya akan keluar sebagai pemenang dan memihak kepada pihak tersebut. Yang sangat dominan dalam pemikiran dan tindakan mereka adalah terjaminnya kedudukan, status, jabatan, dan sumber kekuasaan, serta rezekinya. REFERENSI

Prof. Dr. Siagian.P.Sondang, M.P.A, 2003. Administrasi Pembangunan Konsep, Dimensi, dan Strateginya. PT Bumi Aksara, Jakarta.

http://evafaizatularofah.blogspot.com/2012/05/ekologi-administrasi-pembangunan-paper.html