Mempengaruhi pertimbangan pengobatan.

Terapi antibiotic profilaksis bisa mengurangi atau memperbaiki symptom pasien dengan deficit imun ringan dan penambahan immunoglobulin intravena mempunyai hasil yang lebih bermanfaat pada penyakit yang responnya kurang baik. Tes Genetik dan Klorida pada Keringat untuk menilai Cystic Fibrosis Pasien dengan Cystic Fibrosis (CF) biasanya diidentifikasi pada awal kehidupan dengan tes klorida pada keringat. Namun , sekarang diakui bahwa beberapa pasien dapat lolos deteksi dini karena kurang parahnya penyakit atau hasil tes keringat yang negative palsu. Hubungan antara CF dan CRS sudah cukup diungkap, denagn prevalensi polip nasal sebanyak 43% pada pasien CF. Pengujian CF harus dipertimbangkan pada pasien dewasa dengan riwayat gangguan pernapasan dalam waktu yang lama termasuk CRS dan pencernaan atau gangguan kesuburan. Meskipun pengujian klorida pada keringat adalah tes skrining yang paling umum digunakan untuk tes skrining CF, uji genetik yang baru saja dilakukan didapatkan tes serologis spesifik yaitu mutasi CF dan berperan penting dalam mendiagnosis CF Histopatologi Histopatologi dapat digunakan untuk mengevaluasi jaringan mukosa seperti mukus dan devris . eosinophilic musin (Fig. 9. 12) dan jamur dapat segera diidentifikasi melalui metode ini . Sebagai tambahan, pewarnaan jamur dapat melengkapi teknik kultur untuk jamur. Pewarnaan khusus seperti Gomori methenamin perak, preparat kalium hidroksida, atau pewarnaan Calcofluor putih dapat juga digunakan. Kitin, kaya akan polisakarida ditemukan di dinding sel jamur, juga dapat diidentifikasi dengan pewarnaan khusus. Jaringan lain yang juga dapat dianalisis yaitu eosinofilia dan granuloma (Fig. 9. 13) dan invasi jaringan oleh bakteri atau jamur. Biopsi jaringan yang dilakukan pada polip hidung unilateral atau massa di hidung dapat menjadi hal yang penting untuk menyingkirkan suatu inverted papiloma atau keganasan di sinus (setelah mennyingkirkan meningoencephalocele, dimana biopsi merupakan kontraindikasi). Pada mikroskop elektron yang memperlihatkan ultrastruktur silia epitel pernapasan mengalami defek diagnosisnya mengarah pada prmer silia diskinesia

pena felt-tip (Sniffin tongkat). Di eropa tes yang umum digunakan adalah bau diresapi.Tes Fungsi Hidung Tes fungsi hidung dapat digunakan untuk lebih mencirikan atau mengukur tingkat keparahan rinosinusitis seperti dalam penelitian. Instrumen yang paling banyak digunakan oleh spesialis untuk uji penciuman adalah uji identifikasi bau (SIT). Pengujian Penciuman rinosinusitis kronis adalah penyebab tersering dari gangguan penciuman. dapat digunakan kembali. tes fungsi penciuman yang valid dan objektif memang ada. kehilangan indera penciuman merupakan kriteria penting untuk diagnosis CRswNP. Meskipun sebagian penilaian klinis fungsi penciuman cenderung subyektif. "goresan dan mengendus" tes ini berasal dari universitas pennsylvania uji identifikasi bau (UPSIT). Tes fungsi paru ( tidak dibahas di sini ) juga sangat penting menilai mengevaluasi secara komprehensif pasien dengan symtoms saluran napas bagian bawah. Kemudia. yang dipercaya setidaknya 25% dari kasus hilangnya penciuman dan mengenai lebih dari 10 juta orang. CR bisa menyebabkan gangguan penciuman melalui dua mekanisme yaitu: dengan mengurangi konduksi bau ke neuroepithelium yang diakibatkan oleh inflasmasi di neuropithelial. Untuk informasi tambahan mengenai pengujian penciuman lihat bab 4 dari buku ini .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful