You are on page 1of 175

Dilanku.

Dia Adalah Dilanku Tahun 1990
Untuk Milea Adnan Hussain Dari aku, Pidi Baiq

1
Namaku Milea. Milea Adnan Hussain. Jenis kelamin perempuan, dan tadi baru selesai makan jeruk. Nama belakangku, diambil dari nama ayahku. Seseorang yang aku kagumi, dan dia adalah TNI Angkatan Darat yang bertugas di Kodiklat. Dia lahir di Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Sejak kecil aku tinggal di Jakarta, yaitu di daerah kawasan Slipi. Tahun 1990 ayahku dipindah tugas ke Bandung,

sehingga ibuku, aku, adik bungsuku, pembantuku, dan semua barang-barang di rumah pun jadi pada ikut pindah. Rumahku, yang di Buah Batu, adalah milik Kakekku, Bapak Abidin, yaitu ayah dari ibuku. Tapi Kakek sudah meninggal pada bulan Mei tahun 1989. Di rumah itu, jadi cuma ada nenek, karena ibuku adalah anak tunggal. Khabar bahwa kami mau pindah ke Bandung, membuat nenek sangat senang dan meminta kami untuk tinggal di rumahnya. Tapi sayang, tahun 1990, kira-kira sebulan sebelum pindah, nenekku meninggal dunia. Rumah yang berukuran type 70 itu, kemudian jadi milik ibuku sepenuhnya. Ada halaman di depannya, meskipun ukurannya tidak luas, tapi cukup. Tempat tumbuh berbagai bunga dan satu pohon jambu, yaitu jambu batu, yang ibuku suka kesel kalau sudah mulai banyak ulatnya.

2
Aku juga pindah sekolah, ke SMA Negeri yang ada di Bandung. Bagiku, itu adalah sekolah yang paling romantis sedunia, atau kalau enggak, minimal se-Asia lah. Bangunannya sudah tua, peninggalan Belanda, tapi masih bagus karena keurus. Ada tumbuh pohon besar di halaman sekolah. Cabangnya banyak dan bagus kalau dilihat senja hari, dan juga siang, kalau mendung, dan juga pagi, kalau mau. Sebagian orang percaya pohon itu berhantu, tapi aku gak takut, kecuali kalau harus tidur sendirian malam hari di situ.

Dulu, jalan di depan sekolahku, cuma jalan biasa, lebarnya kira-kira tiga meter dan belum banyak kendaraan yang lewat, termasuk angkot. Sehingga untuk bisa sampai di sekolah, aku harus mau berjalan sepanjang kira-kira 200 meter, yaitu setelah aku turun dari angkot di daerah pertigaan jalan itu. Sekarang jalan itu, sudah berubah, sudah jadi jalan raya yang dipadati oleh banyak kendaraan. Dulu, motor juga belum banyak. Hanya beberapa orang saja yang pake. Sebagian besar bepergian dengan angkot atau bemo. Rasanya, waktu itu, Bandung masih sepi, belum begitu banyak orang. Setiap pagi masih suka ada kabut dan hawanya cukup dingin, seperti menyuruh orang untuk memakai sweater atau jaket kalau punya. Selain romantis, sekolah itu adalah tempat yang banyak menyimpan kenangan. Terutama menyangkut dengan seseorang yang sangat aku cintai, yang pernah selalu mengisi hari-hariku di masa lalu, yang malam ini, ingin kuceritakan kepadamu. Akan aku tulis semuanya sesuai dengan apa yang terjadi, meskipun tidak begitu detail, tapi itulah intinya. Ada nama tempat dan nama orang yang sengaja kusamarkan, untuk tidak merembet menjadi suatu persoalan dengan pemilik tempat dan orang yang bersangkutan. Semua, akan kutulis dengan menggunakan cara si dia di dalam bergaya bahasa. Entah gaya apa, pokoknya, kalau dia

Bedanya. Suaranya agak berisik dan yang bisa kuingat di masa itu. Sebelumnya. katanya ada kerjaan kantor yang membuat dia harus lembur. seperti bahasa melayu lama yang biasa digunakan oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Malam ini aku sedang di ruang kerjaku bersama hot lemon tea dan lagu-lagu Rolling Stones. Mari kita mulai.bicara pun. Kedenger sedikit tidak lazim. setelah turun dari angkot. dia belum pulang. Malam ini. Anakku sudah tidur. jalannya . aku jalan menuju sekolahku sebagaimana yang lainnya yang juga sama begitu. aku jalan sendirian. yang lain ada yang berdua atau lebih. Dari arah belakang. tanggal 11 September tahun 2010. tahun 1990. Ketika motor itu sudah mulai sejajar denganku. Dia lelaki dan masih berusia 10 tahun. ini cuma sekedar agar bisa sekaligus mengenang khas dari dirinya. aku mau cerita dulu di mana posisiku sekarang. bahasa Indonesianya cenderung agak baku. di rumah yang aku tempati bersama suamiku sejak tahun 1997. dan inilah ceritanya: 3 Pagi itu. Sedangkan suamiku. aku mendengar suara motor. belum begitu banyak siswa yang pergi sekolah dengan memakai motor. di kawasan Jakarta Pusat. di Bandung. Tapi itu bukan hal yang harus dipersoalkan. pada bulan September.

ya?” “Eh?". katanya. Tapi aku tidak tahu harus jawab apa. memastikan barangkali aku kenal dirinya. sekedar untuk berbasa-basi. Seperti sengaja ingin menyamai kecepatanku berjalan. Betul-betul gak tahu. kamu akan naik motorku. kuatir barangkali dia mau berbuat buruk kepadaku. Pengendaranya menggunakan seragam SMA Meskipun saat itu banyak orang yang pada mau pergi sekolah. jawabku. Milea. Percayalah" Aku diam. Aku ramal. Dia pasti ngajak becanda. Kok meramal? Kok bukan kenalan? “Iya.melambat. Aku hanya murid baru. belum kenal sudah ngajak semotor. “Suatu hari. Iya. Aku langsung heran dengan pertanyaannya. mungkin itu cukup. lalu kujawab: "Iya” “Boleh gak aku meramal?” “Meramal?”. aku gak tahu siapa dia. katanya. “Mau ikut?”. kujawab. Nyatanya tidak. Baru dua minggu. aku tetap waspada. karena gak tahu aku harus bilang apa "Duluan ya!". Jangan judes juga. Dia bertanya: “Selamat pagi" "Pagi". . Kupandang dia. dia nanya “Makasih”. Aku gak mau. termasuk dirinya. Enak aja. nanti kita akan bertemu di kantin”. kutoleh dia. “Oke”. Asli. tapi aku belum mengenal semua siswa di sekolahku. lanjutku. Mungkin satu sekolah denganku. sebentar: “Udah deket”. sambil menoleh kepadanya sebentar "Kamu Milea. Hanya bisa senyum.

tapi tidak disebut nama kawannya. Habis itu. pasti akan disuruh dimasukin ke celana. dia berlalu. Nandan. ke kantin. teman sekelas. Rani dan juga Agus. tadinya aku mau ke kantin. katanya ada yang mau dibahas. membawa beberapa teh kotak. dan juga sekaligus menjadi bendahara kelas 2 Biologi 3. Dengan sedikit rasa heran. kubaca . Boroboro. Bagiku. kalau aku mau minum. Ketua Murid kelas 2 Biologi 3. Dia bilang. gampang. Waktu kami sedang ngobrol. Tapi Nandan. tahu siapa dia. untuk mengungkap kata "iya". dan memang. Aku hanya ingin membeli sesuatu untuk kuminum. katanya itu surat titipan dari kawannya. kepikiran juga enggak. tapi sama sekali bukan untuk memenuhi ramalan anak itu. selain Nandan. ada juga Rani dan Agus. minta waktu ingin ngobrol denganku. setelah Piyan berlalu. dia lalu pergi. Makasih kataku. gampang lah itu. Namanya Piyan. Di kelas. muncul seseorang yang bilang permisi dan lalu masuk ke kelas. Nampak baju seragamnya berkelabatan. datang memberiku surat. Hal yang dibahas adalah tentang keinginan mereka untuk menunjuk aku menjadi sekertaris. Aku sih oke saja. kalau guru tahu. memacu motornya. Tak lama dia kembali.Kupakai bahasa wajah. 4 Waktu istirahat. siswa dari kelas 2 Fisika 1. semuanya teman sekelas. biar dia saja yang beli.

Di jalan pulang. kita akan ketemu di kantin.surat itu: “Milea. aku bilang cuma surat biasa. untuk kembali menyimak Nandan yang banyak bicara tentang ini itu yang menurutku membosankan. Surat itu. Tapi aku sudah tidak bisa lagi konsentrasi dengan kata-kata mereka. Nandan nanya. Tapi aku mau meramal lagi: Besok kita akan ketemu” Aku langsung bisa tahu siapa yang ngirim surat. terus saja kepikiran. kalau tidak di sekolah? . orang yang tadi pagi naik motor dan bilang mau meramal. besok bertemu? Bukankah besok itu hari minggu? Aku langsung bisa nebak: ramalannya sudah pasti gagal lagi. mendadak melayang kepada Sang Peramal. namanya Fariz. karena ada sedikit keperluan. Dia sudah lama di Bandung dan kost di daerah Setiabudi. dia ingin tahu surat apa. Ini pasti dia. Pikiranku. Ayah nyuruh paman menjemputku. ternyata salah. Dia itu adik dari ayahku. sebagian besar. segera kulesakkan dalam tas sekolah. 5 Hari itu hujan. aku pulang dijemput pamanku. Apa? Besok? Hah. mahasiswa tingkat akhir di perguruan tinggi swasta. ramalanku. supaya bisa lekas datang ke rumah dinas ayahku. Maaf. entah mengapa. Bagaimana bisa bertemu. ramalan orang itu: bahwa besok akan bertemu. entah mengapa.

antara aku dengannya. aku mendengar bel rumah berbunyi. Ya tuhan. tak lebih. cuma tukang ramal amatir! Bagiku. Berasa seperti sedang terjadi kontak batin. Mau ke Lia”. membahas ramalannya yang benar-benar terjadi. Lia itu nama panggilanku di rumah Aku bersihkan tanganku dari busa dan langsung ke sana. dia hanya anak nakal. kupandangi amplop itu. hanya ada aku dan si Bibi. karena dipijit oleh tamu. dia harus tahu aku orangnya selektif. “Ada undangan”. kata si Bibi. di rumah. seraya menyodorkan sebuah amplop sambil masih berdiri di situ. waktu sedang nyuci sepatuku. Aku senyum kepadanya yang tersenyum kepadaku. dia langsung bilang begitu. ah. Huh! Jika itu baginya adalah modus untuk mendekati diriku. aku kaget. Si Bibi bergegas nemui tamu dan lalu balik kembali menemuiku: “Tamu. “Undangan apa?”. 6 Di hari minggu.Dia. yang suka iseng menggoda cewek. . Ayah. di depan pintu. Kebetulan. ternyata tamunya adalah dia: Sang Peramal. nemui tamu itu. Aku teriak manggil si Bibi untuk meladeni tamu itu. hari itu. ibu dan adik bungsuku sedang pergi ke acara pernikahan saudara. “Hei” Kusapa dia.

Yan?” Dia nanya ke si Piyan yang datang bersamanya. Aku baca surat undangan darinya sambil selonjoran di atas kasur. kutanya “Aku juga akan tahu kapan ulangtahunmu” “He he” “Aku pergi dulu ya?” “Iya” “Assalamualaikum jangan?!” “Assalamualaikum” “Alaikumsalam” “He he he” 7 Aduh. Milea!”. . siapa sih dia itu! Maksudku. dan mengapa tadi aku harus gugup di depannya? Aku masuk kamar dan senyum sendiri terutama karena memikirkan soal ramalannya yang benar. Tuhan. Piyan balik nanya “Oh! Iqra”. hanya bisa sesekali saja kupandang matanya. “Aku langsung ya?”. selain seorang Peramal. “Apa ya?”. Entah mengapa. dia permisi untuk pergi “Kok tahu rumahku?”. katanya lagi. bahasa arabnya apa.“Bacalah. tapi nanti” “Oke” “Bacalah. dia jawab pertanyaannya sendiri: “Iqra. aku ingin tahu siapa dia itu sesungguhnya. “He he he” Aku ketawa tapi sedikit. Tapi kenapa dia tidak membahasnya? Membahas soal ramalan? Atau sengaja? Entahlah.

Itu hampir membuat aku lupa untuk melanjutkan tugas nyuci sepatu. sebagai orang yang turut mengundang. rabu. Kucuci sepatu itu dengan pikiran yang penuh dengan dirinya. selasa. aku jadi seperti orang yang sedang menerawang. Semua nama hari-hari itu. Dengan ini. disertai dengan tanggal. sambil senyum-senyum sendirian. tetap saja kepikiran meskipun sesekali. Sambil tiduran. dan langsung pergi ke kamar mandi. jumat dan sabtu”. Gambarnya bagus. Itu Kepala sekolahku. . di dalam laci meja belajar. Ketika ada terbayang wajahnya. sial. Di dalam surat itu ada nama: Tuan Hamid Amidjaya. kamis. dan berusaha kulupakan dengan cara menyanyi. ada gambar hiasannya. dengan penuh perasaan. Setelah kubaca. Di tiap sisi kertas.Itu adalah surat undangan yang ditulis dengan mesin tik di atas kertas HVS. Dengan Rahmat Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. mengundang Milea Adnan untuk sekolah pada: Hari senin. langsung kupejamkan mataku. Aduh. surat itu dia bikin sendiri: “Bismillahirahmannirahiim. Gak penting! Ah. aku tak mengerti mengapa langsung merasa tak ingin pergi dari atas kasurku. karena aku merasa itu gak perlu. menemui sepatuku. Aku langsung bisa nebak. Entah bikinan siapa. agar dengan begitu aku bisa mengusirnya. benar-benar seperti orang yang sedang ditawan oleh rasa penasaran karena ingin tahu siapa dia sebenarnya. memandang atap kamarku. Segera kusimpan surat itu. Dibikin pake spidol. Tapi susah.

dan selalu bisa diselesaikan dengan baik. tapi tidak sekelas denganku. pacarku di Jakarta. yang kadang-kadang suka aku banggakan kepada ayah ibuku. Dia tampan. Mungkin cuma ingin lihat saja. siapa sih dia itu? Setahuku dia satu sekolah denganku. Beni selalu menelponku untuk melepas rasa rindu dan hal lain sebagainya. Itu saja. tapi cuma masalah kecil. aku berharap tidak ada satu pun orang tahu bahwa diam-diam mataku mencari dirinya. Meskipun sesekali suka bertengkar. . gak mau! Kudengar telepon rumah berdering. meskipun aku sendiri tidak tahu untuk apa juga kucari. Aku senang. di tengah-tengah barisan siswa yang ikut upacara. karena itu dari Beni. Ayahnya seorang artis film terkenal.hai. Aku juga begitu kepadanya. Tapi aku tidak tahu siapa namanya. kau harus tahu itu. Dia satu sekolah denganku waktu masih di Jakarta. Hampir setiap hari. Beniku keren. Beni sangat menyayangiku. meskipun tidak tampan-tampan amat. tapi cukup dan dia sangat baik. dan sekarang kami menjalin pacaran jarak jauh. Cuma itu. 8 Hari senin. Tidak lebih dari itu. Kenapa dia tidak memberitahu namanya di saat pertama jumpa itu? Haruskah aku yang nanya? Oh sori ya.

bersama dua kawannya. untuk menghindar ikut upacara bendera. kutanya Revi “Dilan” . ngapain juga kupikirin! Emang siapa dia? Seorang guru. Dia teman sekelas. tiba-tiba. dengan perasaan yang sulit kumengerti. dengan menggunakan speaker. Berdiri di sana karena dibawa oleh guru BP. Kupandang ke depan karena ingin tahu ada soal apa gerangan. orang itu. agar seluruh siswa jangan dulu bubar dari barisan. Ah. aku sedang memandangnya dari jauh. “Dia lagi!”.Sampai upacara sudah mau selesai. memberi komando. di depan. yang sedang memandangnya. yg berdiri di sampingku “Siapa dia?”. Nun di sana. bisik Revi seperti ngomong sendiri. yaitu diriku. Entahlah. dia sedang menyadari bahwa ada seseorang di tengah barisan peserta upacara. Atau tidak? Tapi yang pasti. aku yakin. tak berhasil kutemukan. Dia di sana. Dia dan dua orang temannnya disebut Komunis oleh guru BP. setelah berhasil ditemukan dari tempatnya sembunyi. Jangan-jangan tidak sekolah? Aku tidak tahu. di tempatnya berdiri. oh saat itulah aku bisa melihat dirinya. Aku tidak mengerti apa sebabnya seseorang sampai disebut komunis hanya gara-gara tidak ikut upacara. menghadap ke arah kami. Peramal itu. Di mana dia? Hatiku bertanya. sebagaimana yang lain.

adalah yang kemaren datang ke rumah. . dia tidak seperti yang kuduga. hari itu. apakah Milea kenal Dilan? Aku yakin. aku bagai malu sendiri bahwa aku pernah ada sangkut paut dengan dirinya. mengapa juga harus takut. Apakah Milea teman Dilan? Entah mengapa segera akan langsung kujawab: Bukan. adalah yang kemaren sempat membuatku penasaran karena ingin tahu lebih jauh tentang dirinya. ayahku seorang tentara. Dilan itu anak kelas 2 Fisika 1 dan anggota gengmotor yang terkenal di Bandung. Jabatannya Panglima Tempur. Komunis itu. senyamsenyum depan pintu. Sampai-sampai kalau misal ada orang yang nanya. Lagi pun kalau benar dia begitu. Mendadak. Oh dia ternyata! Aku betul-betul jadi takut. aku akan langsung pura-pura tidak tahu. Aku hanya mengenal Beni. Kata Rani. Meskipun aku yakin. malahan guru-guru banyak yang suka kepadanya walau entah karena apa. adalah yang pernah nyuruh si Piyan ngirim surat ke aku. Mendadak. setelah upacara. yang akan siap menembaknya jika harus. di kelas. Anak nakal itu. Aku sering membaca namanya ditulis di tembok-tembok pake pilox. dan juga mungkin jahat. Oh ya ya.“Oh” Dilan itu. Dia pasti sangat nakal. aku bagai menyesal karena sudah merasa terhibur oleh surat undangannya. pacarku! Beniku baik dan tidak nakal. toh siapa pun dirinya.

mulai besok. tanyaku tanpa menoleh kepadanya. “Gak usah”. Dan tidak perlu terlalu menanggapi apa pun yang ia lakukan padaku. Aku langsung bisa yakin dia pasti akan mengajak aku pulang bersamanya naik motor. “Kamu pulang naik angkot?” Kujawab dengan anggukan.” “Ikut apa?”.. cuaca mendung.. “Naik angkot”.. jawabku sambil memandangnya sebentar “Kan angkot buat siapa aja” “Kamu kan naik motor?” . aku pulang bersama kawan-kawan. Dilan pasti akan mundur daripada harus kecewa karena cinta yang tak sampai. katakanlah begitu. meskipun tidak harus kasar kepadanya. Entah mengapa. padahal aku sudah menyiapkan berbagai alasan untuk bisa menolaknya. si anak nakal. saat itu. aku harus waspada seandainya dia berusaha mendekati. aku yakin dia akan minder setelah tahu siapa Beni.Pokoknya. “Aku ikut. aku seperti gak enak dilihat kawan-kawan sedang didekati oleh dia. Ada Dilan yang menyusulku dengan motornya. Nyatanya tidak. jika hal itu adalah bagian dari usahanya untuk melakukan pendekatan. tapi bagian sudut mataku berusaha melihat ke arahnya. Kalau dia ingin jadi pacarku. 9 Bubar dari sekolah.

Mudah-mudahan bisa membantu membuat dia mengerti untuk jangan mengganggu orang yang sedang baca. dan juga mati gaya. Aku tak ingin tahu disimpan di mana motornya. Aku benar-benar jadi kikuk. Heh? Aku kaget. lalu kubaca. suaranya kudengar pelan sekali menyebut namaku: “Milea” Aku diam untuk tidak menanggapi. Serius. Kuambil buku. tanpa memandang dirinya. dengan intonasi yang datar. dia duduk di sampingku. tidak mendengar apa yang dia katakan. Kutengok sebentar ke belakang. “Kamu cantik”. “Ini hari pertama. Itu bukan urusanku. termasuk kalau hilang. hampir-hampir tak percaya dia akan bicara begitu. Di angkot. akhirnya kujawab sambil tetap baca buku. dia datang lagi dengan sedikit berlari. katanya lagi dengan suara yang pelan tanpa memandangku. “Makasih”. aku duduk denganmu” Tidak kurespon. Dengan suara yang pelan bagai berbisik. Mudah-mudahan bisa membantu mengalihkan pikiranku kepadanya. kudengar dia .“Nanti motorku dibawa kawan” “Eh?” Lalu dia pergi. Aku merasa seperti malu. Tapi dia berbisik. Aku bingung harus gimana dan berusaha memastikan bahwa kawan-kawanku di angkot. karena memang gak perlu.

Jangan sampai terjadi! Syukurnya tidak.Enggak tahu kalau sore” Ih! Suaranya pelan. Tadi. muncul perasaan bersalah sudah bersikap judes kepadanya. Aku diam. Aku nyaris merasa kuatir dia akan mampir ke rumahku.. aku turun dari angkot. tepat di kupingnya: Apa sih kamu ini?! Tapi tidak kulakukan. rasanya ingin teriak. karena dia juga turun.. Aku memilih diam dan bersikap berusaha tidak akrab dengannya. aku akan langsung melarangnya. Milea. Betul-betul. “Aku ramal. menemui Pak Suripto? Cuma aku. semua siswa itu sombong?” “Kenapa?”. aku senyum. dia ke sana pasti mau mengambil motornya. tapi sedikit. Milea!” “Ooh!”. tapi rasanya seperti petir. Jika benar. Aku ramal. “Siapa yang mau datang ke ruang BP. Dia pamit pergi. menuju arah sekolah. aku belum mencintaimu. dan lalu nyebrang jalan. kamu akan segera tahu namaku”. Ketika dia pergi.. Habis itu. saat itu. Dan . Pastilah dia kesal. untuk naik angkot lagi.. dan langsung kaget. tidak mau merespon omongannya “Tunggu aja”. Udah tahu! Tapi kujawab: “Iya” Ketika sudah sampai. dia sempat bilang: “Kamu tahu. Udah tahuuu! Gak usah diramal-ramal.bicara: “Tapi... katanya lagi. sebelum dia pergi. tanyaku. dia juga diam. Pastilah dia sedih.

hari itu. mungkin aku merasa bosan dengan dia yang terlalu monoton! Si Bibi ngetuk pintu. Itu surat yang terbungkus dalam amplop warna ungu. Milea? Mengapa hari ini kau begitu. kamu cantik. surat yang penuh kata-kata mendayu berisi melulu soal cinta dan rindu itu. . Heran. untuk nyuruh aku makan.besok. yang sudah membuatku tersenyum dan yang terus nempel di kepalaku sampai malam harinya. tiba-tiba ku ketawa. seolaholah hal itu kutujukan padanya: Mau cinta mau enggak. Apa salahnya dia. padahal baru kemaren engkau tersenyum kepadanya dan sedikit terhibur oleh surat undangan yang dia berikan padamu? Aku simpan surat Beni. Tapi aku belum mencintaimu. Beni kurang asik! Maksudku. Tunggu aja”. Aku keluar dari kamar dengan isi kepala yang mulai dikacaukan oleh pikiran tentang omongan Dilan di angkot tadi: “Milea. si Bibi memberiku surat. manggil. dan teriak dalam hati. Kata-kata aneh. aku merasa seperti sedang berubah di dalam menilainya: Ah. Sesampainya di rumah. mungkin. Oh. Di kamar. dia kapok. Enggak tahu kalau sore. surat dari Beni! 10 Kubaca surat Beni sambil terus kepikiran soal Dilan yang mungkin hari ini sudah kecewa dengan sikapku. entah mengapa. biasanya aku senang.

aku sudah mencintaimu – Dilan!”. aku dapat telepon dari Beni. Aku seperti terkesiap membacanya. dan berharap Rani tidak sudah membacanya. dia mau ke Bandung. Dia bicara lama sekali. minggu depan. 11 Itu hari selasa. kalau begitu. Beni. “Kamu senang?”. Kayaknya belum. aku akan berusaha untuk senang. karena surat itu dimasukkan ke dalam amlop yang tertutup. Beni nanya apakah aku senang jika dia ke Bandung menemuiku? Kujawab: “Iya” Memang. ketika aku mendapat surat dari Dilan. Aku hanya kuatir orang-orang akan tahu apa isinya. hai kau yang bernama Dilan: Terseraaaaaahhh! Itu urusanmu! Emang gua pikirin!? Setelah usai shalat isya. Entah bagaimana Dilan bisa nitip suratnya ke Rani. nanti. seolah dengan itu .dengar ya. Jadi malu sendiri rasanya. harusnya aku senang. baiklah. Atau sebentar? Tapi entah mengapa aku merasa itu sangat lama. Lalu dengan cepat. Lalu dengan cepat kumasukkan ke dalam tas. Isi suratnya pendek: ”Pemberitahuan: Sejak sore kemaren. langsung kututup surat itu. Dan katanya. Oke.

kenapa kamu milih ke sana. kira-kira 30 meter dari sekolah. aku duduk satu meja dengan Nandan. Huh! Aku juga tahu. Ini tentang Nandan. Nandan Hadi Prayitno. Aku belum pernah makan di sana. selain cuma lewat setiap pergi dan saat pulang sekolah. Masing-masing makan batagor sambil bicara ini itu yang gak perlu. termasuk suka nelepon malam hari nanya-nanya soal PR. Mereka semuanya teman sekelas. Biar bisa merokok. semuanya. menurutku. karena soal itu sudah lama aku tahu.bisa kujejalkan sampai masuk sedalam mungkin. Dito. di warung bi Eem. kecuali Jenar. harus bertanggungjawab. nraktir kami makan di kantin. berusaha membuatku ketawa dengan aneka macam . pada waktu istirahat. Warung kecil. dia anak kelas 2 Sosial. Bagiku. karena sudah berhasil mengganggu kosentrasi belajarku. Dilan pasti di sana. Jenar dan Rani. Aku bisa membaca bagaimana sikap dan perilaku Nandan kepadaku. Kata Rani. tapi aku cuma senyum mendengarnya. Dia. 13 Aku mau cerita tentang yang lain yang bukan Dilan. di samping gereja Pantekosta. Nandan naksir aku. 12 Di kantin. bersama kawan-kawannya. hari ini.

kamu tahu gak?” “Tahu apa?” “Aku mencintai Milea?” “He he he”. belakangan hubungan mereka jadi renggang. Aku setuju. kalau aku boleh jujur. “Tapi malu mau bilang”. dia bicara ke Nandan: “Eh. jago basket. Dito dan Jenar. dan menyapaku: “Hei. Nandan lebih tampan dari Dilan. entah kemana. Nandan juga humoris. itu adalah modus. Nandan juga masih jomblo. aku terkejut. tapi ga tahu kenapa. 14 Sumpah. pokoknya Nandan adalah lelaki idaman tiap wanita. untuk mencari perhatianku. dan lain-lain. Milea!” “Hei. kalau ada yang bilang Nandan baik. mungkin ke kelas. Nandan tersenyum sambil sekilas memandangku. Aku hanya tahu aku menjadi salah tingkah. Entah bagaimana perasaanku saat itu. Mukaku pasti merah. semuanya ketawa. Dan.lawakan. Dia mendatangi meja kami. Pernah sih dekat dengan Pila. kata Dilan lagi . Dilan” “Cuma nyapa” Lalu dia pergi bersama kedua temannya. Dia datang ke kantin bersama dua orang yang belum kutahu namanya. anak kelas 2 Sosial. Dan. sangat sulit kuungkapkan. Rani. masih belum punya pacar. pas kulihat ada Dilan. tapi sebelum pergi.

Bisa jadi itu cuma tebakanku saja. Bisa kubaca mata Nandan. Dilan minta kertas. 15 Setelah istirahat selesai. dia nulis: Informasi: Daftar orang-orang yang ingin jadi pacarmu: 1. tanya Nandan “Mudah-mudahan” Dilan pergi. Mencintaiku. dan duduk di bangku sebelahku. Di kertas itu. Aku bukan ahli membaca bahasa tubuh. aku kasih. sejak itu. cuma bisa diam saja. Nandan tidak suka dengan Dilan. aku sendiri merasa risih dengan adanya Dilan.“Itu. Heran. Kamu tahu kemana Dilan? Dilan masuk ke kelasku. kayaknya dia merasa keganggu oleh kata-kata Dilan. 3. Sejujurnya. bukan ke dia” “Dia denger kan?”. membuat Rani jadi pindah ke kursi belakang yang memang kosong. Tapi mau gimana lagi. kami masuk lagi ke kelas untuk ikut pelajaran lainnya. sejak dia tahu Dilan menyukaiku. 2. Nandan (Kelas 2 Biologi) Pak Aslan (Guru Olah Raga) Tobri (Kelas 3 Sosial) . sudah bilang? He he” Nandan ketawa kecil “Aku kan bilang ke kamu. kenapa tidak seorang pun yang berusaha ngusir Dilan? Nandan sebagai dirinya Ketua Murid. Cuma aku yakin.

“Kenapa?”. menyimak pelajaran. Kawan-kawan sekelas memandang semua ke arah Dilan. Tetap duduk. tapi tidak tahu harus berbuat apa. Pak Atam nanya. Muka mereka seperti puas karena akhirnya Pak Atam tahu dan menegurnya. seolah-olah tidak merasa terganggu oleh adanya Dilan. seperti orang bingung yang gak suka ada Dilan. Edan ini orang. kecuali nama dirinya. meskipun aku yakin mereka pasti gak suka. sampai akhirnya Pak Atam tahu ada seorang penyelundup: “Kenapa di sini?”. seraya tetap memandang ke depan. sudah datang masuk kelas. guru pelajaran Bahasa Indonesia. Kulihat Nandan. Acil (Kelas 2 Fisika) Dilan (Manusia) Aku senyum membacanya. tapi Dilan tidak pergi. jawabnya. Sambil berbisik. Kemudian kulihat dia mencoret semua nama di daftar itu. jawab Dilan sambil beranjak dari duduknya dan pergi diiringi tatapan Pak Atam yang tidak respek kepadanya. “Salah masuk. 16 . Pak! Maaf!!”. Pak Atam. dia bilang begitu dengan berbisik. duduk terus di bangkunya. Doain" Kawan-kawanku sibuk dengan dirinya sendiri. pikirku! Dilan benar-benar ikut pelajaran Pak Atam. 5.4. "Kecuali kamu?" "Iya. aku ngomong ke dia: ”Nanti kamu dialpain di kelasmu” “Ga apa-apa”. kutanya “Semuanya akan gagal”.

Aku yang sedang makan malam. Giliran Bob Dylan yang nyanyi. katanya. Dilan datang! Benar-benar dia datang. Itu kira-kira pada pukul tujuh malam. langsung bisa yakin. Dilan nyusul dan bilang: “Aku mau datang ke rumahmu. bersama Rolling Stonesnya. Aku lekas masuk kamar bersama piring makan malamku dan bersama perasaan yang tidak karuan. tidak salah lagi. masih terus ingin nulis. Mick Jagger. Awalnya kudengar suara motor. tanpa sadar aku bicara agak teriak.Waktu bubar sekolah. Sampai mana ceritanya? Oh ya. 17 Aku belum ngantuk. masuk ke halaman rumahku. berharap tak ada orang yang denger. Aku jadi merasa malu sambil kupandang ke banyak arah. Hah? Aku kaget. sudah habis. Biasanya ayahku jarang di rumah. Malam ini”. “Jangan ih!”. “Jangan!” “Kenapa?” “Ayahku galak” “Menggigit?” “Serius” “Aku tidak takut ayahmu” “Jangan! Pokoknya jangan” “Aku mau datang”. sambil berlalu. itu pasti Dilan. sudah hampir tiga hari . Suamiku masih juga belum pulang.

ini dia cuti. Malam itu, dia sedang ada di ruang tengah, sibuk membetulkan radio CB-nya. Ibuku juga di sana, sedang mencatat urusan kegiatan semacam Dharma Wanita, Bhayangkara atau apalah. Jika bel rumah berbunyi, maka salah satu di antara merekalah yang akan membuka pintu. Menyambut Dilan, kalau benar tamu itu adalah Dilan. Ya, Tuhan, bisikku dalam hati. Kututup kepalaku dengan bantal sambil tiduran di kasur. Entah siapa yang buka pintu, aku gak tahu. Pasti ada dialog di sana, tapi tidak bisa kudengar. Aku ingin tahu, Aku merasa akan lebih baik jika tetap diam di kamar. Tidak lama kemudian, terdengar lagi suara motor itu, keluar dari halaman rumahku. Ya, jika itu Dilan, dia sudah pergi. Dengan aneka macam pikiran yang memenuhi kepalaku, aku duduk di kursi belajarku, meneruskan makan malam sampai habis dan lalu keluar dari kamar untuk menyimpan piring makanku. Selesai dari gosok gigi, pas aku mau kembali ke kamar, telepon rumahku berdering. Aku lebih dekat ke tempat telepon, sehingga aku yang ngangkat dan itu adalah telepon dari Dilan, buatku, untuk yang pertama kalinya. Tidak usah ditanya bagaimana Dilan tahu nomor telepon rumahku. Kukira dia banyak akal. “Hallo?”, kusapa yang nelepon “Selamat malam" "Malam"

"Bisa bicara dengan Milea?" "Iya, saya" "Oh. Aku Dilan" "Hey". Mendadak jantungku langsung deg-degan. "Milea bisa bicara dengan aku?" “Iya bisa" "Tadi aku datang” “Iya” “Kau tahu?" "Tahu" "Kau tahu kenapa aku datang?” “Kenapa?” “Kalau aku gak datang, gara-gara kamu bilang ayahmu galak, berarti aku pecundang” “Iya” “Lebih baik aku datang. Kalau nanti dimarah, itu bagus, kamu akan kasihan ke aku” “He he”. “Kasihan gak?” “Tadi dimarah?" "Enggak” “Syukurlah” “Tadi, ayahmu bilang, kamu sudah tidur” “Oh” “Kenapa sekarang bisa ngomong? Kamu ngigau?” “Iya” “Ha ha ha ha ha”. Dilan ketawa Sebenarnya aku juga ingin ketawa, tapi pasti kutahan. Boro-boro ketawa, bicaraku juga sebisa mungkin kubikin singkat-singkat. Entah mengapa, aku merasa ga enak, kuatir ayah dan ibu dengar. Seolah saat itu aku merasa

bahwa mereka akan marah kalau tahu itu telepon dari Dilan, meskipun belum tentu mereka akan begitu. Selesai nerima telepon, aku langsung ke kamar lagi. Sebelumnya ayahku nanya, telepon dari siapa, aku jawab dari Beni. Dan di kamar, selain kupakai untuk menyelesaikan tugas PR, sebagian otakku kugunakan untuk memikirkan dialog terakhir dengan Dilan di telepon: “Boleh aku meramal?”, Dilan nanya “Iya” “Iya apa?” “Boleh” “Aku ramal, nanti kamu akan menjadi pacarku!” “He he he” “Percaya tidak?” “Musyrik” “Ha ha ha" "He he he" "Hey, Milea" "Iya" "Kau tahu kenapa aku tidak langsung jujur saja bilang ke kamu bahwa aku mencintaimu?" "Enggak" "Padahal kalau mau, aku bisa. Itu gampang” “Terus? Kenapa?” “Kalau langsung, gak seru. Terlalu biasa” “He he he” “Nanti kalau kamu mau tidur, percayalah aku sedang mengucapkan selamat tidur, dari jauh. Kamu ga akan denger” “He he he”

haruskah terus terang. Aku merasa. sedang berusaha mendekatiku? Kayaknya jangan. bilang ke Dilan. sejak ada Dilan di dalam hidupku. satu sekolah denganku. Dilan akan berhenti mengejarku. aku tahu Beni. sebetulnya aku juga suka. Biar Dilan tidak akan lagi membuat kejutan-kejutan. Enggak usah aku bilang. Kamu di mana sekarang. Aduh. Atau haruskah aku bilang ke Beni.Di atas kasur. aku yakin kamu tidak akan bisa menolongku! Lebih baik aku tidur. Di luar turun hujan. Dia jarang ke kantin. bahwa aku sudah punya pacar? Iya. ah. Biar sejak itu. aku dilanda kebimbangan. Tak ada Dilan. Beni. Kututup mataku dengan bantal dan: “Selamat tidur juga. kayaknya tidak. kayaknya harus. jika kukatakan. bahwa ada orang di Bandung. susah kukatakan dengan kata-kata. bersama Nandan. kalau memang benar dia sedang mengejarku. Dilan” 18 Aku baru selesai dari kantin. Aku sendiri juga heran. yang kalau aku harus jujur. justeru malah akan nambah masalah dari pada berusaha menyelesaikannya. kenapa tidak pernah ke kantin menemuiku? Kenapa lebih memilih kumpul bersama teman-temannya di warung bi Eem? Kenapa tidak berusaha bisa duduk di kantin denganku. Dilan? Hati-hati kalau di jalan. Biarin saja. selagi mau tidur. . Hadi dan Rani. Seru! Tidak. namanya Dilan.

Tuhan! Kenapa aku jadi begini? 19 Dari kantin. Siapalah aku ini. Dilan. tapi aku tidak tahu. mengapa aku ingin tahu. aku berpapasan dengan Dilan dan kawan-kawan. sebelum mau masuk ke kelas. Kupandang matanya. “Iya?” . seperti yang dikatakan oleh Nandan? Aku tidak bermaksud mau ikut campur urusanmu. Aku ingin tidak percaya. benarkah kamu suka nge-ganja seperti yang dikatakan oleh Nandan dan Dito? Benarkah kamu suka minum-minuman keras. hampir-hampir gak percaya bahwa aku bisa nanya seperti itu kepadanya. dia manggil dan mendekat “Ya?” “Boleh ga aku ikut pelajaran di kelasmu lagi”. apa urusanku memikirkan dirimu. punya banyak pacar. Kamu bukan pacarku. Pasti baru datang dari warung bi Eem. Tetapi rasanya hampir setiap hari aku selalu mendapat informasi yang buruk tentangmu. ya sudah.Bicara denganku. aku jadi tahu siapa dirimu dan bagaimana harusnya aku bersikap kepadamu. setidaknya dengan itu. seperti yang dikatakan oleh Nandan. Ah. Tetapi jika memang itu benar. Erfan dan Rani? Benarkah kamu playboy. “Kamu mau bikin aku senang?”. Dilan. aku bisa tahu langsung darimu. itu pilihanku. “Milea!”.

Kedua orang itu adalah: Piyan dan Dilan! Sejak itu. Dari sana. seperti sedang menggulingkan papan tulis. kami bisa melihat wajah-wajah siswa di kelas 2 Fisika 1 pada melongo semua. papan pembatas kelas itu tiba-tiba roboh. bisa kami saksikan sendiri. Dia dan Piyan. kalau begitu” Dia pergi. aku masih ingat. jatuh ke arah kami. bagaimana papan pembatas kelas itu roboh bersama dua orang yang masih menggantung di atasnya. waktu itu. yaitu selagi Ibu Sri sedang menjelaskan materi pelajaran. Ibu Sri lari sambil teriak: “Allahuakbar!!”. untuk mencapai lubang pentilasi yang ada di tembok bagian atas. berusaha menghindar ke arah bangku di bagian paling belakang.“Ikuti mauku” “Apa itu. nama gurunya Ibu Sri. Milea?” “Jangan!” “Oh. Bukan ibu Srinya yang kuingat. Aku masuk kelas untuk mengikuti pelajaran berikutnya. berusaha naik ke atas pembatas kelas. Katanya. di kelas sedang tidak ada pelajaran. Itu adalah pelajaran Pendidikan Moral Pancasila. Bagaimana itu bisa terjadi? Aku dapat penjelasan langsung dari Dilan setelah beberapa bulan kemudian. gurunya tidak datang karena sakit. . Semua orang juga lari. tapi kejadiannnya. Oke.

aku tidak lihat Dilan di sekolah dan juga di mana pun. 20 . Tapi bingung bagaimana caranya? Nanya ke Nandan atau Rani. Mungkin dia sakit. Itu bahasa sunda. dibawa ke ruang guru! Anehnya aku tidak cemas. Aku tidak tahu. meskipun iya begitu. Selidik punya selidik. kutanya “Ngintip kamu ha ha ha ha” “Ha ha ha ha” “Resiko tinggi mencintaimu” “Ha ha ha” Tapi itulah yang terjadi. Ya. Tuhan. Mau gimana lagi. Aku ingin tahu. selama dua hari. Aku langsung ingin tahu. mungkin jengkel. kira-kira artinya: “Elu lagi! Elu lagi!” Dilan tak melawan. Wati. siapa Wati sebenarnya? Kenapa dia berani kepad Dilan? Dan Dilan diam saja. tapi mereka jangan tahu. Dia hampiri Dilan.“Ih! Ngapaiiiin?”. ternyata ibunya Wati adalah adik dari Ayahya Dilan. teman sekelasku. Tapi sejak peristiwa itu. Dilan pasti bisa menghadapinya dengan tenang. sambil ngomong: “Maneh wae. kenapa aku baru tahu? Dilan dan Piyan. Anehnya aku percaya. Siah!”. Mungkin dia diskors. kuatir akan nyangka yang bukan-bukan. dan melemparkan buku pelajaran ke arahnya. Nyangka aku perhatian atau apalah.

ini menyangkut tentang banyak informasi buruk yang kudapat tentang Dilan. pengetahuanku tentang Dilan. Meskipun malu. bagiku. Aku bukan siapa-siapanya. cobalah kamu jadi aku. hidup Dilan urusannya. entahlah.Keinginanku bisa ke kantin berdua dengan Wati. bisa sangat membantu untuk bagaimana harusnya aku bersikap kepadanya. Tapi. Bagaimana pun dirinya. Aku duduk berdua dengan Wati. Maksudku. Aku ingin tahu semuanya. aku ingin dapat informasi lebih banyak tentang Dilan. Aku harus hati-hati. apa sesungguhnya yang membuat aku jadi begitu. apakah semuanya itu benar? Bukan mau ikut campur. Pasti kamu tahu. harus kuakui. akhirnya kesampaian. Atau. jangan sampai Wati tahu tujuanku. apalah urusanku dengan itu. tapi kubilang aku ada urusan dengan Wati. Untung mereka ngerti. ada Nandan. Setelah ngobrol tentang hal lain yang gak penting. aku yakin kamu juga akan melakukan hal yang sama. aku mulai berusaha mengarahkan pembicaraan supaya membahas pada pokok yang kumaui: . Rani dan Jenar ingin gabung. Aku bukan pacarnya. agak di dekat jendela. tujuanku ngobrol dengan Wati. bahwa dari Wati. Aku mengerti. Di kantin. makan satu meja dengan kami. Tapi. aku sendiri tidak mengerti. Jadi seperti detektif yang ngorek-ngorek informasi orang lain.

gak kelihatan” “Ha ha ha” “Padahal. banyak! Pernah tuh. waktu si Dilan jatuh. Tentara” “Oh ya?!" "Iya" "Kecabangan apa?” “Gak tahu tuh. ngomong-ngomong. kamu lempar dia pake buku. Gak ngerti” “Si Dilan pasti pacarnya banyak tuh!” “Ah. pokoknya dia motong ayam ibuku. kemarin. pantes! Enggak. kamu tahu gak? Ayahnya itu galak. Berani lah! Habisnya kesel. Nakal dia itu” “Nakal gimana?” “Ah. siapa? Kayaknya ga punya pacar dia mah? Terlalu cuek ke cewek!” . ibuku kan adik ayahnya” “Oh. waktu malam minggu. pas lihat kamu berani mukul dia ha ha ha” “Habisnya kesel. kok kamu berani sih?” “Oh? Ha ha ha. diambil di kandang gak bilang-bilang” “Oh ya?” “Disate tahu gak?! Dimakan sama temen-temennya di belakang rumah dia!” “Ha ha ha. dia bilangnya salah ngambil.“Eh. Dia itu nakal tahu? Di rumahnya juga begitu!” “Kamu saudaraan ya?” “Iya. kapan ya. Mabuka-mabukan ya?” “Enggaklah!” “Tahunya enggak?” “Tahu aja” “Ngambil ayam ibu kamu? Kok berani?” “Pas ditegur ibuku. gelap. Kaget aja.

Aku sempat berfikir. Tapi sejak itu. kok jadi ngomongin si Dilan sih?!” “Iya ha ha ha. mungkin dia sudah tidak mau lagi denganku. tapi banyak kawan-kawan yang pada ngasih kado. Nandan ngasih kado itu di kelas. Dilan kayaknya bersikap biasa saja. biar apa coba?” . Nanti kita ngobrol yaaaaa!!! 21 Dilan kulihat sekolah lagi. Boneka itu dibungkus dalam plastik. Milea. Panjang umur ya. Atau apa? Aku gak tahu! Aku gak tahu! Termasuk aku gak tahu kenapa hal itu membuat aku jadi sedih! Meskipun tidak kurayakan ulangtahunku. Kapan?” “Nanti deh.“Mungkin masih lebih suka main sama kawan-kawannya” “Iya kali” “Emang belum punya pacar?” “Enggak tahu tuh. tidak ada gerakan apa-apa dari Dilan yang bersangkut paut dengan diriku. pada waktu istirahat: ”Selamat ulangtahun. jangan-jangan Dilan malu oleh kejadian robohnya papan pembatas kelas. Wati. Eh. selama tiga hari. aku pengen main dong ke rumahmu?” “Boleh aja. Wat. Kadonya boneka. dengan ujungnya yang diikat pita merah. aku bilang dulu ke nyokap” "Hayu" Yes! Yes! Yes! Aku mauu. Bahkan sampai sehari menjelang ulangtahunku. Atau. Dia ngasih boneka panda yang cukup besar. termasuk Nandan.

demi untuk merayakan ulangtahunku. Dia ke rumah pada pukul dua belas malam. sambil mengecup keningku. “Biar kalau tidur. “Ih”. yang kami nikmati di ruang tamu. tapi aku tidak. kalau ada uangnya. Dan Beni. tapi yang pasti. Dia juga membawa kue ulang tahun. mau bentuknya panda mau monyet. Beni pulang ke Jakarta. Meluk boneka. Bram. setelah sebelumnya ada perang colek-colekan krim kue yang seru. Adhit. Warna warni dan harum baunya. aku senyum lagi Mungkin dia bercanda. Beni memberiku seikat rangkaian bunga yang indah. atau mungkin juga serius. Biasa aja! Cuma kado Panda. mendengar Nandan bilang begitu. Dilan? Pada harinya. dia tidak memberiku ucapan ulangtahun. satu jam kemudian. Itu bunga kasih sayang katanya. bagaimana bisa kurasakan seolah aku sama sedang memeluk orang yang memberinya? Mungkin ada yang bisa begitu. jangan-jangan Dilan gak tahu ulang tahunku. sengaja datang ke Bandung. Mana? Katanya kamu akan segera tahu . Lilo dan Ical. semua orang bisa beli. bersama empat orang temannya.“Biar apa?” Aku senyum. pada teriak: ”Asik euy!!!”. kamu bisa memeluknya”. “Suit-suit!!” Apa siiih. kawan-kawanku yang saat itu ada di kelas. Aku sempat curiga. kecuali boneka itu bikinan sendiri.

dilihatin oleh hampir semua orang yang ada di kelas. dia pasti akan berani meski siapa pun gurunya. emang siapa diriku bagimu? Kalau tidak kecewa. pelajaran praktek mnggambar anatomi kodok dibagi ke dalam beberapa kelompok. dia berikan kepadaku sambil menjabat tanganku: ”Selamat Ulangtahun. jawab pak Rahmat yang sedang duduk di kursi guru. Kukira. tiba-tiba terdengar pintu kelas ada yang ngetuk. Aku bingung. Iya. Nyatanya tidak. Milea”. tapi aku menunggu ucapanmu. Silakan” Dilan masuk. “Permisi. entah apa itu. Atau. kamu akan menelponku tepat pada pukul 00:00. Pak?” “Iya?”. aku sedang belajar Biologi. sehingga barangkali itulah maka dia jadi berani. itu cuma kebetulan. 22 Hari itu. Ada titipan penting buat Milea” “Oh.hari ulangtahunku? Kamu tahu tidak. mendatangiku. dan Dilan juga kayaknya tahu. Dilan. Untunglah gurunya Pak Rahmat. Pak Rahmat baik. Dilan”. Aku terkejut ketika tahu orang itu adalah Dilan. Aku memandang matanya . Bungkusan yang dibawanya. “Maaf. Dilan? Aku sempet yakin. menjadi orang awal yang mengucapkan selamat ulangtahun untukku. apakah aku harus kecewa atau tidak? Jika aku kecewa. Aku tidur dalam gelombang perasaan yang kosong. “Makasih. aku senyum.

Heran. entah benar atau tidak. Jika hari itu ada yang bilang bahwa hatiku berbunga-bunga. Aku lagi di kamar. Tak sabar rasanya ingin tahu apa isinya. aku justeru malah bangga.sebagaimana ia juga kepadaku! Habis itu. Belum sempat kuperiksa. ah. barangkali TTS itu cuma hal lain dari inti kado yang sesungguhnya. Pelan-pelan kusobek ujung dari pembungkus kado itu. aku langsung akan setuju. sendirian. aku merasa tidak malu. Heran. pokoknya itu adalah hari pertamaku memegang tangan Dilan! Atau. hari itu adalah hari pertama Dilan memegang tanganku! 23 Jangan diganggu. Terimakasih. Mungkin nyuruh kawannya yang jago gambar. Ukuran A4 dengan tulisan tangan Dilan yang bagus: . kau tebaklah sendiri. guruku yang tua dan pendiam. entah siapa yang bikin. Aku senang. Aku tidak ingin bilang bagaimana sikap Nandan saat itu. hari itu. Kenapa TTS? Kubuka-buka. aku juga terkejut. entah bagaimana kukatakan. Pak Rahmat yang baik. Mungkin dia. Sudah dijawab semua. TTS nya udah diisi semua. mari kuberitahu apa isinya: Satu buah TTS!!! Sama. sudah kudapati di tengahnya ada selembar kertas putih. membuka kado Dilan. Dan. dia pergi seraya pamit kepada Pak Rahmat. Bungkus kadonya dipenuhi oleh gambar yang dibikin dengan menggunakan spidol warna-warni.

TAPI SUDAH KUISI SEMUA. dan itu pun dari jauh. mengapa dia jadi gitu? Aku tidak merasa perlu bertanya kepada Wati. karena Wati pasti akan menjawab tidak tahu. hanya sesekali saja aku bisa melihatnya. AKU SAYANG KAMU AKU TIDAK MAU KAMU PUSING KARENA HARUS MENGISINYA. Seperti menjauh. Piyan senyum “Nanti deh aku cerita” “Sip!” . kuberanikan diriku minta waktunya Piyan untuk ngobrol denganku. sehingga kalau di sekolah. katanya. ada yang lain dari Dilan. CUMA TTS. DILAN! 24 Hari-hari berikutnya. “Tapi jangan sampai Dilan tau” “Kenapa memang?”. INI HADIAH UNTUKMU. Aku tidak tahu. Itu urusan Dilan. Dia tidak pernah ke kantin. Tak ada lagi hal yang ia lakukan untukku. Bahkan sudah masuk kategori boleh kuanggap sombong. Boleh. MILEA. sebagaimana selalu kudapatkan sebelumnya.SELAMAT ULANG TAHUN. Pada kesempatan bertemu Piyan. Aku merasa Dilan berubah.

. aku juga ketawa. pas aku ceritain soal dia ngasih TTS buat hadiah ulangtahunku”. Aku ceritakan semuanya.” “Ya?” “Yang nerima si Bibi” “Terus?” . “Tahu gak.25 Akhirnya aku bisa ngobrol dengan Piyan. Si Bibi pastilah nanya dari siapa?” “Apa kata tukang koran?” “Dari Dilan. Dia pernah ngasih coklat ke aku. “Si Gelo!” “Ha ha ha ha... dari mulai awal aku bertemu Dilan. kataku kepada Piyan. pada waktu istirahat. penjaga Milea ha ha ha!” “Anjrit! Ha ha ha” “Ada lagi! Ada lagi!” “Apa?” “Kan dia nelpon. Sama.. Piyan ketawa. Mamaku ketawa. di tempat tukang photo copy yang ada di luar sekolah. Tahu siapa yang nganterinnya?” “Siapa?” “Tukang koran ha ha ha! Yang suka datang ke rumah nganterin majalah langganan” “Ha ha ha” “Yang nerimanya si Bibi!!” “Hah? Ha ha ha terus?” “Pas dia tau tukang koran itu ngasih coklat buat aku... sampai tentang banyak hal yang sudah ia lakukan untuk “mendekati”ku..

Konon. “Nah. soal dia berubah. Ngobrol apa?” “Kata si Bibi sih. Terus. Bisa jadi” “Kok? Enggak ih!! Kok dia bisa bilang begitu?” “Enggak tahu.coba! Bukannya langsung bilang mau bicara sama aku” “Skandal! Ha ha ha. (Porkas itu semacam judi yang dilegalkan oleh pemerintahan zaman Orde Baru. dia bilang. sama si Bibi. Dilan bilang ke aku sama si Ajun.“Dia malah ngobrol. paling juga dijawab ngawur. Dilan sering cerita soal aku. Piyaaaan!” Terus kenapa sekarang Dilan berubah.. sudah jangan diganggu” “Iiihh. sampaikan ke Lia. Dia sudah pacaran sama Nandan?” “Hah? Apa?” “Iya. Tapi kemudian dia cerita bahwa. Ngaku bisa tahu angka berapa judi Porkas besok keluar”. untuk membantu kegiatan olah raga di tanah air. Ah. aku senang pas dia ngomong bagian yang ini. Piyan? Si Piyan bilang tidak tahu. dia ngaku teman aku. apa ya? Dia pernah bilang sih: Jangan diganggu Milea. katanya. Menurutku sih kayaknya gara-gara itu deh. Piyan? Kenapa dia jadi sombong.. Enggak. Piyan ih! Bilangin ke dia!” “Bilang gimana?” “Aku enggak pacaran sama Nandaan!!” . dan tukang ramal. Dia bilang gitu. kalau sholat harus menghadap kiblat” “Ha ha ha ha” “Ada lagi! Ada lagi!” “Banyak amat!” “Banyak. Sekarang sudah tak ada) “Ha ha ha berapa katanya?” “Ah.

aku jadi pura-pura pergi ke toilet atau kemana lah yang penting terhindar dari gosip bahwa aku pacaran sama Nandan. mulai besoknya. Piyan!” 26 Aku tahu sekarang. Pantesan Dilan jadi gitu! Aku enggak pacaran sama Nandan. Tapi biarin! Asal Jangan Dilan yang berubah ke aku! Bagaimana dengan Beni? Ya. Tapi. biar bisa kau maklumi. Piyan! Jangan lupa sampaiin. aku mau ke dia karena dulu belum tahu bahwa di dunia ini ada Dilan! Mengerti kaaan? Selama cuma pacaran. aku sudah tidak pernah ke kantin lagi bareng-bareng dengan Nandan. aku juga kasihan ke dia.“Ya. aku pacaran dengan dia. udah. Dilan! Emang siapa sih yang bilang. selalu kuusahakan punya alasan untuk menolak ajakan Nandan pergi ke kantin. Ya. Nandan pasti ngerasa aku berubah. Sampai-sampai kalau pas istirahat aku lebih sering memilih untuk diam di kelas. aku masih punya hak untuk memilih. Ya. Setiap hari. Jengkelnya kalau Nandan sudah ikut-ikutan diam di kelas. sampai bisa kudapati orang yang pantas kunikahi! Coba jadi aku deh. Tolong ya. kukira. sampai kamu bisa ngomong begitu? Pokoknya Piyan harus menyampaikan kepadanya bahwa aku tidak pacaran sama Nandan! Titik! Harus! Wajib! Sejak itu. 27 . nanti aku bilang!” “Harus.

Itu adalah sesi di mana Sang Penanya akan memberikan pertanyaan kepada siapa saja. ah kau taulah kenapa. siapa siswa yang ditunjuk dari kelas 2 Fisika 1? Dia adalah: Dilaaaaaaaann!! Yeeeeee!!! dan dua orang lagi yang aku sudah lupa namanya. kulihat dia biasa saja. Biologi dan Fisika.Hari itu adalah hari sabtu. Satu sesi menampilkan 3 group. aku GR sedikit ya. belajar di kelas ditiadakan. Ketika giliran groupnya Dilan. Ketika acara itu dimulai. yang akan mewakili sekolah menjadi peserta Cerdas Cermat di TVRI. karena ada acara seleksi pemilihan siswa terbaik. B dan C. Acara itu di selenggarakan di aula sekolah. Itu acara yang seru. meskipun. Diambil dari kelas Sosial. Di kelasku yang terpilih adalah Gatot. Mau tahu tidak. aku nonton sedikit agak di depan. Aku sedikit kecewa. nanti akan membuatnya grogi. 2 dan 3. babak dua dan tiga. . Pesertanya diambil dari tiap kelas. aku langsung degdegan! Serius! Sangat berharap groupnya Dilan akan menang dan terpilih! Tapi pas selesai babak satu. sebanyak tiga orang. yaitu mereka yang tercatat sebagai siswa yang selalu mendapat rangking 1. groupnya Dilan bisa mengejar ketinggalan pada sesi pertanyaan rebutan. aku takut kalau Dilan tau ada aku. Masing-masing dicampur menjadi beberapa group. Group A. Nyatanya tidak. Aku bisa puas melihat Dilan dari agak sedikit dekat. Aku berharap. hasil perhitungan nilai menunjukkan groupnya Dilan dapat posisi kedua. Enjang dan Warti.

Tidak cuma itu! Waktu ada pertanyaan:” Jelaskan latar belakang pergeseran kekuasaan yang membentuk undangundang dari Presiden menjadi kewenangan DPR?”. Aku langsung kecewa! Bukan ih!! Munawir Sadjali. ini adalah kenangan lainnya dari dia yang tidak bisa kulupakan. Doaku selalu menyertaimu. Biariiiiiin! Sesi pertanyaan rebutan dimulai. jika jawabannya itu salah. Yes! Dilan pasti tahu! Tapi apa jawaban Dilan waktu itu?: “Mahatma Gandhi!”.dan yang bisa lebih dulu memijit bel. harus gitu! Jadikan ini hari terbaikmu! Tetap semangat. Dari jauh aku bisa lihat Dilan nampak terlihat tenang. Iya. Sang Penanya mengajukan pertanyaan:“Siapa menteri Agama Kabinet Pembangunan V?”. Dilaaaaaann!! Aku langsung curiga. Begitulah aku hari itu. bagus. karena penonton juga tahu. Repot dengan diriku sendiri. Tahu . Aku senang. Resikonya adalah. asli. tapi seorang Penggerak Kemerdekaan India! Kalau aku pernah sangat jengkel ke Dilan. Lebih repot dari mereka yang lebih pantas untuk repot. dia pasti sengaja! Pasti!!! Semua orang ketawa bahkan ada yang sampai terkekehkekeh. Tentu saja. maka itulah harinya! Tapi. akan mendapat kesempatan untuk menjawab. maka akan dikurangi nilainya. Dilan. pas tahu Dilan berhasil mijit bel lebih dulu. Mahatma Gandhi itu bukan Menteri Agama.

Aku pandang dia dari jauh. sama-sama suka kumpul di warung bi Eem. aku tidak! Aku justeru jengkel ke dia. Pak!”. tapi itu adalah pandangan yang gemas! Tapi biar bagaimana pun. itu adalah harinya. Semua orang ketawa. suka malakin anak-anak kelas satu. maka tidak akan ada seperti si Anhar dan si Kusnadi. Memalukan! Menjijikan! Tidak elegan! Menghancurkan citra korpsnya sendiri. jangan dijawab ih! Jadi aja nilaimu terus dikurangi dan akhirnya group kamu kalah! Gak jadi deh masuk teve. Ya. Memanfaatkan nama kelompoknya hanya untuk kepentingan pribadi dan untuk merasa puas . atau minimal Piyan. satu komplotan. hanya dirinyalah yang paling jago di dunia dan akhirat. Dilan. Temannya Dilan. setiap aku mengingatnya. aku akan langsung tersenyum. kalau memang tidak tahu. 28 Seandainya semua anggota gengmotor seperti Dilan. bersama si Engkus. baginya. katanya.apa jawaban Dilan? Setelah dia berhasil bisa mijit bel lebih awal? Dia menjawab dengan tenang:”Tidak tahu. Anhar itu pernah ditahan polisi karena melakukan tindakan kriminal di jalan. Anhar itu anak kelas 3 Sosial. seolah-olah. udah. Anhar suka petantang petenteng. Malahan ada info dari Rani. sama-sama gengster. Aku tidak! Serius. di mana dan kapan pun. Truoblemaker dan konon diam-diam.

Tidak sama sekali. bahwa jika Dilan berantem. Aku juga tahu Dilan suka berantem. biar sedikit bisa objektif. Sebetulnya. sebab aku yakin kamu tidak akan percaya. atau yang lebih buruk dari itu. kepada siapa pun. (Anak Kolong adalah sebutan untuk mereka yang ayahnya tentara) “Kenapa kamu ngomong gitu?”. kira-kira artinya:”Jangan mentangmentang Anak Kolong lah! Biasa aja! Gak takut!”. Tapi kayaknya percuma. Dilan pernah berantem dengan anak kelas 3. seolah aku sedang berusaha menyampaikan bahwa Dilan itu orang suci. Dilan menghampiri orang . Aku juga tahu bahwa Dilan pernah diskors. (kelak di kemudian hari. ingin juga kujelaskan. aku sedang tidak ingin membela Dilan. Sebelum aku datang. Ini aku bilang dengan melepas perasaanku kepadanya. waktu Dilan melewati mereka yang sedang nongkrong. Itu hakmu. Kau boleh bilang bermilyar-milyar kali bahwa Dilan itu anak nakal. Tapi bagiku. Gara-garanya disebabkan oleh karena orang itu bilang ke Dilan. sebelum aku pindah ke Bandung. karena terlibat tawuran. Bahasa sunda. sesungguhnya itu lebih disebabkan oleh karena ia ingin membela harga dirinya.bisa menekan siapa pun yang dia anggap remeh! Di sini. genster brengsek. dan kehormatannya. Dilan berbeda dengan Anhar dan Engkus. Dilan menjelaskannya kepadaku dengan detail): ”Tong mentang-mentang Anak Kolong lah! Biasa weh! Teu sieun!”. di sini. kata Wati.

dan terjadilah baku hantam. kamar 1520. Konon. Dilan masih dengan pertanyaan yang sama “Naon. Aku pernah melihat bekas jahitan di perutnya. “Naon ieu teh?”. “Aku suka merhatiin kamu lho?” “Oh ya? Kenapa?” . Dilan pernah di rawat di rumah sakit Boromeus. Sekali waktu. Dilan kemudian menghajarnya. kepada Anhar. Tapi entahlah. “Ngomong naon?”. dan koma selama 1 hari. Kasus ini tidak pernah diusut sampai tuntas. Dilan tidak pernah membicarakan soal dirinya menyukaiku. Pelakunya tidak pernah terungkap!!! 29 Aku yakin. Si orang itu masih juga balik nanya (“Ngomong apa? Enggak”) “Kenapa kamu ngomong gitu?”. sekarang Bandung Indah Plaza (BIP). Karena kalau Anhar tahu.itu. Anjing!”. akibat terkena tusukan di perutnya. ("Apa. entah dapat nomor dari mana. katanya di ruang Yosep. si orang itu balik nanya (”Apa sih ini?”) “Kenapa kamu ngomong gitu?”. Itu terjadi di daerah jalan Merdeka. dia pernah nelepon ke rumahku. dia pasti tidak akan berani menggodaku. Dicurigai sebagai balasan yang harus Dilan terima. Anjing!?") Si orang itu akhirnya berdiri dan mulai merangsek. diawali dengan adanya kejadian itu.

Kenapa gitu?” “Salam buat dia!” “Pengen ya ke Dilan?” “Menurutmu?” “Suka ya?” “Tanya aja dia” “Nanti deh aku tanyain" "Tanyalah" "Eh Milea. aku pinjem jaketmu? Biar kalau kupake jadi kerasa dipeluk kamu” “Norak tahu!” “Tapi kamu suka kan?” “Alhamdulilah enggak” Obrolan yang sangat membosankan! Cowok macam apa pengen make jaket cewek! Katanya gengster.“Kamu cantik lah” “Kamu temenan sama Dilan?”. boleh ga. setidaknya dengan itu bisa sekalian dimanfaatkan untuk aku bernostalgia. Haikal dan Ayu. 30 Siswa yang terpilih untuk mewakili sekolahku menjadi peserta cerdas cermat di TVRI adalah Gatot. Tapi siswa lain juga boleh ikut untuk menjadi suporter. Syaratnya harus bayar ongkos untuk biaya menyewa bis ke Jakarta. tapi obsesinya malah pengen jadi waria. “Iya. karena Dilan tidak ikut! . Aku ikut dan senang karena bisa datang ke Jakarta. Tapi aku kecewa. aku nanya.

aku tidak sama sekali berharap ketemu Beni. “Tahu dari mana aku di sini?”. Pas lagi makan. mungkin Beni ada acara. bilang mau ke toilet. Dia pergi. kalau kemudian Beni tahu bahwa aku ke Jakarta dan tidak bilang. karena aku duduk bersampingan dengan Nandan. Dia berdua dengan Saribin. Sebetulnya. Novi izin. Nandan ngajak aku makan. Di telepon. awalnya aku gak mau. kawan sekelasnya. Dia langsung duduk di depanku. Aku cuma takut. Sampaisampai aku mengira. Dia memastikan akan datang ke stasiun televisi tempat di mana kami akan melangsungkan pertarungan. pasti dia akan marah. kawanku juga. Beni bilang dia senang. Jalan-jalan. malamnya kutelepon Beni. siswa disarankan untuk mencari makan dulu. Tapi pas selesai acara (Tim kami kalah). katanya dia di rumah pamannya. kutanya Beni . sebelum pulang ke Bandung.Karena tahu Dilan gak ikut (Aku dapat info dari Piyan). Jangan jauh-jauh. Sudah dicoba kutelepon ke rumahnya. tapi karena Novi ikut juga. yaitu di sekitar kawasan kantor stasiun televisi. rencananya kami akan mampir dulu ke Monas. Pada saat itulah Beni datang. Setelah usai acara. dengan menggunakan telepon umum. Tapi sebelumnya. Beni belum kunjung datang juga. tapi yang nerima ibunya. meninggalkan aku berdua dengan Nandan. aku jadi mau. sehingga dia tidak bisa datang.

Beni memotong: “Disuruh apa? Disuruh berpasang-pasangan?” “Beni! Apa sih?!”. Beni nanya: “Cuma berdua?” “Banyakan.”.. Nandan kulihat dia nampaknya ketakutan. “Suka kalau gue ga datang?”. aku berdiri. Aku langsung merasa kasihan ke dia. Dengan perasaan gak karuan. Tadi. Beni berdiri juga seraya membentakku: “Diam kamu!”. Beni menunjukkan jarinya hampir deket ke wajah Nandan. lagi?!”. Nanya aja. Mas”. kataku sedikit teriak karena kesal “Terus elu. Beni membentak Nandan. Nandan menjawab gemetar “Terus ngapain lu berdua?!”. seandainya dia bukan orang cemburuan. Kirain ga akan datang”. Harusnya hal sepele macem ini gak usah terjadi. . Matanya sudah nyala oleh api cemburu. Percumalah kujawab. Dia pasti marah! Aku tahu siapa dia. siapa. aku kenalkan Nandan kepadanya. Emang kenapa kalau tahu?”. disuruh. jawabku.. Aku jadi gak enak ke Nandan. Beni menyikapinya dengan mata kebencian. Terus dia memandang ke Nandan sambil bicara dengan nada menantang: “Lu pacarnya!?” “Bukan. Beni balik nanya “Ga apa-apa. sebelum jawabanku selesai. Dia memandang kami menggunakan wajah permusuhan. “Beni!”. Beni nanya dengan tatapan yang bisa dianggap mengerikan Aku diam.“Temenmu ngasih tau.

Dalam hati yang kacau. Mereka berusaha untuk membuatku tenang.Saribin berusaha melerainya. “Teman aja. Saribin berusaha kuat bisa memegang Beni yang terus memaki Nandan. Setelah selesai bayar makan. Saribin berusaha mencegahnya. mas. lu!”. justeru malah membuat Beni makin jadi emosi. Aku teriak untuk bisa menghentikannya. sambil bilang ke Beni: “Kita putus!” “Dasar pelacur!” Beni memakiku. ibu Sri. Makan”. Nandan pergi bersama Novi yang masih kebingungan. bagiku. aku mendengar Nandan sedang menjelaskan duduk persoalannya kepada semua orang yang ada bersamanya. Nandan mengelak. Wati di sampingku. Sebetulnya aku berharap dia tidak cerita. Wati dan Rani. Aku juga ikut pergi. Memeluk Wati. Di saat bersamaan Novi datang dan langsung merasa bingung dengan apa yang terjadi: “Pergi. . kata Nandan Tiba-tiba Beni nyoba nampar Nandan. Beni membentak Nandan. Tapi sudahlah. aku jalan bergegas sambil nangis dan langsung masuk ke bis yang sudah dipenuhi oleh kawan-kawanku. Itu kata yang bisa kudengar dari banyak kata-kata buruk lainnya yang Beni ucapkan. saat itu. Dia merangsek dan lalu berusaha memukul Nandan. Aku nangis di bis ditemani Sarah. dia nanya ada apa? Tangisanku sedikit menjadi ketika memeluknya.

Capek apa ya? Enggak tahu lah.. “Iya." 31 Aku sakit... dokter bilangnya begitu. Tak kuduga bahwa hari ini akan ada. Mungkin karena aku berpikir bahwa pada tubuh Wati ada darah daging yang sama dengan Dilan. nanti jadi ." "Dilan?" "Kenapa Dilan gak ikut. besoknya.. Katanya kecapean.. Kenapa?” “Nanti.. kenapa?” “Dilan. Wati nanya sedikit berbisik dan mengelus punggungku “Watiii.. beberapa waktu yang lalu: “Jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu... Milea” “He he he. “Kenapa?”.rasanya seperti sedang memeluk Dilan.?” Aku nangis dengan perasaan tak karuan... Wati pasti bingung kenapa kasus ini bisa bersangkut paut dengan Dilan? Makian Beni sangat menyakitkan hatiku.”. sambil terus meluk Wati. orang itu akan hilang! ". Kau tahu lah: Wati adalah saudaranya....... terkenang kalimat Dilan di telepon. Tak kusangka dia akan bilang begitu. Sambil kuseka air mataku.. Serius... Jangan berdebat.

malah tambah sakit. kutanya Rani “Itu di luar” “Wat!”. Aku disuruh istirahat. Nandan diam terus. Wati datang . Galih duduk di samping Rani. mengingat akunya juga lagi sakit. dan Rani duduk di sampingku. Sebagian lainnya pada di luar. Di hari kedua aku sakit. cuma bilang cepat sembuh. aku berusaha manggil Wati “Wat. sakitku tidak parah-parah amat. Kayaknya ada banyak yang ingin dia omongin. dipanggil!” Tatang teriak. percaya aja. bercengkrama. Aku duduk di situ. hanya waktunya aja yang belum tepat. terutama ngebahas peristiwa di Jakarta. tapi aku rindu. semuanya dari kelas 2 Biologi 3. Ingin tahu di mana dia. Satu-satu dari mereka menyalamiku dan mengucapkan doa kesembuhan. di ujung kiri sofa. Orang yang datang. Kalau jaman dulu sudah ada handphone. beberapa kawan sekelas datang menjenguk. kau mau bilang apa. Tatang berbagi duduk dengan Revi di kursi yang beda. Maaf. Dilan. Iya. sambil menyemangati kawannya yang ngambilin jambu batu. aku gak masuk sekolah. Selama tiga hari. terserah. Nandan juga ikut. “Wati mana?”. aku masih bisa jalan. pasti aku sudah akan SMS Dilan. Mereka bawa buah-buahan. di bagian ujung kiri sofa panjang. Udah. Aku temui mereka di ruang tamu. Mudah-mudahan sehat selalu. Nandan duduk di kursi lainnya.

yang ngangkat si Bibi. Beredar dari mulut ke mulut. Kata si Bibi. sebagian kawan ada yang ngebahas peristiwa di Jakarta. Aku belum bertemu Dilan sejak pulang dari Jakarta. Wat”. Bi” “Iya” jawab si Bibi sambil pergi. kata Wati “He he ga apa-apa. Wati duduk secukupnya di antara Rani dan Galih. sambil bergeser untuk membagi tempat duduk dengan Wati. Telepon rumah berdering. Berita itu mungkin sudah sampai juga ke Dilan. seperti kebanyakan anak remaja di dunia. anak-anak lagi pada ngambilin jambu”. Ngobrol sana-sini. Aku yakin. Pekan olah raga dan seni yang akan diselenggarakan di sekolah. itu telepon dari Beni. jawabku. Di sini aja. Entah dari sudut pandang apa mereka beropini. bawa minuman dan kue. Mereka juga membahas soal kesiapan menghadapi PORSENI. tanya Wati “Enggak.“Ya?” “Sini” “Sini. Aku pasrah. bagai apa yang membakar jerami kering. Suasana ruang tengah cukup rame. Bahkan aku tidak mau membahasnya ketika mereka pada datang ke rumahku. “Bilang lagi tidur aja. “Ada apa?”. selama tidak sekolah. Rani manggil. . “Itu. Aku gak tahu. Kamu mau?” “Udah” “Kalau mau lagi ambil aja” Si Bibi datang. Wat”.

Nanti kutelepon lagi” . Entah mengapa. Dari Dilan katanya. “Halo?” “Kamu sakit?”. kataku sambil mau beranjak dari dudukku dan lalu ke sana untuk nerima telpon dari Dilan. Kata dokter kecapean” “Ya. Kamu di mana?” “Di planet bumi” “Ih! Serius di mana?” “Di? Bentar aku mau nanya orang. Kan di Bandung juga bisa” “He he Iya. sejak itu Dilan tahu bahwa ternyata diam-diam aku sudah punya pacar. Gak usah disesali. tangan ini rada sedikit gemetar. rasanya. Telepon berdering lagi. aku harusnya kemaren ikut ke Jakarta” “Kenapa?” “Aku tidak tahu. yang angkat si Bibi lagi. Aku tutup dulu ya teleponnya. Sudah mau pulih. Nanti. terserah dia mau bersikap apa kepadaku setelah semua itu. tanpa ba bi bu langsung nanya begitu “Eh? Sedikit. Milea” “Kamu di mana?” “Tapi aku nyesal kemaren tidak ikut ke Jakarta” “Ya sudah. merasa harus aja” “Kenapa harus?” “Makan berdua denganmu di Jakarta mengganti Nandan” “He he he he. Aku pasrah. Kamu di mana?” “Kenapa?” “Kenapa apa?” “Sakit kenapa?” “Sakit biasa. tanya dia.Kalau memang benar sampai. Oh! “Bentar”.

Sini. Senangnyaaaaa!! 32 Habis nerima telepon Dilan. pokoknya aku tunggu” “Iya. Tak lama telpon pun berdering. Masa’ gak tahu?” “Bentar. “Halo?” “Di Sekelimus”. Biar kalau mereka lihat aku ganti baju. aku ke kamar. pada nengok aku katanya?” “Oh? Kamu masih sakit?” “Sudah mendingan. bentar. Aku ke sana sekarang” Waaah. Dilan. Aku tunggu sambil senyum-senyum sendiri. Sini.“Eh? Ha ha ha. katanya. Aku ke sana” “Serius?” “Serius enggak ya? Bentar aku tanya orang. . Biar. Dilan” “Iya. kalau mereka lihat aku nampak segar. Dia menutup teleponnya. Iya. Klik. Dilan mau datang. ya karena memang ingin ganti baju aja. Kuangkat. Aku tutup dulu ya teleponnya?” “Gak usah heh!!!” “Ha ha ha ha ha ha” “Udah. Ada Wati” “Ngapain dia di situ?” “Sama yang lain. Jangan pergi dulu dari situ”. Aku tak ingin bilang ke kawan-kawan bahwa Dilan akan datang. Sekelimus adalah nama daerah di kawasan Buahbatu “Ha ha ha ha Kamu beneran nanya?” “Iya” “Ha ha ha ha.

Aku kembali ke sana. Bi Asih?”.“. Pieraeun!”. tanya Wati “Katanya. entah mengapa aku ketawa. Kawan-kawan di luar. “Ade Dilan. biar si emak duduk di situ”. tanya Wati. Setelah agak lama menunggu. Dia masuk dan bilang mau ketemu dengan Milea. “Ada apa. Nanti ke sini lagi katanya” “Ha ha ha ha ha”. Itu ibu-ibu yang sudah tua. aku mendengar ada dialog di luar: “Ada. Milea. Katanya sebentar. masuk aja”.. Bikin malu aja” “Mana si Dilannya?”. Tadi nganterin ke sini”. Rupanya dia kenal. tanyaku. Tang. sini. Mungkin usianya sudah 60-an. sebagian pada masuk ingin tahu ada apa. “Mijit siapa?”. menemui kawan-kawan di ruang tamu: Menunggu Dilan! Entah bagaimana rasanya. yang artinya “Kaaan dia lagi. tanya Wati. Revi juga:”Di sini. “Saya disuruh ke sini. tanya Nandan. Katanya ada yang mau dipijit?” “Mijit?” aku nanya seolah pada diri sendiri. aku ingin jadi penyair untuk bisa bagus mengatakannya. tadi mau ada perlu dulu. Tatang berdiri. Mak? Ada apa?”.. ujar Wati. jawab Bi Asih “Tuh da si eta wae. aku ketawa. Mak” . “Eh Neng Wati”.ya karena ingin cuci muka aja. “Ya udah. Mak?”. Bi Asih menyapa Wati “Iya. di dalam. teman sekelasku. kata Bi Asih “Disuruh siapa. “Siapa namanya? Mila. Mak! Duduk sini. Tapi itu bukan Dilan.. kata Didin.

itu cuma sekedar untuk menghargai bantuan Dilan. Sini. Mereka cerita. Dilan datang ke rumah. tanyaku. Terus apa kata guru?”. Dia asik bicara dengan Galih. Di sini mijitnya. kulihat. Sedangkan Nandan. Aku tidak pernah dipijit. Tetanggaku. Mak. Aku senyum. “Ya udah. kata Wati “Tadi. Ran. geser. Sangat senang. Kawan-kawan jadi pada ngobro soal Dilan. Asal aja. He he he”. Aku bilang ke dia jangan keras-keras. “Ini mah Bi Asih. Aku senyum-senyum gak jelas. Tulisannya: "Hamid Loves Dilan". “Hamid itu siapa?”. Nenek kan suka mijit ibunya Dilan. Maksudku. “Oooh gitu. Asal pijit aja. kutanya lagi . Aduh. karena terjadi sebelum aku pindah ke Bandung. suka mijit”. sebelah kakiku kulonjorkan di kursi.“Kok Dilan bisa ketemu emak di mana?”. Dilan! 33 Dengan masih tetap duduk menyandar. kutanya “Hamid! Hamid Kepala sekolah!” “Oh? Ha ha ha ha. Bahkan rasanya aku siap jika harus membahasnya sampai malam. seperti tidak tertarik untuk ikut membahasnya. Serius. ditulis dengan kapur. Aku senang mendengarnya. Ran”. entah soal apa. Bi Asih menjelaskan. Dilan mana? Belum datang juga. Neng”. Cerita tentang Dilan yang belum pernah kudengar. kataku lagi. Bi Asih memijitnya. dulu di sekolah pernah heboh oleh adanya tulisan di sepanjang jalan menuju sekolah.

tanya Wati "Kapan ya. Emak pernah dianterin.. (Pasti dia sendiri lah yang nulisnya) Si Bi Asih kulihat dia senyum juga mendengar obrolan itu. tanya Revi “Duduk aja?" tanyaku "Itu. Neng. tanyaku “Itu. kata Wati.ha ha ha ha” Wati keburu ketawa sebelum meneruskan kalimatnya. kutanya dia. naik motor. Aku juga ketawa. Kawan-kawan bersikap seperti orang yang ingin menyimak kisah Bi Asih “Iya. tanyaku “Iya” "Kapan itu. Atau jangan pulang sekalian. . diajak ngopi. disuruh cerita pacaran Emak sama suami Emak waktu muda”. katanya dipanggil Pak Suripto ya?” “Iya" "Pasti si eta sorangan lah nu nulisna”. Ada temen-temennya di situ” “Emak ikut ngopi di situ?” “Iya” “Da si eta mah. Ke rumah. (Artinya: Tuh kan dia itu) “Ngapain aja Emak di situ?”. “Bi Asih kenal Dilan?”. udah lama" Aku ingin mereka gak pada pulang.“Gak tau.. Bi Asih?". Aku ingin mereka terus di sini bersamaku cerita tentang Dilan. tanyaku. Neng. “Kenal. gak tahunya mampir ke warung dulu” “Ngapain?”. jawab Bi Asih “Didengerin sama anak-anak yang di situ?”. yang lain juga. Kan suka nganterin Emak kalau sudah mijit ibunya” “Naik motor?”.

masa coba ditangannya digambarin jam tangan?" "Ha ha ha" "Pake spidol! Si Kakek nya lagi. kataku “Dosa lho. itu Dilan! Datang dia menembus gerimis. tanya Revi “Iya. mau aja!” “Ha ha ha ha kayak anak kecil?”. “Kenapa?”.“Katanya pernah dimarah Bu Juang ya?”. Dia menyapa orang-orang yang ada di luar. di rumah juga”. Dia mah emang gitu. kata si Rani. kata Nandan Bersamaan dengan itu. kata Revi "Aku juga". Bu Juang adalah wali kelas 2 Fisika 1. tanya Nandan kemudian. “Aku mah langsung pulang aja kayaknya”. “Iya gitu?”. tanyaku “Kan waktu si Teguh gak sekolah. kan kakek aku juga. Rame”. kata Wati “Hayu atuh”. Surat izin gitu. Ini mau ke sekolah lagi atau pada mau langsung pulang?”. tanyaku “Kakeknya. Tapi kata temen. di luar terdengar suara motor yang masuk ke halaman rumahku. kalau gak salah: Hari ini Teguh tidak bisa masuk sekolah karena lupa”. Teu sopan pisan!” kata Wati (Gak sopan) “Jadi pada ngomongin Dilan gini”. timpal Nandan “Bukan cari perhatian. Kan Bu Juangnya marah” “Kayak cari perhatian gitu”. tanyaku “Iya Ha ha ha. Si Dilan bikin surat buat guru. Ya betul. Si Teguh itu anaknya Bu Juang. tulisannya. “Gitu gimana?”. dan langsung . kata Wati. kata Nandan “Biarin ih.

katanya. kataku Semua orang senyam-senyum. Gimana? Udah mendingan?”. Pada naik apa?” “Angkot”. kata Wati seperti menghardik "Oh" "Ga apa-apa. “Ya udah kalau gitu. “Udah. kata Nandan sambil mulai berdiri dari duduknya. pasti gak boleh” “Kami sudah pada mau pulang. “Sama-sama. Lan”. Kuturunkan kakiku. “Eh. “Rame gini!”. “Terimakasih udah ngirim Bi Asih”. kata Rani sambil dia berdiri .masuk ke dalam. Nek?”. Mereka senyum pasti berkaitan dengan Dilan yang sudah nyuruh tukang pijit datang ke rumah. Baru sebentar” “Kamu teh apa sih. Tanya Wati (Teh=ini) “He he kan kalau aku yang mijit. kata Nandan (kalau gitu) “Kami pulang dulu ya! Lan. Dia manggilnya Nenek. “Tuh De Dilan”. kataku sambil senyum ke dia. Aku mau nemenin Lia dulu. tanya Dilan ke Bi Asih. kata Bi Asih "Buka sepatunya!". jawab Tatang "Hayu atuh". pulang dulu ya”. kenapa?”. jawab Tatang yang sama berdiri dari duduknya. Pake aja". Tadi. nyuruh-nyuruh Bi Asih datang ke sini?”. tanya Dilan “Udah dari tadi”. tanya Dilan “Iya” “Udah dipijitnya. yang sedang dipijit Bi Asih.

suaranya pelaaaaan sekali sambil memandangku. Lia. jawab Dilan “Makasih. duduk aja” “Iya” Entah. Wati dan yang lainnya pada pergi. tanyaku kupandang lagi matanya dengan suara yang sama berbisik “Udah. tanya Dilan. apakah dialogku dengan Dilan kedenger oleh . awalnya. sudah pada nengok”. “Makacih” Setelah itu. kataku sambil mulai berdiri. Dilan juga akan sama ikut pergi. jawab Revi. semuanya. “Apah?”. Dilan dan Bi Asih ketika semua pada pergi. Kalau aku boleh shuudzon: Nandan mungkin cemburu. Ran". Gerimis” “Ga apa-apa” “Mau bikin aku senang?”. sebab dia tahu. Dia pikir. Tapi tangan Dilan bergerak menghalangi:”Gak usah. kecil kok”. ta duit!”. Artinya: “Lan. “Masih gerimis padahal”. Aku bermaksud mau ngantar mereka. nanti hanya akan ada aku. Kulihat Nandan seperti orang murung atau apalah istilahnya. kalau mereka pada pergi. Wati mendekat ke Dilan dan bicara pelan sambil menadahkan tangannya:”Lan. minta duit” “Buat apa?” “Ongkos he he” Kulihat Dilan ngasih."Iya. kataku berdiri di samping Dilan “Ga apa-apa.

kupanggil si Bibi “Ya?” “Minta handuk!” “Handuk?” “Iya. diantar Dilan sampai sejauh pintu pagar. entah soal apa. “Ini”. Dia ambil. Ih! Itu mah tukang becak. dari dalam ruang tamu. melihat kawan-kawanku pada sibuk make sepatu: ”Makasih ya!”. aku kasihin handukku.mereka atau tidak. “Iya. Juga bisa lihat Dilan yang nampak ngobrol dengan Agus dan Wati. Kemudian Dilan masuk. Bi!” 34 Si Bibi ngasih handuk dan bilang mau keluar dulu. ada yang harus dibeli. ke warung. yang pasti kulihat Wati memonyongkan mulutnya ke Dilan sebelum dia bergerak pergi. Aku kembali duduk di sofa. Cepat sembuh ya” “Makasih” “Assalamualaikum!!!” “Alaikumsalam” Mereka pada pergi. Gerimisnya tidak besar. “Bi!”. cuma berupa seperti arsiran kecil. Dan Dilan ketawa. Dilan! Terus aku duduk di samping Bi Asih: . Aku gak tahu. Aku bisa melihatnya dari sini. kataku sedikit berseru. Dia selendangkan di lehernya. Handuk Lia.

soal ini saya yang urus. sambil kupandang matanya yang memandang Bi Asih. tanyaku “Masalah usia ini”. Neneeeeeeeek!!!”. kata Dilan “Enggak. kata Bi Asih “He he he”. kataku “Yang itu. jadi aja gak tahu”.. Lia”. Nek. yang mijitnya jadi aku. cerita tentang kejelekan Dilan. sergah Bi Asih “26. kata Dilan kepadaku “65!”. aku ketawa “Kan... kataku sambil lebih mendekat ke Bi Asih “Bentar. Bi Asih nanya sambil mengernyitkan dahinya “Ha ha ha”. Ini apaan? Kisah heroik maksudnya? “Nenek pingsan sih. biar.“Nek. timpal Bi Asih “Keliatannya aja”. Nek?”. aku ketawa “Si Nenek ini usia sebenernya masih 26 tahun. kata Dilan. dong”. kata Bi Asih “Ha ha ha”. Dilan ketawa “Yang bagusnya aja. kata Dilan “Ha ha ha jadi debat gini”. sambil . kata Dilan “Kapan?”. terus Ibu kamu tahu!”. Nek. ya. aku tidak bisa nahan ketawa. kata Dilan kepadaku “Urus apaan!!?”. Aku juga jadi manggil Nenek. kata Bi Asih “Yang bagusnya apa ya? Ini. Ibu gak tahu. terus kuganti. Kamu kan lagi sakit”. jawab Dilan “Ha ha ha! Aku sih percaya sama Nenek. yang waktu nenek mijit ibu. Telungkup sih”. Lia. yang nenek masuk sumur. kalau begitu”. Usia Nenek emang 65!”. “Enggak boleh ngejelekin orang”. kata Dilan “Ha ha ha”. terus aku tolong”. “Ga pernah masuk sumur Nenek mah”.

seolah-olah itu sengaja biar bisa bebas kupeluk. Tapi aku merasa tidak perlu berdebat di telepon. Mau ke rumah. jawab Bi Asih sambil sama mencondongkan badannya ke arahku. Gak enak. dia mendapati ada Dilan di rumahku. Aku senyum memandang Dilan. “Nenek. Beni bilang dia sudah di Bandung. Aku angkat. Nenek mah!”. Mungkin Beni tak akan lagi melabraknya. Ya tuhan. Kuatir Dilan mendengar. jawab Bi Asih “Berarti gosip”. Hah?! Aku asli kaget. . Ini tidak baik. Kulihat ada kernyitan di dahinya “Pak Andar. wajahnya seperti orang yang mikir harus ngomong apa lagi. kenapa coba. kata Dilan “Ha ha ha ha” Tiba-tiba kudengar telepon berdering. Katanya mau ngebahas soal hubungan dia denganku. seraya memandang Dilan “Iya”. Bi Asih balik nanya. aku tidak mau. Penting! Tadinya mau kularang dengan alasan yang bisa kucari. Tapi aku merasa ini tak akan bagus. Seolah-olah dengan itu. Dilan nanya “Pak Andar mana?”. “Enggak. Nenek suka sama Pak Andar?”. Aku hanya bilang iya saja. pas nanti Beni datang. itu dari Beni. Silakan! Masalah kedua adalah.kucondongkan badanku untuk meluk bahu Bi Asih. dia sedang menggabungkan dirinya untuk membuat kekuatan: melawan Dilan. itu suaminya Bu Irma”.

Dilan nanya ke Bi Asih sambil menyodorkan kunci motor “Gak bisa” “Ya. “Kamu pergi sekarang. Tapi kalau Dilan mau duduk-duduk. aku sangat suka bahwa ada Dilan di rumahku. Maaf. Haruskah aku nyuruh Dilan untuk pulang? Entah bagaimana caranya? Aku takut dia akan merasa diusir. Demi Tuhan aku bingung. Kupandang matanya. Demi Tuhan. Dilan?”. Kamu pasti tahu. udah. Seperti berat rasanya membiarkan dia pergi “Iya. Berat sekali saat kubilang “iya” “Nenek yang bawa motor?”. Istirahat. Sangat ingin ketawa apalagi melihat muka Bi Asih yang polos. Dilan menjawab:” “Iya! Kamu harus tidur. tapi ini bukan waktu yang tepat. Nenek yang dorong” “Mogok gitu?” “Pura-pura mogok aja. kepalaku sakit. lincah kembali” “Iya”. Dilan.Aku bingung. Akhirnya aku bilang ke Dilan bahwa. aku merasa perlu tidur. Tapi yang keluar cuma “He he he” . Aku merasa bersalah. Biar kami pulang saja”. Biar lekas sembuh. Nek” "Pura-puuuura? Biar apa?" "Biar Nenek capek" Aku ingin ketawa. Kamu tidur. padahal aku sudah sangat senang ada kamu. silakan aja. apalagi sedang seru. Bahkan sudah lama kurindukan hari yang seperti ini. Aku sedih mendengar kalimatnya.

kenapa kau Datang??????? Iiiiiiiiiihhhhh!!! Aku kesal!!!!!!!!!!! Dilan pamit bersama Nenek.karena kehalang oleh pikiran kalut soal Beni mau datang ke rumahku. Lia cium tangan”. Nek. sambil menatap mataku. Bi Asih! Sebenarnya aku ingin ngomong gini ke Dilan: "Dilan. persoalanku dengan Beni bisa kutangani dengan baik. sampai aku bebas dari dia. "He he he. kata Dilan ke Bi Asih “Kayak ke suami aja”. sampai Dilan pergi bersama Bi Asih yang disuruh Dilan untuk memeluk tubuh Dilan. Amiiin. entah mengapa. itu refleks! “Heh. katanya "Iya he he" Hati-hati. Bi Asih!! Dan. sambil kulihat tangan Bi Asih melepas tangannya dari memeluk Dilan "Itu tawaran". jawab Dilan sambil meraih lagi tangan Bi Asih untuk kembali memeluknya "Insya Allah" jawabku. Terimakasih. Aku salaman dengan mencium tangan Dilan. "Malam ini. Dilan. Dilan. 35 . jawab Bi Asih. Beni. tadi rame. Dilan bilang gitu sebelum tadi pergi. Maaf! Juga doakan. Gerimis sudah reda. Nanti kamu!". Aku ingin bicara banyak denganmu! Kapan ada waktu? Tolong aku. Itu ramalan?" tanyaku. Dilan! Ini serius" Tapi tidak kukatakan. jangan ingat aku ya Lia!". "Sekarang Nenek dulu. kalau mau tidur.

Selagi Mas Ato bicara. Dia ditemani pamannya. Apalagi Beni masih muda. Sehingga wajarlah kalau Beni was-was akan diambil orang lain. Romantika di dalam asmara. kepadanya. Berhubungan lagi seperti sebelumnya dan tidak akan mengulangi lagi dengan apa yang sudah terjadi. . Beni nampak bersikap baik. bahwa dia bukan bermaksud mau membela Beni. dia seorang pengacara. Sangat istimewa. Mudah-mudahan ini menjadi pendidikan untuk jadi lebih dewasa.Beni benar-benar datang. Apalagi Milea kan sudah kenal dengan keluarga besar Beni. Beni sengaja bawa Mas Ato. Atau mungkin karena Beni merasa bahwa Milea itu adalah segalanya. Mas Ato bilang. semua manusia pasti pernah salah. masih bergelora Mas Ato bilang. Beni juga cuma manusia. dia ingin mendapat bantuan agar hubungan aku dengan Beni baik kembali. bahwa peristiwa di Jakarta adalah soal biasa. Dia akui Beni salah. Aku kenal. Beni juga sudah ngaku salah ke Mas Ato. Ya. dia bisa khilaf. Sangat lumrah di dalam hubungan pacaran. Mas Ato. kulihat Beni diam terus. Mas Ato suka ikut kalau aku diajak oleh keluarga Beni makan di restauran. Seolah semuanya sudah diatur oleh Mas Ato dia harus bagaimana. berharap Milea mau maafin Beni. Mas Ato sama Beni sengaja datang ke Milea. darah mudanya. tahu lah. Akur lagi. Mungkin Beni lagi kalut. Bersikap seolah dia benarbenar menyesal dengan apa yang dilakukannya di Jakarta tempo hari.

ga apa-apa" Setelah selesai nelepon.Lalu kataku pada Mas Ato: "Mas Ato" "Ya. aku kembali ke mereka. sebentar. jauh. . barangkali itu dari Ibu yang lagi pergi sama adik ke rumah dinas ayahku. Makasih. Ada apa?" "Boleh bicara sama si Bibi?" "Mau apa?" "Kupikir yang akan ngangkat si Bibi" "Mau apa ke si Bibi?" "He he he mau nitip. panggil aku" "Biar apa?" "Pasti gak akan kedenger" "He he he jauh" "Bukan" "Apa?" "Eh iya bener. Makasih" "Kalau ada apa-apa. tanya Dilan "Emang kenapa?" "Kan Lia harus tidur?" "Tadi ke dapur. Stop jangan lama-lama bicara. Jagain kamu he he he" "He he he. Aku izin ke mereka untuk ngangkat telepon. Si Bibinya masih ke warung" "Iya. Ternyata itu telpon dari Dilan "Hey! Kok kamu yang ngangkat?". Lia?" "Terimakasih sudah datang" "Sama-sama. Makasih sudah mau nerima kami" Tiba-tiba telpon berdering. Kamu harus tidur" "Iya.

aku masuk ke kamar. Setelah mereka pulang. dia menoleh ke aku "Itu ih. Aku ingin punya nomor telepon rumah Dilan! Mungkin nanti akan kutanya ke Wati. Lia bisa mengerti dan Beni bisa introspeksi" Setelah semuanya. lalu kubilang ke dia: "Bu. mudah-mudahan. tanya Beni "Iya. Si Bibi bersaling sapa dengan Beni. kataku pada Beni "Kenapa harus dipikirin?". Mereka pamit pulang. 36 Adikku sedang main piano. tadi ada Dilan lho. jawabku "Ya. Mas Ato" "Saya mengerti" "Besok nanti ku telepon kamu". yang ngasih kado Ultah TTS" "Oh ya?" "Iya he he" "Ngasih TTS lagi? He he"."Bagaimana menurut. bertepatan dengan si Bibi datang. tanya dia sambil terus nulis "Ngasih tukang pijit ha ha ha ha" "Hah? Maksudnya?". Semuanya akan beres dengan baikbaik. Biar Lia mikir dulu". Main ke rumah he he" "Dilan??". timpal Mas Ato "Atau gue telepon besok?". Beni. Mereka memang saling kenal. tanya Mas Ato "Boleh aku pikirin semalam?" "Untuk?" "Ini bukan masalah sepele. tanya Beni "Biar gue aja yang nelepon". Lia?". Tiduran dengan pikiran yang tidak karuan. Aku duduk di samping ibuku yang sedang nulis. dia berhenti dari nulisnya .

kejadian macem kemaren di Jakarta. kalau ternyata dia suka marah-marah. Mas Ato. Ya. bukan sekali dua kali. mungkin selamanya . sehingga wajar jika mereka tidak menghargaiku. tega marahi pacarnya di muka umum! Mungkin aku tidak berharga bagi orang lain. Hanya ada satu kata dariku: Putus!. Mas Ato. kayak apa sih dia?" "Kalau ibu masih muda. tapi jika Beni pun bersikap sama begitu kepadaku. Dia tadi bawa tukang pijit. Terserah dia mau gimana habis itu. tetapi yang kemaren. besok siang kutelpon Beni. Baik" "Jadi penasaran. Lelaki macam apa. mana ibu akan suka" Aku jadi langsung inget Beni. lupakan! Aku gak mau ambil pusing. buat apa dia jadi pacarku! Aku ingin sama dia. Mas Ato. Aku siap menghadapi resikonya. Aku jadi dipijit. Sering. cemburuan. jahat. Aku ingin mikir yang seneng-seneng dan tidur. Udah itu dia pulang" "Hah? Ha ha ada-ada aja" "Iya. oke. Ah. suka gak sama orang kayak Dilan?" "Mungkin" "Kok mungkin?" "Ya. coba. Itu keputusanku. Selama ini aku mungkin bisa menahannya. entah mengapa susah rasanya bisa kumaafkan. Ibuuu ha ha ha" "Buat apaaaa?" "Buat aku!" "Dikasihin? Gimana? Gak ngerti" "Iya. pengen ketemu."Bawa tukang pijit. Mas Ato. Terserah dia mau bilang apa.

Mas Ato. ayo siapa yang mau ganggu aku. ya. tapi dia bisa selalu membuatku ketawa. tidak. Maaf. Mas Ato. aku selalu seperti mendapatkan rasa aman. tetapi ada syarat. Dia tidak hebat. Memahami sikap orang itu kepadaku. barangkali ada orang mengganggumu. jika dia mencintai diriku. kuhajar dia! Aku bukan mau bilang dia hebat.jika perlu. silakan sekarang juga. kalau kamu merasa tidak kuperhatikan. Mas Ato. aku bertemu dengan seseorang. buktikan dengan sikap dan perilaku! Kukira. Mas Ato. aku pernah. akunya sibuk merhatiin lingkunganmu. Perlukah kubilang kepadamu siapa dirinya? Bahkan ibuku nyaris tak percaya bahwa ada orang macam dia di dunia. selalu seperti sedang bicara. Ya. ketika aku pergi dan pulang sekolah. dalam hatiku. Di Bandung. Mas Ato. kalau kamu berani sama dia! Aku bukan mau bilang orang itu jagoan. akunya harus menjadi manequine. tetapi sesungguhnya dia mencintai dirinya sendiri. malah mungkin biasa saja. Mas Ato. Mas Ato. Oke. bahkan di saat ketika dirinya jauh! Sampai-sampai. aku pernah kecewa padanya. tahu kenapa? Karena aku . Tapi apakah dia begitu kepadaku? Jika dia bilang iya. tapi sebagai wanita aku merasa dilindungi! Kau tahu. dia pernah bilang apa ke aku? "Lia. aku sayang dia. Tapi bisa membuatku senang hanya dengan hal sederhana. Mas Ato. yang ingin merasa bahagia karena bisa mendapatkan diriku.

Kenapa emang kalau ketawa?" "Aku senang mendengarnya" "He he he kamu sudah makan?" "Aku tadi sudah makan belum?" Dilan kayaknya nanya ke orang yang ada di sebelahnya . Tapi. Aku mau tidur. toh mulai besok semuanya akan berakhir. sore tadi: "Malam ini. Ngapain juga kupikirin lamalama soal Beni. kusapa dia "Aku lagi istirahat nih. Mas Ato. kalau mau tidur. sudahlah. kira-kira saat di sekolah sedang waktunya istirahat. Aku mendapat telepon dari Dilan. harap maklum. jangan ingat aku ya Lia!". Kupejamkan mataku dan langsung kuingat perintah Dilan. jawab Dilan. Di luar sedang hujan. "Hey". mungkin karena aku suka kepadanya Ah. maaf. Capek!". Kuambil selimut untuk menutupi tubuhku.tidak bisa bertemu denganya!!!!!!!! Maaf jika terlalu berlebihan tentang dirinya. Dilan jika tidak kuikuti perintahmu! "Selamat tidur juga. suaranya terengah-engah begitu "Habis ngapain gitu?" "Belajar" "Ha ha ha" "Kenapa ketawa?" "Ga apa-apa. karena surat izinnya berlaku sampai selama tiga hari. Dilan" 37 Hari itu aku masih tidak sekolah.

"Ha ha ha jangan dikasihin. biar dia cari sendiri" "Eh jangan kenal deh. dia masih nanya ke orang yang antri itu. Dilan. aku senang. . sambung Dilan "Ha ha ha. Tanyaku. Bu. Tapi gak apa-apa. Bilangin" "Bilang ke siapa?" "Ke kamu" "Ha ha ha ha ha ha" Dilan! Aku tahu sebenarnya tidak ada ibu-ibu yang lagi antri di situ."Nanya ke siapa?" "Ini. terimakasih. kutanya "Nanti ibu jadi cinta" "Ha ha ha ha lesbi" "Saingan deh sama aku" "Ha ha ha ha ha" "Tapi aku lagi sedih. Bilangin ke dia. yg lagi antri nunggu telepon" "Hah? Ha ha ha ngapain?". Dilan memang nelepon menggunakan telepon umum "Bu. dia pasti nanya lagi sama orang yang lagi antri itu. Lan. Itu cuma pura-pura. nanti menyesal gitu" "Malu" "Tadi kamu gak malu nanya-nanya dia?" "Oh iya. nanti menyesal lho" "Ha ha ha ha ha" "Cantik ibu!" "Ha ha ha ha ha" "Mau nomor teleponnya gak?!". mau kenalan gak sama Lia?". ibu-ibu. Bu. dia tiga hari gak sekolah" "Ha ha ha Besok sekolah. Bu" "Kenapa?"."Enggak katanya! Sombong". Bentar.

nanti aja sun dekat" "Ha ha ha ha ha ha ha.boleh deh" "Eh."Lia. Jangan sun jauh. Si ibu itu masih ada?" "Terbang" "Terbang? Kok bisa?" "Ibunya burung" "Iiiiihh! Ha ha ha ha" Habis Dilan nelepon. nanti sore. udahan dulu ya" "Iya" "Jangan lupa apa?" "Jangan lupa apa?". sambil telungkup kulihat lagi kartun itu! Tiba-tiba . Kurebahkan badanku sambil membaca koran Pikiran Rakyat. aku tanya balik "Ingatan" "Ha ha ha ha ha" "Sun jauh jangan?" "Ng. aku tiduran di kursi. Nanti saja. Tadinya aku mau nelpon Beni. sampai membuatku terduduk untuk lebih memastikan bahwa kartun itu benar-benar karya Dilan. Dilan? Asli.. tapi dia pasti sedang sekolah. Iya betul itu bikinan dia! Kenapa tidak bilang. aku terperangah! Aku bawa masuk koran itu ke kamar.. dan aku terkejut karena ada kartun di kolom Humor dengan tandatangan Dilan sebagai pembuatnya! Aku nyaris tak percaya. jangan deh" "Kenapa?" "Kenapa ya? Malu ngomongnya" "Masa Dilan malu?" "Oke.

dia nanya "Gimana apa?" "Maafin gue.gak tau harus gimana. Lia.. "Gimana. belakangan ini aku selalu merasa yakin bahwa aku akan aman ada Dilan. Beni nanya "Gue Milea." "Kenapa lo nangis?" "Gue gak tau. jawabku. tolong mengerti. kalau tanpa gue. Gue gak bisa pisah dari elo" "Elo kan laki-laki. Gimana?". masa gak bisa sendiri?" "Ha ha ha maksud gue. jangan dibahas lagi soal itu.. Si Bibi yang ngangkat. Ini saatnya aku harus bersikap tegas. terima gue apa adanya" . katanya itu dari Beni. bukan yang minta tolong" "Please.. tolong mengerti gue. Heran.. Heran aku bisa berani bilang gitu. gue ingin terus jalan sama elu" "Kalau gue ga mau?" "Please.. gue.. Lia. Lia" "Gue nyari cowok yang punya arti buat gue" "Lia. 38 Dengan sangat malas kuterima telepon dia. gue. Heran.. tolong gue" "Gue butuh laki-laki yang bisa nolong gue. Gue ga ada artinya tanpa elu" "Maksud lu. biasanya aku bersikap lemah ke dia. Gue Pelacur". gue ngaku gue khilaf" "Udah gue maafin" "Makasih. Bukan Beb. Beb?". "Oke.terdengar suara telepon rumah berdering. please.. lu cowok yang ga ada artinya?" "Iya.

Sedikit banyak. elu mau nerima gue apa adanya yang lagi mencintai seseorang?" "Capek gue!!!!" "Istirahat kalau capek! Cuma masalah begini. mudah-mudahan jadi maklum. kalau misal harus kupilih Beni atau Dilan. Aku tidak nangis. Beni mulai keliatan aslinya "Gue mengeluh karena punya cowok macem elo" "Setan!" "Jangan nelepon dengan setan!" "Anjing!". sekarang semua sudah tahu siapa Beni. Gue nyesel.. tapi aku yakin. sama orang yang lu tampar itu?" "Iya?" "Bukan dia" "Siapa?" "Siapa pun orang itu. Beni menutup teleponnya. Aku kembali ke kamar dalam tatapan Si Bibi yang ingin tahu ada apa gerangan. elu sudah mengeluh" "Elu juga mengeluh dengan sikap gue kan!!??".. Terserah kau mau bilang apa. Aku marah. aku akan memilih pergi dari Beni. Gue. Gue nerima elu apa adanya" "Nerima gue yang lagi mencintai seseorang di Bandung?" "Jadi lu bener sama dia?" "Maksud lu." "Lu mau nerima gue apa adanya?" "Iya.gue."Maksud lu. Lia. jika kau adalah diriku. gue harus nerima lu apa adanya yang bilang gue pelacur?" "Udah jangan bahas itu lagi. kau akan bersikap sama denganku! 39 .

biasanya Dilan datang ke sekolah. Dilan akan segera di sampingku bersama motornya yang dibikin pelan untuk menyamai kecepatanku berjalan. menyusuri jalan untuk menuju sekolah.Aku masuk sekolah lagi bersama pagi yang indah di Bandung. "Boleh gak aku meramal?". Aku menoleh ke belakang untuk suara motor yang datang: Dilan! Ini jarang terjadi. Ya senang. Seolah-olah aku ga ada. selalu setelah aku sudah sampai di sekolah. tapi gak jadi. aku tahu harusnya aku tidak ketawa. kamu Milea ya?" "Ha ha ha ha ha". Tapi gak tahu kenapa ketawa. Yes. dia terus maju melewati kami. dia nanya "Ha ha ha ha ha Kita akan berjumpa di kantin?" . meskipun ujung mataku sudah siap menunggu untuk memastikan apakah dia sudah ada di sampingku atau belum. Kurangkai kata-kata untuk menjawab Dilan kalau nanya. Menembus kabut tipis bersama Revi dan Agus. motor itu sudah ada di sampingku. bercampur deg-degan. Aku yakin. Heh? Kenapa Dilan? Kau tahulah bagaimana rasanya mengetahui dia lewat begitu saja. Motor itu makin mendekat diiringi oleh perasaanku yang senang. Aku harus pura-pura tidak tahu bahwa ada dia di belakang. aku ketawa. karena kulihat dia putar balik motornya dan berjalan di sampingku "Hey. Aku nyaris sedih. tapi tidak seperti yang kuduga. Selalu begitu rasanya.

tapi akhirnya dia mau. Asalnya Agus gak langsung mau. . jawab Agus dan Revi "Ke aku enggak?"."Kita tidak akan berjumpa di kantin" "He he he Jumpa di mana?" "Di sini" "Ha ha ha ha" "Pagi. Agus ke sekolah bersama Revi naik motor. tanyaku "Nanti di warung bi Eem" "Kok?" "Nanti istirahat kuajak kamu ke warung Bi Eem. Revi". Jangan mau" "Kenapa?' "Nanti kamu menyesal" "Ha ha ha enggak" "Enggak apa?" "Enggak nolak" "Aku sudah tahu. Nanti kujemput" "Iya" Lalu Dilan meminta Agus untuk membawa motornya ke sekolah. dia menyapa Agus dan Revi "Pagi". Agus. meninggalkan aku dan Dilan berjalan berdua menyusuri jalan basah sisa hujan semalam.

katanya "Jalan Milea dan Dilan Sang Peramal" "Jalan Milea dan Dilan Sang Peramal Yang Semalam Mikirin Milea" "Kenapa mikirin aku?"."Kamu tahu gak nama jalan ini sudah kuganti?" "Jadi jalan apa?" "Jalan Milea" "Ha ha ha" "Jalan Milea dan Dilan". kutanya "Aku hanya mikir yang senang-senang" "Kamu senang mikirin aku?" .

dua hari lalu dia melihat Susi naik motor dengan Dilan pas pulang sekolah. untuk masuk ke kelasnya. Aku jadi tahu nomor telepon rumah Dilan."Malah bingung" "Kenapa?" "Bingung bagaimana menghentikannya" "Menghentikan apa?" "Mikirin kamu ha ha ha" "Ha ha ha ha emang ingin berhenti?" "Iya" "Kenapa?" "Harus selalu dekat. anak kelas 2 Sosial 2. Terimakasih. Dilan! Dilanku 40 Hari itu adalah hari pertama aku jalan kaki berdua dengan Dilan. Namanya Susiana. Dilan mengantarku masuk kelas. ada khabar dari Rani. banyak sekali. aku jadi tahu memang benar dia pembuat kartun yang dimuat di koran Pikiran Rakyat itu. kami sudah sampai di sekolah. biar enggak perlu kupikirin" "Ha ha ha ha ha ha" "Kamu bagus ketawanya" "Kamu juga bagus" "Kita bersaing" "Ha ha ha ha ha" Tidak berasa. katanya. sampai aku duduk di bangku! Beberapa kawanku tahu itu. Kata Rani Susi . juga Nandan yang lagi ngobrol. Banyak manfaatnya. Manfaat utamanya sih. Kemudian Dilan pergi. tentu saja: aku senang! Tapi.

Aku gak tahu sejauh mana hubungan Dilan dengan Susi. mungkin semacam tempatnya dugem anakanak remaja. nyaris tak sempat bisa lagi kupikirkan. sedikit. lupa ke mana itu.memang pengen ke Dilan. aku pernah lihat dia di kantin. di Palaguna Plaza (Daerah alun-alun Bandung). atau ke Lisptick Roller Disco bersama teman-temannya. aku sudah denger cerita itu. aku tahu. Dilihat dari sikap dan perilakunya. Kupikir hal itu hanya hubungan biasa saja. ya. pokoknya daerah Ganesha. Tapi dengan adanya berita bahwa Susi naik motor dengan Dilan. dia cantik. Katanya anak pemilik toko emas Indah Jaya di Parahyangan Plaza. . kukira dia anak gaul. ngecengin anak ITB yang lagi pada ospek. berisik bersama teman-temannya menguasai ruangan. Maksudku. ke Stuido East di Cihampelas. Susi suka main ke sana. aku jadi langsung cemburu. Termasuk jadi ingin tahu sudah sejauh mana hubungan Susi dengan Dilan. Aku merasa tidak perlu lebih jauh untuk tahu. Rani juga pernah diajak Susi. selain dia itu bossy. Dua kali. ngapain Dilan selalu berusaha mendekatiku? Api cemburu. langsung bikin aku lemas hari itu. Susiana. yang nyala. tepatnya seminggu yang lalu dan lupa belum kuceritakan soal dia. Iya. terus terang. Memang iya. Kata Rani. Itu. Itu urusan Dilan dan Dilan bukan pacarku. aku memang belum jadi pacar Dilan. Apalagi dengan adanya kasus Beni di Jakarta tempo hari. tapi kalau benar Susi pacaran dengan Dilan.

tapi aku urungkan. kataku dan dia pergi. aku langsung merasa bersalah. ga apa-apa. apa hakku melarangnya. ke warung Bi Eem. Atheis? Berdoa? Ah pasti dia bercanda! Makasih. biar aku bisa segera lekas pulih. Kalau Dilan mau sama dia. kedua aku harus pura-pura bersikap biasa mendengar cerita Rani soal Susi. karena ternyata masih lemas. di . Tentu saja aku bohong. 41 Jam istirahat sudah tiba. termasuk jadi merasa males ketemu Dilan lagi. dia akan berdoa di warung Bi Eem bersama teman-teman atheis. Tapi kubilang aku gak bisa. dan tanyakan langsung kepadanya? Akhirnya aku pergi juga ke warung Bi Eem. Gak perlu. Aku merasa gak perlu bersaing dengan Susi. katanya dan juga bilang. silakan sama dia. Mengapa aku harus menilainya dengan dasar masih cuma praduga? Mengapa harus menilai dia dengan pengetahuan yang belum pasti soal fakta yang sebenarnya? Mengapa tidak memilih ikut dengannya. ya sudah. pertama: karena kami tidak bisa bebas ngobrol berbanyak-banyak di saat sedang belajar. Tapi tentu saja aku gak akan lagi meladeni apa pun yang ia lakukan kepadaku sejak itu. Sendiri. Iya.dan aku jadi males belajar. Aku ingin nanya ke Rani. Dilan pasti kecewa. soal sudah sejauh mana hubungan Susi dengan Dilan. Dilan datang ke kelasku untuk ngajak aku ke warung bi Eem. Rani gak perlu tahu bagaimana perasaanku.

tadi aku ke sini. sedikit. Kawankawanku masih pada jajan di kantin. Kuambil buku pelajaran dari dalam tasku. Ada apa. Ga ada apa-apa" "Tunggu aja". Di sana ada Anhar yang lagi main gitar. ada Piyan dan beberapa orang lainnya yang tidak begitu kukenal. kata Anhar sambil menghembuskan asap rokoknya "Aku mau ke kelas lagi aja" "Oh iya" "Piyan.. kamu di mana? Maaf! 42 Hujan sudah reda.. seorang Milea yang baru sembuh dari . Sunyi sekali rasanya. duduk di bangku. Kawan-kawan berangsur pada masuk ke kelas. seperti mewakili perasaanku. aku sudah sampai di kelas. pelan melelehi pipiku: Dilan. ada Dilan?" "Dilan? Belum ke sini" "Tadi kukira dia ke sini" "Belum. sekedar untuk menggambarkan bahwa aku normal-normal saja. Lia?" "Enggak. dari mataku.. Biasanya ke sini. Kutanya Piyan: "Piyan. Suara hujan itu. dan kubaca. merebahkan kepala berbantal tas sekolah.. air mengalir." "Iya" "Bilang ke Dilan.bawah naungan langit mendung. Lia" Ketika hujan turun.. Sunyi menguat.." "Oke. Cuma ada aku sendirian.....

termasuk aku. Anhar pasti bikin ulah. itu gengmotor SMA lain. Heh? Tadi aku lihat Anhar di warung Bi Eem. karena sangat ribut sekali. masih ada sisa untuk basa-basi dengan mereka. Siswa dan guru pada keluar dari tempatnya. di mana kamu? Mendadak aku panik. Dilan. Terjadi hiruk pikuk tapi sekaligus seperti panik.sakit dan memilih tinggal di kelas untuk menghabiskan waktu jam istirahat dengan membaca. "Lia mau kemana?!!". Pak Suripto teriak ke Mang Uung. juga Rani. aku tanya Nandan "Ga tau!" Pengendara motor itu. untuk ingin tahu ada apa gerangan. Mereka mencari Anhar. penjaga pintu gerbang sekolah: "Tutup. Rani teriak mencegahku yang lari . Anjing!" Mereka melempari sekolah. Aku juga masuk dan bingung. kira-kira ada 20 motor. Mang Uung!" Mang Uung menutup pintu itu. berseragam sekolah dan pada bawa samurai sambil menggerung-gerungkan motornya. Pasti jumlahnya cukup banyak. "Siapa?". Jam istirahat belum habis. Kaca jendela kelas yang dekat pintu gerbang pada pecah terkena lemparan batu Nampak guru-guru memerintahkan semua siswa untuk masuk dalam kelas. Ketika sekonyong-konyong aku mendengar raungan motor di luar pagar sekolah. Nandan menyapaku. Mereka teriak "Anhar!!! Kaluar. ada apa ini? Kata Rani.

melempar batu dan nabrak-nabrak pintu gerbang. aku lari dan masuk kelas Dilan. aku kuatir ada apa-apa dengan Dilan. Ya. mereka pasti akan mengapa-apakan Dilan. Tapi di sana tak ada Dilan! Tak ada Piyan! Kutanya kepada kawannya di mana Piyan? Mereka bilang belum masuk. sambil memandang mereka dari dalam kelas bersama siswa lainnya yang pada tegang. Imajinasiku berharap aku bisa mudah mennghadirkan ayahku. Mereka pasti masih di warung Bi Eem! Para penyerang itu. jika berhasil ditemukan. lemas selemas-lemasnya. Dilan menjelaskan kepadaku bahwa mereka melakukan strategi yang salah! 43 . seperti ekspresi campuran antara bimbang dan kesal. dan juga Piyan. yang datang bersama kawankawannya. Maksudku. masih teriak memanggil Anhar. dan bimbang. Mengeroyoknya dengan batu dan samurai! Aku terduduk di bangku. karena Anhar adalah bagian dari Dilan di dalam satu kelompok. Aku tidak tahu harus gimana. beberapa kawan yang lain juga teriak mencegahku. Kenapa mereka nyerang sekolah pada waktu istirahat? Kenapa tidak saat pulang sekolah kalau benar nyari Anhar? Kelak. mereka bertemu Dilan di sana. "Lia!". tapi menuju warung Bi Eem! Aku berpikir buruk. Tanganku sampai berkacak pinggang. Serius. menembaki mereka! Mereka akhirnya pergi. Aku kesal pada mereka yang nyerang itu. ya Tuhan.membuka pintu untuk keluar dari kelas. satu kompi.

cemas dan kegelisahan. kutanya lagi "Di belakang gereja". seperti orang yang baru selesai dari rasa gelisah. Aku melihat matanya nampak cemas "Kamu tidak apa-apa?" dia balik nanya sambil meraih satu tanganku dan kubiarkan "Tadi kemana?" kutanya dia "Ada" "Kemana?!!". yang pasti pikiranku bagai melayang tak karuan. Bukan aku. Aku merasa sebagian orang memandang kami. kami bicara sambil berdiri berhadapan "Tadi kemana?". terutama ke arah Dilan.Polisi datang. . "Di mana Piyan?". Itu Anhar" "Kamu juga!" "Enggak. Belajar diliburkan. dia menyandarkan punggungya ke tembok. kutanya tanpa menoleh kepadanya "Masih di belakang gereja" "Gengster brengsek!" Kami berjalan menyusuri lorong kelas. Masih bisa kurasakan sisa-sisa panik. kataku sambil pergi. Entah apa dalam pikiran mereka. Aku baru saja keluar dari toilet ketika Dilan datang menemuiku di sana. mungkin untuk meminta keterangan. Nanti. Dilan nyusul. dua truk. "Kamu ya?" "Bukan. kutanya dia. Lia. Aku melihat beberapa polisi masuk ke ruang guru. tapi Penyerang sudah hilang. nanti kujelaskan" "Aku mau ke kelas". Orang-orang sibuk dengan bahasan mereka tentang apa yang tadi terjadi.

Rani nanya soal Dilan ketika aku sudah duduk. Rani nanya "Ga ngomong apa-apa" "Oh" "Aku gak mau ngebahasnya" Wati datang bergabung dengan kami: "Ini si Anhar!" "Emang kenapa sih dia?". Aku tidak. Aku terus berjalan dan masuk ke kelas. tadi ketemu Dilan. "Nanti pulangnya kuantar". kutanya Wati "Kemaren dia malak! Ga ngasih. Sebentar". Gak tahu anak mana" "Wati tahu dari siapa?" "Si Piyan. katanya. semua mata memandang ke arah Dilan. tadi Dilan nemui Rani nanyain aku "Iya. "Apa katanya?". tapi tidak kujawab. Kubilang gak tahu.Dari depan kantor sekolah. Lia". Pak Suripto berdiri memanggil Dilan. yang berjalan nemui Pak Suripto. terus dia pukulin anak itu" "Sama siapa malaknya?" "Sama temen-temennya" "Iya siapa?" "Temen dia" "Anak sekolah sini?" "Bukan. Kata Rani. dia ngomong lagi "Sudah sana" "Iya" Aku merasa. "Aku ke sana dulu. tadi pagi" "Dilan tahu?" .

Rani. Bob Dylan masih nyanyi. Gak capek-capek. persis seperti yang Wati ceritakan. apa kata polisi?". kemudian berpisah untuk naik angkot ke arah tujuannya masing-masing. Suamiku SMS. Nandan dan Revi sampai ke pertigaan jalan. Aku pulang bersama Wati. Kabur dia" Dilan tidak mengantar aku pulang. kebetulan aku masih belum ngantuk bersama kopi yang sudah kubuat barusan tadi. Aku naik angkot bersama Revi. Atau tidak cuma itu. Masih ada banyak lagi yang lainnya. Dilan nelepon. Dia harus ikut ke kantor polisi. seperti ada yang mendorongku untuk harus. entah apa tujuanku. "Terus. Dia jelaskan duduk persoalannya. aku cuma ingin cerita. Ya sudah. dia bilang katanya mau tidur di kantor. 44 Itulah hari yang paling menegangkan dalam sejarah hidupku bersama Dilan. Oke."Mungkin" "Bukan. Aku akan ceritakan semuanya. Selamat menjalankan ibadah lembur. Bagaimana orang itu tahu yang malak si Anhar anak sekolah sini?" "Gak ngerti" "Si Anharnya di mana sekarang?" "Gak tau. kutanya dia "Mereka bilang aku manis" "Aku serius" . aku teruskan ceritanya: Malamnya. Baiklah kutemani.

"Mereka bilang jangan terlalu serius" "Terserah! Kukira kamu ditahan?" "Jangan ditahan-tahan" "Ha ha ha ha" "Kenapa ketawa?", dia nanya "Gak boleh?" aku balik nanya "Katanya kamu serius?" "Oke aku serius. Boleh aku nanya serius?' "Boleh", katanya "Siapa Susi? Susiana?" "Perempuan" "Pacarmu?" "Bukan" "Jujur!" "Dia ingin jadi pacarku. Tapi aku gak mau. Dia pernah datang ke rumah, aku sembunyi dalam lemari besar" "Terus?" "Ngobrol sama ibuku, bantu-bantu masak di dapur. Dia mau ambil hati ibuku" "Terus?" "Aku pengap dalam lemari" "Ha ha ha terus?" "Ibu masuk kamar. Untung gak buka lemari, lalu dia pergi" "Terus?" "Aku ingin pipis?" "Pipis dalam lemari?", "Bukan, sekarang, aku ingin pipis" "Oh ha ha sudah sana pipis dulu. Ingat kata polisi, jangan ditahan-tahan" "Udah" "Udah apa?" "Pipisnya!"

"Di situ?" "Iya. Pantomim aja. Cukup" "Ha ha ha ha. Enggak. Pokoknya aku tutup! Kamu kencing dulu" "Oke. Bentar" Setelah itu, tak lama nelepon lagi "Terus?", kutanya "Soal Susi?" "Iya" "Dia ngasih aku cokelat. Ngasih aku baju tidur. Ngajak nonton bioskop" "Kamu mau?" "Mau apa?", dia balik nanya "Nonton?" "Mau" "Berdua?" "Iya, terus pas nonton, aku ijin ke toilet, padahal pulang" "Hah? Ninggalin dia sendirian?" "Iya" "Dia marah?" "Dia marah" "Terus?" "Ya udah marah aja. Bagus lah" "Kok bagus?" "Kan jadi gak mau ketemu aku" "Ha ha ha ha kalau aku marah ke kamu?" "Baguslah" "Bagusnya?' "Ujian buatku, bisa enggak aku membuat kamu menjadi tidak marah" "He he he kamu pasti bisa"

"Tugasku membuat kamu senang" "Kalau tidak bisa membuat aku senang?", kutanya "Berarti aku gagal menjadi orang yang menyenangkanmu" "Kamu berhasil he he he" "Berapa nilainya?" "Seribu!" "Ya. Lumayan buat beli gorengan" "He he he Katanya kamu naik motor sama Susi?" "Tidak cuma Susi" "Ngapain sama dia? Naik motor? Kemaren?" "Nganter dia ke rumah sakit, ayahnya dibawa ke rumah sakit. Buru-buru" "Oh.......Kasian" "Tidak mencintai, tidak berarti membencinya" "Iya. Kamu besok kemana?" "Besok minggu ya?" "Iya" "Aku mau skateboard sama teman" "Kamu bisa skateboard?" "Enggak" "Terus kenapa main skateboard?" "Biar bisa" "He he he" "Kamu tahu? Aku bisa membuat kamu tidur?" "Maksudnya?" "Iya. Aku ingin kamu tidur, biar makin sehat. Jangan begadang, kamu belum pulih" "Kamu bisa membuat aku tidur? Dihipnotis?" "Iya. Dengan ngabsen nama-nama binatang" "Hi hi hi. Coba" "Oke. Aku mulai ya..?" "Iya"

..Sepuluh. aku merasa seperti sudah pacaran dengan Dilan.Jerapah.. Milea. aku.. aku diam terus..Kupu-kupu" "Hrk.Monyet.. 45 .....Hrk. Delapan...... Kalau memang sudah pacaran. Sebelas.. berharap bisa langsung tidur beneran.. sampai kemudian dia bilang: "Tidur ya. Entahlah.... Hi hi hi "Tujuh."Satu.." "Hi hi hi.. ya.. Mencemaskanmu"...... Apakah dia juga begitu? Merasakan hal sama denganku? Aku gak tahu." "Jangan ngomong apa-apa ya..Belum tidur ternyata" "Belum! Ha ha ha" "Terusin ya. Setelah gosok gigi... Selagi itu. Dua. Kunyuk... kemudian dia tutup teleponnya..Kadal.. sejak kapan mulainya? Kalau belum. Duabelas.".. "Selamat tidur juga... aku membuatmu jengkel... di ruangan yang cuma ada kursi... Aku malah sangat cemas.. Milea..Sampai kututup teleponnya" "Iya" Dia terus ngabsen nama binatang.... kenapa aku merasa sudah? Ah.. Mana mungkin aku tidur di sini...Hrk. aku berfikir..."... Empat... Maaf tadi siang... Koala..... Enam. aku pura-pura ngorok..Kera..Macan... dan aku yakin dia juga tahu. itu tadi. aku masuk kamar dan langsung tiduran di kasur....Kamu" "Heh!!???" "Ha ha ha.Keledai. Harus tahu.Beruang. tidak ingin aku membuat kamu begitu. Sembilan.. Dilan.. Lima. Tiga. Tentu saja aku belum tidur.

minta membimbing aku belajar. Kalau ga ada saya. nanti bisa privat seminggu sekali.Waktu itu. Ayah memperkenalkannya ke aku waktu dia datang ke rumah untuk ada urusan bisnis antara ayahku dan ayahnya. mereka bilang sih suka gak rame he he" "Emang Kang Adi jabatannya apa di unit itu?". kadang-kadang bertiga bersama Airin. Ayah bilang ke Kang Adi. Dia cerita tentang dirinya dan aktivitas kehidupan mahasiswa di kampus ITB. semester lima. Kang Adi bilang boleh. Selain untuk membimbingku belajar.Sekarang aku mau cerita tentang Kang Adi. kalau ibu ikut nimbrung. Pokoknya banyak. Kadang-kadang berempat. Sejak itu. Namanya Adi Wirawan. kadangkadang berdua. Dia anak Pak Alfin. termasuk cerita tentang diri dan kehidupannya. Kang Adi juga suka ngobrol. Kami belajar di ruang tamu. dia adikku yang masih kelas 2 SMP waktu itu. tentang unit-unit kegiatan di ITB. Dia bisanya malam minggu. meskipun aku sendiri sebenarnya ingin ke UNPAD. kutanya "Bendahara" . dia masih mahasiswa ITB. Biar bisa santai katanya. kataku "Ga tau tuh. "Kayaknya mereka membutuhkan Kang Adi banget ya". Kang Adi suka datang ke rumah untuk membimbingku belajar. Dia cerita tentang gerakan mahasiswa ITB. Aku sih oke-oke aja. Ayah memang pengen aku bisa masuk ITB. kawan ayahku.

atau ya ga taulah" "Kirain he he he" "Pernah pas ada meeting. Lia jadi gak ikut ke ITB. Makanya kan. Kang. Ada juga sih yang murah. Nanti deh kamu saya ajak ke ITB" "Kang Adi suka berantem?" "Bukan nakal yang gitu lah. besok?" . untuk Airin atau untuk ibu. untuk aku. Biar gak kaku" "Kang Adi nakal?" "Yaaa. Katanya dia sengaja beli untukku. Gak suka saya. masa' buat Lia kasih yang murah" "Ga apa-apa yang murah juga. Ya ngobrolngobrol kayak gini lah" Kalau Kang Adi datang. Kang" "Ini yang mahalnya. Malam itu.. Ya mungkin mereka nganggap saya bisa menciptakan kondisi jadi lebih hidup he he he. Kita ini harus luwes. Pantesan. kadang-kadang kita juga ngobrol. Pada nunggu uangnya tuh he he he" "Enggak lah. Sedikit nakal lah. dia datang bawa sweater yang ada tulisan ITBnya. Hemat" "Bukan soal uangnya. sekedar untuk mencairkan suasana aja. Waktunya habis dipake belajaaar terus. Banyak juga yang kaku. "Makasih..nakal gimana ya? Ya. Eh. saya kan ga datang. Nakal-nakal yang seru" "Teman-teman Kang Adi orangnya pada seru ya?" "Gak semua. kadang-kadang kita juga belajar. Kang Adi pengen yang berkualitas. eh mereka nelepon maksa minta saya datang" "Segitunya" "Ga tau kenapa. selalu akan memakai motor dan membawa makanan."Ooh. Gak menikmati. Hidupnya kayak robot.

Si Bibi yang ngangkat. ke warung. ."Jam berapa?" "Kalau bisa sih pagi-pagi. dari Dilan katanya. Biar sekalian sarapan bubur di Gasibu" "Pagi-pagi?" "Terserah.Katanya dia habis nangkap nyamuk. Aku ke sana. kutanya "Iya. kataku "Di sini mah sedikit euy. Ibuku yang beliin. aku satu" "Di sini juga banyak" "Di situ juga ada? Subhanalloh' "Ha ha ha Ada tujuh ribu!". Dimasukin ke botol. Dua ekor. Nyamuk preman. Baik dia itu" "Dibeliin gimana?" "Iya dia yang beli obatnya. "Mau gak?" "Nyamuk?" "Iya. lagi" "Kok preman?". Terus dia namai Bonni dan Kinkan. Kamu satu. Tapi rame. Pada mabuk sempoyongan gini" "Ha ha ha minum Baygon?" "Ah mereka mah merk apa aja juga oke. Nyamuk manja. Lia" "Kalau bangun ya he he he" Aku dengar telepon rumah berdering. buat nyamuk. Gak bisa beli sendiri" "Ha ha ha ha" Dilan memang selalu membahas yang gak perlu. setelah pamit ke Kang Adi dan lalu ngobrol dengan Dilan sampai ketawa terbahak-bahak.

Yang bisa saling mengingatkan. Cari kawan yang bisa bimbing. Kang" Setelah Kang Adi pulang. Yang bisa melindungi" "Hati-hati termasuk ke Kang Adi juga he he he?" "Yaa. Habis itu aku kembali ke ruang tamu. Sekarang saatnya tidur. bersama Kang Adi lagi. Iya katanya. kenapa gitu?" "Ya. aku ngantuk. Kang Adi nanya "Iya" "Oh. Dilan" 46 Pagi-pagi.enggak lah! Kita kan sudah saling kenal" "Becanda atuh.. Lia" "Hati-hati. Kang Adi nelepon. dengan siapa pun harus hati-hati lah. Tadinya pengen nelepon Dilan dulu. gosok gigi dan langsung tidur.Tapi seru. Nanti aja hari rabu. "Kita belajar aja yuk?" "Hari minggu?" "Ya isilah dengan yang berguna" . Namanya Dilan" "Hati-hati. tapi takut mengganggu. "Selamat tidur juga. sepulang sekolah. "Teman?". Teman sekolah?" "Teman apa ya? Teman dekat gitu lah" "Pacar yaa?" "Dia itu seru. Besok aja. Dia nanya jadi enggak pergi ke kampus ITB? Aku bilang gak bisa.

Saya ingin istirahat" "Oh ya sud. Harusnya . Lia lagi masak. Lagi apa?" "Istirahat kan?" "Kali. Nanti deh teleponnya di sambung lagi ya" "Oh iya.gak tuh" "Saya lagi baca buku bagaimana cara hidup bahagia" "Oh" "Bagus nih. Kang."Istirahat juga berguna. tapi dia masuk di barisanku... Makasih" "Tadi malem di teve filmnys seru. Rabu jadi ya?" "Ke ITB?" "Iya. Nanti saya ke rumah" "Iya" 47 Pada saat upacara bendera. kalau ketemu" "Inya Allah" "Sudah makan belum?" "Nanti aja. Kang. Dilan ikut upacara bendera. kayaknya kita bisa diksusikan deh" "Sekarang?" "Nanti. lagi baca buku" "Enggak" "Kalau mau baca buku nanti saya bawain buku." "Eh. Belum" "Jangan lupa makan" "Iya. Kang" "Suka Filsafat gak?" "Ngg. Di rumah banyak" "Gak usah. sejajar denganku.

Kekuatiranku terbukti. Dilan mengejarnya. Pak Suripto lari menuju tengah lapangan upacara. Apa yang dilakukan Pak Suripto membuat Dilan nyaris terjengkang. Upacara bendera menjadi kacau. justeru menyenangkan. karena dianggap tidak berada di barisan yang seharusnya. merangkak sebentar untuk kemudian berdiri dan lari. Aku melihat pak Suripto sempat terjatuh. Dilan balas menampar Pak Suripto. pada waktu Kepala Sekolah sedang pidato. Guru-guru berusaha . dia ditegur oleh Pak Suripto. Bukan cuma teguran. aku yakin. tapi tidak bagi guru yang bernama Suripto. Pasti. Pak Suripto mau menampar lagi. untuk memindahkan Dilan ke barisan seharusnya. Buat aku sih gak masalah. menarik perhatian semua orang untuk memandang. Kepala Sekolah berteriak:"Apa ini?!!". Dilan mengejar Pak Suripto yang menyelusup di antara guruguru yang pada baris di depan kami. Suasana menjadi ribut. tapi Dilan keburu memukulnya dengan pukulan yang bertubi. Terdengar suara hiruk pikuk dari peserta upacara bendera. diam-diam. Dilan berseru: "Heh? Apa ini?" "Apa? Hah? Kamu mau melawan?".dia berada di barisan kawan-kawan sekelasnya. tanya Pak Suripto "Ya aku melawan!" Pak Suripto menampar Dilan. Pak Suripto menarik baju bagian belakang Dilan. dengan paksa.

Aku. kata Dilan "Kami mengerti". Bu. kata Bu Rini. Aku juga ke sana berharap bisa membantu untuk membuat Dilan jinak. "Iya. dan Ibu Pipi (Pegawai T. Dilan harus maklum dia memang begitu". kata Bu Rini "Siswa juga manusia". dia mulia. Guru Geografi. kata Dilan lagi "Iya. aku hanya . kata Bu Rini "Aku bukan melawan guru. Dilan. Ibu ngerti". pada lari untuk membantu guru menahan Dilan. Beberapa guru menasehati Dilan untuk tenang. Aku diam terus. Terdengar pengumuman upacara bendera dibubarkan. tentu" "Hormatilah orang lain kalau ingin dihormati". jawab Dilan "Kami juga gak suka dengan cara-cara dia". Di sana kami duduk bersama Ibu Rini. Sabar!" Syukurlah Dilan kemudian bisa tenang. kata Dilan "Iya. membawa Dilan ke ruang guru. Dilan". tidak tahu harus berkata apa.menahan Dilan. menepuk-nepuk bahu Dilan. Pak Syaiful. aku tidak melawan guru. kata Pak Aslan "Harus tahu. Beyi dan beberapa guru. aku hormat ke dia. Guru buatku. Sebagai guru. Pak Aslan. Dilan teriak kepada Pak Suripto yang entah sudah ada di mana: "Suripto! Pengecut kau!" Aku melihat Piyan. kakakku juga guru". sambil bilang:"Sabar. Kepala Sekolah turun dari mimbarnya. kata Dilan. Beyi dan beberapa yang lain. Piyan. Aku melawan Suripto". "Ibuku juga guru. Ibu Rini.U) "Sabar. Dilan marah. kata Bu Rini "Aku tidak bisa memaklumi guru yang begitu".

. meskipun guru. kata Dilan "Iya" "Siapa pun dia. tapi Dilan tidak harus begitu ke dia" "Dia boleh begitu kepada kami?". Diperlakukan seenaknya". Dilan nanya "Begitu gimana?" "Dia menjambak bajuku. Dia nampaknya sedang berusaha bicara hati-hati. kata Dilan Kepala Sekolah datang.".melawan Suripto" "Iya" "Siapa pun dia. karena kuatir Dilan akan juga menyerangnya "Aku tidak melawan guru. jawab Dilan. kalau dia mengajariku menampar.. Dilan?!". Ini bukan cuma ke saya. Kami tahu" "Iya. "Maaf. Sudah berapa orang kawan saya ditamparnya. mengerti kenapa kamu begitu" "Jangan jabatan guru dijadikan alat kuasa untuk berbuat sewenang-wenang". aku juga akan menampar" "Bapak bukan mau membela dia. Jaman dulu. Mungkin Pak Suripto . tanya Kepala Sekolah. di sekolah.. guru menampar siswa kayaknya sudah dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. "Ada apa. aku berdiri untuk memberi tempat dia duduk. tanya Kepala Sekolah "Guru itu digugu dan ditiru. jika tidak bisa menghargai orang lain. tak akan dihargai" "Ibu. aku melawan Suripto yang semena-mena" "Kenapa dia?" "Bapak harusnya tahu bagaimana perilaku dia. jauh berbeda dengan sekarang. Kayak ga ada cara lain. Dia duduk di samping Dilan. mungkin kamu membandel?".

iya. "Bapak tahu. Dilan bilang: "Aku bukan jagoan. Hari Rabunya. sambil nunjuk ke saya. Lia" "Iya. Sebelum pergi ke kelasnya. Nanti kita pertemukan" "Aku ingin bertemu dia. Wati bilang mau menemui beliau. jawabku "Maaf. Boleh katanya. Dia tidak boleh sekolah selama seminggu. kan ini baru sepihak. kata Kepala Sekolah "Bapak harus tahu. Wati yang memberitahu bahwa itu ibunya Dilan. akhirnya Dilan mendapat hukuman skorsing. Aku hanya melawan. kata Kepala Sekolah seperti sedang membela Pak Suripto. Kalau tidak. Bawa aja ini. untuk masuk ke kelas masing-masing yang sudah mulai pada belajar. kalau begitu nanti kita selesaikan". waktu polisi datang ke sini? Pak Suripto bilang apa? Dia bilang: ini bukan urusan sekolah. kami keluar dari Ruangan Guru. aku datangi rumahnya" "Iya. Dia juga biang kerok. Pasti diusahakan bisa ketemu. Kebetulan jam pelajaran terakhir sedang bebas. katanya" "Ya sudah. Lia" "Iya". dia juga melakukan pelecehan. Bisa damai" Habis itu. Ada siswa perempuan yang ngadu ke saya" "Iya.tidak bermaksud begitu". aku ingin ikut. karena gurunya tidak bisa hadir. Ibu Dilan datang ke sekolah. Dilan. Aku mengerti" 48 Seperti yang bisa kuduga. .

karena Ibunya Dilan sudah keburu masuk Ruangan Guru.hayu.rupanya". dia nanya "Angkot. katanya "Oh he he". Wati menyambutnya dengan mencium tangannya dan aku pun begitu. "Siapa ini?". Wati memandangku seperti heran... Dia dipanggil untuk menuntaskan masalah Dilan berantem dengan Suripto. oke? Wati juga ikut ya?" "Wati ada janji.. kutanya "Oh ini. Nak?". Bu. kau! Dilan sering cerita soal kamu.Kami terpaksa nunggu di luar.. dia nanya "Ng. Bareng temen" "Hari ini. aku nanya Wati sambil menggoyangkan tanganku ke badannya "Hayu lah. Bu.. Lagi. Oke?" "Ng.." "Ah. kujawab "Naik apa?". aku bingung harus jawab apa. sudahlah. Wat?". jawabku "Oh ya?". katanya sambil . Jangan lama tapi. "Pulangnya kemana.. ikut ibu saja. tau?". dia sedikit terperangah. Ibunya Dilan bertanya kepadaku "Milea." kata Wati ke ibu Dilan "Bentar. Milea juga. tanyaku tersenyum "Ah. Kenapa?".Gurunya gak ada" "Oh ya sudah. kataku "Enggak belajar?". katanya seraya mengacakkan tangannya di atas pinggang "Kenapa gitu?". dia nanya "Ke daerah jalan Banteng".. mau ngambil tas dulu". Bu". Tak lama kemudian Ibunya Dilan keluar. matanya hampir seperti mau memandang sekujur tubuhku "Iya.. ikut makan dulu. ini sudah mau bubaran".

kata Wati (Iya) "Ha ha ha ngawur gimana?" "Katanya kamu suka makan lumba-lumba. Orang secantik ini dibilangnya berkumis" "Ha ha ha ha" "Kita makan dulu ya". "Oh. akhirnya diberi kesempatan untuk tetap sekolah di situ.memandang jam tangannya. dengan masa percobaan selama sebulan. kutanya "Ah banyak lah. Pasti dia bohong kan?" "Ha ha ha ha enggak" "Dia bilang apa lagi itu. habisnya dia itu suka ngawur" "Enya". Setelah duduk. dia nanya "He he iya. Ibu Dilan cerita tentang pertemuannya dengan pihak sekolah. . kata Wati (Dilan cinta tuh) "Cerita apa aja emang?". kata ibu Dilan "Siap!". tapi gak ibu denger. Selagi menunggu makanan datang. ini namanya Milea ya hmm hmm hmmm?". Tadinya Dilan mau dipecat. Katanya kamu berkumis. tapi setelah terjadi nego. Bu" Mobil masuk ke halaman salah satu warung makan yang ada di daerah Buah Batu. Kami pergi dengan ibunya Dilan yang nyetir sendiri mobil Nissan Patrolnya. kami langsung memesan makanan sesuai seleranya masing-masing. kata Wati "Iya. Bu" "Dilan itu sering cerita soal kamu" "He he jadi malu" "Bogoheun tah!".

Sambil makan. "Dilan manggil apa ke ibu?" "Dia? Dia manggilnya Bunda. Rumah dinasnya sih di Karawang. Ayahnya lagi bertugas di Timor Timur. Jangan anak-anak yang dipaksa harus memahami orangtua. ya kita tidak bisa mengkritik tanpa lebih dulu memahami apa yang kita kritik itu. Orangtua yang seharusnya bisa memahami anak-anak. Oh. Termasuk kita tidak bisa menghakimi anak remaja tanpa kita memahami kehidupannya. Deket kok" Wati pergi. Ibu Dilan bilang. setelah mencium tangan ibu Dilan. Kamu manggil apa ke ibumu?" "Ibu" . tanya Ibu Dilan. bukan sebaliknya. Tapi ibunya Dilan. "Piyan yang pacarmu itu?". meskipun tentu saja harus kita berikan pemahaman. bersama anak-anaknya. karena sudah janjian sama Piyan. Anak-anak belum mengerti apa-apa. Ibu Dilan nanya "Enggak. "He he he iya" "Kenapa tidak diajak sekalian?" "Dia nunggu di sana" "Perlu diantar gak?". Aku baru tahu. "Dilan sekarang di rumah?". harus tinggal di Bandung karena bertugas menjadi Kepala Sekolah di SMA. Wati ijin pergi. Dia bilang: Dilan itu anak kedua dari lima saudara. Di mobil jadi cuma aku dan ibu Dilan. Wati pacaran sama Piyan?. kutanya "Di rumah" Setelah habis makan.

ikut suami ke Indonesia" "Aceh kan Indonesia. Mudah-mudahan tidak kelewat batas" "Iya. Bunda?". Bunda" "Kata Dilan kamu pacaranya. Bunda?". Cantik" 49 Setelah sampai di rumah. itu juga bagus" "Lia juga mau manggil Bunda. Mungkin karena kamu suka" "He he he."Oh ya. memang nakal. kataku untuk menunjukkan jalan ke arah rumahku "Oke" "Bunda asli Bandung?" "Bunda lahir di Aceh. dia tampan" "Ya. tanyaku "He he becanda" "Sekarang ke kiri. dia menunjuk dirinya "Iya" "Ya boleh. Bendahara maksud dia ha ha ha" "Ha ha ha ha ha" "Dia itu. Belok Kanan. aku tersenyum "Mungkin dia ngaku-ngaku" "Ga apa-apa. Tapi ya selama masih wajar. aku melihat ada motor Kang Adi . Tapi kalau lagi minta uang. Bunda" "Kamu ini cantik" "Dilan juga. Iya betul?" "Oh? Dia bilang gitu. oke lah. Bunda" "Oke. Dilan itu manggilnya suka Bundahara" "Kok?" "Iya. Bunda". Boleh?' "Ke siapa? Ke ibu?".

.. Bunda nanya "Iya". disambut oleh ibuku. Bu". Lia" "Silakan duduk dulu.di halaman.. "Oh ini. Entah mengapa perasaanku seperti diluapi oleh rasa gembira. "Ini?". Aku turun bergegas. kataku "Oh ya ya. Lia". tanya Bunda ke Kang Adi "Saya pembimbingnya Lia" "Kuliah?" "Iya.. ibunya Dilan?". setelah menyapa Kang Adi yang lagi baca buku di ruang tamu.... Dia senior" "Itu anak ibu. aku langsung masuk ke dalam rumah untuk mencari ibu. Ini. Bunda". jawab ibuku "Akhirnya ketemu. Sebentar kok" Di ruang tamu jadi ada aku.. Dilan... Mau nyiapain minuman dulu". Bunda?". kata ibuku sambil masuk ke dalam "Gak usah repot-repot.". Kakaknya Dilan. ITB. ibu Melia? Waaaaah!". kata Bunda "Panggil Lia aja.. Bu. Bunda masuk. ibuku menyalaminya "Iya. kata Bunda sambil memandangku "Di sana juga. tanyaku "Iya" . Kenal Landin?" "Oh Bang Landin? Iya kenal. jawab Kang Adi "Oh. wah suka cerita terus soal Milea ini. anakku. jurusan apa?" "Teknik Industri" "Oh ya? Anak ibu juga ada yang di Teknik Industri" "Di ITB?" "Iya. Bunda dan Kang Adi.

ditemani Si Bibi yang membawa makanan. tanya ibuku "Di sekolah.". Malah seru".. kusapa dia "Sudah pulang sekolah?" "Iya. kata Bunda. Bunda ketawa. kujawab "Diantar angkot?" "Bukan. Segera aku kesana meninggalkan kedua ibu yang bicara soal keluarga dan ketentaraan suaminya.. ibuku juga "Banyak sekali. kataku kepada ibuku "Aduh. Kucintai" . Oleh orang yang aku suka. Tadi aku pulangnya ada yang ngantar".. suka cerita soal Dilan. kataku "Ha ha ha ha ha".. Kebetulan" "Oh" "Aku tadi ditraktir Bunda. Si Bibi yang ngangkat.. kata ibuku "Ga apa-apa.. maaflah kalau dirasa mengganggu" "Enggak mengganggu... cokelat yang dianterin tukang koran. kataku Tiba-tiba suara telepon rumah berdering....". Senang akhirnya bisa ketemu langsung sama orang yang suka diomingin Dilan"."Ya. Ngasih apa Lia?" "TTS yang udah dia jawab he he he.. kata Bunda "Ya sama! Lia juga sama. "Hey!".. Ngasih yang aneh-aneh. banyak. makasih. Seneng" Kataku. Aku melirik sebentar ke Kang Aldi yang nampaknya bingung harus ngapain "Dia itu ya begitu.. Seneng kok.. Seru katanya ha ha.Tak lama kemudian Ibuku datang membawa minuman. "Bagaimana bisa ketemu Lia?". ngerepotin".. Tadi. dari Dilan katanya kepadaku sambil berbisik. Di rumah juga ya begitu". Maaf.. Bunda.

. Namanya juga diantar orang yang aku suka" "He he he. Aku ketemu Lia..". kata si .. "Aku ketemu Lia. jawabnya "Coba tebak siapa orangnya?" "Suripto?" "Ih! Bukan".. Tadi" "Boleh aku bicara dengan Bunda?" "Oke."He he he pasti kamu senang" "Sangat senang sekali!.. jawabku "Nandan?" "Bukaaaan!!! Kamu pikir aku suka ke dia?" "Aku gak tau.... Tunggu ya" Aku pergi ke ruang tengah untuk memberitahu bahwa Dilan ingin bicara di telepon.. Nanti merepotkanmu".. Si Bunda ke sana. Pasti akan begitu" "Diantar siapa coba?" "Diantar orang yang kau suka kan?" "Cemburu dong? Cemburu gak?" "Jangan.. Aku.Akhirnya... Kan yang punya perasaan kamu" "Enggak!!! Ingin tahu gak siapa?" "Kamu pasti akan ngasih tahu" "Iya... Nanti deh cerita" "Ketemu di mana?" "Di sekolah.diantar sama Bundaaa! Ibu kamu" "Hah?" "He he he" "Kok bisa?" "Bisa dong" "Ke rumahmu? Ngapain?" "Iya he he he.

.... Si Bunda bicara seperti meledek dan ketawa-ketawa seperti puas.......kamu suka makan lumba-lumba!" "Ha ha ha ha ha ha" "Katanyaaaaaaaaaaa...." "Apa....Aku pacarmu. Aku tersenyum mendengarnya............... Lia" "Iya. Aku ke sana "Ya?". Bilang apa dia?" "Katanyaaaaaaaaaaa..rindu" "He he he" "Boleh?" "Rindu ke siapa?' "Ke Dilan" .?" "Dilan?" "Ya?" "Aku... dengan bicaranya sedikit bernada.... Setelah itu dia kembali.. Aku senang.....kamu.. katanya Dilan ingin bicara lagi sama Lia...he he he" "Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha!!!!" "Katanyaaaaaaaaaa......... tanyaku "Itu Ibuku.Bunda kepada Dilan.. Dilan" "Bilang ke dia jangan ngegosipin aku" "Sudaaaahh ha ha ha ha" "Sudah apa?" "Sudah digosipin" "Ha ha ha...kamu berkumis!" "Ha ha ha ha ha ha" "Katanyaaaaaaaaaaa.he he he" "Apa ketawa?" "Katanyaaaaaa.

dan kedua pipiku. Bunda juga memelukku. katanya. dia nanya ibuku "Boleh he he he". "He he he makasih". jawab ibuku Habis itu aku memeluknya. "Kenapa nangis.ke Dilan". jawab ibuku Bunda mencium keningku.. "Cantik anak ini". aku kembali nemui Bunda. aku juga rindu ke Lia" "He he he he" "Rindu sebelum waktunya" "He he he he matang sebelum waktunya" Setelah selesai nelepon dengan Dilan. Iya."Sama" "Makasih" "Aku juga rindu... Bunda bersalaman dengan ibuku dan Kang Adi. Bunda pamit untuk pulang. Entah mengapa aku merasa berat membiarkannya pergi dari rumahku. Nak?". Kamu harus jadi aku. Dia tanya: "Boleh Bunda menciummu?" "Boleh he he" "Boleh ya. pasti akan melakukan hal yang sama. Kamu harus jadi aku. Bu?". tanya Bunda. Aku salaman dengannya dan mencium tangannya. menatapku sambil . aku kesulitan mau mengatakan perasaanku saat itu. katanya "Ih!" "Ha ha ha ha ha ha. Itu refleks. Ada lelehan air mata yang aku tidak tahu mengapa itu ada.

Malu. sambungnya. "Iya. Hati-hati. Aku kembali masuk. Bunda". Gak jadi.. Atau sekarang belajar aja? Yuk?" "Nanti aja deh" . Bundaaaaaa" "Oke!". Nak!".. Bunda. Aku duduk di ruang tamu untuk meladeni Kang Adi. sambil melambaikan tangannya. Tadinya dia nawarin diri menjemput aku di sekolah. "Kang. Lia senang". jawabnya.senang.memegang kedua bahuku. Kupeluk lagi dan nangis: "Aku. tanya ibuku "Nanti ya. Bunda". kayaknya Lia ga bisa pergi deh" "Kenapa?" "Capek sekali" "Oh ya sudah" "Lain kali aja ya" "Iya. sambil kuseka sisa air di mataku. aku ketawa "Kapan Ibu bisa ketemu Dilan?". "Iya. ya" Ibuku masuk ke dalam. Padahal tadinya mau bilang:"Terimakasih sudah melahirkan Dilan". bersama ibuku yang bilang:" "Ibunya juga rame he he" "He he he. kata Bunda sambil menepuk-nepuk bahuku: "Bunda pulang ya". Si Bunda naik ke mobilnya. kira-kira baru beberapa meter berlalu. aku teriak: "Bundaaa! Salam ke Dilan. tapi kubilang gak usah. kataku. Sebelum benar-benar pergi. Dia datang ke rumah untuk mengajak aku pergi ke kampus ITB.

enggak tuh. Bunda?' "Susiana itu?" "Iya he he he" "Ssst."Oh ya udah" "Akunya capek banget. He he he.. pengetahuanku akan Dilan jadi makin bertambah. maksudnya ibu-ibu banget" "Aku gak suka Kang Adi bilang begitu ke dia". bahkan melalui dirinya.. "Aku gak suka Kang Adi bilang begitu ke dia" "Bukan. di mobil. bukannya Susi pacarnya Dilan. "Ha ha ha ha. Kang" "Iya ga apa-apa... katanya. Aku mengulang kalimatku. Tapi. Tahunya enggak. Tadi lihat ibu itu riweuh pisan ya?".. aku mau tidur dulu kayaknya ya?" "Oh ya udah. adalah hal yang paling membuatku gembira. Ibu-ibu memang harus begitu" "Kang. Itu adalah gaya Dilan kalau sedang menyerang. Lebih dari itu. Bunda?" "Kau tahu waktu Susi datang ke rumah? Dilan kemana dia?" 50 . pengen sama Dilan ha ha ha" "Oh he he he. Susi itu. kira-kira artinya "repot sekali" dalam konotasi yang buruk. Tadi siang. Bunda?' "Heh? Bukannya kamu? He he he" "He he he. Iya kali. Bunda. saya pulang aja kalau gitu" "Iya" Pertemuanku dengan Bunda. Dilannya mau. Kayaknya sih". Riweuh pisan itu bahasa sunda. "Iya bagus. Bunda?' "Dilannya? Kayaknyaaaaa. aku sempat nanya ke Bunda: "Emang Dilan belum punya pacar..

bahwa aku ini adalah pacarnya. beres kuliah balik lagi ke Aceh" "Ngambil jurusan apa?" "Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia" "Wah suka sastra dong" "Dilan tuh suka sastra" "Oh ya?" "Iya dia. Aku senang. aku coba nelepon Dilan. Aku jadi ngobrol sama Bunda. tapi sejak kapan itu mulai? Kenapa tidak ada kesepakatan bersama? Kenapa tidak ada peresmian? Kenapa tidak ada proklamasi? Atau Dilan menganggap itu gak perlu? Aku bingung. tapi yang ngangkat si Bunda. Dilan sedang keluar katanya. Dia itu emang suka Rendra" "Rendra penyair itu. Panembahan Reso kalau gak salah. tanyaku."Kemana. pengen ketemu Rendra katanya. di tengah-tengah obrolan. Bunda di IKIP Bandung?". Universitas Pendidikan Indonesia "Iya. Waktu SMP sampai pernah pergi ke Depok. IKIP adalah Institut Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Bunda?" "Sembunyi dalam lemari" "Ha ha ha ha Bunda tahu?" "Tahu laaaaah!" "Ha ha ha ha ha" Kalau betul Dilan pernah bilang ke Bunda. sampe nonton pentas dramanya segala. Apa itu judulnya. berarti sejak itu Dilan sudah menganggap aku sebagai pacarnya. minta anter pamannya. Setelah shalat isya. "Oh. Waktu SMP. sekarang UPI. Bunda?" "Iya. ke mana itu? Bengkel Teater. Dia .

Makanya kamu denger deh. Lia ke rumah deh" "Pengen. Apakah. Bunda" "Iya" "Pengen baca puisinya" "Iya boleh. ayahnya ngasih hadiah Tafsir AlAzhar. Dilan baca semuanya.. baku banget" "Ha ha ha" "Kau." "He he he he iya. boleh. gimana kalau Dilan ngomong" "Kenapa?" "Bahasa Indonesianya itu. Sutan Takdir Alisyahbana.juga suka bikin puisi" "Oh? Pengen baca puisinya he he he" "Iya. kayaknya kena pengaruh deh. Kau tauk kan?" "Tahu. kakaknya kan guru. Nanti kalau ke rumah ya? Kayaknya dia memang suka sastra. Mengapa. Idrus. Bunda' "Waktu SMP. nanti Bunda bilang ke Dilan suruh ajak kamu ke rumah ya?" "Asiikk. langsung dia baca semuanya" "Itu buku. Aku. Bisa juga mungkin karena keluarganya kan banyak dari Sumatera" "Dilan suka baca ya. Itu. Bahasanya itu.. Bunda?" "Pas ulangtahun dulu. Bunda?" "Itu. Iwan Simatupang.. Bunda" "Nah. Bener ya. Bunda" "Kapan?" "Kalau diajak Dilan" "Iya. Tapi khas. Bunda?" . suka bawa buku-buku perpustakaan ke rumah" "Buku apa.

tapi Bunda ga tau soal itu" "Waah Dilan punya group band?" "Kata adiknya begitu" "Eh. Imam Besar Iran. Kau tauk uang honornya dia beli cokelat buat siapa?" "Buat siapa. main gitar di kamarnya?" "Dilan bisa gitar."Iya. Lia he he he" "Jadi malu. Sehari-harinya gimana sih. Lia juga pernah lihat kartun Dilan di koran" "Iya dia suka ngirim. Bunda?" "Suka apa ya? Tapi tiap malam. Itu Imam Besar. Bunda?" "Siapa? Dilan?" "Iya" "Ya gitu aja. Dilan itu suka sama kamu. Katanya punya group band segala. Bunda?" "Bukan. 30 buku. Kalau Presidennya kan Bani Sadr" "Itu idolanya mungkin. Bunda" "Bunda kasih tau ya. Pada kumpul di kamarnya" "Pasti rame" "Bukan rame. Bunda? Baru tahu" "Punya gitar dia. Presiden Iran ya. Itu buku tafsir. Dilan suka apa. Bunda" "Dia bilang buat kamu ha ha ha ha" "Oh ya?! Dilan gak bilang" "Ke Bunda bilang" "Jadi terharu. Bunda" . Berisik" "Ha ha ha ha" "Di kamarnya itu. karya Hamka" "Selain buku. dia itu. Teman-temannya suka pada datang ke rumah. dia pasang poster Ayatullah Khomeini" "Oh.

tapi gak tahu kenapa. nanti Bunda nyuruh Dilan ajak kamu ke rumah ya?" "Iya. si Mick Jagger" "Iya."Iya mungkin. Rolling Stones" "Iya. Aku senang. Bunda. Sama" "Ibu-ibu laaah" "He he he iya. Udah. Bunda" "Kenapa harus tanya Dilan?" "He he he Lia sih terserah Dilan? Takut salah" "Kok?" "Biar Dilan yang menjelaskan ha ha ha" "Kamu takut sama Dilan?" "Enggak. Dia itu aneh. Aku jadi merasa makin akrab dengan Bunda. Tadinya aku juga mau nanya pendapat si Bunda soal Dilan yang jadi anggota geng motor. Kalau Lia sih majalah Gadis. Mick Jagger. rasanya gak enak mau nanya. Masih SMA padahal. Asik" Bertambah lagi informasiku tentang Dilan. Dilan suka makanan apa. Bunda?" "Curiga nih Bunda. nanya-nanya terus soal Dilan" "Ha ha ha ha ha" "Kamu beneran pacaran yaaaaa?" "He he he. Mau. minta ke ayahnya langganan majalah Tempo" "He he he. Dia baik" "Ya syukurlah. Mungkin nanti aja deh di kesempatan yang lain. pokoknya. Mau. dipasang sejajar dengan siapa itu yang ngelel. Tanya Dilan aja deh. Ingin rasanya . Bunda. Selama ini Dilan tidak pernah bilang tentang siapa dirinya. Kalau Bunda?" "Kalau Bunda sih majalah Kartini" "Ibu Lia juga.

kataku "Kali. kebayang olehku. kebetulan lewat rumah katanya. kalau aku usahakan. Dia mampir. mau ke daerah di dekat sekolahku. Kang Adi nawarin aku ikut dia ke sekolah. Kang Adi bilang: "Kenapa gak sampai sekolah?" "Ga apa-apa" "Takut ada yang cemburu ya?" "Siapa?" "Dilan!?". seandainya aku benar-benar pacaran dengan Dilan. Mungkin bisa. waktu ada si Bunda ke rumahku. kata Kang Adi permisi mau pergi 51 . Ah. aku minta diturunin di pertigaaan jalan. Oh? Meskipun aku males. Kamis pagi. kalau bukan ke dia. Ya. akhirnya ikut juga. ada Kang Adi sudah datang ke rumahku. Heh? Aku kaget. Oh. soal masalah hubungan. kepada siapa lagi aku curhat. maksudnya biar aku terusin dengan jalan kaki bersama-kawan-kawanku yang lain. sud. Cuma nanya he he he. takut dia cemburu he he he" "Enggak" "Emang dia pacarmu ya!?'" "Kalau iya kenapa? kalau enggak kenapa?" "Ga apa-apa. sekalian ada perlu katanya. bicara banyak terutama soal Dilan. Sesampainya di sana. Si Bunda kayaknya akan selalu siap untuk mau. langsung ya". "Enggak. ke si Bunda. Aku kaget. dia tahu soal Dilan. Lia hanya pengen jalan aja". pas aku mau sekolah.ada waktu bisa berdua dengannya. ada apa?.

entah mengapa. sehat" 52 . Dilan bukan cowok cemburuan. kang Adi? Kang Adi pergi. Dilan sehat?". Makasih. jalan Dilan dan Milea. Entahlah "Oh. Ayah sudah terlanjur ngasih uang ke Kang Adi untuk bayar selama dia membimbing aku belajar. Apa kau bisa begitu. Kayaknya dia tahu deh Wati itu saudara Dilan. Kami duduk di luar kantin menikmati kupat tahu Mang Endang. Dilan tak akan ada di sekolah. Dilan itu. sedikit kurang semangat. Kang" Kang Adi pergi."Iya. Datanglah rombongan Susi yang pada mau masuk kantin. "Eh. Justeru Kang Adi yang menurutku sedang cemburu ke Dilan. aku jalan sendiri dengan pikiran seolaholah sedang bicara dengan Kang Adi: Setahuku. ingin rasanya aku bilang ke dia. bahkan waktu Dilan mengira aku pacaran sama Nandan. dia sudah pacaran dengan Nandan". Jalan kenangan awal aku berjumpa dengannya. berjalan menyusuri jalan itu. untuk tidak lagi nerusin ngebimbing aku belajar. tanya Susi ke Wati. Wat. aku pergi ke kantin bersama Wati dan Revi. Dilan malah bilang kepada kawan-kawannya: "Jangan ganggu Milea. Kang Adi. Tapi Ayah pasti gak akan setuju. Berjumpa dengan Sang Peramal. Aku berjalan ke sekolah. Tapi hari itu aku berjalan dengan enggan. Pada waktu jam istirahat. mungkin karena tahu bahwa sampai hari sabtu. Malah kata Ibu. denger ya.

tanya temannya "Masa' harus bilang-bilang". kata Wati "Traktir wae". "Si Pikaseubeuleun"."Bilang ke dia. Lucu dan romantisnya sederhana tapi cukup. datang lagi rombongan Susi. "Ga ada si Dilan mah. kamu ke sini!". lalu mereka pergi. Sus?". Aku gak tahu sejak kapan mereka pacaran. Kami makan sambil ngobrol ngalor ngidul. sama seperti kami. bersamaan dengan datangnya Piyan "Hey". "Yan" . kata Wati. hey". Aku ketawa. tanya Piyan seperti kepada dirinya sendiri. salam ya" "Iya. kata Wati "Aku makan apa ya?". Piyan makan kupat tahu juga. kata teman satunya lagi. traktir". Aku senyum sendiri merhatiin tingkah Piyan dan Wati. aku ketawa. jawab Susi. "Traktir siah". jawab Piyan. aku juga sama "Yan. hey. tanpa menghiraukan omongan Wati. Kalau Wati senang ada Piyan. artinya: "Minta traktir terus". "Kalem. Wat" "Sama-sama". kata Piyan. kusapa dia "Hey. Makasih ya. Artinya: "Orang menyebalkan' "He he he". rindu jalan-jalan lagi gitu he he" "Iya" "Emang udah jadian. Aku melihat mata Wati memandangku. Tidak lama kemudian. jawab Wati. yang baru selesai jajan di kantin dalam. kalau ketemu ya" "Bilang. Tapi kayaknya baru deh.

kata Wati sambil makan "Kamu kenapa Wati?". tapi tangan Wati meraih tangan Piyan: "Makan dulu!". tanya Susi "Apa urusanmu?!". tanya Susi kepadaku. Yan?" "Piyan lagi makan". kata Wati lagi ke Piyan dengan nada sedikit tinggi "Atau nanti pas pulang. apa sih?". Sus". jawabku "Udah. Wat". Wat". Selesai. tiba-tiba. Wati balik nanya "Eh. "Jangan marah lah. udah. Matanya seperti menyiratkan perasaan tak suka. Susi bicara lagi "Iya. Piyan berdiri seperti orang yang mau melerai "Sabar. Sus". katanya "Bentar kok. jawab Piyan "Gak boleh!". Sus!" "Bisa ngobrol sebentar."Hey. kata Piyan seperti bersiap mau berdiri. timpal Piyan. kata teman Susi ke Wati "Apa!!!?". kataku sambil kupegang tangannya "Siapa lu! Ikut campur?". kata Susi "Kubilang makan dulu!". tanya Susi "Kalau aku marah mau apa?". jawab Wati "Bentar kok". kata temannya berusaha mengajak Susi pergi "Lu. tanya Wati sambil dia dongakkan kepalanya kepada temannya Susi itu "Udah. membuat aku kaget. kenapa jadi ke aku? "Ga apa-apa". Kupandang Susi yang kebetulan sedang memandangku juga. Gak boleh berantem". kok marah? Urusan apa?". Yan". Wat". Aku sih no comment. yang pengen ke Dilan ya?" . Wati balik nanya "Udah ah. kata Susi "Ga apa-apa".

jawab Susi dari jauh. sambil telunjuk tangan kirinya itu digerakgerakkan ke arah bawah. sambil terus memegang tangan Wati. Kukira itu kode untuk menyuruh aku turun. kata temennya yang lain. aku duduk paling belakang. jawab Wati. Nampak Piyan masih sedang berdiri."Sus. Artinya: "Berisik" "Maneh nu gandeng mah!". kalau nemui dia!!". sehingga bisa melihat ada motor. Syukurlah. Pengendaranya adalah Dilan yang bisa melihatku. yang melaju di belakang mobil angkot. udah!". Di angkot. Aku mengambil sikap diam. Dia berpakaian bebas dengan jaket jeans lusuhnya. Kejadian di kantin masih terus saja kepikiran. sampai aku sudah ada dalam angkot untuk pulang. sebelum Susi berlalu. Oke. Tapi sebelum itu. memandangku. "Awas kamu. Wati nanya ke Susi yang mulai berlalu. Artinya:"Apa ngancam-ngancam?" "Gandeng!". Artinya:"Kamu yang justeru berisik" "Kamu kenapa?". untuk jangan sampai Dilan tahu soal itu. kemudian Susi bisa diajak pergi oleh kawannya. harusnya tadi aku bilang ke Wati. dia bilang ke aku: "Awas lu!" "Naon ngancam-ngancam?". tanya Piyan ke Wati. Lupa. bagai mengatur situasi untuk tidak jadi kacau. Aku bilang "kiri" untuk meminta sopir menghentikan 53 . sambil duduk "Aku gak suka Susi!!". Wati berusaha ngomong ke Susi yang sudah jauh. sambung Wati. aku harus nelepon Wati kalau sudah sampai rumah.

Kudatangi Dilan yang sudah berhenti di tepi jalan...Mau!" "Aku suruh. Dilan nanya: "Aku bingung. atau langsung kubalikin ke dealer?" "Siapa?" "Kamu" "Heh? Emangnya aku kendaraan?" .angkotnya. aku ketawa sambil naik motornya. Lia" "Kalau gak mau?" "Kamu ingkar janji" "Kok?" "Tadi kamu sudah bilang mau" "Ha ha ha ha". "Hey". kubawa jalan-jalan dulu. Sebelum jalan. Ingat?" "Iya" "Bantu aku" "Bantu apa?" "Mewujudkannya" "Ha ha ha" "Mau bantu?" "Ng. Aku turun dan bayar. atau kau naik sendiri?" "Suruh!" "Ikut aku. kusapa dia "Aku tadi ke sekolah" "Ngapain?" "Nyari kamu" "Aku gak tahu" "Sekarang tahu" "He he he iya" "Aku pernah meramal kamu nanti akan naik motorku.

"Ha ha ha ha. Katanya, perempuan gak suka ditanya. Ya udah. Langsung kubawa jalan-jalan aja" "Kemana?' "Jangan tahu, gak perlu, yang penting berdua sama kamu" "He he he. Ini mau jalan apa enggak?" "Mau, tapi kamu jangan meluk" "Enggak" "Kecuali kau mau" "Ha ha ha mau!!" Kemudian kami jalan. Itu adalah hari yang kuingat sebagai hari pertama kalinya aku naik motor Dilan. Aku tidak tahu kata-kata apa yang tepat untuk mengungkapkan rasa senangku, mudah-mudahan kamu bisa tahu bagaimana perasaanku. Berdua dengan Dilan, menyusuri jalan Buahbatu, lalu belok kanan ke arah jalan Laswi. Enggak tahu mau dibawa ke mana. Terserah Dilan. "Sudah makan?", Dilan nanya "Perempuan gak suka ditanya" "Ha ha ha! Oke, kita makan dulu" "Kemana?" "Perempuan gak suka ditanya. Lebih suka banyak nanya" "Ha ha ha ha terserah KAU lah, Gengster!!" "Ha ha ha" Akhirnya, kami milih makan bakso, di "Baso Akung". Itu warung tenda. Dulu lokasinya di jalan Banda, dekat GOR Saparua. Di sana sedang tak banyak orang, maksudnya cuma ada tiga orang sedang makan dan bicara berketawa.

54

Kami masuk dan kuawali dudukku sambil sebentar memandangnya. Memandang Dilan yang juga mulai akan duduk. Aku nyaris tak percaya bahwa hari itu akan ada: Ah, aku makan berdua dengan Dilan. Dilan pesan Bakso Kuah, aku pesan Bakso Yamin. "Aku suka, mereka bisa mengenang pahlawan dengan bakso", kata Dilan, suaranya pelan berbisik sambil memajukan mukanya agak sedikit ke arahku "Caranya?" "Dia namai Bakso Yamin" "Kok?" "Aku jadi inget Muhammad Yamin" "Ha ha ha". "He he he" "Kalau Bakso Kuah?", kutanya dia "Itu akan membuat aku ingat.........." "Ingat apa?" "Akan membuat aku ingat, ke kamu, aku pernah makan bakso kuah sama kamu, di sini" "He he he" Angin berhembus, sedikit agak kencang, memberi kepastian tentang perlunya daun-daun pohon damar itu berguguran, untuk aku merasa romantis dalam kesenduan. "Kau lihat orang itu..", kata Dilan sambil memberi kode, dengan mukanya, untuk aku melihat kepada seorang lakilaki dan wanita berhadapan, yang duduk agak jauh di sana. Mereka baru usai dari makan, dan ngobrol sambil tangannnya berpegangan. Tapi sebelum kutahu maksud Dilan, bakso pesanan sudah datang, dan disimpan di depan

kami. "Kenapa orang itu?", kutanya dengan suara pelan sambil mulai mengaduk bakso "Aku suka laki-lakinya", jawab Dilan sambil mengaduk juga baksonya "Heh?!" "Bukan. Laki-lakinya, kayaknya dia gak mau, tangan pacarnya itu hilang" "Tahunya?", kataku, dengan suara yang sama pelan, sambil senyum ke dia "Makanya dia pegang terus" "Ha ha ha" "Heeeh...Jangan ketawa", perintahnya dengan suara pelan lalu menyuapkan makanan ke mulutnya "Kenapa?", tanyaku sambil merapikan rambutku. "Nanti laki-laki itu jadi suka ke kamu" "Kenapa emang?", tanyaku sambil menyuapkan makanan, sedikit, karena merasa kikuk makan di depannya "Ketawamu bagus" "He he ketawa ah" "Terserah! Nanti aku berantem dengan dia" "Karena?" "Rebutan" "He he he. Kamu yang menang" "Karena?" "Aku ingin kamu yang menang he he he" Kamu tahu tidak? Saat itulah aku ingin nanya ke Dilan, untuk dapat kepastian, apakah aku dengannya sudah pacaran atau belum? Mungkin buatmu itu gampang, ya aku juga sudah lama berencana mau nanya soal itu, kelak, kalau berjumpa dengan dia. Tapi ketika sudah ada di depannya,

belum banyak kendaraan. Waktu itu. Bisa begitu. Aku yakin kamu mengerti maksudku. Sisanya buat di rumah. tinggal jalan. Tapi akan lebih afdol lagi kalau resmi. memang sedang musimnya. kupotong kerupuk itu jadi dua. Bandungnya masih sepi. harus itu. sambungku sambil kupandang Dilan. Jalan juga belum lebar dan masih tentram. setengah lagi kusimpan di sisi piring pisin. Sekarang dimakan setengahnya. Nanti aku minta plastik. karena itu Oktober. Dengan pohon-pohonnya yang rindang. tinggal kuanggap sudah. dibungkus" "Serius ini? He he he" "Iya" "Ya udah". "Yang ini buat malam he he he". kami pergi. di sepanjang perjalanan. Dengan bunga-bunganya yang bagus. Dilan berdiri dan bergerak mengambil kerupuk di dalam kalengnya. makan malam" "He he he kan bisa beli lagi?" "Enggak. Menelusuri jalan dengan langitnya yang mendung. Setengahnya kumakan.kenapa jadi seperti susah kuungkapkan? Atau sudah tak perlu lagi kutanyakan. Sehabis makan. katanya "Makasih" "Awet-awet" "Sampai besok? He he he" "Sampai malam. "Ini buat kamu". Cobalah ke Bandung pada tahun seribu sembilan . Aku jadi punya hak untuk mengklaim Dilan sebagai pacarku. dan dia juga begitu.

Itu Mang Jajang". Dia memang bilang. karena itu pasti akan membuat aku sedih. Dilan nunjuk bapak-bapak yang sedang jalan di 55 . jangan ada yang bilang tidak boleh. Riang sekali rasanya bersama orang yang aku rindukan bisa berdua denganku. dan lain-lain. saat itu. Biarkan aku memilih dan memiliki kesenangan sendiri. katanya biar lebih kenal Bandung "Wow". kata Dilan di atas motor. Nandan. jawabku sambil senyum. Suripto. dan gak mau tahu. aku hanya ingin berdua dengan Dilan hari itu. dia angkat telunjuknya ke atas "Mendung" "Iya. termasuk kamu. kau akan kecewa dengan keadaan sekarang Aku gak tahu mau dibawa kemana. ingin jadi guideku. Dia adalah Dilanku. Senang sekali rasanya bersama orang yang kuanggap bisa memberiku penghiburan. jangan diambil. Motor melaju dengan pelan di jalan Telaga Bodas.ratus sembilan puluh. pura-pura terperangah seolah aku baru tahu pohon "Itu langit!". Tenang sekali rasanya bersama orang yang kuanggap bisa memberiku perlindungan. Siapa pun. Kang Adi. Dilan menunjuk tukang dagang di pinggir jalan "Kamu kenal?" "Kita namai aja Jajang" "Ha ha ha" "Itu uang!". Itu saat Dilan akan mengantar aku pulang "Itu pohon". juga Susi. sambil nunjuk satu pohon. juga Beni.

.trotoar "Mana?". kataku sambil senyum "Pemakan lumba-lumba" "Ha ha ha kamu beneran bilang begitu ke Bunda?" "Iya" "Mmm.. kutanya "Di dalam kantongnya" "Tahu ada uangnya?" "Kita anggap begitu" "Kita anggap uangnya semilyar" "Jangan. Dilan! "Kenapa diam?".Kamu beneran bilang. tanya Dilan "Eh? Enggak. dia menunjukku dengan mengarahkan telunjuknya ke belakang "Aku baru tahu". Ga apa-apa" . Bisakah itu kuanggap Dilan sedang nyatain? Bisakah itu kuanggap bahwa dengan sendirinya kami resmi pacaran sejak itu? Ih.. nanti dia kecewa" "Kenapa?" "Pas dirogoh.aku pacarmu ke Bunda?' "Iya" "Emang kita pacaran?" "Iya" Aku langsung diam mendengar dia bilang "iya".... kantongnya kosong" "Kan kita lagi anggap-anggapan ih!?" "Dia ingin nyata" "Ha ha ha" "Ini kamu"....kamu beneran bilang aku berkumis ke Bunda?" "Iya" "Mmmm. Aku langsung bingung gak tahu aku harus ngomong apa..

Ayah. "Mau masuk dulu gak?". Makasih ya" "Sama-sama" Setelah permisi ke aku dan Bang Faris. "Awas. Aku jawab ada acara di rumah teman. ibu juga ikut". dia nakal" "Dia baik" "Kamu ikut besok?" "Ke?" "Acara syukuran" "Syukuran apa?" "Di rumah Adi. Adi yang dia maksud adalah Kang Adi "Oh? Besok?" "Iya. Bandung Indah Plaza memang baru launching bulan Agustus kemaren. Kuperkenalkan Dilan kepadanya.Waktu tiba di rumahku. jawabnya. pamanku. "Kok baru ngasih tahu?" "Tanya ibu deh. kutanya Dilan "Langsung aja" "Oke. malam" "Syukuran apa sih?" "Itu. Dilan lalu pergi. entahlah apa isinya. ada Bang Faris. kenapa harus bilang Dilan cuma teman? Gak enak rasanya. Ah. Bang Faris lalu bilang bahwa ibu nanyain aku. jawabnya. "Pacarmu?". jawabku. syukuran buka toko di BIP". Bang Faris nanya "Teman". sedang mengikat satu dus di ujung belakang jok motornya. Tadi nyari sampai nelepon ke sekolah" "Oh? Ya udah" 56 .

Kubilang terus terang bahwa aku habis jalan-jalan sama Dilan.Aku masuk dan kudapati ibu marah karena aku pulang telat. Pokoknya ada makanan istimewa buat Lia" "Makasih. butuh waktu yang tepat untuk aku ceritakan. Ibu memang belum tahu. gak usah. Jadi kujawab baik-baik saja. datang ya.. Masakan super istimewa" "Samain aja dengan yang lain" "Ini saya lho yang masaknya. Maksudku. Aku ingin bilang bahwa hubunganku dengan Beni sudah lama berakhir. tapi itu juga marah. Kang" "Pokoknya ditunggu. dia bilang soal acara syukuran yang akan diselenggarakan di rumahnya. Ibu nanya menyinggung hubunganku dengan Beni. Gini-gini juga bisa masak he he he" "Besok malam ya?'. belum kukasih tahu. kutanya "Iya. Ibu bilang kalau pulang telat aku harus kasih khabar dulu ke rumah.. Ngerepotin" "Buat Lia sih enggak?" "Gak usah. ya Kang" "Mau nyiapin makanan khusus buat Lia" "Gak usah. tapi gak jadi. Dia meminta aku datang. Malamnya Kang Adi nelepon. Kang" "Pokoknya istimewa. Mama juga bilang: Lia ajak ke sini" "Mama. katanya sekalian kenalan dengan anggota keluarga Kang Adi. Kang. Insya Allah. Marah sedikit. "Insya Allah.? Mama Kang Adi?" 57 . ya Kang" "Atau mau kujemput?" "Ikut ayah kayaknya.

Dilan kan gak suka kalau pacaran diumumumumin" "Dilan bilang gitu?" "Gak perlu kata dia sih. SMP. Mama saya" "Oh" "Ya. Tadi. termasuk jadi ingat kerupuk. Enak. sambil senyum: Aku habiskan ya. Tak kenal maka tak sayang kan?" "Iya. Tapi tadi aku ketemu Piyan. "Pokoknya cuma kamu yang tahu ya aku sama Dilan? Maksudku aku mau sama Dilan he he he" "He he he iya. dan kumakan bersama makan malamku."Iya. di tempat tukang photo copy. kata Piyan "Oh ya?" "Dilan pernah pacaran gak?". Juga ngobrol soal Dilan. sekalian kenalan lah. jawab Piyan "Oh" "SD. Pastilah itu. jawabnya "Putus kenapa?" 58 . aku bareng sama Dilan terus". pernah sama Hemi". Insya Allah" Seusai Kang Adi nelepon. Dia mah curhatnya ke saya". dan ngobrol soal Wati yang izin gak masuk sekolah karena sakit. di sekolah. Kuambil kerupuk yang tinggal setengah itu. dengan pikiran dipenuhi banyak hal tentang Dilan. kutanya "Waktu SMP. gak perlu orang tahu" "Bilang gitu ke kamu?" "Iya. dari dalam tas sekolahku. Selalu begitu sejak sekolah gak ada rasa Dilannya. aku pergi ke dapur untuk makan. Dilan! Terimakasih kerupuknya. aku gak semangat.

terus apa kata ibunya Wati?" "Ya.."Tanya langsung Dilan aja. Bilang nginep di rumahnya Wati he he he. tapi kata . Kan saudaranya" Oh. ga apa-apa. Kok tahu?" "Kata Wati ha ha ha" "He he he" "Tahu ayamnya diambil. Katanya suka pada kumpul ya di rumah Dilan?". Aku pengen ikut ngumpul. kan?" "Iya" "Bikin acara yuk sama Dilan?" "Malam minggu suka nyate di belakang rumahnya" "Sate ayam ya?" "Apa aja" "Ayamnya dari mana?" "Ya beli lah" "Katanya pernah ngambil ayam ibunya Wati?" "Ha ha ha ha iya. toh aku juga pernah pacaran dan putus. Selain itu. Main domino. Kenapa putus ya? Apakah Dilan nyeleweng? Siapa tadi namanya? Hemi." "Tapi kan itu malem" "Kan bisa izin dulu ke ibu. waktu SMP Dilan pernah pacaran.. Jagoan dia" "Domino itu apa?" "Main gaple" "Oh. meskipun harusnya aku sadar. sekali.. Gitu aja. Iya sih. Tetanggaan. Seru enggak ya Dilan pacaran sama Hermi? Sedikit ada cemburu. tadi juga kami obrolkan soal Susi.. Takut salah" "Iya. "Iya" "Ngapain?" "Paling gitar-gitaran.

Aku nurut. sebetulnya aku malas. "Di situ aja. sehingga otomatis kami menjadi bagian dari panitia penyelenggara acara syukuran itu. ke rumahnya Kang Adi. Neng" kata ibunya Kang Adi sambil nunjuk ke atas meja. gak enak. Kang Adi meminta aku untuk membantu ibunya di dapur yang sedang sibuk menyiapkan makanan. Ya sudah! Yang penting Dilan gak mau sama Susi. Pada sibuk nyiapin ini itu. pasti dengan terpaksa. Sorenya. Kata ibu. tapi ditemani Kang Adi. meskipun aku ikut. Aku tidak kerja sendiri. Dus itu akan dipakai untuk tempat makanan yang akan dibawa pulang para tamu. Padahal aku lebih suka di rumah. dengan mobil ayahku. kami sudah tiba di sana. yang diwakilkan kepada Bang Faris. 'Bu. Tugasku menghekter dus kertas sambil duduk di lantai. kutanya ibu Kang Adi sambil berdiri membawa beberapa dus kosong. tidak cuma ada aku. karena Ayahku. Sebelum magrib. tapi ada juga tantenya dan seorang ibu. Kami datang lebih awal. Di dapur. Ayah ngobrol dengan Ayahnya Kang Adi di Paviliun. yang aku gak tahu siapa dia. Aku nurut. Sopirnya Bang Faris. kau tahulah. adalah pihak yang menjadi rekan bisnis ayahnya Kang Adi. ibu. dan mungkin akan dapat telepon dari Dilan. mendingan ikut aja. dan adikku. disimpan di mana ini?". Kamu pasti tahu. Kang Adi dan ibunya. 59 . Ibu dan adikku juga.Piyan: sudah tidak perlu diambil pusing. aku pergi bersama ayah.

"Jangan manggil ibu lah, panggil Mimih aja", kata Kang Adi yang masih duduk bersila di tempat yang banyak tumpukan kertas-kertas dus itu. "Iya", jawabku sambil menumpukkan dus kosong di atas meja "Mih, ini tuh Lia, anak Pak Adnan", kata Kang Adi kepada ibunya yang sedari tadi berdiri membungkus beberapa makanan di atas meja panjang. Aku senyum kepada ibunya yang menoleh kepadaku dan bertanya: "Kelas berapa sekarang?" "SMA, Bu", jawabku "Ibu lagi. Panggil Mimih aja", kata Kang Adi "Iya, Kang", jawabku sambil kembali kerja "Teh, itu mah dipisahin aja kayaknya", kata Ibunya Kang Adi kepada ibu-ibu yang disampingnya yang lagi sibuk misah-misahin makanan. "Udah besar ya?", kata ibunya Kang Adi entah kepada siapa. "Siapa?", tanya ibu-ibu di sampingnya "Itu anak Pak Adnan", jawab ibunya Kang Adi. Oh, ke aku. "Iya, Mih?", tanyaku "Kamu udah besar. Kelas berapa?" "Kelas dua, Mih", jawabku "Kenal Adi di mana?", tanya Tantenya yang lagi duduk sambil ngelapin buah-buahan "Saya ngebimbing dia belajar", jawab Kang Adi "Oooh, kirain pacarnya", kata Tantenya "Bukan", jawabku "Cantik juga", kata Tantenya lagi "Makasih he he", jawabku. Habis itu permisi untuk mau shalat magrib.

60

Menjelang acara dimulai, sudah banyak tamu yang datang, tidak semuanya kukenal. Sebagian besar pada kumpul di ruang tengah, dan aku juga di situ, bergabung bersama ayah, ibu dan adikku. Kang Adi berdiri di sampingku, sedangkan Bang Faris berdiri bersama Ayahnya Kang Adi. Setelah ayah Kang Adi ngasih sambutan, acara disusul oleh dibacanya doa-doa. Baru kemudian giliran Bang Faris, diberi mandat untuk memotong tumpeng itu. Pucuk tumpengnya disimpan di atas piring dan kemudian diberikan kepada ayahku. Acara syukuran pun selesai, ditutup oleh seluruh tamu dipersilakan menikmati hidangan yang sudah disediakan. Kang Adi ngajak aku untuk pergi ke Paviliun, dan bilang:"Kenalan sama temen-temen. Sebentar". Aku ke sana dan kudapati ada 4 orang yang sedang duduk di sofa merah. Semuanya laki-laki, sebaya dengan Kang Adi. Setelah kenalan, Kang Adi menyuruh aku duduk di bangku yang ada di sampingnya. Kelima orang itu semuanya mahasiswa, masing-masing kuliah di tempat berbeda. Katanya mereka temen Kang Adi waktu dia di SMA. Kang Adi pergi dan tak lama datang kembali dengan membawa makanan bersama minuman coca-cola. "Saya bikin khusus buat Lia nih", kata Kang Adi "Wey, enak nih!", kata temannya "Heh, buat Lia, ini", kata Kang Adi seolah meledek temannya itu "Makasih", kataku "Bagi ya, Lia?", pinta temen Kang Adi yang satunya lagi

"Bareng-bareng aja", jawabku "Lia yang bagiin dong", kata Kang Adi "Aku yang banyak ya, Lia. Belum makan dari SD nih". "Gimana pacaran sama Adi?", tanya temannya yang pake sweater "Pacar apaan?' "Maafin nih, kita-kita emang suka pada ngebodor", potong Kang Adi Sebenarnya aku bingung, di situ harus ngapain, selain untuk menikmati makanan dan ber-ha-ha-he-he mendengar mereka yang masing-masing pada berusaha ngebodor. "Anjiiir ha ha ha ha ha terus ceweknya gimana?", tanya orang yang bernama Rudi kepada orang yang bernama Diki. "Kepanasan lah, kan ditanganku ada Rhemasonnya ha ha ha ha ha ha!!" "Ha ha ha ha ha ha ha, parah!", Rudi ketawa, Gagan juga, Diki juga, Pipin juga, Kang Adi juga, aku cuma bisa he he he. "Kalau udah kumpul kita mah ya gini, Lia. Seru", kata Kang Adi "Iya", jawabku "Kamu pernah gak, tali BH nya kamu tarik dari belakang? Ha ha ha ha", Rudi nanya ke orang yang bernama Gagan "Ha ha ha ha!!", hampir semua ketawa, aku cuma bisa he he he. Saat itu, saat mereka ngebodor itu, pikiranku sedang naruh curiga, jangan-jangan, tanpa sepengetahuanku, Kang Adi ngaku-ngaku pada mereka bahwa aku adalah pacarnya dia. Sialan, kau. Tadinya mau kubilang bahwa aku sama sekali

diriku memang di situ. Kirain siapa". mungkin aku merasa ini tak enak bila aku katakan sedangkan aku berada di rumahnya. sambung ibunya "Wah bagus itu". jawab Kang Adi nyerobot "Adi itu suka ngebimbing adik-adiknya juga. kata ibuku memperkenalkan aku kepada ibunya Kang Adi "Iya. Rasanya aku seperti bahagia karena lepas dari tempat yang bikin aku bosan. katanya sudah saatnya untuk pulang. jawabnya "Terimakasih. Senang kok". Bu". tapi pikiranku sepenuhnya pergi ke Dilan! Dilan. Ada beberapa orang lainnya yang entah siapa mereka aku gak tau. Nanti ya. kata ibuku. Atau minimal aku ingin bergabung dengan ayah dan ibuku di ruang tengah. kata ibuku lagi "Ga apa-apa. sedang ngobrol sama ayahnya Kang Adi dan Bang . "Ini.bukan pacarnya. Tapi tak kunjung bisa kuucapkan. selagi aku di situ. Kadangkadang ada anak tetangga yang pada ikut belajar di sini". Serius. Sementara ayahku sudah di luar. sebagian besar tamu juga sudah pada pergi pulang. Memang. lalu pergi ke ruang tengah disusul oleh Kang Adi. iya betul. tadi di dapur. Adi udah mau ngebimbing Lia". anak saya. Di ruang tengah sudah tak banyak orang. tinggal keluarga Kang Adi dan keluargaku. Lalu ayah manggil. Sayang. aku ingin pulang. di mana kamu? Lagi ngapain? Kamu pasti nelepon ya? Akunya gak ada ya? Yang ngangkat si Bibi ya? Kasian. Bantu-bantu. akunya lagi bosan dulu di sini. Serius. Aku berdiri dan pamit pada mereka.

Kalau dia diculik maksudnya?" "Iya" "Terus apa kata Bibi?" "Ya. Sesampainya di rumah. Terus?' "Aneh. Diculik apa tanya Bibi?" "Diculik apa katanya. mau lah. apakah Dilan nelepon? Iya katanya. aku mulai duduk di kasur si Bibi "Dipaksa mau. kata si Bibi "Ha ha ha ha ha. Bibi mau nolong gak?" "Ha ha ha. sudah dianggap larut malam. Bi?". aku nanya "Diculik semut jahat" "Ha ha ha ha" "Terus katanya mau ngajarin Bibi suara bencong. Aku langsung cari si Bibi. jam segitu. Kutanya. Ngobrol apa?" "Apa ya? Itu. iya. setelah saling bersalaman. Kami pulang. nanti dikasih uang katanya. buat nyamar". dia ada di kamarnya. seribu" "Ha ha ha. Apa lagi ya? Katanya kalau diculik. Bu". Lalu dia ngobrol dengan ibuku untuk membahas soal lain. Terus Bibi bilang apa?" "Bibi bilang gak mau" "Terus apa katanya?". Jaman dulu. jawab si Bibi "He he he. kujawab. "Bilang apa dia?' "Ngajak Bibi ngobrol".Faris. jam sudah menunjuk angka 10. katanya dia lagi di atas pohon" "Ha ha ha ha ha. Bibi tahu siapa dia?" 61 . "Jangan pacaran dulu". kata ibu Kang Adi kepadaku "He he he.

mau nyerang SMA lain di Dago. dan langsung pergi tidur.. Apa katanya?" "Bibi bilang Lianya lagi kondangan. Iya gitu?".. bersama kelompoknya... Eh? Tadi juga ada yang nelepon" "Siapa.. Setelah baca doa. Wati balik nanya "Katanya" "Gak tau ah. "Enggak tahu. Nandan gitu?" "Oh iya. di sekolah...... Dilan. mulutnya ditutup dengan kedua tangannya "Iya... Kutanya Wati. dengan diantar Wati. Bi" "Terus Den Beni?" "Sudah hilang!" "He he he. Dilanku. terus udah" "Oh." Hari sabtu... Si Bibi nampak seperti orang terperangah.. setelah bersih-bersih dan gosok gigi.. di kasur yang oke untuk tempat rindu Dilan. Lelah sekali hari itu."Siapa?" "Jangan bilang-bilang ya?" "Iya" "Dia pacar Lia he he he" "Oh?"... seperti biasa aku bilang sambil senyum: "Selamat tidur juga.Sayangku. terdengar ada khabar bahwa Dilan. meskipun belum pasti apakah itu benar atau tidak. aku pergi ke 62 . Itu mah urusan dia" Pas pada waktu istirahat. ya udah" Lalu aku masuk kamar. Aku jadi was-was. Bi?" "Siapa ya..

ada yang bisa kukenal. kataku "Oh?" "Mau ke Dilan?".warung Bi Eem. Aku langsung berbalik menghadap kepada orang yang bertanya: "Aku pacarnya Dilan. Masuk aja" "Makasih" "Iya" . Aku nebak. (Siapa nih. Cantik euy). Tapi kecemasanku akan Dilan menguatkan niatku untuk tetap ke sana. kutaksir ada lebih dari 30 motor. meskipun tidak kutahu namanya.. harus ditangani ini sih) "Mau kemana.. adalah siswa dari SMA lain yang ikut bergabung. kudapati banyak orang... kutanya lagi "Ada... kata Wati. Aku tahu dia nanya ke aku. kudu ditangani eiu mah" (Anjrit. sebagiannya lagi pada kumpul di dalam warung Bi Eem. Serem ah. Tidak kuhitung jumlahnya. satu yang lain bertanya "Ada dia?". Waktu mau masuk ke sana. Aku yakin mereka adalah siswa dari SMA lain "Jeung aing ieu mah" (Buat saya ini sih) "Anjrit. Di dalam.... Cantik?". Geulis euy". mereka yang tidak kukenal. Tadinya kami berniat balik lagi.. karena memang satu sekolah. aku mendengar obrolan orangorang yang pada duduk di atas tembok pagar itu: "Saha euy.. semacam ruangan tamu yang biasa dipake oleh mereka untuk nongkrong.. Di sana sudah ada banyak motor. Itu. Di halaman warung Bi Eem. Dari wajah mereka.".

Tapi kalau Dilan tahu. kataku. Aku lihat Dilan menyerahkan kertas yang penuh coretan kepada kawannya itu. Aku masuk ke warung Bi Eem dan bertemu dengan Dilan yang sedang ngobrol bersama satu orang yang tidak kukenal. dan Wati duduk di sampingku. Harusnya Wati kaget dengan pernyataanku bahwa aku pacar Dilan. Atau tidak? Karena dia sudah tahu dari Piyan. "Sekarang juga?". "Kamu kan sekolah?". Aku lihat Dilan memandang kawannya itu. Dilan gak mau kalau dia pacaran semua orang pada tahu. jawabku. "Aku ingin jalan-jalan sama kamu". Enggak sadar bahwa bersamaku ada Wati. aku ada perlu. agar aku bisa duduk di sampingnya. maafkan aku. sudahlah. sebab kata Piyan. tadi cuma refleks saja. Dilan kulihat kaget karena tahu ini sangat mendadak "Iya". . tanya Dilan. Dilan meminta kawannya untuk bergeser. Aku heran kenapa Wati diam terus. Dilan nanya lagi "Iya" "Gimana kalau besok?" "Aku ingin sekarang" "Kalau sekarang. kataku pada Dilan "Kapan?" "Sekarang" "Sekarang?". katanya "Aku ingin jalan-jalan sama kamu sekarang". Sedangkan di bangku yang lain. kataku "Kan besok bisa?". pasti dia gak akan suka. mau pergi".Sungguh. memandangku lagi "Aku mau bolos" "Heh? Kamu harus sekolah" "Aku bisa ijin". Ah. beberapa orang sedang pada asik ngobrol. aku tadi keceplosan.

Langsung?" "Aku ambil tas dulu" "Iya. "Jalan-jalan kemana?". sebenarnya aku merasa sudah pacaran dengan Dilan." "Ke Dago yuk?" . kudapati beberapa orang siswa dari SMA lain pada pergi dengan motornya."Aku ingin jalan-jalan sama kamu sekarang". Wati hanya menjawab sambil memandangku:"Iya. Aku duduk dengan Dilan di dalam warung Bi Eem.. Dilan nanya "Terserah kamu" "Ke Singapur?" "Kalau aku ingin ke rumahmu?" "Rumahku di mana ya?' "Aku ingin ketemu Bunda" "Nanti sore baru pulang" "Jalan-jalan dulu aja" "Oke. Ya udah. Di sana. orangnya jadi sedikit. Kepada Wati aku jadi bilang terus terang.. kalau gitu.. untuk mengambil tasku di kelas. bahwa meskipun belum ada pernyataan resmi. Dia baik" Setelah selesai kubuat surat ijin.. Di warung Bi Eem.. Kataku "Eh? Kok nangis?" "Aku ingin jalan-jalan sama kamu sekarang" "Mmmm. Kita ke. aku langsung pergi untuk kembali ke warung Bi Eem. Orang yang tadi ngobrol dengan Dilan sudah gak ada. Kutunggu di sini" Aku dan Wati pergi. bahkan tak lama kemudian mereka pada pergi untuk masuk lagi ke kelas. meninggalkan warung Bi Eem..

Perempuan lebih suka banyak nanya" "He he he he. Eh. Kamu belum makan dan mau makan sama aku" "Iya" "Kamu rindu aku semalam" "Kalau enggak?" "Berarti kamu bohong" "Ha ha ha. Aku pergi sama ayah. mau ijin ke Ibu" "Aku yang nelepon". Tapi cari telepon dulu ya. Pokoknya jalan-jalan.pulangnya ke rumahmu" "Iya.. Ada acara syukuran. kataku... Hayu.. Tahu gak aku kemana semalam?" "Ke rumah Kang Adi" "Hah? Kok tahu Kang Adi?" "Bi Asih yang bilang" "Itu. Berti jangan ditanya. sama ibu. Oke. mendadak aku takut dia cemburu. jadi pergi gak?" "Iya. kata Dilan sambil berdiri "Aku aja". katanya "Kemana ajal deh. Nanti. juga sambil berdiri ."Jangan". Eh kamu nelepon ya tadi malam?" "Iya" "Terus ngobrol sama si Bibi?' "Iya" "Terus mau ngajarin dia ngomong gaya bencong?' "Ha ha ha ha" "Kenapa ketawa?" "Bener. Sudah makan?" "Perempuan gak suka ditanya ha ha ha ha" "He he he. Kamu tahu gak Kang Adi siapa?". Tanyaku. "Kamu akan ngasih tahu" "Dia yang bimbing aku belajar" "Iya.

Sungguh. kebayang dengan resiko yang akan didapat oleh Dilan kalau benar dia nyerang. Dia gak sekolah. dengan mengajaknya jalan-jalan. sebetulnya dia tahu. sampai ada air mata pula di mataku (habisnya kesel). mana mungkin Dilan ngaku. kalau dia bilang "Iya". tapi aku yakin dia juga bingung. Sebab waktu tadi kuajak. Itu pasti laaah. kenapa juga harus dadakan. Jadi. untuk tidak membuat 63 . Izin. ah. mana yang harus dipilih. soal benar tidaknya mereka mau nyerang. Bahwa akhirnya dia lebih memilih mauku. jika dia kutanya. Jangan-jangan."Aku yang minta ijin. Tapi kamu tahu. tadi itu. ada urusan keluarga kata Wati. Dilan bisa menanganinya dengan baik. aku akan marah dan melarangnya. Ya. Aku gak tahu. Tapi aku yakin. jawabannya akan: "Tidak". Kuanggap saja itu benar. aku merasa gak perlu nanya lagi. kalau benar mau nyerang. dia bilang apa ke teman-temannya. kan aku yang bawa kamu" "Tapi aku yang ngajak" "He he he he" Tadinya aku mau nanya Piyan. Sudah bisa ditebak. cara itu berhasil. lalu gagallah rencananya. Tapi Piyannya gak ada. Aku bisa langsung nanya Dilan. Syukurlah. Aku yakin Dilan heran. kulihat dia senyum. itu bodoh. apa tujuan asli dari aku mengajaknya. Lalu kucari akal bagaimana bisa gagal. aku risau. betul. sedangkan teman-temannya sudah terlanjur pada datang. Dilan juga tahu.

bukan Laswi yang kini besar dipenuhi oleh banyak kendaraan. masuk ke halaman perkantoran yang lumayan cukup luas dan teduh oleh banyak pohon tumbuh. . "Istirahat dulu di sini". kata Dilan "Ih! Ngapain?". Dari halaman kantor itu. kau juga akan gitu lah! Percaya deh! Aku pergi dengan Dilan. Aku jadi harus jalan-jalan dengannya dan senang he he he. Kalau kau jadi aku. Hanya saja. Aku bingung. Yaitu Laswi yang dulu. maksudku bukan Buahbatu yang ada sekarang. Pengendaranya berseragam SMA dan mengacungkan pedang samurai. sudah membuat Dilan bingung. Sudah membuat Dilan repot. ke arah jalan Laswi. Tapi Dilan juga sama! Membuat aku repot! Bikin risau! Bikin cemas! Bahkan gara-gara soal itu aku jadi gak sekolah. saking banyaknya. Di daerah jalan Riau. Makin lama suara itu makin jelas. sayup-sayup ada suara gemuruh dari jauh. kutanya "Sekalian ngerencanain mau jalan-jalan kemana" "Biasanya juga gak pernah direncanain" "Sekarang direncanain" Tak lama dari itu. tapi Buahbatu yang dulu. aku lihat mereka lewat.kecewa kawan-kawannya. Terus belok. Dilan membelokkan motornya. aku jadi gak enak. gak tahu mau apa? Dilan menyuruh aku turun dan lalu duduk di teras halaman kantor itu. jadi gemuruh. Itu adalah suara motor. menyusuri Buahbatu yang sepi dan lengang.

. kondisi macam itu. belum ada BSM nya." "Ada yang sudah mengganggu mereka.maunya apa sih? Sok jago! Mengganggu. Aku harus bilang apa." "Mereka itu... kembali ke jalan Laswi dan belok ke jalan Gatsu. untuk kamu bisa ngerti bahwa gengmotor jaman dulu.... hal itu benar ada. yang membuat jadi begitu" "Apa?" "Ayo jalan lagi" Kami pergi dari halaman kantor itu. kutanya Dilan yang sedang duduk dengan dagu berbantal kedua lengan disimpan di kedua lutut kakinya...Kamu tidak akan percaya. "Gak tahu.. Ada orang yang kayak mereka. kataku seperti ngomong pada diri sendiri. Kamu ingin semua orang sepertimu?". Terus belok ke arah gang Warta dan berhenti di pasar tradisional. "Kita belanja". Beda-beda... Lia.. kata Dilan "Belanja?" . Anehnya. dulu masih bisa dianggap sebagai hal yang lumrah. Ada orang yang kayak kamu... "Tapi mereka mengganggu... jauh berbeda dengan gengmotor jaman sekarang yang karena sudah menjurus kriminal jadi pantas diberantas.. di Bandung. Itu adalah jalan Gatsu yang lengang dan masih tentram. "Ada banyak orang.. tidak dinilai sebagai satu hal yang menguatirkan.. Menyebalkan!". entah sekarang masih ada atau tidak. jawab Dilan tanpa memandangku. bahwa jaman dulu.. Ada orang yang kayak aku.. "Siapa? Kawanmu?".

. sisa hujan subuh tadi. kata Dilan sambil jalan menuju ke tempat motor diparkir.. dia balik nanya "Iya" "Seribu juga kemahalan" "Semurah itu?" "Asal aku yang belinya" "He he he" .. mau?" "Gak!" "Kamu bisa bilang "Aku sayang kamu" kalau mau". Mau ke rumah kan?" "Iya" Kami belanja ini itu.... "Ini daerah kekuasaan Kang Atot. Jalannya becek. katanya.. aku tadi takut ada yang nawar" "Berapa kalau ada yang nawar?". Aku sempet terdiam dulu mendengarnya.."Iya" "Buat apa?" "Masak di rumah. dia nanya "Ke aku lah" "Bilang apa?" "Aku sayang kamu" "Sudah diduluin sama kamu. kujawab "Atau tidur di pasar. kutanya dia "Ke aku" "Kamu dulu" "Ke siapa?". Aku kenal. Kamu boleh teriak kalau mau".. barusan" "Ha ha ha ha ha ha" "Dagu kamu itu bagus. kutanya "Harganya?".".. "Gak mau. "Ke siapa?".

kataku "Mau diapain?"...... mau-maunya disuruh" "Terus aku jawab. disuruh kamu" "Terus Bunda bilang.. kutanya "Dia pura-pura.... katanya "Kenapa?". Terus belok kanan ke jalan Kiaracondong yang sepi. kok jadi bisu?" "Terus?" "Nanti aku jelasin ke si Bunda" "Bilang apa?"." "Terus nyari batu itu.Selesai dari pasar.. Bunda" "Terus aku jawab. dipaksa Dilan.. Menyusuri jalan Gatsu yang belum lebar seperti sekarang ini. Bunda" "Terus tidak dimaafkan sama si Bunda" "Aku dikutuk jadi batu" "Terus batunya dilempar ke sungai". Dilan menjalankan motornya pelan sekali... kutanya "Bundamu" "Asiik!" "Nanti ke si Bunda bilang kita baru pulang dari Mesir ya" "Biar apa?" "Biar gak percaya" "Ha ha ha ha" "Terus nanti kamu pura-pura bisu". kami langsung pergi. "Mau kemana?".. dia tanya "Dibawa kemana-mana" . Bunda" "Ha ha ha! Terus aku bilang. Maaf. kutanya "Biar nanti si Bunda bilang. Kamu jadi tukang batu" "Terus ketemu". kataku "Terus hilang" "Terus aku sedih.

orang itu bertanya. ketika sampai di rumah Dilan. sangat ingin. berkaus merah. Sedikit kuhela nafasku merasa sudah dibohongi. Dia adalah anak muda. atau saudaranya. Artinya:"Siapa dia. Ya. Mungkin kakaknya. Dilan bilang: "Tunggu". Aku jadi seperti malu ketika orang itu ketawa. Aku sudah siap untuk senyum kalau dia memandangku. sambil menebak siapa gerangan orang itu. jawab Dilan. Lan?" "Ceuk si eta mah. lalu pergi ke sana. yang artinya:"Ada apa. aku juga begitu. lebih tua dari Dilan. Wan?". "Iya". dan ingin pergi ke sana. Tadi di motor Dilan bilang ke aku: "Ini mungkin rumahnya". menenteng belanjaan yang dibungkus dalam dua kantong kresek. Bagaimana perasaanmu ketika suatu hari ternyata kamu betul-betul ada di sana? Saking senangnya. kamu merasa kesulitan ketika harus diungkap ke dalam kata-kata. oleh orang yang keluar dari rumah. sambil mengarahkan telunjuknya ke aku. biar gak sakit perut" "Ha ha ha ha" Kamu pernah merindukan satu tempat. Aku tidak mengerti bahasa Sunda. Wan?". Lan?". Artinya:"Masa' kata dia. celana pendek. jawabku. sama. Pintu membuka."Dikantongin aja. Setelah turun dari motor. tapi aku bisa faham apa yang sedang dibahas. "Naon. berdiri di samping motor. mengetuk pintu. ieu imah urang ceunah. Tanya orang itu. Lan?". ini rumah aku. 64 . "Ha ha ha! Saha.

Orang itu ketawa. kataku. bahkan tidak kujawab ketika dia nanya.Lan?" "Baturan TK". kataku ke Wawan "Mangga. Artinya:"Teman TK" "Sia mah! Ha ha ha. "Nuhun. Masuk dulu sini" "Kenalin. Dilan ketawa setelah dia sadar aku gak mau . Lan" "Langsung aja. Belum tahu". Suaranya seperti wibawa seorang ayah pada anaknya. sambil mencari jenis hukuman yang pantas untuk Dilan. ya udah. Wan! Sini. Kang" Dilan menaiki motornya sambil senyum-senyum gak jelas. Masuk heula atuh". Artinya: "Ah kamu ini. Nak!". Kang". Makasih sudah mampir" "Sama-sama. kata Wawan kepadaku sambil nunjuk ke arah kanan "He he he iya. Setibanya di sana. sambil senyum kepada orang itu. jawab Dilan "Oh. Jawab Dilan. Langsung ya". jawabku. Wan". karena sengaja kuinjak sepatunya. Aku juga naik. Dilan jadi seperti orang meringis. saat berjabat tangan dengannya "Wawan! Masuk dulu. Hukumannya adalah: aku gak mau ngomong dengannya sepanjang perjalanan. Dilan noleh dan memanggil dengan senyuman menyebalkan. Setelah kusimpan belanjaan di bawah samping motor. "Ha ha ha ha". kudatangi mereka. Ha ha ha. "Lia". karena sudah berhasil menipuku. kata Dilan sambil mulai akan pergi "Sami-sami" "Mangga. Rumah Dilan mah di sana". Wan.

ngomong dengannya. kataku di dalam pelukannya . bersamaan dengan Dilan masuk ke dalam. kembali. Dilan ngomong aneh. Aku senyum melihat papan kecil yang ditempel pada sebuah batang pohon dengan tulisan yang diukir: "AWAS. tanya Bunda sambil jalan menuju ruang tamu "Bunda!". ketika aku turun dari motor. Anjing itu lalu pergi. "Siapa?". YANG PUNYA ANJING GALAK". Tak lama Bunda datang. katanya lagi. Itu mobil si Bunda. kalau yang itu adalah asli rumah Dilan. seperti bicara pada dirinya sendiri. gak ngomong-ngomong. Lia rindu". seraya mendatangiku: "Wah wah wah". Aku tetap diam dan berharap jangan sampai dia lihat sebenarnya aku senyum. Dilan teriak. Aku terus begitu. Gak ada senyuman! Di ruang tamu. Ada seekor anjing menggonggong. Artinya kira-kira:"Mau masuk gak?". ke tempat di mana dia tadi. Bunda teriak setelah melihatku. tapi aku mengerti dari isyarat tangan yang ia gerakkan sambil memandangku. aku duduk dan Dilan ke sana: "Bunda! Ada Debt Collector!". Aku ngangguk. sampai tiba di rumah yang ada mobil Nissan Patrolnya. panggilku sambil berdiri dari duduk "Hai!!". Tangannya berkacak pinggang dengan mata seperti orang terperangah: "Nona cantik rupanya!!!". "Bunda. Bukan pura-pura". "Hm hm hm hm?". aku langsung yakin. dan berhasil dijinakan oleh Dilan. Dia berdiri seperti orang terkejut. "Kamu benar-benar bisu ini mah.

. Bunda juga! Selamat datang di rumah Dilan".. Temen Dek Dilan ya? Cantik" "Iya dong" "He he he makasih". kata Bunda ke Bi Diah sambil dia gerak-gerakkan telunjuknya "He he he he. kata Bunda sambil melepas pelukan. sambil merangkul bahuku "Siapa ya?". Dia sedikit lebih muda dari Bunda.a!". kataku "Mau masak buat Dilan yaaa?". Lia pengen ikut bantu masak.". Bunda"... jawab Bunda "Oh.. Ibu itu adalah pembantu di rumah Bunda. Bunda nanya seperti pada dirinya sendiri ketika kami berjalan menuju dapur.le. tanya Bunda ke orang itu.. "Diah. Bunda?" "Dia gak akan masuk lemariiiiiii. Bi Diah nanya "Mi. tapi. Bunda" "Mana Dilan?"."Wow! Sama.. Nak. siapa coba ini?". kata Bunda bagai berbsisik "Ya.".... belanja ke pasar sama Dilan he he he" "Okey! Ayo kita ke dapur" "Iya.. kataku. Bunda seperti orang meledek . "Iya" "Kalau kamu yang datang.. "Ha ha ha ha ha" "Apa ini?". Di dapur ada seorang ibu yang sedang duduk mengiris daun bawang. Kedua tangannya memegang dua bahuku. Bunda nanya soal dua kantong kresek yang ada di kursi "Tadi. "Jangan sampe kena bau bawang atau cabe ya".

ka!" "Ha ha ha" "Ya udah. maksud Lia masakan. harusnya hal itu gak perlu kupikirkan. Bunda?" "Mungkin di kamarnya. aku menduga. Bunda pergi ke sana untuk mengangkatnya. dia akan su.. tanya Dilan. bahwa motif Anhar 65 . Nanti... Anhar ada ikut berkumpul bersama Dilan di warung Bi Eem. Kau suka?". kayaknya keluar dari kamar "Anhar!" Anhar? Mau apa dia? Memang.. "Ini Bunda lagi masak sayur lodeh. Tadi itu. Bunda panggil" "Dalam lemari kayaknya. katanya sambil duduk.. entah mengapa. Lalu kudengar dia teriak: "Dilan! Telepon!" "Siapa?". Maksudku. jawab Bunda sambil menyentuhkan telunjuknya ke hidungku "Ha ha ha ha ha. kata Bunda lagi sambil menggeser kursi untuk tempat aku duduk."He he he Dilan sukanya apa?". aku merasa gak enak.. Dilan suka masakan apa? He he he" "Apa aja yang kamu bikin. Tapi instingku bicara soal lain. Bunda" "Dilan juga suka" "Dilan mana. sini bantu Bunda". kutanya Bunda "Dilan? Dilan sukaaa. Siapa pun orangnya bebas mau nelepon. Bunda?" "Ha ha ha ha ha" Telepon rumah Bunda berdering. Bunda. "Suka. sedangkan pikiran terus ke Dilan.kamu laaah!". Aku ngobrol dengan Bunda.

Pergi dulu ya?!". Lalu aku pamit ke Bunda. Nanti kembali. Dilan menjawab sambil dia pakai jaketnya "Kalau kamu pergi. kataku dengan suara pelan "Ga usah. Sebentar.nelepon Dilan. jawab Dilan sambil pergi. Sebentar" "Aku ikut!" "Mau ambil barang di teman" "Aku ikut!" Tiba-tiba dari luar terdengar ada salam: "Salamlikum!" "Kumsalam". katanya kepadaku. Kamu di sini aja. "Kemana?". Tapi cuma ke situ. kamu sama Bunda dulu ya?". aku dan Dilan saling berdiri berhadapan. aku ikut!". Cuma sebentar". untuk ada yang perlu diomongkan dengan Dilan dan segera menyusulnya. suaraku masih seperti yang tadi. Dilan datang ke Dapur dengan tangan menenteng jaket. dia perempuan berseragam SMP "Adikku". kata Dilan ke aku . jawab Dilan bersamaan dengan pintu kebuka. Orang yang ngasih salam itu masuk. takut kedenger sama Bunda "Iya. Dia izin ke Bunda untuk pergi dulu sebentar. kutanya "Ada perlu. Ada perlu katanya. Keduanya terus saling berusaha untuk menjalin koordinasi dari jauh. Di ruang tamu. pasti ada sangkut pautnya dengan rencana penyerangan. beradu mata: "Aku ikut". "Lia.

Iya" "Aku masuk dulu ya?". tanya dia sambil memandang jam dinding di atas buffet. tetapi saat kupandang lagi Dilan. dia nanya ke aku "Apa nama panjangnya?". dia nanya "He he he. Pengendaranya langsung masuk ke rumah "Ow. katanya kepadaku. Dadaaa. Bunda!!" Aku senyum. ada tamu". Tiba-tiba di luar kudengar suara motor. Sudah pukul setengah dua. aku ikut!". "Emang mau kemana sih?". kujabat tangannya sambil senyum "Tahu gak nama panjangku?". berusaha untuk ramah "Hey!". kata orang itu setelah melihatku ."Aku Disa" "Lia". Aku ke sana. kutatap matanya. katanya. tanyaku denga suara yang sudah jadi kalem "Itu. jadi tidak: "Aku ikut! Kalau kamu pergi. menghadap kepadaku. Kalau gitu gak jadi pergi". katanya kepadaku "Iya". kutanya "Disaaaaaaaaaaaaaaaaa!!" "Ha ha ha". aku ketawa "Panjang kan?". sambil terus memandangnya yang mulai akan duduk di sofa yang lain. memasuki halaman. sambil membuka lagi jaketnya. duduk di sofa ruang tamu. nanti aja bareng" "Jam berapa sekarang?". yang ada di seberang meja. aku tersenyum kepadanya. ke teman" "Anhar?" "Bukan" "Kalau mau ke temanmu. "Ya udah."Oh". jawab Dilan. Disa masuk dan teriak manggil Bunda: "Bunbun.

Bang di dapur" "Oke". tanya Disa dan aku tersenyum kepadanya "Sini". katanya sambil menoleh kepadaku "Ha ha ha ha Sekolah tinju?". tanyaku ke Disa "Kakak kelas berapa?". Disa nanya "Tanya Abang". aku senyum sambil lalu berdiri "Kenalin.menengah ke atas". kutanya "Kelas berapa. tanya Bang Banar "Udah. Bang?". Di mulutnya ada sedikit senyuman. jawab Dilan (Aslinya. kata Dilan sambil memegang sofa di sebelah kirinya "Oke". kata Dilan ke aku "Oh". yang kiri.. tanya Disa "Kelaaaass."Abangku". tanya Disa ke Dilan "Kelas Bantam". Lia". kataku sambil sedikit menggeser. Lalu datang Disa: "Boleh ikut ngobrol?". katanya "Sini aja". kata Dilan ke abangnya "Oh? Banar!".. menggaruk-garuk kepalanya. Mungkin maksudnya Sekolah Menengah Atas. jawabku tanpa menoleh ke Dilan "Kelas berapa. Disa kelas 3 SMP) "Kelas Bantam. katanya sambil dia jabat tanganku "Lia" "Mana minumnya?". kupandang lagi Dilan. waktu itu. katanya .. Bang?". jawab Dilan. katanya sambil masuk ke dalam Habis itu. "Menengah ke atas katanya". Nampak tangannya. Kak". tapi tanpa bicara. kataku pada Disa sambil senyum "Wow! Hati-hati jatuh". Bang... Disa memilih duduk di sampingku "Disa kelas berapa?".

kata Bunda "Makasih."Ini masakan duet Bi Diah sama Bunda". Bunda manggil "Bentar!". Dilan menjawab dari jauh. Dia ngajak kami makan. tanya Bunda "Aku aja". kata Bunda sambil nyodorin piring yang sudah Bunda kasih nasi. tanya Bunda lagi . Bunda". jawab Disa Tak lama kemudian kami dengar si Bunda manggil. "Ayo. kataku sambil senyum "Ya. jawab Disa "Seremeh-seremeh?". kata Dilan kepadaku sambil pergi menuju tempat telepon. Lia". atau Disa?". kata Bunda. "Nunggu Dilan. katanya "Disa juga sedikit ya. "Iya" kujawab. kata Disa sambil kemudian dia pergi. jawabku "Mana Banar?" "Di kamarnya". Bunda?" kata Disa "Kenapa?" "Sedikit-sedikit maksudnyaaaa he he he". Lalu datang Disa bersama Bang Banar "Udah makan tadi di kampus". biar rame". jawab Disa "Bunda yang manggil. kataku sambil meraih piring itu "Dilan!". "Silakan. Aku dan Disa langsung gabung dengan Bunda dan Bi Diah yang sudah duduk menghadap meja makan. Bagus". Disa dan Dilan pergi ke ruang makan. Bunda"."Kan pegangan". Lalu Bang Banar jadi duduk "Sedikit aja". makan sepuasnya". sambungnya. Aku. "Aku nelepon dulu". katanya "Ayo laaah.

aku sendiri juga heran. Bang Landin. membuka-buka album dan membahas photo yang ada di dalamnya. bisa berada di rumah Dilan.. kata Bunda lagi. Seperti ada yang sedang ia pikirkan mengenai sesuatu yang harus ia urus.seperti aku. Masih bayi. Juga ngobrol tentang banyak hal yang cukup berguna untuk membuat kami akrab sampai kemudian Dilan datang bergabung dengan kami. Aida. Dia ikut suami". yang sulung. hanya sesekali kalau kebetulan pada kumpul. Sehabis makan. dan Bi Diah. kenapa aku bisa menjadi Milea yang tidak biasanya." kata Bunda kepadaku sambil memegang bahu Bang Banar. "Sudah punya anak satu. Tapi hari itu adalah hari yang paling bahagia buatku. tidak biasanya makan bareng. Kukira. tapi bukan cuma dia. Disa dan Bunda duduk di ruang tamu. Bisa kenal dengan Disa. Dia pasti heran dengan sikapku kepadanya hari itu. aku. dengan Bang Banar. maksa-maksa Dilan untuk mau jalan-jalan 66 . Kata Bunda. kata Disa bersamaan datangnya Dilan. Menjadi Milea yang manja. Namanya Beika". Lucu."Ada lagi kakanya Banar: Landin. tanyaku "Ya. Tapi Dilan seperti orang yang sedang gelisah. "Kan lima Bunda?"."Enggak ah! Lama" "Ha ha ha. kakaknya Dilan. Ini Banar. itu menyangkut soal rencana penyerangan yang jadi gagal gara-gara muncul aku di luar dugaannya. jawab Bunda. Bisa kumpul dengan Bunda. Tapi belum datang".

maksudku aku merasa belum resmi menjadi pacar Dilan. agar aku dan Dilan tidak cuma dianggap sebagai sahabat dekat? Meskipun sikapku dan sikap Dilan kepadaku layaknya seperti orang yang sudah pacaran. Disa balik nanya. Meskipun tadi pagi sudah kubilang kepada orang-orang yang duduk di tembok pagar warung Bi Eem. Gak tahu. bahkan aku tak akan berani meski hanya meminta dia untuk mengantarku ke tukang photo copy. Sungguh. Aku gak ngerti. di luar dugaanku bahwa itu benarbenar terjadi. Bunda tadi izin pergi. Dalam keadaanku yang normal. dan aku tahu kekuatan itu bersumber dari rasa cemasku pada resiko yang akan dialami oleh Dilan jika benar-benar dia nyerang. Aku serahkan semuanya ke Dilan yang sudah tidur telungkup di atas sofa panjang. kutanya Disa "Kedinginan ya?". "Di kamar Disa ada selimut?". mana mungkin itu bisa. dengan keadaanku yang sadar. Tapi apakah pernyataan macam itu diperlukan. Ini Oktober. kalau memang untuk itu dibutuhkan adanya pernyataan dari kedua belah pihak.denganku. katanya mau belanja jahe untuk membuat minuman hangat. . Bandung sedang dingin. Pasti ada sebuah kekuatan yang sudah mengalahkan kesadaran. tapi sebetulnya aku bukan pacar Dilan. melarang dia pergi menemui temannya. Jadi Milea yang rewel merepotkan. yang telah mampu mendorongku untuk bersikap seperti itu.

Itu adalah album photo yang dari tadi kami bahas. kataku "Disa ambilin?" "Biar Kakak aja". kata Disa "Kasian kedinginan" "Iya" "Disa sayang sama Dilan?" "Bang Dilan?" "Iya?" "Sayang". "Kirain buat Kakak". jawabku dan lalu pergi ke kamar Disa. itu bukan untuk aku. "Kakak ngantuk ga?". Aku datang bawa selimut. Rame dan juga sedih karena katanya Disa rindu ayahnya yang sedang bertugas di Timor Timur. itu untuk Dilan. enggak" . kataku berusaha menghiburnya "Disa takut ayah ditembak musuh" "Ayah Disa kan sudah latihan. aku duduk lagi. Pengen" "Nanti datang ya kalau ada ayah" "Iya. "Ayah Disa lagi berjuang. Dia pasti tahu harus gimana" "Kok sama? Bunda juga bilang gitu" "He he he" "Kata Bunda minggu depan ayah pulang" "Oh ya?" "Kenalan deh sama tentara" "Iya. Asik" Setelah Dilan kuselimuti. Dia pahlawan". tanya Disa "Mmm. kata Disa sambil meletakkan album photo di atas meja."Kakak ambil ya?".

bersekongkol untuk membuat aku senang. sampai petugas PLN dan tukang nasi goreng. tapi ayah dan ibu ketawa setelah kuceritakan. tukang pos. Dilan yang dulu pernah datang ke rumahku memberi surat undangan untuk datang ke sekolah dari senin sampai sabtu lengkap disertai nama Kepala Sekolah sebagai orang yang turut mengundang. Cuma buku TTS. Dilan yang pernah nyuruh tukang koran. tapi kebayang bagaimana dia harus begadang untuk mengisi jawabannya. Tidur ya" "Kakak di sini?" "Iya" Disa pergi untuk tidur di kamarnya. meninggalkan aku yang duduk sendiri. untuk menyampaikan cokelatnya kepadaku. Dilan yang pernah ngasih kado berupa buku TTS yang lebih berharga dari boneka yang termahal sekalipun. tetapi itu lebih baik dari cuma sekedar kata-kata. tidak semewah Taj Mahal. seperti sebuah ."Disa ngantuk. Yaitu Dilan yang dulu pernah meramal bahwa aku akan bertemu dia di kantin dan salah. cuma surat undangan yang aneh. Dilan yang pernah ngirim Bi Asih untuk memijit aku agar bisa lekas pulih dari sakit. dengan aneka macam profesinya. itu murah. Tidur dulu ya?" "Iya. Bentuk perhatian macam apa yang bisa menyamai hal itu? Sederhana. tukang sayur. Seolah-olah semua manusia di dunia. Bukan surat cinta. memandang Dilan yang tidur.

bukan kata-kata cinta. Seolah-olah dia sempurna. tapi oleh ada dia aku bisa merasa aman. Tidak perlu berlebihan bagi dia untuk membuatku merasa lebih. ini adalah hak diriku untuk menganggapnya begitu. Tapi kamu harus tahu. Kata-kata biasa. tapi aku butuh lelaki macam itu. Mugkin kamu tidak mencintai dirinya. syukurlah kalau begitu. tapi biarlah aku . Betul. seolaholah dia sudah akan langsung datang untuk menghilangkan setiap orang yang berani menggangguku. Dia mungkin bukan lelaki sejati. Mungkin aku terlalu berlebihan dengan menilai dia begitu.perjuangan yang harus ia tempuh demi bisa membuat aku merasa istimewa. seolah-olah dia itu orang hebat. bahkan ketika aku sedang berada jauh darinya. Dilan yang pernah berucap dengan aneka macam kata-kata yang selalu bisa membuatku bahagia. tapi dia tahu bagaimana membuatku merasa istimewa. Dia mungkin bukan tipe lelaki yang kamu idamkan. sehingga aku tidak perlu bersaing denganmu untuk bisa memilikinya. tidak menyukai dirinya. membuatku ketawa. bahkan cenderung gak penting. seolah-olah tak ada hal buruk darinya. tetapi aku selalu menunggu dia akan meneleponku setiap malam. yang berani menyakitiku. seolah-olah dia itu jagoan. Dilan yang membuat aku merasa dilindungi. tapi mampu menumbuhkan rasa cinta. Dilan mungkin tidak paham bagaimana seharusnya memperlakukan wanita. Aku tahu ia bukan Superman.

Aku harus tetap di sini. "Bukan ih! Pas udah besar. Aku tak ingin terjadi apa-apa dengannya. supaya bisa nahan Dilan jangan sampai dia pergi. Meskipun dia pasti akan selalu di hatiku tetapi aku juga tak ingin dia hilang dari muka bumi ini. dia nanya "Gimana?" "Gampang" "Iya gimana?" "Menghilanglah kamu dari bumi" Sekarang Dilan sedang tidur. ketika tahu dia akan menyerang SMA lain. Sekarang. kutanya "Waktu bayi. Melewati Pasar Gordon yang masih banyak orangnya. Pokoknya jangan sampai aku pergi. Menyusuri jalan Ciwastra yang sepi. Jadi ingat dengan apa yang pernah Dilan katakan di telepon: "Kamu pernah nangis?". sudah kutelpon si Bibi. baru magrib bisa pulang. mudah-mudahan kamu maklum. pengen minum". tolong bilang ke ibu. Lia ada urusan. Melewati Buah Batu yang bau wangi oleh . 67 Nyatanya aku baru pulang pukul tujuh.ingin memilihnya. nanti aku sedih. kalau iya. Aku pulang diantar Dilan. naik motor dan pake jaket Army Korea punya Dilan. nanti aku sunyi. mengapa aku cemas. Pernah nangis?" "Kamu tahu caranya supaya aku nangis?". Tapi ga apa-apa. kalau perlu mungkin sampai magrib. Tadi. Melewati terminal bemo Sekelimus. karena bunda sudah nelepon ibuku.

Nanti kuambil". tanya Dilan "Ada. kataku sambil meluk Airin:"Jago main piano. Pohon itu. kata Dilan sambil duduk: "Ini pasti Melati?". main bareng. Kami masuk setelah memberi salam. Gitar ayah.sebuah pohon kemuning yang ada tumbuh di pinggir jalan di daerah sebelum apotik. jawab Dilan . namanya Airin". lagi ngajarin Airin. tiba-tiba ibu datang "Lan. ajak Dilan "Dilan kan bisa gitar. kata Kang Adi. seru Dilan "Sedikit". "Makasih". kataku "Eh?". kataku "Ada gitar?". Dilan yang ngegitarnya"."Iya. Lan". Keren!". Bu" "Akhirnya ketemu Dilan ya". Nah. kata Kang Adi lagi. "Ini Dilan yaaa?". kataku "Tapi harus belajar dulu. "Adi". Airin juga duduk lagi di sampingku "Hey!". ini Ibu Lia". bergegas nyamperin Kang Adi untuk ngajak salaman: "Dilan!". terus duduk. "Wow. Dilan berdiri dari duduknya. kata saya ke Kang Adi. mudah-mudahan masih ada Sebelum pukul delapan kami sudah sampai di rumahku. Kang! Dilan". seru Dilan. "Kenalin. sambil masih tetap duduk:"Silakan duduk". kata Kang Adi. kata ibu senyum "He he he kayak yang pernah hilang". Di ruang tamu sudah ada Kang Adi. kata Airin "Ini. sambungnya. Lia juga". Airin yang buka pintu. kata Airin "Kita nyanyi oke?". kata Dilan lagi sambil nunjuk Airin "Bukan!! he he he".

kata Ibu sambil dia pergi masuk. kata Ibu "Iya". kataku ke ibu "Iya. jawab Dilan "He he he" "Tadi Lia ketemu Bunda. Bu". sedang pada ketawa sambil membuat minuman jahe. Dilan mau minum apa?". Airin juga. Sekoteng dan Bajigur yang . Ga usah. jawab Dilan "Iya silakan". di tahun 90an. kata Dilan "Ha ha ha ha ha Itu merepotkan!". Bikin sendiri aja". Mandinya nanti aja. Penasaran kayak gimana sih?". aku cuma ganti baju. Masih orsinil. Bukaaan! Lia kan suka cerita kamu. mau dibikinin? Spesial". tanya Ibu "Iya. kata Ibu "Kayak gini aja. Air zam-zam aja. Ibuku dan Dilan. jawabnya "Ke dapur aja ya". Bunda juga. aku ketawa. gak sabar ingin ke dapur bantuin Dilan. tanya Ibu ke Dilan "Apa ya? Gak usah repot-repot. Aku dan Dilan nyusul. Di kamar. "Kang."He he he. di rumah-rumah di Bandung. kataku sambil lalu berdiri. di jaman dulu. Nanti bikin sendiri". orang-orang masih pada suka membuat minuman jahe. Tadi Bunda nelepon. Perasaan. "Apa dong?". "Mandi dulu". tanya Dilan ke Kang Adi sambil berdiri "Gak. Bu". Belum dimodif". Juga masih ada tukang Bandrek. Pas ke sana sudah ada si Bibi. kalau gak salah. tanya Dilan seperti bingung "Atau bikin sendiri? Ayo?". kata Ibu "Aku bantuin! Tapi ganti baju dulu". Kang Adi kulihat dia tidak.

kata Ibu. Ngobrol apa?". Ganteng". ikut mainin jahe "He he he. Entah kalau sekarang. Mau ngajarin Bibi ngomong bencong. jawab Dilan "Ha ha ha ha mau ke kamu maksudnya?". Dilan?". Oke". "Bi. tanyaku lagi "Mudah-mudahan mau". Aneh-aneh he he he". Dia pengen ke aku". Dilan ketawa "Itu yang namanya Kang Adi". kataku ke si Ibu sambil duduk di kursi berhadapan dengan Dilan. Udah. bisikku ke Dilan. tanya Airin yang datang ke dapur "Jahe". ini Dilan". kata si Bibi "Ha ha ha. tanya Ibu "Ngobrol apa. kataku ke si Bibi "He he he. Aku kuatir dia cemburu. Entahlah. kataku ke Dilan "Bikin apa?". Atau tidak. kataku ke Dilan masih . tanyaku "Kalau dia mau. Kan ibunya juga cantik he he". jawab Dilan "Ih! Kamu suka?". tanyaku ke si Bibi yang lagi numbukin jahe yang sudah dibakar oleh ibu dengan api dari kompor "Banyak hi hi hi. "Iya. Tuh ajarin!". tanyaku "Biar enggak ke kamu". Ngajarin tidur kayak ikan. Bi?". tanya Dilan "Iya dong. jawab Ibu "He he he Iya". Bu. Dilan suka ngajak ngobrol si Bibi nih"."Udah kamu belajar aja" "Bosen". jawab Dilan "Kenapa?". kata Dilan yang sedang duduk di kursi dan malah mainin jahe yang ada di atas meja. bukannya ngebantuin "Ini. kenalan". tiba-tiba Dilan nanya "Ya. kata Dilan "Ha ha ha. tadi.suka lewat depan rumah. tanya Ibu "Kenapa anak ibu cantik-cantik?". kata Airin sambil seperti mau bantuin si Bibi "Ibu?".

Iiiiiih.. kataku ke Ibu "Ya bilang dong ke Kang Adi". jawab Dilan dengan suara berbisik. "Doain. Kedua tangan Dilan tiba-tiba memegang dua tanganku. Mendadak perasaanku seperti dilanda sesuatu yang sungguh sulit kuungkapkan... tanyaku "Kenapa kamu gak mau?". Dilan balik nanya "Gak mau aja" "Maunya ke siapa?". kataku masih bersbisik "Kamu maunya ke aku". tanyaku setelah sekilas tadi melihat gerakan tangan Dilan mengelus jemariku. katanya "Doain apa?". kayaknya Lia gak belajar ah malam ini?". kata Dilan "Ih. kataku "Kalau ada yang mau ke kamu. kata Dilan dengan santai "He he he" "Apa ini pada ketawa gak ngajak-ngajak". kata Dilan "He he he kamu kan mau?". Aku masih duduk dengan Dilan di dapur. udah biasa kan? Banyak".dengan suara berbisik "Aku pengen ke dia". kata si Ibu. Ibu juga pergi ke sana bersama Airin. jawabku Bi Asih membawa minuman jahe ke ruang tamu. Gak usah diceritain" "Tapi aku gak mau ke dia".. Kedua tangannya masih memegang kedua . Lia".". serius".. udah biasa kan? Banyak. Perempuan gak suka ditanya". Kang Adi gak mau ke aku. sepertinya minuman jahe sudah siap disajikan "Bu. "Doain. kata Ibu "Iya". kataku "Kalau ada yang gak mau ke dia. tanya Dilan lagi "Ke.

Ibu manggil lagi "Iya. ajakku ke Dilan "Takut. Bentar". jawabku sambil senyum memandang matanya. Ibu manggil kami dari ruang tamu "Iya.". Lalu kami duduk bersama Airin. tapi yang ia bahas justeru malah soal Kang Adi. aku bingung.. demi Tuhan. tangannya masih memegang tanganku "Biar. bisik Dilan seperti orang merengek "Siap!".. Ibu dan kang Adi yang nampak bingung dia harus bagaimana. dan lalu dilepas sebelum sampai ke ruang tamu. Serius. "Ih! Katanya tadi mau?". Lia". padahal sungguh. sekarang giliran aku melindungimu he he he" "Jadi tenang". kata Dilan "Ha ha ha" Aku dan Dilan berlekas pergi dari dapur dengan tangan saling bergandengan. tanya Dilan berlagak seperti orang yang ketakutan. "Lindungi aku.tanganku. baru malam itu ia lakukan dan aku nyaris gak percaya. itu adalah hal biasa. Bu! Ke sana yuk?". kata Dilan "Dilan! Lia!". aku teriak menjawabnya "Gimana kalau kang Adi mau ke aku? Aku takut!". kata Dilan berbsisik. dengan isi kepala yang terus mikirin tangan Dilan yang masih megang tanganku "Udah berubah. "Liiiiiiaaaa". Sungguh. Dia lakukan dengan sikap seolah-olah baginya. Ini apa? Di saat tangannya begitu mesra memegang tanganku. kataku. Kedua tangannya masih mengelus dua tanganku. 68 . Bu. ada Kang Adi".

Air jahenya masih utuh karena belum diminum. nanti gak belajarbelajar he he he". kata Dilan "Ya belajar dong. karena ada Dilan. kataku "Kurang suka jahe". kata Airin "Eh. Dilan duduk di sofa yang ada di samping kiriku. katanya itu dari Bunda buat Dilan. jawab Airin "Ga apa-apa. tanya Dilan sambil memegang gelas dengan kedua tangannya "Iya. belajarnya libur dulu". Aku duduk dengan Airin di sofa yang panjang. Ibu yang ngangkat. Ayo. Tiap malam minggu". Lia gak belajar ah malam ini". jawab Kang Adi sambil membaca buku. tanya ibu "Malam ini aja". kataku ke Kang Adi. "Ibu ke dalam dulu ya". sambil menuangkan minuman jahe ke gelas "Irin juga". ikut belajar sama Adi". telepon rumah berdering. Dilan ke sana untuk ngobrol dengan Bunda di telepon. Itu adalah buku Novel yang dia pernah janji mau dikasihin ke aku "Ooh". kenapa?". ayo diminum jahenya"."Adi. kataku sambil mereguk minumanku . kata Ibu "Tiap malam minggu ya belajarnya?". Kang Adi duduk di sofa yang ada di sebelah kanan Airin. kata Kang Adi sambil masih juga baca bukunya. Tak lama dari itu. kata ibu sambil lalu dia pergi. Besok sore aja ya? Kang Adi besok santai kok". Kang". sambung Ibu ke Kang Adi "Iya". kata Kang Adi sambil dia beresin buku di atas meja itu "Ya udah. jawab Ibu "Kalau tiap malam minggu aku ke sini. kata Ibu. "Diminum. Di ruang tamu jadi cuma berempat."Kang. Malam ini.

jawab Airin "Ini novelnya". kata kang Adi sambil meraih buku di tanganku. Aku berusaha merhatiin bagian buku yang ditunjukkan oleh Kang Adi dengan badan yang kujaga untuk tidak mendekat kepadanya. Bersikap menjauh juga gak enak. "Oh. jawab Airin. tapi gak tahu harus gimana. kata Kang Adi "Iya". tanyaku sambil masih kulihat-lihat buku itu "Iya lah". "Kan cuma malam minggu. bisa kubaca. Sikap tubuhnya. Kang Adi bukan bermakusd ingin membuat Dilan panas. Kutolak gak enak. Kang". Asli. Dari tempat Dilan nelepon. dia bilang begitu. Beberapa detik setelah Airin pergi. Kang Adi pindah tempat duduknya. makasih. seolah-olah juga untukku. Kang Adi". tapi kurasa iya. kata Kang Adi. Mudah-mudahan. seperti orang yang ingin mendekat. aku merasa risih. kataku sambil kupandang buku itu "Bagus novelnya! Kang Adi sukanya novel-novel yang mikir gitu". yaitu di sampingku. kataku. menyerahkan novel itu ke aku sambil memandangku. "Jangan belajar terus ah. Aku merasa. Gak tiap hari". Airin". kata Kang Adi sambil menyimpan buku yang sedang ia baca. Ya sudah lah. Jawab Kang Adi "Kak. Pas bagian ini lucu". Tapi kurasa dia tahu. "Iya". kata Kang Adi "Bahasa Inggris?". meskipun tetap dalam sikapku yang santai. ke tempat di mana tadi Airin duduk. kata Airin sambil beranjak dari duduknya. dia ngomong ke aku sambil . Irin mau ke ibu dulu". "Ini deh."Haru semangat belajar.

. "Ha ha ha enggak" "Dasar! Jahe lagi? Tadi di rumah Bunda. Bunda pengen ke situ.. "Ha ha ha. "Tadi.. "Gimana aku?". Cantik" "He he he makasih" "Tahu gak. Mabuk jahe.. Si Bunda seperti orang yang kesel "Ha ha ha ha ha ha. Bunda kira. Kang". Dia itu yaaa!". Bunda". katanya Bunda ingin ngobrol sama aku. "Katanya lagi makan sate kelinci ya? Emang Lia suka ya?"... Pintar kamu.Bunda tadi nelepon he he he" jawabku senyum "Iya. tanya Dilan ketika berpapasan denganku "Gimana apa?". Sekarang jahe lagi" "Iya. "Hah? Ha ha ha ha ha enggak. Bunda".masih memegang gagang telepon. Bunda".. "Bentar ya. gak suka" . Kang Adi tidak menjawab... Dia masih membaca bagian buku yang katanya lucu. Dan Dilan kembali ke ruang tamu. Gengster kok minta dilindungi! Lawan sendiri!".." "Iya sini. Please" "Ha ha ha ha. Aku angkat telepon dan langsung kusapa Bunda: "Hei. beneran nyate kelinci". kenapa Bunda tahu ada Dilan di situ?"... "Karena. kataku pada Kang Adi sambil mulai berdiri dari duduk. Bunda! Dilan bilang gitu?" "Astagfirullahaladziiiiiiim. Jahe. "Lindungi aku. Liaaa. "Dia bilang lagi nyate kelinci". Bunda!!" "Hei. jawabku berbisik sambil berlalu. Cuma minum jahe.

Bunda. tadi Bunda telepn Dilan. Bunda". Bunda juga senang Dilan sukanya sama kamu" "Iya. "Iya. "Iya. Bunda sudah ngelahirin Dilan he he he". Biar tidur di sini he he he" "Itu. mendadak susah mau ngomong "Itu. kata Bunda "Oh? Siapa. tadi itu. Mau dimarah Bunda. Mana ada monyet judes". Bunda". kata Bunda "Ha ha ha ha ha! Gak punya Bunda" "Bilangnya gitu ke Bunda. Bunda?".. Makasih! Makasih sudah suka sama Dilan" kata Bunda pelan "Lia juga makasih. Memangnya kau punya monyet ya? Bunda kok gak lihat waktu ke situ?". Katanya mau ke Dilan". dia orang.. Jangan pulang. "Monyet apa? Gak punya monyet. aku gak tahu. ada tamu di rumah. kuajak "Pengen. Awas kalau dia pulang!". "Ha ha ha ha ha ha ha Mau bilang ah ke Dilan. Lia suka". Segala minta dilindungi sama kamu. dia!" "Bilang punya monyet? Ha ha ha". "Iya. . "Ga apa-apa."Sama laah" "Sini. "Ha ha ha ha ha ha ha ha ha" "Ngarang terus dia itu. suka ngarang kalau ngomong". "Ngarang lagi tuh dia!" "Dilan bilang ya?". Katanya judes. Katanya takut sama monyetnya". Lia juga suka". kata Bunda "Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha" "Iya! Masa sampai takut gitu".. akhirnya kubilang juga "Sama-sama.Bunda..

pengen di luar". "Masuk yu?". tanyaku "Ha ha ha ha ha" "Iya sih!". Dia seperti nahan jeritan. sambil melihat lengan tangannya "Langsung sembuh". yang sakit kalau disentuh "Gak ada!" "Tadi sih ada". kata Kang Adi "Bentar. aku ke ruang tamu. Aku ke sana dan duduk di sampingnya. kataku sambil kubuka pintu. Lengan tangannya dia tunjukkan "Mana?". Aku juga sama begitu. katanya." jawabnya. Tiba-tiba.."Ah! Siapa itu namanya? Oh. kutanya Kang Adi "Gak tau. "Mana Dilan. "Ha ha ha ha ha" "Aku tadi dicakarnya nih!". tak perlu lagi diungkap. ketika sudah saling mengerti. Anhar ya?" "Oh? Iya! Sendiri. kata Dilan. "Biarin atuh. kataku sambil kupegang tangannya "Aaahh!!!". seolah-olah benar luka. Tapi gak ada Dilan. tanyaku "Gak ada kamu. "Bertiga" Setelah beres dengan Bunda. memegang tangan kiriku. Takut" "Sama monyet?". Rupanya dia sedang duduk di bangku yang ada di bawah pohon jambu itu. Kang". Kang?".. sambil ia tatap mataku dan senyum. Dan itu. Hanya ada Kang Adi yang sedang baca buku. Aku pergi keluar. Bunda?". tangan kanannya.. "Kirain kemana?". senyuman yang mewakili kata-kata. kuajak Dilan sambil memandang matanya .

aku teriak dengan suara yang pelan. "Iya. melepas tanganku dan pergi "Heh?!". kata Dilan sambil beranjak dari duduknya. Kalau enggak kuajak. "Tanya ke dia!". "Mungkin ada perlu". Ngapain Anhar ke rumah?"."Iya" "Gak enak nganggurin monyet ha ha ha ha ha". Ga apa-apa" "Ngapain dia ke rumah?". tanyaku "Iya he he he" "Aku gak suka kamu nyerang-nyerang". "Kamu yang duluan! ha ha ha" kataku "Ha ha ha! Gak sengaja. Lia. Terlalu jujur". tanyaku. kutanya dia "Mungkin cuma main" "Aku ingin kamu jujur". tanya dia sambil memandang ke atas pohon jambu "Aku gak suka kamu nyerang-nyerang". bagai sedang . kataku sambil kupandang lagi dia "Iya. jawabnya sambil terus ia pegang tanganku "Aku gak suka Anhar". Enggak". "Kamu kemaren mau nyerang?" "Kan seharian sama kamu terus?". "Janji?". kataku "Jujur gimana?". "Iya. kataku "Aku ambil jambu dulu ya. katanya "Kubilang: Mau. Bentar. Janji" "Monyet suka jambu gak?" tanya dia memandangku. "Eh. Kamu pasti nyerang" "Monyet suka jambu gak?". tanya dia "Kamu denger aku gak?". kataku "Heh! Gak boleh gitu ah!". buat dia?". kataku seperti orang yang kesel "Bentar".

sambil terus berlalu dan dia buka pintu: "Kang. "Ha ha ha ha" "Mana tanganmu?". "Yang harus dilindungi itu Monyet". jawab Dilan "Ha ha ha ha ha ha. kataku seperti orang menjerit yang ditahan "Kirain suka".. Aku tebak. tanyaku pelaaan sekali "Nguk nguk nguk" "Ha ha ha ha ha! Apa artinya?". Kang". lagi ngambilin jambu. Dia jawab apa?". "Monyet sukanya pisang" "Ha ha ha ha ha ha. Kata Dilan sambil dia tutup pintu itu. Dilan mencari-cari tanganku "Kenapa?" "Mau megang lagi". Di sana. Dilan ikut "Lindungi ya. katanya. Ini. Lia". tanyaku "Jadi enggak deh". lalu duduk kembali denganku. "Aku duduk dari jauh ah. Heran".menahan dia pergi "Bentar" katanya. Gak boleh nganggurin orang". tanya Dilan ke Kang Adi sambil berdiri di pintu dengan tangan masih memegang handelnya.. tadi Kang Adi jawab:"Tidak" "Ngapaiiiiinnn heh??!!!! Hi hi hi". Kamu suka pisang?". kataku sambil berlalu untuk masuk. di dapur. "Oh. suka jambu?". kataku berbisik di .. sambil ia raih tanganku. "He he he" "Monyet kok dipanggil Akang. katanya sambil berdiri "Iya. kata Dilan bagai menggumam "Ha ha ha! Masuk yuk?" "Iya" "Ga enak.". Hayu!!".

ITU BARU SETENGAHNYA :) .kupingnya. "Ha ha ha ha" ------------------------------------------------------------------------------------------------BERSAMBUNG (LAGI).