You are on page 1of 268

c

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

ii

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Jurnal

Kumpulan 13 Artikel Terbaik Olimpiade Karya Tulis Ilmiah (OKTI) 2012

SKETSA

Edisi V

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Dewan Pengurus Pusat


Persatuan Pelajar Indonesia di Yaman 2011-2012
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Departemen Seni & Budaya

iii

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba
Kumpulan 13 artikel terbaik Olimpiade Karya Tulis Ilmiah (OKTI) 2012 plus Wacana Eksklusif Author: Muhlisin, Syaiful Arif Sudali, Zainal Fanani, Nuril Izza Muzakki, Muhammad Bejo, Maimoen Abdul Ghofur, Muhammad Taufiq Ahaz,Achmad Bakir, Muhammad Ufi Ishbar Naufal, Micdarul Chair el-Sharafi, Mursal Mina Muhammad, Mustofa bin Idrus al-Khirid,A.Y.M. Qolyubi. *** Pelindung Penanggungjawab Pimpinan Redaksi Sekretaris Redaksi Bendahara Reporter Editor Lay-Outer Desain Sampul Anggota Distributor *** Cetakan Pertama Cetakan Kedua *** Diterbitkan oleh: Depsenbud. DPP PPI Yaman Alamat : Naqsabandy Room, Sharea Faculty, Al-Ahgaff University, Tareem, Hadhramout,Yemen. Telp : + 967 734 653 587 Email : ppi.yemen@gmail.com, Homepage : http://www.ppiyemen.com *** Hak CiptaDPP PPI Yaman 2011-2012 : Agustus 2012 : April 2013 : Ketua Umum PPI Yaman 2011-2012 : Depsenbud DPP PPI Yaman : Pandi Yusron : Muhammad Taufiq : Mujiburrahman : Muh. Hafidz Anshory & Hamidi Harits : Faqih Ahmad & Dzul Fahmi : Ismail Sunni Muhammad : Alfin Mubarok : M.Yandi Sali & Amir Faqih Qadafi : Dept. Usaha dan Dana PPI Yaman

iv

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pedoman Transliterasi Arab-Latin


Huruf Konsonan

: B : T : Ts : J : : Kh : D : Dz : R

: Z : S : Sy : : : : :

: Q : K : L : M : N : W : H :

: Gh : F

: Y

Huruf Vokal Pendek

: a

. : I

: u

: /

Huruf Vokal Panjang


: / : /

Huruf Diftong

: aw

: ay

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Sambutan Ketua Umum PPI Yaman


Bismillahirrahmanirrahim Assalmualaykum Wr. Wb. Sebagai bangsa Indonesia yang menuntut ilmu di luar negeri, tentunya kita punya kepedulian terhadap pembangunan dan kemajuan bangsa. Jarak ribuan kilo tidak menghalangi dan tidak menyurutkan semangat kita sedikitpun untuk tetap berkontribusi, menyumbangkan apa yang bisa kita berikan. Paling tidak itu akan kita mulai dengan mengeksplorasi dan terus menggali kemampuan kita sendiri serta mendiagnosa diri kita masing-masing dalam bidang mana dan apa yang bisa kita sumbangkan untuk bangsa dan masyarakat. Bersama dengan terbitnya buku ini, kita telah bersama-sama menunjukkan kepada khalayak bahwa kita adalah masyarakat intelektual Indonesia yang punya kepedulian tinggi terhadap bangsa. Buku yang saat ini ada dihadapan Anda merupakan hasil ijtihad para intelektual mahasiswa dan pelajar Indonesia di Yaman dalam merespon problematika masyarakat modern yang kian kompeks. Saya menyambut dengan baik sekali atas terselenggaranya OKTI dan terbitnya jurnal Sketsa ini. Apresiasi sebesar-besarnya saya sampaikan kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia di Yaman yang menjadi mitra terbaik dalam menjalankan semua kegiatan mahasiswa Vi
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

dan pelajar, Departemen Seni dan Budaya PPI Yaman, Koordinator dan kru OKTI dan Jurnal Sketsa serta semua pihak yang telah bekerja keras demi terselenggaranya kegiatan OKTI dan terbitnya Jurnal Sketsa. Lebih dari itu semua, saya sangat mengapresiasi dan bangga sekali kepada Anda sekalian, para intelektual mahasiswa dan pelajar Indonesia di Yaman yang telah bersama-sama berkompetisi dalam OKTI demi mencapai sebuah konklusi ijtihad kontemporer untuk memberi solusi dan opini atas problematika kekinian. Akhirnya, saya berharap semoga kegiatan OKTI ini lebih diperluas skalanya sehingga semua masyarakat Indonesia di seantero dunia dapat bersama-sama berkompetisi dan berkontribusi dengan mahasiswa dan pelajar Indonesia di Yaman dalam berijtihad dan berkarya ilmiah untuk bangsa Indonesia. Lebih dari sekedar dipertahankan. Amin. Wassalmualaykum Wr. Wb.

Mukalla, 02 Ramadlan 1433 H / 21 Juli 2012 M Muhammad Birrul Alim


Ketua Umum PPI Yaman 2011-2012 email : muhammadbirrulalim@yahoo.co.id voice : 00967714565024 / 006285648652587

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

vii

Kata Pengantar KBRI Sanaa


Assalmualaykum Wr. Wb. Pertama-tama, saya mengucap syukur alamdulilLh atas rahmat dan izin-Nya masih diberi kesempatan membaca dan menikmati karya Anak Bangsa yang sedang menuntut ilmu di Yaman yang terpilih masuk dalam Olimpiade Karya Tulis Ilmiah (OKTI) diselenggarakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Yaman tahun 2012. Upaya mulia PPI Yaman atas terselenggarakannya OKTI tersebut dan akan diterbitkannya Jurnal Sketsa Edisi-V tahun 2012 ini patut mendapat penghargaan yang tinggi. Pelaksanaan OKTI dan penerbitan Jurnal Sketsa Edisi-V merupakan sarana melatih kemampuan menulis dan sekaligus wadah dalam pengampaian pesan amar makruf nahi mungkar kepada pembacanya. Pemikiran-pemikiran yang konstruktif dapat disebarluaskan melalui tulisan dimaksud. Di tengah-tengah perubahan dan perkembangan dunia yang begitu pesat, pemikiran-pemikiran Islam dihadapkan pada suatu tantangan untuk istiqmah atau larut dalam perubahan. Terkait dengan hal ini, para mahasiswa Indonesia di Yaman memiliki peran sebagai agen perubahan sekaligus benteng pelestarian kaidah-kaidah ajaran Islam. Melalui jurnal ini, mahasiswa Indonesia di Yaman melatih diri menyampaikan pemikiran-pemikiran yang Islami dalam menghadapi perubahan dan perkembangan dunia tersebut, sehingga sekembalinya dari Yaman, mereka diharapkan telah siap menyebarluaskan ajaran Islam sesuai dengan sunnah Rasulullah kepada masyarakat Indonesia yang majemuk. Tiga tema besar yang diusung sesuai dengan Viii
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

permasalahan yang berkembang dewasa ini, yaitu pertama: Tantangan dan Peran Pelajar Timur Tengah serta Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia kiranya menjadi suatu tema yang mendorong pelajar Indonesia di Yaman memformulasikan tantangan yang dihadapi, peran yang dapat diambil dan kontribusi apa yang dapat diberikan dalam perubahan dan pembangunan Indonesia sekarang dan di masa depan. Tema berikutnya adalah Kontekstualisasi Konsep Jihad. Topik ini sejalan pula dengan dinamika yang berkembang. Ada kebutuhan untuk mengembalikan pemahaman konsep jihad ke jalur yang benar dan sesuai untuk diterapkan di Indonesia. Hal itu dapat menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa Indonesia di Yaman bagi bangsa Indonesia sekaligus menjawab tema pertama di atas. Sudah sepantasnya bagi kaum Muslimin melakukan jihd f sablilLh namun tidak keluar dari konteks Islam sebagai agama ramatan li al-lamn. Tema terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah Membina Moralitas Bangsa. Jika kita ikuti berita di media massa baik elektronik maupun cetak, kita ketahui adanya kecenderungan moralitas Anak Bangsa Indonesia mengalami kemerosotan. Moralitas bangsa menjadi benteng utama dalam menghadapi perubahan zaman. Sebagai bangsa yang mayoritas berpenduduk Muslim dan sekaligus berpenduduk Muslim terbesar di dunia bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama moralitas bangsa kita dapat saja terus tergerus manakala kita tidak sungguh-sungguh dan terus menerus menjaga serta membina akhlk al-karmah. Demikian, selamat atas karya mahasiswa/pelajar Indonesia di Yaman. terus maju dan maju!. Wassalmualaykum Wr. Wb.

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

ix

Pendahuluan
BismilLh, alamdulilLh Bahana irama syukur terpujikan kepada Allah, yang menitahkan kebaikan kepada manusia melalui kalam-Nya nan suci, yang memilih umat Muhammad sebagai sebaik-baik umat penghuni bumi. Gema solawat dan sanjungan salam selalu tertuju ke haribaan Nabi; insan sempurna yang dipuji; insan sempurna yang dikasihi; Sang pengibar panji risalah samawi. Sejak awal kemunculannya, dakwah Islam yang menjadi misi Nabi Muhammad Saw. tak pernah kosong dari banyaknya tantangan yang dihadapi. Pada era Mekkah, di mana pewahyuan al-Quran masih memfokuskan pada penanaman tauhid, kaum kafir Mekkah sudah banyak sekali melakukan upaya-upaya untuk menentang dan merintangi dakwah beliau. Selanjutnya, setelah beliau berhasil memproklamirkan Negara Madinah, di mana pewahyuan alQuran telah banyak mengatur sistem ibadah, muamalah, pidana, perdata, dan perangkat sistem madani, dan lain sebagainya, tantangan baru kembali deras bergenderang, baik dari internal masyarakat Madinah seperti fitnah dan stereotype yang disebarkan kaum Munfiqn, dan gangguangangguan eksternal lain yang terus mengancam eksistensi keberagamaan umat Islam kala itu. Tantangan-tantangan itu terus menyeruak hingga pascawafat Rasulullah Saw. Memanasnya politik yang terjadi pada tubuh pemerintahan Islam, yang mulai bergejolak sejak periode khalifah Utsman seakan menjadi petanda akan datangnya tantangan yang lebih besar. Gejolak politik itu kemudian meledak begitu dahsyatnya pada masa khalifah Ali

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

yang berimbas perpecahan umat Islam, yang akhirnya terus mengkronis sampai era sekarang. Seolah peristiwa tersebut menjadi simbol rivalitas antar Muslimin yang tersekat berbagai kepentingan. Disusul lagi mulai bersentuhannya filsafat Yunani dan peradaban kuno lainnya pada masa Umawiyah yang tak kalah dahsyat "mengganggu" pola pikir keberagamaan umat Islam. Juga berkobarnya perang salib dan seterusnya yang menjalar ke era kekinian, yakni penjajahan berdarah oleh negara adidaya Barat terhadap negara-negara mayoritas Muslim, seperti Irak, Palestina, Afghanistan, Pakistan dan lainnya, dan juga penjajahan pemikiran dan budaya yang justru lebih berbahaya dari sekedar ledakan bom atom. Kesemua tantangan dan problematika itu tak pelak mewariskan kemunduran dan kemiskinan yang luar biasa pada tubuh umat Islam. Sehingga, tak heran jika hal itu menyulut kemarahan sebagian Muslim yang tak terkendalikan. Telinga mereka menjadi garang saat mendengar kata "Barat" ataupun "Amerika", seolah adalah virus yang harus segera dimusnahkan. Dan sebagai pintas perlawanan, akhirnya, aksi teror pun mereka halalkan demi memusnahkan virus itu dan demi jihad menegakkan panji iman, menurut mereka. Dari sekilas ilustrasi di atas, setidaknya memberikan kesadaran kepada kita betapa hidup tak bisa maksum dari tantangan dan problematika. Terkhusus dalam kehidupan beragama. Sebagai masyarakat civitas akademika yang memilih belajar di Bumi Saba, tantangan dan tekanan yang menimpa terasa begitu besar. Mulai dari asumsi sebagian masyarakat yang kerap memandang sipit Anak Bangsa yang belajar di Yaman tersebab virus terorisme yang memang sebagiannya bersarang di sebagian kecil Negeri Yaman, sampai pada virus radikalisme yang dikhawatirkan akan menjangkit nalar pikir mereka. Sejumlah masyarakat bahkan beranggapan bahwa Anak Bangsa yang menimba ilmu di Yaman dapat berpotensi menjadi "bom waktu" bagi xi

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Nusantara Indonesia. Tentunya semua itu tidak sepenuhnya benar!!. Karena, betapa Indonesia berhutang budi kepada Yaman tersebab telah menjadi bangsa bermayoritas Muslim atas jasa Wali Songo yang ternyata berasal dari sana. Ya!, Wali Songo yang terkenal arif dan bijaksana dalam berdakwah adalah berasal dari Yaman, lebih spesifiknya Hadhramout. Oleh karenanya, demi menepis tantangan-tantangan tersebut, kami Depsenbud PPI Yaman menyuguhkan Jurnal Sketsa edisi-V, dengan harapan semoga dapat menjadi salah satu media terbaik untuk melayangkan dan memperkenalkan "Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba" kepada khalayak luas yang merupakan spirit jurnal kali ini. Setidaknya, jurnal ini dapat menjadi penyeimbang media massa dalam memberitakan kondisi pemikiran Anak Bangsa di Yaman, dan tentunya dapat menjadi sketsa khazanah keilmuan mereka di sana. Dalam Jurnal Sketsa edisi-V ini, kami menyajikan tiga tema besar yang merupakan bahasan menarik era kekinian, yaitu "Tantangan dan Peran Pelajar Timur Tengah, serta Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia", "Kontekstualisasi Konsep Jihad", dan "Membina Moralitas Bangsa". Tiga belas artikel yang menghiasi lembaran jurnal ini merupakan artikelartikel terbaik dalam Olimpiade Karya Tulis Ilmiah (OKTI) 2012 yang diselenggarakan oleh PPI Yaman bekerja sama dengan KBRI Sana'a. Tema pertama yang merupakan bagian pertama jurnal ini sangatlah menarik untuk diungkap, disimak, dikaji dan dikritisi mengenai apakah yang menjadi tantangan Anak Bangsa yang belajar di Timur Tengah dalam masa studinya dan dalam berkiprah di tengah masyarakat nanti? Kemudian, peran-peran riil apakah yang selama ini mereka wujudkan? Dan seberapa besar kepedulian mereka terhadap pembangunan Bangsa Indonesia yang mereka tuangkan dalam bentuk kontribusi nyata?. Bahasan ini semakin menarik xii
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

dengan diperkaya wacana eksklusif: wawancara dengan Anggota Komisi I DPR RI, Ir. H. Muhammad Najib, M.Sc., yang kami sajikan di penghujung jurnal. Tema kedua tak kalah heboh dan atraktif serta krusial. Pantas, jika artikel yang mengulas tema ini, dengan pendekatan-pendekatan yang variatif, lebih mendominasi lembaran-lembaran jurnal ini. Tentu tak heran jika demikian, mengingat, dunia sampai detik ini masih disibukkan oleh "perdebatan abadi" mengenai jihad dalam Islam, terutama dalam kaitannya dengan terorisme dan radikalisme yang kian meramai. Faktanya, tak jarang sebagian kelompok tega mengatasnamakan agama demi kepentingan tertentu, mempolitisir teks suci dan lain-lain. Padahal, yang namanya keyakinan hati (baca: iman) tak mungkin bisa dipaksakan dengan dahsyatnya letusan bom!!. Oleh sebab itu, kita perlu tahu bagaimana implementasi jihad yang relevan dalam konteks kekinian, dan apakah terorisme yang akhir-akhir ini begitu meramai dan meresahkan "kekalutan" nusantara dapat dibenarkan dalam Islam?. Tema ini semakin lengkap dan spektakuler dengan disuguhkannya wacana eksklusif: wawancara dengan Dekan Fakultas Syariah wa al-Qanun Universitas Al-Ahgaff Yaman, Dr. Sayyid Muhammad Abdul Qadir al-Idrus, yang kami sajikan di bagian akhir jurnal. Berikutnya, tema ketiga yang tak boleh terlewatkan dan tak pelak urgennya, yaitu Membina Moralitas Bangsa. Sengaja kami sajikan tema ini, karena melihat kondisi negeri yang kian terjerembab dalam dekadensi moral. Krisis moral dengan berbagai coraknya begitu dahsyat menggempur pertahanan kearifan nusantara, melumpuhkan sendi-sendi kesantunan bumi pertiwi, dan mencederai tatanan pembangunan nasional di berbagai bidang. Tentunya ini sangat membutuhkan solusi terbaik dan penanganan serius. Sebab, moralitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tak boleh diabaikan, ia harus selalu mendapat perhatian khusus demi terciptanya negara yang
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

xiii

berperadaban tinggi. Melalui jurnal ini, sahabat-sahabat PPI Yaman mencoba menyuguhkan secercah tawaran untuk menangani krisis moral tersebut. Walaupun masih dalam konsep yang sederhana, namun setidaknya dapat menjadi semilir angin segar bagi yang menginginkan kebaikan bangsanya. Ketiga tema tersebut adalah the first step kami dalam membendung tantangan-tantangan yang ada, dan merupakan sebongkah kado kami dalam berkontribusi menyumbangkan fikrah segar untuk menjawab secuil dari segunung permasalahan yang sedang meramai di Bumi Indonesia, terkhusus isu radikalisme, terorisme, dan krisis moral. Kami akui, sajian jurnal ini masih terbilang sederhana, namun kami percaya akan sedikit menghempaskan angin segar kepada nusantara tercinta. Tentunya, kami tetap mengharapkan adanya kajian secara lebih luas dan mendalam oleh para sarjana yang membaca ulasan-ulasan dalam jurnal ini, agar maksud dan tujuan kami menjawab persoalan bangsa dan memperkaya khazanah ilmu keislaman dapat terealisasikan. Dan juga, saran dan kritik konstruktif selalu kami harapkan untuk mewujudkan budaya dialektis, kedewasaan dan kemajuan berpikir. Akhirnya, Tim Redaksi berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terbitnya jurnal ini, terkhusus, ucapan terima kasih dan apresiasi tak terhingga teruntuk pihak KBRI Sana'a. "Dari sketsa menuju dunia nyata!". Semoga bermanfaat. Selamat membaca! Tarim, 6 Juni 2012 Pandi Yusron Pemred Jurnal Sketsa

xiv

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

DAFTAR ISI
Pedoman Transliterasi ........................................................... v Sambutan Ketua Umum PPI Yaman ..................................... vi Kata Pengantar KBRI Sanaa ............................................. viii Pendahuluan .......................................................................... x Daftar Isi ................................................................................ xv

BAGIAN PERTAMA:
Tantangan dan Peran Pelajar Timur Tengah, serta Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia
Pelajar Timur Tengah: Tantangan, Peran, dan Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia Oleh: Muhlisin ........................................................................ 02 Optimalisasi Potensi Pelajar di Timur Tengah Oleh: Saiful Arif Sudali ....................................................... 17

BAGIAN KEDUA:
Kontekstualisasi Konsep Jihad
Jihad Dengan Metode Dakwah: Sebuah Upaya Implementasi Konsep Jihad Oleh: Zainal Fanani .............................................................. 34

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

xv

. Ideologi Jihad Moderat: Antara Pedang dan Burhan Oleh: Nuril Izza Muzakky ...................................................... 55 Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam Oleh: Mohamad Bejo ............................................................. 70 Tafsir Jihad Oleh: Maimoen Abdul Ghofur .............................................. 97 Terorisme Berlabel Jihad? Membongkar Radikalisasi Konsep Jihad dalam Konteks Global Oleh: Muhammad Taufiq Hamid .........................................105 Makna Jihad dalam Islam dan Implementasinya Oleh: Achmad Bakir ............................................................. 121

BAGIAN KETIGA:
Membina Moralitas Bangsa
Pancasila Dalam Perspektif al-Quran: Menilik dan Mengukur Nalar Pancasila dalam Perspektif Al-Qur'an Oleh: Muhammad Ufi Ishbar Naufal ..................................137 Pornografi, Dekadensi Moralitas Bangsa Oleh: Micdarul Chair El-Sharafy ........................................156 Mendeteksi Solusi di balik Krisis Moralitas Bangsa Oleh: Mursal Mina Muhammad ......................................... 178

xvi

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Membina Moralitas Bangsa dengan Manhaj Salaf alli Oleh: Mustafa bin Idrus al-Khirid ...................................... 192 The Gigantic Power of Human Morality: Rekonstruksi Ringan Moral Agung Sang Teladan Oleh: A. Y. M. Qolyubi ........................................................ 206

WACANA EKSKLUSIF
Wawancara Anggota Komisi 1 DPR RI, Ir. H. Muhammad Najib, M.Sc. "Tantangan dan Peran Pelajar Timur Tengah, serta Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia" .................... 220 Wawancara Dekan Fakultas Syari'ah wa al-Qanun Universitas Al-Ahgaff Yaman, Dr. Sayyid Muhammad Abdul Qadir al-Idrus. "Falsafah Jihad Moderat dan Hakikat Terorisme" ........ 229

Biografi Penulis ............................................................... 241

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

xvii

xviii

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Jurnal

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

SKETSA
Bagian Pertama

Edisi V

Tantangan dan Peran Pelajar Timur Tengah, serta Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia

p p

Pelajar Timur Tengah: Tantangan, Peran, dan Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia Optimalisasi Potensi Pelajar di Timur Tengah

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

01

Pelajar Timur Tengah:


Tantangan, Peran, & Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia
Oleh: Muhlisin

Ditinjau dari

segi pemikiran, Timur Tengah mempunyai

beraneka ragam kelebihan. Negara Yaman misalnya, terkenal dengan tokoh alumnus ahli fikih dan sufisme, Mesir sebagai ladang pencetak ulama tafsir yang berwawasan modern, Suriah terkenal sebagai pencetak ahli ekonomi Islam, dan Arab Saudi yang terkenal sebagai pencetak ulama hadis. Dari beberapa kelebihan diatas, peluang bagi alumnus Timur Tengah untuk dapat memberi pengaruh bagi perkembangan peradaban Islam di Indonesia begitu terbuka lebar, bahkan dapat kita lihat dengan bukti-bukti yang telah ada. Salah satunya adalah fakta bahwa ajaran-ajaran Islam yang beraneka ragam yang diajarkan oleh alumnus Timur Tengah dapat diterima dan berkembang sesuai dengan denyut nadi kehidupan Bangsa Indonesia. *****

02

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pelajar Timur Tengah: Tantangan, Peran, dan Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia

BAB I PENDAHULUAN
Timur Tengah tak asing terdengar di telinga kita. Daratan yang identik dengan bahasa Arab sebagai sarana dialog utamanya, daratan yang dipenuhi dengan keberkahan di mana beribu-ribu Anbiy diturunkan untuk mengenalkan manusia kepada Yang Maha Kuasa. Tak hanya itu, Timur Tengah juga dikenal sebagai pusat peradaban Islam yang sangat kental dengan ajaran-ajaran religius samawi seperti di daratan Iraq, Iran, Mesir, Yaman, dan negara lainnya. Maka tak heran apabila dengan kelebihan yang dimiliki, Timur Tengah sempat menyedot perhatian penduduk negara Asia Tenggara termasuk Indonesia - bahkan sampai ke Eropa, untuk mengirimkan ribuan pelajarnya dalam rangka menimba ilmu keislaman. Zaman semakin bergulir, beratus bahkan beribu-ribu lulusan dari beberapa universitas dan madrasah di Timur Tengah telah ada ditengah masyarakat. Namun ironisnya, seiring semakin menuanya zaman diiringi dengan munculnya beberapa isu sempat mencoreng nama baik alumnus Timur Tengah, bahkan sempat membuat masyarakat merasa waspada. Isu itu tak lain adalah terkait memanasnya stigma negatif yang terlanjur mengakar, bahwa Timur Tengah adalah sumber embrio pemikiran radikal, teroris, dan lain sebagainya. Anggapan tersebut terasa kental menyatu dalam benak mereka. Ditambah lagi munculnya isu internal yang sempat menghebohkan negara lain sebagaimana yang sekarang masih memanas, yaitu reformasi besar-besaran untuk menurunkan kepemimpinan seperti di Yaman untuk menurunkan rezim Ali Abdullah Saleh, Mesir untuk menurunkan rezim Husni Mubarok, Libya yang berujung pada berakhirnya usia Muammar Khadafi secara tragis, dan sekarang di Suriah yang hingga saat ini masih memanas dan tak kunjung usai.
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

03

Pelajar Timur Tengah: Tantangan, Peran, dan Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia

Belum lagi problem yang berhubungan dengan keyakinan dan pemikiran, yang ditandai dengan munculnya paham hegemoni kebenaran yang menjadikan takfr sebagai senjata utama untuk menilai amalan seseorang yang tidak sepaham, kesemuanya itu seakan turut menjadi pelengkap dari pelbagai macam problematika yang dihadapi Bangsa Indonesia saat ini. Di lain sisi, beberapa bukti sejarah telah membuktikan bahwa lulusan Timur Tengah memberi warna cerah kepada Negara Indonesia; bukti-bukti itu tak dapat dipungkiri karena telah nyata muncul di depan kita. Contoh riil adalah kokohnya Nahdhatul Ulama yang didirikan oleh KH. Hasyim Asyari yang saat ini menjadi organisasi Islam terbesar, dan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam terbesar kedua yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan dan KH. Zainudin, pendiri Nahdlatul Wathon yang berkembang di Lombok dan sekitarnya, serta Ulama lain yang sempat mendapatkan penghargaan dari negara sebagai pahlawan revolusi, bahkan ada yang pernah menjabat sebagai Presiden ke-4 Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid, yang juga dikenal sebagai tokoh agama dan tokoh politikus yang cerdik dan humoris. Dari beberapa isu yang sudah penulis singgung dan seklumit bukti yang telah penulis tuturkan, pertanyaannya adalah, bisakah sekarang para pelajar Timur Tengah menjawab dan menanggulangi masalah tersebut?, dan bagaimana solusi dan cara mereka agar dapat berperan di masyararakat secara baik?, dan dapatkah mereka mengembalikan lagi kejayaan yang telah ada serta mampukah memberi kontribusi nyata kepada masyarakat dan negara?. Dalam tulisan ini, penulis akan mencoba menelisik jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut secara rasional dengan menghadirkan beberapa bukti yang berhasil penulis ungkap. 04

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pelajar Timur Tengah: Tantangan, Peran, dan Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia

Pembahasan dalam artikel ini terdiri dari tiga pembahasan inti dan beberapa sub pembahasan sebagai berikut: Kelebihan Timur Tengah dan sejauh mana pentingnya belajar di Timur Tengah. Tantangantantangan yang harus dihadapi dan langkah penanggulangannya. Pembahasan ini sangat penting, bagaikan orang yang sedang berusaha mengobati pasien, maka dia harus tahu terlebih dahulu apa sebenarnya penyakit yang dideritanya, dan bagaimana cara mengobatinya, serta berapa kadar diagnosanya sehingga berbuah kesembuhan yang maksimal. Kontribusi pelajar Timur Tengah kepada Bangsa Indonesia dan masyarakat. Penulis memilih pembahasan ini karena melihat Negara Indonesia yang mayoritas beragama Islam, bahkan termasuk pemeluk Islam terbanyak di muka bumi, ini memiliki potensi yang tidak sederhana. Apabila mereka bangkit, dan pelajar Timur Tengah mampu menerapkan ilmunya secara baik, maka tak mustahil dunia ini akan berubah membaik, Islam akan berjaya dengan sebab usaha orang-orang Indonesia dan pelajar Timur Tengah menjadi lebih yakin dan mampu untuk mengembangkan ajaran Islam yang dapat di terima oleh khalayak ramai. Dengan mengharap rida Allah Swt. semoga tulisan tulisan ini mampu manjadi motivasi dan penyemangat pada diri pelajar Timur Tengah dan menambah cakrawala ilmiah, serta bisa menjadi batu loncatan pemikiran yang lebih maju dan beradab. *****

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

05

Pelajar Timur Tengah: Tantangan, Peran, dan Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia

BAB II PEMBAHASAN
A. Keutamaan Timur Tengah dan Urgensi Belajar ke Timur Tengah Timur Tengah merupakan wilayah politis di bagian benua Asia-Afrika, Eusania, dan daratan Laut Meditaria sampai ke Teluk Persia yang membentang perbatasan Pakistan. Negaranegara yang termasuk dalam cakupannya antara lain Mesir, Yaman, Suriah, Libya, Iraq, Iran, Lebanon dan lain-lain. Bahasa yang digunakan terdiri dari beberapa bahasa, di antaranya bahasa Kurdi, Persi, Arab, Turki dan kebanyakan bahasa yang digunakan adalah Bahasa Arab sebagai bahasa resmi kenegaraan sekaligus sebagai bahasa studi bagi pelajar-pelajar asing yang belajar di Timur Tengah. Bahasa Arab terkenal dengan bahasa surga dan bahasa alQuran sebagaimana firman Allah SWT, Inn anzaln qurnan Arabiyyan laallakum taqiln, artinya Sesungguhnya Kami telah menurunkannya berupa al-Quran dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya. (QS. Ysuf: 2). Kelebihan lain yang dimiliki Timur Tengah adalah daratan tersebut merupakan distrik tempat diturunkannya beriburibu Anbiy. Seperti di negara Yaman tepatnya di Hadhramaut, diutus Nabi Hud yang berdakwah kepada kaum Ad, Mekkah sebagai sentral pembentukan kota yang penuh sejarah, dan Basrah, Iraq sebagai peradaban yang tinggi sekaligus pusat kegiatan ilmiah. Tempat ini juga populer dengan madzhab rayi yang mengusung spirit rasionalis untuk mengembangkan turats Islami. Ditinjau dari segi pemikiran, Timur Tengah mempunyai beraneka ragam kelebihan. Negara Yaman misalnya, terkenal dengan tokoh alumnus ahli fikih dan sufisme, Mesir sebagai ladang pencetak ulama tafsir yang 06
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pelajar Timur Tengah: Tantangan, Peran, dan Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia

berwawasan modern, Suriah terkenal sebagai pencetak ahli ekonomi Islam, dan Arab Saudi yang terkenal sebagai pencetak ulama hadis. Dari beberapa kelebihan diatas, peluang bagi alumnus Timur Tengah untuk dapat memberi pengaruh bagi perkembangan peradaban Islam di Indonesia begitu terbuka lebar, bahkan dapat kita lihat dengan buktibukti yang telah ada. Salah satunya adalah fakta bahwa ajaran-ajaran Islam yang beraneka ragam yang diajarkan oleh alumnus Timur Tengah dapat diterima dan berkembang sesuai dengan denyut nadi kehidupan Bangsa Indonesia. Hal lain yang tak bisa diabaikan, bahwa nilai lebih yang dimiliki alumnus Timur Tengah adalah karena mereka mengambil pemahaman Islam langsung dari sumber aslinya dengan berbekal pengalaman serta modal utama berbahasa Arab. Tentu saja, orang yang melihat langsung akan berbeda kesannya dengan orang yang hanya mendengar, sebagaimana bunyi hadis, Man ra laysa ka man samia, artinya, Orang yang melihat langsung tak sama dengan orang yang mendengar. (HR. Al-Bukhriy). Orang yang melihat langsung akan dapat memvisualisasikan dengan lebih sempurna dibanding dengan orang yang cuma mendengar dari cerita.

Sehingga Timur Tengah merupakan tempat berlabuh yang tepat bagi siapa saja yang ingin menimba ilmu keislaman, khususnya para pelajar Indonesia yang mengenyam pendidikannya di pesantren ataupun madrasah, demi kelangsungan perkembangan Islam di Indonesia.

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

07

Pelajar Timur Tengah: Tantangan, Peran, dan Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia

B. TantanganTantangan yang Dihadapi dan Langkah Penanggulangnya Orang yang hidup di dunia tak akan lepas dari tantangan dan cobaan. Namun pada setiap cobaan dan rintangan, pasti Allah Swt. akan memberi jalan keluarnya, Inn Maa al-Usri Yusran, artinya Pada setiap kesempitan pasti ada kemudahan. (QS. Al-Syar: 5). Tantangan yang muncul bagi alumnus Timur Tengah sangat beraneka ragam, penulis akan menyebutkan beberapa tantangan yang sedang terjadi dan yang akan dihadapi beserta langkah solutif penyelesaiannya. Tantangan awal bagi alumnus Timur Tengah adalah munculnya asumsi masyarakat bahwa alumnus Timur Tengah berpotensi menjadi sumber munculnya terorisme dengan dalih maraknya pengeboman yang terjadi di beberapa dekade terakhir. Hal ini berakibat mereka merasa was-was dan lebih menjauh. Sebenarnya anggapan ini perlu kita kaji ulang secara mendalam dan objektif, benarkah dakwaan ini ataukah hanya sekedar berita angin yang tak ada terbukti, atau justru hanya sebuah teka-teki belaka yang tak kunjung ada jawabannya. Tapi terlepas akan adanya hal itu, tetap saja asumsi tersebut sudah melekat kuat serta cukup menghegemoni pemikiran mereka. Ironisnya, stigma terorisme yang melekat pada alumnus Timur Tengah menjangkit kalangan aparat pemerintah Indonesia. Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya perhatian dan kewaspadaan khusus dari kalangan mereka kepada alumnus Timur Tengah dan para pelajar yang masih belajar disana. Menurut penulis, permasalahan ini dapat kita selesaikan dengan beberapa hal: Pertama , tuduhan itu dapat diatasi dengan pembuktian jati diri dari alumnus Timur Tengah kepada masyarakat dan bangsa dengan mengamalkan Islam secara baik dan merealisasikan ajaran-ajarannya yang 08
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pelajar Timur Tengah: Tantangan, Peran, dan Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia

bertentangan dengan terorisme, anti-radikal, atau dalam artian Islam yang relevan dan dapat diterima masyarakat dengan tidak menerjang nilai kesuciannya. Kita bisa ambil contoh dari apa yang telah diperbuat nabi agung kita, baginda Muhammmad Saw., di mana pada awal beliau berdakwah menyampaikan agama Allah Swt. beberapa tudingan bermunculan. Ada yang mengatakan beliau orang gila, orang yang terkena sihir, ahli sihir, pembohong dan lain sebagainya. Namun semua dakwaaan yang dilontarkan kepada beliau dijawab tuntas dengan perilaku yang mulia dan pembuktian akan kebatilan dakwaan itu. Begitu pula alumnus Timur Tengah, dakwaan terorisme dan dakwaan bahwa Timur Tengah adalah embrio pemikiran radikal akan terjawab dengan perilaku yang menampakkan sikap antiterorisme dan anti-radikalisme. Kedua, munculnya asumsi yang menghegemoni masyarakat itu tak lepas dari pemberitaan media yang cepat sekali merambah. Dengan tanpa bermaksud menyalahkan, terkadang masyarakat dan pemerintah menerima langsung berita tersebut tanpa ada klarifikasi apa yang sebenarnya terjadi. Maka langkah solutif dari semua itu tak lain adalah dengan meminta kepada media untuk melihat langsung dan meminta mereka memberitakan hal yang sebenarnya terjadi. Hal ini bisa terealisasi dengan cara melobi alumnus yang berpengaruh dan yang sudah punya nama di mata media untuk mengonter pemberitaan itu, atau dengan penanggulangan berita terorisme dan dakwaan yang lain dari organisasi berbasis Nasional seperti Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) atau Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di negara yang bersangkutan. Kegiatan observasi dan pembuktian bahwa berita akan adanya terorisme perlu dikaji ulang sangat penting dilakukan, sehingga tidak menimbulkan berita yang simpang siur di kalangan masyarakat. Langkah lain yang dapat dilakukan pada diri pelajar adalah dengan cara selektif dalam memilih suatu madrasah 09

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pelajar Timur Tengah: Tantangan, Peran, dan Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia

dan universitas yang akan dia jadikan sebagai tempat mengkaji ilmu. Ini sangat berpengaruh kepada akidah dan pemahaman pada diri pelajar Timur Tengah. Dalam ungkapan Arab diterangkan Al-raa yuritsu al-tiba, artinya, "Seseorang akan mewarisi sifat ibu yang menyusuinya". Dari ungkapan ini dapat diambil kesimpulan bahwa pelajar akan memahami teks-teks agama dari madrasah dan universitas yang ia tempati. Apabila dia belajar di suatu lembaga yang berorientasi memberikan kepahaman tentang jihad yang bersifat perang, serta identik dengan tindakan radikal, seperti pemahaman di mana ada orang kafir maka disitu wajib diperangi, dan negara yang tidak berdasarkan hukum Islam tidak wajib ditaati serta beberapa interpretasi destruktif lainnya, maka bisa dipastikan pemahaman tersebut akan memberi pengaruh besar kepada mereka terhadap aplikasi pengamalan dan penyampaian ajaran agama Islam. Tantangan yang kedua, adalah degradasi drastis pelajar Timur Tengah dalam menghasilkan karya tulis serta berkurangnya kualitas pelajar Timur Tengah secara umum. Degradasi penulisan karya ilmiah dari alumnus Timur Tengah memang menjadi problematika di akhir-akhir ini sehingga kurang mampu berkompetisi dengan alumnus dari pelajar selain Timur Tengah. Berkurangnya kualitas disebabkan karena pelajar Timur Tengah kurang berminat untuk bergelut dalam dunia jurnalistik dalam kancah tulis menulis. Meskipun tak dapat dipungkiri bahwa masih ada beberapa alumnus Timur Tengah yang karyanya mencuat di dunia seperti Prof. DR. KH. Said Aqil Siroj, Dr. Quraisy Syihab dengan tafsir Misbah, dan segudang karya puisi Gus Mus, dan terjemahan pelbagai kitab, namun tentu saja hal itu masih tidak sebanding apabila dibandingkan dengan hasil karya terdahulu; sebut saja Imam Nawawi Al-Banteni dengan beratus karangan-karangan beliau mulai Tafsr al-Munr, Nai al-Ibd, Nihyah al-Zayn dan kitab-kitab lain 10
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pelajar Timur Tengah: Tantangan, Peran, dan Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia

yang dikaji di kalangan pesantren seperti Qami Tughyan. Selain itu, dari tanah Sumatera juga muncul Syaikh Yasin AlFadani dengan Fawid Jinniyyah yang diakui dan dirujuk Ulama dunia, dan juga Syaikh Mahfudz At-Turmusi yang mempunyai beberapa kitab kitab komentar seperti syiyah al-Minhj, arqah al-ul al Ghyah al-Wul, dan karyakarya lainnya. Masalah dan tantangan diatas dapat ditanggulangi dengan cara meningkatkan kualitas pada diri pelajar Timur Tengah dalam hal mengasah potensi intelektual baik berupa tulisan atau yang lainnya, dan menyiapkan diri untuk siap berkompetisi dengan pelajar yang selain lulusan Timur Tengah. Dalam hal ini, para senior bertindak sebagai motivator dibawah naungan Departemen Pendidikan Indonesia untuk bekerja sama, mengingat pelajar Timur Tengah jumlahnya tak sedikit. Dengan demikian, minimal kita bisa mencoba meniru mereka. M l yudraku kulluh, l yutraku kulluh; sesuatu yang tak dapat dicapai semua, maka jangan ditinggalkan semua". Tantangan yang ketiga adalah perubahan zaman, sehingga timbul masalah baru yang menuntut pelajar untuk bersikap tangkas dan cerdas dalam memahami masalahmasalah yang berkembang. Tantangan ini tak dapat dipungkiri karena zaman selalu berotasi, yang pastinya akan memberi pengaruh kepada problematika baru yang muncul dan memerlukan jawaban yang hikmah dan tepat. Jika dulu pembahasan hanya berkisar pada masalah barter dan jual beli langsung, maka sekarang mulai meluas dengan adanya internet sebagai alat untuk bertransaksi seperti akad salam via internet, bursa efek, dan lain-lain yang menuntut pelajar Timur Tengah harus memperluas cakrawala intelektualnya untuk menelaah lebih jauh problematika yang sedang berkembang, serta berusaha mengembangkan teks al-Quran, hadis, dan responsa Ulama untuk menjawab tantangan yang ada dengan
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

11

Pelajar Timur Tengah: Tantangan, Peran, dan Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia

menjunjung tinggi kemaslahatan. Ungkapan Jawa menyebutnya dengan "Tanggaping Sasmito; tanggap dalam menghadapi masalah dan bertindak". Namun tentunya, ketepatan dalam menjawab dan memahami tak dapat didapatkan secara instan, namun perlu belajar serius, latihan dan usaha yang intens dan kontinu dengan didukung sarana yang memadai. C. Kontribusi pelajar Timur Tengah kepada Bangsa dan Masyarakat Pelajar Indonesia di Timur Tengah tergolong pelajar yang elit dan memiliki pengaruh lebih dibandingkan dengan pelajar yang belajar di dalam negeri. Sebut saja dari kalangan mereka ada yang menjadi delegasi dari suatu madrasah; ada yang menjadi delegasi dari suatu kecamatan, bahkan tingkat kabupaten dan propinsi, dengan harapan mereka akan menjadi kader militan sekaligus tokoh yang akan memberi pencerahan terhadap perubahan positif yang lebih maju dan beradab di tengah-tengah pihak yang mengutus dan pula masyarakat luas. Kontribusi dapat berupa implementasi suatu ajaran Islam yang tertuang dalam konteks tawun (tolong menolong) sebagaimana diperintahkan oleh Allah Swt. di bidang kebaikan apapun. Di pundak para pelajar, dari lulusan manapun, terdapat tanggung jawab yang sangat besar dalam menunaikan tugas mereka, yaitu menegakkan ajaran Islam dan menyebarkannya, serta menyerukan masyarakat untuk meningkatkan sumber daya manusia, sehingga akan bertambah dekat di hadapan Allah Swt. Mereka harus berusaha merelisasikan agama yang sudah sempurna sebagaimana firman Allah Swt., Telah Aku sempurnakan kepadamu agamamu dan Aku sempurnakan nikmat-Ku kepadamu dan Aku meridhoi Islam sebagai agamamu. (QS. AlMaidah: 3).

12

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pelajar Timur Tengah: Tantangan, Peran, dan Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia

Kontribusi pelajar Timur Tengah dapat dilakukan dengan beberapa aspek seperti di bawah ini: Pertama, aspek pendidikan. Hal yang paling mudah dan sangat urgen adalah dengan berusaha meneruskan dan memberikan andil nyata dalam usaha mengajar di sekolah, madrasah, universitas, ataupun pesantren yang ada di Indonesia. Ini sangat mudah dilakukan dan akan memberi sumbangsih besar bagi pembangunan bangsa di bidang Sumber Daya Manusia, mengingat pendidikan agama di Indonesia memang senada dengan apa yang dibawa oleh alumnus Timur Tengah. Hal itu akan memudahkan mereka dalam proses mengajar dan mencetak generasi Islami yang taat agama dan taat bangsa. Kebutuhan tersebut semakin mendesak, apalagi dalam keadaan menurunnya kualitas pendidikan di Indonesia saat ini terutama di bidang agama, terlebih pudarnya akhlak mulia pada diri generasi bangsa yang kian terpolusi dengan budaya yang jauh dari syariat Islam. Kedua, aspek sosial dan organisasi. Kontribusi lain yang dapat diberikan yaitu berperan aktif dalam suatu organisasi yang sudah ada di Indonesia, seperti di Nahdhatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan organisasi sosialkeagamaan lainnya yang sifatnya membangun. Melalui wadah organisasi tersebut, pelajar Timur Tengah bisa menyampaikan aspirasi dan ide cemerlang yang bersifat positif demi perubahan bangsa ke arah yang lebih baik. Keterlibatan mereka dalam organisasi sangatlah penting, mengingat sesuatu hal apabila dilaksanakan secara komunal dan terorganisir tentunya akan lebih ringan dan berdampak besar. Anjuran untuk berorganisasi ini tertera dalam hadis, Alaykum bi al-jamah, artinya, Hendaklah kalian bergabung dalam jamaah. Ketiga, di bidang akhlak dan pemikiran progresif. Kontribusi yang tak kalah pentingnya adalah mempercantik moral bangsa dengan mengajak masyarakat untuk hidup 13

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pelajar Timur Tengah: Tantangan, Peran, dan Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia

berakhlak mulia. Sudah populer di telinga kita bahwa bangsa Indonesia identik dengan bangsa yang berakhlak tinggi, lembut, dan antikekerasan. Dengan demikian, mengajak taat kepada pemerintah di atas landasan yang benar sesuai dengan ajaran Allah Swt. adalah tugas utama pelajar Timur Tengah. Selain itu, alumnus Timur Tengah harus optimal dalam berusaha memberi kepahaman secara benar kepada masyarakat agar saling menerima perselisihan pendapat dalam permasalahan hukum partikular (furiyyah-fiqhiyyah) seperti permasalahan qunut dalam salat, yasinan secara berjamaah, dan permasalahan fur lainnya, sehingga bisa meminimalisir persengketaan yang menimbulkan perpecahan. Di samping itu, mereka juga berkomitmen tinggi untuk senantiasa menghormati agama lain secara benar dengan dasar kemanusiaan, dengan menjauhkan sekularisme, pluralisme, dan liberalisme (Sepilis) yang justeru berdampak rusaknya sendi-sendi agama. Dan satu lagi yang tak boleh dilewatkan adalah selalu berusaha memfilter budaya asing, dengan memerangi budaya yang dapat merusak akhlak, moral, serta pemikiran dengan bekerja sama dengan pemerintah dalam merealisasikan usaha ini. Keempat, aspek kerukunan dan hubungan dengan pemerintah. Cara mereka untuk turut andil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara hendaklah dengan belajar membangun hubungan yang harmonis dengan pemerintah dan mengarahkan pemerintah untuk berbuat adil melalui dakwah bi al-ikmah. Karena, tegaknya dunia ini bisa dicapai melalui tiga perkara: kedermawanan orang kaya, keadilan para pemimpin, dan doa orang yang lemah. Tiga pilar ini akan bisa berjalan dengan baik apabila ada hubungan erat dan harmonis antara pelajar Timur Tengah dengan pemerintahan. Tentu saja hal ini harus direalisasikan, baik melalui organisasi ataupun individu, sehingga bisa menghilangkan dan menanggulangi adanya problematika di tubuh negara. Maka, semakin harmonis hubungan antara ulama dan pemerintahan, kondisi negara tentu akan semakin baik dan bermartabat. 14
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pelajar Timur Tengah: Tantangan, Peran, dan Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia

BAB III PENUTUP


Tantangan zaman memang tak akan luput dari hadapan kita. Ia selalu berkembang beraneka ragam sesuai kondisi tempat dan waktunya. Namun, ada satu hal yang akan dapat membuat seseorang dan masyarakat itu akan maju dan percaya diri, yaitu optimisme dan bersungguh-sungguh dalam mengaplikasikan ajaran Islam. Pelajar Indonesia yang hijrah ke Timur Tengah mayoitas berorientasi mendalami ilmu keislaman. Karenanya, ketika pulang ke Tanah Air mereka akan di gadang-gadang sebagai orang yang dianggap mampu menuntaskan masalah-masalah yang ada dan dipercaya akan menjadi energi pembangkit kembali kejayaan Islam yang sekarang berada dalam titik keterpurukan akhlak dan krisis intelektual. Hal itu bukanlah tidak mungkin untuk diraih, karena anugerah Allah Swt. sangatlah luas. Beberapa tuduhan negatif yang bermunculan janganlah sampai menjadikan lemah dalam berkreasi maju dan bergerak. Justeru hal itu merupakan pendewasaan diri yang menjadi titik tolak untuk bangkit dan menyempurnakan langkah. Keyakinan mahasiswa Timur Tengah dengan apa yang mereka geluti sekarang ini pasti akan memberi manfaat yang signifikan terhadap bangsa dan masyarakat Indonesia secara luas. Biar bagaimanapun, usaha untuk meneruskan perjuangan nenek moyang kita dalam membentuk negara Gimah Ripah Loh Jinawi, Toto Tentrem Ngang Raharjo (subur, makmur penuh berkah, aman, dan sejahtera) adalah sebuah proses pencarian yang tak boleh terputus. Sunan Kalijaga pernah memberikan amanah, Jika sumber ilmu sudah tiada dan Islam sudah menurun kehebatannya, dan banyak wanita

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

15

Pelajar Timur Tengah: Tantangan, Peran, dan Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia

yang hilang malunya, maka begeraklah maju dan carilah ilmu Allah Swt. sampai kau mendapatkan ilham dari Allah Swt. Maka, usaha untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang Islam yang relevan, dan membina persatuan negara dengan saling menyadari perbedaan harus terus diperjuangkan. Jadikanlah perbedaan sebagai pelengkap kehidupan. Dalam sebuah ungkapan, Jangan kau berpikir apa yang telah diberikan oleh negara kepadamu, tetapi berpikirlah apa yang telah kau berikan untuk negara. *****

REFERENSI
1. Al-Quran al-Karm dan Terjemahannya. 2. Al-Syiriy, Amad ibn Umar. Al-Yqt al-Nafs f Madzhab Ibn Idrs. Cet. Pertama. Sanaa: Dr alTaysr. 3. Al-Bukhri, Jmi al-a, Maktabah Symilah. 4. AlBanteniy, Nawawiy. Nai al-Ibd. 5. Al-Suytiy, Jalluddn. Al-Asybh wa al-Nair. Cet. Ketiga. Beirut : Dr al-Kutub al-Ilmiyyah. 6. Ibn anbal, Amad. Musnad Amad. Penerbit Qurduba. Maktabah Syamilah. *****

16

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

OPTIMALISASI POTENSI
Pelajar Indonesia di Timur Tengah
Oleh: Syaiful Arif Sudali

Secara global, kaum pelajar sebagai pemuda yang merupakan tulang punggung bangsa memiliki tugas berat dalam melanjutkan estafet pembangunan fisik dan moral bangsa. Stabilitas bangsa dan masyarakat Indonesia dari segala sisinya bukan hanya tugas pemerintah, namun juga merupakan tanggung jawab yang diemban oleh pelajar. Lebih spesifiknya, para pelajar yang belajar di Timur Tengah dituntut untuk bisa bersatu dalam mengemban misi demi merealisasikan stabilitas bangsa Indonesia. Mereka dituntut untuk bisa mengoptimalkan segala kesempatan, sarana dan prasarana yang tersedia demi kepentingan menjalankan tugas yang diembankan oleh agama dan masyarakat kepada mereka. Mereka harus mempu mencanangkan strategi-strategi yang dapat diaplikasikan dalam rangka menjaga stabilitas bangsa Indonesia tanpa mengabaikan kolektifitas bangsa.

*****

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

17

Optimalisasi Potensi Pelajar Indonesia di Timur Tengah

BAB I PENDAHULUAN
Telah lebih dari enam dekade Bangsa Indonesia menikmati kemerdekaan yang sebelumnya dirampas oleh kolonial Belanda. Tentunya perjalanan yang sudah cukup panjang itu memberikan banyak sekali perubahanperubahan yang menjadi tantangan bagi bangsa ini. Pengaruh era globalisasi pun terasa sangat sulit dihindarinya, yang pada gilirannya mengharuskan para pemuda pada khususnya untuk menyiapkan diri secara cerdas untuk menanggulangi segala problematika yang terus berkembang. Bangsa ini telah mendeklarasikan kedaulatannya puluhan tahun yang lalu. Admisi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) seakan telah menjadi kunci paten independensi bangsa ini dengan Indonesia sebagai negara kesatuannya. Pintu invasi fisik secara global mungkin telah tertutup rapat. Namun invasi-invasi nonfisik baik itu moral, agama, budaya, dan lainlain masih memiliki banyak celah yang dapat menjadi tantangan baru baginya. Bahkan tak tanggung-tanggung, beberapa invasi nonfisik tersebut kini semakin terasa menusuk bagian vital bangsa. Invasi-invasi itu memiliki probabilitas tinggi untuk menghancurkan kepribadian dan autoritarial bangsa ini. Lebih dari itu, probabilitas ini bukan hanya sekedar teori ataupun hipotesa belaka, namun dewasa ini siapapun dapat melihat bahwa probabilitas tersebut telah berkembang menjadi realita telanjang di mata dunia. Telah dimulai beberapa tahun terakhir ini, stasiunstasiun televisi Indonesia kerap diwarnai pelbagai macam berita kriminal. Dan rupanya, beberapa tindak kriminal tersebut membutuhkan beberapa stasiun televisi untuk memuat sebagian kecil dari semua kriminalitas yang terjadi setiap harinya. Lebih jauh lagi, kriminalitas yang menimpa bangsa ini juga membutuhkan beberapa jam tayang setiap harinya. 18
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Optimalisasi Potensi Pelajar Indonesia di Timur Tengah

Namun, tak perlu kita perbincangkan stasiun-stasiun televisi yang menayangkan berita-berita demikian, karena hal tersebut bukanlah rahasia. Praktik hubungan seks di luar nikah yang mewabah muda-mudi Bangsa Indonesia menjadi perhatian banyak kalangan. Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak pada tahun 2007 melakukan survei terhadap 4500 remaja di 12 kota besar. Hasil survei itupun sangat memprihatinkan, 62,7 % dari remaja yang disurvei mengaku sudah tidak perawan/perjaka lagi. Angka yang begitu mengerikan untuk bangsa yang dikenal sebagai bangsa Islam terbesar di planet bumi, sekaligus bangsa yang dikenal dengan moralitas yang tinggi. Krisis moral yang Indonesia hadapi tak dapat ditutupi dengan titel bangsa sebagai jumlah penduduk Muslim terbanyak di dunia. Merosotnya nilai-nilai dan norma-norma akhlak di dalam tubuh bangsa Indonesia sungguh sangat memprihatinkan. Sebuah dekadensi yang patut menjadi keprihatinan seluruh komponen bangsa, terutama instansiinstansi pemerintah dan figur-figur bangsa. Apalagi kepribadian bangsa ini terancam luntur lantaran jiwanya yang sudah terjangkit virus mematikan, atau setidaknya melumpuhkan. Kondusifitas akidah dan religiusitas bangsa Indonesia juga menjadi salah satu target utama yang saat ini tengah mengalami krisis hebat. Potensi perkembangannya sangat besar, dengan ditandai munculnya banyak aliran dan ideologi yang diklaim menyimpang dari prinsip-prinsip agama tanpa melihat agama apapun. Tentunya hal ini sangat mengancam kelangsungan hidup keberagamaan bangsa ini. Generasi muda harus cerdas menyikapinya, karena memang inilah yang sekarang oleh 'para penjajah' dijadikan agenda dalam menghancurkan autoritarial bangsa Indonesia. Di sisi lain, perkembangan teknologi dan pengetahuan yang dicapai Bangsa Indonesia harus kita syukuri sebagai 19

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Optimalisasi Potensi Pelajar Indonesia di Timur Tengah

sebuah anugerah dan kemajuan. Banyak sisi positif dari perkembangan teknologi yang bisa diambil oleh bangsa besar ini. Tetapi sisi negatif yang mengaung di belakangnya ternyata terasa semakin membesar dan menjangkit di masyarakat luas. Permasalahan yang multikompleks dan multidimensi yang tengah dihadapi bangsa tentunya membutuhkan solusi kongkrit. Bangsa kita sangat memerlukan fortifikasi yang cukup kuat untuk membentengi kelangsungan hidup generasi Indonesia sebagai bangsa yang majemuk. Lantas apakah pemuda sebagai tulang punggung bangsa telah melakukan sesuatu untuk meminimalisir problematika tersebut?, ataukah justru kawula muda telah hanyut bersama kemerosotan kepribadian Bangsa Indonesia?. Selanjutnya, pelajar sebagai kaum yang memiliki nilai khusus di mata masyarakat, apakah benar-benar bisa diandalkan dalam memecahkan permasalahan yang ada?. Dan lebih spesifik lagi, apa peran yang dimainkan oleh anak bangsa yang belajar di Timur Tengah sebagai kaum elit di masyarakat Indonesia? Apa misi yang mereka emban dan harus mereka realisasikan sebagai kontribusi terhadap bangsa dan masyarakat Indonesia? Dan apa saja yang bisa mereka lakukan untuk merealisasikan hal tersebut?. Dalam tulisan ini, penulis berusaha mengungkap kedudukan dan peran pelajar Indonesia yang belajar di Timur Tengah di mata bangsa dan masyarakat Indonesia, serta tanggung jawab yang mereka emban sebagai bentuk kontribusi terhadap bangsa. Selain itu, penulis juga mengajukan bebera solusi konstruktif yang bisa diterapkan oleh para pelajar di Timur Tengah dalam rangka merealisasikan misi tersebut. *****

20

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Optimalisasi Potensi Pelajar Indonesia di Timur Tengah

BAB II PEMBAHASAN
A. Pelajar, Strata Sosial Spesial Sejarah telah mengungkap bahwa stagnansi gereja dan kevakuman pembesar-pembesarnya di sektor ilmu pengetahuan dan teknologi bahkan terkesan memerangi keduanya - mendorong kaum Nasrani dengan tekanan yang sangat kuat untuk memisahkan diri dari agama secara keseluruhan. Faktor inilah yang menjadi salah satu penyebab lahirnya gerakan sekularisme di Eropa. Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang menjunjung pengetahuan tentunya memiliki prinsip berbeda dalam menilai pengetahuan dan sebagai pengemban pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan dan pengembannya memiliki nilai sakral normal di mata bangsa Indonesia, dengan artian pensakralan yang masih wajar. Bangsa ini dikenal sangat respek terhadap ilmuwan, khususnya ilmuwan agama (baca: ulama). Hal ini masih bisa dilacak hingga masa kini, terutama di beberapa daerah Jawa dan Madura yang sangat terkenal dengan loyalitas masyarakatnya terhadap ulama. Respek dan loyalitas tersebut sebenarnya sama sekali tidak bertolak belakang dengan ajaran agama manapun, terlebih agama Islam yang secara terang-terangan kitab suci dan juga sabda Rasul-Nya mengajak pemeluknya kepada ilmu pengetahuan. Di banyak tempat al-Quran menyebutkan keutamaan ulama dan pengetahuan serta keburukan kebodohan dan orang yang tak berilmu. Hal tersebut dapat ditemukan di beberapa surat, misalnya surat al-Baqarah: 78 dan 118, Ali Imrn: 18, al-Tawbah: 122, Ynus: 89, al-Zumar: 9, al-Jtsiyah: 18, al-Mujdalah: 11, al-Naml: 15, Fthir: 28 dan banyak lagi ayat-ayat lainnya. Hadits-hadits Nabi Muhammad Saw. juga banyak
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

21

Optimalisasi Potensi Pelajar Indonesia di Timur Tengah

menjelaskan superioritas ulama dan kedudukan ilmu di mata agama. Pada banyak kesempatan, Rasulullah memotivasi para Sahabat dan juga umat beliau untuk berkecimpung di bidang pengetahuan. Salah satu hadis yang menjadi motivasi bagi kaum Muslimin dan juga sebagai afirmasi dari Sang pembawa risalah akan kedudukan ulama adalah sabda beliau, Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Kedudukan yang dianugerahkan oleh agama kepada para ulama ataupun juga pelajar merupakan kelanjutan dari misi Rasul dalam menyampaikan syariat dan firman Allah, serta merealisasikan kemakmuran masyarakat sebagaimana telah diaplikasikan oleh semua Rasul. Di sinilah letak kedudukan ulama sebagai pewaris para Nabi. Secara otomatis kalangan yang terjun dalam pengetahuan baik ulama ataupun pelajar mendapatkan pangkat yang sudah diakui oleh agama. Di samping itu, masyarakat juga tentunya memiliki perspektif berbeda dalam menilai ulama dan pelajar. Kalangan berilmu ataupun terpelajar dikenal sebagai referensi dalam penyelesaian masalah dan konflik. Berbeda dengan pandangan masyarakat terhadap strata sosial lain yang kurang berperan di bidang pengetahuan. Agama Islam sebagai agama fitrah juga telah mendorong penganutnya untuk mencapai strata sosial yang spesial ini. Bukan hanya menjelaskan keutamaan pengetahuan atau ulama, lebih spesifik lagi kitab suci umat Islam menganjurkan pemeluknya untuk menuntut ilmu. Bahkan jihad sebagai salah satu media dakwah tidak dapat menjadi alasan untuk mengabaikan pengetahuan. Dalam surat al-Tawbah Allah berfirman: Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya ke medan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap 22
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Optimalisasi Potensi Pelajar Indonesia di Timur Tengah

golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama, dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya supaya mereka itu dapat menjaga dirinya (QS. al-Tawbah: 122). Di beberapa hadis pun Nabi Muhammad menegaskan akan seruan Islam kepada pengikutnya untuk berusaha menggapai 'kasta' khusus tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pelajar sebagai kalangan yang aktif di bidang edukasi dan pengetahuan memiliki kredibilitas yang sangat tinggi di mata masyarakat, terlebih di mata agama. B . Pe l a j a r I n d o n e s i a d i T i m u r Te n g a h d a n Responsibilitasnya terhadap Bangsa Selama ini masyarakat memandang pelajar yang balajar di luar negeri manapun seperti Mesir, Arab Saudi, Yaman, Maroko, Iran, Libya, bahkan di negeri-negeri Eropa seperti Jerman, Belanda, Prancis dan negeri Paman Sam, dan lain-lain sebagai pelajar istimewa yang dipercaya memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan yang belajar di negeri sendiri. Letak persamaan antara pelajar-pelajar yang belajar di luar negeri adalah kesamaan tugas yang diemban setelah masa studi dan tanggung jawabnya terhadap bangsa dan masyarakat. Titel sebagai anak bangsa sekaligus penerus estafet pembangun Indonesia tak bisa ditanggalkan begitu saja. Stabilitas fisik masyarakat dan bangsa secara global memang menjadi tugas aparat pemerintahan. Tetapi secara moril, anak bangsa di luar negeri juga memiliki peranan penting dalam menjaga stabilitas bangsa. Bahkan lebih dari itu, pelajar-pelajar di luar negeri bisa saja merangkap tanggung jawabnya secara fisik dan moril dengan cara berkecimpung dalam pemerintahan. Negara-negara Timur Tengah mulai dulu hingga sekarang sangat identik sebagai sumber dan pusat agama 23

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Optimalisasi Potensi Pelajar Indonesia di Timur Tengah

Islam lantaran pengutusan Nabi Muhammad yang berlangsung di jazirah Arab. Selama beberapa dekade pusat pemerintahan Islam juga berpusat di Timur Tengah, seperti masa al-Khulafa al-Rsyidn, dinasti Umayyah, dinasti 'Abbasiyyah, dan beberapa dinasti lainnya juga berpusat di Timur Tengah. Hal ini menambah kental kesan Timur Tengah sebagai sumber dan pusat Islam. Kesan ini membuat masyarakat Indonesia sebagai warga Muslim memiliki pandangan plus terhadap para pelajar yang belajar di sana, terutama di bidang keagamaan. Mereka akan memandang pelajar-pelajar tersebut telah belajar banyak mengenai masalah agama langsung dari sumbernya. Konsekuensi logis dari pandangan 'plus' ini pada gilirannya berpengaruh terhadap bertambah besarnya tanggung jawab para pelajar tersebut kepada masyarakat. Implementasi nyata sistem Islam dalam mengatur hidup masyarakat juga sangat dinantikan oleh bangsa Indonesia. Kegelisahan masyarakat mengenai dekadensi moral yang kini melanda muda-mudi bangsa harus segera menemukan solusinya. Masa depan cerah juga pasti menjadi harapan masyarakat. Semua ini tak lain merupakan tanggung jawab yang cukup berat yang harus dilaksanakan dan direalisasikan oleh penerus bangsa, terutama oleh kalangan pelajar sesuai dengan kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dimiliki. Salah satu tugas penting bagi mereka adalah menghidupkan kembali ajaran-ajaran Islam yang mulai pudar. Mengenai hal ini Allah berfirman dalam surat al-Tawbah: 122 yang artinya: Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama, dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah 24
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Optimalisasi Potensi Pelajar Indonesia di Timur Tengah

kembali kepadanya supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. Yang perlu digarisbawahi dari ayat tersebut adalah firman-Nya: Dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya. Ayat tersebut menjelaskan secara tekstual tugas pelajar. Yakni selain memperdalam ilmu agama, yang menjadi tuntutan agama dan masyarakat adalah 'memberi peringatan' kepada masyarakat sebagaimana telah dipaparkan dalam ayat tersebut. Imam al-Baghawiy dalam tafsirnya menafsirkan maksud dari Tafaqquh f al-dn dengan mempelajari beberapa hal, yaitu al-Quran, al-Sunnah, dan perihal kewajiban-kewajiban dan hukum-hukum. Masih di tempat yang sama beliau menafsirkan kata memberi peringatan kepada kaumnya dengan mengajarkan al-Quran. Sedangkan kata supaya mereka itu dapat menjaga dirinya beliau tafsirkan dengan aplikasi mereka terhadap al-Quran dan implementasi substansinya dalam kehidupan nyata. Hal tersebut mengukuhkan tugas dan misi pelajar terutama yang belajar di Timur Tengah setelah menyelesaikan masa studinya. Meningkatkan kapasitas dan kualitas pengetahuan dalam agama Islam memang merupakan tujuan yang sangat mulia. Tetapi Islam juga sangat memperhatikan kontribusi seseorang bagi orang lain dan masyarakat. Dalam hal ini Rasulullah bersabda, Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain . Islam tidak begitu memperhatikan strata atau kedudukan seseorang dalam menilai keberhasilan. Yang lebih ditekankan adalah benefit yang mampu ia suguhkan kepada masyarakat dan kontribusinya tanpa melihat pangkat atau status yang disandangnya. Pelajar di Timur Tengah memiliki potensi dan juga kemungkinan lebih dalam bidang memberikan kontribusi kepada masyarakat sesuai dengan kualitas dan kuantitas 25

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Optimalisasi Potensi Pelajar Indonesia di Timur Tengah

pengetahuan agama yang telah dicapai. Lebih-lebih alQuran sendiri telah menyebutkan secara khusus tugas dan misi dari pelajar itu sendiri. Maka, memberikan benefit kepada masyarakat selain menjadi tugas dan misi utama mereka, juga merupakan tanggung jawab besar yang harus dilaksanakan.

Secara global, kaum pelajar sebagai pemuda yang merupakan tulang punggung bangsa memiliki tugas berat dalam melanjutkan estafet pembangunan fisik dan moral bangsa. Stabilitas bangsa dan masyarakat Indonesia dari segala sisinya bukan hanya tugas pemerintah, namun juga merupakan tanggung jawab yang diemban oleh pelajar.
C. Bergandengan Tangan Menuju Masa Depan Bangsa yang Gemilang Melihat tanggung jawab dan tugas pelajar di Timur Tengah yang telah diembankan oleh agama dan masyarakat, maka mereka harus melakukan evaluasi terhadap dedikasi yang telah ditunjukkan kepada masyarakat, untuk kemudian membenahi segala aspek kehidupan yang perlu dibenahi. Para pelajar di Timur Tengah dengan ideologi yang berbeda-beda lebih dituntut untuk mementingkan persatuan dibandingkan mengedepankan ideologi masing-masing. Mengingat kenyataan bahwa ideologi yang berkembang di Timur Tengah juga variatif. Bangsa Indonesia tak membutuhkan figur yang fanatik terhadap paham tertentu. Yang lebih diharapkan adalah pengabdian dan kontribusi kongkrit terhadap masyarakat, karena perpecahan ataupun fanatisme itu dapat berpotensi merapuhkan kesatuan Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang sangat kental dengan kemajemukan. 26
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Optimalisasi Potensi Pelajar Indonesia di Timur Tengah

Setelah mereka pulang ke Tanah Air, mereka memiliki tanggung jawab merangkul segala lapisan masyarakat dan bangsa tanpa melihat perbedaan pemikiran yang dihadapi. Bangsa Indonesia bukan hanya terdiri dari mayoritas, namun juga berkomponenkan minoritas yang juga memiliki hak sama dengan mayoritas sebagai warga negara Indonesia. Belajar di Timur Tengah sebagai sumber agama Islam bukanlah halangan untuk tetap melihat kepentingan minoritas, atau bahkan kemaslahatan bangsa Indonesia sebagai negara Pancasila. Urgensitas ini langsung dipaparkan dalam firman Allah dalam surat al-Anbiy: 107, Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Ayat tersebut di atas dengan jelas mengajarkan umat Islam untuk tidak hanya mementingkan kepentingan umat Islam semata, namun juga menjaga kemaslahatan semua makhluk termasuk orang-orang yang berkeyakinan berbeda. Permasalahan yang sangat fundamental ini juga telah diterapkan langsung oleh Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah Allah. Dan intinya, yang menjadi tuntutan bagi para pelajar, khususnya yang belajar di Timur Tengah adalah mengemban kepentingan pribadi tanpa mengabaikan kepentingan dan kemaslahatan orang lain, termasuk kaum minoritas. Selain itu, mereka juga harus saling mendukung dalam membentengi akidah dan moral bangsa dengan benteng pengetahuan. Banyak cara yang bisa ditempuh dalam melaksanakan misi tersebut. Salah satu cara klasik yang masih sangat bisa diaplikasikan di Indonesia adalah dengan cara dakwah secara lisan melalui ceramah-ceramah dan dakwah. Sejalan dengan perkembangan teknologi di dunia, termasuk di Indonesia, banyak media yang bisa dijadikan sebagai fasilitas dalam mengemban tugas dan amanat dakwah. Stasiun televisi sebenarnya dianggap sangat efektif dalam menyebarkan wacana dan wejangan kapada 27

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Optimalisasi Potensi Pelajar Indonesia di Timur Tengah

masyarakat. Media tersebut tentunya juga sangat efektif jika dipergunakan untuk kepentingan dakwah. Media publik lain yang juga sangat efektif dalam penyebaran dakwah dan membentengi moralitas bangsa adalah internet. Maraknya pengguna internet di masyarakat seharusnya menjadi kesempatan besar untuk melaksanakan tugas pelajar, yakni memberi peringatan kepada kaumnya. Dan masih banyak lagi media-media yang bisa digunakan sebagai bentuk terobosan dalam menyampaikan dakwah demi misi fortifikasi kehidupan bangsa Indonesia, termasuk media tulis-menulis yang juga sangat efisien dalam menyalurkan ilmu dan pesan-pesan agama kepada masyarakat luas. Berdakwah secara lisan memang merupakan cara yang cukup ampuh dalam melaksanakan tugas membina masyarakat. Namun berdakwah secara kongkrit, atau sering kita kenal dengan dakwah bi al-l merupakan cara yang lebih efektif dan efisien dalam menjalankan tugas tersebut. Sejarah bangsa kita sendiri telah mengungkap realita ini. Kisah Wali Songo bisa dijadikan salah satu contoh dalam hal ini. Penggabungan metode-metode dakwah tersebut tentunya akan membuahkan hasil yang lebih besar dalam pencapaian misi para pelajar yang belajar di Timur Tengah. Dan hal penting lainnya yang tak bisa diabaikan begitu saja oleh pelajar yang belajar di Timur Tengah adalah organisasi. Keberadaan organisasi bisa menjadi faktor determinan yang akan mendorong berjalannya misi mereka dalam menjalankan tugasnya. Sebaliknya, tidak adanya organisasi bisa menjadi penghambat serius bagi kelangsungan tugas yang diemban. Dalam hal ini Imam Ali ibn Ab Thlib ra. berkata, Kebenaran yang tak terorganisir bisa dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir. Intinya, para pelajar yang belajar di Timur Tengah dituntut untuk bisa bersatu dalam mengemban misi demi merealisasikan stabilitas bangsa Indonesia. Mereka juga dituntut untuk bisa mengoptimalkan segala sarana dan 28
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Optimalisasi Potensi Pelajar Indonesia di Timur Tengah

prasarana yang tersedia demi kepentingan menjalankan tugas yang diembankan agama dan masyarakat kepada mereka. *****

BAB III PENUTUP


Bangsa Indonesia tengah menghadapi invasi moral besar-besaran dari luar. Efek globalisasi akan semakin mudah untuk menembus benteng autoritarial bangsa ini. Efek positif yang dibawa oleh globalisasi bukanlah suatu permasalahan yang perlu diperbincangkan. Namun yang perlu diwaspadai adalah efek negatif yang mau tidak mau harus dihadapi oleh bangsa ini. Sejalan dengan berjalan dan berkembangnya zaman, pola pikir masyarakat terus berkembang dan sistem hidup mereka akan lebih terbuka. Hal ini juga membuka pintu lebar untuk masuknya invasi moral dari luar. Didukung dengan perkembangan teknologi yang tak hanya membawa benefit, namun juga membawa hal yang bisa merusak kepribadian bangsa Indonesia itu sendiri. Hal-hal tersebut merupakan beberapa faktor dari sekian banyak faktor yang menjadikan tanggung jawab generasi bangsa untuk menjaga stabilitas kehidupan masyarakat semakin besar. Tantangan-tantangan yang harus dihadapi juga akan bertambah sulit. Problematikaproblematika yang berkembang di masyarakat juga akan menjadi tanggung jawab besar bagi generasi bangsa. Para pelajar bangsa yang belajar di Timur Tengah tentunya mendapatkan amanah yang lebih besar dari 29

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Optimalisasi Potensi Pelajar Indonesia di Timur Tengah

masyarakat dan bangsa Indonesia, karena kualitas dan kuantitas pengetahuan agama mereka yang dinilai plus oleh masyarakat kita. Hal ini tentunya menjadikan membesarnya tanggung jawab ekstra bagi mereka. Mereka dituntut untuk memberikan kontribusi positif dan solusi kongkrit bagi permasalahan yang tengah dan akan berkembang di nusantara. Solusi yang mungkin bisa ditempuh adalah dengan melihat kompleksnya permasalahan yang kini dihadapi bangsa Indonesia, antara lain dengan mengambil langkah pasti untuk melakukan proteksi terhadap ketahanan bangsa ini. Semua sarana dan prasarana yang bisa digunakan dalam melangsungkan misi ini harus dikerahkan dan dipergunakan sebaik mungkin. Akan lebih baik lagi jika para pelajar di Timur Tengah bisa masuk ke tubuh pemerintahan demi melaksanakan tugas menjaga stabilitas bangsa Indonesia. Kualitas dan kuantitas pengetahuan agama mereka yang dinilai lebih oleh masyarakat harus bisa menjadi senjata ampuh untuk melawan invasi yang makin hari kian mendominasi. Organisasi Masyarakat (ORMAS) juga harus difungsikan secara maksimal untuk melangsungkan tugas ini. Juga teknologi yang kian hari kian berkembang ini sangat bisa dijadikan perantara untuk menghilangkan atau paling tidak mengurangi bahaya invasi yang tengah dihadapi bangsa Indonesia. Selain itu, program dakwah juga tak bisa diabaikan dalam mencapai tujuan 'memberi peringatan kepada kaumnya'. Tak cukup dengan dakwah bi al-lisn, para pelajar yang belajar di Timur Tengah juga dituntut untuk mengaplikasikan dakwah bi al-l, karena cara demikian dinilai sangat efektif dalam mencapai tujuan atau visi-misi para pelajar itu sendiri. Dengan hal ini, akan tercapailah bangsa dan masyarakat Indonesia yang diridai oleh Allah Swt. ***** 30
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Optimalisasi Potensi Pelajar Indonesia di Timur Tengah

REFERENSI
1. A l - Q u r a n d a n T e r j e m a h n y a . M a d i n a h Munawwarah: Mujamma al-Mlik Fahd li Thibaat al-Mushaf al-Syarf. 2. Ab Dawd, Sulaymn ibn al-Asyats. 1998. Sunan Ab Dawd. Cet. Ke-1. Beirut: Muassasat al-Rayyn. 3. Al-Baghawiy, usayn ibn Masd. 1997. Malim al-Tanzl. Cet. Ke-4. Damaskus: Dr al-Thaybah. 4. Al-Thabrniy, Sulayman ibn Amad. 1983. AlMujam al-Shaghr. Cet. Ke-1. Beirut: Dar al-Kutub alIlmiyyah. 5. Al-Tirmidziy, Muammad ibn Is. 1996. Al-Jmi al-Kabr. Cet. Ke-1. Beirut : Dar Al-Gharb al-Islmiy. 6. Ibn ibbn, Muammad ibn ibbn. 1993. Shahh Ibn ibbn. Cet. Ke-2. Beirut: Muassasat al-Rislah. 7. Ibn Mjah, Muammad ibn Yazd. Sunan Ibn Mjah. Cet. Ke-1. Riydl: Maktabah al-Marif. 8. Isml, Muammad Yay. 2011. Mudlarah f al-Firaq wa at-Tayyart al-Fikriyyah al-Muirh. Cet. Ke-2. Tarim : Khidmah al-Thullb. *****

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

31

32

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Jurnal

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

SKETSA
Bagian kedua
Kontekstualisasi Konsep Jihad

Edisi V

p p p p p p

Jihad dengan Metode Dakwah:


Sebuah Upaya Implementasi Konsep Jihad

Ideologi Jihad Moderat:


Antara Pedang dan Burhan

Koreksi Mafhum Jihad


sebagai Senjata Perang Islam

Tafsir Jihad Terorisme berlabel Jihad:


Membongkar Radikalisasi Konsep Jihad dalam Konteks Global

Makna Jihad dalam Islam dan Implementasinya

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

33

JIHAD DENGAN METODE DAKWAH


Sebuah Upaya Implementasi Konsep Jihad
Oleh: Zainal Fanani

Perintah jihad dalam Islam merupakan suatu perbuatan yang sangat mulia sekali. Terbukti ayat al-Quran menyebut kata ini berulang kali. Tetapi, seiring dengan perjalanan waktu, terjadi loncatan pemahaman dalam menafsirkan kata ini. Di mana banyak orang yang mempolitisir kata ini demi mewujudkan nafsu syahwatnya. Jihad hanya diartikan sebagai peperangan melawan non-Muslim. Hampir bisa dipastikan karena berangkat dari pemahaman yang dangkal ini - banyak menyebabkan maraknya tindak kekerasan atas nama jihad. Kondisi seperti inilah yang sedang melanda Indonesia. Hal ini ditopang dengan gerakan Transnasional yang turut menyuburkan ideologi ini. Berangkat dari sikap prihatin atas keadaan ini, kiranya penulis perlu untuk merekonstruksi kembali konsep jihad yang selama ini telah banyak disalahpahami oleh banyak kalangan. Konsep baru itu penulis sebut dengan jihad dengan metode dakwah. Dikatakan konsep baru, karena jihad dengan model dakwah ini telah lama dilupakan serta masih berada di daerah yang tak terpikirkan (dirah al-l mufakkar fhi; unthinkable) oleh kelompok-kelompok yang akhir-akhir ini sering menyuarakan jihad yang berarti perang melawan Barat dan Amerika. *****

34

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Jihad Dengan Metode Dakwah: Sebuah Upaya Implementasi Konsep Jihad

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Jihad adalah tema yang sangat unik dan menarik untuk diteliti dan dikaji. Jihad sebagai research theme, selalu dalam perdebatan terus-menerus, tidak kunjung usai dan telah banyak melahirkan karya-karya ilmiah, serta menelorkan kajian-kajian yang mendalam. Hal ini merupakan indikator yang mengindikasikan bahwa jihad adalah tema yang memiliki daya tarik yang sangat tinggi dan tidak akan pernah kering1. Sebagai sebuah ajaran, jihad sudah muncul bersamaan dengan munculnya agama Islam itu sendiri. Jihad dengan maknanya yang sangat luas dan kontekstual digunakan oleh Rasulullah Saw. untuk menyebarkan agama Islam. Rasulullah Saw. menyebarkan agama Islam dengan sikap santun dan penuh kesabaran. Karena sifat santunnya itu, maka banyak kalangan dari non-Muslim yang simpati dengan ajaran yang dibawanya. Tidak heran apabila agama Islam tersebar di pelbagai penjuru kota Madinah dalam waktu yang sangat singkat. Jihad dengan metode dakwah yang santun dan ramah inilah yang seharusnya diteladani oleh umat Muslim sekarang. Ironisnya, jihad pada zaman sekarang oleh sebagian kalangan dipahami secara jumud dan tidak kontekstual. Ia hanya identik dengan peperangan melawan orang-orang kafir. Hal ini bisa kita lihat pada kasus pengeboman WTC dan Pentagon yang dipelopori oleh Osama bin Laden Ayman alhiriy. Kebanyakan pemikir Islam menuding tindakan ini semata-mata alasan jihad2. Namun, gagasan mengenai jihad

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

35

Jihad Dengan Metode Dakwah: Sebuah Upaya Implementasi Konsep Jihad

dalam tradisi Islam, tidak bisa direduksi menjadi tindakantindakan seperti itu. Hal ini dikarenakan banyak orang Muslim yang justru mengutuk tindakan mereka berdasarkan tradisi Islam dan apa yang mereka lakukan tidak ada hubungannya dengan persyaratan jihad yang lebih luas, perjuangan di jalan Tuhan3. Jihad yang pada zaman Rasulullah Saw. digunakan untuk menyebarkan Islam dengan santun dan ramah, kini berubah menjadi sesuatu yang menyeramkan. Oleh karena itu, sudah saatnya umat Islam mengembangkan penafsiran jihad yang lebih kontekstual. Dari jihad yang hanya bermakna perang menuju jihad berbasis metode dakwah yang benar dan bijaksana. B. Rumusan masalah Dengan mempertimbangkan adanya perbedaan yang cukup signifikan dalam memahami konsep jihad, maka kajian ini diperlukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: 1. Adakah argumentasi jihad dengan metode dakwah dalam Al-Quran? 2. Sebatas manakah jihad dengan metode dakwah diperbolehkan? 3. Bagaimana menyikapi kontradiksi antara ayat yang memerintahkan berdakwah secara ramah dan santun dengan ayat yang memerintahkan dakwah secara paksa? 4. Bagaimana cara menanggapi tuduhan bahwa Islam tersebar dengan pemaksaan? C. Tujuan 1. Meluruskan konsep jihad yang selama ini telah disalahpahami oleh banyak kalangan. 2. Memahami ajaran jihad secara konseptual dan proporsional. D. Manfaat Manfaat dari karya tulis ilmiah ini antara lain: 36
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Jihad Dengan Metode Dakwah: Sebuah Upaya Implementasi Konsep Jihad

1. Memperkaya wacana tentang jihad bagi penulis khususnya, pembaca dan masyarakat luas pada umumnya. 2. Memperkaya tradisi keilmuan umat Muslim. *****

BAB II PEMBAHASAN
A. Argumen Jihad dengan Metode Dakwah Kata jihad terulang dalam al-Quran sebanyak empat puluh satu kali dengan pelbagai bentuknya. Kata jihad terambil dari kata jahd yang berarti letih/sukar. Jihad memang sulit dan menyebabkan keletihan. Ada juga yang berpendapat bahwa jihad berasal dari akar kata juhd yang berarti kemampuan. Ini karena jihad menuntut kemampuan, dan harus dilakukan sebesar kemampuan. Karena itu jihad adalah pengorbanan, dan demikian sang mujahid tidak menuntut atau mengambil tetapi memberi semua yang dimilikinya. Ketika memberi, dia tidak berhenti sebelum tujuannya tercapai atau yang dimilikinya habis 4 . Dalam terminologi ulama fikih, jihad diartikan dengan berperang melawan orang kafir untuk menegakkan agama Islam5. Sedangkan Dr. Muammad Sad Raman al-Bthiy mendefinisikan jihad sebagai upaya mengerahkan segala kemampuan untuk meninggikan kalimat Allah swt. dan menegakkan masyarakat Islam 6 . Berdasarkan pengertian yang disampaikan oleh Dr. al-Bthiy ini, jihad mempunyai cakupan arti yang sangat luas. Ia tidak hanya bermakna jihad yang berarti perang secara fisik, tetapi lebih dari itu, segala bentuk kemampuan untuk meninggikan kalimat Allah swt. dan 37

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Jihad Dengan Metode Dakwah: Sebuah Upaya Implementasi Konsep Jihad

menegakkan masyarakat Islam bisa juga disebut sebagai jihad. Dengan demikian, maka berdakwah menyebarkan agama Islam pun juga termasuk kategori jihad. Bahkan aktivitas berdakwah inilah yang merupakan jihad yang paling utama jika dibandingkan dengan jihad dengan berperang melawan orang-orang kafir 7 . Dikatakan paling utama, karena seorang dai harus mampu bersabar menghadapi pelbagai rintangan ketika berdakwah. Selain itu dia juga harus mampu mengendalikan dirinya dari unsur-unsur penyakit hati, seperti sombong, pamer dan rasa ingin dipuji. Dan yang paling penting adalah semua itu dilakukan hanya karena Allah semata. Maka, sangatlah pantas bila Rasulullah Saw. menyebut jihad model ini sebagai jihad akbar8. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah Saw. yang berbunyi, Afal al-jihd an tujhid nafsaka wa hawka f dztilLh tal (jihad yang paling utama adalah jihad melawan hawa nafsu dalam jalan menuju Allah Swt.) (HR. al-Daylamiy). Dilihat dari tinjauan historisnya, ayat tentang jihad yang turun kepada Rasulullah Saw. adalah perintah untuk menyebarkan Islam kepada bangsa Quraisy. Yakni ketika Rasulullah Saw. masih berada di kota Makkah, hal ini bisa dibuktikan dalam firman Allah swt. yang berbunyi, Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjuanglah terhadap mereka dengannya (Al-Quran) dengan (semangat) perjuangan yang besar (QS. Al-Furqn: 52). Dan juga firman Allah Swt. yang berbunyi, Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orangorang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. AlNal: 110). Menurut sebagian besar ulama tafsir, ayat-ayat ini turun di kota Makkah. Para ulama yang berpendapat demikian di antaranya adalah Ibn Zubayr, asan al-Bariy,

38

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Jihad Dengan Metode Dakwah: Sebuah Upaya Implementasi Konsep Jihad

Ikrimah, A dan Jbir . Kata9 jihad dalam QS. Al-Furqn: 52 dan QS. Al-Nal: 110 di atas maksudnya ialah perintah Allah swt. kepada Rasul-Nya untuk berjihad dengan memperkenalkan al-Quran serta menyampaikan segenap isinya kepada kafir Quraisy, berdakwah kepada mereka untuk masuk Islam dengan tanpa rasa takut atas akibat yang akan ditanggungnya nanti dan tabah dalam menghadapai segala macam siksaan dan hinaan, seperti ketika beliau diusir dari kota if dan dilempari batu oleh penduduk if 10 . Ayat-ayat di atas juga menepis stereotype sebagian kalangan yang menyatakan bahwa jihad diwajibkan untuk yang pertama kalinya sewaktu Rasulullah Saw. sudah berada di kota Madinah, dimana ayat-ayat jihad yang turun di kota ini berisi perintah untuk memerangi orang-orang kafir. Pada akhirnya, orang yang berpandangan seperti ini sampai pada sebuah kesimpulan bahwa jihad diwajibkan hanya untuk memberangus orang-orang kafir. Pemaknaan jihad yang sangat sempit dan cenderung regresif ini sebetulnya telah mereduksi makna jihad yang sesungguhnya. Yakni jihad dengan metode berdakwah seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw11 . Padahal, jihad dengan metode dakwah ini pernah sudah dilakukan oleh Rasulullah Saw. dan para sahabatnya ketika masih berada di Makkah, serta tetap berlangsung meskipun Rasulullah Saw. sudah berada di kota Madinah. Bahkan jihad yang seperti ini masuk dalam kategori hukum tablghiy, artinya setiap individu diwajibkan melakukannya dengan sekuat tenaganya tanpa harus menunggu perintah dari penguasa. Sedangkan jihad dengan metode berperang melawan orang-orang kafir hukumnya faru kifyah, harus mendapat izin dari pemerintah dan hanya dalam kondisi dan situasi tertentu saja12 .

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

39

Jihad Dengan Metode Dakwah: Sebuah Upaya Implementasi Konsep Jihad

B. Dakwah Terbangun atas Dasar Rasa Kasih Sayang, Bukan Pemaksaan Ada beberapa sebab yang membuat seseorang itu simpati terhadap agama Islam sehingga ia memeluknya. Setidaknya ada dua sebab yang mempengaruhi hal itu. Pertama, seseorang masuk agama Islam karena terkesan dengan keramahan orang-orang Muslim dan sopan santunnya dalam merepresentasikan agama Islam. Dari situ lalu ia merasakan kelembutan Islam dan menemukan kedamaian yang tidak pernah ia temui selama masa hidupnya, sampai akhirnya ia mengakui bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Kedua, adakalanya seseorang itu menerima agama Islam setelah melakukan penelitian yang panjang dan melelahkan. Setelah mengetahui hakikat Islam, akhirnya ia sadar bahwa akidah yang selama ini ia ikuti adalah salah. Dan sudah bisa dipastikan, bahwa jumlah orang yang masuk Islam dengan sebab yang kedua ini lebih sedikit jika dibandingkan dengan sebab yang pertama. Hal ini karena metode penalaran rasional atau penelitian ilmiah hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu saja13. Oleh karena itu, seorang dai khususnya dan Muslim pada umumnya harus mempunyai rasa belas kasih terhadap hamba Allah Swt., apapun agama, suku, warna kulit dan status sosialnya. Karena sifat belas kasih ini menjadi kunci kesuksesan paling utama dalam berdakwah. Bahkan Allah swt. sendiri telah memerintahkan para utusannya untuk menanamkan rasa cinta kasih kepada hambanya. Hal ini tercermin dalam firman Allah swt. yang berbunyi, Dan tidaklah kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (QS. Al-Anbiya: 107). Dan juga firman Allah swt. yang berbunyi, Dan Tuhanmulah Yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat (QS. Al-Kahfi: 58)14. Rasulullah Saw. sebagai manusia paling sempurna dan teladan bagi para dai juga telah mencontohkan sifat

40

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Jihad Dengan Metode Dakwah: Sebuah Upaya Implementasi Konsep Jihad

belas kasih ini dalam kehidupannya. Beliau pernah hijrah ke if guna mencari perlindungan dan dukungan dari penduduk bani Tsaqif. Tetapi ketika sampai di sana, seruan Rasulullah Saw. kepada mereka untuk masuk Islam malah ditolak secara mentah-mentah dan dibalas secara kasar. Tidak hanya itu saja, mereka mengerahkan kaum penjahat dan para budak untuk mencerca dan melemparinya dengan batu sehingga mengakibatkan cedera pada kaki Rasulullah Saw15. Meskipun mendapat pelbagai macam bentuk penganiayaan seperti itu, Rasulullah Saw. tidak membalas tindakan orang-orang jahat itu dengan tindakan yang serupa. Tetapi semua itu beliau hadapi dengan ikhlas, sabar, rida dan penuh rasa kasih kasang. Seandainya Rasulullah Saw. tidak mempunyai rasa kasih sayang, pasti - jika mau - akan m e m b a l a s p e r b u a t a n o ra n g - o ra n g ya n g t e l a h menganiayanya tadi. Rasulullah Saw. justru mendoakan semoga Allah swt. mengeluarkan dari anak turunan mereka generasi yang menyembah Allah swt. belaka, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun16. Rasulullah Saw. juga pernah menjenguk non-Muslim yang pernah meludahinya. Rasulullah Saw. bahkan sudi menyuapi pemeluk Yahudi buta yang mencibirnya di pinggir jalan. Sayangnya, sifat belas kasih dan akhlaq mulia (makrim al-akhlq) seperti ini hampir tak terpikirkan oleh kelompok-kelompok yang memahami jihad hanya dengan perang17 . Selain mempunyai sifat belas kasih, seorang dai dalam berdakwah seyogianya juga mengetahui karakter dasar dari dakwah itu sendiri. Artinya, prinsip dakwah dalam Islam itu hanya sekedar memperkenalkan, mengingatkan dan menasehati. Tidak lebih dari itu!. Oleh karenanya, seorang dai tidak diperkenankan memaksa orang atau kelompok lain untuk mengikuti apa yang ia dakwahkan. Betapa banyak ayat al-Quran yang mengingatkan tentang hakikat ini dan

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

41

Jihad Dengan Metode Dakwah: Sebuah Upaya Implementasi Konsep Jihad

mengulanginya dalam pelbagai bentuk. Ayat-ayat al-Quran itu di antaranya adalah: Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah orang yang memberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka, kecuali (jika ada) orang yang berpaling dan kafir. Maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar (QS. Al-Ghsyiyah: 21-24). Jika mereka berpaling, maka (ingatlah) Kami tidak mengutus engkau sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan risalah (QS. Al-Syr: 48). Dan sungguh jika kami perlihatkan kepadamu (Muhammad) sebagian (siksaan) yang kami ancamkan kepada mereka atau kami wafatkan engkau, maka sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanyalah menyampaikan saja, sedang Kamilah yang memperhitungkan (amal mereka) (QS. Ar-Rad: 40). Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang (QS. Al-Midah: 92). Ayat-ayat ini memberikan informasi kepada kita bahwa dalam berdakwah mengajak orang masuk Islam tidak berubah dari rasa saling menasehati menuju ke arah pemaksaan, apalagi sampai tindak kekerasan (violence)18. Argumen lain yang menunjukkan bahwa tidak ada paksaan dalam menyebarkan agama Islam adalah firman Allah swt. yang berbunyi, tidak ada paksaan dalam agama (QS. AlBaqarah: 256). Firman Allah swt. ini menurut Ibn Abbs turun sehubungan dengan kasus seorang Anr bernama usayn yang memaksa kedua anaknya yang Kristen agar pindah agama Islam. Namun, kedua anaknya menolak paksaan itu. Kemudian, ayat ini turun merespon secara eksplisit bahwa pemaksaan keyakinan adalah tindakan yang terlarang19 . 42
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Jihad Dengan Metode Dakwah: Sebuah Upaya Implementasi Konsep Jihad

Tetapi, jika memang benar dalam menyebarkan agama Islam harus dengan cara-cara yang ramah dan tidak boleh ada pemaksaan, lalu mengapa Islam memerintahkan umatnya untuk memerangi orang-orang non-Muslim?
Benar sekali bahwa agama ini memerintahkan untuk mempersiapkan kekuatan guna menghadapi musuh. Namun persiapan itu tidak lain kecuali - menurut istilah al-Quran untuk menakut-nakuti mereka (yang bermaksud melahirkan kekacauan dan disintegrasi) (QS. Al-Anfl: 60). Peperangan kalau terjadi - tidak dibenarkan kecuali untuk menyingkirkan penganiayaan, itu pun dalam batas-batas tertentu. Anakanak, orang tua, kaum lemah, bahkan pepohonan harus dilindungi. Dan atas dasar itu, datang petunjuk Tuhan yang menyatakan, Kalau mereka cenderung kepada perdamaian, maka sebutlah kecenderungan itu, dan berserah dirilah kepada Allah swt. (QS. Al-Anfl: 61)20 . Menyikapi Kontradiksi antara QS. Al-Rad: 40 dengan QS. Al-Tawbah: 5 Sudah penulis singgung di atas bahwa QS. Ar-Rad: 40 yang berbunyi, Dan sungguh jika kami perlihatkan kepadamu (Muhammad) sebagian (siksaan) yang kami ancamkan kepada mereka atau kami wafatkan engkau,maka sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanyalah menyampaikan saja, sedang Kamilah yang memperhitungkan (amal mereka) adalah salah satu dari sederet ayat yang menegaskan bahwa dakwah dalam Islam tidak mengenal pemaksaan. Ia hanya sebatas mengingatkan dan menasehati. Ayat-ayat yang senada dengan ini juga bisa dilihat pada QS. Al-Ghsyiyah: 21-24, QS. Al-Syr: 48, QS. Al-Midah: 92, dan QS. Al-Baqarah: 256.
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

43

Jihad Dengan Metode Dakwah: Sebuah Upaya Implementasi Konsep Jihad

Sementara dalam QS. Al-Taubah: 5 yang berbunyi, Apabila telah usai bulan-bulan Haram maka bunuhlah orangorang musyrik dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka, tawanlah mereka dan intailah di setiap tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan melaksakan salat dan zakat, maka lepaskanlah jalan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang memerintahkan umat Muslim untuk berdakwah dengan munggunakan paksaan. Dari sini, sepertinya ayat ini telah menghapus ayatayat yang memerintahkan berdakwah tanpa disertai dengan paksaan. Artinya, dalam berdakwah itu tidak hanya saling menasehati dan mengingatkan saja, tetapi juga perlu ada pemaksaan supaya orang lain mau masuk ke dalam agama Islam. Dalam menyikapi masalah ini, ulama berbeda-beda pendapat antara satu dengan yang lain. Setidaknya ada dua pandangan terkait hal ini. Pertama, kelompok pro nsikhmanskh yang menyatakan bahwa hukum menyebarkan Islam tanpa ada paksaan itu hanya berlaku pada zaman permulaan Islam saja. Setelah ada kewajiban berperang, maka hukum ini dihapus (mansukh) dengan QS. Al-Tawbah: 5 dan hadits Ibn Umar yang berbunyi, Umirtu an uqtil al-ns att yasyhadu an l ilh illalLh (Saya diutus untuk memerangi manusia (al-ns) sampai mereka mau membaca dua kalimat syahadat) (HR. al-Bukhriy dan Muslim). Meskipun demikian, tetapi pendapat ini merupakan pendapat yang paling lemah21 . Kedua, perintah untuk menyebarkan agama Islam secara ramah dan tanpa ada paksaan hukumnya tidak berubah. Maksudnya, tidak ada proses abrogasi (nsikhmanskh) dalam masalah ini. Dan hadits Ibn Umar di atas sama sekali tidak bertentangan dengan ayat-ayat yang melarang berdakwah dengan cara paksa. Kemudian kelompok kedua ini berbeda pendapat lagi dalam menginterpretasi kata al-ns yang ada pada hadits 44
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Jihad Dengan Metode Dakwah: Sebuah Upaya Implementasi Konsep Jihad

Ibn Umar di atas. Sebagian menyatakan bahwa yang dimaksud dari al-ns adalah para penyembah berhala saja, sedangkan kepada selain itu - penyembah berhala - tidak diperkenankan berdakwah secara paksa. Adapun sebagian yang lain cenderung tidak membedakan antara ahl al-kitb dengan selainnya. Pandangan ini berdasarkan ratio-legis (illat) untuk memerangi orang musyrik dalam QS. Al-Tawbah: 5 itu lebih disebabkan karena sifat makarnya, bukan karena kekufurannya. Pendapat ini dipegang oleh Imam Mlik, Al22 Awziy dan sebagian besar pakar fikih . Lalu, pendapat manakah yang paling otoritatif dan relevan bagi seorang dai, khususnya untuk konteks keIndonesia-an yang penduduknya terdiri dari pelbagai macam agama dan suku, serta dalam rangka mewujudkan koeksistensi, yakni kesadaran untuk hidup berdampingan secara damai dan harmonis di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang beragam?. Setelah dilakukan penelitian oleh para ulama, ternyata pendapat kedualah yang paling kuat. Yakni pendapat yang menyatakan bahwa alasan (illat) memerangi orang-orang kafir itu adalah karena kemakarannya dan bukan karena kekufurannya. Hal ini berdasarkan beberapa pertimbangan. Pertama, dalam QS. Al-Tawbah: 5 tidak lebih hanya menginformasikan untuk memerangi orang-orang musyrik setelah usai bulan-bulan Haram saja, serta dalam ayat ini juga tidak ada indikasi bahwa perintah memerangi orang kafir hanya karena kekafirannya. Alih-alih memberi indikasi, dalam ayat ini justru malah mengandung banyak kemungkinan. Yaitu antara sifat kafir yang ada pada seseorang dan sifat makar, yang mana saat ayat ini turun, kaum musyrik berstatus dua sifat ini. Sedangkan teori usul fikih (Islamic legal theory) menyatakan bahwa sebuah dalil jika mengandung banyak itiml (kemungkinan), maka ia menempati posisi umum. Sehingga ia tidak dapat dijadikan sebagai pijakan dalam mencetuskan hukum.
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

45

Jihad Dengan Metode Dakwah: Sebuah Upaya Implementasi Konsep Jihad

Kedua, jika seandainya pendorong untuk memerangi orang-orang kafir itu hanya semata-mata karena kekufurannya, tentu akan berbenturan dengan QS. AlTawbah: 6 yang berbunyi, Dan jika di antara kaum musyrikin ada yang meminta pertolongan kepadamu, maka lindungilah agar dia dapat mendengar firman Allah, kemudian antarlah dia ke tempat yang aman baginya. (Demikian) itu karena sesunggungnya mereka kaum yang tidak mengetahui 23. Ayat ini menjadi bukti bahwa kendati seorang itu musyrik - selama tidak bermaksud jahat kepada kaum Muslimin - mereka pun adalah manusia yang berhak memperoleh perlindungan, bukan saja menyangkut nyawa dan harta benda mereka, tetapi juga menyangkut kepercayaan dan keyakinan mereka. Ayat ini juga menjadi bukti bahwa membunuh, menawan, dan mengintai yang diperintahkan oleh ayat yang lalu hanya berlaku terhadap mereka yang memusuhi Islam24 . Dengan melihat adanya kontradiksi semacam ini, menuntut kalangan yang menyatakan bahwa alasan memerangi orang kafir semata-mata karena sifat kafirnya untuk menghapus (naskh) QS. Al-Tawbah: 6 dengan QS. Al-Tawbah: 525. Padahal, terlalu terburu-buru menghapus (naskh) QS. Al-Tawbah: 6 dengan QS. Al-Tawbah: 5 justru bertentangan dengan konsep nsikh-manskh itu sendiri. Serta akan menimbulkan pertentangan dengan ayat lain yang datang lebih akhir seperti QS. Al-Tawbah: 13 yang artinya, Mengapa kamu tidak memerangi orang-orang yang melanggar sumpah (janjinya), dan telah merencanakan untuk mengusir Rasul, dan mereka yang pertama kali memerangi kamu? Apakah kamu takut kepada mereka, padahal Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti, jika kamu orang-orang beriman. Sungguh ayat ini menjelaskan secara mendetail motif dari perintah untuk memerangi kaum musyrik 26 . Hal ini karena mereka orangorang yang telah biasa membatalkan sumpah, yaitu perjanjian mereka, orang-orang yang merencanakan pengusiran Rasul dari kediaman beliau di Makkah 46
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Jihad Dengan Metode Dakwah: Sebuah Upaya Implementasi Konsep Jihad

atau di Madinah, dan merekalah yang memulai memerangi kamu partama kali, yakni dalam Perang Badr dan setiap tindakan buruk27 . C. Agama Islam Tersebar Secara Damai Agaknya, cukup dengan memahami makna nama agama ini, yakni Islam, seseorang telah dapat mengetahui bahwa ia adalah agama yang mendambakan perdamaian. Cukup juga dengan mendengarkan ucapan yang dianjurkan untuk disampaikan pada setiap pertemuan. Assalmu alaykum (damai untuk Anda), seseorang dapat menghayati bahwa kedamaian yang didambakan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk pihak lain. Kalau demikian, tidak heran jika salah satu ciri seorang Muslim, adalah seperti sabda Nabi Muhammad Saw. yang berbunyi, Muslim sejati adalah yang bisa menjaga keselamatan darah dan harta orang lain 28. Meskipun sudah jelas bahwa agama Islam adalah agama perdamaian, tetapi kalangan Islamophobik (orang yang benci terhadap Islam) tak henti-hentinya menciptakan stereotype bahwa umat Muslim adalah ekstrimis, pembuat onar, anti-Kristen dan anti-Yahudi, menolak demokrasi, opresif terhadap wanita, dan memaksakan penerapan hukum Islam yang kejam. Kalangan Islamophobik bahkan menuduh Nabi Muhammad Saw. sebagai orang yang pertama kali mengkampanyekan terorisme di Madinah sehingga para pemeluk Islam menjadi teroris, intoleran, suprematik, dan psikopat. Jihad ofensif dalam Islam yang berbasis pada doktrin ayat pedang (QS. Al-Tawbah: 5) dinilai sebagai ancaman global yang mengkampanyekan jihad internasional29 . Fedrik Mores juga pernah menyatakan bahwa sudah menjadi kepastian bahwa agama Islam tidak akan pernah bisa berhasil mencapai tujuannya kecuali dengan cara kekerasan (violence)30 . Begitulah kalangan barat memahami Islam secara tidak seimbang. Barat secara umum dan Amerika Serikat
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

47

Jihad Dengan Metode Dakwah: Sebuah Upaya Implementasi Konsep Jihad

pada khususnya sangat khawatir apabila agama Islam akan cepat tersebar di sana. Oleh sebab itu, para pemimpin negara-negara barat berusaha sekuat tenaga dan dengan pelbagai cara untuk memperburuk citra Islam. Hal ini dimaksudkan supaya masyarakat di Barat enggan untuk masuk Islam. Misalnya Islam digambarkan sebagai agama yang mengajarkan terorisme, kekerasan, intoleran dan lainlain31. Menurut sumber-sumber sejarah otoritatif, penyebaran dakwah dalam Islam justru terkesan - dan bahkan - lebih ramah dan toleran jika dibandingkan dengan agama-agama lain di bumi ini. Prestasi Rasulullah Saw. yang cemerlang dalam membangun peradaban di Madinah diikuti oleh Umar Ibn al-Khab. Pada tahun 636 M, Umar Ibn alKhab menandatangi perjanjian Aelia dengan kaum Kristen di Jerussalem. Sebagai pemenang perang, Umar Ibn alKhab tidak menerapkan politik pembantaian terhadap pihak Kristen. Karena sikap tolerannya itu, Karen Amstrong memuji tindakan Umar Ibn al-Khab ini. Ia mencatat: Umar Ibn al-Khab juga mengekspresikan sikap ideal kasih sayang dari penganut (agama) monoteistik, dibandingkan para penakluk Jerussalem lainnya, dengan kemungkinan pengecualian pada Raja Dawd. Ia memimpin satu penaklukan yang sangat damai dan tanpa tetesan darah, yang kota itu belum pernah menyaksikannya sepanjang sejarahnya yang panjang dan sering tragis. Saat ketika kaum Kristen menyerah, tidak ada pembunuhan di sana, tidak ada penghancuran property, tidak ada pembakaran simbolsimbol agama lain, tidak ada pengusiran, dan tidak ada usaha untuk memaksa penduduk Jerussalem memeluk Islam32 . Sejarahlah yang akan menjadi bukti siapa yang mempunyai sifat cinta kasih dan toleran dengan siapa yang tidak toleran. Ketika pasukan Salib menaklukkan Jerussalem pada tahun 1099, mereka membantai sekitar 30.000

48

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Jihad Dengan Metode Dakwah: Sebuah Upaya Implementasi Konsep Jihad

penduduk kota suci itu, baik Muslim maupun Yahudi. Puluhan ribu kaum Muslim yang mencari penyelamatan di atap Masjid al-Aq dibantai dengan cara sadis. Begitupun yang terjadi di Spanyol dan Portugal, abad 15 menjadi saksi pembantaian besar-besaran kaum Yahudi dan Muslim oleh kaum Kristen Eropa. Jatuhnya Granada, pemerintahan Islam di Spanyol, pada 20 Januari 1492, telah mengakhiri pemerintahan Islam selama 781 tahun di Spanyol. Era pemerintahan Kristen di Spanyol ditandai dengan terpasungnya kebebasan beragama dan berkeyakinan. Isabella memaksakan dilakukannya pembaptisan secara massal. Meski umat Muslim melakukan perlawan, tetapi akhirya tetap bisa ditumpas. Baik umat Muslim maupun Yahudi hanya mempunyai dua pilihan: meninggalkan Spanyol atau dibaptis33 . *****

BAB III PENUTUP


Islam merupakan sebuah agama yang membawa visi dan misi ramatan li al-lamn. Untuk mengimplementasikan visi dan misi ini, Rasulullah Saw. dan para sahabatnya telah memberikan pelajaran yang amat berharga bagi umatnya. Mereka berjihad menyebarkan Islam dengan cara-cara yang sangat terpuji dan dengan sopan santun. Mereka juga sadar bahwa mengajak orang untuk memeluk Islam itu tidaklah semudah membalik telapak tangan. Karena hal ini merupakan wilayah hati dan keyakinan. Oleh karena itu, tidak diperkenankan dalam berdakwah menggunakan pemaksaan. Allah swt. dalam QS. al-Baqarah: 256 berfirman yang artinya, Tidak ada paksaan dalam agama. Jika demikian, sungguh tidak tepat sama sekali anggapan yang menyatakan
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

49

Jihad Dengan Metode Dakwah: Sebuah Upaya Implementasi Konsep Jihad

bahwa agama Islam tersebar dengan menggunakan pedang. Seperti itulah jihad Rasulullah Saw. dan para sahabatnya. Sejarah mencatat bahwa ayat jihad yang turun pertama kali adalah perintah untuk berdakwah menyebarkan Islam. Perintah jihad dengan metode dakwah ini terus berlangsung meski Rasulullah Saw. sudah berada di kota Madinah. Sedangkan Jihad yang berarti perang hanya bersifat temporal dan dalam konteks tertentu saja. Ia tidak bisa serta merta menghapus ayat jihad dengan metode dakwah secara ramah dan tanpa pemaksaan, sekalipun ia turun di Madinah. Jihad juga tidak bisa dijadikan alasan untuk memberantas kekafiran. Hal ini karena dalam agama Islam mengajarkan bahwa semua orang wajib untuk dihormati tanpa membedakan suku, ras dan agama. Jika kita melirik sejarah peperangan Rasulullah Saw., motif utama dari peperangan tersebut sebenarnya tidaklah murni semata-mata alasan kafir. Tetapi ada alasan lain di balik itu semua. Argumen ini dapat dibuktikan dalam QS. Al-Tawbah: 13. Ayat ini mengurai secara eksplisit motif diperanginya kalangan non-Muslim yang dalam konteks ini adalah kaum musyrik. Yang dibutuhkan sekarang adalah jihad untuk memperbaiki kondisi internal kaum Muslim itu sendiri. Karena hal ini merupakan bagian besar dari dakwah kepada orang lain untuk memeluk agama Islam. Dikatakan bagian dari dakwah, sebab manusia sejak dahulu sampai sekarang terus mencari contoh ideal dalam masalah perilaku dan akhlak untuk diikutinya. Seandainya kaum Muslim sekarang berbangga dengan keislaman mereka dan prinsip-prinsip serta hukum-hukumnya, niscaya mereka akan melihat cahaya petunjuk itu bersinar terang di seantero pedalaman Afrika dan Eropa. Allah swt. berfirman dalam QS. al-Nar: 2 yang artinya, Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah swt34. ***** 50
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Jihad Dengan Metode Dakwah: Sebuah Upaya Implementasi Konsep Jihad

END NOTE
1. Makalah Zulfi Mubarak, Kekerasan Atas Nama Agama: Studi Tentang Doktrin Jihad dalam Perspektif Pelaku Bom Bali 12 Oktober 2002, h. 2. Makalah diajukan kepada Ditpertais Kemenag. RI. dalam rangka Annual Conference Islamic Studies (ACIS) ke11, tanggal 10-12 Oktober 2011 di Bangka Belitung. 2. Makalah Prof. Dr. H. Imam Malik, M.Ag., Mozaik Islam Indonesia Menangkal Radikalisme Membingkai Nasionalisme, h. 6. Makalah seminar ACIS ke-11 di Novotel Propinsi Kepulauan Bangka Belitung tanggal 10-12 Oktober 2011. 3. James Turner Johnson, Perang Suci Atas Nama Tuhan dalam Tradisi Barat dan Islam, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002 M), h. 267. 4. Prof. Dr. Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran: Tafsir Mau i atas Berbagai Persoalan Umat, ebook, hal.493-496. 5. Dr. Wabah al-Zuailiy, al-Fiqh al-Syafiiyyah alMuyassar, Juz II, (Cet. I; Damaskus: Dr al-Fikr, 2008), h. 454. 6. Dr. Muhammad Sad Raman al-Bthiy, Fiqh alSrah al-Nabawiyyah, diterjemahkan oleh Aunur Rafiq Tamhid Lc. Dengan judul Sirah Nabawiyah: Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasul saw., (Cet. XVI; Jakarta: Robbani Press, 2010 M), h. 160. 7. Dr. Muhammad Sad Raman al-Bthiy, Al-Jihd fi al-Islm Kayfa Nafhamuhu wa Kaifa Numrisuhu, (Cet. I; Damaskus: Dr al-Fikr, 1993 M), h. 20. 8. Dr. Muhammad Sad Raman al-Bthiy, Hkadz fal Nad il al-Islm, (Abu Dabi: Dr al-Faqh, 2008 M), h. 22.
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

51

Jihad Dengan Metode Dakwah: Sebuah Upaya Implementasi Konsep Jihad

9. Dr. Muhammad Sad Raman al-Bthiy, Al-Jihd fi al-Islm, h. 19. 10. Ibid., h. 20. 11. Ibid. 12. Ibid., h. 22. 13. Dr. Muhammad Sad Raman al-Bthiy, Hkadz fal Nad il al-Islm, h. 26-27. 14. Ibid., h. 43-44. 15. Dr. Muhammad Sad Raman al-Bthiy, Fiqh alSrah, h. 122. 16. Ibid., h. 126-127. 17. Irwan Masduqi, Berislam Secara Toleran: Teologi Kerukunan Umat Beragama, (Cet. I; Bandung: Mizan, 2011 M), h. 54. 18. Dr. Muhammad Sa d Raman al-Bthiy, Al-Jihd fi al-Islm, h. 51. 19. Irwan Masduqi, Op. cit., h. 24. 20. Prof. Dr. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudlu i atas Berbagai Persoalan Umat, h. 370. *****

REFERENSI
Buku 1. Ab Khall, Syawqiy. Al-Tasmuh fi al-Islm wa Tashub Khumihi. Cet. Ke-3. Tripoli: Kuliah Dakwah Islamiyah. 2. Al-Bthiy, Muammad Sad Raman. 2008. Hkadz fal Nad il al-Islm. Abu Dabi: Dr alFaqh. 52
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Jihad Dengan Metode Dakwah: Sebuah Upaya Implementasi Konsep Jihad

3. Al-Bthiy, Muhammad Sad Raman. 1993. AlJihd fi al-Islm Kaifa Nafhamuhu wa Kaifa Numrisuhu. Cet. Ke- I. Damaskus: Dr al-Fikr. 4. Al-Bthiy, Muammad Sad Raman. 2007. AlIslm wa al-Gharb. Cet. Ke-1. Damaskus: Dr alFikr. 5. Al-Bthiy, Muammad Sad Raman. 2010. Fiqh alSrah al-Nabawiyyah. (pent.) Aunur Rafiq Tamhid. Sirah Nabawiyah: Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasul Saw. Cet. Ke-15. Jakarta: Robbani Press. 6. Al-Zuayliy, Wahbah. 2008. Al-Fiqh al-Syfiiyyah al-Muyassar. Cet. Ke-1. Juz II. Damaskus: Dr al-Fikr. 7. Shihab, Quraish. Membumikan Al-Quran: Tafsir Maui atas Pelbagai Persoalan Umat. ebook-PDF. 8. Shihab, Qurash. 2010. Tafsir Al-Misbh, Cet. Ke-3. Juz V. Tangerang: Lentera Hati. 9. Masduqi, Irwan. 2011. Berislam Secara Toleran: Teologi Kerukunan Umat Beragama. Cet. Ke-1. Bandung: Mizan. 10. Johnson, James Turner. 2002. Perang Suci Atas Nama Tuhan dalam Tradisi Barat dan Islam. Bandung: Pustaka Hidayah. Makalah 1. Mubarak, Zulfi. Kekerasan Atas Nama Agama: Studi Tentang Doktrin Jihad dalam Perspektif Pelaku Bom Bali 12 Oktober 2002. Makalah. 2. Husaini, Adian. Piagam Madinah dan Toleransi Beragama. Makalah. 3. Malik, Imam. Mozaik Islam Indonesia Menangkal Radikalisme Membingkai Nasionalisme. Makalah. *****

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

53

Jihad Dengan Metode Dakwah: Sebuah Upaya Implementasi Konsep Jihad

21. Dr. Muhammad Sa d Raman al-Bthiy, Al-Jihd fi al-Islm, h. 53. 22. Ibid., h. 53-54. 23. Ibid., h. 55-56. 24. Prof. Dr. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mibh, Juz V, (Cet. III; Tangerang: Lentera Hati, 2010 M), h. 2223. 25. Dr. Muhammad Sad Raman al-Bthiy, Al-Jihd fi al-Islm, h. 56. 26. Ibid. 27. Prof. Dr. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mibh, h. 13. 28. Prof. Dr. Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran: Tafsir Maui atas Berbagai Persoalan Umat, h. 369. 29. Irwan Masduqi, Op. cit., h. 2. 30. Syawqiy Ab Khall, Al-Tasmuh fi al-Islm wa Tashub Khumihi, (Cet. III; Tripoli: Kuliah Dakwah Islamiah, tt), h. 55. 31. Dr. Muhammad Sad Raman al-Bthiy, Al- Islm wa al-Gharb, (Cet. I; Damaskus; Dr al-Fikr, 2007 M), h. 188. 32. Makalah Dr. Adian Husaini, Piagam Madinah dan Toleransi Beragama, h. 6. Disampaikan dalam acara Seminar Sehari di Gedung Sasana Amal Bakti Kementerian Agama RI, tanggal 17 Maret 2010. 33. Ibid., h. 5. 34. Dr. Muhammad Sad Raman al-Bthiy, Fiqh alSrah, h. 373. *****

54

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

IDEOLOGI JIHAD MODERAT


Antara Pedang dan Burhan
Oleh: Nuril Izza Muzakki

Terorisme pada dasarnya merupakan pembajakan terhadap nilai luhur keagamaan. Secara eksplisit, aksi yang dilakukan oleh kelompok Islam fundamental menunjukkan ideologi kekerasan yang dikelindankan dengan keagungan ajaran agama. Jihad, oleh pengusung ideologi terorisme, hanya legitimasi teologis dan justifikasi yang sebenarnya sama dengan memolitisasi dan memonopoli tafsir agama. Sikap-sikap yang ditunjukkan sebagai bagian dari klaim identitas dan solusi agama itu, selalu saja dibingkai dengan jihad dalam makna yang sesungguhnya amat parokial, rigid, dan literal. Tindakan semacam itu adalah bagian dari anakronisme sejarah yang akut. Karena itu, jihad selalu harus direkonstruksi sebagai sebuah ajaran yang substansial.. ***** *****

54

JURNAL SKETSA EDISI V

JURNAL SKETSA EDISI V

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

55

Ideologi Jihad Moderat: Antara Pedang dan Burhan

BAB I PENDAHULUAN
Melalui sang pengemban rislah, Muhammad allalLhu alayhi wa sallam-, Allah -subnahu wa talmenurunkan Islam sebagai syariat seluruh umat manusia. Sebuah aturan yang paripurna menjadi pedoman universal mencapai prospek harmonis kehidupan dunia-ukhrawiy. Islam memandang kehidupan di dunia bukanlah sebagai target kebahagian terakhir. Sebaliknya, Islam memandangnya sebagai awal episode menuju kehidupan panjang dan abadi tanpa batas akhir. Penciptaan alam semesta adalah karunia Allah -Subnahu wa tal- yang disediakan sebagai fasilitas kehidupan manusia di dunia. Islam telah mengenalkan lima elemen pokok untuk mengawal perjalanan umat manusia demi mencapai keberlangsungan kehidupan yang ideal, yakni agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Untuk melindungi lima kebutuhan elementer di atas, Islam hadir membawa kewajiban jihad sebagai bentuk perlindungan atas eksistensi agama meskipun harus mengorbankan jiwa dan raga sebagai taruhannya. Nyawa harus dilindungi meski harus mengorbankan akal pikiran. Demikian juga keturunan akan t e t a p m e n d a p a t k a n p e r l i n d u n ga n m e s k i h a r u s mempertaruhkan harta. Legislasi jihad dalam Islam bukanlah konsepsi anarkisekstremis untuk membantai kelompok non-Muslim tanpa batas. Jihad, dalam Islam, justru diproyeksikan secara proporsional guna mempertahankan eksistensi agama, kebebasan berakidah, kebebasan dakwah, dan kemerdekaan tanah air dari teror, intimidasi, agresi dan penjajahan. Islam tidak menghunuskan pedang untuk menancapkan keimanan dalam hati umat, akan tetapi Islam justru menanamkan keimanan dalam hati melalui sentuhan dalil dan ujjah, karena tidak ada paksaan dalam keyakinan. Lebih dari itu, jihad juga 56
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Ideologi Jihad Moderat: Antara Pedang dan Burhan

datang sebagai gerakan pembebasan manusia dari sistem dan nilai-nilai jahiliyah. Dalam sejarah umat Islam, konsep jihad dan mati syahid tak ubahnya bagaikan pinang dibelah dua. Jihad tak lain adalah wujud perlawanan menolak segala bentuk penindasan. Namun kadang umat Islam salah tangkap dan keliru mengartikan jihad. Sebagian pihak mengklaim bahwa jihad atau mati syahid merupakan padanan bom bunuh diri. Kasus bom bunuh diri (suicide bombing) dalam Bom Bali jilid II, sekaligus deretan pemboman lain di wilayah nusantara dengan kentalnya sentimen agama, selalu berakar pada konsep jihad di dalam Islam. Jihad kerap diartikan sebagai perjuangan fisik yang berbuntut pada penghalalan atas penyerangan, kekerasan, bahkan permusuhan terhadap pihak lain (the others). Padahal jihad tak selalu identik dengan kekerasan, penyerangan, pengeboman, pengrusakan dan sejenisnya, tetapi sebuah perjuangan melawan penindasan atas dasar alasan rasional dan dapat dipertanggungjawabkan baik di dunia maupun di akhirat. Muara problematika epistemologis jihad sebagai sikap ofensif adalah sebuah krisis keagamaan, bahkan krisis nurani kemanusiaan. Dalam konteks berjuang, terkadang dibutuhkan sikap keras namun tidak kalap, tidak liar, apalagi sampai menghalalkan segala cara. Dalam buku Al-Jihad, Gamal al-Banna berpandangan bahwa ahli fikih klasik paling bertanggung jawab menyangkut tersebarnya jihad dengan pengertian ekstrem membunuh. Namun menurutnya, hal itu wajar terjadi berdasar faktor sosio-politik yang berkembang ketika ahli fikih tersebut hidup. Realita itu juga bisa ditolerir, karena kondisi saat itu perang sedang dahsyat merajalela. Kontroversi tentang interpretasi makna jihad sebagai salah satu doktrin agama seakan tidak dapat dihindari. Paham Islam radikal-fundamental pengusung konsep jihad ofensif, juga tidak kalah melayangkan kritik pedas kepada 57

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Ideologi Jihad Moderat: Antara Pedang dan Burhan

para pengagum jihad defensif. Menurut mereka, jihad adalah kewajiban yang harus ditegakkan setelah terkubur dan membuat Islam mundur. Term perang defensif tidak lain adalah bagian dari gempuran para orientalis yang sengaja menghancurkan Islam dari dalam. Mengasosiasikan jihad dengan sikap defensif justru membuka lebar-lebar jalan kesengsaraan dan kekalahan umat manusia. Rasyid Ridha mengkritik habis-habisan para pemikir progresif yang dituduh kebarat-baratan1. Oleh Ridha, mereka dianggap merusak Islam dari dalam. Ridha juga memandang perlu membentuk jihad baru untuk menjegal pemikiran yang merongrong ajaran internal Islam. Terperangkap dalam posisi yang cukup dilematis ini, umat Islam harus selektif dalam mengambil sikap agar tidak terbawa arus ideologi agama yang dangkal dan literal, atau sebaliknya jatuh dalam pemikiran liberal dan plural. Disadari atau tidak, mengambil sikap al-tawssu (moderat) di antara dua kubu yang saling berseberangan merupakan langkah ideal. Oleh karenanya, dalam limit kajian inilah, penulis akan mengetengahkan sebuah analisa obyektif melalui kajian metodologis dan historis tentang proporsi dan kedudukan konsepsi jihad dalam Islam yang sering diperdebatkan. Di pihak lain, tulisan ini juga akan mengulas ketegangan metodologis antara paham jihad defensif dan ofensif serta upaya untuk mengkonsolidasikan kedua paham yang saling bertolak belakang tersebut hingga mencapai titik moderat yang menyatukan keduanya. *****

58

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Ideologi Jihad Moderat: Antara Pedang dan Burhan

BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Jihad Kata jihad dengan aneka derivasi kata turunannya, tertera sebanyak 41 dalam al-Quran yang tersebar di 19 surat. Ayat-ayat perang dalam konteks perjuangan ditemukan sebanyak 28 ayat. Secara literal, jihad mempunyai makna mengerahkan segenap kapasitas, mencurahkan kemampuan dan mengeksploitasi energi atau berjuang keras demi mencapai tujuan. Konotasi turunan kata yang dihasilkan dari akar kata jihad adalah ijtihd dan mujhadah. Ijtihd, dalam perspektif uliyyn, dideskripsikan sebagai istilah untuk mengeksploitasi pemikiran dalam rangka penggalian hukumhukum formal langsung dari sumbernya sebagai ketetapan yuridis Islam. Sedangkan mujhadah adalah perang spiritual melawan hawa nafsu dan bisikan setan. Dalam pandangan al-Ghazliy, perang jenis ini tidak akan pernah berhenti dan akan terus berkobar hingga seseorang menemui ajalnya. Menurutnya, selama darah masih mengalir, lorong-lorong setan menuju hati akan terus terbuka. Dan inilah jihad kubr yang dimaksud oleh baginda Nabi Muhammad -allalLhu alayhi wa sallam- dalam sabdanya menyadarkan para sahabat yang merasa bangga dengan kemenangan sepulang dari perang Badar. Dalam kesempatan itu, beliau bersabda: Kita kembali dari peperangan yang kecil menuju peperangan yang amat besar, yaitu perang melawan hawa nafsu. (HR. al-Bayhaqiy). Al-Raghib mengatakan, Esensi jihad adalah berupaya sekuat tenaga untuk menghadapi musuh, baik musuh secara lahir atau musuh yang hanya tampak oleh pandangan mata batin seperti hawa nafsu dan setan. Tampaknya, konsep 59

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Ideologi Jihad Moderat: Antara Pedang dan Burhan

jihad dalam perspektif al-Raghib tidak hanya sekedar menghadapi orang kafir saja. Jihad di tangan al-Raghib bisa dikatakan telah meng-cover seluruh bentuk jihad dengan segala ragam variasinya. Terminologi jihad secara umum didefinisikan dengan berjuang keras demi terciptanya masyarakat Islami dan demi menegakkan kalimat Allah agar pesan-pesan ketuhanan dapat diaplikasikan di muka bumi. Menurut madzhab alanafiyyah, jihad didefinisikan sebagai usaha dakwah untuk mengajak kepada agama yang hak dan memerangi kelompok yang menentangnya baik dengan cara turun langsung ke medan perang atau dengan wujud partisipasi lain. Madzhab al-Mlikiyyah mendefinisikan jihad sebagai peperangan antara umat Islam melawan orang kafir yang tidak memiliki rekonsiliasi damai dengan Islam. Definisi jihad di tangan madzhab al-anbilah terkesan lebih spesifik lagi. Menurut mereka, jihad merupakan agresi umat Islam yang di arahkan kepada orang kafir. Sehingga menurut versi ini, perang menghadapi pemberontak dan perampok jalanan bukan termasuk jihad. Sedangkan terminologi jihad dalam pandangan madzhab al-Syfiiyyah adalah perang melawan orang kafir demi menjaga eksistensi agama. Dari beragam variasi bahasa yang dipakai masingmasing madzhab dalam mendeskripsikan jihad, dapat dimengerti bahwa amaliah nyata sebagai media mengekspresikan jihad baik secara individu maupun kelompok dapat dimanifestasikan dalam bentuk: a. Memberikan informasi penting kepada masyarakat perihal ajaran tauhid dan nilai-nilai agama melalui media pendidikan, diskusi, riset atau meluruskan paham-paham sesat. b. Merelakan harta benda yang dialokasikan untuk kebutuhan dana sosial demi menegakkan masyarakat Islam yang kuat. c. Mengangkat senjata dalam pengertian perang secara difiy (defensif). 60
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Ideologi Jihad Moderat: Antara Pedang dan Burhan

d. Mengangkat senjata dalam pengertian perang secara hujmiy (ofensif). B. Kajian Metodologis-Historis Legislasi Jihad Dalam sub judul ini, kajian akan dikonsentrasikan pada analisis ayat-ayat perang dan membaca peta peperangan dalam potret sejarah Rasulullah -allalLhu alayhi wa sallam- untuk meletakkan neraca kajian pada titik keseimbangan hipotesis ilmiah sebagai usaha merekonstruksi formulasi konsep jihad secara obyektif dan akurat. Implikasinya, ruh jihad dalam Islam, diharapkan menemukan wajah aslinya dan karakter Islam yang sesungguhnya juga bisa disaksikan oleh umat sedunia. 1. Eksistensi Ayat-Ayat Perang Sebuah wacana metodologis yang paling mengemuka dalam term jihad adalah seputar persepsi teori naskh-manskh dan interpretasi terhadap ayat-ayat perang yang varian dan relatif. Sehingga semangat interpretasi dan persepsi tidak akan luput dari pro dan kontra. Silang pendapat di kalangan sarjana Islam perihal mana ayat yang pertama kali turun merekomendasikan legislasi jihad merupakan konsekuensi logis dari beragam interpretasi. Al-Rab menyatakan bahwa ayat yang pertama kali turun adalah surat al-Baqarah: 190, Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu terlalu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Sebagian pendapat menyatakan ayat perang yang pertama kali turun adalah surat al-ajj ayat: 39,

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

61

Ideologi Jihad Moderat: Antara Pedang dan Burhan

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuasa menolong mereka itu. Islam melalui surat al-Baqarah: 190, hanya melegitimasi jihad secara defensif. Pada giliran selanjutnya, melalui al-ajj: 39, Islam dengan nilai universalnya telah membawa konsep jihad ke arah yang lebih komprehensif. Secara eksplisit, ayat tersebut melegitimasi konsep jihad ofensif. Disparasi konsep jihad semakin tampak diametris, dengan turunnya ayat-ayat perang lainnya seperti surat alTawbah: 5, 29 dan 36, al-Baqarah: 1 dan 3. Corak redaksional ayat-ayat ini semuanya mengarah pada perang, baik secara defensif maupun ofensif. Di pihak lain, sebagian sarjana Islam menggulirkan persepsi naskh-manskh antar ayat-ayat perang satu dengan yang lain. Menurut Muqtil, ayat yang melegalkan jihad defensif (QS. al-Baqarah: 190) telah di-naskh oleh ayat selanjutnya (Q.S. al-Baqarah: 191). Al-Rziy, salah satu mufasir Islam terkemuka, tidak menyetujui pemikiran Muqtil. Ia menegaskan bahwa ayat perang yang melegitimasi jihad defensif masih tegas dan utuh2. Interpretasi inilah yang pada perkembangan selanjutnya melahirkan madzhab jihad defensif. 2. Metodologi Paham Jihad Ofensif dan Defensif Munculnya dua kecenderungan paham jihad ofensif dan defensif pada perkembangan selanjutnya menuntut keduanya menciptakan konstruksi metodologis yang kontradiktif satu sama lainnya sebagai konsekuensi substansial sebuah pemikiran. Paham jihad ofensif meletakkan pondasi pemikiran konsepsinya, bahwa jihad diproyeksikan untuk 62
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Ideologi Jihad Moderat: Antara Pedang dan Burhan

membasmi kekafiran di muka bumi. Musuh atau obyek dalam jihad menurut paham jihad ofensif adalah murni kekafiran itu sendiri. Eksistensi Ayat-ayat al-Quran yang menganjurkan perang defensif telah di-naskh. Dampaknya, kewajiban jihad menurut paham ini akan terus berlangsung sepanjang kekafiran masih merajalela di muka bumi dan hanya akan berakhir jika mereka memeluk agama Islam atau setidaktidaknya patuh dengan aturan Islam dengan cara membayar pajak perlindungan jiwa. Berdasarkan data sejarah, validitas kebenaran ideologi jihad ofensif semakin kokoh. Sejarah mencatat, fase jihad pamungkas yang dicontohkan Nabi Muhammad allalLhu alayhi wa sallam- adalah jihad secara ofensif (hujmiy). Sebuah fakta historis yang tidak terbantahkan dan harus diterima dengan lapang dada tanpa perlu dibawa dalam interpretasi yang kurang argumentatif. Dari arah yang berlawanan, paham jihad defensif menolak secara terang-terangan argumentasi yang digulirkan oleh paham jihad ofensif. Menurut mereka, ayat-ayat alQuran yang menyerukan jihad hanya secara defensif tetap berlaku dan tidak di-naskh. Interpretasi seperti ini melahirkan sebuah afirmasi hukum tetap melarang jihad secara ofensif. Dengan kata lain, legislasi jihad hanya diproyeksikan untuk membela agama dari gempuran atau ancaman non-Muslim. Implikasinya, objek atau musuh Islam dalam pandangan mereka bukan semata-mata kekafiran itu sendiri. Karenanya, jihad akan dinilai final jika orang kafir berhenti melancarkan serangan atau mereka mengajak hidup toleran dan hidup damai berdampingan dengan umat Islam. A. Upaya Mengkonsolidasikan Paham Jihad Ofensif dan Defensif Menyimak paham jihad defensif dan ofensif di atas dapat diketahui titik bentur dari kedua kecenderungan tersebut. Karakteristik pola pikir paham jihad ofensif
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

63

Ideologi Jihad Moderat: Antara Pedang dan Burhan

cenderung tekstualis dan mengabaikan berkas-berkas historis sebagai pertimbangan hukum. Sehingga formulasi metodologis yang diperoleh paham jihad ofensif praktis terkesan menjadikan Islam sebagai agama yang anarkisekstremis. Islam bukanlah agama yang memaksakan aqidah. Satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah ini, tidak menilai keislaman seseorang dari ekspresi fisik belaka, sementara sisi batinnya kosong dari tauhid. Allah -subnahu wa talberfirman: Dan di antara manusia ada yang mengatakan: 'Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian'. Padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. (QS. al-Baqarah: 8). Apabila Allah -subnahu wa tal- telah menafikan predikat keimanan yang hanya diikrarkan dari dan dengan lisan-lisan mereka, adalah absurd jika pada titik berikutnya disimpulkan bahwa kehadiran Islam bertujuan memaksa keyakinan umat. Secara eksplisit, al-Quran telah mengkandaskan harapan pemeluk agama Islam untuk menempuh jalan paksa dalam berdakwah. Allah -subnahu wa tal- berfirman: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang lurus dari pada jalan yang sesat. (QS. al-Baqarah: 256).

Keyakinan, pengetahuan dan kesadaraan seseorang bukan didapatkan dari ketajaman mata pedang, melainkan dari kebenaran dalil dan burhan. Dampaknya, menjadikan pedang (jihad) sebagai media dakwah sama saja dengan menutup pintu hati dan memadamkan cahaya iman. Inilah sisi fatalitas dari kecenderungan paham jihad ofensif (hujmiy).
Di pihak lain, karakteristik paham jihad defensif 64
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Ideologi Jihad Moderat: Antara Pedang dan Burhan

(difiy) yang melegislasikan jihad hanya diproyeksikan sebagai langkah protektif dakwah Islam, pada skala tertentu cenderung hanya menginterpretasikan jihad sebagai legislasi bela diri atau mempertahankan diri. Interpretasi model ini, praktis merefleksikan esensi Islam yang pasif, vakum dan tidak reaksioner dalam menegakkan syariat di muka bumi. Paham jihad defensif juga terkesan mendudukkan Islam setara dengan non-Islam atau justru lebih rendah dari itu. Padahal Islam adalah agama luhur dan senantiasa dalam keluhurannya. Rasulullah -allalLhu alayhi wa sallambersabda: Jika jihad hanya diartikan sebagai gerakan defensif, membela dan mempertahankan diri, berarti juga merendahkan eksistensi Islam itu sendiri. Di tangan mereka, Islam akan tampak lemah, penakut dan tidak berdaya. Padahal Islam dengan konsep jihadnya hadir untuk membela diri sekaligus membebaskan dunia dari segala bentuk kezaliman dan kemungkaran yang melanda umat manusia. Semua sistem dan pandangan hidup, baik di bidang akidah, politik, sosial, ekonomi, budaya dan lainnya yang tidak mencerminkan nilai keislaman serta tidak diridai oleh Allah subnahu wa tal- adalah bentuk kezaliman masyarakat dunia yang harus dihapus. Pada titik inilah, konsep jihad berperan penting sebagai gerakan pembebasan dunia dengan menegakkan syariat Tuhan dan menghapus segala sistem dan pandangan jahiliyah yang senantiasa bersandar pada setan. Ruh ajaran Islam tidak pernah menganjurkan penganutnya untuk berpangku tangan, berdiri di tempat dan tidak reaktif melihat kezaliman merajalela di mana-mana, lantaran mereka tidak terlebih dahulu menyerang atau mereka tidak mengancam umat Islam. Apakah sebuah kemerdekaan hanya sekedar hidup damai, hidup toleran dan
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

65

Ideologi Jihad Moderat: Antara Pedang dan Burhan

rukun, sementara dunia kedap dengan gelimang kezaliman, kemungkaran dan kekufuran?. Apakah Abu Bakar, Umar dan Utsman, seandainya telah berhasil membebaskan jazirah Arab dari gempuran Romawi dan Persia, akan berpangku tangan dan tidak memperluas penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia?. Dari sudut inilah paham jihad defensif tidak sepenuhnya dibenarkan dan tidak bisa diterima secara totalitas lantaran telah mengasosiasikan konsep jihad hanya sebatas gerakan membela diri dari serangan musuh. Konsep jihad defensif tidak mampu berpartisipasi aktif membawa semangat ruh Islam sendiri dalam menyebarkan misinya ke seluruh penjuru dunia tanpa batas rasial dan geografis. Dalam Tafsr F ill al-Quran, Sayyid al-Qub mengatakan: Orang yang mengerti tabiat Islam, niscaya tahu akan keharusan adanya gerakan Islam dalam bingkai jihad dan mengerti pula bahwa kewajiban jihad ini tidak hanya bersifat mempertahankan diri (difiyyah) dalam arti sempit sebagaimana yang dipahami sekarang dengan istilah perang defensif atau sebagaimana yang dipahami oleh orang-orang yang kalah dalam tekanan realitas dan gempuran orientalis yang licik memaknai jihad Islam sebagai gerakan defensif. Ia juga mengatakan: Kita jangan sampai tertipu dan terlena oleh provokasi kaum orientalis perihal prinsip jihad. Kita jangan sampai menyerah di hadapan tekanan realitas saat ini, meskipun tekanan itu terasa berat sekali dipandang dari segi perimbangan kekuatan militer. Karenanya, kita tidak perlu mencari-cari alasan moral bagi jihad Islam dengan tabiat esensi ajaran agama itu sendiri. Sampai di sini, tampaklah kelebihan dan kelemahan dari dua kecenderungan konsep jihad ofensif dan defensif. 66
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Ideologi Jihad Moderat: Antara Pedang dan Burhan

Oleh sebab itu, perluasan makna kata defensif demi mencapai benang moderat yang menengahi antara dua ideologi konsep jihad yang ekstrem di atas adalah sebuah keniscayaan. Dengan bahasa yang lebih sederhana, sepanjang nilai-nilai kebebasan dakwah dan ajaran Islam dihormati, maka Islam tidak akan menghunuskan pedang untuk membasmi kekafiran. Namun bukan berarti dengan tercapainya perdamaian dunia, misi agama menegakkan syariat Tuhan di muka bumi berhenti secara total. Sepanjang kezaliman masih menjadi sistem dan pandangan hidup, maka sepanjang itulah jihad berperan sebagai gerakan pembebasan dalam Islam yang melintasi ruang dan waktu. Dengan demikian, tampaklah hakikat Islam yang tinggi dan tertinggi, bahwa jihad merupakan pernyataan umum untuk melepaskan penyembahan sesama makhluk dan menetapkan ulhiyyah dan rubbiyyah semesta alam hanya kepada Allah subnahu wa tal-. Jihad juga harus difungsikan untuk meruntuhkan kekuasan hawa nafsu di muka bumi dan menegakkan kekuasaan syariat Tuhan terhadap manusia. *****

BAB II PENUTUP
Dari uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa distorsi makna jihad sebagai gerakan fisik, pada urutannya bukan saja terus menodai citra agama Islam sebagai pembawa rahmat bagi semesta, melainkan juga terus menghantui umat sebagai kekuatan laten yang destruktif dan traumatik, justru dari dalam psikologis umat sendiri. Alhasil, implikasi negatif itu tak lain hanyalah sebuah beban psikologis-historis umat yang malah menambah persoalan, bukan solusi itu sendiri yang cenderung digembor-gemborkan. Kecenderungan masyarakat elite dan awam yang
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

67

Ideologi Jihad Moderat: Antara Pedang dan Burhan

masih parokial (dangkal pemikiran dan kesalehan) dengan sikap ekstrem dan eksesif dalam pengamalan agama tidak bisa dipungkiri. Indikator dari sikap ekstrem dalam beragama ini menurut Ysuf al-Qarwiy (1981) antara lain: pertama, munculnya fanatisme dan intoleransi sebagai akibat dari prasangka (prejudice), kekakuan (rigidity), dan kepicikan pandangan (lack of insight). Hal itu membuahkan reperkusi terhadap orang lain, baik dalam bentuk terorisme intelektual dengan fitnah dan tuduhan penganut bidah, kafir, fasik, murtad dan sebagainya. Kedua, berlebih-lebihan atau melampaui batas. Yakni mengambil garis keras (hardliners) yang eksklusif dengan gaya demonstrasi berupa penghakiman sepihak dan bahkan ancaman kekerasan. Ketiga, membebani orang lain tanpa mempertimbangkan situasi dan kondisi. Dan terakhir, keras dalam memperlakukan diri sendiri serta orang lain, sehingga misalnya, asas praduga tak bersalah tidak pernah dihiraukan. Semua ciri yang bersifat tiranik (tughyn) dan tidak egaliter ini jelas membahayakan hak-hak orang lain, terutama berkaitan dengan hak asasi untuk hidup dan kebebasan beragama. Namun diakui atau tidak, Ayat-ayat perang sangat jelas dan tegas sehingga tidak ada alasan lagi untuk memahami perang defensif sebagai asas jihad dalam Islam. Kita juga tidak mempunyai alasan yang kuat untuk menghapus ayat-ayat sebelumnya yang menetapkan jihad defensif. Jihad disyariatkan hanyalah untuk menegakkan kalimat Allah, membangun masyarakat Islam dan mendirikan negara Islam di muka bumi. Sarana apa saja, selama dibenarkan dan diperlukan, maka harus dilakukan. Dalam kondisi tertentu, mungkin sarana yang diperlukan adalah perdamaian, memberikan nasehat, pengajaran dan bimbingan. Pada saat seperti ini, jihad tidak dapat diinterpretasikan kecuali dengan hal tersebut. Dalam kondisi yang lain mungkin sarana yang diperlukan adalah perang ofensif yang notabene merupakan 68
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Ideologi Jihad Moderat: Antara Pedang dan Burhan

puncak jihad. Kondisi dan sarana ini penentuan dan penilaiannya harus dilakukan oleh orang-orang yang dianggap berkompeten, menguasai permasalahan dan ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya dan seluruh kaum Muslimin. Masing-masing dari sarana-sarana tersebut tidak boleh diaplikasikan kecuali sesuai dengan tuntutan kemaslahatan. WalLhu alam. *****

END NOTE
1. Al-Sayyid Ysuf, Rasyid Ridha; Wa al-`Awdah Il Manhaj al-Salaf, (Kairo: Mirits Li Al-Nashr Wa AlMa`lumat, 2000 M), hal. 37. 2. Muammad Al al-Syis, Tafsr yt al-Akm, (Beirut: Dr Ibn Katsr), hal. 191. *****

REFERENSI
1. Al-Quran dan Terjemahannya. 2. Al-Syis, Muammad Aliy. 2009. Tafsr yt alAkm. Cet. Ke-6. Beirut: Dr Ibn Katsr. 3. Al-Bthiy, Muammad Sad Raman. 2009. Fiqh alSrah al-Nabawiyyah. Cet. Ke-30.Beirut: r al-Fikr. 4. Al-Zuaily, Wahbah. 1992. Atsar al-Harb F Fiqh alIslmiy. Cet. Ke-4. Beirut: Dr al-Fikr. 5. Wizrah al-Auqaf al-Siyn al-Islmiyyah. 1983. AlMawsah al-Fiqhiyyah al-Kuwaytiyyah. Cet. Ke-2. Kuwait: Dzt al-Salsil. 6. Ysuf, al-Sayyid. 2000. Rasyid Ridha; Wa al-Awdah Il Manhaj al-Salaf . Cet. Ke-1. Kairo: Mirits Li al-Nashr Wa al-Malmt. 7. Al-Banna, Gamal. 2002. Al-Jihd. Kairo: Dr Fikr alIslmiy. *****
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

69

KOREKSI MAFHUM JIHAD


Sebagai Alat Senjata Perang Islam
Oleh: Muhammad Bejo

( : )

Memelihara perdamaian dan keamanan Internasional, dan untuk tujuan itu: melakukan tindakan-tindakan bersama yang efektif untuk mencegah dan melenyapkan ancaman-ancaman terhadap pelanggaranpelanggaran terhadap perdamaian; dan akan menyelesaikan dengan jalan damai, serta sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan dan hukum internasional, mencari penyelesaian terhadap pertikaian-pertikaian Internasional atau keadaan-keadaan yang dapat mengganggu perdamaian. (Piagam PBB, Pasal: 1, Ayat: 1).

*****

70

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Mulai tahun 2000 hingga tahun 2011, tercatat hampir 30 kasus terorisme terjadi di Indonesia. Kebanyakan kasus itu berupa serangan pengeboman. Sudah dapat diduga bahwa sasaran dari kasus teror itu adalah tempat-tempat seperti gereja, kantor Kedubes luar negeri non-Islam, dan tempat lain yang disinyalir sarang kemaksiatan bagi umat Islam. Dengan tanda ini, simpel kata, Islam pun menjadi tertuduh atas b e b e r a p a k a s u s i t u , t e r u t a m a m e r e k a ya n g mengatasnamakan kelompoknya dengan Jamaah Islamiyah. Berkaitan dengan hal di atas, lebih rancu lagi jika para pelaku teror itu mengatasnamakan tindakannya dengan sebutan 'jihad'. Sepintas sepertinya juga benar karena sasaran mereka adalah orang-orang kafir, namun di sisi lain ada segi negatif yang dampaknya malah menyalur ke seluruh umat Islam. Dari sinilah muncul pertanyaan, benarkah realisasi jihad seperti itu? Jika seperti itu, berarti Islam lebih menyukai pertumpahan darah dari pada perdamaian. Dan itu sangat tidak sesuai dengan tujuan dari Islam itu sendiri, yaitu rmatan li al-lamn. Selain itu juga tidak sesuai dengan fitrah manusia yang secara alami sebenarnya lebih menyukai perdamaian daripada peperangan. Berangkat dari kasus ini, seakan perlu sekali suatu kajian tentang ulasan realisasi jihad secara jelas. Bagaimana hukum jihad yang sebenarnya dalam sebuah negara Islam? Harapannya, dengan kajian ini semoga wacana kita tentang jihad tidak keliru dalam menyudut pandang. Tak jarang dari Muslim sendiri pun kadang merasa ragu, seakan benar, menyangka bahwa ajaran jihad seperti itu. Selain dalam kitab-kitab klasik fikih juga kerap memberikan hukum yang
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

71

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

agaknya sedikit keras tentang masalah ini. Dari sinilah kajian ini mencoba mengungkap sisi yang tersembunyi dari pemahaman kita tentang jihad, agar selanjutnya tidak menjadi kerancuan dalam berfikir. B. Orientasi Judul Kata 'Koreksi' dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pembentukan; perbaikan; pemeriksaan. Dalam judul kajian ini, koreksi yang dimaksud adalah pemeriksaan terhadap pemahaman mengenai jihad secara hukum fikih. Lebih terkhusus dalam versi fikih karena perdebatan yang sering terjadi dalam masalah ini kebanyakan berkenaan dengan masalah ijtihad pada nash-nash syari yang bersifat anniy. Dalam kajian ini tidak membahas istilah jihad dalam perspektif taSawuf, yang mana lebih condong mengatakan bahwa jihad adalah perlawanan terhadap nafsu dan syetan. Kemudian permasalahan jihad yang akan dikaji dalam artikel ini lebih terkhusus pada sudut pandang fungsi jihad dalam suatu negara Islam. Hal ini karena jihad adalah alat perang yang sering digunakan ketika negara Islam memerangi musuhnya. Ringkasnya, arti dari judul tersebut adalah 'pemeriksaan ulang tentang makna jihad yang digunakan oleh suatu negara Islam dalam mengadakan suatu peperangan terhadap negara lain secara sah menurut syara. C. Metode Penulisan Dalam kajian ini terdiri dari enam poin penting: a. Pendahuluan; berisi latar belakang penulisan, orientasi judul, dan metode penulisan. b. Pemaknaan istilah jihad; mencoba mengetengahkan maknanya secara bahasa dan istilah fikih, dan juga dalam istilah Barat. c. Pen-tasyri -an jihad; mencoba menuturkan bagaimana rincian historis jihad bisa diwajibkan dalam Islam. 72
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

d. Tatanan jihad dawlah islmiyyah dalam hubungan internasional; mencoba menjelaskan fungsi jihad dan sebab-sebabnya dalam sebuah negara s e l a m a berkenaan hubungannya secara internasional dengan negara-negara lain di dunia. e. Klasifikasi negara non-Islam dan hukum memeranginya; mencoba merinci jenis-jenis negara yang wajib diperangi dan negara yang tidak boleh diperangi, sehingga jelaslah siapa saja yang sepantasnya menjadi objek jihad itu. f. Simpulan; berisi ringkasan inti kajian secara garis besarnya. Selain enam poin di atas, dalam kajian ini membatasi lingkupnya dalam madzhab al-Syfiiyyah saja, dimana menimbang begitu luasnya kajian fikih dari berbagai madzhab yang membutuhkan pengerucutan sasaran. Selain itu juga menimbang bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim yang bermadzhab al-Syfiiyyah. Kemudian sebagai pelengkap bukti beberapa kasus teror yang terjadi di Indonesia, pada akhir kajian dilampirkan secara gramatik tabel daftar kejadian teror di indonesia mulai tahun 2000-2011 yang meliputi waktu, tempat, dan korban dari kasus teror tersebut. Karena begitu banyaknya ayat-ayat al-Quran yang dituturkan dalam kajian ini, maka agar pembaca lebih mudah memahaminya, sengaja pada penuturan masalah hanya menuturkan surat dan ayat saja. Kemudian di akhir pembahasan kajian ini, penulis lampirkan indeks dari terjemah ayat-ayat tersebut dalam bahasa Indonesia agar pembaca tidak susah ketika mencari isi dari ayat itu. *****

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

73

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

BAB II PEMBAHASAN
A. Pemaknaan Istilah Jihad Dalam Lisn al-Arab, jihad bisa berasal dari kata aljahdu atau al-juhdu. Keduanya berarti suatu daya kekuatan1. Dalam al-Qms al-Mu, mendefinisikan kata jihad berasal dari kata al-jahdu dengan artian kekuatan, atau berasal dari kata al-juhdu yang berarti beban/masyaqqoh. Keduanya memiliki makna yang berbeda dari dasarnya2. Dari arti bahasa ini, Mawsah Fiqhiyyah Kuwaytiyyah mengartikan jihad berarti peperangan melawan musuh. Mirip dengan artian kata mujhadah. Kata melawan musuh ini memunculkan tiga jenis arti jihad secara bahasa, jihad melawan musuh yang dzhir, jihad melawan syetan, dan jihad melawan nafsu sebagaimana ketiganya termaktub dalam QS. al-ajj : 78. Secara istilah, dalam Maws ah Fiqhiyyah Kuwaytiyyah, jihad berarti perangnya seorang Muslim melawan orang kafir setelah mereka menolak untuk diajak memeluk Islam, dengan tujuan untuk menjunjung kalimatulLh 3. Dalam kitab-kitab Mutaqaddimn al-Syfiiyyah, istilah bab yang membahas tentang jihad dituturkan dengan 'Kitb al-Siyar'. Dalam kitab al-Umm, induk kitab madzhab alSyfiiyyah, menamakan bab ini dengan 'Kitb al-ukmi f Qitli al-Musyrikn wa Masalati Ml al-arb', yaitu bab tentang hukum memerangi kaum musyrik dan masalah harta kafir harbi 4 . Baru dalam kebanyakan kitab-kitab fikih Mutaakhkhirn, bab tentang masalah ini dengan disebut 'Kitb al-Jihd'. Walaupun istilah mereka berbeda, tetapi maksud dan isi dari istilah-istilah itu adalah sama. Al-Bayjriy dalam syiyah-nya mendefenisikan kata jihad dengan 'perang di jalan Allah'. Jihad diambil dari kata 74
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

mujhadah yang berarti peperangan untuk mempertahankan agama5 . Dalam kitab Falsafah al-Jihd f al-Islm, Abdul Hafid, setelah menolak bantahan kaum barat yang mengatakan jihad sebagai suatu paksaan untuk memeluk Islam, ia coba mengartikan jihad, dengan menukil dari kitab al- Mufradt f Gharb al-Quran, menegaskan bahwa jihad adalah suatu daya kekuatan untuk menolak serangan musuh6 . Dalam wikipedia.com versi Indonesia, jihad diartikan sebagai berjuang dengan sungguh-sungguh menurut syariat Islam7 . Definisi ini cukup simpel, namun sepertinya masih terlalu global, tidak secara pasti membidik maksud dari jihad. Seakan masih ada unsur ketakutan untuk berterus terang tentang makna jihad secara fikih yang lebih condong ke makna perang. Dalam versi Inggris, wikipedia.com mengutip kata Diane Morgan yang mendefinisikan jihad sebagai, A religious war with those who are unbelievers in the mission of Muhammad ... enjoined especially for the purpose of advancing Islam and repelling evil from Muslims 8, yakni suatu perang agamis melawan orang-orang yang tidak percaya kepada risalah Muhammad khususnya ditujukan untuk tujuan kemajuan Islam dan menolak bentuk kejahatan dari orang-orang Islam. Memandang dari kata 'untuk tujuan kemajuan', hal ini sangat berbeda sekali dengan definisi jihad menurut orang Islam, karena tujuan utama dari jihad adalah untuk meninggikan kalimatulLh, bukan suatu kemajuan. B. Pen-tasyr-an (Legislasi) Jihad Dalam historisasi jihad, Ibn ajar al-Haytamiy menuturkan dalam Tufah al-Mutaj bahwa jihad dalam bentuk peperangan melawan orang kafir di masa Rasulullah terjadi sebanyak 74 kali. Dua puluh tujuh (27) di antaranya adalah ghazwah9 . Delapan ghazwah itu, Nabi Saw. berperang sendiri di dalamnya. Empat puluh tujuh lainnya adalah 47
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

75

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

sriyah10. Namun dalam Sah al-Bukhriy, tepatnya di pembahasan Kitb al-Maghziy, diriwayatkan dari Sahabat Zayd ibn Arqam Ra. bahwa Nabi Saw. hanya mengikuti ghazwah sebanyak sembilan belas kali saja. Tapi Ibn ajar alAsqalniy dalam Fat al-Briy mencoba menggabungkan dua permasalahan itu dengan menjelaskan bahwa Sahabat Zayd ibn Arqam dimungkinkan menjadikan ghazwah Qurayah dan ghazwah al-Azb menjadi satu. Begitu juga antara ghazwah aif dan unayn dijadikan satu juga. Dari sini maka jumlahnya adalah 21 ghazwah. Adapun 6 ghazwah sisanya, maka dimungkinkan bahwa pada ghazwah Khaybar dijadikan enam ghazwah, melihat pada banyaknya desadesa yang berada di lembah Khaybar itu, dan tidak dijadikan satu, sedangkan Zayd ibn Arqam menjadikannya menjadi satu ghazwah. Dari sini lengkaplah 27 ghazwah11. Pen-tasyr-an jihad tidak serta merta langsung diwajibkan pada orang-orang Mukmin, akan tetapi secara bertahap (tadarruj). Sebelum peristiwa hijrah Nabi Saw. ke Madinah, jihad hukumnya adalah dilarang waktu itu, dan Nabi Muhammad Saw. hanya diperintah untuk menyampaikan dakwah, menakut-nakuti orang-orang kafir dengan ancaman neraka, dan bersabar pada siksaan-siksaan yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Kemudian setelah Nabi Saw. berhijrah ke Madinah, sekitar tahun kedua Hijriyah tepatnya pada perang Badar, jihad perang disyariatkan untuk dilakukan jika pihak orang-orang kafir yang memulai duluan. Akhirnya, pada 8 Hijriyah jihad diwajibkan secara mutlak atas kaum Muslimin12. Dalam al-wiy al-Kabr, al-Mwardiy lebih komplit merinci tentang pen-tasyr-an jihad. Berbeda dengan Ibn ajar yang membagi hanya tiga tahapan, al-Mwardiy membagi pen-tasyr-an jihad ke dalam empat sub tahapan. Pertama, ketika Rasulullah Saw. berada di Mekah. Dalam waktu ini, hukum jihad adalah dilarang, tidak

76

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

diperbolehkan. Bahkan para Muslim diperintahkan untuk bertindak halus dan cuek atas apa yang dilakukan oleh kafir Quraisy pada mereka. Ayat al-Quran yang berkenaan dengan kondisi ini adalah QS. al-ijr : 94, dan al-Nal : 125. Kedua, setelah Nabi Saw. berhijrah ke Madinah dan membentuk dr al-Islm pertama di sana. Dengan ini muncul kekuatan baru Islam. Maka dalam kondisi ini Allah mengizinkan orang Muslim untuk memerangi orang-orang yang ingin memerangi mereka, dan mencegah menimbulkan perang atas orang yang tidak memerangi mereka. Ayat yang berhubungan dengan kondisi ini adalah QS. al-Baqarah: 190. Pada tahap ini, jihad hanya sebagai usaha pertahanan saja, karena umat Islam hanya diberi izin untuk memerangi orang yang memerangi mereka dan dilarang melampaui batas. Batas yang dimaksud ini adalah orangorang yang tidak memerangi mereka, sehingga jika kaum kafir tidak mengundang perang, maka orang Islam dilarang menimbulkan perang. Ketiga, setelah kaum Mukminin semakin kuat dan bertambah jumlahnya, kemudian Allah Swt. Mensyari'atkan jihad sebagai suatu pilihan. Kaum Muslimin diberi izin untuk memerangi setiap kaum yang mereka rasa telah mendzalimi mereka. Ayat al-Quran yang berkenaan dengan hal ini adalah QS. al-ajj: 39. Jadi, dalam masa-masa ini Rasulullah Saw. diberi pilihan untuk bertahan atau berperang. Pada akhirnya Rasulullah Saw. pun memilih untuk berperang. Maka berkecamuklah perang Badar Kubr sebagai tanda pilihan kaum Muslimin untuk berjihad. Dalam waktu ini siapa saja yang diperintah Rasulullah Saw. untuk berperang maka dia wajib berangkat, karena meninjau QS. al-Anfl: 24 yang memerintahkan untuk wajib memenuhi ajakan Nabi Saw. yang telah memutuskan untuk berperang. Keempat, setelah perkembangan yang semakin pesat di pihak kaum Muslimin dan bertambahnya jumlah mereka,
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

77

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

serta semakin kuatnya Islam, maka Allah Swt. mewajibkan bagi setiap Muslim untuk melakukan jihad. Ini adalah tahap terakhir dari pen-tasyri-an jihad. Ayat al-Quran yang berkenaan dengan kondisi ini adalah QS. al-Tawbah: 7313 . Surat al-Tawbah adalah surat yang terakhir turun berkenaan dengan disyariatkannya jihad. Sehingga hukum-hukum yang terkandung di dalamnya dapat me-naskh/menghapus hukumhukum sebelumnya, sesuai dengan kaidah-kaidah dalam ilmu Usul Fikih. C. Tatanan Jihad Dawlah Islmiyyah Dalam Hubungan Internasional Dakwah Islmiyyah dalam proses pengelolaan pertahanannya tidak lepas dari yang namanya unsur jihad. Hal ini karena memandang jihad adalah suatu kewajiban dan kepercayaan bagi setiap Muslim dalam mencapai kesempurnaan iman. Bahkan jihad dikatakan amal yang paling utama dalam berbagai Hadis. Dari Ab Hurayrah berkata, "Sesungguhnya Rasulullah Saw. ditanya tentang amal apa yang lebih utama?, Maka beliau menjawab, 'Iman kepada Allah". Lalu Beliau ditanya, 'Kemudian apalagi?'. Rasulullah menjawab, "Jihad di jalan Allah". Lalu beliau ditanya, 'Kemudian apalagi?'. Rasulullah menjawab, 'Haji yang mabrur'". (HR. Al-Bukhriy: 25). Dari Abdullah ibn Masd Ra. berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, Amal apa yang lebih utama?. Rasulullah menjawab, Salat pada waktunya. Lalu aku bertanya, Kemudian apalagi?. Rasulullah menjawab, Kemudian berbakti pada kedua orang tua. Lalu aku berkata, Kemudian apalagi?. Rasulullah menjawab, Berjihad di jalan Allah. Setelah itu aku diam. Seandainya aku terus bertanya, pasti beliau akan menambah jawabannya lagi.(HR. AlBukhriy: 2574). D a l a m k i t a b Ta k m i l a h a l - M a j m S y a r 78
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

al-Muhadzdzab14, Syaikh Adil Ahmad Abdul Majid dan kawankawannya mengidentifikasikan hubungan internasional Dawlah Islmiyyah berkenaan dengan jihad menjadi beberapa sistem. Hal ini dikarenakan perbedaan yang mencolok pada masalah sebab disyariatkannya jihad dalam Islam. Setidaknya ada dua pendapat ulama yang berbeda d a l a m s eb a b - s eb a b d i s ya r i a t k a nya j i h a d : 1. Golongan pertama mengatakan jihad adalah salah satu jalan dalam menyebarkan dakwah Islmiyyah. Menurut pendapat ini, selain Muslimin tidak boleh tidak harus memeluk agama Islam juga, baik itu dengan jalan halus seperti melalui hikmah dan mawiah ataupun dengan jalan kekerasan seperti perang dan jihad. Golongan pertama ini bertendensi pada empat dalil : a. Bahwa ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan perang itu berbentuk mutlak/global. Bentuk mutlak ini tidak dibatasi apakah itu untuk menolak musuh atau untuk menghadapi perang. Jadi semua jenis perang bisa masuk. Ayat-ayat yang berhubungan dengan ini adalah QS. al-Baqarah: 216, al-Nis: 74, al-Anfl: 65, al-Tawbah: 23 dan 123. b. Allah Swt. dalam kebanyakan ayat-ayat al-Quran melarang orang Islam untuk menjadikan orang kafir sebagai wali/pemerintah, dan juga melarang untuk berbelaskasihan/mawaddah kepada mereka. Seperti yang tersirat dalam QS. Al-Mumtaanah: 1 dan Ali 'Imrn: 28. Dalam ayat-ayat itu berartikan untuk tidak mengadakan perjanjian dengan mereka dan juga tidak berbelaskasihan kepada mereka, orang-orang kafir. c. Hadis Nabi Muhammad Saw. dalam Sa alBukhriy yang diriwayatkan oleh Ibn Umar, Sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda, "Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka berkata 'Laa ilha illalLh, wa anna muammadan
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

79

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

RasllulLah', dan hingga mereka mendirikan salat, menunaikan zakat. Maka ketika mereka telah melakukan semua itu, maka terjagalah darah dan harta mereka kecuali dengan hak Islam. Dan hisab mereka terserah pada Allah." (HR. Al-Bukhriy). Begitu juga hadis al-Bukhriy dan Muslim yang diriwayatkan oleh Ab Hurayrah, ...Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka berkata ' Laa ilha illalLh'. Barang siapa telah mengatakan 'Laa ilha illalLh', maka terjagalah harta dan dirinya kecuali secara haknya. Dan hisabnya terserah kepada Allah . (Muttafaq alayh). Kedua hadis tersebut merupakan nash bahwa perintah perang ditujukan agar mereka masuk agama Islam. Dengan arti bahwa perang adalah salah satu jalan untuk berdakwah menyebarkan Islam. d. Orang yang telah diajak untuk masuk Islam dengan cara yang benar namun mereka menolak, maka tak ada halangan bagi mereka untuk tetap berada dalam agama selain Islam. Ketika mereka tidak menerima jalan ikmah dan mawiah asanah, maka tidak ada salahnya jika mereka ditunjukkan ke jalan yang lebih baik dan berpetunjuk dengan jalan kekerasan. Dan tak ada pula larangan dalam memusnahkan kejahatan mereka, dengan tujuan untuk menjaga masyarakat Islam dari kesesatan mereka. Ibaratnya seperti sebuah anggota badan yang sakit. Saat tidak bisa diobati maka diperbolehkan untuk dipotong demi kemaslahatan seluruh tubuh. 2. Jumhur (mayoritas ulama) mengatakan bahwa tujuan jihad disyariatkan sebenarnya adalah untuk menjaga dakwah Islmiyyah dan menolak permusuhan yang dilakukan oleh musuh. Barangsiapa yang tidak mengijabahi dakwah dan tidak menentang, dan tidak pula mengadakan permusuhan, maka tidak boleh untuk diperangi. Rasa aman mereka juga 80
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

tidak boleh dirubah menjadi suatu ketakutan. Golongan Jumhur ini pun bertendensi pada empat dalil sebagai berikut: a. Ayat-ayat al-Quran, baik itu makkiyyah ataupun madaniyyah, yang membicarakan perang kebanyakan mempunyai sebab-sebab khusus yang dengannya diizinkan berperang. Dalam pengamatan perang-perang yang dilakukan Rasulullah Saw., sebab itu berkisar pada dua faktor, adakalanya untuk menolak kezaliman dan permusuhan, atau untuk menghilangkan fitnah dan menjaga dakwah Islmiyyah. Hal ini terbukti bahwa orang-orang kafir di masa Rasulullah Saw, baik itu musyrikn ataupun ahli kitab, merekalah yang lebih dahulu melancarkan aksi-aksi untuk menyakiti orang Mukmin, dan melukai mereka agar lepas dari Islam. Orang-orang kafir itu juga menghalangi orang-orang yang ingin masuk Islam. Tujuan akhir dari tindakan mereka itu adalah untuk memadamkan dakwah dan menutup jalan para dai Islam kala itu. Dari sinilah kemudian Allah mewajibkan Muslimin untuk berperang, dengan alasan menolak permusuhan yang ditimbulkan orang kafir dan menghilangkan siksaan-siksaan yang mereka lakukan sehingga tidak akan ada lagi fitnah, dan agama seluruhnya untuk Allah Swt. Ayat yang berhubungan dengan hal ini adalah QS. al-Baqarah: 190-193, alNis: 75, al-Anfl: 39, dan al-ajj: 39. b. Islam adalah agama yang condong pada perdamaian, bukan pada peperangan, seperti yang diterangkan dalam QS. al-Anfl: 61. Islam tidak memperbolehkan membunuh seseorang hanya karena sekedar dia tidak memeluk agama Islam --seperti halnya Islam memperbolehkan pembunuhan ketika

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

81

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

telah terbukti sebabnya, entah itu qi atau yang lainnya--, akan tetapi mereka diizinkan untuk berperang ketika pihak kafir yang menimbulkan permusuhan duluan pada negara Islam atau pada para dai-dai Islam. c. Mayoritas Muslimin sepakat bahwa wanita, anak kecil, para pendeta, orang buta, orang tua, orang lemah, dan semisalnya, semuanya tidak boleh dibunuh dalam peperangan. Andaikata perang itu adalah salah satu jalan untuk berdakwah hingga mereka memeluk agama Islam, maka mengapa mereka semua dilarang untuk dibunuh? Ini adalah suatu bukti bahwa perang sebenarnya hanya berlaku untuk menolak permusuhan yang ditimbulkan pihak kafir. d. Kekerasan dan paksaan bukan merupakan salah satu jalan dalam berdakwah, karena agama Islam pada dasarnya adalah iman dan itiqad. Dasar ini hanya mungkin dilakukan dengan ujjah/bukti rasionalis, bukan dengan pedang. Oleh karena itu, Allah Swt. berfirman dalam QS. al-Baqarah: 256 dan QS. Ynus: 99, yang menafikan pemaksaan dalam memeluk agama. Dari kedua pendapat ulama tentang tafl (perincian) jihad ini, sangat jelas bahwa pendapat jumhur-lah yang lebih kuat. Bahkan orang awam pun bisa merasakan keabsahannya.

Hal itu karena, fitrah manusia sebenarnya terlahir bukan untuk berperang, akan tetapi sebaliknya, yaitu untuk berdamai. Adapun manakala timbul peperangan, maka itu dikarenakan adanya masalah-masalah di antara mereka yang menuntut untuk bertindak dengan pedang.

82

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

Ini sejalan dengan apa yang dituturkan Ibn Khaldn dalam Muqaddimah-nya ketika menimbang kebutuhan suatu negara pada pedang dan pena. Secara jelas Ibn Khaldn menyimpulkan bahwa pedang sangat dibutuhkan dalam dua keadaan saja, yaitu dalam masa-masa awal pembentukan negara, dan dalam masa-masa mempertahankan keutuhan suatu negara15. Kenyataan pun membuktikan bahwa tidak ada negara satu pun di bumi ini yang terbentuk tanpa adanya pertumpahan darah. Menindaklanjuti keabsahan pendapat Jumhur (mayoritas ulama) itu, dalam kitab Takmilah al-Majm disebutkan ada tiga aspek sistem kenegaraan dalam memaknai jihad sebagai sebuah perang: Pertama, dakwah Islmiyyah hukumnya faru kifyah. Jika sebagian sudah ada yang menunaikannya, maka lunturlah kewajiban seluruh umat. Kedua, perdamaian adalah dasar hubungan sosialisasi antara kaum Muslimin dan non-Muslim selagi tidak ada hal-hal yang menuntut untuk mengadakan peperangan. Tuntutan perang itu bisa karena orang kafir yang duluan memusuhi kita, atau mereka mencegah para dai Muslim untuk berdakwah di negara mereka, baik itu dengan menebarkan perlawanan pada para dai, menyiksa mereka, atau memfitnah orang yang ingin masuk dalam Islam. Ketiga, dalam pandangan Jumhur (mayoritas ulama) ini, maka yang dinamakan Dr al-Islm adalah suatu negara yang menggunakan hukum-hukum Islam sebagai undangundang. Negara ini juga sebagai tempat aman bagi orangorang Muslim. Sedang Dr al-arb adalah negara yang telah rusak hubungan perdamaiannya dengan Dr al-Islm karena permusuhan yang mereka gencarkan terhadap kaum Muslimin, atau terhadap negara Muslimin, atau permusuhan pada dakwah Islam dan dai-dainya16 . Melihat dari dua defenisi Dr al-Islm dan Dr alarb ini, maka dapat ditemukan bentuk negara ketiga, yaitu
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

83

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

negara non-Islam yang mengadakan perdamian dengan Islam. Mereka tidak memusuhi Islam dan tidak pula mencegah dakwah-dakwah Islmiyyah untuk masuk di negara mereka. Memotong sekelumit permasahan, berangkat dari dua pendapat ulama inilah terjadi salah pandang di antara umat Islam. Sebagian Muslim yang lebih condong pada pendapat pertama, secara aplikasi, amal mereka akan lebih mengutamakan perang/jihad sebagai wahana untuk menyebarkan Islam, dan inilah yang kemungkinan dianut oleh beberapa Muslim yang sering mengumandangkan jihad di zaman sekarang. Sedang untuk sebagian Muslim yang lebih mendukung dan sepakat dengan Jumhur (mayoritas ulama), mereka akan lebih suka memilih jalan damai. Jika orangorang non-Islam itu tidak mencegah masuknya dakwah Islam ke negara mereka, dan mereka juga tidak memusuhi Islam, maka tak ada alasan bagi golongan ini untuk mengadakan suatu penyerangan terhadap mereka. D. Klasifikasi Ne gara Non-Islam dan Hukum Memeranginya Berpijak dari pendapat Jumhur bahwa jihad berupa perang berlaku ketika kaum non-Islam mengawali permusuhan, atau karena mereka mencegah dakwah Islam, maka setidaknya ada tiga jenis klasifikasi negara non-Muslim dalam pandangan Jumhur. a. Negara non-Islam yang memusuhi Islam. Contoh jelas dari bentuk negara non-Islam seperti ini pada masa Rasulullah adalah kaum kafir Makkah, dimana pada akhirnya mereka kalah dengan terjadinya fat Makkah. Sedang pada masa sekarang, negara yang memusuhi Islam misalnya adalah negara Israel dan Amerika Serikat (USA). Tidak perlu membolak-balik kata untuk bersilat lidah tentang dua negara itu, semua negara di dunia pun tahu bahwa Amerika dan Israel adalah musuh Islam. Bukti otentik 84
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

permusuhan mereka adalah runtutan penyerangan yang mereka lakukan pada sederatan negara-negara Islam seperti Palestina, Afghanistan, Iraq, Lebanon, dan sebentar lagi sepertinya giliran Iran. Secara dzhir mereka adalah kafir yang menebarkan permusuhan pada Islam, walau sekelumit dari mereka juga beralasan ingin membasmi teroris, namun kebenaran tetaplah akan terlihat sebagai kebenaran. Pada kasus inilah hukum jihad wajib dilakukan atas seluruh Muslim yang menduduki negara Islam ketika kaum kafir masuk ke negara mereka. Hukum mereka berjihad adalah far ayn, wajib bagi setiap warga Muslim yang tinggal di situ dan bagi orang-orang yang dekat dengan negara yang diserang tersebut, yang batas-batas ketentuan mereka lebih mendetail diterangkan dalam kitab-kitab fikih dengan lebih luas. b. Negara yang menolak dakwah Islam. Negara seperti ini semisal Rusia yang secara sistemastis menganut paham komunis yang anti Tuhan dan melarang dakwah Islam. Pada kasus jihad seperti ini, maka hukum untuk memerangi mereka di negaranya adalah far kifyah. Jika sebagian sudah ada yang melakukannya, maka hilanglah taklf jihad atas seluruh umat. Perlu ditekankan bahwa tendensi dari dibolehkannya memerangi negara seperti Rusia ini adalah karena mereka mencegah dakwah Islam. Apabila ternyata suatu waktu mereka tidak lagi mencegahnya, maka hukum negara tersebut masuk dalam kategori negara yang jenis ketiga, yaitu negara damai, dengan catatan mereka tidak mengawali permusuhan terhadap Islam. c. Negara yang tidak memusuhi Islam dan juga tidak melarang dakwah Islam, maka mereka tidak boleh diperangi. Negara semacam ini dapat kita gambarkan semisal Inggris yang secara resmi memberikan peluang bagi para dai-dai Muslim untuk
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

85

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

menyebarkan ajaran Islam di negara itu, dan bahkan bisa dikatakan bahwa Islam adalah agama mayoritas kedua di Inggris sekarang ini, setelah agama Nasrani. Di sinilah letak pelarangan dan kecaman atas tindakan-tindakan terorisme. Jadi jika para penteror itu menyerang negara semisal ini, maka dalam perspektif fikih m e r e k a t i d a k d i b e n a r k a n , wa l a u p u n m e r e k a mengumandangkan kata jihad dalam penyerangan itu. Penyerangan terhadap orang yang mau berdamai dengan Islam dan mau menerima dakwah tidak dibenarkan. Lebih salah lagi jika dalam penyerangan itu malah yang jadi korban adalah Muslim sendiri yang sedang di tempat kejadian. Jelas, tindakan teror itu sangat dikecam oleh syariat karena darah sesama Muslim hukumnya adalah haram. Adapun tentang hadis " Man qtala litakna kalimatulLh hiya uly", maka hadis itu masih dibatasi dengan batasan ketika perang yang dilakukan itu masih dalam lingkup yang diperbolehkan secara syari'at. Jelasnya, asbb al-wurd dari hadis itu adalah ketika salah seorang arbiy (orang badui) bertanya pada Nabi Muhammad Saw. tentang seseorang yang berperang agar namanya disebut-sebut, atau agar mendapatkan ghanmah (harta rampasan perang), atau agar mendapat tempat di mata teman-temannya; siapakah dari mereka yang berada di jalan Allah? Kemudian Nabi Muhammad Saw. menjawab bahwa selama niatnya adalah meninggikan kalimatulLh, maka dia berada di jalan Allah. Namun, andaikata Sahabat itu bertanya bagaimana membunuh Muslim ketika sedang perang?, pastilah hukumnya akan tetap haram, walaupun dia berniat meninggikan kalimatulLh. *****

86

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

BAB III PENUTUP


Jihad yang berarti berperang di jalan Allah memang benar-benar diwajibkan atas kaum Muslimin. Ijm (konsensus) ulama sudah menyepakati bahwa jihad hukumnya wajib, terutama lagi jihad merupakan suatu pertahanan utama bagi kaum Muslimin. Jihad sebenarnya adalah suatu perang yang disebabkan karena adanya permusuhan dari pihak lawan, atau dikarenakan adanya pihak lain yang menolak masuknya dakwah Islam ke negara mereka secara baik-baik. Dari sinilah, negara non-Muslim terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, negara yang jelas mengadakan permusuhan dengan Islam. Kedua, negara yang menolak dakwah Islam. Ketiga, negara yang mau berdamai dengan Islam dan juga mengizinkan dakwah Islam di kumandangkan di negaranya. Dua negara pertama, yakni yang pertama dan yang kedua, boleh diperangi, bahkan far ayn jika mereka telah memasuki negara Islam. Sedangkan negara yang terakhir, yang berdamai dan mengizinkan dakwah Islam masuk, maka tidak boleh diperangi. WalLhu Alam.[] ******

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

87

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

Daftar TERORISME di Indonesia mulai tahun 2000-2011 M


Tahun Tanggal 1 Agustus Jenis Teror Ledakan Bom Ledakan Granat Ledakan Bom

Objek

Korban

2 orang tewas, 21 Depan rumah orang lainnya luka-luka, Duta Besar Filipina, termasuk Duta Besar Menteng, Jakarta Pusat Filipina Leonidas T. Caday Kompleks Kedutaan Besar Malasyia Kuningan Jakarta Tidak ada korban jiwa 10 orang tewas, 90 orang lainnya luka-luka. 104 mobil rusak berat, 57 rusak ringan. 16 orang tewas, 96 terluka serta 37 mobil rusak

2000

27 Agustus

13 September

Lantai Parkir P2 Gedung Bursa Efek Jakarta

Malam Natal, 24 Desember

22 Juli 2001
23 September

12 Oktober
06 November

Tahun Baru, 1 Januari

Ledakan Di beberapa kota di Indonesia Bom Ledakan Gereja Santa Anna 5 orang tewas Bom dan HKBP Ledakan Plaza Atrium, 6 orang cedera Senen, Jakarta Bom Kaca, langit-langit & Ledakan Restoran KFC, neon sign pecah. Bom Makassar Tidak ada korban jiwa. Halaman Australian Ledakan International School ----Bom (AIS), Pejanten, Jakarta Ledakan Depan rumah makan Satu orang tewas dan seorang luka-luka ayam Bulungan Jakarta Bom
Empat Beberapa gereja di Ledakan Bom Palu, Sulawesi Tengah Tiga Ledakan Bom Tidak ada korban jiwa 202 tewas, mayoritas wn Australia, 300 lainnya luka-luka Tidak ada korban jiwa

2002

12 Oktober

Bali

5 Desember Ledakan Kantor Konjen Filipina, Manado, Sulut Bom Ledakan Restoran McDonalds, 5 Desember Makassar Bom

3 orang tewas, 11 luka-luka


Tidak ada korban jiwa

2003 3 Februari

Ledakan Bom

Di Lobi Wisma Bhayangkari, Mabes Polri Jakarta

88

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

Tahun Tanggal

2003 27 April
5 Agustus

Jenis Teror Ledakan Bom

Objek
Terminal 2F, Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta

Korban
2 luka berat, 8 lainnya luka sedang dan ringan

11 orang tewas, Ledakan Hotel JW Marriott 152 lainnya luka-luka Bom Ledakan Palopo (BBC) 4 orang tewas 10 Januari Bom 5 orang tewas, Ledakan Depan Kedubes ratusan lainnya 2004 09 September Bom Australia luka2 Ledakan Gereja Immanuel 12 Desember ----Palu Sulsel Bom Dua ----21 Maret Ledakan Bom Ambon Ledakan 22 Tewas Tentena 28 Mei Bom HalamanRumah Ahli Ledakan 2005 08 Juni Dewan Pemutus Kebijakan Bom Tidak ada korban jiwa Majelis Mujahidin Indonesia Abu Jibril alias M.Iqbal, Pamulang Barat

01 Oktober
31 Desember

2009 17 Juli 2010 Januari

Ledakan Bali Bom Ledakan Sebuah Pasar Palu, SulTeng Bom Ledakan Hotel JW Marriott & Ritz Carlton Jakarta Bom
Penembakan Warga Sipil

22 Tewas, 102 Luka-luka 8 Tewas, 45 terluka

------------1 tewas (pelaku) 25 luka-luka


Berhasil diamankan Polisi

Aceh

September Perampokan CIMB Niaga Ledakan Masjid 15 April Mapolresta Cirebon Bom Ledakan Gereja Christ Cathedral Serpong Tangerang 2011 22 April Bom
Selatan Banten 25 September

Bom Bunuh Diri

GBIS Kepunton, Solo

1 tewas (pelaku) 28 luka-luka

Sumber: www.suaraindonesian.blogspot.com, dan www.wikipedia.com

*****
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

89

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

END NOTE
Ibn Manur. Lisn al-Arab. Juz 3. Al-Fayrz Abadi. Al-Qms al-Mu. h. 351. Mawsah Fiqhiyyah Kuwaytiyyah. Juz 16. h. 124. Al-Syfiiy. Al-Umm. Juz 4. h. 238. Ibrhm al-Bayjriy. Al-syiyah. Juz 2. h. 268. Abdul Hafid. Falsafah al-Jihd f al-Islm. h. 28. Lihat www.wikipedia.com, dengan kata kunci 'jihad'. http://en.wikipedia.org/wiki/jihad Ghazwah adalah istilah untuk perang, dimana Nabi Saw. ikut dalam perang tersebut. sedangkan Sriyah adalah Nabi Saw. tidak ikut andil. tetapi hanya mengutus bala tentara untuk berperang. 10. Ibn ajar, Amad ibn Muammad al-Haytamiy. Tufah al-Mutaj. 11. Ibn ajar, Amad ibn Aliy al-Asqalniy. Fat alBriy. Juz 8. h. 5. 12. Ibn ajar, Amad ibn Muammad al-Haytamiy. Tufah al-Mutaj. 13. Al-Mwardiy, Aliy ibn Muammad. Al-wiy alKabr. Juz 18. h. 113. 14. Kitab ini adalah penyempurnaan dari penjabaran kitab al-Majm karya Imam al-Nawawiy ketika mensyarahi/mengomentari kitab al-Muhadzdzab. Beliau hanya menjabarkan sampai masalah bab Riba, juz 10. Kemudian diteruskan oleh imam Al-Subkiy yang ternyata juga hanya menambah dua juz saja sampai Bb Bai al-Musharra wa ar-Radd bi alAyb, tidak sampai akhir kitab. Kemudian Syaikh Adil Ahmad beserta tujuh sarjana doktoral lainnya bersama-sama berusaha melengkapi komentar kitab 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

90

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

tersebut hingga terakhir bab fikihnya. 15. Ibn Khaldn. Al-Muqaddimah. h. 319. 16. Adil Ahmad Abdul Majid. Takmilatul Majmu. Juz 24. h. 160. *****

REFERENSI
1. Al-Quran al-Karm 2. Abdu Rabbih, Abdul Hfi. Falsafah al-Jihd F alIslm. Beirut: Dr al-Kitb al-Libanniy. 3. 'Abdul Mawjd, Adil Amad, dkk. 2002. Takmilah Al-Majm. Cet. I. Baerut: Dr al-Kutub al-Ilmiyyah. 4. Al-Bayjriy, Ibrhm. 1343 H. Al-syiyah. Juz 2. Mesir: abaah Muaf al-Babiy al-alabiy wa Awlduhu bi Mir. 5. Al-Bukhriy, Muammad ibn Isml. 2002. Sa al-Bukhriy. Cet. I. Beirut: Dr al-Fikr. 6. Al-Fayruz Abadi, Muammad ibn Ya'kb. 1987. AlQms Al-Mu. Cet. II. Beirut: Muassasah alRislah. 7. Al-Mwardiy, Aliy ibn Muammad. 1994. Al-wiy al-Kabr. Juz 18. Beirut: Dr al-Kutub al-'Ilmiyyah. 8. Al-Mawsah al-Fiqhiyah. 2001. Juz 16. Cet. III. Kuwait:Wizrah al-Awqf wa al-Syu-n alIslmiyyah. 9. Al-Syfiiy, Muammad ibn Idrs. 1983. Al-Umm. Juz 4. Cet II. Beirut : Dr al-Fikr. 10. Ibn ajar, Amad ibn Aliy al-Asqalniy. 1990. Fat al-Briy. Juz 8. Beirut: Dr al-Fikr. 11. Ibn ajar, Amad ibn Muammad al-Haytamiy. Tufah al-Mutaj. Beirut: Dr Iy- al-Turats alArabiy.
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

91

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

12. Ibn Khaldn, Abdurraman. 2008. Al-Muqaddimah. Cet. I. Kairo: Dr al-Mutr. 13. Ibn Manr. Lisn al-Arab. 1968. Juz 3. Beirut: Dr Beirut.

Indeks Ayat-Ayat al-Quran


Al-Baqarah: 190-193, 190. Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. 191. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir. 193. Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. Al-Baqarah: 216, 216. Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. 92
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

Al-Baqarah: 256, 256. Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ali Imrn : 28, 28. Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orangorang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu). Al-Nis: 74, 74. Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar. Al-Nis: 75, 75. Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!". Al-Anfl: 24, 24. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

93

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

Al-Anfl: 39, 39. Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. Al-Anfl: 61, 61. Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Al-Anfl: 65, 65. Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. Al-Tawbah: 23, 23. Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Al-Tawbah: 73, 73. Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya. Al-Tawbah: 123, 123. Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.

94

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

Ynus: 99, 99. Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? Al-ijr: 94, 94. Maka sampaikanlah olehmu secara terangterangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Al-Nal: 125, 125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orangorang yang mendapat petunjuk. Al-ajj: 39, 39. Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, Al-ajj: 78, 78. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong. Al-Mumtaanah: 1, 1. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

95

Koreksi Mafhum Jihad sebagai Senjata Perang Islam

Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. *****

96

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

TAFSIR JIHAD
Oleh: Maimoen Abdul Ghofur

Pada dasarnya, jihad bukanlah untuk tujuan Islamisasi, karena keyakinan tidak bisa dipaksakan. Jihad hanyalah sebuah langkah untuk bertahan dan mencegah terjadinya jihad dari pihak lain. Dan bahwa Jihad yang bisa ditiru di akhir zaman ini justru jihad dengan gaya prahijrah, yaitu dengan berdakwah, menyampaikan risalah dan semacamnya. Agaknya, ulama-ulama besar seperti ulama Yaman, Mesir, Syam dan ijaz pun tidak setuju dengan praktek jihd qitly (perang fisik) di era kekinian. Maka, jihad paling mungkin di saat seperti ini adalah perang intelektual atau mengembangkan talenta untuk menghidupkan khazanah pemikiran Islam agar tak terasingkan zaman dan terlempar dari kenyataan..

*****

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

97

Tafsir Jihad

BAB I PENDAHULUAN
Dimulai dengan tragedi hitam Bom Bali I dan II beberapa tahun silam, lalu diikuti dengan rentetan peristiwa ledakan dan gerakan terorisme lainnya, Islam di Indonesia saat itu mulai tersudutkan dengan pelbagai tuduhan tentang radikalisme, konservatisme dan fundamentalisme. Teriakanteriakan kalimat takbir yang tergema dari getaran dada seorang pejuang agama atas nama jihad, serta seruan penuh bangga dari seorang teroris yang mengaku dirinya telah menebus segala dosa dengan pembunuhan masal yang diakibatkan dari tindakannya, kian mencekam keadaan bagi seluruh umat Muslim. Keyakinan bahwa kematian syahid hanya bisa dibeli dengan membunuh pelaku kekafiran, semakin menegaskan bahwa agama ini tak akan berhenti dari peperangan sebelum bumi ini seluruhnya Islam. Dan peperangan itulah yang agaknya dianggap oleh sebagian kalangan sebagai satu-satunya realisasi dari kata "jihad". Kata "jihad" memang selalu identik dengan sebuah peperangan. Ini tidak aneh, mengingat awal adanya jihad adalah sebuah perang yang sering bergejolak di awal datangnya Islam. Jihad tak ubahnya diyakini sebagai perjuangan dalam rangka pembersihan bumi dari segala bentuk kekufuran untuk menegakkan eksistensi agama. Atau secara umum, perjuangan tersebut bisa diartikan sebagai upaya-upaya untuk melakukan serangan terhadap gerakan tertentu yang mengancam eksistensi sebuah keyakinan. Rupanya, telah terjadi banyak pengaburan makna dari kata jihad. Inilah yang perlu diluruskan secara detil meski orang awam pun tak akan setuju jika jihad diartikan melulu sebagai peperangan. ***** 98
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Tafsir Jihad

BAB II PEMBAHASAN
A. Tafsir Kalimat Jihad Makna yang tersirat dibalik kalimat jihad memang banyak, namun semua itu bermuara pada kalimat Arab: badzl al-juhd, yang berarti pengerahan kemampuan. Dari kalimat ini, tampaklah bahwa jihad tak melulu sebuah peperangan atau gerakan yang diantara syarat dan rukunnya adalah sebuah kematian. Makna kalimat ini secara umum bisa diartikan sebuah sumbangan sedekah dari beberapa orang yang mempunyai kekuatan ekonomi. Bisa juga diartikan sebagai pengorbanan waktu untuk menggelar acara dakwahdakwah atau majlis ilmiah bagi beberapa orang yang memiliki kemampuan pengetahuan yang mumpuni. Intinya, segala perbuatan yang didasari pengorbanan yang bermanfaat untuk agama, bisa disebut jihad. Namun yang paling identik dari kata jihad adalah kesan "sablilLh" (perjuangan di jalan Allah) dan "syahd". Dan yang akan kita bicarakan kali ini adalah jihad yang berarti peperangan. Kita akan membicarakan tentang kontekstualisasinya dan definisinya, juga relevansinya. B. Asal dan Tujuan Jihad Meskipun kalimat jihad sering disebut dalam al-Quran di surat-surat Makkiyah, namun pertama kali disyariatkannya jihad justru setelah hijrahnya Rasulullah saw. ke Madinah. Tentu hal ini tidak aneh, karena jihad-jihad yang dimaksudkan dalam surat-surat Makkiyah adalah jihad yang bukan dengan menghunus pedang di padang medan perang, namun lebih tepatnya sebagai perbuatan yang didasari tujuan pengagungan kalimat Allah (ili kalimatilLh). Dan hal tersebut dilakukan dalam rangka mendukung agenda-ageda
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

99

Tafsir Jihad

agama dalam menyebarkan risalah untuk umat manusia kala itu. Hal ini menimbulkan kejanggalan, mengapa jihad sebelum hijrah dan sesudah hijrah tidak sama dalam realisasinya? Lalu, apa tujuan dari jihad itu? Benarkah jihad adalah sebuah tindakan yang bertujuan memaksakan akidah manusia agar seluruhnya tak terjerembab dalam kekufuran? Benarkah jihad dilakukan untuk memaksa semua orang untuk memeluk agama Islam, baik orang itu menerimanya dengan akal dan hati ikhlas atau memberontak?. Seorang ulama pentolan dari tanah Syam, Prof. Dr. M. Said Raman al-Bthiy, dalam bukunya yang berjudul Qadhy Fiqhiyyah Mushirah menegaskan pentingnya mengetahui kondisi Islam sebelum dan pasca hijrah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kejanggalankejanggalan di atas. Al-Bthiy menjelaskan bahwa di era sebelum hijrah, umat Islam pada waktu itu masih menjadi sebuah embrio-embrio kecil, belum terlihat tanda-tanda kekuatan untuk menghentak dunia dan menyusun organisasi yang solid. Pengikutnya pun jauh lebih sedikit ketimbang Islam pasca hijrah. Boleh dikata: marjinal. Namun tak lama kemudian, ketika umat Islam hijrah ke Madinah dan menetap di sana, Islam pun mulai diikuti hingga pemeluknya semakin banyak. Sejak itu, mulailah mereka menyusun rencana-rencana untuk kepentingan eksistensi agama mereka. Pertama-tama mereka mendaulat negara dengan sebutan Dr al-Islm. Negara-negara yang disebut Dr al-Islm akan menggunakan peraturan sesuai dengan peraturan (nim) agama tersebut. Kedua, Mujtama Islmi (Persatuan Umat Islam) dengan tujuan agar umat Islam sedunia bisa terorganisir secara baik di bawah peraturan-peraturan agama. Dimulai dari sini, akhirnya terbentuk Dawlah Islmiyyah dengan tiga aspek yang dimilikinya: wilayah, umat dan konstitusi. Setelah memiliki tiga unsur di atas, mulailah terpikulkan kewajiban atas agama tersebut untuk menjaga 100
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Tafsir Jihad

kelestariannya. Hingga akhirnya, mau tidak mau, umat Islam harus berjihad untuk mempertahankan eksistensinya dari manuver-manuver serangan musuh yang senantiasa mengancam penuh kebencian.

Maka, jelaslah bahwa tujuan jihad adalah untuk menjaga stabilitas tiga aspek di atas yang jantungnya ada dalam tatanan kedaulatan tersebut. Sangat keliru bila dikatakan bahwa Islam menyariatkan jihad untuk menghegemoni umat sedunia agar tunduk kepada agama tersebut.
Al-Bthiy, sebagai salah seorang pemikir yang terkenal lihai dalam mendesain watak hukum serasional mungkin, mencoba membuat semacam pendekatan secara praktis dan diplomatis. Ia menyatakan bahwa, jika memang jihad itu disyariatkan dengan tujuan menghapus kekufuran, lantas kenapa Islam melarang membunuh wanita-wanita kafir arbiy atau orang-orang tua yang telah pikun?. Ini jelas membuktikan bahwa tujuan disyariatkannya jihad justru untuk mencegah peperangan. Orang tua, wanita-wanita dan anak kecil yang tak mungkin akan melakukan perlawanan tidak boleh dibunuh, menandakan bahwa agama ini memang tidak menghendaki adanya aktivitas saling bunuh. Maka, tujuan penyelenggaraan jihad, selain untuk menjaga eksistensi agama, juga untuk mencegah terjadinya aktivitas saling bunuh. Al-Imm Muammad ibn Muammad al-Ghazliy dalam bukunya yang berjudul al-Mankhl menyatakan, "Pasukan Rum, jika tidak diperangi, maka akan memerangi". Pernyataan al-Ghazliy ini semakin menegaskan bahwa agenda jihad bukanlah gerakan menyerang lawan, tapi semata-semata untuk sebuah pertahanan. Dalam dunia sepak bola kita mengenal istilah taka-tiki ala Barcelona. Sebuah

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

JURNAL SKETSA EDISI V 101

Tafsir Jihad

permainan sepak bola yang diawali dari filosofi total football ala Timnas Belanda untuk menandingi grendel pertahanan kokoh Timnas Italia yang kala itu terkenal dengan sebutan Catenaccio. Strategi ini mengusung permainan menyerang dan penguasaan bola yang dominan. Filosofi total football ini dibangun di atas sebuah prinsip bahwa, "pertahanan terkuat adalah dengan menyerang". Agaknya, orang-orang Belanda itupun terinspirasi oleh cara agama Islam mempertahankan eksistensinya, yaitu bertahan dalam penyerangan. Tetapi sekali lagi, perlu ditegaskan bahwa setiap kali menyelenggarakan acara jihad, bukan berarti Islam akan membabi buta dalam membantai lawan. Tentu saja karena Rasulullah pun tak pernah menyerukan jihad jika memang kondisi umat Islam tidak terancam serbuan lawan, kecuali peristiwa perang Khaybar. Dalam hal ini al-Bthiy meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bertindak lebih dahulu sebelum kaum Yahudi menyerang Islam dalam perang Khaybar, hal ini dilakukan bukan tanpa alasan. Rasulullah saw melakukan hal itu karena memang sudah mengetahui terlebih dahulu akan ancaman pasukan Yahudi Khaybar yang setiap saat dapat mengejutkan umat Islam. Satu lagi yang perlu diperhatikan, dalam literatur fikih mazhab al-Syfiiy, Islam menegaskan tentang kewajiban jihad yang bersifat far kifyah. Namun hukum ini baru berlaku wajib jika orang kafir berada di wilayah orang Islam. Ini jelas mengindikasikan bahwa Islam tidak akan mengganggu jika memang tidak diganggu. *****

102

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Tafsir Jihad

BAB III PENUTUP


Walhasil, jelaslah sudah bahwa pada dasarnya, jihad bukanlah untuk tujuan Islamisasi. Jihad hanyalah sebuah langkah untuk bertahan dan mencegah terjadinya jihad dari pihak lain. Al kulli l, setelah kami uraikan di atas tentang dasar-dasar dan awal mula munculnya jihad, tampaklah kini bahwa jihad adalah salah satu benteng pertahanan agama di masa silam. Terlihat pula dengan jelasnya bahwa Islam merupakan agama yang gagah dan pantang memerangi orang-orang yang tak mungkin melakukan perlawanan. Maka, jelaslah bahwa tindakan terorisme yang akhir-akhir ini banyak dilancarkan oleh oknum-oknum yang mengaku Islam, sangat tidak patut dinisbatkan pada agama ini. Terlebih ketika kita melihat betapa tindakan teror tidak akan dilakukan kecuali oleh orang-orang berjiwa pengecut. Maka, kembalilah bahwa Jihad yang bisa ditiru di akhir zaman ini justru jihad dengan gaya pra-hijrah, yaitu dengan berdakwah, menyampaikan risalah dan semacamnya. Agaknya, ulama-ulama besar seperti ulama Yaman, Mesir, Syam dan ijaz pun tidak setuju dengan praktek jihd qitly (perang fisik) di era kekinian. Maka, jihad paling mungkin di saat seperti ini adalah perang intelektual atau mengembangkan talenta untuk menghidupkan khazanah pemikiran Islam agar tak terasingkan zaman dan terlempar dari kenyataan. *****

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

103

Tafsir Jihad

REFERENSI
1. Al-Khatb al-Syarbiniy. 1997. Mughniy al-Mutaj. Juz IV. Beirut : Dr al-Marifah. 2. Al-Imam Mlik. al-Mudawwanah. Juz II. 3. Ibn Rusyd. Bidyah al-Mujtahid. Juz I. 4. Al-Bthiy, Muammad Sad Raman. Qadhy Fiqhiyyah Mushirah. Dr al- Farabiy. *****

104

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

TERORISME BERLABEL JIHAD


Membongkar Radikalisasi Konsep Jihad dalam Konteks Global

Oleh: Muhammad Taufiq Ahaz

Dalam aplikasinya, terorisme sebagai gerakan yang membawa ambisi kebenaran, menggunakan pelbagai kendaraan. Dari agama, politik sampai ekonomi. Apapun kendaraannya, terorisme menampilkan wataknya yang serba hegemonik, anarkis dan radikal. Inilah kesan yang bisa ditangkap mengenai terorisme. Hampir seluruh gambarannya buruk dan jauh dari nilai kemanusian. Ketika agama Islam yang sakral dijadikan kendaraan untuk melegalkan aksi terorisme, mereka melakukan tindakan radikalisasi teks suci al-Quran dan Hadits. Sehingga aksi-aksi yang menjurus kepada terorisme mendapatkan label jihd f sablillh. Padahal Islam tidak membenarkan segala aksi yang menjurus pada intimidasi, teror, dan anarkis yang jauh dari nilai kemanusian. Jihad disyariatkan untuk kebutuhan penegakan masyarakat Islam sesuai dengan sistem dan prinsip-prinsip Islam, membentuk peradaban masyarakat madani dan membangun keadilan, ketentraman dan kesejahteraan baik dalam skala nasional, maupun internasional. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan konsep jihad di jalan Allah yang ideal melalui fase-fase yang sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi dengan konteks global yaitu; jihdu al-nafs, lalu mujhadah al-kharn dan kemudian jihd bi alqitl.

*****

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

JURNAL SKETSA EDISI V 105

Terorisme Berlabel Jihad

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Opini negatif bahwa Islam adalah agama teroris kian menusuk saraf sensorik telinga kita. Bahkan kini, muncul pertanyaan yang selalu mengusik hati umat Islam, adakah korelasi fungsional antara terorisme dan jihad? Bisakah gerakan keagamaan yang diduga dalang terorisme dijadikan sebagai representasi Islam, baik dalam ranah ajaran maupun pengikutnya?. Terorisme bukan sekadar jargon biasa, melainkan wacana klasik yang selalu ramai diperbincangkan khalayak dunia dan mempunyai implikasi besar bagi tatanan politik global. Terorisme bukan sekadar diskursus, akan tetapi sebuah gerakan global yang hinggap dimana pun dan kapan pun. Terorisme kian mencuat ke permukaan, tatkala gedung pencakar langit, World Trade Center (WTC) dan gedung Pentagon, New York, hancur-lebur diserang sebuah kelompok yang sampai detik ini masih misterius. Jaringan internasional al-Qaedah sering disebut-disebut sebagai aktor di balik aksi penyerangan tersebut. Pada step ini, terorisme kian dipertanyakan dan dipersoalkan. Apa sebenarnya terorisme itu? Benarkah terorisme teridentifikasi sebagai penyebab utama di balik penyerangan tersebut? Ataukah hanya sekedar skenario belaka? Terorisme sebagai paham yang identik dengan teror sering kali menimbulkan opini negatif bagi setiap manusia. Pasalnya, terorisme selalu identik dengan tindakan amoral, teror, kekerasan, ekstrimitas dan intimidasi. Para pelakunya biasa disebut sebagai teroris. Terorisme kerap menjatuhkan korban kemanusiaan 106
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Terorisme Berlabel Jihad

dalam jumlah yang tak terhitung. Pengeboman turis asing di pantai Kuta Bali, pengeboman bus turis asing di Kairo, penembakan para turis di Luxor, Mesir, pengeboman Kedubes AS di Kenya, dan beberapa insiden serupa, merupakan salah satu bentuk aksi-aksi terorisme. Dalam insiden tersebut membuktikan, bahwa ribuan nyawa manusia yang tidak berdosa raib akibat ulah para teroris. Orang tua-renta, dewasa, perempuan, anak muda dan bayi turut menanggung akibat dari pertarungan ideologi. Pada step ini, terorisme mendapatkan sorotan serius dari masyarakat dunia, cara-cara yang ditempuh para teroris dapat mewujudkan instabilitas, kekacauan dan kegelisahan yang berkepanjangan. Masyarakat senantiasa dihantui perasaan was-was dan tidak aman. Lantas siapa sebenarnya di balik aksi-aksi terorisme tersebut? Pada fase ini, kita akan memasuki kerumitan tersendiri, sebab identifikasi terorisme tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Apalagi jikalau menyangkut sebuah gerakan atau negara tertentu, dibutuhkan data-data yang akurat dan tepat. Disinilah sebenarnya ranah problematis terorisme. Jargon yang diusung adalah "jalan pintas dianggap pantas". Terorisme ibarat singa yang selalu haus mangsa. Sebagaimana singa, terorisme tidak bisa mengambil jalan tengah, melainkan menempuh jalan pintas. Dalam aplikasinya, terorisme sebagai gerakan yang membawa ambisi kebenaran, menggunakan pelbagai kendaraan. Dari agama, politik sampai ekonomi. Apapun kendaraannya, terorisme menampilkan wataknya yang serba hegemonik, anarkis dan radikal. Inilah kesan yang bisa ditangkap mengenai terorisme. Hampir seluruh gambarannya buruk dan jauh dari nilai kemanusian. Ketika agama Islam yang sakral dijadikan kendaraan untuk melegalkan aksi terorisme, mereka melakukan tindakan radikalisasi teks suci al-Quran dan Hadits. Sehingga aksi-aksi yang menjurus pada terorisme mendapatkan label jihd f
JURNAL SKETSA EDISI V 107

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Terorisme Berlabel Jihad

sablillh. Lantas bagaimana perspektif Islam dalam menyikapi aksi yang menjurus pada aksi terorisme? Benarkah aksi-aksi teror bisa disebut jihad? Bagaimana sich konsep jihad yang ideal dalam perspektif Islam? B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam penulisan karya tulis ini, sebagai berikut : Definisi terorisme dan jihad. Terorisme berlabel jihad. Meneropong di balik munculnya terorisme. Terorisme dalam perspektif Islam. Konsep jihad yang ideal dalam perspektif Islam. C. Tujuan Karya Tulis Adapun tujuan dalam penulisan karya tulis ini, sebagai berikut : Mengetahui definisi terorisme dan jihad. Mengkaji kebenaran aksi terorisme yang mendapatkan label jihad. Meneropong di balik munculnya terorisme. Mendalami terorisme dalam perspektif Islam. Mengkaji dan mengaplikasikan konsep jihad yang ideal dalam perspektif Islam. *****

108

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Terorisme Berlabel Jihad

BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Terorisme dan Jihad Untuk menelisik lebih jauh tentang radikalisasi konsep jihad dalam konteks global, marilah kita mengenal apa definisi terorisme dan jihad tersebut. Terorisme dalam bahasa Arab adalah al-irhb, yang berarti penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai suatu tujuan (terutama tujuan politik) dengan mengabaikan nilai kemanusiaan. Sedangkan jihad secara etimologi, berasal dari akar kata bahasa Arab jahada; bersungguh-sungguh. Dari akar kata diatas membentuk tiga kata kunci; jihad (perjuangan dengan fisik), ijtihad (perjuangan dengan nalar) dan mujhadah (perjuangan dengan rohani). Sedangkan menurut terminologi, jihad adalah membela kebenaran di jalan Allah demi tegaknya sendi-sendi agama Islam dan membangun peradaban masyarakat madani. B. Terorisme Berlabel Jihad Pertanyaan selanjutnya, yang sangat mengusik hati kaum umat Islam, adakah korelasi fungsional antara jihad dan terorisme?. Stigma bahwa Islam sebagai agama teroris makin dahsyat terdengar di saraf sensorik telinga umat Islam. Ini terkait erat dengan maraknya gerakan Islam radikal, yang menjadikan jihad sebagai label untuk melancarkan kepentingan politik. Sebenarnya stigma tersebut merupakan skenario hegemoni Barat yang sebelumnya sengaja menyisipkan paham radikalisme di kalangan umat Islam. Pemahaman terhadap teks suci al-Quran dan Hadits
JURNAL SKETSA EDISI V 109

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Terorisme Berlabel Jihad

secara tekstual menjadi sebab terjadinya radikalisasi konsep jihad yang mulia ini. Potensi terbentuknya pemahaman jihad yang radikal dan menjurus pada terorisme bisa mudah diakses di pelbagai pergerakan Islam radikal, karena jargon yang mereka kedepankan adalah al-tahdd wa al-takhwf (ancaman dan intimidasi). Mengerasnya sikap gerakan Islam radikal dalam menghadapi lawan politiknya yang dalam hal ini rezim Barat - semakin memperkeruh keadaan. Pasalnya, kebijakan politik luar negeri Amerika dan sekutunya semakin biadab. Bahkan, menjadi amunisi untuk menyerang persatuan dan kesatuan umat Islam dengan dalih terorisme. Bukti kongkretnya agresi yang terjadi di Irak, tragedi anti kemanusiaan yang terjadi di Palestina dan Afganistan, dan yang paling dahsyat jatuhnya rezim kekuasaan di negara-negara Timur Tengah yang dikemas dalam pemberontakan, yang didalangi oleh perselingkuhan gerakan Islam radikal dan Barat.

Sebenarnya, radikalisasi konsep jihad menjadi proyek utama Barat dalam agenda menghancurkan Islam. Dengan radikalisasi ini, jihad menjadi senjata makan tuan bagi umat Islam. Pasalnya, persatuan dan persaudaraan dalam konsep ukhuwwah islmiyyah menjadi hancur akibat radikalisasi jihad yang direkayasa oleh Barat.
C. Meneropong di Balik Munculnya Terorisme Berdasarkan realita dan bukti yang kongkret, istilah "terorisme" awal mulanya muncul di negara-negara Barat. Kemudian diisukan ke negara-negara Islam khususnya Timur Tengah setelah jatuhnya rezim Uni Soviet, karena musuh terbesar setelah jatuhnya Uni Soviet adalah Islam. 110
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Terorisme Berlabel Jihad

Ada dua faktor utama yang menyebabkan Islam menjadi sasaran utama hegemoni politik Barat, yaitu: Pertama, tersebarnya Islam di negara-negara Barat yang diklaim sangat membahayakan peradaban Barat. Kedua, kekhawatiran Barat terhadap munculnya revolusi Islam ke masa kejayaan umat Islam seperti masa-masa klasik Khilfah Islmiyyah. Untuk menghilangkan kekhawatiran tersebut, maka dibuatlah strategi dan skenario baru yang diharapkan mampu menenggelamkan Islam dari planet ini. Di antara bukti kongkretnya adalah undang-undang yang dikeluarkan oleh Dewan Keamanan Nasional Amerika pada penghujung tahun 1991 yang berisi 10 butir, yang di antara isinya adalah mengisukan pertentangan dalam pola pikir dan paham keislaman dan menggembar-gemborkan perselisihan antar umat Islam dengan strategi apapun. Dalam merealisasikan hal tersebut, ada dua paham yang dikemas dalam agenda ghazwu al-fikri - yang sengaja disisipkan ke dalam ruh umat Islam, yaitu : Pertama, paham radikalisme menyisipkan opini bahwa Islam tersebar melalui pedang, paksaan dan tekanan, bukan dengan persuasi dan pemikiran. Kedua, paham liberalisme menyisipkan opini bahwa Islam adalah agama cinta perdamaian. Jihad tidak disyariatkan kecuali untuk membalas serangan. Para penganut Islam tidak akan berperang kecuali jika mereka dipaksa melakukannya dan dimulai oleh musuh. Ketika dua paham di atas yang bertentangan sudah menyusup ke dalam ruh umat Islam, maka skenario selanjutnya adalah menjebak umat Islam sehingga konsep ukhuwwah islmiyyah menjadi hancur berantakan, sehingga terjadilah pertikaian di kalangan internal umat Islam. Hal ini diperkuat oleh majalah Foreign Affairs, terbitan Departemen Luar Negeri Amerika, yang menyatakan tentang
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

111

Terorisme Berlabel Jihad

bahaya bersatunya umat Islam dan sebagai cara paling efektif untuk menghancurkan persatuan umat Islam adalah memutuskan hubungan diplomatik antara negara-negara Timur Tengah yang diklaim sebagai pusat peradaban agama Islam. Kemudian menimbulkan konflik antar kabilah (suku) di negara-negara tersebut, sehingga terjadi pertikaian dan menyebabkan runtuhnya persatuan di antara mereka. Bernard Luis memberikan statemen dalam bukunya The Middle East And The West, bahwa, "Perselishan di Jazirah Arab dapat menyebabkan terjadinya perpecahan di antara kaum Muslim, dan politik ini dapat mengakitbatkan kesenjangan sosial dan budaya. Politik ini tidak bisa dicapai kecuali ada hegemoni Barat yang menyebarkan polemik, pertikaian dan konflik dalam tubuh umat Islam". Skenario tersebut mulai dimainkan oleh Zionis dengan memanfaatkan kepemimpinan George Bush. Terorisme kian dibesar-besarkan, tatkala gedung pencakar langit, World Trade Center (WTC) dan gedung Pentagon, New York, hancurlebur diserang sebuah kelompok, yang sampai detik ini masih misterius. Jaringan Internasional al-Qaedah sering disebutdisebut sebagai aktor di balik aksi penyerangan tersebut. Pernyataan perang anti terorisme mulai digencar-gencarkan. Negara-negara Timur Tengah menjadi sasaran utama dengan dalih memerangi jaringan teroris internasional al-Qaedah. Istilah "terorisme" yang digencar-gencarkan oleh Amerika dan sekutunya adalah segala usaha, pola pikir dan kepentingan yang bertentangan dengan kepentingan politik Amerika dan sekutunya. Kepentingan mereka yang bersifat eksistensialis cenderung mengabaikan Hak Asasi Manusia (HAM) yang harus dilindungi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). PBB yang tujuan berdirinya adalah untuk melindungi HAM, malah melegalkan penyerangan tersebut dengan dalih jargon anti-terorisme. Hal ini sudah tidak diherankan lagi karena para pembesar PBB adalah Zionis yang bergerak 112
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Terorisme Berlabel Jihad

dibalik layar demi kesuksesan agenda peruntuhan Islam. Peruntuhan Islam dapat dicapai ketika fikrah jihad hilang dari dada umat Islam, berikut penjelasan skenario agenda ghazwu al-fikri dalam penghapusan fikrah jihad: Step pertama, mereka mengisukan bahwa Islam adalah agama teroris dan kekerasan. Kemudian mereka menunggu hasil isu yang dilontarkan dan reaksi penolakkan dari kaum Muslim. Step kedua, setelah kaum Muslim memberikan reaksi penolakan terhadap isu tersebut, muncul tokoh - yang berpura-pura membela Islam - menolak tuduhan tersebut dengan mengatakan bahwa Islam adalah agama cinta perdamaian. Jihad tidak disyariatkan kecuali untuk menolak serangan. Para penganut Islam tidak digalakkan untuk berperang, selama masih ada jalan perdamaian. Pembelaan ini mendapatkan sambutan hangat dari kaum Muslim yang tidak memahami perangkap yang sedang dipasang. Berangkat dari semangat membela Islam, akhirnya mereka mendukung sepenuhnya pembelaan tersebut dengan mengemukakan dalil demi dalil, bahwa Islam memang benar seperti yang mereka katakan; Agama perdamaian dan kasih sayang. Kaum Muslimin tidak akan berperang kecuali jika mereka diserang. Orang-orang awam dari kaum Muslim ini tidak memahami bahwa itulah hasil yang diharapkan. Kesimpulan itulah yang menjadi sasaran utama dari kedua pihak yang melontarkan kebatilan tersebut. Sebagai bukti kongkretnya, pada hari Jumat sore, 3 Juni 1960 , Dr. Wahbah al-Zuayli bertemu dengan seorang orientalis berkebangsaan Inggris, Anderson yang mengemukakan bahwa, "Sesungguhnya jihad ini tidak wajib, berdasarkan kepada kaidah: Hukum akan berubah mengikuti perubahan zaman. Jihad sudah tidak sesuai dengan situasi internasional sekarang, karena keterikatan kaum Muslim
JURNAL SKETSA EDISI V 113

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Terorisme Berlabel Jihad

dengan organisasi-organisasi dan perjanjian-perjanjian internasional. Di samping karena jihad merupakan sarana untuk memaksakan orang masuk Islam, sedangkan suasana kebebasan dan kemajuan pemikiran manusia tidak dapat menerima pemikiran yang dipaksakan dengan kekuatan". Mahabenar Allah yang berfirman tentang orangorang yang tidak memiliki keimanan, Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamyna (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya, memandang kepadamu seperti pandangan orang pingsan, karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka". (QS. Muammad: 20). D. Terorisme dalam perspektif Islam Teka-teki selanjutnya, bagaimanakah perspektif Islam tentang terorisme? Pandangan Islam tentang terorisme berbeda jauh dengan pandangan Barat. Peradaban Barat yang lebih memandang dari segi kepentingan eksistensialis, sedangkan Islam memandang bahwa terorisme adalah segala bentuk intimidasi yang dapat merampas Hak Asasi Manusia baik secara individual maupun sosial, baik dalam konteks negara maupun global. Terorisme dalam al-Quran (QS. Al-Anfl : 60), dipakai istilah sebagai musuh Allah yang harus diperangi. Dari interpretasi yang dikemukakan ahli tafsir, Islam tidak membenarkan segala aksi yang menjurus pada terorisme. Bahkan syariat Islam telah mewajibkan untuk memerangi terorisme, berlandaskan pada teks suci al-Quran:

114

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Terorisme Berlabel Jihad

Tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. (QS. Alujurt: 9). Ditinjau dari Maqsid Syarah, tujuan utama digalakkannya anti terorisme ini adalah hifdzu al-Nafs; melindungi stabilitas keamanan masyarakat baik dalam konteks negara maupun global. Sehingga dari pandangan Islam ini dapat diambil kesimpulan, bahwa hegemoni Barat yang melancarkan serangan terhadap negara-negara Timur Tengah yang cenderung eksistensialis, selain melanggar Hak Asasi Manusia, juga sekaligus telah melakukan aksi terorisme. E. Konsep Jihad yang Ideal dalam Perspektif Islam Konsep jihad dalam perspektif Islam memiliki visi dan misi yang sangat mulia. Diantara visi-visinya adalah menegakkan agama Islam dengan membangun komponen masyarakat yang berperadaban madani, mewujudkan keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan dalam skala nasional dan internasional. Sedangkan mengenai misi-misi jihad versi Islam, sejenak kita flashback ke sejarah Rasulullah saw. untuk mengetahui fase-fase dalam misi jihad yang beliau tempuh, sebagai representasi konsep jihad dalam perspektif Islam yang benar, sebagai berikut: Fase pertama, jihad pada masa awal Islam berupa dakwah secara damai disertai kesiapan menghadapi berbagai cobaan berat. Fase kedua, bersamaan dengan permulaan hijrah disyariatkan perang defensif yaitu membalas kekuatan dengan kekuatan yang serupa. Fase terakhir, disyariatkan qitl (perang) terhadap setiap orang
JURNAL SKETSA EDISI V 115

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Terorisme Berlabel Jihad

yang menghalangi penegakan masyarakat Islam. Pada tahapan akhir inilah hukum jihad dalam Islam ditetapkan secara final dan tuntas. Dan hal ini menjadi kewajiban fardhu kifyah pada setiap masa ketika mereka memiliki kekuatan dan persiapan yang memadai untuk melakukannya. Mengenai fase terakhir ini Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, perangilah orangorang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertaqwa (QS. Al-Tawbah : 123) Dr. Muhammad Sad Raman al-Bthiy memberikan statemen bahwa klasifikasi jihad di jalan Allah menjadi perang defensif dan perang ofensif tidaklah tepat. Sebab disyariatkannya jihad bukan karena faktor defence (mempertahankan diri) atau offence (penyerangan) itu sendiri. Tetapi jihad itu disyariatkan karena kebutuhan penegakan masyarakat Islam sesuai dengan sistem dan prinsip-prinsip Islam; membentuk peradaban masyarakat madani dan membangun bangsa yang adil, tentram dan sejahtera. Ketika situasi dan kondisi menuntut jihad dengan pemikiran, pendidikan, dan dakwah, maka kita wajib melaksanakannya. Ketika situasi dan kondisi menuntut untuk melakukan jihad dengan perang defensif disertai dakwah, maka kita wajib melaksanakannya. Begitu juga ketika situasi dan kondisi menuntut untuk melakukan jihad dengan perang ofensif karena sudah memenuhi kriterianya, maka kita wajib melaksanakannya. Strategi konsep jihad di jalan Allah yang ideal pada masa kini seharusnya melalui fase-fase sebagai berikut: Pertama, jihd al-nafs, pada fase ini kita dituntut berjuang melawan hawa nafsu, karena pada fase-fase ini 116
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Terorisme Berlabel Jihad

merupakan paling dahsyatnya jihad. Salah satu bentuk perjuangan jihd al-nafs adalah mengkaji hakekat ilmu untuk melawan kebodohan, melawan hawa nafsu lingkar syetan, serta menentang ghazwu al-fikri - yang menjadi agenda besar Barat dengan perjuangan kritik nalar pemikiran dan sebagainya. Fase ini sering disebut-sebut al-jihd al-akbr, seperti yang telah diriwayatkan dari Jabir, bahwa laskar perang datang kepada Rasulullah, maka Rasulullah bersabda : "Kalian telah datang dengan baik, dari al-jihd alashgr (peperangan sederhana) menuju jihad al-jihd al-akbr (peperangan yang lebih dahsyat), yaitu perjuangan melawan hawa nafsu." Kedua; mujhadah al-kharn, pade fase ini kita dituntut untuk berdakwah dan mengajak ke jalan Allah dengan hikmah, fasilitas yang memadai dan metode yang sesuai dengan konteks kekinian, dengan harapan konsep ukhuwwah islmiyyah bisa tertanam dalam ruh umat Islam antar sektarian yang bertentangan. Misalnya mengadakan kajian Islam, diskusi ilmiah, dialog terbuka dan sebagainya. Fase ini berlandaskan firman Allah swt.: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (QS. Al-Nal : 125). Ketiga, jihd b al-qitl, ketika fase-fase sebelumnya sudah mencapai titik kesuksesan dan kekuatan militer persatuan umat Islam sudah mencapai titik sempurna, maka dilaksanakanlah jihad dengan peperangan. Namun, pada fase ini ada beberapa kode etik, syarat-syarat dan fasilitas
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

117

Terorisme Berlabel Jihad

yang harus diperhatikan. Kode etik dalam konsep jihad yang sangat penting untuk diperhatikan adalah bahwa jihad tidak disyariatkan kecuali untuk kemaslahatan manusia dalam skala nasional dan internasional. Jadi, Islam tidak membenarkan segala macam bentuk anti kemanusian dan perampasan HAM, bahkan tindakan anarki seperti ini sudah menjurus ke lembah terorisme yang harus dimusnahkan. Situasi dan kondisi yang menuntut jihad defensif, ketika tentara non-Muslim memasuki wilayah negara umat Islam. Maka bagi setiap umat Islam wajib melakukan perlawanan dengan senjata. Bagi yang tidak bisa melakukan perlawanan dengan senjata, diwajibkan melakukan perlawanan ketika dirinya diserang oleh musuh. Menurut pendapat mayoritas Ulama, situasi dan kondisi yang mendukung untuk melakukan jihad ofensif yang dilegalkan oleh syariat Islam adalah; Pertama, wilayah yang belum mengenal Islam, maka diharuskan adanya peringatan terakhir untuk menerima dakwah Islam, tetapi kemudian mereka melanggarnya. Kedua, sedangkan untuk wilayah yang sudah mengenal Islam, maka tidak diharuskan adanya peringatan semacam itu. Namun, harus memenuhi syarat-syarat melaksanakan jihad ofensif yang memiliki korelasi dengan subyeknya, sebagai berikut, Muslim, mukallaf, laki-laki, ada restu dari orang tua/wali dan kompeten dalam berjihad. Adapun syarat bagi non-Muslim, objek yang harus diperangi dengan label jihad adalah non-Muslim yang bukan mustaman, muahid dan ahli dzimmah kecuali jika mereka melanggar perjanjian yang telah disepakati. Ketika sudah memenuhi kode etik, syarat-syarat, dan salah satu situasi dan kondisi di atas, maka hukum melakukan jihad ofensif adalah faru kifyah dengan mendapatkan perintah dan persetujuan dari pemimpin negara. ***** 118
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Terorisme Berlabel Jihad

BAB III PENUTUP


Dari pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Terorisme dalam bahasa Arab adalah al-irhb, yang berarti penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan, dalam usaha mencapai suatu tujuan (terutama tujuan politik) dengan mengabaikan nilai kemanusiaan. Jihad secara etimologi, berasal dari akar kata bahasa Arab jahada; bersungguh-sungguh. Dari akar kata diatas membentuk tiga kata kunci; jihd (perjuangan dengan fisik), ijtihd (perjuangan dengan nalar) dan mujhadah (perjuangan dengan rohani) Jihad adalah membela kebenaran di jalan Allah demi t e ga k nya s e n d i - s e n d i a ga m a I s l a m d a n membangun peradaban masyarakat madani. Sebab muculnya terorisme berlabel jihad adalah akibat radikalisasi konsep jihad yang dikemas dalam agenda ghazwu al-fikri, yang disisipkan oleh hegemoni Barat ke dalam ruh umat Islam. Islam tidak membenarkan segala aksi yang menjurus pada intimidasi, teror, dan anarkis yang jauh dari nilai kemanusian. Jihad disyariatkan untuk kebutuhan penegakan masyarakat Islam sesuai dengan sistem dan prinsipprinsip Islam, membentuk peradaban masyarakat madani dan membangun keadilan, ketentraman dan kesejahteraan baik dalam skala nasional, maupun internasional. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan konsep jihad di jalan Allah yang ideal melalui fase-fase yang sesuai dengan tuntutan situasi
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

119

Terorisme Berlabel Jihad

dan kondisi dengan konteks global yaitu; jihdu alnafs, lalu mujhadah al-kharn dan kemudian jihd bi al-qitl. *****

REFERENSI
1. Al-Quran dan Terjemahannya. 2. Al-Bthiy, Muammad Sad Raman. 1426 H/ 2005 M. Fiqhu al-Srah al-Nabawiyyah maa Mjizi Trkhi al-Khulfati al-Rsyidah. Beirut : Dr al-Fikr. 3. Al-Bthiy, Muammad Sad Raman. qdu Nrani al-Irhb. Al-Multaq, dalam www.ikhwan.net. 4. Al-Bugha, Musthafa, dkk. 1413 H/ 1992 M. Al-Fiqh al-Manhaj al Madzhabi al-Imm Al-Syfiiy. Damaskus: Dar Al-Qalam. 5. Al-Medani, Abdurrahman Hasan Habanakah. 1407 H/1987 M. Tas Mafhim awla al-Tawakkul wa alJihd wa Wujhu al-Nari. Damaskus : Dr al-Qalam. 6. Al-Nawawiy, Muyiddn Abiy Zakariya Yaya ibn Syaraf. 1426 H/2005 M. Minhju al-libn wa Umdatul-Muftiyyn. Beirut : Dr al-Minhaj. 7. Al-Suyuiy, Jalluddn Abdurraman. 1423 H/ 2003 M. Al-Fatu al-Kabr. Beirut : Dr al-Fikr. 8. Al-Zuaily, Wahbah. 1419 H/ 1998 M. tsru alHarbi f al-Fiqhi al-Islm. Beirut : Dr al-Fikr. 9. Sad, Ab abb. 1408 H/ 1988 M. Al-Qms alFikhy. Damaskus : Dr al-Fikr. *****

120

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Makna Jihad dalam Islam dan Implementasinya


Oleh: Achmad Bakir
Islam adalah agama damai. Akan tetapi, ia perlu dipelihara dan dibela dengan sungguh-sungguh oleh penganutnya. Pembelaan ini dapat diimplementasikan dengan cara yang bijaksana dan tegas, bukan dengan cara luapan emosi atau kemarahan yang tiada batas. Karena, Allah berfirman bahwa perang di jalan Allah mestilah ada batasannya,Dan perangilah orang-orang yang memerangi kamu karena (menegakkan dan mempertahankan) agama Allah, dan janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (QS. Al-Baqarah: 190). Jihad ini diperintahkan bukan sekedar tindakan fisik belaka yang menelan banyak korban. Akan tetapi juga, jihad yang membawa kejayaan dan keselamatan umat Islam, baik di dunia maupun di ahkirat. Jihad merupakan sarana dakwah dalam keadaan darurat untuk menegakkan kalimat Allah Swt dan mempertahankan keselamatan umat Islam. Sedangkan darurat hanya di perbolehkan sesuai kebutuhan saja. Selama sarana dakwah yang lain masih efektif untuk menegakkan kalimat Allah dan masih bisa menjamin keselamatan umat Islam dalam melaksanakan syariat secara optimal, maka jihad berperang tidak boleh dipakai. Jihad adalah amal salih bagi kaum Muslim. Dengan tegaknya jihad, maka tegaklah 'izzah (kemuliaan) kaum Muslimin, sebaliknya jika mereka melalaikan jihad, maka melimpahlah kehinaan pada mereka.

*****

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

121

Makna Jihad dalam Islam dan Implementasinya

BAB I PENDAHULUAN
Latar belakang AlamdulilLh, terlebih dahulu penulis panjatkan sebagai rasa puja dan puji kepada Allah Swt. yang telah menjadikan Islam satu-satunya agama yang benar di sisi-Nya. Solawat dan salam mudah-mudahan terus mengalir kepada sang proklamator Islam, baginda Rasulullah Saw. Selanjutnya, penulis pada kesempatan emas ini akan membahas seputar "Makna Jihad dalam Islam dan Implementasinya". Bagi kalangan umat Islam, tidak diragukan lagi bahwa jihad termasuk amal salih yang diperintahkan Allah Swt. Suatu saat hukumnya fardu ayn, dan pada kondisi yang lain hukumnya fardu kifyah. Dengan tegaknya jihad, maka tegaklah izzah (kemuliaan) kaum Muslimin, sebaliknya jika kaum Muslimin melalaikan jihad, maka melimpahlah kehinaan pada mereka, sebagaimana dalam hadits sahih, "Jika kalian telah berjual beli dengan cara nah, disibukkan oleh ternak dan tanaman, dan kalian tinggalkan jihad f sablilLh, maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian, Allah tidak akan mencabut kehinaan itu dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian". Jihad adalah ibadah yang agung, bahkan puncak amalan Islam. Begitu besarnya peran jihad dalam menentukan keberhasilan umat Islam, sehingga di abad-abad terakhir ini banyak upaya baru yang diciptakan oleh musuh-musuh Islam, yakni meminggirkan dan menghilangkan makna serta pengaruh istilah-istilah Islam di tengah-tengah kaum Muslim. Salah satu istilah dan syiar Islam yang berusaha mereka eliminir dan kaburkan adalah istilah dan syiar jihad. Hal itu dilakukan dengan multicara: mulai dari menciptakan stereotype tentang jihd, mujhid dan syahd, juga dengan 122
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Makna Jihad dalam Islam dan Implementasinya

mengadopsi makna jihad yang hakiki diidentikkan dengan kekerasan belaka. Di balik upaya ini, mereka ingin mencampur aduk gerakan-gerakan yang serupa semacam "radikalisme dan terorisme" dan sebagainya, yang sebenarnya gerakan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan perang yang di anjurkan oleh Islam. Mereka berupaya mematahkan dan melemahkan pemahaman dan keyakinan kaum Muslimin terhadap teks-teks Islam yang bersifat sakral dan universal. Tidak bisa dipungkiri, bahwa kata jihad memiliki pengaruh yang amat luas, jadi tidak aneh jika kata jihad sering dipelintirkan maknanya untuk kepentingan politik negara-negara besar maupun kalangan-kalangan tertentu. Negara Barat dan Eropa seperti AS, hingga kini tetap giat mempropagandakan pandangan bahwa jihad sama dengan teror, mujhidn sama dengan teroris atau ekstremis yang harus dimusuhi, dilawan, dan dibinasakan. Mereka khawatir dengan bangkitnya semangat kaum Muslim melawan hegemoni sistem kufur yang dipelopori AS. Pengertian jihad juga sengaja ingin dipelintirkan dan dipolitisasi untuk menghadang atau melawan kelompok tertentu yang bertentangan dengan kelompok mereka. Inilah yang sekarang terjadi di negeri umat Islam secara umum. Berangkat dari apa yang telah dijelaskan di atas, penulis merasa cukup untuk menjadikannya sebagai alasan utama dalam mengambil judul ini. Mudah-mudahan tulisan ini bisa mengembalikan samangat dan kelunturan keyakinan umat Islam terhadap makna jihad yang sebenarnya, dan dapat meluruskan persepsi keliru yang selama ini selalu di huruharakan dengan memakai kedok kaum Muslimin. Penulis di sini akan memberikan gambaran jihad dalam Islam dan implementasinya. Karya tulis ini terdiri dari "pendahuluan" berisi latar belakang masalah. Kemudian "isi" yang memuat beberapa bahasan pokok: (1) arti jihad secara terminologi dan etimologi, (2) jenis-jenis jihad yang termasuk dalam kategori
JURNAL SKETSA EDISI V 123

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Makna Jihad dalam Islam dan Implementasinya

jihad Islami atau tidak, (3) peranan mujhid, (4) berlaku adil terhadap musuh, dan (5) tanda diterimanya jihad di sisi Allah. Dan terakhir "penutup" dan "daftar pustaka". *****

BAB II PEMBAHASAN
Makna Jihad secara Terminologi dan Etimologi Kata jihad berasal dari bahasa arab: jhada, yujhidu, jihdan, artinya saling mencurahkan usaha. Jadi makna jihad menurut bahasa (lughawiy) adalah kemampuan yang dicurahkan semaksimal mungkin: terkadang berupa aktivitas fisik, baik menggunakan senjata atau tidak; terkadang dengan menggunakan harta benda dan katakata; terkadang berupa dorongan sekuat tenaga untuk meraih target tertentu; dan sejenisnya. Makna jihad secara bahasa ini bersifat umum, yaitu kerja keras. Lebih jauh lagi Imam al-Naysbriy dalam kitab tafsirnya menjelaskan arti kata jihad menurut bahasa, yaitu mencurahkan segenap tenaga untuk memperoleh maksud tertentu. Al-Quran menggunakan arti kata jihad seperti di atas dalam beberapa ayatnya, seperti ayat berikut: "Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dalam hal yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik". (QS. Luqmn: 15) Al-Quran juga telah mengarahkan makna jihad 124
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Makna Jihad dalam Islam dan Implementasinya

kepada arti yang lebih spesifik (makna etimologi), yaitu mencurahkan segenap tenaga untuk berperang di jalan Allah, baik langsung maupun dengan cara mengeluarkan harta benda, pendapat, memperbanyak logistik, dan lain-lain. Seperti firman Allah, "Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan diri kalian di jalan Allah. Yang demikian adalah lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui". (QS. Al-Tawbah: 41) Pengertian semacam ini tampak dalam kata jihad yang ada dalam ayat-ayat Madaniyyah, tapi substansi maknanya berbeda dengan kata jihad yang terdapat dalam ayat-ayat Makkiyyah. Jihad dengan makna mengerahkan segenap kekuatan untuk berperang di jalan Allah juga digunakan oleh para fuqah . Menurut madzhab anafiy, jihad adalah mencurahkan pengorbanan dan kekuatan untuk berjuang di jalan Allah, baik dengan jiwa, harta benda, lisan dan sebagainya. Menurut madzhab Mlikiy, jihad berarti peperangan kaum Muslim melawan orang-orang kafir dalam rangka menegakkan kalimat Allah hingga menjadi kalimat yang paling tinggi. Para ulama mazhab Syfiiy juga berpendapat bahwa jihad berarti perang di jalan Allah. Sekalipun kata jihad menurut bahasa memiliki arti mencurahkan segenap tenaga, kerja keras, dan sejenisnya, tetapi syariat Islam lebih sering menggunakan kata tersebut dengan maksud tertentu, yaitu berperang di jalan Allah. Artinya, penggunaan kata jihad dalam pengertian berperang di jalan Allah lebih tepat digunakan ketimbang dalam pengertian bahasa. Hal ini sesuai dengan kaidah yang sering
JURNAL SKETSA EDISI V 125

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Makna Jihad dalam Islam dan Implementasinya

digunakan para ahli ushul fikih, "Makna syariy lebih utama dibandingkan dengan makna lughawiy (bahasa) maupun makna urfiy (tradisi)". Dengan demikian, makna jihad yang lebih tepat diambil oleh kaum Muslim adalah berperang di jalan Allah melawan orang-orang kafir dalam rangka meninggikan kalimat Allah. Dengan makna jihad dalam pengertian syariy ini, kata jihad tidak akan mudah diidentikkan dengan kekerasan belaka, seperti terorisme dan sejenisnya yang dianggap oleh sebagian kelompok sebagai aktivitas jihad yang sebetulnya merupakan salah satu upaya untuk menghilangkan makna jihad dalam pengertian al-qitl, alarb, atau al-ghazwu yang sebenarnya, yaitu berperang (di jalan Allah). Untuk membedakan bahwa suatu pertempuran itu tergolong jihd f SablilLh (sesuai dengan definisi di atas) atau termasuk perang saja, maka kita perlu mencermati fakta tentang jenis-jenis peperangan yang telah terekam oleh sejarah Islam. Karena, di dalam Islam terdapat beberapa peperangan yang serupa dengan aksi perang f SablilLh tetapi ternyata tidak semuanya bisa dianggap perang f SablilLh, melainkan statusnya bisa saja merupakan sebatas perang. Dalam literatur Islam, terdapat beberapa corak jihad yang semuanya akan mengerucut pada salah satu dari dua jenis jihad secara umum, yaitu: jihd aghar (kecil) dan jihd akbar (besar). Jihd Aghar a. Jihd f SablilLh Jihad di medan perang (al-qitl) sebenarnya merupakan perjuangan kecil (aghar) bagi kaum Muslimin. Hal ini bersesuaian dengan maksud sabda Rasulullah Saw. ketika beliau baru saja kembali dari Perang Badar, Kita kembali dari jihad yang terkecil menuju jihad yang terbesar, yaitu jihad melawan hawa nafsu. Akan tetapi, secara fisik 126
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Makna Jihad dalam Islam dan Implementasinya

perjuangan ini lebih banyak risiko dan tantangannya bagi para mujhid sendiri dan bagi para lawan mereka. Ada banyak aktivitas jihad yang hampir menyerupai jihad berperang semacam ini. Namun, dari sekian banyaknya aktivitas jihad yang hampir serupa itu, hanya bagian kecil saja yang masuk dalam definisi jihd f sablilLh, seperti (1) perang melawan orang-orang kafir dalam rangka menegakkan agama Allah Swt., (2) perang melawan orang-orang murtad yang melampaui batas, dan (3) perang melawan ahlu aldzimmah jika mereka melakukan pelanggaran yang melampaui batas terhadap persyaratan yang ada. Ahlu aldzimmah adalah orang non-Muslim yang menjadi rakyat (warga negara) Daulah Islamiyah dan tetap dibiarkan memeluk agamanya. Jihad perang semacam ini tidak sembarang dilakukan, melainkan harus melalui peraturan yang telah dikonsepkan oleh Islam: bahwa genderang perang boleh ditabuh atas perintah pemerintah dan bukan perseorangan. Inilah yang berlaku ketika Nabi sudah berada di Madinah dan telah membentuk pemerintahan di sana. Perang pada zaman Nabi juga ada yang merupakan bentuk bela diri atas pemberontakan atau tantangan dari kelompok kafir dan munafik yang dengan nyata memusuhi umat Islam. b. Perang non-SablilLh Perang non-sablilLh ini adalah aktivitas jihad yang tidak masuk dalam kategori jihad di atas. Jihad semacam ini sering diupayakan oleh kelompok radikal, dan sering dimanfaatkan oleh musuh Islam sebagai alat untuk mengaburkan istilah jihad di tengah-tengah kaum Muslimin, dengan cara mengadopsi perang non-sablilLh ke dalam definisi jihad di atas. Musuh Islam merasa menemukan peluang untuk mematahkan keyakinan umat Islam dari pelbagai istilah Islam dan syiarnya. Antara lain adalah dengan cara mereduksi konsep jihad. Gerakan-gerakan yang mereka serukan dalam langkah ini antara lain (1) aksi terorisme atau
JURNAL SKETSA EDISI V 127

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Makna Jihad dalam Islam dan Implementasinya

radikalisme, dan (2) perang melawan para pengikut bught. Bught adalah mereka yang memiliki kekuatan, kemudian menyatakan keluar atau memisahkan diri dari Daulah Islamiyah, melepaskan ketaatannya kepada negara (Khalifah), mengangkat senjata, dan mengumumkan perang terhadap negara. Contoh istimewanya, fenomena revolusi besar-besaran yang melanda Negara Timur Tengah yang sekarang masih berlangsung. Dalam perkara ini, peperangan yang dimaksud adalah peperangan untuk mendidik mereka, bukan perang untuk membinasakan mereka. Alasannya, mereka adalah kaum Muslim yang tidak sadar, dan kesadarannya harus dikembalikan. Perang melawan bught ini tidak tergolong ke dalam aktivitas jihd f sablilLh. Ada dua alasan yang sangat penting: pertama, yang diperangi adalah kaum Muslim; kedua, korban yang terbunuh dalam peperangan ini tidak termasuk syahid seperti mujhid yang terbunuh dalam perang f sablilLh. Terlebih lagi perang dalam rangka ini tidak termasuk ke dalam definisi jihad di atas. Jihd Akbar a. Jihad Nafsu Jihad nafsu lebih besar dari jihad di atas, karena jihad di atas harus melalui jihad nafsu ini. Hal ini bersesuaian dengan maksud sabda Rasulullah Saw. seperti yang telah disebutkan di atas. Jihad melawan hawa nafsu (jihd al-nafs) merupakan perjuangan besar setiap Muslim. Nabi Muhammad diutuskan Allah ke bumi sebagai 'rahmat seluruh alam'. Tujuan Nabi tidak lain ialah menyempurnakan akhlak manusia. Oleh karena itu, jihad terbesar ialah membetulkan diri sendiri dengan akhlak terpuji dan menjauhi perbuatan tercela. Jihad nafsu ini amat luas sekali cakupannya, menjelajahi pelbagai aspek hidup harian. Apakah nafsu itu? Nafsu terbagi tiga, yaitu sifat syahwat, marah dan khayalan. Berjihad terhadap nafsu 128
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Makna Jihad dalam Islam dan Implementasinya

bermakna menggunakan kuasa akal untuk mengawal syahwat, marah dan khayalan. Untuk membolehkan akal dapat mengawal ketiga-tiganya, maka seorang Muslim perlu gigih berjuang dalam medan ilmu dengan menimba ilmu agama dan kehidupan. Itulah sebabnya, wahyu pertama berbunyi "Iqra!" (QS. Al-'Alaq: 1) yang bermaksud "bacalah!". Tekad mencari ilmu merupakan alat unggul untuk mencapai kejayaan dalam peperangan jihad nafsu. Jihad mengawal nafsu menuntut kesabaran, karena setiap orang akan berhadapan dengan pelbagai kesulitan. Tetapi di balik kesulitan akan datang kesenangan sebagaimana tercatat dalam surat al-Insyirah: 5-6, . "(5) Maka sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. (6) Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan". b. Jihad Menentang Godaan Syaitan Sebenarnya, jihad ini hampir sama dengan jihad nafsu, hanya saja di sini terdapat sedikit perbedaan, karena bisa saja lawan jihad ini berupa syitan ghaib dan bisa juga berupa syitan yang tampak, seperti manusia yang menjerumuskan orang lain ke dalam kesesatan. Di medan perang jihad nafsu dan jihad melawan syaitan inilah banyak umat Islam mengalami kekalahan dan kegagalan. Syaitan (ght) disebut dalam al-Quran sebagai lambang puncak kejahatan yang ditimpakan ke atas kemanusiaan. Bahkan disebutkan bahwa musuh utama dan nyata adalah iblis. Al-Quran menegaskan bahwa permusuhan iblis dengan manusia bermula ketika Adam dan Hawa digoda untuk memakan buah terlarang yang akhirnya mengakibatkan mereka disingkirkan dari syurga ke bumi. Kemudian, anak Nabi Adam, Qabil, membunuh saudaranya, Habil, karena cemburu. Kejadian itu direkam dalam al-Quran sebagai
JURNAL SKETSA EDISI V 129

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Makna Jihad dalam Islam dan Implementasinya

bencana daripada tipu muslihat iblis yang menyelewengkan nafsu mereka. Peperangan di dunia juga merupakan angkara iblis, tetapi manusia sering lupa akan hal ini. Perang merebut kuasa, tanah, dan perempuan merupakan tipu muslihat iblis yang memesongkan nafsu manusia. Kemudian, untuk menguatkan jiwa dari nafsu dan bujukan Iblis, umat Muslim hendaklah banyak beribadah dalam arti secara luas, yakni menunaikan kewajiban fardu, berusaha (berjihad) dengan cemerlang, dan menaburkan amalan baik kepada sesama manusia. Seperti yang telah dijelaskan oleh Islam Online Fatwa Committee, bahwa jika ditanya: apakah jihad itu boleh diartikan sebagai peperangan ilmu dan peubah pendapat lawan melalui pendidikan dan kefahaman?, maka mereka menjawab melalui fatwa yang bertajuk Jihad Nafsu dan Dakwah, Jihad mempunyai banyak makna, satu daripadanya memanglah melawan musuh dengan fisik di medan peperangan, namun makna jihad itu lebih luas daripada itu. Bahwa jihad juga bermakna perjuangan rohani yang juga dikenali sebagai 'jihad al-nafs'. Walaupun ada beberapa kelompok yang menafikan jihad semacam ini, karena mereka punya beberapa alasan tertentu, tetapi wujud dan kenyataannya tidak bisa diingkari karena banyak disebutkan dalam hadits sahih dan juga ayatayat al-Quran. Seperti halnya jenis-jenis jihad lainnya, seperti jihad dengan harta yang tercatat dalam surat al-ujurt: 15, dan jihad dengan dakwah dan dengan menyebarkan ilmu yang diisyaratkan dalam surah al-Ankabt: 69, Dan orangorang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh karena memenuhi kehendak agama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami. Surah al-Ankabt: 69 ini diturunkan ketika Nabi Muhammad Saw. masih berada di Mekkah. Pada waktu itu, tidak ada jihad peperangan. Jikalau demikian, lantas apakah maksud ayat ini?. Maka, sudah nyata bahwa ayat ini tidak bermakna perang suci ataupun holy 130
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Makna Jihad dalam Islam dan Implementasinya

war sebagaimana yang asumsikan oleh beberapa kelompok tertentu. Peranan Mujhid Dari kata jihd, terbitlah kata mujhid, yaitu orang yang melaksanakan jihad. Dalam artian: (1) Orang yang berjuang melawan nafsunya karena Allah Swt, (2) orang yang dengan dirinya berusaha melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah Swt, dan (3) orang yang berjuang dengan gigih dan pasrah kepada ketentuan (takdir) Allah Swt.

Perjuangan mujhid akan menampilkan rasa damai, sentosa (saknah) dan kecintaan kepada umat Islam. Hal itu dilakukan dengan cara berdakwah, yakni mengajak orang lain untuk memeluk agama Islam dengan cara yang bijaksana dan dialog terbuka. Karenanya, kehadiran mujhid tidaklah untuk mengacaukan atau membawa angkara (fasd), melainkan justru memastikan keselamatan dan kebajikan yang terjamin kepada umat Islam.
Berlaku adil terhadap musuh Islam menegaskan kepada umatnya agar berlaku adil terhadap orang yang dibenci, dengan menampilkan adab mulia, berdialog, dan sebagainya. Inilah teras dakwah Islam. Tujuannya tidak lain ialah untuk membina rasa saling hormatmenghormati dan persahabatan. Baik orang itu menganut Islam atau tidak, ia merupakan urusan Allah Swt. sebagaimana maksud firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

JURNAL SKETSA EDISI V 131

Makna Jihad dalam Islam dan Implementasinya

kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Midah: 8). Islam adalah agama damai. Akan tetapi meskipun demikian, ia perlu dipelihara dan dibela dengan sungguhsungguh oleh penganutnya. Pembelaan ini dapat diimplementasikan dengan cara yang bijaksana dan tegas, bukan dengan cara luapan emosi atau kemarahan yang tiada batas. Oleh karena itu, apabila umat Islam terkepung dan terancam keselamatannya, maka perang diizinkan oleh Allah Swt. demi menegakkan syiar-Nya. Namun Allah berfirman bahwa perang di jalan Allah (qitl f sablilLh) mestilah ada batasannya. Berikut firman tersebut,Dan perangilah orangorang yang memerangi kamu karena (menegakkan dan mempertahankan) agama Allah, dan janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (QS. Al-Baqarah: 190). Jihad perang yang diizinkan oleh Allah hanya untuk menghindari terjadinya penganiayaan, tindakan melampaui batas, dan upaya menghalang-halangi jalan Islam, sebagaimana pesan ini telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw. dalam hal pembunuhan anak-anak kecil, wanita dan orang tua, pemusnahan terhadap harta benda atau tumbuhtumbuhan, dan tindakan menghalang-halangi jalan Islam dan sebagainya. Tanda-Tanda Jihad Seseorang Diterima di Sisi Allah Sekelompok orang menganggap bahwa aksi dan gerakan-gerakan yang menelan ratusan korban adalah termasuk jihd f sablilLh, dan pelakunya mereka pastikan sebagai orang yang syahid. Bahkan, banyak jamaah dakwah yang menyeru anggotanya berpartisipasi dan mendukungnya.

132

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Makna Jihad dalam Islam dan Implementasinya

Di lain pihak banyak orang yang bertanya-tanya: Benarkah aksi ini adalah jihad? Dan apakah Islam membolehkan segala cara dalam beribadah, termasuk jihad yang merupakan bagian dari ibadah?. Untuk jawaban pertanyaan ini, kami telah menjelaskannya di atas secara detil. Bahkan, jihad yang sesuai dengan definisi di atas pun tidak semuanya akan diterima di sisi Allah kecuali jika terpenuhi dua syarat asasi, yaitu hendaknya ikhlas karena Allah semata, dan harus sesuai dengan konsep jihad yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya. Maka, agar jihad dapat diterima di sisi Allah, seorang mujhid wajib meniatkannya semata-mata karena Allah, bukan karena membela bangsa, ras atau suku. Dan bukan karena membela tanah air, karena bumi semuanya milik Allah dan diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Demikian juga tidak boleh meniatkan jihad agar dikatakan sebagai mujhid, pahlawan, atau pun syahid. Rasulullah Saw. bersabda, "Sesungguhnya segala amalan itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan hasil sesuai dengan niatnya. Maka, barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya dinilai kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak didapatkannya, atau karena wanita yang hendak dikawininya, maka hijrahnya dinilai sesuai dengan apa yang diniatkannya". Maka sekali lagi, jihad yang di terima di sisi Allah adalah jihad yang sesuai ajaran syariat, yaitu yang memakai aturan-aturan Islam. *****

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

JURNAL SKETSA EDISI V 133

Makna Jihad dalam Islam dan Implementasinya

BAB III PENUTUP


Demikianlah sekelumit seputar makna jihad dalam Islam dan konsep peraktik penerapannya. Di sini penulis berkesimpulan bahwa, pengertian kata jihad mempunyai arti yang sangat luas sekali. Jihad tidak hanya terbatas berperang melawan orang-orang kafir; jihad mencakup pelbagai aspek kehidupan manusia sehari-hari, seperti jihad melawan hawa nafsu, jihad amar makruf nahi mungkar, jihad membina moralitas yang mulia, jihad memakmurkan ekonomi negara, jihad meningkatkan mutu pendidikan, dan sebagainya. Akan tetapi, jika arti jihad diarahkan ke kata perang yang menelan jiwa manusia, maka arti jihad yang layak diambil oleh kaum Muslimin adalah arti jihad yang secara terminologis syariy, yaitu berperang di jalan Allah melawan orang-orang kafir dalam rangka meninggikan kalimat Allah Swt. Jihad yang diperintahkan dalam Islam bukan hanya sebuah tindakan kekerasan belaka yang menelan banyak korban. Akan tetapi, jihad yang diperintahkan dalam Islam adalah jihad yang membawa kejayaan dan keselamatan umat Islam baik di dunia maupun di ahkirat. Jadi, pengertian jihad tidak dapat dieliminir dan dipolitisasi untuk melemahkan keyakinan umat Islam dalam menghadang dan melawan kelompok non-Muslim. Karena, esensi jihad yang sebenarnya adalah termasuk amal salih yang di perintahkan Allah Swt. Suatu saat hukumnya faru 'ayn, dan pada kondisi yang lain hukumnya faru kifyah. Dengan tegaknya jihad, maka tegaklah 'izzah (kemuliaan) kaum Muslimin, sebaliknya jika kaum Muslimin melalaikan jihad, maka melimpahlah kehinaan pada mereka. Dalam jihad, terdapat peraturan yang harus dipatuhi 134
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Makna Jihad dalam Islam dan Implementasinya

oleh pihak yang bersangkutan. Dalam jihad juga terdapat pemimpin, baik imam atau pemerintah yang berkuasa. Jihad bukan atas dasar keinginan perseorangan dan bukan atas unsur politik yang bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Islam selalu memberi batasan kepada pemeluknya di dalam berdakwah di jalan Allah Swt. Umat Islam harus selalu tampil wibawa dengan kemoderatannya, tidak ekstremis dan tidak pula liberalis meskipun dalam berjihad melawan orang-orang kafir. Jihad yang disyariatkan dalam Islam merupakan sarana dakwah dalam keadaan darurat untuk menegakkan kalimat Allah Swt. dan demi mempertahankan keselamatan umat Islam. Sedangkan darurat hanya di perbolehkan sesuai kebutuhan saja. Selama sarana dakwah yang lain masih efektif untuk menegakkan kalimat Allah Swt. dan masih bisa menjamin keselamatan umat Islam dalam melaksanakan syariat secara optimal, maka aktivitas jihad berperang tidak boleh dipakai. Ini sesuai dengan manhaj dakwah Rasulullah yang melakukan jihad perang setelah melalui beberapa tahapan. Beliau berdakwah dengan cara yang dapat memikat hati orang-orang yang didakwahi, dengan akhlak yang terpuji, dengan kata-kata yang lemah-lebut, dan dengan memperlihatkan Islam sebagai agama rahmatan li al'lamn yang dipenuhi ketegasan dan kebijaksanaan; membawa keselamatan dan kemakmuran bagi umat Islam. Dari sekian aktivitas jihad yang diperbolehkan oleh Islam, dalam pelaksanaannya pun harus memenuhi dua syarat asasi, yaitu ikhlas semata karena Allah Swt., dan harus sesuai dengan konsep jihad yang diajarkan oleh Allah dan rasulNya. WalLhu a'lam. *****

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

JURNAL SKETSA EDISI V 135

Makna Jihad dalam Islam dan Implementasinya

REFERENSI
1. Al-Quran dan Terjamahnya. 2. Abdulbaki, Ahmad salamah. 1406. Al-Islam wa alRiqq. 3. Al-Anariy, Zakariya ibn Muhamad ibn Ahmad. 1418. Fat al-Wahhb. Beirut: Dr al-Kutub. 4. Al-Muqdasiy, Abdurrahman ibn Muhamad ibn Ahmad bin Qudmah. Al-Syar al-Kabir ala Matni alMuqni. Dr al-Kutub al-Arabiy. 5. Al-Rziy, Ab AbdilLah ibn Umar ibn Hasan. Tafsr Kabr. Maktabah Symilah. 6. Al-Namariy, Ab Umar Ysuf ibn AbdilLah.1421. AlIstizdkr. Dr al-Kutub. 7. Al-Zuayliy, Wahbah. 1412. Atsar al-arbi f alFiqhi al-Islmiy. Dr al-Fikr. 8. Shihab, Quraisy. Wawasan al-Quran: Berjihad Menghadapi Setan dan Nafsu. Makalah. 9. Fatwa Bank.
http://www.Islamonline.net/fatwa/english/searc hFatwa.asp

136

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Jurnal

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

SKETSA
Bagian ketiga
Membina Moralitas Bangsa

Edisi V

p p p p p

Pancasila dalam Perspektif al-Quran


Menilik & Mengukur Nalar Pancasila dalam Perspektif al-Quran

Pornografi,
Dekadensi Moralitas Bangsa

Mendeteksi Solusi
di balik Krisis Moralitas Bangsa

Membina Moralitas Bangsa


dengan Manhaj Salaf al-Slih

The Gigantic Power of Morality:


Rekonstruksi Ringan Moral Agung Sang Teladan

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

s
137

PANCASILA DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN


Menilik dan Mengukur Nalar Pancasila dalam Perspektif al-Quran

Oleh: Muhammad Ufi Ishbar Naufal

Berbangsa yang terbaik adalah berbangsa yang 'patuh' terhadap pemerintah dan tetap mengedepankan rasa nasionalisme, patriotisme dengan tanpa meninggalkan prinsip "Wa Tawaw bi al-aqqi wa Tawaw bi al-abr" (Dan nasehat menasehatilah supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehatilah supaya menetapi kesabaran!) [QS. Al-Ar: 3]. Pancasila, menurut penulis, termasuk salah satu ide yang mampu menyatukan pelbagai corak dan keragaman Indonesia. Karena, Pancasila sudah menunjukkan eksistensinya dalam memupuk nasionalisme dan patriotisme. Pancasila juga menyingkirkan pelbagai macam fanatisme ideologi..

*****

138

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pancasila Dalam Perspektif Al-Quran

BAB I PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara kesukuan dan negara kepulauan. Negara kesukuan yang terdiri dari pelbagai suku. Ada suku Dayak, Bugis, Jawa, Batak dan sebagainya. Sukusuku di NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) jumlahnya lebih dari 300 (tiga ratus) kelompok etnik. Suku Jawa termasuk mayoritas1. Negara kepulauan yang terdiri dari pelbagai pulau, dari pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan seterusnya. Jumlah pulau di Indonesia menurut data Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia tahun 2004 adalah sebanyak 17.504 pulau. 7.870 di antaranya telah mempunyai nama, sedangkan 9.634 belum memiliki nama 2. Indonesia juga terdiri dari pelbagai macam agama dan atau kepercayaan, ada Islam, Kristen, Budha dan sebagainya. Dengan terdiri dari pelbagai macam suku, pulau, agama dan pelbagai macam perbedaan lainnya, tentunya diperlukan sebuah win solution. Yaitu win solution untuk merekatkan dan menghindari pergolakan dari pelbagai macam perbedaan tadi. Pancasila, menurut penulis, termasuk salah satu ide yang mampu menyatukan pelbagai corak dan keragaman Indonesia. Karena Pancasila sudah menunjukkan eksistensinya dalam memupuk nasionalisme dan patriotisme. Pancasila juga menyingkirkan pelbagai macam fanatisme ideologi. Pancasila, dalam sila kesatu, berusaha menyingkirkan fanatisme ideologi yang dapat merunyamkan sebuah tatanan persatuan. Sila ketiga mengedepankan persatuan di bawah satu tanah air, Indonesia. Dan akan diterangkan lebih rinci dalam artikel ini.
JURNAL SKETSA EDISI V 139

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pancasila Dalam Perspektif Al-Quran

Berbeda jika dasar suatu negara yang humanis dan kompleks menggunakan ideology yang memilih salah satu paham, misalnya menggunakan Injil. Maka layak bagi orang Islam dan atau kepercayaan lainnya untuk iri dan menuntut diterapkan pula ideologinya. Dan tidak berlebihan jika KH. Ahmad Shidiq menyatakan sebagai berikut, Hendaknya umat Islam di Indonesia menerima negara Pancasila sebagai bentuk final dari perjuangan aspirasi politik umat, jangan negara Pancasila itu hanya dijadikan sasaran menuju sasaran lain. Pada kesempatan ini, penulis mencoba mengukur Pancasila dalam neraca al-Quran. Hal ini dilakukan karena penulis memandang semakin perlu menanamkan benih garuda pada tiap warga NKRI. Apalagi, di masa sekarang semakin banyak ideologi non-Pancasila, baik ideologi itu dilakukan untuk meraih ambisinya, atau untuk mencaplok kekuasaan. Dan mungkin ideologi ini dimunculkan ikhlas untuk suatu tujuan mulia. Jika Pancasila sudah memenuhi berdasarkan neraca al-Quran, maka ideologi yang mencoba menggesernya akan rapuh. Karena, penulis memandang para penentang ideologi mencoba mengeser Pancasila dengan ajaran Islam. Dan tentunya ada pula yang mencoba menggesernya dengan ajaran lainnya. Tetapi di sini, penulis fokus pada al-Quran dan atau ajaran Islam saja. Ya, memang Islam (menurut penulis) adalah sebuah agama yang paling sempurna, paling kompleks, dan Pancasila jelas tidak sebanding dengannya. Namun, dalam Islam pun dijelaskan tentang kaidah daru al-mafsid muqaddam al jalbi al-mali (menghindari kerusakan lebih didahulukan daripada mendatangkan kemaslahatan). Allah pun benci kepada orang yang suka membuat kerusakan. InnalLha l yuhibbu al-fasd. Dan di antara benih-benih kerusakan itu adalah fanatisme dan menonjolkan ideologinya sendiri dengan mengesampingkan persatuan dan kesatuan. ***** 140
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pancasila Dalam Perspektif Al-Quran

BAB II PEMBAHASAN
A. Uraian Judul Definisi Pancasila Pancasila terdiri dari dua patron kata sansakerta, kata panca dan kata sila. Panca artinya lima. Sila artinya prinsip atau asas. Berarti, Pancasila adalah lima rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia3 . Lima sila itu adalah: * Sila kesatu: Ketuhanan Yang Maha Esa * S i l a ke d u a : Ke m a n u s i a a n ya n g a d i l d a n beradab * Sila ketiga: Persatuan Indonesia * Sila keempat:Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan * Sila kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia Arti Perspektif Perspektif dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sudut pandang. Arti Al-Quran Al-Quran, secara etimologi adalah kumpulan. Menurut al-Bazdawiy, arti al-Quran secara terminologi adalah kitab yang diturunkan kepada Rasulullah Saw., yang ditulis dalam muaf, yang diriwayatkan dari nabi secara mutawtir 4. Berdasarkan konsensus atau ijm ulama, al-Quran menempati posisi tertinggi dalam istinb atau penggalian hukum Islam. Sedangkan al-hadts atau al-sunnah5 menempati urutan selanjutnya. Dan untuk urutan berikutnya, ulama masih banyak yang berselisih pendapat.
JURNAL SKETSA EDISI V 141

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pancasila Dalam Perspektif Al-Quran

B. Posisi al-Quran dalam Penggalian Hukum Islam Konsensus ulama menyatakan bahwa al-Quran adalah power yang memiliki peran tertinggi dalam penggalian hukum (istinb al-ukm). Nash-nash ataupun teks al-Quran adalah harga mati, dan tentunya semua akan tunduk terhadapnya. Di bawah ini adalah lampiran tentang urutan metodologi ulama al-madzhib al-arbaah (madzhab empat) dalam istinb (menggali) hukum:6
Madzhab anafiy 7 1. Al-Quran 2. Al-Sunnah 3. Pendapat Sahabat
4. Ijm (konsensus ulama)

Madzhab Mlikiy 8 1. Al-Quran 2. Al-Sunnah 3. Fatwa Sahabat


4. Ijma 5. Ijma
Penduduk Madinah

Madzhab Syfiiy 9 1. Al-Quran 2. Al-Sunnah 3. Ijma


4. Qiyas 5. Istishab 6. Qaul Sahabat 7. Istiqr

Madzhab anbaliy10 1. Al-Quran 2. Al-Sunnah 3. Pendapat Sahabat


4. Ijma 5. Qiyas 6. Istiab
7. Al-Mali al-Mursalah

5. Qiys (analogi) 6. Istisn 7. Urf (adat) -------------------------

6. Qiyas 7. Istisn 8. Istib


9. Al-Mali al-Mursalah
10. Sadd al-Dzari

8. Al-Akhdz bi 8. Sadd al-Dzari aqalli ma qla

9. Urf (adat) -------------

-------------------

11. Urf (adat)

Setelah mengetahui posisi al-Quran menurut ijm 142


JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pancasila Dalam Perspektif Al-Quran

atau konsensus ulama dalam penggalian hukum, sekarang penulis akan mencoba mengukur nalar Pancasila dalam perspektif al-Quran. C. Pancasila dalam Perspektif Al-Quran Ketetapan MPR No. II/MPR/1978 tentang Ekaprasetia Pancakarsa menjabarkan kelima asas dalam Pancasila menjadi 36 butir pengamalan sebagai pedoman praktis bagi pelaksanaan Pancasila11. Ketetapan ini kemudian dicabut dengan Tap MPR No. I/MPR/2003 dengan 45 butir Pancasila12. Di sini penulis akan menjelaskan sebagian butirbutir Pancasila itu. 1. Sila Kesatu: Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila pertama ini terdiri dari beberapa butir, antara lain: a. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dalam al-Quran pun menyinggung Ketuhanan Yang Esa ini, yaitu:

Sekiranya ada di langit dan di bumi Tuhan-Tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai Arsy daripada apa yang mereka sifatkan (QS. Al-Anbiy: 22) Ayat ini jelas memberikan sebuah petunjuk akan ke-Esa-an Allah Swt. Karena, jika di bumi ini ada banyak Tuhan, maka ada banyak pengatur, hal ini akan menimbulkan kerusakan. Karena, dimungkinkan bagi setiap pengatur untuk mengedepankan kehendaknya. Akhirnya akan berdampak pada terjadinya sesuatu yang tidak diharapkan, yaitu kerusakan yang diawali dengan fanatik pada ambisi masing-masing pengatur. b. Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan
JURNAL SKETSA EDISI V 143

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pancasila Dalam Perspektif Al-Quran

kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pada butir ini sesuai dengan ajaran yang dituturkan dalam al-Quran, yakni dalam surat al-Kfirn. Dalam surat ini dijelaskan untuk saling menghormati antar pemeluk agama, dan beribadah sesuai dengan ajaran dan kepercayaan masing-masing.
() ( ) ( ) () ( ) ( )

Katakanlah: (1) Hai orang-orang yang kafir; (2) Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah; (3) Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah; (4) Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah; (5) Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah; (6) Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku. (QS. Al-Kfirn: 1-6). c. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain. Pada butir ini, dijelaskan untuk tidak memaksakan agama dan kepercayaan kepada orang lain. Butir ini sesuai dengan ajaran al-Quran, Tidak ada paksaan untuk (memeluk) agama, sesungguhnya telah jelas jalan kebenaran daripada jalan kesesatan. (QS. Al-Baqarah: 256). 2. Sila Kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab. Sila kedua ini terdiri dari beberapa butir, di antaranya adalah: a. Mengakui dan memperlakukan manusia sesua dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, mengakui persamaan derajat, persamaan 144
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pancasila Dalam Perspektif Al-Quran

persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya. Butir ini sesuai dengan yang diajarkan Nabi Muhammad untuk tidak pandang bulu. Nabi Muhammad bersabda:
...

Sesungguhnya kerusakan kaum sebelum kalian adalah jika orang mulya di antara mereka mencuri, maka mereka meninggalkannya. Dan sebaliknya, jika si lemah yang mencuri maka hukuman itu didirikan. Demi Allah, jika Fatimah putri Muhammad mencuri, maka Muhammad (sendiri) yang akan memotong tangannya13. b. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia, tenggang rasa dan tepa selira, dan tidak semena-mena terhadap orang lain. Sungguh, dalam Islam pun (baik tertera dalam al-Quran dan al-hadits) dijelaskan tentang ajaran ini semua, antara lain: Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al-Qalam: 4). Sebagaimana yang kita tahu, dalam ayat di atas dijelaskan tentang akhlak atau etika Rasulullah Saw. Dan sebagai umat Islam, kita harus meniru. Kita meniru akhlak Rasul baik etikanya dalam berinteraksi dengan sesama Muslim ataupun non-Muslim, meniru tenggangrasanya pada sesama makhluk dan lainnya. Rasulullah Saw. bersabda, Orang pilihan di antara kalian semua adalah yang terbaik akhlaknya14. Dalam hadits lain dengan tegas nabi menuturkan, Wa khliq al-ns bi
JURNAL SKETSA EDISI V 145

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pancasila Dalam Perspektif Al-Quran

khuluqin hasanin (Dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik)15 . 3. Sila Ketiga: Persatuan Indonesia. Sila ketiga ini terdiri dari beberapa butir, di antaranya: a. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan. Butir ini seiring dengan firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (QS. Al-ujurt: 10). b. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan b a n g s a , m e n ge m b a n g k a n ra s a keb a n g ga a n berkebangsaan dan bertanah air Indonesia. Dalam suatu maqlah, Cinta tanah air termasuk bagian iman16 . Dalam ungkapan tersebut bahwa Islam mendorong umatnya untuk mencintai tanah airnya, bahkan cinta tanah air termasuk salah satu bagian daripada iman. 4. Sila Keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Sila keempat ini terdiri dari beberapa butir, antara lain: a. Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama. Ini senada dengan firman-Nya:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan 146
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pancasila Dalam Perspektif Al-Quran

kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu (QS. Al-ujurt:13). Ayat ini menjelaskan tentang tidak ada perbedaan baik laki-laki maupun perempuan, mereka sama-sama diciptakan oleh Allah. Dan mereka mempunyai kedudukan yang sama dihadapan-Nya, kecuali orang yang paling bertakwa. Nabi Muhammad menjelaskan bahwa manusia adalah sama, yaitu dari anak Adam Manusia adalah anak-anak Adam, dan Adam dari debu (HR. Ab Dawd dan al-Turmudziy)17. b. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan, menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah. Dalam butir ini, Allah pun mendorong untuk bermusyawarah, sebagaimana dalam ayat-Nya:

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka. Mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali Imrn: 159). 5. Sila Kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila kelima ini terdiri dari beberapa butir, antara lain:
JURNAL SKETSA EDISI V 147

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pancasila Dalam Perspektif Al-Quran

a. Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotong-royongan. Nabi bersabda: Janganlah kalian saling marah, saling hasut dan saling mengintai. Dan jadilah hamba Allah yang bersaudara. Nabi Muhammad menghimbau kepada umatnya untuk selalu berbuat luhur, dan terus memotivasi mereka untuk bersatu sebagaimana yang tercantum di hadits di atas. b. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama. Sikap adil (sebagaimana yang tertera di butir di atas) dengan tanpa pandang bulu dan tanpa melihat apapun. Dan ini dicontohkan nabi dengan tanpa pandang bulu dalam menghukum pencuri. Nabi mengecam orang yang tidak berlaku adil, bahkan nabi pun akan memotong tangan putrinya jikalau dia mencuri. Hadits ini dapat dilihat pada pembahasan sila kedua (kemanusiaan yang adil dan beradab). Sikap adil ini pun dapat dimulai dari sikap kita untuk tidak membeda-bedakan dalam memberi hadiah diantara anak-anak kita. Nabi Muhammad bersabda, Bersikaplah adil dalam memberi diantara anak-anak kalian 18. c. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri. Dalam Islam, diajarkan untuk saling membantu, saling mengasihi dan saling berbagi. Bahkan umat Islam diibaratkan satu bangunan yang saling menguatkan satu dan lainnya. Al-Mumin li al-mumin ka al-bunyn (Mukmin satu dengan mukmin lainnya ibarat satu bangunan)19. Dalam kesempatan lain, nabi pun mendorong umatnya untuk saling mencintai satu sama lain. L yuminu aadukum hatt yuhibba li akhhi m yuhibbu li nafsih, artinya: tidaklah sempurna iman salah seorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana 148
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pancasila Dalam Perspektif Al-Quran

mencintai dirinya sendiri 20. D. Sekilas Pandang Penentang Pancasila Dalam sebuah gagasan pasti ada dua kata, setuju dan tidak setuju, dan ada tambahan lagi yaitu golput. Tidak luput dalam Pancasila ini, banyak kalangan yang menentangnya, baik vonis produk zionis ataupun vonis bukan karya dalam negeri dan pula sebagainya. Yang mengatakan Pancasila bersumber dari ajaran zionis adalah yang tertera dalam Talmud yahudi. Gerakan Zionisme dan Freemasonry di seluruh dunia sesungguhnya memiliki asas yang sama. Asas dari dua gerakan ini disebut Khams Qnn, lima sila, atau pancasila. Kelima sila itu adalah: 1. Monotheisme 2. Nasionalisme 3. Humanisme 4. Demokrasi 5. Sosialisme Penjelasan tentang lima sila yang terdapat dalam doktrin Yahudi tersebut adalah sebagai berikut 21. 1. Monotheisme: Kesatuan Tuhan (Ketuhanan Yang Maha Esa) Hendaklah bangsa Yahudi ber-Tuhan dengan Tuhannya masing-masing yang merupakan kesatuan gerak. Maka, hai orang-orang atheis dan bebas agama di kalangan bangsa Yahudi, hendaklah engkau pun ber-Tuhan dengan Tuhanmu sendiri, bukankah alam pun Tuhanmu, dan bukankah kodrat alam pun Tuhanmu juga? Kalian berlainan agama, kalian berlainan kepercayaan, kalian berlainan keyakinan, tetapi kalian harus bersatu, gunung zionisme telah menantimu. Hendaklah kalian tenggang menenggang, hormat menghormati hai Yahudi seluruh dunia!. 2. Nasionalisme-Kebangsaan Berbangsa satu bangsa Yahudi, berbahasa satu bahasa Yahudi dan bertanah air satu tanah air Yahudi Raya
JURNAL SKETSA EDISI V 149

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pancasila Dalam Perspektif Al-Quran

(Israel Raya). 3. Humanisme Kemanusiaan yang adil dan beradab berlakulah, janganlah kalian menjadi peniru bangsa Babilon yang telah membuangmu, tetapi bagi luar bangsamu dan yang hendak membinasakanmu, kalian adalah bangsa besar. 4. Demokrasi Dengan cahaya Talmud dan Masna dan segala ucapan imam-imam agung bahwa telah diundangkan Bermusyawarahlah dan berapatlah dan berlakulah pilihan kehendak suara banyak, karena suara banyak adalah suara Tuhan. 5. Sosialisme Keadilan sosial yang merata pada masyarakat Yahudi, sehingga setiap orang Yahudi menjadi seorang kaya raya dan menjadi pimpinan di mana pun ia berada, dan menjadi protokol pembuat program. Dalam Nyanyian Qaballa Talmud, dikatakan: Dengan uang kamu dapat kembali ke Yudea, ke Israel, karena agama itu tegak dengan uang, dan agama itu uang, sesungguhnya wajah Yahwe sendiri yang tampak olehmu itu adalah uang!, Cintailah Zion, cintailah Hebran, cintailah akan Yudea dan cintailah seluruh tanah pemukiman Israel, karena engkaulah bangsa pemegang wasiat Hebran tertua yang berbunyi: Cinta pada tanah air itu sebagian dari iman! (XL: 46). Inilah sebagian gambaran ideologi penentang Pancasila, dan tentunya mereka akan sangat gigih membela ideologinya. Tentunya ini akan sangat membahayakan. Tidak menuntut kemungkinan akan menjadi bom waktu untuk mengikis nasionalisme, patriotisme dan sebagainya. Ancaman yang terakhir akan menjadi duri dalam persatuan dan kesatuan NKRI. Dan akan merunyamkan impian untuk memajukan Indonesia. ***** 150
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pancasila Dalam Perspektif Al-Quran

BAB III PENUTUP


Dengan mengkonversikan Pancasila dan al-Quran, maka akan diketahui 'benang merah' antara Pancasila dan alQuran. Arti eksplisit dan implisit yang tertera dalam Pancasila pun tidak lepas dari ajaran Qurani.

Ajaran tentang toleransi, persatuan, patriotisme, nasionalisme, human of association (pergaulan bermasyarakat) yang tertera dalam Pancasila tidak meleset dari al-Quran atau ajaran Islam. Maka, tepat jika Nahdlatul Ulama menerima Pancasila sebagai dasar bernegara.
Melalui artikel ini, seyogyanya sebagai rakyat Indonesia dengan term yang humanis harusnya terus menjaga persatuan dan kesatuan. Dan seyogyanya untuk menghilangkan fanatisme yang dapat merusak sebuah tujuan mulia, yaitu membangun Indonesia dengan lebih 'permai' dan indah-sejahtera. Mempertahankan view of Pancasila bukan berarti mendukung zionis. Toh, kita tidak memberikan kontribusi kepada zionis. Dan wajar, jika sebuah ajaran kebaikan itu dimiliki oleh pelbagai aliran ataupun kepercayaan. Seperti larangan membunuh, tentunya semua agama, kepercayaan, dan aliran sangat melarang rakyatnya untuk membunuh. Dan semua agama ataupun aliran yang menyatakan kesamaan pandangan perihal membunuh tersebut, apakah itu dapat dikatakan berkontribusi dan mendukung jika saling ada sebuah kesamaan?.
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

151

Pancasila Dalam Perspektif Al-Quran

Untuk pemerintah Indonesia, seyogyanya lebih jeli dengan gerakan anti-Pancasila yang dapat merunyamkan kesatuan NKRI. Pemerintah semestinya tidak tebang pilih dalam menegakkan keadilan dengan terus mengikuti konstitusi yang telah disepakati. Konstitusi yang mengisyaratkan untuk menindak tegas ormas nakal; ormas yang terus menghasut kesatuan NKRI. Dan seyogyanya bagi ormas-ormas untuk lebih mendalami Islam dan lebih dewasa. Karena dengan argumen Pancasila tidak Islami pun ternyata tidak kuat (sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya). Karena, ternyata Pancasila juga Islami. Dan semestinya ormas lebih mengedepankan sebuah kemaslahatan daripada sebuah ambisi keserakahan untuk sebuah kekuasaan. Dalam ajaran Islam dikenal "Daru al-mfasid muqoddam al jalbi almali" (Menghindari sebuah kerusakan lebih diutamakan dan didahulukan daripada mendatangkan kemaslahatan). Setelah sekian banyak argumen dan view tentang aliran kenegaraan, dan banyak perdebatan tentang itu, tetapi mereka melupakan satu hal yang lebih penting, yaitu ketentraman hati dan kesejahteraan hidup. Iya bukan? WalLhu Alam bi al-awb. *****

152

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pancasila Dalam Perspektif Al-Quran

End Note
1. S u k u b a n g s a d i I n d o n e s i a , d a l a m http://id.wikipedia.org. 2. J u m l a h p u l a u d i I n d o n e s i a , d a l a m http://id.wikipedia.org. 3. Pancasila, dalam http://id.wikipedia.org. 4. Al-Bazdawiy, Ul al-Bazdawiy, Juz I, (Dr al-Kitb al-Arabiy), h. 67-72. 5. Al-Sunnah, secara etimologi berarti arqah (jalan). Secara terminologi adalah segala hal yang keluar dari nabi, baik ucapannya, tingkah lakunya, ataupun ikrarnya. (Jam al-Jawmi, Juz II, h. 94. AlTaw wa al-Talwh, Juz II, h. 242.) 6. Dr. Musafa Sad al-Khn, Usul Fiqh Islamiy, (Dr alKalm al-ayyib). 7. Al-Hanafiy. Nama asli adalah Numn bin Tsbit bin Zui al-Frisiy. Lahir di Kufah tahun 80 H. Meninggal tahun 150 H. Yaitu tahun lahirnya Imam al-Syafiiy. (Dr. Musafa Sad al-Khn, Usul Fiqh Islamiy, (Dr alKalm al-ayyib), h. 123). 8. Al-Mikiy adalah salah satu nama madzhab dalam ilmu fiqh, didirikan oleh Malik bin Anas. Lahir di Madnah, tahun 93 H. Wafat tahun 179 H. (Dr. Musafa Sad al-Khn, Usul Fiqh Islmiy, (Dr alKalm al-ayyib), h. 173). 9. Al-Syfiiy juga nama sebuah madzhab dalam fiqh. Didirikan oleh Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman Bin Syfi. Lahir tahun 150 H di Palestina, dan meninggal di Mesir tahun 204 H. (Dr. Musafa Sad al-Khn, Usul Fiqh Islamiy, (Dr al-Kalm al-ayyib), h. 202).
JURNAL SKETSA EDISI V 153

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pancasila Dalam Perspektif Al-Quran

10. Al-Hanbaliy adalah nama salah satu madzhab, yang didirikan oleh Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Lahir tahun 164 H. (Dr. Musthofa Sad alKhn, Uul Fiqh Islmiy, (Dr al-Kalm al-ayyib), h. 237). 11. Pancasila, dalam http://id.wikipedia.org. 12. Ibid. 13. Fath Yakun, Al-Mutaghayyirt al-Dawliyyah , (Muassisah al-Rislah), h. 124. 14. Abdul Fattah al-Yafiiy, Fi arq Il Ulfah Islmiyah. (Muassisah al-Rislah, 1430H/2009M), h. 260. 15. Muhammad Tatay, h al-Maniy al-Khafiyyah Fi alA r b n a l - N a w a w i y y a h , ( D r a l - Wa f , 1418H/1998M), h. 126. 16. Dall al-Falhin, Juz I, h. 22. 17. Fath Yakun, Al-Mutaghayyirt al-Dawliyyah , (Muassisah al-Rislah), h. 124. 18. Fath al-Bri, Juz V, h. 211. 19. Abdul Fattah Al-Yafiiy, Fi arq Il Ulfah Islmiyah. (Muassisah al-Rislah, 1430H/2009M), h. 260. 20. Muhammad Tatay, h al-Maniy al-Khafiyyah Fi alA r b n a l - N a w a w i y y a h , ( D r a l - Wa f , 1418 H/1998 M), h. 94. 21. Benang Merah Pancasila dan Zionisme dalam Talmud Yahudi, (tanggal 01 Juni 2011) dalam www.voaIslam.com; Menguak Doktrin Zionisme pada Pancasila, dalam www.eramuslim.com; Kemiripan Pancasila dan Doktrin Zionisme, dalam http://forum.vivanews.com. *****

154

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pancasila Dalam Perspektif Al-Quran

REFERENSI
Al-Quran al-Karm dan terjemahannya. Al-Yafiiy, Abdul Fattah. Fi arq Il Ulfah Islmiyah. Al-Bazdawiy. Ul al-Bazdawiy. Al-Khn, Musaf Sad. Usl Fiqh Islmiy. Yakun, Fath. Al-Mutaghayyirt al-Dawliyyah. Tatay, Muammad. h al-Maniy al-Khafiyyah Fi al-Arbn al-Nawawiyyah. 7. J u m l a h P u l a u d i I n d o n e s i a . D a l a m http://id.wikipedia.org. 8. Pancasila. Dalam http://id.wikipedia.org. 9. Benang Merah Pancasila dan Zionisme dalam Talmud Yahudi. Dalam http://www.voa-Islam.com, tanggal 01 Juni 2011. 10. Menguak Doktrin Zionisme pada Pancasila. Dalam http://www.eraMuslim.com. 11. Kemiripan Pancasila dan Doktrin Zionisme dan Freemasonry. Dalam http://forum.vivanews.com ***** 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

JURNAL SKETSA EDISI V 155

PORNOGRAFI
Dekadensi Moralitas Bangsa
Oleh: Micdarul Chair el-Sharafy

Degradasi moral merupakan imbas dari sekian banyak persoalan yang mengemuka di bumi Indonesia, di antaranya adalah persoalan pornografi yang terus menggejolak, di mana pornografi telah menjadi hal yang sangat umum karena sangat mudah diakses oleh setiap kalangan usia. Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia (2006) menyatakan bahwa Indonesia selain menjadi negara tanpa aturan yang jelas tentang pornografi, juga mencatat rekor sebagai negara kedua setelah Rusia yang paling rentan penetrasi pornografi terhadap anak-anak (BKKBN, 2004). Perkembangan ini seiring dengan krisis moral dalam arus individualisme, hedonisme dan penyalahgunaan kebebasan yang mengakibatkan lemahnya suatu bangsa, terutama generasi penerusnya. Padahal, jika meminjam istilah Elly Risman, Pornografi sejatinya merupakan "bencana nasional". Dalam artikel ini akan mencoba membahasnya dari pelbagai sudut pandang; pendidikan, lingkungan, perkembangan teknologi, ekonomi, hukum, sosial-budaya, dan agama.

*****

156

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pornografi, Dekadensi Moralitas Bangsa

BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Dalam salah satu program Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population Development - ICPD) tahun 1994 dinyatakan bahwa setiap orang dijamin kebebasannya untuk bereproduksi sesuai dengan yang diinginkannya (UNFPA, 2005). Namun, permasalahan kesehatan reproduksi yang terjadi pada remaja kini semakin meningkat dan menjadi fokus perhatian dikarenakan semakin awalnya kematangan seksual remaja. Semakin dini usia kematangan seksual seorang remaja, berarti semakin panjang periode risiko kesehatan reproduksinya. Masalah perilaku seksual telah menyebabkan remaja menghadapi pelbagai tantangan masalah kesehatan reproduksi. Setiap tahun kira-kira 15 juta remaja berusia 1519 tahun melahirkan, 4 juta melakukan aborsi dan hampir 100 juta terinfeksi Penyakit Menular Seksual (PMS). Secara global, 40% dari semua kasus infeksi HIV terjadi pada kaum muda dan perkiraan terakhir menunjukkan bahwa setiap harinya ada 7000 remaja terinfeksi HIV. Risiko ini berpengaruh terhadap pelbagai faktor yang saling berhubungan, yaitu tuntutan untuk kawin muda dan hubungan seksual, akses terhadap pendidikan dan pekerjaan, ketidaksetaraan jender, kekerasan seksual dan pengaruh media massa maupun gaya hidup yang populer (UNAIDS, 1997 dalam PATH, 1998). Selama ini, remaja umumnya telah menempatkan media massa sebagai sumber informasi seksual yang lebih penting dibandingkan orang tua dan teman sebaya, karena media massa memberikan gambaran yang lebih baik
JURNAL SKETSA EDISI V 157

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pornografi, Dekadensi Moralitas Bangsa

mengenai keinginan dan kebutuhan seksualitas remaja. Di Indonesia, pornografi telah menjadi hal yang sangat umum karena sangat mudah diakses oleh setiap kalangan usia. Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia (2006) menyatakan bahwa Indonesia selain menjadi negara tanpa aturan yang jelas tentang pornografi, juga mencatat rekor sebagai negara kedua setelah Rusia yang paling rentan penetrasi pornografi terhadap anak-anak (BKKBN, 2004). Saat ini remaja merupakan populasi terbesar yang menjadi sasaran pornografi. Menurut Attorney General's Final Report on Pornography (1986, dalam ASA Indonesia 2005) konsumen utama pornografi (baik dari majalah, internet, tabloid dan lain-lain) adalah remaja laki-laki berusia 12 sampai 17 tahun. Dampaknya adalah makin aktifnya perilaku seksual pranikah yang disertai ketidaktahuan, yang pada gilirannya bisa membahayakan kesehatan reproduksi remaja. Hasil Statistics by Family Safe Media menyatakan bahwa terdapat 4,2 juta situs internet porno, di mana setiap harinya terdapat 68 juta permintaan mencari materi pornografi melalui mesin pencari (search engine) internet dan setiap harinya rata-rata setiap pengguna internet menerima atau mengirim 4,5 e-mail porno. Survei yang dilakukan oleh Yayasan Kita dan Buah Hati di Jabodetabek (2005) dengan 1.705 responden remaja memperoleh hasil bahwa lebih dari 80% anak usia 9-12 tahun telah mengakses materi pornografi melalui situs-situs internet. Sebagian besar responden merupakan pelajar yang sedang mencari bahan pelajaran untuk memenuhi tugas sekolahnya. Menurut remaja laki-laki yang sudah pernah berhubungan seks, salah satu faktor yang menyebabkan mereka melakukannya adalah karena pengaruh menonton film porno (BKKBN, 2004). Pengaruh menonton film yang bersifat pornografi di VCD terhadap perilaku remaja adalah terjadinya peniruan yang memprihatinkan. Peristiwa dalam film memotivasi dan 158
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pornografi, Dekadensi Moralitas Bangsa

merangsang kaum remaja untuk meniru atau mempraktikkan hal yang dilihatnya, akibatnya remaja menjadi semakin permisif terhadap perilaku dan norma yang ada. Sebuah riset yang dilakukan oleh Roviqoh melaporkan bahwa responden yang terangsang setelah menonton tayangan porno sebesar 84,4% dan sebanyak 2,2% berakhir dengan melakukan hubungan seksual dan 31,5% melakukan onani/masturbasi. Dari 92 responden yang terangsang oleh pornografi sebesar 90,2 % terangsang karena adegan seks dalam film. Pornografi menyebabkan dorongan seksual tinggi pada responden remaja laki-laki sebesar 50,9% dan pada perempuan sebesar 5,1 %. Dampak negatif dari media, terutama pornografi, merupakan hal yang serius untuk ditangani. Makin meningkatnya jumlah remaja yang terpapar pornografi merupakan suatu masalah besar yang dapat berkontribusi terhadap meningkatnya jumlah remaja yang berperilaku seksual aktif. Semakin meningkatnya jumlah penyakit yang diakibatkan oleh perilaku seksual aktif pada remaja juga berpengaruh terhadap meningkatnya permasalahan pada kesehatan reproduksi remaja. Sungguh miris dan musibah besar sekali, kondisi sosial masyarakat Indonesia terbelenggu ranah pornografi. Telah nyata secara aktual kerusakan moral akibat akses-akses pornografi baik secara langsung atau tidak langsung (media atau informasi). Tak pelak stimulasi akibat buruk pornografi membayangi generasi muda dan anak-anak. Jika fenomena ini terus dibiarkan, sungguh masa depan bangsa akan tertimpa kerusakan moral akibat pornografi, karena generasi mudanya rusak sejak dini. Ini sangat ironis bagi penentang anti pornografi yang menganggap remeh hal tersebut. Mari, kita cermati ulasan artikel sederhana berikut, semoga kita, keluarga dan masyarakat Indonesia perlahan terhindar dari virus pornografi.
JURNAL SKETSA EDISI V 159

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pornografi, Dekadensi Moralitas Bangsa

BAB II PEMBAHASAN
Seluk Beluk Pornografi Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), tidak memberikan gambaran konkrit mengenai pornografi. Pasal 282 dan 533 KUHP hanya memberikan makna samar berkenaan tentang pornografi, seperti: - tulisan, gambaran, atau benda yang telah diketahui isinya melanggar kesusilaan (ayat 1 pasal 282). mempertunjukkan atau menempelkan tulisan dengan judul, kulit, atau isi yang dibuat terbaca, maupun gambar atau benda, yang mampu membangkitkan nafsu berahi para remaja (ayat 1 pasal 533). - menawarkan suatu tulisan, gambar, atau barang yang dapat merangsang nafsu berahi para remaja (ayat 3 pasal 533). Masyarakat tidak diberikan definisi jelas mengenai bentuk nyata dari apa yang disebut tulisan, gambaran, atau benda yang melanggar kesusilaan atau maksud lainnya yang terdapat dalam pasal-pasal di atas. Jika merujuk pada asli katanya, pornografi secara etimologi berarti "tulisan tentang pelacur", dari akar kata Yunani klasik "" (porne) dan "" (graphein). Mulanya adalah sebuah eufemisme dan secara harfiah berarti '(sesuatu yang) dijual', berasal dari istilah Yunani untuk orang-orang yang mencatat "pornoai", atau pelacur-pelacur terkenal yang mempunyai kecakapan tertentu dari Yunani kuno. Pada masa modern, istilah ini diambil oleh para ilmuwan sosial untuk menggambarkan pekerjaan orang-orang 160
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pornografi, Dekadensi Moralitas Bangsa

seperti Nicholas Restif dan William Acton, yang pada abad ke-18 dan 19 menerbitkan risalah mempelajari pelacuran dan mengajukan ide untuk mengaturnya. Istilah tersebut tetap digunakan dengan makna aslinya dalam Oxford English Dictionary hingga 1905. Menurut Tim Penyusun KBBI (1995:782) dijelaskan bahwa pornogarfis adalah sesuatu yang bersifat pornografi. Pornografi adalah penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu birahi; bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu birahi dalam seks. Dari paparan di atas, artian pornografi lebih cenderung pada penekanan tindak seksual untuk membangkitkan nafsu birahi. Hal ini selaras dengan pendapat Hoed (1994:3) bahwa pornografi mempunyai makna dasar cabul, tidak senonoh dan kotor. Pornografi mempunyai sejarah panjang. Karya seni yang secara seksual bersifat sugestif dan eksplisit sama tuanya dengan karya seni yang menampilkan gambargambar lainnya. Foto-foto eksplisit muncul tak lama setelah ditemukannya fotografi. Karya-karya film paling tua pun sudah menampilkan gambar secara seksual bersifat eksplisit. Representasi erotisme kali pertama dikenal manusia meski mungkin tidak porno - ada sejak 30.000 tahun lalu. Di masa Paleolitikum, manusia memahat ukiran buah dada besar atau perempuan hamil dari kayu atau batu. Para arkeolog meragukan itu adalah 'figur Venus' yang berkaitan dengan seksualitas. Diduga kuat, pahatan itu adalah ikon religius atau simbol kesuburan. Para arkeolog di Jerman melaporkan pada April 2005 bahwa mereka telah menemukan apa yang mereka yakini sebagai sebuah gambaran tentang adegan porno berusia 7.200 tahun, melukiskan seorang laki-laki sedang membungkuk di atas seorang perempuan dalam cara yang memberikan kesan suatu hubungan seksual. Gambaran lakiJURNAL SKETSA EDISI V 161

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pornografi, Dekadensi Moralitas Bangsa

laki itu diberi nama Adonis von Zschernitz. Kemudian, pada masa Yunani dan Romawi kuno, terdapat patung bertema homoseksualitas, juga termasuk patung yang menggambarkan hubungan seksual tak wajar. Di India, pada abad ke-2 terbitlah buku panduan tentang hubungan seksual yang tetap tenar hingga saat ini, Kama Sutra. Sementara masyarakat kuno Perum Moche, menorehkan imej seksual dalam kerajinan keramik. Beda lagi dengan kaum aristokrat Jepang di abad ke-16. Mereka bisa membaca bacaan erotis yang ditulis di lembaran kayu tipis. Di masa revolusi Perancis, kerap dijumpai satir menyindir para aristokrat dengan pamflet seksual. "Lebih mengarah pada caci maki politis yang dikamuflasekan menjadi pornografi", kata Slade. Buku-buku komik porno yang dikenal sebagai kitab suci Tijuana mulai muncul di AS pada tahun 1920-an. Pada paruh kedua abad ke-20, pornografi di Amerika Serikat berkembang dari apa yang disebut "majalah pria", seperti: Playboy dan Modern Man pada 1950-an. Majalah-majalah ini menampilkan perempuan setengah atau bahkan telanjang bulat. Namun pada akhir 1960-an, majalah-majalah ini, yang pada masa itu juga termasuk majalah Penthouse, mulai menampilkan gambar-gambar yang lebih eksplisit. Dan pada akhir 1990-an, telah berani menampilkan penetrasi seksual, lesbianisme, homoseksualitas, seks kelompok, masturbasi dan fetishes. Pornografi Sebagai Akibat dari Degradasi Moral Bangsa Perkembangan pornografi seiring dengan krisis moral dalam arus individualisme, hedonisme dan penyalahgunaan kebebasan yang mengakibatkan lemahnya suatu bangsa, terutama generasi penerusnya. Pornografi sendiri memiliki tiga akar. Pertama, kekosongan moral dan mendorong manusia mencari kepuasan individual dengan menjunjung moral permisif. Kedua, manusia 162
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pornografi, Dekadensi Moralitas Bangsa

menyalahgunakan kebebasan tanpa tanggung jawab moral individual dan sosial, padahal kebaikan moral kaum muda perlu digalakkan. Ketiga, sebagai industri penggarap kelemahan manusia, khususnya kaum muda, pornografi membentuk jaringan kekerasan baru (Pornografia e violenza nei mezzi della communicazione: Una risposta pastorale 1989, dalam Cik Saubuana: 2008). Kepelikan kasus pornografi sangat perlu dicermati. Sebenarnya, yang terpenting dalam menghadapi kasus tersebut bukan sekedar mengeluarkan larangan, melainkan menerapkan sistem pendidikan kemanusiaan yang integral dan holistik. Sejak diluncurkannya Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP), ia telah memancing polemik luas dalam masyarakat Indonesia. Masyarakat terbelah antara kubu pro dan kontra. Kalau ditelaah secara seksama, RUU APP merupakan kebutuhan fundamental bagi bangsa Indonesia ke depan. Sekalipun sebagian telah diatur dengan Kitab Undangundang Hukum Pidana (KUHP), akan tetapi terbukti regulasi ini tidak cukup untuk mengurangi tingkat dekadensi moral yang terjadi dalam masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan pornografi. Melihat beberapa indikator, dekadensi moral dan akhlak masyarakat Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Sesungguhnya tidak ada alasan kuat menolak RUU APP. Jika dicermati pasal per pasal, RUU APP sebenarnya tetap mengakomodasi pluralisme atau keanekaragaman budaya dan masyarakat Indonesia. Alasannya, hampir tidak mungkin negara kemudian melarang masyarakat Papua memakai koteka (karena dinilai "porno" menurut negara), sebab koteka adalah pakaian tradisional masyarakat lokal yang diwariskan secara turun temurun. Kalau hal itu terjadi, RUU APP bisa dinilai melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) dan UUD 1945. Bukankah konstitusi kita sangat menghormati keanekaragaman dan keunikan kultural masyarakatnya?!
JURNAL SKETSA EDISI V 163

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pornografi, Dekadensi Moralitas Bangsa

Secara filosofis, RUU APP merupakan "jawaban" atas kebutuhan masyarakat transisi, seperti Indonesia. Dimanapun, masyarakat transisi selalu rentan terhadap pelbagai perubahan dan gejala sosial dan budaya baru, sehingga perlu dibentengi dan dipagari dengan regulasi yang lebih kokoh. Tindakan berbau pornografi tak bisa dibiarkan begitu saja, karena bisa berdampak jauh kepada moralitas generasi masa depan. Jangankan di Indonesia atau negaranegara Arab (Timur Tengah), di negara Barat saja masalah pornografi diatur secara ketat. Di negara Paman Sam, film-film diberi rate apakah bebas untuk semua kalangan atau termasuk jenis film triple x atau film biru (blue film). Di Indonesia, tak ada aturan yang tegas semacam itu. KUHP memang melarang tindakan yang sama, tapi buktinya pornografi tetap marak. Kaset-kaset dan VCD porno justru dijual bebas dan anak-anak di bawah umur pun malah bisa menikmati secara leluasa. Film perkosaan dan adegan berciuman di televisi ditayangkan saat anak-anak masih asyik menonton, yakni pada saat prime time. Bila direnungkan kembali, dekadensi moral tak hanya menyangkut persoalan kekinian, tetapi juga generasi cemerlang bangsa. Indonesia bisa ambruk jika moralitas penerusnya tidak lagi menjadi perhatian para pemimpin dan masyarakat. Kita berharap, dengan disahkannya RUU APP setidaknya dapat menjadi 'tameng' moral bangsa tercinta, Indonesia. Pengkajian Faktor Aksi Pornografi 1. Perkajian Faktor Pendidikan Belakangan ini, muncul beragam kritik terhadap praktik pendidikan di Indonesia. Salah satunya adalah proses pembelajaran yang berlangsung hanya sekedar mengejar target pencapaian kurikulum. Hal ini telah berlangsung lama 164
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pornografi, Dekadensi Moralitas Bangsa

dan menjadi proses yang membunuh pendidikan itu sendiri. Ketika proses pendidikan diarahkan semata mengejar pencapaian tujuan kurikulum, institusi sekolah telah diposisikan sekedar pabrik yang membidani lahirnya tukang ahli pada bidang tertentu. Perakitan produk sedemikian rupa akan bermuara kepada proses matinya pendidikan. Secara perlahan tapi pasti, sekolah dikonotasikan menjadi semacam arena pendidikan dan latihan (diklat) untuk mengondisikan lulusan siap pakai. Bahwa sekolah mempersiapkan alumninya ke pasar kerja, jelas hal penting. Namun, dalam tataran kebudayaan, tujuan ini tidak seluruhnya benar, karena lembaga pendidikan tidak semata pusat pemintaran intelektual.

Secara pedagogis adalah sesat jika keberhasilan kognitif terlalu didewa-dewakan sebagai barometer prestasi siswa di sekolah dan memarjinalisasikan sistem pendidikan nilai yang berkaitan dengan budi pekerti (Cik Saubuana: 2008).
Eksistensi pendidikan nilai yang dapat membentuk budi pekerti kian penting dimaknai ketika dalam kehidupan masyarakat semakin kabur kriteria moral yang dapat digunakan sebagai acuan berperilaku. 2. Pengkajian Faktor Lingkungan Dalam interaksi sosial, terjadi hubungan saling mempengaruhi antar individu. Proses tersebut banyak mengandung pengaruh positif maupun negatif yang bisa saja dijiplak. Hal menyimpang, semisal pornografi bisa ditiru mudah oleh seseorang karena bergaul dengan orang lain atau melihat sendiri fenomena pornografi tersebut, baik di lingkungan masyarakat ataupun lingkungan keluarganya
JURNAL SKETSA EDISI V 165

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pornografi, Dekadensi Moralitas Bangsa

sendiri. Di sini, fungsi dan peran keluarga untuk membina individu menjadi makhluk sosial dan tempat meletakkan dasar kepribadian sangatlah urgen. Dalam keluarga terjadi proses sosialisasi, yaitu proses pengintegrasian individu ke dalam kelompok yang memberikan landasan sebagai makhluk sosial. Selain itu, proses pendewasaan juga dilakukan dalam lingkungan keluarga. Oleh karena itu, keluarga merupakan lembaga pendidikan perdana bagi individu yang kelak membawanya ke dalam suasana mandiri. 3. Pengkajian Faktor Teknologi Pada era pembangunan sekarang ini, masyarakat Indonesia sudah terlibat dalam sentuhan teknologi maju, bahkan telah sampai ke pelosok desa. Penggunaan teknologi maju pada sektor modern di negara berkembang seperti Indonesia, terkadang tidak dapat terhindarkan. Perkembangan teknologi dan globalisasi informasi di satu sisi memiliki nilai sangat positif. Hanya dengan satu unit PC dilengkapi modem dan hubungan telepon, kita mampu mengakses pelbagai informasi dengan pelbagai subjek, melintasi batas teritorial dengan biaya teramat murah, mudah dan cepat. Akan tetapi, di lain sisi, dampak negatifnya pun tidak kalah besar, karena pelbagai informasi maupun gambar porno dengan mudah bisa diakses untuk sekedar ditonton maupun "dinikmati". Bahkan, milis pribadi pun sering kali mendapat kiriman "liar" meskipun kita sudah berusaha menjaga. Informasi dan gambar porno belakangan menjadi marak, sampai-sampai tabloid dan koran porno pun dilengkapi iklan seks beserta nomor telepon yang dengan mudah kita temukan di setiap sudut tempat penjual koran, majalah maupun VCD. Banyaknya media informasi pornografi lambat laun 166
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pornografi, Dekadensi Moralitas Bangsa

akan mempengaruhi budaya bangsa kita, terutama anakanak dan remaja yang tengah membentuk identitas diri. 4. Pengkajian Faktor Hukum Hukum merupakan kode etik kehidupan dalam masyarakat yang dapat memaksa orang agar mentaati peraturan serta memberikan sanksi tegas, berupa hukuman, terhadap siapa yang tidak mematuhinya. Upaya guna memerangi pornografi harus dilaksanakan secara tertib hukum, terencana dan terkoordinasi dengan baik. Karena, pornografi telah sedemikian kuat dan telah menjadi industri hiburan, industri komunikasi dan industri fashion yang meraja lela. Berkaitan dengan permasalahan pornografi, apabila pelaksanaan hukum oleh penegak hukum kita lemah, serta aparat kepolisian tidak menindak tegas para dalang pornografi, maka kasus pornografi akan sulit diberantas. 5. Pengkajian Faktor Ekonomi Ketika tubuh diliberalkan, yang sebelumnya telah dideregulasi, maka, logika berlaku persis seperti yang diterapkan pada barang (produk). Melekatlah hukum komoditi pada sebentuk tubuh. Memperindah penampilan, memperbesar daya rangsang, meningkatkan pelayanan dan stok agar siap untuk setiap permintaan. Tubuh perempuan dalam budaya modernisme akhirnya tidak saja dieksplorasi nilai gunanya; pekerja, pelayan. Akan tetapi juga nilai tukarnya (exchange value); model, video erotis majalah, film dan situs porno. Faktor ekonomi pun menjadi potensi pemberdayaan perempuan. Perempuan dianggap bernilai dan berharga tinggi yang dapat menjadi penghias iklan dan pemasar. Kaum lelaki puas melihat keindahannya, perempuan pun senang dan mengidolakan uang beredar, ekonomi melonjak naik, semua sejahtera.
JURNAL SKETSA EDISI V 167

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pornografi, Dekadensi Moralitas Bangsa

Ini persoalan rumit, sistem telah mengarahkan laki-laki dan perempuan dalam eksploitasi berkedok emansipasi, keduanya tidak hanya obyek tetapi juga sebagai pelaku. Kita, baik lelaki maupun perempuan sedang dieksploitasi oleh diri kita sendiri. Pemerintah mestinya dapat menjadi jembatan bagi bertemunya antara harapan masyarakat dan kepentingan pemodal. Tetapi, repotnya pemerintah juga punya kepentingan investasi, lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi dan lain sebagainya. Konflik kepentingan inilah yang memaksa kuasa politik yang dimiliki negara "berselingkuh" dengan pemilik kuasa ekonomi. 6. Pengkajian Faktor SosialBudaya Nilai dan norma dalam kebudayaan berasal dari kalangan keluarga semenjak seorang bayi dilahirkan. Nilai dan norma yang ditemui ada dua: nilai dasar yang berhubungan erat dengan bakat, yang kedua adalah nilai sosial yang datangnya dari pergaulan dengan masyarakat ketika anak mulai keluar dari lingkup keluarga. Jika pembentukan karakter anak salah, maka kesalahan ini sukar sekali diatasi. Dengan demikian, sebenarnya keluarga merupakan benteng pertahanan bagi pertumbuhan jiwa sang anak. Maka, kewibawaan dan cinta kasih dari orang tua memegang peranan penting. Randy Hyde, PhD. mengatakan: orang tua, keluarga dan lingkungan adalah media terbaik untuk belajar, tumbuh dan meraih potensi tertinggi seseorang. Karena karakter yang baik akan menghasilkan perilaku yang baik, dan sebaliknya karakter yang buruk akan menghasilkan perilaku yang buruk. Proses pembentukan unsur kebudayaan banyak terjadi karena peniruan dari kebudayaan lain. Setelah beberapa lama, unsur itu menjadi bagian yang telah paten. Unsur tersebut acap kali menjelma sebagai pertimbangan 168
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pornografi, Dekadensi Moralitas Bangsa

komersil dan menyingkirkan nilai pokok dari kebudayaan. Hal ini pada suatu saat akan mengakibatkan kekosongan dan kemelaratan dalam budaya. Karena pertimbangan komersial yang melulu ini, maka apa yang disebut kesucian, keluhuran, kebesaran jiwa dan sebagainya mulai pudar artinya. Orang lebih banyak berorientasi kepada uang. Lebih lanjut, norma yang sejak dahulu dipegang akan kehilangan esensinya, jiwa yang memberikan hidup kepada masyarakat tidak akan menyajikan kekuatan yang cukup dalam menanggapi polemik hidup. Dunia di era globalisasi dan modernisasi akhir ini tengah dilanda virus liberalisasi. Semua kehendak diliberalkan. Tidak saja komoditi, tapi juga jasa kesehatan, pendidikan, bahkan melampaui itu, suatu liberalisasi tubuh. Ada semacam kejenuhan ketika selama ini modernisme hanya didorong oleh komoditas barang. Fenomena tersebut sesungguhnya tidak terlepas dari adanya invasi budaya asing. Semua itu berkaitan dengan budaya global yang saat ini tengah merangsek bangsa Indonesia secara dahsyat. Semua hal itu berhubungan dengan budaya Barat yang ingin terus superior dan mengubur budaya Timur, bersinergi dengan kekuatan ekonomi dan keinginan agar dunia seragam dengan budaya Barat. Dan budaya pornografi ini adalah anak kandung dari budaya libelarisme sekuler dunia Barat, di mana kapitalisme disembah sebagai Tuhan. Selanjutnya, dampak buruk dari globalisasi membuat sisi buruk dari pengaruh peradaban Barat semakin menggerayangi habis-habisan segala penjuru kehidupan masyarakat negeri ini. Sehingga, manusianya telah tercerabut dari akar budaya bangsanya. Di tengah-tengah masyarakat yang 'pragmatis', 'peradaban Barat' mengambil tahta teratas, tempat di mana 'budaya meniru' bukan lagi sekedar tabiat, melainkan sebuah
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

169

Pornografi, Dekadensi Moralitas Bangsa

'doktrin'. Globalisasi ini mendatangkan 'peluang dan tantangan', 'kebaikan dan keburukan', serta 'kompetisi dan kerjasama'. Karena itu, sikap paling tepat adalah 'cerdas dan bijak' dalam usaha mendapatkan peluang bekerjasama dan memilih yang terbaik dari beberapa tampilan globalisasi. Karenanya, kini telah tiba saatnya di era globalisasi dan di tengah kepungan peradaban Barat dengan salah satu sisi buruknya berupa budaya pornografi itu. Bangsa ini dihadapkan pada pilihan sikap yang akan sangat menentukan masa depan bangsa Indonesia. Memilih bersikap membiarkannya berkelanjutan tanpa ada suatu upaya, atau memilih bersikap 'cerdas dan bijak' dengan melakukan suatu upaya memilah dan memilih yang baik dari globalisasi ini, dan itu berarti kita telah melakukan sesuatu yang berharga demi masa depan bangsa Indonesia yang bermartabat dan berakar pada jati diri budaya bangsanya. 7. Pengkajian Faktor Agama Agama memang tidak dapat menghentikan perubahan sosial, tidak pula mengembalikan keadaan semula, tetapi mampu mempengaruhi arah perubahan sosial. Kalau ini betul, maka cita-cita dan tuntutan agama memang dapat mempengaruhi arah perubahan sosial. Dalam hal pornografi, agama mengatur secara detil masalah aurat. Bilamana wanita diperintahkan menutup aurat, maka kaum lelaki juga diperintahkan menundukkan pandangan. Allah Subhnahu wa Tal berfirman: "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat'" (QS. Al-Nr: 30). Nabi Muhammad shallalLhu alaihi wa sallam bersabda: 170
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pornografi, Dekadensi Moralitas Bangsa

"Sesungguhnya Allah telah mencatat atas anak Adam nasibnya dari sebuah perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua telinga zinanya mendengar, lidah zinanya berbicara, tangan zinanya memaksa, kaki zinanya melangkah, dan hati yang berhasrat dan berharap. Semua itu dikontrol dan diumbar oleh farji" (HR. Al-Bukhriy: 6243). "Barang siapa yang berzina dan meminum sesuatu yang memabukkan, maka Allah akan melepas imannya seperti terlepasnya gamis dari kepala" (HR. Al-kim: 57). Kelemahan iman pada diri seseorang, akan mengakibatkan mudahnya pengaruh negatif datang, merapuhkan tendensi keimanannya, termasuk pengaruh tentang pornografi. Sejatinya, permasalahan pornografi bukanlah semata-mata urusan agama saja. Harus ada regulasi balik secara tegas dari pihak pemerintah. Dampak Psikologis Pornografi a. Efek Kecanduan Bila remaja terus menerus mengkonsumsi pornografi, sangat mungkin ia akan terdorong untuk melakukan hubungan seks pada usia terlalu dini, dan di luar ikatan pernikahan. Apalagi pornografi umumnya tidak mengajarkan corak hubungan seks yang bertanggung jawab, sehingga akan sangat potensial mendorong perilaku seks yang menghasilkan kehamilan remaja, kehamilan pranikah atau penyebaran penyakit yang menular melalui hubungan seks, seperti AIDS. Penelitian menunjukkan para konsumen pornografi cenderung mengalami efek kecanduan, dalam arti sekali menyukai pornografi, seseorang akan merasakan kebutuhan untuk terus mencari dan memperoleh materi pornografi. Bahkan lebih dari itu, si pecandu itu akan mengalami proses peningkatan (eskalasi) kebutuhan. Contohnya, bila mula-mula seorang pria sudah
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

171

Pornografi, Dekadensi Moralitas Bangsa

merasa puas menyaksikan gambar wanita berpakaian renang, perlahan-lahan ia mencari gambar wanita tanpa pakaian. Bila mula-mula ia sudah puas dengan adegan hubungan seks antara satu pria dengan satu wanita, perlahanlahan ia mencari adegan hubungan seks antara satu pria dengan beberapa wanita. b. Merendahkan Kaum Wanita Umumnya, pornografi memang menonjolkan wanita sebagai objek seks. Dalam hal ini, pornografi dapat memperkuat cara pandang bahwa wanita pada dasarnya hanya makhluk yang berfungsi sebagai pemuas nafsu seks pria saja. Lebih dari itu, banyak media yang menggambarkan adegan perkosaaan terhadap wanita sebagai peristiwa penuh kenikmatan dan sensasi. Karena itu, pornografi cenderung menempatkan wanita dalam posisi rendah. Seseorang bisa saja melakukan tindakan perkosaan karena dipengaruhi oleh pornografi. Banyak sekali diberitakan media massa tentang perkosaan yang dilakukan setelah pelakunya menonton film porno. Namun demikian, perkosaan umumnya terjadi oleh pelaku yang memandang rendah derajat wanita. Karena itu, pornografi sering dianggap sebagai faktor yang memperkokoh budaya perkosaan terhadap wanita. c. Membuat seseorang cenderung tertutup, tak mau terbuka dalam pergaulan Misalnya, seorang remaja sedang kecanduan film porno, dia lebih memilih menyendiri dalam ruangan atau kamarnya sambil menikmati film koleksinya. Asalkan ada film, tak ada teman tak jadi masalah buatnya. Dan dia hanya mau didekati oleh teman yang mempunyai hobi yang sama, sungguh menakutkan bukan?! d. Cenderung agresif ketika memandang lawan jenisnya Sang pencandu pornografi biasanya lebih agresif dan cenderung berfikiran mesum ketika melihat atau bertatap 172
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pornografi, Dekadensi Moralitas Bangsa

muka dengan orang lain yang berlainan jenis, dan ketika mempunyai pasangan atau pacar bagi yang masih remaja cenderung lebih agresif saat bersama sang pacar, dan pikirannya pun selalu menjurus kepada perbuatan mesum. e. Melemahkan daya ingat atau kecerdasan Apabila seseorang sering menyaksikan tontonan yang berbau pornografi, daya fikirnya sedikit lebih cepat ketika sedang menikmati sajian pornografi, dan itu membuat alur berfikirnya melemah pada saat dipakai dalam memikirkan hal lain yang lebih positif. Semakin sering menikmati sajian pornografi, semakin payah saja kekuatan otak dibuatnya, karena energi dan protein dalam sel otak telah habis terpakai oleh sajian yang memaksa untuk berfantasi tak jelas. Dr. Donald Hilton Jr., seorang ahli bedah syaraf Amerika Serikat mengatakan, "adiksi narkoba dapat merusak tiga bagian otak, sementara adiksi pornografi merusak lima bagian otak". Lima bagian tersebut, yakni lobus Frontal, gyrus Insula, Nucleus Accumbens Putamen, Cingulated dan Cerebellum, berperan mengontrol perilaku yang menimbulkan perbuatan berulangulang terhadap pemuasan seksual. f. Kelainan sexual Pelaku kecanduan pornografi biasanya mengalami perilaku sex yang menyimpang, apalagi di era internet jaman sekarang, dengan begitu mudahnya orang mengakses situssitus yang menyajikan pornografi, tinggal searching lewat google map dia memperoleh sajian yang diinginkan. Pelaku cenderung lebih menikmati sajian sex lewat media yang disiapkannya, seperti onani ketika sedang menyaksikan tontonan tak bermoral tersebut. Pelaku lebih merasa puas ketika melakukannya sambil berfantasi lewat gambar maupun video chat dan lain sebagainya. Dan ini sangat membahayakan bagi pelaku ketika dia telah berpasangan. Sang pasangan tentu merasa risih bila tahu pasangannya lebih terpuaskan oleh cara lain. Sungguh sangat mengkhawatirkan, membahayakan serta merugikan.
JURNAL SKETSA EDISI V 173

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pornografi, Dekadensi Moralitas Bangsa

BAB III PENUTUP


Berdasarkan hasil pengkajian tentang pornografi mengenai faktor-faktor yang menyebabkan maraknya pornografi di masyarakat, maka diperoleh kesimpulan bahwa faktor terbesar yang menyebabkan gemparnya pornografi di masyarakat adalah faktor teknologi. Karena pada era pembangunan sekarang ini perkembangan teknologi dan globalisasi informasi semakin maju pesat. Tabloid, koran, majalah, VCD porno, tayangan yang menampilkan pornografi di televisi, situs-situs porno di internet, foto sensual dan sebagainya 'bertebaran' dimana-mana. Hal ini dapat mempermudah penyebarluasan hal-hal yang 'berbau' pornografi yang dapat mengakibatkan degradasi nilai dan moral bangsa Indonesia. Strategi yang paling tepat adalah pemerintah harus mendidik anak bangsa ini bersama-sama dengan para orang tua didukung berbagi lapisan elemen masyarakat untuk dapat mengadakan sosialisasi langsung untuk memerangi pornografi. Perandaian terbaik dalam mendidik anak adalah: "Jangan pernah mengunci pagar rumah untuk melarang anak anda keluar dari rumah, namun beri pengertian dan pendidikan agar anak tidak berani melangkah keluar pagar rumah tanpa ijin orang tua tanpa harus mengunci pagar rumah". Untuk meminimalisir resiko semakin maraknya pornografi di masyarakat akibat dari berkembangannya teknologi informasi, maka yang seharusnya dilakukan adalah: 1. Teknologi yang berkembang harus diiringi IMTAQ para penggunanya. 2. Perlu keterlibatan dari pelbagai pihak untuk penanggulangan pornografi, seperti Departemen 174
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pornografi, Dekadensi Moralitas Bangsa

Komunikasi dan Informasi, karena kedua kegiatan itu bisa ditemukan di media massa baik televisi maupun media cetak. Serta pengawasan dari pihak lain seperti keluarga, sekolah dan masyarakat. 3. Harus ada sanksi tegas untuk setiap pelaku pornografi. Terakhir, para orang tua seyogianya memberikan pendidikan seks yang benar dan sehat agar anak tidak memilih mencari informasi dari luar rumah yang bisa menjerumuskan mereka ke dalam dunia pornografi. Hal ini wajib dilakukan para orang tua mengingat ada faktor yang hilang pada penyuluhan tentang seksualitas bagi anak-anak dan remaja saat ini. Pemerintah menyatakan pendidikan seks dimulai sejak umur 13 hingga 21 tahun karena dianggap anak tersebut telah memasuki fase dewasa. Padahal kenyataannya, 52 persen anak perempuan menstruasi pada usia 9 tahun, 48 persen anak laki-laki mimpi basah umur 10-11 tahun. Anak adalah generasi penerus bangsa. Bisa dibayangkan apa jadinya masa depan bangsa ini jika generasi penerusnya rusak karena pornografi?. Meminjam istilah Psikolog Elly Risman, Pornografi sejatinya merupakan "bencana nasional" yang harus kita tanggulangi bersama. Sekarang! Sebelum semua terlambat. *****

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

JURNAL SKETSA EDISI V 175

Pornografi, Dekadensi Moralitas Bangsa

REFERENSI

1. Al-Quran dan Terjemahannya. Madnah Munawwarah: Mujamma Al-Mlik Fahd li ibat al-Muaf al-Syarf. 2. Al-Bukhri, Muhammad. 2002. Al-Jmi al-a. Beirut: Dr auq An-Najh. 3. Al-Nasburi, Hkim. 1997. Al-Mustadrak. Kairo: Dr Al-Haramayn. 4. ASA Indonesia. 2005. Remaja dalam Angka. Dalam http://asa-indonesia.com/asa/index. php?itemid=4, tanggal 9 Maret 2007. 5. BKKBN. 2004. Anak Indonesia Rentan Pornografi. Dalam http:// hqweb01.bkkbn.go.id/ article_detail.pihp?aid=531, Tanggal 9 Maret 2007. 6. Conference on Population and Development (ICPD) dengan Target Millenium Development Goals (MDGs). Jakarta: UNFPA. 7. Hoed, Benny Hoedoro. 1994. Erotisme dalam Bahasa dalam Lembar Sastra Universitas Indonesia. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia. 8. Media Literasi dan Pornografi . Pontianak: Perhimpunan masyarakat Tolak Pornografi Bekerja Sama dengan Badan Litbang SDM Departemen Komunikasi Dan Informatika. 9. PATH. 1998. Kesehatan reproduksi remaja: membangun perubahan yang bermakna. Dalam http://www.path.org, tanggal 19 Februari 2007. 10. Rancangan Undang-Undang Tentang Anti Pornografi dan Pornoaksi. 2006. Dalam http://www.gnssoeki.com/wouw/a000046.php, 27 Februari 2007. 176
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Pornografi, Dekadensi Moralitas Bangsa

11.Raviqoh. 2002. Hubungan antara paparan pornografi di media massa dengan dorongan seksual remaja SMU. 12. Saubuana, Cik. 2008. Degradasi Nilai dan Moral dalam Tinjauan Mata Kuliah PLSBT. Diskusi Dosen Jurusan MKDU-FPIS Universitas Pendidikan Indonesia. 13. Soebagjo, A. 2007. Kupas Tuntas Masalah Pornografi. Modul Negeri 6 Jakarta Tahun 2001. Yayasan Kita dan Buah Hati. Depok: Skripsi Kesehatan Reproduksi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. 14. Tim Penyusun. 1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Kedua). Jakarta: Balai Pustaka. 1 5 . U N F PA . 2 0 0 5 . K e p e n d u d u k a n d a n pembangunan di Indonesia, Keterkaitan Konsensus International. 16. www.wikipedia.com. *****

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

JURNAL SKETSA EDISI V 177

MENDETEKSI SOLUSI
Di Balik Krisis Moralitas Bangsa
Oleh: Mursal Mina Muhammad

Negara yang hebat bukanlah diukur dari seberapa banyak luas daerah yang dimilikinya, akan tetapi bagaimana rakyatnya bisa hidup berdampingan dengan rukun dan damai. Negara yang sehat bukanlah diukur dari seberapa banyak aset kekayaan yang ia miliki, akan tetapi dari seberapa sukses ia membina para pemuda dan remaja sebagai aset negara yang paling berharga. Karena, suatu negara akan hancur apabila tidak lagi memiliki generasi penerus yang dapat dipercaya dan diandalkan. Di tengah keterpurukan bangsa akibat menipisnya iman dan moral seperti sekarang ini, kita tidak perlu mengkambinghitamkan pihak lain. Yang kita perlukan adalah menyusun langkah, merapatkan barisan, dan mengambil satu sikap bersama, yaitu bagaimana alternatif terbaik untuk mengobati bangsa ini. Salah satu solusinya adalah dengan pembinaan karakter dan jati diri bangsa, sebagaimana kata orang bijak, Maka, kenalilah karakter bangsamu, jika kamu ingin sukses. Menjauhkan diri dari segala bentuk tingkah laku yang berbau amoral merupakan bentuk partisipasi dan kontribusi terbaik untuk perbaikan Bangsa Indonesia .

*****

178

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Mendeteksi Solusi di balik Krisis Moralitas Bangsa

BAB I PENDAHULUAN
Seiring dengan berputarnya rotasi bumi, berkembang pesatnya ilmu teknologi, dan semakin cerdasnya manusia di era globalisasi, semua perkembangan itu telah membuka mata hati kita, bahwa negeri Indonesia tercinta sedang mengalami keterpurukan yang begitu fenomenal. Itu semua terjadi tidak lain melainkan karena kerusakan moral anak bangsa yang semakin hari semakin meningkat, sehingga penyakit ini mewabah keseluruh elemen masyarakat, mulai dari masyarakat umum yang tidak lagi mengindahkan norma agama sampai kepada pejabat negara yang berbangga dengan tindakan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Ini semua akan menjadi saksi bisu kelalaian dan kelemahan kita dalam mencetak manusia generasi rabbniy. Yang lebih menyedihkan lagi adalah rusaknya moralitas para remaja dan pemuda Indonesia masa kini. Padahal, mereka adalah aset negara yang tidak ternilai harganya, karena remaja dan pemuda adalah masa depan bangsa dan agama, di mana bangsa dan agama di masa mendatang adalah para remajalah cerminannya. Kalau kita pandang dari sisi psikologis, bahwa para remaja memiliki potensi yang bisa dikembangkan dengan maksimal sebagai generasi bangsa dan agama, seperti potensi yang prospektif, dinamis, energik, penuh vitalitas, patriotisme, dan ideliasme, jikalau potensi tersebut bisa dikelola dengan tepat maka akan terjadi suatu ledakan yang sangat besar bagi kemajuan negara di masa yang akan datang. Fakta yang terjadi belakangan ini telah memudarkan cita-cita luhur bangsa, sebagaimana yang sering kita saksikan di media massa, tindakan amoral yang dilakukan oleh para remaja semakin hari semakin meningkat, mulai dari yang
JURNAL SKETSA EDISI V 179

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Mendeteksi Solusi di balik Krisis Moralitas Bangsa

paling ringan, seperti berbohong, menipu, dan menyontek di sekolah, sampai tingkat yang paling mengkhawatirkan, seperti menodong, merampok, mencuri, tawuran tingkat pelajar dan lain-lain. Dalam menghadapi zaman era globalisasi yang sedang melanda Indonesia ini, kita sering kehilangan arah, pegangan, dan tujuan, bahkan jati diri kita sebagai anak bangsa yang bermoral telah tercabut dibawa oleh arus peradaban dunia. Kita tidak ubahnya seperti buih di lautan yang terombang ambing dibawa oleh gelombang, meskipun banyak jumlahnya, tapi sayang tidak bisa berbuat apa-apa, dan pada akhirnya dihempaskan ke tepian pantai tanpa punya arti dan makna. Coba kita menelisik tentang sejarah puluhan abad yang silam, ketika jahiliyah tenggelam dalam pelbagai kebejatan dan tingkah laku amoral, ketika hilangnya moral sang ayah dengan membunuh anak perempuannya yang baru lahir karena malu, dan minum minuman keras merupakan sebuah kebanggaan, begitu bejatnya jahiliyah sehingga tanah Arab diselimuti dengan pelbagai macam tindakan yang tidak berperikemanusiaan. Kemudian lahirlah sebuah cahaya dengan izin Yang Mahakuasa, yang mana cahaya itu akan menjadi alat penerang dan petunjuk dalam gelap gulitanya kebiadaban jahiliyah ketika itu, bahkan cahaya tersebut mampu merombak cara berfikir jahiliyah menuju cara berfikir Islamiyah yang penuh dengan keselamatan, cahaya itu adalah baginda yang mulia Nabi Muhammad Saw. sebagaimana sabdanya, Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak manusia. Islam pada hari ini ibarat 'nasi tinggal menyuap', apakah 'nasi yang tinggal menyuap' ini harus jatuh ke tanah dengan kembalinya kita ke tingkah laku pada zaman jahiliyah?. Di balik segala macam bentuk fenomena yang terjadi di bumi ibu pertiwi, mulai dari gaya hidup yang permisif, free sex, hedonis, kriminalitas, bahkan sampai kepada tindakan 180
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Mendeteksi Solusi di balik Krisis Moralitas Bangsa

korupsi, kolusi, dan nepotisme, apakah ini suatu pertanda telah lunturnya akidah kita yang dibawa oleh baginda Rasul dengan tetesan darah?, Atau ini suatu pertanda telah tercabutnya asas Indonesia yang diperjuangkan oleh para pejuang kita dengan tetesan keringat? Atau mungkin ini suatu pertanda telah hilangnya generasi penerus bangsa yang bermoral?. Pada hakikatnya, fenomena yang terjadi seperti permisif, free sex dan lain-lain bukanlah kebudayaan asli Indonesia, melainkan kebudayaan Barat. Masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia tanpa adanya filter dari Bangsa Indonesia itu sendirilah, yang sesungguhnya membuat kebudayaan Barat telah berakar kuat di tanah kita. Suatu negara yang hebat bukanlah diukur dari seberapa banyak luas daerah yang dimilikinya, akan tetapi bagaimana rakyatnya bisa hidup berdampingan dengan rukun dan damai. Begitu juga, suatu negara yang sehat bukan diukur dari seberapa banyak aset kekayaan yang ia miliki, akan tetapi dari seberapa sukses ia membina para pemuda dan remaja sebagai aset negara yang paling berharga. Karena, suatu negara akan hancur apabila tidak lagi memiliki generasi penerus yang dapat dipercaya dan diandalkan. Di tengah keterpurukan bangsa akibat menipisnya iman dan moral seperti sekarang ini, kita tidak perlu mengkambinghitamkan pihak lain. Yang kita perlukan sekarang adalah menyusun langkah, merapatkan barisan, dan mengambil satu sikap bersama, yaitu bagaimana alternatif terbaik untuk mengobati bangsa yang terinfeksi penyakit berbahaya ini. Salah satu solusinya adalah dengan mengadakan pembinaan karakter dan jati diri bangsa, sebagaimana kata orang bijak, Maka kenalilah karakter bangsamu, jika kamu ingin sukses. Penulis sangat berharap, mudah-mudahan tulisan yang sangat sederhana ini bisa kita jadikan bahan pertimbangan dalam menyusun sebuah perencanaan dan program untuk membina moralitas bangsa di masa
JURNAL SKETSA EDISI V 181

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Mendeteksi Solusi di balik Krisis Moralitas Bangsa

mendatang, karena negeri kita tidak akan bisa dirubah dan berkembang hanya dengan diam dan berpangku tangan sambil menatap kerusakan bangsa yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Tetapi bangsa kita akan bisa berubah bila kita berani memulainya dari sekarang, dan menyusun strategi yang akurat dengan penuh pertimbangan, tentunya dengan satu tujuan bersama: kejayaan martabat Indonesia di mata lokal, interlokal, bahkan Internasional, sehingga rakyat Indonesia berani berkata, Aku bangga terlahir sebagai Bangsa Indonesia. Kalau kita sorot dari segi hakikat, pada dasarnya fitrah manusia cenderung untuk melakukan kebaikan. Akan tetapi, itu tidak bisa dijadikan jaminan bahwa manusia akan memiliki akhlak yang mulia. Kalau kita pandang dengan kaca mata yang berbeda, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan sebuah negara yang berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, di mana manusia diajari bagaimana menjadi insan yang berbudi luhur, tetapi mengapa tindakan kriminalitas merajalela di bumi NKRI? Lantas, di manakah sebenarnya letak kesalahannya? Mungkinkah manusia zaman sekarang sudah lupa akan kodratnya sebagai manusia?, atau mungkin asas negara yang dibentuk oleh para pejuang terdahulu hanya tinggal coretan semata?. Melalui coretan tinta hitam ini, penulis ingin mengajak para pembaca untuk menyelami samudera penyelesaian di balik segala keluhan dan tantangan yang terjadi di negeri kita tercinta. Oleh karena itu, penulis memilih sebuah tema Membina Moralitas Bangsa dan memberanikan diri untuk mengangkat sebuah judul Mendeteksi Solusi di Balik Krisis Moralitas Bangsa. Secara etimologi: Mendeteksi : Melacak, atau menemukan sesuatu. Solusi : Penyelesaian atau pemecahan. Di Balik : Sesuatu yang tersembunyi atau yang melatar belakangi. 182
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Mendeteksi Solusi di balik Krisis Moralitas Bangsa

BAB II PEMBAHASAN

A. Reformasi Diri Merupakan Solusi Jitu untuk Mereformasi Bangsa. Untuk memulihkan keadaan bangsa yang sedang sakit dan terpuruk ini, perbaikan pertama yang harus kita lakukan adalah mereformasi atau merubah diri kita sendiri dari lumuran kebiadaban menuju tingkah laku yang penuh dengan peradaban. Di samping itu, juga menambah kualitas keimanan dengan terus mendekatkan diri kepada Allah, dan tentunya kita kembali meniti jalan GBHI (Garis Besar Haluan Ilahi). Karena, dengan kita kembali meniti jalan tersebut maka jelaslah yang mana yang aq dan yang mana yang bil. Allah berfirman, Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar dari segala masalah yang dihadapi dan akan diberikan rezeki dari jalan yang tidak diduga-duga(QS Al-alq: 2-3).

Kalau kita ingin keluar dari krisis multidimensi yang tidak kunjung selesai ini, cuma satu jawabannya: takwa. Karena, tidak bisa dipungkiri bahwa negeri kita terpuruk dan menangis pada saat ini, adalah karena keteledoran kita untuk terus mendekatkan diri kepada Allah Azza Wajalla.
Dalam ayat yang lain Allah berfirman, Maka, barang siapa yang mengikuti jalanku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih (QS. Al-Baqarah: 38).
JURNAL SKETSA EDISI V 183

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Mendeteksi Solusi di balik Krisis Moralitas Bangsa

Seorang penceramah kondang telah memaparkan bagaimana rumus untuk memudahkan mereformasi diri sebagaimana yang kita kenal dengan 3M: "mulailah dari sekarang", "mulailah dari yang kecil", dan "mulailah dari diri sendiri". Mulai sekarang, bertekadlah untuk menjauhkan diri Anda dari segala bentuk tingkah laku yang berbau amoral, sebagai bentuk partisipasi dan kontribusi Anda untuk perbaikan negara. Dalam teori yang lain, ada tiga langkah untuk memudahkan reformasi diri demi terbitnya kembali jati diri yang semakin hari semakin menjadi-jadi: Pertama, terapi kognitif, yaitu memperbaiki cara berfikir. Untuk mencapai tujuan terapi ini, setidaknya ada empat langkah yang harus kita tempuh: Pertama, pengosongan; kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk mengkosongkan pemikiran kita dari segala bentuk tingkah laku penyimpangan. Kedua, pengisian; kemudian fikiran yang tadi dikosongkan, diisi kembali dengan nilai-nilai keagamaan. Ketiga, kontrol; segala macam bentuk pikiran atau ide-ide yang masuk dalam benak kita harus dikontrol dengan nilai agama sebelum diambil menjadi sebuah gagasan. Keempat, doa; segala sesuatu yang kita usahakan harus dibarengi dengan doa, karena bila berusaha tanpa doa tanda hamba yang sombong, dan berdoa tanpa berusaha tandanya bohong. Kedua, terapi mental, yaitu segala macam tindakan yang muncul dari diri kita merupakan wujud dari ungkapan perasaan kita. Adapun langkah-langkah yang dapat kita lakukan untuk terwujudnya tujuan terapi ini adalah: (1) Pengarahan; perasaan yang kita rasakan harus memiliki arah dan sebab yang jelas kenapa perasaan tersebut bisa muncul. (2) Penguatan; kita harus menemukan beberapa sumber yang dapat menguatkan perasaan yang kita rasakan benar dan 184
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Mendeteksi Solusi di balik Krisis Moralitas Bangsa

manusiawi. (3) Kontrol; kita harus memunculkan suatu perasaan dalam diri untuk mengontrol semua perasaan yang muncul dari dalam diri kita, supaya semua perasaan tersebut dapat dimanage dengan baik. (4) Doa; seperti yang penulis sebutkan tadi, bahwa setiap pekerjaan harus dibarengi dengan doa. Ketiga, perbaikan fisik. Menurut pakar kesehatan, bahwa kesehatan akan tercipta apabila terkumpul tiga unsur: (1) gizi makanan yang baik dan mencukupi kebutuhan; (2) olahraga yang teratur dengan kadar yang cukup; dan (3) istirahat yang cukup dan memenuhi kebutuhan relaksasi tubuh. Setelah kita berhasil mereformasi diri kita, maka secara tidak langsung kita telah memberikan contoh yang terbaik bagi lingkungan sekitar kita, sehingga segenap lapisan masyarakat berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi teladan yang terbaik bagi lingkungan sekitarnya, baik dari lapisan rakyat jelata sampai kepada para petinggi negara. Jika segenap lapisan masyarakat telah mengetahui, merasakan, serta menanamkan dalam dirinya akan keindahan hidup yang jauh dari tindakan amoral, maka kita akan menatap dengan senyuman sebuah perubahan bangsa yang begitu signifikan. Semoga!. B. Eksistensi Pendidikan dalam Menciptakan Bangsa yang Bermoral. Pendidikan adalah suatu proses panjang dalam rangka menghantarkan manusia menjadi seorang yang memiliki kekuatan intelektual dan spiritual, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya di segala aspek dan menjalani kehidupan yang bercita-cita dan bertujuan pasti. Tidak diragukan lagi, bahwa pendidikan memiliki peranan yang sangat penting untuk membina moralitas bangsa. Disamping itu juga pendidikan merupakan pilar yang sangat dibutuhkan bagi kemajuan suatu bangsa, bahkan dengan pendidikan martabat suatu bangsa dipertaruhkan.
JURNAL SKETSA EDISI V 185

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Mendeteksi Solusi di balik Krisis Moralitas Bangsa

Mengapa tidak, tanpa pendidikan bangsa akan terpuruk dan jatuh dalam jurang kebodohan, baik dari segi IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), maupun dari segi IMTAQ (Iman dan Takwa). Satu yang perlu kita perhatikan, bahwa suatu negara yang menggalakkan sistem pendidikan demi kemajuan IPTEK tanpa dibarengi dengan kemajuan IMTAQ, akan menciptakan generasi yang pintar tapi tidak memiliki moral. Sekarang, negara kita tidak membutuhkan orang-orang pintar tapi tidak benar, namun yang dibutuhkan adalah orang benar meskipun kurang pintar. Dengan penyelarasan antara pendidikan umum dan pendidikan agama, maka akan membangun manusia yang 'berotak Jerman' dan 'berhati Mekkah', memiliki wawasan keilmuan yang tinggi dan juga memiliki hati yang mulia. Sudah cukup bumi Indonesia ini disirami dengan darah tawuran, demonstrasi dan sebagainya, akan sampai kapan generasi bangsa bangga dengan hal seperti ini?. Coba kita telusuri perkembangan hidup para remaja sebagai generasi bangsa. Pada tataran akademik di jenjang SMP, misalnya, mereka sudah diperkenalkan dengan istilah tawuran antar pelajar, pada jenjang SMA tawuran pelajar frekuensinya meningkat, kemudian beralih pada tingkat perguruan tinggi, mereka lebih agresif dan pemberani, mereka menjadi pendemo yang tangguh sehingga terjadi bentrok dengan aparat kemanan. Coba kita berfikir, andaikata di SD, SMP, dan SMA terdapat 30 jam pelajaran perminggu, dan dibagi untuk jam pelajaran agama sebanyak 15 jam pelajaran, dan untuk pelajaran umum 15 jam pelajaran, mungkin kita dapat mengimbangi kemajuan IPTEK dengan IMTAQ. Namun, fakta telah membuktikan, bahwa selama ini yang terjadi disekolah umum mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi, pelajaran umum berbanding 8: 2 dengan pelajaran agama. Coba kita resapi, dengan 20% pelajaran agama, apa yang diperoleh 186
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Mendeteksi Solusi di balik Krisis Moralitas Bangsa

generasi bangsa? Agama yang kuat? Atau moral yang tinggi?. Bertitik simpul dari yang demikian, maka terjadilah sebagaimana yang kita saksikan pada zaman sekarang bahwa agama hanya dibibir semata tanpa ada pengamalan, ia tak ubahnya seseorang yang memiliki garam satu truk, tetapi tidak pernah tahu bagaimana asinnya garam itu, atau punya gula satu rumah, tapi tidak pernah tahu bagaimana manisnya gula itu, mungkinkah dengan demikian kita bisa bermimpi terangkatnya martabat bangsa di kemudian hari?. Perlu kita ketahui, bahwa sebelum seorang anak mengenyam pendidikan di sekolah, terlebih dahulu ia mengenyam pendidikan di keluarganya. Jadi, peranan keluarga juga sangat penting dalam membentuk karakter seorang anak, sebagaimana satu ungkapan yang tidak asing lagi bahwa keluarga adalah sekolah pertama bagi seorang anak. Menurut pakar hukum bahwa salah satu sebab merajalelanya tindakan kriminalitas dikalangan masyarakat adalah kegagalan orang tua dalam memberikan contoh yang terbaik bagi anak-anaknya, karena seorang anak akan terpengaruh dan meniru apa yang ia lihat dari keluarganya, baik dari segi ketidakharmonisan ayah dan ibunya, tingkah laku yang sering dilihat dari ayah atau ibunya, ataupun tingkah laku yang sering dilakukan oleh saudara-saudaranya. Rasul bersabda, Sesungguhnya manusia dilahirkan dalam keadan suci, maka ayah dan ibunyalah yang menjadikan ia Yahudi atau Nasrani. Andaikata kita mau sedikit menyingkap tentang sistem pendidikan yang digalakkan oleh Barat, maka kita dapat menyaksikan bahwa sistem pendidikan Barat berbasis pada filsafat dan melahirkan 3 tujuan utama: Pertama, tujuan keilmuan, dalam arti kata setiap orang yang telah menelan pendidikan melalui bangku sekolah, maka ia harus memperoleh pengetahuan ilmu atau sains. Kedua, tujuan ketrampilan kerja, artinya para siswa yang dinyatakan lulus dari suatu sekolah, mereka memiliki
JURNAL SKETSA EDISI V 187

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Mendeteksi Solusi di balik Krisis Moralitas Bangsa

kemampuan untuk bekerja, atau melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ketiga, tujuan kesehatan dan kekuatan fisik, artinya setiap siswa yang dinyatakan lulus harus mengetahui cara sehat dan cara menjadi orang kuat. Dari pemaparan data tersebut, nyatalah bagi kita bahwa sistem pendidikan Barat tidak mengandung unsur akhlak/moralitas. Sekarang coba kita bandingkan dengan sistem pendidikan yang diajarkan dalam Islam. Dalam Islam, tujuan utama berlangsungnya sistem pendidikan tak lain untuk menanamkan akhlak bagi setiap Muslim, baik itu pendidikan formal ataupun nonformal. Seorang manusia yang berkualitas tidak hanya dibekali dengan IPTEK saja, tapi di samping itu ia juga dibekali dengan IMTAQ yang merupakan pengontrol untuk mengaplikasikan IPTEK itu sendiri; laksana sang nahkoda yang selalu mengontrol berjalannya sebuah kapal, andaikata kontrol sang nahkoda terhadap sebuah kapal hilang, maka pastilah akan berakibat fatal yang tidak hanya dialami oleh sang nahkoda itu sendiri, tetapi juga dialami oleh segenap penumpang kapal. Begitu pula hilangnya kontrol IMTAQ dari jiwa seseorang, tentunya akan berakibat fatal yang tidak hanya dialami oleh orang tersebut, namun juga akan dialami oleh bangsa dan negara. Menurut pakar pendidikan Islam, ada tiga unsur utama yang seharusnya ditanam dalam jiwa manusia yang digalakkan melalui proses pendidikan: Pertama, pendidikan akidah, karena dengan pendidikan akidah mereka akan memiliki filter untuk menyaring segala aliran sesat yang dapat menghancurkan moral. Kedua, pendidikan ibadah, karena dengan pendidikan ibadah akan melahirkan generasi insani yang mempunyai komitmen untuk senantiasa beribdah kepada Rabb-nya. Ketiga, pendidikan akhlak, karena dengan pendidikan akhlak akan melahirkan generasi rabbniy yang cerdas serta memiliki akhlak yang tinggi. Perlu kita ketahui, bahwa membangun generasi188
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Mendeteksi Solusi di balik Krisis Moralitas Bangsa

generasi bangsa yang cerdas, berwawasan luas dan juga memiliki akhlak yang tinggi akan menjadi mimpi belaka tanpa ada partisipasi dari pelbagai elemen masyarakat. Oleh karena itu, semua elemen masyarakat mulai dari rakyat jelata, tokoh agama, pendidik, orang tua, dan juga pemerintah, harus ikut berpartisipasi dalam mencetak generasi-generasi bangsa yang berintelektual tinggi serta memiliki akhlak mulia. *****

BAB III PENUTUP


Beberapa poin yang dapat penulis simpulkan dari gagasan diatas adalah sebagai berikut: Kalau kita ingin melepaskan Indonesia dari belenggu krisis moralitas, maka takwa adalah solusi utama, sebagaimana janji Allah, Siapa orang yang bertakwa kepada kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar dari segala kesulitan hidup. Siapa yang mau mereformasi dirinya dengan menjauhkan segala tindakan amoral, maka secara tidak langsung ia telah ikut berpartisipasi dalam membentuk karakter bangsa masa depan, karena secara tidak langsung partisipasinya terhadap negara akan menjadi tauladan bagi lingkungan sekitarnya. Eksistensi pendidikan sangat berperan besar bagi perbaikan moral anak bangsa, karena melebur atau tingginya martabat suatu negara tergantung proses pendidikan yang digalakkan dalam negara tersebut. Peranan keluarga juga berpengaruh besar terhadap pertumbuhan karakter anak, karena keluarga merupakan sekolah pertama bagi mereka.
JURNAL SKETSA EDISI V 189

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Mendeteksi Solusi di balik Krisis Moralitas Bangsa

Kalau keluarga memberikan contoh yang tidak baik, maka anak tersebut akan tumbuh dengan karakter yang buruk. Sebaliknya jika keluarga bisa menjadi tauladan yang baik baginya, maka anak tersebut akan tumbuh dengan karakter yang baik. Bahkan menurut pakar hukum, salah satu faktor terjadinya kriminalitas dikalangan masyarakat adalah kegagalan orang tua dalam memberikan contoh yang terbaik kepada anak-anaknya, atau jarang mengkontrol tingkah laku yang dilakukan oleh anakanaknya. Untuk menciptakan generasi bangsa yang jenius serta dilandasi dengan akhlak yang tinggi, maka salah satu metodenya adalah menyelaraskan antara pendidikan umum dengan pendidikan agama di semua sekolah yangada di Tanah Air. Menurut para pakar pendidikan Islam, ada tiga unsur utama yang harus ditanamkan dalam jiwa manusia: pendidikan aqidah, pendidikan ibadah, dan juga pendidikan akhlak mulia, karena jika tiga unsur utama ini sudah tertanam dalam jiwa, maka ia akan tumbuh menjadi manusia yang memiliki akhlak yang tinggi. Sistem pendidikan yang digalakkan oleh Barat memiliki tiga tujuan utama: tujuan keilmuan, tujuan keterampilan kerja, dan tujuan kesehatan dan kekuatan fisik. Maka, jelaslah bahwa pendidikan Barat gagal memanusiakan manusia. Sudah saatnya pendidikan Barat dihentikan dari bumi Indonesia, dan menggalakkan pendidikan Islam demi teraihnya cita-cita bangsa yang bermoral. Kalau tidak demikian, maka menciptakan generasi insn kmil di Tanah Air akan menjadi dongeng di atas kertas. *****

190

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Mendeteksi Solusi di balik Krisis Moralitas Bangsa

REFERENSI
1. Terjemahan Al-Quran Digital. 2. Al-Bayhaqiy, Amad ibn usayn ibn liy ibn Ms Ab Bakr. Sunan al-Bayhaqiy al-Kubr. Maktabah AlMukarramah. 3. Al-Bukhriy, Muammad Isml Ab AbdilLh. Jmi a al-Bukhriy. Dr Ibn Katsr. 4. asan Syaraf, liy. Ilm Ijrm wa al-Iqb. 5. Matta, Muhammad Anis. 2002 M. Membentuk Karakter Cara Islam. Jakarta: Al-Itim Cahaya Umat. 6. Ulum, Bahrul. Membangun Moralitas Bangsa Melalui Keteladanan Sebagai Solusi Krisis Multidimensi. 7. Ahkamulloh, Ali. Semai Benih Bangsa dengan Pendidikan Karakter Sejak Dini. 8. Sudrajat, Prof. Dr. Ajat. Pendidikan dan Peningkatan Kualitas Moral Bangsa. 9. Nawawi, Ahmad. Pentingnya Pendidikan Nilai Moral Bagi Generasi Penerus. 10. Ceramah KH. Zainuddin Mz. 11. Ceramah KH. Aa Gymnastiar. 12. Ceramah H. Din Syamsuddin. *****

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

JURNAL SKETSA EDISI V 191

MEMBINA MORALITAS BANGSA


dengan Manhaj Salafi as-Salih
Oleh: Mustafa bin Idrus al-Khirid

Kemerosotan moral yang melanda dan merata di Tanah Air pantas mendapatkan perhatian khusus untuk diperbaiki dan dibina secara serius dan bertahap. Setiap individu memiliki tanggung jawab dalam perbaikan dan pembinaan tersebut, yaitu dengan memperbaiki moral pribadi, kemudian menyerukannya kepada orang lain yang berada dalam naungannya. Pembinaan tersebut membutuhkan metode ampuh yang sesuai dengan kondisi masa kini. Manhaj Salaf al-li yang mengungguli metode-metode lain yang bersumber dari pemikiran Barat yang saat ini digandrungi masyarakat luas, mencoba menawarkan strategi-strategi ampuh tersebut. Metode ini simpel dan mudah diaplikasikan di pelbagai tempat. Karena, kebenarannya bersumber dari al-Quran, al-Sunnah, dan teladan para ulama yang tidak menyimpang dari syariat Islam. Moralitas yang dibina membutuhkan kesadaran masyarakat luas tentang pentingnya moral yang baik dan implikasinya yang pasti akan dirasakan oleh masyarakat itu sendiri. Sehingga, tugas pembinaan tersebut lebih mudah diimplementasikan, tersebab masyarakat secara bersama-sama ikut bergerak dan turut andil mewujudkannya. Oleh karenanya, tugas ini adalah tugas semua insan Indonesia dan memerlukan semangat yang besar dan usaha yang serius. Ini tidak lain supaya moralitas bangsa kembali membaik dan manfaatnya dapat dirasakan oleh setiap generasi .

*****

192

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Membina Moralitas Bangsa dengan Manhaj Salaf al-Slih

BAB I PENDAHULUAN
Di era globalisasi, kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi semakin pesat berkembang. Segala kebutuhan manusia, baik primer maupun skunder, bisa tersaji secara instan. Hal ini tidak lain karena tersajinya sumber daya alam yang mencukupi untuk memenuhi hajat manusia setiap harinya. Namun, perkembangan tersebut tampaknya mengakibatkan dampak negatif kepada setiap individu manusia. Mereka berlomba-lomba meningkatkan ilmu pengetahuan tanpa menyadari degradasi moral. Akibatnya, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi hanya sekedar menjadi alat yang dipakai manusia untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya saja, tanpa menyentuh kebutuhan rohaninya. Degradasi moral yang ada dan cukup meluas seantero Tanah Air itu bukan hanya dilatarbelakangi oleh kemajuan IPTEK, akan tetapi juga oleh hal-hal yang lain, seperti kesalahan metode pendidikan dan budaya westernisme yang masuk merata di masyarakat. Oleh karena itu, peningkatan moral dari setiap pihak sangat dibutuhkan. Bukan hanya tugas lembaga keagamaan yang wajib membina moral tersebut, melainkan juga menjadi tugas dan tanggung jawab setiap yang bertalian dengan norma-norma sosial kemayarakatan. Karena, moral ibarat sebuah bangunan yang tercipta dari nilai-nilai keagamaan san budaya setempat. Islam telah menawarkan solusi dari semua ini. Ia menjadi penggerak para remaja agar tumbuh sebagai insan hakiki. Islam menitikberatkan kepada aspek pendidikan untuk membina moral dan akhlak. Karena, aspek inilah yang sangat mempengaruhi perkembangan tingkah laku manusia. Bangsa Indonesia telah berupaya dalam hal ini, seperti
JURNAL SKETSA EDISI V 193

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Membina Moralitas Bangsa dengan Manhaj Salaf al-Slih

memprogramkan wajib belajar sembilan tahun, yang artinya bahwa seorang remaja diharapkan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengenyam pendidikan dan pembentukan moral melalui pendidikan sekolah. Dari sinilah akan terbentuk moral bagi seseorang, yang pada gilirannya diharapkan ia akan memengaruhi individu lain hingga akhirnya meluas di masyarakat. Islam tidak sekedar memperhatikan aspek pendidikan saja, akan tetapi ia juga memiliki metode khusus untuk mengatur, membina, dan mencetak moral masyarakat Muslim dan Muslimah. Metode atau manhaj inilah yang penulis sebut Manhaj Salaf al-li yang berasaskan al-Quran, hadits dan perangai para ulama yang tidak keluar dari norma-norma yang ada dan senantiasa berada di bawah naungan kalimat L Ilha illalLh - Muammad RaslulLh. Maka dari itu, ada tiga poin penting yang akan penulis bahas dalam tulisan ini, yaitu: 1. Apa saja faktor yang melatarbelakangi degradasi moral? 2. Apa itu Manhaj Salaf al-li? 3. Bagaimana Manhaj Salaf al-li bisa membina moralitas bangsa?. *****

194

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Membina Moralitas Bangsa dengan Manhaj Salaf al-Slih

BAB II PEMBAHASAN
A. Faktor Penyebab Degradasi Moral Sebagaimana telah diketahui bahwa setiap akibat pasti didahului sebab, begitu pula merosotnya moralitas bangsa, kejadiaannya pun pasti dilatarbelakangi oleh sebab tertentu. Pelbagai aspek turut andil dalam krisis ini, karena, tidak mungkin krisis moral menimpa penduduk bumi Indonesia terkecuali disebabkan oleh nonaktifnya fungsi dari aspekaspek tersebut. Dan aspek yang paling penting adalah pendidikan. Pendidikan yang ada di Indonesia lebih condong terhadap peningkatan IQ dan pola pikir semata. Para pelaku pendidikan masih saja memilih pelbagai metode untuk meningkatkan sumber daya manusia tersebut. Hingga setiap beberapa periode metode tersebut mengalami pembaharuan. Ironisnya, mereka mengadopsi metodemetode tersebut dari pemikiran-pemikiran Barat yang jauh dari akidah Islam. Akhirnya, mata pelajaran yang disuguhkan di lembaga pendidikan lebih didominasi pelajaran umum ketimbang pelajaran agama. Inilah penyebab pertama. Pada gilirannya, kurangnya perhatian terhadap pengetahuan agama Islam berdampak negatif kepada setiap murid. Kebutuhan rohani yang seharusnya didapatkan sebanding dengan pengetahuan umum menjadi kurang. Anak didik sedikit demi sedikit tidak menghiraukan mata pelajaran ini dan menganggapnya sebagai pelajaran yang kurang penting di sekolah. Berapa banyak murid yang duduk di kelas menengah atas (SLTA) atau bahkan di perguruan tinggi yang tidak bisa membaca al-Quran sebagai kitab agama mereka sendiri?. Dan berapa banyak murid yang lebih mengidolakan tokoh-tokoh Nasrani yang jauh dari akhlak Islam, daripada
JURNAL SKETSA EDISI V 195

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Membina Moralitas Bangsa dengan Manhaj Salaf al-Slih

mengidolakan Rasulullah Muhammad ibn Abdillah sebagai nabi mereka sendiri yang lebih patut mereka cintai dan teladani?. Kekosongan rohani pada diri setiap murid menimbulkan kecintaan terhadap sesuatu yang dianggapnya baik. Mereka tidak lagi menjunjung nilai-nilai keislaman, bahkan adab dan budi pekerti yang berasal darinya pun turut dilupakan. Selanjutnya, terciptalah moral-moral yang kurang baik yang merupakan siraman dari pemikiran Barat dan budaya-budaya western, hingga akhirnya menjalar dari setiap individu kepada kelompok masyarakat, dan dari unit masyarakat ke seluruh bumi pertiwi Indonesia. Penyebab berikutnya adalah kurangnya implementasi ajaran Islam di sekolah. Materi pendidikan Islam yang disuguhkan kepada para murid hanya sekedar pengetahuan saja. Padahal seharusnya, materi tersebut perlu diaplikasikan di lingkungan sekolah terlebih dahulu sebelum kemudian ke lingkungan masyarakat. Akibat dari keteledoran ini, setiap murid yang ingin mengaplikasikan materi kegamaan dianggap murid yang kolot, sok alim, dan akhlak yang jadul. Hingga akhirnya, berdampak kepada hilangnya penghormatan kepada guru, bebasnya hubungan lawan jenis yang diharamkan, dan tidak adanya persaudaraan secara Islami. Degradasi moral juga disebabkan salahnya tujuan di dalam menuntut ilmu, baik ilmu pengetahuan umum maupun ilmu pendidikan agama. Seorang murid yang masuk ke sekolah tidak lain bertujuan agar kelak mendapatkan pekerjaan yang layak. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditempuh, semakin besar pula peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang baik. Begitu juga dalam tataran pendidikan agama Islam, para murid yang memiliki kelebihan khusus di bidang agama tidak mencari ilmu untuk tujuan ukhrawi dan kemaslahatan umat, akan tetapi agar kelak menjadi guru pengajar yang dijadikan sebagai sumber 196
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Membina Moralitas Bangsa dengan Manhaj Salaf al-Slih

kehidupan dari gaji yang diterimanya, atau untuk bisa masuk ke dalam birokrasi pemerintahan dari jalur agama yang dianggapnya jalur paling bersih. Sehingga, dampak yang terjadi adalah dekadensi moral lebih didominasi oleh mahasiswa Perguruan Tinggi Agama (PTA) dibandingkan mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Sangat ironis sekali calon ulama bangsa mempunyai moral tidak seperti atribut yang dikenakannya. Apabila mereka menunut ilmu untuk tujuan kemaslahatan umat Islam dan untuk mengembangkan teknologi yang kelak akan dipakai dalam penyebaran ajaran Islam, atau untuk mencegah ajaran lain yang ingin merusak Bangsa Indonesia, atau untuk membantu saudara Muslim di dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya, atau bahkan sematamata untuk tujuan ukhrawi, tentunya akan lebih baik dan lebih bermanfaat. Itulah beberapa faktor penting penyebab dekadensi moral Bangsa Indonesia yang harus dibina. Dan tentunya masih banyak faktor-faktor lainnya yang tidak mungkin dibahas secara panjang lebar dalam tulisan ini. B. Manhaj Salaf al-li Manhaj secara etimologi adalah jalan yang terang dan lurus1, tata cara, metode, konsep. Adapun secara umum adalah metode yang digunakan seseorang untuk mencapai sebuah maksud dan tujuan secara hakiki. Adapun Salaf alli adalah segolongan kaum yang hidup sebelum masa 500 tahun Hijriah setelah wafatnya Rasulullah Saw. Maka, para sahabat, tabiin dan tabi tabiin termasuk dalam masa 2 tersebut. Ulama lain berpendapat bahwa Salaf al-li adalah segolongan orang yang hidup sebelum kita (baik orang tua maupun kerabat) yang terkenal dengan keutamaannya, kesalehan akhlaknya, dan kebaikan budi pekertinya. Maka, termasuk dalam pengertian ini adalah para ulama yang dijadikan suri teladan bagi masyarakat.
JURNAL SKETSA EDISI V 197

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Membina Moralitas Bangsa dengan Manhaj Salaf al-Slih

Manhaj Salaf al-li biasa dipakai dalam pendidikan nonformal, atau pondok-pondok klasik yang masih belum terakreditasi menurut hukum pemerintah. Metode seperti ini sangat bermanfaat bagi murid yang ingin memiliki akhlak atau budi pekerti yang baik. Karena, di dalamnya bukan saja mengajarkan pendidikan ilmu agama secara matang, akan tetapi juga bagaimana seseorang berakhlak di lingkungan sekitar dengan akhlak nabawiyyah; dengan melatih pengandalian hawa nafsu, baik secara lahir maupun batin. Manhaj semacam ini lebih berorientasi kepada pengamalan setiap individu murid, dan bukan sekedar pengandalan ilmu pengetahuan semata. Norma-norma yang ada dalam manhaj ini adalah sifat dan perilaku Nabi Saw. dan pengamalannya kepada masyarakat, serta pengajaran dan tarbiyah-nya di tengah-tengah mereka. Sehingga, akhlak yang ada pada Sahabat merupakan cerminan daripada akhlak Nabi Saw. Begitu pula seterusnya, seperti para tabiin, yang mana tidak terlihat pada akhlak mereka kecuali seperti akhlak para Sahabat dan Nabi Saw., kemudian akhlak tersebut terus terwariskan hingga kurun atau abad globalisasi yang kita berada sekarang ini. Manhaj ini pada dasarnya bertopang pada tiga asas, yaitu sebagai berikut: 1. Tal al-ulm; ilmu pengetahuan yang mantap dan luas. Dalam asas ini, seorang murid dituntut menguasai materi pelajaran yang diajarkan dengan pemahaman yang mantap dan terperinci. Kemudian bisa menjabarkan materi tersebut dengan ilmu pengetahuan yang ada. Karenanya, dalam asas ini, diperlukan pembelajaran dan pembahasan antar murid di luar waktu pelajaran, sehingga merangsang mereka untuk membaca buku-buku yang lain yang bisa membantunya dalam memahami materi yang menjadi kurikulum. Manfaat dari asas ini ialah, murid betul-betul 198
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Membina Moralitas Bangsa dengan Manhaj Salaf al-Slih

memahami pelajaran yang diajarkan dan masalah-masalah aktual yang mengitarinya, serta mampu menjelaskannya kepada orang lain ketika diperlukan. 2. Tazkiyyah al-nufs; pensucian jiwa dan penerapan akhlak Poin ini merupakan asas yang paling urgen dalam Manhaj Salaf al-li. Asas ini menitikberatkan kepada pensucian jiwa murid dan melatihnya mengontrol hawa nafsu, sehingga dengan sendirinya akan tumbuh perangai yang lurus dan akhlak yang mulia dalam dirinya. Karena, manusia pada hakikatnya adalah insan fitrah yang tercipta dengan penciptaan terbaik. Allah menciptakan hawa nafsu untuk menguji manusia dalam pengamalan dan perbuatannya setiap hari. Ketika hawa nafsu tersebut hilang, maka kembalilah pribadi manusia itu kepada fitrah asalnya. Tazkiyyah dalam pengamalannya memiliki dua cara: pengamalan lahir dan pengamalan batin. Pengamalan lahir seperti puasa, salat, sedekah, penghukuman bagi yang melanggar dan sebagainya. Sedangkan pengamalan batin seperti sabar, tawu atau rendah hati, dermawan, dan lain sebagainya. Di dalam asas ini, murid terlebih dahulu dituntut untuk meneladani para pengajarnya dalam pengamalan dan penerapan akhlak. Karena, merekalah figur teladan bagi murid dalam sekolah. Karenanya, jika guru tidak bisa mencontohkan akhlak-akhlak tersebut terlebih dahulu, mustahil para murid akan dapat melakukannya. Bagaimana mungkin tazkiyyah terhadap para murid bisa dilakukan sedangkan para guru sendiri masih butuh tazkiyyah?. 3. Dawah ilalLh; dakwah di jalan Allah Swt. Asas ini merupakan tahap penyempurnaan. Maksud dari asas ini ialah bagaimana murid bisa mengajak temannya kepada kebaikan. Asas ini tidak harus menunggu pengamalan dua asas sebelumnya, akan tetapi ketiga-tiganya harus bisa dilakukan bersama-sama tanpa mengurangi salah satu pun. Asas dakwah di dalam sekolah bisa dilakukan dengan
JURNAL SKETSA EDISI V 199

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Membina Moralitas Bangsa dengan Manhaj Salaf al-Slih

mengajarkan atau memberi pemahaman kepada teman yang belum faham pelajaran di kelas, saling menasehati antar teman dengan tata cara yang baik dan tidak menyakiti, saling membantu kebutuhan teman dengan segala yang dimilikinya sesuai kemampuan, baik bantuan secara material, fikiran, tenaga, dan sebagaianya, serta menumbuhkan persaudaraan dan sifat saling menyayangi dan menghormati antara teman. Perlu diingat, setiap pemahaman dari ketiga asas ini harus bersih dari sifat-sifat haram. Dengan artian bahwa setiap pembelajaran yang dilakukan pada fase tal alulm, baik secara individu maupun kelompok, tidak dilakukan dengan lawan jenis. Pada fase tazkiyyah al-nufs tidak diperbolehkan seorang murid rendah hati karena bermaksud untuk memikat hati seorang wanita yang disukainya. Begitu juga pada fase dawah ilalLh, tidak diperbolehkan seseorang saling menasehati, saling menyayangi, untuk tujuan merusak moral dan nilai-nilai keislaman di antara mereka. Oleh karena itu, ketiga asas ini saling berkaitan satu sama lain. Tidak boleh seseorang mementingkan asas tal alulm dan menafikan dawah ilalLh, atau asas tazkiyyah alnufs akan tetapi mendisfungsikan tal al-ulm, begitu pula asas dawah ilalLh dan melupakan tazkiyyah al-nufs 3. Jadi, keberadaan ketiga asas ini di dalam manhaj pembinaan moral akan mewujudkan kemaslahatan yang merata dengan penerapan moral yang baik dan Islami. Manhaj Salaf al-li dalam Membina Moralitas Bangsa Implementasi Manhaj Salaf al-li harus berada dalam program pendidikan, baik lembaga pendidikan umum maupun lembaga pendidikan agama. Adapun penerapannya harus dibagi sebagaimana ketiga asas di atas, yaitu: 1. Tal al-Ulm Seorang pengajar terlebih dahulu harus memberikan materi keagamaan yang mendasar yang wajib diketahui oleh setiap pelajar Muslim, seperti Ilmu Tauhid, Fikih, Hadits, Akhlak, 200
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Membina Moralitas Bangsa dengan Manhaj Salaf al-Slih

Sejarah, dan lain sebagainya. Dari beberapa ilmu tersebut para murid diharuskan memahami betul terhadap tujuan mempelajarinya, lalu mempraktikkannya di lingkungan sekolah, seperti rukum iman, tata cara salat dan praktiknya, membaca al-Quran, puasa dan kewajiban-kewajiban lainnya, hukum haid dan nifas bagi perempuan, mamahami perjalan hidup Rasulullah Saw. dan sebagainya.

Para pengajar juga harus menanamkan kepada para murid pentingnya niat mencari ilmu. Bahwasanya ilmu yang dituntut sekarang tidak lain untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari rida-Nya. Sedangkan ilmu umum diniatkan untuk membantu kemaslahatan Muslimin dan membentengi diri dari kerusakan yang akan timbul di tengah masyarakat.
Pengajar juga menertibkan pelajaran-pelajaran umum bagi mudrid-muridnya dan meminta mereka menguasai materi yang diajarkan, seperti Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Antropologi, Sosiologi, dan lain sebagainya; mengadakan diskusi kelompok di antara mereka, menambah les-les khusus di luar waktu pelajaran dengan tetap menghindari bercampurnya lawan jenis dan hal-hal haram lainnya. Pihak pelajar juga harus memiliki kompetensi ilmu yang memadai, sehingga ketika dibutuhkan oleh masyarakat, ia siap dengan ilmu yang dimilikinya. Begitu pula harus mengajarkannya kepada keluarga, kerabat, terutama ilmuilmu agama yang sudah dikuasainya, dengan tetap bersikap tawu dan menjaga akhlak yang baik, tutur kata yang tidak menyinggung, dan peneladanan diri di hadapan mereka

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

JURNAL SKETSA EDISI V 201

Membina Moralitas Bangsa dengan Manhaj Salaf al-Slih

dengan moral yang diharapkan oleh bangsa. Maka, apabila pelajar sudah bisa menerapkan ini, berarti ia sudah mempraktikkan ketiga manhaj yang saling berkaitan dan daling melengkapi tersebut. 2. Tazkiyyah al-Nufs Langkah awal pengajar menerapkan asas ini harus dimulai dari diri sendiri. Di samping itu, seluruh perangkat sekolah mulai dari kepala sekolah, wakil, hingga pembantu umum dan tukang kebun harus dibekali dengan tazkiyyah. Karena, lingkunganlah yang menciptakan moral dan karakter seseorang. Jika perangkat sekolah ikut serta dalam penanganan moral siswa, niscaya perubahan signifikan akan tumbuh dari mereka. Ibaratnya adalah memindahkan gunung, apabila yang memindahkan adalah banyak orang serta kuatkuat, pasti pekerjaan tersebut tidak terasa berat dan akan cepat terselesaikan. Pembekalan tazkiyyah bisa dilakukan dengan mendatangkan ulama dari luar untuk memberikan siraman rohani kepada semua penduduk sekolah. Tazkiyyah juga bisa dilakukan ketika pelajaran berlangsung, yaitu sengan menyisipkan kisah teladan Rasulullah atau orang-orang saleh dengan akhlak yang mudah ditiru oleh setiap siswa. Dari sisi lain, Bimibingan Konseling (BK) yang ada di sekolah bisa difungsikan secara maksimal. Petugas BK bisa memberikan solusi kepada setiap anak yang bermasalah dengan terapi psikis dan ajaran-ajaran Islam. Peran kepala sekolah juga sangat berpengaruh di dalam tugas ini. Ia bisa menertibkan salat dzuhur berjamaah di sekolah, puasa setiap hari Senin dan Kamis, menyediakan kotak amal, dan menyarankan anak didiknya untuk gemar bersedekah meskipun sedikit. Semua peraturan baru tersebut sebelumnya bisa dijelaskan oleh para pengajar perihal keutamaannya, pahalanya di dunia dan di akhirat, dan juga mengenai kisah-kisah orang yang terbiasa mengamalkan ibadah tersebut. 202
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Membina Moralitas Bangsa dengan Manhaj Salaf al-Slih

Pembantu umum sekolah juga hendaknya ikut berperan aktif dalam tugas ini. Ia bisa berpartisipasi dalam memasang doa-doa sehari-hari, seperti memasang doa masuk kamar mandi dan adab-adab yang berkaitan dengannya di depan pintu masuk kamar mandi; memasang doa makan dan adab-adabnya di kantin sekolah; memasang anjuran kebersihan dengan hadits-hadits nabi di kebun dan halaman sekolah, dan lain sebagainya. Selain itu, hendaknya pengajar juga menanamkan dalam sanubari anak didiknya untuk menerapkan moral-moral tersebut di luar sekolah, baik di rumah maupun di lingkungan masyarakat, serta megajak orang lain untuk membiasakan sunnah-sunnah nabi sebagaimana yang diajarkan di sekolah. 3. Dawah ilalLh Tahapan ini dalah penanaman moral dan menumbuhkannya di lingkungan sekitar. Para siswa diharapkan mengajak teman-temannya untuk saling menumbuhkan persaudaraan karena Allah. Para siswa juga dikenalkan akan pentingnya tolong-menolong antar sesama, sehingga mereka bisa menolong dari segi materi, pikiran, tenaga, dan bantuan-bantuan lainnya sesuai dengan kemampuannya. Siswa juga dianjurkan untuk saling berbagi pemahaman kepada temannya yang belum paham, saling menasehati antar sesama, saling memberi semangat agar tercapai apa yang dicita-citakannya. Apabila keberadaan seorang siswa di dalam sekolah saja sudah bermanfaat bagi yang lain, bagaimana jika nanti ia terjun di masyarakat?, bagaimana pula jika siswa yang bermanfaat itu bukan hanya satu siswa saja, melainkan banyak siswa?, tentu pembinaan moral di masyarakat lambat laun mulai merata. Hal ini juga membutuhkan teladan dari para siswa dan kompetensi ilmu yang memadai pada diri mereka. Sehingga, pensucian jiwa yang teraplikasikan dan semangat menyebarkan moral ala Nabi Saw. di masyarakat semakin meningkat.
JURNAL SKETSA EDISI V 203

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Membina Moralitas Bangsa dengan Manhaj Salaf al-Slih

Maka, bumi pertiwi akan bangkit dari dekadensi dan krisis moral. Budaya westernisme tidak lagi berani mengepakkan sayapnya di sana, kemajuan IPTEK tidak lagi disalahgunakan, pemikiran-pemikiran yang merusak moral tiada lagi didengar. Hingga menjadilah nusantara yang penuh dengan sunnah-sunnah nabi, dan penerapan perangai orangorang saleh, serta moral yang baik yang sesuai dengan alQuran dan Hadits Nabi Saw. *****

BAB III PENUTUP


1. Degradasi moral yang menimpa Bangsa Indonesia dilatarbelakangi oleh pelbagai aspek. Salah satunya adalah pendidikan yang merupakan ajang penanaman moral dan pengaplikasiannya di masyarakat sekitar. Implementasi moral yang ada kebanyakan mengadopsi dari budaya-budaya Barat dan pemikiran-pemikiran yang menyimpang yang tidak sesuai dengan syariat Allah dan Rasul-Nya. 2. Program pembinaan moral bisa dilakukan dengan pelbagai cara, salah satunya ialah dengan Manhaj Salaf al-li yang bertopang kepada tiga asas penting: tal al-ulm, tazkiyyah al-nufs, dan dawah ilalLh yang kesemuanya bersumber dari al-Quran, sunnah Rasul dan perangai ulama. 3. Remaja adalah perangkat negara paling penting yang sangat berpengaruh terhadap pelbagai aspek kehidupan. Kemaslahatan mereka adalah kemaslahatan umat Islam pada khususnya, dan kemaslahatan manusia pada umumnya. Maka, pembinaan moral remaja sangat diharapkan oleh semua lapisan masyarakat di Indonesia. ***** 204
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Membina Moralitas Bangsa dengan Manhaj Salaf al-Slih

END NOTE
1. Al-Mujam al-Was, h. 997. 2. Tufah al-Murd, h. 104. 3. Tawjiht al-Thullb, h. 10. *****

REFERENSI
1. Al-Bayjriy, Ibrhm ibn Muammad. 2007. Tufah al-Murd Syar Jawhar al-Tawd. Beirut-Lebanon: Dr al-Kutub al-Ilmiyyah. 2. Al-Zayyt, Amad asan, dkk. Al-Mujam alWas. Kairo-Mesir. 3. Ibn fidz, Umar ibn Muammad ibn Slim. 2003. Tawjiht al-Thullb il Ass al-Hud wa al-awwb. Sanaa-Yemen: al-Nr. *****

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

JURNAL SKETSA EDISI V 205

THE GIGANTIC POWER OF HUMAN MORALITY


Rekonstruksi Ringan Moral Agung Sang Teldan
Oleh: A.Y.M. Qolyubi

Moral bukanlah hal yang remeh dalam pembangunan karakter suatu bangsa. Rasulullah Saw., sebagai punggawa Islam yang mengajari pelbagai hal yang berhubungan dengan kehidupan manusia, tidak diragukan lagi merupakan kekuatan terbesar dalam pembangunan moral bangsa. Sejarah dan realitalah yang selama ini membuktikan hal itu. Hanya saja, kita, kaum Muslim khususnya, kadang lupa akan kekuatan besar itu. Banyak dari kalangan Muslim terlena dengan kemegahan dan kemajuan materi yang digaungkan Barat di seluruh penjuru dunia. Untuk itu, perlu adanya sebuah tindak rekonstruksi terhadap "The Gigantic Power of Human Morality" yang berpijar dari sosok Rasulullah Saw., meski hanya dengan langkah ringan seperti yang akan Anda baca dalam tulisan ini. .

*****

206

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

The Gigantic Power of Human Morality

BAB I PENDAHULUAN
A. Sekilas tentang "The Gigantic Power of Human Morality". Lakon kata kita dalam bahasan ringkas ini adalah kata "human morality". Siapa yang tak kenal kata moral?. Pastinya istilah ringan ini tak asing lagi di benak khalayak umum. Khususnya bagi para pemerhati masyarakat, istilah ini selalu saja menjadi frame istimewa di sela-sela dialog mereka. Tanpa berpanjang lebar mengapur-sirih kajian ini, langsung saja penulis akan menjelaskan secara singkat apa maksud dari "The Gigantic Power of Human Morality". The gigantic power, what is it?. Secara linguistik dan paham bebas, the gigantic power berarti sebuah kekuatan raksasa yang agung dan majemuk. Sepertinya arti di atas cukup mewakili makna yang terbesit di ruang pikir kita. Yang agak mangacak halusinasi benak kita adalah sinkronisasi kekuatan agung itu dengan kata human morality. Tak perlu berbelit! Dari judul "The Gigantic Power of Human Morality" tersebut, penulis hanya ingin mengangkat sebuah domain foam yang berupa kekuatan moral terbesar yang telah mercusuar selama berabad-abad dari kepribadian sosok agung panutan kita. Kepribadian sosok istimewa yang diakui dunia sebagai manusia paling berpengaruh di sepanjang zaman. Kepribadian sosok hebat yang dipercaya Tuhan semesta alam untuk membawa risalahNya untuk umat manusia di antero bumi raya. Siapa lagi kalau bukan junjungan kita, Nabi Muhammad Saw., seorang hamba yang telah dipuji Tuhan dalam kitab suci-Nya: "Sesungguhnya kamu benar-benar mempunyai akhlaq yang agung". Diakui atau tak diakui, Mahaguru kita inilah yang telah Tuhan ciptakan sebagai "The Gigantic Power of Human Morality" untuk imperium Tuhan di jagad alam. Realita dan
JURNAL SKETSA EDISI V 207

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

The Gigantic Power of Human Morality

sejarahlah yang telah bersua banyak tentang eksistensi dan kevalidannya. B. Tujuan Dalam rangka berikut serta dalam mensukseskan peningkatan kreativitas anak bangsa di bumi rantau, Yaman, kajian minimalis ini penulis ikut sertakan dalam Olimpiade Karya Tulis Ilmiah 2012 yang diadakan oleh PPI Yaman bekerja sama dengan KBRI Sanaa. Adapun tujuan khususnya, dengan menilik muatannya, karya tulis singkat ini ditujukan untuk sebuah rangsangan ringan terhadap kepekaan para Muslim untuk mengkaji dan mengimplementasi moral atau akhlaq dan pekerti luhur Rasulullah Saw., untuk sebuah harapan berupa pembangunan masyarakat madani yang rabbniy; untuk kaum Muslim khususnya, dan seluruh rakyat Indonesia pada umumnya. C. Metode Pengumpulan Data Data didapat dari pelbagai sumber ilmu dan pustaka yang telah dikaji. D. Metode Pengolahan Data Adapun data-data yang telah dipertimbangkan dan dikaji, akan diolah dan dikupas secara kolektif dan subjektif dengan mengedepankan penerapan sistem valid and suitable matching ke dalam racikan karya tulis sederhana ini. Yaitu dengan mengklarifikasikan doving-nya menjadi beberapa poin besar sebagai berikut: 1) Bab I, pendahuluan; berisi tentang uraian judul, tujuan, penulisan, metode pencarian data dan metode pengolahan data serta penerapannya 2) Bab II, pembahasan; berisi tiga garis besar yang tersurat dari tema bahasan, yaitu, gerbang epistemologi moral, bincang moral secara umum, 208
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

The Gigantic Power of Human Morality

gloriousnotes kepribadian serta perangai the gigantic power of morality, dan problem shooting moral Indonesia. 3) Bab IV, penutup; berisi butir-butir intisari dan simpulan, serta pesan peleraian. *****

BAB II PEMBAHASAN
A. Gerbang Epstimologi Terminologi Moral Untuk mempermudah dan memperhalus penyampaian uraian dari kajian ini, penulis pertama kali memilih tapak pengenalan kata moral secara spesifiknya. Karena, bagaimanapun, untuk menyelam ke sebuah pembahasan, epistemologi bahasan tersebut merupakan sesuatu yang tak bisa dielakkan dan diabaikan. Gerbang epistemologi moral kali ini akan kita petakan dengan mengedepankan definisi, kemudian faktor-faktor pendorongnya, baru selanjutnya kita bahas nilai serta harga dari moral itu sendiri sebagai penyempurna. 1. Definisi Moral Moral, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ajaran baik atau buruk yg diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan sebagainya. Dalam istilah lain, moral bisa pula diartikan akhlak, budi pekerti dan susila. Selanjutnya, definisi akhlak menurut bahasa Arab adalah suatu perilaku atau perangai yang menempel di kepribadian seseorang, yang dengan perangai itu seseorang tersebut mampu melakukannya tanpa beban dan sikap dibuat-buat. Dari definisi linguistik di atas bisa dikatakan bahwa dua kata tersebut memiliki satu makna. Hanya dalam penggunaan saja
JURNAL SKETSA EDISI V 209

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

The Gigantic Power of Human Morality

yang kadang berbeda. Dalam agama Islam, akhlak atau moral merupakan suatu objek bahasan pokok yang sangat diperhatikan dan mempunyai tingkat urgensi yang tinggi. Bahkan bisa dikatakan bahwa agama Islam sendiri secara utuh sejatinya merupakan ajaran yang berisi tarbiyyah rabbniyyah nabawiyyah bagi pemeluknya untuk mampu pandai berpekerti di hadapan Tuhan, sesama manusia dan makhluk lain. 2. Faktor-Faktor yang Mendukung Epistemologisasi Moral Moral atau yang biasa disebut akhlak dalam kajian Islam, merupakan suatu unsur maknawi yang akan muncul dari seorang individu dengan adanya faktor-faktor pendukung yang secara semi-transparan mendorong terwujudnya penilaian tertentu. Secara garis besar faktor-faktor itu bisa dikategorikan menjadi dua, yaitu: pertama adalah faktor intrinsik yang terdiri dari faktor keturunan, faktor penyakit, faktor kemampuan berpikir dan faktor yang timbul dari mengkonsumsi bahan beralkohol atau obat-obat terlarang, seperti yang banyak ditulis para ilmuwan. Kemudian faktor kedua adalah faktor ekstrinsik. Secara umum dalam tulisantulisan para cendikiawan modern, bahasan ini banyak dilangsir untuk memaparkan faktor-faktor pendukung seseorang untuk melakukan perbuatan kriminal. Untuk lebih detailnya, mari kita lihat poin-poin di bawah ini: Faktor alam yang mencakup faktor suhu, iklim dan kadar kemajuan daerah di mana seseorang bertempat tinggal. Faktor sosial yang mencakup faktor dari keluarga, tempat pendidikan, tempat bekerja dan faktor dari suku yang berhubungan dengan si individu. Faktor ekonomi yang mencakup faktor kefakiran, faktor kekayaan yang berlimpah dan faktor ketidakstabilan ekonomi seseorang. Faktor budaya dan peradaban yang mencakup faktor 210
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

The Gigantic Power of Human Morality

pendidikan dalam ilmu dan pengetahuan (secara mendalam) dan faktor media massa. Selanjutnya, berpijak di atas faktor-faktor tersebut, jika muncul tindak-tanduk yang negatif menurut tatanan moral dalam suatu komunitas, maka hal itu akan cepat menjalar, pastinya. Dari situ muncul eksistensi struktur moralitas. Dalam agama Islam sendiri banyak para cendikiawannya yang membahas permasalahan ini. Bahkan sejak awal mula penyebaran Islam, di tangan Rasulullah Saw. pun hal ini telah banyak dibahas dalam sabda-sabda beliau maupun dalam ayat-ayat al-Quran secara nonspesifik. 3. Nilai Moralitas Setiap individu manusia sebenarnya menyadari bahwa moralitas mempunyai harga yang sangat tinggi nilainya. Hanya saja sebagai makhluk yang telah dicap Tuhan sebagai makhluk yang lemah dan banyak salah, manusia tak mampu lepas dari kesalahan yang bisa jadi masuk dalam danger area dalam kamus moralitas. Dari sini tingkat moralitas individu satu dengan yang lain akan bisa dibedakan dengan akhlak atau moral yang tampak dari keduanya. Begitu pula tingkat moralitas dari satu keluarga ke keluarga lain, dan pula antara komunitas masyarakat yang satu dengan yang lainnya. Melalui paparan di atas, kita mampu menarik benang merah yang mendeskripsikan nilai moralitas di mata para pengamat, baik itu bagi individu, keluarga atau masyarakat besar. Karena bagaimanapun, penilaian moral sangatlah berperan besar dalam kesuksesan seorang individu atau suatu kelompok dalam bersosialisasi dan membangun diri. B. Kupas-Bincang 'Human Morality' Lorong pembahasan yang ini akan penulis isi dengan realita kehidupan bermoral yang telah terekam sejarah kemanusiaan. Penahapannya akan penulis bagi menjadi tiga skuad, yaitu era pra-Islam, era permulaan Islam dan era masakini.
JURNAL SKETSA EDISI V 211

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

The Gigantic Power of Human Morality

1. Era Pra-Islam Sebenarnya nilai-nilai moralitas merupakan salah satu unsur inti kemanusiaan sejak penciptaannya yang pertama. Manusia dicipta dengan dibekali otak untuk berpikir, hati untuk merasa dan nafsu untuk berkehendak dalam melakukan apapun. Dalam diri manusia pula terdapat suara kebaikan dan suara keburukan. Dua kubu suara inilah yang akan mengiring setiap individu untuk beradab, bermoral dan berakhlak, atau sebaliknya. Sejarah banyak merekam banyak peradaban negerinegeri berkedaulatan yang pada masa lampau berdiri dan berkuasa. Seperti negeri Yunani kuno, Romawi, Mesir kuno, negeri-negeri di wilayah Babilonia, China, atau bahkan negeri-negeri atau kerajaan-kerajaan berdaulat yang dulu pernah berdiri di Tanah Air, serta negeri-negeri lain yang pernah ada di muka bumi. Kesemua negeri itu bisa dipastikan mempunyai peradaban dan titik-titik moral yang dihargai dan dihormati. Karena kehidupan manusia tak pernah lepas dari eksistensi moral dalam bersosialisasi. Nilai-nilai besar moralitas mereka bisa dibaca dari adanya undang-undang kehidupan atau event-event keramat dan kebangsaan yang ditemukan di prasasti-prasasti atau manuskrip-manuskrip kuno mereka. Seperti undang-undang perkawinan, undang-undang berkeluarga, undang-undang kepemimpinan, undang-undang kehakiman dan lain sebagainya. Ini adalah materi kuat yang membuktikan bahwa setiap individu manusia memang telah dibekali unsur atau muatan yang memang disiapkan Tuhan untuk kehidupan bermoral mereka. 2. Era Permulaan Islam Periode ini adalah periode gemilang di sejarah moralitas. Dengan dimulai dari keberadaan Rasulullah Saw., periode ini benar-benar kentara kegemilangannya. Hal ini terlihat gamblang dalam metamorfosa kaum Arab yang 212
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

The Gigantic Power of Human Morality

sebelumnya terkenal dengan keluguan, keamoralan, kecerobohan dan kekacauan pikirnya menjadi kaum yang berperadaban, bermoral tinggi, berketuhanan agung dan berkedaulatan familiar secara perlahan dan hampir menyeluruh.

Era ini benar-benar menjadi bukti bahwa Rasulullah Saw. adalah manusia paling berpengaruh di sepanjang sejarah yang telah membawa kaum Arab dari kejahiliyahan menuju paradaban dan kehidupan bermoral yang tinggi dan agung.
2. Era Masa Kini Setelah menyebar secara besar-besaran di segala penjuru dunia, ajaran Islam yang bermoral tinggi ini banyak mengalami kemerosotan dalam pengimplementasian para pemeluknya terhadap nilai-nilai bermoral dan beragamanya. Rasulullah Saw. pernah bersabda: "Sebaik-baik kurun waktu adalah kurun waktuku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya." Hadits tersebut menyimpan makna degradasi di setiap kurun waktu. Realita masa demi masa hingga masa ini telah membenarkan sabda Rasulullah Saw. tersebut. Kehidupan bermoral para Muslim khususnya, telah mengalami kemerosotan yang sangat besar. Hingga suatu saat Rasulullah Saw. menganalogikan Muslim yang berpegang teguh dengan agamanya pada masa ini seperti seseorang yang menahan perih dari memegang bara yang menganga. C. Gloriousnotes tentang Kepribadian 'The Gigantic Power of Morality' Berkaitan dengan bahasan ini, buah-buah pikiran Dr. Muhammad Syafii Antonio M.Ec. dalam buku hebatnya yang

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

JURNAL SKETSA EDISI V 213

The Gigantic Power of Human Morality

berjudul "Muhammad Saw. The Super Leader The Super Manager" sangat baik untuk dibaca oleh seluruh kalangan masyarakat Indonesia. Penulis sangat setuju dengan pernyataannya pada pembukaan buku tersebut, bahwasannya masyarakat dunia kian hari kian mengalami 'krisis keteladanan' yang bisa dikatakan lebih bahaya dari krisis-krisis materi. Kemudian ia menganalogkan krisis keteladanan tersebut dengan mengategorikan dua kubu, yaitu kubu Muslim dan Orientalis. Analogi itu mengatakan bahwa kita, kaum Muslim, selama ini telah terserang penyakit mata rabun dekat dan kaum Orientalis telah terserang penyakit rabun jauh dengan adanya krisis keteladanan atau kebutaan mereka terhadap teladan istimewa yang berada di kepribadian Rasulullah Saw. Tak diragukan lagi, pastinya bahasan tentang kepribadian beliau sangatlah banyak ditemukan di pelbagai sumber pustaka. Buah-buah karya para sejarawan dan cendikiawan sungguh sangat dan sangat banyak. Bagaimana beliau berakhlak sebagai seorang teladan, bagaimana beliau berakhlak sebagai panglima, pemimpin negara, panglima perang, sebagai orang kaya, sebagai orang sederhana, bahkan sebagai seorang suami dan kepala keluarga. Semua hal tentang nilai moral tertinggi kemanusiaan ada di dalam diri Rasulullah Saw. Jikapun tak ditemukan secara terperinci, maka sesungguhnya beliau bisa dipastikan telah menyampaikan pangkalan ide moralnya. Dari moral tulus yang muncul dari diri beliau, tak ayal jika musuh dan mereka yang tak sejalan akidah dengan beliau pun begitu tertegun dengan kepribadiannya. Pernyataanpernyataan mereka banyak direkam sejarah, baik yang diungkapkan mereka yang sezaman dengan beliau ataupun yang berada di era-era akhir ini, baik dari bangsa Arab sendiri, ataupun bangsa asing. Ya, dalam banyak sumber pustaka asing sangat banyak pula ditemukan pengakuan itu.

214

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

The Gigantic Power of Human Morality

Seperti apa yang diungkapkan George Bernand Show yang intinya menyatakan, jika ada seseorang seperti Muhammad Saw. di era modern ini, maka ia akan sukses membawa keberhasilan dengan tidak mengesampingkan kedamaian dan kesejahteraan dunia.
Seperti pula Lamaratine (1854),William Hocking, Prof. K. S. Ramakhrisna Rao, Mahatma Gandhi (1922) dan lain sebagainya. Dan satu sirine yang paling eksotis adalah apa yang telah dilakukan oleh M. H. Hart (1978) yang telah memilih sosok Rasulullah Saw. sebagai tokoh rangking pertama paling berpengaruh di sepanjang sejarah. Jika para ahli ESQ mengidentifikasi kecerdasankecerdasan jitu yang berada di dalam diri manusia, maka tak diragukan lagi Rasulullah Saw. dengan kesempurnaan jasmani dan rohaninya, memiliki keistimewaan kecerdasan-kecerdasan itu secara sempurna. Kecerdasan berbahasa, pendengaran, musikal dan irama, seni ketrampilan, matematik, berpikir, berlaga, berniaga, kecerdasan membangun komunitas, pula kecerdasan moral pastinya beserta kecerdasan-kecerdasan lain yang tak dimiliki manusia biasa, semuanya ada di dalam diri Rasulullah Saw. Kesempurnaan jasmani dan rohani yang ada pada dirinya lebih dari sekedar penyatuan dari kecerdasan intelektual, spiritual dan emosional. Semoga jiwa kita yang masih sangat kotor ini selalu diberi tawfiq untuk mencintai dan mengikuti teladan kita yang sesempurna itu. Karena, beliau tidak dicipta sesempurna itu dan tak diutus untuk seluruh manusia kecuali untuk sebuah hikmah yang berupa teladan dan panutan dalam menjalani kemanusiaan. Poin-poin di atas mengabarkan kepada kita bahwa sesungguhnya Rasulullah Saw. benar-benar diutus oleh Allah Swt. sebagai rahmatan li al-lamn atau kerahmatan untuk penduduk semesta. Bahwa beliaulah teladan terbesar untuk
JURNAL SKETSA EDISI V 215

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

The Gigantic Power of Human Morality

kemanusiaan dalam beragama, bermoral dan bersosial. Bahwa beliaulah the gigantic power of human morality yang menuntun setiap individu untuk membangun diri, keluarga dan masyarakatnya. Bahwa beliau benar-benar diutus untuk menyempurnakan moralitas yang sebenarnya telah ada sebelumnya di jiwa kemanusiaan. D. Problem Shooting Moral Indonesia Indonesia, negeri tercinta kita adalah negara yang mempunyai penduduk Muslim terbesar di dunia. Gaun reliji ini yang kadang dipertanyakan banyak kalangan. Negeri yang terletak jauh dari munculnya Islam secara geografis dan sosiologisnya mampu mempertahankan eksistensi agama samawi ini dengan baik. Selain itu, negeri kita dalam banyak dialog para bangsa sangat dielu-elukan sebagai negeri Muslim yang bertoleransi tinggi. Yang sangat disayangkan, seperti halnya negerinegeri Muslim yang lain, moral negeri kita bisa dikatakan sangat rusak dan sangat tidak reliji. Ya, secara akidah, hingga saat ini, pemeluk Islam masih mendominasi Tanah Air. Tapi, moral dan nilai-nilai agama, bahkan adat ketimuran Indonesia bisa dikatakan telah luntur dihegemoni pengaruh globalisasi dan westernisasi. Siapa yang salah? Bukan waktunya menyalahkan siapa-siapa. Hanya saja negeri kita butuh proses pendewasaan kembali dalam membangun mental dan moral bangsa, baik secara reliji atau secara tradisi. Pendewasaan itu perlu dipahami setiap individu yang ada, bahwa agama bukan hanya sekedar hiasan KTP. Kita harus mulai sadar bahwa kita punya kepribadian serta karakter ketimuran dan keislaman. Tak ada manusia di bumi ini yang sempurna dan tak lepas dari tindak salah dosa. Setiap individu harus mempunyai rasa saling memahami dan melengkapi dengan berbekal kedewasaan dengan berusaha memulai dari diri sendiri. 216
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

The Gigantic Power of Human Morality

Memang sulit merubah peradaban atau moralitas suatu bangsa. Tapi apakah kita tak mencoba menilik sejarah junjungan dan teladan kita Nabi Muhammad Saw. Beliau mampu membawa kaum Arab yang lusuh dan rusak untuk menang atas kaum Romawi, kaum Persi dan kaum-kaum besar lainnya hanya dengan satu bekal. Apa itu? Keyakinan! Ya, keyakinan yang diultimatumkan oleh Tuhan dan dimandatkan kepada insan pilihannya itu. Keyakinan yang sarat makna dan nilai-nilai moral dan peradaban. Memang terlihat mustahil sepertinya memperbaiki moral bangsa kita. Segala praktek prostitusi mulai dari bidang kenegaraan seperti KKN dan sebagainya, bidang kebudayaan yang tertampil dalam media massa dan komunikasi, bahkan dalam bidang agama. Tapi, apakah kita tak yakin dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah Saw. dari nilai-nilai pembangunan moral itu, dan kita lebih yakin dari gembar-gembor Barat yang penuh dengan politik dan makar itu?. Jawabannya ada di tangan kita masing-masing. Sedikitdemi sedikit pasti kita bisa berubah selagi kita maju bersama saling mendukung, menguatkan dan bergandeng tangan. Indonesia punya segalanya. Tapi ketika moral penduduknya rusak, ia tak akan pernah bisa bangkit. Karena moralitas mempunyai dampak dan pengaruh besar terhadap pembangunan suatu komunitas. Rusaknya moral bisa merusak cara pikir, merusak stabilitas sosial, ekonomi, peradaban dan aspek-aspek kehidupan berbangsa lainnya. Memang Rasulullah Saw. pernah bersabda bahwa zaman, kian bertambah akan kian rusak. Tapi bukankah tak menutup kemungkinan bahwa Indonesia bisa berubah lebih baik. Jika zaman kita saat ini telah rusak moral, kita masih akan mempunyai anak cucu yang meneruskan kehidupan. Jikalau rusak saat ini tak ada yang peduli, seberapa rusakkah nanti anak cucu kita?!. Kita masih punya harapan bahwa anak-cucu kita nanti akan lebih baik dan akan mendoakan kita di masa hidup dan mati kita. Dalam al-Quran Allah Swt. berfirman:
JURNAL SKETSA EDISI V 217

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

The Gigantic Power of Human Morality

"Sesungguhnya Allah tak akan merubah ihwal suatu kaum hingga mereka mau berusaha merubah diri mereka terlebih dahulu" (QS. Al-Radu: 11). *****

BAB III PENUTUP


Dalam penutupan tulisan ini, penulis akan mengangkat dua pasal. Yang pertama intisari tulisan dan simpulan singkat, kemudian yang kedua pesan peleraian. Pastinya, penulis menulis tulisan ini sebagai langkah menasehati diri sendiri yang masih sangat perlu banyak belajar moral, untuk kali pertamanya. Selanjutnya sebagai ajakan bagi rekan pembaca sekalian. Jika ada sesuatu yang bermanfaat dan bisa diambil ibrah, maka sesungguhnya itu dari Allah Swt. Dan jika masih ada banyak kejanggalan, maka sesungguhnya itu adalah dari kebodohan penulis. Adapun langkah terperinci penulisan dua pasal tersebut sebagai berikut: A. Butir-Butir Intisari dan Simpulan 1. The Gigantic Power of Human morality adalah Rasulullah Saw. 2. Rasulullah Saw. adalah teladan terbesar kehidupan berindividu, berkeluarga, bermasyarakat dan berbangsa. 3. Moralitas mempunyai peran besar dalam menentukan bagus dan rusaknya sebuah negara. 4. Dalam penciptaan diri setiap individu manusia, sebenarnya telah ada perbekalan perangai bermoral dan berperadaban. 5. Islam datang sebagai penyempurna moralitas. 6. Indonesia masih bisa berubah menjadi lebih baik jika 218
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

The Gigantic Power of Human Morality

setiap individu merasa ingin berbenah diri, saling menopang dan melengkapi. B. Pesan Peleraian 1. Pengenalan sejarah hidup Rasulullah Saw. kepada masyarakat luas adalah merupakan sesuatu yang sangat diharapkan dalam kehidupan berbangsa rakyat Indonesia. 2. Penduduk Indonesia, khususnya kaum Muslim, harus mulai berusaha sekuat tenaga untuk bersama-sama kembali ke teladan kita yang terbesar, yaitu Rasulullah Saw. untuk menjalani pelbagai bidang kehidupan dan menetralisir budaya yang merusak secara bertahap. 3. Rasulullah Saw. memang sosok yang luar biasa. Hal ini bukan berarti kita tidak bisa sama sekali menirunya. Justru sebaliknya beliau adalah tolok ukur kita untuk selalu berusaha berbenah diri secara bertahap.

REFERENSI
1. Al-Quran 2. Al-Syarafiy, liy asan. Ilm al-Ijrm wa al-Iqb. Sanaa: Fak. Syariah & Hukum. 3. Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Bahasa Indonesia . Jakar ta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 4. Katsr, Ibn. Tafsir Ibn Katsr. Syameela Book II. 5. Ramakhrisna, K.S. 1989. Muhammad the Prophet of Islam. TK: World Assembly of Moslem Youth. 6. Antonio, Muhammad Syafii. 2009. Muhammad Saw. the Super Leader the Super Manager. Jakarta: ProLM Centre & Tazkia Publishing. 7. Shaw, George Bernand. 1936. The Genuine Islam. Singapore. Vol. 1. No. 8. 1934. *****
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

JURNAL SKETSA EDISI V 219

220

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Jurnal

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

SKETSA

Edisi V

wacana eksKlusif

p p

Wawancara dengan Anggota Komisi 1 DPR RI Ir. H. Muhammad Najib M.Sc.


Tantangan dan Peran Pelajar Timur Tengah, serta Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia

Wawancara dengan Dekan Fakultas Syariah wa al-Qonun Universitas al-Ahgaff Yaman, Dr. Sayyid Muhammad Abdul Qadir al-Idrus
Falsafah Jihad Moderat dan Hakikat Terorisme

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

JURNAL SKETSA EDISI V 221

Wawancara bersama:

Ir. H. Muhammad Najib M.Sc.


(Anggota Komisi 1 DPR RI)

Tantangan dan Peran Pelajar Timur Tengah


serta Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia
Reporter: Amir Fiqih al-Qadafi & Muhammad Roby Uzt

Sebagai pelajar yang memiliki kedudukan lebih di mata masyarakat, tentunya menjadi kewajiban untuk memikirkan kembali siapa sejatinya dirinya dan apa tugas serta amanat yang diembannya dalam meniti karir sebagai khalifah di bumi dan dalam berkontribusi untuk berkhidmat kepada negaranya. Tak jarang masyarakat memandang bahwa para pelajar yang menimba ilmu di Timur Tengah itu sebagai insan elit yang diharapkan tidak mengecewakan ketika ditokohkan nanti. Terlebih, melihat fenomena bahwa Indonesia merupakan negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia, maka sudah barang tentu jika mereka memiliki segudang tugas dan tantangan untuk terus mempertahankan predikat mulia tersebut, sekaligus menjunjung tinggi keutuhan nusantara tercinta. Tak dapat dipungkiri bahwa banyak tokoh-tokoh dari Tanah Air yang mempunyai pengaruh besar dalam mewarnai peradaban Islam, terkhusus bagi negaranya sendiri, baik dari masa prakemerdekaan seperti Imam Nawawi al-Banteni dan Syaikh Yasin al-Fadani, masa detik-detik kemerdekaan seperti KH. Hasyim Asyari, KH. Ahmad Dahlan dan Bung Syahrir, dan masa kemerdekaan seperti Moch. Nasir, Buya Hamka, 222

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Tantangan dan Peran Pelajar Timur Tengah serta Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia

Rasyidi, KH. Dr. Sahal Mahfudz, dan lain-lain. Oleh karenanya, demi meneruskan estafet perjuangan para pendahulu, kita sebagai pelajar yang diberi kesempatan oleh Allah mengenyam pendidikan Islam dari sumbernya secara langsung, harus mempersiapkan diri dari sekarang agar kematangan dan kedewasaan dalam beragama semakin arif dan militan. Berikut ini kami sajikan wawancara bersama Anggota Komisi I DPR RI, Bapak Ir. H. Muhammad Najib, M.Sc., setidaknya agar kita dapat mengerti bersama bagaimana penilain seorang tokoh dalam negeri kepada kita, untuk kemudian dijadikan bahan renungan dan introspeksi diri menuju yang terbaik dalam berkontribusi kepada agama dan negara. Bagimana perasaan dan kesan Bapak sebelum dan setelah melihat kondisi Yaman? Yang pertama, Yaman ini sebetulnya negara yang telah lama ingin saya kunjungi, tapi tak kunjung mendapatkan kesempatan. Hampir Negara Timur Tengah telah saya kunjungi, bahkan di antaranya lebih dari sekali. Hampir semua Negara Eropa dan Amerika telah saya kunjungi. Tapi, Yaman belum juga saya kunjungi. AlamdulilLh, ketika Medco Energy mengundang, pihaknya mengajak dengan harapan agar pelajar yang ada di Yaman bisa lebih mendapatkan perhatian oleh Pemerintah Yaman karena mendapat dukungan dari anggota parlemen. Yang kedua, saya surprise melihat kondisi Negara Yaman yang sangat tertinggal dibanding negara lain. Seperti bandaranya yang masih jauh dari harapan international. Saya juga berkunjung ke Darul Mustafa Tarim, di sana saya bisa merasakan rumah-rumah penduduk yang sangat sederhana dengan temperature suhu yang begitu panas dan infrastruktur yang masih dalam tahap penyelesaian. Tapi, dari segi dan kualitas pendidikan itu bisa jadi relasi, saya yakin
JURNAL SKETSA EDISI V 223

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Tantangan dan Peran Pelajar Timur Tengah serta Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia

pembentukan mental dan karakter orang-orang yang datang ke sini sudah teruji, karena menghadapi kehidupan dengan melakukan perjuangan, baik yang sifatnya pribadi untuk menggapai cita-cita maupun sifatya li al-ummah. Dalam pengertian yang lebih luas, itu memerlukan ketahanan mental, kesiapan untuk menderita. Ini yang sulit didapatkan dari negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, Eropa dan lain-lain. Karena itu, saya berharap agar adik-adik benarbenar mengoptimalkan dimensi itu semaksimal mungkin. Kita ke tema wawancara ya, Pak? Ok! Sebagaimana yang tersebar, bahwa hakikat pelajar itu sebagai agent of change. Nah, menurut pandangan Bapak, bagaimana kami yang belajar di luar negeri bisa menjadi agen perubahan itu? Pertama adalah belajar di luar negeri itu mempunyai nilai lebih daripada di dalam negri. Tentu setiap negara menawarkan kelebihannya masing-masing dan tiap negara juga terdapat kekurangan masing-masing. Saya melihat kalau belajar ke Yaman ini seperti melanjutkan suksesi para ulama kita dalam mengislamkan Indonesia. Nah, permasalahan yang belum tuntas adalah generasi sekarang dan yang akan datang, apalagi dikaitkan dengan tantangan dan tuntutan, tentu memerlukan kreatifitaskreatifitas baru, di samping harus terus melanjutkan. Tetapi, yang ingin saya katakan, kelebihan Yaman, khususnya wilayah Hadhramaut yang dicatat sukses dalam sejarah Indonesia mengenalkan Islam secara damai, sampai sekarang diterima bukan saja oleh seluruh warga Indonesia, bahkan masyarakat dunia juga melihat bahwa Islam itu damai, ramah, dan itu penting sekali untuk dipertahankan. Kalau begitu, secara sederhana, apakah kita perlu belajar 224 JURNAL SKETSA EDISI V

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Tantangan dan Peran Pelajar Timur Tengah serta Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia

ke Timur Tengah, melihat di Indonesia sendiri sudah banyak pesantren dan Perguruan Tinggi Islam? Hemat saya, masing-masing memiliki kelebihan. Tentu di balik itu ada kekurangan juga. Contoh riil yang paling sederhana bisa dilihat bagi mereka yang belajar ke Eropa atau ke Amerika akan lebih fasih dalam Bahasa Inggris dan lebih familiar dengan metodologi-metodologi modern, seperti bagaimana mengoptimalkan komputer, penguasaan kita terhadap materi-materi tertentu. Mereka yang belajar di Barat lebih unggul. Akan tetapi dalam khazanah keislaman sendiri dan juga instrument Bahasa Arab sebagai jembatan untuk menguasai buku-buku keagamaan. Tentu yang belajar di Timur Tengah ini memiliki keunggulan. Karena itu, diharapkan ketika pulang ke Tanah Air nanti akan bisa melahirkan Islam Indonesia, artinya Islam yang sekarang ini bisa diterima oleh masyarakat Indonesia, yakni yang subur dan berkembang untuk kemudian bisa diformulasikan sebagai sekolah. Mungkin berlebihan jika menyebutnya madzhab, ya? Akan tetapi, paling tidak sebagai arqah gitu ya? Ini diharapkan mereka bisa mencoba untuk membangun. Di zaman modern sekarang ini, apa hebatnya Timur Tengah? Yang pertama, tidak bisa dipungkiri bahwa Timur Tengah adalah tempat lahir agama Islam. Yang kedua, ulamaulama besar dunia mayoritas lahir dari Timur Tengah, meskipun tidak keseluruhan. Ketiga, bahwa tradisi yang diwariskan oleh para ulama pendahulu kita ternyata masih banyak yang bertahan disini. Tentu harus ada evaluasi terus menerus, mana yang harus dipertahankan dan mana yang tidak. Yang paling sederhana, misalnya, tradisi menghafal al-Quran. Itu tidak ada tradisi di luar negeri selain di Timur Tengah, apalagi di Barat. Padahal kan sangat teramat penting sekali umat Islam
JURNAL SKETSA EDISI V 225

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Tantangan dan Peran Pelajar Timur Tengah serta Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia

menghafalkan al-Quran. Keterampilan dan kemampuan menghafal ini menjadi ukuran yang tidak dapat dihindarkan, dan itu tidak didapatkan kecuali di Timur Tengah. Ini secara global dan sederhana saja, di sana masih ada keistimewaankeistimewaan lain yang tentunya menjadi kelebihan tersendiri yang berbeda-beda bagi tiap-tiap negara di Timur Tengah. Apa saja yang mungkin bisa dilakukan oleh kami untuk berkontribusi terhadap pembangunan Indonesia di bidang agama, pendidikan, politik dan ekonomi? Pertama, tentu pada waktu lulus nanti diharapakan bisa menjadi pejuang-pejuang pendidikan di Indonesia dan mengamalkan ilmu yang telah didapatkan di Timur Tengah kepada adik-adik kita, anak-anak kita di Indonesia yang mungkin tidak bisa datang ke Timur Tengah. Kedua, saya kira selama kalian semua masih di sini dapat memberikan konstribusi melalui jejaring sosial yang relative murah seperti Facebook, Twitter dan email. Itu bisa dimanfaatkan untuk membangun komunikasi dengan temanteman yang ada di Tanah Air, khususnya dari lembaga pendidikan asal kalian belajar, kemudian berbagi pengalaman dan ilmu dengan mereka yang ada di Tanah Air, termasuk juga manakala teman-teman di Tanah Air memerlukan informasi, memerlukan buku-buku, saya kira kalian semua bisa membantu mereka. Yang ketiga, menurut hemat saya, selain belajar ilmu keagamaan di sini, saya berharap juga kalian semua melihat perkembangan politik di Timur Tengah secara keseluruhan. Karena, bagaimanapun juga, warna politik di Timur Tengah ini akan memengaruhi di Tanah Air, apalagi pandanganpandangann politik yang dibangun dari nilai-nilai keagamaan, tentu sangat diperlukan. Tentunya, kita harus pandai-pandai memilah dan memilih nilai yang cocok untuk dikembangkan di Tanah Air. Jangan sampai kita yang ibarat taman sudah terlihat bagus, kita datang tidak menambah 226 JURNAL SKETSA EDISI V

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Tantangan dan Peran Pelajar Timur Tengah serta Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia

tanaman yang baru dan cantik, tetapi malah merusak yang sudah ada. Di sini kita harus pandai-pandai memilah dan mimilih. Saya tidak bermaksud mengatakan pandangan tertentu atau madzhab tertentu, karena itu tidak baik. Tapi, paling tidak pandangan keagamaan yang sudah terbukti tumbuh berkembang diterima di Tanah Air patut kita pertahankan dan kita kembangkan. Lebih dari itu, Indonesia sekarang dilihat sebagai sebuah model antik yang diminati oleh begitu banyak negara Timur Tengah yang sekarang ini sedang sibuk mencari model baru, sehingga Yaman sendiri ingin belajar dari Indonesia dalam banyak hal. Misalnya, yang terakhir mereka mengirimkan Komite Pemberantasan Korupsi, ingin belajar dari KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Indonesia, tentang bagaimana Indonesia memberantas korupsi?, Dan banyak hal lagi yang saya kira mereka ingin belajar dari kita. Nah, ini jangan sampai terbalik, orang melihat kita sebagai orang yang sukses, tetapi kita malah masih mencari-cari yang belum jelas. Terkait dengan berita tentang Yaman, bagaimana tanggapan dan pandangan Bapak sebelum dan sesudah mendengar berita itu? Memang, berita yang mendominasi di Tanah Air, Yaman ini merupakan sarang fundamentalis, bahkan al-Qaida tumbuh subur di sana. Belum lagi pertempuran antar Qabilah dengan ideologi yang berbeda-beda. Tetapi, saya yang banyak membaca buku dan berkeliling dunia, selalu mencoba untuk menempatkan berita-berita itu secara proporsional dan rasional. Jadi, tidaklah patut satu peristiwa dianggap mewakili wajah atau kondisi sebuah negara. Tetapi, bukan juga mengabaikan semua berita-berita yang tersebar itu. Makanya, saya tempatkan semuanya pada posisi-posisinya secara wajar. Terakhir, saya memiliki keyakinan, bahwa suasana di Yaman tidak identik seperti itu.
JURNAL SKETSA EDISI V 227

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Tantangan dan Peran Pelajar Timur Tengah serta Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia

Apa bentuk perhatian pemerintah selama ini terhadap para pelajar yang belajar di Timur Tengah, baik masih dalam masa belajar maupun setelah pulang ke Tanah Air nanti? Yang pertama, dalam konteks Komisi I adalah dalam hal bentuk perlindungan kepada warga negara Indonesia yang terasa kurang aman. Itu kita punya kewajiban untuk memikirkan bagaimana memberikan rasa aman. Dan kalau ada kemungkinan buruk terjadi, bagaimana kita bisa membantu untuk menolong semaksimal mungkin. Yang kedua, pemerintah juga mempunyai kewajiban untuk mendengarkan harapan-harapan dan aspirasi warganya yang sedang belajar di luar negeri, karena anggota DPR adalah wakil rakyat yang semestinya menyuarakan aspirasi dan keinginan rakyat, yang nantinya akan diterjemahkan ke dalam bentuk agenda dan pengalokasian anggaran. Kemudian juga berbagai aturan yang dibuat dalam bentuk undang-undang, termasuk juga pengawasan terhadap badan tertentu yang punya tugas utama mensejahterakan warganya. Kira-kira, apa pengaruh dan posisi vital mereka di tengah bermunculannya beragam aliran yang dapat mengancam keutuhan NKRI? Mahasiswa dan pelajar, termasuk yang ada di Timur Tengah ini, sudah dicatat sejarah memberikan kontribusi penting bagi kemerdekaan sekaligus mengisi kemerdekaan RI. Dan saya berkeyakinan mahasiswa dan pelajar tetap memiliki peran besar di dalam membangun bangsa dan negara di masa yang akan datang. Hanya saja memang akhir-akhir ini suasana di Timur Tengah menimbulkan berbagai spekulasi dan kekhawatiran. Sebagian mungkin berdasar, dan sebagian lain tidak, melainkan lebih pada provokasi atau image yang dibangun oleh negara-negara tertentu yang tidak suka adanya pengaruh agama Islam dari Timur Tengah terhadap 228
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Tantangan dan Peran Pelajar Timur Tengah serta Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia

negara kita. Saya memandang, Islam di Indonesia memiliki tokohtokoh yang sudah sangat matang. Kita sudah punya karakter tersendiri dan kita tidak mudah terpengaruh oleh pandanganpandangan baru. Walaupun sebagian anak-anak muda mengikuti trend tampilan masa kini, tapi nanti itu akan diuji oleh waktu dan saya berkeyakinan, akhirnya maindstream Indonesia yang telah kokoh itu akan tetap mewarnai. Paling tidak kalau kita berbicara organsasi, maka wajah NU dan Muhammadiyah akan mendominasi wajah Islam di Indonesia. Siapa tokoh yang Bapak kagumi yang dulu pernah belajar di Timur Tengah? Tokoh Islam yang pernah belajar di Timur Tengah yang saya kagumi adalah Rosyidi, alumni al-Azhar. Dia pernah menjadi Menteri Agama. Sampai-sampai saya ingin melihat kamar yang beliau singgahi selama belajar di Universitas al-Azhar. Berhasil melihat, Pak? Iya, sudah. AlamdulilLh. Apa harapan Bapak kepada para pelajar yang belajar di Timur Tengah? Yang pertama, jangan sia-siakan waktu yang ada. Optimalkan waktu yang ada untuk belajar, baik yang belajar di kampus ataupun di pesantren. Lebih dari itu, belajarlah dengan kesadaran inisiatif sendiri, membaca buku-buku yang ada, kemudian berdialog dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh yang ada di sini. Karena pada akhirnya, setiap kita akan mendapatkan sesuai dengan apa yang kita usahakan. Wa bi al-khus, bahasa! Saya ingin menekankan bahasa. Saya sempat syok, heran, kok ada orang yang belajar di Timur Tengah, tapi tidak bisa berbicara Bahasa Arab? Tentunya itu jangan sampai terjadi. Saya yang di
JURNAL SKETSA EDISI V 229

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Tantangan dan Peran Pelajar Timur Tengah serta Kontribusinya terhadap Bangsa Indonesia

Indonesia sekali-kali mencoba untuk bisa berbahasa Arab, dan di sini yang sehari-hari ketemu orang Arab kok nggak bisa bahasa Arab?! Itu jangan sampai terjadi. Demikian wawancara singkat ini, semoga bermanfaat dan dapat membangkitkan semangat juang belajar kita, sebagai wujud kontribusi nyata kita sekarang terhadap agama dan negara.[] *****

230

JURNAL SKETSA EDISI V


Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Falsafah Jihad Moderat & Hakikat Terorisme


Wawancara bersama: Dr. Muhammad Abd Al-Qodir Al-Idrus (Dekan Fakultas al-Syariah wa al-Qanun Universitas Al-Ahgaff Yaman)
Reporter: Mohammad Hafidz Anshori & Hamidi Harits

Umat Islam, sejak zaman risalah telah mengetahui hakikat jihd f sablilLh serta praktik riilnya berdasarkan undang-undang Tuhan dan Rasul-Nya (baca: al-Quran dan alHadits). Dengan demikian, telah tebentuk asas jihad yang tidak membutuhkan daur ulang lagi oleh kelompok manapun, kapanpun dan di manapun. Namun permasalahannya, perkembangan zaman menjadikan sebagian kelompok berusaha menggeser konsep jihad yang telah ada dan final pada zaman Nabi kepada suatu konsep lain yang dianggap sebagai jihad. Kemudian, muncullah gerakan berlabel Islam tetapi tidak sejalan dengan ideologi Islam sebagai agama ramatan li al-lamn- yang memungkinkan terjebak hegemoni Barat dengan sebutan Agama Teror. Benarkah Islam agama teror? Ataukah ini hanya stereotype Barat yang ingin memalingkan pandangan masyarakat dunia kepada Islam?. Maka, dengan mengucap BismilLhi al-Ramni al-Ram, kita akan melacak lebih jauh tentang suara terorisme yang seringkali dikaitkan dengan keutuhan agama Islam yang sesungguhnya datang sebagai rahmat dan hikmah bagi seluruh alam. Berikut sebuah wacana

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

JURNAL SKETSA EDISI V 231

Falsafah Jihad Moderat dan Hakikat Terorisme

singkat, padat, wawancara bersama Dr. Muhammad Abd alQdir al-Aydrs, Dekan Fakultas al-Syarah wa al-Qnn, Universitas al-Ahgaff, Yaman. Melihat perubahan zaman dan keadaan umat Islam sekarang, apakah perlu ada penyegaran kembali makna jihad yang islami? Jihad sebagai bagian dari syariat Allah Swt. yang telah ditetapkan kepada umat Islam, tentunya tidak boleh ditinggalkan. Makna dan konsepnya pun tidak boleh dirubah, dibongkar, dan diselewengkan begitu saja. Karena, di sana ada kriteria dan aturan main yang telah ditetapkan dan dikupas tuntas oleh para pakar Fikih. Namun, walaupun begitu, di sana masih kemungkinan adanya ruang ijtihad untuk menelisik kembali konsep dan makna jihad yang sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat dengan kaidahkaidah yang tidak menyimpang dari ketentuan. Tak perlu dipungkiri bahwa ada konsep jihad yang disepakati oleh seluruh umat Islam, yaitu jihad untuk merebut kembali Tanah Air yang telah dikuasai oleh para penjajah. Contoh riilnya yang sekarang terjadi adalah Negara Palestina yang dijajah habis-habisan dan telah dikusai oleh orangorang Yahudi. Pada kondisi seperti ini, jihad menjadi kewajiban bagi setiap umat Muslim yang ada di sana, dan yang berada di sekitarnya di saat mereka lemah dan tak mampu menghadapi sendiri. Jihad seperti ini adalah bagian dari agama dan meninggalkannya adalah dosa. Di mana titik temu atau kesesuaian antara jihad dengan misi Islam sebagai ramatan li al-lamn? Target dan tujuan utama disyariatkannya jihad bukanlah pertumpahan darah dan pembunuhan, bukan untuk menjarah dan mengeksploitasi kekayaan, apalagi untuk perbudakan sebagaimana yang dulakukan negara adidaya Barat dalam ekspansi-ekspansinya, dan bukan pula untuk 232
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Falsafah Jihad Moderat dan Hakikat Terorisme

sarana memaksa pemikiran dan keyakinan seseorang. Akan tetapi, tujuan hakiki disyariatkannya jihad adalah menolak agresi ataupun serangan musuh, serta meluaskan medan untuk menyebarluaskan kebaikan, dengan tetap memberikan toleransi terhadap kebebasaan berfkir dan berideologi. Hal ini terbukti dengan perkataan Rab ibn mir kepada Kaisar Persia yang tengah melarang kebebasan berfikir dan kebebasan beragama terhadap masyarakatnya, dan juga melarang apapun yang tidak sesuai dengan kehendaknya. Rab ibn mir mengatakan kepadanya bahwa dia datang untuk melepaskan belenggu penyembahan terhadap manusia menuju penyembahan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sejarah juga telah membuktikannya, bahwa Nabi Muhammad Saw. dengan bijak tetap menghormati penguasa Yaman atas kebijakan-kebijakan yang dicetuskannya. Begitu juga pejuang-pejuang Muslimin lainnya yang tetap menghargai kepercayaan kaum Yahudi dan Nasrani, dengan membiarkan mereka tetap pada agamanya masing-masing tanpa memaksakan kehendak dan keyakinan kepada mereka, dan tanpa adanya pengrusakan tempat ibadah mereka, bahkan mereka tetap dihormati dan dilindungi hak-haknya. Hal itu karena, jihad pada hakikatnya adalah untuk melepaskan manusia dari belenggu negara-negara adidaya dan peradabannya yang sampai saat ini sebenarnya masih menjerat kemanusiaan manusia dengan dalih HAM dan kebebasan. Menurut Bapak, bagaimana harmonisasi antara jihad dengan ayat l ikrha f al-dn dan juga dengan HAM? Ayat tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan jihad, baik secara tersurat ataupun tersirat. Karena ayat di atas adalah menetapkan substansi dan hakikat agama Islam, yaitu sebagai suatu agama yang diyakini baik dari segi konsep hidup dan pemikirannya. Substansi di atas tidak boleh
JURNAL SKETSA EDISI V 233

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Falsafah Jihad Moderat dan Hakikat Terorisme

diselewengkan dan dirubah maknanya begitu saja, karena pemikiran dan kepercayaan tidak akan bisa dirubah kecuali dengan logika dan dalil yang kuat. Begitulah perjalanan Islam dan beberapa risalah lainnya. Betapa pentingnya hal demikian sehingga terealisasi dalam kehidupan Nabi Muhammad Saw. dan para khalifah setelahnya. Beliau dan para khalifah selalu mengedepankan logika dan dalil yang kuat untuk menguatkan apa yang dibawa dan diperjuangkan. Dari sisi lain, penggunaan ayat di atas dimulai dengan l al-nfiyah li nafyi al-jinsi yang berarti menafikan seluruh jenis pemaksaan untuk menetapkan kepercayaan terhadap seseorang ataupun merubahnya. Dan perlu ditegaskan bahwasanya pemaksaan tidak akan pernah bisa merubah keimanan seseorang. Bukti historisnya sangat banyak, mereka rela dibunuh tanpa sedikit pun terpengaruh terhadap pemaksaan orang-orang kafir, di ataranya adalah Sahabat Khubb ra. Dan walaupun terkadang secara lahir seseorang menyerah kepada pemaksaan itu, namun sejatinya hal itu sulit merubah keyakinan hatinya, seperti yang dilakukan keluarga Ysir, mereka dipaksa kepada kekufuran, mereka pura-pura menerima secara lahir, akan tetapi hati mereka tetap beriman dan menjaga keislamannya. Hal itu disaksikan sendiri oleh baginda Nabi dan dibenarkannya bahwa peristiwa itu terjadi pada saat Perjanjian Hudaibiyyah, meskipun para Sahabat sebelumnya menentangnya. Bagaimana relasi antara jihad perang dengan amar maruf nahyi munkar? Jihad adalah bagian dari perintah Allah Swt. terhadap kaum Muslimin, itu berarti jihad adalah bagian dari amar maruf nahyi munkar. Namun ideologi amar maruf nahyi munkar tidak boleh ditelan dan difahami begitu saja sekalipun perintah tersebut berdimensi general, karena setiap individu memiliki keterbatasan dan potensi yang berbeda dari individu l a i n d a l a m m e l a k s a n a k a n nya . S e o r a n g h a k i m 234 JURNAL SKETSA EDISI V

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Falsafah Jihad Moderat dan Hakikat Terorisme

bukanlah seseorang yang dihakimi, orang pandai bukanlah orang bodoh, karenanya tidak boleh dicampuradukkan. Jika tidak, maka justru akan menyebabkan penghacuran dan pengrusakan maksud dan tujuan amar maruf nahyi munkar itu sendiri, bahkan bisa berimbas penukaran antara kemungkaran dengan kemungkaran yang lain. Perintah amar maruf nahyi munkar itu berlaku umum untuk setiap individu yang mungkin pada saat yang sama dia bisa menjadi subjek sekaligus menjadi objek. Di dalam perintah tersebut tidak ada pengecualian sedikitpun. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim Tamm al-Driy bahwasanya agama adalah nasihat untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam dan bagi kaum Muslimin seluruhnya. Melaksanakannya merupakan bagian dari cara untuk membimbing masyarakat ke jalan yang benar, guna mewujudkan masyarakat yang madani dan egaliter; mengajarkan kedewasaaan kepada masyarakat dalam berdialog dan berargumen dengan memandang isi hujahnya, meskipun yang menyuarakannya adalah orang yang fisiknya lemah. Mungkinkah kita berjihad melalui jalur politik, ekonomi, ataupun pendidikan tanpa berjihad perang? Sudah saya jelaskan sebelumnya bahwa maksud dari jihad adalah menolak agresi ataupun serangan musuh dan meluaskan medan untuk menyebarluaskan kebaikan. Oleh karenanya, bahwa jihad secara hakikat tidak hanya berporos pada perang yang sejatinya hanya merupakan bagian kecil darinya. Maka dari itu, saya tegaskan kembali bahwa ideologi jihad Islam adalah cinta kasih dan rahmat, karena hal itu merupakan solusi ideal untuk menjadikan masyarakat semakin berkembang dan tidak jumud. Jika kita mau menganalisa, berapa banyak teori sosial, teori ekonomi, dan teori politik yang dicetuskan oleh
JURNAL SKETSA EDISI V 235

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Falsafah Jihad Moderat dan Hakikat Terorisme

Barat, kemudian kita temukan adanya tipu daya yang hanya mementingkan kemaslahatan pribadi mereka saja, kemudian ujung-ujungnya teori-teori tersebut dihegemonikan kepada penjuru dunia secara paksa!. Berfikir untuk memunculkan suatu teori atau strategi dalam bidang apapun- yang dapat mengalahkan tipu daya tersebut adalah merupakan kewajiban syar untuk menjadikan manusia bebas menerima kebaikan dan menjadikan mereka bangkit dan berkembang, yang mana hal ini merupakan esensi tujuan jihad itu sendiri. Coba sebutkan sekilas tentang fenomena-fenomena jihad dan dakwah pada masa Rasulullah dan Khulafa Rasyidin? Rasulullah Saw. dilahirkan di Kota Makkah. Di kota inilah beliau hidup menghabiskan masa mudanya, dan di situ pula beliau mendapatkan berbagai gelar kebaikan dan sifatsifat kesempurnaan dari para pembesar masyarakat setempat; beliau mulia, ahli hikmah, jenius, adil, solider, pembela masyarakat, dan lain sebagainya. Rasulullah berjuang demi kebangkitan umat. Sejak masa kecilnya, beliau sangat peka untuk menjauhi kezaliman. Sebagai contoh penting adalah sebuah riwayat bahwa beliau menolak untuk menyusu kepada Halimah al-Sadiyyah yang dikhususkan untuk saudaranya. Hal itu sebagai teladan keadilan bahwasanya tidak dibolehkan mengambil hak orang lain. Setelah beranjak dewasa, ketika beliau melihat banyak masyarakat mulai meremehkan amanat sesamanya, beliau tampil sebagai problem solver masalah tersebut dengan teguh menjaga amanat dan kejujuran, sampai pada ahirnya para pembesar Quraisy pun percaya penuh kepadanya dengan menitipkan barang-barang berharga dan harta mereka kepadanya. Kemudian ketika masyarakat mulai mengkotak-kotak kelas sosial menjadi kelompok kaya 236
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Falsafah Jihad Moderat dan Hakikat Terorisme

dan kelompok miskin, beliau datang merangkul mereka tanpa terkecuali, dengan menjelaskan akan pentingnya kesetaraan sosial agar saling bahu membahu demi kebangkitan bersama. Di kala masyarakat mulai tetipu hawa nafsu dan virus fanatisme yang berpotensi pada peperangan, pertumpahan darah dan putusnya tali persaudaraan, beliau muncul dengan mengumandangkan betapa pentingnya menjunjung makna kesepahaman dan dialog bersama, karena hanya dengan hikmahlah masalah-masalah yang dihadapi bisa terselesaikan. Rasulullah juga tidak seenaknya menghapus adat istiadat masyarakat setempat, beliau tetap melestarikannya dengan memfilter mana yang baik dan mana yang buruk walaupun itu milik non-Muslim. Begitulah yang dilakukan Rasulullah dalam menanggapi semua permasalahan yang dianggap keluar dari koridor kebaikaan, baik dalam persoalan akidah, ekonomi, politik, ataupun sosial. Rasullah selalu mengatasinya dengan kesabaran, kesantunan, hikmah dan dialog bersama, sehingga masyarakat dapat merespon dengan sangat baik. Sebagaimana diriwayatkan bahwa di kala Malaikat Jabl meminta izin kepada Rasulullah untuk menindih orang-orang kafir dengan dua gunung besar yang mengelilingi Kota Mekkah, lantaran mereka telah menzalimi Rasulullah, beliau menjawab, Jangan lakukan itu !, karena mungkin saja dengan kehendak Allah- kelak akan lahir generasi dari mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Pada peristiwa Perang Uhud, ketika wajah Rasulullah terluka dan sebagian giginya patah, para Sahabat dengan hati penuh iba meminta Rasulullah untuk mendoakan mereka (orang-orang kafir) agar mendapatkan balasan yang setimpal. Jawab Rasulullah, Saya tidak diutus sebagai pelaknat, tetapi saya diutus sebagai rahmat dan pengajak kepada jalan Allah. Lalu beliau berdoa, Ya Allah berikanlah petunjuk kepada kaumku, karena mereka tidak tahu. Hal ini sebagaimana terurai dalam firman Allah yang berarti:
JURNAL SKETSA EDISI V 237

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Falsafah Jihad Moderat dan Hakikat Terorisme

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin. (QS. al-Tawbah: 128). Jika kita membaca peristiwa-peristiwa peperangan pada masa Rasulullah, baik itu Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandak dan perang-perang lainnya, beliau selalu menampilkan nilai-nilai rahmat dan tetap menjunjung martabat kemanusiaan. Beliau memberikan teladan bahwa substansi jihad tetap mengacu kepada pesan-pesan syariah. Karena jihad bukanlah sebuah mediasi ekspansi, intimidasi pemikiran, dan perbudakan. Dalam medan perang tidak boleh menganiaya musuh yang sudah terluka, tidak boleh membunuh perempuan, orang tua renta, dan anak kecil, tidak juga menghancurkan tempat peribadatan orang kafir, kawasan perkotaan, dan ladang pertanian. Jihad harus dilakukan atas dasar kemaslahatan dan nilai-nilai universalitas kemanusiaan. Walhasil, bahwa jihad yang dilakukan Rasulullah tidaklah seperti anggapan para orientalis untuk mediasi ekspansi, penjajahan dan intimidasi pemikiran. Akan tetapi, sebagaimana yang telah kita saksikan bersama dalam petikan riwayat-riwayat sejarah yang telah sedikit saya paparkan tadi. Bahwa Rasulullah melaksanakan jihad murni karena anjuran Allah Swt. yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun, untuk mencegah serangan musuh, menghilangkan kezaliman, memerdekakan hak berpikir, dan menyebarkan kebaikan. Hal itu semakin dipertegas dengan firman Allah sebagai berikut: Surat al-Kahfi: 29, Dan katakanlah, 'kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka, barang siapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman dan barang siapa yang ingin kafir biarlah ia kafir'. Surat al-Ghsyiyah: 21-22, Maka, berilah 238
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Falsafah Jihad Moderat dan Hakikat Terorisme

peringatan !, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. Surat Ynus: 99 yang berarti, Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka, apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?. Menurut Bapak, apa hakikat terorisme? Apakah terorisme bisa dikatakan sebagai jihad perang yang islami? Fenomena ini dapat diinterpretasikan sebagai tindakan yang merongrong hak-hak orang lain dengan cara yang tidak manusiawi, sehingga dapat memunculkan rasa takut, tekanan, dan lain-lain, kepada individu ataupun kelompok dalam segala bidangnya baik sosial, ekonomi, politik, pemikiran dan lain-lain. Dinamika ini telah muncul seiring dengan usia terciptanya umat manusia di muka bumi ini, dan barangkali peristiwa Qabil dan Habil adalah contoh awal hingga berkembang sampai saat ini. Persoalan teror atau terorisme telah melekat erat di telinga masyarakat, seolah-olah Islam sama dengan terorisme. Padahal, hal demikian hanyalah tindakan gegabah segelintir orang saja, hanya saja musuh-musuh Islamlah yang membesarbesarkan masalah ini melaui berbagai media. Ironisnya, media publik di Arab dan di dunia Islam lainnya -entah sengaja atau tidak- ikut-ikutan menyiarkan berita itu seperti apa yang diberitakan media publik Barat. Sehingga, muncullah asumsi publik Muslim dan non-Muslim bahwa setip ledakan bom atau tindakan yang tidak manusiawi itu pasti bernafaskan Islam. Anehnya, penjajahan yang terjadi di Irak, Palestina, Afganistan, pengrusakan tempat-tempat suci dan fasilitas umum di Suria, Mesir, Libya, dan lain-lainnya, yang sudah jelas melanggar undang-undang internasional, d i a n g g a p n ya s e b a g a i t i n d a k a n b i a s a s a j a .
JURNAL SKETSA EDISI V 239

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Falsafah Jihad Moderat dan Hakikat Terorisme

Sedangkan jikalau ada peledakan Gereja, Bandara, Hotel dan fasilitas umum lainnya milik Barat, maka bangunlah dunia Barat untuk bersama-sama mengecam dan menuduh bahwa Islamlah pelakunya. Lucunya, kesemuanya itu mereka lakukan dengan dalih pembelaan atas nama Hak Asasi Manusia. Hal demikian sangat patut disayangkan, karena peristiwa yang hanya bersifat minoritas (terorisme) malah dipoles menjadi momok besar dalam kehidupan umat manusia, sementara peristiwa-peristiwa yang sebagaimana saya sebutkan tadi dianggapnya sebatas angin lalu. Secara pribadi, saya tidak mengingkari adanya fenomena terorisme dalam masyarakat Muslim, bahkan hal yang sama juga ditemukan di seluruh masyarakat di belahan dunia tanpa terkecuali. Akan tetapi, di lingkungan Islam hal semacam ini hanya bersifat minoritas saja dan tentunya yang demikian itu tidak patut untuk digeneralisir, karena umat Islam sangat peduli kepada ajaran dan nilai-nilai luhur agamanya, namun dengan kaca mata hasud muncullah musuh-musuh Islam sebagai sosok yang memporak-porandakan keutuhan Islam yang sebenarnya datang sebagai rahmat bagi suluruh alam. Hal itu karena, masalah-masalah kekinian yang ada kaitannya dengan terorisme yang diindikasikan kepada Islam tidaklah terdengar sebelum satu abad yang silam, terlebih abad-abad sebelumnya. Islam memiliki institusi-institusi pendidikan yang aktif menyebarkan ajarannya dengan cara hikmah, toleran dan dialog argumentatif. Institusi-institusi yang dicirikan oleh Rasulullah dengan sabdanya, Sesungguhnya agama itu mudah. Tidak ada seorang pun yang mempersulit agamanya kecuali akan menjadi bumerang dirinya sendiri. Berikanlah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari, permudahlah dan jangan mempersulit !. Institusi-institusi pendidikan itu seperti Al-Azhar di Mesir, Al-Zaytnah di Maghrib, Al-aramayn di Makkah dan Madinah, dan institusi pendidikan lainnya di berbagai negara Islam yang senantiasa menyebarkan ajaran Islam secara benar, jauh dari nilai-nilai 240
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Falsafah Jihad Moderat dan Hakikat Terorisme

terorisme dan intoleran. Para cendekiawan Muslim dalam berbagai bidangnya pun sangat menjunjung tinggi nilai tasmu (toleransi) Islam dalam aktivitas pengajaran dan dakwahnya. Akan tetapi, musuh-musuh Islam tampak tidak suka dengan cahaya persatuan Islam yang cerah itu, serta demi kemajuan yang ingin mereka capai, maka berusahalah mereka dengan berbagai cara melumpuhkan institusi-institusi tersebut, terutama dari segi pemikiran dan ideologi. Syahdan, muncullah orang-orang yang berupaya memberikan pencitraan dengan mengatasnamakan Islam. Mereka menyampaikan hadits dan membaca ayat-ayat suci al-Quran, namun menyimpang dari titian dan manhaj salaf al-li. Agama menjadi berada dalam kendali anak kemarin sore yang sering hanya berkonsekuensi perpecahan, penghancuran tatanan yang telah ada, dan pemisahan umat Muslim dari turts-nya. Akhirnya, cendekiawan Muslim banyak yang terjangkit virus materialisme, yang kemudian diajarkan kepada masyarakat di setiap pengajian dan kuliahnya. Kemudian, alih-alih dibangunlah institusi-institusi dan perguruan tinggi untuk menjerumuskan umat kepada bid'ah yang menyesatkan, yang pada akhirnya menjadi rayap yang terus menggerogoti eksistensi mayarakat Muslim. Saya yakin bahwa wabah terorisme ini merupakan produk Barat yang telah menjadi problem internal umat Islam. Tidak ada jalan lain untuk lepas dari jeratan ini, kecuali dengan mengembalikan fungsi institusi-institusi yang memang punya andil untuk menyebarluaskan Islam sebagai agama ramatan li al-lamn. Sehingga, masyarakat akan kembali pada khiah-nya yang asasi. Hal ini merupakan kewajiban semua pihak, baik individu hingga pemerintah ataupun ulama sesuai dengan profesi masing-masing dengan bergerak cepat dan tepat agar terjangan musuh Islam tidak semakin melebarkan sayapnya. Kesimpulannya?
JURNAL SKETSA EDISI V 241

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Falsafah Jihad Moderat dan Hakikat Terorisme

Sesuai dengan isyarat firman Allah dalam al-Quran bahwa orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela tehadap agama Islam sehingga umat Islam mau mengikuti mereka (QS. Al-Baqarah: 120). Isyarat ini sudah tampak jelas di depan mata kita dengan munculnya ancaman teror yang selalu dibungkus dengan nama Islam. Padahal, kalau kita teliti dan lihat dengan kacamata yang moderat dan objektif, maka jelaslah Islam adalah agama yang membela dan melindungi hak dan martabat manusia seutuhnya. Dengan demikian, segala tindakan terorisme yang terjadi belakangan ini sangat jelas menghantam Hak Asasi Manusia dalam segala bidangnya. Memang, tidak dapat dipungkiri adanya teror dan teroris di sebagian barisan umat Islam, namun ini sangat tidak wajar jika ditarik kesimpulan bahwa Islam adalah agama yang melindungi dan menebarkan semangat terorisme. Sesungguhnya, para penganalisis ajaran Islam dari masa Nabi Muhammad hingga era kontemporer tidak akan menemukan satu huruf pun bahwa Islam seperti tuduhan keji itu. Term teror, teroris dan terosisme adalah murni produk Barat yang dipaksa-suburkan dalam masyarakat Islam, serta disangkutpautkan dengan Islam dengan berbagai cara. Walhasil, Allah telah berfiman: Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS. Al-Anbiy: 108). Maka, berilah peringatan !, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. (QS. Al-Ghsyiyah: 2122). Nabi Muhammad juga bersabda: Saya diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (HR. Al-Bayhaqiy) Berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat mereka lari !, Permudahlah dan jangan mempersulit ! (HR. Muslim). WalLhu Alam ***** 242
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

BIOGRAFI PENULIS
JURNAL SKETSA EDISI V
Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

p
Muhlisin, Syaiful Arif Sudali, Zainal Fanani, Nuril Izza Muzakki, Muhammad Bejo, Maimoen Abdul Ghofur, Muhammad Taufiq Hamid, Achmad Bakir, Muhammad Ufi Ishbar Naufal, Micdarul Chair el-Sharafi,Mursal Mina Muhammad, Mustofa bin Idrus al-Khirid, A.Y.M. Qolyubi.

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

JURNAL SKETSA EDISI V 243

Biodata Penulis Jurnal Sketsa Edisi V

Nama saya cukup singkat dan sederhana, namun juga cukup untuk menggambarkan kepribadian orangnya, Muhlisin. Lahir di Semarang pada tanggal 03 Februari 1983. Alamat rumah saya cukup strategis, yaitu Desa Bumen, Kecamatan Sumowono, Kota Semarang. Sebelum ke Yaman, terakhir saya mengenyam pendidikan di Yayasan Sirajul Muhlasin 1, Payaman, Magelang. Untuk

Muhlisin

pendidikan sekarang, alhamdulilLh saya

sedang menempuh semester VII jurusan Syariah di Universitas al-Ahgaff, Tarim, Yaman. Kalau mau menghubungi saya terkait perkenalan ataupun kritik pemikiran saya yang saya tuangkan dalam artikel yang dimuat dalam jurnal ini, silahkan kirim email ke: klise03@yahoo.com.

Namaku cukup keren, Syaiful Arif Sudali. Dilahirkan di Sumenep pada tanggal 12 Januari 1992. Pintu rumahku selalu terbuka untuk siapa saja yang mau berkunjung, yaitu di Desa Ellak Laok, Kecamatan Lenteng, Kota Sumenep, Madura. Sebelum melanjutkan kuliah ke Yaman, saya telah menekuni ilmuilmu Islam di Pondok Pesantren Mathlabul Ulum, Jambu, Sumenep. Kalau pendidikan

Syaiful Arif Sudali

sekarang, saya sedang menikmati semester VII

Jurusan Syariah di Universitas al-Ahgaff, Tarim, Hadhramaut, Yaman. Di sini saya juga mengisi waktu luang saya dengan aktif berkhidmat di organisasi-organisasi yang ada, antara lain sebagai Ketua Departemen Bahasa AMI (Asosiasi Mahasiswa Indonesia) Al-Ahgaff. Hobi saya membaca, menulis dan bermain playstation..

244 JURNAL SKETSA EDISI V

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Biodata Penulis Jurnal Sketsa Edisi V

Nama yang sangat indah diberikan oleh ke dua orang tuaku kepadaku, Zainal Fanani. Dilahirkan di Tulungagung pada 1 September 1989. Saya paling suka menerima tamu yang baik hati, maka berkunjunglah ke rumahku di Dusun Tenggur RT/RW: 002/001, Saya Desa Kota adalah Tenggur, Kecamatan Jawa Rejotangan,

Tulungagung,

Timur.

seorang mufakkir, jadi hobi saya berfikir,

Zainal Fanani

membaca, dan menulis. Pendidikan saya:

Tamat MI Tenggur tahun 2003. Ngawungsu weruh di Ponpes Salafi Terpadu Ar-Risalah Lirboyo Kota Kediri mulai tahun 2003 sampai 2005. Jenjang SMP ditempuh di almamater yang sama dan lulus pada tahun 2005. Setelah dari Al-Risalah (2005), pindah ke Ponpes Haji Ya'qub Lirboyo Kota Kediri dan menekuni ilmu-ilmu keagamaan (fikih, nahwu, shorof) di Madrasah Diniyyah Haji Ya'qub (MDHY) sampai kelas I Aliyah (2009). Pada tahun yang sama pula (2005), mulai mengaji Al-Qur'an (binnadhor) serta menekuni bacaan-bacaannya di Madrasah Murottilil Qur'an (MMQ) Lirboyo Kota Kediri di bawah asuhan al-Ustadz KH. Maftuh Bastul Birri dan alhamdulilLah khatam pada tahun 2008. Selain nyantri di pondok salaf, Pada Tahun 2006 juga melanjutkan pendidikan umum di "kampus hijau" MAN Kota Kediri 3, dan lulus pada tahun 2009. Setelah dari MAN Kota Kediri 3 dan PP. Haji Ya'qub, tepatnya pada tahun 2009, melanjutkan pengembaraan intelektualnya di kota seribu wali dan Al-Ahgaff Univesity Tareem, Hadhramout, Yaman, sebagai tujuannya, sampai saat ini .

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

JURNAL SKETSA EDISI V 245

Biodata Penulis Jurnal Sketsa Edisi V

Namaku Nuril Izza Muzakky. Lahir di Kota Kendal 05 April 1984. Jangan sungkan untuk berkunjung ke rumahku di Purwokerto RT. 02/RW. 01, Kecamatan Brangsong, Kota Kendal, Jawa Tengah. Saya telah menempuh pendidikan di: SD Purwokerto II (Lulus 1996), MTSn Brangsong (Lulus 1999) Kendal , Madrasah Hidayatul Mubtadiin pon pes , irboyo Kediri (Ibtidaiyah) Lulus 2002,

Nuril Izza Muzakki

Madrasah Hidayatul Mubtadiin pon pes

Lirboyo Kediri (Tsanawiyah) Lulus 2005, Madrasah Hidayatul Mubtadiin pon pes Lirboyo Kediri (Aliyah) Lulus 2008, Al-Ahgaff University, Hadramaut, Yemen (2010 hingga saat ini). .

Nama saya sangat antik, blasteran ArabJawa, Mohamad Bejo. Orang yang sukses namun sederhana ini dilahirkan di Demak pada tanggal 22 Maret 1987. Saya orang yang ramah, jadi kalau mau berkunjung ke rumah saya silahkan di ke Desa Surodadi, saya Kecamatan Gajah, Kota Demak, Jawa Tengah. Sebelum berangkat Yaman, menghabiskan waktu saya untuk belajar di MA

Muhammad Bejo

Al-Irsyad Gajah. Pendidikan sekarang, sedang

menempuh mustawa 5 jurusan Islamic Law di Fakultas al-Syarah wa alQnn Universitas al-Ahgaff Yaman. Hobi saya sangat mulia, yaitu membaca dan menulis.

246 JURNAL SKETSA EDISI V

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Biodata Penulis Jurnal Sketsa Edisi V

Putra Pamekasan yang lahir pada 31 Januari 1992 ini, berinisial lengkap Muhammad Taufiq Hamid. Berasal dari + 7 km ke arah selatan dari Kota 'Gerbang Salam' Pamekasan, tepatya di Desa Branta Tinggi, Kecamatan Tlanakan. Alumnus SMA Negeri 3 Pamekasan '09 ini, kononnya sambil nyantri di PP. Darul Lughah & Islamic Center Pamekasan Madura. Saat ini, ia tercatat sebagai mahasiswa tingkat

Muhammad Taufiq

III, Fakultas Syariah wal Qonun Universitas Al-

Ahgaff dan menjabat sebagai Pimpinan Redaksi Aqwam Media. Untuk menjalin ukhuwah dapat berkomunikasi langsung via e-mail di akun: m_taufiq@ymail.com.

Orang cakep ini diberi nama Mursal Mina Muhammad. Dilahirkan di Nanggroe Aceh Darussalam pada 17 November 1992. Kalau mau main ke rumah saya bisa berkunjung di Kota Bireuen, Nanggroe Aceh Darussalam. Pendidikan terakhir yang saya tempuh sebelum berangkat ke Yaman adalah menimba ilmu di Madrasah Aliyah Al-Kautsar AlAkbar, Medan, Sumatra Utara. Sekarang belajar di Universitas al-Ahgaff, Tarim,

Mursal Mina M

Yaman, semester IV jurusan al-Syarah wa

al-Qnn. Aktivitas di sini sebagianya saya isi dengan aktif di organisasi yang ada, seperti menjadi editor Aqwam Media dan lain-lain.

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

JURNAL SKETSA EDISI V 247

Biodata Penulis Jurnal Sketsa Edisi V

Penulis muda, alumnus pesantren Riyadlul Jannah, Mojokerto, tahun 2007 ini lahir pada tanggal 22 Mei 1990 di kota Sidoarjo, provinsi Jawa Timur. Ia tercatat sebagai anggota Persatuan Pelajar Indonesia di Yaman, pernah menjuarai even kepenulisan nasional di negara Yaman, semisal: juara pertama lomba cerpen Antologi Sastra Islami PPI 2011, melalui cerpennya yang berjudul Micdarul Chair el-Sharafy "Mahligai Socotra", juara dua lomba Talenta

Sastra Pena 2011, dengan cerpennya yang berjudul "Auf widersehn, Insha". Karya penulis berbakat ini juga sering dimuat oleh mading Asosiasi Mahasiswa Indonesia, Aqwam Media. Update cerita terbarunya juga sudah dapat dinikmati khalayak, semisal: cerpen "Menanti Nurani" dan cerita versi bahasa Arab, "Ghadan, sanushalli fi Aqshana". Adikaryanya tak hanya terhenti sampai disitu, pada bulan Nopember 2011, cerpennya Untukmu, Indonesia termuat sebagai kontributor antologi Hubsche Maedchen Writers Grup. Awal tahun baru 2012, Senthir Paranoid menemani launching perdana caf sastra website PPI Yaman. Pada pertengahan bulan Januari 2012, "Catatan Insha-ku" kembali berhasil memasuki kategori 30 naskah pilihan "When I Broke Up" versi Leutika Prio Publisher, Yogyakarta. Ia juga pernah mengisi rubrik "muhibba" di majalah AULA. Karyanya telah dimuat pada bulan Nopember 2011, dengan judul "Pesona Arkeologi Kota Ma'rib". Selain sebagai cerpenis, ia ditunjuk resmi sebagai editor caf sastra website PPI Yaman periode 2011-2012 dan Himmah Fm, Mukalla. Salah satu buku terjemahannya yang siap mem-booming di Indonesia adalah buku "Psikologi Cinta Islamy" dan Trilogi Novelet Romansa Islam Mahligai Socotra. Sekarang, ia menempuh jenjang Bachelorius Fakultas al-Syarah wa al-Qnn di Universitas al-Ahgaff, Yaman.

248 JURNAL SKETSA EDISI V

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

Biodata Penulis Jurnal Sketsa Edisi V

Nama

saya

cukup

simpel

tapi

anggun,

Achmad Bakir. Lahir di Batuampar Robatal Sampang pada tanggal 02 Oktober 1988. Dulu saya belajar di MTs PP. Miftahut Tullab Gedangan Kedungdung Sampang. Pendidikan MA juga saya tempuh di sana. Sekarang sedang asyik menimba ilmu di Fakultas Syariah Al-Ahgaff University, Hadhramout Yaman, sudah hampir genap tiga tahun di

Ahmad Bakir

sana. Pengalaman Organisasi, saya pernah

menjabat sebagai Ketua MPPM (Musyawarah MTs.Pondok Pesantren Miftahut Tullab) Tahun 2007/2008, dan Pengurus Aktif ISMI (Ikatan Siswa Miftahut Tullab) di Departemen Pendidikan. Saya mempunyai hobi seperti hobinya para orang sukses, yaitu membaca. Cita-cita, saya ingin menjadi pengajar ilmu agama yang berwawasan luas dan berprinsip take and give. Pesan-kesan, tiada kata yang terucap, selain, sukses untuk semuanya! selama ini telah banyak waktuku terbuang sia-sia, kan kucoba bangkit untuk berkarya dan terampil agar sukses seperti orang-orang sukses di sana..

A.Y.M. Qolyubi
Nama A. Y. M. Qolyubi. Telah menamatkan kuliah Jurusan Syariah, Universitas Al-Ahgaff Hadhramaut, Yaman, pada tahun ini (2012).

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba

JURNAL SKETSA EDISI V 249

Biodata Penulis Jurnal Sketsa Edisi V

Muh. Ufi Ishbar


Muhammad Ufi Ishbar Naufal. Mustawa 5 Jurusan Ishbar. Syariah Universitas al-Ahgaff. Email: ufi_naufal@yahoo.com. Facebook: Ufi

Maimoen Abdul Ghofur


Nama Maimoen Abdul Ghofur. Saat ini belajar Yaman. di Rib Tareem, Hadhrmaut,

Mustafa bin Idrus


Mustafa bin Idrus al-Khirid. Di Yaman belajar di Darul Musthafa, Tarim Hadhramout.

p
250 JURNAL SKETSA EDISI V

Potret Paradigma Anak Bangsa di Negeri Saba