You are on page 1of 58

Kaifa hal Sahabat Nadwa yang berbahagia ?

Nadwa harap semoga antum sehat semua dan selalu dalam lindungan dan kasih-Nya. Amin. Alhamdulillah, puji syukur selalu kita panjatkan keharibaan-Nya yang masih mengizinkan nadwa

Salam Redaksi

untuk hadir kembali di hadapan para sahabat, ya meskipun dengan tertatih-tatih nadwa berjalan, dan dengan usaha yang tak mudah pula nadwa mencoba tuk kembali hadir di hadapan antum setelah setahun yang lalu nadwa tertidur pulas tak menyapa antum setiap harinya. Kali ini nadwa mencoba terbit dengan wajah baru, dengan menyajikan rubrik-rubrik yang beda dari edisi-edisi sebelumnya. Dan juga tampil menawan dengan kulit baru yang full colours yang insya Allah akan menambah minat baca sahabat dan dijamin makin oke. Amiin. Dalam edisi kali ini nadwa sedikit akan mengulas tentang bagaimana sih peran Ulama dalam membangun generasi penerus bangsa yang juga dari merekalah tumbuh para generasi untuk turut andil dalam bidang politik bangsa. Karena terpuruk tidaknya suatu negara, suatu bangsa itu bergantung dengan tangan yang ikut dan andil dalam membangun negara tersebut. Atau mungkin antum pernah dengar suatu maqolah yang mengatakan " Suatu bangsa akan rusak jika para wanita di bangsa tersebut rusak ". Jadi peran ulama di sini dalam menentukan masa depan bangsa adalah sesuatu yang urgen bukan ? jadi dalam edisi kali ini nadwa akan menyajikan berbagai rubrik yang sedikiti membahas tentang seperti apa sih pengaruhnya generasi penerus terhadap suatu bangsa dan bagaimana cara menyikapinya serta apa yang harus kita lakukan untuk membentuk moral tersebut ?. ya kiranya hanya sekian yang bsa nadwa gambarkan seperti apa sih isi nadwa kali ini. Semoga apa yang ada di dalam nadwa ini bisa bermanfaat bagi sahabat dan selamat menikmati. Akhirul kalam syukron katsiron wa al 'afwu.

Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Salam Redaksi _____________ Da ar Isi__________________ Suara Pembaca____________ Susunan Redaksi___________ Sajian Utama______________ Editorial__________________ Ar kel___________________ Opini____________________ Reeksi__________________ Tela'ah Hadits_____________ Konsultasi Agama__________ Info Kesehatan____________ Jelajah___________________ Teladan__________________ Prol____________________ Radar PPI_________________ Wawasan_________________ Resensi___________________ Jepret____________________ Bingkai Kata Cerpen_________________ Mu ara Ha _____________ Puisi___________________ Humor_________________ Pantun_________________

1 2 3 3 5 8 9 21 25 27 29 31 33 37 39 41 45 47 49 52 55 56 57 58

Ulama dan Politik Kebangsaan 05


Selama ini, dunia perpolitikan selalu dipersepsikan dengan sesuatu yang negatif. Pandangan seper ti ini tidaklah seluruhnya salah. Mengingat hampir setiap hari kita menyaksikan berita dari media massa, baik cetak maupun online yang selalu memberitakan hal-hal negatif dari politik, di satu sisi. Sementara itu, pada sisi yang lain, sedikit sekali politikus yang benar-benar concern berkorban untuk kepentingan rakyat

Mario Teguh

39
Mario Teguh atau dengan nama asli Sis Maryono Teguh merupakan seorang motivator sekaligus konsultan, nama dan wajahnya semakin dikenal luas masyarakat Indonesia sejak ia aktif membawakan acara 'Mario Teguh Golden Ways' di Metro TV. Laki-laki berusia 57 tahun ini Lahir di Makassar pada tanggal 5 Maret 1956 dan meraih gelar sarjana Pendidikan IKIP Malang Jawa Timur.

Fenomena Pulau Socotra

45

Sisi lain bumi kita mungkin adalah Pulau Socotra. Tempat eksotis yang misterius ini menyimpan berbagai kendahan yang berbeda dari berbagai tempat di belahan dunia lainnya. Suasana maupun tumbuhannya akan membuat anda serasa bukan sedang berada di bumi. Inilah fenomena Pulau S o c o t r a y a n g k e - e k s o t i s a n-n y a menyimpan suatu fenomena yang m i s t e r i u s . 2

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

Susunan Redaksi
Dewan Pelindung DPWH PPI Yaman Dewan Penasehat Dep. Infokom PPI Yaman Redaksi Ahli M. Roby Uzt. Rofik Anwari Pimpinan Redaksi Riza Efendi Sekretaris A. Rajiv Muzakki Redaktur Pelaksana Dzul Fahmi Kasto M. Fadllillah U Abdurrahman Malik Staff Redaksi A. Robith Husni Asep Mahfudz Rifqi Ridlo Reporter Abd. Muhith Rifqon Syauqi Lay Outer & Designer Deni Hariman K. Editor M. Bukhori Distributor & Marketing Dep. Usaha & Dana PPI Yaman

Apa kabar Nadwa ? kok gak pernah keliatan ? ada apa g e ra n ga n ? ke a d a a n m u selama 1 tahun yang lalu membuat kami para sahabat Nadwa khawa r dan bingung apakah Nadwa dah bosan menemani hari-hari pembaca yang selalu haus akan informasi dan kangen akan isi-isi nadwa tercinta. So kenapa sih kok tahun kemaren Nadwa gak terbit ? Gerilyawan Yaman

Suara Pembaca

Alhamdulillah nadwa baik2 aja dan itu tentunya berkat doa dan dukungan dari sahabat sekalian. Thanks ya . Oia, nadwa minta maaf kepada sahabat nih karna dah buat dirimu khawatir dan galau akan ketidakhadiran nadwa di samping kalian. Nah, jadi kenapa tahun kemaren nadwa gak terbit itu karena maaf, tahun kemaren nadwa lagi kehabisan bensin, ada berbagai halangan yang menghambat langkah nadwa dan akhirnya menyebabkan nadwa gak terbit. Tapi insya Allah untuk edisi ini dan seterusnya, nadwa kan tetap eksis menemani kalian kok sahabat. Mohn doanya aja ya buat kelancaran nadwa seterusnya Assalamu'alaikum. Nadwa udah bangun dari tidur ya ?? hehehe. Selamat yaa. Oia, aku punya usul nih buat Nadwa, kan kayaknya pada edisi sebelumnya ada kolom TTS berhadiah ya ?? kok tahun ini gak ada sih ?? hehe, ya bukannya ngarep hadiahnya sih (jaim), tapi aku sendiri emang seneng ngisi TTS2 gitu. So, di adain lagi donk TTSnya. Hehe, makasih yaa, salam manis buat Nadwa Sang Pemimpi
Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Wa'alaikumsalam. Iya nih nadwa baru bangun dari dur panjangnya selama setahun kemaren. Maaf ya kalo dah bikin sahabat lama nunggu nadwa bangun. Hehe. Oh iya, untuk masalah TTS insya Allah akan kita usahakan ada pada edisi selanjutnya. Makasih ya sahabat atas usulannya Nadwa makin hari makin cakep aja niihh....ciee abis dari salon ya ?? hehe. Tentunya nadwa makin hari makin cakep karena melihat isi dan wajahnya yang makin oke aja. Hehe, tapi dari dulu kok nadwa kayaknya masih tetep tampil sederhana ya dengan nuansa hitam putihnya ? ya walaupun isinya udah Oke sih .... tapi aku punya usul gimana kalo buat edisi berikutnya nadwa tampil sedikit lebih nyentrik gitu dengan nuansa yang penuh warna. Hehe, biar tambah cakep dan makin di gandrungin banyak orang. Hehe, makasih yaa, salam hangat untukmu dari penggemarmu Lupus Alhadulillah kalo makin cakep. Hehe, ini semua berkat sahabat juga kok yang tak bosan-bosannya untuk mengirim naskah ke nadwa . Oia sob, makasih banget untuk usulannya. Dan alhamdulillah usulan sahabat udah dapat di nikmatin dan tercapai pada edisi kali ini. Ya walaupun gakn full colour sih, tapi setidaknya penampilan nadwa kali ini dengan warna warninya bisa bikin nadwa makin di gandrungin banyak pembaca. Amiin . Nadwa, kaifa hal ? semoga baik, lancar selalu dan makin cakep aja ya. Oia, kok kayaknya ap tahun rubrik nadwa berubaha ubah terus ya ? Al-Faqir Alhamdulillah bi khoir . Amiiiin. Doa sahabat selalu nadwa nan kan. Untuk masalah rubrik memang seper itu, karena memandang kru nadwa sendiri yang selalu berubah untuk se ap edisinya. Jadi penamaan, serta macam rubrik yang di muat pun akan selalu berbeda dari se ap edisinya. Tapi insya Allah untuk mulai edisi ini, nadwa akan menetapkan beberapa rubrik yang kiranya harus tetap ada dan eksis untuk se ap edisinya agar gak selalu berubah. Sedangkan untuk rubrik lain yang bersifat tambahan bisa berubah se ap edisinya.

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

Sajian Utama

Ulama dan Politik


Oleh : Zainal Fanani*

Kebangsaan

Selama ini, dunia perpolitikan selalu dipersepsikan dengan sesuatu yang negatif. Pandangan seperti ini tidaklah seluruhnya salah. Mengingat hampir setiap hari kita menyaksikan berita dari media massa, baik cetak maupun online yang selalu memberitakan hal-hal negatif dari politik, di satu sisi. Sementara itu, pada sisi yang lain, sedikit sekali politikus yang benar-benar concern berkorban untuk kepentingan rakyat dan negara. Alih-alih berani berkorban, pemandangan yang ada adalah banyaknya politikus yang melakukan tindakan korupsi dengan berbagai macam cara. Sungguh keadaan yang sangat memprihatinkan. Terlebih untuk masa depan bangsa Indonesia. Menarik untuk dipaparkan dalam tulisan ini, bahwa hubungan antara ulama dan politik ternyata saling berkait kelindan. Berpolitik tidak harus terjun langsung ke lapangan. Misalnya dengan menjadi anggota dewan legislatif. Tetapi

Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

lebih dari itu, politik yang dikembangkan oleh para ulama dan kiai adalah politik yang berwawasan kebangsaan. Artinya, politik bagi para ulama hanya sebatas mediator (wasilah) untuk mencapai maksud-maksud tertentu, yaitu untuk menegakkan agama Islam serta menjaga stabilitas bangsa dan negara. Ketika zaman pra kemerdekaan dahulu, banyak para politikus, negarawan, bahkan pemimpin laskar perang yang jejer pandita ataudalam istilah kaum santrimengaji (audiensi) kepada kepada kiai-ulama. Kita bisa melihat, misalnya, bagaimana Soekarno pernah nyantri kepada seorang ulama di pesantren Sukanegara-Cianjur, Jenderal Sudirman berguru kepada Kiai Mahfudz, Jetis, selatan Ponorogo, dan Tan Malaka juga pernah berguru kepada KH. Hasyim Asy'ari di Pesantren Tebuireng Jombang. Mereka semua datang kepada para ulama untuk meminta pencerahan ketika sedang menghadapi situasi-situasi genting dan momen krusial. Hal ini menjadi bukti kongkrit betapa ulama mempunyai kontribusi yang sangat besar dalam dunia perpolitikan saat itu. Kemaslahatan Umum sebagai Basis Politik Kebangsaan Politik, sebagaimana ungkapan Aristoteles, adalah sebuah jalan untuk mewujudkan kemaslahatan masyarakat. Senada dengan Aristoteles, sejak ratusan tahun yang lalu, sebenarnya para ulama juga telah merumuskan sebuah kaidah Fikih Politik. Kaidah itu berbunyi tasharruf al-imam ala ar-ra'iyyah manuthun bil-mashlahah (kebijakan yang dibuat oleh pemerintah/pejabat negara harus berorientasi pada kemaslahatan). Kaidah inilah yang sampai saat ini terus menjadi spirit para kiai-ulama untuk memperjuangkan Islam lewat jalur politik. Dengan berangkat dari aspek maslahat ini, para kiai-ulama telah memainkan peranannya sebagai counters hegemoni. Yaitu sebuah upaya untuk melakukan perlawanan terhadap kekuasaan yang cenderung melakukan penguasaan terhadap seluruh dimensi kehidupan politik dan pemerintahan. Hal ini pernah ditunjukkan oleh KH. Bisyri Syamsuri pada saat Sidang Umum MPR tahun 1978 dengan melakukan walk out sebagai bentuk protes kepada pemerintah yang telah memberi tempat terhormat pada aliran kepercayaan. Pemahaman secara mendalam atas kemaslahatan umum pula yang mendorong KH. Ahmad Siddiqmantan Rais Aam PBNUpada pembukaan Muktamar NU di Krapyak Yogyakarta (1989) untuk menyatakan keputusan NU menerima Pancasila sebagai asas berbangsa dan bernegara sudah final. Efek dari pernyataan sikap ini sangat luar biasa sekali. Dimana hubungan antara pemerintah dengan Islam pun terasa sangat harmonis yang ditandai dengan menipisnya kecurigaan terhadap Islam. 6

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

Pertanyaan yang relevan dikemukakan di sini, lantas bagaimana tanggapan para kiai-ulama terhadap ideologi Trans-Nasional, seperti isu pendirian khilafah islamiyah, yang dengan jelas menolak Pancasila sebagai dasar negara dan mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)? Jika menolak, apa alasan yang melatarinya? Padahal, secara kasat mata, ideologi ini ingin memperjuangkan aspirasi umat Islam. Sejauh pengamatan penulis selama ini, para kiai-ulama nasionalis kita masih belum bisa menerima ideologi impor tersebut. Bahkan, ulama sekaliber KH. Ma'ruf Amin (ketua MUI) juga bersikap apatis ketika ada kelompok yang mengusulkan agar memasukkan isu khilafah dalam agenda keputusan MUI. Untuk mengetahui keengganan kiai-ulama nasionalis terhadap isu khilafah ini, setidaknya beberapa analisa Ahmad Basomantan anggota Komnas HAMmanarik untuk diutarakan di sini. Pertama, ideologi ini hadir dalam bentuk gerakan politik (political movement) untuk mempengaruhi kebijakan negara dan pemerintahan. Dimana gerakan ini dipimpin oleh komando global, bukan dari Indonesia sendiri. Kedua, pengusung ideologi ini tidak mengenal istilah kebangsaan dan nasionalisme. Oleh karenanya, mereka tidak mengenal Tanah Air yang sedari dulu dipertahankan dan diperjuangkan mati-matian oleh founding fathers bangsa ini. Ketiga, isu khilafah ditarik ke dalam umat Islam Indonesia sebagai kampanye pemurnian pemahaman keislaman. Seakan mayoritas umat Islam Indonesia tidak dianggap beriman hanya karena menolak agenda khilafah. Jadi, sangat jelas sekali bahwa isu penegakan khilafah islamiyyah (khilafah establishing) ini menjadi tidak relevan diterapkan di Indonesia bukan saja karena bertolak belakang dengan asas Pancasila. Akan tetapi, terutama dari segi teologis (aqidah), juga berlawanan dengan aqidah mayoritas umat Islam di Indonesia, yaitu Aswaja. Dari sini, keengganan kiai-ulama terhadap ideologi TransNasional mendapatkan pembenarannya. Sebagai penutup dalam tulisan ini, ulama dengan segenap wawasan kebangsaannya yang begitu tinggi ternyata mampu memposisikan dirinya, selain ditaati oleh masyarakat umum, sekaligus juga disegani oleh lawan politiknya. Dengan semangat kebangsaan pula mereka mampu mendebat ideologi yang datang dari luar, baik ideologi kanan maupun kiri. Politik kebangsaan para kiaiulama ini tidaklah muncul begitu saja dari ruang hampa. Tetapi, kekuatan itu muncul dari hasil pemahaman yang mendalam atas turats klasik dengan realitas social-politik yang mengitarinya. Pada akhirnya, sebagai penerus perjuangan para kiai-ulama, sudah . . . . . . . . . Bersambung Ke Hal. 24
Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Manusia adalah anak dari Editorial lingkungannya ( al insan ibnu biatihi), ungkapan tersebut adalah salah satu argumen mengapa dan untuk apa manusia melakukan suatu perbuatan. Di tengah maraknya berbagai fenomena politik, banyak peristiwa yang seringkali menjadi bahan kecapan bibir-bibir yang pro maupun kontra, salah satu fenomena yang dari dulu tak henti-henti meluncur dari pikiran-pikiran para pakar politik muslim dengan berbagai pandangan pro maupun kontra serta ikhtilaf mereka adalah keikutsertaan ulama' dalam urusan perpolitikan (siyasah). Tak terkecuali di Negara Indonesia tercinta. Sejak awal berdirinya hingga sekarang, sejarah lukisan politik baik dalam negeri maupun dalam partai selalu ada coretan warna ulama' atau kiai didalamnya. Terlepas dari sosok ulama yang masih disangsikan kehadirannya di ranah politik, dalam tanda kutip kepantasannya sebagai seorang tokoh agama ikut campur baur dengan orang-orang berdasi, secara seragam, keduanya memang berbeda jauh, apalagi tugas awal dari masing-masing nama juga berbeda pula. Perdebatan yang ada serta cuap-cuap masyarakat akan sosok kyai yang seolah hanya dijadikan sebagai baliho pemikat hak suarapun muncul ke permukaan dan tak dapat dielakkan lagi asumsinya. Tapi tak dapat dipungkiri, berubahnya zaman menuntut ulama ikut serta dan terjun langsung dalam ranah politik yang kian hari kian tak karuan. Tentunya dengan harapan, kehadiran para ulama dalam dunia politik bisa membuat perpolitikan menjadi lebih baik dengan berasaskan jalan yang benar. Kehadiran ulama dalam ranah politik harusnya dianggap sebagai angin segar yang mampu merubah kondisi ke depannya, bukan malah dicibir dan dianggap sebagai suatu hal yang tidak pantas. Ala kullin, sebagai rakyat Indonesia, kami berharap besar, kehadiran ulama mampu menjadi penjernih dunia perpolitikan. 8

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

Artikel

Langkah Nyentrik Para Ulama Dalam Pinangan Partai Politik


Oleh : Lutfi Ahsanudin*
Pendahuluan Pesta rakyat segera dimulai, genderang pemilu 2014 sudah ditabuh sejak beberapa bulan lalu, media massa mulai sibuk mengejar deadlines berita-berita aktual seputar perpolitikan nasional. Banyak para bakal calon anggota dewan mulai dari orang yang berwajah klasik, orang yang berganti wajah, sampai para selebritis yang tak tahu-menahu makna politis- mulai mengembangkan sayapnya ke seantaro Sabang-Merauke guna menarik para simpatisan. Sebab menjadi anggota dewan yang notabenya adalah orang yang dihormati, berkuasa, dan beruang, tentunya menjadi objek penyerbuan para Tukang Pencari Uang. Dewan Perwakilan Rakyat yang lebih dikenal dengan DPR merupakan suatu instansi pemerintahan yang mempunyai andil banyak dalam menjalankan roda pemerintahan NKRI. Tapi, apa kata orang jika para anggota dewan hanya berambisi menjual diri demi kekuasaan dan menimbun kekayaan?. Citra DPR secara otomatis akan dipandang sebelah mata oleh rakyat. Serta kepercayaan rakyat akan luntur jika para anggota dewan tidak menggemakan aspirasi rakyat. Cepat atau lambat opini publik pasti mengatakan bahwa DPR adalah orang yang kosong otaknya, tapi penuh KOTAKNYA. Lebih dari itu, gerakan bawah tanah yang tidak dinginkan akan bermunculan, yang berdampak pada lumpuhnya sistem pemerintahan Indonesia, sehingga tidak bisa mewujudkan tujuan didirikannya bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan
Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

UUD '45 Alenia ke-4. Akan tetapi, tidak semua anggota dewan orang yang berambisi pada hak pribadinya, tentunya banyak juga dari mereka yang selalu berpegang teguh dalam menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat. Tapi semua itu tidak akan berarti bagi rakyat jika aspirasi dan keinginan mereka yang merupakan hak bagi setiap warga negara Indonesia tidak tersalurkan. Rakyat hanya akan menanti wakilnya yang jujur, komitmen, serta konsisten pada pendiriannya. Impian mereka tetap bertumpu pada wakil mereka yang bersedia bersimbiosis mutualisme, sebab mereka sudah memilih wakil rakyatnya dalam pemilu legislatif dan sudah percaya pada dirinya. Memang sudah menjadi rahasia umum kalau DPR adalah lembaga yang sebagian anggotanya terlibat dalam kasus KKN. Problem itu membuat citra DPR semakin terpuruk. Banyak survei nasional membuktikan bahwa DPR termasuk lembaga terkorup. Kalau dikaji dan ditelaah lebih logis, sebenarnya DPR memerlukan kepercayaan masyarakat agar citra lembaga tersebut tidak dipandang negatif. Demi menjaga stabilitas dan moralitas anggota dewan yang merupakan kader partai di setiap fraksi di DPR, maka tak heran jika banyak partai yang berasaskan islamis melenggang bebas maju menuju pesta rakyat sejak sistem multipartai dianut Indonesia. Mereka memainkan tokoh utama mereka yang lebih dikenal dengan sebutan ulama. Tidak itu, partai yang berasakan nasionalis pun tak mau ketinggalan dalam memfilter para kadernya untuk dijagokan dalam pemilu. Akhrinya timbul sebuah dua pemandangan yang begitu kontras dalam carut-marut perpolitikan Indonesia. Para ulama yang dikenal dengan pengasuh masyarakat awwam, penerus ajaran rasul, dan penyejuk dahaga bagi orang yang gersang tentang Islam, akan muncul asumsi negatif terhadap diri mereka jika mereka terjun ke dunia politik praktis. Tapi siapa lagi yang akan menjamin Indonesia tetap akan sejahtera dan maju bersaing di kancah internasional jika para wakil rakyatnya tidak mementingkan kepentingan rakyat, malah mementingkan kantong sakunya?. Dari sini, parpol Islam mulai meminang para ulama' yang awalnya kurang terlihat aktif dalam politik, demi mewujudkan wakil rakyat yang bersih dan jujur, untuk ikut maju memenangkan partainya dalam pemilu. Jika demikian, apakah salah ulama' berpolitik? Pembahasan A. Fenomena Ulama Nyaleg Ulama dalam hal ini meliputi para kyai yang terbiasa dengan lingkungan pesantren serta kitab kuningnya, dan para ustaz yang membumikan syari'at Islam dengan jalur dakwah di berbagai majlis taklim, baik via media visual, audio visual, atau media cetak. Kata ulama dalam al-Quran sendiri menurut Quraish 10

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

Shihab disebutkan sebanyak dua kali. Pertama, dalam konteks ajakan al-Qur'an untuk memperhatikan turunnya hujan dari langit, beraneka ragamnya buahbuahan, gunung, binatang dan manusia, yang kemudian diakhiri dengan ayat yang artiya, Sesungguhnya yang takut kepada Allah, diantara hamba-hambaNya, hanyalah ulama. Ayat ini menggambarkan bahwa yang dinamakan ulama adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang Ayat-ayat Allah Swt yang bersifat kauniyah (fenomena alam). Kedua, dalam konteks pembicaraan al-Qur'an yang kebenaran dan kandungannya telah diakui (diketahui) oleh Ulama Bani Israil, sebagaimana dituturkan dalam Surat Asy Syu'araa ayat 197 yang terjemahannya, Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya. Lebih lanjut Quraish Shihab menguraikan bahwa berdasarkan kedua ayat di atas, maka dapat di ambil sebuah kesimpulan bahwa yang dimakud dengan ulama adalah orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang Ayat-ayat Allah, baik ayat yang bersifat kauniyah maupun qur'aniyah, yaitu orang yang mampu memadukan dua potensi, yakni potensi pikir (terhadap Ayat Allah yang bersifat kauniyah) dan dzikir (terhadap ayat Allah yang bersifat qur'aniyah) dalam terminologi al-Quran disebut Ulul Albab. Dalam dunia perpolitikan Indonesia, jasa sebagian ulama sudah dikenal sejak lama dalam membentuk NKRI. Terbukti ulama sekaliber KH. Abdul Wahid Hasyim bapak dari KH. Abdurrahman Wahid mampu memainkan perannya dengan apik pada zaman kemerdekaan Indonesia, bahkan beiau termasuk dari Tim Formatur Pembentukan Asas NKRI yang lebih sering didengar dengan istilah Pancasila. Tidak heran jika ulama zaman sekarang pun masuk dunia politik. Bukti yang paling real adalah tokoh NU, KH. Abdurrahman Wahid yang lebih akrab disapa Gus Dur yang sekaligus menjadi Presiden RI pertama dari kalangan ulama/kyai. Akan tetapi sangat disayangkan jika kehadiran ulama justru berdampak pada pemarginalan pesantren dan santrinya atau para jama'ah majlis taklimnya. Ini yang sangat dikecam oleh berbagai ulama sepuh nusantara. Parpol Islam yang dulunya didirikan oleh berbagai tokoh ulama nasional yang bertujuan menyelamatkan Indonesia dari politik jahat sekarang malah menjadi lahan mencari uang para kader, dan bahkan tempat mencari popularitas lewat jalur para selebritis demi memenangkan partainya dalam pemilu. Fenemona ini pun berakibat buruk pada ulama yang memang berada pada parpol Islam itu, sehingga pamor mereka redup ketika mereka diajukan partai untuk maju sebagai calon legislaif mewakili partai itu. Sebenarnya, ulama yang maju menjadi calon anggota legislatif baik di tingkat kabupaten/kota, propinsi dan nasional, adalah mereka yang benar-benar memperhatikan sisi kepentingan umumnya, dan mereka juga tidak berusaha melebur dasar negara Indonesia sebagai negara Islam, walaupun ada sebagian
Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

11

kecil yang bertujuan untuk politik praktis saja. Politik yang sebenarnya adalah politik yang harus diwarnai sebagai upaya manusia meraih kesempurnaan dan kemashlahatan. Dengan pemahaman ini, politik mempunyai nilai yang luhur, sakral, dan tidak bertentangan dengan agama. Statement yang diuraikan Gus Dur ini sudah terwakili oleh para ulama yang maju dengan niat tulus sebagai calon anggota dewan, bukan sebagai justifikasi bahwa ulama buta dengan politik, karena pekerjaan mereka hanya ceramah, ngajar kitab kuning, serta khatib di masjid, bukannya mengurus negara. Pasang surut ulama nyaleg berakibat munculnya sikap pro dan kotra terhadap langkah mereka. Dengan jalan memuluskan politik nasional dalam kubu parpol yang berasaskan Islami, mereka tak segan-segan meminang para ulama yang mempunyai kredebilitas, loyalitas, akuntabilitas, dan yang terpenting adalah popularitas. Walhasil masyarakat awwam memandang bahwa jati diri ulama yang selalu dipandang orang yang menyejukkan hati seolah menjadi orang haus kekuasaan. Apalagi ulama yang dirangkul oleh politisi, sementara dia sendiri tidak memiliki skill dalam kancah politik, di sini kepentingan para politisi akan dapat menyetir ketulusan ulama, dan posisi ulama tidak lebih hanya sebagai Magnet pemikat tanpa memberikan manfaat yang jelas bagi umat. Apalagi jika kondisi para ulama tidak satu kata dalam pandangan politik, dan hal inilah yang kerap terjadi di masyarakat. Maka imbasnya adalah timbul kerancuan umat seirama dengan perang urat saraf antar ulama yang berbeda dalam ijtihad politik. Indonesia membutuhkan pakar politisi dari ulama yang berkualitas dan kuantitaf tinggi yang tidak dipakai popularitasnya demi suara partai belaka. Itulah, ulama yang berhak menjadi calon anggota legislatif. Maka dari itu, perlu adanya upaya untuk menyadarkan masyarkat tentang langkah dan sikap para ulama yang maju dan terjun ke duina politik. Karena sejatinya Islam itu sangat memperhatikan politik. Itu terbukti pada kajiankajian fiqh siyasi pada masterpiece sarjana Islam (baca: ulama) yang sangat detail menjelaskan dinamika perpolitikan Islam yang lebih dikenal dengan sebutan fiqh qodlo', agar masyarkat bisa membedakan mana ulama yang berjuang memajukan moral politik bangsa dan ulama yang hanya menjadi mesin uang partai dan magnet rakyat karena popularitas, tapi kosong dari skill perpolitikan bangsa. B. Dilema Politik Politik nasional yang didefinisikan sebagai asas, haluan, usaha, tindakan serta kebijakan tindakan negara tentang pembinaan serta penggunaan secara menyeluruh potensi nasional, baik yang potensial maupun yang efektif, untuk tujuan nasional masih tidak dimengerti oleh mayoritas rakyat Indonesia bahkan para calon anggota legislatif di semua tingkat nasional. Indonesia harus mencurahkan segenap kemampuan untuk kesejahteraan dan kemakmuran 12

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

rakyat di setiap lini kehidupan rakyat. Dan itu jelas melalui tangan para pejabat pemerintah. Realisasi tujuan politik nasional akan goal jika semua aspirasi rakyat yang berskala nasional sudah terpenuhi. Dinamika politik Islam sendiri bisa dimetaforakan seperti musim pertanian yang dibagi menjadi dua babak menurut kuntowijoyo-. Pertama, musim menanam (kira-kira antara 1945-1950), dan kedua, musim menuai (sesudah tahun 1950). Pada Musim tanam politik Islam, umat Islam yang dapat dikategorikan secara sederhana dalam dua kelompok yakni kelompok Nasionalis (Sekuler) yang menolak penyatuan urusan agama dengan politik, dan kelompok Islamis yang berkeyakinan bahwa ajaran agama Islam diwujudkan melalui dunia politik, memiliki paling tidak kesamaan musuh yaitu pemerintahan Kolonial Belanda. Semangat menanam inilah yang mungkin menjadikan dua organisasi umat Islam terbesar yakni NU (Nahdatul Ulama) dan Muhammadiyyah serta organisasi non partisan lainnya bersedia untuk "masuk ke pelaminan" dan membentuk satu "rumah tangga baru" politik, yakni MIAI (Majelis Islam 'ala Indonesia). Sedangkan pada musim menuai, muncullah beragam partai politik Islam yang dimulai dengan partai Masyumi yang merupakan gabungan dari organisasi-organisasi Islam yang meliputi Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Sarekat Islam (SI), melawan rival beratnya Partai Komunis Nasional (PKI), meskipun setelah beberapa tahun kemudian NU menjadi parpol sendiri. Dan mencapai puncaknya pada rezim orde reformasi ketika Gus Dur menjadi presiden RI. Dengan pasang surut perkembangan politik nasional terutama politik Islam sendiri yang cukup bergejolak, hal itu menjadikan para ulama tetap eksis untuk maju menjadi wakil rakyat bahkan menjadi kepala daerah mulai tingkat Kabupaten/Kota bahkan sampai tingkat nasional dengan berkaca kepada para pendahulu mereka. Pertimbaangan seperti itu memang tidak bisa disalahkan, karena kiprah dan peran ulama dalam ranah politik nasional cukup mempunyai porsi yang besar. Di sisi lain para ulama sekarang terkesan bersikap karet (tarikulur) dan ragu-ragu untuk memutuskan dirinya terjun ke pentas dunia politik zaman sekarang yang bisa terbilang sangat kejam, dengan berlandaskan sebagian dawuh ulama sepuh dan Ijtihad Politiknya supaya tetap fokus pada kegiatan primer mereka yaitu mengajarkan syari'at Islam kepada masyarakat. Padahal syari'at silam tidak cuma solat, zakat, dan haji, akan tetapi komprehensif pada setiap sisi kehidupan manusia. Dengan demikian, timbulah dilema politik yang merasuki sendi-sendi tubuh para ulama, sehingga sangat sulit sekali memutuskan untuk ikut serta dalam kancah politik nasional.

Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

13

C. Salahkah Ulama Berpolitik? Politik bangsa Indonesia sejak rezim penjajahan, orde lama, orde baru, sampai rezim orde reformasi selalu diwarnai peran para ulama. Bahkan pada rezim penjajahan tidak ada gap antara tokoh Islam dengan tokoh agama lain, itu dikarenakan suasana sosial politik Indonesia pada tahun-tahun pertama kemerdekaan memperlihatkan tidak adanya hambatan penting yang menghalangi hubungan politik antara arus utama intelektual Islam dengan kelompok nasionalis. Perdebatan di antara mereka mengenai corak hubungan antara Islam dengan negara seperti terhenti. Paling tidak untuk sementara. Kedua kelompok ini mempunyai perbedaan ideologis. Pada saat itu, tampaknya muncul kesadaran bahwa seluruh bangsa harus menumpahkan energi dan kemampuan untuk mempertahankan Republik Indonesia yang baru berdiri dan mencegah Belanda kembali memasuki wilayah Indonesia. Sampai pada rezim orde reformasi sekarang, eksistensi ulama dalam kancah politik tidak punah begitu saja. Justru, perkembangan moral positif politik bangsa disinyalir berkat pantulan peran para ulama. Sangat disayangkan jika keberadaan mereka di parlemen maupun di Eksekutif dikambing hitamkan atau dianak tirikan. Sebenarnya Indonesia berhutang jasa kepada ulama yang sejak dulu berperan dalam carut-marut politik bangsa, sehingga bisa bangkit dari rezim kolonialis menuju rezim reformasis seperti ini. Sesuai UU RI No. 8 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, keberadaan ulama dalam politik bukanlah tindakan yang naif ataupun abnormal, sebab mereka mempunyai hak untuk menjadi wakil rakyat sesuai persyaratan yang berlaku pada UU tersebut. Pada dasarnya, ulama yang menjadi politisi justru ulama yang mempunyai kapabilitas tinggi dalam jurisprudence hukum ilahi, karena ulama yang seperti ini cakap dalam aplikasi fiqh qodlonya yang tidak hanya dipelajari tanpa adanya practice sama sekali. Merekalah yang bersedia menjalankan roda pemerintahan Indonesia dan tidak acuh tak acuh pada produk-produk hukum Indonesia. Tapi, yang sangat perlu diperhatikan dan digaris bawahi adalah bahwa kelegalan ulama yang berpolitik harus terpenuhi terlebih dahulu skill dan kemampuannya, supaya terhindar dari pemanfaatan ulama sebagai icon partai dan magnet pendulang suara rakyat yang bisa berdampak pada penelantaran kegiatan primernya dan lebih menyibukkan diri dalam urusan politiknya. * Penulis adalah mahasiswa mustawa 4 fakultas syariah. universitas Al-Ahgaff

14

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

Urgensitas Peran Ulama Dalam Dunia Politik


Oleh : Hasan Basri Hayyi* A. Pendahuluan ema keikutsertaan aktifis islam baik dari kalangan ulama', du'aat dan pemikirnya dalam pertarungan politik hingga kini masih saja menjadi tema yang menarik dan hangat untuk diperbincangkan, hal itu terbukti dengan adanya pro maupun kontra dikalangan mereka yang mengkaji dan mendiskusikannya. Polemik ini jika diteliti lebih jauh bukanlah polemik yang baru terjadi kali ini, namun sudah sejak dulu bahkan sejak berabad-abad silam, tema keterlibatan para ulama dan cendikiawan muslim secara politis dalam penyelenggaraan Negaram, baik sebagai eksekutif, legislatif, maupun yudikatif selalu menjadi perdebatan yang hangat dikaji. Dan siapapun yang membeca literatur-literatur zaman itu akan menemukan misalnya bagaimana sebagian ulama mengingatkan bahaya mendekati "Pintu Sultan", atau bahkan menolak jabatan sebagai seorang qadhi. Tentu saja perdebatan itu tidak dalam kapasitas memvonis haram halalnya "Profesi Politis" tersebut, tetapi hanya sebatas mempersoalkan boleh atau makruhnya hal tersebut, dan tentu saja kemakruhan ini berlandskan sikap wara' semata, tidak lebih dari itu. Dan sikap wara' sendiri jika ditelisik lebih jauh nampaknya dilandasi oleh dua hal: Pertama: tingkat resiko pertanggung jawaban yang sangat besar yang

Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

15

terdapat dalam jabatan tersebut. Kedua: bahwa posisi yudikatif (qodha') secara khusus memiliki keterkaitan yang begitu kuat dengan posisi imamah kubra (kepemimipinan tinggi) yang dalam hal ini dipegang oleh khalifah yang memiliki sifat keadilan yang berbedabeda. B. Hakikat Ulama Kata ulama merupakan bentuk plural dari kata 'alim, secara etimologi kata 'alim berarti orang yang berpengetahuan. Sedangkan secara terminologi ulama adalah orang yang ilmunya mampu mengantarkan dia kepada khasyyah (yakni rasa takut dan kagum kepada Allah), yang pada gilirannya hal itu akan mendorong orang 'alim yang bersangkutan untuk menerapkan ilmunya serta memanfaatkannya untuk kepentingan makhluk. Allah Swt. berfirman dalam Surat Fathir ayat 28: [28 : ] Artinya: Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. (QS. Fathir (35): 27-28. Dan Rasulullah Saw. Bersabda: . , , ... Artinya: Ulama adalah pewaris para Nabi (Waratsah Al Anbiya') HR. Abu Dawud, At-Turmudzi, dan Ibnu Majah. Hadits ini menjelaskan akan pentingnya ulama dalam meneruskan misi kenabian (nubuwwah) di muka bumi. Ulama berperan menegakkan hukum Allah, memperjuangkan kebenaran dan keadilan serta selalu mengedepankan kepentingan umat demi perwujudan kemaslahatan umat Islam itu sendiri. Dari deskripsi sederhana ini, terpikir oleh kita bahwa ulama ada yang baik (yang benar dengan keulamaannnya) dan ada yang tidak baik ('ulama su'). Ulama yang baik dan benar inilah yang dapat membangun bangsa ini ke depan menjadi lebih baik. Inilah yang disebut Politik Ulama. Sedangkan, ulama yang tidak baik (ulama su') justru akan semakin merusak kondisi bangsa ke depan, inilah yang disebut Ulama Politik. C. Peran Ulama dalam Masyarakat Ulama dalam masyarakat islam begitu terhormat, hal ini berkaitan dengan sabda Nabi Muhammad Saw. bahwa ulama adalah warasah al 'anbiya (pewaris para nabi). Ulama mewarisi tugas para nabi dalam berdakwah menyampaikan yang hak, dan turut serta memerangi yang bathil, amar ma'ruf nahi munkar, menyampaikan yang benar kepada masyarakat maupun kepada penguasa. Tugas para ulama tidak melulu dalam mengkaji kitab-kitab para ulama salaf dan 16

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

khalaf saja, namun mereka harus mengkaji pula berbagai persoalan umat termasuk di dalamnya masalah politik. Ketika ulama kemudian memutuskan menarik diri dari persoalan dunia termasuk politik, kemudian memfokuskan diri hanya pada hubungannya dengan Allah, maka hal ini sangat bertentangan dengan syariat. Adakah akhirat dituju tanpa melalui dunia? jawabannya tidak. Sungguh setiap muslim tidak hanya dituntut kesalehan individual, tapi juga kesalehan sosial, adakah sosial itu tidak membahas politik sedang politik itu kemudian berhubungan dengan siapa yang akan memerintah umat. Meninggalkkan politik secara keseluruhan bagi seorang ulama adalah kiamat bagi umat, ketika tidak ada lagi pencerahan politik dengan haluan-haluan dan rambu-rambu syariat maka umatlah yang akan mengalami kerugian besar. D. Pengertian Politik dalam Islam Politik di dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah As-Siyasah. Oleh sebab itu, di dalam buku-buku para ulama dikenal istilah As-Siyasah As-Syar'iyyah. Dalam Kamus Al-Muhith, Siyasah berakar kata ssa-yassu. Dalam kalimat Sasa ad-dawaba yasusuha siyasatan berarti Qama 'alaiha wa radlaha wa adabbaha (mengurusinya, melatihnya, dan mendidiknya). As-siyasah juga memiliki arti mengatur, mengendalikan, mengurus, atau membuat keputusan, mengatur kaum, memerintah, dan memimpinya. Secara tersirat dalam pengertian Al-siyasah terkandung dua dimensi yang berkaitan satu sama lain, yaitu: 1) Tujuan yang hendak di capai melalui proses pengendalian. 2) Cara pengendalian menuju tujuan tersebut. Secara istilah politik (menurut islam) adalah pengurusan kemaslahatan umat manusia sesuai dengan syara'. Pengertian siyasah lainya menurut Ibn A'qil sebagaimana dikutip oleh Imam Ibnu Qayyim sebagai berikut: - : . - Artinya: politik adalah segala perbuatan yang membawa manusia lebih dekat kepada kemaslahatan dan lebih jauh dari kemafsadatan, sekalipun Rasulullah Saw. tidak menetapkannya dan (bahkan) Allah Swt. tidak (1) menentukanya dengan perantara wahyu . Pandangan politik menurut syara', realitanya pasti berhubungan dengan masalah mengatur urusan rakyat, baik oleh negara maupun rakyat. Sehingga definisi dasar menurut realita dasar ini adalah netral. Hanya saja tiap ideologi (kapitalisme, sosialisme, dan Islam) punya pandangan tersendiri tentang aturan dan hukum mengatur sistem politik mereka. Dari sinilah muncul pengertian
Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

17

politik yang mengandung pandangan hidup tertentu dan tidak lagi netral. E. Dalil Berpolitik dalam Islam Rasulullah Saw. sendiri melafalkan kata siyasah (politik) dalam sabda beliau: : . Artinya: Bani Israil dulunya (urusan mereka) diatur oleh para nabi. Ketika seorang nabi wafat, nabi yang lain datang menggantikannya. Dan sesungguhnhya tidak ada nabi setelahku, (tetapi) yang akan ada adalah para khalifah. (HR. Bukhari dan Muslim). Melalui hadis tersebut jelaslah bahawa politik atau siyasah itu bermakna mengatur urusan masyarakat. Rasulullah Saw. Bersabda dalam hadisnya : : . Artinya: Barang siapa yang tidak memperhatikan urusan Kaum Muslimin maka ia bukan termasuk dari golongan mereka, dan barang siapa yang terjaga di pagi hari dan di sore hari dan tidak memberikan nasehat karena Allah, Rasul-Nya, kitab-Nya, dan semua kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka (kaum muslimin). (HR. Thabrani).(2) F . Politik dalam Persepektif Ulama Ibnu Taimiyyah mengatakan: Wajib diketahui bahwa mengurusi dan melayani kepentingan manusia merupakan kewajiban terbesar agama, dimana agama dan dunia tidak bisa tegak tanpanya. Sungguh Bani Adam tidak akan lengkap kemaslahatannya dalam agama tanpa adanya jamaah, dan tidak akan ada jamaah tanpa adanya kepemimpinan. Nabi Saw. bersabda dalam haditsnya: . : Artinya: Jika tiga orang keluar untuk bepergian maka hendaklah mereka mengangkat salah satu dari mereka sebagai pemimpin. (HR. Abu Dawud). Nabi mewajibkan umatnya mengangkat pemimpin bahkan dalam kelompok kecil sekalipun, dalam rangka melakukan amar ma'ruf nahi munkar, melaksanakan jihad, menegakkan keadilan, menunaikan haji, mengumpulkan zakat, mengadakan salat hari raya, menolong orang yang dizalimi, dan (1) menerapkan hukum hudud. Lebih jauh Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa Kedudukan Agama dan Negara saling berkelindan, tanpa kekuasaan negara yang bersifat memaksa, agama berada dalam bahaya, sementara tanpa wahyu, negara pasti menjadi 18

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

sebuah organisasi yang tiranik. Sebab kekuasaan penguasa merupakan tanggung jawab yang harus dipenuhi dengan baik. Penguasa harus mengurusi rakyatnya seperti yang dilakukan pengembala kepada gembalaanya. Penguasa disewa rakyatnya agar bekarja untuk kepentingan meraka, kewajiban timbal balik kepada kedua belah pihak tersebut menjadikan perjanjian dalam bentuk kemitraan. Imam Al-Mawardi menjelaskan dalam kitabnya bahwa as-siyasah assyar'iyah sebagai: Kewajiban yang dilakukan kepala negara pasca kenabian dalam rangka menjaga kemurnian agama dan mengatur urusan dunia (hirosah ad (2) din wa raiyyah ad dunya) . Imam Ghazali menulis dalam kitabnya (Ihya' Ulumuddin) bahwasanya politik ataupun al-siyasah dalam memperbaiki Makhluk Allah dan memberi petunjuk kepada mereka ke jalan yang lurus yang menyelamatkan mereka di dunia dan akhirat terurutkan ke dalam empat tingkatan: Pertama: yaitu martabat tertinggi adalah siyasah para nabi, dan hukum mereka berlaku kepada semua golongan baik khas maupun awwam, zahir maupun batin. Kedua: siyasah para khalifah, raja dan sultan, dan hukum mereka juga berlaku kepada semua golongan baik khas maupun awwam, akan tetapi terbatas dalam hukum zahir saja bukan batin. Ketiga: siyasah al-ulama billah azza wajal wa bi dinihi yang merupakan pewaris para nabi (Ulama Tasawuf yang menggabungkan antara hakikat dan syariat), dan hukum mereka hanya berlaku kepada golongan khas saja serta terbatas pada hukum batin, kerana golongan awam tidak mampu untuk mengambil faedah dari mereka. Keempat: siyasah para da'i, dan hukum mereka hanya berlaku pada golongan awwam dan terbatas pada hukum batin saja. Dan siyasah yang paling mulia selepas nubuwwah adalah mengutamakan peyebaran ilmu yang bermanfaat serta memperelok jiwa manusia daripada akhlak mazmumah yang membinasakan, dan juga menunjuki manusia untuk berakhlak mahmudah yang akan mengantarkan mereka menuju kebahagiaan di akhirat kelak.(3)G. Tugas-Tugas Ulama dalam berpolitik Aktivitas para ulama dalam politik sebenarnya dapat dikutubkan dalam beberapa hal, berikut diantaranya: 1) Menjaga kejernihan pemikiran umat Pemikiran umat dalam bidang politik haruslah dijaga dan dituntun, tidak bisa dibiarkan liar mengikuti hawa nafsu serta mengikuti pemikiran-pemikiran menyimpang yang bertentangan dengan syariat. Ulama yang faham mana yang

Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

19

bertentangan dengan syariat dan mana yang tidak harus segera bertindak ketika mengetahui adanya gejala-gejala politik berbahaya yang akan dihadapi umat ke depannya. Dengan begitu kejernihan pemikiran umat dapat dipertahankan. 2) Melakukan fungsi kontrol terhadap penguasa Ketika penguasa menerobos lampu merah, maka ulama harus segera memberlakukan surat tilang, memperingatkan penguasa agar tidak berbuat hal yang demikian di kemudian hari. Jika para penguasa bertahan dengan kesalahan-kesalahannya, dan ulama hanya sibuk di perpustakaannya, maka umat lah yang akan dirugikan. Dan kedudukan ulama sebagai warasah al 'anbiya menjadi tidak relevan dalam kehidupan umat. Kita ingat bagaimana Imam Ahmad bin Hanbal dipenjara oleh penguasa kala itu sebab tidak sepaham dengan pernyataan penguasa yang menyatakan bahwa Al Quran adalah makhluk, tanpa ada rasa takut atau sungkan, yang ada adalah prinsip bahwa sesuatu yang hak itu harus disampaikan dan yang batil itu mesti dilenyapkan apapun resikonya. 3) Melakukan perang pemikiran Di masa sekarang ini perang pemikiran antar faham dan ideologi tidak dapat dihindarkan. Pemikiran islam diserang bertubi-tubi dari samping kanan dan samping kiri, dari belakang juga dari depan. Peran ulama dalam melakukan perang pemikiran dengan orang-orang yang telah terkontaminasi dengan pemikiran pluralisme, liberalisme, dan juga sekulerisme amat sangat dibutuhkan pada saat-saat ini. jika kemudian ulama abai, pemikiran umatlah yang rusak, sehingga berkonsekuensi terhadap pengacuhan syariat dan berkiblat kepada pemikiran-pemikiran sesat. Sekali lagi bahwa peran ulama sangat vital. 4) Memberikan solusi politik Ketika politik dihadapkan kepada masyarakat dalam bentuk pemilihan umum misalnya adalah sah-sah saja jika ulama kemudian mengeluarkan pendapatnya di hadapan jamaah dan umat, manakah yang layak untuk dipilih dan mana yang tidak?. Asalkan ulama dapat berhujjah sesuai dengan syariat tanpa melakukan hal-hal yang menyimpang dari syariat semisal fitnah dan lainnya, maka ini adalah termasuk peran politik ulama. Jadi tidak benar jika kemudian meminta ulama untuk tidak memberikan solusi politik ketika sebagian pihak hendak menabrak hukum syariat dengan dalih kebebasan dan alam demokrasi. 5) Menggerakkan masyarakat untuk berjihad politik Berjihad politik dengan menegakkan kesadaran politik yang santun dan bersih, meninggalkan hal-hal kotor. Tetapi sekali lagi, dewasa ini banyak orang yang menyampaikan sesuatu berlandaskan syariat dianggap melakukan politik kotor dengan berdalil bahwa negara ini tidak berlandaskan hukum kelompok . . . . . . . . . Bersambung Ke Hal. 24 20

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

Opini

Peran Ulama
Dalam Membangun Moral Politik Bangsa
Oleh : Syaiful Arif* Islam adalah agama universal dalam segala dimensinya. Sebagai agama samawi yang terakhir, Islam dituntut untuk bisa menampung dan memberikan penjelasan terhadap semua hal yang telah, sedang dan akan terjadi dalam masa berlakunya Islam itu sendiri, yaitu dari sejak diutusnya Rasulullah Saw. hingga hari akhir nanti. Selain itu, karena Islam adalah agama untuk semua umat manusia, maka Islam harus mampu memberikan solusi terhadap segala problematika yang dihadapi dari semua aspek dan komponen penyusun kebudayaan dan peradaban. Tak terkecuali aspek politik, Islam tentunya juga telah memiliki peraturan yang bisa menjadi solusi bagi semua problematika yang ada pada bagian penting dalam masyarakat ini. Politik yang memiliki peranan cukup besar dalam perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara secara khusus dan kehidupan manusia secara umum harus selalu mengikuti prosedur dan 'aturan main' yang ditawarkan oleh Islam agar kehidupan politik dalam sebuah bangsa berjalan dengan baik dan tak terjadi hukum rimba. Peraturan, moral, etika, metode dan segala hal yang berhubungan dengan politik yang ditawarkan oleh Islam dapat kita baca, pelajari dan kita terapkan melalui pengkajian secara serius terhadap aktivitas politik yang

Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

21

dilakukan oleh Rasulullah Saw. dalam hidup beliau karena Rasulullah Saw. tak lain merupakan bentuk kongkrit dari penerapan aturan-aturan Islam secara keseluruhan dilihat dari segala aspek dan sisi termasuk aspek politik. Maka dari itu, aktivitas politik yang dimainkan oleh Rasulullah Saw adalah bentuk aktivitas politik sempurna dan menjadi barometer dalam kegiatan-kegiatan politik berikutnya. Moral yang beliau terapkan juga merupakan moral yang ideal dalam melangsungkan kehidupan politik. Namun tak dapat dipungkiri dan tak bisa kita elakkan bahwa moral politik bangsa Indonesia sangat sulit untuk kita katakan sesuai dengan moral politik Rasulullah Saw., dan fakta mengatakan bahwa moral politik bangsa kita cukup memprihatikan. Hal tersebut dapat kita lihat dari dilangsungkannya pelbagai macam praktek politik kotor dan pelanggaran atau bahkan penyalahgunaan aturan yang terus mewarnai dunia politik bangsa kita. Terlepas dari motif-motif yang menjadi background dari tindakantindakan politik kotor tersebut, yang perlu kita perhatikan adalah bahwa moral politik bangsa perlu untuk melakukan rekonstruksi atau setidaknya pembenahan dan renovasi agar dunia politik kita berjalan sesuai dengan tuntutan dan tuntunan Islam karena hal tersebut akan menjamin kemaslahatan bagi semua pihak.Perlu disadari bahwa keberhasilan dan kemajuan sebuah bangsa dalam semua aspek pasti dan harus dilakukan bersama oleh semua komponen penyusun bangsa tersebut dari segala strata dan semua lapisan masyarakat. Tapi juga perlu diingat bahwa ulama dalam hal ini yakni pembangunan moral politik bangsa memiliki peranan yang lebih dan bahkan bisa kita katakan peranan utama. Hal tersebut merupakan hal yang wajar karena ulama adalah kelompok dan lapisan masyarakat yang memiliki kelebihan khusus dalam pengetahuan mengenai ilmu agama termasuk moral politik. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh ulama mengenai pembangunan moral politik bangsa. Salah satunya dengan selalu melakukan pengawasan terhadap perjalanan politik bangsa dan selalu memberikan saran, arahan dan kritikan yang membangun terhadap pelaksana-pelaksana politik bangsa. Hal ini sangat urgen karena politik tanpa pengawasan akan mengakibatkan banyak hal negatif. Sejarah politik dalam dinasti-dinasti Islam juga menggambarkan realita yang sejalan dengan apa yang telah disampaikan diatas. Ulama-ulama yang ada pada masa dinasti-dinasti Islam memberikan kontribusi kongkrit mereka terhadap para pelaksana politik dengan selalu mengawasi dan memberikan arahan dalam perjalanan politik dinasti-dinasti tersebut dan tak jarang pemegang kekuasaan tertinggi (kholifah) menjadikan para ulama sebagai penasehat kerajaan sehingga perjalanan politik dan kekuasaan dalam kerajaan tersebut selalu terawasi. 22

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

Sebaliknya, sejarah juga telah mencatat bahwa aktivitas politik dalam sebuah komunitas atau bangsa yang tidak dikontrol dan lepas dari pengawasan selalu mengakibatkan terjadinya banyak praktek politik kotor yang mewariskan banyak konflik dan efek negatif dalam komunitas tersebut. Terlepasnya politik dari pengawasan ulama dapat kita lihat jelas pada masa-masa awal dinasti Umayyah ketika para pelaku politik tidak mengalihkan perhatian mereka kepada para ulama. Hal tersebut menyebabkan banyaknya imej dan citra buruk pada para pelaku politik sehingga terjadi kepincangan yang cukup parah dalam perjalanan politik komunitas tersebut. Selain itu ulama juga bisa memberikan kontribusi terhadap kehidupan politik bangsa dengan mencetak kader-kader yang benar-benar mumpuni di bidang politik, yang mana kader-kader tersebut telah memiliki dasar yang kuat mengenai moral politik yang sesuai dengan ajaran Islam. Hal ini dapat diusahakan melalui pemberdayaan dan optimalisasi pesantren-pesantren sebagai mercusuar pencetak generasi bangsa islami. Pencetakan kader-kader politikus islami oleh ulama melalui pesantren memiliki peranan yang sangat besar dalam upaya pembenahan situasi perpolitikan bangsa. Terjadinya praktek-praktek politik yang menyimpang dan menyalahi aturan memiliki banyak motif dan salah satunya adalah minimnya atau ketidakpedulian para pelaku politik terhadap moral dan etika politik sendiri. Oleh karena itu, pesantrenlah langkah utama dalam memecahkan problem ini karena pesantren tak lain merupakan tempat pencetakan generasi bangsa yang memiliki dasar yang kuat dalam segala bidang termasuk moral politik. Ada satu hal yang kerap kali disalahpahami oleh sebagian masyarakat kita, yaitu bahwa ulama tidak boleh masuk dan berkiprah di dunia politik secara langsung dan ulama tidak boleh mencalonkan diri sebagai pemimpin atau wakil dari suatu daerah tertentu, karena hal tersebut tidak sesuai dengan titel mereka sebagai ulama panutan masyarakat dan bangsa. Namun asumsi semacam itu kurang dan bahkan tidak tepat, karena ulama sebagai panutan sebuah masyarakat dan sebuah bangsa tak hanya bisa menjadi panutan di dalam masjid, namun juga menjadi panutan di dalam kehidupan luar termasuk dalam dunia politik. Sejarah Islam juga sudah penuh dengan ulama (lebih-lebih para sahabat Nabi Muhammad Saw.) yang berkecimpung dalam dunia politik. Namun letak permasalahan yang menjadikan sebagian masyarakat berasumsi salah seperti yang telah kita sebutkan di atas adalah menyebarnya praktek politik kotor sehingga tak jarang masyarakat menganggap bahwa semua yang berkecimpung dalam dunia politik pasti melakukan praktek politik kotor. Dari sinilah ulama seharusnya melakukan langkah berikutnya dalam rangka rekonstruksi moral politik bangsa kita dengan menerapkan moral Islam
Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

23

dalam menjalankan roda politik bangsa kita. Mengikuti moral politik yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw., para sahabat beliau, dan juga para ulama pendahulu, adalah cara satu-satunya dan sangat tepat untuk memperbaiki citra buruk yang sudah terlanjur menyebar dalam asumsi sebagian masyarakat. Berperannya ulama secara langsung dalam dunia politik juga memiliki dampak menyebarnya moral politik islami dalam dunia perpolitikan bangsa kita. Apalagi ketika ulama menjadi pemimpin dan pembesar di dunia perpolitikan dalam sebuah masyarakat, moral politik islami yang ia jalankan akan dengan mudah menjadi moral politik dalam perpolitikan masyarakat tersebut secara umum. Jika ulama benar-benar menjalankan tiga hal tersebut di atas yang merupakan langkah-langkah dasar dengan ikhlas dan baik, maka harapan membaiknya kondisi moral politik bangsa kita akan terbuka lebih lebar, karena yang paling berperan dalam rekonstruksi moral politik bangsa adalah ulama. * Penulis adalah mahasiswa mustawa 5 fakultas syariah, universitas Al-Ahgaff serta
koord. PSDM FLP Hadhramaut

Sambungan Hal.7
sepatutnya apabila generasi muda Islam masa kini juga meneladani perjuangan mereka dalam membela agama Islam serta menjaga kedaulatan NKRI sebagai representasi hubbul wathon mina-l-iman. Tentunya, ini semua tidak akan bisa digapai tanpa usaha yang sungguh-sunguh dalam mendalami ilmu agama secara utuh. Tidak hanya sepotong-potong. Dengan demikian, spirit qurani yang berbunyi, baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur akan segera teraktualisasikan di tanah Indonesia.[] * Penulis adalah mahasiswa mustawa 5 fakultas syariah universitas Al-Ahgaff dan coauthor buku Kodifikasi Interdisipliner. Sambungan Hal.20 tertentu. Hal-hal seperti inilah yang menjadi sasaran jihad para ulama, agar tiang kebenaran syariat berdiri pada tempatnya.Ulama tidak boleh tinggal diam ketika melihat umat abai terhadap syariat padahal mereka masih menganggap syariat itu sebagai bagian dari agamanya, dan juga ketika umat lalai dan mengambil syariat yang sesuai dengan nafsunya serta meninggalkan bagian syariat yang lainnya. Sungguh syariat haruslah diambil keseluruhan dan tidak bisa dipilahpilah berdasarkan hawa nafsu. * Penulis adalah mahasiswa mustawa 3 fakultas syariah dan hukum, universitas Al-Ahgaff

24

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

Ulama Dalam Politik, Perlukah? Oleh : Mohamad Bejo, Lc*


Berbicara tentang peran ulama dalam membina moral politik memang agak sulit, bagaimana tidak, beberapa waktu lalu ternyata KPK menangkap gembong koruptor malah dari petugas kantor agama. Dikatakan memalukan juga bisa saja, tapi lebih mengkawatirkan lagi adalah, jika seperti itu ulama'nya, lalu bagaimana dengan yang lain? Politik, suatu arena mempengaruhi atau dipengaruhi, begitulah kiranya slogan itu dipampang oleh para petarung-petarung di dalamnya. Tanpa politik kita akan kacau balau, tapi dengan politik kita juga sering kacau. Berbeda dengan pemikul agama Nasrani dengan sebutan pihak gerejanya, Islam lebih dominan memberikan keluasan bagi siapa saja untuk mengajukan pendapat dan berekspresi. Jika selama berabad-abad Eropa kelam karena monopoli yang dilakukan pihak Gereja terhadap perpolitikan, maka ulama islam berbeda jauh, islam memberikan kebebasan berpendapat pada siapa saja, bahkan kadang mereka juga harus bertentangan sendiri dengan kebijakan yang dipilih negara. Selanjutnya, jika politik diartikan dengan bagaimana orang lain bisa mengikuti jalan saya, maka Islam akan bersinggung balik dengan prisip tersebut. Mengikuti jalan saya berarti asumsi yang diberikan adalah mengikuti suatu kehendak individu atau partai, baik itu benar atau salah, baik itu merugikan orang lain atau tidak, inilah yang membuat Islam kadang berbenturan dengan suatu kebijakan politik. Islam berjalan atas cahaya wahyu, sedang politik cenderung ke nafsu yang berkolaborasi dengan akal, sepintas hari ini menganggap paling baik, mungkin besok bisa saja disebut paling jelek. Sebenarnya tidak begitu rumit jika ulama ingin membina etika politik, tapi kadang dasar masalah itu sendiri oleh ulama terjadi suatu perselisihan, inilah yang sering membuat suatu kebijakan bimbang untuk mencetuskan suatu kebijakan. Kita andaikan saja dalam perselisihan itu ada pendapat kuat dan ada yang lemah, tapi yang kuat sudah tidak relevan lagi dengan zaman, inilah yang kadang membuat sebagian ulama tetap teguh pada pendahulunya, dan sebagian lagi harus merubah kondisi mengikuti pendapat yang lemah yang sesuai dengan zaman. Akibatnya, perselisihan terjadi, kebijakan politik pun terhambat, atau malah bisa-bisa memberikan dampak negative pada kesejahteraan masyarakat.
Edisi XX Januari - Juli 2013

Reparasi

Refleksi

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

25

Menoleh ke sudut lain dari politik dimana mempunyai tiga komposisi penting, yaitu Yudikatif yang dilaksanakan oleh lembaga seperti MA, Legislative (DPR), dan eksekutif (Presiden dan Wapres), maka peran ulama dalam membina etika politik tidak harus ikut dalam salah satu dari tiga itu, tapi ulama cukup berperan sebagai tokoh politik yang tetap konsisten dengan agama dan berusaha menjauhi benturan dengan kebijakan Negara. Bahkan bisa dibilang, ulama memiliki pengaruh lebih besar daripada aktor-aktor politik lainnya, yang inilah kadang digunakan oleh beberapa pihak untuk mengambil hati rakyat demi kepentingan suatu partai, dengan jalan mengatasnamakan mereka di atas agama. Inilah yang perlu dibenahi, agama bukan alat politik yang bisa semenamena digunakan untuk mengambil simpati, tapi agama adalah sekumpulan aturan yang mengatur bagaimana interaksi suatu individu dalam hubungannya dengan individu lain, alam sekitar, dan mengatur hubungannya dengan Sang Khaliq, Pengatur segala urusan. Andai terpaksa ulama harus turun ke dunia politik, maka suatu yang perlu diketahui, bahwa ulama seperti yang dibagi oleh Imam Al Ghozali terbagi ke dalam tiga kelompok: Pertama, ulama yang memiliki ilmu untuk mencari keridloan Allah Swt. semata, untuk mempersiapkan bekalnya di akherat. Kedua, ulama yang memiliki ilmu namun ilmunya digunakan untuk mencari suatu pangkat duniawi, mencari perhatian public, mencari harta dan hal-hal duniawi lainnya, walau demikian ia merasa dirinya itu salah dengan tindakannya itu, ia tahu apa yang ia lakukan dengan ilmunya itu salah, tidak pada tempatnya. Ketiga, ulama yang sama seperti ulama kedua tapi ia tidak merasa bahwa ia berjalan di jalan yang salah. Ia menyangka bahwa terjunnya ke dunia politik dengan jubah agamanya demi mencari suara public dan pangkat adalah suatu tindakan yang benar. Inilah ulama yang berbahaya. Dari ketiga jenis ulama tersebut, maka ulama pertamalah yang sepantasnya terjun ke dunia politik karena mereka lebih terjaga daripada yang lain, walau kadang dari mereka sendiri malah memilih menjauhi dunia politik yang menurut mereka penuh dengan kericuhan. Ulama yang kedua perlu disadarkan atas jalannya. Hatinya sebenarnya tahu kalau jalan yang ia tempuh itu salah, namun kadang ia tidak bisa atau sulit mengelak dari keadaan, dan inilah peran ulama yang lain untuk mengingatkannya. Ulama yang ketiga inilah yang berbahaya, jadi jangan aneh jika ada ulama yang tertangkap karena kasus korupsi. Ulama ketiga inilah yang dalam istilah disebut sebagai ulama' suu'. Dia tidak merasa bahwa dia itu salah, dia merasa bahwa ia telah berjalan di jalan yang benar walaupun sebenarnya duri yang ia injak, tapi walau demikian, ulama yang berperingai seperti ini harus tetap dipantau agar tidak membuat jubah agama tercoreng tinta hitam karena ulahnya. Wallahu a'lam. *Penulis adalah lulusan fakultas syariah, universitas Al-Ahgaff. 26

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

Telaah Hadits

Puasa Senin Kamis

Keutamaan

" ." Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, dari Rasulullah SAW. beliau bersabda: " Amal- amal diperlihatkan pada hari senin dan kamis, maka saya senang ketika amal saya diperlihatkan sedangkan saya berpuasa". Hadis diatas diriwayatkan oleh At turmudzi, beliau berkata: "Hadis ini adalah hadis hasan yang ghorib". Makna hadis diatas banyak ditemui di hadis- hadis lain dengan redaksi yang berbeda- beda. Misalnya hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Malik, Muslim dan Abu Daud, dengan redaksi tambahan: " Sesungguhnya pada hari senin dan kamis Allah SWT mengampuni setiap orang muslim kecuali dua orang yang sedang berseteru sampai keduanya berdamai." Para perowi hadis Ibnu Majah adalah orang- orang yang tsiqoh. Puasa senin kamis termasuk sunah Nabi Muhammad SAW. beliau senang puasa pada dua hari tersebut. Diantara keutamaannya adalah hari senin dan kamis merupakan hari dimana amal- amal kita diperlihatkan dihadapan Allah SWT. Merupakan suatu keistimewaan ketika amal kita diperlihatkan sedangkan kita dalam keadaan berpuasa.
Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

27

Puasa secara bahasa berarti menahan, dalam istilah syara' puasa adalah menahan diri dari hal- hal yang dapat membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Puasa merupakan tameng. Rasa lapar dalam puasa dapat melatih diri menjadi pribadi yang sabar. Dengan berpuasa kita bisa belajar mengendalikan nafsu dan syahwat. Berpuasa juga berguna bagi jasmani dan rohani, dengan berpuasa tubuh kita menjadi sehat, dan rohani kita menjadi tenang. Puasa senin kamis merupkan puasa yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. melalui hadis- hadisnya. Selain itu, beliau juga menyebutkan keutamaankeutamaan dari puasa tersebut. Beliau selalu menyempatkan diri untuk berpuasa senin kamis. Rasulullah SAW. bersabda dalam sebuah hadisnya:

SELAMAT & SUKSES SIMPOSIUM NASIONAL SERTA MUBES PPI YAMAN


Di Hadhramaut Yaman 19-22 Agustus 2013

Dirgahayu Republik Indonesia ke-68 Merdeka Indonesiaku Merdeka Bangsaku


28

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

1. Bagaimana islam memandang tentang kampanye secara umum? Jika dalam ajaran

Konsultasi
Agama

islam kampanye merupakan salah satu syiasah sar'iah, kampanye seperti apa yang ideal dalam ajaran islam? Jawaban:

Istilah kampanye menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ialah sebuah kegiatan yang dilakukan oleh organisasi politik atau calon yang bersaing memperebutkan kedudukan dalam parlemen dan sebagainya untuk mendapat dukungan massa pemilih dalam suatu pemungutan suara. Sementara itu, Rogers dan Storey (1987) mendefinisikan kampanye sebagai serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan untuk menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu (Venus, 2004:7). Sedangkan kampanye menurut UU No 32 Tahun 2004 disebutkan sebagai kegiatan dalam rangka menyakinkan para pemilih dengan menawarkan misi, visi, dan program pasangan calon. Dengan demikian, kampanye, jika merujuk ke UU ini harus memenuhi tiga unsur kegiatan pasangan calon, yakni meyakinkan para pemilih, dan menawarkan misi, visi dan program. Dalam konteks hukum fikih, tidak ditemukan padanan yang sesuai dengan arti kata 'kampanye.' Meski demikian, tidak lantas hukum fikih dengan latah menolak kegiatan kampanye ini. Alih-alih menolak, fikih klasik justru mengakomodirnya selama tidak berbenturan dengan maqosid syariah dan ajaran syariah Islam. Hal ini terbukti dengan bertebarannya praktik kampanye sejak zaman dahulu walaupun tidak diistilahkan secara khusus. Jadi, secara umum, Islam mengakui legalitas kampanye. Sedangkan kampanye yang ideal adalah kampanye yang dilakukan secara bijak, ikhlas dan tidak melanggar aturan agama dan undang-undang pemilu pasal 86 tentang larangan dalam kampanye. Larangan dalam kampanye yang diatur pasal 86 UU PEMILU adalah sebagai berikut: Pelaksana, peserta, dan petugas kampanye pemilu dilarang: Pelaksana, peserta, dan petugas Kampanye Pemilu

Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

29

dilarang: a. mempersoalkan dasar negara Pancasila, Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. b. melakukan kegiatan yang membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. c. menghina seseorang, agama, suku, ras, golongan, calon, dan/atau Peserta Pemilu yang lain. d. menghasut dan mengadu domba perseorangan ataupun masyarakat; e. mengganggu ketertiban umum; f. mengancam untuk melakukan kekerasan atau menganjurkan penggunaan kekerasan kepada seseorang, sekelompok anggota masyarakat, dan/atau Peserta Pemilu yang lain; g. merusak dan/atau menghilangkan alat peraga kampanye Peserta Pemilu; h. menggunakan fasilitas pemerintah, tempat ibadah, dan tempat pendidikan; i. membawa atau menggunakan tanda gambar dan/atau atribut selain dari tanda gambar dan/atau atribut Peserta Pemilu yang bersangkutan; dan j. menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya kepada peserta Kampanye Pemilu. Referensi: 1. Nihayat al-muhtaj, vol: 7, hal: 408 2. Al-mausu`ah al-fiqhiyah al- kuwaitiyah, vol: 33, hal: 287. 3. Fath al-bari syarh shohih al-bukhory, vol : 1, hal: 137. 4. Bahjah qulub al-abror wa qurrot uyun al-akhyar fi syarh jawami` al-akhbar,vol: 1, hal: 315 5. Al-furuq lil qorofy, vol: 2, hal: 33.

30

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

Kesehatan

Info

Khasiat

Buah Kurma
Kita semua pasti sudah tahu dan kenal kurma, walaupun tanaman ini hanya banyak dibudidayakan di negara Arab dan afrika.namun pohon Kurma atau nama ilmiahnya Phoenix Dactylifera, juga tumbuh pula di Eropa Selatan, Asia Barat Daya bahkan di Amerika. Tamr (kurma kering) Berfungsi untuk menguatkan sel-sel usus dan dapat membantu melancarkan saluran kencing karena mengandung serabutserabut yang bertugas mengontrol laju gerak usus dan menguatkan rahim terutama ketika melahirkan Penelitian yang terbaru menyatakan bahwa buah ruthab (kurma basah) mempunyai pengaruh mengontrol laju gerak rahim dan menambah masa systolenya (kontraksi jantung ketika darah dipompa ke pembuluh nadi). Bahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Maryam binti Imran untuk memakan buah kurma ketika akan melahirkan, dikarenakan buah kurma mengenyangkan juga membuat gerakan kontraksi rahim bertambah teratur, sehingga Maryam dengan mudah melahirkan anaknya. Allah Subhanahu wa Ta'ala b e r f i r m a n . Artinya : Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu kearahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah,
Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

31

'Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Rabb Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini [Maryam : 25-26] Dokter Muhammad An-Nasimi dalam kitabnya, Ath-Thibb An-Nabawy wal Ilmil Hadits (II/293-294) mengatakan, Hikmah dari ayat yang mulia ini secara kedokteran adalah, perempuan hamil yang akan melahirkan itu sangat membutuhkan minuman dan makanan yang kaya akan unsur gula, hal ini karena banyaknya kontraksi otot-otot rahim ketika akan mengeluarkan bayi, terlebih lagi apabila hal itu membutuhkan waktu yang lama. Kandungan gula dan vitamin B1 sangat membantu untuk mengontrol laju gerak rahim dan menambah masa sistolenya (kontraksi jantung ketika darah dippompa ke pembuluh nadi). Dan kedua unsur itu banyak terkandung dalam ruthab (kurma basah). Kandungan gula dalam ruthab sangat mudah untuk dicerna dengan cepat oleh tubuh Ruthab (kurma basah) juga mencegah terjadi pendarahan bagi perempuan-perempuan ketika melahirkan dan mempercepat proses pengembalian posisi rahim seperti sedia kala sebelum waktu hamil yang berikutnya. Hal ini karena dalam kurma segar terkandung hormon yang menyerupai hormon oxytocine yang dapat membantu proses kalahiran. Hormon oxytocine adalah hormon yang salah satu fungsinya membantu ketika wanita atau pun hewan betina melahirkan dan menyusui. Buah kurma juga dapat mencegah penyakit stroke.Buah kurma adalah buah yang kaya dengan zat garam mineral yang menetralisir asam, seperti Kalsium dan Potasium.Buah kurma adalah makanan terbaik untuk menetralisasi zat asam yang ada pada perut karena meninggalkan sisa yang mampu menetralisasi asam setelah dikunyah dan dicerna yang timbul akibat mengkonsumsi protein seperti ikan dan telur. Buah kurma juga mengandung vitamin A Sehingga berfungsi memelihara kelembaban dan kejelian mata, menguatkan penglihatan, pertumbuhan tulang, metabolisme lemak, kekebalan terhadap infeksi, kesehatan kulit serta menenangkan sel-sel saraf./disarikan dari berbagai sumber.

32

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

Jelajah
Catatan Dari Ibu Kota Sanaa

Oleh : Dzul Fahmi Kasto* Salah satu kota yang menjadi jantung Yaman yaitu kota Sana'a, memiliki sejarah yang benar-benar tak bisa dilupakan. perlu untuk ditilik lebih lanjut. Kota metropolitan seluas 527 km persegi ini memang sedang mewujudkan pemerataan pembangunan di segala bidang. Beberapa proyek perusahaan dan pendidikan yang masih dalam proses penyelesaian terlihat semangat di sana-sini. Memang, tak banyak gedung pencakar langit yang eksotis. Namun, hampir tak terlihat kawasan kumuh seperti di jembatan sungai Jakarta. Kota Sana'a memang bukan kota yang sangat bersih, tetapi juga tidak terasa kumal.

Sebelum menjelma sebagai kota metropolis seperti sekarang ini, Sana'a telah melewati babakan sejarah yang cukup panjang. Dinasti Turki Ottoman sempat menguasai Sana'a pada tahun 1872 M dan menempatkan gubernurnya di sana. Namun karena Perang Dunia Pertama dan perlawanan gigih dari kerajaan Yahya dipimpin oleh Imam Yahya akhirnya Turki Ottoman meninggalkan Yaman Utara tahun 1919 M. Sejak itu, Kerajaan Yahya terus menguasai Sana'a hingga terjadi revolusi tahun 1962. Revolusi yang dikenal dengan Revolusi September 1962 itu berhasil menumbangkan sistem immah dan mengubah bentuk negara menjadi Republik Arab Yaman (Utara) dengan Sana'a sebagai ibu kotanya. Di saat yang hampir bersamaan, Yaman Selatan yang berpusat di Aden berhasil melepaskan dirinya dari cengkeraman penjajah Inggris. Adalah Qathn al-Sya'bi, presiden pertama Yaman Selatan dengan bantuan Negara Blok Timur yang berhasil mengusir Inggris pada 27 November 1967. Dan Pada 1970, Salem Rubayyi Ali, presiden kedua setelah Qathn, mendeklarasikan Republik Demokrasi Rakyat Yaman (Selatan) dengan Aden sebagai ibu kotanya. Republik Yaman secara resmi berdiri tanggal 22 Mei 1990 setelah Republik Arab Yaman (Utara) dan Republik Demokrasi Rakyat Yaman (Selatan) menandatangani perjanjian persatuan (unifikasi) negara, setelah 300 tahun

Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

33

berpisah. Kesepakatan tersebut ditandatangani Salem al-Baedh (Yaman Selatan) dan Kol. Ali Abdullah Shaleh (Yaman Utara). Kedua pihak juga bersepakat menjadikan Sana'a sebagai pusat pemerintahan hingga saat ini. Di kota Sana'a Kuno (Old Sana'a). Dalam bahasa Arab disebut Sana'a alQadmah, terdapat puingpuing kekuasaan Abrahah: raja sombong yang ingin mengganti Kakbah di Mekkah dengan Kakbah buatannya. Di sinilah pusat kekuasaan pasukan gajah yang kisahnya diabadikan dalam Al-Qur'an (QS. Al-Fl: 1-5). Di Sana'a Kuno pula kita akan langsung disuguhi pemandangan yang mampu mebuat semua mata terpana. Betapa tidak, sederet tembok besar berbentuk benteng yang tinggi kokoh berdiri. Di tengahtengah bangunan itu terdapat sebuah pintu besar. Itulah Babul Yaman: gerbang Kota Sana'a di zaman dahulu. Bangunan yang megah itu sudah tak utuh lagi. Tetapi pilar-pilarnya yang kokoh masih berdiri tegak menyangga bangunannya. Uniknya, kesemuanya terbuat dari tanah liat. Babul Yaman kini telah bermetamorfosis menjadi pusat pariwisata yang mengasyikkan. Tempat ini juga menjadi pusat cindera mata sekaligus deretan cafe yang selalu dikunjungi turis mancanegara. Ibarat di Bali, inilah kawasan Kuta. Atau di Yogyakarta, dialah Malioboronya. Belum sah ke Yaman kalau belum mengunjunginya. Demikian populernya Babul Yaman, sehingga tercantum dalam brosur tur, peta, dan berbagai petunjuk turis yang dijadikan pegangan para pelancong. Setiap hari tempat ini tak pernah sepi dari pengunjung. Letaknya yang berada di kawasan lama Kota Sana'a, menjadikan nuansanya sangat klasik dan semerbak aroma sejarah. Jika memasuki gerbang Babul Yaman, kita akan mendapati sebuah kawasan pasar tradisional yang digelar di hamparan bangunan apartemen kuno. Bagian atasnya digunakan sebagai tempat tinggal dan penginapan. Sedangkan di bawahnya, yang juga meluber ke jalan, menjadi pasar tradisonal. Ada yang menggelar dagangan dalam kios dan toko, namun tak sedikit yang menjajakkan

34

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

dagangan hingga ke jalan-jalan. Souvenir yang diperdagangkan adalah khas Yaman, seperti miniatur bangunan-bangunan Yaman, hiasan perak dan perunggu, permata akik Yaman, jambia semacam keris yang menjadi pusaka tradisional warga Yaman; biasanya dipasang di bagian depan sarung sehingga tampak sangar, serta berbagai macam handicraft lainnya. Di Sana'a, ada pula satu ikon termegah yang dimiliki kota ini, dan tentunya Negeri Yaman, yaitu Masjid Presiden yang berada kawasan Sab'een Square: distrik di jantung kota yang menjadi pusat parade militer dan upacara kenegaraan. Tak jauh dari situ, enam menara masjid yang tingginya 100 meter sudah terlihat menjulang. Sampailah kami di depan masjid nasional Yaman yang megah itu. Masjid Presiden dipagari dengan gerbang baja yang dicat hitam mengkilap itu. Ada dua lintasan masuk yang di masing-masing ujungnya terdapat posko keamanan. Posko yang satu dijaga tentara pria, dan satunya lagi tentara wanita. Jarak kedua posko memang agak jauh, tapi tetap bisa terlihat.  Desain konstruksi masjid ini memang luar biasa. Terdapat enam menara setinggi 100 meter berdiri di antara kubah-kubah yang besar. Kubah utama berdiameter 28 meter dengan tinggi 22 meter. Ruangan utama masjid seluas 13.596 meter persegi yang dapat menampung sekitar 44.000 orang di saat bersamaan. Pintupintu masjid yang berjumlah sepuluh, kesemuanya terbuat dari kayu jati burma. Di malam hari, dengan disorot cahaya lampu, kubah-kubah itu berpendar menghiasi langit kota. Betapa indah. Apalagi, jalan akses menuju masjid berhias taman pekarangan bunga yang begitu luas. Membuat hembusan nuansa surgawi semakin membahana.  Masjid itu ternyata bukan hanya indah dilihat dari luar, melainkan juga dari dalam. Gaya arsitektur Yaman sangat kental mendominasi interior ruangan. Berpadu dengan batu marmer bergurat kecokelatan. Dikombinasi karpet tebal menyala buatan asli Turki dengan bahan utama bulu domba dari New Zealand. Sungguh sangat indah. Apalagi, kubah utama masjid di bagian dalamnya masih dibebani dengan lampu gantung khas Eropa berukuran raksasa. Selain itu, ratusan lampu gantung yang berukuran lebih kecil memenuhi langit-langit ruangan. Benar-benar bangunan yang menawan.  Desain ornamen, akustik, dan teknologi pelengkapnya juga tak kalah menarik. Selain sistem keamanan internasional yang elegan, Masjid Al-Saleh juga

Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

35

dilengkapi dengan sistem penyejuk udara tersentral, sistem pemadam kebararan modern, sistem tata suara, teknik televisi yang canggih, dan perpustakaan modern di dalamnya. Di sinilah kecerdikan sang perancang. Dia bisa memadukan antara konstruksi peradaban kuno Yaman dengan kekuatan teknologi arsitektural modern. Inilah masjid dengan desain tata letak modern bercita rasa tinggi. Presiden Ali Abdullah Saleh, melalui masjid ini, tampaknya ingin menampilkan Islam Yaman dalam wajah modern. Karena jasanya itulah, masjid ini dikenal dengan nama Masjid Presiden al-Saleh (Masjid al-Ra'is al-Slih).  Namun sayang, di balik kemegahannya, pembangunan masjid ini diserang badai kontroversi. Sejuta kritik pedas dilayangkan kepada rezim Abdullah Saleh terkait proyek tersebut. Selain menelan biaya yang tak sedikit, USD 60.000.000, pembangunannya juga dinilai sia-sia. Karena didirikan di kota tua yang telah memiliki lebih dari seratus masjid. Apalagi, kondisi perekonomian Yaman masih dianggap tidak pantas untuk membangun sebuah mercusuar istana yang begitu mahal. Negara yang masuk dalam deretan sejumlah negara miskin di Timur Tengah ini memiliki pendapatan perkapita hanya sekitar USD 800 per tahun (Bandingkan dengan Indonesia yang sudah mencapai USD 3.542). Keadaan tersebut semakin meresahkan. Karena Yaman tercatat mengalami inasi sebanyak 10,98 % yang mengakibatkan naiknya harga barang. Sejak tahun 2011, angka inasi terus meningkat dan pertumbuhan ekonomi semakin menurun karena situasi politik dan keamanan yang tidak stabil.  Badai kontroversi tak cukup sampai di situ. Kudeta terhadap rezim Ali Abdullah Saleh pada akhir 2011 lalu juga ikut mewarnai dinamika eksistensi masjid ini. Belakangan, sejumlah segmen masyarakat, khususnya kalangan akar rumput yang trauma dengan pemerintah, enggan menyebut masjid ini dengan sebutan Masjid Presiden al-Saleh.  Namun terlepas dari itu, Masjid Presiden al-Saleh, diakui atau tidak, adalah salah satu masjid megah nan mempesona yang dimiliki dunia Islam. * Penulis adalah mahasiswa mustawa 4 fakultas syariah, universitas Al-Ahgaff

36

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

Teladan

As Sayyid Abdullah bin Husain bin Thohir


Seorang sayyid berkelahiran Tarim ini penuh semangat dalam menuntut ilmu, sebagaimana saudara beliau Sayyid Tohir bin Husain bin Tohir. Beliau yang dilahirkan pada tahun 1191 H tumbuh dibawah asuhan kedua orang tuanya, penuh dengan pendidikan yang sangat kuat dalam menjalankan syari'at islam serta akhlak-akhlak terpuji yang telah ditanamkan oleh kedua orang tua beliau sejak dini. Dalam perjalanan beliau menuntut ilmu, beliau selalu bersama dengan saudara kandung beliau sendiri, yaitu Sayyid Tohir, mereka bersama pergi ke Tarim untuk mengambil ilmu dari Sayyid Hamid bin Umar, dihadapan beliaulah kedua sayyid bersaudara ini belajar Kitab Risalah Al Jaami'ah karya Habib Ahmad bin Zein Al-Habsyi, kedua sayyid ini bukan hanya belajar satu kitab dihadapan habib Hamid, namun karya Imam Ghozaly Bidayatul Hidayah juga menjadi panduan keseharian mereka dalam mengisi hari-hari mereka untuk meningkatkan keintelektualan mereka berdua. Setelah guru mereka tersebut wafat, mereka tidak langsung meninggalkan tempat dimana mereka berdua menimba ilmu, namun pengajaran tersebut diteruskan oleh putra sang guru, Habib Abdurrahman bin Hamid bin Umar Ba'alawi (W. 1209 H). Mereka berdua menuntut ilmu tidak hanya terbatas kepada ayah dan anak dari keluarga Ba'alawi tersebut, setelah memperoleh isyarat dari Habib Abdurrahman bin Umar untuk mendatangi Habib Abdurrahman bin Alwi Shohib Buthaiha, lantas
Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

37

dihadapan beliau lah mereka membaca Kitab Syarah At-Tahrir dan juga Kitab Fathul Wahhab, serta banyak lagi beberapa disiplin ilmu syari'at yang mereka gali dari seorang guru yang telah diakui keilmuannya itu. Usai menimba ilmu dari Habib Abdurrahman Shohib Buthaiha, mereka kembali menimba ilmu kepada Habib Umar bin Muhammad bin Sahl (W. 1235 H), dihadapan guru mereka yang satu ini mereka mangkaji kitab-kitab fiqh dan nahwu, dan di lain kesempatan mereka juga berguru kepada Sayyid Abu Bakr bin Abdullah Al-Hinduan (W. 1248 H). Dan masih banyak lagi guru-guru besar yang beliau datangi untuk menimba ilmu dari mereka, sebagaimana disebutkan oleh Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi dalam kitab beliau Iqdul Yawaqit. Setelah berguru dari ulama setempat, habib Abdullah bin Tohir pergi melanjutkan studinya menuju tanah Hijaz, beliau menetap di Haramain serta terus menambah pengetahuan agama beliau dibawah bimbingan Sayyid Agil bin Umar bin Agil bin Yahya (Wafat di Makkah tahun 1247 H), Sayyid Ali Al-Baity, Syekh Umar bin Abdurrasul Al-Attor, Sayyid Ahmad bin Alwi Jamalullail, dan juga ulama-ulama besar Haramain pada waktu itu.

Didalam pengembaraan mereka berdua dalam menuntut ilmu, pernah Habib Abdullah bin Husain bin Tohir menuturkan sesuatu tentang pengalaman mereka, beliau berkata: dari sejumlah karya-karya keilmuan yang pernah kami kaji, kami merasakan banyak mengambil manfaat dari karya-karya dua orang sayyid - yaitu Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dan Al-habib Abdurrahman bin Abdullah Balfaqih. Tidak kalah oleh kebanyakan ulama lainnya, Habib Abdullah ini pun mempunyai sejumlah karya tulis dalam berbagai bidang keilmuan, diantaranya: Sullam At Tauq, sebuah karya yang membahas seputar qh untuk masyarakat umum, Dzikrol Mu'minin Bi Ma Bu'itsa Bihi Sayyid Al Mursalin, di dalam kitab ini beliau mengajak untuk kembali menuju agama dan bersatu padu serta saling menaseha satu sama lain. Dan banyak lagi risalah-risalah yang beliau tulis dan masih tersimpan hingga hari ini di beberapa perpustakaan Hadramaut. Seper saudara kandung beliau, Habib Tohir bin Husain bib Tohir, Habib Abdullah pun turun ak f dalam beberapa organisasi yang dibentuk pada saat itu untuk tujuan perdamaian bagi masyarakat serta kesejahteraan mereka. Pada tanggal 2 Sya'ban 1262 H, terjadi suatu pertemuan dengan penguasa pada saat itu, Abdullah bin Awad Qoromah Al-Ya'i, pertemuan itu menghasilkan kesepakatan untuk tujuan keamanan bagi penduduk setempat, dan pertemuan tersebut digelar di rumah Habib Abdullah bin Tohir, yang mana beliau sendiri sebagai moderator untuk negosiasi waktu itu. Dan
. . . . . . . . Bersambung Ke Hal.58 38

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

Mario Teguh

Profil

Jika kita hanya mengerjakan yang sudah kita ketahui, kapankah kita akan mendapat pengetahuan yang baru ? Melakukan yang belum kita ketahui adalah pintu menuju pengetahuan
Mario Teguh atau dengan nama asli Sis Maryono Teguh merupakan seorang motivator sekaligus konsultan, nama dan wajahnya semakin dikenal luas masyarakat Indonesia sejak ia aktif membawakan acara 'Mario Teguh Golden Ways' di Metro TV. Laki-laki berusia 57 tahun ini Lahir di Makassar pada tanggal 5 Maret 1956 dan meraih gelar sarjana Pendidikan IKIP Malang Jawa Timur. Sikap ramah dan murah senyum menjadi ciri khasnya, sehingga dalam setiap kata kata motivasi yang disampaikan mampu menggugah banyak orang untuk kembali mengoreksi cara hidup mereka agar lebih baik. Mario Teguh, merupakan putra dari pasangan Gozali Teguh (ayah) dan Siti Maria (ibu) dan menamatkan pendidikan setingkat SMA (Jurusan Arsitektur New Trier West High) di Chicago Amerika Serikat pada tahun 1975, kemudian melanjutkan pendidikan dan meraih kesarjanaan dibidang pendidikan di IKIP Malang. Selain itu ia juga pernah mengenyam pendidikan bidang bisnis di Sophia University, Tokyo, Jepang dan Indiana University Amerika di bidang Operations Systems (MBA) 1983. Beliau Disamping dikenal sebagai motivator, juga dikenal sebagai seorang Kunsultan sekaligus menjabat sebagai CEO (Chief Executive Officer) dan Senior Consultan di Bussiness Effectiveness Consultant, Exnal Corp. Pada tahun 2010 ia pernah meraih penghargaan dari MURI, sebagai seorang Motivator dengan Facebook Fans terbesar di dunia dan penghargaan sebagai penyelenggara seminar berhadiah mobil pertama di Indonesia tahun 2003, Tahun 2010 ia juga terpilih sebagai salah satu tokoh Perubahan 2009 versi surat kabar Republika. Kata kata bijak Mario Teguh disampaikan dengan bahasa yang mudah

Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

39

dimengerti serta mudah dipahami sehingga banyak kata kata motivasi hidup yang diungkapkan sering menjadi acuan banyak orang bagaimana seharusnya memandang hidup ini, baik untuk tampil sebagai pribadi lebih baik maupun cara yang harus dilakukan dalam menyikapi berbagai persoalan dalam hidup. Dalam setiap pesan yang disampaikan, beliau selalu menekankan agar kita tetap selalu berusaha untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan semakin bijak dalam menghadapi persoalan hidup. Hal menarik dari beliau adalah setiap ungkapan kata kata yang mengandung makna mendalam tidak pernah mengedepankan agama tertentu sebagai acuan dari kebenaran apa yang diungkapkan sehingga ia dikenal sebagai motivator yang bisa diterima semua kalangan. "Salam Super" Mario Teguh Biodata Mario Teguh : Nama Asli : Sis Maryono Teguh Nama Panggilan : Mario Teguh T.T.L : Makassar 5 Maret 1956 Agama : Islam Profesi : Motivator Istri : Linna Teguh Orang Tua : Gozali Teguh (ayah) Siti Maria (ibu) Pendidikan : Jurusan Arsitektur New Trier West High (setingkat SMA) di Chicago, Amerika Serikat, Pada tahun 1975. Jurusan Linguistik dan Pendidikan Bahasa Inggris, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang (S-1). Jurusan International Business, Sophia University, Tokyo, Jepang. Jurusan Operations Systems, Indiana University, Amerika Serikat, 1983 (MBA).
Edisi XX Januari - Juli 2013

BUKU : Becoming a Star (2006) One Million Second Chances (2006) Life Changer (2009) Leadership Golden Ways (2009)

40

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Radar
Seminar Kesehatan PPI Yaman

PPI

Tarim-Hadhramaut, Departemen Pendidikan dan Dakwah DPW Hadhramaut PPI Yaman Kamis (18/4) gelar seminar kesehatan bertajuk Membentengi Generasi Muda Dari Penyakit HIV/AIDS di auditorium Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Al-Ahgaff Tarim. Acara dibuka sekitar jam 21.15 KSA dilanjutkan pembacaan suci Al-Qur'an kemudian sambutan-sambutan. seminar kesehatan dipandang urgen, selain kita berkecimpung dalam ilmu syariah kita perlu juga memperluas khazanah tentang kesehatan tegas Pandi Yusron ketua DPW Hadhramaut dalam sambutannya. Dekadensi moral yang meroket di remaja kita, tidak terbatas premanisme semata. Bahkan, lebih ganasnya pergaulan bebas dan hubungan seksual diluar nikah kian membludak. Terpuruknya kondisi yang makin akut ini, sang narasumber Ir. Adam Teguh S Santoso, menawarkan solusi cerdas. Pembentengan tersebut melalui pendekatan medis dan agama. Ide briliannya itu ia tuangkan dalam sebuah buku berjudul "The Big Power of Silaturrahmi ala Nabi Muhammad SAW Sebagai Solusi Pencegahan Penyakit HIV/AIDS". HIV/AIDS penyakit ganas berbahaya ini tergolong penyakit terminal. 10.000 jiwa didunia meninggal setiap hari gara-gara terjangkit virus mematikan ini, sebut Teguh dalam makalahnya. Suatu bangsa akan kehilangan generasi muda (lost youth generation) potensial apabila penanggulangan hanya berkuat pada HIV/AIDS dan penderita. Melalui silaturrahmi kepada kerabat dan tetangga dengan mahabbah mampu memberikan efek pantul yang luar biasa. Pendekatan sosial inilah merupakan langkah paling preventive menurut Ir. alumnus UNDIP Semarang. Seminar yang menyedot banyak diskusan ini, akhirnya berakhir sekitar 23.oo KSA lancar dan ditutup dengan doa. (M. Abdul Muhith/Wartawan PPI Yaman)

Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

41

Dialog Publik PPI Hudaidah Bedah Ushul Fiqh


Kamis, 28 Maret 2013, bertempat di auditorium Universitas Darul Ulum asy-Syar'iyyah, Departemen Pendidikan dan dakwah DPW PPI Hudaidah-Yaman menggelar dialog publik dengan tema SEJARAH DAN PERANAN USHUL FIQIH. Hadir sebagai narasumber, Ustadz Naufal Irsyad, seorang penulis buku Formulasi nalar Ushul Fiqih dan juga salah satu mahasiswa Universitas Darul Ulum as-Syar'iyyah fakultas dirasah islamiyah. Acara dimulai dengan paparan bang Naufal tentang sejarah dan metode para sarjana islam dalam menerapkan Islamic Legal Theory. Berlalunya periode Nabi Muhammad Saw, sahabat dan tabi'in dianggap sebagai awal munculnya teori ushul fiqih. Adalah asy-Syafi'i, sarjana islam pertama yang membukukan ilmu ushul fiqih agar memudahkan seseorang untuk memahami teks al-Qur'an dan al-Hadits, serta agar orang tidak terjebak dalam kesalahan ketika menetapkan hukum melalui sumbernya. Dalam diskusi tersebut, bang Naufal mengungkapkan tentang kasuskasus baru, yang tidak pernah dikaji ulama-ulama klasik sebelumnya. Disinilah peran ushul Fiqh sangat mendominasi. Sehingga Revolusi kaidah Ushuliyyah mestinya harus ada untuk menjadi barometer perubahan-perubahan yang ada pada hukum fiqh. Pada akhir pemaparannya, bang naufal menyatakan bahwa apa yang disampaikannya bisa saja salah dan yang terpenting kita sebagai calon-calon sarjana islam harus siap menjawab tantangan yang sudah menanti di tanah air. Sebelum acara dialog berakhir, acara terasa semakin memanas, PPI Hudaidah ternyata membagi-bagikan hadiah untuk tiga peserta yang bisa menjawab pertanyaan dari ulasan pemaparan narasumber dan juga pengumuman hadiah lomba penulisan artikel yang diadakan oleh departemen infokom. Dihubungi secara terpisah, Muhammad Hamdani Syauqi, Ketua DPW PPI Hudaidah menyatakan rasa bangga dan puas atas acara dialog yang berlangsung sangat meriah. Ini membuktikan bahwa pelajar yaman sangat memperhatikan situasi dan kondisi tanah airnya. (M. Khoiruz Zadit Taqwa, Ketum PPI Yaman)

42

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

PPI Yaman Gelar Bahtsul Masail Kontemporer


Hudaidah-Kamis (08/11/2012) sekitar 50 delegasi mahasiswa dan santri dari berbagai wilayah di Yaman berkumpul menghadiri Bahtsul Masa`il Kontemporer (BMK) dengan tema Menuju Islam yang Moderat Untuk Menjawab Tuntutan Umat. Even akbar, yang diprakasai oleh DPP PPI Yaman bekerjamasa dengan KBRI Sana'a dan PCI NU Yaman, ini digelar di Auditorium al-Syaukani, Universitas Darul Ulum Hudaidah. Bahstul Masa`il ini disambut hangat oleh mahasiswa dan santri. Kehangatan ini dapat disaksikan di forum betapa gayeng-nya mereka saat berdiskusi, bercengkrama dan saling beradu dalil dalam beberapa masalah yang telah disajikan oleh panitia. Hadir dalam acara tersebut, bapak duta besar Indonesia untuk Yaman, Drs. Wajid Fauzi, M.P .M. dalam sambutannya beliau menyatakan Kajian ilmiah seperti Bahstul Masa`il ini merupakan bukti nyata bahwa mahasiswa dan santri di Yaman mempunyai kepedulian besar terhadap isu dan polemik yang melanda masyarakat tanah air. Komitmen kepedulian ini dipertegas oleh Ketua Umum PPI Yaman, M. Khoiruz Zadittaqwa dalam pembukaannya. Melalui BMK ini, lanjut Zadit, para peserta harus berusaha mencari solusi yang tepat sehingga dapat diterima oleh semua pihak, seperti yang sudah maklum bahwa menyandang predikat pelajar adalah harus mempunyai sensitivitas yang tinggi, responsive dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Akhir dari dialog Bahstul Masa`il ini menghasilkan tiga keputusan: 1. Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) dalam konteks kasus yang dajukan Hj. Aisyah Muchtar, bahwa Muhammad Iqbal Ramadhan adalah anak Drs. Moerdiono dan mempunyai hak perdata darinya telah dibenarkan oleh agama, karena Muhammad Iqbal Ramadhan adalah darah daging Moerdiono dari hasil pernikahan yang sah menurut agama, dan kasus yang diajukan Hj. Aisyah Muchtar tidak temasuk pada keputusan MK yang menyebabkan pro dan kontra masyarakat. 2. Anak hasil dari luar nikah mempunyai hubungan perdata (intisab, Arab) kepada ibu dan keluarga ibunya, tapi tidak mempunyai hubungan perdata kepada ayah dan keluarga ayah biologisnya. 3. Mengutip dari pendapatnya Abu Hanifah bahwa jika ada perempuan yang hamil pra nikah (pra-wedding) kemudian yang menghamili bertanggung jawab yakni menikahinya, maka anak yang dihasilkan dari hubungan pra nikah mempunyai hak perdata (intisab, Arab) pada ibu dan ayah

Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

43

biologisnya. Tepat pukul 11:15 PM, Bahtsul Masa`il ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Bpk. Qomardi Syahdan, salah satu anggota Syuriah PCI-NU

Aktis se-Hadhramaut Gelar PKDK


Tarim-Hadhramaut, delegasi dari berbagai lembaga tumpah ruah di auditorium Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Kamis (21/2) dalam pelatihan kader dasar kepemimpinan PPI Yaman dengan tema Seminar Membangun Karakter Kepemimpinan Yang Solid dan Profesional. Acara yang digawangi departemen pendidikan dan dakwah PPI Yaman ini, berjalan sukses. Seminar ini, berangkat dari meroketnya organisasi yang muncul belakangan ini. Khususnya di kalangan santri Indonesia di Yaman. Melihat maraknya organisasi yang bermunculan, acara ini dipandang cukup penting untuk pembekalan dasar, tegas M. Akbar Rasyid sang ketua panitia. Hadir disana Staf KBRI Sana'a beserta Dubes. Acara yang dimulai sekitar pukul 08.45 pagi ini dihadiri oleh peserta dari berbagai lembaga dan perwakilan daerah, seperti AMI AlAhgaff, PCI NU, PPI, Darul Guroba', Ribat Hautoh, dan organisasi kedaerahan. seminar ini bertujuan sebagai pembekalan dasar, melihat kita terlahir sebagai manusia sosial zon politicon, tambah pandi Yusron dalam kata sambutannya. Kemudian acara pembukaan seminar di tutup dengan doa oleh Roby Ul Zaini. Acara PKDK ini dibagi menjadi dua sesi dengan dua pemateri berbeda. Rendy Ramanda, Staf bagian Protokol dan Kosuler di kedutaan sebagai pemateri pertama. Dalam awal seminar, menyampaikan beberapa dasar dan teori kepemimpinan. Antara lain POAC (Planning-Organizing-Actuating dan Controling). Guna membentuk suatu organisasi diperlukan system manajemensi yang esien dan memadai. Hemat Rendy, penerapan POAC untuk menjalankan roda kepemimpinan cukup pas. Memberi analisa juga, dalam merencanakan suatu pekerjaan bisa ditimbang menggunakan teori 5W 1H sebagai uji kelayakan. Stadium selanjutnya seminar dipimpin oleh Ahmad Zainul Huda utusan dari KBRI, dalam sesi kali ini memberi materi bagaimana praktik kader dasar kepemimpinan yang baik dan benar. Diperlukan sebuah visi-misi yang jelas dan teratur serta tindakan yang terorganisir. Secara garis besar seminar yang disampaikan sama dengan yang pertama, namun seminar yang disampaikan Rendi lebih ke teori berbeda dengan Huda, lebih menekankan pada aktualisasi. Stadium terakhir dari seminar kedua berakhir sekitar jam 16.30 KSA. Sedangkan agenda malamnya diisi dengan lomba puisi dan penampilan drama kolosal. (M. Abdul Muhith/ Wartawan PPI) 44

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

Fenomena Pulau Socotra Wawasan


Sisi lain bumi kita mungkin adalah Pulau Socotra. Tempat eksotis yang misterius ini menyimpan berbagai kendahan yang berbeda dari berbagai tempat di belahan dunia lainnya. Suasana maupun tumbuhannya akan membuat anda serasa bukan sedang berada di bumi. Inilah fenomena Pulau Socotra yang keeksotisan-nya menyimpan suatu fenomena yang misterius. Mungkin sebagian dari kalian sudah pernah mendengar tentang pulau ini. Pulau Socotra terletak di negara Yaman dengan luas 3796km persegi. Sekilas kita akan menganggap pulau ini seperti pulau biasa, tetapi jika kalian berada di pulau itu, percayalah, kalian akan merasa seperti berada di planet lain. Pulau yang berpenduduk sekitar 42ribu lebih ini memiliki keunikan tersendiri di b a n d i n g p u l a u - p u l a u l a i n n y a . Nama socotra berasal dari bahasa sansekerta, 'sukhadhara dvipa' yang berarti "pulau kebahagiaan". Menurut sejarah, penduduk pulau socotra telah memeluk Kristen sejak tahun 52 setelah masehi. Pada abad 10, seorang ahli geografi Arab yang bernama Abu Muhammad Al-Hassan Al-Hamdani menyatakan bahwa pada masanya, penduduk Socotra mayoritas memeluk agama Kristen. Konon mereka juga telah mempraktekkan ritual sihir kuno. Pada tahun 1507, armada Portugis mendarat di pulau ini. Tujuan mereka adalah untuk menghentikan perdagangan Arab dari Laut Merah ke Samudra Hindia serta untuk menghapuskan aturan-aturan Islam dalam perdagangan tersebut. Namun, invasi Portugis ini tidak berjalan mulus karena penduduk setempat menentang mereka. Pada tahun 1511, pulau ini dikuasai oleh Kesultanan Mahra. 456 tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 30 November 1967, Pulau Socotra menjadi bagian dari Republik Rakyat Yaman Selatan yang pada saat ini telah berubah menjadi Republik Yaman. Pulau Socotra termasuk tempat yang paling terisolasi di dunia. Sebenarnya Socotra merupakan sebuah kepulauan. Pulau Socotra sendiri merupakan pulau utama, sedang 3 pulau kecil lainnya bernama pulau Abd Al Kuri, Pulau Samhah,danPulau Darsa. Puncak tertinggi di Pulau Socotra adalah pegunungan Haghierdengan ketinggian 1500m dari permukaan laut. Iklim di pulau ini diklasifikasikan sebagai iklim koppen dengan suhu tahunan rata-rata diatas 18 derajat Celcius. Inilah yang membuat pulau ini begitu terkenal akan keeksotisannya, sekaligus menjadi misteri tersendiri. Karakteristik iklim dan geologi pulau ini yang unik menjadikan flora-flora yang tumbuh di pulau ini unik dan langka. Bahkan floranya termasuk tumbuhan endemik, jadi tumbuhan tersebut hanya ada di
Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

45

pulau Socotra. Ada pula beberapa tumbuhan yang terancam punah hidup di pulau ini. Flora dengan bentuk aneh seperti pohon Darah Naga (Dracanea Cinnabari) menjadi ikon khas pulau ini. Konon getah pohon ini digunakan penduduknya sebagai obat dari segala penyakit. Flora unik lainnya adalah tanaman raksasa Dorstenia,Dendrosicyos, pohon Delima Socotra yang langka (punica protopunica). Disisi fauna, pulau ini juga memiliki spesies burung endemik seperti Socotra Starling Onychognathus Frater, Socotra Sunbird Nectarinia Balfouri,Socotra Sparrow Passer Insularis,dan Grosbeak Socotra Rhynchostruthus Socotranus. Ada juga Burung Penyanyi Socotra, incana incana. Kelelawar adalah satusatunya mamalia asli pulau Socotra. Pulau ini juga memiliki spesies endemik terumbu karang. Akan tetapi hewan-hewan yang dibawa oleh manusia seperti ayam, kambing, sapi, dll dikhawatirkan akan merusak flora-flora asli pulau tersebut di masa depan. Pulau ini diakui UNESCO sebagai situs warisan alam dunia pada Juli 2008. Saking seriusnya perlindungan lingkungan di pulau ini hingga tidak dibangunnya fasilitas bagi pengunjung seperti hotel, restoran, dan bangunan lainnya meski pulau ini memiliki potensi sebagai tempat wisata yang luar biasa. Bahasa asli penduduk di pulau ini adalah Bahasa Semit Soqotri yang hanya diucapkan di pulau Socotra. Terlepas dari keindahan alam Pulau Socotra, banyak ilmuwan yang tertarik dan meneliti pulau yang memiliki flora dan fauna yang bisa saya katakan "lain dari yang lain" ini,he..he..he. Sebagian ilmuwan berpendapat flora dan fauna di pulau ini merupakan spesies yang hidup di masa lampau dan belum pernah diidentifikasi sebelumnya. Karena letak pulau yang terisolasi dan karakteristik iklimnya yang unik, flora dan fauna ini bisa bertahan hidup hingga saat ini. Demikianlah sekilas mengenai Pulau Socotra,dengan segala keunikan dan keindahan alamnya, tidak heran jika UNESCO dan pemerintah Yaman mati-matian mempertahankan kelestarian pulau ini./sumber google 46

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

Mengenal Firqoh Najiyyah

Resensi

Perkembangan zaman yang tak bisa dibendung membuat manusia semakin merongrong agamanya. Tak ayal sebagian dari mereka menjadikan akal dan hawa nafsu sebagai landasan hidup. Berbagai pemikiran, aliran dan paham muncul begitu mudahnya. Indonesia, di mana kebebasan dijunjung tinggi menjadi ladang yang subur tumbuhnya aliran-aliran dan berbagai ideologi. Sebut saja Ahmadiyah yang mengakui adanya nabi lain setelah Nabi Muhammad Saw. Salamullah, agama baru yang menghimpun semua agama. Aliran Al-Qiyada Al-Islamiyah, yang pendirinya Acmad Moshaddeq alias H Salam mengaku sebagai nabi baru yang menggantikan posisi Nabi Muhammad Saw. dan mendapatkan wahyu dari Allah Swt. dan lainnya. Kehadiran kitab Al-Farqu Baina Al-Firaq Wa Bayanu Al-Firqati AnNajiyati Min Hum mengajak kita untuk mengenali dan menelusuri aliran-aliran dalam Islam, baik yang dianggap menyimpang maupun tidak, dengan tetap berpegang teguh terhadap Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pijakan. Kitab ini dikarang oleh ulama Mutaqaddimien al-Alim al-Allamah Abu Mansur Abdi al-Qahir bin Thahir bin Muhammad Al-Baghdadi yang akrab dengan sebutan Imam Baghdadi , seorang ulama yang merupakan pakar ilmu ushul, nahwu, fiqh, syair, sastra, ilmu hisab dan berbagai disiplin ilmu lainnya Dalam kitab ini Imam Baghdadi membagi pembahasan menjadi lima bab. Bab pertama dan kedua menerangkan hadis Iftiraq tentang perpecahan umat menjadi 73 golongan. Sekaligus menerangkan bagaimana umat bisa pecah hingga sampai 73 golongan. Mulai dari ruang historis, kronologi, hingga latar belakang yang menyertai perpecahan dalam tubuh umat Islam. Pertama-tama Imam Baghdadi mengemukakan hadis if tiraq, selanjutnya, beliau menerangkan tentang bagaimana Umat Muhammad Saw. bisa pecah menjadi 73 golongan. Baginya, embrio perpecahan dalam tubuh umat Islam sejatinya telah dimulai dari perbedaan pendapat tentang wafatnya Nabi Muhamad Saw., sebagian berasumsi bahwa Nabi tidak wafat, hanya saja Allah mengangkatnya seperti Nabi Isa bin Maryam. Namun asumsi ini ditentang oleh Abu Bakar dengan dalil dari al-Qur'an Innaka mayyitun wa innahum mayyituun, (QS. Ar Rum: 30). Tidak sampai disini saja, mereka juga berbeda pendapat perihal tempat penguburan Nabi Muhammad Saw. Warga Mekkah menginginkan Nabi dikubur di tempat kelahirannya (Mekkah), yang juga
Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

47

merupakan tempat diutusnya, kiblat Umat Muslim dan juga kuburan kakeknya Ismail As. Sedangkan penduduk Madinah menghendaki agar Nabi dimakamkan di Madinah, tempat hijrahnya dan Dar al-Anshor (tempat kejayaan). Perbedaan ini terus berlanjut dalam penentuan tabuk kepemimpinan, perbedaan Qadariyah , perbedaan Khowarij , perbedaan Rawafidh , dan seterusnya. Hingga sampailah kepada 73 golongan seperti yang Nabi sabdakan. Dengan rincian sebagi berikut: 20 firqah dari Golongan Rawafidh, 20 firqah dari Golongan Khawarij,20 firqah dari Golongan Qadariyah, 5 firqah dari Golongan Murjiah, 3 firqah dari Golongan Najjariyah, dan ditambah Bakariyah, Dharariyah, Jahmiah, dan Karamiyah. Sedangkan firqah yang terakhir (73) adalah Ahlusunnah wal Jama'ah. Secara beruntun Imam Baghdadi menyebut firqahfirqah tersebut. Pembahasan inti dari kitab ini terdapat pada bab kelima yang mengurai tentang Firqah Ahluassunnah wal-Jama'ah. Firqah ini yang disebut Nabi Saw. dalam hadis beliau yang artinya: Bani Israil akan pecah menjadi 71 golongan, dan umatku akan pecah menjadi 72 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu, yaitu Al-jama'ah. (HR. Ibnu Majah). Lantas muncul sebuah pertanyaan, siapakah jama'ah itu?, Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Thabrani ma ana alaihi al-yauma wa ashabi, (seseorang yang bersamaku dan para sahabatku). Jadi dapat disimpulkan bahwa ahlusunnah wal jama'ah adalah golongan yang mengikuti jejak sahabat dan tabi'ien dalam menerima ayat mutasyabihat dan menyerahkan maknanya kapada Allah Swt. dan beriman serta mengakui hadis nabi tanpa harus menyelami (khoudh) lebih dalam. ' Ala kulli hal, uraian demi uraian yang disajikan dalam kitab ini sangat berguna, khususnya bagi pelajar, asatidz, dan ulama yang ingin mengetahui sejarah Firqah-firqah Islam dari sisi kemunculan, tokoh, beserta ideologinya. Kitab ini juga sangat urgen untuk diajarkan di pesantren-pesantren untuk membentengi warga NU dari aliran yang menyimpang. Wallahu a'lam. * Judul : Al-Farqu Baina Al-Firaq Wa Bayanu Al-Firqati An-Najiyati Min Hum
Penulis : Abu Mansur Abdi Al-Qahir bin Thahir bin Muhammad Al-Baghdadi (w. 429 H / 1037 M) Penerbit : Drus Salm Kota Terbit: Kairo Cetakan: Pertama Tahun Terbit: 1431 H / 2010 M Tebal Buku : 436 Halaman Peresensi : Amir Fiqih al Qadafi (Mahasiswa Mustawa V Universitas al-Ahgaff Tarim

Hadhramaut. Koordinator MPA PPI Yaman dan Penasehat FOSMAYA

48

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

Jepret
Dialog Publik Bedah Ushul Fiqih

Bedah Buku Spesial Hari Sumpah Pemuda

Suasana Diskusi FIKROH

Bahtsul Masail Kontemporer

Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

49

Diskusi FIKROH Spesial Isra Miraj

Kuliah Umum Ekonomi

Seminar Kesehatan Tentang HIV/AIDS

Dirgahayu Kemerdekaan RI ke-68 Lomba Menyanyi Daerah

50

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

51

Cerpen

Bingung 180o
Oleh : Husein Potte*

Hidup adalah pilihan. Menjadi perajin atau pemalas, periang atau sumber nestapa, dan seterusnya. Memang begitulah hakikat kehidupan. Tergantung seberapa jeli kita menarik benang merah dan menentukan langkah. Senin,10 Pebruari 2012. Hari ini lingkungan pondok terlihat ramai. Bukan karena haah akhir sanah, atau acara akbar yang menyisakan bukit sampah. Tidak juga oleh wali santri yang menjemput putra-putrinya. Melainkan para santri sendiri yang hiruk pikuk merenovasi kamar mengingat sebentar lagi calon santri baru akan berdatangan menambah populasi pesantren. Siswadi, duduk termenung di teras masjid sembari memangku dagu. Berulang pandangan hampanya mengitari sudut halaman berkulitkan paping blok. Bingung yang tersimpan jauh dalam relung hatiya membuat kedua mata tambah cekung dan dahi menggerenyut. Lensa pupilnya membesar selayaknya alat deteksi yang memperbesar skala gambar. Wah, ngelamun doang. Mikirin yayangnya, toh? cetus Hakim sotoy. Mikirin apa, Sis? Serius banget! lanjutnya penasaran. Sis, panggilan akrab dari Siswadi, masih termenung. Sejenak kemudian dia berkata. Bingung 180 derajat, Kim. Nerusin sekolah diniah atau ujian persamaan Aliyah, jelas Sis sambil memijat keningnya. Diniah saja, besok kuundang ceramah di rumahku. Gimana? canda Hakim mencairkan suasana. Hust, ngawur koe! Tukang tidur disuruh ceramah, entar jamaahnya malah ikutan tidur juga. jawabnya ketus. "Hahahaha," tawa Hakim lepas. Namun, dia lekas sadar diri. Kebimbangan menghalangi keceriaan Sis. Kian hari semakin melambung seiring cepatnya mentari berotasi. Sis dan Hakim segera menuju kamar baru mereka. Langkah Sis terlihat gontai setiap menaiki anak tangga yang tersusun rapi sampai lantai tiga. Satu-persatu dilewatinya tapi tak sedikitpun kegundahan itu mau menempel di jejak kakinya bersama anak tangga.
52

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

Kim, pinjam hape sebentar, mau nelpon abi, bisik Sis di ujung telinga Hakim, takut kepergok pengurus pondok. Ambil sendiri di almari, balas Hakim pelan sambil menunjuk ke arah almari berwarna krem di pojok kamar, bersebelahan dengan gantungan baju. Kondisi almari berukuran 200 cm x 90 cm persegi dengan daun pintu lapuk penuh lobang tersebut mungkin membuat para pengurus tak mengira ada barang berharga di balik kayu tua tersebut. Nelponnya di pojok sana, saran Hakim kembali mengisyaratkan ke arah balkon pojok kanan kamar. Hape Nokia tipe 6600 sudah bersembunyi di lipatan sarung Sis. Merasa aman, Sis mengeluarkan telepon ilegal itu. Dasar anak pondok, dilarang masih saja yang nubruk, gumamnya sambil menekan digit nomor hape. Mata Sis serius menatapi nomer yang tertulis besar di tepi atas halaman buku diary biru tuanya. Sis kesulitan menekan tombol digit. Apa karena Sis masih sukar memakai alat komunikasi?! Mungkin saja. Assalamu'alaikum. Siswadi, Pak," ucapnya, "Pak, Sis ikut persamaan aliyah atau melanjutkan diniah tahun akhir dulu baru mengikuti ujian persamaan? Memang kamu maunya bagaimana? Coba persamaan saja lah. Jawaban singkat tapi cukup meruntuhkan kebimbangan yang sudah menggunung dalam sanubarinya. Muka Sis tertunduk lemas menyudahi pembicaraan bersama ayahnya. Sejatinya Sis mengharapkan ketenangan, tapi kenapa ada sesuatu yang berbeda. Kedua tangan Sis bertumpu pada tembok balkon. Sis membuang pandangan. Menembus barisan perbukitan yang membujur seperti mengikuti garis katulistiwa. Wajah seri yang selalu bercerita akan kelanggengan hati kini sudah dikuasai kegundahan sehingga terkesan padam, tak ada cahaya keceriaan lagi. Mata bersinar yang kemarin masih memancarkan cahaya semangat dan keberanian seketika berganti kilauan bercak-bercak air mata yang menyembul pelan. Mentari hari itu terlihat galak. Semua yang bisa digapainya tak luput dari jilatan liar yang cukup menyengat. Keringat tak segan membanjiri seakan sudah berkompromi memenuhi mulut pori-pori yang tak begitu pasti berapa banyak ia mengeluarkan cairan tubuh. Urat-urat benang yang melekat di badan Sis sedikit berubah lebih pekat dari warna aslinya, menyerap setiap mil cairan bening itu. Menyadari kegalauan hatinya Sis bergegas mandi kemudian menuju ke masjid. Sis mencoba mencari ketenangan melalui meditasi sholat. Dalam mihrab masjid dihamparkannya sajadah ungu bergambarkan ka'bah almusyarrafah, pusat dunia dan kiblat kaum muslimin.
Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

53

Allahu akbar Sis memulai sholatnya, kemudian terhanyut dalam bacaan sholat. Suasana masjid yang bermotif mewah, kombinasi antara Masjid Al-Haram Mekah dan Masjid Madinah ini sangat sejuk seakan ber-AC, membuat siapa saja merasa betah berlama-lama di dalamnya. Bilik mihrab masjid yang berukuran 4 m 2,5 m membawa segala terenyuh khusyuk antara harap dan iba. Ya Allah, Engkau Maha Kuasa sementara aku hamba-Mu yang lemah, Engkau Mengetahui segalanya sedang aku tidak, Engkau juga tahu apa yang tak nampak, yang sudah, sedang atau bahkan akan terjadi. Karenanya, ya Allah, pilihkanlah apa yang terbaik menurut-Mu dan berikan yang terbaik bagiku di dunia dan akhirat. Jam dinding putih besar yang menggantung di mimbar masjid terdengar berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Sis beranjak keluar masjid meninggalkan tempat duduknya. Dari teras masjid Sis melihat sosok sepuh berbusana putih ala ulama sedang bercengkrama dengan seseorang. Tak ayal sosok sepuh tadi adalah pengasuh pesantren tempat Sis menimba ilmu. Beliau seperti orang tua bagi para santri, setia mendengar keluh kesah, walau masalah pribadi yang dialami muridnya. Bahkan bukan hal asing lagi bilamana para santri meminta uang ketika memang tak ada kiriman dari keluarga. Ketenangan terasa sangat merasuk sanubari Sis selepas sholat istikhoroh menjelang Dzuhur siang tadi. Bagai seorang yang baru habis mandi setelah seharian berbaur dengan penatnya pekerjaan. Batin Sis berkata pada sebuah pilihan, namun masih belum sempurna. Karenanya Sis membutuh arahan yang bisa menjawab, kenapa dia harus memilih ini. Berpikir seribu kali sebelum melangkah, itu pua yang selalu dia ingat. Assalamualaikum Sis mengucapkan salam kepada pak Kyai. Wa 'Alaikum Salam wa Rahmatullah, pak Kyai menjawab salam Sis sambil memandang ramah bersamaan dengan tamu yang duduk di samping kanannya. Setelah dipersilahkan, Sis duduk santun. Sambil menunggu selesainya perbincangan, Sis menyeruput secangkir tea yang telah disediakan untuknya. Tiba akhirnya, sang tamu beranjak pergi meninggalkan Sis bersama Pak Kiai. Sis mulai bertutur dengan kepala tertunduk malu seperti halnya padi berisi, menjaga etika berbicara. Saya lagi bingung, Kyai, tutur Sis mencoba untuk mengutarakan masalahnya, bingung apakah saya harus persamaan tahun ini atau melanjutkan diniah dulu setahun lagi. Sudah saya coba menghubungi orang
54

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

tua, tapi beliau menyuruh saya untuk mencoba mengikuti ujian persamaan. Saya jadi tambah bingung mau memilih yang mana, Kyai. Nanda, serunya sangat lembut, ijazah itu perlu nanda miliki, karena kalau nanda ingin kuliah, mau kerja perlu ijazah. Tapi kalau nanda ikut persamaan tahun ini, apa yang sudah nanda pelajari selama dua tahun akan siasia karena belum terlalu matang nanda pahami, jelas Pak Kiai mengajak Sis berpikir sedikit lebih bijak melihat dampak yang ditimbulkan. Sis mangut, sepertinya dia sepakat pada pilihan yang disarankan oleh pak Kiai. Entah mengapa, kebimbangan yang menyelimuti hari dan sanubari Sis perlahan luntur dengan dawuh serta nasehat pak Kiai. Tak akan pernah ada penyesalan bagi mereka yang beristikhoroh dan tak akan pernah merugi orang yang bermusyawarah, kata benaknya bahagia. Dengan goresan senyum mengembang bagai tawanan yang baru keluar dari balik jeruji besi, dia berkata lega: Insya Allah, saya mantap diniah, Kyai!"/end *Penulis adalah mahasiswa mustawa 3 fakultas syariah, universitas Al-Ahgaff.

Mutiara Hati Mutiara Hati Mutiara Hati Mutiara Hati


Berkompetisi bukan untuk menjadi yang paling ditakuti, tapi untuk menjadi yang paling dicintai (Robby Purba) Orang yang ngomongin dibelakang kita, itu karena mereka ada dibelakang kita (Deddy Corbuzier) Dunia ini seperti cermin, ia akan memantulkan kenyataan hidup sesuai apa yang dipikirkan manusia (Thackeri) Tintanya ulama' lebih baik daripada darahnya para syuhada' (Hasan Bashri) Puncak kebahagiaan seorang mukmin adalah ketika berjumpa dengan tuhannya (Wahb bin Munabbih) Pekerjaan itu lebih banyak daripada waktu (Hasan Al-Banna) Cara terbaik menghilangkan musuh adalah mencintainya (Anonim) Orang alim mengukir ilmu, sedang orang arif mengilapkannya (Abdul Qodir Jailani) Dalam hati setiap orang ada rasa ingin dicintai tanpa harus diperiksa apakah ia layak dicintai (Maurice Wagner) Kepala yang tidak mempunyai fikiran ibarat benteng yang tidak dibela (Napoleon Bonaparte) Orang jika ingin melakukan sesuatu pasti mencati jalan. Tapi jika orang tidak mau berbuat sesuatu ia akan cari alasan (Pepatah Arab) Perjalananseribu batu bermula dari satu langkah (Lao Tze)

Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

55

Puisi

Disaat saat kegelimangan terpuncak pada kericuhan Diwaktu waktu seteru menjadi ajang terperondakan Dimana dan disana pertumapahan menjadi jawaban Mengapa dan terbangan nyawa menjadi luapan kesaksian Oooohhh tangisan yang terlupakan Ketika senyuman menjadi sulam kehidupan Ketika keceriaan kedamaian adalah torehan sifat kemanusiaan Namun mengapa tangisan adalah kegemaran kebiasaan Kesedihan dan kehancuran terlihat dimana mata memandang Negeriku negeri pertiwi Bangsaku bangsa domekrasi Tanah airku tanah dimana aku berpijak dan berdiri

Yang T erlupakan

Sejulur T erompah T angisan Kibaran Bangsa

Oleh : Hanif Faqoth* Dengan secibir waktu dia jauh memandang Gempalan secercah tekad dia suguhkan demi masa depan Seuntai harapan memaku mengakar erat ditangan Bangsaku negaraku lebih baikmu bukti dari khidmatku Seruan angin mengencang bak genderang berjuta tentara Kerahkan jiwa mengikis waktu melipat dunia Ku kibarkan hasrat terompah terompah bersulingan Inilah jihad seorang anak bangsa demi negerinya

Satuan nurani busurkan panah titiskan tenaga Dia menjulur tangan dengan gigih penuh semangat Kerutkan dahi bukan berarti terharu tapi terburu Demi masa sekarang dan datang Didetik ini aku tumpahkan negeriku terbaikku semangat demi nasibmu Aku mengharu dan terharu dengan Dijantung ini aku lukiskan ucapku: kecerahan dan kedamaianmu Akan aku persembahkan bersihnya Bangsaku kau ukiran hatiku Negeriku kau urat penyamangat hidupku benderamu menjulang tinggi di Demimu aku torehkan jiwa dan ragaku. udaramu * Penulis adalah mahasiswa mustawa 3 Sertanya tetesan tetesan air mata fakultas syariah, universitas Al-Ahgaff kesenangan menyambut kemerdekaanmu 56

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013

Antara Janda, Keperawanan, dan Partai Politik

Humor

Seorang "Janda" yang sudah 3 kali kawin-cerai periksa di dokter kandungan. Waktu dokter mau periksa dalam, terjadi percakapan. Janda : "Hati-hati periksanya ya dok, saya masih 'perawan' lho ...!" Dokter: "Lho? Katanya ibu sudah kawin-cerai 3 kali, mana bisa masih perawan ...?" Janda : "Gini lho dok, eks suami saya yang pertama ternyata impoten." Dokter: "Oh gitu, tapi suami ibu yang ke-2 gak impoten kan?" Janda : "Betul dok, cuma dia gay, jadi saya gak diapa-apain sama dia." Dokter: "Lalu suami ibu yang ke-3 gak impoten dan bukan gay kan?" Janda : "Betul dok, tapi ternyata dia itu orang 'partai politik'...." Dokter: "Lalu apa hubungannya dengan keperawanan ibu ...?" Janda : "Dia cuma janji-janji saja dok, 'gak pernah direalisasikan!!!" Dokter: "?!?!?!?!????"

Banjir DKI Jakarta, Siapa yang Salah?


Di sela-sela warga jakarta kebanjiran, para Mantan Gubenur dan Gubernur saling berdebat. Coba simak kata-kata obrolan para mantan Gubernur DKI saat meninjau banjir... Sutiyoso : "Zaman saya dulu banjirnya gak separah ini lho Fok..!!" Foke : "Apalagi Zaman saya mas Yos... Gak pernah banjir sebesar ini..." Jokowi : "Sudah... sudah... kalian ndak usah ribut, memang yang salah itu saya,

Bersyukur Atas Kemerdekaan Indonesia


Kita harus bersyukur merdeka tahun 45. Semangat 45 terdengar "gagah". Coba tahun '69. Semangat 69 terdengar "Menggagahi". Kita bersyukur lagi, merdeka tgl 17 Agustus. Semua serba merah putih. Coba 14 Februari, pasti serba merah jambu. Masih terus bersyukur, proklamator Republik Indonesia bernama Ahmad Soekarno. Kalo Ahmad Dhani, itu Republik Cinta. Bersyukur merdeka 17/8/45. Burung Garuda jadi gagah. Coba 1/1/45, bulu sayap & ekornya cuma sehelai. Bersyukur lagi warna bendera kita Merah Putih. Coba warna Ungu, lagu kebangsaan berubah jadi Demi Waktu.
Edisi XX Januari - Juli 2013

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

57

Pantun
Petik bunga dalam jambangan Bunga disimpan dalam keranjang Orang politik jangan sembarangan Rusak Negara alang kepalang Cari kumbang di dalam taman Kumbang didapat di halaman Carilah pemimpin yang pengalaman Agar rakyat sejahtera dan aman Duduk di taman mendengar musik Sambil ngopi dan makan roti Jadi politisi janganlah licik Bikin lawan jadi makan hati Bernyanyi berdendang gembira Tandanya hati bersuka cita Jika beruasa janganlah lupa Karena rakyatlah makanya berkuasa Pilih wanita yang baik hati Tapi janganlah jinak-jinak merpati Jika pemilu sebentar lagi Pilihah pemimpin yang baik hati Burung tekukur burung gelatik Kuda sembrani kuda Sumbawa Yang paling subur orang politik Yang sengsara rakyat jelata (Ajinatha, Kompaiana) Hujan gerimis rintik rintik Kalau sakit bisa berabe Pada ceriwis sama politik Salah dikit jadi rame (Detik Forum) 58

Sambungan Hal.38

beliau pun mendukung apa yang diperbuat saudara kandung beliau h a b i b To h i r b i n To h i r u nt u k membentuk suatu organisasi Persatuan Muslim Hadramaut pada tahun 1224 H. Pernah suatu kali Habib Abdullah bin Tohir berkata tentang saudara kandungnya Habib Tohir bin husain bin Tohir: selama kami bersama semenjak kecil hingga dewasa aku dak pernah mendahuluinya dalam langkah kaki, dan saya dak pernah menaiki atap rumah sedangkan ia berada dibawah. ungkapan semacam ini menunjukkan tarbiyah Nabawiyah sangat melekat pada diri dua saudara yang dikisahkan bahwa keduanya dak pernah berpisah dalam menuntut ilmu dimana pun juga.

An-Nadwa
Media Dakwah Menjalin ukhwah

Edisi XX Januari - Juli 2013