Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Final 6012011 Edi 26012011

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI ACEH

2.1.

Geografis dan Demografis

2.1.1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah 2.1.1.1. Letak, Luas dan Batas Wilayah Provinsi Aceh terletak di ujung Barat Laut Sumatera (2o00’00”- 6o04’30” Lintang Utara dan 94o58’34”-98o15’03” Bujur Timur) dengan Ibukota Banda Aceh, memiliki luas wilayah 56.758,85 km2 atau 5.675.850 Ha (12,26 persen dari luas pulau Sumatera), wilayah lautan sejauh 12 mil seluas 7.479.802 Ha dengan garis pantai 2.666,27 km2. Secara administratif pada tahun 2009, Provinsi Aceh memiliki 23 kabupaten/kota yang terdiri dari 18 kabupaten dan 5 kota, 276 kecamatan, 755 mukim dan 6.423 gampong atau desa. Provinsi Aceh memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang lalu lintas perdagangan Nasional dan Internasional yang menghubungkan belahan dunia timur dan barat dengan batas wilayahnya : sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka dan Teluk Benggala, sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara dan Samudera Hindia, sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Hindia dan sebelah Timur berbatasan dengan Selat Malaka dan Provinsi Sumatera Utara. 2.1.1.2. Kondisi Topografi Provinsi Aceh memiliki topografi datar hingga bergunung. Wilayah dengan topografi daerah datar dan landai sekitar 32 persen dari luas wilayah, sedangkan berbukit hingga bergunung mencapai sekitar 68 persen dari luas wilayah. Daerah dengan topografi bergunung terdapat dibagian tengah Aceh yang merupakan gugusan pegunungan bukit barisan dan daerah dengan topografi berbukit dan landai terdapat dibagian utara dan timur Aceh. Berdasarkan kelas topografi wilayah, 9

Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh

Provinsi Aceh yang memiliki topografi datar (0 - 2%) tersebar di sepanjang pantai barat – selatan dan pantai utara – timur sebesar 24.83 persen dari total wilayah; landai (2 – 15%) tersebar di antara pegunungan Seulawah dengan Sungai Krueng Aceh, di bagian pantai barat – selatan dan pantai utara – timur sebesar 11,29 persen dari total wilayah; agak curam (15 -40%) sebesar 25,82 persen dan sangat curam (> 40%) yang merupakan punggung pegunungan Seulawah, gunung Leuser, dan bahu dari sungaisungai yang ada sebesar 38,06 persen dari total wilayah. Provinsi Aceh memiliki ketinggian rata-rata 125 m diatas permukaan laut. Persentase wilayah berdasarkan ketinggiannya yaitu: (1) Daerah berketinggian 0-25 m dpl merupakan 22,62 persen luas wilayah (1,283,877.27 ha), (2) Daerah berketinggian 25-1.000 m dpl sebesar 54,22 persen luas wilayah (3,077,445.87 ha), dan (3) Daerah berketinggian di atas 1.000 m dpl sebesar 23,16 persen luas wilayah (1,314,526.86 ha). 2.1.1.3. Kondisi Klimatologi Provinsi Aceh memiliki Persentase lamanya penyinaran matahari tercatat jumlah penyinaran matahari maksimum terjadi antara pukul 10.00 – 11.00 WIB yaitu sebesar 8,6 persen dan jumlah penyinaran matahari terendah terjadi antara pukul 15.00 – 16.00 Wib sebesar 4.5 persen, suhu tertinggi terjadi pada tanggal 04 September 2010 sebesar 28,4 ºC, dan rata-rata suhu terendah tercatat tanggal 29 September 2010 sebesar 25,4 persen sedangkan rata-rata kelembaban udara tertinggi terjadi pada tanggal 29 September 2010 sebesar 91 persen dan terendah terjadi pada tanggal 04 September 2010 sebesar 69 persen. Sedangkan rata-rata tekanan udara terendah terjadi pada tanggal 18 September 2010 yang bernilai 1011,0 mb sedangkan rata-rata tekanan udara tertinggi tercatat 06,27 mb dan 28 September sebesar 1012,9 mb. Untuk jumlah penguapan di stasiun klimitologi indrapuri, September 2010 tercatat jumlah penguapan terendah terjadi pada tanggal 29 September 2010 dengan nilai
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025

10

Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh

penguapan sebesar 0.3 mm,sedangkan jumlah penguapan tertinggi terjadi pada tanggal 10 September 2010 dengan jumlah penguapan 7,0 mm. Sementara persentase kecepatan angin terbanyak pada kecepatan Calm (0 Knot) sebesar 57,4 persen dan persentase kecepatan angin terendah yaitu pada kecepatan 11-17 Knot sebesar 1,3 persen. Sedangkan persentase arah angina terbanyak pada bulan Agustus 2010 didominasi arah dari Barat Laut sebanyak 8% dan arah angin terendah dari Timur Laut dengan persentase sebesar < 1.4%. 2.1.1.4. Kondisi Hidrologi Di wilayah Aceh terdapat 408 Daerah Aliran Sungai (DAS) besar sampai kecil. Aceh memiliki beberapa danau seperti Danau Laut Tawar di Aceh Tengah dan Danau Aneuk Laot di Sabang, juga memiliki rawa seluas 444.755 ha, yang terdiri dari rawa lebak seluas 366.055 ha dan rawa pantai seluas 78.700 ha. Untuk pengelolaan sungai sebagai sumberdaya air ditetapkan 11 Wilayah Sungai (WS) yang terdapat di Aceh, berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.11A/PRT/M/2006 ada empat kalisifikasi Wilayah Sungai (WS) yang ada di Aceh yaiut WS Strategis Nasional (WS Meureudu-Baro, WS Jambo Aye, WS Woyla-Seunagan, WS Tripa-Bateue) yang dikelola Pemerintah Pusat, WS Lintas Provinsi (WS Lawe Alas-Singkil) yang dikelola Pemerintah Aceh, WS Lintas Kabupaten/Kota (WS Krueng Aceh, WS Pase-Peusangan, WS Tamiang-Langsa, WS Teunom-Lambesoi, WS Krueng Baru-Kluet) yang dikelola oleh Pemerintah Aceh, WS Dalam Kabupaten/Kota (WS Pulau Simeulue) yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Simeulue. (Tabel 2.1)

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025

11

Lambeusoi.4. Inong Krueng Baru-Kluet Sungai-sungai di Pulau Simeulue KETERANGAN 4 Lintas Provinsi. Trienggadeng. Peusangan dengan debit rata-rata 88.Beuracan. Aceh 3 Jamboe Aye Strategis Nasional. Jeungki. 2. Baro. Woyla-seunagan Tripa-Bateutue Aceh. Tabel tersebut memberikan informasi bahwa beberapa daerah aliran sungai yang memiliki luas dan rata-rata debit yang cukup besar antara lain: DAS Kr.95 km2. Teungku. Geukeuh Tamiang. Peundawa Puntong.10 m3/detik dengan luas 1. Sabe. Lae Saragian. Mane. Langsa. Pante Raja. Leugo Rayeuk. DAS Kr. Masen. Lancang. Tiro. Raya. Peureulak. Aceh dengan debit rata-rata 19.Kuala Baru Meureudu.3 dan 2. Peusangan. Putu. Aceh 4 Woyla-Seunagan 5 Tripa-Bateutue 6 Krueng Aceh 7 Pase-Peusangan 8 Tamiang-Langsa 9 Teunom-Lambeusoi 10 Krueng Baru-Kluet 11 Pulau Simeulue Strategis Nasional. Peudada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 12 . Geuruntang. Pangwa. Reungget. Lae Silabuhan.780 km2. L. Malehan. Keureuto. DAS Kr. DAS Kr.90 m3/detik dengan luas 1. Peundawa Rayeuk. Batee Pase. Pase dengan debit rata-rata 91.1 Wilayah Sungai (WS) Provinsi Aceh NO 1 1 Alas Singkil 2 Meureudu-Baro NAMA WILAYAH SUNGAI 2 DAS 3 Lae Pardomuan. Bayeuen Teunom. Peudada. Utue. Lueng.11A/PRT/M/2006 dan Renstra SDA Prov Aceh 2007-2012 Arah dan pola aliran sungai yang terdapat dan melintasi wilayah Provinsi Aceh dapat dikelompokkan atas dua pola utama yaitu: (1) Sungai-sungai yang mengalir ke Samudera India atau ke arah barat dan (2) Sungai-sungai yang mengalir ke Selat Malaka atau ke arah timur. Julok Rayeuk. Lae Singki. Telaga Muku. Raya. Aceh Lintas Kabupaten/Kota Lintas Kabupaten/Kota Lintas Kabupaten/Kota Lintas Kabupaten/Kota Lintas Kabupaten/Kota Dalam Satu Kabupaten Sumber: Permen PU No.Batee Jambo Aye. Aceh Strategis Nasional.12 m3/detik dengan luas 2.272 km2.907.2.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Tabel 2. Keumuning. Ganding Idi Rayeuk.Bubon. Simpang Ulim. Aceh-Sumatera Utara Strategis Nasional. Beberapa daerah aliran sungai dikelompokkan menjadi satu wilayah sungai berdasarkan wilayah strategis nasional dan lintas kabupaten sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tersebut seperti yang disajikan pada Tabel 2.

Baro Nama .00 2.50 68.50 48.50 41.035.00 124.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh dengan debit rata-rata 21.30 246.00 41.54 0.58 5.43 45.00 45.Nama Daerah Aliran Sungai (DAS) Panjang (Km) 113.41 0.59 9.00 44.30 8.25 64.66 10.00 87.38 23.00 217. Peudada Kr.00 408.00 250.00 1.00 15.00 55.Peusangan Kr.04 Hulu (m) DEBIT Max Min Rata-rata m3/Det m3/Det m3/Det 2.12 21. Geuruntang Kr.10 55.00 41.32 52.28 5.272.00 Panjang Hilir Tengah Hulu Max Min Rata-rata (km) (m) (m) (m) m3/Det m3/Det m3/Det 33.76 100.67 25.00 88.00 887.54 3.00 74.12 8.81 4. Tabel 2.00 114.00 88.00 51.2 A3 .21 61.98 m3/detik dengan luas 1.20 399.80 49.12 0.44 0.30 175.38 30.00 B-2 B-3 Kr.576.50 351.581.74 2.20 12.00 13.00 20.54 53.00 48.00 56.34 31.20 35.00 27.00 42.00 0.00 18.39 13.00 109.00 150.00 39.00 76.80 8.79 19.60 56.60 55.1 Nama SWS Sungai Meureudu . Woyla Kr.00 48.00 325.00 85.40 45.00 17.00 450.12 197.00 64. Bayeuen Sub Total Panjang Sungai Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 88.32 43. Kuala Baru Total Panjang Sungai Total Panjang Sungai Keseluruhan 24.70 18.00 41.50 172.00 126.00 60.00 486.907.00 2.00 50. Langsa Kr.Peundawa Reyeuk Kr.00 197. Seunagan Sub Total Panjang Sungai Tripa .54 9.17 13.56 50.10 54.10 146.11 4.00 235.Langsa Kr.00 116.00 44.30 31.00 85.60 km2.98 97.30 42.80 33.01 33.560 km2.00 13.4 Kr.00 41.00 8.56 23.32 52.00 0.30 103.00 207.20 91. Teungku Kr.31 37.32 0.52 298.00 102.60 210.00 46.00 131.00 62.03 0.00 95.50 50.20 6.50 136.00 364. Baro Kr.60 60.00 6.00 30.00 3.326 km2.00 931.70 6.80 Luas DPS (KM²) 1.021.80 70.Nama Daerah Aliran Sungai (DAS) DEBIT Luas DPS (km²) 406.2 Wilayah Sungai Strategis Nasional BWS Sumatera – I PBPS Prov.74 13.00 11.70 4.163.70 112.00 TABEL WILAYAH SUNGAI LINTAS KABUPATEN/KOTA BWS SUMATERA .00 11.70 12. Pante Raja Kr.00 216.00 16.50 277.405.00 124.05 0.00 60.00 54.08 13.I PBPS PROV.560.00 414.00 1.23 2.50 28.12 2.04 6. Meurudu Kr.00 50.00 42.70 17.80 28.284.28 61.28 25.Pendawa Puntong Kr.741. Aceh TABEL WILAYAH SUNGAI STRATEGIS NASIONAL BWS SUMATERA .07 0.00 3.95 42.32 0. Tripa Kr.09 88.20 669.30 2.30 19.00 Hilir (m) 28.20 16.50 62.40 Luas Genangan (km²) 250.425. Malehan Kr.00 78.30 50.00 58. DAS Kr.56 136.00 14.47 1.00 15.10 50. Mane Kr.12 9.00 131.00 54.08 128.41 2.00 15.00 980.61 12. Raya Kr.Jeungki Kr.98 39.24 39.00 56.25 671.00 28.00 22.13 0.00 214.00 61. Raya Kr.00 230.00 116.46 2.60 16.654.80 75.10 327.00 1.00 203.54 23.100.49 35.00 Hilir Tengah (M) (M) 60.36 11.68 2.Bateue Kr.09 2. Lancang Kr.64 8.22 5.96 12.Rayeu Kr.64 22. NAD LEBAR No Kode SWS A2 .20 125. Kluet dengan debit rata-rata 248.78 5.00 24.00 44.94 77. Trienggadeng Kr.00 71.03 0.11 1.00 49.00 8.Nama Daerah Aliran Sungai (DAS) Panjang (km) 34.931.214.46 8.41 1.00 85.33 7.Reungget Kr.00 120.20 51. Aceh Kr.80 426. Bate Sub Total Panjang Sungai Pasee .00 46.00 1.04 0.69 119.20 413.23 2.I PBPS PROV.00 210.00 2.00 65.00 13 .50 64.00 56.00 10.00 15.00 58.36 21.44 1.73 26. DAS Kr.70 138.50 15.00 1.66 20.35 7. Pangwa Kr.80 4.00 51.00 1.39 75.00 78. Geukeuh Sub Total Panjang Sungai Tamiang .26 1. Peureulak Kr.00 57.80 69.00 43. Leung Kr.64 m3/detik dengan luas 4.10 13. Peusangan Kr. NAD LEBAR No Kode SWS B-1 Nama SWS Sungai Krueng Aceh Nama .80 49.176.00 13.80 25.00 8.00 26.00 111.00 52.50 65.20 43.00 52.86 Tabel 2.780.00 35.00 17.00 306.00 82.00 68. Beuracan Kr.98 3.42 5.00 59.62 Aceh 52.68 7.68 222.00 0.54 7.64 0.65 660.90 1.58 0.94 968.25 m3/detik dengan luas 2.20 10. NAD LEBAR No Kode SWS A3 .10 53.95 0.21 0.700.31 1.55 280.95 0.00 40.00 281.00 80.00 54.68 44. Teunom dengan debit rata-rata 192. Telaga Muku Kr.85 8.16 165.00 158.94 6.00 Lae Pardomuan Lae Silabuhan Lae Siragian Lae Singkil L.91 m3/detik dengan luas 2.00 20.20 55.66 0.20 11.84 338.892.00 960.30 21. Idi Rayeuk Kr.80 15.00 86.12 21.20 12.30 21.00 46.50 208. Julok Kr.31 17.82 25.3 Wilayah Sungai Lintas Provinsi BWS Sumatera –SUNGAI I PBPS Provinsi Aceh TABEL WILAYAH LINTAS PROVINSI BWS SUMATERA .60 17.Pasee Kr.70 Luas Genangan Keterangan (KM²) 2.48 427.00 2.16 125.20 134.61 51.07 0. Leugo Rayeuk Sub Total Panjang Sungai Woyla .00 Tengah (m) 25. Utue Kr.00 Keterangan A3 .04 47.00 246.44 10.Singkil Nama .95 1. Tamiang dengan debit rata-rata 296.20 50.00 60.79 48.00 124.12 Luas DPS (km²) Luas Genangan Keterangan (km²) 56.00 27.91 0.00 124.10 17.00 178.13 20.76 0.20 14.121.00 51.59 10.92 89.07 0.20 27.00 13.00 178.1 Nama SWS Sungai Alas .20 6.22 10.20 32.00 57.49 324.00 101.00 1.Keumuning Kr.00 38.00 14.00 3.50 10.02 154.00 201.00 7.28 9.00 1. Jambo Aye Kr.00 50. Simpang Ulim Kr.00 440.I PBPS PROV.47 4.82 7.Seunagan Kr.00 123.55 9.90 3.00 51.31 10.00 110.50 91.90 11.683.75 45.80 142.00 33. Bateue Sub Total Panjang Sungai Total Panjang Sungai Keseluruhan 1.62 0. Batee Sub Total Panjang Sungai Jambo Aye Kr.00 200.40 33.12 0.20 51.40 8.84 8. Gading Kr.90 1.00 120.56 8.16 15.70 100.418.12 13.26 211.413 km2 dan DAS Kr.3 A3 .20 201.00 512.02 0.20 85.45 DEBIT Hulu Max Min Rata-rata (M) M3/Det M3/Det M3/Det 51. Putu Kr.46 12. Keureuteu Kr.48 4.00 74.89 82.00 51.31 17.12 31.00 0.683.20 92.38 19.00 48.82 41.42 115.00 3.00 138. Tamiang Kr.14 809.48 18.

Sabe Kr.00 123.25 16. Keureuteu Kr.00 85. Luas lahan pertanian sawah seluas 311.00 256.00 52.41 1.68 3.00 324.38 19.80 4.00 21.741.00 102.00 116. perairan darat.50 671.00 206.10 17.45 9.523.00 131.80 75.00 2.00 13.60 17.00 3.90 3. Kluet Sub Total Panjang Sungai Total Panjang Sungai Keseluruhan 54. Penggunaan lahan terluas kedua adalah perkebunan besar dan kecil mencapai 691.00 130.00 120.214.70 Luas Genangan Keterangan (KM²) 2.00 60.00 85.55 52.10 389.00 217.Singkil Nama .00 46. Woyla Kr.00 51.00 512.326.01 33. Teunom Kr.00 103.00 31.00 101.00 158.87 108.25 37.12 BWS SUMATERA .4 Wilayah Sungai Lintas Kabupaten/Kota 197.07 0.84 8. perkampungan.60 117.02 250.12 88.21 74. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 14 .99 persen.22 335.91 0.00 60. Bubon Kr.00 408.14 53. Mane Kr.54 115.1.35 51.1 Nama SWS Sungai Alas .80 25.00 3.00 306.780.00 78.12 13.85 169. Telaga Muku Kr.25 62. Raya Kr. Masen Kr.31 17.90 91.46 25.82 50.00 76.00 48.95 1.93 16.80 14.683.817 Ha atau 61.98 39.20 120. 73 sungai besar dan 2 buah danau.68 2.00 50.00 81.00 125. Aceh Kr.00 37.20 10.20 500.00 68.00 7.49 248.94 0. Tamiang Kr. Penggunaan Lahan Aceh memiliki 119 pulau.91 47.00 6.00 85.00 69.00 414. Baru Kr.98 49.1. Langsa Kr.00 178.00 486.00 351.860.52 674.98 36.00 1.00 41.00 99.60 110.90 21.00 59.50 25.10 146.I PBPS PROV.00 1.425.284.I PBPS PROV.50 8.30 413.73 14.00 0.00 38.00 51.91 22.20 134.06 persen dari luas total wilayah Aceh. Teungku Kr.36 18.50 208.35 7.Kluet Kr.100.00 0.60 1.68 3.62 57.00 Lae Pardomuan Lae Silabuhan Lae Siragian Lae Singkil L.30 175.00 49.996.50 15. industri.94 99. tanah terbuka dan lahan suaka alam lainnya dibawah 5.00 124.00 116.70 3.20 6.00 39.00 78.102 Ha atau 12.00 Hilir (m) 28.80 Luas DPS (KM²) 1.50 2.69 119.00 17.00 214.5. Peudada Kr.20 234.50 55. Inong Sub Total Panjang Sungai Krueng Baru .94 61.021. Peusangan Kr.26 58.00 7.00 931.00 25.82 33.40 71.55 9.09 7.20 4.272.49 35.04 DEBIT No Kode SWS A2 .00 51.48 18.98 41.28 61.00 22.00 77.79 55. Raya Kr.00 BWS – I PBPS Aceh TABEL Sumatera WILAYAH SUNGAI LINTAS Provinsi KABUPATEN/KOTA 197.49 280.TABEL WILAYAH SUNGAI LINTAS PROVINSI BWS SUMATERA .84 47.00 88.00 86.30 56.Lambesoi Kr. NAD LEBAR No Kode SWS B-1 Nama SWS Sungai Krueng Aceh Nama .70 448.42 persen.00 45.00 Hulu (m) Max Min Rata-rata m3/Det m3/Det m3/Det 2.00 58. Karakteristik lahan di Provinsi Aceh pada tahun 2009.39 75.00 20.00 24.00 11.00 150.50 136.00 39.00 1.00 B-2 B-3 B-4 B-5 Kr.45 DEBIT Hulu Max Min Rata-rata (M) M3/Det M3/Det M3/Det 51.35 72.560.00 15.00 230.892. sebagian besar didominasi oleh hutan.654.00 1.99 5.12 42.00 3.47 4. 35 gunung.20 91.Nama Daerah Aliran Sungai (DAS) Panjang (km) 34.00 38.20 92.52 298.00 33. Lambesoi Kr.00 320.413.58 5.68 45.00 207. Bayeuen Sub Total Panjang Sungai Teunom .43 persen dan pertanian tanah kering semusim mencapai 137.80 54.121.10 Sumber : BWS Sumatera I 2.30 8.50 154.00 3.00 2.Langsa Kr.54 9.60 210.12 Umum Kondisi Aceh Luas DPS (km²) Luas Genangan Keterangan (km²) 56.Pasee Kr. dengan luas 3. Kuala Baru Total Panjang Sungai Total Panjang Sungai Keseluruhan Tabel 2.25 42.Peusangan Kr.Nama Daerah Aliran Sungai (DAS) Panjang (Km) 113.70 968.20 413.600.672 Ha atau 2.20 51.00 1.00 26.80 23.00 43.351.907.34 31.12 44.95 0.50 20.76 968.39 48.00 124.68 44.00 364.00 62. Geukeuh Sub Total Panjang Sungai Tamiang .60 5. Bate Sub Total Panjang Sungai Pasee . NAD Bab II Gambaran LEBAR Tengah (m) 25.872 Ha atau 5.00 620.00 65.13 70.00 57.95 809.70 31.30 19.00 80.00 15.28 5.40 4.00 3.82 41.00 Hilir Tengah (M) (M) 60.4 persen dan selebihnya lahan pertambangan.25 2.00 138.54 65.20 43.47 192.

perikanan darat dan laut.925 204. tambak.557 627.592 117.135 204.000 51. Potensi Pengembangan Wilayah Provinsi Aceh mempunyai beragam kekayaan sumberdaya alam antara lain minyak dan gas bumi.985 3.168 18. belukar.Perkebunan Besar .141 117. penggaraman. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) dan Pusat Kegiatan Lokal (PKL).883.825 137. industri.461 229.563 2.439 5.009 311.588.929.2008 No 1 2 3 4 5 6 7 Perkampungan Industri Pertambangan Persawahan Pertanian tanah kering semusim Kebun Perkebunan .825 137.Perkebunan Kecil 8 9 10 11 12 Padang (Padang rumput.439 5.726 3.5 Jenis Penggunaan Lahan Provinsi Aceh Tahun 2005 .1. (2) Pesisir Timur. semak) Hutan (Lebat.736. penetapan Wilayah Pengembangan (WP) di Aceh dikelompokkan berdasarkan posisi geografis.152 5. (3) Pegunungan Tengah. alang-alang.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Tabel 2.557 691. rusak. yaitu: (1) Banda Aceh dan sekitar.665 305. sejenis) Perairan Darat (kolam air tawar. Penetapan PKN dan PKW merupakan kewenangan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 15 . Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN).439 101. 2009 (Data diolah) Penggunaan Lahan 2005 112.049 311.292 44.928 115. perkebunan.551 367. waduk.852. land clearing) Lainnya/others Jumlah/Total Sumber : Bappeda Aceh.599 204.869 443 314. pertambangan umum yang memiliki potensi untuk dikembangkan sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh.161 294.560 3.657 3.762 3.868 549 311.726 3. danau.582 3.050 51. Secara umum.352 44.450 229.632 229.849 137.928 115.617 305.616 305.2.557 346.574 163. pertanian.837.523.577 2008 117. Wilayah Pengembangan yang dimaksud memiliki beberapa pusat kegiatan di wilayah tersebut yang dapat merupakan: Pusat Kegiatan Nasional (PKN).934 Luas/Area (Ha) 2006 2007 117.545 3.006 5.591 205.502 223.777 181. rawa) Tanah terbuka (tandus.420 132.736.292 44. dan (4) Pesisir Barat.

Pidie Kab.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh pemerintah.900. Sementara PKL ditetapkan dalam RTRW Provinsi. Aceh Singkil Kab.00 157. Bireuen Kota Lhokseumawe Kab. Gayo Lues Kab.). Simeulue Luas WP (Ha) 5 - 2 Pesisir Timur WP Timur 1 (Langsa-Kuala Simpang-Idi Rayeuk) WP Timur 2 (Lhokseumawe-Bireuen-Lhok Sukon) WP Timur 3 (Sigli-Meureudu) Pegunungan Tengah WP Tengah 1 (Takengon-Sp.800.32 4 351. Nagan Raya Kab.00 3 140. sesuai dengan ketentuan pada Pasal 11 ayat (3) Peraturan Pemerintah (PP) No. Tabel 2.00 84. 2010 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 16 . Pidie Jaya Kab.6 Penempatan Wilayah Pengembangan (WP) NO 1 1 Wilayah Pengembangan (WP) 2 Banda Aceh dan sekitarnya WP Basajan (Banda Aceh-Sabang_Jantho) Pusat Kegiatan 3 PKNp Banda Aceh PKW/PKSN Sabang PKL Jantho PKW Langsa PKL Ka.00 290. Simpang-Kr Baru PKL Idi Reyeuk PKN Lhokseumawe PKL Bireuen PKL Lhok Sukon Kab.26/2008 tentang RTRWN. Aceh Barat Kab. Aceh Utara Kab. Penetapan wilayah pengembangan berdasarkan rencana tata ruang Provinsi Aceh secara rinci dapat dilihat pada Tabel 2. Aceh Barat Daya Kota Subulussalam Kab.050.53 291. Aceh Besar Kota Langsa Kab. Tiga Redelong WP Tengah 2 (Kutacane-Blangkejeren) Pesisir Barat WP Barat 1 (Meulaboh-Calang_Suka Mak-mue) WP Barat 2 (Tapaktuan-Blangpidie) WP Barat 3 (Subulussalam-Singkil) WP Barat 4 (Sinabang) - 146. Aceh Tengah Kab. dan telah ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN).650.90 11.862. 6. Pidie Kab.832. Pidie jaya PKW Takengon PKL Sp. Bireuen Kab. Aceh Tengah Kab. Aceh Jaya Kab.701. Aceh Utara Kab.37 Sumber : Bappeda Aceb (RTRWA. Aceh Selatan Kab. Tiga Redelong PKL Kutacane PKL Blangkejeren PKW Meulaboh PKL Calang PKWp Jeuram-Suka Mamue PKL Tapaktuan PKWp Blangpidie PKWp Subulussalam PKL Singkil Sinabang Kabupaten/Kota yang Tercakup 4 Kota Banda Aceh Kota Sabang Kab. Bener Meriah Kab.

Permukiman Perkotaan .513.Permumiman Perdesaan .2.087.37 702.721.Pariwisata . Bireuen 464.Pariwisata .00 .00 62.930.Permukiman Perkotaan .Permumiman Perdesaan . (KAA-WP) Kabupaten/Kota Yang Tercakup Luas KAA-WP Luas Kaw. Pidie Jaya 411.97 5.93 121.155. Kawasan Andalan Aceh WP Timur 3 (Sigli-Meureudu) Kab.40 2.542.96 .03 .Permumiman Perdesaan . Bud.Permukiman Perkotaan .657.14 .Perikanan .09 51.Perkebunan .Permukiman Perkotaan . Bener Meriah 635.18 267. Luas Kaw.953.65 .440.51 390.612. Gayo Lues 971. Kawasan Andalan Aceh WP Barat 2 (Tapaktuan-Blangpidie) Kab. Kawasan Andalan Provinsi WP Tengah 2 (Kutacane-Blangkejeren) Kab. Aceh Tengah Kab.753. Aceh Besar 308.Pariwisata .Permukiman Perkotaan . Aceh Timur 775. Aceh Barat Daya 605.Permumiman Perdesaan .Perkebunan .Perkebunan .Pertanian .Permukiman Perkotaan .76 159.018.243. Kawasan Andalan Aceh WP Timur 2 (Lhokseumawe-Bireuen-Lhok Sukon) Kota Lhokseumawe Kab. Aceh Tenggara Kab.022.89 535.Pertambangan 269.Perikanan . Aceh Jaya Kab.981.Pariwisata 107.Industri .13 4.Perkebunan .493.87 .762.37 137. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 17 .Perikanan . Aceh Barat Kab.166.Perikanan 29.752.Industri . Kawasan Andalan Aceh WP Barat 3 (Subulussalam-Singkil) Kota Subulussalam Kab. Lain (Ha) Kegiatan Unggulan Pada Kaw.Pertanian . Nagan Raya 1.00 .60 50.685.896.Perkebunan .073.00 7.Perikanan .085.Pertanian .Pertambangan 65.Pariwisata Sumber: Rencana Pola Ruang Wilayah Aceh.Permumiman Perdesaan .376. Simeulue 182.Industri . Aceh Utara Kab.04 3.Perikanan 298.670.Industri .Permukiman Perkotaan .4 Dalam kawasan andalan Aceh – WP (KAA-WP) PENETAPAN KEGIATAN UNGGULAN PADA KAWASAN BUDIDAYA LAINNYA DALAM KAWASAN ANDALAN ACEH .00 35.90 31.Pertanian .10 3. Luas Kaw.Perikanan .472.158.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Demikian juga dengan rencana penetapan kegiatan unggulan pada kawasan budidya lainnya sebagaimana Tabel 2.Permumiman Perdesaan .Permukiman Perkotaan . Pidie Kab.46 .350. Kawasan Andalan Aceh WP Timur 1 (Langsa-Kuala Simpang-Idi Rayeuk) Kota Langsa Kab.7 Tabel 2.200.Perikanan .Perkebunan .327.60 . Kawasan Andalan Aceh WP Tengah 1 (Takengon-SpTRedelong) Kab.86 10.868.54 7.36 8.69 459.Pariwisata 50.953.431.21 5.Pariwisata .WP (KAA-WP) Kawasan Andalan Aceh-WP No. Kawasan Andalan Aceh WP Barat 1 (Meulaboh-Calang-Suka Makmue) Kab.Pertambangan 38.60 432.Permukiman Perkotaan .32 31.00 21.Permukiman Perkotaan .35 9.Perkebunan .00 6.Permumiman Perdesaan .867.Permumiman Perdesaan .70 52. Kawasan Andalan Aceh WP Barat 4 (Sinabang) Kab.Perkebunan .52 873.64 .690.718.Perkebunan . Aceh Tamiang Kab.Perikanan .7 Penetapan Kawasan Unggulan pada Kawasan Budidaya Lainnya TABEL IV. (Ha) Lindung (Ha) Strat.Aceh (Ha) Bud.804. Kawasan Andalan Aceh WP Basajan (Banda Aceh-Sabang-Jantho) Kota Banda Aceh Kota Sabang Kab.919. Aceh Selatan Kab.Pertanian .Pertanian .863.Permumiman Perdesaan .Pertambangan 59. Aceh Singkil 302. Budidaya Lainnya 1.Permumiman Perdesaan .069.Pertanian 276.934.

yaitu di Kabupaten Aceh Besar. Aceh Barat. Pidie Jaya. Konsekuensi dari kondisi geomorfologis dan klimatologis serta demografis. dan perairan Selat Malaka di sebelah utara dan timur (Pidie. perairan Laut Andaman di sebelah utara (Banda Aceh. tsunami pernah terjadi pada tahun 1797. sudah terjadi.3. Aceh Besar. hidro-meteorologis. maka ancaman bahaya (hazard) di Aceh mencakup ancaman geologis. Aceh Barat Daya. Lhokseumawe. Aceh Selatan. Aceh Timur. dan Sabang). Aceh Barat. Aceh Utara. Nagan Raya. 1907 dan tanggal 26 Desember tahun 2004 adalah catatan kejadian ekstrim terakhir yang menimbulkan begitu banyak korban jiwa dan harta. Bireuen. Aceh Singkil. Aceh berada di jalur penunjaman dari pertemuan lempeng Asia dan Australia. geologis. Pidie Jaya. Gayo Lues.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh 2. dan Aceh Tamiang). dan Simeulue). baik ketika bencana itu terjadi. Aceh Barat Daya. Secara geologis. Aceh Tengah. Pidie.1. hidrologis dan demografis Aceh maka diperlukan suatu upaya menyeluruh dalam upaya penanggulangan bencana. Berdasarkan catatan bencana geologis. Kawasan dengan potensi rawan tsunami yaitu di sepanjang pesisir pantai wilayah Aceh yang berhadapan dengan perairan laut yang potensial mengalami tsunami seperti Samudera Hindia di sebelah barat (Aceh Jaya. serta sosial dan kesehatan. Langsa. 18 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 . Wilayah Rawan Bencana Potensi ancaman bencana di Aceh tidak akan berkurang secara signifikan dalam tahun-tahun ke depan. Hal ini dapat menyebabkan Aceh mengalami bencana geologis yang cukup panjang. serta berada di bagian ujung patahan besar Sumatera (sumatera fault/transform) yang membelah pulau Sumatera dari Aceh sampai Selat Sunda yang dikenal dengan Patahan Semangko. Aceh Tenggara. Zona patahan aktif yang terdapat di wilayah Aceh adalah wilayah bagian tengah. dan Aceh Selatan. Mengingat kondisi geografis. maupun potensi bencana di masa yang akan datang. 1891. Nagan Raya.

kerusakan sarana dan prasarana 20–40 persen.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Gempa bumi yang terjadi selama kurun waktu 2007-2010 di Aceh sebanyak 97 kali dengan kekuatan >5 sampai dengan 7. Peut Sagoe). Pidie dan Pidie Jaya (G. Aceh Singkil. dan 5 persen berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat (terganggunya mata pencaharian). Potensi bencana gas beracun diindikasikan pada kawasan yang berdekatan dengan gunung berapi aktif. Aceh Besar. Seulawah Agam). Dengan demikian kawasan dengan potensi rawan bahaya gas beracun adalah relatif sama dengan kawasan rawan letusan gunung berapi. Aceh Jaya. Aceh Barat Daya. Simeuregun Jaboi di Sabang. Sabang. Aceh Tengah. Geureudong dan Bur Ni Telong). Subulussalam. gunung Seulawah Agam di Kabupaten Aceh Besar dan Cot. Kejadian diprediksi akan berulang karena Aceh berada diatas tumbukan lempeng dan patahan. Aceh Barat. Khususnya gunung api yang tergolong tipe A (yang pernah mengalami erupsi magmatik sesudah tahun 1600). Kawasan potensi rawan bahatya gas beracun tersebut adalah di Bener Meriah (G. Di Aceh terdapat 3 gunung api tipe A. Aceh Besar (G. Gayo Lues dan Aceh Tenggara. Simeuregun Jaboi). sedangkan cakupan wilayah yang terkena gempa sekitar 60–80 persen. Simeulue. yaitu gunung Peut Sagoe di Kabupaten Pidie. Disamping persoalan pergerakan lempeng tektonik. Nagan Raya. Aceh Selatan. Potensi bencana tanah longsor biasa terjadi di sekitar kawasan pegunungan atau bukit dimana dipengaruhi oleh kemiringan lereng yang curam pada tanah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 19 . Pidie. Aceh juga memiliki sejumlah gunung api aktif yang berpotensi menimbulkan bencana. kerusakan harta benda diperkirakan mencapai 25 –50 Milyar rupiah. Gunung Bur Ni Telong dan Gunung Geureudong di Kabupaten Bener Meriah . dan Sabang (Cot.5 Skala Richter. Dampak yang ditimbulkan selama kurun waktu tersebut yaitu korban jiwa sebanyak 62 orang. Kabupaten/Kota yang diperkirakan akan terkena dampak adalah: Banda Aceh.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 20 . Dampak kerusakan harta benda yang ditimbulkan diperkirakan mencapai 50 – 100 Miliar rupiah.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh yang basah dan bebatuan yang lapuk. Puting beliung terjadi di Aceh hampir merata di berbagai daerah terutama terjadi di pesisir yang berhadapan dengan perairan laut yang mengalami angin badai. Berdasarkan kejadian yang pernah terjadi sebelumnya adalah di Aceh Timur. Kabupaten Aceh Utara terdata mengalami kejadian tertinggi dibandingkan kabupaten/kota lainnya. banjir. abrasi dan sedimentasi. runtuhnya bagian bagian tanah dalam jumlah besar. Namun. Aceh Utara di pesisir timur dan Aceh Barat di pesisir barat. sekitar Takengon di Kabupaten Aceh Tengah. Dimensi alam menyebabkan Aceh mengalami hampir semua jenis bencana hidro-meteorologis seperti puting beliung. Aceh memiliki tingkat kompleksitas hidro-meteorologis yang cukup tinggi. Bencana tanah longsor yang berdampak pada masyarakat secara langsung adalah pada jalur jalan lintas tengah. dan di sekitar Tangse – Geumpang Kabupaten Pidie. badai siklon tropis serta kekeringan. sedangkan cakupan wilayah yang terkena longsor sangat luas 20 – 40 persen. dari data kejadian 3 tahun terakhir (2006-2009) terjadi 30 kali bencana puting beliung di 14 kabupaten/kota. Tanda tanda terjadinya longsor dapat ditandai dengan beberapa parameter antara lain keretakan pada tanah. gempa bumi atau letusan gunung berapi yang menyebabkan lapisan bumi paling atas dan bebatuan berlapis terlepas dari bagian utama gunung atau bukit. serta berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat (terganggunya mata pencarian) sebesar 5 – 10 persen. curah hujan yang tinggi. Kabupaten Gayo Lues. Tanah longsor yang terjadi selama kurun waktu 2007-2009 di Aceh sebanyak 26 kali. yaitu yang terdapat di Kabupaten Aceh Tenggara. kerusakan sarana dan prasarana 20 – 40 persen. perubahan cuaca secara ekstrim dan adanya penurunan kualitas landskap dan ekosistem.

dan juga di tepi Lawe Alas di Aceh Tenggara. ketidaktahuan. Elemen berisiko yang rentan ketika terjadi banjir adalah lahan pertanian. dan terjadinya perubahan fungsi lahan tanpa sistem tatakelola yang baik yang memperhatikan kapasitas DAS dalam menampung air. yang terletak di Aceh Jaya. Subulussalam. Aceh Barat Daya. Bireuen. kecuali Kabupaten Simeulue. Lhokseumawe. Kawasan rawan banjir yang peluangnya tinggi dengan hamparan yang relatif luas terdapat di pesisir timur dan utara yang dilalui sungai-sungai yang relatif besar. Selain bencana yang disebabkan oleh fenomena alam. Langsa. Aceh Singkil. dari data kejadian 3 tahun banjir (2006-2009) terjadi 106 kali bencana banjir di 22 dari 23 kabupaten/kota. dan Aceh Tamiang. Pidie Jaya. perdagangan dan jasa di 22 kabupaten/kota di Aceh. Bencana sosial dapat terjadi dalam bentuk kebakaran. Nagan Raya. terutama pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 21 . pendangkalan sungai. Potensi rawan kebakaran seperti kebakaran hutan terjadi pada hutan-hutan yang dilalui jaringan jalan utama sebagai akibat perilaku manusia. yaitu di Aceh Besar. bencana juga dapat disebabkan oleh perilaku manusia antara lain karena kelalaian. peternakan. Pidie. pencemaran lingkungan (polusi udara dan limbah industri) dan kerusuhan/konflik sosial. Banda Aceh. Aceh Timur. Selain itu kawasan rawan banjir yang peluangnya tinggi adalah pada hamparan yang merupakan flood plain atau limpasan banjir sungai-sungai di pesisir barat.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Banjir hampir merata terjadi di berbagai wilayah Aceh. Kabupaten Aceh Utara mencatat kejadian tertinggi dibandingkan Kabupaten Kota lainnya. Aceh Utara. rusak atau tersumbatnya saluran drainase. maupun sempitnya wawasan dari sekelompok masyarakat atau disebut bencana sosial. Namun. Sumber kerentanan bencana banjir ini berasal dari pembalakan liar (illegal logging) di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS). Aceh Barat.

cuaca ekstrim dan kebakaran hutan masih belum ada. angin puting beliung dan kekeringan dengan skala 1:50. Bencana yang muncul dapat menimbulkan kerusakan infrastruktur publik dan aset masyarakat. Aceh Selatan. Aceh Singkil. Aceh Jaya. serta Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti penyakit menular dan atau tidak menular yang dipicu oleh perilaku manusia itu sendiri. Indikasi potensi rawan kebakaran hutan tersebut adalah di Aceh Besar. beberapa peta risiko bencana lainnya seperti peta risiko banjir. tsunami. khususnya yang berdomisili pada daerah risiko bencana. Isu bencana yang diuraikan di atas masih belum diantisipasi secara baik. Peta risiko bencana tersebut dibuat dengan skala 1:50.000 sehingga masih perlu didetilkan lagi dengan skala 1: 5000 dan disosialisasikan ke masyarakat. Bencana sosial dapat juga muncul sebagai akibat bencana alam. longsor. Sementara itu. Pidie. baik yang disebabkan oleh faktor alam maupun faktor manusia dalam memandang dan memanfaatkan sumberdaya alam (faktor antropogenik). Nagan Raya. Aceh Barat Daya.000 masih dalam tahap proses penyelesaian yang diharapkan dapat selesai pada tahun 2011. Kejadian bencana sosial yang menonjol di Aceh adalah konflik yang berlatar belakang ideologi dan ekonomi. letusan gunung api. Demikian juga dengan building code untuk daerah risiko gempa masih belum sempurna sehingga belum dapat disosialisasikan ke seluruh kabupaten/kota. Aceh Barat. Subulussalam. Merehabilitasi dan merekonstruksi infrastruktur yang rusak memerlukan dukungan rekayasa industri yang berbasis komoditas Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 22 . dan Aceh Tengah.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh kawasan hutan pinus dan lahan gambut yang cenderung mudah mengalami kebakaran pada musim kemarau. Lokasi-lokasi rawan bencana yang disajikan dalam bentuk peta risiko bencana provinsi Aceh seperti peta risiko gempa bumi.

Bencana lain dapat juga diakibatkan oleh kelalaian manusia (man-made disaster) akibat dari tidak sesuainya perencanaan dan implementasi suatu industri pengolahan sumberdaya alam. ekonomi dan sosial pada skala masif. Bencana alam melengkapi penderitaan dengan banyaknya korban nyawa selain kerusakan infrastruktur fisik. sehingga diperlukan suatu penelitian yang berkesinambungan dengan melibatkan multi-displin dan multi-sektoral untuk mengantisipasi dan memberikan solusi terhadap dampak bencana. Pemerintah segera menanggapi dengan mengambil langkah-langkah yang konkrit dan dipandang perlu untuk menangani dampak bencana dan meringankan beban persoalan. Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana Konflik berkepanjangan dan bencana gempa bumi dan tsunami tanggal 26 Desember 2004 telah menempatkan Aceh pada jurang ketertinggalan yang jauh dan Aceh kembali ketitik nol.4. memutar ke Banda Aceh di utara hingga ke Aceh Timur terkena dampak bencana. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 23 . 2. Diantaranya. Akibat konflik ekonomi Aceh menjadi tersendat. dari Kabupaten Singkil ke selatan. secara paralel mendorong tercapainya perjanjian damai dan memberikan dukungan penuh bagi pelaksanaan butir-butir kesepakatan.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh dan kemampuan lokal.1. Aceh menjadi satu-satunya Provinsi di Indonesia yang terus-menerus mengalami tingkat pertumbuhan yang rendah atau negatif. Beberapa lokasi yang berada pada zonasi aman direncanakan sebagai kawasan pengembangan seperti kawasan agro-industri yang tidak hanya menghasilkan produk yang mempunyai nilai tambah. ditetapkan Bencana ini sebagai bencana Nasional dan membuka pintu selebar-lebarnya bagi bantuan Internasional. tetapi juga dapat mendukung proses penanganan pasca bencana. Wilayah pesisir sepanjang tidak kurang dari 800 km.

BRR NAD-Niasa menyelesaikan tugasnya secara resmi pada 16 April 2009. agar kesinambungan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi di Wilayah Pascabencana dilakukan secara terkoordinasi.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh termasuk penetapan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Selanjutnya berdasarkan Pasal 10 Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2009. mendukung proses rehabilitasi dan rekonstruksi di bawah koordinasi Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) secara penuh. dibentuklah Badan Kesinambungan Rekonstruksi Aceh di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Secara keseluruhan capaian BRR NAD-Nias hingga akhir masa tugasnya adalah 94. Dalam rangka menindaklanjuti amanah Perpres tersebut pada tanggal 8 April 2009 Gubernur Aceh telah menetapkan Peraturan Gubernur Aceh Nomor 47 Tahun 2009 tentang Susunan dan Tata Kerja Badan Kesinambungan dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 24 .7 persen dari Key Performance Indicators (KPI) yang ditetapkan di dalam Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 30 Tahun 2005 tentang Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara. yang dipimpin oleh Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam. dalam rangka sinkronisasi dan harmonisasi kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah dan kehidupan masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara. dan mendorong pembentukan Badan Kesinambungan Rekonstruksi Aceh (BKRA). Setelah 4 tahun BRR NAD-Nias melaksanakan tugas berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 2 Tahun 2005 tentang Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias yang kemudian ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2005.

Pemerintah Aceh.696 kilometer jalan dibangun 1.8 Capaian Kegiatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi No 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Dampak Bencana 2 635.720 orang meninggal dan 93.979 hektare lahan pertanian direhabilitasi 39. Secara umum capaian selama 4 tahun dari kegiatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (RR) disajikan pada Tabel 2. Lembaga/Perorangan Nasional dan/atau Asing di wilayah Provinsi Aceh.115 sarana kesehatan dibangun 996 bangunan pemerintah dibangun 363 jembatan dibangun 23 pelabuhan dibangun 13 bandara atau airstrip dibangun Capaian 4 Tahun RR 3 Sumber: Buku 1 Rencana Aksi Kesinambungan Rekontruksi 2010/2012.304 rumah permanen dibangun 69.415 sekolah rusak 517 sarana kesehatan rusak 669 bangunan pemerintah rusak 119 jembatan rusak 22 pelabuhan rusak 8 bandara atau airstrip rusak 155.869 hektare lahan pertanian hancur 1.384 orang kehilangan tempat tinggal 127.663 guru dilatih 7. (2010) Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 25 .759 sekolah dibangun 1.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Rekonstruksi Aceh dan berlaku efektif sejak tanggal 17 April 2009. 195.828 kapal nelayan hancur 1.8.927 guru meninggal 13.618 kilometer jalan rusak 3.182 tenaga kerja terlatih.500 Usaha Kecil dan Menengah (UKM) lumpuh 139.781 sarana ibadah dibangun atau diperbaiki 3.089 sarana ibadah rusak 2.109 kapal nelayan dibangun atau dibagikan 3. Tugas utama BKRA adalah mengkoordinasikan pelaksanaan kesinambungan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah dan kehidupan masyarakat Aceh yang dilaksanakan oleh kementrian/lembaga.285 orang hilang 104. Tabel 2.726 UKM menerima bantuan 140.195 rumah rusak atau hancur 73.

Kota Sabang memiliki laju pertumbuhan penduduk yang terendah dibandingkan kabupaten/kota lain di Aceh yakni sebesar 0.5.477 jiwa.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Meskipun capaian RR dan efek pengganda kegiatan-kegiatannya telah mengantarkan perekonomian Aceh lebih maju dari situasi pasca bencana. namun kemajuan dimaksud belumlah mampu menutupi ketertinggalan selama masa konflik 3 dekade. Dua indikator ekonomi makro tersebut memberikan sinyal yang kuat bahwa meskipun sejumlah perbaikan dirasakan akibat kegiatan RR. Kabupaten/kota yang memiliki jumlah penduduk terbesar adalah Kabupaten Aceh Utara (532.10 persen. yaitu masih tingginya tingkat kemiskinan dan pengangguran. Laju pertumbuhan penduduk Aceh selama 5 tahun (20062009) terakhir sebesar 1. transportasi dan jasa. yang berjaya selama masa RR.90 persen. Sektor-sektor pendorong pertumbuhan.184 jiwa) seperti yang disajikan pada Tabel 2.1. Demografi Jumlah penduduk Aceh pada akhir 2009 adalah 4.073. sedangkan yang tertinggi adalah Kabupaten Aceh Jaya yakni sebesar 7. Sebaran penduduk di wilayah aceh masih belum merata.535 jiwa) dan jumlah penduduk terkecil adalah Kota Sabang (29. menurun tajam kegiatannya pasca 2008 (World Bank.481 kepala keluarga/rumah tangga. Hal lain yang juga penting adalah kemajuan yang kini diraih dinilai tidaklah berkelanjutan. 2. beberapa indikasi ketertinggalan masih terlihat. dengan total jumlah kepala keluarga atau rumah tangga adalah 1. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 26 .363. 2008).9.66 persen. yaitu sektor konstruksi.

2. Syariat Islam dan Sosial Budaya Syariat Islam Sejak tahun 2001.9 Laju Pertumbuhan Penduduk Provinsi Aceh Tahun 2006 . Pemberlakuan ini berdasarkan pada Undang-Undang Republik Indonesia No 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Undang-Undang Republik Indonesia No 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh 27 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 . 2. Provinsi Aceh telah mendeklarasikan pelaksanaan Syariat Islam.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Tabel 2.1.2009 2.2.

tahun 1993 pengelolaan zakat dilakukan oleh Badan Amil Zakat. yakni Qanun Provinsi Nangroe Aceh Darussalam Nomor 9 Tahun 2003 tentang Hubungan Tata Kerja Majelis Permusyawaratan Ulama dengan Eksekutif. Dalam rangka penyelenggaraan Syariat Islam di Aceh telah dibentuk antara lain Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU). zakat maal terbatas pada zakat hasil tanaman makanan pokok (zakat padi) dan sedikit zakat perniagaan. Sejak tahun 2003 sesuai dengan keputusan Gubernur Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 28 . Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang zakat. Sejak pemberlakuan syariat Islam secara legal formal.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. beberapa instrumen pelaksanaan telah dilengkapi seperti pendirian beberapa lembaga/dinas/badan dan pemberlakuan qanun. Ibadah dan Syiar Islam. Legislatif dan Instansi Lainnya. yaitu zakat hanya dipahami terbatas pada zakat fitrah. Dinas Syariat Islam dan Wilayatul Hisbah. harta waqaf dan harta agama di Aceh. Baitul Maal. Mahkamah Syar’iyah. maka pada tahun 1973 pengelolaan zakat dilakukan oleh Badan Penertiban Harta Agama. Qanun Provinsi Nangroe Aceh Darussalam Nomor 11 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Syariat Islam Bidang Aqidah. Pada tahun 2003 Pemerintah Aceh juga telah mengesahkan 4 qanun berkaitan dengan penyelenggaraan syariat Islam. Qanun Provinsi Nangroe Aceh Darussalam Nomor 12 Tahun 2003 tentang Minuman Khamar dan Sejenisnya. Dari sisi peraturan pada tahun 2002 telah disahkan Qanun Provinsi Nangroe Aceh Darussalam Nomor 10 Tahun 2002 tentang Peradilan Syariat Islam. Dalam pengelolaan zakat. pada tahun 1975 pengelolaan zakat dilakukan oleh Badan Harta Agama. Infaq dan Shadakah. Qanun Provinsi Nangroe Aceh Darussalam Nomor 13 Tahun 2003 tentang Maisir (Perjudian). mulanya dilaksanakan secara tradisional. dan Qanun Provinsi Nangroe Aceh Darussalam Nomor 14 Tahun 2003 tentang Khalwat (Mesum).

wakaf. wakaf.87 persen dalam 3 tahun terakhir. selanjutnya dalam rangka pelaksanaan Syariat Islam dan mengoptimalkan pendayagunaan zakat. Pasal 191 dan Pasal 192 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. menjadi pengelola terhadap harta yang tidak diketahui pemilik atau ahli warisnya berdasarkan putusan Mahkamah Syari’ah. dan harta agama sebagai potensi ekonomi umat Islam. qanun tersebut telah dicabut dan digantikan dengan Qanun Aceh Nomor 10 tahun 2007 tentang Baitul Maal. namun nominal zakat yang diterima atau dipercayakan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 ekonomi umat berdasarkan prinsip saling 29 . melakukan pengumpulan. Sehubungan dengan tugas dan fungsi Badan Baitul Maal dalam pengelolaan zakat. berkenaan dengan zakat. dan wali pengampu terhadap orang dewasa yang tidak cakap melakukan perbuatan hukum. maka Pemerintah Aceh pada awalnya telah menetapkan Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 7 tahun 2004 tentang Pengelolaan zakat. dan harta agama dikelola oleh Baitul Maal yang diatur dengan Qanun Aceh. wali pengawas terhadap wali nashab. dan membuat perjanjian kerjasama dengan pihak ketiga untuk meningkatkan pemberdayaan menguntungkan. Walaupun terjadi peningkatan. Dengan hadirnya lembaga Baitul Maal ini. perlu dikelola secara optimal dan efektif oleh sebuah lembaga profesional yang bertanggungjawab serta sesuai dengan ketentuan Pasal 180 ayat (1) huruf d. wakaf.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Nomor 18 tahun 2003 tentang pembentukan organisasi dan tata kerja Badan Baitul Maal Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. penerimaan zakat mengalami peningkatan rata-rata sebesar 11. penyaluran dan pendayagunaan zakat. menjadi wali terhadap anak yang tidak mempunyai lagi wali nasab. dan harta agama. wakaf dan harta agama lainnya. melakukan sosialisasi zakat. Lembaga ini mempunyai fungsi dan kewenangan mengurus dan mengelola zakat.

Aneuk Jamee (Aceh Selatan). Beberapa kendala masih dirasakan dalam pelaksanaan syariat Islam di Aceh terutama disebabkan karena masih kurangnya pemahaman. sehingga mempengaruhi dan mendorong perilaku masyarakat ke arah negatif. dan kemasyarakatan serta tatanan ekonomi yang islami.2.2. penghayatan dan pengamalan ajaran agama di kalangan masyarakat. termasuk bidang pemerintahan. 2. Gayo (Bener Meriah. Hal ini disebabkan karena hanya segmen pegawai negeri sipil (zakat profesi) yang tergarap. yaitu Aceh (mayoritas).Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh kepada Baitul Mal Aceh masih relatif kecil dari potensi zakat di Aceh. Fatwa yang ditetapkan oleh lembaga ulama ini menjadi rujukan pengambilan kebijakan Pemerintah Aceh. MPU merupakan badan yang bersifat independen berfungsi memberikan pertimbangan terhadap kebijakan daerah. Sosial Budaya Provinsi Aceh memiliki tiga belas suku. MPU yang merupakan representasi dari alim ulama dan cendikiawan muslim Aceh disejajarkan kedudukannya sebagai mitra Pemerintah Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Berbagai perilaku masyarakat masih banyak yang bertentangan dengan moralitas dan etika agama. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 30 . Semeulu dan Sinabang (Semeulue). Naeuk Laot. Kedudukan Ulama dalam Pemerintahan Aceh menempati posisi yang penting dan strategis. sedangkan dari jenis zakat dan sumber profesi lainnya belum optimal penerimaannya. Pemahaman dan pengamalan agama di kalangan peserta didik (sekolah dan madrasah) juga belum memuaskan disebabkan antara lain: masih kurangnya materi dan jam pelajaran agama dibandingkan dengan pelajaran umum. Alas (Aceh Tenggara). Tamiang (Aceh Timur Bagian Timur). Pada sisi lain derasnya arus globalisasi memungkinkan terjadinya infiltrasi budaya asing yang negatif dan tidak sejalan bahkan bertentangan dengan tuntunan Syariat Islam. pembangunan.

Haloban dan Singkil (Aceh Singkil). Panglima Uteun yang mengatur tentang sumberdaya hutan. Disamping itu pengelolaan sumber daya alam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari budaya Aceh. Lekon. yang bermakna bahwa syariat dan adat merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam sendi kehidupan masyarakat Aceh. Dalam kontek kekinian Hadih Maja tersebut mencerminkan pemilahan kekuasaan yang berarti budaya Aceh menolak prinsip-prisip otorianisme.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Aceh Tengah dan Gayo Lues). Penerapan Syariat Islam di Provinsi Aceh bukanlah hal yang baru. seperti Panglima Laot yang mengatur pengelolaan sumber daya kelautan. hukum diserahkan kepada Ulama sedangkan adat-istiadat sepenuhnya berada di bawah permaisuri serta kekuatan militer menjadi tanggungjawab panglima. Keujruen Blang yang mengatur tentang irigasi dan pertanian serta kearifan lokal lainnya. tepatnya sejak masa kesultanan. jauh sebelum Republik Indonesia berdiri. dimana kedudukan Wali Nanggroe merupakan pemimpin adat sebagai pemersatu masyarakat yang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 31 . Hal ini tercermin dalam sebuah Hadih Maja lainnya. kondisi ini digambarkan melalui sebuah Hadih Maja (peribahasa). Qanun Bak Putroe Phang Reusam Bak Laksamana ”. “ Hukom ngoen Adat Lagee Zat Ngoen Sifeut ”. Kearifan adat budaya ini juga diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Hal ini tergambar dari beberapa institusi budaya yang mengakar dalam kehidupan ekonomi masyarakat Aceh. Masing-masing suku mempunyai budaya. yaitu “ Adat Bak Po Teumeureuhom Hukom Bak Syiah Kuala. bahasa dan pola pikir masing-masing. Pakpak. Budaya Aceh juga memiliki kearifan di bidang pemerintahan dimana kekuasaan Pemerintahan tertinggi dilaksanakan oleh Sultan. Suasana kehidupan masyarakat Aceh bersendikan hukum Syariat Islam. syariat Islam sudah meresap ke dalam diri masyarakat Aceh. Kluet (Aceh Selatan).

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 32 .493 KK. Wali Nanggroe berhak memberikan gelar kehormatan atau derajat adat kepada perseorangan atau lembaga. Masalah kesejahteraan sosial juga meliputi Populasi Komunitas Adat Terpencil (KAT). terutama bagi kelompok masyarakat yang tinggal di daerah terpencil dan perbatasan. bencana alam. akan tetapi sudah menjadi persoalan Bangsa Indonesia dan negara-negara lain. dan berwenang membina dan mengawasi penyelenggaraan kehidupan lembaga-lembaga adat. populasi komunitas adat terpencil yang belum ditangani berjumlah 9. adat istiadat. dan pemberian gelar/derajat dan upacara-upacara adat lainnya. keterlantaran. serta bencana sosial. Aceh Tengah. Aceh Tamiang.705 KK. Aceh Timur. Bener Meriah. Masalah kemiskinan dewasa ini bukan saja menjadi persoalan yang dihadapi Pemerintah Aceh. Permasalahan kesejahteraan sosial merupakan hal-hal yang berkaitan dengan perlindungan anak. dan berdampak pada melemahnya ketahanan sosial masyarakat. Permasalahan kemiskinan yang dihadapi masyarakat Aceh. kecacatan. juga disebabkan oleh faktor bencana alam yang sering terjadi di Provinsi Aceh. Permasalahan kesejahteraan sosial merupakan permasalahan yang sangat kompleks.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh independen. Lokasi populasi KAT tersebar di 14 kabupaten. perempuan dan lanjut usia. selain disebabkan oleh ekses negatif pembangunan dan konflik sosial yang berkepanjangan. berwibawa. ketunasosialan. yang sedang diberdayakan 254 KK dan yang sudah diberdayakan sebanyak 2. serta dapat mendorong terjadinya konflik sosial. yaitu: Aceh Utara. Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) khususnya fakir miskin yang tidak dilakukan secara tepat akan berakibat pada kesenjangan sosial yang semakin meluas. baik dalam maupun luar negeri yang kriteria dan tata caranya diatur dengan Qanun Aceh. Di Provinsi Aceh. yang diakibatkan oleh berbagai faktor penyebab.

156 jiwa bekas narapidana dan 320 jiwa tuna susila. Populasi penyandang cacat di Provinsi Aceh mencapai 27.767 jiwa dan yang telah ditangani sejak tahun 2006 berjumlah 7. bekas narapidana dan penderita HIV/AIDS di Provinsi Aceh. cacat netra.289 jiwa adalah para penyandang cacat eks kusta. Nagan Raya. eksploitasi dan trafficking. Begitu juga dengan populasi para lanjut usia terlantar yang mencapai 13. cacat mental. anak jalanan sebanyak 590 jiwa dan selebihnya mengalami kekerasan. populasi Wanita Rawan Sosial Ekonomi (WRSE) di Provinsi Aceh berjumlah 42. Populasi penyandang masalah ketunaan (tuna sosial) yang meliputi: gelandangan. Populasi terbesar terdapat di Singkil (2.160 anak yang berada di panti. Dinas Sosial Aceh tahun 2008 juga mencatat 7. Selain itu.884 jiwa gelandangan dan pengemis. diantaranya terdapat 83.114 jiwa anak terlantar. baik cacat tubuh.044 KK).818 KK). 1. cacat rungu-wicara dan cacat ganda. 1. Selain itu. Aceh Selatan.200 jiwa. Aceh Barat. Aceh Barat Daya. Singkil dan Simelue. tuna susila.106 orang yang mendapatkan pelayanan atau santunan. Dari seluruh populasi penyandang cacat hanya 1. Aceh Jaya.823 jiwa anak nakal. Gayo Lues. Penyebaran populasi penyandang cacat terdapat diseluruh wilayah kabupaten/ kota. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 33 . sampai akhir tahun 2009 tercatat lebih dari 100 ribu jiwa anak mengalami permasalahan sosial.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Aceh Tenggara. pengemis.649 jiwa dan kondisi ini mengalami kecenderungan meningkat setiap tahunnya. Aceh Selatan (1.710 jiwa. terdapat 1. Menurut data populasi PMKS yang terdapat pada Dinas Sosial Aceh sampai dengan akhir tahun 2009.263 KK) dan Simelue (1. dan diantaranya sebanyak 4.

56 persen (2006).3. PDRB Aceh pada tahun 2005 hanya mencapai Rp 36. 6.29 triliun rupiah (2005). Berdasarkan persentase pertumbuhan PDRB. Perkembangan nilai PDRB Aceh dalam lima tahun terakhir secara berturut-turut adalah sebesar 36. Pasca tsunami.18 triliun rupiah (2009).27 persen (2008) dan -5. 35.1. pertambangan dan penggalian turun tajam sampai 22.12 persen (2005).30 persen. 2. -5.36 persen (2007). Kesejahteraan Masyarakat Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Pertumbuhan Ekonomi 2.53 persen. Lima dari sembilan sektor ekonomi yang membentuk struktur PDRB mengalami kontraksi yang besar yaitu pertanian turun 3.09 triliun rupiah (2008) dan 32.29 triliun atau turun 10.90 persen (2007). 34. konstruksi turun 16. ekonomi Aceh sempat terpuruk sampai ke tingkat yang sangat memprihatinkan. Sedangkan nasional secara berturut-turut adalah 6.14 persen.62 persen. 1.20 persen (2009).50 persen (2008). serta sektor jasa turun 9. -2. Semakin menurunnya pertumbuhan ekonomi Aceh selama kurun waktu tersebut terutama akibat semakin menurunnya kontribusi sub sektor migas.89 persen.1.60 persen (2005).12 persen dari tahun sebelumnya.10 persen (2006). Selama lima tahun terakhir (2005-2009). 6. 36.85 triliun rupiah (2006).3. secara berturut-turut pertumbuhan ekonomi Aceh (dengan Migas) adalah -10. Sebagaimana diketahui bahwa selama hampir 30 tahun terakhir struktur ekonomi Aceh didominasi oleh Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 34 . demikian juga industri pengolahan jatuh 22. nilai Product Domestic Regional Bruto (PDRB) Aceh yang dihitung atas harga konstan mengalami perkembangan yang kurang menggembirakan. dan 4. 6.98 triliun rupiah (2007).Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh 2.3.58 persen (2009).1.

Tanpa memperhitungkan sumbangan sub sektor migas.60 persen. selanjutnya secara berturut-turut 7. 2.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh sub sektor migas sehingga perubahan sumbangan sektor ini memberi pengaruh signifikan terhadap nilai PDRB Aceh secara keseluruhan. 7. 1. setelah mengalami lonjakan yang tinggi pada tahun 35 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 . Pertumbuhan ekonomi non migas terutama didorong oleh aktifitas rehabilitasi dan rekonstruksi dan kondisi keamanan yang semakin kondusif pasca MoU Helsinki. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar 3. pertumbuhan tersebut terutama terjadi pada sub sektor perkebunan yang diikuti oleh tanaman pangan dan perikanan.72 persen (2006).3. Laju Inflasi Laju inflasi yang terjadi di Aceh selama periode 2005-2009 menunjukkan penurunan setiap tahunnya. Pengangkutan dan Komunikasi disamping mengalami pertumbuhan yang signifikan. Sejak tahun 2006. Akan tetapi sektor-sektor tersebut kontribusinya masih relatif kecil terhadap PDRB yaitu masih dibawah 15 persen. sektor Pertanian yang merupakan sektor dominan (kontribusi rata-rata 33 persen) setiap tahunnya mengalami pertumbuhan yang positif.89 persen (2008) dan 3.02 persen (2007).22 persen. seluruh sektor mengalami pertumbuhan positif setelah sempat terpuruk di tahun 2005 akibat bencana Tsunami. Selama periode tersebut tingginya anggaran pembangunan di Aceh dari berbagai sumber ikut memberi peran positif terhadap pertumbuhan ekonomi non migas. Hotel dan Restoran. Sedangkan sektor lainnya seperti Perdagangan. Pada tahun 2005 PDRB Non Migas Aceh tumbuh hanya sebesar 1.1. PDRB Aceh terus mengalami peningkatan namun besaran pertumbuhannya sangat fluktuatif.2. kontribusinya juga mengalami peningkatan. Dalam kurun waktu tersebut.92 persen (2009).

kondisi nasional secara berturut-turut sebesar 17.00 persen (2007). 21.938. 8.11 persen sedangkan di Lhokseumawe sebesar 17.67 persen (2007) dan 24. Terjadinya penurunan PDRB dengan migas disebabkan menurunnya pendapatan dari migas Aceh sebagai akibat menurunnya cadangan deposit migas.06 persen (2008) dan 2.000.160.96 persen (2009). 6.173.802. Sejak 2007 perbedaan laju inflasi antara Aceh dan nasional semakin mengecil.47 persen (2006).46 rupiah per jiwa (2008) sedangkan PDRB perkapita atas harga konstan tanpa migas (non-migas) pada tahun 2005 sebesar 5. PDRB perkapita 2005-2008 dengan Migas atas dasar harga konstan menunjukkan penurunan dimana pada tahun 2005 PDRB perkapita 9. Sedangkan di Kota Lhokseumawe secara berturut-turut sebesar 11.11 persen (2005). 2.50 persen (2009). 22.091. 11. Pendapatan perkapita non-migas cenderung meningkat disebabkan oleh besarnya kontribusi sektor-sektor non-migas terutama sektor pertanian. Pada tahun 2005 laju inflasi yang terjadi di Aceh yang diamati di dua kota yaitu Banda Aceh dan Lhokseumawe.40 rupiah per jiwa (2008).13 persen (2008).29 rupiah per jiwa (2007) dan 6.18 persen (2007). 10. Selanjutnya secara berturut-turut laju inflasi di Banda Aceh sebesar 9.27 persen (2008) dan 3.37 persen.66 rupiah per jiwa.78 persen (2009).36 rupiah per jiwa (2006). 6. 11. 4.78 persen (2008) dan 3.60 persen (2006).3. 8.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh 2005 akibat bencana tsunami.1.060.990. 13. pada tahun 2005 sebesar 21. 5.872.59 persen (2007). 6.54 persen (2006).632.36 persen (2006).26 rupiah per jiwa.897. Laju inflasi di Banda Aceh sebesar 41.811. Pendapatan Perkapita Pendapatan perkapita penduduk dihitung berdasarkan PDRB dibagi dengan jumlah total penduduk.519.842.77 rupiah per jiwa (2007) dan 7.57 persen. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 36 .811.43 rupiah per jiwa (2006).588.3.

Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh

2.3.1.4.

Ketimpangan Pendapatan

Untuk mengukur tingkat ketimpangan pendapatan masyarakat dapat dilakukan dengan mengevaluasi Rasio Gini yang memiliki kisaran nilai 0 - 1. Jika bernilai nol artinya pemerataan sempurna dan sebaliknya jika bernilai satu berarti ketimpangan sempurna. Rasio Gini lebih kecil dari 0,4 menunjukkan tingkat ketimpangan rendah, nilai 0,4-0,5 menunjukkan tingkat ketimpangan sedang dan nilai lebih besar dari 0,5 menunjukkan tingkat ketimpangan tinggi. Rasio gini Provinsi Aceh pada tahun 2007 dan 2008 sebesar 0,27, meningkat menjadi 0,29 tahun 2009. Meskipun terjadi peningkatan nilai ketimpangan pendapatan masyarakat, namun nilai tersebut masih dalam kelompok tingkat ketimpangan rendah. 2.3.1.5. Pemerataan Pendapatan

Berdasarkan kriteria World Bank, menyebutkan bahwa proporsi jumlah pendapatan dari penduduk yang masuk katagori 40% terendah terhadap total pendapatan seluruh penduduk lebih dari 17 persen dikatagorikan ketimpangan pendapatan rendah. Sementara itu, distribusi pendapatan penduduk Aceh untuk tahun 2007 pada kelas 40% terendah sebesar 22,63 persen, kelas 40% menengah sebesar 39,38 persen dan kelas 20% tinggi sebesar 37,99 persen. Sedangkan pada tahun 2008 distribusi pendapatan penduduk pada kelas 40% terendah sebesar 22,64 persen, kelas 40% menengah sebesar 38,68 persen dan kelas 20% tinggi sebesar 38,68 persen (BPS, 2009). Dengan demikian maka Provinsi Aceh termasuk ke dalam katagori ketimpangan Pendapatan Rendah.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025

37

Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh

2.3.1.6.

Ketimpangan Regional

Untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembangunan ekonomi dalam pemerataan antar daerah maka dapat digunakan indicator pemerataan yaitu

Indeks Williamson (IW). Nilai IW lebih besar dari nol menunjukkan adanya
kesenjangan ekonomi antar wilayah, semakin besar indeks yang dihasilkan semakin besar tingkat kesenjangan antar wilayah. Hasil evaluasi nilai PDRB perkapita kabupaten/kota di Provinsi Aceh menunjukkan bahwa nilai IW Provinsi Aceh yang dievaluasi dengan PDRB perkapita migas pada tahun 2007 sebesar 2,27 yang menurun menjadi 2,20 pada tahun 2008. Hal ini mengindikasikan bahwa penurunan indeks disparitas antar wilayah masih relatif kecil. Selanjutnya IW provinsi Aceh yang dievaluasi dengan PDRB perkapita non-migas pada tahun 2007 sebesar 1,29 menurun menjadi 1,20 pada tahun 2008. Indeks Williamson yang dihitung dengan PDRB perkapita migas menunjukkan nilai yang lebih tinggi dari nilai IW PDRB perkapita non migas. Hal ini menggambarkan bahwa beberapa kabupaten/kota (seperti Lhokseumawe, Aceh Utara dan Aceh Timur) memberikan kontribusi yang besar terhadap peningkatan nilai IW. Sementara itu, Depkeu (2010) melaporkan bahwa IW Indonesia pada tahun 2007 sebesar 0,49 dan sebesar 0,48 pada tahun 2008. Data di atas menunjukkan bahwa nilai IW Provinsi Aceh masih tergolong tinggi jika dibandingkan dengan nilai IW Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa masih terdapat ketimpangan antar kabupaten/kota di Provinsi Aceh menurut ukuran PDRB perkapita penduduk.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025

38

Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh

2.3.2. 2.3.2.1.

Kesejahteraan Sosial Pendidikan

A. Angka Melek Huruf Menurut BPS (2009) angka melek huruf di provinsi Aceh (2005-2009) mengalami peningkatan, pada tahun 2005 sebesar 93,98 persen dan meningkat menjadi 96,39 persen pada tahun 2009. Jika dibandingkan antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan terlihat bahwa masih ada ketimpangan pendidikan yaitu sebesar 98,93 persen di daerah perkotaan dan 95,33 persen di daerah perdesaan pada tahun 2009. Tabel 2.10 Angka Melek Huruf Dewasa Provinsi Aceh Tahun 2005 dan 2009
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Kabupaten/Kota Simeulue Aceh Singkil Aceh Selatan Aceh Tenggara Aceh Timur Aceh Tengah Aceh Barat Aceh Besar Pidie Bireuen Aceh Utara Aceh Barat Daya Gayo Lues Aceh Tamiang Nagan Raya Aceh Jaya Bener Meriah Pidie Jaya Banda Aceh Sabang Langsa Lhokseumawe Subulussalam Total 99.05 97.45 97.01 96.11 93.98 98.56 97.82 98.47 98.82 94.27 Tahun 2005 95.08 89.66 92.10 92.68 93.93 96.74 91.57 96.15 93.46 97.54 93.74 90.40 82.12 93.41 85.76 89.36 96.24 2006 98.30 88.86 90.84 95.32 97.00 96.84 86.82 93.10 91.93 98.34 96.04 91.47 83.65 95.46 83.45 91.06 95.56 2007 97.44 85.88 89.82 95.89 95.69 96.97 94.06 94.63 93.55 95.87 94.72 93.14 77.65 97.04 89.60 91.78 97.19 92.56 98.09 98.26 98.75 98.06 89.41 94.51 2008 98.17 90.71 93.67 97.27 97.35 98.08 93.60 96.44 95.51 98.09 95.12 96.22 84.41 97.87 88.59 93.73 97.06 93.83 98.95 98.78 98.57 98.42 91.36 95.94 2009 99.18 93.91 95.02 96.63 97.51 97.48 93.05 93.98 94.29 97.59 97.69 94.43 94.04 98.25 93.58 93.31 98.61 92.93 99.10 98.26 99.10 99.63 96.13 96.39

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2010

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025

39

70 8.00 11.91 tahun (Tabel 2.20 9.60 7.50 2009 8.40 6.51 8.63 8.70 8.60 9.20 9.70 7.34 8.86 10.04 9.20 9.10 7.00 2006 6.38 11. Tabel 2.13 9.20 7.00 8.20 9.40 8.30 9.48 8.40 9.20 9.65 9.20 9.00 7.2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Kabupaten/Kota Simeulue Aceh Singkil Aceh Selatan Aceh Tenggara Aceh Timur Aceh Tengah Aceh Barat Aceh Besar Pidie Bireuen Aceh Utara Aceh Barat Daya Gayo Lues Aceh Tamiang Nagan Raya Aceh Jaya Bener Meriah Pidie Jaya Banda Aceh Sabang Langsa Lhokseumawe Subulussalam Total 11.71 8.88 9.58 8.70 8.91 10.36 10.20 9.71 8.34 8.20 9.70 8.30 8.23 9.00 7.32 8.30 6.95 persen dan 94.12 7.70 8.83 persen.70 8.20 9.00 11.10 9.00 8.10 7.10 8.40 7.91 7.50 9.49 9.70 8.50 8.00 11.50 8.60 9.60 9.44 8.50 9.40 9.10 7.32 8. pada tahun 2005 sebesar 8.27 8. Pada tahun 2009 kabupaten/kota yang memiliki angka rata-rata lama sekolah terendah adalah Aceh Singkil sebesar 7.40 8.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Menurut jenis kelamin angka melek huruf penduduk laki-laki masih tetap lebih tinggi dari pada peduduk perempuan masing-masing sebesar 97.53 8.20 9.70 8.60 9.70 7.70 7.74 tahun dan yang tertinggi Kota Banda Aceh sebesar 11.70 8.50 8.40 8.86 10.50 2007 7.11 Angka Rata-rata Lama Sekolah Provinsi Aceh (dalam tahun) Tahun 2005 .50 8.23 9.40 9.60 8.79 persen.28 9.50 2008 8.70 8.11).30 8.49 8.29 8.48 8.30 8.50 8.40 7.70 8. B.99 persen. 2010 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 40 .23 9.63 tahun pada tahun 2009.40 9.30 7.10 7.40 8.50 8.30 9.40 Tahun 2005 6.70 9.70 8.20 9.20 9.49 8.20 9.30 8.63 Sumber : Badan Pusat Statistik.70 8. Angka Rata-rata Lama sekolah Angka rata-rata lama sekolah provinsi Aceh (2005-2009) mengalami peningkatan.74 8. sedangkan di daerah perdesaan lebih besar yaitu sebesar 3.77 7. Di daerah perkotaan kesenjangan angka melek huruf antara penduduk laki-laki dan perempuan lebih kecil yaitu sebesar 0.4 tahun menjadi 8.

Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh

C. Angka Partisipasi Murni dan Angka Partisipasi Kasar Pembangunan pendidikan Aceh telah menghasilkan beberapa kemajuan terutama dalam hal pemerataan akses terhadap pendidikan dasar, hal ini terlihat dari beberapa indikator-indikator, seperti Angka Partisipasi Murni (APM) dan Angka Partisipasi Kasar (APK). APM dan APK secara umum mengalami peningkatan untuk periode 2007 sampai 2009. Angka Partisipasi Murni (APM) Aceh untuk tingkat SD/MI/Paket A pada tahun 2007 sebesar 94,66 persen meningkat menjadi 95,50 persen pada tahun 2009. Untuk tingkat SMP/MTs/SMPLB/Paket B, pada tahun 2007 sebesar 86,62 persen meningkat menjadi 92,59 persen pada tahun 2009. Demikian juga untuk tingkat SMA/MA/SMK/SMALB/Paket mengalami peningkatan, pada tahun 2007 sebesar 65,92 persen menjadi 70,26 pada tahun 2009 (Tabel 2.12). Selain itu, diperkirakan terdapat 2,85 persen siswa kelompok usia sekolah dasar yang belajar pada pendidikan non formal dan Dayah tradisional. Tabel 2.12 Angka Partisipasi Murini dan Angka Partisipasi Kasar Tahun 2007 – 2009
Indikator Akses A. Angka Partisipasi Murni (APM) : 1 SD/MI/Paket A 2 SMP/MTs/SMPLB/Paket B 3 SMA/MA/SMK/SMALB/Paket C B. Angka Partisipasi Kasar (APK) : 1 SMP/MTs/SMPLB/Paket B 2 SMA/MA/SMK/SMALB/Paket C 3 Perguruan Tinggi Sumber: Dinas Pendidikan, 2010 96,59 72,06 19,00 97,16 73,60 19,15 101,28 74,75 19,40 94,66 86,52 65,92 95,06 89,49 68,50 95,50 92,59 70,26 Capaian 2007-2009 (%) 2007 2008 2009

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025

41

Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh

Angka Partisipasi Kasar (APK) pada tahun 2007 untuk tingkat SMP/MTs/SMPLB/Paket B sebesar 96,59 persen meningkat menjadi 101,28 persen pada tahun 2009. APK untuk tingkat SMA/MA/SMK/SMALB/Paket mengalami peningkatan pada tahun 2007 sebesar 72,06 persen menjadi 74,75 pada tahun 2009. Demikian juga APK untuk tingkat Perguruan Tinggi pada tahun 2007 sebesar 19,00 persen meningkat menjadi 19,40 persen pada tahun 2009.

D. Angka Pendidikan yang Ditamatkan Berdasarkan data statistik kependudukan tahun 2008, komposisi penduduk Aceh berdasarkan tingkat pendidikan dapat dijelaskan sebagai berikut 24,20 persen tidak/belum tamat SD/sederajat, sebesar 26,84 persen menamatkan SD/sederajat, 21,05 persen tamat SLTP/sederajat, 21,65 persen telah menamatkan SLTA/sederajat, 2,82 persen telah menamatkan D-I/II/III, 3,27 persen

menamatkan D-IV/S1 dan 0,17 persen menamatkan S2/S3. Berdasarkan tempat tinggal, penduduk perdesaan yang menamatkan SD/sederajat sebesar 29,71 persen, SLTP/sederajat 22,28 persen, SLTA/sederajat 17,33 persen, D-I/II/III 2,42 persen, D-IV/S1 1,74 persen dan S2/S3 0,05 persen. Sementara itu, penduduk perkotaan yang menamatkan SD/sederajat sebesar 18,28 persen, SLTP/sederajat 20,11 persen, SLTA/sederajat 35,90 persen, D-I/II/III 4,97 persen, D-IV/S1 7,48 persen dan S2/S3 0,49 persen. 2.3.2.2. Kesehatan

A. Angka Kematian Bayi Angka Kematian Bayi (AKB) Aceh mengalami penurunan dari tahun 2007 sebesar 35/1.000 Kelahiran Hidup (KH) menjadi 16/1.000 KH pada tahun 2009 (BPS, 2010). Penyebab utama kematian bayi adalah asfiksia, berat badan lahir rendah, infeksi dan lainnya. Kematian bayi diduga lebih banyak terjadi di
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025

42

Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh

pedesaan, pada ibu yang berpendidikan rendah, dan masyarakat miskin. Tantangan utama dalam penurunan kematian bayi adalah peningkatan akses penduduk miskin terhadap pusat pelayanan kesehatan, ketersediaan sumberdaya kesehatan yang memadai dan kualitas pelayanan. Kematian bayi berhubungan juga dengan cakupan imunisasi. Secara umum cakupan imunisasi yang telah dicapai provinsi Aceh menurut Riskesdas adalah BCG 75,2 persen, Polio 66,2 persen, DPT 58,3 persen, HB3 54,3 persen dan campak 71,4persen. Cakupan imunisasi BCG, Polio 3, DPT 3, Hepatitis B 3 dan Campak pada anak usia 12-59 bulan lebih tinggi di perkotaan dibandingkan perdesaan, antara laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan yang menyolok walaupun sedikit lebih tinggi pada perempuan (Riskesdas, 2007). Secara umum persentase cakupan imunisasi dasar yang telah dicapai secara lengkap di Provinsi Aceh sebesar 32,9 persen, tidak lengkap 53,2 persen dan tidak sama sekali 13,9 persen. Cakupan imunisasi lengkap di perkotaan lebih tinggi dibandingkan perdesaan, dan antara laki-laki dan perempuan mempunyai persentase yang hampir sama. Perbedaan cakupan imunisasi antara

kabupaten/kota dikarenakan perbedaan kemampuan dari tiap daerah seperti SDM kesehatan, kurangnya kegiatan untuk menjangkau masyarakat yang disebabkan oleh rendahnya anggaran operasional, persediaan vaksin yang kurang tepat waktu, keterbatasan vaksin tiap daerah, cold chain yang sudah tua, dan masih rendahnya peran serta masyarakat. B. Angka Usia Harapan Hidup Salah satu indikator utama untuk menunjukkan keberhasilan

pembangunan kesehatan adalah Usia Harapan Hidup (UHH) yang juga merupakan salah satu komponen dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pada tahun 2008 UHH Aceh adalah 68,5 tahun. Secara nasional, UHH Aceh menempati urutan keRencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025

43

70 64.71 69.87 70.41 66.13 70.53 69.50 63.56 70.10 69.31 68.16 69.28 69.30 69.22 69.91 67.60 69.53 67.28 tahun dan yang terendah di Kabupaten Simeulue mencapai 62.70 69.40 2008 62.19 69.40 72.09 69.50 2009 62.40 68. Hal ini menggamba bahwa anak yang lahir pada tahun 2008 diperkirakan akan mampu bertahan hidup ratarata sampai berumur 68.00 66.42 68.36 70.52 69. 2010 Tahun 2005 62.32 69.60 68.40 66.41 69.4 tahun dan tahun 2009 terjadi peningkatan menjadi 68.46 66.52 66.61 69.49 66.31 69.11 72.96 68.99 70.20 67.74 66.27 66.20 69.50 69.69 70. Sedangkan secara internal Provinsi Aceh.20 69.10 69.91 64.02 70.00 69.20 65.70 65.69 66.20 65.10 67.54 68.10 65.20 67.97 67.84 tahun (Profil Kesehatan Aceh.40 68.42 67.18 69.71 68. Selama periode 2007-2009 angka harapan hidup di Provinsi Aceh mengalami peningkatan yaitu dari 68.80 69.27 69.70 72.13).30 2007 62.94 72.84 68.84 67.14 70.00 68.69 70.63 69.6 tahun.2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Kabupaten/Kota Simeulue Aceh Singkil Aceh Selatan Aceh Tenggara Aceh Timur Aceh Tengah Aceh Barat Aceh Besar Pidie Bireuen Aceh Utara Aceh Barat Daya Gayo Lues Aceh Tamiang Nagan Raya Aceh Jaya Bener Meriah Pidie Jaya Banda Aceh Sabang Langsa Lhokseumawe Subulussalam Total Sumber : Badan Pusat Statistik.60 70.00 66.20 69.75 64.13 Angka Harapan Hidup Provinsi Aceh Tahun 2005 . berarti derajat kesehatan masyarakat di Provinsi Aceh mengalami peningkatan (Tabel 2.6.4 menjadi 68. 2009).30 66.41 65.00 2006 62.52 69.70 69.70 69.20 68.30 66.10 69.96 69.00 66.82 69.42 69. masih terdapat disparitas pencapaian UHH yaitu yang tertinggi di Kabupaten Bireuen mencapai 72.11 69.24 70.70 68.10 68.36 70.30 68.40 68.78 70.32 72.60 68.90 70.60 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 44 .84 64. Tabel 2.80 67.64 69. 2009).41 69.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh 19 (RPJP Kesehatan 2005-2025.90 68.63 66.80 69.20 68.91 69.31 67.90 69.52 69.00 65.73 68.

Prevalensi masalah balita yang pendek secara provinsi masih tinggi yaitu sebesar 44.3 persen diberikan ASI dalam jam pertama kelahiran. prevalensi balita kurus+sangat kurus di propinsi Aceh adalah 18. Angka Kesakitan Di sisi status kesakitan di Provinsi Aceh. Status gizi BB/U balita ditinjau dari kelompok usia.2 persen. kemudian menurun kembali pada kelompok usia di atas 36 bulan. Prevalensi balita sangat kurus menurut provinsi masih cukup tinggi yaitu 9.2 persen. 2009). Selanjutnya. terdapat 60. Persentase Balita Gizi Buruk Angka prevalensi balita menurut status gizi didasarkan pada indikator Tinggi Badan per Usia (TB/U). indikator lainnya untuk menentukan anak harus dirawat dalam manajemen gizi buruk adalah indikator sangat kurus. Secara umum. Beerdasrkan data dari Demographic Health Survey (DHS) tahun Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 45 .6 persen. Namun. maka terlihat bahwa prevalensi balita gizi kurang+buruk di provinsi Aceh sudah tinggi pada semua kelompok usia dan meningkat menjadi lebih tinggi mulai usia 24 bulan. penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan diare merupakan penyebab kesakitan tertinggi anak balita di Aceh. 2008). Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif sebesar 10.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh C. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif juga memberikan pengaruh bagi tumbuh kembang anak. D. dan sudah berada di bawah batas kondisi yang dianggap serius menurut indikator status gizi Berat Badan per Tinggi Badan (BB/TB) yaitu 10 persen.3 persen. Sebesar 35. Sedangkan prevalensi kegemukan di Aceh menurut indikator BB/TB adalah sebesar 15.4 persen bayi baru lahir yang diberikan selain ASI (DHS.7 persen bayi baru lahir diberikan Inisiasi Menyusu Dini setelah melahirkan dan 28.39 persen (Profil kesehatan Aceh.

Pada tahun 2008 kasus malaria klinis sebanyak Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 46 .5 persen wanita yang pernah mendengar AIDS.6 persen. Estimasi DHS (2008) terhadap anak pneumonia ada sekitar 40-43 persen. meningkat bila dibandingkan pencapaian tahun 2007 (38 persen). sekitar 35. Penumonia biasanya merupakan akibat pengobatan ISPA yang kurang adekuat. 2009). malaria masih merupakan penyakit endemis hampir di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Aceh. yaitu minimal 85 persen (Profil Kesehatan Aceh. Selain itu.4 persen anak menderita batuk dalam dua minggu terakhir dan 39. Kasus HIV-AIDS di Aceh ada sekitar 29 orang yang tersebar di 13 kabupaten/kota dan 13 diantaranya sudah meninggal dunia.1 persen tersebut mengalami demam. Penderita baru Tuberkulosis (TB) positif yang ditemukan pada periode Januari – Desember 2008 berjumlah 2. pengetahuan masyarakat Aceh tentang HIV-AIDS masih rendah.6 persen penderita baru Basil Tahan Asam (BTA) positif yang diobati dinyatakan sembuh. Sebesar 66 persen pria dan 49. 2009).Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh 2008. kebanyakan orang tua tidak memperhatikan anak yang pernapasan cepat sebagai pneumonia. persalinan dan kehamilan. Selain itu.793 kasus dengan Case Detection Rate 40 persen. dan baru 26 persen perempuan yang mengetahui bahwa AIDS dapat ditularkan kepada anak mereka melalui ASI. Pengobatan ODHA dengan anti retroviral dilakukan sebanyak 9 penderita (75 persen) dari 12 kasus yang ditemukan (Profil Kesehatan Aceh. Sedangkan hasil akhir pengobatan terhadap perderita yang terdaftar pada tahun 2007 menunjukkan 90. baru sekitar 5 persen penduduk yang mengerti tentang Voluntary Councelling and Testing (VCT). Namun. Angka ini sudah mencapai target nasional. meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 89. Pencapaian ini masih jauh dari target nasional yaitu 70 persen. Berdasarkan survei DHS (2008).

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) juga menjadi permasalahan kesehatan utama di Aceh. Riskesdas 2007 menemukan beberapa penyakit infeksi lain yang menjadi masalah kesehatan masyarakat antara lain tifoid. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 47 . Kasus DBD terjadi peningkatan sampai delapan kali setelah tsunami sampai tahun 2008 (Profil Kesehatan Aceh 2009). penderita baru ditemukan sejumlah 437 kasus dengan tipe PB (Pausi Basiler/Kusta Kering) sebanyak 111 kasus dan tipe MB (Multi Basiler/Kusta Basah) sebanyak 326 kasus.0 persen.303 kasus dan yang positif 3. Peningkatan ini kemungkinan besar karena mobilitas penduduk yang sangat cepat antar daerah terutama dari luar Aceh yang endemis DBD seperti DKI Jakarta dan lainnya.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh 23. Pada tahun 2008. Tingginya kasus malaria di Aceh disebabkan oleh beberapa hal yaitu penggunaan kelambu yang mengandung insektisida (Insecticide treated net) yang masih rendah yaitu sekitar 35 persen. sedangkan diare pada kelompok balita. Tingkat kecacatan penderita baru sebesar 10. Tifoid. hepatitis dan diare ditemukan pada semua kelompok umur.528 kasus.6-7. dan tersebar di seluruh kabupaten/kota dengan rentang 0. pengobatan malaria yang tidak standar dan sanitasi lingkungan yang kurang baik. Penyakit lainnya yang masih menjadi permasalahan di Aceh adalah penyakit kusta. hepatitis dan diare. Dalam 12 bulan terakhir.8 persen karena penemuan kasus baru yang terlambat yang disebabkan oleh belum maksimalnya sistem pendataan dan rendahnya pengetahuan dan keterbukaan masyarakat terhadap penyakit kusta. Tifoid terutama ditemukan pada kelompok umur usia-sekolah.0 persen. tifoid klinis dapat dideteksi di Provinsi Aceh dengan prevalensi 3. Kota Banda Aceh dan Kota Lhokseumawe merupakan daerah dengan kasus DBD tertinggi di Aceh.

hampir setara dengan angka prevalensi nasional yaitu 31. Angka prevalensi stroke di Aceh adalah 17 persen. dan 14.2007).28 persen (2006).7 persen (Riskesdas.3 persen).Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Selain permasalahan penyakit menular. Penyakit jantung di Aceh juga merupakan kasus tertinggi di Indonesia (13 persen). 26.20 persen (2009). prevalensi stroke di Aceh adalah 1. Prevalensi hipertensi di Aceh termasuk yang paling tinggi di Indonesia (30.80 persen (2009).80 persen pada tahun 2006 dan seterusnya mengalami penurunan berturut-turut menjadi 16. 2.53 persen (2008) dan 21. Berdasarkan diagnosis gejala yang menyerupai stroke. Berdasarkan keputusan Kementerian PDT nomor 001/KEP/M- PDT/02/2005 tentang penetapan Kabupaten tertinggal sebagai lokasi program P2DTK.2 persen).3. di atas angka nasional (8. hipertensi. 28.65 persen (2007).69 persen (2005). Namun demikian tingkat kemiskinan tersebut masih berada di atas rata-rata nasional dimana (dalam rentang waktu yang sama) pada tahun 2005 sebesar 16. 2007). Provinsi Aceh juga menghadapi permasalahan tingginya kasus penyakit tidak menular seperti stroke. 15.2. Tingkat Kemiskinan Tingkat kemiskinan di Aceh selama periode 2005-2009 terus menunjukkan penurunan.00 persen meningkat menjadi 17. Angka ini jauh melebihi angka nasional yaitu 7. dimana secara berurutan adalah sebesar 28. dan Diabetes Mellitus (DM) yang manjadi salah satu penyebab kematian utama di Aceh. Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal.60 persen (2007).40 persen (2008). Pada tahun 2009 tingkat kemiskinan di Aceh berada pada urutan ketujuh tertinggi di Indonesia. 23.2 persen (Riskesdas.3. Aceh memiliki 17 dari 23 Kabupaten/Kota yang masih tergolong daerah tertinggal termasuk wilayah 48 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 .7 per 1000 penduduk.

22 19.50 16.32 29.75 30.69 2006 33.56 23.72 17.20 26.18 31.63 26.40 18.42 26.25 12.16 26.09 25.76 8.77 21.63 32.56 29.33 24.51 24.87 28.57 22.15 24.70 35.99 23.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh perbatasan.98 8.27 19.60 28.87 28.56 13.68 35.28 26.29 28. Akan tetapi dengan berakhirnya konflik keamanan pada tahun 2005 yang disertai dengan adanya aktivitas rehabilitasi dan rekonstruksi maka tingkat kemiskinan di Aceh terus menurun secara signifikan.27 27.02 27.80 Sumber : Badan Pusat Statistik.96 21. Selanjutnya tingkat kemiskinan untuk masing-masing kabupaten/kota secara rinci ditampilkan pada Tabel 2.41 24.25 28.00 6.29 21.30 33. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 49 .43 27.65 25.29 33.55 35.31 27.08 26.06 17.01 29.58 23.98 28.53 2009 24.20 15.50 36.19 33.54 24.09 29.51 23.28 2007 32.68 34.85 26.89 35.97 8.96 26.52 28.21 30.31 22.89 16.90 28.80 21.86 29.22 21.56 25.72 21.25 28.54 28.26 28.13 14.69 33.95 14.09 20.25 30.18 33.36 29.98 15.64 23.58 27.16 28.11 23.80 28.42 27.78 14.40 36.11 23.14 Tingkat Kemiskinan Provinsi Aceh Tahun 2005 dan 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Kabupaten/Kota Simeulue Aceh Singkil Aceh Selatan Aceh Tenggara Aceh Timur Aceh Tengah Aceh Barat Aceh Besar Pidie Bireuen Aceh Utara Aceh Barat Daya Gayo Lues Aceh Tamiang Nagan Raya Aceh Jaya Bener Meriah Pidie Jaya Banda Aceh Sabang Langsa Lhokseumawe Subulussalam Total Tahun 2005 34.50 29.61 29.97 24.86 26.45 23.41 32.97 15.66 35.05 34.05 23.72 21.65 2008 26.87 21.33 21. 2010 Tingginya tingkat kemiskinan di Aceh pada tahun 2005 diperkirakan merupakan dampak dari konflik yang panjang dan bencana tsunami pada tahun 2004.28 28.26 9.14 Tabel 2. Daerah tertinggal tersebut merupakan wilayah konsentrasi penduduk miskin di Aceh.63 30.61 27.98 24.37 29.

00 dan terendah di kabupaten Gayo Lues sebesar 67. disparitas IPM antar kabupaten/kota pada tahun 2009 masih tinggi.15).Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Ditinjau dari sebaran penduduk miskin di Aceh selama kurun waktu 2005 – 2009.00 mengalami peningkatan menjadi 71. Indeks Pembangunan Manusia Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Aceh untuk periode 2005 – 2009 mengalami peningkatan.40 persen (berkurang 3. 2. Hal ini menggambarkan bahwa kinerja pembangunan ekonomi dan pelayanan dasar masih rendah dan terjadinya ketimpangan antar wilayah. Pada tahun 2005. Hal ini menggambarkan bahwa aktifitas pembangunan yang semakin pesat di desa telah memberi dampak positif terhadap penurunan angka kemiskinan.30 persen) sedangkan di perkotaan adalah 15. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 50 .59.31 pada tahun 2009. Disamping itu. penduduk miskin di perdesaan sebesar 32.4. telah terjadi perubahan komposisi antara jumlah penduduk miskin di kota dan penduduk miskin di desa.00 persen. Namun pada tahun 2009 jumlah penduduk miskin di perdesaan turun menjadi 25.60 persen).30 persen (berkurang sebesar 7. angka yang tertinggi di kota Banda Aceh sebesar 77. Pada tahun 2005 IPM sebesar 69. Umumnya IPM yang tinggi di wilayah perkotaan dibanding dengan IPM di Perdesaan (Tabel 2.60 persen sedangkan di perkotaan hanya 19.2.3.

18 70.37 67.16 68.50 69.80 67.64 68.35 2008 68.66 71.88 67.5.60 71.3. Bila dibandingkan terhadap tahun sebelumnya yaitu periode Agustus 2008 jumlah penduduk yang berkerja adalah 1.08 69.39 68.2.28 70.52 66.76 72.66 72.23 70.10 68.74 75.73 66. Pada Februari 2009 jumlah penduduk yang bekerja sebesar 1.17 67.00 72.20 70.17 68.74 69.40 69.97 67.38 67.80 67.76 2009 68.65 68.19 73.96 76.97 68.96 69.08 71.44 67.39 70.20 68.99 69.692 juta orang dan memasuki Agustus 2009 bertambah sebesar 1.40 72.87 69.618 juta orang.2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Kabupaten/Kota Simeulue Aceh Singkil Aceh Selatan Aceh Tenggara Aceh Timur Aceh Tengah Aceh Barat Aceh Besar Pidie Bireuen Aceh Utara Aceh Barat Daya Gayo Lues Aceh Tamiang Nagan Raya Aceh Jaya Bener Meriah Pidie Jaya Banda Aceh Sabang Langsa Lhokseumawe Subulussalam Total Tahun 2005 65.77 68.30 70.30 66.15 Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Aceh Tahun 2005 .12 69.17 69. Kesempatan Kerja dan Tingkat Pengangguran Kondisi ketenagakerjaan di Provinsi Aceh menunjukkan perubahan beberapa indikator yang cukup signifikan kearah yang lebih baik.31 74.00 2006 66.64 71.41 2007 67.47 69.40 75.87 70.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Tabel 2.42 70.55 72.11 69.80 67.40 71.90 69.21 72.29 69.50 71.88 69. berarti mengalami peningkatan sebesar 115 ribu orang.49 73.22 74.59 70.44 73.99 72.54 68.84 71.61 68.48 72.81 67.58 68.20 66.70 73.84 71.51 73.38 67.70 66.23 76.81 68.38 71.85 71.45 71.733 juta orang.86 71.90 66.81 69.40 74.30 66.79 75.60 72.92 68.41 70.10 71.20 75.50 67.00 75.32 73.94 69. 2010 2.40 70.22 70.60 68.28 72.31 Sumber : Badan Pusat Statistik.50 68.12 69.00 68.80 69.10 69.23 68.40 73. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 51 .71 70.71 77.70 70.47 68. Dalam rentang waktu tersebut terjadi peningkatan sebanyak 41 ribu orang.77 71.

302 juta orang.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Selama tahun 2009 terjadi peningkatan terhadap jumlah penduduk lakilaki maupun perempuan yang bekerja.46 persen (2008) dan 8. 8. untuk perkembangan tingkat pengangguran di Aceh selama periode 2007-2009 cenderung menurun (Tabel 2.71 (2009).354 orang. pada februari 2009 meningkat sebesar 33 ribu orang sehingga jumlah angkatan kerja bertambah menjadi 1. mengurus rumah tangga dan lainnya) menurun pada penduduk laki-laki dari 0. Pada tahun 2007 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Aceh sebesar 9. Penduduk perempuan meningkat menjadi 11.104 juta orang atau meningkat sebanyak 29 ribu orang.898 juta orang dikarenakan terjadinya penambahan sebesar 105 ribu orang.833 juta orang menjadi 0.75 persen (2007). Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 52 .075 juta orang menjadi 1.836 juta orang. jumlah penduduk yang bukan angkatan kerja (sekolah. namun kondisi tersebut masih tergolong tinggi dibandingkan dengan TPT Nasional dalam kurun waktu yang sama. Selanjutnya.84 persen dan selanjutnya terus menurun secara berturut-turut menjadi 9. Kondisi angkatan kerja pada bulan agustus 2008 sebesar 1.865 juta orang. Sementara itu.14 persen (2009).793 juta orang.314 juta orang menjadi 0. Peningkatan terbanyak terjadi pada penduduk laki-laki sebesar 1.56 persen (2008) dan 8. Sedangkan pada penduduk perempuan meningkat dari 0. TPT Nasional sejak tahun 2007 sampai dengan 2009 secara berturut-turut adalah 9. Walaupun TPT di Aceh terus mengalami penurunan.16). Pada bulan agustus 2009 total angkatan kerja menjadi 1.

6.70 13.33 11.58 4.78 11.63 10.54 4.83 4.00 9.43 11.40 7.22 8.02 9.73 4.91 7.02 5.34 8.12 18. Pada tahun 2007 terjadi 7 kasus kejahatan terhadap anak yang dilaporkan.63 12.39 2.53 14.2.05 7.57 5.91 9.15 6.72 8.83 11.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Tabel 2. 2010 2. yang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 53 .39 3.28 14. 7 kasus dalam proses dan 4 kasus telah diselesaikan.3.00 7.31 4. Sementara itu kejahatan terhadap perempuan terjadi 18 kasus yang dilaporkan.90 4.56 12. Kriminalitas Menurut BPS (2009) terdapat dua jenis kriminalitas yaitu kejahatan terhadap anak dan kejahatan terhadap perempuan.42 7.24 5.89 7.85 13.26 4. 6 kasus dalam proses dan 3 kasus telah diselesaikan.39 12. Pada tahun 2008 terjadi peningkatan kasus kriminalitas terhadap anak.2009 No 1 Kabupaten/Kota 2 Tahun 2007 3 2008 4 2009 5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Simeulue Aceh Singkil Aceh Selatan Aceh Tenggara Aceh Timur Aceh Tengah Aceh Barat Aceh Besar Pidie Bireuen Aceh Utara Aceh Barat Daya Gayo Lues Aceh Tamiang Nagan Raya Aceh Jaya Bener Meriah Pidie Jaya Banda Aceh Sabang Langsa Lhokseumawe Subulussalam Total 8.40 8.70 4.71 Sumber : BPS.16 9.90 3.66 14.99 9.84 8.23 12.03 10.17 5.84 6.59 11.74 13.81 9.21 6.87 8.68 12.78 9.63 13.38 11.16 Tingkat Pengangguran Terbuka Provinsi Aceh Tahun 2007 .56 9.22 9.05 11.53 6.35 12.71 12.45 9.45 12.35 5.48 11.87 7.54 6.83 9.

tahun 2007 tercatat 2.3. Tabel 2.1.095 kasus. Pada umumnya tindak kejahatan tersebut berupa pencurian.17 Indeks Tindak Kejahatan Menonjol Di Provinsi Aceh Tahun 2006-2008 No. Seni Budaya dan Olahraga Group Kesenian Aceh memiliki 1.748 kasus dan 2008 tercatat 2. penganiayaan. Kejahatan terhadap perempuan juga meningkat.3.17). 2009 TAHUN 2006 3 218 430 56 115 38 11 30 0 1 196 1095 2007 4 513 1113 175 360 86 43 48 0 18 392 2748 2008 5 510 1061 130 364 14 42 60 0 9 477 2667 2. yang dilaporkan 134 kasus. 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 KASUS 2 Pencurian dengan pemberatan Pencurian Kendaraan Bermotor Pencurian dengan kekerasan Penganiayaan Berat Kebakaran Pembunuhan Perkosaan Kenakalan Remaja Uang Palsu Narkotika Provinsi Sumber : Polda NAD. 16 kasus dalam proses dan 119 kasus telah diselesaikan. 11 kasus dalam proses dan 78 kasus telah diselesaikan. 2.133 sanggar (group) kesenian yang tersebar di 23 kabupaten/kota di Aceh yang menjadi wadah berlangsungnya kegiatan kesenian. perkosaan dan narkotika (Tabel 2. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 54 .3. Tindak kejahatan yang terjadi di Aceh secara umum mengalami peningkatan dimana pada tahun 2006 tercatat 1.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh dilaporkan menjadi 91 kasus.3.667 kasus. pembunuhan.

rapai geleng. saman. panjat tebing. gedung kepemudaan 1 unit. bersifat demokratif yang mencerminkan kehidupan masyarakat sehari-hari. stadion olah raga 2 unit. voly. didong dan prang sabilillah). hikayat) dan seni lukis (kaligrafi). dinamis iringannya yang disertai lagu dan pantun yang mengandung nasehat yang baik bagi kehidupan masyarakat. 2009).18 Untuk mendukung kegiatan berbagai jenis olah raga ini maka dibangun gedung olah raga terdiri dari gedung olah raga milik Pemerintah sebanyak 11 unit. footsal. lari dan senam sehat. sastra (pantun. pemulia jamee. Club olah raga tersebut pada umumnya bernaung di bawah organisasi keolahragaan seperti yang ditampilkan pada Tabel 2. tenis meja. marhaban. ranup lampuan. Berbagai jenis kesenian tersebut mengandung nilai-nilai islami. badminton. syair. milik swasta 1 unit. misalnya jenis tarian dilakukan secara berkelompok sebagai simbol dari keanekaragaman masyarakat Aceh. stadion mini olah raga 2 unit dan publik spase olah raga sebayak 2 unit (Dispora.3. seudati.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Hal ini menggambarkan bahwa Aceh memiliki khasanah budaya yang tinggi dengan berbagai jenis kesenian seperti tarian (debus.3. tinju.2. renang. Lapangan olah raga terbuka menurut cabang olah raga sebayak 48 unit. sepeda. 2. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 55 . Club Olah Raga dan Gedung Olah Raga Aceh memiliki berbagai club olah raga sesuai dengan jenis olah raga yang digemari oleh masyarakat seperti club sepak bola.

07 persen dan pada kelompok umur 16-15 tahun dari 94.4.12 persen menjadi 94.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Tabel 2. yaitu dari 99.1. Pendidikan Dasar 1.31 persen.4. APS untuk kelompok umur 7-12 tahun mengalami kenaikan meskipun kecil.4.18 Organisasi Keolahragaan Provinsi Aceh No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 NAMA PENGDA Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PENGDA PGSI) Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PENGDA PJSI) Federasi Olahraga Karate-do Indonesia (PENGDA FORKI) Persaudaraan Beladiri Kempo Indonesia (PENGDA PERKEMI) Ikatan Pencak Silat Indonesia (PENGDA IPSI) Taekwondo Indonesia (PENGDA TI) Keluarga Olahraga Tarung Derajat (PENGDA KODRAT) Persatuan Tinju Amatir Indonesia (PENGDA PERTINA) Wushu Indonesia (PENGDA WI) Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PENGDA PRSI) Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PENGDA PODSI) Persatuan Olahrag Layar Seluruh Indonesia (PENGDA PORLASI) Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (PENGDA POSSI) Persatuan Ski Air Seluruh Indonesia (PENGDA PSASI) Federasi Aero Sport Indonesia (PENGDA FASI) Federasi Panjat Tebing Indonesia (PENGDA FPTI) Ikatan Motor Indonesia (PENGDA IMI) (PENGDA PASI) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PENGDA PSSI) Persatuan Penembak Indonesia (PENGDA PERBAKIN) (PENGDA PERBASASI) Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (PENGDA IKASI) No 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 NAMA PENGDA Persatuan Angkat Berat Seluruh Indonesia (PENGDA PABBSI) Persatuan Bola Volly Seluruh Indonesia (PENGDA PBVSI) Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PENGDA PBSI) Persatuan Olahraga Tenis Lapangan Seluruh Indonesia (PENGDA PELTI) Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PENGDA PERCASI) Persatuan Panahan Seluruh Indonesia (PENGDA PERPANI) Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (PENGDA PERBASI) Persatuan Ikatan Sepeda Seluruh Indonesia (PENGDA ISSI) (PENGDA PERSEROSI) (PENGDA PDBI) Gabungan Brigade Seluruh Indonesia (PENGDA GABSI) Persatuan Senam Seluruh Indonesia (PENGDA PERSANI) Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PENGDA PTMSI) (PENGDA PSTI) NAMA ORGANISASI DILUAR PENGDA Badan Pengurus Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia (BAPOPSI) Forum Olahraga Mahasiswa Indonesia (FOMI) Persatuan Wartawan Olahraga Seluruh Indonesia (PERWOSI) Badan Pengurus Olahraga Cacat (BPOC) Badan Forum Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAFOMI) SIWOPWI KOPNI (Komite Paralempik Nasional Indonesia) Sumber : Dinas Pemuda dan Olah Raga Aceh. APS di daerah perkotaan lebih tinggi dibandingkan daerah perdesaan baik menurut kelompok umur. Menurut perbandingan daerah tempat tinggal. Semakin tinggi tingkat pendidikan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 56 . 2009 2. 2. Selama periode 2008-2009 untuk tingkat pendidikan dasar.1. A. Pelayanan Umum Pelayanan Dasar Pendidikan 2. Angka Partisipasi Sekolah Angka partisipasi sekolah pada pendidikan dasar terus mengalami kenaikan.1.06 persen menjadi 99. jenis kelamin maupun tingkat perkembangan.

Ini berarti bahwa lebih banyak guru dari yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas dan efisien. Rasio Guru Terhadap Murid Secara keseluruhan rasio siswa-guru saat ini sangat rendah. Tingkat kesenjangan pada kelompok 7-12 tahun sebesar 0. APS pada tahun 2009 penduduk perempuan usia 7-18 tahun selalu lebih tinggi dari pada laki-laki. Perhitungan kesenjangan menunjukkan bahwa kecenderungan yang sama dengan di atas. Rasio Ketersediaan Sekolah Terhadap Penduduk Usia Sekolah Rasio ini mengukur daya tampung setiap sekolah/madrasah pada jenjang pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs). maka semakin besar kesenjangan antara daerah perkotaan dan perdesaan. 2. berturut-turut terdapat 160 dan 233 siswa dan di SMP dan MTs negeri terdapat 266 dan 371 siswa.95 persen. MI: 115 siswa.83 siswa. MTs: 131 siswa. SMP: 118. Jika kesenjangan ditinjau menurut jenis kelamin dan daerah tempat tinggal. Sementara itu.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh (kelompok umur).82 siswa dan di tingkat di SMA/MA/SMK satu guru melayani 10. rata-rata jumlah siswa tiap satu SD/MI dan SMP/MTs swasta adalah SD: 115 siswa. Angka ini di bawah rata-rata Indonesia.1 siswa. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 57 . Di tingkat SD/MI satu guru melayani 10.23 siswa.55 persen dan pada kelompok 13-15 tahun sebesar 3. 3. data menunjukkan kesenjangan anak laki-laki dan perempuan lebih besar terdapat di daerah perdesaan dari pada perkotaan. di tingkat di SMP/MTS satu guru per 9. Menurut perbandingan jenis kelamin. khusus untuk sekolah dasar satu guru melayani 20. Pada tahun 2009. secara rata-rata di setiap SD dan MI negeri. yaitu semakin tinggi usia jenjang pendidikan maka semakin tinggi kesenjangan laki-laki dan perempuan.

SMA memiliki 452 siswa. Semakin tinggi tingkat pendidikan (kelompok umur). MA menampung 367 siswa.72 persen. APS di daerah perkotaan lebih tinggi dibandingkan daerah perdesaan baik menurut kelompok umur. Menurut perbandingan daerah tempat tinggal. 3.58 persen dan MTs mencapai 71. Sedangkan pada tingkat sekolah menengah atas. secara rata-rata jumlah siswa per sekolah/madrasah negeri adalah sebagai berikut. pada tingkat sekolah menengah pertama. Dari sisi kualifikasi. Angka Pertisipasi Sekolah (APS) untuk tingkat pendidikan menengah mengalami peningkatan.08 persen dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 58 . persentase guru SMP berkualifikasi S1/DIV sebesar 64.1. persentase guru SMA berkualifikasi S1/DIV adalah sebesar 87. 2. APS kelompok umur 16 . Sementara itu untuk sekolah/madrasah swasta adalah. Angka Partisipasi Sekolah Selama periode 2008-2009.32 persen meningkat menjadi 72.23. Angka ini sudah melebihi rata-rata Nasional sebesar 20.39 persen.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh B. dan SMK terdapat 130 siswa. dan SMK terdapat 353 siswa. MA sebesar 81. jenis kelamin maupun tingkat perkembangan. Rasio Ketersediaan Sekolah Terhadap Penduduk Usia Sekolah Di sekolah/madrasah lanjutan atas. Hal ini mengindikasikan bahwa jumlah guru menengah di Aceh sudah berlebih. untuk tingkat SMP/MTs sebesar 9.18 tahun pada tahun 2008 sebesar 72. Rasio Guru Terhadap Murid Rasio guru menengah terhadap murid pada tahun 2009. Tingkat kesenjangan pada kelompok 16-18 tahun mencapai 9.31 persen. Pendidikan Menengah 1.97 persen.82 dan pada tingkat SMA/MA/SMK sebesar 10. namun peningkatan ini masih belum signifikan. maka semakin besar kesenjangan antara daerah perkotaan dengan perdesaan. SMA memiliki 127 siswa. MA menampung 120 siswa.

Perawat b.089 Unit 903 Unit 776 Orang 205 Orang 153 Orang 2. Dokter Umum b.2009 NO 1 a.19.811 Orang 7.000 balita (1 posyandu berbanding 56 balita).969 Unit 903 Unit 776 Orang 205 Orang 153 Orang 1.11 persen (TKPPA.39 429.132 Orang A. Jumlah Posyandu 2 Jumlah Sarana kesehatan a.81 483. Polindes / Poskesdes d.811 dan jumlah posyandu yang tercatat 7. Dokter Gigi 4 Jumlah Tenaga Paramedis a.000 balita adalah 17. Pustu 3 Jumlah Dokter a. 2. Puskesmas c.2. Tabel 2. Selanjutnya rasio masing indikator sarana kesehatan dan tenaga medis diuraikan berikut ini. Hal ini bermakna bahwa 18 posyandu melayani 1.45 persen. 2009).474 unit sehingga rasio posyandu per 1. Rumah Sakit b.474 Unit 49 Unit 307 Unit 2.51 460.39.706 Unit 47 Unit 288 Unit 1.19 Jumlah Sarana Kesehatan dan Tenaga Kesehatan Tahun 2007 .568 Orang 2008 15.012 Orang 5. Kesehatan Fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan (dokter dan paramedis) di Aceh ditampilkan pada Tabel 2.150 Unit 49 Unit 292 Unit 1.885 Unit 886 Unit 756 Orang 139 Orang 154 Orang 5.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh SMK sebesar 83.871 Orang 7. Jumlah Balita b.923 Orang 5. Dokter Spesialis c.4.346 Orang 2. Untuk kepala sekolah menengah persentase yang memiliki kualifikasi S1/DIV atau lebih sebesar 65.529 Orang 2.1.603 Orang 2009 17. 2010 URAIAN Rasio Posyandu dengan Balita 2007 11. Bidan Sumber : Badan Pusat Statistik Aceh. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 59 . Rasio Posyandu Per satuan Balita Jumlah balita yang terdata di Dinas Kesehatan Aceh tahun 2009 sebanyak 429.

11.11 rumah sakit melayani 10.000 penduduk (1 Puskesma. E. Hal ini bermakna bahwa 0.915 sehingga rasio dokter per 1.26.915 sehingga rasio tenaga medis per 1.293. Rasio Tenaga Medis Per Satuan Penduduk Jumlah tenaga medis yang terdata di Dinas Kesehatan Aceh tahun 2009 sebanyak 8.787 penduduk).763 penduduk).134 orang dengan total penduduk di Provinsi Aceh sebesar 4.302 penduduk).293.000 penduduk (1 dokter berbanding 3. Rasio Dokter Per Satuan Penduduk Jumlah dokter yang terdata di Dinas Kesehatan Aceh tahun 2009 sebanyak 1.915 sehingga rasio Puskesmas. polindes dan pustu per 1. D.77.293. Rasio Rumah Sakit Per Satuan Penduduk Jumlah rumah sakit yang terdata di Dinas Kesehatan Aceh tahun 2009 sebanyak 49 unit dengan total penduduk di Provinsi Aceh sebesar 4. Rasio Puskesmas Poliklinik. polindes dan pustu berbanding 1. Pustu Per Satuan Penduduk Jumlah puskesmas. polindes dan pustu yang terdata di Dinas Kesehatan Aceh tahun 2009 sebanyak 3. C.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh B.000 penduduk (1 rumah sakit berbanding 8.000 penduduk adalah 0.055 orang dengan total penduduk di Provinsi Aceh sebesar 4.915 sehingga rasio rumah sakit per 10.000 penduduk (1 tenaga medis berbanding 500 penduduk).299 unit dengan total penduduk di Provinsi Aceh sebesar 4. Hal ini bermakna bahwa 2 (dua) tenaga medis melayani 1. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 60 . Hal ini bermakna bahwa 0.000 penduduk adalah 0.88.26 dokter melayani 1.000 penduduk adalah 0. polindes dan pustu melayani 1. Hal ini bermakna bahwa 1 (satu) puskesmas.000 penduduk adalah 1.293.

air kemasan. mata air. B. penduduk Aceh yang memanfaatkan sumur sebagai sumber air minum masih tergolong besar.94 persen pada tahun 2009.32 persen dan pada tahun 2009 sebesar 40.3. air sungai dan air hujan. Namun. Persentase Penanganan Sampah Penanganan persampahan masih terbatas dalam kawasan komersil.83 persen pada tahun 2009.69 persen (Tabel 2. Rumah tangga yang memanfaatkan air kemasan sebagai sumber air minum mengalami peningkatan untuk periode 2005-2009.20).Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh 2. Persentase Penduduk Berakses Air Minum Penduduk Aceh secara umum memperoleh air dari berbagai sumber antara lain air ledeng. tingkat pelayanan di tempat fasilitas umum di perkotaan masih 25 persen. sumur bor/pompa. Pada tahun 2005 rumah tangga yang memanfaatkan sumur (tak terlindung) sebagai sumber air minum sebesar 25.4. Sesuai dengan target MDG’s untuk Aceh pada sektor persampahan ditargetkan akses pelayanan persampahan perkotaan sebesar 80 persen dan pedesaan 75 persen. Lingkungan Hidup A.1. Selanjutnya pada tahun 2005 rumah tangga yang memanfaatkan sumur (terlindung) sebagai sumber air minum sebesar 42.11 persen meningkat menjadi 18. Pada tahun 2005 rumah tangga yang memanfaatkan air kemasan sebesar 3. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 61 .29 persen menurun menjadi 12.

42 10. sedangkan di perdesaan 131. Dengan kata lain sebagian penduduk Aceh masih mengkonsumsi air minum yang bersumber dari air tanah (sumur) dan air Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 62 .80.11 11. 2010 Dari konteks pemanfaatan sumber air minum untuk daerah perkotaan dan perdesaan.2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Air Kemasan Leding Meteran Leding Eceran Sumur Bor/Pompa Mata Air Terlindung Mata Air Tak Terlindung Air Sungai Air Hujan Sumur Tak Terlindung 3.43 7.33 persen terdapat perbedaan yang cukup nyata antara rumah tangga di perkotaan dan perdesaan.85 5.78 12.55 1.15 3.49 42.24 persen sedangkan hanya 15.14 21.73 8.93 8. dimana pada tahun 2009 rumah tangga perkotaan yang menggunakan air ledeng dan air kemasan sebagai sumber air minumnya mencapai 63.58 2008 14.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Tabel 2.179 rumah tangga.69 0.17 4.41 41. pada tahun 2009 rumah tangga yang menggunakan air ledeng dan air kemasan sebagai sumber air minum di perkotaan sebesar 545.95 4.24 0.33 2009 18.74 43.2 3.54 2006 4.58 Uraian 2005 3.25 3.60 persen dari seluruh rumah tangga di perdesaan menggunakan ari ledeng dan air kemasan sebagai sumber air minum.07 5.92 3.19 0.32 4.93 2007 6.76 3.99 41. naik dari tahun sebelumnya 23.27 25.95 4.68 3.23 3.94 40.76 1.61 22.04 1.02 2.81 2.22 17.58 0.31 1. Penduduk Aceh yang menggunakan air ledeng dan air kemasan sebagai sumber air minum mengalami peningkatan sekitar 28.18 10 Sumur Terlindung 11 Lainnya Sumber : Badan Pusat Statistik.16 4.20 Sumber Air Minum untuk Kebutuhan Rumah Tangga (dalam persen) Tahun 2005 .42 4.75 5.81 1.09 0.55 1.328 rumah tangga.25 4.32 1.55 3.

milik bersama 12. Proporsi Panjang Jaringan Jalan Dalam Kondisi Baik Secara keseluruhan panjang jalan di Provinsi Aceh yaitu 17. Kondisi masing-masing jalan tersebut dikatagorikan kedalam kondisi baik.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh permukaan yang mungkin belum memenuhi standar kesehatan air minum. umum 14.55 persen.82 km) dan kabupaten/kota (13. 2. provinsi (1.701. Persentase Luas Permukiman Yang Tertata Mulai pesatnya perkembangan di wilayah perkotaan atau permukiman di Provinsi Aceh cenderung menyebabkan tumbuhnya kawasan-kawasan kumuh.41 persen. dan lainnya 24. Kondisi fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) di Provinsi Aceh adalah milik sendiri 48.581.78 km).4. khususnya sumur-sumur penduduk di wilayah pesisir yang terdampak tsunami dan yang berdekatan dengan kawasan industri yang menghasilkan limbah.4.19 km yang terdiri dari jalan nasional (1. Kondisi sanitasi saat ini sebagian besar tidak memenuhi syarat dengan utilitas yang buruk sehingga mengakibatkan tata kehidupan kurang sehat dan tidak nyaman. menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan lingkungan permukiman menjadi tidak sehat.782. sedang dan rusak berat yang secara rinci disajikan pada Tabel 2.12 persen. Keadaan ini semakin diperburuk bila belum tersedianya sarana dan prasarana dasar yang memadai sesuai dengan standar yang diharapkan untuk melayani kebutuhan primer maupun sekunder. Sarana dan Prasarana Umum A.93 persen.1. selanjutnya pada akhir 2015 Aceh akan terbebas dari Buang Air Besar Sembarangan (BABS).89 km). C.21 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 63 .066.

171 ha tersebar di 1.866 ha beririgasi semi teknis.30 4.47 2. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 64 .129.700 ha (Dinas Pengairan.43 2.408.27 4.782.581.16 7.59 1 2005 Nasional Provinsi Kabupaten Nasional Provinsi Kabupaten Nasional Provinsi Kabupaten Nasional Provinsi Kabupaten Nasional Provinsi Kabupaten 2 2006 3 2007 4 2008 5 2009 Sumber : Dinas Bina Marga dan Cipta Karya 2010 B.49 69.581.60 1.44 2.16 684.24 637.345.58 58.71 294.701.782.782.45 445.82 13. semi teknis.06 594.59 1.82 13.043.39 576.28 Rusak 450. Daerah Irigasi Potensi lahan pertanian yang dimiliki oleh Provinsi Aceh seluas 730.82 13.71 Kondisi Mantap (%) 74.13 7.59 Baik 721.78 1.755 ha.129. dan 250.408.24 484.043.11 63.043.82 13.129.44 7. sederhana. Luas total areal sawah yang sudah beririgasi adalah 384.176 Daerah Irigasi (DI) yang terdiri dari 99.08 7.90 69.581.408.129. 60. Luas daerah rawa adalah 444.39 2.59 1.581.055 ha dan rawa pantai seluas 78. 2009).676 ha yang sudah berigasi teknis.701.60 1.746 ha.28 191.163.19 391.98 4.33 510.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Tabel 2.408. dan daerah rawa.51 2.60 Kondisi Jalan (km) Sedang 603.21 Kondisi Jalan Nasional.59 83.26 442.58 368.30 560.18 65.043.59 80.71 339.33 74.59 82. sawah tadah hujan.43 606.78 1.71 313.60 1.78 1.251.33 7.28 299.098 ha beririgasi sederhana termasuk didalamnya irigasi desa.44 4.86 69.701.23 4.59 1.78 1.043.701.02 62.78 1. yang terdiri dari rawa lebak seluas 366.65 69.000 ha yang terdiri dari sawah beririgasi teknis.532.782.074.28 362.51 618.32 13.129.01 621.408. Luas sawah tadah hujan adalah 57.71 239.60 1.59 1.2009 No Tahun Panjang Jalan (km) 1.59 86.75 698.782. Provinsi dan Kabupaten/Kota Tahun 2005 .62 69.581.28 230.

665 orang (0.000 ha) seluas 120. Selanjutnya. Rasio Tempat Ibadah Per Satuan Penduduk Pemeluk agama Islam di Aceh 3.512 unit .647 ha dan kewenangan kabupaten/kota (<1.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Berdasarkan kewenangan daerah pengelolaannya terbagi atas kewenangan pusat (>3.23 km. kewenangan provinsi (1.00 ha) adalah 0.95% dari total penduduk Aceh) dengan jumlah Masjid sebanyak 3.81% dari total penduduk Aceh) dengan jumlah Gereja 26 unit dan pemeluk agama Budha 6.000-3.44 km.67 km dan jaringan tersier 6.232 orang (0.921 ha.22).055 78.259.000 ha) seluas 76.006 444.700 57.755 366. Data ini menunjukkan bahwa penduduk Aceh manyoritas beragama Islam.326 orang (90.34 km yang terdiri dari jaringan primer 725. Rasio jaringan irigasi tersebut dengan luas lahan budidaya (384.866 132. pemeluk agama Kristen (Protestan + Khatolik) 34.905.448.02 km per hektar (Tabel 2.676 60.603 ha.171.092 118. jaringan irigasi di Aceh sepanjang 8.000 ha) seluas 186. jaringan sekunder 1. 2009 Uraian Luas Ha 410.22 Potensi Areal Lahan Pertanian di Provinsi Aceh Tahun 2009 No 1 Irigasi Irigasi Teknis Irigasi Semi Teknis Irigasi Sederhana Irigasi Desa 2 Rawa Rawa Lebak Rawa Pantai 3 Sawah Tadah Hujan Sumber : Dinas Pengairan. Tabel 2.746 C. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 65 .640 99.14% dari total penduduk Aceh) dengan jumlah Kuil sebanyak 1 unit.463.

sedangkan di perdesaan 48. Jenis kloset angsa adalah jenis kloset yang baik dari sisi kesehatan lingkungan (Gambar 2. Grafik Tren Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 66 . Penggunaan jenis kloset angsa di Provinsi Aceh mengalami penigkatan dari 65. D. Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Persentase rumah tangga yang memiliki jamban sendiri mengalami peningkatan.72 di tahun 2008 menjadi 66.112).05 persen rumah tangga yang memiliki jamban sendiri.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Rasio tempat ibadah per satuan pemeluk dihitung berdasarkan jumlah tempat ibadah dibagi dengan jumlah pemeluk.1. kemudian pada tahun 2009 meningkat menjadi 56.01 pada tahun 2009 dari total rumah tangga. Rumah tangga yang memiliki jamban sendiri sebahagian besar adalah rumah tangga di daerah perkotaan yaitu sekitar 79.62 persen. Sehingga berdasarkan data di atas maka rasio jumlah tempat ibadah persatuan pemeluk : Islam (1 : 1.1). Pada tahun 2008 tercatat sekita 56.232).02 persen. baik di daerah perdesaan maupun daerah perkotaan. Kristen (1 : 1.333) dan Budha (1 : 6.03 persen. Gambar 2.

207 jiwa.205 unit dan rumah korban konflik sebanyak 15. Jakarta pada tahun 2010 dengan jumlah penduduk 10. secara tidak langsung juga menunjukkan kondisi sistem kesehatan lingkungan keluarga atau rumah/tempat tinggal. Rasio daya tampung TPS terhadap total penduduk (4.293.000 penduduk.931. F. Pada tahun 2005 persentase rumah tangga yang menempati rumah/tempat tinggal kurang dari 19 m2 per rumah tangga sebesar 8.72 m3/hari per 1.915 jiwa) sebesar 0. Bina Marga dan Cipta Karya (2010) jumlah tempat pembuangan sampah (TPS) di Aceh sebanyak 2.85 persen.2). 2009). Pada tahun 2009 persentase tersebut mengalami penurunan menjadi menjadi 2.7 m3/hari per 1. Sedangkan untuk rumah tangga dengan luas lantai 20-40 m2 pada tahun 2005 sebesar 51.75 persen.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh E. Hal ini mengindikasikan bahwa persentase rumah tangga layak huni di Aceh semakin meningkat.095.2 m3/hari.670 unit (Gambar 2. meningkat menjadi 53.36 persen. Luas lantai juga menggambarkan tingkat kepadatan hunian atau luas ruang untuk tiap anggota keluarga. Luas lantai rumah/tempat tinggal selain digunakan sebagai indikator untuk menilai kemampuan sosial masyarakat.000 penduduk. Persentase Rumah Layak Huni/Rumah Sehat Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) salah satu parameter rumah sehat adalah rumah tinggal yang memiliki luas lantai per orang minimal 10 m2. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 67 .624 m3/hari sehingga 2. jumlah sampah 29. Pemerintah Aceh pada tahun 2009 telah membangun rumah dhuafa untuk masyarakat yang tergolong fakir dan miskin sebanyak 11. Rasio Tempat Pembuangan Sampah TPS Per Satuan Penduduk Menurut final MDGs Aceh.43 persen pada tahun 2009 (BPS. Numun.115 unit dan memiliki daya tampung sebanyak 3. jumlah rumah yang belum layak huni di Aceh masih cukup banyak.

36 Luas lantai 50-99 m2 31.5. Berkurangnya jumlah lahan pertanian dan kehutanan adalah akibat adanya peningkatan jumlah dan aktivitas penduduk serta aktivitas Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 68 .05 5.70 6.08 2006 2007 2008 3. produktif dan berkelanjutan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menciptakan keseimbangan tingkat perkembangan wilayah. Grafik Tren Persentase Rumah Layak Huni/Rumah Sehat 2. Alih Fungsi Lahan Lahan merupakan sumberdaya strategis yang memiliki nilai secara ekonomis.02 3.85 57.18 6. Saat ini.00 33.47 3.41 2009 Gambar 2.28 34. jumlah luas lahan pertanian dan kehutanan Aceh setiap tahun mengalami pengurangan.4.85 34.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Tren Persentase Rumah Layak Huni/Rumah Sehat 65 60 55 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Luas lantai ≤ 19 m2 2005 8.69 3.2.82 3.27 Persen Luas lantai 100-149 m2 5.54 Luas lantai 150+ m2 3.3 53.94 53.1.66 2.26 3. Beberapa permasalahan dalam penataan ruang di Aceh antara lain : terjadinya alih fungsi lahan dan kesenjangan antar wilayah.39 2.75 Luas lantai 20-49 m2 51.24 52.43 30.48 6. A. Penataan Ruang Penataan ruang pada dasarnya merupakan bentuk intervensi yang dilakukan agar terwujud alokasi ruangan nyaman.

241. terutama disebabkan antara lain oleh illegal loging. Untuk daerah perkotaan. mengingat alih fungsi lahan tersebut sulit dihindari sementara dampak yang ditimbulkan terhadap masalah pangan bersifat permanen. kritis 395. Alih fungsi lahan juga menyebabkan terjadinya lahan kritis di Aceh. Meskipun secara proporsional masih memenuhi rasio yang ditetapkan (30%). namun beberapa kota di Aceh antara lain Kota Banda Aceh. kumulatif. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 69 . Alih fungsi lahan pertanian merupakan ancaman yang serius bagi ketahanan dan jaminan pangan Aceh. swasta dan masyarakat.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh pembangunan. alih fungsi lahan dapat dilihat dari persentase ruang terbuka hijau.343.28 ha dan sangat kritis 67.264. dan lain sebagainya untuk memenuhi permintaan yang ada. Total lahan kritis di Aceh seluas 1. Lhokseumawe dan Langsa menunjukkan kecenderungan pengurangan persentase ruang terbuka hijau sebagai akibat kegiatan pembangunan khususnya bidang infrastruktur dan pemukiman yang belum sepenuhnya mengikuti rencana tata ruang yang ditetapkan. Pembukaan lahan untuk perkebunan yang dilakukan dengan alat berat dan pembakaran dapat menimbulkan erosi yang menyebabkan lahan menjadi kritis.680. Hal tersebut mengakibatkan permintaan terhadap lahan semakin meningkat yang pada akhirnya terjadi alih fungsi lahan ke lahan non pertanian seperti perumahan.12 ha. Alih fungsi lahan yang terjadi tidak terlepas dari kepentingan berbagai pihak seperti pemerintah. dan progresif. industri. pembakaran hutan dan pemanfaatan lahan untuk pertanian yang tidak mengikuti teknik konservasi tanah yang benar.668.59 ha yang terdiri dari agak kritis 1.19 ha.205.

563 orang (78.669 orang (71. Jumlah Arus Penumpang Angkutan Umum Menurut Dishubkomintel Provinsi Aceh (2009).83%) dan 334.113 orang) dan angkutan umum penyeberangan (757.6. angkutan umum udara (653.916 orang (48.62%). 2.046 orang).87%). Sementara itu. jumlah arus penumpang masuk dan keluar angkutan umum di Provinsi Aceh tahun 2009 meliputi angkutan umum darat (452. Keuntungan lokasi dengan akses yang lebih baik terhadap pasar dan fasilitas publik membuat kawasan pesisir timur memiliki biaya transportasi lebih rendah sehingga kesempatan ekonomi lebih besar di kawasan tersebut.20%). Perhubungan A. Kabupaten/Kota di kawasan pesisir timur terletak di sepanjang jalan nasional dengan kualitas relatif baik yang menghubungkan dua kota besar yaitu Banda Aceh dan Medan dan mempunyai jumlah penduduk setara dua pertiga populasi Aceh.197 orang (51.1. Pusat-pusat perkotaan juga lebih banyak terdapat di pesisir timur.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh B. Sedangkan jumlah penumpang angkutan umum penyeberangan yang tiba dan berangkat yaitu 379.519 orang (49.878 orang).13%) dan 377. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 70 . Kesenjangan Antar Wilayah Provinsi Aceh masih mengalami kesenjangan antar wilayah. angkutan umum udara sebesar 318.4.527 orang (50.40%) dan 298. Jumlah penumpang angkutan umum darat yang tiba dan yang berangkat masing-masing 239. Beberapa indikator pembangunan di wilayah pesisir timur Aceh menunjukan nilai yang lebih tinggi dibanding wilayah tengah dan pesisir barat.

Jumlah Uji Kir Angkutan Umum Provinsi Aceh pada tahun 2009 terdata 46. C. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 71 .61.072 sebesar 0. Rasio Izin Trayek Berdasarkan Dishubkomintel (2009) menunjukan bahwa izin trayek diberikan terhadap sarana angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP).23). beberapa kabupaten/kota lainnya belum memiliki data taman kendaraan dan jumlah kendaraan yang diuji kir karena tidak tersedianya prasarana untuk uji kir kendaraan tersebut (Tabel 2. karena ketersediaan angkutan umum yang sangat terbatas. Sementara izin AKDP sejumlah 3.183 taman kendaraan (kendaraan wajib uji kir) dan 28. Rasio izin trayek adalah perbandingan jumlah izin yang dikeluarkan terhadap jumlah penduduk.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh B.00072. Hal ini mengindikasikan bahwa penduduk provinsi Aceh yang memanfaatkan sarana angkutan umum sebagai alat transportasi masih tergolong kecil. Sementara itu. Berdasarkan jumlah izin yang dikeluarkan untuk AKAP sejumlah 548 maka rasio izin trayek AKAP adalah 0.084 jumlah kendaraan yang telah diuji kir dengan rasio 0.00013.

733 1.084 Rasio Uji Kendaraan 0. Idi Rayeuk Aceh Tamiang. Meureudu Subulussalam TOTAL Sumber : Dishubkomintel Aceh. 2010 UPT/UPTD Taman Kenderaan 11.868 884 2.292 3.683 1. Lhoksukon Langsa Aceh Timur.907 413 3.404 2. Sigli Bireun Lhokseumawe Aceh Utara.331 2.043 0.045 1.237 96 347 28.245 46. Bandara Sultan Iskandar Muda adalah bandara internasional yang berlokasi di Kabupaten Aceh Besar. Jantho Sabang Aceh Pidie.113 2. Sinabang Aceh Selatan.377 2.252 0.975 2.783 4.608 D.265 0. Meulaboh dan Ulee Lheu sebagai pelabuhan penyebarangan dan angkutan.879 1. Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Provinsi Aceh memiliki 19 pelabuhan.182 5.787 0. 12 unit bandara dan 33 unit terminal bis yang tersebar di kabupaten/kota. Kuala Simpang Aceh Tenggara. Takengon Aceh Jaya.490 1. Meulaboh Simelue.704 1.258 0. Kuta Cane Aceh Tengah.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Tabel 2.480 1.879 1.256 1. Jeuram Abdya.836 4. Pelabuhan laut yang terbesar adalah Malahayati.978 316 2. Krueng Geukueh.268 1.183 Kendaraan Yang diuji 8.252 2. Blang Pidie Aceh Barat. Sedangkan terminal bis Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 72 .250 997 1. Calang Nagan Raya. Blang Kejeren Pidie Jaya. Tapak Tuan Aceh Singkil Bener Meriah Gayo Lues.23 Uji Kir Kendaraan Tahun 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Banda Aceh Aceh Besar.230 2.

2009 Kondisi pelabuhan laut dan udara ditinjau dari kelengkapan prasaran fasilitas pokok.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh berlokasi di seluruh kabupaten/kota. Tabel 2.24 Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Tahun 2009 Transportasi Laut No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Terminal Bis Tipe A 1 1 1 1 4 Kab/Kota Sabang Banda Aceh Aceh Besar Pidie Pidie Jaya Bireuen Aceh Utara Lhokseumawe Aceh Timur Langsa Aceh Tamiang Aceh Tengah Bener Meriah Gayo Lues Aceh Tenggara Aceh Jaya Aceh Barat Aceh Barat Daya Nagan Raya Aceh Selatan Subulssalam Aceh Singkil Simeulue Jumlah Pelabuhan Angkutan 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 11 Bandara Pelabuhan Penyeberanga n 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 8 12 Tipe B 1 2 1 1 1 1 1 8 Tipe C 1 1 2 1 1 2 4 1 1 1 1 2 1 1 20 Sumber : Data Dishubkomintel. menunjukkan bahwa Pelabuhan laut Malahayati dan Lhokseumawe memiliki persentase perlengkapan sarana dan prasarana yang lebih tinggi dibandingkan dengan pelabuhan laut lainnya. fasilitas keselamatan dan fasilitas penunjang. Selanjutnya jumlah pelabuhan laut/udara/terminal bis secara rinci dapat dilihat pada Tabel 2.24. memiliki persentase yang bervariasi. Sementara itu Bandar udara internasional Sultan Iskandar Muda merupakan bandara bertaraf internasional Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 73 .

35 36. Untuk lebih jelasnya kondisi masingmasing pelabuhan laut dan bandara yang terdapat di Aceh dapat dilihat pada Tabel 2.35 38.00 49.88 28.34 29.71 42.91 65.38 17.08 51.61 28.71 40.07 35.25.71 2.00 59.25 Kondisi Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Tahun 2009 Jenis Pelabuhan/ bandara 1 Pelabuhan Angkutan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 1 2 3 4 5 6 7 8 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Pelabuhan Malahayati Pelabuhan Krueng Geukeuh Lhokseumawe Pelabuhan Kuala Langsa Pelabuhuan Meulaboh Pelabuhan Sabang Pelabuhan Calang Pelabuhan Susoh Pelabuhan Tapak Tuan Pelabuhan Singkil Pelabuhan Sinabang Pelabuhan Idi Pelabuhan Ulee Lheue Pelabuhan Balohan Sabang Pelabuhan Lamteng Pulau Aceh Pelabuhan Sinabang Pelabuhan Singkil Pelabuhan Pulau Banyak Pelabuhan Labuhanhaji Pelabuhan Meulaboh Bandara Sultan Iskandar Muda Bandara Poin A Lhoksukon Bandara Malikulsaleh Lhokseumawe Bandara Lasikin Sinabang Bandara Teuku Cut Ali Tapak Tuan Bandara Kuala Batee Blang Pidie Bandara Rembele Takengon Bandara Alas Leuser Kutacane Bandara Cut Nyak Dhien Nagan Raya Bandara Maimun Saleh Sabang Bandara Hamzah Fansuri Singkil Bandara Blang Keujeuren 73.63 52.13 97.22 14.34 31.39 30.40 39.87 39.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh dan memiliki persentase kelengkapan sarana dan prasarana yang terlengkap dibandingkan seluruh bandara lainnya. 2009 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 74 .00 87.44 Kondisi Sarana dan Prasarana (%) 4 3 Pelabuhan Penyeberangan Bandar Udara Catatan : Pelabuhan Meulaboh belum dilakukan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Tsunami Sumber : Data Dishubkomintel.52 27.9 31.34 38. Tabel 2.78 10.13 0.9 31.05 54.15 31.

4.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh 2.6.562.311. Pada tahun 2009 jumlah perusahaan yang telah mengajukan permohonan izin sejumlah 289 perusahaan yang terdiri dari PMA 121 buah dan PMDN 168 buah dan pada tahun 2010 menjadi 302 perusahaan yang terdiri dari PMA 134 buah dan PMDN 168 buah.047.2.4.556 sedangkan yang terealisasi hanya USD 2. sejak tahun 2007 sampai dengan tahun 2009.730 yang terealisasi adalah Rp. rencana investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) senilai Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 75 . Sedangkan pada tahun 2010. Jumlah Nilai Investasi Berskala Nasional (PMDN/PMA) Perkembangan investasi di Aceh yang menggunakan fasilitas impor barang modal selama tiga tahun terahir (2007-2009) belum menggembirakan. dari rencana investasi Penanaman Modal Asing (PMA) senilai USD 143. tingginya Upah Minimum Provinsi (UMP) serta permasalahan pertanahan. Pelayanan Penunjang Penanaman Modal (Investasi) A.303. rencana investasi Penanaman Modal Asing (PMA) senilai USD13.6. 2.045. Jumlah Investor Berskala Nasional (PMDN/PMA) Jumlah perusahaan yang mengajukan proposal permohonan izin investasi baik jenis PMA maupun PMDN terus mengalami peningkatan.047.166.254.304.045. Hal ini menunjukkan bahwa minat investor untuk menanamkan modalnya di Aceh sangat tinggi. Sementara itu. Namun realisasi investasi masih rendah akibat terkendala oleh beberapa faktor diantaranya masih minimnya infrastruktur seperti ketersediaan sumber daya energi listrik. B.32 juta yang dapat terealisasi adalah hanya USD 122. Selama periode 2007-2009 investasi yang terjadi relatif kecil. Investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dari rencana investasi senilai Rp.2.1.730.3 juta.771.

Jumlah Investor Berskala Nasional (PMDN/PMA). sementara itu yang terealisasi hanya 10 orang tenaga kerja asing dan 53. Di Provinsi Aceh rasio daya serap tenaga kerja pada PMA yaitu 129 orang per PMA dan pada PMDN 321 orang per PMDN.454 orang tenaga kerja lokal (Indonesia). C.82 (2006).569 tetapi yang terealisasi hanya Rp.8 (2008). Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 76 . 0.942 orang tenaga kerja lokal (Indonesia).55 (2007) dan 4.280 orang tenaga kerja lokal (Indonesia).088. sedangkan realisasinya hanya 26 orang tenaga kerja asing dan 17. Rasio daya serap tenaga kerja yaitu perbandingan antara jumlah tenaga kerja yang bekerja pada PMA/PMDN dengan jumlah seluruh PMA/PMDN.045.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Rp12. Tenaga kerja yang bekerja pada PMA dan PMDN berupa tenaga kerja asing dan tenaga kerja lokal (Indonesia).303.738. Dari sejumlah nilai investasi PMA yang direncanakan di Aceh.082 orang dan 131.841. Rasio Daya Serap Tenaga Kerja Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.02 (2005). 5.6.307 orang tenaga kerja lokal (Indonesia).730. direncanakan akan mampu menyerap 745 orang tenaga kerja asing dan 43. Sedangkan investasi PMDN direncanakan akan mampu menyerap tenaga kerja asing 2.26. Rendahnya investasi yang terjadi di Aceh juga tercermin dari perkembangan nilai Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang cenderung masih sangat tinggi yaitu sebesar 1.047. Nilai Investasi Berskala Nasional (PMDN/PMA) dan Rasio Daya Serap Tenaga Kerja lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 2.

sarana prasarana serta informasi pasar.2.166.26 Perkembangan Investasi Berskala Nasional (PMA/PMDN) Sampai dengan November 2010 Rencana Tenaga Kerja Realisasi Tenaga Kerja No Jenis Investasi Penanaman Modal Asing (PMA) Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Jumlah Investasi Rencana Investasi Realisasi Investasi Asing (orang) Indonesia (Lokal) (orang) 43. sektor ini belum berkembang secara optimal.047.771 745 26 2 168 Rp 12.562.556 USD 2.280 Asing (orang) Indonesia (Lokal) (orang) 17.045. terbatasnya akses kepada sumberdaya produktif terutama terhadap bahan baku permodalan. industri kreatif.454 10 53. tantangan utama ke depan adalah masih rendahnya produktivitas UMKM dapat mengakibatkan produk yang dihasilkan kurang memiliki daya saing dan kualitas yang baik dalam memenuhi permintaan pasar domestik dan pasar dan regional bahkan internasional. Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah Sektor Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) merupakan salah satu sektor strategis dalam menyerap tenaga kerja.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Tabel 2. Terkait dengan permasalahanpermasalahan tersebut. Namun demikian.306. Dengan demikian.569 Rp 6.2.841.304.307 1 134 USD 13. dan inovasi. Permasalahan yang terkait dengan iklim usaha yang kurang kondusif masih akan dihadapi UMKM.4. seperti besarnya biaya transaksi akibat masih adanya ketidakpastian dan persaingan yang pasar tinggi.730 2.082 131.088.311.738. 77 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 .942 Sumber : Badan Investasi dan Promosi Aceh 2. tantangan ke depan adalah bagaimana menumbuhkan wirausaha yang berbasis agro industry. Masalah daya saing dan produktivitas ini disebabkan antara lain oleh rendahnya kualitas dan kompetensi kewirausahaan sumber daya manusia.

202 unit.663 (55. sektor pertanian memiliki usaha mikro 3. industri. usaha kecil 307 unit.27 Persentase Koperasi Aktif di Provinsi Aceh Tahun 2004 .836 5.714 unit.57 1.800 6. perikanan dan kelautan dan transportasi. Sektor perdagangan/jasa memiliki usaha mikro 21.6%) unit merupakan koperasi aktif dan 2.95 60.341 3. usaha menengah 2. sektor industri memiliki Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 78 . pertanian.05 39.522 5. Jumlah UMKM Aktif dan BPR Jumlah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Provinsi Aceh yang tersebar di 23 kabupaten/kota sejumlah 49.63 55.43 Sumber : Disperindagkop dan UKM.50 67.751 3.570 6. usaha kecil 12.004 3.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh A.246 3.929 22.929 (44.50 32. 2010 B. Tabel 2.663 77.37 44.592 3.223 unit.085 2. sejumlah 3. usaha kecil 22 unit dan usaha menengah 5 unit.59 35.324 2.984 unit. Persentase Koperasi Aktif Menurut Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Provinsi Aceh (2009) jumlah koperasi yang ada di Provinsi Aceh 6.4%) unit tidak aktif.592 unit.27).007 2. UMKM tersebut bergerak pada berbagai sektor seperti perdagangan/jasa. Hal ini mengindikasikan bahwa koperasi di Aceh masih belum beraktivitas seperti yang diharapkan (Tabel 2. usaha menengah 29 unit.890 2.44 40.011 5. pertambangan.41 64.599 unit.2009 No 1 Tahun 2 Jumlah Koperasi 3 Jumlah Koperasi Aktif 4 Persentase Koperasi Aktif 5 Jumlah Koperasi Tidak Aktif 4 Persentase Koperasi Tidak Aktif 5 1 2 3 4 5 6 2004 2005 2006 2007 2008 2009 4.181 1.56 59.910 4. sektor pertambangan memiliki usaha mikro 152 unit.

hanya 15. atau mengalami penurunan sebesar 12. Sebaliknya jumlah pengangguran di Aceh mengalami penurunan yang signifikan yaitu 189.3.814. usaha kecil 223 unit.000 orang pada tahun 2009. usaha kecil 443 unit dan usaha menengah 185 unit. 2. sektor perikanan dan kelautan memiliki usaha mikro 1.4.2.000 orang dan pada tahun 2009 menjadi 1. 2.17 persen.000 orang pada tahun 2006 dan menjadi 166. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 79 . 2008). usaha menengah 1 unit. sektor transportasi memiliki usaha mikro 595 unit.40 persen.34 persen anak Aceh yang memiliki akte kelahiran (UNICEF. Ketenagakerjaan Jumlah angkatan kerja di Aceh setiap tahun terus bertambah.000 orang atau mengalami kenaikan sebesar 8. Hal ini diperkirakan sebagai dampak dari semakin luasnya lapangan kerja yang tercipta dan semakin meningkatnya peluang kesempatan berusaha bagi masyarakat. Penyebab utama adalah ketidaktahuan orang tua bahwa kelahiran anak wajib tercatat dan ketidaktahuan tempat untuk melakukan pencatatan. Sedangkan di sekolah.4. 2007).911 unit. masih banyak anak yang mengalami kekerasan fisik. usaha kecil 226 unit dan 6 unit usaha menengah (Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Provinsi Aceh. Pada tahun 2006 adalah sebanyak 1.4. verbal dan psikologis (UNICEF.601 unit. Sedangkan BPR yang aktif di Provinsi Aceh sebanyak 15 unit terdiri dari 8 unit BPR Syriah dan 7 unit BPR konvensional.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh usaha mikro 5. Kependudukan dan Catatan Sipil Perolehan akte kelahiran masih terbatas.898. Lebih besarnya persentase penurunan jumlah orang yang menganggur jika dibandingkan dengan persentase kenaikan jumlah angkatan kerja mengakibatkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) terus dapat ditekan setiap tahunnya.2. 2009).

302 79.078 0.52 1.74 0. sampai 20 tahun kedepan angkatan kerja ini diperkirakan masih berada dalam umur produktif sehingga menjadi aset yang sangat berharga dalam pembangunan ekonomi kedepan.090 0. angkatan kerja di Aceh didominasi oleh angkatan kerja muda yang berumur antara 20-39 tahun.39 13.04 0.577 0.836 45. Tabel 2.97 0.392 1.28).310 78.383 1.072 0.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Berdasarkan komposisi umur.08 6.102 0.93 1.497 1.628 0.089 0.58 10.59 0.Pengangguran 3 4 5 Bukan Angkatan Kerja Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja . Dengan demikian.4 16.078 0.5.16 0.326 78.Bekerja .082 0.TPAK (%) Tingkat Pengangguran Terbuka (%) 0.74 1.2.11 1.516 KEGIATAN UTAMA Tahun (Juta Jiwa) 2006 2007 2008 2009 2010 PEREMPUAN 1 2 Penduduk 15+ Angkatan Kerja .422 1. 2010 2.089 0.2010 No LAKI-LAKI 1 2 Penduduk 15+ Angkatan Kerja .463 1.665 0.111 0.54 1.TPAK (%) Tingkat Pengangguran Terbuka (%) 1. Sektor pertanian adalah lapangan usaha yang paling besar dalam penyerapan tenaga kerja.818 47.705 49.550 0.091 0.43 1.8 43.05 7.510 1.79 7.870 42.7 10.104 0.048 0.561 Sumber : Badan Pusat Statistik.7 14.53 7.Pengangguran 3 4 5 Bukan Angkatan Kerja Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja .28 Tren Ketenagakerjaan di Provinsi Aceh 2006 .355 1.262 81.229 83.82 7.4.081 0.Bekerja .53 0.076 0.21 1. Akan tetapi persentase penyerapannya terus mengalami penurunan akibat meningkatnya daya serap di sektor ekonomi lainnya (Tabel 2. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dalam rangka pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak diperlukan akses seluas-luasnya terhadap perempuan untuk berperan aktif di semua bidang kehidupan dalam rangka pemberdayaan untuk menuju kesetaraan 80 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 .

Persentase Partisipasi Perempuan Di Lembaga Pemerintah Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah merupakan proporsi perempuan yang bekerja pada lembaga pemerintah terhadap jumlah seluruh pekerja perempuan. Saat ini juga tersedia beberapa fasilitas pendukung untuk perempuan dan anak yaitu Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di 23 kabupaten/kota.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh gender. Selain program tersebut Pemerintah Aceh Juga telah membentuk Gugus Tugas Perhapusan Perdagangan Perempuan dan Anak melalui Peraturan Gubernur Nomor 8 Tahun 2007 yang telah dilengkapi dengan Rencana Aksi Provinsi dan Standard Operational Procedure (SOP) PPT bagi perempuan dan anak korban kekerasan. program tersebut juga telah dibentuk di Kabupaten Bireuen. terutama disebabkan karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang keadilan dan kesetaraan gender. Aceh Barat dan Nagan Raya. Namun demikian. Bidang Pemberdayaan Perempuan masih terdapat beberapa kendala. Untuk mengetahui peran aktif perempuan dapat diukur dari partisipasi perempuan di lembaga pemerintah maupun swasta dan besarnya angka Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). A. terutama disebabkan karena kurangnya pemahaman 81 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 . Selain itu juga telah dibangun beberapa jaringan pelayanan seperti Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Provinsi Aceh bagi Perempuan dan Anak korban Kekerasan yang ditetapkan dengan Keputusan Gubernur Aceh Nomor 260/322/2006. beberapa kemajuan di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak telah dicapai antara lain telah ditetapkannya Qanun Nomor 11 Tahun 2008 tentang Perlindungan Anak dan Qanun Nomor 6 tahun 2009 tentang Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan. Bidang Pemberdayaan Perempuan masih terdapat beberapa kendala.

yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik. rasio KDRT ini sebesar 1. Dengan kata lain persentase pekerja di lembaga swasta didominasi oleh laki-laki. C. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 82 . Partisipasi Perempuan di Lembaga Swasta Persentase partisipasi perempuan di lembaga swasta merupakan proporsi perempuan yang bekerja pada lembaga swasta terhadap jumlah seluruh pekerja perempuan. psikologis. Begitu pula di lembaga DPR. Dari 46 posisi yang tersedia untuk kepala daerah kabupaten/kota.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh masyarakat tentang keadilan dan kesetaraan gender. pemaksaan. dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan. Selain itu. Di Provinsi Aceh. masih banyak terjadi kekerasan dalam rumah tangga dimana korbannya sebagian besar adalah perempuan. Data tahun 2009 menunjukkan bahwa terjadi 119 kasus kekerasan terhadap perempuan yang 93 di antaranya adalah kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). dari 69 kursi hanya 4 kursi yang ditempati perempuan. misalnya persentase perempuan di lembaga swasta di Kota Banda Aceh hanya sebesar 25. Rasio Kekerasan Dalam Rumah Tangga Kekerasan dalam Rumah Tangga merupakan setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan. hanya ada 1 yang dijabat oleh perempuan. Pada umumnya perempuan yang bekerja pada lembaga swasta masih sangat rendah.13%.28 persen. B. atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. seksual. Hal ini terlihat sangat kurangnya perempuan yang menduduki posisi di lembaga legislatif. eksekutif ataupun yudikatif. Walaupun demikian persentase perempuan di lembaga pemerintah seperti Kota Banda Aceh cukup tinggi yaitu sebesar 74.7 persen.

2007). Rasio Akseptor Keluarga Berencana Gambaran mengenai Akseptor Keluarga Berencana (KB) di Provinsi Aceh menunjukkan bahwa persentase perempuan berusia 15-49 tahun dan berstatus kawin yang menjadi akseptor KB pada tahun 2005 dan 2009 mengalami Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 83 .42 persen. Hal ini berarti tingkat penurunan rata-rata daripada angka fertilitas di Provinsi Aceh adalah 7. Angka fertilitas didefinisikan sebagai jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang wanita sampai pada akhir masa reproduksi (usia subur). Di provinsi Aceh tidak terdapat persentase jumlah tenaga kerja di bawah umur. hal ini karena rata-rata anak yang bekerja sifatnya hanya membantu orang tua dan bukan bekerja sendiri. Persentase Jumlah Tenaga Kerja Dibawah Umur Persentase tenaga kerja di bawah umur merupakan proporsi pekerja anak usia 5-14 tahun terhadap jumlah pekerja usia 5 tahun ke atas. B. D. sedangkan kabupaten lainnya tidak bisa dilihat karena KDRT tidak dilaporkan. angka fertilitas di Provinsi Aceh adalah 3. Apabila kita melihat kecenderungannya maka angka fertilitas di Provinsi Aceh menunjukkan tren menurun. pada tahun 1990 berjumlah 4.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Angka ini hanya dilihat dari Kota Banda Aceh. 2.6. pada tahun 1971 angka fertilitas total menurut Provinsi adalah 6. Rata-Rata Jumlah Anak Per Pasangan Usia Subur Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI.2. Hal ini mengindikasikan masih belum ada perlindungan anak.4.1. Anak dianggap masih memiliki nilai ekonomi dan seringkali anak dieksploitasi. Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera A.

Hal ini menunjukkan peningkatan kesadaran masyarakat dalam mendukung program keluarga berencana. Grafik Persentase Akseptor KB Provinsi Aceh Tahun 2005-2009 2.29. Sementera itu.8 Ghz dan jaringan VSAT. 8 unit telpon analog berbasis Voip.2.4. 2 remote client.10 persen. 3 BTS yang memiliki Wireless Akses Point yang bisa di gunakan oleh masyarakat secara gratis.20 persen menjadi 29. 8 unit personal komputer untuk telecenter bagi masyarakat.7. Gambar 2. di Provinsi Aceh terdapat 6 operator telekomunikasi seluler yang telah beroperasi melalui tower base transceirver station (BTS) di beberapa kabupaten/kota. Sedangkan untuk jaringan telekomunikasi yang terkoneksi di sejumlah Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) dan 23 Kabupaten/kota menggunakan teknologi Wireless 5. Komunikasi dan Informatika A.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh kenaikan dari 23. Jumlah Jaringan Komunikasi Dishubkomintel (2009).3. Jumla tower dan operator seluler secara lengkap disajikan dalam Tabel 2. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 84 . pada setiap kabupaten/kota tersedia 1 Noc kabupaten.

Hutchinson CP PT.29 Jumlah Tower dan Operator Selular Jumlah Tower Operator Selular No Kab/Kota PT.Telkomsel PT. Sampoerna PT.Telkom PT. jasa komunikasi juga dilayani melalui pelayanan pos yang sudah menjangkau ke pelosok dan daerah terpencil. Exelcomindo PT.Indosat Telekomunikasi Freen Smart Telkommunications Pratama Tbk Indonesia 3 5 5 4 2 14 19 10 5 11 14 11 10 6 6 4 5 1 6 4 6 5 5 9 1 5 1 160 5 7 38 67 38 11 36 35 27 29 11 11 16 10 6 14 14 23 14 12 26 3 10 13 471 6 4 1 7 3 1 1 6 2 4 1 1 2 1 1 6 1 2 1 45 7 2 9 25 10 5 9 11 12 7 3 5 5 4 1 5 2 5 7 6 12 2 4 2 153 8 2 2 6 1 2 2 2 17 9 8 2 3 1 14 10 3 7 1 1 12 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sabang 2 Banda Aceh Aceh Besar Pidie Pidie Jaya Bireuen Aceh Utara Lhokseumawe Aceh Timur 10 Langsa 11 Aceh Tamiang 12 Aceh Tengah 13 Bener Meriah 14 Gayo Lues 15 Aceh Tenggara 16 Aceh Jaya 17 Aceh Barat 19 Nagan Raya 18 Aceh Barat Daya 20 Aceh Selatan 21 Subulssalam 22 Aceh Singkil 23 Simeulue Jumlah Sumber : Data Dishubkomintel. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 85 . 2009 Selain itu.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Tabel 2. namun baru mencapai 75 persen wilayah ibu kota kecamatan.

05. Rasio Wartel/Warnet Terhadap Penduduk Berdasarkan data BPS (2009).000 penduduk adalah 0.24%). Dengan kata lain 5 wartel/warnet melayani 100. Secara umum media cetak nasional yang beredar di Aceh sampai ke tangan pembaca pada siang/sore hari. Pro Haba dan Raja Post. Sedangkan media cetak lokal yang beredar di Provinsi Aceh antara lain Serambi Indonesia. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 86 . Media Cetak Nasional/Lokal Media cetak nasional yang beredar di Provinsi Aceh sampai tahun 2010 antara lain Kompas. C. Republika. Analisa.000 penduduk. Suara Pembaruan Indonesia.24%) dan untuk perdesaan (3. The Jakarta Post. Demikian halnya terhadap beberapa media lokal Aceh di beberapa daerah mengalami keterlambatan karena jarak tempuh yang jauh dari tempat percetakan. Koran Tempo dan Bisnis Indonesia. jumlah wartel/warnet di Provinsi Aceh sebanyak 211 unit yang tersebar di kabupaten/kota. Jika dibandingkan antara rumah tangga pengguna internet di perkotaan dengan perdesaan persentase penduduk yang menggunakan internet di perkotaan jauh lebih tinggi yaitu masing-masing untuk perkotaan (19. Persentase penduduk yang menggunakan Internet masih relatif kecil yaitu sebesar 7. Rasio wartel/warnet terhadap 1. Jumlah wartel/warnet ini masih terlalu rendah dibandingkan dengan jumlah pengguna. Harian Aceh.01%. Rakyat Aceh. Harian Independen.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh B. Metro. Hal ini disebabkan semua media cetak nasional dicetak di luar Aceh sehingga memerlukan waktu yang lama untuk sampai di Aceh. Media Indonesia. Waspada. Seputar Indonesia.

051. Aceh Tengah 2 unit (70%).86 persen. 2010) luas lahan yang terdaftar mencapai 1. komunitas 1 unit (RajawaliTV) dan televisi swasta nasional yang telah membuka kantor jaringannya di Aceh diantaranya MetroTV. Persentase Luas Lahan Bersertifikat Berdasarkan data dari Badan Pertanahan Nasional Provinsi Aceh (September. Hak Guna Bangunan (HGB) 0. Secara terperinci jumlah maupun kondisi penyiaran radio yaitu Banda Aceh 20 unit (100%). Singkil 2 unit (60%).01 persen. Gayo Lues 2 unit (70%). Aceh Tamiang 1 unit (60%). Aceh Utara 9 unit (90%). Sedangkan luas lahan yang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 87 . Lembaga penyiaran radio tersebut terdiri dari Lembaga Penyiaran Publik.2. Aceh Besar 14 unit (100%). TransTV dan SCTV.03 persen. jumlah lembaga penyiaran radio di Provinsi Aceh sebanyak 112 unit yang tersebar di 18 kabupaten/kota. Aceh Timur 6 unit (90%). RCTI. Jumlah Penyiaran Radio/TV Lokal Berdasarkan Dishubkomtel (2009).8. Pidie 10 unit (70%).628. Sementara itu. Simeulue 3 unit (60%). Subulussalam 1 unit (70%). di Provinsi Aceh juga terdapat Lembaga Penyiaran Televisi yang terdiri dari Lembaga Penyiaran Televisi Publik 1 unit (TVRI). 2.22 persen.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh D.4. Hak Guna Usaha (HGS) 50. Aceh Barat 8 unit (70%). Aceh Jaya 6 unit (40%). Swasta dan Komunitas. MNC. Kondisi lembaga penyiaran radio ini secara menyeluruh tidak dalam kondisi sempurna. swasta lokal 1 unit (AtjehTV). Nagan Raya 1 unit (50%). Hak Pengelolaan Lahan (HPL) 28.39 ha. Stasiun Televisi ini terdapat di Aceh Besar dan direlay ke sebahagian kabupaten/kota di Aceh. Pertanahan A. Hak Pakai (HP) 0.04 persen dan wakaf 0.84 persen. Aceh Selatan 13 unit (80%). Bireuen 18 unit (80%). Lahan yang terdaftar tersebut terbagi ke dalam beberapa jenis status lahan yaitu hak milik (HM) seluas 20. Aceh Tenggara 2 unit (70%).

Besarnya jumlah perpustakaan juga 88 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 .675.61 ha atau 81. Jumlah Perpustakaan Jumlah perpustakaan dihitung berdasarkan jumlah perpustakaan umum yang dapat diakses secara langsung oleh masyarakat yang beroperasi di wilayah Pemerintah Aceh. lingkungan. Sementara itu pemerintah pusat juga mempunyai program dalam pemberdayaan masyarakat dan desa seperti Program Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM). A.9. Adapun jumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Aceh tahun 2010 adalah 207 lembaga. 4.10.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh belum terdaftar mencapai (5. gender dan berbagai sektor pembangunan lainnya. 2.2.624.2.4. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (PER). Perpustakaan Perpustakaan adalah suatu wadah atau tempat di dalamnya terdapat bahan pustaka untuk masyarakat yang disusun menurut sistem tertentu dan bertujuan untuk meningkatkan mutu kehidupan masyarakat serta sebagai penunjang kelangsungan pendidikan. 2.4. Banyaknya jumlah perpustakaan akan menggambarkan kapasitas yang dimiliki oleh daerah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat pengguna perpustakaan.850 ha).221. Secara umum lembaga swadaya masyarakat ini bergerak pada bidang ekonomi. Program Kredit Peumakmue Nanggroe (PKPN) dan berbagai program lainnya yang dilaksanakan oleh berbagai lembaga swadaya masyarakat. kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (HAM).47 persen dari luas Aceh Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Pemerintah Aceh mempunyai beberapa model pemberdayaan masyarakat secara langsung yang dilakukan melalui berbagai program diantaranya Bantuan Keuangan Peumakmue Gampong (BKPG).

Rata-rata pengunjung perpustakaan per hari sebesar 1. Pengunjung perpustakaan dihitung berdasarkan pengunjung yang mengisi daftar kehadiran atau berdasarkan data yang diperoleh melalui sistem pendataan pengunjung.30). SMP/MTsN.410 unit. perpustakaan di instansi/lembaga. remaja. Tabel 2.277 orang dan per bulan sebesar 38. Pengunjung tersebar pada setiap ruang baca perpustakaan baik ruang baca dewasa. perpustakaan sekolah (SD/MIN.30 Jumlah Perpustakaan di Provinsi Aceh Tahun 2010 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 89 .294 orang. Pada tahun 2010. agama maupun ruang anak-anak (Tabel 2.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh menunjukkan ketersediaan fasilitas penunjang penyelenggaraan Pemerintah Aceh untuk meningkatkan mutu pendidikan dan kualitas sumberdaya manusia. Perpustakaan ini tersebar pada 23 kabupaten/kota berupa perpustakaan umum di kabupaten/kota. B. SMA/MAN dan Pesantren). Jumlah Pengunjung Perpustakaan Per Tahun Menurut Badan Arsip dan Perpustakaan Aceh (2010).528 orang. perpustakaan gampong/desa dan perpustakaan yang ada di puskesmas. Rumah Ibadah. perpustakaan di perguruan tinggi. jumlah perpustakaan di Provinsi Aceh sebanyak 1. Pengunjung perpustakaan di Provinsi Aceh pada tahun 2009 berjumlah 459. pengunjung perpustakaan merupakan pemakai perpustakaan yang berkunjung untuk mencari bahan pustaka dalam satu tahun.

Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja Per 10. keamanan dan menegakkan peraturan serta kebijakan Daerah. maka semakin tinggi tingkat partisipasi masyarakat dalam memperoleh informasi pendidikan. Sedangkan Pol. 2010 Tingkat pengunjung perpustakaan ini merupakan indikator efektifitas penyediaan pelayanan perpustakaan di daerah.000 Penduduk Untuk penyelenggaraan keamanan dan ketertiban masyarakat umum diperlukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Polisi Wilayatul Hisbah (Pol. Satpol PP mempunyai fungsi untuk membantu menyelenggarakan ketentraman.4. Semakin tinggi pengunjung perpustakaan.11.2. WH mempunyai tugas dan fungsi untuk melakukan pengawasan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 90 . 2. Banyaknya jumlah pengunjung perpustakaan menggambarkan tingginya budaya baca di daerah.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Perpustakaan Perpustakaan Umum Perguruan SD Kab/Kota Tinggi 3 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 17 4 51 5 0 0 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 62 5 18 4 3 2 4 6 8 3 6 3 2 3 4 8 6 2 7 2 4 2 4 2 1 104 Sekolah SMP SMA 6 14 6 5 4 5 6 5 4 6 6 3 4 3 8 6 4 6 4 2 2 4 2 1 110 7 11 5 4 2 2 3 2 2 2 2 2 2 1 5 5 2 3 2 1 2 4 2 2 68 No 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Kabupaten/Kota 2 Banda Aceh Aceh Besar Pidie Pidie Jaya Bireuen Aceh Utara Lhokseumawe Aceh Timur Langsa Aceh Taming Aceh Tenggara Aceh Singkil Subulussalam Aceh Selatan Aceh Barat Daya Nagan Raya Aceh Barat Aceh Jaya Sabang Bener Meriah Aceh Tengah Gayo lues Simeulue Jumlah MIN MTsN MAN Pesantren 8 4 2 1 2 2 1 1 1 2 2 1 1 1 3 2 1 3 1 1 2 2 0 0 36 9 2 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 2 2 1 1 1 1 1 1 0 0 27 10 4 2 2 1 1 2 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 1 34 11 12 7 2 2 2 3 2 3 1 2 0 2 1 2 2 1 2 0 0 1 1 0 0 48 Perpustakaan Instansi 12 25 3 2 1 1 3 3 1 2 1 1 1 0 3 2 0 2 0 1 1 2 0 0 55 Rumah Ibadah 13 7 2 2 0 1 3 1 2 1 1 0 1 0 2 2 0 1 0 1 2 2 1 0 32 Perpustakaan Gampong 14 31 64 54 27 53 68 17 53 21 44 42 29 16 40 42 29 47 18 15 29 35 17 16 807 Perpustakaan Puskesmas 15 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 0 10 Jumlah 16 181 103 78 42 74 99 43 75 46 67 54 47 28 75 71 42 76 29 29 44 60 26 21 1410 Sumber : Badan Arsip dan Perpustakaan. Penyelenggaraan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat A. WH).

WH per 10. Rasio jumlah Satpol PP per 10.92 yang bermakna bahwa setiap 3 orang Pol. Jumlah ini masih tergolong relatif kecil.000 Penduduk Kesbangpol dan Linmas (2010). sedang atau akan melakukan pelanggaran terhadap perundangundangan dibidang Syariat Islam di Aceh. Satpol PP dan Pol. Jumlah Linmas Per 10. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 91 . WH yang ada saat ini masih kurang sehingga personil Satpol PP dan Pol. Rasio anggota Linmas terhadap per 10.000 penduduk. B.000 penduduk adalah 2.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh terhadap pelaksanaan peraturan dan perundang-undangan dibidang Syariat Islam serta berwenang menegur.000 penduduk adalah 10.000 penduduk adalah 1.180 anggota Linmas (Perlindungan Masyarakat) di Provinsi Aceh. Apabila dilihat dari rasio jumlah penduduk Provinsi Aceh. menasehati dan melarang setiap orang yang patut diduga telah. WH perlu disesuaikan dimasa yang akan datang. Peran anggota Linmas dapat dilihat dari keikutsertaannya dalam menertibkan kegiatan Pemilu 2009 di Provinsi Aceh. Hal ini menunjukkan bahwa setiap 2 anggota Linmas melayani 10.9.29 yang bermakna bahwa setiap 10 personil Satpol PP melayani 10. 2010).255 personil (Profil PP dan WH. WH melayani 10.000 penduduk. menginformasikan bahwa terdapat 19. Pada tahun 2009 jumlah anggota Satpol PP sebanyak 4. WH sebanyak 1.422 personil dan jumlah Pol. Sedangkan rasio jumlah Pol.000 penduduk. Para anggota Linmas ini bertugas menjaga ketertiban masyarakat.

iptek dan politik. Menurut Dinas Pemuda dan Olah Raga Provinsi Aceh (2009).2. Pengurus Daerah Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PD PGSI). kepemimpinan dan partisipasi dalam berbagai bidang pembangunan seperti ekonomi. Pemuda Panca Marga. budaya. Pemuda Muhammadiah. Gerakan Pemuda Ansor. Anggota organisasi kepemudaan tersebut antara lain.4. Pemuda dan Olah Raga A. Organisasi olah raga yang terdapat di Provinsi Aceh sejumlah 17 organisasi. Pengurus Daerah Federasi Olah Raga Karate-do Indonesia (PENGDA FORKI). Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama. Organisasi Pemuda dan Olah Raga Menurut Dinas Pemuda dan Olah Raga Provinsi Aceh (2009). Pengurus Daerah Keluarga Olah Raga Tarung Derajat (PENGDA KODRAT) dan Pengurus Daerah Federasi Panjat Tebing Indonesia (PENGDA FPTI). Kegiatan Kepemudaan dan Olah Raga Kegiatan kepemudaan pada umumnya berkaitan dengan organisasi kepemudaan terutama dalam hal olah raga. jumlah organisasi kepemudaan di Provinsi Aceh sebanyak 63 organisasi yang terhimpun di bawah koordinasi Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).12.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh 2. Selain itu kegiatan kepemudaan mempunyai tujuan untuk membentuk karakter kebangsaan (nation building). Pemuda Muslimin Indonesia dan Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia. dan budaya prestasi dan sportifitas. kegiatan olah raga yang berkembang dalam masyarakat Aceh terhimpun di dalam berbagai Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 92 . B. Organisasi tersebut merupakan cabang dari kepengurusan organisasi di pusat antara lain. merupakan wadah berkumpul dan beraktivitasnya para atlet diberbagai kegiatan cabang olah raga yang diminati oleh masyarakat Aceh. Gerakan Pemuda Alwashliah. sosial.

57 rupiah.46 milyar rupiah.915 jiwa maka pengeluaran konsumsi rumah tangga perkapita sebesar 2. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 93 .50 dibandingkan dengan kelompok komoditi lainnya. kelompok peternakan memiliki NTP 98. Pekan Olah Raga Siswa Pesantren Nasional (POSPENAS) dan Pekan Olah Raga Nasional (PON). 2.293.1. dengan jumlah penduduk Aceh 4.396. Kelompok petani hortikultura memiliki NTP rata-rata 99.1. Pengeluaran konsumsi rumah tangga perkapita untuk makanan (pangan) sebesar 1.1.11 rupiah pertahun. Pekan Olah Raga Daerah (POPDA) dan untuk tingkat Nasional adalah Pekan Olah Raga Pelajar Nasional (POPNAS).36.13 dan kelompok perikanan memiliki NTP 99. Kerjuaraan tersebut antara lain untuk tingkat daerah Pekan Olah Raga Aceh (PORDA).332. Kelompok perkebunan rakyat memiliki NTP yang tertinggi yakni 103.5. Nilai Tukar Petani Nilai Tukar Petani (NTP) di Provinsi Aceh menurut BPS (2009) bervariasi berdasarkan kelompok komoditi yang diusahakan dengan NTP gabungan rata-rata sebesar 98.726.5.65.1.2.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh kejuaraan baik tingkat Provinsi maupun Nasional.68.5.522. Daya Saing Daerah Kemampuan Ekonomi Daerah Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Perkapita 2.5.54 rupiah dan untuk bukan makanan (non pangan) sebesar 956.935. 2. 2.683. Pengeluaran konsumsi rumah tangga atas dasar harga konstan 2000 tahun 2005-2008 menurut BPS (2009) sebesar 11.

248.610.48 rupiah dan sektor industri pengolahan sebesar 59. dimana pada sektor pertambangan dan penggalian sebesar 796.757.367.85 rupiah (Tabel 2.535.770.460. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 94 .48 rupiah yang disusul oleh sektor bank dan lembaga keuangan sebesar 60.06 rupiah dan sektor industri pengolahan sebesar 47.31).76 rupiah.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh 2.275.3.235. Secara umum nilai produktivitas tenaga kerja tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2007.5. Produktivitas Total Tenaga Kerja Daerah Pada tahun 2008 produktivitas tenaga kerja paling tinggi di Aceh masih didominasi oleh sektor pertambangan dan penggalian sebesar 612.387.130.1.892.565. Sedangkan sektor pertanian yang menampung tenaga kerja terbesar di Aceh hanya memiliki nilai produktivitas tenaga kerja sebesar 10.49 rupiah.567.82 rupiah yang disusul oleh sektor bank dan lembaga keuangan sebesar 58.

55 12.379.570.49 2.049.463.09 59.660 86.18 2.62 2.61 34.06 5.81 34.60 7.791.66 29.895.99 2.508.665.387.798 104.86 58.491.5%).234.04 20.437.30) Penurunan produktivitas total tenaga kerja Aceh lebih disebabkan oleh berkurangnya produktivitas di sektor pertambangan dan penggalian akibat turunnya lifting atau produksi migas Aceh.97 15.25 2.45 15.816 252.15 4.427 282.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Tabel 2.75 82.631.761 10. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 95 .516 82.294.37 2008 Org 4 786.165.12 1.770.67 20.84 1.874.96 22.09) 5.091.28 100. perdagangan.61 16.147.00 796.75 24.35 1.33 5. Hotel dan Restoran 7 Pengangkutan dan Komunikasi 8 Bank dan Lembaga Keuangan 9 Jasa-jasa JUMLAH Sumber: Bappeda.187.609.621.749 2008 % 6 22.464.09 persen pada tahun 2007.665. dimana kontribusi sektor ini terhadap produktivitas tenaga kerja total sebesar 71.085.31 Produktivitas Tenaga Kerja Per Sektor Ekonomi Tahun 2007 dan 2008 Berdasarkan Harga Konstan 2000 Total Tenaga Kerja No Sektor 2007 Org 1 1 Pertanian 2 Pertambangan dan Penggalian 3 Industri Pengolahan 4 Listrik dan Air Minum 5 Bangunan dan Kontruksi 6 Perdagangan.06 6.968.915 8.37 2.39 6.87 (11. Jika dilihat dari penyerapan tenaga kerja.75 5. 2010 (data diolah) PDRB Migas per Sektor 2007 Milyar Rupiah 5 8.596 257.157.82 71.48 0.851.535.367.130.581.43 5.67 92.460.178.530.223.248.06 2.16 0.76 5.81 4.80 20.191.69 2.235.46 523.853 88.93 (183.122.00 2008 % 10 Rupiah 11 % 12 Milyar Rupiah 7 8.296.914.46 60. Namun sektor ini memiliki nilai tambah produktivitas tenaga kerja yang paling rendah dibandingkan sektor lainnya.762 2.129.869.328.51 2.516.757. bangunan dan konstruksi.453.48 76.387.567.983.812 2.554.32 Produktivitas Tenaga Kerja per Sektor 2007 % 8 24.23) 1.48 5.20) (2.842 9.23 612. Adapun sektor-sektor yang mengalami peningkatan produktivitas tenaga kerja adalah pertanian.014.32 43.046.404.766.484.13 15.42) (1.00 Nilai Tambah Rupiah 13 6.377.926.998 35.747.477.96 4.66) 47.27 6.198 8.42 5.344 9.90 2.85 5.92 5.94 1.27 (1.93 persen tahun 2008 dan sebesar 76.24 100.282.59 2.41 23.09 100 (195.25 17. hotel dan restoran.18 25.930 248.27 12.691 103.89 550.23 5.799.210.03 1.651.31 851.504.162 75.86 19.565.610.550.688 1.49 2.49 1.366.301. Oleh karena itu sektor pertanian harus menjadi sektor prioritas dalam peningkatan produktivitas tenaga kerja. listrik dan air minum.892.49 Rupiah 9 2 3 780. sektor pertanian merupakan sektor yang paling tinggi menampung tenaga kerja (48.17 100 10.136.275.959.144.82 21.34 638.

650 54.430 2006 Aceh 320.57 4.839.436 ton pada tahun 2009.55 persen.02 persen yaitu dari 1. Produksi jagung mengalami peningkatan 22.30 ton/ha sedangkan nasional mencapai 4.109 Nasional 12.893 Nasional 11.21 4.435 1.287 juta ton pada tahun 2008 meningkat menjadi 1.717 Nasional 12.32 Produktivitas Padi Provinsi Aceh dan Nasional Tahun 2005-2009 TAHUN NO URAIAN Nasional 1 Luas Panen(Ha) 11.00 4.375 2 Produksi (Ton) Produkti-vitas (Ton/Ha) 54.748 57.556. 2010 Produktivitas jagung mencapai 3.32.533.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh 2.33 ton/ha sedangkan nasional sudah mencapai 5.00 ton/ha seperti yang ditampilkan pada Tabel 2.71 4.937 1.89 4.62 4.4.5.786.157.287 64.398. walaupun setiap tahunnya produktivitas tanaman pangan Aceh terus mengalami peningkatan namun masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan produktivitas rata-rata nasional. Sementara produktivitas kedele Aceh lebih baik dari rata-rata nasional yang mencapai 1.325.18 4.910 ton (2009).858 3 4. sedangkan Aceh sudah mencapai 1.350.425 2008 Aceh 329.33 ton/ha Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 96 .894 ton (2008) meningkat menjadi 137.327. Tabel 2.411.060 2005 Aceh 337.16 persen yaitu sebesar 112.637 2007 Aceh 360.885 ton pada tahun 2008 meningkat menjadi 63.25 4.925 1.369 60.576 2009 Aceh 359. Produktivitas padi di Aceh saat ini adalah 4. Produktivitas Pertanian Produksi komoditas pangan Aceh dalam beberapa tahun terakhir secara keseluruhan menunjukkan perkembangan yang positif.402.454.890 1.151.08 ton/ha.402.883. Produksi kedelai bahkan mengalami peningkatan yang luar biasa yaitu sebesar 44.789 Nasional 12. Produksi padi mengalami peningkatan sebesar 11.147.26 5.097 1.31 ton/ha. Dinilai dari sisi produktivitas. Komoditas pangan yang mengalami peningkatan produksi paling signifikan adalah jagung dan kedelai. dari 43.858 ton pada tahun 2009.556.1.33 Sumber : Badan Pusat Statistik.

791 19.190 orang PNS dan 1.322 5.188 13.855 ton/tahun (5.894 13.365 1.38 -9.119 orang yang terdiri dari 1.129 orang tenaga harian lepas.27 3.116 kelompok (Tabel 2.155 112. Tabel 2.899 3. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 97 .172 15.29 49.769 125. yang sudah berbadan hukum 114 kelompok dan yang belum berbadan hukum 1.69 6.33 Perkembangan Produksi Tanaman Pangan Menurut Komoditi Di Aceh Tahun 2007 .Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh dengan jumlah produksi sebesar 43.029 43.402 49.673 15. jumlah Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) yang sudah terbentuk 1.287 1.533.34).545.2009 No 1 2 3 4 5 6 7 Komoditi Padi Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Produksi (Ton) 2007 2008 2009 Perkembangan 2007 – 2009 (%) 0.402.13 -0.66 persen) atau menduduki peringkat ke empat nasional.885 63. 2009 Jumlah Tenaga Penyuluh Pertanian (PPL) yang tersedia sebanyak 3.777 1.436 7.369 1.971 6.338 41.142 Sumber: Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Aceh.558 38.55 -26.230 kelompok.10 1.

88 11. yang terdiri dari perkebunan rakyat seluas 699.938 Ha (13.00 4.062.00 100.709. yaitu 313.694 Ha (14.30%).00 2.00 4.813 Ha (34.435.679 ha (22.021.00 7.061.00 12. HUKUM 2 31 22 5 0 27 0 0 10 1 6 0 10 0 0 0 114 Sumber : Dinas Pengairan.401 ha (77. 2009 Sub sektor perkebunan telah memberikan sumbangan yang cukup berarti terhadap perekonomian dan telah mampu memberikan lapangan pekerjaan yang cukup luas bagi masyarakat dan secara langsung ikut mengurangi pengangguran.963. kemudian diikuti oleh nilam sebesar 32.86%).677.080 Ha.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Tabel 2.490.7%) dan perkebunan besar swasta seluas 200. yang diikuti oleh Karet 132.67 persen dari tahun 2008. Luas areal tersebut mengalami peningkatan sebesar 10.00 13.65 6.571. Berdasarkan jenis komoditas.48 persen.00 10. Peningkatan luas areal tertinggi terjadi pada komoditas kemiri yang mengalami kenaikan sebesar 57.111.79 178 194 139 181 35 121 51 20 10 12 57 25 60 67 73 7 1230 PERKEMBANGAN P3A B 16 2 14 10 0 15 0 0 10 6 0 0 17 1 0 0 91 PENGESAHAN AD & ART KEPDES 158 189 134 153 35 116 51 20 10 12 57 23 60 67 73 7 1165 SB 55 41 34 73 0 18 0 0 0 3 0 4 16 34 0 0 278 BB 107 152 86 99 35 88 51 20 0 3 57 21 19 32 73 7 850 CAMAT 94 115 53 111 6 60 3 10 10 7 38 1 30 41 27 0 606 BUPATI 55 53 47 77 4 50 2 4 10 7 21 1 30 38 27 0 426 B.150 Ha (11.05 106. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 98 .50 1.775.249.94 persen.025.00 213.10 15.158.30%).34 Jumlah Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) di Provinsi Aceh Tahun 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 KABUPATEN ACEH BESAR PIDIE BIREUEN ACEH UTARA ACEH TAMIANG ACEH TIMUR ACEH TENGAH BENER MEURIAH GAYO LUES ACEH JAYA NAGAN RAYA ACEH BARAT ACEH BARAT DAYA ACEH SELATAN ACEH TENGGARA SIMEULUE JUMLAH LUAS TERSIER JUMLAH (Ha) P3A 10.00 3.61 4. terutama terjadi pada areal perkebunan rakyat.304. kelapa sawit masih mendominasi luas areal perkebunan.74%) dan kopi 121. Luas perkebunan di Aceh sampai dengan tahun 2009 mencapai 900.54%) serta kelapa dalam 101.

tanaman belum menghasilkan sebesar 23.907 12.03 persen yang diikuti oleh kakao 225.706 118 19.082 1223 67 4221 2117 1.299 1.238 1.113 2. Pertumbuhan produksi tertinggi terjadi pada komoditas nilam yaitu 291.147 KOMODITI LOKAL (ACEH) 1 JARAK 0 2 PALA 5.495 156 14.697 670.644 217 2.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Tabel 2.875 20 5.51 persen dan tebu 103.9 5 CENGKEH 1. KOMODITI 2006 PRODUKSI 2007 2008 17.518 5 CASIAVERA 550 6 SEREWANGI 2089 7 JAHE 5098 8 KEMIRI 19.318 56.637 16.547 Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh Tahun 2009 Bila dilihat dari kondisi tanaman perkebunan rakyat bahwa dari total luas areal perkebunan rakyat (699.492 16.58 1.84 175.23 persen merupakan tanaman tua dan rusak.787 638 4 1.484 588 20.325 20 4.35 Produksi PRODUKSI Tanaman Perkebunan Rakyat Menurut Komoditi di Aceh TANAMAN PERKEBUNAN RAKYAT MENURUT KOMODITI DI ACEH 2006-2009 TAHUN 2006–2009* Tahun NO.135 453.216 33.921 5 48.956 9 AREN 1218 10 GAMBIR 67 11 SAGU 4075 12 KUNYIT 2958 13 KAPUK/RANDU 1.107 182 52. sedangkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 99 .447 61.866 2 KELAPA SAWIT 589.894 8 TEMBAKAU 396 9 KELAPA HYBRIDA 1.949 5 47. didominasi oleh tanaman menghasilkan sebesar 62.162 316.158 667 2273 4064 18.114 10 48.808 10 LADA 244 11 KELAPA DALAM 63.32 25.7 3 TEBU 34.34 persen.475 6 JAMBU METE 13 7 KOPI 41.423 61.60 persen.08 230 1.982 671 0 2257 11.216 252 64.705 622.304 740 66 2851 2001 1.401 ha).001 1.27 4 KARET 56.811 215 2.975 2.387 0 5.651 KOMODITI NASIONAL 1 KAKAO 14.30 persen dan sisanya sebesar 14.234 264.623 3 NILAM 77 4 PINANG 16.251 JUMLAH 249.03 53 2. Total produksi berbagai komoditas perkebunan pada tahun 2009 tidak mengalami peningkatan signifikan jika dibandingkan dengan tahun 2008.104 223 57.491 2009 23.

5 ton/ha/tahun dan kopi arabika 0.16 ton/ha/thn sedangkan kemungkinan produksi optimal dapat mencapai 15 ton/ha/tahun. Rendahnya produktivitas komoditas perkebunan tersebut diantaranya diakibatkan oleh kualitas bibit.451 Pertumbuhan 2009 (%) 9.308 2.430.172.015 190.593 184.36 Perkembangan Populasi Ternak Menurut Jenis Tahun 2008-2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Jenis Ternak Sapi Perah Sapi Potong Kerbau Kuda Kambing Domba Babi Ayam Buras Ayam Ras Petelur Ayam Pedaging Itik Puyuh Total Sumber: Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Populasi Ternak (ekor) 2008 32 641.835 31.904.00 3. Selama periode 2008-2009 total populasi ternak mengalami pertumbuhan yang fluktuatif.674.927 31.357 703.5 ton/ha/tahun.840.61 -3.00 3.799 1.73%). Produktivitas kopi robusta 0.452 ton serta inti sawit sebesar 129.763 3.045 ton Tandan Buah Segar (TBS) atau (46.596. umur tanaman.412 ton. Pertumbuhan populasi ternak dari tahun 2008 ke tahun 2009 meningkat sebesar 3.33 6.7 ton/ha/tahun sedangkan produktivitas optimal dapat mencapai 1.959 15.243 697. dan sistem pemeliharaan tanaman yang belum optimal.451 ekor. Secara umum produktivitas komoditas perkebunan di Aceh terutama perkebunan rakyat masih rendah seperti kelapa sawit produktivitasnya masih 2.60 2.99 4.939 2.89 10.97 persen (Tabel 2.51 0. Produksi kelapa sawit masih merupakan yang tertinggi diantara komoditas perkebunan lainnya yaitu sebesar 311.430.480.97 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 100 .426 157.36).093 280.899 ekor dan meningkat pada tahun 2009 menjadi 15.11 persen.93 17.118 299.889 Aceh Tahun 2010. Pada tahun 2008 total populasi ternak berjumlah 14.80 3.757 321 9. dan produksi minyak sawit sebesar 286.840.37 7. Tabel 2. 2009 35 688.00 3.887 1.346.028 14.081 333 8.869 181.662 3.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh produksi cengkeh mengalami penurunan yang sangat drastis sebesar -61.

meningkat dari 2. Begitu juga dengan telur.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Konsumsi daging dan telur di Aceh juga mengalami peningkatan.42 kg/kapita/tahun (2008). Produksi perikanan di Aceh selama tiga tahun terakhir mengalami pertumbuhan.86 persen.37 kg/kapita/tahun (tumbuh sebesar 9.396.57 kg/kapita/tahun (2009) atau tumbuh sebesar 13.240. Secara keseluruhan pertumbuhan rata-rata produksi perikanan selama 2007-2009 adalah sebesar 3.6 ton atau mengalami pertumbuhan sebesar 3. Namun pertumbuhan produksi perikanan yang terjadi selama tiga tahun terakhir walaupun tidak terlalu signifikan menandakan mulai pulihnya kembali sektor ini dari kehancuran. Pada tahun 2009 total produksi perikanan mencapai 172. Pada tahun 2008. dengan jumlah produksi pada tahun 2006 dan tahun mencapai 7.64 kg/kapita/tahun (2007) dan mengalami penurunan menjadi 17.907. konsumsi daging di Aceh sebesar 3.01 persen.75 kg/kapita/tahun (2008).22 persen.5 ton dan mengalami peningkatan sebesar 1.000 ton pada tahun 2008 dengan kenaikan rata-rata pertahun sebesar 7.000 ton dan tahun 2007 meningkat lagi menjadi 8.52 persen terhadap produksi tahun 2007 yang hanya mencapai sebesar 165.37 kg/kapita/tahun (2007) dan 7.490. Perikanan dan kelautan merupakan sektor yang mengalami kehancuran sangat fatal pada saat bencana tsunami.77%).000 ton serta menjadi 8.962.710. Produksi perikanan nasional juga mengalami peningkatan.27 kg/kapita/tahun (2008) menjadi 2.24 persen dengan perincian pertumbuhan tahunan 101 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 . Sedangkan konsumsi daging rata-rata nasional adalah sebesar 8. Konsumsi telur rata-rata nasional sebesar 20.07 kg/kapita/tahun meningkat pada tahun 2009 menjadi 3.6 ton. Pada tahun 2008 total produksi perikanan Aceh adalah sebesar 167.

606. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 102 .274 unit.1 2.643.1 ha pada tahun 2009.9 0. kembung.94%).3 2.5 2. Klasifikasi luas budidaya perikanan untuk masing-masing jenis dapat dilihat pada Tabel 2. Kelompok udang dan bandeng memberi sumbangan terbesar dari subsektor budidaya perikanan. 4.606.99 2009 48.9 46. 2008 Dari sisi jumlah armada perikanan sebagian besar kapal ikan bermotor yang digunakan oleh nelayan Aceh adalah kapal motor yang berukuran lebih kecil dari 5 GT sejumlah 7.10 persen dari total 9. Tabel 2.140. 20-30 GT.4 3. 2009).3 3.8 ha meningkat menjadi 54.1 2.8 -1.41 persen dan perikanan budidaya sebesar 4.25 persen. selar. diikuti kapal motor berukuran 5-10 GT.28 persen.433.21 persen.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh produksi perikanan tangkap sebesar 3.422.675.85 persen dan 0.96 2008 47.130.37.412.412. tenggiri dan layang. Hal ini mengindikasikan bahwa daya jelajah kapal ikan Aceh relatif kecil.9 6.444.8 1. Luas usaha budidaya perikanan di Aceh pada tahun 2007 seluas 46. tongkol. 30-50 dan 50-100 GT dengan masing-masing persentase 12.07 1 Budidaya di Tambak 2 Budidaya di Kolam 3 Budidaya di Sawah 4 Budidaya di Keramba Total Pertumbuhan (%) Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh.3 3. sehingga potensi perikanan Aceh di laut lepas tidak termanfaatkan secara optimal (Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh.756. 1. 10-20 GT.4 54.135 unit (76.2 53.545. cakalang.63 persen.533.37 Luas Usaha Budidaya Perikanan Tahun 2007-2009 No Klasifikasi Luas Areal (Ha) 2007 403. Produksi perikanan tangkap umumnya didominasi oleh kelompok ikan pelagis seperti tuna. 4.0 3.

38 Jumlah Prasarana Perikanan Provinsi Aceh Tahun 2005 .Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Prasarana perikanan seperti pelabuhan perikanan mengalami peningkatan dari tahun 2005 sebanyak 17 unit meningkat menjadi 26 unit pada tahun 2009. 27.5. Indikator-indikator utama perbankan seperti rasio kecukupan modal (CAR) dan rasio kredit bermasalah (NPL) menunjukkan perkembangan yang cukup baik.1. Dari sisi kredit perbankan Aceh mencatat Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 103 . Total aset tahun 2009 turun 2. Perbankan Kinerja perbankan di Aceh semakin membaik sejak berkhirnya konflik dan pasca tsunami. sementara itu fasilitas lainnya tidak mengalami peningkatan (Tabel 2.2009 No Jenis Fasilitas Jumlah Fasilitas (unit) 2005 2006 2007 2008 2009 1 2 3 4 5 6 Pelabuhan Perikanan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Cold Storage Pabrik Es Hatchery Balai Benih Ikan (BBI) Total 17 30 8 38 143 14 250 18 30 8 40 143 17 256 18 31 8 40 143 17 257 18 31 8 40 143 17 257 26 31 8 40 143 17 257 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh.5. NPL tetap terjaga dibawah 5 persen.38). Walaupun mencatat pertumbuhan total aset yang negatif namun penyaluran kredit memperlihatkan pertumbuhan yang signifikan.85 persen (Rp. Hal ini diperkirakan karena berakhirnya masa rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh. 2009 2.79 Trilyun) dibanding tahun 2008 (Rp 28. Sejalan dengan perbankan nasional perbankan Aceh juga terus menunjukkan kinerja yang positif. Tabel 2. sedangkan CAR masih berada pada level 17 persen jauh berada dibawah level minimal yang ditetapkan BI (8%).55 Trilyun).

67 persen. Industri. 2.78 Trilyun. Per November 2009 total aset perbankan syariah menunjukkan peningkatan dari 1. 2005 sebesar 15. Dalam mendukung pembiayaan UMKM di Aceh per November 2009 penyaluran kredit tumbuh 29.267 unit atau Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 104 .38 persen. jumlah usaha industri kecil menengah sampai tahun 2008 adalah 21. Disamping itu Kinerja Bank Syariah pun terus meningkat. Industri Aceh hanya mengandalkan kepada industri pengolahan dari migas. namun terus mengalami penurunan seiring dengan menurunnya produksi migas Aceh.35 persen dengan porsi 63. dari sisi pembiayaan juga mengalami peningkatan signifikan dari 0.56 persen. Sedangkan pada indutri non migas distribusinya terhadap pembentukan PDRB yaitu pada tahun 2004 sebesar 3.57 persen. Dari jenis industri.90 persen.6.5. Peningkatan terjadi pada semua jenis kredit dengan pertumbuhan tertinggi terjadi pada kredit modal kerja yang tumbuh 37.1.15 persen. Industri Sektor industri belum memberikan kontribusi yang berarti terhadap penyediaan lapangan kerja dan penyerapan tenaga kerja serta pembentukan PDRB. atau tumbuh 2. 2006 sebesar 13. harapan besar tertumpu pada pengembangan industri non migas sedangkan industri migas dalam jangka panjang tidak dapat diandalkan.81 Trilyun atau tumbuh 51.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh pertumbuhan sebesar 31.54 Trilyun menjadi 0.50 persen dan tahun 2008 sebesar 11.96 persen dan tahun 2008 sebesar 4. Berdasarkan kontribusi nilai tambah PDRB selama lima tahun terakhir di atas.34 Trilyun. meningkat dari 9. Perdagangan dan Ekspor / Impor A.35 persen.16 persen. 2006 sebesar 3.10 persen. 86 persen. 2005 sebesar 3. 2007 sebesar 12. Distribusi sektor indutri migas terhadap PDRB pada tahun 2004 sebesar 18.56 persen.74 Trilyun menjadi 1.74 persen dari total kredit yang disalurkan.55 persen.38 Trilyun menjadi 12. 2007 sebesar 3.

Industri Besar 3.574.1 triliyun rupiah (2009).000.000.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh meningkat sekitar 5. 1.000. Tabel 2.000. investasi mengalami peningkatan dari 146.39 menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja dibidang industri pada tahun 2007 sejumlah 75.000. namun untuk jumlah industri besar tidak mengalami peningkatan dalam kurun waktu dua tahun terakhir yaitu sejumlah 8 unit (Tabel 2.686 4.652 8 112.000.911.161 orang (2009).548 70. Perdagangan Masalah dan tantangan terbesar yang akan dihadapi oleh sektor perdagangan adalah semakin melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia sebagai dampak lanjutan dari krisis global.574. Unit Usaha a.000 2008 21.548 orang meningkat menjadi 112. Investasi a.223 8 75. yang akan berakibat pada melemahnya permintaan dunia dan aktivitas produksi global.000 146.083.660 35.083.000 146.563 147. Industri Besar 2.017 146. Industri Besar Uraian Satuan Unit Unit Unit Orang Orang Orang Rupiah Rupiah Rupiah 2007 20.000.000 2009 35. Selanjutnya.066.161 107. Pembentukan IMT-GT dapat dikatakan merupakan tindak lanjut dan penegembangan kerja sama di antara pengusaha-pengusaha swasta dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 105 .000.107.977. Akibatnya.000 403.000.000 337.000. Industri Kecil & Menengah b.598 4.017 492. Tenaga Kerja a.000.231 unit.000.000.39). Tabel 2.000.91 triliyun rupiah (2007) menjadi 147.574.107. tingkat persaingan produk ekspor di pasar global akan semakin ketat dan harga komoditas belum menggembirakan.259 8 80.563 146.985 4.231 20.249 75.39 Perkembangan Industri Tahun 2007 .267 21.12 persen dari tahun 2007 atau sejumlah 20. Industri Kecil & Menengah b.2009 No. Industri Kecil & Menengah b.000 B.563 146. Namun peningkatan ini tidak terlalu signifikan.

Kerjasama IMT-GT sendiri sudah bermula sejak tahun 1991 dan diresmikan dalam pertemuan di Langkawi pada bulan Juli 1993. Akibatnya. kita pun mengkhawatirkan dominasi produk luar negeri di pasar domestik. Malaysia. Namun sampai saat ini pelabuhan bebas Sabang belum berkembang secara optimal. undang-undang nomor 26 tahun 2006 tentang penataan ruang menetapkan Sabang sebagai PKSN. Negara-negara ASEAN telah setuju mewujudkan kawasan perdagangan bebas dimana akan membuat pasar kita jadi sasaran empuk bagi negara lain. daya saing produk luar sangat mendominasi beberapa tahun ini terutama China. Tingginya daya saing produk luar negeri harus diantisipasi dengan peningkatan daya saing produk lokal. Tingkat sumber daya keuangan Aceh diperkirakan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. Disisi lain. Thailand yang telah mempunyai hubungan historis karena posisi wilayahnya yang berdekatan. Sejak tahun 1999 sumber daya fiskal Aceh mengalami peningkatan yang signifikan. Pendapatan tersebut terutama karena adanya UU Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh yang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 106 . Untuk mendukung ekpor/impor Indonesia wilayah barat. Sabang ditetapkan sebagai pelabuhan bebas dengan undang-undang nomor 27 tahun 2000 tentang Badan pengelolaan Kawasan Sabang. Aceh merupakan salah satu daerah penerima manfaat desentralisasi. Kerja sama IMT-GT dilakukan untuk mengusahakan kompleksitas sumberdaya yang dimiliki ketiga negara sub-wilayah ini. demikian juga dalam undang-undang nomor 11 tahun 2006 tentang pemerintah Aceh bahwa Sabang sebagai hubport internasional. Tantangan lain adalah adanya kemungkinan serbuan produk impor dari negara lain seperti pemberlakuan ACFTA.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Indonesia. Selama beberapa tahun terakhir Aceh telah menerima arus masuk pendapatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ekspor non migas termasuk komoditas pertanian terus mengalami perkembangan yang menggembirakan. Penanganan yang menyeluruh terhadap isu keamanan dan solusi yang kreatif terhadap keterbatasan terhadap pasokan sumber daya listrik di Aceh adalah faktor penting yang dapat mendorong investasi. Penetapan UMP Aceh 1. nilai ekspor Aceh mengalami perkembangan yang positif walaupun peningkatannya sedikit fluktuatif. Melalui UU tersebut Aceh mendapat hak berupa dana tambahan bagi hasil Migas dan dana otonomi khusus.2 juta rupiah per bulan lebih tinggi dari nasional berdampak terhadap tingkat daya saing Aceh dalam menarik investasi di sektor formal. Penerimaan Aceh dari dana otonomi khusus yang dimulai sejak tahun 2008 terus meningkat. Ekspor / Impor Kinerja ekspor Aceh secara umum cenderung mengalami peningkatan.234.854. C. Setelah mengalami kejatuhan pada tahun 2001. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 107 . Tahun 2007 nilai ekspor hanya mencapai USD 1.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh mulai diimplementasikan sejak tahun 2008. Akan tetapi hak tersebut terbatas pada masa waktu 20 tahun. demikian juga peningkatan produktivitas serta terjadinya proses ”transfer of knowledge”.23 Juta. Dimana melalui investasi swasta lapangan pekerjaan baru dapat tercipta. Nilai ekspor non migas juga mengalami perkembangan yang menggembirakan. Mendorong investasi swasta merupakan salah satu prioritas utama dalam penciptaan lapangan pekerjaan.13 juta. Setelah meningkat 5 kali lipat pada tahun 2007. Akan tetapi rendahnya produktivitas tenaga kerja. walau pun belum signifikan pengaruhnya terhadap total nilai ekspor. kemudian tahun 2008 meningkat menjadi USD 2. ekspor non migas meningkat tajam sampai 80 persen pada tahun 2008. minim tenaga kerja terampil dan relatif tingginya UMP masih menjadi masalah yang harus segera diatasi.

40. kondisi impor Aceh juga mengalami peningkatan. Seiring dengan nilai ekspor dan impor yang sama-sama menunjukkan kecenderungan meningkat.75 persen berasal dari negara-negara Eropa Barat seperti Inggris. nilai ekspor non-migas terutama komoditas pertanian masih sangat rendah. Namun demikian bila dibandingkan dengan nilai ekspor keseluruhan. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 108 . Kondisi ini tidak sehat dalam mendorong pengembangan industri daerah. Singapura dan Thailand. Negara tujuan ekspor utama Aceh masih didominasi oleh negara-negara Asia Timur seperti China. Tahun 2007 neraca perdagangan Aceh surplus sebesar USD 1. bahan makanan dan barang produk industri lainnya.65 juta menjadi 384. Pada tahun 2009 nilai ekspor kopi mencapai USD 22. Sisanya 12. Korea serta negara-negara ASEAN seperti Malaysia.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh meski dalam tahun tersebut terjadi krisis finansial global. Ekspor komoditas kopi dan kakao juga mengalami peningkatan.25 persen berasal dari negara Asia Timur dan ASEAN.59 juta dan tahun 2008 meningkat menjadi USD 1.66 juta. Sedangkan impor barang modal masih sangat kecil. Begitu juga dengan impor. Selanjutnya realisasi ekspor provinsi Aceh per komoditas periode 20052009 ditampilkan pada Tabel 2.823.89 juta.849. Tahun 2007 dan tahun 2008 nilai impor meningkat tajam dari USD 30.24 pada tahun 2008. Peningkatan nilai impor tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya impor barang-barang konsumsi rumah tangga. Sama halnya dengan ekspor. Pupuk merupakan komoditas ekspor non-migas yang mengalami peningkatan tertinggi. 87. Swiss dan Jerman serta dari Amerika Serikat. surplus neraca perdagangan luar negeri Aceh juga mengalami peningkatan. Jepang.

756.25 12.00 89.239.961.130.001.583.523.00 430.021.00 430.517.19 1.348.217.00 155.600.069.928.148.00 908.71 2.222.010.577.570.15 768.000.977.960.260.220.96 17.128.00 182.289.00 127.320.845.00 429.93 1.190.758.72 2.247.13 596.008.783.856.25 79.61 12.447.876.780.77 13.106.093.00 2.00 28.058.462.00 7.00 75.00 9.90 2.00 19.35 609.707.546.00 334.053.00 2.963.00 2.523.021.00 1.325.276.341.842.448.76 4.00 425.923.150.10 1.974.287.30 8.073.67 64.290.00 133.334.039.00 42.268.00 32.120.559.350.00 5.00 508.236.13 2.175.186.602.447.193.760.830.784.98 9.00 3.86 1.021.560.609.90 10.00 60.40 162.030.56 43.99 28.76 388.079.952.560.893.00 1.36 193.820.024.340.00 209.00 29.2009 No NEGARA TUJUAN NON MIGAS 1 2 3 4 ASIA TIMUR Taiwan Jepang Korea Cina 8.971.64 930.00 740.729.00 73.17 NILAI PER TAHUN (US$) 2005 2006 2007 2008 2009 JUMLAH (US$) ASIA SELATAN 5 India 6 Banglades 7 Srilangka 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 ASEAN Malaysia Vietnam Thailand Myanmar Philipina Singapura AMERIKA Amerika Serikat Kanada Meksiko Columbia AUSTRALIA & OCEANIA 18 Australia 19 Selandia Baru 20 21 22 23 24 25 26 27 EROPA Belgia Jerman Norwegia Belanda Inggris Irlandia Swedia Auburn AFRIKA 28 Maroko Jumlah Non Migas MIGAS Jepang Cina Korea Singapura Jumlah Migas 1 2 3 4 653.244.00 6.550.453.655.500.00 46.36 705.132.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Tabel 2.230.000.00 572.422.00 694.126.00 400.704.46 145.605.00 450.650.018.534.171.71 404.88 2.50 195.20 133.00 2.56 19.67 9.550.895.076.29 12.00 694.715.708.62 105.00 60.533.784.447.596.290.225.400.401.591.00 12.458.525.00 57.350.000.980.277.00 92.215.800.65 2.626.00 860.95 7.368.00 2.939.538.98 1.986.365.680.75 55.950.999.713.092.97 64.41 528.201.74 239.00 66.978.985.990.84 9.643.67 2.970.00 2.315.577.373.67 238.053.272.752.100. 2010 (Data diolah) Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 109 .38 10.125.672.32 265.00 53.01 2.16 245.899.00 780.920.380.20 43.942.800.250.736.584.360.00 123.00 6.169.00 976.78 5.33 281.67 17.00 90.00 1.75 90.939.893.00 2.665.429.800.282.00 306.112.928.577.660.854.343.206.250.40 1.37 3.294.13 9.250.087.00 150.02 418.510.42 Jumlah Non Migas + Migas Sumber : Bappeda Aceh.958.648.365.943.900.397.225.00 54.804.600.046.072.26 12.68 837.719.438.87 846.503.351.311.00 52.353.950.065.200.00 24.21 1.915.468.990.00 3.00 65.00 134.449.449.669.200.209.669.00 53.17 9.74 232.186.336.00 640.066.50 240.478.912.325.38 199.158.721.400.750.583.00 411.501.453.807.92 12.40 Realisasi Ekspor Provinsi Aceh Per Negara Tujuan Periode 2005 .744.002.00 3.705.749.55 2.340.600.504.317.00 3.044.144.048.156.049.00 47.349.88 2.705.617.128.504.00 126.390.10 2.399.197.706.36 435.830.00 9.33 55.00 949.78 54.503.00 18.000.804.416.946.449.02 827.397.00 133.146.093.915.449.83 9.49 4.740.00 1.620.756.450.000.00 45.400.76 12.00 886.95 76.315.524.700.052.

84 2.00 2.48 113.397.266.400.044.972.510.581.00 72.784.569.474.94 25.860.420.691.609.75 930. dan lain-lain pendapatan yang sah harus dimanfaatkan secara optimal dengan menerapkan prinsip efektif.227.090.350.87 126.73 1.00 32.249.625.023.76 53.820.113.990.860.48 124.00 513.411.000.289.366.392.809.227.00 246.500.60 2.5.563.988.030.666.17 2.281.50 1.215.42 94.70 1.62 65.00 4.05 6. efisien.18 17.563.342.600.305.175.00 10.365.48 1.53 593.852.750.00 26.413.400.879. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 110 .334.648.455.206.185.00 3.57 26.2009 No KOMODITI NON MIGAS A.1.00 11.57 1.10 719.432.82 42.00 234.526.00 3. Nilam Amoniak Pupuk Urea Pupuk Magnesium Urea Formaldehyde Tras Curah Sapu/Sikat Ijuk Kulit Kayu Manis Kertas Jumlah Non Migas 1 2 3 4 MIGAS LNG A.803.05 240.383.90 75.813.00 48.978.00 2.05 10.00 16.665.57 17.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Tabel 2.965.080.57 120.400.250.560.252.38 2.688.08 3. Hasil Non Industri Kopi Arabica Kopi Robusta Getah Alam Pinang Blangkas Magnesium Karbonat Alam Tempurung Kelapa Sawit Damar Madu B.00 135.779.800. transparan dan akuntabel.00 133.170.638.00 8.100.68 2.69 28.70 1.125.60 2.160.94 3.000. Dana Perimbangan.808.900.193.278.281.04 4.305.185.35 75.617.034.800.15 104.666.00 22.00 4.368.500.25 12.480.04 64.085.040.500.00 1.00 284.192.680.898.126.35 Jumlah Non Migas + Migas *) Ekspor Komoditi yang tercatat di Disperindagkop UKM Sumber : Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Aceh.491.00 16.512.00 626.318. Sumber Pendanaan Sumber pendanaan untuk pembangunan Aceh yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dana Otonomi Khusus yang sesuai dengan UU PA.00 4.00 24.726.67 3.202.280.282.209.815.26 825.459.114.915.00 72. Secara khusus Pemerintah Aceh harus memanfaatkan ketersediaan dana pembangunan yang berasal dari TDBH Migas dan dana otsus secara optimal.791.022. Hasil Industri Pasir Besi Curah Sabut Kelapa Arang kayu Akar Tongkat Ali dan M. Condensate Kerosene Naphtha Jumlah Migas 2005 2006 NILAI PER TAHUN (US$) 2007 2008 2009 JUMLAH (US$) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 10.769.669.82 266.180.420.600.972.669.425.94 5.00 37.479.00 - 18.000.00 35.524.536.031.28 12.540.563.00 4.36 11.00 54.258.00 9.979.00 - 94.946.226.278.054.04 231.262.000.71 2.000.618.919.190.28 2.7.00 - - 10.83 414.00 4.700.41 Realisasi Ekspor Provinsi Aceh Per Komoditi Periode 2005 .00 2.371.758.00 66.417.025. 2005-2009 2.50 3.307.606.749.631.135.064.761.50 42.51 212.975.00 1.501.798.499.708.982.25 11.00 25.

Kedua sumber dana tersebut digunakan untuk membiayai program pembangunan Aceh dan kabupaten/kota yang disepakati bersama antara Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota yang tujuan akhirnya adalah mewujudkan kesejahteraan masyarakat dengan memperhatikan keseimbangan pembangunan antara kabupaten/kota dalam wilayah Aceh. Selain mendapat TDBH Migas. Penggunaan sumber dana pembangunan Aceh yang berasal dari TDBH migas dan dana otsus tersebut diatas dijabarkan dalam rencana induk bidang infrastruktur. Masing-masing rencana induk ini harus berpedoman dan mengacu kepada RPJP Aceh 2005-2025. Secara rinci berbagai sumber pendanaan pembangunan Aceh ditampilkan pada Tabel 2. berdasarkan Pasal 183 ayat (2) UU PA.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Berdasarkan ketentuan Pasal 101 ayat (3) UU PA Pemerintah Aceh mendapat Tambahan Dana Bagi Hasil Minyak dan Gas Bumi (TDBH Migas) sebesar 55 persen (55%) untuk minyak dan 40 persen (40%) untuk pertambangan-gas bumi. pemberdayaan ekonomi rakyat.42. pengentasan kemiskinan serta pendanaan pendidikan. Pemerintah Aceh juga mendapat dana otonomi khusus setara dua persen (2%) pagu Dana Alokasi Umum (DAU) Nasional untuk tahun 2008 sampai dengan tahun 2022 dan setara 1 persen (1%) pagu DAU Nasional untuk tahun 2023 sampai dengan 2027. sosial dan kesehatan. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 111 . dan pembangunan dalam rangka pelaksanaan keistimewaan Aceh yang sesuai amanah Qanun Aceh Nomor 2 tahun 2008 tentang Tata Cara Pengalokasian Tambahan Dana Bagi Hasil Minyak dan Gas Bumi dan Penggunaan Dana Otonomi Khusus.

937. Juta) 2007 800.142 26.439.2. terdapat kesenjangan antara pelayanan transportasi. dan jaringan angkutan penyeberangan.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Tabel 2.825 39.777.371 1.43%) diikuti lintas barat (35.688 5.896 721. laut dan udara.562 8.92 persen (Buku Rencana Induk Otsus Migas.639 4.714.852.040.728.755 1.348. Perhubungan darat di Provinsi Aceh dibagi atas beberapa bagian jaringan transportasi seperti jaringan angkutan jalan raya.249 27.477 Sumber : Bappeda Aceh.513 1.318.2009 NO 1 2 3 4 5 6 DAK DAU DBH PAD APBN Dana Otonomi Khusus TOTAL SUMBER DANA TAHUN (Rp.672.008 2.034 18.2. Fasilitas Wilayah/Infrastruktur Aksesibilitas Daerah A. 2009 (Data diolah) 2.547 7.075 2009 1.551 743.5.150. Indeks pelayanan transportasi jalan pada tahun 2006 menunjukkan lintas timur mempunyai tingkat pelayanan lebih baik (43.555 18.747. Apabila dilihat dari pelayanan transportasi jalan.1.773 3. Juta) 2.424 2008 1.848.005. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 112 .207.282 22.708 12.706.978 TOTAL (Rp.694. 2.424 76.666.297 6.42 Perkembangan Sumber Pendanaan Pembangunan Aceh Tahun 2007 . Fasilitas Perhubungan Aksesibilitas daerah dapat ditinjau dari ketersediaan fasilitas perhubungan yang meliputi darat. 2010). jaringan angkutan sungai dan danau.378.241.846.337.5.049 6.561 1.833.525 3. jaringan jalan kereta api.49%) dan lintas tengah 30.590.

pembangunan jaringan kereta api Aceh baru mencapai 14.998 m). Jembatan nasional pada saat ini kondisi baik (jembatan baru) sebanyak 178 unit (3. Lintasan Lamteng (Aceh Besar) – Ulee Lheue (Kota Banda Aceh). Jaringan angkutan penyeberangan yang saat ini beroperasi di Provinsi Aceh terdiri dari 4 rute lintas penyeberangan. Untuk Provinsi Aceh. Angkutan perairan darat telah difungsikan oleh masyarakat pada aliran sungai Tamiang. Prasarana pelabuhan pada sungaisungai tersebut belum dibangun. kondisi baik sebanyak 310 unit (5.763 m. Saat ini hanya ditangani oleh fasilitas yang dibangun masyarakat dengan alat angkut yang tidak memadai.348 m). sementara jembatan yang masih rusak sebanyak 14 unit sepanjang 132 m.542 m). Demikian juga dengan angkutan danau di Danau Laut Tawar Kabupaten Aceh Tengah. Hingga tahun 2009. yaitu: Lintasan Balohan (Kota Sabang) – Ulee Lheue (Kota Banda Aceh).Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Provinsi Aceh (2009). Jaringan jalan kereta api Aceh merupakan bagian dari rencana pembangunan kereta api Sumatera lintas Timur (Sumatera Railways) yang menghubungi mulai dari Banda Aceh sampai dengan Lampung. sungai Simpang Kiri dan Simpang Kanan di Singkil. Lintasan Labuhan Haji (Aceh Selatan) – Sinabang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 113 .743 m). kondisi rusak sedang sebanyak 298 unit (8. jumlah jembatan pada lintasan jalan nasional sebanyak 916 buah dengan total panjang 21. jaringan kereta api ini menghubungkan antara Banda Aceh dan Batas Sumatera Utara yang direncanakan sepanjang 486 km. kondisi rusak ringan 116 unit (3.7 km atau tiga persen dari total yang direncanakan yang menghubungkan Krueng Mane-BungkahKrueng Geukuh. Krueng Meureubo dan Suak Seumaseh di Aceh Barat.

Pelabuhan yang dikelola PT. sebagian telah diperbaiki dan pada saat ini telah berfungsi dengan baik. Beberapa pelabuhan yang telah memiliki fasilitas crain adalah pelabuhan Malahayati. Aceh Besar. Ini terkait dengan kelengkapan sarana dan prasarana. pelabuhan Singkil di Kabupaten Aceh Singkil. pelabuhan Krueng Geukuh dan pelabuhan Sabang untuk mendukung kegiatan ekspor-impor. pelabuhan Tapak Tuan di Kabupaten Aceh Selatan. Hampir seluruh pelabuhan laut tersebut belum berfungsi secara optimal. pelabuhan Susoh di Kabupaten Aceh Barat Daya. Pelabuhan yang dikelola oleh kantor pelabuhan (Kanpel) adalah pelabuhan Singkil di Pulo Sarok. pelabuhan Idi di Kabupaten Aceh Timur. Namun masih diperlukan pembangunan terhadap dermaga penyeberangan di Aceh Barat. Beberapa prasarana penyeberangan pernah hancur oleh bencana alam gempa bumi dan gelombang tsunami pada tahun 2004. Lintasan Singkil (Kabupaten Aceh Singkil) – Pulo Banyak (Kabupaten Aceh Singkil) – Sinabang (Kabupaten Simeulue). pelabuhan Meulaboh di Kabupaten Aceh Barat. pelabuhan Sinabang di Kabupaten Simeulue. Aceh Singkil. pelabuhan Kuala Langsa di Kota Langsa. Namun kegiatan ekspor-impor ini tidak didukung oleh ketersediaan komoditas 114 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 . Pelabuhan Indonesia (Persero) di Provinsi Aceh antara lain : pelabuhan laut Malahayati di Krueng Raya Kabupaten Aceh Besar. pelabuhan Calang di Kabupaten Aceh Jaya. pelabuhan Sabang dan pelabuhan Balohan di Kota Sabang dan pelabuhan Krueng Geukeuh di Kota Lhokseumawe.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh (Simeulue). Kabupaten Aceh Singkil. Pelabuhan yang tersedia di Provinsi Aceh terdiri dari pelabuhan yang diusahakan dan dikelola oleh PT Pelindo (BUMN) dan pelabuhan yang tidak diusahakan dan dikelola oleh Kantor Pelabuhan (Kanpel) UPT Kementerian Perhubungan. dan Pulau Banyak.

tangki penyimpanan. Menurut WFP (2009). Sementara itu. Dengan kata lain. Dishubkomintel 2009.741 ton. dan Kuala Langsa dibutuhkan pengerukan sedimentasi yang berkelanjutan dan fasilitas sisi laut seperti : perpanjangan dermaga. gudang.327 ton. dan peralatan navigasi. dan perkantoran. demikian halnya terhadap barang yang diangkut. dolphin dan berthing dolphin untuk kebutuhan tangker. sedangkan fasilitas sisi darat seperti : lapangan penumpukan. untuk pelabuhan Sabang. Krueng Geukuh. B. Malahayati.000 m sudah dapat melayani pesawat jenis Airbus seri 340 dan telah dapat melayani penerbangan jemaah haji embarkasi Aceh dan sebagai bandara transit untuk penerbangan jemaah haji wilayah timur Indonesia serta penerbangan ke luar negeri lainnya. jumlah orang yang terangkut melalui bandara sebesar 646.853 orang dan barang 803.549.407. peralatan keselamatan. Sementara itu.586 ton. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 115 . Secara keseluruhan jumlah orang yang terangkut melalui pelayanan kendaraan umum yang terdata (2009) sejumlah 1. Jumlah Orang/Barang Yang Terangkut Kendaraan Umum Melalui Dermaga/Bandara.776 orang dan barang 3.211. bandara lain pada umumnya hanya mampu melayani pesawat udara jenis CN-212. jumlah orang yang terangkut melalui dermaga di Provinsi Aceh sejumlah 902. Bandar udara Sultan Iskandar Muda dengan panjang landasan 3. Dari data tersebut menunjukkan bahwa jumlah orang yang terangkut melalui dermaga lebih besar dari bandara.629 orang dan jumlah barang yang terangkut 4. pengangkutan orang maupun barang lebih banyak menggunakan jasa pelayanan melalui dermaga.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh ekspor dengan skala ekonomi yang memadai sehingga terjadi trade imbalance di provinsi ini.

penggaraman. Hutan Lindung (HL) dan Kawasan Lindung di Luar Kawasan Hutan (KLDK). danau.439 ha.2. semak) seluas 229. persawahan (311.591 ha). Penataan Wilayah Penataan wilayah di Provinsi Aceh difokuskan pada penetapan kawasan lindung dan kawasan budidaya. Sedangkan penggunaan lahan untuk budidaya dan penggunaan lainnya adalah terdiri dari perkampungan (117. Cagar Alam Jantho (16. Kawasan lindung yang memiliki nilai strategis di Provinsi Aceh antara lain adalah Taman Nasional Gunung Leuser (623.050 ha).049 ha).Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh 2.665 ha). sejenis) seluas 3. rusak. kebun (305. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 116 . alang-alang. padang (padang rumput. perairan darat (kolam air tawar.461 ha).500 ha) di Kabupaten Aceh Selatan dan Aceh Singkil. Suaka Marga Satwa Rawa Singkil (102. Aceh Barat Daya dan Aceh Tenggara. perkebunan besar (691.987 ha) yang secara administratif wilayahnya termasuk di dalam Kabupaten Gayo Lues. belukar.220 ha) di Kabupaten Aceh Besar dan Pidie. Data ini menunjukkan bahwa penggunaan lahan hutan masih mendominasi yaitu 61. 2009).2.5. waduk. Taman Laut Pulau Weh Sabang (2.925 ha. Taman Buru (TB). Berdasarkan jenis dan fungsinya kawasan lindung yang memiliki nilai strategis di Aceh diperuntukkan sebagai Hutan Suaka Alam (HSA).600 ha) di Kota Sabang (BPS.292 ha dan tanah terbuka (tandus. Hutan Pelestarian Alam (HPA). Taman Lingge Isak (80.849 ha).640 ha) di Kabupaten Aceh Besar dan Taman Hutan Raya Pocut Meurah Intan (6.523. land clearing) seluas 44. 2009). tambak. pertambangan (115. Aceh Selatan. hutan (lebat. industri (3.928 ha).582 ha). pertanian lahan kering semusim (137. perkebunan kecil (51.726 ha.000 ha) di Kabupaten Aceh Tengah. rawa) seluas 204.43 persen dibandingkan dengan jenis penggunaan lahan lainnya (BPS.

dan lainnya (Profil Kesehatan Aceh.6 persen dari total rumah tangga. Fasilitas Bank dan Non Bank Jumlah bank di Provinsi Aceh tahun 2010 sebesar 38 bank yang terdiri dari 13 bank umum konvensional. pompa dan sumur terlindung) dan sumber air tidak terlindung (sumur tidak terlindung. jumlah Anjungan Tunai Mandiri (ATM) sejumlah 275 unit. 2009).2. pompa (4%). untuk jumlah kantor bank sebanyak 404 unit yang terdiri dari 1 kantor wilayah bank umum konvensional.378.6%).35%).2. air sungai). Rumah tangga yang memiliki akses terhadap sumber air terlindung sebesar 66. mata air tak terlindung. Ketersediaan Air Bersih Sumber air rumah tangga terdiri dari dua kelompok yaitu sumber air terlindung (air kemasan.81 ha yang terdiri dari hutan produksi (173.89 ha.13 ha ditambah dengan kawasan hutan produksi 173. rencana tata ruang Provinsi Aceh 2010-2030 (tahap finalisasi) menunjukkan bahwa luas kawasan lindung 3. maka luas total hutan di Aceh adalah 3. Selanjutnya kawasan budidaya strategis Provinsi Aceh seluas 353.73 ha. 15 kantor pusat BPR/S. 2.62 persen dari luas wilayah Aceh.3.872. 5 bank umum syariah.568.00 ha). Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 117 . Penggunaan sumur gali merupakan sumber air terbesar (60%) yang digunakan oleh rumah tangga di Aceh. 135 kantor kas serta 6 kantor fungsional.946. air kemasan (3. atau sebesar 68.5. 5 BPR dan 10 BPRS. 78 kantor cabang. Sisanya menggunakan sumber air Ledeng (23.5.2%).244.690. 2.4.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Sementara itu. 1 kantor pusat bank pemerintah daerah.376. ledeng.81 ha) dan pertanian pangan lahan basah (180.688. air hujan (3. Sementera itu.

dan air bersih perdesaan 79. 200 l/dtk dalam tahap pembangunan.507 l/dtk. Sedangkan sarana dan prasarana air bersih yang beroperasi 2. Selanjutnya rasio rumah tangga yang menggunakan listrik paling kecil di provinsi Aceh terdapat di Kabupaten Gayo Lues sebesar 92.5 l/dtk. dan perdesaan (135 desa) dengan kapasitas 722 L/dtk. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 118 . instalasi yang tidak beroperasi berkapasitas 676 l/dtk.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Sampai saat ini. Pemerintah Aceh hanya memfokuskan melakukan usaha pelayanan pada daerah-daerah terpencil yang belum terjangkau oleh PT PLN. 2.7 persen dan perdesaan 52.927 l/dtk. Persentase Rumah Tangga yang Menggunakan Listrik Persentase rumah tangga yang menggunakan listrik didominasi di perkotaan. yaitu: air bersih perkotaan 1. Rasio Ketersediaan Daya Listrik Pada umumnya pelayanan listrik Aceh dilakukan oleh PT.8 persen. Selanjutnya.5. Pada tinggkat nasional target MDGs (2015) perkotaan sebesar 67. Fasilitas Listrik dan Telepon A.406 liter/detik yang terdiri dari: sarana dan prasarana air bersih perkotaan dengan kapasitas 1.7 persen.5.10 persen sedangkan di kawasan pedesaan baru mencapai 4. yaitu: 476 l/dtk rusak.2.44 persen.037 l/dtk. PLN. Cakupan sarana air bersih perpipaan di kawasan perkotaan Aceh tahun 2008 sebesar 23. Sistem distribusi saat ini telah mampu mendistribusikan energi listrik sampai pelosok Provinsi Aceh dengan rasio elektrifikasi sampai Desember 2008 sebesar 87. air bersih IKK 450. pembangunan sarana dan prasarana air bersih telah ada di 23 kabupaten/kota.21 persen.5 l/dtk. dan 693 l/dtk tidak diketahui operasionalnya. B. ibu kota kecamatan (63 IKK) dengan kapasitas 757 l/dtk. dengan kapasitas terpasang 3.

010 807.391 45.27 89.61 97. Kabupaten Aceh Barat 2.775 95.654 15.187 59.15 79.87 94.04 96.067 83.34 100 100 98. dan tahun 2009 sebesar 51.19 94.350 20.66 100 100 100 94.198.875 18. Kabupaten Gayo Lues CABANG MEULABOH 1.727 995. Kota Banda Aceh 2.43 Rasio Rumah Tangga dan Desa yang Menggunakan Listrik Tahun 2010 No I Kabupaten/Kota CABANG BANDA ACEH 1.60 100 100 99.480 77.34 100 99.62 97.56 93.690 128.543 jiwa).03 92.54 99.137 35.263. Kabupaten Pidie 2.87 98. Kabupaten Bireuen 4.527 7. 2010 JUMLAH RT Rumah Tangga Berlistrik Rumah Tangga Belum Berlistrik Rasio Rumah Tangga (%) 100 99.772 jiwa).736.56 persen.305 39. Tabel 2.83 97. Kabupaten Aceh Tengah 5.48 97.08 96.690 129. Secara rinci persentase rumah tangga dan desa yang menggunakan listrik di provinsi Aceh ditampilkan pada Tabel 2.726 32.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh sedangkan rasio desa berlistrik paling kecil terdapat di Kabupaten Simeulue sebesar 79.215 7.435 89.975 43.81 81 Jumlah Desa Desa Berlistrik Desa Belum Rasio Desa Berlistrik Berlistrik (%) 54. Kabupaten Aceh Utara 3.732 30.88 99. Kabupaten Aceh Singkil 3. Kabupaten ABDYA CABANG SIGLI 1.65 93.085 18.699 38.212 27.85 93.69 86.29 persen dan meningkat menjadi 64.45 persen (1.329 89.03 92.031 42 863 1.229 30. Kabupaten Aceh Jaya CABANG SUBULUSSALAM 1.286 37. Persentase Penduduk yang Menggunakan HP dan Telepon Secara keseluruhan persentase jumlah penduduk yang menggunakan HP/Telepon pada tahun 2008 adalah 55.227 90 604 18 68 852 609 268 232 66 511 213 385 136 321 137 222 172 74 116 248 132 727 222 6.94 persen (3.44 96. Persentase pengguna HP di perkotaan pada tahun 2008 sebesar 74.230 4 12 2 10 24 23 10 22 28 14 23 8 6 7 193 100 99.150 19.448 31.537 jiwa).280 45.200 1.63 89. Kota Lhoksemawe 2.PLN Wilayah I Banda Aceh.245 543 534 796 756 370 717 188. Kabupaten Aceh Tenggara 5.899 16.214 312 1. Kabupaten Aceh Selatan 4.441 54.480 77.096 32. Kabupaten Bener Meriah CABANG LANGSA 1.067 83.557. Kabupaten Seumeulue 3.064 25.219 978 1.53 persen (3. Kota Langsa 2.106 35. Kabupaten Nagan Raya 4. Kabupaten Pidie Jaya ACEH Sumber : PT.43.532 51. Kabupaten Aceh Timur 3.889 jiwa).528 30.229 59.63 persen pada tahun 2009. Kota Subulussalam 2.67 96. Sedangkan untuk pengguna HP di perdesaan tahun 2008 sebesar 40.012 17.95 100 98.18 100 100 100 97 II III IV V VI C. Kota Sabang CABANG LHOKSEUMAWE 1.521 24. Kabupaten Aceh Tamiang 4.41 96. Kabupaten Aceh Besar 3.975 43.066 52. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 119 . tahun 2009 sebesar 81.423 90 600 18 68 840 607 258 208 66 511 213 362 126 299 109 208 149 66 110 241 132 727 222 6.019 94.633 28.106 111 421 1.107 17.15 99.413 1.305 39.59 99.88 persen (2.

6.679 jiwa) dan di perkotaan pada tahun 2009 sebesar 11.580.944 2.002 jiwa) dan tahun 2009 sebesar 1.77 pesen (76. Menurunnya pengguna Telepon di perkotaan disebabkan oleh beralihnya penggunaan alat komunikasi telepon ke HP.44 Persentase Penduduk yang Menggunakan HP/Telepon Tahun 2008-2009 No 1 1 2 3 4 5 Penduduk yang Memiliki HP Penduduk yang Memiliki Telepon PSTN Total Jumlah Penduduk yang Memiliki HP/Telepon Jumlah Penduduk Persentase Penduduk yang Menggunakan HP/Telepon Uraian 2 2008 3 2.2. Tabel 2.764 jiwa). Hal ini menunjukkan bahwa pengguna HP/Telepon di perkotaan lebih tinggi jika dibandingkan dengan daerah perdesaan. Kondisi ini menggambarkan penduduk perdesaan relatif lebih lambat mengakses arus informasi (Tabel 2. pengguna telepon di perdesaan tahun 2008 sebesar 1.5.214 194. namun persentase peningkatannya masih lebih rendah dibandingkan dengan daerah perkotaan. Ketersediaan Restoran A. Kelas dan Jumlah Restoran Menurut SK Menteri Pariwisata.117.157 4.96 persen (85.50 persen (579. 2010 (Data Diolah) 2. KM 73/PW 105/MPPT-85 menjelaskan bahwa Rumah Makan adalah setiap tempat usaha komersial yang ruang lingkup kegiatannya menyediakan hidangan dan minuman untuk umum.775. Pos dan Telekomunikasi No.830 217.524 jiwa).29 2009 4 2.223.44).63 Sumber : Bappeda. Sementara itu.527 2. Meskipun pengguna HP/Telepon di daerah perdesaan cenderung meningkat.833 55. Restoran adalah salah satu jenis usaha bidang jasa pangan yang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 120 .Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Jumlah pengguna telepon di perkotaan pada tahun 2008 sebesar 13.293.335.357 4.915 64.27 persen (491. Jenis.

Aceh Tengah dan Kota Langsa. jumlah restoran.5. terutama dalam menerima dan melayani jumlah kunjungan dari luar daerah. Sedangkan cafe umumnya terdapat di kota seperti Aceh Utara.2. Restoran. rumah makan dan cafe tersebar pada seluruh kabupaten/kota di Aceh. dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan untuk proses pembuatan. penyajian dan penjualan makanan dan minuman untuk umum.2%).7. Berdasarkan Disbudpar Aceh (2010).1%). Semakin banyaknya kunjungan orang dan wisatawan ke suatu daerah perlu didukung dengan ketersediaan penginapan. Sedangkan cafe adalah restoran lain yang mengutamakan penjualan makanan ringan seperti kue.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh bertempat di sebagian atau seluruh bangunan yang permanen. Rumah makan hampir merata terdapat di seluruh kabupaten/kota dengan angka tertinggin di Aceh Tengah dan Aceh Jaya. Ketersediaan restoran pada suatu daerah menunjukkan tingkat daya tarik investasi suatu daerah. rumah makan dan cafe di Provinsi Aceh sejumlah 648 unit yang terdiri dari restoran 92 unit (14. Kota Banda Aceh. penyimpanan. Banyaknya restoran dan rumah makan menunjukkan perkembangan kegiatan ekonomi suatu daerah dan peluang-peluang yang ditimbulkannya. 2. Semakin berkembangnya investasi ekonomi daerah akan meningkatkan daya tarik kunjungan ke daerah tersebut.7%) dan cafe 143 unit (22. rumah makan 413 unit (63. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 121 . Ketersediaan Penginapan Ketersediaan penginapan/hotel merupakan salah satu aspek yang penting dalam meningkatkan daya saing daerah. Adapun ketersediaan restoran yang paling tinggi terdapat di Banda Aceh dan Kota Langsa. kopi dan teh.

5. gubuk pariwisata (cottage). di Provinsi Aceh terdapat 202 penginapan yang terdiri dari 19 unit hotel berbintang dan 183 unit hotel non bintang.3. 2. 2. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 122 . termasuk dalam pengertian rumah penginapan adalah hotel.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh A. Iklim Berinvestasi Keamanan Sejak penandatanganan MoU Helsinki (RI dan GAM) pada tanggal 15 Agustus 2005. Kabupaten/kota yang memiliki hotel berbintang dan non bintang yang paling banyak adalah Kota Banda Aceh (38 unit). tingkat kekerasan di Aceh secara konstan terus menurun hingga tahun 2009. Jenis. Tingkat kekerasan di Aceh bahkan lebih rendah daripada daerahdaerah pasca konflk lainnya di Indonesia. Namun demikian bentuk baru daripada kekerasan meningkat terutama pada akhir paruh kedua 2008 dimana sekitar 100 orang tewas dalam kurun waktu 4 tahun terakhir (2005-2009) yang disebabkan oleh kekerasan yang berhubungan dengan kriminalitas. Periode setelah MoU Helsinki karakteristik kekerasan di Aceh berubah. Berdasarkan Disbudpar Aceh (2010).1. losmen. motel (motorist hotel). Kota Sabang (26 unit) dan Kota Langsa (19 unit) jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya. pesanggrahan (hostel). persoalan pribadi dan sebab-sebab tidak jelas lainnya. wisma pariwisata.5. pondok pariwisata (home stay). Demikian juga dengan jumlah travel yang terbanyak terdapat di Kota Banda Aceh (37 unit).3. penginapan remaja (young hostel). Penginapan tersebut tersebar pada 21 kabupaten/kota di Aceh. Kelas dan Jumlah Penginapan/Hotel Penginapan adalah perusahaan yang menyewakan ruangan penginapan untuk umum. dimana insiden hampir tidak pernah terjadi.

Kejahatan tersebut berupa pencurian.5. Kemudahan Perizinan Berdasarkan Peraturan Gubernur Aceh Nomor 13 Tahun 2009 tentang Standar Operasional Prosedur Pelayaanan Perizinan Bidang Sumber Daya Alam dan Non Sumber Daya Alam. Kesemua perizinan tersebut dapat dilayani secara satu pintu (one stop service).Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Berdasarkan laporan Polda Aceh (2010) terdapat 3 jenis kejahatan yaitu kejahatan konvensional. Sementara itu. Dalam proses perizinan Pemerintah Aceh telah membentuk Badan Pelayanan Perizinan Terpadu yang melayani perizinan diantaranya pendaftaran penanaman modal.772.151. Pada tahun 2009 total realisasi pendapatan pajak sejumlah 462. kejahatan transnasional dan kejahatan terhadap kekayaan Negara. dalam kurun satu tahun terakhir tercatat kegiatan unjuk rasa secara damai sebanyak 81 kasus. Sehingga rasio angka kriminal total (crime total) dengan jumlah penduduk per 10.90.250.63. terorisme. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PPB-KB).000 sebesar 17. korupsi dan illegal logging dengan total angka kriminal 7. waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proses perizinan berkisar antara 5 sampai 30 hari kerja dibidang sumber daya alam sedangkan proses perizinan dibidang non sumber daya alam 3 sampai 21 hari kerja. narkotika. 2. Pengenaan Pajak Daerah Provinsi Aceh memiliki beberapa sumber penerimaan pajak yaitu pajak kendaraan bermotor (PKB). pajak pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah dan pengambilan dan pemanfaatan air permukaan. persetujuan pemanfaatan ruang dan hak atas tanah.869 rupiah yang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 123 .2. premanisme. izin usaha. Sementara itu. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB).573 dan angka kriminal yang dapat diselesaikan sebesar 4. rasio angka kriminal yang dapat diselesaikan (crime clearent) per 10. tindakan asusila.5. 2.3.3.3.000 penduduk sebesar 9.

154 rupiah.529 rupiah.430 rupiah.630. Realisasi pendapatan pajak tahun 2009 tersebut tidak berbeda nyata (sedikit lebih rendah) dengan realisasi pajak tahun 2008 (464.040.468. 2. sehingga total pendapatan asli Aceh 743.942.453.822.299.913 rupiah).362. restribusi jasa usaha dan restribusi perizinan tertentu.260.104.354.165.881. sehingga total pendapatan retribusi Aceh tahun 2009 sebesar 12.434 rupiah (jasa umum).137 rupiah).205.45).392. retribusi Aceh (12.354.581. zakat (22. sejumlah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 124 .025 rupiah (Tabel 2.869 rupiah).479 rupiah (jasa usaha) dan 348.170.47%).772.151.865. pajak bahan bakar kendaraan bermotor sebesar 138.923 rupiah) dan lain-lain pendapatan asli Aceh yang sah (171. pajak pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah sebesar 1.502 rupiah).040.978.917 170.633 rupiah (0.017.317.526.000 rupiah (perizinan tertentu). Penurunan pendapatan pajak tahun 2009 hanya sebesar 2. Realiasi pendapatan dari sumber retribusi tersebut pada tahun 2009 sebesar 9.739.829 rupiah dan pajak pemanfaatan air permukaan sebesar 4.190. Pendapatan asli Aceh tahun 2009 terdiri atas penerimaan pajak Aceh (462. pendapatan bea balik pajak kendaraan nama kendaraan bermotor bermotor sebesar sebesar 147.183 rupiah). Pemerintah Aceh memiliki beberapa sumber pendapatan retribusi yaitu retribusi jasa umum.649.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh bersumber dari realisasi rupiah.362.153.913 rupiah.019. hasil pengelolaan kekayaan Aceh yang dipisahkan dan hasil penyertaan modal Aceh (75.892.

923 171.739.151.649. khusus untuk kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang sebagai suatu kawasan yang berada dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terpisah dari daerah pabean sehingga bebas dari tata niaga.45 Jumlah Pajak dan Restribusi Aceh No 1 1 Jenis Pajak 2 Penerimaan Pajak Aceh .183 22.Pajak Restribusi Jasa Umum .453.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Tabel 2.354.913 9.892.479 348.Pajak Restribusi Jasa Usaha .190.Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) .829 4.3.526.299.040.859 147.5.529 1.942.468.Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Permukaan Tanah Pajak Restribusi .154 138.903 2 3 4 5 Sumber : Bappeda 2010 (Data diolah) 2.917 170. dan pajak penjualan atas barang mewah.430 12. Pemerintah Aceh juga berwenang memberikan izin terkait dengan investasi dalam bentuk penanaman modal dalam negeri dan asing di bidang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 125 . Selanjutnya berdasarkan ketentuan dalam Pasal 167 UU Pemerintahan Aceh.772.881.362.630.019.025 743.Pajak Bea Balik Nama (BBN-KB) .260.822.017.000 75.865.434 2.392.153.977.170.205. Peraturan Daerah (Qanun) Pasal 155 ayat 3 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh mengamanatkan bahwa Pemerintah Aceh dan Pemerintah kabupten/kota melakukan penyederhanaan peraturan untuk terciptanya izin usaha yang kondusif bagi pertumbuhan investasi dan kegiatan ekonomi lain sesuai dengan kewanangan.Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBB-KB) . pajak pertambahan nilai.104.4.Pajak Perizinan Tertentu Hasil Pengelolaan Kekayaan Aceh Zakat Pendapatan Asli Aceh yg sah Total Jumlah 3 462. pengenaan bea masuk.Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah .

alih fungsi kawasan hutan. NAD Nomor 17 Tahun 2002 Qanun Prov. NAD Nomor 21 Tahun 2002 Peraturan Gubernur Aceh Nomor 13 Tahun 2009 Peraturan Gubernur Nomor 36 Tahun 2010 Penanaman Modal Tentang 3 Susunan Organisasi Tata Kerja Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Pelayanan Publik Pendelegasian Kewenangan Pemerintah Aceh Kepada Dewan Kawasan Sabang Tata Niaga Pemasukan dan Pengeluaran Barang melalui Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang dari dan ke Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Bantuan Luar Negeri dan Pinjaman Provinsi Pernyetaan Modal dan Kerjasama Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dengan Pihak Ketiga Pertambangan Umum Minyak Bumi dan Gas Alam Pengelolaan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Perizinan Kehutanan Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Izin Usaha Perikanan Pengelolaan Sumber Daya Alam Standar Operasional Prosedur Pelayaanan Perizinan Bidang Sumber Daya Alam dan Non Sumber Daya Alam Pedoman Perizinan dan Non Perizinan Penanaman Modal Sumber : Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Setda Aceh (2010).46. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 126 . yaitu penciptaan iklim kondusif bagi investasi. Beberapa qanun (peraturan daerah) dan Peraturan Gubernur yang telah selesai disusun disajikan pada Tabel 2. penangkapan ikan sejauh 12 mil dan lain-lain sebagaimana tersebut dalam UU PA. NAD Nomor 15 Tahun 2002 Qanun Prov. Tabel 2. NAD Nomor 12 Tahun 2002 Qanun 13 Tahun 2002 Qanun Prov.46 Qanun Aceh yang Mendukung Investasi No 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Qanun/Pergub 2 Qanun Aceh Nomor 5 Tahun 2009 Qanun Aceh Nomor 12 Tahun 2008 Qanun Aceh Nomor 8 Tahun 2008 Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2007 Qanun Prov.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh eksplorasi dan eksploitasi pertambangan umum. NAD Nomor 04 Tahun 2004 Qanun Nomor 8 Tahun 2002 Qanun Nomor 9 Tahun 2002 Qanun Prov. NAD Nomor 16 Tahun 2002 Qanun Prov. Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota menyusun peraturanperaturan yang bersifat lebih operasional untuk menjalankan amanat UU PA.

pembangunan.2. Rasio penduduk yang menamatkan pendidikan di perguruan tinggi (DIV/S1 dan S2/S3) mengalami peningkatan dari 4. Sumberdaya Manusia Kualitas Tenaga Kerja Kualitas tenaga kerja suatu daerah dapat dievaluasi dari rasio penduduk yang menamatkan pendidikan tinggi dengan total penduduk.5. 2.59 persen pada tahun 2009. Namun. Hal ini menunjukkan bahwa setiap 100 orang penduduk usia produktif harus menanggung 56 penduduk usia tidak produktif. berdasarkan tempat tinggal. 2. Pada tahun 2008 angka rasio ketergantungan hidup mencapai 54.4. rasio penduduk yang dapat menamatkan pendidikan perguruan tinggi (DIV/S1 dan S2/S3) cukup tinggi mengalami ketimpangan antara daerah perkotaan dan perdesaan yaitu sebesar 12. Untuk terlaksananya tata kelola pemerintahan yang baik (good Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 127 . Aparatur Pemerintah Pemerintah Aceh mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melakukan pemberdayaan.5.88 persen tahun 2009.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh 2.1. 2.5. Rasio Ketergantungan Hidup Dampak keberhasilan pembangunan kependudukan dapat dilihat dari perubahan komposisi penduduk menurut umur yang tercermin dengan semakin rendahnya proporsi penduduk usia tidak produktif (kelompok umur 0-14 tahun dan kelompok umur ≥ 65 tahun).89 persen dan meningkat menjadi 55.3.16 persen di daerah pedesaan. monitoring dan evaluasi serta pelayanan publik secara profesional. Semakin kecil angka rasio ketergantungan hidup akan memberikan kesempatan bagi penduduk usia produktif untuk meningkatkan produktifitasnya.4.4.74 persen (2008) menjadi 4.45 persen di daerah perkotaan dan hanya sebesar 4.4.5.

belum efektifnya mekanisme intermediasi. 2. kemampuan nasional dalam penguasaan dan pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dinilai masih belum memadai untuk meningkatkan daya saing. golongan III sebanyak 5. DIV sebanyak 17 orang. golongan II sebanyak 2.5. Jumlah sumberdaya aparatur daerah/pegawai negeri sipil di lingkungan Pemerintah Aceh pada tahun 2009 adalah 8. Pemerintah Aceh akan menggunakan seluruh tenaga dan kemampuan sumber daya aparatur yang handal dan potensial dibidangnya sesuai dengan kompetensi yang ada.723 orang yang terdiri dari laki-laki sebanyak 5. S-2 sebanyak 667 orang. eselon III sebanyak 234 orang. SLTP sebanyak 177 orang.869 orang. Bila dilihat dari tingkat kepangkatan/golongan aparatur pada Pemerintah Aceh adalah golongan IV sebanyak 707 orang. Berdasarkan karakteristik eselon aparatur Pemerintah Aceh terdiri dari eselon I sebanyak 1 orang. Hal itu ditunjukkan antara lain oleh masih rendahnya sumbangan IPTEK di sektor produksi dan nilai tambah. serta eselon IV sebanyak 604 orang.5. lemahnya sinergi kebijakan. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Secara umum.606 orang dan perempuan sebanyak 3. Sedangkan berdasarkan karakteristik pendidikan jumlah pegawai yang berpendidikan S-3 sebanyak 4 orang. SLTA sederajat sebanyak 2. S-1 sebanyak 3. namun secara kuantitas dan kualitas masih belum memadai. DIII sebanyak 1.117 orang.097 orang.039 orang.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh governance). Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 128 . eselon II sebanyak 53 orang. belum berkembangnya budaya IPTEK di masyarakat dan terbatasnya sumber daya IPTEK.822 orang dan golongan I sebanyak 155 orang serta pejabat fungsional sebanyak 734 orang atau sebesar 8. serta SD sebanyak 60 orang.801 orang.41 persen.

Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh

Pengembangan IPTEK sangat erat kaitannya dengan peran Perguruan Tinggi (PT) dan Lembaga Riset dalam menghasilkan IPTEK yang bermanfaat dan memiliki daya saing. Provinsi Aceh mempunyai 10 PT, yang terdiri dari 3 (tiga) PT negeri dan 7 (tujuh) PT swasta, 23 Sekolah Tinggi dan 11 Akademi, yang tersebar di kabupaten/kota se Aceh. Berbagai hasil penelitian, pengembangan, dan rekayasa teknologi belum dapat dimanfaatkan oleh pihak industri dan masyarakat. Jumlah publikasi ilmiah tergolong masih sangat rendah, khususnya publikasi ilmiah pada tingkat internasional. Menurut Ristek (2009), kolaborasi riset universitas dengan perusahaan di Indonesia masih rendah jika dibandingkan dengan Malaysia, Singapura dan Thailand. Demikian juga halnya dengan Aceh, kolaborasi riset antara universitas dengan perusahaan masih belum berjalan. Secara umum dapat dikatakan bahwa pengembangan ilmu dan teknologi di Aceh masih belum dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas maupun oleh perusahaan-perusahaan. Paten yang dihasilkan oleh intelektual Aceh masih terbatas. Hal ini juga terjadi secara nasional, dimana Indonesia menduduki ranking terendah dalam menghasilkan paten dibandingkan dengan negara Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand. 2.5.6. 2.5.6.1. Sumberdaya Energi dan Mineral Sumberdaya Energi

Kebutuhan energi listrik Provinsi Aceh saat ini di suplai dari beberapa sistem dengan porsi, yaitu: Sistem Transmisi 150 kV Sumut-Aceh sebesar 70,12 persen, PLTD Isolated sebesar 26,62 persen, Sistem Distribusi 20 kV dari wilayah Sumut sebesar 3,26 persen, PLTMH Isolated sebesar 0,75 persen. 129

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025

Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh

Kondisi kelistrikan yang tersambung dalam sistem 150 kV Sumut-Aceh masih mengalami defisit. Untuk mengatasi defisit tersebut sering harus dilakukan penurunan tegangan (brown out) dan dalam kondisi tertentu terpaksa dilakukan pemadaman bergilir. Daerah isolated yang masih mengalami defisit adalah daerah Aceh Tengah, dan Aceh Singkil. Untuk mengatasi defisit pada kedua daerah tersebut ditempuh kebijakan dengan memanfaatkan suplai 20 kV dari Gardu Induk yang terdekat jaraknya jauh dari pusat beban. Hal ini menyebabkan tegangan yang diterima pada kedua daerah tersebut pada saat beban puncak drop menjadi 16,5-8 kV. Kapasitas terpasang, pembangkit di Provinsi Aceh saat ini sebesar 146,5 MW dengan daya mampu rata-rata 98 MW. Sebagian dari pembangkit tersebut merupakan isolated murni dan sebagian lagi tersambung ke sistem transmisi 150 kV melalui jaringan distribusi 20 kV. Pembangkit tersebut, sebagian besar (99 persen) adalah jenis PLTD dengan menggunakan bahan bakar minyak (BBM). Defisit energi di Provinsi Aceh hingga tahun 2009 adalah sebesar 36,11 MW. Adapun kualitas tegangan jaringan distribusi untuk beberapa lokasi masih di bawah standar akibat jaringan tegangan menengah (JTM) yang terlalu panjang sampai 165 km dari Pusat Pembangkit/Gardu Induk sehingga tegangan pada sisi SUTM mencapai 16,5 kV dan pada sisi pelanggan mencapai 170 volt. Gardu Induk yang telah beroperasi sebanyak 7 (tujuh) unit Gardu Induk yang berada di sepanjang pantai timur yang disuplai dari sistem Transmisi 150/20 kV Sumut-Aceh. Namun pada kenyataannya adalah sebesar 130/19,5 kV s.d. 125/19 kV. Beban puncak total PLN wilayah Aceh pada tahun 2008 sebesar 255 MW dengan produksi sebesar 1.365 GWh, dimana 70persen dari produksi tersebut diterima dari system intekoneksi 150 KVa Sumut-Aceh.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025

130

Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh

Penyaluran energi listrik dalam wilayah Provinsi Aceh juga mengalami kehilangan arus (susut distribusi), yaitu kehilangan energi listrik pada saat penyaluran dari pembangkit ke pelanggan yang diakibatkan oleh berbagai faktor. Faktor penyebab kehilangan arus adalah faktor teknis dan non teknis. Faktor teknis adalah kehilangan energi listrik yang disebabkan oleh kondisi peralatan yang digunakan, sedangkan faktor non teknis disebabkan dari kesalahan administrasi dan pemakaian listrik secara illegal. Pelayanan listrik pada daerah terpencil yang belum terjangkau oleh PT.PLN dalam jangka pendek telah dilakukan beberapa upaya antara lain pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Jumlah PLTS yang telah disebar pada 11 Kabupaten/Kota sampai akhir tahun 2004 berjumlah 880 buah (50-120 WP). Ditinjau dari kondisinya, lebih dari 80 persen diantaranya telah mengalami kerusakan. PLTMH yang telah dibangun dibeberapa Kabupaten seperti Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Aceh Utara dan Aceh Timur hampir seluruhnya telah mengalami kerusakan sehingga tidak dapat berfungsi lagi. Hal ini disebabkan oleh keadaan konflik sehingga lokasi di pedalaman tidak mungkin dijangkau untuk pemantauan. Penggunaan energi untuk pembangkitan tenaga listrik saat ini masih bertumpu pada Bahan Bakar Minyak, kecuali sebagian kecil saja yang memanfaatkan energi alternatif. Usaha pemanfaatan sumber energi Non BBM dalam skala besar seperti Power Plant Nagan Raya 2 x 100 MW sedang dalam proses pelaksanaan, PLTA Peusangan 2 x 43 MW dilanjutkan kembali pembangunannya setelah beberapa tahun terhenti. PLTP Jaboi 1 x 50 MW dalam tahap pembangunan, PLTP Seulawah Agam 1 x 180 MW dalam tahap eksplorasi dan PLTU Krueng Raya 1 x 100 MW sedang dalam tahap pembuatan Feasibility

Study.
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025

131

Aceh Tengah. Sumberdaya Mineral Potensi pertambangan di wilayah Aceh mencakup semua bahan tambang. Batu Gunung. Batubara. Aceh Timur. Emas (Au). bahan tambang vital (golongan B). Tembaga (Cu). Platina (Pt). dan bahan tambang golongan C (bahan galian). Tanah Liat. Molibdenum (Mo). berdasarkan klasifikasi dahulu atau sebelumnya dikenal dengan bahan tambang strategis (golongan A). Pasir Kuarsa. Timah Putih (Sn). Potensi bahan tambang golongan A dan B berupa migas. Potensi energi Geothermal terdapat di beberapa Kabupaten/Kota yaitu : Kota Sabang. dan air tanah. Batu Apung. yaitu: mineral dan batubara (minerba). Pengembangan sistem prasarana energi listrik di Aceh terutama dengan sistem interkoneksi Sumatera Bagian Utara yang didukung dengan sistem setempat (isolated) pada lokasi-lokasi yang sulit dijangkau sistem interkoneksi. Tanah Urug. Kabupaten Aceh Besar.2. Perak (Ag). 2. panas bumi. Dengan pengembangan demikian ini diharapkan dapat dilayani kebutuhan energi listrik sampai ke perdesaan di Aceh. Aceh Tamiang dan Gayo Lues. Penyusunan Rancangan Qanun Kelistrikan. minyak dan gas bumi (migas). Mika. Sedangkan potensi Mineral Galian Golongan C menyebar hampir di seluruh Aceh yaitu : Sirtu sungai. Besi/Pasir Besi (Fe).Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Sampai saat ini kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain Inventarisasi Lokasi Pengembangan Energi. Sirtu Kerikil. Timah Hitam (Pb).6. Bener Meriah. Nikel (Ni). Pembangunan PLTMH untuk Pengembangan Listrik Pedesaan. Sirtu darat. Pidie. Kromium (Cr). Belerang (S) dan Air Raksa (Hg) menyebar di 10 (sepuluh) Kabupaten. Seng (Zn). Mangan (Mn). panas bumi. Survey Pendahuluan Geothermal Seulawah Agam. Potensi pertambangan yang telah teridentifikasi.5. Batu Pasir. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 132 .

Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Lempung.47). Serpentinit Berurat Magnesit. Trass dan Marmer menyebar di 10 (sepuluh) Kabupaten. Jumlah usaha pertambangan di Provinsi Aceh tahun 2006. 8 Pertambangan Emas. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 133 . Batu Gamping. 2 Pertambangan Bijih Besi. Tufa Gampingan. Potensi batubara terdapat di Kabupaten Aceh Barat. Serpentinit. 1 Pertambangan Pasir Besi dan 1 Kontrak Karya Pertambangan Emas dan Mineral pengikutnya. 2 Pertambangan Timah Hitam. terdiri atas 11 Pertambangan Batubara. Magnesit. Pemanfaatan potensi sumber bahan galian di Aceh melalui usaha pertambangan umum telah dimulai pada tahun 1985 dengan bahan galian timah hitam di Lokop Aceh Timur. pasir besi di Lampahan/Leungah Aceh Besar. emas dan Batubara di Aceh Barat (Tabel 2. Kalsit. Phosphat. jumlah Kuasa Pertambangan (KP) sebanyak 25 KP.

000 ton 32.000 ton Pidie 2 0. Aceh Jaya). Aceh Tengah dan Aceh Barat) 255.000.000 ton 11.000. Subulussalam.000 ton 5.000.600.900.000 ton Belum ditambang (Nagan Raya. Belum ditambang (Aceh Timur.000 ton Primer.000 ton Primer.000 ton 120.600 (Aceh Barat) Belum ditambang (Sabang dan Aceh Jaya) Sumber : Bappeda Aceh. Aceh Selatan dan Aceh Barat) Endapan Primer (Aceh Selatan) 3.200.Tabel 2.400.000 ton 4.2 – 4 ppm (gr/ton) Aceh Jaya 13 0.000.000 ton 400.000.200 – 5.000 ton Placer (Aceh Jaya).000 ton 160.000.000 ton 22. Aceh Barat Daya dan nagan Raya).000 ton 120.350.000 ton 4 -12 ppm (gr/ton) 1.000.800.800.750.190.200.000 ton 2.000 ton 4. 2010 (Data diolah) 134 .250.400 ton 670.000 ton 1.2 – 4 ppm Keterangan 400.000 ton 22.000 ton 900.000.000 ton Kadar SiO2 86 – 94% (Aceh Jaya) Tipe C (Sabang) Belum ditambang (Aceh Jaya.000 ton 3. Endapan Skunder (Pidie).40 gr/ton 65.000. Gayo Lues. Aceh Tamiang. Abu-abu kristalin (Gayo Lues.800.000. Aceh Tamiang.000 ton 9. Gayo Lues) Primer Belum ditambang (Aceh Pidie) Belum ditambang (Sabang. Pidie) Belum ditambang (Aceh Jaya.000 ton Belum ditambang (Aceh Barat Daya) Belum ditambang (Sabang) 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Mangan Magnetit/Supermitit Kaolin Granit Gambut Galena/Timah hitam Emas.000 ton 140.400 ton 77.431. Belum ditambang (Aceh Timur. Perak Tembaga Dolomit Diatome Bijih Besi Magnetit Bijih Besi Belerang Batugamping Batubara Andesit 930.000 ton Belum ditambang (Nagan Raya).000 ton 200.000.000 ton 12.000.000.000 ton 20.000.000 ton 1.000 ton 3.400 ton Aceh Barat 12 0.47 Potensi Sumberdaya Mineral di Provinsi Aceh Tahun 2010 POTENSI No Sumberdaya Mineral Sabang 1 1 2 3 4 5 6 7 8 Emas Timah Hitam Tembaga Puzolan/Tras Posfat Pasir Kwarsa Panas Bumi Marmer 74.4 -2.400 ton 10.000 ton 2.144 Mwe 400.000.4 gr/ton Aceh Timur 3 Aceh Tamiang 4 Aceh Tengah 5 Gayo Lues 6 Aceh Singkil 7 Subulussalam 8 Aceh Selatan Aceh Barat Daya Nagan Raya 9 10 11 6.200.000.000. Placer (Aceh Barat) Primer.000 ton 8 . Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya) Endapan Sungai (Pidie) Belum ditambang (Sabang) 5.000 ton 350. Kadar MgO 4 – 14% (Aceh Barat dan Aceh Tamiang) Belum ditambang (Sabang dan Pidie) 1.000 ton 6.000 ton 800.000 ton Belum ditambang (Aceh Jaya) 9. Kalori 4.400.900. Belum ditambang (Aceh Timur) Belum ditambang (Aceh Singkil) Belum ditambang (Subulussalam) Endapan Primer (Pidie) 32.000.000 ton 900.

pendekatan yang berbeda untuk menyelesaikan konflik lebih digalakkan. Pada tahun 2004. Sektor produktif merupakan sektor yang paling besar menderita kerugian (64%). termasuk melaksanakan pertemuan terbatas dan memperkuat koneksi lain antara Pemerintah pusat dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sehingga lahirlah sebuah kesepahaman bersama yang disebut dengan Memorandum of Understanding (MOU) Helsinki pada tanggal 15 Agustus 2005. Nota Kesepahaman ini memberikan Aceh nuansa politik yang baru dan berbeda dengan perpolitikan daerah lainnya di Indonesia karena nota ini mengamanatkan pendekatan-pendekatan baru dalam relasi Indonesia dan Aceh seperti DDR (Demobilisasi – Pemulangan pasukan TNI non-organik. 2010) kerugian akibat konflik diperkirakan mencapai 107.4 triliun rupiah (USD 10. Pada saat yang bersamaan. Angka kerugian tersebut hampir mencapai dua kali lipat angka kerugian akibat tsunami 26 Desember 2004.6. situasi di Aceh terlihat mulai mengalami perubahan. Setelah konflik berkepanjangan lebih dari 30 tahun terakhir.2. pemerintahan baru yang terpilih secara demokratis dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.1. 2. Menurut Multi Stakeholder Review (MSR.7 miliyar). amnesti bagi para pejuang 135 . Perdamaian Politik dan Reintegrasi Konflik yang terjadi dalam kurun waktu 30 tahun terakhir telah menyisakan berbagai catatan kelam. diikuti oleh sektor pemerintahan dan administrasi (24 %). Kehilangan. Disarmament – pelucutan senjata. kerusakan dan kehancuran kemudian menjadi ruang tuntutan baru pemulihan pasca konflik selain tuntutan kewenangan dan kekhususan secara politik dan ekonomi. infrastruktur dan perumahan (9%) dan sektor sosial sebesar (3%). dan Reintegrasi).6.

Mantan kombatan dan pengungsi konflik telah kembali ke rumah dan diterima kembali dalam masyarakat. reintegrasi sosial juga sangat penting untuk menjamin kelestarian perdamaian. peraturan presiden dan qanun yang masih dalam perdebatan baik di tingkat nasional maupun lokal. masih terdapat beberapa turunan produk hukum setingkat peraturan pemerintah. Masih terdapat perbedaan tingkat partisipasi antara masyarakat dan mantan kombatan dalam beberapa kegiatan ekonomi maupun dalam berbagai organisasi masyarakat. Untuk mewujudkan berbagai turunan produk hukum memerlukan peran aktif seluruh stakeholder yang terlibat dalam partai Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 136 . pembebasan tahanan-tahanan politik.8 persen dan 65 persen. Pemilu legislatif tahun 2009 dan pemilihan gubernur tahun 2006 mencatat angka partisipasi pemilih hingga 75 persen dan 80 persen. mengizinkan partai-partai politik berbasis Aceh untuk mengikuti pemilu. Keberadaan peraturan-peraturan tersebut sangat dibutuhkan dalam rangka implementasi kesepakatan damai seperti diamanahkan dalam MOU Helsinki dan undang-undang. Pasca MOU Helsinki dan diterbitkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh. Selain politik. Hal ini berarti lebih tinggi dari rata-rata nasional yaitu 60. Walaupun begitu beberapa indikator menunjukkan bahwa reintegrasi sosial masih belum sepenuhnya terimplementasikan. Angka partisipasi pada pemilu baik di tingkat lokal maupun nasional menunjukkan tingkat yang lebih tinggi dari rata-rata nasional.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh GAM. Proses reintegrasi politik pasca konflik di Aceh menujukkan hasil yang positif. yang memungkinkan Aceh membangun kembali ekonominya setelah hampir selama 30 tahun mengalami pertumbuhan negatif. dan proposal kesetaraan hubungan ekonomi yang dramatis antara Aceh dan pemerintah pusat.

Renstra BRA atau Rencana Strategis (November 2007). budgeting dan controlling. 15 (November 2005). Disamping itu terkait dengan materi qanun belum sepenuhya sesuai dengan ruh otonomi khusus Aceh sebagaimana amanat UU PA dan MoU Helsinki. serta menciptakan iklim yang kondusif bagi investasi. Bahkan penegakan Hukum dan HAM ini menjadi salah satu prasyarat bagi perdamaian yang berkelanjutan di Aceh. Selain itu penegakan hukum dan HAM di Aceh sangat dibutuhkan untuk menciptakan kepastian dan perlindungan hukum dalam rangka mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berkeadilan. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 137 . dan Rencana Tindakan Komprehensif BRA (Maret 2009).6. Sampai saat ini. yang sampai saat ini belum semuanya dibahas dan ditetapkan oleh Pemerintah. Permasalahan hukum lainnya yang masih dihadapi dalam pembangunan hukum Aceh adalah terkait penetapan Peraturan Pemerintah (PP) dan Peraturan Presiden (Perpres) dalam implementasi UU PA.2. Hukum dan HAM Permasalahan penegakan hukum dan HAM adalah hal yang sangat penting dalam pembangunan Aceh. Oleh karena itu. sangat diperlukan upaya inventarisasi qanun-qanun yang telah disahkan dan diundangkan sebelum pemberlakuan otonomi khusus kemudian dilakukan revisi atau dicabut dengan qanun baru serta percepatan penyusunan qanun pelaksanaan UU PA yang masih tersisa. mengatur permasalahan yang berkaitan dengan ekonomi terutama dunia usaha dan industri. 2. yaitu Instruksi Presiden No. ada tiga peta jalan utama pasca Nota Kesepahaman untuk proses perdamaian Aceh.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh politik maupun yang duduk di badan legislatif yang mempunyai fungsi utama legislator.

Kurangnya sosialisasi peraturan perundang-undangan sebelum dan sesudah ditetapkan baik kepada masyarakat dan aparatur penyelenggara Pemerintah Aceh. sehingga kepercayaan masyarakat terhadap hukum menjadi hilang. Selain itu. sehingga sering menimbulkan kesalahpahaman antara masyarakat dan aparatur penyelenggara. praktek-praktek pelanggaran hakhak sipil yang dilakukan personel militer akan diadili di pengadilan sipil di Aceh. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh (RPJP Aceh) Tahun 2005-2025 138 . tetapi juga melanda di lingkungan aparat penyelengaraan Pemerintah Aceh.Bab II Gambaran Umum Kondisi Aceh Lemahnya penerapan nilai-nilai budaya dan kesadaran hukum masyarakat mengakibatkan kurangnya kepatuhan terhadap hukum tidak saja di tingkat kehidupan masyarakat. MoU Helsinki dan UU PA menyebutkan bahwa sebagai bagian dari penataan hukum dan HAM di Aceh perlu dibentuk Pengadilan HAM dan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) sebagai bagian dari KKR Nasional guna memperkuat perdamaian di Aceh.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.