STRATEGI PEMBANGUNAN

SOSIALISASI

KEBIJAKAN

JANGKA MENENGAH BIDANG TATA RUANG DAN PERTANAHAN
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan, Desember 2010

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

1

juga perlu dipahami secara umum oleh masyarakat seperti target dan sasaran umum pembangunan untuk setiap masa pemerintahan Presiden yang dipilih langsung oleh masyarakat.

Ruang lingkup kajian meliputi perumusan strategi penyebaran informasi untuk sosialisasi RPJMN 20102014 Bidang Tata Ruang dan Pertanahan, termasuk di dalamnya adalah inventarisasi pelaksanaan dan

Strategi Sosialisasi Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

Sebagai salah satu upaya merumuskan strategi sosialisasi RPJMN 2010-2014, khususnya bidang tata ruang dan pertanahan, maka diselenggarakanlah kegiatan Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang Dan Pertanahan. Adapun

dibeberapa negara lain beserta Pengumpulan informasi

implementasinya. melalui

dilaksanakan

wawancara terstruktur dan focus group discussion (FGD) dan rentang waktu pelaksanaan kajian dilakukan dari bulan Januari 2010 hingga Desember 2010. Laporan kajian ini disusun menjadi enam bab. Bab 1 adalah pendahuluan yang menjelaskan tentang latar belakang, tujuan, sasaran dan ruang lingkup kajian. Bab 2 menjelaskan tentang teori komunikasi publik, sosialisasi dan teori perubahan sebagai dasar

Ringkasan Eksekutif Pendahuluan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 termasuk ke dalam informasi publik yang bersifat terbuka. Sebagai dokumen publik, RPJMN 2010-2014 harus disampaikan kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Penyediaan informasi publik ini merupakan ekspresi dari upaya memenuhi hak atau kemerdekaan masyarakat untuk memperoleh informasi (public right to know). Sedangkan fungsi penyebaran informasi merupakan ekspresi dari kewajiban

secara spesifik, tujuan kegiatan tersebut adalah untuk: (1) mendapatkan gambaran yang lengkap mengenai upaya-upaya sosialisasi yang dilakukan di dalam negeri maupun di luar negeri; (2) merumuskan sistem penyebaran informasi pada kelompok-kelompok

sasaran; dan (3) merumuskan jenis informasi RPJMN 2010-2014 bidang Tata Ruang dan Pertanahan yang penting disosialisasikan pada pihak yang

dilaksanakan kajian ini. Selain itu, di dalam bab ini dikaji pula hasil dan konsep sosialisasi yang telah dilakukan di dalam dan luar negeri. Untuk mencapai sasaran kajian, dalam bab ini diidentifikasi berbagai metode penelitian kualitatif yang dinilai cocok untuk diterapkan. Bab 3 fokus pada cara pelaksanaan kajian yang diawali dengan pemaparan kerangka pemikiran dan

berkepentingan. Sasaran yang ingin dicapai dari kegiatan kajian ini adalah: (1) terciptanya strategi dalam sosialisasi kebijakan jangka menengah nasional yang tepat sasaran; serta (2) untuk jangka waktu yang lebih panjang, terciptanya pemahaman mengenai muatan kebijakan jangka menengah nasional dalam

pemerintah dan negara untuk menyebarluaskan informasi yang berkaitan dengan kehidupan

pelaksanaan kajian yang meliputi teknis pelaksanaan mini wawancara dan FGD. Bab 4 adalah bagian yang paling penting dari kajian ini karena bab ini memaparkan rancangan strategi dan hasil pengujian

masyarakat (obligation to tell). Lebih lanjut, kebijakan nasional seperti RPJMN yang mendasari kebijakan lokal

pembangunan.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

2

rancangan dalam FGD. Rancangan ini kemudian difinalkan di Bab 5 yang berisi strategi sosialisasi RPJMN 2010-2014 untuk Bidang Tata Ruang dan Pertanahan yang telah diuji di dalam FGD yang melibatkan ketiga objek sosialisasi yaitu perguruan tinggi, masyarakat dan pemerintah daerah. Bab 6 yang menjadi bab terakhir menyimpulkan kajian dan memberikan rekomendasi untuk tindak lanjut kajian ini. Materi Sosialisasi Materi di dalam RPJMN 2010-2014 yang diujicobakan di dalam studi ini adalah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan yang terdiri dari kondisi umum,

mengenai

keterkaitan

antara

dokumen

rencana

nasional,

kebijakan dan tentang

pembangunan, organisasi, sistem

sosialisasi, pengawasan, serta

pembangunan dengan rencana tata ruang dan keterkaitan bidang dalam RPJMN dengan indikasi program dalam RTRWN). Untuk Bidang Pertanahan materi yang diujicobakan adalah berdasarkan kriteria: (1) isu yang paling strategis dan mendasar; (2) isu yang terkait pelayanan publik; dan (3) isu yang menjadi penting bagi tiga pihak terkait: pemerintah daerah, akademisi dan masyarakat. Dengan mengikuti ketiga kriteria tersebut, maka materi yang diujicobakan meliputi: (1) deskripsi mengenai rencana pembangunan nasional, yaitu: RPJPN, RPJMN, RKP dan peran masyarakat dalam penyusunan rencana

kelembagaan pengetahuan

informasi,

kebutuhan pelatihan. Hasil wawancara memperlihatkan bahwa: (1) sebagian besar responden mengetahui istilah RPJMN dan RPJPN (90 persen), namun hanya setengahnya yang dapat menjelaskan kepanjangan dan fungsi kedua rencana tersebut; (2) Bappenas sebagai instansi yang menyusun RPJPN dan RPJMN tidak banyak dikenal oleh masyarakat, kemungkinan karena setelah otonomi daerah dilaksanakan, masyarakat lebih mengenal badan perencanaan daerah dibandingkan dengan badan perencanaan dengan lingkup nasional. Hal ini konsisten dengan hasil wawancara yang memperlihatkan bahwa hanya 30 persen dari

permasalahan dan sasaran, serta arah dan prioritas kebijakan. Secara spesifik, materi untuk Bidang Tata Ruang adalah: (1) rencana pembangunan (termasuk di dalamnya penjelasan mengenai RPJPN Tahun 20052025, RPJMN Tahun 2010-2014, RKP dan peran masyarakat dalam penyusunan rencana pembangunan nasional); (2) rencana tata ruang (termasuk di dalamnya penjelasan mengenai RTRWN, RTR Pulau, RTRW Provinsi, dan RTRW Kabupaten/Kota, pelibatan

pembangunan nasional; (2) hak atas tanah target dan Prosedur Sertifikasi Tanah. Hasil Wawancara terstruktur Wawancara untuk kajian ini dilakukan untuk

responden yang mengetahui Prioritas RPJMN; (3) istilah tata ruang dikenali oleh seluruh responden sedangkan istilah pertanahan dikenali oleh 80 persen responden, namun hanya setengahnya yang dapat menjelaskan arti penataan ruang dan pertahanan dan hanya 30 persen dari responden yang mengetahui permasalahan di Bidang TRP; dan (4) tidak ada media yang dominan yang menjadi sumber informasi mengenai tata ruang dan pertanahan. Media cetak (30 persen), media elektronik (40 persen) bukan media yang efektif untuk sosialisasi. Internet dapat dijadikan media informasi mengungkap sejauh mana tingkat pengetahuan dan pemahaman tiga objek sasaran sosialisasi, yaitu pemerintah daerah, perguruan tinggi dan masyarakat, terhadap RPJMN dan materi-materi mengenai tata tuang dan pertanahan. Perancangannya didasarkan pada pengetahuan mendasar tentang pembangunan

masyarakat dalam penyusunan RTRW serta mekanisme pengendalian terhadap pemanfaatan ruang); dan (3) kesesuaian antara rencana pembangunan dengan rencana tata ruang (termasuk di dalamnya penjelasan

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

3

untuk Bidang TRP karena lebih dari 60 persen responden mendapatkan informasi yang mereka perlukan melalui media ini. Focus Group Discussion Strategi sosialisasi yang dipilih di dalam studi ini kemudian diaplikasikan ke dalam beberapa keluaran praktis yaitu berupa pengembangan sistem pemasaran sosial untuk kebutuhan sosialisasi, antara lain identitas, toolkit, perancangan pesan, skema penyebaran mediamedia dan lain-lain. Proses-proses pengkajian strategi sosialisasi dilakukan untuk menganalisis pengetahuan dan pemahaman tentang keadaan, akses dan

Pemanfaatan media tradisional dalam menunjang penyebaran informasi publik dan kebijakan pemerintah masih sangat dibutuhkan terutama untuk

Strategi Sosialisasi Strategi yang dibuat dan diujicobakan untuk sosialisasi kebijakan pembangunan jangka menengah Bidang TRP ini, antara lain adalah: (1) menciptakan identitas resmi untuk RPJMN dan untuk kegiatan sosialisasi Bidang TRP yang lebih komunikatif; (2) konsep perancangan pesan yang sederhana, jelas, dan sistematis yang disajikan lewat pesan visual dan pesan tekstual dengan tetap memperhatikan kedalaman materi-materi kebijakan pembangunan Bidang TRP yang akan disosialisasikan; (3) konsep pemasaran sosial yang mengadopsi konsep pemasaran umum dengan membuat toolkit untuk kebutuhan sosialisasi; (4) konsep jaringan komunikasi yaitu dengan melakukan penyebaran informasi melalui Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) di tiap daerah; (5) advokasi media, termasuk di dalamnya

menyebarkan informasi kepada masyarakat umum. Sifat umum media tradisional yaitu mudah diterima, relevan dengan budaya yang ada, menghibur,

menggunakan bahasa lokal, memiliki unsur legitimasi, fleksibel, memiliki kemampuan untuk mengulangi pesan-pesan yang dibawanya, komunikasi dua arah dan sebagainya. Pengembangan konsep ini bisa

diaplikasikan dalam sebuah kolaborasi, seperti: (1) kolaborasi media tradisional dengan media massa modern; (2) kolaborasi media tradisional dengan stasiun radio. Kolaborasi antara media tradisional dengan media radio sudah lama. Media Radio dapat menyajikan media tradisional untuk kepentingan masyarakat pedesaan dan kepulauan, karena dapat menjangkau khalayak lebih banyak, dan dapat menembus batas geografis. Program penyajian RRI pada umumnya mengalokasikan 10 persen waktu siaran untuk informasi, 30 persen untuk pendidikan, 25 persen untuk budaya, 25 persen untuk hiburan dan 15 persen untuk iklan dan acara penunjang; dan (3) kolaborasi media tradisional dengan stasiun televisi.

kebutuhan terhadap informasi tentang RPJMN Bidang TRP dan identitas RPJMN secara umum di tiga objek kajian. Langkah berikutnya adalah memetakan dan menganalisis strategi-strategi sosialisasi yang telah dibuat dengan FGD terhadap tiga target di beberapa daerah. Hasil FGD terhadap tiga target (masyarakat, perguruan tinggi dan pemerintah daerah), memberikan beberapa masukan yang bisa diangkat sebagai strategi. Strategi baru yang berhasil dirumuskan adalah Konsep Pemanfaatan Media Tradisional dan Karakterikstik Lokal.

pengorganisasian dan mobilisasi masyarakat, dan penyertaan para pembuat kebijakan, antara lain melalui pemberitaan media, penulisan artikel-artikel dan jurnal tentang Tata Ruang dan Pertanahan; (6) menjalankan mekanisme pusat-daerah untuk kebutuhan penyebaran informasi dengan strategi tambahan melalui workshop regional, pelatihan, interview, dan diskusi dengan pemerintah daerah dan para perencana; (7) kerjasama

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

4

dengan kalangan akademis; dan (8) pemanfaatan media tradisional dan karakterikstik lokal. Pemanfaatan media tradisional dalam menunjang penyebaran informasi publik dan kebijakan pemerintah masih sangat dibutuhkan terutama untuk

persen untuk iklan dan acara penunjang; dan (3) kolaborasi media tradisional dengan stasiun televisi. Kesimpulan dan Rekomendasi Kesimpulan Kesimpulan umum hasil kajian strategi sosialisasi RPJMN 2010-2014 Bidang TRP adalah sebagai berikut: (1) sebagai dokumen publik, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 perlu disosialisasikan kepada semua pemangku kepentingan terkait antara lain: pemerintah daerah, perguruan tinggi, organisasi non pemerintah dan masyarakat; dan (2) sosialisasi RPJMN 2010-2014 perlu dilakukan secara efektif dengan memilih media dan substansi materi sosialisasi yang tepat sesuai dengan kelompok sasaran sosialisasi (pemerintah daerah, perguruan tinggi, organisasi non pemerintah dan masyarakat). Pemerintah Daerah Media sosialisasi RPJMN 2010-2014 di kalangan Pemda masih sangat terbatas, hanya instansi yang

disebabkan karena minimnya sosialisasi RPJMN kepada pemda. Untuk mengenalkan RPJMN 2010-2014 kepada pemda sampai pada level bawah sadar diperlukan sosialisasi RPJMN yang lebih intensif dan berkelanjutan yang dilakukan secara formal (melalui instansi vertikal) dan informal (toolkit dan media massa: koran, acara televisi dan radio serta forum informal). Subtansi RPJMN 2010-2014 yang diperlukan pemda agar menjadi materi sosialisasi yang perlu ada dalam toolkit yaitu RPJMN 2010-2014 Bidang TRP dan perlu ditambah pengantar digunakan oleh umum seperti yang telah selama ini yang

menyebarkan informasi kepada masyarakat umum. Sifat umum media tradisional yaitu mudah diterima, relevan dengan budaya yang ada, menghibur,

menggunakan bahasa lokal, memiliki unsur legitimasi, fleksibel, memiliki kemampuan untuk mengulangi pesan-pesan yang dibawanya, komunikasi dua arah dan sebagainya. Pengembangan konsep ini bisa

Bappenas

diaplikasikan dalam sebuah kolaborasi, seperti: (1) kolaborasi media tradisional dengan media massa modern; (2) kolaborasi media tradisional dengan stasiun radio. Kolaborasi antara media tradisional dengan media radio sudah lama. Media Radio dapat menyajikan media tradisional untuk kepentingan masyarakat pedesaan dan kepulauan, karena dapat menjangkau khalayak lebih banyak, dan dapat menembus batas geografis. Program penyajian RRI pada umumnya mengalokasikan 10 persen waktu siaran untuk informasi, 30 persen untuk pendidikan, 25 persen untuk budaya, 25 persen untuk hiburan dan 15

memperlihatkan keterkaitan antara RPJPN dengan RPJMN, antara Buku I, II dan III. Selain itu perlu ditambahkan pula tabel prioritas nasional terkait tata ruang dan pertanahan. Untuk sosialisasi di daerah, dapat ditambahkan keterkaitan antara RPJMN dengan RPJMD yang telah disusun oleh pemerintah masingmasing daerah. Kelompok Masyarakat Media sosialisasi RPJMN 2010-2014 untuk masyarakat perlu disesuaikan dengan budaya dan karakteristik masyarakat lokal yang sudah umum dikenal masyarakat lokal. Misalnya dengan menggunakan media yang

membutuhkan RPJMN dalam melaksanakan tupoksinya (Bappeda) yang mengetahui isi RPJMN 2010-2015. Bahkan masih ada kanwil dan kantah BPN yang belum mengetahui RPJMN. ketidak tahuan mengenai RPJMN

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

5

umum dilihat oleh masyarakat setempat seperti majalah dinding di tempat umum dan tempat ibadah, pengumuman melalui tempat-tempat ibadah seperti pengeras suara masjid ataupun karikatur dengan karakter yang sudah banyak dikenal. Selain itu dapat pula dilakukan teknik sosialisasi yang mengadopsi sistem kader yang infrastrukturnya sudah tersedia sampai dengan tingkat Rukun Tetangga (RT). Subtansi RPJMN 2010-2014 bidang pertanahan yang diperlukan masyarakat agar menjadi materi sosialisasi dalam toolkit yaitu mengenai hak atas tanah dan prosedur sertifikasi tanah. Tambahan yang diperlukan adalah mengenai layanan pertanahan untuk UMKM, nelayan, petani (milik), peserta transmigran, dan Masyarakat Bepenghasilan Rendah (MBR). Untuk tata ruang, yang diperlukan adalah pengetahuan tentang cara berpartisipasi dalam perencanaan dan

langsung pertanian,

dengan arsitektur,

RPJMN studi

(planologi,

geodesi, dan

mempertajam masalah, fakta, target dan stimulasi bagi masyarakat maupun pemerintah daerah. Beberapa kekurangan dan kelebihan sosialisasi RPJMN saat ini yang dapat dicatat adalah: (1) media sosialisasi RPJMN yang ada selama ini menggunakan template yang terlalu formal, kaku dan digunakan dari tahun ke tahun tidak ada inovasi (buku RPJMN dan internet); (2) materi RPJMN yang disosialisasikan pada masyarakat umum menggunakan bahasa yang sulit untuk

pembangunan

lingkungan) dan yang tidak berkaitan langsung dengan RPJMN. Untuk yang tidak berkaitan langsung, materi sosialisasi menggunakan materi yang sama dengan masyarakat. Media sosialisasi RPJMN yang efektif untuk perguruan tinggi adalah web site (khususnya

perguruan tinggi di Jawa) yang bisa diakses kapan saja untuk bahan ajar perkuliahan. Subtansi RPJMN 2010-2014 yang perlu ada di dalam toolkit untuk perguruan tinggi yaitu permasalahan terkini, data aktual pencapaian beserta target yang ingin dicapai dalam periode waktu rencana tersebut. Spektrum permasalahan yang dimunculkan dalam toolkit perlu diperluas misalnya untuk pertanahan tidak hanya mengenai permasalahan yang terkait dengan BPN saja, melainkan juga permasalahan yang terkait dengan perpajakan. Untuk bidang tata ruang, perlu pula ditambahkan contoh integrasi antar rencana melalui musyawarah perencanaan. Dalam kegiatan kajian strategi sosialisasi RPJMN 20102014, perguruan tinggi mempunyai peran sebagai inovator untuk menemukan inovasi-inovasi dalam

dimengerti, sehingga kurang menarik bagi masyarakat umum untuk mengetahui RPJMN lebih jauh. Banyaknya materi RPJMN yang harus diakomodasi menyebabkan buku RPJMN yang dihasilkan sangat tebal dan jumlahnya cukup banyak sehingga masyarakat umum kurang tertarik untuk membaca. Sedangkan kelebihan sosialisasi RPJMN saat ini adalah sosialisasi RPJMN dilakukan pada Musrenbangnas dan Musrenbangprov yang dilakukan di seluruh Indonesia. Jaringan informasi formal tersebut dapat diperluas sampai ke desa agar dapat menjadi media sosialisasi RPJMN yang efektif. Peran Bappenas dalam sosialisasi RPJMN Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan mempunyai kewajiban memberikan informasi atas permintaaan

pengendalian pemanfaatan ruang. Yang paling utama adalah proses pengajuan pendapat dan badan pemerintah daerah mana yang harus dituju oleh masyarakat yang ingin menyampaikan pendapatnya. Perguruan Tinggi Kelompok perguruan tinggi terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok yang bidang ajarnya berkaitan

penyelesaian permasalahan-permasalahan pertanahan. Sebagai inovator, perguruan tinggi diperlukan untuk

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

6

masyarakat (public rights to know). Sejalan dengan perubahan paradigma di bidang komunikasi,

Pencapaian tujuan seperti kajian ini bisa dikategorikan sebagai pencapaian hasil awal yang memang harus menjadi perhatian dan pertimbangan untuk

akan bergantung pada pemilihan dan penyebaran media terhadap tiap kelompok sasaran sosialisasi. Catatan penting mengenai hal ini adalah mengenai relevansi isi informasi yang harus disesuaikan untuk tiap kelompok sasaran dan pembatasan terhadap kelompok sasaran potensial, semisal untuk kalangan akademis difokuskan kepada kalangan perencanaan, ilmu-bumi, geo-informasi, dan studi pembangunan. Rekomendasi tersebut akan cukup efektif untuk pencapaian tujuan awal. Langkah berikutnya adalah tindak lanjut untuk kegiatan-kegiatan sosialisasi yang berbasis kemitraan dan kemasyarakatan. Tujuan dari kegiatan-kegiatan ini adalah sebagai dukungan untuk melibatkan strategi-strategi sebelumnya dalam konteks sosial, sehingga keberadaanya dalam masyarakat lebih baik lagi. Salah satu contoh nyata dari rekomendasi ini adalah, usulan untuk memasukan materi-materi RPJMN ke dalam kurikulum pendidikan adalah salah satu bentuk sosialisasi yang sangat dan efektif untuk

komunikasi tidak lagi dapat dilakukan secara kasualitas linier (satu arah), tetapi relasional dan transaksional (dua arah). Peran Bappenas dalam sosialisasi RPJMN diperlukan agar dokumen RPJMN dapat disampaikan kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Selain itu, Bappenas juga perlu berperan untuk mendorong agar isi sosialisasi mengenai dokumen RPJMN

diimplementasikan. Ini dilakukan melalui rekomendasi penting, yaitu antara lain: (1) pengembangan identitas komunikator (identitas brand) yang baik, matang dan konsisten untuk subyek kajian RPJMN tata ruang dan pertanahan. Diharapkan pengembangan ini bisa dilakukan tidak hanya di direktorat tata ruang dan pertanahan, akan tetapi merupakan sistem identitas yang bisa diterapkan di direktorat-direktorat lain di Bappenas, terutama mengenai identitas RPJMN yang krusial untuk segera mendapat perhatian; (2) advokasi media adalah aspek penting yang terbukti efektif untuk meningkatkan awareness. Rekomendasi ini bisa

disesuaikan dengan target atau objek sosialisasi dan menggunakan cara penyaluran informasi yang tepat sehingga pesan yang penting dapat tersampaikan dengan baik kepada kelompok sasaran (pemerintah daerah, masyarakat dan perguruan tinggi). Rekomendasi Berdasarkan hasil kajian strategi-strategi sosialisasi yang diajukan dapat dipahami bahwa tiap komponen strategi saling berkaitan satu sama lain untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Prioritas strategi apa yang harus dilaksanakan adalah tergantung pada tingkat pencapaian tujuan sosialisasi itu sendiri. Kajian ini lebih banyak menelaah pengembangan strategi untuk meningkatkan awareness dan pemahaman kelompokkelompok sasaran terhadap RPJMN Bidang TRP.

melibatkan kelompok-kelompok sasaran dari kalangan akademis, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk pelaksanaannya. Seperti disebutkan sebelumnya

advokasi media akan mempengaruhi kuantitas dan kualitas pemberitaan tentang masalah-masalah RPJMN Bidang TRP, serta mempengaruhi cara orang

meningkatkan

pengetahuan

pemahaman

masyarakat secara umum.

mempersepsikannya; (3) pengembangan toolkit yang lengkap, tidak hanya berupa buku informasi RPJMN Bidang TRP, tapi juga material-material atau aplikasiaplikasi diseminasi lainnya. Beberapa sudah

dikembangkan selama kajian ini. Pengembangannya

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

7

Kata Pengantar

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

8

Daftar Singkatan
AKPPI BKM BPN BUMN/BUMD K/L KIM Larasita MBR P4T PNPM Prona PWK RAPBN Renstra RKP RPJMN RPJP SIG Simtanas SOP SPPN TOL TPRK TRP UMKM VOAP WP3WT … Badan Keswadayaan Masyarakat Badan Pertanahan Nasional Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah kementerian/lembaga Kelompok Informasi Masyarakat Layanan rakyat untuk sertifikasi tanah masyarakat berpenghasilan rendah penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat … … Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Rencana Strategis Rencana Kerja Pemerintah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Sistem Informasi Geografis Sistem Informasi Manajemen Pertanahan Nasional Standar Operasi dan Prosedur Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (UU 25/2004) Tanah Obyek Landreform … Tata Ruang dan Pertanahan Usaha mikro, kecil dan menengah Voluntary Ozone Action Program Wilayah Pesisir, Pulau-Pulau Kecil, Perbatasan dan Wilayah Tertentu

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

9

Senarai
Agenda Setting informasi atau masalah yang muncul lebih sering di media lebih menonjol bagi publik dan menentukan prioritas politik dan sosial. salah satu bidang di dalam RPJMN 2010-2014. model penyerapan informasi yang didasarkan pada perilaku masyarakat untuk menghindari kerugian karena sakit. membingkai komunikasi berdasarkan konstruksi bahasa. bertujuan untuk memberikan pendidikan dan pelatihan serta meningkatkan kesadaran mengenai pengelolaan keuangan kepada warga negaranya. aplikasi teknologi pemasaran yang dikembangkan di sektor komersial untuk pemecahan masalah sosial yang dapat mengubah perilaku proses media mengubah standar objek dalam mengevaluasi permasalahan kegiatan tertentu. yang diprioritaskan untuk bidang

Bidang Wilayah dan Tata Ruang Health Belief Model

Konsep framing Money Sense

Pemasaran sosial

Priming Prioritas Bidang Prioritas Nasional QUALITY

kegiatan yang diprioritaskan secara nasional. proyek penelitian yang inovatif yang bertujuan untuk mengkaji bagaimana warga Eropa yang tinggal di berbagai negara mengevaluasi kualitas hidup mereka. teknik sampling yang mengandalkan pendapat responden untuk pemilihan responden berikutnya. sesorang akan melakukan sesuatu asalkan ada insentif untuk melakukannya. lima tahap utama yang harus dilalui untuk perubahan perilaku. salah satu sub bidang di dalam Bidang Wilayah dan Tata Ruang. sebagai panduan untuk merancang strategi komunikasi publik untuk mendorong perubahan pada objek komunikasi, 17 bagaimana untuk mempengaruhi perubahan perilaku individu dan variabel-variabel yang bisa memperkirakannya, 20

Snowball sampling

Social Cognitive Theory Stages of Change Model Sub Bidang TRP Theory of Change

Theory of Planned Behavior

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

10

Daftar Isi

Ringkasan Eksekutif ......................................................................................................... 2 Kata Pengantar ................................................................................................................ 8 Daftar Singkatan .............................................................................................................. 9 Senarai 10 Daftar Isi ....................................................................................................................... 11 Daftar Tabel .................................................................................................................. 13 Daftar Gambar .............................................................................................................. 13 Bab 1 Pendahuluan ....................................................................................................... 14 1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 14 1.2 Tujuan ......................................................................................................... 15 1.3 Sasaran ....................................................................................................... 17 1.4 Ruang Lingkup ............................................................................................. 17 1.5 Waktu Kajian ............................................................................................... 18 1.6 Sistematika Penulisan .................................................................................. 18 Bab 2 Teori Sosialisasi RPJMN 2010-2014 ..................................................................... 19 2.1 Konsep Dasar Komunikasi ............................................................................ 19 2.2 Sistem Komunikasi Massa ............................................................................ 21 2.3 Psikologi Pesan ............................................................................................ 22 2.4 Komunikasi Publik dan Kampanye Komunikasi Publik .................................... 24 2.5 Theory of Change (Teori Perubahan) .............................................................. 26 2.5.1 Theory of Reasoned Action (Ajzen & Fishbein, 1980) ............................. 27 2.5.2 Social Cognitive Theory (Bandura, 1992) .............................................. 28 2.5.3 Health Belief Model (Becker, 1974) ...................................................... 28 2.5.4 Stages of Change Model (Prochaska et al., 1992) ................................. 28 2.5.5 Agenda Setting (McCombs & Shaw, 1973) ............................................ 28 2.5.6 Framing (e.g. Tversky & Kahneman, 1981) ........................................... 28 2.5.7 Priming (Iyengar & Kinder, 1987) ......................................................... 29 2.5.8 Social Marketing.................................................................................. 29 2.6 Studi Kasus Program-Program Kampanye Komunikasi dan Sosialisasi ............ 29 2.6.1 Voluntary Ozone Action Program (Program Tindakan Sukarela Ozon) ...... 29 2.6.2 Community Trials Project (Projek Percobaan Masyarakat) ...................... 33 2.6.3 Quality ................................................................................................ 39 2.6.4 moneySENSE ...................................................................................... 41 2.6.5 From Saving to Investment ................................................................... 42 2.7 Materi kajian ................................................................................................ 44 2.7.1 Prioritas Nasional ................................................................................ 46 2.7.2 Tata Ruang.......................................................................................... 48 2.7.3 Pertanahan ......................................................................................... 50 2.8 Perumusan Alur Pendekatan Kajian .............................................................. 53 Bab 3 Kerangka pemikiran dan metodologi kajian .......................................................... 55 3.1 Kerangka pemikiran ..................................................................................... 55 3.2 Metodologi ................................................................................................... 55 3.2.1 Survey................................................................................................. 55 3.2.2 Focus group discussion ........................................................................ 58

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

11

Bab 4 Kajian Strategi Sosialisasi RPJMN 2010-2014 ...................................................... 63 4.1 Materi .......................................................................................................... 63 4.1.1 Bidang Tata Ruang .............................................................................. 63 4.1.2 Bidang Pertanahan .............................................................................. 64 4.2 Survey ......................................................................................................... 75 4.2.1 Masyarakat ......................................................................................... 75 4.2.2 Akademisi ........................................................................................... 77 4.2.3 Pemerintah Daerah.............................................................................. 78 4.3 Strategi Sosialisasi ....................................................................................... 79 4.3.1 Identitas.............................................................................................. 79 4.3.2 Konsep Perancangan Pesan ................................................................. 80 4.3.3 Konsep Pemasaran Sosial.................................................................... 80 4.3.4 Konsep Jaringan Komunikasi ............................................................... 80 4.3.5 Advokasi Media ................................................................................... 80 4.3.6 Mekanisme Pusat-Daerah .................................................................... 81 4.3.7 Kerjasama dengan kalangan akademis ................................................ 81 4.3.8 Ragam Kegiatan dengan Masyarakat dan berbagai Pihak ...................... 81 4.3.9 Ujicoba dan Hasil Strategi Melalui Focus Group Discussion .................. 84 4.4 Pengembangan Strategi Sosialisasi ............................................................... 85 4.5 Substansi .................................................................................................... 86 4.5.1 Kelompok pemerintah daerah. ............................................................. 86 4.5.2 Kelompok Masyarakat ......................................................................... 88 4.5.3 Kelompok Perguruan Tingi dan LSM. .................................................... 89 Bab 5 Strategi Sosialisasi RPJMN 2010-2014 Bidang Tata Ruang dan Pertanahan........... 92 Bab 6 Kesimpulan dan Rekomendasi ............................................................................. 95 6.1 Kesimpulan ................................................................................................. 95 6.1.1 Media dan substansi sosialisasi untuk pemda ...................................... 95 6.1.2 Media dan substansi sosialisasi untuk kelompok masyarakat ................ 96 6.1.3 Media dan substansi sosialisasi untuk kelompok perguruan tinggi ........ 96 6.1.4 Kekurangan dan kelebihan sosialisasi RPJMN saat ini ........................... 97 6.1.5 Peran Bappenas dalam sosialisasi RPJMN ............................................ 97 6.2 Rekomendasi ............................................................................................... 98 Daftar Pustaka ............................................................................................................ 100 Lampiran .................................................................................................................... 104

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

12

Daftar Tabel
Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Tabel 5 Tipe komunikasi publik berdasarkan tujuan .......................................... 26 Model Kampanye VOA............................................................................. 30 Model Kampanye Community Trial Project ............................................ 33 Acara FGD ............................................................................................... 61 Matriks Fokus RPJMN 2010-2014 Bidang Pertanahan dan tingkat partisipasi/berkepentingan langsung/tidak langsung terhadap materi toolkit Bidang Pertanahan .......................................................... 66

Daftar Gambar
Gambar 1 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6 Gambar 7 Gambar 8 Gambar 9 Unsur-unsur yang mempengaruhi pemahaman .................................. 23 Theory of Change untuk Komunikasi Publik ........................................ 27 Teori Perubahan VOAP ......................................................................... 31 Teori Perubahan Community Trials Project ......................................... 37 Pentahapan Pembangunan RPJPN 2005-2025 .................................. 46 Penilaian responden untuk cara sosialisasi Bidang Tata Ruang dan Pertanahan ................................................................................... 77 Media sosialisasi pilihan responden.................................................... 77 Prioritas Nasional 2010-2014 ............................................................. 88

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

13

Bab 1
1.1

Pendahuluan

Latar Belakang

Undang-Undang (UU) Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) menyatakan bahwa perencanaan pembangunan terdiri dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Dokumen rencana ini yang kemudian menjadi pedoman bagi aktor pembangunan dalam melaksanakan pembangunan. Pelaksanaan RPJP Nasional 2005-2025 terbagi dalam tahap-tahap perencanaan pembangunan dalam periodesasi perencanaan pembangunan jangka menengah nasional 5 tahunan, yang dituangkan dalam RPJMN I Tahun 2005-2009, RPJMN II Tahun 2010-2014, RPJMN III Tahun 2015-2019, dan RPJMN IV Tahun 20202025. RPJPN digunakan sebagai pedoman dalam menyusun RPJMN. Pentahapan rencana pembangunan nasional disusun dalam masing-masing periode RPJMN sesuai dengan visi, misi dan program presiden terpilih. RPJMN memuat strategi pembangunan nasional, kebijakan umum, program kementerian/lembaga (K/L) dan lintas K/L, kewilayahan dan lintas kewilayahan, serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja yang berupa kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat inidikatif. RPJMN 2010-2014, yang telah ditetapkan dengan Peraturan Presiden (Perpres) No. 5 Tahun 2010 tentang RPJMN 2010-2014, bertujuan untuk lebih memantapkan penataan kembali Indonesia di segala bidang dengan menekankan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia termasuk pengembangan kemampuan ilmu dan teknologi serta penguatan daya saing perekonomian. Dengan demikian, RPJMN 2010-2014 merupakan pedoman bagi seluruh komponen bangsa baik itu pemerintah, masyarakat dan dunia usaha, dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional secara sinergis, koordinatif dan saling melengkapi dalam kurun waktu 2010-2014. RPJMN 2010-2014 termasuk ke dalam informasi publik yang bersifat terbuka. Sebagai dokumen publik, RPJMN harus disampaikan kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Proses perumusan isi kebijakan publik umumnya tidak disesuaikan dengan target atau objek sosialisasi sehingga pesan yang penting tidak dapat tersampaikan dengan baik. Selain itu, cara penyaluran informasi sosialisasi yang tidak tepat

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

14

menyebabkan informasi tidak sampai kepada sasaran. Salah satu contoh buruknya metode sosialsiasi kebijakan telah diteliti oleh Sutanta (2009) dengan 34 responden yang berasal dari pemerintah kabupaten/kota. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa hanya 17 persen dari responden yang berasal dari lembaga perencanaan kabupaten/kota yang mengerti tentang Perpres No. 85 Tahun 2007 tentang Jaringan Data Spasial Nasional. Padahal perpres tersebut telah ditetapkan dua tahun sebelumnya. Setelah otonomi daerah dilaksanakan, pemerintah daerah diwajibkan untuk memiliki rencana pembangunan yang disesuaikan dengan karakteristik daerah namun juga mengacu kepada rencana yang telah ditetapkan secara nasional. Untuk itu pemerintah kabupaten/kota serta perguruan tinggi yang umumnya dirujuk oleh pemerintah kabupaten/kota sebagai ahli perlu mengetahui rencana pembangunan nasional yang dijadikan acuan dalam penyusunan rencana pembangunan daerah. Selain pemerintah dan perguruan tinggi yang perlu mengerti tentang dokumen perencanaan nasional, masyarakat perlu mengetahui kebijakan lokal yang menyentuh langsung kehidupan mereka. Namun demikian, selain kebijakan lokal kebijakan nasional seperti RPJMN yang mendasari kebijakan lokal juga perlu dipahami secara umum oleh masyarakat seperti target dan sasaran umum pembangunan untuk setiap masa pemerintahan presiden yang dipilih langsung oleh masyarakat. Penyediaan dan penyebaran informasi publik adalah upaya mendukung

terselenggaranya pemerintahan yang demokratis, transparan, dan akuntabel dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang baik (good governance). Dalam konteks fungsi penyediaan informasi berorientasi pada informasi publik, maka yang dibutuhkan adalah informasi untuk memenuhi kepentingan publik. Penyediaan informasi publik ini merupakan ekspresi dari upaya memenuhi hak atau kemerdekaan masyarakat untuk memperoleh informasi (public right to know). Sedangkan fungsi penyebaran informasi merupakan ekspresi dari kewajiban pemerintah dan negara untuk menyebarluaskan informasi yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat (obligation to tell).

1.2

Tujuan

RPJMN 2010-2014 termasuk ke dalam informasi publik yang bersifat terbuka. Dengan demikian, dokumen ini harus disosialisasikan kepada para pihak termasuk di dalamnya Sub Bidang Penataan Ruang dan Pertanahan yang termasuk ke dalam

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

15

tupoksi Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan (TRP). Materi yang perlu disosialisasikan meliputi: kondisi umum, permasalahan dan sasaran serta yang terpenting adalah arah kebijakan dan strategi pembangunan. Tujuan dilakukannya kajian strategi sosialisasi kebijakan jangka menengah Bidang TRP adalah: 1. Mendapatkan gambaran yang lengkap mengenai upaya-upaya sosialisasi yang dilakukan di dalam negeri maupun di luar negeri. 2. Merumuskan strategi dalam sosialisasi kebijakan jangka menengah nasional dengan beberapa cara, yaitu: a. Menetapkan mekanisme untuk mengidentifikasi tantangan, kekurangan dan solusi. b. Merumuskan sistem penyebaran informasi pada kelompok-kelompok sasaran. c. Memastikan efektivitas sistem penyebaran informasi yang dirumuskan. 3. Memberikan pemahaman mengenai muatan yang terdapat di dalam RPJMN 20102014 Bidang TRP pada pihak yang berkepentingan termasuk di dalamnya adalah pemerintah daerah, perguruan tinggi dan masyarakat umum yang secara spesifik bertujuan untuk: a. Memberikan pengetahuan dan pemahaman yang relevan berupa pendidikan publik kepada tiap kelompok sasaran secara komprehensif mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan RPJMN dan kebijakan-kebijakan Bidang TRP yang termuat dalam RPJMN. b. Meningkatnya kesadaran kognitif (awareness) tentang RPJMN dan kebijakankebijakan Bidang TRP yang termuat dalam RPJMN. c. Meningkatnya perubahan sikap/perilaku dalam menyikapi kebijakan-kebijakan Bidang TRP yang termuat dalam RPJMN. d. Memberikan referensi bagi pihak yang terkait dengan kebijakan-kebijakan pembangunan Bidang TRP. 4. Memantapkan kebijakan penataan ruang dalam rangka implementasi pelaksanaan kegiatan pembangunan dalam kurun waktu 2010-2014 dan untuk perencanaan di masa yang akan datang seperti misalnya RPJMN 2014-2019.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

16

1.3

Sasaran Sasaran yang ingin dicapai dari kajian strategi sosialisasi kebijakan jangka

menengah Bidang TRP adalah: 1. Terciptanya strategi dalam sosialisasi kebijakan jangka menengah nasional yang tepat sasaran; 2. Untuk jangka waktu yang lebih panjang, terciptanya pemahaman mengenai muatan kebijakan jangka menengah nasional dalam pembangunan.

1.4

Ruang Lingkup Ruang lingkup kajian meliputi perumusan strategi penyebaran informasi untuk

sosialisasi RPJMN 2010-2014 Bidang TRP, termasuk di dalamnya adalah inventarisasi pelaksanaan dan dibeberapa negara lain beserta ruang lingkup dalam kajian adalah: 1. Perumusan kerangka kerja detail sebelum penunjukan tenaga ahli; 2. Perumusan spesifikasi pekerjaan tenaga ahli; 3. Tinjauan lapangan dan konsolidasi dengan pemerintah daerah untuk perencanaan pelaksanaan FGD; 4. Pelaksanaan kajian oleh tenaga ahli yang meliputi: a. pengkajian strategi sosialisasi kebijakan publik yang telah berhasil implementasinya. Pengumpulan

informasi dilaksanakan melalui survey dan focus group discussion (FGD). Secara detail

dilaksanakan; b. presentasi hasil listing pada TPRK; c. penyusunan kuesioner untuk mengukur tingkat pengetahuan objek sosialisasi; d. penyusunan konsep pertama strategi sosialisasi yang dapat dilaksanakan untuk sub-Bidang Penataan Ruang dan Pertanahan; e. FGD di beberapa kota untuk mendapatkan masukan dari objek sosialisasi; f. presentasi hasil FGD pada TPRK; g. perbaikan konsep pertama menjadi konsep kedua sesuai hasil FGD; h. pemaparan konsep kedua pada TPRK; i. 5. perumusan konsep akhir sosialisasi; Diseminasi pada para pihak oleh TRP.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

17

1.5

Waktu Kajian

Pelaksanaan kajian ini dilakukan dari bulan Januari 2010 hingga Desember 2010. Tenaga ahli direkrut setelah proses kajian awal dilaksanakan. Tenaga ahli mulai aktif bekerja sejak Juli 2010 sampai dengan Desember 2010.

1.6

Sistematika Penulisan

Laporan kajian ini disusun menjadi enam bab. Bab 1 adalah pendahuluan yang menjelaskan tentang latar belakang, tujuan, sasaran dan ruang lingkup kajian. Bab 2 menjelaskan tentang teori komunikasi publik, sosialisasi dan teori perubahan sebagai dasar dilaksanakan kajian ini. Selain itu, di dalam bab ini dikaji pula hasil dan konsep sosialisasi yang telah dilakukan di dalam dan luar negeri. Untuk mencapai sasaran kajian, dalam bab ini diidentifikasi berbagai metode penelitian kualitatif yang dinilai cocok untuk diterapkan. Materi kajian dipaparkan secara singkat di akhir Bab 2. Bab 3 fokus pada cara pelaksanaan kajian yang diawali dengan pemaparan kerangka pemikiran dan pelaksanaan kajian yang meliputi teknis pelaksanaan mini survey dan FGD. Bab 4 adalah bagian yang paling penting dari kajian ini karena bab ini memaparkan rancangan strategi dan hasil pengujian rancangan dalam FGD. Rancangan ini kemudian difinalkan di Bab 5 yang berisi strategi sosialisasi RPJMN 2010-2014 untuk Bidang TRP yang telah diuji di dalam FGD yang melibatkan ketiga objek sosialisasi yaitu perguruan tinggi, masyarakat dan pemerintah daerah. Bab 6 yang menjadi bab terakhir menyimpulkan kajian dan memberikan rekomendasi untuk tindak lanjut kajian ini.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

18

Bab 2
2.1

Teori Sosialisasi RPJMN 2010-2014

Konsep Dasar Komunikasi

Pentingnya komunikasi bagi kehidupan sosial, budaya, pendidikan, dan politik sudah disadari oleh para cendekiawan sejak masa Aristoteles yang hidup ratusan tahun sebelum masehi. Akan tetapi, studi Aristoteles hanya berkisar pada retorika dalam lingkungan kecil. Di antara para ahli sosiologi, ahli psikologi, dan ahli politik di Amerika Serikat yang menaruh minat pada perkembangan komunikasi adalah Carl I. Hovland yang mendefinisikan ilmu komunikasi sebagai ‘upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegar asas-asas penyampaian informasi serta pembentukan pendapat dan sikap’ (Hovland, 1953). Definisi Hovland di atas menunjukan bahwa objek ilmu komunikasi bukan saja penyampaian informasi, melainkan juga pembentukan pendapat umum (public opinion) dan sikap publik (public attitude) yang dalam kehidupan sosial dan kehidupan politik memainkan peranan yang amat penting. Dengan pemikiran tersebut maka Effendy (1997) mendefinisikan komunikasi sebagai ‘proses mengubah perilaku orang lain’. Harold Laswell, dalam The Structure and Function of Communication in Society mengatakan bahwa cara terbaik untuk menjelaskan komunikasi ialah menjawab pertanyaan sebagai berikut: ‘who says what in which channel to whom with what effect?’ Dengan demikian maka komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu, yakni: (a) komunikator (communicator, source, sender); (b) pesan (message); (c) media (channel, media); (d) komunikan (communicant, communicatee, receiver, recipient); dan (e) efek (effect, impact, influence). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu. Laswell (1972) menghendaki agar komunikasi dijadikan objek studi ilmiah, bahkan setiap unsur diteliti secara khusus. Laswell (1972) mendefinisikan jenis analisis yang diperlukan untuk setiap unsur komunikasi: (a) studi mengenai komunikator dinamakan control analysis; (b) penelitian mengenai pers, radio, dan televisi, film, dan media lainnya disebut content anaysis; (c) audience analysis adalah studi khusus tentang komunikan; dan (d) effect analysis merupakan penelitian mengenai efek atau dampak yang ditimbulkan oleh komunikasi. Proses komunikasi dalam masyarakat memiliki tiga fungsi (Laswell, …):

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

19

a. pengamatan terhadap lingkungan (the surveillance of the environment), penyingkapan ancaman dan kesempetan yang mempengaruhi nilai masyarkat dan bagian-bagian unsur di dalamnya; b. korelasi unsur-unsur masyarakat ketika menanggapi lingkungan (correlation of the components of society in making a response to the environment); c. penyebaran warisan sosial ( transmission of the social inheritance) yang sangat bergantung pada kualitas para pendidik, baik dalam kehidupan rumah tangganya maupun di sekolah yang meneruskan warisan sosial kepada keturunan berikutnya. Fungsi komunikasi yang terkenal lainnya disebutkan dalam Macbride Report (MacBride, 1980) yang dipublikasikan oleh UNESCO dengan judul Many Voices One World. Dalam laporan tersebut diuraikan bahwa dalam arti luas, komunikasi bukan hanya pertukaran berita dan pesan, tetapi sebagai kegiatan individu dan kelompok dalam tukar-menukar data, fakta, dan ide. Dengan demikian maka, fungsi komunikasi dalam tiap sistem sosial adalah sebagai berikut (Effendy, 1997): a. informasi: pengumpulan, penyimpanan, pemrosesan, penyebaran berita, data, gambar, fakta, dan pesan, opini, dan komentar yang dibutuhkan agar orang dapat mengerti dan bereaksi secara jelas terhadap kondisi internasional, lingkungan, dan orang lain, dan agar dapat mengambil keputusan yang tepat; b. sosialisasi (pemasyarakatan): penyediaan sumber ilmu pengetahuan yang memungkinkan orang bersikap dan bertindak sebagai anggota masyarakat yang efektif yang menyebabkan ia sadar akan fungsi sosialnya; c. motivasi: menjelaskan tujuan setiap masyarakat jangka pendek maupun jangka panjang, mendorong kegiatan individu dan kelompok berdasarkan tujuan bersama; d. perdebatan dan diskusi: menyediakan dan saling tukar menukar fakta yang diperlukan untuk memungkinkan persetujuan atau menyelesaikan perbedaan pendapat menggenai masalah publik, menyediakan bukti-bukti yang relevan yang diperlukan untuk kepentingan umum dan agar masyarakat lebih melibatkan diri dalam masalah yang menyangkut kegiatan bersama di tingkat internasional, nasional dan lokal;

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

20

e. pendidikan: penggunaan ilmu pengetahuan sehingga mendorong perkembangan intelektual, pembentukan watak, dan pendidikan keterampilan serta kemahiran yang diperlukan pada semua bidang kehidupan; f. memajukan kebudayaan: penyebarluasan hasil kebudayaan dan seni dengan

maksud melestarikan warisan masa lalu, perkembangan kebudayaan dengan memperluas horizon seseorang, membangunkan imajinasi dan mendorong kreativitas serta kebutuhan estetikanya; g. hiburan: penyebarluasan sinyal, simbol, suara, dan citra (image) dari drama, tari, kesenian, kesusastraan, musik, komedi, olah raga, permainan dan sebagainya untuk rekreasi dan kesenangan kelompok dan individu; h. integrasi: penyediaan kesempatan bagi bangsa, kelompok, dan individu untuk memperoleh berbagai pesan yang diperlukan mereka agar mereka dapat saling kenal dan mengerti dan menghargai kondisi, pandangan, dan keinginan orang lain.

2.2

Sistem Komunikasi Massa

Definisi yang paling sederhana tentang komunikasi massa dirumuskan Bittner (1980 dalam Rakhmat, 2000) adalah ‘mass communication is messages communicated through a mass medium to a large number of people’. Severin dan Tankard (1979) menyatakan bahwa komunikasi massa adalah keterampilan, seni, dan ilmu. Devito (1978) menambahkan bahwa komunikasi massa ditujukan kepada massa melalui media massa. Komunikasi massa mempunyai ciri-ciri khusus yang disebabkan sifatsifat komponennya yaitu: (a) komunikasi massa berlangsung satu arah, (b) komunikator pada komunikasi massa melembaga; (c) pesan pada komunikasi massa bersifat umum; (d) media komunikasi massa dilaksanakan secara serempak, dan (e) komunikan bersifat heterogen. Fungsi komunikasi massa menurut Dominick (…), yakni: a. pengawasan, ini mengacu kepada yang kita kenal sebagai peranan berita dan informasi dari media massa. Media mengambil tempat para pengawal yang pekerjaannya mengadakan pengawasan. Orang-orang media itu, yakni para wartawan surat kabar dan majalah, reporter radio dan televisi, koresponden kantor berita, dan lain-lain berada di mana-mana di seluruh dunia, mengumpulkan informasi buat kita yang tidak bisa kita peroleh. Fungsi ini dibagi menjadi dua yaitu

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

21

Pengawasan peringatan dan pengawasan instrumental, jenis kedua ini berkaitan dengan penyebaran informasi yang berguna bagi kehidupan sehari-hari; b. interpretasi (interpretation), erat sekali kaitannya dengan fungsi pengawasan yaitu bahwa media massa tidak hanya menyajikan fakta dan data, tetapi juga informasi serta interpretasi mengenai informasi tersebut; c. hubungan (linkage), media massa mampu menghubungkan unsur-unsur yang terdapat di dalam masyarakat yang tidak bisa dilakukan secara langsung oleh saluran perseorangan; d. sosialisasi merupakan transmisi nilai-nilai (transmission of values) yang mengacu kepada cara-cara di mana seseorang mengadopsi perilaku dan berbagai nilai dari suatu kelompok. Dengan membaca, mendengarkan, dan menonton maka seseorang dapat mempelajari perilaku masyarakat di sekitarnya dan nilai yang mereka anut; e. hiburan yang menjadi salah satu fungsi utama media. Dari paparan di atas, fungsi-fungsi komunikasi dan komunikasi massa dapat disederhanakan menjadi empat fungsi saja, yakni: (1) menyampaikan informasi (to inform); (2) mendidik (to educate); (3) menghibur (to entertain); dan (4) mempengaruhi (to influence).

2.3

Psikologi Pesan

Manusia menyampaikan pesan dengan dua cara: (1) dengan bahasa atau paralinguistik dan (2) dengan isyarat atau ekstralinguistik. Schramm (1971) melihat pesan sebagai tanda esensial yang harus dikenal oleh komunikan. Semakin tumpang tindih bidang pengalaman (field of experience) komunikator dengan bidang pengalaman komunikan, akan semakin efektif pesan yang dikomunikasikan (Gambar 1). Komunikator harus memiliki empati yang tinggi agar perbedaan latar belakang sosial tidak menjadi kendala dalam berkomunikasi. Organisasi pesan terbagi menjadi enam jenis: deduktif, induktif, kronologis, logis, spasial dan topikal (Rakhmat, 2000). Dewey (1967) dengan latar belakang Psikologi Komunikasi menambahkan satu jenis organisasi pesan lain yaitu psikologi yang mengikuti sistem berpikir manusia. Organisasi pesan yang paling banyak digunakan adalah sistem yang dibuat oleh Monroe pada akhir tahun 1930-an yaitu motivated sequence, yang menyarankan lima

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

22

langkah penyusunan pesan: (1) attention (perhatian); (2) need (kebutuhan); (3) satisfaction (pemuasan); (4) visualization (visualisasi); dan (5) action (tindakan). Langkah yang dikembangkan oleh peneliti lainnya dapat dilihat pada Tabel 1. Pesan yang dimaksudkan untuk mempengaruhi orang lain perlu mendorong perubahan perilaku objek. Para peneliti psikologi komunikasi telah meneliti efektivitas imbauan pesan: apakah objek akan lebih terpengaruh oleh imbauan emosional atau imbauan rasional? Apakan objek lebih tergerak oleh imbauan ganjaran daripada imbauan takut? Motif-motif apakah yang dapat kita sentuh dalam pesan kita supaya kita berhasil mengubah sikap dan perilaku objek? (Rakhmat, 2000).

Field of Experience

Field of Experience

Sender

Encoder

Signal

Decoder

Receiver

Gambar 1 Sumber: …

Unsur-unsur yang mempengaruhi pemahaman

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

23

Tabel 1

Sistem Penyusunan Pesan
Miller Dollard Drive &

Holingsworth Introduction Attention Interest Body Impression Conviction

Ross Attention Need

Hovland Attention

Monroe Attention Need

Stimulus Plan Objection Reinforcement Conclusion Direction Action
Sumber: Ross (1974)

Comprehension Response

Satisfaction Visualization

Acceptance

Reward

Action

2.4

Komunikasi Publik dan Kampanye Komunikasi Publik

Berdasarkan konteks dan tingkatannya, terdapat pengertian komunikasi sebagai komunikasi publik, yaitu komunikasi antara seorang pembicara kepada grup objek, yang tidak bisa dikenali satu persatu. Komunikasi demikian sering juga disebut pidato, ceramah atau kuliah. Beberapa pakar komunikasi menggunakan istilah komunikasi kelompok besar (large group communication) untuk komunikasi sejenis ini (Mulyana, 2005). Kampanye pada prinsipnya merupakan suatu proses kegiatan komunikasi individu atau kelompok yang dilakukan secara terlembaga dan bertujuan untuk menciptakan suatu efek atau dampak tertentu. Rogers dan Storey (1987) mendefinisikan kampanye sebagai ‘serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan untuk menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu’ (Venus, 2004). Kampanye komunikasi menurut Day dan Monroe (2000) dilakukan secara bervariasi, berlapis-lapis, terencana dengan seksama, dan secara strategis merangkaikan rancangan media untuk meningkatkan kesadaran, informasi atau merubah perilaku pada objek. Istilah kampanye (Wilmshurst, 1993) digunakan untuk menunjukan bahwa proses periklanan yang baik adalah serangkaian aktivitas terencana yang berkesinambungan dengan tujuan yang pasti. Dominick (2002) menjelaskan secara ringkas enam fase tipikal suatu kampanye periklanan: (1) memilih strategi pemasaran; (2) menentukan daya tarik atau tema utama; (3) menerjemahkan tema ke dalam berbagai media; (4)

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

24

memproduksi iklan; (5) membeli ruang dan waktu dan (6) mengeksekusi dan mengevaluasi hasil kampanye. Di fase pertama, penelitian dilakukan untuk menentukan objek, tujuan pemasaran, harga yang sesuai dengan produk atau jasa, dan biaya periklanan. Selama fase ini kata positioning sering terdengar. Positioning memiliki banyak interpretasi, tetapi secara umum berarti menyesuaikan produk atau jasa pada satu atau lebih segmen pasar yang luas sebagai jalan untuk memisahkannya dari persaingan tanpa membuat perubahan pada produk. Fletcher dan Bowers (1991) menganggap positioning produk adalah bagian yang sangat penting dari proses pemasaran dan periklanan. Konsep positioning sangat terkenal menyebar luas melalui tulisan Ries dan Trout (2001) yang menyatakan bahwa positioning produk tidak secara nyata melibatkan apa yang dilakukan pabrik terhadap produk. Tetapi lebih memperhatikan apa yang dilakukan pengiklan terhadap pikiran konsumen melalui pengadaptasian sikap-sikap mereka serta untuk ‘menjalin lagi hubungan’ antara konsumen dengan brand names. Setelah produk atau jasa diposisikan, tema kampanye untuk keseluruhan

dikembangkan. Fase berikutnya adalah menerjemahkan tema tersebut ke dalam iklan cetak dan iklan siaran. Pengiklan mencoba untuk membuat variasi dalam iklan mereka tetapi dengan suatu konsistensi pendekatan yang akan menolong konsumen mengingat dan mengenali produk mereka. Produksi iklan dikerjakan dalam cara yang hampir sama dengan produksi isi media lainnya. Di saat departemen kreatif menyatukan iklan cetak dan iklan siaran, departemen pemasaran membeli waktu di media yang dinilai cocok untuk kampanye. Fase terakhir dari kampanye adalah penayangan iklan. Pengujian dilakukan selama dan sesudah fase ini untuk melihat apakah konsumen melihat dan mengingat iklan yang telah ditayangkan. Day dan Monroe (2000) membagi kampanye dalam empat tahap. Pada tahap pertama riset formatif dilakukan untuk menentukan tujuan dan objek. Di tahap kedua, strategi kampanye dikembangkan, pesan dirancang dan diuji lagi. Ketiga, kampanye dilaksanakan. Akhirnya, hasil dievaluasi dan digunakan untuk menajamkan kembali strategi. Berikut adalah tahap kampanye menurut Day dan Monroe secara lengkap: 1. Tujuan, objek dan media. Riset formatif menetukan perilaku mana yang akan dicoba diubah untuk mencapai tujuan utama. Untuk memilih perilaku-perilaku yang paling penting maka perlu diselidiki apa yang diketahui, dipercayai, dan disukai oleh objek. Keputusan dibuat sesuai dengan pemilihan pasar, media,

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

25

rangkaian event, frekuensi dan waktu. Faktor-faktor ini membentuk intisari kampanye. 2. Pesan. Pesan utama kampanye bisa dibuat bersamaan dengan perancangan pesan untuk berbagai jenis media. Tim kreatif harus bekerja dengan copywriter dan menggunakan hasil riset formatif sebagai panduan. 3. Melaksanakan kampanye. 4. Monitoring dan evaluasi. Evaluasi harus dimulai selama pelaksanaan dan biasa digunakan untuk melakukan koreksi di tengah kampanye. 2.5 Theory of Change (Teori Perubahan) perencana komunikasi publik sekarang menganut gagasan untuk

Banyak

menggunakan Theory of Change sebagai panduan untuk merancang strategi komunikasi publik untuk mendorong perubahan pada objek komunikasi. Kata change atau perubahan merujuk pada tujuan pokok dari komunikasi publik yakni merubah perilaku individu atau kehendak masyarakat (public will). Theory of Change mengidentifikasikan strategi-stategi kunci yang harus digunakan dan hasil yang harus dicapai. Pada saat identifikasi perubahan yang akan diterapkan, teori ini berfungsi sebagai panduan untuk memahami fokus evaluasi dan hasil-hasil yang harus dinilai. Tabel 1 berikut menjelaskan dua tipe komunikasi publik berdasarkan tujuannya dan Gambar 2 menjelaskan aplikasi Theory of Change dalam praktek komunikasi publik untuk mencapai tujuan perubahan perilaku individu atau perubahan kebijakan dan kehendak publik (public will). Tabel 1
Aspek Komunikasi Tujuan -

Tipe komunikasi publik berdasarkan tujuan
Perubahan Perilaku Mempengaruhi kepercayaan dan sikap. Mempengaruhi norma sosial. Mempengaruhi tujuan bersikap. Menghasilkan perubahan perilaku. Kehendak Publik - Meningkatkan visibilitas masalah dan kepentingannya. - Mempengaruhi persepsi masalah sosial. - Meningkatkan pengetahuan tentang solusi dan pihak yang bertanggungjawab. - Mempengaruhi kriteria yang digunakan untuk menilai kebijakan dan para pembuat kebijakan. - Menentukan layanan masyarakat. - Mengerahkan konstituen untuk bertindak. Bagian dari khalayak umum dan para pembuat kebijakan Advokasi media, pengorganisasian dan mobilisasi komunitas/masyarakat setempat,

Kelompok sasaran Strategi

Bagian dari populasi perubahan perilaku Pemasaran sosial

yang memerlukan

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

26

Aspek Komunikasi

Perubahan Perilaku

Kehendak Publik penyertaan para pembuat kebijakan

Saluran/Media

Layanan publik/kegiatan resmi; materi cetak, televisi, radio, advertising media elektronik

Media Berita elektronik.

:

cetak,

televisi,

radio,

Gambar 2

Theory of Change untuk Komunikasi Publik

Theory of Change untuk Komunikasi Publik

Aktivitas

Hasil Jangka Pendek

Hasil Jangka Menengah

Hasil/Tujuan Pokok

Penyebaran Informasi (berdasar pada penelitan) Pemberitaan Media (dengan pemilihan issue, framing, dll)

Awareness/ Dukungan/ Public Will Komunitas (Grassroot)

Dukungan Pembuat Kebijakan

Perubahan Kebijakan

Advokasi Media

Pemahaman terhadap teori-teori ilmu sosial yang berhubungan dengan komunikasi dapat membantu pemahaman dalam kegiatan penyebaran informasi melalui kegiatan sosialisasi, komunikasi publik, dan teori-teori tentang perubahan. Teori-teori dan konsep-konsep dibagi berdasarkan kategori-kategori yang paling relevan, dalam hal ini perubahan perilaku dan kehendak publik (public will). Berikut adalah teori dan konsep yang relevan dengan Theory of Change. 2.5.1 Theory of Reasoned Action (Ajzen & Fishbein, 1980) Teori ini menunjukkan kinerja dari suatu perilaku yang ditentukan oleh niat. Dua faktor utama yang mempengaruhi niat seseorang adalah norma subyektif seseorang tentang perilaku tersebut dan keyakinan. Sikap dan norma subyektif yang pada gilirannya dipengaruhi oleh perilaku dan keyakinan normatif.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

27

2.5.2 Social Cognitive Theory (Bandura, 1992) Teori ini menunjukkan bahwa keyakinan seseorang untuk melakukan sesuatu, kemampuan dan motivasi, diperlukan untuk perubahan perilaku. Dengan kata lain, seseorang harus percaya ia dapat melakukan sesuatu dalam berbagai keadaan dan memiliki insentif (positif atau negatif) untuk melakukannya. 2.5.3 Health Belief Model (Becker, 1974) Model ini berasal dari bidang kesehatan masyarakat. Dua faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan adalah: (1) perasaan terancam oleh penyakit, dan (2) keyakinan bahwa manfaat mengadopsi perilaku kesehatan perlindungan itu akan lebih besar daripada biaya yang dirasakan. 2.5.4 Stages of Change Model (Prochaska et al., 1992) Model ini mengidentifikasi lima tahap utama yang harus dilalui untuk perubahan perilaku. Model ini menyatakan bahwa untuk membuat orang untuk mengubah seseorang, perlu ditentukan terlebih dahulu posisi mereka pada kontinum perubahan perilaku untuk mempermudah intervensi. Jenis intervensi yang dibutuhkan berbeda untuk setiap tahapan. Teori ini berguna untuk desain pemasaran sosial dan penelitian (Andreasen, 1997). 2.5.5 Agenda Setting (McCombs & Shaw, 1973) Teori ini menekankan bahwa media mempengaruhi materi yang dipikirkan oleh objek. Media bertindak sebagai ‘penjaga pintu’ informasi dan menentukan isu penting. Teori ini berpendapat bahwa informasi atau masalah yang muncul lebih sering di media lebih menonjol bagi publik dan menentukan prioritas politik dan sosial. 2.5.6 Framing (e.g. Tversky & Kahneman, 1981) Teori framing berkaitan dengan organisasi dan kemasan informasi serta

mempengaruhi persepsi informasi orang tersebut. Konsep framing ditemukan dalam literatur disiplin ilmu di sosial dan ilmu kognitif. Secara sederhana, teori ini membingkai komunikasi berdasarkan konstruksi bahasa, visual dan sinyal ke pendengar. Kampanye yang dilakukan pada masyarakat umumnya didasarkan pada teori ini. Caranya adalah dengan mempengaruhi cara masyarakat berpikir tentang sebuah isu dengan cara mengubah frame media yang digunakan.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

28

2.5.7

Priming (Iyengar & Kinder, 1987)

Priming adalah proses di mana media mengubah standar objek dalam mengevaluasi permasalahan. Sebagai contoh, bila media memperhatikan masalah penggunaan dana kampanye dalam pemilihan umum, maka masyarakat akan menggunakan isu tersebut untuk mengevaluasi kandidat. Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa objek tidak memiliki pengetahuan tentang berbagai hal dan tidak menggunakan pengetahuan mereka ketika membuat keputusan. Sebaliknya mereka membuat keputusan berdasarkan apa yang terlintas dalam pikiran pertama. 2.5.8 Social Marketing Pemasaran sosial telah didefinisikan sebagai ‘aplikasi teknologi pemasaran yang dikembangkan di sektor komersial untuk pemecahan masalah sosial yang dapat mengubah perilaku’ (Andreasen, 1995). Pemasaran sosial adalah alat untuk memobilisasi masyarakat Pemasaran sosial adalah pola pikir yang menekankan pada kebutuhan konsumen. Pendekatan pemasaran sosial menawarkan konsep-konsep yang berguna dan relevan serta proses yang jelas yang menekankan perencanaan strategis dan penelitian. 2.6 Studi Kasus Program-Program Kampanye Komunikasi dan Sosialisasi

2.6.1 Voluntary Ozone Action Program (Program Tindakan Sukarela Ozon) Setelah amademen Clean Air Act 1990 selesai dibuat, Badan Perlindungan Lingkungan Amerika, EPA, berinisiatif melakukan penyebaran informasi mengenai standar kualitas udara bagi enam polutan udara yang telah diketahui berbahaya bagi kesehatan masyarakat, termasuk didalamnya adalah ground-level ozone. EPA membuat cara untuk mengukur standar pemenuhan keberhasilan kualitas udara tersebut, dan kemudian menemukan 31 wilayah di beberapa negara bagian ternyata tidak memenuhi standar. Sebagian dari daerah yang ‘tidak memenuhi’ standar tersebut adalah 13 kota metropolitan sekitar Atlanta. Merespon hal tersebut, di tahun 1997, Divisi Perlindungan Lingkungan dari Departemen Sumber Daya Georgia membuat program Voluntary Ozone Action Program (VOAP) yang bertujuan untuk mengurangi polutan ground-level ozone di wilayah Atlanta. VOAP mempunyai dua komponen utama, yakni: kampanye informasi pubik dan program sukarela pengurangan emisi.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

29

Tabel 2
Tujuan

Model Kampanye VOA
Perubahan Perilaku Masyarakat umum Eksperimental Masyarakat tertentu Kuasi-Eksperimental Perubahan Kebijakan Pembuat Kebijakan Non-Eksperimental

Khalayak sasaran Evaluasi

Tujuan dari kampanye informasi publik adalah untuk: a. meningkatkan kesadaran (awareness) tentang dan pentingnya mengetahui konsentrasi ground-level ozone; b. menginformasikan kepada publik mengenai konsekuensi kesehatan akibat ground-level ozone, dan mengurangi perilaku yang menyebabkan emisi-emisi berbahaya, yang berkaitan dengan ground-level ozone; c. kampanye terutama ditujukan pada perilaku untuk mengurangi frekuensi berkendaraan, yang diperkirakan menghasilkan penambahan 50 persen

konsentrasi ground-level ozone di Atlanta. Karena konsentrasi ozon tidak bisa dirasakan oleh indera manusia, maka sangat diperlukan peningkatkan kesadaran masyarakat tentang waktu-waktu tertentu untuk mengurangi berkendaraan. Maka dari itu, kampanye VOAP kemudian menggunakan frase Siaga Ozon (Ozone Alert) untuk menginformasikan kepada masyarakat saat konsentrasi ozon terdeteksi tinggi. Berbagai tanda Siaga Ozon didiseminasikan melalui rambu-rambu lalu lintas elektronik, koran-koran setempat, laporan-laporan cuaca dan lalu lintas di radio dan televisi. Kampanye ini juga membuat berbagai pengumuman layananan masyarakat, artikel berita tentang ground-level ozone dan solusinya serta membuat editorial penting tentang kualitas udara. Selain kampanye informasi publik, VOAP berusaha untuk membuat konteks sosial untuk membantu mengarahkan kepada hasil perubahan perilaku yang diharapkan. Ini antara lain dilakukan dengan mendekati kalangan pengusaha untuk menyarankan mereka melakukan tindakan pengurangan ozon pada saat terdeteksi konsentrasi ozon sangat tinggi (Mei-Oktober dan pada siang hari). Hal ini termasuk mendorong penggunaan alat transportasi alternatif untuk bepergian jauh, serta menjadwal ulang pekerjaan agar dapat mengurangi jumlah berkendaraan terutama di jam-jam sibuk. Sebagai contoh, Gubernur mengeluarkan perintah eksekutif pada tahun 1997 bagi

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

30

semua badan, departemen, dan lembaga pendidikan tinggi untuk mengurangi tingkat pemakaian kendaraan pribadi hingga 20 persen. Badan-badan Federal di Atlanta menyetujui untuk melaksanakan strategi yang serupa. Akhirnya EPA kemudian mengembangkan kemitraan dengan perusahaan-perusahaan swasta dalam upaya mendapatkan partisipasi sukarela dalam program ini. Kampanye ini dititikberatkan perhatiannya pada pengembangan kampanye informasi publik VOAP. Kampanye ini dimulai dengan teori ilmu sosial yang berhubungan satu sama lain, yakni: the theory of reasoned action (Ajzen & Fishbein, 1980) serta Theory of Planned Behavior (Ajzen, 1985), tentang bagaimana untuk mempengaruhi perubahan perilaku individu dan variabel-variabel yang bisa memperkirakannya. Survey dilakukan dengan menggunakan sampel acak terhadap penduduk di wilayah Atlanta untuk melihat faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku mereka. Sebagai contoh, penelitian mengungkap bahwa banyak penduduk Atlanta yang bersedia untuk mengurangi berkendaraan, akan tetapi mereka menyebutkan sepertinya hanya memiliki kendali yang kecil terhadap perilaku mereka. Temuan ini menjadi dorongan bagi VOAP untuk mengembangkan konteks sosial diantara para pengusaha yang mendukung program ini. 2.6.1.1 Penjelasan Teori Perubahan untuk Kampanye VOAP

Gambar di bawah ini mengilustrasikan Theory of Change dari VOAP secara umum. Aktivitas-aktivitas melibatkan dua komponen program, yakni kampanye informasi publik dan pengembangan kemitraan dengan masyarakat dan pengusaha swasta. Gambar 3 Teori Perubahan VOAP

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

31

2.6.1.2

Temuan-temuan utama

Hasil pembelajaran dari kampanye VOAP adalah: (1) Siaga Ozon meningkatkan tingkat kesadaran tentang ground-level ozone; (2) pemberitaan media banyak mempengaruhi kesadaran masyarakat; (3) artikel di halaman depan koran-koran meningkatkan kesadaran; dan (4) penduduk dengan tingkat pendapatan lebih tinggi, yang lebih tua, dan berkulit putih lebih banyak mendengar tentang ground-level ozone. Hasil perubahan perilaku berkendaraan: a. jarak tempuh umum secara signifikan berkurang pada hari-hari siaga ozon (35.4 mil di hari non-siaga berbanding 29,9 mil di hari siaga); b. banyak prediksi mengenai perilaku berkendaraan yang terbukti benar dan sesuai harapan, misalnya: pria dan individu berpenghasilan lebih besar, berkendaraan lebih banyak dan sering melakukan perjalanan-perjalanan yang jauh; c. kesadaran masyarakat tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku berkendaraan, bukan berarti bahwa kampanye ini tidak diperlukan untuk menunjang program; Penurunan jumlah berkendaraan oleh pegawai-pegawai pemerintahan pada Hari Siaga Ozon: a. pengurangan jumlah berkendaraan sangat signifikan secara statistik hanya bagi pegawai pemerintah;

b. perubahan perilaku berkendaraan hanya akan signifikan bila konteks sosial memperkuat perubahan-perubahan itu. 2.6.2 Community Trials Project (Projek Percobaan Masyarakat) Community Trials Project adalah program yang menguji potensi strategi preventif dalam masyarakat secara komprehensif selama lima tahun (1992-1996) di tiga komunitas (sekitar 100.000 penduduk yang berlokasi di California Utara, California Selatan, dan Carolina Selatan). Tujuannya adalah untuk mengurangi kejadian-kejadian yang diakibatkan oleh faktor-faktor dan akibat yang berhubungan dengan alkohol. Proyek ini berbasis pada kemitraan masyarakat – kalangan ilmiah, di mana tim peneliti mengidentifikasi unsur utama dari strategi pencegahan umum, melakukan pelatihan, bantuan teknis dan sumber daya bagi elemen-elemen tersebut. Tim proyek komunitas percobaan menghubungkan strategi dan elemen pencegahan dengan kebutuhan dan keadaaan mereka sendiri. Tabel 3
Tujuan Khalayak sasaran Evaluasi

Model Kampanye Community Trial Project
Perubahan Perilaku Masyarakat umum Eksperimental Masyarakat tertentu Kuasi-Eksperimental Perubahan Kebijakan Pembuat Kebijakan Non-Eksperimental

Program mempunyai lima elemen yang saling berhubungan. Pada saat projek dimulai, keberhasilan masing-masing elemen sudah dapat dibuktikan. Namun, kelima komponen ini belum pernah digunakan secara bersama-sama untuk mengurangi kejadian-kejadian yang berkaitan dengan alkohol. Kelima elemen tersebut adalah: 1. Pengetahuan masyarakat, nilai-nilai dan mobilisasi, komponen ini terpadu dalam dua aspek utama, yakni pengorganisasian masyarakat, advokasi media,

pengembangan koalisi masyarakat, serta satuan tugas untuk melaksanakan intervensi khusus serta untuk meningkatkan perhatian masyarakat mengenai trauma yang berkaitan dengan alkohol. Koalisi melaksanakan aktivitas advokasi media untuk membangun dukungan masyarakat bagi empat komponen

pencegahan lainnya untuk mendapatkan kebijakan-kebijakan. 2. Layanan minuman yang bertanggung jawab (responsible beverage service), komponen ini dirancang untuk mengurangi kemungkinan minuman yang tidak

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

33

berlisensi yang dapat membahayakan penggunanya. Termasuk di dalamnya adalah insentif untuk bar dan restoran untuk melakukan pelayanan dari staf terlatih untuk menggenali pelanggan yang mabuk, di bawah umur, dan untuk untuk mempertegas kebijakan pelayanan minuman bagi pelanggan, sehingga mencegah pelanggan mabuk dan berkendaraan di bawah pengaruhnya (driving under influence/DUI). 3. Minum di bawah umur, komponen ini dirancang untuk mengurangi ketersediaan alkohol secara sosial dan ritel untuk pengguna di bawah umur. Yang dilakukan adalah program berbasis sekolah dan kemasyarakatan untuk orangtua dan anakanak mengenai penjualan dan akses alkohol melalui pelatihan. Program ini juga mengajukan pengembangan dan pelaksanaan hukum penjualan alkohol di bawah umur. 4. Minum dan mengemudi, ditujukan untuk meningkatkan awareness tentang resiko sebenarnya dan larangan jika mengemudi di bawah penggaruh alkohol. Komponen ini melibatkan advokasi media untuk meningkatkan dukungan dan awareness masyarakat untuk dapat mengenali hal seperti ini. Program membuat checkpoint, pelatihan pada petugas kepolisian mengenai teknik mengenali pengemudi yang mabuk, serta penggunaan alat sensor alkohol pasif untuk meningkatkan kemungkinan deteksi positif. 5. Akses terhadap alkohol, komponen ini menyertakan penggunaan kebijakan zoning lokal sebagai upaya mengendalikan tingkat kepadatan outlet alkohol dan mengurangi ketersediaannya secara ritel. Fokus dari studi kasus ini adalah pada komponen pertama, yaitu mobilisasi masyarakat, yang dinilai merupakan dukungan penting untuk implementasi keempat komponen lainnya. Mobilisasi masyarakat didefinisikan sebagai organisasi yang bertujuan dalam masyarakat untuk melaksanakan dan mendukung strategi kebijakan. Dua komponen utama yang merupakan mobilisasi adalah pengorganisasian masyarakat dan advokasi media. Tujuan mobilisasi disini adalah adalah pelaksanaan kebijakan-kebijakan dalam masyarakat dengan menghubungkan semua komponenkomponen preventif untuk mengurangi kecelakaan dan kematian berkaitan dengan alkohol.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

34

2.6.2.1

Teori Perubahan untuk Community Trials Project

Gambar berikut menunjukan teori perubahan dibalik mobilisasi masyarakat dalam Community Trials Project yang dikembangkan dari konsep model Treno et al., 1996; Treno & Holder, 1997a; and Treno & Holder, 1997b) Secara umum teori perubahan menunjukan penegasan proyek, yaitu bahwa mobilisasi masyarakat saja (pengorganisasian masyarakat dan advokasi media) tidak berdampak pada masalah yang berkaitan dengan alcohol secara langsung, akan tetapi harus digunakan bersama-sama dengan komponen-komponen pencegahan lainnya (empat strategi yang lain). Dengan cara ini mobilisasi dipandang sebagai perangkat pendukung dari komponen pencegahan loka yang mengarahkan perubahan dan pelaksanaan kebijakan. Pada gilirannya hal ini dapat menurunkan cedera dan kematian yang disebabkan alkohol. Hasil jangka pendek pertama dari pengorganisasian masyarakat adalah

pengembangan koalisi-koalisi local di tiga komunitas untuk bekerja pada masalah yang berhubungan dengan alcohol. Koalisi-koalisi tersebut kemudian membentuk satuan tugas untuk 4 strategi pencegahan lainnya. Koalisi ini diharapkan dapat meningkatkan awareness masyarakat dan juga mampu menarik dukungan dari para tokoh kunci. Advokasi media yang dilakukan baik oleh angota-anggotam koalisi-koalisi dan masyarakat dirancang untuk mengunakan media lokal untuk kebutuhan pemberitaan yang secara khusus dibentuk dan diarahkan untuk menyoroti solusi-solusi masalah alcohol, dan menekankan pada para tokoh kunci untuk mengadopsi solusi-solusi bagi kepentingan masyarakat. Hubungan antara advokasi media dan perubahan kebijakan adalah berdasarkan pada gagasan bahwa pemberitaan media akan menstimulus dan dukungan bagi adopsi kebijakan mengenai alkohol yang relevan, dengan : 1) Secara langsung mengingkatkan dukungan dari tokoh kunci untuk kegiatan intervensi lingkungan tertentu yang sedang dipromosikan 2) meningkatkan awareness masyarakat dan mobilisasi tindakan publik beserta dukungannya. Kemudian diharapkan akan memiliki pengaruh tokoh-tokoh kunci untuk peubahan kebijakan dan pelaksanaannya. Tujuan utama dari proyek ini adalah penelitian dan pembelajaran mengenai efektivitas pendekatan preventif yang digunakan. Proyek ini dikenal juga sebagi Percobaan preventif. Untuk itu, digunakan tiga komunitas “eksperimental” dimana intervensi

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

35

dilakukan, sehingga memungkinkan pengujian yang berbeda-beda terhadap komunitas percobaan/eksperimental terhadap komunitas pembanding.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

36

Gambar 4

Teori Perubahan Community Trials Project

Laporan proyek mingguan terstruktur, kegiatan, dan interview oleh koordinator proyek lokal adalah sunber-sumber data primer, laporan dan lembaran ini mencakup: a. aktivitas pengorganisasian masyarakat, misalnya rekruitmen, pelatihan staf dan bantuan-bantuan teknis. Laporan dan lembaran ini mencakup advokasi media, misalnya melalui konferensi, kegiatan-kegiatan yang yang mengundang media, dan tulisan-tulisan editorial; b. koalisi dan pembentukan satuan tugas, pembentukan anggota dan anggaran rumah tangga koalisi, pelaksanaan pelatihan advokasi media; c. dukungan tokoh kunci untuk strategi preventif dan perubahan kebijakan; d. perencanaan lokal untuk pelaksanaan strategi-strategi preventif, dilengkapi alat DUI untuk mendeteki minuman alkohol. Temuan yang didapatkan dari teori ini terbagi menjadi 4 temuan utama: a. advokasi media dapat meningkatkan pemberitaan cetak maupun televisi tentang topik yang berhubungan dengan alkohol di komunitas percobaan, terlihat perbedaan yang signifikan secara statistik di komunitas percobaan dan komunitas pembanding. b. hubungan pemberitaan media dengan perhatian tokoh kunci:

i.

peningkatan pemberitaan media mengarahkan fokus perhatian tokoh kunci terhadap permasalahan, kebijakan preventif dan solusi;

ii.

advokasi media yang berhasil untuk mencapai perubahan kebijakan membutuhkan tujuan kebijakan dan dukungan untuk tujuan-tujuan kebijakan dari tokoh kunci dan pembuat keputusan. Perhatian berita saja tidak mencukupi tanpa adanya tujuan kebijakan serta organisasi masyarakat yang mendukungnya.

c. pengaruh

komponen

strategi

pencegahan,

perubahan

kebijakan

dan

pelaksanaannya: i. mobilisasi masyarakat untuk mencapai hasil utamanya di tiga komunitas percobaan. ii. bukti perubahan kebijakan dan pelaksanaan yang berhubunganan dengan komponen-komponen pencegahan adalah sebagai berikut: a. kebijakan di bar dan restoran berubah, 409 manager dan pelayan mendapatkan pelatihan; b. pembelian alkohol di bawah umur berkurang dari 44 persen menjadi 17 persen; c. 410 checkpoint didirikan; d. syarat zoning diperketat di dua komunitas percobaan. d. intervensi berbasis masyarakat yang komprehensif mengurangi komsumsi alkohol yang beresiko tinggi dan cedera yang berkaitan dengan alkohol 2.6.2.2 Pelajaran studi kasus

Proyek ini menunjukan bagaimana kombinasi mobilisasi masyarakat dan advokasi media serta kegiatan yang berbasis masyarakat dapat berpengaruh pada perubahan kebijakan dan berdampak pada pencapaian pada tujuan kegiatan komunikasi. Komunikasi dibuat berdasarkan komponen yang membentuk sistem komunikasi yang terencana baik dan mampu melakukan intervensi pada tataran awareness dan perubahan perilaku.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

38

2.6.3 Quality QUALITY adalah sebuah proyek penelitian yang inovatif yang bertujuan untuk mengkaji bagaimana warga Eropa yang tinggal di berbagai negara mengevaluasi kualitas hidup mereka. Proyek ini menganalisis data perbandingan internasional mengenai

kesejahteraan sosial warga negara dan mengumpulkan data baru di delapan negara mitra strategis: Belanda, Inggris, Jerman, Portugal, Finlandia, Hongaria, Bulgaria dan Swedia. Proyek berjalan dari tanggal 1 Maret 2006 sampai tanggal 1 Maret 2009. Tujuan proyek adalah untuk: a. memberikan wawasan tentang kualitas hidup dan pekerjaan warga Eropa serta dampak kebijakan Uni Eropa pada kesejahteraan warga negara Eropa; b. meningkatkan pengetahuan tentang kondisi tempat kerja yang bisa berubah menjadi organisasi yang sehat; c. mengeksplorasi tren masa depan oleh konsultan kelompok nasional tingkat tinggi dan dengan mengembangkan skenario perubahan kualitas hidup dan pekerjaan warga negara; d. menganalisis sejauh mana gender penting dalam hubungan antara kesejahteraan dan kebijakan publik dan organisasi. e. menyebarkan pengetahuan baru untuk pemangku kepentingan politik dan ekonomi strategis, akademisi dan masyarakat. 2.6.3.1 Diseminasi QUALITY

Prosedur sosialisasi ini dijelaskan lebih jauh di dalam rencana, yakni menyajikan ambisi konsorsium untuk menyebarkan pengetahuan baru yang efisien dan menantang pada tiga tingkatan. Setiap tingkat memiliki beberapa saluran, spesifik untuk masingmasing negara. Selain prosedur penyebaran informasi yang lebih umum, rencana ini juga menyajikan strategi penyebaran informasi nasional yang berbeda. Selain membuat laporan dari berbagai paket proyek pekerjaan yang tersedia, tim nasional akan melakukan diseminasi secara spesifik pada tiap negara berbagai temuan dalam berbagai cara selama beberapa tahun mendatang. Setiap tim negara telah mengembangkan strategi penyebaran nasional yang mengatur bagaimana hasil temuan harus disajikan: a. Internasional - hampir semua Eropa dan komunitas global; b. Nasional - masing-masing negara;

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

39

c. Lokal - dalam masyarakat dimana studi kasus kami sedang dilakukan tiga kelompok yang ditargetkan untuk diseminasi dari temuan proyek: i. Pembuat kebijakan - mereka yang terlibat dalam kebijakan sosial dan keluarga, peraturan pasar tenaga kerja, tanpa diskriminasi dan kebijakan kesetaraan gender; ii. Masyarakat sipil – asosiasi pengusaha, serikat buruh, LSM pemuda, perempuan dan orang tua organisasi, masyarakat umum; iii. Komunitas Akademik - antara peneliti, dosen, mahasiswa, dan para pakar. Strategi penyebaran berbeda sesuai dengan karakteristik kelompok yang dituju. Model diseminasi yang komunikasi yang digunakan adalah melalui website, mailing list strategis untuk stakeholder, komunikasi interaktif, publikasi, konferensi dan seminar. 2.6.3.2 Contoh Diseminasi QUALITY di Belanda

Untuk menyebarluaskan hasil-hasil dari proyek penelitian internasional Kualitas Hidup di Perubahan Eropa, bentuk yang berbeda akan digunakan adalah: 1. pertemuan ahli dengan pembuat kebijakan di berbagai departemen dengan topik utama: makna kualitas hidup dan kualitas kerja di Belanda dan pengaruhnya terhadap kondisi sosial ekonomi dan demografi dan implikasi kebijakan mereka; 2. seminar dengan sejumlah kecil pengusaha penting di Belanda, topik utama diskusi berpusat pada peran pengusaha dan kemungkinan berubah menjadi organisasi yang sehat dengan tingkat kualitas hidup yang tinggi serta kualitas kerja dan keberlanjutan ekonomi; 3. penyajian makalah di berbagai konferensi, seminar, dan simposium yang ditargetkan pada para pembuat kebijakan Belanda dan pengusaha; 4. terjemahan situs Quality ke dalam bahasa Belanda dengan link ke publikasi lain dari proyek Quality dan website Quality kepada publikasi lain yang relevan dan informasi yang aktual; 5. publikasi penelitian di majalah ilmiah dan populer; 6. memuat wawancara di media seperti surat kabar, majalah, radio.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

40

2.6.3.3

Pelajaran Studi Kasus

Proyek Quality direncanakan dan dikembangkan secara matang di berbagai negara untuk menilai kesejahteraan hidup di masing-masing negara. Identitas Quality adalah implementasi dari konsep projek yaitu ‘Kualitas Hidup dalam Perubahan Eropa’. Identitas ini secara konsisten digunakan untuk berbagai kegiatan dan diseminasi selama projek berlangsung. Jaringan Komunikasi di berbagai negara anggota Quality terjalin dengan baik, begitu pula dengan organisasi-organisasi internasional. Setiap implementasi projek di negara anggota Quality dilakukan secara spesifik sesuai dengan karakter negara masing-masing. Penggunaan media massa untuk kegiatan diseminasi projek dilakukan secara baik dan teratur selama masa projek. 2.6.4 moneySENSE Pemerintah singapura melalui Monetary Authority of Singapore (MAS) dengan bekerja sama dengan institusi terkait telah meluncurkan program ‘Money Sense’ yang bertujuan untuk memberikan pendidikan dan pelatihan serta meningkatkan kesadaran mengenai pengelolaan keuangan kepada warga negaranya. Program tersebut diluncurkan pada tanggal 16 Oktober 2003 oleh deputi Perdana Menteri dan Ketua MAS Lee Hsien Loong yang sekarang menjabat sebagai Perdana Menteri Singapura. Program MoneySENSE mencakup tiga bahasan (tier) sehubungan dengan pendidikan pengelolaan keuangan bagi masyarakat: 1. Basic Money Management yang mencakup keterampilan dalam pengelolaan anggaran belanja dan tabungan, serta memberikan tips-tips penggunaan kredit secara benar; 2. Financial Planning yang bertujuan untuk membekali masyarakat Singapura dengan pengetahuan dan keterampilan untuk merencanakan kebutuhan keuangan jangka panjang mereka; 3. Investment Know-How yang meliputi pengetahuan penting mengenai produkproduk investasi dan keterampilan berinvestasi. Asosiasi industri, organisasi masyarakat, dan lembaga konsumen dilibatkan dalam mengembangkan program dan aktivitas untuk MoneySENSE dengan menggunakan berbagai sarana yang ada untuk menjangkau berbagai segmen masyarakat. Sejak diluncurkan, MoneySENSE telah menerbitkan lebih dari 100 artikel edukatif di media, menyelenggarakan lebih dari 140 acara diskusi, seminar, dan workshop yang menarik

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

41

lebih dari 15.000 peserta, dan 16 consumer guides dengan total sirkulasi lebih dari satu juta eksemplar. Berikut merupakan beberapa program yang telah diselenggarakan oleh MoneySENSE: 1. program televisi dalam bentuk game show dengan topik berkaitan dengan pengelolaan keuangan dan investasi; 2. program radio yang berisi informasi dan tips pengelolaan keuangan; 3. diskusi dan seminar dengan topik pengelolaan keuangan, diantaranya: (a) perencanaan keuangan keluarga; (b) pengambilan keputusan pengelolaan keuangan yang efektif; (c) pemahaman tentang asuransi kesehatan; dan (d) pedoman investasi efek untuk pemula; 4. online guides dalam situs www.moneysense.gov.sg yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan dan investasi; 5. roadshow yang menitikberatkan pada pendidikan pengelolaan keuangan dengan partisipasi aktif peserta dalam serangkaian kegiatan yang dapat diikuti oleh seluruh anggota keluarga, seperti games, kontes, dan seminar.

2.6.5 From Saving to Investment Program sosialisasi pasar modal di Jepang dimulai dengan dibentuknya Tokyo Stock Exchange (TSE) Academy pada bulan April 2004 yang ditujukan bagi individual termasuk para guru dan para pelajar. Pendirian TSE Academy dilatarbelakangi oleh beberapa kondisi ekonomi yaitu: (1) perubahan pada sektor keuangan, perburuhan dan welfare system; (2) jumlah akun pada kas dan deposito hanya sebesar 50 persen dari jumlah penduduk dan hanya 14 persen pada sekuritas; (3) pengenalan pays-off system dan 401-K Plan pada dana pensiun; (4) tingkat bunga mencapai 0 persen; dan (5) rendahnya pengetahuan di bidang keuangan dan investasi. Sedangkan dalam bidang pendidikan, pendirian TSE Academy dipicu dari beberapa kondisi, yaitu: (1) di bidang ilmu-ilmu sosial, waktu pelajaran lebih banyak terfokus pada pelajaran sejarah dan geografi dibandingkan pada ilmu ekonomi dan keuangan; dan (2) rendahnya kemampuan para guru di bidang ilmu ekonomi dan keuangan. Dari sisi kebijakan publik telah dikampanyekan program From savings to investment yang dilakukan dengan kolaborasi antara departemen. Upaya ini mempunyai dua

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

42

tujuan utama, yaitu: (1) pengembangan dan penerapan program pendidikan ilmu ekonomi dan keuangan yang sistematis; (2) pengembangan program training for trainers. Perubahan yang terjadi pada sisi pemodal terdiri dari beberapa kondisi, yaitu: (1) pengelolaan keuangan bagi individual; (2) meningkatnya pertumbuhan pemodal ritel; (3) tumbuhnya kesadaran akan pentingnya pemahaman investasi. Pertumbuhan partisipasi dalam TSE Academy tersebut sangat signifikan. Dari mulai dibuka pada April 2004 sampai dengan bulan September 2005, total peserta berjumlah 30.613 orang dan terdapat peningkatan sebesar 61% (5.186 orang) dari April 2004 sampai dengan September 2004. Program TSE Academy terdiri dari beberapa macam, yaitu: (1) basic course dan (2) selective course, yang terdiri dari how to read financial statements, stock trading and margin transaction, stock price indexes, bond trading, economic events and fiancial/secuirites market, investment theory, how to manage company; (3) special program seperti Commemorative Lectures. Untuk program pengajaran di sekolah-sekolah, TSE telah menerapkan sejak tahun 2005 dengan beberapa jenis program, yaitu: 1. program dengan kelompok sasaran tertentu, seminar bagi para guru, kuliah umum bagi mahasiswa, role playing bagi pelajar sekolah tingkat dasar dan menegah; 2. program musiman seperti pengajaran bagi anak–anak dan orang tuanya serta anjangsana pada lembaga-lembaga keuangan; 3. penyediaan bahan-bahan pengajaran; 4. kegiatan kolaborasi pada industri sekuritas; simulasi permainan perdagangan; penyediaan buku-buku teks dan video serta pembuatan website. Program penyebaran informasi kepada publik secara umum antara lain: 1. mengirimkan konselor untuk menerangkan tentang pasar modal dan bidang keuangan lain kepada investor di Jepang; 2. seminar gratis tentang pasar modal kepada publik; 3. penyebaran brosur dengan memperhatikan target pembaca; 4. pengenalan investasi di website, termasuk juga informasi mengenai daftar perusahaan efek maupun seminar mengenai investasi yang akan

diselenggarakan;

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

43

5. pengelolaan Securities Information Center; 6. memasukan mata kuliah dan penyelenggaraan kuliah lewat televisi. Program penyebaran informasi kepada lembaga-lembaga pendidikan antara lain: 1. stock market game; 2. experienced-based learning materials dalam bentuk CD, videotapes, dan printed materials; 3. seminar musim panas bagi mahasiswa; 4. internship system di bidang pasar modal; 5. dukungan bagi asosiasi mahasiswa untuk riset mengenai pasar modal; 6. e-learning material berjudul Securities Quest yang ditujukan bagi para guru untuk bertukar pikiran di bidang pasar modal.

2.7

Materi kajian

Berbagai prioritas-prioritas kebijakan harus mampu tersampaikan kepada publik dalam sebuah informasi publik. Informasi publik dalam hal ini adalah suatu informasi yang dimiliki rakyat, dikelola oleh pemerintah dan sudah seharusnya tersedia bagi kepentingan rakyat, terkecuali jika ditentukan lain oleh perundang-undangan (US National commision Libraries and Information Services). Dengan kata lain rakyat mempunyai hak atas informasi yang dihasilkan oleh instansi pemerintah dengan persyaratan tertentu, terkecuali atas pengabaian hak rakyat itu hanya boleh dilakukan berdasarkan ketentuan yang tertera dalam peraturan perundang-undangan. Proses penentuan kebijakan publik tentunya harus dapat menyerap aspirasi masyarakat. Karena itu kebijakan publik perlu dikomunikasikan kepada masyarakat guna mendapat umpan balik dari masyarakat, dan kebijakan publik tersebut hanya dapat diketahui secara luas oleh masyarat melalui kegiatan diseminasi (penyebaran informasi). Tujuan sosialisasi ini adalah untuk menyampaikan kebijakan-kebijakan secara relevan kepada kelompok-kelompok sasaran, dengan maksud memperbaiki kesesuaian dari kebijakan-kebijakan tersebut dalam sebuah kerangka komunikasi publik dengan para stakeholder. Selain itu, sosialisasi ini bertujuan juga untuk memberikan pengetahuan

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

44

(public education), pemahaman dalam tataran peningkatan kesadaran kognitif publik (awareness), perubahan sikap atau perilaku, atau dalam perspektif tujuan jangka panjang adalah terbentuknya public will dari masyarakat dan para stakeholder dalam menyikapi kebijakan-kebijakan tersebut, untuk sebuah perubahan yang lebih baik. Sosialisasi akan dikembangkan berdasar pada permasalahan-permasalahan mendasar dalam pembangunan Bidang Kewilayahan dan Tata Ruang, yaitu belum optimalnya penyediaan basis analisis pembangunan wilayah, baik berupa data, informasi spasial, maupun pemetaan, serta belum optimalnya penyelenggaraan dasar perencanaan pembangunan wilayah, baik upaya-upaya dalam penataan ruang maupun pengelolaan pertanahan yang menjadi acuan dalam pembangunan wilayah di daerah.

Pembangunan wilayah-wilayah tertinggal, perbatasan, kawasan strategis, kawasan rawan bencana, kawasan perkotaaan, perdesaan, dan upaya-upaya pengembangan ekonomi lokal, belum optimal dilaksanakan dan perlu dipercepat dan dikerjakan dalam kerangka lintas sektor, lintas pelaku, dan lintas daerah. Berbagai upaya pemantapan desentralisasi dan perbaikan tata kelola pemerintah daerah pun belum optimal dilaksanakan untuk dapat mendukung proses pelaksanaan pembangunan wilayah di daerah. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 merupakan tahap kedua dari pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 yang ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007. RPJMN 2010-2014 ini selanjutnya menjadi pedoman bagi K/L dalam menyusun Rencana Strategis K/L (Renstra-KL) dan menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah dalam menyusun/menyesuaikan rencana pembangunan daerahnya masingmasing dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan nasional. Untuk pelaksanaan lebih lanjut, RPJMN akan dijabarkan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang akan menjadi pedoman bagi penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN). Sesuai amanat Pasal 4 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) merupakan penjabaran dari Visi, Misi, dan Program Presiden yang penyusunannya berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN), yang memuat strategi pembangunan nasional, kebijakan umum, program K/L dan lintas kementerian/ lembaga, kewilayahan dan lintas kewilayahan, serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal dalam

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

45

rencana kerja yang berupa kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Strategi untuk melaksanakan Visi dan Misi RPJPN 2005-2025 dijabarkan secara bertahap dalam periode lima tahunan atau RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah). Masing-masing tahap mempunyai skala prioritas dan strategi

pembangunan yang merupakan kesinambungan dari skala prioritas dan strategi pembangunan pada periode-periode sebelumnya. Tahapan skala prioritas utama dan strategi RPJM secara ringkas adalah sebagai berikut:

Gambar 5

Pentahapan Pembangunan RPJPN 2005-2025

RPJM 4 (2020RPJM 3 RPJM RPJM 1
Menata NKRI, kembali membangun yang

2024)
Mewujudkan masyarakat Indonesia yang secara dengan mandiri, maju, adil dan makmur percepatan bangunan di melalui pemsegala

2

Memantapkan pembangunan menyeluruh

(2010-2014)
Memantapkan penataan NKRI, kualitas membangun kemampuan memperkuat iptek, daya kembali

menekankan pembangunan keunggulan kompetitif perekonomian berbasis SDA yang yang

meningkatkan SDM,

bidang dengan struktur perekonomian yang

Indonesia

aman dan damai, yang adil dan

demokratis, dengan tingkat

2.7.1 Prioritas Nasional Visi dan Misi pemerintah 2010-2014, perlu dirumuskan dan dijabarkan lebih operasional ke dalam sejumlah program prioritas sehingga lebih mudah

diimplementasikan dan diukur tingkat keberhasilannya. Prioritas Nasional ini bertujuan untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi oleh bangsa dan negara di masa mendatang. Sebagian besar sumber daya dan kebijakan akan diprioritaskan untuk menjamin implementasi dari prioritas nasional. Sebagaimana tertera dalam Buku I RPJMN 2010-2014, prioritas nasional yang terkait dengan Tata Ruang dan Pertanahan adalah: prioritas 4 Penanggulangan kemiskinan; prioritas 5 Ketahanan pangan;

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

46

prioritas 6 Infrastruktur; prioritas 7 Iklim investasi dan usaha; prioritas 8 Energi; dan prioritas 10 Daerah tertinggal, terdepan, terluar, dan paskakonflik. Prioritas 4: Penanggulangan Kemiskinan Penurunan tingkat kemiskinan absolut dari 14,1% pada 2009 menjadi 8-10% pada 2014 dan perbaikan distribusi pendapatan dengan perlindungan sosial yang berbasis keluarga, pemberdayaan masyarakat dan perluasan kesempatan ekonomi masyarakat yang berpendapatan rendah. Prioritas 5: Ketahanan Pangan Peningkatan ketahanan pangan dan lanjutan revitalisasi pertanian untuk mewujudkan kemandirian pangan, peningkatan daya saing produk pertanian, peningkatan pendapatan petani, serta kelestarian lingkungan dan sumber daya alam. Peningkatan pertumbuhan PDB sektor pertanian sebesar 3,7% per tahun dan Indeks Nilai Tukar Petani sebesar 115-120 pada 2014. Salah satu substansi inti program aksi ketahanan pangan adalah: Lahan, pengembangan kawasan dan tata ruang pertanian: Penataan regulasi untuk menjamin kepastian hukum atas lahan pertanian, pengembangan areal pertanian baru seluas 2 juta hektar, penertiban serta optimalisasi penggunaan lahan terlantar. Prioritas 6: Infrastruktur Pembangunan infrastruktur nasional yang memiliki daya dukung dan daya gerak terhadap pertumbuhan ekonomi dan sosial yang berkeadilan dan mengutamakan kepentingan masyarakat umum di seluruh bagian negara kepulauan Republik Indonesia dengan mendorong partisipasi masyarakat. Salah satu substansi inti program aksi Bidang Infrastruktur adalah: Tanah dan tata ruang: Konsolidasi kebijakan penanganan dan pemanfaatan tanah untuk kepentingan umum secara menyeluruh di bawah satu atap dan pengelolaan tata ruang secara terpadu. Prioritas 7: Iklim Investasi dan Iklim Usaha Peningkatan investasi melalui perbaikan kepastian hukum, penyederhanaan prosedur, perbaikan sistem informasi, dan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Salah satu substansi inti program aksi Bidang Iklim Investasi dan Iklim Usaha adalah:

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

47

Kepastian hukum: Reformasi regulasi secara bertahap di tingkat nasional dan daerah sehingga terjadi harmonisasi peraturan perundang-undangan yang tidak menimbulkan ketidakjelasan dan inkonsistensi dalam implementasinya. Prioritas 8: Energi Pencapaian ketahanan energi nasional yang menjamin kelangsungan pertumbuhan nasional melalui restrukturisasi kelembagaan dan optimalisasi pemanfaatan energi alternatif seluas-luasnya. Salah satu substansi inti program aksi Bidang Energi adalah: Energi alternatif: Peningkatan pemanfaatan energi terbarukan termasuk energi alternatif geothermal sehingga mencapai 2.000 MW pada 2012 dan 5.000 MW pada 2014 dan dimulainya produksi coal bed methane untuk membangkitkan listrik pada 2011 disertai pemanfaatan potensi tenaga surya, microhydro, serta nuklir secara bertahap. Prioritas 10: Daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar, dan Pasca-Konflik Program aksi untuk daerah tertinggal, terdepan, terluar, dan pascakonflik ditujukan untuk pengutamaan dan penjaminan pertumbuhan di daerah tertinggal, terdepan, terluar serta keberlangsungan kehidupan damai di wilayah pascakonflik dengan substansi inti sebagai berikut: Keutuhan wilayah: Penyelesaian pemetaan wilayah perbatasan RI dengan Malaysia, Papua Nugini, Timor Leste, dan Filipina pada 2010.

2.7.2 Tata Ruang 2.7.2.1 Permasalahan

Permasalahan yang dihadapi untuk penyelenggaraan penataan ruang adalah sebagai berikut: 1. Pengaturan penataan ruang: a. Belum selesainya penyusunan leuruh perautran perundangan yang diamanatkan oleh UU No. 26 Tahun 2007; b. Belum tersusunnya aturan dalam bentuk PP yang menyerasikan peraturan epalsanaan UU No. 26 Tahun 2007 dengan UU sektoral; 2. Pembinaan penataan ruang:

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

48

a. Belum optimalnya kapasitas kelembagaan termasuk kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia serta masih terbatasanya penyediaan informasi; b. Kurangnya pemahaman tentang UU 26 Tahun 2007 oleh pemangku kepentingan yang disebabkan oleh kurangnya sosialisasi dan advokasi; c. Lemahnya koordinasi penyelenggaraan penataan ruang antar sektor dan antar wilayah; 3. Perencanaan tata ruang: a. Lambatnya pengesahan Perda RTRWP dan RTRWK; b. Kualitas dan kuantitas data yang belum memadai untuk penyusunan RTR; c. Proses penyusunan RTR yang belum mengakomodasi proses politis dan belum melibatkan masyarakat; 4. Pemanfaatan ruang: a. Belum serasinya program pembangunan antar sektor dan antar wilayah; b. Masih rendahnya tingkat kesesuaian penggunaan lahan dengan yang direncanakan dalam RTR; 5. Pengendalian pemanfaatan ruang: belum tersedianya instrumen pengendalian yang optimal dan mekanisme perizinan yang mengacu pada RTR dan sanksi atas pelanggaran; 6. Pengawasan penataan ruang: belum terbentuknya penyidik pegawai negeri sipil penataan ruang yang mencukupi untuk meningkatkan fungsi pengawasan. 2.7.2.2 Sasaran

1. Tersusunnya peraturan perundangan untuk mendukung implementasi UU 26/2007; 2. Terlaksananya pembinaan penataan ruang kepada pemangku kepentingan; 3. Terwujudnya peningkatan peran kelambagaan yang handal termasuk sumberdaya manusia dan sistem informasi; 4. Terwujudnya peningkatan kualitas produk RTR yang disertai dengan penginkatan layanan peta dasar dan tematik; 5. Terwujudnya sinkronisasi program pembangunan antarsektor dan antarwilayah yang mengacu pada RTR; 6. Terwujudnya kesepakatan kerjasama pembangunan antarwilayah; 7. Terlaksananya pengendalian pemanfaatan ruang dan pengawasan teknis.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

49

2.7.2.3

Arah kebijakan dan strategi

Arah kebijakan dalam prioritas bidang penyelenggaraan penataan ruang adalah mewujdukan penyelenggaraan pentaan ruang yang berkelanjutan dengan

meningkatkan kualitas rencana tata ruang, mengoptimalkan peran kelembagaan, dan diacunya rencana tata ruang dalam pelaksanaan pembangunan. Untuk mencapai arah kebijakan teresbut, dirumuskan strategi, yaitu: 1. Mempercepat penyusunan dan pengesahan RTR dan peratuan perudnangan pelaksanaan sebagai amanat UU 26/2007; 2. Mewujudkan sinkronisasi program pembangunan sesuai dengan RTRW; 3. Meningkatkan sosialisasi dan advokasi perautran perundangan tata ruang dan NSPK Penataan Ruang kepada pemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah; 4. Mempercepat penyelesaian sistem informasi penataan ruang terpadu, peta dasar dan tematik serta memanfaatkan pendekatatan KLHS sebagai salah satu acuan dalam penyusunan rencana tata ruang dalam rangka peningkatan kualitas penyelenggaraan peantaan ruang; 5. Meningkatkan kapasitas kelembagaan penataan ruang dengan menginkatkan kualitas SDM dan koordinasi antar sektor dan wilayah, dan membangun kerjasama dan kesepakatan antar wilayah; 6. Meningkatkan pengendalian pemanfaatan ruang; 7. Mengoptimalkan pengawasan penyelenggaraan pentaan ruang termasuk di dalamnya melalui pengendalian pemanfaatan ruang dan terbentuknya PPNS; 2.7.3 Pertanahan 2.7.3.1 Permasalahan

Upaya pengembangan wilayah memerlukan dukungan penerapan sistem pengelolaan pertanahan yang efisien, efektif, serta penegakan hukum terhadap hak atas tanah dengan menerapkan prinsip-prinsip keadilan, transparansi, dan demokrasi. Beberapa kondisi yang membutuhkan perhatian dan penanganan dalam upaya menjadikan tanah sebagai salah satu sumber perbaikan kesejahteraan masyarakat adalah sebagai berikut. a. Belum Kuatnya Jaminan Kepastian Hukum Hak Masyarakat Atas Tanah

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

50

Keterbatasan ketersediaan peta dasar untuk pendaftaran tanah merupakan salah satu kendala utama yang perlu diatasi. Data yang ada menunjukkan bahwa dari 39.681.839 bidang tanah yang telah terukur dan terdaftar, 10 persen yang sudah dipetakan secara jelas koordinatnya. Disamping itu, dengan mencermati kian tingginya tuntutan penggunaan teknologi informasi dalam pengelolaan pertanahan, peta dasar yang merupakan infrastruktur utama pendaftaran tanah juga perlu dituangkan dalam bentuk digital. b. Masih Terjadinya Ketimpangan Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan

Pemanfaatan Tanah (P4T) Meskipun telah dilakukan upaya penataan P4T, masih terindikasi tanah terlantar seluas 7.300.000 hektar. Di sisi lain, rata-rata penguasaan tanah kurang dari 0,5 hektar per rumah tangga petani masih belum cukup memadai untuk mencapai skala usaha pertanian. Dengan demikian, penataan P4T perlu ditingkatkan efektivitasnya untuk memperkecil resiko sengketa tanah, mengurangi kesenjangan penguasaan tanah serta menanggulangi kemiskinan, terutama di perdesaan. Disamping itu, upaya redistribusi tanah perlu dilanjutkan dan diperbaiki dengan memperhatikan bahwa legalisasi aset tanah tidak serta merta meningkatkan taraf hidup penerima redistribusi tanah. Untuk itu, diperlukan penyiapan yang matang sebelum tahap sertifikasi, serta adanya akses terhadap sumber daya produktif setelah diperolehnya sertifikat tanah. Selanjutnya berdasarkan Neraca Penatagunaan Tanah (PGT) di 93 kabupaten, yang membandingkan penggunaan tanah dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), tercatat sekitar 31 persen luas tanah yang penggunaannya belum sesuai dengan RTRW. Ketidaksesuaian dengan RTRW dapat berpotensi meningkatkan

ketidakpastian dalam penggunaan dan pemanfaatan tanah. c. Kinerja Pelayanan Pertanahan Yang Belum Optimal Peningkatan kinerja pelayanan pertanahan masih menghadapi kendala sistem informasi pertanahan yang belum memadai kualitasnya, baik dari aspek keamanan data yuridis maupun aspek kenyamanan pelayanan. Selain itu, masih diperlukan penguatan kapasitas sumber daya manusia di Bidang Pertanahan, yang mencakup kemampuan teknis, profesionalisme serta penerapan tata pemerintahan yang baik. d. Penataan Dan Penegakan Hukum Dalam Pengelolaan Pertanahan Belum Memadai

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

51

Ketidaksesuaian antar peraturan perundangan yang terkait dengan tanah masih menjadi kendala utama baik dalam mewujudkan kepastian hukum hak atas tanah maupun dalam menyelesaikan serta mencegah kasus pertanahan. Ketetapan MPR No. IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam juga telah mengamanatkan pengkajian peraturan dalam rangka sinkronisasi

kebijakan antarsektor. Oleh karena itu, penataan dan penegakan hukum dalam pengelolaan pertanahan perlu dilakukan secara optimal.

2.7.3.2

Sasaran

Berdasarkan penjabaran permasalahan-permasalahan tersebut di atas, maka sasaransasaran pokok pembangunan Bidang Pertanahan adalah sebagai berikut: 1. Bertambahnya cakupan wilayah yang memiliki peta pertanahan seluas 10.500.000 ha. 2. Bertambahnya luas tanah yang telah terdaftar. 3. Meningkatnya kepastian hukum hak atas tanah, termasuk di dalamnya bagi masyarakat kurang mampu, untuk mengakses sumberdaya produktif. 4. Meningkatnya penerapan sistem informasi dan manajemen pertanahan. 5. Meningkatnya ketersediaan informasi mengenai kesesuaian pola tata guna tanah dengan RTRW. 6. Terlaksananya pemberian aset tanah yang layak terutama bagi kalangan kurang mampu sebanyak 1.050.000 bidang. 7. Meningkatnya pengendalian penguasaan tanah terlantar. 8. Terlaksananya penataan dan penegakan hukum pertanahan. 9. Meningkatnya kualitas SDM dalam pengelolaan pertanahan.

2.7.3.3

Arah Kebijakan dan Strategi

Arah kebijakan yang dirumuskan untuk mencapai sasaran pembangunan pertanahan adalah “Melaksanakan pengelolaan pertanahan secara utuh dan terintegrasi melalui Reforma Agraria, sehingga tanah dapat dimanfaatkan secara berkeadilan untuk

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

52

memperbaiki kesejahteraan masyarakat dan turut mendukung pembangunan berkelanjutan”. Arah kebijakan tersebut ditempuh melalui strategi sebagai berikut. 1. Peningkatan penyediaan peta pertanahan dalam rangka legalisasi aset dan kepastian hukum hak atas tanah; 2. Pengaturan penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T) termasuk pengurangan tanah terlantar; 3. Peningkatan kinerja pelayanan pertanahan; 4. Penataan dan penegakan hukum pertanahan serta pengurangan potensi sengketa. 2.8 Perumusan Alur Pendekatan Kajian

Dikaitkan dengan UU No. 14 Tahun … tentang ... dan Kepmen PPN/Ka Bappenas No. … Pasal 438 tentang Fungsi dan Tugas Pokok Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan, Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan mempunyai kewajiban memberikan informasi atas permintaaan masyarakat (public rights to know). Sejalan dengan perubahan paradigma di bidang komunikasi, komunikasi tidak lagi dapat dilakukan secara kasualitas linier (satu arah), tetapi relasional dan transaksional (dua arah). Pengaruhnya bersifat timbal balik, sehingga pihak-pihak yang berkomunikasi saling bergantung, dan pesannya harus dirancang secara konvergen dan sirkular. Dalam memberikan pelayanan informasi kepada publik, bisa didasarkan pada karakteristik lembaga sesuai dengan landasan kebijakan institusi. Sosialisasi mengacu pada suatu proses belajar seorang individu yang akan mengubah dari seseorang yang tidak tahu menahu tentang diri dan lingkungannya menjadi lebih tahu dan memahami. Sosialisasi merupakan suatu proses di mana seseorang menghayati (mendarahdagingkan - internalize) norma-norma kelompok di mana ia hidup sehingga timbullah identitas diri yang unik yang berbeda dengan individu yang lain. Sosialisasi bisa juga dipandang sebagai sebuah proses pemasyarakatan programprogram yang dilakukan melalui melalui berbagai tingkatan komunikasi. Berangkat dari pandangan ini, maka sebagai batasan konseptual, strategi sosialisasi ini akan diarahkan kepada adaptasi dan pengunaan metode-metode dalam komunikasi publik, khususnya penyebaran informasi melalui kampanye komunikasi publik. Dari penjelasan-penjelasan di atas, maka sosialisasi dalam kajian ini diartikan sebagai mekanisme penyampaian informasi tentang RPJMN 2010-2014 untuk Bidang TRP

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

53

melalui berbagai pola dan bentuk kegiatan baik secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan kelompok-kelompok sasaran dalam masyarakat. Dengan mekanisme ini kelompok-kelompok dalam masyarakat menjadi tahu dan dapat memahaminya. Pada hakekatnya kegiatan sosialisasi merupakan bagian dari proses komunikasi dalam rangka meningkatkan kesadaran kognitif (awarenes). Strategi sosialisasi yang dikembangkan dalam kajian ini dibuat dalam sebuah konteks sistem stategi komunikasi yang berkaitan satu sama lain, dan dirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Strategi yang dibangun merupakan paduan perencanaan komunikasi dengan manajemen komunikasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dari kajian-kajian yang dilakukan di awal kegiatan ini, ada beberapa identifikasi temuan yang menjadi komponen kunci untuk pengembangan-

pengembangan strategi sosialisasi RPJMN Bidang TRP. Komponen-komponen tersebut adalah antara lain mengenai sistem komunikasi yang belum terbentuk optimal, identitas komunikator dan program, pemilihan prioritas penyampaian informasi dan perancangan pesan, serta mengenai kesinambungan sosialisasi. Dalam hubungannya dengan landasan konsep yang telah diuraikan sebelumnya, maka fokus strategi komunikasi untuk tahapan awal ini difokuskan pada pemetaanpemetaan strategi komunikasi yang menjadi prioritas dan dinilai penting untuk segera dikembangkan. Jika kita menelaah tujuan sentral strategi komunikasi seperti yang diutarakan oleh Pace, Peterson, dan Burnet (… dalam Effendy, 1997), maka strategi komunikasi pada dasarnya terdiri atas tiga tujuan utama yaitu: (a) to secure understanding; (b) to establish acceptance, dan (c) to motivate action. Kajian strategi sosialisasi RPJMN ini kemudian difokuskan pencapaiannya pada tingkat kesadaran (awareness), tingkat pengetahuan, dan tingkat pemahaman materi-materi RPJMN di Bidang TRP secara merata. Meskipun demikian kajian ini juga menyajikan beberapa model konsep yang dapat digunakan untuk pencapaian tujuan sosialisasi yang lebih tinggi di tataran perubahan perilaku dan perubahan kebijakan yang akan mendukung kegiatan sosialisasi RPJMN ke berbagai lapisan masyarakat.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

54

Bab 3
3.1

Kerangka pemikiran dan metodologi kajian

Kerangka pemikiran

Untuk mencapai sasaran (Bagian 1.3) dengan ruang lingkup yang telah ditentukan dalam Bagian 1.4, maka dipilih dua metode penelitian utama yaitu suvey dan focus group discussion. Survey ditujukan untuk mengetahui tingkat pengetahuan objek sosialisasi agar strategi yang dirancang sesuai dengan sasaran. Focus group discussion dilaksanakan untuk mempercepat pengujian atas rancangan strategi komunikasi yang telah disusun. Selain dengan focus group discussion, pengujian dapat dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara. Bila dibandingkan dengan focus group discussion, wawancara lebih banyak membutuhkan personel dan membutuhkan waktu yang lebih lama. Kedua metode yang dipilih tersebut dijelaskan lebih lanjut dalam Bagian 3.2.

3.2

Metodologi

3.2.1 Survey Survey dilakukan terhadap tiga objek sasaran yaitu pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat. Pengumpulan data ini merupakan upaya untuk mengembangkan dan mengujicobakan serangkaian prediksi-prediksi yang ditemukan dan disadari sebelumnya oleh tim kajian mengenai permasalahan pengetahuan,

pemahaman, serta sosialisasi Bidang TRP. Data ini berguna sekali untuk membantu mengungkap berbagai fakta, pendapat, wacana, fenomena, hingga manfaatnya sebagai sumber bagi pengembangan strategi-strategi komunikasi yang akan dibuat kemudian. Pemilihan responden dilakukan terhadap informan-informan kunci di tiga objek sosialisasi berdasarkan pada penentuan lingkup keilmuan, profesi, dan pendidikan. Untuk kalangan perguruan tinggi survey dilakukan terhadap kelompok akademis dari jurusan perencanaan, ilmu bumi dan geo-informasi. Untuk pemerintah daerah survey dilakukan terhadap Bappeda, dan untuk masyarakat umum berdasar pada jenjang pendidikan dari SMA hingga S2. Menurut Bungin (2008), prosedur sampling yang terpenting adalah bagaimana

menentukan informan kunci (key informan) atau situasi sosial tertentu yang sarat

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

55

informasi sesuai dengan fokus penelitian. Teknik pemilihan sampel secara acak (seperti yang lazim digunakan dalam penelitian kuantitatif), dengan sendirinya tidak relevan. Untuk memilih sampel (dalam hal ini informan kunci atau situasi sosial) lebih tepat dilakukan secara sengaja (purposive sampling). Selanjutnya bilamana dalam proses proses pengumpulan data sudah tidak lagi ditemukan variasi informasi, maka peneliti tidak perlu lagi untuk mencari informan baru, proses pengumpulan informasi dianggap sudah selesai. Dengan demikian, penelitian kualitatif tidak dipersoalkan jumlah sampel. Dalam hal ini, jumlah sampel (informan) bisa sedikit, tetapi bisa juga banyak, terutama tergantung dari: a) tepat tidaknya pemilihan informan kunci, dan b) kompleksitas dan keragaman fenomena sosial yang diteliti. Spradley (1980) mengusulkan lima kriteria untuk pemilihan sampel informan awal, sebagai berikut: 1. Subyek yang telah cukup lama dan intensif menyetu dengan kegiatan atau medan aktivitas yang yang menjadi informasi, melainkan juga menghayati secara sungguh-sungguh sebagai akibat dari keterlibatannya yang cukup lama dengan lingkuangan atau kegiatan yang bersangkutan. Ini biasanya ditandai oleh kemampuannya dalam memberikan informasi (hapal “di luar kepala”) tentang sesuatu yang ditanyakan. 2. Subyek yang masih terlibat secara penuh/aktif pada lingkungan atau kegiatan yang menjadi perhatian peneliti, mereka yang sudah tidak aktif, biasanya informasinya terbatas dan kurang akurat, kecuali jika peneliti ingin menggali informasi tentang pengalaman mereka. 3. Subyek yang mempunyai banyak waktu atau kesempatan untuk diwawancarai. 4. Subyek yang dalam memberikan informasi tidak cenderung diolah atau dipersiapkan terlebih dahulu. Mereka ini tergolong “lugu” (apa adanya) dalam memberikan informasi. Persyaratan ini cukup penting, terutama bagi peneliti pemula, dan berkaitan dengan upaya untuk memperoleh informasi yang lebih faktual. 5. Subyek yang sebelumnya masih tergolong masih “asing” dengan penelitian, sehingga peneliti merasa lebih tertantang untuk “belajar” sebanyak mungkin dari subyek yang berfungsi sebagai “guru baru” bagi peneliti. Pengalaman menunjukan, persyaratan ini terbukti merupakan salah satu faktor penting bagi produktivitas perolehan informasi di lapangan.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

56

Survey yang dilakukan dalam kajian ini tidak bermaksud untuk menggambarkan karakteristik populasi atau menarik generalisasi kesimpulan yang berlaku bagi suatu populasi, melainkan lebih terfokus kepada representasi terhadap fenomena sosial. Penelitian kualitatif bertolak dari asumsi tentang realitas atau fenomena sosial yang bersifat unik dan kompleks. Padanya terdapat regularitas atau pola tertentu, namun penuh dengan variasi (keragaman). Data atau informasi harus ditelusuri seluas-

luasnya (dan sedalam mungkin) sesuai dengan variasi yang ada. Hanya dengan cara demikian, peneliti mampu mendeskripsikan fenomena yang diterliti secara utuh (Bungin, 2008) Sampai dengan berakhirnya pengumpulan informasi umumnya terdapat tiga tahap pemilihan sampel dalam penelitian kualitatif , yakni: (a) pemilihan sampel awal, apakah itu informan (untuk diwawancarai atau suatu situasi sosial (untuk diobservasi) yang terkait dengan fokus penelitian; (b) pemilihan sampel lanjutan guna memperluas deskripsi informasi dan melacak variasi informsi yang mungkin ada, dan (c) menghentikan pemilihan sampel lanjutan bilamana dianggap sudah tidak ditemukan lagi variasi informasi (sudah terjadi replikasi perolehan informasi). Dalam menempuh tiga tahapan tersebut, prosedur pemilihan sample dalam penelitian kualitatif yang lazim digunakan adalah melalui teknik snowball sampling. Variasi sampel informan memang diperlukan agar tidak terbatas pada sekelompok individu saja yang seringkali memiliki kepentingan tertentu, sehingga hasil penelitian menjadi bias. Terlepas dari itu semua, subyek dalam penelitian kualitatif (baik yang dipilih sebagai informan awal atau informan berikutnya), harus benar-benar memiliki predikat sebagai key informan yang sarat dengan informasi yang diperlukan sesuai dengan tujuan penelitian. Fokus perancangan isi kuesioner ditekankan pada pertanyaan-pertanyaan

pengetahuan, pemahaman dan sosialisasi tentang pembangunan nasional, kebijakan pembangunan Bidang TRP, perencanaan kebijakan tata ruang dan pertanahan, pengawasan kebijakan tata ruang dan pertanahan, isu seputar tata ruang dan pertanahan, aspek lembaga dan organisasi, pengetahuan dan pemahaman kebutuhan sistem informasi, pengetahuan dan pemahaman fungsi sistem informasi, pelatihan. Survey dilakukan terhadap 12 responden masyarakat, 12 responden Akademisi, dan 6 responden dari Pemda. Teknis penyebaran kuesioner dilakukan dalam dua cara yaitu

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

57

secara langsung, dengan menemui para responden dan juga secara tidak langsung melalu sarana e-mail di kota Bandung dan Jakarta.

3.2.2 Focus group discussion FGD adalah wawancara dalam kelompok tentang topik yang sangat spesifik (Bender & Ewbank, 1994) yang harus dipandu oleh moderator. Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data primer dengan memanfaatkan interaksi antar partisipan di dalam kelompok (Sim & Snell, 1996 dikutip dalam Sim, 1998; Folch-Lyon & Trost, 1981). Satu kelompok idealnya terdiri dari enam sampai dengan dua belas partisipan (FolchLyon & Trost, 1981). Interaksi antar partisipan di dalam FGD dilakukan dengan mendorong partisipan untuk memberikan komentar pada pendapat partisipan lain dan juga dengan menjawab pertanyaan umum dari moderator (Folch-Lyon & Trost, 1981). Pertanyaan yang diajukan untuk memperdalam diskusi atas satu topik spesifik (Folch-Lyon & Trost, 1981). Interaksi ini memungkinkan penggalian informasi yang lebih komprehensif dibandingkan dengan metode lain (Barbour, 2005). Kelebihan teknik adalah masukan komprehensif dari peserta diskusi dalam waktu yang bersamaan yang berasal dari interaksi antar partisipan (Morgan, 1988). Kelebihan ini yang adalah alasan utama menyebabkan teknik ini dapat digunakan untuk mendapatkan data untuk masalah kompleks (Basch, 1987 cited in Twinn, 1998). Keuntungan lain teknik ini adalah kecepatan pengumpulan data dibandingkan dengan teknik wawancara (Barbour, 2005) dan dapat menurunkan tekanan untuk terpaksa berbicara bagi partisipan (Twinn, 1998). Kelemahan teknik adalah kadang-kadang peneliti sulit mengendalikan arah diskusi dibandingkan dengan wawancara (Bender & Ewbank, 1994). Dengan

mempertimbangkan kekurangan dan kelebihan teknik ini maka teknik ini sebaiknya digunakan sebagai komplemen bagi analisis kuantitatif lainnya (Folch-Lyon & Trost, 1981). Moderator memiliki peran yang sangat penting untuk menentukan kualitas data yang dikumpulkan selama FGD (Sim, 1998). Pengetahuan teknis at topik yang didiskusikan sama pentingnya dengan kemampuan untuk mengendalikan diskusi (Sim, 1998) begitu juga perilaku positif yang ditunjukan oleh moderator (Folch-Lyon & Trost, 1981).

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

58

Perilaku positif yang penting ditunjukan oleh moderator adalah indikasi bahwa moderator adalah pihak yang belajar dari partisipan bukan sebaliknya (Milward, 1995 dikutip dalam Sim, 1998). Kontribusi moderator di dalam diskusi sebaiknya hanya sekitar lima sampai dengan sepuluh persen dari diskusi (Hague, 1993 dikutip dalam Sim, 1998). Moderator memandu diskusi dengan memperkenalkan masalah, memandu dan pada saat yang sama mendorong partisipasi yang setara antar seluruh partisipan (Folch-Lyon & Trost, 1981; Carey, 1995 dikutip dalam Sim, 1998; Bender & Ewbank, 1994), memfokuskan kembali dan menarik partisipan kembali aktif berdiskusi (Twinn, 1998; Bender & Ewbank, 1994). Jumlah partisipan dalam satu FGD biasanya antara enam sampai dengan dua belas (Morgan, 1988 dikutip dalam Bender & Ewbank, 1994; Stewart & Shandasani, 1990 dikutip dalam Sim, 1998; Folch-Lyon & Trost, 1981). Jumlah peserta dapat lebih banyak di daerah yang tidak terbiasa mengutarakan pendapat, misalnya sampai dengan lima belas orang (Bender & Ewbank, 1994). Selain jumlah partisipan, keseragaman antara anggota kelompok juga penting karena dapat menciptakan lingkungan yang suportif sehingga topik dapat didiskusikan dengan lebih baik, tanpa tekanan (Barbour, 2005). Bila kajian memerlukan masukan dari kelompok dengan karakteristik yang berbeda maka diperlukan sesi diskusi yang lebih banyak untuk meningkatkan keakuratan data (Krueger, 1994 dikutip dalam Sim, 1998) dan untuk mempelajari variasi pendapat dari berbagai kelompok dalam populasi (Ward et al., 1991). Keseragaman anggota dapat ditetapkan berdasarkan umur, jenis kelamin, golongan sosial ekonomi atau latar belakang pendidikan (Folch-Lyon & Trost, 1981). Kriteria untuk menentukan keseragaman karakteristik partisipan tergantung pada tujuan kajian itu sendiri (Ward et al., 1991). Analisis data FGD menggunakan cara yang biasa digunakan untuk menganalisis data kualitatif seperti analisis induksi berdasarkan content analysis (Sim, 1998). Dengan teknik ini, grup menjadi unit analisis, bukan individu (Knodel & Pramualratana 1987; Morgan 1988 dikutip dalam Bender & Ewbank, 1994). Lima langkah yang diperlukan adalah: (1) mendengarkan rekaman untuk mengenali iklim diskusi; (2) membuat transkrip: (3) membuat daftar temuan; (4) mengelompokan temuan berdasarkan topik;

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

59

(5) analisis antar grup; dan (6) membuat laporan mendalam termasuk temuan untuk setiap topik dan interpretasi hasil dari setiap sesi (Folch-Lyon & Trost, 1981). Dalam kajian ini, FGD dilakukan untuk mendapatkan konfirmasi dan masukan dari ketiga objek sosialisasi atas rancangan strategi dan materi yang akan disosialisasikan. Untuk mempertahankan homogenitas di antara anggota kelompok, FGD dibagi menjadi tiga kelompok sesuai dengan objek sosialisasi: perguruan tinggi, pemerintah daerah dan masyarakat. Dengan pembagian ini diharapkan partisipan dapat berinteraksi dengan baik di dalam grup dan dapat menghasilkan input bagi perbaikan rancangan strategi sosialisasi yang sedang disusun. Jumlah peserta di tiap kelompok dibatasi sebanyak delapan orang untuk memudahkan fasilitator dan juga agar setiap peserta mendapatkan waktu yang cukup untuk memberikan masukan untuk materi yang didiskusikan. Lokasi FGD dipilih berdasarkan lokasi perguruan tinggi dan perbedaan karakteristik masyarakat. Bandung dipilih karena banyaknya jumlah perguruan tinggi yang ada di kota tersebut untuk menjamin terpenuhinya jumlah partisipan di kelompok perguruan tinggi. Di Bandung, selain itu perguruan tinggi, FGD dilakukan juga untuk masyarakat serta pemerintah provinsi dan kabupaten/kota. Berikut adalah daftar peserta yang diundang dalam setiap kelompok objek untuk FGD yang dilaksanakan di Bandung: 1. Pemerintah daerah: Bappeda Provinsi Jawa Barat, Bappeda Kota Bandung, Bappeda Kab Bandung, Bappeda Kab Bandung Barat, Kanwil BPN Prov Jabar, Kantor Pertanahan Kota Bandung, Kantor Pertanahan Kab Bandung, Kantor Pertanahan Kab Bandung Barat. 2. PT dan LSM: Jur Planologi ITB, Jur Planologi UNPAS, Jur Planologi UNISBA, Jur Planologi ITENAS, Jur Geodesi ITB, Jur Geografi UPI, LSM AKATIGA, AKPPI (ASOSIASI KONSULTAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN INDONESIA). 3. Masyarakat: Ibu rumah tangga (lulusan S1) [2 orang]; Tokoh masyarakat (minimal lulusan SMA) [2 orang]; Relawan P2KP (minimal lulusan SMA) [2 orang]; petani (minimal lulusan SMA) [1 orang]; wiraswasta (minimal lulusan SMA) (pemilik warung/ toko) (minimal lulusan SMA) [1 orang]. Kelompok masyarakat diundang dengan bantuan identifikasi oleh BKM Kota Bandung. Batam dipilih karena terletak di kepulauan dan memiliki budaya yang berbeda dibandingkan dengan Bandung. Selain FGD untuk masyarakat, FGD dilaksanakan juga

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

60

untuk kelompok pemerintah daerah. Di Batam, peserta yang diundang untuk setiap kelompok objek adalah: 1. Pemerintah daerah: Bappeda Provinsi Kepulauan Riau, Bappeda Kota

Tanjungpinang, Bappeda Kota Batam, Bappeda Kabupaten Karimun, Kanwil BPN Kepulauan Riau, Kantor Pertanahan Kota Tanjungpinang, Kantor Pertanahan Kota Batam, Kantor Pertanahan Kabupaten Karimun. 2. Masyarakat dan Ornop: Ibu rumah tangga (lulusan S1) [2 orang]; Tokoh masyarakat (minimal lulusan SMA) [2 orang]; Relawan P2KP (minimal lulusan SMA) [2 orang]; petani (minimal lulusan SMA) [1 orang]; wiraswasta (minimal lulusan SMA) (pemilik warung/ toko) (minimal lulusan SMA) [1 orang]. Dalam setiap kelompok, partisipan mendapatkan penjelasan tentang rencana diskusi dalam dua jam yang telah dialokasikan. Presentasi bahasan dilakukan sesuai dengan rencana, namun demikian peserta bebas untuk mengutarakan pendapatnya di tengahtengah presentasi materi. Acara detail dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah. Tabel 4
Waktu (menit) 15 15 Registrasi Pembukaan

Acara FGD
Acara Panitia Ir. Deddy Koespramoedyo, MSc (Direktur Tata Ruang dan Pertanahan) Penanggung jawab

15 60

Perkenalan Diskusi dan penyajian Materi Toolkit Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

Ir. Dwi Hariyawan, MA (Kasubdit Tata Ruang) Ir. Nana Apriyana, MT (Kasubdit Informasi dan Sosialisasi Tata Ruang dan Pertanahan) Ir. Rinella Tambunan, MPA (Kasubdit Pertanahan)

15

Penutupan

Materi yang disampaikan meliputi rancangan strategi sosialisasi RPJMN 2010-2014 untuk Bidang TRP, toolkit dan contoh aplikasi. Strategi sosialisasi terdiri atas 8 strategi yang dirumuskan setelah dilakukan analisis terhadap hasil mini survey. Toolkit disusun untuk satu sasaran per bidang sebagai contoh untuk kedalaman materi bagi setiap objek. Contoh ini diperlukan untuk memudahkan penyusunan materi bagi setiap sasaran. Toolkit yang dipaparkan terdiri atas rencana pembangunan, rencana tata ruang, keserasian antar rencana pembangunan dengan rencana tata ruang dan materi

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

61

sertifikasi tanah. Contoh aplikasi dibuat secara spesifik untuk setiap kelompok objek yang isinya disesuaikan dengan kedalaman materi yang telah disusun dalam toolkit. Untuk pemerintah daerah, aplikasi berupa materi presentasi sedangkan untuk perguruan tinggi berupa materi dalam website. Untuk masyarakat, aplikasi berupa pamflet informasi yang lebih sederhana.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

62

Bab 4

Kajian Strategi Sosialisasi RPJMN 20102014

4.1

Materi

4.1.1 Bidang Tata Ruang Ada 11 prioritas nasional yang menjadi fokus utama pembangunan tahun 2010-2014 yang tercantum dalam Buku I RPJMN Tahun 2010-2014 dan Bidang Tata Ruang termasuk ke dalam Prioritas 6: Infrastruktur. Dalam prioritas ini dinyatakan bahwa pembangunan infrastruktur nasional diarahkan menuju daya dukung dan daya gerak terhadap pertumbuhan ekonomi dan sosial yang berkeadilan dan mengutamakan kepentingan masyarakat umum di seluruh bagian Negara Kepulauan Republik Indonesia dengan mendorong partisipasi masyarakat. Lebih lanjut lagi, dalam Buku II RPJMN Tahun 2010-2014 Bab IX: Wilayah dan Tata Ruang disebutkan bahwa kegiatan yang menjadi prioritas adalah Perencanaan, Pemanfaatan, dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Nasional termasuk melakukan Koordinasi dan Fasilitasi Proses Penetapan Dokumen-dokumen yang dihasilkan. Ini berarti penyelesaian rencana pembangunan dan rencana tata ruang daerah menempati posisi yang cukup krusial karena dokumen-dokumen tersebut harus segera ada sebagai arahan pelaksanaan pembangunan daerah. Agar dapat dimanfaatkan secara utuh, sesuai amanat UU No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 dan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, kedua dokumen ini (di semua tingkat pemerintahan) juga harus saling terintegrasi dan terpadu. Aspek spasial haruslah diintegrasikan ke dalam kerangka perencanaan pembangunan dan lebih khususnya lagi,

penyelenggaraan penataan ruang. Penyelenggaraan penataan ruang bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan berdasarkan wawasan nusantara dan ketahanan nasional dengan: (i) terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan, (ii) terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia, (iii) terwujudnya perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang. Dalam melaksanakan penyelenggaraan penataan ruang yang meliputi kegiatan pengaturan, pembinaan, pelaksanaan dan

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

63

pengawasan penataan ruang perlu dilakukan penyusunan, sinkronisasi dan sosialisasi peraturan perundang-undangan pelaksanaan serta berbagai pedoman teknisnya. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, penurunan materi Bidang Tata Ruang dalam toolkit RPJMN dilakukan dengan penekanan terhadap beberapa fokus, yaitu: 1. Rencana pembangunan (termasuk di dalamnya penjelasan mengenai RPJPN Tahun 2005-2025, RPJMN Tahun 2010-2014, RKP dan peran masyarakat dalam penyusunan rencana pembangunan nasional); 2. Rencana tata ruang (termasuk di dalamnya penjelasan mengenai RTRWN, RTR Pulau, RTRW Provinsi, dan RTRW Kabupaten/Kota, pelibatan masyarakat dalam penyusunan RTRW serta mekanisme pengendalian terhadap pemanfaatan ruang); dan 3. Kesesuaian antara rencana pembangunan dengan rencana tata ruang (termasuk di dalamnya penjelasan mengenai keterkaitan antara dokumen rencana pembangunan dengan rencana tata ruang dan keterkaitan bidang dalam RPJMN dengan indikasi program dalam RTRWN). 4.1.2 Bidang Pertanahan Berdasarkan konsep dan kerangka berpikir yang telah disajikan dalam bab sebelumnya, dari berbagai isu dalam RPJMN 2010-2014 harus dipilih isu yang dianggap strategis sebagai bahan uji coba, sehingga tidak semua isu yang tercantum dalam RPJMN 2010-2014 dimasukan dalam kajian ini. Beberapa kriteria yang digunakan untuk mengkristalisasi isu: 1. Isu yang paling strategis dan mendasar; 2. Isu yang terkait pelayanan publik; 3. Isu yang menjadi concern bagi tiga pihak terkait: pemerintah daerah, akademisi dan masyarakat. Untuk Bidang Pertanahan, bertolak dari isu yang menjadi kriteria di atas, maka materi toolkit RPJMN yang dipilih antara lain meliputi: 1. Deskripsi mengenai Rencana Pembangunan Nasional, yaitu: RPJPN, RPJMN, RKP dan Peran Masyarakat dalam Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional. 2. Hak Atas Tanah Target dan Prosedur Sertifikasi Tanah seperti:

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

64

i.

Jenis-jenis Hak Atas Tanah: Hak Milik (HM); Hak Guna Usaha (HGU); Hak Guna Bangunan (HGB); Hak Pakai (HP); dan Hak Pengelolaan Lahan (HPL)

ii.

Manfaat Ketersediaan Sertipikat Tanah: Jaminan kepastian hukum hak atas tanah; Mengurangi potensi sengketa pertanahan; Mengakses sumberdaya produktif (permodalan baik dari bank dan non bank).

iii.

Keterkaitan antara Rencana Tata Ruang wilayah dengan Kepastian Hukum Atas Tanah: Pemberian hak atas tanah harus sesuai dengan rencana tata ruang (PP No. 16/2004 tentang Penatagunaan Tanah).

iv. v. vi. vii. viii. ix.

Prosedur Umum Pengurusan Sertipikat Pertama Kali. Target Pencapaian Sertifikasi Tanah 2014. Target Pencapaian Peta Pertanahan 2014. Manfaat peta pertanahan. Implikasi jika tidak Tersedia Peta Pertanahan. Contoh Sinergi BPN dengan Pemda.

Berikut disajikan matriks tingkat partisipasi/berkepentingan langsung/tidak langsung terhadap materi toolkit Bidang Pertanahan.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

65

Tabel 5

Matriks Fokus RPJMN 2010-2014 Bidang Pertanahan dan tingkat partisipasi/berkepentingan langsung/tidak langsung terhadap materi toolkit Bidang Pertanahan

NO

PROGRAM/ PRIORITAS

KEGIATAN

SASARAN

INDIKATOR

PEMDA

PERGURUAN TINGGI

MASYARAKAT/ LSM

BPN

Fokus 1: Peningkatan I Jaminan Atas Tanah a Pengelolaan Pertanahan Propinsi : Kepastian Hukum Hak Masyarakat

Meningkatnya jaminan kepastian hukum hak atas tanah

Luas tanah yang memiliki kepastian hukum hak atas tanah    

Terwujudnya sektoral, Indonesia

pengembangan diperlukan

infrastruktur di seluruh

Cakupan peta pertanahan (Prioritas Nasional 7)    

pertanahan secara nasional, regional dan yang

Terlaksananya percepatan legalisasi aset pertanahan, pertanahan ketertiban dan administrasi informasi kelengkapan

Jumlah bidang tanah yang dilegalisasi Nasional 7) (Prioritas    

legalitas aset tanah b Pengukuran (Prioritas Bidang) Dasar Bertambahnya luas wilayah yang telah diukur di dalam sistem referensi sesuai standar Luas wilayah Indonesia yang telah sistem standar terukur di dalam sesuai referensi    

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

66

NO

PROGRAM/ PRIORITAS Pemetaan

KEGIATAN

SASARAN

INDIKATOR

PEMDA

PERGURUAN TINGGI

MASYARAKAT/ LSM

BPN

c

Dasar

Terlaksananya survei dan pemetaan dasar sesuai Standar Operasi dan Prosedur (SOP)

Jumlah pertanahan

peta yang

dasar dibuat    

(Prioritas Bidang)

sesuai standar d Pengaturan (Prioritas Bidang) dan Tersedianya tanah serta rumusan kebijakan teknis Jumlah (SK) penetapan dan    

Penetapan Hak tanah

dibidang pengaturan dan penetapan hak meningkatnya pelaksanaan penetapan dan perizinan hak tanah.

perizinan hak atas tanah

e

Peningkatan

Kualitas

Terlaksananya pengukuran, pemetaan dan informasi bidang tanah, ruang dan perairan yang berkualitas.

Jumlah

penetapan

batas

Pengukuran, Pemetaan, dan Informasi Bidang Tanah, Perairan Bidang) f Peningkatan Pendaftaran Hak Tanah dan Guna Ruang (Prioritas Bidang) Ruang dan (Prioritas

dan pembangunan sistem informasi atas HGU, HGB, HPL dan HP    

Terwujudnya pembinaan dan pengelolaan pendaftaran hak atas tanah, hak milik atas satuan rumah susun, tanah wakaf, guna ruang dan perairan, serta PPAT

Pembinaan dan pengelolaan hak atas tanah dan guna ruang    

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

67

NO

PROGRAM/ PRIORITAS Fokus 2:

KEGIATAN

SASARAN

INDIKATOR

PEMDA

PERGURUAN TINGGI

MASYARAKAT/ LSM

BPN

II

Pengaturan dan tanah termasuk tanah

Berkurangnya pemilikan, tanah (P4T)

konsentrasi

penguasaan,

Terlaksananya tanah

redistribusi

penguasaan, pemilikan, penggunaan pemanfaatan (P4T) pengurangan terlantar a. Pengelolaan Pertanahan Propinsi :

penggunaan dan pemanfaatan

Terlaksananya pengaturan dan penataan penguasaan dan pemilikan tanah, serta pemanfaatan dan penggunaan tanah secara optimal.

Neraca Nasional 6)

Penatagunaan    

Tanah di daerah (Prioritas

Inventarisasi P4T (Prioritas Nasional 6) Terlaksananya redistribusi tanah Jumlah bidang tanah yang diredistribusi Nasional 4) Terwujudnya pengendalian penguasaan, Inventarisasi dan identifikasi tanah terindikasi terlantar (Prioritas Nasional 8) (Prioritas

pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah, dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka peningkatan akses terhadap sumber ekonomi

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

68

NO

PROGRAM/ PRIORITAS

KEGIATAN

SASARAN

INDIKATOR

PEMDA

PERGURUAN TINGGI

MASYARAKAT/ LSM

BPN

Data hasil inventarisasi Tertentu (WP3WT)

Wilayah Pesisir,

Inventarisasi Perbatasan Nasional 10) dan

Wilayah Wilayah    

Pulau-Pulau Kecil, Perbatasan dan Wilayah

Pesisir, Pulau-Pulau Kecil, Tertentu (WP3WT) (Prioritas

b

Pengelolaan Pesisir, Wilayah

Wilayah Pulau-Pulau Tertentu

Data hasil inventarisasi Tertentu (WP3WT)

Wilayah Pesisir,

Inventarisasi Perbatasan Nasional 10) dan

Wilayah Wilayah    

Pulau-Pulau Kecil, Perbatasan dan Wilayah

Pesisir, Pulau-Pulau Kecil, Tertentu (WP3WT) (Prioritas

Kecil, Perbatasan dan (WP3WT) (di pusat) c Pengelolaan Landreform (Prioritas Bidang)

Meningkatnya jumlah tanah negara yang ditegaskan menjadi Tanah Obyek Landreform (TOL) dan atau yang dikeluarkan dari TOL

Jumlah tanah negara yang ditegaskan menjadi Tanah Obyek Landreform (TOL) dan atau yang dikeluarkan dari TOL    

d

Pengembangan Kebijakan Teknis dan Pelaksanaan Penatagunaan (Prioritas Bidang) Tanah

Bertambahnya jumlah kabupaten/kota yg telah memiliki neraca penatagunaan tanah dan mengidentifikasi ketersediaan tanah untuk pembangunan

Jumlah kab/kota yang telah menyusun penatagunaan mengidentifikasi ketersediaan tanah untuk pembangunan neraca tanah &    

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

69

NO

PROGRAM/ PRIORITAS Pengelolaan dan

KEGIATAN

SASARAN

INDIKATOR

PEMDA

PERGURUAN TINGGI

MASYARAKAT/ LSM

BPN

e

Tanah Kritis

Terselenggaranya pengelolaan tanah negara, tanah terlantar dan kritis

Jumlah analisa ketersediaan tanah untuk masyarakat, kepentingan pemerintah,    

Negara, Tanah Terlantar Tanah (Prioritas Bidang) f Pengelolaan Konsolidasi Tanah (Prioritas Bidang) g Pengendalian Pertanahan Bidang) h Pemberdayaan Masyarakat Kelembagaan (Prioritas Bidang) III Fokus 3: Peningkatan Kinerja Pertanahan a Pengelolaan Data dan Informasi Pertanahan (Prioritas Nasional 7) Pelayanan Dan Dalam (Prioritas

dan badan usaha Meningkatnya jumlah bidang tanah yang dikonsolidasikan Menurunnya luas tanah yang terindikasi terlantar Jumlah obyek potensi    

konsolidasi tanah Luas tanah yang terindikasi terlantar

Terselenggaranya

akses masyarakat dan

Akses lembaga

masyarakat

dan    

lembaga terhadap penguatan hak atas tanah, dan sumber permodalan dan produksi

terhadap

penguatan hak atas tanah

Pengelolaan Pertanahan

Terselenggaranya pelayanan yang transparan dan akuntabel

Tersedianya prosedur kerja yang jelas, efektif, efisien dan terukur (SPOPP)    

Tersedianya data dan informasi pertanahan yang terintegrasi secara nasional dalam rangka pengembangan (Sistem Informasi Manajemen SIMTANAS) Pertanahan Nasional /

Peningkatan akses layanan pertanahan melalui Larasita (Prioritas Nasional 7)    

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

70

NO

PROGRAM/ PRIORITAS Pembinaan Dan Kepegawaian

KEGIATAN

SASARAN

INDIKATOR

PEMDA

PERGURUAN TINGGI

MASYARAKAT/ LSM

BPN

b

Organisasi Pengelolaan BPN

Terlaksananya

penataan

organisasi

dan

Tersedianya

konsep    

layanan kepegawaian

kelembagaan serta prosedur kerja yang jelas, efektif, efisien dan terukur (SPOPP)

(Prioritas Bidang) c Dukungan Pendidikan (Prioritas Bidang) d Pendidikan pelatihan pertanahan Bidang) e Pengelolaan Sarana dan Prasarana (Prioritas Bidang) f Pengelolaan Sarana dan Prasarana (daerah) (Prioritas Bidang) Meningkatnya kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana Kanwil BPN Provinsi (pusat) Meningkatnya kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana BPN RI dan bidang (Prioritas Terselenggaranya layanan pertanahan yang profesional Manajemen STPN Tersedianya sumberdaya manusia lulusan program Diploma, Pendidikan khusus, spesialis, S1, S2

Jumlah Diploma,

lulusan

program Pendidikan    

dan Pelaksanaan Tugas

khusus, spesialis, S1, S2

Jumlah SDM yang telah mengikuti pendidikan pelatihan dan    

Pengembangan prasarana pertanahan Pengembangan prasarana pertanahan

sarana pelayanan    

sarana pelayanan    

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

71

NO

PROGRAM/ PRIORITAS

KEGIATAN

SASARAN

INDIKATOR

PEMDA

PERGURUAN TINGGI

MASYARAKAT/ LSM

BPN

IV

Fokus 4: Penataan dan Penegakan Pertanahan Pengurangan Sengketa Tanah Hukum serta Potensi

Tersedianya peraturan perundang-undangan yang dibutuhkan untuk kepastian hukum pertanahan

Jumlah peraturan undangan pertanahan disusun

rancangan perundangbidang yang selesai    

a

Pengembangan Peraturan Undangan Pertanahan Hubungan PerundangBidang dan Masyarakat

Terlaksananya perundangan

pengembangan Bidang

peraturan dan

Jumlah peraturan

paket

rancangan perundang-

Pertanahan

Hubungan Masyarakat

undangan dan kebijakan di bidang pertanahan dalam rangka pelaksanaan Pertanian Berkelanjutan Nasional 5) Tersusunnya pengadaan kepentingan (Prioritas Nasional 6) peraturan tanah untuk umum     mendukung UndangPangan (Prioritas    

(Prioritas Nasional dan Prioritas Bidang):

undang Perlindungan Lahan

perundang-undangan

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

72

NO

PROGRAM/ PRIORITAS

KEGIATAN

SASARAN

INDIKATOR

PEMDA

PERGURUAN TINGGI

MASYARAKAT/ LSM

BPN

b

Pengelolaan Pertanahan Propinsi

Berkurangnya sengketa, konflik dan perkara pertanahan serta mencegah timbulnya sengketa, konflik dan perkara pertanahan

Penanganan Konflik Pertanahan Nasional 7) dan

Sengketa, Perkara (Prioritas    

c

Survey Potensi Tanah (Prioritas Bidang)

Tersedianya Peta Nilai Potensi Tanah Sesuai Standar Operasi dan Prosedur (SOP) sebagai referensi dan indikator ekonomi tanah untuk keadilan dan kesejahteraan rakyat

Peta dan informasi potensi nilai tanah dan kawasan    

d

Pengaturan

dan

Terlaksananya pengaturan pengadaan tanah pemerintah, penetapan hak atas tanah dan hak pengelolaan instansi pemerintah & BUMN/BUMD

Jumlah penetapan hak atas tanah dan hak pengelolaan    

pengadaan tanah dan legalisasi tanah instansi pemerintah, dan BUMN/ BUMD (Prioritas Bidang) e Pengkajian, Penanganan Pertanahan Bidang) f Pengkajian Penanganan Pertanahan Bidang) dan Konflik (Prioritas dan (Prioritas Penyelesaian Sengketa

Berkurangnya jumlah sengketa pertanahan

Jumlah sengketa tanah

penyelesaian    

Berkurangnya jumlah konflik pertanahan

Jumlah penanganan konflik tanah    

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

73

NO

PROGRAM/ PRIORITAS Penanganan Penyelesaian Pertanahan Bidang)

KEGIATAN

SASARAN

INDIKATOR

PEMDA

PERGURUAN TINGGI

MASYARAKAT/ LSM

BPN

g

dan Perkara (Prioritas

Terlaksananya berkualitas

penanganan

dan

Jumlah oleh BPN RI

perkara

yang    

penyelesaian perkara pertanahan secara

ditangani dan diselesaikan

Keterangan: Antar Fokus 1-4 terdapat keterkaitan, karena itu pihak-pihak terkait perlu mengetahui seluruh fokus tersebut namun dengan intensitas keterlibatan yang berbeda-beda.   

Pelaksana, Penanggung jawab, Pemrakarsa Turut mendukung/mempengaruhi kelancaran pelaksanaan; terlibat langsung atau tidak langsung dalam pelaksanaan Pemantau; pemberi ide-ide/ informasi; dapat diajak turut serta dalam pelaksanaan; perlu tahu Tidak terkait

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

74

4.2

Survey

Hasil survey memperlihatkan kondisi yang tidak jauh berbeda dibandingkan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Sutanta (2009). Saat ini kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan identitas dan keberadaan RPJMN sebagai pedoman pembangunan dan berbagai kebijakan-kebijakan

pembangunannya di dalamnya masih sangat kurang sekali. Ini terjadi tidak hanya di kalangan masyarakat awam atau kalangan akademis, tapi juga terjadi pada stakeholder kunci, seperti pemerintah daerah. Kajian yang pernah dilakukan mengenai kondisi ini menunjukan hal tersebut. Demikian pula halnya dengan pengetahuan dan pemahaman soal regulasi dan kebijakan-kebijakan pembangunan di Bidang Wilayah dan Tata Ruang. Banyak prioritas kebijakan-kebijakan pembangunan Tata Ruang atau Pertanahan yang harus segera tersampaikan dengan baik. Pemahaman aparatur pemerintah terhadap peraturan perundangan tentang penyusunan tata ruang wilayah dinilai masih rendah, sehingga kapasitas mereka perlu ditingkatkan guna kemajuan daerah. Masyarakat umum, pada khususnya, memerlukan landasan pengetahuan dan pemahaman terlebih dahulu tentang apa dan bagaimana itu RPJMN, apa itu Tata Ruang, apa itu Pertanahan, ruang lingkup, dan apa saja manfaat dan kepentingan buat mereka. Hal ini bertujuan agar mereka terbekali dengan landasan untuk mencerna berbagai prioritas kebijakan-kebijakan pembangunan Bidang TRP yang akan disosialisasikan secara lebih baik. Survey untuk kajian ini dilakukan untuk mengungkap sejauh mana tingkat pengetahuan dan pemahaman tiga objek sasaran sosialisasi terhadap RPJMN dan materi-materi mengenai tata tuang dan pertanahan. Perancangannya didasarkan pada pengetahuan mendasar tentang pembangunan nasional, kebijakan pembangunan, sosialisasi, kelembagaan dan organisasi, pengawasan, pengetahuan tentang sistem informasi, serta kebutuhan pelatihan. Survey dilakukan terhadap 12 responden masyarakat, 12 responden Akademisi, dan 6 responden dari Pemda. 4.2.1 Masyarakat Survey untuk masyarakat dan akademisi digabung menjadi satu karena akademisi yang dipilih sebagai responden tidak hanya akademisi dengan latar belakang bidang

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

75

keahlian perencanaan. Jumlah responden adalah 12 orang yang terdiri dari masyarakat umum, akademisi dan mahasiswa. Hasil survey memperlihatkan bahwa: 1. Sebagian besar responden mengetahui istilah RPJMN dan RPJPN (90 persen), namun hanya setengahnya yang dapat menjelaskan kepanjangan dan fungsi kedua rencana tersebut. 2. Bappenas sebagai instansi yang menyusun RPJPN dan RPJMN tidak banyak dikenal oleh masyarakat, kemungkinan karena setelah otonomi daerah dilaksanakan, masyarakat lebih mengenal badan perencanaan daerah dibandingkan dengan badan perencanaan dengan lingkup nasional. Hal ini konsisten dengan hasil survey yang memperlihatkan bahwa hanya 30 persen dari responden yang mengetahui Prioritas RPJMN. 3. Istilah tata ruang dikenali oleh seluruh responden sedangkan istilah pertanahan dikenali oleh 80 persen responden, namun hanya setengahnya yang dapat menjelaskan arti penataan ruang dan pertahanan dan hanya 30 persen dari responden yang mengetahui permasalahan di Bidang TRP. 4. Tidak ada media yang dominan yang menjadi sumber informasi mengenai tata ruang dan pertanahan. Media cetak (30 persen), media elektronik (40 persen) bukan media yang efektif untuk sosialisasi. Internet dapat dijadikan media informasi untuk Bidang TRP karena lebih dari 60 persen responden mendapatkan informasi yang mereka perlukan melalui media ini. Kesimpulan yang dapat ditarik dari survey pada masyarakat ini adalah: 1. Bidang TRP merupakan topik yang menarik untuk dibahas karena menyangkut kehidupan sehari-hari masyarakat, terutama masyarakat kota. 2. Diperlukan standardisasi sosialisasi Bidang TRP karena sosialisasi yang ada saat ini masih belum memadai baik materi maupun perencanaan kegiatan sosialisasi. Cara sosialisasi yang dilakukan saat ini masih dirasakan kurang baik menurut 60 persen responden (Gambar 7). 3. Media yang paling baik untuk sosialisasi menurut responden adalah workshop (Gambar 8). Workshop cukup diadakan 2 kali dalam setahun untuk menjaga konsistensi dan alur informasi dari sumber informasi kepada objek.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

76

Gambar 6

Penilaian responden untuk cara sosialisasi Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

Gambar 7

Media sosialisasi pilihan responden

4.2.2 Akademisi Khusus untuk akademisi yang bidang studinya berhubungan dengan Bidang TRP, seluruh responden menyatakan ada mata kuliah yang berkaitan dengan Tata Ruang dan Pertanahan dan ada dosen yang ahli dalam kebijakan Bidang TRP yang kompeten. Akademisi di kedua bidang tersebut dapat menjadi nara sumber untuk FGD yang

dilaksanakan sebagai salah satu cara untuk mendapatkan informasi dari ahli untuk memperkaya isi kajian ini. 4.2.3 Pemerintah Daerah Pengetahuan pemerintah daerah tentang rencana pembangunan nasional belum cukup karena tidak satupun responden yang mampu menjawab 8 pertanyaan tentang rencana pembangunan nasional. Namun demikian, menurut responden, RPJMN dan RPJPN adalah dokumen publik yang harus disosialisasikan (83 persen), demikian juga dengan kebijakan spesifik untuk Bidang TRP. Untuk menjamin pencapaian sasaran bidang, seluruh responden setuju bahwa koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah perlu dilaksanakan baik antar tingkat pemerintahan maupun juga antar bidang dan urusan yang menyangkut penggunaan ruang. Termasuk di dalamnya adalah pembangunan data dan informasi spasial dibutuhkan kerjasama antar instansi pembuat dan pengguna data dalam pengumpulan, pengolahan, pemeliharaan, penyimpanan dan penyebarluasannya. Menurut responden, masyarakat umum tidak perlu mendapatkan pengetahuan mendasar tentang Sistem Informasi Geografis (SIG) karena menurut responden, informasi tersebut tidak terlalu bermanfaat bagi masyarakat. Begitu pula halnya dengan informasi mengenai pengendalian bencana. Responden dengan latar belakang pemerintah daerah ini belum menyadari pentingnya pengetahuan tentang SIG dan pengelolaan bencana bagi masyarakat. Masyarakat dapat menjadi mitra penting bagi pemerintah daerah untuk mengatasi berbagai permasalahan dan melengkapi informasi penting yang dibutuhkan oleh pemerintah daerah. Tentang pengawasan pelaksanaan Bidang TRP di daerah, responden tidak setuju bila pelaksanaan di daerah berada di bawah pengawasan pemerintah pusat. Selain karena kabupaten/kota sudah otonom, responden juga berpendapat bahwa titik berat penyelenggaraan penataan ruang dan pertanahan di tingkat pusat dan daerah sangat berbeda. Yang penting bagi responden adalah kelengkapan peraturan dan penyederhanaan proses dan prosedur pelayanan agar pemerintah daerah mudah melaksanakan. Tanggapan dari responden ini memperlihatkan bahwa secara umum responden belum menyadari pentingnya kesinambungan rencana dari tataran nasional sampai dengan lokal.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

78

Untuk kelembagaan, masih diperlukan peningkatan kapasitas lembaga pemerintahan terutama untuk Bidang TRP. Selain pendidikan formal bagi pemerintah daerah, diperlukan juga diseminasi isu terkait kedua bidang itu baik dari tingkat internasional, regional, nasional dan antisipasinya di tingkat lokal. Pemerintah daerah juga perlu mendapatkan keahlian bernegosiasi yang sangat penting dalam pengendalian pemanfaatan ruang. Hal penting lainnya adalah peningkatan kemitraan dengan masyarakat yang dapat mendukung pencapaian rencana pembangunan dan juga untuk mendukung keterbukaan informasi dan peningkatan peran masyarakat dalam pengendalian pelaksanaan pembangunan. 4.3 Strategi Sosialisasi

Strategi dalam kajian ini dibuat berdasar pada prinsip-prinsip dasar yang teridentifikasi selama proses kajian ini dilakukan yaitu pengembangan sistem, tingkat kebutuhan informasi, prioritas, keberlanjutan, skalabilitas serta konsep efektivitas dalam hal pembiayaan. Sejalan dengan landasan teoritis yang digunakan, maka kemudian tujuan sosialisasi di tahapan awal ini akan diarahkan kepada tingkat pencapaian kesadaran, pemahaman, dan tindakan dari target-target potensial. Tindakan mengacu kepada perubahan kebiasaan yang diakibatkan dari penerapan produk, materi, atau pendekatanpendekatan yang ditawarkan oleh kegiatan sosialisasi. Ini adalah target

kelompok/masyarakat yang perlu dilengkapi dengan keterampilan, pengetahuan dan pemahaman yang tepat tentang kegiatan sosialisasi dalam rangka mencapai perubahan yang nyata. Target kelompok/khalayak ini adalah mereka yang ada di posisi untuk “mempengaruhi” dan “membawa perubahan” dalam lingkungan mereka. Strategi yang dibuat ini membuka peluang besar untuk pengembangan rencana dan implementasi di tahap-tahap berikutnya dengan berbagai pilihan skema strategi dan rencana aksi dalam sebuah kerangka kampanye komunikasi publik yang

komprehensif, terintegrasi dan berkelanjutan. Strategi yang dibuat dan diujicobakan untuk sosialisasi kebijakan pembangunan jangka menengah Bidang TRP ini adalah : 4.3.1 Identitas Menciptakan pengajuan identitas resmi untuk RPJMN dan untuk kegiatan sosialisasi Bidang TRP yang lebih komunikatif, dirancang dengan baik dengan memperhatikan

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

79

faktor penamaaan (naming), filosofi dan estetika. Hal ini bertujuan agar keberadaannya mudah diingat, jelas, dan mampu menarik perhatian dari semua kalangan masyarakat. Penciptaan identitas yang dirancang dengan baik dari segi konsep, strategi dan kreativitas akan menjadi aset penting untuk kebutuhan-kebutuhan penyampaian informasi di masa-masa yang akan datang. 4.3.2 Konsep Perancangan Pesan Konsep perancangan pesan yang sederhana, jelas, dan sistematis yang disajikan lewat pesan visual dan pesan tekstual dengan tetap memperhatikan kedalaman materimateri kebijakan pembangunan Bidang TRP yang akan disosialisasikan. 4.3.3 Konsep Pemasaran Sosial Konsep pemasaran sosial yang mengadopsi konsep pemasaran umum dengan membuat Toolkit untuk kebutuhan sosialisasi yang disesuaikan dengan strategi penyebaran informasi pada masing-masing kelompok sasaran, antara lain melalui layanan publik/kegiatan resmi, dan melalui media cetak, televisi dan radio. 4.3.4 Konsep Jaringan Komunikasi Konsep Jaringan Komunikasi, yaitu dengan melakukan penyebaran informasi dalam rangka sosialisasi melalui Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) yang terdapat di masyarakat di tiap daerah. Survey yang pernah dilakukan di Bandung, menunjukan bahwa KIM cukup efektif dalam membantu penyebaran informasi kepada end-user. Jejaring sosial pun dapat digunakan untuk mengakomodasi konsep jaringan komunikasi ini. yaitu dengan mengembangkan sarana penyebaran informasi yang handal dan menarik perhatian, dan yang terpenting mampu memberikan informasiinformasi tentang isu-isu terbaru, peraturan, dan hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat umum dan /atau stakeholder yang terkait dengan Bidang TRP. 4.3.5 Advokasi Media Advokasi media, termasuk di dalamnya pengorganisasian dan mobilisasi masyarakat, dan penyertaan para pembuat kebijakan, antara lain melalui pemberitaan media, penulisan artikel-artikel dan jurnal tentang Tata ruang dan Pertanahan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan visibilitas isu/masalah Tata Ruang dan Pertanahan dan kepentingannya, mempengaruhi persepsi dari isu sosial, meningkatkan pengetahuan

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

80

tentang solusi-solusi berdasarkan siapa yang dipandang bertanggung jawab, mempengaruhi kriteria yang digunakan untuk menilai kebijakan-kebijakan dari para pembuat kebijakan, membantu menentukan apa saja yang memungkinkan untuk pengenalan layanan dan temuan masyarakat, mengikutsertakan dan menggerakan masyarakat/konstituen untuk bertindak. 4.3.6 Mekanisme Pusat-Daerah Menjalankan mekanisme pusat-daerah untuk kebutuhan penyebaran informasi dengan strategi tambahan melalui workshop regional, pelatihan, interview, dan diskusi dengan pemerintah daerah dan para perencana. Fasilitasi untuk meningkatkan keterlibatan mereka bisa lebih ditingkatkan melalui kuesioner-kuesioner berbasis web dan forum web. Material umum untuk penyebaran informasi bagi sasaran ini, seperti newsletter atau website akan menjadi sumber penting untuk mereka. Sebagai tambahan, dibutuhkan kerjasama dengan partner/tenaga-tenaga ahli untuk menerbitkan jurnaljurnal (perencanaan) profesional tentang Tata Ruang dan Pertanahan. 4.3.7 Kerjasama dengan kalangan akademis Pengembangan jaringan komunikasi dengan kalangan akademis melalui bentukbentuk kerjasama seperti pelatihan, kolaborasi proyek, penelitian dan lain sebagainya perlu dilakukan. 4.3.8 Ragam Kegiatan dengan Masyarakat dan berbagai Pihak Sosialisasi untuk masyarakat bisa dilakukan melalui penyelenggaraan kegiatan yang secara langsung bisa menarik perhatian masyarakat, komunikasi audio-visual, workshop, diskusi yang melibatkan partisipasi kalangan bisnis, komunitas lokal, dan kelompok-kelompok informasi masyarakat lokal, yang merupakan bagian penting untuk kegiatan sosialisasi Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan Bappenas. Kegiatankegiatan ini harus mampu menimbulkan ketertarikan para stakeholder dalam masyarakat untuk menjadi mitra aktif untuk bertukar pendapat. Dari pandangan strategis, kegiatan-kegiatan tersebut di atas akan meningkatkan awareness di daerah dan memobilisasi para stakeholder yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan pembangunan di daerah mereka. Selain strategi-strategi diatas berikut adalah aktivitas-aktivitas yang bisa dilakukan untuk tiga kelompok sasaran, model penyajian yang akan dikembangkan

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

81

mengadaptasi kebutuhan dari masing-masing kelompok sasaran sosialisasi, yaitu sebagai berikut: 4.3.8.1 Aktivitas yang ditujukan kepada pemerintah daerah selaku pembuat

kebijakan dan perencana. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk menginformasikan dan mempengaruhi kebijakan-kebijakan kepada pemerintah daerah di Bidang TRP di sejumlah prioritas yang telah dirancang oleh Direktorat TRP bappenas. Hal ini berarti menyampaikan informasi yang tepat kepada para pembuat kebijakan, dengan didasarkan kepada kemungkinan-kemungkinan pencapaian yang bisa diraih dalam kerangka penyesuaian kebijakan secara makro. Penyampaian informasi tersebut diarahkan untuk menjadi panduan bagi kepentingan antisipasi, penyesuaian dan perancangan kebijakan sesuai dengan tingkat kebutuhan di daerah. Prioritas kebijakan dari Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan Bappenas harus

dijelaskan kepada para pembuat kebijakan di daerah dan pada khalayak umum sesederhana mungkin, sehingga mereka dengan mudah dapat memahami dan mengapresiasi implikasinya. Pada saat yang sama, para pembuat kebijakan pada semua tingkatan bisa berkontribusi penting untuk memberikan identifikasi terhadap isu-isu, perancangan dan implementasi di daerah. Para pembuat kebijakan dan perencana di daerah adalah kelompok sasaran primer dari kegiatan ini. aktivitas yang dilakukan diarahkan untuk memberikan panduan kepada para pembuat kebijakan dan perencana ini dalam pembuatan keputusan dalam Bidang TRP. Komunikasi dengan mereka bersifat intensif dan kolaboratif (misal: panduan, arahan, atau kolaborasi dalam perancangan model-model kebijakan dan kegiatan/proyek yang sesuai dengan prioritas pembangunan pusat, termasuk dalam hal pembiayaan dan waktu). Sosialisasi RPJMN di daerah dapat disampaikan melalui mekanisme komunikasi pusatdaerah dengan strategi tambahan melalui workshop regional, interview, dan diskusi dengan pemerintah daerah dan para perencana. Fasilitasi untuk meningkatkan keterlibatan mereka bisa lebih ditingkatkan melalui kuesioner-kuesioner berbasis web dan forum web. Material umum untuk penyebaran informasi bagi sasaran ini, seperti newsletter atau website akan menjadi sumber penting untuk mereka. Sebagai tambahan, dibutuhkan kerjasama dengan partner/tenaga-tenaga ahli untuk

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

82

menerbitkan jurnal-jurnal (perencanaan) profesional tentang TRP. Aktivitas yang berhubungan dengan audio-visual perlu juga dikembangkan untuk mendukung sosialisasi ini. misal merekam presentasi-presentasi pada saat konferensi atau seminar. Rekaman ini akan jadi komponen penting untuk materi pelatihan yang akan diselenggarakan kemudian. 4.3.8.2 Aktivitas yang ditujukan kepada kalangan akademis/ilmiah

Interaksi dengan kalangan akademis memiliki dua dimensi, yaitu konsultasi dan penyebaran informasi. Di satu sisi diseminasi kebijakan-kebijakan ini dapat menjadi acuan bagi para peneliti ilmiah dan kalangan akademis berupa informasi berharga yang dapat digunakan untuk kepentingan penelitian mereka, untuk kemudian mendapatkan feedback dari mereka tentang kebijakan-kebijakan yang dikembangkan. Di sisi lain juga bermanfaat sebagai sarana dialog dengan semua kalangan akademis guna mendapatkan pengetahuan yang lebih luas dari berbagai perkembangan terkini yang relevan dengan kebutuhan Direktorat TRP Bappenas. Kebijakan-kebijakan tentang Tata Ruang dan Pertanahan bisa diwacanakan dalam jurnal-jurnal ilmiah, buku, laporan proyek, dan publikasi publikasi ilmiah lainnya. Dalam perancangan publikasi ilmiah ini, harus diperhatikan standar penulisan dengan kualitas yang baik agar sesuai dengan kebutuhan ilmiah. Materi-materi prioritas kebijakan dapat dipresentasikan dalam konferensi nasional atau daerah. Pengembangan jaringan komunikasi dengan kalangan akademis melalui bentukbentuk kerjasama seperti pelatihan, kolaborasi proyek, dan lain sebagainya adalah hal penting yang juga perlu dilakukan. 4.3.8.3 Aktivitas yang ditujukan kepada masyarakat umum

Untuk objek sasaran ini, selain berusaha untuk menginformasikan juga ditujukan untuk mempengaruhi opini publik sesuai dengan prioritas kebijakan-kebijakan Direktorat TRP Bappenas. Opini publik berperan untuk menentukan perluasan, implementasi, dan kesinambungan kebijakan-kebijakan. Di saat yang sama, masyarakat sipil, institusi seperti LSM, perkumpulan, asosiasi, dan pemuka pendapat dapat pula memberikan perspektif bagi Direktorat TRP untuk mengidentifikasi isu-isu kebijakan yang penting, perancangan dan strategi yang tepat sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sosialisasi untuk kelompok sasaran ini bisa dilakukan melalui penyelenggaraan kegiatan yang secara langsung bisa menarik perhatian masyarakat, komunikasi audio-

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

83

visual, workshop, diskusi yang melibatkan partisipasi kalangan bisnis, komunitas lokal, dan kelompok-kelompok informasi masyarakat lokal, yang merupakan bagian penting untuk kegiatan sosialisasi Direktorat TRP Bappenas. Kegiatan-kegiatan ini harus mampu menimbulkan ketertarikan para stakeholder dalam masyarakat untuk menjadi mitra aktif untuk bertukar pendapat. Stakeholder lokal distimulasi untuk

mengemukakan pandangan dan kebutuhan mereka akan informasi tentang kebijakan, perencanaan dan pengembangan yang relevan dengan kebutuhan daerah mereka. Hal ini akan memperkuat dan memantapkan kebijakan-kebijakan yang telah dibuat oleh bappenas, termasuk kegiatan sosialisasi ini. Dari pandangan strategis, kegiatankegiatan tersebut di atas akan meningkatkan awareness di daerah dan memobilisasi para stakeholder yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan pembangunan di daerah mereka. Websites dan dan newsletter akan jadi instrumen penting untuk menginformasikan kepada masyarakat umum. Perancangan pesan-pesan berita bisa disampaikan melalu koran dan radio/televisi lokal.

4.3.9 Ujicoba dan Hasil Strategi Melalui Focus Group Discussion Strategi ini kemudian diaplikasikan ke dalam beberapa keluaran praktis yaitu berupa pengembangan sistem pemasaran sosial untuk kebutuhan sosialisasi, antara lain identitas, toolkit, perancangan pesan, skema penyebaran media-media dan lain-lain. Proses-proses pengkajian strategi sosialisasi dilakukan untuk menganalisis

pengetahuan dan pemahaman tentang keadaan, akses dan kebutuhan terhadap informasi tentang RPJMN Bidang TRP dan identitas RPJMN secara umum di tiga objek kajian. Langkah berikutnya adalah memetakan dan menganalisis strategi-strategi sosialisasi yang telah dibuat dengan FGD terhadap tiga target di beberapa daerah. Kebanyakan target sosialisasi tertarik untuk memahami bagaimana bagian-bagian tertentu dari kegiatan sesuai dengan konteks tertentu dan sejauhmana penerapandari pendekatan-pendekatan baru, metode, atau materi-materi memiliki implikasi lain pada mereka, misalnya pada kebijakan-kebijakan yang akan datang, pendanaan dan infrastruktur. Pada saat kegiatan FGD terlihat bahwa latar belakang dan kecenderungan perlakuan dan dan penyebaran informasi tiap target sosialisasi terutama masyarakat umum erat

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

84

sekali kaitannya dengan berbagai aspek historis, ekonomi, sosial, politik, dan pengaruh dari program sosialisasi. Ada kro dan kontra dari mereka soal penerimaan terhadap berbagai informasi, kebijakan dan strategi yang disampaikan, semisal masalah trauma dan sikap apatis terhadap program-program pemerintah. Dari dua sub pokok bahasan yang diujicobakan yaitu Bidang TRP, memang beberapa kali terjadi tumpang tindih atau konflik, misal pada saat FGD peserta terjebak dalam kebingungan di mana ada dua sub pokok bahasan dengan bermacam-macam materi. Terlebih ada beberapa yang memang belum mengetahui sama sekali tentang salah satu bidang ini. Diperlukan formulasi khusus terutama bagi masyarakat umum untuk “meleburkan” tingkat kesadaran, pengetahuan, dan pemahaman terhadap Bidang TRP dengan level yang setara. Berdasar pada acuan pengembangan sistem, konsep mengenai perlunya identitas bagi RPJMN, lembaga, kegiatan sosialisasi ini sendiri, maka dari hasil FGD di dua daerah terjawab bahwa ini sangat diperlukan sekali. Tiap target menyatakan hal yang hampir sama. Target Sosialisasi perlu mengetahui bahwa kebijakan, kegiatan dan projek ada. Hal ini bertujuan agar keberadaannya mudah diingat, jelas, dan mampu menarik perhatian dari semua kalangan masyarakat. Ini adalah titik acuan penting untuk pengembangan, perencanaan, dan pelaksanaan sosialisasi di tahap berikutnya. Hasil lengkap kegiatan FGD untuk konsep dan strategi sosialisasi RPJMN Bidang TRP diuraikan pada Bagian 4.4 untuk strategi sosialisasi dan Bagian 4.5 untuk substansi teknis terkait Bidang TRP. 4.4 Pengembangan Strategi Sosialisasi

Hasil FGD di dua daerah terhadap tiga target yaitu masyarakat, perguruan tinggi dan pemerintah daerah, memberikan beberapa masukan yang bisa diangkat sebagai strategi meskipun sebelumnya sudah disebutkan di rangkaian strategi pertama. Strategi baru yang berhasil dirumuskan adalah Konsep Pemanfaatan Media Tradisional dan Karakterikstik Lokal. Pemanfaatan media tradisional dalam menunjang penyebaran informasi publik dan kebijakan pemerintah masih sangat dibutuhkan terutama untuk menyebarkan informasi kepada masyarakat umum. Sifat umum media tradisional yaitu mudah diterima, relevan dengan budaya yang ada, menghibur, menggunakan bahasa lokal, memiliki unsur legitimasi, fleksibel, memiliki kemampuan untuk mengulangi pesan-

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

85

pesan yang dibawanya, komunikasi dua arah dan sebagainya. Pengembangan konsep ini bisa diaplikasikan dalam sebuah kolaborasi, seperti: 1. Kolaborasi media tradisional dengan media massa modern; 2. Kolaborasi media tradisional dengan stasiun radio. Kolaborasi antara media tradisional dengan media radio sudah lama. Media Radio dapat menyajikan media tradisional untuk kepentingan masyarakat pedesaan dan kepulauan, karena dapat menjangkau khalayak lebih banyak, dan dapat menembus batas geografis. Program penyajian RRI pada umumnya mengalokasikan 10 persen waktu siaran untuk informasi, 30 persen untuk pendidikan, 25 persen untuk budaya, 25 persen untuk hiburan dan 15 persen untuk iklan dan acara penunjang. 3. Kolaborasi Media Tradisional dengan Stasiun Televisi.

4.5

Substansi

4.5.1 Kelompok pemerintah daerah. FGD kajian sosialisasi RPJMN 2010-2014 untuk kelompok sasaran pemda telah dilaksanakan di Bandung pada tanggal 6 Oktober 2010 dan di Batam pada tanggal 14 Oktober 2010. Kedua FGD ini dibuka oleh Direktur Tata Ruang dan Pertanahan Bappenas, Bapak Ir. Deddy Koespramoedyo, MSc. FGD di Bandung dihadiri oleh representasi dari: Bappeda Provinsi Jabar, Bappeda Kab Bandung Barat, Bappeda Kota Bandung, Kanwil Pertanahan Provinsi Jawa Barat, Kantor Pertanahan Kabupaten Bandung Barat, Kantor Pertanahan Kota Bandung, Kantor Pertanahan Kabupaten Bandung. Sedangkan FGD di Batam dihadiri oleh representasi dari: Bappeda Provinsi Kepulauan Riau, Kanwil Pertanahan Provinsi Kepulauan Riau, Kantor Pertanahan

Kabupaten Tanjung Balai-Karimun, Kantor Pertanahan Tanjung Pinang dan Kantor Pertanahan Kota Batam. Dalam toolkit untuk pemerintah daerah diperlukan pengantar gambaran umum dari RPJPN, RPJMN, RKP. Contoh template yang digunakan oleh Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan, Bappenas cukup menarik bagi peserta misalnya tahapan-tahapan RPJPN, prioritas nasional 2010-2014, tabel prioritas nasional terkait tata ruang dan

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

86

pertanahan. Contoh skema prioritas nasional yang perlu dimasukkan adalah seperti yang tergambar dalam Gambar 14. Terkait dengan prioritas nasional, sebaiknya tidak hanya yang ada di Kementerian/ Lembaga, tetapi apa yang perlu dilakukan oleh daerah. Materi/substansi yang perlu ditambahkan juga yaitu: fungsi/kegunaan RPJMN, visi dan misi, target pembangunan dan posisi RPJMN bagi daerah. Materi sosialisasi toolkit khusus pertanahan berisi yang mengenai 9 topik (yaitu: jenisjenis hak atas tanah, manfaat ketersediaan sertifikat tanah, keterkaitan antara Rencana Tata Ruang Wilayah dengan kepastian hukum atas tanah, prosedur umum pengurusan sertipikat pertama kali, target pencapaian sertifikasi tanah 2014, target pencapaian peta pertanahan 2014, manfaat peta pertanahan, implikasi jika tidak tersedia peta pertanahan dan contoh sinergi BPN dengan Pemda), menurut pesera FGD sudah cukup. Tetapi dari peserta Kantah Tanjung Pinang-Karimun mengemukakan perlu penjelasan lebih rinci mengenai mekanisme sertifikasi lintas K/L khususnya UKM. Dalam materi toolkit perlu ditambahkan: 1. Tabel prioritas nasional terkait pertanahan keseluruhan seperti pada template yang biasa digunakan oleh Bappenas. 2. Program Prona dan Larasita, karena ini merupakan kegiatan yang penting dan cukup dikenal di daerah. 3. Skema izin pemanfaatan ruang, mulai dari RTRWN, RTRWP, RTRWK hingga keperluan tanah untuk pembangunan. 4. Permasalahan yang masih ada antara kehutanan dengan Pemda terkait dengan penataan ruang, dan langkah-langkah yang sudah dirumuskan untuk penyelesaiannya.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

87

Gambar 8

Prioritas Nasional 2010-2014

4.5.2 Kelompok Masyarakat FGD untuk kelompok masyarakat dilaksanakan di Bandung pada tanggal 6 Oktober 2010. Peserta FGD kelompok masyarakat diikuti oleh perwakilan masyarakat dari kelurahan-kelurahan yang sebagian besar aktif dalam program PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat), yaitu BKM Kelurahan Ciseureuh, BKM di Kelurahan Pungkur, BKM di Kelurahan Dago, Ketua HKTI Kota Bandung, Relawan dan tokoh masyarakat dalam PNPM. FGD kelompok masyarakat di Batam diadakan

tanggal 14 Oktober 2010, diikuti oleh peserta yang terdiri dari ibu rumah tangga, tokoh masyarakat, anggota BKM-PNPM dari Bintan, Tanjung Pinang-Karimun dan Batam. Masukan yang diterima dari FGD Kelompok Masyarakat adalah: 1. Sosialisasi harus menggunakan bahasa yang sederhana yang mudah dipahami oleh masyarakat (membumi) menyentuh pada persoalan sehari-hari

masyarakat. Tulisan harus jelas, singkatan dan gambar harus diberi keterangan (misalnya Kementerian/Lembaga tidak hanya disingkat K/L). 2. Materi sosialisasi perlu menjelaskan hubungan musrenbang dengan RPJMN.

3. Materi yang penting bagi masyarakat terkait dengan Bidang Pertanahan, meliputi: a. Hak atas tanah dan layanan pertanahan yang langsung terkait dengan masyarakat. b. Prosedur sertifikasi yang memuat waktu pelayanan dan peringatan tentang penyimpangan di lapangan. c. Penjelasan tentang prosedur Larasita, Prona dan program pembuatan sertipikat bagi nelayan, petani, UMKM dan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). 4. Materi yang penting bagi masyarakat terkait dengan Bidang Tata Ruang, meliputi: a. Hak masyarakat untuk mengetahui rencana tata ruang, terutama yang menyangkut sarana/prasarana seperti jalan, daerah resapan. b. Skema pengaduan masyarakat untuk pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang sehingga masyarakat tahu tempat untuk

menyalurkan pendapat dan menyampaikan masalahnya. 4.5.3 Kelompok Perguruan Tingi dan LSM. FGD untuk perguruan tingi dan LSM hanya diadakan di Bandung dengan pertimbangan banyaknya LSM ataupun perguruan tinggi yang mempunyai fakultas/jurusan yang terkait dengan penggunaan RPJMN. Pemilihan Perguruan Tinggi ini diseleksi

beradasarkan jurusan/bidang ajar studi yang terkait langsung dengan penggunaan referensi RPJMN. Demikian juga LSM yang dipilih adalah perwakilan LSM yang dalam pekerjaannya berkaitan dengan penggunaan RPJMN. Peserta FGD kelompok

perguruan tinggi di Bandung diikuti oleh jurusan/fakultas: Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Unisba, Geodesi Itenas, Geodesi dan Geomatika ITB, Perencanaan

Wilayah dan Kota (PWK) ITB, Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Unpas, sedangkan LSM diwakili oleh Asosiasi Konsultan Pembangunan Permukiman Indonesia (AKPPI). Rekomendasi yang dihasilkan dari FGD tersebut adalah: 1. Materi sosialisasi untuk jurusan yang tidak terkait dengan perencanaan sama dengan materi untuk masyarakat.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

89

2. Pada bagian awal toolkit perlu dijelaskan dalam bentuk narasi ataupun skema mengenai peranan perguruan tinggi dalam sosialisasi ataupun pelaksanaan RPJMN, sehingga menggugah keingin tahuan untuk mendalaminya. 3. Materi yang perlu ditambahkan yaitu: permasalahan yang dihadapi, target yang ingin dicapai, dan data yang dibutuhkan. 4. Isi peraturan ataupun penjelasan normatif tidak perlu dimasukkan, karena dapat diunduh dari internet. 5. Untuk toolkit penataan ruang: a. Perlu pengantar untuk memperlihatkan skema keterkaitan RPJPN, RPJMN dengan Rencana Tata Ruang. b. Penjelasan tentang keterkaitan rencana tata ruang dengan pertanahan. c. Tambahan aspek pengendalian, karena aspek pengendalian masih jauh dari yang diharapkan. d. Perlu disiapkan materi sosialisasi kepada legislatif. e. Ilustrasi peta sebaiknya dibuat lebih jelas dan dengan keterangan yang mudah dibaca. 6. Untuk toolkit pertanahan a. Spektrum permasalahan pertanahan masih perlu diperluas, tidak hanya yang terkait dengan tupoksi (tugas, pokok dan fungsi) instansi Badan Pertanahan Nasional (BPN) saja. b. Permasalahan pertanahan banyak terkait dengan bidang-bidang lain seperti dengan persoalan pajak dan properti sehingga bisa diketahui masalah yang masih perlu dijawab seperti land tax sebagau pengendali tata guna lahan c. Persoalan-persoalan pertanahan yang terkait dengan proses sertifikasi tanah juga masih perlu dielaborasi sehingga perguruan tinggi bisa melakukan analisis lebih dalam dan menemukan inovasi percepatan proses sertifikasi pertanahan. dalam

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

90

d. Penjelasan tentang jenis hak atas tanah juga perlu dibuat lebih singkat. Skema hak atas tanah perlu dicari yang lebih sesuai dengan kondisi pertanahan di Indonesia, diusulkan skema dari Ian Williamson.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

91

Strategi Sosialisasi RPJMN 2010-2014 Bidang Tata Ruang dan Pertanahan Strategi komunikasi yang dikembangkan dalam kajian ini merupakan gambaran makro dari pendekatan-pendekatan komuniksi yang dirancang untuk memberikan solusi dan alternatif pemecahan berbagai permasalahan sosialisasi (komunikasi dan informasi) RPJMN Bidang TRP. Kajian-kajian awal yang dilakukan di awal kegiatan, mengidentifikasi beberapa hal penting yang harus segera diberi perhatian. Fokus kajian kemudian berkembang tidak hanya pada bagaimana strategi untuk mensosialisasikan tata ruang dan pertanahan, tetapi juga bagaimana mengembangkan strategi komunikasi untuk RPJMN. Berdasarkan hal tersebut, gagasan tentang sistem komunikasi yang menyeluruh mulai ditelaah. Gambaran sederhana tentang sistem komunikasi ini mungkin bisa dijelaskan melalui rumusan Laswell yang terkenal, ‘who says in which channel to whom with what effect’. Sistem komunikasi ini dibuat dengan memperhatikan komponen-komponen komunikator, pesan, medium, khalayak, dan efek yang berkaitan dengan RPJMN Bidang TRP secara optimal. Merujuk pada sistem komunikasi di atas, maka korelasi antar komponen dalam sistem harus dioptimalkan, sehingga komunikasi-komunikasi yang cenderung bersifat parsial yang terjadi selama ini bisa mulai diperbaiki. Strategi komunikasi ini juga dikembangkan dengan menyertakan landasan konsep/model dari teori perubahan yang bisa diaplikasikan sebagai panduan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dalam berbagai tahapan-tahapan pencapaian jangka waktu tertentu, dan tahapantahapan lanjutan yang akan dilakukan, baik itu melalui kajian-kajian, berbagai perencanaan, pelaksanaan kegiatan, hingga evaluasi kegiatan sosialisasi ini. Kajian strategi sosialisasi RPJMN Bidang TRP difokuskan tujuannya pada peningkatan pengetahuan dan pemahaman kelompok-kelompok sasaran sosialisasi. Strategi krusial pertama yang dibuat adalah penciptaan identitas resmi untuk RPJMN melalui pengembangan dan modifikasi pada penamaan (naming), filosofi dan estetika. Tujuan dari strategi ini adalah untuk memudahkan tingkat kesadaran (awareness) publik akan keberadaan RPJMN. Untuk kegiatan kajian, tim merancang dan mengembangkan identitas RPJMN sebagai sebagai sebuah brand dalam bentuk logo dengan muatan konsep yang disesuaikan dengan RPJMN. Tim kemudian membuat pemetaan identitas dalam konteks sistem komunikasi, melalui arsitektur brand yang jelas secara hierarki dari mulai Bappenas sebagai badan utama (corporate/umbrella brand), kementrian, lembaga, hingga ke program-program dan kegiatan-kegiatan yang dimiliki sebagai sebuah sub brand. Hal Ini berguna untuk memperlihatkan bagaimana tiap bagian saling berhubungan dan saling mendukung bagi kegiatan pembangunan nasional, serta bagaimana sub brand mampu mencerminkan dan menguatkan tujuan utama dari corporate brand untuk kepentingan pembangunan. Ini adalah sebuah proses yang terintegrasi untuk membangun hubungan antar bagian untuk menciptakan kredibilitas komunikator. Temuan-temuan yang didapat selama kajian baik dari survey maupun pada saat FGD, mengarahkan perlunya strategi ini menjadi bahan pertimbangan penting. Banyak yang mengeluhkan bahwa RPJMN susah dilafalkan hingga seringkali salah pengucapan. Beberapa mengusulkan untuk membuat penamaan dengan asosiasi yang mudah diingat seperti halnya pelita untuk pembangunan lima tahun. Pada saat mini survey dilakukan terhadap kelompok masyarakat, sebagian besar masih awam mengenai RPJMN dan RPJP. Tingkat awareness secara umum masih kurang mengenai hal ini.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

92

Perancangan pesan-pesan komunikasi menjadi bagian penting dalam kajian. Kombinasi pesan verbal dan non-verbal banyak dikaji dan diterapkan dibeberapa aplikasi kajian. Pesan linguistik/bahasa untuk menyampaikan gagasan, informasi, atau opini dikembangkan dengan tingkat relevansi tertentu sesuai kelompok sasaran. Pesan-pesan non-verbal juga dikembangkan cukup mendalam dan diujicobakan pada saat FGD di beberapa daerah. Pemilihan warna, perancangan simbol, dan kesatuannya dengan strategi pertama mengenai identitas komunikator dibuat dalam sebuah sistem untuk mampu memenuhi kriteria-kriteria perhatian (attention), kebutuhan (need), pemuasan (satisfaction), visualisasi (visualization), dan tindakan (action) untuk mempermudah pemahaman. Pada saat FGD, penerapan konsep perancangan pesan ini sangat membantu, salah satunya adalah untuk toolkit buku panduan tata ruang dan pertanahan. Pemilihan warna bagi masing-masing kelompok sasaran, perancangan icon sebagai pesan non-verbal untuk memberi perhatian dan penegasan pada materimateri tata ruang dan pertanahan sangat memudahkan peserta FGD. Konsep pemasaran sosial yang mengadopsi konsep pemasaran umum diwujudkan salah satunya adalah dengan membuat toolkit untuk kebutuhan sosialisasi. Dalam konteks perencanaan komunikasi, maka konsep ini merupakan upaya untuk memberikan informasi yang cukup, agar “konsumen” bisa mengambil keputusan dengan pilihan yang rasional. Mckee (1997) mengusulkan istilah baru “komunikasi program” sebagai pengganti pemasaran sosial yang berorientasi pada pemberdayaan, untuk menghindari konotasi manipulatif dan berorientasi profit. Toolkit dalam kajian ini menunjuk pada satu set material diseminasi yang akan dikembangkan untuk kegiatan sosialisasi. Beberapa aplikasi telah dibuat dan diujicobakan dengan selalu melibatkan konsep-konsep lainnya. Salah satu bagian toolkit yang diujicobakan berbentuk buku yang berisi informasi prioritas pembangunan Bidang TRP yang dibuat secara khusus. Materi di dalamnya merupakan penyederhanaan dan representasi sementara dari beberapa prioritas pembangunan Bidang TRP dalam RPJMN. Meskipun demikian, pembahasannya diperdalam dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok sasaran. Selain materi umum seperti di RPJMN, ada tambahan-tambahan penting untuk memperjelas dan mempertegas isi. Ujicoba yang dilakukan dalam kajian mendapatkan banyak umpan balik, yang berguna untuk perbaikan dan pengembangan di tahapantahapan selanjutnya. Hal ini berhubungan dengan kebutuhan informasi yang diharapkan oleh tiap kelompok sasaran. Penerapan konsep jaringan komunikasi, kegiatan berbasis kemasyarakatan dengan memberdayakan kelompok informasi masyarakat (KIM) untuk penyebaran informasi RPJMN Bidang TRP. Selain KIM jejaring sosial online dapat mengakomodasi konsep jaringan komunikasi ini. Jejaring sosia online membuka peluang untuk menghadirkan “conversation” atau komunikasi yang intens dengan masyarakat secara umum. Pengelolaan yang optimal akan menjadi nilai tersendiri bagi komunikator, dan membantu banyak untuk penyebaran informasi. Dalam kegiatan FGD ada beberapa kelompok kemasyarakatan yang aktif seperti badan keswadayaan masyarakat dan kelompok tani indonesia yang kooperatif dalam kegiatan-kegiatan diseminasi. Kebanyakan mereka sudah sangat aware tentang RPJMN, namun tingkat pemahaman mereka mengenai permasalahan-permasalahan, kebijakan, dan prioritas pembangunan masih rendah. Advokasi media adalah strategi yang juga diterapkan dalam kajian ini. Secara sederhana tuajuan dari strategi ini adalah untuk meningkatkan awareness publik

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

93

mengenai berbagai informasi tata ruang dan pertanahan. Advokasi media strategis dari media berita untuk mengangkat inisiatif kebijakan sosial atau kebijakan publik. Media advokasi dirancang untuk mempengaruhi baik kuantitas dan kualitas pemberitaan media tentang masalah tertentu, cara berita disajikan, dan mempengaruhi cara orang mempersepsikan masalah yang dibicarakan. Kolaborasi advokasi media dengan aktivitas-aktivitas berbasis kemasyarakatan akan sangat mendukung sosialisasi RPJMN Bidang TRP. Dari mini survey yang dilakukan dalam kajian ini, terungkap bahwa sebagian besar masyarakat, 60 sampai dengan 70 persen responden masyarakat jarang mendapatkan informasi tentang soal RPJMN Bidang TRP baik di media cetak maupun media elektronik. Advokasi media dalam kajian ini ditujukan juga untuk pengorganisasian dan mobilisasi masyarakat, dan penyertaan pembuat kebijakan, melalui pemberitaan media, penulisan artikel-artikel dan jurnaljurnal tentang tata ruang dan pertanahan. Kajian ini mengungkap hal-hal penting dalam mekanisme pusat-daerah., antara lain kurang memadainya komunikasi pusat dengan daerah berkenaan dengan kegiatan sosialisasi. Kegiatan musrenbang adalah salah satu sarana komunikasi antara pusatdaerah selama ini. Tapi ini disadari tidak mencukupi, dan dari hasil diskusi terungkap bahwa tingkat pengetahuan dan pemahaman terhadap RPJMN Bidang Tata Ruang belum merata di kalangan pemerintah daerah. Terutama dalam hal kebijakankebijakan dan payung hukum, dan prosedur-prosedur yang terdapat di dalam RPJMN Bidan TRP. kegiatan-kegiatan seperti dijelaskan di pembahasan sebelumnya perlu lebih ditingkatkan lagi, semisal workshop regional, pelatihan, interview dan diskusi dengan pemerintah dan para perencana. Mekanisme pengawasan oleh lembaga yang terkait pun harus menjadi perhatian penting, agar informasi ini tidak hanya sampai di pemerintah daerah saja, ketika ada informasi-informasi yang seharusnya sampai ke masyarakat. Pengembangan jaringan komunikasi dengan kalangan akademis. Interaksi dengan kalangan akademis memiliki dua dimensi, yaitu konsultsi dan penyebaan informasi. Dalam diskusi terungkap bahwa keterlibatan dalam proses-proses formulasi dan perencanaan sangat diharapkan oleh mereka. Frekuensi komunikasi dengan kalangan ini hendaknya lebih ditingkatkan dalam berbagai bentuk kerjasama seperti pelatihan, kolaborasi proyek dan penelitian. Diskusi juga membahas agar materi informasi yang disampaikan kepada kalangan akademis adalah materi yang bisa menjadi stimulan untuk membantu pemecahan permasalahan RPJMN Bidang TRP. Kegiatan berbasis kemasyarakatan adalah strategi yang diajukan dalam kajian ini. Tujuannya adalah untuk melibatkan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat, serta satu hal penting yaitu untuk membuat konteks sosial mengenai RPJMN Bidang TRP. Kegiatan berbasis kemasyarakatan masih kurang. Kegiatan-kegiatan komunikasi audio-visual, workshop, diskusi yang melibatkan partisipasi kalangan bisnis, komunitas lokal dan kelompok-kelompok informsi masyarakat lokal sangat diperlukan. Pemilihan media untuk menyampaikan informasi ini beragam, mulai dari media yang bisa dijangkau hingga media-media kreatif semisal penyisipan melalui acara-acara tradisional atau acara hiburan saat ini. Diskusi ini banyak memberi masukan bagi perbaikan kajian strategi sosialisasi.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

94

Bab 5 Kesimpulan dan Rekomendasi
5.1 Kesimpulan

Kesimpulan umum hasil kajian strategi sosialisasi RPJMN 2010-2014 Bidang TRP adalah sebagai berikut: 1. Sebagai dokumen publik, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 perlu disosialisasikan kepada semua stakeholders terkait antara lain: pemerintah daerah, perguruan tinggi, organisasi non pemerintah dan masyarakat. 2. Sosialisasi RPJMN 2010-2014 perlu dilakukan secara efektif dengan memilih media dan substansi materi sosialisasi yang tepat sesuai dengan kelompok sasaran sosialisasi (pemerintah daerah, perguruan tinggi, organisasi non pemerintah dan masyarakat). 5.1.1 Media dan substansi sosialisasi untuk pemda Media sosialisasi RPJMN 2010-2014 di kalangan Pemda masih sangat terbatas, hanya instansi yang membutuhkan RPJMN dalam melaksanakan tupoksinya (Bappeda) yang mengetahui isi RPJMN 2010-2015. Bahkan masih ada kanwil dan kantah BPN yang belum mengetahui RPJMN. ketidak tahuan mengenai RPJMN disebabkan karena minimnya sosialisasi RPJMN kepada pemda. Untuk mengenalkan RPJMN 2010-2014 kepada pemda sampai pada level bawah sadar diperlukan sosialisasi RPJMN yang lebih intensif dan berkelanjutan yang dilakukan secara formal (melalui instansi vertikal) dan informal (toolkit dan media massa: koran, acara televisi dan radio serta forum informal). Subtansi RPJMN 2010-2014 yang diperlukan pemda agar menjadi materi sosialisasi yang perlu ada dalam toolkit yaitu RPJMN 2010-2014 Bidang TRP dan perlu ditambah pengantar umum seperti yang telah digunakan oleh Bappenas selama ini yang memperlihatkan keterkaitan antara RPJPN dengan RPJMN, antara Buku I, II dan III. Selain itu perlu ditambahkan pula tabel prioritas nasional terkait tata ruang dan pertanahan. Untuk sosialisasi di daerah, dapat ditambahkan keterkaitan antara RPJMN dengan RPJMD yang telah disusun oleh pemerintah masing-masing daerah.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

95

5.1.2 Media dan substansi sosialisasi untuk kelompok masyarakat Media sosialisasi RPJMN 2010-2014 untuk masyarakat perlu disesuaikan dengan budaya dan karakteristik masyarakat lokal yang sudah umum dikenal masyarakat lokal. Misalnya dengan menggunakan media yang umum dilihat oleh masyarakat setempat seperti majalah dinding di tempat umum dan tempat ibadah, pengumuman melalui tempat-tempat ibadah seperti pengeras suara masjid ataupun karikatur dengan karakter yang sudah banyak dikenal. Selain itu dapat pula dilakukan teknik sosialisasi yang mengadopsi sistem kader yang infrastrukturnya sudah tersedia sampai dengan tingkat Rukun Tetangga (RT). Subtansi RPJMN 2010-2014 bidang pertanahan yang diperlukan masyarakat agar menjadi materi sosialisasi dalam toolkit yaitu mengenai hak atas tanah dan prosedur sertifikasi tanah. Tambahan yang diperlukan adalah mengenai layanan pertanahan untuk UMKM, nelayan, petani (milik), peserta transmigran, dan Masyarakat Bepenghasilan Rendah (MBR). Untuk tata ruang, yang diperlukan adalah pengetahuan tentang cara berpartisipasi dalam perencanaan dan pengendalian pemanfaatan ruang. Yang paling utama adalah proses pengajuan pendapat dan badan pemerintah daerah mana yang harus dituju oleh masyarakat yang ingin menyampaikan pendapatnya. 5.1.3 Media dan substansi sosialisasi untuk kelompok perguruan tinggi Kelompok perguruan tinggi terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok yang bidang ajarnya berkaitan langsung dengan RPJMN (planologi, geodesi, pertanian, arsitektur, studi pembangunan dan lingkungan) dan yang tidak berkaitan langsung dengan RPJMN. Untuk yang tidak berkaitan langsung, materi sosialisasi menggunakan materi yang sama dengan masyarakat. Media sosialisasi RPJMN yang efektif untuk perguruan tinggi adalah web site (khususnya perguruan tinggi di Jawa) yang bisa diakses kapan saja untuk bahan ajar perkuliahan. Subtansi RPJMN 2010-2014 yang perlu ada di dalam toolkit untuk perguruan tinggi yaitu permasalahan terkini, data aktual pencapaian beserta target yang ingin dicapai dalam periode waktu rencana tersebut. Spektrum permasalahan yang dimunculkan dalam toolkit perlu diperluas misalnya untuk pertanahan tidak hanya mengenai permasalahan yang terkait dengan BPN saja, melainkan juga permasalahan yang terkait dengan perpajakan. Untuk bidang tata ruang, perlu pula ditambahkan contoh integrasi antar rencana melalui musyawarah perencanaan.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

96

Dalam kegiatan kajian strategi sosialisasi RPJMN 2010-2014, perguruan tinggi mempunyai peran sebagai inovator untuk menemukan inovasi-inovasi dalam penyelesaian permasalahan-permasalahan pertanahan. Sebagai inovator, perguruan tinggi diperlukan untuk mempertajam masalah, fakta, target dan stimulasi bagi masyarakat maupun pemerintah daerah. 5.1.4 Kekurangan dan kelebihan sosialisasi RPJMN saat ini Kekurangan sosialisasi RPJMN saat ini adalah media sosialisasi yang digunakan dan materi sosialisasi. Media sosialisasi RPJMN yang ada selama ini menggunakan template yang terlalu formal, kaku dan digunakan dari tahun ke tahun tidak ada inovasi (buku RPJMN dan internet). Materi RPJMN yang dosisialisasikan pada masyarakat umum menggunakan bahasa yang sulit untuk dimengerti, sehingga kurang menarik bagi masyarakat umum untuk mengetahui RPJMN lebih jauh. Banyaknya materi RPJMN yang harus diakomodasi menyebabkan buku RPJMN yang dihasilkan sangat tebal dan jumlahnya cukup banyak sehingga masyarakat umum kurang tertarik untuk membaca. Sedangkan kelebihan sosialisasi RPJMN saat ini adalah sosialisasi RPJMN dilakukan pada musrenbangnas dan musrenbangprov yang dilakukan di seluruh Indonesia.

Jaringan informasi formal tersebut dapat diperluas sampai ke desa agar dapat menjadi media sosialisasi RPJMN yang efektif. 5.1.5 Peran Bappenas dalam sosialisasi RPJMN Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan mempunyai kewajiban memberikan informasi atas permintaaan masyarakat (public rights to know). Sejalan dengan perubahan paradigma di bidang komunikasi, komunikasi tidak lagi dapat dilakukan secara kasualitas linier (satu arah), tetapi relasional dan transaksional (dua arah). Peran Bappenas dalam sosialisasi RPJMN diperlukan agar dokumen RPJMN dapat disampaikan kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Selain itu, Bappenas juga perlu berperan untuk mendorong agar isi sosialisasi mengenai dokumen RPJMN disesuaikan dengan target atau objek sosialisasi dan menggunakan cara penyaluran informasi yang tepat sehingga pesan yang penting dapat tersampaikan dengan baik kepada kelompok sasaran (pemerintah daerah, masyarakat dan perguruan tinggi).

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

97

5.2

Rekomendasi

Berdasarkan hasil kajian strategi-strategi sosialisasi yang diajukan dapat dipahami bahwa tiap komponen strategi saling berkaitan satu sama lain untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Prioritas strategi apa yang harus dilaksanakan adalah tergantung pada tingkat pencapaian tujuan sosialisasi itu sendiri. Kajian ini lebih banyak menelaah pengembangan strategi untuk meningkatkan awareness dan pemahaman kelompokkelompok sasaran terhadap RPJMN Bidang TRP. Pencapaian tujuan seperti kajian ini bisa dikategorikan sebagai pencapaian hasil awal yang memang harus menjadi perhatian dan pertimbangan untuk diimplementasikan. Ini dilakukan melalui rekomendasi penting, yaitu antara lain: 1. Pengembangan identitas komunikator (identitas brand) yang baik, matang dan konsisten untuk subyek kajian RPJMN tata ruang dan pertanahan. Diharapkan pengembangan ini bisa dilakukan tidak hanya di direktorat tata ruang dan pertanahan, akan tetapi merupakan sistem identitas yang bisa diterapkan di direktorat-direktorat lain di Bappenas, terutama mengenai identitas RPJMN yang krusial untuk segera mendapat perhatian. 2. Advokasi media adalah aspek penting yang terbukti efektif untuk meningkatkan awareness. Rekomendasi ini bisa melibatkan kelompok-kelompok sasaran dari kalangan akademis, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk pelaksanaannya. Seperti disebutkan sebelumnya advokasi media akan mempengaruhi kuantitas dan kualitas pemberitaan tentang masalah-masalah RPJMN Bidang TRP, serta mempengaruhi cara orang mempersepsikannya. 3. Pengembangan toolkit yang lengkap, tidak hanya berupa buku informasi RPJMN Bidang TRP, tapi juga material-material atau aplikasi-aplikasi diseminasi lainnya. Beberapa sudah dikembangkan selama kajian ini. Pengembangannya akan bergantung pada pemilihan dan penyebaran media terhadap tiap kelompok sasaran sosialisasi. Catatan penting mengenai hal ini adalah mengenai relevansi isi informasi yang harus disesuaikan untuk tiap kelompok sasaran dan pembatasan terhadap kelompok sasaran potensial, semisal untuk kalangan akademis difokuskan kepada kalangan perencanaan, ilmu-bumi, geo-informasi, dan studi pembangunan. Rekomendasi tersebut akan cukup efektif untuk pencapaian tujuan awal. Langkah berikutnya adalah tindak lanjut untuk kegiatan-kegiatan sosialisasi yang berbasis

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

98

kemitraan dan kemasyarakatan.

Tujuan dari kegiatan-kegiatan ini adalah sebagai

dukungan untuk melibatkan strategi-strategi sebelumnya dalam konteks sosial, sehingga keberadaanya dalam masyarakat lebih baik lagi. Salah satu contoh nyata dari rekomendasi ini adalah, usulan untuk memasukan materi-materi RPJMN ke dalam kurikulum pendidikan adalah salah satu bentuk sosialisasi yang sangat efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat secara umum.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

99

Daftar Pustaka
Ajzen, I., & Fishbein, M. 1980, Understanding attitudes and predicting social behavior, Upper Saddle River, New Jersey, Prentice Hall. Andreasen, AR 1995, Marketing social change, San Francisco, Jossey-Bass. Andreasen, AR 1997, Challenges for the science and practice of social marketing. In M.E. Goldberg, M. Fishbein, & S.E. Middlestadt (Eds.), Social

marketing:Theoretical and practical perspectives. Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum Associates. Aziz, RG 2006, Analisa efektifitas penyebaran informasi dalam rangka sosialisasi pasar modal, Jakarta. Bandura, A 1992, Exercise of personal agency through the self-efficacy mechanism. In R. Schwarzer (Ed.), Self-efficacy: Thought control of action. Washington, DC. Hemisphere. Barbour, RS 2005, ‘Making sense of focus groups’ , Medical Education, vol.39, no.7, pp.742-750. Basch, CE 1987, ‘Focus group interview: an underutilized research technique for improving theory and practice in health education’, Health Education Quarterly, vol.14, no.4, pp.411-448. Becker, 1974, The health belief model and personal health behavior, Health education Monographs. Bender, DE & Ewbank, D 1994, ‘The focus group as a tool for health research: issue in design and analysis’, Health Transition Review, vol.4, no.1, pp.63-79. Bernard, B & Morris, J, ed., Reader in public opinion and communication, The Press of Glencoe, New York. Bungin, B 2008, Analisis data penelitian kualitatif: pemahaman filosofis dan metodologis ke arah penguasaan model aplikasi, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta. Carey, MA 1995, ‘Comments: concerns in the analysis of focus group data’, Qualitative Health Research , vol.5, pp.487-95.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

100

Coffman, J 2003, Lesson in evaluating communications campaigns, Communication Consortium, Washington DC. Day BA dan Monroe, MC 2000, Environmental Education & Communication for a sustainable world, Academy For Educational Development. Devito, JA 1978, Communicology: an introduction to the study of communication, Harper & Row Publisher, New York-London. Dewey, R dan Humber, WJ 1967, An Introduction to social psychology, London, CollierMacmillan. Dominick, JR 2002, The dynamics of mass comunications, Media in the digital age, 7th edn., University Of Georgia Athens, McGraw-Hill. Effendy, OU 1997, Ilmu komunikasi teori dan praktek, PT Remaja Rosda Karya, Bandung. Fletcher AD dan Bowers TA 1991, Fundamental of advertising research, 4th edition, Wadsworth, Inc., United States. Folch-Lyon, E & Trost, JF 1981, ‘Conducting focus group sessions’, Studies in Family Planning, vol.12, no.12, pp.443-449. Hague, P 1993, Interviewing , Kogan Page, London. Hovland, Carl I., 1953, Social Communication Knodel, J & Pramualratana, A 1987, ‘Focus group research as a means of demographic inquiry, Research Report, vol.87, no.106, pp.1-7. Krueger, RA 1994, Focus groups: a practical guide for applied research , 2nd edn, Thousand Oaks, California. Lasswell, HD 1972, The structure and function of communication in society Littlejohn, SW 1992, Theories of human comunications, 4th edn., Wadsworth Publishing Company, Belmont California. Lyengar, S & Kinder, DR 1987, News that matters, Chicago: University of Chicago Press. Macbride, S 1980, Many voices one world, UNESCO, The Anchor Press Ltd. McCombs, M & Shaw, DL 1973, The agenda-setting function of the mass media, Public Opinion Quarterly, 37, 62-75.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

101

Milward, LJ 1995, ‘Focus group’, in GM Breakwell, S Hammind & C Fife-Schaw (ed.), Research methods in psychology, pp.274-292, Sage, London. MoneySENSE 2003-2010, http://www.moneysense.gov.sg Morgan, DL1988, Focus group as qualitative research, Sage, London. Mulyana, E 2005, Ilmu komunikasi suatu pengantar, PT Remaja Rosda Karya, Bandung. Pemerintah Republik Indonesia, Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah. Prochaska, JO., DiClemente, CC., & Norcross, JC 1992, In Search of how people

change: applications to addictive behaviors, American Psycologist, 47, 11021114. Quality 2006-2009, Quality of life in a changing europe, http://www.projectquality.org/ Rakhmat, J 2000, Psikologi komunikasi, PT Remaja Rosda Karya, Bandung. Ries, Al dan Trout, Jack 2001, Positioning: the battle for your mind, The McGraw-Hill Companies,Inc., New York. Rogers, EM dan Storey, JD 1987, Communication campaigns. In CR Berger & SH Chaffe (Eds.), Handbook of communication science, Newbury Park, Sage. Ross, RS 1974, Persuasion: communication and interpersonal relations, Eaglewood Clifs, Prentice-Hall Inc. Ross, RS 1974, Persuasion: Communication and interpersonal relations, Eaglewood Clifs, Prentice-Hall, Inc. Ruditio, B dan Famiola, M 2008, Social mapping, metode pemetaan sosial , Rekayasa Sains, Bandung. Schramm, Wilbur dan Donald, F 1971, The process and effects of mass communication, University of Illinois Press, Urbana Chicago-London. Severin, WJ dan Tankard, JW Jr 1979, Communication theories, origins, methods, uses, Hastings House Publisher, New York. Sim, J & Snell, J 1996, ‘Focus group in physiotherapy evaluation and research’, Physiotherapy, vol.82, pp.189-98.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

102

Sim, J 1998, ‘Collecting and analysing qualitative data: issues raised by the focus group’, Journal of Advanced Nursing, vol.28, no.2, pp.345-52. Spradley, JP 1980, Participant observer, Holt Rinehart and Winston. Stewart, DW & Shandasani, PN 1990, Focus groups: theory and practice, Sage, Newbury Park. Treno, AJ dan Holder, HD 1997a, Community mobilization: evaluation of environmental approach to local action, Addiction, 92, S173-S187. Treno, AJ dan Holder, HD 1997b, Community mobilization, organizing, and media advocacy: A discussion of methodological issues, Evaluation Review, 21(2), 166190. Treno, AJ., Breed, L., Holder, H., Roeper, P., Thomas, B.A., & Gruenewald, PJ 1996, Evaluation of media advocacy efforts within a community trial to reduce alcohol involved injury, Evaluation Review, 20(4), 404-423. Tversky, A & Kahneman, D 1981, The framing of decisions and psychology of choice. Science, 211, 453-458. Twinn, S 1998, ‘An analysis of the effectiveness of focus groups as a method of qualitative data collection with Chinese population in nursing research’, Journal of Advanced Nursing , vol.28, no.3, pp.654-61. Venus, A 2004, Manajemen kampanye panduan teoritis dan praktis dalam mengefektifkan kampanye komunikasi, Simbiosa Rekatama Media, Bandung. Ward, VM, Bertrand, JT & Brown, LF 1991, `The comparability of focus group and survey results: three case studies', Evaluation Review, vol.15, no.2, pp.266-83. Wilbur Schramm, Mass communication, University of Illinois Press, Urbana-Chicago. Wilmshurst, John 1993, The fundamental of advertising, Butterworth Heinemann Ltd.

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

103

Lampiran
a. Survey a. Kuesioner – Bappenas b. Hasil survey – TA b. FGD a. Toolkit – TA b. Presentasi – Bappenas c. Notulensi FGD –Bappenas dan TA d. Foto – Bappenas e. Rekaman video dalam DVD – Bappenas f. Undangan – Bappenas v g. Daftar hadir – Bappenas v c. Diseminasi a. Presentasi – Bappenas b. Notulensi diseminasi – Bappenas dan TA c. Foto – Bappenas d. Rekaman video dalam DVD – Bappenas e. Undangan – Bappenas v f. Daftar hadir – Bappenas v

Kajian Strategi Sosialisasi Kebijakan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

104