IV.

Kesetimbangan antara
fasa yang terkondensasi
4.1. Kesetimbangan cair-cair
4.2. Destilasi zat cair-zat cair yang
dapat bercampur sebagian dan
yang tidak saling bercampur
4.3. Kesetimbangan cair-padat:
Diagram eutektik sederhana
4.4. Analisis termal
4.5. Diagram titik beku dengan
pembentukan senyawa

4.6. Senyawa yang mempunyai titik
cair inkongruen
4.7. Sistem tiga komponen
Indikator Penilaian
Kemampuan:
1. Menjelaskan diagram T-X untuk kesetimbangan cair-cair yang
hanya larut sebagian, kesetimbangan padat-cair,
kesetimbangan padat-gas
2. Mengaplikasikan aturan pedal (lever rule) dalam sistem cair-
cair, sistem padat-cair dan sistem padat-gas
3. Menjelaskan destilasi cairan-cairan yang larut sebagian dan
yang tidak saling bercampur dengan menggunakan diagram T-
X
4. Mendefinisikan titik eutektik, dan titik beku “incongruent”
5. Membuat diagram T-X sistem dua komponen dan menjelaskan
perubahan keadaan dari satu titik ke titik yang lain
6. Menggunakan koordinat segitiga untuk menunjukkan komposisi
sistem tiga komponen
7. Menginterpretasi diagram fase tiga komponen untuk
kesetimbangan cair-cair
Campuran satu fasa : cair
(Kedua cairan dapat bercampur secara sempurna)
4.1. Kesetimbangan Cair-Cair
(Toluena + benzena) murni
Air + nitrobenzena
Dua lapisan zat cair
- Air (mengandung sedikit nitrobenzena)
-Nitrobenzena (mengandung sedikit air)

Cairan-cairan tidak saling bercampur
Fenol + air
- Mula-mula fenol larut ÷ satu fasa
- Pada titik tertentu, penambahan fenol
menyebabkan air menjadi jenuh
- Penambahan lebih lanjut ÷ 2 lapisan zat
cair :
*) Lapisan yang kaya akan air
*) Lapisan yang kaya akan fenol
Cairan-cairan tersebut mempunyai
kelarutan yang terbatas
Suatu sistem dalam kesetimbangan
mengandung dua lapisan zat cair, dua
fasa zat cair :
- lapisan yang mengandung zat cair
murni A,
- lapisan yang merupakan larutan jenuh A
dalam zat cair B
Syarat termodinamika untuk
kesetimbangan : potensial kimia A dalam
larutan, µ
a
, sama dengan potensial kimia A
dalam zat cair murni, µ
a
o
.
Jadi
µ
a
= µ
a
o
atau
µ
a
- µ
a
o
= 0 (4.1)

Untuk larutan ideal,

µ
a
- µ
a
o
= RT ln X
a
(4.2)
RT ln X
a
tidak pernah nol kecuali X
a
= 1,
yakni campuran tidak mengandung B.
Gambar 4.1. Potensial kimia Vs X
a
Untuk larutan ideal, nilai µ
a
- µ
a
o
negatif
pada semua komposisi
Jadi, A murni dapat selalu dipindahkan
ke dalam larutan ideal dengan
penurunan energi bebas.
Zat-zat yang membentuk larutan ideal
dapat bercampur sempurna satu
terhadap yang lain.
Untuk dua zat cair dengan kelarutan
terbatas, µ
a
- µ
a
o
sama dengan nol pada
beberapa komposisi, µ
a
- µ
a
o
memenuhi
kurva dengan garis putus-putus.
Pada titik X
a
’, nilai µ
a
- µ
a
o
= 0, dan sistem
berada sebagai larutan dengan fraksi mol
A = X
a
’ dan lapisan yang terpisah dari A.
Nilai X
a
’ : kelarutan A dalam B (fraksi mol)
Jika fraksi mol A dalam B > X
a
’, maka µ
a
-
µ
a
o
akan positif atau µ
a
> µ
a
o
.
A bergerak secara spontan dari larutan ke
zat cair murni A, jadi X
a
berkurang sampai
mencapai nilai kesetimbangan X
a
’.
Misalkan pada suhu T
1
, sedikit zat cair A
ditambahkan ke dalam zat cair B yang
berlebih.
Larutan serbasama terbentuk dimana A
larut dengan sempurna dalam B.
Hal yang sama terjadi pada penambahan
kedua dan ketiga.
Titik keadaan dapat dilihat pada diagram
T-X yang dilakukan pada tekanan tetap.
Gambar 4.2. Diagram T-X untuk sistem
air-fenol
Titik a, b, c menunjukkan komposisi
setelah penambahan A ke dalam B murni.
Karena semua A larut, ketiga titik berada
pada daerah satu fasa.
Setelah sejumlah tertentu A ditambahkan,
batas kelarutan dicapai, titik l
1
.
Jika A ditambahkan terus, lapisan kedua
terbentuk karena tidak ada lagi A yang
larut. Daerah di sebelah kanan titik l
1

merupakan daerah dua fasa
Hal yang sama dapat diamati pada sisi
sebelah kanan dengan penambahan B ke
A.
Pada mulanya B larut menghasilkan
sistem serba sama (satu fasa), titik d, e,
f.
Batas kelarutan B dalam A dicapai pada l
2
.
Titik-titik di sebelah kiri l
2
merupakan
sistem 2-fasa.
Pada daerah antara l
1
dan l
2
, 2 lapisan zat
cair yang disebut larutan konyugasi
berada bersama-sama.
Lapisan l
1
merupakan larutan jenuh A
dalam B yang berada dalam
kesetimbangan dengan lapisan l
2
yang
merupakan larutan jenuh B dalam A.
Jika eksperimen dilakukan pada
temperatur yang lebih tinggi, nilai batas
kelarutan yang berbeda, l’
1
dan l’
2
akan
diperoleh.
Diagram T-X untuk sistem air-fenol
ditunjukkan pada Gambar 4.2(b).
Dengan bertambahnya suhu, kelarutan
tiap komponen dalam komponen yang lain
bertambah.
Kurva kelarutan bersatu pada suhu
konsolut maksimum, yang disebut juga
suhu pelarutan kritik, t
k
(suhu paling
tinggi untuk menemukan dua lapisan
dalam sistem).
Di atas t
k
air dan fenol bercampur
sempurna.
Titik a menunjukkan keadaan sistem
yang terdiri atas dua lapisan zat cair: L
1

dengan komposisi l
1
dan L
2
dengan
komposisi l
2
.
Massa relatif kedua lapisan diberikan
oleh aturan lever yakni
) a (
) a (
mol
mol
1
2
2
1
l
l
l
l
=
Jika suhu sistem dinaikkan, titik
keadaan mengikuti garis putus-putus
aa’; L
1
menjadi lebih kaya akan fenol
dan L
2
menjadi lebih kaya akan air.
Dengan naiknya suhu, rasio (al
2
)/(al
1
)
menjadi lebih besar; jumlah L
2

berkurang.

Pada titik C, bagian terakhir L
2
akan
menghilang dan sistem menjadi serba
sama.
Sistem dengan titik konsolut minimum
misalnya sistem trietilamina-air.
Gambar 4.3. Sistem dengan temperatur
konsolut minimum
Suhu konsolut
minimum =
18,5
o
C.
Jika larutan pada titik a dipanaskan,
larutan tersebut tetap serbasama sampai
suhu sedikit di atas 18,5
o
C.
Pada titik a’, lrt terbagi atas 2 lapisan.
Pada temperatur yang lebih tinggi, a”,
larutan mempunyai komposisi l
1
dan l
2
.
Menurut aturan lever l
1
> l
2
.
Pasangan zat cair yang mempunyai
diagram kelarutan dengan tipe ini
cenderung membentuk senyawa yang
terikat lemah satu terhadap yang lain.
Hal ini meningkatkan kelarutan pada
suhu rendah.
Dengan naiknya suhu, senyawa
terdisosiasi dan kelarutan satu terhadap
yang lain berkurang.
Beberapa senyawa memperlihatkan suhu
konsolut maksimum dan minimum,
misalnya sistem nikotin-air.
Gambar 4.4. Sistem dengan suhu
konsolut maks. dan min.
Aturan fasa untuk sistem pada tekanan
tetap adalah F = C – P + 1.
Untuk sistem 2 komponen, F = 3 – P.
Jika ada 2 fasa, hanya 1 variabel
diperlukan untuk menjelaskan sistem.
Pada daerah 2 fasa, jika suhu diketahui,
maka titik potong dengan kurva
menghasilkan komposisi kedua larutan
konyugasi.
Jika komposisi salah satu larutan
konyugasi diketahui, suhu dan komposisi
larutan konyugasi yang lain dpt dicari.
Jika hanya ada 1 fasa, suhu dan
komposisi larutan harus ditentukan.
4.2. Distilasi zat cair-zat cair yang dapat
bercampur sebagian dan tidak
saling bercampur
Pada diskusi sebelumnya, tekanan
dianggap cukup tinggi sehingga uap
tidak terbentuk pada rentang suhu yang
digunakan.
Untuk alasan ini, kurva uap-cair tidak
terlihat pada diagram.
Keadaan khusus pada tekanan lebih
rendah ditunjukkan pada Gambar 4.5.
dimana kurva uap-cair juga diperlihatkan
(tekanan masih dianggap cukup tinggi)
Gambar 4.5. Distilasi zat cair yang
bercampur sebagian
Pada Gambar 4.5(a) tidak ada masalah
dalam interpretasi.
Bagian atas dan bawah diagram dapat
dijelaskan secara terpisah dengan
menggunakan prinsip-prinsip yang telah
dijelaskan sebelumnya.
Pencampuran sebagian pada suhu
rendah biasanya menunjukkan azeotrop
titik didih minimum (meskipun tidak
selalu) seperti yang ditunjukkan oleh
Gambar 4.5(b).
Pencampuran sebagian menunjukkan
bahwa jika kedua komponen
dicampurkan mempunyai
kecenderungan menguap lebih besar
daripada dalam larutan ideal.
Kecenderungan menguap yang lebih
besar ini menghasilkan maksimum
dalam kurva komposisi-tekanan uap dan
minimum dalam kurva komposisi-titik
didih.
Jika tekanan pada sistem yang
diperlihatkan pada Gambar 4.5(a)
diturunkan, titik didih akan turun. Pada
tekanan yang cukup rendah , kurva titik
didih akan berimpit dengan kurva
kelarutan cair-cair.
Hasil diperlihatkan pada Gambar 4.5(b)
yang secara skematik menunjukkan
sistem n butanol-air pada tekanan 1
atm.
Jika suhu dari cairan homogen a
dinaikkan, uap dengan komposisi b akan
terbentuk pada suhu t
a
.
Jika uap didinginkan hingga titik c,
kondensat akan terdiri atas 2 lapisan
cairan, karena c berada pada daerah 2
fasa.
Jadi distilat pertama, yang dihasilkan
dari distilasi cairan homogen a, akan
terpisah menjadi 2 lapisan cairan yang
mempunyai komposisi d dan e.
Sifat yang serupa diperlihatkan oleh
campuran yang mempunyai komposisi
pada daerah L
1
.
Karena suhu kedua sistem cairan dengan
komposisi c dinaikkan, komposisi larutan
konyugat sedikit bergeser.
Sistem univarian, F’ = 3 – P = 1 diamati
pada daerah ini.
Pada suhu t’, larutan konjugat dengan
komposisi f dan g dan uap dengan
komposisi h terbentuk.
Terjadi kesetimbangan 3 fasa, cairan f
dan g serta uap h. maka F’ = 0; sistem
invarian.
Sepanjang ketiga fasa tetap ada,
komposisi dan suhunya tetap.
Aliran panas ke dalam sistem tidak
mengubah suhu, tetapi menghasilkan
lebih banyak uap pada hilangnya kedua
cairan.
Uap, h yang terbentuk, lebih banyak
dalam air daripada komposisi awal c,
oleh karena itu lapisan kaya air lebih
dulu menguap.
Setelah lapisan kaya air menguap, suhu
naik, komposisi uap berubah sepanjang
kurva hb.
Cairan terakhir, yang mempunyai
komposisi a menghilang pada t
a
.
Jika sistem 2 fasa dengan rentang
komposisi antara f dan h dipanaskan,
maka pada t’ terdapat cairan f dan g
dan terbentuk uap h.
Sistem pada t’ merupakan sistem
invarian.
Karena uap lebih banyak mengandung
butanol daripada komposisi keseluruhan
awal, lapisan kaya butanol lebih dahulu
menguap, meninggalkan cairan f dan uap
h.
Dengan naiknya suhu, cairan berkurang
dalam butanol; akhirnya hanya uap
yang tersisa.
Titik h mempunyai sifat azeotrop; sistem
dengan komposisi ini terdistilasi dengan
komposisi yang tidak berubah. Sistem
tidak dapat dipisahkan menjadi
komponen-komponennya melalui
distilasi.
Misalkan dua zat cair yang tidak saling
bercampur berada dalam
kesetimbangan dengan uap pada
temperatur tertentu
Pembatas hanya menjaga kedua cairan
untuk terpisah; menghilangkan
pembatas tidak akan membuat
perubahan karena keduanya tidak
saling bercampur.
Tekanan uap total merupakan jumlah
tekanan uap zat cair murni;
P = P
A
o
+ P
B
o

Fraksi mol Y
A
dan Y
B
dalam uap :
Y
A
= P
A
o
/P Y
B
= P
B
o
/P
Jika n
A
dan n
B
merupakan jumlah mol A
dan B dalam uap maka
o
B
o
A
o
B
o
A
B
A
B
A
P
P
P / P
P / P
Y
Y
n
n
= = =
Berat A dan B adalah W
A
= n
A
M
A
dan
W
B
= n
B
M
B
, sehingga
(4.3)
P M
P M
W
W
o
B B
o
A A
B
A
=
Pers (4.3) menghubungkan berat relatif
dari kedua zat yang ada dalam uap
dengan massa molekul dan tekanan
uap.
Jika uap dikondensasikan, Persamaan
(4.3) akan menggambarkan berat relatif
A dan B dalam kondensat.
Misalkan sistem yang dipilih adalah
anilin (A) – air (B) pada 98,4
o
C.
Tekanan uap anilin pada temperatur ini
adalah 42 mm, sedangkan tekanan uap
air = 718 mm.
Tekanan uap total = (42 + 718) mm =
760 mm, jadi campuran ini mendidih
pada 98,4
o
C pada tekanan 1 atm.
Berat anilin yang terdistilasi untuk tiap
100 g air adalah
g 30
) 718 ( ) 18 (
) 42 ( ) 93 (
100 W
A
~ =
Persamaan (4.3) dapat diaplikasikan
pada distilasi uap dari cairan.
Beberapa zat cair yang terdekomposisi
jika didistilasi biasa dapat didistilasi uap
jika zat cair tersebut mudah menguap
sekitar titik didih air.
Dalam laboratorium, uap dilewatkan
melalui cairan untuk didistilasi.
Karena tekanan uap lebih besar daripada
tekanan tiap komponen, maka titik didih
akan berada di bawah titik didih kedua
komponen
Titik didih merupakan suhu invarian
selama kedua fasa cair dan uap berada
bersama.
4.3. Kesetimbangan Cair-Padat. Diagram
Eutektik sederhana
Jika larutan zat cair dari zat A dan B
didinginkan, pada suhu yang cukup
rendah padatan terbentuk.
Suhu ini = titik beku larutan yang
bergantung pada komposisi.
Jika zat padat A murni berada dalam
kesetimbangan dengan larutan ideal
maka
(4.4)
T
1
T
1
R
ΔH
X ln
oA
fus
A
|
|
.
|

\
|
÷ ÷ =
Persamaan (4.4) menghubungkan titik
beku larutan dengan fraksi mol A dalam
larutan.
Gambar 4.6. Kesetimbangan cair-padat
dalam sistem 2 komponen
Kurva ini tidak menggambarkan keadaan
pada seluruh rentang komposisi.
Jika larutan ideal, untuk zat B berlaku:
|
|
.
|

\
|
÷
A
÷ =
oB
fus
B
T
1
T
1
R
H
X ln
dimana T = titik beku B dalam larutan.
Kurva ini ditunjukkan pada Gambar
4.5(b) yang digambarkan bersama-
sama dengan kurva untuk A.
Kedua kurva saling berpotongan pada
temperatur T
e
, temperatur eutektik.
Komposisi X
e
: komposisi eutektik.
Garis GE : kurva titik beku versus
komposisi untuk B. Titik a mewakili
keadaan dimana padatan B berada
dalam kesetimbangan dengan larutan
dengan komposisi b.
Titik pada garis EF : padatan B murni
yang berada dalam kesetimbangan
dengan larutan dengan komposisi X
e
.
Titik pada garis DE menggambarkan
padatan A murni yang berada dalam
kesetimbangan dengan larutan dengan
komposisi X
e
.
Jadi, larutan yang mempunyai komposisi
eutektik, X
e
setimbang dengan zat padat
murni A dan zat padat murni B.
Jika ketiga fasa ada, F = 3 – P = 3 – 3 = 0,
sistem adalah invarian pada suhu ini.
Jika panas mengalir keluar dari sistem,
temperatur tidak berubah sampai salah
satu fasa hilang; jadi jumlah relatif
ketiga fasa berubah jika panas
dikeluarkan.
Jumlah cairan berkurang sedangkan
jumlah kedua zat padat bertambah.
Di bawah garis DEF, sistem berada
dalam 2 fasa (zat padat A murni dan zat
padat B murni).
Sistem Sb-Pb mempunyai diagram fasa tipe
eutektik sederhana (Gambar 4.7)
Gambar 4.7. Sistem timbal-antimon
L = cairan
Sb = padatan Sb murni
Pb = padatan Pb murni
Temperatur eutektik = 246
o
C;
Komposisi eutektik = 87 % Pb
Pada sistem Sb-Pb, nilai Te dan Xe yang
dihitung dari Persamaan (4.4) dan (4.5), sesuai
eksperimen.
Ini menunjukkan bahwa cairan mendekati
larutan ideal
Perhatikan sifat isotermal sistem pada 300
o
C,
garis horizontal abcdfg
Titik a menunjukkan Sb padat murni pd 300
o
C
Jika Pb padat ditambahkan secukupnya
maka komposisi sistem pindah ke titik b.
Titik b ini berada pada daerah Sb + L, jadi
Sb padat berada bersama-sama dengan
cairan dengan komposisi c
Semua Pb yang ditambahkan mencair dan
Pb yang mencair melarutkan cukup padatan
Sb sehingga komposisi cairan menjadi c
Aturan lever menunjukkan bahwa jumlah
relatif cairan yang ada pada titik b cukup
kecil sehingga cairan mungkin tidak tampak
Pada penambahan Pb lebih lanjut, Pb
mencair dan melarutkan lebih banyak
padatan Sb membentuk larutan c, sementara
titik keadaan bergerak dari b ke c
Jika titik keadaan mencapai c, Pb yang
ditambahkan cukup untuk melarutkan semua
Sb yang ada membentuk larutan jenuh Sb
dalam Pb
Penambahan Pb lebih lanjut mengencerkan
larutan ini dan titik keadaan pindah dari c ke d
Pada d larutan dijenuhkan dengan Pb;
penambahan Pb lebih lanjut tidak menimbulkan
perubahan. Titik keadaan bergerak ke f.
Jika keadaan f dicapai melalui Pb murni pada g
dan ditambahkan Sb, semua Sb mencair, 330
oC

di bawah titik cairnya, dan melarutkan cukup Pb
membentuk larutan d.
Isopleth merupakan garis dengan komposisi
konstan hijk.
Pada h, sistem secara keseluruhan adalah
cairan.
Jika sistem didinginkan, padatan Sb
terbentuk pada i; dengan mengkristalnya Sb,
larutan jenuh menjadi lebih banyak
mengandung Pb, sehingga komposisi cairan
berubah sepanjang kurva ice.
Pada j larutan mempunyai komposisi eutektik
e dan menjadi jenuh dengan Pb, sehingga Pb
mulai mengendap.
Suhu tetap meskipun panas mungkin keluar,
dalam kondisi ini, sistem invarian.
Jumlah cairan berkurang dan jumlah padatan
Pb dan Sb bertambah. Akhirnya cairan
memadat, suhu padatan yang bercampur
turun sepanjang garis jk.
4.4. Analisis termal
Bentuk kurva titik beku dapat ditentukan
secara eksperimen melalui analisis termal.
Dalam metode ini, campuran dengan
komposisi tertentu dipanaskan sampai
temperatur cukup tinggi sehingga campuran
homogen. Kemudian campuran tersebut
dibiarkan menjadi dingin pada laju tertentu
Gambar 4.8. Kurva pendinginan
Garis datar cd = “eutectic halt”
t
1
, t
2
, t
3
, t
4
, dan t
5
= titik-titik pada kurva
pencairan
“Eutectic halt” pada komposisi eutektik : maks.
Jika temperatur t
1
, t
2
, t
4
, t
5
dan te diplot
terhadap komposisi diperoleh Gambar 4.9a
Komposisi eutektik dapat ditentukan sebagai
titik potong dari kedua kurva pelarutan.
Panjang “eutectic halt” dapat diplot sebagai
fungsi komposisi (Gambar 4.9b).
4.6. Diagram titik beku campuran yang
membentuk senyawa
Jika dua senyawa membentuk satu atau lebih
senyawa, diagram titik-beku seringkali
mempunyai 2 atau lebih diagram eutektik
sederhana
Diagram tersebut merupakan dua diagram
eutektik sederhana untuk sistem A-AB
2
dan
sistem AB
2
-B .
Ada dua titik eutektik, A-AB
2
-zat cair dan AB
2
-
B-zat cair. Titik cair senyawa terletak pada
maksimum kurva
Jadi maksimum pada kurva titik cair-komposisi
hampir selalu menunjukkan pembentukan
senyawa
Zat padat yang pertama terbentuk pada
pendinginan adalah senyawa padat
Senyawa yang terbentuk antara dua zat dapat
lebih dari satu senyawa. Hal ini biasanya
terlihat pada sistem garam-air. Garam
membentuk beberapa hidrat
Contoh sistem feri klorida-air yang
diagramnya terpisah atas 5 diagram eutektik
sederhana
4.7. Senyawa yang mempunyai titik cair
inkongruen
Pada penjelasan sebelumnya, titik cair
senyawa yang terbentuk lebih tingggi dari
pada titik cair komponen-komponen
pembentuknya.
Pada keadaan ini, diagram selalu mempunyai
bentuk dengan 2 titik eutektik.
Tetapi jika titik cair senyawa yang terbentuk
lebih rendah daripada titik cair salah satu
komponen pembentuknya, ada dua
kemungkinan yang terjadi.
Yang pertama seperti gambar sebelumnya,
tiap bagan merupakan diagram eutektik
sederhana
Kemungkinan kedua digambarkan melalui
sistem K-Na sebagai berikut:
Na
Na
2
K
K
97,5
o
C
62
o
C
Pada sistem ini, kurva kelarutan natrium
tidak memotong kurva lainnya antara
komposisi Na
2
K dan Na murni.
Tetapi kurva tersebut bergeser ke arah kiri
dari komposisi Na
2
K dan memotong kurva
kelarutan lainnya pada titik c, titik peritektik.
pada 7
o
C untuk sistem ini.
Perhatikan senyawa padat murni, jika
temperatur dinaikkan, titik keadaan bergerak
sepanjang garis ab.
Pada b cairan dengan komposisi c terbentuk.
Karena cairan ini banyak mengandung K
daripada senyawa awal, padatan Na dengan
komposisi d tetap tidak mencair.
Jadi pada pencairan, senyawa mengalami
reaksi:
Na
2
K (p) ÷÷ Na(p) + c (c)
Reaksi ini disebut reaksi peritektik atau reaksi
fasa. Senyawa mencair secara inkongruen,
karena komposisi cairan berbeda dari
komposisi senyawa.
Karena ada 3 fasa, padatan Na
2
K, padatan
Na dan cairan, sistem invarian, temperatur
tidak berubah meskipun diberikan panas
sampai senyawa padat mencair secara
sempurna.
Kemudian temperatur naik, titik keadaan
bergerak sepanjang garis bef, sistem terdiri
atas natrium padat dan cairan.
Pada f natrium padat yang terakhir akan
mencair, dan di atas f sistem terdiri atas 1
fasa.
Pendinginan komposisi g akan
memperlihatkan perubahan yang sebaliknya.
Pada f padatan natrium terbentuk, komposisi
cairan bergerak sepanjang fc.
Pada b cairan dengan komposisi c berada
bersama-sama dengan padatan Na dan
padatan Na
2
K.
Reaksi balik dari reaksi fasa terjadi sampai
cairan dan padatan natrium digunakan secara
bersamaan. Hanya Na
2
K yang tertinggal dan
titik keadaan bergerak sepanjang garis ba.
Jika sistem dengan komposisi i didinginkan,
kristal utama natrium terbentuk pada j,
komposisi cairan bergerak sepanjang jc
dengan bertambah banyak Na yang
mengkristal.
Pada k, Na
2
K terbentuk karena adanya reaksi
peritektik.
C(c) + Na (p) ÷÷ Na
2
K (p)
Jumlah natrium dalam sistem dengan
komposisi i tidak cukup untuk mengubah
cairan c seluruhnya menjadi senyawa Na
2
K.
Oleh sebab itu kristal utama natrium
digunakan seluruhnya.
Setelah natrium digunakan, temperatur
turun. Na
2
K mengkristal dan komposisi cairan
bergerak sepanjang cm; pada t, garis
hubung menunjukkan bahwa Na
2
K dengan
komposisi n berada bersama-sama dengan
cairan m.
Pada saat temperatur mencapai o, kalium
murni mulai mengkristal. Cairan mempunyai
komposisi eutektik p; sistem invarian sampai
cairan menghilang, yang meninggalkan
campuran kalium padat dan Na
2
K padat
Jika cairan dengan komposisi q didinginkan,
kristal utama natrium terbentuk pada r.
Dengan pendinginan selanjutnya, lebih
banyak Na yang mengkristal, komposisi cairan
bergerak sepanjang rc. Pada s, Padatan Na
2
K
terbentuk melalui reaksi peritektik.
Cairan digunakan seluruhnya dan titik keadaan
turun menjadi t, sistem terdiri atas campuran
Na dan Na
2
K padat.
Sistem natrium sulfat-air membentuk senyawa
yang mencair inkongruen, Na
2
SO
4
. 10 H
2
O
g
h
e
Larutan +
Na
2
SO
4
. 10 H
2
O
Na
2
SO
4
. 10 H
2
O +
Na
2
SO
4

es +
Na
2
SO
4
.
10 H
2
O
Larutan +
Na
2
SO
4
.
Larutan

a
b
f
c
32,383
o

20
100
80
60
40
-20
0
25 50 100 75 0
i
b’
g
h
e’
Larutan +
Na
2
SO
4
. 7 H
2
O
Na
2
SO
4
. 7 H
2
O
+ Na
2
SO
4

es +
Na
2
SO
4
. 7 H
2
O
Larutan +
Na
2
SO
4
.
Larutan

a
b
f
c
24,2
o

20
100
80
60
40
-20
0
% berat + Na
2
SO
4

25 50 100 75 0
4.7. Sistem tiga komponen
Dalam sistem tiga komponen derajat
kebebasan F = 3 – P + 2 = 5 – P.
Jika sistem terdiri atas satu fasa, maka
empat variabel diperlukan untuk menjelaskan
keadaan sistem; T, P, X1, X2 .
Tidak mungkin menggambarkan grafik lengkap
yang menggambarkan sistem secara tiga
dimensi, tetapi dapat secara dua dimensi .
Oleh karena itu, sistem dapat digambarkan
pada tekanan dan temperatur tetap.
Variabel menjadi F = 3 – P sehingga sistem
mempunyai derajat kebebasan dua dan dapat
digambarkan dalam bidang.
Setelah mengatur temperatur dan tekanan,
variabel yang sisa adalah komposisi X
1
, X
2
, X
3

yang berhubungan melalui X
1
+ X
2
+ X
3
= 1.
Dengan menentukan dua dari komposisi
tersebut maka komposisi ketiga dapat
ditentukan
Metode Gibbs dan Roozeboom
menggunakan segitiga sama sisi untuk
penggambaran secara grafik
Dua sifat lain dari diagram ini penting. Yang
pertama ditunjukkan pada gambar (a):
Q
x
P
C
B A
Q
R
P
C
B A
Jika dua sistem yang komposisinya digambarkan
oleh P dan Q dicampurkan, komposisi campuran
yang diperoleh akan ditunjukkan oleh titik x
pada garis yang menghubungkan titik-titik P dan
Q.
Selanjutnya jika tiga sistem yang ditunjukkan
oleh titik-titik P, Q dan R dicampur, komposisi
campuran akan berada dalam segitiga PQR.
Sifat penting kedua : semua sistem yang
ditunjukkan oleh titik-titik pada garis melalui
sudut mengandung kedua komponen lainnya
dalam rasio yang sama.
Sebagai contoh sistem yang ditunjukkan oleh
titik-titik pada CM mengandung A dan B dalam
rasio yang sama.
' CP
CP
' N ' P
PN
dan
' CP
CP
' S ' P
PS
= =
' N ' P
' S ' P
PN
PS
atau
' N ' P
PN
' S ' P
PS
= =
Kesetimbangan Cair-cair.
Titik a dan b menunjukkan lapisan zat cair
konyugasi tanpa asam asetat.
Misalkan komposisi keseluruhan dari sistem
adalah c. Berdasarkan lever rule, lebih banyak
lapisan b daripada lapisan a.
Jika sedikit asam asetat ditambahkan ke
dalam sistem, komposisi bergerak sepanjang
garis yang menghubungkan c dengan asam
asetat ke titik c’.
Penambahan asam asetat merubah komposisi
kedua lapisan ke a’ dan b’ .
Hal yang perlu dicatat adalah asam asetat
lebih senang bercampur dengan lapisan yang
kaya akan air (b’), sehingga garis yang
menghubungkan kedua larutan konyugasi a’
dan b’ tidak sejajar terhadap ab.
Jumlah relatif a’ terhadap b’ adalah c’b’/a’c’
(lever rule). Penambahan asam asetat lebih
lanjut merubah komposisi lebih lanjut
sepanjang gari cC.
Lapisan yang kaya akan air bertambah
sedangkan lapisan yang kaya akan kloroform
berkurang .
Pada tititk c” hanya sedikit lapisan yang kaya
akan kloroform tinggal, sedangkan di atas c’,
sistem menjadi homogen .
Karena garis hubung tidak sejajar, titik pada
mana dua larutan konyugasi mempunyai
komposisi yang sama tidak berada pada bagian
atas kurva binodal tetapi berada pada titik k,
titik plait .
Jika sistem mempunyai komposisi d dan asam
asetat ditambahkan, komposisi akan bergerak
sepanjang garis dk.
Hanya sedikit di bawah titik k, kedua lapisan
akan berada dalam jumlah yang sebanding .
Pada k batas kedua lapisan akan menghilang
karena sistem menjadi homogen.
Jika temperatur dinaikkan, bentuk dan luas
daerah dua fasa berubah
Jika dua dari pasangan A-B dan B-C
mempunyai kelarutan tertentu, dua binodal
kurva akan terbentuk (gambar a).
Pada temperatur lebih rendah, kedua kurva
binodal dapat overlap.
Jika terjadi overlap. Titik plait bergabung satu
terhadap yang lain, sehingga daerah dua-fasa
berbentuk pita (gambar b).
Titik-titik pada segitiga abc menunjukkan
keadaan sistem di mana tiga lapisan zat cair
yang mempunyai komposisi a, b dan c berada
bersama-sama.
Pengaruh garam-garam yang ditambahkan.
Adanya suatu zat terlarut dapat memperngaruhi
kelarutan zat terlarut yang lain.
Tiap garam mempengaruhi garam yang lain
Garam juga dapat mempengaruhi kelarutan
elektrolit lainnya, yang dapat dilihat dengan
memperhatikan sistem tiga komponen yang
terdiri atas NH
4
Cl
,
(NH
4
.SO
4
dan H
2
O.
Pembentukan Garam Rangkap
Jika dua garam dapat membentuk suatu
senyawa, garam rangkap, maka kelarutan
garam rangkap tersebut akan terlihat pada
diagram.
(a) Senyawa yang jenuh secara kongruen.
(b) Senyawa yang jenuh secara inkongruen
Jika salah satu dari garam membentuk hidrat
dengan komposisi D