RendraRegen

KEMENTERIAN KEHUTANAN Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan Dan Konservasi Alam Balai Konservasi Sumber Daya Alam BE N G KU LU

2011

RendraRegenRais, dkk

KEMENTERIAN KEHUTANAN Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan Dan Konservasi Alam Balai Konservasi Sumber Daya Alam BENGKULU

2011

Kawasan Konservasi Enggano
Penerbit: BKSDA Bengkulu & enggano-conservation Cetakan Pertama, Desember 2011 Rendra Regen Editor: PEH BKSDA Bengkulu Artistik & Layouter: Rendra Regen Ukuran Kertas B5 Jl.Mahoni No 55 Kota Bengkulu 38000 I nd O nesia +62736 21697

www.enggano.blogspot.com

engganoconservation@yahoo.com pembebasan1924@yahoo.com

Contents 1
Ekosistem  35 Mangrove 35 Hutan Rawa 36 Hutan Daratan Rendah 36 Gangguan dan Ancaman 36

Introduction

2 Letak dan Lokasi 6 Aksesibilitas 7 Karakteristik Pulau 8 Geologi  9 Topografi 10 Iklim 12 Curah Hujan 12 Suhu Udara dan Kelembaban Udara  14 Angin  14 Lama Penyinaran Surya  14 Hidrologi  14 Kondisi beberapa Sungai di Pulau Enggano 15 Debit beberapa Sungai di Pulau Enggano  15 Morfologi dan Fisik Tanah  16 Sifat Kimia Tanah dan Susunan Mineral  16 Jumlah dan Penyebaran Penduduk  17 Mata Pencaharian  17 Hubungan Kekerabatan  17 Kegiatan perekonomian 18

CAGAR ALAM Tanjung Laksaha 37
Letak lokasi. 38 Kondisi Fisik 38 Pal Batas 38 Ekosistem  39 Mangrove 39 Hutan Rawa 40 Hutan Pantai 40 Gangguan dan Ancaman 40

CAGAR ALAM Kioyo I & II

Kawasan Hutan 19
Ekosistem Ekosistem Ekosistem Ekosistem Hutan Hutan Hutan Hutan

 41 Kondisi Fisik 43 Pal Batas 43 Ekosistem  44 Hutan Pantai 44 Mangrove 44 Hutan Rawa 44 Gangguan dan Ancaman 44

Mangrove  21 Pantai  22 Rawa  23 Dataran Rendah  24

TAMAN BURU Gunung Nanu’ua 45
Letak lokasi. 46 Kondisi Fisik 47 Pal Batas 47 Ekosistem 48 Mangrove 48 Hutan Rawa 48 Hutan Pantai 48 Hutan Dataran Rendah 48

Fauna Pulau Enggano 25

Burung Merbau Burung yang Hilang? 27 Mamalia. 27 Reptil dan Satwa Lainnya 28

CAGAR ALAM Sungai Baheuwo 29
Letak lokasi. 30 Kondisi Fisik 30 Pal Batas 30 Ekosistem  31 Mangrove 31 Hutan Rawa 32 Hutan Daratan Rendah 32 Gangguan dan Ancaman 32

Potensi Wisata 49

CAGAR ALAM Teluk Klowe 33
Letak lokasi. 34 Pal Batas 35

Crocodile Watching 50 Bird Watching 51 Camping Area, Tracking and Rock Climbing 51 Hunting 52 Wild Buffalo 52 Fishing 52 Sea Turlte 53 Surfing and Snorkling. 53 Danau 53 Bermalam di Pulau Dua 54

DaftarReferensi 55
Rendra Regen Rais | Enggano Conservation

1

Introduction

atau Endemic Bird Area (EBA). Merupakan konsep pendekatan dentifikasi BirdLife International dalam mengitempat-tempat keanekterkonsentrasinya

P

ulau Enggano telah dikenal sebagai Daerah Burung Endemik

aragaman hayati dunia. Di dunia terdapat 221 EBA, dan Indonesia adalah negara yang memiliki EBA terbanyak dengan 24 daerah. (Sujatnika,1995). Sementara itu, Enggano merupakan Pulau dengan luasan Daerah Burung Endemik tersempit di Indonesia yakni dengan luas 39.586,74 Ha. Dari 44.859,80 Ha Kawasan Hutan yang berada dibawah pengelolaan BKSDA Bengkulu, 19.47% diantaranya berada di Pulau Enggano. Dan dari 59 Kawasan Hutan di Provinsi Bengkulu, hanya 7 Kawasan Hutan yang keberadaanya relatif lebih baik dan utuh apabila dibandingkan dengan kawasan Hutan lainnya di Propinsi Bengkulu di mana ke 7 kawasan tersebut berada di Pulau Enggano. Untuk itu perlu diberi perhatian lebih terhadap keberadaan kawasan yang relatif lebih baik, sebelum datang banyak masalah seperti halnya kawasan hutan lainnya Indonesia.

2

Bagian I. Enggano | Profil Kawasan Konservasi Enggano

Rendra Regen Rais | Enggano Conservation

3

Peta dengan skala 1: 350.000 dibuat oleh seorang navigator belanda bernama Johannes van Keulen. Diproyeksi pada kisaran tahun1726 sampai dengan 1755. Saat ini peta ini disimpan Museum Maritim Belanda. Hak cipta dipegang oleh Museum Maritim Belanda. Dari peta tersebut diketahui bahwa pada saat itu Teluk Berhau merupakan pusat pelabuhan yang penting. Namun berdasarkan catatan Dr. Johan Winkler pada akhirnya pada abad ke-19 Berhau mulai ditinggal oleh penduduk Enggano kearah pesisir utara-timur pulau Enggano. Diketahui pula bahwa pada zaman itu setidaknya terdapat 11 Pulau Kecil yang ada disekitar Pulau Enggano. Dimana pada masa sekarang hanya tersisa 3 Pulau kecil. Termasuk diantaranya pulau yang hilang adalah Pulau Satu yang sekarang hanya tinggal seonggok batu karang mati yang terendam air laut.

4

Bagian I. Enggano | Profil Kawasan Konservasi Enggano

www.en.wikipedia.org

Cornelis D Houtman, seorang pemimpin Ekspedisi perdagangan Belanda menginjakkan kakinya untuk pertama kali di Kepulauan Nusantara pada tanggal 5 Juni 1596. Menjadikan Tanggal tersebut sebagai salah satu tonggak sejarah misi awal perdagangan Koloni Belanda di Bumi Nusantara. Tidak Banyak yang tahu, Pada tanggal tersebut kelompok Dagang Cornelis D Houtman menyinggahi pulau Enggano setelah berhasil menakluk ganasnya samudera hindia, dimulai semenjak meninggalkan Pulau Madagascar pada Tanggal 2 Maret 1596. Pelayaran selama tiga bulan tersebut mengharuskan kelompok D Houtman mengembil persediaan air tawar sebelum melanjutkan pelayaran menuju Pulau Sumatera. Nama Enggano sendiri sebenarnya bu-

kan merupakan kosakata tempatan. Melainkan sebuah penamaan pelayar Eropa masa sebelum Cornelis D Houtman menyinggahinya, pulau ini telah dinamai sebagai Engano dalam bahasa Portugis artinya adalah “kesalahan” atau dalam terjemahan kosakata Inggris; mistake (kesalahan), deception (khayalan), error (kesalahan), miscalculation (salah hitung) atau sham (menipiu).
Peta Proyeksi Enggano, Johannes van Keulen

Rendra Regen Rais | Enggano Conservation

5

Peta: Rendra Regen Rais, BKSDA Bengkulu

Letak dan Lokasi Pulau Enggano merupakan salah satu pulau terluar dari kepulauan Nusantara. Dengan luasan datar 39.586,74 Ha dan Panjang garis Pantai 126,71 km, memanjang sejauh 35.60 km dari arah barat laut menuju tenggara atau dari Teluk Berhau sampai Tanjung Kahoubi. Melebar 12.95 km dari timur laut menuju barat daya atau dari Pelabuhan Malakoni sampai Tanjung Kioyo. Terpisah oleh Samudera Hindia dari pulau Sumatera. Terpaut 175 km dari Kota Bengkulu, 123 km dari Kota Manna, 133 km dari Kota Bintuhan dan 513 km dari Ibukota Indonesia Jakarta. Elevasi tertinggi berada dipuncak Koho Buwa-buwa (Gunung Eropbf ), 240 dpl). Disebelah selatan Pulau Enggano terdapat 3 pulau kecil antara lain; Pulau Dua (luas 38.90 Ha, keliling 2.68 km), Pulau Merbau (luas 6.8 Ha, keliling 1,29 km) dan Pulau Bangkai (0.26 Ha). Dan dissebelah barat Pulau

terdapat Pulau Satu, secara penampakan ekologis sudah tidak ada, namun masih tersisa bekas fisik pulau yang bisa dilihat pada air surut terendah, berupa hamparan pasir dan atau karang dengan luas 219,85 Ha. Secara administrasi pemerintah, Pulau Enggano merupakan sebuah kecamatan yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Bengkulu Utara, Propinsi Bengkulu. Yang terdiri dari 6 desa, yaitu Desa Banjar Sari, Desa Meok, Desa Apoho, Desa Malakoni, Desa Kaana dan Desa Kahyapu dengan Ibukota Kecamatan adalah di Desa Apoho. Luas wilayah desa-desa adalah sebagai berikut :
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. Nama Desa Malakoni Apoho Meok Banjarsari Kaana Kahyapu Luas (Ha) 40. 21 1.35 60.90 12.410 87.01 85.65
Sumber : BPS Kab. Bengkulu Utara, 2010
BPS Bengkulu Utara 2010

6

Bagian I. Enggano | Profil Kawasan Konservasi Enggano

Aksesibilitas Saat ini Pulau Enggano diakses melalui fasilitas perhubungan dan transportasi laut. Sejak tahun 2002, Dari Kota Bengkulu melalui Pelabuhan Pulau Baai, Pulau Enggano dapat diakses dengan menggunakan kapal Ferry ASDP dengan kapasitas 40 unit kendaraan dan 400 orang dengan waktu tempuh Bengkulu – Pulau Enggano sekitar 12 jam dengan pelayaran 2 kali seminggu. Selain Ferry ASDP , transportasi menuju Pulau Enggano juga dilayani oleh Kapal Perintis dengan jadwal pelayaran 2 minggu 1 kali. Pelayaran Perintis bisa diakses melalui Padang, Sikakap Kepulauan Mentawai, dan Pelabuhan Linau Kaur.
© EngganoConservation, Juni 2011

Fasilitas Perhubungan dan Transportasi Laut di Kecamatan Pulau Enggano Nama Pelabuhan Pelabuhan Kahyapu Pelabuhan Malakoni Lokasi Desa Kahyapu Desa Malakoni Luas Dermaga 360 M 560 M Jenis Kapal Ferry ASDP Perintis

© Ramon Dias, Oktober 2011

Kapal nelayan setempat terkadang bisa menjadi alternatif apabila pada waktu tertentu pelayaran yang telah di tetapkan diluar jadwal normal. Namun waktu tempuh pelayaran biasanya memakan waktu lebih lama, mencapai 18 - 20 jam pelayaran. Saat ini yang menjadi kendala dalam melakukan perjalanan adalah seringnya terjadi perubahan jadwal keberangkatan. Baik itu karena kendala cuaca, ketersediaan BBM maupun permasalhan teknis lainnya. Untuk itu membangun komunikasi dengan pihak kapal atau perhubungan/ASDP perlu dijalin untuk memastikan jadwal pelayaran. Kedepannya mungkin permasalahan tersebut bisa sedikit tertutupi dengan keberadaan trasnportasi udara. Pada saat ini sedang dilakukan pengerjaan

Bandara Enggano yang terletak di Desa Banjar Sari. Perencanaan dan pengerjaan Bandara Enggano sudah memakan waktu cukup lama. Namun pada saat ini pengerjaannya sampai pada tahap pengerasan landasan pacu sepanjang 1.300 m, sehingga kedepannya minimal bisa didarati pesawat Fokker-50. Sarana jalan yang ada sekitar 65 km, menghubungkan dari desa sebelah Barat ke desa sebelah timur pulau. Berdasarkan penampakan fisiknya, kondisi jalan di Pulau Enggano terdiri dari jalan aspal hotmik, jalan sudah diperkeras, dan jalan belum diperkeras. Jalan yang sudah di aspal hotmik sekitar 3,7 km mulai dari Desa Kahyapu menuju Desa Kaana. Jarak dari empat kelompok pemukiman cukup jauh, berkisar antara 7 – 14 km.

Rendra Regen Rais | Enggano Conservation

7

Karakteristik Pulau Pulau Enggano merupakan salah satu pulau kecil yang terdapat di sisi barat pulau Sumatera. Sebagai salahsatu pulau terluar dan berhadapan langsung dengan Samudera Lepas yakni Samudera Hindia, pulau Enggano memiliki Karakteristik yang berbeda dengan Pulau Lainnya yang terdapat di sisi barat Sumatera. Dilihat dari beberapa karakteristik pembentukan pulau kecil, dan apabila dicocokan dengan beberapa temuan dilapangan, pembentukan Pulau Enggano dapat dimasukkan kedalam golongan Pulau Karang Timbul (Raised Coral Island). Pulau karang timbul adalah pulau yang terbentuk oleh terumbu karang yang terangkat ke atas permukaan laut oleh karena adanya gerakan ke atas (uplift) dan gerakan ke bawah (subsidence) dari dasar laut karena proses geologi. Proses ini dapat terjadi pada pulau-pulau vulkanik maupun nonvulkanik. Sepertinya sangat wajar apabila mengingat posisi pulau Enggano berada pada zona vulkanik aktif. Yakni zona pertemuan antara lempengan kerak bumi Indo-Australia. Menurut laporan dari masyarakat setempat, pasca

terjadinya gempa dahsyat pada tahun 2000 dibeberapa tempat terjadi pendangkalan yang disertai naiknnya permukaan bibir pantai. Sehingga jika sebelumnya nelayan bisa melewati jalur ketika laut surut namun pasca gempa bumi tahun 2000 rute tersebut tidak bisa dilalui melainkan ketika laut sedang pasang. Selain itu dijumpai pula sejumlah karang yang mati akibat permukaan yang laut yang naik sehingga terjadi perubahan habitat terhadap biota terumbu karang. Fenomena alam pembentukan pulau Enggano yang telah berjalan selama jutaan tahun tersebut sampai saat ini masih bisa dijumpai di beberapa tempat dibagian pulau Enggano. Patahan lempengan bumi masih bisa di jumpai di bagian paling utara pulau Enggano. Akibat fenomena alam tersebut menghasilkan pemandangan dan bentuk yang unik; bebatuan yang terjal, dijumpai banyak gua alam yang eksotis, lapisan kerak bumi vertikal , horizontal dan diagonal yang mengagumkan. Di beberapa tempat yang jaraknya cukup jauh dari bibir pantai dijumpai pula beberapa fosil makhluk perairan yang usianya tentu sebanding dengan sejarah pembentukan pulau itu sendiri.
© EngganoConservation, Februari 2011

8

Bagian I. Enggano | Profil Kawasan Konservasi Enggano

© EngganoConservation, Juni 2011

Geologi Ada beberapa ahli berpendapat; sejarah pembentukan pulau Enggano terpisah dengan terbentuknya Pulau Sumatera. Dalam Studi daya dukung Pulau Enggano disebutkan; Sebagai sebuah pulau kecil yang letaknya dikelilingi perairan laut Samudera Hindia, karateristik fisik dasar Pulau Enggano agak berbeda dengan wilayah daratan umumnya. Geologi Pulau Enggano tediri atas stratigrafi dan struktur geologi. Stratigrafi P . Enggano disusun oleh batuan tua berasal dari formasi Kuwau (Tmk), dan batuan muda berasal dari endapan aluvium. Formasi Kuwau (Tmk) dapat dirinci menjadi formasi Malkoni (Twk), formasi Kemiki (Tmpk), formasi Lakoni (Qtm), dan formasi Batu Gamping Koral (Qcl). Endapan aluvium disusun oleh bongkah (gravel), kerikil (pebbles), pasir (sand), debu (silt), dan liat (clay). Struktur geologi P . Enggano adalah lipatan dan sesar. Lipatan berasal dari sinklin pada formasi Kemiki berarah barat laut tenggara, dan sesar datar berarah utara-selatan dan timur laut-barat daya,

serta sesar naik berkembang pada formasi Kuwau berarah barat laut-tenggara. Berdasarkan Peta Geologi Indonesia (1993) dalam Bappeda 2003, Pulau Enggano terdiri dari 5 jenis formasi batuan yaitu : a. Formasi Batuan Aluvium (Qal), dengan komposisi bongkah, kerikil, pasir, lanau, lumpur dan lempung. b. Formasi Malakoni (QTm), dengan komposisi batu gamping terumbu-kepingan, kalsirudit, dan kalkarenit. c. Formasi Kemiki (Tmpk), dengan komposisi tuf, tuf pasiran, batu lanau tufan. d. Formasi Kuwau (Tmk) dengan komposisi perselingan batu pasir, batu lanau, atau bintal batu pasir gamping. e. Formasi batu gamping koral (Qcl) disekeliling Pulau Enggano, dengan komposisi batu gamping koral bersifat terumbu, sebagian berkeping.
Rendra Regen Rais | Enggano Conservation

9

Topografi Berdasarkan analisa Topografi dengan menggunakan

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

Elevasi (m) ≥ 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200 210 220 230 240
39,587.3 6 36,188.60

Luas (Ha) 39587.36 36188.6 30477.89 26310.67 22402.11 18440.27 14858.05 11252.69 8443.55 6566.87 5120.68 3999.79 3165.25 2498.75 1943.88 1420.2 1031.84 774.66 550.81 320.1 161.05 86.03 38.49 10.36 0.61

Luas (Ha) Interval 10 m 3398.76 (8.59%) 5710.71 (14.43%) 4167.22 (10.53%) 3908.56 (9.87%) 3961.84 (10.01%) 3582.22 (9.05%) 3605.36 (9.11%) 2809.14 (7.10%) 1876.68 (4.74%) 1446.19 (3.65%) 1120.89 (2.83%) 834.54 (2.11%) 666.50 (1.68%) 554.87 (1.40%) 523.68 (1.32%) 388.36 (0.98%) 257.18 (0.65%) 223.85 (0.57%) 230.71 (0.58%) 159.05 (0.40%) 75.02 (0.19%) 47.54 (0.12%) 28.13 (0.07%) 9.75 (0.02%)
Hasil Pengolahan data DEM 30 m.

1/3 Bagian

data DEM (Digital Elevation Model) Ketinggian Pulau Enggano berkisar antara -20 m sampai dengan 240 m dari permukaan Laut. Dengan Interval elevasi dengan jarak 10 m diketahui Bagian Hilir pada interval 0 – 80 m dpl dengan luas 31.143,81 Ha atau 78.67% luas pulau. Pada bagian tengah pada interval 80 – 160 m dpl dengan luas 7411.71 Ha atau 18.72% dari luas pulau. Kemudian pada bagian Hulu pada interval 160 – 240 m dpl terdapat luasan hanya 1031.23 Ha atau 2.60% dari luasan Pulau. Perbandingan antara ketinggian dan luasan dari Pulau dapat diperhatikan dari table dan grafik. Dari grafik terlihat bahwa topografi pulau cenderung
Luas (Ha)

Elevasi Hilir (0-80) 31143.81 Ha (78.67%)

Elevasi Tengah (80-160) 7411.71 Ha (18.72%)

Elevasi Hulu (160 -240) 1031.23 Ha 2.60%

45,000 40,000 35,000 30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 5,000

30,477.89

26,310.67

22,402.11

18,440.27

landai dengan

pergerakan

14,858.05

11,252.69

8,443.55

6,566.87

perbandingan luas dan elevasi yang cendrung tidak signifikan. Pada rentang elevasi 10 m - 20 m merupakan wilayah terluas yakni mencapai 5.710,7 Ha atau

5,120.68

3,999.79

3,165.25

2,498.75

1,943.88

1,420.20

1,031.84

774.66

550.81

320.10

161.05

86.03

38.49

10.36

0.61

0
0
6,000 5,000

10
5,710.7

20 4,167.2

30 3,908.6

40 3,961.8

50 3,582.2

60 3,605.4

70

80

Elevasi ≥ (m)

90

100

110

120

130

140

150

160

170

180

190

200

210

220

230

240

(14.43%)

3,398.8

Luas (Ha)

14,43 % dari luas pulau. Pada Rentang ketinggian tertinggi (230 m - 240 m) merupakan areal tersempit yakni 9.8 Ha. Luas rentang ketinggian terendah (0 m - 10 m) yakni 3.398,8 Ha atau 8.59% dari luas pulau.

2,809.1

4,000 3,000 2,000 1,000 0

(10.53%)

(10.01%)

(9.87%)

(2.11%)

(1.32%)

(1.40%)

1,876.7

(9.11%)

(9.05%)

(1.68%)

(0.98%)

10

(8.59%)

1,446.2

(0.65%)

(0.58%)

(0.57%) 223.9

(0.40%) 159.1

1,120.9

(7.10%)

(0.19%)

(0.12%)

(0.07%)

(0.02%)

834.5

666.5

554.9

523.7

388.4

(4.74%)

257.2

230.7

(3.65%)

75.0

47.5

28.1

(2.83%)

9.8

0

10 20

20 30

30 40

40 50

50 60

60 70

70 80

80 90

90 100

100 110 110 120

120 130 130 140

140 150 150 160

160 170 170 180

180 190 190 200

200 210 210 220

220 230 230 240

Elevasi (m)

10

Bagian I. Enggano | Profil Kawasan Konservasi Enggano

102°5'0"E

102°10'0"E

102°15'0"E

102°20'0"E

Legenda

Banjar Sari
S. Ka h

ab

i

Sungai Danau Desa
Bandara Enggano

Bandara Enggano Gunung/Bukit Pelabuahan Ferry Pelabuhan Perintis
5°20'0"S

S.Ki nono
ai y

5°20'0"S

S.Ya d

Meok Apoho Malakoni

S.A hai
G.Kiopoy

G.Berkio

B.Malak

P.Enggano

G.Yabikoa

i on

S.

w wa Ku

(Ku

ala

Ke

cil

)
G.Kabareke

S.K

G.Dupalabe

i k ub

K S.

akitahaG.Paobah
G.Arof

S

a

5°25'0"S

96°0'0"E

99°0'0"E

102°0'0"E

105°0'0"E

G. Kiapu
6°0'0"N 6°0'0"N

G.Eropbf G.Ame

Kahyapu
S. P a h
G.Nanu'ua G.Kekek

ad i

G.Yepoakoi

ah

3°0'0"N

3°0'0"N

Yo

pu ku

we u

S.Koh i n

S. P

akiy

hu r
G.Kahaoabi

S .K io

wa

P.Dua

0°0'0"

0°0'0"

S. M

en o

G.Tabuho

3°0'0"S

3°0'0"S

G.Gula

G.Kiamankak

P.Bangkai P.Merbau

P. Satu

6°0'0"S

6°0'0"S

30 °0'0"N

30 °0'0"N

5°30'0"S

10 °0'0"S

10 °0'0"N

10 °0'0"S

10 °0'0"N

5
80°0'0"E 100° 0'0"E 120° 0'0"E 140° 0'0"E 160° 0'0"E

2.5

0

5 Kilometers

102°5'0"E

102°10'0"E

102°15'0"E

102°20'0"E

Topografi Pulau Enggano cukup bervariasi, yaitu terdiri dari dataran sampai berombak , berombak hingga berbukit dan berbukit hingga bergunung. Ketinggian Pulau Enggano berkisar antara 0 sampai 240 m dari permukaan laut. Daerah yang paling tinggi adalah Gunung Eropbf di kawasan Hutan lindung Koho Buwabuwa dengan ketinggian mencapai 240 meter dari permukaan laut. Bentuk permukaan tanah di Pulau Enggano secara umum dapat dikatakan cukup datar hingga landai, dengan sedikit daerah yang agak curam. Daerah yang datar hingga landai terletak di sebelah barat pulau, sedangkan daerah yang agak curam hingga curam terletak di sebelah timur dan tenggara. Secara proporsional 62,39% kemiringannya landai (0 – 8%); 27,9 persen agak miring ( 8 – 15% ) dan sisanya daerah miring hingga terjal ( 15 – 40% ). Perbukitan bergelombang terdapat di daerah tenggara, berarah barat laut-tenggara, ketinggian antara 170-220 meter, sedangkan perbukitan karst terdapat di bagian barat laut, menunjukkan morfologi yang khas dan dominant oleh litologi batu gamping, berketinggian antar 100 – 150 meter, sedangkan pedataran rawa terdapat di sepanjang pantai Enggano dengan ketinggian 0-2 meter. Secara morfologi Pulau Enggano terdiri

dari perbukitan dengan gelombang lemah dan karst yang memanjang dari barat laut ke tenggara, sedangkan di bagian utara terutama daerah pantai merupakan dataran rendah alluvial yang terkadang berawa-rawa. Secara morfologi daerah ini dapat dibagi menjadi 8 satuan yaitu: 1. Daerah perbukitan bergelombang lemah ketingian 170 - 240 meter. 2. Daerah perbukitan karst dengan ketinggian 100 150 meter. 3. Daerah dataran landai, dengan ketinggian antara 0 - 50 meter. 4. Daerah dataran berawa, dengan ketinggian 0 - 5 meter. 5. Daerah dengan lereng datar dengan ketinggian 0-30 meter sekitar pantai. 6. Daerah dengan lereng landai yaitu antara 3 - 60 meter di bagian barat laut. 7. Daerah dengan lereng sedang, dengan ketinggian 6 - 150 meter di bagian barat dan tenggara. 8. Daerah dengan lereng agak curam, dengan ketinggian 15 - 30 meter yang berada di bagian tengah.
Rendra Regen Rais | Enggano Conservation

Rendra Regen Rais BKSDA Bengkulu 2011

30 °0'0"S

30 °0'0"S

11

5°30'0"S

5°25'0"S

G.Abeha

G. Ahopak

a

S.Ba
r ha

u

.P

i ki (Kual a Bes a aant

r)

Kaana

S .M a u n

b

S A M U D E R A H IN D IA

Iklim Pulau Enggano beriklim tropis basah yang sangat dipengaruhi oleh laut. Berdasarkan klasifikasi iklim Smith-Ferguson, iklim di Pulau Enggano termasuk dalam zona iklim A dengan jenis vegetasinya adalah hutan hujan tropis. Curah hujan pada bulan kering masih diatas 100 mm. Bulan terkering biasanya hanya terjadi pada bulan-bulan sekitar Juni dan Juli. Bulan basah kadang mencapai lebih dari 400 mm per bulannya. Sedangkan menurut klasifikasi iklim Koppen, pulau Enggano termasuk ke dalam kelas Af, artinya kawasan ini beriklim hujan tropis tanpa musim kemarau
Bulan HH RH (%)

Suhu ( C) Minimu m

0

Rataan

Kec. angin (m/det)

Maksimum

Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Rata-rata

18 13 16 14 10 9 11 10 15 12 18 19 14

81.5 83.3 81.1 82.9 75.9 82.0 85.8 83.7 82.8 81.3 81.9 82.3 82.0

22.4 23.1 23.2 23.4 23.5 23.5 23.1 23.2 23.2 23.5 23.2 22.8 23.2

26.7 27.6 27.4 27.9 28.7 27.1 27.8 27.8 27.6 27.5 27.6 26.9 27.6

31 32.1 31.6 32.4 33.9 30.7 32.58 32.4 32 31.5 32 31 31.9

2.3 2.1 2.2 1.9 2.0 3.1 2.0 2.1 1.9 2.0 2.2 2.0

Tabel Kondisi unsur iklim di Pulau Enggano, Sumber : Modifikasi olahan data primer dan Walhi, 1999 dari Final Report Daya Dukung Pulau Enggano, Bapedalda 2005 Keterangan : HH : hari hujan (hari) RH : Kelembaban nisbi (%)
Tahun Jan 1978 357 1980 374 1981 684 1982 427 1983 239 1984 692 1985 287 1986 305 1987 529 1988 502 1989 553 1990 732 1991 549 1992 260 1993 994 1994 534 1995 660 1996 141 1997 158 Re460 rata Feb 316 196 133 283 201 377 304 164 275 341 785 150 831 185 201 201 188 131 160 285 Mar 565 257 279 270 383 430 350 284 386 587 271 529 235 259 409 178 606 294 126 348 Apr 198 384 367 398 261 205 524 361 255 197 300 188 375 338 210 278 302 247 137 286 Mei 535 230 354 65 176 226 130 176 205 391 188 237 107 281 419 127 484 95 179 242 Jun 322 278 147 48 268 233 312 245 253 198 213 283 33 145 86 23 256 213 127 193 Jul 559 37 624 149 176 328 151 274 276 255 310 465 14 244 547 0 259 52 54 251 Agu 368 505 87 57 281 384 173 478 175 444 186 250 15 466 277 1 27 208 0 231 Sep 860 367 552 337 90 590 231 301 75 432 265 507 77 545 329 5 54 245 4 309 Okt 668 716 417 4 678 383 301 783 49 330 799 287 373 708 365 20 198 223 49 382 Nov 554 579 785 176 437 241 519 624 637 852 409 201 457 545 362 164 485 497 99 447 Des 504 424 204 216 66 866 400 289 912 492 395 235 555 354 835 920 218 524 157 451 Total 5806 3768 4633 2430 3256 4955 3682 4284 4027 5021 4674 4064 3621 4330 5034 2451 3737 2870 1250 3768

yang nyata atau curah hujan pada bulan terkering lebih dari 60 mm. Kondisi unsur iklim yang lain di Enggano

pengamatannya sangat terbatas. Untuk itu diadakan modifikasi data iklim yang ada dan disesuaikan dengan keadaan posisi pulau terhadap daratan Bengkulu.

Berdasarkan klasifikasi zona iklim menurut Oldeman termasuk Zone A , dimana zona tersebut dapat ditanami padi terus menerus sepanjang tahun. dimana bulan kering terjadi antar 0 sampai 1 bulan dan bulan basah terjadi dalam 10 sampai 12 bulan. Curah Hujan

Curah hujan di Pulau Enggano cukup tinggi dengan pola tahunan berkisar dari 2400 mm sampai lebih dari 5500 mm. Curah hujan rata-rata pada bulan kering masih di atas 100 mm. Pada saat pengaruh El-Nino curah hujan bisa mencapai di bawah 100 mm per bulannya. Hal tersebut terjadi pada tahun tahun 1982, 1994, 1997 dan

12

Bagian I. Enggano | Profil Kawasan Konservasi Enggano

Tabel Curah Hujan
Tahun 1978 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 Rerata Jan 357 374 684 427 239 692 287 305 529 502 553 732 549 260 994 534 660 141 158 460 Feb 316 196 133 283 201 377 304 164 275 341 785 150 831 185 201 201 188 131 160 285 Mar 565 257 279 270 383 430 350 284 386 587 271 529 235 259 409 178 606 294 126 348 Apr 198 384 367 398 261 205 524 361 255 197 300 188 375 338 210 278 302 247 137 286 Mei 535 230 354 65 176 226 130 176 205 391 188 237 107 281 419 127 484 95 179 242 Jun 322 278 147 48 268 233 312 245 253 198 213 283 33 145 86 23 256 213 127 193 Jul 559 37 624 149 176 328 151 274 276 255 310 465 14 244 547 0 259 52 54 251 Agu 368 505 87 57 281 384 173 478 175 444 186 250 15 466 277 1 27 208 0 231 Sep 860 367 552 337 90 590 231 301 75 432 265 507 77 545 329 5 54 245 4 309 Okt 668 716 417 4 678 383 301 783 49 330 799 287 373 708 365 20 198 223 49 382 Nov 554 579 785 176 437 241 519 624 637 852 409 201 457 545 362 164 485 497 99 447 Des 504 424 204 216 66 866 400 289 912 492 395 235 555 354 835 920 218 524 157 451 Total 5806 3768 4633 2430 3256 4955 3682 4284 4027 5021 4674 4064 3621 4330 5034 2451 3737 2870 1250 3768

tahun 2011. Bulan terkering biasanya hanya terjadi pada bulan-bulan sekitar Juni dan Juli. Sedang Bulan basah biasanya dimulai dari bulan september hingga maret. Curah hujannya berkisar dari 250 mm sampai kadang mencapai lebih dari 600 mm per bulannya. Curah hujan bulanan berfluktuasi dari terendah 193 mm pada Juni sampai tertinggi 460 mm pada Januari. Pada gambar tersebut terlihat bahwa dalam setiap bulannya rata-rata terjadi 14 hari hujan. Jumlah hari hujan terbesar terjadi pada bulan Desember sedangkan yang terkecil pada bulan Juni. Kelembaban nisbi umumnya di atas 80% dengan variasi terendah sekitar 78 % dan tertinggi 96 %. Hal tersebut menunjukkan bahwa di Pulau Enggano kelembaban udara relatif tinggi sepanjang tahun. Suhu udara rata-rata setiap harinya berkisar antara 27,8oC, dengan suhu terendah 23.2oC dan tertinggi 34 oC. Suhu minimum tercapai pada

Grafik Curah Hujan
1200

1000

800

600

400

200

0 Jan Feb 1978 1989 Mar 1980 1990 Apr 1981 1991 Mei 1982 1992 Jun 1983 1993 Jul 1984 1994 Agu 1985 1995 Sep 1987 1997 Okt 1988 Rerata Nov Des

1986 1996

dini hari sekitar pukul 04.00, sedang suhu maksimum tercapai setelah tengah hari, sekitar pukul 13.30. Angin

WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia)1999

mempunyai variasi musiman yang tidak terlalu banyak berbeda. Kecepatan angin berkisar antara 1,8 m.det-1 hingga 2.2 m.det-1. Berdasarkan pengamatan di lapangan beberapa kali terlihat bahwa angin bertiup lebih kuat pada ketinggian di atas 200 m dpl., terutama yang berada di atas kanopi pohon. (Final Report Daya Dukung Pulau Enggano, Bapedalda Bengkulu 2005)
© EngganoConservation, Desember 2010

Rendra Regen Rais | Enggano Conservation

13

Suhu Udara dan Kelembaban Udara Kelembaban nisbi umumnya di atas 80% dengan variasi terendah sekitar 78 % dan tertinggi 96 %. Hal tersebut menunjukkan bahwa di pulau Enggano kelembaban udara relatif tinggi sepanjang tahun. Suhu udara rata-rata setiap harinya berkisar antara 27,8 C, dengan suhu terendah 23.2 C dan tero o

pir setiap bulan curah hujan cukup tinggi. Dengan demikian potensi hujan yang tinggi menggambarkan tingkat keawanan yang tinggi pula. Sejalan dengan tingkat keawanan yang tinggi, maka penyianaran radiasi matahari sering mengalami halangan untuk mencapai permukaan. Jadi lama penyinaran surya di pulau Enggano tidak tinggi. Rata-rata lama penyinaran matahari diperkirakan di bawah 6.5 jam per hari. Variasi bulanan lama penyinaran matahari tersebut tentunya mempunyai korelasi pula dengan variasi bulanan curah hujan. Dengan demikian diperkirakan lama penyinaran akan sangat kurang pada bulanbulan mulai Oktober sampai Januari.

tinggi 34 oC. Suhu minimum tercapai pada dini hari sekitar pukul 04.00, sedang suhu maksimum tercapai setelah tengah hari, sekitar pukul 13.30.

Angin Angin menjadi unsur cuaca dan iklim yang cukup penting bagi banyak keperluan pengelolaan dan pegembangan suatu pulau yang termasuk kecil seperti Enggano. Musim angin bisa menuntukan pola mata pencaharian nelayan. Di kawasan ini angin dominan terbagi dalam dua musim, yaitu musim barat dan tenggara. Angin musim barat terjadi pada bulan-bulan mulai September sampai Januari yang bertiup dari barat sampai barat daya. Sedang angin musim tenggara bertiup antara bulan April sampai Agustus. Angin banyak angin mempunyai berbeda. berkisar 2.2 variasi
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Nama Sungai Berhaw Kinono Kahabi Meok Kuala besar Kuala Kecil Apiko Kikuba Maona

Hidrologi Dalam wilayah Pulau Enggano mengalir beberapa sungai. Sungai-sungai tersebut ada yang perennial dan ada hampir tak ada airnya pada saat tak ada hujan cukup lama. Namun secara umum airnya dipengaruhi musim. Pada musim hujan debit air sungai tinggi, sebaliknya pada musim kemarau debit air
Luas DAS (km ) 29 12 61 8,1 36,4 19,2 6,9 8.5 16,3
2

Muara Tl. Berhau Tl. Berhau Tl. Berhau Tl. Meok Tl. Malakoni Tl. Malakoni Tj. Kaana Tl. Kaana Pantai Timur

musiman yang tidak terlalu Kecepatan antara 1,8 m.det-1. lebih

Panjang (Km) 11,70 8,50 15,90 4,0 12,18 10,67 3,50 4.5 3,90

Lebar Dasar (m) 3 –7 3–7 5 – 12 2–4 6–8 4 – 11 1–3 2-5 2-5

Debit (m /det) 9 4 15 5 11 14 3 6 4
3

m.det-1hingga mempunyai

Pada saat tertentu angin dapat kecepatan dari dua kali kecepatan rata-

Bapedalda Provinsi Bengkulu, 2005

rata tersebut. Dialain waktu angin bertiup lebih kuat pada ketinggian di atas 200 m dpl., terutama yang berada di atas kanopi pohon. Dari sini terlihat bahwa, sebagai sumber energi alternatif, dengan demikian terlihat bahwa angin bisa dijadikan sumber energi yang potensial.

rendah. Nama-nama sungai tersebut antara lain adalah Sungai Kikuba, Sungai Kuala Kecil, Sungai Kuala Besar, Sungai Kahabi, Sungai Kinono, dan Sungai Berhaw. Beberapa sungai kecil antara lain Sungai Kaay, Sungai Kamamum, Sungai Maona, Sungai Napean, Sungai Apiko, dan sungai-sungai kecil lain yang sangat jauh dari pemukiman penduduk. Sungai-sungai tersebut mengalir ke sebelah utara, barat, timur, dan selatan pulau. Sungai yang mengalir ke sebelah utara pulau diantaranya adalah Sungai Kuala Besar, Sungai Kuala Kecil, Sungai Maona; yang mengalir ke sebelah barat pulau adalah Sungai Berhawe, Sungai Kinono, dan Sungai Kahabi (Peta

Lama Penyinaran Surya Pola curah hujan di Enggano mengikuti tipe curah hujan kepulauan kecil di daerah lautan beriklim tropik. Tipe demikian beriklim sangat basah, ham-

14

Bagian I. Enggano | Profil Kawasan Konservasi Enggano

Situasi Pulau Enggano, 2005). Kondisi beberapa Sungai di Pulau Enggano Sungai-sungai di Pulau Enggano pada umumnya bukan merupakan sumber air langsung bagi keperluan rumah tangga. Beberapa sungai letaknya cukup jauh dari lokasi pemukiman. Untuk keperluan rumah tangga pada umumnya masyarakat membuat sumur gali, dan atau sumber air artesis. Untuk sumber irigasi persawahan, hanya Sungai Kikuba di Desa Kaana yang telah dijadikan sumber air irigasi teknis yang permanen. Hampir seluruh sungai yang ada di pulau ini berhulu di bagian tengah pulau yang mempunyai ketinggian puncak sampai 240 m dpl. Hilirnya semua bermuara ke laut. Pola aliran sungai secara umum mengikuti bentuk denritik dengan panjang sungai antara 6 sampai 15 km. Banyak sungai-sungai kecil yang panjangnya di bawah 4 km, seperti S. Kaai, S. Hokia, dan lain-lain. Debit sungai diperkirakan berfluktuatusi sesuai musim. Debit sungai terkecil yang terukur dimiliki oleh sungai Kikuba, yaitu sebesar 0,45 m3 per detik, dibandingkan dengan Sungai Malakoni sebesar 12,2 pada pengukuran hari yang sama. Perbedaan besar debit ini terlihat memang sesuai dengan luas kawasan daerah aliran sungainya, Sungai Malakoni mempunyai luasan daerah tangkapan yang terbesar. Dari peta penutupan lahan terlihat bahwa daerah

tangkapan air masih ditutupi oleh vegetasi hutan yang relatif masih baik. Namun demikian jarak sungai ke wilayah hutan tersebut sangat pendek. Hal ini mengindikasikan bahwa keberadaan air sungai di Enggano sangat bergantung kepada keberadaan penutupan vegetasi di kawasan hutan tersebut. Berdasarkan kondisi demikian maka fluktuasi air sungai tahunan masing-masing sungai yang diamati berbentuk hidrograf yang tak terlalu tajam. Debit beberapa Sungai di Pulau Enggano Berdasarkan debit sungai-sungai yang tersaji pada tabel di atas menunjukkan bahwa kondisi daerah aliran sungai masih baik. Pola tersebut pula menunjukkan bahwa potensi debit sungai masing-masing berkaitan dengan luasan daerah aliran dan daerah tangkapannya. Sungai Kuala Besar mempunyai potensi debit lebih besar. Sedang Sungai Kikuba potensi debit paling kecil.
Debit (m3/det) Sungai Kuala Besar Kuala Kecil Air Kahabi Hulu Kuala Besar S. Kikuba Kemarau 5.0 2.0 2.0 1.5 0.5 Pengukuran 12.13 8.04 8.08 7.10 4.5 Dugaan Maks 22.00 14.0 16.0 11.0 8.5
Bapedalda Provinsi Bengkulu, 2005

Muara Sungai Kuala Besar, Desa Malakoni

© EngganoConservation, Juni 2011

Rendra Regen Rais | Enggano Conservation

15

Morfologi dan Fisik Tanah Berdasarkan klasifikasi tanah, kawasan daratan Pulau Enggano didominasi oleh jenis tanah kambisol, litosol dan alluvial. Selain itu, tanah di Pulau Enggano memiliki tekstur lempeng berliat. Pori drainase tanah sangat rendah sampai tinggi, kapasitas air yang tersedia tergolong tinggi dan sangat tinggi. Permeabilitas tanah sangat lambat sampai sedang, dengan pH tanah 5,1-5,8. Kandungan N total sangat rendah sampai sedang, kandungan C organic sangat rendah sampai sedang, kandungan P relatif rendah. Kedalaman Solum sangat dangkal sampai dangkal, dan kondisi tanah miskin hara, kecuali pada bagian top soil di lahan bekas vegetasi berhutan. Kedalaman efektif tanah sekitar 30-50 cm. Tekstur tanahnya lempung liat berpasir, liat, dan pasir. Struktur tanahnya gumpal, mampat, dan lepas-lepas. Pemanfaatan tanah di Pulau Enggano sebagian besar untuk lahan perkebunan rakyat. Lahan perkebunan mereka pada umumnya ditanami tanaman coklat, melinjo, dan sebagian mulai menanam kopi dan karet. Berdasarkan peta tata guna lahan Pulau Enggano

sunan mineral dapat dijelaskan berikut ini. Reaksi tanah (pH tanah) di beberapa tempat sangat beragam, pH aktual disebut pH (H20) berkisar 5-7,4, dan pH potensial disebut pH (KCl) berkisar 4,2-7,1. Budidaya pertanian dapat dilakukan pada keadaan pH tanah tersebut di atas. Tanaman dapat hidup pada tanah dengan pH tersebut, meskipun pertumbuhan tanaman belum optimal, sebab pH tanah yang optimal mendekati 7. Tanah di wilayah studi bebas total garam terlarut, karena konsentrasi DHL (Daya Hantar Listrik) yang rendah (DHL x 640 = total garam terlarut, mg/L). Hal ini berarti bahwa tanaman sangat kecil kemungkinannya keracunan garam yang berasal dari air laut. Bahan organik tanah di wilayah studi relatif tinggi, kecuali Kaana yang mempunyai bahan organik tanah sangat tinggi (15,98%). Kadar N tanah di beberapa tempat relatif rendah (<0,5%). Rasio C/N tanah relatif cukup stabil, kecuali untuk Kaana yang mempunyai rasio C/N tanah sangat tinggi (53). Hal ini disebabkan bahan organik tanah di Kaana sangat tinggi, yang berasal dari seresah jerami padi yang membusuk bercampur tanah. Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah

Profil lapisan tanah yang terlihat dalam penampang diagonal menunjukkan tingginya aktifitas geologi di sekitar Sawang Epuph, sebelah barat laut Pulau Enggano

© EngganoConservation, 2011

2005, pemanfaatan tanahnya digunakan untuk lahan perkebunan rakyat, persawahan, kawasan hutan, areal berawa, areal hutan nibung, areal hutan mangrove, dan pemukiman masyarakat. Sifat Kimia Tanah dan Susunan Mineral Sifat kimia tanah terdiri atas pH, DHL, bahan organik, kejenuhan basa (KB), dan kapasitas tukar kation (KTK) tanah. Sifat kimia bahan induk adalah kadar CaCO3 setara. Susunan mineral pasir didominasi pasir kuarsa. Masing-masing sifat fisik, kimia tanah dan su-

relatif sangat rendah, kecuali KTK tanah di Malakoni (Koni-1) relatif tinggi (34,01 cmol(+)/kg). Kejenuhan basa (KB) tanah di wilayah studi relatif tinggi, kecuali Malakoni (Koni-3). Bahan kapur dan pasir pantai mempunyai kadar CaCO3 setara 47,09% dan 47,49%. Susunan mineral pasir dari contoh tanah Koni-3 kedalaman 60-80 cm dan 80-100 cm didominasi pasir kuarsa (97-99%), dan mineral yang lain dalam jumlah sangat kecil. Hal ini menunjukkan bahwa tanah di wilayah studi cadangan mineralnya sangat sedikit.

16

Bagian I. Enggano | Profil Kawasan Konservasi Enggano

Jumlah dan Penyebaran Penduduk Jumlah penduduk Enggano sampai dengan tahun 2010 sesuai dengan data BPS Bengkulu Utara adalah sebanyak 2.322 jiwa (641 KK) yang terdiri dari 1.308 laki-laki dan 1.014 perempuan. Jumlah tersebut tersebar di 6 desa. Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin dan penyebarannya dapat dilihat pada table.
N o. 1 2 3 4 5 6 Desa Banjar Sari Meok Apoho Malakoni Kaana Kahyapu Luas (Ha) 12.410 6.090 275 4.021 8.701 8.563 40.060 Jumlah Jiwa L 274 275 141 146 281 191 1.308 P 206 245 108 110 212 133 1.014

© EngganoConservation, Desember 2010

Jumlah total 480 520 249 256 493 324 2.322

Kepa datan jiwa/km 3,82 8,53 184,4 6,36 5,66 3,78 5,79

BPS Kab. Bengkulu Utara, 2010

Mata Pencaharian Mata pencaharian utama masyarakat di Pulau Enggano adalah petani dan nelayan. Pekerjaan lainnya adalah pedagang, buruh, dan pegawai negeri. Banyak penduduk Enggano yang berprofesi ganda, yakni sebagai petani dan nelayan. Jenis pertanian yang dibudidayakan kebanyakan adalah perkebunan coklat. Hampir setiap kepala keluarga memiliki luas kebun coklat 2 hektar.

N o. 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Jenis Pekerjaan Petani Nelayan Pedagang Buruh PNS Lain -lain Jumlah

Jumlah (KK) 242 138 9 88 64 100 641

Persen (%) 37,8 21,5 1,4 13,7 10,0 15,6
Camat Enggano, up date 2005

Hubungan Kekerabatan Secara adat istiadat, masyarakat Pulau Enggano memiliki hubungan kekeluargaan dengan sistem yang berakar pada asal keturunan yang disebut dengan suku. Di Pulau Enggano masyarakat terbagi atas-atas suku-suku yang masing-masing suku dikepalai oleh Ketua Suku. Adapun penduduk asli pulau Enggano terdiri dari Suku
Rendra Regen Rais | Enggano Conservation

17

Kauno, Suku Kaahoao, Suku Kaharuba, Suku Kaitaro, Suku Kaaruhi dan Suku Kaamay (untuk semua pendatang). Masyarakat Pulau Enggano masih teguh memegang adat istiadat peninggalan nenek moyang. Di Pulau Eng-

suku atau koordinator suku. Selanjutnya untuk setiap suku mempunyai kepala pintu suku atau kap kaudar. Ada 14 orang kepala pintu suku yaitu sebagai berikut: 1. Suku Kauno, terdiri dari Kap Kaudar Kapururu, Kap Kaudar Ka’duai dan Kap Kaudar Nahyeah-

Rumah Adat Suku Kauno di Desa Meok

© EngganoConservation, 2011

gano ada 3 sistem pelapisan sosial tradisonal dari tiga golongan sosial yaitu tokoh agama, orang-orang tua desa, dan tokoh masyarakat yang dipandang mempunyai pengetahuan tertentu yang disebut cerdik pandai. Nilai budaya masyarakat Enggano sangat dipengaruhi oleh budaya islam. Hal ini terlihat dari aktivitas sehari-hari yang sangat memegang teguh nilai-nilai ke-islam-an. Namun walaupun demikian, pada hakekatnya mereka masih memiliki akar budaya warisan leluhurnya masingmasing. Secara umum proses pembauran adat istiadat dengan kaum pendatang telah berjalan dan tidak ada masalah dalam kaitannya dengan heterogenitas daerah asal. Yang terjadi adalah pembauran dari masing-masing adat istiadat yang berjalan dengan sendirinya dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa suku di luar Pulau Enggano yang telah berbaur dengan masyarakat Enggano adalah suku sunda, minang, bugis, jawa, batak, dan yang lainnya. Masyarakat bugis banyak tinggal di Desa Banjar Sari, umumnya mereka membuka lahan pertanian menanam berbagai jenis tanaman, terutama coklat. Banyaknya masyarakat Bugis yang membuka ladang secara berkelompok, seakan-akan membentuk perkampungan sendiri, sehingga dikenal Kampung Bugis. Struktur adat masyarakat Pulau Enggano terdiri dari Paabuki, yaitu pemimpin tertinggi dari lembaga adat masyarakat pulau Enggano, yang membawahi kepala

Pabuuy. 2. Suku Kaitora, teridir dari hanya satu Kap Kaudar yaitu Kap Kaudar Kaitora. 3. Suku Kaarubi, terdiri dari 3 kap kaudar, yaitu kap kaudar Ahipe, Kap Kaudar Abobo dan Kap Kaudar Kaanaine 4. Suku Kaharuba, hanya terdiri dari satu kap kaudar, yaitu kap kaudar Kaharuba 5. Suku Kaahoao, terdiri dari 4 kap kaudar, yaiotu kap kaudar Bok, Kap Kaudar Kapuiheu, kap kaudar kakore, dan kap kaudar Yamu’i 6. Suku Kaamay, terdiri dari dari 2 bagian wilayah, yaitu wilayah bagian barat dan wilayah bagian timur. Kegiatan perekonomian Kegiatan perekonomian masyarakat Enggano meliputi pertanian sawah (irigasi, semi irigasi, tadah hujan), perikanan tangkap, pengolahan hasil perikanan, perkebunan (kelapa, melinjo, cengkeh, coklat dan pisang), peternakan (kerbau, sapi, kambing dan ayam/itik). Industri rumah tangga yang berkembang di pulau Enggano meliputi industri kerajinan rotan yang sebagian besar sentra produksinya terletak di desa Kaana, industri pengeringan ikan (ikan asin) di Desa Banjar Sari, Desa Meok, dan Desa Kahyapu serta industri pembuatan emping melinjo tersebar di desa-desa Pulau Enggano.

18

Bagian I. Enggano | Profil Kawasan Konservasi Enggano

Kawasan Hutan
© EngganoConservation, 2011 Lokasi: Banjarsari

36,34% (14.377,35 Ha) wilayah Pulau Enggano merupakan Kawasan Hutan. Terdapat 6 (enam) Kawasan Konservasi (8.736,57 Ha/ 22.08 %) yakni Cagar Alam (CA) Sungai Baheuwo (496,06 Ha) , CA. Teluk Klowe (331,23 Ha), CA. Tanjung Laksaha (333,28 Ha), CA. Kioyo I & Kioyo II (305,00 Ha), dan Taman Buru Gunung Nanua (7.271.00 Ha). Selain Itu terdadapat Hutan Lindung Koho Buwa-Buawa (3.450,00 Ha) dan HPT. Ulu Malakoni (2.191,78 Ha). Luas kawasan hutan yang ada di Pulau Enggano sebesar 36.32 % dari total luas wilayah. Luas kawasan hutan yang berfungsi sebagai kawasan perlindungan sistem penyangga kehidupan dan pelestarian ekosistem (Kawasan hutan konservasi dan Hutan Lindung) adalah 30,79 %; sedangkan yang berfungsi sebagai penghasil kayu luasnya 5,54 %.

No

Kawasan Hutan

Luas (Ha) CA KK

% dari Luas Pulau (39.586,73 Ha) CA 1.25 KK

1 2 3 4 5 6 7

CA Sungai Bahe uwo Reg.97 CA. Teluk Klowe Reg.96

495,06 331,23 1464,57 8.735, 57

0.84 0.84 0.77

CA. Tangjung Laksaha Reg.95A 333,28 CA. Kioyo I & Kioyo II Reg.100 TB. Gunung Nanua Reg.59 HL. Koho Buwa-Buawa 98 HPT. Ulu Malakoni Reg.99 Jumlah 305,00

3.70

22.07

7.271,00 3.450,00 2.191,78 14.37 7,35

18.37 8.72 5.54 36.32

20

Bagian II. Kawasan Hutan | Profil Kawasan Konservasi Enggano

Rendra Regen Rais, BKSDA Bengkulu 2011

Tipe ekosistem yang terdapat di kawasan hutan Pulau Enggano adalah ekosistem mangrove, ekosistem pantai, ekosistem rawa, dan ekosistem hutan dataran rendah; dengan jenis vegetasi yang beraneka ragam. Ekosistem Hutan Mangrove Menurut. Kusmana (2002) pengertian mangrove adalah suatu komunitas tumbuhan atau individu jenis tumbuhan yang membentuk komunitas tersebut di daerah pasang surut. Vegetasi hutan mangrove memiliki keistimewaan karena dapat hidup dalam tingkat salinitas yang cukup tinggi, miskin oksigen dan tanah sebagai tempat hidup yang tidak stabil karena sifat tanahnya yang belum matang. Mangrove merupakan sumber daya alam yang dapat dipulihkan (renewable resources atau flow resources) yang mempunyai manafaat ganda (Manfaat ekonomis dan ekologis). Secara ekologis hutan mangrove dapat menjadi penahan abrasi atau eroso, gelombang atau angin kencang, pengendali intrusi air laut dan tempat habitat berbagai jenis fauna Hutan mangrove atau disebut juga hutan bakau adalah hutan yang berada di daerah tepi pantai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut sehingga lantai hutannya selalu tergenang air. Keadaan lingkungan hutan mangrove tumbuh mempunyai faktorfaktor ekstrim yang membedakan dengan ekosistem lainnya, seperti salinitas air tanah, latainya berupa lumpur dan selalu tergenang air, dan pada umumnya didominasi oleh jenis vegetasi yang mempunyai
© EngganoConservation, 2011

perakaran yang unik, seperti akar lutut, akar pasak, dan akar tunjang. Vegetasi di hutan mangrove bersifat halofit, artinya vegetasi tersebut tahan terhadap tanah yang mengandung garam dan tergenang air laut. Oleh karena itu keragaman jenis vegetasi di hutan mangrove relatif lebih sedikit dibandingkan dengan ekosistem di hutan lainnya. Vegetasi mangrove secara khas memperlihatkan adanya pola zonasi, hal ini berkaitan erat dengan tipe tanahnya, keterbukaan terhadap hempasan gelombang, salinitas, serta pengaruh pasang surut air laut. Jenis-jenis pohon yang biasa tumbuh di hutan mangrove adalah : Acanthus spp, Aegilitis spp, Aegiceras spp, Avicenia spp, Bruguiera spp, Ceriops spp, Campnosperma spp, Excoecaria agallocha, Heritiera spp, Kandelia candel, Lumnitzera spp, Nypa fruticans, Osbornia octodonta, Phoenix paludosa, Rhizophora spp, Sciphiphora hydrophyllacea, Sonneratia spp, dan Xylocarpus spp (Rusila Noor Y, M. Khazali, INN Suryadipura, 1999). Hutan mangrove memiliki peranan penting dalam melindungi pantai dari gelombang, angin, dan badai. Tegakan mangrove dapat melindungi pemukiman, bangunan, dan areal pertanian dari angin kencang atau intrusi air laut. Kemampuan hutan mangrove untuk mengembangkan wilayahnya ke arah laut merupakan salah satu peran penting mangrove dalam pembentukan lahan baru. Akar pohon mangrove mampu mengikat dan menstabilkan substrat lumpur, pohonnya mengurangi energi gelombang dan memperlambat arus, sementara vegetasinya secara keseluruhan dapat memerangkap sedimen.

Tegakan Bakau Jangkar (Rhizhopora apicullata)

Rendra Regen Rais | Enggano Conservation

21

© EngganoConservation, Januari 2011

Hutan mangrove juga berperan penting dalam pengembangan perikanan pantai. Mangrove merupakan tempat siklus hidup berbagai jenis ikan, udang, dan moluska karena lingkungan hutan
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. Nama Ilmiah Rhizophora apicullata Rhizophora mucronata Bruguiera gymnorrhiza Xylocarpus granatum Sonneratia alba Ceriops tagal Oncosperma filamentosa Oncosperma tigillarium Terminalia catapa Calamus ornitus Hibiscus tiliaceus Ficus sp Baringtonia asiatica Cerbera manghas Scaevola taccada Pongamia pinnata Suku Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Sonneratiaceae Rhizophoraceae Palmae Palmae Combretaceae Ariaceae Malvaceae Moaraceae Lecythidaceae Apocynaceae Goodeniaceae Legumminosae Nama daerah Bakau jangkar Bakau panjang Tumok Nyireh Pidada Tinggi Diuk Nibung Ketapang Rotan waru Aro Putat Laut Bintaro Bakung2 Kranji

spot-spot terletak di sebelah selatan di kawasan Cagar Alam Kioyo. Disebelah barat Pulau Enggano tidak banyak ditemukan ekosistem mangrove karena kondisi pantainya reltif curam dan berkarang, sehingga ketingian pantai di atas ketingian pasang surut air laut. Beberapa jenis tumbuhan mangrove seperti Rhizopora dan Burgerria menjadi tanaman pioneer dalam mebentuk dataran baru pada permukaan karang yang naik akibat pendangkalan baik karena proses sedimen maupun aktifitas geologi. Dibeberap tempat dijumpai beberapa tegakan Bakau muda menuju terbentuknya dataran baru. Ekosistem Hutan Pantai Hutan Pantai terdapat di sepanjang pantai laut berpasir dengan tanah kering, dengan jenis tanah regosol kering tidak pernah tergenang air arahnya melainkan Keadaaan dengan tidak hutan situasi lebar ini
© EngganoConservation, Desember 2010

mangrove menyediakan perlindungan dan makanan berupa bahan-bahan organik yang masuk ke dalam rantai makan. Selain itu mangrove merupakan pemasok bahan organik sehingga dapat menyediakan makanan untuk organisme yang hidup pada perairan sekitarnya. Dari sisi ekonomi, pohon mangrove mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Kayu pohon mangrove dapat digunakan sebagai kayu bakar, bahan pembuatan arang kayu, bahan bagunan, peralatan rumah tangga, bahan baku serat sintesis, dan bahan baku pembuatan bubur kertas ( pulp). Dengan adanya fungsi ekonomis dan fungsi perlindungan lingkungan dari hutan mangrove, perlu dipertimbangkan secara bijaksana tentang bagaimana pengelolaan hutan mangrove, sehingga perlu dipilah mana yang lebih diutamakan nilai ekonomis atau nilai perlindungan lingkungan. Hutan mangrove di Pulau Enggano tersebar di bagian pantai Pulau Enggano, termasuk ke dalam kawasan hutan konservasi, seperti Cagar Alam Teluk Klowe, Cagar Alam Sungai Bahewo, dan Taman Buru Gunung Nanua; luasnya sekitar 1536,8 hektar (Bappeda Propinsi Bengkulu, 2003). Sebagian hutan mangrove juga terletak di sebelah barat Pulau Enggano, di Cagar Alam Tanjung Laksaha dan secara

memanjang.

telah menyesuaikan diri tempat tumbuh yang kering, tidak terdapat air tawar secara terus menerus, dan air hujan. Secara fisiografis kawasan ini didefinisikan sebagai dataran surut lebar oleh air wilayah yang laut, antara masih dengan (% garis pantai hingga kearah dipengaruhi oleh pasang yang ditentukan

kelandaian

lereng) pantai dan dasar laut, serta dibentuk oleh endapan lempung hingga pasir yang bersifat lepas, dan kadang bercampur

22

Bagian II. Kawasan Hutan | Profil Kawasan Konservasi Enggano

kerikil. Hutan yang tumbuh di sepanjang pantai, tanahnya kering tidak pernah mengalami genangan air laut ataupun air tawar. Ekosistem hutan pantai terdapat di sepanjang pantai yang curam di atas garis pasang air laut. Kawasan ekosistem hutan pantai ini, tanahnya berpasir dan berbatu-batu dan kadang-kadang membentuk jalurjalur. Diantara jalur-jalur tersebut terdapat cekungan yang tergenang oleh air laut dan air tawar. Jenis-jenis pohon yang tumbuh di kawasan hutan pantai adalah Barringtonia speciosa, Terminalia catappa, Calophyllum inophyllum, Hibiscus tiliaceus, Casuarina equisetifolia, Pisonia grandis, dan Pandanus fectorius. Ekosistem hutan pantai di Pulau Enggano banyak terdapat di bagian barat dan timur pulau. Di bagian utara pulau, ekosistem hutan pantai yang ada di luar kawasan hutan. Beberapa vegetasi yang tumbuh adalah Terminalia catappa, Hibiscus tiliaceus, Calophyllum inophyllum. Ekosistem Hutan Rawa Hutan rawa adalah hutan yang tumbuh di atas
© EngganoConservation, Februari 2011

Hala (Pandanus tectorius) Salah satu spesies hutan pantai pada Cagar Alam Kioyo I

kawasan yang selalu tergenang oleh air tawar. Oleh karena itu hutan rawa terdapat di daerah yang landai, biasanya terletak di belakang hutan payau. Seperti halnya hutan mangrove, ciri dari hutan rawa juga mempunyai tempat tumbuh yang buruk pertukaran air maupun udaranya. Walaupun demikian, jenis-jenis pohon di hutan rawa relatif lebih banyak dibandingkan dengan hutan mangrove, karena kondisi edafik hutan rawa ini kurang ekstrim dibandingkan dengan hutan mangrove. Di Pulau Enggano hutan rawa banyak terdapat di Kawasan Taman Buru Gunung Nanua, Cagar Alam Teluk Klowe, Cagar Alam Sungai Bahewo, dan Cagar Alam Tanjung Laksaha. Selain itu ekosistem rawa banyak juga terdapat dia areal non kawasan hutan atau kawasan areal
Menyeberangi Sungai Mauna (CA.Sungai Baheuwo), dengan tegakan hutan rawa yang didominasi Nibung dan Pandan

pemanfaatan lain. Jenis-jenis vegetasi di hutan rawa diantaranya Gluta rengas, Cratoxylon spp, Palmae spp, Pandanus spp, dan jenis-jenis lainnya. Salah satu jenis pohon rawa yang banyak

Rendra Regen Rais | Enggano Conservation

23

di Enggano adalah jenis nibung. Ekosistem Hutan Dataran Rendah
Hutan dataran Rendah merupakan hutan yang terletak di dataran rendah dibelakang hutan pantai pada ketinggian 2 – 1000 mdpl dengan curah hujan berkisar antara 2000 -3000 mm/tahun. Hutan dataran rendah merupakan salahsatu tipe ekosistem hutan ini memiliki ciri-ciri yaitu, terpengaruh iklim, kaya akan keanekaragaman jenis baik flora maupun fauna, memiliki strata tajuk yang lengkap, serta memiliki variasi yang tinggi berdasarkan perbedaan tempat tumbuh. Hutan dataran rendah adalah hutan yang tumbuh di tempat yang kering atau tidak mengalami genangan air sampai ketinggian tertentu di atas permukaan laut. Ekosistem hutan ini merupakan ekosistem hutan terluas di bumi ini, begitu pula di Pulau Sumatera. Para ahli berbeda pendapat tentang batas ketinggian hutan dataran rendah ini. Beberapa ahli membuat batasan ketinggian sampai 700 meter dari permukaan laut, sedangkan ahli yang lainnya memuat batasan ketinggian sampai 1.000 meter dari permukaan laut. Hutan dataran rendah adalah ekosistem yang paling banyak mempunyai jenis keanekaragaman

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30.

Nama Ilmiah Havea suplantiolata Diplospora singularis Koompasia sp Pterospermum javanicum Callophyllum sp Shorea Shorea uliginosa Ganua sp Dryobalanop Dracontomelon dao Gnetum gnemon Shorea macroptera Shorea sp Myristica elleptica Gluta rengas Ficus sagitata Shorea multiplora Shorea sp2 Shorea sp1 Tetrameristra glabra Shorea leprosula Knema sp Sidora sp Terminalia catapa Callamus manau Pomentia pinnata Aporosa maingayi Callamus sp Zizyphus brunoniana Arthocarpus lanceofolius

Suku Euphorbiacea Turculiaceae Leguminoceae Steruaceae Guttiferae Dipterocarpaceae Dipterocarpaceae Sapotaceae Dipterocarpaceae Rubiaceae Genetaceae Dipterocarpaceae Dipterocarpaceae Myristicaae Anacardiaceae Moraceae Dipterocarpaceae Dipterocarpaceae Dipterocarpaceae Tetrameristaceae Dipterocarpaceae Myrtaceae Leguminaceae Combretaceae Ariaceae Sapindaceae Euphorbiaceae Ariaceae Rhamnaceae Moraceae

Nama daerah Abihu Aek Apua Bayur Bintangor Diuk Ficus Karer Pik Kraai Melinjo Pokoror Punin Purut Rengas Sape Umil Beling angin Yeke Sirih -sirih Ketapang Rotan cacing Kasai Karet Batu Rotan Parut Kipkipkhu Terap

ciri-ciri umum ekosistem hutan dataran rendah adalah pohonnya berbanir, terdapat tumbuhan pemanjat, dan terdapat tumbuhan epifit dan epifil. Mengingat jumlahnya yang besar, hutan dataran rendah ini dapat dibedakan menjadi beberapa tipe sesuai dengan keadaan iklim dimana hutan tersebut berada, khususnya pengaruh dari curah hujan. Tipe-tipe hutan dataran rendah menurut sifat iklimnya adalah : hutan hujan tropika, hutan tropika humida setengah gugur daun, hutan muson, hutan sabana, hutan belukar. Tipe-tipe hutan tersebut, dimasukan dalam ekosistem hutan

vegetasinya. Beberapa

© EngganoConservation, Desember

dataran rendah jika batas ketinggian tempatnya sampai dengan 700 atau 1000 meter dari permukaan laut. Daerah tertinggi di Pulau Enggano mempunyai
2010

ketinggian sekitar 240 meter dari permukaan laut, letaknya di kawasan Hutan Lindung Koho Buwa-buwa Bukit Eropbf. Dengan ketinggian kawasan hutan mulai dari 0 -220 meter dari permukaan laut, maka sebagian besar ekosistem hutan di Pulau Enggano termasuk ke dalam ekosistem hutan dataran rendah.

Selain ekosistem hutan mangrove, hutan pantai, dan hutan rawa, semua kawasan hutannya termasuk ke dalam ekosistem hutan dataran rendah.
Jenis Ara-araan (Ficus spp) merupakan tumbuhan yang penting dalam rantai makanan berbagai jenis burung di Pulau Enggano, selain itu jenis ini merupakan jenis yang baik untuk menjaga air tanah. Namun sangat disayangkan dibeberapa tempat di Pulau Enggano jenis ini banyak yang dimusnahkan.

24

Bagian II. Kawasan Hutan | Profil Kawasan Konservasi Enggano

Fauna Pulau Enggano
© EngganoConservation, 2011 Lokasi: Meok

Jatna Supriatna dalam “Melestarikan alam Indonesia” memperkirakan Pulau Enggano dalam proses pembentukannya terpisah dengan Pulau Sumatera. dimana Pulau Sumatera merupakan salah satu pulau yang terkaya dengan keanekaragaman jenis faunanya, tercatat sebanyak 196 jenis mamalia dan 580 jenis burung tersebar di pulau ini. Hampir semua pulau di sekitar Sumatera mempunyai persamaan dalam hal faunanya, kecuali dua pulau di sebelah Barat yaitu Pulau Enggano di Bengkulu dan Pulau Simeulue di Aceh, sehingga kedua pulau tersebut miskin akan fauna. Contohnya, di kedua pulau tersebut tidak dijumpai jenis bajing atau tupai. Pulau Enggano hanya memiliki 17 jenis mamalia tiga diantaranya endemik dan 29 jenis burung serta dua diantaranya endemik.
Hasil Pengamatan Lansung di Lapangan

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

Lokal Burung Hantu Kacamata Enggano Anis Enggano Beo Enggano Betet Ekor Panjang Pergam hijau Pergam Laut Merbau/Junai Emas Merpati Batu Serindit Tuwur Asia Perling Kumbang Kehicap ranting Kuntul Karang Cangak Merah Kolibri sriganti Kangkok Matahari merah Kepudang Sungu Uncal buaw Raja Udang Cikakak / Kreo Ruak -ruak Terik asia Layang-layang batu Walet Trinil Asia Burung gereja Tekukur Pipit

Ilmiah Otus enganensis ** Zosterops salvadorii ** Zoothera leucolaema ** Gracula enganensis ** Psittacula longicauda Ducula aenea sylvatica Ducula bicolor Caloenas nicobarica Columba livia Loriculus sp Eudynamys scolopaceus Aplonis panayensis Hypothymis azurea Egretta casra Ardea purpurea Nectarinia jugularis Cuculus canorus Pericrocotus flammeus Coracina Striata Macropygia emiliana Todirhamphus chloris Alcedo atthis Amaurornis phoenicurus Glareola maldivarum Hirundo tahitica Collocalia sp Tringa hypoleucos Passer montanus Streptopelia chinensis Lonchura sp

Nama Lain Enggano scops-owl Enggano white eye thrush Hill myna Long-Tailed Parakeet Green Imperial -Pigeon Pied Imperial -Pigeon Nicobar Pigeon Rock Pigeon Hanging Parrot Keeling Asian Glossy Starling Black -naped monarch Pacific reef egret Purple heron Olive backed sunbird Common Cuckoo Scarlet Minivet Bar-bellied cockoo-shrike Ruddy Cuckoo-dove Collared Kingfisher Common Kingfisher White -breasted Waterhen Oriental pratincole Pasific swallow Swiftlet Common sandpiper Eurasian tree sparrow Spotted -Dove Munia

Keterangan Near Threatened (IUCN 3.1) Least Concern (IUCN 3.1) Near Threatened (IUCN 3.1) Least Concern (IUCN 3.1) Near Threatened (IUCN 3.1) Least Concern (IUCN 3.1) Least Concern (IUCN 3.1) Near Threatened (IUCN 3.1) Least Concern (IUCN 3.1) Sebatas Informasi Least Concern (IUCN 3.1) Least Concern (IUCN 3.1) Least Concern (IUCN 3.1) Least Concern (IUCN 3.1) Least Concern (IUCN 3.1) Least Concern (IUCN 3.1) Least Concern (IUCN 3.1) Least Concern (IUCN 3.1) Least Concern (IUCN 3.1) Near Threatened (IUCN 3.1) Least Concern (IUCN 3.1) Least Concern (IUCN 3.1) Least Concern (IUCN 3.1) Least Concern (IUCN 3.1) Least Concern (IUCN 3.1) Belum terlihat jelas Least Concern (IUCN 3.1) Least Concern (IUCN 3.1) Least Concern (IUCN 3.1) Least Concern (IUCN 3.1)

© Filip Verbelen

© Filip Verbelen

© Regen

© Zulfan

© Erni Suyanti

26
© Filip Verbelen

Bagian III. Fauna Enggano | Profil Kawasan Konservasi Enggano
© Regen © Regen © Regen © Jeffri Alexander

Burung Merbau Burung yang Hilang? Saat ini Burung Merbau yang sering dijumpai di Pulau Merbau sudah susah ditemui. Berdasarkan cerita dari masyarkat setempat Burung Merbau bisa dijumpai dengan mudah pada musim kering yakni pada bulan Juli sampai dengan Agustus. Pada bulan tersebut burung Merbau berada dalam fase perkembang biakannya. Namun berdasarkan hasil penelurusan informasi dari masyarakat, sesekali burung tersebut masih bisa dijumpai di daratan pulau Enggano dan sudah sangat jarang dijumpai di Pulau Merbau.

Sekelompok Kuntul Karang (Egretta casra) pada tegakan mangrove di didalam kawasan Cagar Alam Kioyo II

Mamalia.

© EngganoConservation, Februari 2011

Jenis-jenis mamalia besar seperti kerbau, sapi, rusa, dan babi menurut sejarahnya dibawa dari daratan Sumatera pada jaman Kolonial Belanda. Sampai sekarang ini ada informasi yang menjelaskan bahwa kerbau dan sapi tersebut masih hidup dan berkembang biak secara liar. Berdasarkan Data IUCN Red List of Threatened species terdapat 2 Spesies mamalia yang telah didentifikasi lebih dari 100 Tahun yang lalu, dimana keberadaannya pada saat ini sangat dimungkinkan terjadi kepunahan yakni Rattus enganus dan Rattus adustus yakni dua spesies Tikus yang menjadi Mamalia Endemik Pulau Enggano. Dijumpai Pula Jenis Kelalawar Hutan dan Kalong. Babi hutan dalam hidup berkelompok dan yang soliter dijumpai baik hutan perbukitan dan maupun di hutan rawa. Sesekali untuk mendapatkan mineral garam dijumpai babi hutan mendatangi pesisir pantai.
© EngganoConservation, Februari 2011

No Imiah 1. Rattus enganus (Riley, 1927) 2. Rattus adustus (Sody, 1940) 3. Sus scrofa enganus (Lyon, 1916) 4. Paradoxurus hermaphroditus 5. Pteropus vampyrus 6. Pteropus hypomelanus 7. Bubalus bubalis 8. Bos sp 9. Cervus unicolor

Lokal Keterangan Tikus Enggano Near Threatened (IUCN 3.1) Least Concern (IUCN 3.1) Babi Hutan Least Concern (IUCN 3.1) Musang Least Concern (IUCN 3.1) Kalong Least Concern (IUCN 3.1) Kelalawar Kerbau liar Sapi Sebatas Informasi Rusa Sebatas Informasi
© EngganoConservation, Januari 2011

© EngganoConservation, Februari 2011

Rendra Regen Rais | Enggano Conservation

27

Reptil dan Satwa Lainnya Jenis Hewan melata yang dijumpai di Pulau Enggano antara lain; Buaya Muara (Crocodylus porosus), Ular Sanca (Python reticulatus), Ular Air (Enhydris enhydris), Cicak Terbang Hijau (Draco sp), Tokek Hutan (Gekko sp), Kurakura,(Terrapene Sp), Biawak (Varanus dumerilli), Kadal (Mabuya multifasciata), Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricate), Penyu Belimbing (Demochelys coriacea). Satwa lainnya yang bisa dijumpai yakni Lokan (Polymesoda expansa), Umang-umang (Ceonobita clypeatus), Katak Kecil (Microhyna achatina) Kodok Mancung, Keong Hutan.
semua gambar di halaman ini © EngganoConservation, 2010 & 2011

28

Bagian III. Fauna Enggano | Profil Kawasan Konservasi Enggano

CAGAR ALAM

Sungai Baheuwo
PENUNJUKAN

Register 97

SK. Menhut No.383/Kpts-II/1985 Tanggal 27 Desember 1985 SK.Menhut No.420/Kpts-II/1999.

495,06 HA

Cagar Alam Sungai Baheuwo merupakan salah satu Jika pintu gerbang pulau Enggano. memasuki Pulau Enggano melalui Jalur Kapal Ferry maka kalinya akan dengan pertama kita dihadapkan hamparan U t a r a
© EngganoConservation, Januari 2011

dan Barat Laut berbatasan dengan Desa Kaana dan Sebelah Barat Daya berbatasan dengan Desa Kahayapu. Kondisi Fisik Secara morfologi wilayah Kawasan Cagar Alam Sungai Bahewo berada didalam kelompok Daerah dataran berawa, dengan ketinggian 0 - 5 meter. Mengalir tiga sungai didadalamnya yakni Sungai Mauna (Baheuwo), Sungai Kikuba dan Sungai Apikok. Jenis tanah berupa Aluvial Organosol. Pal Batas Berdasarkan hasil penataan batas antara lain pada pemancangan batas defenitif pada tahun anggaran 1996/1997 pada Berita Acara Tanggal 3 Septermber

hutan mangrove nan asri dengan tegakan Riszhopora Spp yang lebat. Sungai Baheuwo yang sekarang oleh masyarakat setempat disebut sebagai sungai Mauna merupakan sungai yang mebelah kawasan Cagar Alam Sungai Baheuwo dan sekaligus menjadi sungai yang membatasi dua desa di kecamatan Enggano yakni Desa Kahyapu dan Desa Kaana. Maka didalam SK penunjukannya dinamai sebagai Cagar Alam Sungai Baheuwo. Pertamakali ditunjuk sebagai kawasan Konservasi berdasarkan SK. Menhut No.383/KptsII/1985 Tanggal 27 Desember 1985 dan dipertegas melalui SK.Menhut No.420/Kpts-II/1999 tanggal 15 Juni 1999 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Wilayah Propinsi Bengkulu seluas 920.964 Ha dengan luas Cagar Alam Sungai Baheuwo 495,06 Ha. Letak lokasi. Secara Geografis berada di 05°05’30” - 05°23’00” LS dan 102°22’ - 102°23’15” BT. Berada di Arah Tenggara Pulau Enggano. Secara Administratif berada pada Kecamatan Enggano Kabupaten Bengkulu Utara, di dalam dua desa yakni Desa Kahyapu pada kawasan bagian selatan dan Desa Kaana pada Kawasan bagian utara. Berdasarkan pembagian wilayah kerja Kehutanan berada pada Pengelolaan Seksi Konservasi Wilayah I, Resort Enggano pada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu. Arah Timur dan Utara berbatasan dengan Samudara Hindia, Sebelah

30

Bagian IV. CA. Sungai Baheuwo | Profil Kawasan Konservasi Enggano

© EngganoConservation, Desember 2010

gelombang, salinitas, serta pengaruh pasang surut air laut. Sesuatu yang sangat mengejutkan yang dapat dijumpai di Cagar Alam Sungai Baheuwo dengan tegakan mangrove dari jenis Rhizophora spp dapat dijumpai dengan ukuran diameter sampai dengan 1 meter. Yang merupakan habitat dari kepiting bakau. Sehingga menjadikan tempat ini lokasi
Anggrek Bulan

paforit bagi para pencari Kepiting Bakau ( Scylla serrata Forskal ) Jenis satwa yang bisa dijumpai juga menyamai dengan yang dijumpai pada Cagar Alam Sungai Bahewo diantaranya adalah berbagai jenis burung, diantaranya Pecuk Ular ( Anhinga melanogaster ), Cangak Abu ( Ardea cinerea), Cangak Merah ( Ardea purpurea), Burung Hantu Enggano ( Otus enganensis ), Kacamata Enggano ( Zosterops salvadorii ) Anis Enggano ( Zoothera leucolaema), Betet Ekor Panjang ( Psittacula longicauda), Beo Enggano ( Gracula religiosa), Pergam ( Ducula aenea sylvatica ), Raja Udang( Todirhamphus chloris ), Cikakak ( Alcedo atthis ), Kuntul karang ( Egretta sacra), Pergam laut ( Ducula bicolor ) dan Kehicap ranting ( Hypothymis azurea) Satwa lainnya yang bisa dijumpa yakni Buaya Muara ( Crocodylus porosus ), Biawak ( Varanus dumerilli ), Kalong, Kepiting Bakau ( Scylla serrata Forskal ), Ular Sanca ( Python reticulatus ), Ular Air

1997 dipancang Batas Luar Pantai sepanjang 6,5 Km, yakni pal batas HSA.66 sampai dengan HSA.77. dan sebelumnya pada Berita Acara Tanggal 22 November 1991 pada pemancangan batas defeninif tahun anggaran 1991/1992 telah dilakukan penetapan batas Luar Darat yakni Pal Batas HSA.1 sampai dengan HSA.65 dengan panjang batas 6,5 Km. Pada Tahun 2002 dilakukan Rekontruksi Tata Batas dengan panjang trayek 6,5 Km. Ekosistem Mangrove Pada batas luar perairan terdapat vegetas mangrove dengan ketebalan100 – 450 meter dari bibir pantai. Juga secara khas memperlihatkan adanya pola zonasi, hal ini berkaitan erat dengan tipe tanahnya, keterbukaan terhadap hempasan

Salak liar

© EngganoConservation, Desember 2010

Rendra Regen Rais | Enggano Conservation

31

( Enhydris enhydris), Lokan ( Polymesoda e xpansa) dan Umang-umang ( Ceonobita clypeatus ) Hutan Rawa Dibelakang bentangan hutan mangrove terdapat pula hutan rawa dengan didominasi oleh tegakan Nibung (Oncosperma tigillarium) yang lebat. Dijumpai pula Salak Hutan (Salacca sp), Rotan-rotanan (Calamus sp) dan pandan duri (Pandanus sp). Hutan Daratan Rendah Pada sebagian batas luar darat terdapat areal dengan tipe Ekosistem Hutan Dataran Rendah dengan vegetasi yang lebih berfariasi, Jenis tumbuhan yang dijumpai diantaranya adalah Merbau (Intsia bijuga), Bintangur (Callophyllum sp), Ketapang (Terminalia katapa), Ara (Ficus sp), Melinjo (Gnetum gnemon), Matoa (Pomentia pinnata), Rengas (Gluta rangas) dan lain-lain. Dijumpai pula jenis Anggrek yakni Anggrek Bulan, Anggrek Tebu dan jenis Anggrek hutan lainnya. Gangguan dan Ancaman Pada saat ini kawasan Cagar Alam Sungai Baheuwo terancam terhadap aktifitas perambahan walaupun secara fisik belum terdapat aktifitas perambahan

didadalam kawasan yang ditunjuk berdasarkan tata batas kawasan. Namun menjadi sebuah ancaraman semenjak banyaknya aktifitas pembukaan areal pertanian baik sawah maupun pertanian yang berbatasan langsung dengan batas kawasan. Kondisi pal batas yang jarang dijumpai dengan batas yang bukan merupakan batas alam menyulitkan bagi masyarakat yang ingin membuka lahan baru maupun bagi petugas dalam menjaga keutuhan kawasan. Dibeberapa tempat dijumpai pula atifitas illegal logging, pencarian anggrek liar dan perburuan satwa burung. Dijumpai pula areal seluas lebih kurang 17 Ha lahan terbuka yang telah menjadi semak belukar. Terbukanya areal tersebut diperkirakan diakibatkan oleh kebakaran hutan pada Tahun 1997, dimana dengan dampak iklim elnino terjadi kemarau yang panjang yang memicu kebakaran hutan dan lahan. Areal semak belukar seperti ini biasanya rawan akan terjadi perambahan karena dengan kondisi belukar sangat mudah dilakukan pengolahan menjadi areal perkebunan atau persawahan.
© EngganoConservation, Juni 2011

Cangak Merah ( Ardea purpurea) ditengah tegakan Bakau (Rhizophora apicullata)

32

Bagian IV. CA. Sungai Baheuwo | Profil Kawasan Konservasi Enggano

CAGAR ALAM

Teluk Klowe
PENUNJUKAN

Register 96

SK. Menhut No.383/Kpts-II/1985 Tanggal 27 Desember 1985 SK.Menhut No.420/Kpts-II/1999.

331, 23 HA

Sebagaimana Cagar Alam Sungai Baheuwo, Cagar Alam Teluk Klowe juga merupakan salah satu pintu gerbang pulau Enggano. Jika CA. Sungai Baheuwo merupakan sisi pintu sebelah Timur (Kanan), maka CA. Teluk Klowe merupakan sisi pintu pada bagian Barat (kiri). Keduanya dipisahkan oleh areal pelabuhan ferry dan areal pemukiman Desa Kahyapu. Akan tetapi habitat mangrove keduanya masih merupakan satu kesatuan yang hanya dipisahkan oleh jalan utama. CA.Teluk Klowe Pertamakali ditunjuk sebagai kawasan Konservasi berdasarkan SK. Menhut No.383/KptsII/1985 Tanggal 27 Desember 1985 dan dipertegas melalui SK.Menhut No.420/Kpts-II/1999 tanggal 15 Juni 1999 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Wilayah Propinsi Bengkulu seluas 920.964 Ha dengan Luas Cagar Alam Teluk Klowe 331,23 Ha Letak lokasi. Secara Geografis berada di 05°17’ - 05°31” LS dan 102°05’ - 102°25’ BT. Berada di Arah Tenggara Pulau Enggano. Secara Administratif berada pada Kecamatan Enggano Kabupaten Bengkulu Utara, di dalam dua desa yakni Desa Kahyapu. Berdasarkan pembagian wilayah kerja Kehutanan berada pada Pengelolaan Seksi Konservasi Wilayah I, Resort Enggano pada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu.

Kondisi Fisik Secara morfologi wilayah Kawasan Cagar Alam Sungai Bahewo dataran 0 5 berada berawa, meter, dataran dengan didalam kelompok Daerah dengan ketinggian Daerah landai,

ketinggian antara 0 - 50 meter dan Daerah dengan lereng landai yaitu antara 3 - 60
Bagian V. CA. Teluk Klowe | Profil Kawasan Konservasi Enggano
© EngganoConservation, Mei 2011

34

meter. Mengalir dua sungai didadalamnya yakni Sungai Kikoti dan Sungai Pahbadiah Yopukuweu. Didepan bibir pantai terdapat empat sawang; yakni Sawang Kahoabi, Sawang Bray, Sawang Umang dan Sawang Sekoci. Tutupan vegetasi masih terjaga dengan baik dan tidak terdapat aktifitas perambahan. Masyarakat sekitar hanya memanfaatkan lokasi CA.Teluk Klowe untuk mencari kepting bakau (Scylla serrata Forskal ) , Lokan (Polymesoda expansa) dan Umang-umang (Ceonobita clypeatus). Susunan tanah berupa Regosol, Aluvial dan Organosol.

Pal Batas Pada tahun 1991 dilakukan pemancangan batas sementara dengan Berita Acara Tanggal Juli 1991 dan pada tahun yang sama dilakukan pemancangan batas defenitif dengan Berita Acara tertanggal 22 November 1991 dan di sahkan oleh Menteri Kehutanan pada tanggal 3 Oktober 1993. Kemudian pada tahun 1997 dilakukan pemancangan batas sementara dengan Berita Acara tertanggal 6 Juli 1997 dan juga pada tahun yang sama dilakukan pemancangan batas defenitif dengan Berita Acara tertanggal 23 September 1997. Panjang batas yakni 11,6 km dengan luas 331,23 Ha.

Ekosistem Mangrove Hamparan hutan mangrove mendominasi, terutama di bibir pantai. Vegetasi mangrove secara khas memperlihatkan adanya pola zonasi, hal ini berkaitan erat dengan tipe tanahnya, keterbukaan terhadap hempasan gelombang, salinitas, ser ta pengaruh pasang surut air laut.
Teluk Klowe atau disebut juga Teluk Harapan, merupakan habitat mangrove yang penting di Pulau Enggano.

Jenis sat wa yang bisa dijumpai diantaranya adalah berbagai jenis burung, diantaranya Pecuk Ular ( Anhinga melanogaster ), Cangak Abu ( Ardea cinerea ), Cangak Merah (Ardea purpurea), Burung Hantu Enggano (Otus

Rendra Regen Rais | Enggano Conservation

35

enganensis ), Kacamata Enggano ( Zosterops salvadori i) Anis Enggano ( Zoothera leucolaema ), Betet Ekor Panjang ( Psit tacula longicauda ), Beo Enggano ( Gracula religiosa ), Pergam ( Ducula aenea sylvatica ), chloris ), Raja Udang ( Todirhamphus Cikakak

( Alcedo at this ), Kuntul karang ( Egret ta sacra ), Pergam laut ( Ducula bicolor ) dan Kehicap ranting ( Hypothymis azurea ) Sat wa lainnya yang bisa dijumpa yakni Buaya Muara ( Crocodylus porosus ), Biawak ( Varanus dumerilli ), Kalong, Kepiting Bakau ( Scylla serrata Forskal ), Ular Sanca ( P y thon reticulatus ), Ular Air/ Ular kadut ( Enhydris enhydris ), Babi Hutan, dll Hutan Rawa Setelah lapisan hutan mangrove terdapat pula hutan rawa dijumpai sedikit tegakan nibung ( Oncosperma tigillarium ), Salak Hutan ( Salacca sp ), Rotan-rotanan ( Calamus sp) dan pandan duri ( Pandanus sp ) Ara ( Ficus sp ) Hutan Daratan Rendah Ekosistem hutan datan rendah mencapai ketinggian 50 mpdl dengan mor fologi Daerah dataran landai, dengan ketinggian antara 0 - 50 meter dan Daerah dengan lereng landai yaitu antara 3 - 60 meter, Jenis tumbuhan yang dijumpai diantaranya adalah Merbau ( Intsia bijuga ), Bintangur ( Callophyllum sp ), Ketapang ( Terminalia katapa ), Ara ( Ficus sp ), Matoa (Pomentia pinnata) , Rengas ( Gluta rangas ) dan Apua ( Koompasia sp ). Jenis sat wa yang dapat dijumpai diantaranya berbagai jenis burung Enggano, Gangguan dan Ancaman Tidak terdapat gangguan beser ta ancaman yang begitu berar ti. Namun per tambahan jumlah penduduk dan kebutuhan akan lahan per tanian perlu menjadi per timbangan agar perambahan tidak terjadi, baik disengaja maupun tidak.
© EngganoConservation, Juni 2011

Tegakan mangrove yang asri disekitar Umang - CA. Teluk Klowe

36

Bagian V. CA. Teluk Klowe | Profil Kawasan Konservasi Enggano

CAGAR ALAM

Tanjung Laksaha
PENUNJUKAN

Register 95 A

SK. Menhut No.383/Kpts-II/1985 Tanggal 27 Desember 1985 SK.Menhut No.420/Kpts-II/1999.

333, 28 HA

Sunset di Tanjung Lakaoha

© EngganoConservation, Desember 2010

Cagar Alam Tanjung Laksaha atau Atau oleh masyarakat setempat disebut dengan Tanjung Lakaoha merupakan salah satu Cagar Alam yang memiliki habitat mangrove yang masih lebat di wilayah paling Utara Pulau Enggano. Kerena diwalayah cagar alam tersebut bermuara dua Sungai dengan debit air yang tergolong besar yakni Kuala Barhau dengan dengan panjang aliran 11.7 km dg luas areal tangkapan 29 km2 dan Kuala Kahabi dengan panjang aliran 15.60 km dengan luar arel tangkapan 61 km2. Kedua muara tersebut mengalir pada muara yang berdekatan dengan jarak lebih kurang 2.5 Km dengan membentuk satu kesatuan habitat mangrove. Hasil sedimen lumpur kedua muara tersebut menjadikan Cagar Alam Tanjung Laksaha menjadi habitat yang baik bagi ekosistem hutan mangrove. Ditunjuk sebagai kawasan Konservasi berdasarkan SK. Menhut No.383/Kpts-II/1985 Tanggal 27 Desember 1985 dan dipertegas melalui SK.Menhut No.420/Kpts-II/1999 tanggal 15 Juni 1999 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Wilayah Propinsi Bengkulu seluas 920.964 Ha dengan Luas Cagar Alam tanjung Laksaha 333,28 Ha Letak lokasi. Secara Geografis berada di 05°17’ - 05°19’30” LS dan 102°05’ - 102°10’ BT. Berada di Ujung utara Pulau Enggano. Secara Administratif berada pada Kecamatan Enggano Kabupaten Bengkulu Utara, di dalam wilayah

desa administrative Banjarsari. Berdasarkan pembagian wilayah kerja Kehutanan berada pada Pengelolaan Seksi Konservasi Wilayah I, Resort Enggano pada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu. Arah Utara dan Timur berbatasan dengan Samudera Hindia, Sebelah Selatan dan Barat Berbatasan dengan Desa Banjarsari. Kondisi Fisik Secara morfologi wilayah Kawasan Cagar Alam Tanjung Laksaha berada didalam kelompok Daerah dataran berawa, dengan ketinggian 0 - 5 meter. Mengalir dua sungai didadalamnya yakni Sungai Barhau dan Sungai Kahabi. Sebagian besar wilayah dipengaruhi oleh pasang surut air laut dan rawa yang digenangi air sepanjang tahun. Komposisi tanah berupa Aluvial dan Regosol.

Pal Batas Terhadap batas luar yang berbatasan dengan laut; Pada tahun 1991 dilakukan pemancangan batas sementara dengan Berita Acara Tanggal 7 Juli 1991 dan pada tahun yang sama dilakukan pemancangan batas defenitif dengan Berita Acara tertanggal

38

Bagian VI. CA. Tanjung Laksaha | Profil Kawasan Konservasi Enggano

22 November 1991. Kemudian pada tahun 1997 terhadap batas luar daratan dilakukan pemancangan batas sementara dengan Berita Acara tertanggal 16 Juli 1997 dan juga pada tahun yang sama dilakukan pemancangan batas defenitif dengan Berita Acara tertanggal 3 September 1997. Panjang batas luar pantai yakni 6,68 km dan batas luar daratan sepanjang 6,2 km. Maka setelah dilakukan pemancangan didapat luasan 333,28 Ha. Ekosistem Mangrove Komposisi jenis penyusun pada hutan mangrove di daerah ini adalah 16 jenis. Vegetasi tingkat pohon di Cagar Alam Tanjung Laksaha Ekosistem Mangrove disusun oleh 6 jenis. Pada kawasan cagar alam ini, untuk tingkat pohon didominasi oleh Rhizophora apicullata dengan INP 161,22 %, selanjutnya diikuti oleh Bruguiera gymnorrhiza dengan INP 102,6 % dan kemudian diikuti oleh jenis Sonneratia alba dengan INP 27,26 %. Pada tingkat pancang, komposisinya disusun oleh 15 jenis tumbuhan dan yang paling dominan adalah jenis Rhizophora apicullata dengan INP 161,58 % kemudian diikuti oleh jenis Bruguiera gymnorrhiza dengan INP 115,21 % dan jenis Rhizophora mucronata dengan INP 104,43 %. Tumbuhan lain yang terdapat di ekosistem mangrove yang berbatasan dengan vegetasi rawa di atasnya adalah nibung, rotan, ficus dan jenis lainnya; sedangkan pada ekosistem mangrove yang mengarah ke hutan pantai ditemukan jenis-jenis tumbuhan pantai seperti Baringtonia spp dan Hibiscus spp. Areal tersebut biasanya merupakan peralihan dari ekosistem satu ke ekosistem yang lainnya. Potensi mangrove di Cagar Alam Tanjung Laksaha cukup tinggi jika dibanding dengan hutan mangrove di Bengkulu lainnya. Potensinya sekitar 320 m3 per hektar dengan jumlah pohon sekitar 350 pohon per hektar. Pohon-pohon yang berdiameter diatas 50 cm mencapai 30 %; dengan rata-rata diameter pohon 36 cm dan tingginya 9 m. Ekosistem mangrove

di Enggano relatif masih utuh, tingkat gangguan ulah manusia sangat kecil. Jenis satwa yang bisa dijumpai juga menyamai dengan yang dijumpai pada Cagar Alam Sungai Bahewo diantaranya adalah berbagai jenis burung, diantaranya Pecuk Ular ( Anhinga melanogaster ), Cangak Abu ( Ardea cinerea), Cangak Merah ( Ardea purpurea), Burung Hantu Enggano (Otus enganensis), Kacamata Enggano ( Zosterops salvadorii ) Anis Enggano ( Zoothera leucolaema), Betet Ekor Panjang (Psittacula longicauda), Beo Enggano (Gracula religiosa), Pergam (Ducula aenea sylvatica), Raja Udang(Todirhamphus chloris), Cikakak ( Alcedo atthis), Kuntul karang (Egretta sacra), Pergam laut (Ducula bicolor) dan Kehicap ranting (Hypothymis azurea) Satwa lainnya yang bisa dijumpa yakni Buaya Muara (Crocodylus porosus), Biawak (Varanus dumerilli ), Kalong, Kepiting Bakau (Scylla serrata Forskal ), Ular Sanca (Python reticulatus), Ular Air (Enhydris enhydris), Lokan (Polymesoda expansa) dan

Masyarakat merupakan sebuah potensi dan aset dalam melakukan pengamanan kawasan. Namun tingginya aktifitas pembukaan lahan bagi masyarakat di sekitar kawasan menjadi ancaman tersendiri, apabila pembukaan lahan dilakukan diluar kaidah dan prinsip pengembangan lingkungan.

© EngganoConservation, Desember 2010

Rendra Regen Rais | Enggano Conservation

39

Umang-umang (Ceonobita clypeatus) Hutan Rawa Dibelakang bentangan hutan mangrove terdapat pula hutan rawa dengan didominasi oleh tegakan nibung (Oncosperma tigillarium) yang lebat. Dijumpai pula Salak Hutan (Salacca sp), Rotan-rotanan (Calamus sp) dan pandan duri (Pandanus sp). Hutan Pantai Hutan Pantai terdapat di sepanjang pantai laut berpasir dengan tanah kering di bagian paling timur kawasan. Areal ini dulunya merupakan perkampungan yang telah ditinggal sejak lama. Terlihat beberapa tanaman kelapa menjulang tinggi yang telah berumur ratusan tahun. Susunan vegetasi atasnya lainnya yakni; Bintangor (Callophyllum sp), Ketapang (Terminalia catapa), Ara (Ficus sp), Waru (Hibiscus tiliaceus), Pandan Pantai (Pandanus sp). Gangguan dan Ancaman Meningkatnya pembukaan lahan oleh masyarakat di sekitar Banjar Sari merupakan ancaman terbesar saat ini. Tingginya migrasi dari luar pulau yang memiliki pola pembukaan lahan tersendiri berakibat lepas kontrol dari aturan Desa dan masyarakat adat setempat. Selama ini pola yang telah berjalan hanya melibatkan ketua blok yang dipimpin oleh ketua blok. Setiap para pendatang yang ingin membuka lahan di lokasi blok masing-masing hanya perlu memperoleh izin dari ketua blok tanpa melalui proses administrasi Desa dan aturan adat setempat.

Sehingga sampai saat ini pembukaan lahan terus meluas. Keadaannya semakin terancam karena sampai saat ini banyak dari masyarakat sekitar tidak mengetahui pasti batas kawasan Cagar Alam ditambah lagi kondisi pal batas yang hilang atau rusak. Dengan tingginya aktifitas pembukaan lahan tersebut secara tidak langsung mengancam keberadaan Cagar Alam Tanjung Laksaha, walaupun saat ini tidak terdapat aktifitas perambahan. Di walayah barat kawasan berada lebih kurang 250 m dari bibir pantai teluk Barhau terdapat areal bekas kebakaran lahan yang diperkirakan terjadi pada tahun 1997 yang mengakibatkan terjadi bukaan lahan seluas lebih kurang 38 Ha dan 2,4 Ha diantaranya berada didalam Kawasan Cagar Alam Tanjung Laksaha. Akibat terbukanya lahan tersebut memicu masyarakat setempat untuk membuka areal persawahan. Setelah dilakukan sosialisasi oleh petugas Resort BKSDA Enggano terhadap masyarakat yang membuka lahan tersebut, maka sekarang masyarakat tersebut bersedia meninggalkannya. Di muara Sungai Kahabi lebih kurang 250 Meter dari bibir pantai terdapat bukaan lahan seluas lebih kurang 9,2 Ha. Lahan tersebut merupakan bekas TPK (Tempat Penumpukan Kayu) PT. EDP (Enggano Dwipa Persada) yang dibuka dibawah tahun 1997. Bukaan tersebut mengakibatkan rusaknya habitat hutan mangrove dan hutan rawa di dalam kawasan Cagar Alam. Setelah aktifitas diareal tersebut di tinggal terjadi suksesi alami yang berlansung hingga sekarang, namun apabila kurangnya pengawasan kawasan tersebut, kedepannya dapat terancam dari aktifitas perambahan.
© EngganoConservation, Desember 2010

Areal terbuka yang kian dekat dengan kawasan CA.Tanjuk Laksaha

40

Bagian VI. CA. Tanjung Laksaha | Profil Kawasan Konservasi Enggano

CAGAR ALAM

Kioyo I & II
PENUNJUKAN

Register 96

SK. Menhut No.383/Kpts-II/1985 Tanggal 27 Desember 1985 SK.Menhut No.420/Kpts-II/1999.

Rendra Regen Rais | Enggano Conservation

41

Kedua Cagar Alam ini terbentang secara memanjang di pantai barat pulau Enggano. Didominasi oleh ekosistem hutan pantai. Terdapat ekosistem mangrove yang tipis di beberapa muara sungai, sedikit ekosistem hutan rawa di belakang ekosistem hutan pantai dan ekosistem hutan dataran rendah pada batas luar daratan. CA.Kioyo I dan CA.Kioyo II dipisahkan oleh Letak lokasi. Secara Geografis berada di 05°17’ - 05°19’30” LS dan 102°05’ - 102°10’ BT. Terletak Enggano. memanjang pantai Barat Pulau Secara Administratif berada pada

Pantai Abeha dan Pantai Kioyo di Teluk Kioyo di sekitar Sawang Bugis. Cagar Alam Kioyo I berada di pantai barat bagian selatan yang didominasi oleh hutan pantai yang kering dan Cagar Alam Kioyo II berada di pantai barat bagian utara dengan ekosistem yang lebih bervariatif yakni hutan pantai, mangrove yang tipis di beberapa muara sungai, hutan rawa dan hutan dataran rendah. Ditunjuk sebagai kawasan Konservasi berdasarkan SK. Menhut No.383/Kpts-II/1985 Tanggal 27 Desember 1985 dan dipertegas melalui SK.Menhut No.420/ Kpts-II/1999.
© EngganoConservation, Februari 2011

Kecamatan Enggano Kabupaten Bengkulu Utara, berada di empat wilayah desa yakni Desa Malakoni di bagian utara, Desa Apoho dan Desa Meok di bagian tengah serta Desa Banjar Sari di bagian Utara.desa administrative Banjar Sari. Berdasarkan pembagian wilayah kerja Kehutanan berada pada Pengelolaan

Air Terjun musiman di sekitar Kooamang, didalam Kawasan CA.Kioyo II

42

Bagian VII. CA. Kioyo I & II | Profil Kawasan Konservasi Enggano

Seksi Konservasi Wilayah I, Resort Enggano pada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu. Kondisi Fisik Secara morfologi wilayah Kawasan Cagar Alam Kioyo I dan II berada didalam kelompok Daerah dengan lereng datar dengan ketinggian 0-30 meter sekitar pantai dan Daerah dengan lereng landai yaitu antara 3 - 60 meter. Bagian utara sekitar Koomang terdapat tebing dengan bebatuan terjal yang miskin akan vegetasi. Pada musim penghujan terdapat beberapa air terjun musiman dimana airnya langsung mengalir ke laut. Susunan tanah terdiri dari Litosol, Kambosol lideran dan Regosol dengan bahan induk organik, bahan terumbu dan pasir. Pal Batas Pada tahun 1991 dilakukan Pemancangan defenitif terhadap sebahagian batas dengan Berita Acara Tanggal 24 Nobember 1991 yang kemudian baru di sahkan oleh Menteri Kehutanan pada Tanggal 7 Oktober 1994. Pada batas yang lain Pemancangan Batas sementara dilakuka pada tahun 1994 dan pada tahun 1995 dilakukan Pemancangan Batas defenitif dengan Berita Acara tanggal 20 Februari 1995 kemudian pada tanggal 5 September 1995 disahkan oleh Menteri Kehutanan. Pemancangan batas sementara juga dilakukan pada tahun 1996 dengan Berita Acara tanggal 5 Februari 1997 dan Pemancangan Batas defenitif tahun 1997 dengan Berita Acara tanggal 13 Maret 1998.
all images this page © EngganoConservation, Februari 2011

Karang Bolong di sekitar Koomang,Pantai Ujung Barat Laut CA.Kioyo II

Air Terjun yang muncul setelah hujan turun.

Tegakan mangrove di sekitar Sawang Bugis didalam Cagar Alam Kioyo II

Rendra Regen Rais | Enggano Conservation

43

Ekosistem Hutan Pantai Hutan Pantai terdapat di sepanjang pantai laut berpasir dengan tanah kering. Di beberapa tempat merupakan areal bekas perkampungan yang sejak awal abad ke 20 telah ditinggal oleh penduduknya. Terlihat beberapa tanaman kelapa menjulang tinggi yang telah berumur ratusan tahun, di daerah tanjung Kioyo terdapat pula kompleks pemakaman tua yang menandakan areal tepi barat pulau Enggano dulunya merupakan perkampungan yang penting. Susunan vegetasi atas yakni; Bintangor (Callophyllum sp), Ketapang (Terminalia catapa), Ara (Ficus sp), Waru (Hibiscus tiliaceus), Pandan Pantai (Pandanus sp), disekitar sawang bugis terdapat sedikit tegakan Cemara Laut (Casuarina equisetifolia). Susunan vegetasi tingkat bawah yakni Amorphopalus Sp, Mangrove Beberapa muara sungai dan teluk terdapat vegetasi mangrove yang tipis. Diantaranya di wilayah Teluk Hakauher (Oker-oker) disekitar sawang bugis, Tanjung Paobah,Muara Sungai Kakitaha dan muara sungai Ahai. Keempat lokasi tersebut berada di Cagar Alam Kioyo II. Hutan Rawa D i b e l a k a n g bentangan hutan

mangrove terdapat pula hutan rawa dengan didominasi oleh tegakan nibung (Oncosperma tigillarium) yang lebat. Dijumpai pula Rotan-rotanan (Calamus sp) dan pandan duri (Pandanus sp). Gangguan dan Ancaman Jauhnya akses masyarakat dari kedua Cagar Alam ini sehingga tidak terdapat ancaman yang begitu berarti dari berbagai aktifitas illegal dari masyarakat sekitar. Namun sesekali terdapat aktifitas masyarakat nelayanan musiman yang mendirikan pondok non permanen didalam kawasan Cagar Alam. Terutama di sekitar beberapa sawang yang menjadi lokasi paforit bagi nelayan untuk mencari ikan dan hasil laut lainnya. Karena jauhnya akses menuju kedua kawasan Cagar Alam ini menjadi ancaman tersendiri karena sulitnya pengawasan dari petugas maupun masyarakat. Beberapa aktifitas yang mencurigakan dan perlu adanya antisipasi dini adalah aktifitas pencurian kayu baik oleh nelayan setempat maupun pendatang dari luar Enggano.
© EngganoConservation, Februari 2011

44

Bagian VII. CA. Kioyo I & II | Profil Kawasan Konservasi Enggano

TAMAN BURU

Gunung Nanu’ua
PENUNJUKAN

Register 59

SK Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor: 741/Kpts/Um/II/1978 Tanggal 27 Desember 1972

7.271, 00 HA

Rendra Regen Rais | Enggano Conservation

45

Taman Buru Gunung Nanu’ua merupakan kawasan Hutan Konservasi yang pertama kali ditunjuk sebagai kawasan hutan di Pulau Enggano. TB.Gunung Nanu’ua ditujuk Sebagai Taman Buru berdasarkan SK Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor: 741/Kpts/Um/ II/1978 Tanggal 27 Desember 1972. SK Menteri Kehutanan No.420/Kpts-II/1999 tanggal 15 Juni 1999 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Wilayah Propinsi Bengkulu seluas 920.964 Ha dengan luas Taman Buru Gunung Nanu’ua 7.271 Ha. Taman Buru Gungung Nanu’ua tersusun atas komplisitas ekosistem yang mewakili tipikal hutan di Pulau Enggano. Mulai dari ekosistem hutan dataran rendah dengan puncak tertinggi pada Gunung Nanu’ua (190 mdpl), hutan rawa yang terhampar dengan genangan air sepanjang tahun, hutan pantai dan ekosistem hutan mangrove yang terdapat di seluruh muara sungai. Sisi pantai dari Taman Buru Gunung Nanu’ua juga merupakan areal perkembangbiakan yang penting bagi beberapa spiesis Penyu. Terutama di sekitar hamparan pantai berpasir wilayah Teluk Kopi. Letak lokasi. Secara Geografis berada di 05°22’16” - 05°26’38” LS dan 102°14’11” - 102°22’15” BT. Berada di Ujung utara Pulau Enggano. Secara Administratif berada pada
© EngganoConservation, Februari 2011

dalam wilayah desa administratif Kahyapu dan Desa Kaana. Berdasarkan pembagian wilayah kerja Kehutanan berada pada Pengelolaan Seksi Konservasi Wilayah I, Resort Enggano pada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu. Arah Utara berbatasan dengan Kawasan Hutan Lindung Koho Bua-bua, Arah Timur berbatasan dengan Cagar Alam Teluk Klowe, arah Selatan berbatasan dengan
© EngganoConservation, Februari 2011

Kecamatan Enggano Kabupaten Bengkulu Utara, di

46

Bagian VIII. TB. Gunung Nanu’ua | Profil Kawasan Konservasi Enggano

Samudera Hindia dan barat Kioyo Hindia. dan arah arah berbatasan Samudera

6. Daerah dengan lereng sedang, dengan ketinggian 6 - 150 meter di bagian barat dan tenggara. 7. Daerah dengan lereng agak curam, dengan ketinggian 15 - 30 meter yang berada di bagian tengah. Beberapa sungai yang mengalir diantaranya adalah; Kuala Kohin, Sungai Kitape, Sungai Kabue, Sungai Fisher, Kuala Merah, Sungai Kiaba, dan Sungai Kiowa. Pal Batas Penataan Batas pada tahun anggaran 1982/1983 oleh Balai Planologi Kehutaran II Palembang. Pengesahan Berita Acara oleh Panitia Tata Batas Hutan Bengkulu Utara pada tanggal 25 Juli 1983 dan disahkan oleh Menteri Kehutanan pada tanggal 17 November 1983. Penegasan batas dilaksanakan sebanyak dua kali yakni; Orientasi batas pada Tahun Anggaran 1996/1997 dan Rekontruksi Batas pada Tahun Anggaran 1997/1998. Sampai saat sekarang ini belum pernah dilakukan pemeliharan tata batas dan belum pernah dilakukan survey potensi kawasan. Keadaan disekitar batas yakni pada Pal TB 1 sampai dengan TB 70 merupakan batas buatan dengan kondisi masih berhutan dan pada Pal TB 70 sampai dengan TB 247/1 merupakan batas alam berupa
© EngganoConservation, Februari 2011

dengan Cagar Alam

Kondisi Fisik Secara morfologi wilayah Kawasan Taman Buru Gunung Nanu’ua berada pada: 1. Daerah perbukitan bergelombang lemah ketingian 170 - 190 meter, yang berada di sekitar Gunung Nanu’ua. 2. Daerah perbukitan karst dengan ketinggian 100 - 150 meter. Berada disekitar Gungung Gula, , Gungung Kahaoabi 3. Daerah dataran landai, dengan ketinggian antara 0 - 50 meter. Gunung Labuho Gunung Kiamankak 4. Daerah dataran berawa, dengan ketinggian -20 - 5 meter. Disekitar teluk labuho, Teluk Kopi dan Tanjung Kitapi 5. Daerah labuho. dengan lereng datar dengan

ketinggian 0-30 meter sekitar pantai teluk

Rendra Regen Rais | Enggano Conservation

47

© EngganoConservation, November 2011

bibir pantai yang masih berhutan. Panjang batas keseluruhan adalah 46.5 Km dengan luas kawasan 7.271,00. Ekosistem Mangrove Hampir disetiap muara sungai terdapat ekosistem mangrove. Namun belum pernah dilakukan survey tegakan mangrove yang berupa spot-spot diwilayah genangan yang terpengaruh oleh wilayah pasang surut. Hutan Rawa Dibelakang bentangan hutan mangrove terdapat pula hutan rawa dengan didominasi oleh tegakan nibung (Oncosperma tigillarium). Dijumpai pula Salak Hutan (Salacca sp), Rotan-rotanan (Calamus sp), pandan duri (Pandanus sp), Rengas (Gluta rengas), dan Cratoxylon spp. Hutan Pantai Pada sisi pantai yang kering dimana tidak terdapat tegakan mangrove merupakan ekosistem hutan pantai. Pada ilokasi ini biasanya merupan lokasi paforit bagi nelayan setempat untuk mendirikan bangunan pondok

untuk menginap dalam beberapa hari. Hutan Dataran Rendah Ekosistem hutan datan rendah mencapai ketinggian 190 mpdl dengan morfologi Daerah yang lebih berfariasi disbanding kawasan Konservasi lainnya di Pulau Enggano. Mulai dari Daerah perbukitan bergelombang lemah ketingian 170 - 190 meter, yang berada di sekitar Gunung Nanu’ua. Daerah perbukitan karst dengan ketinggian 100 - 150 meter. Berada disekitar Gungung Gula, , Gungung Kahaoabi Daerah dataran landai, dengan ketinggian antara 0 - 50 meter. Gunung Labuho dan Gunung Kiamankak. Daerah dataran berawa, dengan ketinggian -20 - 5 meter. Disekitar Teluk Labuho, Teluk Kopi dan Tanjung Kitapi. Daerah dengan lereng datar dengan ketinggian 0-30 meter sekitar pantai Teluk Labuho dan Kramai. Jenis tumbuhan yang dijumpai diantaranya adalah Merbau (Intsia bijuga), Bintangur (Callophyllum sp), Ketapang (Terminalia katapa), Ara (Ficus sp), Matoa (Pomentia pinnata), Rengas (Gluta rangas) dan Apua (Koompasia sp).
© EngganoConservation, Februari 2011

48

Bagian VIII. TB. Gunung Nanu’ua | Profil Kawasan Konservasi Enggano

Potensi Wisata
© EngganoConservation, 2011 Lokasi: Pulau Dua

102°5'0"E

102°10'0"E

102°15'0"E

102°20'0"E

102°25'0"E

PETA HASIL SURVEY
SEBARAN POTENSI WISATA

Sawang KahabiTj. Dakohuoa Sw. Mhumuhua' Sw. Kinu oeBanjar

5
Sari
Tj. Batu BandaraBandara

2.5

0

5 Kilometers

P . ENGGANO

CA.TANJUNG LAKSAHA
Tj. Kahabi Kolam Pakuah hyukua Sw. Apu'u Barhau Sw. Kelapa Satu Tj.Pina Koo bakaban Sw. AhaiAhai Sw. Epuuva Sw.Bakba'au

Enggano
Sw. Kaanainey Tj. Karkua

Sw. Boboyo

Skala 1 centimeter = 1,250 meters
Meok

5°20'0"S

Legend
Apoho
Pulau Manu'he

N_Enggano Crocodile Waching Bird Waching
Sw. Pinu un

Malakoni

batu lobang (Pakiu) Sw. Baka'uKo'omang Sw. Kooamang 1 Sw. Kooamang 2 (air terjun)Sw. Kahmeuk

Camping Area Hunting
Sw. Pari

Kaana
Kolam Kinokueh S. Kakitaha Sw. Kakitaha Sw. Pioroy

B.M alak

CA.KIOYO II

i on

HPT.HULU MALAKONI

Sw. Kikuba

Wild Buffalo Fishing

P.Enggano
Sw. Pah numa D. Pulau Oka aher (oker-oker) Sw. Bugis

CA.SUNGAI BAHEWO Sw. Bengkok
Sw. Meriam

Sea Turtle Tracking

5°25'0"S

Kioyo

Kuburan_lama Tl. Ki' yoey TJ. Kuriamah Berkiu'

HL. KOHO BUWA-BUWA

Kahyapu

Sw. Besar

Tj. Gosong Seng

Surfing Snorkling Rock Climbing

Pelabuahan Kahyapu
Sw. Kahyapu Umang Gunung Gulo

Sw. Ikan

CA.KIOYO I
Kuala Gunung Gula

CA.TELUK KLOWE
Kuala Teluk Tj. Horai

P.Dua

N_Enggano Desa Bandara Enggano Pelabuahan Ferry Pelabuhan Perintis Jalan

Sw. Kabu (Sw. Bakau) Sw. ba'ai
104°3'0"E

Tl. Ki' iyoa (teluk Harapan) Sw. Kuala Teluk Sw. Kuala Kohin Sw. Kecil Sw. Fiser Sawah Legak Tl. Kopi Sw. Kramai Muara Kiulo Sw. Kitape Tj. KItape Sw. Tungap

Sw.Pulau Satu

TB.GUNUNG NANUA
Kiabah (teluk) Sw. Cotok Sw. Bisiyu

P.Bangkai P.Merbau
Air Terjun Teluk HarapanSw. deras

Prov. Sumbar PETA SITUASI Prov. Jambi

Sumatra Selata

P. Satu

Pulau Satu

Sungai Batas Kawasan Hutan Danau Karang Pulau

Tanjung Kuabi Muara Kiabah Sw. Kamiu Sw. Makami Sw. Borneo

5°30'0"S

Teluk Merpas

Sw. KiabahSw. Abor Kolam Abor

Prov. Sumsel

Sw. Kahber Puhuyeu Gosong Beradu Sw. Kuala Merah Muara Kualo MerahTj Labuho Sw. Ki'nen Batu Layar

ku ng Be lu

Kl.Pedipo Sw. umih Tj. Melipat

5°17'0"S

1 centimeter = 75 kilometers
104°3'0"E

Lampung

5°17'0"S

Prov. Lampung

BKSDA BENGKULU Resort Enggano
Februari 2011
102°10'0"E 102°15'0"E 102°20'0"E 102°25'0"E

102°5'0"E

Walaupun di Pulau Enggano tidak terdapat kawasan yang dicadangkan sebagai Hutan Wisata Alam. Akan tetapi Pulau Enggano menyimpan banyak potensi wisata yang masih belum banyak dikenal. Untuk membuktikannya tentu dengan

yang ada di benak orang-orang yang mencintai dunia petualangan. Ada beberapa potensi di Pulau Enggano yang selama ini sebagiannya belum tereksplorasi dengan baik dan belum banyak dikenal, yang memungkinkan untuk di kembang dan dikelola diantranya adalah;
© EngganoConservation, Februari 2011

menelusurinya secara langsung. Menelusuri Pulau Enggano salah satu kegiatan yang menantang sekaligus menyenangkan. Dapat dilalui melalui rute perairan dengan menggunakan sampan bermesin tempel, namun dapat pula dengan berjalan kaki. Rute perjalanan dengan menggunakan sampan dapat dilalui jika keadaan laut pasang. Namun sebaliknya, rute perjalanan dengan berjalan kaki akan lebih leluasa dilakukan apabila keadaan permukaan laut surut. Setiap sudut pulau Enggano memiliki keunikan dan memiliki sisi keindahan tersendiri. Untuk itu, akan banyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan yang tentunya akan memenuhi memory keindahan

50

Bagian IX. Potensi Wisata | Profil Kawasan Konservasi Enggano

Crocodile Watching Tidak susah untuk mencari lokasi buaya di Pulau Enggano. Hampir di setiap muara kuala/sungai di didiami oleh buaya. Ukurannya bervariasi, mulai dari anakan sampai dengan berukuran raksasa. Menurut pengakuan nelayan setempat yang pernah menjumpai di sekitar Muara Berhau, panjangnya melebihi sampan yang bermuatan 1.5 Ton (panjang kira-kira 7-8 m), jadi bisa dibayangkan ukuran buaya yang dideskripsikan.

Bird Watching Ada banyak burung liar di Enggano yang bisa di temui baik yang Endemik maupun yang bukan. Dua spesies Endemik yang telah terditeksi di Kepulauan Enggano yakni Celepuk Enggano (Otus enganensis), dengan
© EngganoConser vation, oktober 2011

Status Konservasi Hampir terancam, dan Burung Kacamata ( Zosterops salvadorii ) dengan Status Konservasi Rentan. Jenis burung lain yang bisa dijumpai diantaranya adalah Burung Betet Ekor Panjang, Tiung/Beo Enggano, Pergam, Kehicap Ranting, Bangau, dan banyak jenis burung lainnya yang dapat dijumpai dengan mudahnya di sepanjang jalan poros Enggano yang terbentang dari Desa Kahyapu bagian selatan sampai Desa Banjar Sari di Bagian Utara. Rute lainnya yang bisa digunakan adalah disepanjang bibir pantai dimana transportasi sampan bisa digunakan. Camping Area, Tracking and Rock Climbing Di sepanjang pesisir pantai Pulau Sebalik (sebutan untuk bibir pantai bagian barat daya Pulau Enggano) terdapat pondok nelayan yang bisa disinggahi dan cocok dijadikan sebagai areal perkemahan. Biasanya di setiap camp nelayan tersebut terdapat air tawar yang biasa dikonsumsi para nelayan. Selain itu ada beberapa tempat yang sangat baik untuk memancing dan mencari udang dan kepiting disekitar lokasi perkemahan. Menelusuri hutan belantara Pulau Enggano
Rendra Regen Rais | Enggano Conservation

51

mempunyai daya tarik tersendiri. Jalan sisa penjajahan bangsa Jepang merupakan track yang memiliki nilai history sembari menikmati alam terbuka dengan hutan lebat dan menikmati buah-buahan yang tumbuh liar. Menyelusuri pantai dapat dilakukan dengan berjalan kaki maupun dengan lama bersampan. yang telah Mengunjungi tempat-tempat bersejarah, seperti kuburan kuno, perkampungan ditinggalkan penduduknya semenjak akhir abad ke-19. Bungker dan benteng sisa penjajahan Jepang dapat pula dijumpai di beberapa titik pulau. Di ujung selatan disekitar Teluk Abeha dan utara pulau disekitar Koomang merupakan tempat yang menantang bagi para pecinta panjat tebing. Terdapat tebing dengan gua-gua menantang di sekitar Koomang dan Batu layar. Tebing-tebing terjal di hadang oleh indahnya gelombang Samudera Hindia yang ganas. Hunting Babi hutan salah satu satwa buruan yang potensial untuk diburu di Pulau Enggano. Selain menyalurkan hobi berburu, dapat pula membantu para petani dalam menanggulangi hama pertanian yang menjadi salah satu hama terbesar saat ini. Di setiap desa terdapat kelompok berburu yang bisa diikuti setiap minggu nya. Kelompok berburu tradisional tersebut tentu mempunyai daya tarik tersendiri, dengan alat yang masih tradisional dan dengan anjing buruan lokal. Wild Buffalo Kerbau liar telah lama menjadi cerita menarik di

Pulau Enggano. Namun tidak ada data yang pasti mengenai lokasi sentra hewan eksotik tersebut maupun jumlah populasinya. Namun sesekali terdengar cerita dari masyarakat yang mendengar dan melihat langsung jejak dan wujud kerbau liar tersebut. Fishing Bagi yang hobi memancing Pulau Enggano memang tempatnya. Dapat dilakukan disekitar Sawang (Mulut sungai disekitar Tubir/Terumbu) dengan menggunakan sampan nelayan maupun disekitar muara sungai. Untuk kegiatan memancing sangat berpengaruh dengan kondisi pasang surut air laut untuk itu kondisi alam sangat menentukan. Sawang yang menjadi favorit tempat memancing adalah disekitar Sawang Bugis didaerah barat daya pulau Enggano. Menangkap udang lobster dan kepiting laut dapat dilakukan disekitar mulut tubir. Tentunya harus dengan menggunakan alat khusus. Kegiatan ini dapat dilakukan

52

© EngganoConservation, Februari 2011

Bagian IX. Potensi Wisata | Profil Kawasan Konservasi Enggano

© EngganoConservation, Juni 2011

disepanjang

hari

selama

© EngganoConservation, Februari 2011

cuaca memungkinkan. Sea Turlte Untuk menjumpai penyu di perairan bisa dilihat di tepi tubir yang terdapat di pesisir pantai Pulau Enggano. Namun ada beberapa lokasi yang biasa dijumpai akitifitas bertelurnya penyu; yakni disekitar Teluk Labuho (Teluk Kopi) Teluk Abeha, Teluk Kioyo, Teluk Ahai dan dua lokasi di teluk Malakoni. Namun sangat disayangkan hingga saat ini Perburuan Penyu Pulau Enggano masih sangat tinggi Wisata Air di Pulau Enggano selama ini boleh dikatakan belum ter eksplorasi dengan baik. Namun dibeberapa tempat pernah dikunjungi oleh turis asing dengan menggunakan kapal pribadi/sewaan. Tempattempat itu umumnya berada di sekitar Pulau Sebalik yang tidak didiami penduduk. Ditempat ini memiliki ombak yang baik bagi para pecinta olahraga surfing baik bagi pemula maupun profesional. Dengan kondisi tumpukan karang yang relatif dangkal, membuat Kepulauan Enggano menjadi lokasi snorkling yang potensial, salah satu lokasi Snorkling dengan perairan dangkal adalah disekitar Pulau Dua. Namun sangat disayangkan ada beberapa tempat dimana terumbu karangnya rusak yang diakibatkan oleh meningginya permukaan laut yang diakibatkan gempa bumi. Danau
© EngganoConservation, oktober 2011

baik digunakan untuk upacara adat pesta pernikahan maupun di konsumsi secara umum. Surfing and Snorkling.

Terdapat tidak kurang dari 4 lokasi danau di Pulau Enggano. Diantartanya adalah Danau Pulau yang terletak di Pal Empat desa Kaana. Berjarak lebih kurang 3 km dari jalan poros Enggano. disekitar lokasi Danau Pulau terdapat tempat yang baik untuk mendirikan tenda, jauh dari kebisingan ombak yang seolah kita berada di hutan tropis belantara yang jauh dari kesan sebuah pulau kecil.

© EngganoConservation, Januari 2011

Rendra Regen Rais | Enggano Conservation

53

dengan vegetasi yang didominasi oleh kelapa yang menjulang tunggi, tidak heran karena dulunya Pulau Dua memang penghasil kopra terbesar di Kepulauan Enggano, selain dulunya juga merupakan salah satu perkampungan yang penting. Namun sekarang hanya terdapat beberapa pondok nelayan dan pondok pemilik kebun kelapa. Karena lokasi ini dulunya bekas perkampungan, maka bisa dijumpai beberapa makam kuno dan tempat pemandian yang pernah digunakan oleh pemuka masyarakat di zamannya. Banyak aktifitas yang bisa dilakukan di Pulau Dua diantaranya memancing, snorkling, tracking, atau hanya sekedar menikmati swasana yang jauh dari kebisingan pemukiman.
© EngganoConservation, Mei 2011

© EngganoConservation, Oktober 2011

Danau lainnya adalah di sekitar Banjar Sari biasa disebut Danau Bakaban. Disekitar danau ini sering didatangi oleh Kerbau liar. Bermalam di Pulau Dua Pulau Dua dengan luas 38.90 Ha dan keliling 2.68 km terletak tidak jauh dari Pelabuhan Ferry di Desa Kahyapu. Dari pelabuhan bisa diakses dengan menggunakan perahu dengan memakan waktu lebih kurang 15 menit. Suwasana pulau kecil begitu terasa
semua gambar di halaman ini © EngganoConservation, Oktober 2011

54

Bagian IX. Potensi Wisata | Profil Kawasan Konservasi Enggano

DaftarReferensi
Bapedalda Propinsi Bengkulu, P2L Universitas Bengkulu, 2005. Final Report Studi Daya Dukung Lingkungan Pulau Enggano. Bengkulu Bapedalda Propinsi Bengkulu, P2L Universitas Bengkulu, 2006. Laporan Akhir Studi Daya Dukung Pemanfaatan Dan Pengembangan Kepulauan Enggano. Bengkulu Balai Inventarisasi dan Pertetaan Hutan Propinsi Bengkulu. 2005. Sejarah Kawasan Propinsi Bengkulu Tahun 2004. Bengkulu Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu. 2002. Profil Kawasan Konservasi di Wilayah Propinsi Bengkulu. Bengkulu BPS Kab.Bengkulu Utara. 2011. Kecamatan Enggano dalam Angka 2010. Bengkulu Utara Kinnon, Mc, dkk. LIPPI, Burung Indonesia. Panduan Lapangan; Burung-burung di Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Bali. Jakarta Indrawan. M,Richard B. Primack dan Jatna Supriana. Yayasan Obor Indonesia. 2007. Biologi Konservasi (Edisi Revisi). Jakarta Pieter J. ter keurs, Digital publications of the National Museum of Ethnology, (www.rmv.nl). Enggano. Netherland Supriatna, J. Yayasan Obor Indonesia. 2008. Melestarikan alam Indonesia, Jakarta Regen, R. www.enggano.blogspot.com. 2011

Daftar Referensi

55

Daftar Referensi

56

KEMENTERIAN KEHUTANAN Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan Dan Konservasi Alam Balai Konservasi Sumber Daya Alam B E N GK ULU

Rendra Regen Rais. Bapak dua orang anak ini waktu kecilnya bercita-cita menjadi Sopir Bus, menurutnya profesi sebagai sopir itu menyenangkan karena bisa melang-lang buana kebanyak tempat. Walaupun akhirnya menjadi seorang Polhut yang sebelumnya tidak pernah dipikirkannya. Pria yang suka plontos ini menyelesaikan pendidikan SD dan SMP di tempat kelahirannya Kerinci - Jambi, dan ditakdirkan melanjutkan di sekolah kejuruan SKMA (Sekolah Kehutanan Menengah Atas) Pekanbaru yang diselesaikan pada tahun 2002 dan pernah kuliah di Fakultas Teknik di Bengkulu .Hobinya dalam bidang desain grafis dan fotografi membuat dia selalu menikmati perjalanannya, dibekali pula dengan hobi travelingnya yang memang sudah menjadi bakatnya semenjak kecil, sehingga buku yang kedua dibuatnya ini bisa diselesaikannya.

telah dikenal sebagai Daerah Burung Endemik atau Endemic Bird Area (EBA). Merupakan konsep pendekatan BirdLife International dalam mengidentifikasi tempat-tempat terkonsentrasinya keanekaragaman hayati dunia. Di dunia terdapat 221 EBA, dan Indonesia adalah negara yang memiliki EBA terbanyak dengan 24 daerah. Sementara itu, Enggano merupakan Pulau dengan luasan Daerah Burung Endemik tersempit di Indonesia yakni dengan luas 39.586,74 Ha.

PULAU ENGGANO

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.