You are on page 1of 82

Sumber fisis

biofisika
listrik pada Fisika jaringan Kelompok 9

Fisika listrik pada jaringan :
• Peristiwa kelistrikan dlm jaringan terpusat : * Saraf : NAR sangat rendah * Otot : NAR > tinggi • Pada saraf berlaku Hukum ya / tidak (All or None) terhadap tiap stimulus.

Keadaan Muatan Listrik pd Saraf terbagi :
1. Potensial Lokal (diam) ++++  a. Tdpt di Saraf Rest (Resting Potensial) ++++ - terjadi karena : Ion Na+ > keluar, Ion K+ < masuk ke membran sel saraf. - Ion Na+ masuk ke membran sel < dibanding K keluar sel membran saraf. b. Terjadi pd saraf yg rangsangnya kurang dari NAR saraf Ingat Proses Sumasi. Keadaan tsb : POTENSIAL ELEKTRO TONUS, yakni : - di Katoda  Depolarisasi : Kat Electro Tonus; jika terjadi terus2 , terjadi potensial aksi berupa Kontraksi Tetanik. - di Anoda  Hyperpolarisasi disebut An Electro Tonus. Jika terjadi terus2  Anodal Block. Jika diputus2 secara tiba2, terjadi kontraksi kecil2 : Sluggish.

2. Potensial Beredar (Gel. Rangsang, Potensial Aksi) Terj. jika aksi = atau > NAR. Terj Depolarisasi  kemudian kembali ke Repolarisasi.
 ++++

Impuls ke ujung Akson (Ortodromik)

- Pada saraf bermyelin : meloncat Sarat tidak bermyelin : merambat. • Ortodromik : Arah impuls menuju ke Distal Akson • Antidromik : Arah impuls berakhir pada Synaps I • Impuls yg sampai ke Synaps, pindah ke saraf yg berikutnya krn perubahan kimia di Synaps tsb.

• Di Motor End Plate gelembung Acetyl Coline pecah akibat impuls  shg terjadi Free Acetyl Coline. shg terjadi Depolarisasi pd serabut otot. . akibat Free Acetyl Coline potensial membran Motor End Plate menjadi turun. • Peristiwa Electro Tonus akibat Hystologis Myosin & Actine Sarcome • Pada otot potensial aksi dihantar sepanjang membran sel otot shg  Kontraksi Otot.

thermis. elektrik.Efek Stimulasi Fisis Efek stimulasi sangat luas & kompleks (reaksi) Contoh : Stimulus Galvanik beda dgn Stimulus Faradik. Stimulasi Fisis Interaksi Biofisika (Efek fisis & chemis pd Cel) Efek Psikologis (Interaksi Psik. (masih nyata).) Perubahan (Patologis) Psikologis (reaksi situasi) Efek Therapeutic . Contoh : Stimulasi mekanik. reaksinya saling terkait.

D. Tinjauan Tentang Nyeri .

F. Tinjauan
A,2012)

NMT (Aplikasi NMT thdp Penurunan Nyeri & Tonus Otot, Djohan 2012

Cutan

TERAPI Somatic 1 2 2 Somatic DIAGNOSTIK

Viscero Visceral

Usus

1 sympatic Kelenjar & pemb. darah & rambut

• Jaras Viscero Somatic menyilang  Fasilitasi motor neuron  Hypertoni (2). • Jaras Somato Viseral dpt merangsang sympatic (mis. dari luar tubuh/kulit) akan mempengaruhi organ dalam (1) • Sistem Interaksi refleks Somatic & Autonom menggambarkan pengaruh timbal balik viseral & somatic (organ dlm & organ luar).

.

.

Nyeri inflamasi • Nyeri akibat kerusakan jaringan atau proses inflamasi • Dpt bersifat spontan at dibangunkan • Berguna untk mmpercepat penyembuhan .

.

Nyeri neuropatik • Nyeri akibat lesi at disfungsi pd sstm saraf .

.

Nyeri fungsional/psikogenik • Nyeri akibat abnormalitas sistem saraf pusat. berupa peningkatan sensitifitas terhdp stimuli .

.

• Hiperalgesia respon berlebihan trhdp stimulus yg scr normal mnmbulkn nyeri • Alodinia nyeri yg ditimblkn o/ stimulus yg scr normal tdk mnmbulkn nyeri • Hiperestesia meningkanya sensitifitas trhdp stimulus • Hiperpatia sindroma yg bercirikn reaksi nyeri abnormal. mis peninggian nilai ambng . terutama pd stimulus berulang.

kcuali sensasi khusus (indra lain) • Anastesia dolorosa nyeri pd daerah at regio yg mestinya bersifat anestetik • Nyeri sentral nyeri yg didahului at disebabkan disfungsi primer dari SSP .• Analgesia tdk adax respon nyeri trhdp stimulus yg scr normal mnimbulkn nyeri • Hipoestesia mnurunx sensitifitas trhdp stimulasi.

• Nyeri neuropatik perifer nyeri yg didahului at disebabkan lesi at kerusakn primer saraf perifer • Kausalgia Sindroma yg timbul pd lesi saraf pasca trauma yg ditandai nyeri sprti terbakar. alodinia. dan kemudian diikuti gangguan trofik • Stimulus noksious stimulus yg menmblkan kerusakan pd jaringan tubuh normal . hiperpatia yg menetap. serta sudomotor. seringkali bercampur dg disfungsi vasomotor.

at jar periosteal pd pnkanan yg agak lama .• Nosiseptor reseptor yg sensitiftrhdp stimulus noksisous (yg mrusak)at trhdp stimulus yg merusak apbila brkepanjangan • Titik picu (triger point) titik dlm suatu area ttt dlm otot at fascia yg mnmbulkan nyeri mnjalar yg khas • Titik nyeri (tender point) nyeri lokal yg timbul pd otot. ligamen.

.

PENGARUH NYERI TERHADAP ORGAN DAN SISTEM .

.

.

.

.

.

EFEK PSIKOLOGIS DAN RESPON STRESS .

.

.

.

MODALITIES OF TREATMENT PRACTISED BY PHYSIOTHERAPIST IN PAIN CLINICS .

7.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Respon Nyeri 1. Pengalaman Nyeri Masa Lalu Kecemasan Umur Jenis Kelamin Sosial Budaya Nilai Agama Lingkungan dan Dukungan Orang Terdekat . 2. 4. 6. 3. 5.

petidin. Kombinasi keduanya (balans analgesia) : NSAIDs + opioid à synergism . Sensitisasi perifer dapat ditekan dengan: anastesi local dan NSAIDs (COX1 atau COX2) 3. fentanil) dan m agonist (tramadol) 4. Sensitisasi sentral dapat ditekan dengan: Opioid (morfin.Prinsip Pengelolaan Nyeri Pascabedah 1. Mencegah atau meminimalkan terjadinya sensitisasi perifer dan sensitisasi sentral 2.

Meningkatkan kemampuan individu untuk dapat melakukan aktifitas fisik yang diperlukan untuk penyembuhan 3. Mencegah timbulnya gangguan tidur . Meningkatkan perasaan nyaman dan aman individu 2.• RENCANA TINDAKAN Tujuan dari rencana tindakan untuk mengatasi nyeri antara lain : 1.

Non Farmakologi Intervention : . Stimulasi Kutaneus 2.• Intervensi Secara umum intervensi yang dapat dilakukan untuk mengatasi nyeri dibagi menjadi 2 bagian besar. yaitu : 1. Farmakologik intervention : Distraksi.Relaksasi.

Nafas lambat. berirama 2. Guide Imagery . Rhytmic Singing and Tapping 4. Massage and Slow. Rhythmic Breathing 3.• Distraksi Beberapa teknik distraksi. antara lain : 1. Active Listening 5.

• Relaksasi Teknik relaksasi terutama efektif untuk nyeri kronik dan memberikan beberapa keuntungan. antara lain : 1. Meningkatkan periode istirahat dan tidur 5. Menurunkan perasaan tak berdaya dan depresi yang timbul akibat nyeri . Menolong individu untuk melupakan nyeri 4. Meningkatkan keefektifan terapi nyeri lain 6. Menurunkan nyeri otot 3. Relaksasi akan menurunkan anxietas yang berhubungan dengan nyeri atau stres 2.

perut. Klien menarik nafas dalam dan menahannya di dalam paru 2. punggung dan kelompok otot-otot lain 6. Klien mengambil nafas dalam kembali dan keluarkan secara perlahan-lahan. Physio minta kepada klien untuk mengkonsentrasikan fikiran pada kakinya yang terasa ringan dan hangat 5. Setelah klien merasa relaks. Klien bernafas dengan irama normal dalam beberapa waktu 4. Secara perlahan-lahan keluarkan udara dan rasakan tubuh menjadi kendor dan rasakan betapa nyaman hal tersebut 3. klien dianjurkan bernafas secara perlahan. Ulangi langkah 4 dan konsentrasikan fikiran pada lengan. menganjurkan beberapa teknik relaksasi berikut : 1. Bila nyeri menjadi hebat klien dapat bernafas secara dangkal dan cepat. .• Stewart (1976: 959). pada saat ini biarkan telapak kaki relaks.

Counteriritan. Kompres dingin dan panas 2. Analgesics pointments 3. . yaitu massage kulit pada area yang berlawanan dengan area yang nyeri. seperti plester hangat 4.Stimulasi Kulit (Cutaneus) Beberapa teknik untuk stimulasi kulit antara lain : 1. Contralateral Stimulation.

• Medical Interventions 1. Electric Stimulation 3. Acupunture 4. Blok Saraf (Nerve Block) 2. Hypnosis .

hasilnya tdk sebaik pd nyeri akut. tp bisa digunakan dgn meningktkan intensitas n frequensi atau memilih model intermitten • Frequensi yg tinggi bisa mmpercepat recovery pd pasien nyeri kronik .TENS • TENS baik digunakan untk nyeri akut • Pd nyeri kronik.

mengantuk dan letih DIMENSI Psikologi Perubahan Neuromuskular dan senso-motorik Kerja otot tdk efektif. kepala. Ggn. Konsekwensi Proses Patologi WI Masalah konsentrasi atau memori. lengan dan gangguan lain sekitar sendi tulang belakang. ggn.fungsi propriosensor. ligament. Irritabilitas. Nyeri jalar dan hypersensitivity syndrome Neural Kerusakan jaringan: Otot. hipereksitabilitas (sulit relaksasi ). inflammasi. joint efffusion. Physical / Local tissue .leher.vaskular.otot. Sendi (Facet & diskus). kerusakan/iritasi saraf.fungsi sinergis kerja klp. bahu. kelelahan otot dan ggn.ggn. Nyeri : Nyeri lokal. oedem.2.

penyembuh an.pengaliran cairan Memb.NMT SIGNAL DIMENSI OUTCOME Psychological Perubahan Psikis Perubahan Psiko -fisik Neural Perubahan Neuromuscular Perubahan Reflex nyeri Physical / Local tissue Memb.Dimensi model FT : .Osteophaty . adaptasi From: Lederman E 2005 Science and practice of manual therapy .

nyaman.Dimensi Psikis Strategi Pengobatan Dimensi Neurologik Dimensi Tissue Motivasi. rasa tenang. Ressisted Exc.relksasi (Haptonomi) Neuromuscular Techniques (NMT) jika ada gejala Stretching jika betul ada pemendekan jar. behavioral. aman. Movement and pump techniques : Free actv. tehnik cognitive. Acute From: Lederman E 2005 Science and practice of manual therapy Subchronic Chronic Repair time-line . Passive.

Fase-fase reparasi jar. Inflammation Regeneration Remodelling Hari… Minggu… Bulan………… Time after injury From: Lederman E 2005 Science and practice of manual therapy .

Upaya mempercepat proses reparasi jar.proporsional Physical / Local tissue Mepercpt Reparasi Jar. From: Lederman E 2005 Science and practice of manual therapy .   Tindakan biomekanik yang aduquat Dynamic exercises sesuai dosis (initially passive > active?)  Pengulangan terapi sec.

lunak • Mengatur susunan berkas jar.Manfaat /keuntungan exercise jar.collagen • Memperkuat jaringan • Mengatasi perlengketan jar/ cross-linking (adhesions) .

Collagen Fibrils Collagen fibres From: Lederman E 2005 Science and practice of manual therapy .Efek penguluran jar.

persendian Memperlancar sist.Pompa transsynovial Gerakan + Meningkatkan sirkulasi darah sek.persendian Memperb sist.cairan dlm sendi From: Lederman E 2005 Science and practice of manual therapy .pressure dalam persendian Meningkatkan aliran Lymfe sek.

pembersihan • Septic arthritis (Salter et al 1981) • Haemarthrosis (O’Driscoll et al 1983) • Mengurangi joint effusion (Giovanelli et al 1985) • Injected dye (Skyhar et al 1985) From: Lederman E 2005 Science and practice of manual therapy .Pompa Sinovial sbg.

Treatment of Physiotherapy Models 1. Modulation is Spino Cranial System ( Parasympatic ) 4. Perception is Haptonomy system . Transduction is Local and Regional treatment system 2. Transmission is Spino Segmental tre atment system (Spinal and sympatic) 3.

Untuk memahami siklus : • Stimulasi Fisis  dipahami (dipersyaratkan): memahami . • Respons stimulus timbul krn peranan saraf sbg koordinator dari respons tubuh. • Sistem susunan saraf (UMN. namun reaksi yg ditimbulkan kadang merupakan Interaksi dari gabungan sistem tsb. LMN. Autonom) bekerja sesuai fungsinya. Elektro Mag.Neurofisiologi sbg pengantar stimulasi fisis  Jar. Mekanik & Thermis  Stimulasi ke Jar. . INTERAKSI REFLEKS : * u/ Diagnosis * u/ Terapi * u/ Evaluasi . • E.Fisika dasar dan Biokimia energi stimulasi fisis yg akan digunakan.Listrik.

Nociseptor (nyeri) • Kualitas / kuantitas stimulus : .Proprioceptor .Exteroceptor .Foto receptor (cahaya) .Exteroceptor .Polymodale receptor .Thermo receptor . Receptor Receptor menerima setiap informasi & diteruskan o/ jenis2 saraf Afferent.Mecano receptor .a.Chemo receptor .Unimodale receptor .Proprioceptor • Stimulasi yg diterima : . • Afferent Stimulus ta : .Corticospinal .Teleceptor • Lokasi Receptor (Sherington) : .Enteroceptor .

Ruffini : Panas .Ligament . Receptor Nyeri & Faktor Pencetusnya • Indera Spesifik : .b.Kapsul .Vater Paccini : Raba • Indera tdk Spesifik (Nociseptor) terdapat : * seluruh permukaan kulit * jaringan tertentu : .Periost . dll (tertentu) ** Nociseptor NAR rendah pd nyeri kronik dgn demikian NAR rendah Nociseptor disebut Hyper Algesi .Pembuluh darah .Otot.Krause : Dingin .

• Pencetus nyeri diduga o/ Neuro Transmitter (Zat kimia tertentu : Hystamine. . Polipeptida) yg dilepaskan o/ jaringan rusak  Merangsang Nocisensorik. • Mekanisme perangsangan nyeri mengikuti : * Triple Respons Mechanism * Pain Supressor Mechanism  diatasi dgn Pain Depressor Mechanism. Bradikin.

(Melzack – Wall) Pain is Unpleasant Sensory and emotional experience assosiated with actual or potential tissue damage or described in term such damage (R. Nyeri Psiko – Fisik (Stein Bach).Teori nyeri Nyeri : Pernyataan spesifik yg diinformasikan oleh mekanisme pertahanan organ tubuh thdp lesi / kerusakan jaringan. Pada prinsipnya nyeri adalah tidak seimbangnya aktivitas antara supressor dgn depressor pd fase tertentu akibat lesi jaringan tertentu. Caillet) .

Penata Laksanaan Nyeri :  Pain Dumping  Gerbang kontrol (Gait Control  Melzack – Wall)  Depresi pasca eksitasi (Post Exitatoar Depression  Sato & Smith) Dapat : Lokal. Segmental. Regional .

Darah Darah  Recep. Collagen Muda Asidosis Lokal VD. Prostaglandin E1 Reaksi Radang Induksi Prol. Serotin Leukositosis Recep. Nyeri  Nyeri langsung (primer) “P” Pelepasan senyawa AMIN Hystamin. Permeabilitas Pemb. Nyeri  Nyeri Sekunder .Nyeri Akibat Stressor Mekanik (Trauma) Trauma Ischemi Desinteg Sel darah & jar. Pelepasan protease Lisozim &  2 globulin Bradikinine.

Triple Respons (Axon Refleks) Tn. • Nyeri. Elektris. Chemic & Photon • Vascular (merah) : * VD *  Permeabilitas *  Leucosit • Celluler  Induksi Proliferasi fibroblast (Coll. Muda)  Reparasi awal sejak 24 – 36 jam pertama. panas & gang.Fisik . bengkak. Lewis  Lesi Jaringan “P” = 80% “P” = 20% Hyper Algesi Primer Lokal Hyper Algesi Sekunder Sesegment Ke Lamina Post MS Sesegment Neuro Transmitter lainnya Reaksi radang akibat Stressor Mekanik. fungsi  Dilaporkan ke otak  Psiko .

14 12.300 3000 1000 C 0.60 ? ? ? Fungsi 13 .0.Oem) 0.6 .2 .15 Motorik .5 .6 0.5 - 100 .2 2.13 4-8 1-4 70 .4 .70 15 .22 8 .7 0. Tek Otonom Pra Ganglion Nyeri.Proprio ceptor otot Raba tekan kinestesi Raba.00 50 . panas /dingin.20 ? ? ? Lama After Pot Positif 40 . panas/ dingin.0.4 .40 .2 .5 0.1 0.0. motorik Muscles Spindle Nyeri.1 Lama After Pot Negatif 12 . tekanan.120 40 . pasca ganglion B 1-3 3 .40 5 .gatal.Morphologi Saraf (Erlanger & Gusser)  Motorik Jenis Serabut A() A(b) A(g) A(d) Diameter Cepat Hantar Lama Defleksi Tajam (Mill.

Perbedaan interpretasi di otak dari sumber rangsang nyeri . otot.Proyeksi Konvergensi . Contoh : Back Referred Pain. .Modulasi gejala simpatik sifatnya perifer . capsul sendi.Contoh : Trigger Point di kulit. Hyper Aesthesi. Allodynia.  Tanda-tanda Ref.Nyeri rujukan (ref. Penyebarannya dpt via Somatif of Autonom. pain)  Nyeri Rujukan : Nyeri akibat reaksi jaringan tertentu yg seringkali penyebabnya jauh dari tempat tsb. Pain : .  Penyebab : Hyper Algesi.

Somatik animal dan vegetatif Dpt diterapi via Trigger Point Tdk berhub. sering ybs tdk tahu Hasil terapi FT  Normalisasi keseimbangan Neuro Vegetatif  Kejadiannya dpt spontan atau sdh ada iritasi          . dgn struktur anatomis Causa umum berada di luar Trigger Point Keberadaan. dgn Seg.Pengertian Trigger Point Titik Q 1 cm Sangat peka / sensitif / hyper algesi Tdk ada kaitan khusus dgn terapi medis Berhub.

 Syarat RE * Modifikasi intensitas : AC & atau DC * Durasi 0. .01 – 1000 MS (Modifikasi) * Modifikasi frekuensi. Rangsang Elektris (RE) RE  Aksi potensial pd saraf motorik & atau sensorik dgn arus listrik.

      Plasma Membran                   Rest Aktif .Beda Potensial permukaan dlm & luar (dlm ().a. krn muatan di permukaan luar & dlm plasma berbalik (luar (). IMPULS SARAF • Serabut saraf yg Rest : .  Serabut saraf aktif. • Beda Pot. ion Na+ mudah menembus plasma membran  Terjadi Impuls Saraf. dlm ()). turun pd titik tertentu. Ion2 lain menyesuaikan diri. luar () ) . semakin turun jika ion2 Na+ sampai ke Axon.Plasma membran tdk dpt diterobos o/ ion2 Na+ (Na+ berkumpul di luar permukaan) • Jika Beda Pot.

Stimulasi : Merangsang Saraf • Intensitas arus yg cukup jika dialirkan ke tubuh  Impuls • Plasma membran membentuk tahanan listrik secara seri shg beda potensial timbul ketika arus listrik mengalir pd membran • Permukaan membran dekat katode bersifat (  ) dan dekat anode (  ) .b.

maka katode > efektif u/ stimulasi. . Karena di katode terjadi  BP membran plasma.Anode               p  n  p  n              A B Katode • n > dekat katode  > negatif p > dekat anode  > positif shg saraf dekat anode  BP. Na+ masuk membran  Impuls – Pot. Aksi • Impuls akan timbul jika terjadi  Beda Potensial (BP). dan yg dekat katode  BP.

c. shg dgn naiknya arus impuls ke saraf mempermudah ion Na+  ke jaringan (Plasma Saraf)  menghambat daya akomodasi saraf. . Akomodasi Saraf • Akomodasi Saraf = Penyesuaian kelistrikan saraf thdp lingkungannya shg tdk terjadi impuls • Arus listrik yg konstan >> mudah  Akomodasi saraf dibanding impuls listrik yg terputus2. krn impuls listrik terputus. • Samping saraf dekat katode & anode PD (Pot Differens)  seketika  hilang. BP membran hilang seketika shg BP saraf terubah secara menyeluruh.

• Arus yang berubah lamban  intensitas tinggi dibanding arus putus2 shg  rasa tusuk2 yg keras (tidak konfortable).• Saraf memiliki daya akomodasi yg naik – turun tiba2 >> efektif menimbulkan impuls dibanding arus berubah lamban. . • Perubahan arus yg sangat lamban tidak menimbulkan impuls.

Pot. impuls yg ke Akral (Distal) ditiadakan. Efek Impuls Saraf Impuls saraf ke sel. • Impuls dgn durasi yg panjang  Rasa tusuk2 yg keras. Impuls panjang + 1000 s  dgn Galvanik  Saraf cenderung akomodasi.Merambat keseluruh Axon . Aksi dari Nodus yg satu ke yg lain ( > cepat ) . dialirkan ke 2 arah (Prox & Distal) • Motorik. • Rasa tusuk2 berkurang jika durasi diperpendek (+ 10 s) • Perjalanan Impuls ada 2 : .d.Meloncat. impuls ke Prox ditiadakan pd Synaps pertama • Sensorik.

Vena & Limfe ( TL) f). Modif. Modifikasi/pembentukan Fibroblast ( L.e. Perub. Proses Fisiologi Rangsang Elektris. Merubah aktivitas Enzym. TL ) c). Merubah sintesis protein ( L ) i). TD ) h). Pembentukan Osteoblast & Osteoclast ( L. Micro sirkulasi Arteri. Eksitasi saraf perifer ( L ) b). al : SDH & ATP ( L. Permeabilitas membran sel (Terowongan Ion2 Calsium = Ca Channel) ( L. TL ) d). TL ) e). Merubah konsentrasi sel darah & protein ( TL ) g). TL ) . Konsentrasi & ukuran Mitochondria ( L. Modif. Ada 4 Tingkatan : 1). Tingkat Selluler : a). Modif.

kecepatan reaksi. u/ penguatan.2).  sirkulasi darah arteri & vena ( TL ) c) Regenerasi jaringan. kelelahan ( TL ) b) Kontraksi & relaksasi otot polos. penguluran. TL ) e) Merubah temperatur jaringan & keseimbangan kimia (L). ligamen.  viskositas & absorbsi cairan rongga sendi ( L. Tingkat Jaringan : a) Kontraksi otot skeletal. ikat. TL) d) Remodeling jaringan termasuk pelunakan. . kontraksi. tulang. kulit (L.

. otot2 sinergis ( TL ) b) Efek pemompaan otot   drainace cairan Lymfe. pemb. darah arteri & vena.3). darah sirkulasi besar (Makro Sirkulasi) ( TL ) c) Perubahan drainace cairan Lymfe & darah arteri yg tdk berhubungan langsung dgn kontraksi otot skeletal ( TL ). Tingkat Segmental : a) Kontraksi kelompok otot u/ mobil. sendi & aktif.

Demorphin ( TL ) b) Efek analgesik : terpacunya Neuro Transmitter Serotin & “P” c) Efek sirkulasi yg berhub. Enkelpalin. mis : Vaso Aktif Interstitial Polipeptida (VID) (TL ) d) Modulasi aktivitas organ internal. dgn Polipeptida.4). Tingkat Sistemik : a) Efek analgesik  terpacunya Polipeptida Endogen seperti : Beta Endhorpin. mis : Ginjal & jantung. Dopamin. .

berpenampang tebal. serabut jenis A β dan A γ) . serabut jenis Aα. bermyelin dan berpenampang tebal ) Group II : serabut dari receptor raba kulit. serabut jenis A α. bentuknya unimodale ) Group I B : Serabut dari alat tendon golgi ( diameter kirakira 16 mikron.Novum • Klasifikasi alternatif yang digunakan pada pembagian serabut saraf sensoris secara fisiologis (serabut afferent) menurut Loyd & Hunt Group I A : Serabut dari ujung anulo spiral muscle spindle ( diameter kira-kira 17 mikron. muscle spindle ( diameter kira-kira 8 mikron. bermyelin.

serabut jenis A δ ) Group III B : serabut dari receptor kulit dan otot. letak di otot dan kulit.2 – 1. suhu dan raba kasar ( diameter 0. berpenampang kecil dan polimodale serta mempunyai nilai ambang rangsang yang tinggi ) . gatal. bermyelin agak tebal. raba kasar dan nyeri ( diameter rata-rata 3 mikron. Group IV : serabut tak bermyelin yang menyalurkan sensasi nyeri.Group III A : serabut yang menyalurkan sensasi suhu. serabut jenis A δ dan B. serabut jenis C. menerima stimulus thermal dan mekanik. tidak bermyelin dan unimodale.

• Arus yang digunakan untuk stimulasi antara lain :arus faradic. Arus tersebut harus dapat mencapai syaraf atau serabut otot agar timbul impuls. arus sinusoidal dan modified direct current. .

begitu pula halnya untuk merangsang saraf motorik tipe I ( A α ) 2. Howson howson mengatakan bahwa penggunaan yang terbaik untuk merangsang serabut saraf tipe II dan III adalah menggunakan fase waktu yang pendek. Wyss pada serabut saraf A yang dirangsang secara selektif dengan menggunakan pulsasi yang lebih pendek dengan amplitudo yang lebih rendah dibandingkan yang dibutuhkan untuk meransang secara selektif untuk serabut B .SELEKSI STIMULASI Para peneliti yang memiliki perhatian khusus terhadap seleksi bentuk stimulasi adalah Howson dan Wyss 1.

• Stimulasi elektris pada jaringan otot/saraf bertujuan untuk menjaga sifat fisiologis otot sebagai jaringan kontraktil. . • Pelaksanaan stimulus elektris pada kelompok otot tertentu bertujuan untuk mencapai target kontraksi secara optimal sehingga otot akan mengalami relaksasi setelah target tepenuhi.