PERLUASAN JAMINAN SOSIAL DAN KEBIJAKAN SOSIAL DI INDONESIA

Viviyulaswati@bappenas.go.id Direktur Perlindungan dan Kesejahteraan Masyarakat Bappenas

Konferensi f INFID  Jakarta, 26 November 2013

KERANGKA PAPARAN
• Arah kebijakan pembangunan jangka panjang dan menengah. • Perlindungan Sosial  Terintegrasi/Komprehensif. • Tantangan perluasan jaminan sosial • Kesimpulan.

KERANGKA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG
• Visi pembangunan ekonomi nasional sampai dengan g RPJPN 2025 dalam UU No. 17/2007 tentang adalah ” mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur.” • Mengacu proyeksi pertumbuhan RPJMN yg berkisar 6,3% - 6,8% per tahun, pada tahun 2014 PDB diperkirakan akan berkisar US$1.200 US$1 200 miliar dan PDB per kapita sedikit di bawah US$5.000. • Untuk jangka waktu yang lebih panjang, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan sbb: • PDB pada d tahun t h 2025 berkisar b ki antara t US$ 3.760 3 760 – 4.730 miliar. • Dengan proyeksi penduduk sekitar 293 juta jiwa, PDB per kapita akan berkisar antara US$ 12.855 – 16.160. • Menurut Goldmann Sachs dan Economist, pada tahun 2050 PDB Indonesia akan mencapai lebih dari US$ 26.000 miliar dan menjadi kekuatan 6 besar dunia.

“Mendorong Indonesia menjadi kekuatan 10 besar dunia 
di tahun 2030 dan 6 besar dunia pada tahun 2050 melalui ”pertumbuhan ekonomi tinggi yang inklusif dan  berkelanjutan”

Percepatan dan perluasan pertumbuhan ekonomi yg inklusif  dlaam rangka peningkatan kesejahteraan rakyat

3

ARAH PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG TAHUN 2005– 2005–2025 BIDANG PERLINDUNGAN SOSIAL SOSIAL

MEWUJUDKAN PEMBANGUNAN YANG LEBIH MERATA DAN BERKEADILAN •Sistem perlindungan dan jaminan sosial disusun, ditata, dan dikembangkan untuk memastikan dan memantapkan pemenuhan hak‐hak rakyat akan pelayanan sosial dasar. •Sistem jaminan sosial nasional (SJSN) yang sudah disempurnakan bersama Sistem perlindungan sosial nasional (SPSN), yang didukung oleh peraturan perundang–undangan dan pendanaan serta sistem Nomor Induk Kependudukan (NIK) dapat memberikan perlindungan penuh kepada masyarakat luas secara bertahap sehingga Pengembangan SPSN dan SJSN g memperhatikan p budaya y dan sistem y yang g sudah berakar dilaksanakan dengan di kalangan masyarakat luas.
4

PENTINGNYA SJSN DAN SPSN
BONUS DEMOGRAFI

1960 ‐ 2000
Pert. P t  GDP/th (%) Cina Korsel Singapura Thailand 7.0 7.3 8.2 6.6 Kontribusi K t ib i (%) Bonus B Demografi thd pert. ekonomi 9.2 13.2 13.6 15.5

Pada tahun 2050, bonus demografi g  hilang g di  sebagian besar negara barat, Jepang, Hongkong,  Singapura. Negara lain (termasuk Indonesia) segera  mengikuti. Bonus demografi diikuti oleh femonena penuaan  struktur umur penduduk (Population ageing) Turunnya dependency ratio berkontribusi bagi  pertumbuhan ekonomi
Sumber: 1. UN Population Prospect Rev. 10 dan Mawson & Kinugasa 2005 2. Mawson, A and Kinugasa T, 2005. East Asian Economic Development: Two Demographic Dividend

Population ageing dapat menimbulkan  permasalahan serius jika jaminan sosial tidak  dipersiapkan.   Sistem perlindungan juga dibutuhkan, terutama utk  melindungi yg miskin dan rentan. 5

KOMPONEN PERLINDUNGAN SOSIAL
PROGRAM TUJUAN KEPESER TAAN MANFAAT

Contributory  Social  Protection  (S i l  (Social Security)

Non‐ contributory  Social  Protection  (Social  Assistance)

SJSN  (Sistem Jaminan Sosial  Nasional)

Manfaat Hari Tua (jaminan dan  pensiun) Mewujudkan  Manusia Bermartabat Seluruh  P k j Pekerja Manfaat Kematian Asuransi Kecelakaan Kerja Perawatan Kesehatan Perawatan Kesehatan

Voluntary  Insurance
Bantuan Sosial Perlindungan  Hidup Kelompok‐ Kelompok  Rentan

Penambahan Modal Transfer Tunai Pendidikan Program Pangan Pelayanan Sosial Tambahan Produk Komersial  Lainnya Sukarela Manfaat Hari Tua Perawatan Kesehatan 6

Asuransi  Pribadi

Tambahan T b h  & Melengkapi  Manfaat

PERLINDUNGAN SOSIAL ≈ PENGELOLAAN RESIKO 

Hidup adalah resiko ...... Orang miskin memiliki lebih banyak resiko ....... Namun memiliki paling sedikit perlindungan dan kapasitas mengelola resiko. Perlu transformasi kebijakan yang menjamin seluruh warga negara mendapatkan kesempatan untuk hidup layak dan  sejahtera

7

KERANGKA PIKIR PEMBANGUNAN SOSIAL
Cultural Exclusion Political Exclusion Economic Exclusion Social Exclusion
Limited access to health services Limited access to education Barriers for entering labour market

Instability and Insecurity

Cultural Based Barriers

Limited access to productive resources (l d credit) (land, d ) Limited access to social security

Lack of economic and market integration

Political Participation

Gender based barriers

Limited access to civil and human rights

SUMBER: ASDI, 2012

DIMENSI EKSKLUSI SOSIAL
Life Cycle
0‐5  Years 6 to 14  Years 15‐24  Years 25 ‐64  Years 64 and  over
Early childhood

Exclusion
Health

Indicators
Malnutrition prevalence, height for  age (% of children under 5)

Formative Years

Education

Literacy rate (% of people aged 6‐ 14)

Employment Opportunities

Labour

Unemployment, youth total (% of  total labor force ages 15‐24)

Productive Period

Income

Poverty headcount ratio at national  poverty line (% of population)

Elderly y

Livelihood

% of employ p y contributing g to Pension

SUMBER: ASDI, 2012

BERBAGAI INSTRUMEN PENGELOLAAN RESIKO
Inform mal

Keluarga besar Menyimpan/menjual aset Bantuan tetangga/keluarga Tabungan b  d dan pinjaman i j Diversifikasi pendapatan  (usaha/tanaman) Individual Kredit kecil/bank Asuransi Ijon/resi gudang Kontrol harga Subsidi Bantuan Sosial

For rmal                                      

Universal

10

State     Com mmercial    Commun nity     HH

PROGRAM PERLINDUNGAN SOSIAL BERDASARKAN SIKLUS  HIDUP BAGI PENDUDUK MISKIN SAAT INI
Siklus Hidup
Janin‐Balita (0‐5 t tahun) h ) Usia Sekolah (6‐18 t tahun) h ) Memasuki usia  produktif p (19‐24 tahun) Usia Produktif (25‐60 t tahun) h ) Lansia > 60 t tahun h

Intervensi Program
Asistensi Sosial Orang Dengan Kecacatan Berat (ASODKB) Jampersal PKSA Beasiswa B i  untuk t k Si Siswa  Miskin

Sasaran  bagi  Individu Miskin
Askesos

JSLU

Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial (Mantan Napi, HIV/AIDS) Rehabilitasi Sosial Penyalahgunaan NAPZA Jamkesmas

Bantuan Bencana Alam/Sosial/Ekonomi Raskin Program Keluarga Harapan

Sasaran Bagi Rumah  Tangga Miskin
Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM)

SISTEM PERLINDUNGAN SOSIAL
RISIKO DAN KERENTANAN
Sikl Hidup Siklus Hid Individual: I di id l Kelaparan dan kekurangan gizi,  cedera, sakit, kecacatan,  ketuaan, kematian Ek Ekonomi i:  Pengangguran, pendapatan  rendah dan tidak menentu,  krisis ekonomi S i l Sosial: bencana sosial, ketelantaran,  ketiadaan aset (rumah tinggal  dan lahan). Li k Lingkungan: Bencana alam, kekeringan,  banjir, kebakaran, man‐made  disaster

TUJUAN
Preventive (Pencegahan):  Upaya pencegahan dan penanggulangan risiko kemiskinan.  Protective (Perlindungan): Upaya pemberian pelayanan dasar dan bantuan sosial untuk jangka pendek/darurat. Promotive (Promosi):  Upaya meningkatkan kapasitas  keahilan, kapasitas, keahilan  dan tingkat pendapatan. Transformative (Transformatif):  Upaya reformasi sistem melalui aspek hukum & kebijakan publik untuk menghilangkan kerentanan &  ketidaksetaraan

STRATEGI
Asuransi Sosial • Asuransi Kesehatan • Minimum Guaranteed  Income • Asuransi Pertanian Kesejahteraan Sosial • Pelayanan sosial dasar • Bantuan tunai (bersyarat) dan in‐kind • Peningkatan kapasitas • Program pendukung (targeting, safeguarding,  Early Warning System) Perlindungan Pekerja • Jaminan Pensiun • Jaminan Kematian • Jaminan Hari Tua • Jaminan Kecelakaan Kerja Jaring Pengaman Sosial • Bantuan darurat • Subsidi harga • Subsidi p pangan g • Targeted Safety Net: (lapangan  kerja sementara, pelatihan  kembali, makanan tambahan,  12 12 income transfers)

KOMPONEN KUNCI PERLINDUNGAN SOSIAL
Perlindungan P li d Sosial
Kerangka Regulasi  dan Kebijakan
Peraturan pelaksanaan yang  mengurangi kesenjangan  d l  akses dalam k  l layanan publik blik  dan kesempatan ekonomi

Jaminan Sosial
Penguatan Kelembagaan Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN)

Bantuan Sosial

Pelayanan Sosial

Transformasi program  sesuai  skema MP3KI  (reguler dan non reguler)

Penguatan sistem meliputi  DBT, referral, complaint,  dan pendampingan

Sinergi antar program

Peraturan pelaksanaan  pendukung implementasi  jaminan sosial

Aspek Governance: Sistem  pendukung, pengendalian  mutu, dan monev

Contoh: transformasi C t h  t f i  kepesertaan PKH dan  penguatan komponen  pendukung

Penguatan kelembagaan:  (pelayanan berbasis  komunitas dan alternative  care)

Aspek Outreach:  khususnya untuk  kelompok sektor informal

Efektivitas bantuan sosial  (review kriteria dan paket  manfaat, monev)

13

TRANSFORMASI JAMINAN SOSIAL
2014
INFORMAL JAMKESMAS JAMKESDA BPJS  KESEHATAN ASKES

2015

2029

BPJS  KETENAGAKERJAAN
PT.ASKES

JAMSOSTEK PT. JAMSOSTEK
JAMINAN KEC  KERJA JAMINAN  KEMATIAN JAMINAN HARI  TUA

YANKES TNI/ POLRI ASABRI
JAMINAN  PENSIUN JAMINAN  PENSIUN JAMINAN HARI  TUA JAMINAN HARI  TUA Sumber: UU No. 40/2004 Tentang SJSN

TASPEN

14

SJSN MENJADI TANGGUNG JAWAB NEGARA  KARENA... KARENA
1. Karakteristik 1 utama asuransi sosial 2. Menjamin peserta banyak Sehingga  “risk  tranfers” d  “hukum dan “h k   bilangan  besar” (law  of large  number)  berfungsi  dengan baik 3. Menghindari  seleksi bias 4. Menjaga  kualitas Jaminan

Untuk menjamin subsidi silang berjalan optimal

Sehingga h kegagalan pasar dapat dicegah

Kaya miskin seharusnya  memiliki jaminan sama

15

LANDASAN UU SJSN & BPJS MENGAMANATKAN  ASURANSI SOSIAL
1. Mendorong cakupan universal
Amerika hingga kini belum mampu mencapai cakupan universal. Pada tahun 2011 terdapat 48.6 juta penduduk (15.7  persen) tidak memiliki jaminan, meskipun biaya kesehatannya terbilang mahal. Sementara itu, negara‐negara yang  melaksanakan asuransi sosial seperti Jerman, Belanda, Jepang, Korea, Thailand, mampu mencapai cakupan universal. 

2. Pencegah kegagalan pasar
Seleksi bias sering terjadi pada asuransi komersial karena tidak seimbangnya informasi antara calon pembeli dengan  pengelola asuransi (asuradur) (asuradur). Adverse selection terjadi jika sebagin besar orang yang berisiko tinggi membeli asuransi dan  sebaliknya, mereka yang sehat cenderung menghindar asuransi. Pada pasar asuransi komersial, hal ini direduksi melalui penilaian risiko (underwriting). Asuradur umumnya hanya akan menerima calon pembeli yang memiliki risiko rendah sehingga terjadi favorable selection. Pada program asuransi sosial, dengan karakteristik wajib‐nya, masalah di atas dapat dihindarkan. 

3. Pendorong g efisiensi makro
Amerika yang mengandalkan mekanisme pasar, memiliki biaya kesehatan paling mahal di dunia. Analisis perbandingan biaya kesehatan di Amerika dengan negara seperti Eropa, Jepang, Australia yang mengadopsi asuransi sosial memperlihatkan biaya kesehatan Amerika menempati urutan teratas.  Di tahun 2010, pengeluaran kesehatan Amerika menghabiskan 17.6 persen dari PDB, bandingkan dengan Belanda (12%), Perancis dan Jerman (11.6%), Jepang (9.5%)  serta Australia yang hanya 9.1%. Biaya kesehatan per kapita di Amerika (USD 8233) 2.5 kali lebih mahal dibandingkan dengan rata‐rata biaya kesehatan di sejumlah negara‐negara ekonomi maju sebesar USD 3268 (Data OECD, 2012). 

4. Mendukung kinerja kesehatan
Negara yang melaksanakan asuransi komersial memiliki indikator status kesehatan tidak lebih baik dengan negara yang  memilih asuransi sosial. Indikator status kesehatan yang dapat dicermati antara lain angka kematian bayi (AKB), angka kematian ibu (AKI), (AKI)  serta usia harapan hidup penduduk. penduduk

16

TRANSFORMASI PENANGGULANGAN KEMISKINAN  MELALUI MP3KI

17

AXES OF SOCIAL PROTECTION INTEGRATION

SUPPLY
(policies, plans, & programs)

DEMAND
(families, individuals &  communities)

Ad dministrati ive level

Sectors

Population groups Life c cycle

Source: Inclusive Social Protection, Cecchini & Martínez, 2012 

Skema Pemanfatan Basis Data Terpadu dan  Pusat Pelayanan dan Rujukan Terpadu dalam Kerangka MP3KI

?

PENJABARAN SKEMA PEMANFATAN BASIS DATA TERPADU & PUSAT PELAYANAN DAN RUJUKAN TERPADU
RTS
Penerima Manfaat Mekanisme  Penjangkauan

Pusat Pelayanan dan Rujukan Terpadu

Tingkat Nasional

Tingkat  Daerah

• Voluntary? • Community/program Outreach?

Tidak Ya
Terdata/ terjangkau

Basis Data  Terpadu

Verifikasi Data Kecamatan, Desa

Ada

Tidak
Proses  Musdes/Muskel

Ya
Mekanisme  Keluhan dan  Pelaporan

Program  Pelayanan Dasar

Program  Pelayanan Dasar

Ya

Registrasi Program

Pendataan P d t   Lapangan

Universal  Coverage

Ya

Program  Perlindungan Sosial   Pencetakan  Kartu Peserta Program  Pengembangan  Kehidupan

Program  Perlindungan Sosial   Program  Pengembangan  Kehidupan

Keluhan

Tidak
Selesai

Tidak
Proxy Mean Test

Ya
Memenuhi  Kriteria

Crosscheck  alokasi  anggaran

PROGRAM2 PEMERINTAH PUSAT  DAN/ATAU DAERAH

Tidak

Program Community  Based/CSR

BEBERAPA TANTANGAN PERLUASAN CAKUPAN  SEKTOR INFORMAL
• Tersebar di berbagai pelosok nusantara  (t (termasuk k di diantaranya t  petani, t i  nelayan, l  buruh b h  perkebunan, dsb)
• Sekitar 43% berusaha p pada tempat p  y yang g tidak p permanen.

• Mobilitas tenaga kerja sangat tinggi
• Dapat memiliki 2‐3 pekerjaan sekaligus, atau jam kerja  tidak menentu

• Pendapatan sering tidak stabil dan  berkelanjutan • Kurang terlibat dalam jasa keuangan.
• Hanya 16% dari pekerja informal yang memiliki rekening  bank atas nama sendiri • Sekitar 86% menerima pendapatan dalam bentuk tunai
21

ISU KRUSIAL PERLUASAN CAKUPAN BPJS KESEHATAN:  AFFORDABILITY DAN FORMALITAS ADMINISTRASI
KEUNGGULAN BPJS  KESEHATAN: • Risk pooling besar • Paket manfaat sangat komprehensif p • Jaringan Pelayanan lebih banyak dan lebih luas.  • Portabilitas terjamin. j • Sustainabilitas program  dalam jangka panjang • Dapat p ditambahkan dengan g manfaat lainnya: pinjaman kredit, bantuan perumahan/pendidikan.  KELEMAHAN: • Iuran relatif tidak terjangkau j g untuk TK  informal rentan miskin (proporsi upah) • Sistem administrasi formal TK informal  cenderung resistence dgn formalitas • Skema dan iuran tidak dapat taylor‐made  sesuai kebutuhan TK informal  • Umumnya melakukan pendekatan kolektif • Umumnya TK informal tidak terorganisir dgn baik

22

POLA‐POLA INISIATIF DALAM JAMKESDA SAAT INI BERAGAM
Provinsi Yogya‐ karta Central  Java Kab/Kota Sleman Purbalingga Agam West  Sumatra 50 Koto Sawah Lunto Co‐sharing APBD Prov dan Kab Skema P bi Pembiayaan APBD APBD Skema Kontribusi Rp5000/orang/bln. Rp.120.000/keluarg Rp 120 000/keluarg a/th Rp.72.000/orang/t h Rp.120.000/orang/ th Catatan Keanggotaan fix utk se‐th. Registrasi per  group, min. 25 orang Keanggotaanfix utk se‐th, th  registrasi mll SKPD, perusahaan dan komunitas Keanggotaan fix utk se‐th, registrasi mll group atau individu Keanggotaan fix utk se‐th

Rp.12.000/orang/bl Keanggotaan fix utk se‐th. CSR  ; 50% Pemda, Pemda  50%  membayar premi 1 desa member Rp.10.000/orang/bl Keanggotaan fix utk se‐th, registrasi mll n SKPD & komunitas None None None Tidak ada lagi
23

Goron‐ talo

Kota  Gorontalo Bone Bolango

Co‐sharing APBD Prov dan Kab

Aceh Bali

Sabang, Bireun APBD Prov Badung,  Badung Klungkung Jembrana Co‐sharing Prov dan Kab

GAP KETERSEDIAAN FASILITAS DAN TENAGA MEDIS
I dik t Gap Indikator G Instalasi Air Inkubator bayi Listrik Keberadaan Dokter Keberadaan Bidan Keberadaan Dokter  Gigi
Sumber: Podes 2011
24

P k Puskesmas 517 5.860 305 733 187 106

P t Pustu 2.837 22.154 10.282  (termasuk Poskesdes dan Polindes) 20.871 5.831 7 400 7.400

DISTRIBUSI/PERSEBARAN BIDAN DI TINGKAT DESA

PERSEBARAN   FASKES   YANG   DILENGKAPI   LISTRIK

Sumber: Podes 2011

25

PENGALAMAN NEGARA LAIN ‐ STRATEGI  PERLUASAN CAKUPAN SEKTOR INFORMAL
3 Pilihan Strategi Pembiayaan:  1. Contributory (contoh: US,  Jepang, Taiwan) 2. Non contributory  (contoh:  Thailand Thailand, Korsel Korsel,  dan Philipina) 3. Kombinasi b  1 d dan 2  (contoh: Vietnam, China)

26

HAL‐HAL PENTING DALAM STRATEGI  PERLUASAN KEPESERTAAN
Hasil IES: • Sekitar 48% pekerja  informal tidak  mengetahui tentang  j i jaminan  k kesehatan. h t • Sekitar 38% pekerja  informal tidak  mengetahui t h i b bagaimana i   proses pendaftaran  kepesertaan jaminan  kesehatan • Dari yang telah memiliki  jaminan kesehatan,  cukup banyak yang tidak  memahami paket  manfaat yg diberikan.

1. Design kontribusi dan manfaat  yang didapat harus jelas agar  masyarakat yakin perlunya  menyisihkan y  pendapatan p p  yg  terbatas. 2. Pengumpulan/pembayaran  premi yg fleksibel waktu dan  besarannya, terpercaya, dan  mudah. uda 3. Informasi (Social marketing):  pentingnya hidup sehat,  pengobatan yang benar, prinsip  asuransi sosial, dsb.

27

KESIMPULAN
• • Peran pemerintah daerah penting dalam mendukung perluasan kepesertaan.  Memanfaatkan sistem kelembagaan masyarakat yang telah berakar di masyarakat: koperasi koperasi,  asosiasi, dan organisasi sosial kemasyarakatan lainnya (Perlu penilaian terhadap dasar hukum  kelembagaan, kapasitas pengelolaan, dan tata kelola). Memanfaatkan inovasi: branchless banking – e money untuk pengumpulan premi di daerah sulit sulit. Peningkatan efektivitas penjangkauan (outreach) pelayanan melalui kemitraan dengan berbagai  unsur masyarakat  Pengembangan manajemen dan sumber daya manusia sistem rujukan untuk pemutakhiran  pendataan/targeting, pelayanan sosial terpadu, & pengaduan. Koordinasi dan kerjasama antar institusi (pusat, daerah, LSM, dan swasta). Melakukan uji coba berbagai alternatif strategi dan evaluasinya. Pengalaman negara lain dapat membantu penyusunan strategi yang dapat menyeimbangkan  prinsip: keadilan, keberlanjutan, efisiensi, dan kualitas layanan.

• • • • • •

TERIMA KASIH
28

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful