PEMBATALAN PERKAWINAN ASMIRANDAH DAN JONAS RIVANO: PRESPEKTIF SOSIOLOGI HUKUM ISLAM Oleh: Alvan Fathony1

A.

Konteks Masalah Berita yang sangat menghebohkan dunia intertaiment, disebabkan oleh munculnya berita dimedia cetak dan elektronik tentang pembatalan pernikahan Asmirandah (Andah) dengan Jonas Rivanno (Vanno). Andah dan Vanno menikah dengan cara hukum Islam pada 17 Oktober 2013, dan tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA) Beji, Depok. Namun beberapa bulan kemudian Andah mengajukan pembatalan pernikahan karena pengakuan Vanno yang tidak benar-benar memeluk islam secara serius. Pengakuan muallafnya hanya untuk keperluan administratif pernikahan dengan Andah. Pada awalnya Andah merasa yakin bahwa Vanno telah menjadi seorang muallaf, hal ini dibuktikan dengan kesediaannya mengikrarkan dua kalimat syahadat. Namun ternyata, Vanno tidak benar-benar meyakini agama barunya tersebut.2 Permohonan pembatalan pernikahan Andah tersebut didaftarkan di PA Depok dengan nomor 2390/Pdt.G/PA.Dpk. Alasan dari pendaftaran

permohonan pembatalan pernikahan ini, yakni Vanno tidak serius menjadi seorang muallaf, juga tidak sungguh-sungguh meyakini agamanya. Dalam konferensi pers sebelumnya Andah mengakui telah meminta Vanno masuk Islam.3 Berita terbaru pembatalan perkawinan Andah dan Vanno ternyata hanya untuk tidak terjerat hukum di Indonesia yang menjelaskan bahwa perkawinan antar agama, muslimah dan laki-laki non-muslim tidak mendapat tempat di dalam Undang-Undang Perkawinan No. 1 tahun 1974. Bahkan jauh

Penulis adalah alumni Ponpes Sidogiri, Pasuruan. Sekarang sedang menempuh studi S2 Ahwal Syahksiyah, UIN Malang Sutomo Paguci, Kasus Asmirandah: Pembatalan Perkawinan, Apa BedanyadenganPerceraian?http://hukum.kompasiana.com/2013/11/25/kasusasmirandah-pembatalan-perka inan-apa-bedan!a-dengan-perceraian-"1303#.html, diakses pada tanggal # $es 2013. 3 %bid,.
2

1

1

sebelumnya pada tanggal 1 Juni 1980, MUI telah mengeluarkan fatwa, “bahwa seseorang wanita Islam tidak diperbolehkan (haram) untuk dinikahkan dengan seorang pria bukan Islam”. Selanjutnya untuk melegalkan pernikahannya, pasangan Andah dan Vanno akan melangsungkan pernikahannya di luar negeri. Pungkas pengacara Andah, Afdal Fikri.4 Hal ini secara langsung juga disampaikan oleh KH Amidhan saat dihubungi via telefon, Kamis (28/11/2013). Fatwa MUI sesuai dengan UU Perkawinan tidak boleh nikah beda agama. Pasalnya sering agama dipakai sebagai alasan saja. Makannya MUI menfatwakan tidak boleh ada pernikahan beda agama," pungkas Amidhan.5 Pendapat lain juga diutarakan oleh imam besar masjid istiqlal (Mustofa Ali Ya’qub) yang menyatakan bahwa dalam perkawinan Andah dan Vanno berkaitan dengan status keislaman Vanno, dengan Vanno telah membantah menjadi muallaf, pernikahan tersebut menurut Ali secara otomatis gugur, Sebab artinya Vanno sudah murtad. Permasalahan murtadnya Vanno tidak bisa diperkarakan secara hukum dan bukan termasuk pelecahan agama Islam seperti yang disampaikan oleh FPI. Karena kalau pelecehan agama itu harus melihat undang-undang," kata Ali kepada detikHOT, Rabu (27/11/2013).6 Banyaknya pendapat di atas terkait dengan sahnya atau tidaknya perkawinan, selain harus memenuhi syarat-syarat dan rukun perkawinan. Perlu diperhatikan juga ketentuan-ketentuan yang ada dalam hukum perkawinan islam. apabila dikemudian hari ditemukan penyimpangan terhadap syarat sahnya perkawinan maka perkawinan tersebut bisa dibatalkan. Batalnya perkawinan menjadikan ikatan perkawinan yang telah ada menjadi putus. Ini
&i'ano tak (alangi )smirandah batalkan Pernikahan, *ihat. http://hot.detik.com/read/2013/11/2#/0+302+/2,25#""/230/3/ri'ano-tak-halangiasmirandah-batalkan-pernikahan-luna-ma!a-pun!a-pacar-baru, diakses pada tanggal 30 -o' 2013 5./% .inta )smirandah 0idak .urtad demi -ikahi 1onas, lihat. http:// .tempo.co/read/ne s/2013/11/2+/212532+"#/3atalkan-Pernikahan-)paStatus-)smirandah, diakses pada tanggal 30 -o' 2013. "&i'ano tak (alangi )smirandah batalkan Pernikahan, *ihat. http://hot.detik.com/read/2013/11/2#/0+302+/2,25#""/230/3/ri'ano-tak-halangiasmirandah-batalkan-pernikahan-luna-ma!a-pun!a-pacar-baru, diakses pada tanggal 30 -o' 2013.
4

2

berarti bahwa perkawinan tersebut dianggap tidak ada bahkan tidak pernah ada, dan suami istri yang perkawinannya dibatalkan dianggap tidak pernah kawin sebagai suami istri.7 Ketika pembatalan perkawinan terjadi dalam sebuah ikatan perkawinan, maka kesan yang terjadi adalah karena tidak berfungsinya pengawasan baik dari pihak keluarga atau pihak pejabat yang berwenang, sehingga perkawinan itu terlanjur terlaksana kendati setelah itu ditemukan pelanggaran terhadap Undang-undang perkawinan atau pada norma-norma agama. Akibat tidak adanya kontrol dari pihak keluarga ataupun pejabat yang berwenang atas perkawinan yang terlanjur terlaksana khususnya pada perkawinan beda agama, hal ini menyebabkan banyak efek yang berdampak pada banyak pihak. Contohnya perzinaan yang berkelanjutan, karena seseorang yang melakukan perkawinan yang tidak memenuhi syarat-syarat yang diminta oleh Islam maka perkawinannya tidak sah. Tentang hal waris, nasab anak yang berkaitan dengan perwalian, hubungan sosial kemasyarakatan. Bagi seorang muslim yang menjalani perkawinan yang tidak sah, masyarakat akan mengucilkan dirinya dan keluarganya.8 Masyarakat muslim saat ini, terutama di daerah perdesaan masih sangat sensitif apabila ada pasangan beda agama, apalagi jika pasangan muslim tersebut sampai pindah agama ikut suami atau isterinya. Kasus yang menuai kontroversi dan juga membuka timbulnya dampak terhadap banyak pihak di atas, menjadi salah satu problem pernikahan kontemporer yang tidak hanya memerlukan pendekatan normativ namun juga sosiologis. Peranan sosiologi hukum sangatlah berpengaruh dalam problem di atas. Untuk itulah ilmu ini berusaha untuk mengupas hukum, sehingga hukum itu tidak di pisahkan dari praktek penyelenggaraanya, tidak hanya bersifat kritis melainkan juga kreatif. Kekreatifitasan ini terletak pada kemampuannya untuk menunjukan adanya tujuan-tujuan serta nilai-nilai tertentu yang ingin di capai
.artiman Prod4ohamid4o4o, Hukum Perkawinan Indonesia 51akarta: %ndonesia *egal 6entre Publising, 20027, 25. 8 8usu9 al-:ardha !, Fi h Prioritas! "ebuah Ka#ian Baru Berdasarkan Al$%uran &an As$"unnah, cet.3 51akarta: &obbani Press, 20027, 1##.
7

3

oleh hukum. Sosiologi hukum akan bisa mengingatkan orang kepada adanya tujuan-tujuan yang demikian itu. Ilmu ini akan mampu juga memberikan informasi mengenai hambatan-hambatan apa saja yang menghalangi

pelaksanaan suatu ide hukum dan dengan demikian akan sangat berjasa guna menghindari dan mengatasi hambatan-hambatan tersebut.9 Sedikit penjelasan di atas penulis maksudkan sebagai pengantar sebuah permasalahan yang penulis jadikan sebagai tema dalam penelitian.

Permasalahan itu secara sederhana

adalah perkawinan yang sedang

berlangsung tetapi salah satu pihak telah melakukan perbuatan murtad, yang mengakibatkan pembatalan perkawinan dari pihak yang lain, terkait dengan bagaimana aplikasi sosiologi hukum dalam kasus di atas agar sebuah fenomena sosial tentang hukum dapat dijelaskan secara nyata dan jelas. Dan juga tanggapan hukum islam terhadap kasus tersebut.

B.

Teori Religiusitas dan Pilihan Rasional a. Teori Religiusitas Pada hakekatnya hubungan manusia dengan agama terbangun secara fitrah. Hal ini ditandai dengan realitas yang memperlihatkan betapa besar porsi kebutuhan manusia untuk melengkapi dirinya dengan agama, baik dalam rangka untuk mengabdikan diri kepada sang pencipta maupun dalam rangka menjalin hubungan dengan lingkungan dan sesama makhluk.10 Adanya hasrat memikirkan dunia dan tuhan mendorong manusia beriman dan berbuat baik pada sesamanya.11 Pernyataan bahwa manusia makhluk sosial merupakan pernyataan yang umum dalam konsep ilmu

an, 'uang (ingkup "osiologi Hukum &an Kontribusinya )erhadap Perkembangan Ilmu Hukum: *ontoh Permasalahan Hukum +ang ,embutuhkan Pen#elasan &ari "osiologi Hukum- *ihat http://ad'okatguna anrekan.blogspot.com/2002/02/ruanglingkup-sosiologi-hukum-dan.html, di akses pada 30 -o' 2013. 103aso9i Sudirman, .ksistensi ,anusia dan Agama 51akarta: 8a!asan an -ash, 12257, 23. 11 %bid, "5.

2;una

4

sosial terutama sosiologis. Ini berarti bahwa manusia tidak pernah hidup dalam suasana isolasi sempit absolute dan permanent.12 Kaitan agama dan kehidupan sosial seperti yang dikatakan Max Weber dan Emeil Durkheim, bahwa bagaimana lembaga menciptakan sistem makna yang memiliki otoritas dan legitimasi untuk mengarahkan perilaku sosial dan kontrol sosial.13 Durheim bahkan menyatakan bahwa masyarakat adalah obyek nyata dari penghormatan terhadap agama. Pandangan ini berkenaan dengan sistem simbol agama suatu masyarakat dan pola-pola yang dimuati sanksi oleh sistem moral yang umum berlaku diantara anggota komunitas.14 Secara sosial pendekatan religiusitas menegaskan bahwa orangorang memiliki iman karena keyakinan masuk akal bagi mereka. Fungsional (dan dalam bentuk yang lebih kuat reduksionis) teori-teori yang berfokus pada fungsi sosial atau psikologis untuk kelompok atau seseorang yang beragama.15 Pendekatan ini cenderung lebih berfokus pada alam bawah sadar, motif mengapa orang mempunyai keyakinan yang irasional. Teori oleh Karl Marx, Sigmund Freud, Emile Durkheim, teori oleh Stark dan Bainbridge adalah contoh dari teori-teori fungsional.16 Pendekatan ini cenderung statis, dengan pengecualian teori Marx, dan tidak seperti misalnya pendekatan Weber yang memperlakukan interaksi dan proses dinamis antara agama dan seluruh masyarakat.17

b. Teori Pilihan dan Tindakan Rasional

3. 0aneko, "truktur &an Proses "osial, "uatu Pengantar "osiologi Pembangunan 51akarta: &a4a ;ra9indi Persada, 12237, 12+-12#. 13$4amari, Agama dalam Perspekti/ "osiologi 53andung: )l'abeta, 12237, 105. 1,&oland &obertson, Agama dalam Analisa dan Interpretasi sosiologi 51akarta: &a4a ;ra9indo Persada, 12257, 55. 15Piter 3erger, )he "acred *anopy: .lements o/ a "ociological )heory o/ 'eligion 5-e 8ork: )nchor 3ooks, 12"27, 2,. 1"Piter 3lau, .0change and Power in "osial (i/e 5-e 8ork: 1ohn <ile! and -e 8ork: Sons, 12",7, 25 1+.ohammad Sobar!, Kesalehan dan )ingkah (aku .konomi 58og!akarta: 3entang 3uda!a, 12227, 15.

12Soleman,

5

Teori Pilihan rasional adalah sebuah pendekatan yang digunakan oleh para ilmuwan sosial untuk memahami perilaku manusia. Pendekatan yang telah lama menjadi paradigma yang dominan dalam ilmu ekonomi, tetapi dalam beberapa dekade terakhir telah menjadi lebih banyak digunakan dalam disiplin lain seperti Sosiologi, Ilmu Politik, dan Antropologi.18 Teori Pilihan Rasional umumnya dimulai dengan pertimbangan pilihan perilaku salah satu atau lebih individu unit pengambilan keputusan, yang dalam ilmu ekonomi dasar, yang paling sering dilakukan oleh konsumen dan atau perusahaan. Setelah perilaku individu didapatkan, biasanya bergerak pada analisis untuk memeriksa bagaimana pilihanpilihan individu berinteraksi untuk menghasilkan hasil. Menurut teori ini prilaku sosial dapat dijelaskan dalam istilah “perhitungan” rasional yang dilakukan individu dalam berbagai pilihan yang tersedia bagi mereka.19 Secara filosofis, rasionalisme menegaskan bahwa tindakan manusia pada tingkat tertentu harus rasional, dan rasionalisme ini mengharuskan para ilmuwan sosial untuk memahami rasionalitas ini, bahkan pada prilaku yang nampak irrasional. Alasan-alasan tindakan rasional bersifat penjelasan secara rasional, pastilah merupakan alasan yang masuk akal, setidaknya sama seperti yang dibayangkan pelakunya. Bahkan segala usaha untuk memahami suatu tindakan, haruslah mencakup usaha bagaimana tindakan tersebut secara rasional dari sudut keyakinan perilakunya.20 Sementara itu menurut Weber, setiap tindakan menurutnya bisa bersifat: pertama, rasional-bertujuan (zweckrational), kedua, rasional-nilai (wertrational), dan ketiga, bersifat afektif-emosional atau berupa perilaku kebiasaan sebagai ekspresi dari adat istiadat yang telah tertata. Dalam

)ngger, )eori "osial Kritis, kritik, penerapan dan implikasinya. 0er4. -urhadi 58og!akarta: *=P., 20037, 31,-315. 12 %bid., 315. 203rian >a!, Filsa/at Ilmu "osial Kontemporer. 0er4, .. .uhith 58og!akarta: 1endela, 20027, 131-13".

1#3en

6

kaitan dengan legitimasi. Weber, membagi legitimasi atas tiga bentuk, Pertama; legitimasi tradisional, yaitu; berasal dari tradisi kepercayaan, adat-istiadat yang berlaku dalam masyarakat. Kedua; legitimasi

karismatik, berasal dari individu yang diakui oleh masyarakat memiliki ciri-ciri khusus yang luar biasa. Ketiga; rasional legal berasal dari peraturan normatif secara rasional.21 Rasionalitas yang berorientasi nilai menurut Weber sifat rasional jenis ini adalah bahwa alat-alat yang ada hanya merupakan pertimbangan dan perhitungan sadar, sementara tujuan-tujuan sudah ada di dalam hubungannya dengan nilai-nilai individual yang bersifat absolute. Artinya nilai itu merupakan nilai akhir bagi individu yang bersangkutan dan bersifat nonrasional, sehingga tidak memperhitungkan alternative atau pilihan. Weber mencontohkan prilaku ibadah sebagai tindakan nonrasional karena mengenyampingkan alternative.22 Sementara itu, Teori pilihan rasional Coleman didasarkan pada statement bahwa tindakan perseorangan mengarah pada suatu tujuan dan tujuan itu ditentukan oleh nilai dan pilihan. Ia berusaha untuk mengatasi masalah ini dengan melihat munculnya kepercayaan dalam interaksi sosial sebagai tanggapan rasional untuk usaha-usaha untuk membangun koalisi, tetapi karya terbaru Cook dan Emerson telah mengakui bahwa adanya kepercayaan tidak dapat terlihat dalam istilah-istilah rasional murni. Mereka menunjukkan bahwa kepercayaan dan norma-norma keadilan individu digunakan dalam tindakan mereka memiliki kekuatan moral yang bertentangan dengan pertimbangan rasional murni. Rasa kewajiban adalah nyata dan dapat dirasakan sangat kuat.23

.agnis Suseno, .tika politik Prinsip$prinsip moral dasar kenearaan modern, 51akarta@ ;ramedia Pustaka /tama,12#+7, 53. 221. $ i -ar oko dan 3agong Su!anto, "osiologi, teks pengantar dan terapan 51akarta: =encana, 200,7, 12. 23 ;eorge &it?er dan $ouglas 1. ;oodman, )eori "osial ,odern, ter4. )limandan 51akarta: Prenada .edia, 20057, 32,.

21>ran?

7

C.

Tinjauan Sosiologi Hukum Islam terhadap Pembatalan Perkawinan Asmirandah dan Jonas Rivano Secara sosiologis, keberagamaan merupakan fenomena sosial yang nyata dan dapat dijelaskan dengan teori-teori sosial. Adanya hasrat memikirkan dunia dan tuhan mendorong manusia beriman dan berbuat baik pada sesamanya.24 Durheim menyatakan bahwa masyarakat adalah obyek nyata dari penghormatan terhadap agama. Pandangan ini berkenaan dengan sistem simbol agama suatu masyarakat dan pola-pola yang dimuati sanksi oleh sistem moral yang umum berlaku diantara anggota komunitas.25 Pernyataan Vanno bahwa dirinya belum menjadi seorang muslim dan hanya mengaku Islam untuk dapat menikah dengan Andah merupakan sebuah fenomena sosial. Merubah sebuah keyakinan yang telah lama dipegangi, bahkan sejak lahir bukanlah perkara gampang. Apalagi kepindahan seseorang yang tidak didasari atas kesadaran tetapi tuntutan untuk memperoleh sesuatu. Namun tindakan seseorang merupakan sebuah pilihan yang menurutnya rasional dalam hidupnya. Akan tetapi jika dilihat dari kacamata hukum Islam walaupun itu sebuah pilihan dalam hidup, memang tidak ada paksaan dalam beragama, namun jika seseorang telah memilih Islam sebagai agamanya, maka ada ikatan dan kewajiban yang harus ia lakukan dan taati dengan sepenuhnya, dan salah satunya adalah persoalan pelarangan pindah kepada agama lain (murtad) dan akibat hukumnya.26 Kemurtadan salah satu suami atau isteri mempunyai pengaruh yang besar terhadap kehidupan seseorang, terutama dalam hubungannya dengan masyarakat seperti perkawinan, hak waris dan hak-hak lainnya. Jika seorang suami murtad atau keluar dari agama Islam dan tidak mau kembali sama sekali, maka akadnya batal (fasakh) karena kemurtadan yang terjadi belakangan.27

Idris Ramulyo, Tinjauan Beberapa Pasal Undang-Undang No.1 Tahun 1974, Dari Segi Hukum Perkawinan Islam, ed. revisi, (Jakarta: Ind.Hill-Co, 1990), 34.
25
26

24

Roland Robertson, Agama dalam Analisa dan Interpretasi sosiologi, 55. Sulaiman rasyid, Fiqih Islam Cet 55. (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2012), 319. 27 Ibid, 73.

8

Dalam literature fiqh dijelaskan apabila seoarang dari suami atau istri murtad dari agama Islam, terdapat dua macam putusan yaitu: pertama, perkawinan mereka seketika berakkhir tanpa menunggu putusan hakim. Kedua, suami istri harus dipisahkan, namun putusnya perkawinan tersebut harus menunggu selesainya iddah. Apabila pihak yang murtad masuk Islam sebelum masa iddah selesai, maka keduanya tetap menjadi suami istri. Namun apabila sampai berakhirnya masa iddah ia tidak kembali masuk Islam, maka perkawinan pun putus.28 Hal ini juga dipertegas dalam kitab Fiqh al-Sunnah, bahwa apabila seorang suami atau istri yang telah murtad masuk Islam lagi, lalu ingin merujuk istrinya, maka harus ada akad baru dan mahar baru. Yang demikian itu karena perkawinan yang sebelumnya telah putus.29 Di dalam Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, terdapat mengenai larangan perkawinan yang mengakibatkan adanya pencegahan dan pembatalan perkawinan. Larangan perkawinan itu dijelaskan antara lain pada Pasal 8 butir f yaitu perkawinan dilarang antara dua orang yang mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku dilarang kawin.30 Artinya kemurtadan menjadikan rusaknya ikatan pernikahan (fasakh), oleh karena itu jika Vanno benar-benar terbukti murtad setelah pengakuan keIslamannya maka pernikahannya secara normativ telah batal walaupun dalam pandangan Vanno, perbuatan murtad mungkin sebagai salah hak asasi manusia. Mengingat bahwa dasar Negara Indonesia adalah pancasila yang melindungi tiap warga Negara untuk memilih agama sesuai dengan keyakinannya. Tidak terkecuali dalam keberagamaan, perilaku manusia itu bersifat rasional, karena tidak seorangpun berbuat sesuatu tanpa pikiran.31 Teori pilihan rasional Coleman didasarkan pada statement bahwa tindakan perseorangan

28

Wahbah Zuhaili, Fiqh al-Islam wa Adillatuhu, Vol VII (Damaskus: Dar al-Fikr, 1985),

621.
29 30

Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah (Kairo: al-fath li al-I;lam al-Arabi, tt), 292. Lihat Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 8 butif a hingga f. 31 J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, Sosiologi, teks pengantar dan terapan, 19.

9

mengarah pada suatu tujuan dan tujuan itu ditentukan oleh nilai dan pilihan.32 Sedangkan teori pilihan rasional berbeda secara mendalam dalam memberikan prioritas pada pikiran, logika ataupun hati, jika menjelaskan perilaku manusia. Secara filosofis, tindakan Vanno yang mengaku muallaf untuk menikah adalah sebuah pilihan yang rasional, bergitu juga keputusan mereka untuk melegalkan pernikahan dengan melangsungkan pernikahan di luar negeri. Karena rasionalisme menegaskan bahwa tindakan manusia pada tingkat tertentu adalah rasional, bahkan pada prilaku yang nampak irrasional. Alasanalasan tindakan rasional bersifat penjelasan secara rasional, pastilah merupakan alasan yang masuk akal, setidaknya sama seperti yang dibayangkan pelakunya.33 Artinya berbohong untuk mendapatkan sesuatu menjadi rasional bagi pelakunya meskipun salah secara normatif. Karena dalam islam pembatalan perkawinan berarti perceraian demi kemaslahatan kelangsungan keluarga walaupun hal itu sangat dibenci oleh Allah SWT dan tidak pernah diharapkan oleh siapapun. Akan tetapi dalam kasus ini, pasangan Andah dan Vanno secara normative sama sekali tidak memperhatikan esensi dari sebuah pernikahan yang merupakan ibadah untuk menyempurnakan separuh agama dalam agama islam. Namun jika merujuk pada apa yang dikemukakan Weber, bahwa tindakan rasional adalah instrumen yang ditujukan ke arah nilai yang bermanfaat dan berimplikasi pada kesesuaian antara tujuan dan cara.34 Tindakan Vanno tersebut merupakan tindakan keberagamaan yang tidak mencocoki antara tujuan dan cara. Tujuan yang mulia untuk membina rumah tangga bersama Andah dilalui dengan cara yang salah (mengaku muallaf: masuk islam), namun setelah menikah terbukti bahwa pernyataan muallaf tersebut hanya untuk melancarkan ritual pernikahan. Tindakan Andah dan

George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosial Modern, terj. Alimandan (Jakarta: Prenada Media, 2005), 394. 33 Brian Fay, Filsafat Ilmu Sosial Kontemporer. Terj, M. Muhith (Yogyakarta: Jendela, 2002), 131-136. 34 Jean Francois Dortier, “Max Weber Sosiolog Modernitas, “ dalam Sosiologi, Sejarah dan Berbagai Pemikirannya, terj. Ninik Rochani (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2004), 37.

32

10

Vanno tersebut kelihatan lebih bersifat emosional meskipun rasional menurut pelakunya. Tindakan Vanno ini termasuk pada rasionalitas yang berorientasi nilai, bahwa alat-alat yang ada hanya merupakan pertimbangan dan perhitungan sadar, sementara tujuan-tujuan sudah ada di dalam hubungannya dengan nilainilai individual yang bersifat absolute. Artinya tindakan vanno menjadi seorang muallaf untuk menikahi Andah merupakan nilai akhir bagi individu yang bersangkutan dan bersifat nonrasional, sehingga tidak memperhitungkan alternative atau pilihan yang pada akhirnya berujung pada pembatalan perkawinan.35 Alternative lain yang dapat dipilih misalnya menunda pernikahan sampai Vanno yakin akan keputusannya menjadi seorang muallaf ataukah tidak dengan mempelajari Islam secara mendalam. Dan sangat disayangkan alternative yang dipilih keduanya adalah melegalkan perkawinan mereka dari hukum di Indonesia dengan rencana melangsungkan perkawinan diluar negeri hanya karena alasan cinta. Kasus Andah dan Vanno di atas menunjukkan bahwa tindakan rasional seseorang sangat dipengaruhi oleh pilihan-pilihan yang ada. Rasionalitas seseorang dalam melakukan tindakan ditentukan oleh kesesuaiannya antara tujuan dan cara yang dilakukan. Oleh karena itu pernikahan sebagai tindakan keberagamaan yang merupakan konsekwensi dari keyakinan pemeluknya seharusnya dilakukan secara rasional dengan memperhatikan cara-cara yang benar secara normatif agar tujuan pelaku keberagamaan dapat dicapai, dan tujuan pernikahan dalam islam adalah terbinanya keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah sesuai dengan syari’at agama Islam. Rasional dalam tindakan keagamaan mestinya mengikuti logika dan rasional sebuah ajaran. Rasionalitas pernikahan adalah ketika logika agama ikut bermain didalamnya, sehingga cara dan tujuan menemukan pola yang serasi. Meskipun dalam teori tindakan rasional semua tindakan adalah rasional menurut pelakunya, namun secara sosiologis tindakan keagamaan yang mengabaikan ajaran normativnya terbukti menimbulkan ketegangan dan
35

J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, Sosiologi, teks pengantar dan terapan, 19.

11

konflik dalam masyarakat. Disinilah peranan sosiologi hukum yang perlu memberikan solusi bagi sebuah pernikahan bukan saja dengan pendekatan normative namun juga sosiologis. Keduanya tidak harus dikonvrontasikan secara tajam namun harus diberlakukan secara adil dan logis.

D. Penutup
Hikmah dari dibatalkannya pernikahan itu sendiri bisa dilihat dari tujuan utama dilangsungkan pernikahan, yaitu terjadi hubungan keluarga yang harmonis, damai, kekal dan abadi. Adapun motivasi dan tujuan seseorang dalam melaksanakan pernikahan itu beragam macam keragamannya. Hal tersebut tidak dilarang oleh islam. Asalkan saat melakukannya dengan cara yang benar. Seperti yang sudah dijelaskan dalam buku-buku fiqh. Contohnya perkawinan karena agama, harta, cinta dan juga rupa. Selain itu juga harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Secara normative, perakawinan berkaitan dengan kemurtadan suami atau istri, baik dalam hukum islam, KHI ataupun UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, kemurtadan menjadikan rusaknya ikatan pernikahan (fasakh). Walaupun tidak disebutkan secara eksplisit, tetapi secara implisit memberikan pemahaman bahwa murtadnya suami atau istri memabatalkan perkawinan. 2. Dalam konteks bahwa semua tindakan manusia pastilah difikirkan sebelum dilakukan, maka tindakan Vanno mengaku islam untuk bisa menikah merupakan tindakan yang rasional. Namun karena agama memiliki dua dimensi yaitu normativ dan sosiologis maka sebuah tindakan yang rasional dalam beragama akan mempertimbangkan keduanya. Tindakan yang memadukan antara tujuan dan cara seperti yang dikemukakan Weber lebih cocok untuk memahami prilaku Vanno di atas. Jika tujuan pernikahan adalah membina keluarga yang sakinnah mawaddah wa rahmah, maka cara yang ditempuh haruslah terpenuhi syarat dan rukunnya. Meskipun secara sosiologis tidak ada justifikasi atas tindakan seseorang, namun memadukan analisis normatif dan sosiologis menjadi sebuah keniscayaan dalam menbangun sosiologi hukum islam, dalam arti tindakan seseorang tidak saja didekati
12

secara normatif tetapi juga secara sosiologis dan begitu juga sebaliknya. Sehingga akan diperolah pemahaman yang komprehensif terhadap prilaku keberagamaan. Wallahu alam bi al shawab.

E. Saran
Secara akademis tulisan ini masih banyak kelemahan dan kekurangan, namun demikian ada beberapa catatan penulis yang bisa dikemukakan sebagai berikut: a. Perlunya penelitian yang lebih mendalam terkait dengan konsep memadukan sosiologi sebagai analisis sosial dan hukum sebagai justifikasi terhadap kasus-kasus sosial. b. Bagi pasangan calon suami istri yang beda agama hendaklah lebih memperhatikan norma hukum dan sosial ketika hendak melangsungkan pernikahan, sehingga tidak menimbulkan masalah pribadi dan sosial dikemudian hari. c. Melihat realitas pluralisme di Indonesia saat ini, maka perlu dibuat hukum positif yang bersifat antisipatif sebelum pernikahan dilangsungkan, misalnya mempertimbangkan penetapan rentan waktu menjadi muallaf sampai waktu menikah sehingga seseorang benar-benar belajar dan

mendalami islam dengan lebih baik, sehingga keputusan menikah atau membatalkannya dilakukan sebelum ijab qabul. Bila perlu ditulis dalam taklik talak yang memiliki konsekwensi hukum.

DAFTAR PUSTAKA A. Referensi Buku Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Jakarta: Akademia Pressindo, 2010. Abidin, Slamet dan Aminudin. fiqih Munakahat 2. Bandung: Pustaka setia, 1999.

13

Ali, Zainuddin. Hukum Perdata Islam Di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika, 2007. al-Qardhawy, Yusuf. Fiqh Prioritas; Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Quran Dan As-Sunnah, cet.3 Jakarta: Robbani Press, 2002. Al-rasyid, Chainur. Dasar-dasar Ilmu Hukum, Cet III. Jakarta: Sinar Grafika, 2004. Angger, Ben. Teori Sosial Kritis, kritik, penerapan dan implikasinya. Terj. Nurhadi. Yogyakarta: LKPM, 2003. Basyir, Ahmad Azhar. Hukum Perkawinan Islam. Yogyakarta: UII press, 2010. Berger, Piter. The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory of Religion. New York: Anchor Books, 1969. Blau, Piter. Exchange and Power in Sosial Life. New York: John Wiley and New York: Sons, 1964. Djamari, Agama dalam Perspektif Sosiologi. Bandung: Alvabeta, 1993. Fay, Brian. Filsafat Ilmu Sosial Kontemporer. Terj, M. Muhith. Yogyakarta: Jendela, 2002. Jean Francois Dortier, “Max Weber Sosiolog Modernitas, “ dalam Sosiologi, Sejarah dan Berbagai Pemikirannya, terj. Ninik Rochani. Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2004. Kompilasi Hukum Islam (KHI), Pasal. 44. Martiman P, Hukum Perkawinan Indonesia. Jakarta: Center Publishing, 2002. Narwoko J. Dwi dan Suyanto, Bagong. Sosiologi, teks pengantar dan terapan. Jakarta: Kencana, 2004. Peraturan Pemerintah Tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan, pasal 1. Prodjohamidjojo,Martiman. Hukum Perkawinan Indonesia Jakarta: Indonesia Legal Centre Publising, 2002. Ramulyo, Idris. Tinjauan Beberapa Pasal Undang-Undang No.1 Tahun 1974, Dari Segi Hukum Perkawinan Islam, ed. Revisi. Jakarta: Ind.Hill-Co, 1990. Rasyid, Sulaiman. Fiqih Islam Cet 55. Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2012.

14

Ritzer George dan Goodman, Douglas J. Teori Sosial Modern, terj. Alimandan. Jakarta: Prenada Media, 2005. Robertson, Roland. Agama dalam Analisa dan Interpretasi sosiologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995. Sabiq, Sayyid. Fiqh al-Sunnah, Kairo: al-fath li al-I;lam al-Arabi, tt. Sobary, Mohammad. Kesalehan dan Tingkah Laku Ekonomi. Yogyakarta: Bentang Budaya, 1999. Sudirman, Basofi. Eksistensi Manusia dan Agama. Jakarta: Yayasan an Nash, 1995. Suseno, Franz Magnis. Etika politik Prinsip-prinsip moral dasar kenearaan modern. Jakarta; Gramedia Pustaka Utama,1987. Syahrani, Riduan. Seluk Beluk dan Asas-Asas Hukum Perdata. Bandung: Alumni, 2000. Taneko, Soleman, B. Struktur Dan Proses Sosial, Suatu Pengantar Sosiologi Pembangunan. Jakarta: Raja Grafindi Persada, 1993. Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 8 butif a hingga f Zuhaili, Wahbah. Fiqh al-Islam wa Adillatuhu, Vol VII Damaskus: Dar al-Fikr, 1985.

B. Referensi Internet Gunawan, Ruang Lingkup Sosiologi Hukum Dan Kontribusinya Terhadap Perkembangan Ilmu Hukum: Contoh Permasalahan Hukum Yang Membutuhkan Penjelasan Dari Sosiologi Hukum. Dalam. http://advokatgunawanrekan.blogspot.com/2009/02/ruang-lingkupsosiologi-hukum-dan.html, di akses pada 30 Nov 2013. http://hot.detik.com/read/2013/11/28/073027/2425866/230/3/rivano-tak-halangiasmirandah-batalkan-pernikahan-luna-maya-punya-pacar-baru, diakses pada tanggal 30 Nov 2013. http://www.tempo.co/read/news/2013/11/27/219532768/Batalkan-PernikahanApa-Status-Asmirandah, diakses pada tanggal 30 Nov 2013.

15

Paguci,

Sutomo. Kasus Asmirandah: Pembatalan Perkawinan, Apa BedanyadenganPerceraian?http://hukum.kompasiana.com/2013/11/2 5/kasus-asmirandah-pembatalan-perkawinan-apa-bedanya-denganperceraian-613038.html, diakses pada tanggal 8 Des 2013.

Tribun Netwrok, Kasus Pembatalan Pernikahan Asmirandah baru Pertama di Depok , lihat.http://wartakota.tribunnews.com/2013/11/27/kasuspembatalan-pernikahan-asmirandah-baru-pertama-di-depok, diakses pada tanggal 30 Nov 2013

16

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful