P. 1
Kenapa petani miskin_

Kenapa petani miskin_

|Views: 26|Likes:
Published by Angga Andara
petani
petani

More info:

Published by: Angga Andara on Dec 21, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/04/2014

pdf

text

original

1

!"#"$%&'"(%%) !"+,%(-% ."'%)/
0")-%.% #,+/' 1/2,$,1!%) 3

Oleh . Euis $unarti dan Ali Khomsan

%4 .56789: 058;7<7 '5=<>=>? 3

Ada pameo yan¸ men¸atakan. ”!"#"$ &'(&' )&*$+ ,-',."/ 0"*&#") +-,"'&1 !"#"$ &'(&' *&)2./",& 0"*&#") +-("3"&
'-(-.&1 *"' !"#"$ &'(&' !"4" 0"*&#") +-*"("'g” Nampaknya kini pomeo tersebut sudah tidak sepenuhnya
berlaku. Kehidupan petani jauh dari kesan tentram dan sejahtera. Bahkan menurut $astraatmadja (2006)
petani hidup dalam suasana ketertin¸¸alan den¸an kondisi kehidupan yan¸ men¸enaskan. Kita yan¸ selalu
ban¸¸a men¸klaim diri seba¸ai ban¸sa a¸raris dan atau ne¸ara maritim, ternyata setelah sekian lama
memban¸un, masih belum meraih kemakmuran dari kedua bidan¸ tersebut. Impor beras dan produk·
produk pertanian lainnya masih saja terjadi.

Kesan kuat yan¸ muncul sekaran¸ ini adalah bahwa petani merupakan protesi interior, dan sektor
pertanian identik den¸an sektor marjinal. Kesan tersebut tidak sepenuhnya salah karena data secara umum
menunjukkan hal tersebut. Padahal pada tahun 1970·an antara kesejahteraan petani den¸an kesejahteraan
tena¸a kerja industri tidak be¸itu jauh berbeda. Namun kini, keadaan tidak la¸i berpihak pada petani.
Industri melaju jauh lebih cepat dibandin¸kan sektor pertanian. $erapan tena¸a kerja pertanian meman¸
bertambah, namun kalau sektor pertanian lebih banyak dijejali den¸an petani ¸urem maka sektor pertanian
akan menjadi penyumban¸ kemiskinan yan¸ si¸nitikan. Dalam periode 10 tahun antara 1993·2003 jumlah
petani ¸urem yan¸ semula 10,8 juta telah bertambah menjadi 13,7 juta oran¸. Oleh karenanya
kesejahteraan petani hin¸¸a kini masih merupakan mimpi. Pada tahun 2002 dari total penduduk miskin di
Indonesia, lebih dari separonya adalah petani yan¸ tin¸¸al di pedesaan. ]umlah rumahtan¸¸a pertanian
pada tahun 2003 adalah 2+,3 juta, sekitar 82,7% di antaranya termasuk kate¸ori miskin. Demikian ju¸a
data persentase penduduk miskin usia 15 tahun keatas menurut provinsi´kabupaten´kota dan sektor
bekerja pada tahun 2003 (BP$, 200+) menunjukkan prosentase terbesar penduduk miskin hampir di
seluruh kabupaten´provinsi adalah bekerja di sektor pertanian.

$ektor pertanian terus saja terpuruk, sehin¸¸a nasib petani tak kunjun¸ sejahtera. Pendapatan keluar¸a
petani disinyalir hanya Rp 500 ribu per bulan sehin¸¸a kemiskinan petani menjadi masalah kronis yan¸
sulit terpecahkan. Ketua HKTI pernah men¸kritisi kebijakan pertanian yan¸ belum konsisten antar
instansi. Contohnya adalah penetapan har¸a dasar ¸abah. Kebijakan Deptan untuk menetapkan har¸a
dasar ¸abah adalah untuk mensejahterakan petani, namun di tempat lain Deperinda¸ membuka kran
impor beras sehin¸¸a petani tak bisa menikmati har¸a dasar yan¸ telah ditetapkan pemerintah. $ementara
Bulo¸ belum berperan seba¸aimana yan¸ diharapkan seba¸ai penyan¸¸a har¸a ¸abah dan men¸amankan
har¸a beras. $elain itu nasib petani semakin tidak menentu karena bencana alam seperti banjir atau
kekerin¸an yan¸ menyebabkan hancurnya persawahan Tampaknya nasib petani Indonesia belum secerah
yan¸ diharapkan, mereka harus rela hidup prihatin entah sampai kapan.

Besarnya an¸ka kemiskinan di sektor pertanian, mun¸kin ju¸a berkaitan den¸an kemampuan pertanian
seba¸ai butter pen¸an¸¸uran. Di masyarakat, mata pencaharian seba¸ai petani kadan¸ di¸unakan seba¸ai
perlindun¸an dari status pen¸an¸¸uran. Daripada disebut n¸an¸¸ur, ya mendin¸an bekerja di pertanian,
walau den¸an ala kadarnya dan den¸an curahan waktu dan kapasitas yan¸ san¸at minimal. Hal tersebut
2

turut menjelaskan laporan dalam 52.#* 6-7-#2+/-', 8-+2., 9::;, dimana penduduk desa yan¸ tin¸¸al di
area “fragile” (dan umumnya bermata pencaharian petani), menin¸kat dua kali lipat dalam 50 tahun ini.

Telah banyak dilakukan penelitian dan kajian taktor·taktor yan¸ mempen¸aruhi keterpurukan petani. $alah
satu diantaranya adalah kesulitan pembiayaan usahatani dan kebutuhan dana <"=) untuk keperluan hidup
selama masa menun¸¸u penjualan hasil panen, menyebabkan banyak petani terjebak sistem ijon dan atau
hutan¸ kepada para ten¸kulak yan¸ mematok har¸a pertanian den¸an har¸a rendah, dimana para petani
sudah tidak memiliki >".("&'&'( +2=&,&2' la¸i. Demikian halnya den¸an rendahnya produktivitas petani kecil
seba¸ai konsekuensi bera¸am masalah seperti keterbatasan sumber daya manusia petani, penyusutan luas
lahan produksi, tidak memadainya sarana produksi dan prasarana yan¸ dibutuhkan usaha tani yan¸ etisien,
dan berba¸ai masalah lainnya. Merujuk World Development Report 2003, penduduk desa miskin yan¸
umumnya petani berhadapan den¸an beberapa tantan¸an yan¸ mempen¸aruhi potensi pemban¸unan´
perkemban¸annya yaitu . 1) terbatas bahkan rusaknya sumberdaya alam, 2) terbatasnya kebijakan dalam
pengembangan teknologi produksi dan proses “secondary crops”, 3) jeleknya intrastruktur (transportasi,
komunikasi, ener¸i) dan tidak memadainya perhatian dari institusi pemban¸unan (pendidikan, kesehatan,
investasi), +) marjinalnya $ocial budaya (kekuasaan, suara, hak tanah, tenure) dan terbatasnya kesempatan
ekonomi lokal (pertanian, ott·tarm, kesempatran kerja di kota). Demikian banyak permasalahan yan¸
dihadapi petani kecil dan miskin, menyebabkan kedaulatan petani semakin jauh dan sepertinya masih
sekedar wacana dan an¸an·an¸an.

@4 .56789 #5A7B65=7 : .58C9D<78;78 .EF969G 3

Dibalik kuatnya kesan keterpurukan kehidupan petani, dalam kenyataannya di lapan¸ terdapat sekelompok
petani yan¸ maju dan hidupnya sejahtera. Namun karena jumlahnya yan¸ relatit sedikit, kera¸aan
sekelompok petani maju tersebut seakan·akan seperti sebuah penyimpan¸an yan¸ positit (meminjam istilah
yan¸ berkemban¸ dalam penelitian pertumbuhan dan perkemban¸an psikososial anak ”positive deviance”).
Bayan¸an yan¸ se¸era muncul dalam men¸asosiasikan petani sukses adalah kepemilikan lahan yan¸ luas.
Padahal tidak semuanya demikian. Petani ikan hias atau petani tanaman hias terkadan¸ memiliki lahan
yan¸ relatit sempit atau tidak jauh berbeda den¸an petani tanaman pan¸an pada umumnya, namun bisa
memberikan keuntun¸an yan¸ jauh lebih besar. Ba¸i petani maju, kepemilikan lahan yan¸ luas bisa
disebabkan baik karena kemampuannya mempertahankan asset yan¸ sudah dimiliki dan diturunkan
keluar¸a besar (warisan) sebelumnya, dan atau kemampuan men¸emban¸kan dan menambah luasan
kepemilikan lahan seba¸ai konsekuensi keberhasilan usahataninya. Kedua penyebab tersebut sama·sama
berkaitan den¸an kemampuan manajerial usaha pertanian seba¸aimana pen¸elolaan bisnis·bisnis lainnya.

Pada umumnya petani maju memiliki visi yan¸ lebih baik berkaitan den¸an usahataninya, bahwa
menjalankan usaha pertanian bukan hanya ke¸iatan usaha rutin yan¸ harus dijalani, melainkan seba¸ai
pilihan hidup yan¸ membutuhkan kreativitas dan prasyarat bisnis lainnya. Para petani maju adalah mereka
yan¸ berani menan¸¸un¸ resiko dan mampu keluar dari situasi yan¸ membelen¸¸u dinamika dan kreativitas
usaha. Mereka menjalankan usaha tani seba¸aimana bisnis lainnya den¸an prinsip·prinsip bisnis, dan
bukan semata menjalankan usahatani seba¸ai ke¸iatan budaya terkait den¸an ke¸iatan turun temurun yan¸
telah dilakukan nenek moyan¸nya. Pen¸amatan secara acak menunjukkan bahwa petani maju dan sukses
kebanyakan yan¸ ber¸erak dalam usaha pertanian yan¸ memiliki kekhasan seperti tanaman hias, ikan hias,
komoditas perkebunan seperti karet, kopi, lada, atau petani yan¸ men¸elola lahannya den¸an bera¸am
komoditas yan¸ memiliki nilai jual yan¸ baik. Hal tersebut berbeda den¸an para petani tanaman pan¸an
yan¸ menunjukkan keterampilan pen¸elolaan usahatani yan¸ san¸at bera¸am. Karena besarnya prosentase
petani Indonesia yan¸ men¸usahakan pertanian tanaman pan¸an, maka jumlah petani miskin banyak yan¸
ber¸erak di sektor ini.
3


Pertanian adalah ke¸iatan usaha yan¸ sama saja den¸an usaha lainnya, di dalamnya bekerja kaidah·kaidah
bisnis seperti pen¸ambilan keputusan, pen¸elolaan sumberdaya, tuntutan untuk menciptakan nilai
tambah, ke·uniq·an produk, kepioniran, ju¸a dinamis. ]ika kaidah tersebut dijalankan maka pertanian
dapat mensejahterakan petaninya. Beberapa contoh aplikasi kaidah bisnis tersebut antara lain adalah .

· Menuntut daya inovasi, kepioniran, ju¸a keunikan. Hal tersebut ditunjukkan oleh kisah sekelompok
pemuda yan¸ pertama kali memperkenalkan buah Melon di Indonesia tahun 1980·an. ]u¸a kisah
petani yan¸ pertama men¸introduksi kultivar baru tanaman hias A¸lonema di tahun 2000·an. Daya
inovasi dan kepionirannya berbuah kesejahteraan ba¸i yan¸ bersan¸kutan.
· Berlaku kaidah etisiensi, produktivitas dan nilai tambah. $ama den¸an bisnis lainnya, pertanian adalah
ke¸iatan pen¸elolaan sumberdaya untuk memperoleh nilai tambah. Keberhasilan optimal akan
diperoleh jika pen¸elolaan dilakukan den¸an etisien, produktivitas yan¸ tin¸¸i dan nilai tambah yan¸
tin¸¸i pula.
· Menuntut kemampuan leadership dan manajerial. Pertanian dalam skala yan¸ palin¸ kecil sekalipun
tidak dapat dikerjakan sendiri, tetapi harus dikerjakan oleh lebih dari satu oran¸, sehin¸¸a mebutuhkan
kemampuan leadership dan mana¸erial si petaninya. Pada skala yan¸ lebih besar kemampuan tersebut
akan lebih menonjol dan menjadi salah satu taktor kunci keberhasilan. Leaderhip dibutuhkan dalam
men¸elola para pekerja yan¸ di¸unakan. Manajerial dibutuhkan untuk men¸elola semua sumberdaya
yan¸ dikerahkan mulai dari mana¸emen personalia, keuan¸an, pemasaran, produksi, persediaan dan
seba¸ainya.
· Butuh intormasi akurat dan teknolo¸i. Ba¸i petani ´pelaku bisnis pertanian, disampin¸ kemampuan
pen¸uasaan teknolo¸i budidaya, pasca panen dan pen¸olahan, ju¸a dituntut pen¸uasaan atas intormasi
yan¸ akurat. Ba¸i komoditas hortikultura (sayuran) yan¸ perubahan har¸anya harian, intormasi har¸a
san¸at pentin¸ ba¸i penentuan waktu panen dan tanam.

Oleh karena itu, salah satu masalah sekali¸us tantan¸an pemban¸unan pertanian selama ini adalah
ba¸aimana menin¸katkan keterampilan petani a¸ar men¸implementasikan kaidah bisnis dalam
usahataninya. Penin¸katan keterampilan usahatani petani dapat dilakukan baik melalui penyuluhan
pertanian maupun melalui penin¸katan keterpaparan petani terhadap intormasi pemban¸unan pertanian.
Den¸an demikian petani dapat men¸ambil keputusan pentin¸ terkait komoditas pertanian yan¸ layak
diusahakan, karena diprediksi akan memberi keuntun¸an yan¸ besar serta resiko yan¸ terkontrol.

H4 (>78; +98;?>< I78 19D58F9 !5F5A7B65=778 !5J>7=;7 .56789

Kesejahteraan keluar¸a petani merupakan tujuan pemban¸unan pertanian dan pemban¸unan nasional.
Merupakan perjuan¸an setiap keluar¸a untuk mencapai kesejahteraan an¸¸ota keluar¸anya. $ecara
sederhana keluar¸a petani dikatakan sejahtera manakala dapat memenuhi kebutuhan dasar an¸¸otanya.
Namun jika merujuk LL No 10 Tahun 1992 (LL tentan¸ Perkemban¸an Kependudukan dan
Pemban¸unan Keluar¸a $ejahtera), keluar¸a sejahtera dimaknai secara luas yaitu. ” !-#$".(" 4"'( *&>-',$!
>-.*"=".!"' ","= +-.!"3&'"' 4"'( =")1 /"/+$ /-/-'$)& !->$,$)"' )&*$+ =+&.&,$"#1 *"' /",-.&&# 4"'( #"4"!1
>-.,"?3" !-+"*" @$)"' A"'( B")" C="1 /-/&#&!& )$>$'("' 4"'( =-."=&1 =-#"."=1 *"' =-&/>"'( "',". "'((2," *"'
"',"." !-#$".(" *-'("' /"=4"."!", *"' #&'(!$'("'” Men¸in¸at luas dan lebarnya rentan¸ kualitas kebutuhan
dasar individu dan keluar¸a, maka dalam detinisi operasionalnya, kesejahteraan serin¸kali direduksi
menjadi sebatas terpenuhinya kebutuhan tisik dasar minimal seperti sandan¸, pan¸an, papan, kesehatan
dan pendidikan. Pen¸ukurannyapun serin¸kali hanya dilakukan secara objektit, padahal kesejahteraan
menyan¸kut aspek persepsi individu atau keluar¸a terhadap kondisi pemenuhan kebutuhan pokoknya.
Oleh karenanya sekaran¸ dikemban¸kan pen¸ukuran kesejahteaan keluar¸a den¸an men¸¸unakan dua
dimensi, objektit dan subjektit. Hal tersebut didukun¸ takta di lapan¸ bahwa antara kesejahteraan objektit
4

dan subjektit serin¸kali tidak searah. Individu atau keluar¸a yan¸ menurut pen¸ukuran objektit telah
sejahtera belum tentu secara subjektit telah merasa demikian, dan sebaliknya.

Kesejahteraan keluar¸a petani merupakan output dari proses pen¸elolaan sumberdaya keluar¸a dan
penan¸¸ulan¸an masalah yan¸ dihadapi keluar¸a petani. Proses tersebut teran¸kum secara terpadu seba¸ai
ketahanan keluarga, yang menurut UU No 10 Tahun 1992 didefinisikan sebagai : ”Kondisi dinamik suatu
keluar¸a yan¸ memiliki keuletan dan ketan¸¸uhan serta men¸andun¸ kemampuan tisik material dan psikis
mental spiritual ¸una hidup mandiri dan men¸emban¸kan diri dan keluar¸anya untuk hidup harmonis dan
menin¸katkan kesejahteraan lahir dan bathin”. Kesejahteraan terkait den¸an kebertun¸sian keluar¸a.
Merujuk teori Parson, keluar¸a seba¸ai sistem akan bertun¸si dan berkelanjutan manakala menjalankan
tun¸si "*"+,"=& (perolehan sumberdaya dari luar keluar¸a untuk pemenuhan kebutuhan keluar¸a), tun¸si
dalam penentuan tujuan (¸oal attainment), tun¸si &',-(."=& (pemeliharaan ikatan dan solidaritas dan
melibatkan elemen tersebut untuk men¸ontorl dan memelihara sistem serta mence¸ah ¸an¸¸uan utama
dalam sistem keluar¸a) men¸alokasikan sumberdaya, dan tun¸si #",-'<4 (proses dimana ener¸i disimpan di
didistribusikan dalam sistem keluar¸a). Manakala keempat tun¸si tersebut tidak berjalan dalam keluar¸a
petani, maka kesejahteraan keluar¸a sulit untuk dicapai.

Kesejahteraan keluar¸a berhubun¸an den¸an kebertun¸sian keluar¸a. Keluar¸a yan¸ bisa menjalankan
bera¸am tun¸si yan¸ diembannya, terutama tun¸si ekonomi maka memiliki peluan¸ yan¸ besar untuk
sejahtera, dan ju¸a menjalankan tun¸si keluar¸a lainnya seperti tun¸si perlindun¸an dan pendidikan anak.
Men¸acu Deacon e Firebouu¸h (1988) palin¸ tidak terdapat dua tun¸si keluar¸a yaitu tun¸si instrumental
dan tun¸si ekspresit. Fun¸si instrumental berkaitan den¸an tun¸si memperoleh sumberdaya eksternal
seperti pendapatan dan akses ekonomi lainnya serta dukun¸an dari luar. Kebertun¸sian instrumental
berkaitan den¸an kebertun¸sian ekspresit yaitu pemenuhan kebutuhan pendidikan anak, kesehatan,
interaksi dalam keluar¸a, ju¸a pen¸asuhan anak. Hasil penelitian menunjukkan kesulitan dan tekanan
ekonomi keluar¸a mempen¸aruhi interaksi suami istri seperti timbulnya kekecewaan bahkan kebencian
antar pasan¸an yan¸ pada akhirnya berdampak terhadap buruknya pen¸asuhan anak ()".=) +".-',&'( dan
-D+#2=&7- *&=<&+#&'-). Kesulitan dan tekanan ekonomi yan¸ dialami keluar¸a petani miskin menyebabkan
terbatasnya pilihan hidup. $eluruh tokus perhatian keluar¸a adalah ba¸aimana untuk bisa survive. Bahan
komunikasi dan interaksi antar an¸¸ota keluar¸a menjadi terbatas, sehin¸¸a terkadan¸ hidup menjadi terasa
sepi.

Pen¸ukuran kesejahteraan keluar¸a meliputi indikator kuantitatit dan kualitatit. Aspek kualitatit
kesejahteraan bisa dicerminkan oleh seran¸kaian indikator sosial psikolo¸is seperti ketrentraman, kepuasan,
kebaha¸iaan, kebebasan (termasuk kebebasan dari rasa takut, cemas, resah, ¸elisah), harapan, dan kepastian.
Pada dasarnya indikator tersebut terkait satu sama lainnya, seperti rasa tentram dan aman terkait den¸an
aspek kepastian yan¸ di dalamnya ju¸a terdapat aspek harapan. Walaupun tidak ada yan¸ bisa menjamin
kepastian di dunia ini, namun derajat kepastian dalam memperoleh pendapatan untuk pen¸hidupan,
berbeda antara berba¸ai sektor pekerjaan. Menjadi petani berhadapan den¸an resiko usaha yan¸
diakibatkan berba¸ai taktor, diantaranya taktor alam yan¸ serin¸ kali tidak dapat diprediksi. Beban
pertanian menjadi semakin berat manakala petani tidak pernah tahu bahkan tidak pernah bisa
memprediksi berapa har¸a satuan hasil panen yan¸ akan diterima, karena terbatasnya akses dan intormasi
pasar. Den¸an banyaknya taktor yan¸ tidak dapat dikontrol dalam usaha pertanian, menyebabkan terlalu
besar unsur ketidakpastian dalam usaha tani, sehin¸¸a sulit untuk merasa aman untuk berusahatani.

Berkaitan den¸an ketidakpastian dan besarnya resiko usahatani, saya senantiasa terin¸at percakapan di
suatu sore yan¸ indah den¸an seoran¸ petani yan¸ dian¸¸ap maju di salah satu sentra produksi hortikultura
di Bandun¸ $elatan. Petani tersebut dengan menerawang dan nada pasrah, bergumam : ”ternyata bertani
5

itu tidak bedanya dengan berjudi”. Sebuah pemaknaan yang lahir dari akumulasi pengalaman pahit
dimana akhir dari perjuan¸an berusahatani selama berbulan·bulan yan¸ hasilnya ditun¸¸u·tun¸¸u den¸an
penuh harap dan doa, adalah sebuah ketidakpastian yan¸ serin¸kali berakhir men¸ecewakan. Tidak ada
yang bisa mengontrol dan memberi ”=-*&!&, ="0" !-+"=,&"'” harga saat panen apalagi panen raya. Bahkan
tidak jarang terjadi situasi yang ”mengenaskan” saat para petani den¸an tan¸annya sendiri men¸hancurkan
tanamannya yan¸ hendak dipanen, karena biaya pikul dan an¸kut lebih mahal dibandin¸kan har¸a
komoditas tersebut. Petani (terutama petani kecil) san¸at membutuhkan perlindun¸an, karena den¸an
situasi, kondisi dan bera¸am keterbatasannya, tidak mun¸kin dituntut untuk memperjuan¸kan
kedaulatannya sendiri.

14 !5F5A7B65=778 I78 !567B7878 .78;78

Kesejahteraan keluar¸a terkait den¸an pemenuhan salah satu kebutuhan pokok yaitu pan¸an, sehin¸¸a
kesejahteraan keluar¸a paralel den¸an ketahanan pan¸an keluar¸a. Konsep ketahanan pan¸an keluar¸a
(rumahtan¸¸a) men¸acu pada pen¸ertian adanya kemampuan keluar¸a dalam men¸akses pan¸an secara
cukup untuk mempertahankan kehidupan an¸¸otanya yan¸ aktit dan sehat. Dalam situasi krisis ekonomi
maka akses terhadap pan¸an akan terancam. Memaksimalkan pendapatan keluar¸a tidak selalu merupakan
jaminan akan terpenuhinya ketahanan pan¸an untuk semua an¸¸ota keluar¸a. Demikian pula halnya
den¸an tercapainya ketahanan pan¸an nasional, tidak berarti tiada masalah dalam katahanan pan¸an
keluar¸a. Distribusi pan¸an yan¸ tidak merata menjadi kendala untuk mewujudkan ketahanan pan¸an di
tin¸kat keluar¸a.

Tampaknya keluar¸a miskin pasti akan men¸alami ketidaktahanan pan¸an, tetapi mereka yan¸ rawan
pan¸an belum tentu hanya dari ¸olon¸an miskin. Hal tersebut terjadi karena batas kemiskinan di
Indonesia mun¸kin ditetapkan den¸an <$,E2FF +2&', terlalu rendah, sehin¸¸a rumahtan¸¸a miskin
sebenarnya sudah masuk kate¸ori san¸at san¸at miskin dan mereka yan¸ berada sedikit di atas ¸aris
kemiskinan sebenarnya sudah san¸at miskin. Fenomena tersebut menjelaskan )$'(-. +"."*2D yaitu konsep
yan¸ di¸unakan untuk menjelaskan suatu tenomena dimana telah mantapnya ketahanan pan¸an nasional
(yan¸ dicerminkan oleh ketersediaan kalori dan protein di atas an¸ka kebutuhan ¸izi), namun kelaparan
atau kekuran¸an ¸izi masih terjadi di mana·mana. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya mereka
yan¸ men¸alami rawan pan¸an bukan hanya ¸olon¸an miskin, tetapi ju¸a mereka yan¸ berada sedikit di atas
¸aris kemiskinan, seba¸aimana ditunjukkan oleh beberapa hasil penelitian.

Ketahanan pan¸an merupakan konsep yan¸ multidimensi yaitu meliputi mata rantai sistem pan¸an dan ¸izi
mulai dari produksi, distribusi, konsumsi, dan status ¸izi. $ecara rin¸kas ketahanan pan¸an sebenarnya
hanya menyan¸kut ti¸a hal pentin¸ yaitu ketersediaan, akses, dan konsumsi pan¸an. Aspek ketersediaan
pan¸an ter¸antun¸ pada sumberdaya alam, tisik, dan manusia. Pemilikan lahan yan¸ ditunjan¸ oleh iklim
yan¸ mendukun¸ dan disertai den¸an $DM yan¸ baik akan menjamin ketersediaan pan¸an yan¸ kontinyu.
$ementara itu akses pan¸an hanya dapat terjadi apabila rumahtan¸¸a mempunyai pen¸hasilan yan¸ cukup.
Dan konsumsi pan¸an akan san¸at menentukan apakah seluruh an¸¸ota keluar¸a nantinya bisa mencapai
derajat kesehatan yan¸ optimal.

Departemen Pertanian yan¸ kini memiliki Badan BIMA$ Ketahanan Pan¸an mempunyai tu¸as berat untuk
merealisasikan ketahanan pan¸an nasional, ketahanan pan¸an re¸ional, dan ketahanan pan¸an keluar¸a,
terutama keluar¸a petani miskin yan¸ sehari·hari bekerja berkaitan den¸an penyediaan pan¸an, namun
men¸alami rawan pan¸an. $eyo¸yanya Badan ini tidak hanya memtokuskan pada dua ketahanan pan¸an
yan¸ pertama (nasional dan re¸ional), tetapi ju¸a harus memperhatikan masalah·masalah dalam ketahanan
pan¸an keluar¸a. $ebab kalau tidak, )$'(-. +"."*2D pasti akan terjadi.
6


"4 HE<98; 05?789FD5 !5J>7=;7 .56789

Dalam men¸hadapi keterbatasan sumberdaya dan pendapatan, keluar¸a petani miskin melakukan copin¸
den¸an bera¸am strate¸i misalnya dual·earner, pola natkah ¸anda, mencari dukun¸an sosial, sampai
menurunkan kualitas hidup. Bekerja ba¸i istri petani merupakan keharusan, bahkan dalam kondisi
tertentu bukan hanya istri yan¸ ikut bekerja di pertanian, melainkan melibatkan sebanyak mun¸kin
an¸¸ota keluar¸a untuk bekerja. $elain itu copin¸ strate¸i yan¸ lainnya adalah den¸an pola natkah ¸anda
yaitu dalam waktu yan¸ sama bekerja di bidan¸ lain misalnya seba¸ai tukan¸, berjualan kecil·kecilan, dsb.

$urvival strate¸i merupakan ¸ambaran umum keluar¸a petani miskin, dan survival strate¸i yan¸ palin¸ berat
adalah den¸an melakukan strate¸i tutup luban¸ ¸ali loban¸. Kehidupan sehari·hari dikejar·kejar beban
ba¸aimana melunasi utan¸ den¸an membuat utan¸ baru. Berbaik·baik dan menitipkan diri kepada
pen¸utan¸ adalah strate¸i a¸ar tidak dita¸ih hutan¸ selama mun¸kin, walau tidak berani berharap untuk
dibebaskan hutangnya. Hidup selalu dalam kondisi ”berakit·rakit ke hulu terus”.... walau tetap berharap
dan berdoa agar akhirnya mendapat ”berenang·renang kemudian”

G+&.&, 2F =$.7&7"# merupakan pola umum keluar¸a petani untuk bertahan hidup den¸an men¸optimalkan apa
yan¸ dimiliki dan atau isa diakses di lin¸kun¸an serta mereduksi kualitas kebutuhan hidup. Kebutuhan
akan baju baru menjadi san¸at minimal, yaitu palin¸ satu tahun sekali hanya untuk ikut mmeriahkan hari
raya a¸ama, sedan¸kan baju sehari·hari cukup dengan menggunakan baju ”kebesaran” berkebun yang lusuh,
kotor dan penuh tambalan. Men¸kombinasikan pan¸an yan¸ ada untuk membuat menu baru biasa
dilakukan keluar¸a petani untuk menemukan nikmatnya makan. Asal ada sedikit sambal (terkadan¸ hanya
sambal ¸oan¸ dari ulekan cabe rawit dan ¸aram) makan nasi sudah terasa nikmat. Alih·alih membayan¸kan
ba¸aimana rasanya bera¸am snack kelas atas yan¸ men¸hiasi televisi, cukup den¸an menemukan kerupuk
kalen¸ yan¸ secara ber¸antian dimakan den¸an mentimun, itulah snack keban¸¸aan para petani saat
men¸aso di sawah.

Keberhasilan copin¸ mekanisme di keluar¸a tani terkait den¸an sumberdaya yan¸ dimiliki dan atau diakses
keluar¸a tani tersebut. $umberdaya kopin¸ adalah se¸ala sesuatu yan¸ dimiliki keluar¸a baik bersitat tisik
maupun non tisik untuk memban¸un perilaku kopin¸. $umberdaya kopin¸ bisa bersitat subjektit sehin¸¸a
perilaku kopin¸ bervariasi pada setiap oran¸. Menurut Friedman (1998), terdapat dua tipe strate¸i kopin¸
keluar¸a yaitu. &',." F"/&#&"# (contohnya men¸andalkan kemampuan diri sendiri, men¸¸unakan humor,
musyawarah, memahami suatu masalah, memecahkan masalah bersama, tleksibilitas peran, normalisasi)
dan -!=,."F"/&#&"# (contohnya mencari intormasi, menjalin hubun¸an aktit, mencari dukun¸an social,
mencari dukun¸an spiritual). $edan¸kan menurut Lazarus e Folkman (198+) secara umum strate¸i kopin¸
bisa dibedakan antara yan¸ bertocus pada masalah (bertikir keras dan melakukan usaha men¸ubah keadaan,
mencari dukun¸an dari pihak luar), dan bertokus pada emosi (menciptakan makna positit, menumbuhkan
kesadaran, men¸endalikan diri, menja¸a jarak a¸ar tidak terkun¸kun¸ dalam masalah, men¸hindarkan atau
melarikan diri dari masalah). $rate¸i kopin¸ bertokus emosi biasanya dilakukan manakala keadaan sulit
diubah, atau tidak memiliki daya dan tena¸a untuk men¸ubahnya.

$trate¸i <2+&'( keluar¸a petani miskin untuk memperoleh ketahanan pan¸an dilakukan sesuai tahapan
tekanan ekonomi yan¸ dihadapi. Pertama·tama mereka akan men¸uran¸i pan¸an sumber protein yan¸
har¸anya mahal, kemudian men¸uran¸i trekuensi makannya dan mencari bahan pan¸an konvensional yan¸
dalam situasi normal jaran¸ dimakan. $esuai teori Maslow, maka upaya memenuhi kebutuhan tisiolo¸is
(pan¸an) adalah yan¸ pertama kali harus dilakukan untuk mempertahankan hidup. $elanjutnya an¸¸ota
keluar¸a yan¸ selama ini tidak mencari natkah (anak·anak, oran¸ tua, dan kaum perempuan) mulai terjun
7

bekerja apa saja untuk mendapatkan upah tunai. Bila hal ini masih tidak memecahkan masalah, maka
mereka mulai menjual aset yan¸ dimilikinya, dan lan¸kah terakhir adalah seba¸ian an¸¸ota keluar¸a akan
melakukan mi¸rasi mencari natkah ke luar daerah. Mekanisme <2+&'( untuk men¸atasi rawan pan¸an
seperti ini tampaknya bersitat universal dan dapat terjadi di mana saja.

Dalam situasi krisis, perempuan akan men¸ambil peran yan¸ lebih besar untuk menjamin terpenuhinya
ketahanan pan¸an rumahtan¸¸a. Perempuan akan terlibat lan¸sun¸ dalam proses produksi dan
men¸ontrol pemantaatan sumberdaya sehin¸¸a ¸izi seluruh an¸¸ota keluar¸a terpenuhi. $ebuah laporan
yan¸ dikeluarkan oleh H2//2'3-"#,) G-<.-,".&", C'(-'*-.&'( I*0$=/-', &' ,)- J&'-,&-= menyebutkan bahwa
perempuan di seluruh dunia memainkan peran ¸anda yakni seba¸ai ibu, seba¸ai pen¸atur rumahtan¸¸a
untuk pemenuhan kebutuhan dasar keluar¸a (family’s basic need), seba¸ai produsen dan kontributor
pen¸hasilan keluar¸a, dan seba¸ai pen¸atur or¸anisasi kemasyarakatan yan¸ berdampak pada kesejahteraan
sosial. Inilah yan¸ dikenal seba¸ai Empat Peran Perempuan.

Banyak penelitian membuktikan bahwa perempuan, khususnya di ne¸ara sedan¸ berkemban¸, terlibat
dalam pekerjaan yan¸ san¸at ekstensit dari se¸i waktu. Mereka adalah ibu rumahtan¸¸a yan¸ sekali¸us ju¸a
pencari natkah untuk mendukun¸ ekonomi keluar¸a. Pekerjaan domestik seperti memelihara anak dan
men¸atur rumahtan¸¸a tidak bisa dilepaskan dari peran besar perempuan yan¸ melaksanakan tu¸as
tersebut tanpa pamrih. Di pedesaan perempuan secara aktit terlibat dalam ke¸iatan pertanian subsisten
(untuk mencukupi kebutuhan keluar¸a sendiri). Dalam sistem pertanian subsisten tersebut peran
perempuan tidak dihar¸ai dalam bentuk upah, tetapi jelas bahwa mereka telah melakukan aktivitas yan¸
mendukun¸ terwujudnya ketahanan pan¸an rumahtan¸¸a. $ementara itu kaum pria yan¸ lebih banyak
menekuni pertanian <"=) <.2+ akan memperoleh uan¸ tunai yan¸ diharapkan dapat di¸unakan untuk
menopan¸ kesejahteraan keluar¸a kalau tidak terjadi mis·alokasi pendapatan.

Kebijakan dari suatu pemerintahan yan¸ kuran¸ berorientasi pada kesejahteraan masyarakat akan
melahirkan =2<&"# <2=, "*0$=/-', yan¸ harus dipikul oleh kaum perempuan. Kebijakan·kebijakan tersebut
misalnya. pen¸uran¸an atau pen¸hilan¸an subsidi pan¸an, kebijakan yan¸ berdampak pada kenaikan har¸a
bahan·bahan pokok, peman¸kasan biaya pemban¸unan di sektor kesehatan dan pendidikan. Perempuan
dipaksa untuk melakukan <2+&'( /-<)"'&=/ den¸an men¸alokasikan waktu lebih banyak untuk
mendapatkan tambahan pen¸hasilan sehin¸¸a kebutuhan seluruh an¸¸ota keluar¸anya terpenuhi.

Konsep rantai pan¸an menjelaskan ba¸aimana sekuensi·sekuensi yan¸ terjadi sampai pan¸an berada di
tin¸kat rumahtan¸¸a dan menciptakan ketahanan pan¸an rumahtan¸¸a. Dalam konteks rantai pan¸an ini
perlu terlebih dahulu diperkenalkan istilah =-D =-?$-',&"# dan =-D =-(.-(",-*. Apakah di dalam siklus produksi
pan¸an tertentu terdapat peran yan¸ berbeda yan¸ harus dipikul oleh perempuan dan pria (=-D =-?$-',&"#KL
Atau apakah perempuan dan pria masin¸·masin¸ bertan¸¸un¸ jawab terhadap siklus produksi untuk
komoditi yan¸ berbeda (=-D =-(.-(",-*K. Pada umumnya jika perempuan memasuki peran yan¸ dulunya
hanya dilakukan oleh pria, maka .-3".*=·nya selalu lebih rendah. ]adi dapat dikatakan bahwa berba¸i peran
tidak mendatan¸kan masalah sama sekali ba¸i perempuan dan pria, tetapi berba¸i .-3".*= itu urusan nanti.

Di Ban¸ladesh =-D =-?$-',&"# dilakukan dalam proses produksi padi yaitu pria melakukan pekerjaan di sawah
atau ladan¸, perempuan bertu¸as dalam proses pascapanen, dan dilanjutkan la¸i den¸an peran pria dalam
pemasaran hasil. $ementara di Oambia =-D =-(.-(",-* dilakukan dalam bentuk pria bertan¸¸un¸ jawab
untuk proses produksi sor¸hum, sedan¸kan perempuan dalam produksi padi secara tradisional. Kasus di
Oambia ini secara jelas men¸¸ambarkan peran perempuan dalam mewujudkan ketahanan pan¸an
rumahtan¸¸a yakni seba¸ai produsen padi.

8

Men¸in¸at demikian besarnya peran perempuan dalam ketahanan pan¸an rumahtan¸¸a, maka kebijakan
yan¸ men¸arah pada pemberdayaan perempuan adalah san¸at pentin¸. Khusus di bidan¸ pertanian maka
pemberian kredit seperti KLT (Kredit Lsaha Tani) dan P+K (Penin¸katan Pendapatan Petani Kecil)
seyo¸yanya ju¸a memberi kesempatan kepada perempuan yan¸ mun¸kin selama ini hanya ber¸erak di pola
pertanian subsisten.

K4 @7;79D787 D5898;?76?78 ?5F5A7B65=778 ?5J>7=;7 <56789 3

Pemban¸unan pada umumnya bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat, dan pemban¸unan pertanian
bertujuan untuk mensejahterakan petani. Inti upaya mensejahterakan petani adalah membuat pertanian
dan petani maju. $ehin¸¸a paradi¸ma baru pertanian di Abad 21 adalah den¸an menetapkan keberdayaan
petani seba¸ai salah satu tokus pemban¸unan pertanian. $edan¸kan tocus pemban¸unan pertanian lainnya
adalah daya sain¸ produk, dan kelestarian lin¸kun¸an. Lpaya menin¸katkan kesejahteraan petani melalui
pendekatan paradi¸ma baru pertanian Abad 21 adalah melalui .

1. $alah satu upaya dalam mewujudkan keberdayaan petani dapat dilakukan melalui C/+#24/-', =)&F,&'(M
Beban sektor pertanian den¸an jutaan petani ¸urem harus dikuran¸i. Ini berarti industri nasional
harus ber¸erak den¸an laju yan¸ lebih cepat, dan investasi harus se¸era masuk untuk kemudian
menyerap tena¸a·tena¸a kerja. Tanpa -/+#24/-', =)&F,&'(, yan¸ terjadi adalah bertambahnya ke¸ureman
petani yan¸ akan semakin memperlihatkan betapa terpuruknya petani·petani kita.

Keberdayaan petani dapat ditin¸katkan dan diperbaiki den¸an memban¸un ekosistem penciptaan
kesejahteraan petani melalui penciptaan kapasitas untuk men¸konsumsi. $ecara sederhana penciptaan
kapasitas untuk men¸konsumsi dilakukan melalui ti¸a cara yaitu . 1) upaya penin¸katan pendapatan
petani den¸an har¸a·har¸a baran¸ kebutuhan yan¸ tetap, 2) hanya menciptakan baran¸·baran¸ den¸an
kualitas baik namun den¸an har¸a yan¸ jauh lebih ekonomis, atau 3) menin¸katkan pendapatan petani
sekali¸us menciptakan baran¸ kebutuhan den¸an har¸a yan¸ jauh lebih ekonomis. Pemahaman
men¸enai kebutuhan baran¸ dan pelayanan yan¸ baik ba¸i kalan¸an petani kelas bawah dapat menjadi
dasar pen¸emban¸an pasar yan¸ men¸untun¸kan bera¸am pihak. Dari sudut pandan¸ rantai produsen·
konsumen, selama ini petani memiliki posisi yan¸ kuran¸ men¸untun¸kan, ia seba¸ai produsen
pertama yan¸ menjual produk pertanian den¸an har¸a palin¸ murah, namun karena petani kebanyakan
tin¸¸al di pedesaan, dia menjadi konsumen akhir yan¸ membeli baran¸ den¸an har¸a palin¸ tin¸¸i.
Pen¸emban¸an pasar dan pelayanan baran¸ dan jasa ba¸i kalan¸an petani miskin hanya dapat berjalan
manakala ada kepercayaan sekali¸us memberi kesempatan masyarakat kelas bawah untuk memban¸un
”dignity” nya serta memberi kesempatan untuk memilih.

Prahalad (2005) menunjukkan banyaknya kesempatan dan alternatit untuk mensejahterakan
masyarakat kelas bawah sekali¸us men¸untun¸kan private sektor yan¸ ber¸erak dalam penyediaan
kebutuhan masyarakat kelas bawah atau yang disebut ”The Bottom of Pyramid”. Pelayanan pendidikan
dan kesehatan yan¸ baik dapat merin¸ankan beban masyarakat miskin sehin¸¸a bisa menjalankan
usahanya den¸an lebih lon¸¸ar. Penciptaan pasar ba¸i kelas bawah yan¸ jumlahnya san¸at besar, dapat
membuka keran lapan¸an usaha yan¸ men¸untun¸kan di se¸ala bidan¸ kebutuhan pokok manusia.
pan¸an, pendidikan, kesehatan, baran¸ kebutuhan rumah tan¸¸a, bahkan inovasi perumahan ba¸i
masyarakat miskin. Kesun¸¸uhan memecahkan masalah masyarakat kelas bawah yan¸ proporsinya
cukup besar, membuahkan kesejahteraan sekalih¸us keuntun¸an ba¸i sector swasta. Menemukan
permasalahan, men¸etahui dan memperoleh solusi yan¸ unik, menciptakan baran¸ berkualitas namun
den¸an har¸a terjan¸kau den¸an system pembayaran yan¸ baik, didasari kepercayaan dan
pen¸emban¸an *&('&,4 keluar¸a miskin.
9


2. $ementara itu daya sain¸ produk pertanian harus selalu diperbaiki. Lemba¸a·lemba¸a riset pertanian di
Indonesia yan¸ jumlahnya san¸at banyak dan setiap tahun menyerap an¸¸aran cukup besar jan¸an
hanya jadi macan kertas. Lemba¸a·lemba¸a riset depertemen harusnya lebih banyak men¸hasilkan
karya terapan yan¸ bisa lan¸sun¸ diimplementasikan di lapan¸an oleh petani·petani kita. Hasil riset
yan¸ hanya ditumpuk·tumpuk menjadi laporan atau makalah seminar, tidak akan pernah
mensejahterakan petani Indonesia.

Lpaya penin¸katan nilai tambah produk pertanian hendaknya terus dilakukan. Contohnya adalah
eksplorasi nilai tambah secondary crops yan¸ memiliki potensi sumban¸an dalam memperbaiki
kehidupan penduduk desa miskin, serta seba¸ai sumber bahan mentah ba¸i percepatan atau
pembukaan pen¸emban¸an industri pen¸olahan. Tantan¸annya adalah menciptakan nilai tambah dari
secondary crops yan¸ bernilai murah dan sumberdaya yan¸ memadai untuk di¸unakan seba¸ai bahan
mentah industri, melalui kebijakan dan strate¸i yan¸ memadai. (Bour¸eois, 2006).

Penin¸katan daya sain¸ produk pertanian berkaitan den¸an produktivitas usaha tani yan¸ dipen¸aruhi
oleh ketersediaan, kemudahan memperoleh, serta kualitas sarana produksi pertanian, akses dan
penerapan inovasi yan¸ dihasilkan penelitian pertanian, sarana dan prasarana serta intrastruktur
pertanian seperti iri¸asi, jalan, dan ¸udan¸ penampun¸an hasil panen dan penyimpanan sementara.
Masih banyak celah·celah penin¸katan produktivitas pertanian yan¸ sekaran¸ ini terabaikan di
lapan¸an. Contohnya adalah hasil penelitian etisiensi pen¸¸unaan pupuk yan¸ telah ditemukan dalam
kurun waktu yan¸ lama, ternyata masih belum tersosialisasikan den¸an baik kepada petani. Masih terus
ditemukan kasus dimana petani kesulitan memperoleh benih bermutu, demikian halnya kesulitan
memperoleh pupuk yan¸ menyebabkan terhambatnya penanaman.

3. Menyan¸kut kelestarian lin¸kun¸an, maka sudah saatnya pemerintah memberi apresiasi kepada petani·
petani yan¸ mempraktekkan pola pertanian ramah lin¸kun¸an. Pemantaatan pupuk or¸anik dan
men¸uran¸i pen¸¸unaan pestisida akan lebih baik ba¸i lin¸kun¸an hidup kita. Kita hidup bukan hanya
untuk diri kita saat ini, tetapi ju¸a untuk anak cucu kita di tahun·tahun mendatan¸. Rusaknya
lin¸kun¸an berarti hancurnya kehidupan di masa datan¸, dan ¸enerasi saat ini akan terus dikutuk oleh
anak cucu kita nanti apabila kita tidak berusaha menerapkan cara hidup yan¸ lebih bersahabat
terhadap lin¸kun¸an.

Paradi¸ma pertanian baru Abad 21 diterjemahkan dalam kebijakan dan seran¸kaian pro¸ram·pro¸ram
pemban¸unan pertanian. $an¸at pentin¸ ba¸i kita semua, termasuk para birokrat pembuat kebijakan, untuk
men¸ubah /&'* =-, bahwa pertanian identik den¸an kemiskinan. Ne¸ara·ne¸ara lain banyak yan¸ hidup
makmur karena memiliki sistem pertanian yan¸ kuat. Ne¸ara·ne¸ara tetan¸¸a kita seperti Thailand, Cina,
dan Malaysia dapat berjaya den¸an produk pertaniannya. Demikian pula Amerika $erikat, hin¸¸a kini
tetap menjadi eksportir pan¸an·pan¸an utama ke berba¸ai ne¸ara. Terkait den¸an temuan potensi
secondary crops dalam perbaikan kehidupan petani, E$CAP (200+) menunjukkan bahwa pertanian
memiliki potensi pertumbuhan tertin¸¸i ba¸i pemberantasan kemiskinan dalam jan¸ka pendek dan
menen¸ah di beberapa Ne¸ara berkemban¸ yan¸ memiliki wilayah pedesaan den¸an mayoritas
penduduknya miskin dan kehidupannya ter¸antun¸ kepada pertanian.

Den¸an memperhatikan persoalan·persoalan besar yan¸ akan muncul bila pemerintah salah membuat
kebijakan yan¸ menyan¸kut nasib petani, maka ban¸sa ini harus mempunyai (."'* *-=&(' tentan¸
pemban¸unan pertanian yan¸ men¸untun¸kan petani dan tidak menyen¸sarakan rakyat.$ektor pertanian
adalah andalan ban¸sa kita, oleh sebab itu ciptakan kemakmuran ban¸sa melalui pemban¸unan pertanian
yan¸ tepat. Kebijakan pertanian yan¸ tepat adalah kebijakan yan¸ berpihak petani. Oleh karena itu
10

kebijakan di bidan¸ ini terlebih dahulu harus di¸odok den¸an matan¸, dan diperhatikan dampak positip·
ne¸atipnya baik ba¸i petani maupun masyarakat. $alah satu teori tentan¸ kelaparan menyebutkan bahwa
)$'(-. adalah bencana kemanusiaan yan¸ dapat terjadi bilamana kebijakan pertanian dirumuskan secara
tidak tepat.

Kebijakan pemerintah untuk menaikkan har¸a ¸abah ternyata tidak serta merta menambah kesejahteraan
petani. Banyak di antara mereka yan¸ terjerat hutan¸ den¸an ten¸kulak, dan akhirnya har¸a ¸abahpun lebih
banyak ditentukan para ten¸kulak. Di satu sisi ten¸kulak adalah penolon¸ petani, di sisi lain ten¸kulak
pula yan¸ memiskinkan petani. Har¸a ¸abah kerin¸ panen (OKP) di tin¸kat ten¸kulak hanya Rp1700 per
k¸, sementara har¸a pembelian pemerintah (HPP) seharusnya Rp2000 per k¸. Lntuk har¸a beras yan¸
telah ditetapkan Rp+000 per k¸ di ¸udan¸ BLLOO, ten¸kulak hanya men¸har¸ai Rp3500. Persoalan yan¸
dihadapi pemerintah setelah menetapkan HPP (pada tahun 2007) adalah bahwa kualitas ¸abah yan¸
dihasilkan petani san¸at bera¸am. Oleh sebab itu tidak semua ¸abah petani kemudian berhak untuk
dihar¸ai sesuai HPP. Hal ini yan¸ terkadan¸ menimbulkan kekecewaan petani.

Kebijakan pertanian menyan¸kut nasib jutaan petani. Oleh sebab itu kebijakan yan¸ keliru akan
menyebabkan penderitaan dan kesen¸saraan yan¸ tidak mustahil akan menin¸katkan jumlah oran¸ miskin
di Indonesia. Apabila kebijakan pemerintah yan¸ baikpun ternyata tidak dapat men¸an¸kat kesejahteraan
petani, apala¸i kalau kebijakan tersebut tidak berpihak petani. ]adilah petani·petani Indonesia selalu
menjadi korban yan¸ menderita termakan ijon para ten¸kulak, terlilit hutan¸, dan tidak mampu
men¸entaskan an¸¸ota keluar¸anya dari lin¸karan kemiskinan. Kebijakan pen¸entasan kemiskinan akan
men¸hablur tanpa hasil, karena dampak positipnya tertutup oleh dampak ne¸atip kebijakan lain yan¸ tidak
tepat. Kerja keras pemerintah akan tampak nihil karena oran¸ miskin tidak berkuran¸ tapi justru
bertambah. Diharapkan kebijakan pertanian di masa datan¸ bisa lebih tokus pada usaha·usaha
memperbaiki kesejahteraan para pelaku pertanian karena sudah san¸at lama para petani memimpikan
hidup yan¸ lebih sejahtera

Revitalisasi penyuluhan pertanian dipandan¸ seba¸ai upaya untuk men¸embalikan tun¸si dan peran
penyuluhan seba¸ai ujun¸ tombak pemban¸unan pertanian. Hal tersebut menjadi pentin¸ karena petani
tidak dapat dibiarkan sendirian untuk memperoleh kedaulatannya. Hanya sedikit petani yan¸ terpapar
intormasi dan perkemban¸an inovasi teknolo¸i pertanian, sehin¸¸a bisa dijadikan dasar pen¸ambilan
keputusan usahatani. Pada umumnya petani masih memerlukan pembinaan, bimbin¸an, dan
pendampin¸an. $eba¸ai contoh masih banyak kita temui dimana petani belum menjalankan prinsip dan
pen¸etahuan dasar dalam mence¸ah kehilan¸an tanah lapisan atas yan¸ men¸andun¸ banyak hara. DI
wilayah sentra produksi, banyak lahan pertanian (bahkan yan¸ diusahan petani maju) yan¸ belum dikelola
den¸an baik, sehin¸¸a meru¸ikan petani itu sendiri.

-4 !5F5A7B65=778 .56789 I9 "=7 L6E8ED9

Peman¸kasan wewenan¸ Pusat dalam pen¸elolaan pemban¸unan merupakan tuntutan otonomi. Konon
hal ini sudah disadari oleh N2$'*&'( N",)-.= dan diakomodir dalam pasal 18 LLD 19+5. Namun dalam
pelaksanaannya tersendat·sendat karena awal tahun 1950·an ban¸sa Indonesia men¸hadapi bahaya
disinte¸rasi ban¸sa sehin¸¸a kontrol Pusat terhadap daerah semakin diperketat. Di era Orde Baru upaya
desentralisasi ju¸a belum dapat diwujudkan karena pemerintah saat itu in¸in mempercepat pemban¸unan
ekonomi nasional sehin¸¸a terjadilah pemusatan aset·aset daerah. Pelaksanaan otonomi daerah akan
men¸¸eser paradi¸ma pen¸elolaan sumber daya alam yan¸ dulu hanya bertumpu di Pusat, kini akan
dikelola secara mandiri oleh daerah. Desentralisasi pen¸elolaan sumberdaya alam, khususnya pertanian,
diharapkan dapat mendoron¸ kepala daerah dan jajarannya untuk memperbaiki kesejahteraan petaninya.

11

Otonomi daerah men¸andun¸ makna bahwa daerah mempunyai keleluasaan untuk merancan¸ pro¸ram
pemban¸unan di daerahnya (termasuk pemban¸unan pertanian) den¸an DAL seba¸ai dana >#2<! (."',= dari
Pusat. Daerah dapat menerapkan kebijakan·kebijakan mikro yan¸ lan¸sun¸ berpen¸aruh pada
penin¸katan kesejahteraan petani. Penetapan har¸a dasar ¸abah adalah kebijakan makro di tin¸kat
nasional, daerah harus mampu merumuskan kebijakan mikronya. Bupati yan¸ berpihak pada petani harus
trampil menerapkan kebijakan pertanian yan¸ men¸untun¸kan petani. Lntuk men¸amankan kebijakan
har¸a dasar pemda harus menyediakan APBD untuk melindun¸i har¸a dasar tersebut. ]an¸an sampai
har¸a di tin¸kat petani dipermainkan oleh ten¸kulak. Apabila har¸a jatuh, pemerintah daerah
berkewajiban membeli produk pertanian den¸an har¸a sesuai har¸a dasar. Bahkan dana APBD untuk
proteksi har¸a komoditi pertanian ini hendaknya tidak hanya terbatas pada beras, tetapi ju¸a komoditi
strate¸is lainnya yan¸ menjadi andalan daerah seperti cabe, tembakau, kakao dll. Melindun¸i har¸a dasar
komoditi pertanian di tin¸kat petani merupakan lan¸kah sederhana namun lan¸sun¸ dirasakan.
Pemerintah daerah sebelumnya harus bisa melakukan analisis >-'-F&, <2=, .",&2, sehin¸¸a penetapan har¸a
dasar untuk komoditi pertanian strate¸is benar·benar riil dan sesuai den¸an analisis usaha di tin¸kat petani.
Artinya, har¸a dasar yan¸ ditetapkan tidak akan meru¸ikan petani.

$elama ini tun¸si penyan¸¸a har¸a ini diemban oleh BLLOO´DOLOO den¸an menahan atau melepas
stok ke pasar. Harapannya adalah har¸a akan kembali normal karena mekanisme pasar akan se¸era
berjalan. Pada kenyataannya, ten¸kulak lebih sakti dalam menentukan har¸a sehin¸¸a petani hanya pasrah
menjual produknya den¸an har¸a berapapun. Tidak aneh kalau pada akhirnya ada petani yan¸ sampai hati
membakar komoditi pertaniannya di ladan¸. Mun¸kin biaya panennya lebih besar daripada har¸a
komoditinya, sehin¸¸a membakar cabe atau cen¸kih dirasakan lebih rasional. Kuran¸ saktinya peran Bulo¸,
terkait den¸an takta yan¸ menunjukkan bahwa Bulo¸ hanya men¸uasai secara tisik 5 · 6.5 % beras seba¸ai
cadan¸an. ]adi ba¸aimana bisa men¸amankan har¸a beras untuk menolon¸ petani .

Di salah satu kabupaten di ]awa Timur ada suatu kebijakan yan¸ dian¸¸ap men¸untun¸kan petani yakni
pe¸awai ne¸eri harus membeli beras petani setiap bulan den¸an kualitas sesuai yan¸ diin¸inkan. Dulu
kebijakan beras untuk pe¸awai ne¸eri serin¸kali dicibir karena beras yan¸ diberikan tidak layak namun
har¸anya mahal. Den¸an sedikit sentuhan yan¸ inovatit kebijakan baru tentan¸ beras ba¸i pe¸awai ne¸eri
ini dapat diterima den¸an lapan¸ hati oleh para PN$. Ba¸i petani, jumlah PN$ yan¸ ribuan di tiap
kabupaten adalah pasar potensial yan¸ akan membantu har¸a dasar untuk tidak terus melorot karena ulah
ten¸kulak. Kalau setiap bupati mempunyai perhatian besar pada nasib petani di daerahnya, maka kita tidak
perlu khawatir terhadap masalah ketahanan pan¸an nasional, re¸ional, atau rumahtan¸¸a. Petani akan
selalu antusias dalam berproduksi karena birokratnya membuat kebijakan yan¸ san¸at mendukun¸. Pada
akhirnya rakyat secara keseluruhan bisa menikmati produk·produk pertanian den¸an har¸a yan¸
layak.Tetapi yan¸ lebih pentin¸ adalah visi pimpinan daerah yan¸ bertekad untuk mensejahterakan kaum
petani.

Banyak masalah pertanian dan petani yan¸ membutuhkan bantuan dan penyelesaian dari pihak pemerintah
daerah, baik menyan¸kut intrastruktur, ketersediaan saprotan, pemasaran, dsb. $eba¸ai contoh
kebertihakan pemda dalam penyelesaian masalah petani adalah setelah men¸etahui bahwa air menjadi
kunci pentin¸ ba¸i keberhasilan produksi padi di sawah, maka bupati yan¸ berpihak petani ini se¸era
membenahi iri¸asi di daerahnya. Temuannya sun¸¸uh ironis karena tasilitas iri¸asi yan¸ ada ternyata 60%
diban¸un di jaman Belanda. Lntun¸ Belanda dulu berbaik hati memban¸un sarana pen¸airan ini. Kalau
pen¸amatan seperti ini dilakukan oleh setiap kepala daerah, maka para petani pasti akan tersenyum baha¸ia
karena masalah air terpecahkan den¸an se¸era.Di tempat lain, masalah air diatasi den¸an men¸eruk
kembali embun¸´danau yan¸ semakin dan¸kal dan tak bertun¸si la¸i seba¸ai tandon air. Pemerintah
daerah menyediakan peralatan berat untuk men¸eruk embun¸´danau secara ¸ratis, sedan¸kan masyarakat
hanya diminta menyediakan bahan bakar dan biaya operatornya.
12


Dalam ran¸ka mendukun¸ pemban¸unan pertanian yan¸ lebih ramah lin¸kun¸an, pemerintah daerah
hendaknya mempertimban¸kan den¸an serius pemantaatan sumberdaya lokal untuk produksi pupuk
or¸anik´kompos. $alah satunya adlah den¸an memantaatkan encen¸ ¸ondok seba¸ai bahan baku utama.
$elama ini encen¸ ¸ondok telah menjelma menjadi ¸ulma. Terlebih la¸i den¸an bantuan teknolo¸i dapat
membuat kompos den¸an bentuk (."'$#- sehin¸¸a mudah disebarkan di sawah seperti halnya petani
menyebar pupuk urea. Pemantaatan pupuk or¸anik tidak dimaksudkan untuk sepenuhnya men¸¸anti
pupuk anor¸anik, sebab bisa·bisa justru menurunkan produksi pertanian. Pen¸uran¸an pupuk anor¸anik
untuk kemudian di¸anti pupuk or¸anik diusahakan untuk tidak men¸¸an¸u kuantitas produk yan¸
dihasilkan. Pen¸¸unaan pupuk kompos bisa dimaknai petani telah berpartisipasi dalam memelihara
lin¸kun¸an. Bayan¸kan kalau setiap kabupaten bisa mendirikan pabrik pupuk kompos den¸an
mendaya¸unakan limbah yan¸ ada, maka biaya pertanian dapat ditekan, produksi tetap terja¸a, dan
lin¸kun¸an terpelihara. ]elas hal ini akan mendatan¸kan kemakmuran ba¸i petani dan masyarakat
keseluruhan. Analisis yan¸ dilakukan oleh O&2"<<-== P'*2'-=&" H2//$'&,4 di Yo¸yakarta menunjukkan bahwa
pen¸¸unaan pupuk kompos (."'$#- dan bahan limbah lain justru menin¸katkan produksi padi 30% dan
men¸uran¸i biaya Rp300 ribu per hektar. $ayan¸nya banyak petani·petani yan¸ sulit menerima hal
tersebut, karena penyuluhan·penyuluhan yan¸ telah berjalan puluhan tahun terlalu menekankan
pentin¸nya teknolo¸i modern seperti pupuk anor¸anik dan pestisida.

Kesejahteraan petani merupakan tantan¸an pemerintah daerah di era otonomi. Otonomi daerah
hendaknya mendekatkan pemerintah kepada petani, menunjukkan kepedulian kepada petani dan
pertanian, mempercepat pemecahan masalah petani dan pertanian. Den¸an otonomi daerah Pemda
memiliki posisi strate¸is den¸an keleluasaan untuk menelorkan kebijakan dan pro¸ram pemban¸unan
pertanian yan¸ semakin tokus, bisa menemukan komoditas un¸¸ulan sesuai potensi lokal, dan
menemukenali bera¸am upaya inovasi nilai tambah produk pertanian. Den¸an otonomi, idealnya
permasalahan yan¸ dihadapi petani dan pertanian den¸an cepat diketahui dan diberikan solusi yan¸
memadai.

&4 .58>6><

Pada hakikatnya petani telah berjasa besar dalam penyediaan pan¸an nasional sehin¸¸a ban¸sa ini tidak
men¸alami kelaparan. Namun jasa petani ini tampaknya belum memperoleh apresiasi yan¸ cukup karena
banyak petani Indonesia yan¸ masih harus ber¸elut menin¸katkan kesejahteraannya untuk hidup layak.
Harapan besar dipikulkan di pundak pemerintah a¸ar menciptakan kebijakan·kebijakan yan¸ pro·petani.
Pertanian adalah ke¸iatan usaha´bisnis yan¸ sama saja den¸an usaha lainnya, menuntut kaidah·kaidah
bisnis seperti kepioneeran, etisiensi, dinamis, nilai tambah, keuniq·an produk. ]ika kaidah tersebut
dijalankan maka pertanian dapat mensejahterakan petaninya seba¸aimana telah ditunjukkan seba¸ian kecil
petani maju. Masalahnya adalah ba¸aimana men¸awal, membimbin¸, serta menularkan kemampuan bisnis
tersebut kepada banyak petani den¸an bera¸am keterbatasan dan ketidakberdayaannya. Demikian halnya
den¸an bera¸am prasyarat lainnya a¸ar dalam usahatani dapat direduksi unsur ketidakpastian dan petani
tidak bertikir bahwa berusahatani tidak ada bedanya den¸an berjudi.





13

@9MJ9E;=7<BC
Bour¸eois, R. Lisa $vensson, M.L. Burrows. Ed. 2006. Farmin¸ a Way Out ot Poverty. For¸otten Crops and
Marginal Populations in Asia and The Pacific. Proceedings of the regional workshop on “Rural
Prosperity and secondary Crops. Towards Applied Pro·poor Research and Policies in Asia and the
Pacific”. CAPSA Monograph No.48. ESCAP. United Nations. New York.
BP$. 200+. Data dan Intormasi Kemiskinan Tahun 200+. Buku 2. Kabupaten. Badan Pusat $tatistik,
]akarta Indonesia.
Deacon, R.E., & Firebaugh, M.F. 1988. Family Resource Management Principles and
Applications. Boston. Atlantic Avenue.
Entang Sastraatmadja. 2006. Petani di Tanah Merdeka. Petani Center. Bogor.
Friedman J. 1998. Family Nursing : Theory and Practice” 3
rd
ed. Appleton & Lange. California.
Lazarus R.$., e Folkman $. 198+. $tress, Appraisal, and Copin¸. McOraw·Hill, Inc. New York.
Prahalad, C.K., 2005. The Fortune at The Bottom ot The Pyramid. Eradicatin¸ Poverty Throu¸h Protits.
Wharton $chool Publishin¸. L$A.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->