BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS 2.1. Kajian Pustaka 2.1.1.

Pengertian Gaya Pengasuhan Orang Tua Keluarga merupakan tempat yang pertama dan utama bagi pertumbuhan dan perkembangan anak atau remaja. Dalam keluarga pulalah anak dibesarkan, berkembang dan mengalami proses “menjadi”. Dari sudut perkembangan anak atau remaja, keluarga memiliki banyak fungsi. Selama masa bayi dan kanak-kanak fungsifungsi dan tanggung jawab keluarga adalah mengasuh/memelihara, melindungi dan sosialisasi. Seiring dengan terjadinya perubahan progresif pada remaja, maka bergeser atau bertambah pulalah fungsi-fungsi keluarga. Misalnya pada masa remaja lebih membutuhkan dukungan (support) daripada hanya pengasuhan (nurturance), lebih membutuhkan bimbingan (guidance) daripada hanya perlindungan (protection), dan remaja lebih membutuhkan pengarahan (direction) daripada sosialisasi (socialization) (Steinberg, 1993, Rice, 1996, Conger, 1977). Anak adalah salah satu anggota keluarga yang merupakan kelompok inti dari suatu masyarakat. Hubungan antara orang tua dan anak di dalam keluarga secara fungsional melibatkan pola perilaku tertentu dari orang tua. Perilaku tersebut diwujudkan melalui hubungan dengan anak berkenaan dengan tugasnya sebagai orang tua. Tugas orang tua meliputi mendidik, melindungi, dan mengajar anak-anak agar tumbuh dan berkembang mencapai suatu kondisi yang sehat, sehingga dengan segala kemampuan yang dimilikinya dapat merealisasikan dirinya secara utuh, dan

12

13 memiliki kemampuan untuk bertangungjawab terhadap setiap perilaku hidup dengan segala konsekuensinya. Interaksi antara orang tua dengan anak dalam keluarga untuk mendidik, membimbing, dan mengajar anak dengan tujuan tertentu disebut dengan gaya pengasuhan (parenting style). Gaya pengasuhan merupakan cara yang khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam berinteraksi orang tua dengan anak atau remaja (Depdikbud, 1997). Menurut Darling dan Steinberg (1993) gaya pengasuhan didefinisikan sebagai sekumpulan (a constellation) sikap terhadap anak yang dikomunikasikan kepada anak dan menciptakan suasana emosional dalam mana perilaku-perilaku orang tua diekspresikan. Sedangkan menurut Sears. Macobby & Lewin dalam Fauzia (1993) mengemukakan bahwa yang dimaksudkan dengan pengasuhan orang tua adalah semua interaksi yang terjadi antara orang tua dengan anaknya. Interaksi ini meliputi sikap, nilai, minat, dan ajaran-ajaran mereka dalam keluarga. Baumrind (1971,1978) seperti dikemukakan oleh G. Peterson (1997) dalam B.s Furhman (1990) bahwa “the classic research of Baumrind has delineated three primary styles of parenting. The authoritarian, the permissive and the authoritative. Each style approaches the issue of control in the family in a different way, and each has been demonstrated to have significant, predictable affects on adolescent feelings and behavior”. Berdasarkan konsep tersebut menurut Baumrind gaya pengasuhan merupakan bentuk-bentuk perlakukan orang tua ketika berinteraksi dengan anak atau remaja yang mencakup tiga aspek gaya pengasuhan yaitu authoritarian, permissive dan authoritative. Ketiga aspek gaya pengasuhan tersebut memiliki ciri khasnya sendiri-sendiri dan masing memberikan efek yang berbeda terhadap perilaku remaja.

tidak memberi kesempatan kepada anak untuk mengatur dirinya sendiri. Menurut Diana Baumrind (1971. Orang tua tidak menerima pandangan anak. Orang tua yang authoritarian menekankan kepatuhan anak terhadap peraturan yang mereka buat tanpa banyak bertanya.2. 1987) seperti dikemukakan oleh G. Gaya ini merupakan suatu bentuk-bentuk perlakuan orang tua ketika berinteraksi dengan anaknya yang pada umumnya sangat ketat dan kaku dalam pengasuhan anak.1978. Furhman (1990) ada tiga macam gaya pengasuhan orang tua yakni : Yang pertama gaya pengasuhan authoritarian.1975.14 Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa gaya pengasuhan dalam penelitian ini merupakan ciri yang khas dalam perlakuan orang tua ketika berinteraksi dengan anaknya didalam memenuhi kebutuhan fisiologis dan psikologis anak atau remaja. Orang tua authoritarian tidak memberi dorongan lisan (verbal) tentang “memberi/take” dan “menerima/give”. dan selalu mengharapkan anak-anak untuk menuruti semua perkataan orang tua serta menyenangi kekuasaannya sebagai orang tua. Peterson dalam B.1. 2. Mereka percaya bahwa cara yang keras merupakan yang terbaik dalam mendidik anak. tidak menjelaskan kepada anak-anak tentang latar belakang diperlakukannya serta maksud diberlakukannya peraturan tersebut. cenderung menghukum setiap anak yang melanggar peraturan atau norma yang berlaku. Salah satu psikolog yang populer dengan konsep gaya pengasuhan orang tua adalah Diana Baumrind. malahan ia yakin atau percaya bahwa seorang anak atau remaja . Jenis-Jenis Gaya Pengasuhan Orang Tua Para ahli psikologi terutama yang menekuni psikologi perkembangan telah banyak menelaah secara ilmiah mengenai gaya pengasuhan orang tua terhadap anaknya.

sehingga menutup kemungkinan bagi anak/remaja untuk memperdebatkannya dan mencegah anak membantahnya.15 akan menerima dengan baik perkataan atau perintah orang tua mengenai tingkah laku mana yang dipandang baik oleh orang tua (Baumrind. Sikap-sikap tersebut akhirnya bermuara . serta gagal memberikan kehangatan kepada anak/remaja mereka (Baumrind dalam Decey & Kenny. 1985) serta menumbuhkan rasa amarah besar pada remaja. 1991). dan tidak efektif dalam interaksi sosial (Santrock. 1968).. dan dirumuskan dengan kewenangan yang lebih tinggi. remaja mengucilkan diri. Anehnya remaja yang dibesarkan di bawah pengaruh orang tua authoritarian (yang tidak mampu melepaskan diri dari keterkungkungan otoritas orang tuanya) seringkali menunjukkan kepatuhan dan menyesuaikan diri dengan standard-standard perilaku yang diatur oleh orang tua. Mereka memberi perintah dan tidak menjelaskannya. Orang tua authoritarian adalah orang tua yang menuntut dan kurang memberikan otonomi. Gaya pengasuhan authoritarian sangat potensial bagi munculnya konflik. membentuk. sering dengan motivasi dogma-dogma teologis (dengan menyitir ajaran-ajaran agama atau ayat-ayat kitab suci). 1997). 1996) dan membuat remaja menjadi cemas tentang pembandingan sosial. penentangan atau perlawanan remaja. gagal dalam aktivitas-aktivitas kreatif. memantau dan menilai perilaku dan sikap-sikap anak sesuai dengan standard peraturan yang ditetapkannya sendiri – biasanya suatu standard yang absolut. dan ketergantungan remaja terhadap orang tua (Rice. 1967). Orang tua auhtoritarian mencoba mengontrol remaja dengan peraturan-peraturan. namun sesungguhnya mereka menderita kehilangan rasa percaya diri dan pada umumnya lebih tertekan serta menderita somatis daripada kelompok sebayanya (Lamborn et al. tidak berani menghadapi tantangan tugas dan tidak bahagia (Baumrind. Orang tua authoritarian berusaha untuk menentukan.

bahkan berusaha mencari pembenaran terhadap tingkah laku anaknya yang melanggar suatu peraturan. cenderung kurang mampu mengambil kebijakan atas dirinya sendiri. orang tua ini tidak menggunakan kekuasaan atau wewenang dengan tegas. Indikator-indikator tersebut menunjukkan bahwa remaja menjadi tidak mandiri dalam hidupnya. Yang kedua gaya pengasuhan permissive. Orang tua permissive menggunakan sedikit dan bahkan tanpa menggunakan kontrol terhadap remaja dan lemah dalam cara-cara mendisiplinkan remaja. dan sering tidak menganjurkan remaja untuk mematuhi standard-standard eksternal (sosial). Gaya pengasuhan permissive adalah bentuk-bentuk perlakuan orang tua ketika berinteraksi dengan anaknya dengan memberikan kelonggaran atau kebebasan kepada anak tanpa kontrol atau pengawasan orang tua. dalam usahanya untuk membesarkan remaja (Baumrind. Orang tua yang menerapkan gaya pengasuhan permissive juga membuat peraturan untuk diikuti oleh anak-anaknya tetapi bila anak tidak menyetujui. Orang tua jarang menghukum anak-anaknya yang melanggar peraturan.16 pada kecenderungan remaja selalu tergantung pada orang tua. orang tua akan bersikap mengalah dan akan mengikuti keinginan anak-anaknya. Jadi dengan alasan tersebut. Seperti misalnya orang tua permissive menghindar untuk melakukan kontrol terhadap remaja. Orang tua ini kebanyakan memperbolehkan atau membiarkan anak/remajanya untuk menentukan tingkah lakunya sendiri. tidak mampu melepaskan keterikatan dari orang tua. Orang tua memberikan kebebasan penuh kepada anak-anaknya untuk bertindak sesuai dengan keinginan anak. serta cenderung kurang bertanggung jawab atas apa yang dilakukan karena disebabkan apapun yang dilakukan akan disandarkan atas perintah dan kemauan orang tua. 1968). Alasan .

and 2). Orang tua permissive meyakini bahwa kontrol atau pengendalian merupakan suatu pelanggaran terhadap kebebasan remaja yang dapat menganggu perkembangan kesehatannya. Adolescent do not tend to model the behavior of a parent in the permissive home”. Mereka juga terlalu menuntut. 1993). tidak patuh. Meskipun di satu sisi gaya pengasuhan ini memberi remaja kebebasan berperilaku. memberi tingkat kebebasan yang lebih tinggi kepada remaja untuk bertindak sesuai dengan kehendaknya dirinya. sangat tergantug pada orang lain. Perilaku sosial remaja ini kurang matang. dan tidak mampu mengarahkan diri dan memikul tanggung jawab (Santrock. menerima dan pasif dalam persoalan disiplin. Thomburg (1982) mengemukakan dua alasan “1). 1985). Mereka sulit mengendalikan desakan hati (impulsive). . Orang tua permissive berperilaku lunak. Hetherington dan Parke. pengendalian dirinya amat jelek. Mereka secara relatif kurang menempatkan tuntutan-tuntutan pada tingkah laku remaja. dalam Decey & Kenny. kurang gigih dalam mengerjakan tugas-tugas. tidak tekun dalam belajar di sekolah. 1993. Orang tua permissive longgar secara berlebihan dan disiplin yang tidak konsisten (Steinberg. di sisi lain pengasuhan ini tidak selalu meningkatkan perilaku bertanggung jawab.17 orang tua permissive memilih gaya pengasuhan ini. parents who are permissive give little guidance or direction to thier adolescents. Baumrind (1975) menemukan bahwa remaja yang menerima pengasuhan permissive sangat tidak matang dalam berbagai aspek psikososial. dan menentang apabila diminta untuk mengerjakan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan-keinginan sesaat. karena mereka percaya bahwa remaja harus mempunyai kebebasan yang luas dan bukan dikontrol oleh orang dewasa (Baumrind. kadang-kadang menunjukkan perilaku agresif. 1997).

maka remaja itu mempersalahkan orang tua karena dipandang lalai memperingatkan atau menuntun mereka (Rice. Apabila remaja menafsirkan kelonggaran pengawasan orang tua sebagai tidak adanya perhatian atau penolakan. Keluarga menanamkan kebiasaan-kebiasaan demokrasi yang saling menghargai dan menghormati ha-hak orang tua dan anak-anak. dan mendukung keterlibatan anak dalam membuat keputusan keluarga. tidak punya orientasi.18 Remaja yang terlalu diberi kebebasan tanpa pembatasan yang jelas akan menjadi suka menang sendiri. 1996). dan penuh keraguan. Yang ketiga adalah gaya pengasuhan authoritative. mempunyai hubungan yang dekat dengan anak-anaknya. mementingkan diri sendiri. Orang tua yang authoritative bersifat fleksibel dan memberi kesempatan kepada anak atau remaja untuk berkembang. tetapi membangun harapanharapan yang disesuaikan dengan perkembangan kemampuan dan kebutuhan anakanaknya. Ketiadaan bimbingan dan arahan dari orang tua dapat mengakibatkan mereka merasa tidak aman. Gaya pengasuhan authoritative adalah bentuk-bentuk perlakuan orang tua ketika berinteraksi dengan anak/remaja yang melibatkan anak atau remaja dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan keluarga dan dirinya. Remaja dipersilahkan . mendengarkan dengan sabar pandangan anak-anaknya. Pada saat yang sama mereka menunjukkan kasih sayang. Mereka menerapkan peraturan-peraturan secara rasional dan mendorong anak untuk ikut terlibat dalam membuat peraturan dan melaksanakan peraturan dengan penuh kesadaran. Orang tua authoritative berperilaku hangat tetapi tegas. egoistis. Keputusan-keputusan penting dibuat secara bersama-sama (jointly). dan mengjengkelkan. meskipun restu atau persetujuan terakhir sering datang dari orang tua. Mereka mengenakan seperangkat standard untuk mengatur anak-anaknya.

Rice. orang tua menggunakan otoritasnya. sering terlibat dalam perbincangan dan penjelasan dengan anak-anak. Apabila alasan-alasan itu masuk akal dan dapat diditerima. Orang tua auhtoritative menempatkan nilai yang tinggi pada perkembangan kemandirian dan pengendalian diri. meningkatkan rasa percaya diri. Dengan cara saling take and give itu rasa tanggung jawab remaja lebih meningkat. maka orang tua memberikan restu. Gaya pengasuhan ini mendorong tumbuhnya kemampuan sosial.19 memberikan alasan-alasan mengapa mereka ingin melakukan sesuatu. dan memiliki pengendalian diri dalam mengelola kemampuan-kemampuan mereka untuk tidak bertindak anarkis . Orang tua auhtoritative menanamkan kebiasaan-kebiasaan rasional. tetapi bertanggung jawab penuh terhadap perilaku anak. 1996. interaksi semacam itu memberi kesempatan kepada kedua belah pihak untuk memahami pandangan orang lain yang pada akhirnya mengantarkan mereka sampai pada suatu keputusan yang dapat diterima kedua pihak. 1985). Remaja didorong untuk melepaskan diri (self-detach) secara berangsur-angsur dari keluarga (Steinberg. tetapai mengekspresikannya melalui bimbingan yang disertai dengan pengertian dan cinta kasih. tetapai apabila tidak. maka orang tua minta penjelasan tentang keinginan remaja itu dan menjelaskan alasan-alasan mengapa tidak merestui perbuatan-perbuatan itu. Thornburg 1982). Remaja dari keluarga authoritative hidup penuh dengan semangat dan bahagia. Dalam memandu interaksi antar anggota keluarga. Kualitas-kualitas gaya pengasuhan authoritative diyakini dapat lebih menstimulir keberanian. berorientasi pada masalah. percaya diri dalam penguasaan tugas-tugas baru. dan tanggung jawab sosial pada remaja (Santrock. motivasi dan kemandirian remaja menghadapai masa depannya. dan memegang teguh perilaku disiplin. 1993.

menguasai dan menentukan dirinya sendiri (Chaplin. 1991).3. 1996). Arti ini memberikan penjelasan bahwa kemandirian menunjuk pada adanya kepercayaan akan kemampuan diri untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tanpa bantuan khusus dari orang lain. tidak bergantung kepada orang lain. dan kata kemandirian sebagai kata benda dari mandiri diartikan sebagai hal atau keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung kepada orang lain.1. atau kebebasan individu manusia untuk memilih. keengganan untuk dikontrol orang lain.20 (Baumring. Dalam kamus psikologi kata autonomy (otonomy) diartikan sebagai keadaan pengaturan diri. 1994. 1967). kognisi. memiliki kematangan sosial dalam berinteraksi dengan lingkungannya maupun keluarganya (Berk. 1993. dapat melakukan sendiri kegiatan-kegiatan dan menyelesaikan . Steinberg. Selanjutnya bila kita menilik kata mandiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai keadaan dapat berdiri sendiri. moral dan mulai matangnya pribadi dalam memasuki dewasa awal. maka tuntutan terhadap separasi (separation) atau self-detachment dari orang tua/keluarga berlangsung sedemikian tingginya sejalan dengan tingginya kebutuhan akan kemandirian (autonomy) dan pengaturan diri sendiri (self directed) (Featherman. menumbuhkan harga diri yang tinggi. 1994. 2001). 2. Pengertian Kemandirian Kemandirian merupakan salah satu aspek yang gigih diperjuangkan oleh setiap remaja sebagaimana sebuah ungkapan yang disampaikan oleh Fasick dalam Rice (1996) “one goal of every adolescent is to be accepted as an autonomous adult” Banyak ahli berpandangan bahwa pada usia remaja. Rice. mampu menggalang persahabatan dan kerja sama. Gaya pengasuhan authoritative membuat remaja memiliki kemandirian yang tinggi. sosial. seiring dengan berlangsung dan memuncaknya proses perubahan fisik. affeksi. Lamborn et al.

Menurut Johnson dan Medinnus (dalam Hanna Widjaja. peneliti menggunakan istilah kemandirian/mandiri yang merujuk pada konsep kemandirian atau autonomy yang disampaikan oleh Steinberg (1993). 1986). 2). serta mampu melaksanakan sesuatunya dengan dirinya sendiri. Oleh karena itu selanjutnya dalam penelitian ini. Otonomi emosi (kemandirian secara emosi) menunjuk kepada pengertian yang dikembangkan remaja mengenai individuasi dan melepaskan diri atas ketergantungan mereka dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar dari orang tua mereka (Steinberg dan Silverberg.21 sendiri masalah-masalah yang dihadapi (Hanna Widjaja. Dari beberapa definisi diatas dapat diambil suatu benang merah bahwa secara substansial arti mandiri/kemandirian dan otonom/autonomy mempunyai kata kunci yang sama yakni terlepas dari ketergantungan dengan orang lain. 1986) kemandirian merupakan salah satu ciri kematangan yang memungkinkan anak berfungsi otonom dan berusaha ke arah prestasi pribadi dan tercapainya suatu tujuan. . terutama sekali setelah anak memasuki usia remaja. Otonomi bertindak (behavioral autonomy) – aspek kemampuan untuk membuat keputusan secara bebas dan menindaklanjutinya dan 3). apa yang penting dan apa yang tidak penting (Steinberg. mempunyai tanggung jawab pribadi. 1986). Secara psikososial kemandirian tersusun dari tiga bagian pokok yaitu : 1). Hubungan antara anak dan orang tua berubah dengan sangat cepat. Otonomi emosi (emotional autonomy) – aspek kemandirian yang berhubungan dengan perubahan kedekatan/keterikatan hubungan emosional individu. Otonomi nilai (value autonomy) – aspek kebebasan untuk memaknai seperangkat prinsip tentang benar dan salah. terutama sekali dengan orang tua. 1993). yang wajib dan yang hak.

menyusul semakin memuncaknya kemandirian emosional mereka. ia berusaha mencari model idealisasinya yang sesuai dengan keinginannya. 1996). Remaja akan berusaha melepaskan ikatannya dengan orang tuanya. 3). Ia berusaha menjadi dirinya sendiri. . maka waktu yang diluangkan orang tua terhadap anak semakin berkurang dengan sangat tajam (Berk. Pada fase ini ketergantungan emosional remaja terhadap orang tuanya semakin berkurang. Remaja yang mandiri secara emosional mempunyai indikator-indikator dalam beberapa hal seperti 1) remaja yang mandiri tidak serta merta lari kepada orang tua ketika mereka dirundung kesedihan. meskipun ikatan emosional anak terhadap orang tua tidak mungkin dan tidak serta merta dapat dipatahkan secara sempurna (Rice. remaja mampu memandang dan berinteraksi dengan orang tua sebagai orang pada umumnya – bukan semata-mata sebagai orang tua (Steinberg. maka pada masa remaja hal ini mulai terkurangi seiring dengan perluasan lingkungan remaja yang dialaminya. Artinya bahwa bila selama ini remaja ketika masih dalam masa kanak-kanak mereka berkutat dalam keluarga atau keluarga menjadi lingkungan inti dalam kehidupan sehari-hari. 2) remaja tidak lagi memandang orang tua sebagai orang yang mengetahui segala-galanya atau menguasai segala-galanya. Pergerakan perkembangan dalam interaksi sosial pada masa remaja bergerak dari arah keluarga menuju luar keluarga. remaja sering memiliki energi emosional yang besar dalam rangka menyelesaikan hubungan-hubungan di luar kelurga dan dalam kenyataannya mereka merasa lebih dekat dengan teman-teman daripada orang tua dan 4). kekhawatiran atau membutuhkan bantuan. 1994). 1993).22 Sejalan dengan semakin dengan mandirinya anak dalam mengurus dirinya sendiri pada pertengahan masa kanak-kanak. kekecewaan.

kemampuan untuk membuat keputusan sendiri dan mengetahui dengan pasti kapan seharusnya meminta/mempertimbangkan nasehat orang lain selama hal itu sesuai. 1986) dan meningkat dengan sangat tajam sepanjang usia remaja. namun ia tidak menghendaki kebebasan yang liberal atau kebebasan yang penuh (Rice. Pemberian kepercayaan secara sedikit demi sedikit terhadap anak akan memberikan situasi yang kondusif terhadap peningkatan kemandirian perilaku. sebagai manifestasi dari berfungsinya kebebasan dengan jelas. Kemandirian berbuat. 1991). ingin menggunakan kemampuannya sendiri dalam menyelesaikan masalah. Kemandirian perilaku pada remaja ditandai dengan beberapa indikator yakni 1). memikul tangungjawab. 2). Peningkatan ini bahkan lebih dramatis daripada peningkatan kemandirian emosional. 3) mencapai suatu . Secara psikologis remaja ingin mendapatkan kemandirian perilaku ini secara perlahan-lahan. menyangkut peraturan-peraturan yang wajar mengenai perilaku dan pengambilan keputusan dari seseorang (Sessa & Steinberg. Mandiri dalam perilaku berarti bebas untuk bertindak/berbuat sendiri tanpa terlalu bergantung pada bimbingan/pertolongan orang lain. mempunyai kebebasan untuk beradu pendapat. Hal ini dimulai dari pendistribusian wewenang yang diberikan oleh orang tuanya terhadap anaknya. mampu mempertimbangkan bagian-bagian alternatif dari tindakan yang dilakukan berdasarkan penilaian sendiri dan saran-saran orang lain.23 Adapun otonomi berbuat/bertindak (behavioral autonomy) menunjuk kepada kamampuan seseorang melakukan aktivitas. Namun kadang-kadang pemberian kewenangan atau Ia ingin kepercayaan yang berlebihan justru dianggap sebagai suatu penolakan. 1996). khususnya kemampuan mandiri secara fisik sebenarnya sudah dimulai sejak usia anak (Hanna Widjaja.

.24 keputusan yang bebas tentang bagaimana harus bertindak/melaksanakan keputusan dengan penuh percaya diri (Hill dan Holmbeck. Kemandirian nilai menunjuk kepada suatu pengertian mengenai kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan-keputusan dan menetapkan pilihan yang lebih berpegang atas dasar prinsip-prinsip individual yang dimilikinya. dan umumnya berkembang paling akhir dan paling sulit dicapai secara sempurna dibanding kedua tipe kemandirian lainnya. dan perkawinan dialami dan dicapai. Steinberg. Perkembangan kemandirian nilai membawa perubahan-perubahan pada konsepsi-konsepsi remaja tentang moral. daripada mengambil prinsip-prinsip dari orang lain. 1982). Diantara ketiga komponen kemandirian. tidak jelas bagaimana proses berlangsung dan pencapaiannya. rencana pekerjaan. 3) keyakinan-keyakinan remaja menjadi semakin bertambah tinggi dalam nilai-nilai mereka sendiri dan bukan hanya dalam suatu sistem nilai yang ditanamkan oleh orang tua atau figur pemegang kekuasaan lainnya (Steinberg. Dalam banyak kasus sistem nilai remaja dan orang tua sedemikian sama sehingga nilai-nilai orang tua akan dilestarikan pada masa dewasa (Thornburg. Keyakinankeyakinan remaja menjadi semakin bertambah mengakar pada prinsip-prinsip umum yang memiliki beberapa basis idiologis. Perkembangan kemandirian nilai sepanjang remaja ditandai oleh : 1). 1993). Sedangkan kemandirian yang ketiga adalah kemandirian/otonomi nilai. politik. 1993). Kemandirian nilai menjadi lebih berkembang setelah sebagian besar keputusan menyangkut citacita pendidikan. terjadi melalui proses internalisasi yang pada lazimnya tidak disadari. 2). 1986. kemandirian nilai merupakan proses yang paling kompleks. Cara remaja dalam memikirkan segala sesuatu menjadi semakin abstrak. idiologi dan persoalan-persoalan agama.

Sehingga masalah kemandirian emosional secara spesifik menuntut suatu kesiapan individu baik secara fisik maupun emosional untuk mengatur.25 2. penolakan ini menunjukkan keinginannya untuk memperoleh kemandirian. mengurus. perubahan kognitif yang memberikan pemikiran logis tentang cara berpikir yang mendasari tingkah laku dan juga perubahan nilai dalam peran sosial serta aktivitas remaja pada periode ini. sehingga hal ini akan menempatkan remaja untuk menjadi tidak tergantung pada orang tua untuk memperoleh kemandirian secara emosional. bahwa kemandirian adalah permasalahan sepanjang rentang kehidupan. Sama seperti remaja. dan melakukan aktivitas atas tanggung jawabnya sendiri tanpa banyak tergantung pada orang lain. 1993) ia melihat bahwa anak kecil mencoba membangun kemandiriannya dengan cara menjelajah sekelilingnya dan berbuat sesuka hatinya.1. Menurut Steinberg (1993) remaja yang memperoleh kemandirian adalah remaja yang dapat memiliki kemampuan untuk mengatur diri sendiri secara bertanggung jawab. Kemandirian Pada Remaja Steinberg (1993) mengemukakan pendapat yang didasari oleh toeri Ann Freud (1958). tanpa berpikir akibatnya. menurut Erickson (dalam Steinberg. tetapi perkembangan kemandirian sangat dipengaruhi oleh perubahan fisik yang dapat memacu perubahan emosional.4. Anak pada masa ini akan sering mengatakan “tidak” untuk menyatakan bahwa saya sudah bisa. Dengan kurangnya pengalaman remaja dalam menghadapi berbagai . meskipun tidak ada pengawasan dari orang tua ataupun guru. Kondisi demikian menyebabkan remaja memiliki peran baru dan mengambil tanggung jawab baru. Selain masa remaja perkembangan kemandirian tampak jelas pada masa toddlerhood.

26 masalahnya. karena otonomi itu adalah suatu bagian dari tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai oleh remaja sebagai persiapan untuk melangkah ke masa dewasa. karena perubahan-perubahan fisik. diharapkan memiliki sikap dan perilaku yang mandiri. Mekanisme perkembangan kemandirian remaja itu dapat dilihat dari perubahan hubungan kedekatan emosional antara remaja dan orang tua mereka. Steinberg (1993) dan para ahli lainnya memandang perubahan hubungan itu sebagai proses transformasi. meskipun remaja dan orang tua mengubah hubungan-hubungan mereka ketika anak mereka berusia remaja. Steinberg (1993) menyatakan bahwa meskipun perkembangan kemandirian merupakan suatu isu penting psikososial sepanjang rentang kehidupan.2. agar para remaja dapat dengan mantap memasuki dunianya yang baru yaitu masa dewasa tanpa hambatan yang berarti. karena ini berarti kemandirian emosi pada masa remaja . Hubungan Gaya Pengasuhan Autoritarian dengan Kemandirian Emosional Remaja Otonomi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan remaja. Kerangka Pemikiran 2. maka remaja akan mengalami kesulitan dalam menghadapi berbagai masalahnya untuk dapat memperoleh kemandirian emosional. namun perkembangan kemandirian yang menonjol adalah selama masa remaja.2. Ini merupakan sebuah keistimewaan penting.1. Oleh karena itu maka kemandirian remaja dipandang suatu hal pokok atau mendasar yang patut mendapat perhatian. kognitif. 2. Menurut mereka. Di Indonesia remaja dipandang sebagai generasi penerus nilai-nilai bangsa dan cita-cita pembangunan nasional. namun ikatan-ikatan perasaan (emosi) mereka. bagaimanapun tidak akan putus. dan sosial terjadi pada periode ini.

meliputi perubahan berangsur-angsur (gradual). Dengan kata lain. 1978 dalam Steinberg. Lebih lanjut Steinberg (1993). Baumrind (Baumrind. Perkembangan kemandiran emosional remaja itu dimulai dari proses perubahan hubungan emosional antara remaja dengan ibu dan ayahnya. dalam Steinberg. . 1997) salah satu tugas perkembangan pada masa remaja adalah remaja dapat memperoleh kemandirian emosional dari orang tua nya dan dari orang dewasa lainnya. 1993) menyatakan bahwa perubahan berangsur-angsur dalam hubungan-hubungan keluarga itu mengijinkan anak lebih bebas dan lebih mendorong tanggung jawab. Remaja menjadi mandiri secara emosi dari orang tua mereka tanpa timbul pemutusan hubungan diantara mereka (Collins. dan terpisah dari orang tua mereka. 1990. 1990. bergerak maju (progressive) memantapkan pengertian dari seseorang tentang diri yang mandiri. 1986. Menurut Havighrust (Hurlock. Menurutnya. karena remaja ingin dapat mengatasi masalah-masalahnya sendiri. tetapi hal itu tidak mengancam ikatan emosional antara orang tua dan anak. Hill dan Holmbeck. 1993). bukan pemutusan hubungan keluarga. nampak setuju atas usulan para ahli bahwa perkembangan kemandirian remaja itu dapat dilihat dalam pola-pola pengertian yang dikembangkan remaja mengenai individualisasi. individuasi memerlukan pelepasan ketergantungan-ketergantungan pada masa anak-anak atas orang tua yang mendukung untuk menjadi lebih dewasa.27 mengalami transformasi. Lebih daripada itu. Steinberg. proses individualisasi yang dimulai selama masa bayi dan terus berlanjut dengan baik hingga memasuki masa remaja awal. Seorang ahli. yang kompeten. Remaja mulai mengambil jarak dalam interaksi dengan orang tuanya. lebih bertanggung jawab. dan mandiri.

dijelaskan pula peran orang tua tunggal ataupun peran orang tua yang keduanya berkarir dalam suatu rumah tangga mengakibatkan orang tua sangat mengharapkan anak remajanya untuk menjadi lebih mandiri sepanjang hari. keluarga atau orang tua sebagai unit lembaga sosial yang pertama dan utama bagi remaja dalam melakukan sosialisasi. Dengan demikian. Perubahan pada ekspresi mengenai afeksi. yang secara relatif mudah untuk menuju pada suatu keluarga yang fleksibel dan “anggota keluarga” dapat membuat modifikasi-modifikasi dalam hubungan-hubungan keluarga sepanjang waktu. kondisi pekerjaan orang tua dan tingkat pendidikan orang tua. Selain itu juga urutan anak dalam keluarga dan jumlah saudara juga mempengaruhi kemandirian emosional remaja. banyaknya anggota keluarga. pengertian. dan pola-pola interaksi verbal. adalah sangat mungkin terjadi bilamana transformasitransformasi penting diletakkan pada para remaja atau pola-pola kompetensi. dan peran sosial orang tua. Kondisi remaja yang tinggal dengan kedua orang tuanya ataupun dengan salah satu orang tuanya. distribusi kekuasaan atau wewenang. Selain itu. Sedangkan menurut Steinberg (1993). hubungan antara remaja dan orang tua mereka berubah secara berulang-ulang selama rangkaian perjalanan siklus kehidupan. karena anak muda yang lebih tua bisa diberikan tanggung jawab lebih banyak oleh orang tuanya. dipandang sebagai determinant factors yang dapat mempengaruhi perkembangan kemandirian remaja . Lebih lanjut Steinberg. (1993 : 143) menjelaskan bahwa terdapat faktor eksternal dalam proses pembentukan kemandirian emosional remaja dimulai dari lingkungan keluarga melalui pola pengasuhan orang tua dalam perlakuannya seharihari.28 perubahan-perubahan tersebut memperkembangkan kemandirian emosi yang meningkat. merupakan faktor eksternal.

Budaya masyarakat di Kabupaten Konawe Selatan yang umumnya dihuni masyarakat etnik Tolaki dikenal dengan budaya Kalo Sara. Mereka tidak membicarakan berbagai masalah dengan para remaja mereka. Selain itu.29 melalui penerapan pola pengasuhan terhadap para remaja mereka. dan tidak memberikan kesempatan untuk mengatur diri sendiri. anak dipengaruhi oleh orang tua mereka dan orang tua dipengaruhi oleh anak mereka. dalam Fuhrmann 1990) disebutkan. orang tua “authoritarian” percaya bahwa anak-anak harus patuh tanpa banyak bertanya tentang semua perintah orang tua. dan tidak memberikan penjelasan tentang aturan-aturan yang mereka buat.ama meo. disadari atau tidak telah meletakkan dasar-dasar perkembangan pola sikap dan perilaku bagi para remajanya sejak awal kehidupan mereka di lingkungan keluarga. Faktor budaya akan mewarnai perkembangan dan membentuk remaja karena menjadi rambu-rambu pergaulan keseharian. Mereka sangat sedikit menerima pandangan anak-anaknya. Dalam praktek.ana (anak berayah. Menurut Tarimana (1989) Kalo Sara merupakan pedoman bagi kelakuan seseorang dalam kehidupan sosial dan masyarakat. berkuasa. menuntut. Menurut konsep (Baumrind. Dari studi klasik yang dilakukan oleh Baumrind ia membagi gaya pengasuhan menjadi tiga bagian salah satunya adalah gaya pengasuhan authoritarian. Orang tua pada umumnya. Orang tua seperti itu adalah dogmatis. dan menghukum. mengontrol. faktor eksternal yaitu lingkungan budaya sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosional remaja. Dalam peranan orang tua melakukan aktivitas yang berhubungan timbalbalik antara ayah dan anak sebagai meo. ayah beranak) yaitu dimana anak mendapatkan perlindungan dan bimbingan dari orang tuanya. .

Agar anak tersebut menjadi harapan keluarga yang dikehendaki. aktif mengikuti kegiatan Selain itu terdapat pula konsep mbeo’ana yaitu hubungan timbal balik antara (ayah. Tindakan mendominasi remaja secara berlebihan. sehingga masing-masing akan melakukan perannya sesuai dengan fungsi-fungsi membangun rumah tangga. prilaku. Lebih lanjutnya dijelaskan. dapat mendorong tumbuhnya rasa ketergantungan remaja yang kuat terhadap orang tua mereka. dalam melakukan pergaulan sehari-hari dilingkup sosial dan masyarakat lainya. rasa dan karsa remaja sehingga membentuk pola sikap. ibu dan anak). Nampak bahwa dalam interval waktu yang panjang telah terjadi proses adopsi nilai-nilai yang tertanam dalam cipta. Dengan demikian. dimana anak harus patuh kepada orang tuanya. dan tindakan yang terakumulasi kedalam kemandirian remaja. dalam Fuhrmann. dan diajarkan nilai-nilai relegiyus.30 sebaliknya orang tua mendapatkan bantuan dari padanya dan mengharapkan untuk menjadi penggantinya. gaya kepengasushan orang tua. dapat menghambat perkembangan kemandirian remaja. tata krama kesopanan yang hak dan yang bathin. 1990) yang menyatakan bahwa perilaku orang tua “authoritarian” berpengaruh negatif terhadap . Ketiga pihak mempunyai peran untuk menentukan jatuh bangunnya rumah tangga. karena remaja dalam hal ini tidak diberi kesempatan untuk mengatur diri dan dikontrol sangat ketat oleh orang tua. Hal ini senada dengan pendapat (Baumrind. budaya tersebut diatas sangat berkaitan dengan pembentukan sikap atau perlakuan orang tua “authoritarian” yang cenderung mendominasi atau menguasai remaja secara berlebihan itu. juga mampuh menujukkan jati dirinya sebagai sosok remaja yang mandiri dengan melakukan keorganisasian siswa di sekolah. aktivitas misalnya.

sehingga anak menjadi tergantung dan tidak mandiri. rather than with its presence” (Steinberg. Dari paparan di atas dapat ditarik garis besar tentang substansi hubungan antara gaya pengasuhan orang tua yang authoritarian dengan eksistensi kemandirian emosional remaja adalah bersifat negatif dalam arti bahwa gaya pengasuhan model authoritarian menjadikan anak cenderung tidak bertanggung jawab. interpersonal. educational. Pada akhir masa remaja. serta remaja dapat mandiri dan memiliki chronological dan cultural. dan tidak mandiri. Kemudian Steinberg menyatakan. kekhasan pada dirinya (individualized). cognitive.31 anak-anaknya. remaja dapat mengambil keputusan dalam mengatasi gejolak perasaan yang dialaminya (non dependency). Steinberg (1993) mengungkapkan batasan-batasan pada remaja akhir yang disebut dengan “The Boundries of Adolecence dalam area biological. Gaya pengasuhan orang tua authoritarian yang terjadi di Konawe Selatan cenderung dapat mempengaruhi tingkat kemandirian emosional remaja. legal. misalnya anak kerap menjadi tergantung dan bisa juga bersikap melawan orang tua. social. “Strained family relationships appear to be associated with a laock of autonomy during adolescence. Hal ini terjadi mungkin karena adanya tekanan-tekanan dari orang tua yang memaksakan kehendaknya terhadap anak. emotional. Pada penelitian ini dibatasi hanya empat area yang . Anak atau remaja yang dibesarkan dibawah kondisi pengasuhan yang otoriter cenderung patuh dan menunjukkan sikap penyesuaian diri dengan standard perilaku yang diberlakukan oleh orang tua. 1993). dalam hal ini remaja akan memandang orang tuanya bukan sebagai orang yang paling ideal ( deidealized). mampu memandang orang tuanya seperti orang dewasa lainnya (parent as people).

yaitu perlakukan orang tua untuk mendorong remaja memiliki kemampuan berpikir secara rasional serta menyusun rencana masa depan. sebagaimana tergambar dalam bagan sebagai berikut : Gaya t Pengasuhan Orang Tua Authoritarian 1. kedua.1 Skema hubungan antar variabel . saudara. 2. Interpersonal merupakan area berkembangnya kapasitas untuk batasan hubungan relasi seperti dengan orang tua. 4. area kognisi. Hubungan skematis kedua variabel penelitian tersebut dapat dijelaskan melalui skema hubungan antar variabel. nampak jelas bahwa gaya pengasuhan sehari-hari yang diterapkan oleh orang tua memiliki hubungan yang erat dengan kemandirian emosional remaja. 3. Tuntutan yang tinggi dan Perhatian yang rendah Kemandirian Emosional Remaja 1. guru dan sebagainya. Area sosial merupakan kemampuan dengan status penuh sebagai orang dewasa yang mempunyai hak dan kewajiban Mengacu kepada uraian-uraian dari kajian psikologi tentang gaya pengasuhan authoritarian dengan kemandirian emosional remaja. Keempat itu adalah area emosional yaitu perlakuan orang tua terhadap remaja untuk memperoleh identitas diri sebagai pribadi dan perannya sebagai wanita/laki-laki. teman-teman. Penelitian ini membahas dua variabel yang terdiri dari gaya pengasuhan authoritarian orang tua dengan kemandirian emosional remaja. De-idealized Parent as people Non-dependency Individualized Gambar: 2. semuanya terlepas dari ketergantungan secara emosional dari orang tuanya.32 memiliki kaitan dengan gaya pengasuhan authoritarian yang bertujuan untuk memperoleh kemandirian remaja secara emosional.

diajukan beberapa asumi sebagai berikut: 1) Setiap remaja memiliki kecenderungan untuk mandiri. berkuasa. karena kemandirian tingkah dan kemandirian nilai mulai berkembang dengan mempersyaratkan kemandirian emosional yang cukup. Asumsi Berdasarkan keterangan-keterangan yang telah diuraikan pada kerangka pemikiran di atas. . melalui kedekatan hubungan emosional dengan orang tuanya. interpersonal dan sosial untuk mengatur dirinya sendiri dan mengatasi masalah-masalah remaja yang terjadi antara dirinya dan lingkungannya. 5) Gaya pengasuhan orang tua yang auhtoritarian merupakan gaya pengasuhan yang dogmatis. 6) Gaya pengasuhan orang tua yang authoritarian menghambat perkembangan kemandirian emosional remaja dalam area emosional. karena merupakan salah satu aspek tugas perkembangan remaja. sehingga perkembangan kemandirian emosional tidak terlepas dari interaksinya dengan orang tuanya dalam gaya pengasuhan tertentu. kemandirian remaja. 2) Remaja memiliki tuntutan internal dari dalam dirinya sendiri untuk memperoleh kemandirian emosional dari orang tuanya. 3) Kemandirian emosional pada remaja berkembang lebih dulu sebagai dasar perkembangan. menuntut. untuk mencari jati dirinya sebagai remaja yang mandiri.33 2. mengontrol. dan menghukum. 4) Kemandirian emosional remaja tumbuh atau berkembang sejak awal kehidupan dimasa anak-anak. kognisi.3.

4.34 2. Hipotesis Berdasarkan kerangka pemikiran dan asumsi diatas. maka diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut : “Terdapat hubungan antara gaya pengasuhan authoritarian dengan kemandirian emosional remaja di Konawe Selatan”. .

35 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful