You are on page 1of 0

295

Aplikasi teknologi pebesaran abalon ... (Bambang Susanto)

APLIKASI TEKNOLOGI PEMBESARAN ABALON (Haliotis squamata)


DALAM MENUNJANG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR
Bambang Susanto, Ibnu Rusdi, Riani Rahmawati, I Nyoman Adiasmara Giri, dan Tatam Sutarmat
Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut
Jl. Br. Gondol Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng, Kotak Pos 140 Singaraja, Bali 81101
E-mail: rimgdl@indosat.net.id

ABSTRAK
Teknologi pembesaran abalon telah dilakukan dengan memanfaatkan rumput laut hasil budidaya masyarakat
pesisir. Tujuan ujicoba adalah pemanfaatan rumput laut hasil budidaya untuk pembesaran yuwana abalon.
Digunakan yuwana abalon dengan ukuran panjang cangkang awal 30,592,80 sampai 31,732,07 mm
dan Jenis rumput laut yang digunakan sebagai pakan abalon adalah Gracilaria, E. cottonii dan kombinasi
keduanya. Hasil yang dicapai pada akhir ujicoba untuk pertumbuhan panjang dan bobot yuwana abalon
adalah dengan pakan (A) = Gracilaria: 41,39 mm dan 10,73 g; pakan (B) = E. cottonii: 37,18 mm dan 7,39 g,
serta pakan (C) = kombinasi Gracilaria + E. cottonii: 40,05 mm dan 10,02 g. Hubungan panjang-bobot
abalon dengan pemberian pakan (A) menghasilkan R = 0,854; pakan (B) dengan R = 0,891; dan pakan (C)
dengan R = 0,613. Laju pertumbuhan panjang dan bobot harian untuk ujicoba A, B, dan C berturut-turut
adalah 120,00 m dan 38,44 g; 73,89 m dan 38,44 g serta 92,44 m dan 65,44 g. Pembesaran abalon
dapat memanfaatkan jenis rumput laut yang dibudidaya oleh masyarakat pesisir.

KATA KUNCI:

abalon, Haliotis squamata, teknologi

PENDAHULUAN
Abalon (Haliotis sp.) merupakan binatang laut yang digolongkan dalam kekerangan dan termasuk
dalam klas Gastropoda, famili Haliotidae. Jenis abalon di alam diperkirakan lebih dari 100 spesies,
namun yang telah berhasil dibudidaya hanya beberapa spesies saja. Di Jepang ada 7 spesies yang
dibudidaya, yaitu Haliotis gigantean, H. sieboldii, H. discus, H. discus hannai, H. diversicolor, H. asinina,
dan H. supertexta (Takashi, 1980). Sementara jenis abalon di Indonesia seperti Haliotis asinina dan H.
squamata masih belum banyak dilakukan.
Abalon tergolong hewan yang memiliki nilai eksotik, dan bernilai ekonomis tinggi. Pada daerah
tertentu, jenis abalon (H. asinina) dalam kondisi hidup dijual dengan harga Rp 200.000,-/kg, tetapi
jenis lainnya (H. squamata) dengan harga Rp 600.000,-/kg bahkan salah satu restoran atau hotel
mewah di Jakarta mematok tarif hidangan abalon hingga satu juta lima ratus ribu rupiah per porsi
(Anonim, 2006). Abalon termasuk hewan yang bersifat endemik. Di alam, pada stadia larva memakan
diatom bentik, sedangkan abalon dari stadia yuwana hingga dewasa dapat memakan makroalga
(seaweed) yang terdiri atas tiga jenis, yaitu alga coklat, hijau, dan merah (Fallu, 1991). Sedangkan
alga merah seperti Gracilaria sp. adalah jenis pakan alami yang dilaporkan baik bagi abalon dari
spesies H. asinina (Singhagraiwan & Doi, 1993), dan H. squamata (Susanto et al., 2007).
Abalon termasuk hewan herbivorous (Darma, 1988) sehingga dapat mengkonsumsi rumput laut
sebagai pakan. Jenis rumput laut yang dapat digunakan sebagai pakan abalon adalah Gracilaria
maupun Ulva (Susanto et al., 2008; Rahmawati et al., 2008; Rusdi et al., 2009;). Abalon dapat mencerna
rumput laut karena memiliki enzim yang dapat melisis jaringan dinding sel rumput laut seperti
enzim selulase dan pektinase atau secara komersial disebut dengan macerozyme (Mulyaningrum &
Suryati, 2008). Menurut Singhagraiwan (1993), Gracilaria merupakan makanan yang baik untuk
perkembangan gonad induk abalon jenis Haliotis asinina.
Rumput laut tergolong tanaman berderajat rendah, umumnya tumbuh melekat pada substrat,
tidak mempunyai akar dan batangnya berupa thalus (Anggadiredja et al., 2006). Rumput laut jenis
Eucheuma cottonii disebut juga dengan Kappaphycus alvarezii, banyak dihasilkan dari budidaya dan
telah berkembang di sepanjang pantai Indonesia. Penyediaan benih rumput laut tersebut dapat
berasal dari alam, budidaya maupun perbenihan secara vegetatif atau generatif (Nurdjana, 2006;
Parenrengi et al., 2007).

296

Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2010

Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol-Bali, telah berhasil memproduksi benih abalon
dari spesies H. squamata, sementara masyarakat pesisir telah mampu membudidaya rumput laut dari
jenis E. Cottonii dan Gracilaria sp. Untuk itu, perlu dilakukan ujicoba pembesaran abalon dengan
memanfaatkan beberapa jenis rumput laut hasil budidaya sebagai pakan abalon. Pembenihan dan
pembesaran abalon diharapkan dapat dikembangkan secara bersama-sama dengan masyarakat
pembudidaya rumput laut agar diperoleh hasil yang lebih berdaya guna. Tujuan ujicoba ini untuk
mengaplikasikan teknologi pembesaran abalon dengan memanfaatkan beberapa jenis rumput laut
yang telah dibudidaya oleh masyarakat pesisir, sasaran dari ujicoba ini diharapkan untuk menghasilkan
teknik produksi abalon yang dengan aplikasi, dan dapat menambah pengetahuan bagi masyarakat
dalam membudidaya abalon serta meningkatkan pendapatannya.
BAHAN DAN METODE
Ujicoba ini dilakukan pada Keramba Jaring Apung (KJA) Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut,
yang berlokasi di Desa Pemuteran Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng, Bali. Yuwana abalon
yang digunakan dalam uji coba ini adalah yuwana abalon yang berasal dari alam, kemudian
diaklimatisasikan dalam bak yang dilengkapi dengan sistem air mengalir dan aerasi selama satu
minggu kemudian dilakukan seleksi sesuai ukuran yang diperlukan dalam penelitian. Abalon yang
digunakan dalan ujicoba ini dipilih dengan ukuran panjang cangkang awal seperti tersaji dalam
Tabel 1.
Tabel 1. Data ukuran awal yuwana abalon yang digunakan dalam
uji coba pakan berbeda
Perlakuan

Jenis Pakan

Gracilaria

E, cottonii

Kombinasi

Panjang cangkang (mm)


Maksimum
Minimum
Rataan
SD

36,60
26,40
30,59
2,80

34,00
27,20
30,63
2,30

34,40
28,20
31,73
2,07

Lebar cangkang (mm)


Maksimum
Minimum
Rataan
SD

21,90
16,60
19,06
1,58

22,20
17,10
19,59
1,63

24,20
17,60
20,32
1,61

5,80
1,80
4,01
1,01

5,60
2,20
3,93
0,84

6,00
2,40
4,13
1,03

Bobot badan (g)


Maksimum
Minimum
Rataan
SD

Pemeliharaan yuwana abalon selanjutnya di tempatkan dalam wadah jaring 0,5 cm, dengan
ukuran panjang x lebar x tinggi : 1 m x 1 m x 1,25 m dan dalam jaring tersebut diberikan shelter
berupa potongan pipa PVC : 6" yang berfungsi sebagai pelindung atau tempat bersembunyi bagi
abalon (Gambar 1). Setiap jaring ditebar yuwana abalon dengan kepadatan awal sebanyak 200 ekor/
m 2.
Selama ujicoba diberi pakan dengan jenis rumput laut yang berbeda sebagai perlakuan yaitu: (A).
Gracilaria, (B). Eucheuma cottonii, (C) kombinasi E. cottonii, dan Gracilaria. Untuk menghindari kotoran
yang menempel pada jaring, maka setiap dua minggu dilakukan pembersihan kotoran dan sekaligus
dilakukan pengamatan terhadap kondisi abalon.

297

Aplikasi teknologi pebesaran abalon ... (Bambang Susanto)

Gambar 1. Abalon berlindung pada shelter pipa PVC, dan jenis rumput
laut (Gracilaria dan E. cottonii) sebagai pakan abalon
Peubah yang diamati meliputi pertumbuhan (panjang dan lebar cangkang, serta bobot badan)
yang dilakukan setiap bulan. Untuk mengetahui pertambahan panjang, lebar cangkang abalon
dilakukan pengukuran dengan jangka sorong dengan ketelitian 0,01 mm; sementara bobot badan
diukur dengan menggunakan timbangan digital dengan ketelitian 0,1 g. Pertumbuhan panjang mutlak
cangkang dihitung dengan menggunakan rumus Effendie (1997): yaitu L = Lt Lo, di mana L =
Pertumbuhan panjang mutlak biota uji (mm); Lo = Panjang cangkang rata-rata biota uji pada awal
penelitian (mm); Lt = Panjang cangkang rata-rata biota uji pada akhir penelitian (mm). Pertumbuhan
bobot mutlak abalon dihitung mengunakan rumus Effendie (1997) yaitu: W = Wt Wo, di mana: W
= pertumbuhan bobot mutlak hewan uji (g); Wt = bobot rata-rata biota uji pada akhir penelitian,
dan Wo = bobot rata-rata biota uji pada awal penelitian. Laju pertumbuhan harian abalon dihitung
berdasarkan rumus Zonneveld et al. (1991) yaitu: DGR = (Wt Wo)/t, di mana DGR = laju pertumbuhan
harian (g/hari), Wo = bobot biota uji pada awal penelitian (g), Wt, = bobot biota uji pada akhir
penelitian (g) dan t = lama pemeliharaan (hari). Sedangkan sintasan abalon dihitung menggunakan
rumus Huynh & Fotedar (2004), yaitu: SR = Nt/No x 100, di mana: SR = sintasan hewan uji (%), No =
jumlah hewan uji pada awal penelitian (ekor), dan Nt, = jumlah hewan uji yang hidup pada akhir
penelitian (ekor).
Untuk mengetahui hubungan antara panjang-bobot badan dari ketiga perlakuan dianalisis dengan
menggunakan analisis regresi-korelasi. Sedang kualitas rumput laut dianalisis proksimat di
laboratorium nutrisi dan teknologi pakan Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol, Bali,
sementara asam lemak daging abalon dianalisis di laboratorium perguruan tinggi. Sebagai data
penunjang di monitor antara lain suhu air, pH, salinitas, oksigen terlarut, amonia, nitrit setiap bulan.
HASIL DAN BAHASAN
Pertumbuhan Panjang, Lebar Cangkang, dan Bobot Badan
Dari hasil pengamatan pertumbuhan yuwana abalon yang meliputi pertumbuhan panjang, lebar
cangkang, dan bobot badan selama ujicoba dengan pemberian jenis pakan berbeda dapat terlihat
seperti Gambar 2, 3, dan 4.
Pada Gambar 2 terlihat bahwa yuwana abalon yang dipelihara dengan pemberian pakan rumput
laut yang berbeda menunjukkan peningkatan pertumbuhan yang berbeda pula dari ukuran panjang
cangkangnya. Yuwana abalon yang diberi pakan Gracilaria menghasilkan pertumbuhan panjang
cangkang yang lebih baik (41,39 mm) dibanding pemberian pakan kombinasi (40,05 mm) atau
pemberian pakan E. cottoni (37,18 mm). Begitu juga pertumbuhan lebar cangkang yuwana abalon,
di mana pemberian pakan Gracilaria memberikan ukuran lebar cangkang yang terbaik dibandingkan
pemberian pakan lainnya (Gambar 3). Susanto et al. (2008) melaporkan bahwa abalon H. squamata
lebih menyukai jenis pakan rumput laut jenis Gracilaria, sementara Rusdi et al. (2009) melaporkan
bahwa yuwana abalon yang dipelihara dengan sistem air mengalir dan diberi pakan Gracilaria
menghasilkan pertumbuhan panjang cangkang terbaik.

298

Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2010

Gracilaria
E. cottonii
Kombinasi

Panjang cangkang (mm)

50
40
30
20
10
0

Masa pemeliharaan (bulan)

Gambar 2. Pertumbuhan panjang cangkang abalon dengan


jenis pakan berbeda

Gambar 3. Pertumbuhan lebar cangkang abalon selama uji coba

12

bobot badan (g)

10

Gracilaria
E. cottonii
Kombinasi

8
6
4
2
0

Masa pemeliharaan (bulan)

Gambar 4. Pertambahan bobot badan abalon dengan jenis pakan berbeda

299

Aplikasi teknologi pebesaran abalon ... (Bambang Susanto)

Dari pertumbuhan panjang dan lebar cangkang yuwana abalon terlihat bahwa abalon selama
pemeliharaan lebih menyukai rumput laut jenis Gracilaria, sehingga pertumbuhannya pada bulan
pertama sampai ketiga selalu lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan Shepherd & Steinberg (1992) dalam
Corazani & Illanes (1996) menjelaskan bahwa ada tiga faktor yang mempengaruhi pemilihan alga
oleh abalon sebagai makanannya yaitu senyawa metabolit yang ada dalam alga, morfologi alga, dan
tingkat kekerasan alga tersebut, serta nilai nutrisi yang memiliki peranan dalam tahap perkembangan
abalon. Sementara menurut Capinpin & Corre (1996) dengan menggunakan Gracilaria sp. sebagai
pakan dapat memacu pertumbuhan dan dianggap cocok untuk budidaya abalon.
Pemeliharaan yuwana abalon dapat dilakukan dalam Keramba Jaring Apung (KJA) atau dalam bak
terkontrol (Susanto, 2006), namun peningkatan pertumbuhan panjang cangkang yuwana abalon
yang terbaik adalah bila pemeliharaannya dilakukan pada keramba jaring apung (Susanto et al.,
2009). Gallardo & Salayo (2003) menginformasikan bahwa pemeliharaan abalon dilakukan dalam
KJA dengan sistem modular dan menggunakan ukuran benih abalon dengan panjang cangkang awal
1,7 cm; dan bobot badan 1,5 g akan mencapai ukuran panjang cangkang 5,6 cm dengan bobot
badan 50 g dengan lama pemeliharaan sekitar 9 bulan. Sedangkan Anonim (2000) menyatakan bahwa
abalon dengan ukuran panjang cangkang awal 30 mm, dengan kepadatan antara 60100 ekor/m2
untuk mencapai ukuran konsumsi (5060 mm) dibutuhkan masa pemeliharaan selama 810 bulan.
Cook (1991) melaporkan bahwa abalon merupakan organisme herbivora yang pasif, sehingga
hanya akan memilih dan memanfaatkan pakan yang tersedia dan terdapat di sekitarnya saja.
Pertumbuhan abalon sangat lambat serta berbeda antara satu spesies dengan lainnya dan
pertumbuhannya hanya berkisar 1,02,5 mm/bulan (Stickney, 2000). Sedangkan hasil pengamatan
yang dilakukan di BBRPBL Gondol untuk benih abalon H. squamata pertumbuhan panjang dan lebar
cangkang relatif lebih cepat yaitu pada pemeliharaan 70 hari mencapai 5,81 mm dan 4,01 mm,
dengan rata-rata pertumbuhan per bulannya sebesar 2,02,37 mm. Abalon, baik dari spesies H.
Asinina maupun H. squamata sangat menyukai pakan rumput laut (Priyambodo et al., 2005; Susanto
et al., 2007).
Pemberian pakan rumput laut untuk abalon H. squamata lebih cepat tumbuh dibanding H. asinina.
Menurut Poore (1973), pemilihan pakan hanya akan terjadi bila pakan tersedia. Selain hal itu proses
pemilihan makanan oleh abalon juga disebabkan oleh beberapa hal antara lain; keberadaan zat
metabolit kimia dari alga, morfologi alga (kekerasan), dan nilai gizi (Shepherd & Steinberg, 1990
dalam Sharifuddin, 2000).
Pertambahan bobot dan pertumbuhan panjang cangkang abalon pada pengamatan yang dilakukan
selama 6 minggu paling besar dicapai dengan pemberian pakan Gracilaria sp. Abalon memilih jenis
pakan tertentu karena kebutuhan abalon untuk mengkonsumsi pakan dengan nilai nutrisi yang
seimbang dan secara khusus abalon membutuhkan suplai nitrogen yang cukup dari pakannya.
Pertumbuhan panjang mutlak dari cangkang abalon yang tertinggi ditunjukkan pada perlakuan
A: pemberian pakan Gracilaria yaitu sebesar 10,80 mm; disusul perlakuan B: Kombinasi Gracilaria +
E. cottonii, dan pakan C: E. cottonii dan berturut-turut sebesar 8,32 mm dan 6,65 mm. Pertumbuhan
bobot badan abalon mutlak tertinggi juga ditunjukkan pada pemberian pakan Gracilaria sp., diikuti
oleh pakan kombinasi dan terendah pada pakan E. cottonii berturut-turut sebesar 6,72 g; 5,89 g; dan
3,46 g (Gambar 5 dan 6).
Hasil pengamatan laju pertumbuhan harian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan harian panjang
cangkang abalon tertinggi adalah dengan pemberian pakan Gracilaria sp. diikuti pakan kombinasi
dan E. cottonii, begitu juga laju pertumbuhan bobot badan harian abalon tertinggi ditunjukkan pada
pemberian pakan Gracilaria sp. dan diikuti pemberian pakan kombinasi serta E. cottonii (Gambar 5).
Susanto et al. (2008) melaporkan bahwa laju pertumbuhan bobot harian yuwana abalon yang
dipelihara dalam bak terkontrol sebesar 9,04 mg/hari. Hal ini sesuai dengan Neori et al. (1998);
Shpigel et al. (1999); Boarder & Shpigel (2001) yang menyatakan bahwa pemberian pakan rumput
laut sampai akhir penelitian menunjukkan peningkatan pertumbuhan abalon yang baik untuk jenis
Haliotis tuberculata, Haliotis discus hannai, dan Haliotis roei di Afrika Selatan. Laju pertumbuhan harian
terbesar dicapai dengan pemberian pakan Gracilaria sp. (2,850,28%) dan pertumbuhan yang lebih

300

Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2010


Panjang cangkang (mm)
Bobot badan (g)

12
10
8
6
4
2
0

Gracilaria

E. cottonii

Kombinasi

Gambar 5. Pertumbuhan panjang mutlak dan bobot mutlak


yuwana abalon
Panjang cangkang (m)
Bobot badan (g)

120
100
80
60
40
20
0

Gracilaria

E. cottonii

Kombinasi

Gambar 6. Laju pertumbuhan harian untuk panjang dan


bobot badan yuwana abalon
baik ditunjukkan oleh abalon yang diberi pakan Gracilaria sp. Gracilaria sp. merupakan pakan yang
baik untuk pertumbuhan abalon dibandingkan Ulva sp., meskipun abalon lebih banyak mengkonsumsi
Ulva sp. (Indarjo et al., 2007).
Sampai akhir pengamatan diperoleh persentase sintasan yuwana abalon dengan pemberian jenis
pakan berbeda menghasilkan sintasan antara 10,00%26,67%. Persentase sintasan tertinggi diperoleh
dengan pemberian pakan C (kombinasi Gracilaria dan E. cottonii ). Rendahnya sintasan dari
pemeliharaan yuwana abalon tersebut disebabkan karena banyak kematian yuwana abalon mulai
masa pemeliharaan bulan kedua, di mana pada saat pengamatan kualitas air, kondisi lingkungan
seperti suhu air dan salinitas di laut cenderung meningkat, salinitas meningkat dari 34 ppt menjadi
36 ppt dan suhu air dari 28,5C30,9C, sehingga kondisi abalon melemah pada masa pemeliharaan
bulan kedua sampai bulan ketiga yang akhirnya banyak kematian.
Hubungan Panjang Bobot Yuwana Abalon
Hubungan antara panjang cangkang dengan bobot badan yuwana abalon perlu diketahui untuk
memberikan informasi bahwa dengan melihat ukuran panjang cangkang maka dapat diketahui bobot

301

Aplikasi teknologi pebesaran abalon ... (Bambang Susanto)

badan dari yuwana abalon tersebut. Hubungan panjang bobot mempunyai nilai praktis yang
memungkinkan merubah nilai panjang ke dalam nilai berat. Bobot dapat dianggap sebagai suatu
fungsi dari panjangnya. Menurut Effendie (1992), hubungan panjang dan bobot badan mempunyai
persamaan sebagai berikut W = aLb, di mana W = bobot (gram), L = panjang (cm), a dan b adalah
suatu konstanta. Hasil transformasi ke dalam regresi linier diperoleh nilai b tertinggi ditunjukkan
oleh pemberian pakan rumput laut Gracilaria. Pertumbuhan abalon yang mempunyai nilai b<3 berarti
pertumbuhan bobotnya tidak sebanding dengan pertumbuhan cangkangnya, sementara nilai b>3,
pertumbuhan yuwana abalon lebih cenderung ke bobot badannya. Menurut Anderson & Gutreuter
(1983), berdasarkan nilai b pertumbuhan organisme bisa dikelompokkan menjadi allometrik negatif
(b<3), allometrik positif (b>3), dan isometrik (b=3). Menurut Uki (1989), hubungan panjang dan
bobot H. discus hannai pada panjang cangkang 19 cm diperoleh nilai sebagai berikut W = 0,14 L3.
Persamaan korelasi-regresi dari ketiga perlakuan diperoleh nilai R2 tertinggi adalah dengan
pemberian pakan E. cottonii dan diikuti pemberian pakan Gracilaria dan pakan kombinasi (Gambar 7).
Hal ini menunjukkan bahwa dengan pemberian pakan E. cottonii mempunyai hubungan yang sangat
erat antara panjang cangkang dengan bobot badan yuwana abalon.
Pemberian pakan Gracilaria sp. menghasilkan persamaan y = 0,0001x3.040 dengan R = 0,8546;
pemberian pakan E. cottonii y = 0,0002x2.953 dengan R = 0,8915; dan pakan kombinasi menghasilkan
y = 0,0008x2.517 dengan R = 0,6136.
Dari persamaan tersebut dapat diketahui bahwa pemberian pakan (A): Gracilaria sp. memberikan
nilai b sebesar 3,040; lebih baik daripada jenis (B) E. cottonii dan (C) Kombinasi. Hal ini membuktikan
bahwa makroalga jenis Gracilaria sp. merupakan pakan yang cocok untuk abalon jenis H. squamata,
untuk menghasilkan bobot badan yang baik selain itu, jenis rumput laut E. Cottonii dapat juga
diberikan sebagai pakan abalon dan menghasilkan pertumbuhan bobot badan yang baik pula.

Perlakuan A : Gracilaria

Perlakuan B : Eucheuma cottonii

Perlakuan C : Kombinasi Gracilaria + E. cottonii

Gambar 7. Hubungan antara panjang cangkang dan bobot badan yuwana abalon yang
dipelihara dengan pemberian pakan berbeda

302

Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2010


Analisa Proksimat dan Asam Lemak

Hasil analisis proksimat dari rumput laut yang digunakan sebagai pakan yuwana abalon tersaji
pada Tabel 2, diketahui bahwa rumput laut jenis Gracilaria mengandung protein dan abu lebih tinggi
dibandingkan dengan E. cottonii, hal ini menunjukkan bahwa rumput laut Gracilaria dapat memberikan
pertumbuhan yang lebih baik dibanding pemberian pakan E. cottonii. Bagi abalon, protein merupakan
komponen penting untuk pertumbuhan (Fleming et al., 1996). Kandungan nutrisi yang terdapat
pada pakan sangat berpengaruh bagi pertumbuhan abalon (Fallu, 1991). Menurut Mujiman (1992),
zat-zat gizi yang diperlukan untuk menghasilkan tenaga, mengganti sel-sel tubuh yang rusak, dan
untuk tumbuh antara lain protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, dan air. Zat yang paling
berperan dalam pertumbuhan adalah protein.
Tabel 2. Analisis proksimat dari rumput laut yang
digunakan untuk pakan yuwana abalon
Komposisi (%)
Protein
Lemak
Abu
Air

Gracilaria sp. E. cottonii


9,28
1,49
52,23
2,14

3,05
3,24
46,29
4,86

Pakan alami abalon yang baik untuk pertumbuhannya adalah walaupun rendah lemak tetapi kaya
cadangan karbohidrat (Painter, 1983 dalam Knauer et al., 1996). Abalon memiliki kemampuan yang
besar untuk mensintesis lemak dari sumber karbohidrat (Durazo-beltran et al., 2003). Akan tetapi
untuk meningkatkan pertumbuhan abalon yang baik dibutuhkan makroalga dengan kandungan lemak
berkisr antara 3%5% (Mercer et al., 1993).
Moyes & West (1995) mengemukakan bahwa lipid merupakan unsur penting makanan bukan
semata-mata karena nilai energinya yang tinggi, melainkan karena adanya vitamin yang larut dalam
lemak dan asam lemak esensial yang terkandung pada pakan alami. Tingginya nilai lemak pada
pakan menyebabkan jumlah pakan yang dikonsumsi rendah sehingga energi yang dihasilkan juga
rendah dan menyebabkan laju pertumbuhan abalon menjadi lambat (Thongrod et al., 2003). Lipid
memegang peranan penting pada nutrisi abalon sebagai penyedia EFA, khususnya HUFA (High Unsaturated Fatty Acid) (Uki et al., 1986; Uki & Watanabe, 1992).
Sampai saat ini informasi mengenai kebutuhan asam lemak esensial (EFA) untuk abalon belum
tersedia. Asam lemak esensial tidak dapat disintesa oleh tubuh biota melainkan harus disuplai dari
pakan. PUFA (Polyunsaturated fatty acid) dibutuhkan untuk pertumbuhan normal dan reproduksi
abalon yang harus didapatkan dari pakan sebagai asam lemak esensial (Dunstan et al., 1996). Hasil
analisis asam lemak dari daging abalon belum dapat disajikan karena masih dalam proses analisis di
laboratorium.
Kualitas Air
Hasil pengukuran kualitas air pada masing-masing perlakuan selama penelitian disajikan pada
Tabel 3.
Hasil pengukuran kualitas air selama pemeliharaan menunjukkan bahwa kisaran nilai yang
berfluktuasi dan memberikan pengaruh terhadap kehidupan abalon. Hasil pengamatan menunjukkan
bahwa suhu dan salinitas, masing-masing cenderung sangat ekstrim karena salinitas air sampai 36
ppt, dan suhu di atas 30C. Pada kondisi suhu diaas 30C dengan periode yang panjang akan
mempengaruhi kondisi abalon. Menurut Irwan (2006), suhu yang optimal untuk abalon berkisar
antara 24C30C, sedangkan salinitas optimum antara 3035 ppt. Menurut Fallu (1991), Kisaran
salinitas normal yang cocok untuk pertumbuhan abalon yaitu berkisar 3335 ppt dan pertumbuhan
hewan laut tidak optimal pada salinitas di atas 35 ppt.

303

Aplikasi teknologi pebesaran abalon ... (Bambang Susanto)


Tabel 3. Hasil pengukuran kualitas air pada masing-masing
perlakuan
Variabel

Suhu (C)
29,831,2
29,831,09
Salinitas (ppt)
3436
3436
Oksigen terlarut
5,05,4
5,15,4
pH
8,18,56
8,18,53
Amonia (mg/L)
0,005 0,010 0,0070,013
Nitrit (mg/L)
0,0040,006 0,0070,512

C
29,831,02
3436
5,15,4
8,18,55
0,0070,012
0,0060,060

KESIMPULAN DAN SARAN


1. Pemberian pakan rumput laut dengan jenis yang berbeda memberikan tingkat pertumbuhan yang
berbeda pula dan pembesaran abalon dapat memanfaatkan beberapa jenis rumput laut yang
diproduksi oleh masyarakat.
2. Jenis pakan E. cottonii dapat diberikan sebagai pakan dalam aplikasi pembesaran abalon spesies H.
squamata.
Saran
Pembesaran abalon disarankan untuk dilakukan kembali dengan memberikan beberapa jenis
rumput laut yang dihasilkan oleh masyarakat sebagai pakan abalon dan dimulai pada kondisi
lingkungan perairan yang mendukung kehidupan abalon.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Saudara I Made Buda, Hendra, dan Wiwin sebagai staf
teknisi pada hatcheri Abalon yang telah membantu selama persiapan sampai selesai pelaksanaan
penelitian ini. Terima kasih juga disampaikan kepada Saudara/i Ni Putu Ayu Kenak, Ni Putu Ari Arsini,
Ni Kadek Ariani, Darsudi, dan Deny Puji Utami yang telah membantu dalam kegiatan analisis
laboratorium.
DAFTAR ACUAN
Anderson, R.O. & Gutreuter, S.J. 1983. Length weight and Associated structural indices. In Nielsen,
L.A., Johnson, D.L. (Eds.), Fisheries Techniques. American Fisheries Society, Bethesda, Maryland, p.
283300.
Anggadiredja, J.T., Zatnika, A., Purwoto, H., & Istini, S. 2006. Rumput laut, pembudidayaan, pengolahan
dan pemasaran komoditas perikanan potensial. Penebar Swadaya, 147 hlm.
Anonim. 2000. Abalone seed production and culture. Aquaculture Department, Southeast Asian Fisheries Development Center, Tigbauan, Iloilo, Philippines, 6 pp.
Anonim. 2006. Budidaya abalon. Majalah demersal http://www.abalondirect.com/abdirect/
About_Abalon/ Facts/facts.html.
Boarder, S.J. & Shpigel, M. 2001. Comparative growth perfomance of juvenil Haliotis roei fed on enriched Ulva rigida and various artificial diets. J. Shellfish Res., 20: 653657.
Capinpin, E.C. & Corre, K.G. 1996. Growth rate of the Philippine abalone, Haliotis asinina fed an
artificial diet and macroalgae. Aquaculture, 144: 8189.
Cook, P.A. 1991. The potential for abalone culture in South Africa. In : Cook PA (ed) Perlemoen farming
in South Africa. Mariculture Association of South Africa, p. 2732
Corazani, D. & Illanes, Z.E. 1996. Growth of Juvenile Abalone Haliotis discus hannai Ino 1953 and
Haliotis rufescens Swainson 1822 Fed With Different Diets. J. of Shellfish Research, 17: 663666.
Cox, K.W. 1996. California Abalones. Famili Haliotidae. California Fish and Game. Fisheries Bulletin,
118 pp.

Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2010

304

Dharma, B. 1988. Siput dan kerang Indonesia I. Cetakan pertama. PT Sarana Graha. Jakarta, hlm. 30
45.
Dunstan, G.A., Baillie, H.J., Barrett, S.M., & Volkman, J.K. 1996. Effect of diet on the lipid composition
of wild and cultured abalone. Aquaculture, 140: 115127.
Durazo-Beltran, E., Louis R. DAbramo, Jorge Fernando Toro-Vazquez, Carlos Vasquez-Pelaez, &
Mara Teresa Viana. 2003. Effect of triacylglycerols in formulated diets on growth and fatty acid
composition in tissue of green abalone (Haliotis fulgens). Aquaculture, 224: 257270
Effendie, M.I. 1992. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Agromedia. Bogor, 112 hlm.
Effendie, M.I. 1997. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri, Bogor, 105 hlm.
Fallu, R. 1991. Abalone farming Set by setrite typesetter limited Printed and bound in Great Britain
by Harnolls, Bodmin, Conwail, 195 pp.
Fleming, A.E., Van Burneveld, R.J., & Hone, P.W. 1996. The development of artificial diets for abalone
: A review and future directions. Aquaculture, 140: 553.
Furkon, U.A. 2007. Konsumsi kerang dan udang membahayakan, benarkah. Diakses dari http://
ukonisme.blogspot.com/2007/02/ konsumsi-kerang- dan udang-membahayakan. html, 3 hlm.
Gallardo, W.G. & Salayo, N.D. 2003. Abalone culturea new business. Opportunity. SEAFDEC Asian
Aquaculture, 25(3).
Huynh, M.S. & Fotedar, R. 2004. Growth, survival, hemolymph osmolality and organosomatic indices
of the western king prawn (Penaeus laticulatus Kihinouye, 1896) reared at different salinities. Aquaculture, 234: 601614.
Indarjo, A., Hartati, R., Samidjan, I., & Anwar, S. 2007. Pengaruh pakan Gracilaria sp. dan pakan
buatan terhadap pertumbuhan Abalon Haliotis asinina. Prosiding Seminar Nasional Moluska dalam
penelitian, konservasi dan ekonomi, hlm. 215228.
Irwan, J.E. 2006. Pengembangan Budidaya Abalon (Haliotis asinina L.) Produksi Hatchery di Indonesia.
Jurusan Perikanan, UNHALU, Kendari, Sulawesi Tenggara, 21 hlm
Knauer, J., Britz, P., & Hecht, T. 1996. Comparative growth performance and digestive enzyme activity
of juvenile South African abalone, Haliotis midae, fed on diatoms and a practical diet. Aquaculture,
140: 7585.
Litaay, M. 2009. Peranan-nutrisi-dalam-siklus-reproduksi-abalon. Diakses dari http://
i n d o b a h a r i . b l o g s t e r. c o m / p e r a n a n - n u t r i s i - d a l a m - s i k l u s - r e p r o d u k s i - a b a l o n .
www.oseanografi.lipi.go.id/ download/ose_xxx3_ peran.pdf
Mai, K., Mercer, J.P., & Donlon, J. 1995. Comparative studies on the nutrition of two species of abalone, Haliotis tuberculata L. and Haliotis discus hannai Ino: III. Response of abalone to various levels
of dietary lipid. Aquaculture, 134: 6580.
Mercer, J.P., Mai, K.S., & Donlon, J. 1993. Comparative studies on the nutrition of two species of
abalone, Haliotis tuberculara Linnaeus and Haliotis discus hannai Ino. 1. Effects of algal diets on
growth and biochemical composition. Invert. Reprod. Dev., 23: 7588.
Moyes, C.D. & West, T.G. 1995. Exercise metabolism of fish. In: Hochachka, P.W., Mommsen, T.P.
(Eds.), Metabolic Biochemistry. Biochemistry and Molecular Biology of Fishes, 4: 367392.
Muchtadi, T.R. 2000. Asam Lemak Omega 9 dan manfaatnya bagi Kesehatan. Media Indonesia, 29
November 2000. Diakses dari http://www.bimoli.com/omega9b.htm. April, 2009-04-04
Mujiman, A. 1992. Makanan Ikan. Penebar Swadaya, Jakarta, 190 hlm
Mulyaningrum, S.R.H & Suryati, E. 2008. Aktivitas enzim komersial, ekstrak kasar enzim dari viscera
keong emas (Pila polita), abalone (Haliotis asinina), dan bekicot (Achtina fullica) untuik lisis jaringan
rumput laut, Kappaphycus alvarezii pada kultur protoplas. J. Ris. Akuakultur, 3(3): 313321.
Neori, A., Ragg, N.L.C., & Shpigel, M. 1998. The integrated culture of seaweed, abalone and clams in
modular intensive land-based systems: II. Performance and nitrogen partitioning within an abalone (Haliotis tuberculata) and macroalgae culture system. Aquaculture. Eng., 17: 215239.
Nurdjana, M.L. 2006. Pengembangan budidaya rumput laut di Indonesia.disampaikan pada Diseminasi
Teknologi dan Temu Bisnis Pengembangan Budidaya Rumput Laut. Makassar, 35 hlm.

305

Aplikasi teknologi pebesaran abalon ... (Bambang Susanto)

Parenrengi, A., Suryati, E., & Rachmansyah. 2007. Penyediaan benih dalam menunjang kebun bibit
dan budidaya rumput laut, Kappaphycus alvarezii. Makalah disampaikan dalam Simposium Nasional
Riset Kelautan dan Perikanan. Jakarta, 12 hlm.
Poore, G.C.B. 1973. Ecology of New Zealand abalones, Haliotis species (Mollusca: Gastropoda). IV.
Reproduction. NZ J. Mar. Freshwater Res., 7: 6784
Priyambodo, B., Sofyan, Y., & Suastika Jaya, I.B.M. 2005. produksi benih tiram abalon (Haliotis asinina)
di Loka Budidaya Laut Lombok. Prosiding Seminar Nasional Tahunan Hasil Penelitian Perikanan dan
Kelautan. UGM. Yogyakarta, 5 hlm.
Rahmawati, R., Rusdi, I., & Susanto, B. 2008. Studi tentang pertumbuhan abalon Haliotis squamata
(Reeve, 1846) dengan pemberian pakan makroalga yang berbeda. Prosiding Seminar Nasional
Perikanan 2008. Teknologi Budidaya Perikanan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. STP Jakarta.
hlm. 342349.
Rusdi, I., Susanto, B., & Rahmawati, R. 2009. Pemeliharaan abalon Haliotis squamata dengan sistem
pergantian air yang berbeda. Prosiding Seminar Nasional Moluska. FPIK-IPB. Bogor.
Sharifuddin. 2000. Food and Growth in Haliotis (preview). J. Perikanan UGM, II(1): 112.
Shpigel, M., Ragg, N.L., Lapatsch, I., & Neori, A. 1999. Protein content determines the nutritional
value of the seaweed Ulva lactuca L. for the abalone Haliotis tuberculata L. and H. discus hannai. J.
Shellfish Res., 18: 227233.
Singhagraiwan, T. & Doi, M. 1993. Seed production and culture of a tropical abalone Haliotis asinina
Linne. Department of fisheries, Ministry of Agriculture and Cooperatives. Thai. Mar. Fisheries Res.
Bull., 2: 8394.
Stickney, R.R. 2000. Abalone Culture. Encyclopedia Of Aquaculture. California, p. 16.
Susanto, B. 2006. Report of JICA Training Course at Japan, Sustainable Mariculture Technology, period
8 September to 1 November 2006, 12 pp (Unpublish).
Susanto, B., Hanafi, A., Zafran, & Ismi, S. 2007. Pematangan gonad induk dan perbaikan kualitas
benih abalon (Haliotis squamata). Laporan Teknis BBRPBL Gondol Bali, 17 hlm.
Susanto, B., Rusdi, I., Ismi, S., Hanafi, A., Supii, A.I., & Styadi, I. 2008. Perbaikan teknik pemeliharaan
larvajuvenil abalone (Haliotis squamata) melalui manajemen pakan dan lingkungan. Laporan teknis
BBRPBL, 13 hlm.
Susanto, B., Rusdi, I., Ismi, S., & Rahmawati, R. 2009. Perbenihan dan pembesaran abalon (Haliotis
squamata) di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol Bali. Prosiding Seminar Nasional
Moluska 2, Moluska peluang bisnis dan konservasi. FPIK-IPB. Bogor, V: 149161.
Takashi. 1980. Abalone and their industry in Japan. Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries, p.
165177.
Thongrod, S., Tamtina, M., Chairatb, C., & Boonyaratpalinc, M. 2003. Lipid to carbohydrate ratio in
donkeys ear abalone (Haliotis asinina, Linne) diets. J. of A Department of Fisheries, Coastal Aquatic
Feed Research Institute, Jatujak, Bangkok 10900, Thailand, 165174.
Uki, N. 1989. Abalon seedling production and its theory. National Research Institute of Aquaculture
Fisheries Agency. Japan, Int. J. Aq. Fish Technol., 1: 224231.
Uki, N., Sugiura, M., & Watanabe, T. 1986. Requirement of essential fatty acids in the abalone Haliotis
discus hannai. Bull. Jpn. Soc. Sci. Fish., 52: 10131023.
Uki, N. & Watanabe, T. 1992. Review of the nutritional requirements of abalone Haliotis spp and
development of more efficient diets. In: Sheperd, S.A., Tegner, M.J., Guzman del Proo, S.A. (Eds.),
Abalone of the World: Biology, Fisheries and Culture. Fishing News Books, Oxford, p. 504517.
Zonneveld, N., Huisman, E.A., & Boon, J.H. 1991. Prinsip-prinsip Budidaya Ikan. Penerjemah. Pustaka
Utama. Gramedia, Jakarta, 71 hlm.