hLAPORAN KASUS

IDENTITAS: Nama penderita Umur Jenis kelamin Pendidikan Alamat : Tn. Jack Russell : 56 tahun : Laki-laki : N/A : N/A

DATA DASAR Anamnesis tanggal Keluhan utama : Alloanamnesis dengan data pasien : Sesak napas

Riwayat Penyakit Sekarang : ±45 menit yang lalu pasien sesak nafas. Sebelumnya pasien merasa baikbaik saja sampai pasien mencium bau asap sekitar 1 jam yang lalu, 20 menit kemudian pasien mulai sesak dan mengi. Kemudian pasien menggunakan obat asma yang biasa digunakan (albuterol inhaler), tetapi sesak tidak berkurang. Demam (-), batuk (-), pilek (-). Pasien juga mengeluh nyeri tungkai bawah sejak 6 bulan yang lalu. Kemudian pasien datang ke UGD. Dari hasil pemeriksaan di UGD didapatkan takikardi, takipneu, wheezing dan hipertensi. Saturasi O2 8788%. Pasien mengaku mengkonsumsi salmeterol untuk pengobatan asma dan serangan asma terakhirnya pada 2 bulan yang lalu. Pasien juga mengatakan bahwa pencetus kekambuhan asmanya adalah asap rokok, asap kebakaran, asap lilin beraroma, dan dupa. Di UGD, dokter memberikan 2 albuterol nebulizer @5mg dan SoluMedrol 125mg IV. Dari hasil foto thoraks tidak didapatkan suatu proses yang akut. Karena hipoksia dan kesulitan berbicara, pasien juga diberikan nasal kanul oksigen 2 lpm dan dirawat inap. Riwayat Penyakit yang Lalu Riwayat hipertensi Riwayat hiperlipidemia
1

Riwayat GERD dengan Barret esophagus Riwayat asma Riwayat patah tulang lengan kanan 2 tahun yang lalu Riwayat batu ginjal 9 tahun yang lalu Riwayat ESWL dan pemasangan DJ stent Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada anggota keluarga yang sakit seperti ini

Riwayat Sosial Ekonomi Pasien merupakan duda, hidup sendiri di apartemen. Bekerja sebagai tukang kayu. Riwayat merokok, minum alcohol, atau penggunaan obat terlarang disangkal. Kesan : Sosial ekonomi kurang

PEMERIKSAAN FISIK Kesan umum : pasien sadar, sesak nafas, dispneu (+), retraksi (+)

menggunakan otot bantu nafas BB : 68 kg, TB : 167,64 cm Tanda Vital HR : 112 x/menit RR : 24 x/menit Suhu tubuh : 37,8oC (axiller)

Tekanan darah : 155/92 mmHg

Pulsus paradoxus : 14 mmHg Keadaan Tubuh Kepala Mata Telinga Hidung Bibir Mukosa Mulut bicara (+) Lidah Gigi geligi : normoglossi, deviasi (-) : karies (-) : mesosefal : konjungtiva pucat (-/-), refleks cahaya (+/+) normal : discharge (-/-) : discharge (-/-), septum deviasi (-) : anemis (-), sianotik (-) : sianotik (-), kering (-) : gusi berdarah (-), sianotik (-), mukosa kering (-), sulit

2

Tenggorok hiperemis (-) Leher

: T1-T1,hiperemis (-),detritus (-),kripte melebar (-),faring

: pembesaran nnll (-), deviasi trakea (-)

Thorax Paru : I : Simetris statis dan dinamis, sela iga melebar (+/+), otot bantu napas (+) Pa : Stem fremitus kanan = kiri Pe : Sonor di seluruh lapangan paru A : Suara dasar : vesicular (+/+) menurun di seluruh lapangan paru Suara tambahan: wheezing (+/+) ekspirasi diperpanjang Jantung : I : Ictus cordis tidak terlihat

Pa : Ictus cordis tidak melebar, kuat angkat (-) Pe : Batas kiri : Ictus cordis pada 2 cm medial linea midclavicula kiri Batas atas Batas kanan : SIC 2, linea parasternal kiri : SIC 2, linea parasternal kanan

A : BJ I-II normal, irama reguler, murmur (-), gallop (-) Abdomen: I : datar, supel

Pa : hati : tak teraba lien: tak teraba turgor: kembali cepat Pe : timpani, pekak sisi (+) N, pekak alih (-) A : bising usus (+) normal Anggota gerak : Atas Pucat Sianotik Akral dingin Nyeri otot tungkai bawah -/-/-/-/3 Bawah -/-/-/+/+

Edema Capillary refill

-/<2”

-/<2”

Neurologi

: dalam batas normal

PEMERIKSAAN LABORATORIUM Hematologi Hb Ht Eritrosit MCH MCV MCHC Lekosit Trombosit
Elektrolit Natrium Kalium Chlorida Calcium Magnesium

Nilai 14,5 42,3 4,25 27,6 82,1 33,73 8,9 292
Nilai 136 3,1 107 8,8 2,1

Satuan gr% % juta/mmk pg fl g/dl ribu/mmk ribu/mmk
Satuan mmol/L mmol/L mmol/L mmol/L mmol/L

Nilai Normal 13,00-16,00 40,0-54,0 4,50-6,50 27,00-32,00 76,00-96,00 29,00-36,00 4,00-11,00 150,00-400,00
Nilai Normal 136-145 3,5-5,1 98-107 2,12-2,52 0,74-0,99

High/Low

L

High/Low L

H H

Kimia Klinik Glukosa sewaktu Albumin SGOT (AST) SGPT (ALT) Alkali fosfatase Bilirubin Total Analisis Gas Darah Kimia Klinik pH (Corrected)

Nilai 114 3,7 26 24 100 1,4

Satuan mg/dl gr/dl U/l U/l U/l mg/dl

Nilai Normal 80-110 3,4-5,0 15-37 30-65 50,0-136,0

High/Low H

L

Nilai 7,42

Satuan

Nilai Normal 7,350-7,450

High/Low

4

c asap rokok 5 . Aspirin 325mg EC po 1x sehari 8. EKG Sinus takikardi X-Foto Thorax Kesan : Cord an pulmo dalam batas normal Obat-Obatan yang diminum 1. FEV1/FVC 0.94 (85%).9 mg/dl 42 88 23 90 mmHg mmHg mmol/l % 35.0 83. Tahun lalu : PFT = FEV1 2.0 95. Lovastatin 20mg po saat akan tidur 7.0-108.0 mg/dl : 1.0-98.0-23.0 L Peak Flow 175 L/min (pengukuran terakhir 480 L/min). Niacin 1500mg po 2 kali sehari 5.1 : 2. Nifedipin 60mg SA po 1x sehari 6.90. Salmeterol Diskus 1 inhalation 4 kali sehari 3. Lisinopril 10mg po daily 9.0-45.pCO2 (Corrected) pO2 (Corrected) HCO3 O2 Saturasi Lain – lain : CO2 BUN SCr INR Phosphat : 27 mEq/L : 12 mg/dl : 1. Albuterol MDI 2 puffs 2-4 kali sehari PRN 2. Ipratropium bromide MDI 2 puffs 4 kali sehari 4.0 18. Lanzoprazole 30mg po 2 kali sehari ASSESMENT Asma eksaserbasi akut derajat sedang e.

Albuterol MDI 2xpuffs BID-QID PRN Merupakan bronkodilator yang merelaksasi otot pernafasan dan meningkatkan aliran udara dalam paru-paru Indikasi: . tablet extended release 4-8 mg.mencegah bronkospasme yang diinduksi oleh aktivitas Dosis: 2x inhalasi tiap 4-6 jam perhari bila perlu Pemeliharaan: 2x inhalasi setiap 4-6 jam Sediaan: inhaler. Salmeterol Diskus 1 inhalation QID Merupakan agonis β 2 long acting.5 mg.25%x20 ml 6 . Ipratropium bromide MID 2 puffs QID Merupakan antikolinergik golongan metilsantin yang menghambat asetilkolin sehingga mencegah kontraksi otot polos dan pembentukan mucus berlebihan dalam bronkus. 250 mg. emfisema Dosis: 2x inhalasi 4x sehari Sediaan : inhaler 20 mcg per semprot dikali 200 semprot x10 ml Larutan inhalasi: 0. Indikasi: Untuk terapi regular pada penyakit obstruktif saluran nafas yang reversible. mencakup asma dan PPOK. kapsul 200 mcg. nebul 2. 500 mg 3. untuk mencegah timbulnya asma akibat aktivitas fisik dan olahraga. sirup 2-4 mg 2. Merupakan golongan obat pengontrol (controller) pada terapi asma. merelaksasi otot.otot bronkus. Tidak dapat digunakan untuk terapi asma akut. tablet 2 mg. Merupakan golongan obat pelega (reliever) pada terapi asma. bronchitis kronik. Dosis: 2x sehari 50 mg atau 2x sehari inhaler Sediaan: 100 mg.untuk terapi bronkospasme pada pasien dengan gangguan aliran udara obstruktif . membuka saluran nafas sehingga pernafasan menjadi normal kembali. Indikasi: -inhaler: untuk bronkodilator pada terapi PPOK.DISKUSI Obat yang digunakan : 1. termasuk bronchitis dan emfisema.

Indikasi : hiperkolesterolemia dan hipertrigliseridemia (tipe Iib dan IV). sehingga dosis sehari 30-150mg sehari. Aspirin 325 mg EC 1 p.o at bedtime Merupakan obat dyslipidemia golongan statin yang menurunkan LDL. 20mg. akibatnya kadar LDL juga akan menurun. Dosis maksimal 500mg/1g. trigliserid.4. sangat kuat menghambat terjadinya lipolisis di jaringan adiposus.o daily Merupakan golongan trombolitik Indikasi: Mengurangi risiko infark miokard pada pasien dengan riwayat infark atau angina pectoris yang tidak stabil Mengurangi risiko serangan ulang TIA atau stroke pada pasien dengan iskemik otak sementara akibat emboli fibrin platelet 7 . Sediaan : tablet 15mg.o once daily Merupakan antagonis kalsium/ channel blocker yang mencegah terjadinya influx ion kalsium sehingga berefek vasodilatasi Indikasi: Antiangina. 5.o BID Merupakan vitamin yg larut air. antihipertensi Dosis: tablet 5-10 mg 3x sehari Sediaan: tablet 5 mg dan 10 mg 6. Maksimal 80 mg/hari Sediaan: tablet 20 mg 7. Niacin 1500 mg p. yg merupakan produsen utama lemak bebas dalam sirkulasi. dan meningkatkan HDL Indikasi : Menurunkan kadar LDL dan kolesterol total Dosis: awal: 20 mg/hari Dilanjutkan dosis tunggal/ terbagi: 20-80 mg/hari. Niacin menurunkan sintesa trigliserida di hepar dimana ini dibutuhkan untuk sintesa VLDL. Niacin juga meningkatkan kadar HDL. Nifedipine 60 mg SA p. Dosis : 15-50mg/kali. Lovastatin 20 mg p. 3 kali sehari.

refluks esophagus Dosis: untuk tukak lambung jinak: 30 mg 1x sehari. selama 8 minggu untuk gangguan hepar dan ginjal: <30 mg/hari untuk tukak duodenum dan esophagitis: 30 mg/hari. yang bekerja mengurangi produksi asam lambung melalui penghambatan enzim pada dinding lambung yang menghasilkan asam lambung sehingga dapat menyembuhkan tukak pada esophagus. duodenum yang telah ada.5 mg/hari.5 mg/hari. 10 mg 9./ Indikasi: tukak duodenum. Lisinopril 10 mg p.o BID Merupakan penghambat pompa proton (PPI). lambung. selama 4 minggu Sediaan: kapsul 30 mg 8 . karena makanan akan memaksimalkan obat tersebut. diberikan pada pagi hari sebelum makan. pemeliharaan: 10-20 mg/hari. maksimal 40 mg/hari Gagal jantung kongestif: awal: 2. pemeliharaan: 10-20 mg/hari. Pada pasien TIA dapat ditingkatkan sampai lebih dari 1000 mg/hari.o daily Merupakan ACE inhibitor yang menghambat ACE yang berperan dalam pembentukan angiotensin II sehingga akan terjadi vasodilatasi yang pada akhirnya akan menyebabkan penurunan tekanan darah dan dapat digunakan sebagai terapi gagal jantung kongestif Indikasi: Hipertensi Gagal jantung kongestif Dosis: Hipertensi: awal: 2.Dosis: 1 tablet/ hari. lambung. Sediaan: tablet salut enteric 100 mg 8. Pada pasien infark miokard dapat ditingkatkan sampai lebih dari 300 mg/hari. Sediaan: tablet 5 mg. Lansoprazole 30 mg p.

Serangan asma berat ii.  Penggunaan ipratropium bromide hanya diberikan jika evaluasi setelah penatalaksanaan pada no 1 di atas didapatkan “Respon Tidak Sempurna” dengan kriteria : a. penatalaksanaan asma serangan akut di IGD RS adalah : a.1. Nebulisasi dapat diulang sampai 3 kali dengan selang masing-masing 20 menit. pasien dapat diberikan injeksi kortikosteroid sistemik. Kortikosteroid sistemik (injeksi) Kortikosteroid sistemik diberikan jika i. dan dilakukan nebulisasi ulang. iii. dan Prokaterol. Inhalasi B2 agonis kerja cepat (short acting). Sesuai buku “Pedoman Pengendalian Asma” tahun 2009. saturasi 85-90% sebaiknya diberikan bantuan oksigenasi dengan masker yang menggunakan reservoar (rebreathing atau non rebreathing) dimulai 6 Liter per menit. Sehingga setelah nebulisasi 3 kali dengan bronkodilator kerja cepat tidak didapatkan pemberian. Salbutamol adalah preparat yang paling sering digunakan. c. a. Oksigenasi Dengan saturasi awal pasien 87-88%. Terbutalin. Buatlah daftar masalah dari terapi pasien  Penatalaksanaan asma serangan akut pada kasus ini tidak rasional. Pilihan obatnya yang sering digunakan di Indonesia adalah Salbutamol. Berdasarkan protap “Basic Live Support” tahun 2012. Risiko tinggi distress pernafasan 9 . maka pasien harus diberikan oksigenasi. Sedang dalam pengobatan kortikosteroid oral Pilihan obatnya adalah dexamethason atau metilprednisolon injeksi. ditingkatkan perlahan (dapat sampai 10 Liter per menit) dengan saturasi target >94% (monitoring dengan pulse oksimeter) b. Tidak ada respon segera setelah pemberian bronkodilator kerja cepat (salbutamol).

APE/FEV1 >50% tetapi <70% d. yaitu lisinopril dengan mempertimbangkan penggunaannya yang hanya 1 kali sehari sehingga meningkatkan kepatuham minum obat.  Salmeterol Diskus inhalasi : pemberian melebihi dosis (4 kali sehari). namun mengingat pasien memiliki riwayat hipertensi 10 . lalu ke atrium kanan. Injeksi Kortikosteroid (dexamethason) d.  Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah: 155/92 mmHg. Oksigenasi b.b. Selain itu penggunaan ACE inhibitor (dosis rendah) dapat berperan sebagai anti remodelling yang mencegah progresi jantung ke arah CHF. yang lama-lama akan menyebabkan payah jantung kanan. Jika keadaan ini didiamkan. yang terapinya menggunakan satu jenis obat (Diuretik HCT berdasarkan kriteria JNC 7). pasien harus dirawat di RS dan diberikan : a. bronkospasme yang diinduksi oleh inhalasi. antara lain: takikardi. yang berdasarkan JNC 7 merupakan hipertensi grade 1. Saturasi O2 tidak ada perbaikan  Pada keadaan seperti ini. Pada pasien ini kami memilih obat golongan ACE inhibitor. Pemeriksaan fisik seperti kriteria serangan asma ringan – sedang c. maka lama-lama akan menjadi CHF. sehingga pemberian cukup 2 kali sehari 2 kali inhalasi. dan reaksi alergi. Aminofilin drip 1 ampul dalam 500 cc D5% (20 tetes per menit) Selain itu yang harus dipertimbangkan dalam penggunaan ipatropium bromide adalah efektivitasnya yang rendah terhadap asma dan memiliki efek samping.  Pemberian Salmeterol dan ipratropium 4 kali sehari sudah sesuai dosis yang dianjurkan. Pada penderita asma akan terjadi tekanan yang tinggi intra pulmoner yang diteruskan ke ventrikel kanan. takikardi supraventricular. fibrilasi atrial. masa kerja Salmeterol ± 12 jam. Dibandingkan captopril. efek batuk yang ditimbulkan lisinopril lebih sedikit. Nebulisasi dengan B2 kerja cepat (salbutamol) + antikolinergik (ipatropium bromide) c.

Penggunaan lovastatin lama hari pun sudah benar dengan alasan mengikuti irama sirkardian dimana enzim yang berperan memetabolisme lebih banyak muncul di malam hari. dan untuk evaluasi hasil terapi nantinya. Pengendalian kolesterol sangat penting mengingat kolesterol (terutama LDL dan Trigliserida) merupakan produk aterogenik yang akan menyumbat pembuluh darah.maka pemberian obat-obatan tersebut perlu dikurangi atau dipilih salah satu. Trigliserida) terlebih dahulu. mempertimbangkan dosis obat yang akan diberikan. HDL.   Pemberian Niacin melebihi dosis maksimum sehari (2x1500mg = 3g). Namun jika memiliki fasilitas. Dosis aspirin sudah sesuai dosis lazim dan tidak melebihi dosis maksimal sehari. namun secara keseluruhan terapi hiperlipidemia pada pasien ini Niacin+aspirin tidak diperlukan. dosis maksimum sehari : 1 g. Obat tersebut dapat dikombinasikan untuk mendapatkan efek yang optimal.  Pemberian Lanzoprazole sudah sesuai dosis lazim. sebaiknya tetap dilakukan pemeriksaan profil lipid (kolesterol total. saat ini pasien tidak mengeluhkan gejala GERD.  Pemberian Lovastatin dan niasin dapat dikombinasi untuk antihiperlipidemia dan dapat menurunkan LDL secara efektif. Memang dalam kasus di atas. Pemberian aspirin mungkin ditujukan untuk mengurangi efek samping Niacin (kemerahan pada kulit disertai rasa panas dan gatal). Hal ini diperlukan untuk mengetahui kadar awalnya pada pasien ini. Penggunaan Lanzoprazole sebagai terapi GERD masih rasional. karena efek samping Salmeterol dan ipratropium berupa peningkatan tekanan darah. Namun pemberian lovastatin tunggal sudah dapat menurunkan kadar lipid darah. namun adanya 11 . dan hal ini akan sangat berbahaya jika terjadi di pembuluh darah jantung (menyebabkan ischemik heart disease) atau di otak (menyebabkan stroke ischemik ataupun stroke hemorrhagic). LDL.  Pemberian Nifedipin dan Lisinopril untuk antihipertensi sudah sesuai dosis lazim.

riwayat GERD juga bisa menjadi pencetus asma (buku “Pedoman Pengendalian Penyakit Asma 2009” Depkes RI). asma adalah suatu penyakit biasa yang bisa dikendalikan. namun jika diberikan melalui inhalasi. saturasi O2 87-88%. takipneu. Data yang menunjukkan derajatnya beratnya serangan asma akut : Gejala : sesak nafas. mengi. muntah).  Pemberian obat-obat asma memiliki efek samping berupa hipertensi. asma juga penyakit yang bersifat Variabel. Aspirin diberikan bersama Niacin. Sehingga Lanzoprazole tidak perlu diberikan. efek samping tersebut dapat diminimalisir selama dosis yang diberikan sesuai dengan dosis lazim. Namun. maka edukasi yang merupakan tatalaksana terpenting adalah untuk mengetahui dan mencegah paparan dengan pencetus asma. wheezing. Sesuai pedoman penatalaksanaan asma. Terapi non farmakologi apa saja yang dapat berguna bagi pasien ini? Pendidikan bagi pasien adalah suatu bagian yang penting dalam usaha meningkatkan cara penanganan asma. a. sela iga melebar. Kemungkinan obat ini diberikan untuk mengurangi efek samping aspirin (gangguan saluran cerna berupa ulkus peptikum. Dasar pemikirannya. mual. Tanda : takikardi. sinus takikardi. saturasi 02 :87-88%. dalam arti gejala-gejalanya bisa membaik dan memburuk dari waktu ke 12 . b. Pada dasarnya Niacin tidak perlu diberikan karena Lovastatin sudah cukup untuk antihiperlipidemia. otot bantu nafas (+). Pemeriksaan laboratorium: peak flow : 175L/menit. Tujuan farmakoterapi pada fase akut :    Pada penderita saat serangan adalah terbebasnya gejala serangan asma Pada penderita asma di luar serangan adalah tercapainya keadaan terkontrolnya asma Pada penderita asma dengan keadaan khusus berupa penanganan asma dengan memperhatikan keadaan khusus yang dihadapi 3. sehingga kombinasi obat berupa Niacin+aspirin+lanzoprazole. suara dasar vesikular (+/+) menurun di seluruh lapangan paru. hipertensi. 2.

menghadapi gejala asma yang memburuk. Karena variabilitas ini. homeopathy. sering penanganannya harus ditinjau ulang dan diubah. Pengenalan tanda-tanda dan gejala awal datangnya serangan. Tujuan pengobatan dan penatalaksanaan. dan kemungkinan akibat sampingan dari masing-masing obat. untuk mencegah serangan yang lebih gawat. meningkatkan atau mengurangi. 13 . Lengkapnya rencana ini bisa:    Memberi pengarahan kapan waktunya untuk mengubah. dan rencana ini harus dimiliki oleh setiap penderita asma.       Seluk beluk pengobatan asma. Rencana tindakan menyesuaikan dengan tingakat keparahan gejala. juka kondisi sang pasien tidak membaik. b. Pengobatan alternatif:    akupuntur. obat-obatan herbal. Dalam hal ini sebaiknya sang pasien mempunyai referensi atau pengetahuan tentang: Apakah asma itu. Memberitahukan apa yang harus dilakukan. terutama yang menyangkut dirinya sendiri. dan menambah obat-obatan yang digunakan. 2006). begitu asma sudah terkendali.  Memberi arahan akan kapan dan bagaimana usaha mengurangi penggunaan obat-obatan hingga dosis seminimal mungkin. Memberikan kesempaatan bagi penderita asma untuk segera dan lebih awal memulai penanganan. Penulisan rencana tindakan (Action Plan). Rencana tindakan adalah suatu rencana mengatasi kondisi asma yang memburuk. 2006). Untuk itu dibutuhkan komunikasi yang efektif antara sang pasien dengan dokternya (Hadibroto & Alam.waktu. Cara menggunakan alat-alat pengobatan asma secara benar. beserta faktor-faktor pemicunya. sehingga si penderita punya pegangan dalam usaha mengendalikan asmanya (Hadibroto & Alam.

Perbandingan antara tujuh kelompok anti asma Kemanjuran ᵝ2 – agonis Yang termasuk golongan ini: metaproterenol (orsiprenalin). 4. xanthine. a. antikolinergik. bitolterol. serta kecocokan obat. formoterol. hipertiroid. kemanjuran obat yang didasarkan atas efek farmakodinamik dan farmakokinetik obat. prokaterol. kortikosteroid. 14 . P-group Bronkodilator Antiinflamasi Agonis adrenergik + + Xanthine + Antikolinergik + Kortikosteroid + Mast cell stabilizer + + Antagonis leukotrien + Anti histamin + + Dengan menggunakan kriteria keamanan yang meliputi efek samping obat dan toksisitas obat. terbutalin.    Ayurvedic medicine. Jika dosis terlalu tinggi. salbutamol (albuterol). speleotherapy. gagal jantung kongestif. antagonis reseptor leukotrien. Kecocokan Kontraindikasi Penggunaan ᵝ2 – agonis sebagai bronkodilator harus hati-hati pada pasien dengan hipertensi. seperti terlihat dalam tabel dibawah. pirbuterol. fenoterol. dan diabetes. ionizers. penyakit jantung koroner. osteopathy dan chiropractic manipulation. mast cell stabilizer. Keamanan Efek samping Obat yang selektif B2 agonis sangat minimal menimbulkan perubahan tekanan darah atau stimulasi jantung pada pemberian inhalasi. Evaluasi P-drug  Menyusun daftar kelompok obat yang manjur (P-group) Obat-obat yang dapat digunakan untuk asma adalah agonis adrenergik. Terapi yang diberikan dengan obat Tujuan pengobatan ini dapat dicapai dengan 2 cara : melebarkan bronkus (bronkodilator) dan menghentikan peradangan (antiinflamasi). ketujuh kelompok obat tersebut dibandingkan untuk memilih kelompok utama dari ketujuh kelompok P-group tersebut. dan antihistamin. salmeterol.

akan timbul efek mendapat terapi b-bloker samping sistemik berupa: non selektif.Efektif pada pemberian oral. . .Efek sistemik dapat terjadi bila inhalasi dengan dosis tinggi.Gelisah .Menghambat penglepasan mediator inflamasi dari sel mast. uterus dan pembuluh darah oto rangka melalui aktivitas reseptor ᵝ2. . dapat diabsorpsi dengan baik dan cepat pada pemberian aerosol. . dan ritodrin.Absorbsi obat selektif B2 agonis per oral baik dan tidak melalui terutama pada pemberian Juga pada pasien yang oral.Palpitasi .ᵝ2 – agonis menimbulkan relaksasi otot polos bronkus. . . sehingga tidak mencapai dosis terapi.Nyeri kepala berdenyut . .Aritmia ventrikel Dosis yang tinggi atau penyuntikan IV yang cepat dapat menyebabkan perdarahan otak 15 .Tremor . Farmakodinamik . .isotarin.Pada pemberian oral.Mengurangi sekresi bronkus dan kongesti mukosa melalui resptor α1 Farmakokinetik .Aktivasi reseptor ᵝ1 menghasilkan stimulasi jantung. efek terbatas pada saluran napas. metabolisme tingkat pertama tinggi.Pada inhalasi.

metabolisme oleh COMT .epilepsi . terutama bila otot bronkus dalam keadaan konstriksi secara eksperimental akibat histamin atau secara klinis pada pasien asma bronkial.hipertiroid .Agitasi .insufisiensi hati berat. .Xantin merangsang SSP.Formoterol dan salmoterol mempunyai masa kerja yang panjang (≥12 jam) Xantin Farmakodinamik .Efek terpenting xantin adalah relaksasi otot polos bronkus. 16 .Gelisah hebat .Muntah .hipertensi berat .aritmia takikardi .Intensitas efek xantin terhadap berbagai jaringan ini berbeda.Terbutalin merupakan satu-satunya ᵝ2 – agonis yang mempunyai sediaan perenteral untuk pengobatan darurat status asmatikus. dan merelaksasi otot polos terutama terutama bronkus.Penderita tukak lambung atau tukak usus dua belas jari .Penderita yang hipersensitif terhadap xantin .Kejang umum atau fokal Kontraindikasi . .Diabetes .Dalam hal ini teofilin paling efektif menyebabkan peningkatan kapasitas vital Efek samping .kardiomiopati . .infark miokard .Takikardi . menimbulkan diuresis. merangsang otot jantung. .

Gangguan miksi .Metilxantin cepat diabsorpsi setelah pemberian oral.Langsung bekerja pada otot bronkus .Sebagai bronkodilator.Sebagian besar diekskresikan bersama urin dalam bentuk asam metilurat atau metilxantin. bertahan selama 3-5 jam Efek samping : Jarang menimbulkan efek samping sistemik. atau parenteral.Eliminasi metilxantin terutama melalui metabolisme dalam hati. .Mulut kering . Antikolinergik Farmakodinamik . rektal.Sediaan bentuk cair atau tablet tidak bersalut akan diabsorpsi secara cepat dan lengkap.. Farmakokinetik . . jika ada misal : .Timbul efek setelah 30-90 menit. .Memburuknya penglihatan pada pasien glaukoma Kontraindikasi : Glaukoma 17 .Absorpsi juga berlangsung lengkap untuk beberapa jenis sediaan lepas lambat.Diserap melalui mukosa saluran napas . .Bronkodilator minimal untuk saluran napas Farmakokinetik . teofilin bermanfaat untuk pengobatan asma bronkial.

sakus konjungtiva.Mudah terinfeksi terutama TB .Osteoporosis . Untuk mendapat kadar yang lama kortisol dan esternya diberikan secara IM. mujlai kerja dan lama kerja karena juga mempengaruhi afinitas terhadap reseptor.Gangguan cairan dan elektrolit .Penyembuhan luka terganggu .Hiperglikemia dan glikosuria . Kontraindikasi relatif : . lipolisis dan mobilisasi asam amino. Perubahan struktur kimia sengat mempengaruhi kecepatan absorpsi. mialgia.Sindrom cushing .Muscle wasting . Glukokortikoid dapat di absorpsi melalui kulit.Psikosis .Miopati karakteristik . dan ruang sinovial.Kenaikan berat badan .Supresi adrenal Kontraindikasi Tidak ada kontraindikasi absolut.Hiperglikemi . atralgia. menghambat peningkatan lekosit di paru dan menurunkan permeabilitas vaskuler Farmakokinetik Kortisol dan analog sintetiknya pada pemberian oral diabsorpsi cukup baik.Gagal jantung kongesti . Pada penyakit asma kortikosteroid menghambat produksi sitokin dan kemokin. Komplikasi akibat pemakaian lama dalam dosis besar : . dan ikatan protein. Juga sebagai anti inflamasi.Retensi natrium dengan udem / hipertensi . dan malaise.Kortikosteroid Farmakodinamik Berfungsi dalam proses glukoneogenesis di hati.glaukoma 18 . Setelah penyuntikan IV steroid Efek samping : Pada pemakaian lama yang dihentikan tiba – tiba dapat terjadi insufiensi adrenal akut dengan gejala demam.Ulkus pepticus .Ulkus peptikus . Untuk mencapai kadar tinggi dengan cepat dalam cairan tubuh. ester kortisol dan derivat sintetiknya diberikan secara IV.

radioaktif sebagian besar dalam waktu 72 jam dieksresi dalam urin. 2-4 kali setiap hari) oleh pasien asthma yang menahun. aspirin dan beragam sebab asma yang terjadi sehubungan dengan pekerjaan. tidak terdapat toksisitas pada penggunaan cromolyn secara luaspada anakanak. terdapat sedikit laporan untuk kasus infiltrasi paru dengan eosinofilia dan anafilaksis. bagi anak-anak yang menemui kesulitan dalam penggunaan inhaler. Efek samping : efek berat yang merugikan jarang ditemukan. Diperkirakan paling sedikit 70% kortisol yang dieksresikan mengalami metabolisme di hepar. prapengobatan dengan cromolyn atau nedocromil menyekat terjadinya bronkonstriksi yang disebabkan inhalasi antigen.miositis. sedangkan di feses dan empedu hampir tidak ada. gastroenteritis yang berubah-ubah terjadi pada kurang dari 2% pasien. kedua obat tersebut dapat mengurangi beratnya gejala serta kebutuhan penggunaan bronkodilator. Dermatitis.5 jam. jika digunakan secara teratur (2 atau 4 hisapan. Jangan digunakan pada bayi baru lahir dan premature. 19 . dapat diberikan cromolyn dengan aerosol dalam larutan 1% Kontra indikasi: Hipersensitivitas dan glaucoma sudut sempit. Sel Mast Stabilizer Farmakodinamik berdasarkan penelitian klinis jangka pendek. olahraga. Efek protektif akut dapat terjadi dengan pemberian Cromolyn sebagai obat tunggal segera sebelum olahraga atau sebelum paparan yang tidak dapat dihindari pada suatu alergen. Masa paruh eliminasi kortisol sekitar 1. khususnya mereka dalam pertumbuhan yang cepat.

Jika digunakan sebagai Aerosol (Inhaler dengan kalibrasi). Mekanisme Kerja Cromolyn dan Nedocromil berbeda secara structural.Farmakokinetik Cromolyn sodium (disodium cromoglycate) dan nedocromil sodium hanya bermanfaat apabila digunakan sebagai profilaksis. Walaupun stabil. keduanya dapat secara efektif menghambat Asthma baik yang disebabkan oleh antigen atau olahraga dan penggunaan kronis (4x setiap hari) dapat mengurangi semua tingkat dari keseluruhan reaktifitas bronchial. efek tersebut pada saraf-saraf jalan nafas 20 . namun keduanya merupakan garam yang sukar larut. tetapi diduga memiliki mekanisme kerja yang sama (sebuah perubahan dalam fungsi kanal klorida yang tertunda di dalam membran sel) menghambat pengaktifan seluler. Obat-obat tersebut tidak memiliki efek pada tonus otot polos jalan nafas dan tidak memperbaiki spasme bronkus pada asma secara efektif.

. . Antagonis Leukotrien Farmakodinamik . .pasien memiliki hipersensitif phenylketonuria .Inhibitor leukotrien.pasien dengan kerusakan fungsi hepar 21 .Sakit kepala Kontraindikasi : .Mengantuk Efek samping : Dapat menimbulkan : .Obat yang diberikan secara peroral. Anti histamin Farmakodinamik .Sedasi .pasien alergi .Kurang efektif di bandingkan CS.Karena kerjanya sangat spesifik.pasien yang .Inhibitor histamine dengan cara berikatan Efek samping : Kontraindikasi : Dapat menimbulkan : .Reaksi .Sindrom Churgtolbutamide Strauss (vaskulitis eosinofil sistemik) . yaitu komponen lemak yang diproduksi sistem imun yang menyebabkan inflamasi pada asma dan menghambat jalan nafas.Waktu paruh 1.Gangguan GI terhadap obat .Sakit kepala tersebut .Risiko perdarahan mendapat terapi .diduga bertanggungjawab terhadap terjadinya hambatan batuk oleh nedocromil pada sel-sel mast. untuk menghambat respons inflamasi pada inhalasi alergen.Lebih dipakai untuk asma kronik atau profilaksis asma Farmakokinetik . .Gangguan tidur . tidak dapat mengganggu kerja dari obat asma lain yang diberikan. untuk menghambat respon awal yang disebabkan oleh antigen dan pada eosinofil.5 jam10 jam.

297 Botol 60 ml Rp. meningkatkan sekresi mukus. katalisator dari histamin .198. 1-2 tab 2 mg.1 tab 4 mg.Histamin menyebabkan bronkokonstriksi dan reaksi inflamasi yang terus meningkat.Waktu paruh 8 jam27 jam. dan menstimulasi saraf parasimpatik . 4 mg Rp. Farmakokinetik . Tablet: 3 x sehari ½ . P-Drugs Salbutamol sulfat Tablet 2 mg dan 4 mg. Tidak ada perbedaan Tidak ada perbedaan Tablet 2 mg Rp.Histamin menyebabkan otot polos berkontraksi. Kemanjuran Keamanan Kecocokan Biaya Sirup 2 mg/5ml. Sirup: 3 x sehari 1-2 sendok takar sirup.Obat yang diberikan secara peroral .  Memilih P-drug - Retensi urin Mulut kering Pandangan kabur Gangguan GI Tinitus - - pasien dengan kerusakan fungsi ginjal pasien yang alergi terhadap obat tersebut Dalam kasus ini yang terpilih adalah kelompok Beta-2 Agonis Short Acting.dengan reseptor histamin atau menginhibisi enzim histidin decarboxilase. meningkatkan permeabilitas vaskuler sehingga terjadi edema mukosa.5940 22 .

5 mg/5 ml Injeksi 0.5 mg Sirup 1.5 mg/ml Inhaler 2.600 Inhaler 2.1 amp maksimal 0.5 mg Rp 1900 Botol 100 ml Rp.1 mg/puff Terbutalin Sulfat Tablet 2.5 mg/5 ml Injeksi 0.1 mg/puff Terbutalin Sulfat Tablet 2.5 mg/ml Inhaler: 1-2 puff.5 mg/ml larutan semprot Tablet: 2-3 kali Tidak ada sehari 1-2 tablet perbedaan Sirup: 2-3 kali sehari 10-15 ml Injeksi: ½ .5 mg Sirup 1.Inhaler 0.15820 Inhaler Rp.85968 Pemilihan P-drug menurut cara Multiatribute-utility analysis sheet : P-drug Suitability (%) 20% (7x20%) (7x20%) (9x20%) Efficacy (%) 30% (6x30%) (6x30%) (9x30%) Safety (%) 30% (7x30%) (7x30%) (7x30%) Cost Total (%) 20% 7265x20% 14000x20% 4815x20% 31600x20% Salbutamol sulfat Tablet 2 mg dan 4 mg Sirup 2 mg/5ml Inhaler 0.5 mg/ml larutan semprot (7x20%) (7x20%) (7x20%) (9x20%) (6x30%) (6x30%) (6x30%) (9x30%) (7x30%) (7x30%) (7x30%) (7x30%) 1900x20% 44000x20% 15820x20% 85968x20% 23 . 1 puff Rp.31. 5 mg di hirup hingga 4 kali dalam 24 jam Tidak ada perbedaan Tablet 2.5 mg dalam 4 jam Inhaler: BB > 25 kg.44000 Injeksi Rp. 3-4 kali sehari.

Dari hasil analisis dengan mempertimbangkan Suitability. P-drug 24 . dan kocok kembali inhaler. efek samping minimal. lalu buang napas perlahan. dapat digunakan 4 kali sehari. Safety. Perhatikan : Obat ditekan saat tarik napas.1mg/puff Second choice P-drug = Salbutamol sulfat syrup 2mg/5ml Third choice P-drug = Salbutamol sulfat tablet 4 mg Macam sediaan Salbutamol sulfat dengan BSO Inhaler : Suitability Efficacy Safety Cost Total (%) (%) (%) (%) 20% 30% 30% 20% Ventolin Inhaler 100mcg/puff (9x20%) (9x20%) (8x20%) 31600x20% Dapat disimpulkan bahwa obat pilihan (Drug of choice) adalah Ventolin Inhaler.  Pengenalan obat pilihan Zat aktif : Yang dipilih Ventolin inhaler 100mcg/puff yang berisi Salbutamol sulfate. tunggu sampai 30 detik. Satu kali tekan merupakan satu kali semprotan. dengan penggunaan 1 puff tiap kali serangan. dan Cost terpilih : First choice P-drug = Salbutamol sulfat inhaler 0. Efficacy. Lama pemberian : Obat hanya digunakan untuk fase akut. Lanjutkan bernapas dalam agar obat masuk ke paru-paru. sehingga tidak ditentukan lama pemberian. karena memberikan efek cepat. maka tidak ada jadwal yang tetap. dan mudah digunakan pasien. Jika membutuhkan semprotan berikutnya. Tahan napas selama 10 detik. Jadwal dosis baku : Obat digunakan untuk serangan akut.

1 tablet/kali. nyeri kepala berdenyut. aritmia ventrikel. Sutomo Semarang Praktek : 19. Diberikan saat serangan 1 puff. Hal ini akan memperparah hipertensi yang diderita pasien.n ______________________________ paraf Pro : Tn. Setelah 7 hari. Penulisan resep Dokter : Undip SIP : 001/Undip/2013 Alamat : Jalan Dr. I S. Obat diberikan secara inhalasi sehingga efek samping minimal. pasien disarankan kontrol kembali.r. Obat diberikan maksimal 4 kali sehari. Obat hanya diberikan saat serangan asma. Jika muncul gejala efek samping.00-21. Obat jangan digunakan tanpa petunjuk dokter. Diberikan secara per oral.00 Telepon: 024-7609594 R/ Ventolin Inhaler 100mcg no. efek samping akan muncul apabila obat digunakan tidak sesuai petunjuk dokter. f. segera hubungi dokter. teophyllin. d. Puff I. Obat alternatif lain untuk serangan asma akut :   Obat antikolinergik inhalasi: Ipratropium Hbr. tremor. b. instruksi dan peringatan lain Edukasi kepada pasien : a. p. jika melebihi dosis akan timbul efek samping dan memperberat hipertensi e. 4 dd. b. Obat xanthin : aminophyllin. maksimal 8 puff sehari. palpitasi. Jack Russell Alamat : Jalan Bergota 123 Semarang  Informasi. efek samping yang dapat muncul : gelisah. 25 . 3 tablet sehari. tidak diperbolehkan sebagai pengobatan rutin c.

Glukokortikoid inhalasi : Beclomethasone dipropionate. dan pasien mengatakan "saya merasa jauh lebih baik". Obat-obat yang digunakan di rumah setelah pasien pulang :  Beta-2 agonis inhalasi short acting : Salbutamol Obat ini hanya digunakan saat serangan. Setelah melanjutkan terapi pasien jauh lebih baik dan pasien diperbolehkan pulang. 26 . Edukasi kepada pasien agar menggunakan obat secara benar. c. Mr. Pasien tidur dengan posisi kepala lebih tinggi dengan 2 bantal untuk menghindari SOB. Beta-2 agonis inhalasi long acting : Salmeterol Masa kerja obat ini sekitar 12 jam.Setelah 6 jam dirawat. Diberikan 2 kali sehari 1 puff 100mcg. 1 puff tiap serangan. Pasien juga mengatakan pasien tidur dengan dua kucingnya. Russel mengeluh sulit tidur dan terbangun 1 sampai 3 kali setiap malam for SOB. PEF pasien meningkat menjadi > 70% dan dipertahankan selama > 24jam dengan terapi yang disarankan. pola nafas pasien kembali normal. sehingga diberikan 2x sehari. Hanya dikeluhkan adanya wheezing dan sesak yang minimal.

5. a. Apa tujuan pengobatan asma jangka panjang pada pasien ini?     menghilangkan atau meminimalkan gejala kronik termasuk gejala malam menghilangkan atau meminimalkan serangan meniadakan kunjungan ke gawat darurat meminimalkan penggunaan bronkodilator 27 .

Bradikardi Tidak ada Dicurigai adanya kelelahan otot nafas. b. dan d. bisa ditambahkan teofilin peroral.   aktivitas sehari-hari normal termasuk latiham fisik (olahraga) menghilangkan efek samping obat faal paru sebaik mungkin Salah satu pengobatan utama penyakit asthma yang paling efektif adalah inhaler yang mengandung agonis reseptor beta-2 adrenergik. c. Penggunaan inhaler yang berlebihan. Mengantuk atau bingung Nadi/menit Pulsus paradoksus Sedang keras sering pada saat ekspirasi < 100 100 .120 < 10 mmHg 10 – 25 mmHg Sangat keras > 120 > 25 mmHg 28 . Parameter klinis dan laboratorium Parameter klinis. fungsi faal paru. Jika pemakaian inhaler bronkodilator sebanyak 2-4 kali/hari selama 1 bulan tidak mampu mengurangi gejala bisa ditambahkan inhaler kortikosteroid. bisa mengakibatkan terganggunya gangguan irama jantung. laboratorium Sesak nafas Ringan Sedang Berat Ancaman Gagal Nafas Berbicara Kesadaran Laju pernafasan Otot tambahan retraksi suprasternal Wheezing Berjalan Dapat terlentang Membuat kalimat Mungkin gelisah Meningkat Tidak Berbicara Lebih suka duduk Membuat frase Selalu gelisah Meningkat Biasa ada Istirahat Membungkuk Membuat kata Selalu gelisah > 30/menit Biasa ada Pergerakan poradok torako abdominal Tidak ada wheezing. Jika gejalanya menetap. terutama pada malam hari. cromolin atau pengubah leukotrien.

sambil bernapas secara berbarengan tekan bagian tombol inhaler untuk melepaskan obatnya. Lanjutkan untuk bernapas dalam untuk memastikan obat dapat mencapai paru-paru. kemudian tutup mulut dengan merapatkan bibir (jangan digigit). McGraw-Hill Companies) 1. dan kocok kembali inhaler. Buka tutup inhaler dan kocok inhaler dengan teratur. 2008. semprotkan inhaler ke udara untuk mengecek apakah inhaler berfungsi dengan baik. Jika membutuhkan semprotan berikutnya.APE PaO2 PaCO2 SaO2% > 80% Normal < 45 mmHg > 95 % 60 – 80 % > 60 mmHg < 45 mmHg 91 – 95 % < 60 % < 60 mmHg > 45 mmHg <90 % 6. Satu kali tekan merupakan satu kali semprotan obat. Tarik nafas dalam-dalam dan buang perlahan. Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach 7th Edition. 4. Duduk tegak atau berdiri dengan dagu terangkat. 5. 3. perbedaan pengobatan jangka panjang dan pendek serta menghindari faktor pencetus. a. J. Lalu letakkan bagian mulut inhaler pada mulut (diantara gigi atas dan bawah). 6.  Cara penggunaan inhaler (Dipiro. ulangi langkah 4 sampai 7. Deskripsikan mengenai teknik obat inhalasi. 2. Tahan napas selama kurang lebih 10 detik (atau selama kondisi senyaman yang terasa) lalu buang napas perlahan. 7. 8. 29 . maka untuk penggunaan pertama sebelum digunakan.T et al. Jika baru pertama kali menggunakan inhaler selama seminggu atau lebih. tunggu sampai 30 detik. Mulai dengan bernapas perlahan dan dalam melalui mulut inhaler.

10. Tutup kembali mulut inhaler dan simpan inhaler di tempat yang kering.9. dan catat dosis yang sudah terpakai. Berbagai macam bentuk inhaler : 30 . berkumur-kumur. Setelah selesai.

Inhaler dengan spacer : 31 .

controller / pengontrol) dan short-term / quick-relief medication (pengobatan jangka pendek. yang sering digunakan untuk mengobati anak-anak dengan asma 32 . sedang. Long-term control medication biasa digunakan setiap hari untuk mengontrol gejala asma dan mencegah terjadinya serangan asma. reliever / pelega). yaitu untuk mengobati gejala asma. Menurut National Heart. untuk mencapai dan mempertahankan keadaan asma terkontrol agar pengelolaan asma dapat mencapai level optimal. Lungand Blood Institute (NHLBI). Kromolin dan Nedokromil inhalasi : obat anti-inflamasi non-steroid. Obat jangka panjang sangat penting untuk diminum setiap hari. a. Obat jangka panjang meliputi: Kortikosteroid inhalasi : obat anti-inflamasi yang mencegah pembengkakan pada saluran napas ketika terpapar dengan faktor pencetus / pemicu asma. Pengobatan jangka panjang Antara lain obat-obat Tujuan anti inflamasi inhalasi dan long-acting untuk bronkodilator. Steroid dapat digunakan untuk mencegah dan mengontrol asma ringan. Sedangkan short-term. Perbedaan long-term control medication dan short-term. dan berat. akan tetapi keduanya mempunyai prinsip kerja yang berbeda. bahkan jika orang tersebut merasa sehat. quick-relief medication dipilih untuk meringankan gejala asma yang sedang terjadi secara akut dan dalam kasus-kasus gejala asma hanya terjadi sesekali. quick-relief medication Dua jenis pengobatan yang digunakan untuk mengobati asma meliputi long-term control medication (pengobatan jangka panjang. pengobatan jangka panjang adalah mengurangi dan mencegah pembengkakan pada saluran napas yang dapat memicu serangan asma. pengobatan jangka panjang dapat direkomendasikan bagipenderita asma yang: mengalami gejala asma tiga kali atau lebih dalam seminggu. Meskipun pada hakikatnya tujuan dari kedua macam obat tersebut sama. mengalami gejala asma pada malam hari sebanyak tiga kali atau lebih dalam sebulan.

Keduanya hanya digunakan untuk membantu mencegah terjadinya serangan. Pengubah leukotrien tidak dapat menghentikan serangan asma dan hanya digunakan untuk mencegah terjadinya serangan. albuterol (tablet) Teofilin 33 . yang dapat menyebabkan peradangan dan penyempitan saluran napas. sehingga mereka sering diresepkan bersama dengan obat anti-inflamasi. Baik Kromolin maupun Nedokromil tidak dapat menghentikan serangan asma. Contoh pengobatan jangka panjang: Kategori Kortikosteroid inhalasi Contoh obat Generik beclomethasone. Long-acting beta2-agonis inhalasi : digunakan untuk mengontrol asma sedang sampai berat dan mencegah gejala asma pada malam hari. Tablet lepas lambat teofilin atau tablet lepas lambat beta2-agonis adalah suatu bronkodilator yang digunakan untuk mencegah gejala asma pada malam hari. Teofilin perlu bertahan dalam aliran darah dari waktu ke waktu agar efektif mengobati asma. Obat ini tidak mengurangi pembengkakan. Zafirlucas dan Zileuton) : obat ini menghalangi aksi leukotrien. Obat bronkodilator merelaksasikan otot sekitar saluran udara yang mengalami konstriksi sehingga saluran napas membuka kembali.ringan. natrium nedokromil zafirlukast. flutikason. Pengubah leukotrien tampaknya lebih efektif pada penderita asma dengan aspirin-sensitif (sejenis asma yang dipicu oleh reaksi alergi terhadap aspirin atau obat anti-inflamasi). budesonide. flunisolide. Pengubah leukotrien (Montelucas. triamcinolone cromolyn dan nedokromil inhalasi pengubah leukotriene (tablet) long-acting beta2-agonis teofilin (tablet atau cairan) natrium kromolin. zileuton salmeterol (dihirup). seperti steroid inhalasi.

Updated 2012 Available from : http://www. Beberapa penderita asma berat menggunakan dua jenis pengobatan untuk mengendalikan asma. Pengobatan jangka pendek tidak mencegah terjadinya gejala berulang melainkan hanya dapat membantu mencegah kambuhnya gejala. efeknya mungkin hanya berlangsung sekitar empat jam. terbutaline SUMBER : Global Strategy for Asthma Management and Prevention. Walaupun terdapat salah satu bentuk asma yang timbul 34 .b. yaitu pengobatan jangka panjang yang digunakan untuk menjaga agar peradangan tetap terkendali dan pengobatan jangka pendek yang digunakan pada saat serangan asma terjadi. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah datangnya serangan penyakit asma : Pola Hidup Sehat Meningkatkan kebugaran fisik Olahraga menghasilkan kebugaran fisis dan meningkatkan ketahanan tubuh. Antikolinergik inhalasi Contoh pengobatan jangka pendek: Kategori short-acting beta2-agonis inhalasi antikolinergik inhalasi ipratropium bromida Contoh obat albuterol. Obat jangka pendek termasuk: Short-acting beta2-agonis inhalasi : short-acting beta2-agonis adalah bronkodilator yang membantu merelaksasikan otot-otot di dalam dan sekitar saluran napas yang mengalami konstriksi sehingga saluran napas membuka kembali. bekerja dengan cara merelaksasikan otot-otot di sekitar saluran napas yang mengalami konstriksi selama serangan asma. Pengobatan jangka pendek Obat asma jangka pendek digunakan pada awal serangan.org Edukasi Pencegahan Penyakit Asma Serangan asma dapat dicegah dengan mengetahui dan menghindari faktor pemicunya. Meskipun dapat meringankan gejala asma. bitolterol. pirbuterol.ginasthma.

Polusi udara c.pdf 35 . Proaktif mencegah gejala dengan obat Jika gejala timbul diperlukan obat anti penyakit asma untuk menghilangkan gejala yang selanjutnya dipertahankan agar penderita bebas dari gejala penyakit asma. bau-bauan merangsang. obatobatan e. household spray) dll. selain manfaat lain pada olahraga umumnya Berhenti atau tidak pernah merokok Asap rokok merupakan oksidan. yang dapat menimbulkan inflamasi dan menyebabkan ketidak seimbangan protease antiprotease. Iritan ( parfum. aditif (pengawet. maka dianjurkan menggunakan beta2-agonis sebelum melakukan olahraga.com/konsensus/asma/asma. Senam Asma Indonesia (SAI) adalah salah satu bentuk olahraga yang dianjurkan karena melatih dan menguatkan otot-otot pernapasan khususnya. Sulfur dioksida d. Penderita asma yang merokok diperingatkan agar menghentikan kebiasaan tersebut karena selain dapat memperberat penyakitnya juga dapat mempercepat perburukan fungsi paru dan mempunyai risiko mendapatkan bronkitis kronik dan atau emfisema. SUMBER : http://www. pewarna makanan). Bila dikhawatirkan terjadi serangan asma akibat olahraga. Alergen di dalam dan di luar ruangan b.serangan sesudah exercise (exercise-induced asthma/ EIA). Menjaga kebersihan lingkungan Menghindari faktor pencetus asma. akan tetapi tidak berarti penderita EIA dilarang melakukan olahraga. Ekspresi emosi yang berlebihan f. Makanan.seperti : a.klikpdpi. Asap rokok g. penyedap.

orang yang melakukan uji ini harus mampu mengulangnya dalam kelajuan yang sama. Pengukuran PFR membantu menentukan apakah jalan napas tebuka atau tertutup.b. sehingga penanganan asma dapat dilakukan dini. dan jalan napas menjadi terbuka. Dengan mengukur nilai PFR dua kali dalam sehari menunjukkan gambaran PFR sepanjang hari. PFR menurun (angka dalam skala turun ke bawah) jika asma memburuk. juga membantu mengenali pemicu (penyebab) asma. agar perubahan dalam aliran udara dapat diukur secara tepat. Pengukuran PFR dapat membantu mengetahui apakah jalan napas menyempit. Agar uji (tes) ini menjadi bermakna. sehingga dapat dihindari. PFR meningkat (angka dalam skala naik ke atas) jika penanganan asma tepat. Cara Menggunakan Peak Flow Meter Peak Flow Meter (PFM) mengukur jumlah aliran udara dalam jalan napas. Terdapat perbedaan nilai pengukuran (siklus) PFR dalam satu harinya. Peak Flow Rate (PFR) adalah kecepatan (laju) aliran udara ketika seseorang menarik napas penuh. dan mengeluarkannya secepat mungkin. Cara Mengukur Peak Flow Rate 36 . Terdapat beberapa jenis alat PFM. Gunakan alat yang sama pada setiap pengukuran. minimal sebanyak tiga kali.

Pertanyaan Follow Up 37 . Angka ini dapat berubah ketika gejala asma membaik. Nilai mana PFR yang tertinggi. Kesimpulannya. Ukur PFR kembali (lakukan langkah pertama dan kedua) sampai total sebanyak tiga kali. Bacalah angka yang tertera dalam skala PFM. pada pagi dan malam hari. Hembuskan napas ke dalam PFM sedalam dan sekuat mungkin. dan tuliskan pada secarik kertas. Tandai saat anda melakukan langkah yang terbaik (dari tiga kali pengukuran). Inilah nilai yang diambil.Ambil napas sedalam mungkin. lakukan pemeriksaan PFR menggunakan PFM dua kali sehari. juga pada saat serangan asma.

penanganan asma yang tepat mencakup 6 bagian:  Edukasi: pasien harus mengetahui dan menghindari faktor risiko yang dapat memicu serangan asma. menanyakan seberapa sering pasien membutuhkan obat pelega. Ganti karpet dengan linoleum atau lantai kayu terutama di ruang tidur. pelega (reliever) yang bekerja dengan cepat untuk mengatasi serangan dan meredakan gejala. rasa tertekan di dada. mengi.  Menghindari faktro risiko: pada pasien yang alergi terhadap debu. Pasien juga perlu mengetahui tanda-tanda perburukan asma dan tindakan yang harus dilakukan. Selain itu. Pada pasien dengan asma persisten yang membutuhkan obat pengontrol (controller) harian.  Menilai dan memantau tingkat keparahan asma: kunjungan teratur (tiap 16 bulan) ke dokter penting dilakukan. Terapi inhalasi merupakan pilihan karena konsentrasi tinggi yang dapat langsung menuju ke jalur napas dan efek samping sistemik yang rendah. atau kayu. pasien dapat menggunakan obat pelega (reliever) dan glukokortikoid. Gunakan furnitur berbahan vinil. kesulitan bernapas. Pada tiap kunjungan ini. walaupun pengendalian asma sudah tercapai. Pada keadaankeadaan tersebut. 38 . Pasien juga dapat mengonsultasikan keluhan yang dirasakan. Sesuai GINA (Global Initiative for Asthma). Tanda-tanda tersebut adalah: batuk yang semakin parah. kulit. sulit tidur. harus diyakin pasien menonsumsi/menggunakannya (bila inhaler) dengan benar. dokter kembali menilai tingkat keparahan asma. atau apakah pasien pernah berhenti mengonsumsi obat karena merasa lebih baik. dokter juga mungkin meminta pasien menunjukkan bagaimana pasien menggunakan inhaler. dianjurkan mencuci seprai. pengontrol (controller) untuk mencegah gejala dan serangan asma. b.Pencegahan apa yang harus dilakukan untuk mengontrol faktor yang berpengaruh pada tingkat keparahan asma pada pasien Penanganan Asma Obat asma dibagi menjadi dua: a. sarung bantal guling dan selimut seminggu sekali dengan air hangat dan dikeringkan dengan sinar matahari langsung atau pengering panas.

Selain itu juga bila terjadi serangan namun tidak membaik dengan pemberian obat hingga lebih dari 3 jam atau membaik namun terjadi lagi dalam waktu kurang dari 3 jam. sesak napas saat beristirahat (laju napas >30x/menit). detak jantung menurun. Biasanya. mengi sangat keras atau justru menghilang. Sedangkan untuk alergen yang lain. Imunoterapi spesifik dapat dipertimbangkan bila tidak mungkin menghindari pajanan atau pengobatan yang tepat gagal mengontrol gejala asma. Gejala asma dapat dicegah dengan inhaler agonis-ß2 kerja cepat seperti salbutamol sebelum melakukan aktivitas berat.  Buat rencana medis untuk terapi jangka panjang: pada pasien dengan asma persisten. hanya dapat berbicara beberapa kata. perbaikan gejala akan terjadi setelah 2 bulan terapi (dengan catatan pasien menggunakan inhaler dengan benar. Jika memungkinkan. dan mulai kelelahan. nadi >120x/menit atau >160x menit pada bayi. serta tidak ada penyakit penyerta yang memperberat keadaan). tidak dianjurkan untuk tidak melakukan aktivitas fisik.  Buat rencana individual untuk menangani serangan asma: bila terjadi serangan yang tiba-tiba. pasien harus mencari pertolongan medis. Obat dapat diberikan sebagai pertolongan pertama. kebingungan. tidak terpajan faktor risiko. hindari pajanan sebisa mungkin. 39 . Tujuan akhirnya adalah menurunkan terapi hingga dosis yang paling kecil yang diperlukan untuk menjaga pengendalian gejala dan serangan. Sedangkan pada pasien yang mempunyai faktor risiko berupa aktivitas fisik. Jika gejala telah terkontrol selama setidaknya 3 bulan. Glukokortikoid yang diinhalasi saat ini merupakan obat paling efektif untuk pengobatan pencegahan jangka panjang ini dan dalam mengurangi serangan asma.bukannya furnitur yang dilapisi busa. tingkat keparahan asma dapat dipertimbangkan untuk diturunkan dan modifikasi obat dapat dilakukan. terapi jangka panjang untuk menekan peradangan lebih efektif untuk mengontrol asma dibandingkan dengan terapi akut untuk meredakan gejala. gunakan vacuum cleaner dengan penyaring. gelisah.

Bila pasien pindah keluar kota. 40 . Asma terkontrol adalah kondisi stabil minimal dalam waktu satu bulan. Pencetus Asma Ada dua faktor yang menjadi pencetus asma :  Pemicu Asma (Trigger) Pemicu asma mengakibatkan mengencang atau menyempitnya saluran pernapasan (bronkokonstriksi). Tujuan akhir terapi asma adalah:              Tidak ada gejala atau minimal. tetapi bisa menjurus menjadi asma jenis intrinsik. kunjungan lanjutan reguler tetaplah penting setidaknya 6 bulan sekali. ia perlu meminta surat keterangan dari dokter sebelumnya mengenai keadaanya untuk memudahkan dokter di tempat yang baru memahami kondisinya dan melanjutkan perawatan. Penatalaksanaan asma bertujuan untuk mengontrol penyakit. Pemicu tidak menyebabkan peradangan. Trigger dianggap menyebabkan gangguan pernapasan akut. termasuk gejala malam hari Serangan asma minimal Tidak ada lagi kunjungan emergensi ke tenaga medis Dosis minimal obat pelega Tidak ada batasan aktivitas fisik serta olahraga Fungsi paru mendekati normal Tidak ada efek samping obat atau minimal Menghilangkan dan mengendalikan gejala asma Mencegah eksaserbasi akut Meningkatkan dan mempertahankan faal paru seoptimal mungkin Mengupayakan aktiviti normal termasuk exercise Mencegah terjadi keterbatasan aliran udara (airflow limitation) ireversibel Mencegah kematian karena asma utama penatalaksanaan asma adalah meningkatkan dan Tujuan mempertahankan kualiti hidup agar penderita asma dapat hidup normal tanpa hambatan dalam melakukan aktiviti sehari-hari. Tindak lanjut perawatan: setelah asma terkontrol. yang belum berarti asma. disebut sebagai asma terkontrol.

dan alergen yang didapat melalui kontak dengan kulit.  Penyebab Asma (Inducer) Penyebab asma dapat menyebabkan peradangan (inflamasi) dan sekaligus hiperresponsivitas (respon yang berlebihan) dari saluran pernapasan. inhalan (alergen yang dihirup masuk tubuh melalui hidung atau mulut). Alergen luar rumah Faktor Lain a. Ekspresi emosi berlebih 41 . Alergen dalam rumah b.Gejala-gejala dan bronkokonstriksi yang diakibatkan oleh pemicu cenderung timbul seketika. Umumnya pemicu yang mengakibatkan bronkokonstriksi adalah perubahan cuaca. Alergen makanan b. saluran pernapasan akan bereaksi lebih cepat terhadap pemicu. Bahan yang mengiritasi d. suhu udara. dan olahraga yang berlebihan. Penyebab asma dapat menimbulkan gejala-gejala yang umumnya berlangsung lebih lama (kronis). apabila sudah ada. yang tampil dalam bentuk ingestan (alergen yang masuk ke tubuh melalui mulut). polusi udara. Namun. gangguan emosi. dan lebih sulit diatasi. Beberapa faktor pencetus yang sering menjadi pencetus serangan asma adalah : Faktor Lingkungan a. asap rokok. berlangsung dalam waktu pendek dan relatif mudah diatasi dalam waktu singkat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa saluran pernapasan penderita asma mempunyai sifat sangat peka terhadap rangsangan dari luar yang erat kaitannya dengan proses inflamasi. Penyempitan saluran pernapasan pada penderita asma disebabkan oleh reaksi inflamasi kronik yang didahului oleh faktor pencetus. Alergen obat – obat tertentu c. Proses inflamasi akan meningkat bila penderita terpajan oleh alergen tertentu. infeksi saluran pernapasan. Umumnya penyebab asma adalah alergen. atau sudah terjadi peradangan. Inducer dianggap sebagai penyebab asma yang sesungguhnya atau asma jenis ekstrinsik.

selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. yaitu: a. Penderita diberikan motivasi untuk mengatasi masalah pribadinya. Ingestan. 42 . Polusi udara dari dalam dan luar ruangan Secara umum pemicu asma adalah:  Alergen Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis. ataupun naik tangga dan dikarakteristikkan oleh adanya bronkospasme. yang masuk melalui saluran pernapasan seperti debu. b. Inhalan. berjalan cepat. kromolin). bakteri dan polusi. Kontaktan. Infeksi ini menyebabkan oleh karena itu terjadi peningkatan hiperresponsif pada sistem bronkial. serbuk bunga. yang masuk melalui kontak dengan kulit. nafas pendek. epinefrin. Asma dapat diinduksi oleh adanya kegiatan fisik atau latihan yang disebut sebagai Exercise Induced Asthma (EIA) yang biasanya terjadi beberapa saat setelah latihan. ACE. yang masuk melalui mulut yaitu makanan (seperti buahbuahan dan anggur yang mengandung sodium metabisulfide) dan obatobatan (seperti aspirin.  Infeksi bakteri pada saluran napas Infeksi bakteri pada saluran napas mengakibatkan eksaserbasi pada asma.inhibitor. batuk dan wheezing. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai beraktifitas. bulu binatang. spora jamur. karena jika stresnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.  Olahraga Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktivitas jasmani atau olahraga yang berat.e.  Stres Stres / gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma. Asap rokok bagi perokok aktif maupun perokok pasif f. c. Penderita asma seharusnya melakukan pemanasan selama 2-3 menit sebelum latihan. aerobik.misalnya: jogging.

 Gangguan pada sinus Hampir 30% kasus asma disebabkan oleh gangguan pada sinus. 43 . misalnya rhinitis alergik dan polip pada hidung. Kedua gangguan ini menyebabkan inflamasi selaput lendir.

Related Interests