Oleh: Hasrul [Mahasiswa Institut PTIQ Jakarta

]

1

Engkau Ada karena Cinta dan Nûr-Nya Subyek cinta ketuhanan merupakan salah satu topik yang menyedot perhatian pada masa awal sejarah pergerakan sufi. Para sufisme mengidentifikasikan cinta („Ishq) sebagai satu kualitas esensial dari Tuhan sebagaimana disebutkan dalam sejumlah ayat al-Quran. Ayat al-Quran yang menjadi rujukan dan paling sering dikutip untuk hierarki cinta ini ialah surah al-Maidah [5] ayat 54 yang berbunyi “Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya”. Pada taraf Tuhan, cinta dapat disebut sebagai kekuatan motif bagi aktivitas kreatif Allah. Ibnu „Arabi menyatakan “Perkawinan terjadi karena hasrat mendapatkan keturunan, hal itu mirip dengan hasrat Allah pada saat alam belum tercipta. Karena cinta, Dia mengalihkan hasratnya untuk menciptakan.1 Pada bagian lain, seraya menafsirkan ayat alQuran, “Dan Dia bersamamu di mana saja kamu berada” (Q.S. al-Hadid [57]: 4), Ibnu Araby menjelaskan bahwa makna cinta Allah untuk dikenal. Cinta-Nya kepada manusia berarti Dia tidak pernah melepaskan perhatian-Nya dari mereka. Kaum sufi dalam memahami cinta kasih antara Tuhan dengan hamba-Nya dan antara mereka dengan-Nya tidak menyetujui adanya takwil. Ibnu Taimiyah berkata: “Cinta kasih adalah haq dan jelas, pandangan ini disepakati oleh sesama kaum salaf dahulu dari ulama ahlisunnah, ahli hadis, kaum sufi dan lain-lain serta sepakat juga bahwa Allah-lah sumber cinta segala cinta dan padanya terdapat cinta haqiqi.”2 Kaum sufi berpendapat bahwa cinta mereka kepada Allah tidak sebagaimana mencintai manusia. Bagi mereka, cinta merupakan jaringan murni yang memiliki kaitan erat dengan penciptaan di jagat ini dan merupakan rahasia diantara rahasia-rahasia-Nya.3 Al-Quran dalam menyebutkan kata al-Hubb (cinta) acapkali dikaitkan dengan cinta Allah kepada manusia dan juga sebaliknya. Firman-Nya, “Wahai Muhammad, katakanlah: jika kalian semua mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian semua dan akan mengampuni dosa kalian” (Q.S. Ali Imran [3]: 31). Ketika menceritakan tentang Nabi Musa as, Allah berfirman, “Dan Aku limpahkan kasih sayang dari-Ku untukmu dan supaya kamu diasuh atas pengawasan-Ku” (Q.S. Thaha : 39). Adapun yang sasarannya terhadap kaum muslimin keseluruhan ialah, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa” (Q.S. al-Taubah : 4). Sungguhpun demikian, cinta Allah terhadap seorang hamba tidak mungkin disamakan dengan cinta seorang hamba terhadap Allah. Uraian di atas nampak bahwa pada dasarnya kaum sufi melihat cinta sebagai unsur yang paling mendasar dalam penciptaaan alam dan sebagai penyebab paling dominan dalam penciptaan makhluk. Firman-Nya: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali menyembah kepada-Ku” (Q.S. Al-Dzariyat : 56). Ibnu Abbas menafsirkan kata al-„ibadah dengan kata al-Makrifah. Sedang makrifah sendiri merupakan barometer dari cinta seseorang. Oleh karenanya, barang siapa yang banyak mengetahui tentang Allah, maka cintanya juga sejauh pengetahuannya itu.4 Dalam hal ini kaum sufi berpegangan pada ayat:
Ahmad Najib Burhani, Sufisme Kota (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2001), cet I, hal. 135 Thiblawy Mahmud Saad, Tasawuf menurut Ibnu Taimiyah terjemahan Ahmad Fauzi Hamid (Kuala Lumpur: Darul Nu‟man, 1995), cet I, hal. 234-235 3 Ahmad Bahjat, Pledoi Kaum Sufi terjemahan Hasan Abrori (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), cet. I, hal. 49 4 Ibid, hal. 49-50
2 1

25/01/13

Engkau Ada karena Cinta dan Nûr-Nya | Perspektif Pemikiran Sufisme

Oleh: Hasrul [Mahasiswa Institut PTIQ Jakarta]

2

“Wahai orang-orang beriman, barang siapa yang salah seorang dari kalian murtad, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum dimana Allah akan mencintai mereka dan mereka akan mencintainya”. (Q.S. al-Maidah : 54) Allah Ta‟ala dapat dikenali di alam nyata ini dengan melalui pengenalan sifatsifat-Nya yang terlihat pada pandangan makhluk-Nya. Semua yang terlihat pada mata kita di dunia ini menunjukkan wujud Tuhan yang seharusnya kita mengenalinya. Untuk melihat Dzat-Nya yang bersifat haq dan qadim tidak mungkin di dunia ini, karena kita tidak terlengkapkan dengan kuasa untuk melihat Dzat-Nya. Insya Allah nikmat ini akan dirasakan oleh orang-orang beriman kelak di akhirat. Jadi, hakikat penciptaan Tuhan agar kita sebagai makhluk mengenali, lalu Menyembah-Nya. Abu Sa‟id al-Maihani, ketika dibacakan penggalan ayat di atas (ُْ ‫حُّهونَب‬ ِ ُ‫وي‬ ِ ُ‫ )ي‬berkata: َ ْْ ُُ‫حبُّه‬ “Demi kebenaran cinta-Nya kepada mereka, maka sesugguhnya tiada Dia mencintai kecuali diri-Nya sendiri. Dalam suatu pengertian bahwa segalanya dan sesungguhnya tidak ada dalam perwujudan selain-Nya. Maka barang siapa yang tidak mencintai kecuali kepada diri-Nya, perbuatan diri-Nya dan ciptaan diri-Nya, dia belum melewatkan cintanya kepada Dzat-Nya.5 Begitulah kaum sufi dalam melihat alam semesta. Mereka melihat cinta sebagai undangundang yang mengatur wujud, disamping sebagi sebab dari wujudnya jagad raya ini. Cinta merupakan sulaman yang membuat kehidupan terbentang luas dengan diwarnai kemulian. Kaum sufi berpandangan, Allah telah menciptakan manusia dengan kekhususan cinta-Nya sekaligus memberikan sebagian cinta-Nya kepada mereka.6 Terkait keterangan di atas, ahli sufi ada yang mengatakan bahwa aku mengenali Allah dengan Allah, yaitu pengenalan yang berlaku dalam cahaya-Nya dengan cahaya-Nya dan hakikat penciptaan manusia itu adalah rahasia cahaya itu.7 Di kalangan sufi, istilah cahaya (nûr) biasanya dinisbahkan kepada Muhammad Saw, sehingga menjadi ungkapan Nur Muhammad atau Haqiqah Muhammadiyah. Nur Muhammad dalam filsafat tasawuf ialah paham bahwa yang pertama diciptakan Allah adalah Nur Muhammad dan dari Nur Muhammad inilah segala yang lain diciptakan. Falsafah Nur Muhammad pertama kali dicetuskan oleh seorang sufi bernama Sahl Abdullah al-Tusturi selanjutnya dikembangkan oleh al-Hallaj, Ibnu „Araby dan Abdul Karim al-Jili.8 Ar-Rumi juga memandang cinta sebagai motif Allah menciptakan sesuatu dengan cara menafsirkan firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw: “Hanya karenamu aku ciptakan berlapis-lapis langit”. Nabi Muhammad Saw adalah keutuhan manifestasi cinta yang melalui dan demi dialah alam diciptakan. Dalam syairnya, al-Rumi mengungkapkan:9 Cinta mendidihkan laksana buih, Cinta meluluhlantahkan gunung menjadi pasir. Cinta menghancurkan langit beratus keping
Zuhair Syafiq al-Kubby, Imam al-Ghazali berbicara tentang Mahabbah, Rindu, tenteram dan Ridha (Semarang: Surya Angkasa, 1995), cet. I, hal. 64-65 6 Ahmad Bahjat, Pledoi Kaum Sufi terjemahan Hasan Abrori (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), cet. I, hal. 49 7 Abdul Qadir Jailani, Rahasia Sufi (Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD, 1999), cet. II, hal. 108 8 Sahabuddin, Nur Muhammad: Pintu Menuju Allah (Ciputat: Logos Wahana Ilmu, 2002), cet. II, hal.36-37 9 William C. Chittick, Tasawuf di Mata Sufi (Bandung: Mizan, 2002), cet. I, hal. 121-122
5

25/01/13

Engkau Ada karena Cinta dan Nûr-Nya | Perspektif Pemikiran Sufisme

Oleh: Hasrul [Mahasiswa Institut PTIQ Jakarta]

3

Cinta mengguncang bumi. Cinta murni diberikan kepada Muhammad Karena cinta, Allah berfirman kepadanya, “hanya untukmu”. Karena hanya dialah tujuan cinta Dia mengungguli semua nabi. “Jika bukan karena cinta yang murni, Mengapa Aku ciptakan langit?” “Kuletakkan anak tangga langit di ketinggian Karena itu kamu dapat memahami tangga-tangga cinta” Sepanjang sejarah, pembahasan Nur Muhammad pasti berkait-berkelindan dengan pembicaraan tentang kejadian atau penciptaan alam. Dalam kaitan ini, sangat boleh jadi Nur Muhammad dapat dipersentuhkan dengan teori Plotinus tentang asal-usul alam semesta. Alam dipandang sebagai wujud yang dihasilkan atau dipancarkan dari hakikat kesejatian Tuhan secara kekal. Alam tidak lagi dipandang sebagai wujud yang diciptakan dari materi yang ada sejak semula; kekal bersama-sama dengan Tuhan sebagaimana pandangan Plato. Alam juga tidak lagi dipandang sebagi wujud keseluruhan dan kesempurnaanya kekal bersama-sama dengan Tuhan sebagaiman anggapan Aristoteles.10 Nur Muhammad sejatinya adalah nur Ilahi sebagai manifestasi cinta-Nya yang melalui dia dan demi dialah segala sesuatu diciptakan. Nur Muhammad sebagai daya kosmik yang mengatur segala yang ada di dunia ini. Dalam hubungan ini, R.A. Nicholson menjelaskan: “Tentu saja Tuhan adalah pencipta dunia, tetapi ia tidak lagi memerintah dunia dalam arti langsung. Ia bersifat transenden mutlak dan karena gerakan dan lapis-lapis langit tidak sesuai dengan kesatuannya, maka fungsi ini ditugaskan kepada seorang yang memerintah lapisan-lapisan itu, yaitu Muta. Muta tidak identik dengan Tuhan karena ia harus seorang ciptaan... (Ia) mewakili jiwa arketip dari Muhammad sebagai manusia luhur yang diciptakan sesuai dengan banyangan Tuhan, dianggap sebagai suatu daya kosmik tempat bergantung tata susunan dan pemeliharaan alam semesta”.11 Patut dicatat bahwa bagaimana pun juga kultur Yunani memiliki sebuah pengaruh yang menonjol terhadap pertumbuhan peradaban Islam termasuk dalam konteks ini. Namun menarik untuk mengutip pandangan Ibrahim Madzkor, yakni “Dunia Islam mampu menyusun filsafat untuk dirinya sendiri yang berjalan seiring dengan nilai pokok agama dan kondisi sosialnya. Tidak sesuatu pun yang dapat lebih menolong untuk mengenal dan mengetahui hakikat filsafat ini kecuali harus mempelajari dan menjelaskannya”.12 Terlepas dari uraian ini, Allah menciptakan dunia melalui cinta. Karena itu, cinta menghasilkan keragaman yang memenuhi alam semesta. Dia tidak pernah berhenti mencintai makhluk ciptaan-Nya. Dengan demikian, Dia tidak pernah berhenti menciptakan mereka dan ini membuat alam semesta selalu berada dalam sifat perubahan dan pasang surut. Segalanya berbaur dalam cinta karena sifat kasih sayang Allah-lah yang menciptakan mereka.13
10

25/01/13
Sahabuddin, Nur Muhammad: Pintu Menuju Allah (Ciputat: Logos Wahana Ilmu, 2002), cet.

II, hal. 47
11 12

Ibid, hal. 45-46 Ibid, hal. 48 13 William C. Chittick, Tasawuf di Mata Sufi (Bandung: Mizan, 2002), cet. I, hal. 122

Engkau Ada karena Cinta dan Nûr-Nya | Perspektif Pemikiran Sufisme

Oleh: Hasrul [Mahasiswa Institut PTIQ Jakarta]

4

Para sufi berkata bahwa semua hal mengenai makhluk di alam ini adalah tanda keesaan Tuhan. Ketika kita melihat angsa yang cantik, burung yang terbang tinggi, atau cahaya rembulan berarti kita melihat tanda-tanda keberadaan Tuhan ketika kita menghargai makhluk ciptaan Tuhan, baik itu manusia, tanaman, ataupun binatang, kita berarti menghargai Tuhan. Muhammad bin Wasi berkata, “Saya tidak pernah sekalipun melihat sesuatu tanpa melihat Tuhan di dalamnya”.14 Nabi Saw bersabda, “Allah Mahaindah dan Dia mencintai keindahan”. Ini adalah hadis shahih. Jadi, Dia menjelaskan diri-Nya sendiri sebagai pencinta keindahan dan Dia mencintai alam semesta. Dengan demikian, tidak ada yang lebih indah daripada alam semesta. Dialah yang Mahaindah karena secara intrinsik keindahan merupakan sesuatu yang dicintai, keseluruhan alam semesta mencintai Allah. Keindahan artistik merambah ciptaan-Nya, sementara alam semesta merupakan perbendaharaan tempat Dia bermanifestasi. Karena itu, cinta terhadap satu bagian alam semesta demi bagian yang lain bersumber dari cinta Allah kepada Dzat-Nya sendiri. Sebagaimana diketengahkan di atas, Allah mengundang kita untuk mencintai-Nya. Ia membuka sifat-sifat-Nya yang merupakan sebuah sarana bagi cinta kita untuk tumbuh terhadap-Nya seperti kesempurnaan, keindahan dan kemurahan-Nya. Sejak dini, Allah telah melimpahkan cinta-Nya kepada kita tatkala bersaksi dalam rahim ibu kita sebagaimana dilukiskan dalam al-Quran: “Bukankan Aku Tuhanmu?, ya, kami benar-benar memberikan kesaksian” (Q.S. al-A‟raf [7]: 172). Jiwa kita dilimpahi nur ketika pertanyaan tersebut diajukan. Juga ketika cahaya muncul, ia memperlihatkan apa yang mengelilinginya. Namun demikian, cahaya firman-Nya memanifestasi pada jiwa kita berupa kesempurnaan, keindahan, dan keagungan kekuasaan-Nya berkaitan dengan ketergantunag total kita kepada-Nya.15 Setelah jiwa-jiwa kita diberi minuman dalam cinta Allah dengan pelimpahan cahaya tersebut, kita keluar dari tempat kita dalam ruang batin dan singah di bumi untuk manggapai prestasi cinta yang hebat. Disinilah jiwa-jiwa kita dianugerahi dengan beragam sarana untuk mengembangkan anugerah cinta. Kita juga dianugerahi dengan organ-organ seperti hati, otak, mata, dan limpa-limpa lain untuk mengekspresikan cinta dan untuk memenuhi kebutuhan cinta tersebut melalui sikap melayani dan patuh.16 Sungguhpun demikian, hasil yang dicapai setiap orang yang berjuang di jalan cinta ini, secara nyata tidaklah sama bahkan sebagian yang lain ada melupakan akan persaksiaannya di hadapan Allah sebagaimana disebutkan di atas. Kekayaan cinta muncul dalam bentuk yang berbeda pada para pecinta yang berbeda. Keberhasilan tergantung pada usaha dan takdir sesorang. Ibnu „Araby terlebih lagi ar-Rumi, selalu mengingatkan para pembacanya bahwa cinta kepada makhluk haruslah merupakan cinta karena Allah. Hanya kebodohanlah yang menghalangi manusia dari memahami hakikat cinta. Olehnya, harus dipahami bahwa cinta pada hakikatnya milik Allah. Maka cinta itu baik karena suci, namun tetap menjadi tabir yang menyesatkan selama para pecinta tidak mengetahui objek cinta yang sesungguhnya. Wallahu A’lam !!!
Azim Jamal, Menemukan Keagungan Tuhan dalam Hidup Korporasi Kita, hal. 204 Muhammad Iqbal, The Achievement of Love : Metode Sufi Meraih Cinta Ilahi (Depok: Inisisasi Press, 2002), cet. I, hal. 13 16 Ibid, hal 14
15 14

25/01/13

Engkau Ada karena Cinta dan Nûr-Nya | Perspektif Pemikiran Sufisme

Oleh: Hasrul [Mahasiswa Institut PTIQ Jakarta]

5

Daftar Pustaka Burhani, Ahmad Najib. Sufisme Kota, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, cet I, 2001 Saad, Thiblawy Mahmud. Tasawuf menurut Ibnu Taimiyah terjemahan Ahmad Fauzi Hamid, Kuala Lumpur: Darul Nu‟man, cet I, 1995 Bahjat, Ahmad. Pledoi Kaum Sufi terjemahan Hasan Abrori, Surabaya: Pustaka Progressif, cet. I, 1997 Al-Kubby, Zuhair Syafiq. Imam al-Ghazali berbicara tentang Mahabbah, Rindu, tenteram dan Ridha, Semarang: Surya Angkasa, cet. I, 1995 Jailani, Abdul Qadir. Rahasia Sufi, Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD, cet. II, 1999 Sahabuddin, Nur Muhammad: Pintu Menuju Allah, Ciputat: Logos Wahana Ilmu, cet. II 2002 Chittick, William C. Tasawuf di Mata Sufi, Bandung: Mizan, cet. I, 2002 Azim Jamal, Menemukan Keagungan Tuhan dalam Hidup Korporasi Kita Iqbal, Muhammad. The Achievement of Love: Metode Sufi Meraih Cinta Ilahi, Depok: Inisisasi Press, cet. I, 2002

25/01/13

Engkau Ada karena Cinta dan Nûr-Nya | Perspektif Pemikiran Sufisme

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful