Peran Museum Sebagai Agen Perubahan. Mungkinkah?

1

oleh Annissa Maulina Gultom, S.Hum., M.A
2

Museum Indonesia, pernahkan berubah? Adakah perubahan dalam museum Indonesia setelah masa kemerdekaan? Tentu ada, tapi terdapat gambaran situasi berulang yang saya temukan dari referensi tentang pengembangan permuseuman Indonesia mulai dari 60an hingga masa GNCM (Gerakan Nasional Cinta Museum) 2010-2014. Keluhan “perkembangan museum di tanah air sangat jauh dari harapan” menjadi sebuah cliché yang seringkali mengkambinghitamkan apresiasi masyarakat yang masih rendah, atau sumber daya manusia museum yang –masih- saja tidak memenuhi persyaratan. Amir Sutaarga (60an), Bambang Sumadio (80an) sampai Roby Ardiwidjaja (2010) mengungkapkan permasalahan yang hampir sama, museum kita masih dalam persiapan untuk tinggal landas. Untuk menjadi agen perubahan tentunya museum perlu tinggal landas dan mencapai ketinggian ideal terlebih dahulu. Makalah ini akan mencoba menggambarkan bagaimana museum Indonesia bisa meniti jalan menuju menjadi agen perubahan.

Museum Indonesia di 12 tahun terakhir, sebuah pengalaman pribadi 12 tahun terakhir saya keluar masuk museum karena keperluan studi dan pekerjaan, bagi keluarga saya “museum” hanyalah bagian dari bidang ilmu saya. Pertama kali saya mengunjungi museum secara fisik adalah di dua minggu pertama sebagai mahasiswa Arkeologi
1

Makalah ini disampaikan dalam diskusi “Peran Museum Sebagai Agen Perubahan”, di aula Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, 26 November 2013 2 Penulis adalah praktisi permuseuman Indonesia

1

Universitas Indonesia di tahun 2000. Sebelumnya hanya tahu museum melalui program dokumenter di televisi yang juga memperkenalkan saya pada dunia Arkeologi. Museum tidak pernah menjadi alternatif liburan bagi keluarga saya, bahkan sampai sekarang, sayangnya. Di lima tahun pertama dari 12 tahun terakhir tersebut saya melihat museum sebagai pusat referensi studi saya. Tinggalan sejarah dan arkeologis yang masih berada di situs memiliki daya tarik lebih bagi mahasiswa Arkeologi yang sebagian besar terinspirasi oleh petualangan Indiana Jones. Mata kuliah pilihan “Museologi” pun tidak menjadi daya tarik untuk melengkapi persyaratan SKS untuk kelulusan. Pada saat itu, mimpi kami masih bertualang ke lapangan, bukan di balik meja. Akan tetapi, takdir berkata lain. Sejak 2001, saya terlibat dalam kegiatan permuseuman mulai dari menjadi relawan pemandu lepas; asisten tim kurator menyusun beberapa pameran regional, nasional dan internasional; hingga melanjutkan sekolah di bidang permuseuman yang sangat khusus: Museum Communication atau Museum Komunikasi. Pendidikan tingkat lanjut tersebut memberikan banyak visi dan ide untuk pengembangan permuseuman Indonesia. Visi dan ide yang baru dapat sebagian diaplikasikan dalam pengembangan konten Museum Kain, sebuah museum baru mengenai kain tradisional Indonesia yang baru dibuka seminggu yang lalu di Kuta, Bali. Pendidikan adalah langkah awal dari sebuah perubahan, pemahaman itulah yang manjadi geliat perkembangan permuseuman Indonesia di 2006 saat Direktorat Permuseuman memulai program pendidikan SDM museum. Di tahun ini Prodi Sejarah Universitas Padjajaran (Unpad) membuka program paskasarjana Museologi, prodi Arkeologi Universitas Indonesia (UI) dan prodi Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyusul di tahun berikutnya. Dalam waktu bersamaan UI mengirimkan calon pengajar untuk mengikuti program Museologi di Inggris dan Australia. Program di Unpad sempat dilengkapi oleh pengajar asing dari Perancis dan program di UGM bekerja sama dengan Troppenmuseum, Belanda untuk mengadakan beberapa kelas yang membutuhkan bimbingan praktisi. Beberapa diklat jangka pendek juga dilaksanakan oleh Direktorat Permuseuman yang kini melebur dalam Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Museum.
2

Pergerakan dalam permuseuman Indonesia kembali beriak di 2009 dan 2010. 2009 adalah penetapan Tahun Kunjungan Museum oleh Jero Wacik, mentri Kebudayaan dan Pariwisata saat itu. Kemudian di tahun berikutnya diluncurkan program GNCM, Gerakan Nasional Cinta Museum yang berlangsung hingga 2014 nanti. Mungkin karena semangat kepariwisataan yang lebih mendominasi kelahiran kedua program tersebut, perwujudan program lebih banyak berupa kegiatan fisik dan “kosmetik”, belum menghasilkan sebuah sistem yang diperlukan untuk terwujudnya sustainability, atau ketahanan berkelanjutan dalam permuseuman. Hal ini bertolak belakang dengan apa yang dianjurkan oleh Bambang Sumadio dalam “Future Oriented Cultural Policies and Museum Development Programs” :

Actually a future oriented museum development program should be more concentrated in the first place toward the creation of a museum system. That system should be totally oriented towards the needs of the society it serves as a whole. (Direktorat Permuseuman, 1997:13)

Sesungguhnya sebuah pengembangan museum yang beorientasi kedapan seharusnya lebih berfokus pada perwujudan sistem (dalam) museum. Sistem tersebut seharusnya berorientasi memenuhi kebutuhan masyarakat yang dilayaninya. (Direktorat Permuseuman, 1997:13)

Menuju Museum Sebagai Agen Perubahan Perubahan adalah sesuatu yang natural bagi manusia, perubahan yang secara otomatis mempengaruhi kebudayaannya. Apakah manusia bisa berubah mengikuti perubahan dalam konteks kebudayaan atau konteks alam? Tentu saja. Manusia modern adalah satu-satunya spesies hominid yang bertahan hingga kini karena kemampuannya beradaptasi pada perubahan. Bahkan dalam beberapa kasus ekstrim perubahan yang diakibatkan oleh faktor eksternal dapat memodifikasi fisiologi manusia. Konsep museum menjadi agen perubahan adalah suatu konsep yang sudah digaungkan di permuseuman internasional sejak 2003. Richard Sandell di 2003 menulis tantang bagaimana
3

beberapa penelitian menunjukkan gejala bahwa museum dapat memberikan kontribusi keterlibatan secara social (social inclusion) pada tingkat individu, komunitas dan masyarakat secara luas. Di tingkat individu atau personal, interaksi dengan museum dapat menghasilkan efek positif seperti percaya diri yang meningkat dan kreativitas. Di tingkat komunitas, museum dapat berfungsi sebagai katalis untuk regenerasi social, memperkuat komunitas untuk meningkatkan ikatan kebersamaan dalam lingkungan tempat tinggal. Kemudian, museum melalui representasi komunitas dengan penyajian koleksi, memiliki potensi untuk mempromosikan toleransi, saling menghormati antar komunitas dan menentang stereotipe (Sandell, 2003: 45). Di 2008, ICOM, International Committee of Museums menetapkan konsep museum sebagai agen perubahan dan perkembangan sosial sebagai bagian dari Renstra 2008-2010 mereka dan menjadi tema dari International Museum Day (IMD) 2008. Dalam Renstra ICOM 2008-2010 disebutkan dalam Objektif 1 bahwa:
“ICOM should explore the role and function of museums as civic and social spaces, beyond the maintenance and presentation of collections; explore the role of museums as stimuli for broader community, social and sustainable economic development in partnership with international heritage and cultural organizations; and design programming initiatives to demonstrate how museums act as institutional places and spaces for civic engagement by promoting dialogue and reconciliation on cultural and social issues.” (Brandão, 2008:4)

“ICOM sebaiknya mengeksplorasi peran dan fungsi dari museum sebagai ruang sipil dan sosial, diluar dari perawatan dan penyajian koleksi; mengeksplorasi peran museum sebagai stimulan untuk komunitas yang lebih luas, perkembangan sosial dan ketahanan ekonomi berkelanjutan dalam kemitraan dengan organisasi-organisasi warisan budaya dan kebudayaan; dan merancang program inisiatif yang memperlihatkan bagaimana museum sebagai sebuah institusi dan ruang untuk interaksi sipil dengan mempromosikan dialog dan rekonsialiasi isu budaya dan sosial” (Brandão, 2008:4)

4

Setiap tahun sejak 1977, IMD dilaksanakan di seluruh dunia dengan penyelenggaraan berbagai macam aktifitas mengikuti tema utama. Setelah IMD 2008, tema perubahan dilakukan kembali di : IMD 2012, Museums in a changing world. New challenges, new inspiration (Museum di Dunia yang Berubah. Tantangan baru, inspirasi baru), serta di IMD 2013, Museums (memory + creativity = social change) yang berarti Museum (kenangan + kreativitas = perubahan sosial).

Di 2013, organisasi jaringan permuseuman di Inggris meluncurkan “Museum Change Lives”, visi mereka akan pengaruh museum terhadap masyarakat. Sebuah visi yang sejalan dengan ide Stephen Weil dalam Making Museums Matter:
“….Museums were changing their purpose from being about something to being for somebody” “….Museum merubah fungsi mereka dari mengenai sesuatu menjadi untuk seseorang”

Kemudian Hillary Jennings, seorang konsultan kebahagian untuk The Happy Museum Project di Inggris, mengatakan bahwa museum dapat menyediakan ruang untuk membayangkan masa depan yang berbeda (Steel, 2013):
“[Museums can be] where people learn new things, play, and have their spirits lifted, valuing the environment and being stewards of the future as well as the past. In this way museums can help citizens understand link between the local and the global.”

“[Museum dapat menjadi] tempat orang belajar tentang hal baru, dan terbangkitkan semangatnya, [menjadi] menghargai lingkungan dan menjadi penjaga masa depan seperti halnya menjadi penjaga masa lalu. Dalam hal ini museum dapat membantu masyarakat memahami hubungan antara konteks lokal dan global”

5

Maka, jika diambil benang merah dari penerapan konsep museum sebagai agen perubahan, kata kunci dari definisi Museum yang menjadi agen perubahan adalah museum yang: 1) Merubah fungsi mereka dari mengenai sesuatu menjadi untuk seseorang 2) Mengeksplorasi peran museum sebagai stimulan untuk komunitas yang lebih luas, perkembangan sosial dan ketahanan ekonomi berkelanjutan dalam kemitraan dengan organisasi-organisasi warisan budaya dan kebudayaan. 3) Merancang program inisiatif sebagai sebuah institusi dan ruang untuk interaksi sipil dengan mempromosikan dialog dan rekonsialiasi isu budaya dan sosial
4) Menjadi ruang sipil dan sosial, diluar dari perawatan dan penyajian koleksi. Memberikan

ruang representasi komunitas dengan penyajian koleksi, memiliki potensi untuk mempromosikan toleransi, saling menghormati antar komunitas dan menentang stereotipe 5) Menjadi tempat orang belajar tentang hal baru, dan terbangkitkan semangatnya dan menghargai lingkungan 6) Menjadi penjaga masa depan seperti halnya menjadi penjaga masa lalu. 7) Membantu masyarakat memahami hubungan antara konteks lokal dan global”

Berbicara tentang perubahan, saya selalu teringat akan kutipan dari Surat Ar-Ra’d, ayat 11 yang diterjemahkan sebagai berikut:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ”

Pendek kata, museum harus berani merubah diri mereka menjadi institusi yang mampu menjadi agen perubahan. Museum harus berani mengevaluasi diri dan menetapkan standar minimal (menuju ideal) sebuah museum. Evaluasi bisa berangkat dari pernyataan di awal: “perkembangan museum di tanah air sangat jauh dari harapan”. Bentuk “harapan” yang dimaksud berwujud dalam bentuk standar akreditasi museum yang dilengkapi dengan perangkat pendukung, baik dari perundang-undangan sampai tenaga pelaksana.
6

Beberapa Contoh Museum yang Menjadi Agen Perubahan 1. Museu da Mare. Sebuah Museum berlokasi di Mare, salah satu favela (pemukiman kumuh) di Rio de Janeiro, Brazil. Museum ini merupakan museum berbasi komunitas yang menyajikan sebuah sudut pandang mengenai hidup di favela dari masyarakat favela di Mare. Koleksi dikumpulkan dari masyarakat yang dipandu oleh kurasi seorang praktisi Museologi. Museum ini merupakan museum independen yang berdiri berdasarkan dana pribadi masyarakat.

Keterangan Gambar: Atas: (kiri) tampak depan Museu du Mare; (kanan) Kepala tim museum menjelaskan koleksi di meja yang dikumpulkan dari masyarakat Mare Bawah: (kiri) tumpukan catatan hutang belanja yang biasa dipakai warung kelontong di favela; (kanan) cetakan lubang bekas peluru nyasar dari dinding rumah masyarakat, favela merupakan pusat perdagangan obat-obatan terlarang dan kejahatan terorganisasi di Brazil

7

Keterangan Gambar: Atas: (kiri) replika ukuran 1:1 sebuah rumah favela; Atas kanan dan bagian bawah: interior isi rumah favela

2. Museu de Arte do Rio (MAR), atau Museum Seni Rio. Sebuah museum seni milik pemerintah Rio de Janeiro dengan sejarah panjang yang menempati gedung bersejarah. Museum ini kini dilengkapi dengan gedung baru yang dibangun untuk memfasilitasi operasional museum modern tanpa menggaggu proses perawatan gedung lama. Di lantai dasar ini terdapat seni instalasi yang menggambarkan keresahan penduduk favela akan ketidakadilan sosial, hokum dan ekonomi yang mereka hadapi. Pada salah satu miniature rumah favela tertulis “onde esta edmundo?” Yang artinya “dimana Edmundo?”. Edmundo adalah nama pekerja
8

bangunan yang dibawa ke kantor polisi di sebuah kerusuhan lokal di akhir Juli 2013. Edmundo tidak pernah kembali pulang dan polisi lokal menyatakan bahwa mereka tidak pernah membawanya.

Keterangan gambar: Atas: (kiri) Tampak depan Museu du Mar dan (kanan) informasi pembangunan gedung baru dan bagaimana integrasi antara gedung baru dan lama Bawah: (kiri) Contoh favela di Rio de Janeiro; (kanan) instalasi favela di lantai 1 MAR Kiri: Detail instalasi

9

Daftar Bacaan

Ardiwidjaja, Roby 2013 Gerakan Nasional Cinta Museum: GNCM Penguat Identitas Dan Jati Diri Bangsa.
https://www.academia.edu/4877418/GERAKAN_NASIONAL_CINTA_MUSEUM

Brandão, Carlos Roberto Ferreira (Chairperson, ICOM-Brazil) 2008 “Brazil’s National & International Development Strategies”, ICOM NEWS no. 1 >
Direktorat Permuseuman/Bambang Soemadio 1997 “Future Oriented Cultural Policies and Museum Development Programs”, dalam Bunga Rampai Permuseuman. Depdikbud. Dirjen Kebudayaan.

Sandell , Richard 2003 “Social inclusion, the museum and the dynamics of sectoral change ”, in , Museum and Society, 1 (1): 45-62. University of Leicester Steel, Patrick 13.11.2013 Olding: social impact is what museums are for. Museums Association. 11/24/13. http://www.museumsassociation.org/museums-journal/news/13112013social-impact-what-museums-are-for

Weil, Stephen 2002 Making Museums Matter. Smithsonian Institution Press.

10