MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 02/PRT/M/2009 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENETAPAN STATUS PENGGUNAAN, PEMANFAATAN, PENGHAPUSAN DAN PEMINDAHTANGANAN BARANG MILIK NEGARA DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM, Menimbang : a. bahwa dalam rangka tertib administrasi pengelolaan barang milik negara sebagaimana diatur dalam Pasal 14, Pasal 20, Pasal 41, dan Pasal 45 Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 serta Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.06/2007 perlu diatur pedoman pelaksanaan penetapan status penggunaan, pemanfaatan, penghapusan, dan pemindahtanganan barang milik negara di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a diatas, dengan memperhatikan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 31/KM.6/2008, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum; Mengingat : 1. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah jo. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah; 2. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia; 3. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia; 4. Keputusan Presiden RI Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu 2004 – 2009; 5. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.06/2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan, dan Pemindahtanganan Barang Milik Negara; 6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 01/PRT/M/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum; 7. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 31/KM.6/2008 tentang Pelimpahan Sebagian Wewenang Pengelolaan Barang Milik Negara kepada Kepala Kantor Wilayah dan Kepala Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang di Lingkungan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara untuk dan atas nama Menteri Keuangan Menandatangani Surat dan/atau Keputusan Menteri Keuangan;

MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENETAPAN STATUS PENGGUNAAN, PEMANFAATAN, PENGHAPUSAN DAN PEMINDAHTANGANAN BARANG MILIK NEGARA DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM.

BAB I KETENTUAN UMUM Bagian Kesatu Pengertian Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Barang Milik Negara untuk selanjutnya disebut BMN adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban dana APBN atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. 2. Pengelola Barang adalah pejabat yang berwenang dan bertanggungjawab menetapkan kebijakan dan pedoman serta melakukan pengelolaan barang milik negara/daerah yang dalam hal ini adalah Menteri Keuangan. 3. Pengguna Barang adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan barang milik negara dan penanggung jawab Unit Penatausahaan Pengguna Barang (UPPB) yang dalam hal ini adalah Menteri Pekerjaan Umum. 4. Pengguna Barang Eselon I adalah pimpinan Satuan Administrasi Pangkal (Satminkal) sebagai penanggung jawab penggunaan barang milik negara pada Unit Penatausahaan Pengguna Barang Eselon I (UPPB-E1). 5. Kuasa Pengguna Barang adalah Kepala Satuan Kerja atau Pejabat yang ditunjuk oleh Pengguna Barang selaku pimpinan Unit Penatausahaan Kuasa Pengguna Barang (UPKPB) untuk menggunakan barang yang berada dalam penguasaannya dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi kantor yang dipimpinnya. 6. Penggunaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh Pengguna Barang dalam mengelola dan menatausahakan barang milik negara yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsi instansi yang bersangkutan. 7. Pemanfaatan adalah pendayagunaan barang milik negara yang tidak/belum dipergunakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi kementerian negara/lembaga, dalam bentuk sewa, pinjam pakai, dan kerjasama pemanfaatan. 8. Penghapusan adalah tindakan menghapus barang milik negara dari daftar barang dengan menerbitkan Surat Keputusan dari pejabat yang berwenang untuk membebaskan Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang dan/atau Pengelola Barang dari tanggung jawab administrasi dan fisik atas barang yang berada dalam penguasaannya.

2

9. Pemindahtanganan adalah pengalihan kepemilikan barang milik negara sebagai tindak lanjut dari penghapusan dengan cara dijual, dipertukarkan, dihibahkan, atau disertakan sebagai modal pemerintah. 10. Penatausahaan barang milik negara adalah rangkaian kegiatan yang meliputi pembukuan, inventarisasi dan pelaporan barang milik negara/daerah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 11. Penilaian barang milik negara adalah suatu proses kegiatan penelitian yang selektif didasarkan pada data/fakta yang obyektif dan relevan dengan menggunakan metode/teknik tertentu untuk memperoleh nilai barang milik negara. 12. Penelitian dan Penaksiran Barang Milik Negara adalah suatu kegiatan penelitian yang dilakukan oleh tim internal Departemen Pekerjaan Umum dari aspek teknis, yuridis, dan administratif serta taksiran nilai sementara barang milik negara sebagai dasar pengajuan usulan Pengguna Barang atau Pengguna Barang Eselon I atau Kuasa Pengguna Barang kepada Pengelola Barang. 13. Tim Peneliti dan Penaksir adalah tim internal departemen yang dibentuk oleh Pejabat Pengguna Barang. Bagian Kedua Maksud dan Tujuan Pasal 2 (1) Peraturan ini dimaksudkan sebagai pedoman bagi Pejabat Pengguna Barang dalam rangka pelaksanaan penetapan status penggunaan, pemanfaatan, penghapusan, dan pemindahtanganan barang milik negara di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum. (2) Peraturan ini bertujuan untuk mewujudkan tertib administrasi penetapan status penggunaan, pemanfaatan, penghapusan, dan pemindahtanganan barang milik negara di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum secara efektif dan efisien dengan berpegang pada prinsip tidak merugikan keuangan negara.

Bagian Ketiga Ruang Lingkup Pasal 3 Lingkup pengaturan dalam peraturan ini: a. Prosedur dan tata cara penetapan status penggunaan, pemanfaatan, penghapusan, dan pemindahtanganan barang milik negara di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum; b. Pelaksanaan sebagian tugas dan tanggung jawab Pengguna Barang oleh Pejabat Pengguna Barang untuk membentuk tim internal, mengajukan usulan kepada Pengelola Barang dan menetapkan keputusan dalam rangka proses penetapan status penggunaan, pemanfaatan, penghapusan, dan pemindahtanganan barang milik negara dalam batasan nilai tertentu.

3

Bagian Keempat Pejabat Pengguna Barang Pasal 4 (1) Pejabat Pengguna Barang di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum terdiri dari Pengguna Barang, Pengguna Barang Eselon I, dan Kuasa Pengguna Barang untuk melaksanakan prosedur dan tata cara dalam rangka penetapan status penggunaan, pemanfaatan, penghapusan, dan pemindahtanganan barang milik negara sebagaimana diatur dalam peraturan ini. (2) Sebagian tugas dan tanggung jawab Pengguna Barang untuk melaksanakan prosedur dan tata cara sebagaimana dimaksud ayat (1) dilaksanakan oleh Sekretaris Jenderal yang secara fungsional dibantu oleh Kepala Pusat Pengelolaan Barang Milik Negara. (3) Sebagian tugas dan tanggung jawab Pengguna Barang untuk melaksanakan prosedur dan tata cara sebagaimana dimaksud ayat (1) dilaksanakan oleh Pengguna Barang Eselon I yang secara fungsional dibantu oleh pejabat yang ditunjuk yaitu : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Kepala Biro Perlengkapan dan Umum; Sekretaris Inspektorat Jenderal; Sekretaris Direktorat Jenderal Sumber Daya Air; Sekretaris Direktorat Jenderal Bina Marga; Sekretaris Direktorat Jenderal Cipta Karya; Sekretaris Direktorat Jenderal Penataan Ruang; Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan; Sekretaris Badan Pengembangan Konstruksi dan Sumber Daya Manusia; Sekretaris Badan Pengatur Jalan Tol; Sekretaris Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum.

(4) Sebagian tugas dan tanggung jawab Pengguna Barang untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud ayat (1) dilaksanakan Kuasa Pengguna Barang.

Bagian Kelima Pengajuan dan Penetapan Pasal 5

(1) Pengajuan usulan kepada Pengelola Barang untuk penetapan status penggunaan, pemanfaatan, penghapusan, serta pemindahtanganan barang milik negara yang sebagian tidak dan/atau belum digunakan untuk menunjang tugas pokok dan fungsi Departemen dilaksanakan oleh Pejabat Pengguna Barang. (2) Pejabat Pengguna Barang mengajukan usulan berdasarkan hasil penelitian dan penaksiran Tim Internal dan selanjutnya memberikan keputusan penetapan setelah memperoleh persetujuan Pengelola Barang.

4

Bagian Keenam Penelitian dan Penaksiran Pasal 6 (1) Penelitian dan penaksiran BMN dilakukan oleh suatu tim internal yang dibentuk oleh Pejabat Pengguna Barang berdasarkan perkiraan nilai BMN yang keanggotaannya sekurang-kurangnya terdiri dari unsur Pusat Pengelolaan Barang Milik Negara, Biro Hukum, Pengguna Barang Eselon I dan Kuasa Pengguna Barang. (2) Tim Internal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain bertugas : a. Melakukan penelitian administratif, yuridis dan teknis BMN; b. Mengestimasi nilai BMN yang didasarkan pada formulasi perhitungan standar penilaian yang berlaku; c. Menyusun berita acara penelitian dan penaksiran BMN yang memuat tentang jenis, lokasi, luas, jumlah, besaran nilai, dan bukti kepemilikan/perolehan BMN serta data pendukung lainnya yang ditandatangani oleh seluruh anggota tim; d. Menyampaikan laporan hasil penelitian dan penaksiran kepada Pejabat Pengguna Barang sesuai kewenangannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Hasil pelaksanaan tugas Tim Internal merupakan acuan bagi Pejabat Pengguna Barang dalam pengajuan usulan kepada Pengelola Barang sesuai dengan kewenangannya. BAB II PENETAPAN STATUS PENGGUNAAN Bagian Kesatu Nilai Obyek Penetapan Status Penggunaan Pasal 7 (1) Pengusulan penetapan status penggunaan dilakukan oleh Pengguna Barang dan ditujukan kepada Menteri Keuangan untuk: a. tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan BMN per bidang tanah dan/atau unit bangunan lebih dari Rp 2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah). b. selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan BMN per unit lebih dari Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). (2) Pengusulan penetapan status penggunaan dilakukan oleh Pengguna Barang Eselon I ditujukan kepada Kepala Kanwil DJKN untuk: a. tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan BMN per bidang tanah dan/atau unit bangunan lebih dari Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) sampai dengan Rp 2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah). b. selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan BMN per unit lebih dari Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) sampai dengan Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). (3) Pengusulan penetapan status penggunaan dilakukan Kuasa Pengguna Barang dan ditujukan kepada Kepala KPKN/L untuk: a. tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan BMN per bidang tanah dan/atau unit bangunan sampai dengan Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). b. selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan BMN per unit sampai dengan Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah).
5

b. Berdasarkan persetujuan dari Menteri Keuangan. c. Berdasarkan persetujuan dari Kepala Kanwil DJKN. Kuasa Pengguna Barang mengajukan permohonan pengalihan penggunaan kepada Pengguna Barang Eselon I. Pengguna Barang menerbitkan keputusan penghapusan dari Daftar Barang Pengguna dan selanjutnya Menteri Keuangan menerbitkan keputusan penetapan status penggunaan kepada Pengguna Barang baru. (2) Bagan alir tata cara penetapan status penggunaan barang milik negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Lampiran I Peraturan Menteri ini. e. Pengguna Barang melakukan penelitian dan penaksiran dengan membentuk Tim Internal. d. Bagian Ketiga Prosedur dan Tata Cara Penetapan Status Penggunaan Pada Pengguna Barang Eselon I Pasal 9 (1) Prosedur dan tata cara penetapan status penggunaan dengan batasan nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) sebagai berikut : a.Bagian Kedua Prosedur dan Tata Cara Penetapan Status Penggunaan Pada Pengguna Barang Pasal 8 (1) Prosedur dan tata cara penetapan status penggunaan dengan batasan nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) sebagai berikut : a. c. Pengguna Barang Eselon I memberikan rekomendasi teknis kepada Pengguna Barang. Pengguna Barang melakukan serah terima kepada Pengguna Barang baru yang dituangkan dalam suatu berita acara serah terima untuk selanjutnya dilakukan penatausahaan. e. Pengguna Barang memerintahkan Pengguna Barang Eselon I untuk melakukan penelitian dan penaksiran dengan membentuk Tim Internal yang hasilnya disampaikan kepada Pengguna Barang Eselon I. Pengguna Barang Eselon I mengajukan usulan pengalihan status penggunaan BMN kepada Kepala Kanwil DJKN setempat dengan memperhatikan hasil penelitian dan penaksiran Tim Internal dan surat penyataan kesediaan menerima pengalihan BMN dari calon Pengguna Barang baru. 6 . d. b. Pengguna Barang Eselon I menerbitkan keputusan penghapusan dari Daftar Barang Pengguna dan selanjutnya Kepala Kanwil DJKN menerbitkan keputusan penetapan status penggunaan kepada Pengguna Barang baru. Pengguna Barang Eselon I memberikan rekomendasi teknis kepada Pengguna Barang. f. Kuasa Pengguna Barang mengajukan permohonan pengalihan penggunaan BMN kepada Pengguna Barang Eselon I. Pengguna Barang mengajukan usulan pengalihan status penggunaan BMN kepada Menteri Keuangan dengan memperhatikan hasil penelitian dan penaksiran Tim Internal dan surat penyataan kesediaan menerima pengalihan dari calon Pengguna Barang baru.

Berdasarkan persetujuan Pengguna Barang. b. Berdasarkan persetujuan Kepala KPKN/L. Kuasa Pengguna Barang mengajukan usulan pengalihan status penggunaan BMN kepada Kepala KPKN/L setempat dengan memperhatikan hasil penelitian dan penaksiran Tim Internal dan surat penyataan kesediaan menerima pengalihan BMN dari calon Pengguna Barang baru. Bagian Kelima Penetapan Status Penggunaan Kepada Pihak Lain Pasal 11 Barang Milik Negara dapat ditetapkan status penggunaannya untuk dioperasikan oleh pihak lain dalam rangka menjalankan pelayanan umum sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Departemen Pekerjaan Umum. Kuasa Pengguna Barang mengajukan permohonan pengalihan penggunaan kepada Pengguna Barang Eselon I. Bagian Keempat Prosedur dan Tata Cara Penetapan Status Penggunaan Pada Kuasa Pengguna Barang Pasal 10 (1) Prosedur dan tata cara penetapan status penggunaan dengan batasan nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) sebagai berikut : a. 7 . Pengguna Barang Eselon I memerintahkan Kuasa Pengguna Barang untuk melakukan penelitian dan penaksiran dengan membentuk Tim Internal yang hasilnya disampaikan kepada Kuasa Pengguna Barang. f. (2) Bagan alir tata cara penetapan status penggunaan barang milik negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Lampiran II Peraturan Menteri ini. Pengguna Barang melakukan serah terima kepada Pengguna Barang baru yang dituangkan dalam suatu berita acara serah terima untuk selanjutnya dilakukan penatausahaan. (2) Bagan alir tata cara penetapan status penggunaan barang milik negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Lampiran III peraturan menteri ini. d. Kuasa Pengguna Barang menerbitkan keputusan penghapusan dari Daftar Barang Pengguna dan selanjutnya Kepala KPKN/L menerbitkan keputusan penetapan status penggunaan kepada Pengguna Barang baru. Pengguna Barang Eselon I memberikan rekomendasi teknis kepada Pengguna Barang. e.f. Pengguna Barang melakukan serah terima kepada Pengguna Barang baru yang dituangkan dalam suatu berita acara serah terima untuk selanjutnya dilakukan penatausahaan. c.

000.00 (lima miliar rupiah). pinjam pakai.000. Bagian Kedua Nilai Obyek Sewa Pasal 13 (1) Pengusulan pemanfaatan Barang Milik Negara dalam bentuk sewa untuk jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun dilakukan oleh Pengguna Barang dan ditujukan kepada Menteri Keuangan untuk : a.000. selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan lebih dari Rp 500.000.000.000.00 (satu miliar rupiah).00 (satu miliar rupiah) sampai dengan Rp 5.00 (lima miliar rupiah). b.000.00 (lima ratus juta rupiah).00 (seratus juta rupiah). c.000.000. sewa.000.000. nilai perolehan sampai dengan 8 .000.000.BAB III PEMANFAATAN BARANG MILIK NEGARA Bagian Kesatu Umum Pasal 12 (1) Pemanfaatan barang milik negara dilakukan terhadap barang milik negara yang sebagian tidak dan/atau belum dimanfaatkan untuk penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi Departemen Pekerjaan Umum. tanah dan/atau bangunan dengan nilai berdasarkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) lebih dari Rp 5. b.00 (seratus juta rupiah) sampai dengan Rp 500. (3) Pengusulan pemanfaatan Barang Milik Negara dalam bentuk sewa untuk jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun dilakukan oleh Kuasa Pengguna Barang dan ditujukan kepada Kepala KPKN/L setempat untuk : a. (2) Pemanfaatan Barang Milik Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan dalam bentuk : a. tanah dan/atau bangunan dengan nilai berdasarkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) sampai dengan Rp 1. selain tanah dan/atau bangunan dengan Rp 100.000.000. tanah dan/atau bangunan dengan nilai berdasarkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) lebih dari Rp 1.000.000.00 (lima ratus juta rupiah).000. kerjasama pemanfaatan. (2) Pengusulan pemanfaatan Barang Milik Negara dalam bentuk sewa untuk jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun dilakukan oleh Pengguna Barang Eselon I dan ditujukan kepada Kanwil DJKN untuk : a.000. selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan lebih dari Rp 100. b. b.000.

nilai sewa. 2 (dua) diantaranya bermaterai cukup untuk para pihak dan 2 (dua) lainnya disampaikan kepada instansi terkait. para pihak. e. Berdasarkan persetujuan dari Menteri Keuangan. (2) Bagan alir tata cara pemanfaatan barang milik negara dalam bentuk sewa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Lampiran IV Peraturan Menteri ini. f. Pengguna Barang memerintahkan Pengguna Barang Eselon I untuk menerbitkan rekomendasi teknis dan sekaligus melakukan penelitian dan penaksiran dengan membentuk Tim Internal yang hasilnya disampaikan kepada Pengguna Barang Eselon I. jangka waktu. Pengguna Barang memerintahkan Pengguna Barang Eselon I untuk menerbitkan rekomendasi teknis. obyek sewa menyewa. jangka waktu. Perjanjian sewa dibuat dalam rangkap 4 (empat). Pengguna Barang mengajukan usulan sewa kepada Menteri Keuangan dengan memperhatikan hasil penelitian dan penaksiran Tim Internal. Jangka waktu penyewaan dapat diperpanjang oleh Pengguna Barang setelah mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan dengan mengajukan permohonan perpanjangan sewa paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya jangka waktu sewa. Pihak ketiga mengajukan permohonan sewa kepada Pengguna Barang. 9 . Pengguna Barang Eselon I mengajukan usulan sewa kepada Kepala Kanwil DJKN setempat dengan memperhatikan hasil penelitian dan penaksiran Tim Internal. b. c. cara pembayaran sewa dan syarat batal perjanjian. obyek sewa. c. dan cara pembayaran serta menugaskan kepada Sekretaris Jenderal yang dalam hal ini dilaksanakan oleh Kepala Pusat Pengelolaan Barang Milik Negara untuk menyusun dan menandatangani perjanjian sewa menyewa. Bagian Keempat Prosedur dan Tata Cara Sewa Pada Pengguna Barang Eselon I Pasal 15 (1) Prosedur dan tata cara sewa dengan batasan nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) sebagai berikut : a. h. Pengguna Barang menetapkan keputusan tentang penyewaan barang milik negara yang sekurang-kurangnya memuat tentang para pihak. d. Pihak ketiga mengajukan permohonan sewa kepada Pengguna Barang. Perjanjian sewa menyewa BMN sekurang-kurangnya memuat tentang dasar perjanjian. b.Bagian Ketiga Prosedur dan Tata Cara Sewa Pada Pengguna Barang Pasal 14 (1) Prosedur dan tata cara sewa dengan batasan nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) sebagai berikut : a. Pengguna Barang melakukan penelitian dan penaksiran dengan membentuk Tim Internal. hak dan kewajiban para pihak. g.

Pengguna Barang Eselon I memerintahkan Kuasa Pengguna Barang untuk melakukan penelitian dan penaksiran dengan membentuk Tim Internal yang hasilnya disampaikan kepada Kuasa Pengguna Barang. jangka waktu. g. (2) Bagan alir tata cara pemanfaatan barang milik negara dalam bentuk sewa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Lampiran V Peraturan Menteri ini. cara pembayaran sewa dan syarat batal perjanjian. Perjanjian sewa dibuat dalam rangkap 4 (empat).d. nilai sewa. c. Kuasa Pengguna Barang mengajukan usulan sewa kepada Kepala KPKN/L dengan memperhatikan hasil penelitian dan penaksiran Tim Internal. f. cara pembayaran sewa dan syarat batal perjanjian. (2) Bagan alir tata cara pemanfaatan barang milik negara dalam bentuk sewa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Lampiran VI Peraturan Menteri ini. Perjanjian sewa dibuat dalam rangkap 4 (empat). obyek sewa. Jangka waktu penyewaan dapat diperpanjang oleh Kuasa Pengguna Barang setelah mendapat persetujuan dari Kepala KPKN/L dengan mengajukan permohonan perpanjangan sewa paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya jangka waktu sewa. jangka waktu. d. hak dan kewajiban para pihak. hak dan kewajiban para pihak. obyek sewa menyewa. Berdasarkan persetujuan dari Kepala KPKN/L setempat. para pihak. dan cara pembayaran dan tembusannya disampaikan kepada Pengguna Barang Eselon I. Berdasarkan persetujuan Pengguna Barang. jangka waktu. obyek sewa. obyek sewa menyewa. 2 (dua) diantaranya bermaterai cukup untuk para pihak dan 2 (dua) lainnya disampaikan kepada instansi terkait. Pihak ketiga mengajukan permohonan sewa kepada Pengguna Barang. g. e. e. nilai sewa. Perjanjian sewa menyewa BMN sekurang-kurangnya memuat tentang dasar perjanjian. Pengguna Barang Eselon I menetapkan keputusan tentang penyewaan barang milik negara yang sekurang-kurangnya memuat tentang para pihak. h. Berdasarkan persetujuan dari Kepala Kanwil DJKN setempat. Perjanjian sewa menyewa BMN ditandatangani oleh Kuasa Pengguna Barang yang sekurang-kurangnya memuat tentang dasar perjanjian. 10 . para pihak. b. Bagian Kelima Prosedur dan Tata Cara Sewa Pada Kuasa Pengguna Barang Pasal 16 (1) Prosedur dan tata cara sewa dengan batasan nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (3) adalah sebagai berikut : a. dan cara pembayaran serta penetapan pejabat yang untuk dan atas nama Departemen Pekerjaan Umum membuat dan menandatangani perjanjian. Pengguna Barang memerintahkan Pengguna Barang Eselon I untuk menerbitkan rekomendasi teknis. Jangka waktu penyewaan dapat diperpanjang oleh Pengguna Barang Eselon I setelah mendapat persetujuan dari Kepala Kanwil DJKN dengan mengajukan permohonan perpanjangan sewa paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya jangka waktu sewa. jangka waktu. Kuasa Pengguna Barang menetapkan keputusan tentang penyewaan barang milik negara yang sekurangkurangnya memuat tentang para pihak. 2 (dua) diantaranya bermaterai cukup untuk para pihak dan 2 (dua) lainnya disampaikan kepada instansi terkait. f.

00 (lima ratus juta rupiah).000.000. b.000. c.00 (dua miliar lima ratus juta rupiah). Sekretaris Jenderal yang dalam hal ini dilaksanakan oleh Kepala Pusat Pengelolaan Barang Milik Negara menyusun dan menandatangani perjanjian pinjam pakai. Pengguna Barang memerintahkan Pengguna Barang Eselon I untuk menerbitkan rekomendasi teknis.00 (sepuluh miliar rupiah).000.500. nilai perolehan sampai dengan 11 .000. d. Pengguna Barang cq. Pengguna Barang mengajukan usulan persetujuan pinjam pakai kepada Menteri Keuangan dengan memperhatikan hasil penelitian dan penaksiran Tim Internal.00 (dua miliar rupiah).00 (sepuluh miliar rupiah).000. perolehan lebih dari (2) Pengusulan pemanfaatan barang milik negara dalam bentuk pinjam pakai untuk jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun dilakukan oleh Pengguna Barang Eselon I ditujukan kepada Kepala Kanwil DJKN untuk : a.000. Berdasarkan persetujuan dari Menteri Keuangan.000. Pemerintah Daerah mengajukan permohonan pinjam pakai kepada Pengguna Barang. Bagian Ketujuh Prosedur dan Tata Cara Pinjam Pakai Pada Pengguna Barang Pasal 18 (1) Prosedur dan tata cara pinjam pakai dengan batasan nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) adalah sebagai berikut : a. tanah dan/atau bangunan dengan nilai berdasarkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) lebih dari Rp 10. Pengguna Barang melakukan penelitian dan penaksiran dengan membentuk Tim Internal.Bagian Keenam Nilai Obyek Pinjam Pakai Pasal 17 (1) Pengusulan pemanfaatan barang milik negara dalam bentuk pinjam pakai untuk jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun dilakukan oleh Pengguna Barang dan ditujukan kepada Menteri Keuangan untuk : a.000.000.000. (3) Pengusulan pemanfaatan barang milik negara dalam bentuk pinjam pakai untuk jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun dilakukan oleh Kuasa Pengguna Barang dan ditujukan kepada Kepala KPKN/L untuk : a.000. tanah dan/atau bangunan dengan nilai berdasarkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) sampai dengan Rp 2.500. b.00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan Rp 2.000.000.000. selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai Rp 2. b.000.000.000. e.00 (dua miliar lima ratus juta rupiah). b.000.000. selain tanah dan/atau bangunan dengan Rp 500.00 (dua miliar rupiah) sampai dengan Rp 10. selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan lebih dari Rp 500. tanah dan/atau bangunan dengan nilai berdasarkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) lebih dari Rp 2.

hak dan kewajiban para pihak. 2 (dua) diantaranya bermaterai cukup untuk para pihak dan 2 (dua) lainnya disampaikan kepada instansi terkait. b. Bagian Kedelapan Prosedur dan Tata Cara Pinjam Pakai Pada Pengguna Barang Eselon I Pasal 19 (1) Prosedur dan tata cara pinjam pakai dengan batasan nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) adalah sebagai berikut : a. 12 . i. para pihak. Perjanjian pinjam pakai BMN sekurang-kurangnya memuat tentang dasar perjanjian. h. Perjanjian pinjam pakai dibuat dalam rangkap 4 (empat). g. Perjanjian pinjam pakai BMN sekurang-kurangnya memuat tentang dasar perjanjian. jangka waktu dan syarat batal perjanjian serta persyaratan lain yang dianggap perlu. Jangka waktu pinjam pakai dapat diperpanjang oleh Pengguna Barang setelah mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan dengan mengajukan permohonan perpanjangan pinjam pakai paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya jangka waktu pinjam pakai. Jangka waktu pinjam pakai dapat diperpanjang oleh Pengguna Barang Eselon I setelah mendapat persetujuan dari Kepala Kanwil DJKN setempat dengan mengajukan permohonan perpanjangan pinjam pakai paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya jangka waktu pinjam pakai. d. Perjanjian pinjam pakai dibuat dalam rangkap 4 (empat). jangka waktu dan syarat batal perjanjian serta persyaratan lain yang dianggap perlu.f. c. e. 2 (dua) diantaranya bermaterai cukup untuk para pihak dan 2 (dua) lainnya disampaikan kepada instansi terkait. Setelah berakhirnya jangka waktu pinjam pakai. obyek pinjam pakai. (2) Bagan alir tata cara pemanfaatan barang milik negara dalam bentuk pinjam pakai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Lampiran VII Peraturan Menteri ini. Pengguna Barang Eselon I atau pejabat yang ditunjuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) menyusun dan menandatangani perjanjian pinjam pakai. j. Pengguna Barang memerintahkan Pengguna Barang Eselon I untuk menerbitkan rekomendasi teknis dan sekaligus melakukan penelitian dan penaksiran dengan membentuk Tim Internal yang hasilnya disampaikan kepada Pengguna Barang Eselon I. Berdasarkan perjanjian pinjam pakai antara Pengguna Barang dengan Pemerintah Daerah yang bersangkutan dilakukan serah terima yang dituangkan dalam suatu berita acara serah terima pinjam pakai. peminjam harus menyerahkan obyek pinjam pakai dalam suatu berita acara serah terima kepada Pengguna Barang dalam kondisi sebagaimana yang dituangkan dalam perjanjian. Pengguna Barang Eselon I mengajukan usulan persetujuan pinjam pakai kepada Kepala Kanwil DJKN setempat dengan memperhatikan hasil penelitian dan penaksiran Tim Internal. Berdasarkan perjanjian pinjam pakai antara Pengguna Barang dengan Pemerintah Daerah yang bersangkutan dilakukan serah terima yang dituangkan dalam suatu berita acara serah terima pinjam pakai. obyek pinjam pakai. Berdasarkan persetujuan dari Kepala Kanwil DJKN setempat. g. h. f. para pihak. Pemerintah Daerah mengajukan permohonan pinjam pakai kepada Pengguna Barang. hak dan kewajiban para pihak.

Bagian Kesembilan Prosedur dan Tata Cara Pinjam Pakai Pada Kuasa Pengguna Barang Pasal 20 (1) Prosedur dan tata cara pinjam pakai dengan batasan nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) adalah sebagai berikut : a. obyek pinjam pakai. Berdasarkan perjanjian pinjam pakai antara Kuasa Pengguna Barang dengan Pemerintah Daerah yang bersangkutan dilakukan serah terima yang dituangkan dalam suatu berita acara serah terima pinjam pakai. Setelah berakhirnya jangka waktu pinjam pakai. jangka waktu dan syarat batal perjanjian serta persyaratan lain yang dianggap perlu. i. e. g. Berdasarkan persetujuan Pengguna Barang. Berdasarkan persetujuan dari Kepala KPKN/L setempat. Pengguna Barang Eselon I memerintahkan Kuasa Pengguna Barang untuk melakukan penelitian dan penaksiran dengan membentuk Tim Internal yang hasilnya disampaikan kepada Kuasa Pengguna Barang. Pengguna Barang memerintahkan Pengguna Barang Eselon I untuk menerbitkan rekomendasi teknis c. peminjam harus menyerahkan obyek pinjam pakai dalam suatu berita acara serah terima kepada Pengguna Barang Eselon I dalam kondisi sebagaimana yang dituangkan dalam perjanjian. 13 . 2 (dua) diantaranya bermaterai cukup untuk para pihak dan 2 (dua) lainnya disampaikan kepada instansi terkait. j. (2) Bagan alir tata cara pemanfaatan barang milik negara dalam bentuk pinjam pakai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Lampiran IX Peraturan Menteri ini. para pihak. peminjam harus menyerahkan obyek pinjam pakai dalam suatu berita acara serah terima kepada Kuasa Pengguna Barang dalam kondisi sebagaimana yang dituangkan dalam perjanjian. Perjanjian pinjam pakai BMN sekurang-kurangnya memuat tentang dasar perjanjian. Pemerintah Daerah mengajukan permohonan pinjam pakai kepada Pengguna Barang. d. f. Perjanjian pinjam pakai dibuat dalam rangkap 4 (empat). Kuasa Pengguna Barang mengajukan usulan pinjam pakai kepada Kepala KPKN/L setempat dengan memperhatikan hasil penelitian dan penaksiran Tim Internal. h. b.i. Setelah berakhirnya jangka waktu pinjam pakai. (2) Bagan alir tata cara pemanfaatan barang milik negara dalam bentuk pinjam pakai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Lampiran VIII Peraturan Menteri ini. Kuasa Pengguna Barang menyusun dan menandatangani perjanjian pinjam pakai. Jangka waktu pinjam pakai dapat diperpanjang oleh Kuasa Pengguna Barang setelah mendapat persetujuan dari Kepala KPKN/L setempat dengan mengajukan permohonan perpanjangan pinjam pakai paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya jangka waktu pinjam pakai. hak dan kewajiban para pihak.

selain tanah dan/atau bangunan Rp 1. Kuasa Pengguna Barang mengajukan permohonan kerjasama pemanfaatan barang milik negara kepada Pengguna Barang Eselon I.000. b.000.Bagian Kesepuluh Nilai Obyek Kerjasama Pemanfaatan Pasal 21 (1) Pengusulan pemanfaatan barang milik negara dalam bentuk kerjasama pemanfaatan untuk jangka waktu paling lama 30 (tigapuluh) tahun dilakukan oleh Pengguna Barang dan ditujukan kepada Menteri Keuangan untuk : a. b. 14 .000.00 (dua miliar lima ratus juta rupiah).000. b. selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan lebih dari Rp 250. b.00 (satu miliar rupiah).00 (dua miliar lima ratus juta rupiah).000. Pengguna Barang mengajukan usulan persetujuan kerjasama pemanfaatan BMN kepada Menteri Keuangan dengan melampirkan proposal kerjasama pemanfaatan. tanah dan/atau bangunan dengan nilai berdasarkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) lebih dari Rp 1. Pengguna Barang Eselon I memberikan rekomendasi teknis kepada Pengguna Barang. perolehan sampai dengan Bagian Kesebelas Prosedur dan Tata Cara Kerjasama Pemanfaatan Pada Pengguna Barang Pasal 22 (1) Prosedur dan tata cara kerjasama pemanfaatan dengan batasan nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) adalah sebagai berikut : a. c.000.000.00 (satu miliar rupiah).00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) sampai dengan Rp 1.00 (dua ratus lima puluh juta rupiah). tanah dan/atau bangunan dengan nilai berdasarkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) lebih dari Rp 2.000. tanah dan/atau bangunan dengan nilai berdasarkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) sampai dengan Rp 1.00 (satu miliar rupiah) sampai dengan Rp 2. Pengguna Barang melakukan penelitian dan penaksiran dengan membentuk tim internal. (3) Pengusulan pemanfaatan barang milik negara dalam bentuk kerjasama pemanfaatan untuk jangka waktu paling lama 30 (tigapuluh) tahun dilakukan oleh Kuasa Pengguna Barang dan ditujukan kepada Kepala KPKN/L setempat untuk : a.00 (satu miliar rupiah).000.000.000.000.000.500. selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai Rp 250.500.000.000.000.000.000. dengan nilai perolehan lebih dari (2) Pengusulan pemanfaatan barang milik negara dalam bentuk kerjasama pemanfaatan untuk jangka waktu paling lama 30 (tigapuluh) tahun dilakukan oleh Pengguna Barang Eselon I dan ditujukan kepada Kepala Kanwil DJKN setempat untuk : a.000.000. d.

b. 2 (dua) diantaranya bermaterai cukup untuk para pihak dan 2 (dua) lainnya disampaikan kepada instansi terkait. melaksanakan lelang. nilai sisa obyek kerjasama pemanfaatan. 15 . Berdasarkan persetujuan dari Menteri Keuangan. k. obyek kerjasama pemanfaatan. Jangka waktu kerjasama pemanfaatan dapat diperpanjang setelah dievaluasi oleh Pengguna Barang dan disetujui oleh Menteri Keuangan. jangka waktu. jangka waktu. f. nilai kontribusi tetap. Pengguna Barang dan Pengelola Barang secara bersama-sama melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kerjasama pemanfaatan sesuai dengan kewenangannya. hak dan kewajiban para pihak. Bagian Kedua Belas Prosedur dan Tata Cara Kerjasama Pemanfaatan Pada Pengguna Barang Eselon I Pasal 23 (1) Prosedur dan tata cara kerjasama pemanfaatan dengan batasan nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) adalah sebagai berikut : a. Kuasa Pengguna Barang mengajukan permohonan kerjasama pemanfaatan barang milik negara kepada Pengguna Barang Eselon I. besaran kontribusi tetap. obyek kerjasama pemanfaatan. menetapkan jadwal. Panitia pelelangan bertugas menyusun dokumen lelang. Berdasarkan perjanjian kerjasama pemanfaatan dilakukan serah terima obyek kerjasama pemanfaatan antara Kepala Pusat Pengelolaan Barang Milik Negara dengan mitra kerjasama yang dituangkan dalam suatu berita acara. g. mitra menyerahkan obyek kerjasama pemanfaatan berikut sarana dan prasarana dilengkapi dengan dokumen terkait kepada Pengelola Barang untuk tanah dan/atau bangunan serta kepada Pengguna Barang untuk selain tanah dan/atau bangunan yang dituangkan dalam suatu berita acara.e. Perjanjian kerjasama pemanfaatan dibuat dalam rangkap 4 (empat). Perjanjian kerjasama pemanfaatan memuat sekurang-kurangnya tentang dasar perjanjian. m. menyampaikan hasil pelelangan dan mengusulkan calon mitra kerjasama pemanfaatan kepada Pengguna Barang. pembagian keuntungan serta menugaskan Sekretaris Jenderal yang dalam hal ini dilaksanakan oleh Kepala Pusat Pengelolaan Barang Milik Negara untuk menyusun dan menandatangani perjanjian kerjasama pemanfaatan dengan mitra kerjasama pemanfaatan. Pengguna Barang membentuk panitia pelelangan kerjasama pemanfaatan untuk memperoleh calon mitra kerjasama pemanfaatan yang keanggotaannya mempunyai keahlian dan kompetensi di bidang pengadaan barang dan jasa. i. Setelah berakhirnya jangka waktu kerjasama pemanfaatan. Pengguna Barang memerintahkan Pengguna Barang Eselon I untuk melakukan penelitian dan penaksiran dengan membentuk Tim Internal yang hasilnya disampaikan kepada Pengguna Barang Eselon I. dan syarat batalnya perjanjian serta syaratsyarat lainnya yang dianggap perlu. c. Pengguna Barang Eselon I memberikan rekomendasi teknis kepada Pengguna Barang. teknis dan administratif. h. (2) Bagan alir tata cara pemanfaatan barang milik negara dalam bentuk kerjasama pemanfaatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Lampiran X Peraturan Menteri ini. cara pembayaran. Pengguna Barang menetapkan mitra kerjasama pemanfaatan yang diusulkan oleh panitia lelang. pembagian keuntungan. pihak mitra kerja sama pemanfaatan. l. j.

i. menetapkan jadwal. Panitia pelelangan bertugas menyusun dokumen lelang. obyek kerjasama pemanfaatan. obyek kerjasama pemanfaatan. Pengguna Barang Eselon I mengajukan usulan persetujuan kerjasama pemanfaatan BMN kepada Kepala Kanwil DJKN setempat dengan melampirkan proposal rencana kerjasama pemanfaatan. Berdasarkan perjanjian kerjasama pemanfaatan dilakukan serah terima obyek kerjasama pemanfaatan yang dituangkan dalam suatu berita acara serah terima. h. f. b. l. memuat sekurang-kurangnya tentang dasar perjanjian. teknis dan administratif. menyampaikan hasil pelelangan dan mengusulkan calon pemenang lelang kepada Pengguna Barang Eselon I. Perjanjian kerjasama pemanfaatan dibuat dalam rangkap 4 (empat). mitra menyerahkan obyek kerjasama pemanfaatan berikut sarana dan prasarana dilengkapi dengan dokumen terkait kepada Pengelola Barang untuk tanah dan/atau bangunan serta kepada Pengguna Barang untuk selain tanah dan/atau bangunan yang dituangkan dalam suatu berita acara. cara pembayaran. 2 (dua) diantaranya bermaterai cukup untuk para pihak dan 2 (dua) lainnya disampaikan kepada instansi terkait. (2) Bagan alir tata cara pemanfaatan barang milik negara dalam bentuk kerjasama pemanfaatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Lampiran XI Peraturan Menteri ini. Pengguna Barang Eselon I membentuk panitia pelelangan untuk memperoleh mitra kerjasama pemanfaatan yang keanggotaannya mempunyai keahlian dan kompetensi di bidang pengadaan barang dan jasa. jangka waktu.d. g. Bagian Ketiga Belas Prosedur dan Tata Cara Kerjasama Pemanfaatan Pada Kuasa Pengguna Barang Pasal 24 (1) Prosedur dan tata cara kerjasama pemanfaatan dengan batasan nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (3) adalah sebagai berikut : a. m. Pengguna Barang Eselon I menetapkan keputusan kerjasama pemanfaatan yang memuat ketetapan tentang mitra kerjasama pemanfaatan. nilai sisa bangunan. melaksanakan lelang. nilai kontribusi tetap. nilai kontribusi tetap dan pembagian keuntungan serta penunjukan pejabat yang untuk dan atas nama Departemen Pekerjaan Umum menyusun dan menandatangani perjanjian kerjasama pemanfaatan. jangka waktu. pembagian keuntungan. e. Pengguna Barang dan Pengelola Barang secara bersama-sama melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kerjasama pemanfaatan sesuai dengan kewenangannya. Perjanjian kerjasama pemanfaatan antara Pengguna Barang Eselon I atau pejabat yang ditunjuk dengan mitra kerjasama. Jangka waktu kerjasama pemanfaatan dapat diperpanjang setelah dievaluasi oleh Pengguna Barang Eselon I dan disetujui oleh Kanwil DJKN. k. Setelah berakhirnya jangka waktu kerjasama pemanfaatan. dan syarat batalnya perjanjian. Berdasarkan persetujuan dari Kepala Kanwil DJKN setempat. 16 . Kuasa Pengguna Barang mengajukan permohonan kerjasama pemanfaatan barang milik negara kepada Pengguna Barang Eselon I. cara pembayaran. j. Pengguna Barang Eselon I memberikan rekomendasi teknis kepada Pengguna Barang. hak dan kewajiban para pihak.

nilai kontribusi tetap. Berdasarkan penetapan kerjasama pemanfaatan disusun dan ditandatangani naskah perjanjian kerjasama pemanfaatan antara Kuasa Pengguna Barang dengan mitra kerjasama yang memuat sekurang-kurangnya tentang dasar perjanjian. d. Panitia pelelangan bertugas menyusun dokumen lelang. k. l. Bagian Keempat Belas Jangka Waktu Kerjasama Pemanfaatan Penyediaan Infrastruktur Pasal 25 Jangka waktu kerjasama pemanfaatan barang milik negara dalam rangka penyediaan infrastruktur sebagaimana diatur dalam Pasal 26 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah paling lama 50 (lima puluh) tahun sejak perjanjian ditandatangani. 2 (dua) diantaranya bermaterai cukup untuk para pihak dan 2 (dua) lainnya disampaikan kepada instansi terkait. Kuasa Pengguna Barang menetapkan keputusan kerjasama pemanfaatan yang memuat ketetapan tentang mitra kerjasama pemanfaatan. 17 . Kuasa Pengguna Barang mengajukan usulan persetujuan kerjasama pemanfaatan BMN kepada Kepala KPKN/L setempat dengan melampirkan proposal rencana kerjasama pemanfaatan. jangka waktu. obyek kerjasama pemanfaatan. nilai sisa bangunan. Berdasarkan persetujuan Pengguna Barang. dan syarat batalnya perjanjian. Perjanjian kerjasama pemanfaatan dibuat dalam rangkap 4 (empat). f. e. g. (2) Bagan alir tata cara pemanfaatan barang milik negara dalam bentuk kerjasama pemanfaatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Lampiran XII Peraturan Menteri ini. j. teknis dan administratif. hak dan kewajiban para pihak. menetapkan jadwal. mitra menyerahkan obyek kerjasama pemanfaatan berikut sarana dan prasarana dilengkapi dengan dokumen terkait kepada Pengelola Barang untuk tanah dan/atau bangunan serta kepada Pengguna Barang untuk selain tanah dan/atau bangunan yang dituangkan dalam suatu berita acara. Setelah berakhirnya jangka waktu kerjasama pemanfaatan. Jangka waktu kerjasama pemanfaatan dapat diperpanjang setelah dievaluasi oleh Kuasa Pengguna Barang dan disetujui oleh Kepala KPKN/L. Pengguna Barang dan Pengelola Barang secara bersama-sama melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kerjasama pemanfaatan sesuai dengan kewenangannya. cara pembayaran.c. jangka waktu. Berdasarkan persetujuan dari Kepala KPKN/L setempat. h. Berdasarkan perjanjian kerjasama pemanfaatan dilakukan serah terima obyek kerjasama pemanfaatan yang dituangkan dalam suatu berita acara serah terima. obyek kerjasama pemanfaatan. pembagian keuntungan. cara pembayaran. menyampaikan hasil pelelangan dan mengusulkan calon pemenang lelang kepada Kuasa Pengguna Barang. m. nilai kontribusi tetap dan pembagian keuntungan. i. melaksanakan lelang. Kuasa Pengguna Barang membentuk panitia pelelangan untuk memperoleh mitra kerjasama pemanfaatan yang keanggotaannya mempunyai keahlian dan kompetensi di bidang pengadaan barang dan jasa. Pengguna Barang Eselon I memerintahkan Kuasa Pengguna Barang untuk melakukan penelitian dan penaksiran dengan membentuk Tim Internal yang hasilnya disampaikan kepada Kuasa Pengguna Barang.

pengalihan status penggunaan Barang Milik Negara kepada pengguna barang lain. atau d. UPPB-E1 dan/atau UPKPB. rusak berat. (5) Tata cara penghapusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan dengan ketentuan yang berlaku. dimusnahkan. penyertaan modal pemerintah. mencair. hibah. pemindahtanganan Barang Milik Negara selain tanah dan/atau bangunan kepada pihak lain. atau menjalankan ketentuan undang-undang. b. b.BAB IV PENGHAPUSAN BARANG MILIK NEGARA Pasal 26 (1) Penghapusan Barang Milik Negara yang ditindaklanjuti dengan pemindahtanganan Barang Milik Negara dilakukan dalam hal : a. serta terkena dampak dari terjadinya force majeure. penjualan. terbakar. (2) Penghapusan Barang Milik Negara yang tidak ditindaklanjuti dengan pemindahtanganan Barang Milik Negara dilakukan dalam hal : a. BAB V PEMINDAHTANGANAN BARANG MILIK NEGARA Bagian Kesatu Umum Pasal 27 (1) Bentuk-bentuk pemindahtanganan sebagai tindak lanjut atas penghapusan barang milik negara meliputi: a. b. kecurian. terkena bencana alam. antara lain hilang. kadaluarsa. d. penyerahan Barang Milik Negara yang tidak digunakan untuk menjalankan tugas pokok dan fungsi kepada pengelola barang. (3) Penghapusan Barang Milik Negara dilakukan dengan keputusan Pengguna Barang atau Pengguna Barang Eselon I atau Kuasa Pengguna Barang setelah memperoleh persetujuan Pengelola Barang yang kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan penghapusan Barang Milik Negara dimaksud dari Daftar Barang Pengguna dan/atau Daftar Barang Kuasa Pengguna. (4) Perubahan Daftar Barang Milik Negara dari Daftar Barang Pengguna dan/atau Daftar Barang Kuasa Pengguna sebagai akibat dari penghapusan harus dicantumkan dalam Laporan Semesteran dan Laporan Tahunan UPPB. c. c. susut. menguap. tukar menukar. 18 . putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dan sudah tidak ada upaya hukum lainnya. dan mati/cacat berat/tidak produktif untuk tanaman/hewan/ternak. sebab-sebab lain yang secara normal dapat diperkirakan wajar menjadi penyebab penghapusan.

000.000. b.000. e. (5) Pemindahtanganan barang milik negara berupa tanah dan/atau bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut: a.000. b.000.000.500. Bagian Kedua Nilai Obyek Pemindahtanganan Pasal 28 (1) Pengusulan pemindahtanganan Barang Milik Negara dilakukan oleh Pengguna Barang dan ditujukan kepada Menteri Keuangan untuk : a. tanah dan/atau bangunan berdasarkan surat keterangan NJOP lebih dari Rp 1.000.000.000. tanah dan/atau bangunan berdasarkan surat keterangan Rp 2. harus dihapuskan karena anggaran untuk bangunan pengganti sudah disediakan dalam dokumen penganggaran.000.00 (sepuluh miliar rupiah) dilakukan oleh pengelola barang. d. sudah tidak sesuai dengan tata ruang wilayah atau penataan kota. tanah dan/atau bangunan.000.00 (satu miliar rupiah).000. (3) Pemindahtanganan barang milik negara berupa tanah dan/atau bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a tidak memerlukan persetujuan DPR.000.000.500.00 (sepuluh miliar rupiah) dilakukan oleh pengelola barang setelah mendapat persetujuan Presiden.000.000.000. b. b.00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan Rp 1.000.000. yang telah memiliki kekuatan hukum tetap dan/atau berdasarkan ketentuan perundang-undangan. dikuasai negara berdasarkan keputusan pengadilan. 19 .000. diperuntukkan bagi kepentingan umum. dilakukan setelah mendapat persetujuan DPR. untuk tanah dan/atau bangunan yang bernilai di atas Rp 10.00 (satu miliar rupiah) sampai dengan Rp 2.000.00 (satu miliar rupiah).000. selain tanah dan/atau bangunan dengan Rp 1. c. untuk tanah dan/atau bangunan yang bernilai sampai dengan Rp 10.00 (dua miliar lima ratus juta rupiah). nilai perolehan NJOP BMN lebih lebih dari dari (2) Pengusulan pemindahtanganan Barang Milik Negara dilakukan oleh Pengguna Barang Eselon I dan ditujukan kepada Kepala Kanwil DJKN untuk : a. diperuntukkan bagi pegawai negeri.00 (dua miliar lima ratus juta rupiah).000. selain tanah dan/atau bangunan yang bernilai lebih dari Rp 100. selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan BMN lebih dari Rp 500. yang jika status kepemilikannya dipertahankan tidak layak secara ekonomis.000. b. apabila: a. (4) Usul untuk memperoleh persetujuan DPR sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diajukan oleh Pengelola Barang.(2) Pemindahtanganan barang milik negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk: a.00 (seratus miliar rupiah).

000. Pengguna Barang menetapkan keputusan penjualan BMN yang sekurang-kurangnya memuat tentang obyek penghapusan dengan tindak lanjut penjualan. b.000. Pengguna Barang melakukan penelitian dan penaksiran dengan membentuk tim internal. d. e. Pengguna Barang Eselon I memberikan rekomendasi teknis penjualan kepada Pengguna Barang. Berdasarkan penetapan penjualan dari Pengguna Barang. secara ekonomis lebih menguntungkan bagi negara apabila dijual.(3) Pengusulan pemindahtanganan Barang Milik Negara dilakukan oleh Kuasa Pengguna Barang dan ditujukan kepada Kepala KPKN/L untuk: a. selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan BMN sampai dengan Rp 500. b. Tim Internal menyampaikan hasil pelaksanaan pelelangan yang dilakukan oleh Kepala KPKN/L setempat kepada Kuasa Pengguna Barang untuk dihapus dari Buku Inventaris Barang dan tembusannya disampaikan kepada Pengguna Barang. (2) Penjualan barang milik negara dilakukan secara lelang. cara penjualan. Bagian Ketiga Penjualan Pasal 29 (1) Penjualan barang milik negara dilaksanakan dengan pertimbangan: a. nilai limit terendah. barang milik negara lainnya yang ditetapkan lebih lanjut oleh pengelola barang. g.000. Bagian Keempat Prosedur dan Tata Cara Penjualan Pada Pengguna Barang Pasal 30 (1) Prosedur dan tata cara penjualan dengan batasan nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) adalah sebagai berikut : a. Berdasarkan persetujuan Menteri Keuangan.000.000. b. 20 . sebagai pelaksanaan ketentuan perundang-udangan yang berlaku.00 (lima ratus juta rupiah). Tim Internal mengajukan permohonan pelaksanaan pelelangan kepada Kepala KPKN/L setempat yang hasilnya dituangkan dalam risalah lelang dan disampaikan kembali kepada Tim Internal. dan jangka waktu pelelangan. Pengguna Barang mengajukan usulan penjualan kepada Menteri Keuangan dengan memperhatikan hasil penelitian dan penaksiran Tim Internal. (3) Pengecualian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi: a. c. untuk optimalisasi barang milik negara yang berlebih atau idle. Kuasa Pengguna Barang mengajukan permohonan penjualan kepada Pengguna Barang Eselon I. kecuali dalam hal-hal tertentu. tanah dan/atau bangunan berdasarkan surat keterangan NJOP sampai dengan Rp 1.00 (satu miliar rupiah). f. c. barang milik negara yang bersifat khusus. b.

Bagian Kelima Prosedur dan Tata Cara Penjualan Pada Pengguna Barang Eselon I Pasal 31 (1) Prosedur dan tata cara penjualan dengan batasan nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) adalah sebagai berikut: a. cara penjualan. Pengguna Barang Eselon I memberikan rekomendasi teknis Pengguna Barang. Pengguna Barang Eselon I menetapkan keputusan penjualan BMN yang sekurang-kurangnya memuat tentang obyek penghapusan dengan tindak lanjut penjualan. Tim internal menyampaikan hasil pelaksanaan pelelangan yang dilakukan oleh KPKN/L setempat kepada Kuasa Pengguna Barang untuk dihapus dari Buku Inventaris Barang dan tembusannya disampaikan kepada Pengguna Barang Eselon I dan Pengguna Barang. c. nilai limit terendah BMN. Pengguna Barang memerintahkan Pengguna Barang Eselon I untuk melakukan penelitian dan penaksiran dengan membentuk Tim Internal yang hasilnya disampaikan kepada Pengguna Barang Eselon I. (2) Bagan alir tata cara pemindahtanganan barang milik negara dalam bentuk penjualan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Lampiran XIV Peraturan Menteri ini. Berdasarkan persetujuan Kepala Kanwil DJKN setempat. Pengguna Barang Eselon I memberikan rekomendasi teknis kepada Pengguna Barang. e. b. dan jangka waktu pelelangan. Kuasa Pengguna Barang mengajukan permohonan penjualan kepada Pengguna Barang Eselon I. g.(2) Bagan alir tata cara pemindahtangan barang milik negara dalam bentuk penjualan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Lampiran XIII Peraturan Menteri ini. f. d. Tim Internal mengajukan permohonan pelaksanaan pelelangan kepada KPKN/L setempat yang hasilnya dituangkan dalam risalah lelang dan disampaikan kembali kepada Tim Internal. Bagian Keenam Prosedur dan Tata Cara Penjualan Pada Kuasa Pengguna Barang Pasal 32 (1) Prosedur dan tata cara penjualan dengan batasan nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (3) adalah sebagai berikut: a. Pengguna Barang Eselon I mengajukan usulan persetujuan penjualan kepada Kepala Kanwil DJKN setempat dengan memperhatikan hasil penelitian dan penaksiran Tim Internal. b. 21 . Kuasa Pengguna Barang mengajukan permohonan penjualan kepada Pengguna Barang Eselon I. Berdasarkan penetapan penjualan dari Pengguna Barang Eselon I.

Bagian Ketujuh Tukar Menukar Pasal 33 (1) Tukar menukar barang milik negara dilaksanakan dengan pertimbangan: a. g. (3) Tukar menukar barang milik negara dapat berupa: a. Berdasarkan persetujuan Kepala KPKN/L setempat. untuk memenuhi kebutuhan operasional penyelenggaraan pemerintahan. (2) Tukar menukar barang milik negara dapat dilakukan dengan pihak: a. Pengguna Barang Eselon I memerintahkan Kuasa Pengguna Barang untuk melakukan penelitian dan penaksiran dengan membentuk Tim Internal yang menyampaikan hasilnya kepada Kuasa Pengguna Barang. 22 . b. e. barang milik negara selain tanah dan/atau bangunan. dan c. tidak tersedia dana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah. Kuasa Pengguna Barang menetapkan keputusan penjualan yang sekurang-kurangnya memuat tentang obyek penghapusan dengan tidak lanjut penjualan. Berdasarkan penetapan penjualan dari Kuasa Pengguna Barang. c. d. untuk optimalisasi barang milik negara. (2) Bagan alir tata cara pemindahtangan barang milik negara dalam bentuk penjualan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Lampiran XV Peraturan Menteri ini. cara penjualan. f. tanah dan/atau bangunan yang telah diserahkan kepada pengelola barang. pemerintah daerah.c. swasta. b. Tim internal menyampaikan hasil pelaksanaan pelelangan yang dilakukan oleh Kepala KPKN/L setempat kepada Kuasa Pengguna Barang untuk dihapus dari Buku Inventaris Barang dan tembusannya kepada Pengguna Barang Eselon I dan Pengguna Barang. Tim internal mengajukan permohonan pelaksanaan pelelangan kepada Kepala KPKN/L setempat yang hasilnya dituangkan dalam risalah lelang dan disampaikan kembali kepada Tim Internal. c. tanah dan/atau bangunan yang masih dipergunakan untuk penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi pengguna barang tetapi tidak sesuai dengan tata ruang wilayah atau penataan kota. Kuasa Pengguna Barang mengajukan usulan penjualan kepada Kepala KPKN/L setempat dengan memperhatikan hasil penelitian dan penaksiran tim internal. dan jangka waktu pelelangan. nilai limit terendah BMN. badan usaha milik negara/daerah atau badan hukum milik pemerintah lainnya. b. Berdasarkan persetujuan dari Pengguna Barang.

Berdasarkan persetujuan izin prinsip dari Menteri Keuangan. teknis dan administratif. Pengguna Barang menyampaikan usulan persetujuan pelaksanaan tukar menukar kepada Menteri Keuangan. Mitra tukar menukar melaksanakan pekerjaan pengadaan/pembangunan barang pengganti sesuai dengan surat perjanjian.Bagian Kedelapan Prosedur dan Tata Cara Tukar Menukar Pada Pengguna Barang Pasal 34 (1) Prosedur dan tata cara tukar menukar dengan batasan nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) adalah sebagai berikut: a. Tim Tukar Menukar menyampaikan hasil tender dan mengusulkan calon pemenang kepada Pengguna Barang. jenis dan nilai barang yang dipertukarkan. k. Pengguna Barang Eselon I memberikan rekomendasi teknis kepada Pengguna Barang. Pengguna Barang membentuk tim monitoring atau dapat melibatkan konsultan pengawas yang bertugas untuk memantau pelaksanaan pekerjaan pengadaan/pembangunan barang pengganti secara berkala sesuai dengan perjanjian. f. Tim Tukar Menukar bertugas melakukan tender pemilihan mitra tukar menukar dan melakukan pembahasan dengan mitra mengenai rincian kebutuhan barang pengganti yang dituangkan dalam lembar pembahasan. Pengguna Barang mengajukan usulan izin prinsip tukar menukar barang milik negara kepada Menteri Keuangan dengan memperhatikan hasil penelitian dan penaksiran Tim Internal. Pengguna Barang menetapkan mitra tukar menukar. e. m. ketentuan dalam hal terjadi force majeur. Perjanjian tukar menukar dibuat dalam rangkap 4 (empat). n. serta penelitian data administrasi dan fisik serta menyiapkan hal-hal yang bersifat teknis dan menyampaikan laporannya kepada Pengguna Barang. l. Pemilihan mitra tukar menukar diikuti sekurang-kurangnya 5 (lima) peserta/peminat. b. Pengguna Barang dan mitra tukar menukar menandatangani perjanjian tukar menukar yang sekurang-kurangnya memuat tentang para pihak. 2 (dua) diantaranya bermaterai cukup untuk para pihak dan 2 (dua) lainnya disampaikan kepada instansi terkait. h. Kuasa Pengguna Barang mengajukan permohonan tukar menukar kepada Pengguna Barang Eselon I. Pengguna Barang membentuk Tim Tukar Menukar yang keanggotaannya mempunyai keahlian dan kompetensi di bidang pengadaan barang dan jasa. jangka waktu penyerahan obyek tukar menukar. i. d. Pengguna Barang melakukan penelitian dan penaksiran dengan membentuk Tim Internal. dan syarat-syarat batalnya perjanjian. sanksi. kecuali tukar menukar yang dilakukan pemerintah daerah dan pihak-pihak lain yang mendapatkan penugasan dari pemerintah dalam rangka pelaksanaan kepentingan umum. Berdasarkan persetujuan dari Menteri Keuangan. klausul yang menyatakan dokumen kepemilikan barang pengganti atas nama Pemerintah Republik Indonesia. g. j. c. spesifikasi aset pengganti. 23 .

Tim tukar menukar menyampaikan hasil tender dan mengusulkan calon pemenang kepada Pengguna Barang Eselon I. Tim Tukar Menukar melakukan penelitian kelengkapan dokumen barang pengganti serta menyiapkan berita acara serah terima tukar menukar antara Pengguna Barang dengan Mitra tukar menukar yang sekurang-kurangnya memuat tentang para pihak. Pemilihan mitra tukar menukar diikuti sekurang-kurangnya 5 (lima) peserta/peminat. i. Tim Tukar Menukar bertugas melakukan tender pemilihan mitra tukar menukar dan melakukan pembahasan dengan mitra mengenai rincian kebutuhan barang pengganti yang dituangkan dalam lembar pembahasan. g. c. jenis dan nilai barang yang dipertukarkan dan spesifikasi aset pengganti. f. obyek tukar menukar. Bagian Kesembilan Prosedur dan Tata Cara Tukar Menukar Pada Pengguna Barang Eselon I Pasal 35 (1) Prosedur dan tata cara tukar menukar dengan batasan nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) adalah sebagai berikut: a.o. 24 . Pengguna Barang Eselon I menyampaikan usulan persetujuan pelaksanaan tukar menukar kepada Kepala Kanwil DJKN setempat. kecuali tukar menukar yang dilakukan pemerintah daerah dan pihak-pihak lain yang mendapatkan penugasan dari pemerintah dalam rangka pelaksanaan kepentingan umum. Pengguna Barang melaporkan kepada Menteri Keuangan hasil pekerjaan pengadaan/pembangunan barang pengganti untuk dilakukan penilaian kesesuaian barang pengganti dengan perjanjian. b. d. serta penelitian data administrasi dan fisik serta menyiapkan hal-hal yang bersifat teknis dan menyampaikan laporannya kepada Pengguna Barang Eselon I. e. Pengguna Barang Eselon I mengajukan usulan izin prinsip tukar menukar kepada Kepala Kanwil DJKN setempat dengan memperhatikan hasil penelitian dan penaksiran Tim Internal. Pengguna Barang Eselon I memberikan merupakan rekomendasi teknis kepada Pengguna Barang. Pengguna Barang memerintahkan Pengguna Barang Eselon I untuk melakukan penelitian dan penaksiran dengan membentuk Tim Internal yang hasilnya disampaikan kepada Pengguna Barang Eselon I. j. Pengguna Barang Eselon I membentuk Tim Tukar Menukar yang keanggotaannya mempunyai keahlian dan kompetensi di bidang pengadaan barang dan jasa. q. Berdasarkan izin prinsip dari Kepala Kanwil DJKN setempat. p. Pengguna Barang Eselon I menetapkan mitra tukar menukar. Berdasarkan berita acara tukar menukar dilakukan penghapusan dengan menerbitkan surat keputusan penghapusan dari Daftar Barang Pengguna serta mencatat barang pengganti dalam Daftar Barang Pengguna untuk selanjutnya dilakukan penatausahaan. h. (2) Bagan alir tata cara pemindahtanganan barang milik negara dengan tindak lanjut tukar menukar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Lampiran XVI Peraturan Menteri ini. Kuasa Pengguna Barang mengajukan permohonan tukar menukar kepada Pengguna Barang Eselon I. teknis dan administratif.

Pengguna Barang Eselon I melaporkan kepada Kepala Kanwil DJKN hasil pekerjaan pengadaan/pembangunan barang pengganti untuk dilakukan penilaian kesesuaian barang pengganti dengan perjanjian. spesifikasi aset pengganti. 2 (dua) diantaranya bermaterai cukup untuk para pihak dan 2 (dua) lainnya disampaikan kepada instansi terkait. l. jenis dan nilai barang yang dipertukarkan. Mitra tukar menukar melaksanakan pekerjaan pengadaan/pembangunan barang pengganti sesuai dengan surat perjanjian. n. b. Pengguna Barang Eselon I dan mitra tukar menukar menandatangani perjanjian tukar menukar yang sekurangkurangnya memuat tentang para pihak.k. d. p. Kuasa Pengguna Barang mengajukan permohonan tukar menukar kepada Pengguna Barang Eselon I. klausul yang menyatakan dokumen kepemilikan barang pengganti atas nama Pemerintah Republik Indonesia. Kuasa Pengguna Barang mengajukan usulan izin prinsip tukar menukar kepada Kepala KPKN/L setempat dengan memperhatikan hasil penelitian dan penaksiran Tim Internal. jenis dan nilai barang yang dipertukarkan dan spesifikasi aset pengganti. Tim Tukar Menukar melakukan penelitian kelengkapan dokumen barang pengganti serta menyiapkan berita acara serah terima tukar menukar antara Pengguna Barang Eselon I dengan mitra tukar menukar yang sekurang-kurangnya memuat tentang para pihak. o. jangka waktu penyerahan obyek tukar menukar. Berdasarkan persetujuan Pengguna Barang. 25 . ketentuan dalam hal terjadi force majeur. m. Berdasarkan berita acara tukar menukar dilakukan penghapusan dengan menerbitkan surat keputusan penghapusan dari Daftar Barang Pengguna Eselon I serta mencatat barang pengganti dalam Daftar Barang Pengguna Eselon I untuk selanjutnya dilakukan penatausahaan. sanksi. q. obyek tukar menukar. dan syarat-syarat batalnya perjanjian. (2) Bagan alir tata cara pemindahtanganan barang milik negara dengan tindak lanjut tukar menukar sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diatur dalam Lampiran XVII Peraturan Menteri ini. Bagian Kesepuluh Prosedur dan Tata Cara Tukar Menukar Pada Kuasa Pengguna Barang Pasal 36 (1) Prosedur dan tata cara tukar menukar dengan batasan nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (3) adalah sebagai berikut: a. Berdasarkan persetujuan dari Kepala Kanwil DJKN. Pengguna Barang Eselon I membentuk tim monitoring atau dapat melibatkan konsultan pengawas yang bertugas untuk memantau pelaksanaan pekerjaan pengadaan/pembangunan barang pengganti secara berkala sesuai dengan perjanjian. c. Pengguna Barang Eselon I memerintahkan Kuasa Pengguna Barang untuk melakukan penelitian dan penaksiran dengan membentuk Tim Internal yang hasilnya disampaikan kepada Kuasa Pengguna Barang. Perjanjian tukar menukar dibuat dalam rangkap 4 (empat). Pengguna Barang Eselon I memberikan rekomendasi teknis kepada Pengguna Barang.

Kuasa Pengguna Barang menetapkan mitra tukar menukar. h. Kuasa Pengguna Barang melaporkan kepada Kepala KPKN/L hasil pekerjaan pengadaan/pembangunan barang pengganti untuk dilakukan penilaian kesesuaian barang pengganti dengan perjanjian. teknis dan administratif. klausul yang menyatakan dokumen kepemilikan barang pengganti atas nama Pemerintah Republik Indonesia. n. Kuasa Pengguna Barang menyampaikan permohonan persetujuan pelaksanaan tukar menukar kepada Kepala KPKN/L setempat. l. Mitra tukar menukar melaksanakan pekerjaan pengadaan/pembangunan barang pengganti sesuai dengan surat perjanjian. Berdasarkan izin pelaksanaan tukar menukar dari Kepala KPKN/L. p. Tim tukar menukar menyampaikan hasil tender dan mengusulkan calon pemenang kepada Kuasa Pengguna Barang. 2 (dua) diantaranya bermaterai cukup untuk para pihak dan 2 (dua) lainnya disampaikan kepada instansi terkait. Berdasarkan berita acara tukar menukar dilakukan penghapusan dengan menerbitkan surat keputusan penghapusan dari Daftar Barang Kuasa Pengguna serta mencatat barang pengganti dalam Daftar Barang Kuasa Pengguna untuk selanjutnya dilakukan penatausahaan. f. jenis dan nilai barang yang dipertukarkan. Kuasa Pengguna Barang dan mitra tukar menukar menandatangani perjanjian tukar menukar yang sekurang-kurangnya memuat tentang para pihak. spesifikasi aset pengganti. (2) Bagan alir tata cara pemindahtanganan barang milik negara dengan tindak lanjut tukar menukar sebagaimana dimaksud ayat (1) diatur pada Lampiran XVIII Peraturan Menteri ini. 26 . serta penelitian data administrasi dan fisik serta menyiapkan hal-hal yang bersifat teknis dan menyampaikan laporannya kepada Kuasa Pengguna Barang. ketentuan dalam hal terjadi force majeur. i. Berdasarkan persetujuan izin prinsip dari Kepala KPKN/L setempat. obyek tukar menukar. g. jangka waktu penyerahan obyek tukar menukar. m. Tim Tukar Menukar bertugas melakukan tender pemilihan mitra tukar menukar dan melakukan pembahasan dengan mitra mengenai rincian kebutuhan barang pengganti yang dituangkan dalam lembar pembahasan. sanksi. Kuasa Pengguna Barang membentuk Tim Tukar Menukar yang keanggotaannya mempunyai keahlian dan kompetensi di bidang pengadaan barang dan jasa. Perjanjian tukar menukar dibuat dalam rangkap 4 (empat). Kuasa Pengguna Barang membentuk tim monitoring atau dapat melibatkan konsultan pengawas yang bertugas untuk memantau pelaksanaan pekerjaan pengadaan/pembangunan barang pengganti secara berkala sesuai dengan perjanjian. jenis dan nilai barang yang dipertukarkan dan spesifikasi aset pengganti. Tim Tukar Menukar melakukan penelitian kelengkapan dokumen barang pengganti serta menyiapkan berita acara serah terima tukar menukar antara Kuasa Pengguna Barang dengan mitra tukar menukar yang sekurang-kurangnya memuat tentang para pihak. j. o. dan syarat-syarat batalnya perjanjian. Pemilihan mitra tukar menukar diikuti sekurang-kurangnya 5 (lima) peserta/peminat. q. k.e. kecuali tukar menukar yang dilakukan pemerintah daerah dan pihak-pihak lain yang mendapatkan penugasan dari pemerintah dalam rangka pelaksanaan kepentingan umum.

Berdasarkan berita acara serah terima barang tersebut. Pengguna Barang cq.Bagian Kesebelas Hibah Pasal 37 (1) Hibah barang milik negara dilakukan dengan pertimbangan untuk kepentingan sosial. dan penyelenggaraan pemerintahan daerah. d. Sekretaris Jenderal yang dalam hal ini dilaksanakan oleh Kepala Pusat Pengelolaan Barang Milik Negara melakukan serah terima antara Pengguna Barang dengan penerima hibah yang dituangkan dalam suatu berita acara serah terima yang sekurang-kurangnya memuat tentang para pihak. f. (2) Bagan alir tata cara pemindahtanganan barang milik negara dengan tindak lanjut hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Lampiran XIX Peraturan Menteri ini. kemanusiaan. Permohonan hibah kepada Pengguna Barang. Dengan persetujuan dari Menteri Keuangan. keagamaan. Pengguna Barang melakukan penelitian dan penaksiran dengan membentuk Tim Internal. 27 . tidak digunakan lagi dalam penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi dan penyelenggaraan pemerintahan negara/daerah. c. (2) Hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). bukan merupakan barang yang menguasai hajat hidup orang banyak. Pengguna Barang melaksanakan penghapusan dari Daftar Barang Pengguna dengan menerbitkan keputusan penghapusan untuk selanjutnya dilakukan penatausahaan. c. jenis dan nilai barang yang dihibahkan. Permohonan hibah kepada Pengguna Barang. b. Bagian Kedua Belas Prosedur dan Tata Cara Hibah Pada Pengguna Barang Pasal 38 (1) Prosedur dan tata cara hibah dengan batasan nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) adalah sebagai berikut: a. b. harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. obyek hibah. Pengguna Barang memerintahkan Pengguna Barang Eselon I untuk menerbitkan rekomendasi teknis. bukan merupakan barang rahasia negara. Pengguna Barang mengajukan usulan persetujuan hibah kepada Menteri Keuangan dengan memperhatikan hasil penelitian dan penaksiran Tim Internal. e. Bagian Ketiga Belas Prosedur dan Tata Cara Hibah Pada Pengguna Barang Eselon I Pasal 39 (1) Prosedur dan tata cara hibah dengan batasan nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) adalah sebagai berikut: a.

obyek hibah. Pengguna Barang Eselon I melakukan serah terima antara Pengguna Barang Eselon I dengan penerima hibah yang dituangkan dalam suatu berita acara serah terima yang sekurang-kurangnya memuat tentang para pihak. c. Pengguna Barang Eselon I mengajukan usulan persetujuan hibah kepada Kepala Kanwil DJKN setempat dengan memperhatikan hasil penelitian dan penaksiran Tim Internal. Berdasarkan persetujuan Pengguna Barang. e. Pengguna Barang Eselon I melaksanakan penghapusan dari Daftar Barang Pengguna Eselon I dengan menerbitkan keputusan penghapusan untuk selanjutnya dilakukan penatausahaan. Pengguna Barang memerintahkan Pengguna Barang Eselon I untuk menerbitkan rekomendasi teknis. b. Bagian Keempat Belas Prosedur dan Tata Cara Hibah Pada Kuasa Pengguna Barang Pasal 40 (1) Prosedur dan tata cara hibah dengan batasan nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (3) adalah sebagai berikut: a. d. obyek hibah. 28 . Kuasa Pengguna Barang mengajukan usulan persetujuan hibah kepada Kepala KPKN/L setempat dengan memperhatikan hasil penelitian dan penaksiran Tim Internal. jenis dan nilai barang yang dihibahkan. Pengguna Barang memerintahkan Pengguna Barang Eselon I untuk menerbitkan rekomendasi teknis dan melakukan penelitian dan penaksiran dengan membentuk Tim Internal yang hasilnya disampaikan kepada Pengguna Barang Eselon I.b. d. (2) Bagan alir tata cara pemindahtanganan barang milik negara dengan tindak lanjut hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Lampiran XXI Peraturan Menteri ini. jenis dan nilai barang yang dihibahkan. f. Kuasa Pengguna Barang melakukan serah terima antara Kuasa Pengguna Barang dengan penerima hibah yang dituangkan dalam suatu berita acara serah terima yang sekurang-kurangnya memuat tentang para pihak. Dengan persetujuan dari Kepala KPKN/L. Pengguna Barang Eselon I memerintahkan Kuasa Pengguna Barang untuk melakukan penelitian dan penaksiran dengan membentuk Tim Internal yang hasilnya disampaikan kepada Kuasa Pengguna Barang. Berdasarkan berita acara serah terima barang tersebut. Permohonan hibah kepada Pengguna Barang. Berdasarkan berita acara serah terima barang tersebut. e. (2) Bagan alir tata cara pemindahtanganan barang milik negara dengan tindak lanjut hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Lampiran XX Peraturan Menteri ini. c. Dengan persetujuan dari Kepala Kanwil DJKN. Kuasa Pengguna Barang melaksanakan penghapusan dari Daftar Barang Kuasa Pengguna dengan menerbitkan keputusan penghapusan untuk selanjutnya dilakukan penatausahaan.

d. Dengan persetujuan dari Menteri Keuangan ditindaklanjuti dengan penyusunan rancangan peraturan pemerintah tentang penyertaan modal negara. b. Pengguna Barang memerintahkan Pengguna Barang Eselon I untuk menerbitkan rekomendasi teknis dan sekaligus melakukan penelitian dan penaksiran dengan membentuk Tim Internal yang hasilnya disampaikan kepada Pengguna Barang Eselon I. Pengguna Barang cq. c. Bagian Keenam Belas Prosedur dan Tata Cara Penyertaan Modal Pemerintah Pada Pengguna Barang Eselon I Pasal 42 (1) Prosedur dan tata cara penyertaan modal dengan batasan nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) adalah sebagai berikut: a. Berdasarkan berita acara serah terima barang tersebut. Pengguna Barang melakukan penelitian dan penaksiran dengan membentuk Tim Internal. Dengan persetujuan penyertaan modal dari Kepala Kanwil DJKN ditindaklanjuti dengan penyusunan rancangan peraturan pemerintah tentang penyertaan modal negara. g. Permohonan penyertaan modal pemerintah kepada Pengguna Barang. Pengguna Barang mengajukan usulan persetujuan penyertaan modal pemerintah kepada Menteri Keuangan dengan memperhatikan hasil penelitian dan penaksiran tim internal. Berdasarkan peraturan pemerintah tersebut. Permohonan penyertaan modal pemerintah kepada Pengguna Barang. (2) Bagan alir tata cara pemindahtanganan barang milik negara dengan tindak lanjut penyertaan modal pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur pada Lampiran XXII Peraturan Menteri ini. Sekretaris Jenderal yang dalam hal ini dilaksanakan oleh Kepala Pusat Pengelolaan Barang Milik Negara melakukan serah terima dengan penerima penyertaan modal yang dituangkan dalam suatu berita acara serah terima yang sekurang-kurangnya memuat tentang para pihak. b. Pengguna Barang Eselon I mengajukan usulan persetujuan penyertaan modal pemerintah kepada Kepala Kanwil DJKN setempat dengan memperhatikan hasil penelitian dan penaksiran tim internal. e. d. 29 . Pengguna Barang melaksanakan penghapusan dari Daftar Barang Pengguna dengan menerbitkan keputusan penghapusan untuk selanjutnya dilakukan penatausahaan. f.Bagian Kelima Belas Prosedur dan Tata Cara Penyertaan Modal Pemerintah Pada Pengguna Barang Pasal 41 (1) Prosedur dan tata cara penyertaan modal pemerintah dengan batasan nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) adalah sebagai berikut: a. jenis dan nilai barang. Pengguna Barang memerintahkan Pengguna Barang Eselon I untuk menerbitkan rekomendasi teknis. c. obyek penyertaan modal pemerintah.

f. b. Berdasarkan persetujuan Pengguna Barang. Berdasarkan peraturan pemerintah tersebut. Pengguna Barang Eselon I memerintahkan Kuasa Pengguna Barang untuk melakukan penelitian dan penaksiran dengan membentuk Tim Internal yang hasilnya disampaikan kepada Kuasa Pengguna Barang. obyek penyertaan modal pemerintah. e. Kuasa Pengguna Barang melaksanakan penghapusan dari Daftar Barang Kuasa Pengguna dengan menerbitkan keputusan penghapusan untuk selanjutnya dilakukan penatausahaan. Pengguna Barang Eselon I melakukan serah terima dengan penerima penyertaan modal yang dituangkan dalam suatu berita acara serah terima yang sekurang-kurangnya memuat tentang para pihak. f. 30 . g. Berdasarkan peraturan pemerintah tersebut. (2) Bagan alir tata cara pemindahtanganan barang milik negara dengan tindak lanjut penyertaan modal pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur pada Lampiran XXIII Peraturan Menteri ini. jenis dan nilai barang. Berdasarkan berita acara serah terima barang tersebut.e. Dengan persetujuan dari Kepala KPKN/L ditindaklanjuti dengan penyusunan rancangan peraturan pemerintah tentang penyertaan modal negara. Berdasarkan berita acara serah terima barang tersebut. Bagian Ketujuh Belas Prosedur dan Tata Cara Penyertaan Modal Pemerintah Pada Kuasa Pengguna Barang Pasal 43 (1) Prosedur dan tata cara penyertaan modal dengan batasan nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (3) adalah sebagai berikut: a. c. obyek penyertaan modal pemerintah. (2) Bagan alir tata cara pemindahtanganan barang milik negara dengan tindak lanjut penyertaan modal pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur pada Lampiran XXIV Peraturan Menteri ini. Permohonan penyertaan modal pemerintah kepada Pengguna Barang. Pengguna Barang Eselon I melaksanakan penghapusan dari Daftar Barang Pengguna Eselon I dengan menerbitkan keputusan penghapusan untuk selanjutnya dilakukan penatausahaan. jenis dan nilai barang. d. Pengguna Barang memerintahkan Pengguna Barang Eselon I untuk menerbitkan rekomendasi teknis. Kuasa Pengguna Barang mengajukan usulan persetujuan penyertaan modal pemerintah kepada Kepala KPKN/L setempat dengan memperhatikan hasil penelitian dan penaksiran tim internal. Kuasa Pengguna Barang melakukan serah terima dengan penerima penyertaan modal yang dituangkan dalam suatu berita acara serah terima yang sekurang-kurangnya memuat tentang para pihak.

semua peraturan yang mengatur mengenai prosedur dan tata cara penetapan status penggunaan.BAB VI KETENTUAN PERALIHAN Pasal 44 Dengan berlakunya Peraturan Menteri ini. pemindahtanganan dan penghapusan barang milik negara yang telah diajukan pengusulannya kepada Pengelola Barang dinyatakan tetap berlaku. (2) Peraturan Menteri ini disebarluaskan kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk diketahui dan dilaksanakan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 02 Maret 2009 MENTERI PEKERJAAN UMUM. pemanfaatan. pemanfaatan. Pasal 46 (1) Peraturan Menteri ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. semua proses penetapan status penggunaan. DJOKO KIRMANTO 31 . ttd. BAB VII KETENTUAN PENUTUP Pasal 45 Pada saat berlakunya Peraturan Menteri ini. pemindahtanganan dan penghapusan barang milik negara yang bertentangan dengan peraturan menteri ini dinyatakan tidak berlaku.

000.SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN LEBIH DARI RP 1.500.- NO URAIAN KEGIATAN TIM INTERNAL KA. SATKER (UPKPB) DIRJEN / IRJEN / KA.000.000. BADAN (UPPB -E1) 5 MENTERI / SEKRETARIS JENDERAL (UPPB) 6 MENTERI KEUANGAN PENGGUNA BARANG BARU 8 1 2 3 4 7 1 Permohonan pengalihan status penggunaan 2 3 Rekomendasi teknis SK Pembentukan Tim Internal 4 BA Penelitian dan Penaksiran Tim Internal 5 6 7 Permohonan persetujuan pengalihan status penggunaan Persetujuan pengalihan status penggunaan Penetapan penghapusan dari Daftar Barang Pengguna 8 Keputusan Penetapan Status Penggunaan 9 Berita acara serah terima 10 Penatausahaan Keterangan : = Permohonan = Persetujuan = Surat Keputusan = Rekomendasi teknis = Berita Acara = Penatausahaan .000.000.Lampiran I Nomor Tanggal Peraturan Menteri Pekerjaan Umum : 02/PRT/M/2009 : 02 Maret 2009 PROSEDUR PENETAPAN STATUS PENGGUNAAN TINGKAT PENGGUNA BARANG TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN LEBIH DARI RP 2.

Lampiran II Nomor Tanggal Peraturan Menteri Pekerjaan Umum : 02/PRT/M/2009 : 02 Maret 2009 PROSEDUR PENETAPAN STATUS PENGGUNAAN TINGKAT PENGGUNA BARANG ESELON I TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN LEBIH DARI RP 1.000. SATKER (UPKPB) DIRJEN / IRJEN / KA. BADAN (UPPB -E1) 5 MENTERI / SEKRETARIS JENDERAL (UPPB) 6 KANWIL DJKN PENGGUNA BARANG BARU 8 1 2 3 4 7 1 Permohonan pengalihan status penggunaan 2 Rekomendasi teknis 3 4 Perintah pembentukan Tim Internal SK Pembentukan Tim Internal 5 BA Penelitian dan Penaksiran Tim Internal 6 7 Permohonan persetujuan pengalihan status penggunaan Persetujuan pengalihan status penggunaan 8 9 Penetapan penghapusan dari Daftar Barang Pengguna Keputusan Penetapan Status Penggunaan 10 Berita Acara Serah Terima 11 Penatausahaan Keterangan : Kanwil DJKN = Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara = Permohonan = Persetujuan = Surat Keputusan = Berita Acara = Penatausahaan = Rekomendasi .000.S/D RP 2.000.000.S/D RP 1.000.000.500.000.000.000.SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN LEBIH DARI RP 250.- NO URAIAN KEGIATAN TIM INTERNAL KA..000..

000. 250.000.Lampiran III Nomor Tanggal Peraturan Menteri Pekerjaan Umum : 02/PRT/M/2009 : 02 Maret 2009 PROSEDUR PENETAPAN STATUS PENGGUNAAN TINGKAT KUASA PENGGUNA BARANG TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN SAMPAI DENGAN Rp. 1. SATKER (UPPB -E1) (UPKPB) 4 5 NO URAIAN KEGIATAN TIM INTERNAL MENTERI / SEKRETARIS JENDERAL (UPPB) 6 KPKN/L PENGGUNA BARANG BARU 8 1 2 3 7 1 Permohonan penetapan status penggunaan 2 3 Rekomendasi teknis Perintah pembentukan Tim Internal 4 SK Pembentukan Tim Internal 5 BA Penelitian dan Penaksiran Tim Internal 6 Permohonan persetujuan penetapan status penggunaan 7 Persetujuan pengalihan status penggunaan 8 Penetapan penghapusan dari Daftar Barang Pengguna 9 Keputusan Penetapan Status Penggunaan 10 Berita Acara Serah Terima 11 Penatausahaan Keterangan : KPKN/L = Permohonan = Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang = Berita Acara = Penatausahaan = Rekomendasi = Persetujuan = Surat Keputusan .KA. BALAI / DIRJEN / IRJEN / KA.000.000.000. BADAN KA.SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN SAMPAI DENGAN Rp.

000.DIRJEN / IRJEN / KA.000.000. SATKER (UPKPB) MENTERI MENTERI / KEUANGA SEKRETARIS N JENDERAL (UPPB) PIHAK KETIGA 1 1 2 Permohonan sewa Perrmintaan rekomtek 2 3 4 6 7 8 3 Rekomendasi teknis 4 SK Pembentukan Tim Internal 5 BA Penelitian dan Penaksiran 6 Permohonan persetujuan sewa 7 8 9 10 Persetujuan penyewaan SK pelaksanaan penyewaan Perjanjian sewa-menyewa Penatausahaan Keterangan : = Permohonan = Persetujuan / Penolakan = Surat Keputusan = Rekomendasi teknis = Berita Acara = Perjanjian Sewa = Penatausahaan .000. BADAN (UPPB -E1) 5 NO URAIAN KEGIATAN TIM INTERNAL KA.Lampiran IV Nomor Tanggal Peraturan Menteri Pekerjaan Umum : 02/PRT/M/2009 : 02 Maret 2009 PROSEDUR SEWA TINGKAT PENGGUNA BARANG TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NJOP LEBIH DARI RP 5.SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN LEBIH DARI RP 500.000.

000..000.000.000.SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN LEBIH DARI Rp.000.Lampiran V Nomor Tanggal Peraturan Menteri Pekerjaan Umum : 02/PRT/M/2009 : 02 Maret 2009 PROSEDUR SEWA TINGKAT PENGGUNA BARANG ESELON I TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NJOP LEBIH DARI RP 1.000. 500.S/D Rp.000.000..000. 100.S/D RP 5. SATKER (UPKPB) DIRJEN / IRJEN / KA.000. BADAN (UPPB -E1) 5 MENTERI / SEKRETARIS JENDERAL (UPPB) 6 KANWIL DJKN PIHAK KETIGA 1 1 2 2 Permohonan sewa dari pihak ketiga Permintaan rekomtek 3 4 7 8 3 4 Rekomendasi Teknis SK Pembentukan Tim Internal 5 BA Penelitian dan Penaksiran 6 7 8 9 10 Permohonan persetujuan sewa Persetujuan penyewaan SK pelaksanaan penyewaan Perjanjian sewa-menyewa Penatausahaan Keterangan : Kanwil DJKN = Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara = Permohonan = Persetujuan / Penolakan = Surat Keputusan = = = Berita Acara Perjanjian Sewa Penatausahaan .- NO URAIAN KEGIATAN TIM INTERNAL KA.

000.SATKER (UPKPB) MENTERI / SEKRETARIS JENDERAL (UPPB) KPKN/L PIHAK KETIGA 1 1 Permohonan sewa 2 3 4 6 7 8 2 Permintaan rekomtek 3 SK Pembentukan Tim Internal 4 BA Penelitian dan Penaksiran 5 Permohonan persetujuan sewa 6 7 8 9 Persetujuan penyewaan SK penyewaan Perjanjian sewa-menyewa Penatausahaan Keterangan : = Permohonan = Persetujuan / Penolakan = Surat Keputusan = Rekomendasi teknis = Berita Acara = Perjanjian Sewa = Penatausahaan KPKN/L = Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang .Lampiran VI Nomor Tanggal Peraturan Menteri Pekerjaan Umum : 02/PRT/M/2009 : 02 Maret 2009 PROSEDUR SEWA TINGKAT KUASA PENGGUNA BARANG TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NJOP SAMPAI DENGAN RP 1.SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN SAMPAI DENGAN RP 100. BADAN (UPPB -E1) 5 NO URAIAN KEGIATAN TIM INTERNAL KA.DIRJEN / IRJEN / KA.000.000.000.000.

BADAN (UPPB -E1) 5 MENTERI / SEKRETARIS JENDERAL (UPPB) 6 NO URAIAN KEGIATAN TIM INTERNAL KA.000.000.500. SATKER (UPKPB) MENTERI KEUANGAN PEMDA 1 1 2 2 Permohonan pinjam pakai Permintaan rekomtek 3 4 7 8 3 4 5 Rekomtek SK Pembentukan Tim Internal BA Penelitian dan Penaksiran 6 7 8 9 Permohonan persetujuan pinjam pakai Persetujuan pinjam pakai Perjanjian Pinjam Pakai Penatausahaan 10 BAST Pengembalian = Permohonan = Persetujuan / Penolakan = Surat = Rekomendasi Teknis = Berita Acara = Perjanjian Pinjam Pakai = Penatausahaan Keterangan : .000.000.000. DIRJEN / IRJEN / KA.Lampiran VII Nomor Tanggal : : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum 02/PRT/M/2009 02 Maret 2009 PROSEDUR PINJAM PAKAI TINGKAT PENGGUNA BARANG TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NJOP LEBIH DARI RP 10. SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN LEBIH DARI RP 2.

10. SATKER (UPKPB) KANWIL DJKN PEMDA 1 1 2 2 Permohonan pinjam pakai Permintaan rekomtek dan pembentukan Tim Internal SK Pembentukan Tim Internal BA Penelitian dan Penaksiran 3 4 7 8 3 4 5 6 7 8 Permohonan persetujuan pinjam pakai Persetujuan pinjam pakai Perjanjian Pinjam Pakai Penatausahaan 9 BAST Pengembalian = Permohonan = Persetujuan / Penolakan = Surat Keputusan = Berita Acara = Perjanjian Pinjam Pakai = Penatausahaan Keterangan : Kanwil DJKN = Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara . 500.000.000..DIRJEN / IRJEN / KA.000.000.. 2.500.SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN LEBIH DARI Rp.000.000. 2.Lampiran VIII Nomor Tanggal : : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum 02/PRT/M/2009 02 Maret 2009 PROSEDUR PINJAM PAKAI TINGKAT PENGGUNA BARANG ESELON TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NJOP LEBIH DARI Rp.S/D Rp.S/D Rp.000.000.000.000. BADAN (UPPB -E1) 5 MENTERI / SEKRETARIS JENDERAL (UPPB) 6 NO URAIAN KEGIATAN TIM INTERNAL KA.

BADAN (UPPB -E1) 5 MENTERI / SEKRETARIS JENDERAL (UPPB) 6 NO URAIAN KEGIATAN TIM INTERNAL KA. 500.SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN SAMPAI DENGAN Rp.000.000.Lampiran IX Nomor Tanggal Peraturan Menteri Pekerjaan Umum : 02/PRT/M/2009 : 02 Maret 2009 PROSEDUR PINJAM PAKAI TINGKAT KUASA PENGGUNA BARANG TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NJOP SAMPAI DENGAN Rp.DIRJEN / IRJEN / KA. SATKER (UPKPB) KPKN/L PEMDA 1 1 2 2 Permohonan pinjam pakai Permintaan rekomtek pinjam pakai dan pembentukan tim SK Pembentukan Tim Internal 3 4 7 8 3 4 BA Penelitian dan Penaksiran 5 6 7 8 9 Permohonan persetujuan pinjam pakai Persetujuan pinjam pakai Perjanjian Pinjam Pakai Penatausahaan BAST Pengembalian = Permohonan = Persetujuan / Penolakan = Surat Keputusan = Berita Acara = Perjanjian Pinjam Pakai = Penatausahaan Keterangan : KPKN/L = Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang . 2.000.000.000.

BADAN (UPPB -E1) 6 MENTERI / SEKRETARIS JENDERAL (UPPB) 7 NO URAIAN KEGIATAN TIM INTERNAL PANITIA LELANG KA.000 SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN LEBIH DARI RP 1.500.000 DIRJEN / IRJEN / KA.000.Lampiran X Nomor Tanggal Peraturan Menteri Pekerjaan Umum : 02/PRT/M/2009 : 02 Maret 2009 PROSEDUR KERJASAMA PEMANFAATAN TINGKAT PENGGUNA BARANG TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NJOP LEBIH DARI RP 2.000.000. SATKER (UPKPB) MENTERI KEUANGAN PIHAK KETIGA 1 1 2 2 Rencana kerjasama pemanfaatan BMN Rekomendasi Teknis 3 4 5 8 9 3 4 5 6 Pembentukan tim internal KSP Penyusunan konsep proposal KSP Permohonan persetujuan KSP Surat persetujuan prinsip KSP 7 8 9 Pembentukan panitia lelang KSP / tender Usulan calon pemenang mitra KSP Penetapan mitra KSP 10 Penetapan keputusan KSP 11 Naskah perjanjian KSP 12 Serah terima objek KSP 13 Penatausahaan 14 Monitoring pelaksanaan KSP Keterangan : = Penatausahaan = Monitoring = Rekomendasi Teknis = Permohonan = Persetujuan / Penolakan = Surat Keputusan = Berita Acara = Perjanjian = Hasil Lelang .

000 DIRJEN / IRJEN / KA.. SATKER (UPKPB) KANWIL DJKN PIHAK KETIGA 1 1 2 2 Rencana kerjasama pemanfaatan BMN Rekomendasi Teknis 3 4 5 8 9 3 4 5 6 Pembentukan tim internal KSP Penyusunan konsep proposal KSP Permohonan persetujuan KSP Surat persetujuan prinsip KSP 7 8 9 Pembentukan panitia lelang KSP / tender Usulan calon pemenang mitra KSP Penetapan mitra KSP 10 Penetapan keputusan KSP 11 Naskah perjanjian KSP 12 Serah terima objek KSP 13 Penatausahaan 14 Monitoring pelaksanaan KSP Keterangan : = Penatausahaan = Monitoring = Rekomendasi teknis = Permohonan = Persetujuan / Penolakan = Surat Keputusan = Berita Acara = Perjanjian = Hasil Lelang Kanwil DJKN = Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara .SAMPAI DENGAN Rp. 1.SAMPAI DENGAN Rp.000.000. 1.000.000.Lampiran XI Nomor Tanggal Peraturan Menteri Pekerjaan Umum : 02/PRT/M/2009 : 02 Maret 2009 PROSEDUR KERJASAMA PEMANFAATAN TINGKAT PENGGUNA BARANG ESELON I TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NJOP LEBIH DARI Rp.500.000.000 SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN LEBIH DARI Rp..000. 2.000.000. 250. BADAN (UPPB -E1) 6 MENTERI / SEKRETARIS JENDERAL (UPPB) 7 NO URAIAN KEGIATAN TIM INTERNAL PANITIA LELANG KA.

SATKER (UPKPB) KPKN/L PIHAK KETIGA 1 1 2 2 Rencana kerjasama pemanfaatan BMN Rekomendasi teknis 3 4 5 8 9 3 4 5 6 Pembentukan tim internal KSP Penyusunan konsep proposal KSP Permohonan persetujuan KSP Surat persetujuan prinsip KSP 7 8 9 Pembentukan panitia lelang KSP / tender Usulan calon pemenang mitra KSP Penetapan mitra KSP 10 Penetapan keputusan KSP 11 Naskah perjanjian KSP 12 Serah terima objek KSP 13 Penatausahaan 14 Monitoring pelaksanaan KSP Keterangan : = Penatausahaan = Monitoring = Rekomendasi teknis = Permohonan = Persetujuan / Penolakan = Surat Keputusan = Berita Acara = Perjanjian = Hasil Lelang KPKN/L = Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang . BADAN (UPPB -E1) 6 MENTERI / SEKRETARIS JENDERAL (UPPB) 7 NO URAIAN KEGIATAN TIM INTERNAL PANITIA LELANG KA. 250.000.000.000.000. 1.Lampiran XII Nomor Tanggal Peraturan Menteri Pekerjaan Umum : 02/PRT/M/2009 : 02 Maret 2009 PROSEDUR KERJASAMA PEMANFAATAN TINGKAT KUASA PENGGUNA BARANG TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NJOP SAMPAI DENGAN RP.000. SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN SAMPAI DENGAN RP. DIRJEN / IRJEN / KA.

000.000. 2.SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN LEBIH DARI RP.DIRJEN / IRJEN / KA.500.000.000. BADAN (UPPB -E1) 5 MENTERI / SEKRETARIS JENDERAL (UPPB) 6 NO URAIAN KEGIATAN TIM INTERNAL 3 KA. 1.Lampiran XIII Nomor Tanggal Peraturan Menteri Pekerjaan Umum : 02/PRT/M/2009 : 02 Maret 2009 PROSEDUR PENJUALAN TINGKAT PENGGUNA BARANG TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NJOP LEBIH DARI RP. SATKER (UPKPB) 4 KPKN/L MENTERI KEUANGAN 1 1 2 Rencana Penjualan BMN 7 8 2 3 4 Rekomendasi Teknis SK Pembentukan Tim Internal BA Penelitian dan Penaksiran Tim Internal 5 6 7 8 9 Permohonan persetujuan penjualan Surat persetujuan penjualan Keputusan Penetapan penjualan BMN Permohonan pelelangan di KPKN/L setempat Penyampaian risalah lelang 10 Penatausahaan Keterangan : = Permohonan = Persetujuan / Penolakan = Surat Keputusan = Berita Acara = Rekomendasi Teknis = Risalah lelang = Penatausahaan KPKN/L = Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang .000.

SATKER (UPKPB) 4 KPKN/L KANWIL DJKN 8 1 1 2 Rencana Penjualan BMN 7 2 3 4 5 Rekomendasi teknis Perintah pembentukan tim internal SK Pembentukan tim internal BA Penelitian dan Penaksiran Tim Internal 6 7 8 9 Permohonan persetujuan penjualan Surat persetujuan penjualan Keputusan Penetapan penjualan BMN Permohonan pelelangan di KPKN/L setempat 10 Penyampaian risalah lelang 11 Penatausahaan Keterangan : = Permohonan = Persetujuan / Penolakan = Surat Keputusan = Berita Acara = Rekomendasi Teknis = Risalah lelang = Penatausahaan 1.. BADAN (UPPB -E1) 5 MENTERI / SEKRETARIS JENDERAL (UPPB) 6 NO URAIAN KEGIATAN TIM INTERNAL 3 KA.S/D RP.000.Lampiran XIV Nomor Tanggal Peraturan Menteri Pekerjaan Umum : 02/PRT/M/2009 : 02 Maret 2009 PROSEDUR PENJUALAN TINGKAT PENGGUNA BARANG ESELON I TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NJOP LEBIH DARI RP.000. 2. Kanwil DJKN = Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara 2.000. 1. 500.000.000.DIRJEN / IRJEN / KA.SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN LEBIH DARI RP.000. 1.500.000.000. KPKN/L = Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang .000.000.S/D RP..

BADAN (UPPB -E1) 5 MENTERI / SEKRETARIS JENDERAL (UPPB) 6 NO URAIAN KEGIATAN TIM INTERNAL 3 KA.000.DIRJEN / IRJEN / KA.Lampiran XV Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 02/PRT/M/2009 Tanggal : 02 Maret 2009 PROSEDUR PENJUALAN TINGKAT KUASA PENGGUNA BARANG TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NJOP SAMPAI DENGAN RP. 500.000. SATKER (UPKPB) 4 KPKN/L 1 1 2 3 4 5 2 Rencana Penjualan BMN Rekomendasi teknis Perintah pembentukan tim internal SK Pembentukan Tim Internal BA Penelitian dan Penaksiran Tim Internal 7 6 7 8 9 Permohonan persetujuan penjualan Surat persetujuan penjualan Keputusan Penetapan penjualan BMN Permohonan pelelangan di KPKN/L setempat 10 Penyampaian risalah lelang 11 Penatausahaan Keterangan : = Permohonan = Persetujuan / Penolakan = Surat keputusan = Penatausahaan = Berita Acara = Rekomendasi Teknis = Risalah lelang KPKN/L = Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang .SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN SAMPAI DENGAN RP. 1.000.000.000.

Lampiran XVI Nomor Tanggal Peraturan Menteri Pekerjaan Umum : 02/PRT/M/2009 : 02 Maret 2009 PROSEDUR TUKAR MENUKAR TINGKAT PENGGUNA BARANG TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NJOP LEBIH DARI RP 2.SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN LEBIH DARI RP 1.500.MENTERI / DIRJEN / IRJEN SEKRETARIS MENTERI PIHAK / KA.000. SATKER (UPKPB) 6 1 1 2 2 Rencana tukar menukar BMN Rekomendasi teknis 3 4 5 3 4 Permintaan pembentukan tim internal BA penelitian dan penaksiran tim internal 5 6 7 Permohonan persetujuan tukar menukar Ijin prinsip tukar menukar Pembentukan tim tender 8 Penyampaian hasil tender 9 10 11 12 Penetapan pemenang lelang tukar menukar Permohonan ijin pelaksanaan Ijin pelaksanaan tukar menukar Perjanjian tukar menukar 13 14 15 16 Pelaksanaan pemenuhan perjanjian Penelitian hasil perjanjian Serah terima tukar menukar dengan mitra SK Penghapusan BMN dari DIB dan penerimaan barang penggant Penatausahaan = Hasil pelelangan = Penelitian = Rekomendasi Teknis = Permohonan = Persetujuan / Penolakan = Surat Keputusan = Berita Acara = Perjanjian Tukar Menukar = Penatausahaan 17 Keterangan : .000.000.000.000. BADAN JENDERAL KEUANGAN KETIGA (UPPB -E1) (UPPB) 7 8 9 10 NO URAIAN KEGIATAN TIM INTERNAL TIM TUKAR MENUKAR TIM MONITORING KA.

000.500. 2. 500.S/D RP.000.. BADAN JENDERAL (UPPB -E1) (UPPB) 7 8 NO URAIAN KEGIATAN TIM INTERNAL TIM TUKAR MENUKAR 4 TIM MONITORING KA. SATKER (UPKPB) 6 KANWIL DJKN 9 PIHAK KETIGA 10 1 1 2 3 4 5 6 7 2 Rencana tukar menukar BMN Rekomendasi Teknis Permintaan pembentukan tim internal BA penelitian dan penaksiran tim internal Permohonan persetujuan tukar menukar Ijin prinsip tukar menukar Pembentukan tim tender 3 5 8 Penyampaian hasil tender 9 10 11 12 Penetapan pemenang lelang tukar menukar Permohonan ijin pelaksanaan Ijin pelaksanaan tukar menukar Perjanjian tukar menukar 13 14 15 16 Pelaksanaan pemenuhan perjanjian Penelitian hasil perjanjian Serah terima tukar menukar dengan mitra SK Penghapusan BMN dari DIB dan penerimaan barang penggant Penatausahaan = Hasil pelelangan = Penelitian = Rekomendasi teknis = Permohonan = Persetujuan / Penolakan = Surat Keputusan = Berita Acara = Perjanjian Tukar Menukar = Penatausahaan 17 Keterangan : Kanwil DJKN = Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara .000.000..000.Lampiran XVII Nomor Tanggal Peraturan Menteri Pekerjaan Umum : 02/PRT/M/2009 : 02 Maret 2009 PROSEDUR TUKAR MENUKAR TINGKAT PENGGUNA BARANG ESELON I TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NJOP LEBIH DARI RP.000. 1.000.MENTERI / DIRJEN / IRJEN SEKRETARIS / KA. 1.000.000.S/D RP.SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN LEBIH DARI RP.000.

000.000.SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN SAMPAI DENGAN RP.000. 1.000.MENTERI / DIRJEN / IRJEN SEKRETARIS / KA.Lampiran XVIII Nomor Tanggal Peraturan Menteri Pekerjaan Umum : 02/PRT/M/2009 : 02 Maret 2009 PROSEDUR TUKAR MENUKAR TINGKAT KUASA PENGGUNA BARANG TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NJOP SAMPAI DENGAN RP.000.SATKER (UPKPB) 6 KPKN/L PIHAK KETIGA 10 1 1 2 3 4 5 6 7 2 Rencana tukar menukar BMN Rekomendasi teknis Permintaan pembentukan tim internal BA penelitian dan penaksiran tim internal Permohonan persetujuan tukar menukar Ijin prinsip tukar menukar Pembentukan tim tender 3 5 9 8 Penyampaian hasil tender 9 10 11 12 Penetapan pemenang lelang tukar menukar Permohonan ijin pelaksanaan Ijin pelaksanaan tukar menukar Perjanjian tukar menukar 13 14 15 16 Pelaksanaan pemenuhan perjanjian Penelitian hasil perjanjian Serah terima tukar menukar dengan mitra SK Penghapusan BMN dari DIB dan penerimaan barang pengganti Penatausahaan = Hasil pelelangan = Penelitian = Rekomendasi teknis = Permohonan = Persetujuan / Penolakan = Surat Keputusan = Berita Acara = Perjanjian Tukar Menukar = Penatausahaan 17 Keterangan : KPKN/L = Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang . BADAN JENDERAL (UPPB -E1) (UPPB) 7 8 NO URAIAN KEGIATAN TIM INTERNAL TIM TUKAR MENUKAR 4 TIM MONITORING KA. 500.

000. DIRJEN / IRJEN / KA. SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN LEBIH DARI RP 1.Lampiran XIX Nomor Tanggal Peraturan Menteri Pekerjaan Umum : 02/PRT/M/2009 : 02 Maret 2009 PROSEDUR HIBAH TINGKAT PENGGUNA BARANG TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NJOP LEBIH DARI RP 2.500.000. BADAN (UPPB -E1) 5 MENTERI / SEKRETARIS MENTERI PENERIMA JENDERAL KEUANGAN HIBAH (UPPB) 6 7 8 NO URAIAN KEGIATAN TIM INTERNAL KA.000. SATKER (UPKPB) 1 1 2 Permohonan dari calon penerima hibah 3 4 2 Permintaan rekomendasi teknis 3 SK Pembentukan Tim Internal 4 BA penelitian dan penaksiran Tim Internal 5 Permohonan persetujuan hibah 6 Persetujuan hibah 7 BAST Hibah 8 9 SK Penghapusan Penatausahaan = Permohonan = Persetujuan / Penolakan = Surat Keputusan = Berita Acara = Penatausahaan = Rekomendasi teknis Keterangan : .000.000.

500. BADAN (UPPB -E1) 5 MENTERI / SEKRETARIS JENDERAL (UPPB) 6 NO URAIAN KEGIATAN TIM INTERNAL KA.000. 2.S/D RP.. 500.000.000.Lampiran XX Nomor Tanggal Peraturan Menteri Pekerjaan Umum : 02/PRT/M/2009 : 02 Maret 2009 PROSEDUR HIBAH TINGKAT PENGGUNA BARANG ESELON I TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NJOP LEBIH DARI RP.000.000..000. 1.000.SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN LEBIH DARI RP.DIRJEN / IRJEN / KA. SATKER (UPKPB) KANWIL DJKN PENERIMA HIBAH 1 1 2 Permohonan dari calon penerima hibah 3 4 7 8 2 Permintaan rekomendasi teknis 3 SK Pembentukan Tim Internal 4 BA penelitian dan penaksiran Tim Internal 5 Permohonan persetujuan hibah 6 Persetujuan hibah 7 BAST Hibah 8 9 SK Penghapusan Penatausahaan = Permohonan = Persetujuan / Penolakan = Surat Keputusan = Berita Acara = Penatausahaan = Rekomendasi Teknis Keterangan : Kanwil DJKN = Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara .000. 1.S/D RP.000.000.

000.DIRJEN / IRJEN / KA.SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN SAMPAI DENGAN RP 500.SATKER (UPKPB) KPKN/L PENERIMA HIBAH 1 1 2 Permohonan dari calon penerima hibah 3 4 7 8 2 Permintaan rekomendasi teknis 3 SK Pembentukan Tim Internal 4 BA penelitian dan penaksiran Tim Internal 5 Permohonan persetujuan hibah 6 Persetujuan hibah 7 BAST Hibah 8 9 SK Penghapusan Penatausahaan = Permohonan = Persetujuan / Penolakan = Surat Keputusan = Berita Acara = Penatausahaan = Rekomendasi Teknis Keterangan : KPKN/L = Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang .Lampiran XXI Nomor Tanggal Peraturan Menteri Pekerjaan Umum : 02/PRT/M/2009 : 02 Maret 2009 PROSEDUR HIBAH TINGKAT KUASA PENGGUNA BARANG TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NJOP SAMPAI DENGAN RP 1.000.000.000.000. BADAN (UPPB -E1) 5 MENTERI / SEKRETARIS JENDERAL (UPPB) 6 NO URAIAN KEGIATAN TIM INTERNAL KA.

000. BADAN (UPPB -E1) MENTERI / SEKRETARIS JENDERAL (UPPB) 6 MENTERI PRESIDEN KEUANGAN BUMN/D.000.SATKER (UPKPB) DIRJEN / IRJEN / KA. BHN/D 1 1 Permohonan PMP 2 3 4 5 7 8 9 2 3 Permintaan rekomtek Pembentukan Tim Internal 4 BA penelitian dan persiapan 5 Permohonan persetujuan PMP 6 Penyusunan dan permohonan PMP 7 8 9 Permohonan persetujuan dan penetapan PP Penetapan PP BAST 10 SK Penghapusan 11 Penatausahaan Keterangan : = Permohonan = Persetujuan / Penolakan = Surat Keputusan = Penatausahaan = Berita Acara =Peraturan Pemerintah = Rekomendasi Teknis .000.- NO URAIAN KEGIATAN TIM INTERNAL KA.SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN LEBIH DARI RP 1.000.Lampiran XXII Nomor Tanggal Peraturan Menteri Pekerjaan Umum : 02/PRT/M/2009 : 02 Maret 2009 PROSEDUR PENYERTAAN MODAL PEMERINTAH (PMP) TINGKAT PENGGUNA BARANG TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NJOP LEBIH DARI RP 2.000.500.

000.000. 1. SATKER (UPKPB) KANWIL DJKN DJKN PRESIDEN BUMN/D.000. 2.000.DIRJEN / IRJEN / KA.Lampiran XXIII Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 02/PRT/M/2009 Tanggal : 02 Maret 2009 PROSEDUR PENYERTAAN MODAL PEMERINTAH (PMP) TINGKAT PENGGUNA BARANG ESELON I TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NJOP LEBIH DARI Rp.000.500. 500.000. BHN/D 8 9 10 1 1 Permohonan PMP 2 3 4 7 2 3 Permintaan rekomtek Pembentukan Tim Internal 4 BA penelitian dan persiapan 5 Permohonan persetujuan PMP 6 Penyusunan dan permohonan penetapan PP 7 8 9 Permohonan persetujuan dan penetapan PP Penetapan PP BAST 10 SK Penghapusan 11 Penatausahaan Keterangan : DJKN = Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kanwil DJKN = Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara KPKNL = Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang = Permohonan = Persetujuan / Penolakan = Surat Keputusan = Penatausahaan = Berita Acara = Peraturan Pemerintah = Rekomendasi Teknis .000.000...S/D Rp.000.SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN LEBIH DARI Rp.000. 1.S/D Rp. BADAN (UPPB -E1) 5 MENTERI / SEKRETARIS JENDERAL (UPPB) 6 NO URAIAN KEGIATAN TIM INTERNAL KA.

BADAN (UPPB -E1) MENTERI / SEKRETARIS JENDERAL (UPPB) PERMOHONAN PERSETUJUAN KANWIL BUMN/D KEUANGAN PRESIDEN BHN/D DJKN / DJKN MENTERI KPKNL 1 1 2 Permohonan penyertaan modal pemerintah 3 4 5 6 7 8 9 10 11 2 3 Permintaan rekomendasi teknis Pembentukan Tim Internal 4 Berita Acara Hasil penelitian dan persiapan PMP 5 Permohonan persetujuan PMP 6 Penyusunan dan permohonan penetapan PP 7 8 9 Permohonan persetujuan dan penetapan PP Penetapan PP Berita Acara Serah Terima 10 SK Penghapusan 11 Laporan pelaksanaan PMP Keterangan : DJKN = Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kanwil DJKN = Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara KPKNL = Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang = Permohonan = Persetujuan / Penolakan = Surat Keputusan = Penatausahaan = Berita Acara = Peraturan Pemerintah = Rekomendasi Teknis .000.SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NILAI PEROLEHAN SAMPAI DENGAN Rp.000.Lampiran XXIV Nomor : Tanggal : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum 02/PRT/M/2009 02 Maret 2009 PROSEDUR PENYERTAAN MODAL PEMERINTAH TINGKAT KUASA PENGGUNA BARANG TANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN NJOP SAMPAI DENGAN Rp. 1.000.000. SATKER (UPKPB) DIRJEN / IRJEN / KA.DITERBITKAN. 500. DIAJUKAN OLEH NO URAIAN KEGIATAN TIM INTERNAL KA.000.