PERKEMBANGAN KURIKULUM SEKOLAH MENENGAH ATAS DI INDONESIA

[SUATU PERSPEKTIF HISTORIS DARI MASA KE MASA]

EDISI 1

Penulis:

DR. HERMANA SOMANTRIE, MA

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PUSAT KURIKULUM Jakarta, 2010

PERKEMBANGAN KURIKULUM SEKOLAH MENENGAH ATAS: SUATU PERSPEKTIF HISTORIS DARI MASA KE MASA

Oleh: Dr. Hermana Somantrie, MA © Hak Cipta (Copyright) Penulis dilindungi undang-undang. Edisi 1 Tahun 2010.

ii

►PENGANTAR PENULIS Dr. Hermana Somantrie, MA
Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, Penulis telah menyelesaikan naskah buku PERKEMBANGAN KURIKULUM SEKOLAH MENENGAH ATAS DI INDONESIA [Suatu Perspektif Historis Dari Masa Ke Masa]. Penulisan buku ini bertujuan untuk memberikan gambaran perkembangan kurikulum Sekolah Menengah Atas (SMA) dari masa ke masa sejak masa kolonial sampai dengan masa kemerdekaan. Penulisan buku ini bertujuan untuk mengungkap kembali “the lost generation of curriculum”, yaitu generasi-generasi Kurikulum SMA yang hampir hilang dari ingatan masyarakat Indonesia masa kini. Padahal kurikulum tersebut pernah memberikan kontribusi dalam penyiapan sumber daya manusia Indonesia sesuai dengan kebutuhannya pada setiap masa yang berbeda. Pentingnya penelusuran terhadap kurikulum yang pernah berlaku yaitu, pada dasarnya, setiap generasi kurikulum pasti memuat berbagai gagasan atau pemikiran yang brilian pada zamannya dalam rangka membentuk peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan di zaman tersebut. Pemikiran tersebut perlu dipahami oleh masyarakat secara mendalam untuk menjawab pertanyaan, mengapa kurikulum selalu berubah-ubah? Menelusuri kembali dokumen kurikulum terutama pada masa kolonial dan masa awal kemerdekaan merupakan suatu upaya yang harus disertai dengan kesabaran, karena pada kenyataannya dokumen tersebut sudah sangat sulit ditemukan. Meskipun ada yang tersisa, namun dokumen tersebut sudah tidak lengkap lagi isinya, sehingga sulit untuk dianalisis dan ditafsirkan. Kepada semua pihak yang memberi akses dan dukungan dalam rangka pencarian berbagai dokumen, Penulis mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga, karena atas bantuanya tersebut buku ini dapat diwujudkan. Ucapan terima kasih secara khusus disampaikan kepada Bapak Drs. Mohammad Sholeh yang telah memberikan banyak masukkan konstruktif bagi penyempurnaan draf buku ini sebelum diterbitkan secara luas.

Jakarta, ….. 2010.

iii

►SAMBUTAN KEPALA PUSAT KURIKULUM Dra. Diah Harianti, M.Si.
Penulisan naskah buku sejarah perkembangan kurikulum yang dilakukan secara serial oleh beberapa penulis merupakan salah satu program kegiatan Pusat Kurikulum, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2010. Para Penulis buku adalah para person yang memiliki kualifikasi dan pengalaman yang sangat memadai untuk menghasilkan suatu produk buku serial kurikulum ini. Khusus mengenai naskah buku “Dinamika Perubahan Kurikulum Sekolah Menengah Atas Di Indonesia: Suatu Perspektif Historis Dari Masa Ke Masa” ini merupakan karya tulis dari Saudara Dr. Hermana Somantrie, MA., yang pada saat ini adalah sebagai Peneliti Kebijakan Pendidikan pada Pusat Kurikulum, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Nasional. Buku ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumbangan untuk mengisi perbendaharaan kepustakaan pendidikan nasional khususnya di bidang kurikulum, sehingga masyarakat yang berkepentingan dapat mempelajari dan memperdalamnya bagi peningkatan mutu pendidikan. Dengan segala kelebihan dan keterbatasan jangkauan konseptual yang dimiliki oleh Penulis, buku ini merupakan karya yang sangat bernilai dan bermanfaat bagi kepentingan pemajuan dan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Kami mengucapkan terima kasih kepada para Penulis yang telah dengan ikhlas dan tulus menyumbangkan tenaga, pikiran, waktu untuk mewujudkan produkproduk buku serial perkembangan kurikulum yang terdiri atas: 1. Sejarah Perkembangan Pusat Kurikulum: Prof. Dr. Soediyarto, MA 2. Sejarah Perkembangan Kurikulum PAUD: Dr. Herlina 3. Sejarah Perkembangan Kurikulum SD: Dr. S. Bellen 4. Sejarah Perkembangan Kurikulum SMP: Prof. Dr. S. Hamid Hasan, MA 5. Sejarah Perkembangan Kurikulum SMA: Dr. Hermana Somantrie, MA 6. Sejarah Perkembangan Kurikulum SMK: Ir. Bagiono / Karyana 7. Sejarah Perkembangan Kurikulum PLB: Prof. Dr. Sunardi Penulisan seluruh seri buku tersebut dikoordinasikan oleh Pusat Kurikulum yang sekaligus sebagai penyandang dana dengan berdasarkan pada mata anggaran kegiatan tahun 2010. Jakarta, ………. 2010.

iv

►DAFTAR ISI

PENGANTAR SAMBUTAN DAFTAR ISI 1. PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan Metodologi Pengumpulan Informasi Konteks Sejarah Nasional Indonesia Sebagai Prolog Pengungkapan Sejarah Kurikulum Pergantian Nomenklatur SMA Dari Masa Ke Masa Nomenklatur SMA Yang Pernah Berlaku SMAN 3 Yogyakarta SMAN 3 Bandung Harapan PEMIKIRAN KI-HAJAR DEWANTARA TENTANG PENDIDIKAN Prolog Ki-hajar Dewantara: Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran Hal Pendidikan Dasar-dasar Pendidikan Syarat-syarat dan Alat-alat Pendidikan Ki-hajar Dewantara: Differensiasi Sekolah Menengah Umum Atas Internalisasi Pemikiran Ki-hajar Dewantara THE EMPIRE STATE OF CURRICULUM Kerangka Berpikir Hakikat Kurikulum Hakikat Pembelajaran Hakikat Penilaian Ketidak-harmonisan Inter-relasi dalam Praktik GAMBARAN SEKOLAH MENENGAH ATAS PADA ABAD KE-21 Karakteristik SMA sebagai Pendidikan Umum Tujuan dan Fungsi Fungsi Tujuan Karakteristik Remaja sebagai Peserta Didik SMA Tuntutan Pengembangan Potensi Diri Remaja Lingkungan Belajar SMA Yang Ideal

iii iv v 1 1 4 6 7 9 9 9 10 10 14 14 15 15 21 26 29 32 34 34 35 38 40 43 48 48 49 49 49 50 51 54

2.

3.

4.

v

7. KEPUSTAKAAN vi . KURIKULUM SEKOLAH MENENGAH ATAS PADA ZAMAN KOLONIAL Masa Penjajahan Belanda Prolog Kurikulum Masa Penjajahan Jepang Prolog Dokrin Pendidikan Kurikulum KURIKULUM SEKOLAH MENENGAH ATAS PADA ZAMAN KEMERDEKAAN Masa Perang Kemerdekaan 1945 – 1950 Prolog Undang-Undang Pendidikan dan Pengajaran Tahun 1950 Kurikulum Masa Demokrasi Liberal 1950 – 1959 Prolog Undang-Undang Pendidikan dan Pengajaran Tahun 1954 Kurikulum Masa Demokrasi Terpimpin [Orde Lama] 1959 – 1965 Prolog Konsepsi Pendidikan Sapta Usaha Tama dan Pancawardhana Kurikulum 1964 Masa Demokrasi Pancasila [Orde Baru] 1966 – 1998 Prolog Kurikulum 1968 Kurikulum 1975 Kurikulum 1984 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 1989 Kurikulum 1994 Masa Demokrasi Partisipatori [Reformasi] 1999 – sekarang Prolog Kurikulum 1994 Yang Disempurnakan/Disesuaikan Tahun 1999 Kurikulum Berbasis Kompetensi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 Kurikulum 2006 PENUTUP Profil Kurikulum Yang Pernah Berlaku Epilog 58 58 58 60 62 62 63 64 65 65 65 68 69 69 69 70 72 72 72 73 75 82 82 83 94 103 130 131 155 155 156 158 186 187 200 200 202 203 6.5.

teknologi. di negara-negara lain pun kurikulum selalu berubah sesuai dengan kebutuhannya. perubahan kurikulum di Indonesia masih dipandang oleh masyarakat sebagai sesuatu yang aneh dan negatif. sistemik. ganti kurikulum”. Dari hasil analisis terhadap fakta perubahan kurikulum selama ini juga menunjukan bahwa perubahan kurikulum merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari konstelasi politik. sehingga muncul pemeo “ganti pejabat. sejak zaman kolonial sampai dengan zaman proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. sehingga siap untuk disempurnakan kapan saja sesuai dengan kebutuhannya. dan sistematik. ilmu pengetahuan. Hal itu sesuai dengan salah satu prinsip kurikulum bahwa suatu kurikulum harus selalu bersifat dinamis dan fleksibel. Agar kurikulum memenuhi aspirasi seluruh komponen masyarakat. kurikulum di Indonesia selalu berubah-ubah ---dalam arti “disempurnakan”--secara terus menerus (continuous improvement) untuk mengakomodasi berbagai perkembangan dan tuntutan yang dianggap penting dan baru pada zamannya. Sejarah telah membuktikan bahwa perubahan kurikulum di Indonesia sudah sering kali terjadi dalam setiap periode tertentu. seni.PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Dinamika Kurikulum. Seharusnya pandangan semacam ini juga harus melihat pada sisi lainnya bahwa perubahan kurikulum tidak akan pernah bisa berhenti atau akan selalu terjadi sesuai dengan perkembangan dan tuntutan masyarakat. Namun berbeda dengan yang terjadi di negara lain. Meskipun demikian. dan budaya bangsa Indonesia yang selalu berkembang dari satu masa ke masa berikutnya. perubahan kurikulum di berbagai negara dipandang sebagai sesuatu hal yang biasa dan wajar terjadi. dan budaya. 1 . maka setiap perubahan kurikulum harus selalu dilakukan secara terencana. Perlukah kurikulum selalu berubah? Pada kenyataannya. Perubahan kurikulum bukan hanya terjadi di Indonesia. sosial.

Kurikulum Sebagai Komponen Pendidikan. How can we determine whether these purposes are being attained? --bagaimana kita dapat menentukan apakah tujuan pendidikan sedang dan/atau sudah dicapai? 2 . Kurikulum memiliki arti yang sangat penting dan strategis dalam penyelenggaraan pendidikan. cara mengorganisasikan pengalaman belajar. Kurikulum sebagaimana yang dijelaskan dalam teori klasik kurikulum Ralph W. dan kedua. yang memiliki hubungan sangat erat dan saling mempengaruhi secara signifikan dalam rangkaian antara teoritis dan empiris atau praksis. Secara praksis. bisa dari perubahan sistem pendidikan terlebih dahlu yang kemudian menstimulir terjadinya perubahan kurikulum (curriculum reform). Hubungan kedua hal tersebut. Oleh karenanya dapat dikatakan bahwa kurikulum merupakan salah satu komponen utama pendidikan. juga bisa dari perubahan kurikulum terlebih dahulu yang kemudian menstimulir terjadinya perubahan sistem pendidikan. dan cara mengukur keberhasilan dan/atau pencapaiannya. secara teoritis dan empiris. dalam setiap penyelenggaraan pendidikan akan selalu diperlukan komponen kurikulum yang memuat tentang rencana mengenai tujuan pengajaran. Hakikat Kurikulum. How can these educational experiences be effectively organized? ---bagaimana pengalaman belajar dapat diorganisasikan secara efektif? 4. misalnya tampak apabila terjadi suatu reformasi pendidikan (education reform) yang biasanya dimulai: pertama. What educational purposes should the school seek to attain? ---tujuan pendidikan apa yang harus dicapai oleh sekolah? 2. Tyler (1949) yaitu bahwa kurikulum harus memuat 4 pertanyaan fundamental yang perlu dijawab oleh para pengembang program pendidikan sebagai berikut: 1. What educational experiences can be provided that are likely to attain these purposes? ---pengalaman belajar apa yang dapat disediakan untuk mencapai tujuan pendidikan? 3. apa yang akan diajarkan.

Hubungan Kurikulum dan Pembelajaran. Dalam hal ini. dan sebaliknya pembelajaran harus menjabarkan secara operasional seluruh tuntutan yang dimuat dalam kurikulum. Rencana yang dimuat dalam kurikulum hanya dapat tercapai apabila dioperasionalkan melalui kegiatan sebagaimana adanya (curriculum as it is). Kurikulum harus dapat memberikan arahan yang jelas bagi pelaksanaan pembelajaran. kurikulum dan pembelajaran harus selalu sinkron dan harmonis serta saling mengisi kekuatan dan kelemahannya masing-masing. yaitu proses pembelajaran.Jawaban terhadap semua pertanyaan fundamental tersebut dituangkan ke dalam suatu bentuk program pendidikan operasional yang dinamakan dengan “kurikulum”. dan bagaimana pengalaman belajar tersebut diorganisasikan. 3 . dan bagaimana menentukan pencapaian tujuan pendidikan. Secara implementatif. Artinya bahwa kurikulum dan pembelajaran mempunyai hubungan yang sangat erat. pengalaman belajar apa untuk melengkapi pencapaian tujuan pendidikan. yang memuat tujuan pendidikan yang seharusnya dicapai oleh sekolah. hubungan antara kurikulum dan pembelajaran apabila dianalogikan dengan bulatan dan permukaan dua sisi uang koin akan selalu sama seperti divisualkan dalam ilustrasi berikut ini.

Apabila Pareto's Principle or the 80–20 Rule dihubungkan dengan kurikulum. dinyatakan bahwa keberhasilan Y (= 80%) ditentukan oleh dan/atau datang dari faktor X (=20%). Pareto dalam rangka menjelaskan teori 80%-20% membuat analogi bahwa 80% of your behavior comes from 20% of your mind ---80% perilaku anda berasal dari 20% pikiran anda. yang dikembangkan oleh Pareto (1971). Pusat Kurikulum memandang perlu untuk melakukan penelusuran sejarah (historical tracking) mengenai kurikulum yang pernah berlaku di SMA sejak awal pendirian satuan pendidikan tersebut pada zaman penjajahan Belanda sampai dengan masa kini. Dalam teori 80-20 atau disebut dengan Pareto's Principle or the 80–20 Rule ---Teori Pareto atau Hukum 80–20. secara prinsip dapat dijelaskan bahwa keberhasilan pelaksanaan suatu kurikulum di lapangan (80%) akan ditentukan oleh dan/atau berasal dari (20%) kebijakan kurikulum. Dari analogi Pareto tersebut mengandung makna bahwa meskipun 20% hanya merupakan porsi yang sangat sedikit. Hasil penelusuran ini diwujudkan 4 . Sampai saat sekarang ini setelah 65 tahun proklamasi kemerdekaan. tetapi ternyata mampu menggerakkan atau menguasai porsi 80% yang sangat banyak. dengan adanya buku sejarah Kurikulum SMA ini akan menjadi referensi sangat penting yang dapat dijadikan sebagai acuan bagi penelaahan akademik dan empirik dalam khasanah pendidikan di Indonesia. Selanjutnya. di Indonesia belum pernah ditemukan adanya referensi yang memuat kronologi sejarah Kurikulum SMA secara khusus dan lengkap. namun kebijakan tersebut harus mampu untuk menggerakkan dan memberikan pengaruh yang kuat terhadap pelaksanaan kurikulum yang memiliki porsi 80%. Analogi lainnya dari Pareto yaitu bahwa in 1906 that 80% of the land in Italy was owned by 20% of the population ---dalam tahun 1906 bahwa sebagian besar tanah di Italia dimiliki oleh 20% penduduk. Tujuan Penulisan Buku.Kurikulum dan Teori Pareto. Sudah barang tentu. Dalam arti bahwa meskipun kebijakan kurikulum hanya memiliki porsi 20%. Dengan berdasarkan pada fakta itu dan kepentingan yang lebih luas bagi generasi Indonesia yang akan datang.

since no detailed information has been available.menjadi sebuah buku yang berjudul “Dinamika Perubahan Kurikulum Sekolah Menengah Atas Di Indonesia: Suatu Analisis Historis Dari Masa Ke Masa”. Berkaitan dengan dokumen pendidikan yang masih misteri. education has been one of the least clear fields of historical study on Japanese occupation in Java. reorganization of 5 . hanya sedikit dokumen yang tersisa. Mungkin terlalu ekstrim apabila dikatakan tidak ada arsip kurikulum sama sekali. padahal kurikulum di Indonesia telah mengalami perjalanan sejarah yang sangat panjang. Dalam penulisan buku yang bersifat perspektif historis selalu dihadapkan pada permasalahan kelangkaan dokumen atau arsip utama sebagai primary sources. dalam berbagai referensi sejarah pendidikan di Indonesia hanya sedikit yang mendeskripsikan perihal kurikulum terutama yang digunakan pada masa penjajahan Belanda. dan masa perang kemerdekaan. and as a result. Demikian pula. Kurasawa (2001) mengatakan bahwa even the basic information on the educational administrative structure. Jepang. Penyebab Hilangnya Sumber Acuan Utama. This is mainly because Japanese military authorities deliberately burned most of the important documents at the time of their surrender (August 1945). few records survived ---sejauh ini. PERMASALAHAN Keterbatasan Referensi. Hal itu utamanya pada waktu pemerintahan Militer Jepang menyerah kepada Tentara Sekutu (Agustus 1945) telah membakar dengan sengaja hampir sebagian besar dokumen. Begitu pula dalam penulisan buku sejarah kurikulum ini. dan sebagai hasilnya. Mengapa sulit menemukan dokumen kurikulum masa lalu yang akan dijadikan sebagai acuan utama dalam penulisan sejarah kurikulum di Indonesia? Sehubungan dengan itu menurut Kurasawa (2001) bahwa so far. Jenis Sumber Acuan Utama Yang Hilang. pendidikan telah menjadi salah satu bidang yang kurang jelas dari studi historis selama pendudukan Jepang di Jawa. karena tiada informasi rinci yang tersedia. arsip kurikulum sebagai sumber utama yang pernah berlaku pada masa-masa tertentu sudah sangat sulit ditemukan keberadaannya.

Fragmentasi dalam penulisan buku yang bersifat kesejarahan sering kali terjadi sebagaimana yang dinyatakan oleh Kurasawa (1991) bahwa historical study had to be made on the basis of those fragmental sources ---studi historis harus dibuat dengan dasar sumber-sumber yang terpenggal atau terputus. Upaya Memenuhi Kelangkaan Sumber Acuan Utama. Kelangkaan sumber acuan utama dalam penulisan sebuah buku historis kurikulum akan mengalami fragmen atau penggalan historis (historical fragmentation) dalam penuangan informasi kesejarahan kurikulum pada zaman tertentu. almanacs which were published under strict sensorship and such materials as the remaining textbooks. Namun diduga bahwa dokumen penting termasuk mengenai pendidikan yang dibakar oleh Jepang bukan hanya dokumen yang dikeluarkan oleh Pemerintah Jepang. tingkat penggunaan bahasa jepang yang diajarkan. bahasa yang diadopsi sebagai pengantar pembelajaran. and diplomas which were privately owned by the former pupils and teachers ---semua hal yang dapat diacu. were contemporary newspaper. Apa yang dapat dilakukan agar penulisan sejarah kurikulum pada masa tertentu dapat tetap berlangsung? Menurut Kurasawa selanjutnya yaitu all we could consult. journals. Hal itu didukung dengan ketiadaan dan/atau tidak ditemukannya sama sekali dokumen kurikulum yang pernah berlaku di beberapa SMA yang pernah mengalami pergantian beberapa zaman. adalah surat kabar kontemporer. tetapi juga banyak dokumen yang dikeluarkan oleh Pemerintah HindiaBelanda. so far. sertifikat penghargaan. the extent Japanese language was taught and the number of Japanese teachers sent to Java. 6 . almanak yang diterbitkan di bawah sensor yang ketat dan bahan-bahan tersisa seperti buka pelajaran. the language adopted as the medium of instruction. Akibat Dari Kelangkaan Sumber Acuan Utama. dan jumlah guru Jepang yang dikirim ke Jawa. kurikulum. semuanya masih misteri. credit certificates. sejauh ini. reorganisasi sekolah.schools. remained a mystery ---bahkan informasi dasar mengenai struktur administrasi pendidikan. jurnal. the curriculum. ijazah yang dimiliki secara pribadi oleh bekas murid dan guru.

ketiga hal tersebut diuraikan masing-masing di bawah ini. peraturan perundang-undangan. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia merupakan salah satu pihak yang divisitasi. Visitasi. karena 7 .Sangat disadari bahwa dalam penulisan buku ini pun akan terjadi celah-celah ketidak-sinambungan informasi kesejarahan kurikulum sebagai akibat dari kelangkaan sumber acuan utama yang memuat informasi kurikulum yang pernah berlaku pada masa-masa tertentu. METODOLOGI PENGUMPULAN INFORMASI Metode Triangulasi. Kajian ini mencakup kegiatan untuk membaca dan menginterpretasi termasuk merekonstruksi informasi yang diperoleh dari berbagai sumber utama atau primary sources seperti kepustakaan. dan (3) validasi dan konsultasi. naskah buku ini telah melalui prosedur dan proses kajian yang didasarkan pada logika dan argumentasi baik secara teoritik-akademik maupun secara praktikempirik. Visitasi ini mencakup kegiatan untuk mendapatkan data/informasi dari beberapa pihak terkait yang memiliki informasi mengenai kurikulum dan sekolah yang mengalami dinamika perubahan kurikulum sepanjang masa. Dalam rangka penulisan buku ini. Penulisan sebuah buku yang bersifat kesejarahan perlu menggunakan metodologi triangulasi informasi untuk meminimalisir segi kekurangan atau kesalahan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber informasi tersebut. Dengan penggunaan metode triangulasi informasi tersebut. triangulasi mencakup: (1) telaah pustaka dan dokumen. dan dokumen lainnya yang dikeluarkan oleh pemerintah dan pihak-pihak lainnya sesuai dengan masanya. baik pada zaman pra kemerdekaan maupun pada zaman pasca kemerdekaan. (2) visitasi. Kajian ini dimaksudkan untuk menggali data/informasi yang selengkap-lengkapnya berkaitan dengan sistem pendidikan dan kurikulum yang berlaku pada zaman tertentu dan pemikiran pendidikan nasional sebagai awal sejarah pembangunan sistem pendidikan nasional Indonesia. Telaah Pustaka dan Dokumen. Lebih jelasnya.

SEJARAH NASIONAL INDONESIA MASA KEJAYAAN NUSANTARA [Pra 1509] MASA KOLONIAL [1509-1945] MASA REPUBLIK INDONESIA [Pasca 1945] 8 . sosial. dan kondisi nasional Indonesia pada zaman tersebut. Hubungan Konteks Historis Dan Kurikulum. situasi. Hal itu juga didasarkan pada pertimbangan bahwa kelahiran suatu kurikulum pada masa tertentu tidak terlepas dari konstelasi negara. Rangkuman secara singkat Sejarah Nasional Indonesia disajikan dalam tabel di bawah ini. Jasin (1987) menyatakan bahwa pembaharuan kurikulum hanya dapat dipahami lebih baik apabila konteks historis dari pembaharuan itu diketahui. Kegiatan ini dilakukan lebih dari satu kali untuk menjaga konsistensi informasi yang akan dimuat dalam buku ini. Berkaitan dengan pentingnya sejarah nasional Indonesia menjadi konteks latar belakang historis kurikulum.diduga banyak menyimpan berbagai dokumen yang diperlukan terkait dengan informasi kurikulum. Menghubungkan keterkaitan konteks antara sejarah kurikulum dan sejarah nasional Indonesia merupakan sesuatu hal yang sangat signifikan. dan perlu. Penulisan sejarah kurikulum di suatu negara termasuk Indonesia tidak akan terlepas dari konteks sejarah nasionalnya. dan kebahasaan yang dilengkapi dengan diskusi fokus. Validasi dan Konsultasi. kurikulum. KONTEKS SEJARAH NASIONAL INDONESIA SEBAGAI PROLOG PENGUNGKAPAN SEJARAH KURIKULUM Pentingnya Konteks Historis. Untuk mendapatkan masukan mengenai substansi dan redaksional buku ini dilakukan validasi dan konsultasi kepada para ahli dan praktisi yang terkait dalam bidang pendidikan. masuk akal. politik. Pemberlakuan suatu kurikulum di suatu zaman tertentu sudah pasti akan selalu terkait dengan kebijakan. dan budaya pada masa tersebut.

9 . 1975-a) diungkapkan bahwa pendidikan formal setingkat SMA baru mulai diselenggarakan oleh Pemerintah Hindia-Belanda pada awal abad ke20 atau awal tahun 1900-an. khusus hanya bagi anak-anak yang berkebangsaan Eropa. Sistem persekolahan (schooling system) di Indonesia selalu berganti sesuai dengan kebijakan pendidikan yang berlaku pada zamannya dan tuntutan perkembangan masyarakat pada saat itu.. penulisan sejarah Kurikulum SMA hanya mencakup dua zaman. Cina. Pra-sejarah Kerajaan HinduBuddha Kerajaan Islam Era Portugis (15091602) Era VOC (16021800) Era Belanda (18001810) Era Inggris (18111816) Era Belanda (18171942) Era Jepang (19421945) Proklamasi (17 Agustus 1945) Masa Perang Kemerdekaan (19451949) Masa Liberal (19501959) Masa Demokrasi Terpimpin (19591966) Masa Orde Baru (1966-1998) Masa Reformasi (1998-sekarang) Sumber: Kartodirdjo. sesuai dengan yang diungkapkan oleh Kartodirdjo dkk. PERGANTIAN NOMENKLATUR SMA DARI MASA KE MASA NOMENKLATUR SMA YANG PERNAH BERLAKU Nomenklatur Persekolahan. Berdasarkan fakta historis yang dimuat dalam buku Sejarah Nasional Indonesia (Kartodirdjo. dkk. (1975-a). Dengan demikian. dkk. dan (2) Zaman Republik Indonesia sampai kini.. untuk SMA telah berganti nomeklatur sebagaimana disajikan dalam tabel di bawah ini. dan kaum bangsawan pribumi. yaitu: (1) zaman kolonial Belanda dan Jepang. Khusus.

SMA 3 YOGYAKARTA SMA 3 Yogyakarta yang oleh para alumninya disebut dengan nama “SMA PADMANABA” secara historis mengalami suatu perjalanan panjang sejak 10 . Hasil pemilihan dari sekian banyak SMA telah terpilih dua sekolah.. baik zaman kolonial maupun zaman pasca kemerdekaan. Bahwa hasil dari pemilihan tersebut terdapat ada kesamaan dalam hal tertentu. yang sudah berlangsung hampir selama satu abad lamanya. SMA yang dijadikan sebagai kasus dalam penulisan buku ini dilakukan dengan teknik random purposif (purposive random technique). yakni SMA 3 Yogyakarta yang berlokasi di Kota Yogyakarta Provinsi DI Yogyakarta dan SMA 3 Bandung yang berlokasi di Kota Bandung Provinsi jawa Barat. sebagai sekolah kasus yang telah mengalami pergantian nomenklatur dari masa ke masa.ZAMAN Kolonial Belanda Kolonial Jepang Republik Indonesia NOMENKLATUR Algemene Middlebare School (AMS) Sekolah Menengah Tinggi Sekolah Menengah Umum Atas (SMUA) Sekolah Menengah Atas (SMA) Sekolah Menengah Umum (SMU) Sekolah Menengah Atas (SMA) Di berbagai kota di Indonesia terdapat beberapa SMA yang mengalami sejarah yang panjang terkait dengan pergantian nomenklatur dari masa ke masa. dkk. namun sejarah telah membuktikan bahwa banyak lulusan SMA pada zaman kolonial telah menjadi tokoh perjuangan bangsa dan perintis kemerdekaan (Kartodirdjo. Dengan tidak bermaksud mengenyampingkan peran dari sekian banyak SMA yang tersebar di berbagai daerah lainnya dan juga sama-sama memiliki sejarah panjang. SMA Yang Pernah Mengalami Pergantian Nomenklatur. semua itu terjadi hanya secara kebetulan saja (by chance). Pergantian tersebut terjadi. 1975-b). Meskipun jumlah SMA yang mengalami hal tersebut jumlahnya tidak banyak.

Selain itu. penggunaan nama PADMANABA mengandung kisah perjuangan para pelajar sekolah ini yang gugur menyemburkan darah merah dan mewarnai persada bumi pertiwi dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Yogyakarta.Kota Yogyakarta yang menjadi lokasi dari SMA 3 Yogyakarta. TAHUN 1918 1942 1948 1956 1964 1994 2004 NOMENKLATUR Algemene Middlebare School (AMS) Afdeling B Sekolah Menengah Tinggi Bagian B SMUA Bagian B SMA III B SMA Negeri 3 Yogyakarta SMU Negeri 3 Yogyakarta SMA Negeri 3 Yogyakarta Menurut keterangan Kepala SMA 3 Yogyakarta. gedung sekolah sempat dijadikan sebagai Markas Tentara Pelajar ketika melakukan perlawanan terhadap Jepang dan pada masa perang kemerdekaan [Wawancara. Dalam buku “55 TAHUN (1942–1997) SMA 3 YOGYAKARTA” diuraikan bahwa nama PADMANABA (Bahasa Sanskerta). Oktober 2010].didirikan pertama kali oleh Pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1918. memiliki arti sebagai “teratai merah”. Pergantian nomenklatur yang dialami oleh SMA 3 Yogyakarta sebagaimana yang dimuat dalam dokumen sekolah yang bersangkutan disajikan dalam ilustrasi berikut ini. Beberapa buku referensi yang disimpan dengan baik sejak berdirinya sekolah tersebut sampai dengan sekarang ini merupakan bukti nyata lainnya bahwa sekolah ini telah berusia panjang. yang juga sekaligus merupakan logo SMA 3 Yogyakarta. Total usia SMA 3 Yogyakarta sejak didirikan pada tahun 1918 sampai dengan sekarang tahun 2010 yaitu 92 tahun dengan bangunan fisik gedung yang tampak kokoh. Ini menjadi bukti keikhlasan mereka yang mengabdikan dirinya bagi martabat bangsa. Pemerintah Yogyakarta mengabadikan nama-nama para pejuang pelajar tersebut menjadi nama-nama jalan di kawasan Kotabaru . Beberapa buku referensi yang dimaksud adalah sebagai berikut: 11 . Atas dasar itu.

(1938). Handbuch der Metallhuttenkunde. Deel III. • Dr. History of Civilization in England. Belitung – Kota Bandung telah mengalami berbagai perubahan bukan saja nomenklatur tetapi juga fungsi bangunan terutama pada zaman Jepang. • Prof. (1913). C. De Java-Oorlog 1825-1830. Pergantian nomenklatur dan fungsi yang dialami oleh SMA 3 Bandung sebagaimana yang dimuat dalam buku Dokumentasi Bangunan 12 . and Sea in New Guinea. • Capt. gedung SMA 3 Bandung yang berlokasi di Jl.C.W. (1939). Remigus Presening. • Dr. (1912). De Klerck. • Charles Kendall Adams. Veth. (1898). Staffel. F. Deel II. Historisch.S. on Land. C.• Dr. (1908). SMA 3 Yogyakarta merupakan sekolah favorit dan memiliki kharisma pendidikan yang sangat baik dan tinggi terutama bagi masyarakat Kota Yogyakarta. (1924). Java: Geographisch. P. yaitu dijadikan sebagai Markas Bala Tentara Jepang. Dr. • Prof. • Henry Thomas Buckle. Pearls and Savages: Adventures in the Air. Sampai sekarang ini. Greschiedenis van Nederlandsch Indie. (1896). Ethnologisch.J. Frank Hurley. Carl Schnabel. • E. bangunan atau gedung SMA 3 Bandung yang didirikan oleh Pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1916 telah dicatat sebagai gedung bersejarah Kota Bandung yang tidak boleh dirubah bentuknya dan/atau dijaga keasliannya. Berg. Anleitung zur Quantitativen Chemischen Analyse. Johnson’s Universal Cyclopedia. Greschiedenis van Nederlandsch Indie. Secara historis. SMA 3 BANDUNG Dalam buku “Dokumentasi Bangunan Kolonial Kota Bandung” yang dikeluarkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat tahun 2001. (1901).

Meskipun dihadapkan pada keterbatasan primary sources. yaitu: • SMA 3 Bandung • SMA 5 Bandung 1961 1966 1966 1966 – sampai sekarang Menurut keterangan Kepala SMA 3 Bandung. B. TAHUN 1916 – 1942 1942 – 1945 1945 – 1961 NOMENKLATUR Hoogere Burgerschool (HBS) & Algemene Middlebare School (AMS) Afdeling B Sekolah Menengah Tinggi Bagian B SMUA Bagian A. Oktober 2010]. Belitung dibagi menjadi dua fungsi. Sama halnya dengan SMA 3 Yogyakarta. popularitas dan kharisma pendidikan di SMA 3 yang berlokasi di Jalan Belitung Kota Bandung menjadi kebanggaan bagi masyarakat Kota Bandung sampai sekarang ini. gedung sekolah sempat dijadikan sebagai Markas Bala Tentara Jepang pada tahun pertama kedatangannya [Wawancara. Pengungkapan dinamika perubahan Kurikulum SMA yang disajikan dengan menggunakan pola historical sequence atau rangkaian 13 . HARAPAN Menjadi Perbendaharaan Informasi Kurikulum. Gardujati SMA 1 Bandung pindah ke Jl. C terdiri atas: • SMUA 1 Bagian A [pagi hari] • SMUA 2 & 3 Bagian B [pagi & siang hari] • SMUA 4 Bagian C [siang hari] SMA 4 Bandung pindah ke Jl. namun buku ini diharapkan dapat menjadi sumbangan yang tiada ternilai dengan menyediakan perbendaharaan informasi tentang Kurikulum SMA yang pernah berlaku di setiap masa sekaligus dengan dinamika perubahannya. Total usia SMA 3 Bandung sejak didirikan pada tahun 1916 sampai dengan sekarang tahun 2010 yaitu 94 tahun dengan bangunan fisik gedung yang tampak masih cukup kokoh.Kolonial Kota Bandung dan dokumen sekolah yang bersangkutan disajikan dalam ilustrasi berikut ini. Cihampelas Gedung Sekolah di Jl. Juanda SMA 2 Bandung pindah ke Jl.

karena hal itu akan menunjukkan bahwa mutu pendidikan sebagai produk dari sebuah kurikulum di masa yang lalu dan masa kini akan saling terkait dan merupakan siklus yang akan berulang dan terhubung lagi dengan mutu pendidikan Indonesia di masa yang akan datang. Menjadi Sumber Inspiratif Bagi Pihak Lain. 14 . psikologis. sosiologis.historis diharapkan dapat membantu para pembaca dari berbagai kalangan untuk memperoleh berbagai informasi dengan cara yang mudah dan sesuai dengan kebutuhannya. dengan terbitnya buku ini diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi pengungkapan masalah kurikulum dengan skala yang lebih luas lagi ditinjau dari kajian aspek filosofis. Selain itu. dan ekonomis yang ditujukan bagi kepentingan peningkatan mutu pendidikan Indonesia di masa yang akan datang. Kajian tersebut sangat penting untuk dilakukan.

Daerah Istimewa Yogyakarta [Hasil Telaah Dokumen. Kihajar Dewantara pernah dibuang ke negeri Belanda karena aktivitasnya memperjuangkan nasib pribumi yang dijajah. Uw zegen zij mijn deel! In Taman Siswa. baik sebelum maupun sesudah proklamasi kemerdekaan. 15 . Penggantian nama dari semula Soewardi Suryaningrat menjadi Ki-hajar Dewantara dilakukan sendiri pada tahun 1928 yang tertera dalam sebuah dokumen atau testamen otentik tulisan tangan dalam Bahasa Belanda (Hasil Studi Dokumentasi di Taman Siswa Yogyakarta.PEMIKIRAN KI-HAJAR DEWANTARA TENTANG PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN PROLOG Riwayat Dan Penggantian Nama. SOEWARDI SURYANINGRAT. yang ditujukan dalam rangka membangun sistem pendidikan nasional Indonesia. Sebagai salah seorang Perintis Kemerdekaan. 2010]. Ki-hajar Dewantara (2 Mei1889 – 26 April 1959) yang awalnya bernama Soewardi Suryaningrat merupakan “Bapak Pendidikan Nasional” dan Perintis Kemerdekaan Indonesia. 2010) sebagai berikut: Ik heb de eer U hierbij mede te debeen. de naam: Ki-hadjar DEWANTARA heb aangenomen. Kihajar Dewantara telah melahirkan berbagai pemikiran dasar mengenai konstruk pendidikan dan pengajaran di Indonesia. den 2 den POEASA v/h Djimachir 1858 (Çaka) bij gelegenheid van de aanvaarding van mijn 40ste levensjaar. 23/11 – 28. ik op heden. naast mijn onden naam. Selama hidupnya. Sumber: Kumpulan Dokumen Pribadi Ki-hajar Dewantara di Majelis Luhur Taman Siswa.

dan (2) pemerintahan Republik Indonesia. Beberapa orisinalitas pemikirannya mengenai pendidikan yang menjadi dasar konstruk pendidikan nasional antara lain adalah sebagaimana yang diuraikan berikut ini. 16 . yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan dunianya. Kodratnya keadaan itu tersimpan dalam adat-istiadat setiap rakyat. Segala alat. sifat-sifat mana terjadi dari bercampurnya semua usaha dan daya-upaya untuk mencapai hidup tertib-damai. agar supaya kita dapat memajukan kesempurnaan hidup. yaitu: (1) dua pemerintahan kolonial ---Belanda dan Jepang. HAL PENDIDIKAN I.Ki-hajar Dewantara nerupakan sosok yang mengalami tiga masa pemerintahan. pikiran (intellect) dan tubuh anak. tetapi juga masih bisa berlaku sampai ke masa kini dan masa yang akan datang. yang oleh karenanya bergolong-golong merupakan kesatuan dengan sifat perikehidupan sendiri-sendiri. karakter). realiteit). Pendidikan. usaha dan cara pendidikan harus sesuai dengan kodratnya keadaan (natuurlijkheid. KI-HAJAR DEWANTARA TENTANG DASAR-DASAR PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN Pandangan orisinalitas Ki-hajar Dewantara mengenai dasar-dasar pendidikan dan pengajaran adalah sebagaimana yang diuraikan berikut ini. Banyak pemikiran orisinal dan brilian Ki-hajar Dewantara yang tidak hanya berlaku dalam konteks zamannya. Umumnya berarti daya-upaya untuk memajukan bertumbuhnya budipekerti (kekuatan – batin. Karena itulah falsal-falsal dibawah ini kita utamakan: 1. dalam pengertian Taman Siswa tidak boleh dipisah-pisahkan dengan bagian– bagian itu. 2. Pemikiran Konstruktif Pendidikan Nasional.

ketertiban dan kedamaian lahir batin. Adat-istiadat. 2. dengan selalu mengingat. mythen en legenden. disebabkan oleh adanya hubungan modern. Akan mengetahui garis hidup yang tetap dari sesuatu bangsa perlulah kita mempelajari jaman yang telah lalu.3. semua itu adalah “arsip nasional”. senantiasa berubah. babad dan lainlain). 1. atau terdapat dalam kitab-kitab ceritera (dongeng. percampuran mana sekarang ini mudah sekali terjadi. Haruslah kita waspada dalam memilih mana yang baik untuk menambah kemuliaan hidup kita dan mana yang merugikan. syarat-syarat agama. 4. mengetahui tentang menjelmanya jaman itu kedalam jaman sekarang dan menyelami jaman yang berlaku ini: barulah kita dapat membayangkan jaman yang akan datang. Pengaruh baru diperoleh karena bercampulgaulnya bangsa yang satu dengan yang lain. Pendidikan budipekerti harus mempergunakan syarat-syarat yang selaras dengan jiwa kebangsaan menuju kepada kesucian. 5. agar dapat bekerja bersama-sama dengan lainlain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia diseluruh dunia. sekalipun masing-masing hidup menurut garisnya sendiri-sendiri yang tetap. II. oleh karena itu tidak tetap. Teristimewa haruslah kita memperhatikan pangkal kehidupan kita yang terus hidup dalam kesenian. Dengan mengetahui 17 . sebagai sifat peri kehidupan atau sifat percampuran usaha dan daya-upaya akan hidup tertib-damai itu tiada terluput dari pengaruh jaman dan tempat. Pendidikan nasional menurut paham Taman Siswa ialah pendidikan yang beralaskan garis-hidup dari bangsanya (cultureel – national) dan ditujukan untuk keperluan perikehidupan (maatschappelijk) yang dapat mengangkat derajat negara dan rakyatnya. bahwa semua kemajuan dalam lapangan ilmu pengetahuan serta segala perikehidupan itulah kemurahan Tuhan untuk segenap manusia diseluruh dunia. dalam mana tersimpan beberapa kekayaan batin dari bangsa kita (geestelijke warden). melainkan juga syarat-syarat jaman baru yang berfaedah dan sesuai dengan maksud dan tujuan kita. peradaban. tidak saja syarat-syarat yang sudah ada dan ternyata baik.

Sifat–sifatnya pendidikan. dimana juga tinggal guruguru lain dan murid-murid yang tidak mungkin mendapat tuntunan sendiri dari orangtuanya. agar anak-anak kelak dapat mewujudkan perikehidupannya dengan sebaik-baiknya. akan tetapi juga dapat “mengalaminya” sendiri.segala hal itu niscayalah langkah kita untuk menuju pada jaman baru akan berhasil tetap dan kekal. karena jaman baru kita jodohkan sebagai “mempelai” dengan jaman yang lalu (Jawa: ngudi–tuwuh). 5. 3. Dibawah inilah sifat-sifat yang pokok saja dan yang selayaknya menjadi pangkal tuntunan bagi kalangan kita: 1. III. sekarang menjelma menjadi “pondok pesantren”). 4. 6. Rumah sekolah haruslah rumahnya pemimpin. Maka dari itu seyogyanyalah kita mengutamakan cara “pondok system” sebagai alat untuk mempersatukan pengajaran-pengetahuan dengan pengajaran-budipekerti. Berdasarkan hal-hal tersebut diatas perlulah anak-anak Taman Siswa kita dekatkan hidupnya kepada perikehidupan rakyat agar supaya mereka tidak hanya memiliki “pengetahuan” saja tentang hidup rakyatnya. dan kemudian tidak hidup berpisahan dengan rakyatnya. Seyogyanyalah pendidikan fikiran ini dibangun setinggitingginya. sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. 18 . ada juga yang terambil dari adapt-istiadat dari bangsa kita tetapi ada pula corak baru. Sifat–sifat ini banyak yang sama dengan sifat-sifat yang datang dari negeri asing tetapi banyak pula yang berlainan berhubung dengan perikeadaban kita. sistim mana dalam tambo peradaban bangsa kita bukan barang asing (dulu bernama “asrama”. Pendidikan jasmani (lichamelijke opvoeding) yang pada jaman dulu kala juga sudah dikenal orang harus dipentingkan untuk mendatangkan keturunan yang bertubuh kuat. Pengajaran–pengetahuan yang bertujuan mendidik fikiran adalah sebagian dari pendidikan yang terutama dijalankan untuk memperoleh alat-alat penghidupan.

19 . d. 3. semua itu dengan mengingat adat-istiadat dalam kalangan rakyatnya. uitingsdrang.2. dari umur 10 – 12 tahun sampai 14 – 16 tahun mulai berbedalah perangai dan tabiat laki-laki dan perempuan. dalam waktu mana anak-anak perempuan dan lakilaki masing-masing sadar akan rasa-keperempuannya dan kelelakiannya. b. Sifat perangai yang baik pada waktu itu adalah nafsu akan membuktikan kekuatan diri (offerzin. bahwa “periode” (waktu) itu adalah “ periode” yang luar biasa. haruslah kita selalu ingat akan perbedaan itu untuk dapat mengembangkan kenginginan. Kalau anak-anak sampai “lupa” dan yang mendidik kurang awas. dan harus ingat. dari umur 14 – 16 sampai umur 18 – 20 tahun itulah waktunya birahi (puberteits periode). hingga umur 10 – 12 tahun sama sekali tiada perbedaanya antara anak laki-laki dan perempuan. mengambil inisiatif dan berdasarkan kesucian menuju kearah tertib damainya keadaan. kebiasaan dan usaha diri dari mereka itu. disitulah bahaya datang. Sebaliknya “periode” itulah juga seringkali terlihat adanya kelemahan diri (zwakheid uitputting). Maka dari itu dalam waktu birahi haruslah si pendidik memegang teguh segala peraturan mengenai perhubungan anak-anak laki-laki dan perempuan. Akan mengadakan syarat-syarat pendidikan haruslah diingat batas-batas umurnya anak. memberi kelonggaran bertenaga. Adapun yang sangat mengkhawatirkan yaitu berkembangnya kekuatan nafsu dan datangnya kelemahan budi itu dikuasai oleh nafsu-birahi (sexuale hartstocht). dadendrang dll). yaitu: a. Kita harus berhati-hati berhubung dengan perbedaan tabiat antara yang satu dengan yang lain. Dari umur 18 – 20 tahun keatas datanglah waktu kesabaran dalam tabiat anak-anak muda dan kita harus mengubah sikap kita terhadap mereka: memberi kepercayaan yang luas. Dalam pondok-pondok itu haruslah anak-anak belajar menolong diri sendiri dan hidup bersahaja: juga hendaknya dibiasakan mereka itu tolong menolong. c.

Taman Dewasa (MULO). Taman-Antara (Schakelschool). mambiasakannya mencari pengetahuannya untuk keperluan umum. yang sedikit-dikitnya sama tingginya dengan rencana-pelajaran sekolah negeri tentang pelajaran umum. selalu bertambahnya ilmu yang berfaedah. tambo nasional. Pengajaran harus berdasarkan kodratnya keadaan (lihatlah diatas falsat 3). dengan mementingkan falsat-falsat dibawah ini: a.Taman Anak misalnya seharusnya mementingkan bahasa ibunya (moedertaal).. bahasa. c. tetapi jangan menarik murid kedunia kebelandaan. ditambah pula dengan pelajaran “special” berhubung dengan kehidupan nasional: pengetahuan tentang perikehidupan bangsanya (burgerkunde). Berhubung dengan a. sematamata dapat turut menambah kemuliaan negara dan bangsanya. Tentang pengajaran pengetahuan haruslah ditujukan kearah kecerdikan murid. b. Pengetahuan tidak ada batasnya dan daripada batas tujuannya. hendaknya dipakai cara-cara yang selaras. e. tetapi seboleh-bolehnya bersifat praktis. d. seni dsb. Inggris dll) harus juga dianggap perlu untuk menjadi alat mencari pengetahuan atau memudahkan perhubungan internasional. sedangkan yang mengajar sedapat-dapatnya guru perempuan: pada kelas yang lebih tinggi dipakai bahasa Indonesia. Pelajaran bahasa asing (Belanda. Pengajaran. dan b. sesuai dengan cita-cita paedagogik nasional. 4.menuntun kearah tertib-damai. Umpamanya di Taman Anak (Kindertuin). yakni agar supaya murid kelak dapat hidup dengan tertib – damai. oleh karena itu perlulah kita mengusahakan kitab-kitab bacaan dalam bahasa-bahasa asing yang tidak merusakkan perangai 20 . seharusnyalah cita-cita itu dijelmakan dalam rencana-pelajaran Taman Siswa. Mulai umur 24 – 26 tahun bolehlah anak–anak muda kami lepaskan dari pengawasan kita. Taman Muda (Lagere School). akan tetapi masih terus mempergunakan pengaruh pendidikan terhadap mereka.

ketelitian. jogged. Leerplan. maka jumlah hari liburan dalam setahunnya kurang lebih 110 hari. keteguhan hati. Hari libur itu diberikan: a. b. 5. 1. Hari Libur. teristimewa mengenai gerak badan bagi perempuan. 3. V. Pendidikan jasmani. untuk memberi istirahat kepada anak-anak. pencak dimasukkan dalam rencana-pelajaran dan kalau perlu dalam bentuk baru. Gerak badan yang pantas berarti jangan sampai merusakkan rasa kesucian atau menyalahi kodrat. Peraturan liburan dalam Taman – Siswa: kesehatan. memperoleh ketangkasan. berhubung dengan pekerjaannya yang berat karena mempergunakan otaknya. yaitu mempersatukan gerak badan dengan wirama dan kesenian. ketajaman. agar terpelihara kesehatannya. untuk memperingati hari-hari yang pantas dikenangkan berhubung dengan pendidikan. Dibawah ini Majelis – Luhur mempermaklumkan rencanapelajaran yang dibuat oleh Ki Sukemi dari Taman Siswa Bandung mengenai falsat-falsat yang umum bagian Taman–Anak dan Muda serta Taman–Antara. awas penglihatan. jadi paduan musik dan drama. Gerak badan modern di Eropa juga mulai mencari jalan baru. 2.kenasionalan dan hendaknya ditahan nafsu anak-anak membaca roman Barat yang umumnya merusakkan kesucian serta menjauhkan mereka daripada jiwa kebangsaanya. 21 . Pendidikan jasmani yang perlu juga diadakan bertujuan mempergunakan segala gerak badan yang pantas untuk mendatangkan ketertiban dsb. sedangkan hari pelajaran kurang lebih 255 hari. IV. dan diserahkan atas nama cabang Bandung kepada kongres. yang bagi kita sesungguhnya bukan sesuatu hal yang baru. Berhubung dengan keterangan tentang maksud pendidikan tubuh secara nasional itu seyogyanyalah tari. Guna tertibnya pengajaran. menghaluskan tingkah-laku.

menghidupkan Asyura. Hari raya Kristen kalau akan dipakai boleh juga. Pertama yang berhubungan dengan hidup kebatinan seperti Rebo Wage atau Selasa Kliwon. yang oleh sebagian rakayat di Jawa dianggap sebagai hari suci: Rebo wekasan buat penduduk Yogyakarta idem. teristimewa harus diingat. liburan penutup tahun mula–mula 7 hari. mikrad Nabi Muhammad. Hari raya nasional Belanda tidak kita pakai. [“Wasita” Jilid II No. Kalau terpaksa oleh keadaan penting. Tiap cabang Taman siswa boleh mengadakan hari liburan lain yang berdasarkan rasa kebatinan (religie) dari golongan rakyat atau berhubung dengan keperluan luar biasa. 6. 4. hari peringatan ada dua macam. kedua-duanya dianggap sebagai liburan umum. 7. 1 – 2 – Juli – Agustus 1930] DASAR – DASAR PENDIDIKAN 1. liburan kecil jatuh di tengah-tengah. misalnya liburan besar jatuh dalam bulan Puasa. tetapi sesudah tidak memakai hari raya Nasrani. seperti peringatan Indonesia pada hari 1 syura dan hari wafatnya Pangeran Diponegoro (8 Januari) yang dianggap hari berdukacita. boleh cabang Taman Siswa mengubah peraturan liburan di atas. lalu ditambah sehingga menjadi 10 hari. b. hari mengaso disesuaikan dengan keadaan yang umum dalam pergaulan nasional. Arti dan Maksud pendidikan 22 . tahun baru 1 januari. karena menghormati orang yang masih hidup atau menghormati hari-politik dengan menutup sekolah itu buat kita tidaklah selayaknya.a. Grebeg Besar. 5. asal mengingati falsat 2 di atas. Kedua: hari peringatan nasional tahun untuk baru rasa-kebangsaan. ialah dalam bulan Maulud. hari Ahad. bahwa anggota-anggota dan murid-murid kita yang beragama Kristen harus diberi kelonggaran sepenuhnya untuk menghormati hari sucinya.

akan tetapi nyatalah. tujuan. Tidak hanya maksud atau tujuannya berbeda-beda. ada pula dasar-dasar atau garis-garis yang sama.karena dalam arti khususnya banyak dan berjenis-jenislah maksud pendidikan itu. 2. Ini berarti. bahwa pendidikan itu hanya suatu “tuntunan” didalam hidup tumbuhnya anak-anak kita. syarat-syarat dan alat-alat di dalam soal pendidikan itu. Sekarangakan saya terangkan apakah arti dan maksud pendidikan (opvoeding) pada umumnya. Ketahuilah. cara. Adapun maksudnya pendidikan yaitu: menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu. Jelasnya. bahwa sebenarnya yang dinamakan “pengajaran” (onderwijs) itu tak lain dan tak bukan ialah salah satu bagian dari pendidikan. bahwa hidup tumbuhnya anak-anak itu terletak diluar kecakapan atau kehendak kita kaum pendidik. Boleh dibilang tiap-tiap aliran.Perkataan “pendidikan” dan “pengajaran” itu seringkali dipakai bersama-sama. berdasarkan apa yang dapat kita saksikan dalam semua macam pendidikan itu. pun caranya mendidik juga tidak sama. yang keduanya dapat berfaedah buat hidup anak-anak. bahwa pendidikan yang berhubungan dengan aliran-aliran hidup yang berjenis-jenis itu. Pertama kali haruslah kita ingat. Tentang keadaan yang penting ini kemudian akan saya terangkan lebih luas. Walaupun bermacam-macam maksud. serta juga memberi kecakapan kepada anak-anak. pembaca yang terhormat. maka teranglah bahwa yang dinamakan pendidikan yaitu tuntunan didalam hidup tumbuhnya anak-anak. 23 . bentuk. pengajaran itu tidak lain ialah pendidikan dengan cara memberi ilmu atau pengetahuan. baik aliran agama maupun aliran kemasyarakatan itu mempunyai maksud sendiri-sendiri. baik lahir maupun batin. agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Sebenarnya gabungan kedua perkataan itu dapat mengeruhkan pengertiannya yang asli. Dengan sengaja saya memakai keterangan “pada umumnya”. Hanya tuntunan dalam hidup. Menurut pengertian umum.

hanya dapat menuntun tumbuhnya padi. Seperti yang termaktub didalam keterangan dimuka. Jikalau anak tidak baik dasarnya. berhubungan dengan kodrat dan keadaannya masingmasing anak. begitu sebagainya. memberi rabuk dan air. 3. agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya itu. tentulah kita mengerti sendiri. Tidak saja dengan tuntunan itu ia akan 24 . mengganti kodrat-iradatnya padi. agar bertambah baiklah budi pekertinya. Seorang tani (yang dalam hakekatnya sama kewajibannya dengan dengan seorang pendidik) yang menanam padi misalnya. maka apa yang dikatakan “kekuatan kodrati yang ada pada anak-anak itu” tiada lain ialah segala kekuatan didalam hidup batin dan hidup lahir dari anak – anak itu. Kita kaum pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan-kekuatan itu. walaupun hanya dapat “menuntun”. tetapi perlu juga. akan tetapi besarlah faedahnya bagi hidup tumbuhnya anak-anak. Ia dapat memperbaiki tanahnya. ia tak akan dapat. yang ada karena kekuasaan kodrat. Demikianlah pendidikan itu. memelihara tanamannya. sebagai benda hidup. Perlukah tuntunan pendidikan itu? Meskipun pendidikan itu hanya “tuntunan” saja di dalam tumbuhnya anakanak. Anak yang baik dasar jiwanya dan tidak mendapat tuntunan pendidikan. barang tentulah akan mudah menjadi orang jahat Walaupun anak sudah baik dasarnya. jikalau kita ambil contoh atau perbandingan dengan hidupnya tumbuh-tumbuhan. tetapi meskipun ia dapat memperbaiki pertumbuhan tanaman itu. Misalnya ia tak akan dapat menjadikan padi yang ditanamnya itu tumbuh sebagai jagung atau harus berbuah didalam 3 bulan: pun tak dapat ia memeliharanya sebagai caranya memelihara tanaman kedele dan sebagainya. memusnakan ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggur hidup tanamannya. Mustahil! Pak tani harus takluk pada kodratnya padi itu mustahillah. sebagai manusia. bahwa ia harus mendapat tuntunan. teranglah hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. pun tuntunan masih amat perlu. Akan lebih teranglah uraian kita itu. begitu.Anak-anak itu sebagai makhluk.

Demikian pula orang yang bertabiat pemalu. biasanya semasa ia tidak sempat “berfikir”.itulah semuanya yang dapat menutup rasa “tertutup” saja oleh fikirannya. sebenarnya harus berbudi dermawan. Misalnya orang yang karena pendidikannnya. Janganlah sekarang agaknya pendidik lalu “berputus asa”. akan selalu kelihatanlah wataknya “kikir” itu sungguhpun ia tetap insyaf akan kewajibanya sebagai dermawan terhadap fakir miskin (ini pengaruhnya pendidikannya yang baik). dsb…. yaitu jika fikirannya sedang tak bergerak. akan tetapi ingatlah. Memang benar kecerdasan intelligible (hidup anganangan) itu hanya dapat menutupi tabiat-tabiat perasaan yang tidak baik itu. belas kasihan. Perlunya menguasai diri dalam pendidikan budi pekerti. 4. setidak-tidaknya kedermawanan orang itu akan berbeda dengan orang yang memang berdasar watak dermawan. Kalau fikirannya tidak jalan sebentar saja ia seketika itu akan takut lagi menurut dasar biologisnya sendiri. hanya saja rasa takutnya (yang asli) itu tidak Nampak. Contoh-contoh tentang adanya watak-watak yang “biologis” dan tak dapat lenyap dari jiwa manusia itu ada banyak dan dapat kita lihat juga dalam hidupnya tiap manusia. oleh karena ia sudah mendapat kecerdasan fikiran. murka. maka anak tersebut ada kalanyadiserang rasa takut dengan sekonyongkonyong. keadaannya dan pengaruh lain-lainnya. tentulah tabiatnya “kikir” itu akan selalu kelihatan. kemudian dapat memperkuat kemauannya untuk tidak takut ……. kalau ia memang mempunyai dasar watak kikir. bahwa dengan menguasai-diri (zelfbeheersching). karena menganggap bahwa tabiat-tabiat yang “biologis” itu (hidup perasaan) tidak dapat dilenyapkan sama sekali. Selama ia sempat memikir-mikirkan segala keadaaannya. hingga pandai menimbang-nimbang dan memikir-mikir. bengis. pemarah.mendapat kecerdasan yang lebihitu lalu menjadi orang yang berwatak pemberani. akan tetapi jika fikirannya tidak sempat bergerak (dalam keadaan yang sekonyong-konyong datangnya). tentulah tabiat-tabiatnya yang asli itu akan muncul dengan sendiri. dapat juga ia menahan nafsunya yang asli. asalkan 25 .

Yang dinamakan “budi pekerti” atau “watak yaitu bulatnya jiwa manusia. perasaan dan kehendak atau kemauan. Sampailah kita sekarang pada soal “budi pekerti”. dan “pekerti” itu artinya “tenaga”. maupun dalam arti “neutraliseeren” 26 . Maka dari itulah “menguasai diri” atau “zelfbeheersching” itu disebut tujuannya pendidikan dan maksudnya keadaban. yang dimuka sudah kita sebut beberapa kali. timbangan dan dasar-dasar yang pasti dan tetap. Jadi kalau kecerdasan budi itu sungguh baik. baik dalam arti melenyapkan dasar-dasar yang jahat dan memang dapat dilenyapkan. watak atau karakter. Budipekerti. sehingga dapat dibedakan orang yang satu daripada yang lain. yang lalu menimbulkan tenaga. yaitu karena yaitu karena watak dan budi pekerti itu memang bersifat tetap dan pasti buat satu-satunya manusia.tetap dan kuat adanya. yang dapat memerintah atau yang beradab dan itulah maksud dan tujuan pendidikan dalam garis besarnya. itulah berarti orang akan senantiasa dapat mengalahkan nafsu dan tabiat-tabiatnya yang asli. Itulah sebabnya tiap-tiap orang itu dapat kita kenal wataknya dengan pasti. Ketahuilah bahwa “budi” itu berarti “fikiran-perasaan-kemauan”. Jadi “budi pekerti” itu tiap-tiap manusia berdiri sebagai manusia merdeka (berpribadi). “Beschaving is Zelfbeheersching” (adab itu tak bukan dan tak lain berarti dapat menguasai diri)’ demikian menurut pengajaran adab atau ethika. Orang yang telah mempunyai kecerdasan budipekerti itu senantiasa memikirmikirkan dan merasa-rasakan serta selalu memakai ukuran. yaitu dapat mewujudkan kepribadian (persoonlijkheid) dan “karakter” (jiwa yang berazas hukum kebatinan). yang biologis tadi. senantiasa ia akan melenyapkan atau mengalahkan tabiat-tabiat biologis yang tidak baik itu. itulah bersatunya gerak fikiran. yang dalam bahasa asing disebut “karakter” dan diatas sudah kita terangkan sebagi jiwa yang sudah “berazas hukum kebatinan”. Jadi teranglah disini bahwa pendidikan itu berkuasa untuk mengalahkan dasardasar dari jiwa manusia.

Jenis-jenisnya budi pekerti. kegunaan atau faedah (nutsmensch atau economisch mensch). Dr. Heymans guru besar di Universitas Groningen. Setelah kita mengetahui. Kretschner). pengetahuan atau kenyataan (wetenchaps atau waarheids mensch) dan 6. karena sudah bersatu dengan jiwa. Meskipun begitu. Yang kenamaan dalam hal ini ialah Prof. keindahan (kunst mensch). orang dapat juga membagi-bagi budi-pekerti manusia menjadi beberapa macam atau jenis atau “typen”. 4. Lain dari pada pembagian itu. masih ada pula theori-theori tentang jenisjenisnya budi-pekerti. 2. haruslah kita mengetahui pula.(menutupi. Sprangeryang membagi-bagi budipekerti orang menjadi 6 jenis. misalnya yang menghubung-hubungkan sifat-jamaninya seseorang dengan wataknya (Prof. Agama (religieus mench). menolong mendermakan atau mengabdi (sociale mensch). bersandar atas hasrat orang akan: 1. Jadi samalah keadaannya denga roman muka manusia. 3. bahwa budi-pekerti seseorang itu dapat mewujudkan sifat kebatinan seseorang dengan pasti dan tetap. tiadalah dua yang sama. lalu tiga sifat itu digabungkan menjadi satu (synthetis). 5. dengan maksud agar orang dapat mempunyai ikhtisar tentang garis’garis atau sifat-sifat watak orang yang umum. 5. kemudian lalu mewujudkan suatu macam atau type budi-pekerti yang pasti. yang sudah mengadakan penyelidikan disertai pecobaan-percobaan tentang soal itu dan kemudian menetapkan adanya 8 typen budi-pekerti orang. Ada pula yang mengukur budi-pekerti orang dengan melihat 27 . mengurangi) tabiat-tabiat jahat yang “biologis” atau yang tak dapat lenyap sama sekali. bahwa tidak adalah dua budi-pekerti orang yang sama. Ada pula yang membagi-bagi budi-pekerti menjadi beberapa typen atau jenis dengan bersandar atas hasrat seseorang. kekuasaan (machts mensch). Yang amat tersohor adalah pembagian dari almarhum Prof. jadi ini (ethis = menurut rasa adab). Pembagian budi-pekerti menjadi beberapa typen itu ada yang disandarkan pada sifatnya angan-angan. jadi seperti ilmu firasat dari Imam Syafii. sifatnya perasaan dan sifatnya kemauan (analytis).

) Juga janganlah dilupakan. Berlakunya pendidikan dari tiap-tiap manusia untuk mendidik anak-anaknya. Naluri atau instinct ini disebabkan pula oleh adanya naluri yang pokok (oerintinct). baiklah sekarang kita menerangkan bagian-bagian yang khusus. bahwa seperti yang sudah diuraikan dimuka. SYARAT-SYARAT DAN ALAT-ALAT PENDIDIKAN 1. 28 . behoud van de sort). atau sebaliknya. yang bermaksud akan kekalnya keturunan (ngudhi-tuwuh. sebagai sebagian saja dari alam yang besar ini (Adler. pendidikan dan segala pengalaman serta keadaan itu semuanya berpengaruh besar pada tumbuhnya budipekerti. jadi sama pula dengan turun temurunnya sifat-sifat jasmani dari tiap-tiap orang (sifat roman mukanya. Setelah ikhtisar tentang arti. yaitu orang yang selalu memandang kedalam batinnya sendiri. atau yang memandang kearah luar demikianlah seterusnya. Ada pula yang mengadakan pembagian “introversen dan extroversen” (Jung). rambutnya. maksud dan tujuan pendidikan termuat di dalam uraian kita dimuka. Yang “teratur”. Kunkel). kata saya. sleur) dan seringkali amat dipengaruhi oleh perasaan yang berganti-ganti dari si pendidik. maka keinsyafan itu hanya berdasar atas “perkiraan” atau “rabaan” belaka. sebab pendidikan itu sebenarnya berlaku didalam tiap-tiap keluarga dengan cara yang tidak teratur. agar selamat dan bahagia. pendektingginya badan dll. Naluri Pendidikan.caranya seorang memandang dirinya sendiri sebagai pusatnya pemandangan. Dalam soal watak atau budipekerti manusia janganlah kiranya dilupakan. bahwa tiap-tiap manusia itu mendapat pengarah dari yang menurunkan (erfelijkheidsleer). warna kulitnya. Kalau kadang-kadang ada keinsyafan. Pendidikan yang dilakukan tiap-tiap orang terhadap anak-anaknya itulah umumnya hanya bersandar atas cara-kebiasaan (traditie. jadi tidak dengan “keinsyafan” dan tidak tetap. buat permulaan tentang syarat-syarat dan alat-alat didalam pendidikan yang teratur.

ilmu keindahan atau ketertiban-lahir (aesthetika). ilmu hidup batin manusia (ilmu jiwa. Ia wajib mengetahui kayu-kayu yang keras dan yang tidak keras. yang dinamakan ilmu syarat-syarat pendidikan atau “hulpwetenschappen”. Seorang pengukir kayu barang tentu wajib mempunyai pengetahuan yang dalam dan luas tentang hakekatnya atau keadaannya kayu. Bagi seorang pendidik sama halnya harus mengerti tntang keindahan-keindahan batin dan lahir (ethika dan aesthetika). 3 dan 4). perlulah kiranya kita mengadakan sedikit perbandingan antara keadaan seorang “juru didik” dengan seorang pengukir kayu.yakni tidak berdasarkan pengetahuan. Ilmu ini tidak berdi sendiri. d. maka ilmu-kemanusiaan itu ada dua macamnya. psychologie). Seorang pengukir kayu yang hendak mewujudkan pekerjaan (ukiran-ukiran) yang baik. yang dinamakan “ilmu pendidikan”. sedang manusia mempunyai hidup lahir dan batin. jadi harus tahu akan ilmu kayu (lihat no. akan tetapi masih memakai ilmu-ilmu lainnya. ilmu hidup-jasmani manusia (fysiologie). c. ialah “psychologie” dan “fysiologie”. begitu seterusnya. karena manusia itu bersifat batin dan lahir (lihat no. ilmu tambo pendidikan (ikhtisar cara-cara pendidikan). Pendidikan yang teratur yaitu pendidikan yang bersandar atas pengetahuan. yang terbagi menjadi 5 jenis. haruslah mengerti tentang keindahan-keindahan ukiran. e. 29 . yaitu: a. 1 dan 2 diatas). 2. Untuk mengerti perlunya mempunyai pengetahuan yang lima macam itu. Karena pendidik itu “mengukir” manusia. Syarat-syarat pengetahuan. b. Atau kalau ada dasar pengetahuan yang Cuma berasal dari “pengalaman”: ini berarti kurang luas (eenzijdig). 1 dan 2. yang boleh dipergunakan untuk ukiran-ukiran yang halus atau yang kasar. seperti tersebut diatas no. ilmu keadaan atau kesopanan (ethika atau moral).

Akhirnya seorang pengukir kayu dapat mewujudkan ukiran-ukiran yang bagus. d. f. Alat-alat itu tidak perlu dilakukan semuanya. paksaan dan hukuman). perintah. pengajaran (leering. ngrasa. memberi contoh (voorbeeld). laku (zelfbeheersching. paksaan dan hukuman (regeering en tucht). Seringkali seorang pendidik mementingkan sesuatu bagian dan pada umumnya memilihnya cara-cara itu dihubungkan dengan macam-macam keadaan teristimewa dihubungkan dengan umurnya anak-anak didik. 4. wulang wuruk). beleving). tidak usahlah kita memberi keterangan sendiri yang luas. Ketahuilah bahwa cara-cara itu amat banyaknya. lebar dan terang. akan tetapi dalam pokoknya bolehlah semua cara itu kita bagi seperti berikut: a. Yang kita maksudkan dengan perkataan “peralatan” itu sebenarnya alat-alat yang pokok. karena tiap pembaca lalu dapat membuat keterangan sendiri yang panjang. zelfdiscipline). dinegerinya sendiri atau dinegeri asing. Hubungan dengan Umur. Misalnya pendidik-pendidik dari fitnah “vrije opvoeding” (pendidikan bebas) tidak suka memakai alat yang nomor 4. c. Dengan mengadakan perbandingan itu. pembiasaan (pakulinan. 3. bahkan ada kaum pendidik yang tidak mufakat adanya salah satubagian dari pada yang termaktub itu. Itulah ilmu “tambo-pendidikan” buat kaum pendidik. pengalaman lahir dan batin (nglakoni. yang telah diadakan pengukir-pengukir lainnya. cara-caranya mendidik. 30 . b. (perintah. kalau ia mempunyai pengetahuan tentang macam-macam ukiran. Peralatan Pendidikan. gewoontevorming). pada jaman sekarang dan jaman dahulu. e.

2.Untuk keperluan pendidikan. Des.A dan Reorganisasi S. Dengan begitu maka mereka yang mempunyai bakat yang khusus itu dapat memilih aliran-alirannya sendiri. masing-masing dari 7 atau 8 tahun (1 windu): a. Hingga kini differensiasi itu telah dilakukan untuk aliran A (Kesusasteraan). Jan. waktu ke-2 (7 – 14 tahun).U. Berhubung dengan alat-alat atau cara-cara pendidikan. 1. cara nomor 5 dan 6.A. B (Ilmu Alam dan Pasti) dan C (untuk pekerjaan administrasi dll). Ketiga-tiganya itu berlaku pada umumnya dan sebagi dasar. yang dihubungkan dengan umur kanak-kanak. menyesuaikan dasar kejiwaan murid dengan aliran pengajaran masingmasing.U. sesuai dengan umur itu: (a) masa kanak-kanak: cara no. 1937] KI-HAJAR DEWANTARA TENTANG DIFFERENSIASI SEKOLAH MENENGAH UMUM ATAS (SMUA) Pandangan orisinalitas Ki-hajar Dewantara mengenai SMA adalah sebagaimana yang disampaikan pada acara pertemuan tentang “Differensiasi Pengajaran di S. (b) masa ke 2: cara nomor 3 dan 4. [“Keluarga” Th. Dengan demikian maka dapatlah dikurangi jumlah mereka yang keputusan jalan-hidupnya (mislukkelingen) karena salahnya atau kurang tepatnya pemilihan aliran-pengajaran. 3. Pebr. dan (c) masa ke 3. 4. 1. b.M. Nop. Sekian dahulu. maka dibawah inilah kita sajikan pemakaian caracara. 2.U.M. mengandung maksud. maka umur anak-anak didik itu dibagi menjadi 3 masa.. I No. 1936. Diferensiasi pengajaran pada tingkatan S.A I dan II di Yogyakarta” pada tahun 1947 berikut ini. waktu pertama (1 – 7 tahun) dinamakan masa kanak-kanak (kinderperiode). agar memudahkan kemajuan serta berkembangnya akal-budinya menurut kodratnya masing-masing.M. masa ke-3 (14 – 21 tahun) dinamakan masa terbentuknya budi pekerti atau sociale periode. Dalam pada itu memang betul ijazah dari pada 31 . yakni masa pertumbuhan jiwa fikiran (intellectueele periode) dan c. 1 dan 2.

Pemilihan aliran pengajaran itu bagi 32 . karena semata-mata didalam hal itu hanya dihubungkan dengan jenisnya ilmu-ilmu yang harus dipelajari. memilih aliran Kesusasteraan. agar kelak dapat meneruskan pelajarannya di semua perguruan tinggi. dengan tidak sesuai dengan bakatnya sendiri yang sebenarnya. semata-mata karena tertarik oleh ilmu Kesusasteraan. terbukti mereka itu kelak dapat lulus dalam ujian-penghabisan. Teknik. Yang pertama kali.M. sedangkan mereka yang berijazah A hanya dapat diterima untuk perguruan tinggi Kesusasteraan. bahwa aliran “kesusasteraan” itu lebih gampang. jadi tak dapat diterima. Akan tetapi tradisi kini membuktikan adanya perbedaan penghargaan tersebut dan ini menurut pandangan saya disebabkan karena kurang baik organisasinya differensiasi itu. Pertama sendiri. karena dengan ijazah B dapatlah abiturienten S. memasuki perguruan tinggi. Kebanyakan mereka itu memilih aliran Alam-Pasti. sudah terlanjur hanya berijzah A (Kesusasteraan). lebih rendah dari pada aliran “PastiAlam”.M. bahwa mereka yang memilih aliran A itu. dan sebagainya. 4. harus diingati. 5. bahwa pemilihan aliran pengajaran (studiekeuze) itu seringkali dilakukan oleh para abiturienten S. Yang tidak memerlukan pengetahuan Ilmu Alam dan Pasti. Kehakiman dll. misalnya Fakulteit Ketabiban. namun ada juga yang memilih aliran A itu. 3. tidak hanya mereka yang tidak mempunyai bakat untuk ilmu Pasti-Alam. Kadang-kadang bila anak-anak di bagian B itu putus jalannya (mislukt) dan pindah ke bagian A.A.U. jadi mereka yang juga mempunyai bakat Ilmu Pasti. Semua keadaan ini memberi suggestie (saran). Kedua kalinya harus diingati. seringkali malah orangtuanya murid turut-turut memilih dengan memberatkan keinginannya sendiri (subyektif). Seandainya mereka itu (yang salah atau kurang tepat pilihannya tadi) hendak berganti aliran (misalnya lalu tertarik oleh pengajaran di perguruan tinggi Tabib atau Ingenieur).bagian B itu dianggap lebih tinggi daripada ijazah A (dan C). Penghargaan lebih rendah atau lebih tinggi itu sebenarnya tidak terkadung dalam maksud differensiasi.

pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi memang sukar sekali dapat berlaku dengan obyektif. Dengan begitu akan kurang lagilah jumlah “mislukkelingen”. maka alangkah baiknya jika differensiasi itu dilakukan sebagai berikut: a. tetapi tidak “bodoh”. masih diadakan saringan pula. Pada penghabisan pengajaran di kelas 2 (akan naik ke kelas 3). Ijazah A. karena banyak “twijfelachtige gevallen” (keadaankeadaan yang membimbangkan) dan banyak pula anak-anak sendiri yang tambah keinsyafannyaterhadap kesanggupan dan kemampuan diri sendiri. tidak untuk meneruskan pelajaran ke perguruan tinggi”. menurut isinya: rapport”. siapa yang naik ke kelas 2 bagian A. Untuk meneruskan pelajarannya ke arah perguruan-tinggi (universiteit). b. dengan mengadakan ijazah 4 macam: 1. (Ingatilah: orang yang tidak berijazah itu mengandung perasaan-rendah atau “inferioteis complexen” dan karena banyak yang tenggelam didalam gelombang-gelombang masyarakat). yaitu dengan disebutkan: “Tamat belajar. siapa yang naik ke bagian B. sebab-sebabnya banyak! 6.. baru pada penghabisan tahun-pengajaran (akan naik ke kelas 2).A. siapa yang boleh memilih naik ke bagian A dan B dengan timbangan umum. Pada tingkatan kelas-1 belum diadakan perpisahan aliran. “mislukkelingen” akan kurang. Ijazah B. Yang amat kurang angka-angkanya ialah mereka yang tidak lulus. tidak tamat. sebab saringan yang pertama (akhir kelas 1) boleh jadi belum tepat. dewan guru menetapkan: siapa yang tidak naik kelas. 3. 2. ke-4 ijazah D. bagian A (Kesusasteraan) tidak memberi hak untuk 33 . dinaikan ke bagian C (administrasi. Sesudah tamat kelas 3.U. Berhubung dengan apa yang tersebut diatas semua itu. maka ijazah S. 7. seringkali “keinginan”-nya bertentangan dengan bakatnya. c. maka hendaknyalah diadakan saringan pula tentang pemberian ijazah. Adapun mereka yang tidak mempunyai bakat untuk A dan B. Ijazah C (administrasi). kepandaian tangan dan sebagainya).M. Dengan begitu maka penghargaan sama antara aliran A dan B prinsipiel dibuktikan pula dan ……………….

M. Bahasa-bahasa sendiri (bahsa Indonesia dan Daerah). bagian Kesusasteraan.O. 10. mereka yang berijazah B (Alam dan Pasti). dan khususnya ialah bahan-bahan dan alas an-alasan untuk menasihatkan kepada jawatan Pengajaran “Wiyata-Praja”. Ingenieur.U.U. maka pelu sekali S. pada umumnya. Segala apa yang termaktub dalam stellingen di atas itu ialah pemandangan saya tentang soal differensiasi S.M. dan lain-lain sebagainya). guru-menengah – Akte M. dan ingin memasuki faculteit-faculteit yang membutuhkan ilmu bahasa-bahasa. 8. dan dalam differensiasinya dibagi menjadi bagian Kesusasteraan dan bagian Pasti dan Alam paling sedikitnya. bagian kesusasteraan. Ilmu Pasti atau Alam.M. 9. serta untuk memberi alasan menempuh “aanvullend examen” bagi para pemegang ijazah B yang hendak beralih kealiran kesusasteraan pada perguruan-tinggi khusus. Untuk dapat memperbaiki atau menyempurnakan pelajaran dalam S. ke-1 dan ke-II dalam organisasinya dipersatukan.memasuki faculteit yang membutuhkan pengetahuan banyak dalam ilmu Pasti dan ilmu Alam (Faculteit Tabib. Sebaliknya. jika sungguh-sungguh ingin dan merasa sanggup menuntut pengajaran-pengajaran tsb.(karena misalnya timbul keinsyafan pula tentang diri sendiri ----sudah lebih masak untuk melakukan beroepskeuze). janganlah diberi hak begitu saja untuk memberi kesempatan untuk menempuh ujian-tambahan dalam ilmu-ilmu dan kepandaian yang diperlukan untuk faculteit-faculteit tersebut.A. diberi kesempatan untuk menempuh “ujian tambahan” (aanvullend examen) dalam ilmu Pasti dan Alam dan lin-lain ilmu sungguh diperlukan.A.M. hendaknya S. Arab atau Tionghwa (facultative) hendaknya dipelajarkan di S. bagian Kesusasteraan diberi pengajaran bahasa-bahasa lebih banyak dari pada di bagian Pasti-Alam. jika mungkin 34 .A. disamping bahasa modern (Ingggeris dan Jerman atau Perancis – facultative memilih).A.A. lagi pula untuk memberi penghargaan sama dengan bagian Pasti dan Alam. Akan tetapi mereka itu.U. Jawa-Kuno atau Sansekerta.U.U.M.

dan c. Ing madya mangun karso. Pendidikan dan Kebudayaan. Apabila aliran pemikiran tersebut dipadukan dengan aliran pemikiran modern sekarang ini akan menjadikan pendidikan di Indonesia sekarang ini semakin bermutu. dalam suratnya tanggal 14-V-1947. Meskipun banyak pemikiran pendidikan Ki-hajar Dewantara yang dapat dipakai sebagai dasar konstruksi pendidikan pada masa kini. 35 . ayat a. Tut wuri handayani. yaitu negara yang menjajah bangsanya. Kementerian Pendidikan Nasional telah mencantumkan salah satu prinsipnya dalam logo kementerian. Dengan mengingati fatsal 6. Simbolisasi Pemikiran Ki-hajar Dewantara dalam Pendidikan Nasional. Ki-hajar Dewantara harus menerima akibat dari kritikan tajamnya untuk dibuang ke negara Belanda. INTERNALISASI PEMIKIRAN KI-HAJAR DEWANTARA Pentingnya Memahami Pemikiran Ki-hajar Dewantara. no. Sebagai upaya untuk menghargai dan menginternalisasi pemikiran Ki-hajar Dewantara tersebut. Hal itu tampak dari kehendaknya untuk membangun dan membebaskan bangsanya sebagai bangsa yang terjajah dan teraniaya yang disalurkan melalui berbagai tulisan atau artikel yang dimuat dalam berbagai terbitan majalah dan surat kabar pada zaman kiolonial. Salah satu dari pemikiran utama Ki-hajar Dewantara yang dirangkum menjadi filosofi atau prinsip pendidikan nasional Indonesia yaitu: Ing ngarso sung tulodo. mempelajari aliran pemikirannya. Sekianlah pemandangan dan nasehat saya. b. yang diminta oleh jawatan Pengajaran. 3460/Sp/1008/SM di Yogyakarta. Apabila ditelaah. namun baru sedikit sekali dari jumlah bangsa Indonesia terutama yang bergerak dalam bidang pendidikan. seluruh pemikiran Ki-hajar Dewantara mengikuti aliran konstruktivisme. yakni “Tut Wuri Handayani” sebagaimana tampak dalam gambar logo berikut ini. 19-V-1947.ditambah dengan bagian C (Administrasi dsb).

Makna dari ing ngarso sung tulodo yaitu berada di depan untuk menjadi suritauladan. 36 . ing madya mangun karso yaitu berada di tengah untuk membangun semangat atau kehendak. dan tut wuri handayani yaitu berada di belakang untuk membimbing atau mengarahkan.

dan pengalaman belajar apa yang diperlukan untuk mewujudkan tujuan. pembelajaran tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada acuan yang jelas dan tidak disertai dengan ukuran pencapaiannya.THE EMPIRE STATE OF CURRICULUM KERANGKA BERPIKIR Hubungan erat dan saling keterkaitan antara kurikulum. Kerangka berpikir hubungan ini dibangun atas pemahaman terhadap hal berikut ini: pertama bahwa kurikulum pada intinya memuat tujuan apa yang hendak diraih. dalam kaitannya dengan proses yang dijalankan dan output yang dihasilkan. dan ketiga bahwa penilaian yang terdiri atas penilaian internal dan penilaian eksternal adalah untuk mengukur keberhasilan pencapaian kurikulum. baik secara dokumentatif maupun secara implementatif. Dengan kata lain bahwa kerangka berpikir hubungan diantara ketiga unsur tersebut dibangun atas dasar fungsi-fungsi dari ketiga hal tersebut yang saling bertautan antara satu dan yang lainnya. bahan apa yang akan diajarkan. Penilaian internal diarahkan untuk menentukan apakah tujuan telah dicapai serta bahan ajar dan pengalaman belajar telah dikuasai. sedangkan penilaian eksternal diarahkan untuk menentukan kekuatan dan kelemahan program. pembelajaran. dan penilaian dalam perspektif makro menjadikan semacam negara kerajaan kurikulum ---the empire state of curriculum. 37 . kedua bahwa pembelajaran pada intinya merupakan aktivitas untuk menyajikan seluruh muatan kurikulum dengan menerapkan metode-metode penyajian secara efektif yang sesuai dengan organisasi pengalaman belajarnya. begitu pula penilaian tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada substansi yang diukur dan/atau dinilai. Kurikulum tidak akan berarti apa-apa jika tidak dioperasionalkan melalui pembelajaran dan penilaian. sebab keberadaan kurikulum merupakan unsur sentral bagi keberadaan unsur pembelajaran dan penilaian.

dan penilaian memiliki hubungan yang signifikan dan saling mempengaruhi antar ketiganya. Rancangan tersebut berupa seperangkat rencana yang digunakan untuk membangun dan memberdayakan potensi peserta didik.Jadi tampak sangat jelas bahwa di antara kurikulum. Pertautan ketiga unsur (kurikulum. dan penilaian) tersebut secara teoritik dan praktik pendidikan membentuk menjadi semacam kekuatan yang dinamis untuk menghasilkan output. pembelajaran. dan dinilai untuk mengetahui seberapa tingkat pencapaian atau penguasaannya. yaitu kurikulum sebagai blueprint atau rancangan bagi proses pembelajaran. 38 . konteks. HAKIKAT KURIKULUM Hakikat kurikulum di negara mana pun di dunia ini secara prinsip mempunyai kesamaan. disajikan melalui proses edukatif pembelajaran. perbedaan kurikulum yang dikembangkan di setiap negara adalah muatan dalam kurikulum. sebagaimana yang divisualkan dalam ilustrasi berikut ini. Perbedaan muatan disebabkan oleh filosofi dan beliefs. Dengan kata lain bahwa output pendidikan dihasilkan dari interaksi dengan sejumlah pelajaran yang dimuat dalam kurikulum. pembelajaran. Sedangkan. dan kondisi berbeda yang dimiliki dan dihadapi oleh masing-masing negara.

istilah kurikulum telah digunakan dengan pengertian yang sangat berbeda sejak bidang ini membentuk diri. (b) curriculum consists of contents of the various courses taught in the school. Armstrong (1989) mengartikan bahwa: (a) curriculum is the school’s adopted program of studies. the implicit intentions are found in the ”hidden curriculum. Learning interactions usually occur between teacher and student ---kurikulum adalah suatu perangkat harapan secara eksplisit dan implisit yang dirancang untuk memudahkan belajar dan pengembangan dan untuk memperkuat makna pada pengalaman. and learning resources in the school or in other appropriate instructional settings. Miller & Seller (1985) mengartikan bahwa curriculum is an explicitly and implicitly intentional set of interactions designed to facilitate learning and development and to impose meaning on experience. Harapan eksplisit biasanya dinyatakan dalam kurikulum tertulis dan dalam mata pelajaran.Banyak pengertian kurikulum yang bisa ditemukan dalam berbagai referensi. namun untuk kepentingan di sini hanya akan dikemukakan beberapa pengertian sesuai dengan kebutuhan. pelajar. for the term curriculum has been used with quite different meanings ever since the field took form ---tugas untuk mendefinisikan konsep mungkin merupakan hal paling sulit untuk kita semua. (d) curriculum encompasses all of the experiences offered to learners under the authority of the school or under the authority of other appropriate instructional agencies. kurikulum terdiri atas materi dari berbagai pelajaran yang diajarkan di sekolah. kurikulum 39 . dan sumber belajar di sekolah atau di tempat lain yang cocok untuk pembelajaran. kurikulum melibatkan interaksi terencana di antara guru.” by which we mean the roles and norms that underlie interactions in the school. Menurut Glatthorn (1987) mengatakan bahwa the task of defining the concept is perhaps the most difficult of all. learners. (c) curriculum involves planned interactions among instructors. and (e) curriculum includes all planned and unplanned experiences of learners in the school and in other appropriate instructional settings ---kurikulum merupakan program pelajaran teradopsi. harapan implisit ditemukan dalam kurikulum tersembunyi. The explicit intentions usually are expressed in the written curriculum and in courses of study. Interaksi belajar biasanya terjadi antara guru dan pelajar.

Jadi. Glatthorn sendiri mengusulkan definisi kurikulum adalah the plans made for guiding learning in the schools. dan (2) harus berguna bagi pendidik dalam pembuatan perbedaan operasional. disusun berdasarkan pada tingkat-tingkat generalisasi dan perkembangan peserta didik. usually represented in retrievable documents of several levels of generality. hakikat kurikulum adalah rencana awal yang dibuat untuk membimbing anak belajar di sekolah. and it should be useful to educators in making operational distinctions ---itu tampak bahwa definisi kurikulum yang bermanfaat harus sesuai dengan 2 kriteria: (1) harus mencerminkan pemahaman umum mengenai istilah yang digunakan guru. dapat diamati oleh pihak yang tidak berkepentingan sekalipun. dan kurikulum mencakup semua pengalaman pelajar yang terencana dan tidak terencana di sekolah atau di tempat lain yang cocok untuk pembelajaran. Kurikulum sebagai suatu bentuk rencana harus fleksibel agar bisa memberi kemungkinan setiap saat untuk dilakukan perbaikan seperlunya dalam proses implementasinya.mencakup semua pengalaman yang ditawarkan kepada pelajar di bawah otoritas sekolah. dapat diaktualisasikan di dalam pembelajaran. sebagaimana yang dialami oleh pelajar dan sebagaimana yang dicatat oleh seorang pengamat. biasanya disajikan dalam dokumen yang mudah ditemukan mengenai beberapa tingkat keumuman. Penglaman berlangsung dalam lingkungan belajar yang mempengaruhi apa yang dipelajari. those experiences take place in a learning environment which also influences what is learned --rencana yang dibuat untuk membimbing belajar di sekolah. dan pengaktualisasian rencana tersebut di kelas. dan membawa misi perubahan tingkah laku. disajikan dalam bentuk dokumen yang mudah ditemukan. menurut Glatthorn (1987) bahwa it would seem that a useful definition of curriculum should meet two criteria: it should reflect the general understanding of the term as used by educators. Dengan demikian. Kurikulum sebagai suatu bentuk dokumen harus memberikan petunjuk yang cukup rinci mengenai berbagai hal yang perlu dilakukan oleh 40 . as experienced by the learners and as recorded by an obeserver. and the actualization of those plans in the classroom.

kepala sekolah dan guru dan juga dapat disimpan dalam perangkat komputer yang bisa diakses oleh berbagai pihak melalui jaringan internet. Untuk kepentingan pendidikan di Indonesia, kurikulum telah didefinisikan secara formal sebagaimana yang dimuat dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa kurikulum adalah "seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu."

HAKIKAT PEMBELAJARAN
Berkenaan dengan pembelajaran yang berkualitas, Bloom (1976) menyatakan bahwa quality of instruction is the extent to which the cues, practice, and reinforcement of the learning are appropriate to the needs of the learners --kualitas pembelajaran adalah tingkat di mana tanda, praktik, dan penguatan belajar sesuai dengan kebutuhan pelajar. Selain metode pembelajaran, hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran menurut Bloom selanjutnya adalah individual differences in learning that is an observable phenomenon which can be predicted, explained, and altered in a great variey of ways ---perbedaan individual dalam belajar yang merupakan fenomena dapat diamati, diprediksi, dijelaskan, dan disesuaikan dengan bermacam-macam cara. Apa yang dikemukakan oleh Bloom tentang individual differences adalah sama dengan “keunikan peserta didik” yang menurut Aunurrahman (2009) bahwa setiap orang berbeda satu sama lain dan tidak satupun yang memiliki ciri-ciri yang sama. Setiap individu pasti memiliki karakteristik yang berbeda dengan individu lainnya. Perbedaan individual ini merupakan kodrat manusia yang bersifat alami. Perbedaan individu disebabkan oleh besarnya variasi dalam kemampuan seperti dikatakan oleh Hirsch (1999) bahwa variations in ability and learning style are caused by individual differences ---perbedaan dalam kemampuan dan belajar disebabkan oleh perbedaan individual. Oleh karena itu, Hirsch menyatakan bahwa individual differences are mainly differences in academic preparation and ability,

41

and the accommodation of those differences take the form of ability tracking --perbedaan individual utamanya adalah perbedaan dalam persiapan dan kemampuan akademik, dan akomodasi perbedaan tersebut mengambil bentuk penelusuran kemampuan. Berkenaan dengan pembelajaran yang efektif, Cole & Chan (1994) menyatakan bahwa effective teaching is defined as the actions of professionally trained persons that enhance the cognitive, personal, social, and physical development of students ---pembelajaran efektif diartikan sebagai tindakan orang terlatih secara professional yang meningkatkan pengembangan kognitif, personal, sosial, dan fisik pelajar. Pembelajaran yang efektif dibangun atas dasar beberapa prinsip yang menurut Cole & Chan yaitu: include principles for effective classroom communication, lesson planning and preparation, demonstration and explaining, questioning, assigning work tasks, feedback and correctives, assessment and evaluation, motivation and reinforcement, class management, and the promotion of self-directed and independent learning ---mencakup prinsip-prinsip komunikasi kelas yang efektif, rencana dan persiapan pelajaran, demonstrasi dan penjelasan, pertanyaan, penugasan tugas pekerjaan, umpan balik dan perbaikan, pengukuran dan penilaian, motivasi dan penguatan, pengelolaan kelas, dan peningkatan belajar terarah sendiri dan mandiri. Pentingnya menggunakan metode dalam pembelajaran, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Apabila dikaji secara cermat, menurut Sanjaya (2009), konsep pendidikan menurut undang-undang itu mengandung beberapa hal yang sangat penting untuk dikritisi. Hal-hal penting untuk dikritisi sebagaimana yang dimaksud oleh Sanjaya adalah sebagai berikut: Pertama, usaha sadar berarti bahwa segala upaya yang dilakukan

42

dalam pendidikan diarahkan pada pembentukan sumber daya manusia (peserta didik) yang dapat berkembang secara utuh; Kedua, usaha terencana berarti proses pendidikan adalah proses yang bertujuan sehingga segala sesuatu yang dilakukan pendidik dan peserta didik diarahkan pada pencapaian tujuan; Ketiga, wujud dari usaha sadar dan terencana adalah suasana dan proses pembelajaran yang berorientasi pada keaktifan peserta didik (student active learning) dalam rangka pengembangan potensi dirinya; dan Keempat, akhir dari proses pendidikan adalah kemampuan peserta didik yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Lebih jelasnya lagi bahwa penggunaan metode dalam pembelajaran merupakan suatu hal yang mutlak untuk dilakukan agar pembelajaran dapat diselenggarakan secara optimal sebagai usaha sadar, usaha terencana, usaha untuk menciptakan suasana dan proses keaktifan, dan usaha untuk menghasilkan kemampuan peserta didik yang holistik. Selain itu, penggunaan metode dapat menghindarkan upaya yang mengarah pada apa yang disebut oleh Ravitch (1995) sebagai “teaching to the test” atau mengajar yang lebih diarahkan hanya untuk menghadapi soal-soal ujian. Bahaya “teaching to the test” menurut Ravitch adalah teachers tend to teach what is tested. Teaching to the test is bad in current practice because so many tests ask narrow questions about disconnected fragments of information, thus leading teachers to drill their students on right answers rather than to teach a deep understanding of the concepts involved ---guru cenderung mengajar apa yang diujikan. Mengajar untuk tes adalah jelek dalam praktik sekarang ini, karena begitu banyak tes menanyakan pertanyaan sempit mengenai fragmen informasi yang terpenggal, jadi mengarahkan guru untuk melatih pelajar pada jawaban benar daripada mengajar dengan pemahaman konsep yang mendalam. Hal itu akan mengakibatkan kesenjangan prestasi (the achievement gap) seperti yang disinyalir oleh Wagner (2008). Ia mengemukakan bahwa the achievement gap is resulted by the children’s teachers take more than months before the

43

testing begins to teach and review the materials that are going to be on the test, so they are cearly teaching to the test, rather than teaching for a deeper understanding of the content ---kesenjangan prestasi diakibatkan oleh guru mengambil waktu lebih dari berbulan-bulan sebelum ujian yang diawali dengan mengajar dan membahas bahan-bahan yang akan diuji, jadi jelas mereka mengajar untuk tes, daripada mengajar untuk memahami materi secara mendalam.

HAKIKAT PENILAIAN
Penilaian atau evaluasi dalam dunia pendidikan memiliki peranan yang sangat penting, sebab hasil dari suatu penilaian dapat memberikan informasi yang bermanfaat mengenai sesuatu hal tertentu melalui proses yang sistematik. Berkenaan dengan hal tersebut, Gronlund (1976) menegaskan bahwa evaluation may be defined as a systematic process of determining the extent to which instructional objectives are achieved by pupils ---penilaian boleh diartikan sebagai suatu proses sistematik penentuan tingkat di mana tujuan pembelajaran dicapai oleh murid. Selanjutnya, Gronlund mengatakan bahwa evaluation is a much more comprehensive and inclusive term than measurement. Evaluation includes both qualitative and quantitative descriptions of pupil behavior plus value judgements concerning the desirability of that behavior. Measurement is limited to quantitative descriptions of pupil behavior. It does not include qualitative descriptions nor does it imply judgements concerning the worth or value of the behavior measured ---penilaian merupakan sesuatu istilah yang lebih komprehensif dan inklusif daripada pengukuran. Penilaian mencakup deskripsi kualitatif dan kuantitatif dari perilaku murid ditambah dengan pertimbangan nilai mengenai kebaikan perilaku tersebut. Pengukuran terbatas pada deskripsi kuantitatif perilaku murid. Itu tidak mencakup deskripsi kualitatif, tidak juga pertimbangan mengenai makna atau nilau perilaku yang diukur. Meskipun menurut Gronlund terdapat perbedaan antara penilaian dan pengukuran, namun dalam konteks ini kedua peristilahan tersebut dapat digunakan secara timbal balik sesuai dengan kebutuhannya. Hal yang paling penting dari

44

penggunaan kedua istilah tersebut adalah bagaimana atau dengan cara apa fakta atau data atau informasi hasil belajar dapat diperoleh dari peserta didik (dalam arti ketuntasan dan penguasaan kompetensi). Dengan demikian, kompetensi dalam kurikulum yang dioperasionalkan dalam pembelajaran harus mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Hal itu ditegaskan lebih lanjut oleh Bloom, Hasting, & Madaus (1971) bahwa sekurangkurangnya ada tiga hal yang dapat dinilai dari pembelajaran, yaitu: (1) knowledge, (2) skills, and (3) attitudes. Pengetahuan (knowledge) mencakup pengetahuan tentang fakta dan pemahaman tentang konsep, generalisasi, struktur dan model. Keterampilan (skills) mencakup keterampilan-keterampilan tentang meneliti, berpikir kritis, dan berpartisipasi dalam kelompok. Sikap (attitudes) mencakup sikap-sikap intelektual, ilmiah, dan sosial. Jadi pada intinya penilaian, menurut Sudjana (2004), adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada obyek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu. Proses penilaian tersebut berlangsung dalam bentuk interpretasi dan pertimbangan. Hal itu diperjelas lagi oleh Hamid Hasan (2008) bahwa evaluasi adalah proses pengumpulan informasi untuk membantu pengambilan keputusan. Hasil evaluasi akan berbeda-beda, sebab tergantung pada rumusan tujuan dan metodologi yang digunakannya. Mengenai tujuan dari evaluasi oleh Bloom, Hastings, & Madaus (1971) ditegaskan bahwa the purpose of evaluation is primarily the grading and classifying of students ---tujuan penilaian utamanya adalah pemeringkatan dan pengklasisikasian peserta didik. Selanjutnya Bloom, Hastings, & Madaus menyajikan a broader view of evaluation (pandangan penilaian yang lebih luas) sebagai berikut: 1. Evaluation as a method of acquiring and processing the evidence needed to improve the student’s learning and the teaching ---penilaian sebagai suatu metode pengolahan bukti yang diperlukan untuk memperbaiki belajar siswa dan pembelajaran;

45

and if not.2. Kurikulum tidak akan berarti apa-apa jika tidak dioperasionalkan melalui pembelajaran dan penilaian. pembelajaran. penilaian sebagai suatu alat dalam praktik pendidikan untuk meyakinkan apakah prosedur alternatif efektif secara sama atau tidak dalam mencapai perangkat tujuan pendidikan. 3. Evaluation as including a great variety of evidence beyond the usual final paper and pencil examination ---penilaian sebagai cakupan berbagai bukti di luar ujian akhir kertas dan pinsil. Finally. selain untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran sudah tercapai atau belum. Evaluation as a system of quality control in which it may be determined at each step in the teaching-learning process whether the process is effective or not. tetapi juga menjamin keefektifan program baik kurikulum maupun pembelajaran sebelum semuanya terlambat yang mengarah pada kemunduran. 4. evaluation as a tool in education practice for ascertaining whether alternative procedures are equally effective or not in achieving a set of educational ends ---akhirnya. perubahan apa yang harus dibuat untuk menjamin keefektivannya sebelum semuanya terlambat. penilaian mempunyai keterkaitan yang erat antara satu dengan yang lainnnya. dan jika tidak. dan 5. Hal inilah yang dikatakan bahwa pada akhirnya penilaian dapat diartikan sebagai suatu proses pengambilan keputusan. Kerangka berpikir dibangun atau hubungan diantara ketiga unsur tersebut dengan berdasarkan pada fungsi-fungsi dari ketiga hal tersebut. what changes must be made to ensure its effectiveness before it is too late ---penilaian sebagai suatu sistem pengawasan kualitas di mana hal itu dapat menentukan tiap-tiap langkah dalam proses belajar-mengajar apakah proses efektif atau tidak. pembelajaran tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada kurikulum sebagai 46 . Banyak hal yang dapat diperoleh dari penyelenggaraan penilaian. Evaluation as an aid in clarifying the significant goals and objectives of education and as a process for determining the extent in which the students are developing in these desired ways ---penilaian sebagai suatu bantuan dalam mengklarifikasi tujuan pendidikan dan sebagai suatu proses untuk menentukan tingkat di mana siswa berkembang dengan cara yang dikehendaki. KETIDAK-HARMONISAN INTER-RELASI DALAM PRAKTIK Sebagaimana telah dikemukakan bahwa kurikulum.

biasanya memuat secara ideal tujuan yang yang ingin dicapai. Beberapa fakta yang menunjukkan ketidak-harmonisan hubungan tersebut yaitu antara lain sebagai berikut: Kesenjangan Kurikulum dan Pembelajaran ---Curriculum Gap. Namun dalam praktiknya sering kali hubungan ideal antara kurikulum. karena begitu banyak tes menanyakan pertanyaan sempit mengenai fragmen informasi yang terpenggal. pengalaman belajar yang diorganisasikan. Guru mengajar lebih diarahkan hanya untuk menghadapi soal-soal ujian. atau guru cenderung hanya mengajar apa yang akan diujikan. Suatu kurikulum. Kesenjangan prestasi peserta didik diakibatkan oleh guru untuk mengambil waktu lebih dari berbulan-bulan sebelum ujian yang diawali dengan mengajar dan 47 . Kondisi inilah yang menyebabkan ketidak-sesuaian antara tuntutan kurikulum yang seharusnya dan pelaksanaan kurikulum melalui pembelajaran. kecuali ceramah dan mencatat. Mengajar Hanya Untuk Menghadapi Ujian ---Teaching to the Test. Mengajar untuk tes adalah jelek dalam praktik sekarang ini.acuannya dan tidak disertai dengan ukuran pencapaiannya. Jadi mengajar untuk tes mengarahkan guru untuk melatih pelajar pada jawaban benar daripada mengajar dengan pemahaman konsep yang mendalam. inkuiri. begitu pula penilaian tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada substansi yang diukur dan/atau dinilai. kurikulum menuntut pelaksanaannya dalam pembelajaran dengan menggunakan metode berbasis masalah. pembelajaran. apa yang akan diajarkan. Agar pengembangan potensi tersebut berlangsung secara lengkap. berpikir logis dan kritis. dan cara untuk mengukur ketercapaiannya. karena banyak di antara guru yang hanya melaksanakan pembelajaran dengan cara jitu dan seolah-olah tiada pilihan lain. yang dirancang untuk mengembangkan potensi peserta didik yang mencakup pengetahuan-sikap-keterampilan. dan penilaian jauh dari impian dan kenyataannya. Namun dalam kenyataannya semua itu tidak berjalan sepenuhnya. dan diskusi.

jadi jelas mereka mengajar untuk tes. HARIAN UMUM Kompas (2009) BERITA TERKAIT UJIAN NASIONAL • Standar kelulusan telah menghantui para peserta ujian nasional. tetapi juga kepala sekolah. Mengapa terjadi fear-provoking ketika menghadapi ujian nasional? Beberapa kasus yang diungkap oleh berbagai media massa. karena kelulusan ditentukan oleh nilai ujian nasional.membahas bahan-bahan yang akan diuji. 5 untuk semua mata pelajaran yang diujikan. mengapa hanya beberapa mata pelajaran saja yang diujikan secara nasional? Apapun argumentasi yang diberikan untuk menjawab pertanyaan ini. semuanya tidak masuk akal dan kalaupun ada jawaban yang diberikan. Di balik ujian nasional. guru. Nilai mata pelajaran lainnya selama tiga tahun siswa belajar terabaikan. termasuk berbagai kecurangan dan kebocoran soal tingkat SMP dan SMA. jadi tidak ada mata pelajaran yang perlu dikecualikan secara khusus. Muncul pertanyaan. dan masyarakat. 25 menjadi 5. karena banyaknya persoalan. pasti jawabannya tidak akan masuk akal. (28 April) • Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akan mengevaluasi kebijakan pemerintah dalam penyelenggaraan ujian nasional. Peran guru pun yang selama tiga tahun mendidik tidak ada. menunjukkan bahwa ujian nasional telah memprovokasi ketakutan atau kecemasan (national test fear-provoking) terhadap berbagai kalangan. daripada mengajar untuk memahami materi secara mendalam dan holistik. (1 48 . Utamanya terkait dengan standar nilai kelulusan yang oleh pemerintah dinaikkan dari 5. DPR menganggap bahwa tingkat kelulusan sangat ditentukan oleh nilai mata pelajaran yang diujinasionalkan. Kegelisahan Menghadapi Ujian Nasional ---National Test Fear-Provoking. orang tua. sejumlah siswa SMA merasakan kecemasan. Seluruh mata pelajaran yang wajib dimuat dalam kurikulum adalah dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. antara lain Kompas dan Media Indonesia. bukan saja peserta didik.

beberapa siswa SMA mengundurkan diri untuk tidak mengikuti ujian nasional karena belum siap dengan tingginya beban standar kelulusan ujian nasional 5. (1 Mei) • Di Kendal. Ini adalah sebuah kesalahan fatal dan kelalaian teknis yang mengakibatkan siswa tidak lulus. karena takut banyak siswa yang tidak lulus. 5. Kondisi ini salah satunya terjadi di Provinsi Jawa Barat. Pengumuman kelulusan pun terpaksa ditunda akibat persoalan yang diduga dipicu kesalahan pemindaian ini. (17 Juni) Media Indonesia (2009) • Perbuatan yang memalukan dalam dunia pendidikan terjadi di Kabupaten Bengkulu Selatan. Mereka langsung diciduk dan di tahan di kantor polisi setempat.Mei) • Ratusan siswa SMA dari beberapa daerah didapati memperoleh nilai hasil ujian nasional kososng pada sejumlah mata pelajaran. menyebabkan tumbuhnya perilaku koruptif secara berulang dalam ujian nasional. mengingat keterbatasan yang dimiliki BSNP. yaitu kepala sekolah dan guru bersekongkol mengisi jawaban soal-soal ujian nasional SMA. (1 Juni) • Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengisyaratkan perlu peninjauan ulang terhadap 49 . seperti Bahasa Indonesia dan Biologi. (1 Mei) • Di Purwokerto. Berbagai kejadian memilukan pada saat ujian nasional itu sebenarnya bukanlah sesuatu yang tidak bisa diantisipasi. seorang siswi SMA pingsan akibat stress menghadapi ujian nasional. sehingga akhirnya siswa dirugikan. termasuk Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkulu Selatan. (1 Mei) • Berbagai bentuk kecurangan pada ujian nasional selama ini merupakan alasan sangat nyata (obvious) yang digunakan pengelola perguruan tinggi negeri untuk menolak hasil ujian nasional dijadikan syarat masuk perguruan tinggi. Namun.

Mengacu pada beberapa fakta yang dimuat oleh berita harian tersebut. Fakta itu menjadi persoalan saat standar akhir ujian nasional disamakan secara menyeluruh untuk setiap daerah di Indonesia. pendalaman materi dan latihan soal ujian ulang belum dijadwalkan karena menunggu siswa yang tidak lulus tenang dulu secara psikologis. guru senior bagian Pengendali Mutu di SMA 70 DKI Jakarta. • Di SMA 70 Jakarta. Meskipun ujian nasional dirancang untuk mengendalikan mutu. pelaksanaan ujian nasional tampak di satu sisi belum bisa mengakomodasi kepentingan masyarakat luas. Nanti kami Tanya orangtua mereka. Kalau sudah siap. Apalagi jika menjelang ujian nasional ada peserta yang kemudian terganggu kesehatannya. • Kepala SMA 79 Jakarta mengatakan. sehingga tidak bisa bersiap secara penuh dan kemudian tidak lulus.” ungkap Osman Sitompul. sejumlah sekolah langsung memanggil siswa yang tidak lulus untuk diberi pengarahan dan jadwal ujian ulang pada 1014 Mei. para siswa yang tidak mampu memenuhi standar minimal nilai ujian nasional itu dinyatakan dengan status “mengulang”. kami akan mulai lagi pendalaman materi. Hal itu terkait dengan relative tidak setaranya akses para pelajar di kota besar dan kota kecil atau desa. tetapi di sisi lainnya kepentingan sepihak pemerintah telah terakomodasi. di sekolah ini dalam pengumuman kelulusan di web site sekolah. apakah anak-anaknya sudah siap belajar atau belum. namun dalam pelaksanaannya terjadi sebagai berikut: 50 . (17 Juni) Kompas (2010) • Setelah hasil ujian nasional SMA sederajat diumumkan Senin (26/4) kemarin.ujian nasional. “Mungkin mereka masih stress. Sekolah juga menyiapkan jadwal pendalaman materi.

kata Nuh. Terkait dengan hal itu. Bagi yang tidak lulus ujian nasional tetap bisa mengikuti ujian Paket C untuk siswa SMA. “Hasil ujian Paket C itu tetap bisa dipakai untuk masuk perguruan tinggi. sangat diskriminatif yang dibuktikan dengan penyelenggaraan ujian nasional hanya untuk beberapa mata pelajaran. ada beberapa perubahan di antaranya tak ada lagi ujian nasional ulang. “Ini perubahan alakadarnya saja karena sejak awal pendirian pemerintah itu ujian nasional harus ada. tidak memiliki format baku (inkonsisten) yang dibuktikan dengan perubahan aturan hampir setiap tahun.” kata Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh. Formulanya. Menanggapi perubahan formula ujian nasional 2011. Abduhzen menilai. pemerintah sebenarnya hanya mengulang format lama dan tak ada perubahan mendasar. Kompas (2010) memuat salah satu bentuk inkonsistensi dan kontroversi sebagai berikut: Evaluasi Siswa: Tak Ada Ujian Nasional Ulang. (31 Desember) Dalam penyelenggaraan Ujian Nasional 2011. Direktur Eksekutif Institute for Education Reform di Universitas Paramadina Mohammad Abduhzen menilai. “Prestasi siswa selama kelas I.” kata Nuh. Kamis (30/12). II.” kata Nuh. Masih ada komponen lain. 2. 60% untuk bobot nilai ujian nasional dan 40% nilai ujian sekolah. Perubahan lainnya.1. “Sebaiknya nilai ujian nasional yang diraih siswa tidak minimal sehingga nilai ujian sekolah yang harus dicapai siswa tidak terlalu besar untuk meraih kelulusan. nilai akhir kelulusan siswa dihitung dengan menggabungkan nilai ujian nasional dengan nilai ujian sekolah. tetapi ujian sekolah harus mendapat nilai minimal 8. dan III akan diperhitungkan untuk kelulusan siswa.” ujarnya. ujian nasional bukan satu-satunya cara untuk memetakan mutu pendidikan karena hasil belajar siswa hanya salah satu komponen pengukur. (LUK) 51 . sehingga menimbulkan keresahan psikologis yang meluas. siswa akan lulus meski nilai ujian nasional 4 untuk mata pelajaran tertentu. seperti kualitas guru dan sarana belajar yang harus ditingkatkan. Melalui pembobotan tersebut. selalu mengundang masalah kontroversial di kalangan masyarakat luas. 3.

Dengan kondisi semacam itu. 52 . semua mata pelajaran memberikan kontribusi yang sama dan signifikan terhadap pembentukan watak atau karakter peserta didik sebagaimana yang dirumuskan dalam Tujuan Pendidikan Nasional. Selain itu. masalah kontroversial juga muncul karena mutu pendidikan tidak bisa diukur hanya oleh keberhasilan mencapai skor tinggi dari mata pelajaran yang diujikan pada ujian nasional. Pada hakikatnya. ujian nasional akan selalu menimbulkan masalah kontroversial di tengah masyarakat.

atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP atau MTs. Yang dimaksud dengan pendidikan bersifat umum yaitu pendidikan yang menyediakan kurikulum dengan sejumlah bahan kajian dan pelajaran untuk mengembangkan the student’s rational thought and general intellectual capabilities ---kemampuan berpikir rasional dan intelektual umum peserta didik. So we absolutely believe that traditional liberal arts educations will still have an important role to play in American society ---salah satu karakteristik 53 . SMA pada hakikatnya merupakan satuan pendidikan yang berfungsi untuk menyelenggarakan “pendidikan bersifat umum”. Berdasarkan hal tersebut. Sampai sekarang ini. Natural Sciences (Ilmu-ilmu Alam). dan teknikal. pendidikan SMA di Amerika Serikat masih menggunakan pendidikan bersifat umum. mengolah. dan Social Sciences (Ilmuilmu Sosial).GAMBARAN SEKOLAH MENENGAH ATAS PADA ABAD KE-21 KARAKTERISTIK SMA SEBAGAI PENDIDIKAN UMUM SMA sejak masa dulu sampai dengan sekarang abad ke-21 merupakan suatu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari Sekolah Menengah Pertama (SMP). Language & Arts (Bahasa dan Seni). karena menurut Jerald (2009) bahwa one of the great attributes of a liberal arts education is preparing people to learn how to learn. bahan kajian dan pelajaran bagi satuan pendidikan bersifat umum (liberal arts education) dikelompokkan ke dalam bidang-bidang keilmuan: Humanities (Humaniora). Dengan demikian. pendidikan bersifat umum berbeda dengan pendidikan yang menekankan pada sifat profesional. Melalui pendidikan umum. Mathematics (Matematika). peserta didik diharapkan dapat memiliki kemampuan untuk menggali. Madrasah Tsanawiyah (MTs). dan menggunakan informasi (well-informed person) yang dimuat dalam berbagai bahan kajian dan pelajaran melalui pemikiran dan diskusi rasional. Dalam konteks universal. vokasional.

dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. rumusan berikut ini mungkin dapat membantu untuk menghasilkan rumusan yang lebih baik lagi. mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi. d. baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. dan f.utama pendidikan umum yaitu mempersiapkan seseorang untuk belajar bagaimana belajar. b. e. meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. karena pastinya akan banyak ragam pandangan yang dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan bagi perumusannya. kehalusan. 54 . akhlak mulia. menghayati. menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olahraga. dan kepribadian luhur. Fungsi Pendidikan di SMA masa sekarang sebagai pendidikan menengah yang bersifat umum berfungsi: a. dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. Oleh karenanya kami percaya bahwa pendidikan umum tradisional akan masih memiliki peranan penting untuk memerankan masyarakat Amerika FUNGSI DAN TUJAN Merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan untuk SMA pada abad ke-21 merupakan pekerjaan yang tidak mudah. c. dan harmoni. meningkatkan. Namun demikian. menghayati. meningkatkan.

menurut Arnett selanjutnya bahwa Hall’s view continues to be addressed by psychologists. serta menjadi warga negara yang taat hukum dalam konteks kehidupan global yang senantiasa berubah. Stanley Hall (1904) proposed that adolescence is inherently a time of storm and stress. kreatif. dan d. dan inovatif. For the most part. kritis. toleran. dan bertanggung jawab. Seseorang yang berada pada masa remaja ini ditandai antara lain dengan pubertas (keinginan untuk mendekat ke lawan jenis) dan pencarian jati diri. dan berkepribadian luhur. b. cakap. Stanley Hall merumuskan bahwa mara remaja merupakan suatu masa penuh badai dan stress atau tekanan. demokratis. mandiri. KARAKTERISTIK REMAJA SEBAGAI PESERTA DIDIK SMA Peserta didik SMA adalah mereka yang berusia antara 16 dan 18 tahun di mana pada usia ini sedang berada pada fase remaja antara 10 dan 19 tahun. peka sosial. Namun demikian. sehat. berilmu. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. c. dan percaya diri. Conflict at this stage of development is normal and unusual ---G. berakhlak mulia.Tujuan Pendidikan di SMA masa sekarang bertujuan untuk membentuk peserta didik menjadi insan yang: a. Rumusan fungsi dan tujuan SMA ini dimaksudkan dalam rangka mengantarkan peserta didik agar mampu hidup produktif dan beretika dalam masyarakat majemuk. Arnett (1999) mengatakan bahwa G. Masa remaja (adolescence) adalah periode peralihan atau perkembangan dari masa kekanakan (childhood) menuju masa dewasa (adulthood). contemporary psychologists reject the view that adolescent storm and stress is universal and inevitable ---pandangan Hall 55 . Berkenaan dengan hal itu.

berlanjut dibicarakan oleh para ahli psikologi. Masa remaja usia 16 – 18 tahun menurut teori perkembangan kognitif Piaget (1958) yang juga diungkapkan oleh Good & Broophy (1990) adalah the period of formal operation that begins at about age twelve and gradually consolidates over the next several years. disitulah bahaya datang. Senada dengan Stanley Hall seperti yang dikemukakan oleh Arnett. Adapun yang sangat mengkhawatirkan yaitu berkembangnya kekuatan nafsu dan datangnya kelemahan budi itu dikuasai oleh nafsu-birahi (sexuale hartstocht). Ki-hajar Dewantara (1930) sependapat bahwa dari umur 14 – 16 sampai umur 18 – 20 tahun itulah waktunya birahi (puberteits periode). Sebaliknya “periode” itulah juga seringkali terlihat adanya kelemahan diri (zwakheid uitputting). but the hallmark is the development of the ability to think in symbolic terms and comprehend content meaningfully without requiring physical objects or even imagery based on previous experience with such objects ---periode operasi formal yang dimulai pada usia 12 tahun dan menguat secara bertahap melampaui beberapa tahun ke depan. bahwa “periode” (waktu) itu adalah “ periode” yang luar biasa. Maka dari itu dalam waktu birahi haruslah si pendidik memegang teguh segala peraturan mengenai perhubungan anak-anak laki-laki dan perempuan. tetapi pertanda utamanya adalah pengembangan kemampuan untuk berpikir abstrak dan memahami bahan pelajaran secara bermakna tanpa memerlukan objek fisik atau bahkan pencitraan berdasarkan pada pengalaman terdahulu. dalam waktu mana anak-anak perempuan dan laki-laki masing-masing sadar akan rasa-keperempuannya dan kelelakiannya. uitingsdrang. dan harus ingat. Banyak hal terlibat dalam transformasi ini. Sifat perangai yang baik pada waktu itu adalah nafsu akan membuktikan kekuatan diri (offerzin. Mereka menolak pandangan bahwa badai dan tekanan masa remaja adalah sesuatu yang universal dan biasa. Kita harus berhati-hati berhubung dengan perbedaan tabiat antara yang satu dengan yang lain. dadendrang dll). Kalau anak-anak sampai “lupa” dan yang mendidik kurang awas. 56 . Much is involved in this transformation.

tidak hanya logis tetapi juga berperasaan. tidak hanya memusatkan tetapi juga berkomposisi. (3) Not just focus but also SYMPHONY. workers. (2) Not just argument but also STORY. tidak hanya keseriusan tetapi juga kesenangan. pubertas. selanjutnya menurut Wagner. and rural public schools are teaching and testing versus what all students will need to succeed as learners. and citizens in today’s global knowledge economy ---kesenjangan antara sekolah di pinggiran kota. dan warga negara dalam ekonomi berbasis pengetahuan global sekarang ini. (5) Not just seriousness but also PLAY. Manusia yang ingin memimpin dalam era ini menurut Pink perlu memilki “Six High-Concept And High-Tought Senses In The Conceptual Age ---Enam Konsep Tingkat Tinggi dan Kesadaran Berpikir Tingkat Tinggi”: (1) Not just function but also DESIGN. dan di pedesaan adalah pembelajaran dan penilaian berlawanan dengan apa yang semua pelajar akan perlukan untuk berhasil sebagai pembelajar. yaitu: the gap between what even our best suburban. TUNTUTAN PENGEMBANGAN POTENSI DIRI REMAJA Banyak hal perlu dipertimbangkan dalam upaya pengembangan kurikulum yang dipersiapkan bagi pengembangan potensi diri peserta didik SMA pada abad ke-21 ini. setiap orang sangat berkepentingan untuk memiliki the Seven Survival Skills for the twenty-first century: (1) critical 57 . tidak hanya menghimpun tetapi juga memaknai. Oleh karena itu. stres. yang oleh Pink (2006) disebut sebagai “conceptual era” atau era konseptual. (4) Not just logic but also EMPHATY.Jelasnya bahwa peserta didik SMA berada pada masa remaja yang sangat berdekatan dengan gejolak. Keenam konsep tingkat tinggi dan kesadaran berpikir tingkat tinggi dalam era konseptual tersebut akan dapat menghindari the global achievement gap. pekerja. and (6) Not just accumulation but also MEANING ---tidak hanya memfungsikan tetapi juga mendesain. tidak hanya berpendapat tetapi juga bercerita. dan tingkat kemampuan berpikir abstrak dan memaknai suatu obyek tanpa memerlukan fisiknya atau bahkan pengalaman sebelumnya. yang menurut Wagner (2008). di kota. urban.

kreativitas dan berpikir wirausaha—suatu perangkat keterampilan tinggi yang diasosiasikan dengan kreasi pekerjaan. menemukan secara rutin.thinking and problem solving. in every kind of workplace. (6) accessing and analyzing information. Trilling & Fadel (2009) mengutarakan bahwa pada abad ke-21 memerlukan the 21st century skills:(1) thinking critically and making judgments. geografi. geographic and language boundaries—a necessity in diverse and multinational workplaces and communities. dan tanggung jawab sebagai warga negara dan membuat pilihan yang bijaksana. dalam setiap jenis tempat kerja. information and opportunities to create new services. open-ended problems that all workers. health and civic responsibilities and making wise choices --keterampilan abad ke-21: berpikir secara kritis dan membuat pertimbangan. (3) creativity and entrepreneurial thinking—a skill set highly associated with job creation. dan bahasa—suatu kebutuhan dalam tempat kerja dan komunitas beragam dan multinasional. memecahkan sesuatu yang kompleks. (2) solving complex. inisiatif dan wirausaha. Mengapa memerlukan the 21st century skills khususnya pada tingkat SMA? Hal itu menurut Jerald (2009) bahwa the service sector jobs will be growing. and (6) taking charge of financial. (4) initiative and entrepreneurialism. supel dan penyesuaian. (5) effective oral and written communication. proses dan produk. dan rasa ingin tahu dan imajinasi. kolaborasi lintas jaringan dan memimpin dengan pengaruh. dan memnuhi keuangan. (2) collaboration across networks and leading by influence. (4) communicating and collaborating with teams of people across cultural. encounter routinely. berkomunikasi dan berkolaborasi dengan tim orang-orang lintas batasan budaya. processes and products. mengurangi masalah yang semua pekerja. menilai dan menganalisis informasi. Sedangkan. and (7) curiosity and imagination ---tujuh keterampilan bertahan dalam abad ke-21: berpikir kritis dan pemecahan masalah. komunikasi bicara dan tulisan yang efektif. membuat penggunaan inovatif pengetahuan. (5) making innovative use of knowledge. (3) agility and adaptability. informasi dan kesempatan untuk menciptakan pelayanan baru. kesehatan. multidisipliner. including 58 . multidisciplinary.

general Personal and home care aides Home health aides Postsecondary teachers Janitors and cleaners. However. except maids and housekeeping claeners Nursing aides. mencakup pekerjaan pelayanan berupah-rendah. theatrical and performance Medical assistants Veterinarians Substance abuse and behavioral disorder counselors Skin care specialists Financial analysts Social and human service assistants Gaming surveillance officers and gaming investigators Physical therapist assistants Pharmacy technicians Forensic science technicians Dental hygienists Mental health counselors Mental health and substance abuse social workers Twenty occupations that will add the most jobs Registered nurses Retail salespersons Customer service representatives Combined food preparation and serving workers Office clercks. Pekerjaan semacam itu tidak bias otomatis. Sebagai contoh. there will be greater demand for elderly care workers. accounting. and auditing clercks Waiters and waitresses Chold care workers Executive secretaries and administrative assistants Computer software engineers. As the Baby Boom generation ages.lower-wage service jobs. high-wage work will increasingly require more education. orderlies. dan para pensiunan pekerja tua juga menambah tuntutan pekerja terampil untuk menggantikan mereka. Duapuluh Jenis Pekerjaan Dengan Pertumbuhan Yang Paling Cepat Dan Yang Akan Manambah Pekerjaan Yang Sudah Ada Twenty occupations with fastest rate of growth Network systems and data communications analysts Personal and home care aides Home health aides Computer software engineers. pekerjaan berupah-tinggi akan memerlukan pendidikan lanjutan secara meningkat. and the retirement of older workers also increases the demand for skilled workers to replace many of them ---pekerjaan sektor pelayanan akan tumbuh. terutama orang-orang yang sudah lanjut. Bagaimanapun. applications Personal financial advisors Veterinary technologists and technicians Makeup artists. sebagaimana usia generasi ledakan atau eksplosi bayi (Baby Boom) akan terjadi tuntutan yang besar bagi pekerja pengasuhan. Such jobs cannot be automated. heavy and tractor-trailer 59 . for example. applications Accountants and auditors Landscaping and groundskeeping workers Elementary school teachers. and attendants Bookkeeping. except special education Receptionists and information clercks Truck drivers.

Sebagaimana yang diungkapkan seorang arsitek sekolah ternama. belajar dapat dilakukan tidak hanya di dalam kelas semata-mata. L. tidak hanya secara akademik tetapi sebagai manusia.dunia yang bersambungan dengan arahan teknologi. A. a learning environment can be virtual. sosial. remote --. LINGKUNGAN BELAJAR SMA YANG IDEAL Mengingat peserta didik SMA berada pada masa remaja. dan akademikal. bakat. Sammon (1999) mengatakan bahwa inherent in these and other 21st century designs is the notion of buildings that flex to accommodate the human relationships that are critical to successful learning. fisikal. lingkungan belajar (learning environment) di SMA harus memenuhi persyaratan terutama bagi pelaksanaan pembelajaran dalam rangka pemberdayaan potensi peserta didik sesuai dengan kemampuan. Inilah keunikan belajar pada abad ke-21 yang perkembangannya perlu diantisipasi sejak awal.Sumber: Dohm. Istilah “learning environment” perlu lebih diberdayakan lagi pada abad ke-21 karena pada abad ini belajar lebih menekankan pada interconnected and technology-driven world. Dengan kata lain. online. sekolah harus “menciptakan suatu lingkungan di mana anak-anak mengetahui satu dengan yang lainnya dan mengetahui guru-guru mereka. (2007). schools must “create an environment where the kids know each other and know their instructors. not just academically but as people” ---bangunan sekolah pada abad ke-21 perlu mengakomodasi hubungan manusia yang sangat penting terhadap keberhasilan belajar. & Shniper. 60 . dan minatnya yang disertai dengan pertumbuhan secara emosional. Berkenaan dengan itu. As a leading school architect has noted. Jenis pekerjaan di atas pada umumnya memerlukan tenaga lulusan sekolah pada tingkat pendidikan menengah dan hanya sedikit yang lulusan di atas sekolah menengah.

mendorong kerja sama dan interaksi yang nyaman. and accessibility promote cooperation and interaction. perilaku berlebihaan. and bullying. dan mengurangi tekanan yang dapat mengarah pada ketidak-pedulian. Untuk memenuhi tuntutan belajar pada abad ke-21. goes for adults. Jelasnya bahwa ruang kelas atau belajar pada abad ke-21 harus dapat menampung dan memenuhi segala kebutuhan belajar bagi peserta didik. the noted American philosopher and 61 .Ruang kelas seperti apakah yang cocok sebagai lingkungan belajar bagi pembelajaran pada abad ke-21? Di bawah ini disajikan gambar ruang kelas pada abad ke-21 yang dirancang oleh the American Architectural Foundation (2005). too? Educators need tools and spaces that enable collaborative planning and information sharing ---bangunan sekolah mencerminkan persahabatan. dan perilaku menyakiti orang lain. What goes for kids. and reduce the tensions that can lead to inattentiveness. openness. A 21ST CENTURY CLASSROOM DESIGN Sumber: the American Architectural Foundation (2005). keterbukaan. kriteria bangunan sekolah (school designs) that convey friendliness. acting up. Seperti apakah kebutuhan ruang belajar yang dimaksudkan? Sandrock (2008) menjelaskan bahwa: (1) Over a century ago John Dewey. menurut Sammon (1999).

too. seperti membuat ruangan penampilan dan ruangan pertemuan yang berlaku untuk publik. observed that learning that endures is “got through life itself” ---lebih dari satu abad yang lalu John Dewey. filosoper dan pendidik ternama Amerika. tetapi struktur fisik. 62 . dapat memainkan peranan penting dalam memudahkan pengalaman belajar yang penting pada abad ke-21. Learners may connect with their peers across the globe to share data on a common problem like climate change or wildlife preservation ---siswa dan anggota komunitas boleh bekerja bersama-sama dalam projek pelayanan. mengamati bahwa keberlangsungan belajar diperoleh melalui kehidupan itu sendiri. Such an effort can include scheduling classes at different times (not just between the hours of 8 and 3).educator. as well as going beyond to include homework support and mentoring. juga. Technology obviously enables such connections. such as making performance spaces and meeting rooms available to the public ---salah satu cara untuk melakukan ini melalui kerja sama inovatif ruangan dengan komunitas lokal sekolah. (2) While the physical space of many 21st century learning environments may be small. but physical structure. can play an important role in facilitating these essential 21st century learning experiences ---guru dan siswa dapat mencari nasihat ahli terkenal dunia untuk membimbing mereka dalam projek berbasis inkuiri mereka sendiri. the learning they engender extends out into the local community and the world at large ---sementara itu ruangan fisik beberapa lingkungan belajar abad ke-21 mungkin kecil. Some communities are establishing school facilities and developing programs that bring students together in meaningful ways ---beberapa komunitas membangun fasilitas sekolah dan mengembangkan program yang membawa siswa bersama-sama dalam cara yang bermakna. Menurut the American Architectural Foundation (2005) bahwa one-way to do this is through innovative sharing of space with the schools’ local community. and (4) Teachers and students may seek the advice of world-renowned experts to guide them in their inquiry-based projects. (3) Students and community members may work together on service projects and internships. belajar yang mereka hasilkan berkembang ke dalam komunitas local dan dunia pada umumnya. Teknologi secara jelas memungkinkan hubungan semacam itu.

di luar dukungan pekerjaan rumah dan bimbingan. pertemuan antar-generasi. dan pelayanan kesehatan. recreational activities. 63 . dan lain-lain. Sack-Min (2007) menegaskan bahwa schools must become community centers with hours that extend well beyond the current school day to provide access to technology resources. and more ---usaha seperti itu dapat mencakup penjadawalan kelas dengan waktu yang berbeda (tidak hanya di antara jam 8 – 15). Pengaturan kolaboratif seperti ini dapat mengurangi biaya untuk semua pengguna kepentingan yang memperkaya hubungan di antara anggota komunitas.intergenerational gatherings. Such collaborative arrangements can offset costs for all stakeholders that enrich relationships among community members ---sekolah harus menjadi pusat komunitas dengan jam yang melebihi jam sekolah sekarang ini untuk memenuhi akses sumber teknologi. kegiatan rekreasi. and health services.

Budha. yang berbentuk “pesantren”.KURIKULUM SEKOLAH MENENGAH ATAS PADA ZAMAN KOLONIAL MASA PENJAJAHAN BELANDA PROLOG Jauh sebelum kedatangan Belanda ke wilayah nusantara pada abad ke-17. Pendidikan semacam ini berlangsung terus pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Kemenangan Belanda tersebut merupakan titik mulainya penjajahan Belanda. sistem pendidikan dan pengajaran didasarkan pada keagamaan Hindu dan Budha. yang terdiri atas 2 fase. yaitu Kristen dan Katolik. Sedangkan sistem pendidikan dan pengajaran pada zaman kejayaan Islam berdasarkan pada keagamaan Islam. Pada fase pertama. Pada zaman kejayaan Hindu Budha. penjajahan dilakukan oleh perusahaan dagang swasta dengan nama “The Dutch East India Company” (Bahasa Belanda: Vereenigde Oost-Indische Compagnie atau VOC). para penyebar agama Hindu. yaitu hampir seluruh wilayah nusantara. dan Islam yang datang secara berurutan telah membangun masyarakat nusantara dengan faham keagamaan yang dibawa oleh mereka masing-masing. Hampir sama dengan kedatangan para penyebar Hindu-Budha dan Islam. akhirnya Belanda mampu mengalahkan Portugis sehingga Belanda memperoleh wilayah yang sangat luas. karena penduduk bumiputera pada waktu itu terutama di pedesaan belum mengenal dan tidak bisa masuk pendidikan formal. Dari pertarungan kekuatan antara Portugis dan Belanda di wilayah nusantara. yang diberi ijin oleh 64 . kedatangan para penjelajah Portugis dan Belanda di bawah restu pemerintahnya masing-masing pada abad ke-17 selain bertujuan untuk mengeksplorasi wilayah belahan bumi bagian timur yang bermuatan nilai ekonomis tetapi juga sekaligus menyebarkan faham keagamaan Nasrani. Mereka hanya mengenal sistem pendidikan tradisional yang dibangun oleh para tokoh dengan berdasarkan pada faham keagamaan.

kebocoran. Boedi Oetomo (1908) 2. sehingga menimbulkan banyak pemberontakan rakyat dan gerakan sosial secara massal-acak dan tidak terorganisir di seluruh wilayah Hindia-Belanda untuk membebaskan diri dari cengkeraman mereka.pemerintah Belanda untuk mengelola tanah jajahan. Poesponegoro. Awal Perkembangan 1. & Notosutanto: 1975-b). 1975-a) mencatat beberapa perlawanan rakyat terhadap kolonialisme Belanda dalam abad ke-19 seperti Thomas Matulesi di Maluku. Pangeran Diponedoro di Jawa Tengah. Perlawanan yang dilakukan secara terorganisir terhadap Belanda baru dimulai pada awal abad ke-20 atau pada awal tahun 1900-an. Perlawanan terorganisir yang selanjutnya disebut sebagai “pergerakan nasional” dimulai oleh para pemuda yang telah mengenyam pendidikan tinggi. beberapa pergerakan nasional terdiri atas babakan sebagai berikut: A. Poesponegoro. Indische Partij (1912) 65 . Selama masa penjajahan perusahaan swasta Belanda VOC dan Pemerintah Hindia-Belanda telah terjadi proses hubungan yang sangat buruk dengan masyarakat bumiputra. Pengambil-alihan kekuasaan oleh Pemerintah Belanda dilakukan karena VOC secara ekonomis telah merugikan Pemerintah Belanda dengan banyaknya korupsi. dan Cut Nyak Dien di Aceh. Tercatat dalam sejarah (Kartodirdjo. penjajahan dilakukan oleh Pemerintah Belanda yang mengambil alih kekuasaan VOC pada tahun 1796. Kekuasaan Pemerintah Belanda berakhir pada tahun 1942 seiring dengan kedatangan Balatentara Jepang yang menguasai seluruh wilayah Hindia-Belanda. VOC berkuasa mulai tahun 1602 sampai dengan 1796. Pada fase kedua. Kartodirdjo. baik di Hindia-Belanda maupun di negara Belanda. Sarikat Islam (1911) 3. Tuanku Imam Bonjol di Sumatera Barat. Mereka semua merupakan tokoh di antara banyak tokoh lainnya pada abad ke-19 yang memimpin perlawanan terhadap Belanda. & Notosutanto. dan tindakan-tindakan VOC lainnya yang tidak efisien.

4. Partai Nasional Indonesia (1927) C. Anakanak yang diperbolehkan masuk ke sekolah hanya mereka yang berasal dari golongan masyarakat pribumi kelas atas. 1986). Pada masa VOC. KURIKULUM Sebagaimana diketahui bahwa VOC adalah suatu perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang perdagangan yang diberi ijin untuk menggarap negeri jajahan Hindia-Belanda. VOC menyerahkannya kepada Gereja Kristen dan harus menjadi bagian dari kegiatan VOC secara keseluruhan dalam rangka aktivitas komersialnya. Petisi Soetardjo (1936) 3. Para personil sekolah adalah sekaligus pegawai VOC Lebih jelasnya bahwa pada fase penjajahan VOC tidak ada sekolah yang setara dengan SMP dan SMA. Fraksi Nasional (1930) 2. Partai Komunis Indonesia (1914) 3. Sumpah Pemuda (1928) B. 66 . VOC sama sekali tidak mempunyai perhatian yang besar terhadap penyelenggaraan pendidikan di negeri jajahan. Tujuan VOC semata-mata adalah hanya untuk memperoleh keuntungan ekonomi sebesar-besarnya bagi para pemegang saham dan pemerintah Belanda sebagai pemberi ijin atau lisensi penggarapan tanah jajahan Hindia-Belanda. Perhimpunan Indonesia di Negara Belanda (1908) 2. Masa Radikal 1. pendirian sekolah hanya terbatas paling tinggi pada tingkatan sekolah rakyat yang berlangsung selama 3 tahun dan dikelola oleh pihak Gereja. sehingga pendidikannya akan bersifat atau bercorak agama Kristen (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Masa Bertahan 1. Gerakan Pemuda Tri Koro Dharmo (1915) 5. Kalaupun ada kegiatan pendidikan. Gabungan Politik Indonesia (1939). Oleh karena itu.

yaitu sebagai berikut: 67 . Untuk menanggapi kecaman dan kritikan tersebut. Pemerintah Belanda menjalankan “politik etis” (etische politiek) sebagai politik balasan setelah selama bertahuntahun lamanya mereka menggaruk keuntungan yang besar dari kekayaan dan keringat penduduk bumiputera melalui kerja paksa dalam rangka pelaksanaan sistem tanam paksa (cultuurstelsel) pada tahun 1810 – 1830.Meskipun pada fase pemerintah Hindia-Belanda telah mulai menyelenggarakan pendidikan formal sampai dengan pendidikan menengah dan tinggi. Semua tingkatan sekolah tersebut diperuntukkan khusus hanya bagi anak-anak dari masyarakat bumiputera golongan atas dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar belajarnya (Kartodirdjo. muncul berbagai macam kritikan dan kecaman dari para pembela kepentingan negara jajahan Hindia-Belanda seperti de Waal. van Kol. van Berg. Schoepman. Pendidikan menengah setara SMA. Poesponegoro. Oleh karena itu. 1975-b). baru didirikan pada awal abad ke-20 atau awal tahun 1900-an. Bool. yang pada fase penjajahan pemerintah HindiaBelanda disebut dengan nama Algemeene Middelbare School atau AMS. & Notosutanto: 1975-b). & Notosutanto. Atas dasar itu. yang merupakan balasan tidak setimpal dengan perampokan yang dilakukan oleh pemerintah Belanda terhadap harta kekayaan tanah jajahan. Kurikulum AMS disusun untuk masa belajar 3 tahun yang terdiri atas 2 afdeling atau bagian. dan (2) memperkenalkan kebudayaan dan pengetahuan Barat telah menjadikan Belanda sebagai bangsa yang besar dan kuat. dan van Deventer (Kartodirdjo. van Dedem. namun tujuannya semata-mata bukan untuk mencerdaskan dan mensejahterakan penduduk bumiputera. Para pengkritik dan pengecam mengatakan bahwa politik etis sebagai politik immoral (tak bermoral). van Nunen. AMS merupakan kelanjutan dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs atau MULO atau SMP di zaman sekarang. pemerintah Belanda harus: (1) memberikan sebagian keuntungan mereka kepada bumiputera. Poesponegoro. Sedangkan MULO merupakan dari Hollandsch Inlandsche School atau HIS atau SD di zaman sekarang.

Banyak orang tua menyekolahkan anaknya ke AMS dengan harapan dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi lagi. AMS hanya ada di beberapa ibu kota provinsi Hindia Belanda yaitu Medan (Sumatera). & Notosutanto (1975-b) bahwa sampai dengan tahun 1930-an. 1975-b). dan Kartodirdjo. Surakarta (Kasunanan Surakarta). 68 . Selain itu AMS ada di Yogyakarta (Kasultanan Yogyakarta). dan beberapa kota Karesidenan seperti di Malang. dan Landbouw Hooge School (LHS) di Bogor yang didirikan tahun 1940 ---sekarang Institut Pertanian Bogor (IPB). Poesponegoro. Makassar (Indonesia Timur). Surabaya (Jawa Timur). Semarang (Jawa Tengah). Sebagaimana dikemukakan oleh Kartodirdjo. (1986). & Notosutanto. yaitu misalnya ke Technische Hooge School (THS) di Bandung yang didirikan tahun 1920 --sekarang Institut Teknologi Bandung (ITB). Poesponegoro. Geneeskudige Hooge School (GHS) di Jakarta yang didirikan tahun 1927 ---sekarang Fakultas Kedokteran UI Jakarta. Bandung (Jawa Barat).KURIKULUM ALGEMEENE MIDDELBARE SCHOOL (AMS) AFDELING A PROGRAM Cultuurwetenschap (Pengetahuan Kebudayaan) A1 – Oostersch-Letterkunde (Sastra Timur) A2 – Westersch-Klassiek (Klasik Barat) B Natuurwetenschap (Pengetahuan Alam) Sumber: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Rechts Hooge School (RHS) di Jakarta yang didirikan tahun 1924 ---sekarang Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) Jakarta.

yakni: (1) Jawa. (2) Sumatera.MASA PENJAJAHAN JEPANG PROLOG Selama berlangsungnya Perang Dunia Ke-II tahun 1941 – 1942. Khusus Tentara Angkatan Darat Jepang ke-16 yang memerintah Jawa. pemerintah kolonial Belanda telah dikalahkan oleh Jepang bulan Maret 1941 dan selanjutnya mulai memerintah sampai dengan Agustus 1945. the ideology. yang menurut Kurasawa. Di wilayah Netherlands East Indies atau Hindia-Belanda (sekarang Indonesia). adalah sebagai berikut: 69 . the basic principles and implementation of the educational policy taken towards population in Java --kebijakan pendidikan Jepang di Jawa merupakan suatu laporan rahasia mengenai kebijakan pendidikan yang dikompilasi tahun 1944 oleh pemerintahan militer Jepang di Jawa. ideology. DOKTRIN PENDIDIKAN Salah satu doktrin khusus Jepang dalam bidang pendidikan di Jawa dirumuskan bagi para pelajar dalam rangka memenuhi obsesi pembentukan Asia Timur Raya. Wilayah Hindia-Belanda dibagi oleh Jepang ke dalam tiga yurisdiksi yang terpisah. telah mengeluarkan Jawa ni okeru Bunkyô no Gaikyô [Japanese Educational Policy in Java] as a secret report concerning educational policy compiled in 1944 by the Japanese military government in Java. It contains a lot of new data on the doctrine. seluruh Asia Tenggara kecuali Thailand diduduki oleh Tentara Jepang. dan (3) wilayah Hindia-Belanda bagian Timur termasuk Sulawesi dan Kalimantan. menurut Kurasawa (1991). Dokumen laporan itu berisi banyak data baru tentang doktrin. prinsip dasar dan implementasi kebijakan pendidikan yang digunakan terhadap penduduk di Jawa.

SUMPAH PELAJAR JAWA BARU
1. KAMI INI PELAJAR JAWA BARU. 2. KAMI BERSUMPAH: HENDAK BELAJAR UNTUK MEMBENTUK ASIA TIMUR RAYA, HENDAK RAYA,
MELATIH JIWA DAN RAGA UNTUK MEMBENTUK

ASIA TIMUR ASIA

HENDAK MENJADI ORANG YANG BERGUNA UNTUK TIMUR RAYA DI BAWAH PIMPINAN DAI NIPPON.
Sumber: Kurasawa, Aiko. (1991).

MEMBENTUK

Doktrin tersebut dianggap penting agar para pelajar Jawa mengikuti pola pendidikan Jepang, yang menurut Kurasawa bahwa under Japanese rule, however, with the belief that it was necessary to give Indonesians the “new educational system based on imperial ideology,” the Japanese system and ideology was introduced in a form as close as possible to the original ---di bawah kekuasaan Jepang, bagaimana pun, dengan keyakinan bahwa itu perlu untuk memberikan bangsa Indonesia sistem pendidikan baru berdasarkan pada ideologi imperial. Sistem dan ideologi Jepang diperkenalkan dalam bentuk sedekat mungkin dengan aslinya. Selanjutnya, Kurasawa menyatakan bahwa thus Dutch schools were all closed down, and vernacular schools were reorganized into Japanese style kokumin gakkô of six years. Above it there was a three-year junior high school and a threeyear senior high school Oleh karenanya semua sekolah buatan Belanda dan berbahasa Belanda ditutup dan diorganisasikan ke dalam gaya Jepang dengan berdasarkan pada pola 6 tahun sekolah dasar. Di atas itu, 3 tahun sekolah menengah pertama dan 3 tahun sekolah menengah tinggi.

KURIKULUM
Kurikulum SMA atau Sekolah Menengah Tinggi (SMT) pada zaman Jepang secara prinsip hampir sama dengan Kurikulum AMS pada zaman Belanda, karena

70

masih menggunakan pola AMS bagian A untuk Pengetahuan Kemasyarakatan dan B untuk Pengetahuan Alam dan Pasti. Kurikulum SMT atau yang pada waktu itu disebut dengan “Jadwal Jam Mata Pelajaran” adalah sebagai berikut. TABEL JADWAL JAM PELAJARAN ALGEMEENE MIDDELBARE SCHOOL (AMS) ATAU SEKOLAH MENENGAH TINGGI PADA ZAMAN JEPANG
Mata Pelajara n 4. Geometri / Aljabar 5. Teknik Mekanika 2. Bahasa Indonesia 3. Bahasa Jepang 8. Flora & Fauna

10. Geografi / Ilmu Bumi

12. Gambar Peta

6. Fisika / IPA

Kelas Kela s1 Kela s2 Kela s3 A B A B A B

1 1 1 1 1 1

9 5 9 5 9 5

10 10 10 9 10 9

2 6 2 5 2 4

2 2

3 3 4

2 2 2 3 2 4

2 1 2

2 1 2 1 3 1

2 1 2 1 2 -

2 1 2 1 2 1

2 2 2 2 1 1

-

14. Olah Raga 5 5 5 5 5 5

9. Ekonomi

11. Sejarah

13. Musik

7. Kimia

1. PKN

Jumla h Jam/ Mingg u

37 Jam 39 Jam 37 Jam 39 Jam 37 Jam 39 Jam

Sumber: Kurasawa, Aiko. (1991).

Pelaksanaan kurikulum ini berlaku hanya tiga tahun sesuai dengan lamanya pendudukan Jepang di bekas wilayah pemerintahan Hindia-Belanda, yaitu mulai tahun 1942 sampai dengan tahun 1945. Namun demikian, pada masa perang kemerdekaan 1945-1949 sampai dengan Dekrit Presiden 1959, kurikulum tersebut masih digunakan dengan beberapa perubahan yang dianggap perlu sampai dengan keluarnya ketentuan yang mengatur pendidikan dengan berdasarkan pada Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945.

71

KURIKULUM SEKOLAH MENENGAH ATAS PADA ZAMAN KEMERDEKAAN

MASA PERANG KEMERDEKAAN 1945–1950 PROLOG
Yang dimaksud dengan masa perang kemerdekaan adalah masa di mana bangsa Indonesia harus mempertahankan kemerdekaan dari gangguan militer, politik, dan diplomatik Belanda yang hendak menguasai kembali Indonesia. Upaya pemerintah Indonesia pada awal masa ini yaitu untuk mengubah pranata dan tatanan sosial, politik, pendidikan, ekonomi, dan budaya dari bangsa jajahan menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat. Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945 yang menjadi tonggak eksistensi bangsa Indonesia yang berdaulat. Satu hari setelah proklamasi kemerdekaan, PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 telah mengadakan sidang yang menghasilkan beberapa keputusan (Kartodirdjo, Poesponegoro, & Notosutanto: 1975-c) sebagai berikut: a. Mengesahkan Undang-Undang Dasar Negara. b. Memilih Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, yakni Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta. c. Presiden untuk sementara waktu akan dibantu oleh sebuah Komite Nasional. Konstitusi atau Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia selanjutnya dikenal dengan sebutan “Undang-Undang Dasar (UUD) 1945”. Konstitusi ini merupakan aturan hukum utama dalam seluruh penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

72

Setelah proklamasi kemerdekaannya, Indonesia mengalami masa peralihan yang cukup pelik atau kompleks karena dari semula sebagai bangsa yang terjajah dan tertindas menjadi bangsa yang berdaulat penuh untuk mengurus dan menentukan sendiri nasibnya. Dalam masa peralihan ini, banyak momen-momen kritis yang dihadapi oleh bangsa Indonesia yang sekaligus sebagai ancaman terhadap keberadaan bangsa dan negara Indonesia yang baru saja memerdekakan dirinya. Kondisi negara yang baru merdeka tersebut dipandang oleh Kartini Kartono (1997) dengan mengatakan bahwa kemerdekaan politik sesudah penjajahan Belanda dan Jepang itu memang lebih mudah dicapai, dibandingkan dengan usaha rekonstruksi kultural masyarakat dan renovasi sistem pendidikan nasional. Hal itu dikarenakan oleh banyak faktor atau kejadian yang memperlambatnya. Momen-momen kritis sebagai ancaman eksternal yang dihadapi oleh bangsa Indonesia pasca proklamasi kemerdekaan yaitu sebagai berikut: a. Perjanjian rahasia Civil Affairs Agreement antara Kerajaan Inggris dan Belanda sebagai dua negara sekutu dalam Perang Dunia Kedua di Eropa tanggal 24 Agustus 1945 mengadakan perjanjian bahwa kepulauan Indonesia akan diserahkan kembali kepada Kerajaan Belanda. Atas dasar itu, Belanda membentuk pemerintahan di Indonesia dengan nama Netherlands Indies Civil Administration atau NICA dan melakukan agresi militer pertama (Perang Kolonial I) yang sangat brutal dengan algojonya Kapten Raymond Westerling. b. Berbagai kegiatan diplomatik Belanda antara tahun 1947 dan 1948 dilakukan untuk mengembalikan kekuasaannya di bekas tanah jajahannya, Indonesia. Ketidak-berhasilan dalam bidang diplomatik, Belanda melakukan agresi militer kedua (Perang Kolonial II) pada tanggal 19 Desember 1948. Kegiatan militer tersebut telah menimbulkan reaksi keras dan hebat dari negaranegara yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Setelah Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa memerintahkan penghentian peperangan antara Belanda dan Indonesia dan tekanan internasional terhadap Belanda untuk mengakui kedaulatan Indonesia, Pemerintah Kerajaan Belanda akhirnya mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949.

73

Pengakuan ini merupakan momen berakhirnya perjuangan bersenjata antara rakyat Indonesia dan tentara penjajahan. Terdapat hal penting yang patut dicatat dalam masa perang kemerdekaan ini, sebagaimana yang diungkapkan oleh Tilaar dan Nugroho (2009), yaitu bahwa dalam era ini kita mengenal upaya penguatan rasa nalionalisme. Rasa nasional yang menggelora tersebut bahkan menjadi rujukan bagi bangsa-bangsa Asia-Afrika yang sedang berjuang melawan kekuasaan kolonialisme pada waktu itu. Meskipun Indonesia telah aman secara eksternal dari gangguan Belanda, namun ancaman secara internal masih saja terjadi seperti sering terjadinya pergantian kabinet dan sistem pemerintahan dan pecahnya negara menjadi dua bentuk (Republik Indonesia dan Republik Indonesia Serikat), pemberontakan Partai Komunis Indonesia atau PKI, pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia atau PRRI, dan pemberontakan Perjuangan Rakyat Semesta atau Permesta. Peristiwa-peristiwa itu hanya merupakan babak-babak penderitaan rakyat dan proses politik yang belum selesai dalam proses Revolusi Indonesia untuk mencapai nilai yang lebih tinggi, ialah masyarakat yang adil dan makmur. Setelah Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, Pemerintah Republik Indonesia segera menunjuk Ki-hajar Dewantara sebagai Menteri Pendidikan, Pengjaran, dan Kebudayaan (PPK) yang pertama dan bertugas sampai dengan 14 November 1945. Berita Republik Indonesia, sebagaimana yang dikutip dalam Kartodirdjo dkk (1975-c), mengabarkan bahwa pada masa Mr. Suwandi menjabat Menteri PPK tahun 1946 telah dibentuk suatu panitia kerja penyelidik pendidikan dan pengajaran dengan ketua Ki-hajar Dewantara yang mempunyai tugas sebagai berikut: 1. Merencanakan susunan baru untuk tiap-tiap macam sekolah. 2. Menetapkan bahan-bahan pengajaran dan menimbang keperluan yang praktis dan tidak terlalu berat.

74

2. kemerdekaan. 75 . Salah satu hasil dari panitia tersebut yaitu merumuskan dasar-dasar dan tujuan pendidikan dan pengajaran. Menurut Kartodirdjo dkk (1975-c) bahwa dasar-dasar pendidikan menganut prinsip-prinsip demokrasi. yang menyerukan kepada para Guru supaya membuang sistem pendidikan kolonial dan mengutamakan Patriotisme. Menteri Pendidikan dan Pengajaran yang berikutnya tetap mengupayakan jalannya pendidikan dan pengajaran di sekolah secara teratur. 3. dan keadilan sosial. Hasil kerja tim perancang yang telah menjadi Rancangan Undang-Undang (RUU) tersebut diserahkan kepada Badan Pekerja Komite Nasional Pusat pada tahun 1948. UNDANG-UNDANG TAHUN 1950 PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN Hal apa yang patut dicatat dalam bidang pendidikan pada masa perang kemerdekaan selama tahun 1945-1950? Antara tahun 1945 dan 1950. termasuk fakultas. dinamika penyelenggaraan pendidikan ditandai dengan beberapa hal sebagai berikut: 1. seiring dengan proses penyusunan rancangan undang-undang sistem pendidikan dan pengajaran yang disusun oleh suatu panitia perancang dengan ketua Ki-hajar Dewantara. Menteri Pendidikan dan Pengajaran yang pertama Ki-hajar Dewantara beberapa bulan sesudah Proklamasi mengeluarkan “Instruksi Umum”. yang kelak dapat memberikan pengetahuannya kepada negara. Menyiapkan rencana-rencana peklajaran untuk tiap-tiap sekolah dan tiaptiap kelas.3. tujuan pendidikan dan pengajaran diarahkan kepada usaha mendidik dan membimbing murid-murid agar menjadi warga-negara yang berguna dan mempunyai rasa tanggungjawab.

Tujuan pendidikan dan pengajaran ialah membentuk manusia yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air. dan hanya tinggal pulau Sumatera dan beberapa karesidenan di pulau Jawa. Diberlakukannya undang-undang pendidikan pertama pada tanggal 5 April 1950 yang dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1950 tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah. Beberapa aspek penting yang dimuat dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1950 tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah antara lain adalah sebagai berikut: Aturan Umum: (1) Undang-undang ini berlaku untuk pendidikan dan pengajaran di sekolah. Pendidikan dan pengajaran berdasar atas yang termaktub dalam “Panca Sila”. KURIKULUM SMA MASA PERANG KEMERDEKAAN Mengingat kondisi negara yang masih serba darurat. sehingga kurikulum yang digunakan pada masa ini masih meneruskan pola kurikulum yang dibuat pada masa kolonial Belanda dan Jepang. Hal itu bisa terjadi mengingat bahwa pada masa ini masih dipenuhi dengan peristiwa perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan. 5. dan atas kebudayaan kebangsaan Indonesia. dan tidak berlaku di sekolah-sekolah agama dan pendidikan masyarakat. Di tengah pembahasan RUU tersebut Perang Kolonial II dengan diserangnya kota Yogyakarta secara mendadak. sebenarnya kurikulum belum memperoleh perhatian yang cukup pada masa perang kemerdekaan. Akibatnya adalah Republik Indonesia terkepung dari dalam dan luar. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia. 76 . dan (2) Yang dimaksud dengan pendidikan dan pengajaran di sekolah ialah pendidikan dan pengajaran yang diberikan bersama-sama kepada muridmurid yang berjumlah sepuluh orang atau lebih. Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran.4. Tujuan Pendidikan Dan Pengajaran.

77 . Empat partai politik terbesar diantaranya adalah: PNI (22. kesulitan dan kerumitan dalam penyelenggaraan negara pada masa liberal terutama selama 4 tahun terakhir telah mendorong Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. 4. Nahdlatul Ulama (18. Dekrit tersebut berisi penetapan mengenai: 1. 4%). Masyumi (20. pembubaran Konstituante. Pemilu tersebut diikuti oleh 172 kontestan partai politik. yakni: 1. Pemilihan Umum (Pemilu) pertama yang diselenggarakan pada tahun 1955 menunjukkan bukti bahwa partai politik sebagai peserta Pemilu sangat berkuasa dalam rangka memilih calon anggota Konstituante yang mempunyai tugas pokok merumuskan undang-undang dasar baru. 2. Selain itu. 9%). MASA DEMOKRASI LIBERAL 1950-1959 PROLOG Indonesia sejak tahun 1950 mulai memasuki masa liberal. 3. Bagian A – Alam dan Pasti. Bagian B – Budaya.Pada masa perang kemerdekaan. tidak berlakunya lagi Undag-Undang Dasar Sementara. dan 2. dan PKI (15. Kondisi ini mengakibatkan terancamnya kesatuan dan persatuan bangsa dan negara Indonesia. Konstituante yang dibentuk dari hasil Pemilihan Umum tahun 1955 setelah 4 tahun mengadakan sidang. UUD 1945 berlaku lagi bagi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. 3 %). yang ditandai dengan kekuasaan absolut partai politik untuk menentukan arah dan jalannya negara. ternyata tidak mampu untuk merumuskan konstitusi negara yang baru dan bahkan cenderung mengarah pada timbulnya perpecahan bangsa. 4%). pembentukan MPRS dan DPAS. Kurikulum Sekolah Menengah Tinggi atau SMA hanya dirubah pola pembagiannya.

dan Kebudayaan Republik Indonesia menandatangani “Piagam Persetujuan Pemerintah Republik Indonesia Serikat dan Pemerintah Republik Indonesia” pada tanggal 19 Mei 1950 dan mengeluarkan “Pengumuman Bersama Menteri Pendidikan. Pengajaran. dan Kebudayaan Republik Indonesia Serikat dan Menteri Pendidikan. Alasan pemberlakuan kembali Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1950 kembali yaitu bahwa sebelumnya undang-undang tersebut secara de facto telah pernah berlaku di Negara Republik Indonesia. Menteri Pendidikan. Undang-undang baru tersebut memuat hal yang sama dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1950 tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah yang antara lain sebagai berikut: 78 . dan Kebudayaan Republik Indonesia” pada tanggal 30 Juni 1950. yakni Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1954 tentang Pernyataan Berlakunya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1950 dari Republik Indonesia Dahulu tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah untuk seluruh Indonesia. pada tanggal 12 Maret 1954 diberlakukan undang-undang baru. yaitu bergabungnya Republik Indonesia dan Republik Indonesia Serikat yang memiliki konstitusi masing-masing. Hasil dari kerja keras selama 4 tahun. Pengajaran. Pengumuman tersebut pada intinya menyatakan mengenai berlakunya penggunaan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1950 tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah untuk seluruh daerah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pengajaran. sambil menunggu terbentuknya undang-undang baru yang lebih sempurna. dan Kebudayaan Republik Indonesia Serikat dan Menteri Pendidikan. Setelah penggabungan. Pengajaran.UNDANG-UNDANG TAHUN 1954 PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN Hal apa yang patut dicatat dalam bidang pendidikan pada masa perang kemerdekaan selama tahun 1950-1959? Antara tahun 1950 dan 1959 terjadi dinamika penyelenggaraan pendidikan sesudah terbentuknya kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(3) Memberikan perhatian terhadap kesenian. dan tidak berlaku di sekolah-sekolah agama dan pendidikan masyarakat. Bagian C – Sosial dan Administrasi. Tujuan pendidikan dan pengajaran ialah membentuk manusia yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia. 1986) Menteri Pendidikan.Aturan Umum: (1) Undang-undang ini berlaku untuk pendidikan dan pengajaran di sekolah. Namun demikian. dan (2) Yang dimaksud dengan pendidikan dan pengajaran di sekolah ialah pendidikan dan pengajaran yang diberikan bersama-sama kepada muridmurid yang berjumlah sepuluh orang atau lebih. Bagian A – Kesusasteraan. Tujuan Pendidikan Dan Pengajaran. pada masa ini sudah terjadi differensiasi yang lebih luas dari kurikulum sebelumnya. yaitu dengan menggunakan pola aliran: 1. kewarganegaraan dan masyarakat. KURIKULUM SMA MASA DEMOKRASI LIBERAL Mengingat kondisi negara yang masih serba darurat. 2. 79 . dan Kebudayaan menginstruksikan agar pengembangan kurikulum harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: (1) Pendidikan pikiran harus dikurangi. sehingga Kurikulum SMA yang digunakan pada masa ini sebenarnya masih meneruskan pola kurikulum yang berlaku pada masa perang kemerdekaan. jasmani. kurikulum masih belum memperoleh perhatian yang cukup. Pendidikan dan pengajaran berdasar atas yang termaktub dalam “Panca Sila”. Bagian B – Ilmu Alam dan Pasti. Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran. (2) Isi pelajaran harus dihubungkan dengan kehidupan seharihari. dan 3. Pengajaran. Pada masa ini (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. dan (4) Mengutamakan pendidikan watak. dan atas kebudayaan kebangsaan Indonesia.

Pengunduran diri tersebut disebabkan antara lain sebagai akibat dari ketidak-sepahaman politik dengan Presiden. yang terkenal sebagai Manifesto Politik (MANIPOL) Republik Indonesia dan kemudian disahkan sebagai Haluan Negara oleh Majelis Permusywaratan Rakyat Sementara. KONSEPSI PENDIDIKAN SAPTA USAHA TAMA DAN PANCAWARDHANA Sapta Usaha Tama. Presiden menjalankan pemerintahannya tanpa didampingi oleh seorang Wakil Presiden. (2) meningkatkan seni dan olahraga. yang telah mengukuhkan dirinya sebagai Pemimpin Besar Revolusi dan menentukan segala arah kebijakan nasional dalam penyelenggaraan pemerintahan dan negara. (4) mengharuskan penabungan. Paduka Yang Mulia Presiden Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1959 mengeluarkan amanat yang berjudul “Penemuan Kembali Revolusi Kita”. karena Wakil Presiden telah mengundurkan diri dari jabatannya. setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959. pada masa pasca dekrit. di bawah Menteri PPK Mr. Konsepsi ini terdiri atas 7 ketentuan. Gerakan pembaharuan dalam bidang pendidikan pada awal masa ini tampak ketika Departemen PPK berhasil merumuskan 2 konsepsi pendidikan. (5) 80 . yang mengarah pada pelaksanaan prinsip “Demokrasi Terpimpin”. Tahun 1959. Prijono disusun suatu konsepsi pengajaran yang disebut dengan Sapta Usaha Tama.MASA DEMOKRASI TERPIMPIN [ORDE LAMA] 1959 – 1965 PROLOG Setelah mendekritkan untuk kembali kepada UUD 1945 pada tanggal 5 Juli 1959. (3) mengharuskan usaha halaman. Masa ini ditandai dengan politik Tahun “Vivere Pericoloso" (TAVIP) atau tahun sedang menyerempet bahaya. yaitu konsepsi pendidikan sapta usaha tama dan konsepsi pendidikan nasional pancawardhana. Selain itu. yaitu: (1) penertiban aparatur dan usaha-usaha Departemen PPK.

Pancawardhana. Secara prinsip sesuai dengan jiwa Pidato TAVIP Presiden Soekarno. dan (7) membentuk regu kerja di kalangan SLA dan universitas. Tahun 1960. yaitu ilmu pengetahuan terbaru yang penyajiannya disesuaikan dengan tingkatan dan situasi yang benar-benar 81 . buku. Perkembangan emosionil-artistik atau rasa keharusan dan keindahan lahir batin. Perkembangan inteligensi. Panitia Negara Penyempurnaan Sistem Pendidikan Nasional Pancawardhana dengan bantuan pemikiran masyarakat Indonesia pada umumnya dan dunia pendidikan Indonesia khususnya telah menghasilkan Sistem Pendidikan Nasional Pancawardhana. yaitu semangat anti imperialisme. Perkembangan keprigelan (kerajinan tangan). dan kesemuanya diarahkan untu tujuan Pendidikan Nasional yang diabadikan kepada strategi dasar Revolusi seperti yang digariskan dalam MANIPOL. Harus dapat mencerminkan garis tegas dari Revolusi Indonesia. dan kegiatan ekstrakurikuler harus saling melengkapi. guru. 4. Mata pelajaran. dan feodalisme. Dalam rangka implementasi Haluan Negara MANIPOL di bidang pendidikan. Perkembangan cinta bangsa dan tanah air dan masalah moral nasional. Perkembangan jasmani. kolonialisme. 3. Harus mempunyai prinsip ilmiah. 2. b. Kurikulum SMA perlu disusun dengan memenuhi prinsip-prinsip Pancawardhana sebagai berikut: a. 5. pemerintah telah mencetuskan konsepsi pendidikan “Pancawardhana” atau Lima Pokok Perkembangan yang mencakup asepk-aspek: 1. (6) mengadakan kelas masyarakat. Pokok-pokok Pikiran Pendidikan Pancawardhana. setiap aspek pendidikan Pancawardhana harus dipadu-jalinkan dengan tiap-tiap kegiatan pendidikan. Atas dasar itu.mengharuskan usaha-usaha koperasi.

Harus sesuai dengan perkembangan anak. yaitu segala pengetahuan di dalam kelas dapat dihubungkan dengan kehidupan konkrit di masyarakat dan di tempat kerja sesuai dengan lingkungan sekolah yang bersangkutan. Penegasan bahwa Pancasila dan MANIPOL sebagai pelengkapnya menjadi azas pendidikan nasional. Harus mempunyai prinsip berpihak. 82 . d. Perkembangan kecerdasan. 2. b. Penetapan bahwa Pancawardhana sebagai sistem pendidikan yang berisikan prinsip-prinsip: a. Perkembangan cinta bangsa dan tanah air. Perkembangan jasmani. Dalam instruksi Menteri Pendididkan Dasar dan Kebudayaan tersebut pada intinya memuat hal-hal sebagai berikut: 1. Perkembangan keprigelan atau kerajinan tangan. e. yaitu memperhtikan kemampuan berpikir dan perkembangan fisik anak. yaitu ilmu pengetahuan yang mendukung kepada kepentingan Revolusi dan kehidupan umat manusia terutama golongan yang terbanyak dalam masyarakat. Pemberlakuannya didasarkan pada Instruksi Menteri Pendididkan Dasar dan Kebudayaan Nomor 2 tanggal 17 Agustus 1961 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pancawardhana/Hari Krida.fungsional-praktis dalam arti hal-hal yang terlampau teoritis yang bersifat membebani anak didik harus dihilangkan. Perkembangan emosional-artistik atau rasa keharusan dan keindahan lahir-bathin. moral nasional-internasionalkeagamaan. Pemberlakuan Pancawardhana. e. d. c. Harus dapat memadukan teori dengan praktik. c.

Rencana Pelajaran Gaya Baru yang disusun di Bandung b. Bahan-bahan yang dipergunakan dalam Rapat Kerja di Tugu tersebut.d. di Jakarta pada tanggal 29 Maret 1963 menyatakan sebagai berikut: 1. Rencana Pelajaran SMP yang telah di perbarui d. ialah: a. yang disusunnya setelah menelaah dan membahas kembali “Rencana Pelajaran SMA Gaya Baru” hasil Rapat Kerja Direktur-direktur SMA Negeri dan Swasta Seluruh Indonesia di Bandung dari tanggal 25 April s. Ketua Direktorium Jawatan Pendidikan Umum (JAPU) Slamet dan Kepala Urusan Pendidikan SMA Idris M. Urusan Pendidikan SMA dengan ini menyajikan “Rencana Pelajaran Pendidikan SMA Gaya Baru”.PANCAWARDHANA Pengantar Pemberlakuan Kurikulum SMA 1964 Dalam kata pengantar pemberlakuan Kurikulum SMA 1964. 2. olahraga. KURIKULUM GAYA BARU 1964 . kesenian. pembahasan. c. Penyelenggaraan Hari Krida atau hari untuk kegiatan-kegiatan lapangan kebudayaan. dan permainan pada tiap hari Sabtu. 3. Sebagai perwujudan dari Konsepsi Pendidikan Sapta Usaha Tama dan Pancawardhana. dan penyusunan kembali itu dilaksanakan dalam Rapat Kerja UPSMA yang telah diadakan khusus untuk tujuan itu di Tugu dari tanggal 21 Maret 1963.H. 83 .3. Hutapea yang disetujui oleh Pembantu Menteri Bidang Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Soepardo S. Laporan-laporan pelaksanan Rencana Pelajaran tersebut dari beberapa puluh SMA Negeri dan Swasta di seluruh Indonesia. 2 Mei 1962. Penelaahan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan telah berhasil merumuskan atau mengembangkan Rencana Pelajaran dan Pendidikan SMA Gaya Baru yang merupakan pelaksanaan Dasar Pendidikan (Panca Sila) dan Sistem Pendidikan (Panca Wardana). Gagasan-gagasan dari UPSMA.T.

yang telah ditetapkan oleh Pimpinan Dep. Yang jelas ialah. Kontinuita Pendidikan dan Pengajaran dari SMP ke SMA harus lebih nyata terdapat dalam Rencana Pelajaran dan Pendidikan SMA Gaya Baru itu. 84 . Rencana Pelajaran dan Pendidikan SMA Gaya Baru itu harus merupakan pelaksanaan Dasar Pendidikan (Pantja Sila) dan Sistem Pendidikan (Pantja Wardana). Ketiga. harus diikuti secermat-cermatnya. Pembimbingan dan Penyuluhan. P dan K. Sekalipun perlu diketengahkan. 5. Saran-saran dari berbagai urusan dilingkungan Dep. dan Kelima. bidang Pendidikan. Prasarana-prasaran dari beberapa ahli kita dalam bidang-bidang Bahasabahasa Timur Asing. bahwa seluruh peserta rapat kerja UPSMA di Tugu itu telah bekerja dengan kesungguhan dan kegiatan yang hamper tidak mengenal lelah. Saran-saran dari para Direktur SMA Negeri dan subsidi sebagaai peserta pada Rapat Kerja di Tugu tersebut. Penilaian-penilaian dan petunjuk-petunjuk dari Pembantu Menteri. f. i. Pendirian yang dianut dalam peninjauan dan penyusunan kembali “Rencana Pelajaran dan Pendidikan SMA Gaya Baru itu berintikan unsur-unsur: Pertama. Pendidikan dan Pengajaran di SMA Gaya Baru harus merupakan suatu kesatuan yang bulat dan harmoni. 4. h. Keempat: “Pembebanan yang berlebih-lebihan” harus dihindarkan dengan menghilangkan pengulangan-pengulangan sesuatu materi yang sama dalam berbagai mata pelajaran. Ilmu Pengetahuan Alam. Saran-saran dari kepala Jawatan Pendidikan Umum. karena penyempurnaan SMA Gaya Baru itu harus berjalan terus-menerus sepanjang masa supaya SMA itu tetap dapat mengikuti segala kemajuan-kemajuan dalam bidang ilmiah maupun bidangbidang lainnya seirama dengan perkembangan zaman. kami menyadari. Kedua. g. Perpustakaan Sekolah. P. bahwa yang dicapai belum lagi merupakan perumusan terakhir mutlak. Arah pemikiran yang telah digoreskan oleh Pembantu Menteri Bidang Pendidikan.e. dan K..

maka peranan Pembimbingan dan Penyuluhan dikelas I yang tunggal itu. Setelah pelajar-pelajar duduk di kelas II.bahwa kita selangkah lebih dekat kepada cita-cita kita tentang pembaharuan SMA kita. perlu kiranya kami tandaskan. Sehubungan dengan struktur 1-4-4 itu. b. tetapi segi-segi kependidikan yang tersimpul dalam tiap mata pelajaran mendapat sorotan yang tajam pula di dalamnya. Dikelas I itulah setiap pelajar diberi kesempatan untuk lebih mengenal minat dan bakatnya. sebab sebab ia berisi bukan hanya rentetan bab-bab dari berbagai mata pelajaran yang harus diajarkan. 6. sebagai bahan-bahan pertimbangan dalam usaha-usaha penyempurnaan-penyempurnaan yang lebih jauh lagi. Dengan mempegunakan “Peraturan kenaikan kelas” dan bahan-bahan catatan dalam kartu pribadi setiap murid. 9. maka barulah persiapan-persiapan yang lebih intensif diberikan kepada kelompok khusus yang diutamakan kelas 85 . bahwa suatu SMA hanya satu. atau tiga “Jenis” (Kelompok Khusus) Kelas II dan Kelas III. sebab struktur 1-4-4 itulah antara lain mencerminkan peninggalan SMA itu. bahwa setiap SMA harus mempunyai: a. Tidak dapat dibenarkan. dan dengan Pembimbingan dan Penyuluhan yang teliti dari para guru maupun orang tua. Ilmu Pasti. Kitab ini sengaja kami sebut Rencana Pelajaran dan Pendidikan SMA Gaya Baru. Empat “jenis” kelas II (Budaya. Sosial. Sosial. Sosial. Dan dengan ini kami serukan kepada semua peminat Pendidikan dan Pengajaran. Mengenai struktur SMA Gaya Baru itu. dua. Satu jenis kelas I. Ilmu Pasti atau Ilmu Pengetahuan Alam. Karena itu pulalah pengisian Kartu Pribadi murid harus dilaksanakan setelititelitinya. 7. dengan jalan menjelajahi segala jenis mata pelajaran yang ada di SMA. para para pelajar di salurkan ke kelas II Kelompok khusus: Budaya. c. Empat “jenis” kelas III (Budaya. dan Ilmu Pengetahuan Alam). sangat penting. agar senantiasa memberikan saran-saran yang dapat kami pergunakan kelak. 8. dan Ilmu Pengetahuan Alam). Ilmu Pasti.

4. 12. persiapan mental setiap pelajar. 2. 1. SMA itu adalah milik kita bersama. Marilah kita bina. yakin akan tugas pengabdiannya kepada Tanah Air. ia sekali-sekali tidak boleh terasing dari masyarakat. ia harus tetap berada ditengah-tengah masyarakat. 5. 3. 6. harus mengikuti pelajaran Budi Pekerti. Perlu kiranya ditegaskan juga.II yang bersangkutan. 10. sambil bekerja sama sebaik-baiknya dengan para orang tua serta masyarakat sekitarnya. IKHTISAR MATA PELAJARAN DENGAN PEMBAGIAN JUMLAH JAM DALAM SATU MINGGU KELAS I A. sehingga setiap pelajar pada akhir kelas III benar-benar siap (secara ilmiah dan mental) untuk melanjutkan pelajarannya ke Lembagalembaga Pendidikan yang lebih tinggi. 86 . Dalam tujuan-tujuan yang tersebut diatas terjalin secara mutlak dan organis. 11. agar ia dapat berbakti kepada Nusa dan Bangsa menurut bidang tugasnya. *) KELOMPOK DASAR Kewargaan Negaraan Bahasa dan Kesusasteraan Indonesia Sejarah Indonesia Ilmu Bumi Indonesia Pendidikan Agama/Budi Pekerti *) Pendidikan Jasmani dan Pendidikan Kesehatan TAHUN I 2 4 1 1 2 3 Jumlah 13 Murid yang tidak mengikuti pelajaran Agama. sehingga ia menjadi warga Negara patriot paripurna yang berguna bagi Nusa dan Bangsa. bahwa tujuan pokok dari pendidikan dan pengajaran di SMA Gaya Baru itu ialah mempersiapkan para pelajar secara ilmiah untuk perguruan-perguruan yang lebih tinggi. tata usaha) yang hidup dan harmonis ditiap sekolah. dan pupuk terus SMA Gaya Baru kita ini. sempurnakan. Oleh karena itu pulalah pelaksanaan dan pembinaan SMA itu harus berjalan dengan cara gotong royong oleh suatu kesatuan Regu Kerja (Direktur. Disamping itu keterampilan-keterampilan yang sesuai dengan minat dan bakat masingmasing serta sangat berguna bagi masyarakat yang bagi dirinya sendiri harus harus dimiliki oleh setiap pelajar dengan jalan latihan-latihan praktis menurut rancana yang dtertentu. Guruguru.

KELAS II & III KELOMPOK KHUSUS BUDAYA (BUD) A. 14. 12. 9. 2. 14. Tahun III 2 4 2 1 3 4 2 18 Jumlah C. 8. 16. KELOMPOK KHUSUS Ilmu Pasti Ilmu Alam Ilmu Kimia Ilmu Hajat Sejarah Bahasa Inggris Salah satu bahasa Timur atau bahasa Asing lainnya Ekonomi dan Koperasi Menggambar 4 3 3 2 2 3 2 2 2 Jumlah C. 1. 12. *) 23 2 2 Prakarya Krida *) JUMLAH 2 Tiap jam pelajaran yang diberikan untuk tiap jenis kegiatan dalam rangka Prakarya atau Krida diperhitungkan sebagai jam pelajaran resmi. 9. 6. 15. 4. 5. 8. 10. 3. B. 11. 10. 11. 13. *) KELOMPOK DASAR Kewargaan Negaraan Bahasa dan Kesusasteraan Indonesia Sejarah Indonesia Ilmu Bumi Indonesia Pendidikan Agama/Budi Pekerti *) Pendidikan Jasmani dan Pendidikan Kesehatan Tahun II 2 4 1 1 2 3 Tahun III 2 4 1 1 2 3 13 Jumlah KELOMPOK KHUSUS BUD 7. Bahasa dan Kesusasteraan Indonesia Sejarah Ilmu Bumi Antropologi Budaya Bahasa Kawi Bahasa Inggris Ekonomi dan Koperasi 13 Tahun II 2 4 2 1 2 4 2 Murid yang tidak mengikuti pelajaran Agama. 17 Tahun II 2 2 2 KELOMPOK PENYERTA Menggambar Salah satu bahasa Timur atau bahasa Asing lain Bahasa Daerah *) Tahun III 2 3 2 87 . 13. 7. harus mengikuti pelajaran Budi Pekerti. 15.B. D.

5. *) 6 2 2 2 7 2 40 Prakarya Krida *) JUMLAH 40 Tiap jam pelajaran yang diberikan untuk tiap jenis kegiatan dalam rangka Prakarya atau Krida diperhitungkan sebagai jam pelajaran resmi. *) 6 2 2 Prakarya Krida *) JUMLAH 40 Tiap jam pelajaran yang diberikan untuk tiap jenis kegiatan dalam rangka Prakarya atau Krida diperhitungkan sebagai jam pelajaran resmi. 10. 17. 14. 2. KELOMPOK KHUSUS SOSIAL (SOS) A. 13. B. 16. harus mengikuti pelajaran Budi Pekerti.17. Tahun III 1 1 2 3 3 3 3 18 Jumlah C. Bahasa & Kesusasteraan Indonesia II Sejarah Dunia & Sejarah Perekonomian Ilmu Bumi Alam Bahasa Inggris Ilmu Pasti Tata Buku Ekonomi & Koperasi 13 Tahun II 1 2 2 2 2 2 2 Murid yang tidak mengikuti pelajaran Agama. 17 Tahun II 2 2 2 2 KELOMPOK PENYERTA Menggambar Salah satu bahasa Timur atau bahasa Asing lain Bahasa Daerah *) Pengetahuan Alam *) Tahun III 2 3 2 2 7 2 40 Jumlah D. 15. 9. E. 12. 88 . 3. Pengetahuan Alam *) 2 Jumlah D. 1. 6. E. 11. 8. 4. *) KELOMPOK DASAR Kewargaan Negaraan Bahasa dan Kesusasteraan Indonesia Sejarah Indonesia Ilmu Bumi Indonesia Pendidikan Agama/Budi Pekerti *) Pendidikan Jasmani dan Pendidikan Kesehatan Tahun II 2 4 1 1 2 3 Tahun III 2 4 1 1 2 3 13 Jumlah KELOMPOK KHUSUS SOS 7.

13. 3. harus mengikuti pelajaran Budi Pekerti. harus mengikuti pelajaran Budi Pekerti. *) 6 2 2 Prakarya Krida *) JUMLAH 40 Tiap jam pelajaran yang diberikan untuk tiap jenis kegiatan dalam rangka Prakarya atau Krida diperhitungkan sebagai jam pelajaran resmi. 4. 1.KELOMPOK KHUSUS ILMU PASTI (PAS) A. B. 5. 15. 2. KELOMPOK KHUSUS ILMU PENGETAHUAN ALAM (PAL) A. *) KELOMPOK DASAR Kewargaan Negaraan Bahasa dan Kesusasteraan Indonesia Sejarah Indonesia Ilmu Bumi Indonesia Pendidikan Agama/Budi Pekerti *) Pendidikan Jasmani dan Pendidikan Kesehatan Tahun II 2 4 1 1 2 3 Tahun III 2 4 1 1 2 3 13 Jumlah KELOMPOK KHUSUS PAL 13 Tahun II Murid yang tidak mengikuti pelajaran Agama. 10. 6. 16. Tahun III 89 . 17 Tahun II 2 2 2 2 KELOMPOK PENYERTA Bahasa Inggris Menggambar Ekonomi dan Koperasi *) Ilmu Bumi Alam dan Ilmu Falak *) Tahun III 3 2 2 2 7 2 40 Jumlah D. *) KELOMPOK DASAR Kewargaan Negaraan Bahasa dan Kesusasteraan Indonesia Sejarah Indonesia Ilmu Bumi Indonesia Pendidikan Agama/Budi Pekerti *) Pendidikan Jasmani dan Pendidikan Kesehatan Tahun II 2 4 1 1 2 3 Tahun III 2 4 1 1 2 3 13 Jumlah KELOMPOK KHUSUS PAS 7. 14. Tahun III 3 1 2 2 4 3 2 18 Jumlah C. 11. 17. 3. 5. 9. 8. 1. 12. Aljabar & Ilmu Ukur Analitika Ilmu Ukur Sudut Ilmu Ukur Ruang Mekanika Ilmu Alam Ilmu Kimia Ilmu Hayat & Kesehatan 13 Tahun II 2 1 2 2 4 3 2 Murid yang tidak mengikuti pelajaran Agama. 2. B. E. 6. 4.

Meskipun di satu pihak pemerintah pada masa ini melakukan pembangunan untuk mensejahterkan dan memajukan rakyatnya. dan (3) mengimbangi pelajaran otak dengan keterampilan tangan. 8. E. Pemerintahan Demokrasi Pancasila. 90 . 16. Penyelenggaraan Prakarya bertujuan untuk: (1) mengajarkan keterampilan dasar yang berguna untuk kehidupan sehari-hari. Penyelenggaraan Krida bertujuan untuk memperkenalkan kegemaran (hobby) murid yang “nonbookish” dalam rangka PANCAWARDHANA. 17 Tahun II 2 2 2 2 5 2 4 3 1 1 2 18 KELOMPOK PENYERTA Bahasa Inggris Menggambar Ekonomi dan Koperasi *) Ilmu Bumi Alam dan Ilmu Falak *) Tahun III 3 2 2 2 7 2 40 Jumlah D. (2) mendidik menghargai pekerjaan tangan. 13. 15. 14. 11. MASA DEMOKRASI PANCASILA [ORDE BARU] 1966 – 1998 PROLOG Setelah pemerintahan Demokrasi Terpimpin yang dipimpin oleh Presiden Soekarno berakhir pada tahun 1966. Ilmu Kimia Ilmu Hajat dan Ilmu Kesehatan Ilmu Alam Aljabar dan Ilmu Ukur Analitika Ilmu Ukur Sudut Ilmu Ukur Ruang Mekanika 4 3 4 3 1 1 1 Jumlah C. *) 6 2 2 Prakarya Krida *) JUMLAH 40 Tiap jam pelajaran yang diberikan untuk tiap jenis kegiatan dalam rangka Prakarya atau Krida diperhitungkan sebagai jam pelajaran resmi. 10. selanjutnya tampil pemerintahan Demokrasi Pancasila yang dipimpin oleh Jenderal Soeharto sebagai Presiden Ke-2 Republik Indonesia. 9. namun di pihak lain pemerintahan dijalankan dengan pola diktator-totaliter. 12. selanjutnya disebut dengan pemerintahan Orde Baru.7. 17.

Pada 1968. Orde Baru memilih perbaikan dan perkembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya dan menempuh kebijakannya melalui struktur administratif yang didominasi militer namun dengan nasehat dari ahli ekonomi didikan Barat. sehingga mereka yang berada di lapangan hanya menunggu datangnya pedoman atau panduan atau petunjuk teknis pelaksanaan dari pusat. Dengan kata lain bahwa para pejabat pada tingkat pusat dan daerah tidak banyak yang berani mencoba untuk mengemukan pemikiran mengenai pembaharuan yang datang dari mereka sendiri (bottom up). Orde Baru hadir dengan semangat "koreksi total" atas penyimpangan yang dilakukan oleh Soekarno pada masa Orde Lama. Orde Baru menggantikan Orde Lama yang merujuk kepada era pemerintahan Soekarno. dan 1998. bisa tercapainya stabilitas politik pada satu sisi dan pertumbuhan ekonomi di pihak 91 . Selain itu. MPR secara resmi melantik Soeharto untuk masa jabatan 5 tahun sebagai presiden. Orde Baru adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Soeharto di Indonesia. 1983. 1978. Pembaharuan pendidikan selalu datang dari pusat (top down). sehingga melebarkan jurang pembangunan antara pusat dan daerah. Hal ini mengakibatkan aspirasi rakyat sering kurang didengar oleh pusat. Pembagian PAD juga kurang adil karena 70% dari PAD tiap provinsi tiap tahunnya harus disetor kepada Jakarta. Anggotanya bahkan seringkali dipilih dari kalangan militer. 1993. Orde Baru berlangsung dari tahun 1966 hingga 1998. kesenjangan antara rakyat yang kaya dan miskin juga semakin melebar.Penyelenggaraan pemerintahan semacam itu telah menyebabkan tertutupnya segala pemikiran. ekonomi Indonesia berkembang pesat meskipun hal ini terjadi bersamaan dengan praktik korupsi yang merajalela di negara ini. DPR dan MPR tidak berfungsi secara efektif. khususnya mereka yang dekat dengan Cendana. Dalam jangka waktu tersebut. Soeharto siap dengan konsep pembangunan yang diadopsi dari seminar Seskoad II 1966 dan konsep akselerasi pembangunan II yang diusung Ali Moertopo. dan dia kemudian dilantik kembali secara berturut-turut pada tahun 1973. 1988. Soeharto merestrukturisasi politik dan ekonomi dengan dwitujuan.

b) kondisi sekolah serta fasilitas yang ada harus baik. diantaranya. Kurikulum 1964 SMA Gaya Baru yang berlaku pada masa Demokrasi Terpimpin masih digunakan sampai dengan adanya kurikulum baru pada tahun 1968. Seandainya asumsi-asumsi itu dipenuhi semuanya. dan lembaga pemikir serta dukungan kapital internasional. Segera sesudah hasil itu. Dan Kursus-Kursus SMA Gaya Baru telah berjalan mulai 1962 dan pada tahun 1965 untuk pertama kali sudah menghasilkan buahnya. Dengan ditopang kekuatan Golkar. TNI. kekurangan-kekurangan itu disadari oleh petugas-petugas dalam pendidikan SMA mulai dari guru sampai dengan pengawas-pengawas di Dinas SMA. dan c) keadaan ekonomi negara kita sifatnya stabil. Kejuruan. oleh karena belum adanya kurikulum baru. Dengan bertambahnya usianya. Lebih dari siapapun. bahwa a) guru harus cukup tersedia untuk semua mata pelajaran. Soeharto mampu menciptakan sistem politik dengan tingkat kestabilan politik yang tinggi. Kita tidak boleh lupa. tetapi pada hakekatnya kurikulum SMA Gaya Baru itu an sich tidak buruk. ternyata memang ada kekurangan-kekurangan. bahwa kurikulum itu dibuat dengan berbagai asumsi. KURIKULUM 1968 Pengantar Pemberlakuan Kurikulum SMA 1968 Dari Dinas SMA Pada Direktorat Pendidikan Umum. kiranya kurikulum SMA Gaya Baru itu akan mencapai hasil yang dicita-citakan. telah ada sementara kalangan yang mulai mengeluarkan kritik. Terdorong oleh kesadaran itu dan dirangsang lagi oleh policy pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk lebih mengutamakan pendidikan kejuruan sesuai dengan pembangunan negara kita yang bersumber kepada Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Dalam bidang pendidikan pada awal masa Orde Baru ini.lain. walaupun menurut pendapat kami belum cukup waktu untuk mengadakan evaluasi. maka dalam waktu-waktu terachir ini 92 .

A Gaya baru itu secara menyeluruh dalam rapat kerja Dinas S. 93 .M. Oleh karena itu perlu sekali ditegaskan.A Gaya Baru yang disempurnakan. sebab itu adalah wewenang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalui suatu Curiculum Board.M. sering secara tidak langsung.M. Hal itu sangat disadari bahwa Dinas S. kami telah berusaha sebanyak mungkin mengikutsertakan tenaga luar. Dan kami berbesar hati. karena keuangan negara masih memungkinkannya.A di Mega Mendung.Dinas SMA sibuk dalam usahanya menyelesaikan kurikulum SMA Gaya Baru dengan tuntutan masa. bahwa hasil usaha Dinas S. diturut sertakan juga sebanyak mungkin tokoh-tokoh dari segala lapisan masyarakat yang dapat menyumbangkan pikiran. Hasil usaha itu kemudian dipersembahkan kepada Bapak Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dengan penjelasan. bahwa yang dipersembahkan itu bukan kurikulum baru. Rapat dinas S. Bogor. Cipayung.A telah diadakan dalam bulan Juli 1967 di Semarang dan hasilnya telah disampaikan kepada pimpinan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan dikirimkan kedaerah – daerah untuk dibahas dan dimintai pendapat. maka dalam suasana prihatin sekarang ini Dinas SMA harus berusasa mencapai hasil yang semaksimal mungkin dengan funds yang sangat terbatas. Walaupun segala-galanya terbatas.Dengan bahan2 yang dapat dikumpulkan dari daerah achirnya Dinas S.M.A tidak berwenang untuk menciptakan kurikulum baru.Kami sendiri telah ke beberapa daerah dan telah menghadapi langsung tokoh-tokoh masyarakat dan orangtua untuk mendengarkan pendiriannya. tetapi kurikulum yang disempurnakan.M. Kalau pada waktu diciptakan kurikulum SMA Gaya Baru telah dikerahkan funds forces yang tidak sedikit lebih-lebih waktu semua direktur SMA seluruh Indonesia berkumpul di Bandung dalam bulan April 1962. bahwa Bapak Direktur Jenderal Pendidikan Dasar telah dapat memahami penjelasan kami itu dan telah menyetujui penyempurnaan itu pada Rapat.

30. Sudah barang tentu penyusunannya disesuaikan dengan keadaan zaman pada waktu itu sehingga dianutlah suatu pendirian yang didasarkan antara lain kepada Pancawardhana. Waskito TS di Jakarta pada tanggal 13 April 1968 yang ditujukan kepada seluruh Kepala Inpro UKK. tahun 1965 yang lalu. Rencana Pelajaran itu dilaksanakan disekolah oleh guru-guru. b. Lazimnya mekanisme untuk menyempurnakan Rencana Pelajaran itu adalah sebagai berikut: a.K. Sejak peristiwa G. yaitu aparat yang memang tugasnya bergerak dibidang teknis pendidikan. saransaran penyempurnaan itu disampaikan oleh Inspektur Daerah kepada Kepala Dinas Inspektur pusat. bahwa pekerjaan menyempurnakan Rencana Pelajaran itu sesungguhnya adalah pekerjaan teknis routine dari aparat kami. Kekurangankekurangan ini disampaikan kepada Kepala Sekolah disertai saran-saran penyempurnaan. 94 . Kepala Urusan SMA.I. Karena pengalaman itu diketahuilah kekurangan-kekurangannya. Kejuruan. c. Dalam Rapat Dinas yang sedikitnya diselenggarakan setahun sekali. serta perubahan susunan kemasjarakatan jang dimaklumatkannya telah ditimbulkan dorongan yang lebih besar berapa perlunya Rencana Pelajaran itu ditinjau kembali.Surat Edaran Kepala Direktorat Pendidikan Umum. Dan KursusKursus Atas Nama Direktur Jenderal Pendidikan Dasar – Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Surat Edaran yang berupa Instruksi Pelaksanaan Rencana Pelajaran SMA Yang Disempurnakan ini ditandatangani oleh Drs. Instruksi tersebut adalah sebagai berikut: Seperti diketahui Rencana Pelajaran SMA yang terakhir dikeluarkan pada tahun 1964. Sementara itu patutlah disadari. Saran-saran tadi oleh Kepala Sekolah disampaikan kepada Inspektur Daerah. Kepala SMA Negeri dan Swasta di seluruh Indonesia.S/P.

Pekerjaan ini berjalan selaku proses terus menerus. Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa penyempurnaan dan penertiban Rencana Pelajaran SMA itu ditujukan kepada penyempurnaan syllabus dan segi pengorganisasian kelas-kelas SMA. Menimbulkan administrasi jenis guru. Akibat adanya empat kelompok itu. maka timbullah hal-hal yang kurang baik sebagai berikut: a. Hasil pengolahan itu sebagai suatu penyempurnaan atas Rencana Pelajaran. Tetapi akibat perubahan situasi politik sejak tahun 1965 itu tampak adanya suatu keinginan dan keperluan untuk mengadakan perubahan yang fundamentil bukan saja atas pendidikan di SMA tetapi juga di lembaga-lembaga pendidikan sebelumnya. baik untuk tiap-tiap vak maupun untuk semua vak disampaikan kepada instansi-instansi yang lebih tinggi untuk disahkan. c. maka sering timbul konflik peyenologis lebih-lebih menjelang kenaikan ke kelas II. Inilah yang disebut pekerjaan yang dengan istilah teknis dikenal dengan nama: Menyempurnakan Rencana Pelajaran yaitu pekerjaan routine teknis dari para Inspektur baik didaerah maupun dipusat. tenaga. Yang secara singkat menimbulkan tak efisiensi dalam penggunaan ruang. b. materiil dan keuangan. antara keinginan orang tua. e. pengeluaran honorarium. Sambutan masyarakat dan pelajar terhadap kelompok budaya pada umumnya sangat kurang.d. d. Yang dimaksudkan dengan segi pengorganisasian kelas-kelas SMA itu adalah sebagai berikut: Sejak dipergunakan pengorganisasian kelas SMA dengan cara penyusunannya menjadi satu kelas tunggal untuk kelas 1 dan 4 kelompok kelas untuk kelas II dan III. hasrat 95 . Berdasarkan saran-saran itu para Kepala Dinas/Inpektur Pusat dengan Stafnya dan bantuan ahli-ahli diluar lingkungan Dinas mengadakan pengolahan kembali. Organisasi SMA menjadi tidak sederhana. dan pengeluaran lain-lain yang bersifat memboroskan.

1 Januari 1969. maka kesempatan untuk menyempurnakan syllabus itu sekaligus dibarengi dengan penertiban organisasi SMA itu. Oleh karena tidak sederhana susunan 1-4-4 itu nyata senyata-nyatanya. tanpa menunggu dulu instruksi resmi dari Instruksi Pusat di Jakarta. b. baik seperti apa yang dilihat dan dikemukakan oleh masyarakat kepada kita. Murid-murid kelas I SMA tahun 1969 dan murid-murid kelas II SMA tahun 1969 (yaitu yang sekarang duduk di kelas I tahun 1968) akan mempergunakan Rencana Pelajaran yang disempurnakan. maka untuk menghilangkan keragu-raguan itu semua kami mengeluarkan Surat Edaran ini yang berisi instruksi sebagai berikut: a. Oleh karena peristiwa seperti ini. bahwa seolah-olah ada dua macam SMA. yang terjadi dibeberapa daerah walaupun maksudnya baik. Walaupun belum satupun dikeluarkan Instruksi tentang usaha penyempurnaan dan penertiban Rencana Pelajaran tersebut diatas. tetapi dapat menimbulkan salah mengerti dalam lingkungan msyarakat orang tua. Rencana Pelajaran yang penyempurnaannya terakhir dilakukan di Megamendung. sesudah rapat dinas di Semarang akan berlaku pada tgl. 96 . Ada daerah-daerah yang karena antusiasmenya terhadap penyempurnaan Rencana Pelajaran itu. Pikiran dan kegiatan untuk mengadakan penyempurnaan yang terakhir sekali dilakukan dalam tingkatan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar pada bulan Desember 1967 di Tugu. tetapi sejak itu telah tersebarlah berita kedaerah-daerah tentang Rencana Pelajaran SMA itu. mengambil langkah-langkah persiapan untuk menyongsong realisasi Rencana Pelajaran yang disempurnakan itu dengan jalan menggabungkan dua kelompok Pus-Pal menjadi satu juga.pelajar dan penilaian sekolah dalam menentukan jurusan itu sering menjadi hal yang sangat menyulitkan sekolah. maupun dari pengalaman kita.

Tujuan dan Isi pendidikan di Indonesia harus mencakup sesuai dengan tingkatan dan bidangnya dalam pendidikan di SMA menjadi sumber pokok dalam menyusun dasar. DAN ISI PENDIDIKAN SMA Mengenai Pendidikan. TUJUAN. dan (3) Membina perkembangan physic yang kuat dan sehat. Murid-murid kelas III SMA tahun 1969 (yaitu yang sekarang duduk di kelas II tahun 1968) akan tetap mempergunakan Rencana Pelajaran lama. e. Ketetapan Sidang Umum IV Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). tujuan dan isi pendidikan di SMA dan merupakan kelompok-kelompok mata pelajaran yang 97 .Membentuk manusia Panca Sila sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan seperti yang dikehendaki oleh Pembukaan UUD 1945 dan isi UUD 1945. Ketetapan Nomor XXVII/MPRS/1966 merumuskan sebagai berikut: Dasar Pendidikan: --.c. d. Segala sesuatu yang mungkin timbul karena Instruksi ini akan ditampung dalam instruksi khusus. (2) Mempertinggi kecerdasan dan ketrampilan. Penggabungan-penggabungan dari kelompok Sos-Pal manjadi satu seperti yang sudah dilakukan oleh beberapa daerah dalam tahun 1968 ini diizinkan. karena masih tetap mempergunakan Rencana Pelajaran lama. TENTANG DASAR.Falsafah Negara Panca Sila. Jelas bahwa perumusan Keputusan Sidang Umum IV MPRS Nomor XXVII/MPRS/1966 di atas mengenai Dasar. Tujuan: --. Isi Pendidikan: (1) Mempertinggi mental-moral-budi pekerti dan memperkuat keyakinan beragama.

98 . dan konsep rencana pelajaran hasil Semarang telah memenuhi syarat.mempertinggi kecerdasan dan keterampilan. kejujuran dan pembinaan perkembangan pisik yang kuat dan sehat. Dalam didaktik/metodik harus dirumuskan adanya keseimbangan yang paling menguntungkan anak didik aantara teori dan praktek mata pelajaran. Takusah di jelaskan. daya kreasi dan aktivitas anak didik. dalam pelbagai lapangan. Wadahnya ialah: KARYA – PELAJARAN. Jadi harus “experience-centered” dengan menggunakan “problem solving method” untuk membangkitkan.Falsafah Negara Pancasila. minat. sesuai dengan bakat dan minat masing-masing. II. yang akan menjadi pelaksana utamanya. Intelegensinya yang dilengkapi dengan dasar-dasar umum kecakapan. juga dalam hal ini SEMARANG telah memenuhi syarat. antara ilmu pengetahuan dan segi “appliednya”. (2) mempersiapkan anak didik untuk memasuki perguruan tinggi dengan jalan mematangkan mental. Tujuan Pendidikan: (1) membentuk manusia Pancasila sejati berdasrkan ketentuan seperti dikehendaki oleh pembukaan dan isi UUD 1945. Dalam perincian kurikulum harus ada wadah untuk membina “ketrampilan” itu. bahwa hal ini menyangkut pertama-tama si pendidik sendiri. Hal-hal lain yang diambilkan dari perumusan tentang Isi pendidikan tersebut di atas ialah sebagai berikut: . sehingga tamatannya dapat mengembang dirinya pada lembaga-lembaga pendidikan lainnya dan lembagalembaga masyarakat. dan (3) memberikan dasar-dasar keahlian umum kepada anak didik. Diktum ini harus tergambar dalam didaktik dan metodik dan dalam perincian kurikulum sebagai berikut: I. yang memerlukan SMA sebagai dasarnya. Maka perumusan mengenai pendidikan di SMA menjadi sebagai berikut: Dasar Pendidikan: --.mengisi pendidikan di SMA sesuai dengan perumusan Sidang Umum IV MPRS tersebut diatas.

Metodik/Didaktik pendidikan: Penjelasan pendahuluan: Untuk dapat menjalani tujuan pendidikan (membentuk manusia Pancasila sejati dan sebagainya) perlu keseimbangan pada anak didik antara segi mental moral. 2. Setiap mata pelajaran diberikan secara “experience-centered”. d. 99 . Setiap mata pelajaran harus diberikan. Unsur pembentukan mental moral Pancasila harus dimanfaatkan secara maksimal dala mengajarkan dalam setiap mata pelajaran. maka tujuan pendidikan belum dapat tercapai. Kelompok pembinaan pengetahuan dasar c. Pendidikan kesejahteraan keluarga da prakarya pilihan ……. b. Kelompok mata pelajaran yang menitik beratan pada pembinaan-pembinaan mental-mental budi pekerti Pancasila dan memperkuat keyakinan beragama……. Tanpa adanya keseimbangan dan keserasian antara kelima unsur itu. dalam ko-relasi dengan mata pelajaran. Dimasukan kedalam kelompok pembinaan kecakapan khusus. 1.Jalannya metodik/didktik disini bertujuan mencapai sasaran itu secara menyeluruh. Kelompok pembinaan jiwa Pancasila. Kelompok mata pelajaran yangmenitik beratkan pada penguasaan dasar-dasar ilmu pengetahuan beserta segi kegiatan mata pelajarannya masing-masing ……. 3. sehingga melalui pengalaman dibangkitkan minat untuk mempraktekkan apa yang dikuasai. yang dikelompokkan dan terdiri atas jenis kelompok sebagai berikut: a.Isi Pendidikan terdiri atas suatu kurikulum. Olahraga ……… dimasukkan keliompok jiwa Pancasila. segi penguasaan ilmu pengetahuan dengan mental intelegensi. yang akhirnya sampai pada pengertian melalui pembangkita minat secara maksimal. segi pemanfaatan apa yang diketahui itu dengan daya kreatif dan aktivitasnya dan kesehatan fisik serta daya penyesuaian sosialnya.

membina ilmu pengetahuan. yang diatur dalam kurikulum. Melalui olahraga yang sistematis harus ditingkatkan daya kemampuan fisik. 5. wajar dan sejauh mungkin mengamalkan kerja bagi setiap mata pelajaran. Jadi pada hakekatnya setiap ilmu pengetahuan ditujukan untuk memajukan taraf hidup manusia. 6. Dalam menjadikan pelajaran perlu diperhatika hubungannya dengan tanah air. Bentuk ini akhirnya tumbuh menjadi cabangcabang dan ranting-ranting Ilmu Pengetahuan yang terpencil. Menyadari akan kekurangan-kakurangan ini. SMA sebagai suatu lembaga pendidikan yang diantaranya. agar anak didik dapat meningkatkan mentalnya untuk menyesuaikan diri dengan keadaan alam sosialnya. Metode (problem solving) harus dilaksanakan dalam memberikan setiap mata pelajaran. mamperbaiki keaadaan dan bentuk rumahnya. menyempurnakan cara-cara pembutan alat-alatnya dan dipakai sehari-hari. serta cara menyeluruh perlu di perhatikan segi hygiene pendidikan. Dengan sepenuhnya menyadari. dunia dan masyarakat sekelilingnya. maka salah satu jlan yang dapat di tempuh ialah secara konsekuen. Penjelasan tentang Karya Pelajaran: Sepanjang masa umat manusia secara berkelompok atau secara perseorangan senantiasa berusaha untuk meningkatkan taraf hidupnya dengan menambah pengetahuannya. wajib menyadari hal diatas sedalam-dalamnya. dan menyadari pula hakekat tujuan setiap ilmu pengetahuan. namun 100 . Salah satu terhadap pendidikan di SMA dewasa ini ialah bahwa sifatnya masih terlalu intelektualistis dan teoritis. pakaiannya dan menyempurnakan gizi makanannya. terurai dan jelas bidang geraknya. tetapi juga tidak terasing dengan perkembangan dewasa ini.4. bahwa fasilitas pendidikan di daerah-daerah dan di sekolah-sekolah itu tak sama dan pula mengahadapi berbagai kesulitan. untuk dimanfaatkan terhadap kemajuan dan kebahagian umat manusia secara spirituil dan materiil.

untuk penghidupan praktis. pada anak didik akan timbul distansi antara penguasaan suatu jenis ilmu pengetahuan dan segi aplikasinya. pada para pelajar dengan demikian dapat ditanamkan pengertian adanya secara nyata hubungan dengan mata pelajaran (ilmu pengetahuan) yang satu dengan yang lain.M. di mana tamatan SMA akhirnya tak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi. jadi pendidikan kejuruan. hanya menambah pengangguran belaka. Penjelasan tentang ko-relasi pelajaran: Dewasa ini makin di rasakan bahwa suatu ilmu pengetahuan tertentu dalam aplikasinya untuk abdikan kepada kebahagiaan umat manusia tak mungkin dapat berdiri sendiri jika ingin di capai sukses. kecuali menyadari hal diatas. Hal ini supaya mendapat perhatian sepenuhnya dari pengajar mata pelajaran pokok dan pula dari pengajar mata pelajaran yang ada sangkut pautnya. Harus dicegah bersama suatu gejala sosial. Pentahapan pemberlakuan Rencana Pelajaran agar dapat dilaksanakan di tiap-tiap SMA diatur sebagai berikut: 101 . Dengan demikian.A pun mengajarkan ilmu hayat misalnya adakalanya menyinggung bagian-bagian dari kimia ataupun fisika. agar pemanfaatannya. lebih ditingkatkan. Ditingkat S. terlebih-lebih dewasa ini dimana yang diutamakan pendidikan tenaga kerja. Di perguruan tinggi setiap mata kuliah pokok di kuliahkan bersama dengan beberapa mata kuliah pembantunya jadi kalalu di nilai dari segi appliednya perlu di temukan suatu ko-relasi antara beberapa cabang ilmu pengetahuan. Para pendidik harus benar-benar menyadari hal-hal ini. maka dalam memerinci kurikulum menurut mata pelajaran di sediakan untuk ko-relasi mata pelajaran.karya pelajaran harus dimulai secara sungguh-sungguh dengan tak melupakan kondisi-kondisi setempat. segi pemanfaatannya. Agar dicapai sistematik yang baik dan manfaatnya terhadap pendidikan makin meningkat. agar dapat diperoleh pengertian yang lebih dari bagian yang sedang diajarkan.

akan mempergunakan Rencana Pelajaran yang disempurnakan. Rencana Pelajaran SMA 1968 yang telah disetujui adalah sebagaimana yang diuraikan dalam tabel berikut ini.a. 102 . Murid-murid SMA yang baru masuk tahun 1969 langsung menggunakan Rencana Pelajaran 1968. b. yang sekarang duduk di Kelas I tahun 1968. Murid-murid Kelas II tahun 1969. demikian juga dari kelompok Pas – Pal menjadi satu seperti yang sudah dilakukan oleh beberapa daerah dalam tahun 1968 ini diizinkan. e. Penggabubangan dari kelompok Sos – Bud menjadi satu. Segala sesuatu yang mungkin timbul karena Instruksi ini akan ditampung dalam instruksi khusus. d. yang sekarang duduk di Kelas II tahun 1968. akan tetap mempergunakan Rencana Pelajaran yang lama. c. Murid-murid Kelas III tahun 1969. karena masih tetap mempergunakan Rencana Pelajaran lama.

Menggambar 9. Pendidikan Olah Raga JUMLAH 11 11 JUMLAH KELOMPOK PEMBINAAN PENGETAHUAN DASAR 1. Bahasa Indonesia 4. Keterampilan 2 b. Ilmu Ukur: Ruang 4.RENCANA PELAJARAN SMA 1968 KELAS 1. Pendidikan Olah Raga JUMLAH 1. Bahasa Inggeris 4 4 6. Menggambar 9. PKN 3. Bahasa b. Biologi Sastra-Budaya Sosial 8. Ekonomi & Koperasi 3 3 4. Ilmu Pasti Tata Buku 2 2 JUMLAH 26 28 JUMLAH KELOMPOK PEMBINAAN KECAKAPAN KHUSUS 1. PKK 2. Biologi 7. Bahasa Inggeris 10. Keterampilan JUMLAH SATU 3 2 3 3 11 3 2 5 4 3 2 2 2 3 26 2 1 2 42 KELAS ILMU PASTI-PENGETAHUAN ALAM II III KELOMPOK PEMBINAAN JIWA PANCASILA 1. PKK 2. Sejarah 3 3 2. Bahasa Indonesia 3 3 3. Bahasa Kawi Ilmu Pasti 2 3 9. Geografi & Antropologi Budaya 3 3 3. Ilmu Pengetahuan Alam 2 2 7. Prakarya Pilihan a. Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) 2 2 1. Ekonomi & Koperasi 8. Prakarya Pilihan a. Bahasa Indonesia 4. Mekanika 6. Bahasa Inggris JUMLAH 1. Geografi 3. Geografi 8. Prakarya Pilihan 2. Fisika 5. Pendidikan Olah Raga 3 3 4. Aljabar dan Analit 2. Kimia 6. Menggambar 2 2 5. Pendidikan Agama 3 3 1. Pendidikan Agama 2. Fisika 5. Bahsa & Kesenian Indonesia/Mengarang 4 4 1. Kimia 7. PKN 3. Pendidikan Agama 2. Sejarah Kebudayaan Pengetahuan Dagang 1 2 10. Keterampilan JUMLAH 42 42 JUMLAH SASTRA-SOSIAL-BUDAYA KELAS II III 3 2 3 3 11 3 1 2 4 2 4 3 2 2 3 26 2 1 2 42 3 2 3 3 11 4 1 2 4 2 4 3 2 2 3 28 2 42 103 . Bahasa 1 a. Ilmu Pasti 4. Sejarah 2. Bahasa b. Ilmu Ukur: Sudut 3. PKN 2 2 2.

untuk meneliti dan mengembangkan kurikulum baru yang lebih sesuai dengan tuntutan baru. yang secara bersama telah dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan – Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. 104 . menyadari betapa kita harus meninjau dan mempengaruhi kurikulum yang sudah berjalan selama 6 tahun itu agar sesuai dengan perkembangan dan tuntutan baru masyarakat dan bangsa Indonesia Kebijaksanaan tersebut telah melahirkan serangkaian kegiatan. Arah dan tujuan pendidikan nasional yang digariskan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara. Dunia dan masyarakat yang telah mengalami perubahan sejak tahun 1968 belum diperhitungkan pada saat kita menyusun kurikulum 1968. Perubahan-perubahan itu terjadi karena telah dilakukan berbagai usaha pembaharuan pendidikan. Kegiatan-kegiatan penilaian pendidikan secara nasional. Oleh karena itu. yang ditetapkan pada tahun 1973. kegiatan-kegiatan pembaharuan pendidikan melalui Proyek-proyek Perintis Sekolah Pembangunan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada buian Mei 1974.KURIKULUM 1975 PENGANTAR Sejak tahun 1968 masyarakat dan dunia pendidikan telah mengalami perubahanperubahan. Hasil kegiatan-kegiatan tersebut. cq. Pemerintah. mencerminkan betapa masyarakat dan negara Indonesia telah secara jelas menggariskan harapannya kepada dunia pendidikan. usaha-usaha pencetakan buku-buku pelajaran. masyarakatpun selalu berubah dalam tuntutannya terhadap dunia pindidikan. Di samping perubahan-perubahan yang terjadi sebagai akibat dari usaha-usaha pembaharuan pendidikan. dan berbagai usaha lainnya telah mempengaruhi arah pembinaan pendidikan secara nasional. telah diterima dan disetujui oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk dibakukan sebagai kurikulum SMP dan SMA tahun 1975.

Sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 008-D/U 11975 dan Nomor 008-E/U/1975 kurikulum tersebut secara bertahap akan mulai berlaku pada tahun pengajaran 1976. bahwa dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan Nasional sebagaimana tercantum dalam Garis-garis Besar Haluan Negara secara efektif dan efisien. 105 . perlu dilakukan usaha pembaharuan pendidikan. Kiranya perlu disadari oleh semua pemimpin sekolah dan guru bahwa maksud utama dari pada disusunnya kurikulum ini adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. dipandang perlu untuk mengadakan usaha pembakuan Kurikulum Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas. bahwa dalam rangka melakanakan usaha pembaharuan pendidikan dan peningkatan mutu pendidikan pada Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas berdasarkan hasil-hasil pembaharuan melalui PPSP dan kegiatan-kegiatan lainnya selama PELITA I dan sambil menunggu pemantapan hasil-hasil Proyek-proyek Perintis Sekolah Pembangunan. KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 008E/U/1975 TENTANG PEMBAKUAN KURIKULUM SEKOLAH MENENGAH TINGKAT ATAS DASAR PERTIMBANGAN: a. c. LANDASAN YURIDIS: a. b. bahwa sampai pada saat ini masih terdapat berbagai susunan dan materi kurikulum untuk Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas. b. baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Pasal II Aturan Peralihan Undang-undang Dasar 1945. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor IV/MPR/73.

c. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1950 (Republik Indonesia Negara Bagian) jo. Nomor 12 Tahun 1954; d. Keputusan Presiden Republik Indonesia: 1) Nomor 9 Tahun 1973; 2) Nomor 6 / M Tahun 1974; 3) Nomor 44 Tahun 1974; 4) Nomor 45 Tahun 1974; e. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 13 Januari 1974 Nomor 041/O/1974. MEMPERHATIKAN: Hasil-hasil serangkaian lokakarya bersama antara Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Kantor-kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang terakhir diselenggarakan dalam bulan Agustus dan Nopember 1974. MENDENGAR: Saran-saran Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, dan Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. MEMUTUSKAN: Dengan membatalkan semua ketentuan yang bertentangan dengan keputusan ini. MENETAPKAN: Pembakuan Kurikulum Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas, yang selanjutnya disebut Kurikulum SMA-1975.sebagai berikut: Bab I: Umum Pasal 1

106

(l) Yang dimaksudkan dalam Keputusan ini dengan: a. Sekolah Menengah Umum tingkat Atas, untuk selanjutnya disingkat SMA, ialah lembaga Pendidikan sebagai lanjutan dari Sekolah Menengah Umum tingkat Pertama dan yang mempersiapkan siswanya untuk pendidikan yang lebih tinggi, serta juga mempunyai program pendidikan untuk siswa yang tidak akan melanjutkan studinya; b. Garis Besar Program Pengajaran, ialah ikhtisar daripada keseluruhan program pengajaran yang terdiri atas tujuan-tujuan kurikuler,tujuan-tujuan instruksionil dengan ruang lingkup bahan-bahan pengajaran yang diatur dan disusun secara berurutan menurut semester dan kelas yang bertujuan memberikan pedoman kepada para pengawas, kepala sekolah dan guruguru dalam rangka peningkatan kegiatan belajar-mengajar dalam kelas untuk mencapai tujuan pendidikan; c. Jam pelajaran, ialah satuan waktu pemberian pelajaran yang berlangsung selama 45 (empat puluh lima) menit; d. Semester, ialah satuan waktu pemberian pelajaran yang berlangsung selama 120 (seratus dua puluh) hari belajar efektif; e. Pendidikan Umum, ialah pendidikan yang bersifat umum, yang wajib diikuti oleh semua siswa dan mencakup Program Pendidikan Moral Pancasila yang berfungsi bagi pembinaan warga negara yang baik; f. Pendidikan Akademis, ialah pendidikan yang diberikan sebagai persiapan untuk melanjutkan studi; g. Pendidikan Ketrampilan, ialah pendidikan yang diberikan kepada siswa agar memiliki sesuatu kemampuan untuk bekerja, yang dapat digunakan bila tidak melanjutkan studinya. (2) Pendidikan di SMA berlangsung selama 3 (tiga) tahun. (3) Sekolah Menengah Atas menggunakan sistim kelas, sehingga terdapat kelas I, II dan III.

107

(4) Sekolah Menengah Atas menerapkan sistim semester sebagai satuan waktu dan satu tahun pelajaran terbagi menjadi dua semester. Bab II: Dasar Dan Tujuan Pendidikan Pasal 2 Sesuai dengan Garis-garis Besar Haluan Negara, dasar Pendidikan Nasional adalah Falsafah Negara Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Pasal 3 (1) Tujuan Pendidikan Nasional adalah membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila dan membentuk manusia Indonesia yang sehat jasmani dan rokhaninya, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, dapat mengembangkan kreativitas dan tanggung jawab, dapat menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan mencintai sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam Undang-undang Dasar 1945. (2) Seluruh program pendidikan terutama program Pendidikan Umum dan bidang studi Ilmu Pengetahuan Sosial, harus berisikan Pendidikan Moral Pancasila dan Unsur-unsur yang cukup untuk meneruskan jiwa dan nilai-nilai 1945 kepada Generasi Muda. Bab III: Tujuan Umum Dan Tujuan Khusus Pendidikan Sekolah Menengah Atas Pasal 4 Tujuan Umum Pendidikan SMA adalah agar lulusan: a. Menjadi warga negara yang baik sebagai manusia yang utuh, sehat, kuat lahir dan batin, b. Menguasai hasil-hasil pendidikan umum yang merupakan kelanjutan dari pendidikan di Sekolah Menengah Umum tingkat Pertama

108

c. Memiliki bekal untuk melanjutkan studinya ke lembaga pendidikan yang lebih tinggi dengan menempuh: 1) program umum yang sama bagi semua siswa; 2) program pilihan bagi mereka yang mempersiapkan dirinya untuk studi di lembaga pendidikan yang lebih tinggi; d. Memiliki bekal untuk terjun ke masyarakat dengan mengambil ketrampilan untuk bekerja yang dapat dipilih oleh siswa sesuai dengan minatnya dan kebutuhan masyarakat. Pasal 5 Tujuan khusus pendidikan SMA adatah agar lulusan: a. Di bidang pengetahuan: l. Memiliki pengetahuan tentang agama dan atau kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa; 2. Memiliki pengetahuan tentang dasar-dasar kenegaraan dan pemerintahan sesuai dengan Undang-undang Dasar 1945; 3. Memiliki pengetahuan yang fungsionil tentang fakta dan kejadian penting yang aktuil, baik lokal, regional, nasional maupun internasional; 4. Menguasai pengetahuan dasar dalam bidang matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, dan bahasa (Khusus bahasa Indonesia dan bahasa Inggeris) serta menguasai pengetahuan yang cukup lanjut dalam satu atau beberapa dari bidang pengetahuan tersebut di atas; 5. Memiliki pengetahuan tentang berbagai jenis dan jenjang pekerjaan yang ada di masyarakat serta syarat-syaratnya; 6. Memiliki pengetahuan tentang berbagai unsur kebudayaan dan tradisi nasional; 7. Memiliki pengetahuan dasar tentang kependudukan, kesejahteraan keluarga dan kesehatan.

109

b. Di bidang Ketrampilan: 1. Menguasai cara belajar yang baik; 2. Memiliki ketrampilan memecahkan masalah dengan sistimatis; 3. Mampu membaca/memahami isi bacaan yang agak lanjut dalam bahasa Indonesia dan bacaan sederhana dalam bahasa Inggeris yang berguna baginya; 4. Memiliki ketrampilan mengadakan komunikasi sosial dengan orang lain, lisan maupun tulisan dan ketrampilan mengekspresi diri sendiri, lisan maupun tertulis; 5. Memiliki ketrampilan olah raga dan kebiasaan olah raga; 6. Memiliki ketrampilan sekurang-kurangnya dalam satu Cabang kesenian; 7. Memiliki ketrampilan dalam segi kesejahteraan keluarga dan segi kesehatan; 8. Memiliki ketrampilan dalam bidang administrasi dan kepemimpinan; 9. Menguasai sekurang-kurangnya satu jenis ketrampilan untuk bekerja sesuai dengan minat dan kebutuhan lingkungan. c. Di bidang Nilai dan Sikap: 1. 2. Menerima dan melaksanakan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945; Menerima dan melalsanakan ajaran agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang dianutnya, serta menghormati ajaran agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang dianut orang lain; 3. 4. 5. 6. 7. 8. Mencintai sesama manusia, bangsa dan lingkungan sekitarnya; Memiliki sikap demokratis dan tenggang rasa; Memiliki rasa tanggung jawab dalam pekerjaan dan masyarakat; Dapat mengapresiasikan kebudayaan dan tradisi nasional; Percaya pada diri sendiri dan bersikap makarya; Memiliki minat dan sikap positip terhadap ilmu pengetahuan;

110

Memiliki inisiatif. yang meliputi: a. Pasal 7 (1) Program Pendidikan Umum wajib diikuti oleh semua siswa dan meliputi: a. Pendidikan Kesenian. mata-pelajaran: 111 . Memiliki kesadaran akan disiplin dan patuh pada peraturan yang berlaku. c. Bab IV: Susunan Kurikulum Pasal 6 Kurikulum SMA tersusun atas program pendidikan. Pendidikan Agama. 12. Memiliki sikap hemat dan produktip. 10. Program Pendidikan Umum. d. Pendidikan Olah Raga dan Kesehatan. daya kreatif. Pada semester pertama. Pendidikan Moral Pancasila. 14. Memiliki kesadaran menghargai waktu. yang meliputi: a. c. 11. rasionil dan obyektif dalam memecahkan persoalan. b. Memiliki minat dan sikap yang positip dan konstruktip terhadap olahraga dan hidup sehat. b.9. (2) Program Pendidikan Akademis. sikap kritis. Menghargai setiap jenis pekerjaan dan prestasi kerja di masyarakat tanpa memindang tinggi rendahnya nilai sosial/ekonomi masing-masing jenis pekerjaan tersebut dan berjiwa pengabdian kepada masyarakat. 13. Program Pendidikan Akademis. bebas dan jujur. Program Pendidikan Ketrampilan.

2. mata pelajaran wajib yang diikuti oleh semua siswa. 4. Pada semester selanjutnya. 3. Bahasa Asing: 3.a.c. Jurusan llmu pengetahuan Sosial : 2. 3. Biologi.c. 2. Geografi/Antropologi. Jurusan llmu pengetahuan Alam: 1. Bahasa Inggeris.b. Mata pelajaran mayor yang merupakan ciri dari setiap jurusan dan diikuti oleh siswa sesuai dengan jurusannya. Sejarah. 112 . IImu Pengetahuan Alam.a. 5. 1. Ekonomi/Koperasi. 2. terdiri dari: 1. 3. terdiri dari: 1.b. Jurusan Bahasa : 3.a. Tata buku/Ilmu pengetahuan Dagang dan Hitung Dagang. Kimia. Matematika. Bahasa Indonesia.d. Matematika. Bahasa Inggeris. b. 2. 2.c. 2.b. Bahasa Indonesia. c. Fisika. 3. 1. Sejarah. Geografi.1. Ilmu Pengetahuan Sosial.

l.b. terdiri dari 3 (tiga) mata pelajaran dan setiap siswa diwajibkan memilih salah satu di antaranya. Bahasa Asing. Ekonomi/Koperasi. Bahasa Daerah. 2.d. 2. Menggambar.b. 3. l. Ilmu Pengetahuan Sosial.3. Jurusan Bahasa: 3. Menggambar. terdiri atas: a. yang bersifat pemberian bekal untuk dapat bekerja disusun dalam bentuk.a.c.b. Jurusan llmu Pengetahuan Alam: l. 2.c. Bahasa Asing. Iimu Pengetahuan Alam.c. Teknik. 113 . 3. Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial: 2. Mata pelajaran minor. Ilmu Bumi/Antariksa. Program Pendidikan Ketrampilan wajib.a. Maritim. 2.a. (3) Program Pendidikan Ketrampilan. Agraria. 3. meliputi bidang-bidang : l. Menggambar. yang merupakan mata pelajaran pelengkap dalam jurusan yang dipilih. 3. yakni: l. paket yang merupakan kebulatan kesatuan program paling sedikit untuk 1 (satu) semester dan disesuaikan dengan kemampuan sekolah dan kebutuhan daerah. d.

Pasal 8 (1) Jam pelajaran dalam setiap minggu selama 4 (empat) semester pertama berjumlah 37 (tiga puluh tujuh) dan pada semester 5 (lima) dan 5 (enam) berjumlah 36 (tiga puluh enam). (2) Alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran adalah sebagaimana yang tercantum dalam tabel berikut ini: 114 . 2. Jasa. Praktikum Fisika. 3. Bahasa Asing. untuk llmu Pengetahuan Alam. Bumi Antariksa. (4) Bidang Pelajaran Kependudukan diintegrasikan dalam bidang studi yang relevan. b. Dengan ketentuan bahwa bidang pelajaran ketrampilan wajib makin banyak diberikan kepada mereka yang akan terjun ke masyarakat. dengan ketentuan bahwa mata pelajaran ketrampilan penunjang teori makin banyak diberikan kepada mereka yang akan melanjutkan studi. 5.4. Kerajinan. Program Pendidikan Ketrampilan penunjang teori. terdiri dari: l.

Kesenian Matemati ka B.- 3 3 2 2 2 .2 2 2 . Indonesia B.3 7 1 3 3 7 1 3 3 3 3 7 6 6 1 8 8 3 3 3 3 7 7 3 3 3 7 7 3 3 3 7 7 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 4 4 4 4 4 6 6 2 2 2 4 4 2 3 3 4 4 2 4 4 4 4 .2 2 2 . Agama PMP Orkes Pend.. Inggris IPA Fisika Kimia Biologi Mengga mbar Bumi Antariksa B.5 5 3 2 3 .TABEL ALOKASI WAKTU KURIKULUM 1975 MA SA OR IEN TA SI 2 2 2 2 6 5 4 7 7 May or Waji b Matemati ka B.3 7 1 3 3 7 1 3 3 7 1 3 3 6 1 0 3 6 1 0 4 4 4 ...- Pendidikan Umum Pend. Daerah Menggambar IPS Eko/Kop 4 4 4 .- Min or (Pili han) Pendidikan Keterampil an 37 9 Pilihan Pra Vokasional Pilihan Penunjang Jam / Minggu Jumlah Mata Pelajaran 115 . Asing Sejarah Geografi B.2 2 2 .3 7 1 3 3 7 1 3 3 7 1 3 3 6 1 0 3 6 1 0 4 4 4 . Asing JURUSAN KELAS SEMESTER I IPA II III I IPS II III I BAHASA II III PROGRA M BIDANG STUDI 2 3 4 5 6 2 3 4 5 6 2 3 4 5 6 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 .2 2 2 . Asing Bahasa B. Indonesia B.- Pendidikan Akademis 6 6 5 5 5 3 3 3 3 2 2 2 2 ..4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 6 6 6 7 7 4 3 3 3 3 4 3 3 3 3 5 6 6 7 7 IPS TB / HD Eko/Kop Sejarah Geografi Menggam bar IPA B. Inggris IPA IPS 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 .2 2 3 4 4 4 3 3 ..

i. 116 . Matematika g. 4) Seni Tari. Ilmu Pengetahuan Sosial. Kesenian: 1) Seni Rupa. 5) Budha. e. Ilmu Pengetahuan Alam. b. Pendidikan Moral Pancasila : c.Bab V: Susunan Program Pengajaran Dan Metode Penyampaian Pasal 9 (1) Garis Besar Program Pengajaran disusun menurut bidang studi. 2) Bahasa Daerah. Bahasa l) Bahasa Indonesia. dan Bahasa Asing lainnya. d. Ketrampilan Khusus. 2) Kristen / Protestan. Olahraga dan Kesehatan. f. 2) Seni Musik. Agama: l) Islam. yang meliputi: a. 3) Seni Drama. 4) Hindu. h. 3) Katolik. 3) Bahasa Inggeris.

dengan ketentuan sebagai berikut: a. 117 . 4) Maritim. 6) Kerajinan. Bab VI: Lain-Lain/Penutup Pasal 11 Kurikulum SMA . (2) Isi dari pada Garis Besar Program Pengajaran adalah sebagaimana tersebut dalam lampiran Keputusan ini. b. tahun ajaran 1977 dilaksanakan di kelas I dan II. mulai tahun ajaran 1976 dilaksanakan di kelas I. c.pada tahun ajaran 1976. 5) lndustri. dengan memberikan kemungkinan bahwa SMA yang menurut penilaian Kepala Perwakilan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan setempat secara teknis dan administrative sudah mampu. Pasal l0 Dalam metode penyampaian di SMA digunakan pendekatan berdasarkan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksionil (PPSI) yang dikembangkan melalui Model Satuan Pelajaran. 3) Agraria. dapat melaksanakan Kurikulum SMA – 1975 mulai tahun ajaran 1975. tahun ajaran 1978 berlaku sepenuhnya dari kelas I sampai dengan kelas III. 2) Jasa.1975 sebagaimana tersebut dalam Keputusan ini mulai berlaku dan dilaksanakan. Tahap pelaksanaan tersebut dilakukan secara nasional.1) Pendidikan Kesejahteraan Keluarga.

Kesadaran tentang perlunya memperbaharui kurikulum ini dinyatakan untuk pertama kalinya oleh Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada kesempatan Lokakarya Perestuan (Sanctioning) Garis-garis Besar Program Pengajaran untuk kurikulum PPSP pada tanggal 14 Februari 1974. Program-program.Pasal 12 Kurikulum SMA–1975 tersebut dalam Keputusan ini mulai berlaku dan dilaksanakan pula untuk Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan pada tahun ajaran 1975. dengan ketentuan bahwa pentahapan pelaksanaan sebagaimana tersebut pada pasal 11 secara mutatis-mutandis berlaku bagi sekolah Menengah Pembangunan Persiapan. PENJELASAN UMUM KURIKULUM SMA 1975 LATAR BELAKANG Setelah Kurikulum 1968/1969 berjalan selama kurang lebih enam tahun dirasakan bahwa kurikulum tersebut perlu ditinjau kembali agar lebih sesuai dengan tuntutan perkembangan dan perubahan jaman dan masyarakat. SURAT KEPUTUSAN INI DITETAPKAN DI JAKARTA PADA TANGGAL 17 JANUARI 1975 OLEH MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN: SYARIF THAJEB. Pasal 14 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Sejak tahun 1969 memang telah banyak perubahan yang terjadi sebagai akibat dari lajunya program pembangunan nasional. kebijaksanaan dan fenomena yang telah mempengaruhi dan melahirkan perubahan-perubahan tersebut antara lain: 118 . Pasal 13 Hal-hal yang belum diatur dalam Keputusan ini akan diatur lebih lanjut dalam ketentuan tersendiri.

Kegiatan pembaharuan pendidikan selama PELITA I yang dimulai pada tahun 1969 telah melahirkan dan menghasilkan gagasan-gagasan baru yang sudah mulai memasuki pelaksanaan sistem pendidikan nasional. Hasil analisa dan penilaian pendidikan nasional telah mendorong Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk meninjau kebijaksanaan pelaksanaan pendidikan nasional. d. dan inovasi baru di bidang pendidikan yang secara garis besar kami utarakan di atas belum diperhitungkan pada saat kita menyusun kurikulum 1968/1969. Inovasi di dalam sistem belajar-mengajar yang dirasakan dan dinilai lebih efisien dan efektif telah memasuki dunia pendidikan Indonesia. Karena itu tema penyusunan kurikulum 1975 adalah untuk menyelaraskan kurikulum SMP/SMA dengan kebijaksanaan baru di bidang pendidikan nasional. e. Kesemuanya ini merupakan faktor-faktor yang melatar-belakangi perlunya dilakukan peninjauan kurikulum SMP/SMA agar lebih sesuai dengan tuntutan perubahan dan lebih efisien dan efektif di dalam menunjang tercapainya tujuan pendidikan. sesuai dengan tuntutan masyarakat yang sedang membangun. dan inovasi di bidang sistem belajar-mengajar dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan nasional. Keluhan-keluhan Masyarakat tentang mutu lulusan pendidikan mendorong petugas-petugas pendidikan untuk meninjau system yang kini sedang berlaku. b.a. kebijaksanaan baru. Ketetapan MPR-RI Nomor IV/MPR/I973 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara. Kebijaksanaan pemerintah di bidang pendidikan nasional yang digariskan di dalam Garis-garis Besar Haluan Negara menurut implementasinya. Kenyataan-kenyataan. c. 119 . Untuk jelasnya kiranya perlu kami sebutkan di sini beberapa dokumen yang memuat kebijaksanaan Pemerintah di bidang pendidikan yang lahir sesudah tahun 1959: 1.

terutama PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksionil). Pidato Pengarahan tertulis Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Rapat Koordinasi PPSP di Bandungan.1. Beberapa hasil pembaharuan pendidikan yang ikut diperhitungkan di dalam pembakuan kurikulum SD antara lain adalah: 1. Keputusan Presiden Nomor 17/1974 tentang Rencana Pembangunan Lima Tahun II Bab 22 “Pendidikan dan Pembangunan Generasi Muda” 3. Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Olahraga.2. Inovasi di bidang metoda belajar-mengajar. Konsep Sekolah Pembangunan tentang integrasi pendidikan umum dan pendidikan kejuruan. 4.2. tanggal l4 Pebruari 1974. 3. serta tenaga ahli dari Departemen Agama. 2. dan Direktorat Jenderal Kebudayaan. Hasil-hasil Proyek Penulisan Buku-buku Pelajaran. para guru SMP/SMA yang terpilih dan para ahli dari lingkungan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan. 120 . Pada Lokakarya Perestuan Garis-garis Besar Program Pengajaran pada PPSP di Cisarua (Lokawiratama). Pidato tertulis Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyambut Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 1974. Penjelasan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Sidang Komisi IX DPR. 5. Di dalam melaksanakan program pembakuan kurikulum Departemen Pendidikan dan Kebudayaan telah membentuk team yang terdiri dari unsur-unsur Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah dan Badan Penelitian dan Pengembangan pendidikan dan Kebudayaan (khususnya Direktorat Pendidikan Menengah Umum dan Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan) sebagai Panitia Pengarah dengan beranggotakan para ahli bidang-bidang pelajaran yang meliputi unsur-unsur Kepala Kantor Urusan Pembinaan SMP/SMA. Semarang tanggal 27 luli 1974. 4. Pidato-pidato Pengarahan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan: 4.

para Direktur Jenderal. diperkenankan melaksanakannya mulai tahun 1975.Untuk menjamin konsistensi antara hasil yang dikerjakan oleh team. pada Direktur dari lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah dan Badan penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan. Istilah SMP yang disempurnakan ini lahir dari gagasan untuk mengintegrasikan Sekolah-sekolah Lanjutan Kejuruan tingkat Pertama. Agar kurikulum yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut dapat dipahami dan dilaksanakan oleh para pelaksana seperti maksud dari rencana kurikulum tersebut. Panitia Pengarah telah menempuh proses kerja yang mengenal tahap pengembangan dan tahap perestuan. Kurikulum SMA tahun 1975 ini berlaku bagi SMA dan Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan (SMPP). secara berangsur-angsur dengan SMP dan menjadi Sekolah Menengah Umum yang berorientasi Kejuruan. Di samping Penjelasan Umum ini akan ditulis juga penjelasan-penjelasan khusus setiap bidang studi yang secara terperinci akan menjelaskan hal-hal berikut: 121 . dan Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan) setelah diolah bersama oleh para Kepala Perwakilan dan Direktur. Hasil terakhir konsep kerangka tujuan. Proses lanjutan kejuruan tingkat pertama menjadi SMP yang disempurnakan itu diatur dalam sebuah Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 08-f/U/1975. Sedangkan Kurikulum SMP 1975 adalah kurikulum dari pada SLTP yang disempurnakan. struktur dan materi kurikulum diajukan kepada Menteri melalui pimpinan teras (Sekretaris Jenderal. Kini kurikulum tersebut telah disetujui oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk secara nasional dilaksanakan secara bertahap mulai tahun pengajaran 1976. dengan catatan bahwa bagi sekolah-sekolah yang menurut penilaian Kepala Perwakilan telah mampu. dengan para pemegang pimpinan dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahap perestuan (sanctioning) hasil kerja team diajukan kepada sidang Lokakarya yang diikuti oleh pada Kepala Perwakilan para Rektor Universitas dan Institut. maka disusunlah Penjelasan ini.

2.l. Penjelasan Umum ini dimaksudkan untuk mengkomunikasikan kepada para pelaksana (guru dan tenaga-tenaga administrasi dan supervisi pendidikan) beberapa pengertian yang menyangkut: l. Garis-garis Besar Program Pengajaran kurikulum 1975. akibatnya kejenuhan bisa terjadi. 1. 2. Struktur program kurikulum 1975. Perlengkapan pengajaran. Alokasi waktu. Prinsip Fleksibilitas Program. Penyelenggaraan pendidikan ketrampilan di SMP/SMA harus mengingat faktor-faktor: ekosistem dan kemampuan untuk menyediakan fasilitas bagi berlangsungnya program ketrampilan Kalau setiap sekolah harus melaksanakan program-program yang sama. Prinsip-prinsip dasar dan fungsi sesuatu bidang studi. Ruang lingkup dan tata urutan bahan pengajaran. Prinsip-prinsip yang melandasi kurikulum 1975. Sistem penyajian yang akan digunakan dalam kurikulum 1975. 3. 4. PRINSIP-PRINSIP YANG MELANDASI KURIKULUM 1975 Dalam menyusun dan membakukan kurikulum ini digunakanlah beberapa prinsip yang memungkinkan sistem pendidikan pada SMA benar-benar lebih efisien dan efektif. Sistematik kurikulum 1975. dan 7. Penilaian. Pendekatan. 3. Metoda penyampaian. Sistem evaluasi yang akan digunakan dalam kurikulum 1975. 4. Dan bila setiap sekolah harus menyelenggarakan 122 . 5. 6. 5. dan 6.

maka berarti akan terjadi pemborosan yang merupakan gejala inefisiensi.sesuatu program ketrampilan bisa terjadi bahwa program ketrampilan yang dikembangkan ternyata tidak ditunjang oleh fasilitas yang memadai. Karena itu dalam hal ketrampilan. luas dan lama perhatian yang dapat diharapkan dari seorang siswa. 2. kemampuan pemerintah dan masyarakat serta orang tua di dalam menyediakan fasilitas yang memadai. Kami beranggapan bahwa tenaga manusia tidak dimanfaatkan secara optimal kalau dia harus belajar dan bekerja tanpa dan perhatian yang penuh. taiau di toko buku bahan yang diperlukan tidak ada. Efisiensi tidak hanya menyangkut penggunaan waktu secara tepat melainkan juga menyangkut masalah pendayagunaan tenaga secara optimal. Murid-murid adalah manusia-manusia yang mengenal kelelahan dan batas perhatian. Atau dengan kata lain proses belajar yang dilakukan siswa tidak berjalan secara efektip. Sering kita melihat bahwa waktu dua jam pelajaran digunakan mencatat pelajaran yang mungkin dapat dilakukan oleh murid di luar jam sekolah atau memperbanyak bahan tersebut. Waktu sekolah adalah sebagian kecil dari waktu kehidupan siswa yang berlangsung selama 24 jam. Cara pemanfaatan waktu seperti kami kemukakan di atas adalah bentuk inefisiensi penggunaan waktu.guru dari fasilitas pendidikan. hubungan siswa. tenaga. Melupakan kedua prinsip efisiensi tersebut akan mengakibatkan hasil belajar anak-anak kurang memuaskan. Kalau kita memaksakan murid-murid untuk belajar di luar perhatian dan kemampuan tenaganya akan berakibatkan penghamburan tenaga dan waktu. Prinsip Efisiensi dan Efektivitas. Dari dua puluh empat jam tersebut hanya sekitar enam jam mereka ada di sekoiah. Karena itu di dalam menetapkan jumlah jam dan lamanya setiap pelajaran yang diberikan harus diukur dari sudut tingkat kemampuan. kurikulum SMA menganut prinsip fleksibilitas diukur dari ekosistem. Karena itu kalau waktu yang sangat terbatas ini digunakan bagi kegiatan-kegiatan yang sebenarnya dapat dilakukan para siswa di luar lingkungan. 123 .

Prinsip Berorientasi Pada Tujuan. ekspresif dan rekreatif. Seperti telah kami singgung di atas. Prinsip ini juga akan mempengaruhi penyusunan jadwal pelajaran setiap minggunya. karena pertimbangan bahwa para siswa dapat dituntut untuk bekerja lebih keras pada setiap jam yang teredia dengan tetap memberikan kesempatan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang lebih santai pada saat-saat tertentu. Atas dasar prinsip ini juga disarankan agar setiap pelajaran hendaknya tidak diberikan dalam 1 jam pelajaran saja untuk satu minggu melainkan antara 2 jam dan sebanyak-banyaknya 3 jam pada setiap pertemuan. 3.Atas dasar prinsip efisiensi dan efektivitas inilah kurikulum 1975 memilih jumlah jam pelajaran selama seminggu 36 jam dan bukan 42 jam. ketrampilan dan kecerdasan yang berguna bagi masyarakat. waktu para siswa berada dalam lingkungan sekolah hanyalah sekitar seperempat dari pada waktu yang dimiliki siswa selama 24 jam. Bentuk usaha yang dilaksanakan adalah agar waktu yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal oleh murid dan guru bagi kegiatan-kegiatan belajar-mengajar yang efisien dan efektip. Sistem semester masih tetap digunakan tetapi dengan suatu pengertian yang akan menuntut guru untuk secara sistematis dan berencana menyusun kegiatan-kegiatan belajarmengajar dalam satuan-satuan semester secara bulat. Atas dasar pertimbangan di atas waktu yang terbatas harus benar-benar dimanfaatkan bagi pembinaan murid untuk hal-hal tersebut di atas. Ini berarti bahwa proses perkembangan siswa kea rah kedewasaannya tidak dapat sepenuhnya digunakan kepada sekolah semata-mata. terutama untuk kegiatan-kegiatan belajar-mengajar yang tidak mungkin dilakukan dan diperoleh di luar sekolah. Oleh karena itu kegiatan-kegiatan belajar yang sifatnya wajib dan akademis ditekankan pada hari Senin sampai dengan Jum'at sedangkan kegiatan-kegiatan pada hari Sabtu sifatnya pilihan wajib. Dalam konteks yang demikian kami melihat 124 . negara dan bangsa. Namun demikian kami menyadari bahwa sekolah adalah tempat yang paling strategis untuk pembinaan nilai dan sikap.

Dengan prinsip ini dimaksudkan agar setiap jam dan kegiatan pelajaran yang dilakukan oleh siswa dan guru benar-benar terarah pada tercapainya tujuantujuan pendidikan. kurikulum ketiga sekolah tersebut selalu diingat hubungan hirarkis yang fungsionil. Prinsip Kontinuitas. Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah (Pertama dan Atas) adalah sekolah-sekolah umum yang masing-masing fungsinya dinyatakan dalam tujuan-tujuan institusionil. Karena itu dalam menyusun. di samping siap untuk berkembang menjadi anggota masyarakat juga siap untuk mengikuti Pendidikan Menengah tingkat Pertama. Hubungan fungsionil hirarkis ini harus diingat dalam menyusun program-program pengajaran dari ketiga sekolah tersebut. demikian juga dengan Sekolah Menengah tingkat Pertama di samping memiliki bekal ketrampilan untuk memasuki masyarakat kerja. Ini berarti bahwa sebelum menentukan jam dan bahan pelajaran terlebih dahulu akan ditetapkan tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh para siswa dengan jalan mempelajari sesuatu bidang pelaiaran (studi) Proses identifikasi dan perumusan tujuan ini berlangsung dari tingkatan yang paling umum. Untuk itulah kami menggunakan suatu prinsip kerja atau pendekatan dengan berorientasi pada tujuan. 4. seperti dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Namun demikian satu dengan yang lain berhubungan secara hirarkis. Pendidikan Dasar disusun agar lulusannya. sampai pada tujuan-tujuan instruksionil khusus yang akan memberi arah kepada pemilihan bahan dan kegiatan belajar untuk setiap satuan pelajaran yang terkecil.kenyataan bahan-bahan pelajaran makin tahun makin bertambah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan masyarakat. juga harus siap memasuki pendidikan yang lebih tinggi. Kalau tidak dapat terjadi pengurangan yang 125 . Karena itu memilih kegiatan-kegiatan dan pengalaman-pengalaman belajar yang fungsionil dan efektip memerlukan kriteria. Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) menyatakan bahwa pendidikan adalah proses yang berlangsung seumur hidup. dalam bentuk tujuan-tujuan institutionil.

Bagi pemudapun usia sekolah adalah usia yang khusus diperuntukkan bagi kegiatan belajar. Prinsip ini mengandung makna. Pelaksanaan prinsip ini mengharuskan kita untuk memahami hubungan secara hirarkis antara satuan-satuan pelajaran. 5. bahwa masa sekolah bukan satu-satunya masa bagi setiap orang untuk belajar. Bagi suatu bidang pelajaran yang menganut pendekatan spiral. Ini berarti bahwa setiap manusia Indonesia diharapkan untuk selalu berkembang sepanjang hidupnya dan di lain pihak masyarakat dan pemerintah diharapkan dapat menciptakan situasi yang menantang untuk belajar. dan bahkan antara satuan pelajaran satu bulan dengan bulan berikutnya. Prinsip Pendidikan Seumur Hidup. antara satu semester dengan semester berikutnya. melainkan hanya sebagian dari waktu belajar yang akan berlangsung sepanjang hidup.membosankan atau pemberian pelajaran yang sukar ditangkap dan dikunyah oleh para siswa karerra mereka tidak memiliki dasar yang kokoh. Namun demikian kita menyadari lahwa sekolah adalah tempat dan saat yang sangat strategis bagi pemerintah dan masyarakat untuk membina generasi muda dalam menghadapi masa depannya. seperti pelajaran sejarah atau kewargaan negara. Dengan berprinsip kepada pendirian ini tugas sekolah tidak hanya membina pengetahuan dan kecakapan yang berguna untuk dimanfaatkan secara langsung 126 . yang diberikan di SD dengan di SMP. Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) menganut pendidikan prinsip pendidikan seumur hidup. Para pelaksana (terutama guru) diharapkan untuk memahami hubungan yang fungsionil hirarkis antara pelajaran yang di SD dengan SMP. perluasan dan pendalaman sesuatu pokok bahasan dari tingkat pendidikan satu ke tingkat berikutnya harus disusun secara berencana dan sistimatis. Garis-garis Besar Program Pengajaran yang disusun setiap bidang studi dikerjakan secara integral dengan maksud agar jelas perbedaan antara pokok bahasan. yang kelihatannya sama.

Karena kesemuanya unsur tersebut akan memberikan warna pada kurikulum 1975 sebagai sistem pengajaran. SISTEMATIK KURIKULUM 1975 Yang dimaksud dengan kurikulum SMA 1975 oleh Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan adalah serangkaian ketentuan dan pedoman yang meliputi unsur-unsur berikut: 1) Tujuan-tujuan Institusionil SMA. 6) Sistem Bimbingan dan Penyuluhan. 2) Struktur Program Kurikulum. Tujuan-tujuan Institusionil: Di dalam Keputusan-keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Kurikulum SMP/SMA tahun 1975 telah digariskan Tujuan Umum dan Tujuan 127 . 5) Sistem Penilaian. melainkan juga menyiapkan sikap dan nilai serta kemampuan untuk belajar terus bagi perkembangan pribadinya. Masyarakat belajar yang dicita-citakan akan terjadi bila generasi pengisi masyarakat tersebut bergairah untuk belajar dan masyarakatnya menantang para warganya untuk belajar. 4) Sistem Penyajian yang Menggunakan Pendekatan PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksionil).setelah mereka lulus. melainkan harus kesemuanya unsur tersebut. Berikut ini akan kami jelaskan kedudukan masing-masing unsur tersebut di atas sebagai bagian integral dari pada sistematik kurikulum 1975. Dengan demikian jelaslah kiranya bahwa seseorang belum dapat disebut memahami kurikulum 1975 apabila baru mempelajari tujuan-tujuan institusionilnya saja atau Garis-garis Besar Program Pengajaran. dan 7) Supervisi dan Administrasi. 3) Garis-garis Besar Program Pengajaran.

Karena itu tujuan-tujuan pendidikan pada tarap ini disebut tujuan institusionil. ketrampilan dan sikapnya untuk berbagai bidang pelajaran. Tanpa pemahaman yang mendalam akan makna tujuan-tujuan pada tingkatan ini akan memungkinkan terjadinya suatu ketidak serasian antara kegiatan-kegiatan belajar-mengajar yang kita rencanakan dengan tujuan-tujuan yang harus dicapai. Tujuan umum ini kemudian dijabarkan menjadi tujuan-tujuan yang lebih khusus yang menggambarkan kualifikasi yang harus dimiliki oleh para lulusan dalam hal pengetahuan. Tujuan-tujuin inititusionil tersebut di dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan disusun dalam bentuk dua rumusan. Dengan itu pula kita akan mudah menyusun alat penilaian 128 . harus memahami dan mendalami makna dari tujuan-tujuan tersebut. Karena itu setiap guru dan pelaksana pendidikan untuk setiap tingkatan pendidikan. segala kegiatan belajar baik yang sifatnya akademis. Rumusan umum ini disebut di dalam Keputusan tersebut sebagai tujuan umum. Tujuan-tujuan itu sendiri pada hakekatnya adalah penjabaran dari pada tujuantujuan pendidikan nasional yang telah digariskan di dalam Garis-garis Besar Haluan Negara.Khusus dari pada pendidikan di SMP/SMA. Dengan demikian akan mudahlah bagi kita untuk menyusun program-program pengajaran yang lebih khusus. ketrampilan. Penjabaran tujuan dan arah pendidikan nasional ke dalam tujuan-tujuan institusionil adalah bentuk usaha agar tujuan umum pendidikan nasional benarbenar menjadi pedoman di dalam menyusun program-program kegiatan belajarmengajar pada setiap lembaga pendidikan nasional. Rumusan bersifat umum yang menggambarkan kualifikasi umum seorang lulusan setiap lembaga pendidikan. Sebagai satu kesatuan sistem. Tujuan-tujuan tersebut pada pasal 4 adalah tujuan pendidikan yang secara melembaga harus dicapai oleh program pendidikan pada masing-masing sekolah. maupun pembinaan moral Pancasila telah disusun dan direncanakan untuk mencapai tujuan-tujuan seperti termaksud dalam rumusan tujuan institusionil.

mudahlah kiranya bagi kita untuk memahami struktur program kurikulum yang akan dijelaskan pada bagian berikut ini. Struktur Program Kurikulum: Kerangka umum dari program-program pengajaran yang akan diberikan pada setiap sekolah dapat dipelajari pada Struktur Program. kiranya perlu kami tegaskan di sini bahwa tujuan tersebut melukiskan ketrampilan.diselenggarakan. 4) Jenis-jenis bidang studi yang. Dengan mempelajari ini guru pemegang mata pelajaran akan mengetahui: 1) Kedudukan mata pelajaran / bidang pelajaran (bidang studi) yang dipegangnya dalam program-program setiap jurusan. Sebelum mengakhiri penjelasan kami tentang tujuan insitusionil. pengetahuan dan sikap yang hendaknya dimiliki dan dikuasai setelah menyelesaikan programprogram yang diselenggarakan pada sekolah tersebut. Di dalam tujuan-tujuan khusus ini secara umum digambarkan pengetahuan yang hendaknya dikuasai oleh murid dalam bidang kewargaanegara.untuk mengukur sampai berapa jauh rencana tentang kualifikasi lulusan sebuah sekolah telah tercapai. 2) Perbandingan alokasi yang diberikan kepada masing-masing jenis program pengajaran jam pelajaran yang disediakan untuk setiap minggu. Dengan jelasnya tujuan-tujuan yang secara institusionil harus dikuasai itu. 3) Alokasi jam pelajaran untuk setiap bidang-studi dari tingkatan-tingkatan. 129 . kesehatan pengetahuan dan ketrampilan harus dikuasai dan sikapnya yang harus telah mempribadi. 2) Lamanya pelajaran tersebut diberikan. (Lihat pasal Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 008-d/U/l975). Pada bagian ini dapat dipelajari : 1) Jenis-jenis progam pengajaran yang akan diselenggarakan di SMP/SMA.

alat-alat pelajaran yang harus disediakan dan digunakan. lamanya pelajaran itu diadakan. pada bagian ini secara terperinci dijelaskan : l) Tujuan yang harus dicapai setelah mgngikuti program pengajaran yang bersangkutan selama masa pendidikan di SMP/SMA dalam bentuk rumusan tujuan-tujuan kurikuler. Di dalam mempelajari bagian ini harus diingat bahwa kedudukan tujuan-tujuan dan bahan-bahan adalah untuk mencapai tujuan jelas sasarannya (dalam bentuk rumusan tujuan instruksionil yang lebih khusus).3) Waktu yang disediakan untuk menyelenggarakan program pelajaran tersebut pada setiap minggu semester. 4) Urutan penyampaian bahan-bahan pelajaran tersebut dari tahun pelajaran satu ke tahun pelajaran berikutnya dan dari semester ke satu semester berikutnya. Garis-garis Besar Program Pengajaran: Bidang studi yang telah ditentukan jumlah jam yang disediakan untuk tiap minggu lamanya bidang tersebut diberikan. Dengan pengetahuan ini setiap guru dapat secepatnya memperkirakan strategi yang harus disusun dalam penyelenggaraan program yang harus dilaksanakan. 3) Pokok-pokok bahasan yang harus dikembangkan untuk dijadikan bahan pelajaran bagi para siswa agar mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. perincian pokok-pokok bahasan. alat evaluasi yang perlu disusun untuk mengukur tingkat pencapaian tujuan pada siswa. seperti tertulis pada struktur program. 2) Tujuan-tujuan yang hendaknya dicapai dalam setiap satuan pelajaran (baik semester atau tahunan) dalam bentuk tujuan instruksionil umum. 130 . cuta mengajar dan belajar yang harus ditempuh. Proses pengembangan pokok bahasan yang diambil dari bagian Garis-garis Besar Program Pengajaran ini akan dilakukan dengan menggunakan teknik dan pendekatan Sistem Instruksionil yang kemudian dikenal dengan PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem lnstruksionil).

dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk kemampuan atau tingkah laku siswa. yang dinamakan Model Satuan Pelajaran. akan mudah kita menyusun materi pelajarannya dan akan mudah kita menyusun proses kegiatan belajar-mengajar yang sintetis. 2. 4. Dengan tujuan yang jelas akan mudah kita menyusun alat evaluasinya. Dengan Model Satuan Pelajaran sebagai contoh konkrit guru diwajibkan untuk selalu menyusun persiapan dalam program satuan-satuan pelajaran sepanjang tahun ia mengejar dan melaksanakan kegiatan belajar-mengajar tersebut di kelas. 6. spesifik. Untuk memudahkan pelaksanaan kurikulum 1975 dalam seri buku kurikulum ini dilengkapi dengan contoh-contoh konkrit tentang cara penyusunan proses pengajaran di kelas..Sistem Penyajian: Dalam rangka melaksanakan prinsip efisiensi dan efektivitas diperlukan suatu sistem yang menjamin bahwa waktu yang tersedia dimanfaatkan secara berencana bagi kegiatan belajar dan mengajar yang fungsionil untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Dengan sistem pengajaran melalui PPSI akan terealisirlah gagasan pembaharuan dalam proses belajar-mengajar yang perlu diikuti oleh guru-guru. 3. 5. yaitu 2 atau lebih) 131 . Bidang Studi Mata Pelajaran/Sub Bidang Studi Pokok Bahasan Kelas Semester Waktu (apa?) (apa?) (mengenai apa?) (berapa?) (ke berapa?) (berapa jam pelajaran? . Tujuan di sini harus jelas. Prosedur Pengembangan Sistem Instruksionil berlandaskan kepada pandangan bahwa proses belajar-mengajar itu sebagai suatu system yang senantiasa harus diarahkan pada pencapaian tujuan. Kerangka Model Satuan Pelajaran tersebut adalah sebagai berikut: 1.

V. Sistem Evaluasi SMP/SMA: Kurikulum 1975 ini akan mengubah pandangan lama tentang system penilaian dalam hal mana pelaksanaan penilaian hanya dapat diadakan pada akhir semester disertai dengan pedoman penggunaannya (hendaklah 132 . Materi Pelajaran: Pokok-pokok bahan pelajaran yang akan diberikan dalam rangka mencapai tujuan-tujuan instruksionil yang telah dirumuskan. 2. yaitu kernarnpuan yang diperlukan untuk seterusnya. III. Tujuan Instruksionil (Khusus): Tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Kegiatan Belajar-Mengajar: Rumusan mengenai pendekatan pengajaran yang digunakan dan langkahlangkah yang dilakukan oleh guru serta kegiatan-kegiatan yang diharapkan dari siswa dalam setiap langkah proses pengajaran. dalam bentuk rumusan tingkah laku yang seperasionil dan spesifik diukur dalarn rangka evaluasi. Petunjuk Umum: 1. VI. IV. Evaluasi atau Penilaian: Rumusan mengenai prosedur yang ditempuh dalam mengevaluasi hasil belajar siswa yang disertai pula dengan penjelasan mengenai jenis test yang dipakai. Prasyarat. Introduksi mengenai pokok bahasan yang akan diajarkan melalui satuan pelajaran yang bersangkutan. Alat evaluasi yang digunakan dalam satuan pelajaran yang bersangkutan dilampirkan). II.I. Alat-alat Pelajaran: Rumusan alat-alat bantu pengajaran dan sumber bahan yang dipergunakan dalam memberikan pelajaran.

dangan lama tentang sistem penilaian dalam hal mana pelaksanaan penilaian hanya dapat Dengan mengimplementasikan PPSI. Seni Rupa 133 . Bidang Studi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) G. Bidang Studi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) D. KURIKULUM SMA . 3. Bidang Studi Bahasa l. Bidang Studi Olahraga dan Kesehatan F. 008-E/U/1975. Bidang Studi: pendidikan Agama l. Seni Tari 2. dengan sendirinya guru-guru dituntut untuk melaksanakan pada setiap akhir sesuatu satuan pelajaran. Penjelasan Umum BUKU II: GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN (GBPP) A. Bahasa Indonesia 2. C. Katolik 4. Bahasa Inggeris 3. Dengan kata lain evaluasi diadakan terus menerus dan diselenggarakan secara menyeluruh dalam arti seluruh aspek tingkah laku siswa dinilai. Islam 2. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.atau akhir tahun. Bidang Studi Kesenian 1. Bidang Studi Pendidikan Moral Pancasila.. Hindu B. Bidang Studi Matematika H. Budha 5. Pengantar B.1975 Untuk memperoleh gambaran yang jelas dan menyeluruh di bawah ini diberikan ikhtisar Buku Kurikulum SMP/SMA 1975 sebagai: BUKU I: KETENTUAN-KETENTUAN POKOK A. 17 Januari 1975 C. Bahasa Asing lainnya E. Kristen-Protestan 3.

Pendidikan Kesejahteraen Keluarga 5. Pertanian 6. Bidang Studi Ketrampilan l. Seni Drama I. Pedoman Penilaian C. Pedoman Administrasi dan Supervisi. Teknik 3.3. Seni Musik 4. Kerajinan 4. Pedoman Khusus dan Model Satuan Pelajaran B. Jasa 2. Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan D. 134 . Maritim BUKU III: PEDOMAN PELAKSANAAN KURIKULUM A.

Penyesuaian itu dilakukan antara lain melalui perbaikan kurikulum sekolah sebagai salah satu di antara berbagai upaya Perbaikan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Perbaikan kurikulum ini diharapkan memberi peluang yang lebih besar kepada anak didik untuk memperoleh pendidikan yang sesuai dengan bakat.KURIKULUM 1984 PENGANTAR Dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor II/MPR/1983 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara yang dilandasi oleh Pancasila dan undangundang Dasar 1945 dinyatakan bahwa sistem pendidikan perlu disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan di segala bidang yang memerlukan jenis-jenis keahlian dan keterampilan serta dapat sekaligus meningkatkan kreativitas. saya menerbitkan Keputusan Nomor 0461/U/1983 tentang perbaikan Kurikulum pendidikan Dasar dan Menengah dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Keputusan Nomor 0209/u/1984 tentang Perbaikan Kurikulum Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas. hasil penilaian kurikulum maupun keadaan pendidikan di negaranegara lain. dan efisiensi kerja. terutama lapangan kerja. Berdasarkan pertimbangan ini. dan kemampuannya serta lebih mampu memenuhi keanekaragaman kebutuhan masyarakat. minat. memperkuat tuntutan dan upaya untuk mengadakan perbaikan kurikulum. Perbaikan kurikuium diadakan sebagai akibat perkembangan sistem pendidikan nasional dalam kerangka memenuhi tuntutan pembangunan nasional. 135 . mutu. Perbaikan kurikulum khususnya dan penyelenggaraan pendidikan di sekoiah pada umumnya diharapkan dapat meningkatkan mutu kecerdasan bangsa seperti yang diamanatkan dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dari hasil penelitian dan pengembangan pendidikan.

136 . Upaya pengembangan Kurikulum ini diadakan secara bertahap dalam arti meskipun kurikulum yang baru ini mulai dilaksanakan pada tahun ajaran 1984/1985. Buku ini disusun untuk menyajikan landasan. salah satu ciri yang dimiliki oleh kurikulum yang baru ini adalah adanya keluwesan dalam progam kurikulum. Melalui cara ini. dan fasilitas. serta kemungkinan pilihan program belajar yang terlalu terbatas. Dalam buku ini dapat diperoleh gambaran tentang latar belakang. Pada Sekolah Menengah umum Tingkat Atas (SMA). dan pengembangan Kurikulum 1984 Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas.Dengan perkataan lain. melainkan juga menyiapkan mereka yang mempunyai bakat dan minat untuk mendapatkan pendidikan tambahan jenis lain ataupun untuk memasuki lapangan kerja. kurikulum Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas yang baru ini mencakup Program Inti yang wajib bagi semua siswa dan Program Khusus atau Pilihan yang disesuaikan dengan bakat dan minat siswa serta kebutuhan lingkungan Ini mengandung arti bahwa disamping adanya program belajar yang dirancang secara terpusat diberi kan pula kemungkinan kepada daerah atau sekolah untuk merancang program-program tertentu yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah. mengingat Kurikulum harus selalu disesuaikan dengan tahap pembangunan nasional melalui penyempurnaan isi. sekolah tidak hanya menyiapkan siswa-siswa yang memenuhi persyaratan untuk melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. tidak akan ada lagi jurusan-jurusan yang terpisah secara Ketat. tentang Perbaikan Kurikulum Sekolah Menengah Umum Tiagkat. program. Pemisahan jurusan-jurusan secara ketat mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan guru. sebagai penyebaran lebih lanjut dari isi keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0461/u/l983. ruang. upaya pemantapan tetap diadakan secara terus menerus. Kurikulum yang baru memberikan kemungkinan kepada Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas untuk mengadakan berbagai program belajar. Sehubungan dengan itu.Atas. penyaluran anak didik yang terlalu dini dan mengikat. bentuk. dan cara penyajiannya. Ini penting. dengan diterapkannya asas keluwesan.

bahwa hasil penilaian kurikulum 1975/1976/1977 yang telah diadakan menunjukkan bahwa ada beberapa unsur baru dalam Garis-garis Besar Haluan Negara 1983 yang belum tertampung masih terdapat kesenjangan antara progam kurikulum dan pelaksanaan di sekolah. serta masih terdapat kesenjangan antara Program kurikulum dan kebutuhan di lapangan kerja. bahwa dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Uraian yang lebih terperinci mengenai programprogram dan pokok-pokok pelaksanaan kurikulum dapat diikuti dalam petunjuk pelaksanaan kurikulum.tujuan dan lingkup program pendidikan. pokok-pokok pelaksaaan kurikulum serta pentahapan pelaksanaannya. Demikianlah buku ini diterbitkan untuk disebarluaskaan ke seluruh sekolah agar kurikulum yang baru ini dapat dilaksanakan sebaik-baiknya dengan memanfaatkan segala sumber yang tersedia. 2 Mei 1984] KURIKULUM 1984 SEKOLAH MENENGAH UMUM TINGKAT ATAS MENIMBANG: a. c. serta masih terdapat ketidak sesuaian materi kurikulum dalam berbagai bidang studi pada sekolah tertentu dengan kemampuan belajar para anak didik yang bersangkutan. bahwa sistem pendidikan menurut Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor IIIMPR/1983 perlu disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan di segala bidang yang memerlukan jenis-jenis keahlian dan keterampilan serta dapat sekaligus meningkatkan kreativitas. yang disusun secara terpisah. bahwa penyesuaian tersebut pada sub a dilakukan antara lain melalui perbaikan kurikulum sekolah sebagai salah satu di antara berbagai upaya perbaikan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. MEMUTUSKAN: 137 . [Jakarta. d. baik di dalam maupun di luar sekolah. mutu dan efisiensi kerja. b.

Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas untuk selanjutnya disingkat SMA adalah Lembaga Pendidikan Menengah Umum Tingkat Atas yang merupakan lanjutan dari Sekolah lanjutan Umum Tingkat Pertama (SMP). politeknik. adalah perangkat mata pelajaran yang wajib diikuti oleh semua siswa. adalah satuan waktu pemberian pelajaran yang berlangsung selama 120 (seratus dua puluh) hari belajar efektif. g. adalah kegiatan yang dilakukan di setolir yang penjatahan Pelajaran. Program Khusus B. e. minat. waktunya telah ditetapkan dalam struktur program dan dimaksudkan untuk mencapai tujuan minimal dalam masing-masing mata 138 . adalah program yang terutama diadakan untuk memberi bekal kemampuan bagi siswa yang akan langsung bekerja sesudah tamat SMA maupun yang akan melanjutkan pendidikan di sekolah tinggi akademi. Bab I: Umum Pasal 1 Yang dimaksud dalam Keputusan ini dengan: a. d. f. Program Khusus (Pilihan). dan pendidikan lainnya yang setingkat. adalah program yang terutama diadakan untuk memberi bekal kemampuan yang diperlukan siswa untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Kegiatan Intrakurikuler. dan tujuan belajar perorangan serta kebutuhan lingkungan. Program Inti. b. c.Menetapkan: KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERBATKAN KURIKULUM SEKOLAH MENENGAH IJMUM TINGKAT ATAS. Program Khusus A. adalah perangkat mata pelajaran yang dapat dipilih atas dasar perbedaan bakat. yang selanjutnya disebut Kurikulum 1984 SMA. Semester. terutama di universitas dan institut.

adalah upaya pemberian pedoman dalam kegiatan belajar mengajar yang dikaitkan dengan tuntutan memasuki kehidupan. c. akademi. memberi bekal kemampuan yang diperlukan bagi siswa yang akan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. mengenal hubungan anlara berbagai jenis pengetahuan. politeknik. Bab II: Dasar Dan Tujuan Pendidikan SMA Pasal 2 (1) Pendidikan SMA berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. adalah ukuran satuan beban siswa yang ditentukan oleh jam pelajaran tatap muka dan pekerjaan rumah per minggu per semester. dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan siswa. Kredit. tata hidup. menyalurkan bakat dan minat. 139 . (2) Tujuan umum pendidikan SMA diadakan untuk menunjang tercapainya tujuan Pendidikan Nasional. serta melengkapi upaya pembinaan manusia seutuhnya. mendidik para siswa untuk menjadi manusia pembangunan sebagai warga negara lndonesia yang berpedoman pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Kegiatan Kokurikuler. Pasal 3 Tujuan Pendidikan SMA dapat dijabarkan sebagai berikut: a. j. b. terutama di universitas dan institut. program diploma atau program lainnya yang setingkat. k.h. adalah kegiatan di luar jam pelajaran biasa (termasuk waktu libur). Bimbingan Karier. yang dilakukan di sekolah ataupun di luar sekolah. memberi bekal kemampuan yang diperlukan bagi siswa yang akan melanjutkan pendidikan di sekolah tinggi. dan kejadian di dalam kefudupan serta untuk mempersiapkan peralihan dari kehidupan di sekolah ke dunia kerja.

2. Pasal 5 Program kurikulum SMA terdiri dari: a. II. Program Khusus (Pilihan).d. perubahan masyarakat dalam rangka perkembangan sains dan teknologi. memberi bekal kemampuan bagi siswa yang akan terjun ke dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikannya Bab III: Program SMA Pasal 4 (1) Pendidikan di SMA berlangsung selama 3 (tiga) tahun yang terdiri dari kelas I. (2) Setiap I (satu) tahun pelajaran terbagi menjadi 2 (dua) semester. serta penguasaan pengetahuan minimal bagi semua siswa. dan III. sehingga pendidikan di SMA berlangsung dari semester I (satu) sampai dengan 6 (enam). (3) Program Inti terdiri dari 15 (lima belas) Mata Pelajaran yang isinya wajib dikuasai oleh semua siswa. mewujudkan upaya peletakan dasar-dasar persatuan dan kesatuan antar siswa. memenuhi tujuan SMA sebagaimana yang dimaksud pada Pasal 3. Program Inti. 140 . b. Pasal 6 (1) Program Inti diadakan dalam rangka: l. (2) Progam Inti mencakup 60% (enam puluh persen) dari keseluruhan program di SMA. mengacu pada kepentingan pencapaian tujuan pendidikan nasional. 3.

Progam Ilmu-ilmu Fisik. a. Pasal 9 (1) Program B. (3) Program Khusus (Pilihan) mencakup 40% (empat puluh persen) dari keseluruhan program. (2) Setiap siswa dapat memilih salah satu di antara program yang terdapat pada ayat (l) sesuai dengan kemampuan dan minat siswa yang bersangkutan. Pasal 8 (l) Program A disajikan dalam bentuk program-program yang disesuaikan dengan kepentingan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Progam A. b. disajikan dalam bentuk program-program yang disesuaikan bidang-bidang kehidupan yang ada di masyarakat. (2) Siswa dapat memilih Program A dan B atas dasar kemampuan dan minat yang bersangkutan. Program-progam di bidang Komputer. Yang isinya terdiri dari sejumlah mata pelajaran yang sesuai. Program B. Program Pengetahuan Budaya (termasuk pengetahuan Agama). Program Ilmu-ilmu Sosial. b. d.Pasal 7 (1) Progam Khusus (Pilihan) terdiri dari: a. b. c. 141 .di SMA. Program llmu-ilmu Biologi. Program-program di bidang Teknologi Industri. yaitu: a. (3) Masing-masing program tersebut pada ayat (l) mencakup 40% (empat puluh persen) dari keseluruhan program di SMA.

e. Pembangunan Desa. (2) Kegiatan Intrakurikuler dilakukan di sekolah yang penjatahan waktunya telah ditentukan dalam struktur program. Kokurikuler. Program-program di bidang Jasa. f. Wawasan Nusantara. Program-progam di bidang lain sesuai dengan kebutuhan. Program-program di bidang Kesejahteraan Keluarga. dan Ekstrakurikuler baik dalam Program Inti maupun Program Khusus (Pilihan). Pasal 11 Penyajian mata pelajaran dan penjatahan waktu. Program-program di bidang pengetahuan Agama. Program-program di bidang Budaya. Pasal 10 Unsur-unsur baru seperti Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Wiraswasta. Program-program di bidang Maritim. (2) Setiap siswa dapat memilih salah satu di antara program-program dalam setiap bidang yang terdapat pada pasal 9 ayat (l) sesuai dengan kemampuan dan minat siswa yang bersangkutan. dan Pendidikan Bela Negara dimasukkan ke dalam mata pelajaran yang sesuai. Program-program di bidang pertanian dan Kehutanan. BAB IV: POKOK-POKOK PELAKSANAAN KURIKULUM Pasal 1 2 (l) Program Kurikulum 1984 SMA dilakukan melalui Kegiatan lntrakurikuler. Gizi. g. Pendidikan Lalu lintas. 142 . d.c. baik pada Program lnti maupun pada Program Khusus (Pilihan) dari semester 1 sampai dengan 6 ditetapkan dalam struktur program. i. h. Pendidikan Politik.

(2) Program Bimbingan Karier tersebut pada ayat (1). Pasal 13 (l) Untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna pendidikan Kurikulum 1984 SMA menerapkan sistem kredit. memahami dirinya. 143 .(3) Kegiatan Kokurikuler dilakukan di luar jam pelajaran biasa secara teratur dan hasilnya ikut menentukan dalam pemberian nilai bagi para siswa untuk setiap mata pelajaran. memahami lingkungan/dunia kerja dalam tata hidup tertentu. (2) Setiap siswa yang berhasil menamatkan SMA telah menyelesaikan minimal 222 (dua ratus dua puluh dua) kredit. (4) Kegiatan Ekstrakurikuler dilakukan di luar jam pelajaran biasa dalam waktu-waktu tertentu dan diberi nilai tersendiri. Secara umum satu kredit diartikan dengan 1 (satu) jam pelajaran tatap muka ditambah 1/2 (setengah) jam pelajaran pekerjaan rumah per minggu per semester. Program Inti 134 (seratus tiga puluh empat) kredit: 2. yang terdiri dari: 1. Pasal l5 (l) Dalam rangka memilih Program-program Khusus (Pilihan) bagi setiap siswa dalam Kurikulum 1984 SMA dilaksanakan program Bimbingan Karier. b. dilaksanakan untuk membantu siswa dalam: a. (2) Penilaian dilakukhn secara berkesinambungan dan menyeluruh untuk keperluan peningkatan proses dan hasil belajar serta pengelolaan Program. Prolram Khusus (Pilihan) 88 (delapan puluh delapan) kredit Pasal 14 (1) Proses belajar mengajar dilaksanakan dengan memperhatikan keserasian antara cara seseorang belajar dan apa yang dipelajarinya.

Pasal 17 Kurikulum 1984 SMA sebagaimana tersebut dalam Keputusan ini. c.c. kelas II. tahun ajaran 1984/1985 dilaksanakan di kelas I. BAB V: PENGEMBANGAN DAN PELAKSANAAN KURIKULUM Pasal 16 (l) Pengembangan kurikulum dilakukan secara bertahap dan terus menerus. (2) Pengembangan Program inti dan Program A diadakan berdasarkan pedoman dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang dijabarkan lebih lanjut oleh Direkrur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah atau Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan sesuai dengan bidang tugasnya masin-masing. b. dilaksanakan secara bertahap mulai tahun ajaran 1984/1985 dengan ketentuan sebagai berikut: a. mengembangkan rencana dan kemampuan untuk mengambil keputusan tentang masa depannya. (3) Pengembangan Program B diadakan berdasarkan pedoman dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang dijabarkan lebih lanjut oleh Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah atau Kepala Badan Penelitian dan. tahun ajaran 1986/1987 dan seterusnya dilaksanakan di kelas I. 144 . tahun ajaran 1985/1986 dilaksanakan di kelas I dan kelas II.Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing atau Kepaia Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan atau Kepala Sekolah sesuai dengan cirri keadaan daerah masing-masing. dan kelas III.

BAB VI: PENUTUP Pasal 19 Hal-hal lain yang belum diatur dalam Keputusan ini akan diatur lebih lanjut dalam ketentuan tersendiri. KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN 145 . Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 2 Mei 1984. LATAR BELAKANG Dari penilaian kurikulum telah ditemukan masalah masalah dasar dalam bidang kurikulum sebagai berikut: 1. NUGROHO NOTOSUSANTO LAMPIRAN KEBUDAYAAN TANGGAL 2 MEI 1984 No 0209/U/1984 TENTANG LANDASAN. DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM 1984 SEKOLAH MENENGAH UMUM TINGKAT ATAS (SMA) BAB I: PENDAHULUAN A.Pasal 18 Landasan. PROGRAM. DR. 3. Adanya beberapa unsur baru dalam GBHN 1983 yang perlu ditampung dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Masih terdapatnya kesenjangan antara program kurikulum dengan kebutuhankebutuhan lapangan kerja dan pendidikan tinggi. 2. Belum sesuainya kurikulum berbagai bidang/mata pelajaran dengan taraf kemampuan belajar siswa. Pasal 20 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. PROF. Program. MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. dan Pengembangan Kurikulum 1984 Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas (SMA) adalah sebagaimana tersebut dalam Lampiran Keputusan ini.

mempertinggi budi pekerti memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air. seyogyanya terwujud sebagai bagian dari lingkungannya. Guna mencapai tujuan tersebut. antara lain terlalu saratnya isi kurikulun yang harus diajarkan. masalah-masalah dasar yang dikemukakan di atas merupakan masalah kebijakan yang perlu diusahakan pemecahannya dalam bentuk perbaikan kurikulum secara terus menerus. Adanya kelemahan-kelemahan isi kurikulum dalam berbagai bidang/mata pelajar di berbagai jenis/jenjang pendidikan. agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan tanpa menumbuhkan manusia-manusia pembangunan berarti memberikan kesempatan kepadanya untuk mewujudkan dirinya secara bermakna. Di samping itu. sehingga setiap individu. Hal ini sejalan dengan kebijakan Departemen Pendidikandan Kebudayaan sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0461/U/1983 tertanggal 22 Oktober l983 tentang Perbaikan Kurikulum pendidikan Dasar dan Menengah khususnya pasal 2 dan 4 yang menyatakan bahwa: 146 . dalam ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor II/ MPR/ 1983 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara telah dirumuskan tujuan pendidikan nasional yaitu meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. dari penilaian kurikulum tersebut dapat pula disimpulkan adanya kesenjangan antara program kurikulum dan pelaksanaanya dilapangan. 5. penyelenggaraan pendidikan perlu disesuaikan dengan perkembangan dan perubahan masyarakat sedang membangun serta kemajuan ilmu dan teknologi. Dalam menuju cita-cita pendidikan nasional kita yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. kecerdasan dan dan keterampilan.4. Adanya kesenjangan antara jumlah lulusan SMA yang tidak memenuhi penyaratan untuk dapat melanjutkan pendidikan diperguruan tinggi dan jumlah keseluruhan lulusan SMA. Ditinjau dari segi pengembangan kurikulum.

l. 147 . secara perorangan maupun kelompok. dari Taman Kanak-Kanak sampai dengan Sekolah Menengah tingkat Atas. pelaksanaan Pendidikan sejarah perjuangan bangsa sebagai bidang/program pendidikan yang berdiri sendiri. baik pengetahuan maupun keterampilan yang perlu dikuasai dalam pembentukan kemampuan dan watak. c. Perbaikan terhadap kurikulum mencakup: a. penerapan analisis sistem dalam penentuan bidang minat dan sasaran kurikulum. b. c. Kokurikuler dan Ekstrakurikuler. kemungkinan penyesuaian dengan kecepatan belajar anak didik. d. 2) keterpaduan dan keserasian antara matra kognitif. psikomotorik dan afektif. 3) penyesuaian tujuan dan struktur program dengan perkembangan masyarakat. pengadaan program studi baru yang merupakan usaha memenuhi kebutuhan perkembangan di lapangan kerja. peninjauan kembali dan perbaikan kurikulum secara menyeluruh melalui pendekatan pengembangan dengan bertitik tolak pada : 1) pilihan kemampuan dasar. b. perwujudan azas keluwesan dalam isi kurikulum maupun pengelolaan proses belajar-mengajar dalam kerangka pengembangan Intrakurikuler. pengembangan kurikulum inti dan program khusus (pilihan) bagi kepentingan kelompok-kelompok tertentu. termasuk pendidikan luar sekolah. pembangunan maupun ilmu dan teknologi. 2. Upaya perbaikan kurikulum berlangsung secara bertahap dan terus-menerus dengan bertitik tolak dan mengarah pada pemantapan usaha : a.

efisiensi proses belajar. g. TUJUAN UMUM SMA Pertama. Ketiga. f. yang wajib diikuti semua siswa. Kedua.. 148 . yakni mendidik siswa menjadi manusia pembangunan sebagai warga negara Indonesia yang berpedoman pada Pancasila. sehubungan dengan kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat akan tenaga kerja terampil tingkat menengah. dan sekaligus merupakan perwujudan upaya untuk menempatkan siswa dalam suasana kebersamaan. h. terutama dimaksudkan untuk memenuhi tujuan/fungsi SMA yang pertama. sebagaimana halnya yang berlaku bagi setiap lembaga pendidikan. SMA bertujuan memberikan bekal kemampuan yang diperlukan bagi siswa yang akan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. pendekatan program kepada ketuntasan belajar dalam masing-masing bagian maupun keseluruhan program kurikulum. sebagai lembaga pendidikan umum pada tingkat menengah atas.e. pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan yang telah dilaksanakan. penerapan konsep berorientasi pada lapangan/bidang pekerjaan dalam kurikulum pendidikan kejuruan.pendidikan di SMA bertujuan pula memberikan bekal kemampuan bagi siswa yang akan terjun ke dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikannya: BAB II: LINGKUP PROGRAM SMA A. B. SMA bertujuan mendidik para siswa untuk menjadi manusia pembangunan sebagai warga negara Indonesia yang berpedoman pada Pancasila. PROGRAM INTI Program Inti. SMA merupakan salah satu sekolah yang kurikulumnya mengalami penyempurnaan dan hasil penyempurnaan diberlakukan secara bertahap di seluruh Indonesia mulai tahun ajaran 1984/1985.

Biologi 12. Sejarah 15. Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa 4. Pendidikan Keterampilan 10. Bahasa Inggris Mata pelajaran Pendidikan Agama. Ekonomi 6. Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia juga diwajibkan selama 6 semester dengan jumlah waktu seluruhnya 18 jam pelajaran. perubahan masyarakat dalam rangka perkembangan ilmu dan teknologi. Fisika 13. Pendidikan Seni 9. 149 . Progam Inti untuk SMA mencakup kurang dari program keseluruhan di SMA. Bahasa dan Sastra Indonesia 5. Program Inti dalam kurikulum SMA mencakup mata-mata pelajaran : l. Pendidikan Agama 2. dan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa diwajibkan selama 6 semester dengan jumlah waktu seluruhnya untuk masing-masing mata pelajaran l2 jam pelajaran. serta penguasaan pengetahuan minimal bagi semua siswa. Matematika 11.Program Inti merupakan progam pendidikan yang wajib bagi semua siswa dengan mengacu pada kepentingan pencapaian tujuan Pendidikan Nasional. Pendidikan Jasmani dan Olahraga/Kesehatan 8. Pendidikan Pancasila 3. Geografi 7. Kimia 14. Pendidikan Pancasila.

di wajibkan minimal selama dua semester dengan jumlah waktu seluruhnya 6 jam pelajaran. Mata Pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris masing-masing diwajibkan selama 1 atau 2 semester dengan jumlah waktu seluruhnya untuk masing-masing mata pelajaran 6 jam pelajaran. Pendidikan Seni dan Pendidikan Keterampilan diwajibkan minimal selama 4 semester dengan jumlah waktu seluruhnya untuk masing-masing mata pelajaran 12 jam pelajaran dengan catatan: 1. Mata pelajaran Geografi. 3. wirawasta. melalui pelajaran Kerajinan dan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga. yang bahan pelajarannya dimulai dari Geografi Indonesia dan dilanjutkan Geografi umum yang mencakup Geografi manusia dan alam. dengan catatan mata pelajaran Sejarah mencakup baik Sejarah Dunia maupun sebagian Sejarah Indonesia yang materinya tidak mencakup dalam Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa. lalu lintas. tercakup pula unsure pendidikan kesehatan. Kimia dan Sejarah diwajibkan selama 1 atau 2 semester dengan jumlah waktu seluruhnya untuk masing-masing mata pelajaran 4 jam pelajaran. setiap sekolah diwajibkan memberikan seni rupa yang mencakup pelajaran menggambar mistar serta 1 cabang seni yang lain atau lebih. pendidikan 150 . Didalam pendidikan Jasmani dan olahraga / Kesehatan. wawasan nusantara. disamping pembinaan keterampilan itu sendiri. Unsur-unsur baru seperti pendidikan kependudukan dan lingkungan hidup. gizi. pembangunan desa.Mata pelajaran Ekonomi yang berisi bahan pelajaran tentang ekonomi dengan titik berat pada koperasi. Fisika. Untuk Pendidikan Seni. Mata Pelajaran Biologi. Pendidikan Jasmani dan Olahraga/Kesehatan. Pendidikan keterampilan lebih diarahkan pada usaha menumbuhkan minat dan apresiasi terhadap pekerjaan yang menggunakan tangan. diwajibkan minimal selama 4 semester dengan jumlah waktu seluruhnya sepuluh jam pelajaran. 2. sesuai dengan namanya.

khususnya Universitas / Institut.Ilmu Sosial d. Program Khusus dari Kurikulum 1984 SMA terdiri dari 2 (dua) Jenis. pendidikan bela negara. Program Ilmu-Ilmu Fisik b. B. Program A ini disajikan dalam bentukProgram-program yang disesuaikan dengan persyaratan kelompok-kelompok program studi pada pendidikan tinggi. PROGRAM KHUSUS (PILIHAN) Program Khusus merupakan Program yang terutama dimaksudkan untuk memenuhi tujuan / SMA yang kedua dan ketiga yaitu menyiapkan siswa yang akan melanjutkan Pendidikan di Perguruan Tinggi dan yang akan terjun ke dunia kerja.politik. yaitu kelompok Ilmu-ilmu Fisik. Ada 4 kelompok program studi pada pendidikan tinggi yang berlaku dewasa ini. Ilmu-ilmu Biologi. Ilmu-ilmu Psikososial. Program Ilmu. Program A Program A adalah program yang terutama dimaksudkan untuk memenuhi tujuan / SMA yang kedua yakni memberikan bekal kemampuan yang diperlukan untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. 1. Program Ilmu – Ilmu Biologi c. dimasukan kedalam mata pelajaran yang sesuai. yaitu Program A dan Program B. Program Pengetahuan Budaya 151 . Program ini diadakan dengan bertitik tolak pada perbedaan bakat dan minat perorangan serta kebutuhan lingkungan. dan sebagainya. Program khusus untuk SMA mencakup kurang lebih 40 persen dari program keseluruhan . program – program yang tercakup dalam program A di SMA terdiri dari: a. Sesuai dengan lingkup program pendidikan di SMA dimana Psikologi tidak diajarkan. dan Pengetahuan Budaya.

di dalamnya tercakup pengetahuan agama. Adapun kegunaan masing–masing program adalah sebagai berikut: a. Program ilmu-ilmu sosial menyiapkan siswa yang akan melanjutkan pendidikannya ke program studi pendidikan tinggi yang mengkaji Bahasa Daerah/Bahasa Asing lain 2 152 MATA PELAJARAN Sosiologi dan Antropologi Sejarah Budaya Bahasa Inggris Matematika Tatanegara Sastra . elektronika.Masing-masing program berisi mata pelajaran yang diperlukan untuk dapat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dengan bobot sebagai berikut: Ekonomi Biologi PROGRAM Kimia Fisika Ilmu-ilmu Fisik Ilmu-ilmu Biologi Ilmu-ilmu Sosial Pengetahuan Budaya 4 3 - 4 4 - 2 4 - 4 - 3 3 3 - 3 3 4 4 2 1 2 2 4 4 Program pengetahuan khusus mengenai program pengetahuan budaya. kimia. b. seperti pertanian. c. Program ilmu–ilmu fisik menyiapkan siswa yang akan melanjutkan pendidikannya ke program studi pendidikan tinggi yang mengkaji baik gejala-gejala alamiah yang menyangkut benda/ bahan tak hidup. dan sebagainya. Program ilmu–ilmu biologi menyiapkan siswa yang akan melanjutkan pendidikannya ke program studi pendidikan tinggi yang mengkaji gejalagejala alamiah yang hidup. astronomi. kedokteran. maupun bidang matematika. geologi. dan sebagainya. biologi. seperti fisika.

sebagai lapangan kerja setelah tamat SMA ataupun yang melanjutkan 153 . d. Program di bidang teknologi industri menyiapkan siswa yang memilih bidang teknologi industri sebagai lapangan kerja setelah tamat SMA ataupun yang akan melanjutkan pendidikannya ke politeknik. sosiologi. 2. sastra. kesejahteraan keluarga. sebelum bekerja.bidang kehidupan yang dimaksud terdiri. dan sebagainya.program yang disesuaikan dengan bidang-bidang kehidupan yang ada di masyarakat. dan sebagainya. program B di SMA mencakup program–program di bidang teknologi industri computer pertanian dan kehutanan. asal hal tersebut tidak mengganggu kelancaran penyelesaian program pokoknya. dan sebagainya.siswa yang akan langsung bekerja sesudah tamat SMA maupun yang akan memasuki akademi. Program B disajikan dalam bentuk program. kesejateraan keluarga. bahasa. Program B Program B disediakan sebagai sarana untuk menampung minat dan bakat siswa untuk mendalami berbagai bidang kehidupan yang ada di masyarakat. jasa. budaya.Bidang. Siswa. budaya. ilmu ekonomi. Sehubungan dengan itu. antara lain. seperti hukum. dan sebagainya. program diloma. ilmu politik. pertanian dan kehutanan. atas teknologi industri. pengetahuan agama (teologi).Program ini lebih diarahkan untuk mempersiapkan siswa. sejarah. Program pengetahuan budaya menyiapkan siswa yang akan melanjutkan pendidikannya ke program studi pendidikan tinggi yang mengkaji aspek– aspek budaya.Adapun kegunaan masing-masing program di atas adalah sebagai berikut: a. maritim.kehidupan sosial manusia seperti ilmu administrasi. psikologi. Program dibidang kegiatan menyiapkan siswa yang memilih bidang computer. politeknik. akademi teknik. b.siswa yang telah memilih suatu program tertentu dapat mengambil juga mata pelajaran yang lain. jasa. dan sebagainya. filsafat. maritim.

Program di bidang pertanian dan kehutanan menyiapkan siswa yang memilih bidang pertanian dan kehutanan. Akademi Kesejahteraan Keluarga. Akademi Seni Rupa. dan sebagainya g. Akademi Sekretaris. sebagai lapangan kerja setelah tamat SMA ataupun yang melanjutkan pendidikannya ke Akademi Pertanian.pendidikan ke akademi computer. Contoh program-program yang tercakup dalam masing-masing bidang adalah sebagai berikut: 154 . Perikanan Laut. dan sebagainya. e. Program di bidang Budaya menyiapkan siswa yang memilih bidang budaya sebagai lapangan kerja setelah tamat SMA ataupun yang akan melanjutkan pendidikannya ke Akademi Bahasa. h. Dan sebagainya. Akademi Pariwisata. dan sebagainya. Kehutanan. Program dibidang Kesejahteraan Keluarga menyiapkan siswa yang memilih bidang kesejahteraan keluarga sebagai lapangan kerja setelah tamat SMA ataupun yang akan melanjutkan pendidikannya ke Akademi Gizi. dan sebagainya. Program di bidang Pengetahuan Agama menyiapkan siswa yang memilih bidang Agama sebagai lapangan kerja setelah tamat SMA ataupun yang akan melanjutkan pendidikannya ke program-program pendidikan agama yang sederajat dengan akademi atau program diploma. d. Akademi Teater. f. c. program diploma bidang computer. Program dibidang Jasa menyiapkan siswa yang memilih bidang pelayan sebagai lapangan kerja setelah tamat SMA ataupun yang akan melanjutkan pendidikannya ke Akademi Perdagangan. dan sebagainya. Program di bidang maritim menyiapkan siswa yang memilih bidang kelautan sebagai lapangan kerja setelah tamat SMA ataupun yang akanmelanjutkan pendidikannya ke Akademi Pelayaran.

Perangkat lunak .dan sebagainya Jasa .Peternakan .Kehutanan .Tataboga .Agama Kristen Protestan .Koperasi .Pertukangan Kayu .dan sebagainya Kesejahteraan Keluarga .Pelayaran .Sejarah Budaya Daerah (yang bersangkutan) .dan sebaginya Budaya .Otomotif .Bidang Teknologi Industri Contoh Program Yang Dapat Dipilih Siswa .Bahasa Daerah (yang bersangkutan) .Pembukuan .Instalasi Listrik .Agama Budha 155 .Elektronika .Kerajinan Kulit .Sastra Daerah (yang bersangkutan) .dan sebagainya Maritim .Pertanian .Seni Daerah (yang bersangkutan) .Pariwisata .dan sebagainya Komputer Pertanian dan Kehutanan .Agama Katolik .Agama Islam .Perikanan Darat .Kerajinan Keramik .Perangkat keras dan sebagainya .Tatabusana .Agama Hindu .Tataniaga .Penangkapan Ikan Laut .dan sebagainya Pengetahuan Agama .

maupun mata pelajaran kejuruan yang berhubungan dengan masing-masing program. dan demikian pula sebaliknya. dan keadaan/ kebutuhan lingkungan setempat. Berbeda dengan Pendidikan Keteramiplan pada program inti. Masing-masing Program pada program A maupun program B pada dasarnya dapat diambil mulai semester manapun.Perbedaannya dengan lulusan sekolah menengah kejuruan adalah bahwa lulusan SMA yang memilih program B memilih kemampuan dasar yang lebih luas sedangkan kemampuan kejuruannya lebih terbatas/ tidak selengkap lulusan sekolah menengah kejuruan. bagi lulusan yang bekerja setelah menamatkan SMA. bila nantinya berhasil mengembangkan kemampuannya selama di lapangan masih terbuka kesmpatan untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi asal telah memenuhi persyaratan yang dituntut oleh perguruan tinggi yang bersangkutan.Masing-masing program terdiri dari baik mata pelajaran umum/ akademik sebagai dasar untuk bidang-bidang kejuruan yang bersangkutan.Disamping itu. bidang-bidang kejuruan pada program B lebih diarahkan pada tujuan pembinaan keterampilan yang diperlukan sebagai bekal persiapan bagi para lulusan untuk bekerja/ memasuki bidang-bidang kehidupan di masyarakat.Siswa-siswa yang akan melanjutkan ke Universitas/ Institut dapat mengambil sebagian pelajaran pada program B. tergantung waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan program yang bersangkutan. Penentuan jenis-jenis program yang akan diadakan di sekolah diserahkan kepada masing-masing sekolah dengan mempertimbangkan bakat/ minat siswa. asal hal tersebut tidak mengganggu kelancaran penyelesaian program pokok yang dipilih. 156 . Dalam pengembangan program B. perlu ditetapkan patokan mengenai segi kesesuaiannya untuk berbagai bidang kehidupan. kemampuan sekolah yang bersangkutan.

Biologi 13. Geografi 8. Pendidikan Agama 2. Matematika 17. PROGRAM STUDI: ILMU-ILMU FISIK BEBAN PROGRAM PROGRAM INTI BELAJAR MATA PELAJARAN 1. Kimia 20. Sejarah Nasional Indonesia & Dunia 6. STRUKTUR PROGRAM KURIKULUM 1984 SEKOLAH MENENGAH UMUM TINGKAT ATAS UNTUK PROGRAM PILIHAN A Program A adalah dalam rangka menyiapkan siswa yang memenuhi persyaratan untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Matematika 12. Bahasa & Sastra Indonesia 5. Pendidikan Olah Raga & Kesehatan 9. Ekonomi 7. Pendidikan Keterampilan 11. Bahasa Inggris JUMLAH 16. Fisika 19. Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa 4.C. Biologi 18. Fisika 14. 1. Bahasa Inggris JUMLAH JUMLAH BEBAN BELAJAR KELAS / SEMESTER I II III 1 2 3 4 5 6 2 2 2 4 3 3 2 3 2 4 3 2 2 3 37 37 2 2 4 3 3 2 3 4 4 3 2 2 3 37 37 2 2 2 3 2 2 2 2 2 19 6 2 4 4 3 19 38 2 2 3 2 2 2 2 2 17 6 2 6 4 3 21 38 2 2 2 2 2 3 13 8 3 6 5 3 25 38 2 2 2 2 3 11 6 3 6 5 3 23 34 Σ 12 12 6 18 14 6 10 8 10 10 8 6 4 4 6 134 25 10 22 18 12 88 222 PROGRAM PILIHAN 157 . Pendidikan Moral Pancasila 3. Pendidikan Seni 10. STRUKTUR PROGRAM Struktur program untuk Program A serta contoh struktur program untuk program B dapat dilihat pada bagan struktur program kurikulum masing-masing berikut ini. Kimia 15.

Kimia 20. Bahasa Inggris JUMLAH JUMLAH BEBAN BELAJAR KELAS / SEMESTER I II III 1 2 3 4 5 6 2 2 2 4 3 3 2 3 2 4 3 2 2 3 37 37 2 2 4 3 3 2 3 4 4 3 2 2 3 37 37 2 2 2 3 2 2 2 2 2 19 4 4 4 4 3 19 38 2 2 3 2 2 2 2 2 17 4 6 4 4 3 21 38 2 2 2 2 2 3 13 6 7 4 5 3 25 38 2 2 2 2 3 11 6 5 4 5 3 23 34 Σ 12 12 6 18 14 6 10 8 10 10 8 6 4 4 6 134 20 22 16 18 12 88 222 PROGRAM PILIHAN 3. Pendidikan Keterampilan 11. PROGRAM STUDI: ILMU-ILMU SOSIAL BEBAN PROGRAM PROGRAM INTI BELAJAR MATA PELAJARAN 1. Fisika 19. Kimia 15. Biologi 13. Pendidikan Olah Raga & Kesehatan 9. Biologi 13. Matematika 12. Pendidikan Olah Raga & Kesehatan 9. Pendidikan Keterampilan 11. Bahasa & Sastra Indonesia 5. Bahasa Inggris JUMLAH KELAS / SEMESTER I II III 1 2 3 4 5 6 2 2 2 4 3 3 2 3 2 4 3 2 2 3 37 2 2 4 3 3 2 3 4 4 3 2 2 3 37 2 2 2 3 2 2 2 2 2 19 2 2 3 2 2 2 2 2 17 2 2 2 2 2 3 13 2 2 2 2 3 11 Σ 12 12 6 18 14 6 10 8 10 10 8 6 4 4 6 134 158 .2. Pendidikan Seni 10. Fisika 14. Geografi 8. Pendidikan Seni 10. Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa 4. Sejarah Nasional Indonesia & Dunia 6. Pendidikan Moral Pancasila 3. Sejarah Nasional Indonesia & Dunia 6. Geografi 8. Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa 4. Fisika 14. Pendidikan Moral Pancasila 3. Bahasa & Sastra Indonesia 5. Bahasa Inggris JUMLAH 16. Biologi 18. Ekonomi 7. Matematika 17. Pendidikan Agama 2. Kimia 15. Matematika 12. PROGRAM STUDI: ILMU-ILMU BIOLOGI BEBAN PROGRAM PROGRAM INTI BELAJAR MATA PELAJARAN 1. Ekonomi 7. Pendidikan Agama 2.

PROGRAM STUDI: PENGETAHUAN BUDAYA BEBAN PROGRAM PROGRAM INTI BELAJAR MATA PELAJARAN 1. Geografi 8. Matematika JUMLAH JUMLAH BEBAN BELAJAR KELAS / SEMESTER I II III 1 2 3 4 5 6 2 2 2 4 3 3 2 3 2 4 3 2 2 3 37 37 2 2 4 3 3 2 3 4 4 3 2 2 3 37 37 2 2 2 3 2 2 2 2 2 19 4 3 2 5 3 2 19 38 2 2 3 2 2 2 2 2 17 4 3 4 5 3 2 21 38 2 2 2 2 2 3 13 4 6 4 7 4 25 38 2 2 2 2 3 11 4 4 4 7 4 23 34 Σ 12 12 6 18 14 6 10 8 10 10 8 6 4 4 6 134 16 16 14 24 14 4 88 222 PROGRAM PILIHAN STRUKTUR PROGRAM KURIKULUM 1984 SEKOLAH MENENGAH UMUM TINGKAT ATAS UNTUK PROGRAM PILIHAN B Program B adalah dalam rangka menyiapkan siswa yang mempunyai bakat dan minat untuk langsung memasuki lapangan kerja atau melalui latihan tambahan guna memasuki lapangan kerja. Pendidikan Moral Pancasila 3. Sejarah Budaya 17. Bahasa Inggris JUMLAH 16. Pendidikan Seni 10. Pendidikan Keterampilan 11. Bahasa Daerah / Bahasa Asing lainnya 21. Pendidikan Olah Raga & Kesehatan 9.PROGRAM PILIHAN 16. Matematika 12. Fisika 14. Bahasa Inggris 20. 159 . Sosiologi & Antropologi 19. Pendidikan Agama 2. 21. Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa 4. Ekonomi 7. 17. Kimia 15. Biologi 13. Sastra 18. Bahasa & Sastra Indonesia 5. 19. 20. Sejarah Nasional Indonesia & Dunia 6. Ekonomi Sosiologi & Antropologi Tata Negara Matematika Bahasa Inggris Bahasa Asing lainnya JUMLAH JUMLAH BEBAN BELAJAR 37 37 5 3 2 3 3 3 19 38 5 3 2 4 5 2 21 38 5 3 3 4 5 4 25 38 5 3 3 3 6 3 23 34 20 12 10 14 20 12 88 222 4. 18.

Yang dimaksud dengan kesetaraan dalam hal ini adalah penyamaan program yang dimuat dalam Program A dengan bidang-bidang pilihan yang dimuat dalam Program B. PELAKSANAAN PROGRAM B. Siswa memilih Program B dimulai di Kelas 2 dan 3.KESETARAAN PROGRAM A DAN PROGRAM B. B) Program Inti TABEL KESETARAAN PROGRAM A Ilmu-ilmu Fisik PROGRAM B BIDANG Teknologi Industri PILIHAN Kerajinan Tangan Kerajinan Kulit Otomotif Instalasi Listrik Elektronika Pertukangan Kayu Perangkat Lunak Perangkat Keras Pelayaran Penangkapan Ikan Laut Pertanian Perikanan Darat Peternakan Kehutanan Tataniaga Koperasi Pembukuan Pariwisata Tataboga Tatabusana Tatagraha Bahasa Daerah Komputer Maritim Ilmu-ilmu Biologi Pertanian dan Kehutanan Ilmu-ilmu Sosial Jasa Kesejahteraan Keluarga Pengetahuan Budaya Budaya 160 . sedangkan siswa di Kelas 1 mempelajari Program Inti yang sama dengan Program A sebagaimana dalam tabel berikut ini. PROGRAM A Program Inti Program Inti PROGRAM B Kelas III Kelas II Program Pilihan (A.

dan ekstrakurikuler merupakan hal-hal yang tidak dapat dipisahkan dari tujuan pendidikan secara keseluruhan dari sekolah yang bersangkutan.Kegiatan kokurikuler dilaksanakan dalam berbagai bentuk. dan kegiatan-kegiatan lain yang sejenis. yang dilakukan di sekolah ataupun diluar sekolah dengan 161 . Kegiatan kokurikuler adalah kegiatan diluar jam pelajaran biasa. KEGIATAN INTRAKURIKULER. seperti mempelajari buku-buku tertentu. yang bertujuan agar siswa lebih memperdalam dan lebih menghayati apa yang dipelajari dalam kegiatan intrakurikuler. Kegiatan Ekstrakurikuler adalah kegiatan diluar jam pelajaran biasa ( termasuk pada waktu libur ).Kegiatan ini dimaksudkan untuk mencapai tujuan minimal yang perlu dicapai dalam masing-masing mata pelajaran. ekstrakurikuler. melakukan penelitian. administrasi kurikulum. Kegiatan Intrakurikuler dilakukan di sekolah yang penjatahan waktunya telah ditentukan dalam struktur program. KOKURIKULER. A. kokurikuler. DAN EKSTRAKURIKULER Kegiatan intrakurikuler. pendekatan belajar mengajar dan penilaian. serta bimbingan karir. membuat karangan. Segi-segi yang dimaksud mencakup kegiatan intrakurikuler.Hasil kegiatan ini ikut menentukan dalam pemberian nilai bagi para siswa.dengan tujuan untuk lebih menghayati/ memperdalam apa yang telah dipelajari.Ilmu-ilmu Agama Pengetahuan Agama Sastra Daerah Seni Daerah Sejarah Budaya Bahasa Asing Agama Islam Agama Kristen Agama Katolik Agama Hindu Agama Budha BAB III: POKOK-POKOK PELAKSANAAN KURIKULUM Ada beberapa segi pelaksanaan kurikulum yang perlu mendapat perhatian dan erat hubungannya dengan ciri-ciri Kurikulum 1984 SMA.

Kegiatan ini dilakukan secara berkala atau hanya dalam waktu-waktu tertentu dan ikut menilai. ADMINISTRASI KURIKULUM Dalam rangka meningkatkan tepat guna dan daya guna pendidikan. Setiap siswa yang berhasil menamatkan SMA telah menyelesaikan minimal 222 kredit. Program Inti Jumlah = 134 kredit 88 kredit = 222 kredit b. 162 . pramuka. candi. Hal ini mengandung arti bahwa untuk setiap 1 jam pelajaran tatap muka. dengan cara perhitungan sebagai berikut: 1 kredit = 1 jam pelajaran tatap muka + ½ jam pelajaran pekerjaan rumah per minggu per semester (1 jam pelajaran = 45 menit). menyalurkan bakat dan minat. palang merah remaja. dan sebagainya). Dengan kredit disini dimaksudkan ukuran satuan beban belajar siswa yang ditentukan oleh jumlah jam pelajaran tatap muka dan pekerjaan rumah per minggu. drama. Program Khusus = Untuk melaksanakan system kredit dengan baik. museum. dapat digolongkan kedalam kegiatan ekstrakurikuler. dalam kurikulum 1984 SMA diterapkan system kredit yang sekaligus pula dikaitkan dengan system penilaian siswa. Kegiatan mengunjungi obyek-obyek tertentu (gunung.tujuan untuk memperluas pengetahuan siswa mengenal hubungan antara berbagai mata pelajaran. serta melengkapi upaya pembinaan manusia seutuhnya. B. para siswa diberi pekerjaan rumah yang diperkirakan dapat diselesaikan dalam waktu kurang lebih ½ jam pelajaran. per semester. dengan perincian: a. perlu disusun formulir-formulir yang dapat digunakan sekolah dalam mengatur dan mengelola program pendidikannya yang sekaligus dapat menunjukan kepada ketuntasan belajar siswa sesuai dengan patokan yang ditetapkan. dan kegiatan-kegiatan lain yang sejenis.

sedangkan mengelola pelaksanaannya diarahkan penguasaan keterampilan C. Keterampilan untuk mampu mengelola perolehannya biasa disebut “pendekatan keterampilan proses”. serta mempersiapkan peralihan dari kehidupan sekolah ke dunia kerja. penting artinya untuk menyesuaikan pendidikan dengan perbedaan perseorangan dan kebutuhan lingkungan. (2) memahami lingkungan/ dunia kerja dalam tata hidup tertentu. program bimbingan karier ini dapat dilakukan 1 atau 2 kali dalam sebulan.Nara sumber yang ada di masyarakat perlu dimanfaatkan dalam melaksanakan program ini. BIMBINGAN KARIER Peranan bimbingan dan penyuluhan.Secara lebih khusus. atau gabungan antara keduanya. Kegiatan penilaian terutama diarahkan pada upaya untuk menentukan seberapa jauh tujuan-tujuan maupun proses belajar mengajar yang diinginkan telah terwujud. D. Dalam pelaksanaanya. dapat dalam bentuk tatap muka. tetapi memiliki arti yang lebih luas yaitu bimbingan agar seseorang dapat memasuki kehidupan. terutama bimbingan karier. dan (3) mengembangkan rencana dan kemampuan untuk mengambil keputusan tentang masa depannya. tata hidup dan kejadian di dalam kehidupan. Bimbingan Karier bukan hanya berarti bimbingan jabatan atau bimbingan tugas. system belajar sendiri. PENDEKATAN BELAJAR MENGAJAR DAN PENILAIAN Proses belajar mengajar dilaksanakan dengan lebih banyak mengacu kepada bagaimana seseorang belajar. selain kepada apa yang ia pelajari. program bimbingan karier terutama berperan membantu siswa dalam: (1) memahami dirinya.Penilaian dilakukan secara berkesinambungan dan menyeluruh untuk keperluan peningkatan proses maupun hasil belajar serta pengelolaan program.Ketuntasan perolehannya. belajar ini menunjukan pada kepada hasil belajar.Program bimbingan karier inipun 163 .

sedangkan Daerah berwenang 164 . Hal ini diwujudkan melalui penyelenggaraan program inti dan program khusus (Pilihan). serta penggunaan system kredit. serta kebutuhan lingkungan. UUD 1945. yaitu dengan jalan mengadakan penilaian terhadap pelaksanaan dan hasilhasil yang telah dicapai untuk mengadakan perbaikan/pemantapan dan pengembangan lebih lanjut. 4. BAB IV: PENGEMBANGAN DAN PENTAHAPAN PELAKSANAAN KURIKULUM A.perlu sekaligus dikaitkan dengan masalah patokan tentang segi kesesuaian program pendidikan untuk berbagai bidang kehidupan. Keluwesan Kurikulum dikembangkan dengan mempertimbangkan baik tuntutan kenutuhan siswa pada umumnya maupun kebutuhan pada siswa secara perorangan sesuai dengan minat dan bakatnya. 3. 2. AZAS-AZAS PENGEMBANGAN Pengembangan Kurikulum 1984 SMA berpedoman pada azas-azas sebagai berikut : 1. dan tujuan pendidikan nasional pada khususnya. dan GBHN Kurikulum dikembangkan dengan berlandaskan Pancasila. Peran Serta Daerah Dalam pengembangan kurikulum ada pembagian kewenangan antara Pusat dan Daerah. Pendekatan Pengembangan Pengembangan Kurikulum dilakukan secara baertahap dan terus-menerus. dalam kerangka mewujudkan cita-cita pembangunan nasional pada umumnya. Wewenang Pusat adalah mengembangkan konsep Program Inti dan Program Khusus (A dan B). serta Garis-Garis Besar Haluan Negara yang berlaku. Berlandaskan Pancasila. UNdangundang Dasar 1945.

Materi Kurikulum 1984 pada dasarnya tidak banyak berbeda dengan materi Kurikulum 1975. Dengan berkurangnya kepadatan materi kurikulum. kelas III pada tahun ajaran 1986/1987. kelas I dan kelas II pada tahun ajaran 1985/1986. terutama Program B. sesuai dengan cirri dan kondisi daerah. hal itu memungkinkanterlaksananya kegiatan belajar mengajar yang lebih baik. Pentahapan pelaksanaan kurikulum tersebut digambarkan dalam bagan berikut: Tahun Pelajaran Kelas I II III 1984/1985 √ - 1985/1986 √ √ - 1986/1987 √ √ √ dan seterusnya √ √ √ √ = Kelas yang menerapkan Kurikulum 1984 UNDANG-UNDANG TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 1989 Sebagai perwujudan dari kebutuhan dan tuntutan perkembangan pendidikan nasional sebagai suatu sistem telah diberlakukan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada tanggal 27 Maret 1989. yang berbeda adalah organisasi pelaksanaanya. B.menjabarkan lebih lanjut pelaksanaan konsep tersebut. dan seterusnya. sehingga dengan demikian Kurikulum 1984 dapat dilaksanakan dengan menggunakan bahan/bukubuku serta sarana yang ada. dan kelas I. PENTAHAPAN PELAKSANAAN Kurikulum 1984 SMA dilaksanakan secara bertahap mulai dengan I pada tahun ajaran 1984/1985. Perubahan yang diadakan lebih mengarah pada penyederhanaan materi setiap mata pelajaran sehingga mencakup hanya materi-materi yang penting saja. kelas II. Undangundang ini memuat aspek antara lain sebagai berikut: 165 .

166 . serta kebutuhan pembangunan. yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian. Pendidikan Nasional berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional. Untuk mewujudkan pembangunan nasional di bidang pendidikan diperlukan peningkatan dan penyempurnaan penyelenggaraan pendidikan nasional.Hakikat Pendidikan. Fungsi. yang memungkinkan warganya mengembangkan diri sebagai manusia Indonesia seutuhnya. memiliki pengetahuan dan keterampilan. Dasar. kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan. Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Tujuan. kesehatan jasmani dan rohani. dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan dating. perkembangan masyarakat. yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur. Pembangunan nasional di bidang pendidikan adalah upaya demi mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang maju. KURIKULUM 1994 PENGANTAR Undang-Undang Dasar 1945 mengamatkan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta agar pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu system pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang. pengajaran. adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

pelaksanaan pengajaran. lama pendidikan dan susunan program pengajaran. pokok-pokok bahasan. Sehubungan dengan hal-hal tersebut diatas. Buku Landasan. Kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan siswa dan kesesuaiannya dengan lingkungan. dan Lampiran III tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum. dan uraian tentang keluasan dan kedalamannya. tujuan pendidikan nasional. program pengajaran yang mencakupisi program pengajaran. 167 . Program dan Pengembangan Kurikulum Sekolah Menengah Umum (Lampiran I) memuat hal-hal pokok sebagai berikut : Landasan yang dijadikan acuan dan pedoman dalam pengembangan kurikulum. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian. kebutuhan pembangunan nasional. sesuai dengan jenis dan jenjang masing-masing satuan pendidikan (Pasal 37 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional). tujuan pendidikan menengah dan tujuan pendidikan pada Sekolah Menengah Umum. penilaian dan pengembangan kurikulum selajutnya. dan rambu-rambu cara penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.Dengan berlakunya Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional serta sekalian peraturan pemerintah sebagai pedoman pelaksanaannya. di tingkat nasional dan tingkat daerah. tuuan pengajaran mata pelajaran yang bersangkutan dan ruang lingkup bahan kajian/pelajaran. Buku Garis-garis Besar Program Pengajaran setiap mata pelajaran (Lampiran II) memuat hal-hal sebagai berikut: pengertian dan fungsi mata pelajaran. konsep atau tema. Lampiran II tentang Garis-garis Besar Program Pengajaran. maka ditetapkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor : 061/U/1993 Tanggal 25 Februari 1993 tentang Kurikulum Sekolah Menengah Umum sebagaimana tercantum dalam Lampiran I tentang Landasan. maka kurikulum Sekolah Menengah Umum perlu disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan tersebut. Program dan Pengembangan Kurikulum Sekolah Menengah Umum.

Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989. Keputusan Presiden Republik Indonesia: a. 4. c. MENGINGAT: 1. dipandang perlu menetapkan Kurikulum Sekolah Menengah Umum. Pengantar ini ditandatangani oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. dan pedoman bimbingan belajar/bimbingan karir serta pedoman penilaian kegiatan dan hasil belajar. Nomor 44 Tahun 1974. Demikianlah buku ini diterbitkan dan disebarluaskan ke seluruh sekolah agar kurikulum ini dipedomani dan dilaksanakan sebaik-baiknya dengan memanfaatkan segala sumber daya yang tersedia. Nomor 15 Tahun 1984 sebagaimana telah diubah/ditambah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 1992. 25 Februari 1993. pedoman pengelolaan kegiatan belajar-mengajar. Fuad Hasan di Jakarta. Dr. 2. Nomor 64/M Tahun 1988. b. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan: 168 . KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 061/U/1993 TENTANG KURIKULUM SEKOLAH MENENGAH UMUM MENIMBANG: Bahwa sebagai pelaksanaan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990.Buku Pedoman Pelaksanaan Kurikulum (Lampiran III) terdiri atas pedoman kegiatan belajar-mengajar untuk setiap mata pelajaran. 3.

MEMUTUSKAN: MENETAPKAN: Pertama : (1) Mengesahkan dan Memberlakukan Kurikulum Sekolah Menengah Umum yang dilaksanakan secara bertahap mulai tahun pelajaran 1994/1995. Nomor 0489/U/1992 tanggal 30 November 1992. dan Pengembangan Kurikulum Sekolah Menengah Umum. d. dan Pengebangan Kurikulum Sekolah Menengah Umum. Hasil Rapat Kerja Nasional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1991. dan Lampiran III Keputusan ini. 3.a. e. Hasil serangkaian Rapat Kerja Kelompok Pengembangan Kurikulum. Nomor 0222f/0/1980 tanggal 11 September 1980. Program. masing-masing sebagaimana tercantum dalam Lampiran I. Program. MEMPERHATIKAN: 1. Nomor 0173/0/1983 tanggal 14 Maret 1983. Saran tertulis Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional terhadap Buku Landasan. Lampiran II. dan Pedoman Pelaksanaan Kurikulum Sekolah Menengah Umum. Garis-garis Besar Program Pengajaran. Kedua : (1) Kurikulum Sekolah Menengah Umum yang berlaku secara nasional ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. 169 . 2. Nomor 0574/P/1990 tanggal 25 Agustus 1990. c. b. (2) Kurikulum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri atas Buku Landasan. Nomor 0222b/0/1980 tanggal 11 September 1980 dengan semua perubahannya.

Surat Keputusan ini ditetapkan di Jakarta pada tanggal 25 Februari 1993 oleh Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan: Fuad Hasan.(2) Kurikulum Sekolah Menengah Umum yang disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan ditetapkan oleh Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. kebutuhan pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian. (2) Perubahan yang berkenaan dengan isi Buku Garis-garis Program Pengajaran untuk setiap mata pelajaran yang berlaku secara nasional dan atau isi Buku Pedoman Pelaksanaan Kurikulu Sekolah Menengah Umum ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah setelah mendengar pertimbangan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan. Program dan Pengembangan Kurikulum Sekolah Menengah Umum ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. 170 . Ketiga : (1) Upaya perbaikan dalam rangka penyempurnaan Kurikulum Sekolah Menengah Umum dilakukan secara terus-menerus untuk disesuaikan dengan tahap perkembangan siswa. Kelima : Dengan berlakunya Keputusan ini Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0209/U/1984 dinyatakan tidak berlaku. Keenam : Petunjuk pelaksanaan Keputusan ini ditetapkan oleh Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Ketujuh : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. (2) Dengan adanya ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) perubahan Kurikulum Sekolah Menengah Umum dapat dilakukan sewaktu-waktu. keadaan dan kebutuhan lingkungan. Keempat : (1) Perubahan yang berkenaan dengan isi Landasan.

Peserta didik dimungkinkan untuk pindah dari jalur pendidikan sekolah ke jalur pendidikan luar sekolah atau sebaliknya. 5. 25 FEBRUARI 1993 LANDASAN. 061/U/1993 TANGGAL. nilai budaya. nilai moral dan keterampilan. Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta agar pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu system pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang. atau dari satu jenis pendidikan lain dalam jenjang yang sama. termasuk juga dalam hal biaya penyelenggaraan pendidikan.LAMPIRAN TENTANG I KEPUTUSAN MENTERI DAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR. Sebagai perwujudan cita-cita nasional tersebut telah diterbitkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. dan 6 Undangundang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional). PROGRAM PENGEMBANGAN KURIKULUM SEKOLAH MENENGAH UMUM BAB I: LANDASAN Pendidikan Nasional berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan keyakinan agama. Pendidikan Nasional berfingsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional. kemampuan dan keterampilan yang sekurangkurangnya setara dengan tamatan pendidikan dasar (Pasal 3. Setiap warga Negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan serta kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengikuti pendidikan guna memperoleh pengetahuan. 171 . Sistem pendidikan nasional diselenggarakan melalui 2 (dua) jalur. yaitu jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah. masyarakat dan pemerintah. Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga.

pasal 10 ayat (2). terdapat pula pendidikan menengah kedinasan. pendidikan menengah kejuruan dan pendidikan menengah luar biasa. Disamping itu. Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum. Jenjang pendidikan yang termasuk jalur pendidikan sekolah terdiri atas pendidikan dasar. dan pasal 12 ayat (1) Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989). Kurikulum SMU disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan siswa dan kesesuaian dengan lingkungan. kebutuhan pembangunan nasional. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian. pendidikan menengah.Satuan pendidikan menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar yang dilaksanakan di sekolah atau di luar sekolah. Pendidikan Menengah diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial. budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemapuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi (Pasal 15 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989). Sekolah Menengah Umum (SMU) merupakan bentuk satuan pendidikan di jalur pendidikan sekolah pada pendidikan menengah umum yang mengutamakan penyiapan siswa untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi dengan pengkhususan yang diwujudkan pada tingkat-tingkat akhir masa pendidikan (Pasal 11 ayat (2) Undang-undang Nomor 2 tahun 1989 dan Pasal 1 butir 2 serta Pasal 3 ayat (1) dan Pasal 4 ayat (1) butir. 172 . Peraturan Pemerintah Nomor 29 tahun 1990. dan pendidikan menengah keagamaan. Pendidikan menengah umum adalah pendidikan pada jenjang pendidikan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan dan peningkatan keterampilan siswa. Jalur pendidikan sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan belajar-mengajar secara berjenjan dan berkesinambungan. dan pendidikan tinggi (Pasal 9 ayat (1).

BAB III: PROGRAM PENGAJARAN Kurikulum Sekolah Menengah Umum disusun untuk mencapai tujuan pendidikan pada Sekolah Menengah Umum. yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur.BAB II: TUJUAN A. dan alam sekitarnya. Meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial. Kurikulum ini merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di Sekolah Menengah Umum. Program pengajaran sekolah menengah umum terdiri dari program pengajaran umum dan program pengajaran khusus. teknologi dan kesenian. Meningkatkan pengetahuan siswa untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dan mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Tujuan pendidikan pada Sekolah Menengah Umum (SMU) mengacu kepada tujuan pendidikan menengah dan mengutamakan penyiapan siswa untuk menlanjutkan Pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi (Pasal 3 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990). Tujuan Pendidikan Nasional Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan Pendidikan mengembangkan manusia Indonesia sutuhnya. kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (Pasal 4 Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989). budaya. B. dan 2. Program pengajaran 173 . memiliki pengetahuan dan keterampilan. (Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990). kesehatan jasmani dan rohani. Tujuan Pendidikan pada Jenjang Pendidikan Menengah dan Sekolah Menengah Umum Pendidikan menengah bertujuan: 1.

Geografi 174 . Ilmu Pengetahuan Sosial a. Biologi c. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan PendidikanAgama Bahasa dan Sastra Indonesia Sejarah Nasionaldan Sejarah Umum Bahasa Inggris Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Matematika Ilmu Pengetahuan Alam a. sedangkan program pengajaran khusus mulai diadakan dikelas III SMU. Fisika b. dan minat siswa sebagai dasar untuk memilih program pengajaran khusus yang sesuai di kelas III. budaya. 6. kemampuan. 3. Program Pengajaran Umum Program pengajaran umum merupakan program pengajaran yang wajib diikuti oleh semua siswa kelas I dan kelas II. 7. A. 8. Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial. 4. dan alam sekitarnya serta meningkatkan pengetahuan. Ekonomi b. Kimia 9. Sosiologi c. 5.umum diselenggarakan di kelas I dan II SMU. Program pengajaran umum mencakup bahan kajian dan pelajaran yang disusun dalam mata pelajaran sebagai berikut: 1. 2.

Program Bahasa Program ini dimaksudkan untuk mempersiapkan siswa melanjutkan pendidikannya ke jenjang pendidikan tinggi yang berkaitan dengan bahasa dan budaya. Program Pengajaran Khusus Program Pengajaran Khusus diselenggarakan di kelas III dan dipilih oleh siswa sesuai dengan kemampuan dan minatnya.10. program inijuga memberikan bekal kemampuan kepada siswa secara langsung atau tidak langsung untuk bekerja di masyarakat. dan Program Ilmu Pengetahuan Sosial. Program ini dimaksudkan untukmempersiapkan siswa melanjutkan pendidikan padajenjang pendidikan tinggi dalam bidang pendidikan akademik maupun pendidikan profesional dan mempersiapkan siswa secara langsung atau tidak langsung untuk bekerja di masyarakat. 175 . Program Ilmu Pengetahuan Alqm. l. Program pengajaran ini berisi bahan kajian dan pelajaran yang disusun dalam mata pelajaran berikut: a. baik dalam bidang pendidikan akademik maupun pendidikan profesional. Setiap program khusus terdiri dari sejumlah mata pelajaran umum dan mata pelajaran khusus. Siswa di kelas III diberi peluang untuk berpindah ke program pengajaran khusus lainnya sesuai dengan kemampuan. Kesempatan untuk berpindah dari program khusus yang telah dipilihnya ke program khusus lainnya diberikan sampai dengan akhir catur wulan I kelas III. Mata Pelajaran Umum: l) Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. minat. dan kemajuan belajarnya. Jenis mata pelajaran umum dan jumlah jam pelajaran masing-masing mata pelajaran umum pada setiap program khusus adalah sama. Mata-mata pelajaran pada setiap program khusus adalah sebagai berikut. Selain daripada itu. Program pengajaran khusus terdiri dari: Program Bahasa. Pendidikan Seni B.

3) Bahasa Asing Lain. b. 2) Pendidikan Agama.2) Pendidikan Agama. 5) Bahasa Inggris. 6) Pendidikan Jasmani danKesehatan. 5) Bahasa Inggris. Mata Pelajaran Khusus 1) Bahasa dan Sastra Indonesia 2) Bahasa Inggris. 2. 3) Bahasa dan Sastra Indonesia. Mata Pelajaran Umum l) Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. 4) SejarahNasional dan Sejarah Umum. 3) Bahasa dan Sastra Indonesia. Program Ilmu Pengetahuan AIam (IPA) Program llmu Pengetahuan Alam dimaksudkan untuk mempersiapkan siswa melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi yang berkaitan dengan matematika dan ilmu pengetahuan alam baik dalam bidang pendidikan akademik maupun pendidikan profesional. 4) Sejarah Budaya. 4) Sejarah Nasional dan Sejarah Umum. Program ini berisi bahan kajian dan pelajaran yang disusun dalam mata pelajaran berikut: a. 176 . Selain daripada itu. program ini juga memberikan bekal kemampuan kepada siswa secara langsung atau tidak langsung untuk bekerja di masyarakat.

3) Bahasa dan Sastra Indonesia. Program Ilmu Pengetahuan Sosial Program ini dimaksudkan untuk mempersiapkan siswa I melanjutkan pendidikannya ke jenjang pendidikan tinggi yang I berkaitan dengan ilmu pengetahuan sosial. b. Selain daripada itu.6) Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. baik dalam bidang pendidikan akademik maupun pendidikan profesional. 3. 3) Kimia 4) Matematika. Mata pelajaran Umum l) Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. 2) PendidikanAgama. Program pengajaran ini berisi bahan kajian dan pelajaran yang disusun dalam mata pelajaran berikut: a. 2) Biologi. b. 4) Sejarah Nasional dan Sejarah Umum. 2) Sosiologi. program ini juga memberikan bekal kemampuan kepada siswa secara langsung atau tidak langsung untuk bekerja di masyarakat. Mata Pelajaran Khusus 1) Ekonomi. 177 . Mata Pelajaran Khusus l) Fisika. 5) Bahasa Inggris. 3) Tata Negara. 6) Pendidikan Jasmani dan Kesehatan.

6. Sosiologi c. 2. 4. Jumlah Keterangan: 1 jam pelajaran adalah 45 menit. Fisika b. Biologi c. Susunan Program Gambaran menyeluruh mengenai mata-mata pelajaran dan jumlah waktu minimal yang dibutuhkan untuk setiap mata pelajaran untuk kelas I. 42 42 178 . 8. 3.4) Antropologi. II dan III dapat diiihat pada susunan program berikut ini: 1. c. 10. 7. SUSUNAN PROGRAM PENGAJARAN SEKOLAH MENENGAH UMUM KELAS I DAN KELAS II Program Umum KELAS & JUMLAH JAM PELAJARAN I II 2 2 5 2 4 2 6 5 4 3 3 2 2 2 2 5 2 4 2 6 5 4 3 3 2 2 - MATA PELAJARAN 1. 5. Ekonomi b. Geografi Pendidikan Seni 9. Kimia IPS a. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Pendidikan Agama Bahasa dan Sastra Indonesia Sejarah Nasional dan Sejarah Umum Bahasa Inggris Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Matematika IPA a.

1. 4. 2. 4. PROGRAM ILMU PENGETAHUAN ALAM JUMLAH JAM PELAJARAN 2 2 3 2 5 2 MATA PELAJARAN UMUM 1. 3. PROGRAM BAHASA JUMLAH JAM PELAJARAN 2 2 3 2 5 2 8 6 9 5 MATA PELAJARAN UMUM 1. Pendidikan Agama 3.2. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 2. SUSUNAN PROGRAM PENGAJARAN SEKOLAH MENENGAH UMUM KELAS III a. 2. Bahasa Inggris 6. Bahasa dan Sastra Indonesia 4. b. 3. Siswa memilih mata pelajaran Bahasa Asing Lain yang diselenggarakan oleh sekolah. 6. **) Penentuan mata pelajaran Bahasa Asing Lain dilakukan oleh sekolah berdasarkan keadaan dan kebutuhan sekolah yang bersangkutan. Sejarah Nasional dan Sejarah Umum 5. Pendidikan Panacasila dan Kewarganegaraan Pendidikan Agama Bahasa dan Sastra Indonesia Sejarah Nasional dan Sejarah Umum Bahasa Inggris Pendidikan Jasmani dan Kesehatan *) Bahasa dan Sastra Indonesia Bahasa Inggris Bahasa Asing Lain **) Sejarah Budaya KHUSUS JUMLAH Keterangan: *) 42 Diselenggarakan dalam kegiatan ekstrakurikuler dan disesuaikan dengan kesempatan yang tersedia di lingkungan sekolah. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan *) KHUSUS 179 . 5.

Kegiatan ekstra kurikuler berupa kegiatan pengayaan dan kegiatan perbaikan yang berkaitan dengan program kurikuler. Kegiatan-kegiatan untuk lebih memantapkan pembentukan kepribadian. D. Bahasa Inggris 6. kesenian. olahraga. Bahasa dan Sastra Indonesia 4. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 2. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan *) KHUSUS 1. 180 . 2. 4. usaha kesehatan sekolah. Ekonomi 2. Sejarah Nasional dan Sejarah Umum 5. Pendidikan Agama 3. Antropologi JUMLAH 42 Keterangan: *) Diselenggarakan dalam kegiatan ekstrakurikuler dan disesuaikan dengan kesempatan yang tersedia di lingkungan sekolah. palang merah. Fisika Biologi Kimia Matematika 7 7 6 8 JUMLAH 42 Keterangan: *) Diselenggarakan dalam kegiatan ekstrakurikuler dan disesuaikan dengan kesempatan yang tersedia di lingkungan sekolah. Sosiologi 3. Tata Negara 4. seperti: Kepramukaan. c. dan kegiatan lainnya diselenggarakan juga dengan menggunakan waktu di luar jam pelajaran yang tercantum dalam susunan program.1. 3. Kegiatan Ekstra Kurikuler Kegiatan ekstra kurikuler adalah kegiatan yang diselenggarakan di luarjam pelajaran yang tercantum dalam susunan program sesuai dengan keadaan dan kebutuhan sekolah. PROGRAM ILMU PENGETAHUAN SOSIAL JUMLAH JAM PELAJARAN 2 2 3 2 5 2 10 6 6 6 MATA PELAJARAN UMUM 1.

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan diarahkan pada moral yang diharapkan diwujudkan dalam bentuk perilaku seharihariberdasarkan nilai moral Pancasila. ibadah. pengembangan sikap dan perilaku yang didasarkan pada nilai-nilai dasar dan norma dasar Pancasila beserta penjabarannya. dan tarikh. nilai luhur yang berakar pada budaya bangsa Indonesia dan nilai moral Agama. bangsa. masyarakat. Uraian Singkat tentang masing-masing mata pelajaran l. Di samping itu mata pelajaran ini dimaksudkan pula untuk membina pengetahuan dan kemampuan yang berkenaan dengan hubungan antara warganegara dengan negara dan pendidikan pendahuluan bela negara. muamalah. Pendidikan Agama Mata pelajaran Pendidikan Agama dimaksudkan untuk memperkuat iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama yang dianut oleh siswa yang bersangkutun dengun memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antarumat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional. akhlak. Al Qur'an. keluarga. Mata pelajaran Agama Islam berisi bahan kajian tentang keimanan. dan dunia) dan aspek kehidupan. syariah. 181 . E. Bahan kajian masing-masing mata pelajaran Agama adalah sebagai berikut: a. negara. 2.Kegiatan-kegiatan seperti tersebut di atas dimaksudkan juga untuk lebih mengaitkan antara pengetahuan yang diperoleh dalam program kurikulum dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan. Mata pelajaran ini berisi kemampuan pemahaman konsep. Pengembangan sikap dan perilaku siswa pada jenjang Pendidikan Menengah selalu diorientasikan pada berbagai lingkungan kehidupan (diri/pribadi.

ketaatan. manusia dan dunia. e. Mata pelajaran Agama Budha berisi bahan kajian tentang bhakti. mithologi. pengutusan. Khusus untuk kelas III program Bahasa. sila/dharma. sosial dan budaya. dan Kerajaan Allah. Mata pelajaran Agama Hindu berisi bahan kajian tentang filsafatr/taqwa. 182 . yaduya. ruang lingkup mata pelajaran Bahasa dan Sasha Indonesia mencakup pula pengenalan dasardasar kebahasaan dan kesusasteraan. II. Bahasa dan Sastra Indonesia Mata pelajaran Bahasa dan sastra Indonesia bertujuan untuk meningtatkan kemampuan dan keterampilan siswa dalam berbahasa secara tepat dan kreatif. masyarakatyang dikehendaki Allah. d.b. pengertian dan penghayatan tentang dasar kehidupan sehari-hari. mata pelajaran Agama Katolik berisi bahan kajian tentang peristiwaYesus Kristus. kematangan emosional dan sosial. tripitaka. da. bahasa negara. dan penggunaannya untuk berkomunikasi dan membahas masalah-masalah pengetahuan alam. siodha. dan sosiologi. sadda. tanggapan iman akan peristiwa Yesus Kristus. Kitab Suci. meningkatkan kemampuan berpikir logis dan bernalar. Weda. III mencakup pemahaman berbagai fungsi bahasa' bentuk. dan janji keielamatan. ibadah. radacara. dan sejarah. dan bahasa persatuan' Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk kelasf. 3. c. keselamatan. Mata pelajaran Agama Kristen Protestan berisi bahan kajian tentang sigala sesuatu yang bersumber dari Tuhan Yesus seperti kasih. sila. agama. umat beriman. serta meningkatkan kepekaan perasaan dan kemampuan siswa untuk memahamidan menikmati karya Sastra' Mata pelajaran Bahasa dan sastra Indonesia juga dimaksudkan untuk meningkatkan rasa bangga terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. serta memahami dan menikmati karya sastra. sejarah. makna.

seni budaya. proses perubahan dan kecenderungan pembentukan tata kehidupan dunia baru dan perkembangan ilmu dan pengetahuan dan teknologi. serta upaya bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan sampai dengan masa mengisi kemerdekaan. menumbuhkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air serta rasa bangga sebagai warga negara Indonesia. Pokok bahasan dan kosakata yang dicakup dalam program Ilmu Pengetahuan Sosial terutama dikaitkan dengan bidang ilmu pengetahuan sosial. Bahan kajian Sejarah Nasional meliputi kehidupan dan perkembangan rnasyarakat Indonesia dari masa kuno. Unsur-unsur bahasa yang berupa tata bahasa. dalam program Ilmu Pengetahuan 183 . menyimak. dan ejaan disajikan untuk menunjang ke empat keterampilan berbahasa tersebut. dan masa imperialisme/kolonialisme. 5. dan peningkatan hubungan antar bangsa.4. dan menulis bahasa Inggris sebagai lanjutan dari pengajaran bahasa Inggris di jenjang pendidikan sebelumnya. SejarahNasional dan Sejarah Umum Mata pelajaran Sejarah Nasional dan Sejarah Umum dimaksudkan untuk menanamkan pemahaman tentang adanya perkembangan masyarakat masa lampau hingga masa kini. Bahan kajian Sejarah Umum mencakup perkembangan baru bangsa-bangsa Asia. kosakata. Amerika sampai dengan perang dunia kedua. Eropa. Mata pelajaran ini berisi keterampilan membaca. masa tradisional. Bahasa Inggris Mata pelajaran Bahasa Inggris bertujuan untuk mengembangkan keterampilan siswa dalam membaca. menyimak. dan menulis dalam bahasa lnggris yang disajikan secara terpadu dengan penekanan pada keterampilan mernbaca. proklamasi kemerdekaan. berbicara. berbicara. dan memperluas wawasan hubungan masyarakat antar bangsa di dunia. Keterampilan berbahasa Inggris tersebut diperlukan untuk menunjang penyerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. pergerakan nasional. lafal.

dan pendidikan kesehatan. Matematika Mata pelajaran Matematika di SMU diberikan dengan maksud untuk menata dan meningkatkan ketajaman penalaran siswa yang dapat membantu memperjelas menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari dan kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bilangan dan simbol-simbol. 7. Pada program Ilmu Pengetahuan Alam. dimaksudkan memberikan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam mempelajari bidang-bidang ilmu lainnya. geometri. Mata pelajaran untuk Matematika di kdlas I dan kelas II SMU berisi aljabar. mental. dan emosional yang serasi. trigonometri. tenis mej4 tenis. disiplin. serta lebih mengembangkan sikap logis. seimbang. permainan. pengobatan tradisional dan kegiatan usaha kesehatan sekolah (UKS). sosial. j udo. Sedangkan kegiatan pilihan terdiri atas renang. senam. Kegiatan pokok terdiri atas atletik. selaras. sepak takraw. pencak sila! bulu tangkis. Mata pelajaran ini terdiri atas kegiaan pokok dan kegiatan pilihan. dan menghargai kegunaan dan matematika' statistika. sedangkan dalam program Bahasa pokok bahasan dan kosakatanya terutama dikaitkan dengan sastra. kalkulus. kritis. softball. mata pelajaran ini khususnya dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan serta lebih mengembangkan kemampuan matematika yang diperlukan dalam mempelajari bidang-bidang ilmu alam 184 . olahraga yang berkembang di daerah. 6. cermat. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan adalah bagian dari pendidikan keseluruhan yang mengutamakan kegiatan jasmani dan pembinaan hidup sehat untuk pertumbuhan dan pengembangan jasmani.Alam pokok bahasan dan kosakatanya terutama dikaitkan dengan bidang ilmu pengetahuan alam. peluang.

kelestarian lingkungan dan kebanggaan nasional. pembelajaran biologi juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran lptek. pembelajaran fisika juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan perkembangan lptek. Di kelas satu dan dua merupakan dasar untuk mamahami konsep-konsep di kelas tiga. Konsep-konsep tersebut sifatnya lebih absfak dan lebih kuantitatifyang meliputi.dan matematika lebih lanjut sebagai bekal untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. 8. kelestarian lingkungan dan kebanggaan nasional. Selain itu. Konsep-konsep fisika yang diajarkan di SMU merupakan kelanjutan dan pendalaman konsep-konsep di SLTP. cahaya. Selain itu. serta mampu menerapkan konsep-konsep fisika dan metode ilmiah yang melibatkan keterampilan proses untuk memecahkan rnasalah dalam kehidupan sehari-hari serta mengembangkan sikap dan nilai-nilai ilmiah. Konsep-konsepbiologi yang dipelajari di kelas satu dan dua SMU merupakan kelanjutan. Fisika Mata pelajaran Fisika di SMU bertujuan menggunakan fisika sebagai wahana untuk memahami kosep-konsep fisika dan saling keterkaitannya. sedangkan di kelas tiga merupakan dasar untuk mempelajari konsepkonsep fisika lebih lanjut di perguruan tinggi. elektronika dan penerapannya dalam pengetahuan tentang bumi dan antariksa. pendalaman dan perluasan konsep-konsep di SLTP dan juga merupakan dasar untuk mempelajari konsep-konsep yang lebih mendalam dan lebih luas di kelas tiga. 9. Sedangkan konsep-konsep biologi 185 . mekanik4 listrik. Biologi Mata pelajaran Biologi di SMU bertujuan memberikan pengetahuan untuk memahami konsep-konsep biologi dan saling keterkaitanny4 serta mampu menerapkan konsep-konsep biologi dan metode ilmiah yang melibatkan keterampilan proses untuk memecahkan masalah dalar'r kehidupan seharihari. fisika modern. gelombang bunyi. panas. magnet.

pendalaman dan perluasan konsep-konsep di kelas satu dan dua merupakan dasar untuk mempelajari konsep-konsep lebih lanjut dijenjang pendidikan tinggi. evolusi. dan pengawetan alam. genetika. fisiologi. serta mampu menerapkan konsep-konsep kimia dan metode ilmiah yang melibatkan keterampilan proses untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Kimia Mata pelajaran Kimia di SMU bertujuan memberikan pengetahuan untuk memahami penerapan konsep-konsep kimia dan saling keterkaitannya. dan energitika zat. lingkungan dan perlindungan. d inam ika.yang dipelajari di kelas tiga merupakan kelanjutan. lebih abstrak dan lebih menunjukkan saling keterkaitan (sibernetik) sebagai sistem. Sedangkan konsep-konsep kimia yang dipelajari di kelas III merupakan dasar untuk mempelajari konsep-konsep kimia lebih lanjut di jenjarrg pendidikan tinggi serta merupakan bekal dalam kehidupan sehari-hari. Konsep-konsep biologi tersebut mencakup biologi sel. keanekaragaman. Konsep-konsep kimia di SMU meliputi struktur. 10. Selain itu. 186 . Konsep-konsep kimia yang dipelajari di kelas I dan II SMU merupakan dasar untuk mempelajari konsep-konsep kimia yang lebih mendalam dan lebih luas di kelas III. anatomi. Selain itu juga merupakan bekal dalam kehidupan sehari-hari. transformasi. maupun untuk bekal dalam kehidupan sehari-hari. kelestarian lingkungan dan kebanggaan nasional. Konsep-konsep biologi di SMU sifatnya lebih mikroskopis. pembelajaran kimia juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran Iptek.

Ekonomi Mata pelajaran Ekonomi dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan konsep-konsep dan teori sederhana dan menerapkannya dalam pemecahan masalah-masalah ekonomi yang dihadapinya seoara kritis dan objektif. pengelolaan bahan usaha dan dasar-dasar ekonometri. Untuk program Ilmu Pengetahuan Sosial. pengertian dasar ekonomi. Mata pelajaran Sosiologi pada Program Ilmu Pengetahuan Sosial dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengungkapkan berbagai gejala dan masalah sosial-budaya dalam kehidupan sehari-hari. dan masalah-masalah sosialbudaya dalam kehidupan sehari-hari. ekonomi Indonesia Dan luar negeri. dan masalah ekonomi yang dihadapi. peristiwa. Mata pelajaran ini berisi bahan kajian ekonomi dan akuntansi. 187 . 12. peran. perusahaan dagang dan koperasi. Mata pelajaran ini berisi bahan kajian tentang proses perubahan sosial-budaya. Bahan kajian ekonomi mencakup masalah ekonomi. serta komputer akuntansi. siklus akuntansi perusahaan jasa.11. moderenisasi. mata pelajaran ini dimaksudkan untuk memberikan bekal kepada siswa mengenal beberapa konsep dan teori ekonomi sederhana untuk menjelaskan fakta. norma. kegiatan ekonomi yang bersifat perseorangan dan bagian-bagian tertentu dari masyarakat. dan nilai sosial yang berlaku dimasyarakat. menanamkan kesadaran perlunya ketentuan hidup bermasyarakat. Sosiologi Mata pelajaran Sosiologi dimaksudkan untuk memberikan kemampuan memahami secara kritis berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari yang muncul seiring dengan perubahan masyarakat dan budaya. sosialisasi. pelapisan sosial. dan mampu menempatkan diri di berbagai situasi sosial budaya sesuai dengan kedudukan. Bahan akuntansi mencakup pengertian dasar akuntansi.

dan hubungan intemasional. tata peradilan. Mata pelajaran ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir rasional. bentuk negara. Mata pelajaran ini mencakup pemahaman dasar-dasar pengertian geografi dan sistem informasi geografi. dan Amerika. Sejarah dan Budaya Mata pelajaran Sejarah Budaya dimaksudkan untuk menanamkan pernahaman tentang adanya keterkaitan perkembangan budaya masyarakat pada masa lampau. Afrika. maupun nagara lain. kajian regional (wilayah) mengenai beberapa kawasan penting dunia yang ada di benua Asia. system pemerintahan negara RI. Tata Negara Mata pelajaran Tata Negara dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan agar siswa memahami penyelenggaraan Negara sesuai dengan tata kelembagaan negara. 14. kajian sistematik tentang gejala-gejala alam dan kehidupan. kritis dalam memahami permasalahan tentang hak dan kewajiban kehidupan berbangsa dan bernegara. Mata pelajaran ini berisi konsep-konsep dasar negara secara umum. yaitu mengenai indusfi dan persebarannya serta pola keruangan desa dan kota. hukum serta sistem politik di negara RI. Eropa. dan masa mendatang sehingga siswa 188 . Geografi Mata pelajaran Geografi alam dimaksudkan dan untuk di memberikan muka bumi bekal serta kemampuan dan sikap rasional yang beitanggung jawab dalam menghadapi gejala kehidupan permasalahannya yang timbul akibat interaksi antara manusia dengan lingkungannya. 15. sistem pemerintahan RI sejak proklamasi 1945 sampai dengan sekarang. masa kini. kajian khusus yang sejalan dengan kecenderungan perkembangan ekonomi. kemajuan ilrnu pengetahuan dan teknologi.13.

berbicara. Matapelajaran ini berisikan bahan kajian seni musik. Bahasa Jerman. pemanfaatan dan perwujudannya 189 . Unsurunsur bahasa seperti: tata bahasa. dan seni teater. menyimak. 18. Bahasa Asing Lain Mata pelajaran Bahasa Asing Lain dimaksudkan untuk memberikan kepada siswa keterampilan awal membaca. dan ejaan. seni tari. senirupa. Selain itu mata pelajaran Pendidikan Seni bertujuan untuk rnenyeimbangkan kemampuan rasional dan emosional.menyadari dan menghargai hasil dan nilai budaya pada masa lampau dan masa kini. Antopologi Mata pelajaran Antropologi dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan mengenai proses terjadinya kebudayaan. menyimak. Bahan kajian Sejarah Budaya berisi kajian tentang perkembangan kebudayaan di Indonesia dan luar Indonesia dari masa pra sejarah hingga masa kini. 17. dan menulis dalam bahasa asing yang diajarkan secara terpadu. Bahasa Jepang. berbicara. lafal. perkembangan dan kecenderungan unsur-unsur budaya mutakhir. 16. dan atau Bahasa Perancis. diajarkan untuk menunjang keempat keterampilan berbahasa tersebut. serta peranan kebudayaan dalam pembangunan nasional. Mata pelajaran ini berisi keterampilan membaca. Pendidikan Seni Mata pelajaran Pendidikan Seni bertujuan untuk menanarnkan dan mengembangkan cita rasa keindahan dan keterampilan berolah seni serta rasa cinta dan bangga terhadap seni budaya bangsa Indonesia. Mata Pelajaran ini berupa antara lain mata pelajaran Bahasa Arab. Kosakata. dan menulis dalam bahasa asing untuk penyerapan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni budaya dan untuk peningkatan hubungan antarbangsa.

Perpindahan Sekolah Siswa sekolah menengah umum dapat pindah ke sekolah menengah kejuruan atau satuan pendidikan menengah lainnya yang setara asalkan memenuhi persyaratan pada sekolah atau satuan pendidikan yang dituju. F.Satu jam pelajaran lamanya 45 menit. bentuk-bentuk masyarakat di Indonesia. Jumlah hari belajar dalam satu tahun ajaran adalah 240 hari. Jumlah hari belajar efektif dalam satu tahun ajalan sekurang-kurangnya 204hari. 190 . termasuk di dalamnyawaktu bagi penyelenggaraanpenilaian kegiatan.dalam kehidupan sehari-hari. Mata pelajaran ini berisi kajian tentang : asal mula kebudayaan Indonesia. dan factor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kebudayaan seperti lingkungan alam/fisik. BAB IV: PELAKSANAAN A. menanamkan kesadaran perlunya menghargai nilai-nilai budaya suatu bangsa. terutama bangsa sendiri. peranan unsur kebudayaan tradisional terhadap pembangunan dan bagaimana membentuk kebudayaan menuju masa depan. kemajuan dan hasil belajar siswa. Lama Pendidikan Pendidikan di sekolah menengah umum berlangsung selama tiga tahun. menanamkan kesadaran tentang peranan kebudayaan dalam perkembangan dan pembangunan masyarakat serta dampak perubahan kebudayaan terhadap kehidupan bermasyarakat. ras dan sebagainya. tinjauan terhadap beberapa masyarakat suku di Indonesia. G. Bagi siswa yang memiliki kemampuan luar biasa dimungkinkan menempuh pendidikan di sekolah menengah umum lebih singkat dari waktu yang ditentukan. Waktu Belajar Kurikulum Sekolah Menengah Umum menerapkan sistem catur wulan yang membagi waktu belajar satu tahun ajaran menjadi tiga bagian waktu yang masingmasing disebut catur wulan ( I tahun = 3 catur wulan).

dan keberanian dalam mengambil suatu keputusan. cara penyajian pelajaran atau metode mengajar hendaknya memanfaatkan berbagai sarana penunjang 191 . Perencanaan yang dituangkan dalam bentuk persiapan mengajar. kritis. 3. D. Perencanaan kegiatan belajar-mengaiar Perencanaan kegiatan belajar-mengajar meliputi : a. Perencanaan catur wulan. Perencanaan tahunan b. Dalam rangka mempersiapkan siswa untuk m elanjutkan ke pend idikan tinggi atau memasuki lapangan kerja. 2. menerima pelajaran dari seorang guru dalam mata pelajaran tertentu supaya ada diskusi dalam waktu dan tempat yang sama. perlu dilaksanakan pula kegiatan belajar-mengajar yang mengembangkan kemandirian. C. Mengingat kekhasan setiap mata pelajaran. Sistem Pengajaran l. Sistem Guru Sekolah Menengah Umum menggunakan sistem guru mata pelajaran.B. berpikir secara teratur. dan c. Bila diperlukan dapat dibentuk kelompok sesuai dengan tujuan dan keperluan pengajaran. Bahasa Pengantar Bahasa pengantar dalam pendidikan pada sekolah menengah umum adalah bahasa Indonesia (Pasal 41 Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989). dengan usia yang hampir sama. disiplin. E. sikap bertanggungjawab dalam belajar dan mengemukakan pendapat. Kegiatan belajar-mengajar pada dasarnya mengembangkan kemampuan psikis dan fisik serta kemampuan penyesuaian sosial siswa secara utuh. Kegiatan belajar-mengajar dilaksanakan dengan sistem klasikal di mana sekelompok siswa dengan kemampuan rata-rata hampir sama.

dan budaya. Penilaian bertujuan untuk mengetahui kemajuan belajar siswa. BAB V: PENILAIAN A. Penilaian Kemajuan Belajar Penilaian Kegiatan dan kernajuan belqjar siswa adalah upaya pengumpulan informasi tentang kemajuan belajar siswa. serta narasumber.seperti kepustakaan. F. Kegiatan pengayaan adalah kegiatan belajar-mengajar yang dimaksudkan untuk perluasan dan pendalaman bahan kajian atau pelajaran bagi siswa yang telah mencapai tingkat penguasaan minimal lebih awal dari padarata-rata siswa lainnya. alat peraga. H. Penilaian ini juga memberikan umpan balik bagi perencanaan dan pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar. lingkungan alam. B Penilaian Hasil Belajar Penilaian hasil belajar adalah upaya pengumpulan informasi untuk mengetahui seberapajauh pengetahuan dan kemampuan telah dicapai oleh siswa pada akhir setiap catur wulan. dan akhir tahun pelajaran. Kegiatan perbaikan dan pengayaan dilaksanakan dengan menggunakan waktu yang disediakan sesuai dengan keadaan kebutuhan. dan semua kelas pada tahun ajaran 199611997 dan seterusnya. Penahapan pelaksanaan kurikulum dapat digambarkan dalam baganberikut ini. sosial. Tahap Pelaksanaan Kurikulum Kurikulum Sekolah Menengah Umum dilaksanakan secara bertahap mulai dengan kelas I pada tahun ajaran 199411995. untuk dapat memperbaiki dan meningkatkan kegiatan pembelajaran. G. atau akhir pendidikan SMU. kelas I dan II pada tahun ajaran 199511996. 192 . Kegiatan Perbaikan dan Pengayaan Kegiatan perbaikan adalah kegiatan belajar-mengajar yang dimaksudkan untuk membantu siswa memahami bahan kajian atau pelajaran sehingga siswa mampu mencapai tingkat penguasaan minimal yang ditetapkan.

dan tanpa mengurangi kurikulum yang berlaku secara nasional. sedangkan penilaian akhir. Pada tingkat daerah. Penilaian hasil belajar pada akhir catur wulan 3 kelas II mencakup semua mata pelajaran yang diajarkan di kelas II. Tingkat Nasional Pada tingkat nasional. pengembangan kurikulum selanjutnya mencakup penyesuaian isi. direncanakan oleh Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan dilaksankan oleh sekolah yang bersangkutan. BAB VI: PENGEMBANGAN KURIKULUM SELANJUTNYA A. dan cara dengan memperhatikan tahap perkembangan siswa dan kesesuaiannya dengan lingkungan. Tingkat Daerah. salah satu unsur utama untuk menetukan kenaikan kelas.peqdidikan SMU direncanakan oleh Ditjen Dikdasmen dan dilaksanakan'oleh sekolah yang bersangkutan dengan koordinasi Kantor Wilayah Depdikbud. Penilaian hasil belajar pada akhir pendidikan di SMU digunakan untuk. Penilaian hasil belajar yang didasarkan atas ukuran yang ditetapkan secara nasional dilakukan untuk mernperoleh keterangan tentang mutu hasil pendidikan di SMU.Penilaian hasil belajar pada akhir catur wulan. Penilaian ini dapat digunakan sebagai: a. 193 . bahan pelajaran. berpedoman pada ketentuan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. b. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian sesuai dengan jenjang dan satuan pendidikan menengah umum. akhir tahun pelajaran. pengembangan kurikulum pendidikan menengah umum selanjutnya sesuai dengan Pasal l5 ayat (4) dan (5) Peraturan Pemerintah Nomor 29 tahun 1990. kebutuhan pembangunan nasional. bahan pertirnbangan dalam pemilihan program pengajaran khusus di kelas III. B. menyatakan bahwa siswa yang bersangkutan telah selesai mengikuti (tamat) pendidikan SMU.

Pemerintahan Soeharto semakin disorot setelah Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998 yang kemudian memicu Kerusuhan Mei 1998 sehari setelahnya. berdasarkan kurikulum yang berlaku nasional. Runtuhnya pemerintahan Orde Baru berimplikasi tuntutan perubahan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah sebagai produk dari masa pemerintahan Orde Baru. dan bernegara telah membuahkan hasil. yaitu mundurnya Presiden Soeharto sebagai pemimpin rejim pemerintahan Orde Baru pada bulan Mei 1998. Gerakan mahasiswa pun meluas hampir diseluruh Indonesia. Mundurnya Soeharto dari jabatan presiden selama 32 tahun disambut dengan gembira oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Soeharto akhirnya memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya. MASA DEMOKRASI PARTISIPATORI [ORDE REFORMASI] 1998 – SAMPAI DENGAN SEKARANG (2010) PROLOG Salah satu tuntutan gerakan “Reformasi” dalam kehidupan bermasyarakat. Di bawah tekanan yang besar dari dalam maupun luar negeri. Para reformis menuntut agar seluruh kebijakan berkenaan dengan 194 . Puncaknya gerakan reformasi yaitu ketika krisis finansial Asia yang menyebabkan ekonomi Indonesia melemah dan semakin besarnya ketidak puasan masyarakat Indonesia terhadap pemerintahan pimpinan Soeharto saat itu menyebabkan terjadinya demonstrasi besar-besaran yang dilakukan berbagai organ aksi mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia. (2) Penambahan bahan pelajaran/bahan kajian atau pokok bahasan. berbangsa. misalnya mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.mencakup: (1) Penjabaran lebih lanjut bahan kajian atau pokok bahasan dan atau bahan pelajaran kurikulum yang berlaku nasional. dan (3) Penyesuaian cara penyampaian yang tercantum dalam kurikulum nasional dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan. misalnya: mata pelajaran Pendidikan Seni dan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan.

Sorotan yang pertama kali untuk direformasi atau disempurnakan dalam bidang pendidikan ditujukan kepada Kurikulum 1994 yang sedang berjalan pada waktu itu. bidang pendidikan sebagai salah satu aspek kehidupan berbangsa dan bernegara dituntut untuk segera direformasi. pendidikan sebagai salah satu unsur kehidupan berbangsa dan bernegara dituntut untuk disempurnakan secepat mungkin.kehidupan berbangsa dan bernegara yang tidak mendukung gerakan reformasi harus dirubah secara total. KURIKULUM 1994 YANG DISEMPURNAKAN ATAU DISESUAIKAN [SUPLEMEN GBPP 1999] Seiring dengan terjadinya gerakan Reformasi pada tahun 1998 yang menuntut peningkatan kesadaran terhadap keterbukaan. Atas dasar itu. Atas dasar itu dan seiring dengan tuntutan reformasi. dan pakar pendidikan. dan saran yang sangat konstruktif dari masyarakat. Kurikulum 1994 telah mendapatkan berbagai tanggapan. penyempurnaan ini merupakan proses dari penelitian dan pengembangan kurikulum secara terus menerus. praktisi. Sebenarnya sebelum terjadinya reformasi pun. akhirnya pada tahun 1999 telah dihasilkan dokumen “Penyempurnaan/Penyesuaian Kurikulum 1994 [Suplemen Garis-Garis Besar Program Pengajaran atau GBPP 1999] SMU”. kritik. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1998 meresponnya dengan melakukan penyempurnaan dan penyesuaian sebagaimana mestinya dengan tetap memperhatikan dan mempertimbangkan kepentingan peserta didik dan kepentingan nasional. Langkah pertama yang dilakukan adalah penyempurnaan kurikulum Kurikulum 1994. Pada hakikatnya. Sejumlah mata pelajaran dalam Suplemen GBPP SMU yang telah disempurnakan yaitu sebagai berikut: 195 . Dari serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menyempurnakan atau menyesuaikan Kurikulum 1994 selama 1 tahun.

196 .1. Geografi 13. sedangkan Struktur Kurikulum sebagaimana yang terdapat dalam Kurikulum 1994 SMA secara prinsip tidak mengalami perubahan sama sekali. 3. Ekonomi dan Akuntansi 11. 9. Pendidikan Seni 14. 6. 7. Tata Negara 16. 2. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Bahasa dan Sastra Indonesia Sejarah Nasional dan Sejarah Umum Bahasa Inggris Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Matematika Fisika Kimia Biologi 10. 4. Suplemen GBPP SMA sebagai hasil penyempurnaan mulai diimplementasikan pada awal tahun 1999/2000. 5. 8. Sosiologi 12. Antropologi Jadi sebenarnya penyempurnaan/penyesuaian ini lebih diarahkan hanya pada peninjauan kembali substansi yang dianggap sudah tidak sesuai dengan tuntutan dan jiwa reformasi. Sejarah Budaya 15.

PENGERTIAN. akhlak. yakni aspekaspek moral. pengetahuan. diperlukan upaya peningkatan mutu pendidikan yang harus dilakukan secara menyeluruh yang mencakup pengembangan dimensi manusia Indonesia seutuhnya. 2. peserta didik memiliki ketangguhan. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan berhasil di masa datang. Landasan Perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. perilaku. menyesuaikan diri.KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI [KURIKULUM 2004] LANDASAN. keterampilan dan seni. Pengembangan aspek-aspek tersebut bermuara pada peningkatan dan pengembangan kecakapan hidup yang diwujudkan melalui pencapaian kompetensi peserta didik untuk bertahan hidup. UUD 1945 dan perubahannya. kesehatan. Atas dasar tuntutan mewujudkan masyarakat seperti itu. dan jati diri yang dikembangkan melalui pembelajaran dan atau pelatihan yang dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. Oleh karena itu diperlukan penyempurnaan kurikulum sekolah dan madrasah yang berbasis pada kompetensi peserta didik. budi pekerti. PRINSIP PENGEMBANGAN. Perkembangan dan perubahan secara terus menerus ini menuntut perlunya perbaikan sistem pendidikan nasional termasuk penyempurnaan kurikulum untuk mewujudkan masyarakat yang mampu bersaing dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman tersebut. Tap MPR Nomor IV/MPR/1999 tentang GBHN. Penyempurnaan kurikulum ini dilandasi oleh kebijakan-kebijakan yang dituangkan dalam peraturan perundang-undangan sebagai berikut: 1. 197 . serta seni dan budaya. dan bernegara di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh perubahan global. Dengan demikian. kemandirian. DAN PELAKSANAAN A. berbangsa.

yaitu berkenaan dengan pasalpasal sebagai berikut: 1) Pasal 3 tentang Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. proses. sarana dan prasarana. 4. tenaga kependidikan. barakhlak mulia. Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Daerah Propinsi sebagai Daerah Otonom. Undang Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwakepada Tuhan Yang Maha Esa. mandiri. pembiayaan. dan 5. 2) Pasal 35 Ayat (1) tentang standar nasional pendidikan berkenaan dengan standar isi. dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. dan menjadi warga Negara yang demokratis serta tanggung jawab. 4) Pasal 37 ayat (1) tentang muatan wajib pada kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Pergeseran pengelolaan tersebut berimplikasi pada penyempurnaan kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Penyempurnaan kurikulum tersebut mengacu pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. dan. kompetensi lulusan. Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan sebagai Daerah Otonom berimplikasi terhadap kebijaksanaan pengelolaan pendidikan dari yang bersifat sentralistik ke desentralistik. sehat.3. serta memperhatikan prinsip diversifikasi sesuai dengan potensi peserta didik. 198 . pengelolaan. cakap. 3) Pasal 36 ayat (1) dan (2) tentang pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional dan tujuan pendidikan. berilmu. kreatif. Undang Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Sesuai dengan pengertian tersebut. Kurikulum 2004 berisi seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi yang dibakukan untuk mencapai tujuan nasional dan cara pencapaiannya disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan daerah dan sekolah dan madrasah. dan konsisten seiring dengan perkembangan psikologis peserta didik. Kompetensi dapat dicapai melalui pengalaman belajar yang dikaitkan dengan bahan kajian dan bahan pelajaran secara kontekstual. Kompetensi dikembangkan secara berkesinambungan sejak Taman Kanak-kanak dan Raudhatul Athfal. dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. ditetapkan berdasarkan standar kompetensi yang berlaku di dunia kerja sesuai dengan keahliannya. 199 . berkelanjutan. isi. Kompetensi merupakan pengetahuan. sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Khusus pendidikan kejuruan kompetensi yang dituangkan dalam kurikulum adalah standar kompetensi yang berlaku di dunia kerja yang bersangkutan.5) Pasal 38 ayat (1) tentang penetapan Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh Pemerintah dan ayat (2) tentang peran koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar dan Provinsi dan untuk pendidikan menengah dalam pengembangan kurikulum Pendidikan dasar dan Menengah sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah. Kelas I sampai dengan Kelas XII yang menggambarkan suatu rangkaian kemampuan yang bertahap. B. Pada pendidikan kejuruan kompetensi yang berkait dengan tugas-tugas lulusan di tempat kerja. Kompetensi dapat dikenali melalui sejumlah hasil belajar dan indikatornya yang dapat diukur dan diamati. Pengertian Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. keterampilan.

200 . dan menilai pengetahuan untuk mengatasi situasi yang cepat berubah dan penuh ketidakpastian serta menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. keterampilan berpikir rasional (thinking skills). Logika. Budi Pekerti Luhur. Perkembangan Pengetahuan dan Teknologi Informasi Kemampuan berpikir dan belajar dengan cara mengakses. b. dan Kinestetika Pengalaman belajar dirancang dengan memperhatikan keseimbangan etika. keterampilan akademik (academic skills). dan kinestetika. e. menulis. Kurikulum mengembangkan kecakapan hidup melalui pembudayaan membaca. dan berhitung. dan perilaku adaptif. Prinsip-Prinsip Pengembangan dan Pelaksanaan 1. dan kompetitif. d. Peningkatan Keimanan. c.C. dan Penghayatan nilai-nilai Budaya Keimanan. dipahami. dan nilai-nilai budaya perlu digali. estetika. budi pekerti luhur. sikap. kreatif. kooperatif. keterampilan sosial (social skills). Prinsip-Prinsip Pengembangan a. logika. Estetika. keterampilan vokasional (vocational skills). Penguatan Integritas Nasional Penguatan integritas nasional dicapai melalui pendidikan yang menumbuhkembangkan pemahaman dan penghargaan terhadap perkembangan budaya dan peradaban bangsa Indonesia yang mampu memberikan sumbangan terhadap peradaban dunia. Keseimbangan Etika. memilih. Pengembangan Kecakapan Hidup Kecakapan hidup mencakup keterampilan diri (personal skills). dan diamalkan untuk mewujudkan karakter dan martabat bangsa.

berbakat. nilai dan sikap. pola piker dan perilaku. Diversifikasi Kurikulum Kurikulum dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan. dan sikap sangat diutamakan. i. Kemampuan mencakup pengetahuan. 201 . (ii) belajar untuk berbuat kreatif. (iii) belajar untuk hidup dalam kebersamaan.f. nilai-nilai. Substansi mencakup norma. Komprehensif dan Berkesinambungan Kompetensi mencakup keseluruhan dimensi kemampuan yaitu pengetahuan. keterampilan. dan peserta didik 2. Prinsip-Prinsip Pelaksanaan a. Belajar Sepanjang Hayat Pendidikan diarahkan pada proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlanjut sepanjang hayat. Seluruh peserta didik dari berbagai kelompok seperti kelompok yang kurang beruntung secara ekonomi dan sosial. yang memerlukan bantuan khusus. yaitu: (i) belajar untuk memahami. Pilar Pendidikan Kurikulum mengorganisasikan fondasi belajar ke dalam empar pilar. serta fenomena dan kenyataan yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. g. dan (iv) belajar untuk membangun dan mengekspresikan jati diri yang dilandasi ketiga pilar sebelumnya. h. keterampilan. dan konsep. pola pikir dan perilaku yang disajikan secara berkesinambungan mulai dari usia Taman Kanak-kanak atau Raudhatul Athfal sampai dengan pendidikan menengah. dan unggul berhak menerima pendidikan yang tepat sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya. potensi daerah. keterampilan. Kesamaan Memperoleh Kesempatan Penyediaan tempat yang memberdayakan semua peserta didik secara demokratis dan berkeadilan untuk memperoleh pengetahuan. nilai dan sikap.

kelas I sampai dengan XII. dan peserta didik. Berpusat Pada Anak Upaya memandirikan peserta didik untuk belajar. Peningkatan potensi. pemahaman. Pendekatan Menyeluruh dan Kemitraan Semua pengalaman belajar dirancang secara berkesinambungan mulai dari Taman Kanak-kanak dan Raudhatul Athfal. orangtua. guru. sekolah dan madrasah. Tujuan Rumusan tujuan untuk masing-masing satuan pendidikan mengacu pada fungsi dan tujuan pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-undang 202 . dunia usaha dan industri. dan menilai diri sendiri diutamakan agar peserta didik mampu membangun kemauan. kreatif. c. dan masyarakat. dan pengetahuannya. yang bervariasi dan mengintegrasikan Keberhasilan pencapaian pengalaman belajar menuntut kemitraan dan tanggung jawab bersama dari peserta didik. D.b. Penyajiannya disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan peserta didik melalui pembelajaran yang aktif. perguruan tinggi. Penilaian berkelanjutan dan komprehensif menjadi sangat penting dalam rangka pencapaian upaya tersebut. kecerdasan. dan menyenangkan. dan minat peserta didik perlu terus menerus diupayakan. Kesatuan dalam Kebijakan dan Keberagaman dalam Pelaksanaan Standar kompetensi disusun pusat dan cara pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing daerah atau sekolah dan madrasah. potensi daerah. d. efektif. Standar kompetensi dapat dijadikan acuan penyusunan kurikulum berdiversifikasi berdasarkan pada satuan pendidikan. bekerja sama. serta taraf internasional. Pendekatan yang digunakan dalam mengorganisasikan pengalaman belajar berfokus pada kebutuhan berbagai peserta disiplin didik ilmu.

dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. pendidikan menengah setara dengan Paket C.Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional beserta peraturan-peraturan pemerintah yang menyertainya. Di jalur nonformal. STRUKTUR DAN SISTEM PERSEKOLAH DAN MADRASAH A. berakhlak mulia. yaitu mulai kelas X sampai dengan kelas XII yang diperuntukkan terutama bagi siswa yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Penyelenggaraan pendidikan menengah bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan demokratis. Penyelenggaraan pendidikan dasar bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jenjang dan Jalur Pendidikan serta Jenis Sekolah Pendidikan di SMA dalam jalur pendidikan formal berlangsung selama 3 tahun. dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan demokratis. memiliki etos dan budaya kerja. menguasai dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi. 203 . Posisi SMA dalam jenjang dan jalur pendidikan digambarkan dalam struktur persekolahan berikut ini. kerakhlak mulia.

yaitu mulai dari Tingkat/Kelas I sampai dengan Tingkat/Kelas XII yang harus ditempuh oleh siswa secara bertahap dan berkesinambungan sesuai dengan lama masa belajar pada setiap satuan pendidikan.STRUKTUR PERSEKOLAHAN DAN MADRASAH Dunia Kerja/Hidup di Masyarakat TINGGI Universitas/Sekolah Tinggi/Akademi/ Politeknik MENENGAH XII XI X SMA dan MA SMK dan MAK SMLB Paket C 18 17 16 IX VIII VII SMP dan MTs SMPLB Paket B 15 14 13 DASAR VI V IV III II I 12 11 10 9 8 7 SD dan MI SDLB Paket A TK dan RA TKLB Taman Penitipan Anak & Kelompok Bermain USIA DINI JENJANG PENDIDIKAN TINGKAT/ KELAS FORMAL JALUR NONFORMAL 6 5 4 3 2 1 Lahir USIA (TH) B. Sistem Kenaikan Tingkat/Kelas Sekolah dan madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menggunakan sistem kenaikan tingkat/kelas. 204 . Penempatan siswa di kelas-kelas awal Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah berdasarkan pada perkembangan fisik dan mental serta keharusan wajib belajar.

proses. Sistem Belajar Pengaturan waktu belajar di semua jenjang dan jenis pendidikan dasar dan menengah menggunakan sistem semester. standar nasional. yaitu sistem yang membagi waktu belajar satu tahun pelajaran ke dalam 2 periode belajar. C. kompetensi lulusan.Sedangkan di setiap kelas berikutnya. dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. Standar nasional ini kemudian dijadikan acuan dalam pengembangan kurikulum. Pengembangan kurikulum meliputi pengembangan kerangka dasar dan struktur 205 . pengelolaan. sarana dan prasarana. fungsi dan tujuan pendidikan nasional diwujudkan ke dalam standar nasional dan kurikulum. KETERKAITAN FUNGSI. DAN STANDAR PENDIDIKAN NASIONAL SERTA KURIKULUM Standar nasional meliputi standar isi. TUJUAN. STANDAR KOMPETENSI Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. dan kurikulum dibagankan sebagai berikut. pembiayaan. tenaga kependidikan. penempatan siswa menggunakan sistem kenaikan kelas yang didasarkan pada penguasaan kompetensi. Keterkaitan antara fungsi dan tujuan pendidikan nasional.

seperangkat kompetensi lintas kurikulum dan mata pelajaran. struktur dan sistem persekolahan. Bahan ajar merupakan bahan pembelajaran yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik. serta penilaian dan pengembangan kurikulum selanjutnya. Keterkaitan ini dapat dilihat pada bagan berikut. standar kompetensi lulusan. fungsi. pemasyarakatan. dan standar isi diwujudkan ke dalam bahan kajian. pedoman penggunaan sarana belajar. dan pedoman bimbingan karir. pelaksanaan. standar kompetensi lulusan. Tolok ukur kompetensi dikemukakan 206 . kecerdasan intelektual. Bahan Kajian merupakan penjabaran dari standar isi yang mencakup kajian yang dibakukan dalam bentuk kompetensi. emosional. dan prinsip. pedoman penyusunan silabus. Pedoman merupakan acuan bagi pengembangan. sosial. mata pelajaran. Pedoman meliputi pedoman pembelajaran. Kerangka dasar dan struktur kurikulum merupakan kerangka kebijakan untuk pelaksanaan kurikulum 2004 yang memuat landasan. seperangkat bahan kajian. dan alokasi waktu per mata pelajaran per satuan pendidikan dan per kelas. Keterkaitan antara fungsi dan tujuan pendidikan nasional. tujuan. pedoman penilaian kelas. Mata pelajaran merupakan seperangkat kompetensi dasar yang dibakukan dan substansi pelajaran mata pelajaran tertentu per satuan pendidikan dan per kelas selama masa persekolahan. dalam indikator. dan kejiwaan peserta didik. silabus. dan bahan ajar. pemantauan dan penilaian kurikulum. pedoman pengelolaan kurikulum. pelaksanaan kurikulum. pedoman. Mata pelajaran memuat sejumlah kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa per kelas dan per satuan pendidikan sesuai dengan tingkatan pencapaian hasil belajarnya.kurikulum. Silabus merupakan penjabaran kompetensi dan tujuan ke dalam rincian kegiatan dan strategi pembelajaran. struktur kurikulum. kegiatan dan strategi penilaian.

dan kreatif dalam memecahkan masalah. kritis. kompetitif. • Berpikir logis. koperatif. inovatif. Standar Kompetensi Lulusan merupakan seperangkat kompetensi yang dibakukan dan harus dicapai peserta didik sebagai hasil belajarnya dalam setiap satuan pendidikan. dan mampu memanfaatkan lingkungan secara bertanggungjawab. • Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan akademik 207 . DAN STANDAR ISI Fungsi dan Tujuan Pendidikan Nasional Standar Kompetensi Lulusan Standar Kompetensi Bahan Kajian Kompetensi Lintas Kurikulum Standar Isi Standar Kompetensi Mata Pelajaran dan Kegiatan Belajar Pembiasaan Fungsi dan tujuan nasional adalah sebagaimana yang diamanatkan dalam UU Nomor 20/2003. • Memahami dan menjalankan hak dan kewajiban untuk berkarya secara produktif. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN. • Menginternalisasi nilai dasar humaniora untuk menerapkan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Kompetensi Lulusan Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah adalah sebagai berikut: • Keyakinan dan ketaqwaan yang tercermin dalam perilaku sehari-hari sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya. • Wawasan kebangsaan dan bernegara. serta berkomunikasi secara verbal baik lisan maupun tertulis sesuai dengan konteksnya melalui berbagai media termasuk teknologi informasi.KETERKAITAN ANTARA FUNGSI DAN TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL.

4. dan angka dalam berkomunikasi. Tahap orientasi operasional konkret untuk beralih secara bertahap ke kemampuan berpikir yang lebih abstrak. 2. menjaga kesehatan. Standar Kompetensi Lulusan kemudian dijabarkan ke dalam Standar Isi yang memuat Bahan Kajian.• Memanfaatkan pengetahuan dan kecakapan yang dimiliki untuk hidup di masyarakat. Penguasaan kemampuan dasar untuk menggunakan bahasa lisan. dan pendidikan menengah. 1. Kompetensi tersebut memuat delapan peringkat pencapaian prestasi peserta didik selama mereka mengikuti pendidikan prasekolah. • Berekspresi dan menghargai seni dan keindahan. pendidikan dasar. Kompetensi dalam bahan kajian disajikan secara bertahap dan berkesinambungan dalam pernyataan pemeringkatan dalam aspek. namun tidak menjadi prasyarat untuk memasuki sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah. PEMERINGKATAN DAN KESETARAANNYA DENGAN KELAS Level 0 Kesetaraan Kelas TK dan RA Penjelasan Kesiapan untuk memasuki sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah. • Kemampuan berolah raga. Pemeringkatan tersebut terdiri atas 6 level. 4-A. tulis. yaitu Level 0. • Meningkatkan pengetahuan dan kecakapan melalui belajar secara mandiri dalam rangka membangun masyarakat belajar. membangun ketahanan dan kebugaran jasmani. Pencapaian kompetensi lulusan sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah dan peralihan ke jenjang sekolah menengah pertama dan madrasah tsanawiyah. Penguasaan keterampilan berpikir dan penalaran proses abstraksi melalui kompetensi yang dipelajari dan diterapkan dalam menyelesaikan masalah. Pencapaian kompetensi lulusan sekolah menengah pertama dan madrasah tsanawiyah sesuai dengan tuntutan wajib belajar 9 tahun untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan 1 2 3 I – II III – IV V .VI 4 VII – VIII 4-A IX 208 . 5 dan 6 sebagaimana terinci dalam tabel di bawah ini. 3. dan Mata Pelajaran serta Kegiatan Belajar Pembiasan.

serta SMA. dan (4) Disiplin keilmuan. Pengorganisasian bahan kajian ke dalam mata pelajaran memperhatikan dan mempertimbangkan antara lain hal-hal sebagai berikut: (1) Perkembangan psikologis dan fisik anak. tenaga kependidikan lain. Pencapaian kompetensi lulusan sekolah menengah atas dan sekolah menengah kejuruan serta madrasah aliyah dan madrasah aliyah kejuruan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Pemeringkatan kompetensi harus dapat diukur dan diamati untuk memudahkan pengambilan keputusan bagi guru. (2) Kebermanfaatan atau kegunaan atau pragmatik bagi anak. 5) Ilmu Pengetahuan Alam. (3) Beban belajar anak. Kesepuluh bahan kajian tersebut yaitu: 1) Pendidikan Agama. penyelenggaraan pendidikan. orang tua. bekerja. dan MAK. Pemeringkatan kompetensi ini bermanfaat sebagai dasar penilaian dan pemantauan proses kemajuan dan hasil belajar peserta didik. Kompetensi bahan kajian menjadi acuan dalam penyusunan kompetensi mata pelajaran untuk setiap satuan pendidikan. 4) Matematika. Pemeringkatan bermanfaat bagi pelayanan individual. SDLB. dan MI. atau hidup di masyarakat. Penguasaan kompetensi yang mendukung pemilihan dan/atau penentuan program studi atau pilihan atau keahlian. dan penentu kebijaksanaan. SMALB. dan 10) Muatan Lokal. 8) Pendidikan Jasmani dan Olah Raga. 6) Ilmu Pengetahuan Sosial. SMK. 9) Keterampilam/Kejuruan. MA. SMPLB. 2) Pendidikan Kewarganegaraan 3) Bahasa. benchmarking. SMP. dan MTs. dan fleksibilitas 209 . peserta didik. 7) Seni dan Budaya.5 X 6 XI – XII yang lebih tinggi atau hidup di masyarakat. Kompetensi bahan kajian dicapai melalui sepuluh bahan kajian yang berlaku mulai dari SD.

210 . Pendidikan Jasmani 8. Bahasa Inggris 5. Biologi 15.Pengorganisasian kesepuluh bahan kajian ke dalam mata pelajaran untuk SMA dan MA adalah sebagai berikut: 1. Memiliki keyakinan. Sosiologi 12. sesuai dengan agama yang dianutnya. Matematika 6. menyadari serta menjalankan hak dan kewajiban. saling menghargai dan memberi rasa aman. Kesenian 7. Geografi 10. Sejarah 9. Teknologi Informasi dan Komunikasi 16. Kimia 14. Keterampilan/Bahasa Asing Kompetensi Lintas Kurikulum merupakan kecakapan hidup dan belajar sepanjang hayat yang dibakukan dan harus dicapai oleh peserta didik melalui pengalaman belajar secara berkesinambungan. Kewarganegaraan 3. Kompetensi Lintas Kurikulum tersebut adalah sebagai berikut: 1. Bahasa dan Sastra Indonesia 4. Pendidikan Agama 2. Fisika 13. Ekonomi 11.

5. 7. dan (3) alokasi waktu. dan menerapkan konsep-konsep. percaya diri. dan pengenalan unsur-unsur penting 211 . dan mengkomunikasikan gagasan dan informasi. mengembangkan. dan intelektual serta menerapkan nilai-nilai luhur untuk meningkatkan kematangan pribadi menuju masyarakat beradab. dan menerapkan teknologi dan informasi yang diperlukan dari berbagai sumber. Berpartisipasi. Kegiatan belajar pembiasaan mengutamakan kegiatan pembentukan dan pengendalian perilaku yang diwujudkan dalam kegiatan rutin. Memilih. Berkreasi dan menghargai karya artistik. budaya. dan lateral dengan memperhitungkan potensi dan peluang untuk menghadapi berbagai kemungkinan. berinteraksi. dan nilai-nilai untuk mengambil keputusan yang tepat. makhluk hidup. bahasa untuk memahami. teknik-teknik. keterampilan. Berpikir logis. 6. dan historis. Mata pelajaran mengutamakan kegiatan instruksional yang berjadwal dan berstruktur. bekerja mandiri. dan bekerja sama dengan orang lain.2. (2) kegiatan belajar pembiasaan. dan berkontribusi aktif dalam masyarakat dan budaya global berdasarkan pemahaman konteks budaya. dan teknologi. Menggunakan orang lain. dan hubungan. pola. serta untuk berinteraksi dengan 3. Memilih. kritis. geografis. struktur. STRUKTUR KURIKULUM SEKOLAH MENENGAH ATAS DAN MADRASAH ALIYAH Struktur kurikulum berisi: (1) sejumlah mata pelajaran. Menunjukkan motivasi dalam belajar. 4. mencari. 9. dan menggunakan pengetahuan. spontan. memadukan. Memahami dan menghargai lingkungan fisik. 8.

Struktur Kurikulum Program Studi Program studi terdiri atas Ilmu Alam. dan Bahasa. dan Bahasa memuat jumlah dan jenis mata pelajaran serta alokasi waktu sebagaimana terlihat dalam tabel-tabel berikut ini. Kurikulum SMA dan MA mencakup 2 jenis yaitu: (a) Struktur Kurikulum Program Studi dan (b) Struktur Kurikulum Program Pilihan. yaitu: Ilmu Alam. dan kecakapan hidup melalui pemahaman prinsip-prinsip multikultural dan komunikasi bahasa. Alokasi waktu menunjukan satuan waktu yang digunakan untuk tatap muka. kompetensi.kehidupan masyarakat. Pada Kelas XI dan XII dikelompokkan ke dalam tiga program studi. dan Bahasa. Program studi Bahasa mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki karakter. 212 . Sekolah dan madrasah dapat menentukan struktur kurikulum yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan. Ilmu Sosial. 1. Kelas X merupakan program bersama yang diikuti oleh semua peserta didik. Program studi Ilmu Sosial mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki karakter. Ilmu Sosial. Program studi Ilmu Alam mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki karakter. XI. Ilmu Sosial. dan XII. Masa belajar di SMA dan MA ditempuh selama 3 tahun mulai dari Kelas X. Struktur Kurikulum pada SMALB dan MALB disesuaikan dengan ketunaan. dan kecakapan hidup melalui pemahaman prinsip-prinsip alam. Struktur kurikulum program studi Ilmu Alam. kompetensi. kompetensi. dan kecakapan hidup melalui pemahaman prinsip-prinsip kemasyarakatan.

Sosiologi 12. Pendidikan Agama 2. Bahasa dan Sastra Indonesia 4. Biologi 15. Matematika 6. sekolah. Teknologi Informasi dan Komunikasi 16.140 menit) – 1. Sejarah 9. Ekonomi 11. Kesenian 7. Jam tatap muka per minggu adalah 28.140 jam (68. Pendidikan Jasmani 8. bakat. dan kemampuan siswa dan sekolah/madrasah. Pengalokasian waktu untuk setiap mata pelajaran sebagaimana tercantum dalam tabel di atas merupakan contoh pengalokasian waktu untuk setiap 2) 3) 4) 5) 6) 213 .STRUKTUR KURIKULUM Kelas X Alokasi Waktu Smt 1 Smt 2 2 2 4 4 4 2 2 1 2 2 2 3 3 3 2 * 2 2 4 4 4 2 2 2 1 2 2 3 3 3 2 * Mata Pelajaran 1. Kimia 14. Kewarganegaraan 3. madrasah atau daerah. Satu jam pelajaran tatap muka dilaksanakan selama 45 menit.400 menit).710 menit). Keterampilan/Bahasa Asing Jumlah 38 38 Penjelasan untuk Kelas X: 1) Alokasi waktu total yang disediakan untuk kelas X adalah 38 jam pelajaran per minggu. Fisika 13. Madrasah menambah alokasi waktu untuk mata pelajaran keagamaan. dan jumlah jam tatap muka per tahun adalah 969 jam (58. Geografi 10. Keterampilan/Bahasa Asing merupakan mata pelajaran pilihan yang dimaksudkan untuk membekali kemampuan bagi peserta didik untuk hidup di masyarakat dan pengalokasian waktunya diatur sekolah dan madrasah serta pemilihannya berdasarkan minat.5 jam (1. Daerah atau sekolah dan madrasah dapat mengatur jumlah minggu belajar sesuai dengan kebutuhan. Minggu belajar untuk kelas X dalam satu tahun pelajaran (2 semester) adalah 34 – 40 minggu. sekolah atau madrasah dapat menambah alokasi waktu total atau mengubah alokasi waktu mata pelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa. Daerah. Bahasa Inggris 5.

Daerah atau sekolah dan madrasah dapat mengatur jumlah minggu belajar sesuai dengan kebutuhan. Biologi 13.25 jam (1. sekolah atau madrasah dapat menambah alokasi waktu total atau mengubah alokasi waktu mata pelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa. sekolah. 214 . Keterampilan /Bahasa Asing Alokasi Waktu Kelas XI Kelas XII Smt 1 2 3 4 4 5 2 2 2 1 4 4 4 2 * Smt 2 2 3 4 4 5 2 2 1 2 4 4 4 2 * Smt 1 2 3 4 4 5 2 2 5 4 5 2 * Smt 2 2 2 4 4 5 2 2 4 5 4 2 * Jumlah Penjelasan untuk Program Studi Ilmu Alam: 1) 39 39 38 36 2) 3) 4) Alokasi waktu total yang disediakan untuk kelas XI adalah 39 jam pelajaran per minggu. dan daerah dengan tetap berpatokan pada alokasi waktu per minggu. Pendidikan Agama 2. Bahasa Inggris 5. Minggu belajar untuk kelas XI dalam satu tahun pelajaran (2 semester) adalah 34 – 40 minggu. Kimia 12. Kegiatan belajar pembiasaan dilaksanakan melalui kegiatan ekstrakurikuler yang alokasi waktunya diatur oleh sekolah dan madrasah.710 menit) dan jumlah jam tatap muka semester 1 adalah 513 jam (30.200 menit). Kelas XII semester 1 (satu) adalah 38 jam pelajaran dan semesDaerah. dan jam tatap muka per minggu adalah 28.755 menit). Kesenian 7. Minggu belajar untuk kelas XII semester 1 adalah 18 minggu. Satu jam pelajaran tatap muka dilaksanakan selama 45 menit. Madrasah menambah alokasi waktu untuk mata pelajaran keagamaan. STRUKTUR KURIKULUM PROGRAM STUDI ILMU ALAM Mata Pelajaran 1.780 menit). dan jumlah jam tatap muka per tahun adalah 994. Geografi 10. madrasah atau daerah. Daerah atau sekolah dan madrasah dapat mengatur jumlah minggu belajar sesuai dengan kebutuhan.5 jam (1.170 jam (70. jam tatap muka per minggu adalah 29.7) mata pelajaran. Kewarganegaraan 3. Sekolah dan madrasah dapat mengatur alokasi waktu sesuai kebutuhan siswa. Bahasa dan Sastra Indonesia 4. Fisika 11.5 jam (59. Pendidikan Jasmani 8. sekolah dan madrasah. Sejarah 9. Matematika 6.670 menit) – 1. Teknologi Informasi dan Komunikasi 14.

Sosiologi 12. Madrasah menambah alokasi waktu untuk mata pelajaran keagamaan. Pendidikan Agama 2. Daerah atau sekolah dan madrasah dapat mengatur jumlah minggu belajar sesuai dengan kebutuhan. 3) Minggu belajar untuk kelas XI dalam satu tahun pelajaran (2 semester) adalah 34 – 40 minggu.680 menit). sekolah.620 menit). Sejarah 9. Bahasa dan Sastra Indonesia 4. Geografi 10. dan jumlah jam tatap muka semester 2 adalah 378 jam (22. Kewarganegaraan 3. 8) Kegiatan belajar pembiasaan dilaksanakan melalui kegiatan ekstrakurikuler yang alokasi waktunya diatur oleh sekolah dan madrasah. Kesenian 7. sekolah dan madrasah. Bahasa Inggris 5.25 jam 215 . jam tatap muka per minggu adalah 29. Sekolah dan madrasah dapat mengatur alokasi waktu sesuai kebutuhan siswa. sekolah atau madrasah dapat menambah alokasi waktu total atau mengubah alokasi waktu mata pelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa. Pendidikan Jasmani 8. Keterampilan/ Bahasa Asing Alokasi Waktu Kelas XI Kelas XII Smt 1 2 3 4 4 4 2 2 3 3 5 5 2 * Smt 2 2 3 4 4 4 2 2 3 3 5 5 2 * Smt 1 2 3 4 4 4 2 2 3 3 5 4 2 * Smt 2 2 2 4 4 4 2 2 3 2 5 4 2 * Jumlah Penjelasan untuk Program Studi Ilmu Sosial: 39 39 38 36 1) Alokasi waktu total yang disediakan untuk kelas XI adalah 39 jam pelajaran per minggu. 6) Keterampilan/Bahasa Asing merupakan mata pelajaran pilihan yang mencakup kecakapan hidup yang membekali peserta didik untuk hidup di masyarakat dan pengalokasian waktunya diatur sekolah dan madrasah. jam tatap muka per minggu adalah 27 jam (1. 2) Satu jam pelajaran tatap muka dilaksanakan selama 45 menit.5) Minggu belajar untuk kelas XII semester 2 adalah 14 minggu. Daerah. dan daerah dengan tetap berpatokan pada alokasi waktu per minggu. Matematika 6. 7) Pengalokasian waktu untuk setiap mata pelajaran sebagaimana tercantum dalam tabel di atas merupakan contoh pengalokasian waktu untuk setiap mata pelajaran. STRUKTUR KURIKULUM PROGRAM STUDI ILMU SOSIAL Mata Pelajaran 1. Ekonomi 11. Teknologi Informasi dan Komunikasi 13. madrasah atau daerah.

10.680 menit). 8. 9. jam tatap muka per minggu adalah 27 jam (1. 3. 6. 11.(1. Daerah. 6) Keterampilan/Bahasa Asing merupakan mata pelajaran pilihan yang mencakup kecakapan hidup yang membekali peserta didik untuk hidup di masyarakat dan pengalokasian waktunya diatur sekolah dan madrasah.5 jam (59.710 menit) dan jumlah jam tatap muka semester 1 adalah 513 jam (30. Pendidikan Agama Kewarganegaraan Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Matematika Kesenian Pendidikan Jasmani Sejarah Antropologi Sastra Indonesia Bahasa Asing lainnya Teknologi Informasi dan Komunikasi Keterampilan Alokasi Waktu Kelas XI Kelas XII Smt 1 2 3 4 6 4 3 2 3 2 4 4 2 * Smt 2 2 3 4 6 4 3 2 3 2 4 4 2 * Smt 1 2 3 4 6 4 2 2 3 2 4 4 2 * Smt 2 2 2 4 5 4 2 2 3 2 4 4 2 * Jumlah 39 39 38 36 Penjelasan untuk Program Studi Bahasa: 1) Alokasi waktu total yang disediakan untuk kelas XI adalah 39 jam pelajaran per minggu. 5) Minggu belajar untuk kelas XII semester 2 adalah 14 minggu. 12. 8) Kegiatan belajar pembiasaan dilaksanakan melalui kegiatan ekstrakurikuler yang alokasi waktunya diatur oleh sekolah dan madrasah. 7.780 menit).755 menit). 2.670 menit) – 1. 4.170 jam (70. dan jam tatap muka per minggu adalah 28.620 menit).200 menit). dan jumlah jam tatap muka semester 2 adalah 378 jam (22. 4) Minggu belajar untuk kelas XII semester 1 adalah 18 minggu. Daerah atau sekolah dan madrasah dapat mengatur jumlah minggu belajar sesuai dengan kebutuhan. dan daerah dengan tetap berpatokan pada alokasi waktu per minggu. 7) Pengalokasian waktu untuk setiap mata pelajaran sebagaimana tercantum dalam tabel di atas merupakan contoh pengalokasian waktu untuk setiap mata pelajaran. Madrasah menambah alokasi waktu untuk mata pelajaran keagamaan. sekolah atau madrasah dapat menambah alokasi waktu 216 . dan jumlah jam tatap muka per tahun adalah 994. Daerah atau sekolah dan madrasah dapat mengatur jumlah minggu belajar sesuai dengan kebutuhan. STRUKTUR KURIKULUM PROGRAM STUDI BAHASA Mata Pelajaran 1. 13. Sekolah dan madrasah dapat mengatur alokasi waktu sesuai kebutuhan siswa. sekolah dan madrasah. 5. Daerah atau sekolah dan madrasah dapat mengatur jumlah minggu belajar sesuai dengan kebutuhan.5 jam (1.

5 jam (59. Mata pelajaran Keterampilan pemilihannya disesuaikan dengan bakat. Daerah atau sekolah dan madrasah dapat mengatur jumlah minggu belajar sesuai dengan kebutuhan. Bahasa terdiri atas mata pelajaran Bahasa Indonesia. Madrasah menambah alokasi waktu untuk mata pelajaran keagamaan. jam tatap muka per minggu adalah 29.2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) total atau mengubah alokasi waktu mata pelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa.680 menit). bakat.5 jam (1. Minggu belajar untuk kelas XI dalam satu tahun pelajaran (2 semester) adalah 34 – 40 minggu. Satu jam pelajaran tatap muka dilaksanakan selama 45 menit. Minggu belajar untuk kelas XII semester 1 adalah 18 minggu. Perancis. dan minat peserta didik. dan Bahasa Asing Lain (Arab.710 menit) dan jumlah jam tatap muka semester 1 adalah 513 jam (30. Pengalokasian waktu untuk setiap mata pelajaran sebagaimana tercantum dalam tabel di atas merupakan contoh pengalokasian waktu untuk setiap mata pelajaran. 2. Bahasa Inggris. Minggu belajar untuk kelas XII semester 2 adalah 14 minggu. dan jam tatap muka per minggu adalah 28. sekolah.25 jam (1. dan Mandarin). Daerah atau sekolah dan madrasah dapat mengatur jumlah minggu belajar sesuai dengan kebutuhan.780 menit).170 jam (70. Struktur kurikulum Program Pilihan tersebut memuat jumlah dan jenis mata pelajaran serta alokasi waktu sebagaimana terinci dalam tabel berikut ini. jam tatap muka per minggu adalah 27 jam (1. Daerah atau sekolah dan madrasah dapat mengatur jumlah minggu belajar sesuai dengan kebutuhan.200 menit). 217 . Sastra Indonesia. dan jumlah jam tatap muka per tahun adalah 994. Jerman. Jepang. Struktur Kurikulum Program Pilihan Penyelenggaraan Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah Program Pilihan dimaksudkan untuk memberikan kebebasan kepada peserta didik dalam memilih sejumlah mata pelajaran yang sesuai dengan potensi.670 menit) – 1. madrasah atau daerah. dan jumlah jam tatap muka semester 2 adalah 378 jam (22. minat siswa dan kebutuhan dan pengalokasian waktunya diatur sekolah dan madrasah.755 menit). dan daerah dengan tetap berpatokan pada alokasi waktu per minggu.620 menit). Sekolah dan madrasah dapat mengatur alokasi waktu sesuai kebutuhan siswa. sekolah dan madrasah. Kegiatan belajar pembiasaan dilaksanakan melalui kegiatan ekstrakurikuler yang alokasi waktunya diatur oleh sekolah dan madrasah.

Sejarah. Bahasa Mandarin. Sosiologi 12. Sejarah 9. Pilihan [terdiri atas sejumlah mata pelajaran sesuai dengan kemampuan. dan minat] 2 2 4 4 4 2 2 2 (1) 1 (2) 2 2 3 3 3 2 * - Alokasi Waktu Kelas XI 2 2 4 4 4 2 2 16 Kelas XII 2 2 4 4 4 2 2 12 Jumlah 38 36 32 Penjelasan untuk Program Pilihan: 1) Kelas X merupakan program bersama yang diikuti oleh semua peserta didik. Biologi 15. Kimia 14. 2) Program Pilihan yang dimulai pada Kelas XI dan XII terdiri atas sejumlah mata pelajaran yaitu: Bahasa dan Sastra Indonesia. Geografi 10. Bahasa Jerman. Matematika 6. Antropologi. Kesenian 7. 218 . Bahasa Inggris. Pendidikan Jasmani 8. Peserta didik yang memiliki minat dan kemampuan ke bidang Ilmu Alam dapat memilih beberapa mata pelajaran yang bercirikan bidang tersebut ditambah dengan mata pelajaran lainnya. dan Keterampilan. Ekonomi 11. Tafsir Hadits. 5) Pemilihan mata pelajaran dilakukan dengan cara: a. 4) Pemilihan mata pelajaran untuk Program Pilihan di Kelas XI dan XII didasarkan pada minat dan kemampuan peserta didik untuk memilih program studi di perguruan tinggi. Fisika 13. Bahasa Perancis. Geografi. bakat. Ekonomi. Ushul Fiqh. 3) Standar kompetensi mata pelajaran Ilmu-ilmu Agama sebagai pilihan dikembangkan oleh Departemen Agama dan Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional. Bahasa Arab. Pendidikan Agama 2. Bahasa Jepang. Matematika. Kimia. Sosiologi. Teknologi Informasi dan Komunikasi 16. Bahasa dan Sastra Indonesia 4. Inti 1. Biologi. Teknologi Informasi dan Komunikasi. Keterampilan/Bahasa Asing B.STRUKTUR KURIKULUM PROGRAM PILIHAN SEKOLAH MENENGAH ATAS DAN MADRASAH ALIYAH Mata Pelajaran Kelas X A. Aqidah Akhlak. Kewarganegaraan 3. Bahasa Inggris 5. Fisika.

11) Penjelasan teknis untuk pelaksanaan program pilihan akan diatur dalam pedoman tersendiri. 7) Minggu belajar untuk kelas XII dalam satu tahun pelajaran (2 semester) adalah 34 . Jepang. beserta Pedoman Pelaksanaannya. Perwujudan “Keberagaman dalam Pelaksanaan” tertuang dalam pengembangan silabus dan skenario pembelajaran. Perwujudan “Kesatuan dalam Kebijakan” tertuang dalam pengembangan Kerangka Dasar. Perancis. 9) Alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran dalam Program Pilihan disesuaikan dengan tuntutan kompetensi yang harus dicapai oleh siswa. Bahasa Inggris. 10) Kegiatan belajar pembiasaan dilaksanakan melalui kegiatan ekstrakurikuler yang alokasi waktunya diatur oleh sekolah dan madrasah.40 minggu. sekolah atau madrasah dapat menambah alokasi waktu total atau mengubah alokasi waktu mata pelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa. Jerman.960 menit). Peserta didik yang memiliki minat dan kemampuan ke bidang Bahasa dapat memilih beberapa mata pelajaran yang bercirikan bidang tersebut ditambah dengan mata pelajaran lainnya. dan c. 219 .b. dan Mandarin). Peserta didik yang memiliki minat dan kemampuan ke bidang Ilmu Sosial dapat memilih beberapa mata pelajaran yang bercirikan bidang tersebut dan ditambah dengan mata pelajaran lainnya.620 menit). jumlah jam tatap muka per tahun adalah 816 jam (48. jumlah jam tatap muka per tahun adalah 918 jam (55. PELAKSANAAN KURIKULUM A. dan jam tatap muka per minggu adalah 24 jam (1440 menit). madrasah atau daerah. Madrasah menambah alokasi waktu untuk mata pelajaran keagamaan. Sastra Indonesia. 5) Satu jam pelajaran tatap muka dilaksanakan selama 45 menit. dan Standar Kompetensi Mata Pelajaran. 8) Bahasa terdiri atas mata pelajaran Bahasa Indonesia. dan Bahasa Asing Lain (Arab. Daerah. Umum Pelaksanaan kurikulum menerapkan prinsip “Kesatuan dalam Kebijakan dan Keberagaman dalam Pelaksanaan”. 6) Minggu belajar untuk kelas X dan XI dalam satu tahun pelajaran (2 semester) adalah 34 – 40 minggu. dan jam tatap muka per minggu adalah 27 jam (1. 4) Alokasi waktu total yang disediakan untuk kelas X dan XI adalah 36 jam pelajaran per minggu. Standar nasional disusun pusat dan cara pelaksanaannya disesuaikan masing-masing daerah/sekolah dan madrasah.080 menit). sekolah. Standar Kompetensi Bahan Kajian.

Pelaksanaan kurikulum di daerah perlu mempertimbangkan hal-hal berikut: 1. 4. dan pemerintah pusat dalam meningkatkan mutu pendidikan. perwujudan keterbukaan dan kepercayaan dalam pengelolaan pendidikan sesuai dengan otoritas masing-masing yang dapat membangun kesatuan dan persatuan bangsa. masyarakat. pemerintah daerah. diperluas. Perwujudan diversifikasi kurikulum pendidikan kejuruan mengacu pada pencapaian penguasaan kompetensi sesuai dengan dunia kerja setempat. penyelesaian masalah pendidikan sesuai dengan karakteristik wilayah yang bersangkutan. 5. Diversifikasi kurikulum juga perlu dilaksanakan untuk peserta didik 220 . peningkatan pertanggungjawaban (akuntabilitas) kinerja penyelenggaraan pendidikan. kebutuhan dan kemampuan daerah dan sekolah dan madrasah ditinjau dari segi geografis dan budaya serta kemampuan dan minat peserta didik sehingga sekolah dan madrasah dapat melayani seluruh peserta didik dengan kemampuan di bawah rata-rata. 3. mental. dan di atas rata-rata untuk mencapai hasil yang optimal. perencanaan dan pelaksanaan pendidikan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Kurikulum dapat didiversifikasikan dengan cara disesuaikan. emosional. perluasan kesempatan berimprovisasi dan berkreasi dalam meningkatkan mutu pendidikan. sekolah dan madrasah. dan 6. rata-rata. sosial dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. 2. penegasan tanggung jawab bersama antara orang tua. Diversifikasi kurikulum juga dilaksanakan untuk melayani peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik. Diversifikasi kurikulum yang melayani minat peserta didik dan kebutuhan daerah dirancang oleh daerah dan sekolah dan madrasah. dan diperdalam untuk melayani keberagaman penyelenggaraan satuan pendidikan.

dan efektifitas pelaksanaan kegiatan. 221 . dan tidak mampu dari segi ekonomi. 3. kegiatan intrakurikuler disesuaikan dengan tuntutan dan kondisi dunia kerja dan industri. 2. Pengaturan hari efektif diwujudkan dalam kalender pendidikan yang berlaku secara nasional. bencana sosial.40. masyarakat adat yang terpencil. Hari Belajar Jumlah hari belajar satu tahun pelajaran adalah 204 sampai dengan 240 hari dan jumlah minggu efektif adalah 34 . Bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar dalam tahap-tahap awal pendidikan apabila diperlukan dalam penyampaian dan/atau penyajian keterampilan tertentu. Bahasa asing Inggris dapat digunakan sebagai bahasa pengantar pada satuan pendidikan tertentu untuk mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik. B. yaitu kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Bahasa Pengantar Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara menjadi bahasa pengantar dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan Kurikuler Kegiatan kurikuler dibedakan dalam 2 kegiatan.dari daerah terpencil atau terbelakang. a. Khusus satuan pendidikan kejuruan. Pengaturannya dilaksanakan dengan sistem semester. dan/atau mengalami bencana alam. efisiensi. Khusus 1. Kegiatan intra kurikuler efektif per minggu dimungkinkan untuk dilaksanakan dalam 5 hari atau 6 hari kerja sesuai dengan kebutuhan sekolah dan madrasah setelah mendapat persetujuan dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Intrakurikuler Kegiatan intrakurikuler merupakan kegiatan pembelajaran untuk menguasai kompetensi dengan mempertimbangkan hak-hak dan kewajiban peserta didik.

pengawasan. dan peningkatan kecakapan hidup yang alokasi waktunya diatur secara tersendiri berdasarkan pada kebutuhan dan kondisi sekolah dan madrasah/daerah. Khusus guru sekolah dan madrasah kejuruan dipersyaratkan memiliki sertifikat kompetensi atau sertifikat profesi. Guru bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. kewirausahaan. Ekstrakurikuler Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan pembelajaran di luar kegiatan intrakurikuler yang diselenggarakan secara kontekstual dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan untuk memenuhi tuntutan penguasaan kompetensi mata pelajaran. olah raga. perkoperasian. 222 . 4. dan palang merah. kesehatan sekolah dan madrasah. dan pelayanan profesional untuk menunjang pelaksanaan kegiatan pembelajaran pada satuan pendidikan. dan melakukan pembimbingan dan pelatihan. pembentukan karakter bangsa.b. pengembangan. memantau dan mengevaluasi pelaksanaan dan pengelolaan pendidikan serta memberikan pelayanan profesional kepada kepala sekolah dan madrasah dan guru termasuk menyebarkan gagasan baru atau pelaksanaan pembelajaran bermutu secara efisien. Kepala Sekolah dan madrasah bertugas melaksanakan administrasi. Pengawas bertugas merencanakan. pengelolaan. Tenaga Kependidikan Guru dipersyaratkan mempunyai kualifikasi dan atau kompetensi khusus untuk menunjang pencapaian kompetensi lulusan pada satuan pendidikan. menilai hasil pembelajaran. melaksanakan. Kegiatan ekstrakurikuler dapat berupa kegiatan pengayaan dan kegiatan perbaikan atau kunjungan studi ke tempat-tempat tertentu yang berkaitan dengan esensi materi pelajaran tertentu atau kegiatan-kegiatan kepramukaan.

sosial. dan kejiwaan peserta didik. Silabus khusus perlu disusun untuk melayani peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam 223 . potensi. Penyusunan silabus dapat dilakukan oleh tim pengembang kurikulum di daerah dengan melibatkan nara sumber sesuai keahliannya. Remedial. dan keunggulan lokal. 7. buku dan alat pelajaran termasuk teknologi dan multi media yang disediakan pemerintah dan masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. sosial.5. spiritual. Pengayaan. dan belajar lanjutan. Dinas Pendidikan propinsi dan kabupaten/kota dapat mengkoordinasikan kegiatan penyusunan silabus. Bimbingan dan konseling diberikan secara berkesinambungan oleh guru yang memenuhi persyaratan. Bimbingan dan Konseling Sekolah dan madrasah memberikan bimbingan dan konseling kepada peserta didik dalam konteks pengembangan kepribadian. 8. kekhasan. dan Percepatan Belajar Sekolah dan madrasah memberikan layanan bagi peserta didik yang mendapat kesulitan belajar melalui kegiatan remedial. Guru mata pelajaran perlu memberikan dukungan profesional kepada guru bimbingan khusus dalam mengatasi siswa yang bermasalah. kecerdasan intelektual. Pengembangan atau Penyusunan Silabus Daerah. 6. karier. emosional. Sarana dan Prasarana Pendidikan Pelaksanaan pembelajaran menggunakan sumber belajar. Standar kompetensi dan silabus muatan lokal dapat disusun untuk melayani kebutuhan. Sekolah dan madrasah menciptakan kondisi yang memenuhi kebutuhan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik. sekolah dan madrasah mengembangkan silabus sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing tetapi tetap berdasarkan pada standar kompetensi. Peserta didik yang mencapai ketuntasan kompetensi lebih cepat dari waktu yang ditentukan memperoleh pengayaan dan dapat mengikuti program percepatan belajar.

9. dewan pendidikan. dan potensi untuk mewujudkan pencapaian standar kompetensi nasional. Pentahapan Pelaksanaan Kurikulum 2004 ini dilaksanakan mulai tahun pelajaran 2004/2005 secara bertahap bagi sekolah dan madrasah yang telah siap melaksanakannya dengan pentahapan sebagai berikut: 1. 10. Pengelolaan Kurikulum Sekolah dan madrasah mengelola kurikulum dengan memberdayakan seluruh unsur penyelenggara. C. kebutuhan. komite sekolah dan madrasah. emosional. bencana sosial. dan tidak mampu dari segi ekonomi. Kabupaten/kota. dan daerah. Sekolah dan Madrasah Bertaraf Internasional Sekolah dan madrasah bertaraf internasional didirikan untuk menghasilkan lulusan yang mampu bersaing pada tingkat nasional. masyarakat adat yang terpencil. dan/atau mengalami bencana alam. Bahasa Inggris dan bahasa asing lain dapat digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran. mental.mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik. dunia usaha dan industri serta pengendali mutu sesuai dengan kondisi. sosial dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. 224 . Pada tahun Ketiga dan seterusnya dilaksanakan pada seluruh kelas di SMA. dan propinsi berperan dan bertanggungjawab dalam mengkoordinasi dan mensupervisi pengembangan dan pelaksanaan kurikulum di sekolah dan madrasah. Pada tahun Kedua dilaksanakan di Kelas X. 2. Silabus khusus juga perlu disusun untuk melayani peserta didik dari daerah terpencil. 3. XI SMA. Pada tahun Pertama mulai Kelas X SMA. Sekolah dapat menggunakan kurikulum nasional dan atau penggabungan kurikulum nasional dan internasional yang disesuaikan dengan kekhasan serta potensi sekolah. madrasah.

Penilaian di sekolah dan madrasah (internal) dilakukan dalam bentuk ulangan harian dan penugasan untuk menngetahui kemajuan dan hasil belajar di kelas. Penilaian Hasil Belajar Penilaian dilakukan untuk memperoleh informasi tentang kemajuan dan hasil belajar dalam ketuntasan pengusaan kompetensi. D. (2) mengembangkan kreativitas peserta didik. kegiatan pembelajaran perlu: (1) berpusat pada peserta didik. empati. (3) menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang. etika. 225 . kontekstual. kemandirian. kerjasama. melakukan sesuatu. solidaritas. toleransi. peradaban. Kegiatan perlu pembelajaran memberdayakan semua potensi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diharapkan. kepemimpinan. (4) bermuatan nilai. dan mengaktualisasikan diri. dan (5) menyediakan pengalaman belajar yang beragam. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran menerapkan berbagai strategi dan metode pembelajaran yang menyenangkan. Dalam hal ini kegiatan pembelajaran mampu mengembangkan dan meningkatkan kompetensi. hidup dalam kebersamaan. kreativitas. Kegiatan pembelajaran mengembangkan kemampuan untuk mengetahui. dan kecakapan hidup peserta didik guna membentuk watak serta meningkatkan peradaban dan martabat bangsa. estetika. Pemberdayaan diarahkan untuk mendorong pencapaian kompetensi dan perilaku khusus supaya setiap individu mampu menjadi pebelajar sepanjang hayat dan mewujudkan masyarakat belajar. dan bermakna. pengayaan dan penentuan kenaikan kelas. E. efisien. Dengan demikian.Bagi sekolah dan madrasah yang belum siap melaksanakan kurikulum mulai tahun pelajaran 2004/2005 diharapkan dapat memulainya paling lambat tahun pelajaran 2006/2007 dengan pentahapan seperti di atas. dan kinestetika. dan meningkatkan mutu kehidupan peserta didik. Penilaian di sekolah dan madrasah digunakan untuk penentuan perbaikan. Kegiatan Pembelajaran Kegiatan pembelajaran diselenggarakan untuk membentuk watak. efektif. logika. memahami.

226 .Penilaian akhir dapat diselenggarakan oleh sekolah dan madrasah atau oleh pihak luar (eksternal). Penilaian Kelas berorientasi pada: • Acuan/Patokan Semua kompetensi perlu dinilai menggunakan acuan kriteria berdasarkan pada indikator hasil belajar. bertahap. Sekolah dan madrasah melaporkan hasil penilaian kepada siswa. dan terus menerus untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan belajar peserta didik. Laporan memuat deskripsi kemajuan dan hasil belajar secara utuh dan menyeluruh. tes dan non-tes. adil terhadap semua peserta didik. guru berwenang untuk menentukan kriteria keberhasilan. cara. terbuka bagi semua pihak. Dalam Penilaian Kelas. Penilaian Kelas sebagai bagian integral dari kegiatan pembelajaran dilakukan oleh guru. Sekolah dan madrasah menetapkan kriteria sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. dan dilaksanakan secara terencana. dan pihak-pihak yang berkepentingan. dan jenis penilaian. Hasil penilaian dapat digunakan untuk mendiagnosis dan memberikan umpan balik untuk perbaikan pembelajaran dan program. Penilaian eksternal dapat digunakan sebagai pengendali mutu pendidikan seperti Ujian Akhir Nasional dan Tes Kemampuan Dasar. orang tua. untuk memantau kemajuan dan hasil belajar peserta didik. • Alat Penilaian Penilaian menggunakan berbagai cara. • Kriteria Penilaian Penilaian memberikan informasi yang akurat tentang pencapaian kompetensi dasar peserta didik. • Ketuntasan Belajar Pencapaian hasil belajar ditetapkan dengan ukuran atau tingkat pencapaian kompetensi yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai prasyarat penguasaan kompetensi lebih lanjut.

pembelajaran dan penilaian hasil belajar secara nasional. Penilaian kurikulum dilakukan untuk mengetahui keterlaksanan kurikulum sesuai dengan dasar. Pemerintah bertanggungjawab terhadap penyempurnaan dan pengembangan: • • • • standar kompetensi siswa dan warga belajar. pengembangan dan pelaksanaan kurikulum muatan lokal. dan pelaksanaan pemantauan dan penilaian. penyusunan petunjuk teknis operasional pelaksanaan kurikulum. pengendalian mutu. dan tujuan pendidikan nasional.PENILAIAN DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM SELANJUTNYA A. fungsi. serta kesesuaian dengan tuntutan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat. standar materi pokok. Penilaian Kurikulum Penilaian kurikulum dilakukan secara berkala dan terus menerus oleh Pusat dan Daerah. dan 227 . maka masing-masing lembaga tingkat pusat. Sekolah dan madrasah bertanggungjawab dalam pelaksanaan kurikulum yang mencakup: • • pengembangan kurikulum dalam bentuk silabus. perencanaan pembelajaran dan penilaian. Hasil penilaian kurikulum digunakan untuk menyempurnakan pelaksanaan dan mengembangkan kurikulum selanjutnya. B. Pemerintah daerah bertanggungjawab dalam penjabaran dan pelaksanaan kurikulum yang mencakup: • • • • pengembangan kurikulum dalam bentuk silabus. Pengembangan Kurikulum Selanjutnya Sesuai dengan kebijakan otonomi daerah yang berimplikasi pada kebijakan pengelolaan pendidikan dari yang bersifat sentralistik ke desentralistik. daerah dan sekolah dan madrasah mempunyai tanggungjawab tertentu.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Tujuan. Dasar. Undangundang ini memuat aspek antara lain sebagai berikut: Hakikat Pendidikan. Kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Fungsi. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. berilmu. Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Standar Nasional Pendidikan. UNDANG-UNDANG TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2003 Mengingat telah terjadi Amandemen terhadap UUD 1945 dan seiring dengan bergulirnya prinsip desentralisasi dan otonomi dalam bidang pemerintahan. cakap. kecerdasan. kepribadian. sehat. serta pelaksanaan dan pengelolaan penilaian hasil belajar. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada tanggal 27 Maret 1989 perlu disesuaikan atau disempurnakan lagi. pengendalian diri. 228 . masyarakat. Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. mandiri. akhlak mulia. bangsa. dan negara.• pelaksanaan dan pengelolaan pembelajaran. kreatif. berakhlak mulia.

Cakupan setiap kelompok mata pelajaran adalah sebagaimana yang disajikan pada Tabel 1 berikut ini. budi pekerti. b. kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. KERANGKA DASAR KURIKULUM Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 6 ayat (1) menyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum. olahraga dan kesehatan. Akhlak mulia mencakup etika. kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. kelompok mata pelajaran jasmani. kejuruan. kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian. e. dan (4) Program Keagamaan. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dimaksudkan untuk peningkatan kesadaran dan wawasan peserta 2. (2) Program Ilmu Pengetahuan Sosial. d. Kewarganegaraan dan Kepribadian 229 . Tabel 1. Cakupan Kelompok Mata Pelajaran Kelompok Mata Pelajaran Agama dan Akhlak Mulia No. 1. (3) Program Bahasa.KURIKULUM SMA 2006 Kurikulum SMA tahun 2006. sebagaimana yang dimuat dalam Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. Cakupan Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. c. dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: a. masih menggunakan pola penjurusan yang terdiri atas: (1) Program Ilmu Pengetahuan Alam. kelompok mata pelajaran estetika.

dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat. kecanduan narkoba. Kelompok mata pelajaran estetika dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas. penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia. dan penyakit lain yang potensial untuk mewabah. jiwa dan patriotisme bela negara. Jasmani. kemajemukan bangsa. pelestarian lingkungan hidup. kreatif dan mandiri. membentuk kompetensi. kesetaraan gender. olahraga dan kesehatan pada SMP/MTs/SMPLB dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta membudayakan sportivitas dan kesadaran hidup sehat. dan hidup sehat. serta peningkatan kualitas dirinya sebagai manusia. Kelompok mata pelajaran jasmani. dan mengapresiasi ilmu pengetahuan dan teknologi. dan kemandirian kerja. tanggung jawab sosial. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMK/MAK dimaksudkan untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi. menyikapi. dan bernegara. olahraga dan kesehatan pada SD/MI/SDLB dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta menanamkan sportivitas dan kesadaran hidup sehat. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SD/MI/SDLB dimaksudkan untuk mengenal. kemampuan mengekspresikan dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni. baik dalam kehidupan individual sehingga mampu menikmati dan mensyukuri hidup. disiplin. demokrasi. dan nepotisme. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMP/MTs/SMPLB dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi dasar ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis. dan sikap serta perilaku anti korupsi. muntaber. demam berdarah. Kelompok Mata Pelajaran Cakupan didik akan status. kecakapan. ketaatan membayar pajak. kolusi. Kesadaran dan wawasan termasuk wawasan kebangsaan. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMA/MA/SMALB dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi lanjut ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis. Budaya hidup sehat termasuk kesadaran. ketaatan pada hukum. Kelompok mata pelajaran jasmani. olahraga dan kesehatan pada SMA/MA/SMALB/SMK/MAK dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta membudayakan sikap sportif. hak. Kelompok mata pelajaran jasmani. maupun dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis. Kemampuan mengapresiasi dan mengekspresikan keindahan serta harmoni mencakup apresiasi dan ekspresi. kreatif dan mandiri. sikap. Olahraga dan Kesehatan 230 . Estetika 5. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 4.No. dan perilaku hidup sehat yang bersifat individual ataupun yang bersifat kolektif kemasyarakatan seperti keterbebasan dari perilaku seksual bebas. berbangsa. serta menanamkan kebiasaan berpikir dan berperilaku ilmiah yang kritis. kreatif dan mandiri. kerja sama. 3. HIV/AIDS.

Relevan dengan kebutuhan kehidupan 231 . PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM Kurikulum SMA dikembangkan berdasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: a. perkembangan. serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi. dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan. suku. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum. teknologi dan seni berkembang secara dinamis. kebutuhan. dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan. dan pengembangan diri secara terpadu. kreatif. Beragam dan terpadu Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik. teknologi. dan jenjang serta jenis pendidikan. dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. d. sehat. kondisi daerah. c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. berakhlak mulia. mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi. budaya dan adat istiadat. berilmu. serta status sosial ekonomi dan gender. dan seni Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan. b. kebutuhan. teknologi. perkembangan. cakap. tanpa membedakan agama. Berpusat pada potensi.Selain tujuan dan cakupan kelompok mata pelajaran sebagai bagian dari kerangka dasar kurikulum perlu dikemukakan prinsip pengembangan dan pelaksanaan kurikulum. muatan lokal. dan seni.

g. Dalam 232 . Oleh karena itu. f. dunia usaha dan dunia kerja. keterampilan akademik. Menyeluruh dan berkesinambungan Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi. bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan. termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan. perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. pengembangan keterampilan pribadi. berbangsa dan bernegara. keterampilan sosial. nonformal dan informal. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi. Belajar sepanjang hayat Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan. keterampilan berpikir. PRINSIP PELAKSANAAN KURIKULUM Dalam pelaksanaan Kurikulum SMA menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut: a.Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal. dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan. pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. e. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat. dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.

Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam. kesosialan. dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri. melalui proses pembelajaran yang aktif. ing madia mangun karsa. dan menyenangkan. efektif. Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar.hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu. dengan prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi. contoh dan teladan). dan hangat. dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai. sumber belajar dan teknologi yang memadai. (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif. e. di tengah membangun semangat dan prakarsa. 233 . serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas. pengayaan. tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar. Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan. tahap perkembangan. kreatif. f. Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia. ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan. dengan prinsip tut wuri handayani. d. b. (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain. keindividuan. (b) belajar untuk memahami dan menghayati. di depan memberikan contoh dan teladan). dan/atau percepatan sesuai dengan potensi. dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan. dan moral. akrab. yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal. c. dinamis dan menyenangkan. terbuka.

(2) Program Ilmu Pengetahuan Sosial. dan (4) Program Keagamaan.g. STRUKTUR KURIKULUM Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah. Kompetensi yang dimaksud terdiri atas standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan berdasarkan standar kompetensi lulusan. (3) Program Bahasa. muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan. termasuk 234 . dan kesinambungan yang cocok dan memadai antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan. Muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri merupakan bagian integral dari struktur kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. khusus untuk MA. Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran. dan pengembangan diri seperti tertera pada Tabel 4. Struktur kurikulum SMA/MA meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas X sampai dengan Kelas XII. Struktur kurikulum disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran. yaitu kelas X merupakan program umum yang diikuti oleh seluruh peserta didik. keterkaitan. muatan lokal. Kedalaman muatan kurikulum pada setiap mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur kurikulum. dan kelas XI dan XII merupakan program penjurusan yang terdiri atas empat program: (1) Program Ilmu Pengetahuan Alam. Pengorganisasian kelas-kelas pada SMA/MA dibagi ke dalam dua kelompok. Struktur Kurikulum SMA di Kelas X: 1) Kurikulum SMA/MA Kelas X terdiri atas 16 mata pelajaran.

Biologi 8. Seni Budaya 14. Sejarah 10. Kimia 9. Geografi 11. 3) Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 45 menit. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pendidikan Kewarganegaraan 3. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. guru. 2) Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. Pendidikan Jasmani. C. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. 2*) Ekivalen 2 jam pembelajaran.keunggulan daerah. 235 . yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Teknologi Informasi dan Komunikasi 16. 4) Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 34-38 minggu. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. Pendidikan Agama 2. Fisika 7. Bahasa Indonesia 4. bakat. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. dan Kesehatan 15. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Bahasa Inggris 5. Mata Pelajaran 1. Sosiologi 13. dan pengembangan karir peserta didik. Matematika 6. STRUKTUR KURIKULUM KELAS X Komponen A. Keterampilan Bahasa Asing Muatan Lokal Pengembangan Diri Jumlah Alokasi Waktu Smt 1 Smt 2 2 2 4 4 4 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2*) 38 2 2 4 4 4 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2*) 38 B. belajar. Ekonomi 12. Olahraga. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah.

termasuk keunggulan daerah. dan 8. Program IPS. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Pendidikan Kewarganegaraan 3. Mata Pelajaran 1. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan. Kurikulum tersebut secara berturut-turut disajikan pada Tabel 5. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pendidikan Agama 2. Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah.Struktur Kurikulum SMA di Kelas XI dan XII: 1) Kurikulum SMA/MA Kelas XI dan XII Program IPA. yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. 2) Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. 3) Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 45 menit. dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. guru. belajar. dan pengembangan diri. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. Bahasa Indonesia Alokasi Waktu Kelas XI 2 2 4 Kelas XII 2 2 4 236 . 7. 4) Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 34-38 minggu. 6. dan Program Keagamaan terdiri atas 13 mata pelajaran. STRUKTUR KURIKULUM KELAS XI DAN XII: PROGRAM IPA Komponen A. bakat. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. Program Bahasa. muatan lokal. dan pengembangan karir peserta didik.

Sejarah 10. Pendidikan Jasmani. Kimia 9. Matematika 6. C. Mata Pelajaran 1. Olahraga. C. Pendidikan Jasmani. 39 39 STRUKTUR KURIKULUM KELAS XI DAN XII: PROGRAM BAHASA Komponen A. Bahasa Inggris 5. Biologi 8. Bahasa Inggris Alokasi Waktu Kelas XI 2 2 5 5 Kelas XII 2 2 5 5 237 . Pendidikan Kewarganegaraan 3. Pendidikan Kewarganegaraan 3. Seni Budaya 11. Jumlah 2*) Ekivalen 2 jam pembelajaran. Sosiologi 10. Bahasa Indonesia 4. dan Kesehatan 12.Komponen 4. 39 39 STRUKTUR KURIKULUM KELAS XI DAN XII: PROGRAM IPS Komponen A. Pendidikan Agama 2. Seni Budaya 11. Olahraga. dan Kesehatan 12. Bahasa Inggris 5. Pendidikan Agama 2. Mata Pelajaran 1. Keterampilan Bahasa Asing Muatan Lokal Pengembangan Diri Alokasi Waktu Kelas XI 2 2 4 4 4 3 3 4 3 2 2 2 2 2 2*) Kelas XII 2 2 4 4 4 3 3 4 3 2 2 2 2 2 2*) B. Ekonomi 9. Teknologi Informasi dan Komunikasi 13. Keterampilan Bahasa Asing Muatan Lokal Pengembangan Diri Alokasi Waktu Kelas XI 4 4 4 4 4 1 2 2 2 2 2 2*) Kelas XII 4 4 4 4 4 1 2 2 2 2 2 2*) B. Sejarah 7. Fisika 7. Jumlah 2*) Ekivalen 2 jam pembelajaran. Matematika 6. Teknologi Informasi dan Komunikasi 13. Bahasa Indonesia 4. Geografi 8.

Jumlah 2 *) Ekuivalen 2 jam pembelajaran ** Ditentukan oleh Departemen Agama ) 38 38 38 38 238 . Mata Pelajaran 1. Tafsir dan Ilmu Tafsir 7. Pendidikan Kewarganegaraan 3. Pendidikan Agama 2. Keterampilan Bahasa Asing Muatan Lokal Pengembangan Diri Alokasi Waktu Kelas XI Kelas XII Smt 1 2 2 4 4 4 3 3 3 3 2 2 2 2 2 2*) Smt 2 2 2 4 4 4 3 3 3 3 2 2 2 2 2 2*) Smt 1 2 2 4 4 4 3 3 3 3 2 2 2 2 2 2*) Smt 2 2 2 2 2 2 2*) B. Pendidikan Jasmani. dan Kesehatan 12. Seni Budaya 11. Olahraga. Jumlah 2*) Ekivalen 2 jam pembelajaran. Sejarah 10. Tasawuf/Ilmu Kalam 10. Matematika 6. Antropologi 9. Ushul Fiqih 9. Bahasa Indonesia 4. Sastra Indonesia 7. C. Bahasa Inggris 5. Keterampilan Bahasa Asing Muatan Lokal Pengembangan Diri Alokasi Waktu Kelas XI 3 4 4 2 2 2 2 2 2 2 2*) Kelas XII 3 4 4 2 2 2 2 2 2 2 2*) B. Ilmu Hadist 8. C. Bahasa Asing 8. dan Kesehatan 12. Olahraga. Seni Budaya 11.Komponen 5. STRUKTUR KURIKULUM KELAS XI [KHUSUS UNTUK MA] DAN 39 39 XII: PROGRAM KEAGAMAAN Komponen A. Teknologi Informasi dan Komunikasi 13. Pendidikan Jasmani. Matematika 6. Teknologi Informasi dan Komunikasi 13.

Satuan pendidikan SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK kategori mandiri menggunakan sistem kredit semester. 239 . Beban belajar kegiatan tatap muka per jam pembelajaran pada SMA/MA/SMALB/ SMK/MAK berlangsung selama 45 menit. Sistem Paket adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya diwajibkan mengikuti seluruh program pembelajaran dan beban belajar yang sudah ditetapkan untuk setiap kelas sesuai dengan struktur kurikulum yang berlaku pada satuan pendidikan. BEBAN BELAJAR Satuan pendidikan pada semua jenis dan jenjang pendidikan menyelenggarakan program pendidikan dengan menggunakan sistem paket atau sistem kredit semester. Beban belajar yang diatur pada ketentuan ini adalah beban belajar sistem paket pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Kedua sistem tersebut dipilih berdasarkan jenjang dan kategori satuan pendidikan yang bersangkutan. Semua itu dimaksudkan untuk mencapai standar kompetensi lulusan dengan memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik. penugasan terstruktur. Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik. Beban belajar dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengikuti program pembelajaran melalui sistem tatap muka.STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR Kedalaman muatan kurikulum pada setiap satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang terdiri atas standar kompetensi dan kompetensi dasar pada setiap tingkat dan/atau semester. dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Beban belajar setiap mata pelajaran pada Sistem Paket dinyatakan dalam satuan jam pembelajaran. Satuan pendidikan SMA/MA/SMALB kategori standar menggunakan sistem paket atau dapat menggunakan sistem kredit semester.

d.d.1216 jam pembelajaran (43520 – 48640 menit) 1292-1482 jam pembelajaran (58140 . minggu efektif belajar. IX 40 34-38 34-38 725-811 SMA/MA/ SMALB*) X s. Alokasi Waktu Permulaan tahun pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran pada awal tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan. XII 45 38-39 34-38 969-1111. Satu jam pembelajaran tatap muka (menit) Satuan Pendidikan Kelas Jumlah jam pembelajaran Per minggu Minggu Efektif per tahun ajaran Waktu pembelajaran per tahun 884-1064 jam pembelajaran (30940 – 37240 menit) 1088-1216 jam pembelajaran (38080 – 42560 menit 1088 .d.d. waktu pembelajaran efektif dan hari libur. VI 35 26-28 34-38 516-621 35 32 34-38 635-709 SMP/MTs/ SMPLB*) VII s.Beban belajar kegiatan tatap muka per minggu pada setiap satuan pendidikan untuk SMA/MA/SMALB/ SMK/MAK adalah 38 s.d XII 45 36 38 1026 (standar minimum) KALENDER AKADEMIK Kurikulum satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang diselenggarakan dengan mengikuti kalender pendidikan pada setiap tahun ajaran. Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiap tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan.d. Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran. 39 jam pembelajaran.5 SMK/MAK X s.66690 menit) 1292-1482 jam pembelajaran (58140 – 66690 menit) Jumlah jam per tahun (@60 menit) I s. Beban belajar kegiatan tatap muka keseluruhan untuk setiap satuan pendidikan adalah sebagaimana tertera pada tabel di bawah ini. III SD/MI/ SDLB*) IV s. 240 .

hari libur keagamaan. 5. Waktu libur dapat berbentuk jeda tengah semester. hari libur umum termasuk hari-hari besar nasional. jeda antar semester. Kegiatan Minggu efektif belajar Jeda tengah semester Jeda antarsemester Libur akhir tahun pelajaran Hari libur keagamaan Alokasi Waktu Minimum 34 minggu dan maksimum 38 minggu Maksimum 2 minggu Maksimum 2 minggu Maksimum 3 minggu 2 – 4 minggu Keterangan Digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif pada setiap satuan pendidikan Satu minggu setiap semester Antara semester I dan II Digunakan untuk penyiapan kegiatan dan administrasi akhir dan awal tahun pelajaran Daerah khusus yang memerlukan libur keagamaan lebih panjang dapat mengaturnya sendiri tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif Disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah Untuk satuan pendidikan sesuai dengan ciri kekhususan masing-masing Digunakan untuk kegiatan yang diprogramkan secara khusus oleh sekolah/madrasah tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif 2. ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri. 3. 1. 8. 241 . 7. waktu libur.Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu. 4. Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Juli setiap tahun dan berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya. libur akhir tahun pelajaran. No. Hari libur umum/nasional Hari libur khusus Kegiatan khusus sekolah/madrasah Maksimum 2 minggu Maksimum 1 minggu Maksimum 3 minggu Penetapan Kalender Pendidikan 1. dan kegiatan lainnya tertera pada tabel di bawah ini. Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan pembelajaran terjadwal pada satuan pendidikan yang dimaksud. meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh matapelajaran termasuk muatan lokal. dan hari libur khusus. Alokasi waktu minggu efektif belajar. 6.

242 . Pemerintah Pusat/Provinsi/Kabupaten/Kota dapat menetapkan hari libur serentak untuk satuan-satuan pendidikan. 3. dan/atau organisasi penyelenggara pendidikan dapat menetapkan hari libur khusus. 4.2. Kepala Daerah tingkat Kabupaten/Kota. Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh masingmasing satuan pendidikan berdasarkan alokasi waktu sebagaimana tersebut pada dokumen Standar Isi ini dengan memperhatikan ketentuan dari pemerintah/pemerintah daerah. Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional. dan/atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan.

SMA saat itu dinamakan dengan Algemene Middlebare School (AMS) yang merupakan sekolah elit hanya bagi peserta didik dari golongan masyarakat Eropa khususnya Belanda yang ada di bumi nusantara dan masyarakat pribumi kelas bangsawan. Namun sejak kolonial Jepang dan Republik Indonesia. Sekolah Belanda menggunakan pengantar bahasa Belanda. Pada intinya. kondisi. kurikulum baik secara langsung maupun tidak langsung menjadi tumpuan politik negara untuk mentransformasi dan melestarikan bidang kehidupan sosial dan budaya dari negara yang bersangkutan. Biasanya. dan seni. sedangkan sekolah pribumi 243 . KURIKULUM KURIKULUM SMA ZAMAN KOLONIAL Kurikulum AMS Masa Kolonial Belanda PROFIL 1. situasi. hasilnya menunjukkan bahwa perubahan kurikulum merupakan sesuatu hal yang bisa dan biasa terjadi kapan saja sesuai dengan berbagai tuntutan seperti politik. Perkembangan SMA atau nama lain yang setara sejak zaman kolonial Belanda sampai dengan zaman kemerdekaan disajikan dalam tabel berikut ini. Dari penelusuran Kurikulum SMA secara historis. Menyiapkan peserta didik dari kalangan elite kolonial Hindia-Belanda dan bangsawan pribumi untuk menjadi pegawai pemerintahan kolonial Hindia-Belanda.PENUTUP PROFIL KURIKULUM YANG PERNAH BERLAKU Perkembangan SMA yang dimulai pada zaman kolonial Belanda sampai dengan zaman Republik Indonesia tampak sangat dinamis. ilmu pengetahuan. Pada awal pendiriannya sekitar awal abad ke-20. SMA mulai dibuka bagi peserta didik dari semua tingkatan golongan masyarakat sepanjang memenuhi persyaratan untuk masuk SMA. kurikulum di suatu negara tidak akan terlepas dari tuntutan semua atau sebagian unsur-unsur tersebut. teknologi. dan kebutuhan lainnya yang terkait dengan perkembangan masyarakat.

Memberikan bekal kemampuan yang diperlukan bagi siswa yang akan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dan memberikan bekal kemampuan bagi siswa yang akan terjun ke dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikannya.. bahasa pengantar sekolah pribumi menggunakan bahasa Indonesia. dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. dan minat setiap peserta didik. KURIKULUM SMA ZAMAN REPUBLIK Kurikulum SMA Masa Perang Kemerdekaan Kurikulum SMA Masa Demokrasi Liberal Kurikulum SMA 1964 Gaya Baru Masa Demokrasi Terpimpin Kurikulum SMA 1968 Masa Demokrasi Pancasila Kurikulum SMA 1975 Masa Demokrasi Pancasila Kurikulum SMA 1984 Masa Demokrasi Pancasila Kurikulum SMU 1994 Masa Demokrasi Pancasila Kurikulum SMA 2004 (KBK) Masa Demokrasi Partisipatori (Reformasi) Kurikulum SMA 2006 Masa Demokrasi Partisipatori (Reformasi) 244 . Setelah tahun 1928. Bahasa daerah sebagai bahasa ibu boleh digunakan dalam proses pendidikan pada kelas rendah di sekolah dasar. Bahasa pengantar menggunakan bahasa Indonesia dan Jepang. Menguasai dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi. Membentuk manusia dan warga negara yang bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air. 2. serta juga mempunyai program pendidikan untuk siswa yang tidak akan melanjutkan studinya. Mempersiapkan siswa untuk pendidikan yang lebih tinggi. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan adalah bahasa pengantar dalam proses pendidikan. Menguasai dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan diri sesuai dengan kebutuhan. Melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial. Membentuk manusia dan warga negara yang bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air. bakat. budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemapuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi. Menyiapkan peserta didik dalam rangka membangun kawasan Asia Timur Raya yang kuat di bawah kekuasaan Jepang. Mulai dari Proklamasi Kemerdekaan 17-8-1945 dan seterusnya. memiliki etos dan budaya kerja. Menyiapkan manusia dan warga negara sebagai pelaksana dan pengamal Panca Sila dan Panca Wardana.KURIKULUM Kurikulum SMT Masa Kolonial Jepang PROFIL menggunakan bahasa Melayu. Membentuk manusia Panca Sila sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan seperti yang dikehendaki oleh Pembukaan UUD 1945 dan isi UUD 1945.

245 . implementasi kurikulum akan sangat tergantung kepada dukungan para birokrasi dan pembina pendidikan di lapangan dengan kebijakan-kebijakan operasionalnya. dan penilaian memiliki keterkaitan yang sangat erat dan saling mempengaruhi antar satu dengan yang lainnya. baik internal maupun eksternal. banyak hal yang bisa dijadikan sebagai pelajaran dan pengalaman dalam perjalanan hidup bangsa Indonesia untuk membangun sumber daya manusia yang diharapkannya pada setiap periode tertentu. pembelajaran. Kurikulum sebagai produk “consensus making” memuat rancangan segala perangkat mengenai isi atau bahan pelajaran dan cara-cara untuk menyampaikannya kepada para peserta didik. hal itu juga dapat menjadi bahan atau informasi yang berharga dalam merancang kurikulum di masa-masa yang akan datang. namun di dalam pelaksanaannya akan tergantung kepada kemampuan para kepala sekolah dan guru untuk menjabarkannya lebih lanjut di tingkat sekolah dan kelas. Sekaligus.EPILOG Apabila segala perubahan kurikulum di Indonesia dicermati dan dipelajari. Keberhasilan dan kegagalan dalam pelaksanaan suatu kurikulum akan dipengaruhi oleh banyak faktor. Hal itu menunjukkan bahwa kurikulum. Meskipun kurikulum sudah dirancang sebaik mungkin. yang disertai dengan prosedur dan teknik penilaian terhadap pencapaiannya. Selain itu juga.

& Lorna KS Chan. “Adolescent Storm and Stress. Rencana Pelajaran dan Pendidikan Sekolah Menengah Atas Gaya Baru. Kurikulum Sekolah Menengah Atas Tahun 1984. Departeman Pendidikan dan Kebudayaan. (1968).KEPUSTAKAAN American Architectural Foundation. (1930). Rencana Pendidikan dan Pelajaran Sekolah Menengah Atas 1968. Cole. Jilid II. Dewantara. Kurikulum Sekolah Menengah Atas Tahun 1984. 317-326. (2001). Jakarta: Depdikbud. Kejuruan. Jakarta: Balai Pustaka. Juli – Agustus. (1975). (2004). -------. Ki-hajar. Dokumentasi Bangunan Kolonial Kota Bandung. Jakarta: Direktorat Pendidikan Umum. (1999). Reconsidered. Jeffrey Jensen. Benjamin S. (2009). Benjamin S. No. Pendidikan di Indonesia: Dari Jaman ke Jaman. Armstrong. Departemen Pendidikan Dasar dan Kebudayaan. (1996). Vol. Thomas Hasting. New York: Prentice Hall. -------. Madaus. J. Wasita. & George F. Bloom. Boston. Bavid G. 54. Teaching Principles and Practice. dan Kursus-Kursus. Bandung: Disbudpar Jabar. 1 – 2. Developing and Documenting the Curriculum. -------.” American Psychologist. Jakarta: Depdikbud. (2005). (1994). Human Characteristics and School Learning. Jakarta: Balai Pustaka. CV. “Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran”. Depatemen Pendidikan Nasional. (1964). MA: Allyn and Bacon. DC: KnowledgeWorks. New York: McGraw-Hill Book Company. (1986). Aunurrahman. New York: Mc-Graw-Hill Company. ALFABETA. Washington. (1984). No. Report from the National Summit on School Design. Arnett. Jakarta: Depdikbud. 5.. Belajar dan Pembelajaran. (1976). 246 . Bandung: Penerbit Bloom. Jakarta: Pusat Kurikulum. Kurikulum Sekolah Menengah Atas Tahun 1975. (1989). Peter G. Kurikulum Berbasis Kompetensi [Kurikulum 2004]. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat. Handbook on For-mative and Summative Evaluation of Student Learning. -------. (1971).

IL: Scott. Kurasawa. & Nugroho Notosutanto. National Standards in American Education. Schwier and Alfred N. New York: Mac-Millan Publishing Company. New York: Longman. Miller. Diane. Curriculum: Perspectives and Practices. 55 Tahun (1942–1997) SMA 3 Yogyakarta. Ravitch. Hasan. New York: Longman. & Jere E. (1990). Tokyo: Kita Zai Sei Kon. (2009). Aiko. Marwati Djoened Poesponegoro. Washington. Foresman and Co. (1975-a). Kartono. Jilid VI. Sejarah Nasional Indonesia. Sejarah Nasional Indonesia. (1975-b). Kartini. DC: Brooking Institution Press.D. (1987). (1997). Translated by Ann S. (1999). (2008). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Manuale di economia politica (Manual of political economy). Sartono. Page. (1975-c). Hirsch. New York: A. Kartodirdjo. (1997). Jerald. Kelley. Jilid IV. Glenview. (1985). Tinjauan Politik mengenai Sistem Pendidikan Nasional: Bebarapa Kritik dan Sugesti. Hamid S. Vilfredo. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Anwar. Strategi Pembelajaran berorientasi pada Standar Proses Pendidikan. Jilid V. Wina. Daniel H. Educational Psychology: A Realistic Approach. Bandung: Kerjasama antara UPI Bandung dan PT Remaja Rosdakarya. Edited by Ann S. Jakarta: Pradnya Paramita. Curriculum Leadership. Yogyakarta. Norman E. -------. Allan A. (1995). Good.Glatthorn. Yogyakarta: Ikatan Alumni Padmanaba. Craig D. Jasin. Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Thomas L. A Whole New Mind. Alexandria. Pareto. -------. New York: Anchor Books Double Day. Schwier. (2009). Jakarta: Balai Pustaka. Measurement and Evaluation in Teaching. The Schools We Need and Why We Don’t Have It. Pink. Translation of French edition from 1927. Broophy. 247 . Pembaharuan Kurikulum Sekolah Dasar Sejak Proklamasi Kemerdekaan. Jawa ni okeru Bunkyô no Gaikyô (Japanese Educational Policy in Java). (1991). & Wayne Seller. (1976). VA: The Center for Public Education. Defining A 21st Century Education. Sanjaya. E. Gronlund. Sekolah Menengah Atas Negeri 3. John P. (2006). Evaluasi Kurikulum.M. 1971. (1987). New York: Rinehead Books. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

The Global Achievement Gap. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Tilaar. San Fransisco.Sudjana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. (2008). A Member of the Perseus Books Group. New York: Basic Books. 248 . Nana. Bernie & Charles Fadel. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (2004). (2009). Trilling. Kebijakan Pendidikan. 21st Century Skills: Learning for Life in Our Times. Wagner. CA: Jossey-Bass Publishing Co. HAR & Riant Nugroho. (2009). Tony.

Related Interests