KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya, juga shalawat beriring salam semoga selalu tercurah kepada baginda Rasulullah SAW yang telah memberikan sinar kehidupan yang berupa ilmu pengetahuan. Alhamdulillah untaian kalimat syukur tak henti-hentinya penulis ucapkan karena dengan Anugerah dari Allah SWT penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Analisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie”. Untuk memenuhi salah satu syarat agar dapat menyelesaikan studi dan meraih gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Syiah Kuala. Dalam kesempatan ini pula, penulis dengan kerendahan hati yang amat dalam dan ketulusan hati ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membimbing, membantu dan memotivasi, serta mendoakan penulis dalam proses penulisan skripsi ini. Ucapan Terima Kasih terutama kepada: 1. Kedua orang tua yang sangat penulis sayangi dengan penuh cinta penulis persembahkan untuk Ayahanda Ruslan Insya, SP dan Ibunda Nurbaidah, yang telah rela berkorban jiwa dan raganya hanya untuk anak-anaknya tercinta dengan selalu mendoakan kami siang dan malam, menyayangi kami serta membimbing kami agar menjadi anak yang berguna bagi nusa, bangsa dan

v

agama. Terima kasih untuk ayahanda dan ibunda segala cinta, doa, nasehat, dan
dukungannya, semoga Allah menjadikan putrimu ini amal yang tak terputus bagimu.

2.

Kakak saya Samsidar, SP dan abang saya Samsuwar, SE yang selalu mendukung, memberi semangat, dan selalu mendoakan saya.

3.

Bapak Aliamin, SE, M.Si, Ak, selaku dosen pembimbing yang telah banyak mengorbankan waktu dan pikirannya untuk mengarahkan dan membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

4.

Bapak Dr. Muhammad Arfan, S.E., M.Si., Ak. Selaku ketua jurusan akuntansi.

5.

Ibu Lilis Maryasih, S.E., M.Si., Ak. Selaku sekertaris jurusan akuntansi dan selaku komisi ujian sidang yang telah banyak memberikan dukungan, semangat dan masukan kepada penulis.

6.

Ibu Dra. Fauziah Aida Fitri, SE, M.Si, Ak, dan Bapak Riha Dedi Priantana, SE, M.Si, Ak. Masing-masing selaku ketua dan sekretaris Laboraturium Program Studi Akuntansi yang telah memotivasi dan membantu penulis dan membantu penulis dalam proses pengajuan judul sampai persetujuan hasil seminar proposal skripsi.

7.

Ibu Dr. Darwanis, SE, M.Si. AK. Sebagai dosen pembahas pada seminar yang telah banyak memberikan masukan dan perbaikan terhadap proposal skripsi yang diseminarkan.

8.

Ibu Raida Fuadi, SE, MM, Ak. . Sebagai dosen pembahas pada seminar yang telah banyak memberikan masukan dan perbaikan terhadap proposal skripsi yang diseminarkan.

vi

9.

Ibu Rahmawati, SE, M.Si, AK. Sebagai komisi ujian sidang yang telah menguji penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan ujian dengan hasil yang memuaskan.

10. Seluruh staf jurusan akuntansi Pak Masri, Kak Delsi, Kak Sur, Bang Zaini, Bang Adi yang telah banyak membantu dalam proses penulisan skripsi dan pengurusan administrasi. 11. Bapak Drs. Ridwan Ibrahim, MM, AK selaku dosen wali yang telah banyak memberikan nasehat dan semangat kepada penulis. 12. Bapak Dr. Mirza Tabrani, MBA selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala. 13. Staf Pustaka Jurusan Akuntansi dan Laboraturium, terima kasih untuk dukungannya. 14. dr. Rina Nofrienis dan Keluarga yang telah memberikan dukungan, semangat dan mendoakan saya. 15. Buat sahabat-sahabat saya Ari Wulandari, Amd, Cut Yuliana, Spd, Dewi Mutia, SE, Irsina, Amd, dan Juniar Afrida, SPd yang memberi dukungan dan mendoakan saya dari awal hingga akhir penelitian. 16. Buat teman-teman EKA 06 yuni, emma, suci, fitri, mira, karinda, dan lainlain. Buat kak nanda dan ina yang selalu membantu saya dalam penyelesaian skripsi. 17. Buat nenes, ayu, kak eci atas semangat dan dukungannya dari awal hingga ahkir penyelesaian penelitian.

vii

18. Buat adik leting oza, intan, lia, ria, ayu, widya, fitri, nidar, dewi, dan lain-lain yang tidak disebutkan atas doa dan dukungannya. Dan akhirnya kepada semua pihak yang telah banyak membantu baik yang disebutkan namanya maupun yang tidak disebutkan satu persatu, terima kasih banyak untuk semuanya, semoga amal kebaikan dan keikhlasan ini mendapat balasan dari Allah SWT. Amin Ya Rabbal Alamin.

Banda Aceh, 23 Mei 2013 Penulis

VERANURULHAFNI

viii

ABSTRACT

This research aims to analyze the performance of the District Budget (APBK) Local Goverment Pidie for the year 2007-2011 by using financial ratio analysis. The analytical method used was the area of financial independence ratio, effectiveness and efficiency ratios, activity ratio, debt service coverage ratio (DSCR), and growth ratio. The data type used is secondary data gotten from the Office of Financial Management and Wealth Area (DPKKD) Pidie. The statistic methods used to test the performance of the District Goverment APBK Pidie is statistic descriptive. The results show that the financial independent ratio of the region is known that dependence Pidie District to external funding is still very high. For effectiveness and efficiency ratio show that Pidie performance is not good. Based on the activity ratio known that the most dominant expense is rountine non for development expense. The debt service coverage ratio (DSCR) known that the government can make loans to third parties. The growth ratio of local government performance Pidie regency is good during 5 years.

Keywords: Performance, Financial Ratio Analysis, APBK

ix

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie tahun 20072011 dengan menggunakan analisis rasio keuangan. Metode analisis yang digunakan adalah rasio kemandirian keuangan daerah, rasio efektifitas dan efisiensi, rasio aktivitas, debt service coverage ratio (DSCR), dan rasio pertumbuhan. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan daerah (DPKKD) Kabupaten Pidie. Metode statistik yang digunakan untuk menganalisis kinerja APBK Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie adalah statistik deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rasio kemandirian keungan daerah diketahui bahwa ketergantungan kabupaten pidie kepada dana eksternal masih sangat tinggi. Untuk rasio efektifitas dan efisiensi menunjukkan kinerja Kabupaten Pidie tidak baik. Berdasarkan rasio aktivitas diketahui bahwa nelanja yang paling dominan adlah belanja untuk keperluan rutin bukan untuk belanja keperluan pembangunan. Untuk debt service coverage ratio (DSCR) diketahui bahwa pemerintah dapat melakukan pinjaman kepada pihak ketiga. Berdasarkan rasio pertumbuhan kinerja pemerintah daerah kebupaten pidie selama 5 tahun sudah baik.

Kata Kunci : Kinerja, Analisis Rasio Keuangan, APBK

x

DAFTAR ISI

Halaman KATA PENGATAR .......................................................................................... ABSTRACT .......................................................................................................... ABSTRAK .......................................................................................................... DAFTAR ISI ....................................................................................................... v ix x xi

DAFTAR TABEL............................................................................................... xiv DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xv

LAMPIRAN ....................................................................................................... xvi BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1.1 Latar Belakang Masalah .................................................................. 1.2 Rumusan Masalah ........................................................................... 1.3 Tujuan Penelitian............................................................................. 1.4 Kegunaan Hasil Penelitian .............................................................. 1.4.1 Kegunaan Praktis (Operasional) ........................................... 1.4.2 Kegunaan Akademis (Teoretis) ............................................ 1 1 8 8 8 8 9

BAB II KAJIAN PUSTAKA ........................................................................... 2.1 Kajian Pustaka................................................................................. 2.1.1 Pengertian Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten/Kota (APBK) ..................................................... 2.1.2 Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) ............................................................................... 2.1.3 Analisis Keuangan Daerah ..................................................

10 10

10

14 15

xi

2.1.3.1 Rasio Kemandirian keuangan daerah ...................... 2.1.3.2 Rasio Efektivitas dan Efesiensi ............................... 2.1.3.3 Rasio Aktivitas.......................................................... 2.1.3.4 Debt Service Coverage Ratio (DSCR) ................... 2.1.3.5 Rasio Pertumbuhan .................................................. 2.1.4 Penelitian Terdahulu .............................................................

16 17 19 19 21 21

BAB III METODE PENELITIAN .................................................................. 3.1 Desain Penelitian .......................................................................... 3.2 Populasi dan Sampel ...................................................................... 3.3 Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data ............................... 3.4 Opersioanalisasi Variabel ............................................................. 3.4.1 Rasio Kemandirian Keuangan Daerah ................................ 3.4.2 Rasio Efektivitas dan Efisiensi ............................................ 3.4.3 Rasio Aktivitas ..................................................................... 3.4.4 Debt Service Coverage Ratio .............................................. 3.4.5 Rasio Pertumbuhan .............................................................. 3.5 Metode Analisis Data .....................................................................

25 25 26 26 27 27 28 29 29 30 32

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................... 4.1 Gambaran Umum Kabupaten Pidie .............................................. 4.1.1 Sejarah Singkat Kabupaten Pidie ........................................ 4.1.2 Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Kabupaten Pidie ............... 4.1.3 Struktur Organisasi Kabupaten Pidie .................................. 4.2 Hasil Penelitian dan Pembahasan ................................................. 4.2.1 Analisis Rasio Kemendirian Keuangan Daerah ................. 4.2.2 Analisis Rasio Efektitas dan Efisiensi ................................ 4.2.3 Analisis Rasio Aktivitas ...................................................... 4.2.4 Analisis Debt Service Carverge Ratio (DSCR) .................
xii

33 33 33 34 37 39 39 41 44 45

4.2.5 Analisis Pertumbuhan ..........................................................

46

BAB V KESIMPULAN , KETERBATASAN, DAN SARAN .................... 5.1 Kesimpulan .................................................................................... 5.2 Keterbatasan ................................................................................... 5.3 Saran ............................................................................................... DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................

49 49 50 50 52

xiii

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1.1 Laporan Realisasi APBK Kabupten Pidie ......................................... Tabel 2.1 Kategori Kemandirian Daerah ............................................................ Tabel 2.2 Kategori Kemampuan Efektivitas Daerah ......................................... Tabel 2.3 Kategori Kemampuan Efesiensi Daerah ............................................ Tabel 2.4 Penelitian Terdahulu............................................................................ Tabel 3.1 Definisi dan Operasionalisasi Variabel .............................................. Tabel 4.1 Rasio Kemandirian Keuangan Daerah Kabupaten Pidie ................. Tabel 4.2 Rasio Efektifitas dan Efisiensi Kabupaten Pidie .............................. Tabel 4.3 Rasio Aktivitas .................................................................................... Tabel 4.4 Debt Service Carverage Ratio ........................................................... Tabel 4.5 Rasio Pertumbuhan APBK Kabupaten Pidie .................................... 6 17 18 19 23 31 40 42 44 45 47

xiv

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 4.1 Struktur Organisasi Kabupaten Pidie ........................................... 37

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1: Laporan Realisasi Anggaran Tahun 2007 ........................................... 55 Lampiran 2: Laporan Realisasi Anggaran Tahun 2008 ........................................... 58 Lampiran 3: Laporan Realisasi Anggaran Tahun 2009 ........................................... 61 Lampiran 4: Laporan Realisasi Anggaran Tahun 2010 ........................................... 64 Lampiran 5: Laporan Realisasi Anggaran Tahun 2011 ........................................... 67 Lampiran 6: Perhitungan Kemandirian Daerah PAD Pemerintah Daerah Kabuapaten Pidie Tahun 2007-2011 ...................................... 70 Lampiran 7: Perhitungan Rasio Efektifitas Keunagan Daerah Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie tahun 2007-2011 ...................................................... 70 Lampiran 8: Perhitungan Rasio Efisiensi Keunagan Daerah Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie tahun 2007-2011 ....................................................... 71 Lampiran 9: Perhitungan Rasio Aktivitas Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie Tahun 2007-2011 .................................................................................. 71 Lampiran 10: Perhitungan Debt Service Coverage Ratio (DSCR) Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie Tahun 2007-2011 ....................................... 72

xvi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Reformasi keuangan daerah di Indaonesia telah terjadi ditandai dengan diberlakukannya UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintahan Pusat dan Daerah. Reformasi keuangan tersebut merupakan titik tolak bagi pemerintah untuk meninggalkan sistem pemerintahan yang disentralisasi menuju sistem pemerintah baru yang terdesentralisasi. Kedua undang-undang tersebut telah direvisi, UndangUndang No. 22 Tahun 1999 telah diubah menjadi Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Perimbangan Daerah dan Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 telah diubah menjadi Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, akan terjadi beberapa perubahan yang

mendasar didalam penyelenggaraan sistem pemerintah daerah, termasuk pelaksanaan manajemen keuangan pemerintah daerah. Perubahan tersebut antara lain pada perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan/pengendalian pengelolaan keuangan dan daerah. Sesuai dengan undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, pemerintah daerah diberi kewenangan yang luas dalam menyelenggarakan semua urusan pemerintah mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, 1

2

pengendalian dan evaluasi kecuali kewenangan bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter, fiskal, agama dan kewenangan lain yang ditetapkan peraturan pemerintah. Pemberlakuan UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antaran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, keputusan Menteri Dalam Negeri N0. 29 tahun 2002 tentang Pedoman Penyusunan, Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta tata cara penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupten/Kota (APBK). Pelaksanaan tata usaha keuangan daerah dan penyusanan APBK dan UU N0. 17 tahun 2003 tentang Sistem Pelaporan Keuangan yang berbasis kepada Internasional Public Sector Accounting Standart (IPSAP) telah membawa perubahan yang sangat mendasar dalam hubungan antar pemerintah khususnya pada sistem pemerintah otonomi daerah di Indonesia. Pelaksanaan otonomi daerah yang luas dan utuh merurut UU tentang Pemerintahan Daerah akan dilaksanakan oleh kabupaten dan kota (daerah tingkat II), sendangkan otonomi daerah provinsi merupakan otonomi yang terbatas. Antara daerah otonom provinsi denngan daerah otonom kabupaten dan kota tidak mempunyai hubunngan hirarki. Kedudukan provinsi adalah sebagi daerah otonomi sekaligus daerah administrasi, yaitu wilayah kerja gebernur dalam melaksanakan fungsi-fungsi kewenangan pusat yang dilegasikan kepadanya. Pemberian otonomi daerah pada daerah kabupaten dan kota dalam undang-undang ini diselenggarakan atas dasar otonomi luas.

3

Pemberian hak otonomi daerah kepada pemerintah daerah untuk menentukan APBK sendiri sesuai dengan kebutuhan dan potensi daerah. APBK yang dituangkan dalam bentuk kebijaksanaan keuangan pemerintah daerah merupakan salah satu pemicu pertumbuhan perekonomian suatu daerah. Menurut Hariyanto (2007:18), prinsip otonomi nyata adalah suatu prinsip yang menegaskan bahwa urusan pemerintah dilaksanakan berdasarkan tugas, wewenang, dan kewajiban yang senyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh, hidup, dan berkembang sesuai dengan potensi daerah. Halim (2004;18) menyatakan bentuk APBK yang baru berupa, Pendapatan dibagi menjadi tiga kategori yaitu Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan, dan Lain-lain Pendapatan yang Sah. Selanjutnya Belanja digolongkan menjadi empat yaitu Belanja Aparatur Daerah, Belanja Pelayanan Publik, Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan, dan Belanja tak Tersangka. Belanja Aparatur Daerah diklasifikasikan menjadi tiga kategori yaitu Belanja Administrasi Umum, Belanja Operasi dan Pemeliharaan; dan Belanja Modal/Pembangunan. Belanja Pelanyanan Publik dikelompokkan menjadi tiga yakni Belanja Administrasi Umum; Belanja Operasi dan Pemeliharaan; dan Belanja Modal. Pembiayaan, seperti telah disebutkan diatas, adalah sumber-sumber penerimaan dan pengeluaran daerah yang dimaksudkan untuk menutup defisit anggaran atau sebagai alokasi surplus anggaran. Pembiayaan dikelompokan menurut sumber-sumber pembiayaan, yaitu: sumber penerimaan daerah dan sumber pengeluaran daerah.

4

Menurut struktur APBK yang berlaku sekarang, pengeluaran daerah terdiri dari dua komponen yakni pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan. Pengeluaran rutin merupakan total beban pemerintah daerah yang terdiri dari Belanja Pegawai dan Belanja non Pegawai yang secara terus menerus dibiayai tiap periode. Pengeluaran pembangunan adalah total beban pemerintah daerah yang berupa proyek fisik maupun non fisik dalam suatu periode tertentu (Sumarno, 2009). Kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi, dan visi organisasi (LAN) (2003:3). Kinerja dapat diketahui keberhasilan dengan adanya tujuan dan target yang telah ditetapkan. Kinerja merupakan segala sesuatu yang dibutuhkan agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan untuk menghasilkan keluaran, dapat berupa dana, sumber daya manusia, informasi, kebijakan /peraturan perundangundangan (input). Kinerja merupakan sesuatu yang diharapkan langsung dicapai dari suatu kegiatan yang dapat berupa fisik/non fisik (output). kinerja merupakan segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran kegiatan pada jangka menengah (outcome). Kinerja merupakan pengaruh yang ditimbulkan baik positif maupun negatif terhadap tindakan indicator yang berdasarkan asumsi yang telah ditetapkan (impact). Kinerja merupakan segala sesuatu yang terkait dengan tujuan akhir dari pelaksanaan kegiatan (benefit) (Bastian, 2006:267). Kinerja anggaran pemerintah daerah selalu dikaitkan dengan bagaimana sebuah unit kerja pemerintah daerah dapat mencapai tujuan kerja dengan alokasi anggaran yang tersedia. Dalam melakukan pengukuran kinerja pada pemerintah

5

daerah sudah selayaknya menunggalkan pandangan tradisional dan beralih pada pandangan modern. Hal ini karena semua jasa dan produk yang dihasilkan pemerintah ditujukan untuk memenuhi harapan (masyarakat) (Ekawarna, dkk, 2009). Menurut Wahyuni (2010) pengukuran kinerja sangat penting untuk menilai akuntabilitas pemerintah daerah dalam melakukan pengelolaan keuangan daerah. Akuntabilitas bukan sekedar kemampuan menunjukan bagaimana uang publik dibelanjakan, akan tetapi meliputi kemampuan yang menunjukan bahwa uang publik tersebut telah dibelanjakan secara ekonomis, efesien, dan efektif. Menurut Susantih dan Yulia: “pemerintah daerah tdak akan dapat melaksanakan fugsinya dengan efektif dan efisien tanpa biaya yang cukup untuk memberikan pelayanan dan pembangunan. Sumber daya keuangan inilah yang merupakan salah satu dasar kriteria untuk mengetahui secara nyata kemampuan daerah dalam mengurus rumah tangganya sendiri. Dengan demikian masalah keuangan merupakan masalah penting dalam setiap kegiatan pemerintah didalam mengatur dan mengurus rumah tangga daerah”. dan keinginan pelanggan

Menurut Mahmudi (2010:8-9) laporan keuangan daerah sudah bersifat general purposive, artinya dibuat lebih umum dan sesederhana mungkin untuk memenuhi kebutuhan infomasi semua pihak, tetapi tidak semua pihak pembaca laporan keuangan dapat memahami laporan tersebut dengan baik perlu dibantu dengan analisis laporan keuangan. Analisis laporan keuangan dimaksud untuk membantu bagaimana cara memahami laporan keuangan, bagaimana menafsirkan angka-angka dalam laporan keuangn, bagaimana mengevaluasi laporan keuangan, bagaimana

6

menggunakan informasi keuangan untuk pengambilan keputusan, dan bagaimana mengevaluasi kinerja keuangan organisasi. Berdasarkan uraian diatas Pemerintah Kabupaten Pidie menyusun APBK sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Penyusunan APBK didasarkan pada Permendragri No. 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Salah satu anggaran yang disusun oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie yaitu Laporan Realisasi Anggaran, seperti pada Tabel 1.1:

Tabel 1.1 Laporan Realisasi APBK Kabupaten Aceh Pidie Tahun 2007 2008 2009 2010 2011 pendapatan Belanja Pembiayaan

594.942.068.996 592.775.864.556 13.487.822.392 492.340.704.688 507.303.646.581 15.654.026.833 545.563.424.598 543.942.642.377 613.205.475.163 604.047.305.266 691.084.920 2.311.867.141

733.890.903.240 731.544.336.687 11.470.009.490

Sumber: Dinas PKKD 2012

Berdasarkan laporan realisasi APBK Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie mencerminkan pertumbuhan daerah dari tahun 2007-2011. Pertumbuhan keuangan daerah dapat mempengaruhi kinerja keunagan. Untuk mengetahui kinerja keuangan daerah dapat diukur dengan analisis laporan keuangan. Kemampuan mengelola dan

7

memanfaatkan sumber dana yang ada tercermin pada APBK. Salah salah alat untuk menganalisis kinerja APBK adalah dengan melakukan analisis rasio keuangan untuk mengetahui bagaimana kinerja pemerintah dalam pengelolaan keuangan daerah. Penelitian ini merupakan penelitian replikasi dari penelitian Ekawarna dkk, yang membedakan penelitian ini adalah objek dan tahun pengamatan. Dalam penelitian sebelum menggunakan analisis rasio kemandiran daerah, rasio efektivitas dan efisiensi, rasio aktivitas dan rasio pertumbuhan, dalam penelitian ini menambahkan analisis DSCR (debt service coverage ratio). DSCR adalah rasio untuk mengukur kempuan pemrintah daerah dalam membayar kembali pinjaman daerah. Penambahan rasio DSCR dikarenakan pada pemerintah yang manjadi tempat penelitian melakukan pinjaman pada pihak ketiga. Dengan demikian peneliti ingin mengetahui bagaimana kempuan pemerintah dalam mengembalikan atau membayar kembali pinjaman daerah. Maka berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk melakuakan penelitian mengenai ”Analisis Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie”.

8

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang diuraikan sebelumnya, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten/Kota (APBK) Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie pada Periode 2007-2011 dengan menggunakan analisis rasio keuangan.

1.3 Tujuan Penelitian Sesuai dengan perumusan masalah yang telah disebutkan sebelumnya, maka penelitian ini mempunyai tujuan: Untuk menganalisis kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja

Kabupaten/Kota (APBK) Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie Periode 2007-2011 dengan menggunakan analisis rasio keuangan.

1.4 Kegunaaan Hasil Penelitian 1.4.1 Kegunaan Praktis Berdasarkan kegunaan praktis tersebut, maka penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain : 1. Bagi Pemerintah Untuk membuat suatu kebijakan dan strategi dalam memperbaiki kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten/Kota diperiode selanjutnya.

9

1.4.2 Kegunaan Akademik Berdasarkan kegunaan akademis tersebut, maka penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain: 1. Bagi penulis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan ilmu pengetahuan terutama dalam kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten/Kota. 2. Bagi Peneliti Selanjutnya Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar atau referensi untuk peneliti selanjutnya yang tertarik dalam bidang yang sama.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Pengertian Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten/kota (APBK) Di Indonesia, dokomen anggaran daerah disebut Anggaran Pendapatan dan Balanja Daerah (APBD), baik untuk propinsi maupun kabupaten dan kota. Proses penyusunan anggaran pasca UU Nomor 22 Tahun 1999 (dan UU Nomor 32 Tahun 2004) melibatkan dua pihak eksekutif dan legeslatif, masing-masing melalui sebuah tim atau panitia anggaran. Adapun eksekutif sebagai pelaksana opersionalisasi daerah berkewajiban membuat draft/rancangan APBK yang hanya bisa diimplementasikan kalau sudah disahkan oleh DPRK dalam proses ratifikasi anggaran (Wahyuni, dkk, 2009). Anggaran pemerintah berisi rencana kegiatan yang dipresentasikan dalam bentuk rencana perolehan pendapatan dan belanja dalam satuan moneter. Dalam bentuk paling sederhana, anggaran pemerintah merupakan suatu dokumen yang menggambarkan kondisi keuangan yang meliputi informasi mengenai pendapatan, belanja, dan aktivitas. Anggaran berisi estimasi mengenai apa yang akan dilakukan di masa yang akan datang (Wahyuni, dkk, 2009). Menurut Halim, (2009:238) APBK merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam masa 1 (satu) tahun anggaran, terhitung mulai 1 januari sampai dengan
10

11

tanggal 31 desember. Dalam pasal 192 UU No. 32 tahun 2004 diatur tentang pelaksanaan tatausaha keuangan daerah, dimana pasal 192 berbunyi: 1. Semua penerimaan dan pengeluaran per daerah dianggarkan dalam APBK dan dilakukan melalui rekening kas daerah yang dikelola oleh Bendahara Umum Daerah. Untuk setiap pengeluaran atas beban APBK, diterbitkan surat keputusan otorisasi oleh kepala daerah atau surat keputusan lain yang berlaku sebagi keputusan otorisasi. Pengeluaran tidak dapat dibebankan pada anggaran belanja jika untuk pengeluaran tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dalam anggaran. Kepala daerah, wakil kepala daerah, pimpinan DPRD, dan pejabat daerah lainnya, dilarang melakukan pengeluaran atas beban anggaran laporan daerah untuk tujuan lain dari yang telah ditetapkan dalam APBK

2.

3. 4.

Menurut Sumarno, (2009) anggaran mempunyai tiga fungsi kegunaan pokok yaitu sebagai pedoman kerja, sebagai alat pengkoordinasi kerja serta sebagai alat pedoman kerja. Dengan melihat kegunaan pokok dan anggaran pokok tersebut maka pertumbuhan APBK dapat berfungsi: 1. Fungsi perencanann, dalam perencanaan APBK adalah tujuan yang akan dicapai sesuai dengan kebijaksanaan yang telah disepakati, misalnya target penerimaan yang dicapai, jumlah investasi yang akan ditambah, rencana pengeluaran yang akan dibiayai. 2. Fungsi koordinasi anggaran berfungsi sebagai alat mengkoordinasikan rencana dan tingkatan berbagai unit atau segmen yang ada dalam organisasi agar dapat bekerja secara selaras kearah tercapainya tujuan yang diharapkan. 3. Fungsi komunikasi jika yang dikehendaki dapat berfungsi secara efisien maka saluran komunikasi terhadap berbagai unit dalam pencapaian informasi yang berhubungan dengan tujuan, startegi, kebijaksanaan, pelaksanaan dan penyimpangan yang timbul dapat teratasi. 4. Fungsi motivasi anggaran berfungsi pula sebagai alat untuk memotivasi para pelaksana dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan untuk mencapai tujuan. 5. Fungsi pengendalian sebagai alat-alat pengendalian dan evaluasi, anggaran dapat berfungsi sebagai alat-alat pengendalian yang pada dasarnya dapat membandingkan antara rencana dengan pelaksanaan sehinnga dapat ditentukan penyimpangan yang timbul dan penyimpangan tersebut sebagai dasar evaluasi atau penilaian prestasi dan sekaligus merupakan umpan balik pada masa yang akan.

12

Berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah, Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten/kota (APBK) didefinisikan sebagai rencana operasional keuangan pemerintah daerah, dimana satu pihak menggambarkan pemikiran pengeluaran guna membiayai kegiatan-kegiatan dan proyek-proyek daerah dalam satu tahun anggaran tertentu dan dipihak lain menggambarkan perliraan penerimaan dan sumber-sumber penerimaan daerah guna menutupi pengeluaran-pengeluaran yang dimaksud. Sebelumnya pada era orde lama, terdapat pula definisi APBK yang dikemukakan oleh Wajong (dalam Halim, 2007;20). Menurutnya, APBK adalah rencana pekerjaan keuangan (financial workplan) yang dibuat untuk suatu jangka waktu ketika badan legeslatif (DPRK) memberikan kredit kepada badan eksekutif (kepala daerah) untuk melakukam pembiayaan guna kebutuhan rumah tangga daerah sesuai dengan rencana yang menjadi dasar (grondslag) penetapan anggaran, dan yang menunjukkan semua penghasilan untuk menutup pengeluaran tadi. APBK adalah suatu anggran daerah. Kedua definisi tersebut menunjukkan bahwa sesuatu anggaran daerah termasuk APBK, memiliki unsur-unsur sebagai berikut: 1. 2. Rencana kegiatan suatu daerah, beserta uraiannya secara rinci. Adanya sumber penerimaan yang meruapakan target minimal untuk menutupi biaya terkait aktivitas tersebut, dan adanya biaya yang merupakan batas maksimal pengeluaran yang akan dilaksanakan.

13

3. 4.

Jenis kegiatan dan proyek yang dituangankan dalam bentuk angka. Periode anggaran, biasanya satu tahun. Menurut Susetyo, (2001:12) APBK juga didefinisikan suatu rencana keuangan

tahunan daerah yang ditetapkan berdasarkan peraturan daerah. Dengan demikian APBK merupakan alat/wadah untuk menampung berbagai kepentingan publik yang diwujudkan melalui kegiatan dan program dimana pada saat tertentu manfaatnya benar-benar akan dapat dirasakan oleh masyarakat. Kepmendagri No. 29 Tahun 2002 menjelaskan komponen pokok dalam penyusunan APBK dengan pendekatan kinerja adalah penyusunan dan kebijakan umum APBK, Penyusunan Usulan Program, kegiatan, dan Anggaran satuan/unit Kerja. Arah dan Kebijakan umumnya digunakan sebagai dasar penyusunan rancangan APBK, memuat komponen pelayanan dan tingkat pencapaian yang diharapkan pada setiap bidang kewenangan pemda yang akan dilaksanakan dalam satu tahun anggaran. Komponen dan Kinerja pelayanan disusun berdasarkan aspirasi masyarakat dengan mempertimbangkan kondisi dan kemampuan daerah. Dengan demikian lebih akomodatif dan realistik, karena telah dilakukan penjaringan aspirasi masyarakat dan pertimbangan faktor kemampuan daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 105 tahun 2000 (sekarang diganti dengan PP nomor 58 tahun 2005), tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, dalam ketentuan umumnya menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka

14

penyelenggaraan pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan daerah tersebut, dalam kerangka APBK. Keuangan daerah menurut Mamesah (Halim, 2007:23) adalah semua hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang, demikian pula segala sesuatu baik berupa uang yang dapat dijadikan kekayaan daerah sepanjang belum dimiliki/dikuasai oleh negara atau daearah yang lebih tinggi serta pihak-pihak lain sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Keuangan daerah memiliki ruang lingkup yang terdiri dari atas keuangan daerah yang dikelola langsung dan kekayaan daerah yang dipisahkan. Yang termasuk dalam keuangan daerah yang dikelola langsung adalah APBK dan barang-barang inventaris milik daerah, sedangkan keuangan daerah yang dipisahkan adalah BUMN. Disamping itu, pengurusan akuntansi keuangan daerah juga dibagi menjadi dua, yaitu pengurusan umum dan pengurusan khusus (berkaitan dengan pembendaharaan).

2.1.2 Kinerja Anggran Pendapatan dan Belanja Kabupaten/Kota Permendagri No. 13 Tahun 2006 (Bab 1, Pasal 1:37) pengertian kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang akan atau telah dicapai sehubungan dengan pengguanaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas yang terukur. Menurut Mahsun (2006;25) kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi, dan visi organisasi yang tertuang dalam strategic planning suatu organisasi.

15

Halim (2007) laporan kinerja berisikan dari masing-masing kegiatan dan hasil yang dicapai dari masing-masing program sebagaimana ditetapkan dalan APBN/APBD. Menteri/Pimpinan Lembaga selaku pengguna Anggaran menyusun Anggaran Laporan Kinerja dan menyampaikan kepada Menteri Keuangan, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara selambat-lambatnya dua bulan setelah tahun anggaran berakhir. Kepala Satuan Kinerja Perangkat Daerah selaku Pengguna Anggaran menyusun Laporan Kinerja dan menyampaikannya kepada gubernur/bupati/walikota, dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara selambat-lambatnya dua bulan setelah tahun anggaran berakhir.

2.1.3 Analisis Rasio Keuangan Daerah Menurut Mahmudi, (2010:88) analisis rasio keuangan merupakan

perbandingan antara dua angka yang datanya dari elemen laporan keuangan. Analisis rasio keuangan dapat digunakan untuk mengintepretasikan perkembangan kinerja dari tahun ke tahun dan membandingkannya dengan kinerja organisasi lain yang sejenis. Analisis rasio keuangan pada APBK dilakukan dengan cara membandingkan hasil yang dicapai oleh suatu daerah dari satu periode terhadap periode sebelumnya, sehingga dapat diketahui bagaimana kecenderungan yang terjadi.

16

Salah satu alat ukur kinerja adalah analisis rasio keuangan daerah yang merupakan inti pengukuran kinerja sekaligus konsep pengelolaan organisasi pemerintah untuk menjamin dilakukannya pertanggungjawaban publik oleh lembagalembaga pemerintah kepada masyarakat luas (Halim, 2002;126)

2.1.3.1 Rasio Kemandirian Keuangan Daerah Kemandirian keuangan daerah (otonomi fiskal) menunjukan kemampuan Pemerintah dalam membiayai sendiri kegiatan Pemerintah, Pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan distribusi sebagai sumber yang diperlukan daerah. Kemandirian keuangan daerah ditunjukkan oleh besar kecilnya pendapatan asli daerah dibandingkan dengan pendapatan daerah yang berasal dari sumber yang lain misalnya bantuan pemerintah pusat ataupun dari pinjaman. Rasio ini mengambarkan tingkat ketergantungan daerah terhadap sumber dana eksterm. Semakin tinggi kemandirian berarti tingkat ketergantungan daerah terhadap bantuan pihak eksterm (terutama pemerintah pusat dan propinsi) semakin rendah (Widodo dalam Halim,2004:150-151). Sebagai katagori kemampuan keuangan daerah dapat dilihat pada Tabel 2.1.

17

Tabel 2.1 Katagori Kemandirian Daerah Kemampuan Daerah Rendah Sekali Rendah Sedang Tinggi Kemadirian (%) 0-25 25-50 50-75 75-100

Sumber: Abdul Halim (2001:169)

2.1.3.2 Rasio Efektivitas dan Efisiensi Rasio efektivitas menggambarkan kemampuan Pemerintah Daerah dalam merealisasikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang direncanakan dibandingkan yang ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah. Kemampuan dalam menjalankan tugas dikategorikan efektif apabila rasio yang dicapai mencapai minimal sebesar satu atau seratus persen. Namun demikian semakin tinggi rasio efektifitas, menggambarkan kemampuan daerah semakin baik. Guna memperoleh ukuran yang lebih baik, rasio efektivitas tersebut diperbandingkan dengan rasio efesiensi yang dicapai pemerintah daerah. Katagori kemampuan efektivitas keuangan daerah dapat dilihat pada Tabel 2.2.

18

Tabel 2.2 Katagori Kemampuan Efektivitas Keuangan Daerah Kemampuan keuangan Sangat efektif Efektif Cukup efektif Kurang efektif Tidak efektif Sumber: Mahmudi (2010:143) Rasio efektivitas (%) > 100 > 90-100 > 80-90 > 60-80 ≤ 60

Untuk memperoleh ukuran yang lebih baik, rasio ini dibandingkan dengan rasio efisiensi. Rasio efisiensi adalah rasio yang menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi pendaptan yang diterima. Semakin kecil rasio efisiensi, maka akan semakin baik kinerja pemerintah daerah (Widodo dalam Halim, 2004:152). Kategori kemampuan efisiensi keuangan daerah dapat dilihat pada Tabel 2.3.

19

Tabel 2.3 Katagori Kemampuan Efisiensi Keuangan Daerah Kemampuan keuangan Tidak efisiensi Kurang efisiensi Cukup efektif Efisiensi Sangat efisiensi Sumber: Mahmudi (2010;143) Rasio efisiensi (%) > 100 > 90-100 > 80-90 > 60-80 ≤ 60

2.1.3.3 Rasio Aktivitas Rasio ini menggambarkan bagaimana pemerintah daerah memprioritaskan alokasi dananya pada belanja pembangunan secara optimal. Semakin tinggi persentase dana yang dialokasikan untuk belanja rutin berarti persentasi belanja investasi (belanja pembangunan) yang digunakan untuk menyediakan sarana prasarana ekonomi masyarakat senderung semakin kecil (Widodo dalam

Halim,2004:153).

2.1.3.4 Debt Service Caverage Ratio (DSCR) DSCR merupakan rasio umtuk mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam membayar kembali pinjaman daerah. Dalam rangka melaksankann pembangunan

20

sarana dan prasarana di daerah, selain menggunakan pendapatan asli daerah, pemerintah daerah dapat menggunakan alternatif sumber dana lain yaitu dengan melakukan pinjaman, sepanjang prosedur dan pelaksanaannya sesuia dengan peraturan yang berlaku. Ketentuannya (Halim, 2004:156) adalah: 1. Ketentuan yang menyangkut persyaratan a. Jumlah kumulatif pinjaman daerah yang wajib dibayar maksimal 75 % dari penerimaan APBK tahun sebelumnya. b. DSCR minimal 2,5 DSCR merupakan perbandingan antara penjumlahan Pendapatan Asli Daerah (PAD), Bagian Daerah (BD) dari pajak bumi dan bangunan, bea perolehan hak atas tanah dan bangunan, penerimaan sumber daya alam dan bagian daerah lainnya serta Dana Alokasi Umum (DAU) setelah dikurangi Belanja Wajib 30 (BW), dengan penjumlahan angsuran pokok, bunga dan biaya pinjaman lainnya yang jatuh tempo. 2. Ketentuan yang menyangkut penggunaan pinjaman a. Pinjaman jangka panjang digunakan membiayai pembangunan yang dapat menghasilkan penerimaan kembali untuk pembayaran pinjaman dan pelayanan masyarakat. b. Pinjaman jangka pendek untuk pengaturan kas. 3. Ketentuan yang menyangkut prosedur a. Mendapat persetujuan DPRK. b. Dituangkan dalam kontrak.

21

2.1.3.5 Rasio Pertumbuhan Rasio pertumbuhan (Growth ratio) mengukur seberapa besar kemampuan pemerintah daerah dalam mempertahankan dan meningkatkan keberhasilannya yang telah dicapai dari periode ke periode berikutnya. Dengan diketahuinya pertumbuhan untuk masing-masing komponen sumber pendapatan dan pengeluaran, dapat digunakan mengevaluasi potensi-potensi mana yang perlu mendapat perhatian (Halim, 2001:272).

2.1.4 Penelitian Terdahulu Penelitian yang dilakukan oleh Hairunisya (2008) yang menilai kinerja keuangan pemerintah daerah dengan mengguankan analisis keuangan di kabupaten Probolinggo. Analisis yang digunakan dalam menilai kinerja keuangan pemerintah kabupaten probolinggo adalah rasio kemandirian, rasio efektifitas dan efisiensi, dan rasio keserasian. Hasil dari analisis kinerja keuangan menunjukkan bahwa tingkat kemandirian kabupaten Probolinggo masih rendah. Sementara itu, rasio efektifitas yang menurun mengakibatkan kemampuan pemerintah dalam merealisasi penerimaan (PAD) belum berjalan dengan baik. Sedangkan rasio efisiensi yang membandingkan antara biaya yang dikeuarkan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan yang diterima sudah berjalan cukup baik. Dalam pelaksanaan pembangunan daerah, pemerintah kabupaten Probolinggo melakukan pinjaman terhadap phak ke III, dikarenakan kabupaten probolinggo memiliki DSCR lebih dari

22

2,5 untuk membiayai kegiatan pembangunan daerah. Secara keseluruhan rasio pertumbuhan di kabupaten Probolinggo menunjukkan pertumbuhan yang negatif. Sidharta (2008) yang menganalisis kinerja keuangan pemerintah daerah dengan pendekatan rasio keuangan. Hasil dari analisis rasio keuangan pada Pemerintah Kota Malang sudah baik, bila dilihat dari rasio efektivitas dan efisiensi yang sudah berjalan cukup baik. Sedangkan, rasio kemandirian daerah dan rasio pertumbuhan daerah Kota Malang belum menunjukkan kinerja yang maksimal. Kusuma, dkk (2009) yang menganalisis kinerja APBD di Kabupaten/Kota Sumatera Selatan dengan pendekatan rasio keuangan kemandirian, rasio efektivitas dan efisiensi, rasio aktivitas, dan rasio pertumbuhan. Hasil dari analisis rasio keuangan pada seluruh kabupaten/kota di Sumatera Selatan masih belum berjalan secara maksimal. Ekawarna, dkk (2009) yang menganalisis kinerja APBD pemerintah daerah dengan menggunakan perhitungan rasio keuangan. Hasil dari perhitungan rasio keuangan kinerja APBD, menunjukkan bahwa rasio efektivitas yang tinggi, rasio efisiensi yang rendah, dan rasio pertumbuhan yang semakin meninggkat. Sedangkan rasio kemandirian dan rasio aktivitas masih rendah. Oleh karena itu, kinerja APBD Pemda Kabupaten Muoro Jambi masih belum baik. Wahyuni (2010) yang menganalisis rasio untuk mengukur kenirja keuangan daerah Kota Malang. Hasil dari menganalisis rasio tersebut, menunjukkan rasio pertumbuhan kinerja keuangan Kota malang yang tinggi. Sedangkan rasio

23

kemandirian

Kota

Malang

dan

aktifitas

pemerintah

kota

malam

dalam

membelanjakan dana yang masih rendah. Berdasarkan penelitian tehaadulu yang telah dijelaskan, maka dapat diringkas dalam Tabel 2.4.

Tabel 2.4 Penelitian Terdahulu No 1 Peneliti dan Tahun Penelitian Hairunisya (2008) Judul Penelitian Penilaian Kinerja Keuangan bagian keuangan pemkab menggunakan analisis rasio keuangan Analisis kinerja keuangan pemda dengan pendekatan analisis rasio keuangan pada APBD di kota Malang Hasil Penelitian Rasio kemandirian daerah diponorogo masih rendah, rasio efektifitas menurun, sedangkan rasio efesiensi berjalan semakin baik Kinerja keuangan pada kota malang pada dasar sudah baik, bila dilihat dari rasio efektivitas dan efesiensi. Sedangkan rasio kemandirian dan rasio pertumbuhan belum menunjukkan kinerja yang maksimal Rasio kemandirian masih kurang baik scenderung menurun, rasio efektivitas dan efisiensi sudah baik, rasio aktivitas juga sudah baik, dan rasio pertumbuhan menunjujkan pertumbuhan yang positif

2

Sidharta (2008)

3

Kusuma, (2009)

dkk Analisis APBD dan akuntabiltas pemerintah Kabupaten/Kota sumatera selatan

24

Tabel 2.4- Lanjutan 4 Ekawarna, (2009) dkk Pengukuran kinerja APBD Hasil perhitungan rasio daerah kabupaten Muoro APBD menunjukkan Jambi bahwa rasio efektivitas tinggi, rasio efisiensi dan rasio pertumbuhan meningkat. Sedangkan rasio kemandirian dan rasio aktivitas masih rendah Analisis rasio untuk Kineja pengelolaan mengukur kinerja keuangan kota malang pengelolaan keuangan baik karena pemerintah daerah malang kota Malang mampu meningkatkan pertumbuhan pendaptan yang lebih tinggi

5

Wahyuni (2010)

Sumber : Data diolah (2013)

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian Desain penelitian, yang meliputi serangkaian pilihan pengambilan keputusan rasional terdiri dari enam aspek dasar yaitu: tujuan studi, jenis investigasi, tingkat intervensi peneliti, konteks studi, unit analisis, dan horizon waktu (Sekaran, 2006:151-155). Desain atau rancangan penelitian dalam penelitian ini bertujuan untuk menilai kinerja APBK Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie dengan menggunakan pendekatan analisis rasio keuangan pada APBK yang mana aktivitas tersebut merupakan suatu tahapan dalam siklus perencanaan dan pengendalian Manejemen Keuangan Daerah. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, metode deslriptif dilakukan untuk mengetahui dan menjadi mampu untuk menjelaskan karakteristik variable yang diteliti dalam situasi. Metode deskriptif bertujuan memberikan kepada peneliti sebuah riwayat atau menggambarkan aspekaspek yang relevan dengan fenomena perhatian dari perspektif seseorang, organisasi, orientasi industri, atau lainnya (Sekaran, 2006:158-159) Menurut Sidhrata, 2008 penlitian deskriptif memiliki beberapa katagori antara lain yaitu penelitian survey (survey studies), studi kasus (case studies), penelitian perkembangan (development studies), penelitian tingkat lanjut (follow-up studies), 25

26

analisis dokumen (domentary analysis), dan penelitian korelasional (correlational studies). Dari jenis penelitian tersebut, jenis penelitian studi kasus (case studies) yang digunakan dalam penelitian ini karena dilakukan secara intensif, terinci, dan mendalam terhadap suatu organism, lembaga atau gejala tertentu. Peneltian studi kasus jika diteliti dari wilayahny hanya meliputi daerah atau subjek yang sempit. Situai penelitian ini dilakukan dalam situasi tidak diatur dengan tingkat intervensi minimal dengan menggunakan unit analisis oerganisasi. Horizon waktu yang digunakan adalah cross-sectional dengan mengumpulkan data per tahun selama 5 tahun berturut-turut yaitu 2007-2011 di Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah (DPKKD) Kabupaten Pidie.

3.2 Populasi dan Sampel Populasi merupakan keseluruhan objek penelitian. Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah Laporan Realisasi Anggaran Kabupaten Pidie. Sampel dalam penelitian ini mengguanakan data tahunan laporan realisasi APBK tahun 2007-2011 dari DPKKD Kabupaten Pidie.

3.3 Sumber dan Teknik Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui sumber yang ada. (Sekaran, 2006: 77). Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah

27

tersusun dalam arsip (data dokumen yang dipublikasikan). Dalam penelitian ini data yang di gunakan adalah Laporan Realisasi Anggaran tahun 2007-2011. Data yang dikumpulkan bersumber dari DPPKD Kabupaten Pidie. Data sekunder yang dikumpulkan adalah data dalam bentuk time series (seri waktu).

3.4 Operasional Variabel Menurut Widodo dalam Halim (2004 : 150) analisa yang digunakan pada analisis kinerja keuangan daerah dalam bentuk rasio yang dapat dikembangkan berdasarkan data keuangan yang bersumber dari APBK adalah sebagai berikut :

3.4.1 Rasio Kemandirian Keuangan Daerah Kemandirian keuangan daerah (otonomi fiskal) menunjukkan kemampuan Pemerintah Daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintah, pembengunan dan pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan daerah. Kemandirian daerah ditunjukan oleh besar kecilnya pendapatan asli daerah dibandingkan dengan pendapatan daerah yang berasal dari sumber lain misalnya bantuan dari pemerintah pusat ataupun dari pinjaman. Menurut Halim (2007: 232) rasio kemandirian diukur dengan :

28

3.4.2 Rasio Efektivitas dan Efisiensi Rasio efektivitas menggambarkan kemampuan Pemerintah Daerah dalam merealisasikan Pendapatan Asli Daerah yang direncanakan dibandingkan yang ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah. Menurut Halim (2007: 234) rasio efektifitas diukur dengan :`

Dimana: RPPAD = Realisasi Penerimaan Pendapatan Asli Daerah TPPAD = Traget Penerimaan Pendapatan Asli Daerah yang ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah

Rasio efisiensi adalah rasio yang menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan yang diterima. Semakin kecil rasio efisiensi, maka akan semakin baik kinerja pemerintah daerah.

29

Dimana: BMPAD = Biaya yang dikeluarkan untuk memungut Pendapatan Asli Daerah RPPAD = Realisasi Penerimaan Pendapatan Asli Daerah

3.4.3 Rasio Aktivitas Rasio ini menggambarkan bagaimana pemerintah daerah memprioritaskan alokasi dananya pada belanja pembangunan secara optimal.

3.4.4 Debt Sevice Coverage Ratio (DSCR) Dalam rangka melaksanakan pembangunan sarana dan prasarana di daerah, selain menggunakan pendaptan asli daerah, pemerintah daerah dapat menggunakan alternative sumber dana lain yaitu dengan melakukan pinjaman, sepnjang prosedur dan pelaksanaannya sesuia dengan peraturan yang berlaku. Menurut Widodo dalam Halim (2004;156)

30

Dimana: DSCR = Debt Sevice Coverage Ratio PAD = Pendapatan Asli Daerah BD = Bagi Hasil Pajak/bukan Pajak

DAU = Dana Alokasi Umum

3.4.5 Rasio Petumbuhan Rasio pertumbuhan (Growth ratio) mengukur seberapa besar kemampuan pemerintah daerah dalam mempertahankan dan meningkatkan keberhasilannya yang telah dicapai dari periode ke periode berikutnya. Menurut Halim (2001: 272) rasio pertumbuhan dapat diukur dengan :

Dimana: r = pertumbuhan (dalam persen) Pn = realisasi pendapatan dan belanja pada tahun ke-n Po = realisasi pendapatan dan belanja pada tahun awal atau tahun sebelumnya Defenisi dan operasional variabel secara ringkas dapat dilihat pada tabel 3.1.

31

Tabel 3.1 Operasionalisasi variabel Variabel Rasio Kemandirian Daerah Defenisi kemampuan Pemerintah dalam membiayai sendiri kegiatan Pemerintah, Pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan distribusi sebagai sumber yang diperlukan daerah. Kemampuan Pemerintah Daerah dalam merealisasikan Pendapatan Asli Daerah yang direncanakan dibandingkan yang ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah. Indikator Skala Referensi Indikator

PAD

Rasio

Mahmudi, (2010:142)

Rasio Efektivitas

PAD Rasio Mahmudi, (2010:143)

Rasio efisiensi

Rasio Aktivitas

menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan yang diterima menggambarkan bagaimana pemerintah daerah memprioritaskan alokasi dananya pada belanja pembangunan secara optimal.

Rasio PAD

Mahmudi, (2010:143)

Belanja Daearah Rasio Halim, (2004:153)

32

Tabel 3.1-Lanjutan DSCR mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam PAD membayar kembali pinjaman daerah kemampuan pemerintah daerah dalam mempertahankan dan meningkatkan PAD keberhasilannya yang telah dicapai dari periode ke periode berikutnya. Rasio

Mahmudi, (2010:143)

Rasio Pertumbuhan

Rasio

Halim, (2001:272)

Sumber: Data diolah (2013)

3.5 Metode Analisis Data Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif. Menurut sugiyono (2008:206), statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menagalisis data dengan cara mendeskriptif atau menggambarkan data yang telah terkumpulkan sebagaimana adanya tanpa membuat kesimpulan yang umum. Penelitian ini menggunanakan data statistik deskriptif yaitu dengan menganalisis Laporan Realisasi Anggaran (LRA) atas Laporan Keuangan Pemerintah daerah (LKPD) untuk mendapatkan gambaran tentang kinerja keuangan daerah pada Kabupaten Pidie pada tahun anggaran 2007-2011 dengan menggunakan alat ukur rasio keuangan dan wawancara. Raio keuangan yang digunakan untuk mengukur kinerja APBK adalah rasio kemandirian keuangan daerah, rasio efektivitas dan efisiensi, rasio aktivitas, DSCR, dan rasio pertumbuhan.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Kabupaten Pidie 4.1.1 Sejarah Singkat Kabupaten Pidie Kabupaten Pidie adalah salah satu kabupaten di Aceh, Indonesia. Masyarakat pidie suka merantau dan berdagang, sehingga sering dijuluki “Tinghoa Hitam” dan mereka bersama orang asal bireuen medominasi pasar-pasar diberbagai wilayah Aceh. Selain itu, wilayah ini juga terkenal sebagai sebagi daerah asal tokohtokoh terkenal aceh, seperti Tgk. Daud Beureueh, Mr. Tekeu Mohammad Hasan, Prof. Ibrahim Hasan, DR. Hasballah M Saad, Hasan Tiro dan Pengusaha Ibrahim Risyad. Pidie sebelumnya adalah kerajaan Pedir yang berbeda dengan Aceh, sehingga sampai sekarang Pidie tidak disebut sebagai Aceh Pidie, melainkan kabupaten Pidie saja. Ketika terjadi konfrontasi dengan Portugal, maka kerajaan Pedir menggabungkan diri dengan Kerajaan Aceh untuk melawan Penjajah Portugis. Sejak pemberlakuan Darurat Militer sejak Mei 2003, daerah ini juga berangsur-angsur pulih aktivitas ekonomi dan sosialnya meski belum sepenuhnya. Ada beberapa kecamatan di kawasan ini yang sedang memperjuangkan pembentukan kabupaten baru dengan nama Kabupaten Pidie Jaya dan berbasis di Meureudu, bagian

33

34

timur Pidie. Pada tanggal 15 juni 2007 resmi terbentuk kabupaten baru dengan nama Kabupaten Pidie Jaya dengan Ibu Kota Meureudu. Kabupaten Pidie adalah salah satu kabupaten/kota di Propinsi Aceh, dengan luas wilayahnya adalah 3.086,90 km2. Jumlah kecamatan di Kabupaten Pidie adalah 23 kecamtan. Secara geografis terletak antara 04,30-04,06 lintang utara, 95,75-96,20 bujur timur, 04,46-00,40 bujur selatan dengan batas administrasi sebagai berikut: 1. Sebelah utara berbatasan dengan selat malaka. 2. Sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten pidie jaya. 3. Sebelah barat berbatasan dengan kabupaten aceh besar. 4. Sebelah timur berbatasan dengan kabupaten bireuen. 4.1.2 Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Kabupaten Pidie Visi Kabupaten Pidie adalah terwujudnya masyarakat yang islami, sehat, cerdas, makmur, damai dan bermatabat. Misi kabupaten Pidie adalah : 1. Meningkatkan pengalaman nilai-nilai keislaman 2. Meningkatkan kualitas SDM melalui peninhkatan akresibilitas dan mutu pendidikan serta pelayanan kesehatan masyarakat. 3. Mewujudkan tata kelola pemerintah yang baik dan bersih dengan menitik beratkan pada revitalisasi birokrasi dan peningkatan pelayan publik. 4. Meningkatkan pengembangan adat istiadat, sosial dan kebudayaan.

35

5. Meningkatkan kualitas demokrasi, supermasi hokum, politik dan hak asasi manusia (HAM).

Secara spesifik, tujuan pembangunan jangka lima tahun yang akan datang harus dicapai pemerintah Kabupaten Pidie adalah:

1. Terciptanya kesinambungan perdamaian di Kabupaten Pidie pada khususnya dan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada umumnya. 2. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan kualitas sumberdaya manusia secara menyeluruh melalui pelayanan pendidikan formal dan informal. 3. Meningkatkan produktifitas sector produksi dengan keterkaitan sektor dan regional untuk penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan. 4. Meningkatkan akses terhadap wilayah Kabupaten dengan peningkatan kualitas dan kapasitas prasarana dan sarana serta penataan ruang dan sinergi dengan wilayah lain untuk memacu pertumbuhan ekonomi. 5. Meningkatkan kapasitas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik untuk perbaikan kinerja aparatur pemerintahan dan wakil rakyat dalam pelaksanaan tugas, fungsi dan perannya dalam proses pembangunan.

Sasaran pembangunan berisi pernyataan-pernyataan tentang apa yang ingin di capai sesuai dengan misi. Sasaran jangka menengah lima tahun yang harus dicapai oleh pemerintah Kabupaten Pidie adalah:

36

1. Meningkatkan rasa aman dan nyaman karena terciptanya keamanan yang kondusif sebagai hasil dari membaiknya situasi dan kondisi daerah. 2. Meningkatnya keharmonisan dalam masyarakat sebagai hasil membaiknya akhlak dan moral dengan menerapkan pemahaman norma-norma agama dan adat istiadat serta pelaksanaan Syariat Islam secara Khaffah. 3. Meningkatnya kesejahteraan, karena berkurangnya kemiskinan serta ketimpangan distribusi kekayaan baik antar kelompok masyarakat dalam berbagai sektor pekerjaan maupun antar wilayah dan kawasan dalam Kabupaten Pidie. 4. Meningkatnya akses orang, barang maupun jasa dari dan ke wilayah Kabupaten Pidie yang mengacu pembangunan lebih dinamis karena berkurangnya hambatan secara ruang dan waktu. 5. Meningkatnya efektifitas dan efisiensi pengelolaan keuangan secara konsisten dan konsekuen karena membaiknya kemampuan individu dan sistem secara kelembagaan. 6. Meningkatnya penerapan prinsip-prinsip Good Governance dalam pelaksanaan pemerintahan, yaitu prinsip transparansi, akuntabilitas dan partisipasi

4.1.3 Struktur Organisasi Kabupaten Pidie Bagan struktur organisasi Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie dapat dilihat pada Gambar 4.1.

37

38

Rincian tugas dan fungsi kepala daerah Kabupaten Pidie : Bupati adalah kepala Pemerintah Kabupaten Pidie dibantu oleh seorang wakil bupati yang dipilih melalui suatu proses demaokrasi yang dilakukan berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Buapti bertanggungjawab dalam kegiatan Pemerintah Kabupaten Pidie disemua sektor publik termasuk ketentraman dan ketertiban masyarakat yang diatur dalam qanun. Bupati mempunyai tugas dan wewenang antara lain melaksanakan dan mengkoodinasikan pelaksanaan syariat islam secara menyeluruh. Wakil bupati mempunyai tugas membantu bupati antara lain: 1. Pengkoodinasi kegiatan intansi pemerintah pemerintah dalam melaksanakan syariat islam. 2. Pembedayaan perempuan dan pemuda 3. Pembedayaan adat istiadat. 4. Pemantauan dan evaluasi penyelenggaran pemerintah kecamatan, mukim dan gampong. Dalam pelaksanaan tugas dan fungsi tersebut kepala daerah/bupati dan wakil kepala daerah/wakil bupati dibantu oleh sekretaris daerah dan kelompok jabatan fungsional sebagai berikut: 1. Asisten Pemerintahan yang terdiri dari: a) Bagian tata pertahanan b) Bagian umum c) Bagian humas dan protocol

39

2. Asisten Kesejahteraan yang terdiri dari : a) Bagian administrasi pembangunan b) Bagian perekonomian c) Bagian kesejahteraan social 3. Asisten Administrasi Umum yang terdiri dari : a) Bagian umum b) Bagian organisasi c) Bagian telekomunikasi dan pengelolaan data elektronik 4. Kelompok Jabatan Fungsional.

4.2 Hasil Penelitian dan Pembahasan 4.2.1 Analisis Rasio Kemandirian Keuangan Daerah Analisis kemandirian keuangan daerah terhadap APBK menunjukan kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintah, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan distribusi sebagai sumber yang diperlukan oleh daerah (Halim, 2004:150). Analisis kemandirian keuangan daerah terhadap APBK Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie tahun 2007-2011, untuk mengetahui hubungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dan tingkat kemandirian keuangan daerah dapat dilihat pada Tabel 4.1.

40

Tabel 4.1 Rasio Kemandirian Keuangan Daerah Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie Tahun 2007-2011 Tahun Anggaran 2007 2008 2009 2010 2011 Pendapatan Asli Daerah 13.397.184.737 12.462.163.202 15.923.900.575 15.456.452.215 22.947.369.612 Rata-rata Sumber : Dinas PKKD data diolah (2013) Total Pendapatan Daerah 594.942.068.996 492.340.704.668 545.563.424.598 613.205.475.163 733.890.903.240 Rasio Kemandirian Daerah (%) 2,25 2,53 2,91 2,52 3,12 2,66

No

1 2 3 4 5

Berdasarkan Tabel 4.1 dapat dilihat rasio kemandirian keuangan daerah Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie dalam membiayai kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat pada tahun 2007-2011 masih sangat rendah, yaitu pada tahun 2007 sebesar 2,25%, pada tahun 2008 sebesar 2,53%, pada tahun 2009 sebesar 2,91%, pada tahun 2010 sebesar 2,52% dan pada tahun 2011 sebesar 3,12%. Hal ini menunjukkan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie masih sangat tergantung terhadap dana eksternal, ini bertolak belakang dengan prinsip otonomi daerah dimana daerah dituntut dan mempunyai kewajban untuk membiayai kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat. Rata-rata rasio kemandirian keuangan daerah Kabupaten Daerah Kabupaten Pidie pada tahun 2007-2011 sebesar 2,66. Sesuai dengan katagori kemandirian daerah

41

Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie berada pada katagori 0-25% yaitu sangat rendah. Hal ini diharapkan Pemerintah Kabupaten Pidie untuk dapat Meningkatkan pendapatan yang berasal dari PAD dan menurunkan pendapatan yang berasal dari Dana Perimbangan agar pemerintah daerah mampu membiayai semua kegiatan pemerintahan, pembangunannya sendiri tanpa campur tangan dari pemerintah pusat.

4.2.2 Analisis Rasio Efektivitas dan Efisiensi Keuangan Daerah Rasio efektifitas menggambarkan kemampuan daerah dalam merealisasikan PAD yang direncanakan dibandingkan dengan target tang telah ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah. Kemapuan dalam menjalankan tugas dikatagorikan efektif apabila rasio yang dicapai minimal sebesar satu persen atau seratus persen ( Mahmudi, 2010:143). Untuk mempoleh ukuran yang lebih baik, rasio efektifitas dibandingkan dengan rasio efesiensi. Rasio efisiensi merupakan rasio yang menggambarkan perbandingan antra besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi yang diterima. Rasio efektifitas dan efisiensi keuangan daerah terhadap APBK Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie tahun 2007-2011, untuk mengetahui kemampuan daerah dalam menjalankan kegiatan dapat dilihat pada Tabel 4.2.

42

Tabel 4.2 Rasio Efektifitas dan Efisiensi Keuangan Daerah Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie tahun 2007-2011 No 1 2 3 4 5 Rata-rata Tahun Anggaran 2007 2008 2009 2010 2011 Rasio Efektifitas (%) 85,5 83,0 97,5 58,2 61,3 77,0 Rasio Efisiensi (%) 99,6 103,0 99,7 98,5 99,6 100,08

Sumber: Dinas PKKD data diolah (2013)

Berdasarkan Tabel 4.2 dapat dilihat rasio efektifitas keuangan daerah Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie tahun 2007-2011 dengan rata-rata rasio efektifitas sebesar 77,1%. Sesuai dengan katagori kemampuan efektifitas keuangan daerah, kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie tidak baik. Hal ini sebabkan karena pemerintah kabupaten tidak terampil dalam mengontrol rencana dan realisasi pajak daerah dan retribusi daerah pada APBK. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.2, pada tahun 2007 rasio efektifitas sebesar 85,5%, pada tahun 2008 mengalami penurunan menjadi 83,0% yang disebabkan realisasi pajak daerah dan retribusi daerah lebih kecil dari yang targetkan. Pada tahun 2009 rasio efektifitas mengalami kenaikkan menjadi 97,5%, pada tahun 2010 rasio efektifitas kembali mengalami penurunan menjadi 58.2%, dan pada tahun 2011 rasio efektifitas mengalami kenaikkan menjadi 61,3%.

43

Pada dasarnya rasio efektifitas bahwa kemampuan dalam menjalankan tugas mencapai menimal sebesar satu persen atau seratus persen. Namun semakin tinggi rasio efektifitas, maka kemampuan daerah dalam menjalankan tugas semakin baik. Sesuai dengan hasil rasio efektifitas pada Tabel 4.2 menggambarkan bahwa kinerja di Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie dalam menjalankan tugas masih tidak stabil, karena rasio efektifitas masih dibawah seratus persen. Untuk memperoleh ukuran yang lebih baik, rasio efektifitas dibandingankan dengan rasio efisiensi. Rasio efisiensi merupakan rasio yang menggambarkan perbandingan antara besar biaya yang dikeluarkan untuk memperolehan pendapatan dengan realisasi pendapatan yang diterima. Kinerja pemerintah daerah dikatagorikan efisiensi apabila rasio yang dicapai dibawah satu persen atau seratus persen. Berdasarkan Tabel 4.2 dapat dilihat rasio efisiensi keuangan daaerah Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie tahun 2007-2011 dengan rata-rata rasio efisiensi sebesar 100,08%. Sesuai dengan katagori efesiensi keuangan daerah tidak efisiensi karena nilai rasio efisiensi >100%. Ini menggambarkan kinerja daerah dalam memungut PAD tidak efisiensi ditandai dengan rasio efisiensi diatas seratus persen. Hal ini pada Tabel 4.2, tahun 2007 rasio efisiensi sebesar 99,6%, pada tahun 2008 sebesar 103,0%, pada tahun 2009 sebesar 99,7%, pada tahun 2010 sebesar 98,5%, pada tahun 2011 sebesar 99,6%. Artinya, kinerja Pemerintah daerah Kabupaten Pidie dalam mengeluarkan biaya relatif tinggi, pemerintah daerah tidak menghasilkan output yang optimal dan memberikan kinerja yang kurang baik.

44

4.2.3 Analisis Rasio Aktivitas Rasio aktivitas menggambarkan bagaimana pemerintah daerah

memprioritaskan alokasi dananya pada belanja pembangunan secara optimal. Rasio aktivitas terhadap APBK Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie dapat dilihat pada Tabel 4.3. Tabel 4.3 Analisis Rasio Aktivitas No 1 2 3 4 5 Rata-rata Tahun Anggaran 2007 2008 2009 2010 2011 Belanja Rutin (%) 61 69,5 76,9 73 72,4 70,6 Belanja Pembangunan (%) 38,6 33,5 22,7 25,4 26,9 29,4

Sumber : DPPK data diolah (2013)

Berdasarkan Tabel 4.3 dapat dilihat rasio aktivitas Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie tahun 207-2011 masih memprioritas alokasi dana pada belanja rutin sehingga belanja pembangunan masih relatif kecil. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.3 dimana pemerintah daerah masih memprioritaskan alokasi dananya pada belanja rutin sebesar 70,6% sedangkan untuk belanja pembangunan sebesar 29,4%. APBK Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie masih diprioritaskan dananya pada belanja rutin dibandingkan belanja pembangunan. Pemerintah daerah belum sepenuhnya memprioritaskan dananya kepada belanja pembangunan ini akan

45

memberikan dampak terhadap peningkatan pembangunan daerah. Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie harus lebih memprioritaskan APBK untuk belanja pembangunan guna meningkatkan aktivitas wilayah. Aktivitas wilayah merupakan kediatan yang tidak terlepas dari pembangunan dan pengembangan. Sehingga akan menunjukkan awal yang baik bagi Pemeintah Daerah Kabupaten Pidie untuk memfokuskan dananya untuk belanja pembangunan daerah akan memberikan pengaruh yang baik terhadap pendapatan yang akan diterima oleh daerah.

4.2.4 Analisis Debt Service Carverage Ratio (DSCR) DSCR merupakan rasio untuk mengukur kemampuan pemerintah derah dalam membayar kembali pinjaman daerah. DSCR terhadap APBK Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie dapat dilihat pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4 Analisis DSCR No 1 2 Tahun Anggaran 2010 2011 DSCR 32,31 8,30

Sumber : DPPKD data diolah (2013)

Dalam melaksanakan pembangunan sarana dan prasarana di daerah, sealain menggunakan PAD pemerintah dapat menggunakan alternatif sumber dana lain seperti melakukan pinjaman. Untuk dapat melihat kemampuan pemerintah daerah

46

dalam melakukan pinjaman dapat dilakukan dengan menghitung dengan DSCR. Perhitungan DSCR merupakan salah satu untuk menggambarkan besarnya pinjaman daerah dan besarnya angsuran pokok yang dilakukan untuk tahun berikutnya, dengan kententuan jumlah kumulatif pinjaman daerah yang wajib dibayar maksimal 75% dari penerimaan APBK. DSCR minimal 2,5. Berdasarkan Tabel 4.4 dapat dilihat DSCR pemerintah daerah Kabupaten Pidie untuk tahun 2010 sebesar 32,31 dan tahun 2011 sebesar 8,30. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah daaerah Kabupten Pidie mampu dalam membayar pinjaman, ini dapat dilihat dari nilai DSCR pada tahun 2010 dan 2011 diatas 2,5.

4.5 Analisis Rasio Pertumbuhan Rasio pertumbuhan menunjukkan seberapa besar kemampuan pemerintah daerah dalam mempertahankan dan meningkatkan keberhasilan yang telah dicapai dari period eke periode. Rasio pertunbuhan APBK Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie dapat dilihat pada Tabel 4.5

47

Tabel 4.5 Rasio Pertumbuhan APBK Kabupaten Pidie Tahun 2007-2011 No 1 2 Keterangan Pertumbuhan PAD Pertumbuhan Pendapatan 4 Pertumbuhan Belanja Rutin Pertumbuhan 5 Belanja Pembangunan Sumber: DPPKD data diolah (2013) (28,19%) (24,74%) 25,53% 26,95% (5,69%) 22,63% 6,76% 19,07% 2007 2008 (6,97%) (17,24%) 2009 27,77% 10,81% 2010 2,93% 12,39% 2011 48,48% 19,68%

Berdasarkan Tabel 4.5 dapat diliahat rasio pertumbuhan APBK Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie tahun 2007-2011. Dengan diketahuinya pertumbuhan untuk sumber pendapatan dan pengeluaran, maka dapat diketahui potensi-potensi mana yang perlu dibenahi. Pada tahun 2008 dan 2009 pertumbuhan pendapatan dan pengeluaran daerah Kabupaten Pidie mengalami trend negatif. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.5, rasio pertumbuhan PAD sebesar (6,97%), rasio pertumbuhan pendapatan sebesar (17,24%), rasio pertumbuhan belanja rutin sebesar (5,69%), dan rasio pertumbuhan belanja pembangunan sebesar (28,19%). Pada tahun 2009 rasio pertumbuhan belanja pembangunan sebesar (24,74%).

48

Pada tahun 2010 dan 2011 pertumbuhan pendapatan dan pengeluran daerah mengalami trend positif. Dapat dilihat pada Tabel 4.5, hal ini menunjukkan peningkatan pada pertumbuhan PAD dan pertumbuhan pendapatan yang lebih besar dibandingan dengan pertumbuhan belanja rutin ini disebabkan belanja rutin yang dikeluarkan pada tahun 2010 dan 2011 tidak begitu besar. Kinerja pemerintah daerah Kabupaten Pidie dalam kurun waktu 5 tahun kecuali tahun 2008 dan 2009. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.5, dimana rasio pertumbuhan pendapatan dan rasio pertumbuhan belanja pembuangunan diatas rasio pertumbuhan belanja rutin. Pertumbuhan suatu daerah dapat dikatakan baik karena pemerintah daerah dapat mengefiensikan biaya yang dikeluarkan untuk belanja rutin dan mengefektifkan penggunaan pendapatan yang diperoleh daerah untuk sektor membangunan yang dapat meningkatkan penerimaan pendapatan daerah.

BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Berdasarkan pembahasan hasil penelitian yang telah dikemukkan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Berdasarkan hasil analisis data, dapat diketahui bahwa kinerja pemerintah daaerah Kabupaten Pidie masih menunjukkan nilai rat-rata kinerja keuangan daerah yang tidak baik. Hal ini ditunjukkan dari hasil perhitungan disetiap tahun masih mengalami angka yang naik turun sehingga beberapa rasio masih menunjukkan trend positif dan negatif. 2. Rasio kemandirian keuangan daerah pemerintah daerah Kabupaten Pidie tahun 2007-2010 persentasinya masih sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah Kabupaten Pidie masih sangat tergantung terhadap dana eksternal. 3. Rasio efektfitas dan efisiensi keuangan daerah menunjukkan bahwa kinerja Kabupaten Pidie tidak baik karena belum bisa mencapai angka satu atau seratus persen. Rasio efisiensi juga belum efisien, Ini menggambarkan kinerja daerah dalam memungut PAD tidak efisien ditandai dengan nilai rasio efisiensi diatas seratus persen.

49

50

4. Rasio aktivitas menunjukkan bahwa sebagian besar dana pemerintah Kabupaten Pidie masih diprioritaskan untuk memenuhi belanja rutin, sehingga prioritas untuk memenuhi belanja pembangunan masih relatif kecil. 5. Dalam melaksanakan pembangunan daerah, pemerintah Kabupaten Pidie melakukan pinjaman. Untuk mengetahui kemapuan daerah dalam melakukan pinjaman dapat dikakukan dengan menghitung DSCR. Hasil perhiyungan DSCR dapat dikethui bahwa Kabupaten Pidie mampu membayar pinjamannya. 6. Pertumbuhan kinerja APBK pemerintah daerah Kabupaten Pidie dalam kurun waktu lima tahun sudah baik dikarenakan pemerintah daerah dapat

mengefisiensikan biaya yang dikeluarkan untuk belanja rutin dan mengefektifkan penggunaan pendapatan yang diperoleh daerah untuk sektor pembangunan yang dapat meningkatkan pemerimaan pendapatan daerah.

5.2 Keterbatasan Keterbatasan dalam penelitian ini adalah peneliti tidak bisa melakukan wawancara secara langsung pada DPKKD dikarenakan keterbatasan waktu penelitian dan keterbatasan waktu untuk wawancara langsung dengan pejabat di DPKKD.

5.3 Saran Untuk menambah referensi penelitian selanjutnya ada beberapa saran yang dapat dikemukakan, sebagai berikut: 1. Untuk Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie seharusnya tingkat ketergantungan keuangan daerah, terutama untuk penerimaan DAU pusat dan agar dapat

51

meningkatkan usaha pemungutan PAD secara lebih intensif dan aktif. Pemerintah daerah juga seharusnya lebih banyak mengalokasikan dana untuk pembangunan yang masih relatif kecil dibandingkan dengan anggaran yang bersifat operasional. Hal ini akan berpengeruh terhadap peningkatan penerimaan pendapatan 2. Diharapkan untuk penelitian selanjutnya untuk menggunakan metode lain dalam menganalisis kinerja APBK seperti metode Economic Value Added/EVA ( nilai tambah ekonomi), metode Balanced Scorecard , metode Value of money dan metode analisis selisih anggaran, agar hasil penelitian yang diberikan dapat menggambarkan kondisi yang sebenarnya dan dapat memberikan hasil yang lebih akurat. 3. Berhubung penelitian ini hanya dilakukan pada satu kabupaten, untuk penelitian selanjutnya diharapkan untuk memperluas penelitian, tidak hanya pada satu kabupaten karena memungkinkan ditumakannya hasil dan kesimpulan yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Bastian, Indra. 2006. Sistem Akuntansi Sektor Publik. Edisi 2. Jakata. Selemba Empat Ekawarna, Shinta Anjawati., Iskandar Sam, & Sri Wahyuni. 2009. Pengukuran Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Daerah Kabupaten Mauro Jambi. Jurnal Cakrawala Akuntansi. Vol 1, No. 1: 49-66. Hairunisya, Nanis. 2008. Penilaian Kinerja Bagian Keuangan PEMKAB Menggunakan Analisis Rasio Keuangan. Jurnal Ekonomi. Vol. 2, No. 2: 4348. Hariyanto, dkk. 2007. Akuntansi Sektor Publik. Edisi Pertama. Semarang:Universitas Diponogoro Halim, Abdul. 2001. Manajemen Keuangan Daerah. Edisi Pertama. Yogyakarta; UPY Akademi Manejemen Perusahaan YKKPN. ______. 2002. Akuntansi Sektor Publik: Akuntansi Keuangan Daerah. Edisi Pertama. Jakarta: Selemba Empat. ______. 2004. Akuntansi Sektor Publik: Akuntansi Keuangan Daerah. Edisi Revisi. Jakarta: Selemba Empat. ______. 2007. Akuntansi Sektor Publik: Akuntansi Keuangan Daerah . Edisis Ketiga. Jakarta: Selemba Empat. ______. 2007 . Akuntansi dan Pegendalian Pengelolaan Keuangan Daerah. Edisi Revisi. Yogyakarta. UPP STIM YKPN ______. 2009. Problem Desentralisasi dan Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat-daerah.Yogyakarta. Sekolah Pascsarja UGM Kusumah, Ade Tri Aji., M. Ridwan Nurazi, & Yefirza. 2009. Analisis Anggaran dan Akuntabilitas Kinerja Studi Kasus Pemerintah Propinsi Bengku. JEEP, Vol 2. No 2: 37-51. Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia .2003. Sistem Administrasi Negara Kesatuan Indonesia . Jilid I. Jakarta:LANRI

52

53

Mahmudi. 2010. Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Edisi Kedua. Yogyakarta: Sekolah Tinngi Ilmu Manajemen YKPN Mahsun, Mohamad. 2006 . Pengukuran Kinerja Sektor Publik. Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE Republik Indonesia. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintah Daerah. ________________. Undang-undang Nomor 29 Tahun 2002 Tentang Pedoman Penyusunan, Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta Tata Cara Penyusunan Anggran Pendapatan dan Belanja Daerah. ________________. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. ________________. Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara. ________________. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah. ________________. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Pemerintah Daerah. _______________. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah. ________________. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedaoman Pengelolaan Keuangan Daerah. _______________. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 21 Tahun 2011 Tentang Perubahan Kedua Peraturan Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedaoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Sekaran, Umma. 2006. Research Methods Theory For Business. Buku I. Edisi Keempat. Jakarta: Selemba Empat. Sidharta, Eka Sinanta. 2008. Analisis Kinerja Keuangan Pemda dengan Pendekatan Analisis Rasio Keuangan pada APBD di kota Malang. Jurnal Ilmiah . No. 2: 26-41.

54

Sugiyono. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: ALFABET. Sumarno, Hari. 2009. Analisis Kemandirian Otonomi Daerah: Kasus Kota Malang (1999-2004). JESP. Vol. 1. No. 1: 13-26 . Susantih, heny dan Yulia Saftiani. 2008. Perbandingan Indikator Kinerja Keuangan Pemerintah Propinsi Se-Sumatera Selatan. Tesis Magister. PSIE PPS UNSRI. Susetyo, Didik. 2008. Kinerja APBD Kabupaten/Kota Di Sumatera Selatan. Jurnal Pembangunan. Vol. 6. No. 1: 39-53 Wahyuni, Nanik. 2010. Analisis Rasio Keuangan untuk Mengukur Kinerja Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Malang. Jurnal EL-Muhasaba. Vol. 1, No. 1: 1-18

LAMPIRAN 1 PEMERINTAH KABUPATEN PIDIE LAPORAN REALISASI ANGGARAN TAHUN ANGGARAN 2007 Anggaran Setelah Perubahan 3. 634.423.457.053 15.654.587.181 5.997.826.655 6.119.495.812 1.220.000.000 2.317.264.714 551.698.490.534 69.707.490.534 431.940.000.000 50.051.000.000 67.070.379.338 9.425.000.000 Realisasi Anggaran 4. 594.942.068.996 13.397.184.737 4.971.786.878 4.242.257.233 1.210.149.042 2.972.991.584 519.818.899.690 37.827.899.690 431.940.000.000 50.051.000.000 61.725.984.569 8.274.752.219 Lebih (Kurang) 5 (39.481.388.057) (2.257.402.444) (1.026.039.777) (1.877.238.579) (9.850.958) 655.726.870 (31.879.590.844) (31.879.590.844) (5.344.394.769) (1.150.247.781)

Rek 1. 1. 1.1 1.1.1 1.1.2 1.1.3. 1.1.4. 1.2. 1.2.1. 1.2.2. 1.2.3. 1.3. 1.3.3.

Uraian 2. PENDAPATAN DAERAH Pendapatan Asli Daerah Hasil Bagi Pajak Daerah Hasil Retribusi Daerah Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang dipisahkan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah Dana Perimbangan Dana Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintahan Daerah lainnya Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya JUMLAH PENDAPATAN BELANJA DAERAH

% 6. 93,78 85,58 82,89 69,32 99,19 128,30 94,22 54,27 100,00 100,00 92,03 87,80

1.3.4.

57.645.379.338 634.423.457.053 646.010.771.146

53.451.232.350 594.942.068.996 592.775.864.556

(4.194.146.988) (39.481.388.057) (53.234.906.590)

92,72 93,78 91,76

2.

2.1. 2.1.1 2.1.3 2.1.4 2.1.5 2.1.6 2.1.7 2.1.8 2.2 2.2.1 2.2.2 2.2.3

Belanja Tidak Langsung Belanja Pegawai Belanja Subsidi Belanja Hibah Belanja Bantuan Sosial Belanja Bagi Hasil Kepada Provinsi/Kabupaten/ Kota dan Pemerintahan Desa Belanja Bantuan Keuangan Kepada Provinsi/ Kabupan/Kota dan Pemerintahan Desa Belanja Tak Terduga Belanja Langsung Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal JUMLAH BELANJA SURPLUS(DEFISIT)

358.289.686.297 280.122.194.317 553.460.000 7.187.151.300 33.367.952.200 5.640.480.000 29.418.448.480 2.000.000.000 287.721.084.849 61.501.930.026 88.709.933.677 137.509.221.146 646.010.771.146 (11.587.314.093)

362.925.911.489 293.887.544.980 553.457.000 6.913.700.160 28.478.863.619 5.000.000.000 27.769.566.230 322.779.500 229.849.953.067 56.347.549.084 73.584.998.335 99.917.405.648 592.775.864.556 2.166.204.440

4.636.225.192 13.765.350.663 (3.000) (273.451.140) (4.889.088.581) (640.480.000) (1.648.882.250) (1.677.220.500) (57.871.131.782) (5.154.380.942) (15.124.935.342) (37.591.815.498) (53.234.906.590) 13.753.518.533

101,29 104,91 100,00 96,20 85,35 88,64 94,40 16,14 79,89 91,62 82,95 72,66 91,76

3. 3.1 3.1.1

PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan Daerah Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran JUMLAH PENERIMAAN PEMBIAYAAN Pengeluaran Pembiayaan Daerah Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah JUMLAH PENGELUARAN PEMBIAYAAN PEMBIAYAAN NETTO 16.487.314.093 16.487.314.093 16.487.314.093 4.900.000.000 1.900.000.000 3.000.000.000 4.900.000.000 11.587.314.093 16.487.822.392 16.487.822.392 16.487.822.392 3.000.000.000 3.000.000.000 13.487.822.392 15.654.026.832 508.299 508.299 (1.900.000.000) (4.900.000.000) 4.900.508.299 18.654.026.832 100,00 100,00 100,00 61,22 100,00 -

3.2 3.2.1 3.2.2

3.3

SISA LEBIH PERHITUNGA NANGGARAN TAHUN

BERKENAAN (SILPA)

Sigli, 1 Maret 2008 Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah Kabupaten Pidie

Amiruddin, SE, M.Si Pembina Tk.I /Nip.19641231 199302 1 005

LAMPIRAN 2 PEMERINTAH KABUPATEN PIDIE LAPORAN REALISASI ANGGARAN TAHUN ANGGARAN 2008 Anggaran Setelah Perubahan 3. 524.043.867.365 15.006.768.532 5.388.893.145 6.210.681.180 1.279.222.000 2.127.972.207 477.774.239.774 Realisasi Anggaran 4. 492.340.704.668 12.462.163.202 5.020.239.146 4.217.577.580 1.271.733.254 1.952.613.222 448.622.174.306 Lebih (Kurang) 5 (31.703.162.697) (2.544.605.330) (368.653.999) (1.993.103.600) (7.488.746) (175.358.985) (29.152.065.468)

Rek 1. 1. 1.1 1.1.1 1.1.2 1.1.3. 1.1.4. 1.2.

Uraian 2. PENDAPATAN DAERAH Pendapatan Asli Daerah Hasil Bagi Pajak Daerah Hasil Retribusi Daerah Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang dipisahkan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah Dana Perimbangan

% 6. 93,95 83,04 93,16 67,91 99,41 91,76 93,90

1.2.1. 1.2.2. 1.2.3. 1.3. 1.3.3. 1.3.4.

Dana Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintahan Daerah lainnya Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus JUMLAH PENDAPATAN BELANJA DAERAH Belanja Tidak Langsung Belanja Pegawai - Belanja Pegawai Negeri (PNS) - Belanja Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah - Belanja Anggota Dewan (DPRK) Belanja Subsidi Belanja Hibah Belanja Bantuan Sosial Belanja Bagi Hasil Kepada Provinsi/Kabupaten/ Kota dan Pemerintahan Desa Belanja Bantuan Keuangan Kepada Provinsi/ Kabupan/Kota dan Pemerintahan Desa Belanja Tak Terduga Belanja Langsung Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal JUMLAH BELANJA SURPLUS(DEFISIT)

63.428.429.774 355.254.810.000 59.091.000.000 31.262.859.059 14.640.949.982 16.621.909.077 524.043.867.365 537.165.894.198 324.853.162.848 251.589.447.706 393.701.272 7.716.457.980 525.000.000 1.149.616.000 28.282.063.130 6.800.000.000 27.423.876.760 973.000.000 212.312.731.350 29.207.748.075 71.404.911.970 111.700.071.305 537.165.894.198 (13.122.026.833)

34.276.367.306 355.254.807.000 59.091.000.000 31.256.367.160 12.120.052.006 19.136.315.154 492.340.704.668 507.303.646.581 342.258.965.665 289.989.669.610 369.698.522 7.199.335.300 499.241.250 692.000.000 21.657.191.648 2.440.000.000 19.032.187.680 379.641.655 165.044.680.916 21.521.446.799 46.314.016.367 97.209.217.750 507.303.646.581 (14.962.941.913)

(29.152.062.468) (3.000) (6.491.899) (2.520.897.976) 2.514.406.077 (31.703.162.697) (29.862.247.617) 17.405.802.817 38.400.221.904 (24.002.750) (517.122.680) (25.758.750) (457.616.000) (6.624.871.482) (4.360.000.000) (8.391.689.080) (593.358.345) (47.268.050.434) (7.686.301.276) (25.090.895.603) (14.490.853.555) (29.862.247.617) (1.840.915.080)

54,04 100,00 100,00 99,98 82,78 115,13 93,95 94,44

2. 2.1. 2.1.1

2.1.3 2.1.4 2.1.5 2.1.6 2.1.7 2.1.8 2.2 2.2.1 2.2.2 2.2.3

115,26 93,90 93,30 95,09 60,19 76,58 35,88 69,40 39,02 77,74 73,68 64,86 87,03 94,44

3. 3.1 3.1.1

PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan Daerah Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran JUMLAH PENERIMAAN PEMBIAYAAN Pengeluaran Pembiayaan Daerah Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah JUMLAH PENGELUARAN PEMBIAYAAN PEMBIAYAAN NETTO 15.654.026.833 15.654.026.833 15.654.026.833 2.532.000.000 2.532.000.000 2.532.000.000 13.122.026.833 15.654.026.833 15.654.026.833 15.654.026.833 15.654.026.833 691.084.920 (2.532.000.000) (2.532.000.000) (2.532.000.000) 2.532.000.000 691.084.920 100,00 100,00 100,00 0 0 0

3.2 3.2.2

3.3

SISA LEBIH PERHITUNGA NANGGARAN TAHUN BERKENAAN (SILPA)

Sigli, 1 Maret 2009 Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah Kabupaten Pidie

Amiruddin, SE, M.Si Pembina Tk.I /Nip.19641231 199302 1 005

LAMPIRAN 3 PEMERINTAH KABUPATEN PIDIE LAPORAN REALISASI ANGGARAN TAHUN ANGGARAN 2009

Rek 1. 1. 1.1 1.1.1 1.1.2 1.1.3. 1.1.4. 1.2. 1.2.1. 1.2.2. 1.2.3. 1.3. 1.3.1 1.3.3.

Uraian 2. PENDAPATAN DAERAH Pendapatan Asli Daerah Hasil Bagi Pajak Daerah Hasil Retribusi Daerah Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang dipisahkan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah Dana Perimbangan Dana Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah Pendapatan Hibah Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintahan Daerah lainnya JUMLAH PENDAPATAN BELANJA DAERAH Belanja Tidak Langsung Belanja Pegawai - Belanja Pegawai Negeri (PNS) - Belanja Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah - Belanja Anggota Dewan (DPRK) Belanja Subsidi Belanja Hibah

Anggaran Setelah Perubahan 3. 598.135.996.642 16.317.251.307 5.448.186.020 6.721.093.080 1.200.000.000 2.947.972.207 558.108.887.195 81.954.707.195 417.380.180.000 58.774.000.000 23.709.858.140 10.500.000.000 13.209.858.140 598.135.996.642 598.827.081.562 437.110.063.732 345.951.714.426 398.456.292 8.061.772.380 300.000.000 28.135.765.000

Realisasi Anggaran 4. 545.563.424.598 15.923.900.575 5.506.773.140 5.291.441.144 1.216.265.956 3.909.420.335 504.590.524.926 28.442.967.926 417.373.557.000 58.774.000.000 25.048.999.097 12.893.475.000 12.155.524.097 545.563.424.598 543.942.642.377 419.745.805.981 345.763.964.069 396.098.522 7.434.563.800 300.000.000 24.860.986.000

Lebih (Kurang) 5 (52.572.572.044) (393.350.732) 58.587.120 (1.429.651.936) 16.265.956 961.448.128 (53.518.362.269) (53.511.739.269) (6.623.000) 1.339.140.957 2.393.475.000 (1.054.334.043) (52.572.572.044) (54.884.439.185) (17.364.257.751) (187.750.357) (2.357.770) (627.208.580) (3.274.779.000)

% 6. 91,21 97,59 101,08 78,73 101,36 132,61 90,41 34,71 100,00 100,00 105,65 122,80 92,02 91,21 90,83 96,03

2. 2.1. 2.1.1

2.1.3 2.1.4

99,41 92,22 100,00 88,36

2.1.5 2.1.6 2.1.7 2.1.8 2.2 2.2.1 2.2.2 2.2.3

Belanja Bantuan Sosial Belanja Bagi Hasil Kepada Provinsi/Kabupaten/ Kota dan Pemerintahan Desa Belanja Bantuan Keuangan Kepada Provinsi/ Kabupan/Kota dan Pemerintahan Desa Belanja Tak Terduga Belanja Langsung Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal JUMLAH BELANJA SURPLUS(DEFISIT)

11.578.394.050 4.000.000.000 38.183.961.584 500.000.000 161.717.017.830 25.143.226.525 76.418.876.423 60.154.914.882 598.827.081.562 (691.084.920)

10.444.612.390 4.000.000.000 26.369.750.000 175.831.200 124.196.836.396 18.772.385.675 60.366.043.057 45.058.407.664 543.942.642.377 1.620.782.221

(1.133.781.660) (11.814.211.584) (324.168.800) (37.520.181.434) (6.370.840.850) (16.052.833.366) (15.096.507.218) (54.884.439.185) 2.311.867.141

90,21 100,00 69,06 35,17 76,80 74,66 78,99 74,90 90,83

3. 3.1 3.1.1

PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan Daerah Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran JUMLAH PENERIMAAN PEMBIAYAAN Pengeluaran Pembiayaan Daerah Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah JUMLAH PENGELUARAN PEMBIAYAAN PEMBIAYAAN NETTO SISA LEBIH PERHITUNGA NANGGARAN TAHUN BERKENAAN (SILPA) 691.084.920 691.084.920 691.084.920 691.084.920 691.084.920 691.084.920 691.084.920 691.084.920 2.311.867.141 2.311.867.141 100,00 100,00 100,00 0 0 0

3.2 3.2.2

3.3

Sigli, 1 Maret 2010 Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan

Kekayaan Daerah Kabupaten Pidie

Amiruddin, SE, M.Si Pembina Tk.I /Nip.19641231 199302 1 005

LAMPIRAN 4 PEMERINTAH KABUPATEN PIDIE LAPORAN REALISASI ANGGARAN TAHUN ANGGARAN 2010 Anggaran Setelah Perubahan 3. 623.121.194.856 26.556.574.658 6.491.270.636 8.571.149.658 1.268.000.000 10.226.154.364 507.207.952.501 35.431.233.501 425.166.519.000 46.610.200.000 89.356.667.697 Realisasi Anggaran 4. 613.205.475.163 15.456.452.215 6.119.128.023 4.750.428.898 1.226.431.417 3.360.463.877 512.813.402.907 41.036.683.907 425.166.519.000 46.610.200.000 84.935.620.041 Lebih (Kurang) 5 (9.915.719.693) (11.100.122.443) (372.142.613) (3.820.720.760) (41.568.583) (6.865.690.487) 5.605.450.406 5.605.450.406 (4.421.047.656)

Rek 1. 1. 1.1 1.1.1 1.1.2 1.1.3. 1.1.4. 1.2. 1.2.1. 1.2.2. 1.2.3. 1.3.

Uraian 2. PENDAPATAN DAERAH Pendapatan Asli Daerah Hasil Bagi Pajak Daerah Hasil Retribusi Daerah Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang dipisahkan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah Dana Perimbangan Dana Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah

% 6. 98,41 58,20 94,27 55,42 96,72 32,86 101,11 115,82 100,00 100,00 95,05

1.3.3. 1.3.4 1.3.5

Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintahan Daerah lainnya Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya JUMLAH PENDAPATAN BELANJA DAERAH Belanja Tidak Langsung Belanja Pegawai Belanja Subsidi Belanja Hibah Belanja Bantuan Sosial Belanja Bagi Hasil Kepada Provinsi/Kabupaten/ Kota dan Pemerintahan Desa Belanja Bantuan Keuangan Kepada Provinsi/ Kabupan/Kota dan Pemerintahan Desa Belanja Tak Terduga Belanja Langsung Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal JUMLAH BELANJA SURPLUS(DEFISIT)

14.455.524.097 59.901.143.600 15.000.000.000 623.121.194.856 649.121.033.997 481.189.509.919 417.601.421.111 100.000.000 25.149.170.000 15.139.608.260 22.899.310.548 300.000.000 167.931.524.078 17.986.671.700 49.811.596.101 100.133.256.277 649.121.033.997 (25.999.839.141)

8.969.651.441 60.965.993.600 14.999.975.000 613.205.475.163 604.047.305.266 448.140.653.806 395.682.671.298 100.000.000 22.638.054.000 12.788.630.582 16.658.400.000 272.897.926 155.906.651.460 17.060.246.809 45.942.047.324 92.904.357.327 604.047.305.266 9.158.169.897

(5.485.872.656) 1.064.850.000 (25.000) (9.915.719.693) (45.073.728.731) (33.048.856.113) (21.918.749.813) (2.511.116.000) (2.350.977.678) (6.240.910.548) (27.102.074) (12.024.872.618) (926.424.891) (3.869.548.777) (7.228.898.950) (45.073.728.731) 35.158.009.038

62,05 101,78 100,00 98,41 93,06 93,13 100,00 90,02 84,47 72,75 90,97 92,84 94,85 92,23 92,78 93,06

2. 2.1. 2.1.1 2.1.3 2.1.4 2.1.5 2.1.6 2.1.7 2.1.8 2.2 2.2.1 2.2.2 2.2.3

3. 3.1 3.1.1

PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan Daerah Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya 27.311.867.141 2.311.867.141 2.311.867.141 2.311.867.141 (25.000.000.000) 8,46 100,00

3.1.4

Penerimaan Pinjaman Daerah JUMLAH PENERIMAAN PEMBIAYAAN Pengeluaran Pembiayaan Daerah Pembayaran Pokok Utang JUMLAH PENGELUARAN PEMBIAYAAN PEMBIAYAAN NETTO

25.000.000.000 27.311.867.141 1.312.028.000 1.312.028.000 1.312.028.000 25.999.839.141 -

2.311.867.141 2.311.867.141 11.470.037.038

(25.000.000.000) (25.000.000.000) (1.312.028.000) (1.312.028.000) (1.312.028.000) (23.687.972.000) 11.470.037.038

0 8,46 0 0 0 8,89

3.2 3.2.3

3.3

SISA LEBIH PERHITUNGA NANGGARAN TAHUN BERKENAAN (SILPA)

Sigli, 31 Desember 2011 Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah Kabupaten Pidie

Amiruddin, SE, M.Si Pembina Tk.I /Nip.19641231 199302 1 005

LAMPIRAN 5 PEMERINTAH KABUPATEN PIDIE LAPORAN REALISASI APBD PEMKAB PIDIE TAHUN ANGGARAN 2011 Rek 1. 1. 1.1 1.1.1 Uraian 2. PENDAPATAN Pendapatan Asli Daerah Hasil Bagi Pajak Daerah Anggaran 3. 754.970.412.558 37.411.846.661 7.051.119.707 Realisasi 4. 733.890.903.240 22.947.369.612 8.176.230.617 (Kurang) 5 (21.079.609.318) (14.464.477.049) 1.125.110.910 % 6. 97,21 61,34 115,96

1.1.2 1.1.3. 1.1.4. 1.2. 1.2.1. 1.2.2. 1.2.3. 1.3. 1.3.3. 1.3.4 1.3.5

Hasil Retribusi Daerah Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang dipisahkan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah Dana Perimbangan Dana Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintahan Daerah lainnya Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya JUMLAH PENDAPATAN BELANJA DAERAH Belanja Tidak Langsung Belanja Pegawai Belanja Subsidi Belanja Hibah Belanja Bantuan Sosial Belanja Bantuan Keuangan Kepada Provinsi/ Kabupan/Kota dan Pemerintahan Desa Belanja Tak Terduga Belanja Langsung Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa

7.267.224.509 1.268.000.000 21.825.502.445 562.769.526.569 37.134.605.569 487.142.721.000 38.492.200.000 154.789.039.328 13.300.000.000 133.384.058.280 8.104.981.048 754.970.412.558 794.872.959.128 566.486.950.775 482.558.239.725 100.000.000 34.893.911.050 13.087.000.000 35.547.800.000 300.000.000 228.386.008.353 19.120.512.792 94.481.761.213

6.119.095.258 906.884.514 7.745.159.223 562.386.050.346 36.751.029.346 487.142.721.000 38.492.300.000 148.557.483.282 13.173.425.002 133.384.058.280 2.000.000.000 733.890.903.240 731.544.336.687 533.616.391.768 477.808.974.452 100.000.000 9.975.673.108 11.927.518.780 33.672.200.000 132.025.428 197.927.944.919 17.967.504.710 89.482.633.530

(1.148.129.251) (361.115.486) (14.080.343.222) (383.576.223) (383.576.223) 100.000 (6.231.556.046) (126.574.998) (6.104.981.048) (21.079.609.318) (63.328.622.441) (32.870.559.007) (4.749.265.273) (24.918.237.942) (1.159.481.220) (1.875.600.000) (167.974.572) (30.458.063.434) (1.153.008.082) (4.999.127.683)

84,20 71,52 35,49 99,93 98,97 100,00 100,00 95,97 99,05 100,00 24,68 97,21 92,03 94,20 99,02 100,00 28,59 91,14 94,72 44,01 86,66 93,97 94,71

2. 2.1. 2.1.1 2.1.3 2.1.4 2.1.5 2.1.7 2.1.8 2.2 2.2.1 2.2.2

2.2.3

Belanja Modal JUMLAH BELANJA SURPLUS(DEFISIT)

114.783.734.348 794.872.959.128 (39.902.546.570)

90.477.806.679 731.544.336.687 2.346.566.553

(24.305.927.669) (63.328.622.441) 42.249.013.123

78,82 92,03

3. 3.1 3.1.1 3.1.2. 3.1.3. 3.1.4. 3.1.5. 3.1.6.

PEMBIAYAAN DAERAH Penerimaan Pembiayaan Daerah SiLPA Tahun Anggaran Sebelumnya Pencairan Dana Cadangan Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Penerimaan Pinjaman Daerah dan Obligasi Daerah Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Penerimaan Piutang Daerah Jumlah Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan Daerah Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Utang Pemberian Pinjaman Daerah Jumlah Pengeluaran Pembiayaan Pembiayaan Netto

11.470.037.038 31.610.636.147 43.080.673.185 3.178.126.615 3.178.126.615 39.902.546.570 -

11.470.009.490

11.470.009.490 -

(31.610.663.695) -

26,62 0 0

3.2 3.2.1. 3.2.2. 3.2.3. 3.2.4.

11.470.009.490 13.816.576.043

(3.178.126.615) (28.432.537.080) 13.816.476.043

0 28,75

3.3

SILPA Tahun Berkenaan

Sigli, 24 Maret 2012 Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah Kabupaten Pidie

Amiruddin, SE, M.Si Pembina Tk.I /Nip.19641231 199302 1 005 LAMPIRAN 6

70

LAMPIRAN 6 Perhitungan Kemandirian Daerah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie 2007-2011 Rasio Kemandirian No Tahun Anggaran Pendapatan Asli Daerah Total Pendapatan Daerah (%) 1 2 3 4 5 2007 2008 2009 2010 2011 13.397.184.737 12.462.163.202 15.923.900.575 15.456.452.215 22.947.369.612 Rata-rata 594.942.068.996 492.340.704.668 545.563.424.598 613.205.475.163 733.890.903.240 2,25 2,53 2,91 2,52 3,12 2,66 Daerah

LAMPIRAN 7 Perhitungan Rasio Efektifitas Keuangan Daerah Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie Tahun 2007-2011 Tahun Anggaran 2007 2008 2009 2010 2011 Traget PAD 15.654.587.181 15.006.768.532 16.317.251.307 26.556.574.658 37.411.846.661 Realisasi PAD 13.397.184.737 12.463.163.202 15.923.900.575 15.456.452.215 22.947.369.612 Rasio Efektifitas (%) 85,5% 83,0% 97,5% 58,2% 61,3%

71

LAMPIRAN 8 Perhitungan Rasio Efisiensi Keuangan Daerah Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie Tahun 2007-2011 Realisai Belanja Daerah 592.775.864.556 507.303.646.581 543.942.642.377 604.047.305.266 731.544.339.687 Realisasi Pendapatan Daerah 594.942.068.996 492.340.704.668 545.563.424.598 613.205.475.163 733.890.903.240 Rasio Efisiensi (%) 99,6% 103,0% 99,7% 98,5% 99,6%

Tahun Anggaran 2007 2008 2009 2010 2011

LAMPIRAN 9 Perhitungan Rasio Aktivitas Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie Tahun 2007-2011 Rasio Rasio Belanja Aktivitas Aktivitas Total APBK Belanja Rutin Pembangunan Belanja Belanja Rutin Pembangunan 594.942.068.996 362.925.911.489 229.849.953.067 492.340.704.668 342.258.965.665 165.044.680.916 545.563.424.598 419.754.805.891 124.196.838.396 613.205.475.163 448.140.653.806 155.906.651.460 733.890.903.240 533.616.391.768 197.927.944.919 61% 69,5% 76,9% 73% 72,4% 38,6% 33,5% 22,7% 25,5% 26,9%

Tahun Anggaran 2007 2008 2009 2010 2011

72

LAMPIRAN 10 Perhitungan Debt Service Corverage Ratio (DSCR) Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie 2007-2011 Keterangan
DSCR = (PAD + BD + DAU) − BW Total (pokok angsuran + Bunga + Biaya Pinjaman

2010 2011 42.397.642.757 26.398.153.192 1.312.028.000 3.178.126.615 32,31% 8,30%

Rasio DSCR